Anda di halaman 1dari 39

1

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Penelitian
Di Amerika trauma merupakan penyebab ke 4 terbesar dari kematian dan
penyebab kematian terbanyak pada usia di bawah 45 tahun, lebih dari setengah
pada trauma yang menyebabkan kematian disebabkan karena kecelakaan
kendaraan bermotor , penyebab yang lainnya seperti jatuh dari ketinggian , luka
tembak atau luka tembus , keracunan , luka bakar dan tenggelam. Trauma
abdomen dapat berupa trauma tumpul dan trauma tajam .
1
Diagnosis yang cepat terjadinya perdarahan intrabdomen pada trauma
tumpul abdomen adalah hal esensial untuk meminimalisir morbiditas ataupun
mortalitas, 40 % kematian akibat trauma abdomen disebabkan oleh trauma tumpul
abdomen yang disebabkan kecelakaan lalu lintas namun sebenarnya hanya 15 20
% dengan trauma tumpul abdomen yang memerlukan intervensi operatif .
1,2
Kadar laktat serum dapat dipakai sebagai parameter perfusi jaringan pada
kasus-kasus tertentu, bahkan dipakai sebagai prediksi mortalitas pasien dengan
sepsis dan trauma berat. Menurut hasil studi yang dilakukan oleh Cochran dkk,
didapatkan hasil kadar laktat serum inisial meningkat pada pasien trauma
abdomen yang meninggal. Di samping itu, studi tersebut menyatakan bahwa
peningkatan kadar laktat serum selama 48 jam pertama merupakan faktor risiko
mortalitas.
2,5

2

Base deficit merupakan parameter metabolik yang sangat sensitif digunakan
sebagai indikator terjadinya kehilangan darah dengan melalui pengukuran perfusi
jaringan, Peningkatan base deficit ini dapat terjadi paling awal sejak bila terjadi
syok hemoragik. Dairo memklasifikasikan base deficit ini ke dalam 3 kategori:
Mild (-3 s/d -5), Moderate (-6 s/d -9) dan Severe (<-10) dimana pengklasifikasian
dapat menunjukan korelasi yang kuat dengan kebutuhan tranfusi, kegagalan organ
dan kematian. Namun penelitian yang menggabungkan ketiga parameter
mencakup kadar laktat, base deficit dan hipotensi sistolik pada pasien dengan
perdarahan intra-abdomen trauma tumpul abdomen belum pernah dilakukan
sebelumnya.
4
Berdasarkan uraian tersebut, penulis tertarik untuk meneliti lebih lanjut
mengenai pengaruh kadar laktat serum, base deficit, dan hipotensi sistolik
terhadap tingkat mortalitas pada kasus perdarahan intra-abdomen akibat trauma
tumpul abdomen yang dirawat di RSUP Dr. Hasan Sadikin.

1.2 Rumusan Masalah
Bagaimana pengaruh kadar laktat serum, base defisit, dan hipotensi sistolik
dengan angka mortalitas pada pasien dengan perdarahan intra-abdomen
akibat trauma tumpul abdomen yang dirawat di RSUP Dr. Hasan Sadikin
periode 1 Januari 2011 31 Desember 2011.



3

1.3 Tujuan Penelitian
Mengetahui pengaruh kadar laktat serum, base defisit, dan hipotensi sistolik
dengan angka mortalitas pada pasien dengan perdarahan intra-abdomen
akibat trauma tumpul abdomen yang dirawat di RSUP Dr. Hasan Sadikin
periode 1 Januari 2011 31 Desember 2011.

1.4 Kegunaan Penelitian

1.4.1 Kegunaan Ilmiah
Mengetahui pengaruh kadar laktat serum, base defisit, dan hipotensi sistolik
dengan angka mortalitas pada pasien dengan perdarahan intra-abdomen
akibat trauma tumpul abdomen yang dirawat di RSUP Dr. Hasan Sadikin
periode 1 Januari 2011 31 Desember 2011.
1.4.2 Kegunaan Praktis
Kadar laktat serum, base deficit, dan hipotensi sistolik dapat dipakai sebagai
salah satu panduan untuk menilai prognosis pada pasien trauma tumpul
abdomen.





4

BAB II
KAJIAN PUSTAKA, KERANGKA PEMIKIRAN DAN HIPOTESIS

2.1 Kajian Pustaka
2.1.1 Pendahuluan
Di Amerika trauma merupakan penyebab ke 4 terbesar dari
kematian dan penyebab kematian terbanyak pada usia di bawah 45 tahun,
lebih dari setengah pada trauma yang menyebabkan kematian disebabkan
karena kecelakaan kendaraan bermotor , penyebab yang lainnya seperti
jatuh dari ketinggian , luka tembak atau luka tembus , keracunan , luka
bakar dan tenggelam. Trauma abdomen dapat berupa trauma tumpul dan
trauma tajam. Trauma abdominopelvik merupakan bagian terbesar dari
penyebab kematian dan penyebab kematian yang bisa dicegah.
1
Diagnosis yang cepat terjadinya perdarahan intra-abdomen pada
trauma tumpul abdomen adalah hal esensial untuk meminimalisir
morbiditas ataupun mortalitas, 40 % kematian akibat trauma abdomen
disebabkan oleh trauma tumpul abdomen yang disebabkan kecelakaan lalu
lintas namun sebenarnya hanya 15 20 % dengan trauma tumpul
abdomen yang memerlukan intervensi operatif .
1,2
Mekanisme trauma , lokasi cedera dan status hemodinamik pasien
menentukan pendekatan diagnostik dan waktu penilaian trauma abdomen.
Trauma tembus abdomen lebih jelas dalam presentasinya , sehingga

5

diagnosisnya lebih mudah dan mempunyai kemungkinan yang besar
terjadi cedera intra-abdomen. Sebaliknya trauma tumpul abdomen
biasanya terjadi bersamaan dengan trauma multi sistem , sehingga
diagnosisnya lebih kompleks dan menantang. Disamping pemeriksaan
fisik, modalitas diagnostik utama yang dapat digunakan adalah :diagnostic
peritoneal lavage (DPL), computed tomography (CT), ultrasonography
(USG), dan laparoscopy diagnostic.
2,3
Diperkirakan hanya 15 20 % dari semua penderita dengan
trauma tumpul abdomen yang memerlukan laparotomi, terutama
perdarahan organ padat akibat kecelakaan lalu lintas, dan sepeda motor,
sehingga diagnostik yang akurat mungkin untuk menghindari laparotomi
negatif. Walaupun demikian dengan peningkatan pemakaian sabuk
pengaman, trauma organ berongga malahan meningkat, akan tetapi trauma
lain dan beratnya tingkat trauma jauh menurun. Dengan meningkatkan
kemampuan deteksi dini dan tindakan yang cepat serta tepat, akan mampu
menghasilkan prognosa yang memuaskan.
1,2

2.1.2 Anatomi
3

Cavum abdominalis adalah rongga batang tubuh yang terdapat di
antara diafragma dan aperture pelvis superior. Cavum abdominalis
merupakan rongga yang terbesar dari ketiga rongga tubuh yang terdiri atas

6

cavum crania, cavum thoracalis, dan cavum pelvicum. Cavum abdominalis
dibatasi oleh:
- kranial : diafragma
- ventrolateral : otot dinding perut dan m.iliakus
- dorsal : columna vertebralis, m.psoas mayor dan
minor, m.quadratus lumborum.
- Kaudal : aperture pelvis superior mencakup pelvis
major
Lapisan dinding adomen terdiri atas stratum superfisialis yang
terdiri atas kutis, subkutis (fascia camperi dan fascia scarpae); stratum
intermedius yang terdiri atas fascia abdominalis, otot dinding abdomen,
aponeurosis otot dinding perut; stratum profunda yang terdiri atas fascia
tranversalis, panniculus adiposus preperitonealis, dan peritoneum parietal.
Anatomi dalam rongga abdomen terdiri atas 3 regio yang berlainan
yakni, rongga peritoneal, ruang retroperitoneal, dan rongga pelvis. Rongga
pelvis ini mengandung bagian bagian dari rongga peritoneal maupun ruang
retroperitoneal
a. Rongga peritoneal
Rongga peritoneal terbagi menjadi 2 bagian, yaitu bagian atas
dan bawah. Rongga peritoneal atas dilindungi oleh bagian
bawah dari dinding thorak yang mencakup diafragma, hepar,

7

lien, gaster, dan kolon tranversum. Bagian ini juga disebut
komponen torakoabdominal dari abdomen. Rongga peritoneum
bawah berisikan usus halus, bagian kolon asendens, kolon
desenden, kolon sigmoid dan pada wanita berisikan organ
reproduksi internal.
b. Rongga pelvis
Rongga pelvis merupakan bagian bawah dari rongga
intraperitoneal sekaligus bagian bawah dari rongga
retroperitoneal dimana di dalamnya terdapat rektum, vesika
urinaria, pembuluh pembuluh iliaka, dan organ reproduksi
interna pada wanita.
c. Rongga retroperitoneum
Cedera pada organ retroperitoneal sulit dikenali karena daerah
ini jauh dari jangkauan pemeriksaan fisik dan biasanya cedera
pada daerah ini tidak akan memperlihatkan tanda atau gejala
peritonitis. Rongga peritoneal dibagi menjadi 3 zona untuk
tujuan eksplorasi :
- Zona I : daerah sentral bagian atas retroperitoneum (
retroperitoneum sentro medial ) , dari hiatus aorta dan
oesophagus sampai promontorium sakralis. Struktur
primernya adalah aorta, vena kava , pembuluh-pembuluh

8

darah ginjal bagian proksimal , vena porta , pankreas dan
duodenum.
- Zona II : terdiri dari pinggang kiri dan pinggang kanan (
retroperitoneum lateral) , yang berisi kedua ginjal dan
ureter bagian suprapelvis, di sebelah kanan juga berisi
kolon kanan dan mesokolon sedangkan di sebelah kiri
berisi kolon kiri dan mesokolon .
- Zona III : terdiri dari pelvis (retroperitoneum pelvis) dan
berisi kolom sigmoid dan rektum, vesika urinaria , kedua
ureter segmen pelvis bagian distal.

2.1.3 Patofisiologi dan Etiologi
2,3

Trauma tumpul bisa disebabkan oleh benturan langsung , gaya
deselerasi , gaya rotasi dan gaya shear. Benturan langsung dapat
menyebabkan cedera yang berarti dan beratnya cedera dapat diperkirakan
dengan mengetahui kekuatan dan durasi dari benturan dan juga massa
dari bagian tubuh yang berkontak.
Faktor-faktor yang menentukan cedera adalah kecepatan kendaraan
bermotor , posisi penderita , apakah sebagai pengemudi atau penumpang
dan derajat deformitas dari kendaraan tersebut, terlempar keluar , terbentur
stir mobil , terbentur kaca depan mobil atau instrument mobil , dan
terbentur bagian belakang mobil menyebabkan cedera ini. Benturan

9

langsung dapat mengakibatkan cedera tekanan pada isi abdomen , yang
dapat merusak bentuk organ padat atau berongga dan menyebabkan ruptur
, khususnya pada organ yang menggembung seperti uterus yang hamil ,
dengan perdarahan dan peritonitis.
Cedera deselerasi paling sering terjadi pada kecelakaan bermotor
dengan kecepatan tinggi dan jatuh dari ketinggian. Saat tubuh terbentur ,
organ yang bergerak seperti hepar dan lien terus bergerak ke depan pada
kecepatan terminal , merobek pembuluh-pembuluh darah dan jaringan-
jaringan dari tempat perlekatannya (struktur yang tetap) . Gaya rotasi juga
menyebabkan cedera robekan akibat gerakan yang berguling-guling. Gaya
shear menyebabkan cedera degloving seperti yang mungkin terjadi ketika
penderita terlindas kendaraan besar. Saat kendaraan melewati tubuh
penderita , kulit dan jaringan subkutis terdorong ke depan , merobek suplai
darah dari sumber dibawahnya dan memisahkan jaringan lemak subkutis
dari fascia yang terletak dibawahnya. Mekanisme ini dapat juga
diakibatkan oleh gaya shear dari sabuk pengaman yang dipakai dengan
cara yang salah pada kecelakaan kendaraan bermotor dengan kecepatan
tinggi. Setelah cedera shear biasanya terjadi nekrosis dan kehilangan
jaringan lunak.
Pada trauma tumpul abdomen ,organ yang paling sering cedera
adalah lien (40-50%) , hepar (35-45% ) dan hematom retroperitoneum (15
%).

10

2.1.4 Diagnosis
1,3,5

Dengan mengandalkan hanya pemeriksaan fisik, diagnosis trauma
abdomen masih sangat sulit ditegakkan. Walaupun dilakukan oleh dokter
yang berpengalaman, derajat akurasi hanya 65%, akibat banyaknya faktor
yang dapat mempengaruhi gejala klinis, misalnya ; nyeri, penurunan
kesadaran, setelah minum alcohol, trauma kepala, cedera lain yang dapat
mengacaukan gejala klinis. Oleh karena itu diperlukan pemeriksaan fisik
yang lebih teliti pada penderita yang dicurigai adanya cedera intra
abdomen. Root dkk memperkenalkan peritoneal diagnostik lavage sebagai
metode evaluasi. Diagnostic peritoneal lavage merupakan prosedur bedah
yang dapat dilakukan di ruang resusitasi. Keuntungan cara ini, dapat
dilakukan secara cepat dengan komplikasi minimal, dan nilai
diagnostiknya sensitif dan spesifik untuk perdarahan intra abdominal
(>90%) tetapi tidak mampu mengidentifikasi jenis organ yang cedera serta
kelainan retroperitoneal tidak dideteksi, dan mungkin memberikan false
positif pada fraktur pelvis. Sehingga bila berpegang pada peritoneal lavage
diagnostik yang positif saja (eritrosit > 100.000/mm
3
) maka akan terjadi
laparotomi negatif. Diagnostic Peritoneal Lavage (DPL) merupakan
tindakan invasif sehingga harus dilakukan dengan prosedur pembedahan
yang benar.. Tindakan DPL harus dilakukan oleh spesialis bedah yang
bertanggung jawab dalam terapi definitif apabila hasilnya positif. Studi
yang dilakukan pada laparotomi negatif, membuktikan dari 254 penderita

11

(seharusnya yang tidak perlu laparotomi dan terlanjur operasi), 41%
mengalami komplikasi antara lain ; atelektasis, hipotensi post operatif,
efusi pleura, pneumotoraks, ileus berkepanjangan, pneumonia, infeksi luka
operasi, obstruksi usus, infeksi pada traktus digestivus.
Fedelle memperkenalkan pemeriksaan CT-Scan abdomen pada
trauma tumpul abdomen. Dengan CT-Scan ini dapat mengetahui organ
yang mengalami cedera dan derajat kerusakannya, cedera intra dan retro
peritoneal, serta dapat memperkirakan jumlah perdarahan intra abdomen.
Pemeriksaan CT-Scan secara serial dapat pula digunakan untuk mengikuti
perkembangan cedera organ dan jumlah perdarahan, misalnya cedera
organ membaik atau jumlah darah makin banyak. Kerugian dengan
pemeriksaan CT-Scan ini adalah penderita perlu dipindah keruang
pemeriksaan radiologi dan memerlukanan waktu lebih lama, relatif mahal
dan mungkin alergi dengan bahan kontras yang dimasukkan. Dengan CT-
Scan ini penilaian cedera usus kurang sensitive, tapi dapat menilai ;
penebalan dinding usus, udara bebas dan adanya cairan intra peritoneal
dimana organ padat tidak ada kelainan, menunjukkan adanya lesi pada
usus dan mampu mendeteksi trauma pankreas pada fase dini. Walaupun
demikian CT-Scan masih merupakan modalitas pilihan pada evaluasi
penderita trauma tumpul abdomen dengan hemodinamik stabil / penilaian
terapi secara konservatif.

12

Ultrasonografi merupakan alat diagnostik yang sangar popular di
Eropa dan China walaupun penggunaannya masih terbatas. Ultrasonografi
dapat dikerjakan diatas tempat tidur penderita, dapat diulang, non invasif
dan relatif efektif. Kerugian pemeriksaan ultrasonografi, nilai
sensitifitasnya kurang pada lesi yang tidak memproduksi cairan
peritoneum dan akurasinya operator dependent (tergantung tenaga
radioloog atau pengalaman dokter yang memeriksa).

2.1.5 Base Defisit, Laktat, Hipotensi pada Trauma
4

Identifikasi terjadi kelainan intraabdominal pada pasien dengan
trauma tumpul abdomen merupakan tantangan yang sangat besar bagi
dokter yang bekerja terutama di center trauma. Kebanyaan cedera ini tidak
bermanifestasi selama pemeriksaan awal dan selama periode pengobatan,
mekanisme trauma juga sering terjadi bersamaan dengan cedera organ
lainnya sehingga bisa mengaburkan diagnosis perdarahan intraabdomen
yang potensial menyebabkan terjadinya kematian. Pemeriksaan tanda vital
meskipun cukup spesifik , tapi tidaklah sensitif dalam mendeteksi
terjadinya perdarahan. Evaluasi rutin menggunakan pemeriksaan darah
rutin, pemeriksaan fisik, DPL, USG , dan CT scan memiliki kelemahannya
masing-masing dalam evaluasi abdomen.
Base deficit merupakan parameter metabolik yang sangat sensitif
digunakan sebagai indikator terjadinya kehilangan darah dengan melalui

13

pengukuran perfusi jaringan, peningkatan base defici tini dapat terjadi
paling awal sejak bila terjadi syok hemoragik. Dairo memklasifikasikan
base deficitini ke dalam 3 kategori: mild (-3 s/d -5), moderate (-6 s/d -9)
dan severe (<-10) dimana pengklasifikasian dapat menunjukan korelasi
yang kuat dengan kebutuhan tranfusi, kegagalan organ dan kematian.
Beberapa penelitian menunjukkan bila base deficit < -6 menunjukkan
korelasi yang kuat terjadi komplikasi akibat syok dan indikator
dibutuhkannya tranfusi segera.
Pada penelitian yang dilakukan Mofidi dibandingkan bahwa
pemeriksaan base deficit (<-6) memiliki angka sensitifitas yang lebih
tinggi dibandingkan dengan USG (88,2% berbanding 76,5%). USG juga
tidak bisa mendeteksi adanya kelainan pada retroperitoneal. Pada
penelitian ini didapatkan 12 kasus perdarahan retroperitoneal 100%
menunjukkan base defist < -6. Penelitian ini menyimpulkan bahwa base
defisit merupakan indikator yang sangat penting untuk mengidentifikasi
terjadinya perdarahan intrabdomen pada pasien dengan trauma tumpul
abdomen.
Pemeriksaan laktat ini pertama kali diperkenalkan oleh Gaglio
pada tahun 1986, pengukuran kadar laktat ini memerlukan 100-200 cc
darah dan membutuhkan beberapa hari sehingga tehnik pemeriksaan ini
sangat jarang digunakan. Pada tahun 1964 Broder dan Well menggunakan
tehnik fotospektrometrik untuk pengukuran kadar laktat dan hanya

14

membutuhkan watu 2 menit untuk mendapatkan hasilnya sehingga
teknologi ini memungkinkan untuk digunakan pada pasien dengan cepat
dan mudah. Hubungan antara peningkatan kadar laktat dalam darah dan
hipoksia pada jaringan pada pasien dengan syok pertama kali diketahui
pada tahun 1927.
Pada sel normal, glukosa akan dimetabolisme air dan
karbondioksida. Secara umum, hal tersebut melalui 2 tahapan proses.
Tahap pertama, glukosa akan dipecah menjadi piruvat melalui proses
glikolisis. Tahap kedua, mitokondria akan mengoksidasi piruvat melalui
siklus Kreb dan fosforilasi oksidatif menghasilkan air dan
karbondioksida.
11
Laktat merupakan produk metabolisme anaerob yang
meningkat pada keadaan hipoperfusi ketika piruvat tidak dapat memasuki
siklus Kreb dan melalui proses fosforilasi oksidatif di mitokondria yang
disebabkan karena suplai oksigen ke sel yang tidak adekuat. Sebagai
akibatnya, piruvat akan diubah menjadi laktat oleh enzim laktat
dehidrogenase dan menghasilkan 2 molekul adenosine trifosfat (ATP)
yang berfungsi untuk energi. Hal ini sangat merugikan mengingat pada
metabolisme aerob (cukup oksigen) akan dihasilkan 38 ATP.
9,10
Konsentrasi laktat serum mencerminkan keseimbangan antara
produksi dan metabolisme laktat.Kadar normal laktat serum adalah 0.31.3
mmol litre
1
. Produksi basal laktat pada tubuh manusia adalah 0.8 mmol
kg
1
h
1
(1300 mmol day
1
).
30
Pada keadaan hipoperfusi atau syok, maka

15

metabolisme anerob akan dominan. Produksi laktat akan melebihi
kecepatan metabolismenya di hati dan ginjal sehingga kadar laktat di
dalam darah akan meningkat.
11
Peningkatan kadar laktat serum berkorelasi erat dengan mortalitas
di berbagai tipe syok.
15,16
Kecepatan waktu kembalinya kadar laktat ke
nilai normal melalui resusitasi cairan berkorelasi kuat dengan mortalitas,
kegagalan organ, dan infeksi. Prognosis terbaik pasca resusitasi pada kasus
syok adalah ketika laktat kembali normal dalam waktu 12-24 jam.
Hipoksia jaringan didefiniskan apabila kebutuhan oksigen tidak
diimbangi dengan pasokan oksigen, penurunan hemoglobin dan saturasi
oksigen biasanya akan dikompensasi dengan peningatan cardiac output
sehinngga hipoksia jaringan tidak terjadi. Karena tekanan darah memiliki
rentang yang cukup besar terhadap cardia output, maka secara klinis
hipoksia jaringan tidak selalu ditemukan. Meregeli dkk menunjukkan
kadar laktat pada pasien dengan hemodinamik stabil dapat membedakan
angka harapan hidup pada 12 jam pertama admission meskipun pada
pasien dengan hemodinamik yang sama, peneliti menyimpulkan
hiperlaktatemia akan tetap terjadi pada hipoperfusi meskipun dengan
hemodinamik yang stabil. Blow dkk menunjukkan bahwa kadar laktat
dalam tekanan darah yang normal pada pasien trauma dengan
hemodinamik yang stabil sejak 24 jam pertama masuk RS dihubungkan
dengan peningkatan angka harapan hidup. Resusitasi pada pasien ini

16

dengan tujuan meningkatan aliran darah bila kadar latat diatas 2,5 mmol/l.
mortalitas meningkat pada pasien yang gagal dinormalisasi melalui terapi.
Abraham dkk menyimpulkan bahwa normalisasi kadar laktat pada 24 jam
pertama setelah resusitasi dengan tujuan untuk meningatkan pasokan
osigen dan curah jantung didapatkan 100% angka harapan hidup. Pada
pasien yang membutuhkan waktu 24-48 jam didapatkan angka
mortalitasnya sebesar 25% dan tidak ada pasien yang hidup apabila kadar
pasien diatas normal sampai lewat 48 jam. Faktor yang memiliki peran
signifikan lainnya adalah hipotensi sistolik dimana pada penelitian yang
dilakukan oleh Chin Shih dkk menunjukkan bahwa temuan hipotensi
khususnya pada intraoperatif memiliki angka prognostik yang signifikan
pada pasien trauma, dimana disebutkan bahwa hipotensi akan
mempengaruhi fungsi host-imun sehingga akan menyebabkan predisposisi
terjadinya komplikasi infeksi pada pasien. Hipotensi preoperative
ditemukan pada 1: 5 pasien dan tidak cukup signifikan dikarenakan
dilakukannya resusitasi insial. Resiko terjadinya komplikasi infeksi pada
pasien dengan hipotensi intraoperatif , dimana resusitasi preoperative dan
konraol perdarahan intraoperatif yang adekuat dapat menghindarkan
kejadian komplikasi infeksi post operatif.
10,11,12




17

2.1.6 Penatalaksanaan Trauma Tumpul Abdomen
2,3

a. Pre- rumah sakit
Penatalaksanaan pre rumah sakit difokuskan untuk
mengevaluasi dengan cepat masalah-masalah yang menimbulkan
ancaman kematian, resusitasi awal, dan persiapan transport ke
tempat rujukan. Pasien memiliki resiko mengalami perburukan
akibat perdarahan yang ada dan membutuhkan prosedur resusitasi
selama perjalanan. Tindakan awal yang dapat dilakukan adalah
dengan membebaskan jalan nafas, pemasangan iv line, dan
pemberian cairan. Penelitian yang dilakukan Nirula dkk
menunjukkan pentingnya protokol ini , dimana pasien yang tidak
dilakukan pertolongan awal ini beresiko 3,8 kali lebih besar
mengalami kematian.
Untuk membebaskan jalan nafas bisa digunakan pipa
endotrakeal yang kemudian diikuti pemasangan collar neck untuk
imobilisasi servikal, kemudian diberikan ventilasi menggunakan
FiO2 yang tinggi pada pasien dengan gangguan resporasi sampai
saturasi oksigen pada rentang lebih dari 90-92%. Perdarahan
eksternal biasanya menjadi cedera penyerta pada trauma tumpul
abdomen, maka dari itu dilakukan kontrol perdarahan dengan
tekanan langsung dan pemberian cairan kristaloid.
b. Rumah sakit

18

Prioritas pertama adalah memeriksa ulang jalan nafas,
memproteksi servikal, pemberian suplementasi oksigen, resuistasi
cairan diikuti dengan control perdarahan eksternal.
Indikasi laparotomi eksplorasi pada trauma dapat dilakukan
berdasarkan pada temuan pemeriksaan fisik atau berdasarkan pada
kesimpulan diagnostik. Secara klinis dapat ditemukan tanda
peritonitis yang jelas pada pemeriksaan fisik, hipotensi dengan
abdomen yang distensi pada pemeriksaan fisik, luka tembak pada
abdomen, luka tusuk abdomen disertai eviserasi , hipotensi atau
peritonitis. Temuan diagnostik melalui hasil positive DPL dan
adanya temuan dengan pemeriksaan diagnostik lainnya trauma
abdomen yang memerlukan perbaikan seperti thorax photo (ada
rupture diafragma , pneumoperitoneum ), FAST, CT-scan , atau
laparoskopi.
Laparotomi yang dilakukan pada penderita multi trauma
masih kontroversi, akan tetapi dibawah ini dapat dipakai sebagai
pedoman :
a. Untuk penderita yang tidak stabil dengan curiga perdarahan intra
abdomen harus segera dilakukan operasi. Bila penderita disertai
trauma kepala dengan GCS <8, maka tekanan intrakranial harus

19

dapat dimonitor waktu laparotomi, karena secondary brain
injury dapat disebabkan oleh hipotensi.
b. Penderita tidak stabil dengan perdarahan intra abdomen dan pelvis
dimana lavage positif merah atau ultrasonografi menampakkan
cairan jumlah banyak dalam kavum Morrisons, laparotomi segera
dilakukan. Bila penderita dengan lavage hanya ringan dan USG
menunjukkan darah dipelvis saja, maka dapat dilakukan angiografi
preoperative.
c. Penderita dalam kondisi hemodinamik stabil disertai dengan
trauma kepala, dada, abdomen, diagnosis dapat segera ditegakkan
dengan CT-Scan. Dari 800 penderita trauma kepala dan dada hanya
52 penderita trauma kepala yang memerlukan kraniotomi, 40
penderita memerlukan laparotomi. Dan hanya 3 yang memerlukan
kraniotomi dan laparotomi. Oleh karena itu CT-Scan kepala dan
abdomen bersamaan, sangat perlu dilakukan pada penderita multi
trauma kepala dan perut dengan lavage negatif.
d. Penderita multi trauma (cedera kepala, toraks, abdomen) dengan
disertai patah tulang terbuka maupun tertutup, sementara trauma
kepala, toraks maupun abdomen memerlukan operasi, untuk patah
tulangnya dilakukan pembidaian atau debridemen dulu. Tetapi bila
hipotensi dan hipoksia dapat diatasi, fiksasi dini dapat
dipertimbangkan.

20

2.2 Kerangka Pemikiran
Pada trauma tumpul abdomen kemungkinan terjadi perdarahan
intrabdomen. Hal-hal tersebut pada akhirnya akan menimbulkan hipoperfusi
organ. Hipoperfusi jaringan sudah mulai terjadi sejak kejadian, namun
manifestasinya berupa hipotensi timbul lebih lambat.
1,3,

Pada keadaan hipoperfusi atau syok, maka metabolisme anerob akan
dominan. Produksi laktat akan melebihi kecepatan metabolismenya di hati dan
ginjal sehingga kadar laktat di dalam darah akan meningkat.
5
Oleh karena itu,
kadar laktat serum dapat dipakai sebagai salah satu parameter perfusi jaringan,
dimana kadar laktat serum yang tinggi menandakan hipoperfusi organ yang lebih
berat. Namun, kadar laktat serum ini akan berubah sesuai perubahan fisiologi
tubuh yang terjadi pada setiap fase perjalanan penyakit. Base deficit merupakan
parameter metabolik yang sangat sensitif digunakan sebagai indicator terjadinya
kehilangan darah dengan melalui pengukuran perfusi jaringan, peningkatan base
deficit ini dapat terjadi paling awal sejak bila terjadi syok hemoragik.

Berdasarkan kerangka pemikiran tersebut dapat disusun premis-premis
sebagai berikut :
Premis 1: Pada trauma tumpul abdomen terjadi perdarahan pada rongga
intrabdomen
Premis 2: Perdarahan pada rongga intrabdomen akan menimbulkan hipoperfusi
jaringan

21

Premis 3: Hipoperfusi jaringan sudah mulai terjadi sejak tubuh mengalami
perdarahan akibat trauma tumpul abdomen, namun manifestasinya
berupa hipotensi timbul lebih lambat.

Premis 4 : Pada hipoperfusi organ terjadi peningkatan metabolisme anaerob yang
memproduksi laktat dimana kadar laktat serum yang tinggi
menandakan hipoperfusi organ yang lebih berat terjadi peningkatan
kadar base deficit, dan penurunan tekanan darah sistolik
Premis 5 : Pengukuran kadar laktat serum, base deficit, dan hipotensi sistolik
merupakan metode baru untuk memprediksi mortalitas yang
menjanjikan.

2.3 Hipotesis
Berdasarkan premis tersebut di atas, maka dibuat sebuah hipotesis:
Terdapat pengaruh yang kuat antara perubahan kadar laktat serum, base
deficit, dan hipotensi sistolik dengan tingkat mortalitas pada pasien trauma tumpul
abdomen.
Pengujian hipotesis secara parsial pada dasarnya menunjukkan apakah
kadar base deficit , hipotensi sistolik dan laktat berpengaruh terhadap angka
mortalitas pada pasien dengan perdarahan intra-abdomen akibat trauma tumpul
abdomen.
Adapun hipotesis yang digunakan yang akan diuji adalah:

22

Ho1: Kadar base defisit tidak mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap
angka mortalitas.
Ha1: Kadar base deficit mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap angka
mortalitas.
Ho2: Sistolik tidak mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap angka
mortalitas.
Ha2: Sistolik mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap angka mortalitas.
Ho3: Laktat tidak mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap angka
mortalitas.
Ha3: Laktat mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap angka mortalitas.
0, 05 o =
Kriteria uji:
Tolak Ho jika p value s 0, 05 o = dan terima dalam hal lainnya.
23

BAB III
SUBJEK DAN METODE PENELITIAN

3.1 Subjek Penelitian
3.1.1 Pemilihan Subjek
Subjek penelitian adalah pasien yang datang ke IGD Bedah RS Dr.Hasan
Sadikin pada bulan Januari2011 sampai dengan Desember 2011 dengan diagnosis
perdarahan intra-abdomen akibat trauma tumpul abdomen.

3.1.2 Kriteria Inklusi
Pasien yang memenuhi kriteria inklusi adalah semua pasien dengan
diagnosis trauma tumpul abdomen dengan hasil FAST (+) / CT Scan (+) atau
Laparotomi (+) menunjukkan adanya perdarahan intraabdomen.

3.1.3 Kriteria Eksklusi
1. Perdarahan eksterna
2. Hematotoraks
3. Konsumsi alkohol





24

3.1.4 Besar Sampel dan Cara Pengambilan Sampel
Sesuai tujuan penelitian untuk mengetahui pengaruh kadar laktat serum,
base deficit, dan hipotensi sistolik terhadap tingkat mortalitas, maka sampel
dikumpulkan selama 1 tahun mulai tanggal 1 Januari 2011 31 Desember 2011.
Cara pengambilan sampel dilakukan secara consecutive admission, yaitu
berdasarkan kedatangan pasien ke IGD RS Dr. HasanSadikin.

3.2 Metode Penelitian
Metode penelitian meliputi tipe, rancangan penelitian, definisi, dan
variabel operasional.

3.2.1 Tipe dan Rancangan Penelitian
Penelitian ini merupakan penelitian retrospektif untuk mengetahui
pengaruh perubahan kadar laktat serum, base deficit, hipotensi sistolik terhadap
tingkat mortalitas pada pasien dengan perdarahan intra-abdomen akibat trauma
tumpul abdomen.

3.2.2 Definisi Konsepsional dan Operasional Variabel
3.2.2.1 Definisi Konsepsional Variabel
Variabel bebas adalah kadar laktat serum, base deficit, hipotensi sistolik
Variabel terikat adalah mortalitas


25

3.2.2.2 Definisi Operasional Variabel
Kadar laktat serum adalah hasil pengambilan dari sampel darah arteri.
Teknis pengambilan laktat serum :
- Dilakukan tindakan aseptik.
- Buang udara dari 10 mL syringe sebelum aspirasi.
- Lakukan Aspirasi darah sedikitnya 5 mL.
- Darah dimasukkan ke dalam kontainer.
- Sediaan segera dibawa ke laboratorium.
Waktu pengambilan sampel darah ditentukan sewaktu pasien datang ke
IGD.

Kadar Base deficit
Hasil pengambilan darah arteri dengan menggunakan spuit 1 cc dicampur
dengan heparin kemudian di bawa ke Lab, dimana waktu pengambilan
darah ditentukan sewaktu pasien datang ke IGD.

Hipotensi Sistolik
Tekanan darah yang diukur menggunakan spigmomanometer dimana
waktu pencatatan dilakukan sewaktu pasien datang ke IGD. Definisi
hipotensi pada penelitian ini bila didapatkan tekanan darah sistolik < 110
mmHg


26

Data mortalitas adalah data mengenai hasil akhir yang dicapai dalam
waktu 2 minggu perawatan.

3.2.3 Analisis Data
Analisis Regresi Logistik Multipel
1. Model Persamaan Regresi Logistik Multipel
Untuk menganalisis pengaruh kadar laktat, base deficit, hipotensi sistolik
terhadap angka mortalitas pada pasien dengan perdarahan intra-abdomen akibat
trauma tumpul abdomen, digunakanlah model regresi logistik berganda.
Untuk memudahkan dalam perhitungan, maka kita menggunakan software
SPSS 13, yaitu melakukan analisis regresi logistik berganda dengan memasukkan
semua prediktor (variabel bebas) untuk dianalisis.
Adapun bentuk persamaan regresi logistiknya adalah sebagai berikut :
logit
( )
0 1 1 2 2 3 3
x b b X b X b X t = + + + (



2. Uji Keberartian Model Regresi Logistik Multipel
Untuk menguji keberartian model regresi logistik dinyatakan rumusan
hipotesis sebagai berikut:

27

0 : =
i
Ho | (Model tidak berarti; Kadar base defisit, hipotensi sistolik dan laktat
tidak berpengaruh terhadap angka mortalitas)
0 :
1
=
i
H | (Model berarti; Kadar base defisit, hipotensi sistolik dan laktat
berpengaruh terhadap angka mortalitas)
0, 05 o =

3.2.4 Tata Cara Penelitian
Semua pasien yang masuk ke IGD Bedah RSHS dengan diagnosis
perdarahan intra-abdomen akibat trauma tumpul abdomen yang memenuhi kriteria
inklusi dan eksklusi dilakukan survei primer dan sekunder, termasuk pengambilan
sampel darah untuk pemeriksaan kadar laktat serum, base deficit, dan hipotensi
sistolik.
Selama menjalani perawatan, pasien trauma tumpul abdomen
mendapatkan terapi cairan dan elektrolit, antibiotik dan analgetik injeksi, dan
terapi nutrisi dari sesuai dengan protap Bedah Digestif RSUP Dr. Hasan Sadikin
yang telah disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing pasien. Prosedur
pembedahan dilakukan sesuai indikasi yang telah ditetapkan oleh Subbagian
Bedah Digestif RSUP Dr. Hasan Sadikin. Pasien di follow up selama 2 minggu
perawatan untuk melihat outcome (mortalitas).



28

3.2.5 Lokasi dan Waktu Penelitian
3.2.5.1 Lokasi Penelitian
Penelitian dilakukan di Subbagian Bedah Digestif RSUP Dr. Hasan
Sadikin Bandung.

3.2.5.2 Waktu Penelitian
Pengumpulan data dilaksanakan mulai bulan Januari 2011 sampai dengan
Desember 2011. Analisis data dan pembuatan laporan dilaksanakan bulan
Februari 2012.


29

BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil Penelitian
Pada periode Januari 2011 sampai Desember 2011 didapatkan 110 kasus
perdarahan intrabdomen akibat trauma tumpul abdomen dengan usia rata-rata
pasien adalah 29,8 tahun yang berkisar pada rentang 12-71 tahun.

Tabel 1 Distribusi berdasarkan jenis kelamin pada pasien dengan perdarahan
intrabdomen akibat trauma tumpul abdomen periode Januari 2011 sampai
Desember 2011
Jenis Kelamin Jumlah kasus %
Laki laki
Perempuan
85
25
77,2
22,8
110 100
Dari data demografi didapatkan hasil perdarahan intrabdomen akibat
trauma tumpul abdomen terjadi pada 77,2 % laki laki dan 22,8 % pada wanita.
Hal ini sesuai dengan literatur bahwa perdarahan intra-abdomen akibat trauma
tumpul abdomen umumnya terjadi pada laki-laki. Penelitian yang dilakukan oleh
Mofidi dkk juga menunjukkan hasil yang tidak berbeda jauh (67%) pada laki-laki.

30

Tabel 2 Distribusi penyebab terjadinya pada pasien dengan perdarahan
intrabdomen akibat trauma tumpul abdomen periode Januari 2011 sampai
Desember 2011
Penyebab Jumlah Persentase
Kecelakaan lalu lintas
Jatuh
Hantaman Benda

90
2
18

81
2,7
16,3
110 100
Berdasarkan data didapatkan bahwa perdarahan intraabdomen disebabkan
oleh trauma tumpul pada abdomen disebabkan 90 %, karena jatuh dari ketinggian
sebesar 2,7 % dan akibat pukulan benda keras ataupun benturan dengan energi
yang cukup besar sekitar 16,3%.

Tabel 3 Distribusi cedera organ yang terjadi pada pasien perdarahan dengan
trauma tumpul abdomen periode Januari 2011 sampai Desember 2011
Cedera Jumlah Persentase
Gaster
Omentum
Usus halus
Usus besar
Rektum
Hepar
2
2
16
4
1
45
1,6
1,6
13,3
3,3
0,8
37,5

31

Lien
Pancreas
Ginjal
Buli
Traktus bilier
26
2
20
1
1
21,6
1,6
16,6
0,8
0,8
120 100
Cedera organ solid seperti hepar, lien , dan ginjal merupakan penyebab
utama terjadinya perdarahan intra-abdomen yang paling sering terjadi.
Berdasarkan penelitian ini organ yang paling sering mengalami cedera adalah
hepar (37,5%) , lien (21,6%), dan ginjal (16,6 %)..

Tabel 4 Distribusi terapi bedah pada pasien perdarahan intra-abdomen akibat
trauma tumpul abdomen periode Januari 2010 sampai Januari 2011.
Terapi Jumlah kasus Persentase
Non operative management
Operatif
46
64
42
58
110 100
Berdasarkan data didapatkan bahwa sebagian besar dilakukan tindakan
operatif (58%) pada pasien dengan perdarahan intra-abdomen, tindakan non
operatif manajemen dilakukan pada 42 % pasien.




32

Tabel 5 Distribusi mortalitas pada pasien perdarahan intra-abdomen akibat
trauma tumpul abdomen periode Januari 2011 sampai Desember 2011.
Hasil Jumlah kasus Persentase
Meninggal
Hidup
17
93
15,8
84,5
110 100
Berdasarkan data didapatkan angka mortalitas sebesar 15,8 %, penyebab
kematian sebagian besar dikarenakan prolong syok. Angka mortalitas hampir
sama dengan yang ditulis pada literatur yang menyebut angka 15-20 % kematian
disebabkan oleh trauma tumpul abdomen.

Tabel 6 Analisis pengaruh kadar laktat, base deficit, dan hipotensi sistolik
terhadap angka mortalitas pada pasien dengan perdarahan intra-abdomen akibat
trauma tumpul abdomen periode Januari 2011 sampai Desember 2011
berdasarkan hasil analisis regresi logistik berganda.


Variables in the Equation
.090 .025 13.247 1 .000 1.094
.002 .055 .001 1 .969 1.002
-.167 .139 1.440 1 .230 .846
-6.410 2.533 6.404 1 .011 .002
X1
X2
X3
Constant
Step
1
a
B S.E. Wald df Sig. Exp(B)
Variable(s) entered on step 1: X1, X2, X3. a.

33

Sehingga didapat persamaan regresi logistik berganda sebagai berikut:
logit
( )
x t (

= -6,410 + 0,090 X
1
+ 0,002 X
2
0,167 X
3

Statistik Uji:

Berdasarkan output di atas nilai 2 (L
0
L
1
) adalah sebesar 64,976 dengan
R
2
sebesar 44,0%, dengan menggunakan kriteria uji : tolak Ho jika 2 (L
0
L
1
)
2
( ) tabel _ > , terima dalam hal lainnya. Karena 2(L
0
L
1
) = 64,976 >
( )
2
2;0, 05 _ = 5,99 maka Ho ditolak. Hal ini berarti kadar base deficit, laktat, dan
hipotensi sistolik berpengaruh terhadap angka mortalitas pada pasien dengan
perdarahan intra-abdomen akibat trauma tumpul abdomen dengan pengaruh
sebesar 44 %.



Model Summary
64.976
a
.260 .440
Step
1
-2 Log
likelihood
Cox & Snell
R Square
Nagelkerke
R Square
Estimation terminated at iteration number 7 because
parameter estimates changed by less than .001.
a.

34

Tabel 7 Analisis parsial pengaruh kadar base deficit, laktat, dan hipotensi sistolik
terhadap angka mortalitas pada pasien dengan perdarahan intra-abdomen akibat
trauma tumpul abdomen periode Januari 2011 sampai Desember 2011
Statistik uji

Berdasarkan tabel di atas, dapat disimpulkan bahwa :
P value untuk variabel kadar base defisit adalah sebesar 0,000 lebih kecil
dari nilai 0, 05 o = . Hal ini menyebabkan penolakan Ho, yang berarti kadar
base deficit berpengaruh terhadap angka mortalitas pada pasien dengan
perdarahan intra-abdomen akibat trauma tumpul abdomen.
P value untuk variabel hipotensi sistolik adalah sebesar 0,969 lebih besar
dari nilai 0, 05 o = . Hal ini menyebabkan penerimaan Ho, yang berarti
hipotensi sistolik tidak berpengaruh terhadap angka mortalitas pada pasien
dengan perdarahan intra-abdomen akibat trauma tumpul abdomen.
P value untuk variabel laktat adalah sebesar 0,230 lebih besar dari nilai
0, 05 o = . Hal ini menyebabkan penerimaan Ho, yang berarti laktat tidak
Variables in the Equation
.090 .025 13.247 1 .000 1.094
.002 .055 .001 1 .969 1.002
-.167 .139 1.440 1 .230 .846
-6.410 2.533 6.404 1 .011 .002
X1
X2
X3
Constant
Step
1
a
B S.E. Wald df Sig. Exp(B)
Variable(s) entered on step 1: X1, X2, X3.
a.

35

berpengaruh terhadap angka mortalitas pada pasien dengan perdarahan intra-
abdomen akibat trauma tumpul abdomen.

4.2 Pembahasan
Dari data demografi didapatkan hasil perdarahan intrabdomen akibat
trauma tumpul abdomen terjadi pada 77,2 % laki laki dan 22,8 % pada wanita.
Hal ini sesuai dengan literatur bahwa perdarahan intra-abdomen akibat trauma
tumpul abdomen umumnya terjadi pada laki-laki. Penelitian yang dilakukan oleh
Mofidi dkk juga menunjukkan hasil yang tidak berbeda jauh (67%) pada laki-
laki. Hal ini didasarkan bahwa laki laki biasanya lebih aktif, lebih sering
menggunakan kendaraan bermotor, dan lebih sering mengalami cedera daripada
wanita meskipun pada negara-negara yang memiliki kebudayaan yang berbeda.
Berdasarkan data didapatkan bahwa perdarahan intraabdomen disebabkan
oleh trauma tumpul pada abdomen disebabkan 90 % karena kecelakaan lalu lintas,
karena jatuh dari ketinggian sebesar 2,7 % dan akibat pukulan benda keras
ataupun benturan dengan energi yang cukup besar sekitar 16,3%. Hal ini sesuai
dari literatur yang ada, penelitian yang di lakukan oleh Holmes di Kanada juga
menunjukkan 87 % trauma tumpul abdomen disebabkan oleh kecelakaan lalu
lintas (pada umumnya kecelakaan bermotor).
Berdasarkan data didapatkan cedera organ solid seperti hepar, lien , dan
ginjal merupakan penyebab utama terjadinya perdarahan intra-abdomen yang

36

paling sering terjadi. Berdasarkan penelitian ini organ yang paling sering
mengalami cedera adalah hepar (37,5%) , lien (21,6%), dan ginjal (16,6 %).
Penelitian yang ada menunjukkan bahwa cedera organ solid lebih sering terjadi
dibandingkan cedera organ berongga, pada penelitian yang dilakukan oleh Solimi
dkk menunjukkan sekitar 26 % trauma tumpul abdomen mengenai lien.
Berdasarkan data didapatkan bahwa sebagian besar dilakukan tindakan
operatif (58%) pada pasien dengan perdarahan intra-abdomen, tindakan non
operatif manajemen dilakukan pada 42 % pasien dengan didapatkan angka
mortalitas sebesar 15,8 %, penyebab kematian sebagian besar dikarenakan
prolong syok. Angka mortalitas hampir sama dengan yang ditulis pada literatur
yang menyebut angka 15-20 % kematian disebabkan oleh trauma tumpul
abdomen. Penelitian yang dilakukan oleh Udeani dkk di Australia mendapatkan
angka mortalitas yang lebih rendah, berkisar 10 %.
Berdasarkan analisa dengan regresi logistik didapatkan bahwa ada
pengaruh yang cukup signifikan hipotensi sistolik, kadar laktat, dan base deficit
dengan angka mortalitas sebesar 44 %, tetapi yang mempunyai hubungan
langsung setelah dilakukan analisa statstik parsial hanya kadar base deficit. Hal ini
semakin menguatkan penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Mofidi dkk
mengenai akurasi kadar base deficit terhadap diagnosis perdarahan intra-
abdomen. Mortalitas dari perdarahan intra-abdomen ini kebanyakan akibat
diagnosis yang terlambat, dimana pemeriksaan fisik (vital sign) dan laboratorium
lain memiliki sensitifitas yang rendah. Base deficit merupakan parameter

37

metabolik yang sangat sensitif terjadinya perdarahan dan beberapa penelitian
menunjukkan hubungan yang signifikan untuk dilakukan tranfusi awal dan
komplikasi syok akibat perdarahan. Laktat dan hipotensi sistolik secara parsial
bukan merupakan faktor predictor terhadap angka mortalitas pada pasien dengan
perdarahan intra-abdomen akibat trauma tumpul abdomen.







38

DAFTAR PUSTAKA
1. Mackenzie E, Fowler C; Epidemiology of trauma. Dalam : Feliaciano D,
Mattox K, Moore E, penyunting. Truma. Edisi ke -6. New York : Mcgraw
Hill & Companies; 2008.
2. De Jong E, Sjamsuhidajat. Buku Ajar Ilmu Bedah. Edisi Revisi, penerbit buku
kedokteran EGC. 1997; Jakarta
3. Billfl, Walter. Trauma.Dalam : Brunicardi C, penyunting Schwartz Principles
of Surgery. New York: McGraw Hill; 2008
4. Mofidi, Hasani. Determining the accuracy of base deficitin diagnosis of intra-
abdominal injuru in patients with blunt abdominal trauma. The American
Journal of Emergency Surgery 2010 hal 933-936
5. Mark E. Mikkelsen, Andrea N. Miltiades, David F. Gaieski, Munish Goyal,
Barry D. Fuchs, Chirag V. Shah, et al; Serum lactate is associated with
mortality in severe sepsis independent of organ failure and shock; critical
care medicine 2009; hal 1670-1677
6. Husain FA, Martin MJ, Mullenix PS, Steele SR, Elliott DC. Serum Lactate
and Base deficitas Predictors of Mortality and Morbidity. The American
Journal of Surgery 185, 2003, hal 485491
7. Cochran, Amalia MD, MA; Edelman, Linda S. MPhil, BSN; Saffle, Jeffrey
R. MD, FACS; Morris, Stephen E. MD, FACS. The Relationship of Serum

39

Lactate and Base deficit in Burn Patients to Mortality. Journal Burns Care
Resuscitation vol 8(2), 2007, hal 231-240
8. Jeng JC, Jablonski K, Bridgeman A, Jordan MH. Serum lactate, not base
deficit, rapidly predicts survival after major burns. Journals of Burns vol
28(2), 2002, hal.161-166
9. Abramson D, Scalea TM, Hitchcock R, et al. Lactate Clearance and Survival
Following Injury. J Trauma vol 35, 1993, 5848.
10. Vincent JL, Dufaye P, Berre J, et al. Serial Lactate Determinations During
Circulatory Shock. Crit Care Med 1983;11:44951.
11. Claridge JA, Crabtree TD, Pelletier SJ, et al. Persistent Occult hypoperfusion
is Associated with a Significant Increase in Infection Rate and Mortality in
Major Trauma Patients. J Trauma 2000;48:814.