Anda di halaman 1dari 26

BAB 1 RUANG LINGKUP SAK ETAP dimaksudkan untuk digunakan entitas tanpa akuntabilitas publik.

Entitas ini mempunyai ciri-ciri: 1. tidak memiliki akuntabilitas publik signifikan; 2. menerbitkan laporan keuangan untuk tujuan umum bagi pengguna eksternal. Entitas memiliki akuntabilitas public signifikan jika: 1. entitas telah mengajukan pernyataan pendaftaran atau dalam proses pengajuan pernyataan pendaftaran pada otoritas pasar modal atau regulator lain untuk tujuan penerbitan efek; 2. entitas menguasai aset dalam kapasitas sebagai fidusia untuk sekelompok besar masyarakat. Entitas yang memiliki akuntabilitas publik signifikan dapat menggunakan ETAP jika otoritas berwenang membuat regulasi mengizinkan penggunaan SAK ETAP.

BAB 2 KONSEP DAN PRINSIP PERVASIF Tujuan laporan keuangan adalah menyediakan posisi keuangan, kinerja keuangan, dan laporan arus kas suatu entitas yang bermanfaat bagi sejumlah besar pengguna dalam pengambilan keputusan ekonomi oleh siapapun yang tidak dalam posisi dapat meminta laporan keuangan khusus untuk memenuhi kebutuhan informasi tertentu. Laporan keuangan menunjukkan apa yang telah dilakukan manajemen atau pertanggungjawaban manajemen sumber daya yang dipercayakan kepadanya. Karakteristik kualitatif informasi dalam laporan keuangan adalah sebagai berikut ini. 1. Dapat dipahami: laporan keuangan mempunyai kemudahan untuk segera dapat dipahami oleh pengguna. 2. Relevan: informasi memiliki kualitas relevan jika dapat mempengaruhi keputusan ekonomi pengguna dengan cara membantu mereka mengevaluasi persitiwa masa lalu, masa kini atau masa depan , menegaskan atau mengoreksi hasil evaluasi mereka di masa lalu. 3. Materialitas: informasi dipandang material jika kelalaian untuk

mencantumkan atau kesalahan dalam mencatat informasi tersebut dapat

mempengaruhi keputusan ekonomi pengguna yang diambil atas dasar laporan keuangan. 4. Keandalan: dapat disebut andal jika bebas dari kesalahan material dan bias dan penyajian secara jujur apa yang seharusnya disajikan atau yang secara wajar diharapkan dapat disajikan. 5. Substantansi mengungguli bentuk: transaksi , peristiwa dan kondisi lain dicatat dan disajikan sesuai dengan subtansi dan realitas ekonomi dan bukan hanya bentuk hukumnya yang mana akan meningkatkan keandalan laporan keuangan. 6. Pertimbangan sehat: pertimbangan sehat mengandung unsur kehati-hatian pada saat melakukan pertimbangan yang diperlukan dalam kondisi ketidakpastian sehingga aset atau penghasilan tidak disajikan lebih rendah. Singkatnya pertimbangan sehat tidak mengijinkan adanya bias. 7. Kelengkapan: informasi dalam laporan keuangan harus lengkap dalam batasan materialitas dan biaya. 8. Dapat dibandingkan: artinya laporan keuangan harus dapat dibandingkan oleh pengguna antar periode untuk mengidentifikasi kecenderungan posisi dan kinerja keuangan. Pengguna juga harus dapat membandingkan laporan keuangan antar entitas untuk mengevaluasi posisi keuangan, kinerja serta perubahan posisi keuangan secara relative. 9. Tepat waktu: meliputi penyediaan informasi laporan keuangan dalam jangka waktu pengambilan keputusan. Jika terdapat penundaan yang tidak semestinya dalam pelaporan, maka informasi yang dihasilkan akan kehilangan relevansinya. 10. Keseimbangan antara biaya dan manfaat: manfaat informasi seharusnya melebihi biaya penyediaannya. Posisi keuangan suatu entitas terdiri dari aset, kewajiban, dan ekuitas pada suatu waktu tertentu. Unsur-unsur tersebut didefinisikan sebagai berikut ini. 1. Aset adalah sumber daya yang dikuasai entitas sebagai akibat dari peristiwa masa lalu dan darimana manfaat ekonomi di masa depan diharapkan akan diperoleh entitas.

2. Kewajiban adalah kewajiban masa kini entitas yang timbul dari peristiwa masa lalu, yang penyelesainnya diharapkan mengakibatkan arus keluar dari sumber daya entitas yang mengandung manfaat ekonomi. 3. Ekuitas adalah hak residual atas aset entitas setelah dikurangi semua kewajiban. Kinerja keuangan adalah hubungan antara penghasilan dan beban dari entitas sebagaimana disajikan dalam laporan laba rugi. Laba sering digunakan sebagai ukuran kinera atau sebagai dasar untuk pengukuran lain, seperti tingkat pengembalian investasi atau laba per saham. Unsur-unsur laporan keuangan yang secara langsung terkait dengan pengukuran laba adalah: 1. Penghasilan Penghasilan adalah kenaikan manfaat ekonomi selama periode pelaporan dalam bentuk arus masuk atau peningkatan aset atau penurunan kewajiban yang mengakibatkan kenaikan ekuitas yang tidak berasal dari kontribusi penanam modal. Penghasilan meliputi: a. pendapatan adalah penghasilan yang timbul dalam pelaksanaan aktivitas entitas yang biasa dan dikenal dengan sebutan yang berbeda; b. keuntungan mencerminkan pos lainnya yang memenuhi definisi

penghasilan namun bukan pendapatan. Ketika keuntungan diakui, biasanya disajikan terpisah karena pengetahuan mengenai pos tersebut berguna untuk tujuan pengambilan keputusan ekonomi. 2. Beban Beban adalah penurunan manfaat ekonomi selama suatu periode pelaporan dalam bentuk arus keluar atau penurunan aset atau terjadinya kewajiban yang mengakibatkan penurunan ekuitas yang tidak terkait dengan distribusi kepada penanam modal. Beban mencakup: a. beban yang timbul dalam pelaksanaan aktivitas entitas yang biasa meliputi beban pokok penjualan, upah dan penyusutan, yang biasanya berbentuk arus keluar atau berkurangnya aset seperti kas dan setara kas, persediaan dan aset tetap;

b. kerugian mencerminkan pos lain yang memenuhi definisi beban yang mungkin dan yang tidak, timbul dari pelaksanaan aktivitas entitas yang biasa. Pengakuan unsur-unsur laporan keuangan merupakan proses pembentukan suatu pos dalam pembentukan suatu pos dalam neraca atau laporan laba rugi. Kriteria pengakuan mengacu pada konsep probabilitas manfaat ekonomi masa depan. Kriteria lainnya adalah adanya biaya atau nilai yang dapat diukur dengan andal. Pengukuran unsur-unsur laporan keuangan adalah proses penetapan jumlah uang yang digunakan entitas untuk mengukur aset, kewajiban, penghasilan dan beban. Dasar pengukuran yang umum adalah biaya historis dan nilai wajar. Entitas harus menyusun laporan keuangan, kecuali laporan arus kas dengan menggunakan dasar akrual. Dalam dasar akrual, pos-pos diakui sebagai aset,kewajiban, ekuitas, penghasilan dan beban ketika memenuhi definisi dan kriteria pengakuan untuk pos-pos tersebut. Saling hapus tidak diperkenankan atas aset dengan kewajiban atau penghasilan dengan beban kecuali disyaratkan atau diijinkan oleh SAK ETAP.

BAB 3 PENYAJIAN LAPORAN KEUANGAN PENYAJIAN WAJAR Penyajian wajar mensyaratkan penyajian jujur atas pengaruh transaksi, peristiwa dan kondisi lain yan sesuai dengan definisi dan kriteria pengakuan aset, kewajiban, penghasilan, dan beban. Penerapan SAK ETAP dengan pengungkapan tambahan jika diperlukan menghasilkan laporan keuangan yang wajar atas posisi keuangan, kinerja keuangan, dan arus kas entitas. Pengungkapan tambahan diperlukan ketika kepatuhan atas persyaratan tertentu dalam SAK ETAP tidak memadai bagi pemakai untuk memahami pengaruh dari transaksi tertentu, peristiwa dan kondisi lain atas posisi keuangan dan kinerja keuangan entitas. Entitas yang laporan keuangannya mematuhi SAK ETAP harus membuat suatu pernyataan eksplisit dan secara penuh atas kepatuhan tersebut dalam laporan keuangan. Pada saat menyusun laporan keuangan, manajemen entitas yang menggunakan ETAP membuat penilaian atas kemampuan entitas melanjutkan kelangsungan usaha. Entitas mempunyai kelangsungan usaha kecuali jika

manajemen bermaksud melikuidasi entitas tersebut atau menghentikan operasi atau tidak mempunyai alternative realistik kecuali melakukan hal-hal tersebut. Entitas menyajikan secara lengkap laporan keuangan ( termasuk informasi komparatif ) minimum satu tahun sekali. Penyajian dan klasifikasi pos-pos dalam laporan keuangan antar periode harus konsisten kecuali terjadi perubahan yang signifikan atas sifat operasi entitas atau perubahan penyajian atau pengklasifikasian bertujuan menghasilkan penyajian lebih baik sesuai criteria pemilihan dan penerapan kebijakan akuntansi atau SAK ETAP mensyaratkan suatu perubahan. Informasi harus diungkapkan secara komparatif dengan periode

sebelumnya kecuali dinyatakan lain oleh SAK ETAP (termasuk informasi dalam laporan keuangan dan catatan atas laporan keuangan). Kemudian, pos-pos yang material disajikan terpisahkan dalam laporan keuangan sedangkan yang tidak material digabungkan dengan jumlah yang memiliki sifat atau fungsi yang sejenis. Laporan keuangan entitas yang lengkap meliputi: 1. Neraca; 2. Laporan laba rugi; 3. Laporan perubahan ekuitas yang juga menunjukkan seluruh perubahan dalam ekuitas dan perubahan ekuitas selain perubahan yang timbul dari transaksi dengan pemilik dalam kapasitasnya sebagai pemilik; 4. Laporan arus kas; 5. Catatan atas laporan keuangan yang berisi ringkasan kebijakan akuntansi yang signifikan dan informasi penjelasan lainnya.

BAB 4 NERACA Informasi minimal yang disajikan di neraca adalah sebagai berikut: 1. kas dan setara kas; 2. piutang usaha dan piutang lainnya; 3. persediaan; 4. porperti investasi; 5. aset tetap; 6. aset tidak berwujud;

7. utang usaha da utang lainnya; 8. aset dan kewajiban pajak; 9. kewajiban diestimasi; 10. ekuitas. Entitas mengklasifikan aset sebagai aset lancar jika: 1. diperkirakan akan direalisasi atau dimiliki untuk dijual atau digunakan dalam jangka waktu siklus operasi normal entitas; 2. dimiliki untuk diperdagangkan; 3. diharapkan akan direalisasi dalam jangka waktu 12 bulan setelah akhir periode pelaporan atau; 4. berupa kas atau setara kas kecuali jika dibatasi penggunannya dari pertukaran atau digunakan untuk menyelesaikan kewajiban setidaknya 12 bulan setelah akhir periode pelaporan. Entitas mengklasifikasikan kewajiban sebagai kewajiban jangka pendek jika: 1. diperkirakan akan diselesaikan dalam jangka waktu siklus norma operasi entitas; 2. dimiliki untuk diperdagangkan; 3. kewajiban akan diselesaikan dalam jangka waktu 12 bulan setelah akhir periode pelaporan atau; 4. entitas tidak memiliki hak tanpa syarat untuk menunda penyelesaian kewajiban setidaknya 12 bulan setelah akhir periode pelaporan. Entitas mengungkapkan di neraca atau catatan atas laporan keuangan, sub klasifikasi berikut atas pos yang disajikan: 1. kelompok aset tetap; 2. jumlah piutang usaha, piutang dari pihak pihak yang memiliki hubungan istimewa, pelunasan dipercepat dari jumlah lainnya; 3. persediaan yang menunjukkan secara terpisah jumlah dari: a. persediaan yang dimiliki untuk dijual dalam kegiatan usaha normal; b. persediaan dalam proses produksi untuk penjualan tersebut; c. bahan baku dan barang habis pakai yang digunakan dalam proses produksi atau pemberian jasa; 4. kewajiban imbalan kerja dan kewajiban diestimasi lainnya;

5. kelompok ekuitas. Entitas yang berbentuk Perseroan Terbatas mengungkapkan antara lain hal-hal berikut di neraca atau catatan atas laporan keuangan: 1. untuk setiap kelompok modal saham mengungkapkan jumlah saham modal dasar; jumlah saham yang diterbitkan dan disetor pembeli; nilai nominal saham; ikhtisar perubahan jumlah saham beredar; dan hak, keistimewaan dan pembatasan yang melekat pada setiap jenis saham, termasuk pembatasan atas deviden dan pembayaran kembali atas modal; 2. penjelasan mengenai cadangan dalam ekuitas.

BAB 5 LAPORAN LABA RUGI Informasi yang disajikan di laporan laba rugi minimal mencakup pos-pos sebagai berikut: 1. pendapatan; 2. beban keuangan; 3. bagian laba atau rugi dari investasi yang menggunakan metode ekuitas; 4. beban pajak; 5. Laba atau rugi netto. Entitas harus menyajikan pos, judul dan sub jumlah lainnya pada laporan laba rugi jika penyajian tersebut relevan untuk memahami kinerja keuangan entitas Entitas tidak boleh menyajikan atau mengungkapkan pos pendapatan dan beban sebagai pos luar biasa baik dalam laporan laba rugi maupun dalam catatan atas laporan keuangan. Entitas menyajikan suatu analisis beban dalam klasifikasi berdasarkan sifat atau fungsi beban dalam entitas, mana yang memberikan informasi yang lebih andal dan relevan analisis menggunakan sifat beban atau analisis menggunakan fungsi beban. BAB 6 LAPORAN PERUBAHAN EKUITAS DAN LAPORAN LABA RUGI DAN SALDO LABA Tujuan laporan perubahan ekuitas adalah menyajikan laba atau rugi entitas untuk suatu periode, pos pendapatan dan beban yang diakui secara langsung dalam ekuitas untuk periode tersebut, pengaruh perubahan kebijakan akuntansi

dan koreksi kesalahan yang diakui dalam periode tersebut, jumlah investasi oleh, dan deviden dan distribusi lain ke pemilik ekuitas selama periode tersebut. Entitas menyajikan laporan perubahan ekuitas yang menunjukkan : 1. laba atau rugi untuk periode; 2. pendapatan dan beban yang diakui langsung dalam ekuitas; 3. untuk setiap komponen ekuitas, pengaruh perubahan kebijakan akuntansi dan koreksi kesalahan yang diakui sesuai bab 9; 4. untuk setiap komponen ekuitas, suatu rekonsiliasi antara jumlah tercatat awal dan akhir periode, diungkapkan secara terpisah perubahan yang berasal dari: a. laba atau rugi; b. pendapatan dan beban yang diakui langsung dalam ekuitas; c. jumlah investasi deviden, dan distribusi lainnya ke pemilik ekuitas, yang menunjukkan secara terpisah modal saham, transaksi saham treasury dan deviden serta distribusi lainnya ke pemilik ekuitas, dan perubahan kepemilikan daam entitas anak yang tidak mengakibatkan kehilangan pengendalian. Tujuan Laporan laba rugi dan saldo laba menyajikan laba atau rugi entits dan perubahan saldo laba untuk suatu periode pelaporan. Informasi yang disajikan dalam laporan laba rugi dan saldo laba adalah : 1. saldo laba pada awal periode pelaporan; 2. deviden yang diumumkan dan dibayarkan atau terutang selama periode ; 3. penyajian kembali saldo laba setelah koreksi kesalahan periode lalu; 4. penyajian kembali saldo laba setelah perubahan kebijakan akuntansi; 5. saldo laba pada akhir periode pelaporan.

BAB 7 LAPORAN ARUS KAS Setara kas adalah investasi jangka pendek dan sangat likuid yang dimiliki untuk memenuhi komitmen kas jangka pendek bukan untuk tujuan investasi atau lainnya. Informasi yang disajikan dalam arus kas meliputi arus kas dari aktivitas operasi, arus kas dari aktivitas investasi, dan arus kas dari aktivitas pendanaan. Arus kas dari aktivitas operasi terutama diperoleh dari aktivitas penghasil utama pendapatan entitas sehingga umumnya berasala dari transaksi dan peristiwa

dan kondisi lain yang mempengaruhi penetapan laba atau rugi. Contohnya penerimaan kas dari penjualan; penerimaan kas dari royalti, fees, komisi dan pendapatan lain; pembayaran kas kepada pemasok; pembayaran kas kepada dan atas nama karyawan; pembayaran kas atau restitusi pajak penghasilan; dan penerimaan dan pembayaran kas dari investasi, pinjaman, dan kontrak lainnya yang dimiliki untuk tujuan perdagangan, yang sejenis dengan persediaan untuk dijual kembali. Arus kas dari aktivitas investasi mencerminkan pengeluaran kas sehubungan dengan sumber daya yang bertujuan untuk menghasilkan pendpatan dan arus kas masa depan. Contoh pembayaran kas untuk perolehan aset tetap, tidak berwujud, dan aset jangka panjang; penerimaan kas dari penjualan aset tetap, tidak berwujud dna jangka panjang; pembayaran kas untuk perolehan efek ekuitas atau efek utang entitas lain dan bunga dalam joint venture; penerimaan kas dari penjualan efek ekuitas atau efek utang dari entitas lain dan bunga dari joint venture; uang muka dan pinjaman; dan penerimaan kas dari pembayaran uang muka dan pinjaman. Arus kas yang berasal dari aktivitas pendanaan adalah penerimaan kas dari penerbitan saham atau efek; pembayaran kas kepada pemegang saham untuk menarik atau menebus saham entitas; penerimaan kas dari pinjaman dan wesel; pelunasan pinjaman; dan pembayaran kas oleh lease.

BAB 8 CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN Catatan atas laporan keuangan harus: 1. menyajikan informasi tentang dasar penyusunan laporan keuangan dan kebijakan akuntansi tertentu yang digunakan; 2. informasi yang disyaratkan dalam SAK ETAP tetapi tidak disajikan dalam laporan keuangan; 3. memberikan informasi tambahan yang tidak disajikan dalam laporan keuangan tetapi relevan untuk memahami laporan keuangan. Urutan penyajian atas catatan atas laporan keuangan adalah: 1. pernyataan bahwa laporan keuangan telah disusun sesuai SAK ETAP; 2. ringkasan kebijakan akuntansi signifikan yang diterapkan;

3. informasi yang mendukung pos-pos laporan keuangan sesuai dengan urutan penyajian setiap komponen pelaporan; 4. pengungkapan lain. Entitas harus mengungkapkan pertimbangan secara terpisah yang melibatkan estimasi dalam kebijakan akuntansi yang signifikan atau catatan atas laporan keuangan lain yang digunakan manajemen dalam penerapana kebijakan akuntansi dan mempunyai pengaruh paling signifikan terhadap jumlah yang diakui dalam laporan keuangan. Entitas harus mengungkapkan dalam catatan atas lapora keuangan tentang informasi mengenai asumsi pokok tentang masa depan dan sumber-sumber pokok lain untuk mengestimasi ketidakpastian pada akhir periode pelaporan keuangan.

BAB 9 KEBIJAKAN DAN ESTIMASI AKUNTANSI DAN KESALAHAN Kebijakan akuntansi adalah prinsip, dasar, konvensi, aturan dan praktik tertentu yang diterapkan oleh suatu entitas dlm menyusun dan menyajikan laporan keuangannya. Jika SAK ETAP secara spesifik mengatur transaksi, kejadian atau keadaan lainnya, maka entitas harus menerapkan SAK ETAP. Jika tidak ditetapkan secara spesifik, maka manajemen harus menggunakan

pertimbangannya untuk mengembangkan dan menerapkan suatu kebijakan akuntansi yang menghasilkan informasi yang relevan bagi pemakai dan andal. Entitas harus memilih dan menerapkan kebijakan akuntansinya secara konsisten untuk transaksi, peristiwa, dan kondisi lain kecuali ETAP secara spesifik menetapkan atau mengijinkan kategori pos-pos sehingga kebijakan akuntansi yang berbeda adalah sesuai. Perubahan kebijakan akuntansi

diperbolehkan jika disyaratkan berubah sesuai SAK ETAP atau akan menghasilkan laporan keuangan yang menyediakan informasi yang andal dan relevan. Entitas harus mengakui pengaruh perubahan estimasi akuntansi secara prospektif dengan memasukkan ke laporan laba rugi pada periode terjadinya perubahan jika hanya berpengaruh pada periode tersebut dan periode terjadinya perubahan dan periode mendatang jika berpengaruh terhadap keduanya. Kesalahan periode lalu adalah kelalaian dan kesalahan pencatatan dalam laporan

keuangan entitas untuk satu atau lebih periode lalu yang muncul dari kegagalan untuk menggunakan atau kesalahan penggunaan informasi yang andal.

BAB 10 INVESTASI PADA EFEK TERTENTU Efek adalah surat berharga yaitu surat pengakuan utang, surat berharga komersial, saham, obligasi, tanda bukti utang, unit penyertaan kontrak dan setiap derivatif dari efek. Efek terdiri dari efek utang dan efek ekuitas. Efek utang adalah efek yang menunjukkan hubungan utang piutang antara kreditor dengan entitas penerbit efek. Efek ekuitas adalah efek yang menunjukkan hak kepemilikan atas suatu ekuitas atau hak untuk memperoleh atau hak untuk menjual kepemilikan tersebut dengan harga yang telah atau akan ditetapkan. Pada saat perolehan, entitas harus mengklasifikan efek ke dalam klasifikasi menjadi: 1. dimiliki hingga jatuh tempo; 2. diperdagangkan; 3. tersedia untuk dijual; Pada setiap tanggal pelaporan, kelayakan pengelompokan tersebut harus ditelaah ulang. Efek yang dimiliki hingga jatuh tempo disajikan dalam neraca sebesar biaya perolehan setelah amortisasi premi atau diskonto. Penjualan atau transfer efek utan tidak dianggap sebagai perubahan dlm tujuan held to maturity jika disebabkan kondisi sebagai berikut ini. 1. Terhadap bukti tentang penurunan signifikan risiko kredit entitas penerbit. 2. Perubahan peraturan perpajakan yang menghapuskan atau menaikkan tarif pajak final yang berlaku atas bunga dari efek utang. 3. Penggabungan usaha atau penjualan dalam jumlah besar. 4. Perubahan persyaratan atau peraturan perundangan yang mengubah definisi investasi yang diizinkan. 5. Perubahan peraturan pemerintah mengenai modal minimal industri tertentu yang mengakibatkan entitas mengurangi aktivitas usahanya. 6. Perubahan peraturan pemerintah yang mengakibatkan bertambahnya bobot resiko atas investasi efek utang.

Efek dalam kelompok diperdagangkan biasanya menunjukkan frekuensi pembelian dan penjualan yang sangat sering dilakukan. Laba atau rugi yang belum terealisasi atas efek dalam kelompok diperdagangkan harus diakui sebagai penghasilan, dan dimasukkan sebagai komponen ekuitas yang disajikan secara terpisah dan tidak boleh diakui sebagai penghasilan sampai saat laba atau rugi tersebut dapat direalisasi. Deviden dan pendapatan bunga diakui sebagai penghasilan. Perubahan efek antar kelompok dicatat sebesar nilai wajarnya. Jika terjadi penurunan nilai wajar yang dianggap sebagai penurunan permanen, biaya perolehan efek individual harus harus diturunkan sebesar nilai wajarnya dan jumlah penurunan nilai tersebut diakui dalam laporan laba rugi sebagai rugi yang telah direalisasi. Efek yang dimiliki hingga jatuh tempo dan efek tersedia dijual disajikan sebagai aset lancar atau tidak lancar berdasarkan keputusan manajemen.

BAB 11 PERSEDIAAN Entitas harus mengukur nilai persediaan pada nilai mana yang lebih rendah antara biaya perolehan dan harga jual dikurangi biaya untuk menyelesaiakan dan menjual. Biaya perolehan persediaan mencakup seluruh biaya pembelian, biaya konversi, dan biaya lainnya yang terjadi sampai persediaan siap digunakan. Jika persediaan dijual, maka jumlah tercatanya diakui sebagai beban periode dimana pendapatan yang terkait diakui. Berkaitan dengan persediaan, entitas harus mengungkapkan : 1. Kebijakan akuntansi. 2. Total jumlah persediaan yang diakui sebagai beban selama periode. 3. Jumlah penurunan persediaan dan pemulihannya yang diakui dalam laporan laba rugi. 4. Jumlah tercatat persediaan yang diagunkan.

BAB 12 INVESTASI PADA ENTITAS ASOSIASI DAN ENTITAS ANAK Entitas asosiai adalah suatu entitas termasuk entitas bukan PT, dimana investor mempunyai pengaruh yang signifikan dan bukan merupakan entitas anak ataupun bagian dalam joint venture. Ivestor dikatakan mempunyai pengaruh

signifikan jika memiliki saham 20%. Entitas anak adalah suatu entitas yang dikendalikan oleh entitas induk. Pengendalian diartikan sebagai kemampuan untuk mengatur kebijakan keuangan dan operasional dari suatu entitas sehingga mendapatkan manfaat dari aktivitas tersebut. Pengendalian dianggap ada jika entitas induk memiliki setengah dari hak suara . Investor harus mengukur investasi pada entitas asosiasi dengan menggunakan metode biaya, dimana investasi diukur pada biaya perolehan dikurangi akumulasi kerugian penurunan nilai. Investor harus mengakui dividen dan penerimaan distribusi lainnya sebagai penghasilan. Investor harus mencatat investasi pada entitas anak dengan menggunakan metode ekuitas, dimana investasi diakui pada biaya perolehan dan disesuaikan untuk mencerminkan bagian investor atas laba /rugi dan pendapatan/beban ari entitas anak. Investor harus mencatat investasi pada entitas anak dengan menggunakan metode ekuitas (equity method), dimana entitas anak awalnya diakui pada biaya perolehan (termasuk biaya transaksi). Entitas anak tidak dikonsolidasikan dalam laporan keuangan investor. Investor harus mengungkapkan : 1. Kebijakan akuntansi. 2. Jumlah tercatat investasi. 3. Nilai wajar. 4. Divide dan pendapatan bunga yang diakui sebagai penghasilan pada investasi asosiasi. BAB 13 INVESTASI PADA JOINT VENTURE Joint venture adalah perjanjian kontraktual dimana dua pihak atau lebih menjalankan aktivitas ekonomi yang menjadi subyek pengendalian bersama, dan dpat berbentuk pengendalian bersama operasi, pengendalian bersama aset dan pengendalian bersama entitas. Pengendalian bersama adalah kesepakatan kontraktual berbagi pengendalian atas suatu aktiva ekonomi berdasarkan kesepakatan kedua belah pihak. Pengendalian bersama operasi meliputi pemanfaatan aset dan sumber daya lain dari para venture dan tidak memerlukan pembentukan badan usaha baru. Setiap venture mengakui dan menyajikan dalam laporan keuangan masingmasing mengenai aset yang dikendalikan dan

kewajiban yang timbul dari aktivitasnya sendiri serta beban yang terjadi atas aktivitas sendiri dan bagiannya atas pendapatan bersama dari penjualan barang dan jasa. Untuk pengendalian bersama aset, venture harus mengakui dalam laporan keuangannya : 1. Bagiannya atas pengendalian bersama aset. 2. Kewajiban yang terjadi. 3. Bagiannya atas kewajiban yang timbul bersama dengan venture lain. 4. Pendapatan dari penjualan atau pemakaian atas bagian keluaran joint venture. 5. Beban lain yang terjadi terkait dengan bagiannya di joint venture. Pengendalian bersama entitas adalah joint venture yang melibatkan pendirian suatu perusahaan dimana setiap venture memiliki bagian. Venturer harus mengukur investasi pada biaya perolehan dikurangi akumulasi kerugian penurunan nilai. Investor pada joint venture harus mengungkapkan: 1. Kebijakan akuntansi. 2. Jumlah tercatat investasi. 3. Jumlah agregat komitmennya.

BAB 14 PROPERTI INVESTASI Properti investasi adalah properti ( tanah, bangunan atau keduanya) yang dikuasai oleh pemilik atau lesse melalui sewa pembiayaan untuk menghasilkan sewa atau untuk kenaikan nilai atau kedua duanya dan tidak untuk digunakan dalam produksi dan dijual dalam kegiatan sehari-hari. Pada saat pengakuan awal, property investasi diukur pada biaya perolehannya. Setelah pengakuan awal, seluruh property investasi harus diukur pada biaya perolehan dikurangi akm penyusutan dan kerugian penurunan nilai. Entitas harus mentransfer suatu properti ke dalam properti investasi jika properti tersebut memenuhi definisi investasi, atau tidak memenuhi definisi properti investasi.

BAB 15 ASET TETAP Aset tetap adalah aset berwujud yang dimiliki untuk digunakan dalam produksi atau penyediaan barang atau jasa, untuk disewakan ke pihak lain atau untuk tujuan administratif dan diharapkan akan digunakan lebih dari satu periode. Pada saat pengakuan awal aset tetap harus diukur sebesar biaya perolehan. Biaya perolehan aset: 1. Harga beli. 2. Biaya yang dapat diatributkan langsung untuk membawa aset ke lokasi dan kondisi siap digunakan. 3. Estimasi awal biaya pembongkaran aset, pemindahan dan restorasi. Biaya berikut bukan termasuk biaya perolehan: 1. Biaya pembukaan fasilitas baru. 2. Biaya pengenalan produk atau jasa baru. 3. Biaya penyelenggaraan bisnis di lokasi baru.\Biaya adm dan overhead umum lainnya. Biaya perolehan aset tetap adalah setara harga tunainya pada tanggal pengakuan. Pertukaran aset dengan aset nonmoneter atau kombinasi keduanya biaya perolehan diukur pada nilai wajar kecuali transaksi pertukaran tidak memiliki substansi komersial dan nilai wajar aset yang diterima atau aset yang diserahkan tidak dapat diukur secara andal. Pengeluaran setelah pengakuan awal suatu aset tetap yang memperpanjang umur manfaat harus ditambahkan pada jumlah tercatat aset tetap tersebut. Pengeluaran setelah pengakuan awal aset hanya diakui sebagai suatu aset jika pengeluaran meningkatkan kondisi aset melibihi standar kinerja semula. Entitas harus mengukur seluruh aset tetap setelah pengakuan awal pada biaya perolehan dikurang akm penyusutan dan akm kerugian penurunan nilai. Penilaian kembali pada umumnya tidak diperkenankan karena ETAP menganut penilaian aset erdasarkan biaya perolehan atau harga pertukaran. Penyusutan harus diakui dalam laporan laba rugi. Entitas harus mengalokasikan jumlah aset yang dapat disusutkan secara sistematis selama umur manfaatnya. Penyusutan dimulai ketika suatu aset tersedia untuk digunakan. Entitas harus mempertimbangkan faktor berikut dalam menentukan umur manfaat :

1. Perkiraan daya pakai aset. 2. Perkiraan tingkat keausan fisik yang tergantung pada faktor pengoperasian. 3. Keusangan teknis dan komersial yang diakibatkan oleh perubahan atau peningkatan produksi. 4. Pembatasan hukum. Beberapa metode penyusutan yang dapat dipakai: garis lurus, saldo menurun dan metode jumlah produksi. Entitas harus menghentikan pengakuan aset tetap pada saat dilepaskan atau ketika tidak ada manfaat ekonomi masa depan yang diekspektasikan dari penggunaan atau pelepasannya. Keuntungan dan kerugian harus dikaui atas penghentian, keuntungan tidak boleh diklasifikasikan sebagai pendapatan. Untuk setiap kelompok aset harus diungkapkan: 1. Dasar pengukuran yang digunakan untuk menentukan jumlah tercatat bruto. 2. Metode penyusutan yang digunakan. 3. Umur manfaat. 4. Jumlah tercatat bruto. 5. Rekonsiliasi jumlah tercatat pada awal dan akhir periode yang mnunjukkan penambahan, pelepasan, kerugian penurunan nilai, penyusutan dan perubahan lainnya. 6. Keberadaan dan jumlah pembatasan atas hak milikdan aset tetap yang dijaminkan untuk utang. 7. Jumlah komitmen kontrak untuk memperoleh aset tetap. BAB 16 ASET TIDAK BERWUJUD Aset tidak berwujud adalah aset nonmoneter yang dapat diidentifikasikan dan tidak mempunyai wujud fisik. Suatu aset dapat diidentifikasikan jika: 1. Dapat dipisahkan , yaitu kemampuannya untuk menjadi terpisah atau terbagi dari entitas dan dijual, dialihkan, dilisensikan, disewakan atau ditukarkan melalui suatu kontrak terkait aset atau kewajiban secara individual atau bersama. 2. Muncul dari hak kontraktual. Aseti tidak berwujud termasuk efek dan hak atas mineral dan cadangan mineral. Aset tidak berwujud diakui jika:

1. Kemungkinan entitas akan memperoleh manfaat ekonomi masa depan dari aset tersebut. 2. Biaya perolehan aset atau nilai aset tersebut dapat diukur dengan andal Jika diperoleh melalui pertukaran maka biaya perolehan aset tidak berwujud harus diukur sebesar nilai wajar kecuali: 1. Transaksi pertukaran tidak memiliki substansi komersial. 2. Nilai wajar aset yang diterima atau diberikan tidak dapat diukur secara andal BAB 17 SEWA Sewa diklasifikasikan sebagai sewa pembiayaan jika sewa mengalihkan secara substansial seluruh manfaat dan risiko kepemilikan aset. Diklasifikasikan sebagai sewa operasi jika sewa tidak mengalihkan secara substantial seluruh manfaat dan resiko kepemilikan aset. Ciri cirri sewa pembiayaan: 1. Sewa mengalihkan kepemilikan aset kepada lesse pada akhir masa sewa. 2. Lesse mempunyai opsi untuk membeli aset pada harga yang cukup rendah dibandingkan nilai wajar pada tanggal opsi mulai dapat dilaksanakan. 3. Masa sewa adalah untuk sebagian besar umur ekonomi aset meskipun hak milik tidak dialihkan. 4. Pada masa awal sewa nilai kini dari jumlah pembayaran sewa minimum secara substantial mendekati nilai wajar aset sewaan. 5. Aset sewaan bersifat khusus dan dimana hanya lesse yang dapat menggunakannya tanpa perlu modifikasi secara material. Pada awal masa sewa, lesse harus mengakui hak dan kewajiban dalam sewa pembiayaan sebagai aset dan kewajiban dalam neraca sebesar nilai tunai ditambah nilai residu. Tingkat diskonto ditentukan dari tingkat bunga yang dibebankan oleh lessor. Setiap pembayaran sewa dialokasikan sebagai angsuran pokok kewajiban dan bunga. Lesse harus mengungkapkan: 1. Jumlah pembayaran sewa. 2. Penyusutan aset sewaan. 3. Jaminan yang diberikan. 4. Keuntungan atau kerugian yang ditangguhkan. 5. Ikatan penting yang dipersyaratkan.

BAB 18 KEWAJIBAN DIESTIMASI DAN KONTINJENSI Entitas mengakui kewajiban diestimasi jika: 1. Memiliki kewajiban kini sebagai hasil dari peristiwa masa lalu. 2. Kemungkinan terjadi bahwa entitas akan disyaratkan untuk mentransfer manfaat ekonomi pada saat penyelesaian. 3. Jumlah kewajiban dapat diestimasi dengan andal Entitas mengakui kewajiban diestimasi sebagai kewajiban dalam neraca dan mengakui jumlah kewajiban diestimasi tersebut sebagai beban dalam laporan laba rugi, kecuali jika: 1. Merupakan bagian dari biaya memproduksi persediaan. 2. Termasuk dalam nilai aset tetap Jumlah yang diakui sebagai kewajiban diestimasi adalah hasil estimasi terbaik pengeluaran yang diperlukan untuk menyelesaikan kewajiban kini pada tanggal pelaporan. Jika dampak nilai waktu uang cukup material, maka jumlah kewajiban diestimasi adalah nilai kini dari perkiraan nilai pengeluaran yang diperlukan untuk menyelesaikan kewajiban. Kewajiban kontinjensi merupakan kawajiban potensial yang belum pasti atau kewajiban kini yang tidak diakui. Entitas tidak boleh mengakui kewajiban kontinjensi sebagai kewajiban. Entitas tidak boleh mengakui aset kontinjensi sebagai aset. Untuk setiap jenis kewajiban diestimasi, entitas harus mengungkapkan: 1. Jumlah tercatat awal dan akhir periode. 2. Kewajiban diestimasi tambahan. 3. Jumlah yang digunakan selama periode bersangkutan. 4. Jumlah yang belum digunakan selama periode besangkutan. 5. Peningkatan nilai kini. 6. Uraian singkat mengenai sifat kewajiban dan perkiraan saat arus keluar sumber daya terjadi. 7. Indikasi ketidakpastian jumlah dan saat arus ks keluar. 8. Jumlah ekspektasi penggantian Entitas mengungkapkan setiap jenis kewajiban kontinjensi pada saat pelaporan, uraian dan sifat kontinjensi dan jika praktis dilakukan:

1. Estimasi dampak keuangan . 2. Indikasi ketidakpastian. 3. Kemungkinan penggantian oleh pihak ketiga. BAB 19 EKUITAS Bab ini mengatur ekuitas untuk entitas perorangan, persekutuan perdata, firma, CV, perseroaan terbatas, dan koperasi. Akuntansi ekuitas badan usaha bukan PT dilaporkan sesuai dengan peraturan perundangan yang berlaku untuk badan usaha tersebut dan standar akuntansi keuangan yang relevan. Modal saham badan usaha berbentuk PT meliputi saham preferen, saham biasa dan akun tambahan modal disetor. Pos modal lain seperti modal yang berasal dari sumbangan dapat disajikan sebagai bagian dari tambahan modal disetor. Penambahan modal disetor PT dicatat berdasarkan: 1. jumlah uang yang diterima; 2. setoran saham dalam bentuk uang sesuai transaksi yang nyata; 3. besarnya tagihan yang timbul atau utang yang dikonversi menjadi modal; 4. setoran dalam dividen saham dilakukan dengan harga saham wajar yang disepakati; 5. nilai wajar aset bukan kas yang diterima; 6. setoran saham dalam bentuk barang menggunakan nilai wajar aset bukan kas yang diserahkan, yaitu nilai appraisal tanggal transaksi yang disetujui dewan komisaris. Pencatatan pengurangan modal disetor PT: 1. jumlah uang yang dibayarkan; 2. besarnya utang yang timbul; 3. nilai wajar aset bukan kas yang diserahkan. Pengeluaran saham PT dicatat sebesar nilai nominal yang bersangkutan dan apabila ada selisih lebih dibukukan pada agio saham. Perolehan kembali saham yang telah dikeluarkan dapat dicatat dengan menggunakan metode biaya atau metode nilai pari. Dividen dapat dibagikan dalam bentuk kas maupun aset bukan kas.

Penyajian modal didalam neraca dilakukan sesuai dengan ketentuan pada akta pendirian entitas dan peraturan yang berlaku serta menggamberkan hubungan keuangan yang ada. Modal dasar, modal ditempatkan dan modal disetor, nilai nominal dan banyaknya saham untuk setiap jenis saham dinyatakan dalam neraca. Saldo laba dinyatakan terpisah dari akun modal saham. Seluruh saldo laba dianggap bebas untuk dibagikan kecuali jika diberikan indikasi mengenai pembatasan terhadap saldo laba. Pengungkapan saldo laba meliputi penjatahan dan pemisahan saldo laba; peraturan, perikatan, batasan dan jumlah batasan di sekitar saldo laba; koreksi masa lalu; pengungkapan jumlah deviden dan dividen per lembar saham; tunggakan deviden; dan pengungkapan deklarasi deviden setelah tanggal neraca, sebelum penyelesaian laporan keuangan. Pengungkapan per jenis saham terdiri dari modal dasar; modal ditempatkan atau dipesan belum disetor; modal disetor; harga nominal per lembar; perubahan lembar saham tiap jenis saham dan saldo nilai rupiah per jenis saham ; hak istimewa; batasan khusus; dan penjelasan bila dapat konversi, tarif konversi. Pengungkapan deviden meliputi jumlah deviden; dividen per lembar saham; bentuk dividen; batasan saldo laba minimum; utang dividen; pengumuman pembagian deviden; dan jumlah kapitalisasi deviden saham dan pemecahan saham. Pengungkapan saham beredar yang diperoleh kembali : 1. Saham beredar, metode biaya disajikan sebagai pengurang jumlah modal; 2. Saham beredar yang diperoleh kembali, metode nilai nominal sebagai pengurang saham sejenis. BAB 20 PENDAPATAN Pendapatan diukur berdasarkan nilai wajar atas pembayaran yang diterima atau masih harus diterima., dan tidak termasuk diskon penjualan dan potongan volume. Pembayaran tangguhan dinilai berdasarkan present value dari seluruh penerimaan masa depan yang ditentukan berdasarkan tingkat bunga terkait. Pertukaran barang atau jasa hanya boleh diakui jika tidak sejenis, dan diukur pada nilai wajar. Pendapatan penjualan barang diakui jika kondisi berikut terpenuhi: 1. resiko dan manfaat telah beralih ke pembeli;

2. tidak ada keterlibatan manajerial; 3. dapat diukur jumlahnya dengan andal; 4. terdapat kemungkinan besar manfaat ekonomi yang berhubungan dengan transaksi akan mengalir masuk ke dalam perusahaan; 5. Biaya yang telah atau akan terjadi sehubungan dengan transaksi dapat diukur secata andal. Pendapatan dari penyediaan jasa dapat diakui sesuai dengan tahap penyelesaian transaksi. Pengungkapan pendapatan: 1. kebijakan akuntansi yang diterapkan sebagai dasar pengakuan pendapatan; 2. jumlah setiap kategori pendapatan yang diakui selama periode termasuk pendapatan yang timbul dari penjualan barang, penyediaan jasa, bunga, royalty, dividen, dan jenis pendapatan signifikan lainnya. Pengungkapan pendapatan kontrak konstruksi: 1. jumlah pendapatan kontrak yang diakui sebagai pendapatan dalam periode pelaporan; 2. metode yang digunakan untuk menentukan pendapatan kontrak yang diakui dalam periode pelaporan; 3. metode yang digunakan untuk menentukan tingkat penyelesaian kontrak yang sedang berjalan. BAB 21 BIAYA PINJAMAN Biaya pinjaman mencakup: 1. bunga untuk cerukan bank dan pinjaman jangka pendek dan jangka panjang; 2. amortisasi , diskonto atau premium terkait pinjaman 3. amortisasi biaya tambahan yang timbul sehubungan dengan proses perjanjian peminjaman; 4. beban pembiayaan sesuai dengan sewa pembiayaan yang diakui; 5. perbedaan nilai tukar yang timbul dari pinjaman dalam mata uang asing. Pengakuan seluruh biaya pinjaman sebagai beban pada laporan laba rugi di periode terjadinya. Pengungkapan meliputi besarnya biaya pinjaman.

BAB 22 PENURUNAN NILAI ASET Penurunan nilai pinjaman yang diberikan dan piutang dibentuk sebesar estimasi kerugian yang tidak dapat ditagih. Penurunan persediaan dinilai berdasarkan harga jual dikurangi biaya untuk menyelesaikan dan menjual. Entitas harus menilai pada setiap tanggal pelaporan apakah terdapat indikasi penurunan nilai pada aset. Jika ada, entitas harus mengestimasi nilai wajar dikurangi biaya untuk menjual aset tersebut. Pengungkapan adalah sebagai berikut: 1. jumlah kerugian penurunan nilai yang diakui dlm laporan laba rugi sesuai periode terjadinya; 2. jumlah dari pemulihan kerugian penurunan nilai yang diakui dalam laporan laba rugi sesuai periode terjadinya; 3. Informasi mengenai pinjaman yang diberikan, persediaan, aset tetap, property investasi, aset tidak berwujud, investasi pada entitas asosiasi, dan investasi pada joint venture. BAB 23 IMBALAN KERJA Imbalan kerja adalah semua bentuk imbalan yang diberikan oleh entitas sebagai pertukaran atas jasa yang diberikan oleh pekerja, termasuk direktur dan manajemen. Pengakuan umum imbalan kerja dapat sebagai kewajiban, setelah dikurang jumlah yang telah dibayar baik secara langsung kepada pekerja atau sebagai kontribusi kepada dana imbalan kerja atau sebagai beban. Imbalan dapat berupa berikut ini. 1. Imbalan kerja jangka pendek, meliputi: upah, gaji dan iurang jaminan sosial; cuti berimbalan jangka pendek; bagi laba dan bonus terutang dalam waktu 12 bulan setelah akhir periode pelaporan sat pekerja memberikan jasa terkait; dan imbalan non moneter. 2. Imbalan pasca-kerja adalah imbalan kerja yang terutang setelah pekerja menyelesaikan masa kerjanya. Termasuk tunjangan pensiun atau asuransi jiwa dan perawatan kesehatan pasca kerja. masing-masing kelompok aset

3. Imbalan kerja jangka panjang adalah yang tidak seluruhnya jatuh tempo dalam waktu 12 bulan setelah pekerja memberikan jasanya. Terdiri dari kompensasi cuti jangka panjang seperti cuti pengabdian atau cuti hari raya, imbalan pengabdian, imbalan cacat jangka panjang, bagi hasil dan bonus yang terutang 12 bulan atau lebih setelah akhir periode di mana pekerja memberikan jasa terkait, dan kompensasi yang tertunda yang dibayarkan 12 bulan atau lebih setelah akhir periode kompensasi tersebut diperoleh. 4. Pesangon pemutusan kerja adalah pembayaran entitas kepada pekerja nya bila diberhentikan dari pekerjaan. Karena pesangon tidak memberikan entitas manfaat ekonomi masa datang, maka entitas harus segera mengakui sebagai beban dalam laporan laba rugi. BAB 24 PAJAK PENGHASILAN Pajak penghasilan termasuk pajak domestik dan luar negeri sebagai dasar pengahsilan kena pajak. Entitas harus mengakui kewajiban atas seluruh pajak penghasilan periode berjalan dan periode selanjutnya yang belum dibayar. Apabila jumlah pajak yang harus dibayar melebihi jumlah yang terutang, maka entitas harus mengakui kelebihan tersebut sebagai aset. Entitas harus mengungkapkan secara terpisah komponen-komponen utama beban pajak penghasilan. BAB 25 MATA UANG PELAPORAN Mata uang fungsional adalah mata uang utama dalam arti substansi ekonomi, yaitu mata uang utama yang dicerminkan dalam kegiatan operasi entitas. Mata uang pelaporan adalah mata uang yang digunakan dalam menyajikan laporan keuangan. Mata uang pencatatan adalah mata uang yang digunakan oleh entitas untuk membukukan transaksi. Mata uang pelaporan yang digunakan oleh entitas di Indonesia adalah mata uang rupiah. Mata uang pencatatan harus sama dengan mata uang pelaporan. Suatu mata uang merupakan mata uang fungsional jika memiliki indikator, antara lain: indikator arus kas; indikator harga jual; dan indikator biaya. Penentuan saldo awal untuk tujuan pencatatan akuntansi dilakukan dengan

pengukuran kembali akun-akun laporan keuangan seolah-olah mata uang fungsional tersebut telah digunakan sejak tanggal terjadinya transaksi. Laporan keuangan harus disajikan kembali jika entitas merubah mata uang pelaporan. BAB 26 TRANSAKSI DALAM MATA UANG ASING Transaksi mata uang asing adalah transaksi yang didenominasi atau harus diselesaikan dalam mata uang asing, yang meliputi transaksi yang timbul ketika entitas: membeli atau menjual barang atau jasa; meminjam atau meminjamkan dana; dan memperoleh atau melepas aset. Entitas harus mencatat transaksi mata uang asing, pada pengakuan awal dalam mata uang fungsional, dengan menggunakan kurs tunai (spot rate) pada tanggal transaksi antara mata uang fungsional dan mata uang asing tersebut. Tanggal transaksi adalah tanggal

dimana transaksi pertama kali memenuhi syarat pengakuan sesuai dengan SAK ETAP. Pada akhir periode pelaporan , entitas harus melaporkan pos moneter dengan kurs tanggal neraca, dan pos non moneter yang diukur pada nilai wajar maka dicatat dengan kurs pada tanggal nilai wajar. Entitas harus mengakui keuntungan atau kerugian selisih kurs pada laporan laba rugi periode terjadinya yang timbul dari penyelesaian transaksi moneter. Entitas harus mengungkapkan: mata uang yang disajikan dalam laporan keuangan dan jumlah selisih kurs yang diakui dalam laporan laba rugi. Jika entitas menyajikan laporan keuangan atau informasi keuangan lainnya dalam mata uang yang berbeda dengan mata uang fungsional atau mata uang pelaporan, maka entitas harus: mengidentifikasi informasi tambahan; mengungkapkan mata uang yang digunakan; dan mengungkapkan mata uang fungsional dan metode penjabaran yang digunakan untuk menentukan informasi tambahan. BAB 27 PERISTIWA SETELAH AKHIR PERIODE PELAPORAN Peristiwa setelah akhir periode pelaporan adalah peristiwa-peristiwa, baik menguntungkan maupun tidak menguntungkan, yang terjadi setelah akhir periode pelaporan sampai dengan tanggal penyelesaian laporan keuangan. sampai dengan tanggal penyelesaian laporan keuangan. Ada dua jenis peristiwa setelah akhir

periode pelaporan, yaitu: Peristiwa yang memberikan bukti atas suatu kondisi yang telah terjadi pada akhir periode pelaporan (peristiwa setelah akhir periode pelaporan yang memerlukan penyesuaian) dan peristiwa yang mengindikasikan timbulnya suatu kondisi setelah akhir periode pelaporan (peristiwa setelah akhir periode pelaporan yang tidak memerlukan penyesuaian). Jika entitas mengumumkan dividen kepada pemegang saham setelah akhir periode pelaporan, maka entitas tidak boleh mengakui dividen tersebut sebagai kewajiban pada akhir periode pelaporan.Entitas harus mengungkapkan tanggal penyelesaian laporan keuangan. Entitas harus mengungkapkan untuk setiap kategori peristiwa setelah akhir periode pelaporan yang tidak memerlukan penyesuaian. BAB 28 PENGUNGKAPAN PIHAK-PIHAK YANG MEMPUNYAI

HUBUNGAN ISTIMEWA Entitas harus memberikan pengungkapan yang diperlukan dalam laporan keuangannya untuk memberi perhatian pada kemungkinan posisi keuangan dan laba atau rugi entitas telah terpengaruh oleh adanya pihak-pihak yang mempunyai hubungan istimewa serta transaksi dan saldo dengan pihak-pihak tersebut. Hubungan antara entitas induk dan entitas anak harus diungkapkan, walaupun ada atau tidak terdapat transaksi antar pihak-pihak yang mempunyai hubungan istimewa. Transaksi pihak yang mempunyai hubungan istimewa adalah pengalihan sumber daya, jasa atau kewajiban antar pihak-pihak yang mempunyai hubungan istimewa, terlepas dari harga yang dibebankan. Jika terdapat transaksi antara pihak-pihak yang mempunyai hubungan istimewa, maka harus diungkapkan sifat dari hubungan tersebut, juga informasi yang diperlukan tentangtransaksi dan saldonya untuk memahami dampak potensial hubungan tersebut terhadap laporan keuangan. Entitas tidak boleh menyatakan bahwa transaksi tersebut dilakukan setara dengang pihak yang faham dan berkeingingan untuk melakukan transaksi kecuali syarat tersebut dapat dibenarkandapat dibenarkan.

BAB 29 KETENTUAN TRANSISI Entitas menerapkan SAK ETAP secara retrospektif, namun jika tidak praktis, maka entitas diperkenankan untuk menerapkan SAK ETAP secara prospektif. Kebijakan akuntansi yang digunakan oleh entitas pada saldo awal neracanya berdasarkan SAK ETAP mungkin berbeda dari yang digunakan untuk tanggal yang sama dengan menggunakan kerangka pelaporan keuangan sebelumnya. Pada tahun awal penerapan SAK ETAP, entitas yang memenuhi persyaratan untuk menerapkan SAK ETAP dapat menyusun laporan keuangan tidak berdasarkan SAK ETAP, tetapi berdasarkan PSAK non-ETAP sepanjang diterapkan secara konsisten. Entitas yang menyusun laporan keuangan berdasarkan SAK ETAP kemudian tidak memenuhi persyaratan entitas yang boleh menggunakan SAK ETAP, maka entitas tersebut tidak diperkenankan untuk menyusun laporan keuangan berdasarkan SAK ETAP. Entitas yang sebelumnya menggunakan PSAK nonETAP dalam menyusun laporan keuangannya dan kemudian memenuhi persyaratan entitas yang dapat menggunakan SAK ETAP, maka entitas tersebut dapat menggunakan SAK ETAP ini dalam menyusun laporan keuangan. BAB 30 TANGGAL EFEKTIF SAK ETAP diterapkan untuk penyusunan laporan keuangan yang dimulai pada atau setelah 1 Januari 2011. Penerapan dini diperkenankan. Jika SAK ETAP diterapkan dini, maka entitas harus menerapkan SAK ETAP untuk penyusunan laporan keuangan yang dimulai pada atau setelah 1 Januari 2010.