Anda di halaman 1dari 64

Milestone Report December

Development of Post-Earthquake rehabilitation and Reconstruction Plan (Padang City)

Attachment 2 | 1

Milestone Report December

BAB I PENDAHULUAN

1.1.

Latar Belakang

Pada tahun 2007 Direktorat Jenderal Bina Pembangunan Daerah Kementerian Dalam Negeri bekerjasama dengan Pemerintah Kota Padang menyelenggarakan aplikasi Kajian Lingkungan Hidup Strategis (KLHS) untuk menelaah implikasi kebijakan dan rencana reklamasi Pantai Padang yang pada waktu itu disebut dengan Padang Bay City. Gagasan penataan pantai ini terkait dengan dua gagasan pembangunan sekala besar, yakni jalan terowongan Pengambiran Bungus dan pengembangan Pelabuhan Internasional Teluk Kabung. Berdasarkan rumusan mitigasi dampak negatif kebijakan dan rencana reklamasi Padang Bay City yang demikian banyak serta alternatif tahapan pelaksanaan komponen program yang menuntut spesifikasi tinggi, sedangkan luas efektif areal hasil reklamasi yang dapat dimanfaatkan untuk kegiatan ekonomi relative terbatas, maka ditarik kesimpulan agar Pemerintah Kota Padang melakukan kaji ulang opsi penataan pantai Padang yang berkesesuaian dengan bentang alam Gunung Padang dan Bukit Siti Nurbaya, bentang budaya Kawasan Padang Lama dan fungsi pelabuhan Muaro. Atas dasar pertimbangan keterkaitan Padang Bay City dengan rencana kegiatan Jalan Terowongan dan rencana pengembangan Pelabuhan Teluk Kabung, Tim Review DANIDA tahun 2008 menyampaikan saran agar KLHS diarahkan untuk menelaah implikasi kebijakan dan tiga rencana kegiatan dimaksud. Direktorat Jenderal Bina Bangda dan Pemerintah Kota Padang menyambut baik saran tersebut. Pertengahan tahun 2009 dilaksanakan Seminar Awal KLHS Tiga Mega Proyek Kota Padang. Walaupun Tim KLHS Kota Padang telah melakukan penelaahan dokumen dan pengumpulan data serta diskusi instansional, ternyata KLHS Tiga Mega Proyek tersebut tidak dapat dilaksanakan sampai tahap akhir, karena bencana gempa bumi tanggal 30 September 2009 melanda kota Padang. Rapat evaluasi pelaksanaan KLHS yang dilakukan oleh Direktorat Jenderal Bina Pembangunan Daerah dengan Pemerintah Kota Padang tgl 30 Oktober 2009 sepakat untuk menghentikan penyelenggaraan KLHS Tiga Mega Proyek dan mengusulkan kepada Pihak DANIDA untuk menyelenggarakan KLHS Rencana Rekonstruksi dan Rehabilitasi Kota Padang. Tanggal 10 Desember tahun 2009, Pemerintah Kota Padang membakukan rumusan Pokok pokok kebijakan rehabilitasi dan rekonstruksi kota Padang serta rencana aksi darurat. Dokomen dimaksud menjelaskan visi Padang New City jangka panjang dan rangkaian program untuk mendukungnya. Untuk mewujudkan kota Padang dalam jangka panjang, Pemerintah Kota Padang akan melakukan serangkaian kegiatan perencanaan, meliputi: 1 2 3 4 5 6 7. 8. 9. 10. Revisi RPJMD dan RTRW Kota Padang Masterplan Pusat Pemerintahan Kota Padang Menyusun Road Map Pemulihan dan Pengembangan Ekonomi Membuat Manual Capacity Building Pembangunan rumah masyarakat korban gempa. Road map pemulihan fasilitas pendidikan dan kesehatan. Rencana Induk jaringan transportasi Kota Padang Revitalisasi Kawasan Pasar Raya. Revitalisasi kawasan Padang Lama (Muaro Batang Arau, Pondok, Pasar Gadang, dan Mudik) dan Membuat skenario pemulihan dini mental masyarakat pasca gempa.

Pasar

Tanggal 4 sampai dengan 6 Mei 2010 dilaksanakan Seminar Awal Penyelenggaraan KLHS Rekonstruksi dan Rehabilitasi Kota Padang. Berdasarkan materi paparan tentang kondisi, masalah dan kerangka rencana pembangunan yang disampaikan para penyaji (provinsi Sumatera Barat dan kota Padang) para peserta seminar mengidentifikasi isu lingkungan hidup dan isu pembangunan berkelanjutan kota Padang. Rangkaian isu dimaksud dibahas lebih cermat sehingga disepakati isu strategis yang akan digunakan sebagai acuan penelaahan kebijakan, rencana dan program rekonstruksi dan rehabilitasi kota Padang. Perlu juga dijelaskan bahwa dalam rangka penyusunan rencana rekonstruksi dan rehabilitasi kota Padang, Walikota telah menetapkan Keputusan Walikota Padang Nomor 05 Tahun 2010 Tentang Organisasi Badan Pendukung Rehabilitasi dan Rekonstruksi Kota Padang. Di dalam uraian tugas pokok dan fungsinya, antara lain Bidang Pengawasan, yang terdiri atas Sub Bidang Kajian Lingkungan Hidup Strategis (KLHS) dan Amdal, Sub Bidang Pengawasan dan Pengendalian (Wasdal), dan Sub
Attachment 2 | 2

Milestone Report December

Bidang Monitoring dan Evaluasi (Monev) dan Pelaporan. Mengacu ke organisasi Badan Pendukung Rehabilitasi dan Rekonstruksi tersebut, maka aplikasi KLHS Rehabilitasi dan Rekonstruksi Kota Padang dilaksanakan oleh Sub Bidang Kajian Lingkungan Hidup Strategis (daftar anggota tim KLHS terlampir). Tim KLHS ini bekerja sama dengan Tim KLHS Direktorat Jenderal Bina Pembangunan Daerah Kementerian Dalam negeri dan dibantu tenaga Ahli (konsultan individual) kota Padang. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa penyelenggaraan aplikasi KLHS ini sesungguhnya sudah berlangsung sejak bulan Mei tahun 2010. Perlu dijelaskan bahwa Pemerintah Kota Padang belum melakukan penelitian tentang kapasitas daya dukung dan daya tampung lingkungan hidup bagian bagian kota Padang. Oleh sebab itu, mengacu ke muatan KLHS sebagaimana diisyaratkan di dalam pasal 16 Undang-Undang nomor 32 tahun 2009, maka orientasi telaah KLHS ini mengarah pada : (a) perkiraan mengenai dampak dan risiko lingkungan hidup, (b) kinerja layanan/ jasa ekosistem, dan (c) tingkat kerentanan dan kapasitas adaptasi masyarakat pantai terhadap kebencanaan dan perubahan iklim. Semoga hasil telaah ini mencapai sasarannnya, yakni memperbaiki rumusan kebijakan, rencana dan program rehabilitasi dan rekonstruksi kota Padang. 1.2. Maksud dan Tujuan

Maksud kegiatan adalah menyelenggarakan Kajian Lingkungan Hidup Strategis Rencana Rehabilitasi dan Rekonstruksi Kota Padang, mencakup rencana tata ruang wilayah, rencana pembangunan jangka menengah dan rangkaian rencana tematik kota Padang sebagai panduan pembangunan Padang New City Tujuan utama penyelenggaraan Kajian Lingkungan Hidup Strategis ini adalah: (1) Tersajinya hasil telaah prinsip-prinsip pembangunan berkelanjutan (prinsip keterkaitan, prinsip keseimbangan dan prinsip keadilan) untuk menyempurnakan materi rumusan kebijakan, rencana rehabilitasi dan rekonstruksi kota Padang. Tersajinya rekomendasi mitigasi dan alternatif untuk menyempurnakan materi Rencana Tata Ruang Wilayah Kota Padang dan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Kota Padang (2009 2014). Tersajinya hasil telaah konsistensi dan telaah koherensi materi RTRW Kota Padang dan RPJM Kota Padang dengan perangkat Rencana Tematik dalam rangka rehabilitasi dan rekonstruksi kota Padang. Terselenggaranya pengambilan keputusan oleh Walikota Padang tentang pilihan rekomendasi KLHS yang akan diintegrasikan ke dalam rumusan Raperda RTRW Kota Padang (2028) dan RPJMD (2009 2014) Cara Pelaksanaan KLHS

(2)

(3)

(4)

1.3.

Penyelenggaraan KLHS Rencana Rehabilitasi dan Rekonstruksi Kota Padang ini dilaksanakan melalui kerjasama Direktorat Jenderal Bina Pembangunan Daerah Kementerian Dalam Negeri dengan Pemerintah Kota Padang atas dukungan Kementerian Negara Lingkungan Hidup dan Danish International Development Agency. (Denmark) 1.4. Lingkup Kegiatan KLHS

Sebagaimana dijelaskan pada bagian terdahulu, walaupun Tim KLHS Kota Padang sudah dibentuk pada akhir tahun 2009, tetapi Seminar Awal Penyelenggaraan KLHS baru dapat dilaksanakan dari tanggal 4 sampai dengan 6 Mei 2010. Untuk mencapai maksud dan tujuan aplikasi KLHS ini lingkup kegiatan yang telah berlangsung mencakup: a. b. c. Telaah dokumen perencanaan pembangunan (nasional, provinsi Sumatera Barat dan Kota Padang) dan dokumen peraturan perundang-undangan. Identifikasi lintas pemangku kegiatan dalam konteks penyelenggaraan KLHS. Penyusunan Rencana Kerja Tim KLHS Padang
Attachment 2 | 3

Milestone Report December

d. e. f. g. h. i. j. k. l. m. n. o. p. 1.5. a) b) c) d) e) f) g)

Pengumpulan dan pengolahan data instansional. Diskusi terbatas Instansional di lingkungan Pemerintah Kota Padang. Diskusi terbatas Tim KLHS Kota Padang dengan Instansi Perencana Provinsi SUMBAR. Diskusi Instansional lintas Kabupaten Kota sekitar kota Padang. Workshop ke 2 tanggal 4 5 Oktober 2010 Rapat Tim KLHS Kota Padang. Workshop ke 3 yang berlangsung tanggal 1 3 November 2010 Diskusi Tim KLHS Kota Padang untuk menindaklanjuti workshop ke 3. Konsigneer analisis implikasi KRP dan perumusan mitigasi dan alternative. Rapat konsultasi Tim KLHS Kota Padang dengan Walikota Padang tentang hasil KLHS. Penyusunan Laporan KLHS Seminar akhir KLHS. Finalisasi dan Penyerahan Laporan. Metoda Pelaksanaan KLHS Interpretasi data dasar, digunakan untuk identifikasi masalah pokok lingkungan dan masalah pembangunan berkelanjutan, yang selanjutnya ditapis menjadi isu strategis KLHS. Content Analysis untuk menelaah materi peraturan perundangan dan dokumen-dokumen perencanaan. Penyusunan daftar Pertanyaan E_question untuk menelaah pengarusutamaan lingkungan hidup di dalam rumusan kebijakan, rencana dan program. Daftar Periksa (Cheklist) untuk telaah konsistensi rencana dengan program. Bagan alir untuk pendugaan implikasi kebijakan dan rencana kegiatan. Aplikasi Sistem Informasi Geografi (SIG) dan Pemodelan Dinamis untuk menjelaskan aspek spasial isu strategis dan kebencanaan serta keterkaitan antar komponen. Diskusi Terbatas (FGD) untuk membahas hasil-hasil telaah Tim KLHS dan bersma-sama merumuskan alternatif dan mitigasi.

Metoda yang digunakan di dalam penyelenggaraan KLHS disederhanakan sbb:

Attachment 2 | 4

Milestone Report December

BAB II BASELINE WILAYAH KAJIAN.

2.1. 2.1.1. A.

FISIOGRAFI KOTA PADANG DAN POTENSI BENCANA ALAM FISIOGRAFI KOTA PADANG TOPOGRAFI

Wilayah Kota Padang memiliki topografi yang bervariasi, perpaduan daratan yang landai dan perbukitan bergelombang yang curam. Sebagian besar topografi wilayah Kota Padang memiliki tingkat kelerengan lahan rata-rata >40%. Ketinggian wilayah Kota Padang dari permukaan laut juga bervariasi, mulai 0 m dpl - >1.000 m dpl. Wilayah daratan Kota Padang ketinggiannya sangat bervariasi yaitu antara 0 - 1.853 m diatas permukaan laut, dengan daerah tertinggi adalah Kecamatan Lubuk Kilangan. Wilayah yang memiliki topografi datar adalah 15.715,44 Ha, sedangkan yang bertopografi berbukit /bergelombang 5.068,85 Ha. Kota Padang memiliki kondisi lahan yang beragam, dengan variasi ketinggian dari permukaan yang cukup besar. Jika dilihat kondisi topografi dari sudut kemiringan dan ketinggian di atas permukaan laut dapat digambarkan sebagaimana terdapat dalam tabel berikut : Tabel 2.1. Tinggi Daerah Menurut Kecamatan NO 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. KECAMATAN Bungus Teluk Kabung Lubuk Kilangan Lubuk Begalung Padang Selatan Padang Timur Padang Barat Padang Utara Nanggalo Kuranji Pauh Koto Tangah Relung TINGGI (MDPL) 0 850 25 1853 8 400 0 322 4 - 10 08 0 25 38 8 - 1000 10 1600 0 1600 0 1853

Sumber : BPN Kota Padang, tahun 2008 Kawasan dengan kelerengan lahan antara 0 2% umumnya terdapat di Kecamatan Padang Barat, Padang Timur, Padang Utara, Nanggalo, sebagian Kecamatan Kuranji, Kecamatan Padang Selatan, Kecamatan Lubuk Begalung dan Kecamatan Koto Tangah. Kawasan dengan kelerengan lahan antara 2 15% tersebar di Kecamatan Koto Tangah, Kecamatan Pauh dan Kecamatan Lubuk Kilangan yakni berada pada bagian tengah Kota Padang dan kawasan dengan kelerengan lahan 15% 40% tersebar di Kecamatan Lubuk Begalung, Lubuk Kilangan, Kuranji, Pauh dan Kecamatan Koto Tangah. Sedangkan kawasan dengan kelerengan lahan lebih dari 40% tersebar di bagian Timur Kecamatan Koto Tangah, Kuranji, Pauh, dan bagian Selatan Kecamatan Lubuk Kilangan dan Lubuk Begalung dan sebagian besar Kecamatan Bungus Teluk Kabung. Kawasan dengan kelerengan lahan >40% ini merupakan kawasan yang telah ditetapkan sebagai kawasan hutan lindung.

Attachment 2 | 5

Milestone Report December

Tabel 2.2. Kelas Lereng di Kota Padang NO 1. 2. 3. 4. KELAS LERENG Lereng 0-2% Lereng 2-15% Lereng 15-40% Lereng >40% Total LUAS (HA) 15.486 3.028 12.412 36.570 69.496 PERSENTASE 22,26 7,25 17,86 52,63 100.00

Sumber: BPN Kota Padang tahun 2008 Dengan variasi ketinggian dari permukaan yang cukup besar, ketinggian tempat Kota Padang dapat diklasifikasikan menjadi lima zona dengan perincian menurut kecamatan. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel di bawah ini: Tabel 2.3. Ketinggian Tempat Kota Padang Menurut Zona KLASIFIKASI ZONA MENURUT KETINGGIAN ZONA I (0-5 M) Bungus Tekab Padang Selatan Padang Timur Sebaran di Kecamatan Padang Barat Padang Utara Nanggolo Kota Tangah ZONA II ( 5-10 M) Lubuk Begalung Bungus Tlk Kabung Padang Selatan Padang Timur Padang Barat Padang Utara Nanggalo Kuranji Kota Tengah Sumber : BPN Kota Padang 2007 B. GEOMORFOLOGI ZONA III (10-25 M) Bungus Telkab Padang Selatan Padang Barat Padang Utara Pauh Kota Tangah ZONA IV (25-100 M) Bungus Tlk Kabung Lubuk Kilangan Lubuk Begalung Padang Selatan Kuranji Pauh Kota Tangah ZONA V (>100 M) Lubuk Kilangan Lubuk Begalung Padang Selatan Kuranji Pauh Kota Tangah

Geologi wilayah Kota Padang dibentuk oleh endapan permukaan, batuan vulkanik dan intrusi serta batuan sedimen dan metamorf. Daya dukung batuan tersebut di atas bervariasi dari rendah sampai tinggi. Secara garis besar jenis batuan tersebut adalah sebagai berikut : Aliran yang tak teruraikan (Qtau) Alluvium (Qal) Kipas Alluvium (Qt) Tufa Kristal (QTt) Andesit (Qta) dan Tufa (QTp) Batu Gamping (PTls) Fillit, Batu Pasir, Batu Lanau Meta (PTps)
Attachment 2 | 6

Milestone Report December

Tabel 2.2. Batuan Wilayah Kota Padang No 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. Jenis Batuan (Litologi) Aluvium Batuan Gunung Api Batuan Intrusi Batuan Metamorf Batu Kapur Formasi Palepat Formasi Painan KOTA PADANG Luas (Ha) 21.566,89 34.972,34 1.337,81 1.189,56 1.158,56 0,01 9.270,83 69.496,00 Persentase 31,03 50,32 1,93 1,71 1,67 0,00 13,34 100,00

Sumber : Hasil Perhitungan Aplikasi ArcGIS, Tahun 2008 Secara geomorfologis, kondisi alam wilayah Kota Padang merupakan dataran rendah yang terdiri dari dataran pantai dan dataran aluvial, serta wilayah perbukitan. Daerah perbukitan mempunyai kemiringan lereng yang bervariasi, dan hampir 65 % daerah perbukitan tersebut mempunyai kemiringan agak curam. Berdasarkan pada kondisi tanah, wilayah Kota Padang terdapat 7 jenis tanah yaitu : Aluvial, Regosol, Organosol, Podsolik, Latosol, litosol (batuan yang melapuk pada bagian bawah), podsolik merah kuning dan Andosol (humus). Pada dataran rendah terdapat jenis tanah Aluvial, Regosol (batuan yang melapuk pada bagian atas) serta Organosol dan glei humus (humus permukaan bagian bawah, sedangkan pada daerah perbukitan didominasi oleh jenis tanah Podsolik, dan Latosol. Seperti diketahui jenis tanah Podsolik dan Latosol ini tergolong peka terhadap erosi. Dari semua jenis tersebut yang terluas adalah jenis tanah latosol mencapai 46,70. Secara rinci jenis tanah di wilayah Kota Padang dapat dilihat pada tabel berikut . Tabel 2.3.Jenis Tanah Wilayah Kota Padang No. 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. Aluvial Andosol Komplek Podsolik Merah Kuning Latosol dan Litosol Latosol Latosol dan Podsolik Merah Kuning Organosol dan Glei Humus Regosol Kota Padang Jenis Tanah Luas ( Ha ) 15.948,07 5.623,77 10.794,68 32.453,15 3.027,21 688,30 960,81 69.496,00 Persentase 22,95 8,09 15,53 46,70 4,36 0,99 1,38 100,00

Sumber : Hasil Perhitungan Aplikasi ArcGIS, Tahun 2008 Geologi Kota Padang dibentuk oleh: endapan permukaan, batuan vulkanik dan intridi, batuan sedimen dan metamorf. Secara garis besar batuan Kota Padang terdiri : Aluvium (Qal) terdiri dari pasir dan kerikil, umumnya jenis ini terdapat di dataran pantai dengan jumlah sebaran sebesar 25,58%. Jenis batuan endapan merupakan jenis yang lunak sangat tidak cocok untuk kawasan guna lahan permukiman. Aluvium (Qpas) terdiri dari perombakan andesit yang berasal dari gunung api yang berbentuk kipas jenis ini tersebar dengan jumlah 6,46%.

Attachment 2 | 7

Milestone Report December

Andesit dan Tufa (Qtp) umumnya mengandung horen blenda yang telah digantikan oleh epidot dan klorit. Dengan jumlah sebaran sebesar 0,7% dan 0,14%. Aliran yang tak teruraikan(Qtau) terdiri dari lahar, Fanglo merat, dan endapan endapan Kolovium. Tufa Kristal (Qtt) terdiri dari pejal dan tersemen baik, ini disebabkan oleh Tufa kristal yang telah mengeras dan banyak mengandung serabut serabu gelas dengan Frakmen frakmen kuarsa dengan jumlah sebaran sebesar 140,53%. Batuan Metamort (JS) terdiri dari kuarsit, serpih, batu sabak dan lain-lain dengan jumlah sebaran sebesar 1,24%. Batuan kapur /granit kapur (KGR) bersusunan lenko granit sampai monzanit kuarsa umumnya bertesktur faneritik setempat pekmati.jenis batuan ini tidak cocok untuk lahan permukiman dengan jumlah sebaran sebesar 1,65%. HIDROLOGI

C.

Wilayah Kota Padang dilalui oleh banyak aliran sungai besar dan kecil. Terdapat tidak kurang dari 23 aliran sungai yang mengalir di wilayah Kota Padang dengan total panjang mencapai 155,40 Km (10 sungai besar dan 13 sungai kecil). Umumnya sungai-sungai besar dan kecil yang ada di wilayah Kota Padang ketinggiannya tidak jauh berbeda dengan tinggi permukaan laut. Kondisi ini mengakibatkan cukup banyak bagian wilayah Kota Padang yang rawan terhadap banjir/genangan. Wilayah Kota Padang terbagi dalam 6 Daerah Aliran Sungai (DAS), yaitu : DAS Air Dingin, DAS Air Timbalun, DAS Batang Arau, DAS Batang Kandis, Kota Padang memiliki banyak sungai yaitu 5 sungai besar dan 16 sungai kecil dengan sungai terpanjang yaitu Sungai Batang Kandis sepanjang 20 km dan sungai terpendek yaitu Sungai Batang Muar. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel di bawah ini : Tabel 2.4. Sungai-Sungai dan Lokasinya di Kota Padang NO 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. 13. 14. 15. 16. 17. 18. NAMA SUNGAI Batang Kuranji Batang Belimbing Batang Guo Batang Arau Batang Muar Sungai Banjir Kanal Batang Logam Batang Kandis Sungai Tarung Batang Dagang Sungai Gayo Sungai Padang Aru Sungai Padang Idas Batang Kampung Juar Batang Aru Batang Kayu Aro Sungai Timbulun Sungai Sarasah PANJANG (KM) 17 5 5 5 0,4 5,5 15 20 12 11 3 5 4,5 2,5 6 5 3 2 LOKASI (KECAMATAN) Pauh, Kuranji, Nanggalo, Padang Utara Kuranji Kuranji Padang Selatan Padang Utara Padang Timur, Padang Utara Koto Tangah Koto Tangah Koto Tangah Nanggalo Pauh Lubuk Kilangan Lubuk Kilangan Lubuk Begalung Lubuk Begalung Bungus Teluk Kabung Bungus Teluk Kabung Bungus Teluk Kabung

Attachment 2 | 8

Milestone Report December

NO 19. 20. 21.

NAMA SUNGAI Sungai Pisang Bandar Jati Sungai Koto

PANJANG (KM) 3 2 2

LOKASI (KECAMATAN) Bungus Teluk Kabung Bungus Teluk Kabung Padang Timur

Sumber : Dinas Kimpraswil Kota Padang, tahun 2008 Kota Padang memiliki banyak sungai yaitu 5 sungai besar dan 16 sungai kecil dengan sungai terpanjang yaitu Batang Kandis sepanjang 20 km. Selain di daratan pulau Sumatera, Kota Padang memiliki 19 buah pulau yang terbesar adalah Pulau Sikuai di Kecamatan Bungus Teluk Kabung seluas 38,6 km2. Panjang garis pantai adalah 68,126 km (diluar pulau-pulau kecil). Hal ini membuat Kota Padang menjadi salah satu kota pantai yang mempunyai resiko terhadap berbagai kemungkinan munculnya bahaya gelombang pasang dan tsunami karena tumbukan lempeng Eurasia dan Indo Australia di Samudera Indonesia. D. GEOGRAFIS

Kota Padang adalah ibukota Propinsi Sumatera Barat yang terletak di pantai Barat Pulau Sumatera dan berada antara 0o4400 dan 1o0835 Lintang Selatan serta antara 100o0505 dan 100o3409 Bujur Timur. Sebelah Utara berbatasan dengan Kabupaten Padang Pariaman, sebelah Selatan dengan Kabupaten Pesisir Selatan, sedangkan sebelah Barat berbatasan dengan Samudera Indonesia dan sebelah Timur dengan wilayah Kabupaten Solok. Menurut PP No. 17 Tahun 1980, luas Kota Padang adalah 694,96 Km2 atau setara 1,65 % dari luas Propinsi Sumatera Barat dengan keliling 165,35 km2. Luas daerah efektif termasuk sungai adalah 205.007 km2, sedangkan luas daerah bukit termasuk sungai adalah 486.209 km2. Kota Padang terdiri dari 11 Kecamatan dan 103 Kelurahan dengan kecamatan terluas adalah Koto Tangah yang mencapai 232,25 Km2 (34,32 %) dan yang paling kecil adalah Kecamatan Padang Barat yaitu 7,00 Km2 (1,01 %). Dari keseluruhan luas Kota Padang sebagian besar atau 52,52 % berupa hutan yang dilindungi oleh pemerintah, berupa bangunan dan pekarangan seluas 9,01 % atau 62,63 km2, sedangkan yang digunakan untuk lahan sawah seluas 7,52 % atau 52,25 km2. Tabel 2.5. Luas Lahan Per Kecamatan Di Kota Padang NO 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11. KECAMATAN Bungus Teluk Kabung Lubuk Kilangan Lubuk Begalung Padang Selatan Padang Timur Padang Barat Padang Utara Nanggalo Kuranji Pauh Koto Tangah Total Sumber : BPS Kota Padang tahun 2009 LUAS (KM2) 100,78 85,99 30,91 10,03 8,15 7,00 8,08 8,07 57,41 146,29 232,25 694,96 PERSENTASE 14,50 12,37 4,45 1,44 1,17 1,01 1,16 1,16 8,26 21,05 33,42 100,00

Attachment 2 | 9

Milestone Report December

2.1.2.

POTENSI BENCANA ALAM/KERAWANAN BENCANA ALAM

2.1.2.1. Gempa Bumi Pusat-pusat gempa di Kota Padang paling banyak berkaitan dengan gempa tektonik. Pusat-pusat gempa tektonik di Kota Padang terbentuk di sepanjang jalur gempa mengikuti zona subduksi sepanjang 6.500 km di sebelah Barat Pulau Sumatra. Tumbukan Lempeng Samudera Hindia dan Lempeng Australia yang menyusup di bawah Lempeng Eurasia membentuk Zona Benioff, yang secara terus menerus aktif bergerak ke arah Barat - Timur yang merupakan zona bergempa dengan seismisitas cukup tinggi. Kondisi ini menyebabkan Kota Padang menjadi daerah tektonik giat dan merupakan sumber gempa merusak. Data kegempaan dari BMG dan USGS memperlihatkan lokasi pusat-pusat gempa di perairan Kota Padang tersebar cukup merata. Pusat gempa terlihat lebih banyak di perairan antara Pulau Enggano dan daratan Pulau Sumatera. Frekuensi kejadian gempa dari tahun 1900 hingga 1963 relatif sedikit, sedangkan dari tahun 1963 hingga 1995 terjadi peningkatan. Gempa terjadi 3 sampai 16 kali per tahun dalam kurun 1963-1975, frekuensi ini menurun hingga 2 kali kejadian dalam tahun 1984, dan kemudian meningkat lagi dengan 2 kali kejadian pada tahun 1995. Kebanyakan sumber-sumber gempa tersebut berada pada kedalaman 33 hingga 100 Km, dengan magnitude lebih besar dari 5 skala Richter. Gempa berkekuatan lebih besar dari 6,5 skala Richter di permukaan, berpeluang besar menyebabkan deformasi di daratan dan di dasar laut. Zona tektonik aktif yang terbentuk dari penujaman lempeng di sebelah Barat Pulau Sumatera juga dapat dilihat dari adanya gunung api aktif yang muncul di sepanjang jalur patahan aktif di bagian sisi Barat Pulau Sumatera yang bergerak geser kanan (dextral strike slip fault). Jalur patahan Sumatera yang juga biasa disebut dengan Patahan Semangko sepanjang 1.650 Km, menyebabkan blok sebelah kiri pulau Sumatera bergerak ke Utara sedangkan yang di sebelah kanan bergerak ke Selatan serta melahirkan kepulauan busur dalam (inner island arc) seperti Pulau Nias, Mentawai, Enggano, Pisang dan sebagainya. Gempa vulkanik di Kota Padang disebabkan posisi Kota Padang yang berada di dekat 3 gunung api aktif, yaitu Gunung Talang, Marapi dan Tandikek. 2.1.2.2. Gelombang Tsunami Letak Kota Padang yang berada di Pantai Barat Sumatera, yang berbatasan langsung dengan laut terbuka (Samudera Hindia) dan zona tumbukan aktif dua lempeng menjadikan Padang salah-satu kota paling rawan bahaya gelombang Tsunami. Gempa tektonik sepanjang daerah subduksi dan adanya seismik aktif, dapat mengakibatkan gelombang yang luar biasa dahsyat. Pusat gempa, umumnya menunjukkan tipe sesar naik. Sumber patahan seperti ini jika mempunyai magnitude lebih besar dari atau sama dengan 7 Skala Richter sangat berpotensi sebagai pembangkit gelombang tsunami. Dari catatan sejarah bencana, gelombang tsunami pernah melanda Sumatera Barat pada 1797 dan 1833. 2.1.2.3. Liquifaksi Liquifaksi adalah suatu proses atau kejadian berubahnya sifat tanah dari keadaan padat menjadi keadaan cair, yang disebabkan oleh beban siklik pada waktu terjadi gempa sehingga tekanan air pori meningkat atau melampaui tegangan vertikal. Berdasarkan analisis potensi liquifaksi dengan mempertimbangkan percepatan gempa sebesar 490 cm/detik di permukaan tanahnya , maka wilayah Kota Padang akan mengalami penurunan yang cenderung semakin besar ke arah utara hangga mencapai 25 cm. Penurunan lapisan tanah tersebut, kemungkinan besar disebabkan oleh penyebaran endapan pasir gembur yang semakin tebal di wilayah utara. Penurunan lapisan tanah iniu akan mengancam infrastruktur penting seperti Bandara Internasional Minangkabau (BIM). 2.1.2.4. Gerakan Tanah Gerakan tanah di Kota Padang meliputi daerah-daerah sebagai berikut : A. 1) Dataran Kondisi Stabil (S)

Terdapat pada daerah dataran yang tersusun oleh Endapan aluvial, rawa, Kipas aluvial, pematang pantai dan dataran pantai, berupa lempung pasir, kerikil-kerakal, lepas-agak padat, sudut lereng 0 5 % berupa dataran dengan elevasi 0 5 m (dml), tipe erosi limpasan-alur, serta runtuhan tebing sungai sebagai akibat limpasan aktifitas aliran air sungai. Meliputi sepanjang pesisir pantai bagian barat Kota Padang.
Attachment 2 | 10

Milestone Report December

2) a.

Kondisi Tidak Stabil (TS) : Tingkat Rendah Sedang (R S) :

Terdapat pada daerah baratlaut hingga ke arah selatan, yang tersusun oleh Endapan Dataran Aluvial berupa endapan volkanik (dominan) berupa lahar, tuf dan koluvium, sifat endapan padat - sangat padat, padat, sudut lereng 5 30 % berupa dataran bergelombang dengan elevasi 5 10 m (dml), tipe erosi alur lembah (runtuhan tebing sungai) akibat aktifitas aliran air permukaan dan sungai. Meliputi bagian timur laut - tenggara, sedikit berada pada bagian barat Kota Padang. b. Tingkat Sedang - Stabil (S T): Terdapat pada daerah dataran - perbukitan yang tersusun oleh batuan tua yang terdiri dari malihan/metamorf, sifat endapan sangat padat, mudah tererosi oleh aliran air permukaan dan terdapat dinding dengan > 30 % hingga tegak lurus, dapat runtuh. Tipe erosi limpasan-galur-jurang,. Adanya goncangan gempabumi dapat menimbulkan rekahan-rekahan ke arah lembah yang dapat menyebabkan terjadinya longsoran ke arah hulu. Meliputi bagian timur laut hingga tenggara,dan selatan Kota Padang. B. Pantai

Abrasi/Akresi (A) : Terdapat pada daerah yang tersusun oleh Endapan Pematang Pantai berupa lanaupasir, sifat endapan lepas-lepas dan dapat terjadi Abrasi/Akresi sebagai akibat dari aktifitas air laut. Adapun jenis gerakan tanah bisa berupa : Erosi Tersebar di bagian barat laut tenggara sepanjang tepi pantai yang meliputi daerah Padang. Terdapat pada batuan Qa, biasanya terjadi di sekitar tebing sungai/pantai yang disebabkan oleh arus/ombak. Longsoran Terjadi pada batuan/tanah pelapukan yang mempunyai lereng. Gelinciran Batuan/Runtuhan Gelinciran/runtuhan batuan terjadi karena adanya perlapisan dari batuan dan juga adanya patahan. Sedangkan longsoran terjadi pada tanah pelapukan. 2.1.2.5. Longsoran Lahan Hasil analisis tingkat bahaya longsoran lahan pada daerah Kota Padang menunjukkan sebagian besar daerahnya memiliki tingkat bahaya longsoran lahan yang sedang dan tinggi. Tingkat bahaya longsoran lahan yang rendah umumnya terdapat pada daerah dataran alluvial dan dataran alluvial pantai dengan lereng 0-8%, sedangkan tingkat bahaya longsoran lahan sedang terdapat pada daerah lereng-kaki pegunungan, kompleks perbukitan vulkanik, dan kompleks pegunungan vulkanik. Faktor yang mempengaruhi tingkat bahaya longsoran lahan di daerah Kota Padang adalah karakteristik lahannya berupa kemiringan lereng yang umumnya berkisar 23 - 99%. Bentuk lereng pada umumnya tidak beraturan (irreguler), dengan panjang lereng yang bervariasi, mulai dari 12 hingga 150 meter. Ketinggian daerah yang sebagian besar berupa kompleks perbukitan vulkanik, dan kompleks pegunungan vulkanik dengan ketinggian relief berkisar antara 500 - 1.000 meter dpl, kecuali untuk daerah Sungai Sapih, Air Dingin, dan Bukit Lantiak. Struktur batuan wilayah Kota Padang umumnya miring, kecuali di daerah Kuranji yang mempunyai struktur masif sehingga akan mempermudah terbentuknya bidang gelincir. Kedalaman air tanah umumnya dangkal, yaitu berkisar dari 86 cm hingga kedalaman 7 m dan memiliki jalur mata air (spring) dan jalur rembesan (seepage), dan curah hujan yang tinggi. Akibat curah hujan yang tinggi, air tanah yang tergolong dangkal dan banyak terdapat jalur mata air dan rembesan mempercepat terjadinya longsoran lahan.

Attachment 2 | 11

Milestone Report December

2.1.2.6. Erosi Pantai/Abrasi Erosi pantai/abrasi merupakan peristiwa alam yang mengakibatkan terjadinya pengikisan pada pantai sehingga luas daerah pantai menjadi berkurang. Erosi pantai/abrasi terjadi akibat pengaruh yang berasal dari laut yaitu berupa gelombang, arus laut dan longshore current atau arus sejajar pantai. Pada umumnya proses interaksi antara perairan pantai dengan laut lepas lebih banyak ditemui pada pantai di Kota Padang karena pantai-pantai tersebut banyak berhubungan dengan lautan, terkecuali Pantai Bungus, karena pantai ini terletak pada daerah teluk, maka kecepatan arus sepanjang pantainya cenderung menjadi rendah. Gelombang yang datang menuju pantai dapat menimbulkan arus pantai yang berpengaruh terhadap proses sedimentasi/abrasi di pantai. Pola arus pantai terutama ditentukan oleh besarnya sudut datang yang dibentuk antara gelombang yang datang dengan garis pantai. Jika sudut datang itu cukup besar, maka akan terbentuk arus menyusur pantai (longshore curent) yang disebabkan oleh perbedaan tekanan hidrostatis. Jika sudut datang gelombang kecil atau sama dengan nol (gelombang yang datang sejajar dengan pantai), maka akan terbentuk arus meretas pantai (rip curent) dengan arah menjauhi pantai di samping terbentuknya arus menyusur pantai. Salah-satu faktor penyebab tingginya laju abrasi pantai di daerah Pasir Parupuk disebabkan oleh konstruksi yang dibangun di pantai seperti pemecah gelombang (creep). Pada umumnya konstruksi ini akan menghadang aliran litoral (litoral drift) alami di wilayah pantai tersebut, yang berarti terganggunya pemasokan air ke pantai di bagian hilir aliran lithoral tersebut. Kondisi semacam ini akan memicu proses abrasi yang terjadi di wilayah tersebut. Pada umumnya pantai yang ada di Kota Padang kebanyakan adalah pantai pasir yang terdiri dari kwarsa dan feldspar, bagian yang paling banyak dan paling keras sisa-sisa pelapukan lahan atas (upland). Untuk daerah pasir di sekitar Kampus Universitas Bung Hatta, sisa-sisa terumbu karang yang dominan. Pantai ini dibatasi hanya di daerah tempat gerakan air yang kuat mengangkut partikel-partikel yang halus dan ringan. Untuk pantai di sekitar Kampus Universitas Bung Hatta, ekosistemnya termasuk terumbu karang yang dari segi tipenya termasuk kepada jenis terumbu karang tepi (fringing reef), yang mempunyai kedalaman kurang dari 40 meter. 2.1.2.7. Banjir Berdasarkan terminologi banjir, banjir yang terjadi di Kota Padang dapat dibedakan atas dua jenis yaitu banjir genangan yang disebabkan terjadinya genangan pada suatu areal akibat dari hujan deras, yang tidak dapat mengalir, dan lambat keluar dari areal tersebut dan banjir luapan sungai/kiriman yang berasal dari hujan deras yang turun di bagian hulu DAS yang menggenangi dataran rendah yang telah dimanfaatkan dan semula merupakan dataran banjir (flood plain). Pada umumnya banjir di Kota Padang tergolong pada banjir genangan. Berpedoman pada Catalogue of Landforms for Indonesia (Dessaunattes, 1977), wilayah dataran rendah Kota Padang tergolong kepada sistim aluvial (Alluvial plain) dan dataran banjir (Flood Plain) yang terbentuk dari bahan endapan sungai (Recent Deposits) dari luapan luapan sungai Batang Arau, Batang Kuranji, Batang Air Dingin dan Batang Kandis pada periode Kuarter (Qal). Sebagai kawasan yang dekat dengan pantai dan pengaruh pasang air laut, sangat rawan dengan banjir, karena dikepung dari kedua arah, di sebelah barat dari laut dan di sebelah timur dari hulu sungai. Kota Padang dilihat dari geomorfologinya merupakan perpaduan antara bentuk lahan pebukitan vulkanik bagian Timur, bentuk lahan aluvial bagian Tengah dan bentuk lahan marin bagian Barat. Daerah bagian Timur merupakan perbukitan vulkanik yang lebih tinggi dari daerah bagian Tengah dan Barat, sehingga daerah bentuk lahan aluvial dan marin yang dilalui oleh beberapa sungai besar seperti Batang Bungus, Batang Arau, Batang Kuranji dan Batang Air Dingin serta masih ada lagi 18 sungai kecil lainnya yang mempunyai aliran permanen sepanjang tahun, sering mengalami banjir. Hal ini didukung lagi bahwa Kota Padang merupakan daerah tropis mempunyai curah hujan yang cukup tinggi rata-rata .300 mm per-bulan dengan rata-rata hari hujan 15 - 16 hari per-bulan. Apalagi luapan sungai tersebut bersamaan dengan terjadinya pasang di laut. 2.2. Tata Letak Kota Padang dan Tinjauan Sistem Kota Di Sumbar.

Kota Padang merupakan pusat pertumbuhan wilayah Sumatera Barat, dengan fungsi sebagai pusat pemerintahan, pendidikan, pariwisata, industri dan perdagangan. Perkembangan Kota Padang yang relatif pesat, dilihat dari kegiatan ekonomi dan fungsi pelayanan primer dan sekunder sangat berpengaruh terhadap kegiatan kota secara keseluruhan. Hal ini terlihat dalam bentuk kebutuhan

Attachment 2 | 12

Milestone Report December

akan wadah atau ruang yang cukup besar untuk mendukung aktifitas ekonomi dan fungsi pelayanan sebagai penunjang kegiatan ekonomi tersebut. Dalam Rencana Tata Ruang Wilayah Kota Padang Tahun 2004-2013, arahan pengembangan pusatpusat pelayanan yaitu: Pusat Pelayanan Utama di kawasan pusat kota, Sub Pusat Pelayanan Utama di kawasan Lubuk Buaya, Air Pacah, Bandar Buat, Tabing, Teluk Bayur, dan Bungus serta Pusat Pelayanan Kegiatan di kawasan Anak Air, Limau Manis, Pasar Baru, Pasar Raya, Gunung Padang, dan Sungai Pisang. Dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) Kota Padang Tahun 2004-2008 (berdasarkan Perda No. 19 Tahun 2004) ditetapkan 4 (empat) Sentra Perkembangan Kota dan 18 (delapan belas) Kawasan Prioritas Pengembangan. Untuk mengembangkan kawasan prioritas tersebut masih perlu dilengkapi dengan Rencana Detail Tata Ruang Kota dan Rencana Teknis Tata Ruang Kota sebagai acuan untuk melaksanakan pembangunan. Sentra perkembangan dan kawasan prioritas Kota Padang yaitu: a. b. c. d. Sentra Perkembangan Pusat Kota: kawasan Pasar Raya, kawasan eks Terminal Lintas Andalas, kawasan eks Bandara Tabing, kawasan wisata terpadu Gunung Padang, dan kawasan sepanjang pantai. Sentra perkembangan Utara: kawasan Air Pacah, kawasan perbatasan sekitar Bandara Internasional Minangkabau, kawasan Pasar Induk Anak Air, kawasan Padang Industrial Park, kawasan Pasar Lubuk Buaya, kawasan perkantoran Pemko Padang. Sentra perkembangan Timur: kawasan Bandar Buat, kawasan Kampus Universitas Andalas Limau Manis, kawasan Pasar Baru, kawasan Padang By Pass. Sentra perkembangan Selatan: kawasan Teluk Bayur, kawasan Industri Maritim Bungus, kawasan wisata Sungai Pisang. Perubahan Penggunaan Tanah

2.3.

Kota Padang merupakan suatu entity yang memperlihatkan sejarah perkembangan kota pesisir dengan dinamika masyarakatnya yang tumbuh dan berkembang menjadi kota jasa, perdagangan dan industri. Perkembangan dan perubahan Kota Padang dipengaruhi oleh perkembangan dan pertumbuhan serta dinamika kegiatan social ekonomi yang berlangsung. Kondisi ini akan mempengaruhi pergeseran penggunaan lahan, sementara sumber daya alam yang dapat diolah untuk menunjang perkembangan diatas sangat terbatas. Pergeseran penggunaan lahan tersebut dapat terlihat dari tumbuh dan berkembangannya bangunan baru untuk menampung kegiatan-kegiatan pemukiman, perdagangan, jasa maupun industri. Implementasi konsep dasar Induk Kota Padang yang dituangkan dalam pengaturan tata ruang kota tampak bahwa pemukiman/perumahan merupakan salah satu dasar membentuk struktur kota. Pemukiman/perumahan merupakan unsur pendukung /penunjang dari pusat pengembangan kota yaitu pusat pengembangan industri, pusat kota/inti kota, dan pengembangan pendidikan. tetapi pemukiman juga menjadi struktur wilayah kota itu sendiri. Sektor pemukiman/perumahan menduduki urutan ketiga yaitu sekitar 15,47% dari total penggunaan lahan yang ada setelah penggunaan lahan untuk hutan/konservasi dan lahan kosong/pertanian. Luas penggunaan lahan total yang terdapat dalam wilayah Kota Padang adalah 69.496 ha (Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Kota Padang, 2008). Dalam pemanfaatan ruang untuk berbagai kegiatan di Kota Padang terdapat berbagai masalah seperti : a. b. c. d. Terjadinya konversi lahan hutan menjadi lahan permukiman dan kebun Pembangunan yang melanggar sempadan bangunan yang ditetapkan dan pembangunan yang tidak sesuai dengan penggunaan lahan yang ditetapkan. Pemanfaatan lahan di kawasan sepanjang Daerah Aliran Sungai (DAS) di Kota Padang yang dapat mengganggu fungsi ekologis DAS tersebut sehingga berdampak terhadap kawasan pemukiman di hilirnya. Batasan kepemilikan lahan yang masih banyak kurang jelas.

Attachment 2 | 13

Milestone Report December

Lahan di kota Padang dimanfaatkan untuk mendukung berbagai kegiatan, yaitu untuk pertanian, perdagangan, perumahan, maupun untuk pembangunan berbagai fasilitas pelayanan perkotaan. Penggunaan lahan yang terdapat di kota Padang terdiri dari wilayah hutan yang terdiri dari hutan lindung, hutan suaka alam dan wisata, serta hutan bakau. Lahan persawahan terdiri dari sawah beririgasi, sawah tadah hujan, sawah pasang surut, dan sawah lainnya. Lahan non sawah terdiri dari rawa-rawa, ladang/tegalan, perkebunan, perukiman, kolam air tawar, padang rumput alami, tanah tandus/rusak, tanah terlantar dan lain lain. Berikut ini tabel penggunaan lahan di Kota Padang. Tabel 2.6. Tipologi Penggunaan Lahan Berdasarkan Status Penggunaan Lahan Kota Padang NO 1. a. c. 2. a. c. 3. Status Penggunaan Wilayah Hutan Hutan Lindung Hutan bakau Sawah beririgasi Sawah Pasang surut b. Hutan suaka alam dan wisata Lahan persawahan b. Sawah tadah hujan d. Sawah lainnya Lahan non sawah a. c. e. f. Rawa rawa Perkebunan Kolam air tawar Tanah tandus/rusak b. Ladang /tegalan d. Permukiman Luas(Ha) 36.539,50 12.850 23.655 34,50 12.899,00 6.595 4.173 543 1.588 26.361,50 125 1.248 4.248 3.732 14.301,05 1536 75 768 1099,18. Total Sumber : Dinas Pertanian dan Kehutanan Kota Padang, 2008 Penggunaan Lahan di Kota Padang berdasarkan status penggunaan lahan menunjukan luas wilayah hutan 36.538,50 Ha, Lahan persawahan 12.899.00 Ha dan lahan non sawah 26.361,50 Ha . 69.496,00

g. Padang rumput alami h. Tanah terlantar i. Lain lain

Attachment 2 | 14

Milestone Report December

Tabel 2.7. Luas Lahan menurut Jenis Penggunaannya Di Kota Padang No 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. 13. 14. 15. 16. 17. 18. 19. Jenis Penggunaan Tanah Perumahan Tanah Perusahaan Tanah Industri Termasuk PT Semen Padang Tanah Jasa Sawah BeririgasiTeknis Sawah Non Irigasi Ladang Perkebunan Rakyat Kebun Campuran Kebun Sayuran Peternakan Kolam Ikan Danau Buatan Tanah Kosong Tanah Kota Semak Rawa/Hutan Mangrove Hutan Lebat Sungai dan Lain-lain Jumlah Luas Lahan (Ha) 6.288,28 234,75 702,25 71532 4.934,00 291.00 956.00 2.148.50 13.924.07 1.343.00 26.83 100.80 162.50 16.00 1.568.00 120.00 135.00 35.448.00 379.45 69.496.00 Persentase (%) 9,05 0,34 1,01 1,03 7,10 0,42 1,38 3,09 20,04 1,93 0,04 0,15 0,23 0,02 2,26 0,17 0,19 51,01 0,55 100,00

Sumber : Kota Padang Dalam Angka Tahun 2008 Luas lahan di Kota Padang menurut jenis penggunaannya menunjukan hutan lebat 35.448 Ha, kebun campuran 13.924,07 Ha, tanah perumahan 6.288,28 Ha, sawah beririgasi teknis 4.934 Ha dan perkebunan rakyat 2.148,5 Ha. A. Lahan Kritis

Total luas lahan kritis di kota Padang adalah 49.133,5 ha, yang terdiri dari 17.999.70 ha berpotensi kritis, 24.254.10 ha agak kritis, 5.281.70 ha sudah kritis, dan 1.598.00 ha dalam kondisi sangat kritis Jumlah total lahan kritis ini lebih dari setengah luas wilayah kota Padang yaitu 69. 496 ha . Kota Padang dengan luas 69.496 ha mempunyai lahan kritis seluas 6.410 ha atau 12,22 % dari luas Kota Padang. Perincian luas lahan kritis tersebut di dalam kawasan hutan 1.410 ha dan di luar kawasan hutan 5.000 ha.. Berpedoman pada luas kawasan hutan Kota Padang menunjukan bahwa luas hutan (hutan lindung dan hutan konservasi adalah 36.500,24 ha dan areal non hutan 32.995, 76 ha. Dari luas kawasan hutan tersebut 5,46 % berada dalam kondisi kritis, sedangkan untuk kawasan non hutan sebesar 16,36 %. Penyebaran lahan kritis di dalam kawasan hutan terdapat di Kecamatan Koto Tangah, Kuranji, Pauh, Lubuk Begalung, Lubuk Kilangan dan Bungus Teluk Kabung yang meliputi 6 daerah aliran sungai (DAS) yaitu DAS Batang Arau, DAS Batang Kuranji, DAS Batang Air Dingin, DAS Batang Kandis, DAS Batang Air Timbalun dan DAS Sungai Pisang. Dampak lain dari keberadaan lahan kritis tersebut dapat dilihat ketika terjadi hujan diatas normal pada wilayah DAS bagian hulu. Pada kondisi ini debit sungai relatif lebih tinggi dan disertai warna air yang keruh oleh bahan bahan sedimen, yang selanjutnya bahan bahan sedimen tersebut akan diendapkan di sekitar muara sungai. Kondisi yang ekstrim dapat dilihat pada muara sungai Batang
Attachment 2 | 15

Milestone Report December

Arau, dimana telah terjadi pendangkalan dan banyak tumpukan bahan-bahan sedimen pada bagian pinggir sungai. Hal ini jelas akan mengurangi kapasitas tampung sungai dan penyempitan badan sungai. Tingginya kebutuhan masyarakat akan lahan seiring dengan bertambahnya jumlah penduduk, jelas mempengaruhi pergeseran penggunaan lahan di Kota Padang. Sesuatu yang dikhawatirkan dimasa yang akan datang adalah terjadinya perubahan pemanfaatan lahan produktif dan perubahan pemanfaatan lahan pada kawasan lindung yang tanpa terkendali. Berbagai kegiatan seperti Pembukaan lahan berpindah, kegiatan pertanian, perkembangan kawasan pemukiman, pedagangan ataupun jasa masih banyak yang belum sesuai dengan konsep lingkungan. Adanya upaya untuk memanfaatkan kawasan lindung menjadi areal budidaya semakin meningkat. Disamping itu juga adanya kecenderungan masyarakat menggunakan sistim ladang berpindah serta pembukaan lahan bagi keperluan pertanian dan kawasan terbangun. Pada kawasan-kawasan tertentu terlihat kecenderungan perkembangan yang pesat dalam penggunaan alih fungsi lahan untuk kegiatan pertanian, ladang berpindah, pembangunan perumahan, jasa dan keperluan kegiatan lainnya. Dimana pada beberapa kecamatan ini yang semula mempunyai kawasan lindung yang cukup signifikan dengan daerah tangkapan air (catchment area) Kota Padang yang seharusnya dipelihara atau dilestarikan, terlihat sudah mulai berubah fungsi dan dialihkan untuk peruntukan lain seperti untuk kegiatan-kegiatan perladangan dan kegiatan lainnya. Pertambahan lahan kritis, perubahan pemanfaatan lahan produktif dan kawasan lindung akibat kegiatan yang tidak memperhatikan konservasi lingkungan masih cenderung untuk terus bertambah di Kota Padang. Hal tersebut diatas jelas akan menjadikan timbulnya tekanan terhadap sumberdaya lahan serta lingkungan. Keadaan ini sudah sepantasnya untuk diwaspadai oleh masyarakat dan Pemerintah Kota Padang. Oleh sebab itu, pola perubahan ini harus dikendalikan semaksimal mungkin dengan kebijakan pemerintah.

Attachment 2 | 16

Milestone Report December

Attachment 2 | 17

Milestone Report December

Attachment 2 | 18

Milestone Report December

Attachment 2 | 19

Milestone Report December

Attachment 2 | 20

Milestone Report December

2.4.

KEPENDUDUKAN

Pesatnya perkembangan Kota Padang di berbagai sektor, seiring dengan semakin tingginya angka pertambahan penduduk kota. Perkembangan penduduk yang cukup pesat ini terjadi akibat arus urbanisasi dan berkembangnya beberapa kawasan di kecamatan pemekaran sejak perluasan kota yaitu Bungus Teluk Kabung, Lubuk Kilangan, Kuranji, Pauh dan Koto Tangah. Otomatis juga akan berimbas kepada perkembangan kawasan pemukiman yang cenderung semakin mengarah ke daerah pinggiran kota. Hal ini terlihat dengan semakin tingginya tingkat hunian penduduk ke areal-areal pemukiman khususnya di berbagai perumahan yang dikembangkan pada daerah pinggiran kota tersebut. Akibatnya akan timbul berbagai masalah seperti pembukaan lahan baru, pencemaran dan masalah sampah, yang nantinyamenurunkan kualitas sumberdaya lingkungan. Penyebaran dan kepadatan penduduk Kota Padang terlihat tidak merata antar wilayah kecamatan. Wilayah kecamatan yang merupakan daerah terpadat penduduknya adalah beberapa kecamatan bekas wilayah Kota Padang sebelum peremajaan kota tahun 1981. Kecamatan dengan kepadatan tertinggi tersebut merupakan kecamatan yang mempunyai laju pertumbuhan penduduk yang tinggi yaitu diatas rata-rata kepadatan penduduk Kota Padang sekitar 1.234 orang per Km2. pembukaan lahan baru, pencemaran dan masalah sampah, yang nantinyamenurunkan kualitas sumberdaya lingkungan. Penyebaran dan kepadatan penduduk Kota Padang terlihat tidak merata antar wilayah kecamatan. Wilayah kecamatan yang merupakan daerah terpadat penduduknya adalah beberapa kecamatan bekas wilayah Kota Padang sebelum peremajaan kota tahun 1981. Kecamatan dengan kepadatan tertinggi tersebut merupakan kecamatan yang mempunyai laju pertumbuhan penduduk yang tinggi yaitu diatas rata-rata kepadatan penduduk Kota Padang sekitar 1.234 orang per Km2. Penduduk merupakan modal dasar dalam setiap proses pembangunan di suatu negara karena penduduk adalah subjek sekaligus objek bagi upaya pembangunan yang dilaksanakan. Oleh sebab itu, dalam proses penyusunan perencanaan pembangunan faktor penduduk menjadi dasar yang memegang peranan penting. Untuk mengetahui perkembangan Kota Padang baik sekarang maupun masa yang akan datang maka perlu dilakukan kajian dan analisis kependudukan. Di bawah ini merupakan tabel jumlah dan laju pertumbuhan penduduk menurut kecamatan di Kota Padang tahun 1998 dan 2008. Tabel 2. 8 Jumlah dan Laju Pertumbuhan Penduduk Menurut Kecamatan

PENDUDUK NO 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. KECAMATAN Bungus Teluk Kabung Lubuk Kilangan Lubuk Begalung Padang Selatan Padang Timur Padang Barat Padang Utara Nanggalo Kuranji Pauh Koto Tangah Jumlah 1998 19.234 37.096 81.064 55.851 80.987 62.922 67.310 50.508 88.865 39.055 113.144 696.036 2008 25.250 43.412 104.490 64.087 88.876 62.629 77.802 59.535 117.958 54.730 159.572 857.886

LAJU PERTUMBUHAN PENDUDUK PERTAHUN (%) 2,59 1,74 3,20 1,31 0,65 0,57 1,31 1,64 3,57 3,77 4,26 2,35

Sumber : BPS Kota Padang, tahun 2008


Attachment 2 | 21

Milestone Report December

Berdasarkan tabel di atas terlihat bahwa jumlah penduduk tertinggi tahun 2008 terdapat di Kecamatan Koto Tangah yaitu 159.572 jiwa dengan laju pertumbuhannya sebesar 4,26 %. Di bawah ini adalah tabel luas daerah dan kepadatan penduduk menurut kecamatan tahun 2008 di Kota Padang. Tabel 2.9. Luas Daerah dan Kepadatan Penduduk Menurut Kecamatan NO 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. KECAMATAN Bungus Tlk.Kabung Lubuk Kilangan Lubuk Begalung Padang Selatan Padang Timur Padang Barat Padang Utara Nanggalo Kuranji Pauh Koto Tangah Jumlah LUAS DAERAH km2 100,78 85,99 30,91 10,03 8,15 7,00 8,08 8,07 57,41 146,29 232,25 694,96 % 14,50 12,37 4,45 1,44 1,17 1,01 1,16 1,16 8,26 21,05 33,42 100 JUMLAH PENDUDUK Jiwa 25.250 43.412 104.490 64.087 88.876 62.629 77.802 59.535 117.958 54.730 159.572 857.886 % 2,94 5,06 12,18 7,47 10,36 7,30 9,07 6,47 13,75 6,38 18,60 100 KEPADATAN PENDUDUK (JIWA/KM2) 251 505 3.380 6.337 10.905 8.947 9.626 7.377 2.055 374 687 1.234

2.5. A.

Lokasi Rawan Bencana Gempa Bumi

Berdasarkan data dari Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi, 2009 2010, Peta Geomorfologi Lembar Padang, Kamawan, S., dkk., 2004, Peta Bahaya Goncangan Gempabumi Indonesia; Kertapati, E.K., Dkk., 1999, Peta Wilayah Rawan Bencana Gempabumi Indonesia; Kertapati, E.K., Dkk., 2001. Intensitas Gempabumi (MMI) Daerah Padang mempunyai tingkat besaran gempa berkisar antara V hingga VII (skala MMI), yaitu : Skala V VI : Tersebar dominan ke bagian barat laut tenggara yang meliputi daerah bagian tengah hingga timur laut Kota Padang. Skala VI VII : Tersebar mulai dari bagian barat laut tenggara, bagian tengah meliputi daerah Pasir Jambak, Cupak Tangah hingga terus ke arah tenggara Kota Padang. Gelombang Tsunami. Pemukiman yang berada di sekitar pantai dengan ketinggian < 1o m diperkirakan akan hancur diterjang gelombang tsunami. Kawasan ini disebut Kawasan Bahaya I. Pemukiman (dengan konstruksi permanen) yang berada pada ketinggian > 10 m, diperkirakan juga akan terkena gelombang tsunami, namun tidak sampai hancur. Kawasan ini disebut Kawasan Bahaya II.

B.

Secara umum Kota Padang dibagi dalam beberapa zona bahaya sebagai berikut :

Attachment 2 | 22

Milestone Report December

Kawasan daerah datar akan terendam selama beberapa waktu oleh air tsunami yang terjebak karena terhalang banjir kanal yang lebih tinggi letaknya dari permukiman beserta dengan material yang dibawanya . Air tsunami ini akan mematikan semua jenis tanaman, hewan bahkan manusia yang sempat menghirupnya. Kawasan ini disebut Kawasan Bahaya Ib. Setelah melalui Kawasan Bahaya II, kekuatan kekuatan gelombang tsunami terus menurun ke arah pedalaman seperti banjir biasa, Di Kota Padang diperkiarakan air akan mengalir 2 2,5 Km dari Liquifaksi

C.

Akibat bencana gempa bumi, terdapat daerah-daerah yang terbagi dalam Tingkat Rawan Liquifaksi, yaitu Tinggi : meliputi pesisir pantai bagian barat Kota Padang. Tersusun oleh pematang pantai dan dataran pantai; Sedang Tinggi : meliputi daerah bagian pesisir bagian barat kota Padang tersusun oleh Kipas luvial dan Pematang Pantai; Rendah Sedang : meliputi daerah bagian tengah Kota Padang, tersusun oleh Kipas Aluvial dan Endapan Rawa; Rendah Sangat Rendah : meliputi daerah daerah bagian tengah Kota Padang tersusun atas Kipas Aluvial dan sedikit Endapan Aluvial. Longsor Lahan

D.

Tingkat bahaya longsoran lahan tinggi hampir terdapat pada setiap Kecamatan di Kota Padang, kecuali Kecamatan Padang Utara dan Padang Timur. Hal ini disebabkan karena pada daerah tersebut umumnya memiliki topografi daerah yang datar dengan kemiringan lereng sebagian besar berkisar 0 8%, sehingga tidak memiliki potensi untuk mengalami longsor. Penggunaan lahan permukiman dan prasarana publik pada daerah ini umumnya terkonsentrasi pada daerah yang memiliki topografi datar. Tingkat risiko longsoran lahan tinggi yang memiliki luasan terbesar terdapat pada Kecamatan Padang Selatan dengan luas 16 Ha, sedangkan tingkat bahaya longsoran lahan yang rendah umumnya terdapat pada setiap kecamatan yang ada di Kota Padang. Tingkat bahaya longsoran lahan yang rendah ini umumnya terdapat pada daerah yang memiliki penggunaan lahan berupa non permukiman, sehingga apabila terjadi longsoran lahan tidak menimbulkan korban jiwa. E. Erosi Pantai/Abrasi

Hampir sepanjang pantai pada bagian utara Kota Padang mengalami gejala abrasi yang sangat kuat, sehingga dapat mengancam pemukiman penduduk yang berdomisili di sekitar kawasan pantai. Bahaya abrasi diketahui berdasarkan hasil pengukuran pada daerah tersebut yaitu terjadinya kemunduran garis pantai lebih kurang 6 meter per tahun. Kawasan pesisir pantai Padang yang terancam abrasi adalah Purus, Ulak Karang, Pasir Air Tawar, Perupuk Tabing serta Pasie Nan Tigo F. Banjir

Bencana banjir hampir selalu terjadi tiap tahunnya di Kota Padang, terutama pada saat curah hujan tinggi. Permasalahan banjir ini ternyata masih belum mampu dapat dikendalikan sebagaimana mestinya, walaupun telah dibenahi berbagai sarana untuk pengendalian banjir. Kota Padang yang memiliki luas 69.496 ha, dari luas tersebut 3.500 Ha, merupakan kawasan yang sangat rentan terhadap banjir, sekitar 50 % dari luas wilayah tersebut merupakan kawasan pemukiman. Permasalahan banjir merupakan fenomena alam dan termasuk bencana geologi yang tidak dapat dipisahkan dengan masalah lingkungan hidup dan aktifitas manusia. Tingkat bahaya banjir di Kota Padang dapat dibedakan menjadi bahaya banjir tinggi dan sedang. Tingkat bahaya banjir tinggi umumnya tersebar pada daerah dataran yang memiliki satuan bentuk lahan dataran banjir, dataran aluvial, rawa belakang, dan depresi antar gisik. Tingkat bahaya banjir terbesar terdapat pada Kecamatan Koto Tangah dengan luas daerah 790 ha. Tingkat bahaya banjir sedang yang terbesar terdapat pada Kecamatan Kuranji dengan luas daerah 802 Ha. Tingginya tingkat
Attachment 2 | 23

Milestone Report December

bahaya banjir Kota Padang umumnya disebabkan oleh curah hujan yang tinggi dan kejadian pasangsurut air laut di Kota Padang. Pasang-surut di Kota Padang memiliki tipe pasang-surut ganda campuran, dalam artian dalam satu hari terjadi dua kali pasang dan dua kali mengalami surut air laut. Kejadian banjir di Kota Padang sering bertepatan dengan kejadian pasang naik, sehingga air yang akan mengalir ke laut terhambat karena bertemunya dua massa air, yaitu massa air tawar dan massa air laut ini yang sering menyebabkan banjir.

Attachment 2 | 24

Milestone Report December

BAB III PELINGKUPAN, PEMUSATAN ISU STRATEGIS DAN WILAYAH KAJIAN

3.1. Masalah Lingkungan Hidup dan Isu Pembangunan Berkelanjutan. Sebagaimana halnya dengan kota-kota besar di Indonesia, perkembangan fisik bagian-bagian kota Padang diikuti oleh berbagai masalah lingkungan, baik degradasi lingkungan fisik alami, penurunan keanekaragamanan hayati dan meningkatnya masalah-masalah sosial kemasyarakatan. Akumulasi masalah-masalah lingkungan hidup ini selain diakibatkan oleh pembuangan berbagai jenis limbah padat dan cair serta gas secara langsung ke lingkungan, juga akibat keterbatasan kapasitas layanan sarana dan prasarana lingkungan, terutama sarana dan prasarana drainase dan sanitasi lingkungan. Masalah lingkungan hidup dan isu pembangunan berkelanjutan yang sangat nyata pada bagian-bagian kota Padang disederhanakan pada uraian berikut. Daftar Isu Lingkungan Strategis dan Pembangunan Berkelanjutan NO 1 2 3 4 5 ISU STRATEGIS Diperlukan perencanaan jalur transportasi dengan kab/kota tetangga Perlunya pengembangan pelabuhan Teluk Bayur dan infrastruktur pendukung, mengingat makin meningkatnya produksi CPO, Semen, batubara Ketergantungan keberlanjutan hutan di kabupaten untuk ketersediaan air dan pencegahan banjir, longsor pasca bencana (catchment area) Terancamnya relief dan bangunan bersejarah kota tua Tidak terjaganya ketersediaan sumber daya secara berkelanjutan untuk obyek wisata (ex wisata air terjun, Danau maninjau, salah satu kawasan strategis propinsi, Koto panjang, Danau singkarak), meningkat daerah ini merupakan kawasan multifungsi Menjadikan Sumatera Barat sebagai pusat perdagangan berkaitan dengan Sumbar merupakan pintu gerbang Pulau Sumatera Konflik kepentingan pemanfaatan ruang Terbatasnya kualitas sumber daya manusia Inkonsistensi RPP, RTRW, dan RPJM dan pelksanaannya Illegal logging dan penambangan liar Perizinan yang belum berbasiskan kajian geologis ( rumah runtuh, korban jiwa) Minimnya akses jalan dari hinterland menuju ibukota propinsi (kemacetan, rawan longsor, dan daya dukung kapasitas jalan) Lemahnya validitas data bencana (kebijakan, keresahan sosial, kerawanan sosial, keterlibatan masyarakat) Lemahnya pengendalian pemanfaatan ruang implementasi) (banjir, kerugian masyarakat, inkonsistensi dan

6 7 8 9 10 11 12 13 14 15

Belum siapnya pemerintah dalam menghadapi bencana (RTRW tidak mencakup mitigasi bencana, kurikulum pendidikan tidak memperhatikan mitigasi bencana, tidak siapnya masyarakat, ketidakjelasan SOP bencana) Ketersediaan, P2T (Pemilikan & Penguasaan Tanah) dan daya dukung lahan Kekkhawatiran pedagang pasar yang ada sekarang terhadap kepemilikan bangunan pasar baru

16 17

Attachment 2 | 25

Milestone Report December

18 19 20 21 22 23 24

Kesemrawutan akibat pemanfaatan jalan diluar kepentingan lalu lintas Insfranstruktur jalur transportasi ke arah Solok dan Pesisir Selatan yang Rawan bencana. Terganggunga aktifitas pelayanan pendidikan dan kesehatan akibat gempa Kuranya nya kepedulian pemangku kepentingan terhadap kelestarian bangunan yang nilai sejarah dan budaya Traumatik masyarakat akan gempa Lemahnya akurasi data sebagai dasar untuk pengambilan kebijakan Terbatasnya kemampuan daerah untuk menyediakan dana pembangunan

Bagi Kota Padang, berbagai kendala dalam pengendalian lingkungan di daerah ini masih saja terjadi. Berbagai isu lingkungan yang pernah diungkapkan melalui laporan Status Lingkungan Hidup Daerah (SLHD) Tahun 2008 masih menjadi isu yang mengemuka untuk Kota Padang pada saat ini. Kondisi seperti ini sesungguhnya kurang menggembirakan bila dilihat dari keberhasilan Pemerintah Kota Padang dalam menyikapi berbagai permasalahan lingkungan di daerah ini. Berdasarkan standar pelayanan minimal yang telah disusun, maka ditetapkan isu-isu lingkungan strategis antara lain : Menurunnya kualitas air sungai dan kualitas air di wilayah pesisir pantai Menurunnya kualitas udara perkotaan akibat emisi gas buang industri dan kendaraan bermotor Degradasi lahan yang disebabkan penggalian bahan galian C. Pencemaran limbah B3 (bahan berbahaya dan mencemari lingkungan. beracun) oleh kegiatan yang berpotensi

Rendahnya pengelolaan limbah domestik dan sampah oleh masyarakat Rendahnya kesadaran masyarakat akan pentingnya memelihara sumberdaya alam dan lingkungan hidup.

Diantara isu lingkungan yang masih menjadi sorotan pada tahun 2009 adalah sebagai berikut : A. Banjir, Abrasi dan Tanah Longsor

Sebagai kota yang merupakan dataran rendah, permasalahan banjir patut untuk diwaspadai. Kota Padang dialiri oleh 21 buah sungai, dimana diantaranya terdapat 5 (lima) muara sungai besar. Sungai-sungai tersebut adalah Sungai Batang Arau, Batang Kuranji, Batang Belimbing dan Sungai Aia Penjalinan. Bencana banjir hampir selalu terjadi tiap tahunnya di Kota Padang, terutama pada saat curah hujan tinggi. Permasalahan banjir ini ternyata masih belum mampu dapat dikendalikan sebagaimana mestinya, walaupun telah dibenahi berbagai sarana untuk pengendalian banjir. Penyebab dari permasalahan banjir di Kota Padang ini tak lepas dari berbagai faktor, disamping faktor curah hujan dan fluktuasi gelombang laut adalah pembukaan lahan pada hulu sungai yang menyebabkan erosi sehingga terjadi sedimentasi dari erosi permukaan sungai. Hal tersebut mengakibatkan pendangkalan dan penyempitan badan sungai. Kurangnya kapasitas tampung sungai yang akhirnya menjadi pemicu terjadinya banjir di daerah ini. Faktor adanya pembuangan dan penumpukan sampah pada sungai dan saluran drainase kota juga dapat menyebabkan terjadinya banjir, karena hal ini akan memperlambat dan menyumbat aliran air. Peristiwa banjir yang terjadi di Kota Padang pada 2009 ini cenderung meningkat dan semakin meluas. Hal ini tentu bakal menimbulkan berbagai macam kerugian di Kota Padang. Permasalahan ini harus menjadi perhatian oleh pemerintah dan instansi terkait sebagai pembuat kebijakan serta seluruh masyarakat Kota Padang. Tingkat bahaya longsor yang terdapat pada kawasan Gunung Padang dan Bukit Gaung berskala sedang dan tinggi. Kawasan yang memiliki tingkat bahaya longsor lahan yang tinggi di kawasan Gunung Padang adalah lereng kaki Gunung Padang yaitu Kelurahan Batang Arau, Seberang Padang, Mata Air, Rawang, Teluk Bayur dan Air Manis. Sedangkan di Bukit Gaung adalah lereng kaki Bukit Gaung yaitu Kelurahan Gates.
Attachment 2 | 26

Milestone Report December

Hampir sepanjang pantai pada bagian utara Kota Padang mengalami gejala abrasi yang sangat kuat, sehingga dapat mengancam pemukiman penduduk yang berdomisili di sekitar kawasan pantai. Bahaya abrasi diketahui berdasarkan hasil pengukuran pada daerah tersebut yaitu terjadinya kemunduran garis pantai lebih kurang 6 meter per tahun. Kawasan pesisir pantai Padang yang terancam abrasi adalah Purus, Ulak Karang, Pasir Air Tawar, Perupuk Tabing serta Pasie Nan Tigo. B. Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan

Pencemaran air di Kota Padang selama tahun 2009 masih didominasi oleh pencemaran akibat kegiatan industri, lingkungan pemukiman, pasar dan berbagai kegiatan lain yang menghasilkan limbah. Masih terdapatnya sejumlah industri, pabrik pada beberapa ruas sungai dan di tepi pantai dapat mengakibatkan pencemaran, hal ini terjadi karena aktifitas untuk menjaga lingkungan dari dunia industri di Kota Padang juga masih belum seperti yang diharapkan. Beberapa sungai di daerah ini telah dijadikan sebagai tempat pembuangan limbah cair dari kegiatan industri tanpa melalui pengolahan terlebih dahulu. Keadaan ini terungkap dari beberapa kali pemeriksaan mendadak (sidak) yang dilakukan oleh pihak pengambil kebijakan lingkungan bersama instansi teknis terkait. Faktor lainnya adalah pantai dan sungai juga masih dijadikan tempat pembuangan berbagai limbah domestik yang berasal dari masyarakat yang belum mengerti akan arti penting dari kebersihan lingkungan. Semua kegiatan-kegiatan ini cenderung mengalami peningkatan setiap tahunnya. Sehingga masalah pencemaran lingkungan masih menjadi isu lingkungan selama tahun 2009. Dari hasil pengamatan di lapangan, dan berdasarkan hasil monitoring, tingkat pencemaran pada Sungai Batang Arau di Kota Padang, dikategorikan sebagai sungai yang tercemar berat. Hasil analisis laboratorium menunjukkan, bahwa dari beberapa parameter seperti nilai Coliform, dan coli tinja, BOD, COD, PO 4 , Amoniak, minyak/lemak, kandungan bahan padatan tersuspensi (TSS), serta beberapa jenis logam berat terutama oleh Zn dan Cu. Nilai parameter di atas tampak telah berada di atas nilai baku mutu kualitas air, seperti tertuang dalam PP No 82 tahun 2001 dan Peraturan Gubernur No. 95 Tahun 2008. Bentuk pencemaran lain yang menjadi masalah utama di Kota Padang adalah pencemaran udara akibat kegiatan industri dan meningkatnya jumlah kendaraan bermotor. Sumber utama dari sektor industri yang menyebabkan terjadinya pencemaran udara adalah berasal dari kegiatan operasional pabrik semen PT. Semen Padang. Tingkat pencemaran udara diperkirakan masih belum terkendali dengan meningkatnya kapasitas pabrik semen PT. Semen Padang sampai ke Unit Indarung V. Pencemaran udara ini masih akan menjadi masalah utama bagi masyarakat yang bermukim di sekitar kawasan industri. Disamping itu meningkatnya jumlah kendaraan seiring dengan tingginya berbagai aktivitas di Kota Padang juga akan berakibat meningkatnya tingkat pencemaran udara akibat emisi gas buang kendaraan tersebut. Dampak pencemaran udara akan menyebar luas sesuai dengan perilaku iklim dan arah angin. Penyebaran pencemaran udara ini tidak mengenal batas administratif. Permasalahan pencemaran akibat dari pembuangan sampah di Kota Padang juga menjadi masalah utama yang perlu diperhatikan. Hal ini disebabkan oleh masih terbatasnya peralatan dan armada yang ada serta masih kurangnya kesadaran masyarakat untuk membuang sampah pada tempat yang disediakan. Masih banyak masyarakat yang membuang sampah ke pantai, sungai, selokan, dan parit. Hal ini tentu menyebabkan timbulnya berbagai macam penyakit dan tersumbatnya aliran air. Disamping itu dampak pencemaran sampah tersebut akan menjadi sumber yang dapat menimbulkan pencemaran pada lingkungan. Pencemaran akibat sampah masih menjadi masalah utama yang harus diperhatikan dan diwaspadai. Pemerintah Kota Padang dengan kebijakannya bersama masyarakat diharapkan dapat melakukan peningkatan baik dari segi penanganan, peningkatan sarana dan prasarana serta peningkatan kesadaran masyarakat akan arti penting kebersihan dan kesehatan dan kelestarian lingkungan. C. Lahan Kritis dan Alih Fungsi Lahan

Permasalahan lingkungan yang terus dan semakin menjadi perhatian serius yang dapat kita cermati secara bersama adalah pemanfaatan lahan yang tidak memperhatikan aspek konservasi tanah sehingga mempercepat degradasi tingkat kesuburan tanah, hal ini akan menambah lahan kritis di Kota Padang. Permasalahan ini tidak hanya menjadi tanggung jawab Pemerintah Daerah dengan segala kebijakannya, akan tetapi juga harus menjadi tanggung jawab segenap unsur masyarakat Kota Padang. Tingginya kebutuhan masyarakat akan lahan seiring dengan bertambahnya jumlah penduduk, jelas mempengaruhi pergeseran penggunaan lahan di Kota Padang. Sesuatu yang dikhawatirkan di masa
Attachment 2 | 27

Milestone Report December

yang akan datang adalah terjadinya perubahan pemanfaatan lahan produktif dan perubahan pemanfaatan lahan pada kawasan lindung yang tanpa terkendali. Berbagai kegiatan seperti pembukaan lahan berpindah, kegiatan pertanian, perkembangan kawasan pemukiman, perdagangan ataupun jasa masih banyak yang belum sesuai dengan konsep lingkungan. Adanya upaya untuk memanfaatkan kawasan lindung menjadi areal budidaya semakin meningkat. Di samping itu juga adanya kecenderungan masyarakat menggunakan sistim ladang berpindah serta pembukaan lahan bagi keperluan pertanian dan kawasan terbangun. Pada kawasan-kawasan tertentu terlihat kecenderungan perkembangan yang pesat dalam penggunaan alih fungsi lahan untuk kegiatan pertanian, ladang berpindah, pembangunan perumahan, jasa dan keperluan kegiatan lainnya, seperti halnya pada kawasan-kawasan di Kecamatan Koto Tangah, Kuranji, Pauh, Lubuk Begalung, Lubuk Kilangan dan Bungus Teluk Kabung. Dimana pada beberapa kecamatan ini yang semula mempunyai kawasan lindung yang cukup signifikan dengan daerah tangkapan air (catchment area) Kota Padang yang seharusnya dipelihara atau dilestarikan, terlihat sudah mulai berubah fungsi dan dialihkan untuk peruntukan lain seperti untuk kegiatan perladangan dan kegiatan lainnya. Pertambahan lahan kritis, perubahan pemanfaatan lahan produktif dan kawasan lindung akibat kegiatan yang tidak memperhatikan konservasi lingkungan masih cenderung untuk terus bertambah di Kota Padang. Hal tersebut diatas jelas akan menjadikan timbulnya tekanan terhadap sumberdaya lahan serta lingkungan. Keadaan ini sudah sepantasnya untuk diwaspadai oleh masyarakat dan Pemerintah Kota Padang. Oleh sebab itu, pola perubahan ini harus dikendalikan semaksimal mungkin dengan kebijakan pemerintah. Faktor penyebab timbulnya permasalahan perekonomian tersebut adalah dimasa mendatang dengan meningkatnya kepadatan penduduk yang mengakibatkan tingginya tingkat persaingan hidup, kecilnya kesempatan kerja dan berusaha. Seiring dengan makin tingginya faktor kebutuhan kehidupan penduduk Kota Padang tersebut maka akan beragam pula alternatif mata pencaharian yang coba digeluti oleh masyarakat Kota Padang untuk pemenuhan kebutuhannya. Hal ini akan berakibat kepada terganggunya keberadaan Sumber Daya Alam dan Lingkungan yang akan menjadi objek pemanfaatan yang tidak lagi memandang aspek koservasi lingkungan. Kawasan seperti kawasan lindung, kawasan konservasi dan sempadan air tak luput dijadikan sebagai tempat tinggal dan berusaha. D. Degradasi Ekosistem Pesisir Pantai

Kawasan hutan mangrove yang terdapat di sepanjang wilayah pesisir pantai dan pulau-pulau kecil merupakan sumberdaya alam yang memberikan manfaat besar bila dikelola dengan baik. Mangrove di Kota Padang tersebar hanya di Kecamatan Bungus Teluk Kabung, Terjadinya konversi kawasan hutan mangrove menjadi peruntukan lain seperti pemukiman, kawasan wisata pantai, tambak serta tumpang tindih dalam pemanfaatannya untuk berbagai kegiatan pembangunan disebabkan belum adanya tata ruang dan rencana pengembangan pantai. Terjadinya kerusakan biogeofisik sumberdaya pesisir dan laut seperti pada ekosistem mangrove dan terumbu karang ini telah sampai pada tingkat yang mengkhawatirkan. Kerusakan terumbu karang pada umumnya disebabkan oleh kegiatan perikanan yang bersifat destruktif seperti penggunaan bahan peledak, racun potasium dan sianida untuk penangkapan ikan, pembuangan jangkar perahu dan pengambilan batu karang. Terumbu karang merupakan potensi sumberdaya laut yang sangat penting dan strategis, karena mempunyai produktifitas organik yang sangat tinggi dibanding ekosistem lain. Disamping fungsi ekologis sebagai penyedia nutrien bagi biota perairan, pelindung fisik, tempat pemijahan, habitat biota perairan, terumbu karang juga menghasilkan nilai ekonomi penting seperti berbagai jenis ikan, udang, karang, alga, teripang dan kerang mutiara. E. Gempa Bumi

Kota Padang merupakan daerah rawan dan beresiko tertinggi terhadap ancaman gempa dan tsunami, jika dilihat dari letak geografis dan keadaan alam Sumatera Barat yang sebagian besar kotanya berada di pesisir pantai serta memiliki dua patahan yang berada di daratan dan di lautan yang sewaktu-waktu dapat memicu terjadinya gempa bumi dan tsunami. Banyak pakar geofisika yang telah memprediksi bahwa di sepanjang Sesar atau patahan Mentawai, ibarat buah yang hampir masak yang hampir jatuh ke tanah. Begitulah peluang gelombang tsunami yang akan menimpa daerah pesisir pantai Sumatera Barat, khususnya Kota Padang. Pada tanggal 30 Serptember 2009, telah terjadi gempa besar 7,9 SR yang berpotensi tsunami telah meluluh lantakan Kota Padang dan Kabupaten/Kota lain di Sumatera Barat

Attachment 2 | 28

Milestone Report December

Padang pernah dilanda tsunami pada tahun 1797 dan 1833. Para ilmuwan menyebutkan bahwa pengulangan gempa yang berpotensi tsunami terjadi dalam kurun waktu 200 30 tahun, maka sekarang kita berada pada masa pengulangan tersebut. Tsunami pasti selalu didahului oleh gempa karena tsunami terjadi pergeseran lempeng secara vertikal setelah berbenturan. Benturan inilah menyebabkan gempa dan perubahan posisi lempeng yang menyebabkan perubahan permukaan air laut dan menimbulkan gelombang laut yang disebut tsunami. Tidak semua gempa menyebabkan tsunami. Hanya gempa di laut dangkal dengan kekuatan 6,5 skala Richter lah yang berpotensi menimbulkan tsunami. Sumatera Barat dilalui oleh lempeng Eurasia dan Indo Australia yang semakin mendekat satu sama lainnya, yang jika bertumbukan pasti akan sangat terasa kekuatan gempanya. Gempa bumi dan tsunami hingga kini belum dapat diprediksi kapan akan terjadi, tapi hanya dapat diketahui lokasi dan skalanya. Bahkan teknologinya pun belum ditemukan. Namun hanya sistem peringatan dini dalam bentuk peringatan lunak dan peringatan keras. F. Masalah-Masalah Sosial Tingginya Pertambahan dan Tidak Merata Penyebaran Penduduk

Pesatnya perkembangan Kota Padang di berbagai sektor, seiring dengan semakin tingginya angka pertambahan penduduk kota. Perkembangan penduduk yang cukup pesat ini terjadi akibat arus urbanisasi dan berkembangnya beberapa kawasan di kecamatan pemekaran sejak perluasan kota yaitu Bungus Teluk Kabung, Lubuk Kilangan, Kuranji, Pauh dan Koto Tangah. Otomatis juga akan berimbas kepada perkembangan kawasan pemukiman yang cenderung semakin mengarah ke daerah pinggiran kota. Hal ini terlihat dengan semakin tingginya tingkat hunian penduduk ke areal-areal pemukiman khususnya di berbagai perumahan yang dikembangkan pada daerah pinggiran kota tersebut. Akibatnya akan timbul berbagai masalah seperti pembukaan lahan baru, pencemaran dan masalah sampah, yang nantinya menurunkan kualitas sumberdaya lingkungan. Penyebaran dan kepadatan penduduk Kota Padang terlihat tidak merata antar wilayah kecamatan. Wilayah kecamatan yang merupakan daerah terpadat penduduknya adalah beberapa kecamatan bekas wilayah Kota Padang sebelum peremajaan kota tahun 1981. Kecamatan dengan kepadatan tertinggi tersebut merupakan kecamatan yang mempunyai laju pertumbuhan penduduk yang tinggi yaitu diatas rata-rata kepadatan penduduk Kota Padang sekitar 1.153 orang per Km2. Terbatasnya Fasilitas dan Pelayanan Kesehatan

Pembangunan kesehatan merupakan salah satu bagian dari bagian dari pengembangan sumberdaya manusia dalam meningkatkan derajat kesehatan masyarakat, sehingga dapat mewujudkan bangsa yang sehat, sejahtera lahir dan batin. Kebijakan pembangunan kesehatan diprioritaskan kepada upaya peningkatan pelayanan kesehatan dasar, yang lebih dititik beratkan pada upaya pencegahan dan penanggulangan. Jumlah dan penyebaran sarana kesehatan di Kota Padang dinilai telah cukup memadai, walaupun rasionya belum terpenuhi, namun jika ditinjau dari aspek mutu, maka pelayanan yang diberikan, masih perlu terus ditingkatkan. Untuk itu penyediaan, pemeliharaan dan pengembangan sarana kesehatan perlu di upayakan dengan memobilisasi peran serta swasta dan masyarakat. Penyediaan sarana dan prasarana kesehatan sangat terkait dengan kondisi kesehatan masyarakat. Pada saat ini telah diupayakan peningkatan kesehatan masyarakat dengan berbagai aktivitas pelayanan. Berdasarkan data yang ada kondisi kesehatan masyarakat cenderung membaik dan mengalami peningkatan dari tahun sebelumnya. Hal ini tak lepas dari peran serta pemerintah melalui instansi terkait yang semakin meningkatkan jumlah sarana dan prasarana kesehatan di Kota Padang. Hal ini terlihat dari semakin meratanya jumlah tenaga dokter umum, dokter gigi, dan tenaga bidan di berbagai Puskesmas dan Puskesmas Pembantu yang tersebar di Kota Padang. Permasalahan yang timbul di bidang kesehatan ini adalah masih terbatasnya program pengiriman dokter-dokter spesialis selain dokter gigi ke berbagai puskesmas yang ada di berbagai daerah di Kota Padang ini membuat jenis-jenis penyakit tertentu akhirnya belum mampu ditangani secara baik. Hal ini mengakibatkan penduduk yang menderita jenis penyakit yang relatif membutuhkan penanganan serius/khusus harus berobat ke rumah sakit-rumah sakit atau ke dokter-dokter spesialis yang kecenderungannya terkonsentrasi di pusat kota.

Attachment 2 | 29

Milestone Report December

Kerawanan dan Kerentanan Sosial

Di Kota Padang juga terlihat kecenderungan semakin meningkatnya permasalahan sosial dalam bentuk peningkatan jumlah anak-anak terlantar, gepeng (gelandangan dan penggemis) dan mulai menggejalanya fenomena anak jalanan. Hal ini tentu akan berakibat pada terjadinya masalah keamanan dan ketertiban umum. Berdasarkan data Poltabes Padang, secara umum ada kecenderungan pada tahun 2009 terjadi penurunan jumlah kasus gangguan keamanan dan ketertiban, namun hal tersebut di atas tetap memerlukan perhatian khusus dari pemerintah untuk dapat terciptanya keamanan dan ketertiban yang akan menunjang kelancaran roda pembangunan. Disamping itu masih maraknya terjadi penyakit masyarakat seperti prostitusi, narkoba dan miras, walaupun aparat penegak hukum seperti Satpol Polsi Pamong Praja, SK4 dan Kepolisian sudah sering melakukan penertiban. Masih lemahnya penegakan hukum dan masih banyaknya persoalan hukum yang belum tertangani telah berdampak kepada kurangnya kepercayaan masyarakat terhadap aparat hukum. Hal ini lebih jauh berdampak pada munculnya berbagai tindakan maksiat dan lain sebagainya. Tingginya laju pertumbuhan penduduk dan tingginya urbanisasi ke kota Padang merupakan masalah yang rumit dihadapi Pemerintah Kota Padang serta banyak penduduk miskin yang rawan sosial. Penanggulangan masalah penduduk miskin dan rawan sosial telah banyak dilakukan, namun jumlah penduduk yang besar telah mendorong meningkatnya masalah pokok perkotaan yaitu keamanan dan ketertiban kota. Masalah diatas membawa dampak kepada kebijakan perkotaan lainnya seperti bidang perdagangan dan jasa, sistem transportasi kota serta kenakalan remaja dan narkoba. Disamping itu masih rendahnya tingkat partisipasi masyarakat kota. Kurangnya perhatian masyarakat dalam pembangunan sangat dirasakan terutama dalam pemeliharaan sarana dan prasarana kota, rendahnya semangat kebersamaan dan gotong royong yang semakin menipis. Masih lemahnya pemahaman dan pengamalan ajaran agama dan pelaksanaan adat budaya Minangkabau. Hal ini sebagai akibat derasnya arus globalisasi dan arus informasi serta kemajuan teknologi. Penyerapan budaya global akan berdampak pada lemahnya ketahanan budaya dan pengamalan terhadap ajaran agama. Kondisi ini memudarkan nilai solidaritas dan menerobos perubahan nilai etika moral dalam kehidupan masyarakat. Tingginya laju pertumbuhan penduduk dan urbanisasi juga menyebabkan kualitas pendidikan yang masih rendah dan belum optimalnya pelayanan kesehatan. Masih banyaknya anak putus sekolah, masih besarnya jumlah siswa yang mengulang, cukup besarnya kualitas guru yang perlu ditingkatkan, masih kurangnya fasilitas yang disediakan sekolah, masih cukup rendahnya angka partisipasi kasar dan angka partisipasi murni peserta didik. Pelayanan kesehatan terhadap Balita dan ibu hamil masih belum maksimal penanganannya seperti masih rendahnya pelayanan terhadap ibu hamil beresiko tinggi dan pendeteksian perkembangan anak Balita dan pra sekolah serta penanganan terhadap penyakit menular yang belum maksimal. 3.2. Isu Strategis Yang Akan Dikaji. Mengacu ke kondisi riel kota saat ini, visi dan misi pembangunan jangka panjang dan sasaran penyelenggaraan KLHS Rencana rehabilitasi dan rekonstruksi Kota Padang dilakukan diskusi untuk menapis isu lingkungan hidup dan isu pembangunan berkelanjutan yang tergolong sebagai isu strategis. Kriteria identifikasi isu strategis antara lain adalah: (1) mengenali isu penting yang prioritas ditangani karena dampaknya tergolong besar dan penting, skala lintas sector, lintas wilayah, (2) mengembangkan pemahaman mengapa isu tersebut tergolong strategis, dengan cara membahas karakteristik ada atau tidaknya hubungan kausatif rehabilitasi dan rekonstruksi dengan isu dimaksud, (3) menentukan akibatnya terhadap lingkungan fisik, hayati, sosial dan budaya bila isu tersebut tidak diarahkan dan (4) menelusuri keterkaitan antar isu tersebut agar dapat dikelompokkan menurut kategori lingkungan fisik alami, hayati, sosial dan budaya, ekonomi dan kelembagaan. Hasil diskusi pembahasan isu strategis dimaksud disederhanakan sebagai berikut: Alih Fungsi Lahan Pencemaran Lingkungan/Pendangkalan Sungai Banjir dan Genangan Air Longsor dan Gerakan Tanah Pendapatan Masyarakat
Attachment 2 | 30

Milestone Report December

Kesempatan Kerja Kerusakan Lingkungan Kesehatan Masyarakat Kerjasama Daerah Sistem Pusat daerah Manajemen Transportasi Livability Kota Bencana Geologis RTH

3.3. Deliniasi Wilayah Kajian Mengacu ke aspek tata letak kota Padang, baik dari perspektif fisik alami, administrasi dan interaksi perkotaan perlu dijelaskan delineasi wilayah sebagai berikut. 1) Wilayah Fisiografis.

Kota Padang terletak pada wilayah pegunungan Bukit Barisan, rangkaian perbukitan, dataran bergelombang dan dataran pantai. Wilayah Kota Padang memiliki topografi yang bervariasi, perpaduan daratan yang landai dan perbukitan bergelombang yang curam. Sebagian besar topografi wilayah Kota Padang memiliki tingkat kelerengan lahan rata-rata >40%. Ketinggian wilayah Kota Padang dari permukaan laut juga bervariasi, mulai 0 m dpl - >1.000 m dpl. 2) Wilayah Administrasi

Sebelah Utara berbatasan dengan Kabupaten Padang Pariaman, sebelah Selatan dengan Kabupaten Pesisir Selatan, sedangkan sebelah Barat berbatasan dengan Samudera Indonesia dan sebelah Timur dengan wilayah Kabupaten Solok. 3) Wilayah Metropolitan.

Tarik garis batas (polygon) administrasi kota Padang, mencakup sebagian wilayah Kabupaten Padang Pariaman, sebagian wilayah Kabupaten Solok, dan sebagian wilayah Kabupaten Pesisir Selatan. 3.4. Kerangka Waktu KLHS Mengacu ke kerangka waktu RTRW Kota Padang, maka kerangka waktu KLHS Rencana Rehabilitasi dan Rekonstruksi kota Padang ini, yakni sampai dengan tahun 2028, disesuaikan dengan periodesasi RPJM (5 tahunan)

Attachment 2 | 31

Milestone Report December

Attachment 2 | 32

Milestone Report December

BAB IV DAMPAK GEMPA BUMI DAN PENANGGULANGAN PASCA GEMPA

4.1. 4.1.1.

Dampak Gempa Bumi Pada Bagian-Bagian Kota Padang Korban Jiwa

Gempa bumi 30 September 2009 yang melanda Provinsi Sumatera Barat, khususnya Kota Padang telah banyak menimbulkan korban jiwa. Korban jiwa akibat gempa bumi di kota Padang terdiri dari : hilang 2 orang, meninggal 383 orang (termasuk 11 orang yang alamatnya tidak diketahui dan 39 orang berasal dari luar Kota Padang), luka berat 411 orang dan luka ringan 771 orang. Korban jiwa meninggal terbanyak di Kecamatan Padang Barat (81 orang) dan yang paling sedikit di Kecamatan Lubuk Kilangan (5 orang). Untuk lebih jelasnya seperti terlihat pada Tabel 4.1. berikut: Tabel 4.1. Rekapitulasi Korban Jiwa akibat Gempa Bumi 30 September 2009 Korban Jiwa Hilang 0 0 0 0 1 0 0 0 1 0 0 Meninggal 5 19 36 81 28 35 41 27 40 13 8 11 39 2 383 431 771 0 Lk Berat Lk Ringan Mengungsi 31 32 0 23 29 110 52 42 109 10 24 1 0 61 38 264 31 43 113 59 60 32 38 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0

No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13

Kecamatan Lubuk Kilangan Koto Tangah Kuranji Padang Barat Padang Utara Padang Selatan Padang Timur Nanggalo Lubuk Begalung Pauh Bungus Teluk Kabung Alamat tidak diketahui Luar Daerah Jumlah

Sumber : BPBD Kota Padang

Attachment 2 | 33

Milestone Report December

4.1.2.

Kerugian Sarana dan Prasarana Kota

A. Sarana Kesehatan Kerugian sarana kesehatan yang mengalami kerusakan : rusak berat 15 unit, rusak sedang 17 unit dan rusak ringan 53 unit, dengan jumlah kerugian Rp. 14.800.000.000,00. Kerusakan yang paling bayak terjadi di Kecamatan Padang Timur (33 unit) dengan nilai kerugian Rp. 2.800.000.000,00 dan yang terkecil Kecamatan Lubuk Kilangan (2 unit) dengan nilai kerugian Rp. 200.000.000,00. Selengkapnya dapat terlihat pada Tabel 4.2. berikut ini : Tabel 4.2. Rekapitulasi Kerusakan Sarana Kesehatan akibat Gempa Bumi 30 September 2009 NO 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 KECAMATAN Lubuk Kilangan Koto Tangah Kuranji Padang Barat Padang Utara Padang Selatan Padang Timur Nanggalo Lubuk Begalung Pauh SARANA KESEHATAN RS / PUSKESMAS / PUSTU RB 0 1 2 3 1 2 3 1 0 1 RS 0 2 0 0 6 1 3 1 2 1 RR 2 8 5 6 6 6 10 2 4 2 2 53 ESTIMASI KERUGIAN (Rp) 200.000.000 1.650.000.000 1.200.000.000 1.650.000.000 2.450.000.000 1.550.000.000 2.800.000.000 800.000.000 900.000.000 800.000.000 800.000.000 14.800.000.000

Bungus Teluk Kabung 1 1 Jumlah 15 17 Sumber : BPBD Kota Padang

Ket : RB = rusak berat, RS = rusak sedang, RR = rusak ringan B. Sarana Pendidikan Kerugian sarana pendidikan yang mengalami kerusakan : rusak berat 1006 unit, rusak sedang 1038 unit dan rusak ringan 903 unit, dengan jumlah kerugian Rp.262.627.200.000,00. Kerusakan berat yang paling bayak terjadi di Kecamatan Padang Barat (296 unit) dengan nilai kerugian Rp. 40.968.000.000,00 dan yang terkecil di Kecamatan Lubuk Kilangan (2 unit) dengan nilai kerugian Rp. 11.707.200.000,00. Selengkapnya dapat terlihat pada Tabel 4.3 berikut ini :

Attachment 2 | 34

Milestone Report December

Tabel 4.3. Rekapitulasi Kerusakan Sarana Pendidikan akibat Gempa Bumi 30 September 2009 SARANA PRASARANA PENDIDIKAN (KELAS/PERPUS/LABOR/KANTOR/ RUMDIN/MUSHALA) RB RS RR 65 169 89 296 157 129 240 164 159 46 92 Jumlah 54 109 120 103 68 80 141 51 129 79 104 54 120 130 129 57 72 90 41 114 48 48 903

NO 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11

KECAMATAN Lubuk Kilangan Koto Tangah Kuranji Padang Barat Padang Utara Padang Selatan Padang Timur Nanggalo Lubuk Begalung Pauh Bungus Teluk Kabung

ESTIMASI KERUGIAN (Rp.) (Rp) 11.995.200.000 28.339.200.000 21.355.200.000 40.968.000.000 22.363.200.000 20.836.800.000 39.936.000.000 21.384.000.000 28.598.400.000 11.707.200.000 18.044.000.000 262.627.200.000

1606 1038 Sumber : BPBD Kota Padang

Ket : RB = rusak berat, RS = rusak sedang, RR = rusak ringan C. Sarana Pariwisata dan Budaya Kerugian sarana pariwisata dan budaya yang mengalami kerusakan : rusak berat 133 unit, rusak sedang 88 unit dan rusak ringan 119 unit. Sarana pariwisata dan budaya yang paling banyak mengalami kerusakan aadalah gedung bersejarah (heritage) yaaitu rusak berat 104 unit, rusak sedang 63 unit dan rusak ringan 32 unit, sedangkan yang paling sedikit adalah toko souvenir , rusak berat 2 unit, rusak sedang 2 unit dan rusak ringan 7 unit. Selengkapnya dapat terlihat pada Tabel 4.24 berikut ini : Tabel 4.4. Rekapitulasi Kerusakan Sarana Pariwuisata dan Budaya akibat Gempa Bumi 30 September 2009 SARANA PARIWISATA DAN HERITAGE RB RS 7 16 2 63 88 RR 32 48 7 32 119

NO 1 2 3 4

JENIS USAHA

HOTEL 11 RESTORAN / RUMAH MAKAN 16 TOKO SOUVENIR 2 GEDUNG BERSEJARAH (HERITAGE) 104 Jumlah 133 Sumber : BPBD Kota Padang

Ket : RB = rusak berat, RS = rusak sedang, RR = rusak ringan 4.1.3. Kerusakan rumah penduduk

Gempa bumi yang melanda Kota Padang tanggal 30 September2009 telah menimbulkan Kerusakan rumah penduduk yang terdiri dari rusak berat (33.597 unit), rusak sedang (35.816 unit) dan rusak ringan (37.615 unit) dengan nilai kerugian Rp. 5.506.751.250.000,00. Kerusakan rumah yang paling banyak terjadi di Kecamatan Koto Tangah (4990 unit) dan yang
Attachment 2 | 35

Milestone Report December

paling sedikit di Kecamatan Pauh (1.129 unit). Selengkapnya dapat dilihat padaTabel 4.5. berukut ini : Tabel 4.5. Rekapitulasi Kerusakan Rumah Penduduk kibat Gempa Bumi 30 September 2009 No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 Kecamatan Lubuk Kilangan Koto Tangah Kuranji Padang Barat Padang Utara Padang Selatan Padang Timur Nanggalo Lubuk Begalung Pauh Bungus Teluk Kabung Jumlah KERUSAKAN RUMAH PDDK RB 2.441 7.191 4.990 2.160 2.666 2.436 1.670 2.787 4.976 1.129 1.151 33.597 RS 2.098 8.423 4.749 2.202 3.036 2.535 3.087 1.911 5.305 1.426 1.044 35.816 RR 2.315 7.566 4.753 2.399 3.102 2.887 3.395 1.468 6.506 2.005 1.219 37.615 KETERANGAN 362.328.750.000 1.210.320.000.000 767.036.250.000 347.940.000.000 450.517.500.000 399.386.250.000 381.543.750.000 360.000.000.000 836.651.250.000 214.233.750.000 176.793.750.000 5.506.751.250.000

Sumber : BPBD Kota Padang Ket : RB = rusak berat, RS = rusak sedang, RR = rusak ringan 4.2. Kegiatan Masa Tanggap Darurat

Pada masa ini penanganan diarahkan untuk memenuhi kebutuhan Pemerintah, masyarakat dan komunitas lainnya, pasca musibah gempa bumi sampai dengan bisa dimulainya kembali aktifitas masyarakat di Kota Padang. Dengan bantuan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Bappenas, Depertemen Pekerjaan Umum, Kementerian Negara Perumahan Rakyat, World Bank, UNDP, pihak Perguruan Tinggi, Bappeda Propinsi Sumatera Barat dan Pemerintah Kota Padang, telah dilakukan proses DaLA (Damage and Lossess Assessment) yaitu proses penilaian kerusakan akibat musibah gempa bumi di Sumatera Barat dan Kota Padang khususnya. Perhitungan DaLA didasarkan kepada data awal pasca terjadinya musibah, yang telah diverifikasi oleh Tim Pusat yang melibatkan Tim Daerah.

Attachment 2 | 36

Milestone Report December

Perhitungan DaLA dilakukan dengan tujuan : 1. Menilai besarnya dampak kerusakan yang ditimbulkan oleh bencana terhadap prasarana publik, yang berimplikasi terhadap pemulihan pelayanan dasar, dan pemulihan prasarana publik jangka panjang. Menilai dampak kerugian langsung dan tidak langsung yang ditimbulkan oleh bencana terhadap sektor ekonomi, yang berimplikasi terhadap pembangunan ekonomi daerah dan nasional. Menyusun kebijakan dan strategi pemulihan, alokasi anggaran, serta mekanisme pendanaan dan pelaksanaan rehabilitasi dan rekonstruksi.

2.

3.

Prioritas penanganan pada masa tanggap darurat, diarahkan pada : 1. Penyelamatan dan penempatan masyarakat ketempat aman (SAR dan evakuasi), dengan prioritas aksi : 2. 3. Evakuasi korban bencana Pemasangan tenda/bangunan darurat, untuk temporary settlement dan sekolah/kantor Perbaikan bangunan sekolah Penyediaan tenda darurat untuk keperluan perawatan Mobilisasi bantuan, terutama yang berhubungan dengan kesehatan. Perbaikan jaringan listrik Perbaikan jaringan air bersih Penyediaan air bersih Pengumpulan data Pendistribusian bantuan sembako.

Pemenuhan kebutuhan dasar, dengan prioritas aksi :

Perlindungan kelompok rentan, dengan prioritas aksi :

Bantuan sembako dan kebutuhan logistik lainnya ditampung di posko tanggap darurat Palanta Walikota. Semua bantuan yang diterima kemudian dibagi ke setiap kecamatan untuk dapat diteruskan kepada masyarakat melalui kelurahan-kelurahan. Pendistribusian bantuan lauk pauk khusus bagi korban yang rumahnya mengalami rusak berat dengan nilai Rp. 5.000,- per orang dan maksimal untuk 5 orang dalam 1 keluarga. Uang lauk pauk ini diberikan selama masa tanggap darurat (30 hari) Mobilisasi bantuan masyarakat

4.

Pemulihan fasilitas kritis, dengan prioritas aksi : Inventarisasi kerusakan sarana/prasarana Melakukan penilaian kelayakan bangunan Pembersihan reruntuhan bangunan Pembersihan sarana/prasarana ekonomi Penyiapan sarana perdagangan Pemanfaatan Terminal Regional Bingkuang sebagai tempat perkantoran sementara Pemerintah Kota Padang.

Attachment 2 | 37

Milestone Report December

4.3. 4.3.1.

Beberapa Masalah Tanggap Darurat Ketersediaan dan dukungan SDM yang terbatas

Untuk menangani bencana yang besar seperti gempa 30 September 2009, dibutuhkan dukungan SDM yang cukup dan memadai. BPBD Kota Padang sebagai instansi yang bertugas menanggulangi bencana ini masih belum bisa bekerja secara optimal. Hal ini dikarenakan usia BPBD yang masih terlalu dini (kurang dari 1 tahun) dan dukungan SDM yang sangat terbatas. 4.3.2. Kurangnya Dukungan Pendanaan

Dampak gempa yang besar membutuhkan dukungan pendanaan yang besar pula. Sementara pendanaan utama hanya bersumber dari APBD Kota Padang. Untuk mengatasinya, Pemerinah Kota Padang harus melakukan perubahan anggaran belanja. Beberapa pos anggaran yang tidak terlalu penting terpaksa harus dialihkan untuk tanggap darurat dan masa pemulihan dini 4.3.3. Keterbatasan Sarana dan Prasarana Penanggulangan Bencana

Kota Padang tidak memiliki sarana dan prasarana yang lengkap untuk menanggulangi dampak bencana. Selama tanggap darurat terlihat kurangnya sarana dan prasarana untuk kegiatan evakuasi dan pencarian korban. Beberapa panggilan untuk pencarian korban tidak dapat dipenuhi secepatnya. Kebutuhan sarana dan prasarana tersebut baru dapat dipenuhi dari dukungan daerah tetangga. 4.3.4. Belum siapnya Sistim dan Prosedur

SOP tanggap darurat sudah dipersiapkan oleh BPBD Kota Padang. Namun sistem ini belum ditandatangani oleh Walikota Padang. SOP (protap) bahkan sudah direncanakan untuk disimulasikan pada bulan November 2009. 4.4. Badan Pelaksana Rehabilitasi dan Rekonstruksi Kota Padang

Sebagai Institusi Pemerintah, Pemerintah Kota Padang berkewajiban dan bertanggung jawab dalam penanggulangan bencana. Hal ini secara tegas diatur dalam UU Nomor 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana. Berdasarkan amanat UU tersebut, Pemerintah Kota Padang telah mempunyai Badan Penanggulangan Bencana Daerah yang dibentuk melalui Peraturan Daerah Kota Padang Nomor 18 Tahun 2008 tentang Pembentukan Organisasi dan Tata Kerja Badan Penanggulangan Bencana (BPBD) Kota Padang, yang diundangkan dalam Lembaran Daerah Kota Padang tanggal 10 Maret 2008, namun baru efektif pada bulan Maret 2009 dengan dilantiknya pejabat struktural Esselon IV dilingkungan BPBD Kota Padang. Dalam Kondisi BPBD yang baru terbentuk tersebut dan masih dalam pembenahan ke dalam, bencana gempa yang cukup besar dengan dampak yang besar juga melanda Kota Padang. Tentu saja BPBD yang mempunyai tugas langsung dalam penanggulangan bencana belum siap menghadapi hal tersebut, sementara tugas berat harus tetap dilaksanakan. Menghadapi kondisi tersebut dan untuk mempercepat proses rehabilitasi dan rekonstruksi Kota Padang pasca gempa bumi, Pemerintah Kota Padang merasa perlu untuk membentuk suatu wadah yang bertugas untuk mendukung tugas-tugas BPBD dalam penanggulangan bencana. Berdasarkan pertimbangan tersebut di atas dibentuklah Badan Pelaksana Rehabilitasi dan Rekonstruksi Kota Padang Pasca Gempa Bumi 30 September 2009 melalui Keputusan Walikota Padang Nomor 969 Tahun 2009, dan terakhir disempurnakan menjadi Badan Pendukung Rehabilitasi dan Rekonstruksi Kota Padang Pasca Gempa Bumi 30 September 2009 melalui Keputusan Walikota Padang Nomor 05 Tahun 2010. Badan Pendukung Rehabilitasi dan Rekonstruksi Kota Padang Padang Pacsa Gempa Bumi 30 September 2009 ini bertujuan mendukung tugas Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kota Padang dalam menanggulangi akibat bencana bempa bumi tersebut dimana seluruh output yang dihasilkan oleh BPRR disampaikan kepada BPBD, Bappeda dan instansi terkait lainnya sebagai bahan dalam mempercepat proses rehabilitasi dan rekonstruksi Kota Padang Pasca Gempa Bumi Tahun 2009.

Attachment 2 | 38

Milestone Report December

Koordinator BPRR adalah Sekretaris Daerah Kota Padang, didukung oleh Tenaga Ahli yang merupakan expert yang berasal dari Universitas Andalas dan Universitas Bung Hatta. Selain itu, anggota BPRR juga berasal dari perwakilan Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) dilingkungan Pemerintah Kota Padang yang terkait langsung dengan kegiatan rehabilitasi dan rekonstruksi pasca gempa di Kota Padang. Tugas dari BPRR adalah antara lain mempersiapkan action plan yang akan menjadi pedoman pelaksanaan rehabilitasi dan rekonstruksi dalam bentuk kajian, proposal/rekomendasi yang akan dilaksanakan oleh pemko Padang serta melakukan pendampingan secara intensif dalam setiap proses rehabilitasi dan rekonstruksi agar erjalan dengan baik sesuai tujuan, sasaran dan waktu yang telah ditetapkan. 4.5. Pokok-pokok Kebijakan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Kota Padang

Untuk memulihkan kembali Kota Padang pasca gempa bumi tanggal 30 September 2009 dibutuhkan upaya rehabilitasi dan rekonstruksi yang dilakukan secara sistematis, terorganisir dengan baik dan efektif. Upaya ini memerlukan pokok-pokok kebijakan yang dapat dijadikan landasan untuk merencanakan dan membangun kembali Padang sebagai kota dengan samangat baru (Padang New City) yang mempunyai semangat pembangunan ekonomi yang tinggi dan respon terhadap bencana yang baik. Membangun Kota Padang yang sensitif terhadap bahaya bencana dan peningkatan perekonomian, menjadi pertimbangan dalam merevisi dokumen perencanaan strategis Kota Padang (seperti Rencana Tata Ruang Wilayah/RTRW dan Rencana Pembanguan jangka Menengah/RPJM). Pokok-pokok kebijakan untuk kegiatan rehabilitasi dan rekonstruksi Kota Padang ini adalah sebagai berikut : 4.5.1. Memindahkan Pusat Pemerintahan Kota ke Wilayah Baru

Kebijakan ini diambil oleh Pemerintah Kota Padang dengan pertimbangan bahwa berdasarkan analisi ilmiah bahwa peluang terjadinya gempa dengan kekuatan lebih besar dan tsunami relatif tinggi. Disamping itu konsentrasi massa dalam jangka waktu lama di kawasan yang rentan terhadap dampak bencana perlu dikurangi. Seiring dengan itu Pemerintah Kota Padang juga harus mendorong optimalisasi pemanfaatan ruang kota dan pertumbuhan kawasan. 4.5.2. Memulihkan Perekonomian Kota dan Merevitalisasi Pasar Raya & Pasar Satelit

Perekonomian Kota Padang pasca bencana gempa bumi merupakan sektor yang paling terpukul. Inflasi tinggi, pertumbuhan ekonomi stagnan, angka pengangguran meningkat akibat hancurnya berbagai fasilitas publik, yang pada gilirannya menyebabkan rendahnya daya beli masyarakat. Oleh karena itu perlu segera dicarikan solusi terbaik agar economic recovery dapat berlangsung lebih cepat sehingga inflasi turun dan pertumbuhan ekonomi berada pada posisi ideal kembali sesuai dengan kondisi yang ada. Kegiatan ini nantinya akan melahirkan beberapa guidance terkait dengan kebijakan economic recovery yang harus dilakukan oleh Pemerintah Kota Padang ke depan. Pasar raya sebagai urat nadi perekonomian Kota Padang harus segera dipulihkan dengan cara membangun kembali Pasar Raya yang telah hancur. Upaya ini juga harus diiringi dengan pembangunan pasar-pasar satelit yang juga mengalami kerusakan akibat gempa. 4.5.3. Reorganisasi Jaringan Transportasi Kota

Kebijakan ini berkaitan erat dengan adanya indikasi perubahan pola trip demand masyarakat pasca musibah gempa bumi. Perubahan trip demand tersebut diantaranya disebabkan karena terjadinya perpindahan pemukiman sebagian penduduk dari kawasan pesisir pantai ke kawasan timur, serta diakibatkan oleh berpindahnya beberapa pusat aktifitas publik seperti kantor, sekolah dan lain-lain. Dalam kebijakan ini akan dibahas juga rencana relokasi Terminal Regional Bingkuang Type A di Aie Pacah yang akan dijadikan sebagai lokasi Pusat Pemerintahan Kota Padang yang baru, serta penetapan beberapa kebijakan strategis disektor transportasi Kota Padang kedepan.

Attachment 2 | 39

Milestone Report December

4.5.4.

Menata Kawasan Pusat Kota Lama

Kawasan Padang Lama di Kota Padang sebagian terkonsentrasi di Kecamatan Padang Selatan. Di lokasi ini terdapat bangunan-bangunan kuno peninggalan zaman Belanda yang sebagian besar merupakan bangunan cagar budaya dan termasuk dalam kelompok Padang Herritage. Banyak bangunan yang tergolong bangunan cagar budaya yang mengalami kehancuran pada musibah gempa bumi beberapa waktu yang lalu. Penataan ini dimaksudkan untuk melahirkan guidance bagi pemiliknya manakala bangunan yang hancur atau rubuh tersebut akan dibangun kembali, supaya bentuk bangunannya tidak berubah total sehingga unsur herritage-nya masih dapat dipertahankan sebagai bangunan cagar budaya. 4.5.5. Memulihkan Prasarana dan Sarana Pendidikan dan Kesehatan

Fasilitas pendidikan di Kota Padang merupakan salah satu fasilitas yang paling parah terkena dampak musibah gempa bumi beberapa waktu yang lalu. Tidak saja gedungnya yang mengalami kehancuran, tetapi prasarananya juga mengalami hal yang sama. Sampai sekarang, masih banyak siswa sekolah yang mengikuti proses belajar mengajar menggunakan bangunan-bangunan atau tenda-tenda darurat. Oleh karena itu, perlu segera dilakukan penelitian dan identifikasi terhadap fasilitas pendidikan yang telah hancur dan rusak tersebut, untuk kemudian dibuatkan pemetaannya berdasarkan skala prioritas untuk pembangunannya kembali. Fasilitas kesehatan juga mengalami hal yang sama. RSUD, Puskesmas dan fasilitas kesehatan lainnya banyak yang hancur dan rusak berat. Fasilitas publik ini perlu segera dipulihkan kembali untuk menjamin tersedianya fasilitas kesehatan bagi masyarakat luas. 4.5.6. Memulihkan rumah masyarakat dan prasarana pemukiman

Rumah masyarakat yang mengalami kerusakan tersebar hampir merata di seluruh Kota Padang. Upaya pemulihan rumah masyarakat ini tentunya membutuhkan dukungan dana yang sangat besar. Namun demikian Pemerintah tetap harus menstimulasi dan memfasilitasi seta membantu pembangunan dan perbaikan rumah masyarakat. Program rehabilitasi dan rekonstruksi rumah masyarakat ini harus memperhatikan wilayah kota Padang sebagai daerah rawan gempa sehingga dalam pelaksanaan penyaluran bantuan, syarat-syarat rumah tahan gempa menjadi acuan dalam desain maupun pembangunan kembali rumah masyarakat. 4.5.7. Memulihkan mental masyarakat dan mitigasi bencana

Kegiatan ini lebih diarahkan kepada upaya mencarikan solusi menghilangkan rasa trauma masyarakat terhadap bencana gempa bumi, dan yang paling penting adalah mengarahkan masyarakat agar lebih siap menghadapi bencana sejenis apabila terjadi lagi pada masa-masa yang akan datang. 4.5.8. Meninjau ulang dan merevisi Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) dan Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM)

Kebijakan ini diambil untuk mengidentifikasi perubahan mendasar dalam struktur dan pemanfaatan ruang kota, perubahan dinamika aktifitas masyarakat terkait pemindahan pusat pemerintahan, pengembangan pusat ekonomi baru, reorganisasi jalur transportasi. Selanjutnya perlu diidentifikasi aspek-aspek yang memerlukan penyesuaian terhadap revisi RTRW dan RPJM. RPJM Kota Padang sebenarnya sudah selesai disusun pada tahun 2009 yang lalu. Namun karena beberapa hal terkait dengan mitigasi bencana dan kebijakan-kebijakan khusus pasca bencana, maka RPJM tersebut perlu direvisi kembali.

Attachment 2 | 40

Milestone Report December

BAB V TELAAHAN DOKUMEN KRP REHABILITASI DAN REKONSTRUKSI

5.1.

Tinjauan Umum

Secara keseluruhan, Pemerintah Kota Padang telah mengaplikasikan seluruh Kebijakan Pokok Rehabilitasi dan Rekonstruksi Kota Padang, yang diawali dengan membuat kajian-kajian terkait dengan masing-masing agenda rehabilitasi dan rekonstruksi. Persoalan utama adalah masalah pendanaan yang akan dimanfaatkan untuk mengaplikasikan program rehabilitasi dan rekonstruksi tersebut. Pemerintah Kota Padang jelas tidak akan sanggup membiayainya sendiri karena kemampuan keuangan yang sangat terbatas. Oleh karena itu, dukungan dari Pemerintah Pusat melalui dana APBN dan dari Pemerintah Provinsi Sumatera Barat melalui APBD Sumatera Barat sangat dibutuhkan. Pemerintah Kota Padang telah menyiapkan dokumen yang berisikan Strategi Rehabilitasi dan Rekonstruksi Kota Padang untuk periode 2010 2014, sebagai bagian dari upaya menarik dana APBN dan APBD Provinsi Sumatera Barat dalam membantu merealisasikan program Rehabilitasi dan Rekonstruksi di Kota Padang, untuk menuju Padang New City dan persiapan menuju Padang sebagai kota metropolitan 5.2. Visi Padang New City dan Padang Menuju Metropolitan

Berdasarkan pokok-pokok kebjakan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Kota Padang yang telah disusun oleh Pemerintah Kota Padang bersama-sama dengan BPRR Kota Padang, mulai Tahun Anggaran 2010 telah dialokasikan dana untuk melaksanakan sebagan rekomendasi tesebut. Pengalokasian dana APBD Kota Padang tersebut tersebar di beberapa SKPD di lingkungan Pemerintah Kota Padang dan diharapkan mampu memenuhi misi yang telah ditetapkan di dalam pokok-pokok rehabilitasi dan rekonstruksi Kota Padang tersebut. Kedelapan kegiatan Pokok Rehabilitasi dan Rekonstruksi Kota Padang tersebut, mempunyai tujuan dan agenda yang muaranya sama, yaitu bagaimana Kota padang dapat pulih kembali pasca musibah gempa bumi setahun yang lalu, namun dalam bentuk yang lebih baik menuju Kota Padang yang lebih humanis, dinamis, nyaman,tertib dan sejahtera, serta respon terhadap bencana yang tinggi. Inilah sebenarnya refleksi dari perwujudan Padang New City yang menjadi tujuan Pemerintah Kota Padang, sejalan dengan konsep menjadikan Kota Padang sebagai Kota metropolitan. Kota Padang telah tumbuh pesat dan berpotensi memiliki penduduk diatas 1 juta jiwa. Dikaitkan dengan pertumbuhan wilayah sekitar Kota Padang dan interaksi sosial-ekonomi yang terjadi, mengindikasikan Kota Padang dalam proses pertumbuhan menuju Kota Metropolitan, kondisi ini perlu diantisipasi agar terwujud Metropolitan Padang yang tumbuh harmonis sebagai tempat bermukim dan tujuan investasi yang aman, nyaman, produktif dan berkelanjutan. Kota Padang sebagai ibukota Provinsi Sumatera Barat menjadi orientasi perkembangan bagi wilayah lainnya di Provinsi Sumatera Barat serta wilayah lain yang terkait. Kota Padang sebagai pusat koleksi-distribusi yang mempunyai akses keluar wilayah Provinsi Sumatera Barat, baik akses yang ditunjang oleh transportasi darat maupun transportasi laut dan udara. Kota dengan problematika pemenuhan kebutuhan permukiman yang meningkat seiring perkembangan jumlah penduduk kota Padang dan wilayah sekitarnya yang berdekatan (jumlah penduduk Kota Padang Tahun 2028 diperkirakan 1.437.800 jiwa). Keberadaan potensi bencana alam tsunami dan gempa bumi serta keterbatasan pengembangan wilayah kota terkait fisiografis, status Hutan dan Suaka Alam di wilayah sekitar Kota Padang merupakan rangkaian peluang dan permasalahan Kota Padang yang harus diantisipasi secara holistik. Kota Padang sebagai pusat kegiatan Provinsi Sumatera Barat terdapat Pelabuhan Internasional Teluk Bayur, Lantamal, Wisata Pantai Mandeh, Pabrik Semen, dan Bandara Minangkabau. Prasarana pelabuhan dan bandara inilah yang menjadi factor utama Kota Padang dijadikan pusat kegiatan di Sumatera Barat, karena memiliki tingkat aksesbilitas yang cukup tinggi.
Attachment 2 | 41

Milestone Report December

Kota Padang sebagai Kawasan Strategis Provinsi Sumatera Barat diarahkan menjadi Kota Inti dalam pengembangan Kota Padang menjadi Kawasan Metropolitan Padang. Kawasan strategis ini artinya kawasan yang memiliki potensi pengembangan yang tinggi yang ditandai dengan banyaknya sarana dan prasarana kota yang cukup lengkap. Pengembangan Metropolitan Padang di Kota Padang diharapkan dapat menjadi penyempurnaan Kawasan Metropolitan di sekitar Kota Padang lainnya seperti :

1) 2) 3)

Kawasan Strategis Poros Barat-Timur (Padang-Bukittinggi-Batas Riau) dengan kota inti Padang Panjang, Kawasan Strategis Metropolitan Palapa (Padang-Lubuk Alung-Pariaman) yang mencakup Kota Pariaman dan sebagian besar Kota Padang, Kawasan Strategis Intelbungeh (Indarung-Teluk Bayur-Bungus-Mandeh) yang mencakup sebagian besar Kota Padang dan Kabupaten Pesisir Selatan.

Terkait dengan pengembangan Kota Padang, kecenderungan Kota Padang mengarah ke kawasan Metropolitan dan penetapan sebagai PKN di Sumatera bagian barat, maka pada sub bab berikutnya akan dijelaskan tentang : 1) 2) 3) Kota Padang sebagai kota inti metropolitan Kabupaten/kota sekitar Metropolitan Padang Padang sebagai kota satelit yang terkait dengan batasan

Hipotesis rencana struktur dan pola ruang Kawasan Metropolitan Padang

Pengembangan Metropolitan Padang terbagi kedalam 2 (dua) tahap. Luas total Metropolitan Padang pada tahap 1 adalah sebesar 504,55 km2 dengan jumlah penduduk total di kelima kabupaten dan kota sebanyak 1.031.833 jiwa. Pada tahap 1, hanya terdapat 2 kabupaten/kota yang menjadi anggota dari Metropolitan Padang yaitu Kota Padang dan Kabupaten Padang Pariaman, dengan kepadatan penduduk yang berbeda jauh yaitu 2.557,61 jiwa/km2 (Kota Padang) dan sebesar 620,17 jiwa/km2 (Kabupaten Padang Pariaman). Pada tahap 2 yang akan dilaksanakan pada tahun 2015-2019, Kota Pariaman, Kabupaten Pesisir Selatan, dan Kabupaten Solok sudah termasuk kedalam kawasan Metropolitan Padang sehingga luas total lahan Metropolitan Padang menjadi 1.964,49 km2 untuk penduduk sebanyak 1.649.386 jiwa. Jumlah penduduk terbesar tetap berada pada Kota Padang yaitu sebesar 1.186.609 jiwa sedangkan jumlah penduduk terendah terdapat pada Kabupaten Solok yaitu sebesar 40.128 jiwa. Berdasarkan hasil analisis pengembangan Kota Padang menuju Metropolitan Padang, Kota Padang yang menjadi inti pengembangan Metropolitan Padang telah mampu memberikan efek multiplayer (EM) penyebaran penduduk terhadap kota/kabupaten di sekitarnya. Penyebaran penduduk di Metropolitan Padang telah tercapai pada pengembangan tahap akhir di tiap alternatif. Adanya efek penyebaran penduduk ini diharapkan dapat disertakan dengan pengembangan sumber daya alam di Kota Padang. Skenario Tata Ruang Metropolitan Padang Pertimbangan dasar dalam skenario perencanaan kawasan adalah penetapan Kota Padang sebagai PKN (PP 26/2008 tentang RTRWN), Draft RTRW Provinsi Sumatera Barat dan Visi Misi Kota Padang. Sedangkan lingkup wilayah perencanaan yang digunakan adalah:

1) 2)

Kota Padang sebagai Pusat Kegiatan Nasional Kawasan sekitar sebagai embrio Kawasan Metropolitan Padang

Attachment 2 | 42

Milestone Report December

Berdasarkan PP 26/2008 tentang RTRWN yang menetapkan Kota Padang sebagai salah satu Pusat Kegiatan Nasional, maka Kota Padang mempunyai fungsi sesuai Pasal 14 yaitu: a) b) c) kawasan perkotaan yang berfungsi atau berpotensi sebagai simpul utama kegiatan eksporimpor atau pintu gerbang menuju kawasan internasional; kawasan perkotaan yang berfungsi atau berpotensi sebagai pusat kegiatan industri dan jasa skala nasional atau yang melayani beberapa provinsi; dan/atau kawasan perkotaan yang berfungsi atau berpotensi sebagai simpul utama transportasi skala nasional atau melayani beberapa provinsi.

Sedangkan Visi Penataan Ruang Kota Padang 2028 (Draft RTRW Kota Padang 2008 2028) adalah : Terwujudnya Struktur dan Pola Ruang Kota Pesisir yang Modern dan Berbudaya dengan Didukung oleh Pengembangan Sektor Perdagangan, Jasa dan Pariwisata. Dalam pusat perkotaan nasional dikembangkan kawasan untuk peningkatan kegiatan ekonomi, sosial, budaya, dan pelestarian lingkungan hidup secara harmonis, serta jaringan prasarana dan sarana pelayanan penduduk yang sesuai dengan kebutuhan dan menunjang fungsi pusat perkotaan dalam wilayah nasional. Sebagai pusat pelayanan perkembangan kegiatan budi daya, baik dalam wilayahnya maupun wilayah sekitarnya, pusat perkotaan nasional mempunyai fungsi: a) b) ekonomi, yaitu sebagai pusat produksi dan pengolahan barang; jasa perekonomian, yaitu sebagai pusat pelayanan kegiatan keuangan/bank, dan/atau sebagai pusat koleksi dan distribusi barang, dan/atau sebagai pusat simpul transportasi, pemerintahan, yaitu sebagai pusat jasa pelayanan pemerintah; dan jasa sosial, yaitu sebagai pusat pemerintahan, pusat pelayanan pendidikan, kesehatan, kesenian, dan/atau budaya.

c)

Tantangan dan Persoalan Metropolitan Padang Sebagai salah satu wilayah yang berkembang pesat menuju Kota Metropolitan, Kota Padang dan sekitarnya dihadapkan pada berbagai tantangan dan persoalan antara lain: tingginya potensi bencana geologi dan meteorologi seperti gempabumi, tsunami, banjir, abrasi pantai, longsor dan gelombang pasang; pertumbuhan penduduk perkotaan dan dampaknya terhadap kebutuhan pengembangan kawasan terbangun; sistem transportasi perkotaan yang belum terintegrasi; sistem jaringan prasarana perkotaan untuk mendukung perkembangan kawasan metropolitan

Tantangan dan permasalahan tersebut pada dasarnya merupakan akumulasi dari berbagai permasalahan sehingga penanganannya perlu dilakukan secara komprehensif tidak hanya dari Kota Padang saja, tetapi juga dikaitkan wilayah sekitarnya dalam konteks pengembangan wilayah metropolitan. Terkait skenario pembagian fungsi wilayah, berdasarkan kajian terhadap RTRW kota Padang, RTRW Propinsi Sumatera Barat dan kajian persiapan Kota Padang sebagai Kota Metropolitan, maka ditetapkan fungsi wilayah Kota Padang sebagai pusat primer meliputi; a. Pusat Primer; Pusat Primer Perdagangan dan Jasa Pusat Primer Industri Pusat Primer Transportasi Laut Pusat Primer Pendidikan Tinggi Pusat Budaya dan Wisata Pusat Pemerintahan Provinsi Pusat Pertahanan dan Keamanan/Militer

b.

Pusat sekunder;
Attachment 2 | 43

Milestone Report December

Pusat Sekunder Perdagangan dan Jasa Pusat Sekunder Transportasi Darat dan Laut Pusat Permukiman

Sedangkan fungsi wilayah di luar kota Padang meliputi; a. Pusat Pusat Primer; Pusat Primer Perdagangan dan Jasa Pusat Primer Industri Pusat Primer Transportasi Udara Pusat Budaya dan Wisata sekunder; Pusat Budaya dan Wisata Pusat Permukiman

b.

Diharapkan penetapan pembagian fungsi yang dimaksud dapat membagi beban pambangunan wilayah sesuai daya dukung masing-masing wilayah terkait Metropolitan Padang. 5.3. RTRW Kota Padang dan RPJM Kota Padang.

Mengidentifikasi perubahan mendasar dalam struktur dan pemanfaatan ruang kota, perubahan dinamika aktifitas masyarakat terkait pemindahan pusat pemerintahan, pengembangan pusat ekonomi baru, reorganisasi jalur transportasi, Untuk mempersiapkan Kota Padang yang responsif terhadap bencana serta menjadikan Padang sebagai Kota Metropolitan, maka Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) dan Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) Kota Padang, harus direvisi dengan memperhatikan sungguh-sungguh kondisi eksisting Kota Padang pasca bencana, baik berdasarkan hasil penelitian ilmiah, maupun yang mengacu kepada kecenderungan perilaku masyarakat Kota Padang. Oleh karena itu, Pemerintah Pusat melalui Ditjen. Penataan RuangKementerian Pekerjaan Umum, telah mengalokasikan dana dalam APBN 2010 ini berupa Kegiatan Revisi RTRW Kota Padang Periode 2008 2028. Sedangkan untuk revisi RPJM Kota Padang, dilaksanakan dengan mempergunakan dana dari APBD Kota Padang Tahun 2010. 5.4. Pusat Pemerintahan

Pusat Pemerintahan Kota Padang saat ini berada di kawasan CBD di Jl. M. Yamin No. 70, Kecamatan Padang Barat, yang berjarak hanya 800 m dari pesisir pantai. Sebagai simbol daerah, maka lokasi Pusat Pemerintahan harus terletak pada kawasan yang lebih aman, supaya aktifitas pemerintahan tetap berjalan meskipun apabila Kota Padang mengalami musibah bencana. Beberapa argumentasi utama direkomendasikannnya pemindahan Pusat Pemerintahan Kota Padang, adalah : 1. 2. 3. Berdasarkan analisi ilmiah, peluang terjadinya gempa bumi dengan kekuatan yang besar yang diikuti dengan gelombang tsunami, relatif tinggi. Upaya untuk mengurangi konsentrasi massa dalam jangka waktu lama di kawasan yang rentan terhadap dampak bencana. Mendorong optimalisasi pemanfaatan ruang kota dan pertumbuhan kawasan.

Attachment 2 | 44

Milestone Report December

Gambar: Estimasi Pusat Pertumbuhan Kota Padang

Memindahkan Pusat Pemerintahan Kota Padang merupakan salah satu skenario Pemerintah Kota Padang untuk memacu pertumbuhan kawasan-kawasan baru, sekaligus merupakan himbauan bagi masyarakat luas untuk dapat lebih selektif memilih tempat tinggal yang lebih aman dari ancaman gempa bumi dan gelombang tsunami. Guna mewujudkannya, Pemerintah Kota Padang bersama-sama dengan BPRR telah menyusun Naskah Akademis Pemindahan Pusat Pemerintahan Kota Padang, dan telah disetujui oleh Ditjend. Pemerintahan Umum Kementerian Dalam Negeri. Berdasarkan Naskah Akademis dan Penyamaan Persepsi yang dilakukan di Ditjend. Pemerintahan Umum Kementerian Dalam Negeri beberapa waktu yang lalu, Pemindahan Pusat Pemerintahan Kota Padang ini telah mendapat Persetujuan Prinsip dari Presiden Republik Indonesia, dan pada saat ini sedang dalam proses penerbitan Peraturan Pemerintah oleh Kementerian Dalam Negeri. Guna mewujudkannya, Pemerintah Kota Padang telah mengalokasikan dana melalui APBD Kota Padang Tahun Anggaran 2010 untuk Penyusunan Master Plan Pusat Pemerintahan Kota Padang dan Penyusunan DED Pusat Pemerintahan Kota Padang (khusus untuk Kantor Walikota Padang, Gedung DPRD dan Mesjid). Dan didalam APBD Kota Padang Tahun Anggaran 2011, telah pula dialokasikan dana sebesar Rp. 20 Milyard untuk pembangunan fisiknya, yang diharapkan akan mendapat tambahan dana melalui APBN-P Tahun Anggaran 2011 yang akan datang. Sejalan dengan pemindahan pusat pemerintahan ke kawasan Aie Pacah, maka kawasan yang ditinggalkan perlu ditata ulang untuk dijadikan sebagai fungsi lain tetapi tetap mengacu kepada dokumen RTRW yang telah direvisi. Meski aktifitas pemerintahan akan dipindahkan, namun fungsi primer sebagai kawasan pusat perekonomian dan perdagangan Kota Padang dikawasan CBD, tetap dipertahankan. Oleh karena itu perlu dirumuskan penataan kawasan CBD pasca pindahnya aktifitas pemerintahan dari kawasan ini melalui Kegiatan Penataan Kawasan CBD dalam APBD Kota Padang Tahun Anggaran 2010. 5.5. Road Map Pemulihan Ekonomi dan Revitalisasi Pasar

Kondisi perekonomian Kota Padang pasca musibah sangat tidak stabil. Banyak orang kehilangan pekerjaan, banyak pula yang kehilangan peluang usaha, yang pada gilirannya daya beli mayarakat turun sangat drastis, sehingga perputaran uang di Kota Padang sangat sedikit. Hal ini diperparah oleh hancurnya sebagian besar Pasar Raya, sehingga pedagang terancam kehilangan mata pencahariannya. Oleh karena itu pembangunan kembali Pasar Raya Inpres diharapkan menjadi starting point pemulihan ekonomi Kota Padang secara umum. Beberapa hal penting yang harus dilakukan terkait dengan program pemulihan ekonomi dan revitalisasi pasar-pasar satelit di Kota Padang, adalah diantaranya : Mengidentifikasi pedagang yang sebelum gempa sudah punya hak pakai dan beraktifitas di Pasar Raya (Pasar Inpres I, II, III, dan IV), serta mengikutsertakan mereka dalam
Attachment 2 | 45

Milestone Report December

pembangunan kembali Pasar Inpres dan menjamin penempatan kembali pada bangunan pasar yang baru. Mengupayakan pembiayaan pembangunan baru Pasar Raya yang bersumber dari dari pedagang, Pemerintah atau sumber lainnya, sehingga harga petak toko/kios menjadi terjangkau dan sekaligus sebagai jaminan bagi keberlanjutan bisnis pedagang yang ada. Menyiapkan format untuk mensinergikan kegiatan perdagangan antara pelaku usaha skala besar, menengah dan kecil. Merehabilitasi dan mengembangkan Pasar Raya menjadi pasar rakyat modern Membangun Pangkalan Angkot di kawasan Pasar Raya untuk meningkatkan dinamika perdagangan dan interaksi publik. Membangun dan mengembangkan Pasar-pasar Satelit yang dilengkapi dengan pangkalan angkutan kota (Siteba, Belimbing, Gaung, Bandar Buat, Ulak Karang, Simpang Haru, Indarung, dan Lubuk Buaya) untuk mengurangi kepadatan Pasar Raya dan menumbuhkembangkan pusat ekonomi baru. Memfasilitasi pedagang Pasar Raya yang ingin merelokasi usahanya ke Pasar Satelit yang terdekat dengan tempat tinggalnya.

Pemulihan ekonomi Kota Padang sangat dipengaruhi terutama oleh aktifitas jual beli masyarakat di Pasar Raya Padang. Oleh karena itu, pemulihan ekonomi Kota Padang diawali dengan pelaksanaan pembangunan kembali Pasar Inpres I, II, III dan IV yang sudah rubuh akibat gempa. Pembangunan kembali Pasar Inpres tersebut dimulai dengan pembangunan kios-kios darurat yang kemudian akan dilanjutkan dengan pembangunan gedung pasar yang permanen pada lokasi yang sama dengan bangunan yang rubuh tersebut. Untuk mewujudkannya, Pemerintah Kota Padang telah mengalokasikan dana untuk Penyusunan DED Pasar Inpres I, II, III dan IV, serta dana pembangunan fisik Tahap I melalui APBD Kota Padang Tahun Anggaran 2010. Sedangkan dana pembangunan Pasar Inpres II, III dan IV, diharapkan berasal dari APBN. Pemerintah Kota Padang juga telah mengalokasikan dana untuk penyusunan DED beberapa Pasar Satelit yang diharapkan mampu menjadi pasar modern dengan pengelolaan yang lebih baik, serta menjadi tempat berbelanja bagi warga sekitarnya sehingga tidak perlu lagi berbelanja ke Pasar Raya. Pasar-pasar satelit ini khususnya yang berada dikawasan pesisir, diharapkan mampu sekaligus berfungsi sebagai shelter untuk vertical evaquation bagi warga disekitarnya. Demikian juga dengan skenario pemulihan ekonomi, telah pula dianggarkan dana untuk Penyusunan Road Map Pemulihan Ekonomi di Kota Padang, sebagai panduan bagi pelaksanaan pemulihan ekonomi Kota Padang pada masa-masa yang akan datang. 5.6. Revitalisasi Padang Kota Lama

Kawasan kota lama Padang merupakan kawasan bersejarah yang banyak meninggalkan bangunan-bangunan lama. Kawasan kota lama Padang ditetapkan sebagai kawasan cagar Budaya yang diarahkan sebagai kawasan wisata budaya dan peninggalan sejarah. Kawasan kota lama Padang saat ini berada dalam kondisi gawat dan perlu mendapat prioritas penanganan. Gempa yang terjadi pada 30 September 2009 yang lalu telah menghancurkan sebahagian bangunan cagar budaya tersebut. Beberapa permasalahan aktual pada kawasan ini antara lain: Kecenderungan yang sistematis terjadinya perubahan karakter pada kawasan tersebut. Perubahan tersebut disebabkan belum adanya panduan desain yang implementatif yang dapat menjaga karakter kawasan, selain itu mekanisme pengendalian pembangunan yang ada tidak menjangkau hal substansial perancagan bangunan. Aspek hukum yang dipakai dalam perlindungan bangunan dan site bersejarah belum diintegrasikan dengan perangkat dan mekanisme pengendalian pembangunan, khususnya pada kawasan yang bersejarah. Aspek hukum yang ada hanya berupa daftar bangunan yang dilindungi berupa Surat Keputusan Walikota. Kegiatan pelestarian atau perlindungan bangunan bersejarah atau bangunan pembentuk karakter kota baru dimulai dari segi fisiknya saja, belum ada usaha yang sistematis yang
Attachment 2 | 46

Milestone Report December

mampu menggerakan aktivitas masyarakat sehingga kegiatan pelestarian merupakan kegiatan yang dilakukan sejalan dengan dengan gerakan pembangunan perkotaan lainnya. Kegiatan pelestarian baru dipahami sebagai upaya elit masyarakat atau pemerintah saja, karena secara ekonomis dan praktis kegiatan ini belum dirasakan manfaatnya bagi masyarakat umum. Oleh karena itu mekanisme yang mengatur pola insentif dan deinsentif bagi kegiatan pelestarian ini.

Penurunan kualitas (degradasi) kawasan kota lama Padang yang telah berada pada titik gawat ditandai dengan gejala-gejala sebagai berikut : Kehilangan kemampuan untuk merawat, baik bangunan maupun lingkungan. Umumnya status kepemilikannya tidak atau kurang jelas. Nilai properti yang ada tergolong negatif. Terjadi penghancuran diri sendiri (self destruction) baik dari segi aktivitas kawasan, angunan dan komponen lain pembentuk kawasannya. Terjadi penghancuran nilai-nilai lamanya, termasuk signifikasi historis dan budaya. Rendahnya intervensi publik sehingga mengakibatkan kawasan tersebut semakin kurang nyaman, bahkan kehilangan nilai strategisnya. Rendahnya keinginan untuk melakukan investasi baik pemerintah, swasta dan masyarakat. Tumbuhnya kantong-kantong kumuh. Terjadinya residential flight (pindahnya penduduk atau penghuni) ke luar dari Kawasan. Terjadinya bussiness flight (pindahnya kegiatan bisnis) Terjadinya infrastructure distress yang mengakibatkan terjadinya degradasi lingkungan dan kualitas hidup serta tumbuhnya squatters. Kawasan kehilangan kemampuan untuk berkompetisi dengan kawasan lain. Masuknya fungsi-fungsi baru atau tradisi baru yang kurang compatible dengan historis kawasan Kerusakan berat bahkan kehancuran berat akibat gempa bumi

Arahan program tentang Pelestarian Kawasan dan Bangunan Bersejarah Kota Padang, tahun 2011 2015 1. Pembentukan Kelembagaan, Forum Lintas Pelaku Pelestarian Kawasan dan Bangunan Bersejarah Kota Padang : a. b. 2. 3. Pembentukan Forum Masyarakat Peduli Bangunan Bersejarah Kota Padang Pembentukan Tim Ahli Bangunan Gedung (TABG) Kota Padang

Perencanaan Lanjutan Rencana Rehabilitasi Dengan menyusun Pedoman Teknik Perbaikan dan Penanganan Bangunan Lama Bersejarah Kota Padang. Menyusun Peraturan Bangunan Gedung di Kota Padang dengan mengajukan Rancangan Peraturan Daerah (Ranperda) Tentang Bangunan Gedung Kota Padang dan Rancangan Peraturan Walikota (Ranperwako) Tentang Bangunan Gedung Bersejarah Kota Padang. Perencaan Detail Engineering Design (DED) Bangunan Bersejarah di Jalan Pasar Hilir, Kawasan Kota Lama. Padang dan Bangunan Bersejarah di Jalan Pasar Mudik, Kawasan Kota Lama, Padang. Pelaksanaan Rehabilitasi Bangunan Bersejarah di Kawasan Kota Lama Padang

4.

5.

Attachment 2 | 47

Milestone Report December

Kawasan pondok merupakan salah satu kawasan yang terparah kondisinya pasca musibah gempa bumi tanggal 30 September 2009 yang lalu. Di kawasan ini terdapat bangunan-bangunan tua peninggalan zaman Kolonial Belanda yang sebagain merupakan bangunan yang tergolong kedalam bangunan cagar budaya. Dalam melakukan recovery kawasan ini, diperlukan panduan khusus agar hasil recoverynya tidak menghilangkan jejak langkah bangunan-bangunan tua yang sudah dikelompokkan sebagai bangunan peninggalan bersejarah dan bangunan cagar budaya. Beberapa hal yang hendaknya dilakukan sehubungan dengan penataan kawasan Padang lama adalah antara lain : Membangun ruang publik untuk interaksi dan kehidupan masyarakat kota yang lebih baik dan menyenangkan Revitalisasi Kawasan Kota Lama agar lebih mempunyai nilai ekonomis dan humanis Mengembangkan pola kehidupan kota yang multikultural Mengembangkan pola kemitraan swasta dan pemerintah (public private partnership) dalam membangun kembali prasarana bisnis skala menengah dan besar. Re-organisasi Jaringan Transportasi Kota Padang

5.7.

Kota Padang sebagai ibukota Provinsi Sumatera Barat, merupakan Pusat Kegiatan Nasional (PKN) yang berfungsi sebagai pusat pelayanan jasa, produksi, distribusi barang serta menjadi pintu masuk atau simpul transportasi bagi wilayah sekitarnya (hinterland), hal ini sesuai dengan Rencana Tata Ruang Wilayah Kota Padang. Untuk menjalankan peran sebagai pusat kegiatan diatas dibutuhkan suatu sistem transportasi kota yang handal dan mampu memberikan pelayanan aksesbilitas dan mobilitas manusia, barang dan jasa secara lancar, aman, cepat, murah dan nyaman. Kota Padang sangat rentan terhadap bencana, hal ini dipengaruhi oleh letak Kota Padang yang berada di pertemuan lempeng. Sehingga memberi konsekuensi pada tingkat kerawanan yang tinggi terhadap bencana alam, diantaranya rawan gempa bumi, tanah labil, abrasi pantai, banjir, tanah longsor dan tsunami. Ancaman bahaya tsunami menyebabkan masyarakat lebih memilh berinvestasi pada bagian timur kota. Masyarakat Kota Padang mulai memilih hunian atau tempat tinggal yan jauh dari pantai. Ditambah lagi rencana pemindahan pusat pemerintahan Kota Padang ke kawasan Aie Pacah. Perkembangan Kota Padang yang mengarah ke Timur Kota ini, menjadi issue penting dalam pembangunan sarana dan prasarana transportasi di Kota Padang. Kondisi di atas akan menyebabkan perubahan pola pergerakan orang dan barang di Kota Padang. Oleh karena itu perlu diantisipasi dengan perencanaan dan pembangunan sarana dan prasarana transportasi yang mempertimbangkan perkiraan perubahan pola aktivitas, pola pergerakan serta peruntukan lahan sehingga tidak terjadi kesenjangan antara transportasi supply dan transportasi demand. Oleh karena itu perlu disusun Rencana Induk Transportasi Kota Padang yang akan digunakan sebagai panduan dalam penentuan kebijakan pengelolaan dan pengembangan sistem transportasi dari semua moda transportasi yang ada dan mendukung Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Kota Padang pasca gempa yang meliputi sistem jaringan, prasarana, sistem pelayanan dan mekanisme pendanaan sebagai satu kesatuan yang harmonis serta sejalan dengan Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW). Ketakutan warga Kota Padang akan terjadinya musibah gempa bumi yang diikuti dengan gelombang tsunami, menyebabkan sebagian warga yang semula bertempat tinggal dikawasan pesisir pantai, lebih memilih pindah rumah menjauhi pantai. Tidak saja tempat tinggal yang pindah, tetapi juga sebagian kantor swasta dan toko/ruko juga ikut pindah kekawasan timur kota. Hal ini menyebabkan terjadinya perubahan trip demand masyarakat yang pada gilirannya akan mempengaruhi pola jaringan trayek angkutan umum. Oleh karena itu, perlu segera dilakukan reorganisasi jaringan transportasi Kota Padang dalam memenuhi trip demand masyarakat, serta mengantisipasi akan dipindahkannya Terminal Type A dari kawasan Aie Pacah. Reorganisasi jaringan transportasi kota juga diarahkan untuk mendeteksi lokasi Terminal Bus AKDP ditiga penjuru Kota Padang, yang dikaitkan dengan program Angkutan Massal yang telah mulai diprogramkan oleh Dinas Perhubungan Kota Padang yang dibantu oleh Kementerian
Attachment 2 | 48

Milestone Report December

Perhubungan RI. Hal ini sejalan dengan rencana pengoperasian monorail di Kota Padang dalam rangka persiapan Kota Padang menuju Kota Metropolitan. Rencana pengoperasian monorail tersebut telah masuk dalam PPP (Public Private Partnership) Book Bappenas. Beberapa hal penting yang akan dilakukan dalam melakukan re-organisasi jaringan transportasi Kota Padang adalah antara lain : 1. 2. 3. 4. Menata kembali jalur angkutan kota yang ada sekarang untuk mendukung perkembangan dan penyebaran pusat pertumbuhan ekonomi. Menata manajemen angkutan kota, kepemilikan moda transportasi kota, dan menentukan kriteria kelayakan operasional moda transportasi. Melakukan kajian dan membuka jalur baru moda transportasi dengan sistem bus way dan kereta rel listrik (monorail/skytrain) untuk jalur utama. Tata ulang regulasi tentang rute dan trayek angkutan kota, angkutan penumpang dan angkutan barang. Pemulihan Dini Mental Masyarakat

5.8.

Traumatik akibat mengalami gempa dahsyat, paling tidak mampu menurunkan kinerja masyarakat. Ketakutan akan mengalami hal yang sama, menyebabkan sebagian masyarakat seperti kehilangan pegangan. Kondisi mental yang labil seperti ini harus segera diobati dengan traumatic healing bagi seluruh lapisan masyarakat, apalagi bagi masyarakat yang kehilangan anggota keluarganya pada saat musibah tersebut terjadi. Hal-hal yang akan dilakukan adalah antara lain : 1. 2. Trauma healing (belajar berkelompok, ceramah, pemutaran film, menggambar, games, rekreasi, olah raga, zikir bersama) Penyediaan fasilitas untuk mitigasi bencana (percepatan penyelesaian jalur evakuasi, escape building, escape hill, dan lain-lain).

Dalam upaya mengembalikan kepercayaan diri masyarakat serta menghilangkan trauma yang mendalam pasca musibah gempa bumi yang dialaminya setahun yang lalu, Pemerintah Kota Padang melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) telah melaksanakan Kegiatan Traumatic Healing melalui APBD Kota Padang Tahun Anggaran 2010. Kegiatan ini difokuskan pada upaya mendeteksi penyebab utama trauma dan rekomendasi mengatasi rasa trauma, serta upaya mengembalikan kepercayaan diri masyarakat untuk segera bangkit dari keterpurukan mental dan menatap hari-hari mendatang dengan lebih tegar lagi. 5.9. Roap Map Pemulihan Fasilitasi Pendidikan dan Fasilitas Kesehatan

Sebagian besar sarana pendidikan dan kesehatan di Kota Padang mengalami kehancuran dan rusak parah akibat musibah gempa. Oleh karena itu, pemulihan sarana pendidikan dan kesehatan harus menjadi perhatian serius bagi keberlangsungan dunia pendidikan dan terjaminnya fasilitas kesehatan bagi masyarakat. Beberapa hal yang harus dilakukan dan menjadi perhatian dalam rangka pemulihan sarana pendidikan dan kesehatan, diantaranya adalah : Memastikan bahwa sekolah/rumah sakit adalah tempat yang paling aman dari apabila gempa bumi dan tsunami benar-benar terjadi di Kota Padang. Artinya, bangunan sekolah dan fasilitas kesehatan lainnya harus kokoh dan ramah terhadap gempa serta aman dari gelombang tsunami. Sekolah dan fasilitas kesehatan yang rubuh, pembangunannya kembali harus mengikuti standar bangunan yang tahan gempa

Attachment 2 | 49

Milestone Report December

Bangunan sekolah atau fasilitas kesehatan yang berada di kawasan merah bahaya tsunami, perlu segera direlokasi ke lokasi baru pada lahan milik Pemerintah dengan pola ruislag, atau dibangun dengan sistem bangunan shelter. Mengupayakan bantuan khusus kepada sekolah swasta yang bangunannya rusak (terutama TK, SD dan SMP) Memberikan perhatian khusus pada fasilitas kesehatan didaerah pinggiran Membangun kembali/melengkapi sarana dan prasarana pendidikan dan kesehatan yang rusak dengan mengakses sumber pembiayaan non Pemerintah.

Disektor pendidikan dan kesehatan, recoverinya telah dimulai dengan memanfaatkan bantuan dari pemerintah pusat dan NGO, walaupun belum sepenuhnya tuntas, terutama program pembangunan sekolah shelter di kawasan pesisir Kota Padang. Untuk membantu mengarahkan Pemerintah Kota Padang dalam melakukan pemulihan fasilitas pendidikan dan kesehatan di Kota Padang, telah dialokasikan dana melalui APBD Kota Padang Tahun 2010 untuk Kegiatan Road Map Pemulhan Fasilitas Pendidikan dan Kesehatan di Kota Padang. Dokumen ini diharapkan mampu menggiring dan mengarahkan Pemerintah Kota Padang dalam hal pemulihan fasilitasi pendidian dan kesehatan, dalam hal ini menentukan skala prioritas serta scenario pembebanan anggarannya.

Attachment 2 | 50

Milestone Report December

BAB VI ANALISIS IMPLIKASI KEBIJAKAN, RENCANA DAN PROGRAM

6.1.

Analisis Kebijakan dan Rencana Yang Lebih Tinggi.

Kebijakan RTRW Kota Padang dan RPJM Kota Padang merupakan penjabaran dari kebijakan dan rencana yang lebih tinggi yaitu RTRW Provinsi Sumatera Barat dan RPJMD Provinsi Sumatera Barat serta RTRWN dan RPJMN. Untuk dapat mengkaji KRP RTRW Kota Padang, maka terlebih dahulu dikaji perencanaan yang lebih makro secara ruang dan memilki keterkaitan dengan RTRW Kota Padang yaitu RTRW Provinsi Sumatera Barat dan RTRWN. Sedangkan substansi dari RTRW Kota Padang dinilai dari acuan yang dirumuskan dalam RPJPD Kota Padang dan RPJM Kota Padang. 6.2. 6.2.1. 1) Analisis Kebijakan dan Rencana Pembangunan Daerah Rencana Tata Ruang Wilayah Kota Padang.

Konsistensi Kebijakan Provinsi Sumatera Barat dengan Kota Padang.

Kebijakan RTRW Provinsi Sumatera Barat telah diakomodir dlm kebijakan RTRW Kota Padang, baik dalam hal struktur ruang maupun pola ruang. a. Dalam sistem pusat-pusat,

Kota Padang ditetapkan sebagai Pusat Kegiatan Nasional (PKN). Kota Padang didukung oleh kotakota lain di sekitarnya: b. Pembentukan Pola Ruang

Kawasan Andalan dengan sektor unggulan: perikanan, industri manufaktur dan industri pengolahan hasil pertanian, perdagangan dan jasa, perkebunan dan pariwisata. c. Transportasi Kota Padang akan menjadi salah-satu simpul utama dalam sistem jaringan Jalan Arteri Primer: Pengembangan Pelabuhan Internasional Teluk Bayur dan Pelabuhan Muaro. Pelabuhan Laut Internasional Teluk Bayur sebagai outlet komoditi Sumatera Barat menuju pasar internasional, 2) A. 1. 2. Konsistensi Kebijakan Tata Ruang dengan Struktur dan Pola Ruang. Kedudukan Kota Padang dalam RTRW NASIONAL Kota Padang termasuk ke dalam kota-kota pusat pertumbuhan nasional yang akan dilakukan revitalisasi dan percepatan pengembangannya. Akan dilakukan pengembangan jaringan jalan bebas hambatan Padang Bukittinggi untuk tahap pengembangan I. Kedudukan Kota Padang dalam RTRW Propinsi Sumatera Barat Dalam Gambaran Umum Provinsi Sumatera Barat point Penggunaan Lahan sub point Kawasan Pemukiman, Perkembangan kawasan permukiman Kota Padang berjalan cukup pesat baik dari segi jumlah penduduk maupun luas kawasan, bahkan cenderung membentuk kawasan perkotaan cukup luas.

B. 1.

Attachment 2 | 51

Milestone Report December

2. 3.

4.

5.

6. 7.

8.

9.

10.

11.

Dalam Gambaran Umum Provinsi Sumatera Barat point Pengunaan Lahan sub point Kawasan Pertambangan, Bahan pertambangan mineral bukan logam, fosfat dan pertambangan batuan untuk industri yang berupa batu kapur menyebar di Kota Padang. Dalam Gambaran Umum Provinsi Sumatera Barat point Pengunaan Lahan sub point Perikanan dan Kelautan, Di Kota Padang, luas hutan mangrove tidak lebih dari 10 hektar, yang terdapat di kawasan Sungai Pisang. Dalam Gambaran Umum Provinsi Sumatera Barat point Kependudukan, Kota Padang masih menjadi orientasi utama penduduk Provinsi Sumatera Barat dan diperkirakan berjumlah sebanyak 1,3 juta jiwa. Untuk itu maka penataan wilayah Kota Padang mengakumulasikan jumlah penduduk tersebut perlu dilakukan secara terpadu dengan wilayah yang berbatasan (Kabupaten Padang Pariaman, Kabupaten Solok dan Kabupaten Pesisir Selatan) dan kota-kota di sekitarnya yang menjadi satu kesatuan kawasan pendukung kawasan metropolitan (Kota Pariaman dan Kota Solok). Hal ini dapat dilakukan dengan penyediaan sarana dan prasarana perkotaan secara terpadu melalui pengembangan konsep kawasan perkotaan metropolitan. Dalam Gambaran Umum Provinsi Sumatera Barat point Pariwisata, Pengembangan wisata tirta telah menjadi salah satu produk usaha dan tujuan wisata (destinasi) yang penting, diantaranya adalah Pantai Kota Padang, Pantai Bungus, Pantai Air Manis, Pantai Caroline dan Wisata Bahari Pulau Sikuai. Dalam Gambaran Umum Provinsi Sumatera Barat point Prasarana Wilayah, Prasarana transportasi laut provinsi ini telah ditunjang oleh pelabuhan Internasional Teluk Bayur dan pelabuhan skala lokal di Kota Padang. Dalam Kebijakan dan Strategi Penataan Ruang, Penetapan pusat-pusat kegiatan untuk mendukung pelayanan sosial/ekonomi dan pengembangan wilayah, melalui pemantapan pengembangan PKN Kota Padang sebagai pusat orientasi wilayah menuju Metropolitan Padang. Dalam Kebijakan dan Strategi Penataan Ruang, peningkatan fungsi Kota Padang menjadi kota metropolitan, melalui a. Fasilitasi peningkatan fungsi Kota Padang menjadi kawasan metropolitan melalui kajian wilayah yang berbatasan langsung dengan Kota Padang sebagai wilayah pengaruh dan kota-kota sekitar sebagai pendukungnya. b. Penyusunan sinkronisasi penataan ruang kawasan perkotaan metropolitan terutama sistim jaringan prasarana dan sarana fasilitas perkotaan. c. Peningkatan pelayanan sarana dan prasarana kawasan perkotaan metropolitan sesuai hirarki pelayanan dan tetap memperhatikan kaidah lingkungan, terutama kawasan RTH minimal 30 %, prasarana pejalan kaki dan pedagang informal. d. Pengembangan dan peningkatan pelayanan sarana dan prasarana transportasi laut dan udara dalam rangka menunjang kegiatan koleksi dan distribusi barang/penumpang di Pelabuhan Laut Internasional Teluk Bayur dan Bandar Udara Internasional Minangkabau. Dalam Rencana Sistem Perkotaan point Rencana Pusat Kegiatan, berdasarkan kriteria dan arahan kebijakan pengembangan yang telah disampaikan maka rencana struktur pusat kegiatan di Provinsi Sumatera Barat sampai tahun 2029 terdiri dari 1 (satu) kota PKN yaitu Kota Padang. Dalam Rencana Sistem Perkotaan point Rencana Pengembangan Kawasan Metropolitan Padang, berdasarkan pengertian dan kriteria kawasan metropolitan sesuai pengertian dalam PP Nomor 26 tahun 2008, secara wilayah administrasi pemerintahaan saat ini maka Kota Padang dan sekitarnya yang meliputi wilayah Lubuk Alung (Kabupaten Padang Pariaman), Kota Pariaman, Aro Suka (Kabupaten Solok), Kota Solok dan Painan (Kabupaten Pesisir Selatan) dapat dikembangkan sebagai kota Metropolitan dengan peran masing-masing sebagai berikut : a. Kota Padang sebagai kawasan perkotaan inti, b. Lubuk Alung, Kota Pariaman, Kota Solok, Aro Suka dan Painan sebagai kawasan perkotaan satelit, c. Kota-kota kecamatan selain yang berfungsi sebagai ibukota kabupaten berfungsi sebagai kota kecil. Dalam Rencana Sistem Perkotaan point Rencana Sistem Jaringan Transportasi, sub point Jaringan Jalan, Rencana pengembangan jaringan jalan Provinsi Sumatera Barat akan dibedakan dalam tiga wilayah yaitu wilayah bagian tengah, utara, dan selatan. Sistem jaringan jalan di bagian tengah diarahkan pada pola jaringan jalan yang memperkuat keterkaitan antara Kota Padang, Kota Pariaman, Kota Padang Panjang, Kota Bukittinggi, Kota Payakumbuh, Batusangkar, Kota Solok yang membentuk pola radial. Selanjutnya
Attachment 2 | 52

Milestone Report December

masih wilayah bagian selatan yaitu dari Kota Padang, Painan, Tapan menuju Muko-muko Provinsi Bengkulu. Berdasarkan uraian tersebut, maka rencana pengembangan jaringan jalan di Provinsi Sumatera Barat meliputi : a. Rencana jalan arteri primer yang menghubungkan simpul-simpul sebagai berikut : 1) 2) 3) 4) b. 1) Kota Kota Kota Kota Padang Padang Padang Padang Kota Bukittinggi; Kota Solok; Painan; Kota Pariaman;

Rencana jalan kolektor primer yang menghubungkan simpul-simpul, sebagai berikut : Rencana pengembangan jalan bebas hambatan adalah yang menghubungkan Kota Padang Kota Bukittinggi

12.

Dalam Rencana Sistem Perkotaan point Rencana Sistem Jaringan Transportasi sub point Jaringan Jalur Kereta Api, untuk Jaringan jalur kereta api yang menghubungkan Sawahlunto dengan Padang, yang ada saat ini lintasannya mengelilingi perbukitan dengan panjang trase sekitar 148 km dan sebagian jalur menggunakan konstruksi rel bergigi. Rencana pengembangan angkutan kereta api dalam jangka pendek dan menengah adalah untuk pengangkutan barang terutama batubara, semen dan CPO; dan untuk jangka panjang akan dikembangkan juga untuk angkutan penumpang melalui pembangunan shortcut antara Solok-Padang dengan jarak lebih pendek dan tidak mengunakan rel bergigi. Arahan pengembangan perkeretaapian di Sumatera Barat, adalah pengoperasian kereta api komuter dan kereta api bandara meliputi jalur Padang (Pulau Air Simpang Haru) Duku Lubuk Alung Pariaman Bandara Internasional Minangkabau (BIM).

13.

Dalam Rencana Sistem Perkotaan point Rencana Sistem Jaringan Transportasi sub point Pengembangan Sistim Terminal, Arahan pengembangan sistim terminal di provinsi Sumatera Barat meliputi : Fungsionalisasi terminal yang belum difungsikan dengan baik ((Terminal Regional Bingkuang Air Pacah Padang) 1 A Kota Padang (Terminal Regional Bingkuang) Fungsionalisasi

14. 15.

16.

Dalam Rencana Sistem Perkotaan point Rencana Sistem Jaringan Transportasi sub point Pengembangan Sistim Angkutan Umum Massal, Pengembangan angkutan umum masal perlu direncanakan untuk mendukung fungsi kawasan Metropolitan Padang dan sekitarnya. Dalam Rencana Sistem Perkotaan point Jaringan Transportasi Sungai, Danau dan Penyeberangan, selanjutnya untuk angkutan penyeberangan, saat ini terdapat Pelabuhan Penyeberangan Teluk Bungus yang melayani kapal penyeberangan dari Kota Padang ke pelabuhan Tua Pejat, Sikakap dan Muara Siberut di Kabupaten Kepulauan Mentawai yang dikelola oleh PT. ASDP (Persero) Cabang Padang. pelabuhan penyeberangan yang dikembangkan di masa mendatang adalah Pelabuhan Penyeberangan Bungus di Kota Padang Dalam Rencana Sistem Perkotaan point Transportasi Laut, Pelabuhan Muara Padang (Kota Padang) adalah salah satu pelabuhan utama tersier sedangkan Pelabuhan Teluk Bayur di Padang merupakan pelabuhan terbesar dan potensial untuk dikembangkan menjadi pelabuhan ekspor-impor skala besar.

17. 18.

Dalam Rencana Kawasan Lindung point Kawasan yang Memberikan Perlindungan Terhadap Kawasan Bawahannya, beberapa kawasan resapan air di Kota Padang direncanakan sebagai kawasan lindung. Dalam Rencana Kawasan Lindung point Kawasan Perlindungan Setempat, Penetapan kawasan sempadan pantai Kota Padang bertujuan salah satunya adalah untuk
Attachment 2 | 53

Milestone Report December

19.

melindungai kawasan pantai dari ancaman abrasi air laut, selain untuk melindungi ekosistem pantai dari kerusakan baik yang diakibatkan oleh alam maupun kegiatan manusia. Dalam Rencana Kawasan Lindung point Kawasan Suaka Alam, Pelestarian Alam dan Cagar Budaya, a. b. Kawasan Bungus Teluk Kabung di Kota Padang ditetapkan sebagai Kawasan Pantai Berhutan Bakau. Kawasan Taman Hutan Raya (Tahura), ditetapkan di wilayah Kota Padang yaitu Taman Hutan Raya Bung Hatta dengan luas lebih kurang 240 Ha.

20.

21. 22. 23. 24. 25.

26.

27. 28.

29.

Dalam Rencana Kawasan Lindung point Kawasan Rawan Bencana Alam, Kota Padang termasuk daerah yang mempunyai zona kerentanan gerakan tanah tinggi dan menengah yang dapat menimbulkan tanah longsor. Pantai Kota Padang merupakan kawasan rawan gelombang pasang dan Kota Padang termasuk kawasan rawan banjir. Dalam Rencana Kawasan Lindung point Kawasan Lindung Geologi, Kota Padang termasuk kawasan rawan gempa bumi, rawan gerakan tanah, rawan abrasi pantai. Dalam Rencana Kawasan Budidaya, Kota Padang menjadi Kawasan Pertanian Lahan Kering terutama untuk tanaman hias dan obat-obatan. Dalam Rencana Kawasan Budidaya, point Kawasan Peruntukan Budidaya Perikanan, Kota Padang termasuk dalam rencana pengembangan kawasan perikanan tangkap. Dalam Rencana Kawasan Budidaya point Kawasan Pertambangan, Kota Padang termasuk dalam rencana pengembangan kawasan industri berupa Kawasan Padang Industrial Park (PIP). Dalam Rencana Kawasan Budidaya point Kawasan Pariwisata, Kota Padang termasuk DPP II yang didominasi atraksi dari jenis wisata bahari seperti Pantai, Pulau-pulau, serta MICE, Peninggalan Sejarah, Budaya, Kesenian, Pegunungan, Sungai, Hutan dengan Pusat Layanan di Kota Padang. Dalam Rencana Kawasan Budidaya point Kawasan Permukiman, Kota Padang diusulkan sebagai kota metropolitan, kota inti maupun sebagai pusat pelayanan. Perkotaan baru mandiri ini dilengkapi dengan berbagai fasilitas umum kota, kegiatan industri, dan jasa. Antara kota inti dengan perkotaan satelit dan permukiman skala besar memiliki hubungan atau aksesibilitas yang tinggi, setidaknya oleh sistem komuting. Dalam Kawasan Budidaya yang Memiliki Nilai Strategis, rencana lokasi untuk kawasan instalasi militer, seperti markas komando ditetapkan di bukit peti-peti Teluk Bayur Kota Padang dan pangkalan militer ditetapkan di Pulau Pisang Kota Padang. Dalam Kawasan Strategis Provinsi Sumatera Barat, point Kawasan Strategis Provinsi, a. Kawasan Strategis ITBM (Indarung Teluk Bayur Bungus Mandeh) sebagai kawasan yang merupakan salah satu sumber pendapatan utama Provinsi Sumatera Barat sampai saat ini masih merupakan salah satu andalan pendapatan daerah hingga 20 tahun mendatang. b. Padang Industrial Park (PIP) merupakan pusat kawasan industri di Provinsi Sumatera Barat, yang terletak di pinggir jalan By Pass antara Kota Padang dan Kabupaten Padang Pariaman, memiliki areal seluas 200 hektar, sebanyak 45 hektar di antaranya telah siap dibangun. Dalam Prioritas Pemanfaatan Ruang point Perwujudan Rencana Pengembangan Struktur Ruang, Kota Padang merupakan pengembangan dan penataan PKN. Penataan PKN dilakukan melalui kegiatan : a. Peningkatan kapasitas pelayanan Bandara Internasional Minangkabau sebagai pengumpul b. Pengembangan pelabuhan laut Teluk Bayur sebagai pelabuhan laut internasional c. Fungsionalisasi Terminal Regional Bingkuang (tipe A) di Kawasan Aia Pacah. d. Peningkatan dan pengem-bangan prasarana dan sarana Terminal Barang, serta prasarana dan sarana Sistem Angkutan Umum Massal e. Pengembangan infrastruktur jalan Kota. f. Peningkatan pelabuhan perikanan Samudera Bungus. g. Pengembangan agro industri dan manufaktur di kawasan PIP, industri Semen Padang di Kawasan Indarung. h. Pengembangan sarana perdagangan Pasar Raya Padang sebagai pasar induk antar wilayah. i. Pengembangan sarana pendidikan tinggi Universitas Andalas (UNAND) dan Universitas Negeri Padang (UNP) sebagai perguruan tinggi terkemuka di tingkat nasional. j. Pengembangan sarana kesehatan Rumah Sakit Umum (RSU) dr. M. Djamil sebagai salah satu rumah sakit tipe A di Indonesia.
Attachment 2 | 54

Milestone Report December

k. l. m.

30.

31.

32.

Peningkatan kapasitas pelayanan air minum sesuai kebutuhan masyarakat. Peningkatan TPA Regional di Aie Dingin serta prasarana dan sarana persampahan. Peningkatan dan pengembangan sistem pengelolaan limbah terpadu melalui pipanisasi. n. Pembangunan prasarana dan sarana air limbah kawasan RSH. o. Pembangunan Waste Water, Ecodrain dan Ecosan. p. Pembangunan sistem drainase primer. q. Peningkatan dan pengembangan prasarana dan sarana permukiman. Bab 6 Prioritas Pemanfaatan Ruang : Perwujudan Rencana Pengembangan Struktur Ruang adalah : a. Peningkatan jalan arteri primer Ruas jalan Padang Bukittinggi Payakumbuh Batas Provinsi Riau. Ruas jalan Padang Solok Kiliran Jao Batas Provinsi Riau. Ruas jalan Padang Painan Tapan Batas Provinsi Bengkulu Ruas jalan Padang Pariaman Manggopoh Simpang Empat Batas Provinsi Sumatera Utara. Ruas jalan Padang Bukittinggi Lubuk Sikaping b. Pembangunan jaringan jalan arteri primer Ruas jalan Teluk Bayur Pesisir Pantai Padang Bandara Ketaping Pariaman. Ruas jalan Jalan Tol Padang Bukittinggi Payakumbuh Batas Provinsi Riau. c. Peningkatan dan pengembangan sarana dan prasarana terminal. Fungsionalisasi Terminal Regional Bingkuang (Kota Padang). d. Rehabilitasi/fungsionalisasi, dan pengembangan angkutan kereta api Rehabilitasi/fungsionalisasi/ pengembangan prasarana kereta api pada lintas barat Sumatera di Provinsi Sumatera Barat meliputi jalur Lubuk Alung Naras Sungai Limau Simpang Empat, Padang (Teluk Bayur) Lubuk Alung Padang Panjang Solok Sawahlunto, Padang Panjang Bukittinggi Payakumbuh dan Double Track Teluk Bayur Indarung. Pembangunan jalur short cut Pauh Limo (Padang) Solok, Sawahlunto Muaro Teluk Kuantan/Pekanbaru dan Muaro - Muaro Bungo yang merupakan bagian dari rencana pembangunan jaringan Kereta Api Trans Sumatera (Connecting Trans Sumatera Railway) Pengoperasian kereta api komuter dan kereta api bandara meliputi jalur Padang (Pulau Air Simpang Haru) Duku Lubuk Alung Pariaman Bandara Internasional Minangkabau (BIM). e. Pengembangan jaringan transportasi sungai, danau dan penyeberangan. Peningkatan dan pengembangan jaringan transportasi penyeberangan dilakukan melalui peningkatan pelayanan transportasi penyeberangan yang meliputi Pelabuhan Bungus di Kota Padang; f. Pengembangan pelabuhan laut regional/lokal Muara Padang dan Bungus (Kota Padang), g. Pengembangan pelabuhan untuk kegiatan wisata yang tersebar di Pelabuhan Marina Padang. Bab 6 Prioritas Pemanfaatan Ruang : Perwujudan Pengembangan Sistem Prasarana Sumber Daya Air. a. Pengembangan, pengelolaan dan konservasi sungai, danau serta sumber air lainnya, antara lain embung/bendungan, waduk, dan bangunan penampung air lainnya untuk penyediaan air baku alternatif dilakukan di Kota Padang. b. Program pembangunan prasarana pengendalian banjir pada alur sungai Batang Kandis; dan Pengembangan sistem pengendalian banjir Kota Padang dengan membangun integrasi saluran sekunder dan tersier; dan pembangunan kanal timur. c. Program pengamanan abrasi pantai yaitu di : Pesisir Pantai Padang Batas Kota. Bab 6 Prioritas Pemanfaatan Ruang : Perwujudan Pengembangan Sistem Prasarana Perumahan dan Permukiman, 1. Pembangunan TPA Kota Padang (Aia Dingin Kecamatan Koto Tangah), Rehabilitasi dan peningkatan pelayanan Instalasi Pengolahan Limbah Tinja (IPLT) di Kota Padang. Bab 6 Prioritas Pemanfaatan Ruang yang merupakan perwujudan dari masing-masing rencana prioritas di atas. Dapat dilihat pada Program Perwujudan Kawasan Lindung adalah :
Attachment 2 | 55

Milestone Report December

Penetapan kawasan suaka alam di Cagar Alam Arau Hilir (5.377 Ha) di Kota Padang, Cagar Alam Barisan I (74.821 Ha) berbatasan di Kota Padang, Penetapan Kawasan Pantai Berhutan Bakau di Bungus Teluk Kabung di Kota Padang. Penetapan Kawasan Taman Hutan Raya (Tahura), ditetapkan di wilayah Kota Padang yaitu Taman Hutan Raya Bung Hatta dengan luas lebih kurang 240 Ha. Penetapan kawasan rawan bencana alam berupa kawasan rawan tanah longsor, rawan gelombang pasang, kawasan rawan banjir di Kota Padang.

3)

Implikasi Rencana Struktur Tata Ruang dan Pola Pemanfaatan Ruang. Mengkaji RTRW dengan kondisi eksisting, dampak terhadap lingkungan (eksisting land use) terutama pada daerah-daerah liquifaksi

6.2.2. A. 1. 2.

Rencana Pembangunan Jangka Menengah (2010 2014)

Kedudukan Kota Padang dalam RPJM Nasional Dalam PENGEMBANGAN WILAYAH KELAUTAN SUMATERA, sepanjang pantai Kota Padang berpotensi pasir besi. Dalam PENGEMBANGAN WILAYAH PULAU-PULAU BESAR, Pusat-pusat pengembangan di wilayah Sumatera yang merupakan Pusat Kegiatan Nasional (PKN) diarahkan untuk mendorong pengembangan Kota Padang di wilayah Barat sebagai pusat pelayanan primer. Kedudukan Kota Padang dalam RPJMD Provinsi Sumatera Barat Dalam Kondisi Geografis sub bab Kawasan Rawan Bencana, Kota Padang merupakan daerah rawan longsor terutama musim hujan dengan curah hujan tinggi. Longsor sering terjadi pada daerah yang berada pada punggung bukit dan beberapa ruas jalan negara daerah. Dalam Arah Pembangunan Jangka Panjang Daerah poin Terciptanya Sumatera Barat Sebagai Pusat Pertumbuhan dan Pintu Gerbang Pantai Barat Sumatera, Kota Padang, merupakan satu-satunya daerah yang berkembang cukup maju di Pantai Barat Pulau Sumatera dengan fasilitas pelabuhan alam yang cukup baik. Dalam hal ini pengembangan Pelabuhan Teluk Bayur berikut fasilitas penunjangnya serta prasarana dan sarana perhubungan menuju ke pelabuhan ini menjadi faktor kunci yang sangat menentukan. Dalam PENTAHAPAN PEMBANGUNAN JANGKA PANJANG DAERAH, poin RPJM ke 2 (20112015), kerusakan gempa 30 september 2009 yang cukup besar dalam bidang perumahan, perkantor dan prasarana jalan dan jembatan yang ada di Kota Padang perlu ditanggulangi segera dalam periode RPJMD ke 2 ini. Penanggulangan dilakukan dengan memprioritas kegiatan pembangunan pada upaya rehabilitasi dan pembangunan baru fasilitas pelayanan sosial seperti pendidikan, kesehatan dan fasilitas pasar, gedung perkantoran pemerintah, perumuhan rakyat dan prasarana jalan dan jembatan. Dengan jalan demikian diharapkan dampak negatif terhadap pembangunan daerah sebagai akibat terjadinya gempa yang sangat kuat tersebut secara bertahap akan dapat ditanggulangi. Dalam ARAH KEBIJAKAN PEMBANGUNAN WILAYAH, sub bagian Pengembangan Pusat Kegiatan, Kota Padang merupakan Pusat Kegiatan Nasional (PKN). Kota Padang sebagai Pusat Kegiatan Nasional (PKN) harus didorong pengembangannya sebagai pusat pelayanan primer di wilayah Barat. Hal ini dapat dilakukan dengan mendukung kegiatan ekspor-impor dan Kota Padang dijadikan sebagai pintu gerbang menuju kawasan internasional; mengembangkan kegiatan industri dan jasa skala nasional atau yang melayani beberapa provinsi; serta sebagai simpul utama transportasi skala nasional atau melayani beberapa provinsi. Dalam KEBIJAKAN DAN PROGRAM BIDANG PEMBANGUNAN DAERAH, sub bab BIDANG SOSIAL BUDAYA DAN KEHIDUPAN BERAGAMA pada poin BIDANG KESEHATAN, terjadinya gempa pada tanggal 30 September 2009, telah membawa kemunduran (setback) terhadap bidang kesehatan dan makin menambah permasalahan kesehatan yang telah ada
Attachment 2 | 56

B. 1.

2.

3.

4.

5.

Milestone Report December

6.

7.

8.

9.

sebelumnya. Secara umum permasalahan utama dan issue strategis di bidang kesehatan masih meliputi pelayanan kesehatan dasar dan permasalahan gizi kurang. Dalam KEBIJAKAN DAN PROGRAM BIDANG PEMBANGUNAN DAERAH, sub bagian BIDANG SOSIAL BUDAYA DAN KEHIDUPAN BERAGAMA pada poin Penduduk dan Ketenagakerjaan, sensus penduduk Sumatera Barat tahun 2010 sudah mencapai 4,85 juta jiwa, sebanyak 26,90 persen berada di Kota Padang. Dalam upaya pengendalian laju pertumbuhan penduduk Kota Padang dilakukan melalui program Keluarga Berencana (KB), pengarahan mobilitas penduduk dan pemberdayaan keluarga untuk mencapai keluarga sejahtera masih perlu dilanjutkan dan lebih diintensifkan lagi. Mengembangkan ketenagakerjaan secara menyeluruh melalui peningkatan lapangan usaha produktif dan terpadu untuk mengurangi tingkat pengangguran, serta diarahkan pada kompetensi, kemandirian, peningkatan produktivitas, peningkatan upah, penjaminan kesejahteraan, perlindungan pekerja dan kebebasan berserikat. Dalam KEBIJAKAN DAN PROGRAM BIDANG PEMBANGUNAN DAERAH, sub bab BIDANG EKONOMI pada poin Perdagangan, gempa tahun 2009 juga telah mengakibatkan menurunnya kegiatan ekspor daerah sebagai akibat dari hancurnya beberapa kantor dan pergudangan perusahaan ekspor yang berada di Kota Padang. Dalam KEBIJAKAN DAN PROGRAM BIDANG PEMBANGUNAN DAERAH, sub bab BIDANG EKONOMI pada poin Pertanian dan Ketahanan pangan, bagian kondisi umum Peternakan, terlaksananya pembinaan dan evaluasi kepada peternak penerima dana KMK-PER dan LTN di 14 Kab/Kota se Sumatera Barat salah satunya Kota Padang. Kegiatan ini dapat dirasakan oleh peternak bahwa tingkat kesejahteraan peternak dapat lebih meningkat, dimana biasanya mereka mempunyai ternak 1 2 ekor saat ini dapat menambah jumlah ternak menjadi 4 5 ekor. Dalam KEBIJAKAN DAN PROGRAM BIDANG PEMBANGUNAN DAERAH, BIDANG PRASARANA DAN SARANA, pada point Kondisi Umum dan Permasalahan Pembangunan Bidang Perhubungan, a. Sub point Angkutan darat ke BIM.

Namun akan dengan terjadinya peningkatan aktivitas BIM dimasa datang diperlukan perencanaan dan pengembangan sarana dan prasarana perhubungan yang memudahkan aksesibilitas dan mobilitas masyarakat penguna angkutan darat dari dan ke BIM. b. Sub point Angkutan laut Keberadaan dan operasional angkutan ASDP Mentawai Padang dipengaruhi oleh cuaca dan keadaan gelombang laut di perairan antara Sumatera dan kepulauan Mentawai menjadi penentu, dimana jika musim angin barat gelombang laut diperairan ini menjadi sangat besar, sehingga feri yang beroperasi tidak mampu untuk mengarungi perairan ini. Sehingga transportasi antara Mentawai dan Kota Padang menjadi terputus. Diperlukan peningkatan kualitas moda angkutan untuk pelabuhan penyeberangan lintas Kota Padang Kab. Kepulauan Mentawai. c. Sub point Perkeretaapian Diperlukan suatu terobosan dan kerja yang cukup keras dan konsisten, untuk menjadikan angkutan kereta api menjadi angkutan umum massal di wilayah Sumatera Barat. Salah satu peluang yang besar adalah untuk angkutan perkotaan (komuter) untuk kawasan Kota Padang dan sekitarnya, atau angkutan wisata untuk perkotaan di Kota Padang. Peluang ini terbuka lebar dan sangat potensi untuk menjadikan Kota Padang menjadi kota wisata budaya dan sejarah yang dimilikinya. 10. Dalam KEBIJAKAN DAN PROGRAM BIDANG PEMBANGUNAN DAERAH, sub bidang BIDANG SUMBER DAYA ALAM, DAN LINGKUNGAN HIDUP, point lingkungan hidup. Abrasi paling parah saat ini terlihat di Kota Padang. Selain itu, yang perlu juga menjadi perhatian penting adalah kondisi terkait dengan lingkungan pemukiman, yang pada beberapa daerah belum memiliki sanitasi lingkungan yang memadai, terutama di kota-kota dengan tingkat pertumbuhan penduduk yang tinggi, seperti Kota Padang. Dalam KEBIJAKAN DAN PROGRAM BIDANG PEMBANGUNAN DAERAH, sub bidang BIDANG SUMBER DAYA ALAM, DAN LINGKUNGAN HIDUP, point energi

11.

Attachment 2 | 57

Milestone Report December

Jenis Pembangkit Listrik Yang Belum Tergarap Di Sumatera Barat (Energi Baru Dan Terbarukan) No 1 2 JENIS PEMBANGKIT Ocean Thermal Energy Convertion (OTEC) Pembangkit Listrik Tenaga Ombak LOKASI Kota Padang Kab. Pesisir Selatan, Kab. Kep. Mentawai Sepanjang Pantai Barat

6.2.3.

Rencana Pengembangan Metropolitan Padang

Struktur perkotaan dalam RTRW Kota Padang 2008-2028 telah mempunyai kejelasan sistem jaringan trasportasi, sistem jaringan transportasi yang jelas akan memudahkan mobilitas penduduk. Hal ini terlihat dengan tujuan pengembangan transportasi yaitu meningkatkan aksesibilitas dan mobilitas orang, barang dan jasa dari dan ke pusat pelayanan, sub-sub pusat pelayanan dan pusat-pusat kegiatan serta Memperkuat interaksi antar pusat-pusat perkembangan/pelayanan di wilayah Kota Padang dan ke wilayah sekitarnya. Pendekatan ketersediaan daya dukung lahan vs proyeksi penduduk sampai tahun tertentu digunakan untuk mengetahui sampai tahun berapa Kota Padang memerlukan lahan di luar kota atau kabupaten/kota sekitarnya. Hal ini penting untuk diidentifikasi agar diketahui sampai sejauh mana kesiapan Kota Padang sebagai kota inti mampu menampung penduduk sehingga diperlukan pengembangan permukiman pada wilayah pendukungnya. Tabel di bawah menjelaskan strategi pengembangan kawasan terkait arahan kepadatan penduduk per kecamatan, kemudian ketersediaan lahan potensial untuk kawasan permukiman per kecamatan dikonversi ke jumlah penduduk (jiwa) berdasarkan arahan kepadatan per kecamatan. Dari tabel tersebut diketahui bahwa daya dukung lahan untuk menampung penduduk sebesar 1,721,451 jiwa. Tabel Keterkaitan strategi pengembangan, kepadatan penduduk dengan ketersediaan lahan potensial

No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11

Kecamatan Bungus Tl. Kabung Lubuk Kilangan Lubuk Begalung Padang Selatan Padang Timur Padang Barat Padang Utara Nanggalo Kuranji Pauh Koto Tangah

Strategi pengembangan Dikendalikan Dikendalikan Dikendalikan Ditekan & Dikendalikan Ditekan & Dikendalikan Ditekan & Dikendalikan Ditekan & Dikendalikan Ditekan & Dikendalikan Dikendalikan Dikendalikan Didorong

Arahan Kepadatan Kriteria Sedang Sedang Sedang Rendah Rendah Rendah Rendah Rendah Sedang Sedang Tinggi Jiwa/ha 50 50 50 25 25 25 25 25 50 50 100

Daya Dukung Lahan Lahan Jumlah Potensial Penduduk (Ha) (jiwa) 3871.77 193,589 2468.66 2049.586 1161.896 730.241 144.799 633.85 699.653 4720.165 2227.594 8703.017 123,433 102,479 29,047 18,256 3,620 15,846 17,491 236,008 111,380 870,302 1,721,451

Jumlah Total Penduduk

Attachment 2 | 58

Milestone Report December

Tabel di bawah menjelaskan proyeksi penduduk sampai pada tahun 2034, dimana di tahun 2033 Kota Padang sudah tidak bisa menampung penduduk dengan jumlah 1,721,451 jiwa. Tabel 1 Perbandingan Daya Dukung Lahan dengan Proyeksi Penduduk Kota Padang
Jumlah Penduduk berdasarkan strategi pengem bangan (jiwa) 193,589 123,433 102,479 29,047 18,256 3,620 15,846 17,491 236,008 111,380 870,302 1,721,451 Proyeksi Penduduk tahun

No

Kecamatan

2028

2029

2030

2031

2032

2033

2034

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11

Bungus Tl. Kabung Lubuk Kilangan Lubuk Begalung Padang Selatan Padang Timur Padang Barat Padang Utara Nanggalo Kuranji Pauh Koto Tangah

37,671 64,803 200,442 68,688 98,124 44,921 96,751 86,019 263,900 111,192 406,541 1,479,053

38,481 66,052 206,481 69,010 98,752 44,331 97,897 87,607 273,766 115,051 424,392 1,521,819

39,308 67,325 212,702 69,334 99,384 43,748 99,057 89,224 284,001 119,043 443,026 1,566,151

40,153 68,622 219,110 69,659 100,019 43,173 100,230 90,871 294,619 123,173 462,478 1,612,108

41,017 69,944 225,712 69,986 100,659 42,605 101,418 92,548 305,633 127,447 482,785 1,659,754

41,899 71,292 232,512 70,314 101,303 42,045 102,619 94,256 317,060 131,869 503,983 1,709,152

42,799 72,665 239,517 70,644 101,952 41,492 103,835 95,996 328,913 136,445 526,112 1,760,371

Dari dua tabel diatas, diperoleh kesimpulan bahwa Kota Padang memerlukan lahan di wilayah pendukungnya (kota-kota satelit) untuk kegiatan permukiman dimulai pada tahun 2033. Oleh karena itu, Kota Padang perlu berkoordinasi dengan kabupaten/kota sekitar untuk menyediakan lahan untuk kegiatan permukiman. 6.2.4. Rencana Kawasan Pusat Pemerintahan

Telaah revisi RTRW terhadap rencana pengembangan kawasan perkantoran yang mendorong terciptanya peningkatan kinerja aparatur pemerintah Kota Padang telah memuat kawasan air pacah sebagai kawasan perkantoran pemerintahan Telaah RPJM telah mengakomodir Pengembangan pusat pemerintahan kota di Kawasan Air Pacah yang akan dikembangkan sebagai sub pusat kota dengan dukungan infrastruktur yang memadai dan modern 6.2.5. Road Map Pemulihan dan Pengembangan Ekonomi

Telaah road map ekonomi telah memuat pengembangan kawasan perdagangan dan jasa sebagai bagian dari penyediaan lapangan pekerjaan bagi masyarakat dan menyediakan fasilitas perdagangan dan jasa dengan skala pelayanan kota dan regional serta nasional Telaah RPJM, untuk kawasan pusat kota telah memuat pengembangan kegiatan perdagangan dan jasa skala kota dan regional yang dilaksanakan dengan pengembangan secara vertikal terbatas. Pengembangan fasilitas perdagangan dan jasa dilaksanakan dengan memenuhi kebutuhan sarana tempat usaha yang ditata secara adil untuk semua golongan usaha termasuk di dalamnya kegiatan usaha kecil dan sektor informal.

Attachment 2 | 59

Milestone Report December

6.2.6.

Rencana Induk Jaringan Transportasi Kota Padang

Telaah terhadap Rencana pengembangan jaringan transportasi telah memuat rencana pengembangan angkutan umum massal berbasiskan rel dan jalan raya yang dapat menghubungan kota inti dengan kota satelit, pusat primer dan pusat sekunder antar sub pusat pelayanan dalam kota serta pengembangan jaringan transportasi yang menghubungkan Kota Padang dengan wilayah sekitarnya Telaah RPJM telah merencanakan pengembangan sistem jaringan jalan berupa jalan lingkar luar dan lingkar dalam serta jalan akses. Jalan lingkar luar sebagai bagian dari sistem metropolitan akan menghubungkan Kabupaten Pesisir Selatan, Kota Padang, Kabupaten Padang Pariaman dan Kabupaten Solok. Jalan lingkar dalam untuk mendukung pengembangan pusat-pusat baru di empat kawasan yang telah ditetapkan dalam RPJP dan RTRW Kota Padang, terutama memacu pengembangan kawasan pinggiran. sedangkan jalan akses menghubungkan antar sub pusat kota 6.2.7. Penataan Kawasan CBD

Didalam rencana pola ruang, Kawasan pasar raya dimasukkan ke dalam kawasan perdagangan dan jasa. Pada rencana pusat pelayanan kota thn 2008-2018, Kawasan pasar raya masih berfungsi sebagai Pusat Pelayanan Kota. Namun pada periode 2018-2028, Pasar raya sebagai pusat pelayanan didukung dengan pasar-pasar satelit Telaah RPJM, untuk kawasan pusat kota telah memuat pengembangan kegiatan perdagangan dan jasa skala kota dan regional yang dilaksanakan dengan pengembangan secara vertikal terbatas. Pengembangan fasilitas perdagangan dan jasa dilaksanakan dengan memenuhi kebutuhan sarana tempat usaha yang ditata secara adil untuk semua golongan usaha termasuk di dalamnya kegiatan usaha kecil dan sektor informal. 6.2.8. Kawasan Padang Lama

Di dalam rencana Pola Ruang di dalam RTRW, Kawasan Kota lama sudah termuat sebagai kawasan cagar budaya kota tua. Telaah terhadap RPJM pada kawasan kota lama, pengembangan Kawasan Kota Tua (WP-I) untuk kegiatan Perdagangan dan Jasa dan kegiatan Pariwisata dengan tetap mempertahankan bentuk arsitektur dan fungsinya sebagai bangunan ataupun kawasan cagar budaya (berdasarkan ketentuan Undang-Undang Cagar Budaya); 6.2.9. Rodmap Kesehatan dan Pendidikan

Telaah terhadap roadmap pendidikan hanya memuat pengembangan kawasan pendidikan tinggi dalam rangka penyediaan ruang untuk peningkatan kualitas sumberdaya manusia sesuai dengan kebutuhan pengembangan kota dimasa yang akan datang. Rencana pemulihan sarana dan prasarana pendidikan yang rusak belum dimuat dalam RTRW. Roadmap Kesehatan hanya menyentuh pengembangan fasilitas olahraga untuk meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat.

Attachment 2 | 60

Milestone Report December

BAB VII ALTERNATIF DAN MITIGASI


7.1. Alternatif

Dari hasil analisis implikasi KRP RTRW, RPJM dan rencana tematik Rehab Rekon Kota Padang terhadap lingkungan hidup, maka ada alternatif program yang dapat dilakukan antara lain. 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. 13. 14. 15. 16. 7.2. Membagi fungsi pelayanan kawasan Aie Pacah ke sub pusat pelayanan yang lain Menetapkan sebagian daerah rawa sebagai kawasan konservasi resapan air (sudah diadopsi dalam kebijakan, strategi dan Indikasi Program RTRW, perlu diperhatikan lebih lanjut dalam implementasinya) Moda kereta api atau sistem jalan bebas hambatan di sepanjang jalur transportasi yang berbatasan langsung dengan hutan Pembangunan drainase kota yang terintegrasi dengan mempertimbangkan elevasi Penetapan kewajiban untuk pembuatan lubang biopori dan sumur resapan pada setiap komplek pemukiman, industri, kawasan usaha/jasa, dll. Menjadikan sepanjang jalur sesar minor (patahan dan kekar-kekar) yang rawan sekali terhadap gempa sebagai RTH (sudah diadopsi ke dalam IP RTRW, tetapi belum masuk dalam kebijakan/strategi). Memindahan SD & pra SD keluar red zone gelombang tsunami Merelokasi perumahan warga dari area yang rawan pergerakan tanah/longsor Penetapan green belt di sepanjang kawasan hutan yang berbatasan langsung dengan aktifitas masyarakat Penetapan sawah beririgasi teknis sebagai lahan abadi Swastanisasi pengelolaan sampah (bank sampah) Pengalihan pengelolaan perpakiran kepada pihak ketiga Parkir off street untuk jalan padat lalu lintas dan jalur evakuasi Pelaksanaan Penilaian PROPER tingkat Kota Padang Pelaksanaan tindak pidana ringan (TIPIRING) bagi pembuang sampah Penetapan kewenangan antara kota inti metropolitan dengan kota satelit Mitigasi

Beberapa upaya mitigasi yang dapat dilakukan untuk perbaikan KRP RTRW, RPJM dan rencana tematik Rehab Rekon Kota Padang antara lain : 1. Pembatasan dan pengawasan pengembangan permukiman/usaha di kawasan dengan daya dukung rendah dan merupakan daerah resapan air (sudah diadopsi dalam RTRW tapi perlu mendapat perhatian dalam implementasinya) Penambahan persyaratan RTBL dengan memperhatikan pengelolaan banjir dan genangan Pengembangan Corporate Social Responsibility (CSR) dari pengguna kawasan untuk bersama-sama Pemkot Padang melaksanakan pengelolaan banjir dan genangan melalui sistem pemberian insentif. Pembangunan pagar/dinding pembatas di sepanjang jalur jalan yang berbatasan langsung dengan hutan lindung. Kajian yang mendalam untuk pemanfaatan hutan sebagai jalur transportasi Kerjasama dengan lembaga donor untuk pengembangan hutan kota. Memperhatikan ketentuan bangunan tahan gempa SNI dalam pemberian IMB (sudah diadopsi dalam strategi dan IP RTRW). Pengawasan yang ketat dalam proses konstruksi bangunan untuk aktifitas sehubungan dengan penguatan struktur bangunan yang tahan gempa. publik

2. 3.

4. 5. 6. 7. 8. 9.

Mewajibkan setiap bangunan di zona merah yang lebih dari 2 lantai agar dilengkapi dengan tangga darurat menuju atap.
Attachment 2 | 61

Milestone Report December

10. 11.

Pembuatan peta detail dan sosialisasi sesar minor/alur patahan kepada masyarakat (studi untuk alur patahan telah diadopsi dalam RTRW, tapi sosialisasi belum) Pengawasan yang ketat terhadap pemanfaatan hutan dan area yang rawan pergerakan tanah (belum ada indikasi program untuk pengendalian pemanfaatan kawasan yang rentan pergerakan tanah/longsor) Penerbitan Perda Kota Padang tentang Penetapan Lahan Sawah Abadi Selektifitas pemberian izin serta penerapan sistem insentif dan disinsentif untuk lahan yang dialih fungsikan Pengembang diharuskan dialihfungsikan untuk menyediakan lahan pengganti untuk lahan yang

12. 13. 14. 15. 16. 17. 18. 19. 20. 21.

Pengawasan pembukaan hutan untuk perladangan masyarakat Kepastian status hutan ulayat hukum adat Memprioritaskan penyediaan dan pengembangan sarana - prasarana mitigasi bencana (hasil KLHS sudah ditampung dalam revisi RTRW) Peningkatan kenyamanan transportasi, pelayanan publik dan kepariwisataan (hasil KLHS sudah ditampung dalam revisi RTRW) Pengembangan RTH dan menambah jumlah tegakan vegetasi (hasil KLHS sudah ditampung dalam RTRW) Penguatan infrastruktur Padang sebagai kota inti metropolitan dan ibukota propinsi Sumatera Barat. Kejelasan sharing pendanaan antara Pusat - Kota Padang - kabupaten tetangga dalam pembangunan infrastruktur

Attachment 2 | 62

Milestone Report December

BAB VIII KESIMPULAN DAN REKOMENDASI

8.1.

Kesimpulan Padang Metropolitan belum mendapatkan porsi yang memadai dalam pembahasan RTRW Kota Padang (hanya sampai Tujuan) dan dalam Rencana Induk Jaringan Transportasi.

8.2. 1.

Rekomendasi Rekomendasi mitigasi dampak KRP RTRW, RPJM dan rencana tematik Padang New City harus dimasukan ke dalam dokumen rencana yang lebih operasional yaitu tingkat penyusunan program dan penyusunan usulan kerja (rencana kerja tahunan). Membentuk dan membina Tim Kerja Tim KLHS Kota Padang Menjadikan kawasan dengan daya dukung rendah sebagai kawasan pembangunan terbatas Peningkatan sarana dan prasarana pengendali banjir dan genangan (sudah diadopsi dalam strategi dan Indikasi Program RTRW) Menjadikan kawasan rawan bencana geologi sebagai kawasan minim aktifitas dan pemanfaatan terbatas (sudah diadopsi dalam kebijakan RTRW) Peningkatan pengawasan terhadap pemanfaatan hutan dan alih fungsi lahan, serta law enforcement bagi pelanggar Meningkatkan perhatian pemerintah untuk menjamin kenyamanan hidup warga Penegasan penempatan kawasan industri Menetapkan bersama kewenangan pusat, propinsi dan kota/kab dalam mewujudkan Padang Metropolitan Perlu harmonisasi lebih lanjut antara setiap Pokok-pokok KRP Rehabilitasi dan Rekonstruksi Kota Padang dengan RTRW dan RPJM Kota Padang serta dengan perencanaan propinsi dan nasional..

2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10.

Attachment 2 | 63

Milestone Report December

DAFTAR PUSTAKA

Briffetta, C., Obbardb, J.P., dan Mackee (2003) Towards SEA for the developing nations of Asia. Environmental Impact Assessment Review. 23 (2003) 171196 Fischer, T.B. (1999) Benefits Arising from SEA Application: A Comparative Review of North West England, Noord-Holland, and Brandenburg-Berlin. Environmental Impact Assessment Review. 19 (1999) 143-173 IAIA (2002) Strategic Environmental Assessment: Performance Criteria. Special Publication Series No.1, International Association for Impact Assessment (www.iaia.org/publications). OECD (2006) Applying Strategic Environmental Impact Assessment: Good Practice Guidance for Development Co-operation. OECD Publishing. Partidario, M.R. (2000) Elements of an SEA frameworkimproving the added-value of SEA. Environmental Impact Assessment Review. 20 (2000) 647663. Sadler, B. dan Verheem, R. (1996) Strategic Environmental Assessment: Status, Challenges and Future Directions. Report no. 53. The Hague: Ministry of Housing, Physical Planning and Environment. Sadler B. and Brook C. (1998) Strategic Environmental Appraisal, Department of the Environment, Transport and the Regions, London, UK. Sadler, B (1999) A framework for environmental sustainability assessment and assurance, in Petts J (ed.) Handbook of Environmental Impact Assessment, (Volume 1), Blackwell Scientific Ltd. Oxford, 12-32. Sadler, B (2005) Strategic Environmental Assessment at the Policy Level: Recent Progress, Current Status and Future Prospect. Editor. Ministry of The Environment, Czech Republic. Praha. Sadler B (2002) From environmental assessment to sustainability appraisal, Environmental Assessment Yearbook 2002, Institute of Environmental Management and Assessment, Lincoln and EIA Centre, University of Manchester, 145-152. Therivel et al (1992) Strategic Environmental Assessment, Earthscan, London: Earthscan. UNEP (United Nation Environmental Program) (2002) EIA Training Resource Manual.

Attachment 2 | 64