Anda di halaman 1dari 4
3. Kemerosotan nilai toleransi dalam masyarakat Ditinjau dari sudut etimologi kata toleransi berasal dari bahasa Latin toleraré dan diserap dalam banyak bahasa, termasuk Bahasa Indonesia. Makna dasarnya ialah sikap menghargai, membiarkan dan membolehkan. Pengertian toleransi merupakan suatu pengertian yang menyatakan suatu hubungan. Unesco mendefinisikan toleransi sebagai kualitas minimal dan paling mendasar dari suatu hubungan sosial yang menolak kekerasan dan pemaksaan. Pluralitas merupakan sebuah fakta sosial historis yang melekat pada ke Indonesian. Masyarakat Indonesia adalah masyarakat yang plural dan multikultural. Menjadi manusia Indonesia berarti menjadi manusia yang sanggup hidup dalam perbedaan dan bersikap toleran. Bersikap toleran berarti bisa menerima perbedaan dengan lapang dada, dan menghormati hak pribadi dan sosial pihak yang berbeda (The Other) menjalani kehidupan mereka. Isu konflik dalam masyarakat setidaknya dipicu oleh dua sentimen klasik, yaitu agama dan etnis. Agama sebenarnya bukan sumber persoalan, sebab agama adalah seperangkat nilai yang diyakini justru untuk menciptakan makna sebaliknya, yaitu kedamaian, ketentraman dan kenyamanan pada setiap pemeluknya. Agama sepatutnya dimaknai sebagai ketidak-kekacauan sebagaimana arti harfiahnya (sansekerta, a berarti tidak, gama artinya kacau). Etnisitas adalah keragaman yang tercipta sebagai karunia Tuhan Yang Maha Esa, dimana setiap orang terlahir pada komunitas tertentu dengan seperangkat nilai tradisi antroplogis-sosiologis yang berlangsung secara turun temurun. Dua hal tadi dalam realitas masyarakat menciptakan perbedaan keyakinan dan polapola hidup sebagai tradisi yang agung dan luhur. Represi terhadap salah satu keyakinan dan tradisi pada suatu komunitas dapat dipandang sebagai ancaman yang membahayakan sehingga mampu menyulut pertikaian secara ekstrem. Di Indonesia, sentimen agama dan etnik dapat dilihat dalam contoh kasus Sampit, Ambon, dan Poso lebih kurang sepuluh tahun lalu. Dalam banyak media massa seringkali kita teramat bijaksana sehingga menggunakan bahasa klise seperti konflik antar kelompok atau konflik antar komunitas di suatu daerah. Kita adalah bangsa yang teramat sopan dan beradab, sehingga untuk membicarakan konflik atas dasar sentimen agama dan etnik dipandang terlalu sensitif, tabu dan mengandung ketidaknyamanan. Saya pikir, saatnya kita bicarakan saja secara terbuka, supaya masalah dilapangan sebagai indikasi ketidaksesuaian itu tak perlu terulang kembali, bahkan terlalu lama untuk diselesaikan. Kita ingin agar simpul-simpul kebersamaan dapat di ikat dengan sekuat-kuatnya, tak mudah lepas serta dapat dituntaskan hingga ke akar persoalan. Kita perlu melokalisir perbedaan yang ada, tanpa harus memusnahkannya, sebab perbedaan adalah rahmat dan fithrah yang tak dapat diingkari. Kita perlu melapangkan jalan yang mulus, bagi kemasalahatan anak cucu dan keindonesiaan. Konflik antar komunitas sebenarnya dapat dihindari tanpa harus berlumuran darah, apalagi sampai menciptakan kesan tirani mayoritas. Kalau saya termasuk bagian dari kelompok minoritas, tidak berarti saya boleh menghindar dari kesepakatan kelompok mayoritas. Demikian pula, kalau saya adalah bagian dari kelompok mayoritas tidak berarti semua aturan harus tunduk pada keinginan kaum mayoritas. Ini dapat menciptakan tirani mayoritas pula. Yang lebih ironis kalau muncul tirani minoritas. Saya sebenarnya ingin membuang jauh-jauh dikotomi mayoritas-minoritas, namun dalam analisis politik pemerintahan terkadang sulit dihindari. Saya pernah mengingatkan bahwa dalam semangat demokrasi, mayoritas ada karena di dukung oleh minoritas, sedangkan minoritas ada karena dilindungi oleh mayoritas. Tentu saja tak ada yang dapat saling melepaskan antar satu dengan yang lain. Jika semua patuh pada aturan universal yang lahir dari kesadaran bersama, saya pikir kita tak perlu harus beradu mulut untuk meraih simpati Tuhan lewat ritualitas agama. Soal Tarakan, ini juga pelajaran berharga bagi kita, dimana etnik adalah isu klasik yang tak terhindarkan. Sentimen suku penting untuk diselesaikan secara tuntas sebelum menimbulkan korban berikutnya. Disini perlunya membangun komunikasi yang intensif sebagaimana masalah agama yang dapat diselesaikan lewat dialog antar pemeluk agama setiap saat. Komunikasi antar etnik dapat dibangun dalam kerangka saling menghargai, saling menghormati serta saling mengasihi. Saling menghargai bermakna memberi apresiasi terhadap kerja keras kaum pendatang serta menghargai peluang yang diberikan oleh penduduk asli untuk tumbuh dan berkembang dalam dimensi ruang dan waktu. Saling menghormati bermakna pentingnya penghormatan terhadap ruang termasuk seluruh tradisi yang dipijak sebagaimana kata pepatah dimana tanah dipijak disitu langit dijunjung. Sebaliknya, perlunya penghormatan terhadap budaya yang masuk sebagai khasanah dan kekayaan baru melalui proses asimilasi. Sedangkan saling mengasihi bermakna pentingnya meletakkan rasa kemanusiaan akibat kesenjangan yang tercipta dari kerja keras masingmasing. Dari sifat ini akan lahir sikap tolong menolong serta bahu membahu dalam membangun komunitasnya. Secara umum barangkali inilah yang kita sebut sebagai sikap toleransi. Suatu sikap yang saling menghargai, menghormati dan saling mengasihi. 4. Memudarnya nilai kejujuran,kesopanan dan rasa tolong menolong Upaya Mengatasi Patologi sosial: 1. Memberikan pengajaran dan menjelaskan tentang pendidikan kewarganegaraan, nilai-nilai pancasila dan nili kebangsaan pada semua masyrakat Indonesia, sehingga semua nilai mendarah daging kpada seluruh rakyat dan warga dapat sadar dan mengerti tentang permasalahan bangsa dan menkonsistenikan segala tindakan warga terhadap nilai-nilai bangsa 2. Mengidenfikasi dan menganalisis kembali kebijakan pemerintah yang telah dibuat, dengan harapan tidak ada kekecewaan rakyat terhadap kebijakan pemerintah,atau apabila ada kekecwaan dari rakyat dan menyebabkan permasalahan dalam kebijakan,maka hal ini dapat diselesaikan dengan cara membicarakan kembali permasalahan yang terjadi dengan rakyat sehingga dapat terselesaikan secara musyawarah 3. Membuat beberapa organisasi atau departemen yang menampung aspirasi dan keluhan rakyat terhadap segala permaslahan pemerintah,demokrasi,dan ham 4. Menjelaskan akan pentingnya partisipasi aktif rakyat daam demokrasi dan pentingnya demokrasi yang bertanggung jawab 5. Menindak dengan tegas setiap pelanggaran hokum,demokrasi, dan ham sesuai dengan UU dan peraturan 6. Mentransparansi beberapa informasi yang penting bagi rakyat baik berupa informasi pelanggaran, kebijakan dan memprivatisasi segala informasi yang dapat memecah belah demokrasi dan persatuan kesatuan bangsa 7. Mengatur dan Membebaskan rakyat untuk membuat ormas-ormas politik,social yang penting bagi masyarakat sesuai dengan nilai demokrasi yang bertaggung jawab 8. Membuat kebijakan yang memperhatikan kepentingan rakyat,sehingga setiap elemen pemerintahan, industri, ekonomi, dan lainnya memberi perhatian kepada rakyat yang membutuhkan 9. Memberikan kesejaheraan pendidikan kepada rakyat secara optimal dan layak,serta terdistribusi secara layak kepada masyarakat 10. Menindak secara tegas pelanggaran-pelanggaran terhadap system budaya ekonomi dan pelanggaran terhadap pencemaran dan perusakan lingkungan 11. Memberikan pegajaran dan pemahaman nilai-nilai agama secaa mendarah daging pada masyarakat 12. Membuka lapangan pekerajaan bagi para pengganguran 13. Membangun dan menanam kembali pohon-pohon serta taman kota untuk mengurangi polusi 14. Memberikan konsep dan pengajaran pada rakyat tentang nilai-nilai patriot dalam pembelaan Negara baik dalam pembelaan Negara dalam serangan militer dan nonmiliter 15. Memelihara dan membudayakan budaya yang penting bagi jati diri bangsa 16. Memfilter dan menindak tegas pelanggaran terhadap budayadan jati diri bangsa 17. Selalu mengidentifikasi, menganalisis dan merencanakan kebijakan pemerintah agar dapat selalu berkembang dan berevolusioner kearah yang lebih baik dan optimal sehingga mencegah adanya kekecewaan terhadap kebijakan pemerintah 18. Berpatisipasi aktif,memilih dan memfilter calon anggota pemerintahan secara ketat,sehingga mendapatkan anggota pemerintahan yang berkompeten dan memperatikan kepentingan rakyat secara bijaksana 19. Seuruh elemen Negara harus memperhatikan dan peduli terhadap kesejahteraan rakyat dalam pendidikan, ekonomi, dan lainnya 20. Pemerataan kesejahteraan rakyat dalam pendidikan, ekonomi, dan lainnya secara terdisibusi dengan baik dan lancar hingga daerah terpencil 21. Pemerintah dan seluruh elemen masyakat harus lebih menghormati dan meghargai jasajasa para pahlawa, dan tidak hanya pada pahlawan militer.