Anda di halaman 1dari 60

ANALISA DAN PENENTUAN PARTIKULAT, NITROGEN DIOKSIDA (NO2), SULFUR DIOKSIDA (SO2 ) , DAN AMONIAK (NH3) UDARA AMBIEN

Disusun Oleh : Rizki Yuliani 1110096000011 Kelompok IV

PRAKTIKUM KIMIA LINGKUNGAN PROGRAM STUDI KIMIA JURUSAN MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA 2010/2011

KATA PENGANTAR

Puji syukur penyusun panjatkan ke hadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat serta karunia-Nya sehingga penyusun dapat

menyelesaikan laporan hasil percobaan praktikum kimia lingkungan yang berjudul Analisa dan Penentuan Partikulat, Nitrogen Dioksida (NO2), Sulfur Dioksida (SO2), dan Amoniak (NH3) Udara Ambien Pada kesempatan ini, penulis mengucapkan terima kasih kepada Ibu Ir. Etyn Yunita, M.Si selaku dosen praktikum kimia lingkungan dan Ibu Nita Rosita S.Si selaku asisten dosen praktikum kimia lingkungan yang telah banyak memberikan bimbingan dan arahan kepada penulis dalam menyelesaikan laporan hasil percobaan ini. Penulis juga

mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu dalam penyelesaian laporan ini dan memberikan motivasi kepada penulis. Diharapkan laporan ini dapat memberikan informasi kepada kita tentang analisa udara ambient. Penulis menyadari bahwa laporan ini masih jauh dari sempurna, oleh karena itu kritik dan saran dari semua pihak yang bersifat laporan membangun ini. Semoga selalu Allah penulis SWT harapkan demi

kesempurnaan

senantiasa

meridhai

segala usaha kita. Amin. Ciputat, 28 Desember 2011

Penyusun

DAFTAR ISI Halaman Judul i Kata Pengantar ... ii Daftar Isi iii BAB I PENDAHULUAN I.1 Latar Belakang ... 5 I.2 Tujuan Penelitian ... 7 I.3 Manfaat Penelitian . 7 BAB II TINJAUAN PUSTAKA II.1 Udara Ambien ...... 9 II.2 Partikulat/debu . 12 II.3 Nitrogen Dioksida (NO2) ..... 15 II.4 Sulfur Dioksida (SO2) .. 19 II.5 Amoniak (NH3) 22 II.6 Data Pendukung Sampling Udara 23 II.7 Spektrofotometer UV-Vis 28 II.8 Metode-metode BAB III METODOLOGI PENELITIAN III.1 Sampling Udara Ambient ... 30 III.2 Penentuan Partikulat & NO2 Udara Ambient dengan Metode Griess Saltzman .. 33 III.3 Penetapan SO2 dalam Udara dengan Metode Pararosanilin 37 III.4 Penetapan Kadar NH3 dalam Udara dengan Metode Indofenol . 40 Bab IV Hasil dan pembahasan IV.1 Hasil Percobaan ... 43 IV.2 Pembahasan . 43 Bab V Kesimpulan dan Saran V.1 Kesimpulan ... 47 28

V.2 Saran . 47 Daftar Pustaka 49 Lampiran . 50

BAB I PENDAHULUAN

I.1 Latar Belakang

Perkembangan industri yang pesat dewasa ini tidak lain karena penerapan kemajuan teknologi oleh manusia guna mendapatkan kualitas hidup yang lebih baik. Semua kegiatan dalam bidang industri pada mulanya dimaksudkan untuk meningkatkan kualitas hidup manusia, ternyata pada sisi lain dapat menimbulkan dampak yang justru merugikan kelangsungan hidup manusia. Hal ini dapat dilihat dari terjadinya masalah pencemaran udara. Pencemaran udara telah mencapai tingkat yang memprihatinkan sehingga menyebabkan turunnya kualitas udara dan daya dukung lingkungan yang berdampak negatif terhadap kesehatan manusia. Kegiatan industri yang beroperasi di berbagai pabrik kimia, kayu lapis, pembangkit listrik maupun yang lainnya seperti asap rokok, asap yang berasal dari dapur dan bahan keperluan kantor, serta kendaraan bermotor berpotensial dalam menghasilkan bahan pencemaran udara. Selain itu, sumber pencemaran udara juga dapat disebabkan oleh berbagai kegiatan alam, seperti kebakaran hutan, gunung meletus, gas alam beracun, dll. Perwujudan kualitas lingkungan yang sehat merupakan bagian pokok di bidang kesehatan. Udara sebagai komponen lingkungan yang penting dalam kehidupan perlu dipelihara dan ditingkatkan kualitasnya sehingga dapat memberikan daya dukungan bagi mahluk hidup untuk hidup secara optimal. Udara merupakan media lingkungan yang merupakan kebutuhan dasar manusia perlu mendapatkan perhatian yang serius, hal ini pula menjadi kebijakan Pembangunan Kesehatan Indonesia 2010 dimana program pengendalian pencemaran udara merupakan salah satu dari sepuluh program unggulan. Pertumbuhan pembangunan seperti industri, transportasi, dll disamping memberikan dampak positif namun disisi lain akan memberikan dampak negatif dimana salah satunya berupa pencemaran udara dan kebisingan baik yang terjadi

didalam ruangan (indoor) maupun di luar ruangan (outdoor) yang dapat membahayakan kesehatan manusia dan terjadinya penularan penyakit. Diperkirakan pencemaran udara dan kebisingan akibat kegiatan industri dan kendaraan bermotor akan meningkat 2 kali pada tahun 2000 dari kondisi tahun 1990 dan 10 kali pada tahun 2020. Udara mempunyai arti yang sangat penting di dalam kehidupan makhluk hidup dan keberadaan benda-benda lainnya. Sehingga udara merupakan sumber daya alam yang harus dilindungi untuk hidup dan kehidupan manusia dan makhluk hidup lainnya. Hal ini berarti bahwa pemanfaatannya harus dilakukan secara bijaksana dengan memperhitungkan kepentingan generasi sekarang dan yang akan datang. Untuk mendapatkan udara sesuai dengan tingkat kualitas yang diinginkan maka pengendalian pencemaran udara menjadi sangat penting untuk dilakukan. Untuk menanggulangi dan meminimalisir bahaya pencemaran udara terhadap kesehatan manusia dan lingkungan, pemerintah telah membuat peraturan tentang pengendalian pencemaran udara, yaitu Peraturan Pemerintah nomor 41 tahunh 1999. Berdasarkan peraturan ini, parameter pencemaran udara yang didasarkan pada baku mutu udara ambien antara lain meliputi : Sulfur dioksida (SO2), Karbon monoksida (CO), Nitrogen dioksida (NO2), dan TSP (debu). Selain itu, amoniak (NH3) juga dapat dijadikan parameter pencemaran udara. Gas-gas ini kebanyakan bersumber dari emisi kendaraan bermotor yang semakin hari semakin bertambah jumlahnya, terutama di kota-kota besar seperti Jakarta dan Yogyakarta. Gas-gas ini berdampak buruk bagi lingkungan dan kesehatan manusia jika kadarnya pada suatu wilayah, misalnya halte yang sering dilalui kendaraan bermotor, melebihi kadar baku mutu udara ambien yang ditetapkan pemerintah, yang berari bahwa halte tersebut sudah mengalami pencemaran udara. Melihat dampak yang ditimbulkan oleh pencemaran udara yang berpengaruh terhadap keseimbangan lingkungan dan kesehatan manusia, maka praktikan merasa perlu untuk melakukan sampling udara di halte UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dan di depan Pusat Laboratorium Terpadu (PLT) UIN Syarif

Hidayatullah dan analisa terhadap kandungan beberapa parameter pencemaran udara seperti : SO2, NO2, NH3, dan total partikulat/debu dari udara yang diserap. Diharapkan dengan adanya penulisan hasil percobaan sampling udara dan analisa terhadap parameter pencemaran udara ini dapat memberikan informasi dan pengetahuan kepada masyarakat pada umumnya, dan pembaca pada khususnya.

I.2 Tujuan Penelitian

Tujuan dari percobaan yang telah dilakukan ini adalah : 1) Dapat melakukan pengambilan sampel (sampling) udara ambient (SO2, NO2, NH3, total partikulat/debu). 2) Dapat melakukan pengambilan data-data pendukung sampling udara seperti suhu, tekanan udara, laju alir udara, waktu/lama sampling, kebisingan, dan kecepatan angin. 3) Dapat menentukan volume sampel udara yang diserap. 4) Dapat menganalisa dan menentukan kadar NO2 udara ambient dengan metode Griess Saltzman. 5) Dapat menganalisa dan menentukan kadar SO2 udara ambient dengan kisaran konsentrasi 0,01 ppm sampai 0,4 ppm udara atau 25 g/m3 sampai 1000 g/m3. 6) Dapat menentukan gas amoniak (NH3) di udara ambient dengan menggunakan metode indofenol secara spektrofotometri pada panjang gelombang 640 nm.

I.3 Manfaat Penelitian

Dari hasil percobaan ini diharapkan : 1) Dapat memberikan informasi kepada masyarakat tentang kadar dari SO2, NO2, NH3, dan total partikulat/debu yang terkandung dalam udara di depan halte UIN Syarif Hidayatullah dan di depan Pusat Laboratorium Terpadu (PLT) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

2) Dapat memberikan pengetahuan kepada masyarakat tentang metode sampling udara dan cara analisa kadar SO2, NO2, NH3, dan total partikulat/debu dari udara yang diserap.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

II.1 Udara Ambien

Menurut Peraturan Pemerintah nomor 41 tahun 1999, udara ambient adalah


udara bebas di permukaan bumi pada lapisan troposfir yang berada di dalam wilayah yurisdiksi Republik Indonesia yang dibutuhkan dan mempengaruhi kesehatan manusia, makhluk hidup dan unsur lingkungan hidup lainnya. Udara yang mengelilingi bumi terdiri dari campuran beberapa macam gas yaitu Nitrogen (N2) sejumlah 78 %, Oksigen (O2) sebanyak 20 %. Selain itu terdapat pula sebagian kecil gas lain seperti argon, helium, krypton, ozon dan lain-lain. Masuknya beberapa macam bahan kimia dan debu dalam udara membuat konsentrasi udara berubah, sehingga udara menjadi tercemar dan dapat membahayakan kelangsungan hidup manusia. Oleh sebab itu dibuatlah suatu standar untuk menentukan kualitas udara yang disebut baku mutu udara ambient (ambient air quality standart) pada setiap negara. Baku mutu udara ambien adalah ukuran batas atau kadar zat, energi dan/atau komponen yang ada atau yang seharusnya ada dan/atau unsur pencemar yang ditenggang keberadaannya dalam udara ambien. Baku mutu udara ambien memiliki 13 parameter, tiap parameter disertai dengan nilai maksimalnya. Nilai-nilai tersebut umumnya dinyatakan dalam (g) permeter kubik udara dalam kondisi normal (umumnya pada suhu 250 C dan tekanan 1 atmosfer) kualitas udara ambien dikatakan baik jika konsentrasi polutan-polutannya masih dibawah nilai baku mutunya.

Kualitas udara ambien merupakan tahap awal untuk memahami dampak negatif cemaran udara terhadap lingkungan. Kualitas udara ambien ditentukan oleh: (1) kuantitas emisi cemaran dari sumber cemaran; (2) proses transportasi, konversi dan penghilangan cemaran di atmosfer. Kualitas udara ambien akan menentukan dampak negatif cemaran udara terhadap kesehatan masyarakat dan kesejahteraan masyarakat (tumbuhan, hewan, material dan Iain-lainnya).

Informasi mengenai efek pencemaran udara terhadap kesehatan berasal dari data pemaparan pada binatang, kajian epidemiologi, dan pada kasus yang terbatas kajian pemaparan pada manusia. Penelitian secara terus menerus dilakukan dengan tujuan: (1) Menetapkan secara lebih baik konsentrasi dimana efek negatif dapat dideteksi, (2) Menentukan korelasi antara respon manusia dan hewan terhadap cemaran, (3) Mendapatkan informasi epidemiologi lebih banyak, dan (4) Menjembatani gap informasi dan mengurangi ketidakpastian baku mutu yang sekarang diberlakukan. Baku mutu kualitas udara lingkungan/ambien ditetapkan untuk cemaran yaitu: O3 (ozon), CO (karbon monoksida), NOX (nitrogen oksida), SO2 (sulfur oksida), hidrokarbon non-metana, dan partikulat. Baku Mutu Kualitas Udara Nasional Amerika yang telah dikaji oleh National Academics of Science and Environmental Protection Agency (NEPA) menetapkan baku mutu primer dan baku mutu sekunder.

10

Baku mutu primer ditetapkan untuk melindungi pada batas keamanan yang mencukupi (adequate margin safety) kesehatan masyarakat dimana secara umum ditetapkan untuk melindungi sebagian masyarakat (15- 20%) yang rentan terhadap pencemaran udara. Baku mutu sekunder ditetapkan untuk melindungi

kesejahteraan masyarakat (material, tumbuhan, hewan) dari setiap efek negatif pencemaran udara yang telah diketahui atau yang dapat diantisipasi. Baku Mutu Kualitas Udara Ambien Indonesia yang ditetapkan dengan mempertimbangkan dan mengacu baku mutu negara lain di antara Baku Mutu Kualitas Udara Ambien USA disajikan pada Tabel berikut.

11

Berdasarkan baku mutu kualitas udara ambien ditentukan baku mutu emisi berdasarkan antisipasi bahwa dengan emisi cemaran dibawah baku mutu dan adanya proses transportasi, konversi, dan penghilangan cemaran maka kualitas udara ambien tidak akan melampaui baku mutunya. Salah satu contoh baku mutu emisi adalah untuk Pembangkit Daya Uap dengan Bahan Bakar Batubara disajikan pada tabel berikut.

II.2 Partikulat Debu

a. Sifat Fisika dan Kimia Partikulat debu melayang (Suspended Particulate Matter/SPM) merupakan campuran yang sangat rumit dari berbagai senyawa organik dan anorganik yang terbesar di udara dengan diameter yang sangat kecil, mulai dari < 1 mikron sampai dengan maksimal 500 mikron. Partikulat debu tersebut akan berada di

12

udara dalam waktu yang relatif lama dalam keadaan melayang-layang di udara dan masuk kedalam tubuh manusia melalui saluran pernafasan. Selain dapat berpengaruh negatif terhadap kesehatan, partikel debu juga dapat mengganggu daya tembus pandang mata dan juga mengadakan berbagai reaksi kimia di udara. Partikel debu SPM pada umumnya mengandung berbagai senyawa kimia yang berbeda, dengan berbagai ukuran dan bentuk yang berbada pula, tergantung dari mana sumber emisinya. Karena Komposisi partikulat debu udara yang rumit, dan pentingnya ukuran partikulat dalam menentukan pajanan, banyak istilah yang digunakan untuk menyatakan partikulat debu di udara. Beberapa istilah digunakan dengan mengacu pada metode pengambilan sampel udara seperti : Suspended Particulate Matter (SPM), Total Suspended Particulate (TSP), balack smake. Istilah lainnya lagi lebih mengacu pada tempat di saluran pernafasan dimana partikulat debu dapat mengedap, seperti inhalable/thoracic particulate yang terutama mengedap disaluran pernafasan bagian bawah, yaitu dibawah pangkal tenggorokan (larynx ). Istilah lainnya yang juga digunakan adalah PM-10 (partikulat debu dengan ukuran diameter aerodinamik <10 mikron), yang mengacu pada unsur fisiologi maupun metode pengambilan sampel.

b. Sumber dan Distribusi Secara alamiah partikulat debu dapat dihasilkan dari debu tanah kering yang terbawa oleh angin atau berasal dari muntahan letusan gunung berapi. Pembakaran yang tidak sempurna dari bahan bakar yang mengandung senyawa karbon akan murni atau bercampur dengan gas-gas organik seperti halnya penggunaan mesin disel yang tidak terpelihara dengan baik. Partikulat debu melayang (SPM) juga dihasilkan dari pembakaran batu bara yang tidak sempurna sehingga terbentuk aerosol kompleks dari butir-butiran tar. Dibandingkan dengan pembakaraan batu bara, pembakaran minyak dan gas pada umunya menghasilkan SPM lebih sedikit. Kepadatan kendaraan bermotor dapat menambah asap hitam pada total emisi partikulat debu.

13

Demikian juga pembakaran sampah domestik dan sampah komersial bisa merupakan sumber SPM yang cukup penting. Berbagai proses industri seperti proses penggilingan dan penyemprotan, dapat menyebabkan abu berterbangan di udara, seperti yang juga dihasilkan oleh emisi kendaraan bermotor.

c. Dampak terhadap Kesehatan Inhalasi merupakan satu-satunya rute pajanan yang menjadi perhatian dalam hubungannya dengan dampak terhadap kesehatan. Walau demikian ada juga beberapa senjawa lain yang melekat bergabung pada partikulat, seperti timah hitam (Pb) dan senyawa beracun lainnya, yang dapat memajan tubuh melalui rute lain. Pengaruh partikulat debu bentuk padat maupun cair yang berada di udara sangat tergantung kepada ukurannya. Ukuran partikulat debu bentuk padat maupun cair yang berada diudara sangat tergantung kepada ukurannya. Ukuran partikulat debu yang membahayakan kesehatan umumnya berkisar antara 0,1 mikron sampai dengan 10 mikron. Pada umunya ukuran partikulat debu sekitar 5 mikron merupakan partikulat udara yang dapat langsung masuk kedalam paruparu dan mengendap di alveoli. Keadaan ini bukan berarti bahwa ukuran partikulat yang lebih besar dari 5 mikron tidak berbahaya, karena partikulat yang lebih besar dapat mengganggu saluran pernafasan bagian atas dan menyebabkan iritasi. Keadaan ini akan lebih bertambah parah apabila terjadi reaksi sinergistik dengan gas SO2 yang terdapat di udara juga. Selain itu partikulat debu yang melayang dan berterbangan dibawa angin akan menyebabkan iritasi pada mata dan dapat menghalangi daya tembus pandang mata (Visibility) Adanya ceceran logam beracun yang terdapat dalam partikulat debu di udara merupakan bahaya yang terbesar bagi kesehatan. Pada umumnya udara yang tercemar hanya mengandung logam berbahaya sekitar 0,01% sampai 3% dari seluruh partikulat debu di udara Akan tetapi logam tersebut dapat bersifat akumulatif dan kemungkinan dapat terjadi reaksi sinergistik pada jaringan tubuh, Selain itu diketahui pula bahwa logam yang terkandung di udara yang dihirup mempunyai pengaruh yang lebih besar dibandingkan dengan dosis sama yang

14

besaral dari makanan atau air minum. Oleh karena itu kadar logam di udara yang terikat pada partikulat patut mendapat perhatian .

d. Pengendalian d.1. Pencegahan a) Dengan melengkapi alat penangkap debu ( Electro Precipitator ). b) Dengan melengkapi water sprayer pada cerobong. c) Pembersihan ruangan dengan sistim basah. d) Pemeliharaan dan perbaikan alat penangkap debu. e) Menggunakan masker.

d.2. Pencegahan a) Memperbaiki alat yang rusak.

II.3 Nitrogen Oksida (NOx)

a. Sifat Fisika dan Kimia Oksida Nitrogen (NOx) adalah kelompok gas nitrogen yang terdapat di atmosfir yang terdiri dari nitrogen monoksida (NO) dan nitrogen dioksida (NO2). Walaupun ada bentuk oksida nitrogen lainnya, tetapi kedua gas tersebut yang paling banyak diketahui sebagai bahan pencemar udara. Nitrogen monoksida merupakan gas yang tidak berwarna dan tidak berbau sebaliknya nitrogen dioksida berwarna coklat kemerahan dan berbau tajam. Nitrogen monoksida terdapat diudara dalam jumlah lebih besar daripada NO2. Pembentukan NO dan NO2 merupakan reaksi antara nitrogen dan oksigen diudara sehingga membentuk NO, yang bereaksi lebih lanjut dengan lebih banyak oksigen membentuk NO2. Udara terdiri dari 80% Volume nitrogen dan 20% Volume oksigen. Pada suhu kamar, hanya sedikit kecendrungan nitrogen dan oksigen untuk bereaksi satu sama lainnya. Pada suhu yang lebih tinggi (diatas 1210C) keduanya dapat bereaksi membentuk NO dalam jumlah banyak sehingga mengakibatkan pencemaran udara. Dalam proses pembakaran, suhu yang digunakan biasanya

15

mencapai 1210 1.765 C, oleh karena itu reaksi ini merupakan sumber NO yang penting. Jadi reaksi pembentukan NO merupakan hasil samping dari proses pembakaran.

b. Sumber dan Distribusi Dari seluruh jumlah oksigen nitrogen ( NOx ) yang dibebaskan ke udara, jumlah yang terbanyak adalah dalam bentuk NO yang diproduksi oleh aktivitas bakteri. Akan tetapi pencemaran NO dari sumber alami ini tidak merupakan masalah karena tersebar secara merata sehingga jumlah nya menjadi kecil. Yang menjadi masalah adalah pencemaran NO yang diproduksi oleh kegiatan manusia karena jumlahnya akan meningkat pada tempat-tempat tertentu. Kadar NOx diudara perkotaan biasanya 10100 kali lebih tinggi dari pada di udara pedesaan. Kadar NOx diudara daerah perkotaan dapat mencapai 0,5 ppm (500 ppb). Seperti halnya CO, emisi NOx dipengaruhi oleh kepadatan penduduk karena sumber utama NOx yang diproduksi manusia adalah dari pembakaran dan kebanyakan pembakaran disebabkan oleh kendaraan bermotor, produksi energi dan pembuangan sampah. Sebagian besar emisi NOx buatan manusia berasal dari pembakaran arang, minyak, gas, dan bensin. Kadar NOx di udara dalam suatu kota bervariasi sepanjang hari tergantung dari intensitas sinar mataharia dan aktivitas kendaraan bermotor. Perubahan kadar NOx berlangsung sebagai berikut : a) Sebelum matahari terbit, kadar NO dan NO2 tetap stabil dengan kadar sedikit lebih tinggi dari kadar minimum seharihari. b) Setelah aktifitas manusia meningkat ( jam 6-8 pagi ) kadar NO meningkat terutama karena meningkatnya aktivitas lalu lintas yaitu kendaraan bermotor. Kadar NO tetinggi pada saat ini dapat mencapai 1-2 ppm. c) Dengan terbitnya sinar matahari yang memancarkan sinar ultra violet kadar NO2 ( sekunder ) kadar NO2 pada saat ini dapat mencapai 0,5 ppm. d) Kadar ozon meningkat dengan menurunnya kadar NO sampai 0,1 ppm. e) Jika intensitas sinar matahari menurun pada sore hari ( jam 5-8 malam ) kadar NO meningkat kembali.

16

f) Energi matahari tidak mengubah NO menjadi NO2 (melalui reaksi hidrokarbon) tetapi O3 yang terkumpul sepanjang hari akan bereaksi dengan NO. Akibatnya terjadi kenaikan kadar NO2 dan penurunan kadar O3. g) Produk akhir dari pencemaran NOx di udara dapat berupa asam nitrat, yang kemudian diendapkan sebagai garam garam nitrat didalam air hujan atau debu. Merkanisme utama pembentukan asam nitrat dari NO2 di udara masih terus dipelajari Salah satu reaksi dibawah ini diduga juga terjadi diudara tetapi diudara tetapi peranannya mungkin sangat kecil dalam menentukan jumlah asam nitrat di udara. h) Kemungkinan lain pembentukan HNO3 didalam udara tercemar adalah adanya reaksi dengan ozon pada kadar NO2 maksimum O3 memegang peranan penting dan kemungkinan terjadi tahapan reaksi sebagai berikut : O3 + NO2 NO3 + O2 NO3 + NO2 N2O5 N2O5 + 2HNO3 2HNO3 Reaksi tersebut diatas masih terus dibuktikan kebenarannya, tetapi yang penting adalah bahwa proses-proses diudara mengakibatkan perubahan NOx menjadi HNO3 yang kemudian bereaksi membentuk partikel-partikel.

c. Dampak terhadap Kesehatan Oksida nitrogen seperti NO dan NO2 berbahaya bagi manusia. Penelitian menunjukkan bahwa NO2 empat kali lebih beracun daripada NO. Selama ini belum pernah dilaporkan terjadinya keracunan NO yang mengakibatkan kematian. Diudara ambien yang normal, NO dapat mengalami oksidasi menjadi NO2 yang bersifat racun. Penelitian terhadap hewan percobaan yang dipajankan NO dengan dosis yang sangat tinggi, memperlihatkan gejala kelumpuhan sistim syarat dan kekejangan. Penelitian lain menunjukkan bahwa tikus yang dipajan NO sampai 2500 ppm akan hilang kesadarannya setelah 6-7 menit, tetapi jika kemudian diberi udara segar akan sembuh kembali setelah 46 menit. Tetapi jika pemajanan NO pada kadar tersebut berlangsung selama 12 menit, pengaruhnya tidak dapat dihilangkan kembali, dan semua tikus yang diuji akan mati.

17

NO2 bersifat racun terutama terhadap paru. Kadar NO2 yang lebih tinggi dari 100 ppm dapat mematikan sebagian besar binatang percobaan dan 90% dari kematian tersebut disebabkan oleh gejala pembengkakan paru ( edema pulmonari ). Kadar NO2 sebesar 800 ppm akan mengakibatkan 100% kematian pada binatang-binatang yang diuji dalam waktu 29 menit atau kurang. Pemajanan NO2 dengan kadar 5 ppm selama 10 menit terhadap manusia mengakibatkan kesulitan dalam bernafas.

d. Pengendalian d.1 Pencegahan Sumber Bergerak

a) Merawat mesin kendaraan bermotor agar tetap baik. b) Melakukan pengujian emisi dan KIR kendaraan secara berkala. c) Memasang filter pada knalpot. Sumber Tidak Bergerak

a) Mengganti peralatan yang rusak. b) Memasang scruber pada cerobong asap. c) Memodifikasi pada proses pembakaran. Manusia Apabila kadar NO2 dalam udara ambien telah melebihi baku mutu ( 150 mg/Nm3 dengan waktu pengukur 24 jam) maka untuk mencegah dampak kesehatan dilakukan upaya-upaya : a) Menggunakan alat pelindung diri, seperti masker gas. b) Mengurangi aktifitas di luar rumah.

d.2 Penanggulangan a) Mengatur pertukaran udara di dalam ruang, seperti mengunakan exhaust-fan. b) Bila terjadi korban keracunan, maka lakukan : Berikan pengobatan atau pernafasaan buatan. Kirim segera ke Rumah Sakit atau Puskesmas terdekat.

18

II.3 Sulfur Dioksida (SO2) a. Sifat Fisika dan Kimia Pencemaran oleh sulfur oksida terutama disebabkan oleh dua komponen sulfur bentuk gas yang tidak berwarna, yaitu sulfur dioksida (SO2) dan Sulfur trioksida (SO3), dan keduanya disebut sulfur oksida (SOx). Sulfur dioksida mempunyai karakteristik bau yang tajam dan tidak mudah terbakar diudara, sedangkan sulfur trioksida merupakan komponen yang tidak reaktif. Pembakaran bahan-bahan yang mengandung Sulfur akan menghasilkan kedua bentuk sulfur oksida, tetapi jumlah relatif masing-masing tidak dipengaruhi oleh jumlah oksigen yang tersedia. Di udara SO2 selalu terbentuk dalam jumlah besar. Jumlah SO3 yang terbentuk bervariasi dari 1 sampai 10% dari total SOx. Mekanisme pembentukan SOx dapat dituliskan dalam dua tahap reaksi sebagai berikut : S + O2 < ----- > SO2 2 SO2 + O2 < ------ > 2 SO3 SO3 di udara dalam bentuk gas hanya mungkin ada jika konsentrasi uap air sangat rendah. Jika konsentrasi uap air sangat rendah. Jika uap air terdapat dalam jumlah cukup, SO3 dan uap air akan segera bergabung membentuk droplet asam sulfat ( H2SO4 ) dengan reaksi sebagai berikut : SO SO2 + H2O2 ------- > H2SO4 Komponen yang normal terdapat di udara bukan SO3 melainkan H2SO4 Tetapi jumlah H2SO4 di atmosfir lebih banyak dari pada yang dihasilkan dari emisi SO3 hal ini menunjukkan bahwa produksi H2SO4 juga berasal dari mekanisme lainnya. Setelah berada diatmosfir sebagai SO2 akan diubah menjadi SO3 (Kemudian menjadi H2SO4) oleh proses-proses fotolitik dan katalitik Jumlah SO2 yang teroksidasi menjadi SO3 dipengaruhi oleh beberapa faktor termasuk jumlah air yang tersedia, intensitas, waktu dan distribusi spektrum sinar matahari, Jumlah bahan katalik, bahan sorptif dan alkalin yang tersedia. Pada malam hari atau kondisi lembab atau selama hujan SO2 di udara diaborpsi oleh droplet air

19

alkalin dan bereaksi pada kecepatan tertentu untuk membentuk sulfat di dalam droplet.

b. Sumber dan Distribusi Sepertiga dari jumlah sulfur yang terdapat di atmosfir merupakan hasil kegiatan manusia dan kebanyakan dalam bentuk SO2. Dua pertiga hasil kegiatan manusia dan kebanyakan dalam bentuk SO2. Dua pertiga bagian lagi berasal dari sumber-sumber alam seperti vulkano dan terdapat dalam bentuk H2S dan oksida. Masalah yang ditimbulkan oleh bahan pencemar yang dibuat oleh manusia adalah ditimbulkan oleh bahan pencemar yang dibuat oleh manusia adalah dalam hal distribusinya yang tidak merata sehingga terkonsentrasi pada daerah tertentu. Sedangkan pencemaran yang berasal dari sumber alam biasanya lebih tersebar merata. Tetapi pembakaran bahan bakar pada sumbernya merupakan sumber pencemaran SOx, misalnya pembakaran arang, minyak bakar gas, kayu dan sebagainya Sumber SOx yang kedua adalah dari proses-proses industri seperti pemurnian petroleum, industri asam sulfat, industri peleburan baja dan sebagainya. Pabrik peleburan baja merupakan industri terbesar yang menghasilkan SOx. Hal ini disebabkan adanya elemen penting alami dalam bentuk garam sulfida misalnya tembaga ( CuFeS2 dan Cu2S ), zink (ZnS), Merkuri (HgS) dan Timbal (PbS). Kebanyakan senyawa logam sulfida dipekatkan dan dipanggang di udara untuk mengubah sulfida menjadi oksida yang mudah tereduksi. Selain itu sulfur merupakan kontaminan yang tidak dikehandaki didalam logam dan biasanya lebih mudah untuk menghasilkan sulfur dari logam kasar dari pada menghasilkannya dari produk logam akhirnya. Oleh karena itu SO2 secara rutin diproduksi sebagai produk samping dalam industri logam dan sebagian akan terdapat di udara.

c. Dampak terhadap Kesehatan Pencemaran SOx menimbulkan dampak terhadap manusia dan hewan, kerusakan pada tanaman terjadi pada kadar sebesar 0,5 ppm. Pengaruh utama

20

polutan Sox terhadap manusia adalah iritasi sistim pernafasan. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa iritasi tenggorokan terjadi pada kadar SO2 sebesar 5 ppm atau lebih bahkan pada beberapa individu yang sensitif iritasi terjadi pada kadar 1-2 ppm. SO2 dianggap pencemar yang berbahaya bagi kesehatan terutama terhadap orang tua dan penderita yang mengalami penyakit khronis pada sistem pernafasan kadiovaskular. Individu dengan gejala penyakit tersebut sangat sensitif terhadap kontak dengan SO2, meskipun dengan kadar yang relatif rendah. Kadar SO2 yang berpengaruh terhadap gangguan kesehatan adalah sebagai berikut : Konsentrasi ( ppm ) Pengaruh 3 5 Jumlah terkecil yang dapat dideteksi dari baunya 8 12 Jumlah terkecil yang segera mengakibatkan iritasi tenggorokan 20 Jumlah terkecil yang akan mengakibatkan iritasi mata 20 Jumlah terkecil yang akan mengakibatkan batuk 20 Maksimum yang diperbolehkan untuk konsentrasi dalam waktu lama 50 100 Maksimum yang diperbolehkan untuk kontrak singkat ( 30 menit ) 400 -500 Berbahaya meskipun kontak secara singkat

d. Pengendalian d.1 Pencegahan Sumber Bergerak

a) Merawat mesin kendaraan bermotor agar tetap berfungsi baik b) Melakukan pengujian emisi dan KIR kendaraan secara berkala c) Memasang filter pada knalpot Sumber Tidak Bergerak

a) Memasang scruber pada cerobong asap. b) Merawat mesin industri agar tetap baik dan lakukan pengujian secara berkala. c) Menggunakan bahan bakar minyak atau batu bara dengan kadar Sulfur rendah. Bahan Baku

a) Pengelolaan bahan baku SO2 sesuai dengan prosedur pengamanan. Manusia

21

Apabila kadar SO2 dalam udara ambien telah melebihi Baku Mutu (365mg/Nm3 udara dengan rata-rata waktu pengukuran 24 jam) maka untuk mencegah dampak kesehatan, dilakukan upaya-upaya : a) Menggunakan alat pelindung diri (APD), seperti masker gas. b) Mengurangi aktifitas diluar rumah. d.2 Penanggulangan 1) Memperbaiki alat yang rusak 2) Penggantian saringan/filter 3) Bila terjadi/jatuh korban, maka lakukan : Pindahkan korban ke tempat aman/udara bersih. Berikan pengobatan atau pernafasan buatan. Kirim segera ke rumah sakit atau Puskesmas terdekat.

II.4 Amoniak (NH3)


Amoniak terdapat dalam atmosfer bahkan dalam kondisi tidak tercemar. Berbagai sumber, antara lain : mikroorganisme, perombakkan limbah binatang, pengolahan limbah, industry amoniak, dan dari system pendingin dengan bahan amoniak. Konsentrasi yang tinggi dari amoniak dalam atmosfer secara umum menunjukkan adanya pelepasan secara eksidental dari gas tersebut. Amoniak dihilangkan dari atmosfer dengan affinitasnya terhadap air dan aksinya sebagai basa. Ini merupakan sebuah kunci dalam pembentukan dan netralisasi dari nitrat dan aerosol sulfat dalam atmosfer yang tercemar. Amoniak bereaksi dengan aerosol asam ini untuk membentuk garam ammonium. NH3 + HNO3 NH4NO3 NH3 + H2SO4 NH4HSO4 Diantara aerosol-aerosol atmosfer, garam-garam ammonium termasuk yang lebih korosif. Berikut adalah sifat-sifat dari Amoniak : Nama Lain Amoniak NH3 Wujud Titik Leleh Titik Didih Ammonia Gas, Anhydrous Ammonia, Liquid Ammonia, Nitro-Sil Gas tidak berwarna, berbau khas amoniak, iritan, mudah larut dalam air. -77, 7 0C -33,4 0C

22

Berat Jenis Berat Jenis Uap Tekanan Uap Suhu Kritis Kelarutan dalam air

0,682 (-33,4 0C) 0,6 (udara=1) 400 mmHg (-45,4 0C) 133 0C 31 g/100 g (25 0C)

II.5 Data Pendukung Sampling Udara

Adapun data-data pendukung sampling udara, antara lain :

Kecepatan Angin

Angin merupakan udara yang bergerak sebagai akaibat perbedaan tekanan udara antara daerah yang satu dengan lainnya. Perbedaan pemanasan udara menyebabkan naiknya gradien tekanan horizontal, sehingga terjadi gerakan udara horizontal di atmosfer. Oleh karena itu perbedaan temperatur antara atmosfer di kutub dan di equator (khatulistiwa) serta antara atmosfer di atas benua dengan di atas lautan menyebabkan gerakan udara dalam skala yang sangat besar. Angin lokal terjadi akibat perbedaan temperatur setempat. Pada skala makro, Pergerakan angin sangat dipengaruhi oleh temperatur atmosfer, tekanan pada permukaan tanah dan gerakan rotasi bumi. Angin bergerak dari tekanan tinggi ke tekanan rendah, tetapi dengan adanya gaya Coriollis maka angin akan bergerak tidak sesuai dengan yang seharusnya. Fenomena ini terjadi sampai jarak ribuan kilometer. Pada skala meso dan mikro keadaan topografi sangat berpengaruh pada pergerakan angin. Perbedaan ketinggian permukaan tanah mempunyai efek pada kecepatan angin dan arah pergerakan angin. Fenomena skala meso akan terjadi sampai ratusan kilometer dan skala mikro mencapai 10 kilometer. Untuk sebuah daerah, efek sirkulasi angin terjadi tiap jam, tiap hari dan dengan arah dan kecepatan yang berbeda-beda. Distribusi frekuensi dari arah angin menunjukan daerah mana yang paling tercemar oleh polutan. Salah satu hal penting dalam meramalkan penyebaran zat pencemar adalah mengetahui arah dan penyebaran zat pencemar.

23

Kecepatan angin dalam data klimatologi adalah kecepatan angin horizontal pada ketinggian 2 meter dari permukaan tanah yang ditanami dengan rumput, jadi jelas merupakan angin permukaan yang kecepatannya dapat dipengaruhi oleh karateristik permukaan yang dilaluinya. Kecepatan angin pada dasarnya ditentukan oleh perbedaan tekanan udara antara tempat asal dan tujuan angin (sebagai faktor pendorong) dan resistensi medan yang dilaluinya.

Kelembaban Udara

Kelembaban udara ditentukan oleh jumlah uap air yang terkandung di dalam udara. Di dalam atmosfer terdapat H2O dalam bentuk uap atau gas, cairan atau air dan salju atau es dalam bentuk padat. Banyaknya uap air yang dikandung udara tidak sama di berbagai tempat. Setiap saat ada uap air yang masuk dan dilepas oleh atmosfer. Uap air ditransfer ke udara melalui proses penguapan karena panas matahari. Air yang menguap dari permukaan bumi berasal dari lautan, sungai, hutan dan lain-lain. Bervariasinya jumlah uap air ini dikarenakan adanya proses penguapan, pengembunan, pembekuan dan lain-lain. Walaupun jumlah air di atmosfer sangat sedikit dibandingkan dengan gas-gas lainnya yang ada di atmosfer, tetapi uap air yang ada di atmosfer memegang peranan penting dalam proses cuaca. Ditinjau dari segi cuaca dan iklim uap air ini merupakan komponen udara yang sangat penting. Sebagian gas-gas penyusun atmosfer yang dekat permukaan laut relatif konstan dari tempat satu ketempat lain. sedangkan uap air merupakan bagian yang konstan, bervariasi dari 0 sampai 3 %. Adanya variabillitas uap air ini baik berdasarkan tempat maupun waktu adalah karena : a. Besarnya jumlah uap air dalam udara merupakan indikator kapasitas potensial atmosfer tentang terjadinya presipitasi. b. Uap air merupakan sifat menyerap radiasi bumi sehingga uap air akan menentukan cepatnya kehilangan panas dari bumi dan dengan sendirinya juga ikut mengatur temperatur.

24

c. Makin besar jumlah uap air dalam udara, makin besar jumlah energi potensial yang laten tersedia dalam atmosfer dan merupakan sumber/asal terjadinya hujan angin (strom). Kelembaban udara bergantung kepada suhu udara. Kelembaban udara mempengaruhi tekanan udara. Itu sendiri, yang pertambahannya sesuai dengan naiknya suhu udara. Pada ruangan tertutup semakin rendah suhu udara maka tekanan udara semakin tinggi dan pada ruangan terbuka semakin tinggi suhu udara maka tekanan udara semakin rendah.

Suhu Udara

Suhu merupakan karateristik inherent, dimiliki oleh suatu benda yang berhubungan dengan panas dan energi. suhu udara akan berubah dengan nyata selama periode 24 jam. Perubahan suhu udara berkaitan erat dengan proses pertukaran energi yang berlangsung di atmosfer. Serapan energi sinar matahari akan mengakibatkan suhu udara meningkat. Suhu udara harian maksimum tercapai beberapa saat setelah intensitas cahaya maksimum pada saat berkas cahaya jatuh tegak lurus yakni pada waktu tengah hari. Sebagian radiasi pantulan dari permukaan bumi juga akan diserap oleh gas-gas dan partikel-partikel atmosfer. Karena kerapatan udara dekat permukaan lebih tinggi dan lebih berkesempatan untuk menyerap radiasi pantulan dari permukaan bumi, maka pada siang hari suhu udara dekat permukaan akan lebih tinggi dibandingkan pada lapisan udara yang lebih tinggi, sebaliknya pada malam hari terutama saat menjelang subuh, suhu udara dekat permukaan akan menjadi lebih rendah dibandingkan dengan suhu udara pada lapisan udara yang lebih tinggi. (Lakitan, 2002). Pada siang hari dengan kondisi cuaca cerah suhu udara akan tinggi akibat sinar matahari yang diterima sehingga akan mengakibatkan pemuaian udara. Pemuaian udara mengakibatkan pengenceran konsentrasi gas pencemar. Perubahan suhu pada setiap ketinggian mempunyai pengaruh yang besar pada pergerakan zat pencemar udara di atmosfer. Perubahan suhu ini disebut lapse

25

rate. Turbulensi yang terjadi tergantung pada suhu. Di atmosfer sendiri diharapkan akan terjadi penurunan suhu dan tekanan sesuai dengan pertambahan tinggi. Udara ambien dan adiabatic lapse rates mempengaruhi terbentuknya stabilitas atmosfer. Dalam keadaan dimana suhu sekumpulan udara lebih tinggi dari sekitarnya, maka kerapatan dari udara yang bergerak naik dengan kecepatan rendah lebih kecil daripada kerapatan udara lingkungannya dan udara berhembus secara kontinu. Pada saat udara bergerak turun akan terbentuk aliran udara vertikal dan turbulensi terbentuk. Keadaan atmosfer dalam kondisi di atas dikatakan tidak stabil (unstable). Ketika sekumpulan udara menjadi lebih dingin dibandingkan dengan udara sekitarnya, sekumpulan udara itu akan kembali ke elevasinya semula. Gerakan ke bawah akan menghasilkan sekumpulan udara yang lebih hangat dan akan kembali ke elevasi semula. Dalam kondisi atmosfer seperti ini, gerakan vertikal akan diabaikan oleh proses pendinginan adiabatik atau pemanasan, dan atmosfer akan menjadi stabil (stable). Jika sekumpulan udara terbawa ke atas akan melalui bagian yang mengalami penurunan tekanan dan akibatnya kumpulanan udara itu akan menyebar. Ekspansi tadi memerlukan kerja untuk melawan lingkungannya dan terjadi penurunan temperatur. Biasanya proses ini berlangsung singkat karena itu untuk menganalisanya dilakukan anggapan tidak terjadi transfer panas pada sekumpulan udara yang ditinjau serta sekumpulan udara mempunyai kerapatan dan suhu sama. Kondisi atmosfer seperti ini dikatakan netral (neutral) dan dikenal dengan lapse rate adiabatic.

Kebisingan

Bising dalam kesehatan kerja, bising diartikan sebagai suara yang dapat menurunkan pendengaran baik secara kuantitatif (peningkatan ambang

pendengaran) maupun secara kulitatif (penyempitan spektrum pendengaran), berkaitan dengan faktor intensitas, frekuensi, durasi dan pola waktu. Kebisingan adalah bunyi atau suara yang tidak dikehendaki dan dapat mengganggu kesehatan, kenyamanan serta dapat menimbulkan ketulian.

26

Nilai ambang batas kebisingan adalah angka dB yang dianggap aman untuk sebagian besar tenaga kerja bila bekerja 8 jam/hari atau 40 jam/minggu. Berdasarkan sifat dan spektrum frekuensi bunyi, bising dapat dibagi atas: 1. Bising yang kontinyu dengan spektrum frekuensi yang luas. Bising ini relatif tetap dalam batas kurang lebih 5 dB untuk periode 0,5 detik berturut-turut. Misalnya mesin, kipas angin, dapur pijar. 2. Bising yang kontinyu dengan spektrum frekuensi yang sempit. Bising ini juga relatif tetap, akan tetapi ia hanya mempunyai frekuensi tertentu saja (pada frekuensi 500, 1000, dan 4000 Hz). Misalnya gergaji serkuler, katup gas. 3. Bising terputus-putus (intermitten). Bising di sini tidak terjadi secara terusmenerus, melainkan ada periode relatif tenang. Misalnya suara lalu lintas, kebisingan di lapangan terbang. 4. Bising implusif. Bising jenis ini memiliki perubahan tekanan suara melebihi 40 dB dalam waktu sangat cepat dan biasanya mengejutkan pendengarnya. Misalnya tembakan, suara ledakan mercon, meriam. 5. Bising implusif berulang. Sama dengan bising implusif, hanya saja di sini terjadi secara berulang-ulang. Misalnya mesin tempa. Berdasarkan pengaruhnya terhadap manusia, bising dapat dibagi atas: 1. Bising yang mengganggu (irritating noise). Intensitas tidak terlalu keras. Misalnya mendengkur. 2. Bising yang menutupi (masking noise). Merupakan bunti yang menutupi pendengaran yang jelas. Secara tidak langsung bunyi ini akan membahayakan kesehatan dan keselamatn tenaga kerja, karena teriakan atau isyarat tanda bahaya tenggelam dalam bising dari sumber lain. 3. Bising yang merusak (damaging/injurious noise). Adalah bunyi yang intensitsnya melampaui NAB. Bunyi jenis ini akan merusak atau menurunkan fungsi pendengaran.

27

II.6 Spektrofotometer UV-Vis

Spektrofotometer digunakan untuk mengukur jumlah cahaya yang diabsorbsi atau ditransmisikan oleh molekul-molekul di dalam larutan. Ketika panjang gelombang cahaya ditrasnmisikan melalui larutan, sebagian energy cahaya tersebut akan diserap (diabsorbsi). Besarnya kemampuan molekul-molekul zat terlarut untuk mengabsorbsi cahaya pada panjang gelombang tertentu dikenal dengan istilah absorbansi (A), yang setara dengan nilai konsentrasi larutan konsentrasi larutan tersebut dan panjang berkas cahaya yang dilalui (biasanya 1 cm dalam spektrofotometer) ke suatu point dimana presentase jumlah cahaya yang ditrasnmisikan atau diabsorbsi diukur dengan phototube. Sebuah spektrofotometer memiliki lima bagian penting, diantaranya sumber cahaya, monokromator, sel penyerap/wadah pada sample,photodetektor, dan analyzer. Untuk UV umumnya digunakan lampu deuterium (D2O), Untuk visible digunakan lampu tungsten xenon (Auc). Suatu spectrofotometer UV-Vis biasanya bekerja pada daerah panjang gelombang sekitar 200nm (pada ultar-violet dekat) sampai sekitar 800nm (sinar tampak). Ketika sinar melewati suatu senyawa, energy dari sinar tersebut digunakan untuk mendorong perpindahan electron dari orbital ikatan atau orbital non-ikatan ke salah satu orbital anti- ikatan yang kosong.

II.9 Metode-Metode

II.6.1 Metode Griess Saltzman dalam Penentuan Partikulat & NO2 Udara ambient Penetapan kadar NO2 melingkupi : cara pengambilan sampel uji gas NO2 dengan menggunakan larutan penyerap, cara perhitungan volume sampel uji yang diserap, dan cara penentuan gas NO2 di udara ambient menggunakan metode Griess Saltzman. Gas nitrogen dioksida diserap dalam larutan Griess Saltzman sehingga membentuk suatu senyawa azo dye berwarna merah muda yang stabil setelah 15 menit. Konsentrasi ditentukan secara spektrofotometri pada panjang gelombang 550 nm.

28

II.6.2 Metode Pararosanilin dalam Penetapan SO2 Udara Ambient Gas sulfur dioksida (SO2) diserap dalam larutan penyerap tetrakloromerkurat membentuk senyawa kompleks diklorosulfonato merkurat dengan menambahkan larutan pararosanilin dan formaldehida kedalam senyawa diklorosulfonato merkurat maka terbentuk senyawa pararosanilin metal sulfonat yang berwarna ungu. Konsentrasi larutan diukur pada panjang gelombang 550 nm.

II.6.3 Metode Indofenol dalam Penetapan Kadar NH3 Udara Ambient Amoniak dari udara ambien yang telah diserap oleh larutan penyerap asam sulfat akan membentuk ammonium sulfat kemudian direaksikan dengan phenol dan natrium hipoklorit dalam suasana basa membentuk senyawa komplek indofenol yang berwarna biru. Intensitas warna biru yang terbentuk diukur dengan menggunakan spektrofotometer pada panjang gelombang 640 nm.

29

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

III.1 Sampling Udara Ambient a. Lokasi dan Waktu Percobaan Lokasi I : Lokasi Tanggal Waktu Lokasi II : Lokasi Tanggal Waktu : Halte UIN Syarif Hidayatullah Jakarta : Rabu, 09 November 2011 : 13.29-14.29 WIB : Depan Pusat Laboratorium Terpadu (PLT) : Rabu, 09 November 2011 : 14.30-15.30 WIB

b. Alat dan Bahan : Alat: 1. Midget impinger (tabung penyerap) 2. Low volume air sampler (LVAS) 3. Pompa penghisap udara (Vaccum Pump) 4. Flowmeter 5. Thermometer 6. Hygrometer 7. Sound level meter 8. Anemometer 9. Stopwatch 10. Hand tally counter 11. Desikator 12. Pinset.

Bahan :

1. Absorber SO2, 2. Absorber NH3,

30

3. Absorber NO2, 4. Aquades, 5. Filter hidrofobik pori 0.5 m diameter 110cm, 6. Botol /wadah sample + penutupnya, 7. Plastik polietilen.

c.

Prosedur Kerja Persiapan

1. Pembuatan Larutan Penyerap (Absorber) SO2 Larutan penyerap tetrakloromerkurat (TCM) 0,04 M

Larutkan 10,86 gram merkuri (II) klorida (HgCl2) dengan 800 ml air suling ke dalam gelas piala 1000 ml. Tambahkan berturut-turut 5,96 gram kalium klorida (KCl) dan 0,066 gram EDTA (HOCOCH2)2N(CH2)2N(CH2COONa)2.2H2O lalu aduk sampai homogeny.

Pindahkan ke dalam labu ukur, encerkan dengan air suling sampai batas tera. Catatan : Pembuatan larutan penyerap ini stabil sampai 6 bulan jika tidak terbentuk endapan.

2. Pembuatan Larutan Penyerap (Absorber) NO2 Pembuatan larutan induk N-1-naftil-etilen-diamin-dihidroklorida (NEDA) 0,1% Larutkan 0,1 g NEDA dalam labu ukur 100 ml, dengan air suling sampai batas tera. Catatan : larutan disimpan dalam lemari pendingin dan stabil selama 1 bulan. Larutan penyerap Griess Saltzman Larutkan 2,5 gram asam sulfanilat anhidrat (H2NC6H4SO3H) atau 2,76 gram asam sulfanilat monohidrat dalam labu ukur 500 ml dengan 300 ml air suling dan 70 ml asam asetat glacial kemudian dikocok. Untuk mempercepat pelarutan dapat dilakukan pemanasan, setelah dingin ke

31

dalam larutan ditambahkan 10 ml larutan N-1-naftil-etilen-diamindihidroklorida dan 5 ml aseton, tepatkan dengan air suling hingga batas tera. Catatan: pembuatan larutan penyerap ini tidak boleh terlalu lama kontak dengan udara. Masukkan larutan penyerap tersebut ke dalam botol berwarna gelap dan simpan di lemari pendingin. Larutan stabil dalam beberapa bulan (2 bulan).

3. Pembuatan Larutan Penyerap (Absorber) NH3 Masukkan 3 ml H2SO4 97 % ke dalam labu ukur 1000 ml yang telah berisi air suling kurang lebih 200 ml. lalu tepatkan sampai batas tera 4. Filter yang diperlukan disimpan di dalam desikator selama 24 jam agar mendapatkan kondisi stabil. 5. Filter kosong pada 1.a ditimbang sampai diperoleh berat konstan, minimal tiga kali penimbangan sehingga diketahui berat filter sebelum

pengambilan sampel, catat berat filter blanko (B1) dan filter sampel (W1). Masing-masing filter tersebut ditaruh dalam plastic PE setelah diberi kode sebelum dibawa ke lapangan. 6. Pompa penghisap udara dikalibrasi dengan kecepatan laju aliran udara 1 L/menit dengan menggunakan flowmeter. (flowmeter harus dikalibrasi oleh laboratorium pengkalibrasi). 7. Masing-masing absorber ditempatkan pada botol sample sebanyak 10 ml dan diberi kode.

Pengambilan Sampel 1. Bawa seluruh peralatan dan bahan ke lokasi sampling yang sudah ditentukan. 2. Hubungkan midget impinge dan LVAS ke pompa penghisap udara dengan menggunakan selang silicon dan Teflon. Pasang flowmeter pada selang. Pastikan tidak ada kebocoran pada setiap sambungan selang baik yang

32

berhubungan dengan LVAS dan midget impinge maupun ke pompa penghisap udara. 3. LVAS diletakkan pada titik pengukuran dengan menggunakan tripod kirakira setinggi zona pernafasan manusia. 4. Bila tabung midget impinge dengan aquades lalu masukkan larutan absorber (SO2, NO2, NH3) masing-masing 10 ml ke tabung midget impinge sesuai dengan gas yang akan diuji. 5. Filter sampel dimasukkan ke dalam LVAS holder dengan menggunakan pinset dan tutup bagian atas holder. 6. Pompa penghisap udara dihidupkan (power On) dan lakukan pengambilan sampel dengan kecepatan laju aliran udara (flow rate 1 L/menit) 7. Atur time selama 1 jam. Lama pengambilan sampel dapat dilakukan selama beberapa menit hingga satu jam (tergantung pada kebutuhan, tujuan, dan kondisi di lokasi pengukuran). 8. Lakukan pembacaan temperature (t awal) dan tekanan udara (p awal), catat pada worksheet (form 1). 9. Perhatikan dan catat kondisi sekitar lokasi sampling (kondisi cuaca, sumber-sumber, emisi,dll). Apabila lokasi sampling di pinggir jalan, hitung jumlah kendaraan bermotor yang lewat selama sampling dengan bantuan hand tally counter. Catat data tersebut di worksheet (form 2).

III.2 Penentuan Partikulat dan NO2 Udara Ambient dengan Metode Griess Saltzman a. Lokasi dan Waktu Percobaan Lokasi : Pusat Laboratorium Terpadu UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Tanggal Waktu : Rabu, 23 November 2011 : 14.00 WIB

b. Alat Dan Bahan Alat

33

1. Timbangan Analitik 2. Pinset 3. Desikator 4. Spektrofotometri UV-Vis dan Kuvet 5. Pipet 6. Labu ukur 100mL Bahan 1. Larutan Induk Nitrit (NO2-) Dilarutkan 2,460 gram NaNO2 dengan air suling dalam labu ukur 1000 mL dan tepatkan sampai batas tera. Simpan dalam lemari pendingin dan botol gelap. Larutan ini stabil selama 1 tahun. 2. Larutan Standar Nitrit 10 mL dipipet dari larutan induk nitrit ke dalam labu ukur 100 mL tambahkan air suling sampai batas tera. Larutan ini digunakan dalam keadaan fresh.

c.

Prosedur Kerja

1. Penentuan Partikulat a. Ditimbang filter sampel dan filter blanko sebagai pembanding menggunakan timbangan analitik yang sama sehingga diperoleh berat filter blanko (B2) dan filter sampel (W2). Catat hasil penimbangan tersebut. b. Dihitung volume sampel uji udara yang diambil (V). Sampel uji udara yang diambil dikoreksi pada kondisi normal (250C, 760mmHg) dengan menggunakan rumus:

Keterangan: V F F2 t = adalah volume udara yang dihisap (L) = adalah laju alir awal (L/menit) = adalah laju alir akhir (L/menit) = adalah durasi pengambilan sampel uji (menit)

34

Pa

adalah tekanan barometer rata-rata selama pengambilan sampel

(mmHg) Ta 298 760 = adalah temperature rata-rata selama pengambilan sampel uji (K) = adalah temperatur pada kondisi normal 250C (K) = adalah tekanan pada kondisi normal 1 atm (mmHg)

c. Dihitung kadar debu total di udara dengan menggunakan rumus sebagai berikut: C (mg/L) =
( ) ( )

Atau
( ) ( )

C (mg/m3) = Keterangan: C B1 B2 W1 W2 V = kadar debu total

x 103

= berat filter blanko sebelum pengambilan sampel = berat filter blanko setelah pengambilan sampel = berat filter sampel uji sebelum pengambilan sampel = berat filter sampel uji setelah pengambilan sampel = volume udara pada waktu pengambilan sampel (L)

2. Penentuan NO2 Udara Ambient a. Pembuatan kurva kalibrasi Dibuat deret standar dengan memipet (misalkan 0; 0,2 ; 0,4 ; 0,6 ; 0,8 dan 1 mL) dari larutan standar nitrit ke dalam labu ukur 25mL, diencerkan dengan larutan penyerap sampai batas tera. Dikocok dan didiamkan selama 15 menit sampai proses pembentukan warna sempurna. Diukur pada panjang gelombang 550nm. Dibuat kurva kalibrasi dari hasil absorban yang terukur.

b. Pengukuran sampel

35

Setiap pengambilan sampel terbentuk warna merah violet. Dimasukkan larutan sampel ke dalam kuvet tertutup, diukur serapan pada panjang gelombang 550nm. Setiap pengukuran harus dikoreksi terhadap blanko. Pada pembacaan kuantitatif untuk warna terlalu pekat, maka dapat dilakukan pengenceran dengan menggunakan larutan penyerap. Serapan yang diukur dikalikan dengan faktor pengenceran.

c. Perhitungan Perhitungan konsentrasi larutan standar nitrit: NaNO2 (g/mL) Keterangan : a b = berat NaNO2 = volume larutan standar nitrit yang diambil untuk kurva kalibrasi

Volume sampel udara yang diambil Volume sampel uji udara yang diambil dikoreksi pada kondisi normal

(250C, 760 mmHg) dengan menggunakan rumus:

Keterangan: V F1 F2 t Pa = adalah volume udara yang dihisap (L) = adalah laju alir awal (L/menit) = adalah laju alir akhir (L/menit) = adalah durasi pengambilan sampel uji (menit) = adalah tekanan barometer rata-rata selama pengambilan sampel uji

(mmHg) Ta 298 760 = adalah temperature rata-rata selama pengambilan sampel uji (K) = adalah temperatur pada kondisi normal 250C (K) = adalah tekanan pada kondisi normal 1 atm (mmHg)

36

Konsentasi NO2 di udara ambient Konsentrasi NO2 dalam sampel uji untuk pengambilan sampel uji selama 1

jam dapat dihitung dengan rumus: C= Keterangan: C a V 1000 = adalah konsentrasi NO2 di udara (g/Nm3) = adalah jumlah NO2 dari sampel uji dengan melihat kurva kalibrasi (g) = adalah volume udara pada kondisi normal (L) = adalah konversi liter (L) ke m3

III.3 Penetapan SO2 dalam Udara Dengan Metode Pararosanilin a. Lokasi dan Waktu Percobaan Lokasi : Pusat Laboratorium Terpadu UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Tanggal Waktu : Rabu, 23 Desember 2011 : 14.00 WIB

b. Alat Dan Bahan Alat 1. UV-VIS Spektrofotometer dan kuvet silica 2. Labu Erlenmeyer 100 dan 250 ml 3. Labu ukur 50 ml 4. Pipet mikro 1000 L Bahan 1. Larutan induk natrium metabisulfit (Na2S2O3) Larutkan 0,03 gram Na2S2O3dengan air suling dalam labu ukur 50 ml sampai batas tera,homogenkan. Air suling yang digunakan sudah didihkan . Catatan : 0,03 gram Na2S2O3 dapat diganti dengan 0,04 gram Na2SO3 2. Larutan standar natrium metabisulfit

37

Masukkan 2 ml larutan induk sulfit ke dalam labu ukur 100 ml, encerkan sampai batas tera dengan larutan penyerap lalu homogenkan. Larutan ini stabil selama 1 bulan jika disimpan dalam suhu kamar. 3. Larutan Pararosanilin hidroklorida ( C19H17N3.HCl) 0,2% Sebanyak 0,2 gram Pararosanilin dalam 6 ml HCl pekat dan ditepatkan 100 ml dengan air suling. Simpan dan diamkan selama 1-2 hari kemudian disaring. Sebanyak 4 ml filtrate ditambahkan 6 ml HCl pekat dan tepatkan hingga 100 ml dengan air suling. Catatan : simpan dalam botol gelap dan stabil selama 9 bulan. 4. Larutan indicator kanji 0,4 gr kanji dan 0,002g HgI2 dilarutkan dengan air mendidih sampai volume 250 ml lalu didinginkan dan dipindahkan ke dalam botol pereaksi. 5. Larutan Formaldehide Sebanyak 0,135 ml formaldehid 37% diencerkan menjadi 25ml dengan air suling. Catatan : Larutan ini disiapkan pada saat akan digunakan 6. Larutan asam sulfanilic 0,6% Sebanyak 0,6 gram dalam 100 ml air suling.

c.

Prosedur Kerja

1. Standarisasi Larutan Stok MBS Pipet 10 ml larutan stok MBS ke dalam Erlenmeyer 100 Tambahkan 10 ml air suling dan 1 ml indicator kanji Titrasi dengan larutan standar iodine 0,025N hingga timbul warna biru. Hitung nilai N larutan stok MBS Konsentrasi larutan stok MBS setara dengan (32 x N MBS x1000) SO2/ml 2. Pembuatan Kurva Kalibrasi Alat spektrofotometer dioptimalkan sesuai petunjuk penggunaan alat

38

Masukkan larutan standar Na2S2O3 pada langkah 3 masing-masing 0,0 ; 1,0; 2,0; 3,0; dan 4,0 ml ke dalam labu ukur 25 ml dengan pipet volum atau biuret mikro.

Tambahkan larutan penyerap 10 ml Kemudian ditambahkan 1ml larutan asam sulfanilic 0,6% tunggu samapai 10 menit. Setelah itu tambahkan 2 ml larutan formaldehida 0,2% dan larutan pararosanilin sebanyak 2 ml. Tepatkan dengan air suling sampai 25 ml, lalu homogenkan dan tunggu sampai 30-60 menit. Untuk blanko, 20 ml larutan TCM dalam labu ukur 25 ml ditambahkan dengan 1 ml larutan asam sulfanilic 0,6% tunggu sampai 10 menit. Setelah itu tambahkan 2 ml larutan formaldehida 0,2% dan laruutan pararosanilin sebanyak 2 ml.

Ukur serapan masing-masing larutan standar dengan spektrofotometer pada panjang gelombang 550 nm. Buat kurva kalibrasi antara serapan dengan jumlah SO2 (g)

3. Pengukuran sampel Pindahkan sampel ke dalam labu ukur 25 ml Tambahkan masing-masing 1 ml larutan asam sulfanilic 0,6%, tunggu sampai 10 menit. Tambahkan 2 ml larutan formaldehida 0,2% dan larutan pararosanilin sebanyak 2 ml, lalu tepatkan hingga batas tera dengan larutan TCM. Sampel diukur dengan spektrofotometer pada panjang gelombang 550 nm.

4. Perhitungan Volume sampel udara yang diambil Volume sampel uji udara yang diambil di koreksi pada kondisi normal ( 250C, 760 mmHg) dengan menggunakan rumus :

XtX

39

Keterangan : V F1 F2 t Pa = adalah volum udara yang dihisap (L) = adalah laju alir awal (L/menit) = adalah laju alir akhir (L/menit) = adalah durasi pengambilan sampel uji ( menit ) = adalah tekanan barometer rata-rata selama pengambilan sampel uji

(mmHg) Ta 298 760 = adalah temperature rata-rata selama pengambilan sampel uji (K) = adalah temperature pada kondisi normal 250C (K) = adalah tekanan pada kondisi normal 1 atm (mmHg)

Konsentrasi Sulfur Dioksida (SO2) di udara ambient Konsentrasi SO2 dalam sampel uji untuk pengambilan sampel uji selama 1

jam dapat dihitung dengan rumus : C= Keterangan : C A V = adalah konsentrasi SO2 di udara (g/Nm3) = adalah jumlah SO2 dari sampel uji dengan melihat kurva kalibrasi (g) = adalah volume udara pada kondisi normal (L) = adalah factor pengenceran = adalah ko9nversi liter (L) ke m3

III.4 Penetapan Kadar NH3 dalam Udara dengan Metode Indofenol a. Lokasi dan Waktu Percobaan Lokasi : Pusat Laboratorium Terpadu UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Tanggal Waktu : Rabu, 23 Desember 2011 : 14.00 WIB

b. Alat dan Bahan :

40

Alat 1. UV-Vis Spektrofotometer dan kuvet silica 2. Labu Erlenmeyer 100 dan 250 ml 3. Labu ukur 50 ml 4. Pipet mikro 1000 L Bahan : 1. Larutan stok amoniak 1000 g Larutan 3,18 gram NH4Cl ( yang telah dikeringkan pada suhu 105 0C selama 1 jam) dengan air suling ke dalam labu ukur 1000 mL kemudian diencerkan sampai batas tera, lalu homogenkan. 2. Pereaksi A Timbang 1 gram phenol dan 0,005 gram natrium nitroprusid

NaFe(CN)5NO.2H2O, lalu larutkan dengan air suling dalam labu ukur 100 ml sampai batas tera. 3. Pereaksi B Timbang 1,5 NaOH dan pipet 2 ml NaOCl, lalu larutkan dengan air suling dalam labu ukur 100 ml sampai batas tera. c. Prosedur Kerja:

1. Pembuatan kurva kalibrasi 1) Buat deret standar dengan konsentrasi 0, 2, 4, 8, 10 g/ml dalam labu ukur 25 ml. 2) Pipet sebanyak 4 ml dari setiap deret standar dalam test tube. Simpan dalam water bath selama 1 jam dengan suhu 30 0C. 3) Tambahkan masing-masing 2 ml pereaksi A dan 2 ml pereaksi B. 4) Homogenkan sampai terbentuk warna biru dan ukur pada panjang gelombang 640 nm. 5) Buat kurva kalibrasi dari hasil absorban yang terukur. 2. Pengukuran sampel 1) Pipet 4 ml sampel ke dalam test tube. Simpan dalam water bath selama 1 jam dengan suhu 30 0C. 2) Tambahkan masing-masing 2 ml pereaksi A dan 2 ml pereaksi B

41

3) Homogenkan sampai terbentuk warna biru dan ukur pada panjang gelombang 640 nm. 3. Perhitungan Volume sampel udara yang diambil dikoreksi pada kondisi normal (25 0C, 760 mmHg) dengan menggunakan rumus :

Keterangan : V F1 F2 t Pa Ta = Volume udara yang dihisap (L) = laju alir awal (L/menit) = laju alir akhir (L/menit) = durasi pengambilan sampel uji (menit) = tekanan barometer rata-rata selama pengambilan sampel uji (mmHg) = temperature rata-rata selama pengambilan sampel uji (K)

298 = temperature pada kondisi normal 25 0C (K) 760 = tekanan pada kondisi normal 1 atm (mmHg) Konsentrasi amoniak (NH3) di udara ambient Konsentrasi amoniak (NH3) dalam sampel uji untuk pengambilan sampel uji selama 1 jam dapat di hitung dengan rumus :

Keterangan: C a V = konsentrasi NH3 di udara (g/Nm3) = jumlah NH3 dari sampel uji dengan melihat kurva kalibrasi (g) = volume udara pada kondisi normal (L)

1000 = konversi liter (L) ke m3.

42

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

IV.1 Hasil Percobaan Lama sampling : 60 menit No 1. 2. Jenis Data Flowrate (L/menit) Temperatur (K) Depan Halte 15 Awal: 302 Akhir: 301 3. Kelembaban Udara Awal: 52 Akhir: 53 4. Tekanan udara (mmHg) Awal: 737 Akhir: 737 5. 6. 7. Nilai rata-rata kebisingan (dB) Nilai minimum kebisingan (dB) Nilai (dB) 8. 9. Kecepatan angin (m/s) Volume udara yang diserap (L) 0,435 862,6316 5,80 x 10-3 < 25 < 25 < 20 0,133 864,6507 2,31 x 10-3 < 25 < 25 < 20 maksimum 88,519 84,4 15 301 301 56 56 737 738 75,310 68,9 90,2 Depan PLT

kebisingan 96,5

10. Kadar debu total (mg/m3) 11. Konsentrasi NO2 (g/Nm3) 12. Konsentrasi SO2 (g/Nm ) 13. Konsentrasi NH3 (g/Nm3)
3

IV.2 Pembahasan

Pada praktikum kali ini, praktikan melakukan percobaan sampling udara dan analisa kadar partikulat debu, NO2, SO2, dan NH3 sebagai parameter pencemaran udara di halte dan di depan Pusat Laboratorium Terpadu UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

43

Pada saat melakukan pengambilan sample udara, praktikan juga melakukan pengambilan data-data pendukung, seperti kecepatan angin,

kebisingan, kelembaban, suhu, dan jumlah kendaraan bermotor di lokasi sampling. Data-data ini berpengaruh terhadap hasil analisa sampel udara di suatu wilayah. Percobaan yang pertama adalah penentuan partikulat debu di halte dan depan PLT UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Berdasarkan hasil analisa diketahui bahwa kadar debu di halte (5,79 x 10-3 mg/m3) lebih besar dibandingkan kadar debu di depan PLT (2,31 x 10-3 mg/m3). Hal ini disebabkan karena di halte banyak dilalui kendaraan bermotor yang menambah asap hitam pada total emisi partikulat debu yang bersumber dari pembakaran mesin kendaraan. Selain itu, diketahui kecepatan angin di halte lebih besar (0,435 m/s) dibandingkan di depan PLT (0,133 m/s). Hal ini juga mempengaruhi total partikulat debu. Semakin besar kecepatan anginnya maka angin semakin mudah membawa partikulat debu dari kawasan-kawasan industri di daerah sekitar halte. Pada pengukuran kadar NO2 di udara, dilakukan dengan metode griess saltzman menggunakan spektrofotometer UV-Vis. Sampel ditambahkan larutan griess saltzman, jika mengandung gas NO2 maka gas ini akan diserap dalam larutan griess saltzman dan membentuk senyawa azo dye yang berwarna merah muda. Semakin berwarna tua sampel tersebut setelah penambahan larutan griess saltzman maka semakin tinggi mengandung gas NO2. Adapun reaksinya adalah:

Dari hasil analisa yang dilakukan diketahui kadar NO2 dalam udara di halte (0,025 g/Nm3) lebih besar dibandingkan di depan PLT (-1,38 x 10-3 g/Nm3), tetapi keduanya masih berada di bawah ambang batas, yaitu di bawah 25 g/Nm3 dan di bawah baku mutu udara ambien yaitu 400 g/Nm3. Lebih tingginya kadar NO2 di halte disebabkan karena lalu lintas yang padat di sekitar halte. Selain itu, Dari hasil percobaan didapatkan persamaan garis kurva kalibrasi

44

nitrit standar yaitu y = 0.169x+0.002. Nilai koefisien korelasi dari kurva standar nitrit sebesar 0,999, hal ini membuktikan bahwa saat preparasi deret standar dilakukan dengan benar. Pengukuran kadar SO2 di udara dilakukan dengan metode pararosanilin menggunakan spektrofotometer UV-Vis. Sampel ditambahkan larutan penyerap tetrakloromerkurat dan pararosanilin serta formaldehida. Jika mengandung gas SO2 maka gas ini akan diserap dalam larutan larutan penyerap tetrakloromerkurat membentuk senyawa kompleks diklorosulfonatomerkurat.

HgCl42- + SO2 + H2O

HgCl2SO32- + 2H+ + 2Cl-

Dengan menambahkan larutan pararosanilin dan formaldehida, kedalam senyawa diklorosulfonatomerkurat maka terbentuk pararosanilin metil sulfonat yang berwarna ungu.

HCHO + SO2 + H2O

HOCH2SO3H

Dari hasil analisa yang dilakukan diketahui kadar SO2 dalam udara di halte (1,049 g/Nm3) lebih besar dibandingkan di depan PLT (0,849 g/Nm3), tetapi keduanya masih berada di bawah ambang batas, yaitu di bawah 25 g/Nm3 dan di bawah baku mutu udara ambien yaitu 400 g/Nm3. Lebih tingginya kadar SO2 di halte disebabkan karena lalu lintas yang padat di sekitar halte. Selain itu, Dari hasil percobaan didapatkan persamaan garis kurva kalibrasi sulfit standar yaitu y = 0.025x-0.029. Nilai koefisien korelasi dari kurva standar sulfit sebesar 0,999, hal ini membuktikan bahwa saat preparasi deret standar dilakukan dengan benar. Pengukuran kadar amoniak dalam sampel udara dilakukan dengan metode indofenol menggunakan spektrofotometer UV-Vis. Sampel udara diserap larutan penyerap asam sulfat dan direaksikan dengan fenol dan natrium hipoklorit dalam suasana basa. Metode penentuan amoniak ini didasarkan pada reaksi antara analit amoniak dengan fenol dan hipoklorida membentuk senyawa indofenol yang berwarna biru yang menyerap sinar dengan kuat pada daerah panjang gelombang

45

sinar tampak sehingga dapat ditentukan secara spektrofotometri UV-Vis. Untuk mempercepat reaksi pembentukan indofenol biru digunakan katalisator natrium nitroprussida. Adapun tahapan reaksinya adalah:

Dari hasil analisa yang dilakukan diketahui kadar NH3 dalam udara di halte (0,2306 g/Nm3) lebih besar dibandingkan di depan PLT (7,4 x 10-3 g/Nm3), tetapi keduanya masih berada di bawah ambang batas, yaitu di bawah 20 g/Nm3 dan di bawah baku mutu udara ambien yaitu 400 g/Nm3. Lebih tingginya kadar NH3 di halte disebabkan karena lalu lintas yang padat di sekitar halte. Selain itu, Dari hasil percobaan didapatkan persamaan garis kurva kalibrasi amoniak standar yaitu y = 0.125x-0.006. Nilai koefisien korelasi dari kurva standar amoniak sebesar 0,999, hal ini membuktikan bahwa saat preparasi deret standar dilakukan dengan benar.

46

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

V.I Kesimpulan

Dari sampling udara yang telah dilakukan di Halte UIN Jakarta, didapatkan volume sampel uji udara yang diambil sebanyak 862,63 L dan di depan PLT sebanyak 864,65 L.

Kadar debu total di halte UIN Jakarta sebesar 5,80 x 10-3 mg/Nm3 dan di depan PLT sebesar 2,31 x 10-3 mg/Nm3. Konsentrasi NO2 di udara halte UIN Jakarta dan di depan PLT sebesar < 25 g/Nm3. Konsentrasi SO2 di udara halte UIN Jakarta dan di depan PLT sebesar < 25 g/Nm3. Konsentrasi NH3 di udara halte UIN Jakarta dan di depan PLT sebesar < 20 g/Nm3. Berdasarkan dari hasil analisis yang dilakukan, udara di sekitar halte UIN Jakarta dan di depan PLT tidak begitu buruk karena pada hasil kadar parameter yang diuji masih berada dalam ambang batas dan belum termasuk dalam pencemaran udara sesuai dengan peraturan Pemerintah No.29 Tahun 1986

V.2 Saran

1. Pengambilan sampel uji lebih baik dilakukan sesuai dengan prosedur, untuk menghindarkan kontaminasi terhadap sampel. 2. Pembuatan larutan standard dilakukan dengan lebih akurat untuk mendapatkan kurva kalibrasi yang baik.

47

3. Instrumen yang digunakan untuk analisis sebaiknya sudah dikalibrasi terlebih dahulu sehingga diperoleh data dengan presisi dan keakuratan yang tinggi.

48

DAFTAR PUSTAKA

Achmad, Rukaesih. 2004. Kimia Lingkungan. Yogyakarta: Andi. Anonim. 2009. Pencemaran Udara, Dampak, dan Solusinya. (online) (http://putracenter.net/2009/01/07/pencemaran-udara-dampak-dansolusinya/). diakses 04 Desember 2011 pukul 19.03 WIB. Anonim. 2010. Analisis Udara Ambien NO2. (online)

(staff.undip.ac.id/env/semestergenap/.../analisis-NO2-gries-saltman.pdf). diakses 04 Desember 2011 pukul 20.44 WIB. Anonim. 2011. Parameter Pencemar Udara dan Dampaknya terhadap Kesehatan. (online) (202.70.136.4/downloads/Udara.PDF). diakses 04 Desember 2011 pukul 19.31 WIB. Anonim. 2011. Pencemaran Udara. (online)

(http://id.wikipedia.org/wiki/Pencemaran_udara). diakses 04 Desember 2011 pukul 18.50 WIB. Anonim. 2011. Udara. (online) (http://id.wikipedia.org/wiki/Udara). diakses 04 Desember 2011 pukul 18.30 WIB. Moestikahadi, Soedomo. 1999. Pencemaran Udara. Bandung: Penerbit ITB. Rahayu, Suparni Setyowati. 2009. Pencemaran Udara Ambien. (online) (www.chem-is-try.org). diakses 04 Desember 2011 pukul 19.56 WIB. Supriyono. 1999. Pencemaran Udara Bisa Merusak Buku dan Gangguan Kesehatan Staf Perpustakaan. (online)

(lib.ugm.ac.id/data/pubdata/pusta/supriyono2.pdf). diakses 04 Desember pukul 20.58 WIB. Sutardi, Tata. 2008. Teknik Pengukuran Udara Ambien. (online)

(www.ccitonline.com). diakses 04 Desember 2011 pukul 20.09 WIB. Yunita, Etyn dan Rosita, Nita. 2011. Penuntun Praktikum Kimia Lingkungan. Jakarta: UIN Syarif Hidayatullah. Zendrato, E. 2010. Pengukuran Kadar Gas Pencemar Nitrogen Dioksida. (online) (repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/20755/.../Chapter%20II.pdf). diakses 04 Desember pukul 20.18 WIB.

49

LAMPIRAN
B. Sampling Udara Ambien 1. Depan Halte UIN a. Data noise (kebisingan) No. Noise (dB) 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 90,7 85,4 90,2 86,6 86,5 87,0 91,7 88,6 85,6 89,3 92,0 90,1 88,1 86,8 87,1 91,6 89,8 87,8 87,8 85,6 87,3 86,7 88,8 89,3 No. Noise (dB) 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 46 47 48 88,9 88,2 86,9 85,5 90,7 89,3 90,4 88,1 88,0 89,3 85,8 86,5 87,2 86.7 86,4 89,2 85,5 87,6 85,4 87,4 87,4 88,2 94,9 92,3 No. 49 50 51 52 53 54 55 56 57 58 59 60 61 62 63 64 65 66 67 68 69 70 71 72 Noise (dB) 90,0 85,7 91,1 85,8 88,3 89,0 84,6 86,2 87,0 87,1 90,1 91,4 88,7 84,9 85,3 87,4 86,1 88,8 86,1 88,0 87,4 88,7 90,3 85,7 No. Noise (dB) 73 74 75 76 77 78 79 80 81 82 83 84 85 86 87 88 89 90 91 92 93 94 95 96 86,5 87,3 89,2 87,2 85,6 87,2 85,6 87,4 91,5 90,2 90,8 88,2 86,1 86,2 91,1 85,7 87,0 87,2 84,4 87,9 86,3 88,0 88,1 88,2 No. 97 98 99 Noise (dB) 88,7 89,2 88,7

100 90,4 101 90,0 102 94,9 103 89,1 104 87,8 105 86,7 106 91,5 107 91,4 108 90,2 109 89,4 110 88,2 111 92,1 112 92,2 113 91,5 114 92,3 115 93,4 116 89,7 117 90,3 118 90,6 119 96,5 120 94,4

b. Data noise (kebisingan) dan kecepatan angin

50

No 1. 2. 3. 4.

Parameter Nilai rata-rata kebisingan Kecepatan angin Nilai minimum kebisingan Nilai Maksimum kebisingan

Nilai kebisingan 88,519 dB 0,435 m/s 84,4 dB 96,5 dB

c. Data Analisa Lapangan Sampling Udara

No. 1 2 3 4

Parameter Sox Nox NH3 Total partikulat

Vol. Flowrate Absorber (L/menit) (mL) 10 10 10 15 15 15

Temperatur (C) Awal 29 29 29 29 Akhir 28 28 28 28

Tekanan Udara (mmHg) Awal 737 737 737 737 Akhir 737 737 737 737

Kelembaban Udara Awal 52 52 52 52 Akhir 53 53 53 53

Time Sampling (menit) 60 60 60 60

d. Data Kendaraan No 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. Jenis Kendaraan Mobil Motor Bis Angkot Truk Taksi Bajaj Jumlah 532 6423 23 554 108 56 1

2. Depan PLT a. Data noise (kebisingan)

51

No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24

Noise (dB) 69,9 72,3 72,4 75,2 74,0 72,2 73,4 72,4 70,8 75,1 71,2 70,3 70,0 68,9 70,8 79,1 70,0 69,8 69,6 71,1 69,8 81,4 81,7 75,8

No 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 46 47 48

Noise (dB) 80,1 71,7 73,8 76,4 74,3 73,5 72,,5 78,8 70,4 70,2 70,1 72,6 80,5 72,5 69,9 70,5 71,8 71,5 72,2 70,4 76,1 77,8 76,4 79,5

No 49 50 51 52 53 54 55 56 57 58 59 60 61 62 63 64 65 66 67 68 69 70 71 72

Noise (dB) 75,9 75,5 78,7 77,5 75,9 75,5 75,4 74,9 81,1 74,7 76,2 76,0 76,2 76,7 81,5 77,5 80,9 77,6 79,5 76,3 83,0 77,9 81,1 79,3

No 73 74 75 76 77 78 79 80 81 82 83 84 85 86 87 88 89 90 91 92 93 94 95 96

Noise (dB) 80,0 78,6 78,0 76,5 76,3 74,8 71,8 84,0 75,6 73,2 77,4 74,1 76,6 74,3 73,9 72,5 75,0 72,7 74,5 77,7 73,8 81,9 90,2 80,8

No 97 98 99 100 101 102 103 104 105 106 107 108 109 110 111 112 113 114 115 116 117 118 119 120

Noise (dB) 77,6 74,2 75,6 81,0 75,5 75,3 74,9 74,5 79,5 75,0 78,7 82,2 78,7 72,5 71,5 71,8 72,9 72,4 80,0 69,1 69,5 71,7 80,1 77,4

b. Data noise (kebisingan) dan kecepatan angin

52

No 1. 2. 3. 4.

Parameter Nilai rata-rata kebisingan Kecepatan angin Nilai minimum kebisingan Nilai Maksimum kebisingan

Nilai kebisingan 75,310 dB 0,133 m/s 68,9 dB 90,2 dB

c. Data Analisa Lapangan Sampling Udara

No. 1 2 3 4

Parameter Sox Nox NH3 Total partikulat

Vol. Flowrate Absorber (L/menit) (mL) 10 10 10 15 15 15

Temperatur (C) Awal 28 28 28 28 Akhir 28 28 28 28

Tekanan Udara (mmHg) Awal 737 737 737 737 Akhir 738 738 738 738

Kelembaban Udara Awal 56 56 56 56 Akhir 56 56 56 56

Time Sampling (menit) 60 60 60 60

d. Data Kendaraan No 1. 2. Jenis Kendaraan Mobil Motor Jumlah 14 154

A. Penentuan Partikulat Udara Ambient dengan Metode Gravimetri 1. Depan Halte UIN a. Penentuan Partikulat No Sampel Ulangan Bobot (mg) 1 1. Filter Blanko Awal (B1) 2 3 1 2. Filter Sampel Awal (W1) 2 3 0,790 0,790 0,790 0,800 0,800 0,800 0,800 0,790 Bobot rata-rata (mg)

53

1 3. Filter Blanko Akhir (B2) 2 3 1 4. Filter Sampel Akhir (W2) 2 3

0,790 0,790 0,790 0,805 0,805 0,805 0,805 0,790

Volume sampel uji udara yang diambil (V)

V = 862,6316 L Kadar debu total di udara Cdebu = Cdebu = Cdebu = Cdebu = 2. Depan PLT a. Penentuan Partikulat No Sampel Ulangan Bobot (mg) 1 1. Filter Blanko Awal (B1) 2 3 1 2. Filter Sampel Awal (W1) 2 3 1 3. Filter Blanko Akhir (B2) 2 3 0,810 0,810 0,810 0,823 0,823 0,823 0,810 0,810 0,810 0,810 0,823 0,810 Bobot rata-rata (mg)
( ( ) ( ) ( ) )

54

1 4. Filter Sampel Akhir (W2) 2 3

0,825 0,825 0,825 0,825

Volume sampel uji udara yang diambil (V)

V = 864,6507 L Kadar debu total di udara (Cdebu) Cdebu = Cdebu = Cdebu = Cdebu =
( ( ) ( ) ( ) )

C. Penentuan Kadar NO2 Udara Ambien dengan metode Griess Saltzman a. Pembuatan Kurva Kalibrasi Konsentrasi Nitrit Standar mg/L (x) 0,00 0,80 1,60 3,20 4,00 g/Nm3 Absorbansi Standar (y) 0,001305 0,1393 0,2737 0,5531 0,6764 Sampel ID Halte UIN Depan PLT Jumlah NO2 Udara (g) = a 0,0220 -0,0012 Konsentrasi NO2 Udara ( g/Nm3) = C* < 25 < 25

* MDL untuk NO2 berada pada kisaran konsentrasi 25 g/Nm3 sampai 1000

55

Kurva Kalibrasi NO2


0.8 0.7 0.6 0.5 0.4 0.3 0.2 0.1 0 0 1 2

Absorbansi (A)

y = 0.1698x + 0.0028 R = 0.9997

Konsentrasi Nitrit Standar (mg/L)

b. Perhitungan Perhitungan konsentrasi larutan standar nitrit: NaNO2 NaNO2 NaNO2

Konsentasi NO2 Udara Ambien Halte UIN : C= C= C= Depan PLT C= C= C=


56

D. Penetapan Kadar SO2 dalam Udara Dengan Metode Pararosanilin a. Pembuatan Kurva Kalibrasi Konsentrasi Larutan Standar (mg/L) 0,00 2,56 5,12 12,80 25,60 g/Nm3 Absorbansi Standar -0,01904 0,03237 0,0972 0,2852 0,6265 MDL untuk SO2 berada pada kisaran konsentrasi 25 g/Nm3 sampai 1000 Halte UIN Depan PLT Sample ID Jumlah SO2 sampel (g) = a 2,2626 1,8373 Konsentrasi SO2 udara (g/Nm3) = C* < 25 < 25

Kurva Kalibrasi SO2


0.7 0.6 Absorbansi (A) 0.5 0.4 0.3 0.2 0.1 0 -0.1 0 5 10 15 20 25 Konsentrasi Larutan Standar (mg/L) 30 y = 0.0254x - 0.0295 R = 0.999

b. Perhitungan Konsentrasi (Kadar) SO2 Udara Ambien 1. Halte UIN C= C= C=

57

2. Depan PLT C= C= C=

E. Penetapan Kadar NH3 dalam Udara dengan Metode Indofenol a. Pembuatan Kurva Kalibrasi Konsentrasi Larutan Standar mg/L 0,00 2,00 4,00 6,00 10,00 Absorbansi Standar 0,007511 0,2277 0,4853 0,7536 1,245 MDL untuk NH3 berada pada kisaran konsentrasi 20 g/Nm3 sampai 700 g/Nm3 Halte UIN Depan PLT Sampel ID Jumlah NH3 sampel ( g) = a 0,1994 0,0064 Konsentrasi NH3 Udara (g/Nm3) = C* < 20 < 20

Kurva Kalibrasi NH3


1.4 1.2 1 Absorbansi (A) 0.8 0.6 0.4 0.2 0 -0.2 0 2 4 6 8 Konsentrasi Larutan Standar (mg/L) 10 12 y = 0.1251x - 0.0065 R = 0.9993

58

b. Perhitungan Konsentrasi (Kadar) NH3 Udara Ambien 1. Halte UIN C= C= C= 2. Depan PLT C= C= C=

59

F. Baku Mutu Udara Ambien menurut PP No. 41 Tahun 1999 tentang Pengendalian Pencemaran Udara

60