Anda di halaman 1dari 1805

Tiraikasih Website http://kangzusi.

com/

Pedang Sinar Emas


(Kim Kong Kiam) Karya : Asmaraman S Kho Ping Hoo Sumber DJVU : BBSC Convert & Editor : Rif Zyr (thanks) Final edit & pdf Ebook oleh : Dewi KZ Tiraikasih Website http://kangzusi.com/ http://dewi-kz.info/ http://cerita-silat.co.cc/ http://kang-zusi-info/

Jilid I ANG BI TIN.! Ang bi tin.! Terdengar seruan berkali kali di dalam kota Tong seng kwan pada suatu senja yang sunyi. Ketika seruan ini terdengar untuk pertama kali, keadaan menjadi geger. Orang orang berlarian dengan wajah pucat, pergi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

menyembunyikan diri, seperti anak anak ayam mendengar suara burung rajawali terbang di atas kepala. Tak lama kemudian, kota Tun seng kwan menjadi sunyi dan mati, seakan akan tiada seorangpun penghuninya. Pintu pintu rumah tertutup rapat, bahkan banyak toko warung tidak sempat ditutup dan dibiarkan begitu snja, ditinggalkan oleh pemiliknya masing masing. Dari rumah rumah yang ada anak kecilnya, tiap kali terdengar tangis anak anak, segera disusul oleh suara orang tua. Sst, diam... suara ini terdengar amat gelisah dan mulut anak kecil itu lalu ditutup dengan tangan oleh orang tuanya. Ang bi tin kini sebutan ini hanya terdengar dalam bisikan saja seolah olah orang merasa takut kalau kalau menyebutnya saja akan mendatangkan bencana. Apa dan siapakah Ang bi tin? Ang bi tin berarti Barisan Alis Merah yang pada masa cerita ini terjadi, merupakan segerombolan manusia iblis yang amat ditakuti. Ang bi tin, mereka muncul lagi. Kini siapakah yang hendak mereka jadikan korban ? Terdengar suara orang bicara di dalam suasana yang sunyi mencekam itu. Suara ini diucapkan dengan tenang oleh seorang laki laki yang berdiri di depan pintu rumahnya, ia berusia tigapuluh tahun lebih, berwajah sederhana dan tampan, beralis tebal dan hitam dan sepasang matanya menyatakan bahwa ia memiliki keberanian dan berhati juiur. Inilah Song Hak Gi, bekas perwira yang kini telah mengundurkan diri setelah pemerintah boneka Goan tiauw berdiri. Dalam Keadaan amat miskin, Song Hai Gi kini tinggal di kota Tong Seng kwan bersama isterinya dan seorang putranya yang baru berusia enam tahun. Tadi ketika ia mendengar di sebtnya Ang bi tin oleh orang orang yang berlari larian, ia segera menyuruh isteri dan puterapya masuk ke dalam rumah.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Akan tetapi dia sendiri tidak bersembunyi, bahkan lalu diam diam menyiapkan peadangnya disembunyikan di bawah bajunya yang penuh tambalan. Dengan tenang akan tetapi agak pucat, bekas perwira she Song ini lalu berdiri di depan pintu rumahnya yang buruk dan kecil. Ia tidak akan merasa aneh apabila gerombolan Ang bi tin ini datang untuk menyerangnya. Sudah banyak bekas perwira yang benar benar berjiwa patriot yang tidak mau menjadi tentara boneka dari Kerajaan Goan tiauw yang tunggangi oleh Bangsa Mongol, dibunuh oleh gerombolan manusia iblis ini. Song Hak Gi adalah orang gagah, ia tidak sudi untuk bersembunyi memperlihatkan rasa takutnya terhadap Ang bi tin yang diketahuinya terdiri orang orang Mongol dan kaki tangannya itu. Pula, ia juga sudah cukup maklum akan kelihaian Ang bi tin, bahwa gerombolan ini disokong sepenuhnya oleh pemerintah dan mempunyai banyak sekali kaki tangan dan mata mata. Biarpun ia bersembunyi, tetap saja mereka akan dapat mengetahui di mana tempat tinggalnya. Seandainya mereke benar datang mencariku, aku lebih suka mati dengan pedang di tangan dari pada mati disembelih seperti seekor babi, demikian bekas perwira yang gagah perkasa ini berkata di dalam hatinya. Suasana yang amat sunyi itu lebih menggelisahkan hati daripada kalau ia benar benar melihat gerombolan itu muncul dengan golok besar mereka yang amat terkenal. Ibu, biarkan aku keluar, tiba tiba ia mendengar suara puteranya yang bening dan nyaring suaranya. Song Hak Gi tersenyum. Putera tunggal nya Song Bun Sam, amat disayanginya dan ia merasa bangga melihat puteranya memiliki keberanian.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Jangan. Sam ji, ada Ang bi tin tidak takutkah kau? bisik ibunya yang terdengar juga oleh bekas perwira itu. Aku tidak takut, bersama ayah aku tidak takut siapan pun juga, Bun Sam menjawab dengan tegas dan larilah anak itu keluar menyusul ayahnya. Sam ji ibunya memanggil dan menyusul pula keluar. Pada saat itu juga, Song Hak Gi mendengar suara bertiup keras dibarengi berkelebatnya tiga sinar putih ke arahnya. Bun Sam cepat kau masuk ke dalam bersama ibumu! Pererwira ini masih sempat berteriak kepada putranya yang sudah muncul di ambang pintu dan secepat kilat ia lalu mengelak ke kiri sambil mencabut pedangnya. Tiga sinar putih itu seperti yang diduganya, adalah tiga batang piauw (senjata rahasia) yang melayang dengan cepat sekali ke arah nya. Hak Gi menggerakkan pedangnya. Traang.! Sebatang piauw yang tadi nya melayang ke arah rumahnya di mana puteranya masih berdiri, terkena tangkisan dan terlempar jauh. Sam ji, cepat bawa ibumu lari dari pintu belakang! Song Hak Gi kembali berseru kepada puteranya. Sebelum Bun Sam dapat menjawab, ibu nya telah menarik tangan anak itu dan dibawa lari masuk ke dalam kamar lagi. Muka nyonya muda ini pucat dan tubuhnya menggigil ia menahan isaknya ketika mendengar suara senjata beradu di luar rumah. Sam ji, kau berdiam di sini saja aku hendak membantu ayahmu, kata nyonya muda ini. Sebenarnya dia hanya mengerti sedikit saja ilmu silat, akan tetapi melihat suaminya agaknya diserang oleh gerombolan Ang bi tin,

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

nyonya muda ini menjadi nekat. Dengan sebatang pedang di tangan, berlarilah ia keluar dari rumahnya yang kecil. Sementara itu, sebagaimana telah diduga oleh Hak Gi, pelempar senjata rahasia tadi setelah melihat serangan gelap mereka gagal, lalu melompat keluar. Mereka ini terdiri dari tujuh orang. Bermacam macam pakaian mereka, ada pakaian orang Mongol, ada orang berpakaian seperti orang Han akan tetapi alis mereka semua dicat merah. Ha, ha, ha, Song ciangkun, marilah kau kami angkat menjadi perwira di kerajaam Giam lo Ong. Ha, ha, ha! terdengar seorang di antara mereka berseru sambil tertawa tawa. Anjing penjilat Bangsa Mongo! Kalian kira aku Song Hak Gi takut menghadapi anjing anjing hina dina seperti kau ini? bentak Hak Gi yang segera memutar pedangnya, maju menyerang orang yang bicara tadi. Akan tetapi tujuh batang golok berkelebat dan sebentar saja ia dikurung oleh tujuh orang lawannya itu. Song Hak Gi bertempur dengan hati gelisah, ia bukan merasa takut dan mengkhawatirkan keadaan diri sendiri, akan tetapi ia merasa gelisah kalau memikirkan putera dan isterinya. Ternyata bahwa tujuh orang manusia iblis itu memilik ilmu golok yang amat kuat. Kepandaian silat mereka ini ternyata tidak berada di sebelah bawah tingkat kepandaiannya dan ia maklun bahwa mereka masih mempunyai banyak kawan kawan yang belum muncul. Kalau sampai ia roboh, bagaimanakah nasib anak isterinya ? Tiba tiba terdengar teriakan sengit dan isterinya melompat maju dengan pedang di tangan! Hak Gi merasa terkejut dan terharu, akan terapi tentu saja gerakan isterinya ini bahkan mengganggu pertahanannya. Kini ia harus

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

melindungi dua orang dari sambaran golok golok yang lihai itu. Tak lama kemudian, selagi Hak Gi dengan mati matian membela diri dan melidungi isterinya, terdengar pekik pekik mengerikan dan rumah lain di barengi suara tertawa gelak yang amat menyeramkan. Hak Gi menggigit bibirnya ia maklum bahwa suara itu tentu keluar dari rumah seorang kawannya, yakni Oey ciangkun yang tinggal tak jauh dari situ, Oey ciangkun yang sudah tua itu dan yang hania tinggal berdua dengan isterinya, tentu menjadi korban pula. Ia menggigit bibir dan melakukan perlawanan makin cepat. Akan tetapi, segera datang lima orang lagi anggota Ang bi tin dan sambil tertatwa tawa mereka ini menyerbu pula. Bahkan ada tiga orang di antara mereka yang menyerbu ke arah pintu, hendak masuk ke dalam. Hak Gi ingat kepada puteranya dan dengan amat khawatir ia lalu melompat maju, memutar pedang menghalangi tiga orang itu memasuki rumah. Kesempatan ini tidak disia siakan oleh para pengeroyoknya. Ketika Hak Gi menyerbu ke arah tiga orang angota Ang bi tin yang hendak masuk ke dalam rumah dan berhasil melukai pundak seorang di antara mereka, beberapa batang golok sekaligus menerjangnya dari belakang. Hak Gi mencoba untuk menangkis, akan tetapi kurang cepat dan sebatang gelok menancap di punggungnya. Berbareng dengan robohnya tubuh Hak Gi, terdengar jerit isterinya yang mengerikan. Nyonya muda ini maklum bahwa nasibnya akan lebih mengerikan daripada maut apabila ia sampai tertawan hidup hidup oleh gerombolan Alis Merah ini, maka begitu melihat suaminya roboh mandi darah, nyonya muda ini lalu mengangkat pedangnya dan

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

dengan satu bacokan kearah leher sendiri, nyonya ini roboh dengan leher hampir putus. Bun Sam, putera tunggal keluarga Song yang telah berusia enam tahun, memandang dengan mata terbelalak dari celah celah pintu betapa ayahnya roboh mandi darah dan ibunyapun telah menggorok leher sendiri. Ayah!! Tak terasa lagi ia menjerit ngeri, tetapi segera ia mendekap mulutnya sendiri dengan tangan karena jeritamya ini membuat beberapa orang anggauta Ang bi tin cepat menengok dan berlari menuju ke pintu rumah. Perasaan takut lebih besar daripada perasaan sedih dan ngeri di dalam hati Bun Sam. Melihat tiga orang Mongol tinggi besar dengan alis merah itu mengangkat golok dan menerjang ke arah pintu rumahnya, ia cepat melompat ke dalam dan terus berlari ke belakang. Dalam kegugupannya ia menendang bangku dan jatuh tersungkur. Akan tetapi ia bangun lagi dan tanpa memperdulikan lututnya yang berdarah karena jatuh tadi, ia berlari lagi, keluar dan pintu belakang dan terus lari ke dalam gelap. Memang, pada saat itu senja telah berganti malam dan cuaca sudah mulai gelap. Kejar! Kejar dan bunuh sekalian! Terdengar teriakan seorang anggauta Ang bi tin dan sebentar saja ada lima orang anggauta manusia iblis itu yang melakukan pengejaran terhadap Bun Sam. Bun San merasa bahwa ia takkan dapat membebaskan diri lagi dari kekejaman gerombolan Ang bi tin itu. Ngeri ia membayangkan keadaan ayah bundanya dan perasaan takutnya ini membuat sepasang kakinya seakan akan tumbuh sayap. Perlumbaan antara Bun Sam dengan lima orang pengejarnya untuk memperebutkan nyawanya ini terjadi dengan diam diam. Agaknya lima orang pengejar itu sengaja tidak mau lari cepat dan hanya membayangi anak itu saja. Diam diam mereka menikmati ketakutan anak

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

yang mereka kejar dan sengaja hendak mempermainkan Bun Sam. Kalau anak itu sudah kehabisan tenaga saking lelah dan takutnya barulah mereka akan turun tangan. Mereka memiliki watak seperti seekor kucing yang mempermainkan tikus kecil. Bun Sam berlari lari di sepanjang jalan di kota Tong seng kwan yang nampak seperti kota mati itu. Orang orang tadi bersembunyi, belum ada yang berani memperlihatkan diri. Bahkan mereka menjadi makin ketakutan setelah mendengar teriakan teriakan dan jeritan jeritan. Kini mereka mendengar kaki berlari lari maka tahulah mereka bahwa gerombolan liar itu masih berada di dalam kota dan keadaan masih belum aman. Bun Sam berlari dengan napas makin lama makin terengah engah. Kepalanya berdenyut keras, dadanya terasa panas sekali sakit seperi mau meledak, kedua kakinya lemas dan gemetar. Ia mendengar dengan jelas betapa di sebelah belakangnya beberapa orang penjahat terus mengejar. Ayah ibu...! berkali kali Bun Sam mengeluh dan bersambat menyebut ayah bundanya, akan tetapi untuk kesekian kalinya keluhannya ini ditutup dengan isak tangis karena teringat bahwa orang tua yang ia sambati itu telah tewas dalam keadaan yang amat mengerikam. Teringat kepada ayah bundanya yang sudah menjadi korban keganasan Ang bi tin ini, makin besarlah perasaan takut yang menyelubungi hatinya dan makin kuat ia berusaha untuk melarikan diri secepat mungkin. Akhirnya setelah ke mana saja ia lari bertemu dengan orang orang beralis merah yang berkeliaran di kota itu ia lalu membelok dan berlari ke luar kota, melalui pintu gerbang sebelah selatan. Ha, ha, ha, anjing kecil, kau hendak lari ke mana? seorang di antara para pengejar mengejek sambil tertawa tawa dan menyabet nyabetkan golok nya sehinggs terdengar

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

bunyi angin bersiutan amat mengerikan hati. Anjing kecil, jantungmu yang berdenyut denyut penuh darah segar tentu enak sekali di makan dengan arak. Ha, ha, ha! Bukan main ngeri dan takutnya hati Bun Sam mendengar ancaman ini. Saking takutnya ia menjadi demikian gugup, sehingga seketika kakinya tersandung akar pohon yang melintang di jalan tergulinglah dia dan rebah tertelungkup di atas tanah tanpa dapat bangun lagi. Ha, ha, ha, anjing kecil, akhirnya kau kehabisan napas juga, terdengar suara di belakangnya dan pengejar yang terdepan segera mengangkat golok dan diayunkan ke arah leher Bun Sam. Trang! anggauta Ang bi tin itu terkejut ketika goloknya terpental kembali, tertangkis oleh sebatang toya yang digerakkan oleh tenaga yang amat kuat. Cepat ia memandang dan ternyata bahwa yang menolong nyawa Bun Sam tadi adalah seorang laki laki setengah tua, berusia paling banyak empatpuluhan tahun, berpakaian sebagai seorang guru silat yang miskin. Orang orang Ang bi tin, kalian benar benar iblis iblis bermuka manusia! seru guru silat ini dengan suara menyatakan keheranan yang ditahan tahan. Terhadap seorang anak anakpun kalian tidak bisa memberi ampun! Seorang di antara gerombolan Alis Mereh yang berjenggot kaku dan kacau balau, bermuka hitam melompat ke depan menghadapi guru silat itu. Hm, Can kausu (guru silat Can) kau ini orang apakah berani sekali mencampuri urusan Ang bi tin? Mengapa kau tidak tinggal saja di rumah dan hidup aman, sebaliknya, berkelieran dan berani mengganggu kami? Sudah bosan hidupkah kau!

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Sebentar saja guru silat she Can ini telah dikurung oleh tujuh prajurit anggota Ang bi tin yang berwajah menyeramkan. Can Goan adalah seorang guru silat di kota Tong seng kwan yang terkenal jujur dan gagah. Dia adalah sahabat baik dari Song Hak Gi. Biarpun ia sudah tahu akan pengeruh besar dan kekuasaan orang orang Ang bi tin dengan segala keganasan mereka, namun kali ini mendengar bahwa sahabat baiknya menjadi korban, ia tidak dapat tinggal diam lagi. Cepat ia datang ke rumah sahabatnya dan alangkah remuk hatinya menyaksikan sahabatnya itu menggeletak tak bernyawa bersama isterinya. Ia mendengar pula tentang Bun Sam yang dikejar kejar oleh barisan siluman itu, maka cepat ia lalu melakukan pengejaran dan dapat menolong nyawa Bun Sam pada saat yang tepat sekali. Ketika Can Goan mendengar ucapan si brewok anggota Ang bi tin itu, ia menjadi heran karena orang itu ternyata telah mengenalnya dan iapun seperti pernah mendengar suara orang ini. Ia lalu memandang tajam dan mencoba untuk mengenal wajah yang kini beralis merah itu. Akhirnya ia teringat dan marahlah ia, Ah, kiranya Toa to Hek mo (Setan Hitam Bergolok Besar) yang kini menjadi iblis alis merah! Pantas saja Ang bi tin terkenal ganas dan kejam, tidak tahunya anggota anggotanya terdiri dari penjahat penjahat besar. Tadinya aku merasa heran mendengar betapa orang orang gagah Bangsa Han ada yang menjadi anggota Ang bi tin akan tetapi sekarang setelah melihat mukamu, tahulah aku bahwa yang menjadi pengkhianat pengkhianat bangsa tidak lain adalah sampah sampah semacam ini! Orang she Can, tutup mulutmu yang sombong! teriak si brewok itu dan secepat kilat ia lalu mengayunkan golok

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

besarnya ke arah kepala Can Goan. Tentu saja guru silat ini tidak mau kepalanya dibacok begitu saja dan secepat kilat iapun lalu menggerakkan toya panjangnya untuk menangkis. Kembali terdengar suara nyaring bunga api berpijar ketika dua senjata ini beradu. Toa to Hek mo pernah merasai kelihaian Can Goan, yakni dulu ketika Can Goan masih menjadi piauwsu (pengantar barang ekspedisi) dan dia masih menjadi kepala rampok, maka kini menghadapi Can Goan, ia merasa jerih. Ia bersiul memberi tanda rahasia kepada kawan kawannya yang segera maju mengeroyok. Bagaikan seekor harimau terluka, Gan Goan memutar toyanya ke empat penjuru dan mengamuk. Tidak percuma ia mendapat julukan Dewa Toya, karena permaiaan toyanya benar benar hebat sekali. Toa to Hek mo sama sekali tidak mendapat kesempatan untuk mendekatinya dan tiap kali sebuah di antara tujuh batang golok yang mengeroyoknya itu terbentur toya, tangan pe megangnya merasa perih dan sakit, tanda bahwa tenaga dari Dewa Toya ini benar benar hebat. Beberapa jurus kemudian ujung toya bahkan berhasil menyambar tulang kering seorang pengeroyok sehigga orang itu memekik kesakitan dan roboh dengan tulang kering kakinya patah patah! Melihat hal ini, Bun Sam yang kini sudah berdiri di bawah pohon menjadi girang sekali. Hampir saja ia bersorak dan anak ini lupa untuk berlari atau menyembunyikan diri. Ia kenal baik kepada Cau kauwsu ini yang sering datang mengobrol dengan ayahnya. Bagus! Can pekhu, bagus! Pukul mampus orang orang jahat ini! teriaknya dengan girang sekali. Can Goan terkejut sekali ketika mendengar suara ini.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Eh Bun Sam, kau masih di sini! Lekas kau lari! Guru silat ini menjadi gelisah sekali. Tak disangkanya bahwa anak itu masih berada di situ. Pada saat itu, tiba tiba enam orang anggota Ang bi tin masih mengeroyok Can kauwsu melompat mundur untuk memberi jalan pada seorang yang baru datang. Orang ini tinggi kurus alisnya dicat merah mata dan hidungnya yang seperti burung betet itu menyembul tertarik menjeling. Can Goan kaget bukan main melihat orang ini. Biarpun ia bisa melupakan wajah orang ini yang sekarang sudah memakai hiasan alis merah, namun ia tak dapat melupakan ___ ___ Lui Hai Siong, seorang tokoh kang ouw yang berjuluk Ngo jiauw eng (Garuda Cakar Lima). Bagaimana orang inipun bisa menjadi anggota Ang bi tin, bahkan agaknya menjadi kepala? Can Goan, kau jangan menjual lagak disini! kata orang tinggi kurus yang baru datang ini. Berbareng dengan ucapannya ini tangan kirinya bergerak cepat sekali merupakan cakar garuda diserangkan ke arah muka Can Goan. Can kauwsu cepat mengerakkan toya menangkis tangan yang tidak di duga amat lihai itu. Akan tetapi, sambil mengeluarkan ringkikan seperti seekor kuda Ngo jiauw eng Lui Hai Siong menangkap toya itu dan sekali ia menbetot, terlepaslah toya itu dari pegangan Can Goan. Can kauwsu amat terkejut, akan tetapi tiba tiba ia merasa pundaknya telah tercengkeram oleh tangan kanan lawannya dan sekali dorong ia tak dapat bertahan lagi dan roboh tertelungkup. Lui Hai Song tertawa terbahak bahak sambil menginjak punggung Can Goan dengan kaki kirinya. Ha, ha, ha, orang she Can. Baru memiliki kepandaian sebegini saja kau sudah berani menghadapi Ang bi tin. Sungguh menggelikan!

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Can Goan maklum bahwa nyawa nya tak dapat ditolong lagi. Kaki yang menginjak punggungnya dirasakan amat berat bagaikan gunung yang menggencetnya. Bun San lari...! Bawalah Sian Hwa... lari! Can kauwsu dalam saat terakhir masih dapat berseru keras. Bun San yang tadi kegirangan melihat betapa pembelanya dapat merobohkan seorang pengeroyok, kini menjadi pucat sekali. Ia memandang kepada mata Lui Hai Siong yang berhidung ekek itu dengan ketakutan, kemudian setelah mendengar seruan terakhir dari Can Goan anak ini lalu melarikan diri. Aku disuruh membawa Sian Hwa... pikirnya dengan bingug, karena Sian Hwa adalah anak tunggal dari Can kauwsu dan kalau ia harus membawa lari Sian Hwa, berarti ia harus kembali lagi ke dalam kota. Ia takut sekali untuk kembali ke dalam kota akan tetapi bagaimana ia bisa menyia nyiakan pesanan terakhir dari penolongnya? Can Goan benar saja tak dapat menolong nyawanya lagi. Sekali si hidung ekek itu mengerahkan tenaga kakinya, terdengar suara krak!! dan patahlah tulang tulang punggung dan iga dari guru silat itu. Can kauwu tewas tanpa dapat mengeluarkan suara dan sampai mati ia tidak dapat menduga bahwa sebenarnya Lui Hai Siong inipun baru menjadi pemimpin rendah saja dari barisan Ang bi tin. Dengan kedatangan Ngo jiauw eng Lui Hai siong, para anggauta Ang bi tin tidak berani berlaku sesuka hatinya sendiri, maka mereka ini lupa kepada Bun Sam yang telah melarikan diri. Tanpa perintah dari Lui Hai Siong setelah pemimpin regu ini hadir, mereka tidak berani bertindak dan di bawah pimpinan Lui Hai Siong, kembalilah rambongan itu ke dalam kota yang masih sunyi.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Kurang ajar sekali guru silat she Can itu, kata Lui Hai Siong yang masih marah, mari kita periksa rumahnya, siapa tahu di sana masih bersembunyi pemberontak pemberontak lainnya. Akan tetapi ketika mereka melewati pintu gerbang, tiba tiba seorang di antara mereka menunjuk ke depam. Itu adalah anak yang tadi. Anak siapa? tanya Lui Hai Siong. Dia putera tunggal dari Song ciangkun yang telah kami tewaskan, jawab seorang anggauta. Hei, membasmi rumput harus dengan akar akarnya. Tangkap dan bunuh anak itu! Sambil berkata demikian, Lui Hai Siong mengayunkan tangan kanannya dan sebatang jarum melayang cepat sekali kearah bayagan anak yang sedang berlarian itu. Bun San, bayangan itu. berteriak dan tubuhnya terguling. Jarum itu dengan amat jitu telah menancap di pundaknya, tepat mengenai jalan darahnya. Lima orang anggota Ang bi tin mengejar dengar golok terangkat, siap untuk memenggal leher anak yang sudah rebah tidak berdaya itu. Tahu tahu seperti seekor burung bersayap, anak itu dapat mumbul seperti terbang ke udara dan menghilang di dalam gerombolan daun daun pobon yang hijau dan gemuk. Tentu saja lima orang anggota gerombolan Ang bi tin itu menjadi bengong dan berdiri terpaku di bawah pohon yang tinggi dan besar itu. Tidak salahkah pandangan matanya? Betul betulkah tubuh anak kecil itu dapat mumbul dan lenyap dari depan mereka tanpa sebab? Benar benar aneh! Mereka berlima hanya berdiri menengadah dan mencari cari dengan pandangan mata, akan tetapi malam itu gelap dan daun daun pohon itu hanya nampak hitam dan gelap saja.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Ngo jiauw eng Lui Hai Siong yang dari jauh melihat betapa lima orang anak buahnya berdiri bengong tak bergerak, menjadi terheran. Ia masih belum tahu bahwa anak yang tadi telah dirobohkan dengan jarumnya yang lihai yakni semacam senjata rahasia kecil yang disebut bwe hwa ciam (Jarum Bunga Bwe), telah lenyap dengan secara amat rahasia. Dengan beberapa kali lompatan, Si Garuda Cakar Lima ini telah tiba di bawah pohon. Mana anak itu ? tanyanya, baru sekarang ia melihat kehilangan itu. Lenyap, ke sana serorang di antara anak buahnya berkata dan jari telunjuknya menuding ke atas. Untuk sesaat Lui Hai Siong memandang heran, kemudian tersenyum, Hm, ada pula yang berani main gila, ya? Turunlah! Seruan ini diucapkan dengan keras dan tiba tiba kedua tangannya bergerak, diayunkan ke arah pohon itu. Beberapa batang jarum yang berbahaya melayang ke arah pohon. Terdengar daun daun pohon bergeresekan, di barengi cabang cabang pohon itu bergoyang goyang dan tiba tiba sesosok bayangan yang tinggi sekali melayang turun. Tangan kiri bayangan itu memeluk tubuh Bun Sam dan tangan kanannya memegang sebuah ranting pohon yang masih penuh dengan daun. Sekali ia putar ranting itu semua jarum yang dilepaskan oleh Lui Hai Siong terpukul runtuh dan tiba tiba bayangan yang melompat turun itu, sebelum kedua kakinya tiba di tanah, ia mengeluarkan suara melengking yang aneh, setengah tangis setengah tertawa dan ranting di tangan kanannya digerakkan keras. Daun daun yang tadi melekat pada ranting itu tiba tiba rontok dan melayang cepat menyerang kepada Lui Hai Siong dan beberapa kawan kawannya.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Jerit kesakitan susul menyusul ketika anak anak buah Ang bi tin itu terpukul oleh daun daun ini. Ada yang terkena pipinya, pundaknya akan tetapi bagian tubuh mana saja yang terkena sambaran daun ini, terasa pedas dan sakit sekali. Hanya Lui Hai Siong seorang yang siap menyampok jatuh dua daun yang melayang ke arah dadanya. Akan tetapi orang orang itu tidak hanya terkejut karena rasa sakit yang ditimbulkan oleh daun daun itu, terutama sekali mereka terkejut dan ngeri ketika melihat muka bayangau orang yang telah menolong anak itu. Ketika bayangan itu melompat turun biarpun hanya sejenak, semua orang dapat melihat betapa bayangan yang tinggi kurus itu mempunyai muka seperti tengkorak. Pakaiannya yang hitam membuat wajahnya nampak lebih menyeramkan lagi. Maka bukan main kaget dan ngerinya semua orang bahkan Lui Hui Siong sendiri saking kaget dan herannya sampai berdiri terpukau, lupa untuk mengejar ketika bayangan itu melompat dan menghilang ke dalam gelap. Kejar.! Lui Hai Siong berteriak setelah orang bermuka tengkorak itu sudah tidak nampak bayangannya lagi. Semua orang mengejar akan tetapi di mana mana sunyi saja, tidak terlihat bayangan seorang manusiapun. Kurang ajar, itu tentulah seorang kawan dari Song ciangkun atau Can kauwsu yung sudah mampus. Biarlah, tak perlu kita mencarinya. Yang perlu sekarang cepat menyerbu ke rumah Can kauwsu. Baru saja mereka hendak bergerak menuju ke rumah Can kauwsu, tiba tiba bertiup angin keras dibarengi oleh suara berkerincing yang ramai dan entah dari mana datangnya, tahu tahu seorang Mongol yang bertubuh kate dan gemuk telah berdiri di depan Lui Hai Song. Garuda Cakar Lima itu terkejut melihat siapa yang berdiri di depannya, cepat cepat

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

memberi hormat dengar menjura rendah sekali. Juga semua kawan kawannya anggota anggota Alis Merah, memberi hormat dengan sikap yang amat merendah. Taijin (orang besar), semua tugas telah dilakukan dengan baik! Kata katanya yang merupakan laporan ini menunjukkan bahwa orang Mongol yang pendek ini adalah seorang kepala yang lebih tinggi kedudukannya daripadanya. Memang orang ini adalah Bucuci. seorang Mongol yang mempunyai pengaruh besar sekali dan juga amat lihai ilmu silatnya. Pakaiannya mewah dan bentuk pakaian seperti pakaian perang, akan tetapi di tiap sudut dipasangi kerincingan kuningan yang selalu berbunyi ramai setiap kali ia bergerak. Akan tetapi, di waktu ia berkelahi, kalau dikehendakinya, Bucuci dapat bersilat sedemikian ringan dan cepatnya hingga tak sebuah pun kerincingan di pakaiannya itu berbunyi. Bucuci merupakan tokoh tingkat dua dalam barisan gerombolan Ang bi tin yang amat terkenal ini. Aku tidak tanya tentang tugasmu, yang penting apakah kalian tadi melihat manusia bermuka tengkorak, berbaju hitam ? tanya Bucuci dengan angkuh sekali, tanpa memperdulikan kepada Lui Hai Siong. Jelas sekali bahwa Bucuci amat memandang rendah kepada Lui Hai Siong. Akan tetapi manusia penjilat ini dengan sikap merendah sekali berkata, Betul, taijin, baru saja kami mengejar seorang bermuka tengkorak yang menolong dan membawa lari putera Song ciangkum . Kemudian dengan singkat Lui Hai Song menceritakan yang dilihat nya tadi. Bucuci nampak tak puas. Sayang sekali kalian tadi tidak memberi tanda sehingga setan tengkorak itu dapat meloloskan diri. Bagaimanakah putera orang she Song itu

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

sampai dapat terhindar dari kematian? Ia kelak akan dapat mendatangkan kesulitan saja. Semua itu karena salahnya Can Goan si guru silat yang telah kami bunuh itu, taijin, kata Lui Hai Song, yang lalu menceritakan betapa Bun Sam anak kecil itu tertolong oleh Can kauwsu. Sungguh menggelikan melihat sikap Lui Hai Siong terhadap orang Mongol itu, bagaikan seekor anjing menjilat jilat sepatu majikannya yang berdebu. Baru sebutan taijin saja sudah amat menggelikan, karena sebutan ini sesungguhnya biasanya hanya diucapkan terhadap seorang pembesar saja. Ketika Bucuci mendengar laporan itu, iapun menjadi marah. Kalau begitu, seisi rumah guru silai she Can itu harus dibasmi habis. Ayo, antarkan aku ke sana. Dengan tindakan kaki lebar, Bucuci lalu diantarkan oleh rombongan Ang bi tin inni menuju ke rumah Can Goan yang sudah tewas. Siapakah yang berada di dalam rumah Can Kauwsu ini? Sesungguhnya Can Goan hanya hidup berdua dengan seorang anak perempuannya yang ______ Can Sian Hwa _______ tahun yang lalu dari ______puterinya. Can Goan ____ menikah lagi. Ia mendidik puterinya ini dengan penuh kasih sayang, akan tetapi siapa kira, baru saja anaknya berusia empat tahun ia telah tewas dalam tangan kawanan Alis merah yang amat kejam.Ayah ___ ini tadi masih ingat kepada puterinya dan member pesan kepada Bun Sam yang sudah kenal Sian Hwa, untuk mengajak puterinya itu lari bersama, akan tetapi ia tidak tahu bahwa Bun Sam sendiri hamper saja tewas dalam tangan Ang bi tin kalau saja tidak keburu tertolong oleh seorang manusia gaib yang bermuka tengkorak itu.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Sian Hwa ketika ditinggalkan oleh ayahnya ia diam duduk saja di dalam kamar seorang diri. Ia masih terlalu kecil untuk mengetahui apakah dan siapakah sebenarnya Ang bi tin yang ditakuti itu. Apa lagi ayahnya selalu menjaga agar anak ini tidak menjadi seorang penakut, maka boleh dibilang Sian Hwa tidak kenal nama Ang bi tin yang oleh anak lain dikenal sebagai sesuatu yang amat menyeramkan. Setelah terlalu lama ayahnya tidak datang, anak ini mulai menjadi kesal can tertidurlah ia di atas pembaringan di mana biasanya ia tidur bersama ayahnya. Tiba tiba Sian Hwa terkejut dan bangun dari tidurnya, ia mendengar suara keras sekali di depan. Ternyata bahwa daun pintu rumahnya telah ditendang roboh oleh kaki kanan Lui Hai Siong yang kuat dan Bacuci sendiri lalu melompat masuk sambil memandang ke kanan kiri dengan sikapnya yang tenang menakutkan. Tiba tiba terdengar gelak dua ekor aajng, yakni anjing peliharaan Can kauwsu. Sian Hwa dari dalam kamarnya mendengar betapa dua ekor anjingnya itu meraung raung dan menyalak nyalak akan tetapi tiba tiba terdengar kedua binatang ini menguik keras lalu keadaan menjadi sunyi lagi. Sian Hwa tentu saja tidak tahu betapa Bucuci dengan sekali tendang dan sekali pukul sudah berhasil membuat dua ekor anjing itu remuk kepalanya. Tiba tiba, sedikit sinar penerangan dari dian yang menyala di dalam kamar di mana Sian Hwa berada, padam. Ternyata bahwa Sian Hwa, anak umur empat tahun itu, sudah mempunyai kecerdikan dan ketabahan. Mendengar suara di luar, anak ini cepat meniup padam lampu di atas meja kamarnya sehingga keadaan di dalam kamar menjadi luar biasa gelapnya. Sebaliknya ia yang berada di dalam kamar, dapat melihat ke arah pintu karena dari luar rumah

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

terdapat sinar lampu depan rumah yang menerangi pintu itu. Siapa di dalam kamar? Ayoh keluar! bentak suara Bucuci yang parau dan menyeramkan. Tidak ada jawaban. Sian Kwa mulai takut. Itu bukan suara ayah nya! Dengan perlahan ia turun dari pembaringan. Biarpun kakinya telanjang dan kulit telapak kakinya yang hakus itu hampir tidak bersuara ketika diturunkan ke atas lantai, namun masih cukup dapat tertangkap oleh pondengaran telinga Bucuci yang luar biasa. Siapa itu? Ayoh keluar! Berbareng dengan bentakan itu, Sian Hwa yang amat terkejut itu menyusup ke bawah pembaringan bagaikan seekor tikus kecil yang bersembunyi di dalam lobang, takut kepada kucing yang menanti di luar lobang, anak perempuan ini dengan napas empas empis saking menahan getaran jantungnya, diam tak berani bergerak sedikitpun juga. Matanya menatap ke arah pintu kamar yang tertutup oleh kain tirai. Kau tidak mau keluar? Baiklah, aku akan menyeret mayatmu keluar! terdengar pula suara bentakan yang penuh ancaman itu dan tiba tiba Sian Hwa dari kolong pembaringan melihat betapa tirai kain itu bergoyang dan tiba tiba brett! tirai itu telah direnggutkan orang, sehingga putus dan kini pintu itu merupakan lobang besar. Terdengar derap sepasang kaki memasuki kamar dan Sian Hwa merasa betapa ada angin menyambar nyambar yang membuat meja terguling dan dinding kamar bergetar bagaikan ada lindu! Ia hanya melihat bayangan orang bergerak gerak sama sekali tidak tahu bahwa Bucuci sedang melakukan serangan ke sekitar sudut kamar dengan pukulan pukulan tangan penuh tenaga lweekang dan

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

khikang semacam pukulan Pek lek jiu (Pukulan Tangan Geledek) yang akan merobohkan dan membinasakan orang dari jarak jauh. Setelah melakukan pukulan pukulan dan merasa yakin bahwa tak seorangpun akan dapat menyelamatkan diri kalau ada orang di dalam kamar itu, Bucuci berdiri diam sambil mendengarkan. Matanya yang tajam hanya dapat memandagg remang remang saja dalam kamar yang gelap itu. Dan ia terheran. Ternyata di situ tidak ada orang sama sekali dan pembaringan yang berada di sudut kamar juga kosong. Selagi ia merasa kecele dan mendongkol lalu hendak meninggalkan kamar itu, tiba tiba terdengar suara Hacih! Hacih! Bucuci cepat membalikkan tubuhnya. Itu adalah suara anak kecil berbangkis, pikirnya! Memang betul, tadi ketika ada angin menyambar nyambar Sian Hwa demikian takut, sehingga ia menelungkup dan bertiarap di bawah pembaringan. Debu yang mengebul dari dinding yang tergetar karena pukulan Bucuci, membuat ia merasa hidungnya gatal gatal dan tak dapat tertahan lagi ia berbangkis dua kali. Bucuci menjadi merah mukanya. Ternyata ia telah berlaku terlalu ketakutan dan terlalu hati hati di dalam kamar yang ternyata hanya didiami oleh seorang anak kecil. Dengan gerakan tiba tiba ia melompat ke arah pembaringan itu. Sekali renggut saja dengan tangan kiri, pembaringan itu telah terlempar jauh dan nampaklah kini Sian Hwa meringkuk di atas lantai. Bucuci tertawa gelak gelak dan ketika tangan kanannya menyambar Sian Hwa telah dijambak rambutnya dan diangkatnyalah anak itu dengan rambut dijambak ke atas. Lalu orang Mongol itu melangkah lebar kelaur dari rumah, anak perempuan itu meronta ronta berusuha melepaskan

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

rambutnya yang dijambak pedas itu, Sian Hwa sama sekali tidak mengeluarkan teriakan, hanya air matanya saja turun amat derasnya dan kedua tangatnya memukul mukul ke atas untuk memaksa tangan yang menjambaknya itu melepaskan rambutnya, ia seperti seekor kelinci yang tertangkap telinganya dan di gantung. Bucuci masih tertawa tawa ketika ia membawa anak perempuan yang baru berusia empat tahun itu keluar dari rumah kecil itu dan memperlihatkan anak itu dengan muka lucu kepada kawan kawannya. Hanya ada tikus kecil ini, katanya kepada para angota Ang bi tin, kemudian disambungnya dengan suara bengis. Bakar rumah ini! Segera Lui Hai Siong sendiri turun tangan untuk membakar rumah itu dan sebentar saja rumah dari keluarga Can ini dimakan api. Bicuci semenjak tadi merasa heran dan juga kagum sekali melihat anak pempuan yang masih dipegang pada rambutnya yang panjang itu sama sekali tidak menangis. Bagaimana ada anak kecil sekeras ini hatinya? Ketika rumah itu terbakar, ia hendak melemparkan Sian Hwa ke dalam lautan api, akan tetapi cahaya api yang membakar rumah itu menerangi segala apa di sekitarnya dan tanpa disengaja Bucuci memandang muka anak kecil itu. Tertegunlah ia dan kalau tadinya ia hendak melemparkan anak itu kedalam api, sebaliknya kini melepaskan jambakannya dan memondong anak itu, sambil menatap wajahnya dengan penuh perhatian. Hatinya berdebar keras temudian ia berkata kepada Lui Hai Siong. Besok bikin laporan kepada Liem gonswe, aku hendak pulang lebih dulu. Setelah berkata demikian, sekali ia menggerakkan tubuhnya orang Mongol yang pendek gemuk ini lenyap dari pandangan mata sambil memondong anak perempuan kecil itu!

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Mengapa Bucuci tidak jadi membunuh Sian Hwa? Apakah tiba tiba di dalam dada orang kejam ini timbul perasaan kasihan? Tidak, agaknya tidak mungkin seorang seperti Bucuci dapat menaruh hati kasihan kepada orang lain, kecuali untuk diri sendiri atau untuk orang orang yang disukainya. Sesungguhnya ketika tadi cahaya api yang membakar rumah kecil itu menerangi wajah Sian Hwa dan Bucuci memandang wajah gadis cilik ini, ia tertegun meilhat persamaan raut muka anak ini dengan Kui Eng isterinya yang baru, yang benar benar benar amat di cintainya. Telah berkali kali semenjak orang orang Mongol berhasil membobolkan pertahanan orang orang Han dan memegang kekuasaan di Tiongkok, Bucuci telah berkali kali bertukar isteri. Akhir akhir ini, kira kira tiga bulan yang lalu, kembali ia dapat merampas seorang wanita muda, setelah membunuh suami dan seorang anak dari wanita ini. Wanita ini adalah Kui Eng yang dulu tinggal di kota Heng sian di selatan. Kui Eng atau lengkapnya Ciok Kui Eng, adalah seorang wanita yang masih muda dan cantik sekali. Dia isteri seorang bekas perwira Han yang terbunuh oleh Bucuci dan anak perempuannya yang baru berusia tiga tahun telah terbunuh pula oleh kaki tangan Bucuci, anggota anggota Ang bi tin yang amat ganas dan keji. Kemudian, tetarik oleh kecantikan nyonya muda ini, Bucuci tidak membunuhnya melainkan menculik dan membawa pulang isterinya, juga seorang Han yang dulu dirampasnya pada saat itu juga ia berikan kepada seorang sahabatnya untuk dijadikan selir, lalu ia menempatkan Kui Eng di dalam gedungnya sebagai isterinya. Akan tetapi, sungguh amat mengecewakan hatinya, Kui Eng tak sudi berlaku manis kepadanya, bahkan nyonya muda yang cantik jelita ini selalu marah marah dan bahkan ada tanda tanda bahwa ingatan nyonya ini berubah. Setiap saat memanggil manggil anaknya saja. Bahkan di dalam keadaan pikiran tidak sehat

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Kui Eng berjanji kepada Bucuci bahwa suami paksaan ini dapat membawa pulang anaknya, ia akan suka menjadi isterinya dalam arti yang sebenarnya, bukan isteri paksa. Ketika menculik Kui Eng Bucuci pernah melihat anak kecil yang di__ oleh anak buahnya itu. Maka setelah melihat wajah Sian Hwa yang hampir sama dengan wajah Kui Eng dan anaknya, timbul pikiran baik dalam benaknya. Ia hendak membawa Sian Hwa pulang, hendak diberikan kepada Kui Eng, siapa tahu kalau isterinya itu akan terhibur hatinya. Memang cinta itu amat aneh dan berkuasa besar. Sejahat jahatnya hati orang apabila ia telah dikuasai oleh rasa cinta, akan timbul kelembutan yang amat mesra, akan timbul kebajikan tertinggi dalam perikemanusiaan, yakni kehendak untuk menyenangkan hati lain orang. Tentu saja dalam hal ini, hati orang yang dicintainya. Kui eng, manisku, bergiranglah engkau, aku telah datang membawa pulang anakmu... berkali kali Bucuci berbisik seorang diri sambil berlari cepat sekali, sehingga kali ini Sian Hwa menjadi ketakutan dan meramkan matanya, Bucuci membayangkan betapa bibir Kui Eng yang manis itu kini akan dapat tersenyum dan hatinya menjadi besar. Tak terasa lagi ia lalu mendekap tubuh anak itu dan menyelimutinya dengan baju luarnya karena malam itu amat dingin, apalagi ia mempergunakan ilmu ilmu lari cepat, sehingga angin berdesir meniup anak itu yang menggigil kedinginan. Ia harus merawat anak ini baik baik, karena siapa tahu kalau kalau kebahagiaannya datang karena adanya anak ini. Peristiwa di atas itu terjadi di abad ke dua belas, pada waktu itu pemerintah yang menguasai Tiongkok adalah pemerintah Goan tiauw. Pemerintah ini sebenarnya tidak lebih hanyalah sebuah pemerintah boneka yang bekerja di

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

bawah injakan kaki Bangsa Mongol. Setelah bala tentara Mongol yang amat kuat di bawah pimpinan Jengis khan, kemudian dilanjutkan oleh pimpinan yang amat kuat dari Mancu yang disebut Raja besar dan setelah raja besar ini tewas dalam peperangan lalu diganti oleh Kubilai khan lalu mengalahkan seluruh raja raja kecil di Tiongkok seperti Kerajaan Hsia, Kin dan Song, maka Kubilai khan lalu mendirikan Kerajaan Goan tiauw. Pemerintah Mongol ini amt kuat dan pandai melumpuhkan semangat perlawanan rakyat Tiongkok. Rakyat dibagi menjadi empat tingkat, yakni yang pertantama tentu saja orang orang Mongol sendiri, ke dua adalah orang orang Semu (yang bermata bitu atau coklat) ke tiga orang orang Han dan ke empat adalah orang orang Selatan. Tentu saja yang memegang kekuasaan adalah orang orang Mongol, dibantu oleh orang Semu. Banyak juga orang orang Han yang menduduki pangkat tinggi, akan tetapi dapat dipastikan bahwa orang orang Han ini adalah orang orang yang berhati pengecut dan penjilat, yang tidak segan segan untuk menindas bahkan memfitnah secara keji kepada bangsa sendiri hanya untuk menjilat telapak kaki orang orang Mongol agar mereka mendapatkan kedudukan baik. Orang orang Han dan orang selatan, amat dihina dan ditindas. Contohnya mereka ini tidak boleh membawa bawa senjata tajam, tidak boleh memelihara kuda, tidak boleh berburu binatang dan tidak boleh lagi main silat. Siapa saja yang berani melakukan pelanggaran ini, langsung dicap sebagai pemberontak dan dibunuh! Oleh karena itu, orang orang Han menjadi ketakutan dan hidup penuh penderitaan. Mereka ini dikumpulkan dan setiap duapuluh orang keluarga disatukan dan dibentuklah sekelompok yang disebut cia, yakni sekelompok rakyat terdiri dari

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

duapuluh keluarga itu lalu setiap cia ini dikepalai oleh seorang Mongol yang biasanya lalu memeras dan mengancam mereka, mengganggu anak bini mereka secara kurang ajar sekali. Masih banyak contoh contoh pemerasan dan penindasan yang tidak saja mendirikan bulu tengkuk saking ngerinya, akan tetapi juga mendirikan semangat perlawanan dalam dada setiap putera Han yang menjadi marah sekali. Akan tetapi apa daya mereka? Pemerintah Goan tiauw amat kuat dan selain perwira perwira Mongol amat pandai dan tinggi ilmu kepandaiannya, juga banyak orang orang Han yang berkepandaian tinggi kini menjadi kaki tangan mereka. Contoh perbedaaan yang amat menyolok dapat dilihat di pengadilan. Orang orang Mongol dan Semu yang melakukan kejahatan diperiksa oleh pengadilan istimewa. Apabila seorang memukul atau memaki seorang Han atau selatan orang Han ini tidak membalas pukulan atau makian itu. Kalau seorang Han atau selatan memukul atau memaki seorang Mongol, maka ia akan dihukum berat bahkan mungkin dihukum mati. Sebaliknya kalau seorang Mongol atau Semu membunuh seorang Han hukumannya hanyalah sebuah dendaan yang ringan saja! Dan di dalam keadaan yang kacau balau dan amat sengsara bagi rakyat ini, timbullah barisan Ang bi tin yang lebih lebih merupakan tindasan hebat bagi rakyat jelata. Nama Ang bi tin atau Barisan Alis Merah ini sebetulnya hanya dikenal hampir tiga belas abad yang lalu. Memang pernah ada bala tentara Alis Merah yang amat terkenal di masa itu, yakni barisan pemberontak yang dipimpin oleh Fan Cung dan barisan Alis Merah ini demikian hebat sepak terjangnya, sehingga terkenal sekali di dalam sejarah. Pada masa itu, para anggota pemberontak mengecat merah alis

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

mereka hanya mengetahui.

dengan

maksud

agar

dapat

saling

Akan tetapi, Ang bi tin yang sekarang merajalela, yang dipimpin oleh orang orang Mongol yang berkepandaian tinggi itu mempunyai latar belakang yang___ sama sekali dengan Ang bi tin tiga belas abad yang lalu. Ang bi tin yang sekarang ini sebetulnya ______ dendam dan sakit hati bangsa Mongol ___ orang orang gagah Bangsa Han. Beberapa ___ yang lalu, ketika peperangan yang timbul dari penyerbuan bala tentara Mongol masih sedang berkobar, seorang jenderal Bangsa Mongol keturunan Semu, yakni seorang Mongol bermata biru dan rambutnya kemerahan erbunuh oleh orang Han yang gagah perkasa, jenderal Mongol yang berambut merah dan beralis merah ini terkenal gagah berani dan amt dicintai serta dihargai oleh orang orang Mongol, maka tentu saja kematiannya menimbulkan kegemparan besar. Terutama sekali putera jenderal yang bernama Salinga, ia bersumpah untuk menghancurkan semua orang Han yang pernah menjadi perwira atau yang disebut orang kang ouw yang memiliki kepandaian silat. Salinga juga pandai ilmu silat seperti ayahnya, akan tetapi matanya tidak sebiru mata ayahnya, rambut dan alisnya tidak semerah rambut dan alis ayahya karena ia menurun dari ibunya seorang Mongol tulen. Di dalam sumpahnya ini, Salinga mencat alisnya menjadi merah dan sebelum semua orang gagah bangsa Han ditumpasnya, ia tidak mau membuang warna merah pada alisnya itu. Salinga amat kaya raya dan juga berpengaruh, maka banyak sekali pengikutnya. Ia membentuk Ang bi tin atau Barisan Alis Merah dan beberapa tahun kemudian, agaknya Ang bi tin ini menjadi populer di kalangan Mongol dan dianggap sebagai semacam hobby atau olah raga! Bagi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

mereka, memburu dan membasmi orang orang Han yang dicurigai dan dianggap seorang ahli silat berbahaya sama halnya dengan memburu dan membunuh binatang ganas! Demikianlah, makin lama gerakan Ang bi tin ini makin nyasar dari sebab semula. Kini banyak anggota Ang bi tin yang tidak tahu apa artinya alis yang dimerah merahkan itu. Orang orang Mongol yang menjadi anggota hanya senang memburu orang Han saja sedangkan orang orang Han seperti Lui Hai Siong dan lain lain yang ikut masuk menjadi anggota, tentu tadinya adalah golongan buaya buaya darat dan kini ingin menjilat pantat orang orang Mongol. Banyak sekali jumlahnya orang orang gagah dan bekas bekas perwira Bangsa Han yang menjadi korban keganasan Ang bi tin ini. Tidak saja orang orang gagah dan bekas bekas perwira, bahkan rakyat jelata juga ikut diganggu. Pendeknya Ang bi tin sudah berubah dari sepasukan orang orang yang hendak membalas dendam, menjadi gerombolan peajahat yang kejam, ganas dan ditakuti oleh seluruh rakyat, dari yang tua sampai yang masih anak anak! Bun Sam, putera tunggal dari perwira Song yang terbunuh mati oleh gerombolan Ang bi tin dan yang dilukai oleh jarum bwe hoa ciam dari Lui Hai Siong ____ dibagian ____ sakit, panas dan pe_____ dan dapat melihat dengan baik apa yang terjadi dengan dirinya. Ketika ia roboh terkena jarum bwe hoa ciam yang dilepaskan oleh penjilat she Lui itu, tiba tiba ia merasa ditarik ke atas oleh orang berpakaian hitam dan di pondong oleh orang itu yang duduk di atas cabang pohon, tinggi sekali. Bun Sam terheran heran dan merasa seolah olah ia sedang berada dalam mimpi. Apalagi ketika kemudian ia dibawa melompat turun dan di dalam pondongan orang itu, Bun Sam merasa seakan akan dibawa terbang oleh seekor burung yang besar. Malam itu gelap sekali, maka ia tidak

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

dapat melihat wajah penolongnya dan pundaknya terasa demikian sakitnya, sehingga ia mengeluh. Aduh panas. Orang yang memondongnya itu berhenti berlari. Ternyata mereka telah berada jauh sekali dari kota Tong Seng kwan, berada di dalam sebuah hutan yang amat gelap. Hanya cahaya cahaya redup dari ribuan bintang di langit hitam memberi sedikit penerangan. Orang itu tanpa berkata sesuatu lalu menurunkan anak yang tubuhnya terasa panas sekali itu di atas rumput. Kemudian orang itu meraba raba pundak Bun Sam yang terkena jarum. Aduh.! anak itu menjerit lalu pingsan saking hebatnya rast sakit menyerang dadanya. Orang aneh itu mengeluarkan suara haha huhu seperti biasa dikeluarkan oleh mulut seorang gagu kemudian ia lalu mencabut sebatang pedang yang disembunyikan di balik bajunya yang panjang. Sekali ia membacokkan pedang itu pada batu karang, berpijarlah banyak bunga api. Tak lama kemudian ia telah berhasil membuat api unggun yang cukup besar. Dengan pertolongan sinar api unggun, ia lalu membuka baju Bun Sam dan memeriksa pundak yang terluka. Jarum Bwe hwa ciam yang menancap pada pundak anak itu ternyata mendatangkan warna hitam kebiruan di sekitar luka dan jarum itu telah masuk setengahnya lebih. Kembali orang itu mengeluarkan suara haha huhu menyatakan kemarahannya. Ia menjepit jarum itu dengan dua jari tangan dan mencabutnya dengan cepat. Darah hitam menitik keluar dari luka, darah yang hampir mengental. Orang aneh itu lalu mendekatkan mulutnya pada luka di pundak Bun Sam dan disedotlah luka itu dengan mulutnya, sambil kedua tangatnya memencet mencet pundak itu untuk mengeluarkan darah yang telah

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

terkena racun. Berkali kali ia menyedot dan meludahkan darah hitam akhirnya racun di pundak Bun Sam telah bersih. Dengan amat cekatan, orang ___ merobek pinggir baju Bun Sam dan ___ pundak ini dengan erat. Terdengar Bun Sam mengerang perlahan dan orang itu lalu memberinya minum arak hangat dari sebuah guci yang tengantung di pinggangnya. Setelah minum dua teguk arak, tanpa mambuka matanya Bun Sam lalu jatuh tertidur. Orang itu membiarkannya saja, membuka jubah luarnya dan menyelimutkannya di atas tubuh anak itu, kemudian ia duduk merenung di depan api unggun. Entah apa yang dilihatnya di dalam api yang bernyala nyala itu, akan tetapi ia nampak tertarik sekali dan terus duduk tak bergerak sampai pagi. Bahkan air mata yang mengalir turun membasahi pipinya entah ___ karena matanya pedas atau mengantuk, entah, karena memang ada yang disusahkan sama sekali tidak pernah dihapusnya. Pagi hari itu Bun Sam dibangunkan oleh kicau burung di atas kepalanya, ia membuka kedua matanya dan menarik napas panjang, akan tetapi tiba tiba ia terkejut dan cepat cepat bangun duduk. Tadinya ia mengira bahwa ia telah bemimpi yang amat hebat buruknya, akan tatapi ternyata semua itu bukan impian, ia merasa pundaknya sakit dan ketika matanya terbuka terang, ternyata ia berada di tempat yang sama sekali asing baginya, ia telah tentidur di atas rumput yang kini menjadi agak basah, di bawah sebatang pohon besar dalam hutan yang liar, ia mendengar suara api bernyala. Dengan hati ngeri karena teringat kepada peristiwa semalam, ia menengok ke belakang ke arah suara api. Makin kagetlah ia ketika melihat seorang laki laki duduk tak bergerak di dekat api unggun, hanya tangannya saja kadang kadang bergerak untuk menambah kayu kering ke dalam api uggun.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Muka Bun Sam yang sudah pucat menjadi makin pucat ketika ia melihat wajah orang itu. Kedua matanya lebar dan cekung seakan akan hanya merupakan dua lobang yang kosong dan hitam. Kulit mukanya berkerut kerut dan rusak sama sekali, sedikitpun tidak ada dagingnya lagi sehingga ia benar benar menyerupai seperti seorang tengkorak hidup. Kepala orang itu tertutup sama sekali oleh pengikat kepala dari kain hitam __ demikian pula pakaiannya semua berwarna hitam terbuat dan kain kasar. Tiba tiba Bun Sam melihat jubah luar warna hitam pula yang menyelimuti tubuhnya. Ia menggigil, setengah kedinginan, setengah ketakutan, Akan tetapi, tiba tiba saja pikirannya teringat kembali akan keadaan ayah bundanya dan tidak mempunyai harapan untuk hidup lagi, orang aneh atau tengkorak hidup inilah yang menolongnya. Dan tengkorak hidup ini telah membawanya lari seperti terbang cepatnya. Bun Sam adalah putera seorang bekas perwira dan ayahnya, Song Hak Gi adalah seorang yang memiliki ilmu silat cukup tinggi. Tidak jarang ayah yang mencintai anaknya ini sambil memberi pelajaran dasar ilmu silat, menceritakan bahwa di dunia ini banyak sekali hiapkek hiapkek (pendekar pendekar silat) yang tinggi kepandaiannya. Tengkorak hidup ini dapat berlari cepat seperti terbang, apakah dia bukan seorang hiapkek? Demikianlah, pikiran ini membuat Bun Sam yang baru berusia enam tahun itu memutar otaknya. Karena dia memang cerdik, diusirnya rasa takut yang timbul karena melihat muka yang menyeramkan itu dan desngan perlahan ia berdiri lalu menghampiri tengkorak hidup yang masih duduk termenung di depan api unggun itu. Dengan amat hormat ia lalu menjatuhkan diri berlutut di depan orang itu sambil menempelkan jidat pada tanah dan

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

berkata, Inkong (tuan penolong) yang budiman, saya menghaturkan terima kasih atas budi pertolongan in kong yang lelah menyelamatkan nyawa saya dari kematian. Akan tetapi apakah artinya pertolongan inkong itu? Ayah bundaku telah dibunuh orang, saya sendiri dikejar kejar oleh gerombolan Ang bi tin, agaknya mereka hendak membunuhku pula. Untuk apa inkong menolong saya? Untuk apa saya dibiarkan hidup lebih lama lagi, hidup seorang diri dan tidak berdaya? Setelah berkata demikian, tak tertahan lagi Bun Sam mengucurkan air mata. Semenjak anak itu menjatuhkan diri berlutut, orang aneh itu telah menatap wajahnya. Agaknya baru sekarang orang ini melihat wajah Bun Sam dan sepasang matanya yang lebar dan cekung itu nampak berkilat. Bun Sam memang seorang anak yang menyenangkan hati orang yang memandangnya. Kepalanya yang gundul nampak bersih dan bundar, sepasang matanya jeli dari lebar dengan manik mata yang bening alisnya hitam dan tebal memanjang dan mudah sekali diduga bahwa anak dengan wajah seperti ini kelak tentu akan menjadi seorang yang berhati jujur dan budiman. Ketika Bun Sam mengucapkan kata katanya yang penuh keluh kesah dan sesalan, tengkorak hidup ini hanya memandangnya saja tanpa menjawab. Kemudian setelah Bun Sam selesai bicara, ia lalu memegang pundak anak itu, membuka balutannya dan memeriksa lukanya. Bun Sam neringis kesakitan ketika balut itu dibuka, karene sebagian kain pembalut telah melekat pada lukanya. Akan tetapi, ia menggigit bibirnya ketika orang itu memaksa dan membuka kain pembalut itu sehingga luka pada pundaknya berdarah. Karena muka orang itu kini amat dekat dengan dia, Bun Sam dapat memandang dengan amat teliti dan ia kini dapat melihat bahwa orang ini bukanlah seorang tengkorak, melainkan seorang manusia biasa. Seorang manusia yang

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

mukanya telah rusak kulitnya, entah kenapa. Sepasang mata yang bersembunyi di dalam dua lobang gua itu ternyata amat tajam, sehingga Bun Sam tidak berani beradu pandang lama lama. Orang itu memeriksa lukanya, kemudian mengangguk angguk, mengeluarkan suara haha huhu, lalu meninggalkan Bun Sam. Tak lama kemudian ia datang lagi membawa beberapa batang ranting penuh daun daun hijau yang basah oleh embun. Dengan daun daun basah itu ia mencuci luka di pundak Bun Sam dan dengan beberapa helai daun muda yang hijau kekuningan yang amat halusnya, ia menutup llka itu yang lalu dibalutnya kembali. Inkong, kau baik sekali. Akan tetapi, siapakah Inkong ini dan saya hendak dibawa kemanakah? Tanya Bun Sam pula sambil memandang penuh perhatian, kini rasa takutnya lenyap sama sekali, berganti rasa kagum, berterima kasih dan juga kasihan. Ya, di dalam hati anak ini timbul perasaan kasihan melihat muka orang yang menolongnya ini. Akan tetapi si muka tengkorak itu tidak menjawab, hanya memandangnya dengan bibir bergerak mengarah senyum. Kemudian ia menudingkan telunjuknya ke arah dada Bun Sam, kemudian kepada dadanya sendiri, lalu ia menuding ke timur, agaknya ke arah puncak sebuah bukit yang nampak samar samar dari tempat itu. Inkong hendak membawaku ke bukit yang tinggi dan jauh itu? Ke tempat siapa dan mau apa? Akan tetapi orang itu hanya menggelengkan kepala kemudian menaruh telunjuknya di depan bibirnya. Bun Sam mengerti bahwa penolongnya tidak bisa bicara dan agaknya tidak mau memberi penerangan, bahkan minta kepadanya supaya menutup mulut seperti yang diisyaratkannya, maka ia pun diam saja. Tidak ada jalan

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

lain baginya tidak ada pilihan lain. Orang aneh ini telah menolongnya dan tentu telah mempunyai rencana untuk dirinya. Betapapua juga rencana tentang hidupnya di tangan orang aneh ini, sudah pasti akan jauh lebih baik dan aman apabila dibandingkan dengan keadaan hidupnya jika tidak ditolong oleh orang ini. Maka ia menerima nasib dan menananti saja ke mana orang ini akan membawanya. Si muka tengkorak itu tidak segera berangkat, melainkan menangkap seekor kelinci lebih dulu yang dipanggang dagingnya, kemudian ia bagi daging kelinci itu dengan Bun Sam. Melihat cara orang aneh itu menangkap kelinci, makin yakinlah hati anak itu bahwa penolongnya tentulah seorang hiapkek yang berkepandaian tinggi. Amat luar biasa dan mudah dia menangkap kelinci yang gemuk itu. Bun Sam sendiri tidak pernah menduga bahwa di dalam sebuah rumpun terdapat seekor kelinci yang gemuk sekali. Tiba tiba saja si muka tengkorak itu memungut sebutir batu dan dilemparkatnya batu itu ke dalam semak belukar. Seekor kelinci yang ketakutan karena sambitan batu itu melompat keluar dan hendak melarikan diri. Akan tetapi si muka tengkorak itu mengeluarkan seruan aneh dan tangan kanannya dengan jari terbuka dipukulkan ke depan ke arah kelinci itu dan aneh, kelinci itu tenguling seperti lumpuh kakinya. Dengan enaknya orang aneh itu lalu memegang telinga binatang itu dan menggunakan, kuku jarinya yang panjang untuk memotong leher kelinci dan mengulitinya. Benar benar mengherankan. Hanya dengan menggunakan kuku yang panjang, leher itu disembelihnya kemudian dengan guratan kuku pula, kulit binatang itu dapat dikupasnya semua. Tulang tulang kaki yang dibuang, ___ dengan sekali renggutsaja, seakan akan ___ kelinci itu ___ dari pada lidi.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Setelah selesai makan tanpa banyak membuang waktu lagi, orang aneh itu lalu memondong tubuh Bun Sam dan dibawa lari cepat menuju ke timur, simana sebuah bukit menjulang tinggi dengan puncaknya menyundul awan dan lenyap dikurung mendung. Orang aneh itu sengaja memilih jalan melalui hutan hutan dan tempat yang sunyi tidak ada manusia. Agaknya ia takut atau malu kalau kalau bersua dengan orang tentu akan menjadi kaget dan mengira bahwa dia seorang siluman yang menculik seorang anak kecil. Satu hari penuh orang itu berlari tiada hentinya. Bun Sam merasa heran sekali, heran melihat kekuatan orang ini yang berlari terus tanpa mengaso, lupa lelah lupa lapar. Juga ia merasa heran mengapa bukit yang sudah kelihatan itu, setelah orang ini berlari cepat sehari lamanya, masih juga kelihatan menjulang tinggi, kebiru biruan. Ia merasa lapar sekali. Denga kelinci yang pagi tadi memasuki perutnya sudah tidak ada bekasnya lagi. Turunkan saya, inkong! katanya, akan tetapi orang itu agaknya tidak mendengarnya atau tidak mau mendengarnya. Inkong, kau sudah sehari menggendongku, dari pagi buta sampai senja hari. Kau tentu lelah, turunkan saya, inkong! Akan tetapi, orang ini hanya memandangnya sambil menggelengkan kepala satu kali, seakan akan hendak menyatakan bahwa ia tidak lelah sama sekali. Inkong, turunkanlah saya! Saya lelah dan lapar! kata Bun Sam pula dan berbareng dengan ucapan itu, perutnya berkeruyuk keras. Kini orang aneh itu agaknya menaruh perhatian. Mereka berada di luar sebuah dusun yang amat miskin. Pohon pohon yang tumbuh di luar dusun pada gundul agaknya segala macam tumbuh tumbuhan yang masih muda sudah diambil orang. Janganlah terlihat kelinci liar di tempat itu atau binatang lain, bahkan seekor ayam

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

peliharaanpun tidak nampak. Alangkah miskinnya dusun ini. Orang itu kelihatan bingung. Anak itu lapar dan ia harus mencarikan sesuatu yang dapat dimakan. Akan tetapi di manakah ia bisa mendapatkan makanan? Ia memandang ke sana ke mari dan wajahnya yang seperti kedok itu nampak tidak berubah sama sekali, Bun Sam yaqg cerdik dapat menduga pikiran orang aneh itu. Inkong, kalau di sini tidak ada makanan, mengapa kita tidak masuk saja ke dalam kampung itu untuk membeli atau minta kalau inkong tidak punya uang, kita dapat minta makanan pada orang didusun. Sambil berkata demikian Bun Sam melangkah menuju ke kampung itu. Penolongnya yang aneh itu tidak menaruh keberatan dan sambil memegang tangan Bun Sam, ia juga berjalan bersama anak itu menuju ke kampung. Seperti sebagin besar dusun dusun lain di masa itu, dusun ini amat miskin. Begtu luar biasa miskinnya, sehingga gubuk yang kelihatan di dalam dusun itupun nampaknya lebih kotor dan buruk dari pada kandang kuda. Hampir semua hasil sawah ladang diperas habis oleh kepala kampung, seorang kaki tangan pemerintahan Mongol yang merupakan raja kecil di dusun itu. Tidak nampak sebuahpun warung nasi di situ. Bahkan sebagian besar pintu piatu rumah telah ditutup pada waktu senja hari itu, seakan akan penghuninya ingin siang siang tidur agar perutnya yang kosong tidak terlalu mengganggu. Beberapa kali Bun Sam mengetok pintu rumah orang dan dibuka oleh orang orang bertubuh kurus dan bermuka pucat. Maaf, lopek. Kami berdua adalah orang orang pengembara yang menderita kelaparan. Di manakah kami

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

dapat membeli makanan untuk mengisi perut di tempat ini? Tiap kali ia bertanya, yang ditanya memandang penuh keheraaan dan menjawab lesu, Kau mengimpi, nak dan kau benar benar sial datang ke dusun ini. Jangankan untuk dijual, untuk dimakan sendiri saja masih kurang banyak. Setiap hari ada orang mati kelaparan di sini maka jangan kau datang membawa berita bahwa kau kelaparan. Setelah melihat wajah orang aneh yang berdiri agak jauh, orang itu menjadi makin kaget, dan tanpa banyak cakap lalu membanting daun pintu di depan hidung Bun Sam. Bun Sam menjadi bingung dan juga penasan. Ia memandang penolongnya yang memberi tanda dengan tangannya agar supaya Bun Sam menunggu di tempat itu, yakni di depan rumah gubuk yang menutup pintunya terhadap mereka Di depan rumah itu terdapat sebuah bangku kayu dan anak ini lalu duduk di situ. Setelah memberi tanda dengan tangan bahwa ia hendak mencari makanan, si muka tengkorak itu lalu menggerakkan kedua kakinya dan bagaikan seekor burung rajawali, ia melayang naik ke atas dan lenyap di pohon pohon. Bun Sam menjadi kagum bukan main. Ayah nya juga pandai melompat ke atas genteng akan tetapi tidak secepat orang aneh ini. Alangkah akan senang hatinya kalau ia dapat memiliki kepandaian seperti penolongnya yang aneh itu. Ah, ia akan mencari gerombolan Ang bi tin dan hendak dibasminya semua sebagai pembalasan dendam atas kematian ayah bundanya. Sementara itu, bagaikan seekor kucing, si muka tengkorak itu berlari lari di atas genteng, mencari rumah yang paling besar dan bagus. Sebentar saja ia bisa mendapatkan rumah ini karena di tengah tengah kampung itu di antara rumah rumah kecil pendek macam gubuk di

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

sawah menjulang tinggi sebuah bangunan rumah gedung sehingga nampak menyolok dan ganjil sekali. Rumah ini gentengnya pun tebal dan kuning, bangunannya tinggi dari tembok tebal pula diri cahaya penerangan yang keluar dari celah celah genteng dan jendela, amat terang. Rumah ini adalah milik dari kepala kampung she Cia. seorang pemeras rakyat, penjilat pembesar atasan. Malam hari itu, seorang diri ia sedang duduk di kamar kerjanya dan biarpun berkali kali dan benganti ganti lima orang isteri dan selirnya datang membujuknya untuk pengi tidur, ia menolak dengan keras. Apakah yang menahan orang ini, sehingga ia sanggup menolak bujukan selir selirnya yang muda dan cantik? Tak lain tak bukan satu satunya benda yang dapat mengalahkan keserakahannya terhadap wanita cantik, hanya uang! Ia sedang menghitung uang emas dan peraknya yang di tumpuk di atas meja, sambil mengakurkannya dengan catatan di bukunya. Ada selisih beberapa tail perak dan bagi seorang hartawan atau lebih tepat bagi sebagian besar orang orang hartawan termasuk Cia thungcu (kepala kampung she Cia) ini, uang merupakan nyawanya dan beberapa tail perak atau bahkan beberapa potong uang tembaga merupakan sebagian daripada nyawanya itu. Kehilangan sedikit uang tembaga mendatangkan kemarahan kepadanya, kehilangan beberapa banyak uang perak mendatangkan kesedihan, kehilangan lebih banyak dapat mendatangkan penyakit dan kalau seandainya semua uangnya lenyap, sama halnya dengan nyawanya yang lenyap dan dapat mendatangkan maut! Pada saat Cia thungcu sekali lagi menghitung uang peraknya, tiba tiba matanya terbelalak kaget dan heran kini tumpukan uang peraknya yang tadinya ada tujuh tumpuk, kini tinggal lima tumpuk lagi! Bagaikan seorang ibu muda kehilangan anak bayinya, lurah Cia itu mencari ke sana ke

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

mari dengan muka pucat, ia sampai sampai menjenguk ke bawah meja dan membalik balik bukunya yang tadi diisi catatan catatan, lupa bahwa tak mungkin sekali dua tumpuk uang itu dapat terselip di antara lembaran lembaran bukunya. Ketika ia mengangkat kepalanya lagi dan memandang ke atas meja, ia kini tidak hanya membuka kedua matanya, akan tetapi juga membuka mulutnya lebar lebar. Sekarang tumpukan uang emasnya sebanyak tiga tumpuk itupun lenyap sama sekali. Celaka ia bermaksud menjerit, akan tetapi tidak ada suara keluar dari tenggorokannya, karena pada saat itu sesosok bayangan hitam bagaikan setan telah menerjang dari belakang dan menotok lehernya sehingga lurah itu tak dapat berteriak atau bengerak sama sekali. Dengan mata melotot, Cia thungcu hanya dapat memandang ke depan di mana kini terlihat seorang yang berpakaian hitam dan bermuka seperti tengkorak. Cia thungcu merasa seakan akan jantungnya hendak copot saking takut dan ngerinya. Yang berada di depannya ini tak mungkin manusia. Bayangan hitam itu mengambil pena diatas meja, mencelupkannya di dalam bak tinta lalu ia mencorat coret di dalam lembaran kertas yang terbuka. Di situ ia menulis beberapa huruf besar yang gagah dan indah dan berbunyi : ATUR BAIK BAIK KEHIDUPAN RAKYAT, KALAU TIDAK, LAIN KALI AKU DATANG MENGAMBIL KEPALAMU! Setelah menuliskan ini, orang itu berkelebat keluar dari jendela. Lurah she Cia itu masih saja duduk seperti patung dan menjelang tengah malam ketika seorang selir mudanya datang, selir ini menjerit dan gegerlah seisi rumah. Akan tetapi di luar rumah lurah itu terjadi hal hal yang lebih aneh dan menggemparkan lagi. Kepala pengawal lurah Cia, yang dianggap jagoan paling kejam di dalam

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

dusun itu, yang menjadi tukang pukul lurah Cia, ketika sedang berjaga dengan kawan kawannya dan main kartu, tiba tiba kehilangan dua lembar daun telinganya dan meja kursi di mana mereka bermain kartu, beterbangan sendiri menghantam para pengawal, sehingga tak seorangpun di antara mereka yang selamat. Semua babak belur dan benjol benjol matang bitu. Ini masih belum hebat. Di ujung dusun itu terdapat sebuah rumah besar juga yang sudah amat kuno dan seram sekali. Rumah ini sekelilingnya penuh dengan alang alang yang tinggi. Dilihat dari luar, rumah ini seperti tidak ada penghuninya, akan tetapi sebetulnya di situ terdapat penghuninya yang disegani orang karena dianggap gila. Orang gila ini bernama Gan Kiat dan sudah duda, hanya tinggal berdua dengan seorang anak laki lakinya yang baru berusia enam tahun. Akan tetapi semenjak pemerintah Mongol menguasai Tiongkok dan rakyat hidup amat sengsara, orang she Gan ini tiba tiba menjadi gila dan tidak mau bergaul dengan orang lain. Untuk makan dia dan anaknya, ia menjual semua perabot rumah dan barang barang miliknya satu demi satu, sehingga akhirnya rumah yang besar itu menjadi kosong seperti gua yang seram. Malam hari ia tak pernah menyalakan penerangan dan rumah itu nampak gelap dan hitam. Juga sudah setahun lebih orang orang tidak melihat anaknya yang bernama Gan Kui To. Pada malam hari terjadinya serangan atas diri lurah Cia dan para pengawalnya itu, terdengarlah jerit mengerikan di dalam rumah besar milik keluarga Gan yang kini disebut rumah setan itu. Orang orang yang mendengar jeritan ini, segera memburu keluar dan berdiri di depen rumah, ingin tahu apa yang terjadi. Nampak oleh mereka Gan Kiat yang sudah setengah tua dan kurus kering itu berlari ke luar

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

terhuyung huyung dan di belakangnya nampak seorang anak mengejarnya dan memukulinya dengan sepotong besi. Anak itu ternyata adalah Gan Ku To yang berusia enam tahun, akan tetapi alangkah mengerikan keadaan anak itu. Mukanya dan seluruh tubuhnya kotor, matanya merah, mulutnya berbusa dan berdarah seperti seorang iblis kecil menyeramkan sekali. Dengan pukulan bertubi tubi akhirnya Gan Kiat menggeletak dan tak bergerak lagi. Semua orang memburu dan berhasil merampas besi, dan menangkap anak kecil itu dan barulah mereka tahu bahwa anak itu telah gila. Aku bunuh kau! Orang tua gila. Aku bunuh kau! berkali kali Kui To berteriak teriak dengan marah dan mencoba untuk meronya ronta. Orang orang menghampiri Gan Kiat yang masih dapat merintih rintih. Ketika ia melihat orang orang mendekatinya, ia berbisik ___ sendiri kenapa dia tidak kubunuh dalam setahun kukurung di di dalam kamar gelap hanya kuberi makan kalau aku ingat saja akan tetapi setan itu tidak mau mampus. Ternyata bahwa dalam gilanya, Gan Kiat telah mengurung anaknya sendiri sampni setahun lamanya di dalam gelap, hanya diberi makan kalau ia teringat saja. Dapat dibayangkan betapa hebat penderitaan anak itu dan agaknya keadaan yang sedemikian hebatnya itu telah merubah jiwa anak ini dan ketika pada senja hari itu ayahnya membuka pintu kamarnya tiba tiba ia menyerang ayahnya sendiri dengan pukulan, tendangan, gigitan dan dengan nekad sekali. Ayahnya yang masih lemah dan juga pikirannya terganggu, melarikan diri dan dikejar kejar nya terus. Anak itu memungut sepotong besi dan memukuli ayahnya sampai ayahnya menggeletak di halaman depan dan ia ditangkap oleh penduduk ___

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

_____ dengan lemah. Gan Kiat ____ nafas terakhir. Orang orang ____ jadi marah sekali. Anak ini sudah gila! bunuh saja, kalau dilepas, ia akan nencari korban lain! Bunuh saja dan kita kubur bersama ayahnya! Bakar rumah setan itu! Mereka menyeret Gan Kui To yang kini sudah nampak lepas dan tak berdaya. Pergumulan nya dengan ayahaya tadi telah menghabiskan tenaganya dan ia menjadi lemah sekali, ia tak melawan dan beberapa pukulan tangan orang orang dusun yang marah itu sudah membuat hidung dan bibir nya berdarah dan kepalanya benjol benjol. Akan tetapi, tiba tiba anak itu lenyap dari tengah tengah orang orang dusun yang mengeroyok nya. Tentu saja semua orang menjadi terkejut sekali. Bagaimana anak yang sudah hampir pingsan itu tiba tiba saja bisa lenyap? Setan setan! Ini tentu perbuatan setan dan bubarlah orang orang itu, berlari kembali ke rumah masing masing dan biarpun orang orang di rumah lurah Cia ribut rebut, mereka tidak berani keluar, menanti sampai besok pagi. Adapun Gan Kui To, anak yang dikeram ayah nya sendiri sampai menjadi nekat dan membunuh ayahnya itu, kini telah dipondong dan dibawa lari oleh si muka tengkorak dan dibawa ke tempat di mana Bun Sam menanti kedatangannya. Anak itu masih saja duduk di tempat tadi dan nampaknya mengantuk sekali. Memang penolongnya pergi amat lama. Orang aneh ini setelah mendatangi rumah Cia thungcu dan mengganggu para pengawal, lalu membagi bagikan uang kepada rumah rumah penduduk, ia telah mengambil tiga tumpuk uang emas dan dua tumpuk uang perak dan kini setiap rumah ia datangi, ia buka gentengnya dan ia lemparkan beberapa

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

potong uang perak dan emas ke dlam rumah itu. Hal ini baru pada keesokan harinya menimbulkan kegemparan karena ketika orang aneh ini melakukan perbuatan itu, tak seorangpun dapat melihat atau mendengarnya. Ah, mengapa begitu lama, inkong ? tanya Bun San kepada penolongnya, akan tetapi ia menahan pertanyaan selanjutnya dan memandang heran ketika melihat bahwa penolongnya itu telah memondong seorang anak laki laki yang kepala dan mukanya luka luka. Tanpa berkata sesuatu, orang aneh itu mengeluarkan bungkusan dari sakunya dan memberikan bungkusan itu kepada. Ternyata itu adalah sebungkus kue terigu yang cukup banyak. Saking heran dan ingin tahunya, Bun Sun hanya sedikit saja makan kue itu. Dan penolongnya juga segera memegang tangannya dan menariknya pergi dari dusun itu. Pertiwa yang terjadi seperti yang dituturkan di atas itu, yakni tentang keluarga Gan yang menjadi gila kembali adalah akibat dari pada penggantian pemerintahan. Tentu saja memang harus diakui bahwa akal yang lemah dari Gan Kiat juga merupakan sebab yang amat utama. Gan Kiat dahulunya adalah seorang pembesar sipil berpangkat pembantu tikoan di kota Kun tong. Ia adalah seorang pembesar yang korup dan di dalam pekerjaannya ia hanya mengenal satu tujuan, yakni mengumpulkan uang dan harta sebanyak banyaknya dengan jalan yang paling nudah. Tentu saja, sesuai dengan pekerjaannya di kantor peradilan, usaha mengumpulkan uang ini dengan mudah ia dapatkan dengan jalan menerima uang sogokan dari mereka yang ingin dimenangkan dalam perkaranya, tidak perduli ia yang bersalah. Uang sogokan dari mereka yang ingin melihat keluarga atau sanaknya di perlakukan baik baik di dalam penjara, tidak perduli sanak itu adalah seorang

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

penjahat besar. Pendeknya, segala hal akan dapat terjadi dan akan dilakukan berakt bantuan dari pembesar she Gan ini asal saja, orang berani memberi tanda mata atau tanda jasa. Akan tetapi ketika pemerintah Goan tiauw berdiri, bintang orang she Gan ini mulai menyuram. Isterinya terserang penyakit panas sampai meninggal dunia. Hai ini amat dalam menggores hatinya karena Gan Kiat amat mencintai isterinya. Kini ia hidup berdua dengan putera tunggalnya, ialah Gan Kui To. Rupa rupanya nasibnya masih makin menurun. Bala tentara Mongol yang melakukan gedoran dan perampokan di sana sini juga mengganggu rumah nya dan menghabiskan harta benda Gan Kiat. Lebih berat lagi, Gan Kiat tidak berhasil menguasai pangkat lagi setelah ia terpaksa berhenti karena pemerintah lama telah bangkrut. Terpaksa ia menjual semua barang barangnya yang masih ada dan pindah ke dusun di kaki Gunung Oei san. Di sini ia memang memiliki sebuah rumah gedung kuno peninggalan orang tuanya, Bersama anaknya, ia tinggal di rumah kuno ini dan saking sedihnya, akhirnya otaknya tenganggu dan ia seperi orang gila. Keadaannya yang tadinya kaya raya berobah menjadi miskin dan makan dari barang barang yang dijualnya membuat Gan Kiat tidak dapat menahan lagi dan ia lalu mengeram puteranya di dalam kamar. Demikianlah sedikit riwayat singkat dari Gan Kui To yang telah membunuh ayahnya sendiri. Akan tetapi hal itu tidak diketahui penolongnya. Yang diketahtinya hanya bahwa ____ itu sedang dikeroyok dan hendak dibunuh oleh orang orang dusun yang kelaparan. Pada keesokan harinya, nampak tiga orang itu, seorang setengah tua yang sukar ditaksir berapa usianya, dengan

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

muka seperti tengkorak dan pakaian hitam, bersama dua orang anak laki laki yang sebaya, kurang lebih enam tahun, mendaki bukit yang tinggi dan penuh dengan hutan hutan liar dan pohon pohon indah, yakni Bukit Oei san yang tersohor. Gunung Oei san memang benar benar indah dan megah. Tidak saja puncak puncaknya menjulang tinggi menembus mega, juga di situ pemandangan amat aneh dan menarik. Pohon pohon tusam yang berwarna hijau dan berbentuk artistik, batu batu karang, yang amat aneh bentuknya seakan akan sengaja diukir oleh tangan alam yang perkasa, awan yang melaut biru dan dihias awan awan putih dan hitam gelap di sana sini, sungguh merupakan tamasya alam yang jarang terlihat di tempat lain. Terutama sekali pohon pohon tusam yang tumbuh di gunung itu benar benar ajaib, baik bentuk cabang cabang dan daunnya, maupun letak tumbuh nya. Pohon pohon ini dapat tumbuh di tempat tempat yang sama sekali tidak disangka orang. Di atas tebing tebing yang curam, di atas puncak puncak yang berkabut, di antara batu batu karang dan di atas tanah yang keras berbatu batu seakan akan pohon pohon itu tidak menghiraukan kebutuhan akar akarnya akan air. Bahkan ada pohon tusam yang tumbuh di atas batu karang. Hal ini tentu saja merupakan keanehan yang tak masuk di akal, akan tetapi kalau kita mendekati batu karang itu, kita akan melihat bahwa batu karang itu telah pecah dan di antara retakan itulah, maka dapat tumbuh pohon aneh itu, keadaan di gunung itu awan yang menghalangi matahari, batu batu karang tinggi yang mengapit pohon, angin gunung yang selalu bertiup, hawa yang amat dingin, pendeknya keadaan gunung yang hebat inilah yang membentuk pohon pohon tusam, sehingga merupakan pemandangan yang ___. Banyak pohon tusam

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

di dunia ini, akan tetapi tidak ada yang seindah, seaneh dan semenarik pohon pohon tusam di Gunuag Oei san. Setelah jalan mendaki gunung itu mulai sukar terhalang oleh batu batu karang yang tinggi serta jurang jurang yang dalam, orang tak aneh itu lalu memeluk pinggang Bun Sam dan Kui To dengan ke dua tangannya dan secepat burung terbang, ia melompati batu batu karang dan jurang jurang, mendaki dengan amat cepatnya. Siapakah sebetulnya orang aneh yang mukanya mengerikan seperti tengkorak ini? Tak seorangpun yang mengetahui akan hal ini dan sebaiknya kita pun mengikuti saja perjalanannya, karena kelak tentu akan tiba masanya rahasianya terbuka. Hanya dapat diceritakan di situ bahwa ilmu kepandaian orang ini benar benar hebat. Cara ia melompat lompat naik ke atas gunung Oei san sambil mengempit dua orang anak itu, benar benar menunjukkan bahwa ia telah memiliki ginkang yang sempurna. Bun Sam adalah seorang anak yang tabah dan ia sama sakali tdak memperlihatkan rasa takut melihat betapa tubuhnya melayang di atas jurang jurang yang dalam sekali. Sekali saja penolongnya ini merasa lelah dan kempitannya terlepas, tubuhnya akan jatuh ke dalam jurang dan akan hancur menerpa batu batu karang yang runcing merupakan mulut naga ternganga penuh gigi yang runcing dan tajam, itu. Akan tetapi, agaknya ketabahan hati Bun Sam masih kalah oleh Gan Kui To, anak yang tadinya disangka gila itu, setelah tertolong oleh si muka tengkorak, Kui To jatuh pingsan dan baru siuman setelah melakukan perjalanan setengah hari. Ia sadar seperti orang baru bangun dari tidur dan dari mimpi buruk, ia hanya merintih sedikit, akan tetapi setelah membuka matanya dan melihat Bun Sam, ia menggigit bibir, tidak pernah ia mengeluh lagi. Tanpa mengeluarkan ucapan sesuatu, ia lalu ikut berjalan dan tak

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

pernah bertanya kemana si muka tengkorak akan membawanya. Juga kepada Bun Sam ia tidak pernah bicara sepatah katapun. Akan tetapi setelah si muka tengkorak itu membawa mereka melompati batu batu karang dan jurang, Kui To tak dapat menahan kegirangan dan kegembiraan hatinya. Tadinya ia hanya diam saja, karena ia masih merasa terharu, menyesal, bingung, juga sedih dan ngeri mengingat keaadaan ayahnya yang dibunuhnya sendiri. Akan tetapi ingatan bahwa laki laki yang dibunuhnya itu ayahnya, sudah merupakan ingatan yang suram. Selama setahun dikeram ia menganggap laki laki itu sebagai musuh yang harus dibunuh nya, seperti tikus tikus yang dibunuhnya di dalam kamar tahanannya. Setahun ia tidak bicara dan biarpun di dalam otaknya ia masih dapat bicara, namun mulutnya tidak kuasa mengeluarkan kata kata. Bagus! Bagus! hanya dua kali ia berteriak bagus dan tiba tiba mendengar suaranya sendiri, Kui To menjerit dan terus pingsan dalam kempitan si muka tengkorak itu Bun Sam dapat melihat betapa kepala. tangan dan kaki anak itu terkulai dengan lemas, maka ia cepat berkata, Inkong. dia pingsan. dia sakit Akan tetsapi, orang aneh itu tidak menjawab dan tidak mengurangi larinya yang cepat. Mereka telah tiba di lereng dan kini bahkan berlari lebih cepat lagi, menuju ke puncai yang tertutup oleh halimun yang putih keruh, membuat pandangan mata menjadi gelap. Bun Sam tidak dapat melihat apa apa lagi, kecuali uap putih yang membuat matanya terasa pedas dan seluruh tubuhnya terasa dingin sekali. Si muka tengkorak terus saja berlari. Mereka telah melewati dua buah puncak yang tinggi dan akhirnya,

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

setelah Bun Sam hampir membuka mulut menyatakan tidak kuat lagi, sampailah mereka di sebuaah puncak. Bun Sam diturunkan dari kempitan, akan tetapi Kui To masih dipondong, karena anak ini masih pingsan. Ketika Bun Sam ___ hampir ia berteriak saking kagum dan heran. Puncak ini ternyata paling tinggi di antara semua puncak di Pegunungan Oei san, akan tetapi aneh dan ajaib. Kalau puncak yang lain, yang iebih rendah daripada puncak ini, tertutup oleh halimun yang merupakan awan awan putih, adalah puncak tertinggi ini amat bersih dan mendapat penerangan matahari yang kuning keemasan. Pohon pohon tusam yang luar biasa anehnya tumbuh di puncak ini dan puncak ini dikelilingi oleh batu batu karang, jurang jurang yang semua terbentang di bawah. Jilid II Bukan main indahnya. Bun Sam berseru dan lupalah ia akan kelaparan perutnya, kelelahan tubuhnya dan kesedihan hatinya. Ia tentu akan berdiri di situ terus, memutar mutar tubuh memandang ke sekeliling puncak, kalau saja si muka tengkorak tidak memegang tangannya dan mengajaknya melanjutkan perjalanan, menuju kesebuah hutan kecil dari pohon pohon tusam yang berada di tempat paling tinggi. Di hutan yang indah, penuh dengan pohon pohon tusam yang tua dan bunga bunga beraneka warna ini, terdapat pula banyak sekali batu batu karang besar yang bentuknya bermacam macam, ada yang seperti mulut naga, ada pula yang berbentuk empat segi dan bundar. Dan di tengah tengah hutan kecil ini, terdapat sebuah pondok bambu yang sederhana dan bersih. Ketika mereka berjalan menuju ke pondok itu, seorang kakek ke luar dari

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

pintu pondok yang tidak berdaun pintu. Kakek ini sudah tua sekali, berpakaian kuning dan membiarkan rambutnya yang putih dan panjang tarurai di punggungnya. Yap Bouw, kau baru datang? terdengar suara kakek itu berkata dengan halus akan tetapi di dalam kehalusan suaranya ini mengandung sesuatu tenaga yang menggetarkan hati Bun Sam. Si muka tengkorak ketika melihat kakek ini lalu menghampiri dan menjatuhkan diri berlutut di depan orang tua itu, lalu menggerak gerakkan kedua tangannya. Sepuluh buah jari tangannya bergerak gerak seperti seorang penari dan kakek itu memandang dengan penuh perhatian. Ternyata bahwa dengan bahasa gerak jari, si muka tengkorak itu sedang menceritakan kepada kakek ini tentang kedua orang anak yang dibawanya. Bun Sam adalah anak yang cerdik. Melihat sikap penolongnya terhadap kakek yang lemah lembut ini, tahulah ia bahwa kakek ini tentu bukan orang sembarangan. Kalau penolongnya yang demikian gagah perkasa masih memperlihatkan penghormatan sebesar itu, tentulah kakek ini seorang sakti yang sering kali didongengkan oleh ayahnya sebagai pertapa pertapa yang sudah menjadi manusia setengah dewa. Oleh karena itu, tanpa ragu ragu lagi ketika kakek itu memandangnya, ia lalu menjatuhkan diri berlutut di depan kakek itu dan berkata, Teecu (murid) bernama Song Bun Sam, ayah bunda teecu terbunuh oleh gerombolan Ang bi tin dan kalau teecu tidak tertolong inkong (tuan penolong) ini, entah bagaimana jadinya dengan diri teecu Aku tahu, aku tahu... Yap Bouw sudah menceritakan padaku tentang keadaanmu. Sudahlah, Bun Sam, tak perlu kau memikirkan hal hal yang sudah lalu, tak perlu kau mengingat ingat peristiwa yang terjadi. Paling baik kau

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

memandang ke depan ke masa mendatang. Kau tentu tidak mempunyai keluarga lagi, bukan? Bun Sam menggelengkan kepalanya Keluarga ayah dan ibu memang ada, akan tetapi teecu tidak tahu lagi di mana tempat tinggal mereka. Kalau begitu, sukakalah kau tinggal di sini bersama aku dan Yap Bouw dan Siauw liong (Naga Kecil)! Aku disebut orang Kim Kong Taisu dan kau boleh belajar apa saja tang kau sukai di tempat ini. Bun Sam cepat mengangguk anggukkan kepalanya dan berkata, Kalau suhu dan inkong sudi memberi tempat kepada teecu, teecu akan suka sekali tinggal di sini. Biarpun dijadikan pelayan, teecu akan menerima dengan penuh perasaan terima kasih. Sambil berkata demikian, Bun Sam diam diam mengerling ke arah pondok kecil itu. Karena tadi kakek ini menyebut nama Siauw liong, tidak tahu siapa dan apakah Siauw liong itu? Kalau orang, tentulah seorang anak karena sebutan siauw (kecil) itu biasanya dipergunakan untuk seorang anak anak. Akan tetapi tidak ada sesuatu yang muncul dari gubuk itu. Pada saat itu. Gan Kui To, siluman kembali dari pingsannya. Tadi ketika ia mengeluarkan seruan bagus sampai dua kali, ia merasa terkejut mendengar suaranya sendiri dan suaranya inilah yang mengembalikan ingatannya. Ia teringat akan ayahnya yang telah dibunuhnya, ingat akan pengeroyokan orang orang dusun yang hampir menewaskannya. Semua terbayang dalam ingatannya dan demikian mengerikan, sehingga ia menjadi pingsan. Kini, setelah ia mengerang dan membuka mata, ia memandang kepada si muka tengkorak, kepada kakek itu dan kemudian melirik ke arah Bun Sam. Kui To biarpun

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

memiliki wajah yang tampan, akan tetapi matanya terlalu sipit sehingga hanya merupakan garis yang kecil melintang di antara telinganya. Kemudian ia menangis keras, tersedu sedu dan menyembunyikan mukanya di dalam kedua tangannya. Kakek itu mengerutkan keningnya. Agaknya ada sesuatu yang pengganjal hatinya akan tetapi ia kasihan juga melihat Kui To yang menangis terisak isak itu. Diamlah, nak. Tak perlu air mata dihamburkan menyesali hal yang sudah lalu, yang tak dapat diperbaiki lagi. Kau anak siapakah, di mana orang tuamu dan mengapa kau sampai dikeroyok dan akan dibunuh oleh orang orang dusun? Apa salahmu? Kui To biarpun baru berusia enam tahun, namun iapun memiliki kecerdikan yang luar biasa. Kecerdikan ini diperolehnya ketika setahun lamanya ia di keram dalam kamar. Ia biasa mempergunakan otaknya dengan diam diam dan kini mendengar pertanyaan kakek ini, legalah hatinya. Ternyata bahwa orang orang ini tidak tahu bahwa ia telah membunuh ayahnya! Aku aku kelaparan dan mencuri makanan.... ketahuan oleh pemiliknya lalu dikeroyok.... katanya di antara isak tangisnya. Kembali kakek itu menarik napas panjang sambil mengerutkan keningnya. Pandang matanya kepada Kui To amat tajam dan Bun Sam amat terkejut melihat betapa sinar kilat bercahaya dalam manik mata orang tua itu. Juga Yap Bouw dengan cepat menggerak gerakkan kedua tangannya seakan akan ia menceritakan sesuatu. Memang sesungguhnya Yap Bouw menceritakan kepada Kim Kong Tahu bahwa ia mendengar orang orang dusun menyebut anak itu gila. Kakek itu mengangguk angguk dan nampak sabar lagi. Betapapun juga, kau patut dikasihani dan memang tidak

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

salah Yap Bouw menolong dan membawamu ke sini. Siapa namamu dan di mana orang tuamu? Sebelum menjawab, Kui To mengeringkan air matanya dengan gerakan yang dapat menimbulkan kasihan. Aku bernama Gan Kui To, kedua orang tua ku telah meninggal dunia. Aku seorang yatim piatu yang hidup sebatatng kara, mohon kau orang tua suka menolongku.... Memang sungguh mengherankan juga bagi Kui To sendiri, mengapa sekarang ia dapat bicara amat lancarnya, padahal tadi nya, sering kali di dalam kamar tahanan ia meragukan apakah ia bisa bicara pula selelah setahun lebih tak pernah bicara itu, kini ternyata bahwa suaranya amat nyaring dan bening, penuh tenaga dan semangat, sungguhpun dibuka untuk mengucapkan kata kata sedih. Hm, Kui To, sukakah kau tinggal di sini menjadi muridku, seperti Bun Sam ini? Kui To melirik kepada Bun Sam. Ia tidak tahu asal usul pemuda cilik ini dan tadinya ia mengira bahwa anak ini tentulah kawan dari penolongnya yang bermuka tengkorak itu. Kini mendengar pernyataan kakek itu, ia dapat menduga bahwa anak inipun seorang yang baru datang. Pelajaran apakah yang hendak kau berikan kepadaku, maka aku harus menjadi muridmu? Bun Sam yang mendengar gaya bahasa dari Kui To yang diucapkan terhadap suhunya, amat mendongkol. Akan tetapi, tidak demikian dengan Kim Kong Taisu. ia tersenyum dan berkata, Tergantung dari bakatmu sendiri. Tidak ada guru yang lebih pandai daripada watak dan bakat sendiri, guru luar hanya memberi petunjuk dan bimbingan belaka.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Sesungguhnya, di dalam hatinya, Kui To tidak suka tinggal di tempat yang sunyi dan tidak menarik hatinya ini. Akan tetapi ketika ia mengerling ke arah Bun Sam, timbul rasa hatinya yang tidak mau kalah oleh anak ini. Kalau anak itu dapat belajar di sini, mengapa aku tidak? Dan kalau tidak mau hendak pergi ke mana? Maka iapun lalu berlutut dan berkata, Baiklah, suhu. Teecu mau tinggal di sini menjadi murid dari suhu. Demikianlah, Bun Sam dan Kui To semenjak hari itu tinggal di puncak Gunung Oel san dan menjadi murid Kim Kong Taisu. Pada malam hari itu, Bun Sam yang disuruh bermalam bersama Kui To di dalam pondok sedangkan Kim Kong Taisu dan Yap Bouw tidak diketahuinya di mana bermalamnya, dengan diam diam keluar dari biliknya dan menuju ke tempat terbuka di depan pondok. Langit penuh dengan bintang bintang, mendatangkan pemandangan yang luar biasa sekali. Karena tempat di mana ia berdiri itu memang tinggi sekali, kini ia dapat melihat betapa langit di atasnya amat luas. Bun Sam berdiri tak bergerak, merasa heran mengapa makin jauh, bintang bintang itu nampaknya makin rendah. Melihat bintang bintang itu tak terasa pula air mata menitik turun dari kedua matanya. Baru beberapa malam yang lalu, ia bersama ibunya juga melihat bintang bintang di langit. Ibunya pernah mempelajari ilmu perbintangan dan sering kali ibunya mendongeng tentang bintang bintang di langit. Bintang kita amat suram, Sam ji, kata ibunya pada malam itu. Bukan hanya bintang kita, melainkan bintang semua rakyat dan bangsa kita. Entah apa yang akan terjadi dengan nasib kita sekalian rakyat Tiongkok.... Teringat akan ini semua, Bun Sam terbayang betapa ayah bundanya roboh mandi darah di depan ramah mereka.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Hanya dengan mencekik lehernya sendiri Bun Sam dapat mencegah suara tangisnya. Ayah ibu aku bersumpah, disaksikan oleh semua bintang di langit, bahwa kelak anakmu Bun Sam pasti akan dapat membasmi semua pembunuhmu.... Setelah berkata demikian, Bun Sam lalu berlutut dan melakukan penghormatan pai kwi (berlutut sambil mengangguk anggukkan kepalanya) sebanyak puluhan kali. Saking sedih dan terharunya ia tidak mau berhenti henti melakukan penghormatan yang ditujukan kepada arwah ayah bundanya. Semua perbuatan ini ia lakukan sambil bercucuran air mata. Eh, eh, eh, kau sedang apa apaan ini? tiba tiba di belakang Bun Sam sudah berdiri Kui To yang menegurnya dengan suara ejekan. Bun Sam sadar dari hikmat yang mempersonakan seluruh ingatannya tadi. Ia berhenti mengangguk anggukkan kepalanya, membuka kedua mata yang semenjak tadi ditutupnya lalu berbisik. Ayah.... ibu dengarlah semua doaku tadi. Kemudian ia bangkit dan bangun menghadapi Kui To. Kau belum tidur? tanyanya karena memang pertanyaan Kui To tadi tidak didengarnya jelas hanya cukup keras untuk menyadarkan nya. Tentu saja belum, kalau sudah sudah tidur engkau mana bisa berada di sini? Eh, Bun Sam kau sedang melakukan apakah tadi? Kedua orang anak ini sebelum tidur tadi telah saling berkenalan dan biarpun mereka tidak merasa cocok satu kepada yang lain, akan tetapi kehadiran masing masing merupakan hiburan juga dan mereka telah saling mengenal nama.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Aku sedang melihat bintang bintang di langit! jawab Bun Sam. Bohong! Masa melihat bintang di langit sambil berlutut dan bersembahyang? Bun Sam kewalahan terpaksa mengaku. Aku sedang bersembahyang kepada ayah bundaku, suaranya tercekik karena keharuan memenuhi lehernya. Tiba tiba Kui To tertawa terbahak, sehingga Bun Sam memandang dengan heran sekali. Kenapa kau tertawa? Akan tetapi Kui To masih saja tertawa seakan akan merasa gembira dan geli hati sekali, kemudian ia berhasil juga menekan suara ketawanya dan berkata, Aku girang karena nasib kita sama. Akupun tidak punya ayah ibu lagi! Bagaimana ayah ibumu bisa mati? Bun Sam mendongkol sekali. Alangkah anehnya tabiat kawan ini. Biarpun kau girang karena nasib kita sama, tidak perlu kau mentertawakan aku yang sedang teringat kepada orang tuaku. Kau tidak tahu, Kui to, ayah bundaku telah terbunuh dengan amat kejam oleh gerombolan Ang bi tin! Bahkan Can pekhu yang hendak menolongku telah terbunuh pula. Aku bersumpah hendak belajar ilmu silat dan hendak kubasmi semua Gerombolan Alis Merah itu! Kembali Kui To tertawa. Suara ketawanya nyaring dan kerat sekali, sehingga bergema di bawah gunung. Eh, Kui To, apakah kau gila? Mengapa kau tertawa terus? Bun Sam benar benar menjadi gemas.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Bagaimana aku tidak tertawa? Kau....yang bertubuh kurus dan bermuka pucat ini hendak membasmi Ang bi tin? Ha, ha, ha! Seperti cacing hendak menantang ayam! Aku sih tidak benci kepada Ang bi tin dan tidak akan memusuhi mereka! Bun Sam menjadi panas hatinya. Tentu saja aku akan belajar ilmu kepandaian dulu. Aku akan belajar dari suhu dan akan belajar dari Yap suheng. Yap Suheng yang menjadi murid suhu, biarpun gagu memiliki kepandaian tinggi. Kalau aku sudah belajar sampai tamat, mengapa aku takkan dapat membasmi gerombolan siluman jahat itu? Kau lupa kepadaku?. Kau.... Ya, aku! Apa kau kira hanya kau sendiri yang akan dapat memiliki ilmu kepandaian? Dengan adanya aku di Ang bi tin, kau tak mungkin aka dapat membasmi mereka! Kau di Ang bi tin...?? Bun Sam benar benar tertegun dan memandang dengan mata terbelalak. Mengapa tidak? Mereka bukan musuh musuh ku dan kalau kau boleh memusuhi mereka dan hendak menghancurkan mereka, akupun bebas untuk memihak dan membantu mereka. Kenapa, apakah kau takut kepadaku? Ha, ha, ha! Kembali anak ini tertawa gelak gelak dan matanya yang sipit itu makin mengecil. Giginya nampak berkilat tertimpa cahaya bintang bintang yang suram. Manusia jahat! Bun Sam tiba tiba menjadi benci sekali dan ia memukul muka bermata sipit itu. Kui To terguling, akan tetapi ia cepat bangun kembali. Eh, kau berani memukulku? Dan anak ini lalu menerkam Bun Sam seperti seekor binatang buas,

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

mempergunakan kedua tangan, kedua kaki, bahkan giginya ikut pula menyerang! Bun Sam pernah mendapat latihan ilmu silat dari ayahnya yang menjadi bekas perwira, maka melihat serangan ini, ia cepat dapat mengatur langkah dan mundur dua tindak dan ketika Kui To mendesak terus, ia mengirim tendangan yang tepat mengenai dada anak itu. Kembali Kui To terguling dan mengaduh ketika kepalanya terbentur karang. Akan tetapi semangat perlawanan anak ini benar benar luar biasa sekali. Biarpun mulutnya mengeluarkan keluhan, namun ia bangkit lagi dengan cepat sekali dan kembali ia menerjang Bun Sam, bahkan jauh lebih ganas daripada tadi. Kubunuh kau kubunuh kau..... desis nya sambil menyerang. Biarpun Bun Sam sudah pernah mempelajari ilmu silat dan mempunyai dasar dasar gerakan yang teratur dan teguh, namun mengadapi serangan membabi buta dan nekat ini, ia tidak berdaya. Akhirnya Kui To berhasil menangkapnya dan bergumullah dua orang anak ini di atas tanah. Bun Sam lebih sehat tubuhnya dan lebih besar tenaganya, juga kedua tangannya terlatih dan lebih kuat. Akan tetapi ia kalah nekat, maka pergumulan itu amat seru dan ramai. Tiba tiba terdengar suara perlahan, Siauw liong (Naga Kecil), kau pisahkan dua orang anak nakal itu! Bun Sam dan Kui To mendengar suara ini dan Bun Sam yang mengenal suara Kim Kong Taisu segera melepaskan kedua tangannya yang tadi mencengkeraman pundek Kui To. Akan tetapi, Kui To yang juga mengenal suara kakek itu tidak mau berhenti bergumul, bahkan ia mempergunakan kesempatan ketika Bun Sam melepaskan

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

kedua tangannya untuk secepat kilat mencekik leher Bun Sam. Cekikan ini kuat sekali dan Bun Sam berusaha melepaskannya dengan sia sia. Akan tetapi pada saat itu, Kui To merasa betapa pinggangnya dipegang oleh sesuatu yang amat kuat dan sekali renggut saja tubuhnya telah terlepas dari Bun Sam. Hampir ia berteriak saking kagetnya ketika ia melihat bahwa yang memegangnya itu adalah ekor dari seekor ular yang amat besar. Juga Bun Sam menjadi pucat ketakutan ketika melihat kepala Seekor ular yang besar mengerikan berada dekat dengannya. Ia cepat melompat bangun dan berlari ke arah Kim Kong Taisu kemudian ia menjatuhkan diri berlutut tanpa berani mengangkat mukanya. Siauw liong, kau lepaskan dia! kembali terdengar suara halus kakek itu. Seperti mengerti maksud ucapan kakek itu, ular yang tadi membelitkan ekornya pada pinggang Kui To, lalu melepaskan belitannya, sehingga tubuh Kui To terguling dan jatuh di atas tanah. Akan tetapi keberanian anak ini benar benar luar biasa sekali. Bukan hanya karena keberaniannya, akan tetapi juga oleh karena ia memiliki kecerdikan dan kelicikan yang hebat, maka begitu ia dilepaskan oleh ular itu ia lalu menerjang ular itu, menendang dan memukul tubuh ular yang besarnya lebih sepelukan lengannya. Ular itu mendesis marah dan menggerakkan kepalanya ke arah Kui To, akan tetapi kembali Kim Kong Taisu mencegahnya, Siauw liong, jangan melayani dia dan kembalilah ke gua! Ular bernama Siauw liong (Naga Kecil) itu lalu merayap pergi dan tubuhnya yang berlenggak lenggok itu nampak berkilau tertimpa sinar bintang bintang di langit yang kini tampak makin gemilang karena langit di belakangnya menjadi makin hitam. Memang Kui To amat

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

cerdik, ia tadi sudah mendengar betapa ular besar itu dapat diperintah oleh Kim Kong Taisu, maka dengan adanya kakek itu di situ, ia menjadi berani, ia dapat menduga bahwa kalau ular itu hendak mengganggunya, tentu akan dicegah oleh Kim Kong Taisu yang telah menjadi suhunya dan ternyata benar dugaannya itu. Kalian ini mengapa tidak pergi tidur, sebaliknya bergumul di sini? kakek ini menegur dengan suara keras. Suhu, Bun Sam memukul lebih dulu kepada teecu, kais Kui To yang kini andai berlutut juga. Kim Kong Taisu memandang tajam kepada Kui To, kemudian ia menengok ke arah Bun Sam yang masih menundukkan mukanya. Benarkan, Bun Sam? Benar, suhu. Memang teecu yang memukulnya lebih dulu! Hm, sudahlah, kalian pergi tidur. Lain kali tidak boleh berkelahi dan lupakan perkara yang sudah sudah. Setelah berkata demikian, Kim Kang Taisu berlalu dan lenyap di balik pohon tusam kembar yang tumbuh di situ. Kui To maafkan aku.....Bun Sam berkata kepada tawannya. Maaf...........? Ha, ha, ha! Perlu apa mesti maaf memaafkan! Aku sudah lupa lagi, seperti perintah suhu tadi. Ayoh tidur! Bun Sam kembali tertegun dan memandang kepada Kui To yang berlenggang masuk ke arah pondok yang mereka tinggali. Orang macam apakah yang menjadi kawannya ini? Demikian aneh wataknya.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Luka di pundak Bun Sam dan juga bekas bekas pukulan orang dusun di seluruh tubuh Kui To belum sembuh benar. Ditambah pula oleh pergumulan malam tadi, tidak mengherankan apabila pada keesokan harinya ketika mereka bangun tidur, keduanya merasa seluruh tubuhnya sakit sakit. Hari masih pagi sekali dan di dalam bilik mereka masih gelap dan dingin. Agaknya matahari belum muncul. Sayup sayup terdenyur bunyi ayam ayam hutan berkeruyuk, akan tetap di luar pondok telah ramai kicau burung pagi yang tadi membangunkan dua anak itu. Bangun, Kui To. Suhu kemarin memesan supaya kita bangun pagi pagi dan mengisi kolam itu dengan air dari air terjun di bawah lereng. Aku masih mengantuk..... tubuhku terasa penat penat dan sakit sakit.... Kui To menggeliat geliat beberapa kali. Kasihan juga. Bun Sam melihat keadaan kawannya ini. Betapapun ganjil watak kawan ini, akan tetapi pada waktu itu, hanya Kui To seoranglah kawannya, kawan senasib, kawan seperguruan. Kalau begitu, biarlah aku sendiri yang mengisi kolam, Kui To. Dan kalau suhu tahu, biarlah kukatakan bahwa kau masih sakit sakit tubuhmu dan belum kuat mengambil air. Ucapan ini membuat Kui To melompat turun cepat sekali. Apa? Kau mau bikin aku malu kepada Suhu? Biar aku dianggap anak malas tidak mau bekerja? Tidak! Sekali lagi Bun Sam melengak menyaksikan tabiat yang aneh ini mudah tersinggung dan juga mudah sekali melupakannya kembali.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Sesukamulah maksudku hanya menolongmu, katanya sambil berjala keluar, ke dalam hawa pagi yang sejuk dan dingin. Sambil mengomel panjang pendek, Kui To juga melompat turun dan mengikutinya menuju ke bawah lereng sebelah selatan di mana terdapat air terjun. Sebelum berangkat, Bun Sam mengambil pikulan yang digantungi dua tempat air dari kayu. Di situ terdapat dua buah pikulan dan sengaja Bun Sam mengambil pikulan yang paling besar. Sambil bersungut sungut Kui To mengambil pikulan yang kecil dan mengikuti Bun Sam tanpa bercakap cakap lagi. Tempat air mancur itu jauhnya ada dua li dari pondok dan dua buah kolam yang harus diisi cukup besar, sehingga kalau mereka berdua mempergunakan dua pikulan itu diisi penuh, agaknya kolam kolam itu tidak akan penuh dengan duapuluh kali isian! Ketika berangkat ke air terjun itu memang tidak berat selain jalannya turun, pikulannya kosong, juga badan belum lelah. Akan tetapi setelah tong tong air itu diisi dan pikulan dipanggul, terasalah beratnya. Baik Bun Sam yang memikul tong besar maupun Kui To yang memanggul tong lebih kecil, kuat memikulnya. Akan tetali setelah mereka mulai mendaki jalan yang berbatu batu dan naik meninggi makin lama langkah mereka makin berat dan tulang pundak serasa hendak patah patah. Terpaksa air di dalam tong dikurangi, dibuang sebagian dan demikianlah, makin meninggi, makin berkurang isi tong, sehingga ketika mereka tiba di kolam, air di dalam tong tong yang dipikul itu tinggal seperempat bagian saja. Kedua anak itu tentu saja menderita sekali dan dari sikap mereka menghadapi pekerjaan berat ini, mudah saja dilihat watak mereka. Kalau Bun Sam bekerja dengan diam saja dan mengerahkan seluruh tenaga dan ketekunannya, sebaliknya Kui To mengeluh panjang pendek dan segala apa disumpahinya. Dari air terjun, sampai pikulan dan tong

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

kolam, batu batu karang yang tajam dan melukai telapak kakinya, semuanya dimaki maki sepanjang jalan. Akan tetapi, ia tidak berhenti bekerja, bukan saja takut terhadap Kim Kong Taisu, terutama sekali malu hati dan tidak mau kalah melihat betapa Bun Sam masih melanjutkan pekerjaan! Agar jangan terlalu terasa beratnya pekerjaan itu di waktu mereka berangkat lagi ke air terjun memikul pikulan dan tong kosong, Bun Sam mengajak Kui To bercakap cakap. Kui to, ingatkah kau kepala Siauw liong? Ia hebat sekali bukan ! Naga siluman itu? Kelak kalau aku sudah besar, akan kupukul pecah kepalanya! kata Ke To sambil cemberut marah karena ia teringat betapa ular itu telah membelit pinggangnya. Hush, Kui To. Ular besar itu adalah binatang peliharaan suhu. Tidak peduli, kalau dia mengganggu aku, dia menjadi musuhku. Suhu tentu akan membantuku, berat mana murid atau binatang peliharaan? Diam diam dari samping, Bun Sam melirik ke arah kawannya ini. Melihat betapa kawannya itu berjalan terpincang pincang, ia merasa geli dan kasihan juga. Ia dapat menduga bahwa kawannya ini selama hidupnya tak pernah bekerja berat dan belum pernah berlatih silat, maka tubuhnya lemah dan tidak kuat bekerja kasar. Hanya semangat dan keberaniannya saja yang benar benar amat mengagumkan. Hal ini harui ia akui, karena biarpun ia sendiri menang tenaga dan sudah berlatih silat, malam tadi sukar baginya untuk memenangkan kawan yang amat bandel dan berani ini.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Sudah empat kali mereka membawa air dari air terjun ke kolam di belakang pondok itu. Kim Bun Sam dapat membawa setengah tong air, sedangkan Kui To dalam malasnya masih saja hanya mengisi tongnya seperempat saja, padahal tongnya itu lebih kecil daripada tong Bun Sam. Bun Sam, mengapa suhu dan si gagu itu tidak kelihatan? Alangkah malas mereka itu, matahari sudah naik tinggi masih mendengkur, membiarkan kita anak anak kecil bekerja setengah mampus! Hush, Kui To, jangan kau bicara seperti itu! Juga kau salah sekali kalau menyebut Yap suheng dengan sebutan menghina. Lupakah kau bahwa dia yang menolong nyawa kita berdua? Kalau tidak ada Yap suheng, kau dan aku sudah mati. Pula suhu menyuruh kita bekerja tentu ada maksudnya, baru bekerja seringan ini saja kau sudah mengeluh, apalagi kalau harus mempelajari ilmu silat yang amat sukar dan berat. Jangan jangan baru setengah nya kau sudah tak kuat lagi ! Bun Sam, kau selalu memandang rendah kepadaku. Kaukira aku takut kepadamu dan mengaku kalah? Kita sama lihat saja, kawan. Boleh kita lihat kelak, apakah kau yang rajin ini akan dapat memiliki kepandaian yang lebih tinggi dari padaku. Melihat Kui To memandang marah dan kedua matanya mengecil, tahulah Bun Sam bahwa kalau menjawab, tentu Kui To akan mencari urusan lagi. Ia tidak mau meladeni kawan yang otak otak an ini, lalu berkata sabar, Matahari telah naik tinggi, ayoh kita percepat jalan! Akan tetapi ketik mereka tiba di tempat air terjun, keduanya menahan tindakan kaki dan berdiri memandang dengan heran. Di tempat itu telah duduk seorang laki laki

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

tua yang bicara seorang diri sambil bersila menghadapi sebuah keranjang kembang. Keadaan orang itu benar benr aneh sekali, ia sudah berusia enampuluh tahun lebih, rambutnya yang putih itu digelung ke aras dan ditusuk dengan sebatang tulang putih. Sepasng matanya selalu melotot sepsrti mata katak yang jarang berkedip. Pakaiannya lebih mengherankan, karena pakaiannya itu terdiri dari celana lebar dan jubah komprang yang kesemuanya terbuat daripada kain berkembang kembang seperti yang biasa dipakai olah orang orang perempuan. Kui To berjalan mendekat, diikuti oleh Bun Sam yang ragu ragu dan curiga. Keadaan kakek ini benar benar amat menimbulkan curiga dan keheranan. Setelah mereka dekat, ternyata bahwa keranjang yang dihadapi oleh kakek ini, dipasangi tongkat yang berkepala naga dan di atas kepala tongkat ini masih dipasangi sebatang hio (dupa biting) yang mengebulkan asap. Keranjang itu diletakkan di atas tanah dan di tengah tengahnya dipasang sebatang ranting kering yang runcing. Biarpun kedua orang anak itu sudah berada dekat sekali, kakek itu tidak memperdulikannya, karena agaknya ia sedang asyik sekali bercakap cakap dengan keranjang itu. Ha, ha, ha, Lak Mou Couwsu, kau tidak usah penasaran. Ilmu silat ciptaanmu memang hebat dan besar pada zamanmu, akan tetapi sekarang tidak ada gunanya lagi bagimu, apalagi orang orang sekarang yang masih hidup mempunyai kepandaian yang jauh lebih tinggi daripadamu! Apalagi aku, Seng Jin Siansu ha, ha, ha! Jawablah! Lak Mou Couwsu, bagaimanakah cara memecahkan jurus terakhir dari Ilmu silatmu, jurus yang disebut Seng Thian cui siauw (Naik Ke Langit Meniup Suling) itu?

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Tadinya Kui To dan Bun Sam merasa geli dan menganggap bahwa kakek ini tentulah seorang yang miring otaknya. Akan tetapi apa yang mereka lihat selanjutnya mengusir semua rasa geli dan kini mereka memandang ke arah keranjang itu dengan mata terbelalak heran dan terkejut. Ternyata bahwa keranjang itu telah dapat bergerak gerak sendiri di atas tanah. Pada leher tongkat itu diikatkan sehelai kain pengikat kepala yang merupakan dua buah tangan dan kini setelah keranjang itu bergerak gerak, maka kedua lengan dari kain ini juga bergerak seperti lengan orang saja. Anehnya keranjang itu bergeser ke kanan, kiri dengan tetap dan tegap seakan akan mempunyai dua buah kaki yang melangkah dengan sigapnya, sedangkan kedua tangan kain itu bergerak seperti sepasang tangan orang yang bermain silat. Terima kasih. Lak Mou Cuowsu, terimakasih. Jadi rahasianya terletak dalam pukulan tangan kiri, ya? Bagus, bagus. Nah, pulanglah, kau Lak Mou Couwsu, aku tidak perlu lagi padamu, kata kakek ini setelah keranjang itu bergerak. Keranjang itu kini diam dan terletak di atas tanah, yang bergerak hanya asap hionya saja yang masih mengebul dan bergerak tertiup angin. Bun Sam dan Kui To saling pandang, akan tetapi sebelum mereka dapat mengeluarkan ucapan, kakek itu telah menengok dan mamandang kepada mereka. Kalau tadi perhatian kedua orang anak ini dicurahkan kepada keranjang yang bisa bergerak gerak sendiri, kini mereka menatap wajah kakek itu dan diam diam mereka merasa ngeri ketika melihat bahwa kakek itu hanya mempunyai mata sebuah saja. Entah apa yang terjadi dengan mata kanannya, karena tempat di mana mata kanannya seharusnya berada, kini hanya kelihatan hitam dan bundar saja seakan akan matanya yang kanan itu ditutup oleh

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

sepotong kain hitam yang bundar. Akan tetapi matanya yang hanya satu di sebelah kiri itu amat tajam pandangannya dan lebar sekali. Hidungnya bengkok ke bawah dan mulutnya selalu menyeringai seperti orang mengejek. Mukanya kurus sekali, seperti juga tubuhnya yang terbungkus oleh pakaian berkembang kembang itu. Kakek yang tadi menyebut namanya sendiri sebagai Seng Jin Siansu ini tertawa terkekeh kekeh dan nampak giginya yang hanya tinggal tiga buah di sebelah atas. Aha, anak anak kecil memikul tong air di puncak Oei san! Apakah Kim Kong Taisu sekarang sudah malas dan manja, sehingga perlu memelihara dua orang kacung?.... Mendengar kakek aneh itu menyebut nama gurunya Bun Sam dapat menduga bahwa kakek ini tentulah seorang aneh pula yang menjadi sahabat suhunya, maka cepat ia maju dan memberi hormat sambil menjura, lalu menjawab, Totiang teecu berdua bukanlah kacung atau pelayan dan Kim Kong Taisu, melainkan murid muridnya. Mohon tanya totiang siapakah dan apakah hendak bertemu dengan suhu? Akan tetapi, sebagai jawaban, kakek ini tertawa tergelak gelak dan ia nampaknya demikian geli, sehingga matanya yang hanya sebelah itu mengeluarkan air mata. Kim Kong si tua bangka memungut dua orang murid? Ha. ha, ha! Dunia sudah hendak kiamat rupanya dan tua bangka itu takut kalau kalau ia mampus membawa pergi kepandaiannya! Kemudian matanya dengan amat tajam menatap kedua orang anak itu berganti ganti, lalu dengan suaranya yang parau, Dan kalian mendapat pelajaran memikul air?

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Kami harus penuhkan kolam di belakang pondok! kata Kui To dan dari suaranya orang dapat mengetahui bahwa dia merasa jengkel dan tak senang dengan pekerjaan itu. Apa susahnya mengisi air di dalam tong saja? Seng Jin Siansu tertawa. Lihat! ia menudingkan jari telunjuknya ke arah sebuah tong yang tadi dipikul oleh Kui To dan tong itu bagaikan dilempar telah melayang ke arah air terjun, selelah penuh lalu melayang kembali ke tempat semula dekat Kui To dan sudah penuh dengan air. Kembali kakek itu tertawa dan empat kali ia menudingkan jari telunjuknya dan empat buah tong itu telah penvh air semua dengan cara yang san.a seperti tadi. yakni dengan mengisi sendiri sampai penuh. Kalau aku yang mengisi kata kakek itu sambil tertawa tawa mengejek, tanpa turun dari puncak kolam itu telah penuh sendiri dengan air. Tentu saja Bun Sarn dan Kui To melengak dan saling memandang dengan bengong. Bagus, bagus! Alangkah senangnya memiliki kepandaian seperti itu. Dan ini apakah ini totiang? kata Kui To yang bersorak kegirangan. Ini? Song Jin Siansu menunjuk ke arah keranjang yang dipasangi tongkat dan hio itu. Dengan keranjang sayur tjoi lan ini, aku dapat memanggil roh roh orang yang sudah meninggal. Mau tak mau seram juga hati kedua orang anak itu, akan tetapi tiba tiba terdengar Bun Sam berkata, Aku tidak suka akan ilmu hitam dan sihir! Kakek itu menengok ke arah Bun Sam dan matanya yang hanya sebelah berkilat. Siapa bilang bahwa ilmuku adalah ilmu hitam, nak?

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Ayah sering kali bilang bahwa ilmu sihir yang aneh aneh adalah ilmu hitam yang tidak baik. Aku dilarang untuk mempelajari ilmu hitam seperti itu. Totiang, bukan sekali kali teecu menyatakan bahwa kepandaian totiang adalah ilmu hitam, akan tetapi... sesungguhnya memang aneh.... Ayahmu bermulut lancing! Siapa namamu, siapa nama ayahmu dan dimana dia? Ucapan ini dikeluarkan dengan nada marah, akan tetapi Bun Sam tidak merasa takut karena tidak merasa bersalah. Teecu bernama Song Bun Sam, ayah bernama Song Hak Gi, akan tetapi ayah telah meninggal.... tiba tiba Bun Sam menahan bicaranya karena sinar mata kakek itu nampak begitu ganjil dan mulutnya menyeringai makin lebar. Ia mendapatkan firasat yang amat tidak enak melihat wajah kakek ini. Ha, biarlah aku bicara dengan ayahmu sendiri, hendak kulihat dan kudengar bagaimana pendapatnya tentang ilmu kesaktianku! Jangan, totiang jangan! seru Bun Sam dengan wajah pucat, ia tadi sudah melihat betapa keranjang itu dimasuki oleh roh seorang yang disebut Lak Mou Couwsu oleh kakek ini dan keranjang itu bergerak gerak sendiri. Kini kakek aneh ini hendak memanggri roh ayahnya dan hal ini ia tidak rela. Tidak boleh ayahnya yang sudah meninggal itu diganggu dan dipermainkan orang. Melihat kakek itu tidak memperdulikan dan mulutnya mulai berkemak kemik dan menghadapi keranjang itu, Bun Sam lalu menubruk maju, hendak merampas keraniang itu sambil berseru, Totiang, jangan kau main main dengan ayahku.!

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Akan tetapi. Seng Jin Siansu mengulur tangan kirinya dengan jari jari terbuka, ditodongkan ke arah Bun Sam sambil membentak, Diam kau.... ! Sungguh aneh. Bun Sam tiba tiba merata seakan akan seluruh tubuhnya kehilangan tenaga dan ia berdiri diam tak mampu bergerak sedikitpun. Ia seperti sebuah patung batu dan hanya dapat memandang dengan panca indera bekerja yang tidak lengkap. Hanya urat urat di seluruh tububnya saja yang tidak dapat ia gerakkan. Kakek itu melanjutkan doanya dan asap hio bergulung gulung ke atas. Song Hak Gi datanglah aku panggil padamu, datanglah atas kekuasaan Penjaga Keranjang Sayur yang keramat, Suara kakek ini terdengar amat berpengaruh dan tsk lama kemudian baik Bun Sam yang berdiri seperti patung maupun Kui To yang memandang dengan penuh perhatian, melihat betapa keranjang itu mulai bergerak gerak. Tiba tiba gerakan itu mengeras dan keranjang itu tentu akan terguling kalau tidak cepat cepat dipegang oleh Seng Jin Siansu. Song Hak Gi, tak perlu kau melawan. Anakmu bilang bahwa kau melarang dia mempelajari kesaktian yang kumiliki dan kau anggap kepandaianku ini ilmu hitam. Coba jawab, bagaimana pendapat mu? Jangan kau main main, lihat, anakmu akan kujadikan batu kalau kau tidak menjawab sebaiknya. Kembali kakek itu bicara yang ditujukan kepada keranjang itu. Keranjang itu bergerak gerak ke kanan kiri kemudian miring dan ranting yang berada di tengah tengahnya itu menggurat gurat tanah merupakan huruf huruf yang jelas. Setelah mencoret coret tanah, keranjang itu bergerak gerak keras lagi dan hampir terguling, sehingga kembali kakek itu

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

turun tangan memegangnya, akan tetapi keranjang itu kosong dan ringan, dan kini berdiri tak bergerak kembali. Dengan peluh membasahi jidatnya, Bun Sam yang belum dapat bergerak itu dapat membaca tulisan itu yang berbunyi singkat : Ilmu hitam, jahat, Bun Sam tidak boleh mempelajarinya. Seng Jin Siansu membaca tulisan itu lambat sekali karena kakek ini memang setengah buta huruf, adapun Kui To yang juga ikul memandang, sama sekali tidak mengerti karena ia tidak pernah belajar membaca. Ketika Seng Jin Siansu menengok kepada Bun Sam, ia melihat betapa mata anak ini memandangnya dengan menantang, bangga dan juga berani. Diam diam ia menjadi mendongkol sekali, Kau memang betul, ayahmu keras kepala dan goblok! katanya dengan uring uringan. Totiang, bisakah kau memanggil ayahku? Pendeta bermata satu itu kini memandang ke arah Kui To dan nampaknya tertarik melihat anak yang agaknya suka kepada ilmu kepandaiannya ini. Apakah ayahmu juga sudah mampus? tanyanya sambil menyeringai. Tadinya menduga bahwa anak ini seperti Bun Sam, akan menjadi marah, akan tetapi di luar dugaannya, Kui To menjawab. Betul, totiang, ayahku sudah mati! Akan tetapi, aku ingin juga mendengar atau melihat pendapatnya tentang ilmu kepandaianmu dan apakah aku boleh mempelajarinya? Sebutkan nama ayahmu! pendeta itu bertanya cepat. Dia bernama Gan Kiat, jawab Kui To menjawab singkat pula.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Kembali asap hio mengebul dan Seng Jin Siansu berkemak kemik membaca mantera dan mengeluarkan kata kata memanggil roh Gan Kiat seperti yang dilakukannya ketika memanggil roh ayah Bun Sam tadi. Tak lama kemudian, keranjang sayur itu tiba tiba bergerak, kini gerakannya tidak karuan, terhuyung huyung ke kanan kiri seperti gerakan orang mabuk. Apakah yang datang ini roh dari Gan Kiat? Jawab! terdengar suara Seng Jin Siansu yang berpengaruh. Keranjang sayur itu lalu miring dan ranting di tengahnya membuat tulisan di atas tanah yang sudah diratakan oleh kakek itu. Terlihat huruf huruf besar dan terang yang ditulis di atas dengan amat indahnya, tulisan seorang pegawai negeri. Bun Sam yang amat tertarik lalu membaca tulisan itu. Sebaliknya Kui To yang buta huruf lalu berbisik kepadanya. . Bun Sam, bacalah keras keras, aku ingin mendengar apa yang ditulis olehnya! Karena tulisan itu amat terang, dengan mudah Bun Sam membaca, Aku memang benar Gan Kiat Wajah kakek itu berseri dan kembali ia bertanya dengan suara keras, Gan Kiat, jawablah bagaimana kalau puteramu menjadi murid Seng Jin Siansu, mempelajari ilmunya yang tinggi dan sakti? Kembali ranting di tengah keranjang itu mencoret coret tanah. diikuti oleh suara Bun Sam yang membacanya. Anak itu boleh belajar apa saja dari siapan juga, aku tidak perduli. Seng Jin Siansu tertawa tarkekeh kekeh dan keranjang itupun diamlah. Akan tetapi Bun San merasa heran sekali

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

dam lebih terkejutlah anak ini ketika melihat betapa Kui To menjatuhkan diri berlutut di depan kakek itu. Teecu Kui To mohon menjadi murid Seng Jin Siansu. Kui To! Bun Sam menegur dengan suara keras. Apakah kau sudah gila? Kau sudah menjadi murid suhu kita, Kim Kong Taisu. Bagaimana kau dapat mengangkat totiang ini sebagai gurumu tanpa persetujuan suhu? Siapa sudi menjadi murid tosu tua yang tak berguna itu? Siapa sudi diberi pelajaran memikul air sampai tulang pundak rasanya. hampir patah? Tidak, aku tidak mau menjadi muridnya! jawab Kui To dengan suara menantang. Ha, ha, ha, ha! Bagus, bagus! Inilah suara laki laki sejati. Aku suka padamu, kau boleh menjadi muridku, Kui To! kata Seng Jin Siansu tertawa bergelak gelak dan matanya yang hanya sebelah itu bersinar sinar gembira. Tidak boleh Kui To diambil murid tanpa izin suhu. Kakek itu menahan ketawanya dan memandang kepada Bun Sam dengan heran. Apa? Siapa melarangnya? Kau ? Ya, totiang. Akulah yang melarangnya dan aku berhak melarang, karena Kui To adalah saudara seperguruanku. Aku tidak rela melihat saudara seperguruanku dibawa sesat dan mempelajari ilmu yang jahat dan rendah. Bun Sam, kau perduli apa? Kui To berseru keras Aku tidak sudi menjadi saudaramu dan kau tidak boleh mencampuri urusanku. Ayoh pergi kepada gurumu! Ayoh kaulanjutkan pekerjaanmu mengisi kolam, jangan kauperdulikan aku. Pergi! Sambil membentak bentak Kui To menghampiri Bun Sam dengan dan tangan terkepal dan dengan sikap hendak menyerang.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Kui To, kau tersesat. Ingatlah bahwa kau telah ditolong oleh Yap suheng dan suhu adalah seorang pertapa yang suci. Ingat betapa tinggi kepandaian Yap suheng dan betapa gagah sepak terjangnya. Kita harus mencontohnya dan jangan mempelajari segala macam ilmu hitam! Akan tetapi Bun Sam tak dapat melanjutkan kata katanya karena tiba tiba Kui To menampar mulutnya, sehingga terhuyung ke belakang. Kui To mengejar dan memukul dadanya akan tetapi Bun sam yang sudah pernah mempelajari ilmu silat, cepat mengelak ke kiri dan berkata, Kalau kau tersesat, aku berhak untuk memberi hajaran ! Cepat tangannya diulur dan ditangkapnya pundak Kui To lalu ditariknya dengan keras, sehingga Kui To terguling. Di tempat itu banyak terdapat batu maka ketika jatuh, dagu Kui To terbentur batu, sehingga berdarah. Melihat darahnya sendiri, Kui To menjadi marah sekail. Sambil mengeluarkan geraman seperti seekor harimau kecil ia melompat bangun dan menerjang lagi dengan nekad. Akan tetapi kembali ia dijatuhkan oleh Bun Sam dan sekali lagi ketika kaki Bua Sam menendang, ia terguling guling sampai di depan Seng Jin Siansu yang duduk bersila sambil tersenyum menonton pertempuran itu. Hm, murid Seng Jin Siansu tidak boleh kalah, kata kakek ini lalu memegang kepala Kui To dan meniup ubun ubunnya. Maju dan lawanlah! Sungguh aneh, ketika kepalanya ditiup oleh Seng Jin Siansu, Kui To merasa betapa tiupan itu mendatangkan hawa yang mengalir masuk dari ubun ubunnya, hawa yang hangat dan mendatangkan kekuatan yang luar biasa, ia serentak bangun kembali dan ketika ia maju menerjang, Bun Sam terkejut bukan main. Tiba tiba saja Kui To melakukan serangan serangan dengan gerakan ilmu silat yang aneh dan lihai sekali. Tidak saja gerakan kaki

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

tanganaya cepat seperti orang ahli silat tinggi, bahkan tenaganya juga menjadi berlipat ganda. Bun Sam yang masih kecil itu sudah mempunyai pandangan tajam dan pikiran cerdik, ia maklum bahwa Kui To telah kemasukan kekuatan yang tidak sewajarnya dan bahwa Seng Jin Siansu telah mempergunakan ilmu hitam atau ilmu sihir untuk membantu Kui To. Maka iapun berlaku hati hati menghadapi Kui To sambil berkali kali berseru, Kui To, ingatlah. Kau adalah murid Kim Kong Taisu....! Ia mencoba untuk berlaku cepat dan menangkis serangan Kui To, akan tetapi kali ini ternyata ilmu silat yang baru sedikit dipelajarinya itu tidak cukup untuk mempertahankan diri dari serangan Kui To yang ganas dan cepat. Pukulan demi pukulan jatuh bertubi tubi, pada tubuhnya dan Kui To yang melihat hasil tiupan kakek itu, menjadi gembira dan makin buas. Tanpa mengenal kasihan atau ampun, kedua tangan dan kakinya bekerja menghajar tubuh Bun Sam yang sudah terhuyung huyung ke belakang. Akhirnya Bun Sam tak dapat mempertahankan diri lagi dan robohlah ia ketika sebuah tendangan yang keras mengenai lambungnya. Kui To memekik buas dan menubruk Bun Sam. Ia menduduki dada Bun Sam yang jatuh terlentang dan sambil menggerakkan kedua tangannya yang gencar memukul muka Bun Sam bertubi tubi! Darah muncrat dari hidung dan bibir Bun Sam ketika kedua tangan yang tidak mengenal kasihan itu menghujam mukanya. Bun Sam tidak mengeluh, hanya mencoba untuk menangkis dengan kedua tangannya. Sementara itu, Seng Jin Siasu terrtawa bergelak gelak sambil menepuk tepuk pahanya dengan girang sekali. Keadaan Bun Sam payah dan juga berbahaya sekali. Kalau diteruskan, bukan tidak mungkin Kui To akan memukulinya sampai mati. Kui To sudah menjadi mata

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

gelap, matanya hampir tertutup sama sekali dan mulutnya menyeringai menakutkan. Tiba tiba berkelebat bayangan hitam dan tahu tahu Kui To terlempar ke belakang dan bayangan Yap Bouw telah berdiri di situ dengan kedua tangan di pinggang! Ia memandang dengan mata tajam dan marah kepada Kui To yang terjengkang karena didorongnya tadi. Akan tetapi ketika orarg bermuka tengkorak ini melihat Seng Jin Siansu, ia nmpak terkejut sekali dan melangkah mundur tiga tindak sambil menutup mulutnya dengan tangan kanan! Sementara itu, Sang Jin Siansu tadinya juga heran dan terkejut melihat orang yang mukanya mengerikan ini, akan tetapi ketika mata tunggalnya bertemu pandang dengan sepasang mata Yap Bouw yang tajam berkilat, kakek ini tertawa terpingkal pingkal seperti orang melihat pemandangan yang amat lucu. Ha, ha. ha, aku kenal kau.... aku kenal kau.... ha, ha! Kau adalah Yap Goanswe (Jendral Yap) yang gagah perkasa, pahlawan besar.....! Ha, ha, lihat bagaimana muka jendral besar Yap Bouw sekarang telah menjadi setan berkeliaran! Akan tetapi pada saat itu, Yap Bouw telah melompat dan menerkamnya dengan serangan yang luar biasa dahsyatnya. Dengan kedua tangan terpantang akan tetapi sepasang kaki dirapatkan, dengan jari tangan terbuka, orang she Yap ini menyerang dengan gerakan tipu Sin tiauw bo coa (Rajawali Menerkam Ular). Ha, ha, orang she Yap! Dulu kalau tidak ada aku, nyawamu sadah putus, apa sekarang kau minta kepadaku untuk mengantarmu ke neraka jahanam? Sambil berkata demikian Seng Jin Siansu dengan tubuh ringan sekali melompat berdiri dan mengangkat kedua lengannya menangkis serangan si muka tengkorak itu.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Dua pasang tangan beradu tanpa menerbitkan suara, akan tetapi akibatnya hebat sekali. Tubuh Yap Bouw terpental kembali dan dengan berjungkir balik, si muka tengkorak ini dapat juga menahan tubuhnya dari kejatuhan. Adapun Seng Jin Siansu hanya melangkah mundur dua tindak, akan tetapi benturan itu cukup untuk menghilangkan senyum dan ejekan dari wajahnya yang jaga amat buruk itu. Hm, agaknya si tua bangka Kim Kong sudah memberi pelajaran kepadamu, ya? Amat banyak bedanya dengan dulu. Kepandaianmu sudah bertambah banyak. Akan tetapi, jenderal busuk, jangan kira bahwa kau sudah dapat melampaui kemampuan Seng Jin Siansu. Ah, masih jauh, sobat. Biarpun Kim Kong sendiri yang maju, belum tentu akan dapat melawanku. Setelah berkata demikian Seng Jin SianMi mencabut tongkat butut yang tadinya dipasang pada keranjang sayur, karena ia melihat betapa Yap Bouw lelah mencabut sebatang pedang yang tipis dan berkilauan. Yap Bouw nampak marah sekali. Matanya memancarkan cahaya berkilat dan mukanya yang seperti tengkorak itu menjadi makin menyeramkan. Kemudian terdengar seruan tertahan dalam tenggorokannya dan tubuhnya berkelebat cepat. Bun Sam dan Kui To yang masih rebah di tanah hanya melihat betapa bayangan tubuh Yap Bouw lenyap dan berobah menjadi sinar yang terang, yakni sinar pedangnya yang telah diputar hebat dan sinar pedang ini lalu menyerbu ke arah Seng Jin Siansu yang tertawa terbahak bahak. Dengan tenang sekali kakek ini lalu mengangkat tongkatnya. Biarpun gerakannya amat ringan dan lambat, namun tiap kali sinar pedang itu mendekatinya, dengan sekali mengelebatkan tongkatnya saja terdengarlah suara keras dan sinar pedang itu menjadi buyar dan

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

mencelat mundur. Dari sini saja sudah dapat dibuktikan bahwa kepandaian Yap Bouw masih kalah jauh. Memang Seng Jin Siansu adalah tokoh persilatan yang berada di tingkat tertinggi. Tak saja ilmu silatnya amat lihat, bahkan ilmu sihirnya pun telah menggemparkan dunia kang ouw. Ia adalah tokoh yang muncul dari selatan dan dalam dunia kang ouw ini disebut Lamhai Lo mo (Setan Tua Dari Laut Satatan). Pendeknya, ia dianggap sebagai benggolan dari segala macam pendekar maupun penjahat, dianggap sebagai orang pertama dari kang ouw dan liok lim di dunia bagian selatan. Yap Bouw yang memiliki ilmu silat tinggi dan ilmu pedang yang sudah hampir sempurna itu hanya dapat bertahan tigapuluh jurus saja menghadapi kakek lihai ini. Setelah lewat tigapuluh jurus Seng Jin Siansu mengerahkan tenaganya dan melakukan serangan kilat yang aneh gerakannya Terdengar suara keras dan. pedang yang tadi dipegang oleh Yap Bouw, kini telah menancap di atas tanah sedangkan Yap Bouw berdiri dengan kaget dan heran. Ha, ha, ha, orang macam kau berani untuk mencoba coba kepandaianku? Ha, ha, ha! Tanpa kupegangpun tongkatku akan dapat mengantarmu ke neraka. Lihat baik baik! Sambil berkata demikian, kakek yang lihai ini lalu membaca mantera, kemudian sekali ia berseru keras dan melemparkan tongkatnya, tongkat itu melayang dan bagaikan hidup, tongkat ini lalu meluncur ke arah Yap Bouw dan menyerangnya dengan hebat. Melihat pemandangan hebat ini, Bun Sam dan Kui To hanya bisa memandang dengan mata terbelalak. Adapun Yap Bouw yang sudah tahu akan kelihaian tongkat dari Iblis Tua dari Laut Selatan ini, cepat menggerakkan tubuhnya untuk mengelak. Akan tetapi, benar benar seperti telah berobah menjadi seekor ular terbang yang hidup,

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

tongkat butut itu mengejarnya dan mengirim serangan bertubi tubi sehingga Yap Bouw terpaksa harus mengerahkan seluruh ginkangnya untuk mengelak dan menghindarkan diri dari bencana ini. Ia tidak berani menangkis dengan tangan dan maklum bahwa sekali saja ia terkena serangan tongkat ini nyawanya pasti akan melayang. Sesungguhnya yang dilakukan oleh Seng Jin Siansu, baik ketika menggunakan ilmu sihir untuk mengisi tong air tadi maupun sekarang ketika tongkatnya bisa terbang sendiri, hanya ilmu hitam yang berdasarkan kekuatan pandangan mata tunggalnya dan tenaga batinnya yang amat tinggi dan terlatih. Bagi pandangan mata Yap Bouw, ia melihat seakan akan tongkat itu terbang sendiri dan menyerangnya, akan tetapi dalam pandangan mata orang yang tidak terpengaruh ilmu sihir ini, sebetulnya yang memegang tongkat dan menyerang Yap Bouw itu adalah Seng Jin Siansu sendiri, ia hanya menggunakan kekuatan batinnya dan dua orang anak anak yang berada di situpun terpengaruh pula, sehingga bertiga melihat seolah olah tongkat itu terbang dan hidup. Inilah ilmu sihir atau ilmu hitam yang oleh Seng Jin Siansu dipergunakan untuk mengangkat nama besar, ilmu kesaktian yang disebutnya Ilmu Merebut Semangat dan Panca Indriya. Mungkin sekali hampir sama dengan ilmu hipnotisme dalam zaman sekarang, akan tetapi jauh lebih tinggi tingkatnya. Oleh karena sesungguhnya yang memegang dan memainkan tongkat adalah Seng Jin Siansu sendiri, tentu saja tongkat itu bergerak dengan amat lihainya dan Yap Bouw yang bertangan kosong itu telah mengeluarkan peluh di seluruh tubuhnya. Nyawanya berada di ujung maut dan makin lama gerakannya menjadi makin lemah.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Akan tetapi tiba tiba Yap Bouw bersemangat kembali ketika tiba tiba keranjang sayur yang tadi dipergunakan oleh Seng Jin Siansu untuk memanggil roh, kini bergerak gerak dan melayang ke udara menahan gerakan tongkat, dan melindungi Yap Bouw! Yap Bouw maklum bahwa suhunya telah turun tangan, maka cepat ia melompat mundur dan menyambar tubuh Bun Sam, dibawanya berlari dari tempat itu. Adapun Seng Jin Siansu ketika melihat keranjang itu, menjadi marah sekali. Ia menancapkan tongkatnya pada keranjang itu dan melepaskannya. Keranjang jatuh di atas tanah dan setelah bergerak gerak sebentar, lalu keranjang itu miring dan ranting yang terpasang pada perutnya menuliskan beberapa huruf di atas tanah yang berbunyi begini : Kim Kong Taisu menghaturkan selamat jalan kepada Seng Jin Siansu! Merahlah wajah pendeta bermata satu itu. Terang bahwa secara halus, Kim Kong Taisu telah menegurnya agar jangan membikin rusuh di puncak Oei san dan agar suka pergi dari situ dengan damai. Jadi dengan kata lain, dengan halus tuan rumah telah mengusirnya. Seng Jin Siansu menggigit gigit dengan giginya yang ompong. Kurang ajar sekali Kim Kong Taisu, pikirnya. Ilmu silatnya belum tentu kalah, sungguhpun harus diakui bahwa ia merasa agak jerih menghadapi ilmu pedang dari Kim Koag Taisu yang luar biasa dan iapun maklum bahwa dalam hal tenaga batin, ia masih kalah kuat oleh kakek pertapa itu. Orang lain boleh ia gertak dengan ilmu hoatsut (sihir) karena ia dapat menguasai semangat dan pikiran orang lain yang kalah kuat olehnya, akan tetapi menghadapi kakek yang bertapa di puncak Oei san ini, ia tidak sanggup mempengaruhinya. Ia menengok kepada Kui To yang memandangnya dengan mata kagum. Hm, anak ini... pikirnya. Anak inilah yang kelak akan dapat mewakilinya untuk menguasai

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

dunia. Ia sendiri sudah terlalu tua, tenaganya sudah banyak berkurang dan semangatnyapun tidak sesegar dahulu. Anak ini.... anak yang suka menjadi muridnya ini, dia inilah yang kelak akan menguasai dunia, menjujung tinggi namanya, mengalahkan Kim Kong Taisu dan muridnya. Teringat akan hal ini, tiba tiba ia tertawa lagi terkekeh kekeh dan kemudian ia mengumpulkan khikangnya lalu berkata, Kim Kong tua bangka! Aku tidak sudi main main dengan kau seperti anak kecil! Biarlah kita sama melihat saja siapa yang lebih berhasil menurunkan kepandaian kepada murid masing masing. Suaranya ini dikeluarkan dengan biasa saja, akan tetapi karena terbungkus oleh tenaga khikang, maka suara ini bergema sampai di seluruh permukaan puncak Gunung Oei san. Setelah mengeluarkan ucapan ini dan menanti jawaban tak juga kunjung tiba. Seng Jin Siansu lalu menggandeng tangan Kui To dan mengajak anak itu turun gunung. Sementara itu, Kim Kong Taisu yang berdiri di depan pondok di puncak gunung, dihadap oleh Yap Bouw dan Bun Sam yang berlutut di depannya, mengelus elus jenggotnya dan menarik napas panjang beberapa kali. Dunia takkan ada amannya. Pengacau dunia muncul silih berganti. Semenjak kau membawa datang anak itu, Yap Bouw, pinto telah mendapat firasat tidak enak. Sekarang anak itu yang memang cocok wataknya dengan Seng Jin Siansu, telah di bawa pergi untuk menjadi muridnya. Aaah.... agaknya dunia akan makin tak enak didiami setelah aku pergi kelak. Ia memandang kepada Bun Sam yang berlutut sambil merundukkan mukanya yang biru dan bengkak bengkak bekas pukulan tangan Kui To tadi. Bun Sam, hanya kepadamu seorang aku menggantungkan harapanku. Hanya kau seorang agaknya yang kelak akan dapat menahan sepak terjang anak itu.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Semenjak saat ini juga aku menyerahkan tugas yang amat berat ini pada pundakmu yang kecil, Bun Sam. Kau belajarlah baik baik dan bukalah matamu lebar lebar untuk melihat dunia dan kehidupan, buka telingamu untuk menangkap segala suara yang patut kau dengar. Jadilah seorang bijaksana yang menguasai diri, sehingga kau dapat membebaskan diri daripada libatan tali temali yang disebut sebab dan akibat. Tentu saja Bun Sam tidak mengerti sama sekati apa yang dimaksudkan oleh gurunya ini, akan tetapi, ia mengingat baik baik semua ncapan ini untuk dipelajari dan kemudian dicari artinya. Semenjak hari itu, mulailah Bun Sam belajar dengan tekun dan rajin sekali. Semua pekerjaan seperti yang diperintahkan oleh suhunya, dilakukan dengan penuh ketekunan dan kesabaran. Demikian pula segala macam ilmu kepandaian, dari ilmu silat sampai ilmu kebatinan, dipelajarinya dengan rajn. Ucapan Seng Jin Siansu yang menyebut Yap Bouw sebagai jenderal besar itu tentu amat mengherankan. Akan tetapi memang betul, Seng Jin Siansu bukan mengejek atau memperolok olok ketika ia mengeluarkan ucapan itu. Yap Bouw memang seorang bekas jenderal. Bahkan lebih dari itu, Yap Bouw inilah orangnya yang pernah menewaskan Ulan Tanu. Panglima Mongol yang bermata biru dan beralis merah atau ayah dari Salinga, pembentuk Ang bi tin. Ketika itu Yap Bouw karena kegagahannya, selalu naik pangkat hingga ia menjadi jenderal. Ketika tentara Mongol menyerbu dan menyebar maut di tanah Tiongkok, Yap Bouw merupakan seorang di antara sekian banyak patriot dan pahlawan gagah yang

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

melakukan perlawanan dengan gigih. Berkat pimpinannya, maka banyak sekali bala tentara Mongol yang berhasil dihancurkan. Bahkan ketika tentara Mongol mengeluarkan seorang panglima gagah perkasa yang bernama Ulan Tanu, hanya Yap Bouw seoranglah yang mampu menghadapi. Ulan Tanu adalah seorang Panglima Mongol yang tersohor tidak hanya karena ilmu silatnya yang tinggi akan tetapi juga karena ia tersohor sebagai seorang yang berwajah tampan dan gagah. Matanya biru, alisnya merah dan bentuk mukanya benar benar membayangkan kejantanan. Oleh karena itu, namanya amat dipuja di negerinya dan nama Ulan Tanu diberi julukan Si Alis Merah yang menjadi kembang bibir semua pria dan wanita di Mongol, bahkan ia dijadikan contoh dan simbol ketampanan dan kegagahan. Ketika bala tentara Mongol menghadapi perlawanan yang gigih dari tentara dan rakyat Tiongkok, terpaksa Kubilai Khan yang ketika itu menjadi kaisar orang Mongol, mengajukan Ulan Tanu sebagai panglimanya. Betul saja, setelah Ulan Tanu maju, banyak sekali panglima Tioigkok roboh di bawah ujung tombak Ulan Tanu yang lihai sekali. Robohnya perwira perwira Tiongkok melemahkan semangat bertempur barisan dan dengan demikian, barisan Mongol maju pesat dan pasukan pasukan dari bala tentara Tiongkok dipukul mundur. Akhirnya amukan Ulan Tanu ini membawa tentaranya sampai di tempat pertahanan barisan yang dipimpin oleh Jendral Yap Bouw. Perang hebat terjadi, pertempuran besar besaran dan mati matian yang mengakibatkan banyak sekali tentara dan perwira dari kedua fihak tewas. Yap Bouw dan Ulan Tanu benar benar merupakan tandingan yang seimbang, baik dalam hal kepandaian mengatur barisan maupun kepandaian ilmu silat! Sampai tiap hari berturut

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

turut kedua orang panglima ini bertemu dan bertempur, pedang di tangan Yap Bouw menghadapi tombak dari Ulan Tanu. Pagi hari mereka bertempur sampai setengah hari tidak ada yang kalah, kemudian mundur dan dilanjutkan pada keesokan harinya. Di dalam tenda masing masing, Yap Bouw dan Ulan Tanu diam diam memuji kepandaian lawannya. Telah banyak perwira perwira pilihan dari fihak mereka yang gugur, banyak pula perajurit tewas dalam pertempuran pertempuran selama tiga hari itu. Akan tetapi Ulan Tanu dan Yap Bouw sendiri belum dapat mengalahkan lawannya. Tombak Ulan Tanu terlampau kuat bagi Yap Bouw, sebaliknya pedang Yap Bouw terlalu lihai bagi Ulan Tanu. Dalam saat yang sukar ini, datanglah guru Yap Bouw, yakni Kim Kong Taisu. Kakek sakti ini hanya datang sebentar saja, di waktu malam dan tanpa diketahui oleh orang lain kecuali Yap Bouw sendiri. Dan di dalam waktu yang amat singkat ini, Kim Kong Taisu menurunkan beberapa jurus ilmu padang lihai sekali kepada muridnya. Pinto tidak suka mencampuri urusan dunia. Akan tetapi negara dan bangsa kita diserang orang lain, bagaimana pinto bisa tinggal berpeluk tangan saja? Sumbanganku ini tak banyak, hanya memungkinkan kau mengalahkan jago nomor satu dari fihak musuh itu. Namun.... semua inipun tiada gunanya.... tiada gunanya dan sia sia seperti juga orang hendak mencegah terbitnya matahari di ufuk timur di waktu pagi.... Setelah berkata demikian dan melihat bahwa muridnya itu telah faham benar mempelajari beberapa jurus ilmu pedang itu, Kim Kong Taisu lalu meninggalkan tempat itu. Tentu saja Yap Bouw tidak mengerti apa yang dimaksudkan oleh suhunya itu. Kelak baru ia tahu bahwa

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

suhunya memang sakti dan dapat melihat hal hal yang belum terjadi. Suhunya telah meramalkan bahwa serbuan orang orang Mongol itu memang tak mungkin dibendung dan agaknya sudah menjadi kehendak sejarah. Orang orang Han tak mungkin mencegah penjajahan Bangsa Mongol, seperti juga tidak mungkin mencegah munculnya matahari pagi dari timur. Setelah mempelajari ilmu pedang yang hanya tiga jurus dari suhunya, besarlah hati Yap Bouw, besok pagi pagi sekali, ia telah memerintahkan membunyikan tambur penantang. Ulan Tanu menjadi marah dan sambil menyeret tombaknya, panglima Mongol ini lalu keluar untuk menghadapi lawannya. Kembali perang besar terjadi, perwira lawan perwira, tentara melawan tentara dan panglima besar Ulan Tanu menghadapi Jenderal Yap Bouw. Seperti juga hari hari kemarin, pertempuran antara dua orang gagah ini hebat sekali. Tombak di tangan Ulan Tanu bergulung gulung seperti seekor naga di angkasa, sedangkan pedang Yap Bouw menyambar nyambar bagaikan petir di antara air hujan. Yap Bouw mentaati pesan suhunya dan setelah keduanya mulai lelah karena pertempuran berjalan hampir setengah hari, tiba tiba Yap Bouw berseru keras dan mengeluarkan ilmu pedangnya yang hanya tiga jurus itu. Ulan Tanu terkejut sekali. Ilmu pedang yang selama ini dikeluarkan oleh Yap Bouw dapat dilawannya dengan mudah. Akan tetapi ketika jurus pertama dimainkan oleh Yap Bouw, ia mulai menjadi bingung. Ilmu tombaknya berdasarkan Ilmu Tombak Sin eng chio hoat (Ilmu Tombak Garuda Sakti) yang masih merupakan cabang dari ilmu tombak dari Go bi san yang paling tinggi. Adapun ilmu pedang yang selama ini dimainkan oleh Yap Bouw adalah ilmu pedang dari Kun lun pai yang dikenal baik oleh Ulan

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Tanu. Akan tetapi ilmu pedang yang dimainkan oleh Yap Bouw terakhir ini, benar benar amat meagherankan dan gerakannya merupakan gerakan berlawanan dengan ilmu tombaknya. Berkat keuletan dan kegesitannya, jurus pertama yang banyak pecahan dan gerak tipunya itu dapat dipertahankan dan dielakkannya. Juga jurus ke dua dari serangan Yap Bouw yang kian menghebat itu masih juga dapat ditangkisnya akan tetapi serangan jurus ke tiga benar benar membuat kepalanya pening dan pandangan matanya berkunang. Tanpa dapat dicegah lagi, rangsekan pedang Yap Bouw ini dengan tepat telah berhasil dan tahu tahu ujung pedang Jenderal Yap itu telah menyambar lehernya. Putuslah batang leher Ulan Tanu terkena sambaran pedang itu dan hal ini disaksikan oleh semua perajurit, baik di fihak Mongol maupun di fihak Tiongkok. Pecahlah sorak sorai yang gegap gempita dan terbangun semangat perlawanan dan bala tentara yang dipimpin oleh Yap Bouw. Sebaliknya bala tentara Mongol ketika melihat betapa Ulan Tanu benar benar telah tewas, seketika itu juga lenyap semua ketabahan mereka. Sambil membawa lari tubuh dan kepala Ulan Tanu, mereka mengundurkan diri dan Yap Bouw mendapatkan kemenangan besar. Bagi fihak Mongol, kematian Ulah Tanu itu benar benar menggemparkan, baik di kalangan pasukan maupun pada kaisarnya sendiri. Ulan Tanu amat disayangi dan penjadi panglima yang paling dipercayai oleh Kubilai Khan. Apalagi para perajurit Mongol, mereka ini tadinya mempunyai anggapan bahwa Ulan Tanu atau Si Alis Merah tidak bisa kalah, apalagi sampai mati. Kenyataan yang pahit, melihat betapa leher panglima besar ini putus oleh pedang seorang jenderal musuh, benar benar mengagetkan dan juga menimbulkan dendam yang hebat. Dendam ini menambah semangat pertempuran dan akhirnya, benar seperti yang dikhawatirkan oleh Kim kong

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Taisu, Tiongkok dikuasai oleh bala tentara Mongol. Di bawah pimpinan Salinga, putera dari Ulan Tanu, beberapa orang panglima yang merasa sakit hati, menggempur pasukan pasukan dari bala tentara yang dipimpin oleh Yap Bouw dan terjadi pertempuran pertempuran yang lebih hebat. Akan tetapi tak seorangpun di antara panglima Mongol yang dapat menandingi Yap Bouw dan biarpun pasukan pasukan Yap Bouw mengalami kekalahan besar akibat gempuran gempnran fihak musuh yang jauh lebih besar jumlahnya, namun jenderal muda ini sendiri tidak pernah dapat dikalahkan. Pada suatu hari, Salinga pergi untuk setengah bulan lamanya dan ketika ia kembali, ternyata putera dari Ulan Tanu ini telah melakukan perjalanan jauh ke selatan untuk minta bantuan dari satu orang tosu yang bermata satu. Tosu ini bukan lain adalah Seng Jin Siansu atau Iblis Tua dari Laut Selatan (Lam hai Lomo) yang masih menjadi kakak seperguruan dari guro Ulan Tanu seorang pertapa di Go bi san. Mendengar tewasnya Ulan Tanu di tangan Yap Bouw dan mendengar keterangan pula dari orang orang Mongol yang pandai mencari tahu rahasia musuh itu bahwa Yap bouw adalah murid dari Kim Kong Taisu, Seng Jin Siansu tersenyum menyeringai. Pantas saja Ulan Tanu kalah oleh Yap Bouw karena ilmu tombak Sin eng cio hwat itu bersumber satu dengan ilmu pedang dari Kun Lun pai. Si tua bangka Kim Kong memang ahli pedang yang luar biasa sekali dan tentu Yap Bouw mendapat petunjuk petunjuk dari gurunya itu bagaimana harus menghadapi Siu eng cio hwat. Tua bangka itu sebetulnya orang baik dan jarang mau mencampuri urusan dunia maka aku sebenarnya segan untuk mencari permusuhan dengan dia. Akan terapi, karena

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Ulan Tanu adalah murid keponakanku, biarlah aku membantu kalian menangkapnya. Akan tetapi, kalian harus bersumpah lebih dulu kepadaku bahwa kalian takkan membunuh Yap Bouw murid Kim Kong Taisu itu! Tentu saja Salinga yang merasa sakit hati dan menaruh hati dendam kepada Yap Bouw yang sudah membunuh ayahnya merasa berat untuk bersumpah tidak membunuh Yap Bouw. Tanpa sumpah itu, aku tidak bisa membantu kalian menangkap Yap Bouw: Menawannya dalam perang menyiksanya takkan mengapa. Akan tetapi kalau tua bangka itu mendengar bahwa aku membantu kalian menangkap Yap Bouw untuk dibunuh, tentu akan berakibat yang cakup memusingkan kepalaku. Bersumpahlah! Karena memang sudah tidak berdaya menghadapi Yap Bouw yang benar benar tangguh terpaksa Salinga dan kawan kawaanya bersumpah kalau Yap Bouw tertangkap, mereka hanya hendak menyiksa dan menghinanya saja. Lam hai Lomo Seng Jin Siansu tertawa sinis. Ha, ha, ha, apakah sukarnya menangkap jenderal muda.itu? Sama mudahnya dengan melanggar sumpah. Ha, ha, ha, akan tetapi ada aku di sini. Jenderal akan tertawan dan sumpah akan tetap dipenuhi Ha, ha, ha ! Salinga dan kawan kawannya maklum akan sindiran kakek aneh ini, akan tetapi mereka tidak berani banyak bicara. Hendak mereka buktikan lebih dulu apakah betul betul Seng Jin Siansu akan dapat mengalahkan Jenderal Yap Bouw yang kosen ini. Pada keesokan harinya, benteng pertahanan Jenderal Tap Bouw yang tentaranya baru saja mengalami kekalahan hebat ini dikurung oleh barisan Mongol yang banyak sekali jumlahnya. Yap Bouw ditantang perang oleh Salinga. Tentu

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

saja jenderal yang perkasa ini tidak menjadi jerih. Ia memerintahkan agar supaya barisannya, tetap memperkuat penjagaan benteng dan jangan melayani musuh untuk bertempur di luar benteng, kemudian sambil membawa pedangnya ia keluar dari pintu benteng untuk memenuhi tantangan Salinga. ia tahu bahwa ia akan dikeroyok, maka iapun membawa lima orang pembantunya dengan pesanan jangan turun tangan biarpun ia dikeroyok sebelum kelihatan ia terdesak! Akan tetapi ia kecele karena menghadapinya hanya Salinga seorang. kali ini yang

Orang she Yap, sekarang tiba saatnya kau harus membayar hutangmu kepada ayahku! Salinga, tidak ada hutang piutang dalam perang! Yang lemah akan gugur, yang kuat akan menang. Tidak ada hutang, tidak ada dendam, yang ada hanya menang atau kalah! Bangsat, enak saja kau bicara! Lihat pembalasan Alis Merah! Sambil berkata demikian Salinga lalu memainkan tombaknya yang biarpun masih belum dapat menyamai kelihaian ilmu tombak mendiang ayahnya, namun cukup hebat gerakannya. Akan tetapi Yap Bouw hanya memandangnya dengan senyum mengejek, lalu ia menggerakkan pedangnya yang sekaligus membuat tombak di tangan Salinga terpental dan hampir terlepas dari pegangan! Salinga terkejut sekali dan cepat ia melompat mundur uutuk bersiap dan kemudian ia berkelahi lebih hati hati menghadapi musuh besar yang kepandaiannya lebih tinggi ini. Akan tetapi pada saat itu, Yap Bouw berseru keras dan melompat ke belakang dengan terkejut sekali ketika ia melihat sebatang tongkat melayang dan menyerangnya dan

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

menyerangnya dengan hebat sekali. Yang membuat ia menjadi terkejut tidak saja kelihaian gerakan tongkat ini, terutama sekali karena tongkat itu bergerak sendiri di udara, tidak dipegang orang. Juga lima orang perwira yang menonton di situ tidak dapat melihat Seng Jin Siansu yang memegang tongkat itu, sehingga mereka berdiri bingung dengan muka pucat. Tentu saja Salinga dan kawan kawannya dapat melihat Seng Jin Siansu dan Salinga dengan amat lega lalu melompat mundur, membiarkan Seng Jin Siansu sendiri menghadapi Yap Bouw. Salinga, pengecut besar! Yap Bouw berseru sambil menangkis serangan tongkat aneh itu dengan pedangnya yang membuat tangannya tergetar. Ilmu siluman apakah yang kau pergunakan? Akan tetapi Salinga hanya tertawa saja dan tongkat itu makin hebat menyerang Yap Bouw. Lima orang perwira pembantu Yap goanswe lalu menerjang maju, mencabut senjata masing masing untuk menghadapi tongkat iblis itu. Akan tetapi, sekali saja terbentur oleh tongkat itu, senjata mereka semua terlempar dari pegangan dan beberapa belas jurus kemudian, tongkat itu berhasil menotok pundak Yap Bouw. Jenderal yang gagah ini mengeluh dan roboh tak berdaya lagi Setelah ia roboh, terdengar suara ketawa menyeramkan dan barulah kini matanya melihat seorang kakek tua yang bermata sebelah, kakek inilah yang memegang tongkat secara luar biasa hebatnya itu. Pada saat itu, Yap Bouw masih belum kenal siapakah adanya kakek mata satu yang lihai ini dan ia tidak sempat pula bertanya. Terdengar sorak sorai hebat dan melihat ia roboh, tentara Mongol lalu menyerbu bentengnya. Perang hebat terjadi sehari semalam lamanya dan akhirnya benteng itu jatuh ke tangan musuh. Sebagian besar tentara anak buahnya Yap Bouw binasa.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Yap Bouw mendiri bagaimana? Kalau tidak ada Seng Jin Siansu pasti ia dibunuh oleh Salinga dan kawan kawannya. Salinga telah membawanya ke dalam kemahnya dan sambil menangis menyebut ayahnya, ia menyiksa Yap Bouw, disaksikan ribuan orang Mongol yang ikut pula menangisi Ulan Tanu, Si Alis Merah yang mereka kagumi! Seng Jin Siansu duduk diam saja, akan tetapi siap sedia untuk menolong nyawa Yap Bouw , karena sesungguhnya kalau sampai Yap Bouw tewas, ia gentar menghadapi kemurkaan Kim Kong Taisu! Sungguh amat mengerikan nasib penderitaan Yap Bouw. Dalam cengkeraman nafsu membalas dendam Salinga seperti gila dan kekejamannya melebihi binatang buas atau iblis sendiri. Dengan pisaunya yang tajam, ia mencacah muka Yap Bouw, sehingga boleh dibilang ia menguliti muka jenderal itu. Bahkan lidahnyapun dipotongnya. Akhirnya di bawah seruan seruan semua kawan kawannya yang sudah keranjingan iblis, Salinga mengayunkan pisaunya ke arah ulu hati Yap Bouw yang sudah pingsan. Akan tetapi tiba tiba terdengar suara nyaring dan pisau itu terlepas dari tangan Salinga. Ternyata pada saat terakhir itu, Seng Jin Siansu telah bertindak dan menolong nyawa Yap Bouw. Ha, ha, ha, apa kataku kemarin? kakek mata satu ini tertawa seram. Amat mudahnya melanggar sumpah! Orang ini tidak boleh dibunuh! Akan tetapi, supek couw (uwa kakek guru)! Dia adalah pembunuh dari ayahku! Kami harus membalas dendam. Hutang nyawa bayar nyawa! Kembali Salinga mencabut tombaknya dan hendak ditancapkan ke dada Yap Bouw, akan tetapi dengan sekali

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

mengulurkan tangannya, Iblis Tua dari Laut Selatan ini telah dapat merampas tombak ini. Salinga! Suara Seng Jin Siansu terdengar marah. Aku Seng Jin Siansu bukanlah seorang yang biasa melanggar janji! Dan juga bukan seorang yang membiarkan orang lain melanggar janjinya terhadap aku! Aku sudah menangkap Yap Bouw dan dia sudah menerima siksaan yang lebih dari setengah mati! Akan tetapi kita sudah saling berjanji bahwa dia takkan dibunuh! Sekarang aku akan membebaskannya! Setelah berkata demikian, Seng Jin Siansu lalu menyambar tubuh Yap Bouw yang berlumuran darah itu, dikempit di bawah ketiak lengan kirinya. Akan tetapi, serentak orang orang Mongol yang seribu lebih banyaknya itu berseru keras, Berikan dia kepada kami! Anjing she Yap itu harus dibunuh! Sakit hati Ang bi tin (Pendekar Alis Merah) harus dibalas! Di bawah pimpinan Salinga, orang orang itu menghadang perjalanan Seng Jin Siansu dengan sikap mengancam. Dia adalah seorang Han pula, tentu saja dia membela Jenderal Yap Bouw! Keroyok dia, bunuh pendeta iblis ini! terdengar seruan dua orang Mongol yang berdiri di depan. Mendengar seruan ini, tiba tiba Seng Jin Siansu membalikkan tubuhnya menghadapi dua orang itu. Matanya yang tinggal sebelah itu seakan akan mengeluarkan api, ditujukan kepada dua orang perwira pembantu Salinga itu. Melihat cahaya pandangan mata yang luar biasa ini, dua orang Mongol yang ternyata adalah dua orang perwira Mongol itu menjadi terkejut dan tubuh mereka menggigil. Kalian berdua hendak membunuhku? Ha, ha, ha, kalian yang mengeluarkan ucapan bunuh, maka kalianlah yang

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

akan melakukan pembunuhan dan kalian pula yang akan dibunuh! Ayoh maju ke sini! Perintah ini dikeluarkan dengan keras dan suaranya demikian berpengaruh, sehingga semua orang menundukkan muka sesaat. Adapun dua orang perwira Mongol itu ketika mendengar perintah ini, di luar kemauan sendiri, kedua kaki mereka melangkah maju dan menghampiri kakek mata satu yang hebat itu. Nampak bibir Seng Jin Siansu berkemak kemik dan mata tunggalnya tetap ditujukan ke arah dua orang itu dengan pandangan tajam. Ayoh lakukan pembunuhan atas diri kalian sendiri. Cepat! Bukan main hebatnya bunyi perintah ini dan semua orang merasa bulu tengkuk mereka berdiri ketika melihat dua orang perwira Mongol itu tiba tiba mencabut golok mereka sendiri dan sebelum ada orang yang dapat mencegahnya, mereka menyabetkan golok itu ke arah leher sendiri. Robohlah dua orang Mongol itu dengan leher hampir putus dalam keadaan tak bernyawa lagi. Seng Jin Siaasu tertawa sebal, menambah geramnya keadaan. Ha, ha, ha! Dua orang lancang ini telah mencari kematian mereka sendiri. Mereka lancang sekali mengatakan bahwa Seng Jin Siansu membela orang Han, bahkan mereka hendak membunuhku! Dengar kalian semua! Aku, Seng Jin Siansu tidak boleh disamakan dengan kalian orang orang biasa, juga tidak sama dengan Yap Bouw yang kubawa ini! Kalian semua boleh dipengaruhi oleh perang boleh diperbudak oleh pemerintah kalian masing masing, akan tetapi aku, Seng Jin Siansu tidak! Aku adalah raja dari diriku. Kaisar Mongol atau Raja Han

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

sendiri pun tidak lebih besar dari padaku dan sekali kali tidak boleh memerintahku! Siapa bilang aku ikut ikut mencampuri urusan parang di antara mereka? Aku tidak membantu orang Mongol, tidak membantu orang Han, akan tetapi siapa yang bersalah kepadaku, awas, akan kujadikan setan tak berkepala seperti dua ekor anjing ini. Nah aku sudah bicara ! Setelah berkata demikian diiringi oleh suara ketawanya yang panjang dan menyeramkan, bagaikan seorang iblis saja Seng Jin Siansu menggerakkan tubuhnya dan lenyaplah ia dari hadapan ribuan orang Mongol itu. Salinga menarik napas panjang dan berkata, Dia benar! Pernah aku mendengar dari mendiang ayah bahwa Supak couw memang seorang yang aneh, akan tetapi memiliki kepandaian yang hebat sekali. Biarlah, biarpun kita tidak bisa membunuh Yap Bouw, akan tetapi masih banyak perwira perwira Han yang boleh kita bunuh sebagai pengganti jenderal itu. Demikianlah, selelah bala tentara Mongol berhasil menduduki Tiongkok, Salinga lalu membentuk Ang bi tin atau Barisan Alis Merah itu, yang bertugas membasmi semua perwira Han yang masih ada dan menyamar sebagai rakyat biasa. Dengan usaha ini, Salinga hendak membalas dendam ayahnya. Adapun Yap Bouw dibawa pergi oleh Seng Jin Siansu yang memberi obat padanya agar supaya Yap Bouw tidak meninggal dunia karena luka lukanya, kemudian Iblis Tua Laut Selatan ini lalu meninggalkan Yap Bouw di dalam sebuah hutan. Yap Bouw maklum akan hal ini, akan tetapi ia tahu pula bahwa yang membuat ia jatuh ke tangan orang orang Mongol juga kakek mata satu itulah. Keadannnya amat berat. Lidahnya sudah putus dan mukanya sudah tak

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

berkulit lagi, sehingga ia yang tadinya berwajah tampan dan gagah, kini merupakan tengkorak hidup.

Jilid III PENDERITAAN lahir bagi Yap Bouw tidak begitu berat, karena sebagai orang gagah perkasa yang sering kali menghadapi pertempuran hebat, apalagi sebagai seorang jenderal perang yang melihat penderitaan seperti hal yang biasa, cacad dan luka lukanya pun dapat dideritanya dengan hati tenang. Akan tetapi, penderitaan yang lebih hebat dan membuat nya seperti gila adalah penderitaan bathin. Semenjak memimpin bala tentara untuk menghadapi serbuan bala tentara Mongol, Yap Bouw meninggalkan isterinya yang telah mengandung tua. Kemudian, ketika ia masih berada di dalam benteng, jauh di utara ia mendengar kabar bahwa isterinya telah melahirkan sepasang anak kembar, laki laki dan wanita. Alangkah girang hatinya mendengar ini. Akan tetapi, serbuan serbuan musuh membuat ia pindah dari satu ke lain tempat untuk menghadapi musuh musuh negara yang pada waktu itu muncul berganti ganti. Bangsa Tartar dan paling akhir Bangsa Mongol yang amat kuat. Tugasnya membuat Jenderal Yap Bouw tak sempat pulang selama tiga tahun. Sekarang tidak saja negaranya kalah dan tentaranya hancur bahkan dia sendiri telah menjadi seorang yang bermuka tengkorak. Bagaimana ia dapat pulang? Bagaimana ia berani menghadapi isterinya dan anak anaknya sebagai seorang jenderal yang tidak saja kalah perang, bahkan telah menjadi seorang yang demikian menjijikkan dan mengerikan? Kalau dia melihat mukanya sendiri, bercermin di dalam air telaga, keluarkan keluhan

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

dari dadanya dan pipinya yang sudah tak karuan macamnya itu basah oleh air mata. Tidak, ia tidak dapat pulang. Ia tidak boleh menjumpai isteri dan anak anaknya. Isterinya yang setia dan mencintanya mungkin takkan jijik melihatnya, mungkin takkan berobah. Akar tetapi anak anaknya? Ah, ia belum pernah melihat anak kembarnya, hanya dari surat isterinya saja ia mendengar bahwa dua orang anaknya itu elok dan sehat. Ah, kalau ia pulang dan kedua anaknya melihat mukanya, bukankah mereka akan lari ketakutan? Kemudian, kalau mereka sudah besar, apakah mereka itu takkan malu sekali mempunyai seorang ayah bermuka setan? Apakah mereka takkan menjadi hahan olok olok semua orang? Tidak, tidak! Lebih baik membiarkan mereka menganggap bahwa ayah mereka telah mati. Lebih baik membiarkan mereka menganggap ayah mereka telah tewas dan gugur dalam peperangan. Gugur sebagai seorang pahlawan bangsa. Kalau ia tidak pulang, orang orang akan memandang anak kembar nya dengan menghormat, akan menganggap mereka sebagai keturunan seorang pejuang besar. Pikiran inilah yang membuat Yap Bouw mengambil keputusan untuk menjauhkan diri dari isteri dan anak anaknya. Ia tidak mau menyusul isteri nya yang telah lama mengungsi di sebuah dusun kecil di Propinsi Santung dekat pantai laut timur, yakni dusun Kan leng di mana isterinya tinggal bersama orang tua isteri nya itu. Tentu saja kalau Yap Bouw mau menyusul ke sana, ia akan dapat pergi dengan aman karena siapakah yang akan mengenalnya seorang jenderal Yap Bouw yang ternama? Akan tetapi ia tidak mau merusak kehidupan keluarganya, tidak mau mendatangkan cemar dan malu.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Kemudian ia teringat kepada suhunya, Kim Kong Taisu yang mengasingkan diri bertapa di puncak bukit Oei san. Kesanalah Yap Bouw menuju, membawa tubuhnya yang sudah bercacat. Siksaan yang hebat itu sudah membuat Yap Bouw berobah apa lagi siksaan batin itu, rindunya kepada keluarganya yang tak mau ia jumpai, membuat ia merasa isi dadanya seakan akan pecah dan lemahlah semangatnya Yap Bouw sekarang jauh bedanya dari Yap Bouw ketika masih menjadi jenderal, ia telah menjadi seorang yang kehilangan semangat dan tidak ingat lagi akan permusuhannya dengan Ang bi tin. Ia tidak menaruh hati dendam, bahkan tidak mau memperdulikan lagi urusan dunia. Kim Kong Taisu menerimanya dengan terharu sekali. Kakek yang sakti ini tahu akan isi hati muridnya dan kakek yang tahu pula akan keadaan dunia dan rahasia alam ini hanya menarik napas panjang, memuji nama Thian Yang Maha Agung dan Maha Kuasa, yang kuasa mengadakan perubahan apada segala apa yang nampak disunia ini. Ia menghibur murindnya itu dengan member pelajaran ilmu bathin ilmu silat yang lebih tinggi. Setahun kemudian, pada suatu hari Kim Kong Taisu menyuruh muridnya ini pergi ke kota Tong seng kwan untuk menolong keluarga Song bekas perwira itu dari amukan barisan Ang bi tin. Kim Kong Taisu memang seorang pendeta yang berilmu tinggi. Tidak saja ilmu silatnya mencapai tingkat yang sukar diukur tingginya, bahkan ilmu bathinnya sudah sempurna, sehingga ia boleh disebut setengah dewa. Di dalam kewaspadaannya kakek ini dapat melihat hal hal yang telah dan akan terjadi tanpa pindah dari tempat dia duduk bersamadhi.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Puluhan tahun yang lalu, Kim Kong Taisu adalah seorang tokoh besar dari Kun lun pai, akan tetapi semenjak fihak Kun lun pai bentrok dengan cabang persilatan lain, sehingga terjadi serang menyerang dan berlumba atau bersaingan dalam memainkan ilmu silat. Kim Kong Taisu mencuci tangan dan pergi mengasingkan diri di puncak Gunung Oei san yang indah itu. Demikianlah riwayat singkat dari Yap Bouw yang sekarang telah menjadi seorang bermuka tengkorak, gagu dan berwatak aneh. Ia amat sayang kepada Bun Sam yang kini telah diambil murid oleh suhunya. Ia sayang seperti kepada anak sendiri, karena Bun Sam yang tampan dan berwatak halus itu merupakan pengganti anaknya bagi bekas jenderal ini. Dengan amat tekun dan penuh kasih sayang. Yap Bouw memimpin sute (adik seperguruan) yang seperti anaknya ini dalam hal dasar dasar ilmu silat. Memang Kim Kong Taisu telah memberi kepercayaan penuh kepadanya untuk memberi bimbingan dasar pada Bun Sam. Selain ilmu silat juga Yap Bouw memberi pelajaran ilmu surat kepada Bun Sam. Biarpun Yap Bouw gagu, akan tetapi mengatar menulis huruf Tiongkok memang lebih sederhana. Ia menulis dan menunjuk benda apa yang ditulisnya dan tanpa mengeluarkan suara, Bun Sam akan dapat membaca huruf itu selelah melihat benda yang ditunjuk oleh Yap Bouw. Memang tidak sukar bagi Yap Bouw untuk mengajar ilmu surat, karena Bun Sam sendiripun bukanlah seorang anak buta huruf sama sekali, ia pernah belajar menulis dari ayahnya dan kini Yap Bouw hanya memberi tambahan belaka. Sedikit demi sedikit, Yap Bouw bahkan memberi pelajaran ilmu perang kepada Bun Sam yang amat rajin belajar dan rajin pula bekerja itu.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Beberapa hari sekali Kim Kong Taisu memanggil mereka berdua yang segera datang menghadap untuk mendengarkan wejangan wejangan yang amat bijaksana. Juga adakalanya Kim Kong Taisu menyaksikan Bun Sam berlatih silat. Melihat ketekunan dan bakat besar yang ada pada diri anak ini. Kim Kong Taisu menarik napas panjang dan berkata, Bun Sam, bakatmu lebih besar daripada aku sendiri dan ketekunanmu bahan masih melebihi suhengmu. Dengan bakat dan ketekunan seperti yang kau miliki, apakah sukarnya mengejar segala macam ilmu? Akan tetapi, di samping semua ini, kau masih harus memelihara semacam sifat yang amat penting, Bun Sam, yakni sifat waspada dan sabar. Hanya sifat inilah yang akan menjadi kemudi bagi semua kepandaian seseorang dan menjauhkan nya dari jurang yang ditimbulkan oleh kesombongannya. Bun Sam mendengarkan nasihat nasihat suhu nya dengan penuh perhatian. Ketika ia mendapat kesempatan, dengan hormat bertanyalah ia akan sesuatu yang pernah didengarnya ketika untuk pertama kalinya ia mendengar ucapan suhunya, yakni ketika Kui To dibawa pergi oleh kakek mata satu. Suhu, maaf apabila teecu berani mengajukan pertanyaan ini, suhu Pernah teecu mendengar kata kata suhu tentang sebab dan akibat, nasihat suhu bahwa teecu harus dapat melepaskan diri dari tali lemah yang disebut sebab dan akibat. Apakah sesungguhnya arti kata kata itu, suhu? Kim Kong Taisu tersenyum. Diam diam ia merasa girang sekali oleh karena pertanyaan yang diajukan oleh muridnya ini menjadi bukti nyata bahwa anak ini memang benar benar amat memperhatikan segala nasihatnya.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Betulkah aku pernah bicara sebab dan akibat? Aku malah sudah lupa lagi, muridku. Sebetulnya hal ini masih terlalu sukar, atau lebih tepat lagi, kau masih terlalu kecil untuk mendengar tentang hal ini. Akan tetapi biarlah, agar kau tidak menjadi penasaran. Aku akan memberi contoh kepadamu. Setelah berkata demikian, kakek ini lalu mengajak Bun Sam berjalan menuju ke pinggir sebuah jurang yang amat curam. Matahari yang telah naik tinggi menyinari jurang itu sehingga nampak nyata oleh Bun Sam betapa batu batu karang yang aneh aneh bentuknya dan ribuan banyaknya berada di sepanjang jurang yang terjal itu. Berdiri di pinggir jurang yang amat terjal membuat orang membayangkan betapa akan ngerinya apabila orang sampai tergelincir ke dalamnya! Bun Sam diam diam bergidik. Nah, kau lihatlah baik baik ! Kim Kong Taisu membungkuk untuk mengambil sebuah batu sebesar kepala manusia kemudian setelah memandang tajam ke arah jurang, ia lalu menyambitkan batunya itu yang tepat mengenai sebuah batu yang empat kali besarnya dan yang berada di mulut jurang. Batu itu terbentur oleh batu yang disambitkan oleh Kim Kong Taisu dan ternyata batu itu bergerak dan terdorong oleh sambitan yang keras itu sehingga menggelinding dari tempatnya. Tentu saja karena tempat itu menurun amat terjalnya, sebentar saja batu itu menggelinding turun dan membentur lain batu di bawahnya yang kembali terdorong dan menggelinding ke bawah. Demikianlah, tak lama kemudian, terdengar suara gaduh sekali di dalam jurang itu karena batu batu yang menggelinding dari atas itu menimpa lain batu dan membuat batu batu yang di bawahnya jatuh menggelinding pula ke bawah. Suara hiruk pikuk itu terdengar sambung menyambung seperti suara guntur di waktu hujan.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Kemudian setelah batu batu itu menimpa dasar jurang, suara dentaman dentaman itu makin keras dan diakhiri dengan debu yang mengebut ke atas. Setelah keadaan menjadi sunyi kembali, Kim Kong Taisu berkata Nah, kau lihat tadi? Betapa hebatnya dan banyaknya batu batu besar jatuh ke dalam jurang? Hebat sekali, suhu. Seperti gunung meletus aja? Dan tahukah kau hubungannya dengan sebab dan akibat? Bun Sam memandang kepada suhunya dan betapapun juga memutar otaknya, belum juga ia mengerti apakah artinya perbuatan suhunya tadi. Ia menggeleng geleng kepala nya dan berkata dengan sejujurnya. Teecu belum mengerti, suhu. Mohon penjelasan dari suhu. Kau tentu mengerti bahwa peristiwa hebat di dasar jurang itu terjadi karena runtuhnya banyak sekali batu batu besar kecil. Kenapa batu batu ini runtuh? Karena saling mendorong. Kalau saja batu batu itu dan jurang bisa bercakap cakap, tentu akan terdengar tuduh menuduh yang berdasarkan sebab dan akibat. Jurang tentu akan bertanya kepada batu yang terbawa mengapa ia terjatuh. Dan jawabannya tentu karena ia terdorong oleh batu di atasnya dan demikian selanjutnya. Peristiwa yang terjadi umumnya disebut akibat dan orang orang selalu mencari sebab dan pada akibat itu. Padahal seperti juga batu terbawah menyalahkan batu di atasnya yang mendorongnya, sebab yang menimbulkan akibat itu sendiripun tak lain hanya merupakan akibat dari pada sebab lain lagi. Oleh karena manusia menjadi hamba dari pada sebab dan akibat yang ruwet, maka terjadilah kerusuhan di dunia ini. Terjadi dendam, balas membalas tiada habisnya. Padahal kalau

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

diusut benar benar, seperti halnya peristiwa di dasar jurang tadi, siapakah yang salah? Apakah batu batu terbawah, apakah batu teratas, ataukah batu yang pertama kali kulemparkan ke bawah? Batu batu itu tidak bersalah, suhu, yang salah adalah suhu! kata Bun Sam. Kim Kong Taisu tertawa gembira. Kau juga masih terikat oleh sebab akibat, muridku. Ingat, bukan sebabnya karena aku melemparkan batu itupun hanya menjadi akibat dari keinginanku memberi contoh dan penerangan kepadamu. Kalau begitu, teceu yang menjadi sebabnya dan teecu yang bersalah. Juga keliru, Bun Sam, karena kaupun hanya menjadi akibat daripada keadaanmu menjadi muridku. Kalau kau tidak menjadi muridku, tentu kau takkan bertanya tentang pengertian ini dan takkan terjadi ribut ribut di dasar jurang. Bun Sam melengong. Habis, sampai di mana akhirnya kalau dicari terus sebab sebab pokok, suhu ? Gurunya menggelengkan kepala. Itulah! Oleh karena itu, aku ingin melihat kau tidak diperhamba oleh sifat ini. Janganlah segala perbuatanmu didasarkan atas kekeliruan pendapat atau jelasnya jangan kau melakukan sesuatu terdorong oleh pandangan yang salah, yang timbul dari nafsu dan perasaan. Jangan mencari sebab sebab dari sesuatu peristiwa, akan tetapi jadilah seorang yang menjaga agar jangan terjadi peristiwa peristiwa yang merugikan dunia! Bun Sam baru berusia enam tahun lebih. Mana bisa ia menangkap pelajaran ini dengan baik? Namun, samar

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

samar ia dapat juga mengerti dan tiba tiba ia memandang pada suhunya dengan tajam dan bertanya, Kalau begini, suhu. Apakah tecu kelak tidak boleh membalas dendam kepada barisan Ang Bi Tin yang membunuh ayah? Apakah teecu tidak boleh menganggap mereka itu sebagai sebab yang mendatangkan kecelakaan kepada teecu sekeluarga? Mata kakek itu bersinar, ia girang bahwa muridnya yang masih kecil ini mempunyai kecerdikan luar biasa. Memang demikianlah maksudku, Bun Sam. Seperti halnya batu batu tadi, mereka itu terdorong oleh sesuatu, maka mereka melakukan pembunuhan terhadap ayah bundamu. Sebagai muridku, kelak kau hanya boleh melakukan sesuatu demi kebenaran sama sekali tidak boleh kau melakukan perbuatan berdasarkan perasaan sakit hati atau marah! Ketika Bun Sam masih berdiri bingung karena sesungguhnya kata kata suhunya ini merupakan pukulan hebat bagi perasaannya yang selalu mengandung dendam terhadap Ang bi tin. Tiba tiba terdengar suara keras di sebelah kanan. Bun Sam cepat menengok dan ia menyaksikan sesuatu yang benar benar mendebarkan hatinya. Di tempat terbuka terjadi pertempuran mati matian dan hebat sekali antara Siauw liong ular peliharaan suhunya, melawar seekor burung rajawali besar dan gagah sekali. Burung itu menyambar nyambar dari atas dengan sepasang cakar dan patuknya bergerak ke arah ular itu. Akan tetapi Siauw liong ternyata bukan seekor ular biasa yang mudah menyerah terhadap serangan burung rajawalitu. Dengan cepat nya Siauw liong lalu melingkarkan tubuhnya dan kini hanya kepala dan ekornya saja yang berdiri di atas lingkaran tubuhnya, merupakan dua penjaga yang amat kuat ! Ular ini siap sedia dan tiap

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

kali rajawali itu datang menyambar, selain mengelak ia pun lalu menyabetkan ekornya ke arah burung itu dan mulutnya yang terbuka lebar dengan gigi runcing membalas dengan serangan hebat! Tentu saja pemandangan ini amat menarik hati Bun Sam. Ketika Siauw liong berhasil menyabetkan ekornya untuk menangkis terkaman rajawali, beberapa helai balu burung itu terlepas dan melayang ke bawah. Bagus, Siauw liong, bagus sekali! Pukul jatuh padanya! Bun Sam berteriak girang sambil bertepuk tangan. Burung rajawali yang sedang berkelahi dengan Siauw liong dan terkena sabetan ekor ular besar itu, ketika mendengar sorakan Bun Sam, agaknya menjadi marah sekali kepada anak ini! Seakan akan mengerti ucapan Bun Sam yang menjadi lawannya, ia menjadi marah kepada anak ini dan cepat ia menyambar ke arah Bun San sambil mengeluarkan pekik nyaring. Biarpun serangan itu cukup cepat namun mata Bun Sam yang sudah terlatih baik itu dapat melihatnya dengan baik dan dengan tenang ia dapat melompat untuk menghindarkan diri dari serangan ini. Akan tetapi tetap saja ia menjadi pucat bukan karena serangan itu, akan tetap karena melihat betapa burung ini benar benar hebat dan menyeramkan. Setelah dekat barulah ia melihat betapa burung ini besar sekali dan matanya seperti emas berkilauan dan pekiknya nyaring memekakkan telinga. Melihat serangannya dapat dielakkan, burung itu makin marah dan ia agaknya telah lupa kepada ular yang tadi diserangnya. Kemarahannya telah pindah kepada Bun Sam yang berdiri sambil tersenyum mentertawakannya. Kembali ia menyambar anak itu, kini dengan cakar dan sayap memukul, akan tetapi Bun Sam yang gesit kembali melompat ke kiri dan burung itu menerkam tempat kosong. Akan tetapi ternyata burung ini luar biasa sekali karena

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

biarpun menubruk tempat kosong, ia dapat membalikkan tubuh di udara demikian cepatnya, sehingga sebelum Bun Sam dapat bersiap siap burung itu kembali telah menubruknya dari samping. Kim Kong Taisu semenjak tadi hanya menonton saja sambil mengelus elus jenggotnya yang panjang. Bahkan sekarangpun ketika Bun Sam terancam bahaya serangan yang ketiga kalinya ini, kakek itupun masih tenang tenang saja. Akan tetapi pada saat itu, bayangan hitam dari Yap Bouw menyambar dan burung itu terpental jauh ketika tangan Yap Bouw yang kuat mendorongnya ke belakang dalam usahanya menolong Bun Sam. Burung itu mengeluarkan pekik lebih nyaring dari pada tadi dan kini ia melayang layang di atas kepala Yap Bouw, kembali berganti lawan. Yap Bouw, jangan bunuh dia! Tangkap hidup hidup! kata Kim Koog Taisu dengan wajah berseri gembira. Burung itu setelah melayang layang beberapa kali agaknya lebih berhati hati menghadapi si baju hitam yang ternyata sanggup mendorongnya sedemikian kerasnya. Kemudian ia memekik keras dan tubuhnya menyambar ke bawah bagaikan batu besar jatuh dari atas, menuju ke arah kepala Yap Bouw. Si muka tengkorak ini cepat mengejek, tidak seperti Bun Sam tadi dengan jalan melompat jauh, melainkan hanya miringkan tubuhnya, sehingga sayap dan ekor burung itu hanya lewat beberapa dim saja dari tubuhnya. Sambil miringkan tubuh, Yap Bouw mengulur tangan kirinya, merangkap kedua kaki burung itu. Akan tetapi tak disangkanya bahwa burung itu demilikan cerdiknya. Ketiki melihat lawan nya menyambar kaki, burung itu menarik kakinya, menyembunyikan di dalam bulu di bawah dada, sehingga Yap Bouw menangkap angin. Burung itu terbang lagi melayang layang di atas kepala Yap

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Bouw sampai beberapa kali sambil mengeluarkan pekik pendek pendek yang bunyinya seperti suara ketawa orang yang tua mengejek. Yap Bouw yang tidak bisa bicara itu nampak nya gemas juga. Ia mengepalkan tangan kanannya dan diacung acungkan ke atas, ke arah burung itu dalam sikap menantang. Tentu saja bekas jenderal ini marah dan mendongkol sekali. Dia bekas jenderal yap Bouw yang pernah menjadi seorang panglima gagah perkasa dan telah merobohkan entah berapa banyak panglima besar musuh, seorang yang terkenal ahli siasat perang dan memiliki ilnu silat tinggi, yang pernah menjatuhkan Ulan Tanu dari Mongol yang tersohor, sekarang tidak berdaya menghadapi seekor burung. Kembali burung rajawali bermata emas itu menyambar turun kini dengan kedua cakar terpentang di kanan kiri agak berjauhan dan selain itu juga sepasang sayapnya menyabet nyabet dan patuknya yang panjang besar dan kuat itu menyerang seperti sebatang tombak. Akan tetapi Yap Bouw tidak menjadi gugup. Kalau saja burung itu tidak memiliki kelebihan daripadanya, yakni sepasang sayap yang membuat binatang itu dapat terbang, dalam segerakan saja Yap Bouw sanggup menangkap atau setidaknya mengalahkannya. Yap Bouw menghadapi serangan yang hebat ini dengan menyuruk ke depan dan mengibaskan kedua lengannya melindungi kepala, sehingga ia berbasil menerobos melalui bawah tubuh burung itu dan berhasil pula menangkap kedua kaki yang mencengkeram. Kemudian secepat kilat ia membalikkan tubuhnya dan sekali menggerakkan tangan, ia dapat menangkap ekor burung dengan tangan kanan dan leher burung itu dengan tangan kiri.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Ha, sekarang tertangkaplah kau! Bun Sam yang semenjak tadi menonton pertempuran itu dengan mulut ternganga saking kagumnya, kini bersorak kegirangan. Suhenng, jangan lepaskan ayam terbang itu! Sengaja Bun Sam menyebut burung itu ayam terbang untuk mengejeknya. Akan tetapi benar benar di luar dugaan Yap Bouw bahwa burung itu masih dapat melepaskan diri. Ketika merasa lehernya, terpegang oleh tangan yang amat kuat, kedua cakarnya lalu mencengkeram ke depan. Untuk melindungi kulit lengannya dari cakaran kuku yang lebih runcing daripada pedang itu, terpaksa Yap Bouw melepaskan leher dan berganti memegang sebelah kaki. Akan tetapi kembali patuk yang kini lehernya telah bebas itu menyerang bukan ke arah tangan lawan, melainkan ke arah mata Yap Bouw. Bukan main hebatnya serangan itu. Kalau bukan Yap Bouw yang diserang, mungkin orang akan menjadi buta atau sedikitnya rusak mukanya. Yap Bouw berlaku waspada. Ia melepaskan pegangannya pada kaki burung, menangkis ___ sambil membetot ekor burung sekerasnya, sehingga serangan burung itu terbetot ke belakang dan tiga helai bulu pada ekornya yang panjang dan ___ itu terlepas trcabut oleh Yap Bouw yang mempergunakan tenaganya. Burung itu memekik keras seperti merasa kesakitan lalu meronta sekuat tenaga, sehingga tak tertahan lagi oleh Yap Bouw, kemudian terbang ke atas sambil melepas kotoran dari bawah ekornya. Serangan yang curang ini benar benar tak disangka oleh Yap Bouw, sehingga biarpun ia melompat pergi, tetap saja beberapa bagian dari kotoran yang cair menghitam itu masih mengenai lengan nya, menimbulkan bau yang tidak sedap.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Mau tak mau Bun Sam tertawa geli dan baru mendekap mulutnya ketika Yap Bouw memandang nya dengan mata mendelik. Kim Kong Taisu iuga tersenyum, lalu berkata, Benar benar seekor Kim gan tiauw (Rajawali Bermata Emas) yang cerdik dan kuat. Selelah berkata demikian kakek ini mengulur tangannya dan tahu tahu kain pengikat kepala Bun Sam telah di renggutnya terlepas. Kakek ini lalu memutar mutar kain pengikat kepala itu dan tiba tiba dilontarkannya kain yang sudah berbentuk tali itu ke atas, ke arah Kim gan tiauw yang masih terbang berputaran sambi1 matanya memandang ke arah tiga orang manusia yang menggangunya. Tali kain itu melayang cepat sekali bagaikan seekor ular terbang dan dengan tepat menyambar ke arah paruh Kim gan tiauw. Burung itu mungkin mengira bahwa yang menyerangnya ini tentulah seekor ular, maka cepat ia mematuknya. Akan tetapi alangkah terkejutnya ketika ia mematuk tengah tengah tali seperti ular itu, patuknya merasai tubuh yang lunak dan kepala serta ekor dari ular ini terus membelit kedua sayapnya. Burung ini menggerak gerakkan sayap dan kedua kakinya, akan tetapi makin keras ia bergerak makin ruwetlah tali itu melibat leher dan sayap. Sambil memekik mekik ketakutan, bagaikan sebuah batu besar dilepaskan dari atas, burung itu jatuh ke bawah. Yap Bouw sambut dia! Kalau menimpa karang ia akan mati! kata Kim Kong Taisu. Si muka tengkorak cepat melompat dan dengan tepat sekali ia dapat menyambar kaki burung itu sebelum tubuh burung itu hancur menimpa batu karang. Tanpa menanti perintah lagi, Yap bouw lalu melepaskan tali pengikat kepalanya yang panjang untuk diikatkan kepada kedua kaki binatang itu dan sambil memegangi lehernya agar patuk

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

nya tidak menyerangnya, Ia memanggul binatang yang besar itu menghampiri gurunya. Kim Kong Taisu memandang ke arah burung itu dan meneliti kepala dan sayapnya. Benar benar Kim gan tiauw yang datang dari utara. Bagaimana ia bisa sampai di sini? burung ini adalah raja burung di daerah utara dan dalam hal kecerdikan serta kekuatan, mungkin hanya Pek bin eng (Garude Muka Putih) saja yang dapat mengimbanginya. Berbeda dengan garuda, burung rajawali ini mudah dijinakkan. Setelah berkata demikian, Kim Kong Taisu lalu menotok pangkal leher dan pangkal kedua sayap burung itu. Sekarang boleh dilepaskan ikatannya, kata nya kemudian. Yap Bouw lalu melepaskan ikatan pada burung itu, burung itu berdiri di atas kedua kakinya dan Bun Sam menjadi makin kagum saja karena tinggi burung itu tidak kalah olehnya. Dengan amat gagah burung itu berdiri dengan dada di angkat kedepan dan kepala tegak. Akan tetapi ketika ia hendak menggerakkan leher dan sayap untuk terbang ia kecele, karena sayapnya telah menjadi lumpuh oleh totokan tadi. Juga ketika ia hendak menverang dengan petuknya, lehernya terasa sakit sekali. Maka tahulah dia bahwa kakek di depannya ini bukan tandingannya. Ia diam saja dan menurut saja ketika Yap Bouw mengajaknya pergi dari situ. Bahkan ketika Siauw liong merayap menghampri nya dan dengan hidungnya mencium cium kakinya burung ini hanya melirik dengan gelisah saja. Bun Sam mau tidak mau tertawa juga ketika melihat sikap Siauw liong, ular jinak ini yang seperti seekor anjing saja. Berkat kesaktian Kim Kong Taisu, Kim gan tiauw ini dapat dijinakkan dan mulai hari itu Bun Sam mempunyai seorang sahabat.baru lagi. Oleh Kim Kong Taisu, burung rajawali itu diberi sama Sin tiauw (Rajawali Sakti).

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Datangnya burung ini merupakan keuntungan besar bagi Bun Sam karena pertempuran antara burung dan ular itu memberikan inspirasi kepada kakek ini untuk menciptakan sebuah ilmu silat yang diambil dari gerakan ular dan rajawali itu. Setelah burung itu menjadi jinak benar, beberapa kali Kim Kong Taisu menyuruh kedua binatang itu bertempur dan dengan penuh perhatian ia menonton pertempuran ini untuk dipetik gerakan gerakan yang baik untuk memperlengkapi ilmu silat yang diciptakannya. Beberapa bulan kemudian, terciptalah dua macam ilmu silat, keduanya ilmu silat tangan kosong yang disebut Ilmu Silat Sin tiauw ciang hwat dan Siauw liong kun hwat (Ilmu Silat Rajawali Sakti dan Ilmu Silat Naga Kecil). Ilmu silat ini sama kuat, sungguhpun masing masing mempunyai keistimewaan sendiri dan Bun Sam menerimma latihan ilmu silat dua macam ini sebagai pemilik tunggal. Yap Bouw sendiri tidak mempelajari ikmu silat ini. Karena Setiap hari Bun Sam bermain main dengan Sin tiauw dan Siauw liong dan ada kalanya secara main main bertempur melawan kedua binatang yang telah jinak seperti kucing atau burung peliharaan ini, maka diam diam ia dapat menyempurnakan gerakan ilmu silatnya meniru gerakan kedua kawannya ini. Bahkan ia menemukan gerakan gerakan kedua binatang ini yang benar benar lihai, gerakan gerakan yang terlewat oleh pandang mata kim Kong Taisu yang tidak begitu dekat perhubungannya dengan Siauw liong dan Sin tiauw. Oleh karena itu, tanpa disadarinya ilmu silat Sin tiauw ciang hwat dan Siauw liong kun hwat yang dimiliki oleh Bun Sam menjadi lebih masak dan sempurna. Kita tinggalkan dulu Bun Sam yang belajar ilmu kepandaian dengan amat tekun dan rajin di puncak Gunung Oei san di bawah gemblengan suhunya, Kim Kong Taisu

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

dengan bantuan suheng nya, Yap Bouw bekas jenderal yang ternama itu. Sian Hwa, puteri tunggal dari Can kauwsu (guru silat Can) atau Can Goan, semenjak berusia tiga tahun telah ditinggal mati oleh ibunya. Dan semenjak itu, sampai berusia empat tahun ia hidup berdua saja dengan ayahnya. Can Goan mendidik anaknya dengan penuh kasih sayang dan semenjak anak ini dapat bicara, ia telah menceritakan segala macam dongeng tentang kegagahan pada Sian Hwa. Can Goan sebagai seorang ahi silat yang gagah dan tabah sekali, tanpa disadarinya telah menjejali ketabahan dan keberanian yang luar biasa dalam diri puterinya. Bahkan ia sering kali menceritakan tentang pendekar pendekar wanita yang pantang menangis, sehingga Sian Hwa setelah berusia empat tahun merasa malu untuk menangis. Memang anak ini kadang kadang menangis, akan tetapi tangisnya tidak bersuara. Hanya air matanya saja yang membasahi pipi akan tetapi ia menekan isak dan sedu sedan. Ayahnya sendiri sering kali merasa heran melihat kekerasan hati anaknya yang masih kecil itu. Demikian pula, ketika ditangkap oleh Bucuci setelah ayahnya dibunuh dan rumahnya dibakar, Sian Hwa sama sekali tidak menangis. Memang betul air matanya mengalir saking menahan sakit ketika ia dibawa keluar dari rumahnya dengar rambut di jambak oleh Bucuci, seperti seekor kelinci. Akan tetapi tak pernah ia berteriak atau mengeluh. Sungguh seorang anak yang luar biasa dan jarang dicari duanya. Ketika Bucuci memondongnya dan tidak jadi melemparnya ke dalam api, bahkan lalu membawanya lari, Sian Hwa tidak menjadi takut. Baru ia merasa ngeri ketika melihat betapa cepat larinya orang yang pakaiannya

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

dipasangi kerincingan ini. Memang luar biasa sekali cepatnya, seakan akan kedua kaki Bucuci tidak menginjak tanah. Ha. ha, ha, kau patut menjadi anakku, kau tabah dan berani sekali, berkali kali Bucuci tertawa seorang diri sambil mempercepat larinya. Aku tidak mau menjadi anakmu. Aku anak ayah, aku ingin pulang kepada ayah! tiba tiba Sian Hwa menjawab kata kata Bucuci dengan suara nyaring. Bucuci tertawa lagi. Ayahmu? Ha, ha, ha! Akulah ayahmu, kau harus menjadi puteri seorang yang gagah perkasa, harus mempunyai seorang ibu yang cantik jelita seperti Kui Eng. Ayahku seorang gagah perkasa, kata Sian Hwa lagi. Mendengar ini, Bucuci menunda larinya. Ia memandang kepada wajah anak itu yang menentang matanya dengen berani. Anak tikus! Ayahmu itu orang apa Menghadapi Ngo jiauw eng saja sudah mampus. Kau mau lihat orang gagah? Inilah dia, aku Bucuci ayah mu. Lihat, apakah orang she Can itu sanggup menandingi tenaga dan kepandaianku? ia menurunkan Sian Hwa di pinggir jalan, kemudian bagaikan seorang mabuk, Bucuci tertawa tawa dua menghampiri sebatang pohon yang besarnya melebihi tubuhnya sendiri. Dengan cepat ia menggerakkan kedua tangannya sambil berseru keras sekali dan batang pohon itu patah pada tengah tengahnya, lalu tumbang bagaikan ditebang saja. Ha, ha, ha, dapatkah dia menyamai tenagaku? Dapatkah dia menandingi kecepatanku ? Sambil berkata demikian, tubuhnya yang pendek tiba tiba lenyap dari

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

pandangan mata Sian Hwa yang sejak tadi memandang dengan kagum. Ha, aku di sini, anakku! Ketika Sian Hwa menengadah, ternyata orang itu telah berada di puncak pohon yang tinggi, kemudian bagaikan seekor burung saja, Bucuci melayang turun, menyambar tubuh Sian Hwa yang dibawanya melompat naik ke atas pohon yang tadi pula. Sian Hwa merasa seakan akan jantungnya hendak copot, mukanya pucat akan tetapi biarpun ia ketakutan sekali melihat tanah yang demikian dalamnya di bawah kakinya. ia tidak mau berteriak. Katakan sekarang, apakah aku tidak lebih gagah perkasa dari pada ayahmu yang telah mampus itu? Sian Hwa baru berusia empat tahun. Tentu saja belum begitu pandai menangkap pembicaraan orang. Akan tetapi harus diakui bahwa kepandaian orang ini benar benar hebat, melebihi ayahnya. Dia semenjak kecil telah dididik kejujuran oleh ayahnya, maka katanya terus terang, Memang kau lebih gagah perkasa. Bukan main girangnya hati Bucuci. Sungguh mengherankan, ribuan orang dewasa setiap hari memuji muji kepandaiannya akan tetapi semua pujian itu diterimanya dengan perasaan jemu. Akan tetapi sekarang, pujian yang keluar dari mulut anak kecil ini, membuat ia berdebar girang dan bangga, ia membawa Sian Hwa melompat turun lagi sehingga anak itu terpaksa memicingkan kedua matanya. Sekarang akulah ayahmu karena aku lebih gagah, kata Bucuci pula. Dan kau akan mempunyai ibu yang bijaksana dan cantik seperti bidadari. Dan kau akan menjadi puteri Bucuci yang cantik seperti ibunya dan gagah seperti ayahnya. Sambil berlari lari cepat, Bucuci berkata kata

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

terus didengar tanpa dijawab oleh Sian Hwa yang hanya mengerti setengah setengah. Bucuci membawa lari Sian Hwa sampai setengah malam lebih dan setelah fajar menyingsing barulah ia tiba di tempat tinggalnya, yakni di sebuah kota yang berada di sebelah barat kota raja Sian Hwa telah tidur nyenyak dalam gendongannya karena lelah. Rumah Bucuci adalah sebuah rumah besar dan kuno, bekas rumah seorang panglima Han yang telah gugur dan semua penghuninya telah dibasmi habis. Baru saja sampai di pekarangan depan, Bucuci telah berseru girang dengan suara yang amat keras dan nyaring. Kui Eng,... manis.! Keluarlah dan lihat apa yang kubawa untukmu.! Teriakannya ini amat keras, sehingga Sian Hwa yang tidur menjadi kaget dan terbangun. Akan tetapi, lebih cepat lagi adalah gerakan Bucuci karena baru saja gema suaranya lenyap, ia telah berada di ruang depan. Memang Kui Eng, isterinya yang baru itu mendengar suaranya ini, akan tetapi sebelum ia keluar, Bucuci telah masuk ke dalam kamarnya. Hal ini tidak mengherankan Kui Eng, karena ia tahu bahwa suaminya ini memang memiliki kepandaian yang luar biasa tingginya. Kui Eng bukanlah seorang wanita yang keras hati dan yang berani berlaku nekat. Memang ia amat berduka karena suami dan keluarganya dibunuh dan ia dipaksa menjadi isteri Bucuci, akan tetapi ia tidak berani membunuh diri. Dengan hati hancur ia menyerahkan diri kepada nasib dan berusaha sedapat mungkin untuk menjadi isteri yang baik dan untuk mencari kebahagiaan baru dalam pernikahan paksaan ini. Ia akui bahwa terhadap dia, Bucuci amat menyayang, penuh perhatian dan cinta kasih, sehingga

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

boleh dibilang suami baru ini akan suka minum arak dari sepatunya. Akan tetapi, biarpun Kui Eng hidup mewah dan terkasih, ia selalu tak dapat melpakan anaknya yang terbunuh pula dalam amukan barisan Ang bi tin. Biarpun bukan Bucuci yang membunuh anaknya, akan tetapi ta menganggap secara tidak langsung, suaminya yang baru inilah yang mengakibatkan kematian anaknya yang terkasih. Kui Eng memang cantik jelita, benar seperti yang dikatakan oleh Bucuci terhadap Sian Hwa. Nyonya ini berusia antara duapuluh dua tahun dan selain cantik jelita, juga amat pandai membuat syair, melukis dan menyulam. Wataknya halus dan lemah lembut maklum seorang wanita terpelajar dan bekas isteri seorang panglima. Di pagi hari itu, Kui Eng nampak makin cantik dengan rambutnya yang kusut, sehingga untuk kesekian kalinya Bucuci berdiri di ambang pintu dengan mata terpesona. Untuk kesekian kalinya ia jatuh cinta kembali kepada isterinya yang baru ini. Akan tetapi Kui Eng tidak melihat kepadanya karena nyonya ini sedang memandang dengan mata terbelalak kepada Sian Hwa. Siapakah dia..? ia bertanya dengan suara perlahan. Bucuci tertawa girang. Coba terka siapa dia? Dia adalah anakmu, Kui Eng, anak kita. Manis bukan? Kau suka padanya? Kemudian sambil membelai rambut Sian Hwa. Bucuci berkata. Nah itulah ibumu, nak. Camtk sekali bukan? Kalian memang cocok sekali menjadi ibu dan anak. Akan tetapi Kui Eng telah melompat, turun dan setengah berian menghampiri mereka. Dipondong nya Sian Hwa dengan mata basah dan mulut tersenyum karena ia merasa

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

terharu, girang dan sedih. Ia dapat menduga bahwa anak ini tentulah anak yang dipilahkan dengan paksa dari orang ruanya. Ia telah mendengar tentang pekerjaan suaminya sebagai perwira Ang bi tin. Anakku manis, siapakah namamu? sambil mencium jidat Sian Hwa, Kui Eng bertanya. Sikap dan suaranya amat manis dan halus, sehingga San Hwa menjadi suka sekali. Anak ini sudah hampir lupa akan ibunya dan kini mendapatkan ibu yang demikian ramah tamah, tentu saja ia menjadi amat terhibur. Hati yang kecil itu penuh oleh perasaan terharu dan ketika ia didekap oleh nyonya itu ke dadanya, tak dapat tertahan lagi menangislah Sian Hwa terisak isak. Bucuci menjadi bengong menyaksikan hal ini. Anak itu tadi tak pernah menangis, bahkan ketika dijambak keluar dan rumah dan hendak dilempar ke dalam api, tak pernah mengeluh atau menangis, akan tetapi sekarang sekali saja dipeluk atau dicium oleh Kui Eng, lalu menangis sedemikian sedihnya. Aneh aneh perempuan memang makhluk aneh, masih sebegini kecilpun sudah merupakan teka teki bagiku ! kata orang kate ini sambil menggeleng gelengkan kepala. Keluarlah kau dulu, berganti pakaian. Biar aku membujuk anak ini. kata Kui Eng hulus kepadanya. Bucuci tak pernah menolak permintaan Kui Eng, akan tetapi ketika hendak keluar dari pintu, ia mendekati isterinya itu dan menyentuh pipinya dengan mesra. Katakan bahwa kau senang dengan oleh oleh yang kubawa ini, manis. Kui Eng mencium rambut Sian Hwa dengan penuh kasih sayang.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Aku senang sekali, terima kasih. Aku senang sekali! Dengan hati sebesar gunung Bucuci lalu keluar dari kamar itu. Memang amat mengherankan sekali pengaruh dari cinta kasih. Seorang manusia seperti Bucuci yang sudah bertahun tahun berkecimpung dalam peperangan, yang sudah banyak sekali membunuh lain manusia tanpa berkejap mata, membakar rumah, menganiaya orang, membinasakan keluarga perwira Han dan lain kebuasan lagi sambil tersenyum, seorang perwira yang sudah mengeras hatinya dan tidak mengenal kasihan lagi, setelah menjadi korban cinta kasih, dapat menjadi demikian lemah lembut dan mesra di depan kekasih nya ! Benar benar aneh kalau bagi orang lain mungkin Bucuci kelihatan seperti seekor harimau yang galak dan ganas, tapi dalam pandangan Kui Eng, laki laki ini merupakan seekor domba yang jinak dan penurut! Sian Hwa masih terlalu kecil untuk dapat mengingin she nya (nama turunannya) yang sebenarnya, maka ketika Kui Eng mengganti shenya (nama keturunan) dari Can menjadi Tan, ia tidak mengetahui perbedaannya. Semenjak hari ini, namanya menjadi Tan Sian Hwa. Nama keturunan ini adalah nama keturunan Kui Eng sendiri. Bucuci mendapatkan kebahagiaan besar setelah Sian Hwa menjadi anak mereka. Benar saja, kini Kui Eng bagaikan sebuah lampu minyak mendapat tambahan minyak lagi. Wajahnya berseri dan ia mulai tersenyum senyum, apalagi kalau ada Sian Hwa di sampingnya. Kini kehidupan nyonya ini ada isinya lagi, tidak kosong dan hampa, ia bahkan dapat membalas cinta kasih suaminya sebagai perasaan terima kasih bahwa Bucuci telah mendapatkan Sian Hwa. Selain perobahan sikap Kui Eng, yang amat menyenangkan hatinya itu, Bucuci juga mengalami perasaan yang aneh sekali terhadap Sian Hwa.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Ia menjadi sayang kepada anak yang mungil dan lucu itu, apalagi setelah Sian Hwa benar benar lupa kepada ayah bundanya sendiri dan menyebut Bucuci ayah dengan sepenuh hatinya. panglima Ang bi tin yang kate ini merasakan kebahagiaan seorang ayah sejati. Sering kali ia merasa bersukur bahwa dahulu ia tidak jadi membunuh Sian Hwa. Suami isteri ini lalu berlumba untuk mendidik Sian Hwa. Kui Eng mendidiknya dalam ilmu surat dan kerajinan tangan, adapun Bucuci mulai menurunkan ilmu silatnya yang lihai. Semenjak berusia empat tahun. Sian Hwa telah ia didik dengan dasar dasar ilmu silat, bahkan tidak pernah lupa untuk memberi minum obat obat yang besar sekali khasiatnya guna perkembangan jasmani dan penguat tulang serta pembersih darah. Aku akan membikin anakku kelak menjadi gadis yang cantik dan tergagah di seluruh dunia? Sering kali Bucuci berkata kepada isterinya. Kui Eng hanya tersenyum dan biarpun sakit hatinya terhadap pembasmian keluarganya yang dahulu telah mulai menghilang, ia masih saja merasa tidak senang melihat suaminya ini menjadi perwira dari barisan Ang bi tin yang ditakuti semun orang. Mengapa kau tidak mencari pekerjaan lain? Dengan kepandaianmu kau tentu dapat memilih kedudukan baru di kota raja, tidak seperti sekarang, menjadi perwira Ang bi tin yang pekerjaannya sama dengan algojo. Sungguh mengerikan! Sesungguhnya sering kali di waktu malam apabila aku teringat akan pekerjaanmu, aku menjadi takut dan merasa ngeri kepadamu ! Bucuci tertawa geli. Lalu memegang tangan isterinya sambil berkata dengan halus, jauh sekali bedanya dengan

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

suaranya yang keluar dari mulutnya apabila ia berada jauh dari isterinya. Isteriku yang kusayangi, memang dipandang sepintas lalu saja tuduhanmu itu ada betulnya juga. Akan tetapi kau agaknya tidak tahu bahwa Ang bi tin adalah pasukan yang sebetulnya dikendalikan oleh pemerintah juga. Ang bi tin merupakan pasukan rahasia, pasukan yang tugasnya mencari dan membinasakan orang yang dicurigai dan yang mempunyai kehendak akan memberontak. Kalau orang orang ini dibiarkan saja mereka yang terdiri dari orang orang berkepandaian silat itu tentu akan merupakan kesatuan yang amat kuat dan membahayakan ketenteraman pemerintah. Tunggulah saja, isteriku. Setelah pemberontak pemberontak itu dapat dibersihkan, sebuah pangkat yang tinggi telah tersedia untuk suamimu ini! Kui Eng yang tidak mengerti tentang siasat dan peraturan pemerintah baru itu, percaya saja. Dan memang sebetulnya ucapan Bucuci tadi benar belaka. Ang bi tin walaupun bukan merupakan pasukan resmi, namun didukung dan dibantu oleh pemerintah Goan tiauw. Kurang lebih setahun kemudian, ketika Sian Hwa sudah berusia lima tahun, anak ini telah diberi pelajaran ilmu silat yang lumayan juga. Dan alangkah girangnya hati Bucuci setelah ternyata bahwa anak ini lebih suka melatih ilmu silat dari pada melatih kepandaian menyulam atau membaca buku. Ternyata bahwa bakat ilmu silat anak ini amat baik. Sesungguhnya hal ini tidak amat mengherankan hati Bucuci karena ia ingat bahwa anak ini adalah puteri dari seorang guru silat. Pada suatu hari yang cerah, di dalam kebun bunga yang terkurung tembok dari rumah gedung Bucuci, nampak Sian

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Hwa pagi pagi telah melatih diri dan memainkan ilmu silat yang dipelajarinya dari ayahnya. Anak ini memang rajin sekali dan mempunyai kebiasaan yang amat baik, yakni pagi pagi benar pada waktu ayam berkokok telah bangun dan berlatih silat di dalam kebun. Semenjak tadi ia melatih ilmu pukulan yang hanya beberapa jurus itu berulang ulang, sehingga tubuhnya menjadi basah oleh peluh. Karena hawa pagi itu dingin, maka peluh yang keluar dari tubuhnya itu dibarengi oleh uap putih yang keluar dan laher dan kepalanya. Ketika untuk kesekian kulinya Sian Hwa mengulangi lagi latihannya, tiba tiba terdengar suara ketawa dan disusul oleh suara mengejek, Ha, ha ilmu silat yang buruk sekali! Buruk dan lucu! Sian Hwa menjadi kaget dan marah, lalu cepat menengok, ia melihat seorang anak laki laki berusia. kurang lebih tujuh tahun berdiri di atas tembok yang mengurung kebun itu. Anak ini berpakaian indah, berwajah tampan dan rambutnya agak kemerahan. Monyet kurang ajar, ayoh kau pergi dari sini! Sian Hwa memaki sambil menudingkan telunjuknya. Akan tetapi anak laki laki itu tdak pergi, bahkan lalu melompat ke dalam kebun. Dari lompatan ini saja dapat diketahui bahwa ia telah mempelajari ilmu silat dan ilmu ginkang dari guru yang pandai. Akan tetapi Sian Hwa belum dapat berpikir sejauh itu dan pula, dalam hal keberanian anak ini takkan kalah oleh anak laki laki yang manapun juga. Melihat anak itu melompat ke dalam kebun dan berdiri bertolak pinggang di hadapannya, merahlah wajah Sian Hwa saking marahnya,

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Kau kurang ajar! Apakah kau masuk hendak mencuri? Ya, aku memang hendak mencuri. Hendak mencuri kembang! anak itu berkata sambil menghampiri sebatang pohon bunga cilan yang penuh dengan bunga. Tidak boleh, jangan mencuri kembangku! Sian Hwa membentak, akan tetapi anak laki laki itu telah memetik setangkai bunga cilan dan dengan sengaja ia menciumi bunga itu sambil mengejek dan tertawa, Hm, alangkah wanginya ! Kembalikan kembangku, maling jahat! Dan pergilah, kalau tidak, kupakui kau ! Kini Sian Hwa menjadi marah sekali. Gadis cilik berusia lima tahun ini melangkah maju dengan dua tangan terkepal. Kau hendak memukul aku? Ha, ha, ha kau mau memukul dengan kepalan tahu itu? Aduh ___aya, jangan jangan tanganmu menjadi patah nanti! Anak laki laki itu mentertawakan sambil melempar bunga cilan yang tadi dipetiknya di atas tanah. Makin marahlah Sian Hwa mendengar sindiran dan ejekan ini, maka tanpa banyak cakap lagi ia lalu menerjang maju, memukul dengan ilmu pukulan yang tadi dipelajarinya. Sungguhpun pukulun seorang anak kecil seperti Sian Hwa ini tentu saja amat lemah, namun oleh karena pukulan itu dilakukan dengan cara yang tepat, kedudukan kaki yang kuat dan datangnya mengarah bagian tubuh yang berbahaya, yakni di ulu hati, kalau mengenai sasaran akan lumayan juga. Akan tetapi.anak laki laki itu sambil memperdengarkan suara ketawa menghina, memiringkan tubuh dan sekali tangannya bergerak, ia telah menangkap pergelangan tangan Sian Hwa. Gadis cilik ini marah sekali dan segera menggunakan tangan kiri untuk

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

menyusul dengan sebuah pukulan pula, akan tetapi kembali tangan kiri ini dapat tertangkap. Sian Hwa tidak berdaya lagi. Ia mendongkol dan marah sekali, akan tetapi betapapun juga ia meronta ronta untuk melepaskan kedua tangannya, tenaga laki laki itu jauh lebih besar dari padanya dan pegangan itu tak dapat dilepaskan. Lepaskan....! Lepaskan, kau bangsat! Awas, kalau ayah keluar kepalamu akan dipukul hancur! Sian Hwa berteriak teriak, memaki maki akan tetapi anak laki laki itu tidak mau melepaskan pegangannya dan berkata, Tidak akan kulepaskan sebelum kau mengaku bahwa ilmu silatmu buruk dan lemah sekali. Kalau aku tidak sayang melihat kulitmu lecet lecet dan berdarah, aku sudah melemparkan kau ke pohon kembang berduri itu! Akan tetapi tentu saja Sian Hwa yang keras hati dan berani itu tidak sudi mengaku bahwa ilmu ulat yang ia pelajari dari ayahnya itu buruk dan lemah, Ayah akan menghancurkan kepalamu membeset kulitmu, mengeluarkan isi perutmu! berkali kali ia mengancam dengan marah sekali. Akhirnya muncul juga Bucuci. Setelah seorang pelayan mengabarkan kepadanya tentang keributan yang terjadi di dalam kebun itu. Bucuci marah sekali mendengar bahwa anaknya ada yang mengganggu. Sekali ia melompat, tubuhnya berkelebat keluar dari rumah dan tiba di dalam kebun itu. Kerincingan kerincingan di bajunya berbunyi nyaring karena kalau Bucuci sedang marah, gerakan tubuhnya kasar dan kerincingan kecil kecil itu bergerak gerak terdengar dari jauh, Sian Hwa sudah kenal baik suara ini, maka ia lalu berseru, Ayah, ada maling kecil memasuki kebun kita. Lemparkan dia keluar, ayah!

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Akan tetapi sungguh aneh sekali. Ketika melihat anak laki laki ini, tiba tiba muka Bucuci yang tadinya muram dan marah, kini berubah menjadi terang, bibirnya tersenyum dan matanya berseri. Ah, tidak tahunya Liem kong cu (tuan muda Liem) yang datang! Sian Hwa, dia bukan maling, dia adalah kawan baik sendiri Liem kong cu, dengan siapa kau datang dan mengapa jalan dari belakang? Sementara itu, mendengar suara kerincingan baju Bucuci, anak laki laki yang tampan dan berpakaian mewah itu telah melepaskan kedua tangan Sian Hwa dan menjura kepada Bucuci. Paman Bucuci, aku mendahului ayah yang sebentar lagi tentu akan tiba di sini juga. Ayahmu....? Liem goanswe akan datang.... tanya Bucuci girang, akan tetapi pada saat itu juga terdengar suara keras dari jauh. Bucuci, sediakan arak wangi dan daging harimau! Suara ini terdengar masih jauh, akan tetapi telah bergema seperti suara yang keluar dari mulut seekor singa. Bucuci lalu bertepuk tangan tiga kali dengan kerasnya. Dua orang pelayan yang sudah tahu akan tanda dari majikannya ini cepat datang ke kebun itu dengan berlari lari. Lekas sediakan meja pertemuan di kebun ini. Ambillah arak wangi yang paling baik dan katakan kepada hujin (nyonya) untuk mengeluarkan daging harimau yang direndam dalam arak kemudian minta kepada hujin supaya keluar untuk menemani Liem goanswe beserta Liem kongcu! Dua orang pelayan itu berlari lari pergi untuk melakukan perintah ini. Baru saja mereka pergi dari atas tembok yang

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

mengurung kebun itu melayang tubuh seorang laki laki yang bertubuh tinggi besar sekali seperti seorang raksasa. Iapun berpakaian baju perang yang amat gugah bernama hijau, pedangnya yang panjang menempel pada punggungnya dan mukanya yang lebar itu benar benar gagah, mengingatkan orang akan muka Kwan In Tiang, seoarang tokoh besar dari jaman Sam kok. Sepasang matanya bundar seperti mata harimau galaknya, berputar putar memandang ke depan dengan berani dan gembira. Ketika kedua kakinya turun ke atas tanah. Tidak terdengar sesuatu, akan tetapi Sian Hwa merasa betapa tubuhnya tergetar terbawa oleh getaran tanah yang diinjaknya, seakan akan baru saja ada benda yang amat berat jatuh di dekatnya. Bucuci cepat memberi hormat dengan menjura dalam dalam, dan laki laki tinggi besar yang berpakaian jenderal itu tertawa terbahak bahak. Tak usah banyak penghormatan Bucuci. Akupun datang bukan sebagai jenderal dan atasanmu, melainkan sebagai seorang kawan. Kalau sebagai jenderal, tentu banyak pengikutku dan masukkupun bukan dari tembok belakang. Ha, ha, ha! Kemudian ia mengusap usap rambut anak laki laki tadi sambil berkata lagi Aku sedang berjalan jalan dengan Swee ji (anak Swee) dan kebetulan saja lewat di sini. Swee ji yang memaksaku untuk mampir di sini karena katanya sudah amat lama tidak berkunjung ke rumahmu. Kami girang sekali, Liem goanswe. Kami mendapat kehormatan besar sekali. Dengan ramah tamah sekali Bucuci lalu mengatur meja kursi yang dibawa oleh pelayan lalu mempersilakan Jenderal Liem duduk di situ. Juga Liem Swee. Anak itu, yang tersenyum senyum memandang Sian Hwa duduk di samping ayahnya.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Inikah anakmu itu, Bucuci? tanya Liem Po Coan atau Jenderal Liem sambil menandang kepada Sian Hwa dengan matanya yang bundar. Betul, goanswe, betul. Inilah anak kami. Sian Hwa, lekaslah kau memberi hormat kepada Liem Goanswe. Ketika Bucuci melihat keraguan anaknya cepat cepat menambahkan, Kau tidak tahu Sian Hwa, Liem goanswe adalah orang yang paling tinggi ilmu silatnya di kota ini! Kepandaian ayahmu tidak ada sepersepuluh bagian dari kepandaiannya, anakku! Bucuci mengerti betul watak anaknya. Sian Hwa memang angkuh dan tidak mau merendahkan diri kepada siapapun juga, akan tetapi anak itu sungguh tunduk kepada orang orang yang memiliki kepandaian silat tinggi! Tiap kali ayahnya bercerita tentang orang orang yang gagah perkasa, matanya bersinar dan ia menyatakan penghormatan dan kekaguman. Kini mendengar pengakuan ayahnya bahwa si raksasa yang baru tiba ini adalah orang terpandai diseluruh kota raja, dengan sendirinya sepasang matanya yang sudah berang itu menatap wajah jenderal itu dengan kepala mengadah, karena jenderal itu amat tinggi besar. Kemudian anak ini lalu menjatuhkan diri berlutut di depan Liem goanswee. Liem Po Coan senang sekali melihat Sian Hwa. Matanya yang tajam sekilas saja dapat melihat bahwa gadis cilik ini memiliki bakat yang luar biasa dan pula memiliki kecantikan yang amat mengagumkan, ia dapat membayangkan bahwa kelak gadis cilik ini tentu akan menjadi seorang wanita yang elok dan gagah. Timbul pikiran baik dalam kepalanya. Ia hanya memiliki seorang putera, yakni Liem Swee dan biarpun anaknya itu bukan seorang bodoh dan juga memiliki bakat yang baik akan tetapi ia tahu bahwa anaknya takkan dapat mewarisi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

seluruh kepandaiannya. Kalau saja anak perempuan yang berbakat baik sekali ini dapat menjadi muridnya dapat menjadi kawan baik atau saudara seperguruan dengan Liem Swee, alangkah baiknya hal itu. Dan siapa tahu, kalau kalau mereka kelak berjodoh! Anak baik, anak baik.... ia berkata sambil maju dan mengangkat tubuh Sian Hwa dan dipandanginya muka anak yang manis itu. Benarkah kau memiliki kepandaian lebih tinggi dari ayah? Sian Hwa bertanya sambil memandang berani. Ha, ha, tentu saja! Kepandaian ayah tidak ada bandingannya di dunia ini! Liem Swee berkata dengan bangga. Aah, ayahmu terlalu merendahkan diri, anak baik. Sampai di mana batas kepandaian seseorang? kata jenderal raksasa itu. Ilmu pedangnya belum pernah ada yang mengalahkan, kata Bucuci sambil memandang kagum. Hal itu harus kuakui. Memang belum pernah pedangku ini dikalahkan orang, Liem Po Coan menepuk nepuk gagang pedangnya yang berada di atas pundak, di belakang punggungnya. Pada saat itu, datang Kui Eng, diiringkan oleh beberapa orang pelayan wanita yang membawa hidangan. Kui Eng cepat memberi hormat kepada Liem goanswe, lalu berkata kepada Sian Hwa yang masih dipondong oleh jenderal itu. Sian Hwa, jangan kurang ajar! Kau nanti mengotorkan pakaian goanswe....

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Mendengar teguran ibunya ini, Sian Hwa lalu meronta minta diturunkan Liem goanswe menurunkannya, lalu tertawa girang sambil memandang kepada Kui Eng. Bagus, anak itu bagus sekali, baik seperti ibunya, ia memandang tajam kepada Kui Eng dan melihat betapa nyonya muda yang cantik itu sekarang makin cantik dan mukanya kemerahan tanda sehat badan dan pikiran, ia mengangguk anggukkan kepalanya kepada Bucuci. Kau seorang suami dan ayah yang beruntung! Bucuci tertawa senang lalu menuangkan arak di dalam cawan dan mempersilahkan tamunya minum arak dan makan daging harimau yang menjadi kesukaan jenderal itu. Siapakah Jenderal Liem Po Coan yang tinggi besar dan berkepandaian tinggi ini? Dia ini sebetulnya adalah seorang tokoh kang ouw yang amat terkenal dengan julukannya yang seram, Pat jiu Giam ong (Dewa Maut Tangan Delapan). Seperti juga Bucuci dia sebetulnya adalah seorang Mongol, akan tetapi semenjak kecil telah merantau dan hidup di dalam tombok besar, bahkan tetah menerima pendidikan silat tinggi dan seorang sakti bangsa Han. Dia ini tak lain adalah adik sepeguruan (sule) dari Seng jin Siansu, tokoh aneh dan lihai dari selatan yang berjuluk Lam Hai Lo mo (Setan Tua Laut Selatan) itu. Dan selain menjadi sute dari Seng Jin Siansu, juga dia masih terhitung saudara misan dari Ulan Tanu Si Alis Merah. Liem Po Coan telah menikah dengan seorang wanita Han atas dasar suka sama suka. Isteinya juga bukan seorang sembarangan, karena isterinya pun pandai ilmu silat dan masih menjadi murid dari cabang persilatan Hoa san pai. Semenjak menikah dengan isterinya itu, Liem Po Coan lalu berubah menjadi seorang Han, bahkan namanyapun ia ganti dari nama Mongol menjadi Liem Po Coan! ia tadinya hidup bertani dan mengasingkan diri bersama isterinya dan

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

sama sekali tidak mau muncul ketika bangsanya menyerbu Tiongkok. Akan tetapi ketika ia mendengar tentang kematian Ulan Tanu, tergeraklah hatinya dan pergilah ia ke kota raja bersama isteri dan anaknya. Kaisar yang mengetahui tentang kepandaiannya, menawarkan pangkat tinggi, yang segera di terimanya. Ia di angkat merjadi goanwse (jenderal) yang berkedudukan di kota raja menjadi pelindung kaisar dan bertanggung jawab keamanan di dalam kota raja. Disamping itu, diam diam dialah yang memegang kendali pasukan Ang bi tin dan dia pulalah sebetulnya yang menggerakkan pasukan ini, Liem Po Coan sesungguhnya mengadakan atau melanjutkan gerakan pasukan Ang bi tin, yang dipelopori oleh keponakannya yakni putera dari Ulan Tanu yang bernama Salinga, bukan semata mata terdorong karena kebenciannya terhadap perwira perwira Han. Ia mau membantu Salinga bukan untuk membalas dendam dari Ulan Tanu akan tetapi semata mata berdasarkan perhitungan yang masak dan demi kedudukannya sebagai penanggung jawab keselamatan kota raja. Jenderal ini maklum bahwa di antara Bangsa Han yang besar itu terdapat banyak sekali orang orang sakti yang berkepandaian tinggi dan orang orang gagah yang merasa sakit hati kepada pemerintah yang baru, terutama sekali adalah bekas bekas perwira pemerintah lama. Oleh karena itu, pembasmian terhadap mereka ini dianggapnya suatu usaha yang baik dan tepat. Putera tunggalnya yang tadi menggoda Sian Hwa, bernama Liem Swee dan semenjak kecil telah dilatih ilmu silat oleh ayahnya, sehingga di dalam usia enam tahun saja ia sudah memiliki kepandaian yang lumayan. Liem Swe memiliki watak yang gembira dan jenaka seperti ibunya yang dulunya adalah seorang pendekar wanita perantau yang centil dan jenaka. Akan tetapi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

agaknya diapun mewarisi watak ayahnya yang amat keras dan juga kejam. Ketika tadi melihat Sian Hwa yang mungil, Liem Swee ___ suka sekali kepada anak perenpuan ini, apalagi ketika melihat bahwa Sian Hwa juga suka ____ dengan ilmu silat seperti kesukaannya juga. Maka demi melihat betapa ayahnya juga tertarik dan suka kepada anak itu ia lalu berseru, Ayah tadi aku melihat Sian Hwa bersilat buruk sekali. Kalau dia suka ilmu silat mengapa tidak ayah ambil murid saja supaya aku bakal punya kawan belajar. Mendengar kata kata Liem Swee yang jelas terang ini, semua orang saling pandang. Bucuci merasa tidak enak sekali karena merasa betapa ilmu silatnya dicela oleh Liem Swee, akan tetapi tentu saja ia tidak berani memperlihatkan ketidaksenangan hatinya. Apalagi ia tahu bahwa memang kepandaiannya masih jauh dibawah kepandaian Jenderal Liem ini dan pula tidak terlalu adalah kalau ilmu silat Sian Hwa dicela, karena anak ini memang masih terlalu kecil untuk dapat memiliki kepandaian yang berarti. Pat jiu Giam ong Liem Po Coan tertawa tawa mendengar kata kata puterinya itu. Memang kata kata ini cocok sekali dengan suara hatinya akan tetapi tentu saja ia tidak mau mendahului Bucuci karena hal itu akan berarti merendahkan ilmu kepandaian Bucuci sendiri. Ia hanya berkata, Anak bodoh! Enak saja kau bicara. Bagaimana anak ini bsa menjadi muridku kalau ayahnya sendiri sudah memiliki kepandaian cukup tinggi? Dan juga, belum tentu anak yang manis ini mau menjadi muridku! Bucuci menjadi serba salah. Biarpun ia tahu bahwa kalau puterinya menjadi murid Pat jiu Giam ong berarti bahwa puterinya menemukan guru yang terpandai, akan tetapi ia tidak ingin berpisah dari puterinya. Demikianpun suara hati Kui Eng, yang merasa khawatir sekali kalau kalau ia harus

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

berpisah dari Sian Hwa yang disayanginya. Akan tetapi, sungguh tak dikira sama sekali, Sian Hwa telah mendahului mereka dan anak yang cerdik ini karena tahu bahwa orang tinggi besar itu kepandaiannya lebih tinggi dari ayahnya, tiba tiba maju dan berlutut di depan Pat jiu Giam ong sambil berkata. Aku suka sekali menjadi muridmu ! Bucuci dan Kui Eng tertegun dan ibu yang khawatir ini segera berkata, Sian Hwa, bagaimana kau bisa meninggalkan ibumu? Adapun Liem Po Coan yang melihat sikap Sian Hwa menjadi makin tertarik hatinya, ia lalu berkata kepada Bucuci. Saudara Bucuci, rumah gedungku yang ke dua yang berada di ujung selatan kota raja, tidak kami pakai dan hanya untuk persediaan kalau ada tamu tamu datang. Gedung itu cukup baik, agaknya lebih menyenangkan daripada rumah ini. Kalau kau dan isterimu suka, kau boleh pindah ke kota raja dan tinggal di gedung itu. Dengan demikian anakmu tidak akan berpisah dari ayah bundanya, akan tetapi masih dapat belajar ilmu silat dariku. Bukankah ini baik sekali? Tentu saja Bucuci merasa girang sekali dan bersama isterinya cepat menghaturkan terima kasih. Setelah bercakap cakap beberapa lamanya. Pat jiu Giam ong Liem Po Coan lalu mengajak Liem Swee yang semenjak tadi bermain main dengan Sian Hwa pulang. Beberapa hari kemudian, pindahlah keluarga Bucuci ke kota raja dan ternyata benar seperti ucapan Liem goanswe, rumah gedung yang disediakan untuk mereka itu jauh lebih baik dan baru dari pada yang ditinggalkan.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Semenjak saat itu, hubungan antara Bucuci dan Jenderal Liem lebih erat, kunjung mengunjungi lebih sering karena mereka sekarang tinggal sekota. Tentu saja Sian Hwa menjadi kawan bermain Liem Swee yang suka kepadanya, lebih dari itu, Sian Hwa mulai menerima latihan dan petunjuk dari Pat jiu Giam ong dan ia menyebut jenderal itu suhu atau guru sedangkan kepada Liem Swee ia menyebut suheng (kakak seperguruan). Dapat dibayangkan kemajuan Sian Hwa dalam ilmu silatnya karena anak ini menerima latihan dari dua orang gagah yang terkenal memiliki ilmu silat amat tinggi. Di rumah ia masih tetap menerima petunjuk ilmu silat dari ayahnya dan ilmu surat dari ibunya, adapun dua hari sekali ia dikirim ke gedung Liem goanswe untuk bersama sama Liem Swee melatih ilmu silat yang mereka pelajari dari Pat jiu Giam ong. Karena hidup dalam lingkungan keluarga bangsawan Sian Hwa menganggap bahwa ayahnya dan gurunya menduduki pangkat tinggi dan mempunyai tugas yang amat mulia yakni sebagai pembasmi orang orang jahat yang disebut oleh ayahnya pengacau dan perampok. Iapun mulai menaruh pandangan tinggi terhadap pasukan Ang bi tin yang dipimpin oleh ayahnya dan juga gurunya. Dalam beberapa tahun saja, Sian Hwa sudah lupa sama sekali akan asal usulnya sendiri dan menganggap sebagai hal yang seharusnya bahwa ia adalah puteri dari panglima besar Bucuci. Sepuluh tahun lewat cepat sekali tanpa terasa, menyeret insane makin mendekati kemusnahan tanpa ada yang merasa. Tahun demi tahun menyeret manusia sejengkal lebih dekat kepada makamnya dan manusia masih enak enak saja tidak berprihatin tidak bersedia masih melamun

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

seakan akan ia akan hidup selamanya di dalam mayapada ini. Sepuluh tahun lewatlah sudah semenjak semua peristiwa yang diturunkan di bagian depan itu terjadi. Kota Lok yang di Propin Honan terkenal ramai dan makmur, banyak terdapat toko toko dan restoran restoran besar. Akan tetapi di antara semua restoran yang terdapat itu, tidak ada yang menyamai restoran Lok thian yang berada di tengah kota. Restoran ini amat terkenal karena lengkap dan karena masakannya yang lezat lezat. Araknya terkenal arak tua dan wangi arak tulen yang tidak bercampur air. Masakan masakannya istimewa. Karena di situ terdapat masakan bebek dari utara dan masakan ular dari selatan. Tentu saja tak perlu diceritakan lagi bahwa masakan di restoran Lok thian lebih mahal harganya daripada harga masakan di restoran lain. Dan karena inilah maka langganan restoran ini sebagian besar hanyalah para hartawan dan bangsawan saja. Pemilik restoran itu bukanlah orang sembarangan ia adalah seorang gemuk pendek yang berkepala bulat seperti bal dan yang selalu tertawa ramah tamah terhadap para langganannya. Biarpun orang hanya mengenal sebagai seorang pemilik restoran yang peramah, kaya raya dan suka menolong orang miskin dan mendermakan uang kepada kelenteng kelenteng, akan tetapi di kalangan kang ouw dia terkenal sebagai seorang yang memiliki kepandaian silat yang cukup tinggi. Namanya Lai Seng, akan tetapi di kalangan kang ouw ia lebih terkenal dengan nama julukan Lo kun gu (Kerbau Tunggangan Nabi Lo Cu). Oleh karena Lai Seng termasuk orang yang selalu mengutamakan perbuatan baik, maka ia tidak mendapat gangguan dari pemerintah baru dan dianggap seorang pengusaha restoran yang pandai. Tidak jarang pembesar pembesar di kota raja

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

yang mendengar nama restorannya, sengaja memesan masakan masakan dari Lok yang atau mengundang Lai Seng ke kota raja untuk membikin masakan bagi mereka. Hari itu masih pagi sekali Lai Seng telah duduk di depan restorannya, melihat pegawai pegawainya yang membuka pintu, mengatur meja kursi, membersihkaa meja meja dan ada pula yang menyapu lantai. Lo kun gu Lai Seng ini duduk dengan senangnya mengisap huncwenya dan mengebulkan asap tembakau yang wangi dan mahal. Diam diam ia memuji keuntungannya sendiri yang demikian baiknya. Tidak banyak orang orang kang ouw dapat hidup seperti dia dalam keadaan seperti sekarang ini. Sebagian besar orang orang kang ouw bahkan menjadi orang orang buruan pemerintah dan banyak pula yang telah menjadi korban keganasan pasukan Ang bi tin yang sekarang sudah tinggal namanya saja. Akan tetapi dia, bahkan kini dapat menikmati kehidupan yang mewah, banyak untung dan sama sekali tidak dimusuhi oleh orang orang Mongol dan bangsawan bangsawan dari pemerintah Goan tiauw. Lai Seng telah menjadi orang kaya, istrinya manis dan anaknya tiga orang, dua laki laki seorang perempuan, mau apa lagi hidup di dunia ini? Demikian Lai Seng menghisap asap tembakaunya dengan bati puas dan senang. Pada waktu hari sepagi itu, belum ada tamu datang untuk berbelanja. Tiba tiba, ketika Lai Seng sedang mendekatkan mulut huncwenya kepada bibirnya untuk disedot ia memandang terbelalak ke arah jalan dengan muka pucat dan lupalah ia kepada huncwenya yang masih dipegang di depan mulutnya ia seperti tidak percaya kepada kedua matanya sendiri ketika melihat datangnya lima orang yang aneh aneh, baik bentuk tubuh maupun pakaiannya.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Sin beng Ngo hiap (Lima Pendekar Malaikat)..... bibir pemilik rostorn itu bergerak tanpa mengeluarkan suara dan cepat ia bangkit berdiri, menjura dengan amat hormatnya kepada lima orang yang kini telah tiba di depan itu. Ngo wi locianpwe (lima orang orang gagah) yang mulia, sungguh merupakan penghormatan besar menganjungi rumah siauwte yang buruk. Silakan duduk .... silakan masuk .... Hai, kebetulan kau sendiri yang menyambut kami, Lo kun gu. Kami menanti datangnya tamu kami, Mo bin Sin kun. Sebelum kami pergi, jangan menerima tamu lain kecuali Mo bin Sin kun Mengerti? seorang diantara lima orang tamu aneh ini berkata dengan suara menggetar seperti suara orang yang sudah tua sekali. Akan tetapi, Lo kun gu Li Seng yang terkenal sebagai tokoh kang ouw itu mengangguk anggukkan kepalanya seperti ayam makan padi. Baik, locianpwe. Baik....! Lima orang tua itu lalu bertindak masuk dan terus saia menaiki anak anak tangga menuju ke loteng. Semua pegawai yang sedang membereskan meja kursi, memandang dengan penuh keheranan ketika melihat betapa majikan mereka mengantar tamu tamu aneh ini ke atas dengan sikap yang sedemikian hormatnya. Jika tihu sendiri yang datang bertamu, belum tentu majikan mereka akan menerimanya sedemikian hormatnya. Apalagi setelah lima orang tamu itu tiba di atas, para pegawai melihat majikan mereka berlari lari turun dan sekali melompat menginjak tiga tingkat anak tangga dan dengan gugup berkata, Sediakan masakan yang paling baik! Keluarkan arak yang paling tua. Arak simpanan kita! Layani kelima locianpwe di atas itu baik baik dan penuh penghormatan.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Jaga di pintu, jangan diperbolehkan lain orang tamu masuk .... atau, tunggu dulu biar aku sendiri yang menjaga di depan pintu! Dan ketika ia melihat semua orangnya berdiri bengong ia membentak keras, Ayoh kerjakan perintahku, babi!! Tentu saja semua orang pegawai itu makin terheran heran. Siapakah lima orang tua yang aneh itu ? Mungkin para pembaca akan bertanya demikian pula, maka marilah kita berkenalan dengan lima orang tamu yan membuat Lo kun gu Lai Seng demikian ketakutan. Seperti telah dibisikkan oleh Lai Seng tadi, mereka itu adalah Sin beng Ngo hiap lima orang tokoh kang ouw yang dahulu menggemparkan dunia kang ouw dengan sepak terjang mereka yang aneh dan kepandaian mereka yang luar biasa tingginya. Sin beng Ngo hiap atau Lima Pendekar Malaikat ini terdiri dari lima orang saudara seperguruan. Yang pertama adalah seorang tua yang tinggi kurus seperti pohon bambu, memelihara rambut seperti seorang tosu dengan pakaian berkembang kembang merah kuning biru, sehingga nampak lucu sekali. Namanya Bouw Ek Tosu yang lebih terkenal denin julukan Hwa ie sianjin (Manusia Dewa Baju Kembang). Orang ke dua dan ke tiga benar benar sukar diperbedakan, baik muka, potongan tubuh maupun pakaian. Mereka ini adalah sepasang sudara kembar yang kin telah menjadi hwesio berkepala gundul dan bertubuh gemuk pendek, lebih gemuk dan pendek dari pemilik restoran itu. Mereka ini lebih terkenal dengansebutan Lam san Mi siang mo (Sepasang Iblis dari Gunung Selatan). Sebagai orang ke dua dan ke tiga dari Sin beng Ngo hiap tentu saja kepandaian ke dua orang hwesio gundul pakaiannya serba kuning ini juga amat lihai sekali.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Orang ke empat adalah seorang yang berpakaian sebagai petani, mengenakan topi petani yang terbuat daripada bambu dan ia selalu membawa sebatang pacul di pundaknya. Seperti juga ke tiga suhengnya (kakak seperguruannya), orang ini usianya sudah selengah abad dan biarpun tubuhnya kurus kering seperti cecak mati, namun gerakan kedua kakinya tegap dan gesit sekali. Orang ke empat ini bernama Kui Hok yang berjuluk Pacul Kilat. Berbeda dengan empat orang dari Sin beng Ngo hiap, orang ke lima benar benar tidak pantas menjadi angouta dari Sin beng Ngo hiap, karena murid termuda ini adalah seorang nona yang berwajah cukup manis dan gagah. Dilihat sepintas lalu orang akan mengira bahwa usianya baru duapuluh tahun lebih. Sesungguhnya ia telah berusia tigapuluh lima tahun. Dia bernama Coa Hwa Hwa, akan tetapi lebih terkenal dengan sebutan Hwa Hwa Niocu. Hwa Hwa Niocu ini tidak mau menikah dan biarpun ia kelihatan manis, akan tetapi sesungguhnya ia berwatak ganas dan galak sekali! Dua gagang sepasang pedang tipis nampak menjenguk dari belakang pundaknya, membuat ia kelihatan gagah. Lima orang aneh ini mengambil tempat duduk mengelilingi meja terbesar di atas loteng. Meja itu memang yang paling besar di restoran Lok thian, disediakan khusus untuk perjamuan banyak orang. Kalau ada rombongan tidak lebih dari duabelas orang saja, cukup duduk di sekeliling meja itu, di atas bangku bagku kecil yang diukir dan dicat indah. Terlalu banyak meja kursi di sini. Sungguh sempit dan tidak leluasa! kata Hwa Hwa Niocu sambil menyapu ruang loteng itu dengan sepasang matanya yang tajam, ia maksudkan bahwa tempat ini karena banyak terdapat meja kursi, tentu saja kurang leluasa untuk tempat mengadu

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

kepandaian silat. Apakah kau tidak memikir begitu, twa suheng? sambungnya sambil memandang kepada Hwa ti sianjin Bouw Ek Tosu. Pendeta tua tinggi kurus yang berpakaian kembang kembang ini hanya mengangguk angguk aja. Melihat anggukan ini, Hwa Hwa Niocu lalu menggerakkan kedua kaki tangannya dengan cepat. Tidak tahu bagaimana ia menggerakkan kaki tangannya akan tetapi tiba tiba dua buah meja dan enam buah bangku yang berada di sebelah maja besar itu terlempar ke sudut ruangan bagaikan tertiup angin. Tentu saja terdengar suara hiruk pikuk ketika meja dan bangku itu jatuh tunggang langgang. Lam san siang mo si hwesio kembar gelak tertawa, meras geli melihat perbuatan adik seperguruan yang bungsu ini, akan tetapi si Pacul Kilat Kui Hok, mengerutkan kening. Pada saat itu kembali Hwa Hwa Niocu sudah menggerakkan kakinya dan sebuah meja yang besar juga terlempar. Kalau dibiarkan saja, meja itu tentu akan menabrak meja dan bangku bangku lain dan kesernuanya akan terbawa ke sudut tadi oleh tenaga tendangan hebat ini, akan tetapi tiba tiba meja yang tertendang itu berhenti dan tahu tahu kaki meja telah terkait oleh gagang pacul yang bengkok di tangan Kui Hok, orang ke empat dari Sin beng Ngo hiap. Hwa Hwa! tegur si Pacul Kilat, apakah kau masih belum dapat mengurangi watakmu yang kasar? Sungguh tidak cocok dengan wajahmu yantr makin manis, sumoi. Kita harus ingat bahwa pemilik restoran ini, Lo kun gu, telah berlaku baik dan menerima kita dengan ramah tarnah. Sebagai tamu tamu yang dihormati, kita tidak boleh berlaku sewenang wenang terhadap tuan rumah dan merusak perabot rumahnya,

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Hwa Hwa Niocu tersenyum mengejek Kui suheng masih selalu berwatak lernah lembut. Maafkanlah aku yang kasar, suheng. Aku dapat iuga bersikap kasar, sumoi hanya melihat dengan siapa kita berhadapan. Lo kun gu yang menerima kita baik baik dan yang sebentar lagi hidangannya kita nikmati, tidak seharusnya diperlakukan kasar. Lihat, perlahan lahan juga dapat kita singkirkan meja dan bangku yang menghidangi kita. Sambil berkata demikian, ia menggerakkan paculnya dan meja yang tadi tertengang oleh Hwa HwaNioncu dan yang ditahannya, kini berputar di udara dan melayang ke sudut tadi. Akan tetapi sungguh aneh, ketika meja itu melayang turun, benda itu tidak jatuh tunggang langgang dan tidak menerbitkan suara gaduh, melainkan jatuh dengan kaki di bawah seperti diletakkan oleh tenaga orrang saja. Hwa Hwa Niocu tertawa kagum dan sesungguhnya kalau ia sudah tertawa, wajahnya amat cantik menarik. Ia lalu berkata, Suheng, benar hebat kepandaianmu. Biarlak aku mencoba untuk menirumu Iapun lalu menggunakan kedua tangan, memegang dua buah bangku dan dilontarkannya dua bangku itu menuju ke sudut dengan menggerakkan pergelangan tangannya sehingga bangku bangku itu melayang sambil berputar putar cepat sekali dan ketika turun, hanya menerbitkan sedikit suara saja, Hm, kalian ini selalu ribut ribut ____ anak saja. Ayoh bekerja dan jangan banyak ribut! kata Bouw Ek Tosu. Sambil berkata demikian, iapun menghampiri sekumpulan meja dan bangku. Bagaikan orang melempar lemparkan benda kecil dan ringan, ia memunguti bangku dan meja itu satu demi satu, dilempar lemparkan ke arah sudut dan bukan main! Meja dan bangku bangku itu bertumpuk

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

tumpuk dengan rapinya, seperti di susun oleh beberapa orang yang bekerja dengan hati hati. Kedua hwesio gundul sambil tertawa tawa juga ikut melempar lemparkan meja kursi, sehingga sebentar saja ruang loteng itu kosong dan hanya terisi sebuah meja besar di tengah tengah dengan dua buah bangkunya mengelilingi meja itu. Mereka lalu mengambil tempat duduk. Kata kata Kui sute tadi benar, kata seorang diantara Lam san sian mo si hwesio gundul. Memang kita tidak perlu mengganggu pemilik restoran yang ramah tamah. Kita harus menyiapkan tenaga untuk menghadapi Mo bin Sin kun yang lihai! Aku merasa heran sekali mengapa untuk menghadapi seorang Mo bin Sin kun saja, twa suheng harus mengumpulkan kita di tempat ini. Sebetulnya apakah yang terjadi dan sampai di manakah kelihaian Mo bin Sin kun ini twa suheng? tanya Hwa Hwa Niocu kepada Bouw Ek Tosu dan orang memandang kepada twa suheng mereka karena seperti juga Hwa Hwa Niocu mereka itu belum tahu dengan betul apakah sebetulnya yang terjadi antara twa suheng mereka dan Mo bin Sin kun (Kepalan Sakti Muka Iblis) itu. KetiKa Bouw Ek Tosu hendak menjawab, terdengnr suara tindakan kaki melangkah anak tangga, maka tosu ini menunda pembicaraannya. Empat orang pelayan dengan muka takut takut dan sikap menghormat sekali, naik ke loteng sambil membawa arak dan hidangan yang mengebul panas. Tadi mereka mendengar hiruk pikuk di atas loteng akan tetapi majikan mereka, sambil menghapus keringat yang mengalir di mukanya yang bulat sungguhpun hari maih sepagi dan sedingin itu, memberi sanda agar mereka jangan ikut carnpur. Memang sesungguhnya Lo kun gu Lai Seng sudah kenal baik dengan lima orang lihai ini, maka ia

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

menjadi demikian takutnya. Ia sendiri duduk di atas bangku menjaga pintu dan dengan muka manis ia selalu menolak datangnya para tamu dengan alasan bahwa hari itu ia tidak buka karena tidak bisa mendapatkan barang belanjaan dari luar kota. Yang sibuk dan penasaran adalah para tukang masak dan pelayan. Yang datang hanya lima orang tamu yang aneh, akan tetapi mereka semua harus bekerja keras, mempersiapkan masakan masakan yang termahal dalam waktu cepat. Namun, kalau majikan mereka saja demikian takut terhadap lima orang tamu itu, bagaimana mereka berani memperlihatkan ketidaksukaan hati mereka? Dan para pelayan mulai saling mendorong dan akhirnya, empat orang pelayan yang paling berani saja yang mau mengantarkan arak dan hidangrn ke atas loreng. Mereka ini hanya mengerling sedikit saja ke sudut ruang loteng dimana meja meja dan bangku bangku telah bertumpuk tumpuk dalam keadaan rapi sekali dan ruangan itu menjadi kosong. Tanpa banyak cakap dan tidak berani memandang langsung kepada wajah para tamu, empat orang pelayan itu lalu mengatur arak, hidangan, cawan mangkuk, sendok dan supit ke atas meja besar itu. Seorang di antara meraka, nelayan termuda, amat gugup dan ketakutan sehingga kedua tangan nya menggigil. Ketika tanpa sengaja ia menengok dan memandang ke arah muka Hwa Hwa Niocu, dengan heran ia melihat bahwa nona ini sama sekali bukanlah seorang yang menakutkan, bahkan sebaliknya manis sekali. Maka ia lalu memberanikan diri, untuk menetapkan hatinya yang gelisah, untuk memandang kepada Hwa Hwa Niocu dengan muka manis dan memperlihatkan senyum di bibirnya. Tidak tahunya, Hwa Hwa Niocu adalah seorang nona yang paling benci kalau melihat laki laki tersenyum senyum

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

dan bermuka manis kepadanya. Kini melihat pelayan muda yang melayaninya ini terseyum senyum dan memadang dengan mata penuh arti, ia menjadi gemas. Dengan kening berkerut ia mengambil sebatang sumpit dan seperti seorang main main ia menancapkan sumpit itu amblas dan tembus pada meja yang tebal itu, seakan akan meja itu bukan terbuat daripada kayu yang keras melainkan terbuat daripada agar agar saja. Pelayan muda yang masih tersenyum itu tiba tiba menjadi pucat sekali, apa lag i ketika pandang matanya bertemu dengan pandang mata Hwa Hwa Niocu, hampir saja cawan mangkok yang dipegang nya terlepas. Sepasang mata wanita itu bagaikan ujung tombak tajamnya menyerang kedua matanya, sehingga menembus ke ulu hati dan mendatangkan rasa seram. Pelayan itu cepat menundukkan mukanya dan dengan bulu tengkuknya serasa berdiri semua ia melanjutkan pekerjaannya cepat cepat untuk segera bersama kawan kawannya meninggalkan tempat berbahaya itu. Setelah para pelayan itu pergi, barulah Bouw Ek Tosu menarik nafas panjang dan melanjutkan niatnya bercerita tadi, Kalian tentu telah mendengar nama Mo bin Sin kun, biarpun mungkin belum pernah bertemu. Empat orang adik seperguruannya mengangguk. Siapakah orangnya yang tidak mengenal nama Mo bin Sm kun? Sebelum pemerintah Goan tiauw berdiri, sudah amat terkenal nama dari lima orang tokoh persilatan yang sering kali disebut Lima Besar. Mereka itu ialah Kim Kong Taisu, tokoh yang paling dihormati dan disegani oleh karena memang menganut penghidupan sebagai seorang suci yang selain berilmu tinggi juga memiliki ilmu bathin yang tinggi pula. Ke dua adalah Seng Jin Sian Su yang disebut Lam Hai Lo mo (Iblis Tua Laut Selatan), tokoh

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

yang paling ditakuti dan di benci oleh karena memang terkenal luar biasa dan jahat, selain memiliki ilmu silat yang luar biasa tingginya, juga mahir dalam ilmu hoatsut (sihir). Orang ketiga adalah Mo bin Sin kun seorang yang menurut berita berwajah amat buruk seperti iblis sendiri, akan tetapi jarang sekali ada orang dapat melihatnya karena sepak terjang Kepalan Sakti Muka Iblis ini amat cepat dan hanya bayangannya saja yang nampak oleh orang. Akan tetapi ilmu silatnya juga tinggi sekali dan celakalah mereka yang bentrok dengan Mo bin Sin kun. Jilid IV ORANG Keempat dari Lima Besar itu bukan lain adalah Pat jiu Giam ong Liem Po Coan atau jenderal Liem, adik seperguruan Seng Jin Siansu yang karena kedudukannya menjadi makin disegani orang orang kangouw. Ilmu silaat dari Raja Maut Tangan Delapan ini diberitakan orang tidak kalah oleh kepandaian Seng Jin Siansu. Adapun orang ke lima merupakan tokoh yang penuh rahasia, puluhan tahun yang lalu orang mengenal tokoh ini dengan nama julukan Bu tek Kiam ong (Raja Pedang Tanpa Tandingan). Akan tetapi nama ini terkenal kurang lebih tigapuluh tahun yang lalu sedangkan pada waktu itu, Bu tek Kiam ong ditaksir orang usianya sudah ada lima puluh tahun. Masih hidupkah raja pedang itu? Tak seorangpun dapat menjawabnya, karena orang tua itu tak pernah muncul lagi dan orang tidak tahu di mana dia berada. Betapapun juga, julukan Lima Besar tetap terdengar dan tidak seorangpun di antara empat besar itu berani meniadakan nama Bu tek Kiam ong sebagai seorang tokoh di antara Lima Besar. Empat orang adik seperguruan dari Bouw Ek Tosu ketika mendengar pertanyaan apakah mereka sudah mendengar

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

nama Mo bin Sin kun, tentu saja menganggukkan kepalanya. Akan tetapi, Hwa Hwa Niocu yang berwatak keras dan berani, segera berkata. Twa suheng, biarpun Mo bin Sin kun amat terkenal dan boleh kita sebut sebagai tokoh tinggi, akan tetapi perlu apa kita harus takut kepadanya? Kita berlimapun bukanlah orang orang yang boleh ditakut takuti begitu saja dan kurasa mendiang suhu kita masih setingkat lebih tinggi kedudukannya daripada Mo bin Sin kun! Mendengar ucapan sumoinya ini, Bouw Ek Tosu mengerutkan kening dan diam diam ia melirik ke sana ke mari. Sumoi, jangan berkata demikian. Memang di dalam urusan orang orang seperti kita, tidak ada kata kata takut, akan tetapi harap kau berlaku lebih hati hati dan jangan memandang rendah kepada lawan yang bagaimanapun juga, apalagi seorang di antara Lima Besar! Twa suheng, cukuplah membicarakan keadaan lain orang, tiba tiba Si Pacul Kilat Kui Hok mencela. Lebih baik kau jelaskan, mengapa suheng memanggil kami berempat supaya berkumpul di sini dan mengapa pula Mo bin Sin kun kita tunggu kedatangannya? Kembali Bouw Ek Tosu menarik napas panjang dan berkata, Murid keponakanmu Ngo jiauw eng Lui Hai Siong yang menjadi gara gara. Kalian tahu bahwa muridku Hai Siong itu telah menjadi seorang pemimpin pasukan Ang bi tin beberapa tahun yang lalu dan agaknya dalam sepak terjangnya Ang bi tin yang membasmi bekas bekas perwira Han ini, terdapat sesuatu yang tidak menyenangkan hati Mo bin Sin kun! Dua pekan yang lalu, pada suatu malam aku mendengar suara nyaring di atas genteng kuilku dan ternyata bahwa yang datang adalah Mo bin Sin kun.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Apa yang dikatakannya, suheng? tanya Kui Hok dan yang lain lain juga mendengarkan dengan amat tertarik. Ia hanya berkata singkat saja. yaitu bahwa hari ini aku harus menanti di sini, kalau tidak, muridku Hai Siong akan dibunuhnya! Oleh karena itulah, maka aku dapat menduga bahwa kemarahannya ini tentu timbul karena muridku Hai Siong itu. Urusan Ang bi tin mengapa harus marah kepada muridmu Ngo jiauw eng, suheng? Bukan Lui Hai Siong yang mendirikan Ang bi tin dan kuanggap Mo bin Sin kun tidak adil. Kalau dia memang tidak suka dengan Ang bi tin mengapa tidak mencari Pat jiu Giam ong saja? kata Kui Hok. Barangkali dia takut kalau harus mengganggu Pat jiu Giam ong! kata Hwa Hwa Niocu sambil tersenyum menyindir. Sudah sepatutnya ia berurusan dengan Pati jiu Giam ong, sama sama seorang di antara lima besar ! Sumoi. jangan bicara sembarangan. Kita tunggu saja dan lihat bagaimana sikap Mo bin Sin kun. Sementara menanti, mari kita makan minum lebih dulu. Sementara kelima orang Sin Beng Ngo hiap ini makan minum di atas loterng sambil diam diam memasang telinga dan mata dan selalu bersikap waspada, ternyata di bawah loteng, di depan rumah makan itu terjadi pula peristiwa yang cukup menarik hati. Lo kun gu Lai Seng si pemilih restoran, dengan peluh mengalir membasahi pakaiannya, menanti dan menjaga di depan pintu restoran. Sudah banyak langganan yang hendak masuk, dicegahnya dan diberi alasan bahwa hari ini restoran tidak buka. Diam diam ia merasa gelisah dan berkata dalam hati bahwa kalau lima orang tamu aneh di atas loteng itu berlama lama, ia akan keshilangan banyak

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

langganan, bagaimana kalau ada pembesar yang datang hendak makan? Semua orang yang hendak memasuki restorannya, ia tolak dengan tergesa gesa. Akan tetapi ketika tiba tiba ia menghadapi dua orang yang baru datang, ia menjadi gelagapan dan mukanya menjadi makin pucat. Ia berdiri bagaikan patung dan dengan mulut celangap dan mata terbelalak, ia berdiri memandang kepada dua orang tamu baru yang hendak memasuki restorannya. Dua orang itu baru saja datang dan melihat pakaian mereka yang penuh debu, dapat diduga bahwa mereka berdua baru saja datang dari tempat jauh sekali. Yang seorang adalah seorang pemuda remaja berusia paling banyak tujuhbelas tahun, bermuka tampan, dan gagah sekali, akan tetapi sikapnya lemah lembut. Dengan amat hormat, pemuda ini menjura di depan Lai Seng sambil berkata, Tuan, bolehkah kami membeli makanan di restoran ini? Akan tetapi Lai Seng seakan akan tidak mendengar pertanyaan anak muda itu karena ia sedang memandang kepada orang yang berdiri di sebelah anak muda itu. Orang ini pakaiannya hitam seluruhnya, tidak bersepatu dan mukanya benar benar menyeramkan, seperti muka tengkorak, seperti muka iblis! Teringatlah Lai Seng bahwa lima orang tokoh kangouw di atas loteng itu sedang menanti datangnya tokoh besar yang disebut Mo bin Sin kun atau Kepalan Sakti Muka Iblis! Ia belum pernah melihat bagaimana macamnya Mo bin Sin kun yang amat tersohor itu, akan tetapi adakah orang yang mukanya lebih buruk daripada orang berpakaian hitam yang kini berdiri di hadapannya? Ini tentulah orang yang disebut Kepalan Sakti Muka Iblis itu!

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Dengan amat hormat dan ramah tamah, Lai Seng lalu menjura kepada si muka iblis atau muka tengkorak itu sambil berkata. Silahkan, locianpwe! Silakan naik saja ke loteng, lima orang locianpwe telah menanti di atas semenjak tadi! Ia bicara sambil tersenyum ramah dan diam diam ia bergidik ketika memandang kepada muka itu. Bagaikan kedok mati, orang baju hitam itu memandangnya tanpa berkata sesuatu, bahkan orang muda itupun memandangnya dengan terheran. Akan tetapi si baju hitam itu tanpa berkata apa apa lalu menggandeng tangan anak muda itu dan masuklah mereka ke dalam restoran itu. Siapakah si baju hitam yang mukanya seperti tengkorak itu? Dan siapa pula anak muda yang tampan dan sopan santun ini? Mereka itu bukan lain adalah Yap Bouw dan Bun Sam yang sudah lama kita kenal. Sudah sepuluh tahun lamanya Bun Sam mendapat gemblengan ilmu kepandaian dari Kim Kong Taisu, gurunya Yap Bouw yang menjadi penolongnya, juga gurunya, dan akhir akhir ini lebih tepat menjadi suhengnya, sudah tidak sanggup mengajarnya dua tahun yang lalu, karena kepandaian anak muda itu sudah menyusul kepandaiannya sendiri. Oleh karena itu, semenjak dua tahun yang lalu, Bun Sam menerima latiban langsung dari Kim Kong Taisu, Beberapa kali Yap Bouw disuruh turun gunung oleh gurunya dan dalam kesempatan itu, Bun Sam diperbolehkan ikut untuk memperluas pengetahuan dan pengalaman. Kali inipun Bun Sam disuruh ikut suhengnya oleh Kim Kong Taisu, Yap Bouw hendak pergi ke kota raja. Dahulu, di luar tahu siapapun juga, bahkan isterinya sendiripun tidak tahu, ia menyimpan sepeti harta pusaka terdiri dan emas dan batu permata, hasil rampasan ketika ia menang perang melawan orang orang Tartar. Sekarang atas perinlah Kim Kong Taisu, ia

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

diharuskan menyelidiki dan kalau mungkin mengambil harta pusaka itu untuk menolong rakyat yang banyak menderita kelaparan di daerah selatan dan timur. Sebetulnya Yap Bouw enggan pergi ke kota raja, akan tetapi ia tidak berani membantah perintah suhunya. Yap Bouw tidak takut, hanya ia khawatir kalau ia teringat kepada anak isterinya yang dulu tinggal di kota raja. Kalau ia sampai mendengar nasib buruk mereka, tentu hatinya akan hancur dan kesedihan baru akan menyerangnya. Akan tetapi, justeru inilah yang dikehendaki oleh Kim Kong Taisu, yakni agar Yap Bow suka mencari keluarganya kembali dan kalau mungkin bertemu dan berkumpul, ia merasa amat kasihan melihat muridnya yang bernasib buruk itu. Dan selain maksud ini, juga Kim Kong Taisu menghendaki agar supaya Bun Sam dapat meluaskan pengalaman di kota raja. Siapa tahu kalau kalau anak ini berjodoh dengao tokah tokoh lain, pikir kakek sakti yang waspada ini. Di dalam perjalanan itu, Yap Bouw yang hendak menyembunyikan keadaan dirinya dan merahasiakan namanya, telah memberi pesan kepada Bun Sam agar jangan memberitahukan namanya kepada siapapun juga. Dan bekas jenderal ini selalu menghindarkan diri dari bentrokan bentrokan dan pertemuan yang tidak enak dengan orang orang kang ouw. Ketika pada hari itu mereka tiba di Lok yang, Bun Sam merasa amat gembira melihat kota yang ramai ini. Dan jauh dari restoran Lok thian. Bun Sam sudah menuding dengan jari tangan nya sambil berkata, Suheng. lihat alangkah indahnya rumah makan berloteng itu. Hm, seperti telah tercium olehku bau sedap yang keluar dari dapurnya. Yao Bouw di dalam hatinya tersenyum dan timbul rasa kasihan terhadap anak muda ini, ia amat sayang kepada

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Bun Sam dan tidak hanya menganggap pemuda itu sebadai sutenya, bahkan ada perasaan seorang ayah terhadap puteranya. Dengan jari jari tangannya ia lalu memberi tanda kepada Bun Sam, mengajak pemuda itu untuk mampir di restoran itu untuk membeli makanan. Ditambahkannya pula dengan bahasa gerak jari bahwa restoran ini amat terkenal serta tersohor lezat masakannya. Demikianlah, ketika keduanya menghampiri pintu restoran kemudian disambut dengan cara yang amat mengherankan oleh pemilik restoran yang gendut, tentu saja Bun Sam terheran heran dan tidak mengerti sama sekali. Akan tetapi Yap Bouw sebagi seorang tokoh kang ouw yang sudah ulung telah mengenal wajah Lo kun gu Lai Seng. Ia dapat melihat pula sikap aneh dari Lo kun gu dan melihat sinar mata pemilik restoran yang gugup dan gelisah, timbullah niat Yap Bouw untuk menyelidikinya ia maklum bahwa Lai Seng adalah seorang yang tidak tercela, maka sudah sepatutnya kalau dia membantunya apabila si gemuk ini mengalami kesukaran. Ketika ia mendengar Lai Seng menyebut nyebut tentang lima orang locianpwe yang menantinya di loteng, ia menjadi makin tertarik. Kalau saja Yap Bouw tahu bahwa yang dimaksudkan dengan Lima orang tua gagah iru adalah Sin beng Ngo hiap tentu ia akan menyingkir dan lebih baik tidak bertemu dengan orang orang ini yang terkenal suka mencari perkara. Sementara itu, kelima orang yang berada di atas loteng, ketika Lai Seng mempersilakan Yap Bouw dan Bun Sam masuk, telinga mereka yang terlatih dan tajam telah mendengarnya. Berobahlah wajah orang orang itu kecuali Hwa Hwa Niocu yang memang bernyali besar sekali. Mereka menunda makan minumnya dan memasang pendengaran dengan penuh perhatian ke arah anak tangga yang menuju ke loteng. Terdengar tindakan kaki melangkah

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

tetap di atas anak tangga dan Bouw Ek Tosu saling memandang dengan adik adik seperguruannya. Mereka merasa heran sekali mengapa tindakan kak Mo bin Sin kun ternyata seperti tindakan kaki orang biasa saja, demikian berat dan kasar. Hwa Hwa Niocu sudah menarik mulut mengejek ketika mendengar tindakan kaki dua orang yang naik melalui anak tangga itu. Tindakan kaki orang orang macam ini saja apanya yang harus ditakutkan? Memang Yap Bouw dan Bun Sam selaju bersikap merendah, sesuai dengan ajaran Kim Kong Taisu, Kalau tidak perlu, mereka tidak sudi nyombongkan atau memperlihatkan kepandaian mereka. Oleh karena itu, dalam keadaan biasa, mereka jua berlaku dan bergerak seperti orang orang biasa saja agar tidak menarik perhatian orang orang, terutama sekali agar jangan sampai terlihat oleh orang orang kang ouw bahwa mereka itu berisi. Ketika Yap Bouw dan Bun Sam muncul dari pintu anak tangga loteng itu, Sin beng Ngo hiap dan Yap Bouw terkejut sekali Yap Bouw yang mukanya sudah rusak dan tidak berkulit lagi itu, tentu saja tidak kentara bahwa dia terkejut ia hanya memandang sekilas saja dan ketika melihat bahwa yang berada di situ adalah Sin beng Ngo hiap lengkap lima orang, diam diam ia berlaku hati hati dan waspada, lalu menggandeng tangan Bun Sam menuju ke sudut ruang loteng di mana meja dan kursi bertumpuk tumpuk Dengan gerakan biasa saja, Yap Bouw lalu menurunkan dua buah bangku dan menyeret sebuah meja untuk tempat duduk mereka. Adapun Sin beng Ngo hiap amat terkejut ketika menyaksikan orang yang mukanya begitu menyeramkan. Bahkan Hwa Hwa Niocu sendiri yang terkenal tabah merasa bulu tengkuknya berdiri ketika ia memandang wajah Yap Bouw. Kelima orang ini belum pernah melihat muka Mo bin Sin kun, maka melihat Yap

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Bouw, seperti juga Lai Seng, mereka tidak ragu ragu lagi bahwa tentulah dia ini orangnya yang berjuluk Kepalan Sakti Muka Iblis! Satu satunya orang yang tidak terkejut dan tidak mengalami perobahan sesuatu hanya Bun Sam seorang. Anak muda ini tidak kenal siapa adanya lima orang aneh yang duduk mengelilingi meja di atas loteng dan yang menatap mereka dengan pandangan tajam. Bun Sam terlalu gembira untuk memperhatikan mereka ini. Baru sekali itu Bun Sam naik loteng sebuah rumah makan, yang dianggap suatu kemewahan yang berlebih lebihan. Maka ia menurut saja ketika Yang Bouw mengajaknya duduk. Dengan sengaja Yap Bouw duduk berhadapan dengan Bun Sam dan meja lima orang itu berada di samping kanannya atau di samping kiri Bun Sam. Dengan mengambil kedudukan seperti ini ia tidak usah merasa khawatir kalau kalau ada serangan curang atau gelap datang dan fihak lima orang itu. Selain untuk maksud ini, juga mengambil kedudukan seperti ini berarti menghormati kepada lima orang itu, karena berarti tidak membelakangi. Sin beng Ngo hiap menanti nanti dengan hati berdebar dan akhirnya menjadi keheran heranan dan saling memandang ketika orang yang disangka nya Mo bin Sin kun itu diam saja tidak memperdulikan mereka. Mereka berlima telah bersiap siap, semua urat di dalam tubuh telah menegang dan sedikit saja gerakan mencurigakan dari orang bermuka iblis itu mereka tentu akan bergerak menyerang. Akan tetapi, Yap Bouw hanya duduk diam seperti patung. Adapun Bun Sam yang sudah beberapa kali masuk restoran, merasa heran dan tidak sabar ketika dinanti sampai beberapa lama tidak ada seorangpun pelayan datang; menghampiri mereka seperti biasa dalam setiap rumah makan.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Eh, mengapa tidak ada pelayan datang melayani kita? akhirnya Bun Sam berkata perlahan kepada Yap Bouw Apakah di sini tidak ada pelayannya? Yap Bouw hanya menudingkan jarinya ke bawah, memberitahukan dengan isyarat bahwa pelayan berada di bawah loteng. Akan tetapi pada saat itu terdengar kata kata dari Bouw Ek Tosu, Jiwi, mengapa tidak makan minum saja dengan kami? Hidangan cukup banyak arak berlimpah limpah, meja kami besar dan masih banyak bangku kelebihan. Bun Sam cepat berdiri dari bangkunya dan menjura ke arah Bouw Ek Tosu sambil tersenyum dan menjawab, Banyak terima kasih atas kebaikanmu, lotiang. Akan tetapi kami berdua tidak suka mengganggu ngo wi. Setelah berkata demikian, ia duduk kembali. Akan tetapi Yap Bouw pura pura tidak melihat dan tetap saja duduk sambil menundukkan mukanya. Bun Sam habis kesabarannya dan ia lalu menghampiri anak tangga. Dari atas anak tangga, melalui pintu, ia berseru keras ke bawah, Pelayan, lekas sediakan arak dan sayur! Cepat! Dari bawah terdengar jawaban dan tak lama kemudian, dua orang pelayan naik melalui anak tangga sambil membawa baki berisi masakan dan arak. Karena meja besar tempat duduk Sin beng Ngo hiap berada di tengah ruangan loteng, maka ketika mengantarkan masakan dan minuman itu ke meja Bun Sam, dua orang pelayan itu terpaksa harus melalui meja besar tadi. Tamu tamu pertama harus mendapat pelayanan terlebih dulu! tiba tiba Hwa Hwa Niocu berkata perlahan dan sekail tubuhnya bergerak sambil mengulurkan kedua tangan, tahutrahu dua baki yang dibawa oleh dua orang

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

pelayan itu telah berpindah ke tangan Hwa Hwa Nioca yang dengan tenangnya lalu menaruh isi baki ke atas mejanya sendiri! Dua orang pelayan itu hanya bisa berdiri bingung dan memandang kepada Bun Sam dengan bingung, Mengapa berdiri seperti patung? Si Pacul Kilat Kui Hok membentak dua orang pelayan itu. Ahh kalian ambilkan ke sini arak wangi dalam guci terbesar. Kami hendak menjamu seorang gagah dan muridnya ! Sambil berkata demikian, Kui Hok melirik ke arah Yap Bouw yang masih saja bersikap tenang dan pura pura tidak melihat semua itu. Setelah kedua orang pelayan itu berlari turun, Bun Sam menjadi merah mukanya. Ia maklum bahwa lima orang itu mencari perkara dan ia merasa heran sekali. Baru sekarang ia memperhatikan mereka seorang demi seorang, kemudian ia memandang Yap Bouw. Aneh sekali! Suhengnya ini malah memberi tanda dengan gerak jari agar supaya mereka pergi saja dari tempat itu! Akan tetapi Bun Sam yang lebih muda dari Yap Bouw, tentu saja merasa tidak puas dan penasaran sekali kalau harus melarikan diri begitu saja. Kitapun mempunyai uang untuk bayar makanan dan minunan, apa salahnya kalau kita makan minum di sini, kata Bun Sam perlahan kepada Yap Bouw. Akan tetapi, Yap Bouw tetap saja memberi tanda dengan jari jari tangan agar mereka pergi saja, bahkan si muka iblis itu telah bangkit berdiri! Lain muka lain kepalan, sungguh seperti bumi langit perbedaannya. Muka terkenal seperti iblis, kepalan tersohor seperti malaikat, akan tetapi baru sekarang aku tahu bahwa nyalinya hanya sebesar nyali ayam, kata kata ini diucapkan oleh Hwa Hwa Niocu dan ketika Bun Sam menengok ke arah nyonya itu, Hwa Hwa Niocu menatapnya dengan pandangan tajam dan galak. Akan

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

tetapi Bun Sam tidak merasa takut, hanya mengangkat kedua alisnya yang hitam dan tebal itu ke atas, tanda bahwa dia tidak mengerti apa yang dimaksudkan oleh nyonya muda itu. Betepapun juga, Bun Sam menjadi mendongkol karena muka buruk seperti iblis di bawa bawa, mudah saja diduga bahwa ini merupakan sindiran bagi suhengnya. Akan tetapi Yap Bouw tetap saja tidak ambil perduli dan bahkan melangkahkan kaki sambil memberi isyarat kepada Bun Sam untuk menuruni anak tangga. Bun Sam terpaksa mergikuti suheng nya, akan tetapi sebelum mereka tiba di anak tangga, Bouw Ek Tosu telah menggerakkan tubuhnya dan tahu tahu tubuhnya yang tinggi kurus seperti batang pohon bambu itu telah menghadang Yap Bouw. Mo bin Sin kun, sungguh pinto tidak mengerti sikapmu ini. Kau yang mengundang kepada pinto untuk datang ke sini dan sekarang kau bersikap seperti tidak mengenal kepada Bouw Ek Tosu. Apa kau sengaja hendak mempermainkan pinto? Twa suheng sih yang membawa bawa kami berempat, tentu saja melihat Sam beng Ngo hiap lengkap di sini, Mo bin Sin kun kehilangan keberaniannya. Kata kata ini disusul oleh ketawa mengejek dari Hwa Hwa Niocu. Yap Bouw memberi isyarat kepada Bun Sam untuk mewakilinya menjawab. Bun Sam cepat menjura kepada Bouw Ek Tosu dan berkata, Totiang, kau tadi begitu baik hati untuk menawari kami makan minum mengapa sekarang berbalik menghalangi kami yang hendak pergi? Apakah benar kata kata orang bahwa tabiat seorang pertapa itu seperti angin dan mega (mudah berobah). Juga totiang telah salah lihat, dia ini bukanlah orang yang bernama Mo bin Sin kun.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Biarpun wajah Bun Sam amat tampan dan gagah, sedangkan sepasang matanya membayangkan kekuatan yang besar dan suaranya juga bening dan nyaring, namun ia tidak dipandang sebelah mata oleh Bouw Ek Tosu. Pendeta ini mengira bahwa anak muda ini paling banyak tentulah murid dari Mo bin Sin kun, maka tidak usah dikhawatirkan akan menimbulkan banyak kesukaran. Anak muda, jangan kau mencampuri urusan orang tua! Pergilah, biarkan aku bicara sendiri dengan Mo bin Sin kun ! Sambil berkata demikian, Bouw Ek Tosu lalu mempergunakan tangan kirinya untuk mendorong Bun Sam ke pinggir, dengan sikap tidak memandang mata sama sekali. Biarpun hanya dengan tangan kiri dan dilakukan perlahan saja, namun dorongan dari seorang seperti Hwa ie sianjin Bouw Ek Tosu tidak boleh dipandang ringan. Dengan dorongan yang perlahan lahan ini, tenaganya sudah cukup besar untuk dapat mendorong roboh sebatang pohon yang lima kali lebih besar daripada tubuh Bun Sam! Ia merasa pasti bahwa dorongan ini sudah cukup untuk membikin terguling dan jerih murid Mo bin Sin kun yang lancang ini. Akan tetapi, ternyata terjadi hal yang membuat Bouw Ek Tosu untuk pertama kalinya selama hidupnya melongo! Ketika merasa angin dorongan yang luar biasa menyerang dadanya, sambil tersenyum Bun Sam lalu mengerahkan tenaga khikangnya ke dada. kemudian membarengi mengangkat kedua tangan dari bawah dengan sikap menyoja ( memberi hormat) sambil menyalurkan tenaga Lweekang ke arah kedua lengannya itu. Dengan cara ini, pada saat angin dorongan tosu itu terpental oleh tangkisan khikang pada dadanya, kedua tangannya telah sampai mendorong dari bawah, sehingga tangan kiri tosu yang mendorong itu lalu berbalik terdorong ke atas! Bouw

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Ek Tosu hanya merasa betapa tangan kirinya yang mendorong itu meleset seperti sebuah palu yang dipukulkan pada permukaan batu yang kuat, bulat dan licin berminyak! Tenaga dorongan nya tadi menjadi menceng arahnya dan dengan sendirinya menjadi lenyap. Totiang, kata Bun Sam tanpa memperdulikan keheranan pendeta itu, sesungguhnya, dia ini belum pernah menggunakan nama Mo bin Sin kun dan dalam hal percakapan dengan totiang, dia telah mewakilkannya kepadaku. Maka harap totiang suka memaafkan kami dan membiarkan kami pergi dari sini. Kalau tadinya Bouw Ek Tosu merasa heran mengapa dorongannya tidak berhasil, kini ia mulai menjadi marah, ia dapat menduga bahwa pemuda ini tentulah murid Mo bin Sin kun yang sudah memiliki tenaga lumayan, maka dapat menangkis dorongannya. Apakah Mo bin Sin kun tiba tiba menjadi gagu? Sungguh lucu, dua pekan yang lalu ketika ia mengundang pinto ke sini, ia dapat bicara dan suaranya nyaring sekali. Atau, barangkali betul dugaan sumoiku tadi bahwa Mo bin Sin kun merasa jeri melihat Sin beng Ngo hiap lengkap berkumpul di sini? Biarpun Bouw Ek Tosu menatap wajah Yap Bouw yang hanya diam saja, akan tetapi kembali Bun Sam yang menjawab, Mungkin sekali, totiang. Mungkin sekali orang yang bernama Mo bin Sin kun itu takut kepada Sin beng Ngo hiap. Siapa tahu?? Tiba tiba terdengar suara ketawa bergelak dan dua tubuh gemuk pendek dari Lam san Siang mo si hwesio kembar telah berada di kanan kiri Bouw Ek Tosu.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Ha, ha, ha, jadi benar benar Mo bin Sin kun takut menghadapi Sin beng Ngo hiap? Benar benar kalian takut kepada kami berlima? Ha, ha! Siapa yang takut kepada ngo wi? Kami tidak takut! tiba tiba Bun Sam berkata dengan tegas, sehingga hwesio kembar yang sedang tertawa iiu tiba tiba menghentikan suara keiawanya seperti jam:kerik terpijak. Juga Bouw Ek TDSU memandang dengan tajam, laiu bertanya, Anak muda, jangan kau main main denpan kami! Bukankah tadi kau menyatakan bahwa mungkin sekali Mo bin Sin kun merasa jeri terhadap kami? Bun Sam mengangguk anggukkan kepalanya. Memang, mungkin sekali orang yang bernama Mo bin Sin kun merasa jeri terhadap Sin beng Ngo hiap. Akan tetapi kami berdua tidak takut, jangankan kepada Sin beng Ngo hiap (lima pendekar), biarpun terhadap ngo koai (lima siluman) sekalipun kami tidak takut. Kurang ajar! Orang muda, kau benar benar bermulut lancang. Tidak tahukah kau bahwa kami berlima adalah Sin beng Ngo hiap? Apakah kau tidak takut kepada kami? Mengapa takut, totiang? Pernah siauwte (aku yang muda) mendengar nasehat bijaksana bahwa apabila kita berada di fihak benar dan tidak berbuat salah, tak perlu kita takut kepada siapapun juga. Hanya orang yang mempunyai kesalahan saja yang patut merasa takut dan sepanjang ingatanku, kami berdua tidak bersalah terhadap ngo wi (tuan berlima)! Kini Kui Hok dan Hwa Hwa Niocu juga sudah datang menghampiri, sehingga lima orang Sin beng Ngo hiap lengkaplah kini menghadang di depan Yap Bouw dan Bun Sam.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Bouw Ek Tosu saling memandang dengan adik adik seperguruannya dengan sikap mulai ragu ragu. Anak muda, benar benarkah orang ini bukan Mo bin Sin kun? Bukan, aku berani bersumpah, kata Bun Sam. Kalau bukan Mo bin S n kun, siapa dia? Siapa namanya? Ayoh lekas kau beri tahu kepadaku! kata Kui Hok yang juga merasa ragu ragu dan tidak sabar lagi. Kawanku ini tidak biasa memperkenalkan namanya kepada sembarang orang dan juga tidak perlu mengetahui nama orang lain. Kami adalah orang orang perantau yang tidak mempunyai sangkut paut dengan ngo wi atau dengan siappun juga. Namanya! Siapa namanya? Hwa Hwa Niocu yang berangasan itu mendesak dan membentuk. Bun Sam tersenyum, Namaku? Namaku Bun Sam, tidak berarti, bukan? Bangsat, siapa tanya namamu? Nama gurumu ini yang kutanyakan! Hwa Hwa Niocu membentak. Akan tetapi Bun Sam masih tersenyum dan menggeleng gelengkan kepalanya. Tak perlu kau ketahui Dua orang ini saling berhadapan dengan lima orang tokoh besar itu, saling menatap bagaikan ayam ayam jago berlagak. Yap Bouw bersikap hati hati dan waspada, akan tetapi tenang. Bun Sam tersenyum senyum biarpun matanya tajam memperhatikan gerak gerik lima orang yang menghadangnya. Kelima orang Sin beng Ngo hiap ragu ragu dan memandang dengan mata menduga duga siapa gerangan orang bermuka iblis di depan mereka itu. Mereka

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

masih ragu ragu untuk segera turun tangan, karena kalau belum orang ini Mo bin Sin kun, tidak baik berlaku sembrono. Pada saat itu empat orang pelayan naik melalui anak tangga itu dengan sukar, karena mereka memikul segentong arak. Melihat besarnya gentong itu, maka berat gentong yang penuh arak itu sedikitnya tentu ada duaratus kati. Berempat memikul gentong arak duaratus kati memang tidak begitu berat, akan tetapi kalau sambil menaiki anak tanga ke loteng, berat juga! Dengan napas terengah engah, akhirnya empat orang pelayan itu sampai juga di atas. Hwa Hwa Niocu lalu melangkah maju dan nona muda ini menggunakan kaki kanannya untuk menendang atau mendorong dari bawah gentong itu ke atas. Tiba tiba empat orang pelayan ini merasa pikulan mereka ringan sekali karena ternyata gentong itu telah terbang ke atas. Pelayan pelayan itu menjadi ketakutan dan cepat melarikan diri ke bawah, bahkan orang ke empat saking gugupnya telah menggelinding saja ke bawah seperti sebuah bal dan setibanya di bawah, kepalanya benjol benjol. Ketika gentong arak ini terlempar ke atas. Hwa Hwa Niocu lalu mempergunakan kedua tangannya untuk menyambut bawah gentong lalu dengan tenaga sepenuhnya ia mendorong gentong arak itu ke arah kepala Yap Bouw. Si muka tengkorak ini adalah murid dari Kim Kong Taisu dan seorang bekas jenderal yang berkepandaian tinggi maka melihat datangnya serangan gentong arak ini tentu saja ia tidak menjadi gugup sama sekali. Ia mengulur tangan kanannya, menyangga dasar gentong dan menurunkan luncuran gentong itu melanjutkan luncuran ke bawah, lalu mendorongnya ke depan lagi, sehingga kini gentong itu melayang kembali ke arah kepala Hwa Hwa Niocu.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Terdengar suara ketawa bergelak, Siapa lagi kalau bukan Mo bin Sin kun? Ucapan ini disusul dengan uluran gagang pacul dan ternyata Si Pacul Kilat Kui Hok telah dapat memetik gentong arak itu dan atas kepala Hwa Hwa Niocu, yakni dengan jalan menyangga dasar gentong dengan ujung paculnya. Benar benar amat mengagumkan kepandaian Kui Hok. Ia menggerak gerakkan pergelangan tangannya dan gagang pacul itupun bergerak sedikit saja, akan tetapi kalau orang memandang kepada gentong arak yang berat itu, orang akan merasa heran karena gentong itu telah berputar putar cepat sekali di atas ujung gagang paculnya. He, muka iblis, minumlah arak ini ! teriak Si Pacul Kilat dan tiba tiba ketika ia menggerakkan gagang paculnya, gentong arak yang berat itu melayang ke arah kepala Yap Bouw kembali, akan tetapi kini bukan seperti ketika tadi Hwa Hwa Niocu melemparkannya, gentong arak itu menyerang ke arah kepala dengan beputar putar. Tentu saja tidak mudah untuk menyambut datangnya gentong seberat itu, apabila tidak berputar masih belum hebat, akan tetapi kini gentong itu berputar putar cepat, tentu saja jauh lebih berat dan sukar menyambutnya daripada tadi. Akan tetapi, tentu saja biarpun tidak mau memperkenalkan diri, Yap Bouw tak mau menyeah mentah mentah terhadap permainan seperti ini dari Si Pacul Kilat. Ia cepat mengulurkan tangan kanannya dengan jari telunjuk menuding dan sebelum gentong yang berputar putar itu menimpa kepalanya, ia mendahuluinya dengan menyentil dasar gentong itu. Aneh sekali karena tiap kali telunjuknya mendorong dasar gentong gentong yang masih berputar putar cepat itu bagaikan disendal ke atas dan membuat lompatan kecil. Oleh lompatan ini, maka sedikit arak terpercik keluar dari gentong dan dengan tenang Yap Bouw

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

lalu menengadah dan membuka mulutnya untuk menerima percikan arak itu! Sampai tiga kali ia melakukan hal ini dan tiga kali ia minum arak itu seperti yang diminta oleh Si Pacul Kilat. Kemudian, tiba tiba ia mengulur kedua tangan dengan sepuluh jari tangan terbuka dan dengan gerakan memantul, sepuluh jarinya itu menendang bawah guci arak besar itu, sehingga gentong ini terpental tinggi sekali hampir mengenai langit langit loteng. Kini gentong mi meluncur turun ke arah kepala dua orang hwesio kembar! Sute, biarkan aku menyambutnya! tiba tiba Bouw Ek Tosu berseru keras, ia maklum bahwa sutenya belum tentu akan kuat menyambut datangnya gentong yang jatuh dari tempat begitu tinggi. Bahkan Lam san Siang mo sendiripun telah dapat mengetahui akan bahaya ini dan tadinya mereka hendak menyambut gentong itu bersama sama. Sebagai orang tertua dan Sin beng Ngo hiap Bouw Ek losu tentu saja tidak akan memikirkan kedua sutenya maju bareng, karena hal ini akan mencemarkan nama besar mereka! Pula, tosu tinggi kurus ini ingin sekaligus memperlihatkan kelihaiannya kepada si muka iblis yang lihai ini, siapapun juga adanya si muka iblis. Dengan kedua kaki terpentang dan kedua tangan bertolak pinggang, Bouw Ek Tosu berdiri tepat di bawah gentong yang sedang meluncur ke arah kepalanya dengan kecepatan luar biasa itu! Diam diam Bun Sam memandang dengan penuh perhatian, hendak melihat apa yang akan diperlihatkan oleh tosu tinggi ini yang tentu lihai sekali dan memiliki lweekang yang sempurna, karena kalau tidak, mana berani ia menerima gentong dengan cara demikian? Yap Bouw sendiripun diam diam merasa khawatir karena sesungguhnya ia telah dapat menduga kehendak tosu yang berbahaya ini. Memang benar dugaan Yap Bouw bahwa tosu itu tidak hendak mempergunakan kedua

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

tangannya, karena ketika gentong itu meluncur turun, Bouw Ek Tosu menerimanya dengan kepalanya yang berambut putih! Bagus!! Tak terasa lagi Bun Sam berseru memuji, karena gembiranya. Kalau orang tidak memiliki ketenangan serta perasaan yang halus di barengi tenaga Lweekang yang tinggi, kepala orang yang menerima gentong arak berat seperti itu pasti akan remuk! Akan tetapi dengan gerakan lemas dan indah namun kuat sekali, leher tosu itu bergerak dan kepalanya membuat gerakan melengkung ke bawah kemudian ke atas lagi dan gentong arak itu tetap saja menempel di atas kepalanya. Gerakan ini dilakukan dengan amat tenang dan tetap sehingga setitikpun arak tidak tertumpah keluar dari gentong! Diam diam Yap Bouw memuji kepandaian tosu ini dan ia maklum bahwa apabila terjadi pertempuran, belum tentu ia akan dapat menangkan tosu tinggi kurus ini. Akan tetapi ketika ia melirik ke arah sutenya. ia melihat Bun Sam memandang dengan mata berseri, ia melihat alis kiri sutenya yang masih muda itu bergerak gerak dan giranglah hatinya. Berkat hidup berdekatan semenjak Bun Sam masih kanak kanak, Yap Bouw telah dapat mengetahui tanda tanda anak ini. Apabila bibirnya tersenyum senym dan lubang hidungnya berkembang kempis itu adalah tanda bahwa Bun Sam medang marah hebat yang ditahan tahannya. Apabila alis kiri pemuda tampan ini bergerak gerak, itulah tanda bahwa pemuda itu sedang memikirkan akal yang amat nakal dan bahwa ia merasa aman. Tiba tiba terdengar Bun Sam tertawa geli yang disambung dengan kata kata keras, Yah totiang, kau mengingatkan daku kepada tukang menjual gentong kosong. Seperti itu pulalah ia membawa gentong kosongnya! Apakah totiang dahulu juga penjual gentong

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

kosong, maka totiang pandai menggunakan kepala untuk mengangkat gentong? Kata kata ini memang disengaja oleh Bun Sam untuk memanaskan hati tosu itu dan untuk memindahkan perhatian tosu kepadanya. Dan akalnya ini berhasil karena Bouw Ek Tosu menjadi marah sekali mendengar ucapan yang dianggapnya merupakan penghinaan itu. Bocah tidak tahu aturan! Tadi kau bilang bahwa kau tidak takut kepada Sin beng Ngo hiap? Bagus untuk nyali yang demikian besar, kau patut diupah minum arak wangi. Terimalah! Sambil berkata demikian, tosu ini mengerahkan tenaganya dan tiba tiba gentong arak yang tadi terletak di atas kepalanya, kini melayang dengan amat cepatnya ke atas dan jatuh menimpa ke arah kepala Bun Sam! Memang nampaknya saja gentong itu melayang sendiri, akan tetapi sesungguhnya tosu lihai ini telah menggunakan kepandaiannya dan menggerakkan leher dan kepalanya dalam getaran yang penuh mengandung hawa melontarkan yang hebat yang timbul dari tenaga dalamnya. Siauwte ingin mempelajari ilmu menyunggi gentong yang totiang perlihatkan tadi! Bun Sam berkata penuh senda gurau dan tepat seperti gerakan Bouw Ek Tosu tadi, iapun dapat menerima gentong arak itu dengan kepalanya! Ah, siauwte lupa.... kata Bun Sam pula, bukankah totiang tadi menawarkan siauwte minum arak kalau gentongnya berdiri di atas kepalanya? Setelah berkata demikian, tiba tiba tubuh pemuda yang baru berusia tujuhbelas tahun itu roboh terlentang dengan cepat sekali. Tahu tahu tubuhnya telah telentang di atas lantai dan gentong arak yang tadinya berada di atas kepalanya, kini cepat meluncur turun akan menimpa perutnya!

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Hampir saja Yap Bouw melompat maju untuk menolong nyawa sutenya dari bahaya, akan tetapi ternyata bahwa kekhawatirannya itu tiada gunanya karena dengan gerakan cepat sekali Bun Sam telah mengangkat kedua kakinya ke atas dan menerima gentong itu dengan kedua kakinya. Totiang, mari minum arak ! kata pemuda ini. Maafkan karena tidak ada cawan, terpaksa siauwte minum lebih dulu tiga teguk Sambil berkata demikian, Bun Sam menggerakkan kedua kakinya dan gentong arak ini menjadi miring. Sedikit arak tumpah dan dengan tepat sekali memasuki mulut Bun Sam yang dibuka sedikit. Tiga kali anak muda ini miringkan gentong arak dan tiba tiba ia melontarkan gentong arak itu ke atas dan ia sendiri lalu melompat berdiri. Dengan kedua tangannya ia menerima gentong itu dan memeluk gentong seakan akan merasa amat berat. Kedua kakinya terhuyung huyung dan kedua tangannya yang memeluk gentong menggigil. Totiang berlima, silakan minum. Gentong ini terlalu berat untukku! Dengan ucapan ini, Bun Sam melemparkan gentong arak itu kepada Bouw Ek Tosu dan adik adiknya. Bouw Ek Tosu sudah mengulur kedua tangan untuk menyambut gentong ini, akan tetapi tiba tiba terdengar bunyi aneh di atas kepalanya dan gentong itu sambil mengeluarkan suara berkeretak, pecah dengan araknya muncrat berhamburan. Bouw Ek Tosu dan adik adiknya dengan kagetnya cepat melompat untuk menyingkir, akan tetapi tetap saja pakaian mereka terkena noda arak dan rambut mereka menjadi basah! Tentu saja Sin heng Ngo hiap menjadi marah sekali, terutama Hwa Hwa Niocu. Wanita galak ini belum pernah dihina orang, apalagi dipermainkan oleh seorang pemuda tanggung. Dengan pipinya yang berkulit halus itu berobah

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

merah dan matanya bersinar marah, ia lalu mencabut pedangnya dan membentak. Anjing kecil, berani sekali kau main gila di depan Hwa Hwa Niocu! Secepat kilat, bentakan ini dibarengi oleh berkelebatnya tubuhnya yang didahului oleh sinar pedang, menusuk ke arah tenggorokan Bun Sam! Aih, aih,. . . galak amat ! Bun Sam berseru sambil tertawa dan dengan gerakan yang lincah dan seperti orang mabok ia terhuyung ke belakang, Bouw Ek Tosu dan adik adiknya terkejut dan khawatir juga melihat gerakan pemuda, itu. Ternyata pemuda ini tak memiliki kepandaian tinggi dalam ilmu silat dan kalau Hwa Hwa Niocu sudah marah, bukankah pemuda ini akan mati? Hal itu kurang baik bagi mereka, karena membunuh seorang muda yang biasa saja merupakan salah satu pantangan bagi Sin beng Ngo hiap. Memalukan sekali dan merendahkan nama besar mereka dalam dunia kang ouw. Sumoi, jangan melayani pemuda tolol ini. Si Pacul Kilat Kui Hok menegur adik seperguruannya. Akan tetapi terlambat karena ketika melihat betapa Bun Sam dapat mengelak ke belakang dengan gerakan kaku, Hwa Hwa Niocu menjadi girang dan cepat mengejar dengan dua langkah dan pedangnya bagaikan halilintar menyambar kembali telah menyerang dengan sebuah bacokan ke arah leher Bun Sam! Kui Hok terkejut sekali. Celaka.... seru nya, Sumoinya telah mempergunakan gerak tipu Seng thian jip te (Naik Ke Langit, Masuk Ke Tanah) semacam tipu serangan yang luar brasa sekali ganasnya, mana pemuda itu dapat menghindarkan diri? ia tidak keburu turun tangan menghalangi serangan sumoinya, maka ia lalu cepat menubruk maju hendak menyambar tangan Bun Sam dan di tariknya agar dapat terlepas dari bahaya maut. Akan

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

tetapi terjadilah hal yang amat tidak terduga duga baik oleh Hwa Hwa Niocu maupun oleh Kui Hok atau lain anggauta dari Sin beng Ngo hiap. Ketika pedang di tangan Hwa Hwa Niocu menyambar leher Bun Sam, pemuda ini cepat melemparkan diri ke kanan sambil menekuk kedua lutut kakinya. Pedang tadi telah melakukan bagian gerak tipu seng thian (naik ke langit), maka ketika bacokan bagian atas ini meleset, lalu cepat dilanjutkan dengan gerakan jip te (masuk ke bumi). Pada saat pedangnya diluncurkan ke bawah menuju ke perut Bun Sam yang hendak disate, datanglah Kui Hok yang hendak menangkap tangan pemuda itu untuk ditarik pergi dari ancaman ujung pedang Hwa Hwa Niocu. Tiba tiba Bun Sam membuat dua macam gerakan dengan berbareng. Ia membiarkan lengannya disambar oleh tangkapan Kui Hok, akan tetapi setelah dekat, ia lalu memutar tangannya dan bahkan menjambret ujung lengan baju Si Pacul Kilat itu dan ditariknya ke depan. Adapun kaki kanannya dengan amat cepat, tepat dan berani sekali, dari samping melayang ke arah pergelangan tangan Hwa Hwa Niocu yang memegang pedang. Nyonya ini terpaksa membatalkan maksudnya menusuk perut dan pedangnya berobah tujuan. Karena Kui Hok yang terbetot ujung lengan bajunya itu tidak dapat mempertahankan diri dan terhuyung ke depan, maka hampir saja dia yang termakan oleh pedang Hwa Hwa Niocu ! Kui Hok cepat melompat ke belakang dan berjumpalitan, adapun Hwa Hwa Niocu juga cepat menarik kembali pedangnya. Keduanya merasa kaget dan heran sekali. Lebih lebih Kui Hok. Tadi ketika ia tertarik ujung lengan bajunya, ia merasa tenaga yang luar biasa besarnya mencengkeram dan menarik baju itu. Kalau berkeras melawan tarikan ini. tentu saja ia sanggup, akan tetapi lengan bajunya tentu akan

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

tersobek dan hal ini tidak mau ia alami. Maka ia menurut saja dan hanya terhuyung maju. Tidak tahunya gerakan pedang sumoinya berobah dan bahkan mengancamnya. Ketika Kui Hok dan Hwa Hwa Niocu memandang kearah pemuda itu, mereka melihat Bun Sam sudah berdiri jauh sambil tersenyum senyum. Makin panaslah hati Hwa Hwa Niocu dan merah jugalah muka Kui Hok. Mereka, dua orang anggota dari Sin beng Ngo hiap, dengan berbareng maju menghadapi seorang pemuda, biarpun Kui Hok tadi maju bukan dengan maksud buruk. Akan tetapi, kedua nya dapat dipermainkan oleh pemuda itu, benar benar satu hal yang amat memalukan hati mereka. Bangsat kecik kau layak dihajar! Hwa Hwa Niocu memaki dan melangkah maju lagi. Akan tetapi tiba tiba berkelebat bayangan Bouw Ek Tosu yang mencegah sumoinya. Sumoi. jangan turun tangan. Biarkan aku sendiri mencoba gurunya. Tak perlu kita ribut ribut melawan murid Mo bin Sin kun! Setelah berkata demikian, Bouw Ek Tosu lalu menghadapi Yap Bouw dan berkata, Mo bin Sin kun, kau ini sebenarnya mempunyai niat bagaimanakah? Kau sendiri yang memanggil dan mengundang pinto untuk datang ke sini dan telah mengancam muridku. Hai Siong. Nah, pinto dan saudara saudara telah datang, apakah kehendakmu? Apa kesalahan muridku, maka kau mengancam hendak membunuhnya? Tentu saja Yap Bauw tak dapat menjawab dan Bun Sam yang merasa khawatir kalau kalau Yap Bouw akan terbuka rahasianya, lalu melompat maju ke depan Bouw Ek Tosu. Totiang, sudah berkali kali kukatakan tadi bahwa kawanku ini namanya bukan Mo bin Sin kun dan sama

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

sekali tidak mempunyai urusan dengan orang yang bernama Hai Siong! Totiang janganlah mengganggu kami lagi dan biarkan kami pergi dari sini dengan aman. Bouw Ek Tosu dengan mendongkol sekali mengerling ke arah Bun Sam. Anak muda, sejak tadi aku masih bersabar terhadap kau, karena kau hanyalah seorarg murid muda dari Mo bin Sin kun. Akan tetapi kau selalu lancang mulut. Murid macam apakah kau ini? Mengapa suhumu ini diam saja dan tidak mau menjawab percakapan kami? Apakah dia gagu? Atau. apakah kiranya dia takut terhadap kami Sin beng Ngo hiap?? Kini Bun Sam yang merasa mendongkol. Ngo wi taihiap (tuan pendekar besar berlima) sungguh terlalu! Ketahuilah bahwa mungkin sekali setan yang bernama Mo bin Sin kun itu takut menghadapi Sin beng Ngo hiap, akan tetapi aku dan kawanku ini bukanlah Mo bin Sin kun dan karenanya kami berdua tidak takut sedikitpun juga terhadap ngo wi. Mengapa kami mesti takut? Ngo wi boleh berurusan dengan Mo bin Sin kun atau siapapun juga di dunia ini, akan tetapi jangan mengganggu kami, dan biarkan kami pergi! Setelah berkata demikian Bun Sam menggandeng tangan Yap Bouw dan hendak mengajaknya pergi. Akan tetapi Bouw Ek Tosu yang masih merasa penasaran, mana mau membiarkan mereka pergi? Kawan, perlahan dulu. Tak boleh pergi sebelum pinto tahu pasti bahwa kau bukanlah Mo bin Sin kun. Siapa tahu kalau benar benar dia yang kini merasa tidak kuat menghadapi kami dan menggunakan akal ini untuk melarikan diri? Hm tidak mudah, kawan. Kau telah mengundang kami dan tanpa melayani kami, itu berarti tidak memandang kami. Sambil berkata demikian, ia

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

mengulurkan tangan kanannya ke arah pundak Yap Bouw sambil mengerahkan tenaganya. Inilah serangan tiam hwat dari ilmu menotok jalan darah yang menjadi kepandaian tunggal terlihai dari Bouw Ek Tosu, yakni Ilmu Silat Pek tiauw thiam hwe louw (Ilmu Menotok Jalan Darah Rajawali Putih)! Serangan yang keluar dari ilmu totokan ini memang lihai dan luar biasa sekali, karena tidak saja sepuluh buah jari tangan tosu itu yang pandai menotok dan melumpuhkan jalan darah, juga setiap kali serangannya selalu disusul oleh dua ujung lengan bajunya yang merupakan alat alat totok yang hebat sekali! Yap Bouw sebagai seorang ahli silat tinggi, tentu saja tahu akan kelihaian serangan ke arah pundaknya ini, maka cepat sekali ia mengelak kekiri. Si muka tengkorak ini yang maklum bahwa melawan lima tokoh itu bukanlah hal yang mudah dan tidak baik mencari permusuhan tanpa alasan dengan mereka, masih berlaku sabar dan tidak mau membalas serangan Bouw Ek Tosu. Akan tetapi ketika tosu itu melihat betapa totokannya dengan mudah dielakkan oleh si muka tengkorak, menjadi makin tebal keyakinannya bahwa inilah tentu orang yang bernama Mo bin Sin kun ia tidak menghentikan serangannya. Kalau tadi ia hanya menyerang ke arah pundak sebagai coba coba saja, kini tangan kirinya menyusul cepat dan menotok ke arah tulang rusuk sebelah kanannya dari Yap Bouw. Serangan ini ber bahaya sekali karena kalau mengenai sasarannya dapat melayangkan nyawa yang di serang! Kini Yap Bouw mulai marah dan sepasang matanya yang tajam dan berpengaruh itu mulai bercahaya. Ia tidak mau mengelak lagi, bahkan lalu mengerahkan tenaga pada lengan kanannya, kemudian ia menyabetkan lengan itu ke bawah untuk menangkis serangan lawan.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Duk dua batang lengan beradu keras dan keduanya merasa tulang lengannya sakit, tanda bahwa tenaga mereka seimbang. Akan tetapi Yap Bouw terkejut sekali ketika merasa betapa ujung lengan baju dari lawannya itu, bagaikan seekor ular hidup tahu tahu telah melilit pada pergelangan tangannya! Si muka tengkorak ini cepat mengadakan serangan balasan. Kepalan tangan kirinya menonjok ke depan, mengarah ulu hati Bouw Ek Tosu. Sungguh hebat kalau dua orang ahli silat tinggi bertempur. Dari jurus jurus pertama saja sudah saling menukar bahaya maut! Bouw Ek Tosu juga maklum bahwa kalau dadanya terkena tonjokan ini pasti ia akan menyusul mendiang nenek moyangnya, maka dia yang masih suka hiaup lalu menggerakkan tangan kanannya dan tahu tahu ujung lengan bajunya telah meluncur mendahului jari jari tangannya untuk menangkis pukulan lawan dan bahkan untuk membelit pergelangan tangan pula! Tentu saja Yap Bouw tidak sudi membiarkan kedua tangannya terikat oleh ujung lengan baju, maka ia cepat menarik kembali tangan kirinya dan mengerahkan tenaga untuk melepaskan tangan kanannya yang terbelenggu. Akan tetapi ternyata bahwa ujung lengan baju yang mengikat pergelangan tangan kanannya itu kuat dan erat sekali! Kedua orang tokoh persilatan ini bersitegang. Yap Bouw hendak melepaskan tangannya, sebaliknya Bouw Ek Tosu hendak mempertahankannya! Diam diam keduanya mengerahkan tenaga dan usaha itu sudah merupakan sebuah pibu (adu kepandaian) yang hebat. Tiba tiba Bouw Ek Tosu merasa leher belakangnya dingin dan rambutnya bergerak gerak seperti tertiup angin keras dari berakang. Ia terkejut sekali dan tak terasa pula ia menengok ke belakang. Dilihatnya bahwa yang melakukan

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

perbuatan itu adalah pemuda tadi Bun Sam yang melihat keadaan Yap Bouw, lalu meruncingkan mulutnya dan ia meniup sambil mengerahkan khikang ke arah leher belakang Bouw Ek Tosu. Pendata ini merasa bahwa ia hanya ditipu saja agar perhatiannya terbagi, maka cepat cepat ia menoleh lagi kepada Yap Bouw dan mengerahkan tenaga, akan tetapi terlambat, Yap Bouw yang melihat gerakan Bouw Ek Tosu menoleh ke belakang segera mempergunakan kesempatan tadi untuk merenggutkan tangannya yang terpegang dan terlepaslah pegangan Bouw Ek Tosu yang erat tadi. Marahlah Bouw Ek Tosu kepada Bun Sam. Ia menudingkan jari tangannya kepada pemuda itu sambil memaki, Bocah yang curang! Agaknya gurumu tidak becus mengajar adat kepadamu! Biarlah pinto yang mewakili gurumu untuk memberi pengajaran kepadamu ! Sambil berkata demikian, tubuhnya berkelebat cepat dan ujung lengan bajunya menyambar ke arah kepala Bun Sam. Akan tetapi kali ini Bun Sam sudah bersiap sedia dan begitu ia melihat gerakan tosu itu, tangan kanannya bergerak menepuk punggungnya dan tahu tahu pedang yang kecil dan tipis telah berada di tangan nya! Totiang, kau keterlaluan sekali! seru pemuda ini sambil menyambut datangnya sambaran ujung lengan baju itu dengan sebuah gerakan membabat dengan pedangnya. Bouw Ek Tosu tentu saja masih memandang rendah kepada anak muda ini, maka ia melanjutkan pukulannya dan mengerahkan tenaga, ia merasa yakin bahwa pedang di tangan pemuda itu tentu akan terpukul jatuh oleh ujung lengan bajunya. Akan tetapi bukan demikianlah akibat benturan pedang dan ujung baju, karena ketika pedang bertemu dengan ujung baju, memang benar terdengar suara nyaring seakan

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

akan pedang itu bertemu dengan logam keras, akan tetapi segera disusul oleh seruan kaget dari pendeta ini ketika melihat betapa sepotong kain ujung lengan bajunya terbang karena terbabat putus! Bouw Ek Tosu mengeluarkan suara gerengan seperti seekor harimau terluka, ia menjadi marah dan segera ia mengeluarkan sebuah hud tim (kebutan pertapa) yang terselip di ikat pinggang sebelah dalam jubahnya. Mukanya berubah merah dan matanya bergerak penuh ancaman maut. Twa suheng, biarkan aku menghadapi monyet kecil ini! kata Si Pacul Kilat Kui Hok, orang ke empat dari Sin beng Ngo hiap. Sesungguhnya, biar pun Kui Hok dalam tingkat perguruan mereka hanya menjadi saudara ke empat, namun kepandaiannya hanya di bawah tingkat Bouw Ek Tosu saja. Kalau dibandingkan dengan Lam san Siang mo, Sepasang Iblis dari Ganung Selatan itu, ia tidak kalah. Bouw Ek Tosu mengalah terhadap adiknya ini dan ia lalu melangkah mundur dua tindak sambil berkata, Silahkan, si sute, akan tetapi jangan kepalang, memberi ajaran yang keras kepadanya. Biar aku yang mengawasi gurunya kalau kalau akan mengeroyok! Kini Bun Sam yang menjadi marah. Tidak saja gurunya dimaki orang, akan tetapi juga mereka berdua dihina dan dipandang rendah. Ketika ia melihat Si Pacul Kilat melompat maju sambil membawa paculnya, ia berseru keras, Sam beng Ngo koai!! Ia sengaja mengganti sebutan Ngo hiap (Lima Pendekar) menjadi Ngo koai (Lima Setan). Kalian ini orang orang tua benar benar keterlaluan. Apakah dikira aku Bun Sam takut menghadapi kalian berlima? Mungkin sekali orang yang kau sebut namanya Mo bin Sin

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

kun itu takut menghadapi kalian berlima, akan tetapi aku Bun Sam yang tidak merasa salah sedikitpun sama sekali tidak takut akan ancaman ancamanmu! Pemuda ini dengan sikap gagah, akan tetapi juga lucu mengejek, menggerak gerakkan pedangnya di depan hidungnya. Kui Hok menggerakkan paculnya, menyerang dengan hebat sekali ke arah Bun Sam, Gerakan pacul ini memang hebat dan jauh berbeda dengan gerakan senjata tajam lain. Biasanya senjata senjata dipergunakan dengan cara menusuk, mengemplang, membacok menyabet atau menotok jalan darah, akan tetapi pacul ini dipergunakan dengan ayunun miring dan mata pacul yang tajam sekali itu meluncur cepat dengan tujuan mencangkul kepala orang! Bun Sam tidak menjadi ngeri dan dengan tenang serta tabah ia menggerakkan kaki ke kiri dan mengebalkan pedangnya untuk menyabet gagang pacul. Akan tetapi tiba tiba terdengar suara seperti jerit nyaring dan angin pukulan luar biasa sekali menyambar ke arah mereka yang sedang bertempur. Bun Sam merasa terdorong keras dan biarpun ia mempertahankan diri, tetap saja ia terdorong mundur sampai tiga langkah. Yang lebih hebat adalah Kui Hok, karena Si Pacul Kilat ini terdorong lebih hebat, sehingga terjungkal ke belakang! Hanya karena kegesitan dan kelihaiannya saja, maka ia dapat mengerahkan tenaga dan berjungkir balik, mempergunakan ilmu lompat Koai liong hoan sin (Naga Siluman Memutar Badan). Setelah dapat menetapkan hati dan keseimbangan tubuhnya, Kui Hok cepat menengok dan berbareng dengan Bun Sam ia melihat bayangan orang berkelebat dan tahu tahu seorang yang bertubuh kecil langsing telah berdiri di depan mereka. Terkejutlah semua orang ketika melihat orang ini, tidak terkecuali Bun Sam dan Yap Bouw. Orang yang baru datang ini, pakaiannya serba putih bersih dengan ikat

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

pinggang dan sepatu berwarna kuning. Akan tetapi yang nampak bersih dan menyenangkan hanya dari leher ke bawah saja, karena dari leher ke atas, sungguh merupakan pemandangan yang menyeramkan. Kepala orang ini tertutup oleh kain pengikat kepala berwarna hitam dan mukanya hampir sama hitamnya dengan kain penutup kepala itu. Muka orang ini benar benar amat buruk, dengan kulitnya menghitam dan totol totol, sehingga tidak kelihatan lagi garis garis mulut atau hidungnya. Bibirnya juga hitam, sama dengan kulit mukanya dan hanya sepasang matanya saja yang bercahaya bening, akan tetapi pelupuk matanya juga berkerut kerut mengerikan. Sungguh tak mungkin ada keduanya muka orang yang seburuk itu, terkecuali muka Yap Bouw yang sudah rusak itu. Hm, Sin beng Ngo koai! Anak yang lancang mulut ini betapapun juga telah memilihkan julukan baru yang tepat untuk kalian. Sin beng Ngo koai, lima orang iblis. Ha, ha, ha, benar benar cocok dan karena jasamu memilih nama itu, bocah bermulut lancang, maka aku Mo bin Sin kun dapat mengampuni nyawamu. Bun Sam tadinya merasa terkejut dan ngeri, bukan hanya kareua muka orang ini, akan tetapi terutama sekali karena kelihaiannya, ia maklum bahwa orang tadi telah mempergunakan tenaga pukulan hebat sekali untuk mendorong dia dan Kui Hok dan biarpun dari jarak jauh, dorongan yang baru datang anginnya itu saja telah membuat ia terhuyung mundur dan Kui Hok berjumpalitan. Agaknya tenaga dorongan si muka iblis ini tidak kalah hebatnya oleh tenaga pukulan Thai lek Kim kong jiu dari suhunya! Akan tetapi setelah mendengar suara orang itu, lenyaplah rasa takutnya dan tiba tiba ia tertawa tawa. Semua orang terheran heran, bahkan Yap Bouw sendiri memandang ke arah Bun Sam dengan penuh kegelisahan.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Anak ini terlampau sembrono, pikirnya. Yang dihadapinya kini bukanlah orang orang sembarangan. Nama Sin beng Ngo hiap saja sudah ternama sekali, apalagi Mo bin Sin kun yang termasyhur itu memiliki kepandaian yang sejajar dengan suhunya, yakni Kim Kong Taisu. Bocah bernyali iblis, mengapa kau tertawa? Awas, jawab yang benar, siapa tahu kalau kalau tadi adalah merupakan ketawamu yang terakhir! Mo bin Sin kun menghardik dan kerling matanya menyambar. Akan tetapi Bun Sam tetap tenang. Ia percaya akan kepandaiannya sendiri dan juga akan bantuan suhengnya apabila sewaktu waktu diserang orang. Aku tertawa karena mendapat kenyataan yang amat mengecewakan dan juga lucu. Melihat kalian ini, Sin beng Ngo koai dan Mo bin Sin kun, orang orang yang lelah terkenal di kalangan kang ouw sebagai orang orang berkepandaian tinggi, sekarang tidak tahunya ternyata hanyalah orang orang yang suka sekali membunuh dan mengancam seakan akan kalian ini adalah kaki tangan dari Giam lo ong (Raja Dewa Pencabut Nyawa) saja. Salahkah pendengaranku bahwa orang orang ternama di dunia kang ouw adalah orang orang gagah perkasa? Omonganmu ada isinya, bocah lancang! Memang banyak sekali orang orang kang ouw melakukan perbuatan ang tidak patut. Seperti halnya pendeta ini yang bernama Bouw Ek Tosu, dia mengaku sebagai pendekar bahkan sudah berani memakai julukan Sianjin, akan tetapi ia membiarkan muridnya, anjing yang bernama Ngo jiauw eng (Garuda Kuku Lima) untuk membinasakan banyak sekali keluarga orang orang gagah bangsa sendiri. Mo bin Sin kun, jangan kau bicara sembarangan saja! tiba tiba Bouw Ek Tosu melangkah maju dan menuding

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

marah. Ang bi tin adalah pasukan yang dipergunakan oleh pemerintah untuk menjaga keamanan, maka siapa saja yang kiranya membahayakan pemerintah, tentu saja dibasmi. Lagi pula, bukan hanya muridku yang melakukan pekerjaan yang tidak kau setujui itu, mengapa agaknya kau hanya berani menegur kepada pinto? Mengapa kau tidak mendatangi saja langsung kepada pemimpin besarnya, yaitu Pat jiu Giam ong Liem goanswe? Atau, apakah kau takut menghadapi Jenderal Liem? Orang tua pikun! Siapa bilang aku takut kepada Pat jiu Giam ong? Lain kali pasti aku akan bertemu dengan dia akan tetapi tidak ada hubungannya dengan ini. Jangan kau berpura pura tidak tahu, Bouw Ek Tosu, bahwa Pat jiu Giam ong biarpun sekarang sudah memakai she Liem. namun dia adalah seorang Mongol. Demikianpun Bucuci dan yang lain lain. Kalau orang Mongol yang menjadi pemimpin atau anggauta Ang bi tin, itu masih dapat dimengerti karena mereka itu bekerja berdasarkan membela pemerintahnya sendiri. Akan tetapi muridmu itu? Dia adalah seorang Han, mengapa dia membantu orang orang Mongol untuk membasmi orang gagah bangsanya sendiri? Pendeknya, kau harus menyuruh muridmu itu mengundurkan diri. Kalau pinto tidak mau? tanya Bouw Ek Tosu yang merasa penasaran. Kau harus menerima hajaran lebih dulu sebelum muridmu! Baru saja kata kata ini habis di keluarkan, tiba tiba tubuh Mo bin Sin kun bergerak cepat dan tahu tahu tangannya telah menotok ke arah pundak Bouw Ek Tusu. Pendeta ini terkejut sekali dan cepat menangkis totokan yang cepat sekali datangnya ini. Akan tetapi serangan dan gerakan Mo bin Sin kun Si Tangan Sakti Bermuka Iblis ini benar benar luar biasa sekali. Tangan kanan yang tadinya

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

menotok, tiba tiba jarinya terbuka dan berubah menjadi cengkeraman yang cepat sekali telah dapat mancengkeram ujung kebutan, sedangkan tangan kiri dengan gerakan yang berbareng telah menyodok ke arah lambung pendeta itu! Bouw Ek Tosu yang masih terkejut melihat betapa kebutannya yang lihai lelah kena dipegang orang, kini ditambah lagi dengan serangan sodokan ke arah lambungnya, segera melepaskan gagang hudtimnya. Namun ia kalah cepat. Mo bin Sin kun benar benar tidak percuma mendapat julukan Tangan Sakti, karena baru saja lawannya mengelak, ia telah dapat mengejar dengan tangan kiri dan terdengar suara berdebuk keras ketika tubuh Bouw Ek Tosu kena didorong, sehingga terlempar sampai setombak lebih! Bukan main marahnya empat orang adik seperguruan dari Bouw Ek Tosu ketika melihat suheng mereka dirobohkan dengan demikian mudahnya. Sambil berseru keras, Lam san Siang mo si hwesio kembar, Kui Hok si Pacul Kilat, dan Hwa Hwa Niocu lalu maju menyerang dengan sengit. Bun Sam mendekati Yap Bouw dan keduanya berdiri di sudut ruang itu sambil menonton dengan enaknya! Terutama sekali Bun Sam amat memperhatikan gerakan gerakan Mo bin Sin kun yang diketahuinya memiliki kepandaian amat tinggi itu. Amat hebatlah pertempuran itu. Tubuh berbaju putih itu lenyap merupakan bayangan putih yang lincah sekali dan sukar diikuti gerakannya. Di antara sambaran pedang Hwa Hwa Niocu dan Pacul Kilat dari Kui Hok nampak gerakan dua pasang golok dari Lam san Siang mo yang juga amat lihai. Akan terapi tubuh Mo bin Sin kun lebih cepat lagi gerakannya. Bagi mata orang orang yang tidak memiliki ilmu silat tinggi, tentu pemandangan yang ditimbulkan oleh

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

pertempuran ini akan membuat mereka menjadi silau dan tak dapat mengikuti semua gerakan itu. Akan tetapi bagi Bun Sam dan Yap Bouw tentu saja mereka berdua dapat mengikuti setiap gerakan dan bukan main kagum hati mereka menyaksikan ilmu silat Mo bin Sin kun yang benar benar hebat. Si Tangan Sakti Muka Iblis ini dengan tangan kosong saja menghadapi semua senjata ke empat orang pengeroyoknya dan baru setelah para pengeroyoknya menyerang sampai dua puluh jurus, ia berseru, Rebahlah kalian berempat! Kalau dibicarakan sungguh amat mengherankan, karena baru saja ucapan ini keluar dari mulutnya yang hitam mengerikan, segera disusul oleh seruan kaget dan kesakitan. Pertama tama Kui Hok roboh tertotok, kemudian Hwa Hwa Niocu terpental karena ditendang dan paling akhir si hwesio kembar itu berteriak keras karena terdorong oleh tenaga pukulan yang tadi pernah dirasakan oleh Bun Sam dan Bouw Ek Tosu. Dalam sekali gerak saja, Mo bin Sin kun telah merobohkan empat orang dari Sin beng Ngo hiap setelah lebih dulu merobohkan Bouw Ek Tosu dalam sejurus. Dan yang lebih hebat lagi, ia telah merobohkan lima orang itu tanpa membuat mereka terluka hebat, akan tetapi juga yang membuat mereka untuk beberapa lama takkan dapat bangun. Hebat sekali kepandaianrnu, Ma bin Sin kun! kata Bun Sam sambil melangkah mendekati orang bermuka buruk itu. Hanya sayang sekali ada beberapa bagian yang kurang praktis. Kalau Yap Bouw tak terasa menutup mulutnya saking terkejut dan heran melihat kelancangan sutenya ini, adalah Mo bin Sin kun cepat membalikkan tubuh dan menghadapi Bun Sam dengan mata bersinar marah.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Apa katamu? Kurang praktis? Apanya yang menurut anggapanmu kurang baik? Kau tadi melakukan gerakan seperti ini kalau tidak salah, kata Bun Sam dan pemuda yang mempunyai ingatan amat kuat dan cerdas ini lalu menirukan gerakan Mo bin Sin kun ketika merobohkan keempat orang pengeroyoknya. Mula mula jari tangan kanannya ditusukkan, yakni totokan yang telah merobohkan Si Pacul Kilat, kemudian cepat dibarengi dengan sebuah tendangan yang telah membuat Hwa Hwa Niocu jatuh tunggang langgang, kemudian sekali ia lalu memasang kuda kuda dengan kedua kaki dipentang dan tubuh direbahkan, kemudian ia melakukan dorongan dari Thai lek Kim kong jiu sebagai pengganti tenaga dorongan yang tadi dilakukan oleh Mo bin Sin kun. Nah, aku bilang tidak praktis karena pukulan mendorong yang paling hebat itu kau lakukan paling akhir setelah lawan tinggal dua orang. Sedangkan ketika lawan masih ada empat orang, kau hanya melakukan totokan dan tendangan yang biasa saja. Bukankah ini berarti menyia nyiakan ilmu pukulan yang luar biasa hanya untuk merobohkan dua ekor monyet gundul saja? Dengan tenaga dan angin pukulan seperti itu, kalau dilakukan dengan baik dan diatur setepatnya, bukankah dengan mendorong satu kali saja, semua orang tadi akan terpukul roboh? Inilah yang tidak praktis, kataku. Mula mula Mo bin Sm kun membelalakkan matanya ketika melihat pemuda itu menirukan gerakan gerakannya yang biarpun tak dapat dikatakan sempurna dan persis sekali, akan tetapi sudah dapat dibilang cukup baik, bahkan terlalu baik bagi seorang yang belum pernah mempelajarinya. Kemudian, melihat pukulan Thai lek Kim kong jiu itu ia cepat bertanya,

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Anak bengal, gurumu si tua Kim Kong Taisu telah memberikan pelajaran Thai lek Kim kong jiu kepadamu, mengapa kau masih suka menaruh perhatian kepada ilmu pukulan orang lain ? Mo bin Sin kun, biarpun begitu, tetap saja aku merasa amat kagum dan ingin sekali mempelajari ilmu pukulanmu yang terakhir tadi. Kalau kau sudi memberi petunjuk kepadaku tentang ilmu pukulan ini, suhu tentu akan memujimu sebagai seorang yang baik budi. Tiba tiba Mo bin Sin kun tertawa senang dan tidak hanya Bun Sam yang terheran, bahkan Yap Bouw sendiri kini menghampiri mereka dan memandang kepada Mo bin Sin kun dengan heran. Alangkah ganjilnya suara ketawa orang lihai ini. Baik Bun Sam maupun Yap Bouw berani bersumpah bahwa itu adalah suara ketawa dari seorang wanita. Suara ketawa yang nyaring, halus dan merdu. Ha, ha, ha, si tua bangka Kim Kong Taisu ternyata mempunyai murid yang lidahnya tak bertulang dan pandai sekali membujuk orang. Kau kira mudah saja hendak membujuk rayu kepadaku? Kalau kaudapat mengalahkan kepandaian muridku, baru aku akan memikir mikir tentang permintaanmu itu. Ha. ha, ha! Dengan ketawa geli Mo bm Sin kun lalu berkelebat pergi dan lenyap dan situ. Mo bin Sin kun! Bun Sam berseru. Aku berani menghadapi muridmu, di mana aku dapat bertemu dengan kau dan muridmu? Terdengar suara orang lihai itu dari jauh, Tidak biasa Mo bin Sin kun memberitahukan tempatnya. Malam nanti kami akan datang kepadamu. Bun Sam dan Yap Bouw saling pandang dan dari pandangan mata Yap Bouw, Bun Sam yang sudah mengenal akan watak suhengnya ini tahu bahwa suhengnya

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

menegurnya dan tidak setuju dengan sikapnya yang lancang tadi. Suheng, aku memang ingin sekali mempelajari ilmu pukulannya tadi. Suhu pernah berkata bahwa ilmu pukulan dari jarak jauh, yang paling lihat adalah Ilmu Pukulan Soan hong pek lek jiu (Pukulan Tangan Angin Puyuh) dari Mo bin Sin kun. Kukira yang ia pergunakan tadilah adanya Soan hong pek lek jiu. Yap Bouw menggeleng gelengkan kepala, di dalam hatinya merasa heran akan kesukaan sute nya yang tiada bosannya hendak memperdalam ilmu silatnya. Ia lalu menghampiri lima orang yang masih bergeletakan di atas lantai. Setelah memeriksa sebentar, akhirnya ia menghampiri Si Pacul Kilat dan mengurut serta menotok pundaknya, sehingga jalan darah Kui Hok menjadi pulih kembali. Si Pacul Kilat Kui Hok lalu menghampiri saudara saudaranya dan menolong mereka. Sementara itu Yap Bouw lalu menggandeng tangan sutenya dan dibawanya berlari turun. Di bawah loteng itu telah berkumpul Lo kun gu Lai Seng si pemilik restoran Lok thian bersama para pegawainya. Mereka itu tidak berani bergerak dan hanya berkumpul sambil bicara bisik bisik. Diam diam Lai Seng merasa berdebar juga karena peristiwa ini merupakan berita baik sekali sebagai propaganda kemasyhuran nama restorannya. Jarang sekali ada restoran yang dijadikan tempat pertemuan dan pertempuran tokoh tokoh besar seperti Sin beng Ngo hiap dan Mo bin Sin kun! Dia dan kawan kawannya hanya mendengar suara gaduh di atas loteng, sama sekali tidak melihat kedatangan maupun kepergian Mo bin Sin kun. Ketika Yap Bouw dan Bun Sam turun, Lai Seng lalu menjura dengan penuh hormat, diam diam memuji kelihaian si muka iblis ini yang melihat ketenangannya

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

tentu telah memperoleh kemenangan. Yap Bouw merogoh sakunya, mengeluarkan sepotong uang emas dan sekali ia menggerakkan tangannya, uang emas itu telah menancap di atas lantai tembok! Tidak usah, locianpwe, tidak usah bayar.... kata Lai Seng, akan tetapi Yap Bouw dan Bun Sam telah melompat pergi dan lenyap dari situ. Jangan ambil uang emas itu! kata Lai Seng gembira sekali sambil mengamat amati potongan uang emas yang telah amblas dan hanya kelihaian mengkilat kuning seperti tambalan pada lantai tembok. Biar semua orang yang makan di sini melihat bahwa Mo bin Sin kun makan di sini dan membayar dengan cara yang luar biasa ini! Kembali Lo kun gu Lai Seng hendak mempergunakan peristiwa ini sebagai reklame untuk restorannya! Pada saat itu, terdengar suara berisik dari atas loteng dan nampaklah lima orang Sin beng Ngo hiap itu turun dengan muka lesu, bahkan Hwa Hwa Niocu dan sepasang hwesio kembar itu masih meringis ringis menahan rasa sakit. Kembali Lai Seng menjura dengan amat hormatnya sambil tersenyum senyum. Melihat orang tersenyum, Hwa Hwa Niocu yang sedang mendongkol menjadi marah. Kau mau apa? Mau minta bayaran? Ia mengharapkan Lai Seng benar benar akan minta bayaran, karena ia tentu akan membayarnya dengan beberapa kali tamparan untuk melampiaskan hatinya yang mendongkol. Akan tetapi Lai Seng bukalnah anak kecil yang tidak tahu gelagat, ia maklum bahwa lima orang ini tentu sudah dapat dikalahkan, maka sambil tersenyum ia berkata, Tidak sekali kali, mana siauwte berani minta bayaran kepada ngo wi? Lagi pula, untuk makanan tadi yang tidak

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

seberapa banyak siauwte telah mendapat bayaran lebih dan cukup yang diberikan oleh Mo bin Sin kun Locianpwe. Lai seng menunjuk ke arah lantai di mana masih terlihat dengan jelas potongan uang emas yang kuning mengkilat. Hm, kau kira Sin beng Ngo hiap tidak mampu bayar? tiba tiba Bouw Ek Tosu tersenyum pahit, ia merogoh sakunya dan dari jubahnya yang berkembang itu ia mengeluarkan sepotong uang emas pula. Ia menggerakkan tangannya dan uang emas itu meluncur ke bawah, menancap dan amblas ke dalam lantai tembok, dekat sekali dengan uang emas yang dilemparkan oleh Yap Bouw tadi! Tentu saja Bouw Ek Tosu yang mempunyai ilmu kepandaian setingkat dengan Yap Bouw, dapat melakukan pula hal yang tadi dilakukan oleh Yap Bouw. Setelah lima orang ini pergi, Lai Seng hampir berjingkrak saking girangnya. Tidak saja ia mendapatkan dua potong uang emas yang sudah lebih daripada cukup sebagai pembayaran harga makanan dan minuman, bahkan dua potong tiang emas itu dapat dijadikan sebagai daya penarik para pelancong dari lain kota yang tentu ingin sekali melihat cara pembayaran yang aneh ini dari Mo bin Sin kun dan Sin beng Ngo hiap! Jalan dari Lok yang menuju ke kota raja ada dua macam. Pertama mengambil jalan air, yakni mengikuti aliran Sungai Hoang ho (Sungai Kuning) memasuki Propinsi Sanung lalu turun mendarat dan melanjutkan perjalanan darat melalui Propinsi Hopak. Atau yang ke dua mengambil jalan darat melalui Propinsi Shansi, terus menyusur perbatasan antara Propinsi Shansi dan Propinsi Hopak.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Oleh karena dalam perjalanan menuju ke kota raja ini, bagi Yap Bouw adalah untuk membimbing sutenya adapun bagi Bun Sam sendiri untuk menambah pengalaman dan meluaskan pengertian, maka mereka berdua mengambil keputusan untuk melalui jalan darat. Setelah keluar dari kota Lok yang dan menyeberangi Sungai Hoang ho yang mengalir di sebelah utara kota, mereka melanjutkan perjalanan dengan cepat sekali, mempergunakan ilmu lari cepat yang membuat mereka berlari lebih cepat dari kuda. Hari telah menjadi gelap ketika mereka memasuki kota Kin bun, sebuah kota kecil yang tak berapa ramai. Semenjak pagi, keduanya hanya mengisi perut dengan buah buah yang mereka petik dari hutan yang mereka masuki dalam perjalanan tadi. Kini perut mereka terasa lapar sekali. Baiknya dalam kota Kin bun terdapat sebuah hotel yang cukup besar dan yang juga menyediakan hidangan bagi para tamu. Setelah membersihkan diri dan berganti pakaian, mereka lalu makan. Dengan gerakan tangannya Yap Bouw memberi ingat agar supaya Bun Sam berlaku hati hati sekali karena mungkin malam ini akan ada orang datang menggangu, Bun Sam mengangguk angguk karena ia teringat akan ucapan Mo bin Sin kun yang malam hari ini hendak mengunjunginya bersama muridnya dengan maksud mengadu kepandaian! Suheng, kalau kuingat suara bicara dan ketawa Mo bin Sin kun tadi timbul dugaanku bahwa dia adalah wanita. Apakah kau tidak pikir begitu suheng? Dengan bahasa gerak jari tangannya, Yap Bouw membenarkan sangkaan ini, karena ia sendiri pun berpikir demikian. Dan ia menambahkan keterangan bahwa suhunya sendiri belum pernah menyatakan apakah Mo bin Sin kun seorang laki laki atau wanita. Kemudian Yap Bouw

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

memperingatkan agar berlaku hati hati sekali, karena murid Mo bin Sin kun tentulah seorang yang berkepandaian amat tinggi seperti gurunya. Bun Sam tersenyum dan menjawab, Jangan khawatir, suheng. Mo bin Sin kun demikian galak, tentu muridnya tidak jauh berbeda. Dan orang yang mudah marah seperti itu, tidak berbahaya untuk dilawan asalkan kepandaian kita tidak kalah jauh. Bukankah begitu, kata suhu? Yap Bouw mengangguk angguk dan berkata dengan tangannya bahwa memang betul demikianlah. Orang yang mudah dikuasai oleh tujuh perasaan (marah, malu, kecewa, takut, suka, duka, gembira) tak dapat berlaku tenang dan oleh karenanya tak dapat bertempur dengan baik. Akan terapi, demikian Yap Bouw yang sudah banyak pengalaman dan berpemandangan luas ini memperingatkan amat tidak baik kalau memandang rendah kepada lawan, apalagi lawan yang belum diketahui sampai di mana tingkat kepandaiannya. Memandang rendah kepada lawan berarti sudah kalah satu bagian dalam pertempuran, katanya, karena perasaan ini mengurangi kewaspadaan sendiri. Selelah makan, mereka lalu masuk ke dalam kamar untuk beristirahat. Keduanya duduk di pembaringan masing masing, bersila mengatur pernapasan dalam samadhi sambil menanti datangnya Mo bin Sin kun. Biarpun dilihatnya sama, keduanya duduk bersila memejamkan mata dan napas mereka teratur baik, namun isi pikiran kedua orang ini amat jauh berbeda. Kalau Bun Sam pada waktu itu merasa senang untuk menghadapi murid dari Mo bin Sin kun, adalah Yap Bouw melayangkan ingatannya pada waktu waktu dahulu ia girang sekali melihat anak yang dulu ditolongnya itu, kini telah menjadi seorang pemuda yang tampan dan gagah, telah menjadi sutenya yang memiliki kepandaian lebih tinggi daripadanya sendiri. Ia telah

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

menganggap Bun Sam seperti anak sendiri dan kasih sayangnya terhadap pemuda ini adalah kasih sayang seorang ayah terhadap seorang putera nya. Akan tetapi kalau ia teringat kepada rumah tanggannya, kepada isteri dan putera puterinya, mengalirlah darah dari hatinya yang terluka. Akan tetapi bekas jenderal yang bernasib malang ini cepat cepat menguatkan tenaga batinnya untuk menekan perasaan itu dan napasnya yang tadinya tersengal sengal menjadi tenang kembali. Biarpun sedang duduk bersamadhi namun Bun Sam yang amat tajam pendengarannya itu dapat membedakan perubahan napas dari suhengnya, maka ia membuka matanya sebentar. Dilihatnya peluh memenuhi jidat suhenenya itu dan wajah suhengnya yang rusak dan bercacat itu menjadi makin menyeramkan. Ia menghela napas panjang. Sudah terlalu sering ia melihat suhengnya berhal demikian dan karena ia pernah mendengar riwayat suheng nya, maka maklumlah ia akan kedukaan yang kadang kadang mengganggu pikiran bekas jenderal yang bernasib malang ini. Tiba tiba ia menjadi amat terharu. Dengan perlahan Bun Sam turun dari pembaringannya, menghampiri Yap Bouw dan menggunakan saputangannya untuk menghapus peluh yang memenuhi jidat Yap Bouw dengan perasaan penuh kasih sayang seperti seorang anak terhadap ayahnya atau seorang adik terhadap kakaknya. Perbuatan Bun Sam ini mendatangkan keharuan besar kepada Yap Bouw, akan tetapi sekaligus juga menghilangkan kesedihannya karena dalam diri pemuda ini ia mendapatkan pengganti putera yang amat dikasihinya. Dengan gerakan tangannya ia mengisaratkan agar pemuda itu kembali ke pembaringannya dan mengaso. Kembali mereka duduk bersamadhi sampai menjelang tengah malam. Keadaan sangat sunyi dan hotel yang hanya

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

didatangi sedikit orang tamu itu telah menjadi sepi. Semua orang termasuk penjaga hotel, telah tidur pulas dalam malam yang dingin itu. Tiba tiba terdengar suara dari kamar Bun Sam, Bocah sumbong, lekas keluar, kami menunggu! Bun Sam mengenal suara Mo bin Sn kun, maka cepat ia melompat turun dari pembaringannya. Ternyata bahwa Yap Bouw juga sudah melompat turun dan keduanya saling pandang dengan heran mengapa gerakan Mo bin Sin kun di atas genteng sama sekali tidak pernah terdengur oleh mererka. Hal ini telah membuktikan bahwa Tangan Sakit Bermuka Iblis ini memiliki ilmu meringankan tubuh yang amat tinggi. Bun Sam membuka daun jendela, lalu melompat keluar diikuti oleh suhengnya. Memang mereka semenjak tadi telah bersiap sedia dan tidak menanggalkan pakaian ketika naik ke pembaringan. Selelah tiba di luar hotel, mereka melihat bayangan berkelebat turun dari atas genteng dan nampaklah dua bayangan orang berdiri menanti mereka. Malam itu terang bulan, akan tetapi cahaya bulan belum cukup terang untuk menerangi wajah kedua orang itu. Bun Sam mengenal bahwa yang melompat turun dari atas genteng tadi adalah Mo bin Sin kun. Biarpun tidak nyata mukanya, namun ia masih dapat mengenal pakaian serba putih dan kemudian dari leher ke atas hanya hitam saja itu. Ketika ia memandang kepada orang ke dua, diam diam ia merasa mendongkol sekali. Apakah Mo bin Sin kun hendak mempermainkannya?

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Jilid V ORANG yang berdiri di dekat Mo bin Sin kun bertubuh langsing kecil dan pendek, melihat bentuk tubuhnya, ia menaksir bahwa, murid itu usianya tidak akan lebih dari dua tiga belas tahun. Seorang anak kecil, bagaimana ia mempunyai muka untuk melawan seorang anak kecil? Dengan muka terasa panas pada malam sedingin itu, Bun Sam lalu melompat ke depan dua sosok bayangan itu, tetap diikuti oleh Yap Bouw yang juga merasa aneh. Benar saja, yang berpakaian putih dan yang melayang turun tadi adalah Mo bin Sin kun yang berdiri sambil bertolak pinggang dan wajahnya tidak kelihatan saking hitamnya. Di sebelah kanan berdiri seorang yang sekaligus membuat Bun Sam menjadi bengong. Orang yang dikiranya anak kecil tadi ternyata seorang gadis kecil yang bermuka bulat telur, bertubuh cilik ramping dan padat dan pada mukanya yang elok itu membayangkan keberanian besar yang kini, ditujukan kepadanya dengan sikap menantang! Eh, siapakah dia ini? Dan mengapa selalu berada di sampingmu seperti seorang pelindung? tiba tiba Mo bin Sin kun bertanya dan karena Bun Sam kini telah berdiri dekat dan matanya sudah biasa dengan keadaan yang suram itu, ia dapat melihat betapa sepasang mata dari si muka iblis tangan sakti ini memperlihatkan sinar kasihan terhadap suhengnya! Juga dalam mengajukan pertanyaan ini, suaranya terdengar halus dan tidak galak. Mendengar ucapan itu, si gadis cilik juga menengok dan memandang kepada muka Yap Bouw. Terdengar ia menahan jeritan kaget dan ngeri. Bun Sam menoleh kepada gadis cilik itu dan ketika melihat betapa gadis itu seakan akan hendak

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

menyembunyikan pandangan matanya suhengnya yang rusak dan cacat, ia berkata,

dari

muka

Betapapun juga, kerusakan muka suhengku tidak seburuk muka gurumu! Bua Sam menunjukkan kata kata ini kepada gadis yang tampaknya jijik melihat muka suhengnya dan ia sudah mengkhawatirkan bahwa Mo bin Sin kun akan menjadi marah karena ucapan ini, akan tetapi aneh, Mo bin Sin kun tidak menjadi marah, bahkan menarik napas panjang dan berkata, Kasihan dia.... memang, tidak hanya dia yang buruk rupa di dunia ini, maka tak perlu dijadikan kekecewaan. Akan tetapi, siapakah dia dan mengapa dia tak pernah bicara ? Dia adalah suhengku dan dia tak pernah bicara karena memang dia tidak bisa bicara. Ah..... Hampir berbareng terdengar seruan ini dari Mo bin Sin kun dan muridnya dan kembali, Bun Sam mengerutkan keningnya. Tak salah lagi Mo bin Sin kun ini tentu seorang wanita seperti muridnya itu pula! Belum pernah aku mendengar Kim Kong Taisu mempunyai seorang murid yang cacad dan gagu. Ada aku mendengar dia mempunyai murid seorang yang....... ah, tak perlu dia disebut sebut, dia sudah tewas sebagai seorang pahlawan bangsa. Sambil berkata demikian Mo bin Sin kun menengok ke arah muridnya yang berdiri sambil menundukkan muka. Untuk sesaat keadaan sunyi dan semua orang diam saja, seakan akan mengenangkan sesuatu yang menyedihkan hati. Tentu saja dapat diduga betapa hancur hati Yap Bouw mendengar ucapan itu. Ia maklum bahwa yang dimaksudkan oleh Mo bin Sin kun tadi tentu dia sendiri!

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Sudahlah, sudahlah, di waktu terang bulan seperti ini tidak layak membicarakan hal hal yang telah lalu. Hai, bocah sombong, apakah benar benar kau berani menghadapi muridku ini ? Bun Sam mengerling kepada gadis cilik itu. Sebenarnya aku merasa enggan dan malu harus melawan seorang anak perempuan yang masih begini kecil, paling banyak baru dua belas tahun dan....... Usiaku sudah empatbelas! Dan aku tidak takut kepadamu, buyung ! tiba tiba gadis cilik itu mendampratnya dan suaranya ternyata keras dan nyaring sekali. Tadinya Bun Sam mengira bahwa gadis ini galak dan sombong, akan tetapi tidak demikian. Gadis itu bicara dengan sikap sungguh sungguh dan nampak tetap tenang saja, tidak memandang rendah, juga tidak takut. Menghadapi seorang gadis cilik yang dapat bersikap hati hati seperti ini, ia harus berlaku wapada pikirnya. Mo bin Sin kun, karena kau yang membawa dia ke sini dan kau pula yang menantangku mengadakan pibu dengan muridmu, baiklah kuterima tantangan ini. Akan tetapi taruhannya. Ilmu pukulan Soan hong pek lek jiu harus kau ajarkan kepadaku! Mo bin Sin kun nampak terkejut. Dari mana kau bisa tahu bahwa ilmu pukulan itu adalah Soan hong pek lek jiu? Kalau bukan suhu yang memberi tahu kepadaku siapa lagi yang akan mengenal ilmu pukulan mu yang lihai itu? Mo bin Sia kun mengangguk angguk. Memang matamu tajam sekali. Baiklah. Soan hong pek lek jiu akan

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

kuajarkan kepadamu kalau kau dapat mengalahkan muridku ini. Akan tetapi bagaimana kalau kau yang kalah? Kalau aku kalah,....? gadis cilik itu, kemudian memutar otaknya, kalau depanmu delapan kali dan yang ke dua ! Bun Sam memandang kepada kepada Mo bin Sin kun dan aku kalah, biar aku berlutut di mengangkat kau sebagai guruku

Mo bin Sin kun tiba tiba tertawa terbahak bahak dengan suara ketawanya yang merdu, lalu katanya geli. Kau memang tukang bujuk yang pandai ! Kemudian ia berpaling kepada muridnya dan berkata, Lihat, menghadapi seorang pemuda seperti ini di kemudian hari, kau harus berhati hati. Lalu ia kembali berkata kepada Bun Sam. Baiklah, hendak kulihat sampai di mana Kim Kong Taisu mengajar muridnya dan biar kusaksikan dulu apakah kau berbakat untuk menerima Soan hong pek lek jiu. Sementara itu, gadis cilik murid Mo bin Sin kun ini yang sudah mendengar dari suhunya bahwa ia hendak diadu dengan pemuda sombong itu, sudah melompat ke tempat yang lapang dan bersiap sedia. Majulah, buyung ! Bun Sam mendongkol juga karena berkali kali disebut buyung oleh gadis itu, seakan akan gadis itu jauh lebih tua daripadanya. Bocah masih ingusan! Kau sombong sekali. Tunggu aku akan menjewer telingamu sampai mulur ! Iapun menyusul dan melompat ke lapangan itu, menghadapi lawannya. Betapapun juga tenangnya, murid Mo bin Sin kun hanya seorang anak perempuan yang lebih mudah tersinggung hatinya. Mendengar sindiran dan ejekan Bun Sam ini, tiba

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

tiba marahlah dia. Sepasang matanya mengeluarkan cahaya berapi dan tanpa banyak bercakap lagi ia lalu menerjang Bun Sam sambil membentak, Lihatlah pukulan! Bagus sekali! jawab Bun Sam sambil cepat mengelak dan membalas dengan serangan kilat pula. Maka bertempurlah kedua orang remaja itu dan ternyata oleh Mo bin Sin kun dan Yap Bouw yang menonton di situ bahwa keduanya memiliki kegesitan yang setingkat. Yap Bouw yang semenjak tadi menatap wajah anak perempuan itu dan memperhatikannya, diam diam memuji. Bagaimana seorang anak perempuan yang belum dewasa dapat memiliki ilmu kepandaian setinggi itu? Dalam hal ilmu silat, ia harus mengakui bahwa dia sendiri kalah tinggi oleh gadis cilik itu. Apalagi ginkang nya, sungguh hebat karena bertempur melawan Bun Sam, gadis itu merupakan seekor burung walet yang lincah dan gesit sekali, yang menyambar nyambar dari segala jurusan untuk merobohkan Bun Sam. Akan tetapi, Bun Sam telah mempelajari Ilmu Silat Sin tiauw ciang hwat dan Siauw hong kun hwat ciptaan gurunya dari pertempuran antara ular besar dan burung rajawali, maka gerakannya selain tenang seperti ular juga gesit seperti burung rajawali. Tadinya Bun Sam tidak mengeluarkan ilmu silat ini, hanya memainkan ilmu silat biasa yang mengandalkan tenaga dan kegesitan. Akan tetap setelah dilihatnya betapa lawannya benar benar hebat sekali gerakannya dan. khawatir kalau kalau ia sampai kalah segera ia mengeluarkan Ilmu silat Siauw liong kun hwat yang diseling seling dengan Ilmu Silat Sin Tiauw ciang hwat. Dengan demikian kadang kadang tubuh pemuda itu diam dan tegak dengan amat tenangnya, hanya menanti datangnya lawan yang lain ditangkis juga berbareng diberi serangan balasan, akan tetapi kadang kadang tubuhnya

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

bergerak gerak dengan lompatan lompatan tinggi seperti seekor burung sedang terbang. Menghadapi dua macam ilmu silat ini, barulah anak perempuan itu terdesak dan bingung. Bahkan Mo bin Sio kun terdengar berseru perlahan, Bagus sekali gerakan gerakan itu. Gadis cilik itu terdesak mundur terus, tidak kuat menghadapi serangan serangan Bun Sam yang mengeluarkan ilmu silat baru yang belum pernah terlihat oleh dunia luar ini. Tiba tiba ia berseru, Bolehkah teecu mempergunakan Soan hong jiu? Mo bin Sin kun menjawab, Apa boleh buat, lawanlah dengan Soan hong pek lek jiu! Tiba tiba gadis itu melompat ke belakang dan berjungkir balik beberapa kali. Ketika ia menurunkan kedua kakinya, ia telah terpisah dua tombak lebih dari tempat Bun Sam berdiri. Pemuda ini tidak takut dan maju mengejarnya dan pada saat itu gadis cilik ini lalu memasang kuda kuda setengah berjongkok, menyimpan kedua tangan di bawah pangkal lengan, kemudian ia berseru keras sambil mendorang kedua lengannya dengan tiba tiba ke depan. Bun Sam mencoba untuk mempertahankan diri dari serangan angin pukulan yang luar biasa itu. Ia menggerakkan tubuh ke atas, melompat dengan gerak tipu Lee hi ta teng (Ikan Lehi Melompat Ke Atas) kemudian dari atas ia melanjutkan gerakannya dengan tipu Sin tiauw kiun jiauw (Rajawali Sakti Menyabetkan Cakar) sebuah tipu dari Ilmu Silat Sin tiauw ciang hwat. Gadis cilik ini terkejut sekali ketika ia mengerahkan pukulan Soan hong jiu ke arah pemuda yang menyambarnya, tiba tiba tangan kanannya kena terpegang oleh Bun Sam. Sekali pemuda itu membetot, gadis itu tak

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

dapat mempertahankan diri dan terhuyung ke depan. Tentu ia akan jatuh terjerembab ke depan kalau Bun Sam tidak cepat cepat menjambret bajunya dan menahannya. Merahlah muka gadis cilik itu. Ia telah kena diakali dan hampir saja ia jatuh tertelungkup. Akan tetapi ia terheran karena ia tadi merasa betul bahwa pukulannya telah mengenai pundak kanan pemuda itu. Apakah pemuda itu kebal dan dapat menahan pukulan Soan hong jiu? Sebetulnya tidak demikian, karena pada saat itu Bun Sam meraba raba pundaknya sambil meringis ringis kesakitan. Tadi ketika ia menggunakan gerak tipu Sin tiauw kian jiauw, ia telah memapaki pukulan Soan hong jiu yang hebat dan merasa pundaknya sakit seperti tertusuk jarum. Ketika ia merabanya, rasa sakit itu bukan main, seakan akan tulang tulang pundaknya telah terluka hebat! Terdengar Mo bin Sin kun tertawa nyaring. Kalau dipandang dari sudut pibu (adu kepandaian silat), kau kalah karena kau telah terluka oleh pukulan Soan hong jiu. Akan tetapi, dipandang dari sudut ukuran, ternyata kepandaianmu lebih baik setingkat dari kepandaian muridku. Dan biarpun kau sudah terluka, kau masih mau menolong, sehingga muridku tidak jatuh, ini menunjukkan bahwa Kim Kong Taisu tidak keliru memilih murid. Baiklah, bocah bernasib baik, aku akan menurunkan Soan hong jiu kepadamu! Bukan main girangnya hati Bun Sam dan cepat cepat ia menjatuhkan diri berlutut di depan Mo bin Sin kun. Akan tetapi ketika ia berlutut, tiba tiba ia meringis lagi karena pundaknya yang terluka terasa sakit sekali. Mari kau ikut aku masuk ke kamarmu. Malam hari ini kau harus sudah dapat menghafal ilmu pukulan Soan hong jiu. Besok pagi pagi aku akan pergi dan bisa atau tidak

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

menghafal Soan hong jiu tergantung kepadamu sendiri, waktunya hanya semalam ini! Memang amat aneh watak Mo bin Sin kun ini, akan tetapi Bun Sam yang tahu bahwa orang orang pandai di dunia ini memang berwatak aneh, tidak menjawab, hanya mengangguk dan beramai mereka lalu masuk ke dalam kamar Bun Sam di hotel itu. Adapun gadis cilik itu seperti sudah berjanji dengan suhunya, tanpa memperlihatkan muka iri atau kesal pergi duduk di atas bangku yang berada di luar kamar Bun Sam. Yap Bouw yang semenjak tadi memperhatikan gadis itu dengan mata bersinar kagum, juga ikut masuk, akan tetapi ia tidak segera masuk ke dalam kamarnya, melainkan duduk di depan kamarnya pula, di atas bangku dan terus menerus memandang ke arah gadis cilik yang duduk di depan kamar Bun Sam. Agaknya ingin sekali ia mengajak gadis itu bicara, akan tetapi karena gagu, ia menahan kehendaknya itu dan hanya menatap dengan penuh perhatian. Gadis itu tentu saja merasa betapa orang itu memandangnya terus menerus. Ia tidak takut melihat wajah orang itu, karena ia sudah biasa melihat wajah jurunya yang lebih buruk lagi, akan tetapi dipandang terus menerus, ia merasa gelisah juga. Beberapa kali ia mencoba untuk tersenyum kepada Yap Bouw, akan tetapi si muka tengkorak itu tidak membalas senyumannya, bahkan memandang makin tajam. Memang elok sekali wajah gadis cilik itu. Mukanya bulat telur, dagunya runcing manis, air mukanya terang dengan bibir tipis dan mata bersinar sinar. Sebuah titik merah semacam tahi lalat menghias leher di bawah dagunya, menambah ke manisannya. Rambutnya halus, hitam dan

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

panjang, dikuncir dua dan kuncir itu digelung di kanan kiri kepalanya. Orang tua, kenapa kau memandang saja kepadaku? akhirnya gadis itu menjadi tak sabar dan bertanya juga kepada Yap Bouw yang tiba tiba merasa gugup sekali. Gadis cilik itu melihat sikap Yap Bouw seperti orang malu malu dan gelisah, menjadi terheran dan timbul perasaan kasihan kepada orang bermuka rusak ini. Ia berdiri dari tempat duduknya dan berjalan dengan lenggang halus menghampiri Yap Bouw yang menundukkan mukanya. Lopeh (uwak), katanya sambil menyentuh tangan Yap Bouw. Apakah yang kau pikirkan? Apakah kau tidak setuju melihat sutemu (adik seperguruanmu) menerima latihan Soan hong jiu hwat dari garuku? Yap Bouw menggeleng gelengkan kepalanya dan matanya hanya sekali sekali saja memandang wajah gadis cilik itu. Lopeh, kau tidak bisa bicara, apakah semenjak lahir kau sudah menjadi gagu? Siapakah namamu, lopeh dan apakah kepandaianmu jauh lebih tinggi daripada sutemu tadi? Gadis itu menghujani Yap Bouw dengan pertanyaan pertanyaan lupa bahwa yang ditanyanya tentu saja tak dapat menjawab. Ketika ia melihat pandangan mata Yap Bouw yang seakan akan merasa tertusuk hatinya, gadis itu cepat berkata. Ah, benar. Kau tidak bisa menjawab pertanyaan penrtanyaanku, lopeh. Aku..... entah mengapa, aku merasa kasihan sekali kepadamu dan ingin sekali bercakap cakap dengan kau. Kau kelihatan sabar dan baik hati, lopeh. Yap Bouw makin suka kepada anak perempuan ini. Ia teringat bahwa anak sebesar ini sudah semestinya tidur pada waktu itu; maka ia lalu menunjuk ke kamarnya dan

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

memberi tanda dengan isarat tangannya bahwa gadis itu boleh tidur di dalam kamarnya dan ia sendiri akan duduk di luar saja. Gadis itu ternyata cerdik sekali dan sekali pandang saja ia mengerti isarat tangan si gagu ini. Ia tersenyum dan melihat senyum gadis cilik; ini terpaksa Yap Bouw memeramkan matanya untuk menghilangkan perasaan dan bayangan yang bukan bukan. Lopeh, kau baik sekali, benar seperti dugaanku. Kau tentu lebih baik daripada sutemu yang sombong dan keras kepala! Aku tidak mau tidur, lopeh, sudah biasa aku tidur sampai jauh malam. Kalau kau mengantuk, tidurlah kau. Yap Bouw menggelengkan kepala dan untuk beberapa lama keduanya berdiam saja. Gadis itu memandang dan menatap wajah Yap Bouw, sedangkan orang tua yang gagu ini hanya menundukkan mukanya. Benar benar pemandangan yang amat aneh. Lopeh, tahukah kau bahwa aku amat benci kepada suhumu, kepada Kim Kong Taisu? tiba tiba gadis cilik itu berkata. Yap Bouw terkejut sekali dan memandang kepada gadis itu dengan mata penuh pandangan menyelidik. Kau tentu heran, lopeh. Akan tetapi aku harus membenci suhumu yang belum pernah kulihat itu. Bahkan guruku sendiripun amat benci, kepadanya dan ingin sekali sewaktu waktu mengadakan pertandingan untuk menentukan siapa yang lebih unggul kepandaiannya. Kembali Yap Bouw terheran, bahkan kali ini tanpa disengaja bibirnya bergerak mengucapkan kata kata, Mengapa? yang tidak bersuara.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Wajah gadis itu berseri girang. Ah, dahulu kau tentu dapat bicara, lopeh. Orang yang gagu semenjak lahir tentu tak dapat menggerakkan bibir untuk mengucapkan kata kata! Kau ingin tahu mengapa guruku dan aku membenci Kim Kong Taisu? Gadis itu menghentikan kata katanya dan keningnya berkerut, tanda bahwa ia sedang berpikir pikir dan mempertimbangkan apa yang hendak dikatakan selanjutnya. Yap Bouw menatap wajah yang elok dan manis itu dan kembali hatinya berdebar keras dan aneh. Ah, haruskah aku menceritakan hal ini kepadamu? kata gadis itu pula dengan perlahan, kepada diri sendiri. Biarlah, aku kasihan dan tertarik kepadamu, lopeh dan kau tentu tak dapat menceritakan hal ini kepada lain orang. Pula siapa tahu kala u kata u kau dapatmenuturkan sedikit tentang orang yang akan kuceritakan ini, kembali anak itu lupa bahwa yang diajak bicara adalah seorang gagu dan dengan sendirinya takkan dapat menuturkan apa apa kepadanya! Gadis itu menarik napas, panjang kemudian melanjutkan penuturannya. Kau tentu masih ingat betapa guruku heran mendengar bahwa kau adalah murid dari Kim Kong Taisu, kemudian guruku menyatakan pula tentang murid Kim Kong Taisu yang sudah tewas sebagai seorang pahlawan bangsa........ Makin berdebar hati Yap Bouw mendengar kata kuta ini dan pandangan matanya makin tajam. Kalau kau benar benar murid dari Kim Kong Taisu, tentu kau kenal orang itu, entah dia itu suhengmu (kakak seperguruanmu) atau sutemu (adik seperguruanmu). Nah, orang itu telah tewas oleh kawan kawan Ulan Tanu Si Alis Merah dari Mongolia dibantu pula oleh Seng Jin Siansu si jahat! Akan tetapi gurumu itu, Kim Kong Taisu orang tua yang lemah dan pengecut, dia tidak menuntut pembalasan

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

bahkan menyembunyikan diri di atas puncak Gunung Oei san! Bukankah itu amat menjengkelkan? Yap Bouw mengangguk angguk. Tentu saja cerita ini bukan hal yang asing baginya karena orang yang diceritakan itu sebenarnya tak lain adalah dia sendiri! Akan tetapi mengapa Mo bin Sin kun dan muridnya menjadi jengkel dan membenci Kim Kong Taisu karena kakek ini tidak membalaskan sakit hati Yap Bouw? Ini benar benar aneh. Saking herannya, Yap Bonw lalu menghampiri meja dan menggunakan telunjuknya untuk menggurat gurat meja itu. Ternyata dia telah menuliskan beberapa huruf di atas meja dengan bantuan kuku telunjuknya! Gadis cilik itu menghampiri meja dan membaca; Apakah yang kau maksudkan dengan orang itu adalah Yap Bouw bakas jenderal? Kalau betul mengapa kau dan gurumu menaruh perhatian ? Gadis itu memegang lengan Yap Bouw dengan girang. Jadi kau kenal dia....! Kau benar benar saudara seperguruan ayahku.... ? Kalau ada geledek menyambarnya saat itu belum tentu Yap Bouw akan menjadi sekaget ini. Biarpun tadinya ia telah merasa tertarik dan curiga melihat wajah gadis ini sama benar dengan wajah isterinya dan melihat tahi lalat merah di leher itu yang dulu juga dimiliki oleh anak perempuannya sebagaimana diceritakan oleh isterinya kepadanya dalam surat, namun ia masih ragu ragu. Dahulu isterinya menyurati bahwa sepeninggalnya, isterinya yang berada dalam keadaan mengandung itu telah melahirkan sepasang anak kembar, laki laki dan perempuan dan yang perempuan ada tahi lalatnya di leher dan yang laki laki ada tahi lalatnya di dagu. Akan tetapi tahi lalat di leher anak perempuan itu merah, sedangkan tahi lalat di dagu anak laki laki itu hitam.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Kini, mendengar bahwa anak ini menyebut ayah kepada Yap Bouw yang ia tuliskan namanya di atas meja, tentu saja Yap Bouw menjadi terkejut, girang, terharu dan juga terpukul hebat hatinya. Tubuhnya tiba tiba menjadi lemas, ia terhuyung huyung dan merangkul anak perempuan itu di dekapnya kepala gadis cilik itu ke dadanya diciumi rambut di kepalanya. Gadis itu yang tiba tiba merasa dirangkul dan dipeluk oleh orang yang buruk rupanya ini, menjadi keheran heranan. Ia tidak marah karena pelukan orang ini bukan pelukan yang bersifat kurang ajar, bahkan ketika ia memandang, pipi yang kisut dan buruk hitam itu basah oleh air mata! Tak terasa pula gadis itupun menangis, teringat akan ayahnya yang dikabarkan telah tewas dalam perang, ia mengira bahwa orang ini tentu saudara seperguruan mendiang ayahnya dan bahwa orang ini amat girang mendengar bahwa dia adalah puteri Yap Bouw, Akan tetapi alangkah terkejutnya hati anak ini ketika merasa betapa tubuh orang yang memeluknya menjadi lemas dan tiba tiba orang itu terkulai dan roboh pingsan! Tentu saja anak itu menjadi heran sekali. Akan tetapi sebagai murid seorang sakti, ia tidak menjadi gugup. Dengan perlahan ia lalu mengurut belakang leher Yap Bouw dan menggerak gerakkan kedua lengannya secara teratur sekali. Tak lama kemudian Yap Bouw siuman kembali dari pingsannya dan ia bangkit sambil mengeringkan air matanya dengan ujung bajunya yang hitam. Ia dapat menetapkan hatinya dan setelah mereka duduk kembali di atas bangku, gadis itu bertanya, Susiok (paman guru), karena kau adalah seudara seperguruan mendiang ayahku, lebih baik kusebut kau susiok atau supek (uwak guru) saja. Alangkah senangnya hatiku kalau aku dapat mendengar kau bercerita tentang ayah di waktu dia masih

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

hidup. Sutemu itu tentu tidak mengenal ayah karena usianya masih muda sekali, ketika ayah meninggal dunia tentu dia masih bayi. Gadis cilik itu. tersenyum kembali dan Yap Bouw merasa kagum melihat watak anaknya yang demikian lincah dan gembira. Seperti ibunya, pikirnya dengan hati sebesar gunung. Betapa seorang ayah tidak akan menjadi bangga dan girang melihat anaknya telah menjadi seorang gadis cilik yang selain cantik manis, juga pandai dan berwatak menyenangkan! Ketika Yap Bouw hendak menulis di atas meja, minta anaknya itu menceritakan riwayatnya, tiba tiba pintu kamar Bun Sam terbuka dan keluarlah pemuda itu mengiringkan Mo bin Sin kun yang wajahnya nampak terang. Sutemu ini benar benar berotak terang! katanya kepada Yap Bouw dengan suara ramah. Sebentar saja dia telah dapat menghafal teori Soan hong jiu hwat. Tidak percuma ia menjadi murid dari Kim Kong Taisu. Akan tetapi, katanya sambil berpaling kepada Bun Sam, kau harus ingat sumpahmu tadi bahwa di dalam pertandingan silat, baik perkelahian sungguh sungguh maupun hanya pibu menghadapi muridku, sekali kali tidak boleh menggunakan Soan hong jiu hwat itu! Juga apabila diadakan pibu besar besaran kelak yang kurencana kan, kau tidak boleh mengeluarkan ilmu pukulan ini! Bun Sam menjatuhkan diri berlutut, menyatakan setuju dan menghaturkan terima kasih. Wajah pemuda ini berseri girang, dan gadis cilik itu berkata kepadanya. Jadi sekarang kau terhitung suteku!.... Tidak bisa, Bun Sam membantah, usiaku lebih banyak daripadamu, manakau boleh menyebut sute (adik seperguruan)?

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Biarpun usiamu lebih tua, akan tetapi di dalam urutan murid guru kami, kau adalah nomor dua kau harus menyebut aku suci (kakak seperguruan perempuan). Bun Sam membantah dan keduanya bersitegang, tidak mau saling mengalah. Akhirnya Mo bin Sin kun ikut campur, tersenyum dan berkata, Kalian ini di dalam satu hal amat bersamaan. Sama sama keras kepala! Untuk apakah segala macam peraturan sebutan yang menjemukan itu? Panggil saja nama masing masing, bukankah itu lebih mudah dan lebih baik? Bun Sam mengangguk dengan girang karena inilah jalan terbaik baginya untuk tidak mengaku kalah terhadap gadis cilik itu. Memang menurut patut, melihat bahwa dia hanya malam ini saja menjadi murid Mo bin Sin kun dan hanya menerima latihan satu macam ilmu pukulan, ia terhitung murid kedua dan harus menyebat suci kepada gadis ini. Sekarang Mo bin Sin kun memberi jalan keluar baginya. Dengan girang ia berkata, Nah, itu baru baik dan adil namanya. Namaku Bun Sam, lengkapnya Song Bun Sam. Siapakah namamu? tanyanya kepada gadis itu. Namamu jelek. gadis itu mengejek, nama kakakku lebih bagus. Hm. siapa nama kakakmu? tanya Bun Sam dan tanpa diketahui oleh siapapun juga, diam diam Yap Bouw mendengarkan dengan penuh perhatian dan hatinya makin berdebar. Nama kakakku Thian Giok, bukankah lebih gagah? Namaku sendiri Lan Giok, she Yap! She Yap?? Bun Sam bertanya dengan mata terbuka lebar lebar, kemudian ia teringat akan keadaan suhengnya

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

dan dapat menekan gelora hatinya. Dengan cerdik ia lalu bertanya pala, Dan mana kakakmu yang kau katakan bernama gagah itu? Engko Thian Giok? Dia tidak da di sini, dia adalah kakak kembarku, dan...... eh, mengapa kau menjadi pucat? Sakitkah kau? tiba tiba gadis cilik itu menatap wajah Bun Sam yang benar benar menjadi pucat. Biarpun Bun Sam sudah dapat menduga, namun keterangan yang menetapkan bahwa gadis ini adalah pateri dari suhengnya, membuat hatinya terguncang dan mukanya pucat. Juga Mo bin Sin kun dapat melihat hal ini, maka ia lalu maju dan bertanya, Bun San, siapa kah suhengmu ini? Dia.... dia tidak mau diperkenalkan mamanya. Bun Sam, kau sudah menjadi muridku, tidak perlu lagi menyimpan rahasia. Ayoh katakan, siapa nama suhengmu ini! Bun Sam menjadi bingung dan pada saat itu tiba tiba Yap Bouw menyambar lengannya dan menariknya cepat, diajak lari pergi dari terapat itu! Biarpun tengah malam telah lama lewat dan fajar mulai menyingsing disambut oleh kokok ayam namun udara masih amat, gelap, sehingga sebentar saja bayangan Yap Bouw dan Bun Sam lenyap dari pandangan mata. Lan Giok menarik napas panjang dan menahan siatnya hendak mengejar. Sayang sekali, si muka tengkorak itu kesal dengan mendiang ayah teecu dan baru saja teecn membujuk agar ia suka menceritakan keadaan ayah di waktu dahulu. Siapa tahu kalau kalau dia tahu pula di mana makam ayah....... Mo bin Sin kun mengerutkan kening. Orang itu benar benar berwatak aneh dan penuh rahasia. Lain kali kalau

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

bertemu dengan dia, sebelum dia mengaku aku takkan mau melepaskannya, katanya gemas. Suthai, mengapa kau membebaskan Sin beng Ngo hiap? Mengapa tidak dibasmi saja orang orang macam itu? Lan Giok memang berwatak lincah dan tidak menggunakan banyak peraturan dalam pembicaraannya, sehingga terhadap guru nya ia berani ber-engkau saja! Kalau Bun Sam mendengar panggilan gadis ini kepada gurunya tentu pemuda ini akan terheran dan maklum bahwa sesungguhnya Mo bin Sin kun adalah seorang wanita! Mo bin Sin kun menggeleng gelengkan kepalanya Mengapa harus membunuh mereka? Yang menjemukan dan harus dibunuh adalah Ngo jiauw eng Lui Hai Siong, murid Bouw Ek Tosu, Eh, Lan Giok, kau selalu turut padaku dan belum pernah bekerja sendiri. Sanggupkah kau melakukan tugas ini? Tugas yang bagaimana, suthai? tanya gadis itu penuh kegembiraan dan semangat. Melenyapkan Ngo jiauw eng dari muka bumi! Tentu saja sanggup, suthai! Di mana aku dapat mencarinya? Pengkhianat itu telah mendapat pangkat touw tong dan menjadi pembesar di kota Tong seng kwan. Setelah kau berhasil membasmi orang Jahat itu, kau ambillah jalan melalui kota raja, mungkin sekali kau akan bertemu dengan kakakmu di sana. Kakakmu juga sedang menjalankan tugas yang sama, mencari. dan membunuh Toa to Hek too yang berada di kota raja, Baiklah, suthai; sekarang juga aku akan berangkat. Berangkat dan hati hatilah, jangan terlalu memandang rendah lawan yang kau jumpai di jalan.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Sementara itu, fajar telah barganti pagi dan udara pagi itu amat cerah menimbulkan kegembiraan. Maka berangkatlah Lan Giok setelah menerima petunjuk petunjuk dari gurunya, berangkat dengan hati besar dan semangat bergelora. Diam diam ia mengharapkan untuk dapat segera bertemu kembali dengan Bun Sam dan si muka tengkorak itu, karena ia ingin mendengar penuturan si muka tengkorak tentang ayahnya. Dilihat begitu saja, memang agaknya Mo bin Sin kun terlalu gegabah dan sembrono, memberi tugas seberat itu kepada muridnya, seorang gadis cilik yang usianya baru empat belas tahun! Akan tetapi sangkaan ini akan lenyap kalau orang mengetahui bahwa diam diam orang aneh itu segera mengikuti muridnya dan memperhatikan serta mengawasi gerak geriknya! Dengan jalan ini, ia hendak melatih praktek kepada muridnya yang masih hijau itu, tetapi selalu menjaganya dengan penuh perhatian. Biarpun usianya baru empatbelas tahun, Lan Giok sudah nampak cantik manis laksana setangkai bunga mawar mulai mekar. Tubuhnya yang terlatih itu padat dan otaknya yang dijejali pelajaran pelajaran oleh gurunya, membuat ia dapat berfikir seperti seorang yang sudah cukup dewasa. Juga ilmu silatnya sudah cukup tinggi.... karena semenjak kecil, dia dan kakak kembarnya, Yap Thian Giok setiap hari digembleng. oleh Mo bin Sin kun, seorang di antara Lima Tokoh Besar di dunia persilatan itu. Setelah kini mendapat kesempatan oleh gurunya untuk melakukan semacam tugas seorang diri tentu saja hatinya gembira sekali, la telah terlepas bagaikan seekor burung bebas di udara dan tidak seperti biasanya di mana ia selalu menurut petunjuk gurunya dan pikirannya tidak dapat bergerak. Kini gurunya melepaskannya, berarti bahwa

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

kepandaiannya tentu telah sempurna, demikian pikir gadis cilik yang lincah ini. Sambil menggendong buntalan berisi pakaian dan uang bekal pemberian gurunya, berangkatlah Lan Giok menuju ke kota Tong seng kwan. Seperti biasa ia tidak berbekal senjata, karena memang gadis ini tidak memerlukan sesuatu senjata. Melihat bakatnya, Mo bin Sin kun menitikberatkan latihan ilmu pukulan tangan kosong kepada Lan Giok, sungguhpun ini bukan berarti bahwa gadis cilik ini tidak mahir bermain senjata. Keliru dugaan ini, karena Lan Giok sanggup memainkan delapenbelas macam senjata persilatan! Dan memainkan dengan ___ akan tetapi khusus mempelajari ilmu silat tangan kosong dari gurunya, yang memang terkenal dengan ilmu silat tangan kosongnya, sehingga mendapat julukan Sin kun (Tangan Malaikat). Lan Giok melakukan perjalanan dengan cepat. Kalau melewati dusun atau kota, pendeknya kalau banyak orang, ia berjalan cepat dengan tenaga biasa agar jangan menimbulkan keheranan. Akan tetapi kalau melewati tempat sunyi dan tidak ada orang yang melihatnya, gadis cilik ini lalu mengerahkan seluruh kepandaiannya dan berlari secepat terbang dengan Ilmu Lari Cepat Liok te hui teng (Lari di Atas Bumi Seperti Terbang). Pada masa itu, yakni di dalam pemerintahan Dinasti Goan tiauw, keadaan rakyat jelata amat menderita dan oleh karena itu, kekacauan terjadi di mana mana. Melakukan perjalanan di masa itu sangat tidak aman. Bukan saja kesengsaraan membuat di jalan jalan sunyi banyak muncul perampok perampok dan di waktu malam dari banyak muncul pencuri pencuri, akan tetapi juga pembesar pembesar Goan tiauw dan tentaranya merupakan gangguan gangguan besar bagi orang yang melakukan perjalanan jauh.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Lan Giok tidak terkecuali. Gadis ini sering menerima gangguan, akan tetapi selalu para pengganggunya yang sebaliknya terganggu! Beberapa kali ia dihadang perampok perampok yang hendak merampas buntalannya, tetapi bukan Lan Giok yang kehilangan barangnya, bahkan, selelah melabrak para perampok itu, gadis cilik ini buntalannya bahkan bertambah dengan barang barang berharga yang disitanya dari tangan para perampok itu! Juga beberapa kali orang orang jahat dan tentara tentara negeri yang mencoba untuk mengganggunya karena tertarik oleh kecantikannya, dipukul mundur jatuh bangun oleh murid dari Mo bin Sin kun yang lihai ini. Akan tetapi ketika ia tiba di luar tembok kota raja, ia menyaksikan peristiwa yang amat mengherankan hatinya. Dari jauh ia sudah mendengar suara ribut ribut dan ketika ia mempercepat langkahnya, ia melihat seorang pemuda cilik tengah dikeroyok hebat oleh belasan orang tentara Goan. Akan tetapi pemuda cilik ini luar biasa sekali ilmu silatnya, sehingga biarpun pemuda itu hanya berdiri di tengah tengah kepungan, tiap kali ada yang mendekatinya, lawan ini segera roboh terguling atau terpental jauh! Juga terdengar pemuda Ini tertawa tawa geli, seperti anak kecil yang mendapatkan permainan yang lucu dan menyenangkan. Tadinya Lan Giok mengira bahwa ia tentu Song Bun Sam, pemuda yang dijumpainya, karena memang potongan tubuhnya hampir sama besarnya. Akan tetapi setelah ia datang dekat, ternyata bahwa pemuda itu sama sekali bukan Bun Sam melainkan seorang pemuda yang bermata sipit dan wajahnya kepucat pucatan, membayangkan sifat yang amat licik dan nakal. Akan tetapi, suara ketawanya amat merdu dan menyenangkan hati, sehingga Lan Giok yang

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

berwatak gembira, mendengar suara ketawa ini tanpa disengaja ikut tertawa juga. Pendengaran pemuda cilik itu benar benar lihai. Biarpun ia sedang dikeroyok oleh banyak orang, namun ia dapat mengetahui akan kedatangan Lan Giok Ia menoleh dan sambil mengejapkan sebelah mata kearah Lan Giok, ia berkata, Hei, ketawamu manis sekali ! Lan Giok tidak menjawab hanya diam diam merasa senang mendengar pujian ini. Ia melihat betapa belasan orang itu kini menjadi makin marah dan mengeluarkan golok, menyerang hebat kepada pemuda itu. Oleh karenanya, Lan Giok lalu berdiri agak jauh, siap untuk membantu apabila perlu, akan tetapi agaknya tidak perlu, karena pemuda itu benar benar lihai. Menghadapi serangan belasan golok ini ia lalu mencabut sebatang suling yang bentuknya seperti ular, lalu mengobat abitkan suling ini. Aneh, tiap kali suling itu membentur golok seorang pengeroyok, orang berteriak kaget dan kesakitan, goloknya terlempar dan orangnya lalu roboh pula! Sebentar saja, dengan sulingnya yang luar biasa ___ muda itu telah merobohkan tujuh orang tinggal delapan orang itu menjadi gentar Pada saat itu, dari jurusan kota raja datang dua ekor kuda yang dilarikan dengan cepat. Penunggangnya ada seorang gadis muda yang cantik dan berpakai merah, sedangkan orang ke dua adalah seorang muda tampan berpakaian biru yang mewah dan gagah. Lan Giok yang memandang ke arah gadis baju merah itu, terpesona saking kagumnya. Gadis baju merah itu benar benar hebat dan elok sekali, sampak bagaikan setangkai bunga teratai merah yang sedang mekar. Begitu cantik, begitu halus, namun begitu gagah. Ketika sepasang remaja ini melihat serombongan tentara dihajar habis habisan oleh

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

seorang pemuda yang memegang suling, mereka cepat melarikan kudanya ke tempat pertempuran itu. Manusia liar dari manakah berani melawan alat negara? terdengar bentakan halus dan nyaring dari gadis baju merah dan tahu tahu berkelebatlah sinar merah ketika ia melompat dari atas kudanya dan langsung menghadapi pemuda pemegang suling tadi. Bagus! Lan Giok memuji melihat gerakan yang indah dan lompatan yang jauh itu. Ia maklum bahwa hanya orang yang sudah pernah mempelajari ilmu lompat jauh Liok te hui teng kanghu saja yang akan dapat melakukan lompatan langsung ari atas kuda sejauh itu jaraknya. Pemuda yang memegang suling itu menghadapi nona baju merah dan senyumnya melebar. Kemudian ia menoleh ke arah Lan Giok yang masih bediri menonton pertempuran, maka katanya jenaka, Baik sekali untungku hari ini, kedua duanya cantik jelita. Akan tetapi apakah kau juga alat negara? Kata kata ini diucapkannya dengan tidak karuan dan nona baju merah yang usianya masih amat muda, paling banyak enam belas tahun itu, menjadi makin marah. Buka matamu lebar lebar! Kau berhadapan dengan puteri Panglima Besar Bucuci! Ayoh lempar sulingmu dan menyerah kepada rombongan tentara ini ! kata gadis baju merah itu sambil mencabut sebatang pedang pendek dari pinggangnya dangan lagak menantang dan gagah. Kembali pemuda aneh itu tertawa. Ha, ha, ha! Baiknya suhu sedang tidur dan tidak melihat dan mendengar ini! Ha, ha, kalau dia melihat ini, suhu bisa mati saking gelinya ! Nona baju merah itu makin marah dan ketika ia menggerakkan tangannya, maka ia telah menyerang dengan

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

gerak tipu Hek in koan yang (Mega Hitam Menutup Matahari). Lan Giok yang melihat gerakan ini diam diam terkejut juga karena gerakan nona baju merah itu amat cepat dan ganas. Agaknya sukarlah ditangkis pedang pendek yang di putar cepat, merupakan gulungan sinar yang seperti naga hendak menelan tubuh pemuda cilik yang aneh itu! Kembali ia menjadi kaget dan heran melihat ilmu pedang nona ini. Baru saja tiba di luar tembok kota raja, ia telah menyaksikan seorang pemuda yang aneh dan sangat lihai. Sekarang datang lagi seorang gadis muda baju, merah yang ilmu pedangnya amat tinggi pula. Alangkah banyak nya orang orang berkepandaian tinggi di kota raja ini, pikirnya dengan hati gembira. Memang pemuda aneh itu lihai sekali. Biarpun ia diserang oleh nona baju merah yang memainkan pedang secara hebat, ia berlaku tenang saja, bahkan mengejek, Hek in koan yang yang kau mainkan ini tidak menakutkan aku, nona manis. Betapapun tebalnya mega hitam, tak mungkin dapat menutup matahari selamanya. Lihat, aku si matahari akan membuyarkan mega hitam! Setelah mengeluarkan ucapan yang sifatnya seperti olok olok, tetapi yang sekaligus menyatakan bahwa ia mengenal baik ilmu serangan lawannya, pemuda ini lalu memutar tongkatnya dan benar saja, setelah jurus Hek in koan yang habis dimainkan, pemuda itu sama sekali tidak dapat dikalahkan dan ilmu pedang itu buyar sendiri, oleh tangkisan tangkisan dan serangan balasan yang tepat dari suling ular itu. Nona baju merah itu menjadi makin marah. Ia berseru keras dan tiba tiba tubuh nya lenyap terbungkus oleh sinar pedangnya yang bergulung gulung dengan ganasnya. Kembali Lan Giok tertegun. Ilmu silat nona baju merah itu benar benar hebat dari ia sendiri belum tentu akan dapat menang dengan mudah. Tetapi, ilmu silat dari pemuda

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

aneh itu lebih hebat lagi, bukan hebat karena tingginya tenaga lweekang atau ilmu ginkangnya yang setingkat dengan nona baju merah itu, tetapi yang hebat adalah keanehan ilmu silat yang dimainkannya dengan sebatang suling ular itu. Gerakan sulingnya berlenggak lenggok meniru gaya ular sungguh merupakan senjata aneh yang selain kuat sekali dalam pertahanan, juga aneh dan tak terduga datang nya serangan serangan yang dilancarkannya. Lan Giok segera dapat melihat bahwa ilmu silat dari pemuda itu masih lebih aneh dan lebih tangguh daripada nona baju merah yang memegang pedang. Benar saja setelah pertempuran berjalan puluhan jurus, perlahan lahan gulungan sinar pedang nona baju merah itu makin mengecil. Hal ini terlihat dengan bergantinya sinar. Kalau tadi ketika mula mula menyerang, sinar merah dari pakaiannya hampir tertutup oleh sinar putih dari perakan pedangnya, sekarang sinar putih itu mulai berkurang cahayanya dan mulai tertutup oleh sinar merah dari pakaiannya, tanda bahwa nona ini mulai mengandalkan ginkangnya untuk berkelebat ke sana ke mari menghindarkan diri dari serangan balasan pemuda bersuling itu. Sumoi biar aku membantu kau menangkap tikus kecil ini! terdengar seruan pemuda baju biru yang semenjak tadi menonton saja. Seruan ini dibarengi dengan berkelebat nya tubuhnya, sehingga nampak sinar kebiruan dari pakaiannya. Di kedua tangannya telah nampak sepasang golok tipis yang berkilauan, karena sepasang golok ini terbuat dari pada emas! Ha, ha, jadi nona manis baju merah masih punya suheng? Bagus majulah semua, jangan kira aku Gan Kui To takut bermain main dengan kalian. Waduh waduh!

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Memegang kim siang to (sepasang golok emas) ? Anak hartawan mana lagi yang maju ini ? Tutup mulut dan terimalah nasibmu! bentak pemuda baja biru itu dan benar saja, terpaksa pemuda aneh yang bukan lain adalah Gan Kui To itu harus menutup mulut karena gerakan sepasang golok emas ini benar benar sangat hebat, jauh lebih berbahaya daripada gerakan pedang pendek dari nona baju merah! Kembali Lan Giok terheran. Ada lagi pemuda yang berkepandaian tinggi, pikirnya. Timbul kegembiraan hatinya melihat tiga orang pemuda itu bermain silat demikian indah dan gesitnya. Sayang tidak seimbang, pikirnya, seorang saja dikeroyok dua. Dan tanpa disadarinya pula, karena amat gembiranya melihat orang orang mengadu kepandaian, Lan Giok tahu tahu telah menggerakkan tubuhnya, sepasang kakinya yang kecil menotol tanah dan melayanglah ia ke arah baju biru yang memagang sepasang golok emas! Melihat berkelebatnya bayangan kecil yang gesit ke arahnya pemuda baju biru ini mengangkat golok emasnya dan membabat ke arah Lan Giok, tetapi dengan sangat lincahnya bayangan itu telah mengelak ke kiri dan mengirim tendangan yang cepat bagaikan kilat menyambar! Pemuda baju biru itu terkejut sekali dan segera melompat untuk menghindarkan diri dari tendangan berbahaya ini, kemudian ia memandang dengan penuh perhatian. Eh eh, kau ini siapa lagi? Apakah konco dari tikus gila ini? tanyanya sambil memandang ragu ragu. Lan Giok tersenyum mengejek. Dua orang mengeroyok seorang, di mana keadilan? Dan lagi kurang gembira, maka aku masuk untuk menggenapi jumlah !

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Ha, ha, ha, nona cilik yang manis ternyata lihai juga! Mari kita sikat anak anak manja dari hartawan berpangkat ini, agar mereka tidak lagi memandang rendah kepada orang lain ! kata Gan Kui To sambil tertawa sombong. Lan Giok memang berwatak nakal gembira, maka mendengar ajakan ini, iapun memberikan senyuman manis kepada Kui To dan tiba tiba ia menyerang pemuda baju biru itu dengan Ilmu Pukulan Soan hong jiu hwat. Sepeti diketahui. Ilmu Pukulan Soan hong pek lek jiu hwat adalah ilmu silat dengan pukulan tangan yang mengandalkan lweekang yang tinggi. Hebatnya tidak terkira. Pemuda baju biru itu tidak mengira bahwa ilmu pukulan gadis cilik itu demikian hebatnya, maka sambil tersenyum mengejek ia maju menubruk dengan goloknya. Tetapi, tiba tiba pukulan yang dilakukan oleh Lan Giok, biarpun belum mengenai tubuhnya, angin pukulannya telah.mendorongnya ke belakang, sehingga hampir saja ia terjengkang roboh! Baiknya pemuda ini memiliki ke pandaian tinggi. Ia maklum bahwa pukulan lawannya itu mengandung tenaga lweekang berbahaya, maka cepat ia mengumpulkan napas dan mengerahkan tenaga lweekang untuk menolak pukulan ini agar tidak sampai terluka di bagian dalam tubuh, tetapi biarpun ia dapat menolong nyawanya, tetap saja ia terlempar ke belakang dan hanya dengan berlompatan jungkir balik, ia terhindar dari malu dan hina karena roboh dalam sejurus saja. Kembali Gan Kui To gelak tertawa sambil melayani nona baju merah. Di dalam ketawanya, yakni mentertawakan pemuda baju biru, tersembunyi kekejutan dan keheranan besar melihat ilmu pukulan yang hebat dari Lan Giok itu. Sementara itu, pemuda baju biru itupun menjadi kaget dan berhati hatilah dia. Tak pernah di sangkanya bahwa

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

gadis yang usianya masih muda ini telah memiliki kepandaian sehebat itu. Ia lalu menyerang lagi dengan kim siang to di tangannya dan dengan gembira sekali Lan Giok menyambut serangannya, dengan Ilmu Silat Soan hong pek lek jiu hwat yang ampuh. Gadis cilik ini tahu bahwa lawannya memiliki kepandaian hebat maka hanya dengan Ilmu Pukulan Geledek dan Angin Puyuh ini sajalah kiranya ia dapat mengimbangi serangan sepasang golok emas yang lihai itu. Pertempuran terpecah dua dan terjadi dengan hebatnya. Semua tentara yang tadi mengeroyok Gan Kui To berdiri bengong dan tidak seorangpun berani mencoba ikut bertempur. Mata mereka berkunang kunang karena tidak dapat membedakan mana kawan mana lawan. Empat orang muda itu seakan akan telah berputar putar menjadi dua gulungan sinar yang saling serang, tubuh mereka lenyap terbungkus oleh sinar senjata! Siapakah adanya gadis baju merah dan pemuda baju biru yang lihai itu? Para pembaca kiranya sudah dapat menduga atau mengira ngira siapakah mereka ini? Memang betul, gadis baju merah itu bukan lain adalah Sian Hwa, yakni anak dari Can Goan yang diambil anak oleh Bucuci dan kini mendapat nama keturunan ibu angkatnya menjadi she Tan, karena isteri dari Bucuci bernama Tan Kui Eng. Seperti telah dituturkan di bagian depan, Sian Hwa diambil murid oleh Liem Po Coan atau Jenderal Liem yang berjuluk, Pat jiu Giam ong, seorang di antara lima Tokoh Besar! Adapun pemuda baju biru itu ialah Liem Swee, putera tunggal dari Pat jiu Giam ong. Setelah dapat mengetahui siapa adanya dua orang anak muda ini, tentu saja tidak mengherankan lagi apabila ilmu kepandaian mereka amat tinggi.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Akan tetapi yang paling hebat adalah kepandaian dari Gan Kui To, anak yang di waktu kecilnya telah membunuh ayahnya sendiri ini. Semenjak dibawa pergi dari bukit Oei san oleh Lam hai Lo mo Seng Jin Siansu, orang yang paling jahat dan licik juga berbahaya dari Lima Tokoh Besar, ia menerima gemblengan ilmu silat dan ilmu hitam dari suhunya. Memang telah menjadi harapan dari Lam hai Lo mo untuk menurunkan seluruh kepandaiannya kepada murid tunggalnya ini, agar kelak di kemudian hari Gan Kui To akan menjagoi di seluruh dunia. Watak anak ini memang cocok sekali dengan wataknya, maka Seng Jin Siansu mengasihinya dengan sepenuh hatinya. Kalau dibuat perbandingan antara empat orang anak muda yang sedang ramai bertempur ini, memang yang paling unggul adalah kepandaian Gan Kui To. Tidak saja karena memang ia memiliki bakat yang baik dan cocok sekali untuk menerima ilmu kepandaian dari Seng Jin Siansu, tetapi terutama sekali karena memang ilmu silat dari suhunya amat aneh. Kalau dibandingkan dengan Liem Swee atau Sian Hwa, ia masih menang setingkat. Adapun jika dibandingkan dengan Lan Giok, biarpun kepandaian Lan Giok juga hebat, tetapi gadis cilik ini masih kalah latihan, karena usia Kui To memang lebih tua dua tiga tahun daripadanya. Pertempuran antara Lan Giok dan Liem Swee berjalan lebih seimbang daripada pertempuran antara Sian Hwa dan Kui To, karena suling ular di tangan Kui To kini telah mengurung dan menekan sinar pedang dari Sian Hwa lagi, sehingga gadis baju merah yang cantik jelita itu menjadi terdesak hebat. Swee ji dan Sian Hwa, mundurlah dan jangan bertempur dengan saudara sendiri! tiba tiba terdengar bentakan keras. Tanpa diketahui oleh siapa pun juga,

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

seorang laki laki tua tinggi besar yang berpakaian seperti seorang pembesar militer telah berdiri di dekat tempat pertempuran. Dia ini bukan lain adalah Pat jiu Giam ong Liem Po Coan jenderal yang berkepandaian tinggi itu. Liem Swee dan Sian Hwa cepat melompat ke belakang. Sian Hwa cepat bertanya ragu ragu, Suhu, manakah dia yang suhu bilang masih saudara sendiri? Liem Goanswe sambil tertawa berkata menuding ke arah Kui To. Kau tidak kenal gerakannya? Dia Ini tentulah murid dari supekmu (uwak gurumu), kalau bukan, bagaimana dia bisa memainkan Siang cu kiam hwat sedemikian baiknya? Adapun Kui To yang cerdik, ketika melihat seorang tinggi berpakaian jenderal, segera dapat menduga dengan siapa ia berhadapan, maka segera ia memberi hormat sambit berkata, Teecu Gan Kui To menghaturkan hormat kepada susiok (paman guru). Sementara itu, Lan Giok yang menyaksikan kejadian ini, menjadi mendongkol sekali. Susah payah ia mencampuri urusan ini karena tidak dapat mendiamkan saja melihat Kui To dikeroyok dan karena timbul kegembiraannya melihat tiga orang muda yang berilmu tinggi itu, tidak tahunya mereka itu masih saudara seperguruan. Tanpa mengucapkan suara lagi, ia menggerakkan tubuhnya dan melompat pergi dengan cepat. Pat jiu Giam ong tidak memperdulikan gadis cilik itu, melainkan bertanya kepada Kui To, Anak, tidak mengecewakan kau menjadi murid Lam hai Lo mo Seng Jin Siansu. Di mana gurumu? Kui To berdiri membalikkan tubuhnya, lalu menahan napas dan mengerahkan khikangnya. Ketika ia membuka mulut untuk berseru memanggil suhunya, suaranya

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

terdengar tidak keras tetapi mengggetar dan ternyata bahwa anak ini telah menggunakan, ilmu mengirim suara yang disebut Coan im jip bit, Suhu! Di sini ada susiok menanyakan suhu,..! Suara itu menggema sampai jauh dan untuk beberapa lama keadaan menjadi sunyi. Kemudian jauh sekali asalnya, terdengar suara Lam hai Lo mo Seng Jiu Siansu berkata, Kui To, kau kembalilah ke sini. Tidak perlu aku bertemu dengan Liem goanswe (jenderal Liem)! Bagaimana aku dapat bertemu dengan seorang pembesar tinggi sedangkan aku seorang jembel ? Suara ini biarpun dikirim dari tempat jauh datangnya masih nyaring menyakitkan telinga. Mendengar ucapan ini, Kui To lalu melompat pergi, sedangkan Pat jiu Giam ong yang sudah mengenal adat dan watak suhengnya tidak berani mengejar, hanya menggeleng gelengkan kepalanya. Kepandaian suheng sudah bertambah berlipat kali. Juga anak itu telah memiliki kepandaian tinggi, baru ilmunya Coan im jip bit tadi saja sudah memperlihatkan bahwa ia masih menang setingkat daripada kalian berdua. Kemudian jenderal ini lalu mengajak pulang anak dan muridnya itu. Setibanya di dalil M gedungnya ia lalu berkata dengan muka sungguh sungguh. Supek kalian memang berwatak aneh sekali dan orang seperti dia sukar diduga sikapnya. Aku sendiri tidak tahu apakah dia itu kelak merupakan kawan atau lawan. Kulihat murid tunggalnya tadi pun berwatak aneh, tidak berbeda dengan gurunya. Oleh karena itu, kalau kalian tidak mau tertinggal jauh oleh orang lain, mulai sekarang kalian harus berlatih lebih bersungguh sungguh, agar empat lima tahun lagi kalian akan mewarisi seluruh kepandaian ku.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Liem Swee dan Sian Hwa menyatakan kesanggupannya, sungguhpun di dalam hati, kedua orang muda ini tidak percaya kalau kepandaian supek mereka yang dikabarkan setengah gila itu lebih tinggi daripada kepandaian Pat jiu Giam ong. Sebaliknya jenderal tua ini agaknya dapat membaca keraguan pada wajah putera dan muridnya, maka katanya dengan sungguh sungguh, Ketahuilah kalian bahwa di antara semua tokoh persilatan, pada waktu ini agaknya hanya supekmu itulah yang telah mencapai tingkat tinggi dan mungkin telah menyusul tingkat dari Kim Kong Taisu, akan tetapi karena Kim Kong Taisu telah mencuci tangan dan bertapa menjadi manusia suci, agaknya hanya supekmu itulah yang menjagoi. Kalau dia menurunkan seluruh kepandaiannya kepada murid tunggalnya itu, pasti kelak kalian bukan lawannya. Sayang.... sungguh sayang bahwa Bu Tek Kiam ong hanya tinggal namanya saja....... Suhu, apakah Bu Tek. Kiam ong ? tanya Sian Hwa dengan penuh perhatian. Kembali Pat jiu Giam ong menarik napas panjang. Orang tua itu sajalah yang dapat mengatasi . kepandaian Lam hai Lo mo supekmu itu, bahkan mengatasi pula kepandaian Kim Kong Taisu. Di atas dunia ini tidak ada ilmu silat yang sanggup menghadapi ilmu pedang dari Bu Tek Kiam ong Si Raja Pedang itu ! Apakah dia, sudah meninggal dunia, suhu? Dan kalau dia masih ada juga, apa artinya? Mengapa suhu menyatakan sayang? Kalau gadis baju merah itu amat memperhatikan, adalah Liem Swee sama sekali tidak mau perduli. Memang amat jauh perbedaan sifat antara dua orang ini. Sian Hwa amat bernafsu untuk mempertinggi ilmu kepandaiannya, adapun Liem Swe yang memang lebih tinggi tingkatnya, berwatak sombong dan tidak mau kalah

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

menganggap kepandaiannya sendiri yang sudah paling tinggi! Aku tidak dapat memastikan apakah dia sudah mati, akan tetapi kalau ia masih hidup, usia nya tentu hampir seratus tahun. Kalau ia masih hidup:.... kalau saja kalian bisa mewarisi ilmu pedangnya, kalian tak usah takut menghadapi jago silat yang manapun juga, bahkan tidak perlu takut menghadapi murid murid Kim Kong Taisu atau murid supekmu. Ayah, mengapa melamun dan mengharapkan sesuatu yang tidak ada? Ilmu kepandaian ayan sendiri sudah amat tinggi dan belum dapat kami warisi semua, mengapa mencari yang jauh jauh? Aku lebih suka mewarisi ilmu kepandaian ayah daripada ilmu kepandaian siapapun juga ! kata Liem Swee yang . membuat ayah nya tersenyum. Pat jiu Giam ong menganguk angguk. Betul juga katamu, Swee ji, tak perlu kita merendahkan diri sendiri memperkecil semangat. Asalkan kalian berlath sungguh sungguh, kiranya masih banyak ilmu pukulan yang dapat kalian pelajari dari aku. Sian Hwa lalu minta diri dan kembali ke rumah orang tuanya, yakni panglima Bucuci yang sebagai mana pernah dituturkan di bagian depan, telah berpindah ke kota raja pula dan mendapatkan sebuah gedung dari Liem goanswe. Mari kita ikuti perjalanan Lan Giok, gadis berusia empatbelas tahun.yang lincah dan tabah itu. Setelah mengalami pertempuran dengan anak anak muda yang berkepandaian tinggi itu, diam diam gadis cilik ini berpikir bahwa ilmu kepandaiannya sendiri masih jauh daripada memuaskan. Aku harus belajar lebih giat lagi, pikirnya. Belum lama ini ketika bertemu dengan Bun Sam, murid

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

dari Kim Kong Taisu, ia kena dikalahkan. Dan sekarang bertemu dengan murid murid Pat jiu Giam ong dan Lam hai Lo mo, ia harus mengakui bahwa kepandaiannya sendiri belum dapat mengatasi mereka, terutama pemuda bersuling ular itu. Ia pernah mendengar dari gurunya bahwa di atas dunia ini, yang paling dipandang dan disegani oleh gurunya hanyalah empat orang tokoh persilatan, yakni Kim Kong Taisu, Pat jiu Giam ong, Lam hai Lo mo dan seorang lagi yang dipandang tinggi, yakni Bu tek Kiam ong. Murid Lam hai Lo mo telah ia jumpai dan mereka itu ternyata memang berkepandaian tinggi. Lebih lebih lagi murid Bu tek Kiam ong, sampai di mana hebatnya kepandaiannya? Biarpun ia sudah berada di luar tembok kota raja, namun Lan Giok tidak masuk ke dalam kota raja, karena tujuan perjalanannya memang bukan ke situ, melainkan ke kota Tong seng kwan untuk mencari Ngo jiauw eng Lui Hai Siong yang menjadi touw tong di kota itu. Akan tetapi setelah tiba di kota Tong seng kwan, ia mendengar bahwa orang yang dicarinya itu telah dua hari pergi ke kota raja, sehingga gadis ini menjadi gemas sekali. Ia telah lewat di luar tembok kota raja, sama sekali tidak tahu bahwa orang yang dicarinya berada di dalam kota otu! Lopek, tahukah kau di mana aku dapat bertemu dengan Lui ciangkun di kota raja? tanyanya kepada penjaga yang memberitahu kepadanya tentang kapergian perwira she Lui itu. Penjaga itu tidak merasa aneh melihat seorang gadis cilik mencari Lui ciangkun, oleh karena perwira ini memang banyak mengadakan perhubungan dengan orang orang jadi kalangan kang ouw yang menjadi pembantu atau kawan kawannya, ia hanya memandang sambil tersenyum, nampak kekaguman akan. keberanian dan kecantikan gadis itu, membayang dalam pandangan matanya.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Nona kecil, kalau kau di kota raja mencari di rumah panglima Bucuci, tentu kau akan bertemu dengan Lui ciangkun. Terima kasih, lopek, kata Lan Giok dan sebelum penjaga itu sempat menjawab, gadis cilik itu berkelebat dan lenyap dari pandangan matanya. Tentu saja penjaga itu menjadi terbelalak heran. Biarpun hari telah malam dan gelap, tetapi bagaimana mungkin orang dapat menghilangkan diri begitu saja dari depan hidungnya? Jangan jangan dia bukan manusia, melainkan iblis yang sengaja datang menggangguku ! penjaga tua itu bersungut sungut, lalu ia membaca mantera yang pernah dipelajarinya dari hwesio di kelenteng, mulutnya berkemak kemik membaca doa pengusir Iblis ! Malam hari itu Lan Giok bermalam di sebuah rumah penginapan dan pada keesokan hari nya, pagi pagi ia telah berangkat ke kota raja untuk menyusul Ngo jiauw eng Lui Hai Siang, orang yang harus dibasminya menurut perintah gurunya. Ia sendiri tidak kenal siapa adanya Ngo jiuw eng dan hanya mendengar dari suhunya bahwa orang itu adalah seorang penjahat yang.telah menggunakan kesempatan berdirinya pemerintah Goan tiauw untuk menjilat dan mencari kedudukan dengan jalan mengorbankan patriot patriot bangsa sendiri. Ketika Lan Giok tiba di jalan besar yang menuju ke kota raja dan sedang berjalan cepat, tiba tiba ia melihat lima orang yang aneh aneh bentuk tubuh maupun corak pakaiannya. Empat di antara mereka adalah orang orang tua lekiki dan seorang pula adalah wanita. Ketika ia memandang dengan penuh perhatian, maka teringatlah ia akan cerita gurunya dan tahulah dia bahwa mereka itu bukan lain adalah Sin beng Ngo hiap (Lima Pendekar Malaikat) yang terkenal di dunia kangouw! Gadis cilik ini

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

tahu bahwa orang yang tertua, yang berpakaian seperti tosu dengan baju berkembang dan bertubuh tinggi kurus, adalah Bouw Ek Tosu atau guru dari Ngo jiauw eng yang hendak dibunuhnya! Akan tetapi, gadis yang tidak kenal akan arti takut ini berjalan seperti biasa saja, tanpa mengurangi kecepatan berlarinya. Lima orang tokoh persilatan itupun sedang menuju ke kota raja dan karena mereka berjalan dengan cepat, maka mereka tidak melihat Lan Giok. Gadis ini memang memiliki watak ingin mencoba kepandaian orang. Ia telah mendengar bahwa lima orang tokoh persilatan itu namanya kurang bersih dan pernah pula mereka dihajar habis habisan oleh gurunya, maka dengan berani ia lalu sengaja mempercepat larinya dan menyusul mereka. Bagaikan seorang pembalap kuda yang melampaui lawannya, sengaja menyusul dan melampaui lima orang tua itu, tanpa menoleh sedikitpun kepada mereka. Terdengar seruan heran dan kaget dari Sin beng Ngo hiap ketika mereka melihat seorang gadis cilik yang cantik dan manis berlari cepat sekali melampaui mereka. Eh, siapa kau? Tunggu dulu! Hwa Hwa Niocu yang merasa amat tertarik dan suka melihat gadis cilik yang lincah ini, lalu melompat ke depan sambil mengulurkan tangan hendak menangkap lengan gadis itu. Akan tetapi alangkah herannya ketika, tanpa menengok gadis cilik itu dapat mengelakkan lengannya yang hendak tertangkap, bahkan segera melarikan diri lebih cepat lagi! Tidak hanya Hwa Hwa Niocu yang merasa heran, juga suheng suhengnya merasa heran dan terkejut, lalu mempercepat lari mereka mengejar ke depan. Lan Giok yang mengetahui bahwa lima orang itu mengejarnya, lalu menengok dan tersenyum manis. Senyum ini tentu saja dianggap ejekan bagi Sin beng Ngo hiap yang menjadi gemas juga.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Setan cilik kau berani menjual lagak? Bouw Ek Tosu mengebutkan lengan bajunya dan ia mendahului adik adik seperguruannya mengejar dengan cepat sekali ke depan. Betapapun tinggi kepandaian ilmu lari cepat dari Lan Giok tentu saja ia masih belum dapat mengatasi kepandaian Bouw Ek Tosu yang sudah berlatih puluhan tahu lamanya. Setelah kejaran dilakukan beberapa lama, akhirnya Tosu itu sudah hampir dapat memegang Lan Giok. Setan cilik, kau tetap tidak mau berhenti ? bentak tosu itu sambil menggunakan kebutannya yang berbulu panjang digerakkan ke depan. Ujung kebutan yang lemas dan panjang itu meluncur ke depan dan hendak melibat tangan Lan Giok. Gadis ini terkejut karena kalau sampai tangannya terlibat, berarti ia kalah dan tak dapat lari lagi, maka cepat ia lalu membalikkan tubuhnya dan sambil setengah berjongkok ia melancarkan serangan pukulan Soan hong pek lek jiu! Hal ini tentu saja sama sekali tak pernah disangka oleh Bouw Ek Tosu, sehingga biarpun tosu ini menarik kembali hudtim (kebutan) dan mengelak ke samping. Tetap saja sambaran angin pukulan dengan telak telah mengenai pangkal lengan kanannya, ia merasa betapa lengannya seperti lumpuh dan kebutan nya terlempar jauh. Cepat ia menyalurkan lweekangnya ke dalam lengan itu dan berhasil menolak kembali tenaga hawa pukulan anak gadis yang aneh ini, akan tetapi saking kagetnya ia lalu melompat mundur setombak lebih. Di situ ia memandang dengan mata terbelalak, kemudian membentak. Gadis liar. Jadi kau adalah murid Mo bin sin kun? Bouw Ek Tosu dapat mengenal Soan hong pek lek jiu dari Mo bin Sin kun, maka ia dapat menduga bahwa gadis liar ini tentulah murid dari Si Tangan Malaikat Bermuka Iblis itu. Empat orang adik seperguruannya yang sudah

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

menyusul ke situ pula, mendengar seruan ini lalu memandang dengan mata mengancam. Akan tetapi Lan Giok tetap tersenyum tabah. Kalau betul, kenapa gerangan? Kalian ini Sin beng Ngo hiap, yang terkenal sebagal tokoh tokoh tua di dunia persilatan. Untung hanya hudtim mu saja yang terlempar, kalau yang terlempar itu kepala, kan menjadi berabe juga. Gadis liar kurang ajar! Kau benar benar kejam dan ganas seperti setan, seperti..... gurumu! Bouw Ek Tosu membentak marah sambil mengambil kembali hudtimnya yang terlempar tadi. Baru saja bertemu kau telah melancarkan pukulan Soan hong pek lek jiu, apa kaukira pinto takut kepadamu? Aduh galaknya. Siapa yang mulai lebih dulu? Aku berlari seorang diri, tidak mengganggumu, tidak memandangmu, tidak menegurmu. Mengapa kalian orang orang tua ini seperti gila mengejar ngejarku? Mau apakah? tanyanya sambil menantang. Anak iblis! Hwa Hwa Niocu berseru. Tadinya aku tertarik kepadamu, tidak tahunya kau jahat seperti iblis! Betapapun juga, karena kau adalah murid Mo bin Sin kun, biarlah kau ikut dengan kami untuk merobah adatmu yang rusak itu ! Lan Giok tertawa, sehingga dua buah lesung pipit membayang di kanan kiri mulutnya. Benar benar galak kalian ini, apa dikira aku belum tahu bagaimana kalian dihajar jatuh bangun oleh guruku? Sudahlah, lebih baik kalian pergi dan jangan menggangguku, kalau aku habis sabar, jangan jangan kalian untuk kedua kalinya akan menerima hajaran!

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Tentu saja lima orang itu menjadi marah sekali. Muka mereka menjadi merah dan masing masing telah meraba senjatanya. Anak iblis macam kau ini harus dibasmi lebih dulu sebelum kelak menjadi iblis tulen! teriak Coa Hwa Hwa atau Hwa Hwa Niocu. Sambil berkata demikian, ia telah mencabut pedangnya dan membacok kepala Lan Giok dengan gerak tipu Liong teng thi cu (Ambil Mutiara di Kepala Naga). Ayaaa .... ! Lan Giok berseru ___ sambil dengan lincahnya ia _____ cu hoan sin ___________ Niocu menyerang, kini dengan sebuah tusukan ke arah dada anak tanggung itu akan tetapi kembali Lan Giok mengelak dan kini tiba tiba kepalan tangan kanannya menyambar ke depan mengarah pusar lawan. Gerakan pukulannya kini hebat dan cepat sekali datangnya, juga didahului oleh menyambarnya hawa pukulan yang aneh dan berbahaya. Memang, karena maklum bahwa kelima orang lawan ini bukan merupakan lawan yang boleh dipandang ringan, biarpun pada mulutnya Lan Giok menyindir dan memandang ringan, namun sekali maju ia telah mengeluarkan ilmu Silat Soan hong pek lek jiu, kepandaian simpanannya. Hwa Hwa Niocu, seperti juga Bouw Ek Tosu tadi, memandang rendah kepada anak ini dan melanjutkan serangan tanpa memperdulikan pukulan anak yang datang itu. Akan tetapi, tiba tiba ia terbetot dari belakang dan tubuhnya terpental ke belakang dibarengi oleh suara twa suhengnya, Sumoi, hati hati ! Pukulan Soan hong pek lek jiu tak boleh dibuat gegabah ! Kembali terdengar Lan Giok tertawa geli, sedangkan Hwa Hwa Niocu menjadi merah mukanya. Kalau tadi Bouw Ek Tosu tidak membetotnya ke belakang, mungkin ia

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

sudah kena dirobohkan oleh gadis cilik ini. Ia menjadi semakin penasaran dan sambil berseru keras ia lalu memutar pedangnya dengan hebat, menyerang Lan Giok dengan nafsu membunuh. Melihat betapa gadis cilik ini memang amat lihai dan merasa khawatir kalau kalau sumoinya akan kalah dan mendapat malu besar, maka sepasang hwesio kembar yang gemuk, yakni Lam san Siang mo bergerak cepat dan dengan sepasang golok di tangan, mereka ikut menyerbu. Mereka pikir daripada sumoi mereka kalah dan mendapat malu, lebih baik sebelum ada orang yang melihat, mereka mengeroyok dan membinasakan murid dari Mo bin Sin kun yang pernah menghina mereka ini. Ketika empat buah golok dan sebuah pedang menyambar ke arahnya barulah Lan Giok merasa sibuk juga. ia mengandalkan ginkangnya untuk mengelak ke sana ke mari, tubuhnya berkelebat bagaikan seekor burung walet yang amat gesit, menyambar di antara gulungan sinar senjata lawan sambil membalas dengan pukulan Soan hong pok lek jiu. Akan tetapi, karena tiga orang lawannyapun bukan orang orang lemah, gadis cilik ini maklum bahwa, kalau dilanjutkan, keadaannya akan menjadi berbahaya juga. Ia memutar otaknya mencari akal. Bagus, bagus! Tiga orang tua bangka dari Sin beng Ngo hiap yang bernama besar mengeroyok seorang muda! Pantas memang nama besar Sin beng Ngo hiap hanya nama besar palsu belaka. Awas, sebentar lagi kalau guruku datang, kalian tentu hanya tinggal namanya saja! Benar saja, mendengar ucapan ini, lima orang itu menjadi terkejut sekali. Serangan, sepasang hwesio kembar dan Hwa Hwa Niocu menjadi lemah dan Bouw Ek Tosu bahkan menengok ke kanan kiri, melihat kalau kalau Mo bin Sin kun sudah berada di situ.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Lebih baik kita tinggalkan iblis kecil ini ! katanya kepada keempat adik seperguruannya, karena merasa takut akan ancaman yang keluar dari mulut gadis cilik tadi. Mengapa takut, twa suheng, kata Hwa Hwa Niocu. Lebih baik kau bantulah membereskan anjing kecil ini, kalau sudah, kita lalu berlari ke dalam kota raja mengunjungi Pat jiu Giam ong, Kalau kita sudah di sana, hendak kita lihat Mo bin Sin kun akan berani berbuat apa? Sambil berkata demikian Hwa Hwa Niocu menyerang lagi lebih hebat dengan pedangnya dan suheng suhengnyapun tanpa malu malu lagi lalu mendesak gadis cilik itu, dengan maksud cepat cepat merobohkannya atau menangkapnya untuk membalas penghinaan yang mereka terima dari Mo bin Sin kun. Akan tetapi Lan Giok terlalu lincah bagi mereka, sehingga biarpun lima orang itu memiliki kepandaian tinggi, tak mungkin mereka dapat mengalahkan gadis yang licin bagaikan belut itu dalam waktu singkat. Betapapun juga, Lan Giok sudah kewalahan sekali, jidatnya yang berkulit halus itu telah penuh oleh keringat. Akan tetapi mulutnya makin, tersenyum senyum dan terus menerus mengejek dan memaki maki nama Sin beng Ngo hiap yang di makinya monyet tua bangka pengecut dan lain lain. Pada saat itu, tiba tiba terdengar suara keras, Tak patut lima orang tua bangka mengeroyok seorang muda! dan berkelebatlah bayangan orang. Biarpun suaranya seperti orang yang sudah tua, tetapi ternyata yang mengeluarkan kata kata teguran itu adalah seorang pemuda remaja, bukan lain adalah Gan Kui To, murid dari Lam hai Lo mo Seng Jin Siansu !

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Biarpun di dalam hatinya ia merasa girang dengan datangnya pemuda yang hendak membantunya ini, namun keangkuhannya membuat Lan Giok berkata, Mau apa kau mencampuri urusan ku ? Kui To tertawa gelak gelak dengan lagak seperti suhunya ketika ia mendengar suara merdu ini yang terdengar galak, tetapi manis dan melihat gadis cilik yang amat manis itu sudah mandi keringat akan tetapi masih hendak menolak bantuan. Ha, ha, ha, burung murai yang cantik, kau lupa bahwa beberapa hari yang lalu kau telah membantuku dalam pertempuran. Sekarang melihat kau di keroyok lima, bagaimana aku harus tinggal diam saja? Inilah kesempatanku membalas budi dan memperlihatkan bahwa aku Gan Kui To bukanlah orang yang berwatak buruk. Ha, ha, ha! Sambil berkata demikian, suling ularnya bergerak cepat menangis kebutan di tangan Bouw Ek Tosu yang dilihatnya paling lihai di antara semua pengeroyok nona itu. Tentu saja Bouw Ek Tosu memandang rendah pemuda yang seperti anak gila. Melihat kebutannya yang menyerang Lan Giok ditangkis oleh suling si pemuda, ia lalu sengaja menggerakkan ujung kebutannya itu untuk menangkap dan dengan tenaga gerakan cam (membelit melibat) ia berhasil menangkap suling itu dengan kebutan, tadi melihat betapa pemuda itu agaknya tidak sadar bahwa sulingnya sudah tertangkap, ia lalu menggunakan tenaga gerakan coan (memutar). Ujung kebutannya terputar cepat dan maksudnya membuat suling itu ikut terputar dan terlepas dari tangannya si pemuda. Akan tetapi, jangankan terputar atau terlepas, bahkan tiba tiba pemuda itu berseru dengan suara yang amat berpengaruh. Yauwto (tosu iblis) bandel ! Tidak kau lepaskan hudtim kebutan itu mau tunggu kapan lagi?? Seruan ini dibarengi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

dengan tenaga betotan yang hebat sekali. Bouw Ek Tosu yang sedang menggunakan tenaga memutar, cepat mengerahkan tenaga untuk mempertahankan kebutannya, akan tatapi entah mengapa, seruan atau bentakan pemuda tadi telah membuat tangannya terasa lemas dan akhirnya tanpa dapat dicegah lagi kebutannya ikut terbang dengan suling dan tahu tahu telah berada di tangan pemuda itu ! Bouw Ek Tosu adalah seorang ahli silat yang sudah puluhan tahun menjelajah di dunia kang ouw, maka bukan kepalang herannya melihat kelihaian pemuda ini. Ia tidak percaya bahwa pemuda tangguh ini dapat memiliki lweekang yang lebih tinggi dari dia, maka setelah memandang sebentar teringatlah ia akan bentakan pemuda tadi dan tahu bahwa pemuda ini tentu mahir akan ilmu hoat lek (ilmu sihir atau ilmu gaib) ia menjadi marah sekali. Anak setan, kembalikan hudtimku ! serunya sambil menyerang dengan kedua ujung lengan bajunya. Serangan ini ditujukan ke arah kepala Kui To dan biarpun hanya ujung lengan baju yang dipergunakan oleh Bouw Ek Tosu, namun kalau sekiranya mengenai kepala mungkin akan hancur lah kepala pemuda itu. Kui To cepat melompat ke belakang dan tiba tiba hudtim tadi meluncur dari tangannya ke arah dada tosu itu. Hebat! seru Bouw Ek Tosu ketika mengena gerakan ini karena inilah gerakan yang disebut Sin liong hian bwee (Naga Sakti Mempertahankan Ekornya). Gerakan seperti ini berasal dari cabang persilatan Hoa san pai, yakni bagian ilmu pedang nya dan gerakan aslinya tentu saja melemparkan pedang ke arah lawan. Cepat Bouw Ek Tosu miringkan tubuhnya dan mengulurkan tangan dari samping untuk menangkap gagang kebutan nya dan kembali ia terkejut karena merasa betapa kulit tangannya panas saking cepat dan lajunya hudtim itu dilemparkan!

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Sementara itu, Lan Giok tentu saja senang melihat betapa tosu yang terlihai di antara pengeroyoknya itu dapat dihadapi oleh Kui To, akan tetapi untuk meninggikan harga diri, ia tetap berkata, Kalau kau tidak ingin disebut sebagai manusia bong im pwe gi (manusia tak kenal budi) dan ingin membalas budi, sesuka hatimulah! Akan tetapi jangan kira bahwa aku membutuhkan bantuan atau bahwa aku takut menghadapi keroyokan lima tikus tua ini. Kembali Kui To tertawa geli. Baiklah, siapa yang takut menghadapi lima ekor tiks tua ini? Aku hanya ingin ikut mempermainkan mereka. Bukan main marahnya Sin beng Ngohiap mendengar ucapan kedua orang anak muda ini. Mereka berlima adalah tokoh tokoh besar yang pernah menggemparkan dunia persilatan, nama nama mereka merupakan nama yang disegani dan ditakuti oleh orang orang gagah di dunia kang ouw, bagaimana sekarang mereka menghadapi dua orang anak tanggung yang berani mempermainkan dan menghina mereka? Ini adalah pengalaman pertama kali semenjak mereka hidup dan tentu saja wajah kelima orang ini menjadi pucat saking marahnya. Si Pacul Kilat Kui Hok yang berpakaian petani, memang paling hati hati dan cerdik diantara saudara saudaranya. Melihat gerakan ilmu silat pemuda yang baru datang, mudah saja ia dapat menduga bahwa pemuda inipun tentulah murid seorang sakti dan agaknya kepandaiannya tidak berada di sebelah bawah tingkat kepandaian murid Mo bin Sin kun. Maka sebelum berlaku lancang lebih baik bertanya lebih dulu, pikirnya. Tahan dulu ! seru nya kepada saudara saudara nya, kemudian ia menghadapi Kui To sambil berkata dengan suara ramah, Siauwko (saudara kecil), kau masih muda

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

sudah begini lihai, sebetulnya siapakah nama gurumu yang mulia ? Karena lima orang itu berhenti menyerang, Lan Giok dapat beristirahat dan menyeka peluh di keningnya dengan sehelai saputangan sutera. Melihat keadaan nona kecil yang nampaknya lelah ini, Kui To lalu tertawa dan berkata, Kalian mana mengenal siapa suhuku? Dengarlah! Setelah berkata demikian, anak muda ini lalu duduk bersila di atas tanah dan meniup sulingnya! Mula mula suara suling, lemah dan halus, enak didengar, sehingga Lan Giok menjadi tertarik dan tak terasa pula maju mendekat, akan tetapi, lambat laun suara suling itu menjadi makin meninggi dan keras sehingga menusuk nusuk anak telinga ! Lan Giok mengerahkan tenaganya, akan tetapi anak telinganya masih terasa sakit, maka cepat ia lalu merobek saputangannya menjadi dua dan menggunakan robekan kain itu untuk disumbatkan ke dalam telinganya. Adapun kelima orang Sin beng Ngo hiap menderita seperti yang dialami oleh Lan Giok, sehingga mereka merasa terkejut sekali. Yang didemonstrasikan oleh pemuda tanggung itu adalah tenaga khikang yang luar biasa, yang menjadi pecahan daripada Ilmu Coan im jip bit (Kirim Suara Dari Jarak Jauh). Tenaga khi kang yang didorong oleh lweekang yang tinggi, membuat pemuda itu dapat meniup suling sedemikian rupa, sehingga dapat menimbulkan suara nada setinggi tingginya dan sekecil kecilnya, sehingga dapat merangsang anak telinga siapa yang mendengarnya. Jangan dikira bahwa hal ini hanya menyakitkan pendengaran, karena sesungguhnya, gendang telinga bisa pecah karenanya! Lima orang tua ini sudah memiliki lweekang yang tinggi, akan tetapi betapapun juga mereka mengerahkan tenaga, tetap saja di dalam telinga mereka tergetar hebat dan buru

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

buru mereka lalu mempergunakan telunjuk untuk disumbatkan ke dalam telinga dan mencegah getaran itu merusak anak telinga mereka! Selagi mereka hendak menyerang pemuda itu agar menghentikan tiupan sulingnya. tiba tiba terdengar bunyi berdesis beberapa kali dan nampaklah tiga ekor ular senduk datang dari tiga jurusan, melenggang lenggok menghampiri Kui To. Lan Giok, sebagaimana umumnya seorang anak perempuan, merasa jijik dan ngeri, maka cepat cepat ia melompat menjauhi dengan bulu tengkuk meremang. Adapun Sin beng Ngo hiap memandang dengan mata terbelalak. Tiga ekor ular itu agaknya tertarik oleh bunyi suling yang ditiup oleh Kui To dan melihat bentuk suling yang seperti ular itu, tiga ekor binatang ini lalu mengagkat kepala tinggi tinggi dan menari nari dengan lengang lenggok lemas di depan Kui To, seakan akan hendak berlagak dan hendak menarik perhatian ular yang dapat mengeluarkan suara merdu itu. Setelah memainkan sulingnya beberapa lama dan matanya berseri memandang ke arah tiga ekor ular senduk yang menari nari itu, Kui To menghentikan tiupan sulingnya. Tiga ekor ular itu nampaknya marah dan berbareng menyerang ke arah sulingnya. Dengan gerakan yang indah dan cepat, Kui To lalu menggerakkan sulingnya dengan gerak tipu Lian cu sam kiam (Gerakan Berantai Tiga Pedang), maka terdengar bunyi tak tuk tak!, kepala ketiga ekor ular itu telah kena ditotok oleh ujung suling. Ular ular itu roboh dan setelah menggeliat beberapa lama lalu tak bergerak lagi, mati dengan kepala remuk? Sudah tahukah kalian siapakah guruku? Kui To berkata bangga. Akan tetapi biarpun amat kagum melihat kelihaian pemuda tanggung ini, Sin beng Ngo hiap masih juga tidak

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

dapat menduga siapa adanya pemuda ini. Mereka hanya saling memandang dengan muka ragu ragu. Adapun Lan Giok yang melihat betapa pemuda itu membunuh tiga ekor ular yang tadi dapat menari nari demikian indahnya, menjadi terkejut dan tiba tiba saja ia merasa benci sekali kapada Kui To yang telah berlaku keji. Kini melihat lagak Kui To yang sombong, ia lalu berkata, Cih, sungguh menjemukan ! Lalu gadis cilik ini melompat pergi menuju ke kota raja. Siauw niauw (burung kecil), jangan pergi dulu! seru Kui To yang mengejar Lan Giok. Jilid VI KAU belum mengaku siapa suhumu, Bouw Ek Tosu dan empat orang adiknya juga melompat dan menahan Kui To yang menjadi gemas sekali. Pemuda ini membalikkan tubuhnya, berdiri sambil bertolak pinggang dan sepasang matanya memancarkan sinar yang amat berpengaruh, sehingga lima orang tokoh kang ouw itu menjadi ragu ragu untuk turun tangan. Guruku adalah Iblis! Iblis Tua Laut Selatan, kalian mau apa? ? bentak Gan Kui To dengan marah sekali. Bukan main terkejutnya hati Sin beng Ngo hiap mendengar keterangan ini. Apa..? Suhumu Lam hai Lo mo Seng jin Siansu....?? Hanya ada satu saja Lam hai Lo mo ! jawab Kui To. Berubahlah wajah kelima orang itu. Pantas saja pemuda ini demikian lihai seperti setan, tidak tahunya dia adalah murid dari tokoh besar atau datuk persilatan dari selatan itu. Bouw Ek Tosu cepat mengangkat kedua tangan ke dada dan

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

memberi hormat dituruti pula oleh empat orang adiknya. Maaf, maaf, pinto berlima sama sekali tidak tahu bahwa taihiap (pendekar besar) adalah murid dari locianpwe itu. Kami Sin beng Ngo hiap benar benar merasa tunduk atas kelihaian taihiap. Akan tetapi Gan Kui To hanya menggerakkan hidungnya dan sepasang matanya yang sudah sipit menjadi makin kecil lagi dalam tarikan muka menghina, kemudian tanpa banyak cakap ia lalu berlari menyusul Lan Giok yang sudah lenyap dari pandangan mata. Gerakannya amat cepat, sehingga sebentar saja ia sudah berada jauh. Bouw Ek Tosu menarik napas panjang..Aah, kita ini orang orang tua benar benar seperti katak katak di dalam sumur, tidak tahu lebarnya dunia dan kemajuan kemajuannya. Betul kata orang bahwa makin tua usia, segala menjadi makin mundur dan makin lemah. Anak anak sekarang memiliki kepandaian yang hebat dan sebentar saja mereka itu akan jauh meninggalkan kita. Kita tidak perlu merasa penasaran, menghibur Kui Hok Si Pacul Kilat. anak anak muda yang kita jumpai dan yang memiliki ilmu kepandaian hebat adalah murid murid dari Ngo gak (Lima Gunung Besar) atau Ngo thai locianpwe (Lima Orang Tua Gagah). Anak perempuan tadi adalah murid dari Mo bin Sin kun, adapun pemuda tadi adalah murid dari Lam hai Lo mo, tentu saja kepandaian mereka amat luar biasa. Mengapa mesti malu kalau sampai kita tidak dapat mengalahkan mereka? Tiba tiba Hwa Hwa Niocu teringat akan sesuatu dan mukanya berubah.Ah, celaka! katanya.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Kakak kakaknya menahan tindakkan kaki mereka dan memandang dengan heran.Mengapa kau bilang celaka ? tanya Bouw Ek Tosu. Kita tak bisa ke kota raja Mengapa ? Si Pacul Kilat bertanya. Suheng, bukakah bahwa anak yang bernama Kui To itu adalah murid dari Lam hai Lo mo? Betapapun juga, kita telah bertempur melawan dia dan sekarang diapun pergi ke kota raja. Pat jiu Giam ong adalah susioknya (paman gurunya), maka tentu anak itu pergi ke sana pula. Kalau kita bertemu dengan dia di sana dan Pat jiu Giam yang telah mendengar tentang pertempurannya dengan kita, bukankah kita akan menghadapi suasana yang amat tidak enak? Teringatlah kakak kakaknya akan hal itu dan mereka saling memandang dengan bingung..Apalagi kalau Lam hai Lo mo sendiri berada di sana! seorang diantara sepasang hwesio kembar berkata menambahkan. Habis, kalau kita tidak ke sana, bagaimana dengan rencana kita tentang harta terpendam itu? Dan rencana kita untuk mengadukan Pat jiu Giam ong dengan Mo bin Sin kun? kata Bouw Ek Tosu sambil memandang kepada adik adik seperguruannya minta pertimbangan. Lebih baik kita serahkan urusan ke dua itu kepada muridmu, Twa suheng, kata Kui Hok yang cerdik. biarlah Ngo jiauw eng muridmu itu yang menjadi pembantu Pat jiu Giam ong, memberi laporan tentang kehendak Mo bin Sin kun membasmi bekas orang orang Ang bi tin ! Adapun tentang harta terpendam dari bekas Jenderal Yap itu, karena lain orang tidak ada yang tahu, mengapa kita harus tergesa gesa? Lain kali saja kalau keadaan sudah aman, tak dapatkah kita mengambilnya?

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Demikianlah, mereka lalu mengambil jalan wenuju ke kota Tong Seng kwan untuk mencari Ngo jiauw eng ! Kita ikuti perjalanan Song Bun Sam dan suhengnya muka tengkorak Yap Bouw yang masuk ke dalam kota raja dengan maksud hendak mengambil harta pusaka yang disimpan oleh Yap Bouw di dalam kebun bunga bekas gedungnya. Menurut hasil penyelidikan Bun Sam di waktu siangnya, karena Yap Bouw menyembunyikan diri agar mukanya tidak menarik perhatian orang, mereka mendapat keterangan bahwa rumah gedung bekas tempat tinggal Jenderal Yap Bouw itu kini ditinggali oleh seorang Panglima Goan tiauw bernama Bucuci. Kita harus bekerja hai hati, sute, kata Yap Bouw dengan bahasa gerak jarinya. aku pernah mendengar bahwa Panglima Bucuci itu amat lihai ilmu silatnya. Setelah hari menjadi malam yang gelap, kedua orang ini lalu pergi menyelidiki ke gedung Panglima Bucuci. Mereka langsung menuju ke bagian bela kang, melompati pagar tembok dan mengintai ke dalam kebun kembang yang indah itu. Dengan hati terharu Yap Bouw melihat betapa taman bunga yang dulu amat disnyanginya dan yang diaturnya sendiri itu masih sama seperti dulu. Alangkah anehnya melihat kenyataan yang kadang kadang membuat manusia harus berpikir dalam dalam. Bangsa apapun juga, biarpun mereka itu boleh saling menggempur, saling membenci dan saling bermusuhan, ternyata selalu memiliki kesenangan yang sama, sama sama suka memelihara kembang, suka melihat pemandangan indah, pendeknya semua manusia di dalam dunia ini, tidak perduli bangsa apa, tidak perduli beragama apa atau berpolitik apa tetap saja yang dikehendaki ialah suasana yang menyenangkan jasmani dan rohaninya!

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Seperti halnya semua bunganya ini demikian Yap Bouw berpikir. Aku dulu amat snyang pada taman bunga ini dan agaknya penghuni barunya, panglima dari Mongol itu, juga amat snyang, buktinya pada taman bunga ini terawat baik baik dan modelnya masih sama dengan dulu. Harta itu terpendam di bawah sebatang pohon yangliu (cemara) yang berada di sudut barat taman, di dekat empang teratai, demikian keterangan yang diberikan oleh Yap Bouw kepada Bun Sam. Oleh karena itu, setelah melihat betapa keadaan di taman yang kini diberi penerangan di empat penjuru itu sunyi saja, Bun Sam dan suhengnya lalu melompat turun dan mengeadap endap menuju ke ujung barat taman itu. Ketika mereka tiba di dekat tempat itu, tiba tiba mereka mendengar suara orang dan secepat kilat Bun Sam telah bersembunyi di belakang serumpun pohon bunga, adapun Yap Bouw lebih cepat lagi telah melompat ke balik tembok dan keluar dari taman! Ketika Bun Sam Mengintai, ia melihat seorang gadis duduk di bawah pohon yang liu, di dekat empang teratai yang indah itu. Di atas pohon itu digantungi sebuah lampu yang cukup terang, bahkan di empat penjuru empang teratai yang banyak ikan masnya itu juga terdapat empat buah lampu teng yang kecil, akan tetapi berwarna merah indah, sehingga sinarnya di sekeliling empang itu nampak ke merah merahan. Akan tetapi, semua pemandangan yang indah ini terlewat saja. oleh pandangan Bun Sam, karena yang menjadi pusat perhatian pandangan matanya adalah gadis itu sendiri ! Gadis itu berpakaian sebagai seorang cian kim siocia, seorang puteri bangsawan yang tarpelajar, dengan pakaiannya yang terbuat daripada sutera halus dan berwarna indah.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Bajunya berkembang, berwarna merah sehingga nampak mukanya yang bekulit putih dan amat cantiknya. Gaun di bawah berwarna kuning gading, dengan celana lebar berwarna kebiruan dan ikat pinggang yang panjang berwarna keemasan. Rambutnya disanggul dengan model terakhir, amat manis dan sedap dipandang. Bagaikan terpesona, Bun Sam pemuda tanggung berusia enam belas tahun itu berdiri ditempat sembunyinya dengan mata terbelalak penuh kegairahan. Ia merasa seakan akan melihat seorang bidadari dari kahyangan dan sekaligus hatinya jatuh oleh kecantikan gadis itu. Tanpa berani bergerak Bun Sam melihat betapa gadis cantik itu tengah menggunakan sebatang pit menulis sesuatu di atas kertas. Hati Bun Sam berdebar ketika ia melihat gadis itu mengerutkan kening sebentar sebentar menghentikan tulisannya, memandang ke dalam empang atau menggunakan bibir dan giginya yang putih untuk menggigit tangkai pit, lalu menulis lagi. Aduh, alangkah indahnya pemandangan yang terbentang di hadapan matanya itu. Bun Sam benar benar terpesona. Agaknya nona baju merah yang cantik itu telah selesai menulis, karena ia lalu mengangkat kertas yang penuh tulisan itu, dibacanya perlahan tanpa menggerakkan bibirnya sambil menengadah untuk lebih jelas melihat tulisannya di bawah sinar lampu dari pohon yang liu. Karena wajahnya kini tersamar penuh oleh lampu, maka Bun Sam seakan akan merasa napasnya terhalang dan debar dadanya makin mengeras. Nona itu benar benar cantik dalam pandangan matanya, jauh lebih cantik daripada nona yang manapun juga yang pernah dilihatnya baik dalam kenyataan maupun dalam mimpi. Kemudian, bagaikan dalam mimpi, ia melihat bibir itu bergerak dan

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

mendengar suara yang merdu membaca tulisan yang ternyata adalah serangkaian sajak. Bagi telinga Bun Sam, semua bunyi yang tadi terdengar olehnya, yakni suara jengkerik yang bersembunyi di dalam rumput, suara burung malam yang kadang kadang terdengar dari jauh, juga suara ikan yang melompat ke permukann air, lenyap sama sekali dan udara penuh oleh suara gadis itu yang halus dan merdu. Saking terpesona dan penuh perhatian Bun Sam dapat menangkap jelas isi syair itu dan mendengar jelas perkataan perkataannya satu demi satu,
Ikan kecil bersisik emas bermata Intan Alangkah senangnya hidupmu, ikan ! Berenang di air jernih dibawah teratai indah Bermain dengan bayangan bulan dan lampu Merah. Alangkah bahagia hidupmu! Benarkah kau berbahagia? Atau hanya sangkaanku belaka? Benarkah aku terkurung di dalam empang? Bukankah segala keinginan hatimu terhalang? Ah, ikan, agaknya kau seperti aku pula, Nampaknya gembira namun hati diliputi duka !

Sunyi, sunyi sekali bagi Bun Sam setelah gadis itu selesai membaca sajaknya. Sunyi dan sedih sehingga helaan napas

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

yang halus dari gadis itu terdengar nyata olehnya, seakan akan berada di depan mukanya. Tak terasa pula, Bun Sam ikut menghela napas. Sayang, pikirnya, gadis yang cantik dan terpelajar, yang dapat membuat sajak demikian indahnya, diliputi kedukaan. Akan tetapi sesungguhnya pikiran pemuda ini salah sama sekali, karena siapakah gadis itu? Bukan lain adalah Tan Sian Hwa, puteri dari Panglima Bucuci atau murid terkasih dari Pat jiu Giam ong! Sama sekali bukanlah seorang gadis terpelajar yang lemah, melainkan seorang gadis yang berkepandaian tinggi, ahli silat juga ahli surat! Maka alangkah kaget hati Bun Sam ketika tiba tiba gadis itu bangkit berdiri, tangan kanannya mengepal ngepal kertas yang tadi ditulisi, sehingga kertas itu menjadi sekepal benda bulat. Tiba tiba Sian Hwa memutar tubuh dengan cepat dan ketika tangan kanannya terayun, kertas yang telah menjadi bal bulat itu meluncur cepat bagaikan pelor besi ke arah gerombolan pohon kembang yang menutup tubuh Bun Sam ! Di dalam kagetnya, Bun Sam mengulur tangan menyambut.pelor kertas ini dan makin terkejutlah dia ketika merasa betapa telapak tangannya seperti menerima sebutir pelor baja saja dan betapa tenaga sambitan itu amat kuat ! Bangsat atau pencuri manakah yang berani mati sekali memasuki taman orang? gadis itu membentak marah dan tahu tahu gadis ini telah memegang sebatang pedang yang tadi ditaruh di dekat bangku yang didudukinya. Bun Sam menjadi serba salah. Untuk melarkan diri sudah tidak keburu lagi karena orang telah mengetahui di mana ia bersembunyi. Ia tidak ingin bertempur dan ia tidak ingin timbul salah pengertian diantara mereka. Ia datang

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

bukan bermaksud berkelahi, melainkan hendak mencari harta terpendam dari suhengnya. Maka ia lalu terpaksa bertindak keluar dari gerombol itu, dengan muka merah dan kepalan kertas tadi masih berada d tangannya. Kebetulan sekali Bun Sam keluar di tempat yang diterangio oleh sinar lampu, maka Sian Hwa dapat melihat jelas wajah seorang pemuda yang tampan dan gagah, wajah yang tunduk kemerahan dan nampak malu malu sekali dan yang memegang kertas tulisannya yang di sambitkannya tadi. Untuk sejenak gadis ini memandang dengan mata terbuka lebar. Tadinya ia mengira bahwa yang akan muncul dari balik rumpun itu tentulah seorang laki laki kasar seperti biasanya muka seorang pencuri atau penjahat, sama sekali tidak pernah disangkanya bahwa yang akan muncul adalah seorang pemuda remaja yang demikian tampan dan gagah nya, yang berdiri sambil menundukkan muka ke malu maluan! Siapa kau? Mengapa malam malam masuk ke sini? tanyanya, tetapi suaranya tidak segalak tadi. Mohon maaf sebanyaknya, nona. Aku. Bun Sam menjadi bingung karena kalau ia mengaku, tentulah rahasia suhengnya akan terbongkar dan ia tidak menghendaki hal ini. Pikiran yang cerdik itu bekerja cepat, lalu disambungnya ucapannya yang terputus tadi..Aku adalah seorang pelancong yang.... kesasar, nona. Barusan aku..... aku mendengar kau membaca sajak yang yang. amat indah, sehingga tanpa mendapat izin aku lancang masuk ke sini. Mohon kau memberi maaf sebanyak banyaknya, nona! Sian Hwa memandang dengan tajam dan pandangan matanya penuh selidik, ia juga bukan seorang gadis yang bodoh dan mendengar ucapan yang sopan santun dan merendah ini, ia sudah dapat menduga bahwa semua yang

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

dikatakan tadi tentu bohong semata. Akan tetapi, entah mengapa, melihat pemuda ini hatinya tertarik dan ia ingin sekali mengetahui lebih banyak tentang pemuda ini. Apalagi tadi ia telah melihat betapa pemuda ini dengan mudah saja dapat menyambut sambitan kertasnya yang telah dikepal dan dilontarkan dengan lweekang yang kuat. Hm, jadi kau seorang perantau yang kesasar? Sian Hwa mengulang keterangan pemuda itu sambil memandang acuh tuk acuh. dan kau seorang terpelajar yang pandai membuat sajak, maka kau tertarik oleh sajak yang kubaca tadi? Karena sudah kepalang tanggung, Bun Sam mengangguk. Mukanya berseri karena ia dapat melepaskan diri dan keadaan yang amat tidak enak. Sekali lagi maafkanlah aku, nona. Aku adalah seorang dusun yang baru masuk kota. Sesungguhnya baru kali ini aku masuk ke kota raja, sehingga tidak tahu aturan. Maafkan kelancangaaku telah masuk ke sini. Tidak demikian mudah, kawan, kata Sian Hwa dan kini gadis inipun melempar senyun, karena ia merasa geli melihat tingkah laku pemuda yang ia tahu berpura pura bodoh ini.Kau telah mencuri dengar sajakku dan juga mencuri masuk ke tamanku. Karena kau adalah seorang terpelajar yang tentu pandai membuat sajak, maka sebelum kau membaca sebuah sajakmu, kau tak boleh pergi begitu saja dan tidak akan mudah mendapatkan maafku. Bun Sam terkejut dan pura pura memperlihatkan muka ketakutan. Aduh, nona. Bagaimana kalau aku tidak dapat membuat sajak? Aku aku adalah seorang dusun yang bodoh. Pelajaranku masih amat dangkal!

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Kalau tidak dapat berarti bahwa kau memang sengaja masuk untuk mencuri. Nah, kau bersajak lah atau kusuruh penjaga menangkapmu dan memasukkan kau dalam penjara! Celaka, pikir Bun Sam, akan tetapi hatinya berdebar girang. Tak disangkanya bahwa ia akan mendapat kesempatan berlawan tutur dengan gadis yang makin lama makin menarik dan jelita ini. Ia tidak takut kepada gadis ini, juga tidak takut apabila gadis ini memanggil para penjaga, akan tetapi lebih baik jangan membuat permusuhan dengan gadis yang semolek ini, apalagi karena ia dan suhengnya hendak mengambil harta terpendam. Ia pernah mempelajari ilmu surat ketika ia masih berada di puncak Oei san, bahkan suhengnya banyak pula memberi petunjuk kepadanya. Pernah ia menghabiskan tiga buku sejarah yang ditulis Oleh Yap Bouw sendiri di mana terdapat pula sajak sajak peperangan yang bersemangat. Di antaranya masih ada yang diingat di luar kepalanya, maka ia lalu berkata. Baiklah, akan tetapi karena aku hanya seorang bodoh, harap nona jangan mentertawakan padaku kalau sajakku terdengar buruk dan kasar. Ia lalu mengingat ingat, kemudian ia mendeklamasikan sajak yang diingatnya di luar kepala, yakni sajak dari seorang panglima gagah di zaman Sam kok.
Bila golok telanjang berada di tanganku, dan pakaian perang menempel di tubuhku, aku bisa menjadi seorang manusia! Bila golokku berwarna merah, dan pakaian perangku berbau darah, aku merasa sehat gembira !

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Napas dan tetes darah terakhir, kusediakan untuk tanah air!

Sian Hwa bergidik.Ah, sajakmu mengerikan sungguh tidak suka aku mendengarnya. Bun Sam tersenyum. Ia makin suka kepada gadis ini dan juga merasa betapa lucu sikap gadis yang pandai menyambit dengan tenaga lweekang, akan tetapi tidak suka akan sajak sajak perang ini. Mengapa kau terenyum? Kalau kau bermaksud kurang ajar. kembali Sian Hwa meraba gagang pedangnya yang sudah disarungkannya kembali. Bagaimanakah aku berani berlaku kurang ajar, nona? Kau begini halus, begini peramah, begini lemah lembut dan pemurah, suka memaafkan seorang kelana yang tersasar, biar sampai matipun aku takkan berani berlaku kurang ajar. Akan tetapi.... aku terpaksa tersenyum karena kau memang lucu, nona. Kau membawa pedang dan tampak gagah seperti seorang ahli silat, akan tetapi kau merasa ngeri mendengar sajak perang. Sian Hwa cemberut. Bodoh, aku buku merasa ngeri karena takut, hanya karena sajak itu tidak cocok dengan jalan pikiranku. Siapa orangnya yang demikian bodoh untuk memikirkan mati saja dalam hidupnya? Apakah hidup ini memang hanya untuk menanti datangnya maut? Nah, itulah, noaa. Cocok sekali dengan pendapatku. Hidup tak perlu mengeluh, masih banyak jalan untuk mencari kebahagiaan. Biar ikan di airpun akan dapat merasai kebahagiaan hidupnya asalkan dia tidak mudah berkeluh kesah.... tiba tiba Bun Sam menahan ucapannya dan merasa betapa ia telah lancang sekali. Ia melihat betapa

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

gadis itu menatapnya dengan mata terbuka lebar maka tahulah bahwa dia telah menyinggung nyinggung bunyi sajak yang mengenai keadaan diri gadis itu. Hem, kau bukan orang biasa. Kaukira mataku buta, sehingga aku tidak tahu bahwa kau bukanlah seorang dusun sebagaimana yang kaukatakan? Kau tentu sudah lama masuk ke taman ini dan mengintai karena kalau baru saja kau masuk tentu aku telah mendengarmu. Kau tidak masuk karena tertarik oleh bunyi sajakku, Ayoh katakan! Siapa kau dan apa perlumu ke taman ini? Sebelum Bun Sam yang menjadi kebingungan itu sempat menjawab, terdengar suara dari arah bangunan gedung. Sian Hwa, dengan siapa kau bicara? Ucapan ini disambung oleh suara kerincingan yang riuh. Celaka, ayah datang dan kau tentu akan dibunuhnya! gadis itu berbisik dengan wajah pucat. Sebalum kedua orang muda itu dapat berbuat sesuatu, berkelebatlah bayangan dan suara kerincingan makin jelas terdengar dan tahu tahu di depan Bun Sam telah berdiri seorang pendek yang berpakaian perang dan banyak kerincingan di pasang pada pakaiannya ini. Orang ini adalah Panglima Bucuci. Sian Hwa, siapa dia ini ? Bucuci bertanya dengan kening dikerutkan. Gadis itu tentu saja tidak mau tercemar namanya dalam pandangan ayah tirinya, maka ia menjawab. Siapa tahu, ayah? Dia tahu tahu telah bersembunyi di dalam taman dan ku baru saja menegur dan bertanya kepadanya ketika ayah datang!

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Bangsat, kau tentu maling ya? Berani sekali kau masuk ke dalam tamanku. Apakah kau mempunyai nyawa lebih dan satu? Sambil berkata demikian, dengan amat tiba tiba Bucuci bergerak maju sambil memukul kepala pemuda itu. Diam diam hati Sian Hwa menjerit karena ia menaruh hati kasihan terhadap pemuda itu dan biarpun ia dapat menduga bahwa pemuda itu tentu mengerti ilmu silat, akan tetapi bagaimana dapat menahan serangan ayah tirinya yang mempunyai ilmu silat yang amat ganas? Akan tetapi segera gadis itu dan ayah tirinya menjadi heran sekali ketika melihat betapa dengan hanya menggoyangkan sedikit lehernya, Bun Sam telah dapat menghindarkan diri dari serangan ke arah kepalanya. Ciangkun...... maaf. siauwte tidak sengaja masuk ke taman ini:.... katanya dengan bingung, karena sesungguhnya perkembangan kedadaan yang amat buruk ini tidak diingini sama sekali oleh Bun Sam. Bangsat muda, kau memiliki kepandaian juga, maka berani lancang masuk ke sini, ya? Nah, terimalah ini ! Kembali perwira Mongol yang lihai ini maju dan melakukan serangannya yang ganas dan cepat. Bun Sam melihat betapa lawannya ini menggunakan ilmu pukulan yang menyerupai ilmu silat Siauw kin na jiu hwat, yakni ilmu silat yang berdasar tangkapan dan cengkeraman (semacam Jiu yit su) ia cepat mengelak ke belakang dan mempergunakan ginkangnya untuk menjauhi penyerangan itu. Oleh karena tahu bahwa panglima ini adalah ayah dari gadis yang menarik hatinya, ia tidak mau membalas serangan lawan dan hanya mengelak ke sana ke mari ketika serangan Bucuci makin menghebat. Kini perwira itu tidak hanya mempergunakan sepasang tangannya saja untuk mencengkeram dan menangkap, bahkan menambah

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

serangannya dengan tendangan tendangan maut yang amat berbahaya. Akan tetapi, alangkah herannya ketika tubuh pemuda itu tiba tiba lenyap dari pandangan matanya dan berkelebatan ke sana ke mari diantara sambaran tangan kakinya. Juga Sian Hwa menjadi terkejut sekali ketika melihat betapa pemuda yang kelihatan bodoh itu ternyata memiliki ginkang yang agaknya tidak akan kalah oleh kepandaiannya sendiri. Bucuci makin marah. Tiba tiba ia berseru keras sekali dan kerincingan yang tadinya masih berbunyi riuh, kini tidak berbunyi sama sekali, tanda bahwa ia telah mengerahkan seluruh ginkang dan lweekang nya untuk menyerang lawannya yang muda itu. Kalau tadi Bucuci hanya berusaha untuk menangkap hidup hidup pemuda itu, kini ia menyerang dengan pukulan pukulan mematikan. Akan tetapi, jangankan merobohkan pemuda itu, bahkan sekali pernah ia berhasil menangkap pergelangan lengan Bun Sam akan tetapi dengan licin melebihi belut tangan yang dipegangnya itu dapat terlepas dengan sekali betot saja. Itulah Ilmu Sia kut hwat (Melepaskan Tulang Melemaskan Tubuh) tingkat tinggi, sehingga pemuda ini dapat membuat bagian bagian tubuh nya menjadi licin seperti belut. Ciangkun, maafkan siauwte yang lancang, Siauwte tidak berani melawan lebih lanjut, kata Ban Sam dan tiba tiba tubuhnya berkelebat keatas tembok dan lenyap di dalam gelap. Sian Hwa, kejarlah dia! teriak Bucuci kepada anaknya karena ia maklum bahwa ilmu kepandaian anaknya ini sekarang sudah lebih tinggi daripada kepandaiannya sendiri. Apalagi dalam hal ginkang, terang bahwa Sian Hwa jauh lebih pandai. Akan tetapi gadis itu hanya melompat ke atas tembok dan ketika melihat bayangan Bun Sam dan

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

bayangan seorang lagi yang lebih besar berlari jauh, ia hanya memandang. Untuk apa aku harus mengejarnya? Demikian pikir gadis ini dan semacam perasaan aneh terhadap pemuda itu timbul di dalam hatinya ia melompat turun kembali dan ketika ayah tirinya bertanya, ia tetap tidak bercerita terus terang dan hanya mengatakan bahwa tahu tahu pemuda itu telah bersembunyi di dalam taman dan tepergok olehnya. Sementara itu, dengan gerak jari tangannya, Yap Bouw menegur adik seperguruannya. Bun Sam, kau terlalu sembrono. Mengapa kau memancing keributan di dalam taman dengan Panglima Bucuci? Dengan adanya keributan itu Panglima Bucuci tentu menjadi curiga dan makin sukarlah usaha untuk menggali harta itu. Bun Sam hanya menundukkan mukanya dan setelah menghela napas, dengan sepasang matanya masih membayangkan kecantikan Sian Hwa, ia berkata, Maaf, suheng. Sebetulnya bukan maksud ku untuk memancing keributan. Aku kepergok oleh gadis itu dan setelah aku mulai berhasil membohonginya dan mencari alasan mengapa aku berada di situ, tiba tiba datang ayahnya yang galak dan serta merta menyerangku kalang kabut. Sayang sekali, pecahlah rahasiaku, karena tadinya aku hendak merahasiahkan bahwa aku mengerti ilmu silat. Siapa tahu perwira itu menyerang tanpa memberi kesempatan kepadaku, sehingga terpaksa aku angkat kaki. Oleh karena sudah terlihat oleh seorang panglima besar seperti Bucuci terpaksa Bun Sam dan Yap Bouw bermalam di dalam sebuah Kuil Buddha, tidak berani bermalam di Hotel, takut kalau kalau akan terlihat oleh mata mata dan menimbulkan keributan belaka. Menurut usul Yap Bouw, mereka bergerak dalam beberapa hari ini, menanti sampai taman bunga di belakang gedung Pauglima Bucuci itu sunyi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

dan tuan rumah tidak menjaga dengan kuat lagi. Bun Sam setuju saja atas usul suhengnya karena keadaan di kota raja cukup menarik dan ramai, sehingga setiap hari ia dapat melancong dan melihat lihat keadaan kota raja yang amat indah. Akan tetapi Yap Bouw tidak pernah keluar di waktu siang, hanya bersembunyi saja di dalam kuil karena ia takut kalau kalau keadaannya akan menarik dan menimbulkan kecurigaan orang. Apalagi ia sama sekali tidak tertarik oleh pemandangan di kota raja, karena ia tahu bahwa pemandangan itu hanya akan menimbulkan kemarahan dan keharuan di dalam hatinya, melihat betapa sekarang kota raja menjadi ibu kota dari pemerintah asing! Baik Bun Sam maupun Yap Bouw, sama sekali tidak pernah mengira bahwa pada waktu itu seorang gadis sedang berada di kota raja juga, seorang gadis yang masih amat muda akan tetapi yang memiliki keberanian luar biasa! Dan selain gadis yang bukan lain dari Lan Giok ini masih ada seorang pemuda lagi yang juga sedang bersiap siap melakukan sebuah tugas yang akan menggemparkan kota raja dan pemuda ini adalah Thian Giok, kakak dari Lan Giok ! Sebagaimana telah dituturkan sedikit di bagian depan, Lan Giok adalah adik kembar dari seorang pemuda yang bernama Thian Giok, murid dari Mo bin Sin kun juga. Berbeda dengan Lan Giok yang lincah dan jenaka, Thian Giok adalah seorang pemuda yang pendiam dan biarpun usianya juga baru empatbelas tahun lebih, numun ia nampak lebih matang dan lebih luas pandangannya. Ia menerima tugas dari gurunya untuk melenyapkan Toa to Hek mo (Setan Hitam Bergolok Besar) seorang tokoh Ang bi tin yang dahulunya terkenal sebagai seorang perampok besar. Sebagaimana para pembaca barangkali masih ingat, di dalam jilid terdahulu telah dituturkan bahwa ayah Bun Sam, yakni Song Hak Gi, terbunuh oleh keroyokan Toa to Hek mo dan kawan kawannya pula!

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Mo bin Sin kun adalah pembencii Ang bi tin, terutama sekali ia membenci sampai ke tulang tulangnya orang orang Han yang membantu Ang bi tin, karena orang orang macam ini dianggapnya orang orang pengkhianat yang tidak mundur untuk mengorbankan nyawa dan mengalirkan darah bangga sendiri demi kepentingan orang orang Mongol. Oleh karena itu, sekalian untuk memberi kesempatan kepada muridnya mencari pengalaman ia memperdalam kepandaian, ia menyuruh Thian Giok membunuh Toa to Hek mo dan menyuruh Lan Giok membunuh Ngo jiauw eng. Tugas Thian Giok dianggapnya lebih ringan karena memang Toa to Hek mo bukanlah lawan berat, sebaliknya tugas Lan Giok lebih berat. Selain Ngo jiauw eng adalah murid dari Bouw Ek Tosu, orang tertua dan Sin beng Ngo hiap, juga Lan Giok dianggapnya masih hijau. Oleh karena itu. Diam diam Mo bin Sin kun membayangi perjalanan murid perempuan ini. Dua malam kemudian setelah Bun Sam bertemu dengan Sian Hwa di taman bunga gedung panglima Bucuci, terjadi kegemparan pertama di kota raja. Toa to Hek mo, yang kini bekerja sebagai seorang touwtong juga di kota raja terdapat mati di dalam kamarnya. Dadanya pecah terkena pukulan yang hebat sekali dan penjahat tua ini maei tanpa terdengar suaranya oleh orang serumah. Tentu saja kota raja menjadi gempar. Terbunuhnya seorang pembesar militer, seorang bekas tokoh Ang bi tin pula, tentu saja menarik perhatian orang, Bucuci yang mendengar ini, lalu menghubungkan kedatangan pemuda di malam hari dalam tamannya itu, maka ia lalu menyebar mata mata dan mempersiapkan penjagaan di dalam kota raja untuk menangkap pembunuh itu. Oleh karena tidak ada seorangpun yang melihat pembunuh touwtong Toa to Hek mo, memang agak sukar untuk mencari pembunuhnya.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Akan tetapi Panglima Bucuci memerintahkan semua kaki tangan dan mata matanya untuk menyelidiki dan mengikuti semua orang yang dianggap asing yang kebetulan berada di kota raja. Pada keesokan harinya, ketika Bun Sam sedang terjalan jalan, ia mendengar warta yang mengejutkan ini. Ia merasa heran juga karena siapakah orangnya yang demikian beraninya, membunuh seorang pembesar militer di kota raja? Ia maklum bahwa di kota raja banyak terdapat panglima panglima dan perwira perwira yang tangguh, banyak terdapat siwi siwi (pegawal kaisar) yang berkepandaian tinggi. Diantaranya Panglima Bucuci dan Jenderal Liem yang berjuluk Pat jiu Giam ong dan yang memiliki kepandaian amat tinggi. Maka, siapakah orangnya yang demikian berani melakukan perbuatan yang seakan akan merupakan tantangan terhadap para panglima kerajaan? Ketika ia tiba di sebuah perempatan yang ramai ia melihat seorang pemuda yang tampan berjalan sambil menundukkan mukanya. Pemuda itu memakai pakaian seperti seorang kacung biasa, akan tetapi mata Bun San yang tajam segera mengenalnya. Setelah ia memperhatikan dengan seksama diam diam ia menjadi geli sekali. Ah.diantara muka seribu orang manusia, ia masih akan dapat mengenal muka ini, pikirnya. Apa apaan dia memakai pakaian seperti itu? Lan Giok, kau sedang berbuat apakah di sini? tegurnya tiba tiba untuk meng___ orang sambil menyentuh pundak pemuda tampan itu dari belakang. Benar saja seperti yang diduganya, pemuda itu menengok dengan kaget sekali dan memberi reaksi yang kontan. Sambil memiringkan tubuh pemuda itu dapat

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

mengelak dari sentuhan tangan Bun Sam, lalu mengerutkan kening dengan pandangan matanya yang amat tajam. Siapakah kau? Aku tidak kenal padamu! kata pemuda itu dengan penuh kecurigaan. Bun Sam tertawa dan merasa makin geli hatinya. Ah, Lan Giok, orang lain boleh kau permainkan akan tetapi apakah kaukira aku tak dapat mengenalmu? Ha, ha, anak nakal, biarpun kau akan memakai pakaian pengemis atau kepalamu akan kau gunduli, aku pasti akan dapat mengenal mukamu yang jenaka! Eh, Lan Giok, kau bersama siapa datang ke sini? Mana suthai?? Pemuda itu memandang makin heran..Aku bukan Lan Giok, aku tidak kenal padamu! Sambil berkata demikian ia lalu berjalan pergi. Bun Sam terbelalak memandang, lalu menyusulnya ia tetap yakin bahwa pemuda itu tentu Lan Giok yang memakai pakaian laki laki dan entah mengapa gadis cilik itu berlaku seolah olah tidak mengenalnya. Tiba tiba ia menjadi pucat karena teringat akan pembunuhan yang terjadi malam tadi. Mungkinkah Lan Giok yang melakukannya? Lan Giok, tunggu.! serunya dan dua orang muda ini lalu berkejaran, menimbulkan keheranan pada banyak orang yang berlalu limas di tempat itu. Tiba tiba diantara banyak orang yang berada di situ, melompat lima orang yang berpakaian biasa, akan tetapi yang sesungguhnya adalah lima orang siwi (pegawai kisar) yang berkepandaian tinggi. Memang seperti telah dituturkan di depan, selelah terjadi pembunuhan ini tidak saja fihak keamanan kota yang menyebar mata mata, juga duri pembesar militer seperti Panglima Bucuci dan juga fihak Gi lim kun (Pasukan Pengawal Istana) mengadakan penjagaan secara diam diam dan memasang mata mata.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Tentu saja segala peristiwa yang mencurigakan tidak terlepas dari pengawasan para penyelidik ini dan pertemuan antara pemuda dan Bun Sam itu juga menimbulkan kecuriggan lima orang siwi yang bertugas di situ. Yang terutama mereka curigai tentu saja pemuda berpakaian kacung biasa ini. He, kau! berhenti dulu! Lima orang siwi itu berteriak sambil mengejar pemuda itu. Karena lima orang itu mengulurkan tangan dia hendak mempergunakan Ilmu Eng jiauw kang untuk mencengkeram pundaknya dan menangkapnya, pemuda itu cepat membalikkan tubuhnya dan sekali kedua tangannya didorongkan ke depan, lima orang itu berteriak kesakitan dan jatuh terjengkang semuanya. Bun Sam tersenyum. Hm, Lan Giok telah mempergunakan Soan hong pek lek jiu untuk merobohkan limaorang yang hendak menangkapnya itu. Lan Giok, mari kau ikut lari bersamaku. Aku dan suheng mempunyai tempat yang baik sekali ! ajaknya sambil melompat ke dekat pemuda itu. Sementara itu, seruan seruan para siwi itu telah menarik perhatian dua orang pembesar yang sedang duduk berunding di sebuah restoran besar. Mereka ini adalah Panglima Bucuci sendiri bersama seorang komandan pasukan Gi lim kun yang bernama Ang Seng Tong yang memiliki kepandaian tinggi, karena dia adalah seorang yang telah menamatkan pelajaran ilmu silat di puncak Kun lun san. Kedua orang pembesar ini tengah membicarakan urusan pembunuhan atas diri Toa to Hek mo dan dengan penuh perhatian Ang Seng Tong mendengarkan penuturan Bucuci tentang seorang pemuda yang mengunjungi taman bunganya seperti seorang maling pada dua hari yang lalu.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Anak itu kepandaiannya hebat sekali,kara Bucuci antara lain, coba saja bayangkan, aku sendiri telah mengerahkan kepandaianku untuk menangkapnya, akan tetapi gagal dan ia masih dapat melarikan diri dengan cepat sekali! Agaknya kepandaiannya itu tidak di sebelah bawah kepandaian puteriku atau kepandaian Liem Swee putera Liem Goan Swe sekalipun! Ang Seng Tong nampak terkejut mendengar keterangan ini. Apakah puteri mu tidak mengenal nya? Tidak, baru malam itu dia melihatnya. Hm, sungguh aneh. Mungkin juga pembunuh Toa to Hek mo adalah pemuda yang memasuki tamanmu itu, akan tetapi mengapa ketika kau mencoba untuk menangkapnya, puterimu tidak membantumu? Ang Seng Tong memandang kepada wajah Bucuci dengan tajam sekali. Tiba tiba muka pembesar ini berobah. Baru sekarang ia teringat akan hal itu. Benar benar aneh, mengapa Sian Hwa tidak membantunya menangkap pemuda itu? Kalau Sian Hwa membantu, belum tentu pemuda itu dapat melarikan diri! Pada saat itulah Bucuci dan Ang Seng Tong mendengar suara ribut ribut. Mereka sedang duduk di ruang loteng rumah makan itu, maka ketika mereka menjenguk ke bawah, mereka melihat betapa seorang pemuda tampan telah memukul roboh lima orang anggota siwi! Tentu saja Ang Seng Tong yang melihat anak buahnya dirobohkan orang, menjadi bukan main marahnya. Akan tetapi Bucuci lebih tertarik kepada pemuda yang lain lagi, yang juga berada di iempat itu.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Dia itulah orang yang datang ke tamanku! serunya kemudian. Tubuh kedua orang kosen ini telah melayang turun dari loteng restoran. Pemuda tampan yang oleh Bun Sam disangka Lan Giok itu sebenarnya adalah Thian Giok. kakak kembar dari Lan Giok. Memang muka sepasang saudara kembar ini serupa benar, sehingga sukarlah membedakan, kecuali bahwa mereka itu seorang laki laki dan seorang lagi wanita. Akan tetapi karena Bun Sam belum pernah bertemu dengan Thian Giok, melihat pemuda ini tentu saja mengira bahwa ia adalah Lan Giok yang menyamar sebagai laki laki. Thian Giok adalah seorang pemuda pendiam, akan tetapi cerdik dan luas pandangannya. Ketika menerima tugas dari gurunya untuk membunuh Toa to Hek mo ia tidak melakukan tugas itu secara membabi buta, tetapi dengan cermat ia bertanya kepada gurunya mengapa Toa to Hek mo harus dibinasakan. Setelah mendengar tentang Ang bi tin dari gurunya, diam diam pemuda ini menjadi amat benci kepada bekas bekas pemimpin Barisan Alis Merah itu. Tidak percuma ia berada di kota raja sampai beberapa hari lamanya. Ia tidak mau tinggal diam saja dan melakukan penyelidikan dengan teliti, maka ketika melihat Bucuci dan Ang Seng Tong melayang turun, tahulah ia bahwa Bucuci memiliki kepandaian yang lebih tinggi dan ia teah tahu pula bahwa Bucuci adalah seorang bekas pemimpin Ang bi tin pula. Tanpa banyak cakap melihat dua orang itu melayang turun, ia lalu menerjang dan menyerang Bucuci! Bucuci tadinya bermaksud hendak menangkis dan menyerang Bun Sam, akan tetapi melihat betapa pemuda kecil itu menyambutnya dengan pukulan kedua tangan yang mendatangkan angin pukulan kuat sekali, terpaksa ia lalu menyambut serangan Thian Giok. Bucuci adalah seorang yang kepandaiannya sudah mencapai tingkat tinggi maka

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

tentu saja ia tidak dapat dikalahkan dengan mudah oleh pukulan Soan hong pek lek jiu yang dipukulkan oleh seorang pemuda berusia empatbelas tahun lebih seperti Thian Giok . Sambil mengerahkan lweekangnya ia menerima pukulan ini dengan tangkisannya. Akan tetapi, ia mennjadi cukup terkejut dan heran ketika ia terpental ke belakang setelah tangannya terbentur oleh tangan anak muda itu. Adapun Thian Giok sendiripun terhuyung ke belakang. Betapapun juga, dalam hal lweekang ia masih belum dapat mengatasi jago tua yang sudah banyak pengalaman itu. Adapun Ang Seng Tong yang melihat Bucuci sudah turun tangan lalu maju membantu untuk menangkap pemuda yang telah merobohkan lima orang anak buahnya itu. Akan tetapi tiba tiba, berkelebat bayangan yang gesit sekali dari samping. Terpaksa ia mengangkat tangan memukul ke kanan untuk mendahului bayangan yang agaknya hendak menghalanginya itu, akan tetapi ia hanya memukul angin. Bayangan itu ternyata gesit sekali dan kembali ia merasa angin pukulan mengarah kepalanya dari belakang. Cepat Ang Seng Tong membalikkan tubuhnya sambil mencengkeram dengan kedua tangannya, akan tetapi sia sia belaka karena Bun Sam yang menyerangnya tadi, dengan cepat telah dapat mengelak pula. Bocah anak setan, kau ingin mampus? bentaknya sambil menerjang dan mencabut goloknya yang berkepala harimau. Memang Ang Seng Tong adalah ahli golok dan karena goloknya itu kepala nya berbentuk kepala harimau, ia mendapat julukan Houw thouw to (Golok Kepala Harimau). Melihat menyambarnya sinar golok yang cukup lebar tahulah Bun Sam bahwa lawannya memiliki ilmu golok yang tinggi, maka ia lalu berlaku cepat sekali. Dengan

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

ginkangnya yang tinggi, tubuh anak muda ini lenyap merupakan sinar yang berkelebat diantara sambaran dan gulungan cahaya golok yang diputar cepat. Pertandingan antara Bun Sam dan Ang Seng Tong ramai sekali, akan tetapi sifatnya tetap saja seperti angin mempermainkan ___. Ang Seng Tong terus menyerang dan memutar goloknya, sedangkan Bun Sam hanya mengelak ke sana ke mari mengandalkan ginkangnya yang amat lihai. Akan tetapi pertempuran yang terjadi antara Thian Giok melawan Bucuci lebih seru lagi. Keduanya memiliki watak yang hampir sama, yakni keras lawan keras. Setiap serangan mereka mendatangkan angin dan selalu merupakan tangan maut yang meraih nyawa lawan. Bucuci adalah seorang tokoh besar dari Mongol yang kepandaiannya sudah amat tinggi dan tenaga lweekang serta ginkangnya sudah amat terkenal, juga ia memiliki ilmu pukulan yang berat dan ampuh. Sebaliknya biarpun baru berusia empat belas tahun lebih, Thian Giok adalah murid pertama dari Mo bin Sin kun si Tangan sakti, maka tentu saja ia telah digembleng dan telah memiliki ilmu pukulan tangan kosong yang luar biasa. Selain pukulan Soan hong pek lek jiu, Thian Giok juga sudah dilatih dan mengerti akan pukulan pukulan aneh di dunia kang ouw dan dari gurunya sudah diberi tahu bagaimana caranya menghadapi ilmu ilmu pukulan tangan kosong dari semua cabang persilatan. Sebagai seorang yang mempunyai nama julukan Sin kun (Tangan Sakti) tentu saja gurunya mangerti akan semua ilmu pukulan pukulan tangan kosong. Kedua orang yang jauh berbeda usinya ini saling serang dengan mati matian dan kembali Soan hong pek lek jiu ciptaan Mo bin Sin kun itu memperlihatkan kesungguhannya. Betapspun Bucuci mengerahkan seluruh kepandaiannya, dihadapi oleh Thian Giok dengan Pukulan angin Puyuh

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

dan Halilintar ini, ia tak berdaya menembus pertahanan anak muda itu. Dibandingkan dengan Bucuci, kepandaian Ang Seng Tong kalah jauh dan juga ia masih kalah satu dua tingkat oleh Bun Sam. Maka biarpun ia menyerang pemuda itu dan dengan goloknya, tetap saja Bun Sam dapat mempermainkan lawannya dengan enak. Ketika Bun Sam melirik ke arah pemuda yang dianggapnya Lan Giok itu, ia menjadi gelisah juga. Ternyata bahwa Bucuci amat tangguh dan kalau sekiranya Lan Giok akan dapat memenangkan pertempuran itu, pasti Bucuci akan roboh binasa. Kedua orang itu telah masuk ke dalam pertempuran mati matian dan salah seorang diantara mereka pasti akan roboh atau terluka berat ia tidak ingin melihat Lan Giok terluka dan pula ia juga merasa tidak enak kalau panglima yang menjadi ayah Sian Hwa akan roboh. Aku harus mencegah pertumpahan darah diantara mereka, pikir Bun Sam. Dengan cepat ia lalu menggerakkan kedua tangannya sambil berseru keras dan terdengar suara, krekk disusul oleb jeritan Ang Seng Tong. Kalau dilihat memang mengherankan karena kini tahu tahu panglima Gi lim kun ini telah berdiri kaku seperti patung dan goloknya masih dipegang oleh tangan kanannya, akan tetapi dengan keadaan buntung. Ternyata bahwa dengan amat pandai dan indah Bun Sam telah mempergunakan ilmu pukulan yang dipelajarinya dari Mo bin Sin kun dan sekali saja ia membalas, ternyata golok lawannya telah dapat dipukul buntung dan sebuah totokan yang cepat sekali dengan gerakan Ilmu Totok It ci san (Totokan Satu Jari), ia telah berhasil menotok jalan darah lawan di bagian tai twi hiat, sehingga tubuh Ang Seng Tong menjadi kaku seperti patung batu.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Lan Giok, jangan melukai dia! Bun Sam berseru, ketika melihat betapa pemuda itu menyerang dengan nekat. Pada saat itu, Lan Giok melakukan serangan yang disebut ilmu pukulan Tin san ciang (Pukulan Menggetarkan Gunung), samacam ilmu pukulan yang dilakukan dengan tenaga lweekang sepenuhnya dan yang dapat membunuh lawan dan jarak jauh. Bucuci yang sudah maklum sepenuhnya bahwa lawan nya yang masih muda ini amat lhai tidak berani berlaku gegabah, cepat ia lalu merendahkan tubuhnya seperti seekor katak hendak melompat, mengumpulkan lweekangnya, sehingga tubuhnya yang pendek itu menggembung penuh hawa, kemudian sambil berseru kerus iapun mendorong dengan kedua tangannya ke arah pemuda cilik itu. Kalau sampai dua tenaga ini terbentur tentu akhirnya Thiab Giok yang akan mendapat celaka dan terluka hebat, sedangkan Bucuci tentu akan terluka ringan saja karena kalau diperbandingkan tenaga lweekang Bucuci masih lebih kuat. Akan tetapi bukiknya Bun Sam cepat bertindak ia berada di samping kedua orang itu, maka cepat ia lalu menggerakkan tenaga lweekangnya yang tidak kalah kuatnya daripada tenaga Bucuci dan kemudian dari samping ia lalu mengerahkan pukulan Soan hong jiu hwat ke tengah tengah mana kedua tenaga raksasa itu bertamu. Oleh karena pukulan Soan hong pek lek jiu memang istimewa kuat hawa pukulannya, maka tenaga pukulan kedua orang itu karena terdorong tenaga dari samping, lalu menyeleweng arahnya dan tidak mengenai lawan masing masing. Bucuci dan Thian Giok menjadi terkejut sekali. Cepat meraka menarik kembali tangan yang memukul dan melompat ke belakang sambil memandang ke arah Bun Sam.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Lan Giok, jangan terlambat, ayoh kita lari! Bun Sam menyambar tangan pemuda itu dan di betotnya dengan sekuat tenaga. Tadinya Thian Giok hendak membantah akan tetapi tenaga betotan Bun Sam tak dapat ditolaknya sehingga ia terbawa oleh lompatan Bun Sam. Dan lagi, karena tahu bahwa pemuda yang lihai ini pasti sudah kenal dengan adik nya dan bukan seorang musuh, maka Thian Giok lalu menurut dan ikut berlari dengan Bun Sam. Baiknya mereka melakukan hal ini, karena seorang diantara para siwi telah lari memanggil bala bantuan dan kalau sampai kedua orang muda itu terkurung sukarlah bagi mereka untuk melepaskan diri. Apalagi kalau Pat jiu Giam ong sendiri yang turun tangan ! Bucuci hendak mengejar, akan tetapi dalam hal ginkang harus diakuinya bahwa ia masih kalah jauh, maka ia menahan niatnya dan cepat mengerahkan seluruh pasukan di kota raja untuk mencari kedua orang muda itu. Sementara itu, untuk menghilangkan jejaknya Bun Sam sengaja mengajak Thian Giok berlari menuju ke jurusan yang berlawanan dengan jurusan di mana kuil tempat sembunyinya berada. Kemudian setelah tiba di tempat sunyi dan tidak ada orang yang melihatnya, barulah ia mengajak Thian Giok membelok dan memasuki kuil di mana suhengnya masih duduk di dalam kamar bersamadhi. Sahabat baik, kau sesungguhnya siapakah? Dan di mana kau berkenalan dengan Lan Giok adikku ? tanya Thian Giok setelah mereka berada di tempat aman. Bun Sam terkejut dan memandang, dengan penuh perhatian Kemudian ia tertawa geli karena kebodohannya sendiri ! Ah, jadi kaukah yang bernama Thian Giok kakak dari adikmu yang nakal itu ? Siapa yang akan dapat membedakan? Kau benar benar seperti telur dibelah dua !

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Biarpun Thian Giok orangnya pendiam akan tetapi melihat keheranan Bun Sam, ia tersenyum juga dan kembali Bun Sam tertegun karena senyum pemuda ini benar benar seperti senyum adiknya, begitu manis memikat. Memang aku Yap Thian Giok dan siapakah kau yang gagah berani dan berilmu tinggi? Mengapa tadi kulihat kau dapat pula menggunakan pukulan Soan hong pek lek jiu ? Bun Sam lalu menuturkan tentang pertemuanya dengan Lan Giok dan bagaimana ia telah diberi pelajaran Soan hong pek lek jiu oleh Mo bin Sin kun guru dari pemuda itu dan adik kembarnya. Pantas saja kau lihai, tidak tahunya kau murid dari Kim Kong Taisu! kata Thia Giok dengan girang.Guruku sering kali memuji muji kakek sakti itu. Bun Sam karena kau telah menerima pelajaran dari guruku, maka kita masih terhitung orang sendiri. Aku merasa girang bahwa kau telah menolongku dari bahaya. Jangan bilang begitu, Thian Giok. Sesungguhnya kebodohan kulah yang membuat kau dicurigai dan hendak ditangkap. Kalau saja aku tidak mengira kau Lan Giok dan tidak memanggilmu agaknya sekarang kau masih berjalan jalan dengan aman. Thian Giok menggelengkan kepalanya. Betapapun juga kalau tidak begitu, kita takkan saling bertamu dan saling mengenal. Akan tetapi ketika tadi aku memukul Panglima Bucuci, mengapa kau mencegah aku melukainya, saudara Bun Sam? Tidak tahukah kau bahwa dia juga seorang panglima besar dan bekas pemimpin Ang bi tin yang jahat? Bun Sam meresa tertusuk hatinya. Kata kata ini mengingatkannya akan kenyataan pahit, bahwa Bucuci adalah ayah dari Sian Hwa dan mukanya menjadi muram,

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

tanda akan kekecewaan hatinya yang membuatnya menarik napas panjang. Bukan demikian, kawan. Kalau sampai kau melukai atau membunuh Bucuci, bukankah itu akan menggemparkan kota raja dan kau lebih sukar pula aku keluar dari pintu kota! Karena itulah maka aku menahanmu dan pula kepandaiannya juga amat tinggi. Thian Giok bermata tajam dan ia melihat perobahan pada muka Bun Sam yang menjadi muram, maka ia diam saja dan tidak mau membicarakan persoalan ini lagi. Akan tetapi, tiba tiba Thian Giok melihat wajah kawannya itu lenyap kemuramannya, bahkan menjadi berseri, ia benar benar merasa heran melihat sikap kawan baru yang aneh ini. Tentu saja ia tidak tahu bahwa Bun Sam teringat akan suhengnya yang masih bersamadhi di dalam kamar kuil itu. Ah, pikirnya dengan hati gembira alangkah akan bahagianya hati Yap Suheng kalau ia melihat Thian Giok, puteranya! Ingin sekali ia mendobrak pintu kamar itu untuk mengabarkan kepada suhengnya tentang Thian Giok, akan tetapi ia menahan ketegangan hatinya dan berkata kepada Thian Giok, Saudaraku yang baik, aku lupa memberi tahukan kepadamu bahwa aku berada di sini bersama seorang suhengku. Kalau nanti kau berkenalan dengan suhengku harap kau jangan merasa kaget. Suhengku itu berwajah mengerikan, karena mukanya telah dirusak oleh orang orang jahat dan selain wajahnya mengerikan, suhengku juga gagu tak dapat bicara. Pula, adatnya agak aneh, harap kau suka bersabar dan jangan salah sangka. Thian Giok mengangguk. Siapakah nama suhengmu itu dan di mana dia sekarang? Dia tidak punya nama. Inilah sebuah daripada keanehannya. Dan dia sedang melakukan siulian (samadhi) di dalam kamarnya. Coba kutengok dia.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Ketika Bun Sam membuka pintu kamar di mana suhengnya duduk bersila, ia melihat Yap Bouw sudah membuka matanya karena orang tua ini telah mendengar suaranya dan sadar daripada samadhinya. Melihat Bun Sam sudah kembali, ia segera bangkit berdiri sambil tersenyum. Suheng, aku membawa seorang kawan di luar. Mari kau menemuinya Yap Bouw menggelengkan kepala, karena ia paling tidak suka bertemu dengan orang orang lain, takut kalau kalau mukanya yang buruk itu akan mengganggu orang lain saja. Akan tetapi Bun Sam berkata. Suheng, kawan kita ini bukan sembarang orang, dia masih segolongan dengan kita. Keluarlah, kau takkan kecewa melihatnya, suheng! Ada sesuatu dalam suara sutenya yang menggerakkan hati Yap Bouw, maka keluarlah dia dari kamar itu bersama Bun Sam. Keadaan amat sunyi, yang terdengar hanyalah suara hwesio membaca ham keng (doa) sambil memukul bok hi (alat bunyi untuk membuat irama), selain suara itu tidak terdengar sesuatu dalam kuil. Kuil tua ini hanya didiami oleh tiga orang hwesio yang sudah tua dan yang jarang keluar dan dalam kuil. Dan tembok tebal y mg mengelilingi kuil itu memisahkan kuil itu dari dunia ramai di luar tembok. Ketika Yap Bouw tiba di luar pintu dan melihat pemuda tanggung yang berdiri di situ memandang ke arahnya dengan muka yang tiba tiba memperlihatkan rasa kasihan yang amat besar, Yap Bouw tiba tiba tak dapat melanjutkan langkah kakinya. Kalau saja wajahnya tidak demikian gelap dan kulit mukanya tidak demikian rusak, tentu akan mudah terlihat betapa semua darah meninggalkan mukanya dan kalau saja ia tidak terlatih cukup hebat dalam ilmu batin dan tenaga lweekang, pasti akan mudah terlihat betapa ia

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

menggigil pada seluruh tubuhnya. Ia hanya tampak berdiri bagaikan patung batu dengan wajah yang amat mengerikan itu. Bun Sam yang sudah kenal baik dan tahu betul akan keadaan suhengnya ini, menjadi sangat terharu, ia dapat membayangku betapa hebat gelora yang mengalun di dalam sanubari suhengnya ketika menghadapi puteranya yang sudah besar dan demikian tampan serta gagahnya. Untuk memecahkan suasana yang penuh hikmat bagi suhengnya itu, ia tersenyum dan suaranya masih menggetar karena keharuan ketika ia berkata. Nah, saudaraku yang baik. Inilah suhengku, orang bijaksana dan yang paling mulia di dunia ini bagiku! Tadinya Thian Giok memang terpukul melihat wajah yang demikian mengerikan. Bukan sekali kali ia merasa jijik melihat keburukan wajah orang ini, karena gurunya sendiripun memiliki wajah seperti iblis, akan tetapi karena tadinya Bun Sam sudah memberitahukan bahwa suheng dari Bun Sam itu mukanya dirusak oleh penjahat penjahat maka ia merasa amat kasihan dan ngeri. Mendengar ucapan Bun Sam yang memperkenalkan, ia sadar kembali dari renungannya, lalu mengangkat kedua tangan ke dada dan sambil menjura ia melangkah maju mendekati orang bermuka tengkorak itu sambil berkata dengan senyum ramnh. Siauwte Yap Thian Giok menghaturkan hormat kepada taihiap ! Dapat dibayangkan betapa hebat gelora dalam hati Yap Bouw melihat puteranya sendiri memperkenalkan diri kepadanya seperti itu. Telah bertahun tahun ia bermimpi dan membayangkan bagaimana rupa puteranya dan kini melihat puteranya berdiri di hadapannya ia hampir tak dapat menahan runtuhnya air matanya yang membuat kedua matanya terasa panas! Kalau saja ia tidak gagu tentu

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

ia tak dapat menahan lagi seruannya memanggil nama puteranya, tetapi karena ia telah gagu, Thian Giok hanya melihat betapa bibir yang rusak itu bergerak gerak tanpa mengeluarkan suara dari dada orang itu keluar suara semacam keluhan orang berduka. Yap Bouw melangkah maju dan sebelum Thian Giok dapat menduga, kedua tangan Yap Bouw telah memeluknya dan sekali angkat saja, orang itu telah memondongnya dan memeluknya dengan mesra! Tentu saja Thian Giok merasa terkejut dan heran sekali, akan tatap ketika ia hendak memberontak, ia teringat akan pesan Bun Sam bahwa memang orang ini amat aneh adatnya, maka ia khawatir kalau kalau menyinggung perasaannya. Lebih heran lagi ia ketika merasa betapa butir butir air mata menetes turun membasahi lehernya. Ketika ia mencoba untuk menengok ke arah Bun Sam, ia makin terkejut dan heran karena pemuda itupun berdiri dengan pipi basah air mata. Memang Bun Sam tak dapat menahan keharuan hatinya lagi ketika menyaksikan pertemuan antara ayah dan anak yang tak dapat diperkenalkan ini, pertemuan yang hanya diketahui oleh Yap bouw dan dia. Kebahagiaan besar yang dirasai oleh Yap Bouw di saat itu, kebahagiaan yang bercampur kedukaan maha hebat, terasa pula oleh Bun Sam dan membuat ia teringat kepada ayah bundanya sendiri. Oleh karena itulah, maka ia tak dapat menahan mengalirnya air matanya yang membasahi pipinya. Adapun Yap Bouw yang memondong dan memeluk puteranya, segera dapat mengerti bahwa puteranya tentu akan merasa heran sekali, maka perlahan lahan ia menurunkan Thian Giok dan memandang wajah pemuda itu yang menjadi kemalu maluan,

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Saudara Bun Sam bagaimanakah suhengmu ini ? tanyanya. Birkanlah Thian Giok, dia amat suka kepadamu agaknya.Akan tetapi Bun Sam segera melangkah maju dan cepat menyambar tangan suhengnya itu, karena ternyata bahwa Yap Bouw berdiri tidak tetap dan tubuhnya terhuyung huyung lemas. Ketika Bun Sam memegang tangannya, terasa olah nya telapak tangan suhengnya itu amat dingin dan ketika ia meraba lehernya, bukan main panasnya. Yap Bouw ternyata tak dapat menahan pukulan batin yang hebat ketika ia bertemu dengan putranya karena ia teringat akan isterinya dan merasa amat berduka dan hancur hatrinya karena ia tidak mungkin dapat berkumpul lagi dengan isteri dan dua orang anaknya yang tercinta. Biarpun usianya baru enam belas tahun akan tetapi Bun Sam sudah luas pengetahuannya, karena ia telah banyak mempelajari kepandaian dari Kim Kong Taisu. Melihat keadaan suhengnya, sedikit banyak ia telah dapat menduga apa yang diderita oleh suhengnya ini. Tanpa banyak cakap ia lalu mengangkat tubuh suhengnya, dibawa ke dalam kamar kuil itu dan diletakkan di atas pembaringan. Ia memeriksa detak jantung suhengnya yang memukul lemah sekali, maka ia lalu menempelkan tangan pada tangan suhengnya dan mengerahkan tenaga untuk membantu peredaran darah di dalam tubuh suhengnya. Kemudian, setelah peredaran darah di tubuh Yap Bouw menjadi normal kembali dan orang tua itu telah siuman dari pingsannya, Bun Sam lalu berlari keruang belakang untuk memasak air. Air panas hangat perlu untuk orang menderita sakit, pikirnya. Thian Giok melihat semua ini dengan penuh kekaguman kepada Bun Sam. Kagum akan ketenangan dan ketangkasan pemuda itu, juga kagum melihat kasih sayang

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

terhadap suhengnya yang demikian besar. Ketika ia melihat orang bermuka tengkorak itu sudah siuman, ia duduk di atas bangku dekat pembaringan untuk menjaganya. Yap Bouw masih memejamkan matanya dan tiba tiba ia merasa sentuhan tangan yang halus pada jidatnya yang kasar. Karena sudah biasa Yap Bouw tahu bahwa itu bukanlah sentuhan tangan sutenya maka ia lalu membuka matanya. Ketika melihat bahwa yung meraba jidatnya itu adalah Thian Giok puteranya ia menangkap dan menggenggam tangan itu dengan perasaan penuh kasih sayang, lalu terdengnr ia terisak isak menangis. Sudahlah taihap, apakah yang kau sedihkan? Segala perkara penasaran di dunia ini dapat dibereskan dan segala sakit hati bisa dibalas, mengapa harus berduka? Thian Giok mengeluarkan kata kata menghibur karena merasa tidak enak kalau diam saja. Mendengar ucapan puteranya yang menghibur nya bagaikan diremas remas rasa jantung di dalam dadanya. Ia mengeluh dan menyebut nama Thian Giok berkali kali, akan tetapi yang terdengar oleh Thian Giok hanya suara Ok.. ok dan dibarengi dengan mengalirnya air mata orang tua itu. BiarpunThian Giok berhati keras, naman menyaksikan kesedihan orang tua yang amat dikasihani ini, tak terasa dua butir air mata bertitik pula di atas pipinya. Melihat puteranya menitikkan air mata, tiba tiba Yap Bouw merasa tenaganya pulih kembali lalu ia bangkit duduk. Benar benar amat mengherankan Thian Giok akan tetapi ia mengerti maksud orang tua itu ketika Yap Bouw menggunakan ujung bajunya untuk menghapus air mata pada pipi Thian Giok, kemudian menggunakan telunjuknya digoyang goyangkan tanda bahwa pemuda itu sekali kali tidak boleh mengeluarkan air mata.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Tentu saja Thian Giok merasa aneh sekali dan juga geli. Kakek ini sendiri menangis sedih mengapa ia melarang orang lain mangeluarkan dua titik air mata saja? Pada saat itu, Bun Sam masuk membawa air teh yang panas. Pemuda ini terheran heran melihat suhengnya sudah duduk dan tampak segar, maka tentu saja ia menjadi girang sekali. Suheng, lebih baik kau berbaringlah dan beristirahat. Akan tetapi, Yap Bouw bahkan memberi isyarat dengan jari tangannya, supaya Bun Sam minta Thian Giok menceritakan riwayatnya semenjak kecil. Bun Sam mengerti akan kehendak suhengnya ini, maka katanya kepada Thian Giok, Saudaraku yang baik. Kita sudah menjadi sahabat sahabat baik, bahkan kalau diingat bahwa akupun pernah menerima latihan silat dari gurumu, kita berdua boleh di kata saudara seperguruan juga. Oleh karena itu, sukalah kiranya kau menuturkan riwayatmu semenjak kecil kepadaku, karena tentu kaupun maklum seperti juga Lan Giok bahwa ayah mu dahulupun menjadi murid dari suhuku dan suhengku ini sudah kenal baik dengan ayahmu yang menjadi saudara seperguruannya. Maka, kau ceritakanlah riwayat mu agar suheng dapat pula mendengarkan. Berseri wajah Thian Giok. Jadi kalau begitu, suhengmu ini tentu akan dapat menceritakan pula keadaan mendiang ayahku? Pemuda ini memandang kepada Yap Bouv yang mengangguk anggukkan kepalanya. Saudara Bun San baiklah, aku akan menuturkan riwayatku yang tidak menarik. Akan tetapi, nanti suhengmu juga harus menuturkan keadaan mendiang ayahku melalui kau. Baiklah,Thian Giok. Itu sudah semestinya, kukira.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Thian Giok lalu menuturkan riwayatnya secara singkat. Sebagaimana telah dituturkan di bagian depan. Nyonya Yap Bouw ltelah ditinggalkan oleh suaminya semenjak ia masih mengandung, karena suaminya, Jenderal Yap Bouw selalu sibuk dengan tugas menindas kaum perusuh dan pemberontak di tapal batas negara. Ayah telah meninggalkan ibu semenjak aku dan adikku masih berada di dalam kandungan dan sampai tiga tahun lamanya ayah tak pernah pulang karena sibuk dengan pekerjaannya sebagai seorang jenderal. kata Thian Giok dengan suara mengandung kebanggaan besar. Kemudian tentara musuh dapat menduduki kota raja dan kami mendengar bahwa ayah telah gugur di dalam perang. Ibu membawa kami yang masih berusia tiga tahun pergi mengungsi dengan orang orang lain. Bahkan ada beberapaorang orang gagah bekas kawan dan keluarga ayah, melindungi ibu dan kami untuk dapat keluar dari kota raja. Akan tetapi malang sekali Thian Giok menunda ceritanya sambil menarik napas panjang, sehingga Yap Bouw yang mendengarkan penuturannya dengan tertarik kali itu ikut menahan napas. Thian Giok lalu melanjutkan penuturannya. Pada waktu ibunya dikawal oleh orang orang gagah dan berusaha mengungsi keluar dari kota raja, tiba tiba mereka diserang oleh serombongan mata mata musuh yang sudah menduduki kota raja. Rombongan ___ ini terdiri dari orang orang berkepandaian tinggi, maka terjadilah pertempuran yang sengit ___ mana jatuh banyak korban diantara kedua fihak. Nyonya Yap sambil menggendong Lan Giok dan menyeret Thian Giok, melarikan diri dari dalam keributan itu dan berhasil keluar dari pintu kota. Tanpa mengenal lelah nyonya yang ketakutan hebat ini terus melarikan diri bersama kedua anaknya. Ia menggendong anaknya

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

bergantian. Kalau Thian Giok sudah lelah dan menangis ia menurunkan Lan Giok dan menggendong Thian Giok. Demikian sebalik nya. Akhirnya malam tiba dan mereka sudah sampai dalam sebuan hutan. Akan tetapi, pada saat nyonya Yap sudah menarik napas lega karena terlepas dari bencana maut, tiba tiba muncul serombongan orang jahat, yakni perampok perampok yang selalu timbul apabila negara berada dalang keadaan kacau. Nyonya Yap adalah seorang nyonya muda yang cantik, pula pakaiannya indah dan tubuhnya memakai perhiasan perhiasan emas permata, maka tentu saja para perampok ini lalu menyerbu. Pada saat yang amat berbahnya itu , datanglah Mo bin Sin kun yang dengan sekali gerakan saja sudah membunuh pemimpin perampok dan membuat anak buah perampok ini bercerai berai. Kemudian, Thian Giok dan Lan Giok diserahkan oleh Nyonya Yap agar menjadi murid penolong itu adapun Nyonya Yap sendiri oleh Mo bin Sin kua lalu dibawa kepuacak Sian hwa san (Bukit Bunga Dewa) sebuah tempat pegunungan yang indah dan berhawa nyaman di mana terdapat sebuah kuil pendeta wanita bertapa. Nyonya Yap merasa aman dan senang di tempat itu, maka dengan suka rela ia lalu mencukur rambutnya dan menjadi pemeluk Agama Buddha yang taat dan saleh. Demikianlah, kami berdua kakak beradik yang malang menjadi murid dari Mo bin Sin kui, adapun ibu sampai sekarang menjadi nikouw di kuil Sian hwa bio. Kalau tugasku dan adikku selesai dan pelajaran kami sudah tamat, kami tentu akan kembali ke sana mencari ibu. Demikian Thian Giok menutup penuturannya. Dapat dibayangkan betapa terharu dan girang hati Yap Bouw mendengar tantang kesengsaraan anak isterinya, akan tetapi yang akhirnya tertolong juga ia lalu berkata

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

kepada Bun Sam dangan bahasa gerak jarinya. Sute. beritahukan padanya tentang harta terpendam di dalam taman bekas gedungnya itu dan bahwa kita akan mengambil harta itu. Karena harta itu milik ayahnya, ia berhak menerima sebagian. Bun Sam ntengganguk angguk, kemudian bertanya dengan gerak jari pula, Suheng, bagaimana kalau kau mengaku saja bahwa kau ayahnya? Mata Yap Bouw terbelalak dan tergesa gesa ia memberi tanda dengan jari jari tangannya. Jangan Sute! Biarlah ia selalu mengira dengan hati bangga bahwa ayahnya adalah seorang jenderal besar yang gugur sebagi seorang pahlawan negara. Terpaksa Bun Sam tak berani membantah, ia berpaling kepada Thian Giok yang tidak mengerti gerak gerik mereka, lalu berkata, Thian Giok, kebetulan sekali suhengku ini mengetahui sebuah rahasia ayahmu dan di bilang bahwa kau sudah eharusnya mengetahui akan hal itu. Ketahuilah kau bahwa dahulu nyahmu telah menanam sejumlah harta yang dipendam di belakang rumah di dalam taman bunga, yakni rumah yang sekarang ditinggali oleh Panglima Bucuci. Dan kami berdua juga datang di kota raja khusus untuk mengambil harta terpendam itu. Sekarang menurut suheng, kau berkewajiban pula untuk ikut membantu dan berhak untuk menerima sebagian daripada harta terpendam itu. Thian Giok mengerutkan keningnya. Kau dan suhengmu hendak mengumbil harta pusaka itu untuk apakah? Tentu saja untuk dipergunakan menolong rakyat yang menderita kesengsaraan, jawab Bun Sam.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Kalau begitu aku akan membantu kalian mengambil harta itu, akan tetapi aku sendiri tidak menghendaki pembagian. Untuk apakah harta dunia bagi orang orang seperti kita? Lebih baik dibagikan semua kepada rakyat yang kekurangan. Dua titik air mata kembali membasahi mata Yap Bouw ketika itu mendengar ucapan puteranya itu. Ia merasa girang dan bangga sekali. Lalu ia memberi tanda dengan jari jari tangannya kepada Bun Sam. Pemuda ini lalu berpatlng kepada Thian Giok sambil tersenyum dan berkata, Thian Giok, jangan kau berkata demikian. Sungguhpun kau sendiri tidak memerlukan harta dunia seperti juga kami, akan tetapi harta itu dapat kau pergunakan untuk ibunu.... Ibu juga tidak membutuhkan harta pusaka. Apa artinya harta dunia bagi ibu? Beliau telah mendapatan harta yang teragung di dunia ini, yaitu krbahagiaan batin yang suci. Kembali Yap Bouw, merasa betapa kerongkongannya tersumbat oleh sedu sedan yang naik dari dadanya. Bun Sam melirik kepadanya dan melihat suhengnya menggerak gerakkan jari tangannya. Saudara Thian Giok, ia menterjemahkan bahasa gerak jari itu. Biarpun ibumu sendiri tidak membutuhkan harta dunia, kami rasa bio (kuil) di mana ibumu tinggal itu membutuhkan untuk perbaikan dan lain lain. Oleh karena itu kau tidak boleh menolak. Kita bicarakan lagi kalau harta terpendam dari mendiang ayah itu sudah berada di tangan kita, Bun Sam. Belum tentu mudah mendapatkan harta terpendam yang berada di taman bunga rumah Panglima Bucuci, apalagi pada waktu mereka sedang mencari cari kita seperti sekarang ini. akhirnya Thian Giok berkata.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Sementara itu karena tidak berhasil menemukan dua orang pemuda pengacau yang dicari carinya, Bucuci lalu memanggil Ngo jiauw eng Lui Hai Siong yang berada di Tong seng kwan. Semenjak dahulu, |Ngo jiuw eng adalah tangan kanannya dan ia percaya penuh akan kecerdikan Ngo jiauw eng dalam mencari dan menyelidiki para pemberontak. Banyak sudah jasa yang diperoleh pembantunya ini dalam masa perjuangan Ang bi tin dahulu. Dan inilah sebabnya mengapa Ngo jiauw eng buru buru pergi ke kota raja memenuhi panggilan Bucuci, sehingga ketika Lan Giok mencarinya di Tong seng kwan gadis itu tidak dapat menemukannya, lalu menyusul ke kota raja. Beberapa hari kemudian setelah bersembunyi dan merasa bahwa keadaan telah agak mereda dan aman pada malam hari, Yap Bouw, Bun Sam dan Thian Giok meninggalkan kuil tua itu dan mempergunakan kepandaian mereka untuk menuju ke gedung Panglima Bucuci yang berada di tempat agak pinggir kota raja. Tubuh mereka berkelebat di malam gelap, melalui genteng dan bubungan rumah penduduk kota raja. Karena kepandaian mereka sudah tinggi, maka kaki mereka tidak menerbitkan suara berisik dan bayangan mereka sukar terlihat orang karena cepatnya gerakan mereka. Waktu itu sudah hampir tengah malam dan tiga orang ini sama sekali tidak menduga bahwa di tempat panglima itu telah terjadi keributan hebat. Marilah kita kembali beberapa jam yang lalu. Sebuah bayangan yang amat gesit, bayangan yang tubuhnya kecil langsing, melompat di atas genteng gedung Bucuci laksana setan malam. Bayangan ini adalah Lan Giok, gadis yang tabah itu yang sengaja menyusul dan mencari Ngo jiauw eng di kota raja. Tanpa takut sedikitpun juga, Lan Giok lalu mengunjungi rumah Bucuci pada malam hari itu setelah mendapat keterangan di mana rumah pembesar itu.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Sesungguhnya semua tempat di kota raja memang telah dijaga dan dimata matai oleh pembantu pembantu Bucuci dan Ngo jiauw eng bahkan Ngo jiauw eng yang amat cerdik diam diam telah menaruh curiga pada tempat tempat suci seperti kuil kuil tua dan rumah rumah pembesar tinggi dan diam diam menaruh orang orangnya di sekeliling tempat itu. Akan tetapi karena apa yang diutamakan atau yang selalu berada di dalam ingatan para penjaga adalah dua orang pemuda tanggung, tentu saja melihat seorang gadis cilik seperti Lan Giok, mereka tidak menaruh perhatian, sehingga gadis ini dengan amat mudah dapat sampai di gedung Panglima Bucuci. Agaknya memang sudah menjadi nasib Ngo Jiauw eng Lui Hai Siong karena setelah memberi tugas pada para pembantunya sehari penuh ia beristirahat dan makan angin di taman gedung Panglima Bucuci ia mendapat kamar di bangunan samping gedung itu, sehingga mudah baginya untuk malam malam keluar makan angin di taman bunga yang indah itu. Sambil duduk di atas bangku ia menikmati keharuman bunga sambil memandang ke dalam empang di mana ikan ikan yang berwarna emas berenang ke sana ke mari. Tiba tiba ia mendengar teguran yang halus. Ngo jiauw eng, tentu kau yang bernama Njo jiiuw eng bukan? Lui Hai Siong cepat melompat dari tempat duduknya dan bersiap sedia. Ia memandang kesana kemari, akan tetapi tidak kelihatan bayangan orang. Siapa itu?? ia bertanya dengan sikap seperti seekor harimau mencium bau musuhnya. Tubuhnya yang jangkung agak membungkuk itu, seperti sikap seorang jago gulat.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Ha, ha, ha, benar! Kau tentu Ngo jiauw eng! suara yang halus itu menertawakannya dan tiba tiba dan atas pohon yung liu menyambar turun tubuh Lan Giok! Gadis ini sekali memandang saja dapat menduga bahwa indah orangnya yang harus dilenyapkan. Tidak saja ia mengingat pemberitahuan gurunya bahwa Ngo jiauw eng bertubuh jangkung kurus, akan tetapi juga sikap dan kuda kuda orang ini terang menyatakan bahwa ia adalah ahli Eng jiauw kang (Ilmu Silat Kuku Garuda). Siapa kau? Ngo jiauw eng Liu Hai Siong membentak dengan hati lega ketika melihat bahwa yang datang hanyalah seorang gadis kecil. Aku? Bukalah telingamu baik baik. Aku adalah wakil dari para korban Ang bi tin yang kau pimpin. Aku datang hendak mencabut nyawamu! Bagus, bocah lancang mulut kata Ngo jiauw eng sambil maju menubruk dengan kedua tangan dipentang seperti seekor garuda menyambar kelinci. Ia memandang rendah kepada pengunjung nya ini dan merasa yakin bahwa dengan sekali bergerak saja ia dapat merobohkan gadis itu. Tapi ia harus membayar mahal sekali untuk sikapnya yang memandang rendah itu, karena Lan Giok yang memang datang dengan maksud membunuh, segera merendahkan tubuhnya dan melancarkan pukulan Soan hong pek lek jiu yang hebat. Pada saat itu, Ngo jiauw eng sedang menubruk maju, maka tentu saja ia menerima pukulan Lan Giok sepenuhnya. Sebelum dadanya tersentuh kedua tangan gadis kecil yang mendorong ke arah dadanya, ia telah terkena hawa pukulan Soan hong pek lek jiu yang hebat sekali. Terdengar Ngo jiauw eng menjerit ngeri dan tubuhnya terlempar ke belakang, lalu terjengkang sejauh dua kaki lebih. Mulutnya menyemburkan darah segar dan ia merasa dadanya seakan akan remuk!

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Jeritan yang mengerikan itu menggema di udara dan sebelum Lan Giok dapat menyusulkan sebuah pukulan terakhir, tiba tiba berkelebat bayangan merah dan sinar pedang yang terang menyambar ke arah lehernya! Lan Giok tepaksa menunda maksudnya untuk memukul Ngo jiauw eng dan karena serangan pedang itu memang cepat dan berbahaya, ia lalu melemparkan tubuhnya ke belakang dan bergulingan ke belakang sehingga terhindar dari bahaya. Ketika ia berdiri kembali, ternyata bahwa yang menyerangnya adalah seorang gadis baju merah yang cantik sekali, yang usianya lebih tua satu dua tahun daripadanya. Siapa kau? Sungguh berani mati sekali telah melukai Lui ciangkun! bentak gadis baju merah yang bukan lain adalah Sian Hwa adanya. Diam diam Sian Hwa kaget dan kagum sekali ketika melihat bahwa yang dapat merobohkan Ngo jiauw eng dengan sekali pukul adalah seorang gadis cilik yang patut menjadi adiknya! Melihat kemanisan wajah Lan Giok, hati Sian Hwa menjadi ragu ragu untuk melanjutkan serangannya. Mengapa kau menyerang Ngo jiauw eng? tanyanya karena ia maklum bahwa tentu ada sesuatu antara kedua orang ini, maka gadis semuda itu sampai demikian berani menyerang Ngo jiauw eng yang menjadi tamu dari ayahnya. Dia bekas pemimpin Ang bi tin yang jahat mengapa aku takkan membunuhnya? kata Lan Giok mengejek dan kembali Sian Hwa tersenyum. Terdengar keluh Ngo jiauw eng, maka Sian Hwa cepat menghampiri orang itu. Keadaan Ngo jiauw eng Lui Hai Siong benar benar payah. Pukulan Soan hong pek lek jiu yang dilancarkan oleh Lan Giok tadi benar benar hebat sekali dan dengan tepat telah mengenai dadanya, sehingga mendatangkan luka di bahagian dalam dadanya. Bahkan tiga buah tulang rusuknya telah patah!

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Kau kau yang menolongku? Tak ku sangka.... Lui Hai Siong berkata terrngah engah. Apa katamu, Lui cangkun? Apa yang tidak kau sangka ? Sian Hwa terheran mendengar ucapan ini. Tak kusangka bahwa kau kaulah yang malah menolongku! Ngo jiauw eng merasa bahwa ia tak dapat hidup lebih lama lagi dan pukulan hebat itu sedikitnya telah mempengaruhi otaknya. Aku aku yang membunuh ayahmu . aku .... Akan tetapi ucapan ini ditutup oleh pekik kesakitan dan nampak orang itu berkelojotan lalu mati! Sian Hwa memiliki mata tajam dan pendengaran yang halus sekali, maka ia mendengar suara senjata rahasia yang tadi menyambar sebelum Ngo jiauw eng mati. Cepat ia membalikkan tubuh dan memandang kepada Lan Giok yang hendak melarikan diri. Kau kejam! seru nya kepada Lan Giok. Kau menyerang orang yang sudah terluka hebat dengan am gi (senjata rahasia)! Akan tetapi Lan Giok tidak memperdulikannya dan hendak melompat ke atas tembok yang mengelilingi taman bunga itu. Akan tetapi tiba tiba terdengar suara kerincingan dan tahu tahu dari tembok tahu tahu dari tembok itu melayang turun sesosok tubuh yang kate dan yang dengan tangkas nya menyerang Lan Giok. Orang ini adalah Panglima Bucuci sendiri yang tadinya mengadakan perundingan dengan Pat jiu Giam ong dan yang kebetulan sekali pulang dan mendengar ribut ribut di dalam taman gedungnya. Lan Giok yang melihat betapa serangan orang kate ini cukup berbahaya, cepat mengelak dan membalas dingan serangannya yang tidak kalah lihainya. Melihat cara memukul Lan Giok yang mempergunakan Soan hong pek

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

lek jiu, terkejutlah hati Bucuci. Cepat ia berteriak minta bantuan karena ia mengerti ilmu pukulan ini seperti yang dipergunakan oleh pemuda yang sedang dikejar kejarnya. Adapun Sian Hwa yang semenjak tadi berdiri termangu mangu karena masih terpengaruh oleh pengakuan Ngo jiauw eng yang mendatangkan rasa kaget baru sadar setelah mendengar teriakan ayah tirinya yang minta bantuan. Akan tetapi ia masih berlaku lambat karena ada sesuatu yang amat menarik perhatiannya. Ia melihat betapa muka Ngo jiauw eng yang kebetulan berada di bawah sinar lampu, menjadi kehitaman dan melihat lehernya yang membengkak, tahulah Sian Hwa bahwa Ngo jiauw eng tewas karena urat lehernya tertotok dengan keras sekali. Ketika ia memandang ke bawah, ia melihat sebuah besi lonjong dan bukan main terkejut hati Sian Hwa karena ia mengenal besi lonjong kecil itu sebagai bagian daripada kerincingan di baju ayah tirinya! Ia tahu pula bahwa ayah tirinya seringkali mempergunakan besi lonjong itu sebagai senjata rahasianya yang ampuh. Sian Hwa, bantulah aku menangkap penjahat perempuan ini! teriak Bucuci karena ia benar benar terdesak oleh serangan serangan Soan pek lek jiu yang dilancarkan dengan nekat oleh Lan Giok. Mendengar teriakan ini, barulah Sian Hwa bergerak dan melompat mendekati pertempuran itu, setelah lebih dulu mengambil besi kecil yang lonjong itu dan dimasukkan ke dalam saku bajunya. Bocah berani mati, lebih baik kau menyerah dan mengaku mengapa kau menyerang Ngo jiauw eng ! bentak Sian Hwa yang sesungguhnya tidak tega untuk mengeroyok dan membunuh atau melukai gadis kecil ini. Ia akan lebih suka menjadi sahabat baik dari gadis yang ayu dan lihai ini.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Majulah, majulah kau semua, aku tidak takut sedikitpun juga! Lan Giok menjawab dengan suaranya yang bening dan tinggi, lalu memainkan ilmu pukulannya lebih cepat lagi, sehingga tubuhnya yang kecil langsing itu berkelebat ke sana ke mari seperti burung walet menyambar nyambar. Terpaksa Sian Hwa bergerak maju dan begitu ia menggerakkan pedangnya, Lan Giok kaget sekail. Ah, kepandaian nona baju merah ini jauh lebih lihai daripada kepandaian Panglima Bucuci yang pakaiannya memakai kerincingan ini, pikirnya. Akan tetapi ia tidak merasa takut, karena memang Lan Giok tidak pernah mengenal artinya takut. Ia melayani keroyokan dua orang itu dengan nekat dan sebentar saja ia terdesak dan terkurung oleh sinar pedang Sian Hwa! Baiknya nona baju merah ini tidak berniat melukainya, hanya mengurungnya saja dan ingin menawan hidup hidup tanpa melukai nya Kalau Sian Hwa mau melukainya, dengan mengeroyok dua tentu ia akan dapat melakukan hal ini. Jilid VII LEBIH celaka lagi bagi Lan Giok karena jeritan Ngo jiauw eng dan teriakan Bucuci tadi telah terdengar oleh para penjaga dan tak lama kemudian tempat itu telah dikurung oleh para penjaga, bahkan beberapa orang SIWI (pengawal kaisar) yang dipimpin oleh Ang Seng Tong komandan Gi lim kun telah maju mengeroyok Lan Giok! Sekarang keadaan gadis kecil itu benar benar terancam bahaya maut, karena tidak seperti Sian Hwa, yang lain lain melakukan serangan tidak hanya dengan maksud menangkap hidup hidup, melainkan dengan maksud membunuh.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Dan pada saat itulah tiga bayangan dari Yap Bouw, Bun Sam dan Thian Giok melayang melewati tembok yang mengelilingi taman itu. Lan Giok....! seru Bun Sam dan Thian Giok hampir serempak. Akan tetapi kedua orang pemuda ini sudah kalah cepat oleh Yap Bouw yang tanpa mengeluarkan suara apa apa segera menyerbu ke dalam pertempuran itu. Begitu tubuh Yap Bouw terjun, terdengar seruan seruan kesakitan dan teriakan teriakan kaget. Yang berseru kesakitan adalah dua orang siwi yang sekali gerak telah terpegang oleh Yap Bouw dan dilontarkan membentur tembok taman. Adapun seruan seruan kaget itu adalah ketika mereka melihat wajah Yap Bouw yang mengerikan, keadaan menjadi kacau balau, teutama setelah Bun Sam dan Thian Giok ikut terjun ke dalam pertempuran. Tentu saja sekalian siwi itu biarpun di situ ada Bucuci dan Ang Seng Tong merupakan lawan lawan yang empuk bagi Yap Bouw dan dua orang pemuda gagah itu, maka sebentar saja kepungan Lan Giok menjadi longgar. Engko Giok.... dan kau.... kau.... Bun Sam. ! seru Lan Giok dengan girang sekali sambil memukul roboh seorang pengeroyok. Adapun Bun Sam ketika melihat Sian Hwa ikut di antara para pengeroyok, hatinya terasa perih dan kembali ia merasakan kekecewaan yang amat besar. Sedangkan Sian Hwa sendiri ketika melihat Bun Sam, lalu maju menerjang dengan pedangnya. Hem, jadi kau adalah kawanan pemuda yang mengacau kota raja? Alangkah besar nyalimu. Pedangnya bergerak cepat sekali dan sebentar saja Bun Sam sudah harus mengerahkan ginkangnya untuk mengelak dari sambaran sambaran pedang si nona baju merah.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Bun Sam, jangan kau sakiti dia! seru Lan Giok. Dialah satu satunya orang baik diantara semua pengeroyok ini. Mendengar seruan ini, makin sukalah Sian Hwa terhadap Lan Giok, akan tetapi iapun diam diam merasa khawatir kalau kalau ayah tirinya mengerti akan maksud ucapan Lan Giok. Memang tadi ia tidak mengerahkan tenaga dan kepandaiannya ketika mengeroyok Lan Giok dan sengaja ia memberi kelonggaran kepada gadis kecil itu. Akan tetapi tak seorangpun memperhatikan seruan Lan Giok tadi karena semua sedang sibuk dan bingung sekali menghadapi amukan Yap Bouw dan Thian Giok berdua adik kembarnya. Keadaan berobah sama sekali karena kini fihak Bucuci dan kawan kawannya yang mengalami tekanan hebat. Banyak orang sudah terlempar dan terluka dirobohkan oleh para penyerbu dari luar ini. Pertempuran yang nampak seru dan seimbang ini hanyalah yang terjadi antara Sian Hwa dan Bun Sam, akan tetapi baik Sian Hwa maupun Bun Sam dapat melihat bahwa lawan masing masing tidak sesungguhnya ingin merobohkan lawan. Memang hati Sian Hwa svdah menjadi tawar karena ia masih terpengaruh oleh pengakuan Ngo jiauw eng yang katanya membunuh ayahnya dan juga terpengaruh oleh perbuatan ayah tirinya yang membunuh Ngo jiauw eng pada saat orang itu mengadakan pengakuannya. Apalagi sekarang ia menghadapi Bun Sam, pemuda yang sopan santun dan yang telah menimbulkan rasa kagum dalam hatinya. Sebaliknya, Bun Sam tentu saja tidak sanggup untuk menghadapi gadis yang menarik hatinya itu dengan sungguh sungguh, ia hanya mengelak dan menangkis semua serangan ini. Sian Hwa dan diam diam ia merasa kagum karena ilmu pedang gadis itu benar benar tinggi.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Baik tenaga lweekang maupun ginkang ternyata bahwa gadis baju merah ini tidak kalah banyak olehnya sendiri. Ia melihat bahwa biarpun fihak lawan sudah banyak yang rubuh, namun kepungan makin lama makin rapat dan taman bunga itu telah terkurung oleh barisan siwi yang bersenjata lengkap. Suheng, Thian Giok dan Lan Giok, mari kita lari saja! teriak Bun Sam yang merasa khawatir juga, Yap Bouw agaknya menyetujui ajakan sutenya ini, karena tiba tiba ia menangkap tangan Lan Giok dan diajak nya gadis ini melompat ke arah tembok. Beberapa orang siwi menyerbu untuk mencegah mereka melompat ke atas tembok, akan tetapi dengan beberapa gerakan saja, Yap Bouw dan Lan Giok telah merobohkan empat orang, sehingga yang lain lain menjadi sangsi. Akan tetapi, pada saat itu terdengar bentakan keras sekali dan tahu tahu Yap Bouw dan Lan Giok terpbanting keras tanah oleh dorongan angin pukulan yang hebat luar biasa. Dari atas tembok turun tubuh seorang tinggi besar yang memiliki gerakan lambat, namun ketika ia menurunkan ke dua kakinya di atas tanah, Bun Sam sendiri merasa tanah yang diinjaknya tergetar. Inilah Pat jiu Giam ong Liem Po Coan atau Jenderal Liem yang datang diikuti puteranya, yakni Liem Swee. Otomatis orang yang mengeroyok, termasuk Sian Hwa, menghentikan gerakannya dan semua orang berdiri dengan hormat memandang kepada jenderal yang lihai itu. Yap Bouw dan Lan Giok cepat bangun dan mereka ternyata tidak terluka, hanya roboh saja karena tidak dapat menahan dorongan angin pukulan yang luar biasa tadi. Sementara itu Pat jiu Giam ong memandang dengan tajam sekali. Ditatapnya Yap Bouw dengan sepasang matanya yang bundar, dari muka sampai ke kaki.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Tiba tiba ia tertawa terkekeh kekeh, suara ketawanya nyaring dan besar sekali, membuat daun daun pohon kembang di taman itu tergetar. Ah, sudah kuduga. Tentu kau yang berdiri di belakang semua ini. Yap goanswe (Jenderal Yap) Ketika aku mendengar betapa kau ditolong oleh suheng dan belum mati, aku merasa yakin bahwa tentu sewaktu waktu kau akan muncul dan menuntut balas. Benar saja, sekarang kau datang membawa anak anak kecil ini ? He, jenderal yang sudah roboh, setelah kau gagal memimpin pasukan apakah sekarang kau hendak memimpin anak anak kecil ini? Ha, h, ha! Berkali kali Yap Bouw menggoncangkan tangannya mencegah Pat jiu Giom ong bicara, akan tetapi terlambat semua ucapan itu telah terdengar jelas oleh Thian Giok dan Lan Giok. Kedua anak ini memandang ke arah Yap Bouw dengan mata terbelalak dan mulut celangap dan wajah pucat, kemudian hampir serempak mereka menubruk kedua kaki Yap bouw sambil menangis. Ayah.... ! Yap Bouw terpaksa tak dapat menyimpan rahasianya lagi yang sudah dibuka oleh Pat jiu Giam ong Liem Po Coan, maka iapun lalu berlutut dan memeluk kedua orang anaknya. Untuk beberapa lama tak terdengar suara sedikitpun juga diantara orang orang yang menyaksikan pertemuan mengharukan ini, akan tetapi Pat jiu Giam ong segera merasa hilang sabar. Ia berkata dengan suaranya yang menggelegar. Yap goanswe, sebagai orang yang pernah menduduki pucuk pimpinan balatentara, aku dapat memaafkan kau dan takkan mengganggumu. Akan tetapi, terpaksa aku harus menahan puterimu yang telah membunuh Ngo jiauw eng dan juga menahan anak muda ini yang telah membunuh Toa to Hek mo! ia menunjuk ke arah Bun Sam.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Mendengar tuduhan ini, Thian Giok melompat berdiri. Bukan dia, melainkan akulah yang telah membunuh Toa to Hek mo! katanya dengan berani sambil menentang pandangan mataPat jiu Giam ong. Akan tetapi, tentu saja Yap Bouw tidak merelakan kedua anaknya hendak ditawan, maka dengan sepasang mata bersinar sinar ia menentang pandang mata Pat jiu Giam ong dan berdirilah ia perlahan perlahan bagaikan seekor naga bangkit hendak melawan musuh. Dengan gerak jari tangan yang hanya dimengerti oleh Bun Sam, ia berkata kepada Pat jiu Giam ong bahwa untuk melindungi kedua anaknya ia rela mati di tangan Pat jiu Giam ong! Melihat ini, Bun Sam lalu melangkah dan berkata. Pat jiu Giam ong Liem locianpwe! Kami telah mendengar namamu yang besar sebagai seorang tokoh yang menduduki kedudukan cianpwe, maka patutkah kalau locianpwe hendak menangkap dua orang muda seperti putera puteri suhengku ini? Kalau benar benar locianpwe hendak menawan mereka terpaksa kami berempat akan mengadu nyawa, kalau sampai kami binasa di tanganmu, guruku Kim Kong Taisu dan guru kedua anak kembar ini, yaitu Mo bin Sin kun tentu akan mencarimu dan minta pertanggungan jawabmu! Mendengar disebutnya nama Kim Kong Taisu dan Mo bin Sin kun, benar saja Pat jiu Giam ong agak tergerak hatinya. Akan tetapi sambil tersenyum ia berkata. Bocah berlidah lemas, kaukira aku takut untuk membela keadilan? Siapa yang membunuh harus dihukum, siapa bilang aku akan berlaku sewenang wenang? Sambil berkata demikian, ia mengulur kedua tangannya ke arah Thian Giok dan Lan Giok. Yap Bouw melompat maju dan mengirim pukulan ke arah dada Pat jiu Giam ong akan tetapi entah bagaimana, tahu tahu Yap Bouw terlempar ke belakang bagaikan

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

didorong dengan kuat sekali! Pat jiu Giam ong tertawa dan melanjutkan niatnya menangkap Thian Giok dan Lan Giok. Tunggu dulu, Liem locianpwe! kembali Bun Sam berseru keras. Kau bilang bahwa yang membunuh harus dihukum. Ngo jiauw eng dan Toa to Hek mo adalah bekas bekas pemimpin Ang bi tin, entah berapa banyak nyawa yang tewas di dalam tangan mereka. Apakah mereka yang telah membunuh banyak orang itu tidak pantas sekarang menerima hukuman mati pula? Seorang kuncu (budiman) akan berpikir lebih dulu dengan masak sebelum bertindak dengan lancang! Kembali Pat jiu Giam ong tertegun mendengar ini, lalu memandang dengan tajam kepada Bun Sam, Anak kalau sekiranya kau bukan selancang itu, aku senang sekali kepadamu. Sekarang aku adalah seorang Jenderal dan dua orang anak ini adalah pembunuh pembunuh perwira. Aku hendak menangkapnya dan hendak kulihat siapa yang berani menghalangiku! Maaf Liem locianpwe, akulah yang akan menghalangimu! seru Bun Sam dengan amat berani dan ketika jenderal itu kembali mengulurkan kedua tangannya untuk menangkap Thian Giok dan Lan Giok Bun Sam melompat ke depan dan menyerangnya dengan pukulan Thai lek Kim kong jiu yang bebat! Pukulan ini ditujukan ke arah jalan darah di pangkal kedua lengan, yakni di dekat pundak. Biarpun yang menyerangnya hanya seorang pemuda tanggung, akan tetapi Pat jiu Giam ong maklum akan kelihaian pukulan ini yang dikenalnya sebagai pukulan dari Kim Kong Taisu. Maka ia tidak berani memandang ringan pukulan ini dan cepat menggerakkan tubuhnya yang menjadi miring dan cepat bagaikan kilat ia

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

mengulurkan tangan kanannya yang panjang dan kuat untuk menangkap tangan kiri Bun Sam. Gerakan tangkapan ini sama sekali tak terduga datangnya dan hampir saja pergelangan tangan Bun Sam tertangkap. Akan tetapi Bun Sam cepat menarik kembali tangannya dan sambil menggulingkan, tubuhnya, ia melepaskan diri dan tangkapan, bahkan langsung ia melompat mengirim tendangan dari bawah yang menjadi bagian dari ilmu Silat Liok te ciang hwat, (Ilmu Silat Bawah Tanah) yang mengutamakan tendangan beruntun yang disebut Siauw cu wi. Kembali Pat jiu Gjam ong tidak berani berlaku sembrono karena tendangan yang ditujukan ke arah tubuh bagian bawah ini tak kalah berbahayanya dengan pukulan pertama tadi. Diam diam kaget juga melihat lihainya pemuda yang masih baru dewasa ini dan tahulah dia bahwa kepandaian kedua muridnya, yakni Sian Hwa dan puteranya sendiri Liem Swee, masih kalah setingkat kalau dibandingkan deagan pemuda murid Kim Kong Taisu ini! Aku harus merobohkan dia dulu secepatnya baru menangkap yang dua itu, pikirnya. Setelah berpikir demikian, ia lalu mengangkat tangannya dan menangkis tendangan itu dengan mengerahkan tenaganya, hendak menindih kaki Bun Sam di bawah telapak tangannya. Akan tetapi Bun Sam adalah seorang anak yang cerdik ia tahu bahwa tenaga lweekangnya masih kalah jauh oleh tokoh besar ini, maka tentu saja ia tidak sudi kakinya digempur dan cepat menariknya kembali. Pada saat itu, Pat jiu Giam ong sudah menyerangnya dengan menggerakkan kedua tangannya sedemikian rupa, sehingga kedua tangan itu nampaknya berobah menjadi delapan! Inilah keistimewaannya, sehingga ia mendapat julukan Pat jiu Giam ong (Raja Maut Tangan Delapan)!

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Bun Sam pernah mendengar dari suhunya bahwa Pat jin Giam ong istimewa sekali dengan ilmu silatnya yang disebut Pat kwa bi jiang hwat yang mengutamakan kecepatan gerak tangan, sehingga lawan menjadi bingung dan kabur pandangan matanya. Maka ia lalu berseru keras, Lan Giok dan Thian Giok, lekas kalian lari! Sambil berkata demikian ia lalu menghadapi Pat kwa bi ciang hwat yang lihai itu dengan pukulan pukulan Thai lek Kim kong jiu dan Soan hong pek lek jiu ganti berganti ! Akan tetapi, mana kedua saudara Yap itu sudi meninggalkan tempat itu hanya untuk menyelamatkan diri sendiri? Bahkan mereka seakan akan menerima komando dan serentak mereka maju menerjang Pat jiu Giam ong yang kini dikeroyok tiga oleh Bun Sam, Thian Giak dan Lan Giok! Akan tetapi, tiga orang muda ini tentu saja masih belum dapat melawan Pat jiu Giam ong yang menjadi seorang diantara tokoh besar dunia persilatan, seorang berilmu tinggi yang tingkat kepandaiannya sudah sejajar dengan guru guru anak anak ini! Dengan Pat kwa bi ciang hwat yang di lakukan dengan pengerahan tenaga dan kepandaian sepenuhnya, akhirnya ia berhasil mendorong Bun Sam sampai roboh terguling guling beberapa tombak jauhnya dan sebelum mereka mengetahui bagaimana gerakan lawan tinggi besar ini, Thian Giok dan Lan Giok tahu tahu telah dapat dipegang pergelangan lengannya dan ketika keduanya berusaha memberontak, tekanan pada pergelangan tandan mereka mengeras dan mereka merasa lumpuh sama sekali! Akan tetapi pada saat itu, berkelebat bayangan yang seperti petir menyambar cepatnya dan Pat jiu Giam oag merasa betapa tengkuknya diserang dengan hebat tekali dari atas! Ia terpaksa melepaskan pegangannya pada tangan kedua anak kembar itu dan cepat mengangkat tangan

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

menangkis pukulan yang hebat dan yang belum diketahui betul dari siapa datangnya ini. Duk.... ! Dua pasang tenaga yang saling beradu dan Pat jiu Giam ong terhuyung mundur sampai lima tindak! Ketika ia memandang, tetapi yang menyerangnya adalah seorang yang berwajah seperti setan dan yang sekali betot saja telah membawa Lan Giok dan Thian Giok melompat ke atas genteng. Mo bin Sio kun....! bentak Pat jiu Giam ong marah. Tadi ia sampai terhuyung lima tindak bukan karena ia kalah kuat oleh Mo bin Sin kun, melainkan karena tadinya ia tidak tahu siapa yang menyerangnya, maka agak memandang rendah dan ketika menangkis tidak mempergunakan seluruh tenaganya, sehingga ia sampai terpental dan terhuyung mundur. Pat jiu Giam oag, kematian orang orangmu akulah yang menyuruh murid muridku. Kalau kau penasaran, kau boleh mencari aku ke puncak Sian hwa san! Setelah berkata demikian, sekali berkelebat, Mo bin Sin kun lenyap dari pandangan mata. Mo bin Sin kun, orang sombong! Tunggu tiga tahun lagi pasti kita akan bertemu! Pat jo Giam ong mengerahkan tenaga khikang dan menyusul dengan suaranya yang keras dan tawar. Akan tetapi tidak ada jawaban. Sementara itu, Bun Sam lalu memimpin tangan suhengnya dan sebelum ___ ia menjura kepada Pat jiu Giam ong sambil berkata. Aku yang muda sudah menerima pelajaran dari Liem locianpwe, banyak terima kasih! Pat jiu Giam ong memandang dangan geram. Pada saat itu, Bucuci melompat dan menyerang Bun Sam sambil

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

berseru. Anak setan, jangan mengharap akan dapat pergi dan sini! Bun Sam terkejut dan cepat mengelak, ia bersiap sedia untuk melawan jika dikeroyok dan juga Yap Bouw bersiap untuk bertempur mati matian. Akan tetapi terdengar bentakan dari Liem goanswe dan semua orang menahan serangannya. Melihat muka gurumu kau boleh pergi dari sini ! katanya kepada Bun Sam, kemudian kepada Yap Bouw ia berkata pula.Dan kaut Jenderal Yap, biarlah kali ini kau pergi dari sini. Akan tetapi lain kali kalau kita bertemu, aku takkan dapat melepaskan engkau lagi, harus kutangkap untuk dihadapkan kepada hongsiang (kaisar). Bun Sam menjura lagi dan menarik tangan Yap Bouw yang mendelikkan matanya kepada Pat jiu Giam ong. Keduanya lalu pergi dari situ dan kembal ke dalam kuil. Suheng, sekarang tak dapat tidak kau harus pergi ke Sian hwa san menyusul isteri dan anak anakmu. Yap Bouw menggeleng gelengkan kepalanya dengan tegas Suheng, Lan Giok dan Thian Giok sudah mengetahui bahwa kau adalah ayah mereka dan apakah kkaukira mereka tidak akan menceritakan hal ini kepada ibunya? Kalau mereka sudah tahu bahwa kau masih hidup, akan tetapi tidak mau menjumpai mereka, bukankah hal ini akan menghancurkan perasaan mereka? Yap Bouw mengerutkan kening dan ia berpikir pikir dengan keras. Akhirnya ia harus menyetujui pendapat sutenya ini, maka ia memberitahukan dengan gerak jari tangan bahwa ia akan mencoba, mendapatkan harta pusaka itu, baru kemudian ia akan menyusul anak isterinya di puncak Sian hwa san. Mereka lalu berunding dan menetapkan untuk memasuki taman gedung Panglima

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Bucuci dua hari lagi setelah keadaan menjadi aman. Karena mereka tidak dimusuhi oleh Pat jiu Giam ong, maka mereka boleh merasa aman tinggal di kota raja. Ibu, katakan saja terus terang, bagaimanakah ayahku meninggal dunia dan siapa pembunuhnya? berulang ulang pertanyaan ini diajukan oleh Sian Hwa kepada Tan Kui Eng, isteri dari Panglima Bucuci. Sian Hwa, mengapa kau ingin membongkar dan menggali perkara yang sudah lalu? Apakah kau tak merasa puas hidup di dalam rumah ini? Kurang bagaimanakah ibu dan ayahmu mencintai mu? Kian Hwa, pertanyaanmu itu menghancurkan hatiku. Kalau kau memang berbakti kepada ibumu, jangan kau menanyakan hal itu, nak! Ibu, mengapa itu berkata demikian? Aku tahu bahwa ayahku telah meninggal dunia, akan tetapi karena ibu pernah menyatakan bahwa nyata dahulu adalah seorang perwira, maka bukankah sudah menjadi hakku untuk mengetahui siapa dia dan di mana makamnya? Ibu, kalau ibu tidak memberitahukan hal ini, selamanya aku akan merasa sengsara dan berduka. Kui Eng memeluk puterinya yang menangis sambil merebahkan kepala di pangkuan ibunya. Sian Hwa, kau benar benar keras hari, seperti ayahmu dahulu. Ketahuilah bahwa ayahmu dahulu adalah seorang perwira, she Kui, seorang perwira gagah berani yang gugur dalam pertempuran ketika terjadi perang. Kemudian setelah pemerintah yang sekarang berdiri, ayah tirimu yang sekarang mengambil ibumu sebagai isteri Nah, soal yang begitu saja mengapa harus dipikirkan?

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Akan tetapi diam diam Sian Hwa dapat menduga bahwa ibunya telah membobong. Ia tidak percaya kalau ayahnya gugur dalam pertempuran biasa. Bukankah Ngo jiau eng sudah mengaku bahwa Ngo jiauw eng Lui Hai Siong yang membunuh ayahnya? Dan mengapa pula ayah tirinya membunuh Ngo jiauw eng ketika mendengar orang mengucapkan pengakuannya? Ibu, apakah sejak dahulu Ngo jiauw eng Lui Hai Siong membantu ayah dalam barisan Ang bi tin? Mendengar disebutnya Ang bi tin, ibanya nampak terkejut, akan tetapi ia lalu mengangguk. Apakah semenjak dahulu Ngo jiauw eng berkedudukan di Tong seng kwan? Kembali ibunya mengangguk. Sian Hwa tidak melanjutkan pembicaraan itu, di dalam hatinya mengambil keputusan yang kalau diutarakan kepada ibunya mungkin akan membuat nyonya itu menjadi terkejut sekali. Ayah tirinya sedang menerima tamu yang aneh, yakni lima orang yang kelihatannya tidak menyenangkan. Kemudian Sian Hwa mendengar bahwa mereka itu adalah Sin beng Ngo hiap dan bahwa yang tertua diantara mereka, yakni Bouw Ek Tosu adalah guru dari Ngo jiauw eng Lui Hai Siong. Maka tertariklah hati gadis ini dan diam diam ia mengintai dari balik pintu ketika ayah tiri nya sedang barcakap cakap dengan lima orang itu. Ia melihat Bouw Ek Tosu dalam keadaan marah benar. Kurang ajar sekali Mo bin Sin kun! dahulu dia telah menghina kami dan sekarang bahkan berani membunuh murid kami. Tentu saja kami takkan tinggal diam dan kami akan mengejarnya ke Sian hwa san. Kematian muridku harus dibelas ! Ucapan ini terdengar gagah berani, akan tetapi tentu Sian Hwa dan juga Bucuci tidak tahu bahwa

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

lima orang ini pernah dihajar jatuh bangun oleh Mo bin Sin kun di dalam sebuah restoran. Bucuci lalu menceritakan tentang kedatangan kedua orang murid Mo bin Sin kun yang ketika hendak diungkap oleh Pat jiu Giam ong, ditolong pula oleh Mo bin Sin kun. Juga ia menceritakan betapa Mo bin Sin kun telah berjanji hendak mengadu kepandaian tiga tahun kemudian di puncak Gunung Kembang Dewa. Kalau begitu, kami takkan mendahului Liem goanwse, kata Bouw Ek Tosu. Dan sekarang kami hendak menyampaikan berita yang tentu akan membuat ciangkun merasa heran, tetapi juga girang. Berita apakah itu, totiang? tanya Bucuci. Akan tetapi sebelumnya harap ciangkun suka berjanji bahwa hasil daripada berita ini akan dibagi rata dan ciangkun berhak mengambil seperenam bagian bagaimana? tanya Si Pacul Kilat Kui Hok, orang ke empat dari Sin beng Ngo hiap yang terkenal cerdik. Berita apakah itu yang menghasilkan? Dan apa pula hasilnya? Bucuci bertanya dengan tertarik sambil mengerutkan kening. Bouw Ek Tosu tertawa. Bucuci ciangkun, pendeknya pinto dapat memastikan bahwa hasil dari perkara ini, biarpun hanya seperenam bagian mu, cukup untuk membuat ciangkun mendapatkan harta benda yang amat besar harganya. Pendeknya kata kau tinggal berjanji saja, ciangkun dan kami akan memberitahukan kepadamu. Bucuci makin tertarik. Siapa orangnya yang tidak mau mendapat untung, apalagi kalau hanya dengan mendengar pemberitahuan orang lain belaka? Ia lalu berjanji bahwa dia

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

akan suka menerima seperenam bagian membantu usaha lima orang tamunya itu.

dan

akan

Rahasia ini adalah tentang adanya harta terpendam yang tak ternilai besarnya, ciangkun. Dan harta terpendam itu berada di tempat ini. Di simi? Ya, di rumah ini, karena harta itu dahulu adalah simpanan dari Jenderal Yap Bouw yang dahulu tinggal di sini. Tempatnya adalah di taman bunga di belakang gedungmu ini. Maka teringatlah Bucuci akan kunjungan pemuda yang ternyata adalah sute dari Yap Bouw itu. Kemudian beramai ramai, enam orang ini lalu membawa cangkul dan atas petunjuk Bouw Ek Tosu, mereka menggali tanah di bawah pohon yang liu dan mengeluarkan tiga peti yang penuh dengan harta benda berupa emas dan permata! Itulah harta pusaka yang dahulu disimpan oleh Yap Bouw. Bagaimana Sin beng Ngo hiap dapat mengetahui akan ____ hal ini memang tidak _____ .... dahulu mempunyai banyak sekali hubungan dengan orang orang dari golongan hek to dan akhirnya dengan cara kebetulan ia dapat mendengar tentang rahasia ini dari seorang bekas pelayan Jenderal Yap Bouw yang mengetahui penyimpanan harta pusaka itu oleh Yap Bouw. Sian Hwa yang melihat ini samua diam diam merasa kasihan kepada bekas jenderal yang bernama Yap Bauw itu. Ia tidak tahu mengapa bekas jenderal itu memiliki wajah yang demikian menyeramkan seperti setan. Akan tetapi wajah sutenya membuat hatinya selalu berdebar apabila ia teringat kepada nya. Bun Sam, sungguh pemuda yang tampan dan gagah, juga amat berani, ia merasa kagum sekali kalau mengingat betapa untuk membela kawan

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

kawannya, Bun Sam bahkan berani menghadapi Pat jiu Giam ong gurunya! Ketika ayahnya membagi bagi harta pusaka itu dengan Sin beng Ngo hiap, ia mendengar bahwa Sin beng go hiap hendak menjual benda benda berhanga itu ke kota Kaifeng di mana terdapat banyak sekali pedagang bangsa asing dari dunia barat, yang berani membeli mahal beada benda berharga semacam itu. Sejak peristiwa pembunuhan Ngo jiauw eng, seringkali Sian Hwa nampak termenung dan berduka. Dua malam berikutnya ia duduk di dalam kamarnya, sama sekali tak dapat tidur biarpun waktu telah menjelang tengah malam. Ia merasa amat gelisah dan tak tentu pikiran. Di hadapan ibunya dua hari yang lalu ia telah mengambil keputusan untuk menyelidiki keadaan mendiang ayahnya di kota Tong seng kwan. Ia hendak menyelidiki keadaan Ngo jiauw eng ketika masih menjadi pemimpin Ang bi tin. Siapa tahu kalau kalau diantara keluarga atau kawan kawan Ngo jiauw eng ada yang mengetahui tentang rahasia pembunuhan ayahnya yang telah diakui oleh Ngo jiauw eng sendiri. Malam itu hawa amat panas maka makin gelisahlah Sian Hwa. Ingin sekali ia pergi ke Tong seng kwan untuk melakukan penyelidikannya, akan tetapi ia takut kalau kala ia akan menimbulkan kecurigaan di hati ayahnya. Besi kecil lonjoag dari bagian kerincingan ayahnya yang sesungguhnya merupakan perenggut nyawa Ngo jiauw eng, masih disimpannya. Benda itulah yang menjadikan ia penasaran dan hendak membongkar semua rahasia ini. Sudah terang bahwa Ngo jiauw eng membunuh ayahnya dan agaknya ayah tirinya tidak suka kalau hal ini diketahui olehnya. Mengapa Ngo jiauw eng membunuh ayahnya dan bagaimana? Dan mengapa Bucuci yang menjadi ayah tirinya itu agaknya mempunyai hubungan dengan peristiwa

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

ini? Dan ibunya.... mengapa pula ibunya sampai menjadi isteri Panglima Bucuci dan agaknya ibunya tidak suku pula bercerita tentang ayahnya? Semua pertanyaan ini mengaduk pikiran Sian Hwa, membuatnya tergolak golek di atas pembaringannya di dalam kamarnya yang telah gelap itu. Akhirnya ia tidak dapat menahan kegerahannya dan sekali melompat ia telah berada di dekat jendela kamarnya dan tiba tiba dibukanya daun jendela kamarnya itu agar angin dapat masuk ke dalam kamar. Kamar gadis ini berada di bagian paling belakang gedung, karena ini memang kehendak gadis itu sendiri, ia menghendaki kamar yang langsung berada di pinggir taman bunga agar ia mudah menikmati taman bunga itu, pula kalau ingin melatih silat, hanya tinggal keluar saja dari kamarnya. Ketika ia membuka daun jendela, cahaya bulan memasuki jendelanya, diikuti oleh silirnya angin malam yang nyaman. Tiba tiba Sian Hwa menahan nafas dan urat urat tubuhnya menegang, ia melihat bayangan yang cepat sekali melompat ke dalam taman. Cepat gadis itu lalu menyambar pedangnya yang diletakkan di dekat pembaringan, lalu dengan amat hati hati ia melompat keluar dari jendela dan menuju ke bagian taman dimana ia lihat bayangan tadi berkelebat. Karena ia yang menjadi pemilik taman dan setiap hari bermain di tempat ini, maka ia sudah hafal sekali akan keadaan di situ dan dapat menghampiri tempat itu tanpa menerbitkan suara. Setelah dekat, ia mengintai dari balik rumpun pohon bunga dan bukan main heran dan kagetnya ketika ia melihat bahwa yang berada di bawah pohon Yang liu adalah dua orang dan bukan lain ialah Bun Sam dan Yap Bouw! Akan tetapi, ia segera ingat akan harta pusaka yang dibongkar oleh ayahnya dan Sin beng Ngo hiap, maka

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

tahulah ia bahwa bekas jenderal ini datang tentu hendak mencari harta simpanannya! Ji wi (tuan berdua) datang di taman orang mau apakah? Ia menegur sambil melompat keluar dari tempat sembunyinya. Bukan main kagetnya Yap Bauw dan Bun Sam. Yap Bouw yang tidak mau mencari perkara dan keributan, segera memberi tanda kepada sutenya untuk pergi dan ia sendiri setelah menjura ke arah Sian Hwa, lalu melompat ke atas tembok taman. Akan tetapi Bun Sam ketika melihat gadis yang tak pernah dilupakannya itu, menjadi berdebar hatinya dan berdiri menghadapinya bagaikan patung. Kalau suhengnya melompat ke atas tembok ia bahkan melangkah maju mendekati Sian Hwa, lalu menjura dengan hormat ambil tersenyum ramah. Maaf sebanyak banyaknya, nona. Aku dan suhengku kembali datang mengganggu di dalam tamanmu. Kalian tentu datang umak mencari harta terpendam itu, bukan? secara langsung Sian Hwa bertanya dengan suaranya yang halus, tetapi cukup mengejutkan Bun Sam. Pemuda ini mengangkat muka memandang dengan pandang mata menyelidik. Karena pada saat itu Sian Hwa juga sedang menatapnya, maka dua pasang mata saling pandang dan sinar mata mereka beradu lama. Akan tetapi akhirnya Sian Hwa menundukkan mukanya dengan dada berdebar. Ada sesuatu dalam pandang mata pemuda itu yang membuatnya merasa malu dan tidak karuan rasanya. Nona, bagaimana kau bisa tahu? Sin beng Ngo hiap yang datang membicarakan harta pusaka itu dan kalau kau dan suhengmu datang untuk mencari harta itu, kalian telah terlambat dua hari.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Sin beng Ngo hiap? Mereka datang? Sian Hwa mengangguk. Ya, dua hari yang lalu mereka datang dan telah membawa pergi harta terpendam itu. Kau lihat sendiri, bukankah tanah itu masih kelihatan bekas galian? Nonn itu menunjuk ke bawah pohon yang liu. Dan ayahmu membiarkannya? Wajah Sian Hwa memerah. Biarpun kini semenjak ayahnya membunuh Ngo jiauw eng, ada sesuatu ganjalan di dalam hatinya terhadap ayah tirinya, namun ia tidak suka membicarakan ayahnya dengan orang lain. Ayah tidak ada sangkut pautnya dengan urusan ini, katanya tegas sambil mencoba untuk melupakan bagian seperenam yang diterima oleh ayahnya dari Sin beng Ngo hiap. Akan tetapi Bun Sam tidak merasa akan ketegasan ucapan ini karena ia telah berpaling dan memanggil ke arah tembok. Suheng! Ke sinilah, ada berita penting! Maka berkelebatlah bayangan Yap Bouw dari atas tembok dan kini si muka tengkotak ini berdiri di belakang sutenya. Sian Hwa merasa ngeri melihat muka orang ini, akan tetapi ia juga merasa amat kasihan kalau mengingat betapa harta simpanan orang ini telah diambil oleh Sin beng Ngo hiap dan ayah tirinya. Dengan gerak jari tangannya, Bun Sam memberitahukan kepada suhengnya tentang pengambilan harta terpendam itu. Wajah Yap Bouw menjadi semakin buruk dan ia melompat ke tempat di mana dahulu ia menanam hartanya. Benar jaja, ketika ia membanting kakinya, tanah itu menjadi berlobang, tanda bahwa tanah di situ masih empuk bekas di gali orang, ia menggeleng gelengkan kepalanya

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

dengan duka dan Bun Sam juga menarik napas panjang sambil memandang ke arah suhengnya dengan kasihan. Sian Hwa yang melihat pandangan mata Bun Sam ke arah suhengnya ini, mejadi terharu. Aku tahu ke mana Sin beng Ngo hiap membawa harta pusaka itu! katanya tiba tiba. Bun Sam dan Yap Bouw cepat menengok dan memandang tajam, Yap Bouw menggerak gerakkan jari tangannya kepada Sian Hwa akan tetapi tentu saja gadis itu tidak mengerti sama sekali apa yang dikehendaki oleh orang itu. Bun Sam cepat menterjemahkan pertanyaan Yap Bouw. Nona yang baik, tolonglah kau beri tahukan, kemana Sin beng Ngo hiap membawa harta itu? Dua hari yang lalu mereka datang mengambil harta itu dan katanya mereka hendak menjual barang barang itu ke kota Kaifeng. Mendengar ucapan ini. Yap Bouw lalu menjura kepadanya dan segera mengajak sutenya pergi, lalu mendahului melompat keluar taman. Nona, kau sungguh berbudi halus dan berhati mulia. Banyak terima kasih atas petunjukmu, nona. Aku amat.... tiba tiba terdengar suara kerincingan dari dalam gedung itu dan Sian Hwa segera berbisik. Pergilah cepat.! Bun Sam mengangguk. Belum habis bicaraku besok malam aku akan datang lagj melanjutkannya! Setelah berkata demikian, sekali berkelebat telah berada di luar taman menyusul suhengnya. Sian Hwa berdiri termenung sampai lama, hati nya serasa terbawa pergi oleh pemuda yang halus dan amat menarik hatinya itu. Pemuda itu telah pergi, belum tentu selama hidupnya akan bertemu lagi. Akan tetapi, Bua Sam tadi berkata bahwa besok malam akan datang, betulkah? Dan apa kehendaknya? Diam diam in merasa betapa

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

mukanya menjadi hangat, tanda bahwa darahnya naik semua ke mukanya dan dadanya menjadi makin berdebar. Kemudian ia lalu berlari kembali ke kamar nya lalu tidur nyenyak dengan bibirnya tersenyum manis. Adapun Yap Bouw yang berlari kembali ke kuilnya, lalu berunding dengan Bun Sam. Bekas jenderal ini mengambil keputusan untuk mnuju langsung ke Kaifeng untuk mencoba menyusul Sin beng Ngo hiap, kemudian dari Kaifeng ia hendak terus menuju ke Sian hwa san untuk menjumpai anak istermya. Kepada Bun Sam ia berpesan agar sutenya ini memberitahukan segala hal ihwalnya kepada Kim Kong Taisu guru mereka. Bun Sam menyatakan persetujuannya dan malam hari itu juga Yap Bouw berangkat menyusul ke Kaifeag Adapun Bun Sam yang ditinggal pergi suhengnya, lalu membaringkan tubuhnya di dalam kamar kuil itu sambil membayangkan.... wajah Sian Hwa! Aku harus menjumpai dia sekali lagi sebelum kembali ke Oei san! Ia mengambil keputusan di dalam hatinya dan malam itu iapua tidur nyenyak dengan bibir tersenyum bahagia ! Pada keesokan harinya, baru saja matahari terbenam dan malam menjelang datang, Bun Sam sudah ada di belakang pagar tembok yang mengelilingi taman bunga di belakang rumah Panglima Bucuci. Hatinya sudah ingin sekali melompati pagar tembok dan mencari dara jelita yang telah membetot sukmanya itu. bertemu muka dan bercakap cakap. Akan tetapi keadaannya mencegahnya karena ia maklum bahwa tempat ini tidak boleh dibuat main main. Para pelnyan masih terdengar sibuk di belakang dan kalau sampai hadirnya diketahui oleh Bucuci, tidak saja ia akan mengalami serangan serangan lagi, bahkan mungkin sekali ayah gadis itu akan timbul hati curiga dan akan mengira

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

puterinya berlaku yang bukan bukan. Ah, Bun Sam tidak akan membikin gadis itu kena terfitnah. Sian Hwa .... bisiknya berkali kali. Ia telah mendengar nama gadis ini disebut oleh ayahnya. Sungguh nama yang indah, sesuai dengan orangnya. Tiba tiba berkerut kening pemuda ini. Ia berdiri di luar pagar tembok dengan tubuh tak bergerak dan otaknya diperas mengingat ingat, serasa pernah didengarnya nama Sian Hwa ini, akan tetapi entah di mana. Serasa tidak asing nama Sian Hwa di dalam pendengarannya, Sian Hwa. Di mana aku pernah mengenal orang barnama Sian Hwa? Selamanya aku belum pernah berkenalan dengan wanita, kecuali Lan Giok yaug belum lama ini dijumpainya. Tak mungkin pula aku pernah bertemu dengan dia.... demikianlah jalan pikiran Bun Sam sambil berdiri melamun di dekat pagar tembok. Karena tempat itu memang merupakan jalan kecil umum, maka ia tidak khawatir kalau kalau akan dicurigai orang. Kemudian ia menggerakkan kakinya lagi berjalan jalan ke sana ke mari di luar pagar sambil menanti sampai malam agak larut dan sampai suara suara pelayan di belakang pagar tembok itu menghilang. Padu saat ia hendak melompati pagar tembok itu, tiba tiba ia melihat bayangan orang berkelebat dengan gerakan yang luar biasa cepatnya, melompati pagar tembok taman itu di bagian lain. Bun Sam terkejut dan cepat barsembunyi sambil memandang ke arah bayangan orang itu. Ia mendapat kenyataan bahwa bayangan itu ternyata adalah Liem Swee pemuda tampan dan gagah yang kemarin datang bersama Pat jiu Giam ong Liem Po Cwan! Biarpun Bun Sam belum tahu siapa adanya pemuda tampan itu, namun karena melihat kemarin datang bersama Pat jiu Giam ong, ia dapat menduga bahwa tentu pemuda itu mempunyai hubungan baik dengan keluanga Bucuci. Akan

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

tetapi mengapa pemuda itu juga datang melalui pagar tembok seperti seorang asing? Diam diam dia menjadi tertarik, akan tetapi ia tidak berani segera menyusul karena maklum bahwa pemuda itu berkepandaian tinggi dan tentu akan dapat melihatnya. Ia tidak ingin siapapun juga melihat dia memasuki taman itu, bukan karena takut, akan tetapi karena ia ingin dapat berjumpa dengan gadis pujaan kalbunya dan juga ia tidak ingin menyeret Sian Hwa dalam kecemaran nama sebagai seorang gadis puteri panglima yang gagah dan berwatak baik dan bersih. Setelah menanti agak lama, barulah ia melompat dengan gerakan hati hati sekali ke atas terobok di sudut yang sunyi, kemudian melompat ke dalam. Diantara semak semak dan pohon pohon ia menyelinap dan menghampiri tengah taman di mana terdapat empang teratai dan pohon yang liu yang indah itu. Dengan amat heran terhadap diri dan hati sendiri, Bun Sam merasa betapa panas dan tidak senangnya hatinya ketik ia melihat pemandangan yang nampak olehnya di bawah pohon yang liu itu. Seperti dulu ketika pertama kali ia melihat Sian Hwa di taman ini, kini gadis itupun duduk di dekat empang teratai di atas bangku batu terukir indah. Dan di depan gadis itu duduk seorang pemuda gagah dan tampan yakni pemuda yang tadi mendahuluinya melompat ke dalam taman. Biarpun Bun Sam sudah merasa betapa ia amat suka dan tertarik kepada gadis cantik penghuni taman itu, namun ia menjadi terheran heran dan sungguh sungguh tidak mengerti mengapa pada saat ia melihat dua orang itu duduk berhadapan dan bercakap cakap, ia merasa hatinya berdetak detak aneh, dan amat tidak enak dan dadanya terasa panas yang naik cepat ke arah muka dan telinganya ia tidak tahu bahwa inilah perasaan cemburu yang

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

merupakan sebuah cabang daripada pohon cinta yang telah tumbuh di dalam lubuk hatinya. Bun Sam tahu bahwa mendengar pembicaraan orang dengan sembunyi sembunyi tanpa ada alasannya adalah perbuatan yang amat tidak patut dilakukan oleh seorang gagah. Akan tetapi, perasaan cemburu membuat pemuda itu lupa akan kepatutan lagi. Dengan hati hati sekali ia menghampiri tempat dua orang itu bercakap cakap dan bersembunyi di balik pohon lalu mengintai dan mendengarkan percakapan mereka. Hwa moi, melihat engkau di dalam taman bunga ini, dikelilingi bunga bunga indah dan pemandangan yang menawan hati, sungguh membikin aku merasa seakan akan aku berada di surga bersama seorang bidadari. Alangkah cantik dan manisnya engkau, Hwa moi, kata Liem Swee dengan suara merayu, suara yang mengandung bujuk dan cumbu, yang membuat hati Bun Sam menjudi makin panas. Suheng (kakak seperguraan), jangan kau berkata begitu, terdengar kurang sopan dan tidak.. pantas, jawab Sian Hwa dengan suara kaku. Eh, Hwa moi, mengapa kau masih saja menyebut suheng kepadaku? Tidak sedap didengar dan.... Mengapa tidak? Bukankah aku murid ayahmu dan ayahmu menjadi gurumu pula? Benar, akan tetapi selelah kita ditunangkan aku tidak menyebutmu sumoi (adik seperguruan) lagi. Aku lebih suka menyebut moi moi dan kau seharusnya menyebut koko kepadaku. Ah, sudahlah, suheng. Jangan main main. Bertunangan belum berarti ikatan jodoh yang sudah sah dan pula......

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

He.... ?!? Apa pula kau bilang Hwa moi? Bukankah kita sudah menjadi tunangan dan menjadi calon suami isteri? Mendengar disebutnya ucapan suami isteri ini merahlah seluruh muka Sian Hwa, semerah warna bajunya. Merah karena jengah, malu dan marah. Harus kau ingat bahwa pertunangan ini adalah kehendak kedua orang tua kita, bukan kehendak kau sendiri. Salah,! Liem Swee memotong cepat. Akupun menghendaki hal ini diadakan, bahkan menghendaki dengan sangat. Akulah yang mendesak ayah untuk meminangmu. Aku cinta kepadamu, Hwa moi dan kau tahu benar akan hal ini. Sudahlah, suheng, jangan bicara tentang hal ini. Betapapun juga aku masih bebas, aku tidak sudi diikat oleh pertalian apapuu juga. Dan malam ini aku tak suka bercakap cakap, harap kau tinggalkan aku seorang diri. Aku hendak melatih siu lian (samadhi) di taman ini, jangan kau menggangguku. Tiba tiba Liem Swee gelak tertawa. Ha, ha, ha, aku tahu, adikku yang manis! Sudah selayaknya kalau kau mempunyai rasa malu malu ha, ha. ha, tidak apalah tunanganku yang tercinta. Kelak kalau kita sudah menjadi suami isteri, tentu.... Sudah, suheng ! Aku tidak suka mendengarkan lagi. Pergilah, jangan sampai kau membikin aku marah! Tidak baik kalau terlihat oleh pelayan bahwa kau mengunjungi aku dengan cara sembunyi. Liem Swee tersenyum senyum lalu berdiri, membungkuk dan memegang tangan Sian Hwa. Alangkah halus kulit tanganmu, Hwa moi .... ia

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Akan tetapi dengan cepat Sian Hwa mereng gutkan tangannya sehingga terlepas dari genggaman Liem Swee. Suheng, jangan kau menggangu aku lebih lama lagi. Pergilah! Kini gadis ini berdiri menghadapi Liem Swee dan sepasang matanya yang berkilat itu membuai Liem Swee mundur dua tindak dan maklum bahwa kali ini tunangannya yang galak ini benar benar marah sekali, ia dapat melihat gelagat lalu tersenyum dan menjura. Baiklah, tunanganku yang mulia dan terhormat, aku mentaati perintahmu. Biar aku akan segera tidur dan menjumpaimu di dalam mimpi, di sana aku dapat menyatakan isi hatiku lebih leluasa kepadamu, karena di dalam mimpi kau tidak segalak ini. Selamat malam ! Setelah berkata demikian, kembali pemuda yang tampan dan gagah akan tetapi yang mempunyai suara ketawa besar dan menyeramkan itu, menggerakkan tubuhnya dan sekali berkelebat ia telah menghilang di balik tembok taman. Bun Sam memuji kehebatan ginkang pemuda itu yang agaknya tidak berada di sebelah bawah tingkat kepandaiannya sendiri, ia memandang ke arah gadis yang kini berada seorang diri di dalam taman itu. Sian Hwa dudak termenung, tidak bergerak bagaikan sebuah patung batu yang indah. Gadis itu memandangi ikan ikan yang berenang riang gembira berkejar kejaran di dalam empang teratai. Kadang kadang nampak kulit perut ikan yang putih mengkilat timbul di permukaan air ketika seekor ikan melompat lincah. Sian Hwa menggerakkan tubuhnya seakan akan semangatnya baru kembali ke dalam tubuh setelah mengarungi angkasa luas. Ia memandang ke sana ke mari dengan sepasang matanya yang amat tajam dan bening, kemudian seperti seorang yang mengharap harap ia melihat sambil memutar tubuhnya ke arah dinding tembok taman.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Ketika dilihatnya keadaan di sekeliling tempat itu sunyi sepi belaka, ia lalu menundukkan mukanya dan menarik napas panjang beberapa kali. Mana dia mau datang ..?? bibirnya berbisik perlahan, kemudian ia menjatuhkan diri duduk kembali di atas batu di dekat empang teratai. Kesedihan besar meliputi hati dan pikirannya, ia selalu menghadapi kekecewaan di dalam hidupnya yang baru terasa olehnya setelah ia meninggalkan kanak kanak, ia tidak tahu siapa ayahnya dan bagaimana ayahnya itu tewas serta di mana pula makamnya. Ibunya tak pernah mau berterus terang tentang ayahnya dan hal ini sudah menimbulkan kesedihan besar di dalam hatinya, ia amat cinta kepada ibunya dan ia tidak ingin timbul pikiran tidak baik atau kurang percaya kepada ibunya. Akan tetapi, tak dapat disangkal pula, pada waktu ini ia tidak percaya lagi kepada ibunya! Bahkan timbul dugaan sesuatu yang ia tidak tahu apa sesungguhnya, akan tetapi yang sudah nyata mulai menduga bahwa setidaknya ibunya termasuk sebuah komplotan yakni komplotan yang memegang teguh semacam rahasia, dan yang hendak menjauhkan dia daripada keadaasebenanarnya dari pada dirinya! Kernudian tejadi peristiwa pembunuhan Ngo jiauw eng dan hanya dia seorang _____ Ngo jiauw eng _____ Bucuci. Apakah arti nya ini semua? Sebelum mati, Ngo jiauw eng hendak mengaku bahwa dialah pembunuh ayahnya, akan tetapi pengakuan ini dihalangi oleh Bucuci yang tidak segan segan menuruakan tangan maut membunuh Ngo jiauw eng yang menjadi tangan kanannya sendiri! Pasti ada apa apanya di dalam persoalan ini dan inilah yang merupakan gangguan hebat dalam hati dan pikiran Sian Hwa. Kemudian masih ada lagi, yaitu pertunangannya dengan Liem Swee, pertunangan yang tidak ia inginkan sama sekali. Pertunangan ini tahu tahu sudah jadi berita saja, dijadikan

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

oleh orang tua mereka dan sebagaaimana dinyatakan oleh Liem Swee tadi, juga atas persetujuan pemuda itu! Sian Hwa menghela napas panjang, ia tahu bahwa Liem Swee mencintainya hal ini sudah dapat diduga semenjak mereka berdua masih kecil. Ia tidak dapat mencintai Liem Swee sebagai seorang gadis mencintai seorang pemuda. Memang ia suka kepada suhengnya ini, akan tetapi rasa suka nya hanya seperti hubungan saudara saja. Liem Swee amat baik terhadap dia, amat ramah dan halus budi. Akan tetapi, ia tidak cinta kepada pemuda itu dan menganggap Liem Swee mempunyai hati yang kejam. Pernah ia melihat pemuda memukul mati seekor anjing yang bagus, hanya karena anjing itu menggonggong kepadanya! Dan ia telah menjadi marah sekali kepada suhengnya itu. Merenungkan pemuda itu, tiba tiba timbul bayangan seorang pemuda lain, seorang pemuda asing sama sekali ___ yang baru saja dijumpai nya dua kali. Mengenangkan pemuda ini tiba tiba Sian Hwa merasa dadanya berdebar aneh dan mukanya menjadi merah. Entah mengapa, itu merasa tertarik sekali oleh pemuda itu. Alangkah gagah beraninya pemuda itu, juga amat halus budi pekertinya. Dan malam hari ini, ia sengaja menanti di dalam taman karena mendengar janji pemuda itu kemarin malam bahw malam ini pemuda itu hendak datang menjumpainya! Sian Hwa merasa heran terhadap dirinya sendiri, ingin ia marah kepada dirinya sendiri yang amat lemah. Belum pernah selama hidupnya ia merasai perasaan seperti ini, perasaan yang membuatnya menjadi bingung. Akan tetapi diam diam ia mendapat harapan baru seakan akan kalau tadinya ia merasa berada di dalam srbuah ruangan yang gelap karena semua kekecewaan itu, dalam diri pemuda asing ini ia melihat perangan baru!

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Selamat malam, nona. Suara ini demikian halus, suara yang sudah dikenalnya baik, bahkan yang kumandangnya tak pernah meninggalkan telingnya. Cepat ia menengok dan memandang kepada Bun Sam yang sudah berdiri di hadapannya sambil tersenyum ramah. Untuk sesaat wajah gadis yang cantik itu menjadi pucat sekali. Memang semenjak tadi, sebelum Liem Swee datang mengganggunya, ia telah sengaja duduk di situ menanti kalau kalau pemuda ini memenuhi janjinya hendak datang malam ini. Ia telah mengharap harapkan kedatangan pemuda ini dengan perasaan yang aneh sekali. Kemudian melihat kedatangan Liem Swee ia menjadi marah dan juga kecewa karena yang ditunggu tunggu dan diharap harapkan kedatangannya tidak muncul, sebaliknya yang muncul adalah orang lain yang tidak diharapkannya. Akan tetapi ia tetap menanti dan biarpun sudah disangkanya Bun Sam akan datang, kini tiba tiba melihat pemuda ini, ia menjadi terkejut dan gugup. Warna pucat pada mukanya perlahan lahan berubah menjadi merah lagi, akan tetapi bukan merah biasa seperti tadi, melaiakan merah sampai ke telinganya dan ia tidak berani terlalu lama memandang muka pemuda yang tersenyum itu. Mengapa.... mengapa kau datang.... ? suara ini keluar perlahan dan halus dan bibirnya, sedangkan mukanya menunduk memandang tanah. Mengapa? Bun Sam mengulang. Tak lain hendak menyampaikan hormat dan terima kasihku atas segala kebaikan hatimu terhadap aku dan suheng, nona.Tak kusangka sama sekali bahwa di kota ini, justeru di dalam taman bunga dari Panglima Bucuci aku akan menjumpai seorang gadis berhati mulia dan berkepandaian tinggi seperti kau.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Sian Hwa mengangkat kepalanya memandang. Untuk sejenak dua pasang mata bertemu dan kedua nya merasakan sesuatu yang aneh sekali menggelora di dalam dada masing masing sesuatu yang membuat darah mereka berdenyut cepat, yang membuat tubuh terasa hangat dan hati ingin bernyanyi gembira. Mata menjadi terang dan segala yang nampak kelihatan lebih indah daripada biasanya. Telinga mendengar suara nyanyi merdu yang ditimbulkan oleh daun tertiup angin malam! Akan tetapi Sian Hwa tidak daput menahan rasa jengah dan malunya, maka ia menundukkan mukanya lagi. Timbul rasa sedih di dalam hatinya ketika Bun Sam mengucapkan kata kata itu. Pemuda ini menganggapnya sebagai puteri Bucuci, padahal sesungguhnya bukan demikian. Ingin ia menyatakan kepada Bun Sam bahwa dia bukan puteri panglima Kin ini, akan tatapi apa gunanya? Dan pula ia merasa malu. Tidak ada sesuatu yang harus dinyatakan terima kasih, katanya perlahan. Dan pula, disambungnya cepat cepat karena ia teringat bahwa sesungguhnya tidak pantas bagi seorang gadis sopan untuk bicara dengan seorang pemuda asing di dalam taman bunga. Mengapa kau datang di sini? Kalau ada orang melihatmu.... kalau.... ayah mengetahui, bukankah kau akan celaka? Bun Sam tersenyum. Terima kasih, nona Sian Hwa ia menjura memberi hormat. Terima kasih bahwa kau telah menaruh perhatian dan kekhawatiran atas diriku yang hina dan bodoh ini. Biarlah, kalau sampai ayahmu melihatku dan memberi hukuman, aku tidak merasa menyesal setelah dapat bertemu dan berbicara dengan seorang seperti engkau.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Mendengar ucapan pemuda ini, makin tidak karuan rasa hati Sian Hwa. Ia merasa girang, bangga, malu dan juga berduka. Pergilah kau dari ini, jangan gangga aku .... kau seorang murid dari Kim Kong Taisu, mengapa berani memasuki taman dan bertemu dengan seorang gadis sopan? Apakah ini tidak melanggar kesopanan dan kesusilaan? Maaf nona, memang aku terlalu kurang ajar berani sekali mengganggumu. Akan tetapi, kenekatanku ini terdorong oleh rasa hatiku yang ingin bersahabat denganmu. Tidak maukah kau menjadi sahabatku, sahabat yang akan kukenang selama hidupku? Jangan kau bilang begitu, gadis itu menjawab lemah. Kita terpisah terlalu jauh untuk menjadi sahabat. Kau harus ingat, aku puteri Panglima Bucuci dau kau... kau bahkan pernah bentrok dan bertempur melawan ayahku. Bahkan melawan guruku. Kita telah ditakdirkan lahir di tempat yang jauh berbeda, sudahlah, harap kau pergi dan mari kita melupakan pertemuan kita. Kalau sampai ayah mengetahui kedatanganmu malam ini.... Bun Sam menarik napas panjang. Untuk menjadi sahabatnya saja aku masih kurang cukup berharga. katanya seperti kepada dirinya sendiri. Dia terlalu agung, terlalu cantik, terlalu pandai dan puteri seorang panglima pula. Dan aku.... ?? Bun Sam, kau harus tahu diri, kau seorang kelana yang miskin, lebih daripada pengemis jembel, seorang yatim piatu. Sungjah harus malu! Sambil berkata demikian, Bun Sam benar benar merasa amat berduka dan wajahnya yang tampan menjadi pucat. Sian Hwa mengangkat mukanya. Mengapa kau mengeluarkan kata kata seperti itu? Aku selama nya tidak pernah berwatak sombong dan tinggi. Aku hanya

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

mengemukakan kenyataan tentang perbedaan keadaan dan kehidupan kita. Aku sendiri.... aku. .. Sian Hwa memaksa diri menelan kembali kata katanya ini karena hampir saja ia membuka rahasianya sendiri bahwa dia pun seorang yang tak berayah pula. Bun Sm tersenyum pahit. Nona, memang aku yang bodoh. Bagaikan seekor anjing merindukan bulan menggonggong dengan sia sia. Bagaimana pemuda seperti aku dapat menjadi sahabatmu? Ah, sudahlah ku tarik kembali omonganku tadi nona. Aku hanya mengganggumu, kau seorang yang mulia, yang berbahagia, bagaimana aku berani mengganggu mu? Aku menghaturkan selamat atas pertunanganmu dengan pemuda gagah she Liem itu putera dari Pat jiu Giam ong. Selamat berbahagia dan selamat tinggal, nona! Setelah berkata demikian, Bun Sam memutar tubuhnya dan hendak melompat keluar dari tempat itu. Akan tetapi, tiba tiba ia menahan kedua kakinya. Salahkah pendengarannya? Tidak! Benar benar ia mendengar isak tangis di belakangnya. Bun Sam cepat memutar kembali tabuhnya dan memandang ke arah Sian Hwa. Gadis itu telah menangis. Menangis sedih dengan terisak isak dan menutup mukanya dengan ujung ikat pinggang sutera barwarna kuning keemasan. Basah oleh air mata ujung ikat pinggang itu dan kedua pundaknya bergoyang goyang dalam sedu sedannya. Bun Sam berdiri terpaku, kedua matanya terbuka lebar. Nona .... Sian Hwa .... kenapa kau? Ia melangkah maju mendekati nona itu. Akan tetapi Sian Hwa makin tersedu sedu tangisnya. Luluh hati Bun Sam yang tadi sudah mengeras. Tadinya ia hendak mengeraskan hati dan hendak melupakan gadis

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

yang telah merampas kalbunya ini dengan anggapan bahwa ia adalah seorang gadis bangsawan yang sombong, yang mempunyai ayah hebat. Akan tetapi melihat gidis ini menangis tersedu sedu, hancur luluh semua kekerasan yang dibangun di dalam hatinya. Ia menjatuhkan diri berlutut di depan Sian Hwa. Nona, jangan rarnangis. Ah, aku telah menyakiti hatimu. Nona, cabutlah pedangmu dan penggal saja leherku. Aku Song Bun Sam takkan melawan, takkan mengelak. Aku telah menyinggung perasaanmu yang halus, telah membuat kau berduka. Sian Hwa mengangkat mukanya dan dengan air mata mengalir turun dari kedua matanya. Ia memandang kepada pemuda itu. Ia merasa terharu sekali dan tak terasa pula ia menyentuh pundak Bun Sam. Berdirilah, taihiap. Tak pantas bagi searang gagah seperti engkau berlutut di depanku. Bangunlah, sikapmu ini membuat aku merasa tak enak sekali. Bun Sam bangkit dan berkata dengan perlahan. Nona Sian Hwa, aku benar benar tadi tak sengaja berkata keras kepadamu. Maafkanlah aku. Aku telah mendengar percakapanmu dengan Liem Swee dan tahu pula bahwa pertunangan itu tidak kau setujui dan dipaksakan kepadamu. Namun aku masih menyakiti hatimu dengan kata kata tadi. Ah, mengapakah aku menjadi seorang begini gila? Aku sendiri tak dapat menguasai hati, pikiran mulutku. Apakah yang terjadi dengan aku! Sian Hwa juga berdiri dan mereka berpandangan. Wajah gadis itu masih basah oleh air matanya sendiri. Jadi kau sudah tahu? Kalau begitu tak perlu dibicarakan lagi. Kau tahu, hidupku juga banyak menderita. Kau masih belum mengetahui semuanya. Kalau kau tahu keadaanku, kau

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

akan tahu bahwa bukan hanya kau yang hidup menderita. Mungkin aku lebih menderita daripadamu. Nona, siapa yang berani mengganggumu? Apakah pertunangan itu yang membuat kau merasa berduka? Kalau perlu, aku akan pergi mencari dan menghajar pemuda she Liem itu, agar dia membatalkan pertunangan paksaan ini! seru Bun Sam dengan suara sungguh sungguh, sehingga di dalam hatinya, pemuda ini benar benar merasa heran mengapa ia bisa berhal demikian ia merasa seakan akan semua bicara dan sikapnya tadi tidak seperti dia sejati, seakan akan ia melihat orang lain yang berperasaan lemah. Ke mana perginya kekuatan batinnya? Mengapa ia menjadi demikian lemah? Ia tidak tahu bahwa hati dan pikirannya sedang berada di dalam genggaman dewa asmara yang luar biasa hebat kekuasaannya. Betapapun gagah seorang manusia, kalau sudah termasuk dalam cengkeraman asmara, ia akan menjadi lemah tak berdaya! Song taihiap, dia adalah suhengku! Lebih lebih seorang suheng sama dengan seorang kakak, tidak boleh memaksa sumoinya untuk menjadi calon isteri kalau sumoinya itu tidak suka! Suara Bun Sam makin mengeras tanda bahwa ia marah kepada Liem Swee. Hush, dia adalah putera tunggal dari Pat jiu Giam ong! kata Sian Hwa pula dan aneh sekali melihat sikap dan pembelaan pemuda ini wajahnya yang tadi muram kini menjadi berseri gembira, kedua matanya yang bening seperti mata burung hong itu bersinar sinar ketika ia memandang kepada Bun Sam. Aku tidak takut! Biar dia putera Pat jiu Giam ong, kalau tidak benar sepak terjangnya, akan kulawan juga. Biar aku mengadu nywa dangan Pat jiu Giam ong untuk membelamu, nona!

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Hus.... jangan keras keras bicaramu! Sian Hwa berisik dan kini senyum manis sekali mulai membayang pada bibirnya. Kau baik hati dan gagah sekali, taihiap. Benar benar aku kagum padamu. Mereka kembali saling memandang sampai lama tanpa mengeluarkan kata kata, kemudian Sian Hwa menundukkan mukanya dan berkata perlahan. Katakanlah, mengapa kau demikian mati matian hendak membelaku? Ditanya demikian Bun Sam rnelengak dan menjadi bingung bagaimana harus menjawabnya. Apalagi ketika Sian Hwa yang tidak mendapat jawaban lalu mengangkat muka memandangnya dengan mata penuh selidik. Karena.... karena.... . barangkali karena kau telah bersikap baik kepadaku dan kepada suheng, karena kau.... kau berbeda, jauh dengan semua orang yang pernah kujumpai. Sian Hwa tidak puas. Hanya karena itu saja dan kau lalu berani hendak mengorbaakan nyawa untukku ? Bun Sam merasa mukanya menjadi panas. Memang tadi ia tidak mengaku terus terang. Kini didesak oleh Sian Hwa dan melihat betapa pandangan mata nona itu seperti menggodanya, tahulah ia bahwa Sian Hwa sudah mengerti baik apa yang terkandung di dalam hatinya. Hal ini mendatangkan keberaniannya. Terus terang saja, karena aku cinta kepada mu, Siao Hwa ! Ucapan ini dikalnarkan dengan dada diangkat dan kepala ditegakkan. Kini Sian Hwa yang tersipu sipu mendengar pengakuan sejujurnya ini. Mukanya menjadi merah lagi sampai ke leher dan telinganya.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Kau ..... kau.... apa .? hanya kata kata ini yang dapat keluar dari mulutnya, seakan akan ia masih belum percaya akan pengakuan pemuda itu. Aku cinta kepadamu! Cinta.... ?? Kata kata ini sudah sering kali didengung dengungkan oleh Liem Swee kepadanya, akan tetapi sekarang mendengar kata kata ini diucapkan oleh Bun Sam, terdengar bagaikan kata kata yang baru pertama kali didengarnya selama hidupnya. Terdengar demikian halus, suci dan merdu. Tanpa disadarinya Sian Hwa tertunduk lagi di atas batu dan ia meramkan matanya! Ketika ia merasa betapa kedua tangannya dipegang orang, ia menjadi kaget dan membuka matanya. Ternyata Bun Sam telah berlutut dan memegang kedua tangannya itu. Hati Sian Hwa memberontak terhadap perbuatan Bun Sam yang merangsang seluruh dirinya ini, terdorong oleh kesadarannya yang tidak membenarkan seorang pemuda memegang tangannya, akan tetapi perasaannya yang sudah penuh dengan simpati dan kasih sayang terhadap Bun Sam, membuat ia merasa lumpuh dan lemah. Betapapun juga, dengan keseluruh tenaga batinnya, ia mengambil keputusan bahwa kalau pemuda itu berlaku kurang sopan, ia akan menghantam dan menyerangnya dengan pukulan maut ! Akan tetapi Bun San bukanlah pemuda macam itu. Ia berlutut dan memegang kedua tangan gadis itu sekali kali bukan terdorong oleh nafsu kurang ajar, melainkan karena ia merasa khawatir kalau kalau gadis ini menderita pukulan batin. Melihat wajah Sian Hwa yang tiba tiba pucat dan gadis itu memeramkan matanya, ia buru buru memegang kedua tangan gadis itu dan mengerahkan tenaga lweekangnya untuk disalurkan melalui telapak tangan Sian Hwa, maksudnya hanya untuk membantu gadis itu memulihkan peredaran jalan darahnya belaka.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Sian Hwa tentu saja merasa betapa dari telapak tangan pemuda ini mengalir hawa hangat yang kuat sekali, membuat debaran jantungnya menjadi makin berdebar. Karena ia tidak membutuhkan bantuan ini, maka kalau dilanjutkan bahkan akan membahayakannya, maka ia lalu membuka matanya dan tersenyum kepada Bun Sam. Melihat hal ini, pemuda itu menjadi jengah sendiri dan cepat menyimpan kembali tenaga yang disalurkannya, akan tetapi dua pasang tangan saling belai penuh kasih sayang yang tidak dinyatakan berterang. Sian Hwa.... bisik Bun Sam dan bukan main bahagia rasa hatinya karena in mendapat kenyataan bahwa ia tidak bertepuk sebelah tangan dan bahwa cintanya dibalas oleh nona ini. Kau baik sekali, saudara Bun Sam.... kata gadis itu dengan suara lembut dan pandangan mata mesra. Aku cinta kepadamu, Sian Hwa.... jawab Bun Sam sebagai penolakan pujian itu atau dengan kata kata lain hendak menyatakan bahwa kebaikannya itu hanya karena ia mencintai Sian Hwa. Dengan perlahan Sian Hwa menarik kedua tangannya dari genggaman tangan Bun Sam. Lalu ia menrik napas panjang dan berkata. Bagaimana mungkin? Aku sudah menjadi tunangan orang lain.... Kembali gadis ini menjadi berduka dan menundukkan mukanya. Mendengar ucapan yang mengingatkannya kembali tentang keadaan gadis pujaannya, perih rasa hati Bun Sam. Sebagai seorang pemuda yang menjunjung tinggi kesopanan, tentu saja ia maklum bahwa tidak mungkin ia berjodoh dengan seorang gadis yang sudah menjadi calon isteri orang lain. Iapun lalu menundukkan mukanya dan mengingat betapa ia tak mungkin berkumpul dengan orang

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

yang dicintainya ini, dua titik air mata melompat keluar dari kedua matanya. Ia menggigit bibirnya untuk menahan kesedihan hatinya ini, agar jangan sampai ia menjadi lemah. Ketika Sian Hwa menengadah dan mdihat betapa pemuda itu menjadi basah matanya, ia menjadi terharu sekali. Terdorong oleh rasa haru dan cinta, ia lalu bangkit berdiri dan memagang kedua tangan Bun Sam. Bun Sam.... memang tidak mungkin bagi kita untuk.... untuk menjadi jodoh di dunia ini.... akan tetapi pecayalah selama hidup aku takkan sudi menjadi isteri orang lain? Biar mereka memaksaku sampai mati, aku takkan suka menjadi isteri suheng! Di dalam hatiku, hanya kaulah...... jodohku, Bun Sam dan kalau di dunia kita tidak berjodoh, biarlah kita bertemu di alam baka..... atau di lain penjelmaan! Naiklah sedu sedan dari leher Bun Sam ketika ia mendengar ucapan yang baginya amat suci, mulia dan mengharukan ini. Ia merangkul Sian Hwa dan untuk srsaat keduanya tenggelam dalam keharuan. Tiba tiba keduanya saling melepaskan pelukan ketika mendengar suara ribut ribut di luar taman. Terdengar keruan Bucuci. Sian Hwa, di mana kau?? Lekas keluar dan bantu menangkap maling besar yang mencuri pedang pusaka dari istana! Nampak berkelebat banyak bayangan orang di luar tembok taman dan terdengar bunyi kerincingan pakaian perang Panglima Bucuci. Bun Sam, selamat berpisah. Inilah pertemuan terakhir kita, kata Sian Hwa sambil bersiap siap untuk melompat keluar.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Ban Sam maklum akan maksud kata kata kekasihnya ini. Sekali lagi ia menggenggam tangan kanan gadis itu, lalu berkata dengan suara tenang karena ia telah berhasil memhan perasaan hatinya. Kau benar Sian Hwa. Kita tak berdnya dan juga tidak boleh kita melanggar peraturan adat. Selamat berpisah, ingatlah selalu bahwa Bun Sam hanya dapat mercinta satu kali saja kepada seorang wanita, yakni kepadamu ! Aku takkan dapat lupa kepadamu selama hidupku! jawab gadis itu. Bun Sam lalu melompat dan menghilang di dalam gelap. Sian Hwa melompat ke atas pagar tembok, akan tetapi tiba ta muncul ayahnya yang datang datang terus menuding serta membentaknya. Siapa yang baru saja pergi tadi? Ayoh bilang, siapa dia?? Aku tidak tahu, ayah! jawab Sian Hwa dengan tenang, karena betapapun juga, ia tak akan mengaku siapa adanya pemuda tadi yang bayangannya mungkin terlihat oleh Bucuci. Sian Hwa, bukankah kau anakku? Mengapa tidak mengaku? Jangan jangan dialah malingnya yang mencuri pedang Pek lek kiam dari istana kaisar! Ayah.... ! Tiba tiba hati Sian Hwa menjadi panas dan marah sekali mendengar kekasihnya dituduh mencuri pedang pusaka. Hem, siapa tahu pencuri itu tadi berhasil memasuki taman dan bersembunyi di sini. Dan kau....kau anakku bahkan membantunya bersembunyi dan sekarang membelanya! Ayah jangan menuduh sembarangan saja! gadis itu berkata dan mendengar suara Sian Hwa mengandung

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

kemarahan besar serta mata anak ita bersinar sinar, Bucuci menahan mulutnya. Akhir akhir ini ia melihat Sian Hwa sering kali memandang kepadanya dengan mata menakutkan. Sudahlah, kalau kau betul betul tidak tahu, mari lekas membantuku mencari maling itu. Kau tahu pedang Pek lek Kiam yang disimpan di dalam gedung pusaka istana kaisar, telah diambil orang dan para penjaga tidak berdaya sama sekali menghadapinya. Malingnya seorang kakek yang menyeramkan dan seperti berotak miring, akan tetapi kepandaiannya tinggi sekali. Diam diam Sian Hwa menjadi geli jua mendengar penuturan ayahnya ini. Bagaimana ayah tirinya berani menyangka Bun Sam yang menjadi malingnya? Bun Sam bukan seorang kakek tua berwajah menyeramkan, sama sekali bukan! Mari kita mencoba mengejar maling itu, ayah, kata Sian Hwa ketika melihat betapa kota raja menjadi gempar dan setiap orang yang memiliki kepandaian tinggi telah berada di atas genteng genteng rumah dan bayangan bayangan gesit bersimpang siur. Sian Hwa mempergunakan ginkangnya yang tinggi untuk melompat ke atas genteng dan berlari memeriksa dan melihat lihat kalau kalau ia akan berhadapan dengan maling sakti itu. Ketika ia bertemu dengan para panglima kerajaan yang melakukan pengejaran, ia mendengar bahwa maling ini telah lenyap seakan akan memiliki kepandaian menghilangkan diri dari pandang mata manusia!. Semua pintu gerbang telah di jaga rapat dan jalan keluar tidak ada. Hampir semua rumah telah diperiksa teliti, namun maling itu tidak nampak bayangannya. Ia menghilang bersama pedang pusaka Pek lek kiam! berkata

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

seorang panglima tua yang bertemu dengan Sian Hwa di atas genteng. Gadis ini menjadi heran mendengar akan kelihaian maling itu dan diam diam iapun merasa khawatir akan keselamatan Bun Sam kekasihnya. Pemuda itupun telah terlihat oleh para panglima dan dianggap sebagai seorang yang harus diawasi, karena pernah bertempur melawan Pat jiu Giam ong. Kalau semua jalan keluar tertutup, bagaimana Bun Sam akan dapat keluar dari kota raja tanpa diganggu oleh para penjaga? Tiba tiba ia melihat Liem Swee yang juga ikut mencari dengan pedang di tangan. Biarpun ia pada saat seperti itu tidak suka bicara dengan Liem Swee, suheng dan tunangannya ini, akan tetapi karena ia ingin tahu lebih banyak tentang maling itu ia lalu bertanya Kepada Liem Swee apakah maling itu telah tertangkap. Siapa yang bisa menangkapnya! kata Liem Swee dengan wajah memperlihatkan kekecewaan..Malingnya adalah seorang siluman! Sian Hwa menjadi terkejut dan memandang heran. Tadinya disangkanya bahwa Liem Swee bergurau, karena pemuda ini memang suka bergurau. Akan tetapi, pemuda itu nampak bersungguh sungguh dan pula setelah tadi dikecewakan hatinya oleh Sian Hwa, agaknya tidak muduh bagi Liem Swee untuk bergurau pada malam itu. Suheng, apakah artinya ucapanmu tadi? Seorang siluman? tanyanya tidak percaya. Liem Swee mengangguk anggukkan kepalanya. Ya, seorang siluman. Kalau orang biasa saja, tak mungkin ia terlepas dari ringkusan ayah.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Apa? Suhu telah turun tangan sendiri dan tidak berhasil menangkapnya? tanya Sian Hwa dengan hati amat tertarik. Ya, ayah sudah bertemu dengan maling itu di atas genteng istana. Aku yang menyertai ayah melihat betapa maling itu berwajah menyeramkan dan pakaiannya compang camping. Pedang Pek lek kiam dikempitnya dan ia berlari cepat sekali. Ketika ayah menghadang, ia lalu melawan. Akan tetapi mana ia bisa menang menghadapi ayahku? Setelah bertempur lebih tiga puluh jurus ia tidak kuat bertahan lagi lalu hendak melarikan diri. Aku hendak maju, akan tetapi tidak boleh oleh ayah karena memang penjahat itu lihai sekali. Dengan terjangan Siu eng na jiu hwat, ayah berhasil meringkusnya, akan tetapi sungguh hebat. Maling itu dapat melepaskan diri, entah dengan ilmu apa, sehingga ayah sendiri berseru keras terheran heran. Tahu tahu maling itu telah lari lagi dan biarpun dalam hal ilmu silat ia kalah oleh ayah, namun larinya cepat sekali dan sebentar saja menghilang di dalam gelap! Sian Hwa mendengar dengan terheran heran. Ia telah mempelajari Sin eng na jiu hwat dan mengetahui akan kehebatan ilmu lilai ini. Apalagi dimaiakan oleh gurunya, siapakah orangnya yang dapat melepaskan dirinya dari ringkusan gurunya ini? Benar benar maling yang hebat luar biasa. Pada saat itu, datang panglima Ang Seng Tong, kepala Gi lim kun yang juga ikut meronda. Ketika melihat Liem Swee dan Sian Hwa, ia lalu memberitahukan bahwa kedua orang muda itu dicari oleh Pat jiu Giam ong dan diminta datang pada malam hari itu juga. Setelah Liem Swee dan Sian Hwa menghadap, Pat jiu Giam ong yang kelihatan bersungguh sungguh itu lalu berkata. Mulai sekarang, kalian berdua harus belajar lebih

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

rajin lagi. Menurut dugaanku maling itu tentu ada hubungannya dengan BuTek Kiam ong. Aku melihat beberapa jurus ilmu silat Bu Tek Kiam ong ketika orang itu bertempur dengan aku. Munculnya seorang kawan Bu Tek Kiam ong menandakan bahwa, Bu Tek Kiam ong masih hidup dan dia merupakan lawan yang paling kuat di antara tokoh tokoh lain. Maka, berhati hatilah dan pergiatlah latihan ilmu silat kalian Jangan mencari permusuhan, karena kalian sudah tahu bahwa banyak sekali orang pandai berkeliaran di daerah ini pada waktu sekarang. Demikianlah, seluruh kota raja geger karena pedang pusaka milik kaisar telah dicuri orang dan tak seorangpun berhasil menangkap pencurinya. Bahkan Tat jiu Giam ong sendiri tidak berhasil membekuknya. Siapakah sebenarnya pencuri yang sakti itu? Benarkah dugaan Pat jio Giam ong bahwa orang itu mempunyai hubungan dengan Bu Tek Kiam ong. Raja Pedang yang telah lama tidak muncul di dunia ramai dan yang dianggap telah tewas tanpa ada orang lain yang mengetahui itu? Untuk mengetahui dan menjawab hal ini, marilah kita mengikut perjalanan Bun Sam, karena secara kebetulatn sekali pemuda ini bertemu dengan maling sakti yang oleh Liem Swee disebut siluman itu. Dengan hati amat berat, Bun Saw meninggalkan taman bunga di mana kekasihnya berada. Ia tahu bahwa inilah pertemuan dan juga sekaligus perpisahan yang terakhir ia berjumpa dengan Sian Hwa, jatuh cinta, lantas dua hati bertemu, akan tetapi bertemu hanya sekali saja untuk selanjutnya berpisah. Harus berpisah, sungguhpun di dalam batin mereka telah terjalin ikatan yang erat dan yang takkan dapat dipisahkan oleh maut sekalipun. Pahit dan perih rasa hati Bun Sam, pemuda remaja yang menjadi korban asmara

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

ini. Ia hendak pergi secepat mungkin, malam ini juga. Tak tahan ia harus berada di kota raja, di mana kekasihnya tinggal. Tak kuat hatinya memikirkan hatinya dekat dengan Sian Hwa namun tidak mungkin menemuinya tak dapat melihat wajah yang telah terukir di dalam hatinya itu, tak dapat mendengarkan suara yang telah bergema selalu di dalam anak telinganya. Ia ingin pergi keluar dari kota raja malam itu juga dan hendak melanjutkan perjalanan, pulang ke Oei san, tempat tinggal suhunya, ia takkan turun gunung lagi, akan tinggal saja bersama dengan suhunya di Oei san, menjadi pertapa untuk mencari obat bagi batinnya yang terluka. Ketika ia sedang berlari cepat sekali melalui wuwungan rumah orang orang kota raja, ia melihat pula para panglima berlari lari mengejar maling yang mencuri barang pusaka. Bun Sam yang sedang semua dan melanjutkan perjalanannya, memilih tempat sepi agar jangan bertemu dengan para pengejar maling itu. Tiba tiba ia melihat bayangan hitam berkelebat di depannya, mendatang dari jurusan lain dan ketika ia memandang, ternyata bahwa orang itu adalah seorang kakek yang berwajah liar. Rambutnya awut awutan, sebagian banyak menutup muka nya yang bewajah liar. Cambang dan jenggotnya panjang tidak terpelihara, tumbuh liar di seluruh mukanya. Pakaiannya serba hitam dan compang camping, sama tidak terpelihara dengan rambut dan cambang bauknya. Sepasang kakinya telanjang dan jari jari kakinya besar besar. Yang amat menarik perhatian Bun Sam adalah pedang bersarung emas yang dikempit di bawah lengan kirinya. Tahulah ia bahwa orang inilah yang mencuri pedang pusaka dari istana kaisar. Maling pedang, serahkan pedang itu kepadaku ! seru Bun Sam sambil menghadang di depan orang itu. Biarpun

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

tidak memperdulikan urusan pencurian itu, namun darah mudanya tidak mengizinkan ia berpeluk tangan saja setelah secara kebetulan bertemu muka dengan maling yang aneh ini! Kakek ini memandangnya dengan mata berputar putar, kemudian mengeluarkan suara ha ha. Bun Sam tercengang melihat ini karena tahu bahwa kakek ini adalah orang gagu seperti suhengnya. Iapun lalu menggerak gerakkan jari tangannya membalas isarat pada kakek itu. Ia menyatakan bahwa kakek itu telah melakukan pelanggaran besar terhadap kaisar dan mengapa kakek itn mencuri sebuah pedang. Kakek itu kembali mengeluarkan suara ha ha hu hu dan dengan isarat jari tangan ia menyuruh Bun Sam pergi dan jangan mencampuri urusannya. Akan tetapi, nyata bahwa ia gembira melihat pemuda tampan di depannya ini pandai bicara dalam bahasa gerak jari seperti seorang gagu. Melihat Bun Sam bersitegang tidak mau melepaskannya, kakek itu menjadi marah dan tiba tiba ia mendorong pemuda itu supaya minggir. Mana Bun Sam mau diperlakukan begitu saja ? Ia cepat mengelak dan ketika kakek itu hendak melompat pergi, ia lalu mengulur tangan kanannya, menotok ke arah pundak kakek itu dengan maksud merampas pedang. Akan tetapi ia menjadi terkejut sekali. Dengan jelas ia melihat betapa totokannya sudah berhasil tepat, akan tetapi kakek itu tidak menjadi lumpuh, sebaliknya ia bahkan merasa jari tangan nya merasa sakit! Bukan main! Kalaupun kakek ini mengerti ilmu menutup jalan darah, tidak nanti jari tangannya sampai merasa sakit. Hal ini hanya menandakan bahwa lweekang dari kakek ini benar benar tinggi sekali.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Sebaliknya, ketika kakek itu melihat pemuda ini menyerangnya, lalu mengeluarkan suara marah dan secepat kilat ia membalikkan tubuhnya, tidak jadi berlari dan berbalik menyerang Bun Sam dengan ilmu pukulan yang aneh dan dahsyat! Bun Sam terkejut sekali dan cepat ia lalu mengelak dan melihat kakek itu terus mendesaknya dengan pukulan bertubi tubi dan hebat sekali, ia segera mainkan Ilmu Silat Thai lek Kim kong jiu, warisan dari suhunya, yakni Kim Kong Taisu. Si gagu ini menjadi terketjut sekali dan nampaknya tercengang menyaksikan ilmu silat ini. Beberapa kali ia mengeluarkan suara yang menyatakan keheranan dan kekagetannya, kemudian dengan gembira ia menghadapi Bun Sam dengan ilmu silat nya yang aneh. Ketika lengan Bun Sam beradu dengan lengan kakek itu, pemuda ini menjadi makin terkejut karena ia merasa tangannya seakan akan bertemu dengan besi panas! Ia pernah mendengar dari suhunya bahwa ada ilmu pukulan yang disebut Ang thiat ciang (Tangan Besi Merah), akan tetapi karena ilmu pukulan ini hanya dimiliki oleh seorang tokoh besar yang sudah tidak ada lagi di dunia, maka mustahil kalau kini kakek ini dapat memilikinya. Apakah ini tokoh yang sudah lenyap dari dunia kang ouw itu? Tak mungkin, pikir Bun Sam, karena tokoh itu yang disebut oleh suhunya sebagai Raja Pedang, digambarkan oleh suhunya sebagai seorang yang biarpun sederhana namun selalu berpakaian bersih dan menjaga dirinya dengan baik. Karena terdesak terus oleh ilmu pukulan lawannya yang aneh dan sakti ini biarpun lawan nya hanya mempergunakan tangan kanan saja karena tangan kirinya untuk memegang pedang curiannya, Bun Sam lalu berseru keras dan mengeluarkan ilmu pukulan Soan hong pek lek jiu yang dipelajarinya dari Mo bin Sin kun!

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Jilid VIII KEMBALI kakek gagu itu nampak terkejut dan mengeluarkan seruan seruan orang gagu yang dikenal oleh Bun Sam sebagai seruan kaget dari heran. Kemudian kakek itu menjadi tambah bersemangat saja menghadapi Bun Sam dan kegembiraannya memuncak. Bahkan kini mulai tertawa tawa! Akan tetapi yang mengherankan Bun Sam, pukulan Soan hong pek lek jiu agaknya juga tidak mempan terhadap kakek yang lihai ini! Dan pada saat ia mengeluarkan pukulan yang ke tujuh, tiba tiba kakek itu menerima pukulan ini dengan dadanya, tanpa mengelak atau menangkis, bahkan lalu mengulurkan tangan kanannya menangkap Bun Sam! Pukulan itu tepat mengenai dada kakek itu. Pukulan Soan hong pek lek jiu benar benar hebat dan biarpun kakek itu tenaga lweekangnya jauh melebihi Bun Sam namun ia tak dapat, menahan pukulan ini dan terpental mundur sampai tiga tindak! Kemudian ia batuk batuk tanda bahwa biar pun tidak terluka berat namun pukulan ini terasa juga olehnya dan dapat membobolkan benteng pertahanannya yang kuat. Bun Sam sudah mulai merasa girang, akan tetapi tiba tiba sekali, bagaikan seekor kera saja gesitnya, kakek itu menubruk maju dan sebelum Bun Sam dapat mengelak, ia telah disambar dan diringkus di dalam pelukan kakek itu. Ia mencoba untuk memberontak, akan tetapi makin keras ia berusaha, makin sakitlah tulang tulangnya. Ia kaget sekali karena tidak disangkanya bahwa kakek ini selain memiliki tenaga lweekang yang tinggi, juga memiliki tenaga gwakang (tenaga otot) yang besar sekali. Karena tahu bahwa kalau ia berkeras, kulit kulit tubuhnya akan lecet dan tulang tulangnya akan remuk, maka Bun Sam tidak berani berkutik lagi dan membiarkan

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

saja dirinya dibawa berlari lari seperti terbang cepatnya oleh kakek itu! Makin kagumlah Bun Sam ketika mendapat kenyataan bahwa ilmu tari cepat dari kakek ini agaknya tidak berada di bawah tingkat kepandaian suhunya sendiri! Dalam keadaan tertotok dan payah karena lapar sekali, Bun Sam dibawa pergi oleh sigagu itu sampai tiga hari tiga malam. Kakek itu mendaki sebuah bukit yang penuh dengan hutan liar. Gunung ini adalah Gunung Hek mo san (Gunung Iblis Hitam) dan di puncak gunung yang belum pernah dikunjungi orang lain ini terdapat sebuah gua yang terkenal di dunia kangouw sebagai gua siluman. Pernah ada beberapa orang kangouw yang iseng iseng mengunjungi bukit dan gua ini, akan tetapi mereka lenyap tak meninggalkan bekas, sehingga akhirnya tempat ini merupakan tempat yang ditakuti orang dan tak ada lagi orang gagah yang berani main main di tempat ini. Ketika iba di depan sebuah gua yang besar dan hitam gelap, kakek itu menurunkan Bun Sam di atas tanah, memetik tiga butir buah yang kemerahan, melemparkan buah itu kepada Bun Sam lalu membebaskan totokannya, sehingga pemuda itu dapat bergerak lagi walaupun masih lemah. Dengan isyarat tangannya, ia minta supaya Bun Sam makan buah itu. Pemuda ini tidak tahu buah apakah yang kemerahan itu akan tetapi karena perutnya lapar sekali, ia lalu mencoba menggigitnya. Alangkah girangnya ketika mendapat kenyataan bahwa buah itu selain manis dan segar, juga berbau harum. Sebentar saja habislah tiga butir buah itu dan ia mendapatkan tenaganya kembali. Awas, jangan kau berani lari dari sini atau melakukan sesuatu tanpa perintahku. Kalau melanggar, aku akan membunuhmu. Kakek itu bicara melalui gerak jari tangannya.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Bun Sam memang amat tertarik untuk mengetahui lebih lanjut tantang kakek ini, maka biarpun tidak diancam, ia tidak berniat hendak pergi dari situ. Kakek ini terang sekali adalah seorang yang sakti dan berkepandaian tinggi sekali, maka kalau dapat bergaul dan dekat dengan dia dan dapat memetik beberapa ilmu silat dari padanya, bukankah itu baik sekali? Harus diakui bahwa watak kakek ini keras dan buruk sekali, akan tetapi hal inipun dapat dhadapinya dengan penuh kesabaran. Tidak percuma Bun Sam semenjak kecil menjadi murid dari Kim Kong Taisu kalau ia tidak dapat menguasai perasaan dan tidak memiliki kesabaran yang besar sekali. Setelah makan, kakek gagu itu lalu mengajaknya memasuki gua yang hitam gelap itu. Di dalam ada seorang kakek lumpuh yang hendak menciptakan ilmu pedang untukku. Kau jangan mengganggunya dan jangan mengajak ia bicara di luar kehendakku! kembali kakek gagu ini mengancam dengan gerak jari tangannya. Bun Sam hanya mengangguk, akan tetapi hatinya berdebar tegang ketika ia melihat gerak jari tangan kakek ini dan mengetahui maksudnya. Siapakah kakek lumpuh yang berada di dalam gua?? Mendengar bahwa kakek lumpuh itu hendak menciptakan ilmu pedang ia menduga duga. Apakah kakak itu yang disebut oleh suhunya sebagai Raja Pedang? Dan untuk inikah gerangan kakek gagu itu mencuri pedang pusaka dari dalam istana kaisar? Gua itu selain luas dan gelap menghitam, juga ternyata dalam sekali. Setelah meraba raba maju sampai kira kira sepuluh tombak dalamnya, mereka berhadapan dengan dinding batu karang. Kali ini diketahui oleh Bun Sam dengan rabaan tangannya. Tiba tiba, entah bagaimana cara membukanya, terbukalah sebuah pintu di dinding batu itu,

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

pintu yang hanya dapat dimasuki oleh tubuh satu orang yang tidak terlalu gemuk. Kakek itu memberi isarat supnya Bun Sam masuk lebih dulu, baru kemudian ia masuk di belakang pemuda itu dan menutupkan pintu tanpa dilihat oleh pemuda itu. Ketika Bun Sam mengerling, ia tidak melihat lagi adanya pintu. Sungguh merupakan sebuah pintu rahasia yang luar biasa sekali. Mereka berjalan terus dan kini di ruang ini tidak gelap seperti tadi, melainkan terang, mendapat penerangan matahari yang bersinar turun melalui lobang lobang di sebelah atas. Jalan berliku liku diapit oleh tebing batu karang yang tingginya tak dapat diukur lagi, seakan akan kedua tebing di kanan kiri itu menyundul langit! Tak lama kemudian, tibalah mereka di sebuah ruangan yang bersih dan luas dan di sudut ruangan itu terlihat oleh Bun Sam seorang kakek yang sudah tua sekali duduk bersila dan diam tak bergerak seperti orang sedang tidur atau sebuah patung batu yang tak bergerak. Rambutnya yang putih itu panjang sekali sampai menutupi kedua pundaknya, terus bergantungan sampai di perutnya, ia memakai pakaian putih yang nampak bersih sekali, demikianpun di sekeliling tempat ia duduk, nampak bersih sekali seakan akan setiap saat disapu dengan teliti. Kira kira tiga tombak di sekelilingnya yang bersih, di luar itu agak kotor karena daun daun kering yang melayang jatuh dari atas kedua tebing. Di sebelah kiri dari kakek itu terdapat buah keranjang besar yang berisi buah buahan kemerahan seperti yang dimakan oleh Bun Sam tadi, sebanyak setengah keranjang. Melihat wajah kakek itu pucat dan nampaknya demikian lemah, timbul hati kasihan dalam dada Bun Sam. Akan tetapi kakek itu ternyata sama sekali tidak lemah karena pendengarannya masih tajam sekali. Hal ini terbukti bahwa

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

biarpun kakek gagu dan Bun Sam masuk tanpa mengeluarkan suara sedikitpun dan biarpun kakek baju putih itu tidak membuka matanya, ia telah mengetahui kedatangannya itu. Ia bicara dengan suara halus. Lo koai, apakah Pek lek kiam telah dapat kau bawa ke sini? Dan tamu siapakah yang ikut datang bersamamu? Setelah berkata demikian, kakek baju putih itu membuka matanya. Terkejutlah hati Bun Sam ketika ia melihat mata kakek ini te lah buta. Biji matanya hanya kelihatan putih saja sungguh mengerikan sekali. Kakek gagu yang sebetulnya bernama atau mendapat nama julukan Ah Lo koai (Setan Tua Gagu) ini tentu saja tidak dapat menjawab dan juga tidak akan ada gunanya kalau ia bicara dengan gerak jari tangan karena kakek baju putih itu tidak dapat melihat. Maka ia lalu memberi tanda dengan jari tangan kepada Bun Sam dan minta pemuda itu menjadi juru bahasa menyampaikan jawabannya kepada kakek buta itu. Sekarang tahulah Bun Sam bahwa ia diculik untuk dijadikan juru bahasa. Akan tetapi dugaannya ini sebetulnya tidak tepat betul. Ada maksud yang lain dan yang lebih hebat lagi dari kakek gagu itu, maka ia membawa Bun Sam ke tempat ini. Setelah kakek gagu itu selesai bicara dengan gerak tangan, Bun Sam menjadi makin terkejut dan heran karena benar saja bahwa kekek buta ini bukan lain adalah Bu Tek Kiam ong si Raja Pedang yang dulu sering disebut sebut dan dipuji puji oleh suhunya, ia lalu menjatuhkan diri berlutut di depan kakek sakti itu dan berkata untuk menyampaikan jawaban si kakek gagu. Teccu yang bodoh bernama Song Bun Sam, dibawa datang ke sini oleh Ah locianpwe (kakek gagah yang gagu). Adapun Ah locianpwe telah berhasil mendapatkan pedang Pek lek kiam. Ah locianpwe minta teecu menyampaikan

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

kepada locianpwe bahwa ilmu pedang itu harus segara diselesaikan dan diturunkan kepadanya, karena kalau tidak, leher locianpwe dan leher teecu akan dipenggal dengan pedang pusaka itu. Bun Sam menterjemahkan bahasa jari tangan Ah Lokoai dan diam diam ia merasa heran sekali mengapa ada terjadi perkara yang aneh ini antara Ah Lokoai dan Bu Tek Kiam ong. Tentu saja ia hanya dapat menduga duga dan tidak berani banyak bertanya, ia melihat Ah Lokoai kembali menggerak gerakkan jari tangannya dan kagetlah ia ketika mengerti akan maksud kakek gagu itu. Akan tetapi melihat pandangan mata yang menyeramkan dari kakek gagu yang agaknya berotak miring ini ia cepat menyampaikannya kepada Bu Tek Kiam ong. Ah locianpwe memberi waktu tiga bulan kepada locianpwe untuk menciptakan dan menyelesaikan ilmu pedang yang tiada lawannya di dalam dunia kang ouw. Lewat dari tiga bulan, locianpwe takkan dapat hidup lagi dan bersama teecu akan dimasukkan ke dalam sumur ular berbisa ! Bu Tek Kiam ong tertawa geli mendengar ancaman ancaman yang hebat ini. Lokoai benar benar lucu. Siapakah yang takut mati? Kalau bukan ingin meninggalkan ilmu pedang yang akan merajai di seluruh dunia kang ouw, siang siang aku sudah mengambil nyawaku sendiri dari tubuh yang bobrok ini ! Bun Sam melihat Ah Lokoai menggerak gerakkan jari tangannya, maka ia cepat menterjemahkannya. Ah locianpwe bilang bahwa dia sudah banyak memelihara locianpwe, mencarikan buah buahan. Kalau tidak ada dia, locianpwe tentu mati kelaparan, maka sudah sepatutnya kalau dia yang menerima warisan ilmu pedang itu. Kembali Bu tek Kiam ong gelak tertawa. Ha, ha, ha, sungguh Ah Lokoai seperti badut melawak. Mataku sempat

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

buta, perbuatan siapakah itu? Kedua kakiku sampai lumpuh, kejahatan siapa pula itu? Apa artinya dibandingkan dengan pemeliharaan selama lima tahun? Ha, ha, sungguh lucu, aku memang hendak mencipta ilmu pedang dengan pek lek kiam, akan tetapi ilmu pedang ini akan dimiliki oleh seorang yang benar benar gagah dan berbudi luhur. Mendengar ucapan ini, tiba tiba Ah Lokoai mengeluarkan seruan keras yang menyeramkan sekali dan ia lalu menubruk maju, menyerang Bu tek Kiam ong dengan sebuah pukulan maut ke arah kepala kakek rambut putih itu. Melihat hal ini, Bun Sam tentu saja tidak mau berpeluk tangan saja. Pemuda ini dengan cepat pula lalu menyambar maju dan dengan kedua tangannya ia menangkis pukulan Ah Lokoai. Duk! Bun Sam terpental dua tombak lebih dan tubuhnya tertumbuk pada dinding batu karang. Demikian hebat tenaga raksasa yang keluar dari pukulan Ah Lokoai tadi. Baiknya pemuda ini telah melatih dengan baik ilmu lweekangnya, sehingga ia telah dapat menutup hawa dan melindungi jalan darahnya maka biarpun adu tenaga itu membuat kepalanya pening dan benturan dengan dinding membuat kulitnya lecet lecet, namun ia tidak mengalami luka di dalam tubuh. Namun ia untuk sementara tak dapat bangkit lagi dan hanya rebah sambil memandang ke arah Ah Lokoai. Kakek gagu ini tadi juga terdesak mundur sampai dua tindak ketika lengannya terbentur dengan kedua lengan Bun Sam. Kini ia tertawa tawa melihat Bun Sam terlempar, kemudian dengan serentak ia lalu mengirim pukulan lagi ke arah kepala Bu tek Kiam ong. Bun Sam merasa ngeri karena mana bisa kepala kakek yang lumpuh dan lemah itu menahan pukulan maut ini?

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Akan tetapi, ia sendiri masih merasa lemah dan sakit sakit tubuhnya, sehingga tak berdaya menolong. Akan tetapi, kakek buta itu sekarang menengok ke arah Bun Sam dengan wajah berseri dan tanpa memperhatikan serangan Ah Lokoai ia mengangkat tangan ke arah kakek gagu sambil berseru. Lokoai, tahan dulu! Aku tidak takut mati, akan tetapi kalau aku sampai mati, siapa yang akan mengajarmu ilmu pedang untuk menghadapi mereka? Mendengar seruan ini, Ah Lokoai menahan pukulannya dan cepat menggerak gerakkan jari tangannya sambi memandang ke arah Bun Sam, matanya mengeluarkan perintah agar pemuda itu menyampaikan kata katanya kepada Bu Tek Kiam ong. Si gagu bertanya, apakah locianpwe suka menurunkan ilmu pedang itu kepadanya? kata Bun Sam yang kini tidak menyebut Ah locianpwe lagi kepada kakek gagu, melainkan menyebut si gagu saja! Tentu, tentu, Bu Tek Kiam ong berkata dan wajahnya makin berseri girang. Aku berjanji untuk mengajar ilmu pedang kepadanya, akan tetapi harus diketahui bahwa ilmu pedang yang hendak kuciptakan ini sedikitnya harus dilatih selama tiga tahun! Dan satelah aku memberi janjiku, iapun harus berjanji takkan mengganggu anak muda ini! Ah Lokoai menjadi girang dan mengangguk angguk puas sambil menyeringai. Dia setuju, locianpwe! kata Bun Sam. Tanpa memperdulikan lagi kepada Ah Lokoai Bu Tek Kiam ong lalu mengeluarkan tangannya ke arah Bun Sam sambil berkata. Anak muda kau majulah ke sini, biarkan aku meraba muka dan tubuhmu !

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Dengan tubuh masih terasa sakit sakit, Bun Sam lalu menghampiri kakek itu dan berlutut di depannya. Bu tek Kiam ong lalu mengulurkan tangannya, meraba raba kepala, muka, kedua lengan dan pundak Bun Sam sambil mengangguk angguk puas. Semua ini dilihat oleh Ah Lokoai dengan mata tajam. Ia memperhatikan betul betul dan merasa khawatir kalau kalau kedua orang itu akan membuat persekutuan diam diam. Akan tetapi Bu tek Kiam ong tidak menyatakan sesuatu hanya bertanya. Anak muda, namamu Song Bun Sam? Bagus, sekarang katakan, apakah kau tadi bukan melakukan gerakan dari Kim kong pek lek jiu ketika menyambut pukulan Ah Lokoai? Bun Sam terkejut sekali. Bagaimana seorang buta dapat menduga gerakan pukulannya ketika ia menangkis pukulan Ah Lokoai tadi? Benar, locianpwe, memang teecu adalah murid dari Kim Kong Taisu. Pada saat itu Ah Lokoai menggerak gerakkan tangannya dan Bun Sam berkata, Si gagu memberitahukan bahwa selain menjadi murid Kim Kong Taisu, teecu juga menjadi murid dari Mo bin Sin kun. Hal ini memang ada betulnya, karena teecu pernah menerima latihan ilmu pukulan dari Mo bin Sin kun. Mendengar ucapan itu Bu tek Kiam ong menjadi makin girang, ia menepuk nepuk pahanya dan berkata Ah, tahulah aku sekurang mengapa Lokoai membawamu ke sini! Bagus, bagus agaknya Lokoai hendak berusaha benar benar untuk mengalahkan Kim Kong Taisu dan Mo bin Sin kun. Ha, ha, ha! Kakek buta ini lalu tertawa terbahak bahak seperti orang yang merasa geli dan juga gembira

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

sekali dan tiada hentinya tangannya mengusap usap kepala Bun Sam penuh kasih sayang. Mendengar kata kata dan melihat sikap kakek ini, timbul keheranan dan juga rasa simpati terhadap Bu tek Kiam ong dalam hati Bun Sam. Locianpwe, bolehkah teecu mengetahui apakah sebetulnya arti daripada semua ini! Mengapa Ah Lokoai memusuhi suhu Kim Kong Taisu dan Mo bin Sin kun? Dan mengapa pula locianpwe diharuskan menciptakan ilmu pedang untuknya? Juga apakah hubungan pedang Pek lek kiam dari istana dan kehadiran teecu di sini dengan persoalan ini? Teecu merasa bingung sekali locianpwe dan mohon penjelasan. Bu tek Kiam ong menarik napas panjang, lalu menjawab, Kalau Lokoai menyetujui, baru aku dapat menceritakan semua kepadamu, Bun Sam. Bun Sam lalu berkata dengan gerak jari tangannya kepada Ah Lokoai. Aku telah kaupaksa ikut ke tempat ini dan aku berada di dalam kekuasaanmu. Akan tetapi sebagai orang ketiga di tempat asing ini, aku harus mengetahui persoalannya. Kalau tidak, biar kau akan membunuhku, aku takkan suka membantumu menjadi juru bahasa! Tadinya Ah Lokoai memandang marah sekali, akan tetapi akhirnya ia memberikan persetujuan nya. Maka dengan suara tenang dan nyata, berceriteralah Bu tek Kiam ong dengan ringkas yang membuat Bun Sam menjadi marah sekali kepada Ah Lokoai. Menurut penuturan Bu tek Kiam ong, belasan tahun yang lalu, bahkan kurang lebih duapuluh tahun yang lalu, lima orang tokoh besar dunia persilatan yang disebut Lima Besar, yakni Kim Kong Taisu, Lam hai Lo mo Seng Jin Siansu, Pat jiu Giam ong Liem Po Coan, Mo bin Sin kun

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

dan Bu Tek Kiam ong mengadakan perjanjian untuk bertemu di puncak Thaisan untuk berdemontrasi ilmu silat dan menentukan siapa yang memiliki kepandaian tertinggi diantara mereka berlima. Pertemuan antara Lima Besar yang dianggap sebagi tokoh tokoh paling terkemuka di dunia persilatan tentu saja menarik perhatian tokoh kang ouw dari semu penjuru. Oleh karena itu, pada saat yang telah ditentukan, tidak saja Lima Besar ini yang hadir di puncak Gunung Thaisan, bahkan banyak sekali ciangbunjin (ketua) dan tokoh tokoh cabang persilatan seperti Go bi pai, Kun lun pui, Hoa San pai, Bu Tong pai dan Siauw lim pai juga memelukan hadir untuk menyaksikan pertandingan persahabatan yang tentu saja akan menarik sekali itu. Diantara mereka itu, semua menyatakan setuju di dalam hati bahwa pertemuan ini disebut pertemuan Lima Tokoh Terbesar, karena mereka semua sudah maklum bahwa tingkat kepandaian orang orang ini memang benar benar lebih tinggi daripada tingkat kepandaian mereka. Akan tetapi ada seorang tokoh aneh yang merasa penasaran dan tidak puas dengan adanya sebutan Lima Tokoh Terbesar itu karena ia merasa bahwa ilmu kepandaiannya sendiri pun cukup tinggi dan ia tidak mau kalah. Orang ini adalah seorang gagah yang semenjak kecil telah menderita penyakit gagu dan nama nya lebih terkenal dengan sebutan Ah Lokoai, seorang yang berkeliaran di dunia kang ouw wilayah selatan. Memang untuk daerah selatan, nama Ah Lokoai telah amat terkenal, tidak saja karena ilmu kepandaiannya yang amat tinggi, akan tetapi juga karena kegalakan dan keganasannya serta kegilaannya. Ketika lima orang tokoh besar itu sudah berkumpul, tiba tiba muncullah Ah Lokoai yang dengan suara ah ah uh uh dan ha ha hu hu menyatakan pendapatnya bahwa di dalam

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

pibu itu ia harus dibawa pula untuk menetapkan siapa yang lebih unggul. Pendeknya, dengan caranya sendiri ia mengusulkan agar sebutan Lima Besar dirobah menjadi Enam Besar. Tokoh tokoh kang ouw yang berada di situ tak dapat menahan ketawa mereka mendengar usulan ini. Ah Lokoai yang melihat dirinya ditertawakan orang, menjadi marah sekali dan ia menantang Lima Besar seorang demi seorang. Untuk menjaga nama mereka, Lima Tokoh Terbesar tentu saja menerima tantangan ini dan Lam hai Lo mo Seng Jin Siansu yang berwatak jenaka itu bahkan menyatakan bahwa kalau tidak dapat mengalahkan Ah Lokoai dalam sepuluh jurus lebih baik mundur saja dan jangan menyebut diri menjadi seorang diantara Lima Besar. Pendeknya, kepandaian Ah Lokoai hendak dijadikan bahan ujian! Majulah mereka seorang demi seorang menghadapi Ah Lokoai dan benar saja. Ah Lokoai dijatuhkan lima kali oleh Lima Besar itu dalam pertempuran kurang dari sepuluh jurus! Riuh rendah sorak dan ejekan para tokoh kang ouw yang dilontarkan kepada Ah Lokoai dan orang gagu ini dengan perasaan malu sekali lalu meninggalkan puncak Thai san. Kemudian ia dilupakan orang. Tidak tahunya bahwa si gagu ini menanam bibit kebencian dan dendam yang meluap luap. Ia menyembunyikan dirinya dan melatih ilmu silat tinggi sampai belasan tahun. Kemudian setelah merasa dirinya kuat benar benar, ia lalu mencari Bu tek Kiam ong lagi untuk menantang berkelahi ! Akhirnya, di kaki Gunung Hek mo san, ia dapat bertemu dengan Bu tek Kiam ong yang sudah lama mengasingkan diri di tempat sunyi ini, tidak mau mencampuri urusan dunia ramai. Melihat kedatangan Ah Lokoai, BuTek Kiam

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

ong memberi nasehat nasehat, akan tetapi si gagu itu tetap saja penasaran dan menantangnya untuk mengadu kepandaian karena ia hendak menebus kekalahannya yang dahulu belasan tahun yang lalu. Bukan main ramainya pertempuran antara mereka. Ah Lokoai benar benar telah mendapat kemajuan pesat sekali dan ilmu, kepandaiannya jika dibandingkan dengan dulu berbeda jauh sekali. Bu tek Kiam ong harus mengakui hal ini dan kalau saja ia tidak mengandalkan permainan pedangnya yang hebat luar biasa, agaknya dalam seratus jurus belum tentu ia dapat merobohkan Ah Lokoai. Namun, Bu tek Kiam ong dikenal sebagai Raja Pedang, setelah ia memainkan pedang nya, akhirnya Ah Lokoai terpaksa haus mengaku kalah untuk kedua kalinya terhadap Raja Pedang ini. Ah Lokoai lalu menjatuhkan diri berlutut dan mohon diterima menjadi murid, Bu tek Kiam ong adalah seorang tua yang bertabiat sabar dan berbudi mulia. Melihat keadaan Ah Lokoai, ia menaruh hati kasihan, ia bukan tidak tahu bahwa Ah Lokoai adalah seorang yang penderita penyakit jiwa, akan tetapi ia tidak tega untuk menolak permohonan Ah Lokoai. Ia menyatakan bahwa ia tidak akan menerima murid. Akan tetapi, ah Lokoai mendesak bahwa ia rela penjadi bujang yang melayani segala keperluan orang tua itu asal saja diberi pelajaran satu dua macam ilmu silat! Akhirnya Bu tek Kiam ong menerimanya dan demikianlah semenjak hari itu Ah Lokoai tak pernah berpisah dari Bu tek Kiam ong. Akan tetapi, tentu saja Raja Pedang itu tidak mau menurunkan ilmu kepandaian yang paling tinggi karena ia tahu bahwa ilmu kepandaian yang jatuh dalam tangan orang gila seperti Ah Lokoai, hanya akan merupakan bahaya belaka bagi umat manusia. Ia

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

hanya mengajarkan kepandaian silat biasa kepada Ah Lokoai. Di luarnya, Ah Lokoai kelihatan biasa dan menerima, akan tetapi di dalam hati ia merasa mendongkol sekali. Akhirnya, kesempatan baginya tiba, ia mencampuri bisa ular dalam makanan Bu tek Kiam ong dan setelah Raja Pedang ini makan masakan itu, ia roboh pingsan! Tadinya Ah Lokoai hendak segera membunuh Raja Pedang ini sebagai pembalasan dendam, akan tetapi tiba tiba si gagu yang berotak miring ini mendapat sebuah pikiran yang baik sekali, ia lalu membawa Bu tek Kiam ong yang pingsan itu ke atas puncak Gunung Hek mo san dan membawanya masuk ke dalam gua siluman yang memang menjadi tempat tinggalnya ketika ia mengasingkan diri. Di situ ia membuat Bu tek Kiam ong tidak berdaya dengan jalan menggosok mata Raja Pedang ini dengan bubuk batu karang sampai menjadi buta dan kemudian membikin putus otot otot besar pada kedua kakinya! Semenjak saat yang mengerikan itu, Bu tek Kiam ong menjadi seorang manusia cacat yang tidak berdaya lagi dan yang lebih hebat, ia berada dalam cangkeraman seorang gila yang jahat seperti Ah Lokoai ! Dengan ancaman ancaman dan bujukan bujukan, Ah Lokoai berusaha memaksa Bu tek Kiam ong untuk menurunkan ilmu pedangnya kepada si gagu ini, karena cita cita terakhir dalam hidupnya, ialah mencari Kim Kong Taisu, Mo bin Sin kun, Lam hai Lo mo, Seng Jin Siansu dan Pat jiu Giam ong Liem Po Coan untuk membalas atas kekalahannya yang dulu! Akhirnya, setelah dapat mempertahankan diri dari ancaman ancaman, siksaan siksaan dan bujukan bujukan Ah Lokoai sampai selama lima tahun di dalam gua siluman itu, Bu tek Kiam ong yang putus asa lalu menyatakan bahwa ia tidak akan mungkin

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

menciptakan ilmu pedang yang akan mengatasi kepandaian empat orang tokoh besar itu kalau tidak ada pedang pusaka Pek lek kiam di dalam tangannya! Sebetulnya memang Bu tek Kiam ong bercita cita menciptakan ilmu pedang yang paling hebat, yang dipelajarinya dan dibikin matang di dalam otaknya selama lima tahun ia berada dalam cengkeraman Ah Lokoai. Akan tetapi, tentu saja ia tidak bermaksud menurunkan ilmu pedang itu kepada Ah Lokoai, bahkan dengan pedang Pek lek kiam di tangan, ia akan berusaha membunuh Ah Lokoai yang gila tetapi cerdik itu. Seperti telah diceritakan di bagian depan, ketika mencuri pedang Pek lek kiam dan bertemu dengan Bun Sam hati Ah Lokoai tertarik. Pemuda ini adalah murid dari Mo bin Sin kun dan Kim Kong Taisu, maka perlu sekali pemuda ini dibawa untuk menyempurnakan ilmu pedang yang hendak diciptakan oleh Bu tek Kiam ong dan untuk dapat diuji sampai di mana kelihaian ilmu pedang itu kalau menghadapi dua tokoh besar itu yang sekarang diwakili oleh muridnya! Tentu saja, penuturan Bu tek Kiam ong kepada Bun Sam tidak secara terus terang seperti yang dituturkan di atas. Karena aku sudah tua sekali tinggal menanti maut, katanya kepada Bun Sam, terpaksalah aku menuruti permintaan Lokoai. Aku menyuruhnya mencuri pedang Pek lek kiam untuk dipergunakan dalam menciptakan ilmu pedang dan kemudian Lokoai akan mempelajarinya. Dengan demikian biarpun aku mati hatiku akan puas karena kepandaian telah kutinggalkan kepada dunia dan dapat dipergunakan untuk membasmi kejahatan! Mendengar ucapan terakhir ini, Ah Lokoai mengangguk angguk dan nampak puas, sedangkan Bun Sam yang

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

berotak cerdik itu dapat menangkap ejekan yang terkandung dalam kata kata ini. Sudah jelas bahwa Ah Lokoai adalah seorang gila yang melakukan kejahatan, bagaimana Bu tek Kiam ong dengan jelas menyatakan bahwa ilmu pedangnya ditinggalkan agar dapat dipergunakan untuk membasmi kejahatan? Kalau yang disindirkan sebagai kejahatan itu adalah diri Ah Lokoai, maka bukankah guru besar ini bermaksud untuk menurunkan ilmu pedang itu kepadanya agar ia dapat melenyapkan Ah Lokoai si jahat dari muka bumi? Ah, sekarang teecu mengerti, locianpwe, kata Bun Sam. Jadi teecu dibawa ke sini agar ilmu pedang itu dapat disesuaikan dengan ilmu silai yang teecu dapat dari kedua guru teecu, sehingga dapat mengatasi kepandaian mereka? Ah Lokoai menggerakkan jari tangannya dan berkata. Memang kau harus membantu, kalau tidak, kau akan kulemparkan ke dalam sumur ular! Adapun Bu tek Kiam ong lalu menepuk nepuk punggung Bun Sam sambil berkata, Untuk menyempurnakan ciptaan ilmu pedangku, aku mengandalkan bantuanmu, orang muda. Bun Sam terkejut sekait ketika punggungnya ditepuk tepuk, karena ternyata bahwa kakek buta itu dapat tahu bahwa ia menyembunyikan pedang di dalam bajunya di bagian punggung. Pedang tipis kecil pemberian suhunya, yakni bedang Kim kong kiam. Dari ucapan itu terang bahwa Bu tekt Kiam ong mengharapkan bantuannya, tentu saja untuk membasmi Ah Lokoai yang jahat. Teecu bersiap sedia, membantu, suhu. Ia sengaja mengubah sebutan locianpwe menjadi suhu atau guru, untuk memberitahukan kepada Bu tek Kiam ong bahwa ia diam diam telah mengangkat guru kepada kakek ini.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Baiknya Ah Lokoai tidak memperhatikan perubahan sebutan ini, karena kakek gagu yang gila ini telah menjadi demikian gembira mendengar percakapan antara Bu tek Kiam ong dan Bun Sam sehingga ia menari nari kegirangan di dalam gua itu. Sungguh pemandangan yang amat menyeramkan. Ketika Bu tek Kiam ong minta pedang Pek lek kiam, Ah Lokoai merasa ragu ragu untuk memberikannya, akan tetapi akhirnya ia memberikan pedang itu melalui tangan Bun Sam sambil menyuruh pemuda ini menyampaikan ancamannya. Kalau Bu tek Kiam ong hendak mengandalkan pedang itu untuk melawannya, ia akan memenuhi gua ini dengan ular ular berbisa dan kemudian menutup pintu gua untuk selamanya. Ucapan ini menyatakan bahwa biarpun sudah lumpuh dan buta, namun Bu tek Kiam ong yang berjuluk Raja Padang ini amat ditakuti oleh Ah Lokoai apabila kakek buta ini memegang pedang. Bu tek Kiam ong hanya tersenyum saja mendengar ancaman ini. Ia menerima Pek lek kiam dan tangan Bun Sam, mencabutnya dari sarung pedang, berkeredepan sinar putih ketika pedang ini dicabut dan ketika Bu tek Kiam ong menggerak gerakkan pedang itu di tangannya, maka mata Bun Sam menjadi silau. Pedang bagus! Bu tek Kiam ong berseru girang sambil tangan kirinya mengelus elus pedang pusaka itu. Lokoai, sekarang kau harus tinggalkan aku seorang diri di dalam gua ini selama tiga bulan lamanya, agar aku dapat menyelesaikan ciptaan ilmu pedangku. Biarkan Bun Sam melayani segala keperluanku. Ah Lokoai nampak kurang percaya kepada Bun Sam dan sambil bersungut sungut ia menyatakan keberatannya, akan

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

tetapi akhirnya ia setuju juga. Betapapun juga ia tak pernah meninggalkan pintu gua dan selalu mengamat amati gerak gerik Bun Sam dan Bu tek Kiam ong dengan amat teliti, sehingga tidak ada kesempatan bagi kedua orang ini untuk bicara tanpa terdengar atau terlihat oleh Ah Lokoai! Selama tiga bulan itu, tiga orang itu bekerja dalam bidang masing masing tanpa banyak bicara. Pekerjaan Bu tek Kiam ong hanya menggerak gerakkan pedang, berkemak kemik, berpikir pikir dan kadang kadang mencorat coret dengan pedangnya di atas tanah di depannya atau kalau badan lelah ia lalu bersamadhi. Pekerjaan Bun Sam melayani kakek ini, keperluan makan dan minumnya dan biarpun diam diam pemuda ini memperhatikan gerakan dan corat coret yang berbentuk aneh sekali, juga corat coret itu berbentuk aneh, huruf bukan lukisanpun bukan. Ah Lokoai selama tiga bulan itu selalu menjaga dengan teliti sekali, ia hanya mau tidur kalau melihat Bun Sam sudah pulas, atau kalau ia lelah sekali ia lebih dulu menotok pemuda ini membuatnya tidak berdaya, barulah ia tidur di luar gua! Tentu saja Bun Sam amat mendongkol, akan tetapi apakah dayanya? Kepandaian kakek gagu itu benar benar berada di sebelah atas tingkat kepandaiannya sendiri dan seandainya ia melawan, itu berarti ia hanya akan mencari kematian sendiri, mungkin kematian yang amat menyeramkan, ia pernah melihat sumur yang penuh dengan ular ular berbisa itu dan membayangkan dengan hati ngeri betapa hebatnya kalau sampai terjerumus ke dalam sumur neraka itu! Tiga bulan terlewat dengan cepatnya dan seakan akan tidak terasa bagi Bu tek Kiam ong. Akan tetapi terasa amat lama bagi Bun Sam yang hidup sepeti di dalam penjara. Gua itu tertutup oleh sebuah pintu rahasia dan biarpun sudah beberapa kali ia mencoba untuk mencari

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

rahasia pintu ini, sia sia belaka. Juga terasa amat lama bagi Ah Lokoai yang sudah tak sabar lagi ingin cepat cepat mewarisi ilmu pedang yang sedang dirangkai oleh Bu tek Kiam ong Si Raja Pedang. Akhirnya Bu tek Kiam ong memanggil Ah Lokoai dan Bun Sam menghadap. Ilmu pedangku sudah selesai, katanya, dan ilmu pedang ini akan menjagoi di seluruh dunia asal saja berada di tangan seorang yang berhati mulia. Lekas ajarkan kepadaku. kata Ah Lokoai dengan jari tangannya yang segera disampaikan kepada kakek rambut putih itu oleh Bun Sam. Boleh, boleh, nah lihatlah baik baik. Jurus jurus pertama kusesuaikan dengan ilmu pedang dari Kim Kong Taisu untuk dapat mengimbangi ilmu silat dari orang tua itu. Lihatlah, Ah Lokoai, ilmu pedang Kim Kong Taisu yang berdasarkan ilmu Silat Kim kong Pek lek jiu hwat yang paling lihai adalah bagian dari jurus ke tigabelas sampai tujuhbelas. Bukankah begitu, Bun Sam? Pemuda ini terkejut, sekali karena memang, pernyataan kakek ini cocok sekali. Ilmu pedang yang ia pelajari dari gurunya memang mempunyai tujuhpuluh jurus dan yang paling lihai gerakannya memang jurus ke tigabelas sampai ke tujuhbelas yang menurut suhunya, jarang dapat dihadapi oleh ilmu pedang lain, maka ia lalu menjawab. Ucapan suhu tidak salah sedikitpun juga. Nah, Lokoai, kau perhatikan baik baik. Aku sengaja memilih jurus yang terlihat dari calon lawanmu, sehingga kau takkan dapat dikalahkan. Lihatlah dulu, jurus ke tigabelas sampai tujuhbelas dari ilmu pedang Kim Keng Taisu adalah begini! Bu tek Kiam ong sambil duduk lalu

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

menggerakkan pedang Pek lek kiam, memainkan jurus ilmu pedang itu. Hampir saja Bun Sam tak dapat menahan ketawanya dan seruan herannya ketika ia melihat Bu tek Kiam ong memainkan ilmu pedang itu. Memang gerakan kedua tangannya amat sempurna, bahkan melebihi kepandaian Kim Kong Taisu sendiri, akan tetapi semua gerakan itu terbalik sama sekali. Kalau jurus ke tigabelas yang disebut Ang hong koan jit (Bianglala Merah Menutup Matahari) dilakukan dengan pedang disabetkan dari kiri ke kanan kemudian dilanjutkan dengan serangan melengkung dari atas ke bawah, adalah gerakan Bu tek Kiam ong ini sebaliknya, yaitu pedang disabetkan dari kanan ke kiri kemudian disusul dengan gerakan melengkung dari bawah ke atas. Kemudian, jurus ke empatbelas yang bernama Po in gan goat (Sapu Awan Melihat Bulan) seharusnya pedang diputar mengandalkan pergelangan tangan di depan muka. terputar dari kanan ke kiri, kemudian setelah tujuh putaran lalu tiba tiba meluncur ke depan menyerang bagian leher lawan akan tetapi Bu tek Kiam ong memutarnya dari kiri ke kanan dan setelah lima putaran saja lalu tiba tiba meluncur ke depan menyerang ke arah lambung lawan. Demikian selanjutnya sampai jurus ke tujuhbelas dimainkan, semuanya terbalik, sungguhpun digerakkan dengan cara yang luar biasa gesitnya, sehingga mendatangkan angin dari pedang Pek lek kiam menjadi segulung sinar yang menyilaukan mata. Nah, kau sudah melihat, Lokoai? Ilmu pedang Kim Kong Taisu memang hebat asal saja dimainkan dengan baik oleh seorang murid yang baik pula, sehingga permainannya tidak terbalik. Akan tetapi aku telah menyusun ilmu pedang yang menjadi timpalan dari semua Ilmu silat calon calon lawanmu. Sekarang kau lihat supaya kau percaya

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

kepadaku, suruhlah murid Kim kong Taisu itu memainkan ilmu pedang yang baru saja kumainkan, apakah betul atau tidak. Kalau dia yang memainkan tentu lebih tepat karena kau dapat melihat pergerakan kakinya. Mendengar ini, Lokoai lalu menggerakkan jari tangannya menyuruh Bun Sam memenuhi permintaan Bu tek Kiam ong. Bun Sam lalu menepuk panggungnya dan mengeluarkan pedang Kim kong kiam. Lokoai menjadi tertegun karena tak pernah disangkanya bahwa pemuda itu menyimpan pedang di bawah bajunya. Akan tetapi ia tidak menaruh hati khawatir, karena maklum bahwa kepandaiannya jauh lebih tinggi daripada kepandaian Bun Sam. Setelah melihat kakek gagu itu tidak marah. Bun Sam lalu menggerakkan pedangnya dan dengan tepat sekali ia meniru semua gerakan Bu tek Kiam ong tadi. Bahkan untuk menyesuaikan dengan cara bersilat yang dibalik itu, ia pun membalikkan pula kedudukan kakinya. Kalau seharusnya kaki kanan di depan, sekarang ia merobah dan menaruh kaki kanan di belakang. Dengan kening dikerutkan dan penuh perhatian Bu tek Kiam ong memasang telinganya mendengarkan angin gerakan pedang pemuda itu. Ketika ia menangkap angin pedang yang tepat seperti yang dimainkannya tadi, wajahnya menjadi gembira sekali. Bagus, bagus, anak ini benar benar pandai! Lokoai, tidakkah sama permainan pedangnya dengan yang kuperlihatkan tadi? Nah sekarang perhatikanlah baik baik jurus jurus pertama sampai ke sepuluh dari ilmu pedangku, yang sekaligus dapat mengatasi lima jurus ilmu pedang Kim Kong Taisu yang kau saksikan tadi. Awas, lihat baik baik! Setelah berkata demikian, kakek ini lalu memainkan ilmu pedangnya sampai sepuluh jurus. Ilmu pedangnya ini hebat

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

luar biasa, akan tetapi agak kacau dan aneh. Ah Lokoai memandang dengan penuh perhatian dan dengan gembira sekali. Sebaliknya, Bun Sam diam diam menanam dalam otaknya ilmu pedang yang dimainkan oleh kakek ini dan otaknya yang cerdik telah mendapatkan sesuatu yang membuat hatinya berdebar debar. Ilmu pedang yang dimainkan ini, kalau dipergunakan untuk menghadapi ilmu pedangnya jurus ke tigabelas sampai tujuhbelas, terang sekali akan mengalami kekalahan! Akan tetapi, ketika ia mencoba untuk memandang ilmu pedang itu dengan terbalik, ia mendapat kenyataan bahwa ilmu pedang itu selain hebat dan sempurna sekali, juga benar benar mempunyai bagian bagian yang menutup atau menindih ilmu pedang dari suhunya bagian jurus ke tigabelas sampai ke tujuhbelas! Dengan hati girang sekali, pemuda ini dapat membuka rahasia dari Bu tek Kiam ong. Ternyata kakek yang sakti ini telah sengaja memainkan ilmu pedangnya dengan terbalik agar dengan demikian Ah Lokoai mewarisi ilmu pedang dengan cara terbalik dan sama sekali tidak sempurna! Akan tetapi Ah Lokoai tidak tahu akan hal ini dan semenjak hari itu, ia melatih diri dengan tekun sekali, mempelajari ilmu pedang yang terbalik! Dan Bun Sam mengambil sikap yang sesuai dengan kehendak Bu tek Kiam ong, yakni ia selalu memainkan ilmu pedang atau ilmu silatnya dengan cara terbalik apabila Ah Lokoai minta kepadanya untuk bersilat sebagai imbangan daripada latihannya. Karena Bun Sam tidak pernah memberontak dan tidak menimbulkan kecurigaan dalam hati Ah Lokoai, juga karena kakek gagu ini membutuhkan Bun Sam untuk melatih Ilmu pedangnya sana untuk memaksa pemuda itu untuk bekerja sebagai pelayan di dalam gua, maka ia tidak membunuhnya.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Dengan hati hati sekali, di waktu Ah Lokoai tidur, Bun Sam diam diam mempelajari ilmu pedang ciptaan Bu tek Kiam ong, akan tetapi bukan seperti cara Ah Lokoai mempelajarinya, sebaliknya ia sengaja mempelajarinya dengan terbalik. Oleh karena tidak leluasa dan tidak dapat melatih diri, khawatir diketahui oleh Ah Lokoai, maka pelajaran ini amat lambat majunya. Sebaliknya, Ah Lokoai yang amat bernafsu untuk menguasai seluruh ilmu pedang yang semuanya berjumlah seratus dua jurus ini, berlatih dengan terburu buru dan semua jurus jurus itu seakan akan ditelannya saja! Dalam setahun saja ia telah dapat mempelajari dan memainkan seratus dua jurus dengan lengkap! Adapun Bun Sam di dalam setahun itu baru mempelajari tigapuluh jurus saja, itupun hanya dihafal di dalam otak, tidak dapat dimainkan dengan pedang! Setelah menamatkan pelajarannya. Ah Lokoai tadinya hendak membunuh saja Bu tek Kiam ong dan Bun Sam, akan tetapi tiba tiba otaknya yang tidak waras ini mendapat sebuah pikiran yang amat baik, ia memang agak curiga kepada Bu tek Kiam ong atas pelajaran ilmu pedangnya, hanya ia tidak dapat membuktikan bahwa kakek rambut putih itu mempermainkannya. Oleh karena itu ia hendak mencoba dulu ilmu pedang itu untuk melawan seorang diantara Lima Tokoh Terbesar! Maka ia lalu menyatakan kepada Bun Sam bahwa ia hendak pergi tak lama dan diminta supnya pemuda itu suka melayani segala keperluan Bu tek Kiam ong. Kemudian ia lalu pergi, meninggalkan Bun Sam bersama Bu tek Kiam ong dan menutup pintu rahasia itu dari luar. Setelah Ah Lokoai pergi, Bun Sam lalu menjatuhkan diri berlutut di depan Bu tek Kiam ong.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Suhu, terima kasih atas segala petunjukmu tentang ilmu pedang itu. Dan mohon petunjuk selanjutnya, karena sekembalinya Ah Lokoai tentu kita akan dibunuhnya! Bu tek Kiam ong mengelus elus kepala Bun Sam. Anak baik, aku girang sekali kau datang. Memang itulah yang kuinginkan, maka aku menyuruh Lokoai mencuri pedang di kota raja, yakni untuk menarik perhatian seseorang, hingga aku dapat menurunkan ilmu pedangku kepada yang patut menerima, jangan kau khawatir, muridku yang baik. Kau tentu telah mengerti bahwa Lokoai mempelajari ilmu pedang itu secara terbalik. Teecu mengerti, suhu, bahkan diam diam teecu telah mempelajari ilmu pedang itu dari jurus pertama sampai jurus ke tigapuluh dalam cara yang betul. Sayangnya teecu tidak mempunyai kesempatan untuk melatihnya. Bagus, bagus! Aku telah menduga demikian. Kalau tidak memiliki kecerdikan seperti itu, kau tidak pantas mewarisi ilmu pedang yang kunamakan Tee coen liok kiam sut (Enam Mmu Pedang Lingkaran Bumi). Biarpun kau baru mempelajari tiga puluh jurus dan itupun hanya kauwkoat saja (teori), namun itu berarti bahwa kau lelah hampir menguasai dua bagian daripada enam ilmu pedang ini. Ketahuilah, sebetulnya pada pokoknya, ilmu pedang yang kuciptakan ini hanya terdiri daripada enam bagian. Setiap bagian dipecah menjadi tujuh belas jurus, dengan demikian semua menjadi seratus dua jurus. Setiap bagian sedikitnya harus dipelajari sampai matang betul dalam waktu setengah tahun. Jadi untuk menyempurnakan seluruh ilmu pedang ini, membutuhkan waktu tiga tahun. Kau telah memiliki dua bagian yang empat bagian dapat kau pelajari dalam waktu dua tahun. Sekarang, coba kau mainkan dua bagian pertama itu untuk kudengarkan apakah ada yang keliru.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Bun Sam lalu mengeluarkan Kim kong kiam dan mulailah ia bersilat menurut pelajaran yang diam diam telah dlhafalkannya. Gerakannya tentu saja kaku karena tidak pernah dilatih, akan tetapi setelah memainkan sepuluh jurus lebih, ia mulai dapat menguasai kelincahan ilmu pedang itu dan Bu tek Kiam ong menjadi gembira sekali. Bagus, kau patut benar menjadi muridku. Kaulah kelak yang akan mewarisi Tee coan liok kiam sut dan biarpun aku harus mati sekarang, aku tidak penasaran lagi. Bun Sam menjatuhkan diri berlutut dan berkata dengah sedih. Akan tetapi, suhu, kita harus ingat bahwa masih ada Ah Lokoai yang tak lama lagi tentu akan datang dan membunuh kita kalau ia mendapat kenyataan bahwa ilmu pedang yang dipelajarinya itu sebetulnya tidak ada gunanya sama sekali. Belum tentu ia akan kembali, Bun Sam. Ia hendak menggunakan ilmu pedang yang dipelajarinya itu untuk mengalahkan seorang diantara Lima Besar. Tentu ia akan kalah dan roboh binasa. Bun Sam menggelengkan kepalanya. Kalau dia mencari Mo bin Sin kun, atau Lam hai Lo mo, atau Pat jiu Giam ong, mungkin ia takkan diampuni dan roboh binasa. Akan tetapi kalau ia bertemu dengan suhu Kim Kong Taisu, ia pasti takkan dibunuh dan diperbolehkan pergi lagi setelah dikalahkan. Bu tek Kiam ong menarik napas panjang. Memang gurumu itu sejak dulu berhati lemah. Apalagi membunuh Ah Lokoai, membunuh seekor cacing saja menjadi pantangan besar bagi Kim Kong Taisu. Akan tetapi jangan kau gelisah, muridku. Kau sekarang berlatihlah baik baik dengan ilmu pedang yang telah kau hafal itu. Dengan tiga

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

puluh jurus yang kau miliki saja, Lokoai agaknya takkan mampu mengalahkanmu. Lagi pula, suhu seandainya Lokoai tidak kembali, bagaimana kita keluar dari tempat ini? Pintu rahasia itu amat sukar dicari dan sampai sekarang teecu belum dapat membukanya. Lokoai memang jahat sekali, Bu tek Kiam ong menghela napas, memang gua ini tempat sembunyinya dan aku sendiri pun tidak tahu bagaimana harus membukanya. Sudahlah jangan pikirkan hal itu lagi. Sebelum pergi Ah Lokoai telah meninggalkan buah buahan tiga keranjang penuh, cukup untuk dimakan satu bulan lamanya. Sekarang jangan pikirkan apa apa, lekas kau berlatih ilmu pedang sebaiknya ! Demikianlah, dengan amat tekun dan tak kenal lelah Bun Sam lalu melatih diri dengan Ilmu Pedang Tee coan liok kiam sut itu, di bawah pengawasan suhunya yang baru. Selama setahun berada di dalam gua, tubuh Bun Sam menjadi kurus dan kulitnya menjadi agak pucat karena kekurangan cahaya matahari. Akan tetapi batinnya mendapat kekuatan baru yang timbul daripada kepahitan dan penderitaan hidup. Kadang kadang, dan ini merupakan gangguan terhebat baginya, terbayanglah wajah Sian Hwa dan akhirnya ia maklum bahwa lama hidupnya ia takkan dapat melupakan gadis itu, dan kesedihan ini selamanya takkan dapat meninggalkan ruang dadanya. Dua puluh hari kemudian, tiba tiba pintu gua itu terbuka dan Ah Lokoai muncul dengan muka pucat. Pakaiannya yang compang camping itu lebih tidak karuan lagi. Tangannya memegang pedang Pek lek kiam dan dadanya terluka, mengeluarkan darah.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Bun Sam menghentikan latihan ilmu pedangnya dan memandang dengan dada berdebar. Pedang Kim kong kiam masih terpegang di tangannya. Juga Bu tek Kiam ong mendengarkan dengan penuh perhatian dan wajahnya menegang. Setelah melompat masuk, Ah Lokoai menjadi demikian marah sehingga ia lupa untuk menutupkan pintu gua kembali. Ia memaki maki dengan bahasa jari tangannya yang bergerak gerak cepat sekali. Dengan teliti Bun Sam memandang gerak jari tangan itu dan tahulah ia bahwa kakek gagu ini benar benar dikalahkan oleh Lam hai Lo mo, ia menuduh Bu tek Kiam ong menipu dirinya dan tiba tiba ia menghampiri kakek itu. Kau telah menipuku, tua bangka. Oleh karena itu kau harus mampus di dalam sumur ular! Setelah berkata demikian ia mengeluarkan sehelai tambang sutera yang kuat sekali dan sekali ia mengayunkan tambang itu, benda itu melihat tubuh Bu tek Kiam ong dan mengikatnya, kemudian ia menyeret tambang itu, sehingga tubuh kakek itu terseret ke arah sumur ular. Bu tek Kiam ong yang lumpuh dan buta itu tidak berdaya, akan tetapi biarpun ia terseret keadaan tubuhnya masih duduk bersila. Ah Lokoai harus mengeluarkan seluruh tenaganya untuk menyeretnya terus dan tak lama kemudian tubuh Bu tek Kiam ong telah berada di pinggir sumur ular yang mengerikan itu. Bun Sam yang semenjak tadi melihat dengan kedua mata terbelalak tak dapat menahan kemarahannya lagi. Ia berlaku nekat dan berseru. Lokoai, jangan kau membunuh guruku! Sambil berseru demikian, ia menyerang Ah Lokoai dengan pedang Kim kong kiam.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Ah Lokoai marah sekali. Cepat ia melepaskan tambang dan menghadapi Bun Sam dengan serangan serangan maut, ia tidak mempergunakan Ilmu Pedang Tee coan liok kiam sut yang dipelajarinya secara terbalik itu, melainkan mengeluarkan kepandaiannya sendiri yang juga amat lihai. Bun Sam tahu bahwa kalau ia memainkan ilmu silatnya yang dahulu, ia masih takkan dapat menangkan kakek gagu yang kosen ini, maka ia lalu mulai memainkan Tee coan liok kiam sut bagian pertama. Melihat gerakan ilmu pedangnya, Ah Lokoai menjadi terkejut, terheran dan kemudian marah sekali. Kini tahulah kakek gagu ini bahwa selama ini ia telah ditipu mentah mentah, bahwa bukan dia yang mewarisi ilmu pedang itu, melainkan anak muda ini. Maka ia lalu memutar Pek lek kiam dan menyerang kalang kabut dengan nekat sekali. Dalam hal ilmu pedang, setelah menguasai sebagian dari Tee coan liok kiam sut, tentu saja Bun Sam lebih unggul, akan tetapi ia masih kalah jauh dalam hal lweekang maupun ginkang, maka sebentar saja ia menjadi terdesak hebat. Hanya ilmu pedangnya yang luar biasa saja yang membuat ia masih dapat bertahan sampai limapuluh. jurus. Beberapa kali ia terhindar dari pada bahaya maut ketika pedang Pek lek kiam menyambar nyambar bagaikan kilat di atas kepalanya. Adapun Bu tek Kiam ong memiringkan kepala memasang pendengarannya baik baik untuk mengikuti jalannya pertempuran ini, ia mengerti bahwa muridnya terdesak hebat dan akhirnya tentu takkan dapat bertahan lagi, maka ia lalu berseru. Bun Sam, lekas kau melompat ke belakangku! Memang pada saat itu Bun Sam sudah payah sekali, didesak hebat dan hanya dengan kegesitan saja ia dapat menghindarkan diri dari bahaya, berlerompat lompatan ke

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

sana ke mari, akan tetapi tentu takkan lama lagi pedang Pek lek kiam yang tajam menamatkan riwayat hidupnya. Ketika mendengar seruan gurunya, ia lalu melompat ke belakang dan bersembunyi di belakang Bu tek Kiam ong. Sekali saja Bu tek Kiam ong mengulur tangan, maka pedang Kim kong kiam telah ia rampas dari tangan Bun Sam. Pada saat itu, Ah Lokoai telah menjadi marah sekali dan menubruk maju sambil menyerang Bu tek Kiam ong. Nampak sinar keemasan berkelebat dan tahu tahu Ah Lokoai menjerit kesakitan dan pedang Pek lek kiam terlempar ke atas lantai. Sebelum pedang itu jatuh ke dalam sumur ular, Bu tek Kiam ong telah mengulur pedang Kim kong kiam dan berhasil memukul pedang pek lek kiam itu ke samping. Bun Sam cepat melompat dan mengambil pedang itu. Ah Lokoai makin marah. Tangan kanannya yang tadi memegang pedang kini telah berdarah, tergores oleh pedang Kim kong kiam yang tadi digerakkan secara luar biasa sekali oleh Bu tek Kiam ong. Ia melihat Bu tek Kiam ong memegang pedang Kim kong kiam dan Bun Sam memegang pedang Pek lek kiam ia menghadapi dua orang lawan yang tangguh dan bersenjata. Akan tetapi saking marahnya, kakek gagu ini menjadi nekat. Sambil mengeluarkan suara seperti seekor binatang buas yang amat menyeramkan, ia menubruk ke arah Bu tek Kiam ong, sama sekali tidak memperdulikan keselamatan dirinya sendiri. Bu tek Kiam ong tidak tega untuk menusukkan pedangnya maka ia dapat terpegang pundaknya oleh Ah Lokoai. Si kakek gagu menarik sekuat tenaga, hendak melemparkan Bu tek Kiam ong ke dalam sumur ular sedangkan kakek rambut putih itu mempertahankan diri. Mereka saling membetot, dan akhirnya Ah Lokoai yang

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

sudah nekat sekali itu bahkan hendak mengajak Bu tek Kiam ong bersama sama memasuki sumur ular itu! Bu tek Kiam ong hampir kalah tenaga karena maklumlah kedua kakinya sudah lumpuh. Untuk menyerang kakek gagu ini dengan pedangnya memang mudah sekali, akan tetapi ia tidak sampai hati melakukan hal ini. Melihat betapa keadaan suhunya amat terancam, Bun Sam lalu melompat dan sekali ia menusukkan pedangnya ke arah pergelangan tangan Ah Lokoai, pegangan Ah Lokoai terlepas. Karena ia tadi mempergunakan seluruh tenaganya membetot, maka kini satelah pegangannya terlepas, tubuhnya terhuyung huyung ke belakang dan tak dapat dicegah lagi ia terjeblos ke dalam sumur itu. Bun Sam cepat menutup kedua telinganya agar jangan mendengar jeritan jeritan orang gagu yang amat mengerikan itu. Adapun Bu tek Kiam ong memejamkan kedua matanya sambil menutup kedua telinganya dengan bersamadhi. Akhirnya tidak terdengar suara apa apa lagi. Ular ular di dalam sumur telah menamatkan riwayatnya Ah Lokoai. Setelah itu, terdengar Bu tek Kiam ong menarik napas panjang, lalu berkata. Kasihan, ia mati karena nafsu dendamnya yang membuatnya menjadi gila, Bun Sam bawa aku keluar dari gua busuk ini. Mulai sekarang kau harus berlatih Ilmu Pedang Tee coan liok kiam sut di luar di udara bebas sampai sempurna betul. Bun Sam menggendong suhunya keluar dari gua yang sudah terbuka pintunya itu dan setelah berada di luar, ia lalu membuat sebuah pondok dari kayu kayu hutan untuk tempat tinggal suhunya. Dan mulai hari itu, di puncak Bukit Hek mo san, di luar gua siluman Bun Sam melatih Ilmu Pedang Tee coan liok kiam sut di bawah pengawasan suhunya. Selain ilmu pedang juga pemuda ini mendapat

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

gemblengan dalam hal gin kang dan lweekang, sehingga kepandaiannya menjadi maju dengan pesatnya. Kurang lebih dua tahun kemudian, setelah Bun Sam menamatkan ilmu pedang yang hebat itu Bu tek Kiam ong meninggal dunia karena usia tuanya. Sebelum menghembuskan nafas terakhir, kakek sakti ini berpesan kepada Bun Sam untuk mengembalikan pedang Pek lek kiam kepada kaisar di kota raja. Kalau aku tidak salah. kakek sakti yang sudah mendekati ajalnya dan yang agaknya memiliki mata batin yang awas dan waspada itu berkata, sekarang Lam hai Lo mo dengan bantuan sutenya Pat jiu Giam ong telah mulai memperluas kekuasaannya. Memang semenjak dulu kakek gagu ini mempunyai cita cita untuk menguasai dunia. Kepandaiannya memang tinggi sekali maka kedua gurumu saja agaknya takkan dapat menahan kemurkaannya. Sudah menjadi kewajibanmulah untuk membendung gelombang kejahatan itu demi untuk ketentraman penghidupan rakyat jelata. Setelah Bun Sam mengubur jenazah gurunya dan berkabung selama tiga hari di hadapan makam suhunya Bun Sam lalu turun gunung. Telah tiga tahun ia berada di puncak Hek mo san itu yakni setahun lebih di dalam gua siluman dan dua tahun di luar gua. Kini ia telah menjadi seorang pemuda yang jauh lebih masak jiwanya daripada dahulu ketika dibawa oleh Ah Lokoai ke tempat itu. Usia nya telah duapuluh tahun dan pengalaman pahit getir telah membuat ia menjadi seorang pemuda yang berpemandangan luas dan bersikap tenang, ia merasa rindu sekali kepada dunia ramai, kepada Yap Bouw yang menjadi guru juga sebagai suheng dan terutama sekali sebagai pengganti orang tuanya. Juga ia merasa rindu kepada Kim Kong Taisu dan kedua binatang peliharaannya Siauw liong

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

dan Sin tiauw yakni ular dan burung rajawali di atas Bukit Oei san. Akan tetapi, yang paling dirindukan semenjak ia berada di Gunung Hek mo san ini bukan lain adalah wajah seorang dara berbaju merah berkembang yang amat cantik manis, wajah dari Sian Hwa pujaan hatinya. Tiap kali wajah itu terbayang di depan matanya Bun Sam menarik napas panjang berkali kali dan bibirnya berkemak kemik menyebut nama gadis ini kemudian ia berusaha selalu untuk mengusir bayangan itu. Ia maklum bahwa selama hidupnya ia takkan dapat bertemu dengan gadis itu, karena Sian Hwa telah menjadi calon isteri orang lain, bagaimana ia masih dapat mengharapkan untuk bertemu? Sering kali ia mencela kelemahan batinnya sendiri dan mencoba untuk membayangkan wajah gadis lain, terutama sekali wajah Lan Giok gadis manis yang centil nakal itu, akan tetapi tetap saja wajah Lan Giok yang manis tak mampu mengusir wajah Sian Hwa dari lamunannya. Kini ia telah turun gunung. Telah tiga tahun ia lenyap dari dunia ramai. Kemungkinan untuk segera bertemu muka dengan Yap Bouw dan orang orang lain, membuat hatinya berdebar gembira dan ia berjalan makin cepat menuruni gunung yang liar itu. Bagaikan seekor garuda terbang, ia berlompat lompatan dan berlari turun cepat sekali karena kepandaian ginkangnya sekarang sudah meningkat hebat, jauh lebih tinggi daripada ketika ia dibawa naik oleh Ah Lokoai tiga tahun yang lalu. Tubuhnya tegap dan berisi, karena setelah tinggal di luar gua ia mendapatkan kesegaran kembali. Wajahnya yang tampan itu kini makin menarik karena terbayang kecerdikan, ketabahan dan ketenangan yang matang pada kedua matanya dan lekuk mulutnya. Hanya pakaiannya saja yang sudah buruk. Sudah habis pakaian itu ditambal tambalnya selama tiga tahun ini. Di sakunya tidak terdapat

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

sepotong uangpun. Hanya pedang Kim kong kiam yang tersembunyi di balik bajunya, sedangkan pedang Pek lek kiam juga tergantung di pinggangnya. Akan tetapi selama berada di puncak gunung ia tidak khawatir akan kelaparan karena banyak sekali buah buahan yang dapat dimakannya di sepanjang jalan. Baik kita tinggalkan dulu Bun Sam yang menuruni Bukit Hek mo san dalam perjalanannya kembali ke dunia ramai dan mari kita menengok keadaan Sian Hwa, gadis yang tak pernah terlupakan olehnya itu. Semenjak pertemuannya yang terakhir dengan Bun Sam, Sian Hwa menjadi yakin bahwa ia tidak mungkin dapat menjadi isteri Liem Swee, suhengnya. Atau juga pemuda yang mana saja, karena ia tahu bahwa kebahagiaan hidupnya hanya terletak dalam tangan Bun Sam yang telah merampas hati dan cinta kasihnya. Ia menjadi makin murung dan berduka dan merasa bahwa hidupnya amat sengsara. Kemurungannya ini membuat ia berhati keras dan mudah marah dan diambilnya keputusan untuk menyelidiki tentang ucapan Ngo jiauw eng sebelum orang ini terbunuh oleh Bucuci. Beberapa pekan kemudian setelah terjadinya pencurian pedang Pek lek kiam yang menghebohkan, Sian Hwa berkemas untuk meninggalkan rumah dengan diam diam. Ia bermaksud untuk pergi ke Tong seng kwan, di mana Ngo jiauw eng tinggal dan untuk menyelidiki keadaan Ngo jiauw eng, terutama di waktu perwira itu masih menjadi pemimpin barisan Ang bi tin yang terkenal. Oleh karena ia maklum bahwa kalau ia bilang terus terang kepada ayah ibunya, ia takkan mendapat perkenan, maka ia bangun dengan diam diam dan hendak pergi secara sembunyi. Dibawanya sebuntal pakaian dan uang bekal, tak

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

lupa pula dibawanya pedangnya, lalu ia melompat keluar menuju ke taman bunga. Keadaan di taman sunyi dan teringatlah ia kepada Bun Sam yang beberapa pekan yang lalu bercakap cakap dengan dia di dalam hutan itu. Tak terasa lagi dua titik air mata membasahi pipinya dan bagaikan dalam mimpi, ia mengucapkan sajak kuno yang pernah dibacanya :
Kalau saja kau bukan kau dan aku bukan aku, tentu takkan begini jadinya? Sehati sejiwa, namun kelahiran memisahkan kita, apa daya? Seperti bulan merindukan matahari, matahari mencari bulan sia sia, tak mungkin bersua muka. Hanya saling pandang merana Jauh. terhalang awan.

Kembali dara itu menarik napas panjang. Kemudian ia lalu menggerakkan kedua kakinya melompat ke atas dinding tembok yang mengelilingi taman. Tiba tiba terdengar teguran orang dan beberapa sosok bayangan melompat keluar dari tempat sembunyinya. Mereka ini adalah penjaga penjaga yang diam diam ditugaskan oleh Bucuci untuk menjaga sekeliling taman itu pada malam hari! Memang semenjak melihat bayangan di dalam taman pada malam tercurinya pedang istana, Bucuci menaruh hati

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

curiga kepada anak tirinya, maka diam diam ia lalu mengatur penjagaan ini. Ketika para penjaga melihat bahwa yang melompat keluar dari taman adalah Sian Hwa, seorang diantara mereka berkata. Ah, tidak tahunya siocia (nona) yang hendak keluar. Siocia, hari sudah jauh malam begini hendak pergi ke mana? Sian Hwa cemberut dan mendongkol sekali. Kalian ini bekerja apakah di sini? Siapa yang menyuruh kalian mengelilingi taman bungaku? Dan perduli apakah kalian dengan apa yang hendak kulakukan? Para penjaga itu telah mengetahui akan kelihaian Sian Hwa dan mereka ini tentu saja tidak berani berlaku lancang terhadap puteri majikannya sendiri. Akan tetapi mengingat akan pesan Panglima Bucuci kepada mereka, terpaksa mereka menjawab. Maaf, siocia. Ayahmu telah berpesan kepada kami agar menjaga di sini setiap malam. Karena khawatir kalau kalau ada penjahat yang masuk melalui taman. Pedang pusaka di istana saja dapat hilang dicuri orang nona, maka hampir semua gedung pembesar setiap malam dijaga kuat Sementara itu, diam diam seorang diantara para penjaga yang menjadi kepercayaan Bucuci dan yang telah mendapat pesan khusus bahwa kalau ia melihat Sian Hwa hendak keluar harus memberi laporan, telah pergi membuat laporan kepada Bucuci yang sedang tidur. Maka pada saat Sian Hwa bersitegang dengan para penjaga, terdengar bunyi kerincingan pakaian Bucuci dan tahu tahu panglima itu telah melompat dan berada di tempat itu.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Sian Hwa, kau hendak pergi ke mana? tanya Panglima Bucuci dengan suara mengandung penuh dakwakan. Ayah, pantaskah kita bicara di depan mereka ini? ia menuding ke arah para penjaga. Pergi dari sini! Bucuci membentak penjaga yang belasan orang banyaknya itu. Bagaikan anjing dibentak oleh majikannya, para penjaga itu lalu menjauhkan diri sambil diam diam mengomel. Nah, sekarang bicaralah! Tengah malam buta membawa bungkusan dan pedang, melalui taman seperti laku seorang pencuri, kau hendak pergi ke manakah? Aku hendak pergi ke Tong seng kwan, jawab Sian Hwa dengan suara dingin. Pada saat itu, entah mengapa, perasaannya terhadap Bucuci menjadi lain sama sekali. Saat saat di wakru ia masih kecil dan seringkali digendong dan ditimang timang oleh Bucuci, telah terlupa lagi dan dalam pandangannya, Bucuci adalah seorang asing yang mencurigakan. Ke Tong seng kwan? Malam malam buta begini? Kalau hendak pergi ke sana saja apakah tidak bisa dilakukan besok pagi? Dan pula kau hendak pergi kepada siapa ? Pandangan mata nya tiba tiba penuh selidik dan ia maju setindak lalu memegang tangan puterinya. Sian Hwa, tentu ada seorang yang menantimu di sana. Ayoh kau katakan siapa yang hendak kau jumpai di Tongseng kwan? Dengan sekali renggut, Sian Hwa melepaskan tangannya yang terpegang oleh Bucuci. Panglima Mongol yang pendek ini menjadi murah sekali dan membanting banting kaki kanannya.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Sian Hwa, beginikah sikap seorang anak terhadap ayahnya? Kau tidak boleh menyimpan sesuatu rahasia! Kemudian suaranya melembut seperti seorang ayah memberi nasehat kepada puterinya yang tersayang. Sian Hwa, kau masih muda dan belum berpengalaman, jangan kau main main dengan orang kang ouw. Kau mudah tergelincir dan terjebak dalam perangkap orang jahat, maka beritahukanlah kepada ayahmu apa yang kau alami, sehingga aku dapat memberi jalan dan nasehat yang baik. Kini sepasang mata gadis itu memancarkan sinar berapi ketika ia memandang kepada Bucuci. Ayah, bukan aku yang menyimpan sesuatu rahasia, melainkan engkau sendirilah. Juga ibu. Aku tidak suka diriku diselimuti oleh rahasia, maka aku hendak membongkar rahasia itu. Eh, eh, Sian Hwa, apakah kau mengimpi? Apa yang kau maksudkan dengan kata katamu itu? Rahasia apakah yang kusimpan bersama ibumu? Jangan kau menuduh yang bukan bukan nak, tidak baik seorang anak mencurigai orang tua, itu namanya puthauw (tidak berbakti)! Ayah, tidak ada gunanya berpura pura lagi. Aku bukan anak kecil dan selain memiliki mata yang dapat melihat, akupun mempunyaj pikiran, ayah telah membunuh Ngo jiauw eng Lui Hai Siong, pada saat Ngo jiauw eng sedang membuat pengakuan bahwa adalah yang menjadi pembunuh ayahku. Padahal semenjak dahulu, Ngo jiauw eng lah pembantumu dalam barisan Ang bi tin. Mengapa, ayah? Mengapa kau membunuhnya? Kalau saja kegelapan malam tidak melindungi dan menutupi wajah Bucuci, tentu akan terlihat betapa pucatnya mendengar tuduhan Sian Hwa tadi. Baiknya taman itu hanya diterangi oleh lampu lampu teng merah cahayanya,

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

sehingga kepucatan dan perobohan air mukanya tidak terlihat oleh Sian Hwa. Sian Hwa, apa kau gila? Kau menuduh yang bukan bukan. Bukankah kau melihat sendiri dengan jelas bahwa yang membunuh Ngo jiauw eng adalah murid dari Mo bin Sin kun? Bagaimana kau bisa memutarbalikkan kenyataan dan bahkan menuduh ayahmu sendiri? Sian Hwa tersenyum pahit sambil merogoh saku bajunya. Ayah, aku takkan begitu kurang ajar untuk memutarbalikkan sesuatu tanpa bukti. Penyangkalan ayah ini membuktikan bahwa ayah menyembunyikan sesuatu tentang riwayat diriku dan ayahku. Kenalkah ayah akan barang ini? Sambil berkata demikian ia menyodorkan tangannya dan pada telapak tangannya yang berkulit putih halus itu kini nampak sebuah benda kecil yang bundar lonjong, yakni kerincingan baju besi ayahnya. Apa apa artinya ini, Sian Hwa? tanya Bucuci sambil memandang ke arah benda yang dikenalnya baik itu. Apa artinya! Ayah, kaulah yang harus menjawab apa artinya ini dan mengapa kau mempergunakan senjata rahasia ini untuk menewaskan Ngo jiauw eng yang sedang membuat pengakuannya. Kau agaknya tidak mau membiarkan Ngo jiauw eng membuka rahasia yang sengaja hendak kau tutup tutupi! Ayah mengapa ayahku dibunuh oleh Ngo jiauw eng yang menjadi pembantumu? Mengapa ayahku dibunuh oleh Ang bi tin? Dan mengapa pula kau sampai hati membunuh Ngo jiauw eng hanya untuk mencegah dia membuka rahasia ini kepadaku? Bucuci benar benar kaget dan bingung. Akan tatapi dia adalah seorang yang sudah banyak makan asam garam dunia dan sudah banyak pengalaman yang membuatnya

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

menjadi cerdik sekali. Setelah dapat menetapkan hatinya yang berguncang, ia lalu menarik napas berkali kali, kemudian berkata halus. Baiklah, Sian Hwa. Agaknya tidak perlu lagi rahasia ini kusembunyikan padamu. Akan tetapi pengakuan ini takkan sempurna kalau tidak dilaku kan di depan ibumu. Marilah kita kembali k rumah dan besok pagi pagi akan kubuka rahasia mu ini. Tidak, ayah. Harus sekarang, sudah terlalu lama aku bersabar. Kau bukalah rahasia itu sekarang juga tanpa mengganggu ibu yang sedang tidur, atau kalau kau sungkan akupun takkan memaksa. Aku dapat menyelidikinya sendiri! Bucuci menghela napas lagi. Hem, kau benar benar keras kepala! Kau sendiri yang memaksa minta penjelasan, baiklah, jangan salahkan aku kalau kau mendengar kenyataan kenyataan yang pahit bagimu. Ayahmu adalah seorang kauwsu (guru silat) she Can yang membantu pemberontak! Ayahmu membantu perwira pemberontak yang jahat maka oleh Ang bi tin ia dianggap sebagai penjahat pula dan tewas dalam pertempuran. Yang merobohkan ayahmu itu memang Ngo jiauw eng. Tadinya kau dan... ibumu juga hendak dibunuh pula, akan tetapi aku keburu datang. Melihat engkau dan ibumu, timbul kasihan di dalam hatiku, maka aku lalu membawa kau dan ibumu ke rumahku dan akhirnya ibumu menjadi isteriku dan kau menjadi anakku. Mengapa kau membunuh Ngo jiauw eng? Tidak dapat mengertikah kau? Aku telah berpesan kepada semua anggota Ang bi tin yang mengetahui peristiwa itu agar supaya menyimpan rahasia ini dari padamu. Aku tidak suka mendengar kenyataan tentang

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

ayahmu. Ngo jiau eng melanggar pesanku dan demi kesayanganku kepadamu, aku membunuh orang yang memang sudah akan mati itu. Kau kau memaksa ibu menjadi isterimu ? tanya Sian Hwa dengan wajah pucat karena hati kecilnya menyatakan bahwa tak mungkin ibunya yang cantik jelita itu suka kepada seorang perwira pendek yang telah membunuh suami ibunya. Bucuci memaksa tersenyum. Tidak, Sian Hwa. Kami menikah atas dasar suka sama suka. Ibumu berterima kasih karena kutolong, maka ia suka menjadi isteriku. Setelah kau atau anak buahmu membunuh suaminya? Ah.... Sian Hwa menjadi makin pucat dan perasaan muak memenuhi dadanya. Benar benarkah ibunya demikian tidak setia? Ayahnya dibunuh oleh Ang bi tin, sedangkan Bucuci adalah seorang pemimpin Ang bi tin, akan tetapi toh ibunya suka menjadi isteri Bucuci. Di mana ayahku dimakamkan? tanyanya dengan bibir gemetar kepada perwira pendek di depannya yang selama ini dianggap seperti ayahnya, akan tetapi yang pada malam ini ia menganggap nya sebagai pembunuh ayahnya! Siapa tahu? Pada waktu itu, setelah para pemberontak dibasmi, kami tidak mengurus pemakaman mereka. Di mana ayah terbunuh? Di Tong seng kwan.... Aku yang akan mencari dan mengurusnya! kata Sian Hwa dengan singkat dan sekali berkelebat ia telah melompati pagar tembok taman. Sian Hwa, tunggu.! Bucuci berseru bingung. Jangan, kau merendahkan dirimu mencari cari makam

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

seorang pemberontak yang dianggap penjahat. Kau akan merendahkan dirimu sendiri dan nama baik ibumu akan tercemar. Sian Hwa, tunggu....! Akan tetapi gadis itu berlari terus dan hanya menjawab dari jauh. Urusan ayahku tidak ada hubungannya dengan kau! Kalau ibu merasa malu juga dia tidak mempunyai hubungan dengan urusan ini! Bucuci hendak mengejar terus, akan tetapi ia maklum bahwa kepandaian Sian Hwa sudah melebihi kepandaiannya sendiri, bahkan ginkangnya takkan dapat melebihi gadis itu. Maka dengan bingung ia lalu pergi ke gedung Liem goanswe atau Pat jiu Giam ong yang menjadi guru dan juga calon mertua dari Sian Hwa. Hanya Pat jiu Giam ong yang dapat mencegah gadis itu berbuat sekehendak hatinya. Di sebelah selatan kota Tong seng kwan terdapat sebidang tanah kuburan yang amat buruk dan miskin. Tempat ini selain hongsuinya (kedudukan tanahnya) buruk dan tidak layak menjadi tempat makam, juga diasingkan dari kota. Pengunjung makam makam yang berada di tempat inipun hanya orang orang miskin belaka, yang hanya mampu menyembahyangi kuburan kuburan itu dengan tiga batang dupa tanpa hidangan sesuatu, kecuali beberapa potong roti kering dan arak campur air. Puluhan makam yang terkumpul malang melintang tak teratur di tempat itu, tidak ada yang terpelihara baik. Sesungguhnya memang pernah ada yang memperbaiki makam makam ini, akan tetapi oleh pemerintah setempat, bong pai (batu nisan) yang bagus bagus itu dihancurkan kembali dan diadakan larangan untuk memperbaiki makam

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

makam itu. kecuali hanya sekedar tulisan tentang nama jenazah yang dikubur di situ. Kuburan ini adalah tempat dikuburkannya orang orang yang oleh pemerintah Coan dianggap pemberontak pemberontak dan penjahat penjahat, sebagian besar adalah perwira perwira dan orang orang gagah yang menjadi korban keganasan Ang bi tin. Keluarga korban korban ini, jurang ada yang berani mengunjunginya, apalagi mereka yang kini sudah mendapat kedudukan baik sebagai pegawai maupun sebagai pedagang. Memang berbahaya sekali kalau mengunjungi tempat ini, karena sekali saja pembesar setempat mengetahui bahwa hartawan itu mempunyai keluarga yang di kuburan itu, tentu ia akan diperasnya habis habisan, dengan ancaman bahwa kalau tidak mau memberi suapan ia akan dilaporkan sebagai keluarga pemberontak yang harus diawasi atau ada kemungkinan ditangkap! Oleh karena inilah, maka pengunjung dari kuburan itu hanyalah orang orang miskin yang bagi para pembesar setempat merupakan tulang tulang kering yang tak dapat diisap lagi. Atau ada juga orang orang kang ouw yang gagah, orang orang pengembara yang tidak mudah diperas oleh pembesar setempat, selain karena kegagahannya juga karena tidak tentu tempat tinggalnya. Pada hari itu, pagi sekali sudah banyak pengunjung di kuburan terasing itu. Tidak mengherankan karena memang hari itu kebetulan hari Menyambangi Kuburan yang sudah menjadi tradisi bagi orang orang yang masih menjunjung tinggi aturan lama. Tidak saja kuburan miskin ini yang penuh pengunjung, bahkan kuburan kuburan para hartawan dan pembesar di tempat lain kuburan yang indah sekali bangunnanya, juga penuh pengunjung pada hari itu. Seperti biasa, pengunjung pengunjung kuburan para pemberontak itu berpakaian biasa dan sederhana, bahkan sebagian besar

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

berpakaian seperti pengemis jembel. Di antara banyak pengunjung ini terdapat pula orang orang miskin yang dibayar oleh para hartawan yang mempunyai keluarga terkubur di sini, untuk mewakili mereka bersembahyang dan membersihkan rumput yang memenuhi kuburan. Makin tinggi matahari naik, makin banyak orang mengunjungi kuburan ini dan akhirnya hanya ada dua buah makam yang masih belum mendapat kunjungan orang. Dua buah makam ini agaknya memang tak pernah mendapat pengunjung. Karena rumput di situ sudah penuh, sehingga gundukan tanah itu tertutup sama sekali dan di situ tidak terdapat tulisan nama jenazah sama sekali. Hanya bedanya, gundukan tanah yang sebelah kanan berbentuk bundar dan yang kiri segi empat dan nampaknya sudah tua sekali. Memang ada beberapa batang gagang hio di depan kedua makam ini, agaknya ditancapkan oleh para pengunjung kuburan lain yang merasa kasihan kepada dua makam ini. Seperti telah disebutkan di bagian depan, para pengunjung makam itu terdiri dari orang orang miskin yang sederhana, maka tentu saja semua orang itu menjadi melongo dan terheran heran ketika tiba tiba melihat seorang gadis yang berpakaian indah, gadis cantik seperti bidadari yang masuk ke halaman makam yang terlantar itu! Semua orang memandang dan mereka heran sekali seakan akan melihat seorang bidadari turun dari langit yang menaruh kasihan kepada makam makam itu. Gadis ini bukan lain adalah Sian Hwa. Ia telah tiba di Tong seng kwan pada waktu fajar menyingsing. Melihat orang orang pada membeli di toko toko, ia lalu bertanya tanya dan mendapat keterangan bahwa orang orang itu hendak mengunjungi kuburan untuk bersembahyang. Tergeraklah hatinya karena kalau ayahnya meninggal dunia di kota ini, tentulah kuburan ayahnya berada diantara

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

kuburan kuburan yang lain. Maka iapun membeli sebungkus hio yang dimasukkan ke dalam buntalan pakaiannya, kemudian ia mengikuti arus manusia itu menuju ke kuburan. Ketika ia memasuki kuburan yang mewah dan indah, ia mencari cari, akan tetapi diantara semua batu nisan itu tidak terdapat tulisan seorang she Can yang menjadi she dari ayahnya. Maka ia lalu pergi meninggalkan kuburan indah itu dan mendapatkan keterangan bahwa di sebelah selatan kota masih terdapat sebuah tanah kuburan yang miskin. Maka ia lalu pergi mengunjungi kuburan ini. Ketika melihat keadaan kuburan ini dan keadaan para pengunjung yang amat miskin, hati Sian Hwa terharu bukan main. Baru saja ia menyaksikan kuburan yang bernisan indah berukir huruf huruf emas dan para pengunjungnya yang berpakaian indah indah pula, dan sekarang ia melhat keadaan yang sama sekali menjadi kebalikan daripada pemandangan tadi. Ah, pikirnya penuh keharuan, tidak hanya orang hidup yang mendapatkan kedudukan berbeda, bahkan, sesudah matipun masih nampak jelas perbedaan itu, sungguhpun hanya perbedaan luar saja karena di bawah semua kuburan itu, baik yang indah maupun yang buruk, keadaannya tentu tak berbeda! Sungguh mata manusia telah menjadi buta karena silau akan mengkilatnya emas dan perak! Sian Hwa tidak rnemperdulikan pandangan mata semua orang. Tadi ketika ia mencari cari nama ayah nya diantara nisan nisan yang berukir dengan huruf huruf emas, banyak mata memandangnya. Terutama sekali, mata para pengunjung pria, baik yang muda maupun yang tua, yang memandang kepadanya dengan sinar mata kurang ajar. Kini banyak mata memandangnya dengan takut takut, curiga dan juga kagum. Ia tidak memperdulikan semua ini,

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

hanya segera mencari dan membaca setiap nama yang terukir di batu nisan yang kasar. Akan tetapi tidak sebuahpun batu nisan yang diukir nama ayahnya atau nama seorang she Can. Ia hampir menjadi putus asa dan merasa amat berduka. Akhirnya ia tiba di depan dua buah kuburan yang tidak terawat dan amat sengsara keadaannya itu. Sian Hwa menjadi amat terharu melihat keadaan dua buah makam yang terlantar ini. Ia membuka buka rumput yang tebal untuk mencari kalau kalau terdapat batu nisannya akan tetapi makam itu benar benar miskin dan tidak ada tanda sesuatu. Makin terharu hati dara ini. Ia mencari cari dari tidak mendapatkan makam ayahnya, berbeda dengan semua orang yang mengunjungi tempat itu yang kesemuanya mengunjungi makam keluarga masing masing. Dan dua buah makam ini sama sekail tidak dikunjungi orang, berbeda dari semua makam yang berada di situ. Jika diingat, keadaannya sesuai benar dengan keadaan dua buah makam ini, sama sama terlantar tidak ada yang perduli. Karena hatinya tergerak sekali, Sian Hwa lalu mengeluarkan hio (dupa) yang dibawanya, ia melihat ke kanan kiri dan ketika melihat seorang kakek sedang bersembahyang di depan kuburan yang berada dekat dengan makam itu, ia lalu minta api kepada kakek itu untuk menyalakan dupanya Kemudian ia bersembahyang di depan dua makam itu dan membagi dupanya menjadi dua, yang sebagian ditancapkan di depan makam bundar, yang sebagian lagi ditancapkan di depan makam segi empat. Kemudian ia duduk di dekat makam itu dan melamun. Maaf, siocia, suara yang halus ini menyadarkannya dari lamunan. Ia menengok dan melihat kakek yang dimintai api tadi.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Eh, ada apa, lopek? tanyanya sambil bangkit berdiri. Kakek itu sudah tua sekali dan pakaiannya menyatakan bahwa ia adalah seorang petani miskin. Maaf kalau aku lancang bertanya, apakah siocia keluarga dari dua orang gagah yang dimakamkan di sini? Sambil berkata demikian, kakek itu menudingkan jarinya ke arah dua buah makam yang terlantar itu. Sian Hwa menggelengkan kepalanya. Bukan, lopek. Aku tidak kenal siapa yang dimakamkan di sini dan mengapa pula makam makam di sini demikian tak terurus dan miskin. Aku hanya merasa kasihan karena dua makam ini sama sekali tidak didatangi pengunjung. Kakek itu menghela napas panjang. Demikianlah nasib orang orang gagah bangsa kita, siocia. Mereka semua yang tertanam di sini dahulunya adalah orang orang gagah dan perwira perwira yang berkepandaian tinggi dan berjiwa patriot, yang gugur sebagai pahlawan pahlawan bangsa. Akan tetapi, kau melihat sendiri, keadaan makam mereka begini buruk. Kembali ia menarik napas panjang. Hati Sian Hwa berdebar mendengar kata kata ini. Tak salah lagi, makam ayahnya tentu berada di kuburan ini, entah yang mana. Ia memandang lagi kepada dua buah makam itu dan sambil menahan nafsu ia bertanya. Lopek, kau mengunjungi makam siapakah?? Makam putera tunggalku, siocia. Dia dahulu adalah seorang perajurit yang tewas ketika tentara Mongol menyerbu ke sini. Dan dua makam yang tidak berbatu ini...... kenalkah kau makam siapakah ini? Sambil memandang kakek itu, Sian Hwa menanti jawaban dengan hati berdebar.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Kakek itu. mengerutkan keningnya. Mereka ini adalah dua orang yang paling gagah di antara semua yang terkubur di sini, siocia. Sayang sekali nasib mereka amat buruk, sehingga agaknya mereka sekeluarga telah dibasmi habis oleh Ang bi tin.... ketika mengucapkan kata kata Ang bi tin kakek itu menengok ke kanan kiri dan bicaranya perlahan sekali, seakan akan takut kalau kalau terdengar orang lain. Mendengar ini, hati Sian Hwa makin bergelora, akan tetapi dengan sekuat tenaga ia menekan perasaan hatinya agar tidak menggigil dan suaranya tidak menggetar ketika ia bertanya lagi. Lopek yang baik, kuburan siapakah dua makam ini? Tolong kau beritahukan siapa nama mereka, karena aku benar benar amat tertarik dan kasihan, melihat kuburan yang terlantar ini. Kakek itu menudingkan telunjuknya ke makam yang segi empat. Kuburan ini adalah makam dari seorang perwira yang gagah perkasa, perwira Han yang bernama Song Hak Gi dan yang terbunuh oleh barisan Ang bi tin. Kasihan sekali, dia seorang yang gagah dan mulia, aku pernah kenal padanya dan ia benar benar seorang yang suka menolong orang orang lain. Sayang sekali nasibnya amat buruk sehingga ia tewas beserta seluruh keluarganya oleh barisan Ang bi tin. Setelah melihat ke kanan kiri, kakek itu menyambung. Sungguh kejam barisan Ang bi tin yang dipimpin oleh Ngo jiauw eng! Aku merasa bersukur bahwa belum lama ini Ngo jiauw eng terbunuh oleh orang orang gagah di kota raja.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Jilid IX SIAN HWA, merasa hatinya tertusuk mendengar ini. Ia semenjak kecil dipelihara dan diaku anak oleh seorang tokoh Ang bi tin! Baiknya kakek ini tidak tahu bahwa dia adalah puteri dari Panglima Bucuci, pemimpin Ang bi tin yang terkenal! Ngo jiauw eng yang diceritakan kakek itu hanya anak buah saja dari ayah angkatnya ! Dan kubuaran yang bundar ini, lopek? Aku sendiri tidak kenal orangnya, siocia. Hanya aku mendengar dan orang lain bahwa ini adalah kuburan seorang kauwsu (guru silat) Pucatlah muka Sian Hwa mendengar ucapan ini. Tanpa disadarinya ia melangkah maju dan memegang tangan kakek itu. Lopek, lekas katakan. Siapakah nama guru silat itu? Kakek itu terheran heran dan setelah berpikir pikir sejenak ia berkata. Namanya aku sendiripun tidak tahu. Hanya aku pernah mendengar bahwa ia disebut Can kauwsu dan menjadi sahabat baik dari perwira Song Hak Gi, dan.... Akan tetapi Sian Hwa tak menunggu lagi sampai kakek itu selesai bicara. Saking terharunya, gadis ini menjatuhkan diri dan berlutut di depan kuburan yang berbentuk bundar itu dan tak dapat ditahan lagi air matanya membanjir keluar dari sepasang matanya, mengalir turun di sepanjang pipi nya. Ia menggigit bibirnya agar jangan sampai mengeluarkan suara tangisan dan keluhan, akan tetapi hatinya menjerit jerit.. Ayah..! Kakek itu menjadi makin bingung melihat sikap nona yang berpakaian indah dan berwajah seperti bidadari ini.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Juga beberapa orang pengunjung kuburan itu kini mulai dalang mendekati karena merekapun merasa heran siapakah gerangan nona yang menangis di depan dua kuburan yang selama ini tak pernah dikunjungi orang itu. Siocia, siapakah kau.? Apakah hubunganmu dengan mereka ini..? Kakek itu berlutut pula dan bertanya dengan suara halus, penuh hati kasihan. Sian Hwa mengangkat mukanya dan menyusut air matanya dengan ujung lengan bajunya. Ketika ia melihat orang orang berkerumun mendekatinya, sambil memandang dengan mata penuh perhatian dan ikut terharu, ia lalu berkata, Cu wi sekalian harap tinggalkan aku. Tidak ada apa apa yang patut ditonton! Ucapannya ini biarpun halus, akan tetapi mengandung perintah dan orang orang itu lalu mengundurkan diri dan meninggalkannya, kecuali kakek tadi. Lopek, dapatkah kau menceritakan kepadaku bagaimana tewasnya Can kauwsu ini dan di mana? Kakek itu menggeleng gelengkan kepalanya yang sudah beruban. Menyesal sekali, siocia. Hal ini sudah terjadi belasan tahun yang lalu dan selain aku seorang agaknya tidak ada yang mengenal perwira she Seng ini, apalagi mengenal Can kauwsu .Keadaan di kota Tong seng kwan sudah berubah banyak. Adapun Can kauwsu ini kabarnya tewas ketika membela perwira perwira yang diserang oleh Ang bi tin, akan tetapi oleh siapa aku sendiri tidak tahu. Tentu saja matinya di kota Tong seng kwan, karena semua korban yang terkubur di sini adalah korban korban yang tewas di kota itu. Dan keluarganya, lopek? Bagaimana dengan keluarga mereka dan khususnya keluarga Can kauwsu?

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Kembali kakek itu menggelengkan kepalanya sambil menghela napas. Seperti sudah kukatakan tadi, keluarga Song ciangkun telah dibasmi semua seperti juga keluarga para perwira lain. Aku sendiri tidak kenal siapa yang menjadi keluarga Can kauwsu, akan tetapi tak dapat salah lagi, keluarga merek a pun tentu telah binasa semua. Tiba tiba kakek itu memandang tajam kepada Sian Hwa. Kecuali kalau kebetulan pada hari itu ada keluarganya yang berada di luar kota. Siocia, kau menaruh perhatian kepada dua keluarga Song dan Can, apakah kau masih keluarga mereka? Sebelum Sian Hwa dapat menjawab, terdengar ribut ribut dan nampak semua pengunjung kuburan itu berlari lari keluar melarikan diri dan tempat itu. Ketika Sian Hwa mengangkat kepala, ia melihat ayah tirinya mendatangi bersama Liem Swee dan Pat jiu Gram ong! Ia menjadi terkejut sekali dan cepat menjatuhkan diri berlutut di depan suhu nya yang memandang kepadanya dengan kening berkerut, Sian Hwa, kau benar benar anak yang membikin pusing orang tua, kata Bucuci sambil menggeleng gelengkan kepalanya.Semalam suntuk aku bingung mencari carimu, tidak tahunya kau berada di tempat ini! Ketika kakek ini melihat siapa yang datang, ia menjadi pucat sekali dan tubuhnya gemetar seperti orang sakit demam. Alangkah kagetnya mendengar ucapan Bucuci, karena tidak disangkanya sama sekali bahwa gadis ini yang tadi bercakap cakap dengan dia adalah puteri dari tokoh besar yang ditakuti orang lebih lebih dari iblis itu. Panglima Bucuci! Dengan hati berdebar dan kaki menggigil, kakek itu lalu merangkak pergi dari situ.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

He, tunggu kau! Bucuci membentak dan hampir saja kakek itu terjengkang saking kagetnya. Ia cepat berlutut dan mengangguk anggukkan kepalanya sampai menyentuh tanah. Hamba menanti perintah, Loya..... Apa saja yang kau obrolkan dengan siocia ? Ti.... tidak apa apa, loya.... jawab kakek itu dengan suara menggigil dan gagap. Betul betul tidak ada apa apa lagi? Awas, kalau membohong, kau sekarang juga akan kutanam hidup hidup di kuburan ini! Bucuci membentak lagi Tidak....tidak ada apa apa lagi, loya .... Ampunkan hamba.... Tiba tiba Sian Hwa menoleh kepada kakek itu dan berkata dengan tenang, Lopek, sudahlah. Kau pergi dari sini, aku yang tanggung kau takkan diganggu. Kakek itu memandang kepadanya dengan penuh terima kasih, kemudian berdiri dan pergi cepat cepat bagaikan dikejar harimau dari tempat itu. Akan tetapi ia keliru sangka kalau mengira bahwa ia telah terlepas begitu mudahnya dari tangan Bucuci, karena tak lama setelah tiba di rumah, seorang perajurit utusan Bucuci telah datang dan menghujani pertanyaan kepadanya sambil mengancam dan memukul, memaksa ia mengakui segala percakapan yang terjadi antara dia dan nona cantik tadi. Sian Hwa, perbuatan apakah yang kaulakukan ini? Apa artinya kau malam malam meninggalkan rumah dan tahu tahu berada di kuburan buruk dan kotor ini? terdengar Pat jiu Giam ong dengan suaranya yang besar itu menegur.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Maaf, suhu. Ini adalah urusan pribadi dari teecu bersama ayah tiri teecu, Sian Hwa menjawab. Pat jiu Giam ong mengeluarkan suara dari hidung. Hm, jawabanmu ini tidak tepat dan bahkan kurang ajar, Sian Hwa. Kau harus ingat bahwa sebagai gurumu saja, aku sudah berhak untuk mengetahui segala sepak terjangmu. Apalagi aku bukan hanya gurumu, bahkan calon ayah mertua mu. Tidak patut kau menyembunyikan sesuatu dari padaku. Sian Hwa dapat mengerti alasan ini, maka terpaksa ia menjawab juga. Suhu, salahkah bagi teecu untuk mencari makam ayah sendiri? Harap suhu suka menjawab pertanyaan ini. Pat jiu Giam ong melirik ke arah Bucuci yang diam saja sambil cemberut, kemudian sambil mengelus elus jenggotnya, jenderal yang bertubuh tinggi besar ini berkata. Hm, tentu saja tidak. Girang hati Sian Hwa mendengar suhunya tidak menyalahkannya. Nah, untuk keperluan itulah teecu meninggalkan rumah. Ayah tiri dan ibu teecu tidak mau memberitahukan, maka terpaksa teecu meninggalkan rumah untuk mencarinya sendiri dan sekarang teecu telah menemukannya. Mana? Yang mana kuburan ayahmu? Inilah dia, Sambil menuding ke arah kuburan yang terlantar itu Sian Hwa bangkit berdiri, akan tetapi ia lalu menubruk kuburan itu sambil menangis. Lihatlah suhu.... kuburan demikian buruk tak terawat, apakah teecu berhak untuk hidup dalam kemewahan dan membiarkan kuburan ayah teecu seperti ini....??

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Sian Hwa, kau tentu telah tahu; Ayahmu terkubur di sini dan tidak terawat makamnya, karena kebetulan sekali ayahmu memihak pemberoniak Ayahmu telah mengambil jalan sesat dan kau sebagai puterinya akan berjasa dan dapat menebus dosa ayahmu kalau kau dapat menjadi seorang baik baik yang setia kepada pemerintah, kata Pat jiu Giam ong dengan suara berpengaruh. Akan tetapi .... dia .... betapapun juga, dia adalah ayahku, suhu ....! Tak mungkin teecu dapat melihat makam ayah seperti ini. Sudahlah, Sian Hwa. Aku sendiripun tidak tahu di mana makam ayahmu itu. Sekarang setelah aku tahu, apakah susahnya memperbaikinya? Aku akan membuatkan bongpainya dan menyuruh orang merawatnya baik baik. Mari kita pulang, kalau hal ini sampai terdengar oleh orang lain, bukankah akan tercemar nama baik keluarga kita? Bucuci membujuk anak angkatnya. Ayahmu benar, Sian Hwa. Mari kita pulang, kau harus taat kepada ayahmu, gurumu dan juga ayah mertuamu! Pat jiu Giam ong berkata membantu Bucuci. Dengan hati tertekan dan amat terpaksa Sian Hwa menyusut kering air matanya dan dengan tindakan berat ia meninggalkan kuburan itu, mengikuti ayahnya dan gurunya. Sumoi, jangan terlampau bersedih. Hal hal yang sudah lewat, perlu apa disedihkan? Paling baik, orang orang muda seperti kita harus memandang ke arah masa depan dengan penuh kegembiraan! Di jalan, Liem Swee dengan suara penuh kasih sayang berkata kepada tunangannya. Akan tetapi ucapan ini bukannya menghibur hati Sian Hwa, bahkan mendorong keluarnya air mata dari kedua mata gadis itu. Diingatkan akan masa depan, terbayanglah wajah Bun Sam di depan mata Sian Hwa dan masa depan gadis ini amat suram. Ya, bahkan gelap sekali!

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Biarpun hatinya selalu dirundung duka, namun Sian Hwa amat giat dan rajin melatih ilmu silat di bawah asuhan gurunya. Bahkan ia lebih rajin daripada dulu, sehingga diam diam Pat jiu Giam ong merasa girang sekali. Dengan ketekunannya yang luar biasa, Sian Hwa perlahan lahan dapat melampaui kepandaian suhengnya, yakni Liem Swee atau tunangannya. Tak pernah gadis ini menyebut nyebut tentang ayahnya lagi, bahkan terhadap ibunya sendiripun tak pernah ia bertanya lagi. Akan tetapi, baik Bucuci maupun.Kui Eng isteri nya, maklum bahwa gadis itu sekarang mengandung rasa tidak senang atau setengah dendam kepada mereka. Kui Eng merasa sedih sekali melihat sikap Sian Hwa, karena sesungguhnya Kui Eng mencintai Sian Hwa seperti anaknya sendiri. Sian Hwa masih percaya bahwa Kui Eng adalah ibunya yang sejati, percaya bahwa ibunya ini adalah isteri dari Can kauwsu yang telah dibunuh oleh barisan Ang bi tin, ia merasa benci kepada ibunya yang dianggapnya benar benar tidak setia. Suami dibunuh oleh pasukan Ang bi tin, akan tetapi ibunya bahkan lebih suka diambil isteri oleh Bucuci seorang panglima Ang bi tin. Ia tidak suka lagi kepada Bucuci dan kalau saja ia tidak ingat akan kebaikan ayah tirinya itu yang dilimpahkan kepada nya semenjak kecilnya, tentu ia telah menaruh hati benci kepada Bucuci. Ia tidak bisa membenci seorang yang telah berlaku baik terhadapnya semenjak kecil, akan tetapi iapun tak dapat memaafkan seorang panglima Ang bi tin yang telah membunuh ayahnya. Bulan bulan berlalu cepat dan setahun telah lalu semenjak peristiwa di atas. Kepandaian Sian Hwa telah meningkat cepat sekali dan sekarang ia telah mewarisi ilmu pedang dari Pat jiu Giam ong yang paling sempurna, yakni Ilmu Pedang Pat kwa Sin kiam hwat. Juga dari calon

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

mertuanya ini ia menerima pedang pusaka dari Hoa san pai, yakni pedang Oei giok kiam (Pedang Kemala Kuning) yang gagangnya terhias dengan batu batu kemala berwarna kuning. Sebenarnya pedang ini adalah hadiah dari calon ibu mertuanya atau isteri dan Pat jiu Giam ong, seorang murid tersayang dan Hoa san pai. Sikap Sian Hwa terhadap Liem Swee biasa saja dan selalu ia menolak kalau Liem Swee hendak bersikap mesra kepadanya. Biarpun di luarnya ia seakan akan tak pernah menolak pertunangannya dengan suhengnya ini akan tetapi di dalam hatinya ia tak pernah melupakan janjinya kepada Bun Sam bahwa ia selama hidupnya takkan menikah dengan pemuda lain. Diam diam Sian Hwa selalu gelisah kalau mengingat tentang pertunangan ini. Dan saat yang ditakut takuti itu akhirnya tiba juga. Pada suatu hari, ia diberi tahu oleh ayah bundanya bahwa gurunya telah menetapkan hari pernikahannya dengan Liem Swee, yakni pada permulaan musim chun (musim semi ) yang akan tiba dua bulan lagi. Bukan main kaget dan cemasnya hati Sian Hwa. Ia menerima warta ini dengan muka pucat, kemudian ia menangis sambil menubruk ibunya Kui Eng menjadi heran sekali. Selama setahun lebih, yakni selama gadis itu marah kepadanya, sekembalinya dari kuburan di Tong seng kwan, jarang sekali Sian Hwa mau bicara kepadanya kalau tidak ditanya. Sekarang anak itu menubruk dan merangkul sambil menangis. Timbul pula kasih sayang dalam hati Kui Eng dan dengan air mata mengalir iapun mengelus elus kepala Sian Hwa. Anakku, anakku sayang, mengapa kau menangis? Bukankah warta ini sebetulnya harus kau terima dengan gembira?

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Ah, ibu.... mengapa aku dilahirkan di dunia ini kalau hanya untuk menghadapi kekecewaan dan kedukaan belaka? Bucuci mendengar ini sudah hampir marah, akan tetapi Kui Eng mengelapkan matanya kepada suaminya itu, minta Bucuci meninggalkan mereka berdua. Sambil bersungut sungut Bucuci pergi dari kamar itu. Tenanglah, Sian Hwa. Sebetulnya, telah lama sekali ibumu merasa gelisah sekali melihatmu. Apakah yang kau susahkan, nak? Aku tahu bahwa kau merasa tidak senang kepada ayah bundamu. Kau tidak senang kepada ayah tirimu karena ayah tirimu adalah seorang panglima Ang bi tin yang telah membunuh ayahmu. Dan kau merasa kecewa melihat ibumu yang sudi menjadi isterinya, bukan? Sian Hwa memandang kepada ibunya yang kini mengalirkan air mata sambil teisak isak. Ia menjadi terharu dan memeluk ibunya itu sambil menangis. Ah, ibu.... Ibu.... agaknya akan lebih baik kalau kita dahulu ikut saja dengan ayah..... Mendengar ini, Kui Eng teringat akan suami dan puteranya yang tewas dalam tangan para gerombolan Ang bi tin, maka tangisnya makin menjadi. Kasihan sekali anak ini, pikirnya. Sian Hwa, yang sudah sudah tak perlu di ingat lagi. Sekarang ibumu telah menjadi isteri ayah tirimu dan biar bagaimana juga, harus kita akui bahwa sebagai suami dan ayah, ia adalah seorang yang cukup baik. Penderitaanku sudah cukup banyak dan hidupku hanya karena mengharapkan dapat melihat kau berbahagia, anakku. Sekarang kau menghadapi pernikahan dengan suheng mu itu, yang berarti kau akan terlepas dari pengawasan ayah ibumu. Bukankah ini hal yang menggembirakanmu? Kau

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

akan hidup dengan suamimu yang cukup gagah dan tampan, bahkan menjadi kawan bermain mu semenjak kecil. Mengapa kau sekarang menjadi berduka? Soal ibumu, tak usah kau pikirkan, nak. Aku sudah cukup banyak penderita, sudah cukup tua, sehingga hanya tinggal menanti ajal saja menyusul ayahmu. Ibu! Sian Hwa memeluk leher ibunya dan menciumi muka yang mulai berkeriput, akan tetapi masih nampak cantik itu. Kui Eng mengelus elus rambut puterinya dengan penuh kasih sayang seorang ibu. Ibu, harap jangan marah dan berduka, ibu. Sesungguhnya.... aku tidak bisa dan tidak mau menjadi isteri Liem suheng.... Kui Eng terkejut sekali dan cepat ia memegang kepala anaknya lain menatap wajah gadis itu yang pucat. Sian Hwa, apa artinya ucapanmu ini.....? ? tanyanya cemas. Untuk beberapa lama Sian Hwa tak dapat menjawab. Berat hatinya untuk membuat pengakuan kepada ibunya, akan tetapi di dalam dunia ini, selain ibu kandungnya, siapa lagi yang dapat dimintai pertimbangan? Siapa pula yang akan membelanya dalam keadaan terjepit ini? Ibu, ampunkan anakmu, ibu. Sian Hwa, anakku sayang, mengapa kau ragu ragu? Aku tahu bahwa kau mempunyai kesukaran dalam hatimu. Sudah lama aku dapat menduga hal ini. Beritahukanlah kepada ibumu, nak biar kita bersama mencari pemecahannya katanya sambil membelai rambut anak angkat yang telah menjadi anak sendiri ini. Ibu, sesungguhnya, ...... aku telah bersumpah takkan mau menjadi isteri siapapun juga, kecuali .... Sian Hwa

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

menahan kata katanya lagi. Benar benar berat lidahnya untuk menyebut nyebut nama Bun Sam. Kecuali apa, Sian Hwa? Teruskanlah, desak Kui Eng. Aku telah bersumpah hanya mau menjadi isteri Bun Sam ! Benar benar nyonya itu terkejut sekali dan juga terheran heran. Belum pernah ia mendengar nama ini selama hidupnya. Bun Sam....? ? Siapakah dia, nak? Ibu tidak tahu siapa dia. Dia...., dia pernah dua kali datang di taman ini. Dia... dia pemuda gagah perkasa, murid dari Kim Kong Taisu.... Makin terkejut ketika Kui Eng mendengar ini. Ia pernah mendengar bahwa pemuda murid Kim Kong Taisu adalah pemuda yang dulu datang membikin ribut di kota raja Sian Hwa! Bagaimana kau bisa tersesat sejauh itu? Bukankah pemuda yang kau sebutkan namanya tadi yang dulu membikin ribut di kota raja? Bukankah dia seorang penjahat? Ah, nak, mengapa kau merendahkan dirimu sampai begitu jauh. Ibu jangan salah sangka, Bun Sam adalah seorang pendekar muda dan gagah perkasa dan berhati mulia. Sama sekali bukan panjahat. Ibu ingat saja keadaan ayah, bukankah ayah juga dibunuh dan dianggap sebagai seorang pe njahat pula? Bukankah sebetulnya ayah adalah seorang guru silat yang gagah perkasa dan pembela rakyat? Mengapa ia dianggap pemberontak jahat dan dibunuh? Mendengar jawaban ini, Kui Eng memeramkan matanya. Ah? anak ini tidak tahu bahwa orang yang dianggap ibunya ini sebenarnya bukanlah ibunya yang asli.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Suaminya adalah seorang perwira, bukan seorang yang disebut Can kauwsu itu! Sudahlah, Sian Hwa, jangan kau sebut sebut tentang hal itu lagi. Sekarang bagaimana baiknya? Kau harus tahu bahwa semenjak dahulu kau telah ditunangkan dengan suhengmu. Bagaimanapun juga, menurut pandanganku, kau sudah cocok menjadi isteri Liem Swee. Anak itu cukup baik dan kedudukan ayahnya amat tinggi. Kalau kau menjadi menantu Liem goanswe tidak saja derajatmu naik, bahkan orang tuamu juga mendapat kehormatan besar sekali. Anakku, mengapa kau hendak mengacaukan rencana yang sudah amat baik ini? Sian Hwa menarik dirinya dari pelukan ibunya dan dengan mulut cemberut ia berkata manja. Ibu tidak mau membelaku! Semua orang di dunia ini memusuhiku belaka! Memang Sian Hwa semenjak kecil sudah dimanja oleh ibunya yang amat mengasihinya. Bukan memusuhimu, nak. Ibumu selalu memikirkan untuk kebahagiaanmu. Coba sekarang kau jelaskan mengapa kau tidak mau menjadi isteri Liem Swee dan mengharapkan menjadi jodoh seorang petualang seperti pemuda yang mengacau di kota raja itu. Nah, selanjutnya bagaimana? Apakah yang harus kita katakan kepada Liem goanswee? Kau menyeret kedua orang tuamu ke jurang kehancuran dengan keputusanmu yang bodoh ini, anakku! Kui Eng benar benar menjadi cemas memikirkan keadaan ini. Kini Sian Hwa telah dapat menguasai keharuannya. Hatinya telah tetap untuk menentang siapa pun juga yang hendak memaksanya menikah dengan Liem Swee. Ia berdiri tegak dan berkata dengan tenang.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Ibu, aku takkan menikah dengan Liem snheng dan habis perkara? Aku akan menanggung semua akibatnya. Ibu dan.... ayah boleh memberi tahukan kepada suhu bahwa aku tidak mau menikah. Anakku, tahukah kau bagaimana Liem Swee akan marah sekali? Dan ayahmu tentu akan menerima bencana dari keputusanmu ini ? Ah, apakah yang harus kita lakukan? ibunya berkata bingung. Kalau tidak ada jalan lain, aku akan.... minggat saja, ibu! kata Sian Hwa pula dengan keras hati dan suara tetap. Ah, anakku, bagaimana kau sampai mengambil keputusan begitu? Kenapa kau hendak pergi? Apa kaukira akan dapat melarikan diri dari Liem goanswe? Ke manapun kau pergi, tentu ia akan dapat mengejarmu! Kalau begitu, apabila dipaksa paksa, aku.... aku akan.... membunuh diri, ibu! Aku lebih suka mati daripada dipaksa kawin dengan Liem suheng! Kui Eng menahan pekiknya dan menubruk anaknya sambil menangis. Jangan Sian Hwa.... jangan begitu nekat.... ya Tuhan, apakah yang harus kulakukan? Jangan, nak, berjanjilah bahwa kau takkan mengambil keputusan nekat, berjanjilah! Ibumu akan mencarikan jalan yang baik untukmu. Ibu, biarpun aku tahu bahwa dengan Bun Sam aku tak mungkin berjodoh, namun aku telah bersumpah di dalam hati takkan menikah dengan orang lain. Aku takkan begitu bodoh membunuh diri kalau ada jalan lain. Kita lihat saja perkembangannya nanti, jawab Sian Hwa dengan suara bulat.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Tunggulah, biar aku membicarakan hal ini dengan ayahmu, jangan kau mengambil keputusan pendek, tidak baik dan berdosa, nak. Dengan muka pucat Kui Eng lalu meninggalkan kamar itu untuk menemui suaminya Bucuci yang mendengar keputusan Sian Hwa, tentu saja menjadi marah sekali dan mencak mencak. Anak keparat ! makinya..Sejak kecil dipelihara, disayang dan dimanja, setelah besar mendatangkan bahaya! Ah, celaka, kalau tahu begini, dulu dulu sudah kucekik lehernya. Sabarlah, suamiku, sabar. Anak itu sekarang telah dewasa, kepandaiannya telah tinggi dan kau sendiri pernah menyatakan bahwa kepandaian mu pun sudah kalah olehnya. Ia berhati keras dan kalau kalau sampai ia membunuh diri seperti ancamannya lalu bagaimana....?? Setelah memaki maki habis habisan, Bucuci lalu berkata. Hal ini hanya Liem goanswe saja yang bisa membereskan. Sekarang juga aku akan melaporkan hal ini kepadanya, Pergilah Bucuci meninggalkan isterinya yang segera mendatangi Sian Hwa lagi, membujuk bujuk nya. Akan tetapi keputusan Sian Hwa sudah bulat. Jangan khawatir, ibu. Biar kita tunggu bagaimana keputusan dari suhu. Memang benar bahwa aku adalah muridnya, akan tetapi sebagai guru dia belum berhak untuk memutuskan nasib hidupku selanjutnya. Pada sore harinya, datanglah Liem goanswe Pat jiu Giam ong ini benar saja menjadi marah besar ketika mendengar laporan Bucuci. Dasar anak pemberontak! seru jenderal ini sambil mendelik. Siapa sih yang begitu tergila gila untuk

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

mengambil menantu kepadanya? Akan tetapi, untuk penolakannya ini berarti pembatalan pertunangan dan juga merupakan penghinaan terhadap aku! Bagaimana dia berani bersikap begitu? Kurang ajar sekali murid dari Kim Kong Taisu! Ketika ia berada di rumah Bucuci dan Sian Hwa dipanggil menghadap, jenderal ini memandang kepada muridnya dengan mata penuh hawa marah. Sian Hwa? bentaknya. Dari siapa kau memperoleh kepandaianmu selama ini? Dari suhu. jawab Sian Hwa sambil menundukkan mukanya. Hm, bagus! Kau masih ingat bahwa aku adalah suhumu. Tahukah kau apa kewajiban seorang murid terhadap gurunya? Suara Pat jiu Giam ong mengguntur, tanda bahwa ia marah sekali. Seorang murid harus tunduk kepada suhu nya dan mentaati semua nasehat dan perintahnya. Eh, kukira kau sudah lupa akan semua itu, tidak tahunya kau masih ingat. Bagus, bagus, Sian Hwa. Ada peribahasa orang orang gagah menyatakan bahwa It gan ki jut, su ma lam twi (Sekali perkataan dikeluarkan, empat ekor kuda takkan dapat menarik kembali)! Kau telah ditunangkan dengan suhengmu, sudah menjadi keputusan matang antara orang orang tua dan kau tadipun menyatakan bahwa sebagai murid kau harus taat kepadaku, mengapa aku mendengar hal hal yang gila dan aneh dari ayahmu? Benar benarkah kau mengingkari janji pertunanganmu dan menolak untuk menjadi isteri Swee ji ? Kini timbul ketabahan hati Sian Hwa, ia mengangkat mukanya yang pucat dan dengan pandang mata tak gentar ia berkata kepada Pat jiu Giam ong. Maaf, suhu, Teecu

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

sama sekali tidak merasa bahwa teecu mengingkari janji atau menarik kembali kata kata. Urusan pertunangan dijadikan oleh ayah tiriku ketika teecu masih belum tahu apa apa sama sekali, bukan merupakan janji teecu sendiri. Oleh karena itu, kalau teecu menolak sekarang, bukan berarti bahwa teecu menarik kembali janji, karena teeeu tak pernah berjanji! Adapun tentang nasehat dan perintah suhu, yang manakah yang pernah tidak ditaati oleh teecu? Bukan main marahnya hati Bucuci, akan tetapi di depan Pat jiu Giam ong ia tidak berani banyak bicara. Adapun Liem goanswe sendiri walaupun merasa dadanya panas, namun ia masih menyabarkan diri. Memang selama ini kau selalu taat, bahkan mempelajari ilmu silat dengan tekun dan memuaskan hati suhumu. Akan tetapi, sekarang aku sebagai suhumu telah menyetujui tentang perjodohanmu dengan anakku. Kalau kau menolak, ini dapat juga berarti bahwa kau membangkang terhadap perintah suhumu, Sian Hwa, sekali lagi, kuminta kau berpikir waras dan tidak mengadakan penolakan yang bukan bukan.....! Maaf, suhu. Dalam hal pernikahan yang selanjutnya akan menjadi dasar kehidupan teecu, terpaksa teecu tidak dapat mentaati permintaan suhu. Oleh karena hal ini menyangkut kehidupan teecu, maaf saja kalau teecu tidak dapat menurut! Sian Hwa, kau harus malu! Biarpun kau tak usah mendengarkan omongan gurumu tentang hal pernikahan, akan tetapi pernikahan diputuskan oleh orang tua. Ayahmu sudah menyetujuinya. . Dia bukan ayahku, suhu, hanya ayah tiri! Dan ibumu juga sudah setuju!

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Ibu terlalu lemah, selalu menurut kehendak ayah tiriku! Kurang ajar ! Liem goanswe kini benar benar marah. Sian Hwa, kau calon menantuku, muridku yang tadinya kukasihi, kau hendak merendahkan namaku dan membikin malu keluargaku? Tahukah kau bahwa penolakanmu berarti kau menghina kepada keluarga Liem? Apakah benar benar kau muridku telah tergila gila kepada murid Kim Kong Taisu? Alangkah rendah dan hinanya! Suhu....! Sian Hwa mengangkat muka dan menatap wajah suhunya dengan sinar mata berapi api. Pat jiu Giam ong mengebutkan lengan baju nya ke bawah dan terdengar suara keras. Ternyata bahwa batu lantai telah pecah terpukul oleh ujung lengan bajunya itu! Sian Hwa, bantahannya ini memutuskan perhubungan kita sebagai guru dan murid! Aku tidak perduli apa apa lagi, hanya ingat, kalau fihak keluargamu berani menghinaku dan membatalkan perjodohan ini, aku takkan tinggal diam. Akan kuberi rasa kepada mereka yang berani menghina ku! Kalau perlu, akan kubinasakan semua keluarga yang menghina keluargaku. Aku sudah bicara, terserah kalian mengambil keputusan! Setelah berkata demikian, Pat jiu Giam ong lalu melangkah keluar dengan tindakan lebar dan muka merah saking marahnya! Sian Hwa yang ditinggalkan, menundukkan mukanya. Bucuci membanting banting kakinya. Celaka, celaka! Bagaimana aku begini bodoh dan menolong seorang anak durhaka semacam ini? Aku bersusah payah menolongnya, mencegahnya dari kebinasaan, memeliharanya sampai besar, tahu tahu sekarang dia menjadi sebab bencana yang menimpa padaku. Ah, anak bedebah, lebih baik aku mengadu jiwa

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

dengan kau! Sambil berkata demikian, Bucuci lalu menubruk maju, menimbulkan suara kerincingan dari baju perangnya. Dengan tangan kanan ia memukul kepala Sian Hwa dan tangan kirinya menotok ulu hati gadis itu. Inilah serangan pukulan Ji liong ta san (Dua Naga Memukul Gunung) yang hebat luar biasa, karena baik tangan kanan maupun tangan kiri merupakan pukulan maut yang disertai tenaga lweekang sepenuhnya! Sian Hwa tidak berani berlaku lambat melihat datangnya pukulan yang berbahaya ini. Cepat ia menghindarkan dirinya dan mengelak dengan gerakan Yan cu twi cauw (Burung Walet Pulang Sarang). Akan tetapi Bucuci yang sudah marah sekali, lalu melanjutkan serangannya dengan ilmu pukulan bertubi tubi yang semuanya dilakukan dengan penuh kegemasan dan mengandung bahaya maut. Sian Hwa cepat mempergunakan ginkangnya yang tinggi, berputar putar dan melakukan gerakan Jiauw ouw poan oan, yakni tindakan berputar putar yang lincah sekail untuk mengelak dan pukulan bertubi tubi itu. Kadang kadang ia terpaksa menangkis dengan jari jari tangannya yang dijepretkan. Ayah, aku tidak mau bertempur melawan engkau, kata gadis itu. Anak durhaka, jangan menyebut ayah, aku bukan ayahmu! bentak Bucuci. Baik, Panglima Bucuci. Kalau demikan kehendakmu, akan tetapi tetap saja aku tidak sampai hati membalas seranganmu! Sambil berkata demikian, Sian Hwa mengerahkan tenaganya dan setiap kali menangkis pukulan, ia mengerahkan lweekangnya, sehingga Bucuci merasa betapa tangannya sakit sakit dan tulang tulangnya seperti mau patah.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Pada saat itu, muncul Kui Eng yang menjerit jerit mencegah pertempuian itu. Melihat kenekatan Bucuci, tanpa memperdulikan keselamatannya sendiri Kui Eng menyerbu di tengah tengah untuk melarang suaminya menyerang Sian Hwa. Bucuci sudah mata gelap, maka ketika menyerang ia tidak melihat lagi dan tiba tiba sebuah pukulannya dengan tepat mengenai dada kanan Kui Eng. Nyonya itu menjerit dan terguling roboh. Mulutnya mengeluarkan darah segar. Ibu....! Sian Hwa menjerit, lalu dengan marah ia memukul ke arah Bucuci. Kau berani melukai ibuku! Hebat sekali serangan dari Sian Hwa ini karena dara ini mempergunakan pukulan Lit sim ciang hwat (Pukulan Membelah Hati), Bucuci mencoba untuk menangkis, akan tetapi terdengar suara, krak dan tulang lengan kirinya yang menangkis itu telah patah. Ibu....! Sian Hwa tidak memperdulikan Bucuci yang jatuh terduduk sambil meringis ringis, lalu gadis itu menubruk Kui Eng yang napasnya sudah empas empis. Sian Hwa... jangan mencari bencana Kui Eng berkata terengah engah. Perempuan sial! tiba tiba Bucuci memaki isterinya. Itulah jadinya kalau kau terlalu ingin mempunyai anak. Terlalu sayang kepada anak guru silat pemberontak itu! Dia bukan anak kita sendiri dan dia mempunyai darah pemberontak, sekarang kau lihat sendiri apa jadinya! Dia hanya mendatangkan bencana bagi kita berdua! Bucuci sambil meringis ringis menahan sakit, merobek bajunya untuk dipergunakan membalut lengan kirinya sambil menyumpah nyumpah dan memaki maki isterinya. Sian Hwa yang tadinya memeluk ibunya, kini melepaskan ibunya perlahan lahan di atas tanah. Dengan

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

muka pucat dan bibir gemetar ia berdiri perlahan, sebentar memandang kepada ibunya dan segera dialihkan pandangannya kepada Bucuci. Apa....? Apa katamu....? Aku bukan anak....ibu....? ? Apa artinya ini....? Kui Eng mengeluh dan air matanya mengucur deras. Sakit di dalam hatinya karena suaminya telah membuka rahasia ini dirasakannya lebih hebat daripada sakit bekas pukulan tangan suaminya yang mengakibatkan luka hebat di dalam tubuhnya. Bucuci tertawa bergelak gelak. Bukan! Kau bukan anakku, bukan anak isteriku! Kau seorang anak yatim piatu, anak tidak berharga yang sudah kami pelihara, akan tetapi sekarang membalas budi kami dengan racun! Anak keparat!! Kui Eng melambaikan tangannya dan Sian Hwa berlutut lagi di dekat ibunya. Sian Hwa.... dia memang benar.... aku dirampasnya, dipaksanya menjadi isterinya.... dan kau.... aku tidak tahu siapa kau, siapa orang tuamu.... dia datang datang membawamu ketika kau masih kecil....! Bedebah! Sian Hwa menjadi marah sekali. Sekarang dia tahu, bahwa Bucuci telah memaksa Kui Eng yang tadinya disangka ibunya. Dan kalau dia datang dibawa oleh Bucuci, tentu ayah angkat ini tahu pula tentang kematian orang tuanya..Jadi kau agaknya yang merencanakan pembunuhan orang tuaku, ya? Dengan tindakan perlahan bagaikan seekor harimau menghampiri korbannya, Sian Hwa menghampiri Bucuci dan sepasang matanya berapi api. Bucuci cepat berdiri dan bersiap menghadapi serangan Sian Hwa.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Kau memang anak pemberontak, maka kau bersikap sebagai seorang penjahat kejam! bentak nya. Aku tidak membunuh orang tuamu, barisan Ang bi tin yang melakukannya. Akan tetapi semenjak kecil kau telah kupelihara baik baik. Sungguh seorang yang bong im pwe gi (tak kenal budi)! Akan tetapi Sian Hwa sudah begitu marah, sehingga tak dapat mengendalikan nafsunya lagi. Sambil membentak marah, ia menyerang dengan pukulan maut ke arah dada Bucuci. Panglima Mongol ini bukanlah orang sembarangan dan ia telah memiliki kepandaian yang tinggi. Semenjak tadi ia telah mempersiapkan segenggam senjata rahasianya yang hebat, yakni kerincingan baja itu. Begitu melihat Sian Hwa menyerang, tangan kanannya bergerak dan tujuh butir kerincingan telah menyambar ke arah tubuh Sian Hwa. Gadis ini melihat datangnya senjata senjata rahasia, cepat melempar diri ke bawah sambil mengebutkan lengan baju ke atas sehingga semua senjata rahasia lewat di atas kepalanya. Akan tetapi pada saat itu, Bucuci telah melompat keluar dari kamar. Sian Hwa hendak mengejar, akan tetapi Kui Eng mencegah dengan suara memilukan. Jangan.... Sian Hwa, jangan kau membunuh dia. Betapapun juga dia telah berlaku baik kepadaku dan kepadamu selama belasan tahun ini. Ibu.... sebutan ini terdengar kaku dari mulut Sian Hwa. Aku tak dapat lebih lama tinggal di sini Selamat tinggal! Nanti dulu, Sian Hwa kalau kau hendak meninggalkanku, cabutlah pedangmu dan bunuhlah aku lebih dulu. Tanpa kau untuk apakah aku hidup lebih lama lagi? Dulupun kalau tidak ada kau... tentu aku sudah menyusul suamiku....

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Sian Hwa berpikir sejenak, ia memang mencintai ibunya atau lebih tepat mencintai wanita ini yang sudah dianggapnya sebagai ibunya sendiri, ia juga tidak tega meninggalkan Kui Eng di rumah Bucuci yang dalam marahnya telah melukainya sedemikian hebat. Marilah kau ikut aku pergi, ibu katanya, akan tetapi Kui Eng tak dapat menjawab, karena sambil mengeluarkan keluhan panjang, nyonya yang tidak beruntung ini telah jatuh pingsan. Sian Hwa tidak banyak membuang waktu lagi segera di pondongnya tubuh ibunya dan ia melompat keluar dan gedung ayah angkatnya. Beberapa orang penjaga, pembantu ayahnya, menghadang di depan gedung Sian Hwa memondong ibunya dengan tangan kiri dan tangan kanannya mencabut pedang Oei giok kiam yang digerak gerakkan dengan sikap mengancam. Siapa sudah bosan hidup, boleh menghalangi perjalananku! bentaknya dengan garang. Para penjaga itu memang mendapat tugas dari Bucuci untuk menghalangi Sian Hwa pergi dari situ. Sementara panglima ini berlari cepat melaporkan kepada Pat jiu Giam ong. Akan tetapi karena semua penjaga sudah tahu belaka akan kelihaian ilmu silat Sian Hwa yang bahkan melebihi kepandaian Bucuci sendiri, tak seorangpun diantara mereka yang berani menyerang setelah diancam oleh gadis perkasa ini. Dengan leluasa Sian Hwa lalu melompat dan berlari sambil menggendong ibunya yang masih pingsan. Ia berlari cepat, keluar dari kota raja melalui pintu sebelah barat. Senja telah berganti malam dan keadaan yang gelap itu tidak diperdulikan oleh Sian Hwa yang berlari terus menuju ke barat. Tiba tiba ia mendengar suara kaki kuda yang banyak sekali menyusulnya, didahului oleh suara keras bergemuruh yang sudah amat dikenalnya, yakni suara

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Pat jiu Giam ong, gurunya! Pat jiu Giam ong mengeluarkan kepandaiannya, yakni Ilmu Coan im jip bit (Mengirim Suara Dari Jauh), sehingga biarpun ia masih jauh, suaranya itu bergema sampai beberapa li jauhnya dan terdengar pula oleh Sian Hwa. Sian Hwa, kuperintahkan .kepadamu supnya berhenti dan menyerah! demikian teriak Pat jiu Giam ong yang diulang beberapa kali. Akan tetapi Sian Hwa tidak mau berhenti bahkan mempercepat larinya, sehingga ia memasuki sebuah hutan yang gelap sekali. Sian Hwu.... percuma.... kau takkan dapat terlepas dari tangan....Pat jiu Giam ong.... terdengar Kui Eng berkata. Ternyata nyonya ini telah siuman kembali dan dapat mendengar suara Pat jiu Giam ong yang keras itu. Tidak, ibu. Aku takkan menyerah. Biar aku akan membelamu dengan nyawaku yang tak berharga. Ohhh.... Kui Eng mengeluh. Tiba tiba nyonya ini teringat akan sesuatu dan berkata. Sian Hwa, masih ada harapan. Lekas kau pergi ke dusun Kin an mui dan masuk ke dalam kuil Sun pok thian, Pek Lian Suthai tentu akan menolong kita.... Sian Hwa pernah diajak oleh ibunya ke kuil ini, maka karena dusun Kin an mui memang berada di luar hutan itu, ia cepat melanjutkan larinya menuju ke dusun ini ia tidak tahu bagaimana Pek Lian Suthai yang suci dan lemah itu akan dapat menolong mereka, akan tetapi pada saat seperti itu, tidak ada waktu lagi untuk banyak bertanya. Kuil Sun pok thian adalah sebuah kuil di dusun Kin an mui, sebuah kuil wanita di mana terdapat beberapa belas pendeta wanita yang hidup sebagai orang orang suci dan

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

beribadat. Patung terbesar yang dipuja di kuil ini adalah Dewi Kwan Im dan kemajuan kuil ini amat terkenal sampai di kota raja. Oleh karena banyak sekali nyonya bangsawan datang bersembahyang di kuil ini, maka kuil ini dihormati dan dipandang tinggi oleh para bangsawan dan mendapat tunjangan uang yang cukup banyak, sehingga kuil ini dapat diperbaiki dan menjadi sebuah kuil yang cukup luas dan bersih, sesuai dengan namanya, yakni kuil Sun pok thian (Dunia Luas Dan Bersih). Ketuanya adalah seorang nikouw berkepala gundul seperti semua nikouw yang berada di situ, yang bernama pek Lian Suthai, seorang ahli dalam kebatinan dan agama. Pek Lian Suthai ini amat dipandang tinggi oleh semua orang, baik golongan rendah maupun bangsawan tinggi, karena selain ramah tamah dan hidup suci, nikouw tua inipun suka sekali menolong orang, baik dengan obat obatan maupun dengan nasehat nasehat berharga suka pula menghibur orang orang yang menderita kesusahan. Sian Hwa yang menggendong Kui Eng berlari lari sampai semalam suntuk, terus dikejar kejar oleh suara Pat jiu Giam ong yang makin lama makin dekat. Pat jiu Giam ong memang luar biasa lihainya dan kalau saja gadis itu tidak tertolong oleh malam yang amat gelap, tentu sebentar saja ia telah tersusul oleh rombongan Pat jiu Giam ong. Menjelang fajar, sampailah Sian Hwa di depan kuil itu. Dengan napas terengah engah karena ia memang lelah sekali, ia mengetuk pintu. Dari luar telah terdengar suara alat tetabuhan dari kayu yang dipukul berirama untuk menimbulkan irama di waktu para pendeta wanita itu berliamkeng (membaca doa). Seorang nikouw setengah tua membuka pintu. Ketika melihat Sian Hwa menggendong seorang nyonya yang nampaknya sakit keras, ia cepat membuka lebar pintunya,

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

mempersilahkun Sian Hwa masuk, kemudian menutupkan pintunya kembali. Tak lama kemudian Pek Lian Suthai sendiri menyambut kedatangan mereka. Nikouw ini cepat menolong Kui Eng tanpa banyak bertanya dan setelah memeriksa dan mendapat kenyataan bahwa Kui Eng menderita luka dalam yang hebat sekali, ia menggeleng gelengkan kepala dan baru bertanya dengan suaranya yang tenang kepada Sian Hwa. Siocia, apakah yang telah terjadi sehingga ibumu terluka hebat dan pada saat seperti ini kau berlari lari menggendong ibumu datang ke sini? Sian Hwa dengan suara berduka menuturkan pengalamannya. Betapa ia hendak dipaksa menikah dan setelah menolak, ayah angkatnya lalu menyerangnya dan melukai ibunya. Omitohud! Nikouw tua itu menyebut nama Buddha sambil merangkapkan kedua tangannya. Bagaimana ada kejadian seperti ini dalam rumah tangga seorang bangsawan? Sambil berkata demikian ia lalu mengeluarkan obat dan memberi minum obat kepada Kui Eng yang tak lama kemudian tersadar dari pingsannya. Suthai.... kata kata pertama yang keluar dari mulutnya setelah ia siuman adalah permohonan dengan suara memilukan. Tolonglah kami.... ah, tidak, tolonglah anakku ini hanya kepadamu aku dapat mengharapkan pertolongannya Pek Liam Suthai demi Sang Buddha yang mulia, tolonglah anakku Sian Hwa ini.... Pek Lian Suthai menyandang kepada Sian Hwa, lalu meraba jidat Kui Eng yang terasa panas. Tenanglah, hujin, ada kesukaran apakah kiranya?

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Kami dikejar kejar oleh Liem goanswe dari kota raja! Ah... kalau ia sampai datang ke sini akan celaka anakku bila kau tidak menolongnya, Liem goanswe? Kau maksudkan Pat jiu Giam ong? tanya Pek Lian Suthai sambil mengerutkan keningnya. Nyata bahwa ia terkejut juga mendengar nama ini disebut sebut. Betul, Pat jiu Giam ong, guru dari anakku ini tentu akan memaksa Sin Hwa kembali, untuk menjadi menantunya. Tolonglah, suthai.... Omitobud! Kembali nikouw tua itu menyebut nama Buddha. Jadi dialah yang hendak mengambil menantu puterimu? Ah, hujin, para orang gagah di empat penjuru lautan tidak ada yang berani menentang Pat jiu Giam ong apalagi seorang pertapa wanita seperti pin ni (aku) yang tua dan lemah ini, dapat berbuat apakah terhadap Pat jiu Giam ong? Ada jalan, suthai.... asal saja anakku kau terima menjadi seorang nikouw, biarpun kaisar sendiri tidak berhak untuk mengganggumu atau memaksanya menikah. Ambillah anakku sebagai muridmu, gunduli rambutnya menjadi nikouw.... Ibu....! Sian Hwa setengah menjerit mendengar bahwa ia hendak dijadikan nikouw gundul. Diam, Sian Hwa! Jauh lebih baik menjadi nikouw dan hidup beribadat dan pada membunuh diri, atau melarikan diri dikejar kejar oleh Pat jiu Giam ong yang akhirnya tentu akan dapat menangkapmu. Kui Eng berkata dengan suara tetap. Pula, kau meniadi nikouw hanya untuk

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

membebaskan diri dari cengkeraman mereka, setelah aman kau boleh menjadi orang biasa kembali.... Tak mungkin, hujin, kata Pek Lian Suthai. Pin ni tidak boleh membohong kepada Thian, tidak boleh menerima hanya untuk main main saja. Sekali puterimu sudah menjadi nikouw dan telah di lakukan upacara potong rambut di depan Kwan Im Pouwsat, ia selamanya akan menjadi seorang nikouw yang suci dan setia. Pin ni menolak untuk berlaku pura pura, dan.... Tiba tiba terdengar suara teriakan teriakan di luar kuil. Pek Lian Suthai, bukalah pintu untuk kami. Terdengar suara yang parau berseru sambil menggedor pintu. Jenderal besar Liem berada di sini hendak berjumpa dengan suthai. Celaka, suthai, mereka telah tiba.... Kui Eng berkata pucat dan cepat mencegah puterinya ketika ia melihat Sian Hwa mencabut pedangnya. Jangan, Sian Hwa, jangan melawan. Bagaimana kau bisa melawan gurumu sendiri? Sian Hwa menjadi ragu ragu dan lenyap keberaniannya ketika diingatkan bahwa di luar terdapat suhunya .Memang bagaimanapun juga, ia tidak berani melawan Pat jiu Giam ong. Suthai, tolonglah anakku....! kembali Kui Eng memohon kepada pendeta wanita itu. Pin ni bisa mengaku bahkan puterimu pin ni terima menjadi murid, akan tetapi kalau sudah di lakukan upacara potong rambut, tak mungkin puterimu menjadi seorang gadis lagi.... Pek Lian Suthai, dengar baik baik! Aku Pat jiu Gian ong berada di luar kuil. Lekas buka pintu, aku hendak bertemu dengan nyonya Bucuci dan puterinya, tiba tiba

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

terdengar suara Pat jiu Giam ong yaug amat keras itu, sehingga Pek Lian Suthai tak berani berlaku ayal lagi. Nikouw tua ini lalu bergegas menuju ke pintu depan dan dengan kedua tangannya sendiri ia membuka tapal pintu. Di dalam kuil yang amat dihormati ini, para pengikut Pat jiu Giam ong tidak berani berlaku kurang ajar. Mereka hanya menanti di halaman depan dan yang masuk hanyalah Pat jiu Giam ong Liem Po Coan, Liem Swee puteranya, dan akhirnya Bucuci. Di mana mereka?? Bucuci bertanya kepada Pek Lian Suthai setelah mereka memberi hormat kepada nikouw itu. Sikap Bucuci amat galak, akan tetapi Pat jiu Giam ong dan puteranya berlaku tenang. Biarpun menghadapi Bucuci yang nampak marah, Pat jiu Giam ong yang nampak amat berpengaruh dan Liem Swee yang tampan dan gagah dengan pakaiannya yang indah, namun Pek Lian Suthai ketua kuil Sun pok thian itu tidak gentar sedikit juga. Ternyata bahwa wanita tua yang semenjak puluhan tahun telah melakukan samadhi dan menuntut penghidupan suci dan bersih ini, telah memiliki kekuatan batin yang luar biasa dan yang membuatnya menjadi tenang. Ah, kiranya sam wi (tuan bertiga) yang datang berkunjung dari kota raja. Sungguh merupakan kehormatan besar terhadap pin ni. Silahkan duduk di ruang tamu, sam wi dan minum teh. Pek Lian Suthai, kami datang berkunjung tidak untuk minum teh atau bersembahyang ! Bucuci berkata tak sabar. Kami datang untuk menyusul anak durhaka itu. Di mana mereka anak dan isteriku? Tadi mereka masuk di kuil ini dan harap kau orang tua jangan mencampuri urusan ini.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Oh, jadi ciangkun mencari hujin dan siocia? Hujin memang ada di dalam, sedang sakit karena menderita luka hebat di bagian dadanya. Pin ni sedang berusaha mengobatinya. Adapun siocia, dia datang untuk menjadi murid pin ni dan sekarang dia telah menjadi murid Kwan Im Pouwsat! Apa? Suruh mereka keluar! Kalau tidak, aku terpaksa akan menerjang masuk! Bucuci berkata lagi dengan marah. Hujin sedang sakit, ciangkun, jawab Pek Lian Suthai dengan tenang.Dan pin ni percaya bahwa ciangkun memiliki kebijaksanaan dan kesopanan cukup besar untuk tidak melanggar pantangan dan memasuki ruang dalam tempat tinggal pinni dan murid rnurid pinni. Merahlah muka Bucuci karena biarpun omongan ini amat merendah, namun sebenarnya merupakan tamparan baginya dan mengingatkan dia bahwa di dalam ruang kuil itu hanyalah terdapat orang orang wanita belaka! Pek Lian Suthai, benarkah Sian Hwa telah mengambil keputusa masuk menjadi pendeta wanita? tanya Pat jiu Giam ong dan matanya yang tajam menatap wajah Pek Lian Suthai. Demikianlah kehendak ibunya, Liem goan swe, jawab Pek Lian Suthai. Suruh dia keluar, kalau ibunya sakit, biarlah anak itu sendiri yang keluar. Aku gurunya hendak bicara dengan dia! Berbeda dengan Bucuci, Pat jiu Giam ong bicara dengan pasti dan berpengaruh, sama sekali tidak mempergunakan ancaman atau gertakan. Dan untuk suara seperti ini, Pek Lian Suthai maklum bahwa tidak ada gunanya membantah lagi. Ia lalu masuk ke ruang dalam di mana Kui Eng dan Sian Hwa telah menantinya. Kui Eng

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

dengan wajah pucat dan air mata mengalir di pipi, tetapi Sian Hwa menggigit bibir dan tidak takut sedikit pun juga. Siocia, kau dipanggil oleh suhumu, Pat jiu Giam ong, kata Pek Lian Suthai kepada Sian Hwa. Gadis ini memandang kepada ibunya, lalu berkata perlahan. Ibu harap kau tenang tenang saja, jangan khawatir, aku dapat menjaga diri sendui. Sian Hwa, demi Pouwsat, jalan satu satunya untuk meloloskan diri hanya... mengaku menjadi murid Pek Lian Suthai.... Sian Hwa meninggalkan kamar itu setelah menyatakan setuju dengan nasehat ibunya, diikuti oleh Pek Lian Suthai. Melihat dara yang cantik jelita itu dengan wajah agak pucat, tetapi sikap amat tenang keluar menemui mereka dengan pandangan mata sedikit pun tidak nampak gemar, Pat jiu Giam ong diam diam merasa kagum kepada muridnya ini. Jenderal ini memang sesungguhnya amat sayang kepada muridnya ini dan tadinya ia mengharapkan Sian Hwa lah yang akan dapat menjunjung tinggi namanya dalam kalangan dunia persilatan, ia maklum bahwa gadis ini memiliki bakat yang lebih baik daripada Liem Swee puteranya dan kalau gadis ini dapat menjadi isteri Liem Swee dan mereka itu bersatu, maka mereka merupakan kekuatan yang akan cukup tangguh untuk menghadapi lawan lawan yang datang mengganggu maupun kawan yang datang untuk menguji ilmu kepandaian mereka. Adapun Bucuci memandang kepada Sian Hwa dengan mata marah. Bucucipun sebetulnya telah merasa sayang kepada Sian Hwa yang dianggapnya sebagai puteri sendiri. Panglima ini memang tidak mempunyai keturunan dari Sian Hwa memang semenjak kecilnya telah mendatangkan banyak kesenangan dalam hatinya. Kini melihat gadis ini

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

yang mendatangkan banyak kepusingan, ia benar benar merasa kecewa dan rasa sayangnya itu berobah menjadi kebencian besar. Tak pernah disangkanya bahwa gadis yang semenjak kecilnya ditimang timang dan dimanjakan itu kini berbalik merupakan seorang musuh dan lawan yang amat berbahaya. Sementara itu, Liem Swee memandang kepada San Hwa dengan hati kecewa bukan main. Melihat gadis itu kini keluar dari dalam kuil dengan pakaian sederhana dan rambut kusut, makin tertariklah hatinya. Memang semenjak mereka telah dewasa, kesayangannya terhadap Sian Hwa makin menjadi. Kalau dulu ketika mereka masih kecil ia sayang kepada Sian Hwa sebagai seorang kawan bermain atau sebagai seorang saudara karena memang ia tidak mempunyai saudara kandung, setelah mereka menjadi remaja, mulailah ia memperhatikan dan melihat betapa cantik wajah Sian Hwa dan betapa indah dan elok potongan tubuh sumoinya itu. Kini ia diam diam mengakui bahwa sumoinya memang elok dan cantik sekali, maka alangkah pahit rasa hatinya kalau ia mengingat bahwa sumoi yang telah menjadi tunangannya itu kini menyatakan tidak setia dan menolak serta memutuskan perjodohannya dengannya. Kegetiran hatinya ini tentu saja membuatnya merasa sakit hati juga dan diam diam ia merasa tersinggung keangkuhannya dan merasa terhina oleh penolakan Sian Hwa. Dia, putera Pat jiu Giam ong, sampai ditolak oleh Sian Hwa, murid dari ayahnya sendiri. Sungguh terlalu. Wajahnya berobah keras dan mulutnya tersenyum mengejek kalau teringat akan hal ini. Demikianlah, tiga orang itu memandang ke pada Sian Hwa dengan perasaan berbeda beda. Sian Hwa, Pat jiu Giam ong berkata setelah Sian Hwa membungkuk kepadanya selaku penghormatan, karena

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

hanya kepada suhunya saja Sian Hwa memberi hormat ayahnya dan Liem Swee tidak diacuhkannya sama sekali, bahkan dilirik sajapun tidak. Perbuatan sesat apalagi yang telah kaulakukan. Kau telah melukai ayahmu dan membawa lari ibumu di malam buta, sungguh amat hebat perbuatanmu ini. Terserah kepada pertimbangan suhu saja, karena teecu melukai dia hanya untuk membela ibu. jawab Sin Hwa sambil tunduk dan biarpun ia bersikap merendah terhadap suhunya, namun ia sama sekali tidak kelihatan takut. Sian Hwa, tak kusangka bahwa benar benar kau sampai hati dan berani melemparkan penghinaan besar kepadaku, kepada gurumu sendiri. Kau tetap membangkang dan tidak mau melanjutkan perjodohanmu dengan anakku? Teecu tidak akan menikah dengan siapapun juga, suhu. Penolakan teecu ini bukan sekali kali karena teecu membenci suheng, sama sekali tidak .... Ya, ya, aku sudah tahu, karena kau tergila gila kepada murid Kim Kong Taisu yang keparat itu, bukan? Bucuci memotong gemas. Aku tidak bicara dengan kau! Sian Hwa mendelik kepada ayah angkatnya dan membentak. Melihat sinar mata Sian Hwa yang berapi api itu, diam diam Bucuci terkejut dan tak berani membuka mulut lagi. Sian Hwa, jangin kau main main dengan aku! Aku takkan memaksa kau menjadi isteri Swee ji akan tetapi tidak boleh kau merusak kehormatan nama keluargaku begitu saja. Kau harus melanjutkan pernikahan ini hanya untuk menjaga kebaikan nama keluargaku. Setelah diadakan upacara pernikahan, boleh saja kau pergi meninggalkan suamimu, kami takkan menghalangi kehendakmu! kata Pat jiu Giam ong pula kepada muridnya yang bandel ini.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Diam diam Pek Lian Suthai terkejut sekali. Kalau hal ini dilakukan, tentu saja semua nama busuk tertanggung oleh Sian Hwa, karena dengan demikian persoalannya menjadi lain, yakni sebagai seorang isteri yang melarikan diri dari suaminya adalah perbuatan yang amat memalukan dan hina! Sian Hwa yang masih belum berpengalaman itu sebetulnya tidak tahu tentang hal ini, tetapi ia tetap menolak, bukan karena takut seperti apa yang ditakutkan oleh Pek Lian Suthai, melainkan memang ia tidak mau menikah. Kecuali dengan Bun Sam, bisik hatinya! Tidak, suhu. Teecu tetap tidak mau menikah. Kalau aku memaksamu? tanya Pat jiu Giam ong dengan geram. Lebih baik teecu binasa, tantang Sian Hwa dengan beraninya. Ayah!! tiba tiba Liem Swee berseru keras, hingga mengejutkan semua orang. Sudah demikian rendahkah aku, sehingga ayah terpaksa harus membujuk bujuk dan memaksa maksa seorang gadis untuk menjadi isteriku? Apakah benar benar aku sebagai seorang pemuda takkan laku lagi dan tidak bisa mendapatkan gadis lain yang lebih cantik, lebih manis lebih gagah dan lebih mulia hatinya daripada Sian Hwa? Liem Swee benar benar tersinggung kejantanannya mendengar ayahnya membujuk bujuk seorang gadis untuk menjadi isterinya. Liem kongcu bicara betul, kata Pek Lian Suthai. Mohon maaf sebesarnya, Liem goanswe. Bukan sekali kali pinni bermaksud mencampuri urusan yang sesungguhnya merupakan urusan rumah tangga, namun pinni khawatir kalau kalau terjadi perkara jiwa dalam kuil ini. Memang amat tidak bijaksana kalau memaksa siocia ini menjadi isteri Liem kongcu sebagaimana dikatakannya tadi, kedua

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

kali nya, karena siocia telah menjadi muridku, menjadi seorang pendeta wanita di kuil ini Liem goanswe tentu sudah maklum bahwa seorang calon pendeta wanita tidak boleh menikah dan pula seorang pendeta wanita tidak boleh diganggu, karena pendeta wanita berada di bawah perlindungan Kwan ini Pouwsat dan dilindungi oleh undang undang kaisar. Pat jiu Giam ong memandang kepada Sian Hwa dengan tajam, penuh selidik. Ia tahu akan peraturan itu dan maklum pula bahwa dengan menjadi seorang nikouw, berarti bahwa gadis itu telah menutup kesempatan untuk menjadi orang biasa dan menutup pintu hati bagi segala keramaian duniawi. Sian Hwa, benarkah engkau hendak menjadi pendeta wanita? tanyanya. Benar, suhu, jawab Sian Hwa sambil menundukkan mukanya. Tiba tiba Liem Swee tertawa gelak gelak dengan lagak amat mengejek ia telah dibikin kecewa dan juga dibikin malu, maka kini ia hendak membalas penghinaan Sian Hwa dengan jalan mengejek dan memperolok olokkannya. Suthai, bukankah seorang pendeta wanita itu harus dicukur rambut kepalanya? Memang betul demikian, Liem kongcu. Dan benarkah bahwa pencukuran itu kecuali dilakukan oleh ketua kuil, juga boleh dilakukan oleh orang tua atau wali dari yang hendak menjadi nikouw? Pek Lian Suthai berpikir sejenak, sambil menatap wajah pemuda itu penuh selidik. Dia adalah seorang nenek yang sudah banyak makan asam garam dunia, maka ia dapat

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

menebak apa yang hendak dilakukan oleh pemuda yang sakit hati ini. Memang demikian, kongcu, jawabnya kemudian. Sesungguhnya tidak ada aturan seperti ini, tetapi karena Pek Lian Suthai mempunyai maksud tertentu, ia membenarkan kata kata Liem Swee itu. Bagus! seru Liem Swee dan tiba tiba ia mencabut pedangnya..Kalau demikian, biarlah aku mewakili ayahnya untuk membabat dan mencukur rambutnya. Kami sekalian hendak menyaksikan apakah benar benar sumoiku yang baik dan mulia ini hendak masuk menjadi pendeta wanita. Bukan main marahnya hati Sian Hwa mendengar ucapan suhengnya ini. Ia telah mengangkat muka dan memandang dengan mata bersinar marah kepada Liem Swee Akan tetapi ketika ia bertemu pandang dengan suhunya, ia melihat betapa suhunya memandangnya dengan dingin dan agaknya membenarkan dan menyetujui usul puteranya itu. Dan ketika Sian Hwa bertemu pandang dengan Pek Lian Suthai, ia menjadi terkejut dan heran karena nikouw tua ini mengejapkan matanya memberi tanda agar ia menurut saja. Dalam keadaan terjepit seperti itu, menghadapi ayahnya yang marah, Liem Swee yang sakit hati dan suhunya yang amat berpengaruh, Sian Hwa tidak berdaya dan hanya mengandalkan pertolongan Pek Lian Suthai. Ia menggantungkan nasibnya pada keputusan nikouw tua itu maka sambil menundukkan kepalanya, ia memejamkan matanya menanti apa yang akan menimpa dirinya. Baiklah, Liem kongeu. Kau lakukan apa yang kau kehendaki itu, asal saja kau berhati hati jangan sampai melukai kulit kepala siocia, kata Pek Lian Suthai

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

tersenyum, lalu disambungnya lagi. Siapa pun yang mencukur rambutnya, apa bedanya. Liem Swee yang menjadi kejam bukan hanya karena sakit hatinya, akan tetapi karena memang ia mempunyai dasar watak kejam seperti ayahnya, segera melangkah maju menghampiri Sian Hwa. Pek Lian Suthai menyuruh Sian Hwa berlutut, menyelimuti tubuh gadis itu dengan jubah pendeta berwarna putih. Disaksikan oleh semua nikouw yang berada di situ dan juga oleh Bucuci dan Pat jiu Giam ong, Liem Swee lalu memegang rambut kepala Sian Hwa. Ketika jari tangannya merasa menyentuh rambut yang hitam gemuk, halus dan berbau harum itu, hatinya melemah juga. Akan tetapi timbul kembali kekerasan hatinya ketika ia mengingat akan penolakan Sian Hwa kepadanya, maka sambil menggigit bibir Liem Swee lalu mengerjakan pedangnya yang tajam. Sekali babat saja putuslah rambut yang indah itu. Naik sedu sedan dari dada San Hwa ke lehernya, akan tetapi gadis ini sambil memicingkan matanya lalu mengatur napasnya dan berlutut diam tak bergerak seperti orang bersamadhi. Sekali Liem Swee sudah memotong rambut itu, ia menjadi gembira lagi dan dengan sikap mengejek ia lalu mencukur kepala Sian Hwa dengan gerakan cepat dan sebentar saja lenyaplah semua rambut darri kepala Sian Hwa. Kini kepala gadis yang cantik itu menjadi gundul kelimis dan kelihatan kulit kepalanya yang putih bersih! Liem Swee menyimpan pedangnya dan tertawa gelak gelak sementara itu, diam diam Bucuci menjadi terharu juga melihat keadaan Sian Hwa. Biarpun matanya meram dan kepalanya tunduk dari kedua mata gadis itu mengalir air mata yang membasahi kedua pipinya yang pucat. Gadis itu telah menderita pukulan batin yang hebat dan hanya kekerasan hatinya saja yang membuat ia tidak menangis

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

tersedu sedu! Pat jiu Giam ong yang tadinya marah, melihat betapa bekas muridnya ini benar benar rela menjadi nikouw daripada menikah menghela napas penuh kekecewaan dan penyesalan. Suthai, siapakah nama nikouw muda baru ini? Liem Swee bertanya dengan suara jenaka, penuh olok olok. Melihat betapa bekas tunangannya itu kini berkepala gundul, lenyap pula rasa cintanya karena memang pada dasarnya pemuda ini hanya mencintai kecantikan wajah Sian Hwa belaka. Namanya? Pinni rasa, nama Sian Hwa cukup baik, maka sekarang pinni menyebutnya Sian Hwa Nikouw. Liem Swee lalu menjura kepada Sian Hwa yang masih berlutut sambil berkata mengejek. Sian Hwa Nikouw, selamat datang di kuil Sun pok thian! Harap kau suka menolongku, berdoa memohon kepada Pouwsat yang baik agar aku lekas lekas mendapat jodoh! Sian Hwa menggigit bibirnya dan menahan air matanya yang hendak mengucur keluar. Pat jiu Giam ong segera berkata kepada puteranya. Sudahlah, mari kita pergi. Sian Hwa telah memilih jalan hidupnya sendiri. Setelah berkata demikian, Pat jiu Giam ong lalu melangkah keluar, diikuti oeh Liem Swee yang masih tertawa tawa. Kau dan Kui Eng jangan harap akan dapat memasuki rumahku lagi! Bucuci berkata keras lalu pergi pula dari tempat itu. Setelah semua orang pergi, Sian Hwa menubruk kaki Pek Lian Suthai sambil menangis tersedu sedu. Ia meraba raba kepalanya dan tangisnya makin menjadi. Wanita manakah yang takkan hancur luluh rasa hatinya kalau kehilangan rambut yang menjadi mahkota kecantikannya?

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Akan tetapi Pek Lian Suthai menghibur sambil tertawa senang. Selamat. selamat! untukmu, siocia. Pinni

memeluknya

dan

mengucapkan

selamat

Dengan kedua tangan menutupi mulutnya untuk menahan tangisnya. Sian Hwa mengangkat muka memandang kepada nikouw tua itu melalui air matanya. Gilakah nikouw tua ini? Ia dipaksa menjadi nikouw di luar kehendaknya dan digunduli kepalanya dan nikouw tua ini bahkan memberi selamat kepadanya. Semenjak tadi pinni sudah maklum bahwa kau tidak mempunyai bakat untuk menjadi seorang nikouw, siocia. Kau lebih bertulang ibu yang mulia dan isteri yang bijaksana. Oleh karena itulah maka pinni menyetujui usul Liem kongcu untuk mencukur rambutmu! Kau menjadi nikouw di luar pengesahan dari Pouwsat, tanpa upacara, sehingga kau menjadi nikouw tidak sah. Kau belum boleh dianggap menjadi seorang nikouw, siocia dan kau masih seorang gadis biasa. Melihat pandangan mata gadis itu tidak mengerti dan penuh mengandung pertanyaan, Pek Lian Suthai lalu menjelaskan. Ada dua macam syarat yang menetapkan sah atau tidaknya seseorang menjadi nikouw. Pertama tama, pemotongan rambut itu tidak boleh dilakukan di luar kehendak yang bersangkutan, oleh karena itu, mereka yang hendak menjadi nikouw, selalu menjadi murid yang memelihara rambut lebih dulu sampai beberapa bulan lamanya. Setelah mereka dengan suka rela suka memotong rambutnya, barulah rambutnya itu dipotong dan pencukuran itu sah namanya. Ke dua, pencukuran rambut tidak boleh dilakukanbegitusaja harus di depan meja sembahyang, disaksikan oleh Pouwsat dan dilakukan sembahyangan khusus untuk pencukuran rambut. Mana

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

bisa rambutmu dicukur begitu saja dan kau lantas dianggap sebagai seorang nikouw? Tidak, tidak, siocia, kau masih belum menjadi nikouw. Di dunia ini tidak ada nikouw yang menjadi pendeta karena dipaksa, semua atas kehendak hati dan kesadaran pikiran sendiri. Tentu saja Sian Hwa menjadi girang sekali mendengar pernyataan ini, tetapi ketika ia meraba kepalanya, kembali air matanya bercucuran keluar. Suthai.... katanya megap megap. Akan tetapi.... rambutku....rambutku telah lenyap....bagaimana aku dapat menjumpai orang dalam keadaan.... begini....?? ia menangis lagi. Pek Lian Suthai menepuk nepuk pundak gadis itu dan tertawa geli. Anak bodoh! Mengapa rambut saja kau tangisi? Siapa orangnya yang dapat memotong lenyap rambut dan kuku? Seribu kali dipotong, seribu kali akan keluar dan tumbuh lagi! Tunggu saja paling lama satu tahun, rambutmu akan tumbuh lagi dan bahkan akan lebih bagus dan indah daripada yang telah dicukur ini. Mengapa berduka tentang rambut? Kau bahkan harus berterima kasih kepada rambutmu siocia, karena sesungguhnya hanya rambutmu inilah yang telah dapat menolongmu dan membebaskanmu daripada perkara yang amat sulit dan berbahaya. Sekarang kau telah bebas, mereka takkan mengganggumu lagi dan semua ini berkat pertolongan rambutmu! Pula, kalau kau merasa malu keluar dalam keadaan gundul, kau bersembunyi sajalah di belakang. Hitung hitung menanti sampai timbul suasana tenang. Kalau mereka sudah tidak meinperdulikan lagi padamu, kau bebas dan merdeka untuk pergi ke mana saja yang kau kehendaki.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Mendengar ucapan ini. Sian Hwa terhibur juga dan hatinya merasa senang. Ia bahkan lalu minta se stel pakaian pendeta warna putih dan mengganti pakaiannya. Rambutnya yang terletak di atas tanah itu ia kumpulkan dan ia dengan senyum manisnya timbul kembali menyatakan kepada Pek Lian Suthai bahwa rambutnya itu hendak dibuat menjadi sebuah cemara rambut! Akan tetapi hanya sebentar saja hati Sian Hwa terhibur dari kedukaan Ternyata bahwa luka di dalam dada Kui Eng amat berat, di tambah lagi dengan pukulan batin yang ia derita akibat peristiwa rumah tangganya ini, sebulan kemudian Pek Lian Suthai menyatakan bahwa keadaan nyonya yang bernasib malang ini takkan tertolong lagi! Sebelum menghembuskan nafas terakhir. Kui Eng berceritera kepada Sian Hwa yang siang malam menjaganya. Nyonya ini menceritakan riwayatnya, betapa suaminya dan anak perempuannya telah dibunuh oleh barisan Ang bi tin dan betapa kemudian ia dirampas oleh Bucuci. Ia tadinya tidak mau menuruti kehendak Bucuci itu sampai akhirnya Bucuci datang membawa Sian Hwa yang masih kecil. Semenjak Sian Hwa menjadi anaknya maka timbul kembali kegembiraan hidupnya, Sian Hwa mendengarkan penuturan ini dengan hati amat terharu dan ketika Kui Eng menghembuskan nafas terakhir, Sian Hwa menangis sedih sampai jatuh pingsan. Jenazah Kui Eng dimakamkan di pekarangan belakang dari kuil itu dan semenjak hari itu Sian Hwa hidup menyepi di dalam kuil itu. Ia menerima pelajaran tentang kebatinan dari Pek Lian Suthai dan di waktu senggang. Sian Hwa tak pernah lupa untuk melatih ilmu silatnya. Bahkan dari nikouw tua ini ia dapat memperdalam ilmu suratnya karena ternyata bahwa Pek Lian Suthai juga ahli dalam ilmu kesusasteraan kuno. Tak lupa pula sewaktu waktu Sian Hwa pergi ke Tong seng

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

kwan mengunjungi makam ayahnya, yakni Can kauwsu. Ia sekarang tidak ragu ragu lagi bahwa memang benar Can Goan atau Can kauwsu adalah ayahnya yang tulen, karena dari seorang anggauta Ang bi tin yang kini menjadi seorang penjaga di kantor tihu, ia mendengar pula bahwa ayahnya itu dibunuh oleh Ngo jiauw eng dan ia sendiri dibawa pergi oleh Bucuci. Tetapi tak seorangpun mengetahui siapa adanya ibunya yang sebenarnya. Tak seorangpun pernah melihat isteri dari Can Goan yatig terbunuh itu. Apabila ia pergi ke makam ayahnya, Sian Hwa selalu dikawani oleh seorang dua orang nikouw. Dia sendiri berpakaian sebagai seorang nikouw, dengan jubah pertapaan yang lebar berwarna putih. Akan tetapi ia selalu menutupi kepala nya yang gundul, juga mukanya dengan saputangannya, selalu menyembunyikan wajahnya sehingga tidak menarik perhatian orang. Benar sebagaimana yang dikatakan oleh Pek Lian Suthai, setahun kemudian rambutnya telah tumbuh kembali dengan suburnya, sehingga hati Sian Hwa mulai menjadi girang. Ia kini telah melepaskan jubah pertapaannya, tetapi pakaiannya tetap sederhana berwarna putih. Rambutnya digelung dan disembunyikan dalam kain pengikat kepala. Setiap kali teringat kepada Bun Sam, gadis ini menghela napas dan termenung. Dapatkah ia bertemu kembali dengan pemuda itu? Dan andaikata bertemu apakah yang hendak dilakukan atau dikatakannya? Bagaimanapun juga, ia masih tetap tidak aman. Biarpun kini tidak ada gangguan sesuatu dari Pat jiu Giam ong atau Liem Swee tetapi ia tahu bahwa selamanya ia takkan dapat menikah. Kalau ia sempat menikah dengan siapapun juga, lalu terdengar oleh Pat jiu Giam ong tentu bekas suhunya itu takkan dapat mengampuninya. Hal ini ia tahu pasti karena iapun mengenal watak suhunya. Oleh karena itu, Sian Hwa

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

menjadi dingin hatinya terhadap pernikahan dan ditambah pula dengan pelajaran kebatinan dari Pek Lian Suthai ia menjadi betah tinggal di kuil itu, hidup dalam keadaan tenang dan tenteram. Setahun pula lewat dengan cepatnya, sehingga tanpa terasa pula Sian Hwa telah tinggal dua tahun di dalam kuil itu. Dua bulan yang lalu Pek Lian Suthai meninggal dunia, membuat Sian Hwa menjadi amat berduka. Banyak sekali orang orang bangsawan yang datang memberi hormat kepada jenazah Pek Lian Suthai dan diantara mereka itu nampak Bucuci! Akan tetapi Sian Hwa yang mengetahui bahwa banyak tamu datang di kuil itu, sengaja tidak mau keluar dan bersembunyi saja di ruang belakang. Juga dari gedung Pat jiu Giam ong datang banyak sekali barang sumbangan dan Liem Swee sendiri datang mewakili ayahnya. Akan tetapi, juga Liem Swee tidak terkabul harapannya untuk bertemu dengan Sian Hwa. Ketika Liem Swee minta kepada nikouw nikouw lain supnya mempersilahkan Sian Hwa nikouw keluar, ia mendapat jawaban bahwa yang dicari itu sedang berduka dan tidak dapat menjumpai siapapun juga! Dari para penyelidiknya, Liem Swee mendapat tahu bahwa kini Sian Hwa telah memelihara rambut pula, hanya pakaiannya saja amat sederhana, terbuat dan bahan kain berwarna putih. Pada suatu hari ketika Sian Hwa keluar dan kuil hendak menengok makam ayahnya di Tong seng kwan, tiba tiba di jalan ia berhadapan dengan Liem Swee. Bekas suheng itu berpakaian mewah dan indah seperti biasa, dan selama dua tahun tidak berjumpa, Sian Hwa diam diam harus mengakui bahwa bekas suhengnya itu kim nampak lebih gagah dan tampan, sungguhpun pada wajah yang tampan itu kini membayang kekejaman dan penderitaan hidup ia merasa heran mengapa Liem Swee

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

nampaknya tidak bahagia dan pemuda yang tinggi besar ini sekarang nampak hampir serupa dengan ayahnya. Sumoi, alangkah kejamnya hatimu terhadap aku. Kau membiarkan aku merana dan merindu.... demikianlah ucapan pertama yang keluar dan mulut Liem Swee dalam perjumpaan itu, perjumpaan yang memang disengaja oleh Liem Swee. Pemuda ini mendengar dari seorang nikouw yang diperalatnya bahwa pada pagi hari itu Sian Hwa hendak mengunjungi makam ayahnya di Tong seng kwan, maka ia sengaja menghadang di jalan. Ucapan ini mengejutkan hati Sian Hwa, juga menimbulkan perasaan tidak senang. Tadinya, dalam pandangan pertama, timbul rasa kasihan pada suhengnya, akan tetapi kata kata yang menyatakan perasaan hati pemuda ini benar benar tak pernah disangkanya. Aku bukan sumoimu, bukankah ayahmu telah menyatakan bahwa aku tidak berhak menyebut dia sebagai suhu lagi? Sumoi. jangan kau berkata demikian. Betapapun marahnya ayah kepadamu, betapapun besar kau mendatangkan kedukaan padaku, aku tetap... mencintaimu, sumoi, Sian Hwa hampir saja mendampratnya, mengingatkan pemuda itu akan penghinaan besar ketika pemuda itu menggunduli kepalanya. Ah, selam hidup ia takkan dapat melupakan penghinaan yang menyakitkan hatinya itu. Sudahlah, jangan menggangguku lagi, Liem kongcu. Aku tidak kenal lagi kepadamu. Minggirlah dan jangan menggangguku. .Sumoi, sekeras itukah hatimu? Tidak kasihankah kau kepadaku? Selama ini, setiap malam aku memimpikan kau

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

dan hidupku takkan dapat berbahagia tanpa engkau di sampingku. Liem kongcu, tutup mulutmu! Lupakah kau bahwa aku adalah seorang penghuni kuil yang suci. Minggir, kalau tidak aku akan berteriak menyatakan bahwa kau sebagai putera jenderal mengganggu seorang penghuni kuil. Sambil berkata demikian, Sian Hwa melanjutkan perjalanannya dengan sangat cepatnya. Liem Swee tidak berani mengejar karena memang amat berbahaya kalau penduduk dusun itu mengetahui bahwa dia hendak mengganggu seorang nikouw kuil Sun pok thian. Tentu ia akan malu sekali dan ayahnya akan marah bukan kepalang kepadanya. Ia tahu bahwa ayahnya amat menjaga nama keluarganya. Selama dua tahun ini, Liem Swee mendapat kenyataan bahwa sebetulnya ia tak dapat melupakan Sian Hwa, sumoinya itu. Setahun setelah peristiwa di kuil Sun pok thian itu, ia dijodohkan dengan seorang gadis cantik di kota raja, puteri seorang berpangkat. Gadis itu selain pandai ilmu sastera dan terpelajar, juga amat cantik, sehingga disebut sebagai bunga kota raja. Tadinya memang Liem Swee amat puas dengan isterinya ini, tetapi beberapa bulan kemudian setelah menikah, ia mulai merasa bosan dan memperlakukan i terinya dengan kasar serta acuh tak acuh. Mereka mulai bercekcok karena sebagai puteri bangsawan yang terpelajar, isterinya itu tidak mandah saja diperlakukan sewenang wenang, Pat jiu Giam ong turun tangan dan tentu saja jenderal ini membela puteranya dan memaki maki kepada menantunya itu. Hal ini membuat isteri Liem Swee menjadi sakit hati dan malam harinya ia lalu membunuh diri dengan minum racun. Tak seorangpun tahu kecuali Liem Swee dan seisi rumah keluarga Liem bahwa nyonya muda yang baru menikah

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

lima bulan itu menamatkan hidupnya dengan minum racun, karena Pat jiu Giam ong mengancam keras kepada semua orang tidak boleh menyiarkan berita ini. Kematian nyonya itu dinyatakan sebagai mati karena sakit mendadak dan tak seorangpun yang berani mencurigainya. Demikianlah, Liem Swee menjadi duda muda dari setiap hari ia merindukan sumoinya yang masih berada di kuil Sun pok thian. Ketika mendengar dari para penyelidiknya bahwa sumoinya itu kini telah memelihara rambut, timbul harapan baru dan cintanya bernyala kembali, Sian Hwa dengan muka merah melanjutkan perjalanannya ke Tong seng kwan di mana ia mengunjungi makam ayahnya yang kini sudah diperbaiki. Sian Hwa mendapat bantuan dan Pek Lian Suthai untuk menyuruh orang memperbaiki makam ini yang sekarang sudah dipasangi batu nisan yang berukir nama ayahnya. Ketika ia bersembahyang di depan kuburan ayahnya, timbul pula kesedihan hati Sian Hwa. Kesedihan ini timbul karena kecemasannya waktu bertemu dengan Liem Swee dan mendengar ucapan pemuda itu, ia menjadi cemas. Ia maklum bahwa bekas suhengnya itu tentu takkan mau melepaskannya dan kalau sampai suhunya ikut campur, akan celakalah dia. Oleh karena itu, sambil bersembahyang, Sian Hwa berpamit kepada arwah ayahnya, karena ia telah mengambil keputusan untuk melarikan diri dan minggat dan kota ini. Ia hendak merantau dan menjauhkan diri dari Liem Swee. Setelah cukup lama bersembahyang di depan makam ayahnya Sian Hwa lalu pergi dan situ dan tergesa gesa kembali ke kuil. Ia telah mengambil keputusan tetap untuk berpamitan dari semua nikouw dan pergi meninggalkan tempat itu. Akan tetapi baru saja ia keluar dari kota Tong seng kwan dan tiba di hutan dekat dusun di mana kuil Sun

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

pok thian berada, tiba tiba dari balik sebatang pohon melompat keluar seorang laki laki dan ternyata orang itu adalah.... Liem Swee! Bukan main mendongkolnya hati Sian Hwa melihatnya. Mau apa kau menghadang perjalananku? tanyanya ketus. Sian Hwa, jangan salah sangka. Aku tidak berniat buruk. Kau tahu bahwa aku takkan pernah mau mengganggu sedikitpun juga padamu. Harap kau menaruh hati kasihan kepadaku, sumoi. Marilah kita menghadap ayah. Aku yang menanggung bahwa ia tentu akan memaafkan kau dan....dan.... tolonglah aku, mari kita menyambung kembali tali perjodohan kita yang terputus itu, sumoi. Ketika Sian Hwa mendelik dan hendak marah, Liem Swee menyambung cepat cepat, tidak memberi ketika kepada dara itu untuk berbicara. Sumoi, kau masih muda, mengapa kau hendak menghabiskan waktumu dengan berduka dan berkabung? Marilah kita mulai penghidupan baru, mari kita mencari kebahagiaan bersama. Kita sudah saling mengenal semenjak kecil, sudah tahu watak masing masing Sumoi, marilah.... Aku tidak perduli semua itu bukan urusanku! Jangan kau menggangguku lagi selama hidupmu! bentak Sian Hwa dengan marah. Dalam pandangan Liem Swee, setelah berpisah dua tahun kini Sian Hwa menjadi makin cantik dan manis. Gadis itu sekarang lebih manis daripada dahulu dan lebih matang dan sikapnya tidak kekanak kanakan lagi. Oleh karena itu, ia telah menjadi tergila betul dan ketika Sian Hwa pergi ke Tong seng kwan, ia sengaja menanti di dalam hutan itu agar pembicaraan mereka tidak terdengar oleh orang lain.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Jilid X SUMOI, jangan kau berkeras hati. Tak percaya aku bahwa kau yang secantik ini akan berlaku kejam. Tutup mulutmu yang palsu itu! Sian Hwa berkata marah. Agaknya kau tidak ingat lagi betapa kau menggunduli rambutku, ya? Mendengar ini, Liem Swee menjadi pucat. Kau masih marah, sumoi? Bukankah kau sendiri yang menghendaki untuk menjadi nikouw? Kau anggap aku bersalah dalam hal itu? Baiklah, aku minta ampun kepadamu. Setelah berkata demikian, pemuda yang sudah tergila gila itu lalu menjatuhkan diri berilutut di depan Sian Hwa! Tetapi Sian Hwa mempergunakan kesempatan itu untuk melompat dan berlari pergi dari situ. Dahulu ilmu lari cepatnya lebih tinggi dari pemuda itu, maka kini ia hendak mempergunakan ilmunya untuk melarikan diri dari Liem Swee. Akan tetapi alangkah terkejutnya ketika sebentar saja Liem Swee telah dapat menyusulnya dan menghadang di depannya lagi. Ternyata bahwa selama dua tahun ini, kepandaiaan Liem Swee telah maju pesat sekali dan melampauinya. Sumoi, kasihanilah aku.... Kini Sian Hwa betul betul marah. Orang tak tahu diri! Ketahuilah, bahwa selama ini aku melatih ilmu silatku dan kalau perlu, aku akan dapat menghadapimu dengan pedang terhunus! Apakah kau menghendaki pertempuran untuk menentukan siapa yang akan menggeletak tak bernyawa di sini? Dulu aku tidak berani melawan karena kau adalah suhengku, akan tetapi sekarang, biarpun ayahmu sendiri datang, aku tidak akan mundur setapak dan akan

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

kupertaruhkan nyawaku! Mata gadis ini berapi api saking marahnya, sehingga Liem Swee menjadi ragu ragu. Sumoi, jangan begitu. Kalau kita bertempur, kau takkan menang akan tetapi, aku bersumpah takkan mau mempergunakan kekerasan terhadapmu. Sumoi, demi kebahagiaanmu, demi kebahagiaan kita, kasihanilah aku dan kasihanilah hidupmu sendiri. Apakah kau selamanya akan begini saja? Mari kita menghadap ayah dan... Aha, di mana mana saja kujumpai laki laki hidung belang macam ini! Sungguh menjemukan sekali. Tiba tiba terdengar suara yang nyaring dan keluarlah orangnya dari balik serumpun pohon kembang. Orangnya sesuai benar dengan suaranya yang nyaring dan jenaka, karena ia adalah seorang pemuda yang. berpakaian warna biru muda, berwajah tampan luar biasa bertubuh kecil berisi. Pemuda yang baru datang ini nampaknya jenaka dan periang sekali, terutama sepasang matanya yang bersinar sinar dan mulutnya yang tersenyum manis. Enci yang manis, apakah anak manja dari Jenderal ini mengganggumu? pemuda tampan ini bertanya, sambil memandang kepada Sian Hwa. Dara ini sedang marah, kini melihat lagak pemuda yang agaknya bahkan lebih kurang ajar dan pandangan matanya terlalu berani ini, maka ia menjadi marah. Ia hendak memaki akan tetapi didahului oleh Liem Swee yang berobah air mukanya melihat datangnya pemuda ini. Kau...? Gadis liar, agaknya kau sudah bosan hidup maka berani mencampuri urusanku! Aha, benar benar galak putera Pat jiu Giam ong. Agaknya kepandaianmu sudah banyak maju maka kau berani berlagak di hadapanku.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Kini terbukalah mata Sian Hwa dan gadis ini memandang kepada pemuda itu dengan mata terbelalak. Tak pernah disangkanya bahwa pemuda ini sebetulnya seorang gadis. Kini teringatlah Sian Hwa siapa adanya gadis itu, ingatannya ini diyakinkan pula oleh seruan Liem Swee yang telah mencabut pedangnya. Sumoi, hayo kau bantu aku menangkap gadis liar ini. Dia adalah pembunuh dari Ngo jiauw eng Dia inilah gadis liar yang dahulu mengacau di atas rumah ayahmu! Aku bukan sumoimu dan aku tidak perduli urusanmu! jawab Sian Hwa dengan suara dingin. Kalau berani, lawanlah sendiri! Gadis jenaka yang berpakaian seperti pemuda itu tentu saja pembaca sudah menerka siapa orang nya. Memang, dia adalah Yap Lan Giok, puteri dan Yap Bouw atau murid dari Mo bin Sin kun. Kini mendengar jawaban Sian Hwa, Lan Giok bertepuk tangan sambil tertawa geli. Hi, hi, hi, tepat sekali, enci, tepat sekali! He, orang tinggi besar, apakah kau masih ingin menangkap aku? Liem Swee merasa mendongkol sekali. Ia merasa ragu ragu untuk melawan Lan Giok seorang diri saja. Kalau sumoinya ikut mengeroyok, tentu ia akan dapat menang, seperti juga dahulu gadis liar ini pernah ia keroyok dengan Sian Hwa dan mereka hampir menang kalau tidak datang murid Lam hai Lo mo yang membantu Lan Giok. Sekarang, disuruh menghadapi gadis murid Mo bin Sin kun ini seorang diri, ia merasa bimbang. Ia memang tidak mempunyai hubungan dengan Ngo jiauw eng dan kematian orang itu tidak ada sangkut pautnya dengan dia, pula ayahnya selama ini melarang ia membuat permusuhan dengan murid murid tokoh tokoh besar seperti Mo bin Sin kun, Kim Kong Taisu dan yang lain lain.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Aku seorang laki laki gagah tidak sudi menyerang seorang perempuan liar! kata Lian Swee dan cepat ia melompat dan pergi meninggalkan tempat itu. Lan Giok tertawa terkekeh kekeh sambil menudingkan jari telunjuknya ke arah Liem Swee yang melarikan diri. Melihat kejenakaan gadis ini, mau tidak mau Sian Hwa tersenyum kagum. Mengapa aku tidak bisa gembira seperti gadis ini? Alangkah senangnya menjadi orang yang demikian bebas dan gembira. Adik yang baik, kau benar benar berani sekali. Tidak tahukah kau bahwa dia adalah putera dari Pat jiu Giam ong dan bahwa aku sendiripun bekas murid Pat jiu Giam ong dan terhitung sumoinya? Apakah kau sudah lupa betapa dahulu di dalam hutan, kau hampir saja roboh karena keroyokan kami berdua? Lan Giok mengangguk angguk lalu menghampiri Sian Hwa dan memegang tangannya dengan ramah. Enci, tak perlu kau ceritakan hal itu kepadaku. Ingatanku tajam sekali dan aku masih ingat akan wajahmu yang cantik seperti bidadari ini. Tak heran si katak buduk itu tergila gila kepadamu. Enci, bukankah kau bernama Sian Hwa dan puteri dari Panglima Bucuci? Bukankah kau telah melarikan diri dari rumah bersama ibumu dan tinggal di dalam kuil Sun pok thian sampai bertahun tahun? Sian Hwa tersenyum dan memandang tajam. Sikap gadis jenaka ini membuatnya bergembira. Ia merasa seakan akan gadis ini telah menjadi kenalan lama, padahal dua kali ia bertemu dengan gadis itu sebagai lawan bertempur, pertama kali, ketika ia mengeroyoknya dengan Liem Swee di dalam hutan dan kedua kalinya ketika gadis ini datang di rumah ayah angkatnya membunuh Ngo jiauw eng. Akan tetapi, sekarang berhadapan dengan Lan Giok, ia sama sekali tidak merasa seperti berhadapan dengan seorang bekas lawan

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

atau musuh, bahkan merasa seperti berhadapan dengan seorang kawan baik atau adik sendiri. Kejenakaan Lan Giok agaknya merangsang dan menular kepadanya. Adik yang nakal, kau agaknya telah menjadi seorang mata mata atau penyelidik yang berhidung tajam. Entah sampai berapa jauh kau mengetahui segala macam rahasiaku? Lan Giok sengaja memasang muka yang lucu seperti seorang ahli nujum atau gwamia. Ia memandang muka Sian Hwa sambil meruncingkan bibirnya yang manis, kemudian berkata penuh aksi. Hem, aku dapat membaca pikiran dan isi hatimu, enci Sian Hwa. Aku melihat semua rahasiamu. Kau dipaksa menikah dengan katak buduk tadi, dipaksa oleh ayah angkat dan gurumu, Kau memberontak dan menolak, sehingga terjadi ribut ribut di dalam rumahmu. Kau lalu melarikan diri bersama ibumu dan menumpang di kuil Sun pok thian Dan agaknya.... ayah dan gurumu tidak mau mengakuimu lagi, kecuali Liem Swee si katak buduk tadi yang tergila gila betul kepadamu. Aduh, pandai betul kau. Adik yang baik, aku hanya mengetahui bahwa kau adalah murid kesayangan dari Mo bin Sin kun, akan tetapi aku tidak tahu siapakah sebetulnya namamu? Namaku Lan Giok, enci, she Yap. Tentang she mu aku tahu, adik Lan Giok bahkan aku pernah bertemu dengan ayahmu, bekas Jenderal Yap itu. Wajah Lan Giok bersari. Ayahku telah menceritakan kepadaku tentang kebaikan hatimu, enci. Hm, siapa bilang aku baik? Orang baik baik tidak akan mengalami nasib seperti aku. Eh, adik Lan Giok, coba

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

kauceritakan, rahasia apalagi selanjutnya yang telah kau ketahui? Kembali Lan Giok berlagak, lalu berkata. Hem, hem, aku tahu bahwa kau telah menyerahkan hatimu kepada seorang pemuda. Kali ini benar benar Sian Hwa terkejut betul. Mukanya berobah pucat, sehingga Lan Giok buru buru berkata dengan suara sungguh sungguh. Maaf, enci, aku tidak bermaksud menyinggung perasaan hatimu. Aku hanya main main saja. Sian Hwa dapat menetapkan hatinya. Benarkah kau hanya main main saja, adik Giok? Bersumpah disaksikan bumi dan langit kalau aku tadi bicara betul betul. Mana aku tahu rahasia hatimu? Aku hanya menduga duga saja. Kau menolak untuk dijodohkan dengan putera Pat jiu Gijam Ong. Padahal kau adalah murid dari ayah pemuda itu dan sepanjang penglihatanku, pemuda she Liem itu tidak buruk rupa. Maka.... Nanti dulu, kau menyebut katak buduk, bagaimana sekarang kau bilang tidak buruk rupa? Tidak semua katak buduk buruk rupa, enci, jawab Lan Giok sambil tertawa geli dan Sian Hwa terpaksa tertawa juga sambil memeluk pundak Lan Giok. Timbul rasa sukanya kepada gadis yang jenaka ini. Oleh karena itulah, enci, maka satu satunya alasan mengapa kau menolak untuk menjadi menantu Pat jiu Giam ong, tentu saja..... hatimu telah dicuri oleh sepasang alis yang berbentuk golok! Sian Hwa melengak dan kembali hatinya berdebar aneh. Terbayang wajah Bun Sam dan terutama sekali sepasang alis pemuda itu terbayang jelas karena memang alis pemuda

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

ini bentuknya seperti golok yang membuat wajahnya tampak gagah dan sangat tampan. Apa pula ini? tanyanya dengar heran. Alis berbentuk golok? Melihat keheranan pada wajah Sian Hwa, Lan Gok tertawa makin menjadi, lalu katanya gembira. Enci Sian Hwa, siapa lagi kalau bukan seorang pemuda yang gagah dap tampan yang mempunyai alis seperti golok bentuknya? Pernahkah kau mendengar seorang wanita yang mempunyai alis berbentuk golok? Tentu seorang pemuda, bukan? Dan tak mungkin hatimu dicuri oleh seorang gadis, bukan? Mau tak mau Sian Hwa tertawa juga terpingkal pingkal sambil mencubit lengan Lan Giok. Ini adalah, kegembiraan pertama kali yang dirasai nya selama tiga tahun akhir akhir ini. Hidup di dalam kuil dengan para nikouw itu sama saja dengan hidup menyepi di tempat sunyi, karena para nikouw itu tak pernah bergurau, tak pernah bergembira dan mereka menuntut penghidupan dengan saleh dan beribadat, seakan akan hidup ini hanya berisi kemuraman dan upacara. Sungguh Sian Hwa yang memang berwatak gembira amat tersiksa oleh hidup seperti itu dan seringkali ia mengakui kebenaran ucapan Pek Lian Suthai bahwa ia tidak berbakat untuk menjadi pendeta! Adik Lan Giok, kau benar benar nakal, akan tetapi aku suka berada di sampingmu. Adik yang baik, sebenarnya kau datang dari mana dan hendak kemanakah? Terlalu panjang untuk dituturkan dan berbahaya kalau sampai terdengar oleh orang orang lain, jawab Lan Giok dan kini mukanya bersungguh sungguh yang membuat dia nampak lebih lucu lagi, karena sesungguhnya wajah Lan

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Giok yang manis dan kekanak kanakan itu tidak pantas kalau keningnya dikerutkan. Kalau begitu, marilah kita pergi ke kuil, di sana kita boleh bicara dengan leluasa dan aman. Akupun mempunyai sebuah permintaan yang hendak kusampaikan kepadamu, kata Sian Hwa, Lan Giok menyatakan setuju dan berangkatlah dua orang nona pendekar ini ke kuil Sun pok thian. Tentu saja para nikouw memandang aneh dan memperlihatkan sikap menentang ketika Sian Hwa datang bersama dengan seorang pemuda yang tampan itu. Mereka melarang pemuda itu memasuki ruang di ruang dalam, akan tetapi sambil tertawa tawa Lan Giok membuka kain pembungkus kepalanya dan semua nikouw melongo ketika melihat kepala dan wajah seorang gadis yang cantik dan berambut halus panjang dan hitam sekali itu. Lihatlah, aku hanyalah seorang laki laki palsu! Apakah sekarang aku boleh memasuki kamar enci Sian Hwa? tanya Lan Giok dengan lagaknya yang jenaka. Para nikouw itu terpaksa tersenyum geli, suatu hal yang jarang mereka alami. Benar benar Lan Giok mendatangkan kegembiraan di dalam kuil yang biasanya berada dalam suasana sunyi, tenang dan berkabung itu. Enci Sian Hwa, Lan Giok mulai menuturkan pengalamannya yang sekaligus membuka hal hal yang sama sekali tak pernah diketahui oleh Sian Hwa setelah mereka duduk di dalam kamar. Agaknya kau tidak mengetahui hal hal yang terjadi di luar kuil. Sebaliknya, persoalanmu dengan gurumu dan peristiwa yang terjadi di keluargamu, kami semua telah mengetahuinya. Gurukulah yang tahu akan keadaanmu, maka akupun mengetahuinya pula. Oleh karena kau telah bentrok dengan Pat jiu Giam ong dan telah mengasingkan diri di sini sampai dua tahun, maka kami tidak menganggap kau sebagai lawan lagi.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Heran sekali mengapa Pat jiu Giam ong menyiarkan hal yang menyangkut perjodohanku yang putus dengan puteranya, kata Sian Hwa dengan heran, karena ia menduga bahwa tentu Pat jiu Giam ong akan merahasiakan hal itu sekerasnya demi menjaga nama baiknya. Lan Giok tertawa. Memang dirahasiakan olehnya, akan tetapi siapa dapat merahasiakan sesuatu dari guruku? Dan pula, hal hal yang menyangkut keadaan Pat jiu Giam ong, siapa yang tidak akan memperhatikannya? Sekarang dengarkan penuturanku, enci, banyak sekali hal hal hebat terjadi selama kau bertapa di tempat ini. Maka berceritalah Lan Giok dan untuk mengetahui cerita ini sebaiknya, marilah kita mengikuti dari permulaan, karena memang banyak sekali peristiwa terjadi selama tiga tahun ini, yakni semenjak Lan Giok dan Thian Giok dirampas dari penangkapan Pat jiu Giam ong oleh guru mereka, Mo bin Sin kun sebagaimana telah dituturkan di bagian depan. Sebagaimana telah dituturkan di bagian depan, ketika Lan Giok dan Thian Giok terancam bahaya hendak ditawan oleh pat jiu Giam ong dan dibela dengan mati matian, tetapi sia sia oleh karena Bun Sam yang kepandaiannya kalah jauh dari Pat jiu Giam ong, datanglah Mo bin Sin kun yang di saat yang tepat itu telah dapat menolong dan membawa kedua muridnya itu pergi, ia menantang Pat jiu Giam ong yang dijawab oleh Liem goanswee bahwa tiga tahun lagi Pat jiu Giam ong hendak mengadakan perhitungan. Dengan cepat Mo bin Sin kun membawa dua orang muridnya ke puncak Sian hwa san di mana ibu kedua orang anak ini hidup sebagai seorang pertapa. Setelah tiba di puncak Sian hwa san, di mana terdapat sebuah kuil yang indah, Mo bin Sin kun meraba mukanya dan sebentar saja

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

wajahnya yang menyeramkan itu berubah menjadi seorang wanita berusia kurang lebih empat puluh lima tahun dan yang ternyata amat cantiknya! Inilah keanehan Mo bin Sin kun karena setiap kali ia melakukan pergerakan, ia selalu memakai sebuah kedok yang membuat mukanya menjadi buruk dan membuat ia dijuluki Si muka iblis ! Juga tak seorangpun mengetahui kecuali tokoh tokoh yang tergabung dalam Lima Besar, bahwa Mo bin Sin kun sesungguhnya adalah seorang wanita! Ibu sepasang anak kembar itu menjadi terhibur dan girang melihat dua orang anaknya kembali dalam keadaan selamat. Semenjak ia dan kedua orang anaknya dibawa oleh Mo bin Sin kun, ia hidup melakukan tapabrata dan melakukan ibadat sebagai seorang pertapa, juga ia membantu mengurus kuil tempat kediaman Mo bin Sin kun. Namun tiap kali Thjan Giok atau Lan Giok turun gunung untuk ikut guru mereka atau juga untuk melakukan tugas yang diperintahkan oleh Mo bin Sin kun, hati ibu itu selalu merasa gelisah. Kali ini, kedatangan mereka membawa berita yang amat mengejutkan, tetapi menggirangkan hati nya, ia mendapat warta bahwa suaminya, Jenderal Yap Bouw, masih hidup! Hampir saja ia tidak dapat percaya, karena bukankah telah tersiar luas beril bahwa suaminya, jenderal besar itu telah tewas di dalam medan perang? Ketika mendengar dari kedua orang anaknya bahwa, kini Yap Bouw telah menjadi seorang gagu dan rusak mukanya, nyonya ini menangis dengan hati pilu. Benar benar ia tidak beruntung. Ketika suaminya pergi, Lan Giok belum lahir, karena suaminya terikat oleh tugasnya. Setelah mengalami peristiwa di kota raja, Lan Giok dan Thian Gok merasa betapa kepandaian mereka sebenarnya masih jauh untuk dapat diandalkan. Menghadapi Pat jiu

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Giam ong, mereka sama sekali tidak berdaya. Juga mereka kini tahu bahwa Pat jiu Gian ong mempunyai dua orang murid yang berkepandaian tinggi, juga Lan Giok sudah menyaksikan kehebatan kepandaian murid dari Lam hai Lo mo. Maka mereka lalu melatih diri dengan amat tekunnya. Mo bin Sin kun juga mencurahkan segala perhatiannya untuk menggembleng kedua orang murid ini, apalagi karena Pat jiu Giam ong telah berjanji hendak membalas dendam tiga tahun kemudian. Beberapa bulan kemudian selagi Thian Giok dan Lan Giok berlatih silat di bawah pengawasan Mo bin Sin kun, tiba tiba wanita sakti itu lalu berkata. Ada orang datang! Dalam sekejap mata saja ia telah mengenakan kedoknya yang hitam dan yang demikian cepat menutup mukanya, sehingga tak seorangpun akan menduga bahwa mukanya memakai kedok. Benar saja, dari lereng Bukit Sian hwa san nampak bayangan seorang laki laki yang mendaki bukit itu dengan ilmu lari cepat yang tinggi. Ayah.....! Thian Giok dan Lan Giok berseru hampir serentak. Lalu mereka serentak berlari lari menyambut kedatangan Yap Bouw. Setelah berhadapan, kedua anak ini lalu menubruk ayah mereka dan ketiganya berpelukan dengan penuh rasa terharu. Yap Bouw menggerak gerakkan jari tangannya yang maksudnya bertanya di mana ibu kedua orang anak itu, akan tetapi karena Thian Giok dan Lan Giok tak pernah mempelajari bahasa gerak jari tangan ini mereka tidak mengerti. Hanya saja Lan Giok memang lebih cepat jalan pikirannya, maka anak ini dapat menduga maksud ayahnya. Aah, mari ke kuil menjumpai ibu, katanya dan ia mendahului mereka untuk menyampaikan khabar gembira ini kepada ibunya.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Yap Bouw menjura dengan penuh hormat kepada Mo bin Sin kun, yang membalas dengan penghormatan pula. Dengan kagum dan heran Thian Giok melihat betapa gurunya mengerti akan bahasa gerak tangan ini dan sambil mengangguk angguk Mo bin Sin kun berkata seperti orang menjawab. Memang seharusnya kau tinggal bersama isteri dan anak anakmu, Yap sicu. Mereka amat merindukan kau. Tentu saja aku tidak keberatan kalau kau tinggal di sini, bahkan kebetulan sekali karena aku sendiri sering kali turun gunung, sehingga dengan adanya kau di sini, hatiku lebih merasa tenteram meninggalkan mereka. Sambil menggerak gerakkan tangannya, Yap Bouw lalu menjatuhkan diri berlutut di depan Mo bin Sin kun, menyatakan terima kasihnya yang tak terhingga bahwa tokoh besar ini telah menolong nyawa isteri dan anak anaknya, bahkan telah mengangkat kedua anaknya menjadi murid. Mo bin Sin kun cepat membungkuk dan minta Yap Bouw berdiri kembali sambil mengucapkan kata kata merendah. Pada saat itu, Lan Giok datang berlari lari lalu memeluk ayahnya. Kedua mata anak ini basah oleh air mata, agaknya ia dan ibunya telah bertangis tangisan saking bahagianya. Ayah, lekas, ibu menanti kedatanganmu, katanya sambil membetot betot tangan ayahnya. Melihat anak anaknya, berserilah wajah Yap Bouw. Dunia ini seakan akan berobah dalam pandangan matanya. Kalau tadinya ia merasa bosan hidup, sekarang ia dapat menikmati kebahagiaan melihat putera puterinya yang demikian elok dan gagahnya. Dengan kedua tangan digandeng oleh Thian Giok dan Lan Giok. Yap Bouw menuju ke kuil. Di ruang depan dari kuil yang bersih itu, Yap Bouw melihat isterinya berdiri. Hatinya terharu sekali dan tak

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

terasa pula air matanya turun membasahi kedua pipinya. Isterinya mengenakan baju warna putih seperti lazimnya dipakai oleh para pendeta. Wajah isterinya masih tetap cantik seperti dulu, hanya kini nampak muram dan lemah, seperti seorang yang sudah banyak menderita pahit getir penghidupan. Ibu, ini ayah datang....! Lan Giok yang jenaka berteriak teriak. Pertemuan antara kedua suami isteri itu sungguh sungguh mengharukan hati. Dengan isak tertahan isteri Yap Bouw berlari maju dan menubruk kedua kaki suaminya, merangkul kaki itu dan menangis tersedu sedu. Tak sebuahpun kata kata keluar dari mulutnya, karena ia tidak kuasa mengeluarkan suara. Dada dan kerongkongannya penuh sesak oleh sedu sedan. Yap Bouw berdiri bagaikan patung, menundukkan mukanya, menggigit bibir dan air matanya turun bagaikah hujan. Kedua tangannya mengelus elus rambut kepala isterinya dan matanya dimeramkan, nyata sekali ia menahan rasa sakit pada jantungnya yang seperti diiris iris. Melihat keadaan mereka, Thian Giok dan Lan Giok lalu menubruk ibu mereka dan menangis pula. Karena tak dapat berkata kata, Yap Bouw yang telah dapat menenangkan hatinya lebih dulu lalu menarik isterinya berdiri dan sambil menunjuk ke arah mukanya sendiri, ia lalu menggerak gerakkan tangannya dengan maksud bertanya apakah isteri dan anaknya tidak malu melihat ia telah berobah menjadi seperti itu. Sesungguhnya isterinya dan kedua anaknya tidak mengerti bahasa ini, akan tetapi perasaan Yap Bouw agaknya membisikkan sesuatu kepadanya, sehingga ia dapat juga menangkap maksudnya. Sambil menangi dan memeluk pundak

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

suaminya, ia berkata. Suamiku, betapapun juga, kau tetap suamiku, kau tetap ayah dari Thian Giok dan Lan Giok ! Suasana terharu itu kemudian berobah menjadi girang ketika Lan Giok yang cerdik itu cepat berlari mengambil kertas dan alat tulis dan kini percakapan dilanjutkan lebih lancar setelah Yap Bouw dapat menuliskan segala pertanyaan dan jawaban di atas kertas itu. Demikianlah, keluarga jenderal besar itu akhirnya dapat berkumpul kembali, hidup dengan aman dan tenteram di dalam kuil di atas Bukit Sian hwa san, isteri Yap Bouw melanjutkan hidupnya sebagai seorang pendeta wanita, bahkan Yap Bouw tertarik pula dan kini kakek gagu inipun menukar pakaiannya sebagai pertapa dan ikut pula bersamadhi dan memperdalam ilmu batinnya sambil membantu pekerjaan menjaga kuil. Ia merasa kagum sekali melihat kemajuan ilmu silat kedua anaknya yang kini tingkat kepandaiannya sudah lebih tinggi daripada kepandaiannya sendiri. Diam diam ia teringat kepada Bun Sam dan mengandung maksud hendak menjodohkan Lan Giok dengan pemuda itu. Isterinya menyatakan persetujuannya, karena ia percaya penuh bahwa suaminya tentu takkan salah pilih. Akan tetapi mereka tidak tergesa gesa menyampaikan usul ini kepada Lan Giok atau Mo bin Sin kun, karena gadis itu sedang giat berlatih silat setiap hari. Waktu berjalan pesat sekali dan dua tahun telah lewat semenjak Yap Bouw berada di puncak Sian hwa san. Tidak terjadi peristiwa penting selama itu, sampai pada waktu pagi hari di musim dingin itu. Pagi pagi benar Lan Giok dan Thian Giok melatih ilmu silat mereka, karena guru mereka baru kemarin datang dari perantauannya selama tiga bulan. Mo bin Sin kun

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

membawa banyak kabar dari kota raja. Menurut guru mereka ini Lam hai Lo mo Seng Jin Siansu telah bersekutu dengan sutenya, yakni Pat jiu. Giam ong untuk membentuk sebuah perkumpulan orang gagah yang disebut Hiat jiu pai (Perkumpulan Tangan Berdarah). Perkumpulan itu memakai nama yang serem ini karena setiap orang yang hendak masuk menjadi anggauta, diambil sumpahnya dengan mencuci kedua tangan dengan darah harimau. Untuk keperluan ini, tentu saja setiap orang yang hendak menjadi anggauta, harus dapat menangkap seekor harimau hidup hidup dan inipun merupakan ujian karena kalau tidak berkepandaian tinggi, mana dapat menangkap harimau atau singa? Dan maksud kedua orang tokoh besar itu mendirikan perkumpulan ini, selain hendak mengumpulkan orang orang gagah untuk memperkuat kedudukan mereka, juga mereka ingin menjagoi dunia persilatan. Lam hai Lo mo menjadi ketua pertama dan Pat jiu Giam ong menjadi ketua ke dua. Selain berita ini, juga dari Mo bin Sin kun, kedua orang muda itu mendengar tentang keadaan rumah tangga Bucuci dan itulah sebabnya maka Lan Giok tahu akan keadaan Sian Hwa. Diam diam mereka semua bersimpati dengan Sian Hwa, lebih lebih Lan Giok, karena gadis itu pernah bertemu dengan Sian Hwa dan mengagumi kecantikan dan kepandaian gadis baju merah itu. Karena itu, kalian berdua harus lebih giat lagi berlatih, karena sangat besar kemungkinan kalian menjadi dua diantara orang orang yang berkewajiban menghadapi perkumpulan berbahaya itu, kata Mo bin Sin kun menutup penuturannya dan pada pagi hari itu, Lan Giok dan kakaknya berlatih ilmu Silat yang paling tinggi dan sukar yang sebelum turun gunung telah diajarkan oleh guru mereka.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Tiba tiba Mo bin Sin kun dan dua orang muridnya itu berhenti berlatih dan memandang ke tengah udara. Entah dari mana datangnya, tahu tahu di atas mereka melayang layang sebuah benda yang kecil berwarna hitam dan dengan cara aneh sekali, benda itu melayang turun dan tiba menancap di tas tanah, di depan Mo bin Sin kun dan ternyata bahwa benda itu adalah sebatang tongkat hitam berbentuk ular yang panjangnya kira kira empat kaki. Melihat sebatang tongkat dapat terbang melayang bagaikan seekor ular bersayap dan kemudian menancap di depan mereka, sungguh sukar untuk dipercaya karena tongkat itu seakan akan hidup. Kalau Thian Giok dan Lan Giok berdiri bengong terheran keran, adalah Mo bin Sin kun yang bersikap tenang, sungguhpun di balik kedoknya wajahnya berobah ketika ia melihat tongkat ini. Waspadalah, Lam hai Lo mo agaknya datang mengunjungi kita! katanya dan diam diam wanita sakti ini meraba ke dalam saku bajunya untuk melihat apakah senjatanya yang paling diandalkan berada di saku itu. Senjata ini sederhana saja bentuknya, yakni sehelai sabuk sutera berwarna hitam yang kedua ujungnya dipasang bintang perak yang berujung lima dan runcing sekali, sebesar kepalan tangan. Kalau tidak dipakai, senjata ini dapat dilipat dan dimasukkan ke dalam saku baju. Tiba tiba terdengar suara ketawa yang menyeramkan sekali seperti suara kuda meringkik, disusul oleh suara ke tawa yang nyaring, akan tetapi juga amat menyeramkan. Bagaikan dua sosok bayangan setan, berkelebatlah bayangan dua orang laki laki dan sebentar saja dua bayangan itu telah berdiri di depan mereka. Benar saja, yang berdiri di depan mereka adalah Lam hai Lo mo Seng Jin Siansu, orang diantara Lima Besar yang paling kejam,

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

ganas, aneh dan juga berilmu tinggi. Dan orang ke dua yang berdiri di sebelah kanannya adalah seorang pemuda yang cukup tampan dan ganteng, akan tetapi sepasang matanya begitu sipit, sehingga hanya merupakan dua garis kecil saja. Kulit mukanya halus dan putih seperti kulit muka seorang wanita dan mulutnya yang berbentuk manis itu selalu membayangkan senyum mengejek seperti terdapat pada mulut seorang yang berwatak sombong dan memandang rendah kepada semua orang dan menganggap dirinya sendiri yang paling pintar. Lam hai Lo mo gelak tertawa sambil mendongak ke atas dan tangan kirinya mencabut tongkat yang menancap di depan Mo bin Sin kun, kemudian ia lalu menjura kepada Mo bin Sin kun sambil membungkuk, dituruti pula oleh pemuda itu yang tentu pembaca sudah dapat menduga siapa orangnya. Dia ini memang murid tunggal dan Lam hai Lo mo, yaitu Gan Kui To. Ada gara gara apakah di dunia, maka Lam hai Lo mo, yang bernama besar sampai tersasar ke tempat ini? tanya Mo bin Sin kun dengan suara dingin dan sikap angkuh. Lain orang boleh menghormat berlebih lebihan kepada Lam hai Lo mo, akan tetapi dia merasa setingkat dengan kakek ini, maka tak perlu ia merendahkan diri. Tidak tahu apakah kau datang dengan maksud baik atau buruk, dengan kepala dingin atau panas? Kembali Lam hai Lo mo tertawa seperti bunyi ringkik kuda, lalu berkata. Mo bin Sin kun, di tempat yang demikian indah dengan hawa udara demikian sejuk dan dingin, siapakah yang bisa menjadi panas kepala? Aku datang dengan maksud baik. Bukankah kita kawan kawan lama? Ha, ha, ha. Lam hai Lo mo, dengan orang seperti engkau ini, siapa yang dapat membedakan kawan atau lawan? Lebih baik kau

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

katakan apa yang menjadi maksud kedatanganmu ini. Kau tahu bahwa aku tengah melatih murid muridku kami sedang sibuk dan tidak mempunyai banyak waktu untuk mengobrol. Ha, ha, kau bersiap siap untuk tahun depan? Aku sudah mendengar bahwa kau dan Pat jiu Giam ong hendak menjadi anak anak kecil lagi yang mau cakar cakaran dan main main. Ha, jenderal itu sedang sibuk pula, terkurung oleh tugasnya. Mo bin Sin kun, sebetulnya kedatanganku ini membawa maksud yang suci dari mulia. Ia memandang kepada Lan Giok, lalu menudingkan tongkatnya kepada dara ini. Muridmu yang manis inilah yang menarik kami datang ke sini. Mo bin Sin kun mengerutkan keningnya, adapun Lan Giok dengan hati berdebar memandang dengan penuh perhatian. Juga Thian Giok memandang dengan sinar mata tajam. Mo bin Sin kun, kita adalah kawan kawan lama, dengan melupakan sedikit perbedaan faham kita, marilah kita mempererat tali perhubungan kita. Aku dalang hendak melamar muridmu ini untuk menjadi jodoh muridku yang tampan dan gagah ini ! Ia menuding ke arah Kui To yang tersenyum senyum sambil memandang ke arah Lan Giok dengan wajah berseri. Sauw nio (burung kecil), kau tentu belum lupa padaku, bukan? Sudah dua kali kita berjumpa dan aku telah membantumu mengusir orang jahat! kata Kui To dengan sikap manis kepada Lan Giok. Gadis itu memalingkan muka dengan sebal, karena ketika mendengar lamaran itu ia sudah merasa jengah dan juga marah. Akan tetapi karena di situ terdapat gurunya, ia tidak berani sembarangan memperlihatkan kemarahannya.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Adapun Mo bin Sin kun yang mendengar pinangan Lam hai Lo mo ini, untuk beberapa lama tak dapat menjawab. Pinangan ini benar benar mengejutkannya dan ia menjadi serba salah. Memang seorang pemuda murid Lam hai Lo mo bukanlah seorang pemuda sembarangan dan tentu telah memiliki kepandaian tinggi, sehingga patut menjadi suami muridnya. Kalau sampai pinangan ini ditolak, berarti ia memperhebat permusuhan dengan Lam hai Lo mo dan hal ini tidak boleh dibuat main main. Sebetulnya pinangan ini diajukan oleh Lam hai Lo mo terdorong oleh dua hal. Pertama tama karena memang Kui To telah tergila gila kepada Lan Giok yang disebutnya Burung Kecil dan sering kali pemuda ini seperti orang gila menyebut nyebut nama gadis itu dan merengek rengek kepada suhunya minta dilamarkan gadis itu! Kedua kalinya, ada maksud tersembunyi dalam kepala Lam hai Lo mo yang cerdik, ia dan sutenya maklum bahwa menghadapi Kim Kong Taisu saja sudah merupakan hal yang amat berat, apalagi kalau Mo bin Sin kun berdiri di fihak kakek dari Oei san itu. Maka apabila ikatan jodoh ini dapat diadakan, berarti bahwa Mo bin Sin kun mau tidak mau tentu akan membantu mereka demi kepentingan muridnya sendiri. Dengan masuknya Mo bin Sin kun difihak mereka, maka itu berarti akan memperkuat kedudukan Hiat jiu pai! Bagaimana, Mo bin Sin kun? tanya Lam hai Lo mo ketika melihat si muka iblis itu masih juga belum menjawab. Apakah aku harus menanti jawaban dalam beberapa hari karena kau hendak pikir pikir dulu? Aku takkan merasa ragu ragu untuk menjawab sekarang juga, Lam hai Lo mo, akan tetapi sayang aku tidak berhak mengambil keputusan dalam hal ini. Tunggulah sebentar. Thian Giok, coba kau panggil ayah bundamu ke sini !

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Thian Giok cepat berlari ke kuil dan tak lama kemudian ia kembali diikuti oleh Yap Bouw dan isterinya. Melihat Yap Bouw yang kini berpakaian serba putih seperti seorang pendeta itu, Lam hai Lo mo benar benar tercengang dan merasa tidak enak hatinya. Biarpun ia telah pernah menolong nyawa Yap Bouw ketika jenderal ini terjatuh ke dalam tangan orang orang Mongol, namun sebaliknya yang membuat jenderal itu sampai kalah dan tertangkap sehingga menerima penyiksaan hingga mukanya hancur dan rusak, adalah Lam hai Lo mo sendiri. Akan tetapi, dua tahun hidup mensucikan diri di puncak Sian hwa san, tidak sia sia bagi Yap Bouw. Kalau dulu Sebelum ia bertapa di gunung ini, tiap kali berjumpa dengan Lam hai Lo mo, sudah boleh dipastikan ia akan menjadi marah dan menyerang orang yang membuatnya kalah dalam perang melawan tentara Mongol itu, akan tetapi sekarang ia bersikap tenang dan dingin saja, hanya memandang Lam hai Lo mo dengan sinar mata tajam menusuk hati. Aha, kiranya Jenderal Yap Bouw pun berada di sini! Mo bin Sin kun, mengapa kau mendatangkan Jenderal Yap dan wanita ini? Lam hai Lo mo, ketahuilah bahwa mereka ini yang berhak menjawab pinanganmu karena mereka adalah ayah bunda dari Lan Giok muridku! jawab Mo bin Sin kun. Ha, ha, ha, bagus sekali. Aku adalah kenalan lama dari Jenderal Yap, dan terus terang saja, aku pernah menyelamatkan nyawanya dari bala tentara Mongol. Kemudian ia menghadapi Yap Bouw dan berkata. Yap goan swe, kuulangi lagi pinanganku yang tadi sudah kusampaikan kepada guru puteri mu. Kedatanganku ini bermaksud meminang puterimu itu untuk menjadi jodoh muridku yang gagah ini.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Sebelum datang ke tempat itu, Thian Giok sudah menyampaikan berita ini kepada kedua orang tuanya dan Yap Bouw telah berunding dengan isterinya, maka kini isterinya yang maju bersama dia. Yap Bouw melangkah dua tindak ke depan lalu menggerak gerakkan jari tangannya. Melihat betapa suhunya memperhatikan gerakan gerakan jari tangan itu, Gan Kui To tak dapat menahan geli hatinya dan tertawa lalu berkata. Suhu, apa apaankah ini? Apakah empek ini sedang menari kegirangan karena puterinya dilamar oleh kita? Akan tetapi, pada saat itu Lam hai Lo mo tidak dapat mengawani kejenakaan muridnya karena ia memandang dengan wajah muram dan kening berkerut ketika melihat gerakan jari tangan itu. Dari gerakan itu ia diberi tahu oleh Yap Bouw bahwa terpaksa Yap Bouw menolak pinangan itu karena puterinya telah ditunangkan dengan orang lain! Apa..?? Jadi puterimu ini sudah bertunangan? tanyanya dengan suara parau dan barulah Kui To berhenti tersenyum mendengar ucapan suhunya ini. Siapakah tunangannya? Di dalam pertanyaan ini terkandung ancaman. Adapun Mo bin Sin kun yang juga melihat keterangan melalui gerakan jari tangan Yap Bouw, diam diam merasa heran dan terkejut sekali. Mengapa Yap Bouw tidak memberi tahukannya bahwa Lan Giok telah ditunangkan dengan orang lain? Apakah hal ini benar ataukah hanya alasan dari Yap Bouw untuk menolak pinangan Lam hai Lo mo? Kalau hanya alasan, ia akan mencegah Yap Bouw membohong, karena Mo bin Sin kun tidak sudi untuk mencari alasan kosong hanya karena hendak menolak pinangan Lam hai Lo mo. Hal Ini sama artinya dengan merasa takut terhadap kakek aneh itu. Kalau memang tidak setuju, tolak saja mentah mentah dan habis parkara.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Siapakah yang takut? Demikian jalan pikiran Mo bin Sin kun. Kini nyonya Yap yang maju menghadapi Lam hai Lo mo. Dengan sikap tenang, sopan dan ramah tamah, nyonya ini berkata. Lo sicu, kami telah merencanakan untuk menjodohkan puteri kami Lan Giok dengan seorang pemuda bernama Song Bun Sam, murid dari Kim Kong Taisu. Oleh karena itu harap lo sicu sudi memberi maaf. Kami terpaksa tidak dapat menerima budi kebaikan dan kehormatan yang lo sicu berikan kepada kami. Mendengar ini, tidak saja Mo bin Sin kun yang tercengang dan heran, tetapi juga Thian Giok memandang kepada ibunya dengan mata penuh pertanyaan. Adapun Lan Giok yang mendengar ini, seketika itu juga mukanya berobah merah, ia pernah bertemu dengan Bun Sam dan memang diam diam ia merasa tertarik kepada murid Kim Kong Taisu yang dengan gagah beraninya pernah membela dia dan Thian Giok di depan Pat jiu Giam ong, bahkan yang berani melawan Pat jiu Giam ong. Sebaliknya, Lam hai Lo mo dan muridnya menjadi kecewa dan marah, tiba tiba Lam hai Lo mo tertawa dan sambil menudingkan jari telunjuknya ke arah muridnya, ia berkata kepada nyonya Yap. Yap hujin, lihatlah muridku ini! Karena tidak tahu akan maksud kakek itu, nyonya Yap memalingkan muka dan memandang kepada Kui To. Lihat baik baik, bukankah muridku ini tampan dan gagah sekali? Diam diam kakek ini mengerahkan tenaga batinnya dan menggunakan ilmu hoatsut (sihir) kepada nyonya itu. Entah bagaimana, nyonya Yap tiba tiba melihat Kui To sebagai seorang pemuda yang amat tampan, gagah dan simpatik. Hatinya tertarik sekali dan tanpa disadarinya, bagaikan terkena pesona, ia berkata. Memang muridmu itu tampan dan gagah.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Bukankah dia lebih tampan dan lebih gagah daripada Bun Sam ? Sebetulnya nyonya Yap, kalau berada dalam keadaan sadar, tak mungkin dapat menjawab bertanyaan ini karena selama hidupnya ia sendiri belum pernah melihat bagaimana rupa Song Bun Sam, pemuda yang dipilih oleh suaminya untuk menjadi jodoh Lan Giok. Akan tetapi, ia telah terpengaruh oleh ilmu sihir dari Lam hai Lo mo, maka ia mengangguk membenarkan dan berkata. Dia lebih tampan dan lebih gagah daripada Bun Sam. Muridku ini lebih pantas menjadi menantumu daripada Bun Sam, bukan? Kembali nyonya Yap membenarkan. Semua orang menjadi demikian tertegun dan heran sehingga tak dapat mengeluarkan kata kata. Nah, kalau begitu, sudah sewajarnya kau menerima Kui To sebagai menantumu. Sekali lagi kuulangi pinanganku. Yap hujin, sukakah kau menerima Kui To sebagai menantumu? sambil berkata demikian sepasang mata kakek aneh ini mengeluarkan sinar yang berapi api dan amat berpengaruh, yang ditujukan kepada wajah nyonya Yap. Aku setuju dan suka.... jawab nyonya itu, seakan akan sudah tidak kuasa lagi mengendalikan pikiran dan mulutnya. Tiba tiba Lan Giok melompat maju. Tidak tidak! Aku tidak sudi! Siauw Niauw, jangan begitu, ibumu sudah setuju! Kui To melompat maju sambil mengulur tangan hendak memegang tangan gadis yang dirindukaanya itu. Biarlah

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

kelak aku menghadiahkan kepala Song Bun Sam di bawah kakimu. Keparat, jangan kurang ajar! teriak Thian Giok yang cepat maju menyampok tangan Kui To yang diulurkan. Dua buah lengan beradu dan Thian Giok terkejut sekali ketika merasa betapa lengannya menjadi panas dan sakit, ia melompat mundur dengan muka terkejut sekali. Ha, ha, ha, kau kakak iparku, sungguh gagah! Kui To tertawa. Bangsat bermulut lancang, kuhancurkan mulutmu! Lan Giok dengan marah melompat maju dan menyerang dengan pukulan Soan hong pek lek jiu ke arah dada Kui To. Murid Lam hai Lo mo ini merasa sambaran angin dahsyat dan karena, ia maklum akan kelihaian pukulan ini, cepat ia melompat ke samping untuk mengelak. Lan Giok mendesak terus, akan tetapi tiba tiba Lam hai Lo mo mengebutkan lengan bajunya dan tertolaklah gadis ini ke belakang oleh angin pukulan yang jauh lebih bebat daripada pukulannya sendiri. Lam hai Lo mo, mau apakah kau? tiba tiba Mo bin Sin kun bergerak dan tahu tahu ia telah berdiri menghadapi Lam hai Lo rno. Gerakannya ini luar biasa cepatnya, sehingga Lam hai Lo mo sendiri menjadi amat kagum. Apakah kau hendak mencontoh perbuatan sutemu yang Amat tidak patut, hendak memaksa seorang gadis menjadi jodoh muridmu? Untuk sesaat Lam hai Lo mo berdiri tertegun dan ragu ragu. Melihat sinar mata Mo bin Sin kun yang berapi penuh tantangan itu, ia tahu bahwa wanita sakti ini benar benar marah sekali dan kalau ia layani tentu akan terjadi pertempuran mengadu nyawa di situ. Biarpun Lam hai Lo mo tidak takut dan merasa akan dapat mengalahkan Mo bin

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Sin kun, namun hal ini tidak semudah kalau ia menghadapi tokoh lain, karena ia tahu betul bahwa Mo bin Sin kun memiliki kepandaian yang setingkat dengan kepandaiannya. Maka ia lalu tertawa dengan nyaring meringkik ringkik seperti kuda marah, lalu berkata. Ha, ha, ha Mo bin Sin kun, alangkah inginku melihat mukamu pada saat ini! Tentu kulit mukamu yang putih halus itu menjadi kemerahan sesuai dengan sepasang matamu yang indah berapi. Lam hai Lo mo, jangan banyak membuka mulut tak karuan. Pendeknya kami menolak pinanganmu dan kau man apa? Kau tahu bahwa aku selalu bersedia melayanimu tanpa rasa takut sedikit jugapun! Ha, ha, ha, masih galak seperti dulu! Tidak, Mo bin Sin kun, aku tidak ada nafsu untuk bermain main dan mengadu kepalan denganmu. Biarlah lain kali kita bertemu pula, mungkin tahun depan. Ia memberi tanda dengan tangannya kepada Kui To, mengajak muridnya pergi. Kui To menjadi menyesal dan kecewa sekali. Sambil memandang dengan mata lebar ke arah Lan Giok, ia berkata. Kalau betul betul kau sampai menikah dengan Bun Sam, aku akan mengirim sumbangan berupa kepala dari Song Bun Sam! Ia lalu melompat mengejar suhunya sambil tertawa nyaring mengejek. Mo bin Sin kun menarik napas panjang dan diam diam ia merasa lega bahwa kakek setan itu tidak menghendaki pertempuran. Kemudian ia berpaling kepada Yap Bouw dan isterinya. Sesungguhnyakah tentang perjodohan Lan Giok yang kudengar tadi? Nyonya Yap lalu minta maaf dan kemudian ia menceriterakan kehendak suaminya untuk menjodohkan Lan Giok dengan Bun Sam. Mo bin Sin kun mengangguk anggukkan kepalanya.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Memang tepat sekali pilihan itu. Aku sendiri suka kepada Bun Sam dan pula boleh dibilang dia juga muridku sendiri. Anak itu jauh lebih baik daripada Kui To, bukankah demikian pendapatmu? Sambil berkata demikian, Mo bin Sin kun memandang tajam kepada Yap Hujin yang cepat membenarkan kata kata ini. Biarpun aku sendiri belum pernah melihat Bun Sam, akan tetapi tentu saja aku percaya penuh atas pilihan suamiku. Sekarang injin (penolong) menyatakah demikian, tentu saja hatiku menjadi lebih tetap pula. Ibu, mengapa tadi ibu menyatakan kepada Lam hai Lo mo bahwa Kui To jauh lebih baik daripada Bun Sam? tanya Thian Giok yang tidak mengerti akan sikap ibunya ini. Nyonya Yap memandang kepada puteranya dengan heran. Siapa yang menyatakan demikian? Sebelum Thian Giok yang menjadi bingung ia bertanya lagi, Mo bin Sin kun lalu berkata. Memang itulah kepandaian yang hebat dari Lam hai Lo mo. Tadi ia telah mempergunakan ilmu sihir untuk mempengaruhi ibumu, Thian Giok. Oleh karena itu, kau dapat mengarti betapa besarnya bahaya yang sekarang kita hadapi. Kau dan Lan Giok harus berlatih baik baik dan hanya dengan memperdalam tenaga batin, maka kalian kelak akan sanggup menghadapi hoatsut dari Lam hai Lo mo atau muridnya. Adapun tentang pertunangan yang dikehendaki oleh orang tuamu ini Lan Giok, bagaimana pendapatmu? Ditanya demikian Lan Giok hanya menundukkan mukanya yang telah menjadi merah jambu air. Terbayang wajah Bun Sam dan terutama sekali alisnya yang berbentuk golok itu. Ia pernah berpibu melawan Bun Sam dan

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

memang biarpun tak pernah ia memikirkan, kalau teringat kepada pemuda itu, hatinya berdebar aneh. Pemuda itu amat gagah perkasa, juga berbudi mulia, apalagi boleh dibilang masih suhengnya sendiri, maka tentu saja di dalam hatinya ia telah menyetujui sepenuhnya dan sebulat hatinya. Akan tetapi bagaimana ia dapat menjawab pertanyaan gurunya ini? Akhirnya karena semua pandangan mata d tujukan kepadanya yang membuat gadis ini merasa seperti seorang duduk di atas besi panas, maka sambil menutup mukanya dengan saputangan suteranya, ia lalu berlari dari situ menuju ke kuil dan bersembunyi di dalam kamarnya. Melihat ini, Mo biu Sin kun, Yap Bouw dan isterinya, tertawa geli, bahkan Thian Giok sendiri pun tersenyum geli menyaksikan kelakuan adiknya. Pemuda ini diam diam merasa senang sekali mendengar tentang pertunangan adiknya, karena iapun suka dan kagum kepada Bun Sam. Hal ini harus disampaikan kepada Kim Kong Taisu sebagai guru dari pemuda itu. kata Mo bin Sin kun Tunggulah, sampai Thian Giok dan Lan Giok menyempurnakan ilmu silat mereka, aku sendiri yang akan merundingkan hal ini dengan Kim Korig Taisu ! Demikianlah, untuk kurang lebih setahun lamanya, Thian Giok dan Lan Giok melatih diri dengan amat tekunnya, sehingga kepandaian mereka maju amat pesatnya. Selama itu, tidak ada gerakan dari Lam hai Lo mo, sehingga diam diam mereka semua merasa lega. Kemudian, Mo bin Sin kun lalu menyuruh kedua orang muridnya untuk menyelidiki keadaan Hiat jiu pai di kota raja, sedangkan ia sendiri lalu menuju ke Oei san untuk menjumpai Kim Kong Taisu, selain untuk merundingkan tentang murid mereka, juga untuk membicarakan tentang gerakan Hiat jiu pai.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Agar lebih leluasa dalam perjalanan, Lan Giok meminjam pakaian kakaknya dan ia berpakaian seperti seorang pemuda. Akan tetapi dengan pakaiannya ini ia bahkan menimbulkan banyak sekali perhatian orang, karena baik dilihat dari depan belakang atau kanan kiri, ia sekarang menjadi Thian Giok ke dua! Tak mungkin orang dapat membedakan antara dua saudara kembar ini. Thian Giok sering marah marah karena perhatian orang orang yang melihat mereka ini, sebaliknya Lan Giok bahkan tertawa tawa geli karena menganggapnya amat lucu. Sering kali ia sengaja mengenakan pakaian yang warnanya sama dan ketika dalam sebuah kota memasuki restoran, ia mempermainkan pelayan. Kalau Thian Giok memesan semacam masakan, ia memesan yang lain dan ketika pelayan datang mengantarkan masakan masakan itu, ia menyuruh pelayan sendiri menerka siapa yang memesan masakan ini dan siapa pula yang memesan itu. Tentu saja pelnyan menjadi bingung, memandang dari Lan Giok ke Thian Giok dan akhirnya menyerah kalah, menaruh masakan masakan itu di atas meja dan minta maaf karena memang tak dapat membedakan dan mengingat lagi! Setelah tiba di kota raja, kakak beradik ini berpisah dengan sengaja. Pertama tama untuk menghindarkan perhatian orang, kedua kalinya agar penyelidikan mereka lebih luas dan berhasil. Mereka hanya berjanji untuk bertemu pada malam hari di dekat pintu gerbang sebelah selatan, atau kalau ada terjadi sesuatu, mengirim tanda bahaya seperti biasa. Oleh guru mereka, kedua kakak beradik ini telah mempelajari cara melepas panah api di waktu malam untuk memberi tanda bahaya kepada kawan dari tempat jauh. Juga mereka mempunyai semacam tanda pekik seperti pekik ayam hutan yang nyaring sekali untuk saling memberi tanda di waktu perlu.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Dan dalam penyelidikannya ini, akhirnya Lan Giok berjalan jalan sampai keluar kota raja dan tiba di hutan dekat Tong seng kwan di mana ia bertemu dengan Sian Hwa! Sebagaimana telah dituturkan di bagian depan, ia lalu ikut dengan Sian Hwa ke kuil dan menceritakan pengalamanku. Tentu saja ia tidak menyebut nyebut nama Bun Sam, dan hanya memberitahukan bahwa untuk mengusir Lam hai Lo mo, ayah bundanya menyatakan bahwa ia telah ditunangkan dengan orang lain! Dan bagaimana dengan hasil penyelidikanmu, adik Lan Giok? tanya Sian Hwa yang mendengarkan dengan hati tertarik. Sudah bertahun tahun aku tidak mengetahui sama sekali tentang keadaan di luar kuil, maka tentang Hiat jiu pat ini aku sama sekali tidak tahu. Lan Giok menarik napas panjang. Hebat! Hiat jiu pai benar benar amat kuat dan mempunyai anggauta anggauta yang berkepandaian tinggi. Apalagi para pemimpinnya, benar benar sukar dilawan. Ketuanya tentu saja Lam hai Lo mo si setan tua itu, bersama Pat jiu Giam ong bekas gurumu itu. Ditambah dengan Gan Kui To dan suhengmu yang manis itu, maka mereka merupakan empat orang yang cukup tangguh, apalagi masih ada beberapa orang tokoh dari Mongol ada pula seorang tokoh hwesio dari Tibet yang berkepandaian tinggi dan juga sedikitnya ada tujuh orang dari kang ouw yang dapat terpikat oleh mereka. Semua ini merupakan tokoh tokoh terbesar dari Hiat jiu pai. Heran sekali, apakah maksud mereka mengadakan perkumpulan seperti itu? tanya Sian Hwa pula. Tentu saja untuk memperkuat kedudukan mereka. Dan, sepanjang penyelidikan yang didapatkan oleh engko Giok, mereka itu bahkan bermaksud untuk membasmi orang

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

orang kang ouw yang tidak mau bersekutu dengan mereka. Kini tersiar kabar bahwa Lam hai Lo mo dan muridnya, juga hwesio Tibet itu, telah berada di kota raja pula. Oleh karena itu, aku harus buru buru mengajak engko Giok kembali kepada guru kami untuk memberi laporan. Adikku yang baik, bawalah aku bersamamu! Apa....?? Sian Hwa merangkulnya dan tiba tiba teringat akan nasib dirinya, ia mengeluarkan air mata. Adik Lan Giok, kau tahu bahwa kini aku tidak mempunyai siapa siapa lagi yang dapat kupandang, aku....... aku seorang diri, sebatangkara...... Mengapa kau bilang demikian? Bukankah masih ada ayahmu Panglima Bucuci? Orang jahat itu?? Dia bukan ayahku, ayahku telah terkubur di kota Tong seng kwan dan baru saja aku kembali dari kuburan ayahku. Lalu dengan singkat Sian Hwa menceritakan riwayatnya, membuka pula rahasianya bahwa Bucuci dan Kui Eng bukanlah orang tuanya dan bahwa ayahnya telah dibunuh mati oleh pasukan Ang bi tin dan ibunya entah di mana, tak seorangpun mengetahuinya. Oleh karena itu adik Lan Giok. Aku hendak ikut kau merantau dan kalau kau tidak sudi membawaku, biarlah aku yang bernasib malang ini pergi seorang diri, ke mana saja kedua kakiku membawaku. Tiba tiba Lan Giok tersenyum manis..Mengapa tidak boleh? Aku akan suka sekali mempunyai kawan seperjalanan seperti engkau, enci Sian Hwa! Kalau begitu lekaslah engkau berkemas, sekarang juga kau ikut dengan aku ke kota raja dan bersama engko Thian Giok kita malam ini juga dapat melanjutkan perjalanan.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Bukan main girangnya hati Sian Hwa. Ia merangkul dan mencium pipi Lan Giok saking girang dan terharunya. Kau baik sekali, adikku, Lalu ia berlari menjumpai para nikouw untuk berpamit. Para nikouw mengantarkan mereka sampai di depan pintu kuil dan hampir semua nikouw mengucurkan air mata melihat Sian Hwa pergi meninggalkan mereka. Mereka semua amat suka kepada dara yang manis budi itu dan bahkan telah menganggap Sian Hwa sebagai mustika dari kuil Sun pok thian. Sekarang gadis itu pergi meninggalkan kuil dan mereka seakan akan merasa telah kehilangan sesuatu yang membuat wajah mereka muram dan hati mereka sunyi. Hari telah menjadi gelap ketika Lan Giok dan Sian Hwa jalan berendeng menuju ke kotaraja. Mereka kelihatan sebagai sepasang muda mudi yang amat elok dan cocok sekali. Di sepanjang perjalanan, mereka bercakap cakap dengan gembira, seakan akan takkan ada habisnya yang mereka persoalkan. Lan Giok, jadi kau sudah bertunangan? tanya Sian Hwa sambil tersenyum menggoda. Memang sebetulnya Sian Hwa mempunyai watak yang gembira pula, hanya karena penderitaan batin saja yang membuat ia selama ini takkan pernah bergembira. Lan Giok mencubit lengan kawannya. Kau mulai menggodaku? Tidak, adikku. Sebagai seorang sahabat baik. Bukankah sudah selayaknya kalau aku mengetahui calon suamimu? Siapakah dia, ataukah.... kau hendak merahasiakannya dari aku? Mengapa merahasiakan? Aku tidak takut kau akan merebutnya! Lan Giok balas menggoda.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Hush, anak nakal. Kau kira aku orang macam apa? Ah, tunanganmu itu tentu seorang yang tampan dan gagah, ini sudah pasti! Coba kau terka, enci, siapa tunanganku itu? Sian Hwa yang sudah menjadi gembira betul setelah berada di dekat Lan Giok, mengerutkan kening dan berpikir pikir. Hm, nanti dulu.... tentu dia seorang pemuda ahli silat! Ah, tentu putera seorang guru silat yang kenamaan! Lan Giok tersenyum. Guru silat? Ah, aku tidak suka akan guru guru silat yang makan bayaran, enci. Bukan, bukan seorang putera guru silat. Kalau begitu, tentu putera seorang panglima besar! Panglima seperti Pat jiu Giam ong? Ha, ha, sedangkan kau sendiri tidak sudi dipungut menantu oleh seorang panglima besar dan panglima besar manakah yang lebih tinggi kedudukannya daripada Pat jiu Giam ong! Bukan, bukan! Tentu putera Seorang tokoh kang ouw yang tinggi ilmu kepandaiannya! Mungkin anak murid Kun lun pai atau Bu tong pai! Bukan, bukan! Dia bukan anak murid dari partai persilatan manapun juga. Hm, kalau begitu sukar aku menebaknya. Kecuali kalau tunanganmu itu seorang ahli sastera, seorang pelajar yang pandai membuat sajak dari menulis huruf kembang! Diam diam Sia Hwa teringat akan Bun Sam yang pada pertemuan pertama kalinya dengan dia, telah membuat sajak perang yang menyeramkan! Memikirkan kelucuan pertemuan pertama kali itu, ia tertawa sendiri.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Kau takkan berhasil menebaknya, enci. Akan tetapi pertanyaanmu yang terakhir ini ada betulnya. Jadi dia seorang ahli sastera yang lemah lembut? Bukan! Ah, sudahlah, aku tak sanggup menerkanya, adik Lan Giok. Sekarang katakan saja, di mana dia? Apakah dia berada di tempat jauh? Mau dikatakan jauh, ia jauh sekali. Disebut dekat.... ia memang dekat karena ia boleh di bilang suhengku sendiri. Ah......... dia suhengmu sendiri? Murid Mo bin Sin kun? Bukan pula, Lan Giok menggeleng kepala dan menarik napas panjang. Enci, kepada orang lain, biar mati aku takkan mau mengatakan hal ini. Akan tetapi entah mengapa, kepadamu aku takkan menyimpan rahasia. Orang yang disebut tunanganku itu sebenarnya memang sukar sekali kuanggap tunanganku. Ketahuilah bahwa biarpun dia itu sudah direncanakan untuk berjodoh denganku, akan tetapi dia sendiri belum tahu akan hal ini dan...... dan telah bertahun tahun dia menghilang tidak ada yang mengetahui ke mana perginya. Bahkan sampai sekarangpun, aku tidak tahu dia berada di mana. Oleh karena dia sendiri belum tahu tentang rencana perjodohan ini, mana bisa dia disebut tunanganku? Melihat wajah dara yang biasanya jenaka itu menjadi muram, Sian Hwa lalu memeluknya dan menghiburnya. Lan Giok, biarpun ia belum tahu, akan tetapi aku merasa yakin bahwa kalau ia sudah diberi tahu, ia tentu akan menyatakan setuju. Pemuda manakah yang akan dapat menolak seorang calon isteri seperti engkau?

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Timbul pula kegembiraan Lan Giok dan kembali ia mencubit lengan Sian Hwa ketika mendengar godaan ini. Ah kau bisa saja, enci. Akan tetapi, terus terang saja, agaknya sukar bagiku untuk menemukan seorang pemuda yang melebihi dia! Kan cinta sekali kepadanya, bukan? Merahlah wajah Lan Giok, akan tetapi terhadap Sian Hwa, ia tidak begitu malu malu dan sungkan untuk mengaku. Ia menganggukkan kepala nya, lalu tertawa dan berlari lagi melanjutkan perjalanannya. Diam diam Sian Hwa ikut berbahagia melihat kegembiraan gadis ini. Ah, dia beruntung sekali, pikirnya. Memang berbahagia sekali ditunangkan dengan seorang pemuda yang menjadi pilihan hati. Tidak seperti dia, ditunangkan dengan paksa kepada seorang pemuda yang tidak dicintainya! Eh, mengapa kau belum memberitahukan mana tunanganmu itu kepadaku, adik Lan Giok? Siapa tahu kalau kalau aku sudah kenal dengan dia dan dapat memberitahukan kepadamu di mana dia berada pada waktu ini? tanya Sian Hwa sambil berlari di samping Lan Giok. Murid Mo bin Sin kun ini sengaja memperlambat larinya, karena ilmu lari cepatnya memang sudah lebih tinggi daripada kepandaian Sian Hwa yang tidak melanjutkan pelajaran silatnya pada Pat jiu Giam ong. Namanya? Namanya Bun Sam, dia adalah murid dari Kim Kong Taisu. jawab Lan Giok. Sian Hwa merasa seakan akan kepalanya disambar petir. Pandangan matanya berkunang kunang dan ia terhuyung huyung ke depan, tak dapat menguasai kedua kaki lagi. Baiknya Lan Giok berlaku cepat dan bermata awas. Dengan cepat sekali dara ini lalu menyambar tangan Sian Hwa, sehingga dapat mencegah kawannya itu roboh.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Enci Sian Hwa, kenapakah kau? tanyanya penuh kekhawatiran. Karena betotan tangan Lan Giok dan seruan gadis init Sian Hwa dapat sadar kembali dan cepat ia menekan gelora yang membadai di dalam dadanya, ia menggigit bibir untuk mencegah runtuhnya air matanya. Aku....aku.... kurang hati hati, tergelincir batu licin, Lan Giok. Lepaskanlah, sebentar saja aku akan dapat menguasai kepeninganku kembali. Kau tahu.. semenjak kutinggal di kuil, kadang kadang datang kepeningan seperti ini.. Ia lalu pergi duduk di bawah sebatang pohon, menyandarkan punggungnya pada batang itu dan memeramkan matanya, Lan Giok cepat menghampirinya dan jari jari tangan yang haluskan dara ini mengurut urut leher Sian Hwa dengan hati kasihan. Baiknya udara telah menjadi gelap, kalau tidak tentu Lan Giok akan melihat betapa pucatnya wajah Sian Hwa dan betapa dengan hati hati sekali Sian Hwa menggunakan ujung lengan bajunya untuk menyapu bersih dua titik air mata dari pipinya. Tiba tiba Sian Hwa tersenyum dan memeluk Lan Giok. Maafkan aku adik Lan Giok. Aku mengagetkan kau saja Mari kita lanjutkan perjalanan kita. Kau benar benar tidak apa apa, enci Sian Hwa ? Tidak sakitkah badanmu? Kalau kau masih pusing, biar kita menunda saja perjalanan kita. Sian Hwa memaksa dirinya tertawa. Tidak, adikku yang baik. Aku tidak apa apa. Sudah ku katakan bahwa kadang kadang memang datang serangan kepala pening seperti ini. Mari kita melanjutkan perjalanan kita. Setelah mendapat kenyataan bahwa Sian Hwa benar benar tidak apa apa Lan Giok menjadi lega dan mereka lalu melanjutkan perjalanan mereka.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Karena merasa tidak enak kalau diam saja, sehingga mungkin mendatangkan kecurigaan pada Lan Giok, Sian Hwa lalu berkata sambil tersenyum. Eh, adik Lan Giok, tadi aku sampai tidak mendengar keteranganmu. Bukankah aku tadi bertanya siapa nama tunanganmu dan aku tidak keburu mendengar jawabanmu karena aku keburu diserang kepeningan kepalaku. Tadinya memang Lan Giok sedang berpikir pikir dengan hati curiga dan tidak enak. Tadi ia memberitahukan nama tunangannya dan tiba tiba Sian Hwa terhuyung huyung. Apakah hubungannya nama tunangannya dengan kepeningan kepala Sian Hwa? Akan tetapi, kecerdikan Sian Hwa yang mengajukan pertanyaan itu sekaligus mengusir kecurigaannya dan iapun tersenyum ketika menjawab. Tadi aku sudah menjawab, enci Sian Hwa, akan tetapi agaknya kau tidak mendengarnya. Namanya Bun Sam murid Kim Kong Taisu dan kau juga pernah melihatnya ketika ia dahulu menghadapi bekas gurumu. Oh, dia....? Sian Hwa mengangguk angguk..Ya, aku sudah melihatnya. Menurut pendapatku, memang dia cocok sekali menjadi jodohmu. Demikianlah, dengan amat pandainya, Sian Hwa membersihkan diri daripada kecurigaan Lan Giok dan perjalanan dilanjutkan dengan cepat. Baiknya pintu gerbang kota raja sebelah barat masih terbuka dan nampak sunyi saja Akan tetapi alangkah kaget mereka ketika baru saja mereka masuk, dua sosok bayangan orang melompat dari balik pintu gerbang dan serta merta menubruk mereka! Tubrukan ini hebat sekali. Lan Giok yang lebih lihat cepat menggerakkan kedua tangannya menyampok bayangan itu dari kiri ke kanan, kedua lengannya beradu dengan lengan yang amat kuat, sehingga

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

ia terhuyung dua tindak ke belakang. Akan tetapi bayangan yang menubruknya juga gagal dalam usahanya hendak menangkap gadis ini. Adapun Sian Hwa yang juga bermata jeli, tidak melihat lain jalan menghadapi tubrukan bayangan ke dua. Cepat gadis ini lalu menggunakan gerakan Trenggiling Turun Dari Gunung, menjatuhkan diri ke belakang lalu menggulingkan dirinya sampai dua tombak jauhnya. Biarpun rambutnya menjadi awut awutan dan pakaiannya menjadi kotor, namun Sian Hwa dapat menghindarkan diri dari orang itu. Ketika kedua orang dara perkasa ini memandang, bukan main marah hati mereka karena ternyata bahwa yang berdiri di hadapan mereka adalah Gan Kui To dan Liem Swee! Tadi Kui To yang menyerang Lan Giok dan Liem Swee menubruk Sian Hwa. Kau....orang ahe Liem, tidak malukah kau melakukan hal serendah ini? Sian Hwa membentak marah. Anjing sipit pemakan ular! Lan Giok memaki sambil menudingkan jari telunjuknya ke arah hidung Kui To. Apa kau sudai bosan hidup? Liem Swee dan Kui To saling pandang sambil tertawa menyeringai, kemudian tanpa menjawab sesuatu mereka berdua lalu menubruk lagi. Kui To menyerang Lan Giok, sedangkan Liem Swee mendesak bekas sumoi dan tunangannya itu. Sian Hwa dan Lan Giok tentu saja menjadi makin marah dan mereka melawan mati matian. Pertempuran yang terjadi antara Lan Giok dan Kui To benar benar seru dan hebat sekali. Kepandaian mereka setingkat dan biarpun Kui To telah mempunyai banyak sekali akal akal keji dan tipu tipu yang aneh di dalam pertempuran, namun karena Lan Giok memiliki ginkang yang luar biasa, sehingga tubuhnya demikian ringan seakan

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

akan seekor burung walet yang terbang menyambar nyambar luar biasa gesitnya, maka sukarlah bagi Kui To untuk mengalahkan gadis ini. Apalagi ia telah tergila gila kepada Lan Giok, maka ia tidak tega untuk mempergunakan tipu keji yang kiranya berbahaya bagi nyawa gadis yang dirindukaanya itu. Sebaliknya, menghadapi Kui To, Lan Giok mendapatkan lawan yang setimpal. Gadis ini mengerahkan tenaga dan mengeluarkan segala kepandaiannya dan karena nafsunya yang membuatnya nekat dan mati matian inilah yang membuat Kui To mulai terdesak mundur! Hal ini tidak aneh, Kui To menyerang dengan maksud menangkap Lan Giok dan mengalahkannya tanpa melukai berat gadis itu, sebaliknya Lan Giok menyerang dengan maksud membunuh pemuda yang dibencinya ini. Tentu saja keadaan yang berat sebelah ini menguntungkan Lan Giok. Tidak demikian dengan keadaan Sian Hwa yang bertempur melawan Liem Swee. Dulu sebelum ia meninggalkan rumahnya dan masih belajar ilmu Silat bersama Liem Swee di bawah asuhan Pat jiu Giam ong memang terlihat kepandaiannya, yakni karena ia lebih menang dalam hal ginkang, boleh dikata lebih tinggi dan lebih lihai daripada Liem Swee. Akan tetapi, selama tiga tahun ia tidak mendapat tambahan pelajaran, sedangkan Liem Swee bahkan digembleng dengan sungguh sungguh oleh ayahnya, maka kini kepandaian Liem Swee tentu saja lebih tinggi. Sian Hwa mempergunakan pedangnya dan menyerang dengan sepenuh tenaga, mengeluarkan tipu tipu serangan pedang yang paling lihai. Akan tetapi, tentu saja semua setangannya ini dikenal dengan baik oleh Liem Swee yang melayaninya dengan kim siang to (Sepasang golok emas) senjata yang amat diandalkannya. Juga seperti Kui To, Liem Swee tidak mau melukai Sian Hwa yang hendak ditangkapnya hidup hidup. Kalau ia bermaksud

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

membunuh, kiranya belum sampai limapuluh jurus saja tentu Sian Hwa sudah roboh binasa. Apalagi Liem Swee selalu menyindir nyindirnya dan memperingatkannya tentang pedang yang dipegang oleh gadis itu. Sian Hwa, kekasihku yang manis, ternyata kau masih menaruh perhatian kepadaku. Kau masih belum lupa kepadaku, buktinya pedang Oei giok kiam tanda pertunangan kita masih kau simpan baik baik. Ah, tunanganku, mengapa kau tidak mau menurut saja? Marilah kita menghadap ayah ibuku.... Sian Hwa menjadi sebal dan mendongkol sekali ia menyimpan pedang Oei giok kiam bukan sekali kali karena masih mengingat pertalian jodoh itu, hanya karena pedang itu adalah sebuah pedang mustika yang baik sekali dan ia memang membutuhkan senjata untuk menjaga diri, maka ia masih menyimpannya. Kini diejek dan disindir sindir oleh bekas suhengnya, ia menggigit bibirnya dan menyerang lebih hebat lagi. Adapun pertempuran antara Lan Giok dan Kui To masih berjalan dengan bebatnya. Sekarang bahkan lebih ramai lagi karena masing masing telah mengeluarkan senjata. Tadinya kedua fihak mengandalkan kaki tangan saja karena memang keduanya ahli ilmu silat tangan kosong. Tetapi ketika Lan Giok yang menjadi marah dan gemas karena belum juga dapat merobohkan lawan segera mengeluarkan ilmu pukulan Soan hong pek lek jiu hwat yang bukan main hebatnya, Kui To menjadi sibuk juga. Harus diketahui bahwa ilmu pukulan Soan hong pek lek jiu hwat ini adalah semacam ilmu pukulan yang Istimewa dan Lan Giok sekarang telah melatihnya dengan sempurna, maka pukulannya mendatangkan angin yang berputar putar, sehingga amat sukar diduga dari mana kepalan tangan dara perkasa itu akan menyerang. Pukulan biasa

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

biarpun dihadapi oleh ahli silat tinggi dengan kedua mata ditutup, akan dapat dielak atau ditangkis hanya dengan mendengar dan merasakan datangnya angin pukulannya terlebih dulu. Akan tetapi tidak demikian dengan Soan hong pek lek jiu hwat. Ilmu pukulan ini mendatangkan angin yang berputar dan kepalan tangannya sendiri mendatangi dengan tiba tiba dan cepat bagaikan halilintar menyambar dan ditujukan di tempat yang sama sekali tak disangka sangka oleh lawannya. Menghadapi ilmu pukulan yang terlihai dari Mo bin Sin kun yang kini dimainkan oleh Lan Giok, Kui To benar benar terdesak hebat dan terpaksa ia memainkan ilmu silat Tee coa kun (Ilmu Silat Ular) Ilmu silat ini oleh golongan ahli silat tinggi dipandang rendah dan tak seorangpun bu hiap (pendekar silat) sudi mempelajarinya karena sifat sifatnya yang amat rendah, ilmu silat ini sebagaimana dapat diduga dari namanya, dimainkan dengan tubuh menempel di atas tanah, seperti seekor ular dan kadang kadang merangkak rangkak seperti binatang kaki empat. Akan tetapi di dalam setiap gerakan ini, tersembunyi serangan serangan yang sifatnya amat curang. Memang untuk menghadapi Soan hong pek lek jiu hwat, ilmu Silat Tee coa kun ini tepat sekali. Tubuh Kui To seakan akan bertiarap dan pukulan yang dilancarkan oleh Lan Giok tidak tepat lagi. Angin pukulan yang tadinya berputar putar, kini menghadapi tubuh lawan di bawah, maka selalu terpental kembali kalau mengenai tanah, sehingga debu berhamburan. Sebaliknya Kui To melakukan cengkeraman dan tangkapan dari bawah yang ditujukan kepada kedua kaki Lan Giok, sehingga gadis ini merasa jijik dan ngeri sekali. Kalau kakinya sampai terpegang, alangkah malu dan jijiknya, pikirnya. Oleh karena itu maka Lan Giok tiba tiba

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

mengeluarkan senjatanya yang disebut Gin sam Kim ciam yakni sepasang senjata yang amat berlainan macamnya. Di tangan kirinya memegang sebatang kipas lebar yang gagangnya terbuat daripada perak dan ujung gagang itu runcing. Tangan kanannya memegang sebatang jarum panjang kira kira dua dim dan besarnya sebesar jari tangan. Ketika Mo bin Sin kun memperlihatkan berbagai senjata aneh untuk dipelajari, Lan Giok sengaja memilih senjata senjata ini, karena selain mudah disimpan, juga dianggapnya praktis! Kini Lan Giok mengebaskan kipasnya ke bawah. Debu mengebut bagaikan ditiup dan mengebutnya bukan sembarangan saja, melainkan tepat meniup ke arah muka Kui To. Pemuda ini terkejut sekali dan cepat melompat berdiri, akan tetapi Kim ciam atau jarum emas yang berada di tangan kanan Lan Giok menyambutnya dengan sebuah totokan kuat ke arah jalan darah di lehernya. Kembali Kui To terpaksa merebahkan diri dan sekali lagi disusul oleh kebutan kipas. Inilah ilmu serangan yang disebut Hok thian hok tee (Membalikkan Bumi dan Langit). Gan Kui To benar benar sibuk sekali sehingga serangan bertubi tubi yang susul menyusul dari atas dan bawah itu membuat ia berjungkir balik dan berputar putaran. Akhirnya Kui To tak dapat menahan, sambil mengeluarkan suara seperti seekor binatang buas terluka ia lalu mencabut senjatanya, yakni sebatang tongkat kecil berwarna hitam yang tadinya diselipkan di belakang baju bagian punggungnya. Kiai pertempuran menjadi lebih sengit lagi dan tongkat kecil di tangan Kui To itu sungguh hebat, gerakan gerakannya seperti ekor ular hidup yang sukar sekali diduga. Biarpun kipas dan jarum Lan Giok cukup lihai, namun ternyata kedua senjata ini tidak dapat menembus

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

cahaya kehitaman dari tongkat itu, sebaliknya tongkat Kui To mendesak dengan hebat. Betapapun juga, Lan Giok benar benar boleh dipuji karena dara ini sama sekali tak gentar menghadapi lawannya dan sekiranya tidak terjadi sesuatu, dalam dua ratus jurus saja belum tentu Kui To akan dapat mengalahkannya. Sudah dua kali Kui To menggertak disertai tenaga batin yang bedasarkan hoatsut (ilmu sihir), akan tetapi Mo bin Sin kun yang sudah menjaga akan hal ini, telah memberi latihan lweekang dan ilmu batin yang cukup kuat kepada Lan Giok, sehingga hal itu tidak berpengaruh sesuatu terhadap dara ini. Akan tetapi, tiba tiba tedengar Sian Hwa menjerit marah ketika pedang gadis ini terpukul jatuh oleh golok Liem Swee dan diikuti oleh suara ketawa pemuda she Liem ini, Sian Hwa dapat di ringkus dan di totok jalan darah nya yang membuat gadis ini menjadi lemas tak berdaya lagi. Mendengar jeritan Sian Hwa, Lan Giok menengok dan gadis ini menjadi marah, terkejut dan juga khawatir sekali. Liem Swee telah meninggalkan Sian Hwa yang rebah tak bergerak di atas tanah, kemudian putera Pat jiu Giam ong ini membantu Kui To mengeroyok Lan Giok. Ilmu kepandaian Liem Swee hanya kalah sedikit saja oleh Kui To dan boleh dibilang berimbang dengan kepandaian Lan Giok, maka tentu saja kini Lan Giok menjadi sibuk sekali. Ia melawan mati matian, akan tetapi tetap saja ia terkurung oleh sepasang golak Liem Swee dan terancam oleh tongkat di tangan Kui To. Baiknya kedua orang pemuda itu tidak ingin membunuhnya, maka ia masih dapat bertahan. Namun percuma saja Lan Giok melawan mati matian. Akhirnya, sepasang golok Liem Swee menahan kipas dan jarumnya dan pada saat ia mengadu tenaga dengan putera Pat jiu Giam ong itu, tanpa dapat ia elakkan lagi ujung

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

tongkat Kui To telah berhasil menotok jalan darah di punggung nya. Terlepaslah kedua senjata itu dari tangan Lan Giok dan gadis ini terhuyung huyung, ia cepat mengerahkan lweekangnya untuk membebaskan diri nya dari pengaruh totokan, namun Kui To telah mengejarnya dengan lain totokon yang lebih lihai. Baiknya Lan Giok teringat akan kakaknya, maka sebelum ia roboh oleh totokan kedua, ia masih sempat mengeluarkan jeritan yang nyaring sekali seperti suara ayam hutan, yakni tanda bahaya bagi Thian Giok. Liem Swee dan Kui To girang bukan main setelah berhasil merobohkan dua orang dara perkasa yang cantik jelita dan yang mereka rindukan itu. Kita harus ikat mereka, kalau tidak totokan itu takkan dapat bertahan lama bagi mereka yang telah memiliki lweekang tinggi, kata Kui To. Maka kedua gadis itu lalu diikat erat erat dengan tali sutera hitam yang dikeluarkan oleh Kui To dari saku bajunya. Kemudian sambil tertawa tawa kedua pemuda itu memondong tubuh gadis pujaan masing masing dan pergi dari situ setelah memesan kepada para penjaga pintu gerbang supaya berjaga dengan hati hati. Para penjaga itu tentu saja kenal baik kepada kedua pemuda ini, maka mereka hanya tersenyum simpul dan saling betkejap dengan sinar mata penuh arti. Thian Giok sedang memikirkan ke mana perginya Lan Giok sehingga tidak terlihat di dekat pintu gerbang sebelah selatan sebagaimana yang mereka janjikan, ia merasa amat cemas dan menanati di tempat gelap. Tiba tiba ia mendengar pekik ayam hutan itu dan terkejutlah pemuda ini. Cepat ia menghampiri arah suara itu terdengar dan sambil bersembunyi sembunyi di dalam gelap, ia melihat dua sosok bayangan orang yang memanggul tumbuh seorang wanita dan seorang pemuda yang sebagai adiknya,

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Lan Giok yang berpakaian laki laki, maka bukan main cemasnya. Apalagi ketika ia mengenal dua orang laki laki yang memanggul dua orang gadis itu. Thian Giok adalah seorang pemuda yang cerdik, ia tidak mau main serampangan saja. Ia maklum bahwa kalau ia menggunakan kekerasan, belum tentu ia akan dapat menang menghadapi dua orang pemuda murid Lam hai Lo mo dan Pat jiu Giam ong, sedangkan untuk menghadapi satu lawan saja belum tentu ia dapat menang. Maka diam diam ia mengikuti dua orang yang membawa lari adiknya dan seorang gadis yang sampai saat itu belum dikenalnya siapa adanya itu, oleh karena malam gelap dan Liem Swee serta Kui To berjalan cepat sekali. Ternyata bahwa Kui To dan Liem Swee membawa dua orang gadis tawanan mereka itu ke sebuah rumah kecil mungil yang berada di jalan yang sunyi, yakni rumah pribadi dari Liem Swee yang dijadikan tempat ia bersenang senang di luar gedung ayahnya. Rumah ini hanya terjaga oleh seorang kepercayaannya dan ketika kedua orang pemuda ini masuk membawa dua orang nona itu, penjaga yang sudah tua ini tersenyum menyeringai. Hal seperti ini tidak aneh baginya, karena memang ia mengenal Liem Swee sebagai seorang pemuda hidung belang, akan tetapi yang royal sekali dalam membagi hadiah hadiah, juga kepadanya. Dengan ginkangnya yang sudah tinggi, Thian Giok dapat meialui penjaga tua itu dan mengintai dari atas genteng, ia hendak mencari kesempatan baik untuk menolong adiknya dan nona berbaju putih itu. Dilihatnya Liem Swee dan Kui To duduk menghadapi meja sambil minum arak, memberi selamat kepada mereka sendiri yang sudah berhasil menawan nona nona yang mereka rindukan itu.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Ha, ha sekarang kau dapat minta kepada ayahmu untuk merayakan pernikahanmu dengan kekasihmu, Liem sute! kata Kui To. Liem Swee adalah putera dan dari murid Pat jiu Giam ong yang menjadi susioknya (paman gurunya) karena Pat jiu Giam ong adalah sute (adik seperguruan) dari suhunya, yakni Lam hai Lo mo, oleh karena itu Liem Swee masih terhitung adik seperguruannya. Akan tetapi Liem Swee menggeleng gelengkan kepalanya. Tidak mungkin, suheng. Kau tentu saja akan mendapat perkenan suhumu untuk segera merayakan pernikahanmu dengan nona murid Mo bin Sin kun itu, akan tetapi bagiku tak mungkin. Ayahku telah melarangku untuk melakukan sesuatu yang sifatnya bermusuhan atau mengganggu murid murid Mo bin Sin kun sebelum pertandingan pibu dilakukan. Ayah sangat keras dan menjaga nama, maka tentu saja ayah tidak akan suka memberi izin kepadaku untuk melakukan kekerasan. Baiknya diam diam kita sembunyikan saja kekasih kita itu di sini dan penawanan ini sama sekali jangan sampai diketahui oleh ayah atau oleh suhumu sekalipun. Aku tahu watak supek, ia takkan dapat menyimpan rahasia dan akhirnya tentu akan terdengar oleh ayah pula. Kui To mengangguk angguk. Baik, baik, sute. Aku mengerti. Lebih baik lagi kita bersenang senang di sini diam diam saja, itu lebih menggembirakan. Ha, ha, ha! Terdengar tertawanya yang nyaring dan menyeramkan. Mendengar percakapan ini, Thian Giok cepat melompat pergi dari atas genteng. Liem sute seperti ada orang di atas! teriak Kui Te dan tubuhnya cepat melayang keluar melalui jendela, disusul oleh Liem Swee. Adapun Lan Giok dan Sian Hwa yang rebah di atas dipan dapat mendengar semua percakapan ini. Mereka berdua tadi telah mengerahkan ilmu lweekang

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

mereka dan berhasil membebaskan diri daripada pengaruh totokan akan tetapi betapapun mereka berdaya melepaskan ikatan kaki tangan mereka, sia sia saja. Ikatan itu erat sekali dan tali pengikatnya terbuat daripada sutera yang terpilih dan memang khusus disediakan oleh Kui To. Mereka tak berdaya sama sekali dan hanya diam diam mengambil keputusan untuk melawan mati matian kalau mereka dipermainkan. Jilid XI SETELAH tiba di atas genteng, Liem Swee dan Kui To memandang ke sana ke mari akan tetapi tidak terlihat seorangpun di atas genteng. Mereka melompat ke bawah dan mengadakan pemeriksaan disekitar rumah itu, akan tetapi tetap saja tidak dapat menemukan sesuatu yang mencurigakan. Aneh, apakah pendengaranku sudah rusak? Kui To bersungut sungut. Mungkin yang kau dengar tadi seekor kucing, Gan suheng, kata Liem Swee. Biarpun seekor kucing, ke mana ia dapat menghilang? Kui To masih saja merasa tidak puas. Akhirnya mereka kembali pulang ke rumah itu melalui pintu depan. Celaka, benar benar ada orang jahat masuk! tiba tiba Liem Swee berseru keras dan wajahnya berobah. Kui To cepat menengok dan melihat penjaga rumah yang tua tadi kini telah meringkuk di pinggir pintu dalam keadaan kaku tertotok! Kedua orang pemuda ini tidak memperdulikan penjaga itu, langsung menyerbu ke dalam rumah. Ketika mereka melompat masuk ke dalam kamar di mana mereka tadi menahan Lan Giok dan Sian Hwa, ternyata bahwa

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

kedua orang tawanan itu telah lenyap tak meninggalkan bekas! Bahkan tali sutera pengikat kaki tangan kedua orang dara itupun lenyap bersama orang orangnya. Terang buhwa penolong yang datang itu tentu membawa dua orang nona itu dalam keadaan masih terikat kaki tangannya! Liem Swee, mengeluarkan suara makian kotor sedangkan Kui To lalu melompat keluar kamar kembali ia mengejar ke sana ke mari, akan tetapi tetap saja tidak terlihat sesuatu. Ketika ia kembali ke rumah itu, Liem Swee sedang berusaha membebaskan penjaga rumah dari totokan, namun tidak berhasil. Kui To menghampiri kakek itu dan setelah memeriksa, ia lalu mengangkat tubuh kakek yang kaku itu ke atas dan melemparkannya ke atas sampai tinggi. Ketika tubuh itu melayang turun, ia lalu mengulurkan jari tangannya menotok ke arah punggung penjaga rumah itu yang segera menjerit dan mengaduh aduh, akan tetapi ia telah terlepas dari pengaruh totokan yang lihai. Hm, penyerangnya seorang yang ahli dalam ilmu Ki keng pat meh (Ilmu Membuka Pembuluh Darah), sehingga ia dapat menotok di balik jalan darah. Benar benar lihai! katanya. Ucapan ini belum seluruhnya menyatakan keheranan dan kekagumannya dan di dalam hatinya murid Lam hai Lo mo ini benar benar merasa kaget bukan main karena biarpun suhunya sendiri Ilmu Ki keng pat meh ini baru saja dipelajari dan belum sempurna sama sekali! Apalagi dia! Akan tetapi, orang yang menolong dan orang tawanan itu ternyata pandai mempergunakan totokan yang berdasarkan Ki keng pat meh, sungguh merupakan lawan yang bukan main tangguhnya! Akan tetapi Liem Swee yang biarpun sudah mendengar tentang ilmu itu namun belum pernah dapat mempelajari, kurang memperhatikan ucapan Kui To dan cepat

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

mengajukan pertanyaan kepada penjaga rumah itu mengapa dia telah meringkuk di atas tanah dalam keadaan tertotok. Ampun, siauw ya (tuan muda). Entah apa yang terjadi dengan diri hamba. Agaknya kurasa hamba lupa membakar hio, setan penjaga bumi telah marah kepada hamba dan menjatuhkan hukumannya ! kata kakek itu dengan tubuh menggigil dan muka pucat, nyata sekali ia tampak takut bukan main. Jangan mengoceh! Liem Swee membentak. Lekas ceritakan siapa orangnya yang menyerang mu! Ampun, siauw ya. Hamba sungguh sungguh tidak tahu. Tiba tiba saja ketika hamba berdiri di sini sambil ikut bergembira memikirkan kesenangan jiwi (tuan berdua), tahu tahu tubuh hamba terasa kaku dan panas dingin, pendangan mata berkunang kunang dan selanjutnya hamba tidak tahu apa apa lagi. Liem Swee mendongkol sekali, aku tetapi Kui To segera menariknya ke dalam rumah. Tak perlu marah, Liem sute. Masih baik orang itu tidak mengganggu kita. Kalau dia muncul, akan kuhancurkan kepala nya! Liem Swee berkata marah sambil mengepal tinjunya yang besar dan kuat. Kui To tersenyum. Tak perlu baginya untuk memamerkan dan memuji muji kepandaian lawan, maka ia berkata, Sudahlah, lebih baik kita mengaso dan besok pagi pagi kita mencari dua ekor burung elok yang terbang itu. Mengapa ribut ribut ? Seteluh berkata demikian, Kui To lalu menjatuhkan diri di atas pembaringan dan sebentar saja terdengar dengkurnya yang keras! Memang murid Lam hai

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Lo mo ini seorang yang berhati keras seperti baja dan tidak mudah menjadi gelisah, duka atau gembira, ia sama anehnya dengan suhunya yang di anggapnya sebagai orang paling aneh di antara Lima Besar ! Liem Swee duduk termenung, tak dapat tidur dan menjadi berduka sekali, ia telah tergila gila kepada Sian Hwa dan pertemuan yang terakhir dengan gadis itu memperdalam cinta kasihnya. Di dalam pandangannya, tidak ada gadis yang lebih molek, lebih manis dan lebih menggiurkan hatinya daripada sumoinya itu! Tak lama kemudian, tiba tiba pintu kamar diketok orang dan ketika ia membuka pintu itu, nampak penjaga rumah berdiri dengan tubuh menggigil ketakutan. Kiu To yang tadinya tidur mendengkur, mendengar ketokan itu, seketika melompat bangun dan bersiap sedia kalau kalau ada bahaya. Liem Swee yang melihat penjaga tua itu menggigil dan berwajah pucat, mengira bahwa tentu penjahat tadi datang lagi. Di mana dia? tanyanya sambil menyambar kim siang to (sepasang golok emas) yang tadi ia letakkan di atas meja. Dia siapa, siauw ya? Eh, goblok! Penjahat itu, maling itu! Di mana dia? Bukan maling yang datang, siauw ya melainkan Liem goanswe dan delapan orang lain. Goan swe ya minta supaya hamba cepat memanggil ji wi keluar. Bukan main kagetnya hati Liem Swee mendengar ini. Belum pernah ayahnya mengunjungi rumah pribadinya ini, sungguhpun ayahnya tahu akan hal itu. Peristiwa hebat apakah yang terjadi, sehingga ayahnya pada saat seperti itu datang mengunjunginya?

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Akan tetapi Kui To yang tabah dan tidak memperdulikan itu segera mengajaknya keluar dan di ruang depan telah menanti Liem goanswe dan delapan orang lain. Tujuh orang kakek yang berdiri di situ dikenal baik oleh Kui To dan Liem Swee, karena mereka ini adalah tamu tamu Liem goanswe yang sudah sepekan datang di kota raja, yakni yang disebut Koai kauw jit him atau Tujuh Beruang Kaitan Aneh. Mereka ini adalah jago jago Mongol yang berkepandaian tinggi dan mereka terkenal karena senjata mereka yang berupa kaitan kaitan, akan tetapi kaitan mereka ini benar benar aneh bentuknya. Ketika Kui To dan Liem Swee melihat orang terakhir dalam rombongan ini hampir saja mereka mengeluarkan seruan kaget. Dalam pandangan pertama, mereka mengenal pemuda yang baru datang ini sebagai Lan Giok yang tadi terlepas dari tawanan. Akan tetapi ketika mereka memandang lebih teliti, tahulah mereka bahwa pemuda ini adalah kakak dari gadis yang tetak berhasil melarikan diri itu. Teringatlah kedua orang muda ini bahwa yang datang bersama Pat jiu Giam ong adalah kakak kembar dari Lan Giok yang dulu pernah pula mengacau kota raja ketika pemuda itu membunuh Toa to Hek mo. Akan tetapi, tetap saja Liem Swee dan Kui To terheran dan terkejut melihat Thian Giok dapat datang bersama Pat jiu Giam ong! Bagaimana Thian Giok bis datang bersama Pat jiu Giam ong dan Koai kauw jit him? Pemuda yang cerdik ini sebagaimana telah dituturkan di bagian depan, mendengar percakapan antara Liem Swee dan Kui To. Ketika ia mendengar bahwa Pat jiu Giam ong melarang puteranya mengganggu murid murid Mo bin Sin kun daa Kim Kong Taisu, ia dengan berani sekali lalu berlari cepat menuju ke gedung Pat jiu Giam ong. Tentu saja Liem goanswe terheran heran melihat kedatangan pemuda murid Mo bin

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Sin kun ini malam malam di rumahnya, akan tetapi setelah mendengar dari Thian Giok bahwa puteranya dan Kui To menawan Sian Hwa dan Lan Giok jenderal ini marah sekali, lalu bersama Thian Giok menuju menuju ke rumah itu. Koai kauw jit him yang pada malam hari itu sedang minum arak dengan dia, ikut pula bersama karena orang aneh inipun merasa tertarik untuk melihat murid murid dari tokoh tokoh besar itu. Kini Pat jiu Giam ong berdiri dengan tegak, sepasang matanya memandang kepada puteranya dengan marah. Memang jenderal ini bertabuh tinggi besar dan menakutkan, sehingga puteranya sendiri merasa gelisah melihat kemarahan ayahnya. Swee ji! Benarkah kau telah menawan Sian Hwa dan seorang murid dari Mo bin Sin kun ? Di mana mereka!! Ayoh ceritakan apa yang telah terjadi! Saking takutnya, Liem Swee tak dapat menjawab dan beberapa kali lidahnya menjilat bibit yang terasa kering. Akan tetapi tidak demikian dengan Kui To. Pemuda aneh ini memiliki ketabahan luar biasa dan sia sia saja ia menjadi murid Lam hai Lo mo kalau ia tidak memiliki kecerdikan yang luar biasa. Ia dapat menetapkan hatinya dan tiba tiba ia tertawa. Sungguh lucu, sungguh lucu! Susiok kena dibohongi oleh seorang murid dari Mo bin Sin kun, sehingga kini menuduh putera sendiri. Benar benar lemas sekali lidah murid Mo bin Sin kun. Ha, ha, ha! Pat jiu Giam ong mengerutkan keningnya. Kui To, aku tidak main main! Pemuda ini datang kepadaku melaporkan bahwa kau dan Swee ji telah menawan kedua orang gadis itu dan hendak mempermainkannya. Kalau betul betul terjadi hal seperti itu, aku tidak suka membiarkannya saja!

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Susiok, sebelum menjatuhkan kemarahan kepada teecu berdua mengapa tidak memeriksa lebih dulu apakah kata kata yang keluar dari mulut pemuda ini benar benar terjadi? kata Kui To pula sambil melirik ke arah Thian Giok. Ular kecil! Kaukira aku hanya membohong saja? Aku tadi telah menyaksikan sendiri ketika aku mengintai dari atas genteng dan kalian berdua minum arak di dalam kamar. Ayoh kau bebaskan adikku dan nona itu! Pengecut tukang mengintai rumah orang! Kui To balas memaki. Tak perlu banyak mulut, lebih baik kau buktikan saja omonganmu tadi! Pat jiu Giam ong menjadi ragu ragu. Dan kini ia memandang kepada Thian Giok. Orang muda, kau boleh memeriksa dalam rumah ini dan coba kaubuktikan laporanmu tadi! Thian Giok menjadi berdebar hatinya. Ia lalu mengangguk dan memasuki rumah itu. Akan tetapi sedikitpun tidak ada tanda tanda bahwa kedua orang gadis itu disembunyikan di dalam rumah ini. Ia keluar lagi dan mukanya menjadi merah karena marah dan juga malu. Tentu mereka telah disembunyikan di lain tempat, katanya. Kui To tertawa sinis, Nah susiok, apa kataku? Pemuda ini adalah seorang pengecut besar yang membohong kepadamu. Kaulah yang pengecut! Thian Giok balas memaki. Aku pengecut? Hah, rasakan pukulan ini! Kui To cepat menyerang. Thian Giok mengelak cepat sambil mengeluarkan senjatanya yang istimewa yakni sebatang

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

cambuk atau joan pian (ruyuag lemas) yang terbuat daripada batu putih dan disebut Pek giok joan pian. Pat jiu Giam ong melangkah maju. Tidak boleh bertempur sekarang. Akan datang saatnya kita mengadu tenaga dalam sebuah pibu yang adil. Susiok, lepaskan saja, aku tidak takut. Anak bermulut lancang ini pasti akan remuk kepalanya di bawah gebukan tongkatku, kata Kui To. Akupun tidak takut. Boleh kau maju bersama kawan kawanmu ! kata Thian Giok gagah. Jangan Kui To. Tahan senjatamu. Aku percaya kau akan menang, akan tetapi kalau orang lain mengetahui, bukankah kematian murid Mo bin Sin kun di tempat ini akan disiarkan bahwa dia kami keroyok? Tidak, tidak boleh! Kau pergilah, orang muda. Dan aku tidak mengerti mengapa kau membohong. Akan tetapi, tunggu saja, gurumu tentu kelak akan mendengar tentang kebohonganmu ini. Nanti dulu, Liem goanswe! tiba tiba orang termuda dari Koai kauw jit him yang bernama Biauw Kai, melangkah maju. Pemuda ini adalah murid dari Mo bin Sin kun yang terkenal dan senjata yang dipergunakan adalah sebuah joan pian yang bagus. Tentu kepandaiannya sudah baik juga. Dia telah membohong dan mengganggu kita minum arak, maka tidak baik dibiarkan begitu saja. Biarlah aku bermain main sebentar dengan dia untuk mencoba kepandaian murid Mo bin Sin kun dan juga untuk memberi hajaran karena kelancangan mulutnya! Pat jiu Giam ong berpikir bahwa kalau seorang dari Koai kauw jit him yang maju boleh saja asal pemuda ini jangan dibunuh. Ia memandang kepada Biauw Kai yang agaknya dapat menduga maksudnya, maka orang termuda dari Koai

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

kauw jit him yang usianya sudah empatpuluh lima tahun itu berkata, Jangan khawatir, Liem goanswe, aku takkan mengganggu kulit dagingnya! Asalkan ia mau meninggalkan joan piannya itu sebagai tanda kalah terhadap aku, aku akan merasa puas! ejek Biauw Kai yang memang sombong wataknya itu. Sementara itu, dengan hati mendongkol sekali Thian Giok menanti dengan senjata di tangan. Ia merasa serba salah, ia berada di lingkungan fihak lawan dan karena laporannya tadi benar benar tidak ada buktinya maka ia merasa dipermainkan dan dihina. Kini ia melihat ada orang hendak mempermainkannya dan memandang rendah tentu saja ia bersedia untuk berkelahi mati matian! Setelah mendapat persetujuan Pat jiu Giam ong, Biauw Kai lalu mengeluarkan senjatanya yakni sepasang kaitan berbentuk cakar dan yang disebut Him jiauw kauw ( Kaitan Cakar Beruang). Dengan sikapnya yang angkuh, ia lalu bertindak maju menghadapi Thian Giok yang telah mempersiapkan Pek giok joan pian di tangannya. Sementara itu, fajar telah mulai menyingsing dan cuaca tidak begitu gelap lagi. Orang muda, kata Biauw Kai dengan senyum menyeringai pada wajahnya yang sudah keriput dan berkuit hitam, agar kau tidak menjadi penasaran oleh siapa kau dikalahkan, baik kuterangkan bahwa kau berhadapan dengan orang ke tujuh gari Koai kauw jit him Nah, kau bersiaplah orang muda. Setelah berkata, Biauw Kai lalu menyerang dengan siang kauw (sepasang kaitan) di tangannya itu. Gerakannya cepat dan mantap dan serangan sepasang Him jiauw kauw itu merupakan serangan menggunting dari kanan kiri, Thian Giok memang sudah bersiap dan melihat cara serangan ini, ia maklum bahwa lawannya memiliki kepandaian yang

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

tinggi, maka ia berlaku hati hati dan cepat Pek giok joan pian di tangannya digerakkan bagaikan ulat menyambar ke kanan kiri dan terdengar bunyi keras ketika joan pian nya berhasil menangkis sepasang kaitan lawan. Dalam benturan senjata ini, baik Thian Giok yang muda maupun Bauw Kai yang tua maklum bahwa tenaga lawan masing masing benar benar besar dan berimbang dengan tenaga sendiri. Hal ini mengejutkan Biauw Kai karena sama sekali tak pernah disangkanya bahwa seorang yang masih demikian muda telah memiliki tenaga lweekang yang hebat. Sebaliknya, diam diam Thian Giok mengeluh karena buru orang ke tujuh dan Koai kauw jit him yang terkenal itu sudah begini tangguh, apalagi orang ke enam. Sungguh fihak lawan telah mengumpulkan orang orang yang tangguh. Biauw Kai melanjut kau serangannya dan kini sepasang kaitannya tidak digerakkan dengan maksud beraksi lagi, melainkan menyerangnya dengan sungguh sungguh. Namun benar benar kecele kalau tadinya hendak menyombongkan kepandaiannya. Tadi ia telah bersumbar untuk merampas joan pian pemuda ini yang terbuat daripada batu giok disambung sambung dengan kawat baja seperti rantai. Kini ternyata bahwa jangankan merampas joan pian itu, bahkan mendesak sajapun ia tak dapat! Thian Giok bertempur dengan mati matian karena pemuda ini maklum bahwa apabila ia kalah dalam pertempuran ini pasti ia akan menjadi bahan ejekan dan hinaan. Pada saat itu, menyambar angin besar dari selatan dan terdengar suara gelak tertawa. Karena angin itu menyambar ke arah mereka yang sedang bertempur dan suara ketawa itu menyakitkan telinga tanpa terasa lagi Thian Giok dan Biauw Kai melompat mundur, menahan senjata masing

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

masing dan memandang ke selatan. Begitu pun semua orang yang berada di situ, kecuali Pat jiu Giam ong. Tiba tiba muncullah seorang hwesio tinggi gemuk dan berkulit hitam, lengan dan dadanya yang terbuka itu penuh bulu, ia benar benar merupakan seorang manusia raksasa yang menakutkan. Kepalanya yang gundul ditutup dengan sebuah topi segi empat berwarna hitam, jubahnya yang lebar itupun berwarna hitam sama sekali kecuali pinggirnya yang direnda dengan benang emas. Tangan kirinya memegang sebuah hudtim (kebutan) dan tangan kanannya menegang sebatang tongkat yang sama tingginya dengan dia sendiri, sebatang tongkat yang berwarna kuning seperti emas dan kepalanya diukir seperti kepala naga. Inilah dia tokoh besar yang menggemparkan di daerah Tibet yang berjuluk Sam thouw hud atau Sang Buddha Kepala Tiga! Kebutan di tangan kirinya itu bukan sembarang kebutan, melainkan sebuah senjata yang amat lihai. Sedangkan tongkat di tangan kanannya disebut Kim liong pang (Tongkat Naga Emas), sesungguhnya terbuat daripada baja yang berat sekati dan berlapiskan emas di luarnya. Sam thouw hud ini asalnya adalah seorang pedalaman Tiongkok yang semenjak muda pergi ke Tibet karena di negaranya sendiri ia telah mempunyai banyak sekali musuh karena kejahatannya. Kemudian karena kepandaiannya yang tinggi, ia membuat nama besar di Tibet dan seperti juga di pedalaman, di Tibet orang ini membuat gara gara pula. Ia ingin berkuasa, akan tetapi para pendeta di Tibet yang pandai melihat orang tidak sudi menariknya. Oleh karena ini, ia menjadi sakit hati dan ia lalu membentuk sebuah aliran Agama Buddha sendiri, yakni Aliran Jubah Hitam! Memang amat berani Sam thouw hud ini. Tidak saja ia mengadakan aliran atau perkumpulan agama yang baru dan berjubah hitam, juga ia sendiri lalu mengepalai

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

aliran ini dan memakai gelaran Sam thouw hud, semacam gelar yang benar benar kurang ajar! Akan tetapi oleh karena ilmu kepandaiannya yang tinggi, tak seorangpun berani menghalanginya. Anak anak buahnya adalah pendeta pendeta yang sudah diasingkan karena melakukan pelanggaran agama. Yang lebih hebat lagi, di dalam perantauannya di Tibet, Sam thouw hud ini menemukan sebuah kitab pelajaran silat kuno dan setelah ia mempelajari kitab ini dengan seksama dan tekun, ilmu kepandaiannya meningkat amat luar biasa dan beberapa belas tahun kemudian ia telah menjagoi di seluruh Tibet dan kekuasaannya serta pengaruhnya menjadi makin besar! Hidupnya sebagai raja saja, dikelilingi oleh puluhan orang selirnya, yakni gadis gadis Tibet yang dimintanya begitu saja dari orang orang tua mereka dan juga beberapa orang gadis Han yang diculik oleh anak buahnya! Dan sini saja dapat dinilai macam apakah orang yang bergelar Sam thouw hud ini. Kini Sam thouw hud berdiri sambil menyeringai, memandang kepada Biauw kai yang memegang sepasang kaitannya dan memandang tajam kepada hwesio aneh ini, karena sesungguhnya Koat kauw jit him belum pernah melihat hwesio tinggi besar seperti raksasa ini. Ha, ha, ha, kalian yang aneh. Bukankah kau seorang di antara Koai kauw jit him dari Mongol ? Akan tetapi mengapa tak dapat mengalahkan seorang muda yang halus dan cakap ini ? Ha, ha, ha ! Nama besar Koai kauw jit him ternyata hanya kosong belaka. Sepantasnya julukan biruang itu di ganti kambing saja. Bukan main marahnya Biauw Kai mendengar ejekan ini. Juga enam orang saudaranya menjadi marah. Mereka maju dan sebentar saja Sam thouw hud terkurung, di tengah tengah. Hwesio ini masih saja tersenyum dan kini melihat

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

dirinya dikurung oleh tujuh orang yang mengambil kedudukan seperti tujuh bintang, ia tertawa lagi dengan nyaringnya. Hwesio, kau siapakah berani menghina Koai kauw jit him? bentak Biauw Ta, orang yang tertua di antara tujuh biruang itu. Sungguh lucu, orang orang macam inikah yang dipanggil oleh Lo mo untuk membantunya? Melihat aku saja tidak kenal ! Kemudian ia menengok kepada Pat jiu Giam ong yang juga tinggi besar seperti dia dan yang semenjak tadi memandang kepadanya dengan mata bersinar garang. Eh, Giam ong, apa kau juga tidak dapat menduga siapa aku? Sam thouw hud, matamu awas sekali. Biarpun kita belum pernah bertemu muka, sekali pandang saja kau sudah mengenalku. Akan tetapi sebaliknya, jangan dikira bahwa aku pasti tidak dapat menduga apa adanya kau! Pat jiu Giam ong kini tertawa girang sekali hatinya melihat kedatngan hwesio raksasa yang tadiny disusul dan dipanggil oleh Lam hai Lo mo ini. Di mana perginya suheng? Setan tua itu mengambil lain jalan karena ia mencela padaku dan tidak mau jalan bersama, katanya bau keringatku memabukkan! Setan tua itu, tidak ingat bahwa sesungguhnya badan dan keringatnya sendiri yang berbau tengik. Ha, ha, ha! Sam thouw hud lalu kembali menghadapi tujuh orang yang masih mengurungnya. Nah, tujuh ekor kambing ini sekarang apakah masih belum mengenalku? Betapapun juga, Koai kauw jit him adalah tokoh tokoh kang ouw yang ternama dan menduduki tempat tinggi. Kini demikian dipandang rendah dan tidak dihargai tentu saja

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

mereka merasa tidak puas dan marah sekali. Mereka sudah pernah mendengar nama Sam thouw hud sebagai tokoh terbesar di Tibet akan tetapi jangankan baru Sam thouw hud, biarpun Pat jiu Giam ong dan Lam hai Lo mo sendiri tidak berani memandang rendah kepada mereka seperti yang dilakukan oleh Sam thouw hud ini. Biauw Ta mengerti bahwa mereka tidak boleh memperlihatkan sikap permusuhan dengan hwesio tinggi besar ini, akan tetapi setidaknya ia ingin sekali mencoba sampai di mana kepandaian Sam thouw hud, maka berani berlagak seperti itu dihadapan dia dan saudara saudaranya, ia lalu menjura kepada hwesio itu dan berkata mengejek. Ah, tidak tahunya Sam thouw hud yang bernama besar dan berkedudukan tinggi. Sudah lama sekali kami mendengar nama besar darimu. Memang betul, nama besar kami Koai kauw jit him adalah nama kosong belaka. Hanya kami bertujuh benar benar ingin sekali menyaksikan apakah nama besar Sam taouw hud betul betul berisi. Diam diam Thian Giok yang masih berdiri di sita memandang dengan hati berdebar girang, ia ingin sekali melihat sampai di mana kehebatan kepandaian Koai kauw jit him yang terkenal itu. Ia tadi sudah merasakan kelihaian orang termuda dari tujuh biruang ini dan kalau kini ketujuh orang itu maju bersama, tentu akan hebat sekali. Akan tetapi, hwesio raksasa inipun agaknya tidak lemah. Kalau mereka bertempur, sedikitnya ia akan dapat menceritakan keadaan dan kekuatan lawan kepada suhunya kelak. Sementara itu, ketika Sam thouw hud mendengar ucapan Biauw Ta, lenyaplah senyumnya, ia sudah biasa disanjung sanjung dan dihormati. Kalau yang bicara kasar kepadanya Lam hai Lo mo atau Pat jiu Giam ong yang ia anggap mempunyai tingkat kepandaianyang sejajar dengan dia, itu masih tidak apa. Akan tetapi tujuh ekor cacing cauk yang

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

masih plonco ini? Ia melirik kepada Pat jiu Giam ong yang mengerti suara hati pendata jubah hitam ini, maka Pat jiu giam ong berkata singkat, Mereka belum mengenalmu, Sam Thouw hud ! Ucapan ini merupakan pernyataan maaf dari Pat jiu Giam ong untuk tujuh orang itu, maka Sam thouw hud tersenyum lagi. Ia bertanya kepda Biauw Ta. Apakah kau berhak mewakili semua orang ini? Aku bernama Siauw Ta dan menjadi saudara tertua dari Koai kauw jit him, tentu saja aku berhak, kata Biauw Ta. Hem, kalau begitu kalian bertujuh cobalah kepandaianku. Majulah berbareng dan seranglah aku dengan kaitan kaitan yang bengkok itu! Biauw Ta tidak bermaksud buruk dan memang hanya ingin mencoba kepandaian hwesio yang terkenal ini, maka ia lalu berseru keras memberi tanda kepada adik adiknya, lalu tujuh orang itu dengan berbareng melayangkan siang kauw (kaitan berpasang) menyerang hwesio itu. Sam thouw hud membentak nyaring dan tiba tiba tongkat naganya berkelebat merupakan sinar keemasan yang bundar dan lebar sekali, yang berputar di sekelilingnya bagaikan halilintar menyambar. Terdengar suara nyaring sekali berkali kali ketika tongkat ini dengan tenaga yang amat luar biasa menangkis semua kaitan yang jumlahnya empat belas batang itu. Suara nyaring ini disusul oleh seruan seruan terkejut dari Koai kaow jit him yang cepat melompat mundur sambil memeriksa senjata masing masing. Tenyata bahwa sekali tangkis saja, senjata mereka telah rusak. Ada yang bengkok, ada pula yang ujungnya patah dan mereka semua tadi merasa betapa telapak tangan mereka sakti, pedas dan panas. Bahkan telapak tangan kiri Biauw Kai berdarah karena kulitnya lecet lecet.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Bukan main kagetnya tujuh orang itu. Mereka maklum bahwa hwesio itu benar benar luar biasa lihainya, maka Biauw Ta lalu menjura dengan hormat, Ah, tidak tahunya kepandaian Sam thouw hud jauh lebih tinggi dan tenaganya lebih besar daripada namanya. Kami menyatakan hormat dan takluk. Benar benar menggembirakan dapat bekerja sama dengan seorang yang lihai seperti kau. Sam thouw hud tertawa girang. Pujian dan sanjungan merupakan makanan bagi Sam thouw hud, maka mendengar ucapan Biauw Ta ini,ifa menjadi puas dan berbalik hendak memperlihatkan jasa dan pembelaannya. Mana pemuda yang tidak dapat dikalahkan oleh adikmu tadi? ia menengok kepada Thian Giok, kemudian dengan langkah lebar ia menghampiri pemuda itu. Biar aku menangkapnya untukmu. Thian Giok terkejut sekali. Kepandaian hwesio raksasa ini benar benar hebat, tujuh orang Koai kauw jit him saja dengan sekali tangkis dapat dikalahkan, apalagi dia. Akan tetapi pemuda ini tidak menjadi gentar, bahkan lalu bersiap dengan pek giok joan pian di tangannya, bersedia untuk bertempur mati matian. Sam thouw hud, jangan mengganggu dia. Dia adalah murid Mo bin Sin kun! Pat jiu Giam ong mencegah. Sam thouw hud menahan langkahnya dan ia berpaling memandang kepada Pat jiu Giam ong dengan mata heran. Murid Mo bin Sin kun? Mengapa ia datang ke sini? Ia melaporkan kepadaku bahwa murid suheng ini dan puteraku telah menawan murid perempuan dari Mo bin Sin kun dan bekas murid perempuanku sendiri yang murtad. Akan tetapi ketika kami datang ke sini, kedua orang gadis itu telah lenyap.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Ha, ha, ha! sepasang mata Sam thouw hud bersinar gembira. Kalian menangkap dua orang gadis cantik? Apakah mereka cantik jelita dan di manakah mereka? Menyaksikan kehebatan kepandaiaa hwesio ini dan mendengar ucapannya, timbul watak yang aneh dari Kui To, maka tanpa disadarinya ia menjawab gembira, Mereka cantik cantik sekali. Akan retapj sayang telah terlepas lagi. Burung burung itu telah terbang entah kemana! Baru saja ia mengucapkan kata kata ini, berobahlah wajah Kui To karena ia teringat bahwa ia telah membuka rahasia yang tadi disangkalnya. Kui To! Pat jiu Giam ong membentak. Jadi betul betul kalian telah menawan mereka? Kau jangan main main! Di mana mereka sekarang? Terpaksa Kui To tak dapat menyangkal lagi. Dengan muka merah ia lalu berkata, Sesungguhnya, susiok. Aku dan Liem sute tadi bertemu dengan dua orang gadis itu dan bertempur. Kami menang dan berhasil menawan mereka yang kami bawa ke sini....sama sekali bukan dengan maksud buruk. Akan tetapi, baru saja, entah bagaimana, mereka telah lenyap tak berbekas. Awas kalian! Lain kali jangan bertindak sembarangan! Tidak boleh kalian mengganggu mereka karena itu hanya merendahkan nama kita saja. Kemudian Jenderal ini berpaling kepada Thian Giok dan berkata kaku, Pergilah kau! Akan tetapi tentu saja Thian Giok merasa kurang puas. Benarkah mereka telah melarikan diri dan tidak disembunyikan oleh setan cilik ini? Bangsat, jangan kau sembarangan memaki orang! bentak Kui To marah. Aku tidak biasa membohong.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Hm, bagus. Tidak biasa membohong, ya? Siapa yang baru saja menyangkal tidak menawan adikku dan nona itu? Thian Giok menyindir, sehingga muka Kui To berobah merah. Pat jiu Giam ong merasa ikut malu. Sudahlah, kau pergi saja. Aku yang menanggung bahwa dua orang gadis itu tidak akan mendapat gangguan dari kami! Thian Giok merasa puas. Di antara semua orang ini, hanya kepada Pat jiu Giam ong saja ia menaruh kepercayaan. Dari sikap jenderal ini ia tahu bahwa Pat jiu Giam ong adalah seorang yang angkuh dan menjaga tinggi nama besarnya. Maka ia lalu melompat dan hendak pergi dari situ. Aduh, sayang. Sam thouw hud berkata menyesal. Sayang kedatanganku terlambat, sehingga ada dua ekor burung indah terlepas begitu saja. Aku juga heran sekali mengapa Pat jiu Giam ong agaknya segan untuk mengganggu murid Mo bin Sin kun! Merahlah wajah Pat jiu Giam ong mendengar sindiran ini. Siapa yang segan? Aku hanya tidak ingin melihat namaku dirusak oleh anak anak ini dan aku tidak mau menyerang seorang tamu di rumah sendiri. Bagus, Liem goantwe benar benar bisa menjaga nama! Akan tetapi dia bukan tamuku. Hai anak muda murid Mo bin Sin kun! Kau bawalah ini kepada gurumu sebagai tanda penantang dari Sam thouw hud! Sambil berkata demikian, hwesio raksasa itu meacabut sehelai bulu kebutannya dan melontarkannya ke arah Thian Giok yang sudah pergi. Perlu diketahui bahwa bulu kebutan itu bukanlah bulu biasa, melainkan bulu benang tembaga. Dengan sambitan

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

yang dilakukan dengan tenaga lweekang yang sudah amat tinggi tingkatnya ini, bulu yang panjangnya satu kaki ini meluncur bagaikan anak panah ke arah leher Thian Giok. Senjata rahasia macam ini luar biasa berbahayanya, karena tidak menerbitkan suara sedikitpun. Thian Giok telah berjalan agak jauh, akan tetapi mendengar kata kata ini, ia maklum bahwa dirinya tentu diserang. Ketika ia membalikkan tubuhnya, ia hanya melihat sinar kemerahan berkelebat ke arahnya. Ia terkejut sekali dan berusaha mengelak, akan tetapi kurang cepat, sehingga tiba tiba ia merasa pundaknya sakit dan karena yang terkena tusukan itu adalah jalan darahnya, maka ia terhuyung huyung dan tak ingat diri! Pada saat itu, berkelebat bayangan yang cepat sampai tak terlihat oleh pandangan mata. Bayangan ini menyambar tubuh Thian Giok dan dibawa pergi bagaikan terbang cepatnya. Liem goanswe dan Sam thouw hud saja yang dapat melihat bayangan itu dan kedua orang ini saling pandang dengan penuh keheranan. Gerakan bayangan itu begitu cepat, sehingga biarpun mereka memiliki pandangan mata yang luar biasa, tetap saja mereka tidak dapat melihat wajah dan potongan badan orang itu dengan tegas, Adapun Kui To, Liem Swee dan tujuh Koai kauw jit him sama sekali tidak melihatnya dan hanya mengira bahwa sambitan itu tidak mengenai sasaran dan pemuda yang lari itu dapat melanjutkan larinya. Maka Kui To mengeluarkan suara di hidung untuk mengejek Sam thouw hud. Swee ji dan kau Kui To. Mulai sekarang sebelum datang saatnya mengadu kepandaian dengan fihak mereka, aku melarang kalian mencari gara gara lagi. Setelah berkata demikian, mereka semua lalu kembali ke rumah gedung Liem goanswe dan di situ mereka melihat

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Lam hai Lo mo Seng jin Siansu tengah makan minum di ruang depan ditemani oleh Bucuci. Mari kita melihat dulu keadaan Sian Hwa dan Lan Giok yang telah lenyap dan kamar tahanan di rumah Liem Swee, Sebetulnya apakah yang telah terjadi atas diri kedua orang nona cantik ini? Ketika Liem Swee dan Kui To sedang memburu keluar dari rumah dan mengejar serta mencari orang yang berani mengintai dari atas genteng, yakni Thian Giok yang sudah melarikan diri menuju ke rumah pat jiu Giam ong, pada saat kedua orang pemuda itu keluar, dari belakang rumah itu melompat bayangan yang amat gesit. Bagaikan sebuah bayangan setan saja tahu tahu ia telah berhadapan dengan kakek penjaga rumah dan sekali ia mengulurkan tangan, kakek itu tertotok roboh dan pingsan. Bayangan itu lalu memasuki kamar. Karena ia tahu bahwa dua orang pemuda itu takkan pergi lama, maka cepat ia masuk ke dalam kamar setelah lebih dulu meniup padam api lilin dalam kamar itu dari luar pintu. Di dalam gelap, Sian Hwa dan Lan Giok hanya merasa betapa tubuh mereka diangkat orang dan dibawa keluar. Kedua orang gadis ini merasa terkejut sekali karena mengira bahwa mereka tentu dibawa oleh Liem Swee dan Kui To yang hendak berbuat tak senonoh, maka diam diam mereka mengerahkan tenaga untuk memberontak dan menyerang pada saat yang memungkinkan mereka begerak. Akan tetapi, di dalam kempitan ini, mereka tidak berdaya sama sekali. Alangkah heran mereka ketika berada di luar rumah, melihat bahwa mereka dibawa dalam kempitan lengan kanan kiri dari seorang saja. Mereka tidak sempat melihat wajah orang ini, karena mereka merasa dibawa melompat ke atas dan dibawa berlari cepat sekali bagaikan terbang.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Sian Hwa dan Lan Giok tidak tahu siapakah orangnya yang telah membawa lari mereka dari dalam rumah itu. Siapakah kau? Lepaskan aku dan buka ikatanku kalau tidak, awas kau! berkali kali Lan Giok membentaknya, tetapi orang yang mengempitnya itu hanya mengeluarkan suara ketawa ditahan seakan akan merasa geli melihat dan mendengar lagak nona galak ini. Inkong (tuau penolong), lebih baik kau lepaskan kami, sehingga kami dapat berlari sendiri tidak menyusahkan pula kepadamu! kata Sian Hwa dengan suara halus. Mendengar suara gadis ini, berdebarlah hati orang itu. Hal ini dapat terasa oleh Sian Hwa karena kebetulan sekali gadis ini dikempit di lengan kiri, sehingga dada gadis ini merapat dengan dada sebelah, kiri dari orang itu. Sian Hwa merasa betapa dada orang itu berdenyut denyut keras dan tiba tiba ia merasa jari jari tangan yang berada di dekat dengan lehernya itu membelai belai rambutnya. Akan tetapi orang itu berlari terus tanpa menjawab, ia terus melarikan diri keluar dari kota raja dan tembok kota raja yang demikian tingginya itu dilompatinya begitu saja. Hal ini diam diam mengejutkan hati Sian Hwa dan Lan Giok. Melompati dinding tembok kota raja sambil mengempit dua orang, bukanlah pekerjaan yang mudah. Hanya orang yang sudah sempurna ginkangnya saja yang akan dapat melakukan hal ini. Orang itu berlari terus dan setelah masuk ke dalam sebuah hutan yang amat gelap, sehingga mereka tak dapat saling memandang muka, orang itu lalu menurunkan Sian Hwa dan Lan Giok. Sekali saja ia merenggutkan kedua tanganya, ikatan tangan Sian Hwa dan Lan Giok putus terlepas. Ke dua orang gadis itu cepat cepat menggunakan kedua tangan untuk melepaskan ikatan kaki mereka. Akan

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

tetapi ketika mereka memandang ke depan, ternyata penolong mereka itu telah lenyap. Aneh sekali, siapakah dia itu, enci Sian Hwa? Manusia atau setankah? Sst, adik Lan Giok, bagaimanakah kau ini? Ditolong orang, tidak berterima kasih malahan memakinya setan! Habis, bagaimana aku harus berterima kasih kepadanya? Dia sudah menghilang seperti se.. ia menahan kata kata makian ini lagi dan kedua orang gadis itu sampai lama membicarakan keadaan penolong mereka yang aneh itu. Dia kuat sekali, enci Sian Hwa. Tahukah kau bahwa di jalan tadi, kebetulan jari tanganku berada di dekat lambungnya? Karena ia tidak mau melepaskan aku, maka aku tadi lalu menggunakan gerakan pergelangan tangan dan menotok lambungnya agar ia mau melepaskan aku. Sian Hwa terkejut sekali. Ah, kau terlalu betul, adik Lan Giok. Bagaimana kau bisa menyerang orang yang menolong kita? kata Sian Hwa dengan suara marah. Habis dia mengempitku dengan mukaku di bawah. Dengan kepala tergantung macam itu aku menjadi pening, Ketika aku menggerak gerakkan kepala dan hendak memakinya, ia telah menekan mukaku pada dadanya, sehingga aku sukar bernapas. Mau tidak mau Sian Hwa tertawa juga dengan hati geli mendengar keterangan Lan Giok. Setelah kau totok, lalu dia bagaimana? tanyanya ingin tahu. Itulah, dia agaknya ahli dalam ilmu menutup jalan darah, ia tidak apa apa, hanya kelihatan geli saja dan tertawa tawa ditahan. Sungguh kurang ajar!

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Eh, eh, kau marah lagi! Bagaimanakah kau ini? Biarpun dia sudah menolong kita, akan tetapi dia berlaku seperti orang setan penuh rahasia. Enci Sian Hwa, terus terang saja aku tidak puas dan penasaran sekail. Ingin aku melihat wajahnya dan ingin aku mengetahui siapakah sebetulnya orang itu. Sudahlah, dia sudah pergi, mengapa ribut ribut? Kepandaiannya amat tinggi dari kalau dia sengaja tidak mau memperlihatkan muka kepada kita, apakah daya kita? Betapapun juga, hatiku selamanya takkan dapat melupakan orang ini, karena kalau tidak ada dia, ah.... bagaimanakah jadinya dengan nasib kita? Diingatkan akan bahaya itu, Lan Giok bergidik dengan hati ngeri. Sekarang bagaimana baiknya, enci Sian Hwa? Aku belum bertemu dengan engko Thian Giok dan tak mungkin aku meninggalkan dia seorang diri di kota raja. Adikku yang baik. Kurasa tidak sembarangan saja penolong kita itu melepaskan kita di tempat ini. Lebih baik kita menunggu saja di sini siapa tahu kalau kalau ia akan kembali. Dan selain itu, akan berbahayalah kalau kita keluar dari hutan ini, karena tentu dua orang penjahat itu takkan tinggal diam saja dan akan mencari cari kita. Aku tidak takut! Kata Lan Giok gemas. Kalau mereka mengejar, akun kuhajar mereka dan kubalas sakit hati ini! Dengan mata bernyala dan gemas sekali Lan Giok mengepal ngepal tinjunya. Sabar, Lan Giok. Kita harus berlaku cerdik dan jangan menurutkan nafsu hati marah saja. Memang tidak ada alasan bagimu untuk takut menghadapi mereka, karena kepandaianmu setingkat dengan kepandaian mereka. Akan tetapi tidak demikian dengan aku. Aku sendiri juga tidak takut karena apakah arti mati bagi seorang bodoh dan sial

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

seperti aku? Hanya kalau saja kita harus melawan meraka lagi, belum apa apa aku tentu sudah kalah dan kemudian kau dikeroyok lagi yang amat kurang menguntungkan bagimu. Pula, senjata kita sudah tidak ada di tangan. Baiklah kita bersabar dan menanti di sini sampai keadaan menjadi aman, adikku. Diam diam Lan Giok merasa terharu mendengar ucapan Sian Hwa yang merendahkan diri ini dan juga ia harus membenarkan pendapatnya, ia merangkul Sian Hwa dan berkata. Sebetulnya kau jangan merendahkan diri seperti itu, enci. Kepandaianmu sudah cukup tinggi. Kalau kau kalah menghadapi bekas suhengmu, bukanlah hal yang aneh dan bukan pula salahmu. Karena tiga tahun kau tidak melanjutkan palajaranmu, sedangkan bekas suhengmu itu terus menerus digembleng oleh ayahnya. Baiklah, kita menanti di sini, sambil beristirahat. Menjelang pagi, Lan Giok yang gembira wataknya itu telah dapat menangkap seekor kelinci. Mereka lalu makan daging kelinci panggang yang terasa amat sedap, hanya sayang kurang asin karena di situ tidak ada garam. Mereka menanti terus sampai matahari naik dan sinarnya menembusi daun daun pohon. Tiba tiba terdengar kokok ayam hutan yang nyaring sekali. Itu suara engko Thian Giok! Tiba tiba Lan Giok berkata girang. Gadis inipun lalu mengeluarkan suara ayam jantan untuk menjawab suara tadi, lalu mengajak Sian Hwa menuju ke arah suara itu. Tak lama kemudian, benar saja mereka bertemu dengan Thian Giok di tengah hutan. Tentu saja Lan Giok dan Thian Giok menjadi girang. Ketika Thian Giok melihat Sian Hwa, pemuda ini agak terheran mengapa gadis ini kini dapat bersama dan nampaknya menjadi sahabat baik adiknya. Akan tetapi ia hanya memberi hormat kepada Sian Hwa dan tak berani bertanya.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Engko Thian Giok, bagaimana kau bisa tahu bahwa kami berada di sini? Ah, kau tidak tahu betapa aku hampir saja mengalami bencana hebat dalam tangan setan kecil murid Lam hai Lo mo itu. Thian Giok tersenyum, Lan moi, kaukira aku tidak tahu? Aku tahu bahwa kau telah tertawan bersama nona ini dan bahwa kalian dimasukkan dalam kamar rumah Liem Swee. Terbelalak mata Lan Giok yang bagus itu memandang kakaknya, lalu ia menarik kakaknya itu duduk di atas batu di bawah sebatang pohon. Ayoh kau lekas ceritakan! Ia menuntut. Thian Giok lalu menceritakan pengalamannya dengan singkat sebagaimana telah kita ketahui semua. Kemudian ia menceritakan bahwa ketika ia roboh pingsan dan tidak tahu apa yang terjadi selanjutnya, tahu tahu ketika ia siuman, ia telah berada di tengah hutan ini. Luka pada pundaknya karena serangan bulu tembaga itu telah diobati orang dan penolong itu menghilang tanpa memberi kesempatan padanya untuk mengetahui siapa orang nya. Ketika ia siuman, ia telah terbaring di bawah pohon dan di dekatnya terdapat bulu yang melukainya itu, juga corat coret pada tanah yang menyatakan bahwa Lan Giok juga berada di hutan ini. Oleh karena itu, maka ia lalu memberi tanda pekik ayam hutan yang dijawab oleh Lan Giok. Lan Giok dan Sian Hwa saling memandang. Ah, tentu dia yang telah menolongmu! kata Lan Giok. Tak salah lagi, setan siluman itulah yang telah menolong kita semua! Lan Giok, apa maksudmu? Setan siluman yang mana? tanya Thian Giok heran. Sedangkan Sian Hwa kembali memandang penuh teguran kepada Lan Giok yang menyebut tuan penolong itu setan siluman!

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Enci Sian Hwa agaknya telah jatuh hati kepada penolong kita! kata Thian Giok menggoda. Hush, kau ini ada ada saja, Lan Giok. Jangan kau mempermainkan orang yang telah besusah payah menolong kita. Kau benar benar tak tahu terima kasih! tegur Sian Hwa. Kembali Lan Giok tertawa. Hati hati enci, jangan kau terlalu mudah jatuh hati, kita semua, juga engko Thian Giok belum melihat mukanya. Siapa tahu kalau dia seorang kakek kakek tua Bangka. Biarpun seorang kakek kakek, tetap saja dia penolong kita yang harus kita hormati ! jawab Sian Hwa. Benar kata nona Sian Hwa, Thian Giok berkata. Kau memang nakal dan lancang Lan moi. Nah, nah, nah! Sekarang engko Thian Giok membela enci Sian Hwa lagi. Wah, jangan jangan aku dikeroyok tiga dengan penolong aneh itu nanti! Sudahlah, kau lekas ceritakan pengalamanmu, engkonya menuntut. Lan Giok lalu menceritakan pengalamannya yang didengarkan oleh Thian Giok dengan hati tertarik. Benar benar lihai orang itu, akhirnya ia berkata setelah adiknya selesai bercerita. Baiknya Pat jiu Giam ong masih mempinyai sifat jantan, sehingga ia melarang putera dan keponakannya untuk mengganggu kita lagi. Kita sekarang boleh keluar dari hutan dan marilah kita kembali kepada guru kita untuk memberi laporan. Fihak lawan benar benar memiliki banyak sekali orang pandai. Apalagi Sam thouw hud itu benar benar merupakan, lawan berat. Mendengar penuturan Thian Giok bahwa Pat jiu Giam ong tidak membolehkan puteranya untuk mengganggunya,

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

diam diam Sian Hwa menjadi lega. Ia tidak dapat ikut dengan Lan Giok kini. Setelah diketahuinya bahwa Lan Giok telah bertunangan dengan Bun Sam, ia tidak boleh bersama sama gadis ini. Bagaimana kalau Lan Giok bertamu dengan Bun Sam? Ah, aku tidak boleh bertemu dengan pemuda itu, selama hidupku tidak boleh aku bertemu muka dengan Bun Sam! Demikian pikirnya dengan hati hancur. Kalau bukan Lan Giok yang menjadi tunangan Bun Sam, tetapi ia akan membenci Lan Giok dan tidak mau mengalah. Akan tetapi terhadap gadis ini ia harus mengalah. Lan Giok lebih pantas menjadi isteri Bun Sam. Enci Sian Hwa, marilah kau ikut dengan kami. Kita berangkat sekarang juga, ajak Lan Giok. Tidak, adikku yang manis. Kau dan kakakmu pulanglah, aku telah mengambil keputusan untuk tidak meninggalkan kuil San pok thian! Eh, eh, apa apaan lagi ini? Tadinya kau minta kepadaku supaya mengajakmu bersama. Sekarang tiba tiba kau tidak jadi ikut. Apakah kau malu malu karena ada engko Thian Giok bersama kita? Lan Giok memandang dengan mata terbelalak. Tidak, tidak! Sian Hwa cepat menjawab Sama sekali tidak begitu. Mengapa aku harus malu malu? Bukan demikian, hanya aku merasa berat untuk meninggalkan kuil di mana telah dua tahun aku bertempat tinggal di situ, mungkin.... Sampai di lini ia menghela napas panjang, mungkin sekali aku akan masuk menjadi nikouw tulen. Kau....? Menjadi nikouw........? Lan Giok terharu karena ia maklum bahwa hati dara yang cantik ini temu terganggu hebat oleh penderitaan hidup, sehingga ia memutuskan untuk menjadi nikouw.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Setelah dibujuk bujuk tetap tidak mau, terpaksa Lan Giok dan kakaknya pergi, setelah Lan Giok memeluk Sian Hwa dengan mesra. Enci, kau baik sekali. Aku senang sekali menjadi sahabatmu, kata Lan Giok. Basah mata Sian Hwa menghadapi perpisahan ini. Bagaimana. ia boleh bersaing dengan gadis yang baik hati ini dalam menghadapi Bun Sam? Adik Lan Giok, kita bukan sebagai sahabat, melainkan sebagai saudara! Kau adalah adikku yang berhati mulia. Semoga berbahagia hidupmu. katanya setengah berdoa. Maka berpisahlah mereka di tempat itu. Lan Giok bersama kakaknya kembali menuju ke Sian hwa san dan Sian Hwa kembali ke kuilnya di mana ia disambut oleh para nikouw dengan gembira sekali setelah mendengar bahwa gadis itu menunda kepergiannya. Sian Hwa langsung memasuki kamarnya lalu membanting tubuhnya di atas pembaringan dan tak dapat ditahan lagi ia lalu menangis tersedu sedu. Alangkah buruk nasibnya. Setelah dipaksa paksa menikah dengan Liem Swee, sehingga ia mengalami penderitaan di dalam kuil ini, setelah ia terpaksa berpisah dari Bun Sam pemuda yang dicintainya karena memang tiada harapan baginya untuk berdekatan dengan pemuda itu, kemudian setelah ia bebas daripada ikatan jodohnya dengan Liem Swee timbul kembali pengharapannya untuk bertemu dengan Bun Sam, kini ia mendengar bahwa Bun Sam telah bertunangan dengan Lan Giok. Ia hidup sebatangkara, sengsara pula, kepada siapakah ia dapat menangis dan minta hiburan? Tidak ada lain jalan yang lebih baik baginya selalu masuk menjadi seorang nikouw! Masuk menjadi seorang pendeta wanita yang selama hidupnya tidak menikah, yang mematikan semua hubungan batin dengan dunia luar, yang mengorbankan

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

seluruh kehidupannya semata mata untuk membersihkan batin dan memuja kebesaran Thian. Ayah.... teringat akan ayahnya, ia menjadi terharu dan timbul keinginan hatinya untuk mengunjungi makam ayahnya. Ia hendak bersembahyang dan mohon berkah serta pangestu ayahnya, minta agar roh ayahnya memperkuat batinnya. Siapa lagi selain gundukan tanah makam ayahnya yang dapat disambati yang dapat diratapi? Ia segera berpamitan lagi kepada para nikouw untuk mengunjungi makam ayahnya. Sebelum pergi, ia menghadap nikouw kepala yakni pendeta wanita tertua yang diangkat menjadi kepala dalam kuil itu setelah nikouw kepala yang dulu meninggal dunia. Sian Hwa, mengapa kau nampak berduka saja? Apakah yang mengganggu hatimu? tanya nikouw tua ini yang sudah menganggap Sian Hwa sebagai murid sendiri. Suthai, aku....... aku ingin masuk menjadi nikouw, kata Sian Hwa sambil menahan mengalirnya air matanya. Nikouw tua itu nampak tertegun. Sian Hwa, mengapa begitu? Sudah bulatkah hatimu untuk menjadi nikouw? Ataukah hanya karena kau putus asa belaka? Sudah bulat, suthai. Aku melihat semua jalan hidupku tertutup dan jalan satu satunya yang terbuka lebar hanyalah menjadi seorang nikouw. Nikouw itu tersenyum. Mudah saja kau memilih jalan. Ingat, Sian Hwa. Menjadi seorang nikouw harus timbul dari kesadaran jiwa, timbul dari keyakinan bahwa itulah tugas hidupnya. Hanya kalau kau sudah menganggap bahwa menjadi seorang pertapa itulah kewajiban hidupmu, maka kau dapat menjadi seorang nikouw yang baik. Kalau kau

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

masuk dengan terpaksa, hanya terdorong oleh patah hati ataupun kedukaan maka akhirnya kau akan menyesal. Tidak ada kesenangan kekal. Semua itu hanya perasaan yang bergelombang di dalam hati manusia, seperti gelombang air di samudera, sebentar datang, sebentar pergi. Pinni hanya setuju kalau masuk menjadi nikouw karena kesadaran dan keyakinan yang bulat. Teecu sudah yakin, suthai. Sudah yakin betul betul. Baik teecu buktikan! Setelah berkata demikian, Stan Hwa lalu mengambil sebatang pedang dan dengan pedang itu dipotongnya rambutnya yang panjang dan hitam itu. Kini rambutnya itu hanya sampai sebatas lehernya saja. Kalau saja nikouw tua itu belum memiliki ketenangan jiwa dan kekuatan batin, tentu ia akan menjerit saking merasa sayang dan terkejut, ia hanya menggeleng gelengkan kepala saja. Sian Hwa, kau telah melakukan sesuatu yang bodoh. Rambutmu yang indah itu kaupotong dan kau harus bersabar menanti berbulan bulan sebelum rambutmu menjadi panjang dan bagus kembali. Apa kau kira seorang pertapa suci itu dapat diukur dari kepalanya yang digunduli? Tidak, Sian Hwa. Jubah pendeta dan kepala gundul bukanlah ukuran bagi seorang pertapa. Itu hanya merupakan upacara belaka, merupakan tanda bagi mata lahir, tetapi yang penting adalah apa yang nampak di dalam hatinya. Menurut penglihatan pin ni, kalau tidak salah, kau menderita batin karena seorang pemuda. Bukankah demikian? Sepasang mata nikouw tua itu bagaikan sinar gaib menembus mata Sian Hwa dan terus membaca isi hati gadis itu. Terhadap nikouw ini Sian Hwa merasa tak perlu menyembunyikan sesuatu, bahkan dengan mengadakan pengakuan ia akan merasa mendapat seorang yang ikut

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

membantu memikirkan keadaannya dan menghiburnya. Sambil menundukkan mukanya, ia berkata, Terima kasih atas segala nasehat tadi, suthai. Sesungguhnya tepat dugaan suthai, apa yang harus teecu sembunyikan? Memang sesungguhnya hati teecu yang lemah dan pikiran teecu yang bodoh ini tergoda dan tertarik oleh seorang pemuda. Teecu... jatuh cinta kepada seorang pemuda. Ah, Suthai.... mohon doamu agar supaya Thian mengampuni dosa teecu dan memperkuat batin teecu yang lemah. Nikouw itu tersenyum, Sian Hwa, jatuh cinta bukan merupakan sebuah dosa bagi seorang gadis seperti engkau. Kalau mencintai seorang pemuda, mengapa kau menjadi putus asa dan mengambil keputusan untuk menjadi nikouw? Merah seluruh wajah Sian Hwa, akan tetapi biarpun ia merasa amat jengah dan malu ia menjawab juga. Karena.... karena teecu baru saja mendengar bahwa bahwa dia telah bertunangan dengan seorang gadis yang amat teecu sukai dan sayangi ! Nikouw tua itu mengangguk angguk. Hm, kiranya gadis gagah yang kemarin ini datang ke sini bersamamu? Sian Hwa tertegun. Alangkah cerdiknya pendeta wanita ini, pikirnya, ia mengangguk. Betul, suthai. Dia tidak tahu tentang perasaanku terhadap.... pemuda itu dan tanpa disengaja ia menceritakan bahwa ia telah bertunangan dengan pemuda itu. Teecu tidak dapat mencari jalan lain. Pemuda itu memang lebih pantas menjadi suaminya dan.... teecu yang sebatangkara, bodoh ini teecu hanya memuji semoga mereka berbahagia .... Biarpun berkata demikian, tak dapat ditahan pula air mata Sian Hwa berlinang.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Nikouw itu menarik napas panjang. Pinni harus membenarkan jalan pemikiranmu ini. Cinta yang suci tidak bersifat mementingkan diri sendiri. Memang perasaan cintamu yang tadinya hanya ditujukan kepada seorang pemuda itu, lambat laun dapat berobah sifatnya apabila kau sudah menjadi seorang pertapa. Perasaan cinta yang tadinya hanya tertuju kepada seseorang tertentu itu, apabila sudah sadar dan kuat batinmu, dapat diperhalus dan disempurnakan, sehingga berobat menjadi cinta suci yang seharusnya ada dalam batin seorang manusia, tarhadap sesama yang hidup. Cinta itu kelak akan menjadi luas dan agung akan merata terhadap semua orang, tidak hanya terhadap pemuda itu, akan tetapi terhadap apa saja yang kau jumpai di dunia ini. Kalau kau sudah mencapai tingkat seperti itu, kau akan menemui bahagia sejati. Akan tetapi.... tetap saja pinni tidak berani memastikan apakah kau akan kuat menjalaninya, karena jalan ke arah kesempurnaan itu benar benar berat dan tidak mudah. Akan teecu coba, suthai. Nikouw itu menggeleng gelengkan kepalanya dan menghela napas. Baiklah, kau memang berhati teguh dan keras. Akan tetapi biarlah aku memberimu waktu setahun lamanya sebagai masa percobaan. Sebelum lewat satu tahun, pinni takkan menerimamu sebagai nikouw. Setelah menerima nasehat nasehat ini, Sian Hwa lalu berangkat menuju ke Tong seng kwan, hendak mengunjungi makam ayahnya, ia telah mengganti pakaiannya menjadi pakaian pendeta kembali, yakni pakaian warna putih yang sederhana, kasar dan berpotongan lebar. Rambutnya yang pendek itu ditutup dengan sehelai pengikat kepala yang berwarna putih pula. Ia berangkat pada sore hari itu juga karena ia bermaksud untuk bermalam di makam ayahnya. Biarpun nikouw tua

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

itu mencegahnya, namun ia telah berhati tetap dan berangkat juga membuat nikouw itu menggeleng gelengkan kepala dengan hati penuh rasa iba. Baru saja fajar menyingsing yang disambut dengan penuh kegembiraan oleh burung burung pagi dan ayam jantan yang berkokok nyaring pada saat semua orang yang kaya masih meringkuk di dalam, sedang para petani miskin yang rajin mulai berangkat ke tempat pekerjaannya masing masing, di suatu tanah kuburan yang sunyi dan miskin di sebelah selatan kota Tong seng kwan itu, nampak seorang berpakaian putih telah bersila, di depan sebuah makam, duduk diam tak bergerak dalam keadaan bersamadhi. Kalau pada saat sunyi dan masih remang remang itu ada orang melihat bayangan putih di depan makam ini mungkin ia akan menyangka bayangan itu hantu. Memang tak pernah terjadi ada orang mengunjungi makam pada saat sepagi itu. Akan tetapi Sian Hwa, bayangan putih ini, semenjak malam tadi telah berada di situ, meratap dan menangis di depan kuburan ayahnya menceritakan semua kesengsaraan hatinya dan mohon doa dan berkah dari arwah ayahnya yang tak diingat lagi bagaimana wajahnya itu. Di depannya mengebul hio (dupa) yang dibawanya dari kuil sehingga tercium bau harum di sekitar tempat itu. Hari itu bukanlah hari berziarah, maka tempat itu sunyi saja. Tidak ada orang mengunjungi makam nenek moyang atau keluarganya pada hari itu dan keadaannya benar benar sunyi, setelah bersamadhi semalam lamanya di depan makam ayahnya. Sian Hwa mendapat ketenangan batin dan kesunyian itu makin menenangkan hati dan pikirannya.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Akan tetapi, keliru kalau dikatakan bahwa hari itu sama sekali tidak ada orang mengunjungi makam, karena setelah sinar matahari mulai mengusir embun pagi, nampak sesosok bayangan manusia berjalan perlahan memasuki tanah kuburan itu dan langsung menuju ke makam yang berada di sebelah makam ayah Sian Hwa. Orang ini membawa bungkusan berisi alat alat sembahyang. Melihat seorang wanita berpakaian pendeta sedang berlutut di depan makam di sebelahnya, ia hanya melirik sebentar dan tidak berani mengganggu, bahkan ia berlaku hati hati sekali agar jangan menimbulkan suara berisik yang akan mengganggu nikouw itu. Ia menaruh bungkusan kain di depan makam, membukanya dan mulai mengeluarkan isi nva di depan makam yang hendak disembahyanginya. Setelah semua alat sembahyang diatur beres, orang itu lalu mengeluarkan alat pembuat api, akan tetapi alangkah kecewanya ketika ia tidak berhasil mencetuskan api untuk membakar dupa karena bahan bakarnya telah basah, mungkin terkena embun di waktu pagi. Ia menjadi bingung dan melihat nikouw itu telah bergerak tanda bahwa pendeta wanita itu telah selesai bersamadhi, ia lalu menghampiri nikouw itu sambil menjura penuh hormat. Suthai, mohon maaf sebanyak banyaknya kalau teecu mengganggumu. Teecu hendak membakar dupa dan mohon diberi api sedikit. Terdengar pekik tertahan dari nikouw itu ketika ia mendengar suara ini. Orang itu mengangkat muka memandang, demikianpun Sian Hwa cepat memutar tubuh memandang. Mereka kini saling pandang, berdiri saling berhadapan, dua pasang mata terbelalak dan tak terasa pula bungkusan hio yang dibawa oleh orang itu terlepas dari pegangannya. Bun Sam.!

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Sian Hwa.! Kaukah ini.? Panggilan ini diucapkan dengan berbisik tetapi penuh perasaan dan setelah mengeluarkan ucapan ini, keduanya tetap saja tak bergerak untuk beberapa lama, akan tetapi sepasang mata Sian Hwa segera menjadi basah dan butiran butiran air mata mengalir turun di sepanjang kedua pipinya. Sebaliknya Bun Sam seakan akan tidak percaya bahwa nikouw yang berdiri di depannya ini benar benar Sian Hwa. Ia merasa seperti dalam mimpi. Sian Hwa.! Ia melangkah maju dan memegang kedua tangan gadis itu sebelum Sian Hwa dapat mengelak, menggenggam jari jari tangan Sian Hwa dengan mesra dan erat. Sian Hwa....apakah yang terjadi...? Mengapa kau tiba tiba memakai pakaian pendeta seperti ini ....?? Dan.... mengapa pula kau berada di Sini? Bersembahyang di depan kuburan ini? Sian Hwa, kekasihku, orang yang selama ini tak pernah meninggalkan lubuk hatiku, kenapakah kau? Kenapakah kau? Mengapa mukamu pucat, mengapa kau menangis, mengapa kau berpakaian seperti ini dan mengapa kau berada di sini? Sian Hwa, bagaimana keadaanmu? Ceritakanlah, ceritakanlah! Pertemuannya dengan Bun Sam di kuburan ayahnya, benar benar membuat Sian Hwa merasa terkejut, bingung dan terharu sekali. Apalagi ketika Bun Sam memeluknya erat erat dan menghujaninya dengan pertanyaan pertanyaan yang diucapkan dengan suara menggetar penuh perhatian, penuh kasih sayang dan penuh iba hati, gadis ini tak dapat menahan mengucurnya air mata lagi. Ia memeramkan matanya, sepenuh hatinya berhasrat ingin membalas pelukan pemuda itu, ingin menyatakan kegembiraannya, kegirangan hatinya dan cinta kasihnya, tetapi ia menggigit bibir dan menggeleng geleng. Dengan air mata menderas menuruni kedua pipinya ia hanya dapat berbisik perlahan,

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Bun Sam tidak Bun Sam, jangan biarpun mulutnya berkata demikian, namun ia menjatuhkan kepalanya di atas dada pemuda itu dan untuk beberapa lama ia hanya menangis sedih dibelai belai rambutnya oleh Bun Sam dengan penuh kasih sayang. Kesadarannya membisikkan agar supaya ia menjauhkan diri, agar ia memberontak, karena hal itu benar benar tidak boleh, akan tetapi dalam saat itu, Sian Hwa tak dapat menurutkan kata hatinya ini. Ia telah menjadi lemah dan kalau tidak bersandar kepada Bun Sam mungkin ia telah jatuh pingsan ! Sian Hwa, kekasihku, marilah kita berbicara dengan tenang. Kita sudah bertemu kembali, hal ini bukankah menggembirakan sekali? Bun Sam yang sudah dapat menekan keharuan hatinya itu kini berbicara dengan suara gembira sambil menepuk nepuk bahu nona itu. Tetapi Sian Hwa yang sementara itu juga telah dapat menenteramkan hatinya, tiba tiba merenggutkan tubuhnya dan melepaskan dirinya dari pelukan Bun Sam. Ia harus pandai bermain sandiwara pikirnya. Pemuda ini sendiri belum tahu bahwa dia telah bertunangan dengan Lan Giok, demikian ia mendengar dari Lan Giok. Oleh karena itulah maka Bun Sam masih bersikap manis kepadanya, masih berani menyatakan cintanya. Ah, tadinya ia sudah bosan hidup dan ia hanya masih ingin hidup karena adanya pemuda ini di dunia. Tetapi sekarang, ia rela menjadi nikouw agar ia jangan sampai menghalangi perjodohan Bun Sam dengan Lan Giok. Ia harus berpura pura tidak menaruh hati lagi kepada pemuda ini. Dengan menekan gelora batin sendiri, Sian Hwa lalu mengusap air matanya dengan ujung penutup kepalanya yang terbuat daripada kain kasar berwarna putih itu, lalu memaksa tersenyum sambil memandang kepada Bun Sam.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Song taihiap, katanya dengan suara masih agak gemetar, aku senang sekali bertemu dengan kau setelah berpisah beberapa tahun ini. Aku.... aku, kau lihat sendiri, taihiap, aku telah menjadi seorang nikouw. Harap kau suka mengingat kedudukanku sebagai seorang pendeta dan janganlah kau membicarakan urusan lama. Ia tersenyum lagi. Setelah berbicara, ternyata mendengar kata katanya sendiri ini, hatinya dapat tenteram dan tetap. Ia melihat betapa pemuda itu menatap wajahnya seakan akan tidak percaya akan pendengarannya sendiri. Taihiap, kau tadi bertanya mengapa aku berada di sini? Aku bersembahyang, menyembahyangi makam Ayahku, ia menuding ke arah kuburan Ayahnya. Dan kau....... apakah yang kau lakukan di tempat ini? Akan tapi, mendengar ucapan ini, Bun Sam makin terbelalak kedua matanya dan pemuda ini seakan akan melihat setan di tengah hari. Beberapa kali bibirnya bergerak tanpa mengeluarkan suara sedikitpun, mukanya menjadi pucat dan alangkah heran hati Sian Hwa ketika melihat mata pemuda itu mulai menitikkan butiran butiran air mata yang mengalir turun di sepanjang kedua pipinya. Sian Hwa. akhirnya pemuda itu bisa juga mengeluarkan kata kata, akan tetapi ia menelan ludah dan tak dapat melanjutkan kata katanya. Taihiap, kau. kenapakah kau? tanya Sian Hwa dengan hati berdebar. Sian Hwa, jadi kaukah ..? Kau puteri dari Can kauw itu? Kaukah Can Sian Hwa,...? Ya Thian yang Maha Adil! Jadi kaukah anak itu....? Tiba tiba Bun Sam menjatuhkan diri berlutut di depan makam ayah Sian Hwa dan berkata, Can pek pek, ampunkan mataku yang sudah menjadi buta. Puterimukah gerangan dia ini.....?

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Taihiap, apakah artinya semua ini ? Sian Hwa ikut berlutut dan memandang kepada pemuda itu dengan bingung dan khawatir kalau kalau pertemuan ini telah membuat pemuda itu menjadi berobah pikirannya dan menjadi gila. Bun Sam menoleh kepadanya, lalu bagaikan seorang gila, pemuda itu menubruk dan memeluknya. Sian Hwa....Sian Hwa....pantas saja aku merasa seperti pernah mendengar nama ini.! Ah, kekasihku, bidadariku.... Sian Hwa benar benar menjadi bingung sekali. Dipeluk pundaknya oleh sepasang lengan yang kuat dan yang sering kali diimpikan itu mendatangkan rasa bahagia yang luar biasa, tetapi ia melawan perasaan ini. Ia mencoba untuk melepaskan diri, tetapi ia tidak kuasa melawan tenaga Bun Sam yang amat kuat. Taihiap, lepaskan aku .... ! Apakah artinya semua ini? Kenalkah kau dengan mendiang ayahku? Kenal? Ah, Sian Hwa. Kenal, katamu? Ayahmu justeru tewas karena menolongku ketika aku masih kecil. Tanpa pertolongan ayahmu, tidak akan ada Bun Sam yang hari ini berhadapan muka dengan kau! Akupun baru saja mendapat keterangan bahwa di sinilah letaknya kuburan ayah ibuku dan juga kuburan Can pek pek penolongku! Bukan main kaget dan terharunya hati Sian Hwa. Kau harus menjawab dulu apa artinya semua ini, Mengapa kau berpakaian seperti ini dan apakah yang sebetulnya telah terjadi denganmu. Bagaimanakah dengan..... dengan perjodohanmu yang dulu itu? Apakah kau disia

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

siakan oleh Liem Swee ? Kata kata ini terdengar penuh kegemasan. Kembali Sian Hwa teringat akan keadaannya, teringat bahwa biarpun kini tiada halangan baginya untuk berjodoh dengan pemuda pujaan hatinya ini, namun hal itu tidak mungkin. Di sana ada Lan Ciok yang telah ditunangkan dengan Bun Sam. Maka teringat akan semua ini, ia meronta dan melepaskan diri dari pelukan Bun Sam, lalu bangkit berdiri dan mundur tiga langkah. Taihiap, jangan kau bersikap seperti itu, ingat, aku telah menjadi seorang nikouw. Aku bukanlah Sian Hwa yang dulu lagi ! Suaranya menjadi dingin kembali, sungguhpun wajahnya amat muram dan tanpa disadarinya meleleh dua titik air mata kembali membasahi pipinya. Sian Hwa, tak perlu kau berpura pura. Kemarin dulu kau masih seorang gadis biasa, mengapa sekarang berpura pura berpakaian seperti ini ? Sebelum Sian Hwa dapat mencegahnya, pemuda itu telah menggerakkan tangan dan terbukalah penutup rambut gadis itu. Sian Hwa kaget sekali dan buru buru hendak menutup kepalanya lagi. Juga Bun Sam, kaget melihat rambut gadis itu telah dipotong hingga leher. Sian Hwa, mengapa kau melakukan hal yang gila ini? Mengapa kau memotong rambutmu ? Kemarin malam rambutmu masih panjang dan pakaianmu masih biasa saja. Katakan, mengapa? Sian Hwa memandang tajam. Bagaimana kau bisa tahu? Kita telah berpisah tiga tahun lamanya. Bun Sam tersenyum dan kembali tangannya menyambar dan kini tangan gadis itu telah digenggamnya.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Betapapun juga, aku tahu bahwa kemarin dulu keadaanmu masih biasa, tidak seperti sekarang. Aku melihatmu bersama Lan Giok gadis centil itu ! Terbelalak Sian Hwa memandang kepada pemuda ini. Jadi... kaukah gerangan orang itu? Kaukah yang telah menolong kami dan menolong Thian Giok? Bun Sam mengangguk dan hanya tersenyum. Nah, sekarang katakanlah, mengapa kau tiba tiba saja berobah menjadi seperti ini. Sian Hwa menjadi makin bingung. Pemuda ini sekarang ternyata telah menjadi seorang yang lihai sekali dan tinggi ilmu kepandaiannya, ia merasa girang memikirkan ini. Akan tetapi tak mungkin ia mengaku terus terang. Sebaliknya, melihat pemuda ini amat bernafsu untuk mengetahui jelas segala hal, agaknya sukar pula baginya untuk menutup mulut, ia harus diberi waktu untuk berpikir. Kau berceritalah dulu tentang keadaan ayah, tentang pertemuanmu dengan ayah, tentang semua pengalamamu, tentang.... pendeknya tentang dirimu, taihiap. Bu Sam tersenyum lagi. Aku takkan mau bercerita kalau kau menyebut taihiap kepadaku. Senyum dan pandangan mata pemuda itu membuat Sian Hwa menjadi makin bingung lagi. Habis, harus panggil apa? Dahulu kau selalu menyebut namaku saja, mengapa sekarang kau tambah tambahi dengan sebutan taihiap segala. Ditambah koko misalnya masih baik, akan tetapi taihiap? Tidak, aku tidak mau kau menyebutku seperti kita ini tak saling kenal saja. Akan tetapi... ingat, pinni adalah seorang nikouw..

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Bun Sam tak dapat menahan gelaknya, ia merasa geli dan lucu sekali mendengar Sian Hwa menyebut pinni kepada dirinya sendiri, sebutan yang sering kali diucapkan oleh para nikouw untuk memanggil diri sendiri. Melihat pemuda itu tertawa geli makin bingunglah Sian Hwa. Adikku yang baik, kau hanya berpura pura menjadi nikouw. Apakah kaukira aku tak tahu? Kemarin kau masih seorang gadis biasa, sama sekali bukan nikouw. Tak dapat kau membohongi aku. Taihiap.... Sian Hwa menahan kata katanya melihat pandangan mata Bun Sam. Aku tidak bohong kepadamu, aku memang sungguh sungguh berniat masuk menjadi nikouw. Kau boleh tanya kepada nikouw kepala di kelenteng Sun pok thian. Akan tetapi, soal sebutan itu....biarlah kalau kau tidak suka, aku tetap menyebut namamu saja. Sekarang kau berceritalah. Dua orang muda itu lalu duduk di depan makam saling berhadapan dan berceritalah Bun Sam tentang Can Goan atau Can kauwsu, ayah Sian Hwa, ia menuturkan betapa kedua orang tuanya tewas di tangan pasukan Ang bi tin dan betapa kemudian ia dikejar kejar dan hampir saja tewas pula dalam tangan gerombolan kejam itu kalau saja tidak ada Can kauwsu yang menolongnya. Ketika aku disuruh lari ayahmu, dia berpesan agar supaya aku suka membawa puterinya yang bernama Sian Hwa. Akan tetapi aku sendiri tidak berdaya karena akupun hampir saja mati dalam tangan Ang bi tin. Ia lalu menuturkan lebih lanjut betapa kemudian ia terluka dan akhirnya tertolong oleh Yap Bouw si gagu, Sian Hwa mendengarkan dengan penuh perhatian dan ketika ia mendengar tentang ayahnya yang tewas ketika menolong Bun Sam, tak terasa lagi ia menangis terisak isak.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Dan ibu. bagaimana dengan ibuku.......? Akhirnya ia bertanya penuh harapan. Ibumu? Setahu dan seingatku, ayahmu hanya tinggal dengan kau berdua saja dalam rumahnya. Ayahmu menjadi guru silat dan bersahabat baik dengan ayahku maka aku tahu keadaaaaya. Ayahmu telah.menjadi duda ketika tewas oleh barisan Ang bi tin dan kalau aku tidak salah. Ingat, dulu pernah ayahmu bercerita kepada ayah bundaku bahwa ibumu memang telah meninggal dunia semenjak kau masih kecil sekali. Sian Hwa kecewa, akan tetapi ia menarik napas lega. Baiknya ibunya tidak menjadi korban barisan Ang bi tin yang kejam. Sayang aku sendiri tidak melihat siapa orangnya yang telah menewaskan ayahmu, karena pada waktu itu ayahmu menghadapi keroyokan banyak orang, yakni gerombolan Ang bi tin itu. Aku tahu! kata Sian Hwa perlahan, dan dia sudah tewas. Dia adalah Ngo jiauw eug Lui Hai Siong yang mengakui perbuatannya sebelum mati. Kemudian, atas permintaan Sian Hwa, Ban Sam melanjutkan penuturannya tentang dirinya sendiri dan akhirnya menuturkan semua riwayatnya, kemudian sambil memandang mesra, ia berkata. Sian Hwa, sekarang tibalah giliranmu untuk menuturkan keadaanmu, terutama sekali mengenai halmu dengan Liem Swee dan mengenai kelakuanmu yang aneh ini, yang tiba tiba ingin menjadi nikouw. Sian Hwa memandang ke atas. Matahari telah naik tinggi dan alangkah cepatnya waktu berjalan selama ia duduk berhadapan dengan Bun Sam mendengarkan

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

penuturan pemuda pujaan hatinya itu. Betapapun juga, ia harus menuturkan keadaan nya selama ini kepada Bun Sam. Apakah yang harus kuceritakan kepadamu? Tidak ada apa apa yang menarik, semua kejadian yang menimpa padaku serba menyebalkan dan membosankan. Ia menghela napas panjang. Kasihan kau Sian Hwa. Semuda dan secantik ini harus mengalami segala macam kepahitan hidup. Ah, ingin sekali aku dapat membela dan melindungimu selamanya, makin cepat makin baik. Merahlah wajah Sian Hwa mendengar ucapan yang mengandung penuh arti ini. Ia tidak berani langsung menatap pandangan mata pemuda itu karena betapapun ia berpura pura, sinar matanya takkan dapat menyembunyikan perasaan hatinya. Ia lalu cepat cepat menuturkan pengalamannya. Tidak ada yang menarik, katanya sekali lagi, Semenjak kecil aku dipelihara oleh Bucuci dan dianggapnya sebagai anaknya sendiri. Aku dimanja, diberi apa saja yang kukehendaki, pendeknya, aku menerima banyak sekali dari ayah bunda angkatku itu. Akan tetapi setelah dewasa, aku membalas budi mereka itu dengan pendurhakaan. Aku berkeras tidak mau dijodohkan dengan Liem Swee bekas suhengku, sehingga terjadi ribut ribut di dalam rumah ayah angkatku. Kemudian aku meninggalkan rumah dan tinggal di dalam kuil Sun pok thian, bersama ibu angkatku sampai dia meninggal dunia. Nah, hanya itulah. Karena aku takut kalau kalau selalu diancam oleh bekas guru dan suhengku, aku mengambil keputusan masuk menjadi nikouw!

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Kasihan kau, Sian Hwa. Kalau begitu, marilah kau pergi saja dengan aku. Mari kita bersama menjelajah dunia ini, suka sama dirasa, duka sama diterima. Aku akan melindungimu dengan seluruh jiwa ragaku. Kau tahu aku cinta kepadamu, Sian Hwa dan di samping itu ada pula dorongan kuat dari keinginanku hendak memenuhi pesan mendiang ayahmu, hendak kubalas budi pertolongannya itu melalui kau. Marilah dan di sampingku, kau tak usah takut kepada si apapun juga. Kalau perlu, ayah angkatmu dan Pat jiu Giam ong akan ku tentang! Sian Hwa terpaksa memeramkan matanya dan menggigit bibirnya. Alangkah indahnya kata kata itu, alangkah mesra dan merdunya. Telah ribuan kali ia mengimpikan kata kata seperti ini akan keluar dari bibir Bun Sam. Ah, kalau saja di sana tidak ada Lan Giok yang sudah menjadi tunangan Bun Sam, kalau saja tunangannya itu bukan Lan Giok yang disayangnya, kalau....kalau ! Sian Hwa menguatkan hatinya dan melempar jauh jauh lamunan lamunan kosong ini. Tidak, Bun Sam. Tidak bisa, tidak mungkin! Ia berkata sambil menggelengg gelengkan kepalanya dengan wajah sedih. Apakah kau takut kepada bekas garumu? Bukan, bukan itu. Apakah karena kau masih ada ikatan pertunangan dengan Liem Swee? Bernyala sinar mata gadis itu. Tidak ada ikatan apa apa lagi. Aku dengan dia sudah putus! Kalau begitu, mengapa kau bilang tidak bisa dan tidak mugkin? Sian Hwa, katakan saja terus terang, mengapa kau tidak mau pergi bersamaku menempuh hidup baru? Wajah

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

pemuda yang tadinya berseri itu kini mulai nampak muram dan berduka. Perih rasa hati Sian Hwa. Ia tahu betapa besar cinta kasih pemuda ini kepadanya dan ia merasa amat terharu. Akan tetapi, tidak bisa ia merampas pemuda ini dari Lan Giok. Gadis itu demikian gagah dan demikian mulia dan berbudi. Ia merasa malu dan rendah kalau harus merampas tunangan orang, apalagi tunangan Lan Giok, sungguhpun ia merasa yakin bahwa sekali ia mengulurkan tangan, tentu pemuda itn akan memilihnya. Tidak apa apa, Bun Sam. Tidak apa apa, hanya tak mungkin. Sudahlah, aku hendak kembali. Selamat tinggal. Gadis ini lalu melangkah pergi meninggalkan Bun Sam. Pemuda itu tertegun dan untuk sesaat tak dapat berkata sesuatu. Wajahnya pucat sekali. Melihat betapa tubuh gadis itu pergi dengan tindakan terhuyung huyung, ia melompat dan sekali saja ia tergerak melompat, ia telah berada di depan Sian Hwa. Ia melihat betapa gadis itu pergi dengan air mata mengucur deras. Serta merta di pegangnya kedua tangan gadis itu dengan erat dan Sian Hwa menundukkan mukanya, tidak berani menentang pandangan matanya. Jangan menahan aku, Bun Sam. Lepaskan aku pergi . bisiknya. Tidak, tidak! Demi Tuhan, kau takkan kulepaskan lagi sebelum kau mengaku mengapa kau berlaku segila ini! Sian Hwa, aku tahu kau suka kepadaku bahwa hatimu mengatakan kau akan suka ikut bersamaku. Akan tetapi kau memaksa menyangkal suara hatimu sendiri. Kau memaksa diri meninggalkan aku. Mengapa? Sian Hwa hanya menggeleng gelengkan kepalanya dan air matanya makin menderas. Bagaimana ia harus mengaku? Sian Hwa, apakah... apakah kau tidak suka kepadaku?

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Dengan cepat Sian Hwa mengangkat mukanya dan sinar matanya yang tajam menatap wajah pemuda itu merupakan jawaban yang jelas. Tetapi mulut gadis ini tidak dapat mengatakan sesuatu. Bagaimana ia dapat mengatakan cinta kalau hatinya sudah bulat hendak melepaskan pemuda ini, pemuda yang sudah menjadi tunangan Lan Giok? Bun Sam aku, aku sudah menjadi nikouw jangat kau bicarakan urusan itu.... Jawabannya menyimpang daripada pertanyaan pemuda itu. Itu bukan alasan ! Kalau belum menjudi nikouw kau hanya berpura pura untuk menyingkirkan diri dari ku Sian Hwa, aku bersumpah takkan melepaskanmu lagi. Kalau perlu aku akan menggunakan kekerasan untuk membawamu pergi bersamaku. Aku takkan membiarkan kau hidup mendirita sengsara lagi. Kau berhak hidup bahagia bersamatku! Akan tetapi. sampai di sini suara Bun Sam merendah, tentu saju aku takkan berani mengganggumu kalau... kalau kau mengaku bahwa kau tidak cinta kepadaku. Aku takkan mengganggu padamu lagi. Nah, katakanlah satu antara dua, kau cinta kepadaku atau tidak? Kalau kau mencintaiku, apapun yang menjadi penghalang akan kuhancurkan dan kau harus pergi bersamaku, mencari bahagia. Sebaliknya kalau tidak mencintaiku. aku akan pergi, Sian Hwa. Bukan main bingungnya hati gadis ini. Ia telah berkorban rela melepaskan pemuda ini kepada Lan Giok, rela pula selama hidupnya menjadi seorang pendeta wanita. Akan tetapi.... alangkah beratnya kalau ia harus mengaku bahwa ia tidak mencintai pemuda ini ! Karena cintanya kepada Bun Sam ia sampai menolak kehendak ayah angkat nya, menolak dijodohkan dengan Liem Swee. Karena cintanya kepada Bun Sam, ia sampai rela meninggalkan kehidupan mewah dan dimanja di rumah Bucuci, rela hidup

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

sengsara sampai tiga tahun lamanya di dalam kuil. Dan sekarang... ia harus mengaku bahwa ia tidak mencintai pemuda itu. Bagaimana bibirnya dapat mengucapkan kata kata yang jauh berlawanan dengan suara hati dan jiwa nya ini? Biar ia dipaksa paksa dan dipukul sampa mati, bibirnya takkan kuasa mengucapkan kata kata ini. Jilid XII SAMBIL terisak gadis ini lalu melangkah ke depan menghindari tubuh Bun Sam yang menghadang di depannya dan iapun lalu berlari lari sambil menangis. Tetapi Bun Sam yang merasa penasaran, kecewa dan berduka itu sekali melompat saja kembali sudah menghadang di depannya dan kini pemuda itu memegang kedua pundak Sian Hwa. Ia memaksa gadis itu memandangnya dan dengan sinar mata tajam penuh selidik ia menatap wajah Sian Hwa. Katakanlah Sian Hwa. Tak usah panjang panjang, kau singkat saja. Kau mencintai padaku, ya atau tidak Kalau berat lidahmu bicara, kau menjawab dengan geleng atau angguk saja. Satu kali anggukan sudah cukup bagiku. Sian Hwa kasihanilah aku, tak tahukah kau betapa hatiku perih sekali menanti keputusan jawabanmu ini? Sian Hwa menggigit bibirnya yang menggigil seperti orang kedinginan. Ia menelan ludah beberapa kali sementara otaknya berpikir cepat. Kemudian ia berkata perlahan. Bun Sam, aku minta waktu. Tidak dapat ku jawab sekarang, Bun Sam. Kau. kau