Anda di halaman 1dari 11

Gambaran Faktor-Faktor Penyebab Terjadinya Robekan Perineum Pada Persalinan Normal di BPS Sasaran yang ditetapkan untuk tahun

2010 adalah menurunkan AKI menjadi 125/100.000 kelahiran hidup. Salah satu upaya penurunan AKI untuk sektor kesehatan adalah dengan meningkatkan cakupan pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan paling sedikit 90% pada tahun 2010. Dari seluruh persalinan penyebab kematian ibu adalah perdarahan yang disebabkan antara lain : atonia uteri 50 - 60%, retensio plasenta 16-17%, sisa plasenta 23-24%, laserasi jalan lahir 4-5%, kelainan darah 0,5-0,8%. Perdarahan pasca persalinan sering disebabkan oleh robekan perineum, selain atonia uteri, robekan perineum biasanya ringan, tetapi kadang- kadang terjadi juga luka yang luas dan berbahaya. Tujuan Penelitian ini adalah untuk mendapat gambaran faktor-faktor penyebab terjadinya robekan perineum pada persalinan normal di BPS Dwi Yuliani Seputih Banyak Kabupaten Lampung Tengah, dengan subjek penelitian adalah ibu bersalin dan objek penelitian faktorfaktor penyebab robekan perineum. Jenis penelitian ini adalah penelitian deskriptif dengan populasi adalah seluruh ibu bersalin normal di BPS Dwi Yuliani sejumlah 34 persalinan dan pengambilan sampel dengan tehnik metode total sampling sehingga sampel yang diambil sebanyak sejumlah 34 ibu bersalin pada bulan Maret Mei 2010. Untuk mengumpulkan data penulis menggunakan metode angket dan alat ukur berupa lembar checklist. Dari hasil penelitian yang telah dilakukan didapat hasil bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi robekan perineum di BPS Dwi Yuliani untuk faktor elastisitas perineum adalah dengan perineum kaku (58,82%), untuk faktor berat badan bayi lahir adalah dengan berat badan bayi lahir 3000-4000 gr (79,41%), untuk faktor posisi persalinan adalah dengan posisi berbaring/litotomi (100%), dan untuk faktor paritas adalah dengan paritas primipara (61,76%). Kesimpulan yang diperoleh dari hasil penelitian ini adalah gambaran Faktor-Faktor Penyebab Terjadinya Robekan Perineum Pada Persalinan Normal di BPS Dwi Yuliani Seputih Banyak Kabupaten Lampung Tengah adalah dengan perineum kaku, dengan berat badan lahir 3000-4000 gr, dengan posisi bersalin litotomi, dan dengan paritas primipara.

BAB IITINJAUAN PUSTAKA2.1 Persalinan2.1.1 Persalinan Normal Persalinan kajadian fisiologi yang normal dalam kehidupan. Kelahiran seorang bayi juga merupakan kejadian sosial bagi ibu dan keluarga. Peran ibu adalah melahirkan ,sedangkan peran keluarga adalah memberikan dukungan kepada ibu pada saatpersalinan. (Sumarah, Yani, & Nining, 2009) 2.1.2 Istilah yang berkaitan dengan persalinan Menurut (Sumarah, Yani, & Nining, 2009)

ada beberapa istilah yang berkaitandengan persalinan yaitu:1.

Persalinan adalah proses membuka dan menipisnya serviks dan janin turunkejalan lahir.2.

Kelahiran adalah proses pengeluaran janin dan ketuban yang keluar melalui jalan lahir.3.

Paritas adalah jumlah janin yang telah dilahirkan dengan berat 500 gram, baik dilahirkan hidup maupun kelahiran mati.4.

Delivery (kelahiran) adalah keluarnya janin termasuk plasenta

5.

Gravida ( kehamilan) adalah jumlah kehamilan termasuk abortus,molahidatidosa dan kehamilan ektopik yang pernah dialami ibu.6.

Persalinan dan kehamilan normal adalah peroses persalinan yang terjadi padausia kehamilan 37-42 minggu), lahir dengan presentasi belakang kepala yangberlangsung dalam waktu 18-24 jam7.

Spontan adalah persalinan terjadi karena dorongan kontaraksi uterus dankekutan mengejan ibu. 2.1.3 Beberapa Defenisi Persalinan 1.

Persalinan menurut (manuaba, 1998) yaitu peroses pengeluaran hasil konsepsi(janin dan uri) yang telah cukup bulan atau dapat lahir di luar kandungan,melalui jalan lahir ataupun jalan lain dan lahir dengan bantuan atupun tanpabantuan.2.

Persalinan menurut (Sumarah, Yani, & Nining, 2009) yaitu proses membukamaupun menipisnya jalan lahir dan janin turun ke jalan lahir.3.

Persalinan Menurut (Fakultas kedokteran Univ Padjajaran Bandung, 1998)yaitu persalinan dengan persentase kepala di dalam waktu 24 jam tanpamenimbulkan kerusakan pada ibu dan anak.4.

Persalinan menurut (T.Y, 2005) yaitu persalinan spontan yang terjadi dalamwaktu 8 jam untuk ibu multipara dan 12-13 jam untuk ibu primipara.

2.1.4 Bentuk- Bentuk Persalinan Menurut (manuaba, 1998) ada beberapa bentuk persalinan berdasarkan defenisiadalah sebagai berikut:

1.

Persalinan spontanPersalinan spontan adalah seluruhnya berlangsung dengan kekuatan ibusendiri2.

Persalinan buatanBila proses persalinan dengan bantuan tenaga dari luar3.

Persalinan anjuran

2.1.5 Sebab-Sebab Mulainya Persalinan Bagaimana terjadinya persalinan belum diketahui pasti sehingga ada beberapa teoriyang berkaitan dengan kekuatan his(kontraksi)Menurut (Sumarah, Yani, & Nining, 2009) ada beberapa horman yang dominan padakehamilan, yaitu:1.

Estrogena.

Meningkatkan sensitifitas otot rahimb.

memudahkan penerimaan rangsangan dari luar, seperti rangsanganoksitosin, prostaglandin, dan rangsangan mekanis.

2.

Progesterona.

Menurunkan sensitivitas otot rahimb.

menyulitkan penerimaan rangsangan dari luar yaitu rangsanganoksitosin, prostaglandin,dan rangsangan mekanis, danc.

menyebabkan otot rahim dan otot polos relaksasi.Kedua hormon tersebut bekerja dengan seimbang sehingga kehamilan dapat dipertahankan. (manuaba, 1998) Ada beberapa teori tentang proses persalinan yaitu:1.

Teori keregangana.

Otot rahim yang mempunyai kemampuan meregang dalam batas tertentu.b.

Setelah melewati batas tersebut kontraksi sehingga persalinan dapat mulaic.

Contohnya pada hamil ganda sering terjadi kontraksi setelah keregangantertentu, sehingga menimbulkan persalinan.2.

Teori penurunan progesterona.

Proses penuaan plasenta terjadi mulai umur hamil 28 minggu,dimana terjadipenimbunan jaringan ikat, pembuluh darah mengalami penyempitan danbuntu.b.

Produksi progesteron mengalami penurunan, sehingga otot rahim lebihsensitif terhadap oksitosin.c.

Akibatnya otot rahim mulai berkontraksi setelah tercapai tingkat progesterontertentu.

3.

Teori oksitosin internala.

Oksitosin dikeluarkan oleh kelenjar hipofisis parst posteriorb.

Perubahan keseimbangan estrogen dan progesteron dapat mengubahsensitifitas otot rahim, sehingga dapat terjadi braxton hicks.c.

Menurunnya konsentrasi progesteron akibat tuanya kehamilan makaoksitosin dapat meningkatkan aktifitas, sehingga persalinan dapat mulai4.

Teori prostaglandina.

Konsentrasi prostaglandin meningkat sejak umur hamil 15 miggu, yangdikeluarkan oleh desidua.b.

Pemberian prostaglandin saat hamil dapat menimbulkan konsentrasi ototrahim sehingga hasil konsepsi dapat dikeluarkan.c.

Prostaglandin dianggap dapat memicu terjadinya persalinan5.

Teori hipotalamus-pituitari dan glandula suprarenalisa.

Kehamila dengan anensefalus dapt menyebabkan keterlambatan persalinan,karena tidak dapat membentuk hipotalamus (linggin,1973)b.

Menurut malpar (1933) mengangkat otak kelinci percobaan , hasilnyakehamilan kelinci berlangsung lebih lama.c.

Pemberian kortikosteroid menyebabkan maturitas janin, induksi (mulainya)persalinan.d.

Dari percobaan diatas dapat disimpulkan bahwa ada hubungan antarahipotalmus pituitari dengan mulainya persalinan.e.

Glandula suprarenal merupakan pemicu terjadinya persalinan.

2.2

Ruptur Perineum2.2.1 Defenisi Ruptur Perineum

Ruptur perineum menurut kamus kedokteran (Ramali & Pamoentjak,2005) rupture yaitu koyak, robek. Ruptur perineum adalah koyaknya jaringanperineum pada saat persalinan.Ruptur perineum adalah perlukraan yangterjadi pada saat perslinan (mochtar,1998).Ruptur perineum sering terjadi pada persalinan pertama ataupunpersalinan selanjutnya. (manuaba, 1998). Ruptur perineum dapat dihindaridengan menjaga agar dasar panggul tidak dilewati oleh kepala janin.(RUkiyah, 2010) 2.2.2 Derajat Laserasi Jalan Lahir Menurut (Sarwono, 2007) perlukaan jalan lahir dapat dibagi dalam:Tingkat I : bila perlukaan hanya terbatas pada mukosa vagina atau kulitperineumTingkat II : perlukaan lebih dalam dari tingkat I yaitu ke vagina danperineum dengn melukai fasima serta otot-otot diafragmaurogonitaleTingkat III : perlukaan lebih luas dari tingkat I dan menyebabkanmuskulus sfingter ani eksternus terputus di depan.

Menurut (Sumarah, Yani, & Nining, 2009) robekan perineum dibagi menjadi:Derajat I : mukosa vagina, fauchette posterior, kulit perineumDerajat II : Mukosa vagina, fauchette posterior, kulit perineum, ototperineumDerajat III : Mukosa vagina, fauchette posterior, kulit perineum, ototperineum, otot spinter ani eksterna.Derajat IV : Mukosa vagina, fauchette posterior, kulit perineum, ototperineum, otot perineum, otot spinter ani eksterna, dindingrektum anteriorperlukaan perineum biasanya ada unilateral dan bilateral namun umumnya perlukaanperineum terjadi unilateral. Umumnya perlukaan perineum yang menghadap muka janin. Perlukaan perineum dapat juga mengakibatkan robekan pararektal, sehinggarektum dapat terlepas dari jaringan sekitarnya. (Sarwono, 2007) 2.2.3 Penatalaksanaan Ruptur Perineum2.2.3.1. Perlukaan Jalan Lahir Derajat 1 a.

Perlukaan perineum yang melebihi derajat 1 harus dijahit. Ini dapatdilakukan sebelum plasenta lahir, namun dapat pula di lakukan setelahplasenta keluar.penderita harus pada posisi litotomi dan dilakukanpembersihan antiseptik pada luka dengan cairan antiseptik dan

diobservasi luas robekan ditentukan dengan seksama. (Sumarah, Yani,& Nining, 2009)b.

Menurut (Sarwono, 2007) perlukaan derajat 1 tidak perlu dilakukanpenjahitan.bila hanya ada luka lecet.c.

Menurut (RUkiyah, 2010) perlukaan derajat 1 umumnya tidak memerlukan penjahitanhanya saja perlu mengkaji ulang prinsip dasarkeperawatan, memberikan dukungan emosional, dan memastikan tidak ada alergi terhadap obat lidokain, ataupun obat-obat sejenisnya.

2.2.3.2 Perlukaan Jalan Lahir Derajat II a.

Menurut (Sarwono, 2007) dilakukan penjahitan dengan cara cermat.Lapisan otot dijahit simpul dengan katgut no.0 atau 00, denganmecegah agar tidak ada ruang mati. Ruang mati tersebut dapatmenyebabkan pembekuan darah dan terjadi peradangan.lipisan inidapat dijahit dengan benang katgut atau benang sutera secara simpul.Jahitan diharapkan agar tidak begitu ketat, karena bekas penjahitantersebut akan menimbulkan edema.b.

Menurut (Sumarah, Yani, & Nining, 2009) setelah diberi anestesialokal otot-otot diafragma uogenitalis disatukan digaris tengahkemudian luka pada vagina dan kulit perineum, dengan mengikutsertakan jaringan dibawahnya.

c.

Menurut (utami, 2009) penjahitan laserasi derajat I dan II jika di lihatbergerigi atau tidak rata, harus diratakan sebelum dilakukanpenjahitan. Kemudian catgut dijahit sampai ke selaput 2.2.3.3 Perlukaan Jalan Lahir Derajat III a.

menurut (Sarwono, 2007) penanganan pada perlukaan derajat III harusteknis penjahitan khusus. Pertama penanganannya yaitu: menemukanujung muskulus sfinger ani ekstrnus yang terputus. Kedua ujung ototdijepit dengan cunam Allis, kemudian memerlukan dijahit denganbenang cutgut no.0 atau 00, sehingga sfigner ani daptterbentk kembali.b.

Menurut (utami, 2009) penanganan pada perlukaan pada derajat IIIpenjahitan yang pertama pada dinding rektum yang robek,kemudianfasia septum dijahit dengan cutgut kromik sehingga dapat bertemukembali. 2.2.2.4 Perlukaan Jalan Lahir Derajat IV a.

menurut (utami, 2009), ujung-ujung sfinger ani yang terppisah karenarobekan harus di satukan kembali dengan cara mengklem pean lurus.Kemudian dijahit dengan jahitan 2-3 dengan catgut kromik sehinggadapat menyatu kembali. Selanjutnya robekan dijahit lapis demi lapisseperti pada perlukaan jalan lahir derajat I.

2.3

Faktor Faktor Penyebab Ruptur Perineum Menurut (utami, 2009) Pada persalinan seringkali menyebabkan perlukaan jalanlahir seperti pada dasar panggul ibu,servix uteri,ruptur uteri, uterus dan rupturperineum spontan disebabkan karena beberapa faktor, yaitu faktor ibu, janin,faktorpersalinan pervaginam, dan faktor dari penolong, dari faktor-faktor tersebut dapatdiuraikan yaitu: 1.

Faktor Ibua.

Paritas menurut kamus kebidanan (tiran, 2006) keadaan seorang wanita yangmemiliki bayi yang lahir vieble. Sedangkan menurut (BBKBN, 2006)Banyaknya kelahiran hidup yang dimilki seorang wanita. Menurut (Sarwono,2007) perlukaan jalan lahir pada primigravida tidak dapat dihindarkan. b.

Meneran Meneran menurut (utami, 2009) secara fisiologis dorongan ingin meneranakan timbul pada ibu, pada saat pembukaan sudah lengkap. Beberapa carayang dapat dilakukan dalam memimpin ibu bersalin melakukan meneranuntuk mencegah terjadinya ruptur perineum, diantaranya :1. Menganjurkan ibu untuk meneran sesuai dengan dorongan alamiahnya selamakontraksi.2. Tidak menganjurkan ibu untuk menahan nafas pada saat meneran.

3. Mungkin ibu akan merasa lebih mudah untuk meneran jika ibu berbaringmiring atau setengah duduk, menarik lutut ke arah ibu, dan menempelkandagu kedada.4. Menganjurkan ibu untuk tidak mengangkat bokong saat meneran.5. Tidak melakukan dorongan pada fundus untuk membantu kelahiran bayi.Dorongan ini dapat meningkatkan resiko distosia bahu dan ruptur uteri.6. Pencegahan ruptur perineum dapat dilakukan saat bayi dilahirkan terutamasaat kelahiran kepala dan bahu. 2.

Faktor JaninBerat Badan Bayi Lahir Manurut (kusmardani, 2009) bayi besar (makrosomia) yaitu berat badan lahirlebih dari 4000gram. Makrosomia disertai dengan meningkatnya resikotrauma persalinan melalui vagina seperti distosia bahu, kerusakan fleksusbrakialis, patah tulang klavikula, dan kerusakan jaringan lunak pada ibuseperti laserasi jalan lahir dan robekan pada perineum. (utami, 2009) a.

Presentasi Presentasi adalah bagian terbawah janin yang dapat diketahui padapemeriksaan kehamilan atau pada pemeriksaan dalam. (utami, 2009).

Ada beberapa persentasi yang dapat menyebabkan ruptur perineum yaitu:1.

persentase mukapersentase muka adalah letak kepala dengan defleksi maksmal, hinggaocciput mengenai punggung dan muka terarah bawah, jika dilakukanpemeriksaan luar dada akan teraba seperti punggung. Persentase mukaini sering menyebabkan partus lama. Pada dagu yang anteroriormungkin menyebabkan persalinan dengain tejadinya defleksi.(RUkiyah, 2010)2.

persentase bokongpersantase bokong (letak sungsang) adalah letak memanjang denganbokong sebagai bagian yang tereindah. Letak bokong dapat dibagimenjadi: letak bokong murni (frank breech), letak bokong kaki(complete breech), letak lutut, letak kaki (incomplete breechpresentation).3.

persentase dahimenurut (Mochtar, 1998) persentase kepala adalah posisi kepala antarafleksi dahi berada pada posisi terendahdan tetap paling depan.Frekuensi persistan brow presentation jarang ditemukan, yang lebihsering ditemukan pada primi dan multi.