Anda di halaman 1dari 10

KONSEP VIROLOGI DAN INFEKSI HIV SISTEM HIV/AIDS

OLEH : SGD VII NI PT INDRA SUWARI DEWI NI MADE JUNIARI NI MADE SINTHA PRATIWI NI MADE YUNITA SARI IB PUTU SURYA WEDATAMA NI LUH KUSMA DEWI I GEDE BAYU WIRANTIKA AYU PRAMISWARI MADE DENY WIDIADA NI WAYAN MIRA RIANTY NI PT DIAN SEPTIANA ANDRIANI (0902105013) (0902105014) (0902105027) (0902105028) (0902105046) (0902105053) (0902105063) (0902105067) (0902105080) (0902105083) (0902105086)

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS UDAYANA 2011

2. Kingdom Familia Subfamilia Genus Spesies : Virus : Retroviridae : Orthoretrovirinae : Lentivirus Primate lentivirus group : Human immunodeficiency virus 1 (HIV-1) Human immunodeficiency virus 2 (HIV-2) Dua spesies HIV yang menginfeksi manusia 1. Virus berbentuk sferis (lonjong). Amplop (Envelope) Mantel dari bahan lemak. gp 140. Inti (Core) Berfungsi untuk replikasi virus di dalam sel induk. HIV I Lebih virulent dan lebih mudah menular. Matriks Terletk dibawah amplop terbuat dari protein P17. Struktur Genomik HIV HIV adalah anggota dari genus Lentivirus. berfungsi untuk menempelkan virus tersebut pada sel induk yang kemudian melubangi dinding sel induk 3. HIV memiliki konstruksi kompleks dan merupakan virus yang dikelilingi oleh selubung lipid yang berasal dari membrane sel penjamu. terdiri dari komponen glikoproten (gp) yaitu: gp 160. Memiliki tonjolan tak terlihat yang terdispersi rapat menyelubungi permukaan. P16. Ukuran Ø 80-100 nm. 4. bagian dari keluarga Retroviridae yang ditandai dengan Periode Latensiyang panjang dan sebuah sampul lipid dari sel host awal yang mengelilingi sebuah pusat protein/ RNA. HIV II tidak seganas HIV I Ciri khas morfologi HIV adalah 1. gp 120 . merupakan sumber dari kebanyakan infeksi HIV di seluruh dunia. inti terdiri dari beberapa komponen protein (P24. 2. HIV II Kebanyakan masih terkurung di Afrika . 3. HIV terdiri dari: 1. spherical (bulat) hingga pleomorfik (tidak beraturan) dan mengandung inti (nukleoid) berbentuk kerucut yang padat elektron.A.P15) dan enzim RT (Reverse Transkipstase) 2.

mengkode reverse transverse.Struktur lengkap HIV dan bagian terluar sampai bagian dalam (nukleoid) 3 Gen Utama dan 6 Gen Tambahan yangDimiliki HIV HIV terdiri dari 3 gen utama 1. Diperlukan untuk membuat enzim yang digunakan untuk replikasi virus. GAG (Gen Antigen Group) Ditemukan disemua Retrovirus. GAG memiliki 3 bagian:  MA (Matriks)  CA (Kapsid)  NC (Nukleucapsid) 2. dan integrase. Gen ini memiliki 3 bagian:  PR (Protease)  IN (Endonuklease)  RT (Reserve transcriptase) . merupakan proten yang berfungsi untuk melindungi virus (mengkode protein kapsid) Pada HIV. POL (Polimerase) Ditemukan di semua Retrovirus.

Waktu sel yang terinfeksi menggandakan diri. 8. 4. DNA HIV dipadukan dengan DNA sel oleh enzim integrase. 10. Memiliki 2 bagian: SU (Surface envelope. Dengan pemaduan ini. 6. 4. C. 6. 3. Virus yang belum matang mendesak ke luar sel yang terinfeksi dengan proses yang disebut ‘budding (tonjolan)’ 9. HIV mengikatkan diri pada sel CD4. Kode genetik HIV (RNA) dipakai oleh enzim reverse transcriptase untuk membentuk DNA HIV. sel tersebut menjadi terinfeksi HIV. hanya ditemukan pada HIV II dan SIV hanya ditemukan pada HIV I B. Differensial Regulator (Mengekspresikan gen protein virus) VIF (Virus Infectivity Factor) Diperlukan untuk infektivitas sel virus bebas NEF (Negatif Regulator Factor) Menghambat replikasi HIV VPR (Virus Protein R)Memiliki fungsi tak tentu VPU (Virus Protein U) Diperlukan untuk replikasi virus efisien dan pelepasan VPX memiliki fungsi tak tentu. Virus baru menjadi matang: bahan baku dipotong oleh enzim protease dan dirakit menjadi virus yang siap bekerja. Kumpulan bahan untuk membuat virus baru dikelompokkan. Diperlukan untuk membuat protein untuk amplop virus (mengkode 2 glikoprotein envelope). gp 120) dan TM (Transmembran envelope. 5. DNA HIV diaktifkan. 5. Jutaan virus yang belum matang dilepas dari sel yang terinfeksi. HIV menembus sel dan mengosongkan isinya dalam sel CD4 . Virus bebas beredar dalam aliran darah. EVN Ditemukan di semua Retrovirus. dan membuat bahan baku untuk virus baru. 7. 2. gp 41) HIV terdiri dari 6 gen tambahan yaitu: 1. Siklus Hidup HIV Ada beberapa langkah dalam siklus hidup HIV : 1.3. Imunopatologi HIV . 3. 2.

Peran sitotoksik dan supresor sel CD8 adalah mengikat sel yang terinfeksi oleh virus dan mengeluarkan perforin. Penambahan sitokin IL-2 (factor stimulasi sel NK) tampaknya melawan penurunan aktivitas dan fungsi sel NK seperti yang terjadi pada infeksi HIV. antibody HIV tidak menetralisir HIV atau menimbulkan perlindungan terhadap infeksi lebih lanjut. sitotoksisitas yang dependen antibody dan diperantarai oleh komplemen) mungkin salah satu efek imun . Antibody-dependent. Dengan semakin beratnya penyakit. complement-mediated cytotoxicity (ADCC. Ditemukan antibody netralisasi terhadap region-regio di gp120 selubung virus dan bagian eksternal gp41.Segera setelah terpajan HIV. Pada kondisi normal.IL-2 dan interferon gama berperan penting dalam imunitas selular. Sel-sel NK adalah sel yang penting karena dalam keadaan normal sel-sel inilah yang mengenali dan menghancurkan sel yang terinfeksi oleh virus dengan mengeluarkan perforin yang serupa dengan yang dihasilkan oleh CD8. Aktivitas antivirus sel CD8 menurun seiring dengan berkembangnya penyakit. individu akan melakukan perlawanan imun yang sensitive. limfosit CD4+ tidak berfungsi dengan benar maka produksi interferon gama akan menurun. Aktivitas sitotoksik CD8 sangat hebat pada awal infeksi HIV. Antibody Ig G adalah antibody utama yang digunakan dalam uji HIV. Produksi immunoglobulin diatur oleh limfosit T CD4+. IL-2 penting untuk memfasilitasi tidak saja produksi sel plasma tetapi juga pertumbuhan dan aktivitas antivirus sel CD8 dan replikasi diri populasi limfosit CD4+. enzymelinked immunosorbent assay [ELIZA]). jumlah limfosit CD4+ juga berkurang. Sel CD8 juga dapat menekan replikasi HIV di dalam limfosit CD4+. Namun. Dua sitokin spesifik yang dihasilkan oleh limfosit CD4+ . Limfosit CD4+ mengeluarkan berbagai sitokin yang memperlancar proses-proses misalnya produksi immunoglobulin dan pengaktivan sel T tambahan dan makrofag. Antibody terhadap HIV dapat muncul dalam 1 bulan setelah infeksi awal dan sebagian orang yang terinfeksi HIV dalam 6 bulan setelah pajanan. yang menyebabkan kematian sel. Sel-sel B menghasilkan antibody-antibodi spesifik terhadap berbagai protein virus. Limfosit T CD4+ diaktifkan oleh sel penyaji antigen (APC) untuk menghasilkan berbagai sitokin seperti interleukin-2 (IL2) . yang membantu merangsang sel B untuk membelah dan berdiferensiasi menjadi sel plasma. Sel plasma ini kemudian mengahasilkan immunoglobulin yang spesifik untuk antigen yang merangsangnya. Deteksi antibody adalah dasar bagi berbagai uji HIV (misalnya.

Pada pembentukan sintium.humoral yang membantu menyingkirkan limfosit CD4+ yang terinfeksi oleh HIV. keringat. defisiensi gizi. menginduksi ADCC. Limfosit CD4+ juga mungkin tidak mampu membelah diri sehingga timbul fenomena yang disebut anergi. . Akhirnya menurunnya jumlah limfosit CD4+ mungkin disebabkan karena terbentuknya virus-virus baru melalui proses pembentukan tunas. viris-virus tersebut menyebabkan rupturnya membrane limfosit CD4+. Transmisi Infeksi HIV Di dalam tubuh manusia. yaitu kulit yang tidak luka atau lecet. Air mani (sperma) 3. Cairan vagina 4. Apoptosis adalah salah satu dari beberapa teori yang diajukan untuk menjelaskan berkurangnya secara mencolok limfosit CD4+ dalam darah sepanjang perjalanan penyakit HIV. HIV terutama terdapat pada cairan-cairan tubuh dari seseorang yang HIV+ di bawah ini : 1. pathogen lain). D. adanya factor lain di pejamu (misal. HIV tidak dijumpai pada cairan tubuh lainnya seperti urine. tetapi dalam kadar yang amat rendah dan belum ada bukti yang menunjukkan bahwa HIV bisa menular melalui media ini (berciuman). HIV tidak dapat menembus kulit yang utuh. yang secara efektif mematikan sel tersebut. Air Susu Ibu (ASI) Terkadang dijumpai juga pada air liur. penyakit kongenital atau metabolic. air mata. atau perbedaan strain virus. Deplesi limfosit CD4+ bervariasi di antara para pengidap infeksi HIV. Darah 2. gp120 dan gp41. limfosit CD4+ yang tidak terinfeksi berfusi dengan sel-sel yang terinfeksi “the bystander effect” (efek peluru nyasar) sehingga mengeliminasi banyak sel yang tidak terinfeksi. sputum. Sel-sel seperti NK kemudian bertindak untuk mematikan sel yang terinfeksi. Sebagian dari factor yang mempengaruhi variasi ini adalah fungsi system imun pejamu. feces. Antibody terhadap dua glikoprotein.

sehingga HIV lebih mudah masuk ke aliran darah. Melalui alat/jarum suntik atau alat tusuk lainnya (akupuntur. 2. yaitu : 1. Dalam berhubungan seks vaginal. 3. tattoo) yang tidak steril dan tercemar oleh HIV. E. juga dapat masuk ke aliran darah melalui saluran kencing pasangannya. Disamping itu karena cairan sperma akan menetap cukup lama di dalam vagina. maka kemungkinan penularan dari ibu hamil ke bayi bisa diturunkan menjadi sekitar 5-10%. dan tidak menyusui. Patofisiologi Infeksi HIV . Cara penularan yang telah terbukti sangat efisien menularkan HIV adalah apabila jarum suntik yang sudah tercemar dimasukkan langsung ke pembuluh darah seperti halnya yang dilakukan IDU (pemakai narkoba suntik). tindik. perempuan lebih besar risikonya daripada pria karena selaput lendir vagina cukup rapuh. Hubungan seksual ini bisa homoseksual ataupun heteroseksual. Kemungkinan penularan dari ibu ke bayi adalah 30-40%. Risiko penularan HIV melalui anal sex jauh lebih tinggi dibandingkan vaginal sex. Dengan obat antiretroviral yang diberikan kepada ibu menjelang persalinan dengan cara operasi . karena epitel mukosa anus relatif tipis dan lebih mudah terluka dibandingkan epitel dinding vagina. Penularan HIV dari ibu hamil yang mengidap HIV kepada bayi yang dikandungnya. Melalui transfusi darah dan transplantasi organ yang tercemar HIV. kesempatan HIV masuk ke aliran darah menjadi lebih tinggi.PENULARAN HIV Penularan akan terjadi apabila ada kontak atau percampuran dengan cairan tubuh yang mengandung HIV. Hal ini sangat dipengaruhi oleh kadar virus pada ibu saat mengandung si bayi. Hubungan seksual secara anal (lewat dubur) paling berisiko menularkan HIV. Melalui hubungan seksual dengan seseorang yang mengidap HIV tanpa menggunakan pengaman (kondom). Penularan dari Ibu Hamil ke bayi yang dikandungnya bias melalui tiga cara yaitu melalui plasenta ketika bayi masih dalam kandungan atau melalui jalur lahir ketika bayi dalam proses persalinan atau melalui ASI ketika bayi sudah lahir. HIV di cairan vagina atau darah tersebut.

Fase akut menandakan respon imun tubuh yang masih imunokompeten terhadap infeksi HIV. adalah virus sitopatik dari famili retrivirus. serta melalui perinatal. darah atau produk darah yang terinfeksi. fase tersebut ditandai oleh penyakit yang sembuh dengan sendirinya yaitu 3 sampai 6 minggu setelah terinfeksi HIV. Beberapa DNA yang baru terbentuk akan disatukan ke dalam nucleus sel T4 sebagai sebuah provirus kemudian terjadi infeksi yang permanent. Kecepatan produksi HIV diperkirakan berkaitan dengan status kesehatan orang yang terjangkit infeksi tersebut. Siklus replikasi HIV dibatasi dalam stadium ini sampai sel yang terinfeksi diaktifkan. Kelompok sel terbesar yang mempunyai molekul CD4 adalah limfosit T4. repikasi serta pembentukan tunas HIV akan terjadi dan sel T4 akan dihancurkan. Virus memasuki tubuh dan terutama menginfekasi sel yang memiliki molekul CD4. 2003). dan cairan tubuh tertentu.HIV yang dulu disebut sebagai HTLIV-III (Human T cell lymphotropik virus Tipe III) atau LAV (Lymphadenopathy virus). Sel-sel target lainnya adalah monosit. ruam kulit. Setelah mengikat molekul CD4. fase pertengahan/kronik dan fase terakhir/krisis (Mitchell and Kumar. mekrofag. Terdapat tiga fase yang menunjukkan terjadinya interaksi virus dan hospes yaitu fase permulaan/akut. HIV yang baru terbentuk ini. Virus tidak ditransmisikan melalui kontak biasa. nyeri otot (mialgia). Secara klinis. Virus ini ditransmisikan melalui kontak seksual. Sebagai akibatnya. Tapi sel-sel ini menjadi reservoir bagi HIV sehingga virus tersebut dapat tersembunyai dari system imun dan terangkut ke seluruh tubuh lewat system ini untuk menginfeksio berbagai jaringan tubuh. pada saat sel T4 yang diaktifkan. dan terkadang radang . Ketika system imun terstimulasi. demam. RNA retrovirus ditranskripsi menjadi DNA melalui transkkripasi terbaik. kemudian dilepas ke dalam plasma darah dan menginfeksi sel CD4+ lainnya. sel dendrite. Replikasi virus akan berlangsung terus sepanjang perjalanan infeksi HIV : tempat primernya adalah jaringan limfoid. virus memasuki sel target dan melepaskan selubung luarnya. Gejalanya berupa radang tenggorokan. sel langerhans san sel mikroglia. Perjalanan HIV Perjalanan penyakit HIV merupakan perjalanan interaksi HIV dengan sistem imun tubuh. Infeksi monosit dan makrofag tampaknya berlangsung secara persisten dan tidak mengakibatkan kematian sel yang bermakna. replikasi virus akan terjadi dan virus tersebut menyebar ke dalam plasma darah yang menyebabkan infeksi berikutnya pada sel CD4+ yang lainnya. Sebagian besar jaringan ini dapat mengandung molekul CD4+ atau memiliki kemampuan untuk memproduksinya.

pasien HIV akan mengalami sindrom AIDS setelah fase kronik dalam jangka waktu 7 sampai 10 tahun (Mitchell and Kumar.selaput otak (meningitis asepsis). Pasien mengalami demam lebih dari 1 bulan. 2001). Beberapa lama kemudian. 2003. sistem imun tubuh mulai melemah. Saloojee and Violari. Saloojee and Violari. Setelah bertahun-tahun. respon imun spesifik terhadap HIV muncul sehingga terjadi serokonversi. Tanpa pengobatan. 2001). Saloojee and Violari. Fase krisis ditandai dengan hilangnya kemampuan sistem imun. sementara replikasi virus sudah mencapai puncaknya sehingga perjalanan penyakit masuk ke fase krisis. 2001). serta penurunan jumlah sel T CD4+. . Produksi virus yang tinggi menyebabkan viremia (beredarnya virus dalam darah) dan penyebaran virus ke dalam jaringan limfoid. lemah. (Mitchell and Kumar. Walaupun demikian. T sitotoksik cell) yang menyebabkan penurunan jumlah virus dan peningkatan jumlah CD4+ kembali. Replikasi virus terus berlangsung di dalam makrofag jaringan dan CD4+ (Mitchell and Kumar. penurunan berat badan dan diare kronis. 2003. Hitung sel T CD4+ berkurang sampai dibawah 500/µL. Pada fase kronik tidak didapatkan kelainan sistem imun. Fase kronik ditandai dengan adanya replikasi virus terus menerus dalam sel T CD4+ yang berlangsung bertahun-tahun. penurunan virus dalam plasma tidak disertai dengan berakhirnya replikasi virus. meningkatnya jumlah virus dalam darah (viral load) dan gejala klinis yang berarti. Respon imun spesifik terhadap HIV diperantarai oleh sel T CD8+ (sel T pembunuh. 2003.

DAFTAR PUSTAKA Pawelloi. A Sylvia & Lorraine M. Wilson. 2006. Prince. Patofisiologi: Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit Volume 1 Edisi 6.Elyas. Modul Pelatihan Kelompok Siswa Peduli AIDS. Jakarta : EGC . Bali.2006. Denpasar : KPA Prov.