Anda di halaman 1dari 21

PENYAJIAN KASUS

IDENTITAS PASIEN Nama Umur Jenis Kelamin Agama Suku Pekerjaan Status Alamat Tanggal masuk Waktu Masuk : Ny. M : 22 th : Perempuan : Islam : Madura : Ibu rumah tangga : kawin : Parit Gado : 5 Maret 2010 : 23.00 WIB

ANAMNESIS Keluhan utama ari-ari dan bayi kedua belum lahir Riwayat Penyakit Sekarang Pasien hamil kembar, telah melahirkan bayi pertama pukul 19.00 dengan dukun. Pasien datang ke RS karena ari-ari belum lahir, dan bayi kedua belum lahir. Tali pusat tampak pada jalan lahir pasien, kemaluan terlihat bengkak, serta keluar darah dari jalan lahir. Pasien merasa masih ada gerakan di dalam perutnya, namun pasien tidak merasa mules, sehingga pasien ke RSDS. Kaki pasien bengkak sejak usia kehamilan 9 bulan. Penderita tidak mengeluhkan pusing, mual/ muntah (-), nyeri epigastrium (-), pandangan kabur (-) Riwayat obstetri Kehamilan ke 1, gemeli, bayi pertama telah lahir dengan dukun pukul 19.00 HPHT tanggal 20 Mei 2009

Taksiran Persalinan tanggal 27 Februari 2009 Usia kehamilan 41 minggu Total periksa kehamilan : 1x pada bidan

Pemeriksaan fisik (6 Maret 2010 pukul 23.30) Status generalis Berat Badan Tinggi Badan Keadaan Umum Kesadaran Gizi Tekanan Darah Nadi RR Temperatur Mata THT Leher Jantung Paru Status lokalis Pemeriksaan luar TFU DJJ His TBJJ : : 24 cm (4 jari bawah procesus xifoideus) : 146x/menit : 3x/10 menit, lamanya 30 detik : 2015 gram : 70 kg : 155 cm : tampak lemah : Compos mentis : baik : 150/120 : 81 x/menit : 21 x/menit : 38,1 derajat Celcius : konjungtiva anemis (-), ikterik (-) : tidak tampak kelainan : tidak tampak kelainan : tidak tampak kelainan : tidak tampak kelainan

Pemeriksaan dalam Portio Pembukaan Penurunan Ketuban Terbawah Pemeriksaan Laboratorium Hb : 11,4 g% Leukosit : 11.000/mm3 Trombosit : 234.000/mm3 Hematokrit : 36,8 Urin : Protein (+++)

: : lunak : 7 cm : H II : (+) : Kepala dan tangan

Diagnosis (6 Maret 2010 pukul 23.30) Preeklampsia berat pada primigravida hamil posterm dengan gemeli retensi janin kedua, dalam persalinan kala 1 fase aktif Planning : Pemberian MgSO4 40 % 4gr bolus Pemberian drip MgSO4 6 gr dalam RL 500 ml, 20 tetes per menit Pemberian Oksigen 4 L / menit Rencana persalinan pervaginam dengan vakum ekstraksi

Jam 00.10 Subjektif :

Pasien kejang, dimulai dari wajah, menjalar ke tangan dan kaki, kemudian kejang seluruh tubuh

Objektif

TD: 150/110 mmHg, N: 92 x/menit, RR: 20 x/menit

Assesment

Eklampsia pada primigravida hamil posterm dengan gemeli retensi janin kedua, dalam persalinan kala 1 fase aktif

Planning

Bebaskan jalan napas Oksigen 4-6 liter/menit Fiksasi pasien Injeksi MGSO4 40 % 2 gr dalam 10 menit

Laporan partus ( 7 Maret 2010 pukul 00:30 ) Subjektif : Ibu merasa mules, ingin mengedan

Objektif : TD: 140/100 mmHg, N: 88 x/menit, RR: 19 x/menit his 4 kali dalam 10 menit, >40 detik DJJ 168x/menit, teratur Pemeriksaan dalam : Pembukaan terbawah kepala dan tangan Assesment : Eklampsia pada primigravida hamil posterm dengan gemeli retensi janin kedua, dalam persalinan kala II Planning : Reposisi tangan janin, persalinan pervaginam dengan vakum ekstraksi a/i eklampsia Ibu ingin mengedan, posisi litotomi Vulva dibersihkan dengan betadin Dilakukan pemeriksaan dalam untuk menentukan kepala janin dan posisinya Mangkok vakum dimasukkan ke dalam vagina lengkap, Penurunan H III, Ketuban (-),

Mangkok dipasang pada kepala janin dengan titik tengah mangkok pada sutura sagitalis 1 cm anterior dari ubun ubun kecil Dengan satu atau dua jari diperiksa di sekitar mangkok apakah ada jaringan serviks atau vagina terjepit, bila ada lepaskan. Pompa hingga tekanan skala 10 (silastik) atau negatif 0,2 kg /cm2 dan periksa aplikasi mangkok Setelah 2 menit naikkan hingga skala 60 (silastik) atau negatif 0,6 kg / cm2 periksa aplikasi mangkok, tunggu 2 menit lagi Setelah mencapai tekanan negatif yang maksimal, lakukan traksi searah dengan sumbu panggul dan tegak lurus pada mangkok Tarikan definitif dilakukan apabila sudah dicapai tekanan 0,6 atau 0,7 kg per cm persegi Arah tarikan sesuai dengan turunnya kepala dan tegak lurus dengan mangkok Pada saat penarikan minta pasien meneran. Posisi tangan : tangan luar menarik pengait, ibu jari tangan dalam pada mangkok, telunjuk dan jari tengah pada kulit kepala bayi.

Tarikan bisa diulangi sampai 3 kali Saat suboksiput sudah berada di bawah simfisis, arahkan tarikan ke atas hingga lahirlah berturut-turut dahi, muka, dagu. Segera lepaskan mangkok vakum dengan membuka tekanan negatif

Mangkok dilepas dari kepala janin. Dilakukan traksi ke bawah, sehingga bahu anterior dapat dilahirkan Dilakukan penarikan kepala bayi ke atas untuk melahirkan bahu posterior Bahu posterior dilahirkan Dilakukan sangga susur

Jam 00.40 Bayi lahir, laki-laki, BB 2000 gr, PB= 43 cm Apgar Score 2/3 Diberikan drip oksitosin 10 iu Disuntikkan oksitosin 10 IU per IM Diberikan methergin bolus IV Dilakukan penarikan tali pusat terpimpin Plasenta belum lahir, perdarahan dalam jumlah banyak
5

Dilakukan manual plasenta : Monoplasenta, biamnion, ke dua tali pusat terletak di bagian tengah plasenta, kembar monozigot/dizigot Perineum ruptur 2 cm jahit jelujur Terapi oral o Amoxicillin 3x500mg, 3 hari o Asam Mefenamat 3x500mg, 3 hari o B Komplex 3x1 tab, 3 hari

Follow up tanggal 7 maret 2010 pukul 06.00 Subjektif : pusing (-), perdarahan sedikit, mules (+)

Objektif : KU baik, CM TD130/90 mmHg, N84x/menit, RR16x/menit, T36,8oC TFU : setinggi umbilikus Kontraksi uterus : baik Luka jahitan : baik

Assesment Post partum spontan dengan vakum ekstraksi a/i eklampsia pada primigravida dengan gemeli hari ke-1 Planning : Amoxicillin 3x500mg, 3 hari Asam Mefenamat 3x500mg, 3 hari B Komplex 3x1 tab, 3 hari

Follow up 8 Maret 2010, pukul 06.00 Subjektif : mules (+), perdarahan sedikit, pusing (-)

Objektif : KU baik, komposmentis TD130/90 mmHg, N88x/menit, RR18x/menit, T37oC TFU 2 jari dibawah umbilikus Kontraksi baik Luka jahitan baik

Assesment : Post partus spontan dengan vakum ekstraksi a/I eklampsia pada primigravida dengan gemeli hari ke-2 Planning: Amoxicillin 3x500mg, 3 hari Asam Mefenamat 3x500mg, 3 hari B Komplex 3x1 tab, 3 hari

TINJAUAN PUSTAKA I. KEHAMILAN KEMBAR Kehamilan kembar ialah kehamilan dengan dua janin atau lebih.1 b. Frekuensi Insiden kehamilan multipel di Amerika Serikat sebesar 3 % dari semua kehamilan.2 Greulich (1930) melaporkan frekuensi kehamilan kembar pada 121 juta persalinan sebagai berikut : Gemeli 1: 85, triplet 1 : 7.629, kuadruplet 1 : 670.743. Prawirohardjo (1948) mengumumkan di antara 16.288 persalinan terdapat 197 persalinan gemeli dan 6 persalinan triplet. Frekuensi kehamilan

a. Definisi

kembar meningkat dengan paritas ibu. Dari angka 9,8 per 1000 persalinan untuk primipara sampai 18,9 per 1000 untuk oktipara.1 c. Etiologi Bangsa, hereditas, umur, dan paritas hanya mempunyai pengaruh terhadap kehamilan kembar yang berasal dari 2 telur.1 Umur ibu yang meningkat dan multiparitas meningkatkan insiden kehamilan kembar.3 Sedangkan pada kembar yang berasal dari satu telur, dipengaruhi oleh faktor penghambat pada masa pertumbuhan dini hasil konsepsi. Faktor penghambat mempengaruhi segmentasi sebelum blastula terbentuk, meghasilkan kehamilan kembar dengan 2 amnion, 2 korion, dan 2 plasenta. 1 d. Jenis 1. Kembar Monozigotik Kembar monozigotik atau identik, muncul dari suatu ovum tunggal yang dibuahi yang kemudian membagi menjadi dua struktur yang sama, masingmasing dengan potensi untuk berkembang menjadi suatu individu yang terpisah. Hasil akhir dari proses pengembaran monozigotik tergantung pada kapan pembelahan terjadi, dengan uraian sebagai berikut : 1 Apabila pembelahan terjadi didalam 72 jam pertama setelah pembuahan, maka dua embrio, dua amnion serta dua korion akan terjadi dan kehamilan diamnionik dan dikorionik. Kemungkinan terdapat dua plasenta yang berbeda atau suatu plasenta tunggal yang menyatu. 1 Apabila pembelahan terjadi antara hari ke-4 dan ke-8 maka dua embrio akan terjadi, masing-masing dalam kantong yang terpisah, dengan korion bersama, dengan demikian menimbulkan kehamilan kembar diamnionik, monokorionik. 1 Apabila terjadi sekitar 8 hari setelah pembuahan dimana amnion telah terbentuk, maka pembelahan akan menimbulkan dua embrio dengan kantong amnion bersama, atau kehamilan embar monoamnionik, monokorionik. 1 Apabila pembuahan terjadi lebih belakang lagi, yaitu setelah lempeng embrionik terbentuk, maka pembelahannya tidak lengkap dan terbentuk kembar yang menyatu. 1
8

2. Kembar Dizigot Dizigotik, atau fraternal, kembar yang ditimbulkan dari dua ovum yang terpisah. Kembar dizigotik terjadi dua kali lebih sering daripada kembar monozigotik dan insidennya dipengaruhi oleh sejumlah faktor antara lain yaitu ras, riwayat keluarga, usia maternal, paritas, nutrisi dan terapi infertilitas. 1 e. Diagnosis Untuk menegakkan diagnosis, perlu dilakukan : 1 Anamnesis Anamnesis yang dibutuhkan dalam menegakkan diagnosis kehamilan kembar adalah riwayat adanya keturunan kembar dalam keluarga, telah mendapat pengobatan infertilitas, adanya uterus yang cepat membesar: fundus uteri > 4 cm dari amenorea, gerakan anak yang terlalu banyak dan adanya penambahan berat badan ibu menyolok yang tidak disebabkan obesitas atau edema. 1 Pemeriksaan Fisik Adanya cairan amnion yang berlebihan dan regangan dinding perut menyebabkan diagnosis dengan palpasi menjadi sukar. Lebih kurang 50 % diagnosis kehamilan ganda dibuat secara tepat jika berat satu janin kurang dari 2500 gram, dan 75 % jika berat badan satu janin lebih dari 2500 gram. 1 Harus dipikirkan kemungkinan kehamilan kembar bila didapatkan halhal berikut : 1 1. Besarnya uterus melebihi lamanya amenorea 2. Uterus bertumbuh lebih cepat daripada biasanya pada pemeriksaan berulang 3. Penambahan berat badan ibu yang mencolok yang tidak disebabkan oleh edema atau obesitas 4. Banyak bagian kecil teraba 5. Teraba 3 bagian besar janin 6. Teraba 2 balotemen 7. serta terdengar 2 DJJ dengan perbedaan 10 atau lebih. Pemeriksaan USG Berdasarkan pemeriksaan USG dapat terlihat 2 bayangan janin atau lebih dengan 1 atau 2 kantong amnion. Diagnosis dengan USG setelah
9

kehamilan 6-8 minggu dapat menentukan diagnosis akurat jumlah janin pada uterus dari jumlah kantong gestasional yang terlihat. 1 Diagnosis pasti kehamilan kembar ditentukan dengan : 1 1. Terabanya 2 kepala, 2 bokong, dan satu atau 2 punggung 2. Terdengar dua denyut jantung yang letaknya berjauhan dengan perbedaan kecepatan paling sedikit 10 denyut permenit 3. Sonogram dapat membuat diagnosis kehamilan kembar pada triwulan pertama 4. Rontgen foto abdomen f. Diagnosis Banding1 1. Hidramnion 2. Kehamilan dengan mioma uteri atau kistoma ovarii g. Penanganan dalam kehamilan Perlu diadakan pencegahan terhadap preeklampsia, eklampsia dan anemi. Pecegahan dilakukan dengan pemeriksaan antenatal yang lebih sering. Mulai kehamilan 24 minggu pemeriksaan tiap 2 minggu, setelah 36 minggu tiap minggu. Istirahat baring dianjurkan lebih banyak karena dapat meningkatkan aliran darah ke plasenta, sehingga pertumbuhan janin lebih baik. Sulfas ferosus diberikan bila terjadi anemia. 1 h. Penanganan dalam persalinan Persiapan resusitasi dan perawatan bayi prematur disediakan. Kala I diperlakukan seperti biasa bila janin letak memanjang. Episiotomi mediolateral dilakukan untuk mengurangi trauma kepala pada janin prematur. 1 Seksio sesarea dilakukan bila janin pertama letak lintang, terjadi prolaps tali pusat, plasenta previa pada kehamilan kembar atau janin pertama presentasi bokong dan janin kedua presentasi kepala, dikhawatirkan terjadi interloking dalam perjalanan persalinannya. Sebaiknya pada pertolongan persalinan kembar dipasang infus profilaksis untuk mengantisipasi kemungkinan terjadinya perdarahan post partumnya. Pada kala empat diberikan suntikan 10 unit sintosinon ditambah 0,2 mg methergin intravena. 1 Kemungkinan lain pada persalinan kembar dengan usia kehamilan preterm dengan janin pertama presentasi bokong adalah terjadinya aftercoming head oleh karena pada janin prematur lingkar kepala jauh lebih besar dibandingkan lingkar
10

dada, disamping itu ukuran janin kecil sehingga ektremitas dan tubuh janin dapat dilahirkan pada dilatasi servik yang belum lengkap, prolapsus tali pusat juga sering terjadi pada persalinan preterm. Apabila kemungkinan-kemungkinan ini dapat diprediksikan, tindakan seksio sesarea adalah tindakan yang bijaksana. 1 Prinsip penanganan kehamilan ganda : 1 Bayi I Cek persentasi o Bila verteks lakukan pertolongan sama dengan presentasi normal dan lakukan monitoring dengan partograf o Bila persentasi bokong atau bila letak lintang lakukan seksio sesaria. Monitoring DJJ secara berkala Pada kala II beri oksitosin 2,5 IU dalam 500 ml dekstrose 5% atau ringer laktat/ 10 tts / menit. Bayi II Segera setelah kelahiran bayi I o Lakukan palpasi abdomen untuk menentukan adanya bayi selanjutnya o Bila letak lintang lakukan versi luar o Periksa DJJ o Lakukan pemeriksaan vaginal untuk menentukan : ketuban pecah atau intak, presentasi bayi o Bila presentasi vertex Bila kepala belum masuk, masukan pada PAP secara manual : dilakukan tekanan terkendali pada fundus agar bagian bawah janin masuk dalam panggul Ketuban dipecah Periksa DJJ Bila tak timbul kontraksi dalam 10 menit, tetesan oksitosin dipercepat sampai his adekuat Bila 30 menit bayi belum lahir lakukan tindakan menurut persyaratan yang ada (vakum, seksio) o Bila presentasi bokong

11

Lakukan persalinan pervaginam bila pembukaan lengkap dan bayi tersebut tidak lebih besar dari bayi I Bila tak ada kontraksi sampai 10 menit, tetesan oksitosin dipercepat sampai his adekuat Pecahkan ketuban Periksa DJJ Bila gawat, janin lakukan ekstraksi vakum Bila tidak mungkin melakukan persalinan pervaginam lakukan seksio sesarea. o Bila letak lintang Bila ketuban intak, lakukan versi luar Bila gagal lakukan seksio secarea Pasca persalinan berikan oksitosin drip 20 IU dalam 1 liter cairan 60 tetes/menit atau berikan ergometrin 0,2 mg IM 1 menit sesudah kelahiran anak yang terakhir. i. Prognosis Bahaya bagi ibu pada kehamilan kembar lebih besar daripada kehamilan tunggal karena lebih seringnya terjadi anemia, preeklampsia, dan eklampsia, dan perdarahan post partum. Kematian anak kedua lebih tinggi daripada anak pertama karena lebih sering terjadi gangguan sirkulasi plasenta setelah anak pertama lahir, lebih banyaknya terjadi solusio plasenta, serta kelainan letak janin kedua. 1

II.

PREEKLAMPSIA

a. Definisi Preeklampsia adalah hipertensi yang timbul setelah 20 minggu kehamilan, disertai dengan proteinuria.4 b. Frekuensi Preeklampsia terjadi pada 2 % - 7 % wanita nulipara dan 0,8 % - 5 % pada multipara. Insiden lebih tinggi pada kehamilan kembar.5 c. Faktor Risiko Faktor risiko preeklampsia antara lain : 5 a. Kehamilan kembar b. Nullipara
12

c. Obesitas d. Diabetes melitus d. Diagnosis Preeklampsia dapat diklasifikasikan menjadi 2 golongan :4 1) Preeklampsia ringan, bila : a. Tekanan darah 140/90 mmHg atau lebih setelah 20 minggu kehamilan dengan riwayat tekanan darah normal. b. Proteinuria kuantitatif 0,3 gr perliter atau kualitatif 1+ atau 2+ pada urine kateter 2) Preeklampsia berat, bila : Tekanan darah sistolik 160 mmHg atau tekanan diastolik 110 mmHg Proteinuria 5 gr atau lebih dalam 24 jam atau kualitatif 3+ atau 4+ Oliguria, yaitu jumlah urine kurang dari 500 cc per 24 jam. Adanya gangguan serebral, gangguan penglihatan, dan rasa nyeri di epigastrium. Terdapat edema paru dan sianosis Trombositopeni Gangguan fungsi hati Pertumbuhan janin terhambat e. Tata laksana4 Preeklampsia Ringan Rawat jalan o Dianjurkan banyak istirahat o Diet cukup protein, rendah karbohidrat, lemak, garam secukupnya Rawat inap o Tidak ada perbaikan tekanan darah dan kadar proteinuria selama 2 minggu o Adanya satu atau lebih tanda dan gejala preeklampsia berat Sikap terhadap kehamilan : o Kehamilan preterm : bila tekanan darah mencapai normotensif, persalinan ditunggu sampai aterm

13

o Kehamilan aterm : persalinan ditunggu sampai onset persalinan atau dipertimbangkan melakukan induksi persalinan pada taksiran tanggal persalinan. Preeklampsia Berat Sikap terhadap penyakit Pemberian obat antikejang Magnesium sulfat 40 %, dosis awal 4 gr diberikan selama 15 20 menit, kemudian diberikan infuse 6 gr dalam larutan Ringer Laktat 500 ml Pemberian antihipertensi bila tekanan darah 160/110 mmHg. Diberikan nifedipin 10-20 mg per oral, diulangi setelah 30 menit, maksimum 120 mg dalam 24 jam Monitoring input cairan dan output cairan

Sikap terhadap Kehamilan o Perawatan aktif (terminasi kehamilan) bila : Umur kehamilan > 37 minggu Adanya tanda dan gejala impending eklampsia Keadaan klinik dan laboratorik memburuk Diduga terjadi solusio plasenta Timbul onset persalinan, ketuban pecah, atau perdarahan Adanya tanda fetal distress Adanya tanda intrauterine growth restriction Terjadinya oligohidramnion

o Perawatan konservatif (kehamilan tetap dipertahankan) bila kehamilan preterm tanpa disertai tanda impending eklampsia dengan keadaan janin baik

III.

EKLAMPSIA

a. Definisi Eklampsia adalah preeklampsia yang disertai dengan kejang-kejang dan/atau koma.4 b. Epidemiologi Insiden eklampsia 1 dari 2000 kehamilan di belahan dunia barat. Eklampsia terjadi 1 % pada pasien preeklampsia.5 Insiden eklampsia di Amerika Serikat pada tahun
14

1998 adalah 1 dari 3250 kehamilan.6 Kasus eklampsia di Denpasar selama tahun 1998-2000 sebanyak 62 kasus dari 14.887 persalinan (4,2/10.000).7 c. Faktor Risiko4 a. Primigravida8 b. Riwayat mola hidatidosa, kehamilan multipel, diabetes mellitus c. Umur yang ekstrim Risiko eklampsia meningkat pada umur lebih dari 40 tahun.9 atau kurang dari 20 tahun.10 Eklampsia sering terjadi pada usia muda, pada umumnya usia 20 24 tahun.8 d. Riwayat keluarga pernah preeklampsia/eklampsia e. Penyakit ginjal/hipertensi yang telah ada sebelum hamil f. Obesitas d. Patofisiologi Etiologi kejang pada eklampsia belum diketahui. Eklampsi diduga terjadi ketika MAP (Mean Arterial Pressure) pasien melebihi batas atas autoregulasi serebral. Arteriol gagal melindungi kapiler serebral dari hipertensi sistemik. Peningkatan edema otak, serta peningkatan tekanan intrakranial diduga turut berperan dalam proses terjadinya kejang pada eklampsia.5 Hipertensi yang berat dapat menyebabkan aliran darah ke otak menjadi tidak normal. Mekanisme perfusi serebral menjadi terganggu. Peningkatan permeabilitas pembuluh darah menyebabkan edema serebri dan menghasilkan iskemi dan ensefalopati. Hal inilah yang menimbulkan kejang pada eklampsia.9,10 Perubahan pada sistem autoregulasi tekanan darah dan aktivasi sistem koagulasi diduga mempengaruhi timbulnya eklampsia.11 e. Diagnosis4 Anamnesis a. Riwayat hipertensi yang timbul setelah 20 minggu kehamilan b. Keluhan impending eklampsia (nyeri uluhati, penglihatan kabur, hiperefleksia, nyeri kepala) c. Kejang yang dapat timbul pada ante, intra, dan postpartum. Eklampsia postpartum umumnya hanya terjadi dalam waktu 24 jam pertama setelah persalinan. Kejang pada eklampsia :4
15

Kejang-kejang dimulai dengan kejang tonik. Tanda-tanda kejang tonik ialah dengan dimulainya gerakan kejang berupa twitching dari otototot muka khususnya sekitar mulut, yang beberapa detik kemudian disusul kontraksi otot-otot tubuh yang meregang, sehingga seluruh tubuh menjadi kaku. Pada keadaan ini wajah penderita mengalami distorsi, bola mata menonjol, kedua lengan fleksi, tangan

menggenggam, kedua tungkai dalam posisi inverse. Semua otot tubuh pada saat ini dalam keadaan kontraksi tonik. Keadaan ini berlangsung 15 - 30 detik. 4 Kejang tonik ini segera disusul dengan kejang klonik. Kejang klonik dimulai dengan terbukanya rahang secara tiba-tiba dan tertutup kembali dengan kuat disertai pula dengan terbuka dan tertutupnya kelopak mata. Kemudian disusul dengan kontraksi intermiten pada otot-otot muka dan otot-otot seluruh tubuh. Begitu kuat kontraksi otototot tubuh ini sehingga seringkali penderita terlempar dari tempat tidur. Seringkali pula lidah tergigit akibat kontraksi otot rahang yang terbuka dan tertutup dengan kuat. Dari mulut keluar liur berbusa yang kadang-kadang disertai bercak-bercak darah. Wajah tampak

membengkak karena kongesti dan pada konjungtiva mata dijumpai bintik-bintik perdarahan. Pada waktu timbul kejang, diafragma terfiksir, sehingga pernapasan tertahan, kejang klonik berlangsung kurang lebih 1 menit. Setelah itu berangsur-angsur kejang melemah dan akhirnya penderita diam tidak bergerak. Lama kejang klonik ini kurang lebih 1 menit, kemudian berangsur-angsur kontraksi melemah dan akhirnya berhenti serta penderita jatuh ke dalam koma. 4 Pada waktu timbul kejang, tekanan darah dengan cepat meningkat. Suhu badan juga meningkat, yang mungkin oleh karena gangguan serebral. Penderita mengalami inkontinensia disertai dengan oliguria atau anuria dan kadang-kadang terjadi aspirasi bahan muntah. 4 Koma yang terjadi setelah kejang, berlangsung sangat bervariasi dan bila tidak segera diberi obat antikejang akan segera disusul dengan episode kejang berikutnya. Setelah berakhirnya kejang, frekuensi pernapasan meningkat, dapat mencapai 50 kali per menit akibat
16

terjadinya hiperkardia, atau hipoksia. Pada beberapa kasus bahkan dapat menimbulkan sianosis. Penderita yang sadar kembali dari koma, umunya mengalami diorientasi dan sedikit gelisah. 4 Pemeriksaan Fisik ; 4 Tekanan darah sistolik 160 mmHg atau tekanan darah sistolik 110 mmHg Takikardi, Takipnea Penurunan kesadaran Hiperrefleksia Oliguria/anuria Edema Nyeri epigastrium

Pemeriksaan laboratorium : 4 Pemeriksaan Darah Lengkap Pemeriksaan Urin Lengkap : proteinuria lebih dari 5 gram dalam 24 jam / +3 f. Diagnosis Banding Kejang pada eklampsia harus dipikirkan kemungkinan kejang akibat penyakit lain. Oleh karena itu, diagnosis banding eklampsia menjadi sangat penting, misalnya perdarahan otak, meningitis, ensefalitis, kelainan metabolik, epilepsi, mapun tumor otak. 4 g. Penanganan Eklampsia termasuk kegawatan di bidang obstetri. Penanganan eklampsia meliputi :4,12 a. Baringkan pasien pada sisi kiri, kepala ditinggikan sedikit untuk mengurangi aspirasi sekret, muntahan, atau darah b. Bebaskan jalan napas c. Berikan oksigen 4-6 liter/menit d. Pasang spatel lidah untuk menghindari tergigitnya lidah e. Lindungi pasien dari trauma selama kejang. Fiksasi untuk menghindari pasien jatuh dari tempat tidur f. Pasang infus dengan jarum besar

17

g. Pasang kateter urin untuk memantau pengeluaran urin dan proteinuria h. Penanganan kejang Magnesium sulfat, secara parenteral diberikan sampai 24 jam post partum atau sampai 24 jam setelah kejang post partum Dosis awal 6 gr diberikan selama 15 20 menit, bila setelah pemberian masih kejang maka berikan lagi bolus 2 gr dalam 3 5 menit Bila kejang terjadi selama pasien menerima MgSO4 profilaksis, maka diberikan dosis 2 gr bolus tidak melebih 1 gr per menit i. Mengontrol hipertensi berat Obat anti hipertensi diberikan bila tekanan darah sistolik lebih dari 160 mmHg atau tekanan darah diastolik lebih dari 110 mmHg. Obat yang dipakai umumnya nifedipin dengan dosis 3-4 kali 10 mg oral. Bila dalam 30 menit belum turun dapat diberi tambahan Nifedipin 10 mg lagi Dosis maksimum nifedipin 120 mg per 24 jam

j. Terminasi Kehamilan Semua kehamilan dengan eklampsia harus diakhiri tanpa memandang umur kehamilan dan keadaan janin Kehamilan diakhiri bila sudah terjadi stabilisasi hemodinamika dan metabolisme ibu, paling lama 4-8 jam sejak diagnosis ditegakkan. Bila penderita belum in partu, dilakukan induksi persalinan dengan amniotomi, oksitosin drip, kateter Folley, atau prostaglandin E2. Sectio cesarea dilakukan bila syarat induksi tidak terpenuhi atau ada kontraindikasi partus pervaginam. Pada persalinan pervaginam kala 2, bila perlu dibantu ekstraksi vakum

h. Komplikasi Komplikasi pada ibu yang dapat timbul akibat eklampsia antara lain :13 Kematian Edema paru Gagal ginjal Henti jantung

18

Emboli paru

i. Prognosis Bila penderita tidak terlambat dalam pemberian pengobatan, maka gejala perbaikan akan tampak jelas setelah kehamilannya diakhiri. Diuresis terjadi 12 jam kemudian setelah persalinan. Keadaan ini merupakan tanda prognosis baik. Tekanan darah kembali normal beberapa jam kemudian. Prognosis janin pada penderita eklampsia tergolong buruk. Seringkali janin mati intrauterin atau mati pada fase neonatal.4 PEMBAHASAN KASUS Preeklampsia berat terjadi bila tekanan darah sistolik 160 mmHg atau tekanan diastolik 110 mmHg, disertai proteinuria dan atau edema pada kehamilan setelah 20 minggu. Pada kasus ini ibu dikatakan mengalami preeklampsia berat karena mengalami hipertensi, yaitu tekanan darahnya sebesar 150/120 mmHg dan disertai proteinuria +3. Selain itu pasien juga mengalami edema. Eklampsia merupakan kasus akut pada penderita preeklampsia, yang disertai dengan kejang menyeluruh dan koma. Pada penderita preelampsia yang akan kejang, umumnya memberi gejala atau tanda yang khas berupa : nyeri kepala, nyeri ulu hati, mual muntah, penglihatan kabur. Pada pasien ini tidak didapatkan tanda-tanda tersebut. Namun, tiba-tiba pasien kejang. Kejang pada pasien sesuai dengan kejang pada eklampsia, yaitu dimulai dari wajah, kemudian menjalar ke seluruh tubuh. Penanganan kejang pada pasien bertujuan untuk mencegah trauma pada pasien. Selain itu, jalan napas pasien juga harus diperhatikan. Baringkan pasien pada sisi kiri, kepala ditinggikan sedikit untuk mengurangi aspirasi sekret, muntahan, atau darah. Penanganan kejang pada pasien dilakukan dengan pemberian MgSO4 . setelah diberikan, kejang berhenti dan keadaan ibu menjadi stabil. Semua kehamilan dengan eklampsia harus diterminasi. Pemeriksaan dalam yang dilakukan setelah pasien tidak kejang menunjukkan pembukaan lengkap, kepala di Hodge III, ketuban negatif, terbawah tangan dan kepala. Presentasi ganda dengan tangan di samping kepala atau lengan menumbung di samping kepala, menurut penelitian Goplerud dan Eastman terjadi pada satu di antara 700
19

persalinan. Sebab-sebab dari presentasi ganda adalah keadaan-keadaan yang menghambat penutupan sempurna dari pintu atas panggul oleh kepala janin. Keadaan ini pada umumnya tidak memerlukan tindakan apa-apa kecuali bila lengan yang menumbung di samping kepala menghambat turunnya kepala saat janin lahir. Lengan yang menumbung tersebut dicoba untuk didorong ke atas, bersama itu kepala didorong ke bawah melalui tekanan pada fundus uteri dari luar oleh penolong sendiri atau pembantu. Bila reposisi tidak berhasil, dibiarkan saja sambil diobservasi kemajuan turunnya kepala. Karena tangan janin menumbung, maka dilakukan reposisi, namun reposisi tidak berhasil sehingga tangan janin tetap menumbung. Semua kondisi yang dapat membahayakan ibu maupun janin merupakan indikasi dilakukannya vakum ekstraksi. Kondisi pada ibu : penyakit jantung, eklampsia, infeksi intrapartum, beberapa kondisi neurologis, maupun kala dua memanjang. Kondisi janin : prolaps tali pusat. (wiliam) Pada pasien ini dilakukan vakum ekstraksi atas indikasi eklampsia pada pasien. Vakum ekstraksi dilakukan untuk mempercepat kala II pada pasien ini. Setelah kepala janin keluar dengan bantuan vakum, maka selanjutnya janin dikeluarkan seperti pada persalinan normal. Setelah bayi lahir dilakukan pengeluaran plasenta, namun karena perdarahan yang terjadi cukup banyak, sehingga dilakukan manual plasenta. Plasenta yang dilahirkan lengkap (monoplasenta), biamnion, letak kedua tali pusat di bagian tengah plasenta. Terapi postpartum yang diberikan adalah analgetik, untuk menghilangkan nyeri. Kemudian diberikan pula antibiotik, sebagai profilaksis terhadap infeksi. Serta diberikan pula vitamin B Kompleks dan Vit C, untuk mempercepat penyembuhan luka.

20

DAFTAR PUSTAKA 1. Wiknjosastro H, Saifuddin AB, Rachimhadi T. Kehamilan Kembar. Dalam : Ilmu Bedah Kebidanan. Edisi Ketiga. Cetakan Kesembilan. Jakarta : YBP-SP. 2007. 2. Fortner KB, Szimanski LM, Fox HE, Wallach EE. Gestational Complication : Multiple Gestation. The John Hopkins Manual of Gynecology and Obstetrics. Third edition. Lippincots William and Wilkins. 2007 3. Cunningham FG, Leveno KJ, Bloom SL, Hauth JC, Gilstrap III LC, Wenstrom KD. Multifetal Gestation. In : Williams Obstetrics. 22nd edition. Mc Graw-Hill. New York : 2005. 4. Wiknjosastro H, Saifuddin AB, Rachimhadi T. Hipertensi dalam Kehamilan. Dalam : Ilmu Bedah Kebidanan. Edisi Keempat. Cetakan Kesepuluh. Jakarta : YBP-SP. 2008. 5. Fortner KB, Szimanski LM, Fox HE, Wallach EE.. Hypertensive Disorders of Pregnancy. The John Hopkins Manual of Gynecology and Obstetrics. Third edition. Lippincots William and Wilkins. 2007 6. Cunningham FG, Leveno KJ, Bloom SL, Hauth JC, Gilstrap III LC, Wenstrom KD. Hypertensive Disorders in Pregnancy. In : Williams Obstetrics. 22nd edition. Mc Graw-Hill. New York : 2005. 7. Karkata MK. Pro-kontra Penanganan Aktif Eklampsia dengan Seksio Sesarea. Dalam : Cermin Dunia Kedokteran vol.34 no.5/158 Sep-Okt 2007 8. Sudinaya IP. Insiden Preeklampsia Eklampsia di Rumah Sakit Umum Tarakan Kalimantan Timur - tahun 2000. Dalam : Cermin Dunia Kedokteran No. 139, 2003 9. Ross MG. Eclampsia. Disitasi tanggal 8 Maret 2010 dari :

http://emedicine.medscape.com/article/253960-overview (Update tanggal 1 April 2009) 10. Guy, Am. Pregnancy, Eclampsia. Disitasi tanggal 8 Maret 2010 dari :

http://emedicine.medscape.com/article/797603-overview (Update tanggal 11 Agustus 2009) 11. Chan PD, Johnson SM. Current Clinical Strategies Gynecology and Obstetrics 2004 Edition New ACOG reatment Guidelines. 12. Prawirohardjo S. Hipertensi dalam Kehamilan. Dalam : Buku Acuan Nasional Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal. Jakarta : YBP-SP. 2002. 13. Douglas KA, Redman CWG. Eclampsia in the United Kingdom. In : British Medical Journal 1994;309:1395-1400 (26 November)
21