Anda di halaman 1dari 18

PENEMUAN SUMBER BARU MINERALISASI DI DAERAH CUPUNAGARA, KECAMATAN CISALAK, KABUPATEN SUBANG JAWA BARAT

S. Bronto, Achnan K. dan H. Utoyo


Puslitbang Geologi, jln. Diponegoro 57 Bandung 40122

Abstrak
Daerah Cupunagara merupakan pegunungan berelief kasar dengan ketinggian rata-rata 1200 m dml. Daerah ini hampir dikelilingi oleh kerucut gunungapi Kuarter, yakni G. Tangkubanparahu di sebelah barat, G. Tampomas di sebelah timur dan G. Bukittunggul di sebelah selatan. Penyelidik terdahulu menganggap daerah ini tersusun oleh batuan gunungapi Kuarter Bawah yang membentuk bidang longsoran membuka ke utara. Penelitian berbasis volkanologi membuktikan daerah ini sebagai bekas dua kaldera gunungapi, masing-masing Kaldera Cibitung, di sebelah barat berumur 59 juta tahun, dan Kaldera Cupunagara di sebelah timur berumur 37 juta tahun. Mengacu konsep pusat erupsi gunungapi untuk penelitian logam sulfida, di dalam kaldera tua itu ditemukan sumber baru mineralisasi. Batuan ubahan terdiri dari argilit-silika, argilit, propilit-pirit dan propilit. Analisis awal terhadap konsentrat dulang memberikan nilai tertinggi untuk Au : 0,5 21,4 ppm, Ag: 10-19 ppm, Cu: 10-36 ppm, Pb: 70-90 ppm dan Zn: 300-400 ppm.Analisis laboratorium lebih rinci sedang di dalam proses. Daerah ini diusulkan agar menjadi laboratorium alam Puslitbang Geologi, tidak hanya untuk mengembangkan sumber daya mineral tetapi juga penelitian dasar geologi gunungapi, energi, kebencanaan dan lingkungan hidup. Kata kunci: cupunagara, mineralisasi

Abstract
Cupunagara is a rough mountainous area with average altitude 1,200 m asl. This area is almost surrounded by Quaternary volcanic cones, i.e. G. Tangkubanparahu in the west side, G. Tampomas in the east and G. Bukittunggul in the south. Previous workers considered this area is composed of Lower Quaternary volcanic rocks that slide down to the north and forms horseshoe shaped depressions. Volcanological study suggests that there are two old calderas in this area, namely Cibitung Caldera in the west having an age 59 ma, and Cupunagara Caldera in the east with 36.9 ma age. Referring to the volcanic center concept for gold exploration strategy, it has been found a new potential area of mineralisation in the two calderas. Altered rocks are argillic-silica, argillite, prophyllite-pyrite dan prophyllite. Early analyses to pan concentrate samples yield the highest value of Au : 0,5 21,4 ppm, Ag: 10-19

ppm, Cu: 10-36 ppm, Pb: 70-90 ppm and Zn: 300-400 ppm. More detailed laboratory works are in progress. This area is proposed as a natural laboratory for GRDC to develop research on basic volcanic geology, energy and mineral resources, hazards and environment. Key words: cupunagara, mineralisation

PENDAHULUAN
Kebutuhan sumber daya mineral akan terus meningkat pada masa mendatang sejalan dengan pesatnya kemajuan teknologi dan industri di dunia. Untuk itu Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi telah menetapkan salah satu rencana strategisnya yaitu menemukan sumbersumber baru mineral, baik menyangkut lokasi maupun model mineralisasinya. Berhubung pemineralan umumnya terdapat di dalam batuan gunungapi dan Indonesia mempunyai banyak gunungapi maka penelitian diarahkan ke daerah busur gunungapi. Daerah Bandung dan sekitarnya, dimana kantor Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi berada dan sekaligus merupakan bagian dari busur gunungapi, belum banyak diteliti potensi sumber daya mineralnya. Pada tahap ini penelitian sumber daya mineral di daerah Bandung dan sekitarnya dipilih di Desa Cupunagara, Kecamatan Cisalak, Kabupaten Subang, Propinsi Jawa Barat (Gb. 1), yang terletak pada 107o 39 45 BT dan 6 o 42 15 50 LS. Secara fisiografi, daerah penelitian berbatasan dengan G. Tangkubanparahu-G. Sunda di sebelah barat, G. Bukittunggul di sebelah selatan yang merupakan gunungapi berumur Kuarter, dan G. Canggak di sebelah timur. Sementara itu ke arah utara daerah penelitian berbatasan dengan perbukitan Tambakan yang tersusun oleh batuan berumur Tersier. Desa Cupunagara dapat dicapai dari Bandung dengan kendaraan bermotor roda empat melalui Lembang Jalancagak Kasomalang dan Desa Dermaga selama lk. 3-4 jam. Di musim kemarau desa itu dapat dituju melalui Lembang Maribaya Desa Cikawari - Puncak Eurat Dusun Cibitung. Penelitian ini bertujuan untuk meninjau kembali geologi daerah Cupunagara dalam kaitannya dengan pencarian sumber baru mineral di daerah itu. Hal ini dimaksudkan untuk menambah potensi cadangan sumber daya mineral di Indonesia. Masalah yang dihadapi adalah apakah daerah Cupunagara yang berbentuk cekungan membuka ke utara hanyalah sebagai bekas longsoran (van Bemmelen, 1949), atau sebenarnya merupakan bekas kaldera gunungapi tua. Untuk memecahkan masalah tersebut dilakukan pendekatan dengan Konsep Pusat Erupsi Gunungapi Sebagai Strategi Untuk Pencarian Emas (Bronto & Hartono, 2003). Berdasar konsep itu mineralisasi dapat pula terbentuk di kawasan gunungapi Kuarter, bahkan mungkin dapat memperkaya mineralisasi yang sudah ada di dalam batuan lebih tua di dekatnya.

LANDASAN TEORI
Di daerah busur gunungapi pembentukan mineral logam sangat erat kaitannya dengan kegiatan magmatisme dan volkanisme. Pada saat terjadi erupsi gunungapi atau pergerakan magma menuju ke permukaan bumi, maupun pada fase tenang/istirahat (sebagai tubuh intrusi dangkal yang sedang mendingin), magma selalu memancarkan panas dan mengeluarkan bahan volatil (H2O, CO2, SO2, H2S, HCl dll.) yang mengandung unsur-unsur logam (e.g. Corbett & Leach, 1995, Hedenquist dkk., 1998), antara lain tembaga (Cu), timbal (Pb), seng (Zn), emas (Au) dan perak (Ag). Pancaran panas dan bahan volatil itu berinteraksi dengan air tanah menyebabkan terjadinya proses alterasi hidrotermal terhadap batuan di sekitarnya. Proses alterasi itu lebih lanjut memungkinkan unsur-unsur logam terperangkap dan terakumulasi sehingga mengkristal yang pada akhirnya terbentuk jebakan mineralisasi secara primer. Proses tersebut berlangsung di bawah kawah/kaldera gunungapi atau di dalam diatrema gunungapi yang sering disebut sebagai Fasies Pusat (Central Facies atau Vent Facies). Semakin lama masa hidup gunungapi yang di dalamnya sering terjadi fase aktif dan fase istirahat serta semakin kompleks proses volkanismenya maka proses alterasi hidrotermal dan mineralisasi juga semakin tinggi dan mencakup daerah yang lebih luas. Hal itu memberikan gambaran bahwa endapan bijih mungkin lebih banyak ditemukan di dalam sistem kaldera atau kompleks gunungapi. Mengacu Konsep Pusat Erupsi Gunungapi Sebagai Strategi Pencarian Emas (Bronto & Hartono, 2003) maka daerah potensi sumber daya mineral dapat lebih dilokalisir. Potensi tersebut pada umumnya terdapat di dalam fasies sentral gunungapi yang sudah tidak aktif lagi atau yang energi panasbuminya sudah tidak prospek lagi karena magma sebagai sumber panas di bawah permukaan sudah mengalami pendinginan. Daerah pusat erupsi gunungapi dapat ditentukan berdasar kenampakan bentang alam, litologi/stratigrafi, sedimentologi serta struktur geologi (Bronto, 2003). Secara bentang alam, apabila belum terisi oleh batuan gunungapi yang lebih muda atau tererosi lanjut, pusat erupsi gunungapi yang berupa kawah atau kaldera biasanya berbentuk suatu cekungan melingkar (a circular depression), atau cekungan membuka ke suatu arah (a horse shoe-shaped crater/ caldera). Cekungan tersebut dikelilingi oleh bentang alam tinggian yang merupakan lereng atas gunungapi. Ke arah lereng bawah dan kaki gunungapi bentuk bentang alam mengalami penurunan menjauhi cekungan kawah/kaldera gunungapi. Secara litologi dan stratigrafi, fasies pusat gunungapi dicirikan oleh asosiasi batuan yang terdiri dari batuan terobosan semi gunungapi, batuan ubahan hidrotermal, dan batuan asing (xenoliths) yang berasal dari dasar gunungapi. Secara sedimentologi, seluruh batuan gunungapi yang berada di lereng atas (fasies proksimal) hingga kaki gunungapi dan dataran di sekelilingnya (fasies distal) bersumber dari cekungan pusat erupsi gunungapi. Berdasar struktur geologi, batuan gunungapi pada fasies proksimal hingga fasies distal mempunyai jurus perlapisan mengelilingi cekungan pusat erupsi dan semakin ke kaki gunungapi kemiringannya melandai. Sementara itu

struktur sesar (normal) berpola radier menjauhi fasies sentral gunungapi. Struktur geologi yang terkait dengan kegiatan gunungapi tersebut perlu dicermati dan dibedakan dengan struktur geologi sebagai akibat gerakan tektonika. Di Jepang, Watanabe & Izawa (2002) mengemukakan bahwa lokasi mineralisasi emas di dalam batuan gunungapi Kuarter selalu berdekatan dengan lapangan panas bumi dan gunungapi aktif masa kini. Di Indonesia sendiri mineralisasi terbentuk di dalam batuan gunungapi Tersier di dekat atau bahkan di dalam kawasan gunungapi Kuarter, lapangan panas bumi dan gunungapi aktif masa kini. Sebagai contoh, mineralisasi emas di Pongkor, Jawa Barat, letaknya berdekatan dengan lapangan panas bumi Perbakti-Awi Bengkok dan G. Salak. Kenyataan tersebut memberikan indikasi adanya keterkaitan yang erat atau bahkan mungkin telah terjadi pengkayaan mineralisasi oleh kegiatan gunungapi Kuarter aktif masa kini. Mineralisasi yang terbentuk sebagai akibat penyerapan bahan volatil dari magma asam oleh sistem air tanah yang melimpah dapat menghasilkan endapan emas, perak dan atau tembaga sulfida tinggi (Sillitoe, 1999). Proses itu dapat terjadi pada sistem mineralisasi epitermal dan bagian atas dari porfiri yang secara vertikal dapat mencapai interval sampai 2 km. Pembentukan mineralisasi sulfida tinggi selain dipengaruhi oleh kedalaman, juga disebabkan oleh tiga parameter, yakni litologi, struktur geologi dan ubahan hidrotermal. Berdasarkan kedalaman, peneliti tersebut membagi mineralisasi sulfida tinggi menjadi 3 zona, yaitu 1. Zona dalam (> 1000 m), yang merupakan lingkungan porfiri, 2. Zona menengah (500 - 1000 m), atau lingkungan epitermal dalam, dan 3. Zona dangkal (< 500 m), yang merupakan lingkungan epitermal dangkal. Mineralisasi sulfida tinggi pada zona dalam sangat dikontrol oleh struktur sesar, sedangkan mineralisasi di zona dangkal lebih terpengaruh oleh faktor litologi.

HASIL PENELITIAN TERDAHULU


Menurut van Bemmelen (1949) dan Silitonga (1973) batuan gunungapi di sekitar Cupunagara berumur Kuarter yang menumpang di atas Tambakan Beds atau Formasi Subang yang berumur Plistosen Bawah. Batuan gunungapi penyusun G. Lingkung, G. Batulawang dan G. Canggak dikelompokkan menjadi batuan gunungapi Kuarter Tua yang bersusunan andesit piroksen. Batuan gunungapi Bukittunggul termasuk batuan gunungapi Kuarter Muda tak teruraikan, tersusun oleh andesit basal andesit piroksen. Sementara itu batuan gunungapi Kuarter Muda Tangkubanparahu mempunyai komposisi basal. Di dalam peta geologi G. Tangkubanparahu (Soetoyo & Hadisantono, 1992) batuan gunungapi di daerah Cupunagara dibagi menjadi 4 kelompok besar, yaitu Lava Pra-Sunda, batuan gunungapi Sunda, batuan gunungapi Bukittunggul-Canggak-Manglayang, dan batuan gunungapi Tangkubanparahu.

Lebih lanjut van Bemmelen (1934; 1954; vide 1949 & 1971) menyatakan bahwa cekungan Cupunagara yang membuka ke utara sebagai akibat longsoran gravitasi mengarah ke dataran pantai utara. Diinterpretasikan olehnya bahwa pada saat magma sedang naik ke permukaan sehingga terjadi letusan besar di kompleks Kaldera Sunda maka terjadi kekosongan atau ruang hampa dan penurunan tekanan di bawah permukaan. Hal itu kemudian menyebabkan terjadinya amblesan, sesar Lembang dan diikuti sesar-sesar normal berbentuk melengkung ke utara di daerah Cupunagara - G. Canggak. Pelengseran ke utara dari sesar normal berbentuk melengkung tersebut mendesak batuan sedimen Tambakan Beds sehingga terjadi struktur antiklin Tambakan. Pemetaan gaya berat di lembar Bandung (Nasution & Nainggolan, 1994) menunjukkan bahwa daerah Cupunagara, mulai dari G. Kramat, G. Batulawang dan G. Lingkung di sebelah barat sampai dengan G. Canggak, G. Cijambu dan G. Kadaka di sebelah timur mempunyai nilai anomali gaya berat 30 mgal. Hal itu memberi petunjuk bahwa di bawah permukaan daerah Cupunagara terdapat bahan padat yang mempunyai nilai gaya berat lebih tinggi daripada daerah sekitarnya. Merujuk hasil penyelidikan geofisika yang lebih lokal di daerah Bukittunggul dan sekitarnya (Anonim, 1986) didapat 2 anomali gaya berat ( 30 mgal) di daerah Cupunagara G. Canggak. Anomali gaya berat di sebelah barat terletak di antara Desa Cupunagara dengan G. Batulawang, sedang yang di sebelah timur terdapat di antara Desa Cupunagara dengan G. Canggak. Dua anomali gravitasi itu dipisahkan oleh celah berarah timurlaut baratdaya melalui Desa Cupunagara, yang dinamakan sebagai Sesar Cupunagara (Achnan dkk., 2004a&b). Dari kegiatan Geotermal Pertamina dilaporkan adanya pemboran inti BKT-I di dalam cekungan Cupunagara (Anonim, 1995; Bronto dkk., 2004a). Titik bor terletak di selatan dusun Bukanagara, Desa Cupunagara (koordinat 6o 47 25,650 LS 107 o 42 57,929 BT) pada ketinggian 1297,75 m dml. Berdasar data bor inti BKT-I itu diketahui bahwa batuan terubah dijumpai mulai dari kedalaman 74 m sampai dengan 504 m. Batuan ubahan berasal dari aliran lava, breksi gunungapi dan intrusi diorit mikro.

HASIL PENELITIAN
Geomorfologi Berdasarkan analisis citra landsat (Gb. 2) dan foto udara, serta pemeriksaan di lapangan, daerah Cupunagara merupakan cekungan melingkar (circular depression) yang dibatasi oleh gawir berbentuk bulan sabit membuka ke utara. Gawir melingkar itu ada dua berdampingan, yakni gawir di sebelah barat dan gawir sebelah timur. Sisi timur gawir sebelah barat dipotong oleh gawir di sebelah timur. Cekungan bagian barat, selanjutnya dinamakan Cekungan Cibitung, karena di dalamnya terdapat Dusun Cibitung dan cekungan bagian timur disebut Cekungan Cupunagara, sebab disitulah letak desa utama Cupunagara. Masing-masing cekungan itu mempunyai berdiameter sekitar 3,5 km. Bentang alam gawir melingkar itu membentuk

puncak-puncak ketinggian pegunungan berelief kasar hingga mencapai 1500 m dml., namun menjauhi gawir ketinggian itu menurun sampai dengan 700 m dml., dan ke utara terus menurun hingga 500 m dml. di dataran Kasomalang Cisalak. Puncak-puncak ketinggian itu antara lain G. Cikoneng (+ 1502 m), G. Lingkung (+ 1525 m) dan Pr. Pamoyanan (+ 1359 m). Aliran sungai berpola sub radier berhulu di puncak-puncak gunung, membentuk lembah seperti huruf V sangat dalam. Daerah pegunungan berelief kasar ini ke barat dibatasi oleh G. (Gunungapi) Tangkubanparahu (+ 2081 m), ke selatan dengan G. Bukittunggul (+ 2209 m) dan ke timur dengan G. Canggak (+ 1619 m). Daerah pegunungan berelief kasar ini masih berupa hutan lebat. Bentang alam di dalam Cekungan Cibitung dan Cekungan Cupunagara berupa perbukitan bergelombang yang mempunyai ketinggian sekitar + 1200 m. Dua cekungan itu dibatasi oleh punggungan perbukitan berarah utaraselatan, yakni Pr. Lembang di selatan dan Pr. Muncang di utara. Beberapa puncak bukit yang cukup menonjol di dalam bentang alam perbukitan bergelombang ini adalah G. Geulis (+ 1125 m), G. Orem (+ 1318 m) dan G. Buleud (+ 1364 m). Bentang alam perbukitan bergelombang ini merupakan perkebunan teh dan kina yang subur dan pemukiman penduduk pedusunan di wilayah desa Cupunagara. Seluruh aliran sungai di daerah Cupunagara berinduk ke Ci Punagara yang mengalir ke timurlaut. Aliran anak sungai Ci Punagara di dalam bentang alam perbukitan bergelombang mempunyai pola semi dendritik, antara lain Ci Bitung, Ci Kendung dan Ci Lutung di dalam Cekungan Cibitung, serta Ci Badak dan Ci Karuncang di dalam Cekungan Cupunagara. Pada umumnya aliran sungai itu berair sepanjang tahun. STRATIGRAFI Sebagai batuan penyusun utama dinding gawir melingkar dan pegunungan berelief kasar di daerah Cupunagara adalah perlapisan aliran lava andesit piroksen, dan menjauhi gawir, terutama ke arah utara breksi piroklastika dan tuf semakin sering dijumpai. Seluruh batuan gunungapi ini di kelompokkan ke dalam satuan Lava Andesit Gunungapi Tua (Gb. 3). Pada aliran sungai Ci Bulu yang merupakan anak Ci karuncang di bagian timur daerah daerah penelitian, perlapisan aliran miring ke timur menjauhi Cekungan Cupunagara. Di Ci Badak, di bagian utara daerah penelitian, perlapisan aliran lava miring ke utara, juga menjauhi Cekungan Cupunagara. Hasil analisis umur dengan metoda K-Ar terhadap contoh batuan andesit yang diambil di kaki gawir di sebelah selatan Cekungan Cibitung memberikan umur 58,999 1,94 jtl. (Paleosen Akhir) dan yang diambil di kaki gawir di sebelah selatan Cekungan Cupunagara berumur 36,881 3,96 jtl. (Oligosen Awal). Sebagai penyusun perbukitan bergelombang di dalam Cekungan Cibitung dan Cekungan Cupunagara terdapat satuan Andesit Terubah, satuan Terobosan Andesit Orem dan Endapan Kolovium. Sementara itu di sebelah selatan dan barat daerah Cupunagara, masing-masing terdapat satuan Lava Andesit Bukittunggul dan satuan Lava Basal Tangkubanparahu.

Secara megaskopis di lapangan, batuan penyusun satuan Lava Andesit Tua itu berwarna abu-abu, struktur berlubang sampai masif, bertekstur porfiri dengan fenokris plagioklas dan piroksen di dalam masadasar afanit. Bagian bawah aliran lava andesit pada umumnya membentuk breksi autoklastika yang apabila sudah lapuk sangat sulit dibedakan dengan breksi piroklastika karena keduanya merupakan bahan penyusun utama tubuh kerucut komposit gunungapi. Secara mikroskopis batuan bertekstur hipokristalin porfiri, fenokris terdiri dari piroksen klino dan plagioklas tertanam di dalam masadasar gelas gunungapi. Hasil analisis geokimia batuan, pengeplotan K2O SiO2 serta total - SiO2 lebih mendukung bahwa batuan gunungapi di daerah Cupunagara adalah andesit (Bronto dkk., 2004b). Sementara itu kandungan alumina cukup tinggi (17,46 19,51 % Al2O3) dan titanium rendah sangat umum dijumpai di dalam batuan di busur gunungapi. Satuan Andesit Terubah tersebar di dalam Cekungan Cibitung dan Cekungan Cupunagara, utamanya tersingkap di sepanjang lembah aliran Ci Karuncang (Gb. 4), Ci Badak, Ci Lutung, Cikendung, Ci Bitung (Gb. 5) dan Ci Punagara. Sedangkan di perbukitan pada umumnya sudah lapuk menjadi tanah merah coklat atau tertutup endapan kolovium dan vegetasi. Beberapa bukit yang mengalami ubahan hidrotermal adalah G. Geulis di dalam Cekungan Cupunagara dan G. Meong di dalam Cekungan Cibitung, serta Pr. Muncang dan G. Ciwangon di bagian utara/ bukaan dari kedua cekungan tersebut. Secara lateral sebaran andesit terubah ini hanya terbatas di dalam Cekungan Cibitung dan Cekungan Cupunagara, sedangkan semakin mendekati dinding gawir melingkar atau bahkan di luar dinding gawir melingkar secara bertahap menjadi andesit terkloritkan atau sebagai andesit segar. Identifikasi bahwa batuan terubah di daerah ini berasal dari andesit adalah dengan merunut kepada batuan yang terubah pada tingkat lemah, biasanya berupa propilit sampai andesit terkloritkan dengan tekstur asli porfiri masih nampak jelas. Andesit terubah utamanya menjadi argilit dan propilit. Di banyak tempat batuan ubahan itu mengandung urat kuarsa, mineral pirit, karbonat dan gossan. Argilit dicirikan dengan warna putih, lunak berbutir lempung, sedangkan propilit berwarna abu-abu juga masih bersifat lunak dan berbutir lempung. Uraian lebih lanjut andesit terubah ini akan disampaikan di dalam sub bab alterasi dan mineralisasi. Diperkirakan batuan ubahan ini menempati sebagian besar dasar Cekungan Cibitung dan Cekungan Cupunagara, yang ketebalannya masih belum diketahui. Satuan Terobosan Andesit Orem merupakan batuan semi gunungapi yang membentuk beberapa tonjolan bukit di dalam bentang alam perbukitan bergelombang di daerah Cupunagara, di antaranya G. Orem dan G. Buleud. Intrusi dangkal itu diperkirakan menerobos Satuan andesit Terubah di dalam Cekungan Cupunagara, keadaannya masih segar, berkomposisi andesit piroksen dan di dalamnya mengandung xenolit yang banyak tersusun oleh mineral garnet. Xenolit tersebut diperkirakan berasal dari batuan dasar (batuan metamorf ?) yang mengalasi batuan gunungapi tertua di daerah Cupunagara.

Satuan Endapan Kolovium terdapat di dalam Cekungan Cupunagara mulai dari Gunung Orem di bagian timur hingga Desa Cupunagara di sebelah barat. Sebaran ke arah selatan mencapai kaki gawir dan ke utara hingga dusun Bukanagara. Di atas endapan kolovium ini telah dijadikan perkebunan teh yang subur. Berdasarkan interpretasi foto udara endapan kolovium ini telah terjadi berkali-kali dan berasal dari longsoran dinding gawir yang melingkari Cekungan Cupunagara. Kenampakan endapan kolovium di lapangan berupa endapan bongkah andesit di antara tanah pelapukan kuning coklat yang tersebar di perkebunan teh. Bongkah-bongkah andesit tersebut berbentuk meruncing tanggung sampai membulat, diameter 10 15 cm tetapi banyak yang mencapai 0,5 2,5 m. Bongkah andesit berwarna abu-abu gelap, bertekstur afanitik sampai porfiritik halus dengan fenokris plagioklas dan piroksen, berstruktur masif sampai berlubang berukuran halus sedang. Di dasar Cekungan Cibitung tidak dijumpai endapan kolovium seperti halnya di dalam Cekungan Cupunagara. Namun di beberapa tempat, seperti di Ci Kendung, hulu Ci Karuncang dan Ci Naga ditemukan endapan sungai yang sudah teralterasi di atas andesit terubah. ZONASI ALTERASI DAN MINERALISASI Gambar 6 memperlihatkan peta zona alterasi satuan Andesit Terubah di dalam Cekungan Cibitung dan Cekungan Cupunagara. Di dalam peta itu terdapat empat zona alterasi, yakni zona argilit-silika, zona argilit, zona propilit-pirit dan zona propilit, selain zona andesit terkloritkan (tingkat ubahan sangat rendah) dan andesit piroksen (batuan segar). Zona argilit-silika tersebar luas di hulu Ci Karuncang, hulu Ci Kamunding dan sebagian kecil di hulu Ci Punagara. Batuan alterasi ini sangat khas berwarna putih, lunak berbutir lempung (Gb. 4) dan mengandung urat-urat kuarsa halus (veinlets) sampai mencapai ketebalan 2-3 m. Di kawasan hulu Ci Karuncang, selain dijumpai urat-urat kuarsa, juga ditemukan bongkah-bongkah breksi silika (breksi hidrotermal) bersama-sama dengan gossan, berwarna merah coklat sampai ungu dengan penyusun utama mineral kuarsa dan oksida logam yang di dalamnya banyak mengandung mineral bijih sulfida. Zona argilit tersebar di bagian tengah kedua bekas kaldera gunungapi dengan pola sebaran tenggara-baratlaut. Batuan alterasi ini juga berwarna putih, lunak dan berbutir lempung, tetapi tidak mengandung urat kuarsa. Zona alterasi propilit pirit sebagian besar berada di bagian selatan Kaldera Cibitung tetapi juga dijumpai di sebelah utara, yakni di bagian hilir dari Ci Badak dan Ci Punagara. Batuan alterasi ini dicirikan dengan warna abu-abu, lunak, berbutir lempung dan di dalamnya mengandung banyak pirit, serta kadang-kadang kalsit (Gb. 5). Zonasi propilit tersingkap di aliran sungai Ci Kendung dan Ci Bitung di dalam Kaldera Cibitung. Batuan ubahan ini mempunyai warna abu-abu, lunak, berbutir lempung dan tidak mengandung pirit. Andesit terkloritkan merupakan batuan keras, abu-abu kehijauan yang memperlihatkan bahwa mineral piroksen sudah mulai terubah menjadi klorit. Sebaran andesit terkloritkan berada di bagian tepi Kaldera Cibitung dan Kaldera Cupunagara, diperkirakan sebagai batas sebaran batuan teralterasi di dalam kedua kaldera gunungapi tua tersebut. Andesit piroksen segar juga terdapat di tepi kaldera, khususnya

di bagian selatan, tetapi juga dijumpai di dalam Kaldera Cupunagara sebagai tubuh intrusi semi gunungapi muda, seperti halnya G. Buleud dan G. Orem. Hasil sementara analisis X-Ray Difraction (XRD) menunjukkan bahwa batuan alterasi tersebut mengandung beberapa mineral ubahan, yakni kuarsa, kalsit, albit, haloysit, alkali felspar, pirit, kaolinit, kristobalit dan mika. Mineral sekunder itu diperkirakan terbentuk pada temperatur dan pH rendah (Utoyo dkk., 2004). Hasil analisis ini agak sedikit berbeda dengan data dari inti bor BKT-I (Anonim, 1995; Bronto dkk., 2004a) di mana dilaporkan juga adanya mineral illit, montmorilonit, klorit dan dolomit. Analisis awal konsentrat dulang terhadap sedimen aktif di sungai memberikan nilai tertinggi untuk Au: 0,5-21,4 ppm, Ag: 10-19 ppm, Cu: 10-36 ppm, Pb: 7090 ppm dan Zn: 300-400 ppm (Bronto dkk., 2004b). Kandungan unsur Au tertinggi itu terdapat di Ci Kendung, Ci Punagara dan Ci Badak, tetapi secara keseluruhan konsentrasi Au di dalam contoh teranalisa, baik konsentrat dulang maupun batuan teralterasi kurang dari 1 ppm. Analisis unsur logam terhadap seluruh contoh batuan alterasi, konsentrat dulang dan urat kuarsa sedang dalam proses.

PEMBAHASAN
Pendapat van Bemmelen (1949) yang menyatakan bahwa gawir-gawir melingkar membuka ke utara di daerah Cupunagara terbentuk oleh sesar normal yang melengser ke utara mensiratkan bahwa di daerah Cupunagara tidak ada proses magmatisme dan volkanisme setempat yang menyebabkan terbentuknya batuan ubahan hidrotermal dan mineralisasi. Disamping itu seluruh batuan gunungapi di wilayah ini dipandang sebagai hasil kegiatan volkanisme Kuarter sehingga dianggap masih terlalu muda untuk terjadi mineralisasi. Alasan tersebut menjadi penyebab mengapa selama ini tidak ada penelitian mineralisasi di daerah itu. Namun demikian, dengan meninjau kembali bentang alam di wilayah Cupunagara, didukung dengan data geofisika, pemboran inti BKT-I dan penelitian geologi di lapangan penulis berargumentasi bahwa bentang alam gawir melingkar dan cekungan di dalamnya bukan sekedar akibat sesar normal yang melengser ke utara tetapi merupakan bekas kaldera gunungapi tua. Cekungan Cibitung di sebelah barat dinamakan Kaldera Cibitung dan Cekungan Cupunagara di sebelah timur disebut Kaldera Cupunagara. Perbukitan berelief kasar yang semakin menjauhi gawir melingkar dimana ketinggiannya menurun dari 1500 m dml. menjadi 500 m dml, tersusun oleh perlapisan aliran lava andesit tua, breksi piroklastika dan tuf, serta mempunyai kemiringan menjauhi Cekungan Cibitung dan Cupunagara diyakini sebagai fasies proksimal medial dari tubuh kerucut gunungapi tua bertipe komposit di daerah itu. Adanya batuan ubahan hidrotermal sebagai penyusun perbukitan bergelombang yang berdasar data inti bor BKT-I menerus hingga kedalaman 500 m dan di bagian bawah terdapat batuan terobosan diorit mikro, serta munculnya sumbat lava andesit Orem menunjukkan bahwa Cekungan Cibitung dan Cekungan Cupunagara

merupakan pusat erupsi atau fasies sentral gunungapi. Anomali gaya berat 30 mgal. di bawah permukaan dapat dikaitkan dengan intrusi diorit mikro di dalam inti bor BKT-I sebagai bekas dapur magma gunungapi tua Cupunagara. Gawir melingkar yang bergaris tengah 3,5 km diperkirakan sebagai pematang kaldera, sehingga Cekungan Cibitung merupakan Kaldera Cibitung dan Cekungan Cupunagara di sebelah timurnya sebagai Kaldera Cupunagara. Adanya tubuh kerucut komposit dan jajaran dua kawah atau kaldera adalah suatu hal yang umum di daerah gunungapi. Di sebelah barat Cupunagara, terdapat kerucut komposit G. Sunda dan Kaldera Sunda (Bronto & Sudarsono, 2003), serta di dalamnya ada G. Tangkubanparahu yang mempunyai dua kawah di puncaknya, yakni Kawah Ratu dan Kawah Upas. Di Pulau Bali terdapat Kaldera Buyan yang berdampingan dengan Kaldera Bratan. Di sekitar daerah penambangan emas Pongkor (Bronto & Hartono, 2003), selain terdapat kerucut G. Salak juga dijumpai beberapa kerucut gungapi tua dan kaldera di antaranya adalah Kaldera Ciantenherang. Bahkan pada G. Krakatau di Selat Sunda dan G. Batur di P. Bali pembentukan kerucut komposit sebagai fase konstruksi gunungapi dan letusan kaldera sebagai fase destruksi telah terjadi berkali-kali. Pematang Kaldera Cibitung terpotong oleh pematang Kaldera Cupunagara, di dalam kaldera yang disebutkan pertama terdapat batuan gunungapi berumur 59 jtl. dan sudah tidak ada endapan kolovium. Di dalam kaldera kedua dijumpai batuan berumur 36,9 jtl. serta masih ada endapan kolovium. Data tersebut menunjukkan bahwa Kaldera Cibitung berumur lebih tua dari pada Kaldera Cupunagara. Dengan demikian di daerah Cupunagara ini paling tidak telah terjadi dua perioda volkanisme pada Zaman Tersier, yakni pada Kala Paleosen Akhir dan Oligosen Awal. Perulangan kegiatan volkanisme pada suatu tempat itu, selain memberikan implikasi kegiatan tektonika yang relatif tetap (Bronto, 2003; Bronto dkk., 2004c), juga diharapkan lebih memperkaya mineralisasi di daerah Cupunagara ini. Dengan diketahui bahwa daerah Cupunagara merupakan fasies sentral gunungapi dan di dalamnya terdapat batuan ubahan hidrotermal maka sesuai konsep pusat erupsi gunungapi dan landasan teori tersebut di atas, daerah ini dapat dinyatakan sebagai temuan sumber baru mineral di dalam tataan kaldera gunungapi. Daerah mineralisasi di dalam tataan kaldera gunungapi antara lain di El Guanaco, Chili dan Kasuga, Jepang (Sillitoe, 1999) dan di Porgera, Papua New Guinea (Corbett & Leach, 1995). Indikasi awal mineralisasi yang didapat di Cupunagara memang masih belum sampai pada tingkat potensi tinggi. Selama ini kegiatan penelitian, eksplorasi dan penambangan mineralisasi logam sulfida pada umumnya masih terbatas pada jebakan zona dangkal (kedalaman < 500m; Sillitoe, 1999). Namun dengan adanya tumpang tindih proses magmatisme dan volkanisme, ditambah kegiatan tektonika yang sangat intensif, maka potensi mineralisasi diperkirakan juga terdapat pada zona menengah (500 1000 m) dan zona dalam (1000 m). Hasil analisis XRD menunjukkan bahwa mineral sekunder

10

yang ada diperkirakan terbentuk pada temperatur dan pH rendah. Analisis unsur logam, khususnya Au, baik di dalam batuan alterasi (Bronto dkk., 2004a) maupun di dalam konsentrat dulang juga menunjukkan konsentrasi kecil, rata-rata kurang dari 1 ppm (Bronto dkk., 2004b). Hal tersebut mendukung gambaran bahwa mineralisasi yang tersingkap di permukaan hanya merupakan indikasi bagian atas dari daerah mineralisasi utamanya. Untuk ini penelitian lanjutan bawah permukaan dengan pendekatan petrologigeokimia, inklusi fluida, geofisika dan pemboran inti diharapkan dapat menuntaskan model mineralisasi di daerah Cupunagara. Manfaat ditemukannya daerah baru mineralisasi dan penambangan di zona menengah dan dalam antara lain tidak mengganggu ekosistem di dan dekat permukaan. Namun sebagai konsekuensi memang dibutuhkan teknologi yang lebih tinggi dan biaya lebih besar untuk melakukan penambangan secara tertutup. Apabila mineralisasi di daerah Cupunagara ternyata mempunyai potensi yang tinggi, sebelum dieksploitasi hendaknya dilakukan studi kelayakan, termasuk penelitian kebencanaan dan penataan ruang atau lingkungan hidup. Penelitian kebencanaan bermanfaat untuk melakukan usaha penanggulangan apabila terjadi bencana, baik selama masa produksi maupun pasca penambangan. Penataan ruang berguna untuk mengatur lahan pertambangan, pemukiman, perkebunan dan kehutanan, sehingga usaha penambanganan di daerah ini benar-benar berwawasan lingkungan atau memenuhi prinsip aman, menguntungkan dan tidak merusak lingkungan (Bronto, 2004). Berhubung daerah Cupunagara ini merupakan temuan sumber baru mineral sekalipun masih dalam tingkatan penelitian, terletak tidak jauh dari kota Bandung, dan jika rancangan penelitian terpadu itu dapat dilaksanakan, maka daerah ini diusulkan sebagai laboratorium alam Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi. Penelitian mencakup dasar-dasar geologi gunungapi, sumber daya mineral, kebencanaan dan lingkungan hidup. Bahkan, bila dikembangkan ke utara dimana terdapat batuan sedimen, penelitian yang mengarah sumber daya energi hidrokarbon dapat dilakukan. Lebih dari itu penelitian sumber daya energi panas bumi juga dimungkinkan kalau perluasan laboratorium alam mengarah ke timur hingga G. Tampomas dan ke barat sampai dengan G. Sunda-Tangkubanparahu.

KESIMPULAN
1. Daerah Cupunagara merupakan fasies sentral gunungapi tua, mencakup Kaldera Cibitung dan Kaldera Cupunagara, yang aktivitas volkanismenya sudah dimulai sejak 59 jtl. (Paleosen Akhir) dan 36,9 jtl. (Oligosen Awal). 2. Di dalam tataan kaldera gunungapi itu terdapat batuan ubahan hidrotermal dan indikasi mineralisasi sehingga dapat dinyatakan sebagai penemuan sumber baru mineral yang potensinya masih perlu diteliti lebih rinci. 3. Daerah Cupunagara dan sekitarnya diusulkan sebagai laboratorium alam Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi guna melakukan penelitian dasar geologi gunungapi, sumber daya mineral dan energi, kebencanaan dan lingkungan hidup.

11

UCAPAN TERIMAKASIH Pertama kali ucapan terimakasih ditujukan kepada Kepala Puslitbang Geologi, Koordinator Program Litbang Sumber Daya Mineral serta Pemimpin Proyek Penelitian dan Pengembangan Sumber Daya Energi dan Mineral, Puslitbang Geologi yang telah mengijinkan penulis untuk menerbitkan makalah ini. Penulis juga mengucapkan terimakasih kepada Panitia Pertemuan Ilmiah Tahunan ke 33, IAGI yang telah menerima makalah ini untuk dipresentasikan secara oral pada 29 November 1 Desember 2004 di Hotel Horison Bandung, dan diterbitkan di dalam bentuk prosiding. DAFTAR PUSTAKA Achnan, K., S. Bronto & W. Kartawa, 2004a, Analisis struktur geologi daerah Cupunagara dan sekitarnya, Kabupaten Subang Jawa Barat, Publikasi khusus, Puslitbang Geologi, no. 29, Pebruari 2004, 13 h. Achnan, K., S. Bronto & H. Utoyo, 2004b, Struktur Geologi Kaitannya Dengan Mineralisasi Daerah Cupunagara, Kabupaten Subang, Jawa Barat, Jurnal Sumber Daya Geologi, inpress. Anonim, 1986, Laporan penyelidikan geofisika daerah Bukittunggul dan sekitarnya, Pertamina PT Alico, Geotermal Pertamina, Direkt. Hulu, Jakarta (tak terbit). Anonim, 1995, Laporan akhir pekerjaan pengumpulan data geologi, geokimia dan geofisika serta pengukuran landaian suhu dan tekanan di dalam sumur dangkal di daerah Bukittunggul, Jawa Barat, Pertamina PT Mitrayasa Kelana Sejati, Geotermal Pertamina Direkt. Hulu, Jakarta (tak terbit). Bronto, S., 2003, Gunungapi Tersier Jawa Barat: Identifikasi dan Implikasinya, Majalah Geologi Indonesia, v. 18, n. 2, 111-135. Bronto, S., 2004, Pertambangan Berwawasan Lingkungan dan Militansi Geologi, Berita IAGI, Edisi no. 14.43, Agustus 2004, h. 3. Bronto, S., Achnan K. & W. Kartawa, 2004a, Penelitian mineralisasi inti bor BKT-I di daerah Cupunagara, kabupaten Subang Jawa Barat, Publikasi Khusus Puslitbang Geologi, no. 29, Pebruari 2004, 13 h. Bronto, S., Achnan K., W. Kartawa, M.H. Dirk, H. Utoyo, J. Subandrio & K. Lumbanbatu, 2004b, Penelitian awal mineralisasi di daerah Cupunagara, Kabupaten Subang Jawa Barat, Majalah Geologi Indonesia, v. 19, n. 1, 12-30. Bronto, S., S. Bijaksana, P. Sanyoto, L. Ngkoimani, G. Hartono & S. Mulyaningsih, 2004c, Tinjauan Volkanisme Paleogen Jawa (Preliminary Study of Jawa Paleogene Volcanism), paper presented in the Workshop on Paleogene Stratigraphy of Jawa, 28-29 Sept., 2004, UGM, Yogyakarta. Bronto, S. & U. Hartono, 2003, Strategi penelitian emas berdasar Konsep Pusat Gunungapi, Prosid. Koloq. Energi dan Sumber Daya Mineral 2002, Balitbang ESDM, 13-14 Jan. 2003, P3Tekmira, Bandung, 172189.

12

Bronto, S. & U. Sudarsono, 2003, Peta Magmatisma Kuarter, di dalam: R. Sukamto (Ed.), Atlas Geologi dan Potensi Sumber Daya Mineral dan Energi Kawasan Indonesia, Skala 1 : 10.000.000, Puslitbang Geologi. Corbett, G.J. & T.M. Leach, 1995, S.W. Pacific Rim Au/Cu Systems: Structure, Alteration and Mineralization, Short Course number 17, 6-7 April 1995, Vancouver, Canada, 150 p. Hedenquist, J.W., A. Jr. Arribas & T.J. Reynolds, 1998, Evolution of an intrusion-centered hydrothermal system: Far Southeast-Lepanto porphyry and epithermal Cu-Au deposits, Philippines, Economic Geology, 93, 373-404. Nasution, J. & D. A. Nainggolan, 1994, Peta Anomali Bouguer Lembar Bandung, Jawa, skala 1 : 100.000, Puslitbang Geologi, Bandung. Sillitoe, R.H., 1999, Styles of High-Sulphidation Gold, Silver and Copper Mineralisation in Porphyry and Epithermal Environments, paper presented in the Pacific Rim Congress on Mineralisation, Bali Indonesia, 10-13 October 1999, 29-44. Silitonga, P.H., 1973, Peta Geologi Lembar Bandung, Jawa, skala 1 : 100.000, Direkt. Geologi, Bandung. Soetoyo & R.D. Hadisantono, 1992, Peta Geologi Gunungapi Tangkubanparahu, Komplek Gunungapi Sunda, Jawa Barat, skala 1 : 50.000, Direkt. Vulkanologi, Bandung. Utoyo, H., S. Bronto & Achnan, K., 2004, Alterasi dan Mineralisasi Kaldera Purba di daerah Cupunagara, Subang Jawa Barat, Prosid. Forum Litbang SDM, BESDM, Jakarta, 7-8 Sept., 2004. Van Bemmelen, R.W., 1949, Geology of Indonesia, vol. IA, Martinus Nijhoff, the Hague, 732 p. Van Bemmelen, R.W., 1971, Four volcanic outburst that influenced the course of human history: Toba, Sunda, Merapi and Thera Acta, The First International Congress on the Volcano of Thera, Archaeological Survey of Greece, Athens, pp. 5-550. Watanabe, K. & E. Izawa, 2002, Volcanic activities and related epithermal mineralization in Kyushu, Japan, Proceed. Spec. Workshop on Earth Sci. and Technol., Fac. Earth Sci. & Mineral Technol., ITB, Bandung, 17 Sept., 2002, 17-22.

13

Figures

14

Gb.1 Peta lokasi daerah penelitian, di Desa Cupunagara, Kecamatan Cisalak, Kabupaten Subang, Propinsi Jawa Barat

KALDERA CIBITUNG 59 Ma

KALDERA CUPUNAGARA 36,9 Ma

G.BUKITUNGGUL

Gb.2. Landsat daerah Cupunagara dan sekitarnya yang memperlihatkan adanya kaldera tua Cibitung dan Cupunagara.

15

107 39 30 BT 6.42.15 LS

107.45.00 BT 6.42.15 LS

G . PAMOYANAN

G . LINGKUNG G.BULEUD

G . PUNCAKEURAD

G.BUKITUNGGUL 2203 G.PANGPARANG 1953

6.50.00LS 107 39 30 BT

KETERANGAN

Gb.3 PETA GEOLOGI DAERAH CUPUNAGARA DAN SEKITRANYA KABUPATEN SUBANG , JAWA - BARAT 2004
Lava andes it ( G.B uk itunggul ) Lava andes it ( Komple ks G. Lingk ung.Batula wa ng ) Ande sit te ruba h Kelurusan /ses ar Jalan Alir an s ungai Kaldera tua Ga wir kalder a Kam pung

6.50.00LS 107.45.00 BT

UMUR KOLOM STRATIGRAFI

Endapan kolovium ( a ndsit da n pir ola stik ) La va andesit ( G.Tangk ubanpera hu) Ter obosan ande sit ( G.Orem )

16

Gb.4 Urat-urat kuarsa ( K ) yang mengisi bidang rekahan dan sesar di dalam batuan ubahan argilit ( A) tersingkap di Ci Garok, anak sungai Ci Karuncang, Dusun Bukanagara, Desa Cupunagara

Gb.5. Batuan ubahan propilit berpa batu lempung abu-abu yang di dalamnya mengandung uraturat halus pirit, oksida besi dan kalsit, tersingkap di hulu Ci Bitung, sebelah utara G.Meong.

17

107 4030 6 4245

107 4515

na i pa .C

s
ar a ag

S.

Ci pu

Pasanggrahan

na

ga ra

Cibitung Cibeureum Nagrog


S. na ng

S.

pu Ci

S.

hi d Ci

n eu

Ci ce

AT
Pr. Palasari Mayang

Ci ar

Cibeusi

eu y

PP AP AT
S.

S.

run

ca n

Ci ka

G.Batulawang A Pr.Pamoyanan 1369 m PP


ng ndu i ke P S. C

Ci ka

S. Cibadak

un AS in d

S
G. Lingkung 1525 m

i bi .C

tu

ng

AP

A
AS
Cupunagar a

Bukanagara

Cibitung

1497 m G. Cikoneng G. Puncak Eurad 1450 m Pr. Cikawar i 1247 m G. Ciruang Badak 1475 m S. Ciawiruko

AP PP

AP 1502 m

AS

AP
2209 m G. Bukit Tunggul

i pa S .C
6 4915

h en

dah

S. C il

G. Cikendung

S.

AP

eat

AP

PP

Ci

ka ru n

ca n

Cikendung

AS

S.

AT

1492 m G. Sanggoro

2Km

Gb. 4 PETA ZONA ALTERASI DAERAH CUPUNAGARA, SUBANG


KETERANGAN: AS A PP Zona Argilit Silika Zona Argilit Zona Propilit Pirit P AT AP Zona Propilit Zona Andesit Terkloritkan Andesit Piroksen

S. C il

eat

S. se Ci ure uh

18