Anda di halaman 1dari 17

LAPORAN PRAKTIKUM MIKROTEKNIK TUMBUHAN

PERCOBAAN II PEMBUATAN PREPARAT POLEN DENGAN METODE ASETOLISIS

NAMA NIM KELOMPOK ASISTEN HARI/ TANGGAL

: IRMAYANTI : H41109256 : III ( TIGA ) : SRI HIKMAH MUHTADIN : KAMIS/ 22 SEPTEMBER 2011

LABORATORIUM BOTANI JURUSAN BIOLOGI FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM UNIVERSITAS HASANUDDIN MAKASSAR 2011

BAB I PENDAHULUAN

I.1 Latar Belakang Kantung sari atau kantung polen berisi butir tepung sari atau butir polen. Polen atau serbuk sari adalah butiran kecil yang merupakan sel khusus memiliki dua nucleus, dibentuk oleh organ kelamin jantan bunga atau stamen (Susandarini, 2011). Serbuk sari dan spora banyak megandung zat gula, lemak, protein dan karbohidrat. Serbuk sari dan spora pada berbagai jenis tumbuhan memiliki bentuk yang berbeda, terkadang ia berbentuk seperti piramid, segi tiga, bulat atau seperti telur tergantung pada jenis pohonnya (Hidayat, 1995). Butir polen sering berperan dalam taksonomi di taraf familia atau di bawahnya. Dinding serbuk sari terdiri dari dua lapisan, yaitu eksin (lapisan luar) tersusun atas sporopolenin, dan intin (lapisan dalam) yang tersusun atas selulosa. Struktur dinding serbuk sari, khususnya bagian eksin, merupakan salah satu karakter yang digunakan dalam identifikasi. Struktur halus eksin dapat dibedakan menjadi tiga tire, yaitu: tektat, semitektat, dan intektat. Metode asetolisis adalah metode yang digunakan dalam pembuatan preparat polen dan spora. Prinsip dasar asetolisis, adalah memecah atau melisis dinding polen (eksin dan intin) dan spora dengan menggunakan asam kuat. Metode ini yang digunakan dalam pembuatan preparat polen. Berdasarkan latar belakang di atas maka dilakukan percobaan ini.

I. 2 Tujuan Percobaan Tujuan dari percobaan ini yaitu untuk mengetahui teknik pembuatan preparat polen dengan metode asetolisis pada bunga kembang sepatu Hibiscus rosa-sinensis. I.3 Waktu dan Tempat Percobaan Percobaan ini dilakukan pada hari selasa-kamis, tanggal 06 Oktober 2011, pukul 13.00- 17.00 WITA, di Laboratorium Botani, Jurusan Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Hasanuddin, Makassar.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Kebanyakan Angiospermae memiliki kepala sari yang tetrasporangiat, dengan dua ruang sari (lokulus) dalam setiap cuping kepala sari sehingga jumlah keseluruhannya empat. Bagian bunga yang merupakan alat untuk berkembang biak adalah benang sari dan putik. Benang sari merupakan alat kelamin jantan, putik merupakan alat kelamin betina. Penyerbukan terjadi apabila serbuk sari jatuh pada kepala putik. Selanjutnya akan terjadi pembuahan dalam bakal buah. Pembuahan, yaitu bersatunya sel kelamin jantan dengan sel kelamin betina membentuk individu baru. Setelah terjadi pembuahan, akan menjadi buah yang di dalamnya mengandung biji. Pada biji terdapat bakal calon tumbuhan baru. Jika biji telah masak dapat ditanam dan akan tumbuh menjadi tanaman baru. Biji merupakan hasil penyerbukan dan pembuahan, serta menjadi alat berkembang biak (Aprianty dan Eniek, 2008). Serbuk sari dan spora pada berbagai jenis tumbuhan memiliki bentuk yang berbeda, terkadang ia berbentuk seperti piramid, segi tiga, bulat atau seperti telur tergantung pada jenis pohonnya. Dinding serbuk sari terdiri dari dua lapisan, yaitu eksin (lapisan luar) tersusun atas sporopolenin, dan intin (lapisan dalam) yang tersusun atas selulosa. Struktur dinding serbuk sari, khususnya bagian eksin, merupakan salah satu karakter yang digunakan dalam identifikasi. Struktur halus eksin dapat dibedakan menjadi tiga tire, yaitu: tektat, semitektat, dan intektat (Hidayat, 1995).

Bentuk

dan ukuran polen yang bervariasi antar jenis-jenis tumbuhan.

Selain ukuran dan bentuk polen, ciri lainnya seperti tipe, jumlah dan posisi apertur serta arsitektur dinding eksin juga dapat diamati dan dijadikan parameter dalam studi palinologi. Sebagian besar polen Angiospermae merupakan polen yang soliter dan bebas, masing-masing berkembang dari mikrospora tunggal. Butir polen pola lekukannya berbeda-beda, termasuk adanya butiran, kutil, dan duri. Telah ditunjukkan bahwa pada beberapa familia dengan eksin berisi bahan dari tepetum dan berperan dalam pengendalian kecocokan intraspesies. Ketika butir polen dibawa oleh pollinator dari kepala sari ke stigma, terjadi dehidrasi sesudah terjadi kontak dengan udara sehingga eksin mengkerut. Eksin mengembang dan bahan yang tersimpan dalam eksin dan intin dibebaskan. (Aprianty dan Kriswiyanti, 2008). Polen merupakan sumber makanan lebah dan digunakan sebagai sumber pakan protein, lemak, karbohidrat, mineral. Selain mengambil polen dari bunga, lebah juga mengambil nektar yang digunakan sebagai cadangan makanan dan bahan utama pembuatan madu. Di peternakan istana lebah madu kecamatan Licin misalnya, lebah mencari nektar dan polen dari berbagai jenis spesies tumbuhan yang nantinya digunakan sebagai sumber makanan. Ciri morfologi polen

bermanfaat dalam berbagai bidang, manfaatnya antara lain (Arridjani dan Agus, 1998): a. Melacak sejarah kelompok dan jenis (spesies) tumbuhan b. Melacak sejarah komunitas tumbuhan dan habitatnya c. Menentukan umur relatif batuan atau sedimen d. Memperlajari sejarah iklim

e. Mempelajari pengaruh manusia terhadap lingkungan f. Membantu memecahkan kasus kriminologi g. Menentukan kandungan serbuk sari dalam madu (melisopalinologi) h. Mempelajari kandungan serbuk sari di udara dan pengaruhnya terhadap kesehatan manusia. Ukuran ataupun bentuk, tipe polen tidak hanya bervariasi dalam tingkatan antar jenis, melainkan dapat pula bervariasi antara individu-individu dalam jenis yang sama. Selain itu polen juga dapat bervariasi menurut tahap kematangannya Penelitian polen dari beberapa ahli terhadap beberapa jenis tumbuhan di Eropa menurut menunjukkan adanya variasi ukuran berdasarkan letak geografisnya. Akan tetapi usaha untuk menghubungkan ukuran polen yang bervariasi dalam menentukan adanya faktor lingkungan belum memberi hasil yang memuaskan. Ukuran polen individu yang berbeda dalam satu jenis juga bisa disebabkan oleh perbedaan fokus optik pengamat (Faegri dan Iversen, 1989). Untuk mengidentifikasi polen dan melacak sejarah kelompok dan jenis (spesies) tumbuhan, para ilmuwan biasanya melihat ciri morfologi dari polen tersebut. Biasanya dilakukan dalam bentuk awetan. Dalam pembuatan preparat polen menggunakan metode asetolisis. Metode asetolisis adalah salah satu metode pembuatan preparat serbuk sari yang menggunkan prinsip melisiskan dinding sel serbuk sari dengan asam asetat glasial serta asam sulfat pekat sebagai bahan tambahan. Hal ini bertujuan untuk mendapatkan hasil amatan morfologi dinding serbuk sari ornamentasi dari serbuk sari tersebut. Serbuk sari yang digunakan dalam pembuatan preparat biasanya merupakan serbuk sari yang matang. Serbuk sari yang matang dapat ditandai dengan sudah tidak ada air dalam serbuk sari

tersebut, jika serbuk sari dipatahkan maka hanya akan seperti tepung saja (Faegn, Kand dan Iversen, 1989). Proses (Hayati, 2011): 1. Fiksasi suatu usaha untuk mempertahankan elemen-elemen sel atau jaringan, dalam hal ini serbuk sari agar tetap pada tempatnya, dan tidak mengalami perubahan bentuk maupun ukuran dengan media kimia sebagai fiksatif. Fiksasi umumnya memiliki kemampuan untuk mengubah indeks bias bagianbagian sel, sehingga bagian-bagian dalam sel tersebut mudah terlihat di bawah mikroskop. 2. Pemanasan untuk mempercepat terjadinya reaksi yang terjadi pada serbuk sari dan penambahan H2SO4 dan asam asetat glasial dengan perbandingan 1:9 berfungsi untuk untuk melisiskan selulosa pada dinding serbuk sari (asetolisis), sehingga setelah dibuat preparat, morfologi eksin serbuk sari akan terlihat lebih jelas dibandingkan dengan sebelum asetolisis. Selain itu, asetolisis ini juga berfungsi seperti proses fiksasi, yaitu memelihara atau mempertahankan struktur dari serbuk sari. 3. Pencucian dengan penambahan aquadesh ke dalam tabung centrifuge yang berisi serbuk sari kemudian melakukan centrifuge untuk mendapatkan serbuk sari yang sudah bersih. Perlakuan tersebut dilakukan dua kali untuk mendapatkan serbuk sari yang bersih tanpa ada sisa zat kimia. 4. Pewarnaan (staining) dengan meningkatkan kontras warna serbuk sari dengan sekitarnya sehingga memudahkan dalam pengamatan serbuk sari doi bawah asetolisis memerlukan beberapa langkah-langkah antara lain

mikroskop. Pewarnaan dapat memperjelas bentuk ornamen dinding sel serbuk sati serta mempermudah mengetahui ukuran serbuk sari. 5. Penutupan (mounting) merupakan langkah penting dalam pembuatan preparat, dimana serbuk sari diambil dari dasar tabung centrifuge kemudian diletakkan pada salah satu sisi object glass. Kemudian, di masing-masing sisi dari serbuk sari yang diletakkan ini disusun empat potongan kecil parafin. 6. Labeling merupakan tindakan pelabelan preparat. Preparat diberikan label dengan kertas label bertuliskan nama preparat Fiksatif terdiri dari dua jenis, yaitu fiksatif sederhana dan majemuk atau campuran. Fiksatif sederhana merupakan larutan yang di dalamnya hanya mengandung satu macam zat saja, sedangkan fiksatif majemuk atau campuran adalah larutan yang di dalamnya mengandung lebih adri satu macam zat. Fiksatif yang digunakan serbuk sari dalam pembuatan preparat memliki satu bahan utama yaitu asam asetat glasial dan satu bahan tambahan, yaitu H2SO4 (asam sulfat) pekat. Kedua fiksatif tersebut termasuk dalam fiksatif sederhana. Asam asetat adalah cairan yang tidak berwarna dengan bau yang tajam. Sedangkan asam asetat glasial adalah asam asetat yang padat dan murni serta dapat mencair pada suhu 117C. Fungsi fiksasif sebenarnya yaitu anatara lain (Susandarini, 2010): 1. Menghentikan proses metabolisme dengan cepat. 2. Mengawetkan bentuk yang sebenarnya. 3. Mengeraskan atau memberi konsistensi material yang lunak biasanya secara koagulasi, dari protoplasma dan material-material yang dibentuk oleh protoplasma. 4. Mengawetkan elemen sitologis dan histologis.

BAB III METODE PERCOBAAN

III. 1 Alat Alat yang digunakan dalam percobaan ini adalah botol sampel plastik, pipet tetes, penangas, gegep, sentrifuge, preparat, dan tabung enfendorf. III. 2 Bahan Bahan yang digunakan dalam percobaan ini adalah serbuk sari bunga kembang sepatu Hibiscus rosa-sinensis, tissue, air, aquades, parafin, asam asetat glacial, H2SO4 pekat, safranin, dan kertas label. III. 3 Cara Kerja Prosedur kerja dari percobaan ini adalah : 1. Menyediakan polen dari bunga kembang sepatu Hibiscus rosa-sinensis dan dimasukkan ke dalam botol plastik. 2. Melakukan fiksasi dengan menambahkan asam asetat glacial ke dalam botol plastik yang berisi polen dan didiamkan selama 24 jam. Kemudian melakukan sentrifuse selama 10 menit. 3. Melakukan pemanasan sambil menambahkan H2SO4 pekat dan asam asetat glacial dengan perbandingan 1: 9. Kemudian melakukan sentrifuse selama 10 menit. 4. Melakukan pencucian dengan aquadest, lalu di sentrifuse kembali selama 10 menit. Pencucian dilakukan sebanyak 2 kali.

5. Melakukan pewarnaan dengan safranin yang ditambahkan dengan aquadest, lalu disentrifuse kembali selama 10 menit. 6. Melalukan penutupan dengan menggunakan paraffin lalu member nama pada preparat polen tersebut.

DAFTAR PUSTAKA

Aprianty dan Kriswiyanti, 2008. Studi variasi ukuran serbuk sari kembang sepatu (Hibiscus rosa-sinensis L.) dengan warna bunga berbeda. Jurnal Biologi. Jakarta. Arridjani dan Agus P., 1998. Morfologi Komparatif Serbuk Sari Anggota Myristicaceae di Jawa dan Nilai Taksonominya. Biologi. ITB. Bandung. Faegn, Kand dan J. Iversen, 1989. Texbook of Pollen Analysis. 4 th Edition. John Wiley & amp. Sons Ltd Chichester. Hidayat, Estiti B. 1995. Anatomi Tumbuhan Berbiji. Bandung : Penerbit ITB Bandung. Susandarini, Ratna, 2011. Teknik Preparasi Serbuk Sari Dan Pengamatan Preparat Serbuk Sari. http://elisa1.ugm.ac.id/comm_view.php? BIO3107.Paleobotani. Diakses pada tanggal 06 Oktober 2011. Pukul 20.15 WITA. Makassar. Wikipedia, 2011. Pembutan Preparat polen. http:// www.wikipedia.com. Diakses pada tanggal 06 Oktober 2011. Pukul 20.11 WITA. Makassar.

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

IV.1 Hasil Gambar preparat pollen kembang sepatu Hibiscus rosa-sinensis dilihat di bawah mikroskop

Gambar preparat pollen kembang sepatu Hibiscus rosa-sinensis Keterangan : 1. Aperture (tipe porus) 2. Eksin (tipe baculate dengan jarak renggang )

Bagan Kerja

Bahan dimasukkan dalam botol sampel (serbuk sari kembang sepatu Hibiscus rosa-sinensis)

Fiksasi (Larutan asam asetat glacial-24 jam)

Sentrifuge (10 menit)

Pemberian H2SO4 + Asam asetat glacial 1:9

Pemanasan di atas penangas sampai berubah warna menjadi kecoklatan

Sentrifuge (10 menit)

Pencucian Aquades 2 kali Sentrifuge (10 menit)

Pewarnaan Larutan safranin + aquades

Sentrifuge (10 menit)

Meletakkan serbuk sari di tengah objek gelas

Penutupan Parafin (di potong kecil)

Pemanasan di atas bunsen

Labeling (pemberian label sesuai dengan nama preparat)

IV.2 Pembahasan Praktikum kali ini mengenai pembuatan preparat polen dari kembang sepatu Hibiscus rosa-sinensis dengan metode asetolisis. Metode asetolisis adalah salah satu metode pembuatan preparat serbuk sari yang menggunakan prinsip melisiskan dinding sel serbuk sari dengan asam asetat glasial serta asam sulfat pekat sebagai bahan tambahan. Langkah-langkah dari proses asetolisis ini antara lain adalah fiksasi, pemanasan, pencucian, pewarnaan, penutupan, dan labelling. Langkah pertama yaitu fiksasi serbuk sari. Fiksasi berfungsi untuk mempertahankan elemen-elemen sel atau jaringan, dalam hal ini serbuk sari agar tetap pada posisinya dan tidak mengalami perubahan bentuk maupun ukuran dengan media kimia sebagai fiksatif, dalam hal ini asam asetat glacial, fiksasi dilakukan selama 24 jam. Selanjutnya dilakukan sentrifuge serbuk sari dan asam asetat glacial

selama 10 menit. Dari hasil sentrifuge ini akan terbentuk supernatan asam asetat glacial dan endapan serbuk sari. Asam asetat kemudian dibuang, sehingga didapatkan serbuk sari yang mengendap di dasar tabung sentrifuge. Pembuangan asam asetat ini perlu kehati-hatian agar serbuk sari yang mengendap di dasar tabung tidak menyebar kembali dalam larutan asam asetat dan akan ikut terbuang.

Kemudian menambahkan larutan campuran antara H2SO4 pekat dan asam asetat glacial dengan perbandingan 1 : 9 pada tabung sentrifuge yang berisi endapan serbuk sari. Setelah penambahan larutan kemudian dilakukan pemanasan campuran larutan di atas penangas. Pemanasan larutan ini bertujuan untuk

mempercepat terjadinya reaksi yang terjadi pada serbuk sari. Sedangkan penambahan H2SO4 dan asam asetat glasial dengan perbandingan 1 : 9 ini berfungsi untuk untuk melisiskan selulosa pada dinding serbuk sari, sehingga setelah dibuat preparat, morfologi eksin serbuk sari akan terlihat lebih jelas. Larutan kemudian didinginkan sejenak saat larutan telah berubah kecoklatan. larutan di sentrifuge kembali untuk memisahkan serbuk sari dari larutan asam asetat glacial dan H2SO4 pekat. Sentrifuge dilakukan selama 10 menit. Hasil sentrifuge adalah supernatan di bagian atas tabung sentrifuge, yaitu larutan asam asetat glasial dan asam sulfat pekat serta endapan di dasar tabung, yaitu serbuk sari yang telah terasetolisis. Supernatan kemudian dibuang secara hati-hati agar serbuk sari yang sudah mengendap tidak menyebar kembali ke dalam larutan dan ikut terbuang. Berikutnya adalah pencucian serbuk sari dengan aquadest sebanyak dua kali. Pencucian dilakukan dengan penambahan aquadesh ke dalam tabung sentrifuge yang berisi serbuk sari kemudian melakukan sentrifuge untuk mendapatkan serbuk sari yang sudah bersih. Kemudian dilakukan pewarnaan (staining) dengan menggunakan campuran aquades dan safranin 1 %. Tujuan utama dari pewarnaan adalah untuk meningkatkan kontras warna serbuk sari dengan sekitarnya sehingga

memudahkan dalam pengamatan serbuk sari di bawah mikroskop. Dalam proses pewarnaan, safranin dilarutkan dalam sedikit aquades, hal ini masih dilakukan

dalam tabung centrifuge. Setelah pewarnaan serbuk sari, kemudian dilakukan centrifuge kembali yang ditujukan untuk mendapatkan serbuk sari yang terwarnai dengan memisahkannya dengan larutan safranin dan aquades. Sentrifuge dilakukan selama 10 menit dan dengan kecepatan 20 rpm. Selanjutnya setelah pewarnaan adalah mounting. Mounting atau penutupan ini merupakan langkah penting dalam pembuatan preparat, dimana serbuk sari diambil dari dasar tabung centrifuge kemudian diletakkan ditengah preparat kemudian diamati di bawah mikroskop.

BAB V PENUTUP

V.1 Kesimpulan Kesimpulan yang diperoleh dari percobaan ini yaitu : 1. Metode asetolisis adalah salah satu metode pembuatan preparat serbuk sari yang menggunakan prinsip melisiskan dinding sel serbuk sari dengan asam asetat glasial serta asam sulfat pekat sebagai bahan tambahan. 2. Tahapan pada proses ini dapat dikelompokkan dalam beberapa proses yakni Fiksasi, pemanasan, pencucian, pewarnaan (Staining ), Penutupan ( Mounting), dan labelling.

V.2 Saran Sebaiknya kenyamanan di Laboratorium di pusatkan yang meliputi sarana dan prasarana agar praktikum berjalan lebih optimal.