Anda di halaman 1dari 10

METAMORFOSIS KATAK (Rana cancrivora)

Oleh : Nama NIM Rombongan Kelompok Asisten : Galih Aditya Raharjo : B1J008046 :V :1 : Farida Anita Sari

LAPORAN PRAKTIKUM STRUKTUR DAN PERKEMBANGAN HEWAN II

DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN FAKULTAS BIOLOGI PURWOKERTO 2009

I. PENDAHULUAN

A. Latar belakang

Perkembangan merupakan suatu proses perubahan dari telur terbuahi menuju ke bentuk dewasanya. Ada dua proses perkembangan di luar perkembangan secara umum yaitu proses perkembangan dari bentuk larva ke bentuk dewasanya dan perkembangan sebagai organ baru setelah salah satu organ aslinya rusak atau diambil pada individu yang sudah dewasa. Hewan yang perkembangan embrionalnya di luar tubuh induknya, biasanya di dalam sitoplasma telurnya telah dilengkapi dengan persediaan makanan yang mencukupi untuk perkembangan tingkat embrional sampai menjadi individu secara fisiologis masak, artinya menjadi individu yang relative mampu hidup mandiri. Relatif disini karena beberapa individu masih membutuhkan bantuan dan perlindungan dari induknya. Metamorfosis amphibi sebagai perkembangan yang merubah secara keseluruhan bentuk, fisiologis maupun biokimia individu, sementara pada beberapa insecta, metamorfosis hanya bersifat melengkapi bentuk larva dengan perlengkapanperlengkapan untuk menjadi bentuk dewasanya. Perubahan perubahan metamorfik benar-benar merubah seluruh jaringan dan organ. Dua bagian perkembangan ini kemungkinan menguntungkan. Perubahan tersebut memungkinkan hewan dewasanya berkoloni pada habitat sekunder berbasis tanah selama metamorfosis, proses-proses perkembangan diaktifkan kembali oleh hormon-hormon spesifik dan keseluruhan organisme berubah untuk mempersiapkan dirinya pada model baru.

B. Tujuan

Tujuan dari praktikum ini adalah mengenali struktur tubuh larva/ berudu (hewan akuatik) dan perubahan-perubahan yang terjadi selama metamorfosis larva Amphibi untuk menjadi katak dewasa (terestial).

II. TINJAUAN PUSTAKA

Metamorfosis merupakan suatu proses transisi menjadi individu dewasa. Proses metamorfosis pada Amphibi dikontrol oleh hormon tiroid. Mekanisme hormon tiroid pada tingkat gen harus melalui reseptor yang berada pada inti sel.Selama metamorfosis, proses perkembangan diaktifkan kembali oleh hormon-hormon spesifik dan keseluruhan organisme berubah untuk mempersiapkan dirinya pada model baru. Metamorfosis pada berudu menyebabkan perkembangan pemasakan enzim-enzim hati, hemoglobin dan pigmen mata. Metamorfosis sering merupakan waktu perubahan perkembangan dramatik yang mempengaruhi organisme secara keseluruhan (Hildebrand, 1974). Metamorfosis pada amphibi umumnya berhubungan dengan perubahan yang mempersiapkan suatu organisme akuatik untuk kehidupan darat. Perubahan regresif pada anura menyertakan hilangnya gigi tanduk berudu, pemendekan ekor dan insang internal. Proses-proses penyusunan seperti perkembangan membra dan morfogenesis kelenjar tiroid juga terjadi pada saat yang sama. Perubahan lokomosi dengan menyusutnya ekor pendayung yang disertai perkembangan membra belakang dan membra depan. Insang beregresi dan lengkung insang menghilang. Intestinum panjang yang khas hewan herbivora memendek karena akan bermetamorfosis menjadi katak yang bersifat karnivora. Paru-paru membesar, otot-otot dan kartilago berkembang untuk memompa udara masuk dan keluar paru-paru. Telinga tengah berkembang, sebagai karakteristik membran timpani luar katak dan toad. Muncul membran niktitan pada mata (Brotowidjoyo,1993). Katak dewasa memiliki endoskeleton yang terdiri atas tulang sejati dan kartilago (tulang rawan). Tulang ini mendukung bagian-bagian penting pada tubuh, melindungi organ-organ halus seperti otak dan syaraf tulang belakang, serta menyediakan tempat untuk melekatnya otot-otot rangka. Studi perbandingan yang dilakukan pada tulang vertebrata lainnya termasuk manusia diketahui dua bagian utama tulang yaitu skeleton aksial yang terdiri atas tulang tengkorak dan sumsum tulang belakang. Skeleton apendikular yang terdiri atas tulang kaki, tulang pelvis dan pectoral (Parker, 1967).

III. ALAT, BAHAN DAN CARA KERJA

A. Alat

Alat yang digunakan dalam praktikum kali ini yaitu baskom sebagai medium, milimeter blok, saringan pati, batu, dan kertas label.

B. Bahan

Bahan yang digunakan dalam praktikum ini adalah berudu katak, media air dan daun bayam untuk pakan.

Cara Kerja

1. Berudu dipilih yang berukuran sama dan pada stadium yang sama. 2. Diukur di atas milimeter blok baik panjang tubuh, panjang ekor 3. Berudu dipelihara pada baskom plastik yang sudah diisi air. 4. Diamati hingga ekornya dapat digunakan untuk berenang. 5. Setiap dua hari sekali diberi pakan bayam dan baskomnya dibersihkan. 6. Selama lima hari setelah perlakuan, diukur panjang tubuh, panjang ekor 7. Diamati dan dicatat awal pertunasan membra belakang 8. Diamati dan dicatat awal pertunasan membra depan 9. Dibuat data hasil pengamatan dan lebar tubuhnya. maupun lebar tubuh.

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

Hasil

Data Pengamatan Praktikum Metamorfosis No Ulangan pengamatan Rataan lebar tubuh (cm) 12,8 14,8 15,65 13,8 10,9 8,2 Parameter Rataan panjang tubuh (cm) 6,98 8,1 8,85 8,9 9,6 5,75 Rataan panjang ekor (cm) 3,93 5 4,75 4,4 4 3,5

1. 2. 3. 4. 5. 6.

Hari ke-0 Hari ke-4 Hari ke-8 Hari ke-12 Hari ke-16 Hari ke-20

Parameter yang diamati Lokomosi

0 Dengan ekor Spiral Belum terlihat Belum terlihat

4 Dengan ekor Spiral Sedikit terlihat Sedikit terlihat

Pengamatan hari ke8 12

16

20 Dengan kaki dan tanga Pendek Sudah terlihat Sudah terlihat

Usus atau perut Pertunasan membra depan Pertunasan membra belakang

Dengan Dengan Dengan ekor ekor kaki dan tangan Spiral Spiral Pendek Sedikit terlihat Sedikit terlihat Sedikit terlihat Sedikit terlihat Sudah terlihat Sudah terlihat

Pembahasan

Katak merupakan ovipar dan pembuahan terjadi diluar tubuh. Saat kawin, katak jantan dan betina akan melakukan ampleksus, yaitu katak jantan akan menempel pada punggung katak betina, sehiangga terjadi fertilisasi yang menghasilkan telur. Telur yang dibuahi berkembang menjadi berudu. Berudu bernafas dengan insang dan melekat pada tumbuhan air dengan alat hisap. Berudu berubah menjadi katak muda yang bernafas dengan dua organ yaitu paru-paru dan insang. Insang menghilang dan ekornya lenyap, sehingga berubah menjadi katak dewasa. Katak dewasa mulai muncul kepermukaan dan bernafas dengan paru-paru. Saat itulah metamorfosis katak selesai (Parker,1967). Data pengamatan menunjukan bahwa panjang tubuh dan lebar kepala dari hari ke-1 sampai hari ke-20 mengalami perubahan yang semakin membesar. Panjang ekor mengalami pemendekan (mereduksi) dan berudu berdasarkan data belum menjadi katak dewasa, sehingga masih menjadi hewan herbivora. Lokomosinya masih dengan ekor, usus sudah terlihat jelas dan perut masih panjang. Faktor-faktor yang mempengaruhi perumbuhan dan perkembangan berudu yaitu faktor internal dan eksternal, faktor internal gen dan hormon sedangakan faktor eksternal adalah makanan, air, dan cahaya matahari (Walter, 1965) Perubahan yang terjadi saat metamorfosis yaitu perubahan regresif yang menyertakan hilangnya gigi tanduk berudu, insang lateral, dan pemendekan ekor. Proses penyusunan seperti perkembangan membra dan morfogenesis kelenjar tyroid pada saat yang sama mengalami perubahan. Perubahan lokomosi dengan mereduksinya ekor pendayung yang disertai perkembangan membra depan belakang. Organ pencernaan termasuk pankreas dari berudu berubah saat menjadi katak dewasa (Mukhi, 2008)

Hasil pengamatan yang dilakukan selama sebulan menunjukkan hasil sesuai dengan pustaka yang dipaparkan dalam bentuk gambar di atas. Katak dewasa hidup di darat, pernafasannya dengan paru-paru. Selain dengan paru-paru, oksigen dapat berdifusi dalam rongga mulut yaitu melalui selaput rongga mulut dan juga melalui kulit. Permukaan kulit katak selalu basah dan lembab sehingga memungkinkan oksigen dapat berdifusi ke dalam kulit tersebut (Soeminto, 2000). Membesarnya otot-otot dan kartilago berkembang untuk memompa udara masuk. Metamorfosis pada amphibi umumnya berhubungan dengan perubahan yang mempersiapkan suatu organisme akuatik untuk kehidupan darat. Perubahan regresif pada anura menyertakan hilangnya gigi tanduk berudu, pemendekan ekor dan insang internal. Pada saat yang sama, proses-proses penyusunan seperti perkembangan membra dan morfogenesis kelenjar tiroid. Perubahan lokomosi dengan menyusutnya ekor pendayung yang disertai perkembangan membra belakang dan membra depan. Insang beregresi dan lengkung insang menghilang. Intestinum panjang yang khas hewan herbivora memendek karena akan bermetamorfosis menjadi katak yang bersifat karnivora. Paru-paru dan keluar paru-paru. Telinga tengah berkembang, sebagai karakteristik membran timpani luar katak dan toad. Muncul membran niktitan pada mata (Robert, 1976). Kecebong mempunyai usus panjang yang melingkar, tetapi amphibia dewasa mempunyai saluran pencernaan yang relatif pendek dan sederhana, panjangnya antara 0,5 sampai 3,5 kali panjang tubuhnya. Perbatasan antara kedua bagian usus ini dapat terjadi karena saeka kosio tunggal yang kecil. Struktur ini ternyata sudah vestigial dalam banyak amphibia yang masih hidup. Anura mempunyai paru-paru pendek tetapi besar. Bagian dalam paru-paru merupakan kantung terbuka tetapi dindingnya sudah

terbagi dalam orde pertama, kedua, dan ketiga. Menyediakan permukaan respirasi total sekitar 1 cm2/gr berat badan (15-20 cm2 untuk katak yang besarnya sedang). Trakea yang sangat pendek terbagi menjadi dua bronkus yang pendek, satu menuju ke arah ujung dari setiap paru-paru. Ephitelium dari saluran itu bersilia sehingga dapat menjaga supaya sistem pernafasan tetap bersih. Anura memompakan udara ke dalam paru-paru dari rongga bukho fongedi. Nares interna mulai berfungsi untuk pertama kalinya dalam sejarah vertebrata. Urodela pada umumnya mempunyai banyak pasangan jantung limfa yang kecil-kecil, tersusun segmental (dengan otot intrinsiknya sendiri) dan sepasang yang dekat dengan setiap pangkal kakinya. Anura mempunyai lebih sedikit jantung limfa yang kecil-kecil, tetapi tetap mempunyai dua pasang yang besar (Djuhanda, 1984). Banyak tipe sel di dalam larva yang mengalami perubahan-perubahan spesifik selama metamorfosis, tetapi sel-sel pada beberapa daerah terus menerus berkembang dan tidak dipengaruhi oleh hormon, sebagai contoh sel-sel epithel insang berdegenerasi, akan tetapi epidermis membra di dekatnya terus tumbuh dengan baik. Sintesis protein dalam hati menurun atau berhenti dan siklus enzim urea mulai disintesis. Berbagai protein termasuk vitelogenin menjadi terinduksi pada responnya ke estrogen, Sel-sel otot halus pada dinding pembuluh darah pada ekor mengalami autolisis pada responnya dengan hormon tiroid, sedangkan sel-sel otot halus pada membra yang sedang berkembang berproliferasi dan berpartisipasi pada pembentukan pembuluh darah. Sel-sel berdegenerasi dan kondrosit dalam tunas membra berproliferasi membentuk model kartilago tulang yang akan datang (Robert, 1976). Selama metamorfosis, proses perkembangan diaktifkan kembali oleh hormon-hormon spesifik dan keseluruhan organisme berubah untuk mempersiapkan dirinya pada model baru. Metamorfosis pada berudu menyebabkan perkembangan pemasakan enzim-enzim hati, hemoglobin dan pigmen mata (Gilbert, 2000). Salah satu faktor yang mempengaruhi keberhasilan dari metamorfosis adalah adanya hormon tiroksin yang disekresi oleh kelenjar tiroid. Kelenjar tiroid terdapat pada pangkal tenggorokan. Hormon tiroksin pada manusia mengendalikan laju produksi energi dan reaksi di dalam sel pada umumnya. Sedangkan pada hewan seperi katak, tiroksin mengontrol perubahan-perubahan pada saat terjadi proses metamorfosis (Djuhanda, 1984). V. KESIMPULAN

Dari praktikum kali ini, kita dapat memperoleh kesimpulan sebagai berikut: 1. Struktur tubuh berudu terdiri dari kepala dan ekor 2. Perubahan yang terjadi selama metamorfosis adalah lokomosi berudu sudah berubah setelah tumbuhnya membra depan dan belakang, ekor yang menghilang.

DAFTAR PUSTAKA

Brotowidjoyo, M. D. 1990. Zoologi Dasar. Erlangga, Jakarta. Djuhanda, T. 1984. Analisa Struktur Vertebrata 2. Armico, Bandung. Gilbert. S.F. 2000. Developmental Biology. Sinaur Associates, Massachusetts. Hildebarand. 1974. Analisa Struktur Vertebrata. Armico, Bandung. Mukhi, S., Jianze, M., anad Donald D.B. 2008. Remodeling The Exorine Pancreas at Metamorphosis in Xenopus Laevis. Washington, DC. USA Parker, T.J. 1967. Texbook of Zoologi Volume 2. Mc Millan, Hongkong. Radiopoetro. 1990. Zoologi. Erlangga, Jakarta. Robert, T. Orr. 1976. Vertebrate Biology Fourth Edition, W.B. Sounders Company, USA. Soeminto. 2000. Embriologi Vertebarataa Fakultas Biologi. Universitas Jendral Soedirman, Purwokerto. Walter, H. 1965. Biology of Vertebrates. Mc Millan, New York.