Sejarah dan Dampak Perang Salib

0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
8 tayangan15 halaman
Makalah ini membahas tentang Perang Salib, yang merupakan konflik antara umat Kristen Eropa dan umat Islam di Asia, berlangsung dari tahun 1095 hingga 1291. Perang ini dipicu oleh faktor agama, politik, sosial, dan ekonomi, serta melibatkan seruan Paus Urbanus II untuk merebut kembali tempat suci umat Kristen. Dampak dari perang ini masih terasa hingga kini, mempengaruhi hubungan antara Barat dan Timur.

Diunggah oleh

iis suhamah
Lisensi
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

MAKALAH

PERANG SALIB

Disusun untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Sejarah Peradaban Islam

Dosen Pengampu : Nasihadin [Link].I

Disusun oleh :

- Iskal Muhamad Mugni (P.23.141592)


- Hendra Ramdani (P.23.141613)

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM

INSTITUT MUHAMMADIYAH DARUL ARQAM GARUT


TAHUN AJARAN 2024 - 2025
KATA PENGANTAR

Segala puji dan syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT atas rahmat dan karunia –
Nya sehingga kami dapat menyelesaikan makalah Sejarah Peradaban Islam yang berjudul
“Perang Salib”. Kami mengucapkan terima kasih kepada dosen Sejarah Peraban Islam yang telah
membimbing dan memberikan tugas makalah ini. Karena dari makalah ini kami mendapatkan
banyak ilmu yang bermanfaat bagi penyusun makalah maupun yang membacanya.

Kami sangat menyadari bahwa dalam penyusunan makalah ini masih banyak kekurangan
dalam hal penulisan ataupun bahasan. Mengingat kami hanya manusia biasa yang dapat
melakukan berbagai kesalahan yang di sengaja ataupun tidak di sengaja. Untuk ini, kritik dan
saran dari semua pihak kami harapkan untuk penyempurnaan makalah ini.

Garut, 1 januari 2025

penyusun
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR .............................................................................................II

DAFTAR ISI ............................................................................................................III

BAB I PENDAHULUAN ........................................................................................4

A. Latar Belakang ...............................................................................................4


B. Rumusan Masalah ..........................................................................................4
C. Tujuan Penulisan ...........................................................................................4

BAB II PEMBAHASAN .........................................................................................5

A. Sejarah Perang Salib ......................................................................................5


B. Factor – factor yang menyebabkan perang salib ...........................................5
C. Periodisasi Perang Salib ................................................................................8
D. Dampak Perang Salib ....................................................................................11
E. Kondisi Setelah Perang Salib ........................................................................12

BAB III PENUTUP .................................................................................................13

A. Kesimpulan ....................................................................................................13

DAFTAR PUSTAKA ..............................................................................................15


BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Peristiwa perang salib merupakan reaksi pemberontakan bangsa Kristen Eropa terhadap umat
islam di Asia karena kota – kota dan tempat suci bangsa Kristen Eropa diduduki uamt islam.
Peristiwa ini terjadi sekitar dua abad dalam tujuh periodisasi. Perang salib terjadi karena adanya
konflik lama antara umat islam dan umat Kristen untuk saling menguasai.

Perang salib berlangsung kurang lebih dua abad, di mulai dari perang salib I sampai perang
salib VII yaitu dari tahun 1095 – 1291. Perang salib adalah penyerangan dari kefanatikan Kristen
yang di koordinir oleh paus yang mempunyai tujuan untuk merebut kota suci palestina dari
tangan kaum muslimin. Selain itu, perang ini di sebabkan oleh beberapa factor lain yakni agama,
politik, social – ekonomi.

Perang yang terjadi hampir dua abad ini adalah timbul karena reaksi orang Kristen terhadap
umat Islam yang dianggap sebagai pihak penyerang. Berdasarkan sejarah yang ada, sejak tahun
632 M sampai meletusnya perang salib beberapa kota penting dan tempat suci umat Kristen yang
dikuasai umat Islam seperti suriah, Asia kecil, Spanyol, dan Sicilia.

B. Rumusan Masalah
1. Mengapa terjadi perang salib?
2. Bagaimana perjalanan perang salib?
3. Apa dampak dan kondisi setelah perang salib?

C. Tujuan Penulisan
1. Untuk mengetahui sejarah perang salib
2. Untuk memperoleh gambaran yang jelas kejadian perang salib
3. Untuk mengetahui dampak dan kondisi perang salib
BAB II
PEMBAHASAN
A. Sejarah Perang Salib
Perang Salib, demikian menurut sudut pandang Barat, merupakan serangkaian operasi militer
paling sedikit terdiri atas delapan babak yang didorong oleh keinginan kaum Kristen Eropa untuk
menjadikan tempat- rempat suci umat Kristen dan, rerutama, Yerusalem masuk ke dalam
wilayah perlindungan mereka. Bagi pihak Barat, Perang Salib dimulai tahun 1095 M, ketika Paus
Urbanus II menyerukan maklumat perang sucinya yang terkenal, sampai abad kelima belas dan
bahkan abad selanjutnya, meskipun banyak yang berpendapat bahwa penaklukan Acre pada 1291
merupakan akhir usaha keras Tentara Salib melawan negara-negara Islam di sepanjang kawasan
Mediterania timur.

Sejak awal, Perang Salib membentuk babak penting dalam dua sejarah yang berbeda namun
saling berhubungan, yaitu Barat dan Timur. Bagi Barat, Perang Salib merupakan bagian dari
evolusi Eropa barat Abad Pertengahan. Arti pentingnya telah lama diakui dan dipelajari oleh
banyak generasi para ilmuwan Barat. Tak diragukan lagi bahwa perang salib merupakan bidang
kajian yang populer berkaitan dengan studi Barat Abad pertengahan ini tidak terlalu
mengejutkan, mengingat perang salib sebenarnya merupakan sebuah fenomena masyarakat
Barat. Bagi kaum muslim di timur, perang salib memainkan peranan sementara rapi tidak
terlupakan. Perang salib telah memengaruhi kesadaran umat islam hingga kini.

Dinamakan perang salib, karena setiap orang Eropa yang ikut bertempur dalam peperangan
memakai tanda salib pada bahu, lencana dan panji – panji mereka.

B. Faktor – factor Yang Menyebabkan Perang Salib


Sebab terjadinya perang salib adalah karena kerajaan Seljuk menghalangi kaum Kristen
untuk beribadah dan memperlakukan mereka sebagai golongan marginal yang diperlakukan
semena – mena, selain itu, kaum Islam juga disebut telah menghina mereka dan agama mereka.
Hingga kaum Kristen melaporkan hal ini kepada Paus Urbanus II pada tahun 1095 M.

Setelah Paus Urbanus II mendengar hal ini maka Paus Urbanus II langsung mengumpulkan
semua umat Kristen dan menyampaikan pidato terbuka berapi-api di luar sebuah biara Prancis
yang disebut Claremont. Dalam pidatonya Paus Urbanus II mengatakan kepada majelis
bangsawan Jerman, Prancis, dan Italia bahwa dunia Kristen sedang dalam bahaya. Dan menyeru
kepada seluruh umat Kristen untuk membantu sesama umat Kristen untuk mengusir umat Islam
dari Yerussalem dan menyuruh mereka untuk selalu menggunakan salib, sehingga perang ini
dinamakan Crusades (Perang Salib).

Cikal bakal terjadinya perang salib adalah karena kehawatiran orang Bizantium atas serangan
Dinasti Seljuk yang ingin menyerang Bizantium yang hendak menguasai pertanian di Bizantium
yakni Alexius Commenus meminta bantuan Paus Urbanus II untuk menggerakan kaum Kristen
untuk membantu mereka menghalau kedatangan Seljuk. Paus Urbsnus II akhirnya memenuhi
permintaan kaisar Bizantium. Paus Urbanus II kemudian mengumpulkan kaum Kristen untuk
bersatu menyerang kaum Islam.

Dalam pidatonya, Paus Urbanus II mengobarkan semangat umat Kristen dengan cara
menyatakan bahwa dengan mengikuti perang salib maka dosa – dosa yang lalu akan diampuni
dan dijamin masuk surga, selain itu keluarga pejuang perang salib akan mendapat jaminan hidup
dan keselamatan.

Sehingga para pejuang perang salib tidak hanya berasal dari daerah Roma saja, akan tetapi
berasal dari kerajaan – kerajaan dari Eropa, mulai dari relawan rakyat biasa, pedagang, petani,
bahkan para perampok yang ingin masuk surga. Maka dari itu dapat disimpulkan ada factor –
factor yang menyebabkan perang salib terjadi, yaitu:

a. Faktor Agama
Direbutnya Baitul Maqdis (471 H/ 1070 M) oleh Dinasti Seljuk dari kekuasaan Fathimiyah
yang berkedudukan di Mesir menyebabkan kaum Kristen merasa tidak bebas dalam menunaikan
ibadah di tempat sucinya. Karena Dinasti Seljuk menerapkan peraturan yang sangat ketat kepada
para umat Kristiani ketika hendak beribadah di Tanah Suci (Baitul Maqdis). Hingga mereka yang
baru pulang dari beribadah ke Baitul Maqdis selalu mengeluh akan sikap buruk Dinasti Seljuk
yang terlalu fanatik.

Para pemimpin politik Kristen tetap saja masih berfikir keuntungan yang dapat diambil dari
konsepsi mengenai Perang Salib, dan untuk memperoleh kembali keleluasaannya berziarah ke
tanah suci Yerussalem. Pada tahun 1095 M, Paus Urbanus II berseru kepada umat Kristiani di
Eropa supaya melakukan perang suci. Seruan Paus Urbanus II berhasil memikat banyak orang-
orang Kristen karena dia menjanjikan sekaligus menjamin, barang siapa yang melibatkan diri
dalam perang suci tersebut akan terbebas dari hukuman dosa.

b. Faktor Politik
Kekalahan Bizantium (Constantinople/Istambul) di Manzikart pada tahun 1071 M, dan
jatuhnya Asia kecil dibawah kekuasaan Saljuk telah mendorong Kaisar Alexius I Comneus
(Kaisar Bizantium) untuk meminta bantuan Paus Urbanus II, dalam usahanya untuk
mengembalikan kekuasaanya di daerah – daereah pendudukan Dinasti Saljuk. Dilain pihak
perang salib merupakan puncak sejumlah konflik antara negara – negara timur, maksudnya
antara umat islam dan umat Kristen.
Dengan perkembangan dan kemajuan yang pesat menimbulkan kecemasan pada tokoh –
tokoh barat, sehingga mereka melancarkan serangan terhadap umat islam. Situasi yang demikian
mendorong penguasa – penguasa Kristen di eropa untuk merebut satu persatu daerah – daerah
kekuasaan islam, seperti Mesir, Yerussalem, Damascus, Edessca, dan lain – lainnya.

Selain itu, kondisi kekuasaan islam pada saat itu sedang melemah. Sehinga orang – orang
Kristen Eropa berani untuk melakukan pemberontakan dengan cara perang salib, yakni ketika
Dinasti Seljuk di Asia kecil sedang mengalami perpecahan, Dinasti Fatimiyah di Mesir sedang
dalam keadaan lumpun, sedangkan Islam di Spanyol semakin goyah. Keadaan ini semakin parah
dengan pertentangan segitiga antara khalifah Fatimiyah di Mesir, khalifah Abbasiyah di
Baghdad, dan khalifah Umayyah di Cordoba.

c. Faktor Sosial
Stratifikasi sosial yang terdapat pada masyarakat sosial Eropa yang terbagi kepada tiga
tingkat, yakni kaum gereja, kaum bangsawan, dan kaum rakyat jelata. Rakyat jelata dianggap
sebagai kaum marginal dan tidak memiliki kedudukan apapun dalam masyarakat, kehidupan
mereka sangat tertindas dan harus mengikuti apa kata tuan tanah, sehingga kehidupan mereka
selalu dibayang-bayangi rasa kehawatiran.

Dengan adanya seruan untuk perang membuat mereka bersemangat. Dengan harapan mereka
bisa memiliki kedudukan yang lebih baik lagi, selain itu mereka diberi janji untuk mendapatkan
kebebasan dan kesejahteraan yang lebih baik.

d. Faktor Ekonomi
Semenjak abad ke X. kaum muslimin telah menguasai jalur perdagangan di laut tengah, dan
para pedagang Eropa yang mayoritas Kristen merasa terganggu atas kehadiran pasukan
muslimin, sehingga mereka mempunyai rencana untuk mendesak kekuatan kaum muslimin dari
laut itu.

Hal ini didukung dengan adanya ambisi yang luar biasa dari para pedagang-pedagang besar
yang berada di pantai Timur laut tengah (Venezia, Genoa dan Piza) untuk menguasai sejumlah
kota-kota dagang di sepanjang pantai Timur dan selatan laut tengah, sehingga dapat memperluas
jaringan dagang mereka, untuk itu mereka rela menanggung.

Sebagian dana Perang Salib dengan maksud menjadikan kawasan itu sebagai pusat
perdagangan mereka, karena jalur Eropa akan bersambung dengan rute-rute perdagangan di
Timur melalui jalur strategis tersebut.
Strata sosial juga berpengaruh pada faktor ekonomi. Hal ini karena ada sebuah tradisi bahwa
pewaris harta adalah anak tertua, ketika anak tertua meninggal maka semua harta akan
diserahkan kepada gereja. Hal ini menyebabkan populasi kemiskinan di Eropa semakin tinggi,
sehingga ketika ada seruan untuk melakukan Perang Salib mereka mendapatkan secercah
harapan untuk perbaikan ekonomi.

Perang salib merupakan perang suci bagi umat Kristiani, akan tetapi perang salib sebagai
perang suci hanyalah sebagai kedok pemimpin gereja Roma, karena sebenarnya factor dan tujuan
perang salib adalah karena politik dan ekonomi. Sehingga beberapa relawan perang salib juga
tidak hanya perang atas nama Tuhan, akan tetapi karena kepentingan masing – masing. Saat
perang salib, tentara Kristen, Jerman, Yahudi, membantai orang Islam di jalan – jalan. Berbalik
180 derajat dengan perlakuan pasukan Islam terhadap pasukan Kristen. Padahal islam biasanya
memperlakukan Negara Kristen jajahannya dengan baik dan bahkan mereka diberi jabatan dalam
pemerintahan.

"Pemandangan mengagumkan akan terlihat. Beberapa orang lelaki kami memenggal kepala-
kepala musuh; lainnya menembaki mereka dengan panah-panah, sehingga mereka berjatuhan
dari menara-menara; lainnya menyiksa mereka lebih lama dengan memasukkannya ke dalam api
menyala. Tumpukan kepala, tangan, dan kaki terlihat di jalan-jalan kota. Kami berjalan di atas
mayat-mayat manusia dan kuda. Tapi ini hanya masalah kecil jika dibandingkan dengan apa
yang terjadi di Biara Sulaiman, tempat dimana ibadah keagamaan kini dinyanyikan kembali. Di
sana, para pria berdarah-darah disuruh berlutut dan dibelenggu lehernya."

C. Periodisasi Perang Salib


Perang Salib dalam sebagain sumber mengungkapkan masa terjadinya antara tahun 1096
sampai 1291 M. Perang ini dinamakan Perang Salib karena ekspedisi militer Kristen memakai
tanda Salib sebagai atribut pemersatu dan sebagai simbol perang suci dalam melakukan
penyerangan ke dunia Islam. Tanda salib itu terbuat dari kain merah atau jubah sebagai status
mereka. Menurut analisis penulis, pembesar-pembesar Kristiani memang paham betul emosi
keagamaan umat Kristiani, Dengan simbol tanda Salib akan mudah menggugah emosi
keagamaan mereka. Terbukti, dalam tiga kali periode penyerangan tersebut, umat Kristiani
cukup banyak yang turut ambil bagian dalam perang tersebut. Dalam masa peperangan itu,
menang dan kalah silih berganti antara pasukan Islam dan pasukan Salib, Perang Salib
berlangsung hampir mencapai dua abad lamanya, dari waktu yang demikian panjang itu, bisa
dibayangkan betapa banyak korban berjatuhan dari kedua belah pihak.

Bila diukur dari waktu berlangsungnya perang salib, secara global dibagi atas tiga periode,
yaitu sebagai berikut :
1. Periode pertama disebut periode penaklukan umat kristiani yang berlangsung dari tahun 1096
– 1144 M.
Jalinan kerjasama antara kaisar Alexius I dan paus Urbanus II berhasil membangkitkan
semangat umat Kristen, terutama akibat pidato Paus Urbanus II pada konsili Clermont pada
tanggal 26 November 1095 M. Pidatonya ini bergema ke seluruh penjuru Eropa yang
mengakibatkan seluruh Negara Kristen mempersiapkan berbagai bantuan untuk mengadakan
penyerbuan. Gerakan ini merupakan gerakan spontanitas yang di ikuti oleh berbagai kalangan
masyarakat. Gerakan ini di pimpin oleh Pierre I’Ermite. Sepanjang jalan menuju
Kontanstantinopel, mereka membuat keonaran, melakukan perampokan, dan bahkan terjadi
bentrokan dengan penduduk Hongaria dan Bizantium, akhirnya dengan mudah pasukan salib
dapat dikalahkan oleh pasukan Dinasti Seljuk.

Pasukan salib angkatan berikutnya dipimpin oleh Godfrey, Bohemond, dan Raymond.
Gerakan kali ini merupakan ekspedisi militer yang terorganisasi dan rapi, dan mereka
memperoleh kemenangan yang besar dengan menaklukan Nicea pada tanggal 18 Juni 1097 M,
dan tahun 1098 M menguasai Raha (Edessa). Disini mereka mendirikan kerajaan Latin I dengan
Baldawin sebagai raja. Pada tahun yang sama mereka dapat menguasai Antiochea dan
mendirikan kerajaan Latin II di timur dengan Bohemond sebagai raja. Mereka juga berhasil
menduduki Baitul Maqdis pada tanggal 15 Juli 1099 M dan mendirikan kerajaan Latin III dengan
rajanya, Godfrey. Selanjutnya mereka berturut – turut menguasai kota Akka pada tahun 1104 M,
Tripoli tahun 1109 M dengan mendirikan kerajaan Latin IV dan rajanya Raymond, kemudian
kota Tyre pada tahun 1124 M.

2. Periode kedua disebut sebagai periode reaksi umat Islam yang berlangsung dari tahun 1144 –
1192 M.
Jatuhnya beberapa wilayah kekuasaan Islam ke tangan kaum Salib membangkitkan semangat
kaum Muslimin. Dibwah kepemimpinan Nuruddin, ia meneruskan cita-cita ayahnya untuk
membebaskan negaranegara Islam di Timur dari cengkeraman kaum Salib. Termasuk kesadaran
kaum Muslimin untuk menghimpun kekuatan guna menghadapi mereka. Di bawah komando
Imaduddin Zanki, penguasa Moshul dan Irak, berhasil menaklukan kembali Aleppo, Haminah,
dan Edessa pada tahun 1144 M. Namun ia wafat tahun 1146 M, dan digantikan oleh putranya
Nuruddin Zanki. Nuruddin berhasil merebut kota Damaskus tahun 1147. Antiochea pada tahun
1149 M, dan pada tahun 1151 M seluruh Edessa dapat direbut kembali, juga ia berhasil
membebaskan Mesir pada tahun 1169 M.

Keberhasilan kaum Muslimin meraih berbagai kemenangan menyebabkan orang-orang


Kristen mengobarkan Perang Salib kedua. Paus Eugenius III menyerukan perang suci yang
disambut positif oleh raja Perancis Louis VII dan raja Jerman Condrad II. Keduanya memimpin
pasukan Salib untuk merebut wilayah Kristen di Syria. Akan tetapi gerak maju mereka dihambat
oleh Nuruddin Zanki. Mereka tidak berhasil memasuki Damaskus, Louis VII dan Condrad II
sendiri melarikan diri pulang ke negerinya. Pada tahun 1174 M Nuruddin wafat, dan pimpinan
perang dipegang oleh Shalah al-Din al-Ayyubiyah di Mesir pada tahun 1175 M. Akhirnya Shalah
al-Din dapat merebut kembali Yerusalem pada tahun 1187 M. Dengan demikian kerajaan Latin
di Yerusalem yang berlangsung selama 88 tahun berakhir.

Jatuhnya Yerusalem ke tangan kaum Muslimin sangat memukul perasaan tentara Salib.
Mereka pun menyusun rencana balasan. Kali ini tentara Salib dipimpin oleh Frederick
Barbarossa, raja Jerman, Richard the Lion Hart, raja Inggris, dan Philip Augustus, raja Perancis,
yang bergerak pada tahun 1189 M.

Ekspedisi militer salib kali ini dibagi dalam beberapa divisi. Sebagian menempuh jalan darat
dan yang lainnya menempuh jalur laut. Frederick yang memimpin divisi darat tewas tenggelam
dalam penyeberangannyadi sungai Armenia, dekat kota ar-Ruha'. Sebagian tentaranya
kembali,kecuali beberapa orang yang terus melanjutkan perjalannya di bawahpimpinan putra
Frederick. Adapun kedua divisi lainnya yang menempuhjalur laut bertemu di Sicilia. Karena
terjadi kesalahpahaman, akhirnya mereka meninggalkan Sicilia secara terpisah, Richard menuju
Cyprusdan mendudukinya dan selanjutnya menuju Syam (Suriah). Adapun Philip langsung
menuju Acre (Akka) dan berhasil merebutnya yang kemudiandijadikan ibu kota kerajaan Latin,
akan tetapi mereka tidak berhasilmemasuki Palestina.

Pada tanggal 2 November 1192 M. dibuat perjanjian damai atau gencatan senjata antara
tentara salib dengan Shalah al-Din yang disebutdengan Shulh al-Ramlah. Inti perjanjian damai
tersebut adalah: daerah pedalaman akan menjadi milik umat Islam, dan umat Kristen yangakan
ziarah ke Baitul Maqdis akan terjamin keamanannya, sedangkandaerah pesisir Utara, Acre dan
Jaffa berada di bawah kekuasaan tentara Salib.

3. Periode ketiga disebut sebagai periode kehancuran pasukan salib yang berlangsung dari
tahun 1192 – 1291 M.
Tentara salib pada periode ini dipimpin oleh raja Jerman, Fredderick II. Kali ini mereka
berusaha merebut mesir lebih dahulu sebelum Palestina, dengan harapan dapat bantuan orang
Kristen Qibthi. Pada tahun 1219 M mereka berhasil menduduki Dimyat. Raja mesir dari Dinasti
Ayyubiyah waktu itu, Al – malik Al – Kamil, membuat perjanjian dengan Frederick, yang isinya
antara lain Frederick bersedia melepaskan Dimyat sementara Al – malik Al – Kamil melepaskan
Palestina, dengan syarat Frederick menjamin keamanan kaum muslimin di sana, dan Frederick
tidak mengirim bantuan kepada kaum Kristen di Syiria.

Dalam perkembangan berikutnya, palestina dapat di rebut kembali oleh kaum muslimin pada
tahun 1247 M, di masa pemerintahan Al – Malik Al – Shahih, penguassa Mesir selanjutnya.
Ketika Mesir di kuasai dinasti Al – malik yang menggantikan posisi dinasti Ayyubiyah pimpinan
perang di pegang oleh Baybars dan Qowalun. Pada masa merekalah Akka dapat direbut kembali
oleh kaum muslimin pada tahun 1291 M.
Dalam buku Ensiklopedi Islam dinyatakan bahwa Perang Salib ketiga ini dikenal sebagai
periode kehancuran pasukan Salib, hal ini disebabkan karena periode ini lebih disemangati
ambisi politik untuk memperoleh kekuasaan dan material, bukan motivasi karena agama. Tujuan
utama mereka untuk membebaskan Baitul Maqdis mereka lupakan. Hal ini dapat dilihat katika
pasukan Salib yang semula dipersiapkan menyerang Mesir ternyata membelokkan haluan
menuju Konstantinopel. Kota ini dapat direbut dan dikuasai dengan Baldwin sebagai rajanya.
Dia adalah raja Roma-Latin pertama yang berkuasa di Konstantinopel.

Meskipun menderita kekalahan dalam perang salib, pihak Kristen Eropa telah mendapatkan
hikmah yang tidak ternilai karena mereka dapat berkenalan dengan kebudayaan dan peradaban
Islam yang sudah sedemikian maju. Bahkan, kebudayaan dan peradaban yang mereka peroleh
dari Timur-Islam menyebabkan lahirnya renaisans di Barat. Mereka membawa kebudayaan dari
timur Islam ke barat terutama dalam bidang militer, seni, perindustrian, perdagangan, pertanian,
astronomi, kesehatan dan kepribadian.

Demikianlah perang salib yang terjadi di timur, perang ini tidak hanya berhenti di barat,
Spanyol sampai akhirnya umat islam terusir dari Spanyol Eropa. Akan tetapi, meskipun
demikian, mereka tidak dapat merebut apapun dari tangan kaum muslimin, dan tidak dapat
menurunkan bendera Islam dari Palestina.

D. Dampak Perang Salib


Kisah perang salib merupakan peristiwa penting yang berdampak dalam sejarah, terutama
dalam sejarah Islam. Meskipun umat Islam mengalami banyak kehancuran, tidak semua perang
salib menimbulkan dampak negative bagi Negara yang terlibat. Adapun dampak positif perang
salib yaitu :

1. Bertambahnya wilayah kerajaan Byzantium, sehingga sanggup mengerem dan menghalang-


halangi penyerangan Bani Saljuk ke Eropa. Seandainya kerajaan Byzantium goyah, maka
besar peluang Bani Saljuk manaklukan sebagian Eropa.

2. Pasukan Salib dapat berkenalan dengan kebudayaan Islam yang sudah sangat maju, terutama
dalam bidang ilmu pengetahuan, sehingga orang Barat berdatangan ke Timur untuk belajar
dan menggali ilmu untuk kemudian mereka sebar luaskan di Eropa.

3. Manusia mulai kritis terhadap berita-berita pembukaan negeri baru yang dibawa oleh kaum
Salib ke Eropa. Sebagai bukti keinsafan mereka itu ialah perjalanan Marcopolo dalam
mencari benua Amerika di abad ke-13 sebagai langkah awal bagi perjalanan Colombus ke
Amerika pada tahun 1492.
4. Kontak perdagangan antara timur dan barat semakin pesat. Mesir dan Syiria sangat besar
artinya bagi lintas perdagangan barat. Kekayaan kerajaan dan rakyat kian melimpah ruah.
Keadaan seperti ini kian tahun bertambah pesat, sehingga membuka jalan perdagangan
sampai ke tanjung harapan dan lama kelamaan perdagangan dan kemajuan timur berpindah
ke barat.

Dampak positif ini tidak sepenuhnya menguntungkan umat Islam, namun dari perang salib
itu juga semua orang dapat merasakan manfaat dari beberapa penemuan penting dan setelahnya
sampai memasuki abad modern.

E. Kondisi Setelah Perang Salib


Pihak Islam pada akhirnya dapat memenangkan Perang Salib yang sangat melelahkan,
berlangsung tahun 1096-1291 M. Walaupun menang, umat islam mengalami kerugian yang luar
biasa karena peperangan itu terjadi di kawasan dunia Islam (Turki, Palestina, dan mesir).
Sebaliknya bagi kristen, mengalami kekalahan dalam Perang Salib, namun mendapatkan hikmah
yang tidak ternilai harganya karena mereka dapat berkenalan dengan kebudayaan dan peradaban
islam yang sudah maju. Peradaban dan Kebudayaan yang mereka peroleh dari Timur-Islam
menyebabkan lahirnya Renaissans di Barat. Pengaruh Perang Salib untuk dunia Islam adalah
lebih mamantapkan dan mengokohkan nilai-nilai kesatuan dan persatuan umat dalam membela
eksistensi agama. Pengaruhnya yang lain adalah memperkenalkan dunia islam yang mempunyai
kebudayaan tinggi kepada dunia Barat.

Perang Salib sekalipun dimenangkan oleh pihak Islam, tetapi jika dilihat dari perspektif
peradaban (civilization) Islam sangat dirugikan dan sebaliknya Barat sekalipun kalah tetapi
banyak belajar dan berhasil membangun peradaban yang lebih maju setelah melihat dasar-dasar
sains dari peradaban Islam. Sebab, tanpa transformasi Perang Salib ini, Barat tidak bisa berdiri
tegak seperti sekarang. Dengan adanya kejadian tersebut, mengingatkan kepada umat islam
untuk tetap mewaspadai segala gerak, tindakan dalam berbagai bentuk yang akan mengadu
domba menghancurkan Ukuwah Islamiyah, dengan melihat ke belakang. Membuka sejarah serta
mengambil pelajaran dari perang salib. Perang salib atas dunia islam adalah mengingatkan
kepada umat islam untuk bersatu padu, menyatukan langkah dan gerak yang dijiwai oleh ruh
islam, untuk tetap konsisten terhadap ajaran agama islam yang universal.
BAB III
KESIMPULAN

Perang Salib adalah evolusi besar abad pertengahan yang menyangkut dunia Barat dan
dunia Timur yang mana digambarkan dengan dunia Barat (umat Kristen) dan dunia Timur (umat
Islam). Permulaan gesekan besar ini pada tahun 1095 M dan berakhir pada tahun 1291 M, 2 abad
lamanya perang ini terjadi.

Perang sebesar ini tentu tidak terjadi tanpa ada faktor yang menjadi penyebab, faktor-
faktor tersebut adalah:

1. Faktor Agama Direbutnya Baitul Maqdis (471 H/ 1070 M) oleh Dinasti Seljuk dari kekuasaan
Fathimiyah yang berkedudukan di Mesir menyebabkan kaum Kristen merasa tidak bebas dalam
menunaikan ibadah di tempat sucinya. Sebagai mana yang kita ketahui Baitul Maqdis adalah
tempat suci bagi 3 Agama di dunia ini.

2. Faktor Politik: Kekalahan Bizantium (Constantinople/Istambul) di Manzikart pada tahun 1071


M, dan jatuhnya Asia kecil dibawah kekuasaan Saljuk telah mendorong Kaisar Alexius I
Comneus (kaisar Bizantium) untuk meminta bantuan Paus Urbanus II, dalam usahanya untuk
mengembalikan kekuasaannya di daerah-daerah pendudukan Dinasti Saljuk.

3. Faktor Sosial Dengan adanya seruan untuk Perang Salib ini membuat mereka (rakyat
menengah kebawah Eropa) bersemangat. Dengan harapan agar mereka bisa memiliki kedudukan
yang lebih baik lagi, selain itu mereka diberi janji untuk mendapatkan kebebasan dan
kesejahteraan yang lebih baik.

4. Faktor Ekonomi: Semenjak abad ke X, kaum muslimin telah menguasai jalur perdagangan di
laut tengah, dan para pedagang Eropa yang mayoritas Kristen merasa terganggu atas kehadiran
pasukan muslimin, sehingga mereka mempunyai rencana untuk mendesak kekuatan kaum
muslimin dari laut itu.

Berbagai macam pendapat tentang periodesasi perang Salib ini (3, 7, 10 Periode), namun
dimakalah ini hanya membahas 3 periode dengan penjelasan sebagai berikut:

1. Periode 1 disebut periode penaklukan umat Kristinani yang berlangsung dari tahun 1096-
1144 Μ.
2. Periode II: disebut sebagai periode reaksi umat Islam yang berlangsung daritahun 1144-1192
Μ.
3. Periode III: disebut sebagai periode kehancuran pasukan Salib yang berlangsung dari tahun
1192 hingga 1291..
Setelah perang hampir 2 abad terjadi Usai dunia (hubungan antar dunia Barat dan Timur
Salib yang) terkena dampak yang begitu nyata yaitu:

1. Bertambahnya wilayah kerajaan Byzantium, sehingga sanggup mengerem dan


menghalang-halangi penyerangan Bani Saljuk ke Eropa. Seandainya kerajaan Byzantium
goyah, maka besar peluang Bani Saljuk manaklukan sebagian Eropa.
2. Pasukan Salib dapat berkenalan dengan kebudayaan Islam yang sudah sangat maju,
terutama dalam bidang ilmu pengetahuan, sehingga orang Barat berdatangan ke Timur
untuk belajar dan menggali ilmu untuk kemudian mereka sebar luaskan di Eropa.
3. Manusia mulai kritis terhadap berita-berita pembukaan negeri baru yang dibawa oleh
kaum Salib ke Eropa. Sebagai bukti keinsafan mereka itu ialah perjalanan Marcopolo
dalam mencari benua Amerika di abad ke- 13 sebagai langkah awal bagi perjalanan
Colombus ke Amerika pada tahun 1492 Μ.
4. Kontak perdagangan antara Timur dan Barat semakin pesat. Mesir dan Syiria sangat
besar artinya bagi lintas perdagangan Barat. Kekayaan kerajaan dan rakyat kian
melimpah ruah. Keadaan seperti ini kian tahun bertambah pesat, sehingga membuka jalan
perdagangan sampai ke Tanjung Harapan dan lama kelamaan perdagangan dan kemajuan
Timur berpindah ke Barat.
DAFTAR PUSTAKA

Affan, M. (2012). Trauma Perang Salib Dalam Hubungan Islam-Barat. Sosiologi Reflektif.

Amin, S. M. (2010). Sejarah Peradaban Islam. Jakarta: Amzah.

Amin, S. M. (2010). Sejarah Peradaban Islam. Jakarta: Amzah.

Argasheila, N. A. (n.d.). Perang Salib. Retrieved from [Link]:


[Link]

Muhammad Yusuf, F. (n.d.). Perang Salib; Sebab dan Dampak Terjadinya Perang Salib.
STAIDD.

Prijanto, J. H. (2017). Studi Perang Salib Sebagai Upaya Penanaman Nilai-Nilai Toleransi
Dalam Pembelajaran Sejarah. Scholaria.

Sewang, A. (2017). Sejarah Peradaban Islam. Sulawesi Selatan: STAIN Parepare.

Siti Fauziyah, E. S. (2020). Sejarah Dunia II (Dari Perang Salib Sampai Arab Spring). Banten:
Media Madani.

Syukur, S. (2011). Perang Salib Dalam Bingkai Sejarah. Al Ulum.

Tangerang , T. (2017). Perang Salib (Telaah Historis dan Eksistensinya). Rihlah.

Yatim, B. (1994). Sejarah Peradaban Islam. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.

Zubaidah, S. (2016). Sejarah Peradaban Islam. Medan: Perdana Publishing.

Anda mungkin juga menyukai