Anda di halaman 1dari 125

Menentukan Kecepatan Lambat Secara

Tepat
Foto-Foto: Atok Sugiarto

"PANNING" - Salah satu cara


mengatasi persoalan pemotretan dalam
cahaya lemah adalah dengan
memotretnya menggunakan teknik
panning.

ak banyak pemotret yang berani


menentukan pilihan untuk memotret
dengan menggunakan kecepatan
bukaan rana lambat. Terutama jika subjek dalam pemotretan menyangkut benda -
benda bergerak dan berada dalam suatu kondisi cahaya yang kurang mendukung
untuk sebuah pemotretan.

Yang terjadi lebih sering seseorang pemotret (pemula khususnya) ketakutan


menghadapi keadaan yang demikian sehingga tak jarang mengurungkan niatnya untuk
melakukan pemotretan. Kalaupun kemudian terpaksa melakukan pemotretan sering
menghasilkan foto yang blur atau goyang.

Tak dapat dimungkiri masalah bagi yang tak terbiasa menggunakan kecepatan rana
lambat adalah kekhawatiran pada goyangnya kamera saat memotret. Tak salah pula
kiranya bila kecepatan lambat sering dianggap sebagai "hantu" yang menakutkan bagi
para pemotret (pemula).

Dalam fotografi, kecepatan lambat adalah kecepatan yang bisa diasumsikan sebagai
batas di mana kecepatan itu sudah tidak mampu membekukan suatu gerakan, atau
suatu kecepatan. Secara umum pengertiannya adalah kecepatan yang menunjukkan
angka di bawah 1/60 detik pada kamera. Karena itu, pada pemotretan yang dilakukan
menggunakan kecepatan di bawah 1/60 detik, misalnya 1/30 detik, 1/15 detik, atau
1/8 detik dianjurkan menggunakan tripod atau kaki tiga kamera.

Kecepatan Lambat

Menghadapi subjek bergerak memang memerlukan pemikiran ekstra untuk dapat


merekamnya menjadi sebuah foto yang indah. Yang paling utama adalah menentukan
pilihan kecepatan bukaan rana kamera. Misalnya 1/500 detik, 1/1000 detik untuk
membekukan gerakan suatu subjek yang sedang naik sepeda ataupun motor.
Kecepatan tersebut diharapkan dapat membekukan gerak yang terjadi pada subjek
sehingga menghasilkan foto yang tampak jelas dengan subjek diam. Akan tetapi
penggunaan kecepatan rana tersebut hanya dapat dilakukan dengan baik pada pagi,
siang atau kondisi cahaya yang terang.

Bagaimana jika cahaya dalam pemotretan tidak memungkinkan untuk penggunaan


kecepatan bukaan rana tinggi karena lemahnya cahaya misalnya pada saat hari
menjelang gelap? Tentu tak banyak yang dapat dilakukan, karena itulah dapat
dipastikan tak banyak yang berani melakukan pemotretan pada kondisi seperti itu -
terutama pemotret pemula.

Satu hal di antaranya, pemotretan bisa dilakukan dengan menggunakan teknik


panning jika subjeknya bergerak menyamping, yaitu memotret dengan menggunakan
kecepatan bukaan rana lambat dan menggerakan kamera seiring, sejalan atau seirama
gerakan subjeknya sambil menekan tombol pelepas kamera pada saat yang
diinginkan. Kecepatan rana yang digunakan bisa 1/15 detik, 1/30 detik, atau 1/60
detik, bergantung pada jenis lensa yang digunakan dan kecepatan gerak subjeknya.

Sebagai contoh untuk memotret balap mobil saat hari menjelang petang tak banyak
yang dapat dilakukan selain memotretnya menggunakan tehnik panning yang bisa
menggunakan kecepatan rana 1/60detik atau juga bisa dengan kecepatan rana 1/30
detik - tergantung seberapa besar subjek utama berada dalam bingkai dan efek kabur
seperti apa yang dikehendaki dalam foto.

Semakin cepat gerakan suatu subjek menjadikan semakin kaburnya latar belakang.
Demikian juga dengan semakin lambat kecepatan bukaan rana yang digunakan
menjadikan semakin berkesan efek gerak subjek maupun latar belakangnya. Dan
karena itu pula jika kecepatan bukaan rana semakin lambat dituntut untuk
menggunakan kaki tiga (tripod) - Namun jika tidak menggunakan tripod maka
diperlukan kehati-hatian untuk selalu mengusahakan agar kamera tidak goyang saat
menekan tombol pelepas rana.

Satu hal yang harus dipahami oleh seorang pemotret jika harus memotret
menggunakan kecepatan bukaan rana lambat adalah, semakin lambat suatu kecepatan
bukaan rana dalam suatu pemotretan akan semakin menjadikan subjeknya tampak
goyang - kabur atau blur sehingga hal yang harus dipertimbangkannya adalah
memastikan pilihan bukaan kecepatan rana lambat yang tidak menjadikannya subjek
menjadi kabur karena efek gerakan yang terjadi.

Semakin lambat kecepatan rana juga akan menjadikan semakin rusaknya foto, terlebih
jika pilihan kecepatan rananya tidak sesuai dengan kecepatan bergeraknya subjek
pemotretan dan goyangnya kamera. Seperti pada foto berjudul "Ramai", gambaran
riuh dan ramainya pengunjung di sebuah Mal yang sedang naik turun tangga tidak
dapat terlukiskan dengan jelas karena pilihan kecepatan rana lambat yang kurang
tepat dan goyangnya kamera.

Kecepatan rana ? detik memang tidak sesuai untuk menangkap gerakan para pejalan
kaki yang sedang naik turun tangga, akibatnya foto tampak kabur atau blur. Karena
pilihlah kecepatan bukaan rana yang tepat untuk dapat merekam kesan gerak dengan
baik dan benar disertai sikap atau posisi yang benar sehingga tidak mengakibatkan
goyangnya kamera.

Pada foto berjudul "Panning " dapat kita perhatikan hasil sebuah foto yang objeknya
bergerak yang dibuat dengan menggunakan kecepatan bukaan rana lambat 1/8 detik
tanpa menggunakan tripod tetapi menghasilkan foto yang menarik karena
keberhasilan memilih bukaan kecepatan rana lambat secara tepat.
RAMAI - Pilihan kecepatan bukaan rana lambat yang
tidak tepat seperti suasana ramai di Mal bisa
mengakibatkan rusaknya foto karena gambar tidak
tajam dan goyang.

Langkah

Foto dalam tulisan ini dibuat on the spot, tanpa


persiapan, baik observasi maupun pembekalan
peralatan yang cukup, sehingga peralatan seperti
tripod yang seharusnya digunakan untuk memotret
dalam suatu keadaan yang harus menggunakan
kecepatan bukaan rana lambat tidak digunakan.
Akibatnya dalam memotret harus dapat melakukan
berbagai upaya terutama jika kondisi cahaya tidak
memungkinkan untuk mengusahakan agar tidak
goyang saat memotret. Akibat lain menjadikan foto
kadang tak selalu sesuai dengan yang diharapkan.

Secara keseluruhan untuk berhasil membuat foto yang baik sekalipun harus memotret
menggunakan pilihan bukaan kecepatan lambat, adalah memahami penggunaan
kecepatan bukaan rana secara tepat untuk suatu kejadian yang mengandung gera k.
Akan tetapi cara on the spot sebaiknya dihindarkan (terutama bagi pemula) karena
bagaimanpun untuk memotret subjek bergerak dengan kecepatan bukaan rana lambat
sebaiknya dilakukan dengan menggunakan bantuan tripod untuk menyangga kamera
dan membantu menahan goyang.

Selain tripod juga diperlukan persiapan-persiapan, di antaranya dengan melakukan


observasi lokasi, mempunyai rancangan atau target hasil yang diinginkan, serta
mempnyai persiapan yang memadai (terutama keberadaan peralatan pendukungnya).
Secara umum, langkah sukses untuk menghasilkan foto subjek bergerak dengan
kecepatan bukaan rana lambat dalam kondisi cahaya yang lemah atau kurang secara
teknis, adalah dengan membuka lebar -lebar diafragma dan memperlambat kecepatan
rana (shutter speed), misalnya dengan 1/30 detik, 1/15 detik, atau bahkan sampai 1
detik. Namun demikian juga diperlukan langkah non-teknis yaitu persiapan sarana
penunjangnya yang meliputi:

KAMERA. Untuk bisa menentukan variasi penggunaan kecepatan rendah, sebaiknya


gunakan kamera SLR (single lens reflex). Karema jenis ini dilengkapi dengan
berbagai fasilitas yang dibutuhkan untuk pemotretan dapat terpenuhi, seperti fasilitas
kecepatan rana dan diafragmanya yang lengkap.

FILM. Mengacu pada pengalaman kerja wartawan foto, sebaiknya selalu


memakai/membawa film ber-ISO tinggi. Tujuannya adalah untuk menghadapi
kendala persoalan mengenai kurangnya sinar dalam suatu pemotretan. Dengan
menggunakan film ber-ISO tinggi, penggunaan diafragma dengan bukaan luas sangat
dimungkinkan. Masalah film dapat diabaikan jika kebetulan kita sudah menggunakan
jenis kamera digital. Dengan kamera digital persoalan penggantian ISO ke ISO yang
lebih tinggi sering tidak masalah. (dapat dilakukan setiap saat).
LENSA, Sesuaikan panjang dan pendeknya lensa dengan objek yang akan difoto, juga
jarak yang memungkinkan untuk melakukan pemotretan. Panjang pendeknya lensa
sangat berpengaruh terhadap pilihan kecepatan. Untuk memotret panning , gerakan
mobil yang melaju dalam sirkuit dengan menggunakan lensa 200 mm bisa
menggunakan kecepatan 1/30 detik atau 1/60 detik.

KAKI TIGA (Tripod). Salah satu faktor yang paling penting agar sukses adalah
melakukan pemotretan dengan menggunakan kecepatan rendah. Keberadaannya
sangat membantu untuk menciptakan gambar yang tidak goyang.

KABEL PELEPAS RANA. Secermat-cermatnya pemotret menekan tombol pelepas


rana kamera kendati sudah menggunakan kaki tiga kamera, kemungkinan goyang
yang disebabkan gerakan kamera masih sangat mungkin terjadi. Karenanya kabel
pelepas rana menjadi pelengkap penting untuk membantu menahan kegoyangan.
Dengan pemahaman dan persiapan yang baik, memotret dengan menggunakan
kecepatan bukaan rana lambat bukan lagi persoalan, terlebih bila kita sebagai
pemotret mampu dengan tepat memilih bukaan kecepatan rana lambat secara tepat.

Atok Sugiarto

Membuat Foto Dokumentasi Anak


Oleh : ATOK SUGIARTO

Foto-foto: Atok Sugiarto

BEBAS - Kegiatan di alam bebas


sepertinya juga menjadikan anak
bebas dalam bergaya. Dan jika
hal tersebut terjadi sesungguhnya
maka itu adalah saat-saat yang
baik untuk mendokumentasikan
kegiatannya.

ulitkah memotret anak-anak?


Tidak, terlebih jika anak itu adalah anak sendiri, hanya diperlukan sedikit akal-
akalan untuk membangkitkan aktivitasnya agar tampak menarik. Apakah aktivitas itu
sekadar tersenyum, tertawa, merangkak (bayi) atau bennain-main (balita) dan
berolahraga (ABG). Jika pun muncul kesulitan pastilah itu hanya karena faktor mood '
anak yang kurang pas.

Namun demikian untuk memotret anak-anak memang diperlukan ekstra waktu


maupun kesabaran. Misalnya saat memotret bayi, orang tua harus sabar menunggu
saat-saat di mana anak mengekspresikan senyum atau tawanya untuk mendapatkan
sebuah foto yang baik. Pemotret dalam hal ini harus tahu betul kapan memulai
memotretnya. Bila mendapatkan suatu keadaan anak yang fresh' dan enak, maka harus
segera dilakukan pemotretan karena tidak pada setiap waktu anak-anak mudah difoto.
Rumusan sederhana agar mendapatkan situasi di mana anak (bayi) mudah difoto dan
baik hasilnya, adalah membiarkannya bermain dengan mainannya. Bermain di alam
bebas (balita) misalnya, secara umum menjadikannya lebih mudah dipotret. Karena
faktor -faktor yang menyebabkan anak sering menjadi takut dan adanya keadaan yang
mengganggunya seperti kilatan lampu dapat kita hilangkan dengan tidak
menggunakannya. Pemotretannya pun dapat dilakukan dari jarak yang agak jauh
menggunakan lensa tele panjang sehingga tidak membuat anak selalu berhadapan
dengan kamera secara langsung (candid camera ).

Karena itu, untuk dapat mendokumentasikan ke giatan anak sehingga menghasilkan


suatu foto yang baik sebaiknya dilakukan pada waktu pagi antara pukul 07.30 hingga
pukul 09.30 WIB di mana matahari memancarkan sinarnya dengan kuat. Pada sisi
lain, pada saat-saat demikian, kondisi anak-anak secara umum juga masih fresh
sehingga mudah untuk mendapatkan ekspresi ataupun keriangan yang kita inginkan.
Tentang waktu juga bisa dilakukan pada sore hari antara pukul 15.00 hingga 16.30
WIB, di mana cahaya sore masih bersinar dengan baik atau setelah anak-anak tidur
siang.

Foto Bayi

Untuk sekadar membuat foto bayi yang menampilkan pose-nya secara bebas dan
wajar sesuai dengan perkembangan kepandaian bayi adalah hal yang mudah. Karena
pemotret hanya membutuhkan waktu atau kesabarannya untuk menemukan pose-pose
yang baik dengan mengajaknya berinteraktif dengan lingkungan.

Jika bayi telah mampu berinteraksi dengan lingkungan maka ia akan menampilkan
pose-pose atau gerakan-gerakan yang menarik. Dan kalau hal itu sesuai dengan yang
diinginkan, maka pemotret tinggal membidikan kamera yang telah disiapkan
sebelumnya. Persiapan terutama berkaitan dengan pencahayaan.

Jika bayi belum juga menampilkan gerakan-gerakan atau ekspresi yang baik dan
menarik sesuai yang diharapkan, hal itu mungkin disebabkan bayi belum mengerti
suatu instruksi untuk melakukan suatu gerakan-gerakan yang diinginkan pemotret.
Untuk itu pemotret dan orang tua harus segera bekerja sama merangsang perhatian
agar anak mau melakukan sesuatu yang menarik misalnya membuatnya duduk,
tengkurap atau merangkak.

Sebagai alat bantu untuk metnudahkan anak berinteraksi dan berekspresi, carilah
mainan yang mudah menjadi daya tarik bagi anak. Sehingga ia mau berinteraksi
dengan suasana, misalnya mainan- mainan yang lucu atau yang mungkin menjadi
kesukaan si bayi yang umumnya dapat mengeluarkan bunyi.

Dengan pancingan seperti itu maka bayi akan bergerak sekehendak hatinya, dan pada
saat-saat seperti inilah biasanya muncul pose-pose yang menarik secara tak terduga.
Kalau pemotret telah mahir mengatur fokus atau menentukan pilihan pencahayaan
yang tepat serta dapat menekan tombol pelepas rana secara tepat pula, maka
dipastikan akan menghasilkan foto yang menarik.
TAMPAK WAJAR - Salah satu rumusan
untuk menghasilkan foto anak yang baik
dan menarik serta tampak wajar adalah
dengan cara candid.

Balita

Memang tak begitu berbeda antara memotret


bayi dan memotret balita, khususnya dengan
teknis yang harus dilakukan seorang pemotret. Tetapi antara keduanya jelas sangat
berbeda cara dan penanganannya. Bila memotret bayi pemotret harus betul-betul aktif
melakukan segala usaha baik teknis maupun non-teknisnya. Maka untuk memotret
balita pemotret dapat sedikit lebih santai.

Artinya memotret balita tidak lagi dituntut untuk menyesuaikan dengan waktu dan
kesanggupan subjeknya. Sebab balita paling tidak sudah dapat diajak berkomunikasi
atau berinteraksi untuk melakukan suatu pose, gaya juga ekspresi yang diminta. Balita
telah paham akan suatu perintah.

Karena balita aktif dan dinamis, maka perlu diantisipasi dengan menggunakan pilihan
kecepatan rana yang agak tinggi (1/125 detik, 1/250 detik) untuk membekukan
gerakannya dengan kombinasi pemakaian bukaan diafragma yang cukup luas
misalnya f/11 atau f/8 agar mudah melakukan follow focus.. Dan karena itu pada saat-
saat itu diperlukan ISO 400 atau lebih sehingga memungkinkan penggunaan
kombinasi kecepatan rana tinggi dan bukaan diafragma kecil.

Untuk menjaga segala kemungkinan dalam pemotretan sehingga menyebabkan


pemotret harus mengikuti gerak-gerik balita dianjurkan menggunakan jenis lensa
zoom sehingga lebih mudah melakukan pembingkaian. Namun demikian kunci
terpenting dari keberhasilan memotret anak balita tidak semata hanya masalah teknis,
tetapi juga masalah non-teknisnya seperti memahami sifat dan karakternya.

Bila pemotret berkeinginan untuk mendapatkan foto-foto yang menarik tetapi tetap
tampak wajar maka dapat dilakukan dengan cara membiarkan si balita asyik dalam
permainan atau mainan yang disukai. Dalam hal ini pemotret hanya menunggu saat-
saat yang dianggapnya baik dan menarik, baik pose maupun ekspresinya.

Memotret ABG

Demikian juga memotret anak-anak yang baru gede (ABG), segi teknis dan
peralatannya tidak jauh berbeda dengan memotret balita. Yang agak merepotkan pada
anak-anak baru gede adalah sifat kekanak-kanakannya yang tampak belum seluruhnya
hilang. Sehingga terkadang sering malu-malu, suatu sikap yang hanya akan
menghambat pemotretan. Bila pemotret memaksakan untuk segera memotretnya
maka akan menghasilkan foto yang tampak kaku dan mungkin saja gagal.

Karena itu langkah yang paling harus menjadi perhatian bagi pemotret adalah
mendekatinya untuk melakukan komunikasi yang baik. Lalu memberi pengarahan dan
keyakinan pada mereka bahwa foto yang akan dibuat akan berhasil dengan baik jika
mereka mau bekerja sama dan bersungguh-sungguh dalam pemotretan baik sikap atau
gayanya maupun ekspresinya. Secara umum anak-anak baru gede belum begitu
terlatih dalam hal olah tubuh, karena itu bila pemotretan dimaksudkan untuk suatu
tujuan pemotretan fesyen atau potret, maka kelenturan tubuh juga perlu diperhatikan
sehingga gaya atau sikapnya sesuai dengan keindahan yang diharapkan pemotret.

Untuk mendapatkan hasil foto


yang baik dan menarik tentang
anak-anak dan tampak wajar, kita
harus mampu menampilkannya
secara apa adanya. Potretlah
dengan cara sembunyi-sembunyi
(candid camera), sehingga mereka
tidak tahu bila dirinya sedang
difoto. Misalnya pada saat-saat
berolahraga, atau beraktivitas di
lingkungannya.

Namun demikian pemotretan


secara candid' juga dapat dilakukan dengan melakukan arahan, istilahnya disutradarai,
sehingga meskipun sang anak tahu bahwa dirinya sedang dipotret, tetapi tetap dapat
terlihat wajar. Untuk pemotretan secara candid sendiri hanya akan membawa berhasil
jika pemotret mempunyai kemampuan ekstra untuk memetik momen-momen yang
dianggap baik pada setiap aktivitas yang dilakukan anak.

Memotret anak dari bayi, balita, atau ABG sepertinya sepintas kurang memiliki kesan,
akan tetapi jika kita mampu dan mau menyimpan serta melihatnya kembali saat anak-
anak itu telah beranjak dewasa, pastilah akan memunculkan ribuan cerita. Rasanya tak
ada yang lebih menyenangkan dan membanggakan dalam membuat foto dokumentasi
selain membuat foto dokumentasi tentang anak-anak -anak kita sendiri.*

Sudut Pandang Elang Terbang


OLEH ATOK SU GIARTO

Foto-Foto: Atok Sugiarto

MENGANGKAT KAMERA - Untuk menghasilkan foto yang menarik dalam


kerumunan yang mengelilingi Inul Daratista, caranya tak lain dan tak bukan
adalah dengan mengangkat tinggi-tinggi kamera.

uatu objek yang berada dalam kerumunan tentu sering jadi masalah untuk dipotret.
Terlebih jika kerumunan itu mencapai puluhan atau ratusan orang, membuat
pemotret sering kesulitan mendapatkan sudut pandang yang baik jika ingin
menampilkan objek yang berada dalam kerumunan.

Pertanyaannya ke mudian, apakah kita mau memotret dengan hanya mendapatkan foto
yang menampakkan punggung sejumlah orang tanpa memperlihatkan objek utama
dalam kerumunan tadi. Bila memungkinkan, kita memang akan mencari tempat yang
lebih tinggi, apakah itu dengan cara memanjat kursi, tangga, tembok, pohon, naik ke
atas mobil yang diparkir dan sebagainya. Namun, sering kali keinginan seperti itu
lebih sering mengalami persoalan dan hambatan. Mengapa?

Tak lain karena objek yang difoto merupakan objek dalam suatu peristiwa yang tidak
kita direncanakan, misalnya memotret pejabat tinggi negara atau selebriti terkenal.
Dan kalau sudah demikian, hampir dapat dipastikan menjadikan para wartawan foto
khususnya, terpaksa mengangkat tinggi-tinggi kamera sebagai usaha memotret objek
yang berada dalam kerumunan. Sebab hanya dengan cara seperti itulah diharapkan
dapat memperoleh sudut pandang yang memadai dan hasil foto yang bisa
menggambarkan objek di antara kerumunan tanpa terhalang sesuatu.

Wartawan foto sepertinya memang telah paham betul melakukan pemotretan dengan
cara demikian. Apakah itu harus menggunakan lensa sudut lebar (wide), kecepatan
rana, diafragma sampai dengan penentuan jarak fokusnya. Sehingga dengan tanpa
mengintai dari jendela pembidik kamera -- dengan feeling, dapat diperoleh foto yang
baik.

Elang Terbang

Apa yang sering dilakukan para wartawan foto dalam menyikapi pemotretan objek
yang berada dalam kerumunan sesungguhnya adalah cara sederhana dalam mencari
sudut pandang. Sudut tersebut adalah high angle, yaitu sudut atas atau ada yang
menyebutnya sebagai sudut pandang elang terbang.

Sudut pemotretan seperti itu seringkali menghasilkan foto menarik dan menawan
karena mampu bercerita tentang suatu keadaan dan disebut sudut elang terbang.
Disebut demikian karena lensa melihat objek dari atas mirip sudut penglihatan elang
(burung) terbang (bird's-eye view ). Persoalannya untuk melakukannya - seperti yang
biasa dilakukan para wartawan foto - memang tidak mudah. Diperlukan latihan yang
berulang-ulang sehingga terbiasa dan terlatih dalam memperkirakan sesuatu, baik itu
mengenai pembingkaiannya (framing), pemilihan kecepatan rana, pemakaian bukaan
diafragma, pengaturan komposisi, sampai penentuan jarak fokus untuk menghasilkan
foto yang tajam.

Bila beberapa unsur pendukung tersebut telah mahir dilakukan oleh pemotret,
kemungkinan keberhasilan mendapatkan foto dari sudut yang lebih tinggi seperti yang
biasa dilakukan wartawan foto diperkirakan akan terwujud dengan mudah.
Sesungguhnya cara memotret dengan mengangkat tinggi-tinggi kamera adalah cara
sederhana guna mendapatkan sudut pandang yang baik. Hanya saja cara wartawan
foto memang berbeda kendati hakikatnya adalah sama - khususnya dalam persoalan
memotret bila objek utamanya berada dalam kerumunan massa. Yaitu sama-sama
mencari sudut pemotretan dari atas (high angle) atau sudut pandang elang terbang
untuk menghasilkan foto yang menarik dan menawan.

Penyinaran dan Komposisi

Pemilihan sudut pemotretan memang merupakan salah satu hal yang sangat
menentukan dalam menghasilkan foto yang menarik dan menawan. Karena dengan
sudut pemotretan yang tepat akan memunculkan beberapa aspek pendukung
keindahan dan keberhasilan suatu foto. Hal ini di antaranya berkaitan dengan
penyinaran dan komposisi.

Dari sisi penyinaran misalnya, dengan memilih sudut pemotretan tertentu akan
menghasilkan foto yang mungkin saja menarik dan menawan karena telah
nempertimbangkan sudut datangnya sinar yang mengenai objek dengan baik. Bisa
saja objek sengaja ditempatkan pada sisi di mana sinar yang tajam (mungkin sinar
dari arah belakang atau samping), sehingga menambah dramatisnya suasana.

Pada foto berjudul "Keong Emas" yang menggambarkan bangunan teater Keong
Emas di Taman Mini Indonesia Indah, sebenarnya adalah foto biasa. Tetapi menjadi
tampak lebih menarik karena foto dibuat dari atas sehingga mampu menggambarkan
keseluruhan bentuk bangunan dan lingkungan sekitarnya. Keberhasilannya memang
lebih dikarenakan pemilihan sudut pemotretan dari atas (high angle ) selain ketepatan
pengukuran cahaya. Dan karena itu setiap pemotret sebaiknya selalu
mempertimbangkan masalah cahaya dalam pemotretan serta memperhitungkan dan
memperkirakan keartistikan gamhar sebelum melakukan pemotretan.

Bila seorang pemotret telah cermat dan akurat dalam memilih dan menentukan sudut
pemotretan, maka meskipun kondisi sinar kurang menguntungkan, akan tetap
menghasilkan sebuah foto yang baik. Paling tidak dari segi penyajiannya hasil foto
yang dibuat dengan sudut pandang elang terbang telah menjadikan objek yang biasa
saja menjadi luar biasa.

Ketika dalam suatu acara saya dihadapkan kenyataan harus memotret Inul Daratista
dalam suatu kerumuman, saya menggunakan cara umum yang selalu digunakan para
wartawan foto ketika sedang memotret pejabat negara dalam kerumunan. Yaitu
dengan mengangkat tinggi-tinggi kamera. Hal ini terpaksa dilakukan karena sudah tak
ada sudut pandang yang memadai untuk memotretnya di antara kerumunan,
sementara tempat lebih tinggi atau tempat untuk memanjat juga tidak ada.

Namun demikian hasilnya cukup mampu menampilkan wajah artis Inul Daratista di
antara kerumunan wartawan dengan baik. Komposisi yang tidak cukup tertata dengan
baik karena pemotretan dilakukan dengan mengandalkan perasaan sepertinya tidak
terlalu jadi masalah. Terlebih karena fotonya digunakan untuk publikasi media cetak
yang lebih mengutamakan sisi beritanya daripada sekadar gambar.

Meskipun begitu, cara kerja mengangkat tinggi-tinggi kamera untuk memotret objek
dalam kerumunan seperti yang biasa dilakukan wartawan, sesungguhnya juga dapat
dimaksimalkan jika sering dilatih atau dilakukan. Dengan sudut pemotretan dari atas -
sudut elang terbang seperti pada foto berjudul "Keong Emas" memang akan sangat
memungkinkan menghasilkan foto yang menarik meskipun kondisi sinar kurang
mendukung. Hal tersebut lebih karena kebiasaan mata melihat yang umumnya frontal
atau dari arah depan. Karena itu dukungan penataan atau penciptaan komposisi yang
baik akan sangat membantu terciptanya foto yang baik, bahkan menarik. Bagaimana
tidak akan menjadi lebih menarik jika kita juga mendapatkan pencahayaan yang baik.

Dari segi komposisi, pemilihan sudut pemotretan dari atas atau sudut pandang elang
terbang memang mempunyai arti tersendiri. Seorang pemotret bisa saja mengeluarkan
ongkos yang tidak murah dan usaha yang tidak mudah dengan menyewa tangga atau
penyangga yang tinggi, mungkin juga dengan menyewa
helikopter hanya untuk memastikan mendapatkan sudut
pemotretan dari atas - seperti usaha yang saya lakukan
saat memotret "Keong Emas".

Mau dengan cara apa lagi menghasilkan foto yang indah


kalau bukan dengan mencari sudut pemotretan yang baik
dan penciptaan komposisi yang baik Jika penyinaran tak
begitu mendukung atau bisa diharapkan, pilihan sudut
pandang elang terbang ternyata telah menjadi suatu acuan
kunci sukses menghadapi keadaan demikian.

Menguasai berbagai teknis pemotretan memang amat penting, namun sebagai


pemotret sebaiknya juga harus mampu memiliki konsentrasi yang baik sehingga,
mahir dan tepat dalam hal menekan tombol pelepas kamera. Tanpa kemahiran
menekan tombol pelepas kamera pada saat yang tepat, khususnya dalam memotret
peristiwa yang berlangsung cepat seperti misalnya olahraga, pasti tak akan
mendapatkan foto yang baik dan menarik.

Sudut pemotretan adalah salah satu hal penting penunjang suksesnya pemotretan,
karena itu sebaiknya selalu dipikirkan dengan cermat oleh pemotret. Sehingga
meskipun seperti seorang wartawan foto yang sering terpaksa melakukan tindakan
mengangkat tinggi-tinggi kamera saat memotret dalam kerumunan, tetap saja bisa
menghasilkan foto yang dapat dipertanggungjawabkan.

Seorang pemotret memang harus mau mengeluarkan "ongkos" yang tidak murah dan
usaha yang tidak mudah untuk mendapatkan suatu hasil dalam pemotretan yang baik
dan menarik. Hal itu terkait dengan berbagai keperluan. Karena sesungguhnya
memang tak ada sesuatu sukses yang gratis, terlebih untuk mendapatkan foto yang
menarik dan menawan.*

Sudut Pandang Elang Terbang


OLEH ATOK SUGIARTO

Foto-Foto: Atok Sugiarto

MENGANGKAT KAMERA - Untuk menghasilkan foto yang menarik dalam


kerumunan yang mengelilingi Inul Daratista, caranya tak lain dan tak bukan
adalah dengan mengangkat tinggi-tinggi kamera.

uatu objek yang berada dalam kerumunan tentu sering jadi masalah untuk dipotret.
Terlebih jika kerumunan itu mencapai puluhan atau ratusan orang, membuat
pemotret sering kesulitan mendapatkan sudut pandang yang baik jika ingin
menampilkan objek yang berada dalam kerumunan.

Pertanyaannya kemudian, apakah kita mau memotret dengan hanya mendapatkan foto
yang menampakkan punggung sejumlah orang tanpa memperlihatkan objek utama
dalam kerumunan tadi. Bila memungkinkan, kita memang akan mencari tempat yang
lebih tinggi, apakah itu dengan cara memanjat kursi, tangga, tembok, pohon, naik ke
atas mobil yang diparkir dan sebagainya. Namun, sering kali keinginan seperti itu
lebih sering mengalami persoalan dan hambatan. Mengapa?

Tak lain karena objek yang difoto merupakan objek dalam suatu peristiwa yang tidak
kita direncanakan, misalnya memotret pejabat tinggi negara atau selebriti terkenal.
Dan kalau sudah demikian, hampir dapat dipastikan menjadikan para wartawan foto
khususnya, terpaksa mengangkat tinggi-tinggi kamera sebagai usaha memotret objek
yang berada dalam kerumunan. Sebab hanya dengan cara seperti itulah diharapkan
dapat memperoleh sudut pandang yang memadai dan hasil foto yang bisa
menggambarkan objek di antara kerumunan tanpa terhalang sesuatu.

Wartawan foto sepertinya memang telah paham betul melakukan pemotretan dengan
cara demikian. Apakah itu harus menggunakan lensa sudut lebar (wide), kecepatan
rana, diafragma sampai dengan penentuan jarak fokusnya. Sehingga dengan tanpa
mengintai dari jendela pembidik kamera -- dengan feeling, dapat diperoleh foto yang
baik.

Elang Terbang

Apa yang sering dilakukan para wartawan foto dalam menyikapi pemotretan objek
yang berada dalam kerumunan sesungguhnya adalah cara sederhana dalam mencari
sudut pandang. Sudut tersebut adalah high angle, yaitu sudut atas atau ada yang
menyebutnya sebagai sudut pandang elang terbang.

Sudut pemotretan seperti itu seringkali menghasilkan foto menarik dan menawan
karena mampu bercerita tentang suatu keadaan dan disebut sudut elang terbang.
Disebut demikian karena lensa melihat objek dari atas mirip sudut penglihatan elang
(burung) terbang (bird's-eye view ). Persoalannya untuk melakukannya - seperti yang
biasa dilakukan para wartawan foto - memang tidak mudah. Diperlukan latihan yang
berulang-ulang sehingga terbiasa dan terlatih dalam memperkirakan sesuatu, baik itu
mengenai pembingkaiannya (framing), pemilihan kecepatan rana, pemakaian bukaan
diafragma, pengaturan komposisi, sampai penentuan jarak fokus untuk menghasilkan
foto yang tajam.

Bila beberapa unsur pendukung tersebut telah mahir dilakukan oleh pemotret,
kemungkinan keberhasilan mendapatkan foto dari sudut yang lebih tinggi seperti yang
biasa dilakukan wartawan foto diperkirakan akan terwujud dengan mudah.
Sesungguhnya cara memotret dengan mengangkat tinggi-tinggi kamera adalah cara
sederhana guna mendapatkan sudut pandang yang baik. Hanya saja cara wartawan
foto memang berbeda kendati hakikatnya adalah sama - khususnya dalam persoalan
memotret bila objek utamanya berada dalam kerumunan massa. Yaitu sama-sama
mencari sudut pemotretan dari atas (high angle) atau sudut pandang elang terbang
untuk menghasilkan foto yang menarik dan menawan.

Penyinaran dan Komposisi

Pemilihan sudut pemotretan memang merupakan salah satu hal yang sangat
menentukan dalam menghasilkan foto yang menarik dan menawan. Karena dengan
sudut pemotretan yang tepat akan memunculkan beberapa aspek pendukung
keindahan dan keberhasilan suatu foto. Hal ini di antaranya berkaitan dengan
penyinaran dan komposisi.

Dari sisi penyinaran misalnya, dengan memilih sudut pemotretan tertentu akan
menghasilkan foto yang mungkin saja menarik dan menawan karena telah
nempertimbangkan sudut datangnya sinar yang mengenai objek dengan baik. Bisa
saja objek sengaja ditempatkan pada sisi di mana sinar yang tajam (mungkin sinar
dari arah belakang atau samping), sehingga menambah dramatisnya suasana.

Pada foto berjudul "Keong Emas" yang menggambarkan bangunan teater Keong
Emas di Taman Mini Indonesia Indah, sebenarnya adalah foto biasa. Tetapi menjadi
tampak lebih menarik karena foto dibuat dari atas sehingga mampu menggambarkan
keseluruhan bentuk bangunan dan lingkungan sekitarnya. Keberhasilannya memang
lebih dikarenakan pemilihan sudut pemotretan dari atas (high angle ) selain ketepatan
pengukuran cahaya. Dan karena itu setiap pemotret sebaiknya selalu
mempertimbangkan masalah cahaya dalam pemotretan serta memperhitungkan dan
memperkirakan keartistikan gamhar sebelum melakukan pemotretan.

Bila seorang pemotret telah cermat dan akurat dalam memilih dan menentukan sudut
pemotretan, maka meskipun kondisi sinar kurang menguntungkan, akan tetap
menghasilkan sebuah fot o yang baik. Paling tidak dari segi penyajiannya hasil foto
yang dibuat dengan sudut pandang elang terbang telah menjadikan objek yang biasa
saja menjadi luar biasa.

Ketika dalam suatu acara saya dihadapkan kenyataan harus memotret Inul Daratista
dalam suatu kerumuman, saya menggunakan cara umum yang selalu digunakan para
wartawan foto ketika sedang memotret pejabat negara dalam kerumunan. Yaitu
dengan mengangkat tinggi-tinggi kamera. Hal ini terpaksa dilakukan karena sudah tak
ada sudut pandang yang memadai untuk memotretnya di antara kerumunan,
sementara tempat lebih tinggi atau tempat untuk memanjat juga tidak ada.

Namun demikian hasilnya cukup mampu menampilkan wajah artis Inul Daratista di
antara kerumunan wartawan dengan baik. Komposisi yang tidak cukup tertata dengan
baik karena pemotretan dilakukan dengan mengandalkan perasaan sepertinya tidak
terlalu jadi masalah. Terlebih karena fotonya digunakan untuk publikasi media cetak
yang lebih mengutamakan sisi beritanya daripada sekadar gambar.

Meskipun begitu, cara kerja mengangkat tinggi-tinggi kamera untuk memotret objek
dalam kerumunan seperti yang biasa dilakukan wartawan, sesungguhnya juga dapat
dimaksimalkan jika sering dilatih atau dilakukan. Dengan sudut pemotretan dari atas -
sudut elang terbang seperti pada foto berjudul "Keong Emas" memang akan sangat
memungkinkan menghasilkan foto yang menarik meskipun kondisi sinar kurang
mendukung. Hal tersebut lebih karena kebiasaan mata melihat yang umumnya frontal
atau dari arah depan. Karena itu dukungan penataan atau penciptaan komposisi yang
baik akan sangat membantu terciptanya foto yang baik, bahkan menarik. Bagaimana
tidak akan menjadi lebih menarik jika kita juga mendapatkan pencahayaan yang baik.

Dari segi komposisi, pemilihan sudut pemotretan dar i atas atau sudut pandang elang
terbang memang mempunyai arti tersendiri. Seorang pemotret bisa saja mengeluarkan
ongkos yang tidak murah dan usaha yang tidak mudah dengan menyewa tangga atau
penyangga yang tinggi, mungkin juga dengan menyewa helikopter hanya untuk
memastikan mendapatkan sudut pemotretan dari atas - seperti usaha yang saya
lakukan saat memotret "Keong Emas".

Mau dengan cara apa lagi menghasilkan foto yang indah kalau bukan dengan mencari
sudut pemotretan yang baik dan penciptaan komposisi yang baik Jika penyinaran tak
begitu mendukung atau bisa diharapkan, pilihan sudut pandang elang terbang ternyata
telah menjadi suatu acuan kunci sukses menghadapi keadaan demikian.

Menguasai berbagai teknis pemotretan memang amat penting, namun sebagai


pemotret sebaiknya juga harus mampu memiliki konsentrasi yang baik sehingga,
mahir dan tepat dalam hal menekan tombol pelepas kamera. Tanpa kemahiran
menekan tombol pelepas kamera pada saat yang tepat, khususnya dalam memotret
peristiwa yang berlangsung cepat seperti misalnya olahraga, pasti tak akan
mendapatkan foto yang baik dan menarik.

Sudut pemotretan adalah salah satu hal penting penunjang suksesnya pemotretan,
karena itu sebaiknya selalu dipikirkan dengan cermat oleh pemotret. Sehingga
meskipun seperti seorang wartawan foto yang sering terpaksa melakukan tindakan
mengangkat tinggi-tinggi kamera saat memotret dalam kerumunan, tetap saja bisa
menghasilkan foto yang dapat dipertanggungjawabkan.

Seorang pemotret memang harus mau mengeluarkan "ongkos" yang tidak murah dan
usaha yang tidak mudah untuk mendapatkan suatu hasil dalam pemotretan yang baik
dan menarik. Hal itu terkait dengan berbagai keperluan. Karena sesungguhnya
memang tak ada sesuatu sukses yang gratis, terlebih untuk mendapatkan foto yang
menarik dan menawan.*

Menjadi Fotografer Kantoran


Oleh Eddy Suntoro

Foto Antara/Pandu Dewantara

BERTUKAR NASKAH - Menteri


Riset dan Teknologi Kusmayanto
Kadiman (kanan) saling bertukar
naskah kerjasama dengan Pjs.
Gubernur Kepulauan Riau
(Kepri) Ismeth Abdullah, usai
penandatangann naskah
kesepakatan bersama antara
Kementerian Ristek dengan
Pemprov Kepri. Ini adalah
sebuah contoh foto yang diperlukan oleh suatu instansi (kementerian/kantor)
sekaligus juga foto berita.

udah banyak yang membuktikan bahwa dunia fotografi selain bisa dijadikan hobi,
juga dapat dikembangkan menjadi profesi atau pekerjaan, karena dari kegiatan
potret-memotret bisa memberikan penghasilan (income) bagi si fotografer. Salah satu
bidang fotografi yang masih terbuka peluangnya dan bisa ditekuni adalah menjadi
"Fotografer Kantoran".

Secara sederhana, fotografer kantoran dapat didefinisikan sebagai suatu kegiatan


pemotretan untuk merekam dan mendokumentasikan berbagai kegiatan yang
dilakukan suatu kantor/instansi baik pemerintah maupun swasta. Misalnya pemotretan
untuk pelantikan pejabat baru di suatu instansi, penyelenggaraan seminar, lokakarya,
peluncuran produk baru, pameran dan sebagainya.

Kegiatan yang diadakan diberbagai perkantoran tersebut pada dasarnya merupakan


peluang besar untuk digarap dan dapat dijadikan pekerjaan para fotografer yang
berminat menggelutinya. Hal tersebut disebabkan masih sangat sedikit unit kerja di
perkantoran yang mempunyai fotografer, sehingga jika ada suatu kegiatan yang perlu
didokumentasikan sering mengalami kendala untuk mencari pegawai yang bisa
memotret. Untuk mengatasi kelangkaan kehadiran fotografer tidak jarang harus
didatangkan dari luar. Misalnya mendatangkan fotografer yang bekerja di studio foto.

Walaupun ada salah seorang pegawai yang ditugasi untuk melakukan pemotretan,
pegawai tersebut biasanya jarang memegang kamera dan jarang pula melakukan
pemotretan. Kalau sudah demikian, dapat dipastikan hasil pemotretannya kurang
sempurna sebagaimana diharapkan. Misalnya ada gambar yang tidak fokus , gambar
terlalu terang atau gelap, komposisinya tidak tepat, ada gambar yang bagiannya
terpotong dan sebagainya.

Untuk mengatasi kelangkaan tenaga fotografer tersebut, memang bisa saja


pemotretannya dilakukan dengan menggunakan kamera poket atau digital yang serba
otomatis dan mudah digunakan. Tetapi, kebanyakan hasilnya tetap kurang optimal
dan masih tetap gambar yang jelek dihasilkan. Mungkin karena saat memotret, tidak
tepat atau saat memotret kameranya goyang, komposisi tidak tepat dan sebagai- nya.
Dalam hal ini, kecanggihan kamera belum menjamin hasil pemotretan yang baik. The
man behind the camera atau orang yang berada di belakang kamera masih sangat
menentukan hasil.

Tak Asal Jepret

Karena tujuan pemotretan adalah mendokumentasikan suatu kegiatan di kantor, maka


subjek dan momen yang dipotret harus dapat mewakili acara yang diadakan. Misalnya
ketika pimpinan kantor memberikan pidato pembukaan acara, pengguntingan pita
tanda peresmian acara dan sebagainya.

Jadi, untuk memotret kegiatan kantor tidak bisa asal jepret. Aturannya, semua momen
harus diseleksi dulu sebelum dijepret, dan satu momen cukup dipotret 2-3 kali
exposure.

Alasan tidak dibenarkannya seorang fotografer kantoran melakukan pemotretan "asal


jepret", karena kegiatan yang dipotret adalah kegiatan kantor yang harus direkam
secara utuh, dari awal acara sampai selesai. Hal tersebut tentu berbeda dengan
pemotretan tunggal seperti memotret pemandangan alam, memotret model,
pemotretan untuk iklan dan sebagainya.
Mengingat hasil pemotretannya akan dijadikan dokumentasi penting suatu kantor,
maka syarat utama yang harus dipenuhi adalah, foto yang dihasilkan harus berkualitas
tinggi. Artinya, foto tersebut harus fokus, tajam gambarnya dan komposisinya
menarik.

Selain itu, fotografer yang memotret harus dapat menyusun foto ke dalam Album
Foto secara berurutan atau kronologis. Sehingga siapa saja yang melihat bisa
mengikuti alur cerita yang ditampilkan dalam album foto dari awal sampai selesai
acara.

Untuk memperjelas cerita yang ditampilkan di dalam gambar dapat diberikan


keterangan/tulisan di bawah masing-masing gambar. Kalau tidak, minimal diberi
judul pada cover bagian dalam album foto, sehingga dapat diketahui acara apa, di
mana dan kapan diadakannya. Un-tuk memudahkan fotografer menyusun foto ke
dalam album foto, dapat melihat undangan atau susunan acara yang dilaksanakan.

Sesuaikan Penampilan

Bagi para fotografer yang ingin menekuni pemotretan di perkantoran sebagaimana


diuraikan di atas, harus mempunyai performance yang baik, sehingga da pat dipercaya
lembaga yang menugasi. Hal tersebut sangat penting diperhatikan, karena dalam suatu
kelembagaan selain mempunyai etika dan prosedur kerja yang harus diikuti, segala
sesuatu sudah terjadwal dengan ketat, sehingga harus dipersiapkan dan dilaksanakan
dengan sebaik-baiknya.

Beberapa hal yang harus dilakukan fotografer ketika mendapat tugas


mendokumentasikan kegiatan kantor yang perlu diperhatikan, antara lain adalah:
pertama, mengingat subjek dan momen yang dipotret dalam kegiatan kantor lebih
banyak bersifat formal/resmi, maka fotografer harus dapat menyesuaikan
penampilannya (terutama cara berpakaian) dengan suasana acara yang diadakan.

Kalau dalam acara itu harus berpakaian rapi dan sopan, atau mengenakan batik lengan
panjang, tentu sangat tidak tepat jika si fotografer mengenakan kaos oblong dan
celana jeans. Untuk itu, harus pandai- pandai beradaptasi dan menyesuaikan diri. Cara
paling tepat untuk menghindari kesalahan dalam mengena-kan pakaian adalah dengan
menanyakan langsung kepada orang yang memberi tugas : pakaian apa yang harus
dikenakan ketika melakukan pemotretan?

Kedua, sesulit apa pun subjek yang akan dipotret, hendaknya tetap bisa dibidik, tanpa
mengganggu orang di sekitarnya. Jangan sampai terjadi, memotret dengan
membelakangi atau mengusik kenyamanan orang di sekitarnya. Jika ini terjadi,
fotografer dianggap tidak sopan dan tidak tahu tatakrama. Untuk itu, pandai-pandailah
mencari posisi pemotretan yang tepat, sehingga kehadiran fotografer tidak
mengganggu kenyamanan orang lain, apalagi menghambat kelancaran jalannya acara
yang sedang berlangsung.

Ketiga, disiplin waktu. Artinya si fotografer harus datang ke lokasi pemotretan tepat
waktu. Untuk amannya, agar tidak ketinggalan acara, minimal 30 menit sebelum acara
dimulai sudah berada di lokasi pemotretan, sehingga mempunyai kesempatan untuk
mempersiapkan segala sesuatunya dengan seksama. Agar bisa datang ke lokasi
pemotretan tepat waktu, sehari sebelum acara berlangsung sudah
diketahui kepastian lokasi pemotretan. Apakah di dalam kantor (indoor)
atau di luar kantor (outdoor).Dengan demikian dapat diketahui peralatan
apa saja yang harus dibawa sesuai dengan situasi dan kondisi
pemotretannya.

Keempat, fotografer harus memenuhi deadline penyerahan hasil


pemotretan. Kalau berjanji dalam satu minggu hasil pemotretan akan
diserahkan, maka janji itu harus dipatuhi. Ketepatan waktu penyerahan
hasil pemotretan sangat penting diperhatikan, karena orang yang
menugasi pemotretan biasanya juga dibatasi dengan deadline
penyampaian -laporan lengkap kepada pimpinan. Kalau si fotografer
belum bisa memenuhi jadwal yang ditentukan, tentu dapat menjatuhkan
kredibilitas dan performance-nya.

Jika beberapa tahapan kegiatan seperti diuraikan di atas dapat dikerjakan dengan baik,
diharapkan performance fotografer dapat dinilai dengan baik dan memuaskan
lembaga yang menugasinya.

Kalau sudah demikian, dan timbul kepercayaan, diharapkan order pemotretan


berikutnya akan dipercayakan kepada si fotografer. Kalau begitu, menjadi fotografer
kantoran pun cukup menjanjikan. Masalahnya terpulang kepada masing-masing diri si
fotografer, mau menggarapnya atau tidak.*

Memotret Model Luar Ruang


Oleh Atok Sugiarto

Foto: Atok Sugiarto

LENSA NORMAL - Memahami kelebihan lensa yang digunakan seperti lensa


normal yang lebih sering dicadangkan belaka adalah penting bagi hasil
pemotretan yang cukup baik seperti foto ini.

emotret model tentulah suatu hal yang menyenangkan, terlebih bila modelnya
terkenal dan cantik. Karena hal itu maka tak heran jika banyak yang
memimpikannya. Namun untuk mewujudkannya memang tidak mudah karena untuk
menjadi seorang pemotret saja tidak mudah. Diperlukan ketekunan dan kemauan
belajar tentang perlengkapan fotonya, baik kamera, lensa hingga peralatan lampu-
lampunya yang canggih dan pastilah mahal sehingga merupakan salah satu faktor
tersendiri untuk mewujudkan keinginan tersebut.

Namun, sebuah foto, dalam hal ini foto mengenai model yang baik, memang tidak
selalu hanya bisa dihasilkan dengan peralatan fotografi yang baik, lengkap, dan
canggih. Hal itu juga bisa dihasilkan dengan peralatan sederhana, bahkan dapat juga
dihasilkan tanpa menggunakan satu pun peralatan lighting atau lampu seperti pada
pemotretan yang dilakukan di studio. Tentunya asal tahu kiat-kiatnya.
Jadi, bila tidak dapat mewujudkan impian untuk memiliki peralatan lighting dan
studio foto yang canggih, tak perlu mengurungkan niat untuk tetap bisa menjadi
seorang pemotret model. Sebab sesungguhnya memotret model tanpa peralatan
kamera atau lampu studio yang mahal - hanya menggunakan cahaya alami di luar
runag - juga bisa dilakukan bahkan terkadang bisa menghasilkan karya yang lebih
baik dan berhasil daripada yang dilakukan di dalam studio dengan menggunakan
peralatan canggih sekalipun.

Teknis

Secara teknis memotret model di luar ruang tidak jauh berbeda dengan pemotretan
model di dalam ruang atau studio. Bedanya dari sisi fisik pemotretan di luar ruang
tidak menggunakan peralatan banyak seperti halnya yang dilakukan dalam studio.

Pada pemotretan di luar ruang hal utama yang harus diperhitungkan dan
pertimbangkan adalah waktu. Karena pemotretan di luar ruang lebih mengandalkan
cahaya alami matahari maka perhitungan sinarnya yang baik untuk pemotretan harus
dilakukan. Ingat, cahaya matahari itu cepat berlalu dan berubah maka memerlukan
perhitungan serta pertimbangan tersendiri.

Pemotretan di luar ruang baik jika dilakukan pada pukul 08.00 - 10.00 WIB (pagi
hari) dan 15.00 - 17.00 WIB (sore hari). Hal itu dilakukan atas dasar perhitungan
bahwa pada kondisi tersebut matahari masih cerah dan kuat sinarnya dan umumnya
jarang terhalang awan. Sudut pandang sinarnya pun dari arah samping (miring)
sehingga sering dapat menghasilkan foto yang indah dari segi cahaya. Dari segi
peralatan, tak perlu kamera maupun lensa yang canggih. Kamera maupun le nsa biasa
sudah dapat digunakan selama kamera dan lensa tersebut masih berfungsi cukup baik
untuk menghasilkan foto yang baik.

Dengan kamera 35 mm dan lensa jenis apa pun, baik itu lensa wide (sudut lebar),
lensa normal atau lensa tele hingga lensa zoom, tetap dapat digunakan untuk memotret
model. Bahkan dengan menggunakan kamera saku berfasilitas zoom yang sederhana
pun dapat digunakan.

Dalam suatu sesi pemotretan, bisa saja seorang pemotret hanya menggunakan lensa
sudut lebar untuk memotret model. Tentunya hal ini atas dasar perhitungan dan
pertimbangan tertentu yang diinginkannya, dapat menghasilkan foto model yang
indah karena kepandaian memaksimalkan kelebihan lensa. Misalnya dengan
menyertakan pemandangan indah sebagai latar nelakang pemotretan sehingga
memperkuat gambar. Sisi lain juga bisa saja karena satu dan lain hal memotret model
di luar ruang hanya menggunakan lensa standar atau normal, lensa yang
sesungguhnya lebih sering disimpan atau dicadangkan oleh kebanyakan pemotret
karena tak menghasilkan sesuatu yang dianggap menarik.

Satu hal lagi yang sering dilakukan dalam memotret model di luar ruang adalah
penggunaan lensa tele panjang, misalnya 200 mm, 300 mm bahkan karena suatu
keinginan tertentu ada yang perlu menggunakan lensa yang lebih panja ng lagi. Akan
tetapi kesemuanya juga akan tetap sama saja yaitu menghasilkan suatu foto yang baik.
Hal itu akan tercapai jika pemotret mampu menggunakan dan memaksimalkan alat
yang digunakannya.
Foto: Atok Sugiarto

DI ATAS GEDUNG - Lensa zoom 80 - 200 mm


merupakan salah satu lensa yang memadai untuk
pemotretan model di luar ruang seperti ini.

Dengan menggunakan lensa tele panjang yang canggih


sekalipun, bila secara teknis pemotret tidak menguasai dan mampu memaksimalkan
keunggulannya, tetap saja tak aka n menghasilkan foto model di luar ruang yang baik
dan menarik. Salah satu keunggulan menggunakan lensa tele panjang dalam
pemotretan model di luar ruang adalah kemampuannya dalam menghasilkan subjek
utama yang menonjol (fokus) dibanding latar belakang maupun latar depannya.

Kembali pada persoalan teknis bahwa sesugguhnya dengan menggunakan lensa tele
yang tidak terlalu panjang juga sudah bisa menghasilkan foto yang tampak menonjol
bila hanya itu yang menjadi dasar, tujuan atau keinginan tentang hasil pemotretannya.
Karena dengan menggunakan lensa jenis zoom seperti tele zoom 80 - 200 mm yang
lebih murah dari segi harga sudah dapat pula untuk sekadar mengaburkan latar
belakang atau latar depannya. Terlebih bila menggunakan bukaan diafragma besar
seperti f:2,8 hasil pemotretannya pun baik dan tak kalah dengan foto yang dihasilkan
dengan lensa tele yang lebih panjang.

Foto berjudul "Di Atas Gedung" adalah salah satu contoh pemotretan model yang
dilakukan di luar ruang menggunakan lensa tele zoom 80 - 200 mm, bukaan diafragma
f:2,8 pada posisi lensa 200 mm. Di sini tampak efek blur atau kabur pada benda di
latar belakang di luar subjek utama. Namun demikian jika menginginkan suatu hasil
yang prima dari sisi peralatan, pemotretan di luar ruang masih memerlukan alat
penunjang seperti misalnya kaki-tiga (tripod) kamera, kuhsusnya bila menggunakan
lensa tele panjang dan tambahan sebuah reflektor untuk membantu memberikan
pencahayaan dari arah depan subjek serta filter-filter penghangat warna bahkan
mungkin juga filte r polarisasi yang mampu memekatkan warna tau membirukan
langit. Tak ketinggalan juga tentunya filter pelembut yang secara umum juga memang
digemari untuk membantu memberikan kesan lembut pada diri si model.

Kesimpulan

Menghasilkan foto tentang model yang baik memang bisa dilakukan dan ditempuh
melalui beberapa cara. Cara yang paling sederhana adalah memotretnya dengan
menggunakan peralatan foto biasa (standar) dan dilakukan di luar ruang sehingga
tidak memerlukan peralatan yang banyak dan mahal. Tetapi ke semuanya tidak akan
menghasilkan sesuatu yang baik jika tidak dilakukan dengan usaha keras dan cara
yang benar.

Keterbatasan alat atau karena suatu kendala lain yang mengharuskan untuk memotret
model di luar ruang hendaknya tidak menjadikan batal niat melakukan pemotretan.
Sebab, dengan peralatan yang sederhana yang masih berfungsi dengan baik dapat
untuk menghasilkan foto yang baik. Pada dasarnya setiap peralatan foto (lensa) selalu
memiliki keunggulan, tinggal tugas pemotret memaksimalkan keunggulan-
keunggulan itu.
Sisi lain di luar teknis pemotretan hendaknya juga harus dapat dikuasai pemotret.
Misalnya mampu mengadakan pendekatan terhadap model, pandai menciptakan dan
menuangkan gagasan, mengarahkan dan menjalin kerja sama yang baik guna
menghasilkan sebuah foto yang baik. Memilih waktu pemotretan yang baik dengan
mempertimbangkan lokasi juga perlu dipertimbangkan, khususnya untuk suatu
pemotretan model yang memasukkan suasana sebagai unsur pendamping penciptaan
keindahan. Sekalipun latar belakang kadang sering tidak diperhitungkan, tetapi pada
pemotretan yang dilakukan di luar ruang setidaknya menjadi bagian yang harus
diperhatikan.

Latar belakang pemotretan model di dalam studio yang umumnya polos, bila
dikehendaki dalam pemotretan di luar ruang juga bisa diciptakan. Misalnya dengan
mencari tembok atau mungkin juga dengan menyediakan terlebih dahulu latar
belakang dari kanvas, seperti halnya pemotretan yang dilakukan di dalam studio.

Kelebihan pemotretan di luar ruang adalah menjadikan seorang pemotret mudah


mengatur atau memeragakan pose yang diinginkan. Mungkin dengan cara si model
duduk, berdiri atau berbaring pada suatu tempat sesuai arah datangnya sinar matahari
dengan menggunakan setting lokasi dan latar belakang suasana setempat. Tidak
seperti di studio yang umumnya hanya pada pose duduk saja dan menggunakan latar
belakang kain/kertas polos atau kanvas.

Salah satu kekurangan memotret model di luar ruang adalah si pemotret tidak dapat
mengubah sudut datangnya sinar (matahari) atau menambah kekuatan sinar tersebut.
Namun hal itu masih dapat dimodifikasi sehingga menghasilkan sinar yang lembut,
misalnya dengan merentangkan kain putih atau kertas tipis di atas subjek untuk
mengurangi kuatnya cahaya matahari pada siang hari. Modifikasi juga dapat
dila kukan dengan membelokkan arah sinar (matahari) menggunakan reflektor dari
styrofoam atau kertas timah.

Kunci utama untuk menghasilkan sebuah foto model adalah pada bekal kemampuan
pemotret sendiri. Dalam hal ini kepandaiannya mengutarakan maksud dan gagasan-
gagasannya, kepandaiannya melakukan pendekatan terhadap modelnya dan
memaksimalkan peralatan yang ada.

Foto Alam Bebas


Oleh Atok Sugiarto

Atok Sugiarto

LENSA TELE - Tidak ada


keharusan untuk memotret
alam bebas dengan lensa sudut
lebar karena dengan lensa tele
juga dapat dihasilkan foto
tentang alam yang cukup indah.
lam sungguh memiliki daya tarik yang luar biasa bagi manusia - untuk seniman
dan tentu saja pemotret khususnya. Karena alam, selain selalu menjadi objek,
selalu memberi inspirasi yang tak pernah ada henti-hentinya bagi manusia. Dan, suara
gemercik air, hembusan angin, sejuknya udara dan segala sesuatu yang dikeluarkan
oleh alam, kian gereget mempengaruhi hati, pikiran dan tindakan seseorang untuk
membidikkan kameranya.

Permasalahannya, untuk membuat foto-foto tentang alam bebas yang indah itu tidak
mudah. Apa yang terlihat indah oleh mata telanjang sering tak mampu diwujudkan
dalam bentuk foto yang sama indahnya seperti saat mata memandang.

Akibatnya, fenomena keindahan itu pun seolah hilang begitu saja. Dan jika sudah
demikian, keindahan alam bebas yang selalu memberi inspirasi itu seolah tak pernah
menjadi kenangan dan hadir dalam bentuk kisah keagungannya bagi orang lain yang
tidak melihatnya.

Namun bagi seorang pemotret tentunya hal demikian tak akan menjadi masalah.
Sebab dengan keahliannya tentu ia dapat menangkap keindahan yang ditampilkan
oleh alam itu dengan baik.

Peralatan

Agar dapat menangkap dan menghasilkan foto tentang keindahan alam bebas yang
paling praktis adalah dengan menggunakan kamera SLR atau RLT (analog maupun
digital) 35 mm dengan sebuah lensa zoom, wide hingga tele (28-85 mm) atau tele
menengah hingga yang panjang (75-210 mm). Lensa sudut lebar 20 mm atau lensa
tele 300 mm juga lebih baik jika ada.

Perlu dicatat bahwa foto tentang alam bebas itu tidak selalu identik dengan foto yang
harus diambil dengan menggunakan lensa sudut lebar untuk menangkap area yang
luas. Melainkan bisa juga dengan lensa tele untuk detail dan sesuatu yang lebih khas.

Bedanya, bila menggunakan lensa sudut lebar, pemotret harus bisa memastikan bahwa
pemandangan alam bebas yang akan "dibingkainya" memiliki latar depan
(foreground) yang menarik. Misalnya seperti ada bunga -bunga, bebatuan yang
artistik, siluet sebuah benda (refleksi), bayangan pepohonan atau dedaunan untuk
menciptakan kesan tiga dimensi yang kuat.

Sedangkan bila menggunakan lensa tele panjang, pemandangan alam bebas yang akan
dipotret bisa menggambarkan secara khas tentang detail suatu objek yang menjadi ciri
khas tempat ata u daera itu. Dengan begitu akan dihasilkan foto khas dan menarik
karena sentuhan serta sajian yang berbeda.

Penggunaan kamera dengan lensa-lensa yang bisa mencakup berbagai sudut pandang
saja belumlah cukup untuk menghasilkan foto-foto yang baik. Hal-hal lain yang masih
diperlukan adalah kelengkapan seperti filter-filter misalnya filter polarisasi (PL), filter
85B dan filter Neutral Density (ND).

Filter polarisasi (PL) sangat berguna untuk mengurangi refleksi selain lebih sering
digunakan untuk membuat biru langit dan menghijaukan rerumputan atau dedaunan.
Filter 85B untuk memperkuat warna cahaya matahari terbenam dan matahari terbit.
Sedangkan filter ND berguna untuk memperkecil perbedaan kekuatan sinar antara
langit dengan bagian bawah foto, sehingga keadaannya terekam normal dari segi
pencahayaan.

Perlengkapan tripod atau kaki tiga kamera juga sangat diperlukan, terutama untuk
memotret alam bebas saat matahari terbit atau terbenam. Sebab memotret situasi
seperti ini harus dilakukan dengan menggunakan kecepatan bukaan rana yang rendah.

Namun, jika Anda tergolong seseorang yang senang bepergian dengan menggunakan
kamera saku, juga tak perlu berkecil hati jika ingin merekam keindahan alam bebas
yang dilihat. Karena dengan kamera saku, khususnya kamera saku digital juga dapat
menghasilkan foto alam bebas yang indah dengan mudah.

Fasilitas -fasilitas yang komplit dalam software dapat membantu menciptakan foto-
foto alam bebas yang biasa dibuat dengan kamera saku menjadi luar biasa. Hal itu
terjadi karena foto dapat dimanipulasi dengan memanfaatkan komputer. Asal mahir
mengoperasikan komputer, setidaknya dapat menghasilkan foto yang baik dan
menarik dari sebuah foto biasa yang dihasilkan kamera saku. Dengan cara ini bahkan
tak perlu menjadi seorang profesional untuk
menghasilkan foto yang baik.

Atok Sugiarto

UMUM - Foto alam bebas yang dibuat secara


umum adalah dengan menangkap
pemandangan seluas -luasnya dengan
menggunakan lensa sudut lebar.

Beberapa Saran

Ada beberapa saran dan pesan agar mampu


menghasilkan foto alam bebas yang baik, antara
lain

Komposisi. Persoalan komposisi harus ditentukan


secara hati-hati. Karena itu perhatikan latar depan,
latar belakang, perspektif dan horizon, dengan
pembagian ruang yang harmonis saat melakukan
pemotretan.

Cahaya. Yang baik untuk kebutuhan foto pemandangan adalah cahaya alam sesaat
matahari terbit atau sebelum sang surya terbenam. Hal itu karena bayangan terentang
panjang, warna -warni menjadi matang dan langit tampak bersinar. Karena itu
dianjurkan untuk tidak terlalu terburu-buru dalam melakukan pemotretan
pemandangan. Sebaiknya, untuk selalu bersabar menunggu atau menanti cahaya
matahari terbaik sehingga tercapai hasil foto dengan penyinaran yang baik.
Karakter. Arah cahaya dari samping yang dihasilkan oleh matahari pagi atau sore
menghasilkan tekstur dengan karakter yang khas. Karena itu pilihlah keadaan dengan
memadukan objek dan karakteristik yang sesuai kondisi cahaya.

Pembingkaian. Lakukan pembingkaian dengan cara terlebih dahulu mempelajari suatu


keadaan sehingga bisa memilih sesuatu. Apakah itu batang pohon kering, dedaunan,
bangunan, bukit untuk memperkuat foto dengan memanfaatkannya sebagai latar
depan (foreground) atau latar depan (background).

Diafragma. Sebaiknya gunakan pemakaian diafragma kecil sehingga didapatkan hasil


foto dengan ketajaman luas, yaitu latar depan hingga latar belakang tampak tajam
semua. Seperti yang harus dilakukan jika memakai lensa sudut lebar untuk
memperbesar jarak antara yang dekat dengan yang jauh.

Cakrawala. Biasakan memainkan peran cakrawala dengan menempatkannya pada


bagian bawah bila ingin menonjolkan bagian tas, misalnya langit yang luas menawan,
cakrawala tinggi. Atau menempatkannya pada bagian atas bila ingin menonjolkan
bagian bawah foto yang menarik sekaligus untuk me nerangkan bahwa sudut
pemotretan dari ketinggian.

Imajinasi. Biasakan juga untuk melatih imajinasi dengan tidak terpaku pada aspek
realita dari alam bebas, bukit, bangunan, pepohonan. Tapi juga bisa melakukan dan
mencari objek-objek yang abstrak misalnya langit yang terpantul dari kubangan air,
garis-garis pagar yang seirama, langit yang biru, dan lain lain.

Alam. Manfaatkan segala sesuatu yang berhubungan dengan alam, seperti keadaan
cuaca, mendung, salju dan sebagainya, karena semua itu bisa mempengaruhi emosi
yang kuat bagi terciptanya foto.

Dengan peralatan memadai dan perencanaan yang baik, memotret alam bebas sesuai
yang diperkirakan akan sangat mungkin menjadi kenyataan. Dan hal itu tentu akan
terjawab dan tergambar pada foto bila kita sendiri menc intai alam. Sebab
sesungguhnya selalu ada sesuatu yang indah yang dikeluarkan oleh alam.*

Manipulasi dalam Fotografi


Oleh Atok
Sugiarto

Foto: Atok
Sugiarto

MANIPULASI -
Foto asli dengan
sebuah cacat
karena goresan
tampak seperti
ini (kiri). Sedangkan foto yang telah ditangani dengan manipulasi digital hilang
cacatnya (kanan).

ada sebuah tampilan foto, yang pertama kali menjadi pusat perhatian adalah sesuatu
yang paling mengesankan di dalam foto tersebut. Bila yang paling mengesankan itu
adalah tampilan warnanya, warna tersebut pastilah akan menjadi pusat perhatian
setiap mata yang melihat. Demikian pula dengan objek yang difoto, bila objeknya
sangat menonjol, mungkin gayanya (model) atau bentuknya (benda) serta ketajaman
gambarnya - baik ketajaman fotografis maupun fokus ceritanya, maka foto tersebut
akan menjadi pusat perhatian.

Karena hal itulah tidak sulit untuk menemukan maksud serta tujuan suatu foto yang
dihasilkan seorang pemotret hanya dengan memperhatikan fokus peristiwa yang
diabadikannya. Dan karena hal itulah sering kali kita saksikan agar sebuah foto
mampu bercerita atau fokus pada masalah - seperti yang diharapkan, maka pada saat
mencetak dilakukan manipulasi dengan mempertajam warna suatu objek atau meng-
crop - menghilangkan sesuatu yang dianggap merusak fokus (suasananya), yaitu
membuang bagian-bagian tertentu yang tidak dikehendaki dalam foto dengan cara
tidak mencetaknya.

Meskipun tindakan demikian (manipulasi) sering kali digunakan untuk


menyelamatkan atau memperindah sebuah gambar, tak bisa dilakukan begitu saja
hanya demi memenuhi keindahan suatu hasil pemotretan. Khususnya dalam hasil ini
jika sebuah foto dimaksudkan untuk suatu publikasi atau foto berita pada sebuah
media cetak, karena dianggap menghasilkan foto yang tidak apa adanya. Dalam
fotografi jurnalistik, fakta adalah sesuatu yang utama daripada keindahan.

Tindakan menyelamatkan foto sekaligus juga menyelamatkan pemotret yang


umumnya dianggap sah dan bebas dilakukan tersebut alangkah baiknya jika tidak
memasukkan sesuatu yang mengganggu objek utama atau menghilangkannya dengan
cara cropping. Sesungguhnya masih banyak cara manipulasi untuk menyelamatkan
sebuah foto yang secara otomatis juga menyelamatkan sang pemotretnya, terlebih di
era yang sudah serbadigital ini. Karena hanya dengan menggunakan fasilitas software
komputer, segala keinginan memanipulasi foto/gambar dapat dengan mudah
dilakukan. Dengan fasilitas ini tak ada lagi kekurangan yang terjadi dengan foto yang
tidak dapat diperbaiki.

Lalu bagaimana dengan fotograf i analog? Sesungguhnya tindakan cropping , yaitu


menghilangkan bagian-bagian tertentu dengan tidak mencetaknya dan tusir, yaitu
memperbaiki suatu foto dengan menambahkan sesuatu pada foto objek yang berada
dalam bingkai dengan menggunakan pewarna foto ataupun dengan burning in yaitu
"membakar" sebagian dari objek juga sudah merupakan tindakan manipulasi.

Tusir Digital

Tusir adalah sebuah kemajuan teknologi kimia di mana dengan suatu alat dapat
menghilangkan suatu noda pada sebuah foto. Tusir yang mempunyai fungsi
sebenarnya untuk menghilangkan cacat pada foto akibat proses laboratorium.
Misalnya negatif tergores atau karena penyimpanan yang kurang tepat, kini telah
berkembang menjadi suatu cara atau bentuk penyelamatan foto.
Dengan tusir yang bagus tak jarang menjadikan munculnya pertanyaan-pertanyaan
khususnya tentang keindahan suatu foto. Karena dengan tusir kita dapat membuat
suatu foto menjadi lebih utuh kembali tanpa terlihat kekurangannya. Pada fotografi
analog tusir memang kebanykan hanya dilakukan untuk memperbaiki cacat foto pada
saat pencetakan dilakukan dengan menggunakan kuas kecil yang lembut dan lemas.
Tetapi tusir pada fotografi digital karena kemampuannya yang lebih luas menjadi
lebih bersifat manipulatif. Yaitu memungkinkan terjadinya perubahan keseluruhan isi
foto, baik cacat pada foto, warna pada foto hingga berbagai kemungkinan
menghilangkan suatu benda pada objek.

Artinya tusir yang pada awalnya hanya untuk mengatasi persoalan cacat atau sedikit
kekurangan pada foto, dengan digital hal bersifat darurat tersebut telah berubah
menjadi suatu hal yang utama dalam membuat gambar atau foto. Pergeseran makna
tersebut menjadikan hasil gambar atau foto yang dibuat digital sering dianggap
sebagai foto yang tidak orisinal.

Sebuah foto yang telah mendapatkan sentuhan tusir, baik analog maupun digital,
memang sudah bukan foto asli lagi. Karenanya untuk keperluan fotografi jurnalistik
atau fotografi media cetak, di mana keaslian berita gambar merupakan hal yang
utama, tidak diangap sah jika telah dimanipulasi. Hilangnya atau berubahnya bagian-
bagian tertentu dalam fotografi jurnalistik bisa dianggap sesuatu yang menyesatkan.
Akan tetapi sah-sah saja dan memang kegiatan tusir-menusir itu banyak dilakukan
media cetak bila foto yang dimaksud digunakan untuk keperluan sampul suatu
majalah, misalnya.

Namun demikian hal tersebut pasti juga dilakukan atas dasar pertimbangan atau
kebijaksanaan ingin memasukkan teks -teks artikel dalam majalah pada foto sampul
tersebut. Dan jika sudah demikian, rasanya masalahnya sudah bukan lagi masalah
tusir yang mempunyai tujuan memperbaiki tampilan sebuah foto, melainkan sebuah
garapan seni grafis yang memanfaatkan foto sebagai media utamanya. Sehingga foto
sampul majalah tersebut dapat kita artikan sebagai foto ilustrasi.

Ilustratif

Perkembangan dunia fotografi sendiri hingga saat ini memang telah sangat maju.
Sehingga untuk keperluan suatu perbaikan pada foto yang dianggap gagal atau kurang
pas karena mengalami cacat pada waktu pencetakan sudah bukan masalah yang rumit.

Dengan menggunakan komputer dan software-nya, foto yang dianggap gagal karena
suatu goresan atau foto yang kurang kontras, kurang terang, kurang fokus, kurang
blur, dan lain lain, dapat diperbaiki dengan mudah. Karena itu pada perkembangannya
foto untuk kepe rluan apa pun dapat diartikan sebagai foto ilustratif karena dasar
pengerjaannya yang cenderung mengandalkan kemampuan software digital.

Jika sudah demikian, memang tak ada lagi kendala yang berarti untuk menghasilkan
sebuah foto indah dan menarik, sekalipun itu suatu peristiwa yang teramat sulit difoto
atau difoto secara asal-asalan. Karena dengan menggunakan software digital, seorang
amatir pun akan dengan mudah menghasilkan sebuah foto yang indah jika dirinya
menguasai komputer.
Manipulasi fotografi de ngan olahan digital memang sudah dianggap sebagai sesuatu
yang sah sebagai karya foto. Cepat atau lambat perkembangan fenomena digital ini
pun akan memicu lahirnya seniman-seniman pixel (bukan lagi seniman foto). Karena
itu, pada saatnya nanti, sebaiknya dapat dipisahkan dalam menilai sebuah foto yang
betul-betul foto asli (hasil dari sebuah rekaman gambar tanpa manipulasi) dan foto
ilustrasi, foto yang sengaja dibuat melalui olahan software komputer.

Manipulasi fotografi itu sendiri, jika fotonya dimaksudkan sebagai suatu karya foto
yang tetap asli dan sah sebagai sebuah karya foto - misalnya foto berita yang
melaporkan berita gambar - sebaiknya tidak berlebihan dalam melakukan perbaikan
(tusir). Sehingga tidak bisa dikatakan sebagai hasil manipulasi, kare na tidak adanya
perubahan bentuk, warna atau isi foto.

Siap atau tidak, pemotret yang bergelut dalam bidang fotografi digital harus
menguasai komputer. Karena segala sesuatu yang dihasilkan dengan foto digital harus
bersinggungan dengan komputer.

Namun manipulasi gambar digital yang dapat dibuat dengan mudah menggunakan
fasilitas yang ada di dalam komputer, sebaiknya tidak menjadikan si fotografer malas
untuk membuat foto yang orisinal. Tinggal bagaimana pemotret menyikapi pilihan,
apakah ingin tetap menjadi seorang seniman foto (pemotret) atau seniman pixel.*

Pentingnya Sikap
Seorang Fotografer
Foto-foto: Rony Simanjuntak

DANAU TOBA - Suasana sebagian Danau


Toba, Sumatera Utara tampak dengan air
danaunya yang lumayan tenang.. Foto ini
adalah hasil pemotretan apa adanya dari
seseorang yang sedang berkunjung ke situ.

oal kecanggihan teknologi kamera saat ini sudah tidak diragukan lagi. Mode
pemotretannya pun semakin lengkap saja. Bahkan seorang fotografer awam
sekalipun kini dengan waktu yang singkat telah mampu menghasilkan sebuah foto
yang mirip bidikan setara fotografer profesional. Pertanyaannya kini adalah, apakah
fotografi itu sesungguhnya ditentukan oleh sebuah kamera dan mengabaikan sikap
dari sang fotografer itu sendiri?

Terlepas dari peranan subyek dan peralatan yang tentunya penting, Paul I. Zacharia
mengatakan bahwa di balik setiap foto yang baik itu harus ada suatu sikap
berfotografi yang baik dan tepat pada si fotografernya. Mungkin terdengar sederhana
sekali. Tapi makin direnungi, fakta ini makin terasa kuat. Seseorang tidak mungkin
menghasilkan foto yang baik, yang berkesan, apalagi yang berwatak bila tidak
dilandasi sikap mental yang tepat. Kedewasaan kepribadian dari para fotografer yang
berhasil, adalah faktor yang membedakan fotonya de ngan foto-foto indah dari
fotografer biasa.
Fotografi adalah media ekspresi diri seniman foto, tetapi juga media foto dokumenter.
Yang umum terjadi adalah kerancuan, orang awam yang menghadapi orang yang
membawa kamera:lalu menganggapnya ahli foto atau fotografer. Padahal hasil karya
dari dari kedua jenis insan ini lain sekali. Meski waktu pemotretan, peralatan dan
subjeknya bisa saja sama seratus persen, hasil yang didapat bisa berbeda, karena
pendekatan dan perlakuan masing-masing terhadap subjek berbeda.

Pendekatan dan perlakuan ini berbeda karena sikap fotografis berbeda. Fotografer
yang telah menyeleksi sikapnya akan menanggapi subjek fotonya dengan melakukan
seleksi peralatan dan teknik yang berbeda dalam pemotretan. Seleksi sudut pandang,
panjang le nsa, kecepatan rana, penyinaran dan lainnya. Bahkan pemakaian alat bantu
dan seleksi lokasi yang dibayangkannya perlu dilakukan untuk mencapai hasil yang
diharapkan.

Bila kita ingin melihat cepat perbedaan ini coba amati gaya iklan foto dari media di
sekitar kita. Ada yang penyampaiannya sangat langsung, ada yang sugestif, ada yang
insinuatif. Bahkan di media massa seni atau desain, ada yang sangat mengundang
tanya karena sifatnya yang individual kontemporer. Semua ini tentunya dipengaruhi
oleh konsep art director, fotografer, dan strata sosial publik yang dihadapi. Pada
kenyataannya, hasil sebuah karya foto ternyata sangat ditentukan oleh sikap dan
kepribadian sang fotografer. Sikap dan kepribadian mereka sangat ikut menentukan
bagaimana hasil fotonya.

Pada fotografer yang baik, subyek yang dihadapinya bukanlah suatu situasi yang
pasif. Tapi, sesuatu yang melontarkan tantangan untuk digali dan dieksploitasi secara
optimal. Untuk mencapainya perlu miliki sikap dasar yang sensitif dan perseptif
terhadap subjek tersebut. Bahkan seyogyanya menumbuhkan suatu sikap akrab
terhadap subjek. Hakikat dari subjek harus terekam dan tersirat dalam sebidang
gambar yang relatif kecil, sehingga foto yang dihasilkan memancarkan keintiman
dengan subjeknya.

Menghayati Subjek

Walau berbekal peralatan yang canggih, tetap saja banyak karya foto yang kurang
berkesan apalagi berjiwa. Semuanya karena perekaman situasi itu baru pada tahap
teknis eksak belaka, belum merenggut jiwa dari esensi subyek secara mendalam.
Penghayatan mendalam tidak akan timbul bila belum mengenal subyek atau
menguasai medan, dan tanpa sensitivitas yang cukup.

Don Mc Cullin sebagai seorang wartawan foto telah berhasil menggugah dunia lewat
karyanya tentang bencana perang di Bangladesh dan India. Ini terjadi karena dia
sangat terenyuh menyaksikan ketidakberdayaan manusia yang terkena musibah.
Sebagian dari kita mungkin enggan untuk menjalani sikap seperti itu. Tapi foto yang
berhasil, dilahirkan lewat sensitivitas dan komitmen untuk menghayati subjek dengan
mendalam.

Dalam mengamati karya yang unik, humoristis, atau candid kadang timbul pertanyaan
bagaimana fotografer menemukannya.Apalagi jika kita kebetulan bisa bersama
dengannya pada saat foto itu tercipta. Hal ini hanya mungkin karena adanya sikap
apresiatif yang yang sedikit lebih pada fotografer ini. Sesuatu yang tampak biasa
dapat terasa memiliki keistimewaan bagi orang yang jeli. Namun tidak mudah
menjadi jeli tanpa sikap menghargai keunikan yang ada di depan kita.

Menarik untuk menyimak kata-kata Henri Cartier- Bresson "Semua itu baru, semua
itu menarik" (everything is new, everything is interesting). Seorang fotografer
diharapkan memandang segala sesuatu ini dengan visi yang selalu segar. Ia
seyogyanya mengagumi dan mencintai segala aspek kehidupan. D engan kata lain,
tidak mugkin seorang introvert atau pemurung diharapkan terkesan pada lucunya anak
kecil, yang terjatuh karena memakai sepatu ibunya. Sebaliknya, seseorang yang
sangat luas dan beragam minatnya, terutama pada seni dan kondisi sosial, bisa
dipastikan lebih mungkin jadi fotografer jeli.

Pendekatan fotografer dengan subyeknya, apalagi jika itu manusia atau kelompok
sosial tertentu, membutuhkan pendekatan yang terampil. Menurut MAW Brouwer
almarhum, lebih banyak orang yang berhasil dalam kehidupannya karena social
intelligence yang tinggi. Artinya, keterampilan bersosialisasi amat penting bagi
fotografer yang ingin berhasil. Bila itu berarti sopan santun adat yang khusus, maka
mutlak perlu dipelajari, agar kehadiran kita tidak mengganggu ketenteraman.

Humor yang tinggi juga menunjang seseorang untuk diterima oleh suatu lingkungan
atau keluar dari masalah. Tiap bangsa senang akan keramahan dan kebaikan yang
tulus. Penguasaan bahasa universal seperti senyum, murah hati, bahkan berbagi tawa
akan menolong sekali. Inilah umumnya kelemahan utama banyak fotografer dalam
perkumpulan atau yang belum dewasa. Bukan hanya karena belum cukup memiliki
keterampilan teknis, tapi yang menyedihkan mereka yang sudah terampil pun banyak
yang tidak yakin.

Hal ini tidak lepas dari pola pembinaan dan iklim dalam perkumpulan yang
berorientasi pada lomba-lomba foto yang hasilnya sangat tergantung selera juri-
jurinya. Padahal selera juri tersebut tidaklah selalu akomodatif dan progesif. Maka
tidak heran jika ``gaya`` fotografi yang bergulir, dari potret orang tua dan kehidupan
desa yang satu, ke orang tua dan kehidupan desa yang lain. Atau dari gebyar warna
penari ayu satu, ke penari cakep yang lain.dengan kostum dan lokasi lain pula.

Sangat jarang dijumpai pemotret pemula yang berani memotret subjek/objek yang
tidak umum. Mana ada foto-foto pemandangan apalagi foto flora fauna tampak di
katalog salon foto atau lomba? Mana ada foto makro atau alam benda (still life) jadi
hit dalam salonfoto? Apalagi foto eksperimental. Selama ini hanya foto yang klasik
standar salonfoto saja yang berhak tampil dalam katalog. Selain itu banyak juri, juga
kalangan perkumpulan, yang masih alergi pada foto tanpa manusia. Sehingga,
menyebabkan foto-foto demikian akan tercampak keluar bagaimanapun bagusnya.

Seorang fotografer profesional hampir tidak ada peluang untuk mencari alasan jika
gagal membawa pulang gambar setelah bertugas. Masalah apa pun bukan halangan
untuk menghasilkan karya dengan baik. Bahkan dalam cuaca yang tidak bersahabat
sekalipun ia harus tetap berusaha. Bagi fotografer yang bertugas di luar nyaris berlaku
hukum: jam kerja mulai dari subuh sampai pagi sekitar pukul 08.00 saja. Setelah itu
bekerja dalam dalam ruang atau dihabiskan dalam perjalanan sambil merencanakan
pemotretan berikutnya. Menjelang senja mulai sibuk lagi, sehingga untung kalau perut
sampai terisi.
Faktor keberuntungan jelas ada, tetapi hanya akan datang pada mereka yang waspada
dan jeli. Faktor ini hanyalah bonus dan bumbu penyedap saja. Disiplin diri tetap
penting dan jangan mengandalkan keberutungan saja dalam berkarya.

Rony Simanjuntak

Memotret
Subjek
Berkelompok
Foto: Atok Sugiarto

LENSA PANJANG - Untuk


suatu pemotretan di luar
ruang yang luas maka lensa
panjang alias lensa telefoto
dapat digunakan untuk
pemotretan berkelompok
seperti ini.

embuat foto ramai-ramai atau berkelompok sering dikeluhkan oleh banyak


pemotret, terutama pemotret pemula. Masalahnya sesederhana ucapannya bahwa
memotret subjek sendirian saja sulit apalagi yang ramai-ramai.

Alasa n yang sesungguhnya sangat dapat dibenarkan itu tak lain tentunya karena suatu
keinginan lebih untuk mengabadikan sebaik mungkin dan menghasilkan foto ramai-
ramai atau berkelompok yang dapat dibanggakan. Sebab jika hanya membuat foto
ramai-ramai yang asal-asalan saja cukup mudah. Cukup memasukkan semua orang
(subjek) ke dalam bingkai kamera lalu tekan tombol pelepas rana dan selesailah sudah
pekerjaan tersebut.

Namun jika ingin lebih menghasilkan suatu foto ramai-ramai, terutama di saat hari
raya, liburan dan acara-acara reuni yang identik dengan suasana berkelompok yang
ingin diabadikan, tentu saja sedikit lebih susah dibandingkan memotret yang asal saja
dan seadanya. Nilai dan makna berkelompok itu sendiri yang momentumnya memang
sering susah ditemukan, menjadi alasan lain untuk seseorang berusaha memotret
dengan sebaik mungkin untuk menghasilkan foto yang benar-benar membanggakan
dan menyimpan kenangan indah yang sangat berarti bagi kelompok tersebut.

Kalau memotret seorang subjek agar berhasil membuat foto yang baik dan menarik
saja sudah cukup sulit bagi seorang pemotret. Cukup sulit karena si pemotret harus
dituntut untuk memperhatikan berbagai hal menyangkut aksi, ekspresi dan
pencahayaan. Maka dalam memotret kelompok subjek, seorang pemotret selain tetap
dituntut untuk memperhatikan hal- hal tersebut juga masih dituntut untuk ekstra
memperhatikan masalah komposisi.
Masalah komposisi yang sesungguhnya menjadi salah satu kunci sukses pemotretan
memang harus mendapatkan perhatian khusus. Sebab jika pemot ret sedikit lengah
mengenai hal ini maka sering terjadi ada badan atau wajah seseorang di antara
kelompok yang dipotret yang mungkin tertutup oleh orang lain yang ada di depannya.

Karena itu jika pemotretan dilakukan dengan pose yang sekadar berdiri atau duduk
berjajar saja, ada baiknya jika penempatannya dapat diatur dan ditata terlebih dulu
sebaik mungkin. Tujuannya agar tidak terkendala dengan adanya wajah atau badan
seseorang yang tertutup oleh orang lain.

Dalam pemotretan ramai-ramai seperti ini sebaiknya juga dihindari adanya aksi atau
gerak tubuh yang berlebihan agar tidak menutupi tubuh atau wajah orang lain dalam
kelompok. Yang paling baik dilakukan pada pemotretan berkelompok, setelah
kelompok tertata sesuai komposisi yang diinginkan, adalah sekadar mengekspresikan
diri dengan senyum atau tertawa bersama.

Persiapan

Yang perlu disiapkan dalam melakukan pemotretan kelompok agar tercapai hasil yang
baik adalah beberapa peralatan pendukung kamera. Di antaranya adalah:

Lensa. Hal ini merupakan perle ngkapan utama setelah pemotret menyiapkan sebuah
kamera SLR. Lensa yang ideal untuk memotret subjek berkelompok adalah lensa
sudut lebar. Misalnya lensa 28 mm, 24 mm, atau bila ingin yang lebih luas
cakupannya adalah lensa 20 mm. Dapat juga dicari sebuah lensa zoom 20-28 mm atau
20-35 mm untuk pencapaian luasnya sudut pandang yang bervariasi hanya dengan
menarik - ulur zoomnya. Tapi bila pemotretan dilakukan di luar ruang dengan halaman
atau lokasi yang luas, maka dapat saja digunakan lensa panjang atau lens a tele
menengah.

Lampu kilat. Keberadaan alat ini sangat menentukan hasil pemotretan, terlebih bila
pemotretan dilakukan dalam ruangan. Tanpa lampu kilat maka musatahil dihasilkan
foto kelompok yang baik dalam ruangan apalagi jika ruangan yang digunakan kondisi
cahayanya tidak mungkin untuk pemotretan. Lampu kilat ini dapat disiapkan lebih
dari satu buah. Untuk pemotretan di luar ruangan pun lampu kilat sangat diperlukan
guna memberikan pencahayaan subjek dari depan atau fill-in .

Reflektor. Pada pemotretan di luar ruangan seringkali tidak dapat ditinggalkan adanya
reflektor. Fungsinya untuk mengisi pencahayaan dari arah depan subjek dengan cara
memantulkan atau membelokkan sinar yang ada. Boleh dikatakan fungsinya hampir
sama dengan lampu kilat pengisi ata u yang dibuat untuk fill-in. Reflektor juga sering
digunakan di dalam ruangan atau studio pemotretan yang menggunakan cahaya lampu
studio.

Filter, tudung lensa, tisu untuk lensa, baterai. Beberapa peralatan tambahan juga perlu
disiapkan khususnya jika pemotretan dilakukan di luar ruangan di antaranya aalah
filter. Filter yang umum adalah filter PL atau polarisasi untuk membantu menciptakan
efek foto dramatis karena dapat menggelapkan/membirukan langit dan filter-filter
efek lain jika dikehendaki. Selain filter maka tudung lensa yang melekat di depan
lensa sebaiknya juga wajib disiapkan. Tudung lensa membantu menghadang cahaya
yang langsung tertuju ke arah lensa agar tidak menghasilkan flare pada foto. Tisu
lensa dan baterai merupakan satu kesatuan yang seba iknya jangan dianggap remeh.
Pada pemotretan di luar ruangan yang rentan pada debu dan kemungkinan habisnya
baterai maka kedua hal tersebut sebaiknya disediakan.

Tripod. Keberadaannya juga sangat diperlukan terutama jika pemotretnya sendiri


ingin nimbrung bergaya bersama kelompok yang dipotretnya. Dengan tripod atau kaki
tiga kamera maka kamera dapat disetel pada mode otomatis menggunakan penangguh
waktu ( self timer). Kaki tiga kamera ini pun sangat membantu jika ingin melakukan
pembingkaian yang akurat. Dengan tripod maka pembingkaian dapat dilakukan
dengan sempurna tanpa ada subjek yang terpotong.

Film atau memory card. Kedua hal ini adalah hal yang tak bisa diabaikan oleh
pemotret. Film untuk pemotret yang memakai kamera konvensional dan memory card
untuk yang berkamera digital. Kekurangan salah satu dari dua hal itu dapat
menghambat keinginan untuk melakukan banyak pemotretan kreatif. Pemotretan
kelompok sering menghabiskan banyak bingkai pemotretan.

Tip dan Trik

Kegagalan foto kelompok seringkali disebabkan karena tidak adanya persiapan dan
kesiapan yang cukup berkaitan peralatan atau penempatan orang per orang. Akibatnya
hasilnya terkesan berantakan atau apa adanya. Berikut adalah tiga hal yang patut
mendapat perhatian dalam pemotretan kelompok.

Pemilihan lokasi. Hal ini sedikit banyak membantu seseorang dalam mengekspresikan
diri. Karena itu bila pemotretan kelompok dilakukan di luar ruang, pilih lokasi yang
memungkinkan dapat mendukung pemotretan kelompok itu. Misalnya latar belakang
pemandangan yang indah atau yang warnanya (polos) senada, lokasi yang baik bagi
pose/gaya, atau tempat berdiri atau duduk subjek.

Pengaturan komposisi. Posisi sejumlah subjek yang akan dipotret itu sangat penting
diatur agar cukup indah untuk ditampilkan. Mungkin mereka diatur berdiri atau duduk
sama rata, mungkin juga gabungan antar keduanya. Usahakan pengaturannya sesuai
dengan hukum komposisi untuk menghasilkan foto yang enak dilihat.

Pemilihan sudut pemotretan. Hal ini tak kalah penting untuk menghasilkan foto yang
baik dan kreatif. Pertimbangkan pemilihan sudut pemotretan (angle ) dengan melihat
sudut datangnya sinar dan latar belakang yang diinginkan. Dengan pertimbangan hal
itu memungkinkan sudut datangnya sinar dan latar belakang yang diinginkan maka
seorang pemotret dapat melakukan pemotretan dengan sudut pandang atas (high
angel), misalnya dengan memanjat, atau dengan sudut pandang bawah (low angle)
yang mengharuskannya memotret dengan jongkok atau tiarap.

Jika ketiga hal di atas sudah dilakukan dengan baik, tinggal bagaimana trik yang
dilakukan untuk menghasilkan sebuah foto berkelompok yang betul-betul sesuai
dengan yang kita inginkan. Beberapa trik yang dapat dilakukan di antaranya:

1. Sebelum melakukan pemotretan, seimbangkan warna dengan mengatur white


balance pada kamera digital sehingga sesuai dengan suhu warna yang ada.
Temperatur warna yang salah akan menghasilkan penampilan warna kulit yang salah
dan mengubah penampilan sehingga kelihatan pucat atau memerah. Untuk
mengatasinya lakukan pemotretan berula ng atau bracketing untuk menghasilkan foto
yang akurat pencahayaannya.

Atur setiap orang dalam kelompok untuk bergaya sesuai dengan yang diinginkan
tanpa dirinya menutup diri orang lain. Caranya dengan mencoba bergaya terlebih
dahulu - blocking. Lalu pemotret memperhatikan dan melakukan perbaikan jika ada
yang terasa kurang baik. Cara ini juga manjur untuk mengatasi gerak atau gaya yang
kaku di depan kamera.

Ciptakan suasana yang enak dalam pemotretan dengan cara melakukan pendekatan
terhadap kelompok. Misalnya dengan mengajaknya ngobrol atau bercanda sehingga
setiap orang dalam kelompok dapat mengekspresikan keceriaan, kegembiraan atau
mungkin karakternya secara total. Suasana pemotretan yang familiar mendorong
terciptanya hasil gambar yang kreatif, baik dan menarik.

Bagi orang awam dan yang hanya memiliki kamera saku tak perlu kecil hati untuk
menghasilkan foto kelompok yang baik dan menarik, terlebih jika yang digunakan
adalah kamera saku digital. Menghasilkan foto ramai-ramai bukan lagi merupakan hal
yang susah dilakukan.

Kemajuan teknologi telah mempermudah segalanya untuk menghasilkan apa yang


menjadi keinginan pemotret. Akan tetapi lebih baik dan berarti jika semua usaha yang
dilakukan untuk menghasilkan foto berkelompok yang baik tidak perlu lagi dilakukan
perbaikan-perbaikan menggunakan olahan komputer. Simak tip dan trik yang
dikemukakan di atas serta gunakan bekal kemampuan fotografis yang dimiliki.

ATOK SUGIARTO

Membuat Dokumentasi Foto Keluarga


Oleh Eddy Suntoro

Pembaruan/Luther Ulag

BERGAYA - Dua anak perempuan


sempat bergaya mengabadikan diri
mereka dengan ponsel berkamera
seusai shalat id, hari Minggu
(14/11), di Masjid Al Azhar,
Kebayoran Baru, Jakarta
Selatan.

etika berkunjung ke rumah teman


untuk bersilaturahmi sambil
merayakan Idul Fitri baru-baru ini,
penulis sempat terkesima dan merasa kagum melihat sekumpulan foto-foto (tepatnya
pasfoto ukuran 4 x 6 cm) di dalam pigura berukuran 100 cm x 75 cm, yang dipajang
di dinding tembok ruang tamu. "Ini adalah kumpulan foto-foto keluarga saya, yang
menggambarkan silsilah atau garis keturunan mulai dari keluarga kakek-nenek saya,
sampai cucu-cucunya," katanya.

Menurut si teman, dokumentasi foto keluarga tersebut dibuatnya cukup lama, karena
harus mencari foto-foto lama, terutama foto kakek-nenek yang tidak diketahui
keberadaannya.

"Setelah foto-fotonya terkumpul lengkap dan diketahui susunan silsilah hubungan


keluarga, baru ditempel di kertas karton manila dan dimasukkan dalam pigura,
sehingga jadilah dokumentasi foto keluarga seperti ini," katanya sambil menunjuk ke
kumpulan foto dalam pigura tadi.

Kumpulan foto itu disusun secara hirarkis sebagaimana layaknya dalam struktur
organisasi. Foto paling atas berjejer gambar kakek-nenek yang masing-masing di
bawahnya diberi keterangan nama dan tempat tanggal lahir.

Untuk memudahkan mengetahui silsilah keluarga, dari foto paling atas diberi tanda
panah ke bawah yang menunjukkan garis keturunan berikutnya dan seterusnya sampai
ke cucu dan cicit atau mulai dari generasi pertama sampai generasi terakhir.

"Dokumentasi foto keluarga ini sangat peting, terutama bagi cucu dan cicit yang
merupakan generasi ketiga, keempat dan seterusnya. Dengan foto ini diharapkan
generasi mendatang mengetahui silsilah dan hubungan keluarga satu dengan lainnya,
sehingga bisa dijalin terus tali persaudaraan," kata sang teman menjelaskan manfaat
dokumentasi foto keluarga.

Belum Terlambat

Bagi Anda yang belum memiliki dokumentasi foto keluarga, tidak ada kata terlambat
untuk membuatnya. Dokumentasi foto keluarga yang ditata dengan baik dan dipigura
menggunakan kayu yang kokoh dan bagian pinggirnya diukir, selain akan berfungsi
sebagai hiasan ruang tamu atau keluarga, juga sangat bermanfaat bagi anggota
keluarga yang ingin mengetahui asal- usul sebuah keluarga, karena di dalamnya bisa
menggambarkan silsilah keluarga dalam beberapa generasi.

Dokumentasi foto keluarga bisa disusun mulai dari keluarga Anda sendiri, yaitu
keluarga inti yang terdiri dari ayah, ibu dan anak, atau ditambah generasi sebelumnya
yang terdiri dari kakek-nenek dan seterusnya. Semakin lengkap foto-foto keluarga
yang dikumpulkan, akan semakin baik, karena akan diketahui lebih jelas asal usul
suatu keluarga.

Adakalanya setelah seseorang melihat sebuah dokumentasi foto keluarga, baru tahu
bahwa si A adalah keluarganya sendiri. "Oh si Amir itu anaknya bapak Yanuar. Kalau
begitu masih ada hubungan keluarga dong kita dengan si Amir," Ucapan demikian
sering kita dengar dan bisa terjadi, karena satu keluarga dengan keluarga lainnya
sangat jarang bertemu, akibat tempat tinggal yang berjauhan, sehingga bisa baru
berkumpul setahun sekali saat merayakan hari raya Idul Fitri.

Tidak Sulit
Untuk membuat dokumentasi foto keluarga pada dasarnya tidak terlalu sulit. Pertama ,
tetapkan dulu berapa generasi atau keturunan foto keluarga yang akan disusun dan
dibuat di dalam pigura. Kalau hanya untuk dua generasi mulai dari kakek-nenek, tentu
tidak sulit. Tetapi, jika ingin ditambah satu atau dua generasi di atasnya, tentu harus
rajin mencari foto-fotonya.

Kedua, mencari dan mengumpulkan foto. Cari dan kumpulkan foto-foto yang akan
disusun dalam dokumentasi foto keluarga. Jika foto yang dicari belum ketemu bisa
menanyakan kepada angogota keluarga yang memilikinya. Misalnya kepada paman.
Kalau foto yang dimiliki ternyata hanya satu-satunya dan tidak diberikan, bisa
dipinjam untuk dilakukan repro di studio foto. Kalau ada, sebaiknya pinjam klise
(negatif film), sehingga bisa dicetak sesuai dengan ukuran yang dikehendaki. Jika
tidak ada, terpaksa Anda harus bermodal sedikit untuk memotret keluarga yang belum
ada fotonya.

Ketiga, setelah semua foto yang akan ditempel di dalam pigura terkumpul, lakukan
peng-cropping-an, terutama untuk foto-foto yang berukuran besar. Misalnya dari foto
ukuran 3R di-cropping dengan cara mengambil bagian wajah dengan ukuran 4x6 cm.
Sedangkan bagian lainnya disimpan atau dibuang karena tidak terpakai. Dengan
adanya keseragaman ukuran foto, maka akan membuat tampilan dokumentasi foto
keluarga indah dan menarik bagi yang melihatnya.

Keempat, dari beberapa puluh lembar foto yang terkumpul, susun sesuai dengan
urutan silsilah keluarga, sehingga tidak salah dalam penataannya. Untuk menghindari
kesalahan, sebaiknya dibuat terlebih dahulu dummy atau contoh dokumentasi foto
yang akan dibuat.

Caranya, ambil kertas ukuran folio yang masih kosong. Buat kotak-kotak sesuai
dengan jumlah foto yang akan ditempel berdasarkan silsilah keluarga. Selanjutnya
setiap kotak diberi nama foto yang akan ditempel, lengkap dengan nama, tempat dan
tanggal lahirnya.

Agar foto yang akan dipasang di pigura tidak salah susunannya, sebaiknya dummy
dokumentasi foto keluarga yang sudah dibuat, ditanyakan dulu kepada kakek-nenek,
orang tua, paman atau keluarga lainnya yang mengetahui secara tepat susunan silsilah
keluarga. Hal tersebut sangat penting dilakukan, untuk menghindari kesalahan
penempatan foto, atau barangkali masih ada foto-foto yang kurang, sehingga harus
dilengkapi dulu.

Kelima, jika dummy dokumentasi foto keluarga sudah benar susunannya, baru
dilakukan pembuatan sebenarnya. Pembuatan bisa dilakukan sendiri, yang penting
lumayan baik kualitasnya dan jelas susunan silsilah keluarganya. Sedangkan jika
ingin lebih menarik dan terlihat lebih artistik dapat menggunakan jasa desain grafis.

Dalam membuat dokumentasi foto keluarga, janga n lupa menulis judul foto keluarga,
yang diletakkan paling atas. Misalnya bertuliskan "Keluarga Besar Eddy Suntoro",
dan di pojok kiri bawah ditulis tahun pembuatannya. Misalnya: Dibuat tanggal 1
Januari 2005.
Keenam, agar dokumentasi foto keluarga bisa awet
dan kokoh. Pilih pigura dengan bahan dari kayu jati
atau kamper. Bagian pinggirnya bisa polos atau diberi
ukiran sesuai selera, sedangkan kaca penutupnya
menggunakan ukuran ketebalan 3 sampai 5 mm.

Dokumentasi foto keluarga yang dibingkai dengan


kokoh selain dapat bertahan lama, juga memudahkan
cara perawatannya, yaitu cukup dibersihkan (dilap) dibagian kaca depan dan
pinggiran lis untuk menghilangkan debu dan kotoran lainnya.

Memotret Pesta Ulang Tahun


Oleh Atok Sugiarto

Foto-Foto: Atok Sugiarto

TIUP LILIN - Kegiatan meniup lilin merupakan kejadian umum pada acara
ulang tahun yang tak lepas dari lensa kamera.

otografi memang selalu hadir dan berperan dalam setiap kali kegiatan. Jangankan
kegiatan pesta yang merupakan hal menyenangkan, kegiatan ya ng menghadirkan
duka mendalam pun kadang tak lepas memerlukan kehadirannya sebagai sarana
pendokumentasian. Karena itu, tak mengherankan jika dalam suatu kegiatan pesta
banyak orang yang meluangkan waktu untuk memotret. Khususnya seperti pesta
ulang tahun yang biasanya akan dianggap menyimpan berjuta kenangan.

Sayangnya, seperti yang selalu dilakukan oleh kebanyakan orang, ketika kita juga
sedang merayakan hal yang sama, sering hanya memotret sekenanya, asal tembak
atau tekan tombol pelepas rana kamera ketika melihat adegan subjek yang menarik
lewat jendela bidik kamera. Dan itu seolah sudah merupakan anggapan yang benar
dalam menghasilkan foto acara ulang tahun yang baik dan menarik.

Padahal tidak demikian sesungguhnya. Karena untuk mendapatkan foto-foto menarik,


khususnya seperti pada pesta ulang tahun itu tak hanya dengan asal sudah menekan
pelepas rana kamera saat subjek tengah masuk di dalam jendela bidik saja. Atau, saat
di mana subjek tengah meniup lilin ualng tahun. Melainkan juga pada suatu situasi
yang tergambar sangat mengharukan, misalnya sedang menangis atau saat memotong
kue serta kejadian-kejadian lain yang unik di dalam perayaan.

Cara yang dilakukan oleh kebanyakan orang dalam memotret ulang tahun umumnya
terasa dilakukan asal saja, karena memang tak ada standar atau rumusan memotret
ulang tahun. Tapi bila pemotretan dilakukan dengan sedikit kesabaran serta mau
menunggu saat-saat yang lebih pas, tentu akan didapatkan foto-foto yang berbeda
selain baik dan menarik.

Misalnya saat-saat anak-ana k menangis, tertawa, mengantuk atau apa pun yang
bersifat human interest. Selama kejadian-kejadian tersebut terjadi di dalam acara
pesta ulang tahun tentu akan lebih memberi kesan tersendiri dibandingkan dengan apa
yang pada umumnya dilakukan oleh orang dengan
hanya memotret acara pokoknya yaitu tiup lilin.

Kamera

Lepas dari semua yang dilakukan pada saat memotret


ulang tahun, perkembangan dunia fotografi telah
sedemikian majunya sehingga muncul kamera digital yang mampu mengatasi
berbagai kekurangan pada hasil pemotretan. Semua itu menjadi peluang untuk
kegemaran tersendiri yang menguntungkan.

Kini, pemula yang dulu takut memotret karena selalu dihantui kegagalan dalam
pemotretan menjadi tidak takut lagi. Karena kegagalan dalam pemotretan yang sering
menghantui pemotret dapat diatasi dengan menggunakan komputer. Kamera digital
yang memiliki keuntungan dan kelebihan dalam hal kemudahan untuk mengulang
pemotretan bahkan menyenangkan bagi pemula. Mereka yang dulunya takut
memotret kini jadi senang memotret.

Dengan kamera digital, pemotretan ulang tahun seperti saat meniup lilin, bila gagal
(setelah dilihat melalui LCD) dapat langsung diatur, diulang hingga betul-betul
mendapatkan hasil yang dikehendaki. Dengan digital, pemotret mudah mengoreksi
hasil pemotretan seketika atau beberapa detik kemudian. Hasil foto jelek yang
didapatkannya dapat langsung dihapus dan diulang pemotretannya tanpa risiko
tambahan biaya.

Namun, perkembangan fotografi yang telah menjadikan orang semakin senang


melakukan kegiatan potret- memotret ini sebaiknya juga harus didukung dengan
sedikit kemampuan pemotret seputar pengetahuan teknis fotografi. Sehingga
sekalipun kesalahan teknis dan kekurangsempurnaam foto digital masih dapat
dikoreksi dan diperbaiki menggunakan software komputer, hal itu tidak harus
menjadikan seorang pemotret melakukan pemotretan asal-asalan saja yang
mengandung berbagai kekurangan fotografis.

Harapan itu cukup beralasan agar siapa pun yang memotret dapat menghasilkan foto-
foto yang benar -benar baik dan berisi da n tidak harus selalu dilakukan perbaikan.
Memang bukan suatu perkara mudah untuk mendapatkan foto-foto pesta ulang tahun
yang baik dan menarik tanpa koreksian. Sekalipun memotretnya sudah menggunakan
kamera digital, jika kita dapat menangkap nuansa-nuansa dalam peristiwa maka akan
menjadikan kita merasa senang telah berhasil merekamnya tanpa perlu rekayasa
komputer.

Memotret ulang tahun sebaiknya tidak hanya sekadar menampilkan foto-foto yang
menggambarkan kejadian pokoknya saja. Melainkan juga kejadian-kejadian sebelum
atau sesudah acara, atau juga kejadian-kejadian indivisual seseorang yang lucu atau
unik, misalnya saat subjek menguap, san sebagainya. Kamera dengan berbagai
fasilitas penunjangnya hendaknya dapat dipersiapkan dengan baik dan benar. Dengan
begitu dapat dipastikan akan menghasilkan foto yang baik.

MENYEGARKAN - Kejadian-kejadian unik yang terjadi saat pesta merupakan


kejadian yang baik untuk difoto karena kelak akan menyegarkan ingatan.
Berkarakter

Mungkin ada yang menganggap, memotret acara ulang tahun tak ubahnya seperti
memotret untuk keperluan dokumentasi. Ada benarnya, tapi sesungguhnya tak seratus
persen benar, karena sesungguhnya ada adegan-adegan dalam ulang tahun yang sering
lebih berharga dari acara tup lilinnya sendiri. Perhatikan misalnya saat anak-anak
menangis, berteriak serta berbagai tingkah mereka lainnya. Karena itu tak salah untuk
menghasilkan foto-foto ulang tahun yang berkarakter, mempunyai kesan tersendiri.
dan baik hasilnya. Untuk itu pemotret perlu mengetahui seluruh rangkaian acara.

Saya pribadi hampir selalu menyukai kejadian-kejadian yang lucu, menarik atau
mungkin mengharukan dalam membuat foto pesta ulang tahun ketimbang acara pokok
tiup lilin yang membahagiakan. Adegan-adegan atau kejadian lucu, human dan
mengharukan akan lebih menyegarkan ingatan, kelak pada tahun-tahun mendatang.
Foto-foto ulang tahun tak ubahnya seperti foto dokumentasi yang nilai lebihnya akan
sangat terasa pada tahun-tahun mendatang.

Foto-foto yang mempunyai karakter unik, lucu atau menghibur juga akan menjadikan
peristiwanya lebih enak untuk dikenang dibanding jika kita hanya membuat foto-foto
rekaman kejadian formal. Kejadian-kejadian yang lucu dan unik juga akan terasa
menyegarkan terlebih jika sudah tersusun di dalam album foto.

Umumnya seorang pemotret sering merasa bosan bila disuruh memotret suatu acara
ulang tahun. Mereka menganggap kejadian itu hanya sekadar menampilkan aktivitas
manusia yang biasa-biasa, akibatnya pemotret memotret setengah hati bahkan tanpa
perasaan. Akibatnya ha nya kejadian yang ada di depan mata dan yang tampak
menggembirakan yang difoto tanpa perlu berupaya mencari kejadian penting lainnya.
Anggapan pemotret, rekaman fotonya hanya bersifat dokumentasi belaka.

Hal seperti itu tentu saja keliru. Sebab, foto-foto yang menggambarkan keceriaan,
keharuan ataupun kelucuan suatu kejadian dan ekspresi seseorang justru lebih
memberi kesan mendalam dan memiliki karakter.

Persiapan

Tak ada persiapan yang terlalu penting untuk menyiasati pemotretan pesta ulang
tahun yang akan menghasilkan rekaman gambar baik dan menarik. Setiap pemotret
atau orang yang akan memotret suatu acara pesta pasti sudah mempunyai cara atau
kesiapan tersendiri. Sekalipun demikian, pemotret juga berhak menyiapkan segala
sesuatunya terutama yang menyangkut peralatan agar mampu menghasilkan foto-foto
yang indah dan mampu merespons emosi mereka yang kelak melihat hasilnya. Cara
yang baik adalah secara candid camera - sembunyi-sembunyi.

Peralatan yang perlu dipersiapkan adalah:

Kamera. Meskipun jenis kamera kompak (konvensional atau digital) sudah cukup
mewakili untuk mendapatkan foto-foto yang baik, bila memungkinkan, dianjurkan
untuk menggunakan jenis kamera SLR. Dengan kamera jenis ini pemotret mudah bila
menginginkan berbagai keadaan pemotretan.
Lensa. Yang lazim adalah lensa sudut lebar (24, 28 atau
35 mm). Hal ini berkaitan erat dengan kecenderungan
memotret subjek berkelompok. Namun dianjurkan pula
untuk membawa jenis lensa tele jika kita tidak hanya
sekadar ingin membuat rekaman foto subjek
berkelompok. Lensa yang lebih panjang itu juga berguna
bila ingin memotret foto seseorang secara close-up. Lensa jenis zoom akan sangat
membantu karena mencakup sudut pandang lebar hingga tele.

Lampu kilat. Meskipun banyak yang memotret acara ulang tahun memanfaatkan
situasi alam (cahaya alamiah), akan tetap baik jika disiapkan sebuah lampu kilat yang
bagian kapalanya dapat diubah-ubah ke berbagai arah dan memiliki kekuatan sinar
yang memadai. Dengan lampu kilat model demikian, pemotret leluasa mengubah arah
pencahayaan sesuai keinginannya.

Film. Bagi pemakai kamera analog (konvensional) memotret acara ulang tahun pada
malam hari dalam ruangan dapat menggunakan film ISO 400. Film jenis ini dapat
digunakan baik dengan lampu kilat maupun dengan cahaya ruang seadanya.
Sedangkan jika memakai kamera digital, ISO atau kepekaannya dapat langsung
dinaikkan sesuai kebutuhan. Kepekaan film (sensor) pada kamera digital dapat
diubah-ubah setiap saat tanpa masalah.

Peralatan yang baik dan lengkap memang merupakan sebagian dari kunci sukses
dalam membuat foto. Bagaimanapun, keterampilan teknis pemotret juga menentukan
keberhasilannya memotret. Berhasil atau tidaknya sebuah foto juga sangat ditentukan
oleh ketepatan pemotret mengabadikan momen-momen dan kejeliannya
memperhatikan hal- hal human dalam suatu peristiwa, sekalipun hanya dalam skala
kecil seperti pesta ulang tahun.*

Foto Digital sebagai Seni


Foto: Atok Sugiarto

GARIS - Kejelian merupakan sebagain dari syarat untuk menciptakan foto yang
mengandung seni sekalipun itu hanya berupa garis-garis seperti ini.

otografi adalah sebuah media ampuh untuk merekam atau mendokumentasikan


sebuah peristiwa penting. Apa yang terekam itu akan tercatat sebagai peristiwa yang
akan menjadi sebuah catatan sejarah. Namun, fotografi bukanlah sekadar alat untuk
merekam atau memindahkan suatu kejadian maupun peristiwa ke kertas foto belaka.
Sebab, sesungguhnya fotografi juga dapat menjadi sebuah seni yang indah seperti
halnya seni lukis. Masalahnya tinggal bagaimana seorang "pelukis" alias pemotret
mengekspresikan buah pikirannya ke atas "kanvas", yaitu kertas foto sebagai
medianya.

Seperti namanya sendiri yaitu fotografi yang berasal dari kata fotos yang berarti sinar
dan grafos yang berarti melukis, maka fotografi adalah "melukis dengan sinar".
Sesungguhnya bila kita sedang melakukan pekerjaan memotret, berarti kita sedang
melukis menggunakan sinar sebagai catnya dan kertas cetak foto sebagai kanvasnya.
Digital

Fotografi digital sendiri sebagai seni pada dasarnya tidak berbeda jauh dengan seni
lukis. Dalam foto sebagai seni ini pembuat foto atau pemotret tidak lagi terikat oleh
anggapan dan pemikiran atau komentar seseorang mengenai baik dan buruk, suka dan
tidaknya seorang penikmat, penonton atau pemerhati foto. Karena keberadaan
karyanya bukan dibuat untuk indah menurut mata orang lain atau yang memenuhi
perasaan orang lain, melainkan indah sesuai pemikiran pembuatnya.

Karena itu tidak lagi perlu menghiraukan apakah hasilnya akan disukai oleh orang
lain atau tidak, melainkan untuk tujuan kepuasan batin pembuatnya. Bila dengan
karyanya itu ia dapat berkomunikasi dan mengungkapkan imajinasinya lewat sebuah
karya foto digital, cukup sudah baginya.

Untuk menjadi seorang seniman pixel yang baik yang dapat menciptakan foto-foto
yang indah bak sebuah lukisan memang dibutuhkan pengetahuan tentang dasar-dasar
senilukis. Misalnya tentang pengenalan dan penguasaan masalah warna, masalah
grafis, masalah komposisi dan keseimbangan, masalah pusat perhatian, tekstur dan
sebagainya.

Dalam fotografi digital yang tentu saja harus didukung oleh komputer untuk
mengolah gambar, menuntut hadirnya seorang pemotret yang terampil tidak saja
dalam hal memotret tetapi juga dalam hal menangani masalah pixel. Pengolahnya
dilakukan dengan program yang telah ada di pasaran, misalnya Adobe Photoshop.

Dengan modal dasar pengetahuan seni lukis maka bila pemotret melakukan
pemotretan dan pengolahan gambar menggunakan komputer, ia akan mampu
menghasilkan foto tentang apa saja yang berada di sekelilingnya secara indah bak
lukisan yang dibuat pelukis menggunakan kwas dan kanvas.

Bagian-bagian dari benda yang mempunyai nilai artistik tinggi pun pasti akan menjadi
sesuatu yang selalu diburu untuk diabadikannya, sekalipun benda itu hanya sebuah
benda mati yang tak diperhatikan oleh kebanyakan orang. Seorang seniman pixel
yang jeli dan mempunyai visi seni seperti pelukis, tentu akan dapat mengubahnya
menjadi sebuah foto indah yang mampu mengungkap nilai estetika karena dibuat
dengan pendekatan seni lukis.

Contohnya adalah memotret gedung kaca yang menjulang tinggi ke angkasa yang
memancarkan refleksi langit biru seperti pada foto berjudul "Garis". Meskipun
tampilan gedung hanya menggambarkan sebuah garis vertikal yang menjulang tinggi
ke angkasa, refleksi yang terbias dari kaca me njadikannya cukup menarik.
Kemenarikan seperti ini hanya dapat dibuat dan dicapai dengan pendekatan seni.
Tanpa pengetahuan yang cukup serta kemampuan olah warna serta komposisi yang
baik, maka sulit untuk mengungkap kesan tertentu dari gedung kaca yang hanya
menampakkan garis dan refleksi langit.

Memotret sebuah benda atau suatu bidang yang dikomposisikan secara unik mirip
sebuah lukisan abstrak dengan warna-warna kontras serta bentuk-bentuk impresif,
akan menjadikan sebuah karya foto yang biasa menjadi seperti sebuah lukisan cat
yang mengungkap elemen-elemen dasar seni. Komposisi sederhana pada sebuah
pemandangan yang menyisakan bagian langit lebih lebar dari pada
bumi dan tergambarkan secara siluet seperti pada foto berjudul
"Siluet", juga bisa menjadi sebuah foto seni yang baik.

Namun demikian akan menjadi lebih baik bila kita juga dapat
menciptakan foto yang tidak sekadar mengetengahkan benda-benda
mati sebagai objeknya melainkan juga benda-benda hidup dengan
warna-warna kontras. Hasilnya akan terkesan aktif, dinamis dan
hidup.

Foto: Atok Sugiarto

SILUET - Dengan menampilkan sesuatu secara siluet, sebuah foto bagaikan saputan
kuas sebuah lukisan di atas kanvas.

Sebagai Seni

Setiap bidang pekerjaan kalau sudah mencapai puncaknya akan dapat berkembang
dan berubah menjadi sebuah seni. Demikian juga dengan fotografi digital. Namun tak
ada jalan pintas untuk mencapai suatu tahapan sehingga seseorang mampu dan bisa
membuat foto-foto yang mengandung seni. Semua pasti melalui "pengembaraan"
dalam berbagai pengetahuan.

Layaknya seorang pelukis, maka bila ia memulai melukis pasti akan menggambar
natural dahulu. Selanjutnya melalui berbagai pengalamannya baru ia akan
berkembang dan mempunyai gaya tersendiri. Tentu saja hal itu semua tergantung
pelakunya. Semakin cerdas dan pintar sang pelaku, semakin cepat tingkatan
kemampuannya membuat sebuah ekspresi seni. Kalau dia seorang pemotret maka dia
akan mampu membuat foto bak sebuah lukisan yang mengandung seni.

Karena itu apa yang akan dilakukan oleh seorang pemotret yang sudah
berpengalaman, adalah menyimpangkan pengalamannya agar menjadi sebuah media
alternatif yang mengandung seni. Orang lain boleh tida suka dengan karyanya, tetapi
selama yang ia lakukan dapat memberi kepuasan pikir dan batin maka hal itu cukup
sudah.

Secara umum, fotografi digital sebagai sebuah seni akan dapat diterima oleh
masyarakat. Tapi untuk pencapaian hal itu erat hubungannya dengan keadaan
ekonomi serta tingkat pendidikan suatu lingkungan. Kedua hal itu akan
mempengaruhi masyarakat dalam menghargai seni.

Fotografi digital yang sedemikian bebasnya dalam mengekspresikan fantasi seseorang


karena menu-menunya yang seolah tak terbatas tersedia dalam perangkat lunak
komputer, hendaknya juga bisa menyejajarkan diri dengan bidang seni yang lahir
sebelumnya.

Fantasi seniman pixel yang lahir di zaman sekarang mungkin akan berbenturan
dengan masalah kehalusan sebuah gambar digital. Harus diakui nahwa gambar
fotografi digital relatif lebih kasar dari gambar fotografi konvensional.
Namun kekurangan itu mungkin malah bisa dieks-plorasi untuk membuat sebuah
gambar yang kasar yang sekaligus juga mengandung seni. Bukankah permukaan kasar
tersebut juga suatu tampilan seni dalam gam-bar? *

Atok Sugiarto

Mengoptimalkan Kamera Saku Anda


Foto: Rony Simanjuntak

KAMERA SAKU - Memotret


dengan kamera saku membutuhkan
semacam kiat khusus untuk
menyiasati keterbatasan dari kamera
itu.

ebaran sebentar lagi. Segala rencana


untuk menyambut hari raya itu
tentunya telah dipersiapkan
sedemikian rupa. Termasuk
mengabadikan saat indah dan penuh sukacita itu. Bersilahturahmi atau jalan-jalan
adalah bagian yang sudah menjadi tradisi. Sayang jika Anda melewatkan kenangan
indah itu berlalu begitu saja.

Mungkin selama ini Anda termasuk orang yang rajin memotret. Tak pernah lupa
merekam segala aktivitas berlebaran itu, meski cuma menggunakan kamera saku.
Namun hasilnya biasa-biasa saja. Kenapa?

Sebenarnya, kamera saku yang Anda miliki itu bisa lebih optimal lagi hasilnya jika
tahu tentang kiatnya. Mungkin Anda akan bertanya, apa saja kiatnya. Dalam
perkembangannya, kamera saku pun telah memasuki era autofocus (AF), dan juga
dengan lensa yang bisa diubah-ubah panjang fokusnya (zoom). Namun
bagaimanapun, kamera saku tetap dirancang untuk dipakai dengan mudah.

Pada praktiknya memotret dengan kamera saku secara umum tidak membutuhkan
teori fotografi, yang muluk-muluk namun dibutuhkan pengetahuan praktis dalam
menyiasati kamera cerdas itu.

Berbagai pengetahuan praktis ini gampang-gampang susah karena menyangkut


pengetahuan tenta ng sifat dasar yang dimiliki sebuah kamera saku. Kalau Anda
memiliki sebuah kamera saku dan mengakui tidak memiliki pengetahuan fotografi
layak, hal pertama yang harus diingat adalah pakailah hanya film negatif dengan
kepekaan ISO 1000, ISO 200 atau ISO 400.

Kamera saku memang terutama direncanakan untuk dipakai memotret dengan film
negatif yang akomodatif terhadap kesalahan pencahayaan dalam pemotretan. Dengan
mutu film yang ada di pasaran saat ini, kelebihan atau kekurangan pencahayaan pada
film yang tid ak terlalu besar masih bisa dikoreksi saat pencetakan foto dilakukan.
Selain itu, saat ini kamera saku terbagi menjadi tiga kelas. Kelas pertama adalah
kamera saku paling sederhana yang semua perlengkapannya tidak bisa diubah-ubah
setelannya. Kamera saku jenis ini adalah yang paling murah, dan di Indonesia
harganya berkisar antara Rp 100 ribu sampai Rp 200 ribu.

Dengan tidak adanya bagian kamera yang bisa diubah setelannya, maka pabrik telah
mendesain agar kamera dapat adaptif terhadap berbagai kondisi cahaya dan berbagai
jarak pemotretan. Sebagian besar kamera saku tipe termurah ini mempunyai
ketajaman gambar terbaik pada jarak pemotretan (jarak obyek dan pemotretnya)
sekitar 1,5 sampai 2 meter. Di luar jarak itu, mutu gambar memang masih bagus
terutama kalau cuma untuk dicetak sebesar kartu pos.

Kecepatan rana kamera saku murah ini tidaklah terlalu besar. Hasil buruk, yaitu objek
buram, yang dicapai pada pemotretan dengan ka -mera saku umumnya timbul dari
camera shake atau ge-taran pada kamera saat tom-bol ditekan. Saat akan mene-kan
tombol, sang pemotret harus yakin kameranya sama sekali tidak berpindah tempat
atau bergetar sedikit pun sampai suara "ceklek" berakhir.

Kesalahan lain pada pemakaian kamera saku adalah kacaunya gelap terang pada foto
yang tercetak. Kesalahan ini timbul karena arah pemotretan menghadap arah
datangnya sinar, misalnya memotret orang dalam rumah dengan latar belakang
halaman terang benderang.

Pencahayaan pada kamera saku akan mengukur bagian yang terang, sehingga objek
yang lebih gelap dari sekelilingnya akan menjadi gelap sama sekali. Memotretlah
dengan keadaan objek menghadap sinar, bukan sebaliknya.

Kamera saku jenis kedua adalah kamera saku otofokus (auto focus) yang mempunyai
kemampuan menajamkan imaji objek yang akan kita pilih, secara otomatis. Lensa
yang terpasang pada kamera ini mampu mengubah-ubah jarak penajamannya sendiri.
Jenis ini umumnya ditandai dengan tulisan "AF" pada badan kameranya yang
merupakan singkatan Auto Focus.

Pada saat akan dipakai memotret, yaitu saat tombol mulai ditekan, kamera
mengeluarkan sinar infra merah yang tidak terlihat mata manusia. Sinar infra merah
ini lalu dipantulkan oleh obyek yang akan difoto dan pantulannya diterima kembali
oleh kamera. Lewat pantulan inilah kamera tahu jarak penajaman yang harus
dipilihnya.

Pemotretan dengan kamera saku AF yang menghasilkan gambar buram (tidak fokus)
terjadi karena pemotret terlalu terburu-buru saat memijit tombol. Kamera be-lum
sempat menyesuaikan diri, jepretan telanjur terjadi. Sebaiknya kalau memotret dengan
kamera saku AF, tekan dulu tombol sedikit sekitar dua detik, baru kemudian ditekan
sampai bunyi "ceklek" terjadi.

Kesalahan lain dengan pemakaian kamera ini adalah saat memotret objek yang
terpencar, misalnya memotret dua orang di depan kita. Kamera menyesuaikan
penyetelan jarak penajaman berdasarkan pantulan yang datang dari benda tepat di
depannya.
Jadi bila ada dua orang di depan kamera, dan
kebetulan titik tengah bidikan jatuh pada celah
antara kedua orang itu, mau tidak mau kamera
akan menyesuaikan penyesuaian penajaman
pada benda yang ada di antara dua orang itu.

Untuk mengatasi hal ini, sebaiknya saat menekan tombol penyesuaian fokus (belum
menjepret), titik tengah bidang bidik yang tampak dimata di arahkan pada salah satu
dari dua orang yang akan dipotret. Lalu dengan hati- hati geserlah kamera sampai
mendapatkan komposisi yang diinginkan, barulah jepretkan kamera. Yang perlu
diingat lagi adalah, apa yang tampak di mata dari lubang bidik selalu tajam sementara
di film belum tentu.

Mata manusia melihat dengan tajam di lubang bidik karena punya fasilitas ter -sendiri
untuk itu, sementara kamera butuh penyetelan yang memakan waktu walau cuma
sejenak.

Kamera saku jenis ketiga adalah yang paling mutakhir. Di samping memiliki
kemampuan otofokus, kamera ini juga bisa diubah-ubah panjang fokalnya. Istilah
kerennya bisa di zoom. Bisa menjadi tele dan bisa pula menjadi lensa sudut lebar
(wide angle lens). Umumnya rentang zoom kamera ini bervariasi dari 28 mm sampai
135 mm.

Pemakaian kamera dengan kondisi lensa dalam keadaan terpendek umumnya sudah
mampu untuk memotret berbagai keperluan umum. Sedangkan Lensa sudut lebar bisa
dipakai untuk memotret orang dalam jumlah besar yang berjejer melebar. Atau juga
untuk memotret pemandangan dengan bidang cakup seluas-luasnya.

Dengan pemilihan sudut lebar, wajah yang dipotret mau tidak mau harus dekat sekali
dengan kamera. Hal ini akan menimbulkan kesalahan paralaks, atau kesalahan letak
bidik. Apa yang tampak di mata belum tentu yang tampak di film, terkecuali kamera
yang sudah jenis digital sebab objek yang akan dibidik itu akan tampil di layar LCD.

Bagi lubang bidik tampak di tengah, namun bagi lubang lensa bisa menjadi di
samping. Sebenarnya di lubang bidik ada garis koreksi, yaitu garis yang membentuk
segi empat lebih kecil daripada segi empat tepi lubang bidik. Garis inilah yang harus
dijadikan acuan kalau memotret pada jarak sangat dekat.

RONY SIMANJUNTAK

Sudah Punya Gregetkah Foto Anda?


Foto: Rony Simanjuntak

BUNGA - Foto kiri berupa bunga-bunga berjajar terasa monoton karena masing-
masing unsur berdiri sendiri, tidak ada hubungannya dan saling bersaing merebut
perhatian. Dengan menyusunnya secara sederhana seperti pada foto kanan, maka
unsur-unsur tersebut terasa menjadi satu kesatuan yang saling mendukung.
ayaknya sebuah film yang mampu merangsang emosi para penontonnya di setiap
adegan yang ditonjolkannya, demikian pula semestinya dengan karya fotografi
Anda. Anda pun harus mampu menghasilkan foto yang "greget" di setiap bidikan
kamera. Pada kenyataan sehari-hari, tak jarang si pemotret bingung saat berhadapan
dengan objek foto. Seolah-olah mau dipotret sebelah mananya sih, agar bagus?"
Begitulah kira-kira pertanyaan yang mungkin menggelayut di benak si pemotret.

Alhasil, jepretan demi jepretan pun berantakan. Materi foto yang sebetulnya
mengandung potensi dan nilai-nilai tertentu yang cukup kuat, bisa hancur berantakan.
Kenapa demikian? Sebetulnya itu tidak perlu terjadi seandainya si pemotret
memahami tentang komposisi. Sebab di dalam fotografi masalah komposisi tak
kurang pentingnya seperti pada karya seni lain. Di samping menambah nilai-nilai
artistik dan estetik, pengaturan komposisi mampu menonjolkan subyek utama foto.
Bahkan tidak jarang akan mendukung keberhasilan foto yang Anda buat.

Komposisi dapat pula kita manfaatkan untuk membentuk adanya kesan ruang; tapi
bagi para pemula di bidang fotografi, komposisi justru sering diabaikan atau
terabaikan. Hal ini wajar mengingat perhatian dan konsentrasi mereka biasanya masih
terpecah antara pengaturan jarak, kecepatan pemilihan bukaan diafragma dan
sebagainya. Atau, mungkin memang kepekaannya masih kurang. Sekalipun demikian,
sebetulnya hal ini tidaklah sulit untuk diatasi.

Dengan berbagai latihan yang berkesinambungan sambil mempelajari dasar-dasar


komposisi, dalam waktu yang relatif singkat akan segera terbiasa. Maka hasilnya akan
terlihat, bahwa jepretan kameranya jauh berbeda dengan waktu-waktu sebelumnya.

Di dalam The Advanced Learner's Dictionary of Current English , A.S. Hornby cs.
seperti dikutip Anto Djoemairi W.S. memberikan arti komposisi sebagai : 1. tindakan
atau "seni" menyusun (kata-kata, musik, cetakan dan sebagainya), dan 2. (sesuatu)
yang disusun (puisi, buku, musik, susunan objek yang disusun untuk dilukis atau
difoto). Seda ng Prof. Dr. R.M. Soelarko memberikan batasan sebagai berikut:
Komposisi sebagai pengertian senirupa adalah susunan gambar dalam batasan satu
ruang. Batasan ruang ini merupakan limitasi, sekaligus syarat mutlak bagi adanya
komposisi.

Didalam Fotografi, me nyusun komposisi mempunyai pengertian atau batasan sebagai


upaya menyusun elemen-elemen foto yang esensial seperti bentuk, nada, warna
(dalam fotografi hitam-putih "diwakili" oleh nuansa/gradasi nada kelabu), pola dan
tekstur di dalam batasan suatu ruang. Tujuannya adalah untuk mengorganisasikan
berbagai komponen foto yang saling berlainan, menjadi sedemikian rupa sehingga
gambar tersebut menjadi suatu kesatuan yang saling mengisi, serta mendukung satu
sama lainnya; sehingga, menjadi lebih enak dipandang.

Atas dasar hal tersebut, penyusunan komposisi membutuhkan adanya suatu ruang
tertentu, tegasnya: Format. Format di sini adalah mengikat, dengan pengertian bahwa
suatu komposisi yang baik dan pas pada format tertentu belum tentu cocok atau sesuai
dalam format yang lain. Di dalam seni foto tidak ada keharusan untuk menggunakan
format-format terentu. Jadi kita bebas untuk menggunakan format menurut kehendak
kita masing-masing. Kalau toh masih ada ikatan dalam hal format ini, hanyalah
disebabkan tersedianya ukuran kertas foto dan film saja, yang mau tidak mau,
sebagaimana layaknya dunia industri terikat pula pada ukuran-ukuran standardisasi.

Itulah sebabnya, di dalam lomba foto, sering tidak disebutkan format yang diminta
melainkan hanya disebutkan ukuran salah satu sisinya saja (minimal dan maksimal).
Secara umum, ukuran atau format film dan kertas foto hanya ada dua macam saja,
yakni format empat persegi dan persegi panjang dalam berbagai ukuran (4x4, 3x4,
6x6, 18x24, 30x40 dan sebagainya).

Kecuali untuk film yang formatnya sudah disesuaikan dengan konstruksi kamera, kita
bebas menentukan format dalam menggunakan kertas foto, dengan berbagai variasi
perbandingan antara panjang dan lebarnya. Bahkan kalau kita mau, menggunakan
format oval atau bentuk bundar pun boleh saja. Dengan adanya kebebasan ini, kita
dapat memanfaatkannya sebaik mungkin.

Namun kebebasan ini lebih banyak berlaku pada waktu pencetakan atau pembesaran
foto saja, yang merupakan tahap ketiga dalam pembuatan foto (tahap pertama
pemotretan, tahap kedua pengembangan film). Jadi bagaimana pun juga kebebasan ini
tidak dapat lepas di film negatif yang akan dicetak. Tegasnya, kebebasan ini hanya
berlaku di kamar gelap untuk lebih membatasi lagi ruang, garis dan bidang yang telah
ada pada negatif itu.

Akan halnya format pada film, tidak ada keharusan; manakah yang lebih baik dipakai.
Apakah format persegi panjang lebih baik daripada format empat persegi. Itu sangat
relatif. Kenyataannya, pada format empat persegi pun sering diadakan
pemotongan/pembatasan sehingga menjadi persegi panjang di dalam pembesarannya
melalui cropping. Yang penting adalah bagaimana kita mengisi format itu dengan
komposisi yang lebih baik dan enak dipandang mata.

Bagaimana memperoleh komposisi yang baik? Di sini kita dituntut aga r memiliki
kepekaan tersendiri, yang lagi-lagi dapat diperoleh melalui latihan-latihan
berkesinambungan secara tekun, serius dan intensif. Pandanglah sasaran atau objek
foto dari berbagai sudut pandang. Apabila dirasa perlu, aturlah sedemikian rupa
sehingga terbentuk susunan yang menarik dan enak dipandang. Perhatikan juga latar
belakang, sebab ada kalanya latar belakang mempunyai andil yang cukup besar dalam
hal mendukung atau malah menghancurkan objek foto. Demikian pula dengan latar
depan kalau memang ada, dapat kita manfaatkan untuk batasan atau framing yang
mampu menimbulkan kesan adanya ruang atau kedalaman. Dari beberapa hal tersebut
akhirnya dapat kita putuskan untuk merangkumnya secara keseluruhan ke dalam suatu
batasan ruang. Dengan kata lain, kita telah menentukan format untuk objek tersebut.

Masih soal komposisi, Andreas Feininger lebih jauh menjelaskan. Dalam bukunya
"Succesful Photography" , ia memberikan saran yang dapat diikuti terutama oleh para
pemula sebagai berikut :

"Adalah penting untuk memusatkan interes yang ada, mengatur garis-garis dan bentuk
ke dalam pola yang harmonis, memberikan keseimbangan pada pembagian gelap dan
terang dalam keseimbangan grafis serta menciptakan batas-batas tepi (framing ) secara
alami atau tidak mencolok mata. Sudah barang tentu, hal ini hendaknya dilakukan
sebelum rana ditekan, sampai penyusunan komposisi tersebut dirasa mantap.
Seorang pelukis misalnya, memang dapat membuat perubahan-perubahan, tambahan
dan sebagianya untuk memperbaiki komposisi; tapi bagi seorang fotografer, sekali ia
menekan tombol rana, komposisi telah terekam dan tak mungkin lagi untuk diubah.
Oleh karena itu sebelum tombol pelepas ditekan, seharusnya ia telah menyusun dan
mengatur komposisi sedemikian rupa sehingga akan memberikan hasil yang baik.

Untuk dapat melakukan hal tersebut, ada beberapa saran dan pilihan langkah yang
dapat diambil oleh para pemula :

1. Mengatur atau memberi pengarahan kepada subjek sedemikian rupa sampai mantap
untuk memenuhi selera/keinginannya (pemotret) dalam hal komposisi. Di sini
pemotret bertindak seperti dan sebagai sutradara.

2.Mengubah dan mencari sudut pemotretan sehingga dicapai suatu komposisi yang
lebih baik. Ini lebih sering dilaksanakan pada pemotretan lanskap dan foto-foto
aristektur. Di mana mungkin, penggunaan lensa dengan jarak fokus yang lebih
panjang dari pada lensa normal; secara material akan dapat meningkatkan komposisi
melalui "efek telefoto" (pada pemotretan yang menggunakan lensa tele, terjadi distorsi
perspektif karena pemendekan jarak dalam pandangan, sehingga benda -benda yang
jauh letaknya seakan-akan merapat dan seperti berimpitan).

3. Menunggu saat atau momen yang tepat sebelum menekan tombol rana. Hal ini
dilakukan pada pemotretan olahraga, tarian dan foto aksi lainnya yang banyak
mengandung gerak adegan dan perubahan-perubahan bentuk secara mendadak di luar
dugaan. Juga pada pemotretan yang dilakukan di tempat-tempat ramai seperti jalan,
pasar dan sebagainya.

4.Memperbaiki komposisi pada waktu mencetak foto. Ini hanya dapat dilakukan
apabila fotografer melakukan sendiri pencetakan foto-fotonya di kamar gelap atau
komputer pada fotografi digital Kalau hal itu diserahkannya kepada orang/pihak lain,
paling banter ia hanya bisa berpesan untuk melakukan pembatasan-pembatasan pada
fotonya yang tentu saja belum tentu sesuai dengan kehendaknya. Dari segi kepuasan
pun jelas akan jauh berbeda dibanding kalau dapat dilakukannya sendiri.

Pastikan sebelum Anda menekan tombol rana, komposisi objek telah tersusun dan
teratur sedemikian rupa, agar foto Anda terasa gregetnya.

RONY SIMANJUNTAK

Konvensional dengan Sentuhan Digital


Oleh Atok Sugiarto

Foto-Foto: Atok Sugiarto

DENGAN FILM - Foto ini dibuat


dengan kamera konvensional yang
menggunakan film untuk merekam gambar.

embuat sampul kaset, sampul CD, sampul buku, leaflet, booklet, selebaran, dan
promo penjualan suatu produk adalah salah satu lahan pekerjaan kreatif yang
hampir selalu melibatkan gambar atau foto sebagai daya tariknya. Namun, menarik
dan banyaknya ragam pekerjaan tersebut menjadikan pekerjaan kreatif seperti itu
sering dilakukan dengan terburu-buru (instan). Hampir apa adanya dan tidak
dirancang secara khusus, serta mengabaikan unsur gambar atau foto yang
sesungguhnya merupakan salah satu hal yang menjadi daya tarik. Alhasil, sisi
kreativitas di lahan pekerjaan ini sering tidak terlihat.

Anggaran terbatas yang tidak dibarengi dengan pengadaan gambar atau penyiapan
fotografinya yang tidak terencana benar juga menjadi alasan lain yang menyebabkan
desainer tidak dapat melakukan pekerjaan membuat desain secara maksimal untuk
menghasilkan perwajahan yang baik. Namun lahirnya era digital yang lebih sering
kita sebut dengan lahirnya multimedia, seperti menjawab semua yang masalah yang
ada. Karena menu kreatif di dalam Adobe Photoshop (komputer digital) menjadikan
pembuatan perwajahan minim biaya dan berkesan tak berkonsep - hanya
mengandalkan sebuah gambar atau foto apa adanya namun dapat dimaksimalkan
hasilnya.

Karena itu pula tak perlu heran jika pembuatan poster, iklan atau print ad dengan
foto/gambar artis atau orang terkenal dengan aksi, gaya dan ekspresinya serta
dipersiapkan dengan baik dan terencana menghasilkan desain yang "wah" dan
menarik. Selain karena proses pembuatannya telah mempertimbangkan dan
mempersiapkan diri sedemikian rupa, fotografi sebagai alat visual utamanya pun
dalam penanganannya dilakukan dengan sentuhan digital sehingga betul-betul
menghasilkan sesuatu yang menarik.

Bagaimana jika kecenderungan pembuatan desain suatu perwajahan hanya


menggunakan foto close-up atau setengah badan dari model/artis yang apa adanya
seperti sering terjadi pada pembuatan sampul kaset, sampul CD atau sampul buku
tulis? Keinginan itu pasti dapat saja terwujud dengan baik terlebih bila dalam
pengerjaannya, desainer mau bersinergi menggunakan jasa digital (komputer) atau
sering bisa kita sebut dengan istilah digital imaging, yaitu kinerja mengolah data yang
datanya diambil dari foto/gambar atau cetakan, lalu datanya dipindai (scan) kemudian
di-retouch atau diperbaiki menggunakan software komputer (Adobe Photoshop) yang
memiliki menu-menu kreatif untuk memanipulasi gambar.

Proses Kerjanya

Seperti telah kita ketahui, digital adalah suatu teknologi yang sudah tak mungkin
dihindarkan pada masa kini, dan memang rugi bila tidak mencoba menggunakannya.
Karena itu dalam beberapa konsep pembuatan sampul kaset maupun CD atau promo
kecil-kecilan yang tidak banyak dana, jalan keluarnya adalah menggunakan olah
digital untuk menciptakan perwajahan yang menarik.

Yang perlu diperhatikan dalam penciptaan sampul atau perwajahan menggunakan


foto konvensional adalah proses atau tahapan kerjanya yang memang betul-betul
harus memperhatikan pencahayaan.
Dalam hal ini jika kita menggunakan sebuah foto (foto studio) dan
menggabungkannya dengan menggunakan latar belakang langit atau sesuatu yang
dibuat di luar studio, maka kecermatan pengaturan cahaya buatan atau membuat
sinkron hasil foto gabungannya, memegang peranan yang sangat penting.

Penggabungan antara subjek dan latar belakang yang memang berbeda pe nyinarannya
akan menghasilkan perbedaan gambar yang tidak realistis. Sementara itu, tentu yang
diinginkan adalah hasil yang tampak alami, seakan tidak menggunakan metode
penggabungan yang dilakukan dengan menggunakan program kreatif Adobe
Photoshop di dala m komputer.

Sesuai pengalaman, saya pribadi lebih cenderung menyukai cara kerja menggunakan
gambar/foto yang dibuat dengan kamera konvensional. Kemudian hasil
pemotretannya (jika perlu) diperbaiki. Hal ini saya maksudkan agar saat mengerjakan
atau melakukan pemotretan dilakukan dengan baik dan tidak asal-asalan.

Dengan menggunakan kamera digital seorang pemotret sering menyepelekan teknis


pemotretan. Hal itu terjadi karena si pemotret beranggapan, kelak komputer dapat
menyelesaikan semua persoalan yang me nyangkut sebuah gambar.

Saat mengerjakan pembuatan sampul sebuah buku (company profile), pernah saya
menemukan kesulitan karena foto pilihan yang disetujui klien (dari beberapa foto
yang saya ajukan) adalah foto yang saya buat beberapa tahun sebelumnya. Masalah
muncul ketika foto dipindai dan
diperbesar, hasilnya tampak kotor dan
berjamur.

SINERGI - Hasil sinergi pemotretan


dengan kamera konvensional
dengan teknologi digital adalah foto
yang terasa berbeda seperti ini,
karena kemampuan komputer
memanipulasi gambar.

Berkat bersinergi dengan teknologi


digital maka keinginan untuk tetap
menggunakan foto yang telah
berjamur dan kotor itu dapat dengan mudah diatasi. Jamur, cacat-cacat pada foto dan
warna yang telah berubah dapat diperbaiki (retouch) sehingga tampak menarik
kembali.

Salah satu contoh umum sinergi antara konvensional dan digital dalam pembuatan
bentuk perwajahan seperti ini adalah tindakan menghilangkan cacat-cacat yang ada
atau me -retouch foto dengan menggunakan jasa komputer. Sinergi antara
konvensional dan digital akan menghasilkan sebuah perwajahan yang baik dan
menarik, terlebih bila pemotret mampu memanfaatkan kelebihan komputer. Dengan
kata lain, pada masa kini merupakan keharusan seorang pemotret dapat menguasai
kerja komputer sehingga mampu menciptakan desain suatu perwajahan atau foto yang
menarik.
Untuk pengerjaan sebuah cover kaset atau cover CD yang umumnya hanya
menggunakan sebuah foto close up artis dengan dana yang minim, akan menjadi
mudah dilakukan bila bersinergi dengan jasa digital. Dengan digital dan perangkat
lunaknya seorang desainer dapat membuat aneka ragam desain atau perwajahan yang
menghasilkan foto artis yang menarik dan menawan.

Sinergi

Fotografi digital yang didukung alat canggihnya (komputer) yang mampu mengolah
maupun mendesain sebuah gambar, menuntut hadirnya orang yang terampil dalam hal
menangani pixel dengan program-program yang ada di komputer. Karena itu sudah
semestinya seorang pemotret pada jaman sekarang, sekalipun masih menggunakan
kamera foto konvensio nal yang memakai film, tetap saja perlu menguasai olah digital.
Sehingga jika dalam pelaksanaan suatu pemotretan menghasilkan foto yang mutunya
kurang akan dapat diatasi dengan cukup mudah.

Dengan adanya sinergi antara yang konvensional dan digital akan membuat lebih
leluasa untuk "berkesenian" menghasilkan foto yang sama sekali baru. Dengan foto
yang biasa saja bila bersinergi dengan digital bisa menghasilkan foto yang luar biasa,
apalagi dengan foto yang dibuat secara baik dan terencana. Pasti dengan itu seorang
desainer akan dapat menghasilkan karya yang monumental.

Dunia persuratkabaran, penerbitan dan tentu juga dunia periklanan yang kini semakin
ketat persaingannya serta berlomba untuk mengedepankan gambar yang semenarik
mungkin, selalu merekrut orang-orang yang terampil menggunakan olah digital atau
komputer sebagai suatu wahana dalam menghasilkan foto/gambar yang baik dan
menarik. Satu hal yang penting untuk diketahui saat melibatkan olah digital dalam
membuat suatu foto atau gambar-gambar kreatif adalah masalah resolusi atau
kehalusan gambar. Karena itu, jika dalam fotografi konvensional kehalusan gambar
sangat jarang dipermasalahkan karena hasilnya umumnya mempunyai kehalusan
seperti mata memandang subjek asli, maka dalam digital kehalusan gambar masih
sering dipermasalahkan.

Fotografi digital memang akan menjadi primadona bagi siapa pun pemotret, terlebih
tatkala masalah resolusi sudah bukan soal dan kehalusan gambar juga sudah betul-
betul mencapai tahapan maksimalnya. Namun meskipun tahapan itu belum
sesempurna hasil foto yang menggunakan kamera konvensional, tapi setidaknya jika
pemotret yang menggunakan foto konvensional mau bersinergi dengan digital, maka
tingkat kehalusan yang diinginkan akan terwujud. Dan, pemotret mendapatkan
berbagai kelebihan atas "kerja bareng" atau sinergi antara konvensional dengan
digital.

Pola kerja sinergi itu memungkinkan lahirnya seniman-seniman foto baru yang
mampu menghadirkan pandangan atau pikiran-pikiran baru dalam mengekspresikan
fantasinya. Apa sebabnya? Karena digital menawarkan banyak kreativitas olahan
yang mampu mengubah wajah dunia.*
Apakah Foto Anda
Sebuah Karya Besar?
Foto: Rony Simanjuntak

MEMILIH SASARAN - Seorang pemotret


pasti akan memilih -milih sasaran pemotretannya. Sejak ia menempatkan
sasaran pemotretannya itu di dalam jendela pembidik kameranya, maka saat itu
dia sudah memilih-milih dan mengatur peletakan sasaran pemotretannya atau
yang dikenal dengan istilah komposisi.

adarkah Anda, ketika tombol rana ditekan, maka disitulah ditentukan apakah foto
tersebut merupakan karya besar atau apakah foto itu mampu menjadi media
komunikasi untuk menyatakan perasaan pribadi. Entah itu mengenai peristiwa
keluarga, bom yang meledak, rumah yang terbakar, pesawat udara yang jatuh,
pemandangan alam yang indah, banjir, bintang olahraga dan masih banyak yang lain.
Singkatnya, karya-karya itu sangat berharga. Lalu, bagaimana dengan foto Anda?

Foto-foto dokumen yang diambil beberapa waktu yang lalu akan memiliki nilai
tambah tersendiri tatkala foto-foto semacam itu semakin langka. Foto sebuah
bangunan lama, misalnya Hotel Des In-Des di Jalan Gajah Mada Jakarta, akan terasa
betapa tinggi nilainya sekarang, mengingat kawasan itu sudah berubah menjadi
bangunan kantor dan pusat perbelanjaan modern. Contoh-contoh semacam ini masih
banyak kita jumpai.

Secara fotografis, tentunya salah satu modal utama sebuah kamera adalah lensanya.
Lensalah, kata orang, yang menentukan hasil akhir suatu karya. Seorang fotografer
dengan jenis kamera yang lensanya dapat dilepastukarkan kualitas hasil
pemotretannya juga ditentukan oleh panjang pendeknya jarak-fokus lensa yang
digunakan. Pasanglah lensa sudut lebar, maka hasilnya akan memberikan panorama
yang luas atau lebar, garis-garis lurus dapat menjadi lengkung, dan bila menggunakan
lensa-lensa sudut ultralebar, maka hasil tangkapan kamera ini seolah-olah dari dunia
mimpi atau dunia fantasi.

Sebaliknya bila kita menggunakan lensa-lensa tele atau ultra tele, maka objek-objek
yang jauh letaknya dapat didekatkan, bahkan detail-detailnya dapat terlihat jelas, yang
takkan terlihat dengan baik bila kita melihatnya dengan mata telanjang. Cara kita
melihat visi suatu objek inilah yang menimbulkan "seni" dalam fotografi. Cara
melihat atau sering pula disebut sebagai "visi pemotret" (kadang-kadang juga sebagai
"mata pemotret") inilah yang membedakan para seniman foto dari seniman-seniman
lainnya. Visi pemotret ini berbeda dengan visi pelukis, visi pemahat, visi pevisualisasi
lainnya. Visi pemotret harus dapat "menerjemahkan" objek serta keadaan sekeliling
yang akan dipotretnya, dalam batas -batas warna atau nada -warna media yang
digunakannya.

Memilih-milih
Pemotret akan memilih -milih objek pemotretannya. Hal-hal apa sajakah yang akan
dimasukkan ke dalam fotonya. Sejak si pemotret menempatkan objek pemotretannya
di dalam jendela pengamat kameranya, maka saat itu dia sudah memilih-milih dan
mengatur peletakan objek pemotretannya, yang dikenal dalam dunia fotografi sebagai
komposisi.

Komposisi inilah yang mengatur garis-garis vertikal maupun horisontal, bentuk-


bentuk segitiga, kerucut serta bulatan-bulatan sehingga secara keseluruhan
menghasilkan suatu penempatan yang serasi, yang enak dipandang. Sudah barang
tentu, seorang pemotret yang sudah terbiasa dengan kameranya akan dapat
memvisualisasikan objek pemotretannya itu.

Garis-garis dan bentuk-bentuk dipilihnya dengan cermat, demikian pula nuansa


warna, pencahayaan dan sebagainya. Maka semakin cermat seorang pemotret
memvisualisasikan objek pemotretannya, semakin baiklah hasil pemotretannya itu
nanti.

Visi pemotret jadinya pada tahap ini berupa kepandaian atau keahliannya memandang
sesuatu objek yang akan dipotretnya yang disesuaikan pula dengan lensa yang
digunakannya. Visi pemotret juga menyangkut kepekaannya untuk memilih -milih
keadaan sekelilingnya yang ada sangkutpautnya dengan objek utama yang dijadikan
modelnya. Hubungan keadaan sekelilingnya, keadaan pencahayaan dan sudut
pandang pemotretannya, ini semua menyangkut visi pemotret itu.

Dalam memacu visi pemotret ini, maka seluruh naluri manus ia dikerahkan. Baik
penciuman, perabaan bahkan pendengarannya dikerahkan untuk memantau peristiwa
yang berlangsung di sekelilingnya. Pendengarannya? Yah, setiap bunyi atau pun suara
yang didengarnya, apakah itu bunyi gelak tawa sekelompok orang di sudut ja lan, atau
suara bayi yang menangis di rumah seberang sana, gesekan dedaunan sewaktu dia
mencari objek pemotretan di hutan atau di pinggiran kota, selalu menarik
perhatiannya.

Memiliki Intuisi

Meski tugas utama seorang pemotret adalah memotret objeknya, ada kalanya sangat
sulit diperoleh jawaban dari si pemotret mengenai bagaimana, mengapa dan dari segi
mana dia memotret objeknya itu. Baginya kalau objek-objek itu secara visual memang
menarik, mengapa tidak dibuat fotonya? Jadi memiliki intuisi tentang makna atau
betapa pentingnya sesuatu objek bagi seorang fotografer, merupakan salah satu hal
yang penting untuk menggerakkannya membuat foto itu.

Sebaliknya keadaan objek itu sendiri ditentukan pula oleh keadaan cahaya dan
letaknya dalam menentukan komposisi. Situasi-situasi semacam inilah, bila si
pemotret dapat menghimpunya, akan menghasilkan foto-foto yang bagus, indah dan
berarti. Foto-foto semacam ini, pada situasi-situasi tertentu akan membangkitkan
kenangan bagi para pengamatnya. Kalau hal terakhir ini, yaitu membangkitkan
kenangan bagi para pengamatnya, maka dapatlah dikatakan bahwa si pemotret telah
berhasil mencapai sasarannya, yaitu mengalihkan segi visualisasinya itu kepada orang
lain.
Kita ketahui bahwa orang-orang suka mengidentifikasikan dirinya dengan hal-hal
yang berhubungan dengan kebangsaan, ras, seks, agama, pekerjaan, atau apa yang
dimiliki orang lain. Namun satu hal yang sifatnya universal adalah mengenai
tanggapannya terhadap kebahagiaan, kepedihan serta gejolak-gejolak hati umat
manusia .

Artinya lebih banyak bercerita mengenai orangnya itu ketimbang asal turunan, warna
kulit, usia ataupun bidang usahanya.

Kebahagiaan ataupun kesuksesan, rasa puas ataupun harta kekayaan misalnya,


merupakan "bahasa universal" yang menerobos jalur-jalur rintangan yang disebabkan
kebahasaan, kebangsaan ataupun asal keturunan. Seseorang di masyarakat yang
primitif maupun yang hidupnya terpencil, memiliki rasa bahagia yang secara kualitatif
tidak kalah mutunya dengan sesamanya yang hidup di kota-kota metropolitan, yang
penuh gemerlap dengan kejayaan kotanya.

Peristiwa bom Kuningan di depan Kedubes Australia, Jakarta beberapa waktu lalu,
tentu membuat sedih perasaan kita. Apalagi menyaksikan para korban yang tidak
berdosa jatuh bergelimpangan dalam kondisi kritis dengan luka-luka di bagian kepala
dan badan. Tanggapan emosi kita terhadap peristiwa itu semuanya didasarkan pada
bahasa universal tadi.

Sudah barang tentu kita juga menyadari bahwa kebahagiaan, kepuasan hati, gejolak
hati seperti dimaksudkan di atas berbeda pada seseorang dengan yang lainnya. Namun
sebagai seorang fotografer, maka faktor "keberuntungan" tidak kalah pentingnya
dalam suatu usaha menangkap peristiwa di atas. Dalam dunia fotografi, rupa-rupanya
faktor "keberuntungan" merupakan salah satu unsur yang penting.

Mengapa ada foto yang menjadikan orang kagum terhadap si pemotretnya? Apakah
karena fotografer itu menggunakan kamera yang mahal? Apakah karena perlengkapan
minilab yang begitu canggih? Kalau kita berbicara mengenai fotografi, maka
jawabannya sudah tentu adalah, hal yang menggerakkan kita untuk menghasilkan atau
membuat foto tersebut.

Tidak Diduga

Banyak pemotret yang menghadapi situasi-situasi pemotretannya dengan secara tiba-


tiba. Tidak diduga sebelumnya. Misalnya sang fotografer sedang keliling "berburu
foto" di tengah kota, dari rumah sudah ada bayangan hal- hal apa yang akan
dipotretnya nanti; arsitektur gedung-gedung tua, padatnya kendaraan bermotor, anak-
anak jalanan di perempatan lampu merah yang meminta-minta, dan sebagainya.

Di tengah jalan dia mendengar suara ledakan pada sebuah gedung pencakar langit.
Apakah fotografer ini berhenti untuk mengabadikannya? Bukankah dia akan
memperoleh gambar yang eksklusif? Jangan-jangan si fotografer itu akan
menghabiskan seluruh waktunya di sini untuk mengabadikan adegan-adegan yang di
luar rencananya atau yang ditemukan secara kebetulan itu.

Setiap fotografer, akan memiliki kesempatan semacam itu di mana pun dia berada.
Setiap saat dia dihadapkan pada situasi atau keadaan semacam itu, maka keputusan
untuk merekam saat-saat yang tak akan berulang dan tergelar di hadapannya itu,
seluruhnya bergantung pada dirinya. Pada saat dia mengambil keputusan untuk
merekamnya, saat dia menjepretkan kameranya, maka rekaman suatu segi dari
kehidupan umat manusia itu menjadi "miliknya".

Sudah barang tentu tidak setiap pengambilannya itu merupkan karya yang besar atau
cemerlang. Setelah fotografer kembali ke rumahnya, memilih-milih dari sederetan
file/negatif yang terekam barangkali dia akan menemukan beberapa bidikan yang
bagus bahkan spektakuler. Namun tidak jarang dia memperoleh hasil nihil, atau foto-
foto hasil jepretannya tidak bagus. Sebagai seorang fotografer yang ulet, tentunya dia
tidak akan menyerah begitu saja. Baginya berlaku prinsip: "Kali ini gagal, lain kali,
suatu saat pada masa kemudian akan berhasil.*

Jangan Main-
main dengan
Kamera
Foto: Roland M Sutrisno

OBJEK WISATA - Gereja


Mission di Santa Barbara,
Kalifornia, Amerika Serikat.
Seorang pemotret aman
memotret gambar- gambar
di sini karena memang
tempatnya, yaitu suatu objek
wisata.

emajuan zaman semakin cepat, cara berpikir pun mengikutinya. Peralatan memang
semakin canggih, namun banyak di antara kita yang mempunyai hobi fotografi
belum siap dengan kemajuan zaman tersebut. Aturan beruba h terkadang tanpa kita
sadari sebelumnya. Banyak pula aturan tidak tertulis yang seperti menyesatkan bagi
para pendatang baru. Tindak-tanduk kita dengan kamera canggih pun menjadi
semakin asyik karena kamera semakin mudah, kecil, dan murah. Berikut ini
merupakan sebuah pengalaman berharga di negara Amerika yang sangat menjunjung
tinggi hak asasi manusia (HAM).

Suatu saat ketika berkunjung ke Amerika, terasa sangat banyak subjek dan objek foto
yang menarik. Apalagi ketika berkunjung ke tempat- tempat wisata, begitu asyik kita
mengamati sasaran pemotretan itu sehingga lupa dengan target foto yang akan kita
peroleh.

Di Indonesia, jika kita hendak mengambil gambar atau objek foto saat ada live show
band atau event olahraga, paling kita hanya diminta memperlihatkan kartu identitas.
Itu pun masih banyak orang yang mencuri-curi gambar dengan menggunakan kamera
saku. Petugas pun sepertinya acuh tak acuh dengan keadaan dan tindakan para
paparazzi amatiran itu.
Berbeda dengan perilaku budaya di Amerika. Jika kita secara sembarangan
mengambil foto atau gambar seseorang, bila orang tersebut tidak suka, mereka akan
berkata jangan ambil gambar saya. Maaf saya tidak suka itu! Biasanya kalau hal
seperti ini terjadi di negara kita, pemotret tetap saja nekat mengambil gambar orang
tersebut. Paling jauh orang tersebut hanya menghindar dari bidikan kamera.

Di Amerika jangan harap kita dapat bebas memotret jika orang yang akan dipotret
tetap tidak bersedia diambil gambarnya. Bila kita tetap nekat, akibatnya bisa fatal. Dia
mungkin akan meminta film dikeluarkan dari kamera di hadapannya. Atau si pemotret
akan berurusan dengan polisi karena dia (orang yang dipotret) mendapat perlakuan
tidak menyenangkan. Hukum di Amerika jelas, yaitu jika ada seseorang memaksa
orang lain maka yang melakukannya akan mendapat hukuman atau denda. Urusan
bisa menjadi panjang dan bertele -tele. Selain itu uang akan banyak keluar untuk
pengacara dan membayar denda.

Begitulah di Amerika, kita harus bermain di dalam koridor hukum yang jelas. Masih
untung jika kamera kita tidak dirusak. Bayangkan kalau kamera digital versi lama
yang hanya menyimpan data di dalam kamera, atau kamera digital versi terbaru yang
menyimpan data pada memory card dalam jumlah besar, pasti pusing tujuh keliling
jika memory card -nya disita atau dirusak. Berapa banyak kerugian yang harus
ditanggung?

Foto: Roland M Sutrisno

PEMAIN HARPA - Perlu


izin jika hendak mengambil
gambar pemain harpa ini.
Dia memang hanya bermain
di pojokan eskalator sebuah
mal di Northpoint, Atlanta,
Georgia, melantunkan lagu
klasik dan pop, namun kita
tidak bisa semaunya
memotretnya.

Tidak Senang

Ada beberapa sebab seseorang tidak mau difoto, antara lain foto atau gambar tersebut
dapat disalahgunakan, untuk pemalsuan dokumen, untuk pemalsuan wajah, untuk
pelacakan wajah kriminal, dan lain lain.

Alasan lain, khawatir digunakan untuk keperluan iseng dimasukkan ke internet.


Wajahnya tetap tetapi setelah di-mounting dengan menggunakan software tertentu
badannya diganti dengan badan orang lain. Bisa dibayangkan jika orang tersebut
wanita tanpa busana, apa yang bakal terjadi pada si wanita pemilik wajah tersebut?

Lain lagi jika orang yang dicuri gambarnya mempunyai kesalahan dalam
keimigrasian, apakah tidak akan semakin repot dia nantinya jika akan kembali ke
negaranya. Wajahnya akan terekam di kamera dan tentu akan mendapat denda yang
tidak sedikit. Belum lagi kalau wajah seseorang itu mirip dengan penjahat yang
sedang dicari-cari, mungkin saja akan terjadi tindakan salah tangkap. Jika berurusan
dengan polisi tentunya akan sulit dan tidak akan cepat selesai. Paling tidak dia akan
bolak-balik ditanyai polisi.

Itulah bedanya jika berada di negara yang sudah menjunjung tinggi HAM. Jangan
coba-coba iseng dengan kamera Anda. Bidiklah objek yang aman, jangan terlalu
banyak menggunakan lampu kilat karena akan menarik perhatian banyak orang.
Jangan memotret di area militer dan di dalam gedung pemerintahan. Sekali saja kita
melanggar, urusan dengan polisi akan menanti kita. Jadi jangan sembarangan
menggunakan kamera.

Untuk itu, jika hendak membuat foto, paling aman memotret di area wisata seperti
mall, shopping center, kebun binatang, recreation center dan park. Jadi jangan sekali-
sekali membidikkan kamera Anda kepada orang yang tidak setuju terhadap
pengambilan gambar kamera Anda.

Roland M Sutrisno

Membiasakan Memegang Kamera yang


Benar
Foto-foto: Rony Simanjuntak

CARA MEMOTRET - Gambar mulai


dari kiri memperlihatkan bagaimana
cara-cara memegang kamera untuk
memotret dengan berbagai variasinya
dan juga bagaimana saat memegang
kamera yang digunakan berlensa
panjang (tele).

aman boleh berubah, demikian pula


dengan teknologi kamera. Dulu kamera analog, sekarang kamera digital, semua
itu mudah berubah. Cuma satu hal yang sulit berubah dalam fotografi, yaitu soal
kebiasaan, yakni kebiasaan dalam memegang kamera.

Entah kenapa si pemotret melakukan "pelanggaran" dalam memegang kamera.


Mungkin lantaran dianggap hal yang sepele sehingga sering luput dari perhatian.
Ironisnya, kesalahan itu bukan hanya dianut oleh mereka yang ba ru kenal fotografi,
melainkan juga para fotografer profesional sekalipun.

Jangan pernah ada lagi di benak Anda bahwa cara memegang kamera itu memang
masalah kebiasaan jika ingin memperoleh hasil foto yang baik. Bukan apa-apa,
kesalahan dalam memegang kamera akan menimbulkan banyak sekali kerugian.

Kerugian-kerugian itu antara lain adalah tidak lincah dalam memfokus atau
bergoyangnya kamera saat menjepretkan rana. Pada fotografer jurnalis alias wartawan
foto, ketidaklincahan dalam memotret akan
merupakan kerugian besar sebab banyak
kejadian yang hanya
berlangsung sekejap.

Dengan Telunjuk

Pada prinsipnya, kamera


dirancang untuk dijepretkan
dengan telunjuk tangan
kanan, bukan dengan jari
atau bahkan dengan tangan kiri. Maka untuk pemotret yang kidal, ha l ini sedikit
banyak mungkin tidak nyaman, namun harus dilawan dengan kebiasaan.

Coba rasakan untuk menjepretkan rana dengan ibu jari tangan kanan atau juga dengan
jari lain di tangan yang sama. Keleluasaan dalam menekan tombol pelepas rana pasti
lebih rendah daripada menekan dengan jari telunjuk.

Setelah kita menyadari keutamaan tangan kanan pada proses pemotretan, hal ini yang
harus kita sadari adalah pemanfaatan tangan kiri. Dengan konsentrasi tangan kanan
pada penentuan saat untuk menjepretkan tombol pelepas rana, tangan kiri mempunyai
tugas untuk menahan berat kamera saat memfokus.

Pada pemakaian kamera yang berfasilitas autofokus, tangan kiri akhirnya semata
dipakai untuk menambah kestabilan dalam memegang kamera. Kalau pada kamera
sedang terpasang lensa yang panjang, peran tangan kiri dalam menyangga berat
kamera memang tidak bisa dihindari.

Untuk kamera saku yang ringan dan berfasilitas autofokus, pemotretan bisa dilakukan
dengan satu tangan saja. Dan kamera saku yang beredar memang umumnya diranc ang

untuk bisa dioperasikan dengan


satu tangan.

Mata

Pertanyaan yang sering diajukan pemula adalah perlukah


menutup satu mata saat memotret. Untuk menjawab
pertanyaan ini, masalah kebiasaan kembali menjadi jawabannya. Namun kalau belum
terlambat, biasakan membidik sambil membuka kedua mata.
Fotografer profesional hampir semua membuka kedua matanya saat membidik dan
memfokus. Satu matanya melihat dari jendela bidik sementara mata lain menyaksikan
adegan di luar kamera untuk berjaga agar jangan sampai kehilangan beberapa adegan
lain yang saat itu tidak terbidik.

Pada pemotretan yang tidak membutuhkan kewaspadaan ekstra seperti memotret


peragaan busana, konsentrasi mata pada satu titik memang penting. Namun hal ini
pun tidak usah dikaitkan dengan memicingkan salah satu mata.

Memicingkan satu mata jelas menuntut konsentrasi ekstra dan ini sering membuat kita
terlambat dalam memotret cepat. Kalau kita membidik dengan mata kiri, maka mata
kanan mau tidak mau tertutup secara otomatis oleh badan kamera atau oleh tangan
kanan.

Kebiasaan lain yang juga kurang diperhatikan oleh pemotret adalah terburu-buru saat
memijit tombol rana. Jika si pemotret menggunakan kamera saku AF (autofokus),
hasilnya gambar tampak buram (tidak fokus). Kamera belum sempat menyesuaikan
diri, jepretan terlanjur terjadi. Sebaiknya kalau memotret dengan kamera saku AF,
tekan dulu tombol sedikit sekitar dua detik, kemudian ditekan sampai bunyi "ceklek"
terjadi.

Kesalahan lain dengan pemakaian kamera ini adalah saat memotret objek yang
terpencar, misalnya memotret dua orang di depan kita. Kamera menyesuaikan
penyetelan jarak penajaman berdasarkan pantulan yang datang dari benda tepat di
depannya.

Jadi bila dua orang di depan kamera, dan kebetulan titik tengah bidikan jatuh pada
celah antara kedua orang itu, mau tidak mau kamera akan menyesuaikan penajaman
pada benda yang ada di antara dua orang itu. Mungkin gunung nun di jauh sana atau
mungkin pula pohon di jarak beberapa puluh meter. Hasilnya, foto orangnya buram,
sementara gunung atau pohon di kejauhan tampak tajam.

Untuk mengatasi hal ini, sebaiknya saat menekan tombol penyesuaian fokus (belum
menjepret), titik tengah bidang bidik yang tampak di mata di arahkan pada salah satu
dari dua orang yang akan dipotret. Lalu dengan hati- hati geserlah kamera sampai
mendapatkan komposisi yang diinginkan, barulah jepretkan kamera.

Satu hal yang perlu diingat, apa yang tampak di mata dari lubang bidik selalu tajam
sementara di film belum tentu. Mata manusia melihat dengan tajam di lubang bidik
karena punya fasilitas tersendiri untuk itu, sementara kamera butuh penyetelan yang
memakan waktu walau cuma sejenak. Maka disarankan, hentikan kebiasaan lama
Anda, ganti dengan yang baru!

Rony Simanjuntak

Lensa pada Kamera Digital


Oleh Atok Sugiarto
Foto-Foto: Atok Sugiarto

STANDAR - Pemotretan yang


dilakukan dengan lensa standar
hanya akan menghasilkan foto yang
datar.

eperti telah kita ketahui, lensa adalah


salah satu komponen terpenting
dalam fotografi. Demikian pentingnya
lensa hingga sering pula orang
menyebutnya sebagai mata bagi
kamera. Mata yang mampu melihat dari jarak yang teramat dekat hingga jarak yang
jauh sekali. Hal seperti itu terjadi jika pemotret melakukan pergantian lensa sesuai
keinginannya.

Namun, soal lensa ini sering terasa tidak terlalu menjadi perhatian bagi pemakai
kamera digital sekalipun perkembangan kemajuannya sudah sedemikian jauh.

Perhatian pada lensa tidak begitu diperhatikan terutama dari segi jangkauan panjang
fokal maupun materi pembuat lensanya. Pengguna kamera digital lebih sering
mengedepankan atau mementingkan hal pembesaran gambar atau pendekatan subjek
tidak dengan menggunakan pergantian lensanya melainkan dengan digital zoomnya.

Seberapa jauh pengaruh yang didapatkan pada sebuah hasil pemotretan yang
menggunakan lensa tunggal (yang melekat pada kamera digital), atau yang
menggunakan lensa yang dapat ditukar-tukar? Hal ini akan membuktikan betapa
pentingnya sebuah lensa bagi kamera termasuk pada kamera digital. Berikut di bawah
ini akan diuraikan beberapa jenis le nsa yang sangat mempengaruhi hasil foto yang
pembagiannya berdasarkan pada sudut pendangnya.

Sudut Lebar

Lensa sudut lebar (wide angle ) adalah lensa yang memiliki sudut pandang lebih dari
46 derajat. Karena itu umumnya digunakan untuk memotret interior, panorama atau
sekelompok manusia yang membutuhkan cakupan gambar besar. Dengan
karakteristik tersebut maka lensa sudut lebar memiliki ruang tajam yang lebih besar,
distorsi, dan penguatan kesan kedalaman perspektif.

Berdasarkan pada standar fotografi 35 mm, maka panjang dokal lensa yang -dapat
digolongkan sebagai lensa sudut lebar adalah lensa di bawah 50 mm. Dengan
demikian lensa 35 mm, 24 mm, 20 mm atau 16 mm merupakan lensa-lensa sudut
lebar. Lensa sudut lebar yang sudut pandangnya terlebar adalah lensa 12 mm yaitu
sekitar 122 derajat.

Namun demikian, umumnya hanya lensa sudut lebar kisaran 20 mm hingga 35 mm


yang digunakan oleh pemotret karena lensa tersebut cukup luas cakupannya. Bagi
yang senang dengan tampilan gambar yang lebih ekstrem dan mengingin kan cakupan
yang lebih luas lagi, dapat dilakukan dengan lensa sudut lebar 16 mm atau 12 mm.
Cakupan yang teramat lebar hampir menyerupai sudut pandang ikan atau fish eye
tersebut, tidak akan didapat jika pemotret hanya mengandalkan lensa biasa yang
melekat pada kamera digital.

Lensa Normal

Disebut sebagai lensa normal atau lensa standar karena memiliki sudut pandang 46
derajat yang lebih kurang sama dengan sudut pandang mata manusia. Meskipun lensa
merupakan mata kamera tetapi lensa normal agak jarang digunakan untuk keperluan
pemotretan.

Hal ini lebih disebabkan karena munculnya anggapan bahwa lensa normal tidak
mampu memberikan efek fotografis seperti bila pemotret menggunakan lensa tele
panjang atau lensa sudut lebar yang menghasilkan foto-foto yang ekstrem.

Namun, pada beberapa kasus, lensa normal juga dapat dimaksimalkan penggunaannya
khususnya oleh pemotret yang karena suatu keinginan harus menggunakan kekuatan
diafragma besar.

Lensa normal memang umumnya memiliki bukaan hingga f:1,4, juga bagi pemotretan
objek-objek yang cukup lebar.

KABUR - Hasil foto dengan latar


belakang kabur (blur) hanya dapat
dibuat dengan kamera yang
menggunakan lensa tele panjang
dan bukaan diafragma besar.

Lensa Tele

Lensa tele memiliki sudut pandang


yang lebih sempit dari lensa normal
dan memiliki panjang fokal yang lebih
dari 50 mm. Lensa tele memiliki
konsekuensi ruang tajam yang sempit serta perspektif yang dangkal. Karena itu
dengan karakteristik seperti itu umumnya lensa tele digunakan untuk pemotretan
manusia, olahraga, satwa dan juga pemotretan jarak dekat (untuk memperbesar
gambar.

Ruang tajamnya yang sangat sempit sering dimanfaatkan oleh pemotret untuk
mengisolasi subjek pemotretan dengan latar belakangnya. Dalam hal ini untuk
menciptakan foto-foto yang menonjolkan subjek utama dan mengaburkan latar
belakangnya.

Lensa tele terpanjang yang pernah ada adalah lensa 2000 mm dengan f:11. Karena
panjangnya, tentu saja juga berat, maka dalam penggunaannya sangat dianjurkan
untuk memakai bantuan penyangga kamera atau tripod untuk menghidarkannya dari
hasil gambar yang goyang.
Dengan menggunakan lensa panjang 2000 mm maka ekspresi seorang kiper sepakbola
di depan gawang dapat tertangkap dengan jelas. Kiper tersebut akan tampak secara
big close-up dari seberang gawang yang lain. Bahkan untuk kulit atau pori-porinya
sangat mungkin dapat terlihat bila saat memotret mendapatkan pencahayaan yang
memadai.

Kemampuan mendekatkan subjek seperti itu memang tak hanya dapat dilakukan
dengan menggunakan lensa tele yang panjang saja, tetapi juga dapat dilakukan dengan
kamera digital tanpa memakai lensa tele panjang sampai 2000 mm. Yaitu dengan cara
memanfa-atkan optical zoom-nya. Akan tetapi hasilnya adalah gambar atau mutu out-
put yang tak sebaik jika menggunakan lensa secara langsung.

Karena itu menjadi penting artinya penggunaan lensa yang dapat mendekatkan subjek
secara langsung daripada dengan cara memperbesarnya menggunakan optical zoom.
Membesarkan subjek dengan menggunakan optical zoom menjadikan gambar terlihat
pecah-pecah dan sangat kasar akibat pembesaran.

Demikianlah beberapa variabel lensa berdasarkan sudut pandang dan peruntukannya,


sekalipun masih banyak lagi jenis lensa jika digolongkan atas panjang fokalnya. Juga
ada lensa dengan peruntukan yang lebih spesifik lagi seperti lensa makro, lensa fish
eye dan lensa mirror. Tapi setidaknya pembatasan pembahasan atas lensa bagi kamera
digital akan menghasilkan kesimpulan bahwa kualitas sebuah lensa sangat bergantung
pada material untuk membuatnya.

Karena itu, siapa pun pemotret tak akan dapat berharap hasil yang baik dengan lensa
yang material optiknya terbuat dari plastik. Sedang secanggih apa pun lensa yang
material optiknya terbuat dari plastik tak akan mampu meneruskan spektrum warna
sebaik lensa yang material optiknya terbuat dari kaca mineral.

Jadi apa pun jenis dan kelas kamera digital yang digunakan, pastikan lensa yang
merupakan mata bagi kamera itu cukup mampu membuat foto yang baik. Terlebih
jika kamera digital Anda tergolong dalam jenis ultra compact atau compact yang
lensanya tidak dapat ditukar-tukar, maka ketelitian atas aspek kualitas optiknya
menjadi sangat penting untuk diperhatikan.

Agar tidak membuat kesalahan dalam memilih lensa pada kamera maka rajinlah
berdiskusi pada mereka yang lebih berpengalaman dan yang pernah menggunakan
berbagai lensa. Lensa jelas memiliki peran amat penting dalam usaha mendapatkan
gambar yang baik. Kualitas yang dimiliki sebuah lensa merupakan jaminan bagi
penggunanya. Lensa memang tak hanya sebatas mata bagi kamera melainkan juga
merupakan faktor penentuan bagi keberhasilan sebuah pemotretan.*

Membuat Maksimal Gambar Digital


Oleh Atok Sugiarto
Foto-Foto: Atok Sugiarto

TEPAT - Setting yang tepat


berkaitan resolusi, kompresi
warna, ISO dan WB-nya
mendukung lahirnya hasil foto
yang maksimal.

enggunakan kamera digital


dengan harga yang mahal
memang tak selalu menjadi
jaminan bisa menghasilkan
foto/gambar yang baik. Baik
dalam arti hasil "tangkapan" momennya maupun dalam arti sebenarnya, yaitu hasil
mutu cetakannya. Sekalipun kamera itu mahal karena canggihnya fasilitas yang
dimiliki, tanpa orang di belakangnya yang menguasai kesempurnaan fasilitas tadi,
maka hasil maksimal pemotretannya hanya akan menjadi omong kosong belaka.

Karena itu, untuk mendapatkan sebuah hasil pemotretan kamera digital dengan
kualitas gambar yang baik, seorang pemotret selayaknya menguasai terlebih dulu
fasilitas maupun menu di dalam kamera yang digunakannya termasuk sarana output-
nya. Sehingga gambar yang direkam sesuai dengan harapan.

Berikut beberapa hal penting yang harus diketahui dan dikuasai oleh seorang pemotret
yang menggunakan kamera digital sehingga akan mampu menghasilkan cetakan
foto/gambar yang baik.

Resolusi (pixel)

Resolusi yang dinyatakan dalam satuan pixel (picture element) merupakan kumpulan
sejumlah titik yang dalam jumlah tertentu akan membentuk formasi atau susunan
sebuah gambar berdasarkan atas cahaya yang jatuh pada bidang di mana kumpulan
titik-titik tersebut berada.

Resolusi ( input dan output) dinyatakan dengan dpi (dot per inch) atau ppi (pixel per
inch) sangat terkait erat dengan pembesaran sebuah foto. Meskipun demikian bukan
hanya pixel saja yang menentukan seberapa besar Anda dapat menghasilkan sebuah
foto besar yang berkualitas.

Dengan resolusi output sebesar 72 dpi menghasilkan pembesaran hingga 70 x 105 cm,
bila diubah ke 150 dpi maka akan menghasilkan foto untuk pembesaran 33 x 50 cm.
Dan, pada 300 dpi akan menjadi 16 x 25 cm.

Dapat disimpulkan bahwa potensi pembesaran sebenarnya lebih banyak bergantung


bukan hanya pada resolusi input saja tetapi juga bergantung pada bagaimana
mengalokasikan rsolusi input itu sendiri pada suatu bidang cetak.

Kekurangan resolusi input akan mengakibatkan munculnya gerigi digital (jaggies).


Sedangkan kekurangan resolusi output akan me nghasilkan gambar atau foto tampak
kasar karena semakin jauhnya jarak antar-pixel sehingga pixel tampak membesar.
Karena itu pula penting sekali mengetahui kemampuan menentukan nilai yang ideal
antara resolusi input dengan resolusi output, agar kemampuan penggunaan kamera
digital meskipun tidak selalu yang mahal dapat menjadi maksimal.

"Format File" (Kompresi Warna)

Format file merupakan sebuah metode yang telah distandardisasi oleh semua vendor
kamera digital, di mana pemotret dapat memilih kompresi war na sesuai dengan
kebutuhan. Seandainya pemotret berkeinginan hanya untuk mementingkan kualitas
penyimpanan hasil pemotretan di kartu memori maka ia dapat memilih format file
dengan kompresi seminimal mungkin bahkan jika
perlu memilih tanpa kompresi.

RENDAH - Resolusi rendah menghasilkan foto


yang terlihat kasar berbutir-butir karena
pemekaran titik -titik gambar.

Kompresi warna berbeda dengan resolusi (image


size). Jika resolusi akan mempengaruhi bagian
tepi subjek maka format file akan mempengaruhi
warna. Semakin tinggi kompresi sebuah format
file maka akan semakin sedikit nilai warna yang
terkandung di dalam subjek.

Karena itu maka sering bisa kita saksikan subjek


yang terlihat pecah warnanya jika diperbesar dan
tampak kosong tangga nada warnanya teruta ma di
bagian gelap/abu-abu. Sebaliknya jika nilai warna
tidak mengalami kompresi maka kualitas dan
potensi pembesaran foto akan mengikuti
kemampuan resolusi kamera tersebut.

Format file yang mengalami kompresi biasanya dinyatakan dengan label JPEG (joint
photograph expert group ), di mana file ini memberi solusi bagi pemotret akan file
yang kecil tetapi tetap berkualitas. Sedangkan kamera digital yang umumnya tanpa
kompresi ada pada format TIFF atau RAW.

TIFF yaitu standar warna tanpa kompresi sedangkan RAW lebih mempunyai arti
mentah merupakan file non-kompresi yang diperoleh langsung dari CCD kamera
tanpa informasi tambahan dalam bentuk apa pun karena itu file -nya sama dengan
TIFF.

ISO (Tingkat Kepekaan)

Hal yang pertama kali harus dikuasai dari kamera digital adalah kemampuan white
balance (penyeimbang putih) atau disingkat WB-nya dalam menyeimbangkan
kecenderungan warna tertentu pada hasil foto.
Fasilitas WB ini seringkali didefinisikan sebagai suatu kemampuan sebuah kamera
digital untuk menetralisir kecenderungan spektrum warna tertentu menuju suhu warna
yang netral sesuai dengan kaidah fotografi yaitu 5500 Kelvin.

Warna-warna yang terlihat sesungguhnya selalu memiliki suhu warna yang


dinyatakan dalam spektrum Kelvin. Misalnya pada matahari terbit dan matahari
tenggelam (kemerahan) adalah 3500 Kelvin. Siang hari atau pemotretan yang
dilakukan dengan menggunakan lampu kilat (warna putih) adalah 5500 Kelvin dan
langit biru adalah 9000 Kelvin.

Karena itu dapat disimpulkan bahwa fungsi WB pada kamera dig ital adalah
menggantikan kecenderungan warna tertentu dengan suhu warna yang netral agar
warna hasil pemotretan tampak wajar dan seimbang.

Kemampuan kamera digital mendeteksi kecenderungan warna yang terdapat pada


subjek, untuk kemudian mengoreksinya dengan filtrasi warna yang benar itulah yang
akan menjadi penilaian kualitas elektronik sebuah kamera digital.

Karenanya bila kamera digital yang digunakan masih menghasilkan gambar-gambar


dengan kecenderungan warna tertentu walaupun terpasang pada Auto WB, maka
sudah sepatutnya diperiksa lagi kemampuan WB-nya.

Kesalahan-kesalahan koreksi warna pada kamera memang dapat diperbaiki dengan


mengunakan komputer tetapi bagi pemotret profesional tentunya kesalahan-kesalahan
tersebut akan dihindari. Adanya kesalahan-kesalahan akan membuat si pemotret
bertambah sibuk karena perlu waktu untuk Mengoreksi hasil pemotretan atau
mengoreksi kesalahan yang dilakukan oleh kamera yang digunakannya.

Karena itu sudah selayaknya kamera digital yang dijual dengan harga mahal dan
memiliki kecanggihan untuk menghasilkan gambar yang maksimal akan menjadi
lebih andal jika digunakan dengan maksimal.

Bagi penggunanya sendiri (pemotret) setidaknya dapat berharap menghasilkan


foto/gambar yang maksimal karena memang mampu memaksimalkan menu yang
tersedia di kameranya. Hasil pemotretan memang ditentukan oleh siapa manusia
(pemotret) yang berada di balik kamera itu.*

Potret Dengan Digital


PASFOTO - Salah satu bentuk atau pose pasfoto langsung
jadi yang dibuat dengan menggunakan kamera digital
memanfaatkan cahaya ruang seadanya.

ebutuhan akan foto terasa tak akan ada habisnya dari


waktu ke waktu. Kebutuhan itu bahkan tak mungkin
lagi dihindari karena hampir semua kegiatan atau
keperluan dalam hidup ini tak pernah lepas dari suatu
persyaratan yang mengharuskan seseorang memiliki foto
diri. Apakah itu foto diri sebagai identitas (pasfoto tiga
perempat badan) atau foto diri yang menampakkan seluruh tubuh dengan sedikit gaya.

Karena hal itulah maka kita tak dapat menutup mata dengan perkembangan yang
demikian cepat dalam fotografi dan perannya untuk memenuhi kebutuhan itu. Tentu
saja dengan memanfaatkan jasa teknologi digital di dalamnya yang memang telah
lebih mampu menjawab tuntutan kebutuhan.

Sekalipun fotografi, foto potret atau pasfoto khususnya sering dianggap sebagai suatu
pekerjaan yang remeh dan kecil, serta dikesampingkan (karena hanya sebatas
menampilkan potret diri seseorang setengah atau tiga perempat badan yang terasa
menjemukan), namun dalam perhitungan bisnis tidaklah demikian.

Foto diri atau pasfoto sangat diperhitungkan karena selain dianggap mudah serta
efisien dalam perhitungan materinya juga dianggap lebih menguntungkan dalam
perhitungan bisnis. Bukankah dalam kehidupan sehari-hari kita hampir selalu
membutuhkan potret atau foto diri yang hampir tak ada habisnya. Misalnya untuk
melamar pekerjaan, keperluan sekolah, ijazah, KTP, kartu karyawan, SIM hingga
keperluan pembuatan kartu kredit. Di luar itu foro diperlukan pula untuk memenuhi
syarat-syarat tertentu, misalnya untuk ke perluan lomba gadis sampul, loba Abang-
None Jakarta atau sejenisnya, juga untuk keperluan casting film, sinetron, mungkin
juga untuk suatu acara televisi.

Bedanya, untuk persyaratan-persyaratan lain di luar pasfoto tidak terlalu kaku dalam
menampilkan foto diri seperti halnya pada pasfoto KTP. Kalau pun diperlukan foto
diri setengah badan tetapi bukan foto diri yang tampak diam, kaku, menatap lurus ke
arah kamera. Melainkan bisa foto diri yang sedikit tersenyum atau bahkan berpose
macam-macam sesuai ketentuan yang dipersyaratkan.

Persyaratan-persyaratan itu sendiri pada masa kini juga sudah tidak lagi sekadar foto
diri ukuran 2 x 3, 3 x 4, 4 x 6 cm atau ukuran lainnya yang dibuat dengan film instan.
Melainkan foto diri yang sedikit lebih bebas dalam gaya a tau pose, tidak frontal
menghadap ke depan dan bisa dibuat dengan kamera digital. Pembuatan foto potret,
pasfoto atau foto diri dengan kamera digital memang cukup menghemat biaya.

Kelebihan

Memang sayang bila foto diri masih terpola pada sistem lama yang tetap
menampilkan orang dalam format setengah badan menghadap kamera secara frontal
dan dibuat dengan film instan (Polaroid). Beberapa kelemahan pembuatan foto diri
dengan film instan adalah:

Kualitasnya kurang dibandingkan dengan pemotretan menggunakan film atau cetakan


biasa.

Keawetannya pun kalah dibandingkan dengan cetakan film biasa.

Tidak aman jika terjadi kesalahan, baik teknis misalnya kurang cahaya
(underexposed) atau kelebihan cahaya (overexposed ), kesalahan memfokus maupun
kesalahan karena mata subjeknya terpejam.
Perkembangan fotografi digital telah memberikan solusi amat mudah dan menjawab
semua kekurangan yang dilakukan kamera konvensional. Dengan memakai kamera
digital pemotret akan menuai beberapa keuntungan seperti:

Kualitas hasil yang lebih baik jika dibandingkan dengan pemotretan menggunakan
film instan.

Lebih awet (tahan lama) karena dapat disimpan dalam disket atau CD.

Menggunakan jenis kertas yang tahan terhadap sinar sehingga tak diperlukan kamar
gelap untuk mencetaknya.

Dijam in aman saat melakukan pemotretan, sebab bila terjadi kesalahan teknis atau
hasilnya kurang memuaskan maka foto dapat dihapus kemudian langsung menjepret
ulang.

Untuk menghasilkan cetakan berwarna atau hitam-putih cukup mengganti dan


menekan tombol yang tersedia.

Dapat dicetak dalam berbagai bentuk media, misalkan untuk stiker.

Berbagai ukuran yang dikehendaki dapat diatur dengan mudah, misalnya 2 x 3, 3 x 4,


4 x 6 cm, dan seterusnya.

Bisa distempel dan mudah dalam pengoperasian.

Namun demikian, sekalipun kita tahu berbagai kelebihan dan keunggulan serta
kemudahan sistem digital, selayaknya pemotret tak perlu mende-dewakan sistem ini.
Baik atau buruknya foto tetap tergantung pada kemampuan si pemotret.

Kamera

Untuk membuat potret atau pasfoto, pemotret dapat menggunakan jenis kamera
kompak digital yang berkemampuan jepret, hapus dan tanpa risiko biaya.

Namun sekalipun dianggap praktis dan mampu menjawab semua kebutuhan


pemotretan, masih perlu diperhatikan berbagai faktor yang memungkinkan timbulnya
kesalahan dalam pemotretan, antara lain:

Harus diketahui unsur kepekaannya, setara dengan apa yang dinamakan ISO pada
film konvensional.

Berapa bukaan diafragmanya saat melakukan pemotretan dengan menggunakan


lampu-kilat.

Setting kualitas gambar sesuai tujuan yang hendak dicapai.

Bagaimana mengatur white balance (setting filter yang sesuai dengan panas warna
sumber cahaya).
Penggunaan fasilitas zoom jika ada.

Sebagian kamera kompak digital ada yang tidak dilengkapi dengan terminal sinkro
dan hot shoe untuk dihubungkan dengan lampu kilat tambahan. Karena itu perlu trik
khusus yaitu penggunaan filter warna yang
biasanya digunakan untuk lampu kilat.

Foto;Foto , Atok Sugiarto

BERGAYA - Foto diri tiga perempat badan


dengan subjek yang bergaya seperti ini, kini umum
digunakan untuk melengkapi persyaratan suatu
kegiatan.

Cahaya

Baik memotret dengan kamera konvensional,


Polaroid maupun digital, soal cahaya atau lighting
tetap memegang peranan kunci. Dengan cahaya
yang baik pemotret tidak perlu lagi melakukan
berbagai koreksi yang memakan waktu dan sangat
merepotkan. Persiapan dan perhitungan untuk
membuat potret yang baik dan efisien dapat
dilakukan sebagai berikut:

Gunakan lampu kilat dengan payung atau soft-box, cukup dengan satu cahaya saja
ditambah reflektor.

Dekatkan payung atau soft-box sedekat mungkin untuk menghasilkan cahaya yang
merata dan tetap halus.

Letakkan pula reflektor sedekat mungkin secara tepat agar pemantulan cahaya dapat
terjadi dengan sempurna.

Letakkan model atau objek dengan mengambil jarak kurang lebih 30 cm dari
background.

Bila lampu-kilat yang digunakan sudah diatur paling kecil tetapi intensitasnya masih
terasa lebih besar dari bukaan diafragma, tambahkan filter ND yaitu penyaring lembar
plastik tahan panas yang diletakkan di depan lampu-kilat, berwarna abu-abu tetapi
tidak menimbulkan efek warna pada objek yang dipotret. Filter ini dapat mengurangi
intensitas cahaya hingga 1 sampai 2 stop tergantung tebal tipisnya film agar intensitas
cahaya sesuai dengan bukaan diafragma pada kamera.

Potret atau foto diri umumnya memang dibuat dengan menggunakan setting
pencahayaan yang baik dan berimbang, misalnya dengan menggunakan lampu
minimal dua buah. Akan tetapi dengan menggunakan kamera digital,untuk membuat
potret atau foto diri yang baik seorang pemotret cukup menggunakan sebuah lampu,
mungkin juga tanpa lampu bila suasana ruangan cukup terang.
Kamera digital mampu melihat dengan baik secara otomatis (menyesuaikan dengan
cahaya suatu ruangan) dan menghasilkan foto yang baik serta normal dari sisi
pencahayaan.

Hal seperti itu membuat pemotret tak perlu repot-repot mengurus pencahayaan saat
membuat pasfoto. Itulah keuntungan menggunakan kamera digital dalam membuat
foto diri atau potret. Sederhana, efisien tapi tetap indah.

Atok Sugiarto

Bisnis Studio
Foto
Istimewa

SUASANA STUDIO -
Beginilah suasana
memotret dalam sebuah
studio foto. Kamera yang
digunakan memotret di sini
adalah kamera 35 mm yang
sangat fleksibel untuk
dipakai oleh si pemotret.

ntusias masyarakat
terhadap bisnis studio foto masih tergolong sangat rendah bila dibandingkan usaha
lain seperti warung telekomunikasi atau depo isi ulang air minum. Padahal menurut
salah satu pengelola foto studio, Ir. Hendra Kusuma bisnis fotografi itu tidak
mengenal resesi. Umat manusia di muka bumi ini pada hakikatnya butuh dipotret,
bahkan sampai ajal menjemputnya.

Apalagi tegas Hendra, untuk mendirikan studio foto, modal yang dibutuhkan relatif
tidak besar. Semisal untuk pemula, modalnya kurang lebih Rp. 30 juta. Itu sudah
meliputi pengadaan kelengkapan seperti kamera SLR (Rp. 10 juta), lampu studio (Rp
10 juta), 1 unit pc komputer (Rp 5 juta), plus aksesoris/background (Rp 5 juta).

Bahkan saat ini, Hendra dan mitra kerjanya menawarkan solusi pembuatan studio foto
kepada masyarakat yang tertarik menekuni bisnis ini, yakni dengan menawarkan
paket murah pembuatan studio foto.

Lebih jauh dijelaskan, pengenalan terhadap alat-alat. Itu semua adalah keharusan.
Setidaknya pengenalan secara praktis perlu dikuasai. Terlebih dengan kamera,
pasalnya setiap jenis kamera mempunyai karakteristiknya sendiri-sendiri.

Pada studio foto, kamera ibarat senjata pamungkas. Karena itu penting untuk
mengenalnya, setidaknya pengenalan secara praktis perlu dikuasai sebab masing-
masing kamera juga punya kelebihan dan kekurangannya.
Mungkin ada pertanyaan yang menggelayut tentang apa dan bagaimana jenis kamera
yang akan digunakan nantinya sebelum memulai bisnis studio foto. Ada 3 jenis
kamera yang dipakai dalam studio komersial, yakni :

Kamera format kecil (small format camera ):

Jenis kamera ini paling banyak digunakan oleh para fotografer. Kamera ini
merupakan jenis kamera SLR (Single Lens Reflect).

Bahkan menurut Hendra kemajuan teknologi digital pada kamera saat ini
memungkinkan kamera SLR ini melakukan fungsi yang dimiliki oleh kamera format
medium (medium format), seperti memperbaiki distorsi atau perspektif.

Bahkan ukuran film bukan lagi kendala sebab kamera digital saat ini telah memiliki
kapasitas resolusi yang tinggi yaitu 8 megapixel.

Kamera SLR ju ga memiliki kelebihan lainnya, yaitu mudah penggunaannya, ringan


dan sangat fleksibel. Lensa-lensanya mempunyai cakupan panjang fokal yang luas
dalam satu lensa, sehingga memungkinkan kita bekerja dengan hanya menggunakan
satu lensa yang mempunyai cakupan panjang fokal misalnya lensa 28 mm - 200 mm,
alias lensa zoom.

Banyak hal yang bisa dilakukan di studio dengan memiliki satu lensa zoom yang baik.
Misalnya mulai dari pemotretan untuk model seluruh badan, hingga pemotretan close-
up wajah model.

SLR menggunakan film berukuran 135 mm. Namun pada pemakaian lensa-lensa
bersudut lebar, kamera SLR ini memiliki kelemahan seperti distorsi.

Kamera format medium (medium format camera):

Jenis kamera ini seperti diterangkan Hendra keberadaannya mulai tergeser. Soalnya
biaya yang dikeluarkan untuk sekali pemotretan relatif banyak ketimbang
mempergunakan kamera format kecil. Memang kamera ini memiliki beberapa
keunggulan di antaranya adalah ukuran film yang digunakan memungkinkan
pembesaran yang optimal.

Selain itu kamera ini memungkinkan kita juga menggunakan film instan (langsung
jadi), sebelum pemotretan dengan film kamera ini yang berukuran 120 mm dimulai.
Tapi itu semua kini bisa dilakukan oleh SLR format kecil digital.

"Kita tak usah lagi membeli film instan. Kita bisa melakukan koreksi lewat
penampakan di layar LCD. Begitu juga untuk pembesaran ukuran film tidak masalah
karena resolusi digital kamera sudah mencapai 8 megapixel," jelas Hendra.

Selain itu kamera format medium ini terlalu banyak memiliki lensa zoom, sehingga
kita perlu memiliki beberapa lensa untuk kebutuhan pemotretan yang berbeda. Begitu
juga kamera ini relatif berat untuk dapat digunakan tanpa tripod atau digunakan secara
dipegang dengan tangan hand-held . Itu sebabnya lebih sering jenis kamera ini
digunakan di dalam studio.
Jenis kamera ini juga tidak memiliki sistem pengukuran cahaya seperti yang terdapat
pada kamera SLR jenis format kecil (kecuali pada beberapa merek kamera), sehingga
kita perlu memiliki alat lain untuk mengukur pencahayaan bila menggunakan kamera
ini.

Kamera format besar (Large Format Camera ):

Kamera jenis ini digunakan untuk menghasilkan sebuah foto berpresisi tinggi. Para
praktisi periklanan misalnya akan menggunakan kamera ini untuk pemotretan benda
mati (still life), seperti botol sampo misalnya. Kamera format besar, terang Hendra
mempunyai format film besar berukuran 9 x 12 cm yang disebut sheet film karena
pemakainnya per lembar.

Ukuran film lainnya juga bisa digunakan mulai dari ukuran postcard sampai dengan
ukuran 10 R memungkinkan kamera ini digunakan untuk membuat foto-foto yang
dibesarkan seperti poster maupun reklame. Pemakaian kamera ini sulit untuk bisa
dipakai memotret benda-benda yang bergerak karena karakteristiknya yang still life
tadi.

Namun keunggulan atau keuntungan untuk menggunakan kamera ini sangat banyak.
Keunggulan itu antara lain, memotret gedung tinggi tanpa distorsi sebab kamera
format besar berkemampuan untuk TILT and SHIFT, sehingga kesalahan/distorsi
yang terjadi bisa dikoreksi atau dihilangkan. Keunggulan inilah yang tidak dimiliki
jenis kamera lain.

Begitu juga untuk pemotretan yang membutuhkan ketajaman tinggi. Sementara pada
kamera SLR 135/medium format, kemampuan perspektifnya sangat terbatas terutama
pada pemotretan close up , sedangkan kamera format besar dapat menyempurnakan
perspektif. Dengan kemampuan ini kita bisa mendapatkan hasil pemotretan yang
sempurna bentuk-bentuk objeknya.

Di samping itu kamera ini juga memiliki kapasitas untuk menambah ruang ketajaman
dengan gerak khusus pada lensanya. Sehingga selain kita memanfaatkan bukaan
diafragm untuk ketajaman gambarnya, kita masih bisa menambah ruang ketajaman
gambarnya dengan menggerakkan lensanya.

Setidaknya Anda yang ingin menggunakan kamera ini perlu pengetahuan yang lebih
banyak karena sistem pengendalian yang melekat pada kamera tadi sangat khusus.

Berarti butuh waktu untuk mempelajarinya. Selain itu kita perlu membiasakan diri
untuk melihat gambar pada ground glass dalam posisi yang terbalik, atas, bawah, kiri-
kanan.

Pastikan diri Anda mengetahui ketiga jenis kamera tadi sebelum Anda membuka
bisnis studio foto. Pemilihan jenis kamera tadi akan membantu kelancaran bisnis
Anda. Harap jangan salah pilih!

Rony Simanjuntak
Berkreasi dengan Foto Patung
Oleh Rony Simanjuntak

Foto-foto: Rony S

PATUNG BECKHAM - Sebuah patung atlet


sepakbola dunia, Beckham, berlatar belakang
agak kabur yang inkonvensional, yakni
seorang cewek bertampang garang berpistol
berbaju hitam. Suatu paduan yang agak
eksentrik.

Hiasan atau pajangan rumah bentuknya bisa bermacam-macam, namun umumnya


adalah model patung. Entah kenapa mungkin patung dianggap paling nyeni. Jika
Anda seorang pehobbi fotografi, tidak salah bereksperimen dengan benda itu dalam
membuat foto still life. Selain itu, modelnya mudah didapat alias telah tersedia di
rumah. Tak kalah penting, "foto model" patung termasuk juga dalam seni foto. Gak
percaya?

Menurut Leonardi, pakar fotografi, seni foto banyak sekali cabangnya, bisa foto
jurnalistik, foto dokumenter, foto pariwara, foto ola hraga, foto model/fesyen, dan
sebagainya, termasuk juga foto seni atau fine art photography.

Foto still-life bisa dimasukkan kategori seni karena untuk menghasilkan karya
tersebut, kita benar-benar harus berkonsentrasi terhadap suatu pemikiran serius untuk
menciptakan sebuah karya foto dengan media benda-benda mati, misalnya patung-
patung, perangkat makan-minum, benda -benda seni, boneka -boneka porselen,
berbagai benda keramik, bahkan bunga-bunga yang ditata di dalam vas dan benda-
benda kecil lainnya. Itu s emua harus diupayakan agar tampil "hidup" dan menawan.
Untuk itu, perlu dibantu terutama dengan tata penyinaran yang canggih (sophisticated
lighting).

Jelaslah bahwa dalam membuat foto still life, sebenarnya kita bukan sekadar
memotret suatu benda apa ada nya karena kalau seperti itu namanya
mendokumentasikan benda tersebut. Jadi yang berperan dalam hal ini adalah
pengaturan jatuhnya sinar terhadap objek yang kita potret serta mengatur juga
bayangannya agar bisa dimasukkan sebagai bagian tak terpisahkan dalam membentuk
karya foto tersebut.
Penerangan Artifisial

Karena pada umumnya foto still -life dibuat dengan bantuan penerangan artifisial,
maka highlights dan shadows-nya dapat kita atur. Apa itu highlights? Highlights
adalah pantulan cahaya dari benda yang terkena sinar, bergantung padd kuat
lemahnya cahaya dan kontras-lunakya kualitas cahaya. Highlights akan menciptakan
permukaan tekstur benda yang dipotret berubah-ubah bentuk visualnya.

Dalam menyinari objek still life, posisi lampu, kualitas cahaya, da n jumlah lampu
yang dipakai, amat menentukan keberhasilan menghidupkan benda-benda mati
tersebut. Hidup di sini bukan berarti alive, melainkan life like.

Biasanya studi dan latihan dalam membuat foto still life, merupakan suatu batu
loncatan yang kelak bisa diterapkan untuk mendukung pembuatan foto produk yang
komersial, dalam dunia periklanan, misalnya. Foto still-life bukan sekadar
piktorialistik, melainkan memang termasuk piktorial dengan kadar atau sentuhan jiwa
seni yang tinggi. Maka bila Anda dapat lulus dengan baik sebagai pemotret foto still-
life, dapat dipastikan Anda pun akan berhasil cemerlang dalam membuat foto-foto
table -top komersial. Yang membedakan antara still-life dengan foto pack -shot (foto
komersial), terutama hanyalah pada soal label.

Salah satu taktik penampilan foto still-life adalah dengan memilih benda-benda
berwarna putih atau muda seragam seluruhnya, termasuk latar belakangnya; gaya ini
dikenal dengan istilah high-key. Kebalikan dari pilihan itu, bila objek dominan
berwarna hitam atau gelap warnanya, disebut sebagai low-key. Mungkin karena
terbiasa sejak dulu, foto-foto jenis ini selalu bernuansa hitam-putih. Namun sekarang
bukan halangan bila Anda akan menampilkannya dalam tatawarna.

Begitu juga dengan foto makanan terutama bidang seni foto, menurut Jim Hansen
fotografer profesional asal Amerika Serikat, hal yang terpenting dalam memotret
makanan adalah bagaimana membuatnya tampak menarik dan membangkitkan selera.
Hal ini dapat tercipta lewat beberapa cara, seperti teknik pencahayaan, penataan
makanan semenarik mungkin, dipadu dengan set up sekelilingnya. Untuk mencapai
tujuan ini, pada umumnya pemotret di Amerika memakai jasa food stylist untuk
penataan di atas meja.

PAJANGAN - Foto seperti ini bisa


dijadikan pajangan di kamar anak-
anak. Jika mau lebih cerah, ganti
latar belakangnya dengan warna
merah jambu atau abu-abu dan
lainnya. Benda-benda seperti itu
mudah ditemukan. Dengan kamera
saku digital pada modus makro,
refleksi kilauan sinar putih
menyerupai mutiara bisa
dihasilkan . Sebuah kreasi sederhana
yang bisa dibuat oleh siapa pun.

Dari Atas
Jim biasanya menyediakan dua piring untuk satu macam makanan, "Biasanya piring
pertama saya sebut stand in , dipakai sebagai contoh saat melakukan percobaan
dengan polaroid. Dan yang terakhir disebut hero , untuk pemotretan yang sebenarnya,"
jelasnya. Hal ini dilakukan agar kesegaran dan penampilan makanan dan minuman
yang akan difoto tetap terjaga.

Tentang pemilihan angle Jim mengaku memang lebih suka mengambilnya dari atas.
Alasannya, "Sudut ini akan memperlihatkan secara lengkap apa saja yang ada di atas
piring. Namun tidak ada salahnya pula bila Anda ingin mencoba yang lain." Kedua
hal itu merupakan unsur utama dalam fotografi, "Jantung sebuah studio adalah
kamera, sedangkan pencahayaan adalah unsur utama dari sebuah foto. Bagi saya
sendiri, cahaya dapat memberikan arti serta menggugah perasaan."

Ketika baru belajar, Jim merasakan bagaimana ia bergelut untuk menguasai kedua hal
ini. Karena kecenderungan tahun 1970-an, para fotografer dan penikmatnya lebih
menyukai foto dengan pencahayaan yang rata, terang dan jelas. Tetapi bagi Jim terasa
monoton. Sampai suatu saat ia menyadari bahwa memotret pada dasarnya adalah
pemakaian satu kamera dan satu lampu. Proses inilah yang meng- awali semangatnya
untuk semakin menyukai fotografi.

Untuk kemudahan bekerja, sebuah studio foto komersial biasanya memerlukan


beberapa jenis lampu, seperti softbox besar berukuran sekitar 1x2 meter, untuk
mencahayai bidang yang besar. "Jangan sekali-kali menggantikanya dengan beberapa
softbox kecil, karena saturasi warna yang dihasilkan akan berubah pula" ujar Jim.

Selain itu diperlukan pula beberapa lampu lain sejenis strobe dan spot seperti Pulso
Spot4, Profil 11/26 yang diproduksi Broncolor. Merancang dudukan lampu pada rel di
langit -langit (ceiling rail) akan lebih efektif dan aman, daripada memberikan kaki
untuk setiap lampu.

Secara umum, Jim mengakui tidak begitu suka memakai terlalu banyak lampu karena
akan menimbulkan semakin banyak bayangan, "Untuk itu sangatlah penting untuk
memperhitungkan secara cermat, berapa banyak cahaya yang diperlukan termasuk
besar jangkauan yang akan terjadi," papar Jim yang telah matang dengan
pengalamannya.

Jim juga banyak melakukan improvisasi dalam mengatur lighting , dan bahkan tidak
lagi peduli akan teknik yang ada. Hal ini tampak dalam workshop yang diberikannya.
Beberapa properti seperti glass block , cermin, kaca prisma, gelas, dapat memberikan
efek tersendiri yang juga sangat artistik dalam pencahayaan.

"Teknik pencahayaan ini merupakan perkembangan dari teknik yang saya pakai
dahulu. Dan permainan cahaya sesungguhnya bukan hanya teori tetapi juga perasaan,"
katanya lagi.

Mengenali kamera dan lensa secara mendalam merupakan hal yang penting dan
mutlak. Jim sendiri kerap menentukan lensa yang akan dipakainya, dengan cara
membidik lewat sebuah bidang berlubang segi empat ditengahnya.
Biasanya Jim dapat langsung mencari dan memperhitungkan komposisi, format
sekaligus kroping yang akan dilakukannya. "Dengan cara ini, pekerjaan kita lebih
efisien. Tidak perlu terlalu banyak mengubah tata letak kamera apalagi mengganti-
ganti lensa karena salah pilih," Jim menjelaskan. *

Kemajuan Fotografi dan Peran


Pemotret
erkembangan yang terjadi di bidang fotografi saat ini memang sangat
mengagumkan. Pasti tidak pernah terbayangkan oleh para penemu awal teknologi
pembekuan gambar tersebut. Pada masa mereka, untuk merekam gambar sebuah
pohon di taman misalnya, diperlukan waktu panjang agar pantulan cahaya
menimbulkan reaksi kimia pada lempeng logam atau kaca yang telah dilapisi bahan-
bahan kimia peka cahaya. Sosok manusia yang akan dipotret harus meletakkan
kepalanya pada semacam sandaran kepala khusus agar tidak goyang saking lamanya
waktu yang dibutuhkan untuk merekam gambarnya.

Lalu, berbagai perkembangan terjadi sejalan dengan berlalunya waktu. Film dibuat
terus semakin peka dan tidak lagi berupa lempengan kaca, tetapi seluloid. Teknologi
kamera pun terus berkembang dengan lensa-lensanya yang sedemikian rumit, yang
gunanya untuk memotret apa saja.

Kemudian kejutan terakhir adalah teknologi digital yang hadir dalam dunia fotografi.
Berbagai kemudahan baru pun ditawarkan pada penggemar potret-memotret.

Dengan kamera digital pemotret tidak lagi harus mengintip dari lubang pembidik
kamera. Soal kepekaan film pun bukan soal.

Pemotret tidak lagi harus mengganti-ganti film dengan kepekaan berbeda untuk
berbagai jenis pencahayaan yang dihadapinya saat bekerja.

Teknologi fotografi digital mampu menghadapi berbagai kondisi cahaya, sehingga


persoala n kepekaan film tidak lagi menghambat.

Demikian pula dengan digital maka masalah memproses film juga sudah menjadi
persoalan masa lalu. Cukup bila pemotret punya pencetak (printer) yang memadai
untuk mencetak hasil pemotretan, maka karya fotonya langsung dapat disajikan.

Tidak lagi perlu ke lab proses foto, kecuali pemotret memang ingin menyuguhkan
sesuatu berkaitan dengan fotonya, yang terpaksa harus dikerjakan di lab tersebut.
Masalah yang mungkin dianggap belum teratasi dalam fotografi digital adalah
kekasaran butir -butir pada gambar yang dihasilkan bila dibesarkan. Konon untuk hal
ini pemotretan memakai film masih dirasa lebih unggul.

Teknis - Artistik

Itulah sebagian gambaran betapa majunya fotografi sekarang. Setelah kemajuan itu
terjadi, muncullah anggapan secara umum betapa mudah untuk memotret jadinya.
Benarkah? Mungkin benar namun mungkin juga tidak. Bisa benar kalau yang
dilakukan adalah hanya asal memotret untuk menghasilkan asal gambar/foto belaka.

Namun pernyataan itu bisa tidak benar alias konyol, sebab tetap saja ada berbagai hal
yang boleh dibilang mustahil dilakukan oleh kamera itu sendiri, secanggih apa pun
dia.

Secara umum diketahui paling tidak ada dua hal yang hadir dalam fotografi, yaitu hal
teknis dan hal artistik. Hal yang berkaitan dengan teknis jelas terbantu bahkan teratasi
sangat dengan kemajuan teknologi di bidang ini sekarang dan semakin teratasi dengan
hadirnya fotografi digital.

Namun mengatur isi gambar, atau menempatkan subjek dan hal-hal lain yang
berkaitan dengan sasaran pemotretan tentu saja tidak bisa dilakukan oleh kamera itu
sendiri.

Bayangkan! Tidak mungkin kan Anda "menyuruh" kamera dan lensa agar
menempatkan sasaran pemotretan dalam bingkai atau bidang gambar/foto sehingga
tercipta sebentuk gambar/foto yang menarik nantinya. Hal yang seperti inilah yang
terasa sekali masih perlu dipahami oleh banyak pemotret.

Meskipun perlengkapan memotret mereka sedemikian canggih, persoalan seperti ini


masih tetap tampil dalam berbagai karya foto. Jangan lupa, semaju apa pun teknologi
fotografi, peranan pemotret tetap saja diperlukan.

Dalam fotografi tentu saja kita tak bisa lepas misalnya dari soal komposisi di mana
untuk itu dibutuhkan sebuah bidang gambar. Saat ini bidang gambar yang lazim kita
temukan adalah bentuk empat persegi panjang. Bentuk bidang gambar lainnya, seperti
bujur sangkar, lonjong atau lingkaran sudah sangat jarang digunakan.

Nah, dalam bidang gambar inilah terdapat tempat- tempat tertentu untuk menempatkan
motif utama dari foto. Maksud menempatkannya di situ agar foto tersebut menarik
mata orang yang melihatnya dan menjadi bagian utama dari sebuah foto.

Tempat-tempat tertentu inilah yang disebut sebagai "titik kuat" dalam bidang gambar
tadi. Bagian tengah sebuah bujur sangkar atau empat persegi panjang sebenarnya
merupakan tempat yang utama dan penting. Tetapi rasa keindahan orang sukar
menerimanya sehingga menempatkan tepat di tengah dirasa kaku dan karena itu
sebaiknya menggesernya ke bagian lain.

Titik Kuat

Seperti kita ketahui, bidang gambar sebuah foto adalah bentuk empat persegi panjang.
Saat memotret, empat persegi panjang itulah bidang gambar kita dilihat dari jendela
pembidik atau layar gambar (LCD) kamera digital.

Lalu bagaimana menentukan titik-titik kuat di situ di mana sasaran pemotretan yang
penting ditempatkan agar menarik. Cara yang paling mudah adalah membagi sisi-sisi
persegi panjang bingkai foto tadi menjadi tiga bagian yang sama.
Kemudian titik-titik pembagi tersebut dihubungkan sehingga semua garis
penghubungnya bersilangan satu sama lain. Pada titik-titik persilangan tadilah sasaran
pokok dari sesuatu yang dipotret sebaiknya ditempatkan. Pada prinsipnya, titik kuat
dalam empat persegi panjang adalah satu atau dua titik yang tidak terletak pada garis
yang sama.

Penempatan subjek pada titik kuat seperti itu tentu saja tidak dapat dilakukan secara
otomatis oleh sebuah kamera, secanggih apapun kamera itu. Di sinilah antara lain
peran si pemotret diperlukan.

Dia perlu berpikir dan harus memiliki citarasa keindahan tertentu. Si pemotretlah
yang tahu apa hal penting atau menarik dari yang dipotretnya, dan ke bagian mana
pada bidang gambar hal itu ditempatkan agar fotonya menarik, bukan kamera.

Jika bidang gambar yang empat persegi panjang itu posisinya berdiri dan bukannya
membujur, maka ada cara lain lagi untuk menentukan tempat titik kuat.

Si pemotret harus menarik semacam garis diagonal dalam benaknya, dari sudut kiri
atas ke sudut kanan bawah. persegi panjang tersebut. Pada garis diagonal tersebutlah
tempat titik-titik kuat untuk bidang gambar.

Garis diagonal tadi dibagi menjadi empat bagian sehingga di situ hadir tiga titik kuat.
Sebutlah tiga titik tadi sebagai x, y dan z. Umumnya mata orang yang memandang
sebuah gambar yang ada di bidang seperti itu akan dimulai dari titik yang di atas yaitu
x selanjutnya meluncur ke titik y lalu ke z. Dengan patokan seperti itu pemotret tentu
akan lebih mudah untuk menentukan tempat yang terbaik untuk subjek yang
dipotretnya.

Bentuk dan ukuran bidang gambar atau foto pun merupakan hal yang cukup penting
dalam menyajikan foto. Pengaruh hal ini cukup kuat terutama berkaitan dengan apa
yang disebut sebagai ekspresi gambar.

Selanjutnya ada lagi yang disebut sebagai garis pengarah. Bukankah seseorang yang
melihat gambar biasanya akan mencari-cari di mana pandangannya bisa hinggap
kemudian melanjutkan pandangannya tersebut. Di sinilah semacam garis pengarah
diperlukan.

Mata yang melihat sebuah foto dan tidak mendapatkan titik awal untuk hinggap yang
dicarinya akan merasa jemu. Selanjutnya timbul rasa enggan yang mematikan
perhatiannya. Sedangkan bila pada pandangan pertama mata telah mendapat tempat
hinggap lalu sesudah itu mendapat tuntunan lebih lanjut, tentu saja akan timbul kesan
yang makin lama semakin kuat sampai akhirnya berhenti beristirahat. Itulah peran
garis pengarah yang disebutkan di sini.

Apa yang dikemukakan di atas adalah sebagian dari hal lain yang berkaitan dengan
pekerjaan potret memotret yang tetap saja harus dikerjakan oleh si pemotret dan
bukan bagian dari pekerjaan kamera serta peralatannya yang canggih. Ide dari diri si
pemotret jelas perlu, demikian pula kemampuan matanya untuk melihat dan
memperkirakan seperti apa jadinya fotonya kelak.
Mungkin ada yang mengganggap bahwa dengan digital, bagian-bagian tersebut dapat
dikerjakan ole h program pengolah gambar di komputer.

Siapa tahu bisa. Tapi kalau pun bisa, benarkah yang dibuat itu masih dapat disebut
sebagai sebuah karya fotografi? Siapa tahu lebih tepat disebut sebagai suatu
kebohongan?

Bonar Simorangkir

Meminimalkan Kerugian Saat


Memotret
edengarannya sepele, tapi akibatnya cukup fatal. Begitulah masalah yang timbul
jika kita salah memegang kamera. Ironisnya, kesalahan ini bukan hanya monopoli
para pemula, bahkan juga kalangan profesional terkadang tidak memegang kamera
dengan benar. Secara jujur, kesalahan memegang kamera ini terkait erat dengan
masalah kebiasaan. Lantas, apakah kita mau terus-menerus menanggung banyak
sekali kerugian yang bisa terjadi itu?

Kerugian-kerugian itu antara lain adalah tidak lincah dalam memfokus atau
bergoyangnya kamera saat menjepret rana. Pada fotografer jurnalistik (wartawan
foto), ketidaklincahan dalam memotret akan merupakan kerugian besar sebab banyak
kejadian yang hanya berlangsung sekejap.

Pada prinsipnya, kamera dirancang untuk dijepretkan dengan telunjuk tangan kanan,
bukan dengan jari lain atau bahkan dengan tangan kiri. Maka untuk pemotret yang
kidal, hal ini sedikit banyak mungkin tidak nyaman, namun harus dilawan dengan
kebiasaan.

Pada pemakaian kamera yang berfasilitas otofokus, tangan kiri akhinya semata
dipakai untuk menambah kestabilan dalam memegang kamera. Kalau pada kamera
sedang terpasang lensa yang panjang, peran tangan kiri dalam menyangga berat
kamera memang tidak bisa dihindari.

Untuk kamera saku yang ringan dan berfasilitas otofokus, pemotretan bisa dilakukan
dengan satu tangan saja. Dan kamera saku yang beredar memang umumnya dirancang
untuk bisa dioperasikan dengan satu tangan.

Pertanyaan yang sering diajukan pemula adalah, perlukah menutup satu mata saat
memotret. Untuk menjawab pertanyaan ini, masalah kebiasaan kembali menjadi
jawabannya.

Namun kalau belum terlambat, biasakan membidik sambil membuka kedua mata.
Fotografer profesional hampir semua membuka kedua matanya saat membidik dan
memfokus.
Satu matanya melihat dari jendela bidik sementara mata lain menyaksikan adegan di
luar kamera untuk berjaga agar jangan sampai kehilangan beberapa adegan lain yang
saat itu tidak terbidik.

Pada pemotretan yang tidak membutuhkan "kewaspadaan" ekstra seperti memotret


peragaan busana, konsentrasi mata pada satu titik memang penting.

Namun hal ini pun tidak usah dikaitkan dengan memicingkan salah satu mata.
Memicingkan satu mata jelas menuntut konsentrasi ekstra dan ini sering membuat kita
terlambat dalam memotret cepat.

Kalau kita membidik dengan mata kiri, maka mata kanan mau tidak mau tertutup
secara otomatis oleh badan kamera atau oleh tangan kanan. Dengan membidik
memakai mata kiri, tanpa memicingkan mata pun kita sudah mendapat "konsentrasi"
dalam membidik.

Setelah paham dengan teknik di atas. Hal lain yang tak kalah penting adalah:
perawatan film. Kualitas gambar dan warna pada film sangat dipengaruhi oleh
perlakuan kita terhadap film itu sendiri.

Untuk itu sangat penting menjaga kestabilan suhu film sebelum dan sesudah dipakai
(18-21 derajat Celcius) selalu memastikan bahwa film itu dalam keadaan baik sejak
dibeli (ada di lemari pendingin), memakainya sampai kembali ke laboratorium untuk
dicuci.

Letakkan stok film di tempat yang dingin selama berada di lapangan, misalnya
memasukkan film ke freezer di hotel. Bila harus masuk ke pedalaman, gunakan cairan
khusus pendingin atau es batu yang dimasukkan ke kantong plastik.

Setelah itu masukkan ke kotak kedap udara, di mana udara dingin tidak keluar dan
panas tidak masuk. Ambil film untuk pemakaian sehari, misalnya 10 rol, setelah itu
dimasukkan lagi.

Letakkan film pada bagian tas yang tidak terlalu kena panas. Misalnya bagian bawah
tas. Jauhkan pula dari panas atau uap tubuh. Jangan meletakkan film di dalam mobil,
apalagi saat cuaca panas. Setiap film, khususnya slide memiliki kecenderungan warna
yang berbeda -beda.

Setelah film aman, kita perlu riset lokasi. Tujuannya adalah mempelajari daerah yang
akan dikunjungi atau diliput. Misalnya, berapa besar daerahnya, apa daya tariknya.
Jenis foto yang akan diambil. Mengetahui apa yang akan difoto pada akhirnya
berpengaruh pada persiapan lensa yang dibawa ke lokasi.

Misal, acara kesenian di malam hari memerlukan aperture yang besar, foto olahraga
membutuhkan lensa tele, sementara le nsa wide banyak digunakan untuk memotret
arsitektur dan lansekap. Selain itu perlu mengetahui fasilitas transportasi dan
akomodasi yang ada.

Lalu merencanakan paket kamera. Dalam membuat foto wisata, misalnya, sebaiknya
membawa peralatan seringan dan seringkas mungkin.
Untuk itu cukup membawa dua bodi kamera (format medium), lensa pendukungnya
masing-masing wide, semi wide, normal, semi tele, tele. Flash, tripod, extension tube,
konverter dan prism finder.

Extension tube digunakan untuk menambah kemampua n lensa dalam pemotrean


makro atau menambah kemampuan makro pada beberapa lensa yang tak memiliki
fasilitas ini.

"Lensa tele yang bisa dibawa adalah 300 mm. Sementara kalau perlu lensa panjang
pakai konverter. Untuk yang lebih close-up, bunga misalnya, pakai lensa 250 mm
dengan extension tube. Dengan alat ini bisa memotret makro kapan saja. Bawa tripod,
selain agar hasil fotonya benar-benar tajam, tripod juga sangat membantu fotografer
yang gemar menggunakan film ber-ISO rendah.

Peralatan itu juga harus dikemas dengan baik dan aman. Aman dari perubahan cuaca
panas, hujan dan aman dari tangan-tangan jahil di tempat keramaian. Untuk tas
kamera, selain kedap air dan memiliki pembagian ruang yang baik, sebaliknya juga
tidak menyolok.

Hal lain yang tak kalah menarik adalah menjaga sebaik mungkin film yang telah
terpakai. Setelah selesai memotret, bawalah selalu sendiri film yang telah terpakai di
dalam tas. Film itu sangat berarti.

Apalagi bila kita pulang naik pesawat terbang. Kalau diletakkan di dalam koper lalu
kena sinar X saat melalui pintu periksa, film akan rusak.

Sementara itu, Informasi yang lengkap tentang daerah itu sangat penting. Saat
mengunjungi sebuah tempat, Anda akan bertanya, apakah daya tarik atau kekhasan
daerah tersebut. Konsep foto sepert i apa yang akan saya buat. Demikian pula saat
memotret alam, di mana setiap daerah memiliki kekuatan sendiri.

Yang penting, setelah mengetahui kekuatannya kita juga tahu bagaimana cara
menangkap atau membuat fotonya. Soal gaya, bergantung pada masing-masing
fotografer, baik teknis maupun pendekatan terhadap objeknya. Setiap fotografer
memiliki sudut pandang dan nilai artistik yang berbeda-beda.

Sedangkan untuk mengambil pemandangan yang lebih berdimensi, ada 3 hal yang
ditekankan yaitu unsur latar depan (foreground), tengah (objek utama) dan latar
belakang (background). Dahan, batang pohon, batu, serumpun bunga, bisa dijadikan
latar depan.

Dengan berpindah tempat sedikit saja, kita bisa mendapat foto yang baik. Banyak
gambar yang nampaknya biasa saja, tetapi menjai lebih baik setelah saya bergeser
sedikit dan menemukan sesuatu, yang bisa menjadi latar depan.

Pada kenyataannya dalam memotret, tentu tidak setiap saat kita menghasilkan foto
hebat. Tetapi keinginan untuk membuat seperti itu harus selalu ada. Setidaknya,
dalam sehari kita menghasilkan satu saja foto hebat, yang membuat kita benar-benar
merasa puas.
RONY SIMANJUNTAK

Istilah Fotografi

LS:

Singkatan dari longshot. Dengan lebih mendekatkan objeknya, shot ini tetap masih
memberikan sudut pandang lebar tetapi sudah mulai mengarahkan perhatian pada
objeknya dengan memisahkannya dari latar belakang yang mungkin mengganggu.

MACRO:

Makro. Pengertiannya dalam fotografi adalah sarana untuk pemotretan dari jarak
dekat. Fotografi makro akan menghasilkan rekaman (pada film) yang sama besar
dengan benda aslinya (1:1), atau paling kurang separuh dari benda aslinya (1:2),
namun demikian pada lensa -lensa jenis zoom yang mempunyai fasilitas untuk
menghasilkan rekaman seperempat dari benda aslinya (1:4) juga sudah bisa dikatakan
makro.

MACRO LENS:

Lensa makro. Lensa yang digunakan untuk pemotretan dengan objek yang berukuran
atau pemotretan berjarak dekat (mendekatkan pemotret ke objek), umumnya dipakai
untuk keperluan reproduksi karena dapat memberikan kualitas prima dan distorsi
minimal. Misalnya: untuk memotret bunga, serangga, dll.

MACRO PHOTO:

Dibuat dari jarak dekat, bisanya tentang benda atau binatang kecil. Perlngkapan
kerjanya biasanya menggunakan lensa makro untuk mendekatkan pemotret ke objek
fotonya .

MAGNETIK:

Berdaya magnet.

MAGNIFICATION:

Pembesaran. Dikukur dari gambar film dibandingkan dengan ukuran aslinya.

MANIPULASI FOTOGRAFI:

Teknik mengubah hasil cetak yang ditangkap oleh kamera untuk menciptakan suasana
tertentu. Foto-foto realitas dikembangkan sedemikian rupa sehingga menghasilkan
gambar yang tidak biasa lagi.

MANUAL:

Dikerjakan dengan menggunakan tangan dengan mengesampingkan tenaga otomatik.


MEDIUM FILM:

Film dengan kecepatan sedang (ISO 100, 200). Kelompok film yang paling popular
dan banyak diminati pemotret. Ideal untuk pemotretan dalam cuaca yang terang/cerah.

MEDIUM FORMAT CAMERA:

Kamera format medium. Adalah jenis kamera SLR yang menggunakan jenis film 120
mm. Dibandingkan dengan kamera format kecil, kamera ini mempunyai keunggulan
dalam hal pembesaran cetakannya yang optimal sehingga umumnya dipergunakan
untuk memotret objek orang (potret) yang berkarakter, yang menampakkan detail kuat
seperti misalnya kulit keriput orang tua.

MEGALIGHT:

Adalah sebutan untuk sebuah lampu flood yang mempunyai kapasitas atau
kemampuan cahaya yang amat besar hingga 7 meteran.

MESNICUS LENS:

Adalah lensa tipis yang berbentuk bulan sabit.

METERING:

Pola pengukuran cahaya yang biasanya terbagi dalam 3 kategori. Centerweight,


evaluative/matrix dan spot.

METERING CENTER WEIGHT:

Pola pengukuran cahaya yang menggunakan 60 persen daerah tengah gambar.

METERING MATRIX:

Pola pengukuran pencahayaan berdasarkan segmen-segmen dan prosentase tertentu.

METERING SPOT:

Pola pengukuran cahaya yang menggunakan satu titik tertentu yang terpusat.

MF:

Manual Focus, adalah cara kerja menemukan fokus atau penajaman gambar yang
dilakukan dengan menggunakan tangan.

MICRO DIAPRISM:

Kumpulan prisma-prisma kecil yang berfungsi untuk mendapatkan ketajaman ga mbar


melalui pengamat.

MCROPRISM:
Prisma mikro. Sistem penemu jarak optis yang
menggunakan prisma halus atau kumpulan prisma-
prisma kecil yang berfungsi untuk mendapatkan
ketajaman gambar melalui pengamat.

MICROPHOTOGRAPHY:

Fotografi yang menggunakan film berukuran kecil


dengan menggunakan bantuan mikroskop.

Atok Sugiarto

Hitam Putih atau Berwarna


Oleh ATOK SUGIARTO

Foto: ATOK SUGIARTO

BERWARNA - Untuk suatu foto yang sengaja mengekspose warna, tentu tak ada
pilihan lain selain memakai film berwarna.

etiap pemotret pasti berharap apa yang dilakukannya dalam memotret berhasil
dengan baik. Dan, bila itu mengenai hasil dalam suatu pemotretan, yang harus
dilakukannya adalah mempersiapkan diri dalam segala sesuatunya secara baik.
Apakah itu mengenai persiapan peralatannya atau tentang lokasi pemotretan. Tak
luput tentunya mengenai konsep penyajian fotonya.

Karena itu, sebelum memotret, sebaiknya selalu diawali terlebih dahulu dengan
mempelajari objek dan peristiwanya. Yang harus dilakukan untuk menjawab
keinginan tersebut di antaranya adalah memperhatikan pemilihan atau penggunaan
film yang akan dipakai-apakah menggunakan film berwarna atau film hitam-putih.

Bila pilihan penggunaannya tepat, akan menghasilkan foto yang sesuai dan baik.
Karena itu, tent ukan pilihan penggunaan, khususnya mengenai film berwarna atau
film hitam-putih, karena pilihan film merupakan suatu kunci keberhasilan sebuah
foto.

Masing-masing film memang mempunyai sifat yang berbeda -beda, antara satu merek
film dan merek film lainnya , terlebih antara film berwarna dengan hitam-putih. Di
antara film-film tersebut tidak ada yang unggul atau diunggulkan, hanya memang
karena pilihan penggunaannya yang tepat maka hasilnya pun menjadi maksimal.
Pilihan itu di antaranya dapat dipertimbangkan berdasarkan hubungannya dengan
objek serta keperluan atau kegunaannya.

Berwarna
Ada yang berpendapat bahwa foto berwarna memang memberi kesan lebih alamiah
dibanding dengan film hitam-putih, dan ini adalah salah satu perbedaan terbesarnya.
Akibatnya pula jika objek dan gambar yang dibuat merupakan pertimbangan yang
penting, maka pertimbangan menggunakan film berwarna lebih baik. Hal ini sering
berlaku terutama pada pemotretan ilmu pengetahuan di mana pendekatan keaslian
yang direkamnya sangat penting. Misalnya warna-warni bunga, burung-burung, buah-
buahan, mode suatu pakaian, matahari yang terbit dan tenggelam sampai suatu
lukisan.

Jika pembuatan fotonya didasarkan pada penafsiran yang penuh daya cipta, maka
pilihan berwarna atau hitam-putih bukan ditentukan oleh objeknya tetapi oleh sesuatu
yang tercipta dalam angan-angan pengetahuan pemotretnya.

Banyak foto pemandangan yang enak dipandang menjadi sangat membosankan


karena dibuat dengan menggunakan film berwarna. Tetapi pemandangan yang sama
diterjemahkan dalam imajinasi hitam-putih sering memberikan hasil yang lebih bagus
justru karena tidak berwarna. Pada pemotretan hitam-putih yang baik umumnya
membuat kesan yang lebih menyenangkan dibanding yang menggunakan film
berwarna.

Foo berjudul "Monas" dapat menjadi contoh untuk mempertimbangkan penggunaan


film dalam pemotretan. Apakah harus menggunakan film berwarna atau hitam-putih
terpulang pada pemotret untuk suatu tujuan yang bagaimana yang dikehendaki.

Pertimbangan

Apakah objek yang akan difoto menggunakan film berwarna atau hitam-putih,
sesungguhnya bisa sangat tergantung pada kondisi keuangan pemotretnya. Karena
bagaimanapun pertimbangan ini akan sangat bergantung pada biaya yang harus
dikeluarkan.

Seorang pemotret amatir membuat suatu foto untuk sua tu kepuasan atau kesenangan,
karena itu sedikit sekali mempertimbangkan masalah biaya yang harus dikeluarkan.
Selama yang diangan-angankannya untuk melakukan pemotretan terwujud maka
apakah harus menggunakan film berwarna atau hitam-putih bukan masalah. Sekalipun
itu juga harus dilakukannya hingga mengeluarkan dana yang besar.

Sebaliknya, pemotret profesional atau yang sengaja melakukan pemotretan untuk


mencari nafkah, maka akan melakukan pertimbangan menyangkut pilihan film yang
akan digunakan karena hal itu berkaitan erat dengan pesanan seperti apa yang akan
dibuat demi hematnya biaya.

Foto berwarna tentunya mahal jika dibandingkan dengan film hitam-putih karena
lebih sukar membuatnya. Proses laboratoriumnya yang harus ditangani orang lain
juga menjadika n ongkos yang dikeluarkan lebih mahal dibandingkan dengan film
hitam-putih, karena hitam-putih dapat ditangani sendiri secara mudah dan murah.

Pertimbangan lain apakah harus menggunakan film berwarna atau hitam-putih adalah
menyangkut keperluannya. Pada kebanyakan pemotret atau wartawan foto koran
maka pilihan penggunaan film adalah pada hitam-putih. Hal itu terjadi terutama
karena alasan-alasan teknis menyangkut penggunaan film ber-ISO
tinggi untuk membekukan gerakan dalam liputannya, atau karena
adanya larangan menggunakan lampu kilat.

Demikian juga dengan pecinta fotografi amatir yang pertimbangan


kesenangan dan kepuasaan adalah tujuannya. Maka, meski
perkembangan dan pemakaian film berwarna telah melampaui jauh
film hitam-putih, masih saja banyak pemotret bertahan untuk
memilih menggunakan film hitam-putih karena anggapan jenis ini
akan tetap survive.

Nikmatnya menggunakan film hitam-putih sesungguhnya bukan


hanya saat mengabadikan berbagai objek, melainkan juga pada
saat mengembangkannya di kamar gela p. Dengan film hitam-putih
pemotret dapat melakukan berbagai eksperimen, membuat
bermacam-macam manipulasi cetakan. Dengan film berwarna hal
itu pun memang bisa dilakukan tetapi biayanya pasti akan berlipat-
lipat.

Film hitam-putih hingga kini memang masih selalu dicari oleh pemotret, baik amatir
maupun profesional. Berbagai lomba foto nasional maupun internasional juga masih
memperlombakan kategori hitam-putih. Bahkan seiring dengan kembali hadirnya para
"seniman foto" dalam mempertontonkan berbagai keunggulan karya fotonya
menggunakan film hitam-putih, maka kini sebuah perusahaan film telah
mengantisipasi dengan menciptakan film hitam-putih yang dapat dikem- bangkan
seperti halnya film berwarna dengan menggunakan pengembang universal.

Dengan perkembangan yang demikian maka marilah kita menggunakan film


berwarna atau hitam-putih melalui pengamatan yang intensif dan sesuai pengalaman,
sehingga tahu secara tepat kapan harus menggunakannya. Sesungguhnya masing-
masing memiliki kelebihan serta kekurangannya, dan hanya pemotret yang
berpengalaman yang mengetahuinya.

Jika saat ini Anda sebagai pemotret memiliki satu bodi kamera, cobalah menambah
satu bodi kamera lagi (satu sistem). Dengan demikian dapat mengisi kamera
menggunakan film berwarna dan hitam-putih seka ligus tanpa harus bingung memilih
penggunaan film secara tepat.

Hindari untuk mengganti-ganti film dalam kamera - dari warna ke hitam-putih atau
sebaliknya - karena akan sering terjadi kesalahan yang merugikan nantinya. Suatu
kesalahan yang akan melenyapkan sama sekali momen-momen penting yang dipotret.

Akhirnya, dianjurkan untuk memilih penggunaan film, baik warna atau hitam-putih
secara tepat dan yakin. Sehingga betul-betul akan menghasilkan foto yang baik tanpa
harus mengalami musibah karena menggunakan dua film sekaligus berganti-gantian
dalam satu kamera.

Foto: ATOK SUGIARTO


ALTERNATIF - Sebagai suatu alternatif, film hitam-putih juga
tetap saja baik dan menarik.

Seni Memotret Bayi


Oleh ATOK SUGIARTO

Foto: Atok Sugiarto

SAAT TEPAT - Bayi yang sedang tersenyum atau tertawa bangga


adalah saat-saat yang sangat tepat bagi pemotret untuk menekan
tombol pelepas rana kamera.

engandalkan kemahiran menggunakan kamera saja tanpa


membekali dengan sikap menyenangi anak-anak (bayi) pasti akan
menghasilka n suatu foto yang biasa belaka. Sekadar foto dokumentasi tentang bayi.
Karena itu, menyukai anak-anak (bayi) merupakan salah satu syarat bagi keberhasilan
fotonya. Sabar dan dapat memilih waktu yang tepat juga merupakan syarat lain yang
harus dapat dipenuhi bagi seorang pemotret.

Sulitkah memotret bayi? Tentu saja tidak, sama seperti halnya memotret anak-anak
pada umumnya, meskipun juga tidak hanya tinggal menekan tombol pelepas rana
kamera. Tetapi diperlukan sedikit akal-akalan untuk membangkitkan aktivitasnya,
apakah itu tersenyum, tertawa, tengkurap, atau mungkin juga merangkak.

Kesulitan akan muncul terutama jika yang menjadi objek pemotretan adalah bayi
yang bukan anak sendiri - anak tetangga atau mungkin anak orang lain. Misalnya
seperti pada pemotre tan bayi untuk tujuan komersial. Dalam hal ini kesulitan lebih
dirasakan karena untuk dapat memotretnya sehingga mendapatkan hasil foto baik
sesuai dengan misi yang diemban diperlukan ekstrawaktu maupun kesabaran.

Pemotret juga dituntut harus tahu betul kapan saat-saat yang baik untuk memulai
memotretnya. Bila telah mendapatkan suatu keadaan yang fresh dan enak, harus
segera dilakukan pemotretan - sebagai pegangan, bahwa tidak pada setiap waktu bayi
itu mudah difoto.

Karena bayi membutuhkan suatu keadaan yang dirasanya enak dan nyaman bagi
dirinya, apakah itu mengenai udaranya, suasana atau lingkungannya di mana ia harus
berhadapan dengan berbagai peralatan fotografi seperti lampu-lampu studio dan
kamera (bila pemotretannya dilakukan di studio).

Bagi bayi yang belum terbiasa dengan situasi demikian, kilatan lampu bisa saja
menjadikan suasana yang telah dibanyun sebelumnya rusak. Misalnya si bayi
menangis atau takut. Terkadang juga karena kilatan lampu kilat, bayi kaget.
Akibatnya setelah foto dicetak yang dihasilkan adalah foto anak dengan mata
terpejam.
Bila pemotretan dilakukan di alam bebas dengan cahaya alami, tentu saja faktor
kesulitannya menjadi berbeda. Secara umum di alam terbuka dengan cahaya alami
matahari, pemotretan lebih mudah dilakukan karena faktor-faktor yang menyebabkan
bayi takut dan mengganggunya seperti kilatan lampu, dapat kita hilangkan dengan
tidak menggunakannya. Pemotretannya pun jadi dapat dilakukan dari jarak yang tidak
terlalu dekat dengan menggunakan lensa tele panjang sehingga tidak membuat anak
berhadapan dengan kamera secara langsung.

Untuk memotret bayi, apakah itu untuk suatu kebutuhan dokumentasi pribadi atau
suatu keperluan khusus seperti untuk tujuan komersial jauh lebih menguntungkan dan
mudah dilakukan bila dilakukan di luar ruang. Dalam hal ini diperlukan suatu
keterampilan khusus pemotret agar mampu memanfaatkan situasi dan ekspresi yang
mengemuka, apakah itu mengenai posenya (yang diatur), atau mengenai pencahayaan
yang di dalam studio menggunakan cahaya buatan yang telah diatur terlebih dahulu,
atau pun pencahayaan yang mengandalkan cahaya alami matahari.

Dan karena itu untuk menghasilkan suatu foto yang baik tentang bayi, atau anak-anak
secara umum, baik itu dilakukan di dalam studio atau di luar studio, sebaiknya
dilakukan pada waktu pagi antara pukul 07.30 hingga pukul 09.00 di mana matahari
memancarkan sinarnya dengan kuat. Pada saat-saat demikian, kondisi anak-anak
secara umum juga masih fresh sehingga mudah untuk mendapatkan ekspresi ataupun
keriangan yang kita inginkan karena mereka belum merasa lelah. Pemotretan bisa
juga dilakukan pada sore hari antara pukul 15.00 higga 16.30 di mana cahaya sore
masih bersinar dengan baik dan pada saat itu pun anak-anak sudah tidur siang.

Teknis

Banyak hal yang terjadi pada pemotretan anak-anak khususnya bayi, di mana pose-
pose atau ekspresinya terkadang muncul begitu saja tanpa disengaja, bagus adanya
dan mungkin tidak terulang untuk kedua kalinya.

Untuk sekadar membuat foto bayi yang menampilkan secara bebas dan wajar sesuai
dengan perkembangan kepandaian bayi adalah hal yang mudah. Karena pemotret
hanya membutuhkan waktu atau kesabaran saja untuk menemukan pose-pose atau
ekspresi yang baik dengan mengajaknya berinteraksi. Jika bayi telah mampu
berinteraksi dengan lingkungan maka ia akan menampilkan pose-pose atau gerakan-
gerakan yang menarik, kalau hal itu sesuai dengan yang diinginkan, maka pemotret
tinggal membidikkan kamera yang telah disiapkan sebelumnya - terutama mengenai
pencahayaan.

Jika bayi belum juga menampilkan gerakan-gerakan atau ekspresi yang baik dan
menarik sesuai yang diharapkan - hal tersebut mungkin disebabkan karena bayi belum
mengetahui akan suatu instruksi untuk melakukan suatu gerakan yang diinginkan
pemotret. Pada keadaan yang demikian, maka pemotret dan orangtua harus segera
bekerja sama merangsang perhatian, agar anak mau melakukan sesuatu yang menarik
dalam bentuk pose tertentu, apakah itu tersenyum, tertawa, tengkurap atau
merangkak.

Sebagai alat bantu untuk memudahkan bayi berinteraksi dan be rekspresi, carilah
mainan yang mudah menimbulkan daya tarik si bayi, sehingga ia mau berinteraksi
dengan suasana. Gunakan alat bantu seperti mainan yang lucu dengan warna-warna
mencolok atau yang menimbulkan bunyi-bunyian.

Dengan pancingan maka bayi aktif khususnya akan bergerak-gerak berekspresi. Pada
saat-saat seperti itulah biasanya muncul sesuatu yang menarik secara tak terduga.
Kalau pemotret telah mahir mengatur fokus atau menentukan pilihan pencahayaan
yang tepat serta dapat menekan tombol pelepas rana pada saat yang tepat pula, maka
dapat dipastikan akan menghasilkan foto bayi yang baik.

Beberapa Tip

Untuk menghasilkan foto yang baik tentang bayi, tuntutan teknis memang tidak begitu
tampak, karena kesulitan utama yang dihadapi lebih pada hal-hal nonteknis. Berikut
beberapa tip menghadapi suatu pemotretan bayi agar mendapatkan foto yang baik
sesuai misi atau keinginan.

a. Bahwa untuk memotret bayi tidak begitu saja dapat segera dilakukan, karena
pemotret dan orang tua harus memiliki waktu yang khusus dan cukup sehingga tidak
melakukannya dengan terburu-buru. Umpamanya pemotretan dilakukan di dalam
studio maka bayi tidak langsung dipotret tetapi diberi waktu untuk mengenal
lingkungannya, mengenal pemotretnya, atau mengenal situasi pemotretan di dalam
studio.

b. Pemotretan bayi umumnya berlangsung tidak terlalu cepat, jadi pemotret sebaiknya
jangan memaksakan diri dengan waktu untuk segera menyelesaikan sesi pemotretan.
Salah satu penyebabnya karena bayi juga akan melewati masa-masa jenuh atau
kelelahan, dan karena itu pada beberapa selang waktu dalam pemotretan, bayi perlu
diangkat, digendong dulu, diberi susu atau makanan untuk menghilangkan
kejenuhannya.

c. Untuk dapat menangkap gerakan-gerakan bayi yang cenderung selalu aktif,


gunakan kecepatan rana 1/125 detik atau bila mungkin 1/250 detik (khususnya pada
pemotretan di luar ruang tanpa menggunakan lampu kilat). Sedang untuk bukaan
diafragmanya, sangat bergantung pada ruang tajam yang diinginkan. Jika
menghendaki ruang tajam yang luas gunakan diafragma kecil sehingga hasil foto tetap
fokus seandainya pun terjadi pergeseran tempat atau fokus. Pilih pula latar belakang
polos untuk membantu menghasilkan foto yang tajam dan baik.

d. Untuk pemakaian lensa, idealnya memang menggunakan lensa tele menengah


seperti lensa 85 mm atau lensa 105 mm. Akan tetapi juga dapat digunakan jenis zoom
seperti lensa zoom 80-200 mm (bila dalam ruangan atau studio), sehingga
memudahkan dalam melakukan pembingkaian. Dengan lensa zoom berarti seolah
sudah menggunakan beberapa lensa sekaligus, sehingga tak perlu repot bila
menginginkan sudut pemotretan tertentu.

e. Salah satu kunci terpenting dalam memotret adalah fokus. Maka lakukan
pemfokusan pada mata. Ikuti sedikit gerakan untuk membantu follow focus - untuk
foto big close-up atau tampilan yang besar, sedikit saja gerakan akan membuat
melesetnya fokus bila tanpa diikuti dengan cara memfokus yang baik.
f. Sekalipun lampu kilat kilatannya tidak
berbahaya bagi mata bayi, sebaiknya
jangan terlalu dekat menggunakannya.
Sebab kilatannya sangat mungkin
menjadikan anak takut atau menangis
karena kaget, yang berarti akan
mengganggu jalannya pemotretan. Untuk
itu sebaiknya nyalakan lampu kilat
beberapa kali sebelum melakukan
pemotretan, agar bayi terbiasa dengan
kilatan tersebut.

Tingkat keberhasilan mendapatkan foto


yang baik pada pemotretan bayi adalah
pada hal-hal nonteknisnya, seperti kesabaran yang memang menjadi hal utama. Hal-
hal seperti itu memang cukup merepotkan bagi seorang pemotret pemula. Namun
justru kerepotan itu adala h seninya memotret bayi. Karena itu sesungguhnya
memotret bayi adalah suatu pekerjaan yang tidak saja menyenangkan tetapi juga
mengasyikkan.

Foto: Atok Sugiarto.

CAHAYA JENDELA - Memanfaatkan cahaya jendela yang tidak langsung


mengenai objek akan cukup menarik untuk membuat sebuah foto yang
menampilkan keindahan suasana.

Mencermati Lensa dan Filter


(Bagian 1)

ensa maupun filter adalah peranti yang tak mungkin bisa dipisahkan dalam
fotografi. Ada banyak produk saat ini yang beredar di pasaran. Bahkan untuk lensa
saja sekarang ini hampir ratusan macam jumlahnya. Mungkin jumlah yang banyak
tersebut bikin kita bingung. Soalnya, untuk apa lensa sebanyak itu? Dan lensa mana
yang sebaiknya terpasang di kamera setiap saat.

Setiap lensa yang diproduksi mempunyai sebuah kegunaan khusus yang tidak bisa
digantikan lensa lain. Dengan kata lain, sebuah perusahaan lensa tidak akan
memproduksi sebuah lensa tanpa alasan yang kuat.

Sebuah lensa 28 mm f/2 dan sebuah lensa 28 mm f/4 mempunyai pembelai tersendiri
walau panjang fokalnya persis sama. Lensa dengan bukaan besar biasanya dibeli oleh
kaum profesional yang mengutamakan keunggulan lensa cepat dengan bukaan besar.
Sedangkan lensa dengan bukaan kecil yang relatif murah, biasanya dimiliki kaum
pemula yang mempunyai keterbatasan dana.
Untuk sebuah perjalanan, lensa vario (zoom lens) sering menjadi pilihan utama karena
ringkasnya itu. Sebuah lensa vario 28079 mm bisa dikatakan "mewakili" lensa 28
mm, 35 mm, 50 mm, dan 70 mm sekaligus. Saat ini mutu lensa vario bisa dikatakan
tidak kalah dengan mutu lensa tetap. Namun walau begitu, lensa tetap masih terus
diproduksi karena masih sangat diperlukan orang dengan berbagai kebutuhannya.
Foto studio misalnya, lebih sering memakai lensa dengan panjang fokal tetap.

Dari segi guna, banyak lensa yang dibuat untuk keperluan sangat khusus, seperti lensa
mata ikan yang memotret dengan sudut 180 derajat, lensa close up untuk pemotret
jarak sangat dekat, dan juga lensa dengan koreksi perspektif (lensa PC).

Berikut dibahas penggunaan lensa-lensa umum pada pemakaian yang tepat. Lensa
umum di sini adalah lensa yang banyak beredar di pasaran dengan mengabaikan
bukaan diafragmanya, apakah besar atau kecil. Pemilihan lensa disini semata
didasarkan pada pembedaan panjang fokal lensa bersangkutan.

Lebar, Tele, dan Normal

Kita tegaskan dulu berbagai definisi tentang lensa. Selama ini kita sudah sering
mendengar istilah lensa normal, lensa lebar (wide angle lens) dan lensa panjang (tele
lens), namun definisi ketiga lensa itu sering masih kabur.

Definisi apakah sebuah lensa lebar dan atau disebut panjang, tidaklah semata dibatasi
panjang-pendeknya titik bakarnya. Sebuah lensa 70 mm adalah lensa tele bagi kamera
135, namun merupakan lensa normal bagi kamera berformat medium (kamera dengan
film ukuran 120).

Jadi, format film yang dipakai akan mempengaruhi definisi panjang pendeknya lensa.
Kita batasi dulu pemakaian film yang umum dipakai yaitu film berukuran 135 yang
berukuran 24 mm x 36 mm.

Batas antara lensa lebar dan lensa panjang terletak pada panjang diagonal film yang
dipakai. Dengan film 135 mm, definisi lensa normal ini secara umum ditetapkan
berkisar antara 45 mm sampai 55 mm.

Maka, definisi lensa lebar adalah lensa yang panjang fokalnya lebih pendek daripada
45 mm, sedangkan lensa panjang adalah lensa yang panjang fokalnya lebih panjang
daripada 55 mm.

Secara umum, lensa lebar memang diperlukan untuk memotret dengan cakupan
seluas-luasnya. Misalnya kita memotret orang banyak dalam ruangan sempit, mau
tidak mau lensa lebarlah yang dibutuhkan.

Sebaliknya, lensa tele umumnya dipakai untuk "mendekatkan" jarak antara pemotret
dengan objeknya. Dalam keadaan tertentu, mau tidak mau kita harus menggunakan
lensa tele karena tidak bisa mendekatkan objek kita. Para wartawan sering memakai
lensa tele sangat panjang untuk memotret para kepala negara. Dengan tujuan
keamanan, para kepala negara memang tidak boleh didekati sembarang orang.
Namun, pemakaian lensa lebar dan lensa tele tidaklah semata berdasarkan kebutuhan
mencari sudut seluas -luasnya atau mendekatkan objek saja. Ada alasan lain dalam
pemilihan lensa yang sebetulnya justru lebih esensial.

Lensa lebar mempunyai sifat utama yaitu " mengekstremkan" jarak pada pemotretan
dekat. Dan sifat ini bisa kita manfaatkan untuk membuat sebuah suasana atau adegan
makin "hidup".

Untuk memotret sebuah objek, lensa lebar memerlukan jarak yang lebih dekat
daripada lain. Dengan dekatnya jarak antara kamera dan objek, perbedaan jarak lalu
menjadi sangat dominan.

Kesan "berlebihan" akibat distorsi yang dihasilkan lensa lebar dapat kita manfaatkan
pula untuk memberi aksen pada keadaan tertentu. Misalnya kita memotret seorang
pejabat dengan meja kerjanya yang penuh buku. Dengan lensa lebar kita mendapatkan
buku-buku yang tampak besar sementara sang pejabat tampak jauh sehingga kesan
"kutu buku" sangat diperkuat. Atau juta kita memotret petenis dengan raketnya yang
tampak besar, atau juga pelari maraton dengan kaki yang tampak "luar biasa" .

Sebagian lawan dari lensa lebar adalah lensa tele. Dengan lensa panjang tersebut, mau
tidak mau kita harus berada pada jarak yang cukup jauh dari objeknya. Inilah sifat
khas kamera tele yaitu memampatkan jarak (compaction).

Hati-hati dalam memilih lensa. Dengan sifat memadatkan yang dimiliki lensa tele.
Objek relatif seperti terletak dalam satu bidang.

Sementara, kalau kita menggunakan lensa lebar, seorang anak misalnya yang akan
difoto kaki anak itu seakan menjadi sangat panjang. Dan pemilihan panjang fokal
akan menjadi kebiasaan semakin sering Anda memotret. Jangan membua t patokan
mati dalam memilih panjang fokal sebab efek distorsi atau pemadatan pun sering
justru memberikan sentuhan menarik.

Pada pemotretan orang dalam jumlah banyak yang tidak berjejer sejajar, lensa tele
akan membantu agar suasana tampak "kompak" . Makin mengerti sifat lensa dilihat
dari panjang fokalnya maka kita bisa mengembangkannya sendiri pada hal lain yang
lebih kreatif.

Hal lain yang menjadi sifat panjang fokal sebuah lensa adalah masalah depth of field
atau kedalaman ruang tajam. Bahwa makin pe ndek sebuah lensa, makin dalam ruang
tajamnya. Lensa 300 mm tampak sekali mempunyai ruang tajam sangat tipis.

Maka, pemilihan lensa sering juga dilandasi masalah ruang tajam ini. Pada
pemotretan model, sering sang fotografer membuat heran banyak orang karena ia
memotret dari jarak jauh dengan lensa tele, padahal mendekatpun tidak dilarang. Sang
fotografer memakai lensa panjang semata untuk menghasilkan latar belakang yang
kabur (blur).

Latar belakang kabur sama sekali tidak akan dihasilkan dengan lensa sangat lebar
seperti 20 mm atau bahkan 14 mm. Beberapa jenis lensa mata ikan, misalnya 8 mm,
bahkan tidak memerlukan penyesuaian fokus sama sekali karena semua jarak akan
direkam dengan tajam.

alu, lensa manakah yang sebaiknya kita miliki? Berpedoman pada uraian di atas,
sebaiknya kita memang memiliki lensa dari yang sangat lebar sampai sangat
panjang agar mempunyai "jangkauan" lengkap. Namun keterbatasan biaya sering
membatasi keinginan itu. Untuk pemula, memiliki kamera dengan vario 28-70 mm
yang selalu terpasang di kamera, ditambah lensa vario 70-300 mm, sering kali sudah
sangat cukup.

Di samping lensa, sebagian orang berpendapat bahwa filter juga adalah peranti
fotografi yang dianggap penting. Pasalnya filter dibuat untuk memaksimalkan foto,
menyempurnakan ataupun memberi suatu efek lain yang diinginkan.

Fotografer akan dapat menggunakannya lebih maksimal bila mengetahui kelebihan-


kelebihan filter yang digunakannya. Penerapan yang kurang tepat atau tidak cermat
sering kali membuat hasil foto kurang menarik dan tampak dimanipulasi dengan
kasar.

Pada dasarnya, fungsi filter terbagi menjadi dua yakni filter teknis dan filter kreatif.
Filter teknis seperti Polarisasi (PL), Neutral Density (ND), Correction filter 80, 81,
berguna untuk mengoreksi foto, sedangkan filter kreatif seperti Gradual, Soft atau
diffuser, star galaksi, dan sebagainya, digunakan untuk memberi kesan lain, misalnya
kesan romantis, kesan mimpi, kesan gerak dan lain-lain.

Berikut penjelasan tentang filter agar Anda lebih nyaman menggunakan filter dalam
memotret:

Filter polarisasi yang sering disingkat PL ini, merupakan filter teknis favorit dan besar
manfaatnya. Filter PL terdiri dari 2 jenis, yaitu linier dan sirkular. Secara teknis, filter
PL sirkular (CIR) terdiri dari garis-garis polar isasi melingkar, berguna untuk
menghilangkan refleksi dari permukaan nonmetal (bukan logam), seperti pantulan di
permukaan air, kaca mobil dan kaca etalase. Kegunaan lainnya adalah meningkatkan
kontras, mencerahkan atau mengentalkan warna pada foto tetapi tidak mengubah
warnanya, seperti yang terjadi bila kita menggunakan filter warna kuning atau merah.

Sementara PL linier yang memiliki garis-garis polarisasi sejajar, selain mengurangi


refleksi, digunakan untuk menggelapkan atau memekatkan warna (biru) langit, baik
pada foto hitam putih maupun warna. Untuk foto hitam putih, fungsi PL serupa
dengan filter kuning, oranye atau merah.

Filter PL linier terdiri dari satu elemen optik, ada kaca ada pula plastik, sementara PL
sirkular biasanya terdiri dari 2 lapis kaca, yang bagian depannya dapat diputar.
Penggunaan PL sirkular sangat mudah. Anda tinggal memasangnya pada lensa SLR,
lalu memutar ring bagian depan pada filter tersebut sampai terlihat efek yang
diinginkan, misalnya menghilangkan refleksi pada kaca.

Pada penggunaan PL sirkular, Anda juga dapat membiarkan otomatisasi kamera


menangani pencahayaan dan fokus secara akurat. Namun pada PL linier, pengukuran
cahaya dan fokus sebaiknya dilakukan lebih dahulu sebelum memasang filter di mulut
lensa.

Hal lain ya ng perlu diingat adalah setiap filter memiliki "faktor" yang berpengaruh
pada pengurangan kombinasi pencahayaan. Filter dengan nada warna hangat seperti
kemerah-merahan atau kekuning-kuningan memiliki faktor antara 11/4 sampai 2 kali.
Sedangkan nada warna dingin seperti kebiru-biruan, umumnya memiliki faktor yang
lebih tinggi, antara 2,5 hingga 4 kali.

Filter Neutral-Density (ND) berguna untuk mengurangi atau menahan pencahayaan


yang akan sampai ke film, tanpa menimbulkan efek terhadapnya, seperti perubahan
warna. Bila suatu saat pemotret ingin menggunakan aperture yang lebih besar atau
ingin memotret kecepatan lambat, sementara cuaca sangat cerah, atau film yang
digunakan ber-ISO tinggi, maka filter ND adalah salah satu jalan keluarnya.

Kebanyakan produsen merancang kode filter ND sesuai dengan "faktor filter" yang
dimilikinya, seperti ND2, ND4 dan seterusnya, meskipun ada pula yang menyebutnya
dengan kode "densitas". Filter ND2 akan mengurangi pencahayaan hingga 2 stop,
ND4 sebanyak 4 stop (contoh, ISO 3200 menjadi ISO 200) dan seterusnya.

Filter Gradasi.

Langit cerah acap kali menjadi masalah besar bagi fotografer outdoor. Perbedaan
kontras yang tinggi kadangkala menyulitkan fotografer untuk mendapatkan detail.
Kalaupun detail tercapai, akan ada bagian yang dikorbankan menjadi over atau under.

Untuk mengatasi masalah ini, fotografer dapat menggunakan filter gradasi ND


(graduated neutral-density). Filter bergradasi ini terdiri dari setengah bagian bening
(netral) dan setengah bagian ND, dengan kekuatan ND2, ND4 dan seterusnya.

Pemotret tinggal memposisikan filter ini sesuai kebutuhan, misalnya area yang pekat
(dense) untuk mengurangi pencahayaan pada bagian langit yang terlalu terang tadi.

Bagi yang memiliki anggaran terbatas, Gradasi ND 2 stop, merupakan pilihan yang
tepat. Filter bergradasi juga tersedia dalam beberapa variasi warna dan kegunaan
lainnya, misalnya untuk mencerahkan langit yang pucat atau memberi efek
kecoklatan/ oranye pada matahari-tenggelam (sunset). Tobacco, merupakan warna
yang banyak disukai para fotografer untuk menimbulkan efek kecokelatan yang
romantis, bagi pemotretan di dalam maupun di luar ruang.

Dalam menggunakan filter gradasi, yang pertama dilakukan adalah mengukur latar-
depan untuk menentukan exposure. Selanjutnya, ukurla h bagian langit guna
menentukan kekuatan filter yang cocok. Tetapi bila kamera Anda berfasilitas
otomatis, letakkan saja filter di depan lensa dan kamera akan mengukur secara
otomatis dengan lebih cepat.

Filter Penghangat (Warm). Filter seri 81 dengan nada warna hangat ini, dibuat untuk
mengimbangi pencahayaan yang sedikit lebih dingin, seperti warna neon (3400 K).
Masih sekelompok dengan itu, filter warm Kodak Wratten 81C atau Tiffen 812
misalnya akan sangat berguna bagi fotografer yang menggunakan film daylight pada
siang hari yang cerah.

Filter warm juga membuat subjek potret lebih 'bercahaya', mengurangi atau
menghilangkan efek biru pucat yang akan muncul bila kita memotret pada tengah hari
yang terik, khususnya pada aerial photography.

Untuk warm filter seri 81 ini, disarankan mengkompensasi pencahayaan sekitar 1/3
stop, dan melakukan braketing.

Enhancing Filter

Filter ini terbuat dari didymium glas dan memiliki efek kemerah-merahan. Fungsinya
untuk meningkatkan intensitas serta kepekatan warna subjek, seperti dedaunan,
namun tidak banyak mempengaruhi warna lainnya. Dengan filter ini, suasana yang
pucat terekam lebih hangat. Enhancing Filter , membutuhkan sekitar ?-1 stop
penambahan pencahayaan.

Color -Compensating (CC) Filter. Filter kompensasi (CC) ini tersedia dalam enam
warna dasar (merah, hijau, biru, magenta, cyan, dan kuning) dengan berbagai jenis
kekuatan (filter kodak wratten CC tersedia dengan kekuatan mulai 0,025 sampai 0,5
dan dapat dikombinasikan untuk menghasilkan kekuatan menengah dan lebih besar).

Filter ini digunakan untuk mengatur keseimbangan pada warna dan mengoreksi
pergeseran warna secara jelas. Filter CC30 magenta, dapat mengoreksi efek cahaya
lampu TL, atau untuk warna semu cyan dari pesawat terbang atau jendela kereta.
Filter CC50 biru sering digunakan untuk menghilangkan warna kecokelatan dari
matahari terbit.

Filter Difuser. Di pasaran, filter ini mudah dicari dan memiliki jenis yang cukup
banyak. Fungsinya adalah melembutkan gambar dan menimbulkan efek pendaran
pada sisi-sisi objek. Filter ini sangat disukai dan banyak digunakan, baik oleh para
hobiis maupun kaum profesional. Lazim digunakan pada foto glamor, portrait, juga
pemandangan.

Split -Field Filter yang juga dikenal sebagai split-field lens adalah filter dengan kaca
hanya setengah. Filter ini berguna untuk mengoreksi depth of field yang terlalu luas.

Atau mengaburkan bagian latar depan atau belakang yang dianggap terlalu tajam
sehingga mengganggu. Umumnya filter ini digunakan di luar ruang, tapi dapat pula
ditetapkan untuk jenis foto lainnya seperti portrait.

Pemotret hanya perlu mengatur split-field filter sehingga bagian kaca (gelas)
diposisikan pada bagian terdekat dan bagian yang tanpa kaca (kosong) menjangkau
latar-belakang. Dalam menggunakan filter ini dibutuhkan trik dan kecermatan agar
garis pembagi tidak tampak jelas.

RONY SIMANJUNTAK
Membuat Foto Still Life
Oleh Atok Sugiarto

CAHAYA MATAHARI - Pemotretan yang mengandalkan cahaya matahari dapat


dilakukan di luar ruang. Membuat foto benda mati (still life) yang menarik
memang tidak harus hanya menggunakan cahaya buatan alias lampu studio
maupun lampu kilat.

otografi memang banyak cabangnya, bisa foto jurnalistik, fotografi dokumenter,


fotografi olahraga, dan lain-lain. Satu di antara yang lain-lainnya itu adalah foto still
life, yaitu foto mengenai alam benda mati, misalnya patung, makanan, minuman,
boneka, aneka benda -benda kecil dari hiasan sampai produk-produk kecantikan.

Meskipun yang menjadi objek pemotretan adalah benda -benda mati, memotretnya
untuk menjadi sebuah foto yang baik dan mengandung seni tidaklah semudah yang
kita bayangkan. Terlebih bila kita harus menjadikan benda mati tersebut menjadi
"hidup" atau berisi.

Jelas bahwa membuat foto still life bukan sekadar menyalin atau memindahkan obje k
ke dalam film dengan cara seadanya. Karena bila seperti itu yang dilakukan, namanya
adalah mendokumentasikan. Padahal yang diperlukan adalah suatu teknik pemotretan
yang baik, apakah mengenai sudut pemotretan, pencahayaan atau hal- hal lain yang
terkait dengan tujuan pencapaian hasil foto yang artistik dan mengandung seni.
Karena itulah untuk menghasilkan sebuah foto still life yang baik perlu adanya teknik
pemotretan yang baik puula.

Yang sangat berperan dalam hal ini adalah pencahayaannya, yaitu jatuhnya sinar
terhadap objek yang kita potret. Umumnya pemotretan still life dilakukan dengan
menggunakan cahaya artifisial atau cahaya buatan, lampu kilat misalnya. Atur
jatuhnya sinar pada objek sedemikian rupa dengan cara memindah-mindahkannya
atau menggeser, mengangkat, memutar objek sehingga ditemukan pencahayaan yang
terbaik. Inilah salah satu kemudahan memotret alam benda mati di mana untuk
menentukan arah pencahayaan yang tepat pada objek, pemotret hanya melakukannya
dengan cara menggeser, mengangkat atau memutarnya.

Dalam menyiari objek still life posisi lampu dan jumlah lampu yang digunakan akan
sangat menentukan keberhasilan "menghidupkan" benda-benda mati tersebut. Karena
itu tentukan penempatannya dengan memperhatikan objek yang akan difoto secara
benar (mencarinya dengan mengangkat, memutar dan memindahkannya) dan lakukan
penyinaran sesuai teori dasar penyinaran yang benar serta sesuai keinginan untuk
mencapai hasil seperti yang diharapkan pemotret.
LENSA PENDEKAT - Untuk objek pemotretan yang kecil keharusan
menggunakan lensa pendekat adalah hal yang utama. Tujuannya agar
objek tersebut memenuhi bingkai pemotretan dan bagian-bagian
detailnya tampil keluar.

Konsep

Dalam membuat foto, yang terpenting adalah ide dasarnya, terlebih bila
yang dibuat adalah foto still life. Sebuah kabel misalnya, dapat kita potret
begitu saja tanpa sentuhan apa pun, akan tetapi tentu saja hasilnya juga akan apa
adanya (bersifat dokumnetasi belaka). Tetapi benda tersebut akan dapat tampil lebih
baik dan bahkan menarik ke tika kita memotretnya dengan mencoba untuk
menampilkan sisi-sisi menariknya secara detail serta melakukan penyinaran yang
baik. Mungkin juga dengan cara menatanya sedemikian rupa dengan tambahan-
tambahan aksesori yang baik.

Tambahan latar belakang atau sesuatu aksesori lain jika dikehendaki memang akan
lebih membantu menjadikan sebuah benda basa menjadi lebih menarik. Karena itu
bila pemotret telah mempunyai konsep pemotretan maka cara apa pun yang
dilakukannya pasti akan menjadikan suatu objek benda mati menjadi lebih baik
dibandingkan dengan memotretnya tanpa konsep yang jelas.

Konsep adalah sesuatu yang sangat penting dalam menghasilkan foto, karena konsep
yang merupakan jembatan atau media untuk menyampaikan bahawa gambar, di mana
gambar merupakan sarana berkomunikasinya. Dan, seorang pemotret selayaknyalah
memikirkannya hingga komunikasinya sampai pada orang lain.

Ibarat seorang wartawan fot. Di kala ia melakukan pemotretan sebagai laporan


beritanya, ia harus dapat mempertimbangkan segi-segi yang menjadikan berita foto
itu tak saja dilihat orang tetapi juga mampu menjelaskan pesan yang dikandungnya.
Foto still life dapat digunakan untuk berbagai keperluan, baik komersial maupun non-
komersial. Khusus bagi pemotretan untuk tujuan komersial yang memiliki nilai jual
maka konsep menjadi dasar pijakan utama. Tujuannya agar foto yang dibuat mampu
menjadi alat promosi yang baik dan berhasil (sesuai keinginan klien).

Secara konsep stil life itu sendiri dapat ditampilkan dengan berbagai macam teknik,
dari yang rumit dengan menggunakan efek-efek khusus hingga cara yang sederhana
dengan lokasi di luar ruangan, atau dengan latar belakang suatu benda yang unik.
Demikian juga dengan penggunaan film, tak seharusnya selalu menggunakan film
berwarna sebab mungkin saja ingin disajikan dengan film hitam-putih.

Yang terpenting dalam hal ini setelah bayangan konsep penyajian muncul, seorang
pemotret harus mampu mempertimbangkan secara tepat mengenai penggunaan
peralatannya. Namun peralatan memang tidak akan berarti apa -apa jika pemotret tidak
mampu mengenal atau memaksimalkan kelebihannya.
DETAIL - Dengan memeotretnya secara detail, kita pun tahu seperti
apa kabel listrik itu sesungguhnya. Gambaran tersebut menjadi lebih
menarik daripada sekadar memotretnya secara apa adanya.

Trik Pemotretan

Semua peralatan (kamera maupun lensa) selama itu masih berfungsi


dengan baik dapat digunakan untuk memotret alam benda mati atau still
life. Dimulai dari kamera jenis SLR sampai jenis kamera view. Demikian
juga dengan pencahayaannya. Bila tidak memiliki lampu kilat secara khusus seperti
kebiasaan orang memotret still life yang selalu menggunakan cahaya lampu kilat
studio yang baik, menggunakan lampu kilat biasa bahkan dengan cahaya alam
matahari dapat juga dilakukan. Misalnya dengan menunggu matahari muncul dari
balik jendela rumah. Memang memotret still life dapat dilakukan dengan penyinaran
apa pun. Sehingga bisa dikatakan bahwa jenis pemotretan ini merupakan suatu cabang
fotografi yang simpel dan mengasyikkan.

Pada pemotretan alam be nda mati yang kecil bentuknya dan dilakukan dengan jenis
kamera SLR 35 mm, tentu ditemukan sedikit kesulitan khususnya dalam upaya
menjadikan objek pemotretan tampak tajam secara keseluruhan. Pemotret dalam hal
ini akan terpaksa menggunakan lensa pendekat untuk memperbesar gambar.
Akibatnya ruang tajam menjadi sangat sempit. Keadaan itulah yang kemudian harus
disiasati atau dilakukan trik pemotretan dengan menggunakan bukaan diafragma kecil
agar ruang tajamnya menjadi luas.

Pemotretan still life memang tidak ideal dilakukan dengan menggunakan jenis kamera
kecil 35 mm. Karena bagi pemotret pemula khususnya, hal tersebut bisa membuatnya
gagal menghasilkan foto yang baik sebab belum tentu mengerti hal-hal teknis atau
efek-efek yang akan dihasilkan oelh sebuah lensa pendekat misalnya. Memang
sebaiknya seorang pemotret paham betul akan efek-efek yang akan dihasilkan oleh
sebuah alat.

Namun, keberadaan alat yang sangat berpeluang dalam menentukan keberhasilan


sebuah pemotretan bukanlah segalanya. Karena sesungguhnya salah satu kekuatan
foto still life terletak pada konsepnya.

Bila pemotret berhasil menggabungkan konsep tehnik dengan konsep seni, maka
sebuah benda mati yang tak pernah diperhatikan orang yang mungkin juga sering
hanya dibuang, bisa menjadi sesuatu yang dilirik bahkan mungkin dilihat serta
diminati orang ketika sudah ditampilkan dalam bentuk sebuah foto yang baik dan
mengandung nilai seni.*

Mengenal Dimensi pada Foto


easlian suasana foto yang kita rekam selama ini ternyata sangat ditentukan oleh
bidang dua dimensi. Meski bidang-bidang dua dimensi ini memiliki keterbatasan,
tetapi kesan kedalaman ruang pada foto tetap diperlukan, misalnya saat kita
merasakan luasnya lautan.
Kehidupan manusia di muka bumi ini memiliki ruang gerak di alam 3 dimensi.
Namun saat memotret, kita merekamnya ke dalam bahan 2 dimensi. Ada beberapa hal
yang dapat kita lakukan untuk mendukung terjadinya dimensi ruang yang dimaksud,
yaitu:

Permainan perspektif

Perspektif sendiri ada 2 macam yaitu : Perspektif Aereal dan Perspektif Linear.
Perspektif Aereal terjadi karena sifat udara atau alam sendiri. Pernahkah Anda
memandang atau bahkan memotret barisan pegunungan atau panorama kota di siang
hari? Pada pemandangan seperti ini, nampak bahwa objek terdekat terlihat lebih jelas
daripada yang jauh. Sementara semakin jauh objeknya, semakin memudar bentuk dan
warnanya. Kejadian seperti ini, lazim disebut dengan Prespektif Aereal.

Pada dasarnya udara adalah 'benda' dan di dalamnya terkandung partikel-partikel


kecil, yang membuat udara menjadi lebih padat. Kepadatannya kemudian bagaikan
filter yang menghalangi pandangan mata kita. Keadaan ini sangat berlainan dengan
hasil pemotretan di luar angkasa, di mana tidak ada udara. Di sana, pandangan objek
yang dekat dan jauh sama jelasnya, karena tidak ada tabir apa pun yang
menghalanginya.

Perspektif Linear, di sini kita bisa melihat sesuatu yang dekat dengan ukuran yang
lebih besar, sementara semakin jauh semakin kecil. Pada senirupa, perspektif linear
digambarkan dengan titik hilang. Sementara pada foto, objek yang menggambarkan
hal ini secara jelas adalah rel kereta api atau jalan panjang yang semakin menghilang
dikejauhan.

Permainan lensa

Efek kedalaman pada foto juga dapat dicapai dengan permainan lensa, seperti:

Pemilihan bukaan lensa (diafragma), untuk mendapatkan ruang tajam (depth of field).
Semakin besar bukaan (lubang) diafragma semakin sempit ruang tajamnya, dan
sebaliknya.

Permainan lensa vario, yaitu menggunakan lensa zoom untuk teknik zoom-in dan
zoom-out. Permainan filter, misal memakai filter center spot. Filter ini memiliki 2
bagian, yaitu bening di tengahnya dan buram di sekelilingnya. Efek blur pada bagian
depan objek yang dihasilkan filter ini, memberi kedalaman pada foto.

Permainan terang dan gelap

Dimensi juga dapat diperoleh dengan memainkan cahaya, gelap dan terang. Dari
gradasi warna dapat dilihat, bahwa benda-benda yang dekat dengan kita lebih terang
warnanya, sementara semakin jauh semakin gelap.

Permainan cahaya

Selain terang dan gelap, pengambilan sidelighting dan backlighting dapat memberikan
kesan kedalaman. Cahaya dari sisi atau belakang objek, yang kemudian menimbulkan
garis terang (rim light) pada sisi-sisi objek, membuat objek lebih menonjol dan
terpisah dari latar belakangnya. Inilah dimensi yang diberikan dari permainan cahaya.

Memberi foreground dan background

Efek ruang dapat pula ditimbulkan dengan memberi objek pendukung pada latar
depan (foreground) dan latar belakang (background). Sebagai contoh, dapat kita
bandingkan saat memotret laut saja dengan memotret laut dengan tambahan pohon di
latar depannya dan gunung di latar belakangnya.

Foto lautan saja akan tampak datar, tanpa dimensi dan suasana. Tetapi dengan
foreground dan background , suasana foto menjadi lebih hidup. Banyak cara dapat
dilakuka n untuk mencapai kesan dimensi ruang seperti yang telah dijelaskan. Kini
tinggal kejelian fotografer memanfaatkan objek yang ada disekeliling, untuk
mencapai maksudnya.

Format Lain

Disamping dimensi, masih ada format lain dalam fotografi masing-masing, format
horizontal dan format vertikal. Format horizontal kerap dipakai saat kita memotret
dengan kamera SLR 135 mm. Karena rancang bangun kameranya yang juga
horizontal, format ini kemudian lebih mudah "dibaca" dan diterima banyak orang.

Tak bisa dipungkiri memang, kalau penganut format horizontal ini mendapat
beberapa kelebihan dalam karya fotonya. Umumnya mereka membawa kesan tenang,
kalem, damai, luas dan kompak. Tapi bukan berarti format vertikal merupakan pilihan
alternatif yang kurang berdayaguna. Apa bila format ini didayagunakan secara efektif,
pandangan kita pun akan berubah. Itupun kalau kita telah menyejajarkan kedua format
itu secara seimbang.

Dalam penulisan kali ini, kita akan mengulas format vertikal daripada format
horizontal yang lebih umum dikuasai. Cara paling efektif melatih diri untuk format
vertikal ini adalah kita dapat menyimulasi diri, sebagai berikut :

Berdirilah beberapa langkah dari pintu sebuah ruangan. Dengan sudut pandang yang
sempit Anda hanya melihat bagian per bagian dari is i ruangan tersebut. Begitu pun
kalau Anda melangkah lagi ke pojok kiri atau pojok kanan ruangan.

Semua objek yang terlihat melalui bingkai pintu menunjukkan ciri personal yang kuat
dan dapat Anda rasakan. Dengan kata lain, sudut pandang yang sempit memaksa kita
memilih subjek pemotretan, baik yang berkesan tinggi, agung, kuat, kokoh bahkan
angkuh.

Sudut pandang yang sempit dan luas, sebelum dan sesudah bingkai pintu, keduanya
memberi nilai- nilai kontradiktif. Namun lebih bijaksana lagi, kalau kita memakai dua
format yang berbeda pada masing-masing format daripada hanya menduga-duga hasil
format mana yang lebih baik untuk mengirit pemakaian film. Nilainya jelas tidak
setara dengan kesempatan dan biaya perjalanan yang Anda keluarkan.

Identifikasi
Mengidentifikasi bidang vertikal dalam foto sebenarnya tidaklah sulit. Sesudah garis
cakrawala, bidang vertikal atau citra tembok itu pasti bidang vertikal juga. Mengatur
ketinggian sebuah bidang vertikal dalam pemotretan juga tergantung pada tinggi
rendahnya kita berada. Biasanya personal fotografer lansekap yang piawai senang
mengolah sudut pandangnya. Mulai dari berdiri, jongkok atau tiarap. Dan tak kalah
penting adalah memainkan distorsi-perspektif kedalaman pandang dengan lensa sudut
lebarnya (mengangkat atau menurunkan arah kamera).

Dalam format horizontal, misalnya foto bebatuan di pantai Anda bisa rekam dengan
membuang bidang vertikal/garis cakrawala yang biasanya mengisi sepertiga bagian
ruang foto. Maksudnya ini untuk meredam persaingan batu coklat yang agak besar
mengkilat di garis cakrawala dengan objek utama kelompok bebatuan di depan
bingkai. Mengandalkan perbandingan ukuran bebatuan sebagai perspektif dan
kedalaman ruang ketajaman visual memang tercapai tapi kurang greget.

Memutar bingkai menjadi format vertikal untuk menghasilkan foto yang greget masih
harus diimbangi dengan tinggi rendahnya posisi pemotretan. Untuk itu, kita perlu
menurunkan arah lensa 19 mm. Tujuannya, agar batu utama (lancip) sedikit
membesar (distorsi) sedang batu kecil bulat di depan sedikit menjauh darinya. Batu
mengkilat di garis pantai yang mengecil karena distorsi (penyimpangan), menolong
komposisi secara keseluruhan.

RONY SIMANJUNTAK

Memotret Model di Luar Ruang


Oleh: ATOK SUGIARTO

Atok Sugiarto

LUAR RUANG -Dengan menggunakan


lensa zoom 80 - 200 mm pada bukaan
diafragma f:2,8 sudah cukup mampu
menghasilkan foto yang baik.

adi seorang pemotret model yang andal


tentunya sering menjadi impian hampir
setiap pemotret pemula. Bagaimana mungkin
tidak menjadi impian jika dalam hal ini
kehidupannya dianggap selalu menyenangkan
karena bergelut dalam lingkup kalangan
"berkelas", ganteng dan cantik-cantik.

Karena hal itulah maka hampir setiap pemotret


pemula selalu memimpikan memiliki studio
foto sendiri dan memiliki perlengkapan
penunjang pemotretan yang lengkap serta
canggih untuk keperluan memotret model di dalam studio demi memenuhi impian itu.
Namun demikian, tidak semua pemula pada akhirnya berhasil mewujudkan impian
itu. Masalahnya bukan karena perlengkapan studio foto yang tidak mudah didapatkan,
melainkan karena harga peralatan lampu studio yang sederhana saja sudah mahal.
Apalagi peralatan studio canggih pasti lebih tak terkira lagi berapa dalam kocek harus
dirogoh. Itu salah satu alasan bagi seorang pemula yang berkantong cekak.

Dengan alasan itu pulalah membuat tidak semua pemotret pemula akhirnya dapat
memenuhi ambisinya untuk dapat mewujudkan keinginannya menggeluti pemotretan
model. Bahkan hanya bisa dihitung dengan jari yang pada akhirnya memang betul-
betul menjadi pemotret model yang andal.

Sebuah foto, dalam hal ini foto mengenai model yang baik memang tidak selalu hanya
bisa dihasilkan dengan peralatan fotografi yang baik, lengkap dan canggih saja,
melainkan juga dapat dihasilkan dengan peralatan sederhana. Bahkan juga dapat
dihasilkan dengan tanpa menggunakan satu pun peralatan lighting atau lampu seperti
pemotretan di studio - tentunya asal tahu tip dan triknya.

Jadi bila tidak dapat mewujudkan impian memiliki peralatan lighting dan studio yang
canggih, tak perlu mengurungkan niat memotret model atau untuk menjadi pemotret
model yang andal. Karena memotret model tanpa peralatan lampu studio - hanya
menggunakan cahaya alami di luar ruang juga bisa dilakukan - bahkan kadang bisa
menghasilkan karya yang lebih baik dan berhasil dari foto model yang dilakukan di
dalam studio dan menggunakan peralatan yang canggih sekalipun.

Karena itu, bila memang sudah tidak mungkin mendapatkan peralatan lampu dan
studio seperti yang diimpikan, kenapa pula tidak menspesialisasikan diri dan
menekuni pemotretan model outdoor atau di luar ruang saja.

Teknis

Secara teknis memotret model di luar ruang tidak berbeda jauh dengan pemotretan
model di dalam ruang atau studio. Bedanya dari sisi fisik pemotretan di luar ruang
tidak menggunakan peralatan banyak seperti yang dilakukan di dalam studio. Selain
itu, secara teknis apa yang dilakukan, baik pemotretan di dalam studio maupun di luar
ruang (studio) adalah sama.

Pada pemotretan di luar ruang, hal utama yang harus diperhitungkan dan
dipertimbangkan adalah waktu. Dalam hal ini karena pemotretan di luar ruang lebih
mengandalkan cahaya alami matahari, maka adanya sinar matahari yang baik yang
cepat berubah harus diperhitungkan.

Pemotretan di luar ruang akan baik jika dilakukan pada jpukul 08.00 - 10.00 WIB
(pagi hari) dan pukul 15.00 - 17.00 WIB (sore hari). Pertimbangan tersebut dilakukan
atas dasar perhitungan bahwa pada kondisi tersebut matahri masih cerah dan kuat
sinarnya (umumnya jarang terhalang awan). Sudut datang sinarnya pun dari arah
samping (miring) sehingga sering menghasilkan foto yang indah dari segi cahaya.

Dari segi peralatan, untuk dapat menghasilkan foto model yang baik di luar ruang,
cukup menggunakan kamera maupun lensa biasa serta tak menuntut adanya peralatan
lampu sepert i halnya lampu studio yang canggih. Selama kamera dan lensa masih
berfungsi secara baik maka cukup untuk menghasilkan foto model yang baik.
Dengan kamera 35 mm dan lensa jenis apa pun, baik itu lensa sudut lebar, lensa
normal atau lensa tele hingga lensa zoom, tetap dapat digunakan untuk memotret
model - dengan catatan pemotret menguasai betul kekurangan dan kelebihan lensa
yang digunakannya.

Dalam suatu sesi pemotretan, bisa saja seorang pemotret yang hanya menggunakan
lensa sudut lebar - tentunya hal ini atas dasar perhitungan dan pertimbangan tertentu
yang diinginkan, dapat menghasilkan foto model yang indah karena kepandaian
memaksimalkan kelebihan lensa. Misalnya dengan menyertakan lanskap -
pemandangan indah sebagai latar belakang pemotretan sehingga memperkuat gambar.

Sisi lain bisa saja karena satu dan lain hal, memotret model di luar ruang hanya
menggunakan lensa standar atau lensa normal - lensa yang sesungguhnya lebih sering
disimpan atau dicadangkan belaka oleh kebanyakan pemotret karena tak
menghasilkan sesuatu yang dianggap menarik.

Bila mampu memaksimalkan kelebihannya, maka lensa normal yang lebih sering
dijadikan cadangan itu sesungguhnya akan memberikan sumbangsihnya dalam
menghasilkan foto tentang model di luar ruang dengan baik. Satu ha l lagi yang sering
dilakukan dalam memotret model di luar ruang adalah penggunaan lensa tele panjang,
misalnya tele 200 mm, 300 mm atau bahkan karena suatu keinginan tertentu ada yang
perlu menggunakan lensa yang lebih panjang lagi. Akan tetapi kesemuanya juga akan
tetap sama saja, yaitu menghasilkan suatu foto yang baik jika pemotret mampu
menguasai dan memaksimalkan lensa tersebut.

Dengan menggunakan lensa tele panjang yang canggih sekalipun, bila secara teknis
pemotret tidak menguasai dan mampu memaksimalkan keunggulannya, tetap saja tak
akan menghasilkan foto model di luar ruang yang baik dan menarik. Salah satu
keunggulan menggunakan lensa tele panjang dalam pemotretan model di luar ruang
adalah, kemampuannya dalam menghasilkan objek utama yang menonjo l (fokus)
dibanding latar belakang maupun latar depannya.

Kembali pada persoalan teknis bahw sesungguhnya dengan menggunakan lensa tele
yang tidak terlalu panjang juga sudah bisa menghasilkan foto yang tampak menonjol
bila hanya itu yang menjadi dasar, tujuan atau keinginan berkaitan dengan hasil
pemotretannya. Karena dengan menggunakan lensa jenis zoom seperti 80 - 200 mm
yang lebih mudarh dari segi harga, sudah dapat untuk sekadar mengaburkan latar
belakang atau pun latar depannya. Terlebih bila mengguna kan bukan diafragma besar
seperti F:2,8 yang membuat sebuah hasil pemotretan yang baik tak kalah dengan foto
yang dihasilkan dengan lensa tele yang lebih panjang.

Pada foto berjudul "berkebun" adalah salah satu contoh hasil pemotretan model yang
dilakukan di luar ruang menggunakan lensa jenis tele zoom 80 - 200 mm, bukan
diafragma f:2,8. Penonjolan objek yang dalam hal ini dilakukan dengan bukan
duafragma f:2,8 pada posisi lensa 200 mm, telah menghasilkan suatu efek kabur
(blur) pada latar belakang seperti yang dihasilkan dengan menggunakan lensa tele
panjang 300 mm.

Namun demikian, jika ingin suatu hasil prima dari sisi peralatan, pemotretan di luar
ruang masih memerlukan alat penunjang seperti misalnya kaki-tiga kamera,
khususnya bila menggunakan lensa tele panjang dan tambahan sebuah reflektor untuk
membantu memberikan pencahayaan dari arah depan objek serta filter-filter
penghangat - mungkin juga filter polarisasi yang mampu memekatkan warna atau
membirukan langit. Tak ketinggalan juga tentunya filter pelembut yang secara umum
juga memang digemari untuk membantu memberikan kesan lembut pada model.

Kesimpulan

Menghasilkan foto tentang model yang baik memang bisa dilakukan dan ditempuh
melalui beberapa cara. Cara yang paling sederhana adalah memotretnya dengan
menggunakan peralatan foto biasa (standar) dan dilakukan di luar ruang. Sehingga
tidak memerlukan peralatan yang banyak dan mahal. Tetapi bila kesemuanya itu juga
tidak dilakukan dengan usaha keras dan cara yang baik, maka tidak akan
menghasilkan sesuatu yang baik.

Keterbatasan alat atau kendala lain yang mengharuskan untuk memotret model di luar
ruang, hendaknya jangan membuat pemotretan batal. Karena dengan peralatan yang
sederhana tetapi masih berfungsi dengan baik, pemotret harus mampu
memaksimalkan kelebihan peralatan yang digunakan. Karena pada dasarnya setiap
peralatan foto (lensa) selalu memiliki keunggulan masing-masing. Tugas pemotret
adalah memaksimalkan keunggulan-keunggulan itu.

Sisi lain di luar teknis pemotretan hendaknya juga harus dapat dikuasai pemotret,
misalnya mampu mengadakan pendekatan terhadap model, pandai menciptakan dan
menuangkan gagasan, mengarahkan dan menjalin kerja sama yang baik guna
menghasilkan sebuah foto yang baik dengan modelnya.

Memilih waktu pemotretan yang ba ik dengan mempertimbangkan lokasi, khususnya


untuk suatu pemotretan model yang memasukkan suasana sebagai unsur pendamping
pendiptaan keindahan. Sekalipun latar belakang sering tidak diperhitungkan, pada
pemotretan yang dilakukan di luar ruang setidaknya menjadi bagian yang harus
diperhatikan.

latar belakang pemotretan model di dalam studio yang umumnya polos, bila
dikehendaki, pemotretan di luar ruangan (studio) juga bisa diciptakan. Misalnya
dengan mencari tembok atau mungkin juga menyediakan terlebih da hulu latar
belakang dari kanvas seperti halnya pemotretan yang dilakukan di dalam studio. Tak
ada salahnya memotret model di luar ruang juga menggunakan latar belakang
(background ) buatan misalnya.

Kelebihan pemotretan yang dilakukan di luar ruang adalah membuat seorang pemotret
mudah mengatur atau memperagakan pose yang diinginkan. Mungkin dengan cara
duduk, berdiri atau berbaring pada suatu tempat sesuai arah datangnya sinar matahari
dengan menggunakan setting lokasi dan latar belakang suasana setempat. Tidak
seperti di studio yang umumnya terbats pada pose duduk saja dan menggunakan latar
belakang kain/kertas polos atau mungkin juga kanvas.

Salah satu kekurangan memotret model di luar ruang hanyalah menjadikan pemotret
tidak dapat mengubah sudut datangnya sinar atau menambah kekuatan sinarnya. Akan
tetapi hal itu pun masih memungkinkan untuk dapat dimodifikasi sehingga
menghasilkan sinar yang lembut, misalnya dengan merentangkan kain putih atau
kertas tipis di atas objek untuk mengurangi cahaya matahari yang terlalu kuat pada
siang hari.

Modifikasi pun dapat dilakukan dengan membelokkan arah sinar dengan


menggunakan reflektor yang terbuat dari sterofoam atau kertas timah (umumnya
digunakan untuk menambah pencahayaan dari arah depan wajah objek. Bila pemotret
dapat memaksimalkan keadaan di sekitar lokasi pemotretan, maka sekalipun peralatan
yang digunakan adalah yang standar maka akan mampu menghasilkan foto tentang
model yang baik dan menarik.

Kunci untuk menghasilkan sebuah foto model adalah pada bekal kemampuan
pemotret itu sendiri. Dalam hal ini kepandaiannya mengutarakan maksud dan
gagasan-gagasannya, kepandaiannya melakukan pendekatan terhadap di model dan
memaksimalkan peralatan yang
ada.

Atok Sugiarto

Berkebun - Tele panjang cocok


digunakan untuk memotret model
di luar ruang, khususnya bila
berkeinginan menjadikan subjek
utama lebih menonjol dibanding
latar belakang ataupun latar
depannya.

Dimensi dalam
Fotografi
Oleh ATOK SUGIARTO

Foto: Atok Sugiarto

BERJAJAR - Pengaturan komposisi dengan


objek yang berjajar ke belakang menjadikan
kesan adanya ruang ke arah dalam.

ebanyakan pemotret, khususnya pemula, dalam


bekerja hampir bisa dipastikan melakukan
kebiasaan "asal tembak" seketika saat melihat
objek yang menarik di hadapannya. Dengan
perkataan lain, hanya mempertimbangkan dari sisi
nalurinya belaka. Baik itu dalam hal penempatan
objek yang akan difoto (komposisi), penentuan
aksi atau ekspresi yang mengemuka, latar depan
atau latar belakang, maupun bidang-bidang lain pembentuk keindahan suatu gambar
secara keseluruhan.

Seberapa jauh jangkauan bidang pandangan yang akan ditampilkan dominan dalam
foto kadang tak pernah menjadi pertimbangan si pemotret. Padahal jarak dalam
pemotretan adalah unsur utama yang sebenarnya harus diperhatikan dalam membuat
foto.

Dengan pilihan dan perhitungan jarak secara benar yang mampu digambarkan dalam
foto, maka akan menghasilkan kesan adanya ruang atau kedalaman atau juga dalam
hal ini sering disebut sebagai dimensi.

Meskipun foto adalah sebuah bidang datar (berbentuk flat) dua dimensi, jika pemotret
melakukan pemotretan secara benar, dengan sungguh-sungguh mempertimbangkan
jarak, maka foto sebagai bidang datar yang hanya dua dimensi tersebut dapat tampil
mirip tiga dimensi. Bagaimana caranya?

Banyak yang dapat ditempuh atau dilakukan untuk menghasilkan foto yang demikian.
Akan tetapi kebanyakan cara yang harus dilakukannya mempunyai syarat-syarat yang
tidak terlalu mudah dilakukan oleh setiap pemotret. Karena syarat-syarat tersebut
tidak selalu berkaitan dengan teknis ataupun penggunaan peralatan kamera serta
lensanya, melainkan terkait dengan syarat-syarat kesabaran, ketelitian atau kejelian
mengamati suatu keadaan.

Namun, syarat-syarat kesabaran, ketelitian atau kejelian dalam pengamatan memang


bukanlah ses uatu yang mutlak dipenuhi. Sebab masih ada cara lain untuk
menggambarkan atau menciptakan foto yang memiliki kesan ruang atau kedalaman
serta berkesan tiga dimensi.

Teknis

Secara teknis, memang banyak cara yang dapat ditempuh untuk menghasilkan suatu
dimensi dalam fotografi, cara-cara itu antara lain adalah:

Menyusun Objek Pemotretan

Susun objek sehingga membentuk suatu garis yang membimbing pandangan mata
mengarah pada satu titik atau pusat perhatian. Dalam hal ini objek utama bila
ditempatkan atau dia tur sedemikian rupa sehingga seolah-olah tersusun suatu garis,
akan tercpta kesan kedalaman. Susunan garis itulah yang akan membingkai dan
membimbing pandangan mata bergerak masuk lebih ke dalam sehingga seolah-olah
memiliki ruang ke arah dalam.

Seperti yang terlihat pada foto berjudul "Penuh Muatan". Sekalipun yang tergambar
hanya sebuah mobil dari arah belakang yang penuh muatan, secara keseluruhan, foto
mampu mengesankan adanya suatu ruang yang dalam dan jauh. Dalam hal ini foto
yang merupakan sebuah benda mati dan berbentuk flat menjadi seolah hidup. Objek
yang diam seolah-olah terasa bergerak dan masuk ke dalam mengikuti ruang dalam
bingkai pemotretan untuk membimbing mata menuju suatu titik.
Penyusunan objek seperti ini, khususnya objek yang bergerak, akan dapat dengan
mudah tercapai bila pemotret mahir mengatur komposisi dan menciptakan dimensi
atau ruang dalam fotografi. Dengan demikian menghasilkan sebuah foto yang
sebenarnya datar, dua dimensi, menjadi berkesan hidup.

Mengatur Jarak

Mengatur jarak dalam hal ini adalah mengatur kepadatan atau kerenggangannya
antara objek yang satu dan yang lainnya. Dengan kepadatan atau kerenggangan
menjadikan kesan adanya ruang di antara objek. Menjadi lebih memungkinkan bila
kita sebagai pemo-tret mampu menerjemahkan skala perbandingan objek, objek
utama yang akan menjadi pusat perhatian ditampilkan lebih besar dibandingkan objek
lain. Dengan tambahan skala objek yang demikian maka mengesan-kan antara objek
satu dengan yang lain terdapat jarak-jarak menandakan dimensi.

Penyusunan Warna

Warna-warna yang cerah atau dominan sering kali selalu terasa tampak lebih menarik
dibandingkan dengan warna -warna yang lemah, karenannya warna-warna cerah selalu
menjadi pusat perhatian - terpisah dengan warna -warna lain di sekeliling yang lemah.
Dan karena itu pula jika diperhatikan akan terbentuk kesan bahwa warna -warna cerah
tersebut berada pada bidang tertentu yang memiliki jarak dengan warna-warna lemah
di sekitarnya. Karena itu dimensi atau kesan adanya jarak dan ruang akan terbentuk
hanya dengan mengaturnya - suatu benda atau suasana akan tampak mempunyai
kedalaman ruang karena kandungan warnanya.

Mengatur Ruang Tajam

Ketajaman, dalam hal ini depth of field, memiliki andil yang sangat kuat dalam
penciptaan ketigadimensian. Pada suatu objek foto dapat ditampilkan menjadi
memiliki ketiga dimensian hanya dengan cara mengatur bukaan diafragma besar
(ruang tajamnya sempit) sehingga menghasilkan objek utama menonjol dengan latar
belakang dan latar depannya kabur (buram). Adanya ketajaman pada objek utama dan
kekaburan pada objek yang lain inilah yang menjadikan kesan ketiga-dimensian
karena pada foto tergambar adanya latar
depan - objek - latar belakang.

Foto: Atok Sugiarto

PENUH MUATAN - Pilihan


penempatan objek di bagian pinggir
untuk memberikan ruang pada sisi
kanan garis-garis jalan yang tampak
menjauh membantu memberikan kesan
adanya ruang.

Memperhatikan Penyinaran

Penyinaran menghasilkan suatu kecerahan pada sebuah foto, karena itu perhatikan
dan atur penyinaran pada saat melakukan pemotretan (baik itu penyinaran dengan
cahaya alami atau buatan) dengan membuat suatu tampilan gelap dan terang. Bagian
terang yang umumnya lebih kuat mempengaruhi pandangan dibanding bagian
gelapnya, sehingga bisa dimanfaatkan untuk menempatka n objek utama agar tampak
menonjol. Dengan menyisakan sisi bingkai untuk bagian-bagian yang gelap sebagai
latarnya. Gradasi penyinaran dari arah terang menuju ke arah gelap inilah yang
menjadikan kesan ruang itu muncul. Dimenasi terbentuk karena penyinaran.

Itulah beberapa faktor atau cara menciptakan dimensi fotografi sehingga


menghasilkan foto yang enak dilihat karena seolah memiliki ruang yang dalam.
Faktor atau cara tersebut di atas memang tidak mutlak harus digunakan pada waktu
bersamaan pada setiap kali melakukan pemotretan. Umumnya satu atau dua faktor
saja yang digunakan sudah cukup untuk menciptakan sebuah foto yang berdimensi.

Misalnya pada suatu kesempatan kita hanya menggunakan unsur-unsur yang


menyangkut warna dan garis pada foto yang banyak unsur grafisnya, atau
menggunakan unsur depth of field atau ruang tajam yang umumnya memang lebih
sering digunakan pemotret, terutama oleh wartawan foto saat memotret human
interest.

Pada foto berjudul "Berjajar", jelas sekali terkesan adanya ruang atau kedalaman yang
muncul, meski hanya menggunakan salah satu faktor yaitu mengatur ruang tajam,
tetapi tidak cukup menjelaskan bahwa bulatan atap yang berjajar membentuk deretan
telah mengesankan adanya dimensi.

Kesimpulan

Setiap faktor seperti yang tersebut di atas memang sangat membantu terwujudnya
penciptaan kesan ruang atau dimensi pada sebuah foto. Sekalipun sering kali pemotret
hanya menerapkan salah satu dari berbagai kemungkinan untuk penciptaan foto yang
mengandung kesan kedalaman atau dimensi, misalnya hanya mempertimbangkan
garis, susunan warna atau ketajaman sudah cukup menghasilkan foto berdimensi yang
baik, menggunakan secara keseluruhan unsur yang membuat terjadinya kesan ruang
atau kedalaman pasti akan menghasilkan foto yang lebih baik dan berhasil daripada
yang hanya menggunakan sebagian unsur saja.

Dimensi dalam fotografi itu sendiri tidak terbentuk dengan begitu saja atau secara
otomatis pada setiap kali kita melakukan suatu pemotretan. Meskipun adanya dimensi
itu sendiri memang sering tidak disada-ri oleh pemotret - umumnya apa yang direkam
melalui kamera merupakan pandangan yang biasa dalam kehidupan sehari-hari yang
tak perlu mempertimbangkan dimensi. Akan lebih baik bila pemotret mau
mempertimbangkannya saat melakukan pemotretan.

Justru karena itu pula banyak orang yang berpandangan bahwa segala sesuatu yang
dilihat itu mudah untuk difoto dengan hasil baik dan menawan hanya dengan
menekan tombol pelepas rana kamera saja. Yang harus dan perlu disadari oleh setiap
orang yang ingin melakukan pemotretan adalah bahwa hampir semua yang dipandang
oleh mata telanjang itu sesungguhnya selalu tampil secara liar, tak beraturan. Karena
itu tugas pemotret kemudian pada waktu memotret suatu pandangan yang tampak liar
tersebut dalam bingkai pemotretan sehingga menjadi sebuah foto yang baik dan
menarik dengan mengendalikan dimensinya. Sehingga mampu menghasilkan foto
yang mengundang....*

Membuat Foto Enak Dipandang


ika Anda perhatikan hidangan yang tersaji di Rumah Makan Padang, misalnya,
kesan apa yang bisa Anda tangkap di sana? Mungkin Anda sependapat, bahwa
aneka jenis makanan itu disusun secara rapi sehingga enak dilihat. Demikian pula
dengan fotografi. Jangan pernah Anda berpikir akan menghasilkan foto yang enak
dipandang tanpa adanya pengaturan (komposisi) terhadap objek yang akan direkam.
Atau malah sebaliknya, foto Anda hancur berantakan. Waspadalah sebelum menekan
tombol rana!

Di dalam fotografi, masalah komposisi tak kurang pentingnya seperti pada seni rupa.
Tanpa komposisi yang baik, materi yang ada di dalam foto tersebut, yang sebetulnya
mengandung potensi dan nilai-nilai tertentu yang cukup kuat, bisa menjadi hancur
berantakan. Di samping menambah nilai-nilai artistik dan estetika, pengaturan
komposisi mampu menonjolkan objek utama foto. Bahkan tidak jarang, akan
mendukung keberhasilan foto-foto yang kita buat.

Komposisi dapat pula kita manfaatkan untuk membentuk adanya kesan ruang. Tapi
bagi para pemula di bidang fotografi, komposisi justru sering diabaikan atau
terabaikan. Hal ini wajar mengingat perhatian dan konsentrasi mereka biasanya masih
terpecah antara pengaturan jarak, kecepatan, pemilihan bukaan diafragma dan
sebagainya atau mungkin memang kepekaannya masih kurang. Sekalipun demikian,
sebetulnya hal ini tidaklah sulit untuk diatasi.

Dengan berbagai latihan yang berkesinambungan sambil mempelajari dasar-dasar


komposisi, dalam waktu yang relatif singkat akan segera terbiasa. Maka hasilnya akan
terlihat, bahwa jepretan kameranya jauh berbeda dengan waktu-waktu sebelumnya.

Komposisi

Di dalam The Advanced Learner's Dictionary of Current English, A S Hornby cs,


seperti dikutip Anto Djoemairi, memberikan komposisi sebagai: 1. tindakan atau
"seni" menyusun (kata -kata, musik, cetakan dan sebagainya), dan 2. (sesuatu) yang
disusun (puisi, buku, musik, susunan objek yang disusun untuk dilukis atau difoto).
Sedang Prof Dr RM Soelarko memberikan batasan: Komposisi sebagai pengertian
seni rupa adalah susunan gambar dalam batasan satu ruang. Batasan ruang ini
merupakan limitasi, sekaligus syarat mutlak bagi adanya komposisi (Komposisi, Edisi
khusus Foto Indonesia, Oktober 1974, Bandung, hal. 5).

Di dalam fotografi, menyusun komposisi mempunyai pengertian atau batasan sebagai


upaya menyusun elemen-elemen foto yang esensial seperti bentuk, nada, warna
(dalam fotografi hitam putih " diwakili" oleh nuansa/gradasi nada kelabu), pola dan
tekstur di dalam batasan suatu ruang. Tujuannya adalah untuk mengorganisasikan
berbagai komponen foto yang saling berlainan, menjadi sedemikian rupa sehingga
gambar tersebut menjadi suatu kesatuan yang saling mengisi, serta mendukung satu
sama lainnya; dengan demikian, menjadi lebih enak dipandang.
Atas dasar hal tersebut, penyusunan komposisi membutuhkan adanya suatu ruang
tertentu, tegasnya: Format. Format di sini adalah mengikat, dengan pengertian bahwa
suatu komposisi yang baik dan pas pada format tertentu belum tentu cocok atau sesuai
dalam format yang lain. Untuk memperoleh komposisi yang baik, kita dituntut agar
memiliki kepekaan tersendiri, yang lagi-lagi dapat dipe roleh melalui latihan-latihan
berkesinambungan secara tekun, serius dan intensif.

Pandanglah sasaran atau objek foto dari berbagai sudut pandangan. Apabila dirasa
perlu, aturlah sedemikian rupa sehingga terbentuk susunan yang menarik dan enak
dipandang. P erhatikan juga latar belakang, sebab ada kalanya latar belakang
mempunyai andil yang cukup besar dalam hal mendukung atau malah menghancurkan
objek foto.

Demikian pula dengan latar depan kalau memang ada, dapat kita manfaatkan untuk
batasan atau framing yang mampu menimbulkan kesan adanya ruang atau kedalaman.
Beberapa hal tersebut akhirnya dapat kita putuskan untuk merangkumnya secara
keseluruhan ke dalam suatu batasan ruang. Dengan kata lain, kita telah menentukan
format untuk objek tersebut.

Melalui kupasannya tentang komposisi, Andreas Feininger dalam bukunya Successful


Photography memberikan saran yang dapat diikuti terutama oleh para pemula sebagai
berikut. Adalah penting untuk memusatkan interes yang ada, mengatur garis-garis dan
bentuk ke dalam pola yang harmonis, memberikan keseimbangan pada pembagian
gelap dan terang dalam keseimbangan grafis serta menciptakan batas-batas tepi
(framing) secara alami atau tidak mencolok mata.

Sudah barang tentu, hal ini hendaknya dilakukan sebelum rana ditekan, sampai
penyusunan komposisi tersebut dirasa mantap.

Untuk dapat melakukan hal tersebut, ada beberapa tip dan pilihan langkah yang dapat
diambil para pemula:

- Mengatur atau memberi pengarahan kepada objek sedemikian rupa sampai mantap
untuk memenuhi selera / keinginannya dalam hal komposisi. Di sini ia bertindak
seperti dan sebagai sutradara dalam pembuatan film cerita.

- Mengubah dan mencari sudut pemotretan sehingga dicapai suatu komposisi yang
lebih baik. Ini lebih sering dilaksanakan pada pemotretan lanskap dan foto-foto
arsitektur. Di mana mungkin, penggunaan lensa dengan jarak fokus yang lebih
panjang dari pada lensa normal; secara material akan dapat meningkatkan komposisi
melalui "efek telefoto" (pada pemotretan yang menggunakan lensa tele, terjadi distorsi
perspektif karena pemendekan jarak dalam pandangan, sehingga benda -benda yang
jauh letaknya seakan-akan merapat dan seperti dan seperti berhimpitan).

- Menunggu saat atau momen yang tepat sebelum menekan tombol rana. Hal ini
dilakukan pada pemotretan olahraga, tarian dan foto aksi lainnya yang banyak
mengandung gerak adegan dan perubahan-perubahan bentuk secara mendadak di luar
dugaan. Juga pada pemotretan yang dilakukan di tempat-tempat ramai seperti jalan,
pasar dan sebagainya.
- Memperbaiki komposisi pada waktu mencetak foto. Ini hanya dapat dilakukan
apabila fotografer melakukan sendiri pencetakan foto-fotonya di kamar gelap. Kalau
hal itu diserahkannya kepada orang/pihak lain, paling banter ia hanya bisa berpesan
untuk melakukan pembatasan-pembatasan pada fotonya yang tentu saja belum tentu
sesuai dengan kehendaknya. Dari segi kepuasan pun jelas akan jauh berbeda
dibanding kalau dapat dilakukannya sendiri.

Sederhana

Bukan hanya dalam pola hidup, di dalam fotografi pun kesederhanaan mempunyai
peranan yang cukup penting. Kesederhanaan lebih memudahkan dalam menyusun
komposisi. Semakin sederhana gambar akan semakin kuat.

Secara prinsipal, ini berarti bahwa setiap gambar atau foto hendaknya hanya berisi
objek tunggal saja. Pengisian gambar dengan objek ganda akan mengacaukan center
of interest dan membagi perhatian pengamat karena masing-masing objek akan saling
bersaing satu sama lain. Dalam hal banyak objek yang akan ditampilkan, lebih baik
dibuat beberapa bidikan daripada menyajikannya dalam sebuah foto yang terlihat
"riuh" .

Kesederhanaan dapat pula diterapkan pada pemilihan latar belakang. Tentu saja, latar
belakang yang riuh justru dapat lebih menyita pandangan daripada objek foto. Dalam
hal ini, apabila latar belakang tidak memberi dukungan pada objek, dan penggantinya
tidak mungkin dilakukan, dapat disederhanakan dengan membuat latar belakang
tersebut menjadi kabur. Dengan latar belakang yang kabur, selain objek menjadi lebih
jelas dan menonjol, kesan adanya ruang (kedalaman) juga dapat timbul.

Kemudian dapat kita perhatikan bahwa permainan warna pun tidak luput dari adanya
pengaruh terha-dap pengaturan komposisi - dalam hal ini menyangkut komposisi
warna. Dalam fotografi hitam putih, permainan warna ini muncul melalui simbol pada
gradasi nada dari putih ke hitam dengan berbagai nuansanya. Lain dengan fotografi
warna yang memang mampu menyajikan aneka macam warna yang cerah ceria.

Bukan berarti bahwa kita tidak boleh menampilkan warna -warna tersebut dengan
sebanyak-banyaknya, tapi lagi-lagi dengan menerapkan prinsip kesederhanaan, justru
akan lebih memperkuat foto daripada kaya akan warna tapi tersaji dalam
kesimpangsiuran tanpa arti sebagai pendukung komposisi. Kalau kita memang
mampu menampilkan aneka macam warna tersebut dengan baik dalam hubungannya
dengan komposisi, ya baik saja dilakukan.

Hal lain yang tak kalah penting adalah pembagian/ penggunaan ruang dan bidang.
Untuk suatu komposisi yang baik, penggunaan ruang dan bidang mestinya tidak
sembarangan.

Harus dipikirkan mengenai keseimbangan, keserasian dan keharmonisannya. Di sini


masalahnya bukan menyangkut benar atau salah, tapi lebih cenderung pada enak atau
tidak untuk dipandang dan dinikmati, dan barulah kita dapat menilainya baik atau
tidak.
Dalam hal penggunaan bidang ini, dapat ditentukan di mana atau pada bagian mana
objek atau objek akan ditempatkan; pemilihan sudut pemotretan, seberapa banyak
lingkungan di sekitar objek dapat diikutsertakan dan sebagainya, termasuk pengisian
latar depan kalau memang ada dan dirasa perlu.

Dalam kaitannya dengan hal tersebut, seorang fotografer memang tetap saja memiliki
kebebasan sepenuhnya untuk meletakkan horizon di bagian bawah, atas atau bahkan
tepat di tengah-tengah format fotonya.

Ia juga boleh saja memotret tiga orang yang berdiri berjajar dengan jarak yang
renggang dan bukannya mengelompokkan dalam suatu susunan yang merupakan satu
kesatuan atau unit yang lebih luwes. Pastikan sebelum Anda menekan tombol rana,
Anda menyusun dan mengatur komposisi sedemikian rupa. Waspadalah!

RONY SIMANJUNTAK

Membuat Objek
Menonjol
Atok Sugiarto

Sinar Katedral - Pengaruh warna gelap dan


terang, objek siluet, telah menjadikannya
menonjol.

Oleh ATOK SUGIARTO

embuat foto yang baik dan menarik tak selalu


harus diartikan menciptakan gambar yang
tajam (fokus) secara keseluruhan seperti yang
sering kita saksikan pada foto-foto pemandangan.
Foto yang hanya tampak tajam (fokus) dan
menonjol sebagian saja -umumnya pada objek
utama-bisa menjadi sebuah foto yang baik. Dalam
hal ini atas dasar penilaian keberhasilan, pemotret menampilkan apa yang menjadi
pusat perhatiannya.

Anggapan dan pernyataan ini setidaknya berlaku bagi pemotretan dengan objek di
luar pemandangan (meskipun itu juga dapat dilakukan). Tepatnya, dalam hal ini
adalah foto dengan unsur tunggal, misalnya manusia, binatang, atau suatu benda lain.
Sesuai dengan tujuannya, foto sebagai media komunikasi gambar, maka penciptaan
objek yang menonjol itu tak lain dibuat atas dasar keinginan pemotret menampilkan
objek utama, di antara objek-objek lain di suatu tempat, suatu suasana atau suatu
ruang tetapi masih tetap dominan dan menjadi pusat perhatian.

Penciptaan objek menonjol tersebut secara umum memang selalu ditujukan untuk
mengarahkan pandangan mata menjadi tertuju hanya pada apa yang tampak menonjol
(objek utamanya). Bila objek utama yang dimaksud adalah manusia yang sedang
melakukan suatu aktivitas, maka manusia dan aktivitasnya itu perlu kita ciptakan
menonjol lebih menonjol dibandingkan objek lain yang berada di sekitarnya.

Ada beberapa cara yang dapat ditempuh untuk menjadikan sesuatu tampak menonjol,
dominan atau menjadi pusat perhatian sebagai objek utama yaitu dengan
mengisolasinya atau menjadikan hanya objek utama yang tampak tajam dan menjadi
pusat perhatian. Dan itu dapat dilakukan di antaranya dengan menampilkan objek
utama lebih besar (memenuhi bingkai pemotretan) dibanding objek lainnya, atau juga
dengan menciptakannya lebih menonjol, lebih tajam dibanding objek lainnya
menggunakan cara fokus selektif.

Dalam lingkungan kehidupan kita sehari-hari jarang kita dapatkan suatu objek berupa
manusia, binatang atau benda lain yang berada sendirian di suatu tempat atau ruangan.
Karena keadaan yang seperti itu, maka bila seorang pemotret berniat memotretnya
untuk menciptakan hasil yang mampu menggambarkan unsur utama (objeknya), maka
yang harus dilakukan pemotret adalah membuat objek utamanya tampil dominan
dengan cara fokus selektif. Yaitu menciptakan fokus hanya pada objek utama. Hal ini
biasa dan bisa dilakukan dengan menggunakan lensa tele panjang dengan kombinasi
bukaan diafragma besar.

Contohnya misalnya, pada waktu kejadian atau peristiwa sholat berjamaah (sholat
Ied) misalnya, kita sering menyaksikan seorang anak bermain atau melakukan suatu
aktivitas di antara para orang tua yang sedang sholat berjamaan. Karena kejadian
seperti itu menarik perhatian, khususnya menarik sebagai objek pemotretan, maka
banyak pemotret yang sering mengabadikannya.

Untuk dapat merekamnya menjadi sebuah foto yang baik dan menarik, sehingga
tampak jelas keinginan menampilkan objek utamanya atau yang menjadi pusat
perhatian, maka pilihannya adalah dengan menciptakan objek tadi lebih menonjol
fokusnya dibanding dengan objek lain di sekitarnya. Ini dapat dilakukan dengan
menggunakan tehnik bukaan diafragma besar (angkanya kecil). Dengan penggunaan
lensa tele 200 mm maka keinginan untuk menciptakan objek utama yang menonjol,
tampak tajam atau lebih tajam dibanding objek lain yang berada di sekitarnya, dapat
dengan mudah terwujud.

Lensa tele yang mempunyai efek mendekatkan dengan tambahan bukaan diafragma
f:2,8 akan menghasilkan ruang tajam yang sangat sempit, sehingga efektif untuk
penciptaan objek utama yang menonjol. Semakin panjang lensa tele yang digunakan
dan semakin besar bukaan diafragmanya, membuat berbagai benda lain yang berada
di latar belakang maupun depan semakin kabur. Penciptaan objek utama yang
menonjol dengan latar belakang kabur (blur) dengan menggunakan lensa tele panjang
dengan kombinasi bukaan diafragma besar, adalah cara yang paling umum digunakan
oleh pemotret untuk menampilkan objek utama agar tampak menonjol, tetap tajam
dan menjadi pusat perhatian.

Masih ada cara lain yang dapat ditempuh untuk menciptakan foto dengan objek utama
menjadi lebih menonjol dibandingkan berbagai objek lain tanpa harus mengaburkan
latar belakang maupun latar depan dengan menggunakan lensa tele panjang, yaitu
dengan menentukan atau menciptakan warna kontras di antara warna lain yang
dominan.

Atok Sugiarto

Zebra - Menonjol karena tiga unsur yang


mendukungnya, yaitu pilihan warna
objek, besar objek, dan fokus objek.

Warma Objek

Seperti telah disebutkan bahwa untuk


menciptakan objek foto yang mampu
menjadi pusat perhatian atau tampil secara
menonjol secara umum dapat dilakukan
dengan cara mengaburkan latar belakang
maupun latar depannya. Cara lain adalah
tanpa harus mengorbankan objek lain
yang berada di sekitarnya, yaitu tanpa
membuat objek lain tersebut tampak kabur
atau blur.

Cara lain itu adalah dengan menempatkan, menciptakan dan mengatur komposisi
(terutama warna) sedemikian rupa sehingga sekalipun secara fisik objek utamanya
tampak tajam (fokus) secara merata dengan objek lain di sekitranya, tetapi tetap dapat
menjadi pusat perhatian dan menonjol karena pengaruh warnanya. Bila objek itu
adalah seorang model dengan pakaian terang, maka atur dan tempatkan pada bagian
atau salah satu bingkai pemotretan dengan memilih lingkup atau lingkungan
pemotretan yang berwarna polos.

Seorang petani dengan pakaian berwarna kuning atau merah, mungkin akan menjadi
lebih tampak menonjol berada di sebuah pematang atau sawah dengan warna
kehijauan. Sekalipun dalam hal ini objeknya hanya tampil kecil, tetapi pengaruh
warna telah menggiring arah pandangan mata menjadi hanya tertuju pada objek
berwarna menonjol yang berada di kehijaua n.

Letak objek mungkin bisa di ujung kanan atau ujung kiri bingkai foto. Mungkin juga
pada bagian terbawah atau bagian teratas, tergantung selera atau keinginan pemotret
membawa objek kebagian mana, karena di mana pun letaknya warna yang menonjol
telah me njadikan mata seseorang yang memandang foto hanya tertuju pada objek
utama. Sebab dalam hal ini warna objek telah menjadi pusat perhatian.

Pada foto berjudul "Sinar Katedral", pusat perhatian tertuju langsung hanya pada
objek utama yang menonjol, dalam ha l ini sinar terang di antara suasana gelap (warna
hitam). Inilah gambaran salah satu cara menciptakan objek menonjol dengan cara
menata letak atau mengomposisikan warna. Sekaligus membuktikan bahwa
penciptaan foto yang menonjol objek utamanya tidak selalu harus dibuat dengan
menggunakan lensa tele panjang dan bukaan diafragma besar saja. Tetapi dapat juga
dilakukan dengan menggunakan lensa sudut lebar seperti halnya memotret
pemandangan yang tampak fokus secara keseluruhan baik objek utamanya maupun
objek lainnya tetapi dengan lebih mempertimbangkan warna.

Memotret manusia dalam suatu keramaian secara umum memang akan menghasilkan
sebuah foto yang tampak tajam secara keseluruhan, sehingga kadang sulit bagi kita
menikmati makna atau pesan yang ingin disampaikan. Dalam hal ini, foto yang seperti
itu akan bersifat sebagai dokumentasi biasa saja.

Untuk dapat merekamnya sehingga menghasilkan foto yang mampu memperjelas


pesan dan alasan mengapa foto tersebut dibuat maka seorang pemotret harus mampu
menciptakannya menjadi sebuah foto yang mampu memperjelas isinya.

Akan menjadi sebuah foto yang baik bila pemotret mampu memilih dan memilah
manusia mana yang akan menjadi pusat perhatian atau menjadi objek utama dalam
pemotretan. Persoalan komposisi yang paling mendasar dalam hubungan ini adalah
bagaimana membuat foto objek utama tampak lebih menonjol dibanding objek lain di
sekitarnya dengan atau tanpa menggunakan lensa tele panjang.

Foto berjudul "Zebra" dibuat dengan menggunakan bukaan diafragma f:2,8 pada lensa
300 mm. Akibat sempitnya ruang tajam yang dihasilkannya maka menghasilkan foto
dengan objek utama yang teramat menonjol. Sedang objek lain yang masuk dalam
bingkai pemotretan (latar belakang) men-jadi kabur atau out of focus. Akibat dari
penonjolan dengan cara ini maka secara mudah penikmat foto bisa menilai maksud
dan tujuan pemotret menampilkan se- buah objek, karena pilihan dan maksudnya jelas
terlihat secara fokus atau ketajaman gambar. Sesuatu yang berada di sekitar atau di
belakangnya (zebra) yang lain tampak kabur.

Pilihan atau cara menciptakan objek utama yang menonjol dengan


mempertimbangkan dan memasukkan beberapa unsur seperti besar objek (dominan
dalam bingkai foto), warna objek dan ketajaman objek, akan menghasilkan foto yang
menonjol secara baik. Tetapi dengan menggunakan salah satu unsur saja
sesungguhnya sudah mampu menghasilkan foto yang tampak menonjol dengan baik.
Kuncinya adalah seberapa jauh kemungkinan-kemungkinan itu bisa dilakukan
pemotret, karena menciptakan foto dengan objek utama yang tampak menonjol itu
sangat berkaitan dengan keinginan atau hasil yang ingin dicapai pemotret itu sendiri
dan pesan apa yang ingin disampaikan melalui fotonya atau apa yang dilihatnya. *

Alternatif Foto Perkawinan


Oleh Atok Sugiarto
Atok Sugiarto

UMUM - Secara umum fotografi perkawinan


adalah foto yang menggambarkan objek
berupa sepasang pengantin.

emotret acara perkawinan atau membuat


foto pengantin adalah pekerjaan membuat
rekaman kejadian yang amat sangat penting.
Dapat dikatakan demikian karena perkawinan
dianggap suatu peristiwa sakral yang berlangsung sekali saja seumur hidup oleh
hampir semua insan pendamba kebahagiaan. Dan karena itu hampir dapat dipastikan
semua pasangan pengantin tak akan melewatkan peristiwa tersebut dengan
mengabadikannya lewat foto-foto yang indah.

Bila sudah demikian, pada "musim kawin", fotografer pun dapat dipastikan akan
ramai diburu calon pengantin agar dapat memotret, mendokumentasikan atau
merekam pesta sakral tersebut dengan tuntutan hasil yang sebagus-bagusnya. Suatu
hal yang tentu dapat dimaklumi karena setiap pengantin, siapa pun mereka, pasti
menghendaki suatu hasil foto yang terbaik sekaligus memuaskan. Karena itu pula
keahlian, sikap dan cara profesional seorang pemotret sangat diandalkan untuk dapat
menghasilkan foto-foto perkawinan yang baik dan menarik. Upaya dan kreativitas
pemotret dalam menyiasati pengntin yang dipotretnya dengan penciptaan pose -pose
yang baik pun menjadi sangat perlu untuk pencapaian hasil yang diharapkan.

Sayangnya dalam setiap kali terjadi acara perkawinan, pendokumentasian atau


pemotretan pesta perkawinan secara umum hanya dilakukan sebatas membuat foto
atau merekam kejadian yang biasa-biasa saja. Sehingga bila disimak, foto perkawinan
dari tahun ke tahun seolah tidak berkembang, terpaku pada pola pembuatan foto
"wayang" yaitu berdiri berjajar atau duduk berdua dengan kedua orangtua atau dengan
sahabat terdekatnya yang terasa membosankan (terjebak dalam tampilan rutinitas).
Sisi lain dari kebiasaan tersebut menjadikan pemotret seolah hanya dapat membuat
foto yang berkesan datar belaka. Bahkan juga sering foto pengantinnya itu sendiri
tampak kaku, penampilannya seperti pada pasfoto.

Padahal untuk suatu hasil pemotretan yang baik, seorang pemotret haruslah
menciptakan sebuah foto yang baik dan menarik, luwes dan terkesan apa adanya
sekalipun suasana yang berlangsung kurang baik atau kurang menarik. Dengan teknik
dan trik yang dikuasai, seharusnya pula fotografer dapat mengubah suatu keadaan
yang kurang baik menjadi suatu hal baik bahkan menjadi menarik. Misalnya dalam
suatu perkawinan di kalangan masyarakat ekonomi menengah ke bawah yang
cenderung merayakan hajatan perkawinan di rumah (tidak di gedung) yang hampir
pasti pula resepsinya dilakukan dalam suatu ruangan yang sempit. Maka setid aknya
dapat digambarkan menjadi sebuah tempat yang menampilkan suasana luas di mana
foto yang dibuat tidak sekadar foto mengenai pengantinnya saja melainkan sebuah
foto yang mampu mencakup pengantin dan sekelompok orang yang umumnya selalu
berpotret bersama pengantin.

Itu sebabnya seorang pemotret yang sudah senior tidak akan pernah menyalahkan
kondisi atau suasana, tidak juga menyalahkan modelnya (pengantin) yang berpose
atau berekspresi kurang menarik. Dengan kata lain, seorang pemotret yang sudah
berpengalaman dengan segala kemampuannya pasti bisa "mengubah" suatu suasana
dengan mengganti lensa yang digunakannya atau mengubah wajah yang biasa
menjadi lebih cantik dari aslinya dengan menggunakan soft filter atau alternatif lain
yang intinya menjadikan indah segala yang dilihatnya.

Jurnalistik

Sesungguhnya memotret perkawinan itu tidak ada standar atau aturan mainnya.
Misalnya bahwa foto yang dibuat harus selalu menampilkan foto diri pengantin yang
sedang berdiri atau duduk bersanding di pelaminannya berdua saja. Foto juga dapat
dibuat pada saat pengantin melakukan aktivitas misalnya sedang berjalan dalam arak-
arakan, waktu makan (suap-suapan) atau sejenisnya.

Karena itu maka alternatif foto perkawinan yang baik dapat dibuat dengan melakukan
pemotretan pengantin namun tidak selalu harus menampakkan pengantinnya yang
sedang duduk atau berdiri formal. Tidak perlu semua diatur dengan wajah terarah
menatap ke arah kamera, melainkan foto yang dibuat bersifat jurnalistik atau foto
yang cenderung menceritakan peristiwa yang terjadi, atau juga menampakkan hasil
pemotretan dengan objek (pengantin) tetapi seolah tidak tahu bahwa dirinya sedang
difoto secara candid camera .

Jurnalistik itu sendiri tidak selalu dan hanya digunakan untuk kepentingan media
cetak melainkan juga untuk kepentingan-kepentingan pemotretan lain seperti halnya
dalam foto perkawinan. Karena itu sebagai alternatif, foto perkawinan bisa dibuat
seperti halnya pada foto untuk keperluan media cetak, yaitu bersifat berita, terkadang
bila perlu juga dib uat dengan menggunakan film hitam-putih.

Foto perkawinan sering dicetak besar menggunakan kanvas sehingga hasilnya bak
lukisan. Namun sebagai pemotret sebaiknya kita juga harus mampu
mempertimbangkan bahwa pemotretan perkawinan yang dipesan sudah selayaknya
tidak melulu mengikuti keinginan pribadi dan selera pemotretnya. Maka dalam
membuat foto pengantin yang bersifat pesanan sebaiknya tetap harus memenuhi
keinginan pemesan (klien), sehingga klien terpuaskan meskipun terkadang "terasa
menyedihkan" bagi si pemotret.

Pemotret tentu saja harus pandai-pandai agar karya foto perkawinannya tidak hanya
menampilkan foto pengantin berdiri atau berjejer dengan undangan yang hadir, Dia
juga harus mampu menghasilkan sekumpulan foto yang bercerita tentang kejadian
atau peristiwa perkawinan tersebut secara fotografis, tetap indah dan mengundang
keingintahuan bagi yang melihatnya
karena mirip foto berita.

Atok Sugiarto

ALTERNATIF - Dari arah belakang


dengan memperlihatkan suasana juga
bisa saja dilakukan, khususnya untuk
menerangkan kejadian atau jalannya upacara perkawinan.

Umum

Secar umum setiap orang (pengantin) atau objek atau juga klien, selalu mengharapkan
hasil pemotretannya bagus. Dan karenanya sudah selayaknya sebagai pemotret
profesional juga harus dapat menghasilkan foto sesuai yang dipesan atau diharapkan.

Bahwa dalam foto pengantin secara umum dan yang paling sering dilakukan adalah
membuat foto-foto tentang pengantin yang tampak rsmi, berpose, diset dan dicetak di
atas kanvas, tetapi bila dikehendaki sesekali sebagai alternatif bisa ditawarkan atau
dibuat foto perkawinan yang pa adanya, mirip foto-foto berita dengan tidak perlu
mengatur objeknya atau dibuat dengan cara candid camera.

Secara umum penanganan pembuatan foto perkawinan yang selalu terkait dengan
harga akan berhasil menghasilkan foto yang baik atau sesuai pesanan bila tercapai
kerja sama yang baik dengan pemesan, dalam hal ini pengantin. Bila pemesan atau
pengantin setuju dengan tawaran alternatif untuk membuat foto pengantin yang apa
adanya maka kunci keberhasilan menghasilkan foto pengantin yang baik dapat
tercapai. Seperti misalnya dibuat dengan film hitam-putih.

Fotografi memang dapat digunakan untuk menghasilkan sesuatu yang bernilai seni.
Untuk itu tentu saja pemotretnya pun harus mengerti tentangnya. Apakah itu seni
mengatur dan menata objeknya sesuai hukum keindahan, posenya, tata sinarnya
hingga pencetakannya.

Namun dalam hal fotografi acara perkawinan, foto di sini adalah suatu pesanan. Maka
setidaknya pertimbangan seni, keinginan atau selera pribadi dengan bermacam-
macam alternatifnya dapat dikesampingkan. Sebaliknya yang harus diusahakan adalah
mempertimbangkan nilai komersialnya. Karena sesungguhnya fotografi perkawinan
itu tetap harus bersifat komersial atau bisnis. *

Memotret di Pagi
Hari
Foto: Atok Sugiarto

SELAMAT DATANG - Pemotretan pada


pagi hari yang dilakukan sambil jalan-jalan
menghasilkan foto yang mengandung
kedalaman karena efek cahaya yang terjadi.

Oleh Atok Sugiarto

emotret memang dapat dilakukan di setiap


kesempatan. Tetapi, suatu hari yang santai
atau hari libur pada saat kita berwisata dan
cuacanya cerah tentu lebih menyenangkan.
Terlebih bila cahaya matahari terang menyinari bumi, teramat sayang bila tidak kita
manfaatkan untuk membuat foto.

Mengapa demikian? Barangkali itulah pertanyaan yang paling sering terlontar dan
menggelitik hati. Pasalnya, banyak pemotret senior yang menganjurkan juniornya
untuk selalu memotret pada pagi hari agar menghasilkan foto yang baik.

Pertimbangan

Berbagai anjuran dan pengalaman para senior barangkali memang perlu diikuti.
Namun melakukan pemotretan seperti yang dianjurkan para senior tanpa tahu apa
maksud dan tujuannya tentu tak ada artinya.

Karena itu, setidaknya bagi yang merasa junior di bidang fotografi selayaknya tahu
mengapa untuk memperoleh hasil pemotretan yang baik dianjurkan atau seharusnya
dilakukan pada pagi hari. Secara umum, memang ada beberapa hal yang memberikan
pengaruh baik dan menguntungkan bagi pemotretan yang dilakukan pada pagi hari, di
antaranya:

Arah cahaya

Pada pagi hari posisi matahari masih rendah sehingga bisa kita saksikan hasil
bayangan yang terjadi cukup panjang. Maka pemotretan yang dilakukan pada pagi
hari akan menghasilkan foto dengan sudut dating sinar yang baik. Penyinaran pun
sangat menguntungkan karena memberikan efek kedalaman pada foto. Efek tersebut
dapat terlihat pada bayangan suatu objek yang ditampilkan. Dan, jika foto hanya
tercetak pada bidang datar dua dimensi, pencahayaan yang demikian akan
membuatnya terkesan seperti tiga dimensi.

Keuntungan lain yang sering dimanfaatkan adalah masuknya cahaya lewat jendela,
window lighting, yang akan menghasilkan cahaya Rembrandt yang indah. Foto
dengan cahaya seperti ini yang selalu dipuji oleh sebagian pemotret karena memang
mampu menjadikan sebuah foto mirip lukisan.

Contoh yang cukup baik dan menarik mengapa dianjurkan untuk melakukan
pemotretan pada pagi hari juga bias dilihat pada foto berjudul "Selamat Datang",
dengan pencahayaan matahari pagi yang dating dari arah belakang menghasilkan foto
yang tampak dramatis dan sangat kuat dalam menghasilkan foto yang tampak
menggambarkan kedalaman hanya dengan melihat sisi gelap dan terangnya.

Untuk dapat menghasilkan sebuah foto yang baik dan indah memang tidak harus
dilakukan pada pagi hari karena sudut kemiringan sinar seperti pada pagi hari juga
dapat terjadi pada sore hari. Tapi yang membedakan adalah kuatnya sinar.

Pada sore hari sinar cenderung melemah. Sinar matahari pagi yang menguntungkan
untuk pemotretan adalah ketika sinar dating dari arah 45 derajat, tetapi pada dasarnya
sesaat setelah matahari terbit hingga sekitar pukul 09.30 cukup menjanjikan dan
menguntungkan bagi suatu pemotretan.
Alasan lain karena pada pagi hari lebih memberikan keleluasaan dalam menghasilkan
foto. Foto menjadi lebih kontras dibandingkan dengan pemotretan sore hari yang
cenderung suram penyinarannya.

Warna cahaya

Pada pemotretan pagi maupun sore hari akan sama-sama menghasilkan warna kuning
kemerah-merahan, namun jika kita amati dengan teliti maka akan ditemukan efek
yang sangat berbeda.

Pada pemotretan pagi hari sering kita mendapatkan udara bersih yang mengandung
titik-titik embun yang dapat ditemukan pada dedauanan. Efek inilah yang tidak dapat
ditemukan pada sore hari sekalipun sehabis hujan.

Bila mata pe motret sudah terlatih melihat berbagai perbedaan yang terjadi karena
pengaruh alam, tak dapat disangkal pemotret tersebut akan menghasilkan foto tentang
alam yang baik.

Keadaan alam

Kondisi lingkungan pada pagi hari pun menyegarkan karena suplai oksigen di udara
masih banyak. Keadaan seperti itu tak dapat dilepas dari membuat foto tentang
manusia, baik itu sebagai bagian dari pemotretan alam atau bagian dari pemotretan
model.

Dalam kondisi sehat maka manusia sebagai objek pemotretan di pagi hari akan
tampak memancarkan kesegaran dan kecerahan hidup. Hal itu akan memberikan
kesan yang positif.

Perlu Diperhatikan

Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan jika memotret pada pagi hari.

Waktu matahari terbit (berada di bawah cakrawala) sudah cukup terang untuk
membuat foto, tetapi harap perhatikan perbedaan cahaya antara langit dan objek-objek
di ats horizon.

Pada pemotretan dengan posisi kamera menentang ke arah terbitnya matahari harus
hati-hati, jangan sampai timbul efek bercak cahaya akibat lapisan lensa, kecuali efek
tersebut menjadi bagian dalam pemotretan yang sengaja ditampilkan.

Pada posisi sinar dari arah samping, jika mengikutsertakan langit ke dalam bingkai
pemotretan maka akan menghasilkan langit yang mungkin pucat dan belang sebelah.

Untuk mengatasinya dapat dilakukan pemotretan dengan menempatkan pohon atau


sesuatu yang lain yang dapat berfungsi menyekat atau menutup bagian yang membuat
pucat tersebut.

Untuk menghasilkan rim light yang baik pada pemotretan pagi hari dapat dilakukan
dengan latar belakang pemotretan yang lebih gelap.
Itulah beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam memotret di pagi hari. Pemotretan
yang dilakukan pada pagi hari dapat diyakini menjadi suatu cara terbaik untuk
mendapatkan foto yang baik. *

Digital atau Konvensional


Oleh: Atok Sugiarto

eputusan untuk memiliki dan


membeli sebuah kamera
hampir bisa dipastikan selalu
berhubungan erat dengan
keterbatasan biaya. Karena itu
sering muncul pertanyaan, untuk
apa membeli sebuah kamera
yang mahal jika hanya untuk
keperluan sederhana, misalnya
hanya mendokumentasikan
acara-acara keluarga saja.
Namun demikian jika kita
seorang pemotret profesional,
dihadapkan pada suatu kenyataan yang sama pada jaman sekarang, untuk memilih
atau memiliki sebuah kamera yang mampu mengatasi ruang dan waktu dengan sangat
baik, tentu bisa langsung menunjuk pada pilihan kamera digital.

Satu hal pasti, alasannya adalah karena kamera digital sudah serba canggih, sehingga
untuk suatu keperluan sudah bisa melakukan berbagai kemampuan olah cetak dengan
mudah dan cepat. Semua itu tanpa harus melalui proses cuci film dan mencetaknya,
kemudian memindai (scanning ) yaitu menjadikan film ke dalam empat warna:
magenta , cyan, yellow dan black . Dan karena kecanggihannya dalam proses alih imaji
itulah maka kamera digital pada masa sekarang telah menyita perhatian berbagai
kalangan yang berhubungan erat dengan proses cetak-mencetak.

Tidak bisa disangkal pula bila dalam perkembangannya, fotografi digital yang telah
demikian canggih sangat dibutuhkan kehadirannya sebagai sarana utama dalam
melakukan pekerjaan alih imaji. Alasan lain karena jenis kamera konvensional yang
memang terasa lebih mahal dianggap kurang praktis dan efisien dari segi waktu.
Sehingga ada yang memperkirakan bahwa cepat atau lambat kamera jenis itu akan
ditinggalkan oleh kaum pemotret profesional yang dalam pekerjaannya melakukan
proses alih imaji membutuhkan waktu yang amat singkat.

Dengan jenis kamera konvensional, untuk bisa melihat sebuah hasil pemotretan paling
tidak dibutuhkan waktu sekitar satu jam. Itupun baru sampai proses cuci dan cetaknya
saja, belum termasuk memindai foto untuk bahan pencetakan di percetakan dan lain
lain. Sedangkan untuk pekerjaan yang sama menggunakan jenis kamera digital bisa
langsung dihubungkan dengan alat cetak atau printer untuk langsung dinikmati olah
cetaknya hanya dalam waktu kurang lebih 10 menit.
Dari beberapa kenyataan seperti di atas, untuk menjawab pertanyaan kamera jenis apa
yang sebaiknya dipakai pada jaman sekarang, sebaiknya dipertimbangkan dulu
seberapa jauh keperluan Anda untuk menghasilkan karya fotografi. Prinsip utama
membeli kamera sama dengan membeli barang lain, yaitu pertimbangkan kemudahan
mendapatkannya, kemudahan servisnya dan tentu saja harga serta manfaat yang
diharapkan. Setelah hal-hal itu terjawab, maka pilihan pertama untuk membeli atau
memiliki kamera adalah, pilihlah kamera yang adaptif dan cocok dengan keperluan
yang ingin dicapai.

Sebagai patokan kedua adalah dengan mengukur tingkat kebutuhannya. Untuk


keperluan apa Anda membeli kamera. Kalau memerlukan kamera untuk suatu
kebutuhan yang mendadak misalnya untuk memotret suatu acara pikinik atau liburan,
sebaiknya jenis kamera konvensional (menggunakan film) yang layak dibeli.
Alasannya lebih karena kemudahan mendapatkan fasilitas atau filmnya, kemudahan
menggunakannya untuk segera mendapatkan hasilnya meski Anda berada di daerah
terpencil sekalipun.

Memaksakan diri membeli kamera yang "serius" dari jenis kamera digital yang tentu
berharga mahal adalah usaha yang sia -sia.

Atau, bisa dikatakan sebagai pemborosan jika keperluannya hanya untuk pemotretan
dokumentasi keluarga saja. Sebab kamera digital memerlukan perangkat tambahan
seperti komputer atau printer untuk melihat hasilnya.

Kelebihan

Tentu saja bila dicari-cari, baik kamera digital maupun kamera konvensional yang
menggunakan film dan zat-zat kimia untuk proses kelanjutannya, masing-masing
memiliki kekurangan, ada proses-prosesnya yang cukup rumit atau sering
menggagalkan pemotretan. Tetapi karena pada umumnya seseorang membeli untuk
memiliki sebuah kamera dasarnya adalah ketertarikan akan kelebihan yang dimiliki
kamera tersebut, maka selayaknya apa pun kekurangan yang ada pada kamera digital
atau konvensional kita kesampingkan.

Bila sudah memilikinya maka sudah selayaknya kita menggunakan atau


memaksimalkan hanya pada kelebihan-kelebihan yang dimiliki kamera tersebut.
Berikut adalah beberapa kelebihan kamera digital dan kamera konvensional:

Digital:

Kualitasnya memuaskan.

Biaya operasionalnya ekonomis karena tak perlu beli dan memeroses film.

Sistem otomatis yang mudah dioperasikan.

Mudah dimodifikasi.

Foto mudah dikirim, melalui e -mail.


Dapat dicetak sendiri secara langsung dengan menggunakan printer komputer.

Hasil pemotretan dapat dengan mudah disimpan atau dihapus saat memotret.

Foto yang disukai dapat dilihat melalui LCD kamera dan langsung dicetak.

Hasil foto dalam bentuk file digital dapat dimodifikasi atau dikoreksi dengan mudah.

Konvensional:

Proses cuci cetak dapat dilakukan dengan mudah kapan saja dan di mana saja.

Tahan cukup lama untuk disimpan.

Sistemnya canggih dan lengkap.

Lensa umumnya dapat ditukar -tukar sesuai keinginan dan kamera dilengkapi motor-
drive.

Kecepatan rana dapat diatur sesuai kebutuhan, ada yang hingga 1/8000 detik.

Akurasi warna yang lebih tepat dengan hasil yang tajam.

Filmnya dapat dipindai ke komputer dan dapat diperluas ke proses digital atau ke
printer.

Harga kameranya tidak terlalu mahal.

Tidak memerlukan perangkat tambahan seperti komputer dan printer.

Dengan berbagai kelebihan yang dimiliki sebuah kamera, apakah itu digital atau
konvensional, maka terpulang kepada pemotret akan memilih yang mana. Dalam hal
ini keperluan seperti apa yang dikehendaki dalam menghasilkan foto akan menjawab
pilihan dengan kamera apa sebaiknya kita memotret. *

Memotret Gedung Tua


Ir Hendra Kusuma

BANGUNAN BERSEJARAH - Gedung


"MARBA" di Semarang, Jateng ini
merupakan salah satu bangunan bersejarah
karena usianya yang telah berabad-abad,
eksteriornya pun unik. Perkembangan
lingkungan sekitar yang ditandai oleh kabel
listrik yang bergelantungan, spanduk dan
papan nama salah satu parpol di situ cukup
mengganggu takala foto arsitektur gedung ini
ingin dibuat (gambar atas). Teknologi
kamera digital mampu mengatasi masalah pemotretan tadi. Perhatik an kabel
listrik, spanduk maupun papan nama dengan mudah dihilangkan. Bahkan
sentuhan warna sephia membuat bangunan serta lingkungan sekitar seolah
kembali pada zamannya (gambar bawah).

emotret bangunan/gedung tua memiliki keunikan tersendiri. Selain karena usianya


yang telah berabad-abad itu, budaya serta peradaban manusianya saat itu juga
terpancar baik ekseterior maupu interiornya. Meski demikian tak jarang kita
menghadapi beberapa kendala/tantangan sewaktu mengabadikan bangunan bersejarah
itu. Lingkungan sekitar yang seolah tidak mendukung, misalnya tiang listrik atau
kabel listrik yang bergelantungan. Belum lagi spanduk yang penampakannya terlihat
sangat mengganggu.

Lalu, apakah Anda akan mundur ? Jangan ! Dengan kamera digital, "sim sala bim!"
Tiang listrik serta spanduk itu bisa dilenyapkan. Yang penting di sini, jika Anda
berminat menjadi fotografer arsitektur, menurut Rikin Djunaedi, seorang fotografer
arsitektur, bekali diri dengan wawasan dan ilmu tentang rancang bangun. Mulai
dengan membaca berbagai majalah dan buku, mengikuti seminar dan banyak melihat
karya orang lain.

Kebutuhan akan foto arsitektur tak pernah surut dari waktu ke waktu. Tujuan
pembuatannya pun beragam, mulai dari keperluan buku, majalah, company profile ,
sampai kalender dan kartupos.

Untuk buku, majalah dan company profile, foto harus komunikatif dan informatif.
Sedang untuk keperluan lain, dapat lebih bebas dan ilustratif, dengan bobot seni yang
lebih tinggi. Misalnya, close up, kroping, atau permainan cahaya yang lebih
eksperimental.

Tulisan kali ini lebih dititikberatkan pada persoalan foto arsitektural dalam arti
sebenarnya, yaitu yang memiliki bobot informatif. Ada perbedaan point of interest
serta tujuan yang hendak dicapai, antara foto arsitektur dengan foto interior.

Pada dasarnya, foto arsitektur berbeda dengan foto interior. Foto arsitektur lebih
menonjolkan konstruksi suatu bangunan serta fungsinya. Sedang untuk foto interior,
bobot informasinya lebih pada detail suatu produk, warna, dan bahan atau materi yang
digunakan. Dari sisi visual, foto interior memang sangat kaya akan permainan
komposisi, garis, bentuk dan warna. Unsur -unsur ini membuat foto lebih harmonis
apalagi bila kita dapat mengimbangi komposisinya, begitu kata Rikin.

Tak jarang sebuah foto menjadi acuan bagi yang melihatnya. Misalnya, model
ruangan, mebel yang dipakai, corak lantai, dan banyak lagi. Foto arsitektur pada
dasarnya mencakup dua bagian, eksterior (luar ruang) dan interior (dalam ruang).
Namun dalam arti yang lebih luas, foto arsitektural juga sangat erat dengan
lingkungan sekitarnya. Bukan sekadar bangunan atau ruangan semata.

Hampir setiap bangunan memiliki "kekuatan" tersendiri. Dan fotografer harus peka
serta jeli melihatnya untuk kemudian merekamnya ke dalam foto. Ada bangunan yang
kuat pada detailnya atau sangat baik bila difoto pada malam hari. Ada lagi yang kuat
pada desain dan ornamennya. Ada pula bangunan yang dirancang sangat minimalis
namun dapat menimbulkan kekuatan spritual yang luar biasa.

Tugas fotografer selanjutnya adalah memindahkan "rasa", juga suasana tiga dimensi
bangunan itu ke dalam foto yang dua dimensi. Namun di balik bangunan arsitektur
yang memiliki "kekuatan" tadi, ada juga bangunan yang sangat lemah rancangannya.
Bila keadaannya demikian, fotografer dituntut bekerja ekstra. Misalnya dengan
menambah properti atau memberi efek secukupnya, tanpa harus menyimpang jauh
dari keadaan sebenarnya.

Salah satu tugas penting seorang fotografer arsitektur adalah memberi gambaran yang
jelas dan tepat sebuah bangunan. Dan orang yang paling tahu tentang konsep
bangunan itu adalah arsitek atau perancangnya. Untuk itu, sebelum memotret,
fotografer sebaiknya menyempatkan diri berbincang-bincang dahulu dengan
arsiteknya. Dari sana diharapkan keduanya memiliki persepsi yang sama. Misalnya,
konsep atau filosofi apa yang ingin ditampilkan oleh arsiteknya dengan desain seperti
itu. Pencahayaan seperti apa yang disukainya.

Namun adakalanya komunikasi langsung ini tidak dapat terwujud. Misalnya karena
arsiteknya adalah orang luar negeri. Bila demikian, fotografer dituntut untuk bekerja
dan berpikir lebih berdasarkan informasi yang ada. Yang pasti, peran fotografer di sini
adalah "jembatan" antara desainer dengan masyarakat pemirsa. Sebagai jembatan,
jangan sampai fotografer justru mematahkan komunikasi yang seharusnya terjalin itu.
Sebagai fotografer, boleh saja ia menambahkan unsur seni ke dalam foto yang
dibuatnya. Tetapi jangan sampai mengaburkan atau bahkan membutakan tujuan
utamanya.

Di samping itu, pencahayaan merupakan unsur penting yang tak boleh diabaikan.
Perlu perhatian dan ketelitian tersendiri dalam hal ini. Untuk pemotretan arsitektural
sebaiknya digunakan pencahayaan yang senatural mungkin. Kalaupun diperlukan
cahaya artifisial, sebaiknya diperhatikan posisinya. Misalnya, bagaimana keadaan
cahaya sehari-hari. Di mana jendelanya. Jangan sampai jendelanya di sana tetapi
bayangannya jatuh ke mana.

Untuk pemotretan di dalam rumah, biasanya pemotret tidak terlalu mengalami


kesulitan. Pasalnya, para arsitek sudah memikirkan besar cahaya matahari yang
masuk ke setiap ruangan. Untuk pemoretan rumah tinggal khususnya, cahaya alam
membuat suasana lebih menarik. Dimensi dan nuansa ruangan pun lebih alami. Hanya
jika diperlukan, dipakai lampu kilat sebagai fill in.

Namun lain halnya bila objeknya sebuah café atau diskotek yang biasanya minim
cahaya. "Untuk pemotretan seperti ini setidaknya diperlukan 5 atau 6 buah lampu
kilat. Tujuannya adalah mengangkat bagian yang terlalu gelap atau detail-detail
berwarna hitam. Kursi misalnya.

Namun demikian, sangat penting untuk membuat pencahayaan tetap seperti apa
adanya. Kalau suasananya temaram, harus tetap terlihat demikian. Jangan sampai
dibuat terang benderang. Café seperti ini biasanya sudah dilengkapi dengan seni
pencahayaan tersendiri. Misalnya, sudut -sudut dengan lampu warna warni. Warna
tembok dan langit-langit yang mencolok. Hal ini sebaiknya direkam apa adanya oleh
fotografer. Kalaupun digunakan filter, sebaiknya hati-hati. Jangan sampai justru
merusak desain yang telah ada. Kecuali filter koreksi (untuk mengoreksi cahaya neon
atau tungsten) dan filter penghangat, manipulasi dengan filter kosmetik sangat jarang
dilakukan. Filter polarisasi sering digunakan untuk menghilangkan refleksi yang tidak
diinginkan pada bidang-bidang tertentu.

Pemotretan arsitektur, di dalam maupun luar ruang, seringkali sangat tergantung pada
waktu. Untuk pemotretan di luar ruang, jam 07.00 sampai 09.30 pagi, atau pukul
15.00 sampai 17.30 sore, merupakan waktu terbaik. Tingkat kekontrasan dan jatuhnya
bayangan sangat baik pada jam-jam tadi. Sedangkan untuk pemotretan dalam ruang,
biasanya lebih pada koordinasi pengaturan waktu. Untuk café misalnya, waktu terbaik
untuk memotret adalah pada saat ruangan masih sepi. Dengan begitu fotografer dapat
bekerja dengan lelua sa tanpa diganggu orang yang hilir mudik.

RONY SIMANJUNTAK

Bagaimana Cara
Memfokus yang Baik
Istimewa

MEMFOKUS MATA - Pada pemotretan objek


manusia pada jarak sangat dekat, dianjurkan
untuk memfokus pada mata yang paling dekat
kepada kamera.

"Gambarnya kok buram ya, ma?" tanya seorang anak


kepada ibunya sewaktu melihat foto-foto liburan
sekolahnya di salah satu pusat cuci cetak foto belum
lama ini. Si Ibu hanya menjawab pasrah, "ya... sudah
lah!".

Siapa pun orangnya pasti kesal jika mengalami hal yang sama dengan itu. Apalagi
foto itu punya kenangan indah, seperti wisata liburan sekolah, misalnya. Sebetulnya
pengalaman tidak mengenakan itu tak mesti terjadi jika si pemotret paham soal cara
memfokus, selain ketepatan pencahayaan dan komposisi tentunya. Karena itu, berikut
dijelaskan apa definisi fokus itu sendiri.

Memfokus adalah menyetel lensa agar menimbulkan imaji tajam pada fotonya nanti.
Pada kamera SLR atau kamera refleks lensa tunggal (RLT), apa yang tampak di
jendela bidik sama dengan yang akan terjadi pada fotonya. Maka memfokus pada
kamera SLR adalah menyetel titik fokus lensa sampai menimbulkan imaji tajam pada
jendela bidik.

Fotografi pada dasarnya adalah memindahkan imaji yang ada di alam nyata ke dalam
gambaran dua dimensi dengan bantuan lensa. Maka dengan pemindahan dimensi dari
tiga menjadi dua ini, ada bagian yang akan lebih menonjol daripada yang lain akibat
keterbatasan lensa.
Di alam nyata, mata manusia akan langsung memfokus kepada suatu obyek yang
dilihatnya, sedangkan lensa kamera hanya akan memfokus ke bagian-bagian tertentu
yang diinginkan sang pemotret saja.

Lensa kamera mempunyai keterbatasan dalam memfokus. Lensa hanya mampu


memberikan imaji tajam pada suatu kedalaman tertentu saja. Lensa secara umum
tidak bisa memfokus pada semua yang tampak di jendela bidik. Secara teknis disebut
bahwa lensa mempunyai depth of field atau ruang ketajaman.

Lensa sudut lebar (wide) tampaknya memang mempunyai depth of field sangat besar,
namun sesungguhnya tidak demikian. Seperti lensa lain, le nsa sudut lebar sebenarnya
juga cuma mempunyai titik fokus satu bidang saja sementara bagian lainnya sekadar
mempunyai acceptable sharpness atau ketajaman visual yang layak bagi mata
manusia.

Dengan keterbatasan lensa itu, fokus yang "meleset" akan menghancurkan sebuah
foto. Bayangkan, misalnya Anda berfoto di depan candi Borobudur, namun dalam
fotonya yang terfokus adalah Borobudurnya sementara Anda sendiri Cuma berupa
gambar samar-samar akibat out of focus. Dalam kasus ini, istilah "meleset" layak
dipakai karena seharusnya yang terfokus adalah Anda, sementara Borobudur adalah
sekadar latar belakang yang harus tampak namun tidak perlu terlalu fokus.

Pemilihan bagian mana yang harus fokus dan bagian mana yang tidak, sangat
bergantung kepada bagian mana yang akan ditonjolkan dan bagian mana yang sekadar
latar belakang. Kegiatan memfokus bisa juga untuk menghilangkan sama sekali latar
belakang dengan bukaan diafragma sebesar mungkin dan dengan lensa sepanjang
mungkin. Memfokus untuk menonjolkan obyek tertentu disebut dengan istilah
selective focus atau fokus selektif.

Tiga Kelompok

Adanya depth of field pada lensa memang memudahkan kita saat memfokus. Namun
kita harus camkan baik-baik bahwa fokus yang tepat, tetap hanya ada pada satu
bidang di depan lensa saja tidak peduli berapa panjang jarak fokal lensa Anda.
Masalah fokus yang sangat teliti akan sangat menonjol bila kita akan mencetak foto
kita dalam ukuran sangat besar. Memfokus pada dasarnya bisa digolongkan menjadi
tiga kelompok, yaitu fokus statis (static focus), fokus bergerak (follow focus), dan
fokus jebakan (focus trapping).

Fokus statis adalah kegiatan memfokus dalam pemotretan yang obyeknya tidak
bergerak, misalnya memotret pemandangan atau memotret manusia yang memang
berpose. Memotret pemandangan, karena objeknya relatif terletak pada jarak tidak
terhingga, kita biasanya bisa langsung menyetel lensa pada jarak tidak terhingga pula.
Dengan cara ini hasilnya, biasanya sangat memadai terutama kalau kita memakai
bukaan diafragma kecil.

Namun, sebenarnya memotret pemandangan adalah memotret sesuatu pada jarak


nyaris tidak terhingga, atau sedikit lebih dekat daripada jarak tidak terhingga.
Seharusnya kita memfokus pada setelan lensa sedikit sebelum tidak terhingga. Pada
pembesaran foto yang sangat besar, selisih yang sedikit ini akan sangat kentara.
Pada pemotretan manusia, titik yang harus difokus adalah mata manusia. Pada
keadaan tertentu kita bahkan terpaksa memilih mata mana yang harus difokus. Pada
foto close up manusia, fokus sebaiknya pada mata yang lebih dekat kepada kamera.

Pada kasus memotret orang dalam jumlah banyak, kita harus bijaksana. Untuk jarak
yang relatif jauh dari kamera, sekitar 4 sampai 10 meter, depth of field lensa
membantu kita dalam memotret. Kalau orang-orang yang kita potret misalnya berdiri
dalam tiga baris, sebaiknya kita memfokus pada baris yang tengah. Baris depan dan
baris belakang akan terfokus akibat adanya depth of field itu.

Yang harus dicatat adalah, depth of field ke bagian jauh dari lensa sekitar dua kali
lebih panjang daripada depth of field ke bagian dekat lensa. Dengan kenyataan itu,
kalau kita memotret orang dalam tiga baris seperti disebut tadi, sebaiknya kita
memfokus ke deret tengah, lalu geser penyetelan lensa sedikit ke baris yang depan.

Pemotretan benda yang bergerak menuntut sangat agar pemotret terus menerus
mengubah setelah fokusnya. Pemotretan dengan obyek yang terus bergerak misalnya
memotret pemain tenis yang sedang bermain, atau memotret peragaan busana. Dalam
pemotretan tenis, fotografer menunggu sang petenis sampai mempuyai pose yang
dinamis, sementara pada pemotretan peragaan busana sang fotografer menunggu saat
di mana sang peragawati berada pada pose yang baik dan pakaian yang dikenakannya
terekspos maksimal.

Rana dijepretkan saat sang peragawati menampilkan ekspresi yang baik, dan pakaian
yang diperagakannya berada pada sudut yang menurut sang fotografer terbaik. Di sini,
selective focus juga berperan yaitu dengan mengaburkan latar belakang sehingga
obyek utama menonjol.

Pada hal-hal tertentu, kita harus memfokus dengan perkiraan karena berbagai hal.
Misalnya obyeknya akan lewat dalam waktu singkat, atau pada waktu yang tidak
terduga, atau pada keadaan yang tidak memungkinkan kita memotret dengan normal.
Menyetel fokus dengan perkiraan tanpa membidik biasanya disebut dengan istilah
preset focus.

Pada pemotretan olahraga lari 100 meter, kita memang bisa melakukan follow focus.
Namun hal ini sering tidak memungkinkan karena tidak tidak selalu kita bisa tahu
siapa yang akan menang, atau siapa yang harus diikuti. Untuk itu, kita bisa
"menjebak" pemenang dengan memfokus pada sedikit di depan garis finis. Umumnya,
saat menyentuh garis finis, seorang pelari belum berekspresi. Ia baru menunjukkan
kegembiraannya sekitar dua atau tiga meter setelah melalui garis finis. Ke titik inilah
kita harus memfokus untuk menjebak adegan tersebut.

Sementara itu pemakaian fokus jebakan lain adalah saat kita akan memotret hewan
langka di Ujung Kulon misalnya. Kita tidak pernah tahu kapan seekor badak Jawa
akan lewat pada suatu tempat. Maka kita memasang sebuah kamera tersembunyi, lalu
memfokus pada suatu tempat dimana sang badak akan menginjak tombol penjepret
rananya.

Pemakaian preset focus lain adalah saat kita ingin memotret dari suatu tempat tinggi.
Misalnya kita aka memotret dengan kamera jauh di atas kepala sambil mengangkat
kamera itu dengan tangan tinggi-tinggi. Tentunya kita tidak bisa memfokus sambil
memotret seperti itu. Di sini, kita harus memperkirakan dulu jarak fokusnya, baru
mengangkat kamera lalu memotret.

Prinsipnya adalah: Jangan pernah lagi Anda gagal dalam memfokus. Pelajari dan coba
terus.

RONY SIMANJUNTAK