Anda di halaman 1dari 21

PENDEKATAN KONTEKSTUAL (CTL

)
MAKALAH

Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Tugas dari Maulana, M.Pd. sebagai Dosen Mata Kuliah Model Pembelajaran Matematika

Disusun oleh: Kelompok 4

1. 2. 3.

Rosi Gusmantini Lyanti Dwi Intan S Yanti Jullianti

0903171 / 29 0903210 / 31 0903197 / 36

Konsentrasi Matematika Semester 6

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR KAMPUS SUMEDANG UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA 2012

KATA PENGANTAR Dengan ucapan Alhamdulillahirobbil’alamin, segala puji dan syukur kami panjatkan ke hadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya sehingga kami dapat menyelesaikan penyusunan makalah yang berjudul “Pendekatan Kontekstual (CTL)”. Tidak lupa shalawat serta salam semoga tercurah limpahkan kepada junjungan kita nabi besar Muhammad SAW, kepada keluarga-Nya, sahabatNya serta tak lupa kita selaku umat-Nya Penyusunan makalah ini diajukan untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Model Pembelajaran Matematika yang dibimbing oleh Bapak Maulana, M.Pd. Makalah ini berisi pembahasan mengenai Pengertian Pendekatan Kontekstual, Latar Belakang Pendekatan Kontekstual, Karakteristik Pendekatan Kontekstual, Peran Guru dan Siswa dalam Pendekatan Kontekstual, Prinsip Pendekatan Kontekstual, Pola dan Tahapan Pendekatan Kontekstual, Kelebihan dan Kekurangan Pendekatan

Kontekstual. Kami mengucapkan terima kasih kepada Bapak Maulana, M.Pd. selaku dosen mata kuliah model pembelajaran matematika yang telah memberikan arahan serta bimbingan, dan juga kepada semua pihak yang telah banyak membantu kami dalam menyelesaikan makalah ini. Tak pantas rasanya tulisan ini dikategorikan sempurna, karena kami menyadari masih banyak sekali kekurangan di dalamnya. Oleh sebab itu, besar harapan kami agar semua pihak dapat memberikan kritik dan saran yang bersifat membangun demi kesempurnaan makalah ini agar makalah ini bisa menjadi lebih baik dan berdayaguna di masa yang akan datang.

Sumedang, Maret 2012

Penyusun i

E................... Rumusan Masalah ............... Prinsip Pendekatan Kontekstual ................... DAFTAR PUSTAKA ............................................................ C..................................................... Pengertian Kontekstual ......................................... F.............. D...... Latar Belakang Pendekatan Kontekstual ......... Latar Belakang Masalah .. B......... Saran ... G......... B..................... Kelebihan dan Kekurangan Pendekatan Kontekstual................ D.................................................................................................................. C.................................................... DAFTAR ISI .................... Kesimpulan ................ Peran Guru dan Siswa dalam Pendekatan Kontekstual .................. Tujuan Penulisan ............................................DAFTAR ISI KATA PENGANTAR ................................................................................................................................................. 16 17 18 ii ..................................... Karakteristik Pendekatan Kontekstual ....... BAB I PENDAHULUAN A..... B........................... Hal i ii 1 1 2 2 3 4 5 7 8 10 14 BAB III KESIMPULAN DAN SARAN A............ Pola dan Tahapan Pendekatan Kontekstual ........................ BAB II PEMBAHASAN A....................................................... Sitematika Penulisan ..................................................................

Apa yang dimaksud dengan pendekatan kontekstual? 2. Apa saja kelebihan dan kekurangan pendekatan kontekstual? 1 . sehingga dapat memudahkan siswa dalam memahami materi yang dipelajari siswa. ditambah lagi materi yang disajikan sulit dijangkau siswa. Apa latar belakang yang melandasi pendekatan kontekstual? 3. Rumusan Masalah 1. tanpa disertai dengan hati dan pikiran yang fokus pada materi yang disampaikan guru. Untuk membuat siswa aktif dalam proses pembelajaran baik secara fisik maupun secara mental. maka diperlukan pembelajaran yang menarik bagi siswa. Bagaimana karakteristik pendekatan kontekstual? 4. Suatu pembelajaran yang menganggap siswa sebagai bejana kosong yang harus diisi pengetahuan oleh guru merupakan pemebelajaran yang sungguh membosankan bagi siswa. Apa saja prinsip pendekatan kontekstual? 6. Latar Belakang Sebenarnya keharusan untuk belajar di sekolah dirasakan sebagai suatu keterpaksaan sendiri bagi siswa. dalam sebuah makalah yang berjudul “Pendekatan Kontekstual”. maka kami mencoba membahas suatu pendekatan pembelajaran menarik bagi siswa. B. sebenarnya yang hadir dalam kelas tersebut hanya fisiknya saja. Pembelajaran yang menarik adalah pembelajaran yang materinya dapat dijangkau oleh siswa dan sesuai dengan situasi dunia nyata siswa. Bagaimana pola dan tahapan pendekatan kontekstual? 7.BAB I PENDAHULUAN A. membuat tingkat kejenuhan siswa semakin meningkat. Terkadang ketika siswa duduk manis di depan kelas. Berlatar belakang dari hal tersebut. Bagaimana peran guru dan siswa dalam pendekatan kontekstual? 5. Siswa pada usia sekolah dasar umumnya lebih senang bermain dengan teman-temannya dibandingkan harus duduk rapi di bangku sekolah dan menerima materi pelajaran.

BAB I merupakan PENDAHULUAN yang terdiri dari Latar Belakang. Untuk mengetahui karakteristik pendekatan kontekstual. Untuk mengetahui peran guru dan siswa dalam pendekatan kontekstual. Sistematika Penulisan. BAB III merupakan PENUTUP yang terdiri dari Kesimpulan dan Saran Kontekstual. Prinsip Pendekatan Kontekstual. Untuk mengetahui latar belakang pendekatan kontekstual. Pola dan Tahapan Pendekatan Kontekstual. Tujuan Penulisan 1. Peran Guru dan Siswa dalam Pendekatan Kontekstual. 4. Sistematika Penulisan Agar dalam penulisan makalah ini pembahasannya terarah. maka penulis mencoba membaginya menjadi beberapa bab. 6. yaitu sebagai berikut. Untuk mengetahui kelebihan dan kekurangan pendekatan kontekstual.C. 5. Kontekstual. Tujuan Penulisan. Karakteristik Pendekatan Kontekstual. Untuk mengetahui pendekatan kontekstual. 2. 3. Untuk mengetahui prinsip pendekatan kontekstual. 1. Kelebihan dan Kekurangan Pendekatan ii . 2. Untuk mengetahui pola dan tahapan pendekatan kontekstual. 3. D. Rumusan Masalah. BAB II merupakan Pendekatan PEMBAHASAN yang terdiri dari Latar Belakang Pendekatan Pengertian Kontekstual. 7.

CTL menekankan kepada proses keterlibatan siswa untuk menemukan materi. artinya siswa dituntut untuk dapat menangkap hubungan antara pengalaman belajar di sekolah dengan kehidupan nyata. CTL mendorong agar siswa dapat menemukan hubungan antara materi yang dipelajari dengan situasi kehidupan nyata. Kontekstual (Contextual Teaching and Learning) adalah konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkan dengan situasi dunia nyata dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan perencanaan dalam kehidupan mereka sehari-hari. Contextual Teaching Learning (CTL) adalah suatu strategi pembelajaran yang menekankan kepada proses keterlibatan siswa secara penuh untuk dapat menemukan materi yang dipelajari dan menghubungkannya dengan situasi kehidupan nyata sehingga mendorong siswa untuk dapat menerapkannya dalam kehidupan nyata. artinya CTL bukan hanya mengharapkan siswa dapat memahami materi yang akan ii . Hal ini sejalan dengan pendapat Sanjaya (2006: 253). sehingga tidak akan mudah dilupakan. Pengertian Pendekatan Kontekstual Pendekatan kontekstual lebih dikenal dengan istilah CTL (Contextual Teaching and Learning). akan tetapi proses mencari dan menemukan sendiri materi pelajaran. artinya proses belajar diorientasikan pada proses pengalaman secara langsung. 2010) Pengertian dari Depdiknas tersebut intinya menyatakan bahwa pendekatan pembelajaran kontekstual merupakan pendekatan yang menghubungkan konsep dengan konteks dalam kehidupan sehari-hari. Proses belajar dalam CTL tidak mengharapkan agar siswa hanya menerima pelajaran. Hal ini penting karena karena dengan mengorelasikan materi yang ditemukan dengan kehidupan nyata.BAB II PEMBAHASAN A. materi itu akan bermakna secara fungsional bagi siswa dan materi itu akan tertanam erat dalam memori siswa. (Depdiknas dalam Huda. CTL mendorong siswa untuk dapat menerapkannya dalam kehidupan.

Piaget (Sanjaya. tetapi belajar melibatkan proses mental seperti emosi. minat. Latar Belakang Psikologis CTL berpijak pada aliran psikologis kognitif. 2006) mengemukakan bahwa sebenarnya pengetahuan itu terbentuk dalam struktur kognitif anak. Latar Belakang Filosofis CTL banyak dipengaruhi oleh filsafat konstruktivisme yang mulai digagas oleh Mark Baldwin dan selanjutnya dikembangkan oleh Jean Piaget.dipelajarinya. 1. kebutuhan itulah yang manusia untuk berperilaku. Latar Belakang Pendekatan Kontekstual 1. Belajar bukanlah menghafal. Peristiwa mental perilaku manusia tidak hanya gerakan fisik. yakni sebagai berikut. pengetahuan itu akan bermakna manakala ditemukan dan dibangun sendiri oleh siswa. Belajar tidak hanya keterkaitan antara stimulus respon. Siswa tidak lagi dianggap sebagai bejana kosong yang hanya menerima pengetahuan dari guru. beberapa hal yang harus dipahami tentang belajar dalam CTL menurut Sanjaya (2006: 258). dan proses penyempurnaan skema itu dinamakan asimilasi dan semakin besar pertumbuhan anak maka skema akan semakin sempurna yang kemudian disebut dengan proses akomodasi. motivasi dan pengalaman. Piaget berpendapat. bahwa sejak kecil setiap anak sudah memiliki struktur kognitif yang kemudian dinamakan “skema”. yaitu proses belajar terjadi karena pemahaman individu akan lingkungan. akan tetapi adanya faktor pendorong. 2. Manusia memiliki kebutuhan. ii . dan sangat dipengaruh oleh beberapa model pembelajaran. diantaranya model pembelajaran kontekstual. Menurut pembelajaran kontekstual. akan tetapi proses mengkonstruksi pengetahuan sesuai dengan pengalaman yang mereka miliki. Skema terbentuk karena pengalaman. akan tetapi bagaimana materi pelajaran itu dapat mewarnai perilakunya dalam kehidupan sehari-hari dan sebagai bekal mereka dalam mengarungi kehidupan nyata. B. Dari latar belakang psikologis.

2011) ada pembelajaran kontekstual. 4. Karakteristik Pendekatan Kontekstual Menurut Sanjaya (2006). 3. 2. artinya pengetahuan dan pengalaman yang diperolehnya harus dapat diaplikasikan dalam kehidupan siswa. Pengetahuan pada dasarnya merupakan organisasi dari semua yang dialami. C. 5. delapan karakteristik dalam ii . Belajar adalah proses pengalaman sendiri yang berkembang secara bertahap dari yang sederhana menuju yang kompleks. Belajar adalah proses pemecahan masalah. Belajar bukan sekedar mengumpulkan fakta.2. Belajar adalah menangkap pengetahuan dari kenyataan. Perkembangan intelektual. mental dan emosi anak akan berkembang secara utuh. 1. Melakukan hubungan bermakna (making meaningful connection). yaitu sebagai berikut. Pembelajaran yang kontekstual adalah belajar dalam rangka memperoleh dan menambah pengetahuan baru (acquiring knowledge). Pemahaman pengetahuan (understanding knowledge). 2. Menurut Johnson (Ajrina. 3. kelompok dan menjadi seorang yang dapat belajar sambil berbuat (learning by doing). Melakukan kegiatan-kegiatan yang signifikan (doing significant work). Siswa dapat secara aktif dalam mengembangkan minatnya. Karakteristik dalam proses pembelajaran yang menggunakan pendekatan CTL yakni sebagai berikut. 5. Pembelajaran merupakan suatu proses pengaktifan pengetahuan yang sudah ada (activiting knowlegde). 1. baik secara individual. Mempraktikkan pengetahuan dan pengalaman tersebut (applying knowledge). Melakukan refleksi (reflecting knowledge) terhadap strategi pengembangan pengetahuan. sehingga dengan pengetahuan yang dimiliki akan berpengaruh terhadap pola-pola perilaku manusia. 4. artinya pengetahuan yang diperoleh bukan untuk dihapal tetapi untuk dipahami.

melibatkan orang lain. Menggunakan penilaian yang autentik (using authentic assesment) Penilaian authentik diarahkan pada proses mengamati. demonstrasi. 3. Penilaian autentik memberikan kesempatan luas bagi siswa untuk menunjukkan apa yang telah mereka pelajari selama proses belajar-mengajar. tugas kelompok. bukan hanya pada hasil pembelajaran. Mengasuh atau memelihara pribadi siswa (nurturing the individual) Siswa memelihara pribadinya yaitu mengetahui. dan laporan tertulis. Belajar yang diatur sendiri (self-regulated learning) Siswa membuat hubungan-hubungan antara sekolah dan berbagai konteks yang ada dalam kehidupan nyata sebagai anggota dari lingkungan sekolah dan sebagai anggota masyarakat. Berpikir kritis dan kreatif (critical and creative thinking) Siswa dapat menganalisis. 7. memecahkan masalah. Siswa menghormati temannya dan orang dewasa. 4. dan hasilnya bersifat nyata. Mencapai standar yang tinggi (reaching high standard) Siswa dapat mengidentifikasi tujuan dan memotivasinya untuk mencapainya. membuat keputusan. dan menafsirkan data yang telah terkumpul ketika atau dalam proses pembelajaran siswa berlangsung. membuat sintesis.Siswa melakukan pekerjaan yang memiliki tujuan. dan menggunakan logika dan bukti-bukti. Adapun bentuk-bentuk penilaian yang dapat digunakan oleh guru adalah portfolio. Bekerja sama (collaborating) Guru membantu siswa bekerja secara efektif dalam kelompok. 6. memberi perhatian. memiliki harapan-harapan yang tinggi. ii . 5. ada hubungannya dengan pilihan yang telah ditentukan. menganalisa. memotivasi dan memperkuat diri sendiri. membantu mereka memahami bagaimana mereka saling mempengaruhi dan saling bekomunikasi. 8. Namun siswa tidak akan berhasil tanpa dukungan orang dewasa.

ii . 1. Namun guru harus berhati-hati dalam memilih bahan pelajaran. 2006: 260) bahwa “Tipe belajar siswa terdiri dari tiga macam. 3. Siswa dalam pembelajaran kontekstual dipandang sebagai individu yang sedang berkembang. Peran Guru dan Siswa dalam Pendekatan Kontekstual Menurut Bobbi Deporter (Sanjaya. dimana kemampuan belajar seseorang dipengaruhi oleh tingkat perkembangan dan pengalaman yang dimilikinya. auditorial. artinya guru perlu menyesuaikan gaya mengajar terhadap gaya belajar siswa. ada beberapa hal yang harus diperhatikan guru manakala menggunakan pendekatan CTL. sehingga siswa merasa memperoleh sesuatu yang berguna dari yang telah dipelajari. yang kemudian diperluas sedikit demi sedikit sehingga semakin berkembang. sedangkan tipe kinestetis adalah gaya belajar dengan cara bergerak. Setiap anak memiliki kecenderungan untuk belajar hal-hal yang baru dan penuh tantangan.D. dan kinestetis”. 2. Menurut Sanjaya (2006). Dalam proses pembelajaran kontekstual. Dalam proses pembelajaran konvesional. hal ini sering terlupakan sehingga proses pembelajaran tak ubahnya sebagai proses pemaksaan kehendak. yakni sebagai berikut. Tipe visual adalah gaya belajar dengan cara menggunakan indra penglihatan. Peran guru adalah membantu agar setiap siswa mampu menemukan keterkaitan antara pengalaman baru dengan pengalaman sebelumnya. Guru berperan dalam memilih bahan-bahan belajar yang sesuai dengan kondisi tersebut. tapi tidak penting untuk dipelajari. Dengan demikian. Pengetahuan yang dimiliki siswa diperluas melalui konteks pembelajran. Jangan sampai bahan tersebut hanya baru bagi siswa. setiap guru perlu memahami tipe belajar dalam dunia siswa. Belajar bagi siswa adalah proses mencari keterkaitan antara hal-hal yang baru dengan hal-hal yang sudah diketahuinya. yaitu tipe visual. dan menyentuh. Tipe auditorial adalah gaya belajar dengan cara menggunakan indra pendengarannya. guru berperan sebagai pembimbing siswa agar mereka bisa belajar sesuai dengan tahap perkembangannya. bekerja.

Kompetensi yang harus dicapai adalah siswa mampu menuliskan kesetaraan nilai uang dan siswa mampu menaksir jumlah harga dari sekelompok barang. Siswa dapat menyimpulkan tentang konsep nilai tukar dan menaksir harga dari sekelompok barang. Guru melakukan tanya jawab sekitar tugas yang harus dikerjakan oleh setiap siswa. Siswa dapat menaksir jumlah harga dari sekelompok barang. Pendahuluan Guru menjelaskan kompetensi yang harus dicapai serta manfaat dari proses pembelajaran dan pentingnya materi pelajaran yang akan dipelajari. Untuk mencapai indikatot di atas. b. a. 2) Tiap kelompok ditugaskan untuk melakukan observasi ke warung dan pedagang-pedagang yang ada di sekolah untuk mencatat bagaimana proses transaksi uang berlangsung dalam kehidupan sehari-hari. 2. Pola dan Tahapan Pembelajaran CTL Untuk lebih memahami bagaimana mengaplikasikan CTL dalam proses pembelajaran. Guru menjelaskan prosedur pembelajaran CTL. yang berkaitan dengan transaksi uang dalam kehidupan sehari-hari. 3. 1.4. siswa ditugaskan untuk mencatat berbagai hal yang ditemukan. dengan demikian tugas guru adalah memfasilitasi agar anak mampu melakukan proses asimilasi dan akomodasi. ii . Siswa dapat menuliskan kesetaraan dari suatu nilai uang. guru melakukan langkah-langkah pembelajaran seperti di bawah ini. Untuk mencapai kompetensi tersebut dirumuskan beberapa indikator hasil belajar: 1. Misalnya guru akan mengajar mengenai uang. 1) Siswa dibagi ke dalam beberapa kelompok sesuai dengan jumlah siswa. di bawah ini disajikan contoh penerapannya. E. 3) Melalui observasi. Belajar bagi anak adalah proses penyempurnaan skema yang telah ada (asimilasi) atau pembentukan skema baru (akomodasi). c.

Kelas dalam pembelajaran CTL bukan sebagai empat untuk memperoleh informasi. Siswa mencatat hal-hal yang mereka temukan di warung dan pedagangpedagang yang ada di sekolah sesuai dengan alat observasi yang telah mereka temukan sebelumnya. b. Guru membagikan lembar evaluasipada setiap siswa. Pada CTL. Penutup a. yaitu sebagai berikut. akan tetapi proses berpengalaman dalam kehidupan nyata. untuk mendapatkan kemampuan pemahaman konsep. akan tetapi kelas digunakan untuk saling membelajarkan. Setiap kelompok menjawab setiap pertanyaan yang diajukan oleh kelompok yang lain. b. ii . baik fisik maupun mental. b. bukan hasil pemberian dari orang lain. c.2. CTL memandang bahwa belajar bukan menghafal. Inti Di lapangan a. akan tetapi sebagai tempat untuk menguji data hasil temuan mereka di lapangan. Dengan bantuan guru siswa menyimpulkan hasil observasi sekitar masalah uang sesuai dengan indikator hasil belajar yang harus dicapai. CTL adalah model pembelajaran yang menekankan pada aktivitas siswa secara penuh. anak mengalami langsung dalam kehidupan nyata di masyarakat. Siswa mendiskusikan hasil temuan mereka dengan kelompoknya masingmasing. Menurut Sanjaya (2006: 270). Di dalam kelas a. Siswa melaporkan hasil diskusi. 1. 2. 3. Kelas bukanlah tempat untuk mencatat atau menerima informasi dari guru. ada beberapa catatan dalam penerapan CTL sebagai suatu strategi pembelajaran. 3. Materi pelajaran ditemukan oleh siswa sendiri. 4. Siswa melakukan observasi ke warung dan pedagang-pedagang yang ada di sekolah sesuai dengan pembagian tugas kelompok.

Adapun tugas guru dalam pendekatan kontekstual ini antara lain: a. b. Menemukan (Inquiry). Masyarakat Belajar (Learning Comunity). c. Dengan dasar ini pembelajaan harus dikemas menjadi proses mengkonstruksi bukan menerima pengetahuan. Pendekatan kontekstual sebagai suatu pendekatan pembelajaran yang memiliki prinsip yang melandasi pelaksanaan proses pembelajaran. Bertanya (Questioning). Questioning dapat diterapkan antara siswa dengan siswa. menjadikan pengetahuan bermakna dan relevan bagi siswa. Prinsip-Prinsip Pendekatan Kontekstual Dalam pendekatan kontekstual siswa dianggap sebagai subjek belajar yang dapat berperan secara aktif dalam proses pembelajaran untuk mengkonstruksi pengetahuannya sendiri. 3.F. Untuk itu. 4. mengingat pengetahuan tetapi merupakan suatu proses belajar mengajar dimana siswa sendiri aktif secara mental mebangun pengetahuannya. memberi kesempatan bagi siswa menememukan dan menerakan idenya sendiri. Bertanya (Questioning) Pengetahuan yang dimiliki seseorang selalu dimulai dari bertanya. 6. yakni: 1. 1. 2. 5. guru dengan siswa ataupun antara siswa ii . yang dilandasi oleh struktur pengetahuanyang dimilikinya. Penilaian Sebenarnya (Authentic Assesment). 2. yang menekankan bahwa belajar tidak hanya sekedar menghafal. Menurut Depdiknas (Suwangsih dan Tiurlina. menyadarkan siswa agar menerapkan strategi mereka sendiri dalam belajar. Pemodelan (Modelling). Kontruktivisme (Contructivism). Refleksi (Reflection). Kontruktivisme (Contructivism) Kontruktivisme merupakan landasan berpikir CTL. guru memiliki peran yang sangat penting dalam membantu siswa untuk bisa mengkonstruksi pengetahuannya sendiri. Bertanya merupakan strategi utama pembelajaan berbasis kontekstual. 7. 2010: 120) ada tujuh prinsip yang mendasari pendekatan kontekstual.

Menganalisis dan menyajikan hasil baik berupa tulisan. pengumpulan data (data gathering). Menemukan (Inquiry) Menemukan merupakan bagaian inti dari kegiatan pembelajaran berbasis kontekstual karena pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh siswa diharapkan bukan hasil mengingat seperangkat fakta-fakta tetapi hasil dari menemukan sendiri. 4. guru haruslah melaksanakan pembelajaran dengan membagi siswa dalam kelompok-kelompok belajar. siswa yang tahu ii . 4) mengetahui sejauh mana keingintahuan siswa. Hasil belajar diperoleh dari bertukar pikiran antar teman. Masyarakat Belajar (Learning Community) Konsep masyarakat belajar menyarankan hasil pembelajaran diperoleh dari hasil kerjasama dari orang lain. penyimpulan (conclusion). Kata kunci dari strategi inquiry adalah siswa menemukan sendiri suatu konsep dengan langkah-langkahnya sebagai berikut ini. a. Menyajikan hasil karyanya kepada teman sekelas.dengan narasumber lain. laporan. guru atau audience lainnya. Kegiatan menemukan (inquiry) merupakan sebuah siklus yang terdiri dari observasi (observation). b. dan antar yang tau ke yang belum tau. tabel ataupun bentuk lainnya. antar kelompok. c. Kegiatan bertanya berguna untuk: 1) menggali informasi. bertanya (questioning). 5) mengetahui hal-hal yang sudah diketahui siswa. d. Siswa yang pandai mengajari yang lemah. Merumuskan masalah. Melakukan observasi. Pembagian kelompok belajar ini harus heterogen agar proses diskusi dapat berjalan dengan lancar. mengajukan dugaan (hiphotesis). gambar. 6) memfokuskan perhatian pada sesuatu yang dikehendaki guru. 8) untuk menyegarkan kembali pengetahuan siswa. 3) membangkitkan respon kepada siswa. 7) membangkitkan lebih banyak lagi pertanyaan dari siswa. 3. 2) menggali pemahaman siswa. Dalam pembelajaran yang menggunakan pendekatan kontekstual.

Pemodelan pada dasarnya membahasakan yang dipikirkan. Pengetahuan yang bermakna diperoleh dari proses belajar. Refleksi (Reflection) Refleksi merupakan cara berpikir atau respon tentang apa yang baru dipelajari atau berpikir kebelakang tentang apa yang sudah dilakukan dimasa lalu. Pengetahuan yang dimiliki siswa diperluas melalui konteks pembelajaran. 6. guru bukan satu-satunya model. Pemodelan (Modelling) Dalam pembelajaran keterampilan. Dengan demikian proses komunikasi dalam masyarakat belajar ini akan berjalan dengan baik. yakni memberikan motivasi bagi siswa lainnya untuk belajar lebih baik sehingga mampu menjadi seperti temannya yang dijadikan model oleh guru. Siswa mengendapkan apa yang baru dipelajarinya sebagai struktur pengetahuan baru. yang merupakan revisi dari pengetahuan sebelumnya. 5. Dua kelompok yang berdiskusi haruslah saling memberi dan menerima informasi satu sama lain. dua kelompok atau lebih yang terlibat dalam komunikasi pembelajaran saling belajar. mendemonstrasi bagaimana guru menginginkan siswanya untuk belajar dan melakukan apa yang guru inginkan agar siswanya melakukan. Model dapat dirancang dengan melibatkan siswa yang dianggap mampu karena memiliki keterampilan dan pengetahuan yang lebih dibandingkan dengan teman-temannya. yang kemudian diperluas sedikit demi sedikit. Bila salah seorang siswa dijadikan sebagai model maka akan berdampak positif bagi siswa lain.memberi tahu temannya yang belum tahu dan seterusnya. Selain guru dan siswa yang menjadi model. Guru boleh melibatkan siswa di kelas atasnya ataupun mendatangkan ahli ke dalam kelas Masyarakat belajar tejadi apabila ada komunikasi dua arah. Realisasi kegiatan refleksi dalam pembelajaran yaitu guru menyisakan ii . Setiap pihak harus merasa bahwa orang lain memiliki pengetahuan atau keterampilan yang berbeda yang perlu dipelajari. sebaiknya ada yang bisa dijadikan model bagi siswa. seseorang dari luar dapat pula dijadikan sebagai model. Dalam pembelajaran kontekstual.

karakteristik Authentic Assesment adalah: a. dapat digunakan sebagai umpan balik bagi siswa untuk lebih baik dalam proses pembelajaran selanjutnya. Menurut Depdiknas (Suwangsih dan Tiurlina. authentic assesment ini terintegrasi di dalam proses pembelajaran. ii . siswa merasa memperoleh sesuatu yang berguna bagi dirinya tentang apa yang baru dipelajarinya. Penilai tidak hanya guru. authentic assesment dilaksanakan berkesinambungan artinya setiap selesai materi pelajaran harus langsung diadakan evaluasi. agar siswa dapat dengan mudah memahami konsep yang dipelajari. guru harus dapat berperan sebagai fasilitator dalam proses pembelajaran. dapat dilakukan pada saat proses pembelajaran maupun setelah proses pembelajaran berlangsung. bukan hanya mengingat fakta. Dengan demikian. b. 2010). pembelajaran yang benar memang seharusnya ditekankan pada upaya membantu siswa agar mampu mempelajari sesuatu. tetapi bisa juga teman lain. Dalam pembelajaran berbasis CTL. Oleh karena itu. Dengan refleksi itu. Penilaian Sebenarnya (Authentic Assesment) Penilaian adalah proses pengumpulan berbagai data yang bisa memberi gambaran mengenai perkembangan belajar siswa. d. bukan ditekankan pada diperolehnya sebanyak mungkin informasi diakhir periode pembelajaran. digunakan untuk menilai kemajuan belajar dan hasil belajar. gambaran perkembangan belajar siswa perlu diketahui guru agar bisa memastikan bahwa siswa mengalami pembelajaran yang benar. Fokus penilaian adalah pada penyelesaian tugas yang relevan dan kontekstual serta penilaian dilakukan terhadap proses maupun hasil. yang diukur keterampilan dan penampilan. 7.waktu sejenak agar siswa melakukan refleksi yang berupa pernyataan langsung tentang apa yang diperoleh hari itu. e. c. f.

akan tetapi materi yang dipelajarinya akan tertanam erat dalam memori siswa. Kelemahan yang kedua yaitu guru lebih intensif dalam membimbing. Karena dalam metode CTL. Kelebihan dan Kekurangan Pendekatan Kontekstual 1. maka dibutuhkan waktu pembelajaran yang cukup lama. peran guru bukanlah sebagai instruktur atau ” penguasa ” yang memaksa kehendak melainkan guru adalah pembimbing siswa agar mereka dapat belajar sesuai dengan tahap perkembangannya. Kelemahan Karena di dalam pendekatan pembelajaran kontekstual ini siswa diharapkan mengkonstruksi pengetahuannya sendiri. Tugas guru adalah mengelola kelas sebagai sebuah tim yang bekerja bersama untuk menemukan pengetahuan dan ketrampilan yang baru bagi siswa. sebab dengan dapat mengorelasikan materi yang ditemukan dengan kehidupan nyata. bukan saja bagi siswa materi itu akan berfungsi secara fungsional. dimana seorang siswa dituntun untuk menemukan pengetahuannya sendiri. Kemampuan belajar seseorang akan dipengaruhi oleh tingkat perkembangan dan keluasan pengalaman yang dimilikinya. Guru tidak lagi berperan sebagai pusat informasi. Dengan demikian. sihingga tidak akan mudah dilupakan.G. karena akan sedikit sulit bagi siswa menemukan suatu konsep dengan pengetahuannya sendiri. 2. karena waktu tersebut lebih banyak digunakan siswa untuk bermain dengan teman-temannya. Pembelajaran lebih produktif dan mampu menumbuhkan penguatan konsep kepada siswa karena metode pembelajaran CTL menganut aliran konstruktivisme. keleluasaan waktu yang diberikan guru kepada siswa untuk bisa mengkonstruksi pengetahuan lama dengan pengetahuan barunya akan berjalan lamban. Siswa dipandang sebagai individu yang sedang berkembang. Melalui landasan filosofis konstruktivisme siswa diharapkan belajar melalui ”mengalami” bukan ”menghafal”. ii . Selain itu. Kelebihan Pembelajaran menjadi lebih bermakna dan riil. Hal ini sangat penting. Artinya siswa dituntut untuk dapat menangkap hubungan antara pengalaman belajar di sekolah dengan kehidupan nyata.

Guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk menemukan atau menerapkan sendiri ide–ide dan mengajak siswa agar dengan menyadari dan dengan sadar menggunakan strategi–strategi mereka sendiri untuk belajar. ii . Namun dalam konteks ini tentunya guru memerlukan perhatian dan bimbingan yang ekstra terhadap siswa agar tujuan pembelajaran sesuai dengan apa yang diterapkan semula.

Kesimpulan Contextual Teaching Learning (CTL) adalah suatu strategi pembelajaran yang menekankan aktivitas siswa secara penuh baik fisik maupun mental dalam menemukan suatu konsep yang kemudian dihubungkan dengan konteks kehidupan nyata dan mendorong siswa untuk menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Peran guru dalam pembelajaran dengan pendekatan CTL yaitu setiap guru perlu memahami tipe belajar dalam dunia siswa. 3) (Inquiry). 2) Bertanya (Questioning). melakukan refleksi terhadap strategi pengembangan pengetahuan. guru harus membimbing siswa agar mereka bisa belajar sesuai dengan tahap perkembangannya.BAB III PENUTUP A. Pengetahuan itu akan bermakna manakala ditemukan dan dibangun sendiri oleh siswa.artinya siswa menemukan sendiri konsep dari suatu materi. artinya siswa secara aktif membangun pengetahuannya. guru harus membantu siswa dalam sebelumnya. CTL banyak dipengaruhi oleh filsafat konstruktivisme. CTL berpijak pada aliran psikologis kognitif. Selain melibatkan keterkaitan antara stimulus respon. Prinsip-prinsip Pendekatan Kontekstual yaitu 1) Kontruktivisme keterkaitan antara pengalaman baru dengan pengalaman (Contructivism). artinya guru perlu menyesuaikan gaya mengajar terhadap gaya belajar siswa. belajar juga melibatkan proses mental. guru harus dapat memilih bahan-bahan belajar yang penting untuk dipelajari. belajar dalam rangka memperoleh dan menambah pengetahuan baru. menggali pengetahuan siswa. yaitu proses belajar terjadi karena pemahaman individu akan lingkungan. mengaplikasikan pengetahuan dan pengalaman yang diperolehnya dalam kehidupan siswa. Karakteristik pendekatan kontekstual yaitu suatu proses pengaktifan pengetahuan yang sudah ada. Menemukan ii . pemahaman pengetahuan. artinya dalam CTL diharuskan adanya bertanya untuk meningkatkan respon siswa. Menurut pandangan psikologis.

artinya guru perlu menyesuaikan gaya mengajar tehadap gaya belajar siswa. siswa maupun pihak lain. B.4) Masyarakat Belajar (Learning Comunity). artinya siswa diberi kesempatan untuk merenung setelah melalui proses pembelajaran. maka guru harus menyiapkan strategi khusus untuk menghadapi kondisi yang demikian.artinya dalam CTL diperlukan adanya model baik oleh guru. ii . Karena yang perlu ditekankan disini adalah metode ini menganut aliran konstruktivis. namun dalam proses belajarnya pun harus diadakan penilaian. setiap guru harus memahami tipe belajar dalam dunia siswa. kondisi dikelas akan menjadi gaduh. siswa bukan lagi dipandang sebagai wadah kosong yang pasif melainkan suatu individu yang juga memiliki kemampuan untuk menggali pengetahuan. Jika hal ini dapat dilakukan oleh guru maka pembelajaran dengan metode CTL dapat berjalan dengan baik dan sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai sebelumnya. Selain itu. Saran Dalam proses pembelajaran kontekstual. dan karena pada umumnya bila siswa dibiarkan bebas bereksplorasi menggali pengetahuan mereka sendiri. dimana siswa dapat menemukan sendiri pengetahuan tersebut. Proses menggali pengetahuan tersebut membutuhkan bimbingan yang ekstra dari guru karena siswa masih berada dalam tahap perkembangan. 6) Refleksi (Reflection). artinya terjadi komunikasi baik antara siswa dengan siswa maupun siswa dengan guru. 7) Penilaian Sebenarnya (Authentic Assesment). artinya penilaian tidak hanya dilihat dari hasil belajar saja. 5) Pemodelan (Modelling).

2006. E. 2011. 2010. [Online] Tersedia: http://definisi-pembelajaran-kontekstual-ctl2. Sheila. Definisi Pembelajaran Kontekstual. dan Tiurlina.. Hizbulloh.DAFTAR PUSTAKA Ajrina. Bandung: UPI PRESS ii .html [19 Maret 2012] Sanjaya. Strategi Pembelajaran. Wina. 2010. Pembelajaran Kontekstual – Contextual Teaching and Learning (CTL) [online] Tersedia: http://Pembelajaran Kontekstual – Contextual Teaching and Learning (CTL) « Sheila Ajrina.htm [19 Maret 2012] Huda. Model Pembelajaran Matematika. Jakarta: Kencana Prenada Media Suwangsih.