2.1.
3 Pengertian E-Purchasing
Menurut Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah (LKPP,
2021), e-purchasing adalah E-purchasing adalah metode pemilihan penyedia
barang/jasa pemerintah melalui sistem katalog elektronik (e-katalog) yang terintegrasi
dengan Sistem Pengadaan Secara Elektronik (SPSE), baik pada level nasional,
sektoral, maupun lokal. Sistem ini dikembangkan oleh LKPP untuk mendukung
efisiensi, transparansi, dan akuntabilitas pengadaan secara digital.
Sementara itu, menurut Mardiasmo (2009), e-purchasing merupakan bentuk
digitalisasi pengadaan yang dapat menurunkan potensi praktik KKN dan
meningkatkan kecepatan layanan pemerintahan.
2.1.4 Pengertian Transparansi
Transparansi dalam konteks pengadaan barang dan jasa merujuk pada
keterbukaan informasi kepada publik mengenai proses, kebijakan, dan keputusan yang
diambil, sehingga dapat diawasi dan dievaluasi oleh pihak-pihak yang berkepentingan.
Menurut Sadad (2017) dalam jurnal “Efektivitas Pengadaan Barang dan Jasa
secara Elektronik (E-Procurement) pada LPSE Kota Pekanbaru”, transparansi adalah
suatu prinsip yang menjamin akses atau kebebasan bagi semua orang untuk
memperoleh informasi tentang proses pengadaan barang dan jasa, termasuk kebijakan,
prosedur, serta kriteria pemilihan penyedia.
“Transparansi dalam e-procurement memungkinkan informasi lelang, harga,
dan pemenang dapat diakses secara terbuka melalui platform LPSE, yang pada
akhirnya dapat mencegah terjadinya kolusi dan nepotisme.” (Jom FISIP, Vol. 4, No. 2,
2017)
Sementara itu, menurut Ramadhani (2024) dalam jurnal “Implementasi E-
Katalog dalam Pengadaan Barang dan Jasa di Pemerintah Kota Semarang”,
transparansi diwujudkan melalui fitur e-katalog yang menampilkan daftar produk,
harga, dan penyedia secara terbuka.
“Kebijakan akses e-katalog menyeimbangkan keterbukaan informasi dan
keamanan, yang mendukung prinsip transparansi.” (Jurnal FISIP Undip, 2024)