Anda di halaman 1dari 22

Mbah Suro Mogok Makan

Mbah Suro, 80 tahun dibawa ke UGD RS Dr. Moewardi karena tidak mau makan, lemas, dan nampak gelisah, Sudah 5 hari tidak buang air besar. Hampir 2 minggu mbah Suro tiduran terus, karena lemas dan batuk, berdahak, tidak berdarah, tidak demam, tidak didapatkan nyeri dada. Dan tidak mau dibawa berobat. Dari hasil pemeriksaan didapatkan kesadaran: apatis, TD 120/70 mmHg, RR 30 x/menit, T 36C, HR 108 x/menit. Pada pemeriksaan paru sebelah kanan didapatkan ronkhi basah kasar, suara dasar bronkhial dan fremitus raba meningkat. Tampak luka pada punggung bawah berukuran 4 x 5 cm dengan dasar luka kemerahan. Skor norton 9. Hasil lab: leukosit 7.500. Foto thorax menunjukkan kesuraman homogen pada paru kanan. Di UGD diberikan oksigenasi, antibiotik, dan terapi cairan. Kemudian dirawat di ruang rawat geriatri dengan medikasi dan kasur dekubitus. Direncanakan konsul ke Rehabilitasi Medik.

ULCUS DEKUBITUS Definisi Ulkus dekubitus adalah kerusakan atau kematian kulit sampai jaringan dari bawah kulit bahkan menembus otot sampai mengenai tulang, akibat adanya penekanan pada suatu area secara terus menerus sehingga mengakibatkan gangguan sirkulasi darah. Ulkus dekubitus adalah ulkus yang ditimbulkan karena tekanan yang kuat oleh berat badan pada tempat tidur. Luka dekubitus adalah nekrosis pada jaringan lunak antara tonjolan tulang dan permukaan padat, paling umum akibat imobilisasi. Etiologi a) Tekanan b) Kelembaban c) Gesekan

Patofisiologi Tekanan imobilisasi yang lama akan mengakibatkan terjadinya dekubitus, kalau salah satu bagian tubuh berada pada suatu gradient (titik perbedaan antara dua tekanan). Jaringan yang lebih dalam dekat tulang, terutama jaringan otot dengan suplai darah yang baik akan bergeser kearah gradient yang lebih rendah, sementara kulit dipertahankan pada permukaan kontak oleh friksi yang semakin meningkat dengan terdapatnya kelembaban, keadaan ini menyebabkan peregangan dan angggulasi pembuluh darah (mikro sirkulasi) darah yang dalam serta mengalami gaya geser jaringan yang dalam, ini akan menjadi iskemia dan dapat mengalami nekrosis sebelum berlanjut ke kulit. Manifestasi Klinis dan Komplikasi a) Tanda cidera awal adalah kemerahan yang tidak menghilang apabila ditekan ibu jari. b) Pada cidera yang lebih berat dijumpai ulkus dikulit. c) Dapat timbul rasa nyeri dan tanda-tanda sistemik peradangan, termasuk demam dan peningkatan hitung sel darah putih. d) Dapat terjadi infeksi sebagai akibat dari kelemahan dan perawatan di Rumah Sakit yang berkepanjangan bahkan pada ulkus kecil. Pemeriksaan Diagnostik a) Kultur : pertumbuhan mikroorganisme tiruan atau sel sel jaringan. b) Albumin serum : protein utama dalam plasma dan cairan serosa lain.

Penatalaksanaan medis a) Merubah posisi pasien yang sedang tirah baring. b) Menghilangkan tekanan pada kulit yang memerah dan penempatan pembalut yang bersih dan tipis apabila telah berbentuk ulkus dekubitus. c) Sistemik : antibiotic spectrum luas, seperti : Amoxilin 4x500 mg selama 15 30 hari. Siklosperm 1 2 gram selama 3 10 hari. Topical : salep antibiotic seperti kloramphenikol 2 gram. Manajemen Keperawatan 1.Pengkajian a)Aktivitas/ istirahat Tanda : penurunan kekuatan, ketahanan, keterbatasan rentang gerak.pada area yang sakit gangguannya misalnya otot perubahan tunas. b) Sirkulasi Tanda : hipoksia, penurunan nadi perifer distal pada ekstremitas yang cidera, vasokontriksi perifer umum dengan kehilangan nadi, kulit putih dan dingin, pembentukan edema jaringan. c) Eleminasi Tanda : keluaran urin menurun adalah tidak adanya pada fase darurat, warna mungkin hitam kemerahan , bila terjadi, mengidentifiasi kerusakan otot. d)Makanan/cairan Tanda : edema jaringan umum, anoreksia, mual dan muntah. e) Neurosensori Gejala : area kebas/kesemutan f) Pernapasan Gejala :menurunnya fungsi medulla spinalis, edema medulla, kerusakan neurology, paralysis abdominal dan otot pernapasan. g) Integritas ego Gejala : masalah keluarga, pekerjaan, keuangan, kecacatan. Tanda : ansietas, menangis, ketergantungan, mmenarik diri, marah. h) Keamanan Tanda : adanya fraktur akibat dilokasi (jatuh, kecelakaan, kontraksi otot tetanik, sampai dengan syok listrik). 2.Diagnosa Keperawatan 1)Kerusakan integritas jaringan berhubungan dengan destruksi mekanis jaringan sekunder terhadap tekanan, gesekan dan fraksi. 2)Kerusakan mobilitas fisik berhubungan dengan pembatasan gerak yang diharuskan, status yang dikondisikan, kehilangan control motorik akibat perubahan status mental. 3)Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan ketidakmampuan

pemasukkan oral. 4)Risiko tinggi terhadap infeksi berhubungan dengan pemajanan dasar dekubitus, penekanan respons inflamasi. 5)Risiko tinggi terhadap inefektif penatalaksanaan regimen terapeutik berhubungan dengan ketidakcukupan pengetahuan tentang etiologi, pencegahan, tindakan dan perawatan dirumah. 3.Intervensi dan Implementasi 1)Kerusakan integritas jaringan berhubungan dengan destruksi mekanis jaringan sekunder terhadap tekanan, gesekan dan fraksi. - Terapkan prinsip pencegahan luka dekubitus. R : prinsip pencegahan luka dekubitus, meliputi mengurangi atau merotasi tekanan dari jaringan lunak. - Atur posis pasien senyaman mungkin. R : meminimalkan terjadinya jaringan yang terkena dekubitus. - Balut luka dengan balutan yang mempertahankan kelembaban lingkungan diatas dasar luka. R : luka yang lembab dapat mempercepat kesembuhan. 2) Kerusakan mobilitas fisik berhubungan dengan pembatasan gerak yang diharuskan, status yang dikondisikan, kehilangan control motorik akibat perubahan status mental. - Dukungan mobilisasi ketingkat yang lebih tinggi. R : gerakan teratur menghilangkan tekanan konsisten diatas tonjolan tulang. - Bantu/dorong perawatan diri/kebersihan, seperti mandi. R : meningkatkan kekuatan otot dan sirkulasi, meningkatkan control pasien dalam situasi dan peningkatan kesehatan lingkungan. - Berikan perhatian khusus pada kulit. R : penelitian menunjukkan bahwa kulit sangat rentan untuk mengalami kerusakan karena konsentrasi berat badan. 3) Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan ketidakmampuan pemasukkan oral. - Beri makan dalm jumlah kecil, sering dan dalam keadaan hangat. R : membantu mencegah distensi gaster/ketidaknyamanan dan meningkatkan pemasukkan, menambah napsu makan. - Bantu kebersihan oral sebelum makan. R : mulut/peralatan bersih meningkatkan napsu makan yang baik. - Pertahankan kalori yang ketat. R : pedoman tepat untuk pemasukkan kalori yang tepat. 4) Risiko tinggi terhadap infeksi berhubungan dengan pemajanan dasar dekubitus, penekanan respons inflamasi. - Gunakan tehnik yang tepat selama mengganti balutan.

R : teknik yang baik mengurangi masuknya mikroorganisme pathogen kedalam luka. Ukur tanda tanda vital . R : peningkatan suhu tubuh, takikardia menunjukkan adanya sepsis. - Gunakan sarung tangan steril setiap mengganti balutan. R : setiap ulkus terkontaminasi oleh mikroorganisme yang berbeda, tindakan ini dapat mencegah infeksi. - Cuci dasar luka dengan larutan NaCl 0,9 %. R : Dapat membuang jaringan yang mati pada permukaan kulit dan mengurangi mikroorganisme. - Berikan obat antibiotic sesuai indikasi. R : antibiotic pilihanpada ulkus dekubitus berguna melawan organisme gram negative dan gram positif. 5) Risiko tinggi terhadap inefektif penatalaksanaan regimen terapeutik berhubungan dengan ketidakcukupan pengetahuan tentang etiologi, pencegahan, tindakan dan perawatan dirumah. - Anjurkan tindakan untuk mencegah luka dekubitus. R : pencegahan luka dekubitus lebih mudah dari pengobatan. - Anjurkan tindakan untuk mengobati luka dekubitus. R : instruksi spesifik ini membantu pasien dan keluarga belajar untuk meningkatkan penyembuhan dan mencegah infeksi. 4. Evaluasi 1) Pasien dapat mencegah dan mengidentifikasi factor penyebab luka dekubitus; menunjukkan kemajuan penyembuhan. 2) Pasien mempunyai kulit tanpa neritema dan tidak pucat. 3) Pasien menunjukkan peningkatan berat badan dan massa otot. 4) Kulit tidak akan teritasi akibat pemajanan terhadap fekal atau urine drainage. 5) Menunjukkan hasil pembelajaran yang efektif untuk tujuan pemulangan dan perawatan pasien dirumah. DAFTAR PUSTAKA Capernito, Linda Juall. 1999. Rencana Diagnosa dan Dokumentasi Keperawatan : Diagnosa Keperawatan dan Masalah Kolaboratif Ed.2. Jakarta : EGC. Doenges, Marilynn E. 2000. Rencana Keperawatan : Pedoman Perencanaan dan Pendokumentasian Perawatan Pasien. Jakarta : EGC. Nurachman, Elly. 2001. Nutrisi Dalam Keperawatan. Jakarta : Sagung Seto.

Ulkus Dekubitus

( Bedsores )

Pengertian Ulkus Dekubitus atau istilah lain Bedsores adalah kerusakan/kematian kulit yang terjadi akibat gangguan aliran darah setempat dan iritasi pada kulit yang menutupi tulang yang menonjol, dimana kulit tersebut mendapatkan tekanan dari tempat tidur, kursi roda, gips, pembidaian atau benda keras lainnya dalam jangka waktu yang lama. Bagian tubuh yang sering mengalami ulkus dekubitus adalah bagian dimana terdapat penonjolan tulang, yaitu bagian siku, tumit, pinggul, pergelangan kaki, bahu, punggung dan kepala bagian belakang.

Ulkus Dekubitus Walaupun semua bagian tubuh beresiko mengalami dekubitus, bagian bawah dari tubuhlah yang terutama beresiko tinggi dan membutuhkan perhatian khusus. Area yang biasa terjadi dekubitus adalah tempat diatas tonjolan tulang dan tidak dilindungi oleh cukup dengan lemak sub kutan, misalnya daerah sakrum, daerah trokanter mayor dan spina ischiadica superior anterior, daerah tumit dan siku. Dekubitus merupakan suatu hal yang serius, dengan angka morbiditas dan mortalitas yang tinggi pada klien lanjut usia. Di negara-negara maju,

prosentase terjadinya dekubitus mencapai sekitar 11% dan terjadi dalam dua minggu pertama dalam perawatan. Dekubitus dapat terjadi pada setiap tahap umur, tetapi hal ini merupakan masalah yang khusus pada lansia. Khususnya pada klien dengan imobilitas.Usia lanjut mempunyai potensi besar untuk terjadi dekubitus karena perubahan kulit berkaitan dengan bertambahnya usia antara lain:

Berkurangnya jaringan lemak subkutan Berkurangnya jaringan kolagen dan elastin Menurunnya efesiensi kolateral kapiler pada kulit sehingga kulit menjadi lebih tipis dan rapuh.

Resiko tinggi terjadinya ulkus dekubitus ditemukan pada: 1. Orang-orang yang tidak dapat bergerak (misalnya lumpuh, sangat lemah, dipasung) 2. Orang-orang yang tidak mampu merasakan nyeri, karena nyeri merupakan suatu tanda yang secara normal mendorong seseorang untuk bergerak. Kerusakan saraf (misalnya akibat cedera, stroke, diabetes) dan koma bisa menyebabkan berkurangnya kemampuan untuk merasakan nyeri. 3. Orang-orang yang mengalami kekurangan gizi (malnutrisi) tidak memiliki lapisan lemak sebagai pelindung dan kulitnya tidak mengalami pemulihan sempurna karena kekurangan zat-zat gizi yang penting. Karena itu klien malnutrisi juga memiliki resiko tinggi menderita ulkus dekubitus. 4. Gesekan dan kerusakan lainnya pada lapisan kulit paling luar bisa menyebabkan terbentuknya ulkus. Baju yang terlalu besar atau terlalu kecil, kerutan pada seprei atau sepatu yang bergesekan dengan kulit bisa menyebabkan cedera pada kulit. Pemaparan oleh kelembaban dalam jangka panjang (karena berkeringat, air kemihatau tinja) bisa merusak permukaan kulit dan memungkinkan terbentuknya ulkus. Tipe Ulkus Dekubitus Berdasarkan waktu yang diperlukan untuk penyembuhan dari suatu ulkus dekubitus dan perbedaan temperatur dari ulkus dengan kulit sekitarnya, dekubitus dapat dibagi menjadi tiga; 1. Tipe normal

Mempunyai beda temperatur lebih kurang 2,5oC dibandingkan kulit sekitarnya dan akan sembuh dalam perawatan sekitar 6 minggu. Ulkus ini terjadi karena iskemia jaringan setempat akibat tekanan, tetapi aliran darah dan pembuluhpembuluh darah sebenarnya baik. 2. Tipe arterioskelerosis

Mempunyai beda temperatur kurang dari 1oC antara daerah ulkus dengan kulit sekitarnya. Keadaan ini menunjukkan gangguan aliran darah akibat penyakit pada pembuluh darah(arterisklerotik) ikut perperan untuk terjadinya dekubitus disamping faktor tekanan. Dengan perawatan, ulkus ini diharapkan sembuh dalam 16 minggu. 3. Tipe terminal

Terjadi pada klien yang akan meninggal dunia dan tidak akan sembuh. Patofisiologi Terjadinya Ulkus Dekubitus Tekanan daerah pada kapiler berkisar antara 16 mmHg-33 mmHg. Kulit akan tetap utuh karena sirkulasi darah terjaga, bila tekanan padanya masih berkisar pada batas-batas tersebut. Tetapi sebagai contoh bila seorang klien immobil/terpancang pada tempat tidurnya secara pasif dan berbaring diatas kasur busa maka tekanan daerah sakrum akan mencapai 60-70 mmHg dan daerah tumit mencapai 30-45 mmHg. Tekanan akan menimbulkan daerah iskemik dan bila berlanjut terjadi nokrosis jaringan kulit. Percobaan pada binatang didapatkan bahwa sumbatan total pada kapiler masih bersifat reversibel bila kurang dari 2 jam. Seorang yang terpaksa berbaring berminggu-minggu tidak akan mengalami dekubitus selama dapat mengganti posisi beberapa kali perjamnya. Selain faktor tekanan, ada beberapa faktor mekanik tambahan yang dapat memudahkan terjadinya dekubitus;

Faktor teregangnya kulit misalnya gerakan meluncur ke bawah pada klien dengan posisi setengah berbaring Faktor terlipatnya kulit akibat gesekan badan yang sangat kurus dengan alas tempat tidur, sehingga seakan-akan kulit tertinggal dari area tubuh lainnya.

Faktor teragangnya kulit akibat daya luncur antara tubuh dengan alas tempatnya berbaring akan menyebabkan terjadinya iskemia jaringan setempat.

Keadaan ini terjadi bila klien immobil, tidak dibaringkan terlentang mendatar, tetapi pada posisi setengah duduk. Ada kecenderungan dari tubuh untuk meluncur kebawah, apalagi keadaannya basah. Sering kali hal ini dicegah dengan memberikan penghalang, misalnya bantal kecil/balok kayu pada kedua telapak kaki. Upaya ini hanya akan mencegah pergerakan dari kulit, yang sekarang terfiksasi dari alas, tetapi rangka tulang tetap cederung maju kedepan. Akibatnya terjadi garis-garis penekanan/peregangan pada jaringan subkutan yang sekan-akan tergunting pada tempat-tempat tertentu, dan akan terjadi penutupan arteriole dan arteri-arteri kecil akibat terlalu teregang bahkan sampai robek. Tenaga menggunting ini disebut Shering Forces. Sebagai tambahan dari shering forces ini, pergerakan dari tubuh diatas alas tempatnya berbaring, dengan fiksasi kulit pada permukaan alas akan menyebabkan terjadinya lipatan-lipatan kulit (skin folding). Terutama terjadi pada klien yang kurus dengan kulit yang kendur. Lipatan-lipatan kulit yang terjadi ini dapat menarik/mengacaukan (distorsi) dan menutup pembuluhpembuluh darah. Sebagai tambahan dari efek iskemia langsung dari faktor-faktor diatas, masih harus diperhatikan terjadinya kerusakan endotil, penumpukan trombosit dan edema. Semua ini dapat menyebabkan nekrosis jaringan akibat lebih terganggunya aliran darah kapiler. Kerusakan endotil juga menyebabkan pembuluh darah mudah rusak bila terkena trauma. Faktor tubuh sendiri (faktor intrinsik) juga berperan untuk terjadinya dekubitus antara lain;

Selama penuaan, regenerasi sel pada kulit menjadi lebih lambat sehingga kulit akan tipis (tortora & anagnostakos, 1990) Kandungan kolagen pada kulit yang berubah menyebabkan elastisitas kulit berkurang sehingga rentan mengalami deformasi dan kerusakan. Kemampuan sistem kardiovaskuler yang menurun dan sistem arteriovenosus yang kurang kompeten menyebabkan penurunan perfusi kulit secara progresif. Sejumlah penyakit yang menimbulkan seperti DM yang menunjukkan insufisiensi kardiovaskuler perifer dan penurunan fungsi kardiovaskuler seperti pada sistem pernapasan menyebabkan tingkat oksigenasi darah pada kulit menurun. Status gizi, underweight atau kebalikannya overweight Anemia Hipoalbuminemia yang mempermudah terjadinya dekubitus dan memperjelek penyembuhan dekubitus, sebaliknya bila ada dekubitus akan menyebabkan kadar albumin darah menurun

Penyakit-penyakit neurologik, penyakit-penyakit yang merusak pembuluh darah, juga mempermudah dan memperburuk dekubitus Keadaan hidrasi/cairan tubuh perlu dinilai dengan cermat.

Faktor ekstrinsik yang berperan untuk terjadinya dekubitus antara lain;


Kebersihan tempat tidur, Alat-alat tenun yang kusut dan kotor, atau peralatan medik yang menyebabkan klien terfiksasi pada suatu sikap tertentu juga memudahkan terjadinya dekubitus. Duduk yang buruk Posisi yang tidak tepat Perubahan posisi yang kurang

Penampilan klinis dari dekubitus Karakteristik penampilan klinis dari dekubitus dapat dibagi sebagai berikut;

Derajat I: Reaksi peradangan masih terbatas pada epidermis, tampak sebagai daerah kemerahan/eritema indurasi atau lecet. Derajat II: Reaksi yang lebih dalam lagi sampai mencapai seluruh dermis hingga lapisan lemah subkutan, tampak sebagai ulkus yang dangkal, degan tepi yang jelas dan perubahan warna pigmen kulit. Derajat III: Ulkus menjadi lebih dalam, meliputi jaringan lemak subkutan dan menggaung, berbatasan dengan fascia dari otot-otot. Sudah mulai didapat infeksi dengan jaringan nekrotik yang berbau. Derajat IV: Perluasan ulkus menembus otot, hingga tampak tulang di dasar ulkus yang dapat mengakibatkan infeksi pada tulang atau sendi.

Mengingat patofisiologi terjadinya dekubitus adalah penekanan pada daerahdaerah tonjolan tulang, haruslah diingat bahwa kerusakan jaringan dibawah tempat yang mengalami dekubitus adalah lebih luas dari ulkusnya. Pengelolaan Dekubitus Pengelolaan dekubitus diawali dengan kewaspadaan untuk mencegah terjadinya dekubitus dengan mengenal klien risiko tinggi terjadinya dekubitus, misalnya pada klien yang immobil dan konfusio. Usaha untuk menentukan resiko terjadinya dekubitus ini antara lain dengan memakai sistem skor Norton. Skor dibawah 14 menunjukkan adanya risiko

tinggi untuk terjadinya dekubitus. Dengan evaluasi skor ini dapat dilihat perkembangan klien. Tindakan berikutnya adalah menjaga kebersihan klien khususnya kulit, dengan memandikan setiap hari, dikeringkan dengan baik lalu digosok dengan lotion, terutama dibagian kulit yang ada pada tonjolan-tonjolan tulang. Sebaiknya diberikan massase untuk melancarkan sirkulasi darah, semua ekskreta/sekreta harus dibersihkan dengan hati-hati agar tidak menyebabkan lecet pada kulit klien. Tindakan pencegahan dekubitus : 1. Meningkatkan status kesehatan klien;

Memperbaiki dan menjaga keadaan umum klien, misalnya anemia diatasi, hipoalbuminemia dikoreksi, nutrisi dan hidrasi yang cukup, vitamin (vitamin C) dan mineral (Zn) ditambahkan. khusus; coba mengatasi/mengobati penyakit-penyakit yang ada pada klien, misalnya DM. 2. Mengurangi/memeratakan faktor tekanan yang mengganggu aliran darah; a. Alih posisi/alih baring/tidur selang seling, paling lama tiap dua jam. Keburukan pada cara ini adalah ketergantungan pada tenaga perawat yang kadang-kadang sudah sangat kurang, dan kadang-kadang mengganggu istirahat klien bahkan menyakitkan. b. Kasur khusus untuk lebih membagi rata tekanan yang terjadi pada tubuh klien, misalnya; kasur dengan gelembung tekan udara yang naik turun, kasur air yang temperatur airnya dapat diatur. (keberatan alat canggih ini adalah harganya mahal, perawatannya sendir harus baik dan dapat rusak) c. Regangan kulit dan lipatan kulit yang menyebabkan sirkulasi darah setempat terganggu, dapat dikurangi antara lain;

Menjaga posisi klien, apakah ditidurkan rata pada tempat tidurnya, atau sudah memungkinkan untuk duduk dikursi. Bantuan balok penyangga kedua kaki, bantal-bantal kecil untuk menahan tubuh klien, kue donat untuk tumit, Diluar negeri sering digunakan kulit domba dengan bulu yang lembut dan tebal sebagai alas tubuh klien.

Bagitu tampak kulit yang hiperemis pada tubuh klien, khususnya pada tempattempat yang sering terjadi dekubitus, semua usaha-usaha diatas dilakukan dengan lebih cermat untuk memperbaiki iskemia yang terjadi, sebab sekali terjadi kerusakan jaringan upaya penyembuhan akan lebih rumit. Bila sudah terjadi dekubitus, tentukan stadium dan tindakan medik menyesuaikan apa yang dihadapi: 1. Dekubitus derajat I

Dengan reaksi peradangan masih terbatas pada epidermis; Kulit yang kemerahan dibersihkan hati-hati dengan air hangat dan sabun, diberi lotion, kemudian dimassase 2-3 kali/hari. 2. Dekubitus derajat II

Dimana sudah terjadi ulkus yang dangkal; Perawatan luka harus memperhatikan syarat-syarat aseptik dan antiseptik. Daerah bersangkutan digesek dengan es dan dihembus dengan udara hangat bergantian untuk meransang sirkulasi. Dapat diberikan salep topikal, mungkin juga untuk merangsang tumbuhnya jaringan muda/granulasi, Penggantian balut dan salep ini jangan terlalu sering karena malahan dapat merusak pertumbuhan jaringan yang diharapkan. 3. Dekubitus derajat III

Dengan ulkus yang sudah dalam, menggaung sampai pada bungkus otot dan sering sudah ada infeksi; Usahakan luka selalu bersih dan eksudat diusahakan dapat mengalir keluar. Balut jangan terlalu tebal dan sebaliknya transparan sehingga permeabel untuk masukknya udara/oksigen dan penguapan. Kelembaban luka dijaga tetap basah, karena akan mempermudah regenarasi sel-sel kulit. Jika luka kotor dapat dicuci dengan larutan NaCl fisiologis. Antibiotik sistemik mungkin diperlukan.

4.

Dekubitus derajat IV

Dengan perluasan ulkus sampai pada dasar tulang dan sering pula diserta jaringan nekrotik; Semua langkah-langkah diatas tetap dikerjakan dan jaringan nekrotik yang ada harus dibersihkan , sebab akan menghalangi pertumbuhan jaringan/epitelisasi. Beberapa preparat enzim coba diberikan untuk usaha ini, dengan tujuan mengurangi perdarahan, dibanding tindakan bedah yang juga merupakan alternatif lain. Setelah jaringan nekrotik dibuang dan luka bersih, penyembuhan luka secara alami dapat diharapkan. Beberapa usaha mempercepat adalah antara lain dengan memberikan oksigenasi pada daerah luka, Tindakan dengan ultrasono untuk membuka sumbatan-sumbatan pembuluh darah dan sampai pada transplantasi kulit setempat. Angka mortalitas dekubitus derajat IV ini dapat mencapai 40%. Skor Norton untuk mengukur resiko dekubitus

skor Norton Risiko dekubitus jika skor total 14

Pada kasus ini oksigenasi diberikan karena pasien kesadaran pasien yang menurun. Selain itu oksigen juga dapat mempercepat perbaikan jaringan dekubitus.

Antibiotik diberikan untuk mencegah infeksi pada pasien. Pasien pada kasus ini mempunyai beberapa keadaan yang dapat memicu infeksi. Pertama adalah sulit buang air besar. Sulit buang air besar feses akan tertimbun di usus sehingga bakteri diusus akan meningkat. Kedua adalah kesuraman pada paru. Kesuraman pada paru menunjukkan adanya infiltrate di paru yang mana tempat tersebut sangt baik untuk perkembangan bakteri. Ketiga luka pada punggung bawah. Dekubitus yang sudah derajat 2 keatas dapat menjadi tempat yang baik untuk perkembangan bakteri. Terapi cairan pada kasus ini ada beberapa kemungkinan resusitasi, maintenance dan koreksi. Untuk resusitasi biasa digunakan kristaloid isotonik dan koloid. Kristaloid isotonik memiliki kandungan Na+ relatif tinggi (>100 mEq/L) tujuannya agar bertahan lama di ekstraseluler (khususnya intravaskuler). Sebaliknya, cairan maintenance menggunakan elektrolit dalam jumlah yang sesuai dengan kebutuhan harian (Na+ moderate dan K+ cukup). Terapi cairan koreksi ditujukan untuk mengatasi gangguan elektrolit berat. Kasur dekubitus adalah kasur khusus untuk lebih memambagi rata tekan yang terjadi pada tubuh penderita, misalnya; kasur dengan gelembung tekan udara yang naik turun, kasur air yang temperatur airnya dapat diatur. (keberatan alat canggih ini adalah harganya mahal, perawatannya sendir harus baik dan dapat rusak). Konfusio akut : adalah suatu akibat gangguan fungsi pengertian : derajat, kesadaran, kewaspadaan dan gangguan proses berfikir,bingung waktu,tempat san orang istilah lain gagal otak akut. Gangguan memori jangka pendek, mungkin jangka panjang. Ada ganguan angan-angan melihat sesuatu yang tidak ada (halusinasi) atau salah penglihatan dan sebagainya. Ada 2 syarat yang harus terpenuhi antaa lain : 1. Derajat kesadaran yang menurun 2. Gangguan cipta (persepsi) 3. tergangunya siklus bangun, sulit tidur (insomnia), aktifitas fisik bisa meningkat dan menurun, 5. Bingung 6. gangguan memori tidak mampu belajar materi baru.

Nilai Normal Laboratorium Patologi Klinik PRIA

Hematologi Jenis Spesimen : darah Darah Lengkap

Eritrosit : 4.5 5.9 (4.5 5.5) (juta/ul) Haemoglobin (Hb) : 13.5 17.5 (13 16) (g/dl) Hematokrit (Ht) : 41.0 53.0 (40 54) (%) Trombo sit : 150.000 440.000 (150.000 400.000) (/ul) Leukosit : 4.000 11.000 (5.000 10.000) (/ul) Laju Endap Darah (LED) : 0 10 (mm/jam)

Diff count / Hitung Jenis Leukosit Basofil : 0 1 (%) Eosinofil : 1 3 (%) Batang : 2 6 (%) Segmen : 50 70 (%) Limfosit : 20 40 (%) Monosit : 2 8 (%)

Urinalisa Jenis Spesimen : urine midstream / porsi tengah Urine Lengkap

Warna : kuning

Kejernihan : jernih Glukosa : negatif Bilirubin : negatif Keton : negatif Berat jenis : 1.005 1.030 (1.003 1.030) Darah samar : negatif pH : 4.5 8.0 (5 8) Protein : negatif Urobilinogen : 0.1 1.0 (EU/dl) Nitrit : negatif Esterase leukosit : negatif

Sedimen Leukosit : 0 5 (0 3) (/LPB) Eritrosit : 0 1 (/LPB) Silinder : negatif (/LPK) Epitel : +1 Kristal : negatif Lain-lain : negatif

Kimia Darah Glukosa N : 80 100 (mg/dl) Glukosa PP : 100 - 120 (mg/dl) Glukosa S : < 150 (mg/dl)

Kolesterol total : < 200 (mg/dl) Trigliserida : < 150 (mg/dl)

HDL Kolesterol : > 55 (mg/dl) LDL kolesterol : < 150 (mg/dl)

Ureum : 15 40 (mg/dl) Kreatinin : 0.5 1.5 (mg/dl) Asam urat : 3.4 7.0 (mg/dl)

Bilirubin total : 0.2 1 (mg %) Bilirubin direk : 0 0.2 (mg %) Bilirubin indirek : 0.2 0.8 (mg %)

SGOT : 5 40 (u/l) SGPT : 5 41 (u/l) Alkali Fosfatase : 45 190 (iu/l) Gamma GT : 6 28 (mu/ml)

Protein total : 6.1 8.2 (gr %) Albumin : 3.8 5.0 (gr %) Globulin : 2.3 3.2 (gr %)

Imunologi dan Serologi Widal Salmonella typhy Salmonella paratyphy A Salmonella paratyphy B Salmonella paratyphy C

VDRL : negatif HbSAg Anti Hbs RF : < 8 (lu/dl) CRP : < 0.8 (Mg/dl) ASTO : < 200 (lu/dl)

Wanita

Hematologi Jenis Spesimen : darah Darah Lengkap

Eritrosit : 4 5 (juta/ul) Haemoglobin (Hb) : 12 15 (g/dl) Hematokrit (Ht) : 36 47 (%) Trombo sit : 150.000 400.000(/ul) Leukosit : 5.000 10.000(/ul) Laju Endap Darah (LED) : < 15 (mm/jam)

Diff count / Hitung Jenis Leukosit Basofil : 0 1 (%) Eosinofil : 1 3 (%) Batang : 2 6 (%) Segmen : 50 70 (%) Limfosit : 20 40 (%) Monosit : 2 8 (%)

Urinalisa Jenis Spesimen : urine midstream / porsi tengah Urine Lengkap

Warna : kuning Kejernihan : jernih Glukosa : negatif Bilirubin : negatif Keton : negatif Berat jenis : 1.003 1.030 Darah samar : negatif pH : 5 8 Protein : negatif Urobilinogen : 0.1 1.0 (EU/dl) Nitrit : negatif Esterase leukosit : negatif

Sedimen Leukosit : 0 3 (/LPB) Eritrosit : 0 1 (/LPB) Silinder : negatif (/LPK) Epitel : +1 Kristal : negatif Lain-lain : negatif

Kimia Darah Glukosa N : 80 100 (mg/dl) Glukosa PP : 100 - 120 (mg/dl) Glukosa S : < 150 (mg/dl)

Kolesterol total : < 200 (mg/dl) Trigliserida : < 150 (mg/dl) HDL Kolesterol : > 65 (mg/dl) LDL kolesterol : < 150 (mg/dl)

Ureum : 15 40 (mg/dl) Kreatinin : 0.5 1.5 (mg/dl) Asam urat : 2.4 5.7 (mg/dl)

Bilirubin total : 0.2 1 (mg %) Bilirubin direk : 0 0.2 (mg %) Bilirubin indirek : 0.2 0.8 (mg %)

SGOT : 5 40 (u/l) SGPT : 5 41 (u/l) Alkali Fosfatase : 45 190 (iu/l) Gamma GT : 4 18 (mu/ml)

Protein total : 6.1 8.2 (gr %) Albumin : 3.8 5.0 (gr %) Globulin : 2.3 3.2 (gr %)

Imunologi dan Serologi Widal Salmonella typhy Salmonella paratyphy A Salmonella paratyphy B Salmonella paratyphy C

VDRL : negatif HbSAg Anti Hbs RF : < 8 (lu/dl) CRP : < 0.8 (Mg/dl) ASTO : < 200 (lu/dl)