Anda di halaman 1dari 59
Head Office : Jalan Pelesiran No. 21 Tamansari, Bandung : (022) 321432 : info@venus_amica.com Telp.

Head Office : Jalan Pelesiran No. 21 Tamansari, Bandung : (022) 321432

Telp.

Kelompok 45

Email

13408057 -

13408076

www. venus_amica.com

LAPORAN GROUP TECHNOLOGY

TAHAP II

PERANCANGAN TATA LETAK PABRIK PT KERETA KAYU MAINAN

Head Office : Jalan Pelesiran No. 21 Tamansari, Bandung : (022) 321432 : info@venus_amica.com Telp.

Head Office : Jalan Pelesiran No. 21 Tamansari, Bandung : (022) 321432

Telp.

Kelompok 45

Email

13408057 -

13408076

www. venus_amica.com

Head Office : Jalan Pelesiran No. 21 Tamansari, Bandung : (022) 321432 : info@venus_amica.com Telp.

Head Office : Jalan Pelesiran No. 21 Tamansari, Bandung : (022) 321432

Telp.

Kelompok 45

Email

13408057 -

13408076

www. venus_amica.com

LEMBAR ASISTENSI

Head Office : Jalan Pelesiran No. 21 Tamansari, Bandung : (022) 321432 : info@venus_amica.com Telp.

Head Office : Jalan Pelesiran No. 21 Tamansari, Bandung : (022) 321432

Telp.

Kelompok 45

Email

13408057 -

13408076

www. venus_amica.com

DAFTAR ISI

LEMBAR ASISTENSI

2

DAFTAR ISI

3

BAB I PENDAHULUAN

5

1.1 Latar Belakang

5

 

1.2 Tujuan

5

BAB II STUDI LITERATUR

6

2.1.

Dasar Teori

6

2.1.1. Precedence Diagram

6

2.1.2. Line Balancing

7

2.1.3. Perhitungan Tata letak Assembly

10

2.1.4. Ongkos Pemindahan Material

12

2.1.5. Matriks Ongkos

14

2.1.6. Matriks Berat

14

2.1.7. Matriks Aliran

14

2.1.8. Matriks Prioritas

15

2.2

Flow Chart Pengolahan Data

16

BAB III PENGOLAHAN DATA

17

3.1. Pembuatan Precedence Diagram

17

3.2. Pembuatan Line Balancing

18

3.3. Pembuatan Lay Out Assembly

19

3.4. Pembuatan tabel Ongkos Material Handling

20

3.5. Pembuatan Matriks Ongkos, Berat, dan Aliran

22

3.5.1. Matriks Ongkos

22

3.5.2. Matriks Berat

22

3.5.3. Matriks Inflow

22

3.5.4. Matriks Outflow

23

3.6. Pembuatan Matriks Prioritas

23

3.7. Pembuatan OMH Perbaikan

24

BAB IV ANALISIS

30

4.1.

Analisis Hubungan Precedence Diagram dengan Assembly Chart

30

Head Office : Jalan Pelesiran No. 21 Tamansari, Bandung : (022) 321432 : info@venus_amica.com Telp.

Head Office : Jalan Pelesiran No. 21 Tamansari, Bandung : (022) 321432

Telp.

Kelompok 45

Email

13408057 -

13408076

www. venus_amica.com

4.2. Analisis Line Balancing

31

4.3. Analisis Perancangan Sel Assembly

36

4.4. Analisis Hasil OMH

39

4.5. Analisis Pemilihan Skenario Peletakkan Sel Assembly

40

4.6. Analisis Perbandingan Tata Letak VIP Plan OPT dengan Matriks Prioritas

40

4.7. Analisis Keterkaitan Antarmodul

42

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

43

5.1. Kesimpulan

43

5.2. Saran

44

5.2.1 Saran untuk Perusahaan

44

5.2.2 Saran untuk Praktikum PTLP

45

DAFTAR PUSTAKA

46

LAMPIRAN

47

Lampiran 1 Precedence Diagram

48

Lampiran 2 Layout Sel Assembly Lampiran 2 Layout Sel Assembly

49

Head Office : Jalan Pelesiran No. 21 Tamansari, Bandung : (022) 321432 : info@venus_amica.com Telp.

Head Office : Jalan Pelesiran No. 21 Tamansari, Bandung : (022) 321432

Telp.

Kelompok 45

Email

13408057 -

13408076

www. venus_amica.com

1.1 Latar Belakang

BAB I

PENDAHULUAN

Pada tahap pertama Perancangan Tata Letak PT. Kereta Kayu Mainan (dengan menggunakan cara Group Technology), telah dihasilkan output – ouput sebagai berikut : perkiraan luas gudang bahan baku utama (GBBU), luas gudang bahan baku pembantu (GBBP), dan luas lantai produksi setiap sel. Pada tahapan pertama, hanya dilakukan perhitungan untuk memperkirakan luas lantai produksi prefabrikasi dan fabrikasi untuk produk TT1, TT2, dan TT3. Pada tahap kedua, VENUS AMICA CONSULTING akan melakukan penyusunan sel untuk assembly TT1. Penyusunan dan peletakkan mesin pada sel assembly TT1 dibuat berdasarkan hasil dari line balancing precedence diagram assembly TT1. Sel assembly yang disusun harus memenuhi empat kriteria performansi perancangan sistem kerja, antara lain : waktu menganggur, minimasi keseimbangan waktu senggang, efisiensi lintasan, serta smoothness index. Setelah selesai melakukan perancangan lantai produksi (untuk proses fabrikasi, prefabrikasi, dan assembly), selanjutnya dilakukan perhitungan Ongkos Material Handling (OMH). Perhitungan OMH didasarkan pada skenario yang terpilih. Dalam hal ini, VENUS AMICA CONSULTING memilih skenario pertama, di mana lantai produksi untuk prefabrikasi, fabrikasi, dan assembly berada dalam satu gedung yang sama. Setelah itu, dilakukan pembuatan matriks ongkos, berat, dan aliran. Langkah selanjutnya yang paling penting dalam tahap ini adalah layout group technology yang dibuat dengan memanfaatkan software VIP-PlanOPT.

1.2 Tujuan

1. Pembuatan Precedence Diagram untuk Sel Assembly.

2. Line Balancing Sel Assembly.

3. Perhitungan luas Sel Assembly.

4. Perhitungan OMH.

5. Pembuatan Matriks ongkos dan matriks aliran.

6. Pemilihan Alternatif Tata Letak Sel dan perhitungan OMH Perbaikan.

Head Office : Jalan Pelesiran No. 21 Tamansari, Bandung : (022) 321432 : info@venus_amica.com Telp.

Head Office : Jalan Pelesiran No. 21 Tamansari, Bandung : (022) 321432

Telp.

Kelompok 45

Email

13408057 -

13408076

www. venus_amica.com

2.1. Dasar Teori

BAB II

STUDI LITERATUR

2.1.1.Precedence Diagram

Precedence diagram merupakan gambaran secara grafis dari urutan operasi kerja, serta ketergantungan pada operasi kerja lainnya yang tujuannya untuk memudahkan pengontrolan dan perencanaan kegiatan yang terkait di dalamnya. (Baroto, 2002),

Adapun tanda yang dipakai dalam precedence diagram adalah:

1. Simbol lingkaran dengan huruf atau nomor di dalamnya untuk mempermudah identifikasi asli dari suatu proses operasi.

2. Tanda panah menunjukkan ketergantungan dan urutan proses operasi. Dalm hal ini, operasi yang ada di pangkal panah berarti mendahului operasi kerja yang ada pada ujung anak panah.

3. Angka di atas simbol lingkaran adalah waktu standar yang diperlukan untuk menyelesaikan setiap proses operasi.

Precedence Diagram dibuat dengan memperhatikan urutan proses yang terdapat pada routing sheet Assembly. Pada pembuatan precedence diagram, proses terbagi menjadi 4 tahap yaitu :

1. Tahap pre-painting (menggunakan spray booth dan oven)

2. Tahap painting (pengecatan)

3. Tahap post painting (setelah pengecatan)

4. Tahap packing

Precedence ditentukan berdasarkan AC dari masing-masing kelompok untuk produk EGBC pada tahapan kedua modul tradisional yang telah dilakukan sebelumnya. Contoh gambar Precedence Diagram :

modul tradisional yang telah dilakukan sebelumnya. Contoh gambar Precedence Diagram : Gayatri Wijayanti (13407065) 7
Head Office : Jalan Pelesiran No. 21 Tamansari, Bandung : (022) 321432 : info@venus_amica.com Telp.

Head Office : Jalan Pelesiran No. 21 Tamansari, Bandung : (022) 321432

Telp.

Kelompok 45

Email

13408057 -

13408076

www. venus_amica.com

Kelompok 45 Email 13408057 - 13408076 www. venus_amica.com 2.1.1.Line Balancing Dalam suatu industri, perencanaan

2.1.1.Line Balancing

Dalam suatu industri, perencanaan produksi sangat memegang peranan penting dalam membuat penjadwalan produksi terutama dalam pengaturan operasi atau penugasan kerja yang harus dilakukan. Jika pengaturan dan perencanaan yang dilakukan kurang tepat maka akan dapat mengakibatkan stasiun kerja dalam lintasan produksi mempunyai kecepatan produksi yang berbeda. Hal ini mengakibatkan lintasan produksi menjadi tidak efisien karena terjadi penumpukan material di antara stasiun kerja yang tidak berimbang kecepatan produksinya. Keuntungan keseimbangan lintasan adalah pembagian tugas secara merata sehingga kemacetan bisa dihindari. (Setiawan, 2000).

Perancangan lintas perakitan memperhatikan hal‐hal berikut ini :

1. Hubungan ketergantungan (precedence relationship).

2. 1 ≤ Jumlah Stasiun Kerja N.

3. Waktu Elemen (Ti) ≤ Waktu Stasiun (STi) ≤ Cycle time (CT).

Secara umum, terdapat 2 metode dasar yang dapat digunakan untuk menyeimbangkan lintas perakitan, yaitu :

1. Metode Analitik

Merupakan metode yang dapat menghasilkan solusi optimal. Contoh : Branch & Bound, Linear Programming.

2. Metode Heuristik

Head Office : Jalan Pelesiran No. 21 Tamansari, Bandung : (022) 321432 : info@venus_amica.com Telp.

Head Office : Jalan Pelesiran No. 21 Tamansari, Bandung : (022) 321432

Telp.

Kelompok 45

Email

13408057 -

13408076

www. venus_amica.com

Merupakan metode yang dapat menghasilkan solusi terbaik namun belum tentu optimal. Dalam tahapan kali ini, perencanaan line balancing akan dilakukan menggunakan salah satu dari 3 metode, yaitu metode Regional Approach, Largest Candidate Rule, dan Helgeson-Birnie. Hasil dari line balancing akan menunjukkan jumlah stasiun kerja yang dibutuhkan. Untuk mengukur performansi Suatu lintas perakitan, dapat dilihat dari beberapa kategori, seperti :

Minimum Waktu Menganggur

Waktu menganggur=n .Ws- i=1nWi

Minimum Keseimbangan Waktu Senggang

Keseimbangan waktu senggang= n .Ws- i=1nWin .Ws x 100 %

Maksimum Efisiensi

Efisiensi bisa diukur dalam 2 kategor, yaitu :

Efisiensi Stasiun kerja

Efisiensi Stasiun Kerja= WiWsx 100 %

Efisiensi Lintasan

i=1nWin.Wsx 100 %

Smoothness Index

SI= i=1n(Ws-Wi)2

Dimana untuk semua ukuran performansi ini berlaku :

Ws = Waktu stasiun kerja terbesar Wi = Waktu untuk tiap stasiun kerja n = Jumlah stasiun kerja i = 1,2,3,…,n

Berikut ini merupakan penjelasan dari masing-masing metode line balancing :

1. Metode Regional Approach

Metode ini merupakan metode heuristik yang menempatkan elemen pekerjaan pada stasiun kerja berdasarkan posisinya pada Precedence Diagram. Elemen yang terletak lebih awal pada diagram ditempatkan lebih dulu pada stasiun kerja pertama. Hal ini merupakan solusi dari permasalahan dalam metode Largest Candidate Rule, dimana elemen yang terletak di ujung precedence diagram dapat menjadi kandidat pada stasiun pertama akibat nilai waktu elemen yang besar. Contoh penggambaran metode ini pada Precedence Diagram :

Head Office : Jalan Pelesiran No. 21 Tamansari, Bandung : (022) 321432 : info@venus_amica.com Telp.

Head Office : Jalan Pelesiran No. 21 Tamansari, Bandung : (022) 321432

Telp.

Kelompok 45

Email

13408057 -

13408076

www. venus_amica.com

2. Largest Candidate Rule Metode Largest Candidate Rule merupakan metode heuristik yang sangat sederhana.
2.
Largest Candidate Rule
Metode Largest Candidate Rule merupakan metode heuristik yang sangat
sederhana. Pengelompokkan elemen kerja pada stasiun kerja hanya
dilakukan berdasarkan waktu elemen. Berikut ini adalah langkah-lanngkah
yang dilakukan untuk metode ini :
1.
2.
Lakukan pengurutan seluruh elemen pekerjaan berdasarkan pada
waktu elemen mulai dari waktu elemen terbesar.
Dalam melakukan penempatan elemen kerja pada stasiun kerja 1,
peletakkan dimulai dari elemen dengan waktu terbesar. Kemudian,
masukkan elemen kerja yang berada ada urutan di bawahnya.
Elemen kerja yang dimasukkan tidak boleh melanggar precedence
constraint dan jumlah waktu elemen-elemen tersebut tidak boleh
melebihi cycle time (CT).
CT = T/D
Di mana :
T : waktu produksi yang tersedia (menit/jam)
D: demand produk (unit/jam)
3. Lanjutkan proses pengelompokkan seperti pada langkah ke-2.
4. Ulangi langkah 2 dan 3 untuk stasiun kerja lainnya hingga seluruh
elemen akhirnya masuk ke kelompok tertentu.
1.
Helgeson-Birnie

Metode ini menitikberatkan pada pembatasan daerah berdasarkan precedence diagram. Setiap stasiun kerja dikelompokkan masing-masing sesuai dengan ada tidaknya predecessor dan kesamaan urutan. Setiap proses iterasi dilakukan berdasarkan precedence diagram, di mana hanya

Head Office : Jalan Pelesiran No. 21 Tamansari, Bandung : (022) 321432 : info@venus_amica.com Telp.

Head Office : Jalan Pelesiran No. 21 Tamansari, Bandung : (022) 321432

Telp.

Kelompok 45

Email

13408057 -

13408076

www. venus_amica.com

setiap workstation yang berdekatan dan visibel dari segi urutan dan CT yang akan digabungkan. Jadi, titik berat dari metode ini adalah kedekatan dan jangkauan daerah antarstasiun kerja.

Langkah-langkah untuk melakukan penyusunan lintas perakitan menggunakan metode ini adalah sebagai berikut :

1. Lakukan pengurutan elemen kerja berdasarkan waktu, mulai dari yang paling atas adalah elemen pekerjaaan yang paling lama sampai yang paling cepat

2. Berdasarkan data urutan elemen kerja yang telah dibuat tersebut, alokasikan elemen pekerjaan dimulai pada stasiun kerja yg pertama. Elemen pekerjaan yang diprioritaskan untuk dialokasikan terlebih dahulu adalah elemen kerja yang feasibel berdasarkan precedence constraints dan memiliki waktu paling lama (urutan paling atas).

3. Lakukan pengalokasian elemen-elemen pekerjaan dengan menggunakan prioritas tersebut untuk setiap stasiun sampai waktu total stasiun kurang dari atau sama dengan cycle time.

2.1.1.Perhitungan Tata letak Assembly

Selain menghitung luas untuk proses fabrikasi dan prefabrikasi, dihitung pula luas sel assembly yang dibutuhkan berdasarkan konsep keseimbangan lini perakitan. Tata letaknya secara umum adalah sebagai berikut :

Tata letaknya secara umum adalah sebagai berikut : Lini perakitan pada sel assembly dengan menggunakan

Lini perakitan pada sel assembly dengan menggunakan conveyor berjalan dibedakan menjadi 4 bagian, yaitu :

a. Lini perakitan pre-painting

Head Office : Jalan Pelesiran No. 21 Tamansari, Bandung : (022) 321432 : info@venus_amica.com Telp.

Head Office : Jalan Pelesiran No. 21 Tamansari, Bandung : (022) 321432

Telp.

Kelompok 45

Email

13408057 -

13408076

www. venus_amica.com

Lini perakitan ini terdiri dari empat jenis conveyor, yaitu conveyor subassembly engine (E1), Gondola (G1), Box Car (B1), dan Caboose (C1). Keempat jenis conveyor ini masing-masing terdiri dari bench I, rack, dan disc sand.

b. Proses pengecatan (painting)

Proses ini terdiri dari spray booth dan oven. Untuk proses ini, tidak digunakan conveyor.

c. Lini perakitan post painting

Lini ini terdiri dari lima jenis conveyor, yaitu conveyor subassembly Engine (E2), Gondola (G2), BoxCar (B2), dan Caboose (C2). Conveyor E2, G2, B2, dan C2 masing- masing terdiri dari Bench II.

d. Lini perakitan untuk proses packing

Conveyor E2, G2, B2, dan C2 akan bergabung di Conveyor yang akan digunakan untuk proses packing. Conveyor ini terdiri dari Bench III.

Perpindahan material dengan lift truck, manusia, dan walking pallet terjadi pada :

Conveyor sebelum proses painting ke spray booth

Spray booth ke oven, dan sebaliknya

Oven ke conveyor setelah proses painting

Berikut ini adalah aturan-aturan lain yang harus diperhatikan :

Sel Assembly terdiri dari lini perakitan (conveyor), spraybooth dan oven

Bentuk lintasan conveyor keseluruhan (dapat berbentuk lurus, S, U, Z, atau bentuk lainnya) dibebaskan kepada kelompok masing-masing, namun harap diperhatikan bahwa bentuk lintasan conveyor dalam pabrik akan mempengaruhi bentuk dan luas pabrik sehingga bentuk yang salah/tidak logis bisa membuat pemborosan lahan atau menghambat proses produksi

Stasiun kerja (Bench 1, Rack, DiscSand, Bench 2, dan Bench 3) berada di samping conveyor. Posisi tersebut harus selalu berada disisi yang sama pada tiap-tiap conveyor.

Setiap bench diasumsikan menempel pada conveyor, bagian yang menempel pada conveyor adalah bagian lebar meja (1m)

Ukuran bench = (2 x 1) m 2

Ukuran operator = (1x 1) m 2

Lebar conveyor = 0,5 m

Jarak minimum antar bench = 1,0 m

Spraybooth dan oven berada diantara lini perakitan E1,G1,B1,C1 dan lini perakitan E2,G2,B2,C2 dan tidak dilalui oleh conveyor

Terdapat pada area penerimaan (area WorkInProcess) terhadap output lini perakitan bench E1,G1,B1,C1, letak area penerimaan berada di ujung conveyor lini perakitan tersebut.

Head Office : Jalan Pelesiran No. 21 Tamansari, Bandung : (022) 321432 : info@venus_amica.com Telp.

Head Office : Jalan Pelesiran No. 21 Tamansari, Bandung : (022) 321432

Telp.

Kelompok 45

Email

13408057 -

13408076

www. venus_amica.com

Perhitungan luas Sel Assembly ini kemudian akan dikonversi ke dalam satuan kotak sel 3x3 m2 dalam Ms. Excel

Berikut ini adalah penggambaran tata letak sel assembly :

Berikut ini adalah penggambaran tata letak sel assembly : 2.1.1.Ongkos Pemindahan Material Salah satu komponen biaya

2.1.1.Ongkos Pemindahan Material

Salah satu komponen biaya produksi adalah ongkos material handling. Perhitungan ongkos material handling ini dilakukan untuk mengetahui jenis alat angkut yang akan dipergunakan dalam proses pemindahan material antar sel, serta biaya operasi dari alat angkut yang bersangkutan.

Berikut ini data-data yang harus diketahui dalam perhitungan ongkos material handling (OMH):

1. From (dari)

Data ini adalah tempat asal barang atau material berpindah.

2. To (Ke)

Data ini adalah dengan tempat tujuan perpindahan material.

3. Nomor Komponen

Data ini adalah kode-kode tentang barang atau material yang dipindahkan.

4. Demand / jam (Kebutuhan / jam)

Data ini adalah jumlah kebutuhan barang tiap jam. Perhitungan ini harus menggunakan data-data yang ada pada perhitungan di routing sheet sebelumnya dan pada perhitungan luas lantai.

Head Office : Jalan Pelesiran No. 21 Tamansari, Bandung : (022) 321432 : info@venus_amica.com Telp.

Head Office : Jalan Pelesiran No. 21 Tamansari, Bandung : (022) 321432

Telp.

Kelompok 45

Email

13408057 -

13408076

www. venus_amica.com

5. Panjang (p), Lebar (l), Tinggi (t)

Data ini adalah ukuran material yang akan dipindahkan. Dalam identifikasi dimensi material ini dapat ditemui bentuk-bentuk yang spesifik seperti bola, tabung, gallon, dsb sehingga terkadang tidak semua kolom harus diisi.

6. Volume Komponen

Volume yang dimaksud adalah volume barang atau material yang dipindahkan berdasarkan data-data p, l, t dari kolom sebelumnya. Satuannya adalah dalam m 3 .

7. Volume / jam

Kolom ini merupakan volume total dari komponen yang dibutuhkan tiap jamnya. Rumusnya adalah:

Volume / jam = demand / jam volumekomponen

8. BJ (Berat Jenis)

Berat jenis material adalah berat suatu material tiap satuan volume tertentu (kg/m 3 ). Data-data berat jenis material yang dipindahkan adalah sebagai berikut (dalam kg/m 3 ) :

Material

Berat Jenis (kg/m 3 )

Kayu

600

Kertas

450

Plastik

850

Besi

7250

Cat

3750

Lem

1250

Benang

100

Laquar

1000

Sand Paper

750

Disc sand

750

Laquar

500

Thinner

9. Berat Total (Kg)

Head Office : Jalan Pelesiran No. 21 Tamansari, Bandung : (022) 321432 : info@venus_amica.com Telp.

Head Office : Jalan Pelesiran No. 21 Tamansari, Bandung : (022) 321432

Telp.

Kelompok 45

Email

13408057 -

13408076

www. venus_amica.com

Data ini adalah berat total untuk setiap material yang akan dipindahkan. Rumus yang digunakan adalah:

BeratTotal(kg) = Volume/jam Berat Jenis

10.Jumlah Berat (Kg)

Data ini adalah jumlah dari berat total komponen-komponen yang mengalami perpindahan dari tempat asal dan tempat tujuan yang sama.

11.Jenis Transportasi

Data ini menunjukkan jenis transportasi yang dipakai pada tiap perpindahan material, yaitu:

Tabel 2. Jenis Transportasi yang Digunakan

Berat Material

Alat transportasi

(kg)

0 – 20

Tenaga manusia

21 – 60

Walking pallet

> 60

Lift truck

Catatan :

Pemindahan material dari receiving ke gudang bahan baku utama dilakukan

per minggu.

Pemindahan material dari receiving ke gudang bahan baku pembantu dilakukan per minggu.

Pemindahan material dari warehouse ke shipping dilakukan per minggu.

Pemindahan material pada bagian produksi dilakukan per 1 jam.

1. OMH (Rp/m)

OMH merupakan ongkos perpindahan material tiap meter perpindahan. Kolom ini diisi dengan ongkos penggunaan alat pemindahan material untuk setiap 1 meter perpindahan sesuai dengan jenis transportasinya.

2.1.1.Matriks Ongkos

Ringkasan dari tabel OMH yang memuat biaya perpindahan material dari tempat asal ke tempat tujuan membentuk matriks ongkos. Matriks ini dapat digunakan untuk mengetahui biaya tranportasi material setiap meternya dari satu departemen ke departemen lain.

Head Office : Jalan Pelesiran No. 21 Tamansari, Bandung : (022) 321432 : info@venus_amica.com Telp.

Head Office : Jalan Pelesiran No. 21 Tamansari, Bandung : (022) 321432

Telp.

Kelompok 45

Email

13408057 -

13408076

www. venus_amica.com

2.1.2.Matriks Berat

Matriks ini berisi berat tiap aliran material per satuan waktu yang mengalir dari suatu sel ke sel lain. Pengisian matriks berat dilakukan dengan melihat perhitungan yang telah dilakukan pada ongkos perpindahan material.

2.1.3.Matriks Aliran

Matriks aliran digunakan untuk memperhitungkan aliran material yang terjadi dalam 1 jam. Matriks aliran terdiri atas matriks inflow dan matriks outflow :

Matriks Inflow

Fungsi : untuk mengetahui jumlah aliran material yang masuk ke suatu sel.

Perhitungan : membagi nilai weight matrix pada suatu sel dengan total jumlah berat yang masuk ke sel tersebut. Nilai tertinggi koefisien inflow maksimal satu, karena masing-masing koefisien menunjukkan biaya masing-masing sel asal dibagi jumlah biaya dari seluruh sel asal sehingga tentu saja nilainya maksimum sama dengan 1, yang akan terjadi bila hanya terdapat satu sel asal.

Matriks Outflow

Fungsi : untuk mengetahui jumlah aliran yang keluar dari suatu sel.

Perhitungan : membagi berat material yang masuk dari suatu sel ke sel lain, dengan berat material yang keluar dari sel tersebut.

2.1.1.Matriks Prioritas

Matriks prioritas digunakan untuk pertimbangan dalam merancang tata letak awal lantai pabrik. Cara pembuatannya adalah dengan melihat nilai di outflow sesuai dengan aliran terkait. Penyusunan prioritas diurutkan mulai dari nilai outflow terbesar hingga terkecil. Semakin besar nilai outflow antar sel, maka prioritas hubungan keduanya semakin tinggi tingkatnya.

Head Office : Jalan Pelesiran No. 21 Tamansari, Bandung : (022) 321432 : info@venus_amica.com Telp.

Head Office : Jalan Pelesiran No. 21 Tamansari, Bandung : (022) 321432

Telp.

Kelompok 45

Email

13408057 -

13408076

www. venus_amica.com

2.2 Flow Chart Pengolahan Data

Mulai
Mulai

Pembuatan Precedenc

Diagram Assembly

Pengolahan Data Mulai Pembuatan Precedenc Diagram Assembly Pembuatan Line Balancing Stasiun Kerja Assembly Penentuan

Pembuatan Line Balancing Stasiun Kerja Assembly

Assembly Pembuatan Line Balancing Stasiun Kerja Assembly Penentuan Luas Sel Assembly Routing Sheet Perhitungan OMH

Penentuan Luas Sel Assembly

Routing Sheet
Routing
Sheet

Perhitungan OMH

Keseluruhan

Luas Sel Assembly Routing Sheet Perhitungan OMH Keseluruhan Perhitungan OMH Keseluruhan Penyusunan Matriks Ongkos,

Perhitungan OMH

Keseluruhan

Perhitungan OMH Keseluruhan Perhitungan OMH Keseluruhan Penyusunan Matriks Ongkos, Berat, Inflow, Outflow, Prioritas

Penyusunan Matriks Ongkos, Berat, Inflow, Outflow, Prioritas

Penyusunan Matriks Ongkos, Berat, Inflow, Outflow, Prioritas Pemilihan Alternatif Tata Letak dengan VIP- PlanOpt

Pemilihan Alternatif Tata Letak dengan VIP- PlanOpt

Pemilihan Alternatif Tata Letak dengan VIP- PlanOpt Perbaikan Tata Letak Hasil VIP-PlanOpt Perhitungan OMH

Perbaikan Tata Letak Hasil VIP-PlanOpt

dengan VIP- PlanOpt Perbaikan Tata Letak Hasil VIP-PlanOpt Perhitungan OMH Perbaikan Analisis Penyusunan Laporan Tahap

Perhitungan OMH

Perbaikan

Tata Letak Hasil VIP-PlanOpt Perhitungan OMH Perbaikan Analisis Penyusunan Laporan Tahap 2 GT Pembuatan Surat

Analisis

Letak Hasil VIP-PlanOpt Perhitungan OMH Perbaikan Analisis Penyusunan Laporan Tahap 2 GT Pembuatan Surat Pengantar

Penyusunan Laporan Tahap 2 GT

OMH Perbaikan Analisis Penyusunan Laporan Tahap 2 GT Pembuatan Surat Pengantar Laporan Tahap 2 GT Gayatri

Pembuatan Surat Pengantar Laporan Tahap 2 GT

Head Office : Jalan Pelesiran No. 21 Tamansari, Bandung : (022) 321432 : info@venus_amica.com Telp.

Head Office : Jalan Pelesiran No. 21 Tamansari, Bandung : (022) 321432

Telp.

Kelompok 45

Email

13408057 -

13408076

www. venus_amica.com

Gambar 1 Flowchart Pengolahan Data

Head Office : Jalan Pelesiran No. 21 Tamansari, Bandung : (022) 321432 : info@venus_amica.com Telp.

Head Office : Jalan Pelesiran No. 21 Tamansari, Bandung : (022) 321432

Telp.

Kelompok 45

Email

13408057 -

13408076

www. venus_amica.com

BAB III

PENGOLAHAN DATA

1.1. Pembuatan Precedence Diagram

Precedence diagram dibuat untuk mengetahui aliran dalam proses yang terjadi. Pada dasarnya precedence diagram dibuat mengacu pada routing sheet dan Assembly Chart.

Berikut ini langkah-langkah pembuatan Precedence Diagram :

a. Mengambil waktu operasi dari routing sheet assembly

b. Memecah operasi dari routing sheet assembly sesuai elemen dari assembly chart. Misalnya: untuk operasi “rakit end ke chasis” pada routing sheet assembly dapat dijabarkan menjadi 4 aktivitas, yaitu:

Merakit chasis dan side gondola menjadi S9A3

Merakit end gondola dengan S9A3 menjadi S8A4

Merakit side gondola dengan S8A4 menjadi S7A4

Merakit end gondola dengan S7A4 menjadi S6A3

a. Membagi waktu operasi sejumlah elemen pembagi, dengan rumus:

Waktu Elemen=Waktu total operasi Jumlah elemen dalam operasi

Contohnya untuk operasi “rakit end ke chasis” yang terdiri dari 4 elemen, waktu setiap elemen adalah:

0.167973124

Waktu Elemen= 0.6718924974=0.167973124

b. Memecah operasi menjadi elemen yang lebih kecil apabila waktu operasi melebihi takt time. Misalnya: Merakit stack ke boiler harus dipecah menjadi Merakit stack ke boiler menjadi S7A6 (1) dan Merakit stack ke boiler menjadi S7A6 (2).

c. Membagi waktu operasi sejumlah elemen pembagi, dengan rumus yang sama dengan diatas.

d. Memberi nomor urut untuk keseluruhan part.

e. Menyusun urutan elemen kerja yang telah didefinisikan dengan nomor sesuai urutannya. Elemen kerja yang dapat dikerjakan secara paralel, dikerjakan secara parallel.

Head Office : Jalan Pelesiran No. 21 Tamansari, Bandung : (022) 321432 : info@venus_amica.com Telp.

Head Office : Jalan Pelesiran No. 21 Tamansari, Bandung : (022) 321432

Telp.

Kelompok 45

Email

13408057 -

13408076

www. venus_amica.com

f. Melakukan beberapa penyesuaan dari AC, misalnya part tidak dipasangkan satu sama lain, melainkan dimasukkan secara bersamaan kedalam pack train.

1.1. Pembuatan Line Balancing

Langkah-langkah pengerjaan:

a.

Menghitung demand per hari Demand per hari= demand per jam*shift dalam sehari*jam tiap shift Demand per hari= 99*2*8=1584

b.

Menghitung waktu kerja per hari dalam menit Waktu kerja per hari= jumlah shift dalam sehari*jam tiap shift*60 menit Waktu kerja per hari= 2*8*60=960

c.

Menghitung takt time Takt time= Waktu kerja per hariDemand per

hari=9601584=0.606060606menit

d.

Menghitung jumlah stasiun kerja minimum

Stasiun kerja min=Roundup Total waktu elemenTakt time=21.587130.779=36 stasiun

e.

Membatasi precedence diagram berdasarkan ruang-ruang dengan metode regional approach Contoh :

Head Office : Jalan Pelesiran No. 21 Tamansari, Bandung : (022) 321432 : info@venus_amica.com Telp.

Head Office : Jalan Pelesiran No. 21 Tamansari, Bandung : (022) 321432

Telp.

Kelompok 45

Email

13408057 -

13408076

www. venus_amica.com

1 2 3 4 5 6 7 1A 1B 2A 2B 2C 2D 9 3
1
2
3
4
5
6
7
1A
1B
2A
2B
2C
2D
9
3
4
5
8
6
7
12
13
14
15
16
17 A
17
B
18
19
20 A
20 B
21
22
23
24
25
26
27
A

f. Menyusun elemen berdasarkan regionalnya g. Menempatkan elemen-elemen kedalam stasiun asalkan tidak melebihi waktu siklusnya

h. Menghitung kriteria performansi:

Waktu menganggur Waktu menganggur=n.Ws- i=1nWi= 51(0.59)- i=151Wi= 8.504 menit

Keseimbangan waktu senggang Keseimbangan waktu senggang= n.Ws- i=1nWi n.Ws= 8.504510.59

=0.283 menit

Efisiensi stasiun kerja Efisiensi stasiun 1= Wi Ws x 100%=0.51 0.59x 100%=88%

Efisiensi lintasan Efisiensi lintasan= i=1nWi n.Ws x 100%= i=141Wi 41(0.739) x

100%=72%

Smoothing Index

SI= i=1nWs-Wi2=1.427

Head Office : Jalan Pelesiran No. 21 Tamansari, Bandung : (022) 321432 : info@venus_amica.com Telp.

Head Office : Jalan Pelesiran No. 21 Tamansari, Bandung : (022) 321432

Telp.

Kelompok 45

Email

13408057 -

13408076

www. venus_amica.com

1.1. Pembuatan Lay Out Assembly

Sesuai dengan ketetntuan perusahaan, tata letak sel assembly dibuat nerdasarkan acuan gambar sel di bawah ini :

assembly dibuat nerdasarkan acuan gambar sel di bawah ini : Proses pada Sel Assembly dilakukan pada

Proses pada Sel Assembly dilakukan pada lini perakitan yang menggunakan conveyor berjalan. Lini perakitan tersebut dibedakan menjadi 4 bagian, yaitu:

1. Lini perakitan sebelum proses pengecatan (pre painting). Lini perakitan pre painting terdiri dari empat jenis conveyor, yaitu conveyor subassembly Engine (E1), Gondola (G1), Boxcar (B1), dan Caboose (C1). Keempat jenis conveyor tersebut masing-masing terdiri dari bench I, rack, dan disc sand.

2. Proses pengecatan (painting). Proses pengecatan terdiri dari spray booth dan oven. Area ini tidak menggunakan conveyor.

3. Lini perakitan setelah proses pengecatan (post painting). Lini perakitan post painting terdiri dari lima jenis conveyor, yaitu conveyor subassembly Engine (E2), Gondola (G2), Boxcar (B2), dan Caboose (C2). Conveyor E2, G2, B2, dan C2, masing-masing terdiri bench II.

4. Lini perakitan untuk proses packing. Conveyor E2, G2, B2, dan C2 akan menyatu dan bergabung di Conveyor P. Conveyor P terdiri dari bench III.

Ada beberapa ketentuan yang digunakan untuk merancang luas sel assembly yaitu :

Sel Assembly terdiri dari lini perakitan (conveyor), spraybooth dan oven

Bentuk lintasan conveyor keseluruhan (dapat berbentuk lurus, S, U, Z, atau bentuk lainnya) dibebaskan kepada kelompok masing-masing, namun harap diperhatikan bahwa bentuk lintasan conveyor dalam pabrik akan mempengaruhi bentuk dan luas pabrik sehingga bentuk yang salah/tidak logis bisa membuat pemborosan lahan atau menghambat proses produksi

Head Office : Jalan Pelesiran No. 21 Tamansari, Bandung : (022) 321432 : info@venus_amica.com Telp.

Head Office : Jalan Pelesiran No. 21 Tamansari, Bandung : (022) 321432

Telp.

Kelompok 45

Email

13408057 -

13408076

www. venus_amica.com

Stasiun kerja (Bench 1, Rack, DiscSand, Bench 2, dan Bench 3) berada di samping conveyor. Posisi tersebut harus selalu berada disisi yang sama pada tiap-tiap conveyor.

Setiap bench diasumsikan menempel pada conveyor, bagian yang menempel pada conveyor adalah bagian lebar meja (1m)

Ukuran bench = (2 x 1) m 2

Ukuran operator = (1x 1) m 2

Lebar conveyor = 0,5 m

Jarak minimum antar bench = 1,0 m

Spraybooth dan oven berada diantara lini perakitan E1,G1,B1,C1 dan lini perakitan

E2,G2,B2,C2 dan tidak dilalui oleh conveyor

Terdapat pada area penerimaan (area WorkInProcess) terhadap output lini perakitan bench E1,G1,B1,C1, letak area penerimaan berada di ujung conveyor lini perakitan tersebut.

Maka dibuatlah layout sel assembly (terlampir) yang disesuaikan dengan pemilihan line balancing dengan menggunakan metode Regional Approach.

1.1. Pembuatan tabel Ongkos Material Handling

Perhitungan Ongkos Material Handling adalah ongkos aliran material dengan urutan sebagai berikut.

1. Receiving ke GBB.

2. GBB ke sel.

Aliran material dari GBB ke sel terbagi menjadi:

a. GBB ke sel yang berisi rough lumber

b. GBB ke sel yang berasal dari finished rod

c. GBB ke sel-sel yang memiliki mesin disc sand untuk mengirimkan sand paper dan sand disc.

d. GBB ke assembly

1. Sel ke sel.

Proses pemindahan material dari sel ke sel terbagi menjadi:

a. Sel yang mengandung rough lumber kepada sel-sel yang berasal dari

rough lumber tersebut.

b. Sel-sel yang mengandung part dari Toy Train 2 dan Toy train 3 ke warehouse

c. Sel-sel yang mengandung part dari Toy Train 1 ke assembly

1. Sel assembly (khusus Toy train 1) ke warehouse

2. Warehouse ke shipping. Terbagi menjadi:

a. Warehouse untuk Toy Train 2 dan Toy Train 3.

b. Warehouse untuk Toy Train 1.

Head Office : Jalan Pelesiran No. 21 Tamansari, Bandung : (022) 321432 : info@venus_amica.com Telp.

Head Office : Jalan Pelesiran No. 21 Tamansari, Bandung : (022) 321432

Telp.

Kelompok 45

Email

13408057 -

13408076

www. venus_amica.com

Sedangkan untuk setiap kolom dalam tabelnya:

1.

From-to. Diisi dengan aliran material dari dan ke.

2.

No Komponen. Diisi dengan nomor komponen.

3.

Demand per lead time. Diisi dengan demand sesuai dengan lead time yang dikehendaki. Misalnya untuk part rough lumber ¼” dengan lead time mingguan, langsung diambil dari tabel GBBU yang memiliki horizon pengiriman yang sama sehingga demand sama, yaitu 832 RL per lead time.

4.

Ukuran (Panjang, lebar, dan tebal). Merupakan ukuran awal ketika material masuk.

5.

Volume komponen. Untuk part, nilainya diukur dari volume secara umum. Untuk bahan baku pembantu, diukur dari volume unit dibagi jumlah box yang diterima dibagi dengan jumlah unit dalam box. Contoh perhitungan untuk part rough lumber ¼”:

Volume komponen = 146 in x 1.25 in x 2 in x (0,0254) 3 m 3 /in 3

 

=

0,0059813 m 3

6.

Volume per lead time. Contoh perhitungan untuk part rough lumber ¼”:

Volume / leadtime = volume komponen x demand / leadtime

 

=

0,0059813 x 838,76

= 5,016853 m 3

7.

Berat jenis. Tabel telah ada pada dasar teori.

8.

Berat total.

Contoh perhitungan untuk part rough lumber ¼”:

Berat total

= volume / leadtime x berat jenis

 

= 5,016853 x 600

= 3010,112016 kg

 

Perhitungan berat dilakukan untuk setiap kepada sel lainnya, maka jumlah keseluruhan berat merupakan hasil penjumlahan dari berat total seluruh material yang mengalami perpindahan.

9.

Jumlah berat Jumlah berat merupakan akumulasi berat part dalam 1 sel. Contohnya part rough lumber ¼” termasuk dalam aliran dari receiving ke GBB sehingga beratnya adalah 38761,00036 kg. Berat ini membuat material harus diangkut dengan lift truck dan memiliki ongkos material handling RP 5.000,00 per meter.

1.1. Pembuatan Matriks Ongkos, Berat, dan Aliran

Head Office : Jalan Pelesiran No. 21 Tamansari, Bandung : (022) 321432 : info@venus_amica.com Telp.

Head Office : Jalan Pelesiran No. 21 Tamansari, Bandung : (022) 321432

Telp.

Kelompok 45

Email

13408057 -

13408076

www. venus_amica.com

1.1.1. Matriks Ongkos

Pengisian Matriks Ongkos dilakukan berdasarkan data hasil perhitungan ongkos pemindahan material. Matriks ini merupakan hasil rekapitulasi dari perhitungan ongkos perpindahan material dari satu departemen ke departemen lainnya.

Contoh perhitungan:

Seperti yang dapat dilihat pada sheet OMH, ongkos pemindahan material dari receiving ke Gudang Bahan Baku Utama adalah sebesar Rp 5.000,00/m. Berdasarkan data tersebut, pada sheet “matriks ongkos”, nilai 5000 diisikan pada sel yang berada pada baris receiving dan kolom Gudang Bahan Baku Utama.

1.1.2. Matriks Berat

Pengisian Matriks Berat dilakukan berdasarkan hasil perhitungan aliran material pada sheet OMH, namun lead time yang digunakan adalah sebesar 1 jam.

Contoh perhitungan:

Contoh perhitungan dilakukan untuk receiving ke Gudang Bahan Baku Utama.

Nilai matriks berat = berat total receiving ke Gudang Bahan Baku Utama / leadtime (jam) Kemudian angka yang diperoleh (nilai matriks berat) diisikan pada sel yang berada pada baris receiving dan kolom Gudang Bahan Baku Utama, yaitu sebesar 484,5125 kg.

1.1.1. Matriks Inflow

Matriks Inflow menunjukkan jumlah aliran material yang masuk ke suatu departemen tertentu. Nilai pada matriks ini dihitung dengan rumus berikut :

Inflow dari Stasiun A ke B = Jumlah berat material yang berpindah dari stasiun A ke BTotal jumlah berat material yang masuk ke stasiun B

Contoh perhitungan:

Berikut ini contoh perhitungan untuk material yang mengalir dari sel 2 ke sel 3.

Jumlah material yang berpindah

= 23,6201 kg

Total Jumlah Berat yang masuk

= 23,6210 kg

Maka, inflow dari sel 2 ke sel 3 adalah:

Nilai inflow=23,620123,6210=0.99996=1

Head Office : Jalan Pelesiran No. 21 Tamansari, Bandung : (022) 321432 : info@venus_amica.com Telp.

Head Office : Jalan Pelesiran No. 21 Tamansari, Bandung : (022) 321432

Telp.

Kelompok 45

Email

13408057 -

13408076

www. venus_amica.com

1.1.2. Matriks Outflow

Matriks Outflow menunjukan jumlah aliran material yang menuju ke suatu departemen. Nilai pada matriks ini dihitung dengan rumus berikut:

Outflow dari Stasiun A ke B = Jumlah berat material yang berpindah dari stasiun A ke BTotal jumlah berat material yang keluar dari stasiun B

Contoh perhitungan:

Berikut ini contoh perhitungan untuk material yang mengalir dari receiving ke gudang:

Jumlah material yang berpindah

= 484,5125 kg

Total Jumlah Berat yang keluar

= 359,51 kg

Nilai outflow=484,5125 359,51 =1,35

1.2. Pembuatan Matriks Prioritas

Pembuatan matriks prioritas ini didasarkan dari matriks outflow yang telah dibuat sebelumnya dengan cara diurutkan outflownya dari terbesar sebagai prioritas pertama ke yang terkecil untuk prioritas-prioritas selanjutnya. Semakin besar nilai outflownya, semakin tinggi tingkat prioritasnya. Misalnya dari hasil perhitungan matriks outflow dari sel 1 maka nilai matriks prioritasnya adalah sebagai berikut :

Sel 1 Sel 8 = 1.02053

Sel 1 Sel 7= 1.01593

Sel 1 Sel 9 = 1.013512

Dst.

Berikut ini adalah beberapa bagian tabel tersebut :

TABEL PRIORITAS (berdasarkan outflow)

 
   

Stasiun yangBerhubungan

 

No

Nama Stasiun

 

Prioritas1

 

Prioritas2

 

Prioritas3

           

Nama

   
   

Nama Stasiun

Outflow

No

Nama Stasiun

Outflow

No

Stasiun

Outflow

No

   

GudangBahan

               

1

Receiving

Baku

1.347686

2

2

GBB

Sel 18

1.504511

20

Sel 2

1.4833662

4

Sel 1

1.34614

3

3

Sel1

Sel 8

1.0205271

10

Sel 7

1.015925

9

Sel 9

1.013512

11

4

Sel2

Sel 11

1.012663

13

Sel 19

1.0117698

21

Sel 3

1.011072

5

Sel2 Sel 11 1.012663 13 Sel 19 1.0117698 21 Sel 3 1.011072 5 Gayatri Wijayanti (13407065)
Head Office : Jalan Pelesiran No. 21 Tamansari, Bandung : (022) 321432 : info@venus_amica.com Telp.

Head Office : Jalan Pelesiran No. 21 Tamansari, Bandung : (022) 321432

Telp.

Kelompok 45

Email

13408057 -

13408076

www. venus_amica.com

1.3. Pembuatan OMH Perbaikan

Pembuatan OMH Perbaikan dilakukan dengan menyusun 3 buah tabel yaitu matriks aliran, matriks ongkos, dan matriks jarak antar sel. Ongkos Material Handling dihitung dari tota perkalian antara flow material, ongkos, dan jarak antar sel. Berikut adalah tampilan tabel masing-masing

 

FLOW MATRIKS

 
TO Receiving GBB Sel1 Sel2 Sel3 Sel4 Sel5 Sel6 Sel7 Sel8 Sel9 Sel10

TO

Receiving

GBB

Sel1

Sel2

Sel3

Sel4

Sel5

Sel6

Sel7

Sel8

Sel9

Sel10

FROM

1

2

3

4

5

6

7

8

9

10

11

12

Receiving

1

 

39

                   

GBB

2

   

80

80

80

80

80

80

80

80

80

80

Sel 1

3

           

80

80

80

80

80

80

Sel 2

4

       

80

 

80

         

Sel 3

5

                       

Sel 4

6

                       

Sel 5

7

                       

Sel 6

8

                       

Sel 7

9

                       

Sel 8

10

                       

Sel 9

11

                       

Sel 10

12

                       

Sel 11

13

                       

Sel 12

14

                       

Sel 13

15

                       

Sel 14

16

                       

Sel 15

17

                       

Sel 16

18

                       

Sel 17

19

                       

Sel 18

20

                       

Sel 19

21

                       

Sel 20

22

                       

Assembly

23

                       

Warehouse

24

                       

Shipping

25

                       

(bersambung)

Head Office : Jalan Pelesiran No. 21 Tamansari, Bandung : (022) 321432 : info@venus_amica.com Telp.

Head Office : Jalan Pelesiran No. 21 Tamansari, Bandung : (022) 321432

Telp.

Kelompok 45

Email

13408057 -

13408076

www. venus_amica.com

 

MatriksOngkos

 
TO Receiving Gudang Sel1 Sel2 Sel3 Sel4 Sel5 Sel6 Sel7 Sel8 Sel9 Sel 10

TO

Receiving

Gudang

Sel1

Sel2

Sel3

Sel4

Sel5

Sel6

Sel7

Sel8

Sel9

Sel 10

FROM

1

2

3

4

5

6

7

8

9

10

11

12

Receiving

1

 

5000,00

                   

GBB

2

   

5000,00

5000,00

150,00

150,00

150,00

150,00

150,00

150,00

150,00

150,00

Sel1

3

           

150,00

150,00

150,00

150,00

150,00

150,00

Sel2

4

       

2000,00

 

150,00

         

Sel3

5

                       

Sel4

6

                       

Sel5

7

                       

Sel6

8

                       

Sel7

9

                       

Sel8

10

                       

Sel9

11

                       

Sel10

12

                       

Sel11

13

                       

Sel12

14

                       

Sel13

15

                       

Sel14

16

                       

Sel15

17

                       

Sel16

18

                       

Sel17

19

                       

Sel18

20

                       

Sel19

21

                       

Sel20

22

                       

Sel Assembly

23

                       

Warehouse

24

                       

Shipping

25

                       

Total

0,00

5000,00

5000,00

5000,00

2150,00

150,00

450,00

300,00

300,00

300,00

300,00

300,00

(bersambung)

Perhitungan Jarak Antar Sel dilakukan dengan menarik garis pada AAD. Contohnya adalah sebagai berikut.

Head Office : Jalan Pelesiran No. 21 Tamansari, Bandung : (022) 321432 : info@venus_amica.com Telp.

Head Office : Jalan Pelesiran No. 21 Tamansari, Bandung : (022) 321432

Telp.

Kelompok 45

Email

13408057 -

13408076

www. venus_amica.com

37,7 m

Assembly

Receiving

Shipping

WAREHOUS

23,875 m

Misal, perhitungan untuk jarak rectiliner antara Warehouse dan Shipping dari gambar di atas adalah 28,875 + 37,7 = 66,575 m.

Adapun rangkuman Distacne Matriks nya adalah sebagai berikut.

Head Office : Jalan Pelesiran No. 21 Tamansari, Bandung : (022) 321432 : info@venus_amica.com Telp.

Head Office : Jalan Pelesiran No. 21 Tamansari, Bandung : (022) 321432

Telp.

Kelompok 45

Email

13408057 -

13408076

www. venus_amica.com

Telp.

Head Office : Jalan Pelesiran No. 21 Tamansari, Bandung : (022) 321432

Kelompok 45

Email

13408057 - 13408076

www. venus_amica.com

 

TO

Receiving

GBB

Sel 1

Sel 2

Sel 3

Sel 4

Sel 5

Sel 6

Sel 7

Sel 8

Sel 9

Sel 10

Sel 11

Sel 12

Sel 13

FROM

 

1

2

3

4

5

6

7

8

9

10

11

12

13

14

15

Receiving

1

 

73,75

                         

GBB

2

   

38,5

11,625

37,75

155,625

102,055

113,625

57,15

86,875

52,375

74,875

100,625

92,125

109,125

Sel 1

3

           

114,25

82,5

24,5

54,75

40,25

43

 

60,25

 

Sel 2

4

       

38,375

 

42

         

34

45,5

95,25

Sel 3

5

                             

Sel 4

6

                             

Sel 5

7

                             

Sel 6

8

                             

Sel 7

9

                             

Sel 8

10

                             

Sel 9

11

                             

Sel 10

12

                             

Sel 11

13

                             

Sel 12

14

                             

Sel 13

15

                             

Sel 14

16

                             

Sel 15

17

                             

Sel 16

18

                             

Sel 17

19

                             

Sel 18

20

                             

Sel 19

21

                             

Sel 20

22

                             

Assembly

23

                             

Warehouse

24

                             

(bersambung)

Telp.

Head Office : Jalan Pelesiran No. 21 Tamansari, Bandung : (022) 321432

Kelompok 45

Email

13408057 - 13408076

www. venus_amica.com

Selanjutnya perhitungan OMH Perbaikan

adalah dengan mengalikan ketiga matriks di atas, yaitu sebagai berikut

 

TO

Sel

Sel 11

Sel 12

Sel 13

Sel 14

Sel 15

Sel 16

Sel 17

Sel 18

Sel

Sel

Assembl

Warehous

Shippin

Sub Total

 

10

19

20

y

e

g

FROM

12

13

14

15

16

17

18

19

20

21

22

23

24

25

Receivin

1

0

0

0

0

0

0

0

0

0

0

0

0

0

0

Rp14.381.250,

g

00

GBB

2

8985

1207500

110550

130950

146250

138150

149550

158250

16515

0

0

1785000

0

0

Rp57.259.960,

 

00

0

0

0

0

0

0

00

0

00

Sel 1

3

5160

0

723000

0

0

0

0

0

0

0

0

0

0

0

Rp5.034.000,0

 

00

0

Sel 2

4

0

408000

546000

114300

669000

0

0

0

0

9330

8790

0

0

0

Rp11.222.000,

 

0

00

00

00

Sel 3

5

0

0

0

0

0

0

0

0

0

0

0

1081600

0

0

Rp10.816.000,

 

0

00

Sel 4

6

0

0

0

0

0

0

0

0

0

0

0

1386000

984000

0

Rp2.370.000,0

 

0

Sel 5

7

0

0

0

0

0

0

0

0

0

0

0