Anda di halaman 1dari 4

PEMBAHASAN Pada praktikum farmakologi kali ini praktikan melakukan uji pada obat-obat sistem syaraf otonom.

Syaraf otonom merupakan syaraf-syaraf yang bekerja tanpa disadari atau bekerja secara otomatis. Percobaan kali ini bertujuan agar praktikan dapat menghayati secara lebih baik pengaruh berbagai obat sistem syaraf otonom dalam pengendalian fungsi-fungsi vegetatif tubuh dan agar praktikan dapat mengenal suatu teknik untuk mengevaluasi aktivitas obat antikolinergik pada neoroefektor parasimpatikus. Percobaan kali ini diawali dengan mempersiapkan semua alat untuk percobaan dan bahan yaitu obat-obat yang akan digunakan pada percobaan. Kemudian dilakukan pemilihan hewan percobaan yaitu mencit lalu diamati kesehatannya dan ditimbang lalu diberi tanda pengenal untuk membedakan. Penimbangan hewan percobaan dimaksudkan untuk perhitungan dosis yang tepat pada percobaan, karena salah satu faktor penting yang dapat memberikan dosis yang berbeda tiap individu adalah berat badan. Diperoleh berat badan mencit1 17,2 gram, mencit2 26,1 gram, mencit3 23,3gram, kemudian dilakukan perhitungan dengan rumus: DOSIS = berat mencit x 0.5 20 untuk pemberian secara oral dan intraperitonial, dan DOSIS = berat mencit x 0.25 20 Untuk pemberian secara subkutan Diperoleh dosis tiap mencit untuk dosis pemberian secara oral dan intraperitonial, mencit1 0,43ml, mencit2 0, 6525ml, mencit3 0,5825ml. Dan dosis untuk pemberian secara subkutan mencit1 0,215ml, mencit2 0, 32625ml, mencit3 0,29125ml. Tanda pengenal pun sangat penting agar hewan percobaan tidak tertukan saat pengamatan.

Kemudian mencit dibagi menjadi 3 kelompok, masing-masing kelompok diberi uretan secara intraperitonial menggunakan jarum suntik. Uretan diberikan dengan tujuan untuk membuat mencit tidur atau paling tidak menurunkan aktivitasnya sehingga tidak menyulitkan praktikan dalam melakukan tindakan selanjutnya. Selain itu pembiusan mencit dilakukan karena dalam keadaan tidur biasanya terjadi salivasi dimana salivasi ini dimanfaatkan dalam pengujian obatobat sistem saraf otonom. Sistem syaraf otonom terbagi menjadi 2 bagian, yaitu sistem syaraf simpatik yang dapat menghambat aliran ludah dan sistem syaraf parasimpatik yang dapat menstimulasi aliran ludah. Setelah pemberian uretan, mencit kelompok 1 diberi atropin secara peroral menggunakan sonde. Setelah 15 menit dari pemberian uretan, mencit kelompok 2 diberi atropin secara subkutan menggunakan jarum suntik. Mencit kelompok 3 digunakan sebagai kelompok kontrol dimana tidak diberikan atropin. Atropin merupakan obat antikolinergik yang akan diuji pengaruhnya pada sistem saraf otonom. Atropin, seperti agen antimuskarinik lainnya, secara kompetitif dapat menghambat asetilkolin atau stimulan kolinergik lain pada neuroefektor parasimpatik postganglionik, kelenjar sekresi dan sistem syaraf pusat, meningkatkan output jantung, mengeringkan sekresi, juga mengantagonis histamin dan serotonin. Pada dosis rendah atropin dapat menghambat salivasi. Setelah 45 menit dari pemberian uretan, semua kelompok mencit diberikan pilocarpin menggunakan jarum suntik secara subkutan agar efek yang ditimbulkan cepat. Policarpin adalah obat kolinergik yang merangsang saraf parasimpatik yang dimana efeknya akan menyebabkan percepatan denyut jantung dan mengaktifkan kelenjar-kelenjar pada tubuh salah satunya kelenjar air liur. Hal tersebut dapat memicu terjadinya hipersalivasi sehingga air liur yang dikeluarkan mencit lebih banyak. Setelah semua bahan (obat) sudah diberikan pada mencit, masing-masing mencit diletakan pada kertas saring yang sudah diberi metilen blue di bawahnya sehingga air liur yang dikeluarkan mencit merubah kertas saring menjadi berwarna biru. Masing-masing mencit ditempatkan pada satu kotak dan setiap 5 menit mencit tersebut dipindahkan pada kotak diatasnya. Kemudian diameter salivasi yang terjadi diukur lalu dicatat datanya untuk dilakukan pengolahan.

Setelah diamati mencit kelompok 3 rata-rata membuat diameter salivasi paling besar yang berarti air liur yang dikeluarkan lebih banyak, dan warna biru yang dihasilkan pada kertas saring paling pekat diantara kelompok yang lain.Hal ini terjadi karena mencit kelompok 3 yang merupakan kontrol negatif tidak diberi atropin sehingga tidak ada penghambat salivasi karena tidak ada obat antikolinergik yang diberikan pada mencit kelompok ini. Dari hasil pengamatan diameter salivasi di atas papan bertabur bubuk biru metilen, kelompok mencit III, yaitu mencit yang tidak diberi perlakuan atropin atau kelompok mencit kontrol menunjukkan diameter salivasi paling besar, yaitu rata-rata diameternya sebesar 21,2 mm. Hal ini berarti kelompok mencit kontrol mengeluarkan paling banyak air liur yang disebabkan karena tidak ada yang menghambat aktivitas pilokarpin yang merupakan obat parasimpatomimetik yang diberikan pada mencit, sehingga mencit mengalami hipersalivasi. Pada kelompok mencit II, yaitu kelompok mencit yang diberi perlakuan atropin 0,04% secara subkutan pada t=15, dapat terlihat rata-rata diameter salivasi yang amat kecil, yaitu 2 mm. Selama 25 menit pengamatan pun mencit hanya mengeluarkan saliva satu kali, yaitu pada menit ke 25. Hal ini disebabkan karena atropin, yang merupakan obat antikolinergik, yang disuntikkan secara subkutan ini memiliki aktivitas yang antagonis terhadap pilokarpin yang dapat merangsang sekresi air liur, yaitu menginhibisi sekresi air liur. Pada dosis kecil (0,25mg), atropine, selain mampu menekan sekresi air liur, dapat juga menekan sekresi mucus bronkus dan keringat, sedangkan pada dosis lebih besar (0.5-1mg), dapat terjadi dilatasi pupil, gangguan akomodasi, dan penghambatan n. vagus sehingga terjadi takikardia. Sementara itu, pada kelompok mencit I, yaitu kelompok mencit yang diberi perlakuan atropin 0,04% per oral dengan cra disonde pada t=0, dapat diamati diameter salivasinya sebesar 18,4 mm, lebih besar dibandingkan diameter salivasi kelompok mencit II yang juga diberi atropin, tetapi melalui subkutan, dan lebih kecil daripada rata-rata diameter salivasi kelompok mencit III yang merupakan kelompok kontrol yang tidak diberi atropin. Perbedaan efek pada kelompok mencit II dan kelompok mencit I ini menunjukkan bahwa atropin yang diberikan secara subkutan pada mencit menghasilkan efek yang lebih kuat dan membutuhkan waktu lebih singkat untuk menghasilkan efek daripada atropin yang diberikan secara oral. Perbedaan kecepatan dan kekuatan efek atropin ini kemungkinan disebabkan karena

perbedaan rute pemberian. Pemberian secara oral menyebabkan atropin harus terlebih dahulu melalui sistem pencernaan sebelum terdistribusi dan menghasilkan efek, sehingga atropin mengalami degradasi dan dosisnya berkurang, sementara pemberian secara subkutan tidak mengharuskan atropin melalui sistem pencernaan, sehingga dosis obat tetap karena tidak mengalami degradasi dan efek yang dihasilkan lebih kuat. Melalui data diameter salivasi yang diperoleh, dapat dihitung % inhibisi atropin terhadap sekresi air liur dengan rumus berikut : % inhibisi = Dari perhitungan dengan persamaan di atas, terbukti bahwa atropin yang diberikan secara subkutan memiliki % inhibisi saliva yang lebih besar, yaitu 90,57%, dibandingkan atropin yang diberikan per oral, yaitu 13,20%. Hal ini berarti pemberian atropin secara subkutan lebih efektif dibandingkan pemberian atropin secara oral.