Proposal Pemberdayaan Peternakan Kambing

0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
85 tayangan53 halaman
Dokumen ini mengusulkan program pemberdayaan ekonomi bagi kaum dhuafa di Kampung Adat Kuta melalui pengembangan usaha ternak Kambing Etawa. Program ini bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat dengan memberikan pelatihan dan modal, serta memanfaatkan potensi lokal dalam budidaya ternak. Diharapkan program ini dapat menciptakan peluang kerja, meningkatkan pendapatan, dan memperkuat kerjasama dengan pihak luar untuk investasi.
Lisensi
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

0

1
A. LATAR BELAKANG

Kesadaran kita untuk saling berbagi, tidak saja merupakan sikap mulia yang diajarkan agama.
Lebih jauh dari itu, pikiran dan naluri manusia sebagai makhluk sosial selalu menuntut kita
untuk bersikap peduli terhadap segala penderitaan, kekurangan, dan keterbatasan yang
dirasakan sesama. Ada sisi lain dari batin kita yang ikut menderita atau merasa bersalah ketika
kita memiliki dan merasakan kemudahan hidup dengan berbagai fasilitasnya. Sementara
disaat yang sama kita tahu, ada disekitar kita yang bahkan hanya untuk memenuhi kebutuhan
hidup pokok pun terasa sulit. Setitik cahaya menjadi harapan kita bersama, ketika naluri
kesadaran kita tergerak untuk melakukan amal nyata. Dalam Alquran surat Al-ma’un ayat 1-
7 Allah Swt berfirman: “Tahukah kamu orang yang mendustakan agama itulah orang yang
mengherdik anak yatim dan tidak memberi makan orang miskin, maka celakalah bagi orang-
orang yang sholeh yaitu orang-orang yang lalai dari sholatnya. Orang-orang yang berbuat riya
dan enggan menolong dengan barang berguna”. Untuk itu kami berencana mengajukan
proposal pemberdayaan ekonomi kaum dhuafa, agar membantu mereka mengatasi
permasalahan perekonomian keluarganya. Hasil output yang akan mereka terima bukan
hanya memberikan uang semata tetapi dengan memberikan skill yang baru atau untuk
memberikan modal baru agar bisa mengembangkan usahanya. Karena jika hanya dengan
diberi uang semata kepada mereka tidak memberdayakan melainkan melumpuhkan
kemampuan mereka. Karena itulah dengan memberikan pemberdayaan skill-lah mereka bisa
menaikkan perekonomian keluarga mereka secara terus menerus demi keberlanjutan
Budaya, Lingkungan dan adat Istiadat Masyarakat Hukum Adat Kampung Kuta.
Masyarakat Hukum Adat Kampung Kuta dengan Luas Area 185 Ha dengan jumlah Penduduk
237 Jiwa dengan 113 KK. Di mana Penghasilan Utama Masyarakat adalah tani tanda hujan.
“Kampung Kuta adalah salah satu contoh sukses bagaimana teknologi dapat bersinergi
dengan kehidupan tradisional tanpa menghilangkan nilai-nilai Kearifan lokal. Dengan sistem
listrik prabayar, masyarakat memiliki fleksibilitas lebih dalam mengelola konsumsi energi
mereka,”Program TJSL PLN ini merupakan bentuk nyata kontribusi PLN yang dirancang untuk
memberikan manfaat jangka panjang, baik dari segi ekonomi, sosial, budaya maupun
lingkungan bagi Masyarakat adat, Demi Keberlanjutan"
Target Wilayah Geografis
Program usaha penggemukan Kambing Etawa akan dilaksanakan oleh
kelompok ternak Cahaya “KUPS Kendit Jaya ” di Kampung Adat Kuta Desa
Karangpaningal Kec. Tambaksari Kab. Ciamis Jawa Barat. Kampung Adat Kuta
mempunyai potensi untuk pengembangan usaha Kambing Etawa Senduro, baik dari
segi potensi pakan maupun kultur social budaya masyarakat dalam memelihara
Kambing Etawa. Usulan pengembangan kelompok ternak Kambing Cahaya akan
didanai oleh YBM PLN
Potensi pakan. Dilihat dari segi potensi sebagai sumber hijauan pakan ternak,
wilayah ini mampu mencukupi kebutuhan pakan untuk populasi ternak yang ada saat
ini baik pada musim kemarau maupun musim hujan. Produksi hijauan ini belum

2
termasuk hijauan pakan budidaya, seperti rumput gajah dan leguminosa pohon yang
biasa. Beberapa anggota kelompok ternak dan masyarakat lainnya telah mempunyai
kebun pakan khusus yang ditanam pada tegalan atau lahan irigasi.
Potensi Sosial Ekonomi dan Budaya Masyarakat. Dari segi social ekonomi dan
budaya, masyarakat telah terbiasa melakukan budidaya ternak Kambing dengan
system produksi induk anak yang sifatnya sebagai usaha sampingan. Budaya
masyarakat untuk berkelompok masih sangat kuat diantaranya, kelompok tani,
kelompok arisan RT, kelompok yasinan dan beberapa kelompok seni dan budaya.
Kekuatan budaya ini menjadi modal yang sangat penting sebagai modal dasar
pengembangan kelompok agribisnis yang solid.
Potensi Pengujung di kampung adat kuta begitu Lumayan sehingga Program
Ternak Kambing Cahaya ini akan di jadikan sarana Edukasi buat para Pengunjung.
Tujuan Program Bantuan Dana
a. Membuka peluang bagi peternak kambing untuk meningkatkan taraf hidupnya
dengan cara memperbaiki system pengelolaan berkelompok.
b. Meningkatkan kualitas sumberdaya manusia, kemampuan wirausaha,
pengembangan usaha ternak Kambing Etawa.
c. Meningkatkan produktivitas hasil ternak Kambing Etawa.
d. Meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan anggota kelompok ternak
Kambing Etawa.
Manfaat Program Bantuan Dana
a. Terjalinnya kerjasama yang berkesinambungan dengan pihak YBM PLN
b. Tertariknya minat dan kepercayaan pihak luar untuk berinvestasi
mengembangan usaha peternakan modern.
c. Berkurangnya masyarakat yang tergolong kedalam masyarakat prasejahtera
d. Terciptanya pemberdayaan kelompok ternak Kambing Etawa yang ideal dan
dapat diterapkan dalam konteks pembangunan ketahanan pangan secara
nasional.
e. Terwujudnya kesempatan kerja dan usaha yang produktif strategis yang
berbasis masyarakat Adat yang mempunyai keunggulan dan nilai jual yang
komparatif dan kompetitif.
f. Menumbuhkembangkan kesadaran dan dinamika masyarakat untuk
mendayagunakan potensi diri sehingga dapat melakukan perubahan kearah
yang lebih maju dan lebih baik Demi Keberlanjutan.
g. Peningkatan kesejahteraan dan taraf hidup anggota kelompok ternak Kambing
Etawa yang lebih baik lagi.
Target Penerima Manfaat Program
Penerima manfaat langsung dari program Cahaya adalah kelompok Ternak
Cahaya KUPS Kendit Jaya yang memiliki anggota 57 orang. Kelompok ini terbentuk
atas keinginan dan motivasi bersama untuk meningkatkan kesejahteraan melalui
kegiatan berternak.

3
Pelaksanaan Program
Program langsung dilaksanakan setelah dana bantuan kami peroleh. Secara
kondisi sosio-demografis, sosio ekonomi, dan sosio budaya masyarakat, kelompok
kami sudah layak mendapatkan dana bantuan ini.
Teknologi yang akan Diterapkan
Teknologi yang akan diterapkan diantaranya :
a. Teknologi fermentasi pakan untuk memperoleh pakan berkualitas tinggi
b. Penggunaan pakan suplemen untuk meningkatkan daya cerna pakan dan
meningkatkan pertambahan bobot harian sapi.
Output yang Diharapkan
Tabel 1. Output yang diharapkan dari berbagai komponen strategis.

Komponen Output
Strategis

Ekonomi a. Penambahan pendapatan sebagai anggota kelompok

b. Peningkatan produktivitas kerja

c. Semakin meluasnya jaringan usaha dan system pemasaran

d. Penerapan teknologi tepat guna

Social a. Peningkatan kualitas pendidikan melalui sekolah lapang dan


penyuluhan

b. Pola pikir dan etos kerja yang tinggi

c. Pola hidup seimbang

d. Adanya kepercayaan, kerjasama untuk mengembangkan


kelompok yang maju

Ekologi a. Pengelolaan limbah kandang yang baik akan meningkatkan


kesehatan manusia dan ternak, serta mengurangi pencemaran
lingkungan

b. Adanya konservasi secara alami

4
c. Optimalisasi pemanfaatan sumberdaya alam yang akan
meningkatkan sumberdaya alam yang akan meningkatkan
kesadaran dalam menjaga keutuhan dan kelestariannya.

B. KEGIATAN RENCANA AKSI


1. Pemasangan Papan Nama Masjid dan Pemasangan Pengeras Suara

5
2. Kelompok Usaha Ternak Cahaya

6
C. RENCANA ANGGARAN

RENCANA ANGGARAN BIAYA RENCANA AKSI KAMPUNG CAHAYA


NO KETERANGAN HARGA SATUAN JUMLAH
1 MASJID AL - HIDAYAH KAMPUNG KUTA

Papan Nama Masjid Cahaya Ukuran 60 cm X 230 Cm 2.500.000,00 2.500.000,00


Saund Sytem Masjid :
2 speaker luar Toa
4 speaker dalam GMC
2 Mic Waerless
1 Mic Khusus Imam
mixer
Power Amplifair
Stand Mic
Kabel

12.484.000,00 12.484.000,00

2 Ternak Kambing Etawa Senduro

1 Ekor Jantan Siap Kawin Grade A 5.200.000,00 5.200.000,00

5 Ekor Betina Laktasi 1-3 3.500.000,00 17.500.000,00

6 Ekor Suntik Sehat 100.000,00 600.000,00

Ongkos Kirim Lumajang ke Ciamis 2.500.000,00 2.500.000,00

Pelatihan Pemberdayaan 3.250.000,00 3.250.000,00

Papan Nama Ternak Cahaya 2.500.000,00 2.500.000,00

Total 46.534.000,00

PPN 12 % 5.584.080,00

Grand Total + PPN 52.118.080,00

7
8
D. PENUTUP

Demikianlah proposal bantuan dana yang dibutuhkan dalam Perbaikan Fasilitas


Masjid dan usaha dibidang peternakan khususnya Ternak Kambing Etawa
Senduro yang telah kami buat. Harapan kami YBM PLN mau mendengar dan
berbuat untuk peternak-peternak kecil di wilayah terpencil seperti kami ini. Juga
kami selaku Pengurus Adat Kampung Kuta sangat berharap agar Proposal ini
dapat di Realisasikan demi Keberlanjutan Masyarakat Kampung Adat Kuta.

9
PEMERINTAH PROVINSI JAWA BARAT
DINAS KEHUTANAN
CABANG DINAS KEHUTANAN WILAYAH VII
Jalan Koperasi Nomor 77 Kelurahan Kertasari Kecamatan Ciamis
Telepon / Faksimil : (0265) 7577092 e-mail : cdkwilvii@[Link]
Ciamis - 46213

KEPUTUSAN KEPALA CABANG DINAS KEHUTANAN WILAYAH VII


Nomor : 864/KH.06.05 /CDK Wil VII
TENTANG
PEMBENTUKAN KELOMPOK USAHA PERHUTANAN SOSIAL (KUPS)
KAWASAN HUTAN MASYARAKAT HUKUM ADAT KAMPUNG KUTA
DESA KARANGPANINGAL KECAMATAN TAMBAKSARI KABUPATEN CIAMIS
PROVINSI JAWA BARAT

Menimbang : a. bahwa dalam rangka meningkatkan kesejahteraan


Masyarakat Hukum Adat Kampung Kuta perlu
pengembangan usaha perhutanan sosial;
b. bahwa dalam rangka pengembangan usaha perhutanan
sosial perlu ditetapkan kelembagaan Kelompok Usaha
Perhutanan Sosial;
c. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud
pada huruf a dan huruf b, perlu ditetapkan Keputusan Kepala
Desa Karangpaningal tentang Pembentukan Kelompok
Usaha Perhutanan Sosial Masyarakat Hukum Adat
Kampung Kuta di Desa Karangpaningal Kecamatan
Tambaksari Kabupaten Ciamis Provinsi Jawa Barat.

Mengingat : 1. Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor


9 Tahun 2021 tentang Pengelolaan Perhutanan Sosial;
2. Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan
Republik Indonesia Nomor 4 Tahun 2023 tentang
Pengelolaan Perhutanan Sosial Pada Kawasan Hutan
Dengan Perlakuan Khusus;
3. Keputusan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan
Nomor: SK.1301 / MENLHK-PSKL /PKTHA/ PSL.01/ 3/2018
Tanggal 28 Maret 2018 tentang Penetapan Pencantuman
Hutan Adat Leuweung Gede Kepada Masyarakat Hukum
Adat Kampung Kuta seluas 31 Ha di Desa Karangpaningal
Kecamatan Tambaksari Kabupaten Ciamis Provinsi Jawa
Barat dalam Peta Kawasan Hutan;
4. Peraturan Daerah Kabupaten Ciamis Nomor 15 Tahun 2016
Tentang Pengakuan Dan Perlindungan Masyarakat Hukum
Adat Kampung Kuta.

Dokumen ini telah ditandatangani secara elektronik menggunakan sertifikat elektronik yang diterbitkan oleh Balai Sertifikasi
Elektronik (BSrE) Badan Siber dan Sandi Negara. Dokumen digital yang asli dapat diperoleh dengan memindai QR Code,
memasukkan kode pada Aplikasi NDE Pemerintah Daerah Provinsi Jawa Barat, atau mengakses tautan berikut
[Link]
A0941BC758
5. Surat Permohonan MHA Kampung Kuta Nomor :
145/MHAKampungKuta/VII/2024, Tanggal 28 Juli 2024,
Perihal : Permohonan SK Pembentukan KUPS Sekar
Wangi;
6. Surat Permohonan MHA Kampung Kuta Nomor :
146/MHAKampungKuta/VII/2024. Tanggal 28 Juli 2024,
Perihal : Permohonan SK Pembentukan KUPS Paneresan
Peueut Nanjeur;
7. Surat Permohonan MHA Kampung Kuta Nomor :
147/MHAKampungKuta/VII/2024, Tanggal 28 Juli 2024,
Perihal : Permohonan SK Pembentukan KUPS Pandu
Budaya Kuta Katineung;
8. Surat Permohonan MHA Kampung Kuta Nomor :
148/MHAKampungKuta/VII/2024 Tanggal 28 Juli 2024,
Perihal : Permohonan SK Pembentukan KUPS Mulasara
Buana;
9. Surat Permohonan MHA Kampung Kuta Nomor :
149/MHAKampungKuta/VII/2024 Tanggal 28 Juli 2024,
Perihal : Permohonan SK Pembentukan KUPS Kendit Jaya;
10. Surat Permohonan MHA Kampung Kuta Nomor :
150/MHAKampungKuta/VII/2024 Tanggal 28 Juli 2024,
Perihal : Permohonan SK Pembentukan KUPS Buhun
Hideung;
11. Surat Permohonan MHA Kampung Kuta Nomor :
151/MHAKampungKuta/VII/2024 Tanggal 28 Juli 2024.
Perihal : Permohonan SK Pembentukan KUPS Ketempling
Pisang.

MEMUTUSKAN
Menetapkan : Keputusan Kepala Cabang Dinas Kehutanan Wilayah VII tentang
Pembentukan Kelompok Usaha Perhutanan Sosial pada Kawasan
Hutan Masyarakat Hukum Adat Kampung Kuta di Desa
Karangpaningal Kecamatan Tambaksari Kabupaten Ciamis Provinsi
Jawa Barat.
Pertama : Menunjuk dan menetapkan kelompok /nama-nama kelompok yang
Namanya tercantum pada Lampiran yang merupakan bagian tidak
terpisahkan dari Keputusan ini sebagai Kelompok Usaha
Perhutanan Sosial (KUPS).
Kedua : Keputusan ini berlaku sejak tanggal ditetapkan, dengan ketentuan,
apabila dikemudian hari terdapat kekeliruan dalam penetapannya,
akan diadakan perubahan dan perbaikan sebagaimana mestinya.

Dokumen ini telah ditandatangani secara elektronik menggunakan sertifikat elektronik yang diterbitkan oleh Balai Sertifikasi
Elektronik (BSrE) Badan Siber dan Sandi Negara. Dokumen digital yang asli dapat diperoleh dengan memindai QR Code,
memasukkan kode pada Aplikasi NDE Pemerintah Daerah Provinsi Jawa Barat, atau mengakses tautan berikut
[Link]
A0941BC758
Demikian Surat Perintah ini, untuk dilaksanakan sebaik-baiknya.

Ditetapkan di Ciamis
pada tanggal 15 Agustus 2024

Plt. KEPALA CABANG DINAS KEHUTANAN


WILAYAH VII,

Ditandatangani secara elektronik oleh :


Plt. KEPALA CABANG DINAS
KEHUTANAN WILAYAH VII

IRAWAN, [Link]., [Link].


Pembina

Tembusan :
1. Yth. Kepala Dinas Kehutanan Provinsi Jawa Barat di Bandung (sebagai laporan);
2. Yth. Kepala Kepala Balai PSKL Wilayah Jawa

Dokumen ini telah ditandatangani secara elektronik menggunakan sertifikat elektronik yang diterbitkan oleh Balai Sertifikasi
Elektronik (BSrE) Badan Siber dan Sandi Negara. Dokumen digital yang asli dapat diperoleh dengan memindai QR Code,
memasukkan kode pada Aplikasi NDE Pemerintah Daerah Provinsi Jawa Barat, atau mengakses tautan berikut
[Link]
A0941BC758
Lampiran Keputusan Kepala Cabang Dinas Kehutanan Wilayah VII
Nomor : 864/KH.06.05 /CDK Wil VII
Tanggal : 15 Agustus 2024

Pengurus Jml Alamat Nomor Skema


Nama
No Anggota Persetujuan Perhutanan Nama KPS Jenis Usaha Komoditas
KUPS
Ketua Sekreetaris Bendahara (orang) Provinsi Kab Kec Desa PS Sosial

1. Sekar Nono Titi Trisna Edom 12 Jawa Ciamis Tambaksari Karangpaningal SK.1301 / Hutan Adat Masyarakat Budidaya Madu
Wangi Hermawan Meilani Barat MENLHK- Hukum Lebah Madu
PSKL Adat Trigona
/PKTHA/ Kampung
PSL.01/ Kuta
3/2018

2. Paneresan Odo Atik Tisna 33 Jawa Ciamis Tambaksari Karangpaningal SK.1301 / Hutan Adat Masyarakat Pengolahan Gula Aren
Peueut Rasda Kusmiati Sutisna Barat MENLHK- Hukum Nira Aren
Nanjeur PSKL Adat
/PKTHA/ Kampung
PSL.01/ Kuta
3/2018

3. Pandu Irus Ade Koko Ilah 31 Jawa Ciamis Tambaksari Karangpaningal SK.1301 / Hutan Adat Masyarakat Ekowisata dan Jasa
Budaya Rusmiati Komara Carsilah Barat MENLHK- Hukum Sekolah Lingkungan
Kuta PSKL Adat Lapang
Katineung /PKTHA/ Kampung
PSL.01/ Kuta
3/2018
4. Mulasara Cartam Kuswi Carli Sandi 101 Jawa Ciamis Tambaksari Karangpaningal SK.1301 / Hutan Adat Masyarakat Pengolahan Pupuk
Buana Wiarsih Fatha Barat MENLHK- Hukum kompos/pupuk Organik
PSKL Adat organik i
/PKTHA/ Kampung
PSL.01/ Kuta
3/2018

5. Kendit Azid Toto Atim 57 Jawa Ciamis Tambaksari Karangpaningal SK.1301 / Hutan Adat Masyarakat Budidaya Kambing
Jaya Apriyanto Cartim Barat MENLHK- Hukum Ternak
PSKL Adat Kambing
/PKTHA/ Kampung
PSL.01/ Kuta
3/2018

Dokumen ini telah ditandatangani secara elektronik menggunakan sertifikat elektronik yang diterbitkan oleh Balai Sertifikasi Elektronik (BSrE) Badan Siber dan Sandi Negara. Dokumen digital
yang asli dapat diperoleh dengan memindai QR Code, memasukkan kode pada Aplikasi NDE Pemerintah Daerah Provinsi Jawa Barat, atau mengakses tautan berikut
[Link]
A0941BC758
Pengurus Jml Alamat Nomor Skema
Nama
No Anggota Persetujuan Perhutanan Nama KPS Jenis Usaha Komoditas
KUPS
Ketua Sekreetaris Bendahara (orang) Provinsi Kab Kec Desa PS Sosial

6. Buhun Kursih Konoh Mamah 21 Jawa Ciamis Tambaksari Karangpaningal SK.1301 / Hutan Adat Masyarakat Pengolahan Kopi
Hideung Komalasari Barat MENLHK- Hukum Pasca Panen
PSKL Adat Kopi
/PKTHA/ Kampung
PSL.01/ Kuta
3/2018
7. Ketempling Asri Enah Wiwik 25 Jawa Ciamis Tambaksari Karangpaningal SK.1301 / Hutan Adat Masyarakat Pengolahan Kripik
Pisang Mulyani Rohainah Wiarsih Barat MENLHK- Hukum Aneka Pisang.
PSKL Adat Cemilan Sale
/PKTHA/ Kampung Pisang Pisang
PSL.01/ Kuta Kerajinan Kerajinan
3/2018

Ditetapkan di Ciamis
pada tanggal 15 Agustus 2024

Plt. KEPALA CABANG DINAS KEHUTANAN


WILAYAH VII,

Ditandatangani secara elektronik oleh :


Plt. KEPALA CABANG DINAS
KEHUTANAN WILAYAH VII

IRAWAN, [Link]., [Link].


Pembina

Dokumen ini telah ditandatangani secara elektronik menggunakan sertifikat elektronik yang diterbitkan oleh Balai Sertifikasi Elektronik (BSrE) Badan Siber dan Sandi Negara. Dokumen digital
yang asli dapat diperoleh dengan memindai QR Code, memasukkan kode pada Aplikasi NDE Pemerintah Daerah Provinsi Jawa Barat, atau mengakses tautan berikut
[Link]
A0941BC758
PROFIL dan GAMBARAN UMUM
KAMPUNG ADAT KUTA
Nama Organisasi : Komunitas ADAT KAMPUNG KUTA
Alamat Desa Adat : Jalan Kondang raya
Dusun : Kuta
Kelurahan/Desa : Karangpaningal
Kecamatan : Tambaksari
Kabupaten/Kota : Ciamis
Propinsi : Jawa Barat
Kode Pos : 46388
No. Phone : +6282219678614
Web : httpp: [Link]
Email : [Link]@[Link]
info@[Link]
MEDSOS : IG. @kmpadatkuta

Visi
“Terwujudnya Masyarakat Hukum Adat Kuta yang Berdaulat, Mandiri, Berbudaya
dan Alam Lestari demi Keberlanjutan Masyarakat AdatNya “

Misi
Untuk mewujudkan Visi, maka Masyarakat Hukum Adat Kuta mempunyai misi sebagai berikut :
1. Memperkokoh Kerukunan Hidup Bermasyarakat
2. Mewujudkan tatanan Masyarakat yang tertib, taat azas, serta menjujung tinggi kearifan Lokal
3. Memantapkan kreativitas seni dan budaya masyarakat yang berorientasi pada
pelestarian kearifan local
4. Meningkatkan kualitas sumber daya manusia yang berlandaskan pada penguatan
pendidikan, kesehatan dan perekonomian Masyarakat
5. Memberdayaan ekonomi kreatif
6. Meningkatkan kebahagiaan masyarakat Adat melalui sistem jaminan sosial yang komprehensif
7. Memperkuat sinergi pariwisata Budaya dan Pelestarian Alam dengan Dinas Terkait
1
Page

MHA KAMPUNG KUTA


SLOGAN
Masyarakat Hukum Adat Kuta memiliki slogan sekaligus menjadi filosofi hidup masyarakatnya,
yaitu ‘Soméah Hade ka Sémah’ berarti ramah, bersikap baik, menjaga, melayani dan
menjamu, serta menyenangkan semua orang. Hal itu yang menjadikan bentuk pengaplikasian
masyarakatnya pada setiap perilaku dan tindakan interaksi atau komunikasi, baik di lingkungan
setempat maupun luar.

Hal itu tampak selaras dengan pameo silih asih, silih asah, dan silih asuh yang berarti
masyarakat Kampung Adat Kuta harus memiliki sikap saling mengasihi (silih asih), saling
memperbaiki dan membenahi diri (silih asah), serta saling melindungi atau menjaga pula (silih
asuh).

LEGALITAS ADAT :
➢ PERATURAN DAERAH KABUPATEN CIAMIS NOMOR 15 TAHUN 2016
TENTANG PENGAKUAN DAN PERLINDUNGAN MASYARAKAT
HUKUM ADAT KAMPUNG KUTA

➢ SURAT KEPUTUSAN MENTERI LINGKUNGAN HIDUP DAN


KEHUTANAN RI.
Tentang Leuweung Gede Pada Tanggal 28 Maret 2018
Nomor : SK.1301/MENLHK-PSKL/PKTHA/PSL.1/3/2018

➢ AKTA NOTARIS No. 1 Tahun 2013


➢ SK. PENGURUS KAMPUNG ADAT KUTA
➢ No NPWP : [Link].442.000

➢ Nama Bank : Bank Rakyat Indonesia (BRI)


Nomor Rekening : 4052-0102-0723-53-8
Atas Nama : Komunitas ADAT KAMPUNG KUTA
2
Page

MHA KAMPUNG KUTA


3
Page

MHA KAMPUNG KUTA


4
Page

LATAR BELAKANG dan SEKILAS SEJARAH KAMPUNG ADAT KUTA

MHA KAMPUNG KUTA


Nama Dusun Kuta berawal dari kata MAHKUTA yaitu kerajaan, Pada awal berdirinya
Kerajaan Galuh tersebutlah Nama Seorang Raja Prabu Permanadikusuma yang tengah
mengembara bersama para pengawalnya. Pengembaraan ini dalam rangka mencari daerah
yang cocok untuk dijadikan pusat Pemerintahan dari Kerajaan yang akan didirikannya.
Ketika itu Prabu Permanadikusuma tiba ditepi timur sungai Cijolang dan melihat sebuah
daerah di sebelah barat sungai Cijolang daerah yang sangat menarik perhatiannya, yaitu
sebuah lembah yang dikelilingi oleh indahnya tebing yang sangat tinggi ( sekarang di
namakan Tebing Rahong ) dan Prabu Permanadikusuma beserta pengawalnya melakukan
penjajakan ke daerah tersebut, dimana tempat tersebut memiliki luas ± 40 hektar dan
ditengahnya terdapat mata air yang mengalir ke telaga yang luasnya± 400 bata dan sangat
cocok untuk dijadikan kaputren.

Kemudian Prabu Permanadikusuma berserta pengawalnya mempersiapkan dan


menyediakan alat – alat bangunan untuk keperluan pembangunan kraton dan sarana lainnya.
Dalam waktu singkat, apa yang di minta Prabu Permanadikusuma telah tersedia berupa
gundukan pasir, kapur, semen merah, pandai besi, Kayu, Gudang Perbekalan, dan segala
keperluan isi Keraton. Disekitar tempat dimana pusat kerjaan akan dibangun.

Sebagai Raja yang baik, Prabu Permanadikusuma merasa tidak puas apa yang dilaporkan
para pengawalnya, beliau ingin melihat sendiri bagaimana kondisi lingkungan / alam dan
kemungkinan pengembangnya ke depan setelah kerajaan berdiri. Beliau merasa kaget
karena tempat yang indah tersebut ternyata jauh dari harapannya, selain kurang luas juga
daerah tersebut akan sulit di kembangkan, karena sekelilingnya rawa – rawa dan tebing
yang sangat tinggi sehingga akan menyulitkan berkomunikasi dengan dunia luar. Setelah
diadakan musyawarah, akhirnya diputuskan bahwa pusat Kerajaan tidak jadi dibangun di
lokasi itu.

Meskipun pengawalnya telah bekerja keras dalam mewujudkan pusat Kerajaan dan
akhirnya dibatalkan dan ditinggalkan karena Prabu Permanadikusuma memandang tempat
ini tidak memenuhi Patangewu Domas ( syarat sebagai Pusat Kerajaan ), Prabu
Permanadikusuma memutuskan untuk melanjutkan pengembaraannya guna mencari
tempat lain yaitu kearah barat, dan sebelum meninggalkan daerah itu beliau memerintahkan
beberapa pengawalnya untuk tetap tinggal di daerah itu untuk menjaga bahan – bahan
bangunan yang sudah terlanjur dipersiapkan, dan sebelum pergi beliau sempat mangambil
segenggam tanah.

Menurut cerita daerah yang dibatalkan menjadi pusat Kerajaan itu adalah Leuweung Gede,
dan bahan – bahan bangunan yang terlanjur dipersiapkan sekarang hanya tinggal puing –
puing berupa gunukan Kapur ( Gunung Kapur ), Gunukan semen merah (Gunung Semen),
Gunukan peralatan (Gunung Barang),dan gunukan pandai besi (Gunung Pandai Domas),
5

Gunung Pakayuan dll, yang membentengi Dusun Kuta sekarang. Sedangkan daerah tempat
Page

Prabu Permanadikusuma dan para pengawalnya beristirahat/berkemah ditepi sebelah timur


sungai Cijolang bernama Dodokan yang berarti tempat tinggal sementara, yaitu lembah
yang sekarang menjadi sebuah kampung (masuk wilayah Desa Panulisan, Kec
Dayeuhluhur, Kab Cilacap Jawa Tengah).

MHA KAMPUNG KUTA


Setelah melakukan perjalanan Prabu Permanadikusuma dan rombongannya tiba di sebuah
bukit, menurut cerita bukit tersebut sekarang bernama Tenjolaya (tempat memandang), dan
segenggam tanah yang di bawa dari Kuta dilemparkan yang kemudian jatuh di bawah
bukit, yang sekarang menjadi sebuah kampung dengan nama Kepel (kepel berarti
segenggam) yang masuk wilayah kecamatan Cisaga. Konon tanah yang ada di kampung
Kepel berwarna hitam sejenis dengan tanah yang ada di Kuta, berbeda dengan tanah
sekitarnya yang berwarna merah.

Pusat Kerajaan yang di impikan akhirnya terwujud di daerah antara sungai Cimuntur dan
Citanduy, dengan nama Bojong Galuh Kamulyan.

Setelah lama bertahta, timbulah perselisihan antar Raja dengan Patihnya yaitu Patih Aria
Kebondan yang berambisi menjadi Raja. Demi menyelamatkan Negara dan Rakyatnya dari
kehancuran akibat perang saudara, Prabu Permanadikusuma akhirnya memuruskan untuk
menyerahkan Tahta kerajaan beserta kedua Istrinya yang bernama Dewi Naganingrum
(prameswari) dan Dewi Pangrenyep serta memutuskan untuk menjadi pertapa (Resi.

Dewi Pangrenyep yang sebelumnya sering berselingkuh dengan Aria Kebondan dirubah
statusnya menjadi Prameswari, sedangkan Dewi Naganingrum dijadikan salah satu selirnya.

Kerajaan Bojong Galuh Kamulyan seiring dengan berjalannya waktu sampai akhirnya
datang bencana berupa penyakit ganas yang menular. Menghadapi bencana ini Aria
Kebondan coba mengatasinya dengan memanggil orang – orang sakti yang tersebar
diseluruh negeri, namun tidak satupun orang sakti itu mampu mengatasi bencana tersebut.
Namun tersiar kabar bahwa ada seorang Resi selain sakti juga terkenal karena kebaikan
hatinya. Untuk itu Aria Kebondan memanggilnya, setelah bencana itu dapat diatasi, Aria
Kebondan segera sadar bahwa ada orang yang lebih sakti dari dirinya, dan menurutnya ini
tidak boleh dibiarkan terjadi. Aria Kebondan akhirnya membuat tipu daya dengan cara
kedua perut istrinya dipasangi Kuali (wajan) seolah – olah mereka hamil. Sang Resi
dipanggil kembali untuk meramalkan janin yang ada dalam kandungan kedua Istrinya.
Menjawab pertanyaan itu, Resi mengatakan bahwa kelamin janin dari kedua istri raja itu
laki – laki. Mendengar jawaban Resi, Raja tertawa mencomoohkan dan mengambil Kuali
dari perut kedua istrinya, namun keanehanpun terjadi karena kedua istrinya itu benar – benar
hamil. Dan Raja murka dan mengusir Resi dari istana dan kuali yang tadinya menempal
dikedua perut istrinya dilempar keudara.

Menurut cerita, Resi yang dipanggil Raja itu adalah Prabu Permanadikusuma yang telah
menjadi Resi dan mendirikan padepokan di daerah Cikoneng (± 40 km kearah barat pusat
Kerajaan) dan berganti nama menjadi Ajar Sukaresi, dan kuali yang dilemparkan kemudian
jatuh di Astana Gede, Kawali ( sebuah kota disebelah utara Kota Ciamis ). Konon di Astana
Gede ada dua buah kolam menyerupai kuali (wajan) yang bernama Cikawali yang airnya
6
Page

tidak pernah kering walaupun kemarau panjang dan di dalam kolam itu terdapat sejenis
ikan Mas (dalam ukuran kecil) dengan warna yang beraneka.

Beberapa bulan setelah itu, Dewi Pangrenyep melahirkan seorang anak laki – laki yang
kemudian diberi nama Hariangbanga, dan tidak lama kemudian Dewi Naganingrum

MHA KAMPUNG KUTA


melahirkan anak laki – laki pula, namun karena Dewi Naganingrum dan pengawalnya
khawatir Raja murka karena sejak awal tidak menghendaki anak laki – laki dari selir yang
di khawatirkan akan merebut takhta kerajaan. Anak yang baru dilahirkan itu kemudian
dimasukan ke dalam kandaga (Peti Bayi) dan dihanyutkan ke sungai Citanduy, Ketika Raja
ingin melihat bayi yang dilahirkan Dewi Naganingrum, yang dilihatnya hanyalah seekor
anak anjing yang memang sengaja disimpan untuk mengelabuinya, melihat kenyataan ini
Raja murka dan memerintahkan agar Dewi Naganingrum dihukum mati.

Sebelum hukuman dilaksanakan, beberapa pengawal setianya membawa Dewi


Naganingrum keluar dari istana dan menyembunyikannya disebuah tempat yang dulu
pernah direncanakan menjadi sebuah pusat kerajaan yaitu Leuweung Gede di Kuta. Daerah
ini memang cocok untuk tempat persembunyian, karena selain letaknya jauh dari pusat
kerajaan, berhutan lebat, dikelilingi oleh tebing – tebing yang curam yang menyulitkan
pencarian. Namun demikian kehawatiran persembunyian mereka diketahui pegawai
kerajaan tetap ada, oleh karena itu dikeluarkanlah maklumat yang berisi larangan bagi
seseorang yang mengenakan seragam kerajaan untuk memasuki areal Leuweung Gede.

Menurut cerita, setelah kerajaan Bojong Galuh Kamulyan dipecah menjadi dua, karena Raja
kalah dalam nyambung Ayam dengan Ciung Wanara dan sebagian wilayah kerajaan
dijadikan sebagai taruhannya, dan Raja sendiri menyerahkan makhkota kerajaan kepada
putranya Hariangbanga. Hariangbanga kemudian menjadi Raja di kerajaan Galuh Barat,
dan Ciung Wanara menjadi Raja Galuh Timur.

Setelah lama Ciung Wanara menjadi Raja, beliau mendengar bahwa ibunya masih hidup
dan tengah bersembunyi di Leuweung Gede, selanjutnya beliau memerintahkan
pengawalnya untuk menjemputnya dan menetap di istana kerajaan menjadi Ibu Suri.

SEJARAH KUTA PADA MASA KERAJAAN CIREBON

Setelah gagal dijadikan pusat kerajaan karena tidak memenuhi Patangewu Domas,
Leuweung Gede dan tempat – tempat penyimpanan bahan bangunan yang juga gagal
digunakan, kemudian ditetapkan sebagai tempat Keramat, dan untuk memelihara dan
menjaganya dari kemungkinan penjarahan perlu ditetapkan Juru Kunci (kuncen)

Untuk menentukan siapa yang berhak menjadi kuncen (Juru Kunci) maka diadakanlah
sayembara : (barang siapa mampu lebih dulu sampai di Kuta yang ditandai dengan
ditancapkannya pohon jarak, maka dialah yang berhak menjadi kuncen, dan peserta lain
yang kalah harus tetap tinggal di Kuta dan menjadi bawahan kuncen sampai ia meninggal,
hukuman penggal harus diterima oleh siapa saja yang melanggar ketentuan ini).

Menanggapi sayembara tersebut, ada dua orang yang mendaftarkan diri sebagai peserta.
7

Seorang berasal dari kerajaan Mataram bernama Ki Batasela, dan lainnya bernama Ki Bumi
Page

berasal dari kerajaan Cirebon. Menurut cerita masyarakat Dusun Kuta Ki Bumi diduga sama
dengan Pangeran Pakpak yang diutus raja Cirebon untuk menyebarkan Agama Islam ke
daerah selatan.

Pada waktu sayembara dimulai, berangkatlah ke dua orang tersebut menuju tempat dimana
MHA KAMPUNG KUTA
mereka akan menjadi kuncen, lereng gunung, lembah, pesawahan, rawa – rawa mereka
lewati, namun layaknya sebuah perlombaan, satu diantara mereka harus ada yang kalah,
dan ternyata yang tiba lebih dahulu (Hari Jum’at) adalah Ki Bumi. Sementara itu Ki
Batasela yang sebenarnya selalu ada dimuka, sesampai di daerah Cibodas tidak segera
melanjutkan perjalanan ke Leuweung Gede, melainkan beristirahat dan tertidur disuatu
tempat yang kemudian oleh masyarakat dikenal dengan nama Gunung Andaya. Ketika
terjaga, barulah sadar bahwa ia tidak akan pernah menjadi kuncen seperti yang ia kehendaki
dan juga merupakan harapan dari Raja Mataram, karena Ki Bumi yang sebelumnya selalu
ada dibelakang, ternyata telah mendahului dan sampai di Kuta lebih awal. Namun ia tetap
melanjutkan perjalanan dan sampai di Leuweung Gede hari Senin minggu berikutnya.

Sesuai aturan yang telah ditetapkan, bahwa yang kalah dalam sayembara ini tidak boleh
kembali ke tampat asalnya, tetapi harus menetap di Kuta dan menjadi bawahan Ki Bumi. Ki
Batasela yang tidak sudi menjadi bawahan (abdi) kuncen, karena hal tersebut dianggap a’ib
dan kembali ke Solo sebagai tempat asalnya juga tidak mungkin maka Ki Batasela telah
melanggar kesepakatan, akibatnya ia mendapat sanksi (hukuman) dari para karuhun
berupa : seluruh masa hidupnya terus dilanda penderitaan, dan seringkali mengalami
kelaparan. Ia meminta – minta agar ada orang mau memberi makanan untuk mengurangi
rasa laparnya, namun tidak seorangpun sudi memberinya sampai akhirnya ia mati karena
busung lapar. Namun sebelum napasnya yang terakhir ia mengeluarkan supata (kutukan) :
Siapa saja yang tinggal di dusun Cibodas selama hidupnya tidak akan pernah
berkecukupan apalagi kaya raya) Supata itu nampaknya masih diyakini kebenarannya oleh
masyarakat dusun Cibodas, sehingga dalam kehidupan masyarakat Cibodas ada anggapan
bahwa hidup adalah sekedar menyambung hidup, bekerja keras untuk mencari kekayaan
merupakan pekerjaan yang sia – sia, karena pada akhirnya mereka akan tetap miskin. Orang
Cibodas yang tetap tinggal di dusun cenderung Fatalis, karena kalaupun berusaha sekuat
tenaga akhirnya tetap tidak akan membawa hasil.

Sementara itu, Ki Bumi ditetapkan menjadi kuncen di Kuta. Beliaulah kuncen pertama dan
yang kemudian menurunkan kuncen – kuncen berikutnya, yaitu anak cucu dari
keturunannya. Seperti kebiasaan pada umumnya, kuncen merupakan jabatan abadi yang
disandanya seumur hidup.

Bagi masyarakat Kuta, Ki Bumi memiliki arti khusus, karena selain dianggap sebagai
peletak dasar kehidupan di Kuta, iapun diyakini sebagai manusia yang tanpa cacat bahkan
hampir sempurna dalam semua hal. Karena itu semua semua tingkah laku dan ucapannya
selama hidup dijadikan pedoman dan patut ditiru. Ucapan – ucapannya dijadikan aturan
tidak tertulis, dan tempat tinggalnya yang sederhana berupa rumah panggung yang
berbentuk Limas dan beratap injuk ditiru sampai jaman sekarang. Menurut Riwayat
sampai dengan meninggalnya, Ki Bumi belum mendapat restu dari Raja Cirebon untuk
8

mendirikan rumah selain yang ditempatinya, dan sampai sekarang restu itu belum datang,
Page

karenanya semua orang Kuta yang akan mendirikan rumah permanen yang terbuat dari bata
dan beratap genting, harus didirikannya atau di bangunnya diluar Kuta.

Setelah Ki Bumi meninggal, beliau di makamkan dipemakaman Margamulya, di luar dusun


MHA KAMPUNG KUTA
Kuta. Penguburan Ki Bumi diluar dusun Kuta ini diikuti oleh masyarakat Kuta selanjutnya
sampai sekarang, mereka menganggap tabu menguburkan mayat di Kuta, karena Ki Bumi
yang merupakan peletak dasar kehidupan, masyarakat Kutapun setelah meninggal tidak
dikuburkan di Kuta, melainkan di pemakaman umum dusun Cibodas.

Masyarakat dusun Kuta percaya bahwa dilapisan bawah tanah yang menjadi tempat tinggal
mereka, berserakan barang – barang keramat titipan Raja Galuh dan Raja Cirebon yang
sengaja disimpan di Kuta. Apabila mayat dikubur di wilayah Kuta maka akan menggali
tanah dan dapat menyebabkan rusaknya barang – barang yang ada didalamnya. Bila hal ini
terjadi diyakini akan menimbulkan kemurkaan penguasa alam semesta (Hyang Widi) dan
para leluhur, yang dapat mendatangkan bencana sebagai ajab.

Segala bentuk kebiasaan yang ditinggalkan oleh leluhur, terutama yang diturunkan oleh Ki
Bumi, sampai sekarang masih terus dipertahankan, warga Kuta menyadari akan arti penting
Ki Bumi sebagai peletak dasar kehidupan masyarakat Kuta, maka sebagai rasa kagum dan
penghormatan, lokasi dimana Ki Bumi dimakamkan selain dinamai Leuweung Ki Bumi juga
dijadikan tempat Keramat.

ATURAN MEMASUKI TEMPAT KERAMAT

Meskipun seluruh masyarakat Kuta menganut agama Islam, namun sulit dalam kenyataan
hidup sehari – hari masih sulit dibedakan antara kaidah – kaidah ajaran Islam dengan adat
istiadat. Masyarakat Adat Kuta yakin bahwa bumi dimana mereka tinggal dikuasai dan
dikendalikan oleh mahluk Gaib seperti : Ambu Rama Bima Raksa KaliJaga, Prabu
mangkurat Jaga, Sang Mentil Putih, dan Kyai Bima Raksa Nagara yang tinggal di tebet –
tebet (tempat keramat) sehingga untuk memasuki Tebet – tebet tersebut diwajibkan untuk
menta’ati aturan yang di tetapkan.

TEMPAT YANG DIKERAMATKAN :

- Leuweung Gede ( termasuk didalamnya Ciasihan dan Talaga/kawah)


- Leuweung Ki Bumi
- Gunung Pandai Domas
- Gunung Barang
- Gunung Semen
- Gunung batu Patanggeuh – tanggeuh
- Gunung Kipamali
- Gunung Kacapi
- Mata Air Ci-Asihan
- Gunung Padariangan
- Gunung / Batu Go’ong
9

Lemah Museur
Page

-
- Gunung Gebang
- Gunung Dodokan

MHA KAMPUNG KUTA


Leuweung Gede : dianggap sebagai titik pusat dari semua tebet – tebet yang ada, sehingga
untuk memasukinya diwajibkan untuk menta’ati aturan - aturan berikut :

- Tidak boleh memasuki Leuweung Gede, kecuali hari Jum’at dan hari Senin.
Diperbolehkannya seseorang untuk memasuki Leuweung Gede pada hari itu, didasarkan
pada mitos/keyakinan masyarakat Kuta, Ketika Ki Bumi mengikuti sayembara untuk
menjadi kuncen berlomba dengan Ki [Link] Bumi tiba di leuweung Gede pada hari
Jum’at, sedangkan hari Senin selang tiga hari Ki Batasela tiba di [Link] – hari dimana
kedua tokoh ini memasuki Leuweung Gede untuk pertama kalinya, dijadikan pedoman
bagi orang – orang yang hidup sesudahnya untuk memasuki Leuweung Gede pada hari
yang sama.
- Tidak boleh mengenakan alas kaki (sepatu atau sandal), larangan ini bermula dengan
dijadikannya Leuweung Gede sebagai persembunyian Dewi Naganingrum dari kejaran
para pengawal kerajaan Bojong Galuh Kamulyan yang ditugaskan untuk
menangkapnya. Pada sa’at itu alas kaki hanya biasa digunakan oleh pegawai kerajaan
dan merupakan salah satu cirri yang membedakan mereka dengan rakyat biasa. Selain
alasan diatas, juga kebiasaan Ki Bumi yang tidak pernah menggenakan alas kaki,
menjadi pedoman bagi generasi berikutnya.
- Tidak boleh menggunakan perhiasan yang terbuat dari emas, karena emas
dilambangkan sebagai kemewahan duniawi.
- Tidak boleh meludah, buang air kecil dan besar di areal Leuweung Gede.
- Tidak boleh membawa alat – alat yang terbuat dari besi seperti golok dan sabit.
- Tidak boleh mengenakan pakaian serba hitam.
- Tidak boleh mengenakan pakaian dinas, (seperti larangan mengenakan alas kaki)
- Tidak boleh manangkap apalagi membunuh binatang yang ada di Leuweung Gede.
- Tidak boleh mematahkan ranting apalagi menebang pohon – pohon yang ada di
Leuweung Gede.
- Tidak boleh membuang sampah yang mengandung api.
- Tidak boleh mengucapkan kata – kata yang tidak pantas (sompral).
- Tidak boleh memasuki Leuweung Gede tanpa didampingi oleh kuncen.
- Setelah memasuki Leuweung Gede dan tiba di mata air Ciasihan, kuncen dan penjiarah
harus membersihkan tubuh/muka dari segala kotoran yang melekat ditubuh sebelum
melakukan pejalanan menuju Puseur Bumi (titik pusat Leuweung Gede).

Adapun yang pernah dan sedang menjabat Kuncen di dusun Kuta adalah sebagai
berikut :

Kuncen Pertama : Aki (Ki) Bumi


Kencen Kedua : Aki Danu
Kuncen ketiga : Aki Surabangsa
10

Kuncen keempat : Aki Mainah


Page

Kuncen Kelima : Aki Rasipan


Kuncen Keenam : Aki Karsan
Kuncen Ketujuh : Aki Amirta
Kuncen Kedelapan : Aki Madtasri
Kuncen Kesembilan : Aki Sanusri, Tahun 1977 s/d 2000
MHA KAMPUNG KUTA
Kuncen Kesepuluh : Aki Maryono, Tahun 2000 s/d tahun 2019
Kuncen Kesebelas :[Link] Sarno dari Tahun 2019 sampai sekarang

Adapun Ritual – ritual yang bersifat massal adalah sebagai berikut :

Ritual ini biasanya dilaksanakan Rutin tahunan tiap


tanggal 25 Sapar dimana pada bulan – bulan ini musim
NYUGUH
penghujan tiba, ini merupakan pertanda musim tanam raya
bisa dimulai.

Ritual ini dilakukan oleh seluruh warga dusun Kuta secara


bersama – sama setelah terjadinya bencana alam berupa
BEBARIT Lini (gempa bumi), kemarau panjang atau phenomena
alam lainnya.

Ritual ini dilakukan oleh seluruh warga dusun Kuta secara


bersama – sama sehari menjelang bulan Puasa
TILAWAT (Munggahan), upacara yang berlangsung di pemakaman
umum dusun Cibodas. Ikrar oleh kuncen dilanjutkan
dengan membersihkan seluruh makam secara masal dan
diakhiri dengan makan bersama.

1. GAMBARAN UMUM KOMUNITAS BUDAYA KAMPUNG ADAT KUTA :

Kondisi Geografis KAMPUNG ADAT KUTA :

Kampung Adat Kuta merupakan salah satu Kampung / Dusun yang terletak di Desa
Karangpaningal Kecamatan Tambaksari Kabupaten Ciamis Propinsi Jawa Barat, disebelah
selatan Kecamatan Tambaksari dengan jarak dari Ibu Kota Propinsi 177 km, dan Ibu Kota
Kabupaten 43 km dan dari Kecamatan ±4 km, dengan udara tergolong sejuk dengan rata
suhu 28 – 30 derajat celcius karena disekelilingnya terdapat banyak bukit yang berhutan
lebat dengan aneka tumbuhan. Bukit – bukit tersebut oleh masyarakat Kuta dan sekitarnya
disebut gunung, yaitu : gunung semen, gunung kapur, gunung wayang, gunung barang,
gunung pandai domas dan lainnya yang termasuk kedalam ancepan yang dikeramatkan oleh
masyarakat Kuta.
11

Kuta mempunyai wilayah 185,195 HA, Luas lahan sawah / tanah basah 44,395 HA, dan
Page

lahan tanah darat 89,831 HA, Ancepan 2,184 Ha, Ranca 0,315 Ha, Hutan Keramat 31 Ha,
Pemukiman 9,733 Ha, Sungai 5,581Ha perkiraan ketinggian dari permukaan laut ± 463 m.

MHA KAMPUNG KUTA


2. GAMBARAN UMUM DEMOGRAFIS :

Data Penduduk Kampung Adat Kuta Berdasar Umur


No. Umur Laki - Laki Perempuan Jumlah
1 0 - 4 Th 6 6 12
2 5 - 9 Th 5 4 9
3 10 - 14 Th 7 5 12
4 15 - 19 Th 3 7 10
5 20 - 24 Th 7 8 15
6 25 - 29 Th 7 8 15
7 30 - 34 Th 5 5 10
8 35 - 39 Th 13 5 18
9 40 - 49 Th 14 18 32
10 50 - 59 Th 14 17 31
11 60 < Th 27 43 70
113 KK Dengan Jumlah Penduduk 234

Penduduk Kampung Adat Kuta mayoritas bermata pencaharian disektor pertanian, Hutan
Rakyat, kebun milik masyarakat, peternakan, perikanan dan perdagangan.

2.1. Batas Wilayah.

Sebelah Utara Dusun Cibodas


Sebelah selatan Dusun Pohat
Sebelah timur Kali Cijolang Kabupaten Cilacap Jateng
Sebelah barat Dusun Margamulya

2.2. Luas Wilayah menurut penggunaan.

Luas wilayah Kampung Adat Kuta : 185,195 HA


Luas tanah sawah : 44,395 HA
Luas tanah darat/Perkebunan : 89.831 HA
Ancepan : 2.184 HA
Danau/Rawa - Rawa : 0.315 HA
Pemukiman : 9.733 HA
Hutan Keramat Leuweung Gede : 31 HA
Sungai : 5.851 HA
12
Page

MHA KAMPUNG KUTA


Peta Kampung Adat Kuta :

U Dusun CIBODAS

Kali CIJOLANG
Dusun MARGAMULYA

KUTA
Te b in g R A H O N G Lokasi rawan lonsor/Erosi

PUNG
KAM
ADAT
Jalan Raya
[Link]

NG NI
M A TA A I R
Gn. KIPAMALI

NA TA
KA
C IA SIH A N
PrasaranaAdat

CI PE
LEMAHMUSEUR

OK AH
BL AW
S

NG P
TE ACA
AH
PrasaranaUmum Gn. Barang

WA IL
JA B. C
AN
NG )
RA Gede

KA
GunungWAYANG A
L g
PANDAIDOMAS
TAN un Gn. Goong
HU euwe
(L
GunungSEMEN
Bt. Kacapi
INSET DESA KARANGPANINGAL
Ancepan U
Dusun POHAT
NI Batu Bonghas
TA G
Desa Kaso

PE REN Ancepan
A H E Batu Patangeuh-tanggeuh
W IG
SA OK C
Desa Tambaksari

BL
Lokasi rawan lonsor/Erosi Cibodas

Margamulya

Keterangan :
Pemukiman Warga Adat Ciloa

Kuta
Ancepan (Keramat Kecil
Prasarana Umum (bale dusun, Masjid, Pos Yandu) Jawa Tengah
Pohat
Prasarana Adat Pananggapan

Kali Cijolang
Batas wilayah dusun
Jalan Desa Bangunharja

Elemen Struktur Permukaan dan Daya Dukung Kampung Kuta

LEGALITAS ADAT :

1. PERATURAN DAERAH KABUPATEN CIAMIS NOMOR 15 TAHUN 2016 TENTANG


PENGAKUAN DAN PERLINDUNGAN MASYARAKAT HUKUM ADAT KAMPUNG
KUTA
2. SURAT KEPUTUSAN MENTERI LINGKUNGAN HIDUP DAN KEHUTANAN RI.
Tentang Leuweung Gede Pada Tanggal 28 Maret 2018
13

Nomor : SK.1301/MENLHK-PSKL/PKTHA/PSL.1/3/2018
Page

3. AKTA NOTARIS No.1 Th. 2013


4. SK. PENGURUS KAMPUNG ADAT KUTA
5. REKENING DAN NPWP KAMPUNG ADAT KUTA

MHA KAMPUNG KUTA


Gambaran Pemukiman Warga

Gambaran Persawahan dan Perkebunan

14
Page

MHA KAMPUNG KUTA


Gambaran Hutan Keramat Leuweng Gede

Gambaran Ranca Bogo dan Sungai Cijolang

15
Page

MHA KAMPUNG KUTA


Potensi Kawasan (Opsional)

1. Potensi di Hutan Adat Leuweung Gede

Dari hasil observasi lapangan dan wawancara dengan pengurus adat di MHA Kampung
Kuta, dapat diketahui bahwa di kawasan hutan adat Leuweung Gede mempunyai
ekosistem yang amat baik, dengan tutupan lahan yang rapat serta mempunyai
beranekaragam flora fauna endemik. Ekosistem yang baik ini didukung dengan adanya
aturan adat yang membatasi segala pemanfaatan yang ada didalam kawasan hutan. Hal
ini dikarenakan adanya kepercayaan masyarakat setempat untuk menjaga hutan dan
terdapat larangan (pamali) untuk mengambil apapun didalam hutan. Adapun beberapa
pemanfaatan yang masih bisa dilakukan secara terbatas, yaitu;

No Kategori Jenis Potensi Keterangan


Beragam Hutan adat difungsikan sebagai kawasan
1 Hasil Hutan Kayu jenis tanaman konservasi dengan tidak ada
keras pemanfaatan Hasil Hutan Kayu
Hasil Hutan
2 Madu, Jamur Tidak boleh diambil dan dimanfaatkan
Bukan Kayu
Tradisi ziarah dilakukan hanya pada hari
Tradisi ziarah senin dan jumat.
3 Jasa Lingkungan dan Adapun untuk penelitian bisa dilakukan
penelitian dengan ijin khusus dari lembaga adat
dan kuncen

Adapun untuk beberapa jenis flora atau tanaman yang berhasil diidentifikasi dengan metode
PU (Petak Ukur) di bulan april 2024 disepanjang jalur pintu masuk sampai ke tempat ritual
adalah sebagai sebagai berikut:

No Nama lokal Nama Ilmiah Famili


1 Anggrek hutan Orchidaceae Orchidaceae
2 Amis mata Ficus montana Moraceae
3 Balenyengket Morinda citrifolia Rubiaceae
4 Balukbuk Calamus burckianus Arecaceae
5 Benda Artocarpus elasticus Moraceae
6 Beringin Ficus benjamina Moraceae
7 Bingbin Pinanga coronata Palmae
8 Binuang Duabanga moluccana Lythraceae
16

9 Bungur Lagerstroemia speciosa Lithraceae


Page

10 Burahol Stelechocarpus burahol Anonaceae


11 Cangcaratan Neonauchea calycina Kuliacea
12 Cangkuruk Biancaea sappan Fabaceae
13 Carelang Pterospermum diversifolium Sterculiaceae
14 Cariang Cladium bicolor Araceae
MHA KAMPUNG KUTA
15 Ceuri Garcinia parvifolia Clusiaceae
16 Congkok Curculigo capitulata Hypoxidaceae
17 Costus Costus arabicus Costaceae
18 Dahu Dracontomelon pubelarum Anacardiaceae
19 Darewak Microcos tomentosa Tiliaceae
20 Gempol Nauclea orientalis Rubiaceae
21 Hantap Pterocymbium tinctorium Malvaceae
22 Haringhin Cassia alata Fabaceae
23 Howe Daemonorops draco Arecaceae
24 Johar Cassia siamea Fabaceae
25 Kadongdong Spondias pinnata Anacardiaceae
26 Kajar-kajar Colocasia sp. Araceae
27 Kalayar Trichosanthes tricuspidata Cucurbitaceae
28 Kiendok Xanthophyllum excelsum (Blume) Miq Polygalaceae
29 Kikoneng Arcangelisia flava L. Menispermaceae
30 Kiara Ficus sp. Moraceae
31 Kihowe Bridelia sp. Phyllanthaceae
32 Kihura Didymosperma sp. Palmae
33 Kihuru Cryptocarya densiflora Lauraceae
Dysoxylum gaudichaudianum ([Link].)
34 Kijangkung Miq. Meliaceae
35 Kikadu Aglaia argentea Meliaceae
36 Kikembang Michleia velutina Magnoliaceae
37 Kileat/Pilea Pilea microphylla (L.) Liebm. Urticaceae
38 Kitales Colocasia esculenta L. Areceae
39 Kondang Ficus veriegata Moraceae
40 Langkap Arenga obtusifolia Palmae
41 Leles Ficus retusa Moraceae
42 Leungsir Pometia pinnata Sapindaceae
43 Loak Ficus racemosa Moraceae
44 Nangsi Villebrunea rubescens Urticaceae
45 Ngenge Nenga pumila Araceae
46 Nyatuh Palaquium obtusifolium Burck. Sapotaceae
47 Paku Tetrania sp. Cyperaceae
48 Pandan Pandanus tectoris Pandanaceae
49 Pangsor Ficus collasa Moraceae
50 Pari Tithonia diversifolia Asteraceae
51 Pasang Quercus sp Fagaceae
52 Pisang hutan Musa acuminata Musaceae
17

53 Pongporang Oroxylum indicum Bignoniaceae


Page

54 Pulus Laportea stimulans Urticaceae


55 Putat Planchonia valida Lecythidaceae
56 Rotan Calamus sp. Palmae
57 Rotan Se'el Daemonorops melanochaetes Palmae
58 Salak Zalacca edulis Palmae
MHA KAMPUNG KUTA
59 Salak hutan Eleiodoxa conferta Araceae
60 Segel Dillenia exelsa Dilleniaceae
61 Sicerek Clausena excavata Rutaceae
62 Solempat Homalonema andromeda Araceae
63 Sulangkar Leea indica Vitaceae
64 Suweg Amorphophallus paeoniifolius Araceae
65 Tapensayong Xerrospermum noronhianum Sapindaceae
66 Tongtolok Pterocymbium javanicum Sterculiaceae

Tabel 1. Potensi Flora di Hutan Adat Leuweung Gede

Sedangkan untuk data fauna atau hewan yang berhasil diidentifikasi yaitu; lutung, kera, babi
hutan, ular, burung dan lainnya

2. Identifikasi Potensi Hutan Rakyat di MHA Kampung Kuta


2.1 Potensi unggulan
Hutan rakyat atau kebun dalam MHA Kampung Kuta mempunyai peran penting dalam
menopang kehidupan sehari hari. Luasan hutan rakyat ini mencapai 185 ha dan banyak ditanami
berbagai jenis tanaman MPTS yang mempunyai produktifitas tinggi. Dengan demikian areal
ini menjadi penopang utama ekonomi masyarakat selain dari hasil pertanian, peternakan dan
perikanan.
a. Aren
Kampung Adat Kuta memiliki potensi tanaman aren yang cukup tinggi. Pemanfaatan aren
saat ini yang paling banyak dilakukan oleh masyarakat Kampung Kuta adalah melakukan
penyadapan nira sebagai bahan baku gula aren. Petani menyadap nira per pohon dua kali
sehari yatu pagi dan sore hari. Per pohon rata-rata diperoleh 1-2 lodong/bumbung (wadah
menampung nira terbuat dari bambu). Petani rata-rata dapat menghasilkan gula aren
sebanyak 2,4 kg/pohon/hari atau sebesar Rp. 60.000/pohon/hari. Sebagian besar warga
Kampung Kuta memiliki tanaman aren di lahan maisng-masing, namun tidak semua yang
memiliki aren melakukan penyadapan dan membuat gula aren sendiri karena saat
mengambil nira harus memanjat cukup tinggi sehingga tidak semua orang dapat melakukan
penyadapan nira. Petani yang punya tanaman aren dan tidak menyadap sendiri biasanya
bekerjasama dengan petani lain. Terdapat beberapa bentuk kerjasama penyadapan yang
18

dilakukan diantaranya:
Page

a. Maro/maparo: hasil yang diperoleh sehari untuk yang menyadap dan sehari berikutnya
untuk yang punya pohon aren. Hasil yang diberikan untuk pemilik pohon dapat berupa
gula aren maupun berupa nira. Jika berupa nira berarti pemilik pohon melakukan
proses pembuatan gula aren sendiri.
MHA KAMPUNG KUTA
b. Pemilik pohon langsung minta gula aren dengan memperkirakan hasil yang dapat
diperoleh dari seluruh pohon. Petani pemilik pohon menjual sendiri gula yang
dihasilkan. Biasanya cara ini dilakukan oleh petani yang memiliki banyak pohon aren.
Seluruh pohon aren dikira-kira hasil yang dapat diperoleh. Petani pemilik pohon
memberi upah sesuai kesepakatan bersama. Upah bisa dalam bentuk nira maupun
uang.
c. Pemilik pohon meminta uang dari hasil penjualan gula aren. Petani penyadap juga
menjualkan gula aren yang dihasilkan dan menyerahkan uang hasil penjualan ke
pemilik pohon.

Sebelum disadap terdapat beberapa proses yang harus dilakukan diantaranya:


a. Bukaan, yaitu proses pembersihan dan penyiapan pohon sebelum disadap. Dibersihkan
dari ijuk dan tangkai-tangkai yang kering dan kemudian dipasang tangga.
b. Tinggur, tangkai dan bunga aren dipukul-pukul dan diayun-ayun supaya dapat keluar
nirnya. Proses tinggur ini dilakukan dua hari sekali pagi dan sore selama ± 2 minggu.
c. Pagas, yaitu poses pemotongan bunga aren dan mengiris tangkai sadap hingga
menetes niranya.
d. Pasang lodong, yaitu proses pemasangan wadah penampungan nira.

Satu tangkai biasanya dapat disadap setiap hari hingga 3-4 bulan per tahun tanpa jeda.
Penyadapan dalam satu tangkai akan berhenti ketika tangkai habis hingga pangkal, hal ini
dikarenakan setiap kali menyadap, permukaan sadapan harus diperbarui dengan cara diiris
sehingga lama-kelamaan mengurangi panjang tangkai.

Tanaman aren dapat mulai disadap pada umur 15 tahun. Petani dapat menyadap hingga
pohon aren berumur 25-30 tahun. Artinya petani dapat menyadap selama 10-15 tahun.
Dalam satu tahun dapat menyadap selama 3-4 bulan (90-120 hari). Jika dalam satu hari
rata-rata per pohon dapat menghasilkan 2,4 kg gula aren dengan harga Rp. 25.000/kg, maka
penghasilan petani yang dapat diperoleh sebesar ± Rp. 600.000,-/bulan/pohon.
19

b. Kopi
Kopi merupakan salah satu komoditas yang potensial dibudidayakan oleh petani di
Page

Kampung Adat Kuta. Terdapat beberapa petani yang intensif menanam kopi. Salah seorang
petani menanam 5.000 batang kopi di lahan seluas 1 ha. Panen kopi biasa dilakukan pada
bulan Juni-Juli. Dalam sekali periode panen setiap pohon dipetik 2-3 kali dengan jarak

MHA KAMPUNG KUTA


petik 2 minggu. Per pohon dapat menghasilkan kopi basah (chery) sebesar 10-25 kg untuk
tanaman kopi yang di okulasi. Hasil panen di tahun 2023 didapatkan sebanyak 2,2 ton.

c. Kelapa
Populasi tanaman kelapa di hutan rakyat Kampung Kuta cukup banyak. Mayoritas petani
memanen buah kelapa untuk dijual. Buah kelapa yang dipanen dipisahkan berdasarkan
grade ukurannya, mulai dari grade A hingga grade D. Grade A untuk kelapa ukuran yang
paling besar dan grade E untuk ukuran terkecil. Kelapa grade A dijual ke pengepul dengan
harga Rp. 1.700/biji, grade B dijual dengan harga Rp. 1.200/biji, grade C dijual dengan
harga Rp. 800/biji, dan grade D dijual dengan harga Rp. 500/biji. Satu pohon kelapa rata-
rata dapat menghasilkan 7 butir/bulan.

d. Pala
Tanaman pala (Myristica fragrans) belum lama dibudidayakan di Kampung Kuta. Saat ini
baru beberapa petani yang telah menanam dan memanen pala. Pala baru dapat dipanen saat
tanaman berumur 4 tahun. Dipanen 2 bulan sekali dan dapat menghasilkan 5-10 kg/pohon,
dijual dengan harga Rp. 3.500/kg (harga buah di pohon). Saat ini memang belum banyak
petani di Kampung Kuta yang membudidayakan pala karena perlu upaya ekstra dalam
perawatannya. Tanaman pala harus selalu bersih dari rumput, tidak boleh ternaungi, relatif
memerlukan banyak air/tidak tahan ketika kekurangan air. Pohon pala pertumbuhannya
cukup lambat. Jika sudah berbuah, seperti halnya kelapa, pohon pala dapat dipanen secara
rutin satu bulan sekali sepanjang tahun hingga tanaman berusia 30 tahun.

e. Pisang
Pisang termasuk salah satu komoditas yang potensial di Kampung Kuta. Terdapat
beberapa jenis pisang yang dibudidayakan yaitu pisang nangka, pisang raja, pisang
ambon dan pisang bagja/tanduk. Pisang tidak memerlukan perawatan khusus, petani
hanya perlu menanam dan merawat seperlunya saja hingga panen. Panen pisang dapat
dilakukan satu bulan sekali karena masing-masing petani memiliki tanaman pisang yang
tersebar di kebun masing-masing. Satu tandan pisang rata-rata seberat 5-15 kg. Pisang
20

nangka dan ambon oleh pengepul dibeli dengan harga Rp. 1.000/kg. Pisang tanduk dibeli
seharga Rp. 3.000/kg, sedangkan pisang raja dan ambon dibeli dengan harga Rp.
Page

2.000/kg.

MHA KAMPUNG KUTA


Selain hasil tanaman diatas, wilayah Kampung Kuta mempunyai potensi lain yang sangat
menjanjikan yaitu budidaya Madu Klanceng. Potensi madu klanceng (nama lokal: teweul
gagak) di Kampung Kuta cukup potensial. Jenis lebah yang dibudidayakan adalah
Heterotrigona itama. Saat ini terdapat lima orang petani yang membudidayakan madu
klanceng. Madu klanceng dipanen sekali dalam satu bulan. Produktifitasnya sebesar 150-250
ml/sarang/bulan untuk koloni yang sudah mapan (settle). Madu klanceng dari Kampung Kuta
dijual dengan harga Rp. 100.000 – 150.000/botol 250 ml. Produktifitas madu klanceng
tergantung dari ketersediaan pakan berupa nektar bunga dan juga dipengaruhi musim. Saat
musim kemarau produktifitasnya lebih baik daripada saat musim penghujan. Hal ini disebabkan
karena nektar bunga banyak yang luntur saat turun hujan, sehingga produksi madu menurun.

Sarang lebah klanceng harus diletakkan di kebun dan tidak boleh berdekatan antara satu sarang
dengan sarang lain. Jarak minimal 20 meter, semakin jauh semakin baik. Kelebihan budidaya
madu lebah klanceng antara lain madu berkhasiat tinggi untuk kesehatan, lebahnya tidak
menyengat, mudah perawatannya, lebah klanceng tidak mudah kabur, dan dapat dibudidayakan
dalam jangka panjang.

Dari data potensi diatas dapat dilihat nilai produktifitas dan harga jual komoditas yang bisa
didapatkan adalah sebagai berikut:

No Komoditas Intensitas Panen Produktifitas Harga (Rp)

1 Aren Setiap hari 2,4 kg/pohon/hari 20-25 ribu/kg

2 Kelapa Setiap bulan 7 2-4 ribu/butir


butir/pohon/bulan
3 Pala Dua bulan sekali 5-10 kg/pohon 3.500/kg
4 Pisang Setiap bulan 5-15 kg/pohon 2-5 ribu/kg
5 Kopi Setahun sekali 0,3/kg/pohon/th 5-8 ribu/kg basah
20-25 ribu/kg
kering
6 Madu 1 bulan sekali 150-250 100.000-
21

klanceng ml/sarang/bulan 150.000/250 ml


Page

Tabel 2. Potensi Komoditas Unggulan Kampung Adat Kuta

Dari tabel diatas dapat ketahui bahwa tanaman aren merupakan komdoitas unggulan utama
yang bisa menopang penghasilan ekonomi keluarga sehari-hari. Hal ini dilihat dari nilai

MHA KAMPUNG KUTA


intensitas dan produktfitas pohon aren yang bisa menghasilkan air nira setiap hari sebanyak
rata-rata 2,4 kg per pohon. Adapun untuk komoditas yang menopang penghasilan bulanan
adalah kelapa, pisang dan madu klanceng. Sedangkan potensi yang bisa didapatkan setiap satu
musim panen disetiap tahunnya adalah kopi dan aneka jenis MPTS lainnya.

3.2 Potensi Ternak dan Perikanan

Memelihara hewan ternak bagi masyarakat adat merupakan kegiatan sampingan yang cukup
penting. Begitu juga dengan sektor perikanan yang dibudidayakan oleh masyarakat. Beberapa
jenis hewan ternak favorit yang dipelihara adalah sapi, kambing dan ayam, sedangkan untuk
perikanan yang dipelihara kebanyakan adalah ikan gurameh, mujahir, nilam dan lain
sebagainya. Sektor peternakan dan perikanan ini menjadi andalan bagi warga masyarakat untuk
mendapatkan ekonomi tambahan.

Dari hasil inventarisir hewan ternak yang dilakukan secara partisipatif dapat didata bahwa per
26 Juni 2024 terdapat 28 KK yang memelihara 24 Sapi dan 64 kambing. Rata-rata para warga
memelihara hewan ternak di kebun yang berdekatan dengan sumber pakan dan sawah. Hewan
ternak tersebut menjadi tabungan bagi warga masyarakat yang bisa digunakan untuk menutupi
kebutuhan tambahan keluarga dan akan dijual pada saat ada kebutuhan penting. Sedangkan
untuk jenis ternak ayam, dapat diketahui bahwa hampir semua warga masyarakat di Kampung
Kuta memilikinya dan digunakan juga untuk memenuhi keuangan keluarga dalam skala kecil.

Adapun potensi perikanan yang ada memberikan nilai ekonomi jangka menengah,
sesuai dengan usia panen ikan yang dipelihara. Setidaknya ada tradisi warga untuk
menjual ikan setidaknya setahun sekali pada saat hari raya atau saat ada yang
mempunyai hajat. Ikan yang menjadi favorit untuk memenuhi kebutuhan hajat warga
yaitu ikan gurameh, bawal, ikan mas dan mujair. Budidaya perikanan ini dilakukan di
wilayah yang mudah dan dekat dengan air di sekitar sungai atau ceruk-ceruk bukit. Ini
dikarenakan jika musim kemarau terdapat kendala air yang susah diadpatkan pada
lokasi-lokasi tertentu

Hasil UMKM Kelompok Bersama Kampung Adat Kuta


Gula Kawung / Aren Khas Kuta bentuk Bounjor

Gula Aren Mini


22
Page

MHA KAMPUNG KUTA


Gula Aren Mini

Tas Kamuti Kopi Tutuk Wa Mimin

Gula Semut

23
Page

MHA KAMPUNG KUTA


24
Page

MHA KAMPUNG KUTA


Penghargaan Instansi Ke Kampung Adat Kuta:

25
Page

MHA KAMPUNG KUTA


Sertifikat Warisan Budaya Tak Benda ( WBTB )

26
Page

MHA KAMPUNG KUTA


Kesenian Khas Kampung Adat Kuta :

1. GONDANG BUHUN

Gondang buhun merupakan salah satu jenis


tradisi Gondang berupa seni tetabuhan (tutunggulan) yang
berasal dari Kampung Adat Kuta, Ciamis, Jawa Barat yang
tidak terdapat pada daerah lain. Dalam pelaksanaannya,
seluruh pemain Gondang Buhun ini semuanya harus
perempuan sebagai pemukul lesung (gondang) yang juga
merangkap sebagai juru kawih (sinden). Instrumen yang
mereka gunakan berupa alu yang tingginya mencapai 2
meter, dan lesung yang panjangnya 2,5 meter berisi dua ikat
padi yang biasa disebut dua geugeus pare oleh masyarakat Kampung Kuta. Padi tersebut
kemudian ditalu sehingga suara lesung menghasilkan ritme bunyi yang teratur (harmonis dan
polyphonis) diiringi dengan nyanyian para pemainnya. Biasanya tradisi Gondang Buhun ini
memiliki beberapa ritus seperti ritus Nyi Pohaci Sanghyang Sri (mapag sri), ritus minta hujan, dan
sebagai undangan kenduri. Kampung Kuta Ciamis dikenal juga memiliki Hutan Larangan Kampung
Kuta. Pada tahun 2018 oleh Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan (kemdikbud) secara resmi
menetapkan tradisi budaya Agraris yang masih bertahan ini sebagai Warisan Budaya Tak Benda
dari provinsi Jawa Barat dengan nomor penetapan 201800682.

Sejarah
Tradisi yang bermakna ngayun ini konon berasal dari warisan seorang leluhur dari Kerajaan
Galuh yaitu pandita Ki Ajar Sukaresi pada abad ke-6. Tradisi Gondang Buhun yang memiliki arti
Gondang Kuno ini dilakukan dalam rangka menghormati Nyi Dewi Sari Pohaci atau lebih dikenal
sebagai Dewi Sri (Dewi Padi). Tradisi ini bahkan sudah ada sebelum masuknya agama Islam ke
Kampung Adat Kuta seperti halnya tradisi kesenian Rengkong. Makna dari tradisi Gondang Buhun
untuk mengungkapkan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas hasil panen yang
didapat. Ungkapan rasa syukur tersebut ditembangkan melalui siloka (pepatah sunda) yang berisi
nasihat bermakna sebagai pengingat aturan hidup untuk mengkaji diri.

Pola permainan
Pola permainannya terdiri dari dua bagian yaitu tutunggulan dan nyanyian. Untuk tutunggulan
dalam Gondang Buhun terdapat empat jenis tutunggulan yang terdiri dari:

1. Galuntang, dimainkan oleh 4 atau lebih sebagai pembuka dan penutup


pertunjukan.
2. Pingping hideung, dimainkan oleh 4 orang
3. Ciganjengan, dimainkan oleh 5 orang
4. Angin-anginan, dimainkan oleh 7 orang
Adapun motif tumbukan atau tabuhan yang berbeda-beda itu kemudian dipadukan sehingga
membentuk sebuah komposisi irama yang terdiri dari: turun-
unggah atau midua, tilingting, onjon, kutek, titir, ambruk, dongdo, dan gejog.
27
Page

MHA KAMPUNG KUTA


Gelar Budaya Nyuguh

A. SEJARAH

Upacara Adat Nyuguh merupakan upacara adat yang digelar sejak dahulu secara turun-temurun
sebagai bentuk rasa syukur masyarakat Kampung Adat Kuta kepada Tuhan Yang Maha Esa atas
melimpahnya hasil bumi. Menurut sesepuh dan ketua adat di Kampung Adat Kuta, Upacara Adat
Nyuguh selalu dilaksanakan pada 25 safar disetiap tahunnya. Menurut beberapa sumber dari
masyarakat bahwa Nyuguh ini merupakan bentuk penyambutan (mapag) pasukan Padjadjaran
yang akan melewati Kampung Adat Kuta dalam perjalanan ke arah timur. Nyuguh dapat dimaknai
pula Nyuguhan/Susuguh. Pakaian yang digunakan pada upacara tersebut adalah pakaian adat
Kampung Adat Kuta yakni baju berwarna putih, celana berwarna hitam dan memakai iket untuk
laki-laki, sedangkan untuk perempuan menggunakan kebaya. Nyuguh dimulai dengan pergelaran
seni budaya yang menampilkan ragam seni yang ada di Kampung Adat Kuta seperti Ronggeng
Tayub, Gondang Buhun, Terebang, dan Gembyung sambil menunggu tamu undangan dan
masyarakat luar kampung Kuta hadir di lokasi upacara. Tempat pelaksanaan kegiatan ini dimulai
dari pusat perkampungan / Puseur Lembur dan berakhir di ujung jalan dekat sungai Cijolang yang
berbatasan langsung dengan Provinsi Jawa Tengah. Menjelang sore, masyarakat bersama-sama
berjalan mengarak dongdang atau tandu yang berisikan makanan seperti ketupat dan sejenisnya
yang diperoleh dari hasil bumi sekitar Kampung Adat Kuta. Ketupat yang diarak tersebut lalu
digantungkan pada bambu yang telah ditempatkan di ujung jalan kampung. Setelah itu, sesepuh
adat melakukan doa / tawasulan kepada leluhur Galuh, dilanjutkan dengan makan bersama di
ujung jalan kampung. Makanan tersebut dibawa oleh setiap warga yang kemudian saling berbagi
satu sama lain. Upacara Adat Nyuguh juga mengandung makna filosofis dalam melestarikan tradisi,
menjaga lingkungan dan melanjutkan pewarisan budaya.

konsep tabu atau Pamali yang hingga saat ini masih dipatuhi oleh seluruh masyarakat Upacara
adat Nyuguh tidak selalu harus disertai dengan pergelaran seni, karena bersifat tambahan
sedangkan inti dari upacara ini adalah mengarak hasil bumi ke ujung kampung dan melaksanakan
doa bersama.

Berdasarkan cerita rakyat, arti kata nyuguh diambil dari kata Nyuguhan atau Susuguh yang
bermakna memberikan jamuan makanan kepada tamu atau orang yang hadir pada suatu tempat.
Namun, Nyuguh ini dapat dimaknai secara luas dan memiliki makna filosofis yakni keselarasan
manusia dengan alam sekitarnya. Hal tersebut terwujud dalam konsistensi masyarakat Kampung
Adat Kuta dalam upaya menjaga Hutan Adat atau Leuweung Larangan yang masih terjaga
dengan.
B. PROSES PELAKSANAAN UPACARA NYUGUH
Kegiatan inti pada Upacara Adat Nyuguh adalah prosesi mengarak hasil bumi ke ujung jalan
kampung dan melaksanakan doa Bersama di waktu menjelang sore. Namun biasanya dimulai
dengan Pergelaran Seni Budaya seperti gelaran Seni Ronggeng, Seni Gondang Buhun, Tayuban,
Rengkong, Gembyung Buhun, dll. sebelum prosesi adat dimulai. Adapun urutan Upacara Adat
28

Nyuguh diantaranya:
Page

1. Pembuatan Ketupat (Kupat Salamet, Kupat Keupeul) dan kelengkapan alat sesaji lainnya
berupa rujak cau, cohok endog, lahang, sarandu, sawen, kaso bodas, kopi pait, bubur
beureum, bubur bodas, rujak kalapa, cai herang, cai teh, seureuh, bakak hayam, apu,
gambir, tumpeng, menyan, yang mulai dipersiapkan sejak tanggal 24 safar.
2. Proses penyambutan tamu di sambut dengan semua kesenian yang ada di Kampung Adat
Kutab seperti seni Gondang Buhun, Seni Terbang, Seni Rengkong, Seni dog-dog dimulai
MHA KAMPUNG KUTA
pukul 09.00 hingga menjelang ashar dan bertempat di puseur lembur.
3. Persiapan mengumpulkan seluruh warga di pusat kampong(Puseur Lembur) untuk
Bersama-sama menuju lokasi dengan membawa makanan ke batas ujung kampung
dengan menggunakan seragam adat : laki-laki berbaju putih, celana hitam dan iket kepala,
perempuan menggunakan kebaya.
4. Waktu pemberangkatan sekitar pukul 16.00 WIB, semua sesaji dimasukan ke
dalam Suraga (gotongan) yang kemudian dibawa beramai-ramai menuju Tungtung
Lembur (Ujung Kampung) dengan di iringi tabuhan seni dog-dog.
5. Setelah tiba di lokasi sekitar pukul 17.00 WIB, beberapa ketupat yang dibawa oleh
masyarakat digantungkan pada gantar (galah bambu) yang sudah disediakan dengan
maksud menawarkan makanan kepada pasukan Pajajaran yang hendak
melewati Kampung Adat Kuta. Prosesi selanjutnya adalah:
1. Ijab : kegiatan izin kepada leluhur Galuh dan Pajajaran bahwa pada hari tersebut telah
masuk waktu Upacara Adat Nyuguh dipimpin oleh sesepuh/kuncen.
2. Hadoroh/Tawasul : doa Bersama kepada Tuhan Yang Maha Esa yang bertujuan untuk
mendoakan kepada leluhur/karuhun yang ada di Kampung Adat Kuta dipimpin oleh
Ajengan/Ustadz.
3. Makan Bersama : Makan ketupat yang dibawa oleh masyarakat dengan masyarakat
yang hadir dari luar Kampung Adat Kuta.
4. Setelah prosesi berakhir, setiap warga mengambil satu ketupat untuk dibawa ke rumah
yang disimpan di atas pintu masuk rumah dengan tujuan tolak bala (sawén).

C. PELESTARIAN

Pelaksanaan Upacara Adat Nyuguh dijaga dan dilestarikan oleh masyarakat Kampung Adat
Kuta itu sendiri karena telah menjadi kepercayaan yang melekat pada setiap masyarakat dan
menjadi kewajiban untuk dilaksanakan. Adapun upaya yang dilakukan oleh Pemerintah
Kabupaten Ciamis adalah mendukung kebutuhan –kebutuhan yang diajukan oleh Komunitas
Adat dalam setiap tahunnya. Secara berkala mendekati kegiatan, Pemerintah Kabupaten
Ciamis melalui Dinas Kebudayaan, Kepemudaan dan Olahraga Kabupaten Ciamis selalu
melakukan koordinasi dan komunikasi sebelum pelaksanaan Upacara Adat Nyuguh digelar.

Atas dedikasi dan konsistensi masyarakat Kuta dalam menjaga ekosistem alam, pada tahun
2002 Kampung Adat Kuta pernah dianugerahi Kalpataru yang diberikan langsung oleh Presiden
Republik Indonesia. Hingga saat ini, keselarasan masyarakat Kuta dengan alam tetap
dipertahankan, salahsatunya dengan menjaga Hutan Adat / Leuweung Larangan dimana hutan
tersebut masih dijaga dengan istilah Pamali dan lestari dari niat-niat buruk yang ingin
mengambil hasil bumi di wilayah Leuweung Larangan. Hal tersebut berkesinambungan dengan
pelaksanaan Upacara Adat Nyuguh yang selalu digelar setiap tahun sekali terkait kepercayaan
masyarakat setempat untuk selaras dengan alam, menjaga warisan leluhur dan mensyukuri
segala bentuk hasil bumi.
29
Page

MHA KAMPUNG KUTA


Upaya kedepan dalam pelestarian Upacara Adat Nyuguh, masyarakat Kampung Adat Kuta bersama
Pemerintah Kabupaten Ciamis akan terus bersinergi untuk tetap menjaga warisan budaya tersebut dan
mencoba memasukan aspek pariwisata dalam rangkaian kegiatan Upacara Adat Nyuguh untuk lebih
menarik masyarakat untuk datang namun tidak mengganggu dan mengubah kegiatan inti dari prosesi
adat Nyuguh tersebut, sehingga dapat berdampak secara ekonomi kepada masyarakat sekitar dengan
mengoptimalkan produk-produk lokal yang dihasilkan oleh masyarakat Kampung Adat [Link]
merupakan Warisan Budaya Tak Benda dari provinsi Jawa Barat dengan nomor penetapan
202101259 tahun 2021

30
Page

MHA KAMPUNG KUTA


PROGRAM KERJA TAHUN 2024 - 2029
Gimana Pemuda – Pemudi Adat Kuta dapat berperan Aktif dalam
mempromosikan dan memfasilitasi pengembangan ekonomi hijau. Ekonomi
hijau adalah sistem ekonomi yang berfokus pada pembangunan
berkelanjutan dan memperhatikan dampak lingkungan, sosial,budaya dan
ekonomi yang sesuai dengan kearifan Lokal Kampung Adat Kuta, di mana
Kampung Adat Kuta mendukung SDGS demi tujuan keberlanjutan.

31
Page

MHA KAMPUNG KUTA


Hormat Kami,

Masyarakat Hukum Adat


Kampung Kuta

FIRMAN KHABIBI WARSIM SETIAMAN


Perencanaan & Pengembangan SDM Ketua Adat

TERIMA KASIH

32
Page

MHA KAMPUNG KUTA

Anda mungkin juga menyukai