Anda di halaman 1dari 24

PROSEDUR OPERASIONAL STANDART PRAKTIKUM TEKNOLOGI MEKANIK

PENGELASAN LOGAM TINGKAT DASAR

Oleh : 1. Ir.Drs. Muh.Rismunanadr, MM.

PROGRAM STUDI PERMESINAN PERIKANAN JURUSAN TEKNOLOGI PENANGKAPAN IKAN SEKOLAH TINGGI PERIKANAN JAKARTA 2011

DISKRIPSI TEORI LAS BUSUR LISTRIK ( ARC WELDING ELECTRIC ). A. Prinsip Las Listrik. Las Listrik disebut juga Las Busur Api Listrik ( arc welding electric ), yaitu proses penyambungan dua logam dengan menggunakan tenaga listrik sebagai media sumber panas yang ditimbulkan oleh busur api antara elektroda ( kawat las ) dan benda kerja ( logam ) yang akan disambung ( dilas (. Sehingga elektroda mencair bersama-sama dengan panasnya benda kerja terjadi busur api akibat kontak arus listrik tersebut. Gerakan busur api pada elektroda diatur sedemikian rupa ( metoda gerakan pengelasan ) sehingga benda kerja dan elektroda mencair ( lumer ), setelah dingin dapat menjadi satu baian yang sukar dipisahkan ( hasil pengelasan ). B. Peralatan Las Listrik. Terdiri dari : 1. Pesawat Las ( Mesin Las ) 2. Alat Bantu Las. 3. Perlengkapan Keselamatan Kerja. 4. Elektroda ( Kawat Las ). 1. Pesawat Las. Jika ditinjau dari jenis arus yang keluar, pesawat las dapat digolongkan menjadi : 1). Pesawat las arus bolak balik.( AC ). 2). Pesawat las arus searah ( DC ). 3).Pesawat las arus bolak balik dan searah ( AC-DC ) yang merupakan gabungan AC-DC. 1). Pesawat las arus bolak balik ( AC ). Terdiri dari tranfomator yang digabungkan dengan sumber listrik PLN atau mesin pembengkit listrik motor diesel atau motor bensin. Kapasitas trafo biasanya 200 500 Ampere, sedangkan voltage ( tegangan ) yang keluar dari trafo antara 35 70 volt.

2). Pesawat las arus searah ( DC ). Berupa pesawat trafomator rectifier pembangkit listrik motor diesel atau motor bensin dan dapat juga digerakkan oleh moor listrik ( dinamo motor ). 3). Pesawat las AC_DC. Merupakan gabungan dari pesawat las AC dan DC. keluar stabil dapat searah maupun bolak balik ( AC-DC ). 2. Alat Bantu Las. Pada pengelasan terdapat alat Bantu, yaitu : 1). Kabel Las. 2). Pemegang elektroda ( holder las ). 3). Palu las ( las ketok ). 4). Sikat baja las. 5). Klem massa ( ground las). 6). Penjepit ( tang Las ). 3. Perlengkapan Keselamatan Kerja. 1). Helem Las ( Masker Las ). 2). Sarung Tangan. 3). Baju Las ( Aprons ). 4).Sepatu Las. 5). Kamar Las ( Ruang Las ). C. Cara menyalakan busur api las. Untuk mendapatkan hasil pengelasan yang baik dan kemudahan di dalam langkah pengelasan, maka harus diperhatikan ukuran dan jenis elektroda ( kawat las ) harus tepat dalam menentukan besar kecilnya arus ( Ampere ). Ada 2 ( dua ) cara melakukan penyalaan busur api, yaitu : 1). Pada pesawat las AC, penyalaan busur api dilakukan dengan menggoreskan elektroda pada benda kerja secara pelan, agar timbul nyala busur api dan pertahankan penyalaannya. Dengan gabungan ini akan lebih banyak pemakaiannya, karena arus yang

L = de

2) Pada pesawat DC, dengan cara elektrodanya disentuhkan dari atas ke bawah pada benda kerja secara hati-hati agar timbul nyala. Busur api, dan pertahankan nyalanya.

elektroda

D elektroda

Tabel 1. : Pemakaian Amper terhadap elektroda. Diameter Elektroda ( mm ). 1,5 2,5 3,2 4 5 6 Amper ( A ). 30 45 40 70 75 100 125 150 140 175 175 - 225

Tabel 2. : Metoda Gerakan Elektroda dalam Lasan. Posisi Flat Jenis Lasan Las sudut horizontal Las Sig-sag Datar Las melingkar Gerakan Elektroda

Las goyang Vertikal

L <3xde

Arah Gerakan elektroda O Gerakan elektroda harus diperlambat

De

Gerakan ayaman elektroda

Tugas I : Penyalaan Awal Busur Api. Waktu : 15 menit per taruna praktekum. Tujuan : Agar taruna trampil, teliti, hati-hati dan mampu melakukan proses pengelasan 1. melakukan proses awalan nyala lasan pada benda kerja dengan tepat, teliti. 2. menentukan Amper yang dibutuhkan sesuai bahan lasan. 3. dapat menentukan metoda gerakan lasan dengan baik dan tepat. Perlengkapan Alat dan Bahan : 1. Mesin las dan kelengkapannya. 2. Elektroda ( kawat las ). 3. Kaca mat alas ( makser las ) dan Palu ketok las. 4. Baju las ( Apron ) dan Sarung tangan las. 5. Baja ST 45 plat ukuran ( 0,8 x 40 x 100 ) mm. Tindakan yang perlu diperhatikan : 1. Persiapan ( check kondisi mesin las dan arus listrik panel box las ). 2. Nyatakan kondisi mesin las ready ( siap pakai ). 3. Letakkan bahan baja plat tersebut diatas meja las ( ruang las khusus ). 4. Beri tanda garis las ( line ) agar tidak melenceng ( menyimpang ) alur lasan. 5. Tentukan Amper las ( 75 115 A ) kemudian pasang elektroda pada handel clamp. 6. Lakukan proses lasan pada jalur garis las dengan metoda gerakan datar sesuai bakat tangan anda ( table 2 ) posisi kemiringan elektroda terhadap benda kerja plat baja ( 60 75 0 ) 7. Lakukan pembersihan dengan palu ketok pada lasan dan check hasil lasan tersebut sehingga kerak las ( flux ) terkelupas terbuang. 8. Periksa dan beri tanda ( nama, kelompok ) anda, kemudian lapor kepada dosen / instruktur / petugas praktek . 9. Bersihkan peralatan dan ruangan las apabila tidak dipergunakan pelatihan lanjutan.

Cara menyalakan busur Cara pemadaman busur

pemadaman yang salah

pemadaman yang baik

Gunting disini Penilaian. Tugas I : Penyalaan Busur Api. Nama / NRP : ./ .. Kelompok : Aspek yang dimiliki B/S Hasil Lasan Nilai 1. Alat pelindung 1. Lebar jalur lasan 2. Alat Bantu 2. Tinggi jalur 3. Diameter elektroda 3. Model kerak/ flux 4. Ampere 4. Permukaan Lasan 5. Gerakan lasan 5. Kebersihan 6. Awal dan akhir las 7. Penembusan Lasan B= Betul ; S = Salah

Paraf

Tugas II : Sambungan Datar ( Flat Joint ). Waktu Tujuan : 20 menit per taruna praktekum. : Diharapkan para taruna praktekum dapat melaksanakan kegiatan 1. Menyambung plat baja dengan lasan datar posisi flat. 2. Dapat menentukan metoda gerakan yang sesuai kondisi dirinya. 3. Dapat menggunakan peralatan sesuai standar produksi. 4. Lakukan kesemuanya dengan cara dan sikap yang benar serta menghasilkan sambungan yang kuat, rigi-rigi lasan yang rapid an baik. Perkakas dan perlengkapannya : 1. Perlengkapan las listrik. 2. Penggores 3. Mistar baja 4. Palu ketok Bahan : 5. Kikir kasar 6. Tang penjepit 7. Sikat baja 8. Kacamata las.

1. Baja plat strip ( 8 x 40 x 100 ) mm = 2 lembar. 2. Elektroda ( kawat las );de ( 2,5 x 350 ) mm = 2 batang.

Intruksi Umum : 1. Siapkan peralatan las yang akan dipakai 2. Bersihkan bahan ang akan dilas. 3. Praktekkan secara berulang-ulang pada bahan yang akan dilas Tindakan keamanan serta pencegahannya : 1. Pakailah masker las ( kacamata las ) pada waktu mengelas. 2. Hati-hati terhadap asap las ( lihat kondisi lingkungan ). 3. Jangan memegang benda kerja hasil lasan yang masih panas. 4. Hindari kabel las dari bahan hasil lasan yang masih panas.

Langkah kerja : 1. Siapkan peralatan yang akan dipakai. 2. Buat kampuh V dengan gerinda ( kikir ), ketebalan bahan 10 mm lebih. 3. Kedua ujjung ikat dengan las ( tack weld ) tergantung panjang lasan. 4. Lakukan proses pengelasan sesuai metoda gerakan lasan 5. Ambil benda kerja dam diamkan sampai dingin. 6. Bersihkan benda kerja hasil lasan dari kerak las. 7. Beri nama dan kelompok praktekum, serahkan ke Dosen Pengampu praktek / Asisten, minta tanda tangan.

Gambar Bagan Sambungan Lasan :

70-80

70-800

1 mm

1 2 mm

gunting disini Penilaian. Tugas II : Las Datar ( flat welding ) Nama/NRP : . / .. Kelompok : . Aspek yang dimiliki B/S Hasil Lasan Nilai Paraf Dosen 1. Alat elindung 1. Bentuk Fluxs 2. Diameter Elektrode/A 2. Permukaan Las 3, Metoda Gerakan 3. Alur Lasan

LAS ASITILINE ( OXY ACITILINE ) Proses penyambungan dua logam melalui pemanasan dengan busur api yang didapat dari gas asitiline dan gas oksigen dihubungkan slang disalurkan menjadi satu ke pembakar ( Torch Welder ). Gas asitiline merupakan produk dari perpaduan C2 H2 ( gas karbit ) yang menghasilkan gas pembakar apabila dipadukan dengan O2 ( oksigen ) sehingga akan menimbulkan busur api di dalam torch welder yang dihubungkan slang oksigen dan asitiline tersebut. 3

7 2 1 5

1 6 4 8

Instalasi Las Asitiline 1. Tabung gas Oksigen dan Tabung gas Asitiline 2. Regulator Asitiline 3. Regulator Oksigen. 4. Slang Asitiline. 5. Slang Oksigen. 6. Torch Welder 7. Handel Oksigen dan Handel Asitiline 8. Nozzel

A. Peralatan Las Asitiline. 1. Tabung Oksigen 2. Tabung Asitiline. 3. Regulator Oksigen dan Tabung Asitiline. 4. Pembakar Las ( Torch Welder ) 5. Slang Asitiline. 6. Slang Oksigen. 7. Kacamata Las. 8. Korek Api. 9` Kawat Las Pengisi. B. Tabung Oksigen. Disebut juga Botol Angin Oksigen. Klasifikasi botol : Tekanan penuh Tinggi Diameter = 150 bar ( kg/cm2 )

= 130 cm. = 25 cm

Apabila tabung ini kosong dapat diisi ulang atau ditukar tabung baru. Untuk pengamanan tabung pada kran terdapat sumbat pengaman gunanya apabila tekanan tabung naik/ panas maka otomatis sumbat akan pecah sehingga kelebihan panas / tekanan akan terbuang keluar. Cara mengatur gas oksigen proses pengelasan. 1. 2. 3. Buka kran tabung oksigen, lihat jarum penunjuk akan berputar menunjukkan tekanan penuh tabung oksigen 250 kg/cm2. Putar handel kran regulator pelan-pelan hingga jarum kerja regulator menunjukkan angka 8 pada skala penunjuk dan stop handel. Mulailah persiapan mengelas.

C. Tabung Asitiline. Disebut juga Botol Asitiline dengan klasifikasi : Isi penuh Tinggi Diameter = 250 liter gas asitiline. = 60 cm. = 30 cm

Cara mengatur Tekanan Kerja , tekanan gas yang dibutuhkan pada waktu mengelas. 1. Buka kran tabung asitiline jarum regulator akan menunjukkan isi penuh tabung . 2. Putar handel regulator pelan-pelan hingga jarum menunjukkan angka 5 pada skala penunjuk dan stop memutar handel ( ini merupakan tekanan kerja mengelas. 3. Mulailah persiapan mengelas. D. Proses pembukaan Torch Welder untuk mengatur busur api. 1. 2. Setelah pengaturan pada regulator oksigen dan asitiline Buka kran asitiline pada Torch Welder sedikit saja, kemudian ( korek api ) di ujung nozel, sehingga menyala pada dinyatakan tepat, aman ( perbandingan antara oksigen dan asitiline ). beri api ujungnya. 3. 4. Setel kedua kran, sehingga membentuk nyala busur api di ujung Proses pengelasan udah bias di mulai. nozel sesuaikan bahan yang akan dilas.

E. Macam Nyala Busur Api. Ada 3 ( tiga ) macam nyala api yang digunakan dengan tanda-tanda, yaitu 1. Nyala Api Netral. Perbandingan campuran asitiline dan oksigen seimbang, 1 : 1 Ciri-ciri nyala api netral : 1). Bentuk kerucut nyala api tumpul. 2). Warna kerucut nyala inti biru. 3). Disekitar kerucut nyala terlihat putih.

Nyala api Netral.

Prosedur Penyalaan. 1). Tekanan kerja regulator oksigen dan asitiline sekitar 70 kPa (10 psi) 2). Buka asitiline valve handpiece perlahan-lahan sekitar putaran. 3). Nyalakan Brander dengan korek api las. 4). Atur asitiline valve handpiece sehingga nyala api tidak berasap dan tidak bersuara. 5). Buka oksigen valve handpiece perlahan-lahan agar nyala asitiline tidak padam. 6). Atur perbandingan campuran asetiline dan oksigen sehingga terbentuk kerucut nyala yang netral. 2. Nyala Api Karburasi. Nyala api yang berlebihan asetiline, biasa digunakan untuk mengeraskan permukaan baja karbon dan mematri keras baja karbon. Tanda-tandanya : 1).Bentuk kerucut nyala ini tumpul. 2). Warna kerucut nyala inti biru. 3). Disekitar kerucut nyala terlihat putih.

Nyala api Karburasi. Prosedur penyalaan : 1). Stel nyala api hingga netral. 2). Buka asetiline valve handpiece perlahan-lahan. 3. Nyala Oksidasi. Nyala yang kelebihan oksigen, digunakan pada pengelasan logam yang mempunyai daya kapiler ( serap ) oksidasi yang tinggi seperti pada tembaga. Tanda-tandanya : 1). Kerucut nyala meruncing pendek.

2). Warna kerucut biru jernih.

Nyala api Oksidasi. Prosedur penyalaan : 1). Stel nyala api hingga netral. 2). Buka oksigen valve handpiece perlahan-lahan. Hal-hal yang sering terjadi dalam pengelasan las oksi asetiline : 1. Back fire : letupan pada waktu pengelasan yang ditimbulkan karena. 2. Tekanan gas kurang memadai. 3. Ujung tip terlalu dekat dengan bidang pengelasan. 4. Ujung nozel tidak terpasang dengan baik dan rapat 5. Ukuran nozel las terlalu besar untuk objek yang akan dilas. 6. Flas Back, nyala api terjadi pada tangkai las. Perhatian : Jika terjadi Flas Back ambil tindakan secepatnya; segera tutup valve oksigen dan handpiece, sebelum dinyalakan kembali biarkan dingin lebih dahulu.

Tugas I Waktu Tujuan

: Mencairkan Bahan Dasar Lasan. : 10 menit per taruna praktikum. : Agar Taruna praktikum mampu dan trampil : Menentukan nyala busur api sesuai bahan yang akan Mempertahankan nyala busur api dalam mencairkan Memilih nyala busur api : nyala netral; oksidasi; dilas. bahan dasar. karburasi.

Perlengkapan alat dan bahan : 1. mm. 2. 3. 4. Tekanan kerja : oksigen = 5 8 psi. Asitiline = 5 7 psi. Nozel pembakar : No. 15. Metoda gerakan : bawah tangan arah kiri. Bahan : plat baja lunak ( 180 x 80 x 3 )

Tindakan yang perlu diperhatikan : 1. Periksa pemasangan slang dan regulator sudah tepat kedudukannya ( tidak ada kebocoran ). 2. Nyatakan kondisi pesawat las siap digunakan. 3. Hati-hati dalam menentukan nyala busur api, hindari terjadi nyala fit-back ( nyala balik ) akibat proses pembukaan penyalaan yang salah ( kran nozel ). 4. Pakailah kacamata las yang tepat sebelum proses pengelasan.

Langkah kerja : 1. Siapkan benda kerja ( plat baja ) yang akan dilas. 2. Letakkan benda kerja diatas meja las, beri alas batu tahan api/ batu merah. 3. Nyalakan membakar, atur busur nyala api netral ( perbandingan 1 : 1) 4. Pegang batang pembakar pada posisi 600 700 terhadap permukaanbenda kerja yang akan dilas. 5. Panaskan permukaan satu tempat hingga timbul kawah las, jarak inti nyala sekitar 2-3 mm diatas bahan. 6. Gerakkan pelan-pelan dengan gerakan zig-zag/ melingkar nyala busur api sekaligus masukkan kawat pengisi las agar terjadi sambungan bahan yang dilas.

600-700

gunting disini Penilaian Tugas I Kelompok : Mencairkan Bahan Dasar Lasan. ...................../ . Hasil Lasan 1. Lebar cairan 2 Macam nyala busur api Nilai Paraf : B/S Nama / NRP : Aspek yang diukur 1. Alat pelindung 2. Alat Bantu

3. Tekanan kerja O/A 4. Menutup tekanan O/A 5. Gerakan lasan

3. Jarak penyalaan 4. Bebas kerak 5. Kebersihan

Tugas II Waktu Tujuan

: Rigi- rigi las. : 15 menit per taruna praktikum. : Agar taruna praktikum mampu dan trampil : a. Melakukan penyalaan busur api dan proses pengelasan yang tepat. b. Membiasakan diri gerakan las terhadap benda kerja yang akan dilas.

Alat dan Bahan : Bahan : plat baja lunak ( 150 x 80 x 2 ) mm Kawat las pengisi d = 2,5 mm Pembekar No.Nozel : 9. Tekanan kerja : - oksigen = 5 7 psi. - asitiline = 5 7 psi. Posisi gerakan : bawah tangan dan arah kiri.

Tindakan yang harus diperhatikan : 1. Persiapkan dan periksa pemasangan slang regulator, jangan ada bocor. 2. Nyatakan kondisi pesawat las siap pakai. 3. Hati-hati dalam menentukan nyala busur api, gunakan nyala netral. 4. Pakailah kacamata las. 5. Gerakan pembakar yang tepat, kontinyu jarak gerakan terhadap bahan yang dilas harus tetap. Langkah kerja : 1. Pegang pembakar pada posisi 600 700 dan kawat pengisi las 300 - 400 terhadap permukaan benda kerja. 2. Panaskan bagian yang akan dilas mulai dari pinggir kanan hingga timbul kawah lasan.

3. Setelah kawat pengisi las cukup mencair, masukkan ujungnya dan berpadu bersama-sama dengan cairan kawah bahan yang dilas. 4. Angkatlah kawat pengisi las, atur kawah tersebut dengan nyala busur api stabil bergerak maju. Kawat pengisi

Blander Nozel

gunting disini Penilaian Tugas II Kelompok : Rigi-rigi Lasan. ...................../ . Hasil Lasan 1. Lebar alur las 2. Bentuk rigi las 3. Tinggi alur lsd 4. Tekanan kerja O/A 5. Penutup tekanan kerja O/A 6. Kebersihan Nilai Paraf : B/S Nama / NRP : Aspek yang diukur 1. A;at pelindung 2. Alat bantu 3. Macam nyala 4. Rigi-rigi lasan 5. Gerakan blander 6. Gerakan kawat las

JADUAL TATAP MUKA TE-MEK TA :2009-2010 SELASA : Teori : 08.00 08.50 Praktikum : 08.50 12.10 UTS : 7 11 Nopember 2009 UAS : 17 Jan 2 Peb 2010 Libur : 23 Des.09 3 Jan.10 Oktober Nopember Desember Januari Keter. 6;13;20;27 3;10;17;24 1;8;15;22;29 5;12 13 TM Tim Pengampu: 1.Ir.Drs.Muh.Rismunandar, MM ; 2. Joko Priono,A Pi,MM 3.M.Yafid Badruddin A Pi SATUAN ACARA PENGAJARAN ( SAP ). MATA KULIAH TEKNOLOGI MEKANIK TEORI = 1 SKS, RAKTIKUM = 2 SKS TM 1. POKOK BAHASAN Pendahuluan SUB.POK.BAHASAN Kontrak perkuliahan Unsur Penilaian : Tugas dan Praktek. Mistar Baja, Jangka Sorong, Mikrometer Penyiku, Penyudut, Pemeliharaan. Dial Indikator, Jangka bengkok, kaki, Mal ukur, Mal bor, Pemeliharaannya Penggunaan, Cara memasang BK, Pemeliharaannya. Macam & Fungsi, Perawatannya Spesifikasi Kikir, Cara mengikir BK. Bagian2nya, Cara Memesang dan Cara Menggergaji Benda Kerja ( BK ). Bagian2nya, Sudut potong dan Cara Memahat Benda Kerja ( BK ). Bagian2nya, Ukuran Bor, Menentukan sudut Mata Bor, Menghitung kecepatan bor, Mengebor lubang plat baja. Proses Gerinda, Mengasah Pahat & Bor, Perawatan Mesin Gerinda. Bagian2nya, Cara penggunaanya, Cara Membuat Ulir

2.

Alat Ukur

3 4 5

Alat Pemeriksa Kerja Bangku Kikir ( Files )

6 7 8

Gergaji Tangan Pahat Tangan Teknik Ngebor

Gerinda Mesin

10

Alat Tap & Dies

11

Proses Las Asitilin

12

Proses Las Listrik ( Arc Welding )

13

Proses Machinery

Dalam dan Luar. Bagian2nya, Macam Nyala Busur Api Las Cara Penyalaan dan Pengelasannya BK. Peralatan Mesin Las Listrik. Alat Bantu Mengelas, Metoda,Gerakan. Penentuan Kekuatan Lasan. Model Pahat ( Cutting Tool ) Hubungan Cutting tool dan Benda kerja. Pembentukan Kuppasan ( Chips ). Mesin Bubut, Mesin Shaping, Mesin Frais.

DAFTAR PUSTAKA. 1. Muh.Rismunandar. Ir, Analisa Pemotongan Logam dengan Minyak Lumas dan tampa Minyak Lumas, STP 1996. 2. Depdikbud, Teknologi Mekanik I, II ; Program Pengadaan Buku Kejuruan ; Jakarta, 1991. 3. Henry Ford and Fred Nicholson; Shp Theory; Mc. Graw Hill; Book Company,London, 1989. 4. Harold W. Porter, Orville D.Lascoc; Machine Shop Operation and Setups. American Technical Society Chicago 1975,

TATA TERTIB PRAKTIKUM BENGKEL LATIH TEKNOLOGI MEKANIK

1. Taruna Peserta Praktikum, harus lapor kepada Dosen Pengampu/ Asisten sebelum melaksanakan kegiatan. 2. Demi Keselamatan Kerja selama praktikum, Taruna Wajib : Pakaian Rapid an lengan baju digulung pendek Memakai sepatu praktikum Pergunakan Alat Pengaman . seperti : - kacamata las; pakaian las; sarung tangan, dll. 3. Membawa buku catatan dan modul praktikum. 4. Bentuk piket dan kelompok dengan tugas bergantian, di koordinasi oleh Ketua dan Danton Kelas.

5. Gunakan Alat Perkakas seperlunya, catat pada Lembar Isian Peralatan ( LIP ). 6. Pelajari Modul Praktikum ( Job Sheet ) sebelum kegiatan praktikum, mintalah peralatannya pada Piket Praktikum. 7. Dilarang menjalankan Mesin tanpa Ijin Dosen Praktikum. 8. Jika Peserta Praktikum berhalangan, diwajibkan menunjukkan Surat dari Ketua Jurusan TPI / Kaprog. MP. 9. Dilarang menggunakan/ memanfaatkan bahan praktikum untuk kepentingan pribadi. 10. Apabila terjadi Kerusakan dalam praktikum yang disebabkan kelalaian, Taruna praktikum Wajib menggantikannya. 11. Wajib mengembalikan dan membersihkan Alat Perkakas yang telah dipergunakan dan serahkan Piket Praktikum. 12. Hal-hal yang dianggap perlu akan diatur kemudian, Laksanakan Tata Tertib ini, Terima Kasih.

PROSECING PROSES PENGERJAAN LOGAM ( MANUFACTURING) 1.. Proses pengerjaan lgam terutama untuk merubah bentuk logam dimana hanya bentuknya yang diolah dan boleh dikatakan tidak ada logam yang terbuang, antara lain : Pengecoran logam ( Casting ) Petempaan logam (Forging ) 2. Pemotongan logam yang bertujuan untuk memperoleh pentuk dan ukuran sesuai yang direncanakan, dalam hal ini logam dipotong harus terbuang, antara lain : Pembubutan ( Turning ) Penyerutan ( Shaping ) 3. Proses yang dipakai untuk penyambungan logam, yaitu penyatuan suatu logam dengan logam lain, antara lain : Las oxy asitiline (Gas welding ) Las busur api listrik ( Electric arc welding ) 4. Proses yang dipakai agar memperoleh mutu dan kondisi permukaan yang diinginkan, antara lain : Menggosok ( Polishing ) Gerinda ( Abrasive grinding ) 5. Proses yang dipakai untuk mengubah sifat2 dari logam, seperti : Proses perlakuan panas ( Heat treatment ). Proses pengerjaan dingin ( Cold working ) Proses pengerjaan panas ( Hot working )

I. Alat alat ukur. Pada garis besarnya menggunakan alat-alat ukur maupun mengukur sesuatu benda kerja dapat digoongkan menjadi 2 ( dua ) yaitu : 1. Dengan cara langsung. Mengukur sesuatu benda kerja ( bk ) dengan langsung kita dapat menentukan harga nilai ukurannya. 2. Dengan cara tidak langsung. Mengukur sesuatu benda kerja kita belum dapat menentukan nilai ukurannya. Untuk dapat menentukan harganya kita masih harus melakukan tindakan selanjutnya sampai dapat menentukan nilainya. II. Mistar Ukur. Ada 3 ( tiga ) acam yang termasuk mistar ukur. 1. Mistar baja ( straight steel scale ). Bahan dibuat dari baja atau bahan tahan karat ( stain less steel ) digunakan untuk mengukur panjang. Mempunyai tebal = 1 1,5 mm, lebar = 25 mm, panjang = 300 1000 mm..

1 66

2. Mistar siku.( angle scale ). Mistar ini digunakan untuk mengukur sudut dengan benar dan teliti, dimana alat ini sering digunakan oleh tukang kayu de ngan istilah skala tukang kayu.

3. Pengukur pita baja ( steel tape measure ) Alat ukur ini sangat fleksibel dapat dilengkungkan dan diluruskan arah memanjang. Mistar ini dibuat dari bahan baja, maka pemuaian dan penyusutan tak mungkin terjadi. Oleh karena itu alat ini lebih akurat dari pengukur lain.

III. Jangka ( Caliper ). Ada 2 ( dua ) jenis bentuk jangka ini, yaitu : Jangka Luar ( outside caliper ) Jangka Dalam ( inside caliper ). 1. Jangka Luar. Dalam bengkel biasa disebut Jangka Bengkok, dimana jepitan kaki jangkanya pada bidang yang diukur harus sejajar dengan baik, sehingga terasa jika digeser sedikit. Jangka ini digunakan untuk mengukur diameter luar pada semua bagian poros mesin. Ketebalan suatu plat dapat diukur pula disini.

2. Jangka Dalam. Alat ini diakai untuk mengukur diameter pada sebuah silinder dan lebar suatu celah. Bila kita akan mengukur suatu celah, maka kepala jangka dipegang dengan ibu jari dan jari telunjuk dengan ringan, keudian lakukan perabaan digeser-geser pelan sehingga terasa gesekan yang ringan tadi antara jangka dan bk, jika jangka digerakkan naik turun, Ukur hasil perabaan tersebut dengan mistar ukur berskala, sehingga akan terlihat ukuran dimensinya. 3. Jangka Sorong ( slide caliper ). Alat ini biasa pula disebut dengan Mistar Ingsut ( Vernier Caliper ) atau juga dikenal nama Skhetmat. Digunakan untuk mengukur Tebal, Lebar dan Dalamnya lubang dari BK. Termasuk pula mengukur celah dan ketinggian. Skala yang kecil terletak dibawah skala pokok, dapat dibaca dengan menggeser sorongnya.

Rumah dan peluncurnya membawa rhang atas, rahang bawah digesergeser sepanjang batang. Didalam rumah ini terdapat skala yang disebut Nonius denhan skala ketelitian sampai 0,1 mm, nonius terukur 9 mm dibagi menjadi 10 bagian yang sama besar. Jadi setiap skala nonius bernilai 0,1 mm. Tetapi ada pula nonius berskala dari 19 mm dibagi menjadi 10 bagian dengan ketelitian pembacaan sampai 0,2 mm