Proposal Pemberdayaan Peternakan Kambing
1
A. LATAR BELAKANG
Kesadaran kita untuk saling berbagi, tidak saja merupakan sikap mulia yang diajarkan agama.
Lebih jauh dari itu, pikiran dan naluri manusia sebagai makhluk sosial selalu menuntut kita
untuk bersikap peduli terhadap segala penderitaan, kekurangan, dan keterbatasan yang
dirasakan sesama. Ada sisi lain dari batin kita yang ikut menderita atau merasa bersalah ketika
kita memiliki dan merasakan kemudahan hidup dengan berbagai fasilitasnya. Sementara
disaat yang sama kita tahu, ada disekitar kita yang bahkan hanya untuk memenuhi kebutuhan
hidup pokok pun terasa sulit. Setitik cahaya menjadi harapan kita bersama, ketika naluri
kesadaran kita tergerak untuk melakukan amal nyata. Dalam Alquran surat Al-ma’un ayat 1-
7 Allah Swt berfirman: “Tahukah kamu orang yang mendustakan agama itulah orang yang
mengherdik anak yatim dan tidak memberi makan orang miskin, maka celakalah bagi orang-
orang yang sholeh yaitu orang-orang yang lalai dari sholatnya. Orang-orang yang berbuat riya
dan enggan menolong dengan barang berguna”. Untuk itu kami berencana mengajukan
proposal pemberdayaan ekonomi kaum dhuafa, agar membantu mereka mengatasi
permasalahan perekonomian keluarganya. Hasil output yang akan mereka terima bukan
hanya memberikan uang semata tetapi dengan memberikan skill yang baru atau untuk
memberikan modal baru agar bisa mengembangkan usahanya. Karena jika hanya dengan
diberi uang semata kepada mereka tidak memberdayakan melainkan melumpuhkan
kemampuan mereka. Karena itulah dengan memberikan pemberdayaan skill-lah mereka bisa
menaikkan perekonomian keluarga mereka secara terus menerus demi keberlanjutan
Budaya, Lingkungan dan adat Istiadat Masyarakat Hukum Adat Kampung Kuta.
Masyarakat Hukum Adat Kampung Kuta dengan Luas Area 185 Ha dengan jumlah Penduduk
237 Jiwa dengan 113 KK. Di mana Penghasilan Utama Masyarakat adalah tani tanda hujan.
“Kampung Kuta adalah salah satu contoh sukses bagaimana teknologi dapat bersinergi
dengan kehidupan tradisional tanpa menghilangkan nilai-nilai Kearifan lokal. Dengan sistem
listrik prabayar, masyarakat memiliki fleksibilitas lebih dalam mengelola konsumsi energi
mereka,”Program TJSL PLN ini merupakan bentuk nyata kontribusi PLN yang dirancang untuk
memberikan manfaat jangka panjang, baik dari segi ekonomi, sosial, budaya maupun
lingkungan bagi Masyarakat adat, Demi Keberlanjutan"
Target Wilayah Geografis
Program usaha penggemukan Kambing Etawa akan dilaksanakan oleh
kelompok ternak Cahaya “KUPS Kendit Jaya ” di Kampung Adat Kuta Desa
Karangpaningal Kec. Tambaksari Kab. Ciamis Jawa Barat. Kampung Adat Kuta
mempunyai potensi untuk pengembangan usaha Kambing Etawa Senduro, baik dari
segi potensi pakan maupun kultur social budaya masyarakat dalam memelihara
Kambing Etawa. Usulan pengembangan kelompok ternak Kambing Cahaya akan
didanai oleh YBM PLN
Potensi pakan. Dilihat dari segi potensi sebagai sumber hijauan pakan ternak,
wilayah ini mampu mencukupi kebutuhan pakan untuk populasi ternak yang ada saat
ini baik pada musim kemarau maupun musim hujan. Produksi hijauan ini belum
2
termasuk hijauan pakan budidaya, seperti rumput gajah dan leguminosa pohon yang
biasa. Beberapa anggota kelompok ternak dan masyarakat lainnya telah mempunyai
kebun pakan khusus yang ditanam pada tegalan atau lahan irigasi.
Potensi Sosial Ekonomi dan Budaya Masyarakat. Dari segi social ekonomi dan
budaya, masyarakat telah terbiasa melakukan budidaya ternak Kambing dengan
system produksi induk anak yang sifatnya sebagai usaha sampingan. Budaya
masyarakat untuk berkelompok masih sangat kuat diantaranya, kelompok tani,
kelompok arisan RT, kelompok yasinan dan beberapa kelompok seni dan budaya.
Kekuatan budaya ini menjadi modal yang sangat penting sebagai modal dasar
pengembangan kelompok agribisnis yang solid.
Potensi Pengujung di kampung adat kuta begitu Lumayan sehingga Program
Ternak Kambing Cahaya ini akan di jadikan sarana Edukasi buat para Pengunjung.
Tujuan Program Bantuan Dana
a. Membuka peluang bagi peternak kambing untuk meningkatkan taraf hidupnya
dengan cara memperbaiki system pengelolaan berkelompok.
b. Meningkatkan kualitas sumberdaya manusia, kemampuan wirausaha,
pengembangan usaha ternak Kambing Etawa.
c. Meningkatkan produktivitas hasil ternak Kambing Etawa.
d. Meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan anggota kelompok ternak
Kambing Etawa.
Manfaat Program Bantuan Dana
a. Terjalinnya kerjasama yang berkesinambungan dengan pihak YBM PLN
b. Tertariknya minat dan kepercayaan pihak luar untuk berinvestasi
mengembangan usaha peternakan modern.
c. Berkurangnya masyarakat yang tergolong kedalam masyarakat prasejahtera
d. Terciptanya pemberdayaan kelompok ternak Kambing Etawa yang ideal dan
dapat diterapkan dalam konteks pembangunan ketahanan pangan secara
nasional.
e. Terwujudnya kesempatan kerja dan usaha yang produktif strategis yang
berbasis masyarakat Adat yang mempunyai keunggulan dan nilai jual yang
komparatif dan kompetitif.
f. Menumbuhkembangkan kesadaran dan dinamika masyarakat untuk
mendayagunakan potensi diri sehingga dapat melakukan perubahan kearah
yang lebih maju dan lebih baik Demi Keberlanjutan.
g. Peningkatan kesejahteraan dan taraf hidup anggota kelompok ternak Kambing
Etawa yang lebih baik lagi.
Target Penerima Manfaat Program
Penerima manfaat langsung dari program Cahaya adalah kelompok Ternak
Cahaya KUPS Kendit Jaya yang memiliki anggota 57 orang. Kelompok ini terbentuk
atas keinginan dan motivasi bersama untuk meningkatkan kesejahteraan melalui
kegiatan berternak.
3
Pelaksanaan Program
Program langsung dilaksanakan setelah dana bantuan kami peroleh. Secara
kondisi sosio-demografis, sosio ekonomi, dan sosio budaya masyarakat, kelompok
kami sudah layak mendapatkan dana bantuan ini.
Teknologi yang akan Diterapkan
Teknologi yang akan diterapkan diantaranya :
a. Teknologi fermentasi pakan untuk memperoleh pakan berkualitas tinggi
b. Penggunaan pakan suplemen untuk meningkatkan daya cerna pakan dan
meningkatkan pertambahan bobot harian sapi.
Output yang Diharapkan
Tabel 1. Output yang diharapkan dari berbagai komponen strategis.
Komponen Output
Strategis
4
c. Optimalisasi pemanfaatan sumberdaya alam yang akan
meningkatkan sumberdaya alam yang akan meningkatkan
kesadaran dalam menjaga keutuhan dan kelestariannya.
5
2. Kelompok Usaha Ternak Cahaya
6
C. RENCANA ANGGARAN
12.484.000,00 12.484.000,00
Total 46.534.000,00
PPN 12 % 5.584.080,00
7
8
D. PENUTUP
9
PEMERINTAH PROVINSI JAWA BARAT
DINAS KEHUTANAN
CABANG DINAS KEHUTANAN WILAYAH VII
Jalan Koperasi Nomor 77 Kelurahan Kertasari Kecamatan Ciamis
Telepon / Faksimil : (0265) 7577092 e-mail : cdkwilvii@[Link]
Ciamis - 46213
Dokumen ini telah ditandatangani secara elektronik menggunakan sertifikat elektronik yang diterbitkan oleh Balai Sertifikasi
Elektronik (BSrE) Badan Siber dan Sandi Negara. Dokumen digital yang asli dapat diperoleh dengan memindai QR Code,
memasukkan kode pada Aplikasi NDE Pemerintah Daerah Provinsi Jawa Barat, atau mengakses tautan berikut
[Link]
A0941BC758
5. Surat Permohonan MHA Kampung Kuta Nomor :
145/MHAKampungKuta/VII/2024, Tanggal 28 Juli 2024,
Perihal : Permohonan SK Pembentukan KUPS Sekar
Wangi;
6. Surat Permohonan MHA Kampung Kuta Nomor :
146/MHAKampungKuta/VII/2024. Tanggal 28 Juli 2024,
Perihal : Permohonan SK Pembentukan KUPS Paneresan
Peueut Nanjeur;
7. Surat Permohonan MHA Kampung Kuta Nomor :
147/MHAKampungKuta/VII/2024, Tanggal 28 Juli 2024,
Perihal : Permohonan SK Pembentukan KUPS Pandu
Budaya Kuta Katineung;
8. Surat Permohonan MHA Kampung Kuta Nomor :
148/MHAKampungKuta/VII/2024 Tanggal 28 Juli 2024,
Perihal : Permohonan SK Pembentukan KUPS Mulasara
Buana;
9. Surat Permohonan MHA Kampung Kuta Nomor :
149/MHAKampungKuta/VII/2024 Tanggal 28 Juli 2024,
Perihal : Permohonan SK Pembentukan KUPS Kendit Jaya;
10. Surat Permohonan MHA Kampung Kuta Nomor :
150/MHAKampungKuta/VII/2024 Tanggal 28 Juli 2024,
Perihal : Permohonan SK Pembentukan KUPS Buhun
Hideung;
11. Surat Permohonan MHA Kampung Kuta Nomor :
151/MHAKampungKuta/VII/2024 Tanggal 28 Juli 2024.
Perihal : Permohonan SK Pembentukan KUPS Ketempling
Pisang.
MEMUTUSKAN
Menetapkan : Keputusan Kepala Cabang Dinas Kehutanan Wilayah VII tentang
Pembentukan Kelompok Usaha Perhutanan Sosial pada Kawasan
Hutan Masyarakat Hukum Adat Kampung Kuta di Desa
Karangpaningal Kecamatan Tambaksari Kabupaten Ciamis Provinsi
Jawa Barat.
Pertama : Menunjuk dan menetapkan kelompok /nama-nama kelompok yang
Namanya tercantum pada Lampiran yang merupakan bagian tidak
terpisahkan dari Keputusan ini sebagai Kelompok Usaha
Perhutanan Sosial (KUPS).
Kedua : Keputusan ini berlaku sejak tanggal ditetapkan, dengan ketentuan,
apabila dikemudian hari terdapat kekeliruan dalam penetapannya,
akan diadakan perubahan dan perbaikan sebagaimana mestinya.
Dokumen ini telah ditandatangani secara elektronik menggunakan sertifikat elektronik yang diterbitkan oleh Balai Sertifikasi
Elektronik (BSrE) Badan Siber dan Sandi Negara. Dokumen digital yang asli dapat diperoleh dengan memindai QR Code,
memasukkan kode pada Aplikasi NDE Pemerintah Daerah Provinsi Jawa Barat, atau mengakses tautan berikut
[Link]
A0941BC758
Demikian Surat Perintah ini, untuk dilaksanakan sebaik-baiknya.
Ditetapkan di Ciamis
pada tanggal 15 Agustus 2024
Tembusan :
1. Yth. Kepala Dinas Kehutanan Provinsi Jawa Barat di Bandung (sebagai laporan);
2. Yth. Kepala Kepala Balai PSKL Wilayah Jawa
Dokumen ini telah ditandatangani secara elektronik menggunakan sertifikat elektronik yang diterbitkan oleh Balai Sertifikasi
Elektronik (BSrE) Badan Siber dan Sandi Negara. Dokumen digital yang asli dapat diperoleh dengan memindai QR Code,
memasukkan kode pada Aplikasi NDE Pemerintah Daerah Provinsi Jawa Barat, atau mengakses tautan berikut
[Link]
A0941BC758
Lampiran Keputusan Kepala Cabang Dinas Kehutanan Wilayah VII
Nomor : 864/KH.06.05 /CDK Wil VII
Tanggal : 15 Agustus 2024
1. Sekar Nono Titi Trisna Edom 12 Jawa Ciamis Tambaksari Karangpaningal SK.1301 / Hutan Adat Masyarakat Budidaya Madu
Wangi Hermawan Meilani Barat MENLHK- Hukum Lebah Madu
PSKL Adat Trigona
/PKTHA/ Kampung
PSL.01/ Kuta
3/2018
2. Paneresan Odo Atik Tisna 33 Jawa Ciamis Tambaksari Karangpaningal SK.1301 / Hutan Adat Masyarakat Pengolahan Gula Aren
Peueut Rasda Kusmiati Sutisna Barat MENLHK- Hukum Nira Aren
Nanjeur PSKL Adat
/PKTHA/ Kampung
PSL.01/ Kuta
3/2018
3. Pandu Irus Ade Koko Ilah 31 Jawa Ciamis Tambaksari Karangpaningal SK.1301 / Hutan Adat Masyarakat Ekowisata dan Jasa
Budaya Rusmiati Komara Carsilah Barat MENLHK- Hukum Sekolah Lingkungan
Kuta PSKL Adat Lapang
Katineung /PKTHA/ Kampung
PSL.01/ Kuta
3/2018
4. Mulasara Cartam Kuswi Carli Sandi 101 Jawa Ciamis Tambaksari Karangpaningal SK.1301 / Hutan Adat Masyarakat Pengolahan Pupuk
Buana Wiarsih Fatha Barat MENLHK- Hukum kompos/pupuk Organik
PSKL Adat organik i
/PKTHA/ Kampung
PSL.01/ Kuta
3/2018
5. Kendit Azid Toto Atim 57 Jawa Ciamis Tambaksari Karangpaningal SK.1301 / Hutan Adat Masyarakat Budidaya Kambing
Jaya Apriyanto Cartim Barat MENLHK- Hukum Ternak
PSKL Adat Kambing
/PKTHA/ Kampung
PSL.01/ Kuta
3/2018
Dokumen ini telah ditandatangani secara elektronik menggunakan sertifikat elektronik yang diterbitkan oleh Balai Sertifikasi Elektronik (BSrE) Badan Siber dan Sandi Negara. Dokumen digital
yang asli dapat diperoleh dengan memindai QR Code, memasukkan kode pada Aplikasi NDE Pemerintah Daerah Provinsi Jawa Barat, atau mengakses tautan berikut
[Link]
A0941BC758
Pengurus Jml Alamat Nomor Skema
Nama
No Anggota Persetujuan Perhutanan Nama KPS Jenis Usaha Komoditas
KUPS
Ketua Sekreetaris Bendahara (orang) Provinsi Kab Kec Desa PS Sosial
6. Buhun Kursih Konoh Mamah 21 Jawa Ciamis Tambaksari Karangpaningal SK.1301 / Hutan Adat Masyarakat Pengolahan Kopi
Hideung Komalasari Barat MENLHK- Hukum Pasca Panen
PSKL Adat Kopi
/PKTHA/ Kampung
PSL.01/ Kuta
3/2018
7. Ketempling Asri Enah Wiwik 25 Jawa Ciamis Tambaksari Karangpaningal SK.1301 / Hutan Adat Masyarakat Pengolahan Kripik
Pisang Mulyani Rohainah Wiarsih Barat MENLHK- Hukum Aneka Pisang.
PSKL Adat Cemilan Sale
/PKTHA/ Kampung Pisang Pisang
PSL.01/ Kuta Kerajinan Kerajinan
3/2018
Ditetapkan di Ciamis
pada tanggal 15 Agustus 2024
Dokumen ini telah ditandatangani secara elektronik menggunakan sertifikat elektronik yang diterbitkan oleh Balai Sertifikasi Elektronik (BSrE) Badan Siber dan Sandi Negara. Dokumen digital
yang asli dapat diperoleh dengan memindai QR Code, memasukkan kode pada Aplikasi NDE Pemerintah Daerah Provinsi Jawa Barat, atau mengakses tautan berikut
[Link]
A0941BC758
PROFIL dan GAMBARAN UMUM
KAMPUNG ADAT KUTA
Nama Organisasi : Komunitas ADAT KAMPUNG KUTA
Alamat Desa Adat : Jalan Kondang raya
Dusun : Kuta
Kelurahan/Desa : Karangpaningal
Kecamatan : Tambaksari
Kabupaten/Kota : Ciamis
Propinsi : Jawa Barat
Kode Pos : 46388
No. Phone : +6282219678614
Web : httpp: [Link]
Email : [Link]@[Link]
info@[Link]
MEDSOS : IG. @kmpadatkuta
Visi
“Terwujudnya Masyarakat Hukum Adat Kuta yang Berdaulat, Mandiri, Berbudaya
dan Alam Lestari demi Keberlanjutan Masyarakat AdatNya “
Misi
Untuk mewujudkan Visi, maka Masyarakat Hukum Adat Kuta mempunyai misi sebagai berikut :
1. Memperkokoh Kerukunan Hidup Bermasyarakat
2. Mewujudkan tatanan Masyarakat yang tertib, taat azas, serta menjujung tinggi kearifan Lokal
3. Memantapkan kreativitas seni dan budaya masyarakat yang berorientasi pada
pelestarian kearifan local
4. Meningkatkan kualitas sumber daya manusia yang berlandaskan pada penguatan
pendidikan, kesehatan dan perekonomian Masyarakat
5. Memberdayaan ekonomi kreatif
6. Meningkatkan kebahagiaan masyarakat Adat melalui sistem jaminan sosial yang komprehensif
7. Memperkuat sinergi pariwisata Budaya dan Pelestarian Alam dengan Dinas Terkait
1
Page
Hal itu tampak selaras dengan pameo silih asih, silih asah, dan silih asuh yang berarti
masyarakat Kampung Adat Kuta harus memiliki sikap saling mengasihi (silih asih), saling
memperbaiki dan membenahi diri (silih asah), serta saling melindungi atau menjaga pula (silih
asuh).
LEGALITAS ADAT :
➢ PERATURAN DAERAH KABUPATEN CIAMIS NOMOR 15 TAHUN 2016
TENTANG PENGAKUAN DAN PERLINDUNGAN MASYARAKAT
HUKUM ADAT KAMPUNG KUTA
Sebagai Raja yang baik, Prabu Permanadikusuma merasa tidak puas apa yang dilaporkan
para pengawalnya, beliau ingin melihat sendiri bagaimana kondisi lingkungan / alam dan
kemungkinan pengembangnya ke depan setelah kerajaan berdiri. Beliau merasa kaget
karena tempat yang indah tersebut ternyata jauh dari harapannya, selain kurang luas juga
daerah tersebut akan sulit di kembangkan, karena sekelilingnya rawa – rawa dan tebing
yang sangat tinggi sehingga akan menyulitkan berkomunikasi dengan dunia luar. Setelah
diadakan musyawarah, akhirnya diputuskan bahwa pusat Kerajaan tidak jadi dibangun di
lokasi itu.
Meskipun pengawalnya telah bekerja keras dalam mewujudkan pusat Kerajaan dan
akhirnya dibatalkan dan ditinggalkan karena Prabu Permanadikusuma memandang tempat
ini tidak memenuhi Patangewu Domas ( syarat sebagai Pusat Kerajaan ), Prabu
Permanadikusuma memutuskan untuk melanjutkan pengembaraannya guna mencari
tempat lain yaitu kearah barat, dan sebelum meninggalkan daerah itu beliau memerintahkan
beberapa pengawalnya untuk tetap tinggal di daerah itu untuk menjaga bahan – bahan
bangunan yang sudah terlanjur dipersiapkan, dan sebelum pergi beliau sempat mangambil
segenggam tanah.
Menurut cerita daerah yang dibatalkan menjadi pusat Kerajaan itu adalah Leuweung Gede,
dan bahan – bahan bangunan yang terlanjur dipersiapkan sekarang hanya tinggal puing –
puing berupa gunukan Kapur ( Gunung Kapur ), Gunukan semen merah (Gunung Semen),
Gunukan peralatan (Gunung Barang),dan gunukan pandai besi (Gunung Pandai Domas),
5
Gunung Pakayuan dll, yang membentengi Dusun Kuta sekarang. Sedangkan daerah tempat
Page
Pusat Kerajaan yang di impikan akhirnya terwujud di daerah antara sungai Cimuntur dan
Citanduy, dengan nama Bojong Galuh Kamulyan.
Setelah lama bertahta, timbulah perselisihan antar Raja dengan Patihnya yaitu Patih Aria
Kebondan yang berambisi menjadi Raja. Demi menyelamatkan Negara dan Rakyatnya dari
kehancuran akibat perang saudara, Prabu Permanadikusuma akhirnya memuruskan untuk
menyerahkan Tahta kerajaan beserta kedua Istrinya yang bernama Dewi Naganingrum
(prameswari) dan Dewi Pangrenyep serta memutuskan untuk menjadi pertapa (Resi.
Dewi Pangrenyep yang sebelumnya sering berselingkuh dengan Aria Kebondan dirubah
statusnya menjadi Prameswari, sedangkan Dewi Naganingrum dijadikan salah satu selirnya.
Kerajaan Bojong Galuh Kamulyan seiring dengan berjalannya waktu sampai akhirnya
datang bencana berupa penyakit ganas yang menular. Menghadapi bencana ini Aria
Kebondan coba mengatasinya dengan memanggil orang – orang sakti yang tersebar
diseluruh negeri, namun tidak satupun orang sakti itu mampu mengatasi bencana tersebut.
Namun tersiar kabar bahwa ada seorang Resi selain sakti juga terkenal karena kebaikan
hatinya. Untuk itu Aria Kebondan memanggilnya, setelah bencana itu dapat diatasi, Aria
Kebondan segera sadar bahwa ada orang yang lebih sakti dari dirinya, dan menurutnya ini
tidak boleh dibiarkan terjadi. Aria Kebondan akhirnya membuat tipu daya dengan cara
kedua perut istrinya dipasangi Kuali (wajan) seolah – olah mereka hamil. Sang Resi
dipanggil kembali untuk meramalkan janin yang ada dalam kandungan kedua Istrinya.
Menjawab pertanyaan itu, Resi mengatakan bahwa kelamin janin dari kedua istri raja itu
laki – laki. Mendengar jawaban Resi, Raja tertawa mencomoohkan dan mengambil Kuali
dari perut kedua istrinya, namun keanehanpun terjadi karena kedua istrinya itu benar – benar
hamil. Dan Raja murka dan mengusir Resi dari istana dan kuali yang tadinya menempal
dikedua perut istrinya dilempar keudara.
Menurut cerita, Resi yang dipanggil Raja itu adalah Prabu Permanadikusuma yang telah
menjadi Resi dan mendirikan padepokan di daerah Cikoneng (± 40 km kearah barat pusat
Kerajaan) dan berganti nama menjadi Ajar Sukaresi, dan kuali yang dilemparkan kemudian
jatuh di Astana Gede, Kawali ( sebuah kota disebelah utara Kota Ciamis ). Konon di Astana
Gede ada dua buah kolam menyerupai kuali (wajan) yang bernama Cikawali yang airnya
6
Page
tidak pernah kering walaupun kemarau panjang dan di dalam kolam itu terdapat sejenis
ikan Mas (dalam ukuran kecil) dengan warna yang beraneka.
Beberapa bulan setelah itu, Dewi Pangrenyep melahirkan seorang anak laki – laki yang
kemudian diberi nama Hariangbanga, dan tidak lama kemudian Dewi Naganingrum
Menurut cerita, setelah kerajaan Bojong Galuh Kamulyan dipecah menjadi dua, karena Raja
kalah dalam nyambung Ayam dengan Ciung Wanara dan sebagian wilayah kerajaan
dijadikan sebagai taruhannya, dan Raja sendiri menyerahkan makhkota kerajaan kepada
putranya Hariangbanga. Hariangbanga kemudian menjadi Raja di kerajaan Galuh Barat,
dan Ciung Wanara menjadi Raja Galuh Timur.
Setelah lama Ciung Wanara menjadi Raja, beliau mendengar bahwa ibunya masih hidup
dan tengah bersembunyi di Leuweung Gede, selanjutnya beliau memerintahkan
pengawalnya untuk menjemputnya dan menetap di istana kerajaan menjadi Ibu Suri.
Setelah gagal dijadikan pusat kerajaan karena tidak memenuhi Patangewu Domas,
Leuweung Gede dan tempat – tempat penyimpanan bahan bangunan yang juga gagal
digunakan, kemudian ditetapkan sebagai tempat Keramat, dan untuk memelihara dan
menjaganya dari kemungkinan penjarahan perlu ditetapkan Juru Kunci (kuncen)
Untuk menentukan siapa yang berhak menjadi kuncen (Juru Kunci) maka diadakanlah
sayembara : (barang siapa mampu lebih dulu sampai di Kuta yang ditandai dengan
ditancapkannya pohon jarak, maka dialah yang berhak menjadi kuncen, dan peserta lain
yang kalah harus tetap tinggal di Kuta dan menjadi bawahan kuncen sampai ia meninggal,
hukuman penggal harus diterima oleh siapa saja yang melanggar ketentuan ini).
Menanggapi sayembara tersebut, ada dua orang yang mendaftarkan diri sebagai peserta.
7
Seorang berasal dari kerajaan Mataram bernama Ki Batasela, dan lainnya bernama Ki Bumi
Page
berasal dari kerajaan Cirebon. Menurut cerita masyarakat Dusun Kuta Ki Bumi diduga sama
dengan Pangeran Pakpak yang diutus raja Cirebon untuk menyebarkan Agama Islam ke
daerah selatan.
Pada waktu sayembara dimulai, berangkatlah ke dua orang tersebut menuju tempat dimana
MHA KAMPUNG KUTA
mereka akan menjadi kuncen, lereng gunung, lembah, pesawahan, rawa – rawa mereka
lewati, namun layaknya sebuah perlombaan, satu diantara mereka harus ada yang kalah,
dan ternyata yang tiba lebih dahulu (Hari Jum’at) adalah Ki Bumi. Sementara itu Ki
Batasela yang sebenarnya selalu ada dimuka, sesampai di daerah Cibodas tidak segera
melanjutkan perjalanan ke Leuweung Gede, melainkan beristirahat dan tertidur disuatu
tempat yang kemudian oleh masyarakat dikenal dengan nama Gunung Andaya. Ketika
terjaga, barulah sadar bahwa ia tidak akan pernah menjadi kuncen seperti yang ia kehendaki
dan juga merupakan harapan dari Raja Mataram, karena Ki Bumi yang sebelumnya selalu
ada dibelakang, ternyata telah mendahului dan sampai di Kuta lebih awal. Namun ia tetap
melanjutkan perjalanan dan sampai di Leuweung Gede hari Senin minggu berikutnya.
Sesuai aturan yang telah ditetapkan, bahwa yang kalah dalam sayembara ini tidak boleh
kembali ke tampat asalnya, tetapi harus menetap di Kuta dan menjadi bawahan Ki Bumi. Ki
Batasela yang tidak sudi menjadi bawahan (abdi) kuncen, karena hal tersebut dianggap a’ib
dan kembali ke Solo sebagai tempat asalnya juga tidak mungkin maka Ki Batasela telah
melanggar kesepakatan, akibatnya ia mendapat sanksi (hukuman) dari para karuhun
berupa : seluruh masa hidupnya terus dilanda penderitaan, dan seringkali mengalami
kelaparan. Ia meminta – minta agar ada orang mau memberi makanan untuk mengurangi
rasa laparnya, namun tidak seorangpun sudi memberinya sampai akhirnya ia mati karena
busung lapar. Namun sebelum napasnya yang terakhir ia mengeluarkan supata (kutukan) :
Siapa saja yang tinggal di dusun Cibodas selama hidupnya tidak akan pernah
berkecukupan apalagi kaya raya) Supata itu nampaknya masih diyakini kebenarannya oleh
masyarakat dusun Cibodas, sehingga dalam kehidupan masyarakat Cibodas ada anggapan
bahwa hidup adalah sekedar menyambung hidup, bekerja keras untuk mencari kekayaan
merupakan pekerjaan yang sia – sia, karena pada akhirnya mereka akan tetap miskin. Orang
Cibodas yang tetap tinggal di dusun cenderung Fatalis, karena kalaupun berusaha sekuat
tenaga akhirnya tetap tidak akan membawa hasil.
Sementara itu, Ki Bumi ditetapkan menjadi kuncen di Kuta. Beliaulah kuncen pertama dan
yang kemudian menurunkan kuncen – kuncen berikutnya, yaitu anak cucu dari
keturunannya. Seperti kebiasaan pada umumnya, kuncen merupakan jabatan abadi yang
disandanya seumur hidup.
Bagi masyarakat Kuta, Ki Bumi memiliki arti khusus, karena selain dianggap sebagai
peletak dasar kehidupan di Kuta, iapun diyakini sebagai manusia yang tanpa cacat bahkan
hampir sempurna dalam semua hal. Karena itu semua semua tingkah laku dan ucapannya
selama hidup dijadikan pedoman dan patut ditiru. Ucapan – ucapannya dijadikan aturan
tidak tertulis, dan tempat tinggalnya yang sederhana berupa rumah panggung yang
berbentuk Limas dan beratap injuk ditiru sampai jaman sekarang. Menurut Riwayat
sampai dengan meninggalnya, Ki Bumi belum mendapat restu dari Raja Cirebon untuk
8
mendirikan rumah selain yang ditempatinya, dan sampai sekarang restu itu belum datang,
Page
karenanya semua orang Kuta yang akan mendirikan rumah permanen yang terbuat dari bata
dan beratap genting, harus didirikannya atau di bangunnya diluar Kuta.
Masyarakat dusun Kuta percaya bahwa dilapisan bawah tanah yang menjadi tempat tinggal
mereka, berserakan barang – barang keramat titipan Raja Galuh dan Raja Cirebon yang
sengaja disimpan di Kuta. Apabila mayat dikubur di wilayah Kuta maka akan menggali
tanah dan dapat menyebabkan rusaknya barang – barang yang ada didalamnya. Bila hal ini
terjadi diyakini akan menimbulkan kemurkaan penguasa alam semesta (Hyang Widi) dan
para leluhur, yang dapat mendatangkan bencana sebagai ajab.
Segala bentuk kebiasaan yang ditinggalkan oleh leluhur, terutama yang diturunkan oleh Ki
Bumi, sampai sekarang masih terus dipertahankan, warga Kuta menyadari akan arti penting
Ki Bumi sebagai peletak dasar kehidupan masyarakat Kuta, maka sebagai rasa kagum dan
penghormatan, lokasi dimana Ki Bumi dimakamkan selain dinamai Leuweung Ki Bumi juga
dijadikan tempat Keramat.
Meskipun seluruh masyarakat Kuta menganut agama Islam, namun sulit dalam kenyataan
hidup sehari – hari masih sulit dibedakan antara kaidah – kaidah ajaran Islam dengan adat
istiadat. Masyarakat Adat Kuta yakin bahwa bumi dimana mereka tinggal dikuasai dan
dikendalikan oleh mahluk Gaib seperti : Ambu Rama Bima Raksa KaliJaga, Prabu
mangkurat Jaga, Sang Mentil Putih, dan Kyai Bima Raksa Nagara yang tinggal di tebet –
tebet (tempat keramat) sehingga untuk memasuki Tebet – tebet tersebut diwajibkan untuk
menta’ati aturan yang di tetapkan.
Lemah Museur
Page
-
- Gunung Gebang
- Gunung Dodokan
- Tidak boleh memasuki Leuweung Gede, kecuali hari Jum’at dan hari Senin.
Diperbolehkannya seseorang untuk memasuki Leuweung Gede pada hari itu, didasarkan
pada mitos/keyakinan masyarakat Kuta, Ketika Ki Bumi mengikuti sayembara untuk
menjadi kuncen berlomba dengan Ki [Link] Bumi tiba di leuweung Gede pada hari
Jum’at, sedangkan hari Senin selang tiga hari Ki Batasela tiba di [Link] – hari dimana
kedua tokoh ini memasuki Leuweung Gede untuk pertama kalinya, dijadikan pedoman
bagi orang – orang yang hidup sesudahnya untuk memasuki Leuweung Gede pada hari
yang sama.
- Tidak boleh mengenakan alas kaki (sepatu atau sandal), larangan ini bermula dengan
dijadikannya Leuweung Gede sebagai persembunyian Dewi Naganingrum dari kejaran
para pengawal kerajaan Bojong Galuh Kamulyan yang ditugaskan untuk
menangkapnya. Pada sa’at itu alas kaki hanya biasa digunakan oleh pegawai kerajaan
dan merupakan salah satu cirri yang membedakan mereka dengan rakyat biasa. Selain
alasan diatas, juga kebiasaan Ki Bumi yang tidak pernah menggenakan alas kaki,
menjadi pedoman bagi generasi berikutnya.
- Tidak boleh menggunakan perhiasan yang terbuat dari emas, karena emas
dilambangkan sebagai kemewahan duniawi.
- Tidak boleh meludah, buang air kecil dan besar di areal Leuweung Gede.
- Tidak boleh membawa alat – alat yang terbuat dari besi seperti golok dan sabit.
- Tidak boleh mengenakan pakaian serba hitam.
- Tidak boleh mengenakan pakaian dinas, (seperti larangan mengenakan alas kaki)
- Tidak boleh manangkap apalagi membunuh binatang yang ada di Leuweung Gede.
- Tidak boleh mematahkan ranting apalagi menebang pohon – pohon yang ada di
Leuweung Gede.
- Tidak boleh membuang sampah yang mengandung api.
- Tidak boleh mengucapkan kata – kata yang tidak pantas (sompral).
- Tidak boleh memasuki Leuweung Gede tanpa didampingi oleh kuncen.
- Setelah memasuki Leuweung Gede dan tiba di mata air Ciasihan, kuncen dan penjiarah
harus membersihkan tubuh/muka dari segala kotoran yang melekat ditubuh sebelum
melakukan pejalanan menuju Puseur Bumi (titik pusat Leuweung Gede).
Adapun yang pernah dan sedang menjabat Kuncen di dusun Kuta adalah sebagai
berikut :
Kampung Adat Kuta merupakan salah satu Kampung / Dusun yang terletak di Desa
Karangpaningal Kecamatan Tambaksari Kabupaten Ciamis Propinsi Jawa Barat, disebelah
selatan Kecamatan Tambaksari dengan jarak dari Ibu Kota Propinsi 177 km, dan Ibu Kota
Kabupaten 43 km dan dari Kecamatan ±4 km, dengan udara tergolong sejuk dengan rata
suhu 28 – 30 derajat celcius karena disekelilingnya terdapat banyak bukit yang berhutan
lebat dengan aneka tumbuhan. Bukit – bukit tersebut oleh masyarakat Kuta dan sekitarnya
disebut gunung, yaitu : gunung semen, gunung kapur, gunung wayang, gunung barang,
gunung pandai domas dan lainnya yang termasuk kedalam ancepan yang dikeramatkan oleh
masyarakat Kuta.
11
Kuta mempunyai wilayah 185,195 HA, Luas lahan sawah / tanah basah 44,395 HA, dan
Page
lahan tanah darat 89,831 HA, Ancepan 2,184 Ha, Ranca 0,315 Ha, Hutan Keramat 31 Ha,
Pemukiman 9,733 Ha, Sungai 5,581Ha perkiraan ketinggian dari permukaan laut ± 463 m.
Penduduk Kampung Adat Kuta mayoritas bermata pencaharian disektor pertanian, Hutan
Rakyat, kebun milik masyarakat, peternakan, perikanan dan perdagangan.
U Dusun CIBODAS
Kali CIJOLANG
Dusun MARGAMULYA
KUTA
Te b in g R A H O N G Lokasi rawan lonsor/Erosi
PUNG
KAM
ADAT
Jalan Raya
[Link]
NG NI
M A TA A I R
Gn. KIPAMALI
NA TA
KA
C IA SIH A N
PrasaranaAdat
CI PE
LEMAHMUSEUR
OK AH
BL AW
S
NG P
TE ACA
AH
PrasaranaUmum Gn. Barang
WA IL
JA B. C
AN
NG )
RA Gede
KA
GunungWAYANG A
L g
PANDAIDOMAS
TAN un Gn. Goong
HU euwe
(L
GunungSEMEN
Bt. Kacapi
INSET DESA KARANGPANINGAL
Ancepan U
Dusun POHAT
NI Batu Bonghas
TA G
Desa Kaso
PE REN Ancepan
A H E Batu Patangeuh-tanggeuh
W IG
SA OK C
Desa Tambaksari
BL
Lokasi rawan lonsor/Erosi Cibodas
Margamulya
Keterangan :
Pemukiman Warga Adat Ciloa
Kuta
Ancepan (Keramat Kecil
Prasarana Umum (bale dusun, Masjid, Pos Yandu) Jawa Tengah
Pohat
Prasarana Adat Pananggapan
Kali Cijolang
Batas wilayah dusun
Jalan Desa Bangunharja
LEGALITAS ADAT :
Nomor : SK.1301/MENLHK-PSKL/PKTHA/PSL.1/3/2018
Page
14
Page
15
Page
Dari hasil observasi lapangan dan wawancara dengan pengurus adat di MHA Kampung
Kuta, dapat diketahui bahwa di kawasan hutan adat Leuweung Gede mempunyai
ekosistem yang amat baik, dengan tutupan lahan yang rapat serta mempunyai
beranekaragam flora fauna endemik. Ekosistem yang baik ini didukung dengan adanya
aturan adat yang membatasi segala pemanfaatan yang ada didalam kawasan hutan. Hal
ini dikarenakan adanya kepercayaan masyarakat setempat untuk menjaga hutan dan
terdapat larangan (pamali) untuk mengambil apapun didalam hutan. Adapun beberapa
pemanfaatan yang masih bisa dilakukan secara terbatas, yaitu;
Adapun untuk beberapa jenis flora atau tanaman yang berhasil diidentifikasi dengan metode
PU (Petak Ukur) di bulan april 2024 disepanjang jalur pintu masuk sampai ke tempat ritual
adalah sebagai sebagai berikut:
Sedangkan untuk data fauna atau hewan yang berhasil diidentifikasi yaitu; lutung, kera, babi
hutan, ular, burung dan lainnya
dilakukan diantaranya:
Page
a. Maro/maparo: hasil yang diperoleh sehari untuk yang menyadap dan sehari berikutnya
untuk yang punya pohon aren. Hasil yang diberikan untuk pemilik pohon dapat berupa
gula aren maupun berupa nira. Jika berupa nira berarti pemilik pohon melakukan
proses pembuatan gula aren sendiri.
MHA KAMPUNG KUTA
b. Pemilik pohon langsung minta gula aren dengan memperkirakan hasil yang dapat
diperoleh dari seluruh pohon. Petani pemilik pohon menjual sendiri gula yang
dihasilkan. Biasanya cara ini dilakukan oleh petani yang memiliki banyak pohon aren.
Seluruh pohon aren dikira-kira hasil yang dapat diperoleh. Petani pemilik pohon
memberi upah sesuai kesepakatan bersama. Upah bisa dalam bentuk nira maupun
uang.
c. Pemilik pohon meminta uang dari hasil penjualan gula aren. Petani penyadap juga
menjualkan gula aren yang dihasilkan dan menyerahkan uang hasil penjualan ke
pemilik pohon.
Satu tangkai biasanya dapat disadap setiap hari hingga 3-4 bulan per tahun tanpa jeda.
Penyadapan dalam satu tangkai akan berhenti ketika tangkai habis hingga pangkal, hal ini
dikarenakan setiap kali menyadap, permukaan sadapan harus diperbarui dengan cara diiris
sehingga lama-kelamaan mengurangi panjang tangkai.
Tanaman aren dapat mulai disadap pada umur 15 tahun. Petani dapat menyadap hingga
pohon aren berumur 25-30 tahun. Artinya petani dapat menyadap selama 10-15 tahun.
Dalam satu tahun dapat menyadap selama 3-4 bulan (90-120 hari). Jika dalam satu hari
rata-rata per pohon dapat menghasilkan 2,4 kg gula aren dengan harga Rp. 25.000/kg, maka
penghasilan petani yang dapat diperoleh sebesar ± Rp. 600.000,-/bulan/pohon.
19
b. Kopi
Kopi merupakan salah satu komoditas yang potensial dibudidayakan oleh petani di
Page
Kampung Adat Kuta. Terdapat beberapa petani yang intensif menanam kopi. Salah seorang
petani menanam 5.000 batang kopi di lahan seluas 1 ha. Panen kopi biasa dilakukan pada
bulan Juni-Juli. Dalam sekali periode panen setiap pohon dipetik 2-3 kali dengan jarak
c. Kelapa
Populasi tanaman kelapa di hutan rakyat Kampung Kuta cukup banyak. Mayoritas petani
memanen buah kelapa untuk dijual. Buah kelapa yang dipanen dipisahkan berdasarkan
grade ukurannya, mulai dari grade A hingga grade D. Grade A untuk kelapa ukuran yang
paling besar dan grade E untuk ukuran terkecil. Kelapa grade A dijual ke pengepul dengan
harga Rp. 1.700/biji, grade B dijual dengan harga Rp. 1.200/biji, grade C dijual dengan
harga Rp. 800/biji, dan grade D dijual dengan harga Rp. 500/biji. Satu pohon kelapa rata-
rata dapat menghasilkan 7 butir/bulan.
d. Pala
Tanaman pala (Myristica fragrans) belum lama dibudidayakan di Kampung Kuta. Saat ini
baru beberapa petani yang telah menanam dan memanen pala. Pala baru dapat dipanen saat
tanaman berumur 4 tahun. Dipanen 2 bulan sekali dan dapat menghasilkan 5-10 kg/pohon,
dijual dengan harga Rp. 3.500/kg (harga buah di pohon). Saat ini memang belum banyak
petani di Kampung Kuta yang membudidayakan pala karena perlu upaya ekstra dalam
perawatannya. Tanaman pala harus selalu bersih dari rumput, tidak boleh ternaungi, relatif
memerlukan banyak air/tidak tahan ketika kekurangan air. Pohon pala pertumbuhannya
cukup lambat. Jika sudah berbuah, seperti halnya kelapa, pohon pala dapat dipanen secara
rutin satu bulan sekali sepanjang tahun hingga tanaman berusia 30 tahun.
e. Pisang
Pisang termasuk salah satu komoditas yang potensial di Kampung Kuta. Terdapat
beberapa jenis pisang yang dibudidayakan yaitu pisang nangka, pisang raja, pisang
ambon dan pisang bagja/tanduk. Pisang tidak memerlukan perawatan khusus, petani
hanya perlu menanam dan merawat seperlunya saja hingga panen. Panen pisang dapat
dilakukan satu bulan sekali karena masing-masing petani memiliki tanaman pisang yang
tersebar di kebun masing-masing. Satu tandan pisang rata-rata seberat 5-15 kg. Pisang
20
nangka dan ambon oleh pengepul dibeli dengan harga Rp. 1.000/kg. Pisang tanduk dibeli
seharga Rp. 3.000/kg, sedangkan pisang raja dan ambon dibeli dengan harga Rp.
Page
2.000/kg.
Sarang lebah klanceng harus diletakkan di kebun dan tidak boleh berdekatan antara satu sarang
dengan sarang lain. Jarak minimal 20 meter, semakin jauh semakin baik. Kelebihan budidaya
madu lebah klanceng antara lain madu berkhasiat tinggi untuk kesehatan, lebahnya tidak
menyengat, mudah perawatannya, lebah klanceng tidak mudah kabur, dan dapat dibudidayakan
dalam jangka panjang.
Dari data potensi diatas dapat dilihat nilai produktifitas dan harga jual komoditas yang bisa
didapatkan adalah sebagai berikut:
Dari tabel diatas dapat ketahui bahwa tanaman aren merupakan komdoitas unggulan utama
yang bisa menopang penghasilan ekonomi keluarga sehari-hari. Hal ini dilihat dari nilai
Memelihara hewan ternak bagi masyarakat adat merupakan kegiatan sampingan yang cukup
penting. Begitu juga dengan sektor perikanan yang dibudidayakan oleh masyarakat. Beberapa
jenis hewan ternak favorit yang dipelihara adalah sapi, kambing dan ayam, sedangkan untuk
perikanan yang dipelihara kebanyakan adalah ikan gurameh, mujahir, nilam dan lain
sebagainya. Sektor peternakan dan perikanan ini menjadi andalan bagi warga masyarakat untuk
mendapatkan ekonomi tambahan.
Dari hasil inventarisir hewan ternak yang dilakukan secara partisipatif dapat didata bahwa per
26 Juni 2024 terdapat 28 KK yang memelihara 24 Sapi dan 64 kambing. Rata-rata para warga
memelihara hewan ternak di kebun yang berdekatan dengan sumber pakan dan sawah. Hewan
ternak tersebut menjadi tabungan bagi warga masyarakat yang bisa digunakan untuk menutupi
kebutuhan tambahan keluarga dan akan dijual pada saat ada kebutuhan penting. Sedangkan
untuk jenis ternak ayam, dapat diketahui bahwa hampir semua warga masyarakat di Kampung
Kuta memilikinya dan digunakan juga untuk memenuhi keuangan keluarga dalam skala kecil.
Adapun potensi perikanan yang ada memberikan nilai ekonomi jangka menengah,
sesuai dengan usia panen ikan yang dipelihara. Setidaknya ada tradisi warga untuk
menjual ikan setidaknya setahun sekali pada saat hari raya atau saat ada yang
mempunyai hajat. Ikan yang menjadi favorit untuk memenuhi kebutuhan hajat warga
yaitu ikan gurameh, bawal, ikan mas dan mujair. Budidaya perikanan ini dilakukan di
wilayah yang mudah dan dekat dengan air di sekitar sungai atau ceruk-ceruk bukit. Ini
dikarenakan jika musim kemarau terdapat kendala air yang susah diadpatkan pada
lokasi-lokasi tertentu
Gula Semut
23
Page
25
Page
26
Page
1. GONDANG BUHUN
Sejarah
Tradisi yang bermakna ngayun ini konon berasal dari warisan seorang leluhur dari Kerajaan
Galuh yaitu pandita Ki Ajar Sukaresi pada abad ke-6. Tradisi Gondang Buhun yang memiliki arti
Gondang Kuno ini dilakukan dalam rangka menghormati Nyi Dewi Sari Pohaci atau lebih dikenal
sebagai Dewi Sri (Dewi Padi). Tradisi ini bahkan sudah ada sebelum masuknya agama Islam ke
Kampung Adat Kuta seperti halnya tradisi kesenian Rengkong. Makna dari tradisi Gondang Buhun
untuk mengungkapkan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas hasil panen yang
didapat. Ungkapan rasa syukur tersebut ditembangkan melalui siloka (pepatah sunda) yang berisi
nasihat bermakna sebagai pengingat aturan hidup untuk mengkaji diri.
Pola permainan
Pola permainannya terdiri dari dua bagian yaitu tutunggulan dan nyanyian. Untuk tutunggulan
dalam Gondang Buhun terdapat empat jenis tutunggulan yang terdiri dari:
A. SEJARAH
Upacara Adat Nyuguh merupakan upacara adat yang digelar sejak dahulu secara turun-temurun
sebagai bentuk rasa syukur masyarakat Kampung Adat Kuta kepada Tuhan Yang Maha Esa atas
melimpahnya hasil bumi. Menurut sesepuh dan ketua adat di Kampung Adat Kuta, Upacara Adat
Nyuguh selalu dilaksanakan pada 25 safar disetiap tahunnya. Menurut beberapa sumber dari
masyarakat bahwa Nyuguh ini merupakan bentuk penyambutan (mapag) pasukan Padjadjaran
yang akan melewati Kampung Adat Kuta dalam perjalanan ke arah timur. Nyuguh dapat dimaknai
pula Nyuguhan/Susuguh. Pakaian yang digunakan pada upacara tersebut adalah pakaian adat
Kampung Adat Kuta yakni baju berwarna putih, celana berwarna hitam dan memakai iket untuk
laki-laki, sedangkan untuk perempuan menggunakan kebaya. Nyuguh dimulai dengan pergelaran
seni budaya yang menampilkan ragam seni yang ada di Kampung Adat Kuta seperti Ronggeng
Tayub, Gondang Buhun, Terebang, dan Gembyung sambil menunggu tamu undangan dan
masyarakat luar kampung Kuta hadir di lokasi upacara. Tempat pelaksanaan kegiatan ini dimulai
dari pusat perkampungan / Puseur Lembur dan berakhir di ujung jalan dekat sungai Cijolang yang
berbatasan langsung dengan Provinsi Jawa Tengah. Menjelang sore, masyarakat bersama-sama
berjalan mengarak dongdang atau tandu yang berisikan makanan seperti ketupat dan sejenisnya
yang diperoleh dari hasil bumi sekitar Kampung Adat Kuta. Ketupat yang diarak tersebut lalu
digantungkan pada bambu yang telah ditempatkan di ujung jalan kampung. Setelah itu, sesepuh
adat melakukan doa / tawasulan kepada leluhur Galuh, dilanjutkan dengan makan bersama di
ujung jalan kampung. Makanan tersebut dibawa oleh setiap warga yang kemudian saling berbagi
satu sama lain. Upacara Adat Nyuguh juga mengandung makna filosofis dalam melestarikan tradisi,
menjaga lingkungan dan melanjutkan pewarisan budaya.
konsep tabu atau Pamali yang hingga saat ini masih dipatuhi oleh seluruh masyarakat Upacara
adat Nyuguh tidak selalu harus disertai dengan pergelaran seni, karena bersifat tambahan
sedangkan inti dari upacara ini adalah mengarak hasil bumi ke ujung kampung dan melaksanakan
doa bersama.
Berdasarkan cerita rakyat, arti kata nyuguh diambil dari kata Nyuguhan atau Susuguh yang
bermakna memberikan jamuan makanan kepada tamu atau orang yang hadir pada suatu tempat.
Namun, Nyuguh ini dapat dimaknai secara luas dan memiliki makna filosofis yakni keselarasan
manusia dengan alam sekitarnya. Hal tersebut terwujud dalam konsistensi masyarakat Kampung
Adat Kuta dalam upaya menjaga Hutan Adat atau Leuweung Larangan yang masih terjaga
dengan.
B. PROSES PELAKSANAAN UPACARA NYUGUH
Kegiatan inti pada Upacara Adat Nyuguh adalah prosesi mengarak hasil bumi ke ujung jalan
kampung dan melaksanakan doa Bersama di waktu menjelang sore. Namun biasanya dimulai
dengan Pergelaran Seni Budaya seperti gelaran Seni Ronggeng, Seni Gondang Buhun, Tayuban,
Rengkong, Gembyung Buhun, dll. sebelum prosesi adat dimulai. Adapun urutan Upacara Adat
28
Nyuguh diantaranya:
Page
1. Pembuatan Ketupat (Kupat Salamet, Kupat Keupeul) dan kelengkapan alat sesaji lainnya
berupa rujak cau, cohok endog, lahang, sarandu, sawen, kaso bodas, kopi pait, bubur
beureum, bubur bodas, rujak kalapa, cai herang, cai teh, seureuh, bakak hayam, apu,
gambir, tumpeng, menyan, yang mulai dipersiapkan sejak tanggal 24 safar.
2. Proses penyambutan tamu di sambut dengan semua kesenian yang ada di Kampung Adat
Kutab seperti seni Gondang Buhun, Seni Terbang, Seni Rengkong, Seni dog-dog dimulai
MHA KAMPUNG KUTA
pukul 09.00 hingga menjelang ashar dan bertempat di puseur lembur.
3. Persiapan mengumpulkan seluruh warga di pusat kampong(Puseur Lembur) untuk
Bersama-sama menuju lokasi dengan membawa makanan ke batas ujung kampung
dengan menggunakan seragam adat : laki-laki berbaju putih, celana hitam dan iket kepala,
perempuan menggunakan kebaya.
4. Waktu pemberangkatan sekitar pukul 16.00 WIB, semua sesaji dimasukan ke
dalam Suraga (gotongan) yang kemudian dibawa beramai-ramai menuju Tungtung
Lembur (Ujung Kampung) dengan di iringi tabuhan seni dog-dog.
5. Setelah tiba di lokasi sekitar pukul 17.00 WIB, beberapa ketupat yang dibawa oleh
masyarakat digantungkan pada gantar (galah bambu) yang sudah disediakan dengan
maksud menawarkan makanan kepada pasukan Pajajaran yang hendak
melewati Kampung Adat Kuta. Prosesi selanjutnya adalah:
1. Ijab : kegiatan izin kepada leluhur Galuh dan Pajajaran bahwa pada hari tersebut telah
masuk waktu Upacara Adat Nyuguh dipimpin oleh sesepuh/kuncen.
2. Hadoroh/Tawasul : doa Bersama kepada Tuhan Yang Maha Esa yang bertujuan untuk
mendoakan kepada leluhur/karuhun yang ada di Kampung Adat Kuta dipimpin oleh
Ajengan/Ustadz.
3. Makan Bersama : Makan ketupat yang dibawa oleh masyarakat dengan masyarakat
yang hadir dari luar Kampung Adat Kuta.
4. Setelah prosesi berakhir, setiap warga mengambil satu ketupat untuk dibawa ke rumah
yang disimpan di atas pintu masuk rumah dengan tujuan tolak bala (sawén).
C. PELESTARIAN
Pelaksanaan Upacara Adat Nyuguh dijaga dan dilestarikan oleh masyarakat Kampung Adat
Kuta itu sendiri karena telah menjadi kepercayaan yang melekat pada setiap masyarakat dan
menjadi kewajiban untuk dilaksanakan. Adapun upaya yang dilakukan oleh Pemerintah
Kabupaten Ciamis adalah mendukung kebutuhan –kebutuhan yang diajukan oleh Komunitas
Adat dalam setiap tahunnya. Secara berkala mendekati kegiatan, Pemerintah Kabupaten
Ciamis melalui Dinas Kebudayaan, Kepemudaan dan Olahraga Kabupaten Ciamis selalu
melakukan koordinasi dan komunikasi sebelum pelaksanaan Upacara Adat Nyuguh digelar.
Atas dedikasi dan konsistensi masyarakat Kuta dalam menjaga ekosistem alam, pada tahun
2002 Kampung Adat Kuta pernah dianugerahi Kalpataru yang diberikan langsung oleh Presiden
Republik Indonesia. Hingga saat ini, keselarasan masyarakat Kuta dengan alam tetap
dipertahankan, salahsatunya dengan menjaga Hutan Adat / Leuweung Larangan dimana hutan
tersebut masih dijaga dengan istilah Pamali dan lestari dari niat-niat buruk yang ingin
mengambil hasil bumi di wilayah Leuweung Larangan. Hal tersebut berkesinambungan dengan
pelaksanaan Upacara Adat Nyuguh yang selalu digelar setiap tahun sekali terkait kepercayaan
masyarakat setempat untuk selaras dengan alam, menjaga warisan leluhur dan mensyukuri
segala bentuk hasil bumi.
29
Page
30
Page
31
Page
TERIMA KASIH
32
Page