Anda di halaman 1dari 14

BUDIDAYA SAWI HIJAU (Brassica rapa L) ORGANIK Proposal ini di susun untuk memenuhi salah satu tugas Mata

Kuliah Sistem Pertanian Berkelanjutan I Organik

Disusun Oleh : Kelompok 6 Leni Nurlaeli I Hary Luviandy Mansi Putera Mita Rachmawati Fulki Citra 150510090133 150510090134 150510090150 150510090153 150510090168

PROGRAM STUDI AGROTEKNOLOGI FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS PADJADJARAN 2012

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar belakang Pada abad ke 21, masyarakat di dunia mulai menyadari akan bahaya yang ditimbulkan oleh pemakaian bahan kimia sintetis dalam pertanian. Orang semakin hati-hati dalam memilih bahan pangan yang aman bagi kesehatan dan ramah lingkungan. Gaya hidup sehat dengan slogan Back to Nature telah menjadi sesuatu yang baru dengan meninggalkan pola hidup lama yang menggunakan bahan kimia non alami, seperti pupuk, pestisida kimia sintetis dan hormon tumbuh dalam produksi pertanian. Tanaman yang sehat tanpa mengandung bahan kimia dan bahaya lingkungan dapat diproduksi dengan metode baru yang dikenal dengan pertanian organik. Pertanian organik adalah teknik budidaya pertanian yang mengandalkan bahan-bahan alami tanpa menggunakan bahan-bahan kimia sintetis. Tujuan utama pertanian organik adalah menyediakan produk-produk pertanian yang aman bagi kesehatan produsen dan konsumennya serta tidak merusak lingkungan. Gaya hidup sehat demikian telah melembaga secara internasional yang mensyaratkan jaminan bahwa produk pertanian harus aman dikonsumsi, kandungan nutrisi tinggi dan ramah lingkungan. Pernyataan konsumen seperti ini menyebabkan permintaan produk pertanian organik meningkat pesat. Salah satu produk pertanian organik yang mendapat perhatian lebih dari masyarakat Indonesia yaitu sayuran. Sayuran sangat penting dikonsumsi untuk kesehatan masyarakat. Nilai gizi makanan dapat diperbaiki dengan mengkonsumsi sayuran karena sayuran merupakan sumber vitamin, mineral, protein nabati dan serat. Sawi merupakan jenis sayur yang digemari oleh masyarakat Indonesia. Konsumennya mulai dari golongan masyarakat kelas bawah hingga golongan

masyarakat kelas atas. Kelebihan lainnya sawi mampu tumbuh baik di dataran rendah maupun dataran tinggi. Sawi mempunyai nilai ekonomi tinggi setelah kubis krop, kubis bunga, dan brokoli. Tanaman sawi diduga berasal dari Tiongkok (Cina), tanaman ini telah dibudidayakan sejak 2500 tahun lalu, kemudian menyebar luas ke Filipina dan Taiwan (Rukmana, 2002). 1.2 Identifikasi masalah Bagimana tekhnik budidaya organik untuk tanaman sawi? Bagimana cara pembuatan kompos organik untuk tanaman sawi? Bagimana hasil yang di dapatkan dari tanaman organik dengan tanaman yang biasa dilakukan?

1.3 Tujuan Tujuan dari pembuatan proposal ini yaitu: Agar mahasiswa mengetahui tekhnik budidaya sawi organik Agar mahasiswa dapat mempraktekan cara pembuatan kompos organik Agar mahasiswa mengatahui perbandingan hasil dari pertanian organik dengan pertanian yang biasa dilakukan

BAB II BAHAN DAN METODE 2.1 Budidaya Sawi Organik Tekhnik budidaya tanaman sawi organik tidak berbeda jauh dengan tehnik budidaya tanaman sayuran lainnya. Untuk budidaya organik di lahan meliputi proses pengolahan lahan, penyiapan benih, tehnik penanaman, penyediaan pupuk dan pestisida, serta pemeliharaan tanaman. Berikut akan dibahas beberapa tehnik budidaya sawi secara organik: 2.1.1 Benih Benih merupakan salah satu faktor penentu keberhasilan usaha tani. Benih yang baik akan menghasilkan tanaman yang tumbuh dengan baik pula. Kebutuhan benih sawi untuk setiap hektar lahan tanam sebesar 750 gram. Benih sawi berbentuk bulat, kecil-kecil. Permukaannya licin mengkilap dan agak keras. Warna kulit benih coklat kehitaman. Benih yang akan kita gunakan harus mempunyai kualitas yang baik, seandainya beli harus kita perhatikan lama penyimpanan, varietas, kadar air, suhu dan tempat menyimpannya. Selain itu juga harus memperhatikan kemasan benih harus utuh. kemasan yang baik adalah dengan alumunium foil. Apabila benih yang kita gunakan dari hasil pananaman kita harus memperhatikan kualitas benih itu, misalnya tanaman yang akan diambil sebagai benih harus berumur lebih dari 70 hari. Dan penanaman sawi yang akan dijadikan benih terpisah dari tanaman sawi yang lain. Juga memperhatikan proses yang akan dilakukan mesilnya dengan dianginkan, tempat penyimpanan dan diharapkan lama penggunaan. Dalam budidaya sawi organic, benih yang digunakan tidak boleh berasal dari benih GMO melainkan dari benih lokal unggul 2.1.2 Pengolahan Tanah Pengolahan tanah secara umum melakukan penggemburan dan pembuatan bedengan. Tahap-tahap pengemburan yaitu pencangkulan untuk memperbaiki struktur tanah dan sirkulasi udara dan pemberian pupuk dasar untuk memperbaiki fisik serta kimia tanah yang akan menambah kesuburan lahan yang akan kita

gunakan. Tanah yang hendak digemburkan harus dibersihkan dari bebatuan, rerumputan, semak atau pepohonan yang tumbuh. Dan bebas dari daerah ternaungi, karena tanaman sawi suka pada cahaya matahari secara langsung. Sedangkan kedalaman tanah yang dicangkul sedalam 20 sampai 40 cm. Pemberian pupuk organik sangat baik untuk penyiapan tanah. Pupuk kandang diberikan saat penggemburan agar cepat merata dan bercampur dengan tanah yang akan kita gunakan. Bila daerah yang mempunyai pH terlalu rendah (asam) sebaiknya dilakukan pengapuran. Pengapuran ini bertujuan untuk menaikkan derajad keasam tanah, pengapuran ini dilakukan jauh-jauh sebelum penanaman benih, yaitu kira-kira 2 sampai 4 minggu sebelumnya. Sehingga waktu yang baik dalam melakukan penggemburan tanah yaitu 2 4 minggu sebelum lahan hendak ditanam. Jenis kapur yang digunakan adalah kapur kalsit (CaCO3) atau dolomit (CaMg(CO3)2). Pada pertanaman sawi organic ini pengolahan tanah berada pada tingkat minimum (minimum tillage). Hal ini dilakukan untuk menjaga unsure hara di dalam tanah. Dalam proses pencangkulan dan penggemburan hanya dilakukan disekitar pertanaman sawi. Untuk menjaga kesuburan lahan perlu dilakukan hal-hal seperti rotasi tanaman, pemulsaan dan pengelolaan air tanah. 2.1.3 Pembibitan Untuk mendapatkan bibit yang bagus akan lebih baik bila melakukan persemaian sendiri. Untuk memilih tempat persemaian perlu diperhatikan tiga hal seperti kondisi tanah yang baik, berdrainase baik, cukup air dan sinar matahari. Menyiapkan bedengan semai Pastikan tanahnya berdrainase baik. Pindahkan lokasi bedengan semai setiap musim, hal ini dimaksudkan untuk memilih tempat baru setiap saat. Dalam persiapan bedengan semai sebaiknya perhatikan lingkungan disekitarnya juga yaitu dengan cara menebas gulma dan semak-semak disekitarnya serta membuang sisa tanaman. Cara ini untuk membersihkan sumber hama dan penyakit yang terdapat pada gulma dan sisa tanaman.

Pada tanaman sawi, pembibitan dilakukan dengan membuat bed pembibitan yaitu menanam benih dalam barisan-barisan. Bendengan semai dibuat kecil agar tidak perlu mengolah lahan yang luas. Gemburkan tanah sedalam 30 cm dengan garpu tanah dan biarkan selama satu minggu. Penggemburan tanah membuat tanah longgar dan remah. Selain itu buatlah bedengan semai yang ditinggikan sekitar 20-30cm diatas tanah. Bedengan semai yang ditinggikan memiliki keuntungan dalam pembuangan air yang lebih baik. Setelah bedengan semai dibuat, tebarkan kompos atau pupuk yang sudah matang dan campur dengan tanah. 2.1.4 Penanaman Bedengan dengan ukuran lebar 120 cm dan panjang sesuai dengan ukuran petak tanah. Tinggi bedeng 20 30 cm dengan jarak antar bedeng 30 cm, seminggu sebelum penanaman dilakukan pemupukan terlebih dahulu yaitu pupuk kandang 10 ton/ha, TSP 100 kg/ha, Kcl 75 kg/ha. Sedang jarak tanam dalam bedengan 40 x 40 cm , 30 x 30 dan 20 x 20 cm. Pilihlah bibit yang baik, pindahkan bibit dengan hati-hati, lalu membuat lubang dengan ukuran 4 8 x 6 10 cm. Dalam penanaman, ukuran kedalaman benih pun perlu diperhatikan, jangan sampai benih ditanam terlalu dalam karena akan menyulitkan proses perkecambahan. Semailah benih sedalam lima kali diameter benih yang bersangkutan. Letakkan jerami kering atau daun pisang diatas bedengan sebagai mulsa. Mulsa ini menjaga tanah tetap lembab dan sekaligus mencegah serangga dan burung mengambil benih. Selain itu lakukan penyiraman dengan menggunakan gembor untuk menyiram bed Memindahkan dan memperkuat bibit Bila tanaman sudah memiliki 4 atau 5 daun, mereka siap untuk dipindahkan. Sebelum dipindahkan berilah bibit-bibit ini banyak sinar matahari. Hilangkan atap bedengan sedikit demi sedikit pada siang hari sehingga tanaman akan memperoleh

panas secara perlahan. Lakukan juga pengurangan pemberian air dengan maksud membuat tanaman lebih kuat ketika dipindahkan 2.1.5 Pemeliharaan Pemeliharaan adalah hal yang penting. Sehingga akan sangat berpengaruh terhadap hasil yang akan didapat. Pertama-tama yang perlu diperhatikan adalah penyiraman, penyiraman ini tergantung pada musim, bila musim penghujan berlebih maka kita perlu melakukan pengurangan air yang ada, tetapi sebaliknya bila musim kemarau tiba kita harus menambah air demi kecukupan tanaman sawi yang kita tanam. Bila tidak terlalu panas penyiraman dilakukan sehari cukup sekali sore atau pagi hari. Tahap selanjutnya yaitu penjarangan, penjarangan dilakukan 2 minggu setelah penanaman. Caranya dengan mencabut tanaman yang tumbuh terlalu rapat. Selanjutnya tahap yang dilakukan adalah penyulaman, penyulaman ialah tindakan penggantian tanaman ini dengan tanaman baru. Caranya sangat mudah yaitu tanaman yang mati atau terserang hama dan penyakit diganti dengan tanaman yang baru. Penyiangan biasanya dilakukan 2 4 kali selama masa pertanaman sawi, disesuaikan dengan kondisi keberadaan gulma pada bedeng penanaman. Biasanya penyiangan dilakukan 1 atau 2 minggu setelah penanaman. Apabila perlu dilakukan penggemburan dan pengguludan bersamaan dengan penyiangan. Pemupukan tambahan diberikan setelah 3 minggu tanam, yaitu dengan urea 50 kg/ha. Dapat juga dengan satu sendok the sekitar 25 gram dilarutkan dalam 25 liter air dapat disiramkan untuk 5 m bedengann benih tidak lebih dari 3 tahun. 2.1.6 Panen dan Pasca Panen Dalam hal pemanenan penting sekali diperhatikan umur panen dan cara panennya. Umur panen sawi paling lama 70 hari. Paling pendek umur 40 hari. Terlebih dahulu melihat fisik tanaman seperti warna, bentuk dan ukuran daun.

Cara panen ada 2 macam yaitu mencabut seluruh tanaman beserta akarnya dan dengan memotong bagian pangkal batang yang berada di atas tanah dengan pisau tajam. Pasca panen sawi yang perlu diperhatikan adalah : 1. 2. 3. 4. 5. Pencucian dan pembuangan kotoran. Sortasi. Pengemasan. Penyimpanan. Pengolahan.

2.2 Pengendalian Terpadu OPT berbasis organic pada budidaya Sawi Hijau (Brassica rapa) organik Pengendalian preventif Penggunaan bibit unggul Tanam pada waktu yang tepat Pemilihan lokasi tanam yang tepat. Usahakan tanaman ditanam di lokasi yang masih relative bebas dari hama dan patogennya. Pengaturan kelembaban. Dilakukan rekayasa lingkungan untuk menjaga kelembaban agar tidak muncul penyakit disekitar pertanaman. Misalnya dengan cara pengaturan pemulsaan.

Lakukan multiple cropping. Tanam sawi bersamaan dengan tanaman budidaya lainnya seperti tanaman kol, wortel dll. Tanaman sawi sangat cocok ditanam bersamaan dengan tanaman kelompok onion.

Lakukan pengaturan rancang tanam. Misalnya tanam berbagai jenis tanaman pada bed persemaian untuk mengurangi tingkat serangan hama.

Penambahan bahan organic ke dalam bed. Fungsinya dalam pengelolaan OPT adalah untuk mendukung aktifitas organism saprofit tanah yang sebagian diantaranya adalah musuh alami dari pathogen tanaman.

Menjaga sanitasi kebun. Cabut dan buang gulma atau sisa tanaman pada laha untuk mengurangi sumber OPT Pengendalian kuratif seperti: Hama pada tanaman sawi: 1. Ulat titik tumbuh (Crocidolomia binotalis Zell.).

Pengendalian yang bisa dilakukan untuk serangan hama ulat ini yaitu: Dengan menggunakan musuh alami seperti lalat

strumiposis inferens townsend, inareolata, atrometus mesochorus, chelonus, trichogama sp. Secara fisik, yaitu dengan memusnahkan telur yg baru menetas, kemudian dimasukan kedalam wadah untuk diberikan pada ayam atau dimusnahkan dengan cara dibakar. Pengambilan telur dilakukan 2 kali setiap minggu Menggunakan pestisida nabati yaitu dengan

menyemprotkan ekstrak biji nimba dan tuba

2.

Ulat tritip (Plutella maculipennis).

Pengendalian yang bisa dilakukan yaitu dengan : Mengambil ngengat walaupun hanya satu, karena apabila terlambat susah untuk mengendalikannya. Caranya yaitu dengan dipijit hingga mati. Pada senja atau malam hari diberi obor atau lampu yang dibawahnya diberi air. Menggunakan musuh alami yaitu Parasitoid (trichogramma chilonis), predator (semut dan lebah polybia spp)

3.

Kumbang loncat (Phyllotreta vitata)

Pengendalian yang bisa dilakukan yaitu : Rotasi tanaman, yaitu pergantian tanaman yang berlainan famili Tumpang sari dengan bawang putih Menanam tanaman perangkap (kira-kira 1%) yang menarik kumbang loncat di tepi tanaman pokok 7-14 hari sebelum tanaman pokok ditanam. Sesudah kumbang loncat cukup banyak hinggap ditanaman perangkap segera dimusnahkan. Menggunakan campuran pestisida nabati : disemprot dan air dengan dengan

ekstrak

bawang

putih

perbandingan 1:5, dengan ekstrak tuba dan ekstrak nimba Penyakit pada tanaman sawi: 1. 2. 3. 4. Bercak daun alternaria. Busuk basah (soft root). Penyakit embun tepung (downy mildew). Busuk Rhizoctonia (bottom root).

Pengendalian yang dapat dilakukan antara lain: Jangan menanam tanaman terlalu berdesakan. Tanaman perlu ruang yang cukup agar daunnya dapat segera mengering setelah hujan atau penyiraman. Tidak memberikan air berlebihan pada tanaman Jangan menanam saat tanah dalam kondisi sangat basah Rotasi tanaman Multiple cropping Tanam bibit yang sehat dan kuat Menjaga agar tanah tetap sehat Lakukan pemulsaan

Menjaga kebersihan alat tani dengan cara selalu mencuci alat yang dipakai sebelum berpindah dari satu tanaman ke tanaman yang lain.

Ambil bagian tanaman yang terkena penyakit. Jika sudah parah, cabut dan singkirkan tanaman sakit dari lahan. Bakar atau pendam dalam tanah untuk mencegah penyebaran penyakit.

Pengendalian gulma secara terpadu Pengendalian gulma secara preventif Penggunaan cover crops Penggunaan mulsa Kultur teknis Penggunaan allelopathy Pengendalian gulma secara biologis Pengendalian gulma secara mekanis

2.3 Metode pengomposan Metode pengomposan yang digunakan adalah Pengomposan dengan teknologi rendah yaitu windrow composting. Bahan yang diperlukan untuk 1ton 1 ton bahan organik (jerami padi/pupuk kandang/limbah pertanian lain yang tersedia dilokasi) 2,5 kg stardec 100 kg serbuk gergaji (dapat diganti dengan dedak atau bahan halus lainnya) 100 kg abu dan 20 kg kalsit atau dolomit.

Cara pengolahan aplikasi pupuk mikroba stardec : 1. Siapkan media pengolahan kompos pada tempat terlindung atau tidak kena matahari langsung, bisa dibawah atap pondok atau dibawah pohon dengan alas atau lantai dibuat agak tinggi untuk menghindari genangan air.

Pengolahan kompos juga bisa menggunakan media berbentuk lobang dengan ukuran dalam 1 m, lebar 2 m s/d 3 m dan panjangnya tergantung lokasi dan kebutuhan. Sebaiknya dibuat bangunan khusus untuk pengolahan secara berkesinambungan. 2. Campurkan bahan organik (pupuk kandang atau limbah pertanian lain) dengan serbuk gergaji, abu dan kalsit kemudian diaduk merata 3. Buat lapisan setinggi 60 cm taburkan Stardec secara merata pada bahan dasar kompos, kemudian dilapisi lagi setinggi 60 cm dan taburkan Stardec kembali secara merata . Demikian seterusnya dialkukan sesuai dengan kapasitas bahan yang diproses 4. Selama proses pengomposan, tambahkan air pada bahan organik untuk mempertahankan kadar air dan kelembaban tetap berkisar 50 60 % 5. Tumpukan bahan tersebut dibalik seminggu sekali dengan waktu proses pengomposan selama 3-4 minggu. Jika ingin mempercepat waktu pengomposan, bisa ditambahkan pupuk urea sebanyak 2,5 kg per ton bahan organik. 6. Ciri-ciri kompos yang telah matang (dapat digunakan) yaitu warna menjadi coklat kehitaman, terjadi perubahan bentuk menjadi remah, tidak berbau, suhu tidak panas.

DAFTAR PUSTAKA AAK.1992.Petunjuk Praktis Bertanam Sayuran.Yogyakarta:Kanisius Departemen pertanian. Teknologi pembuatan kompos. (Online),

(http://bengkulu.litbang.deptan.go.id/ind/index.php?option=com_content& view=article&id=76:teknologi-pembuatan-kompos&catid=14:alsin, diakses tanggal 14 maret 2012) Kloppenburg.1993.Petunjuk Lengkap mengenai Tanam-tanaman di Indonesia dan Khasiatnya sebagai Obat-obatan Tradisional. Yogyakarta:Yayasan Dana Sejahtera. Kurniadie, Denny.2012. Modul Sistem Pertanian Berkelanjutan 1 (SPB 1). Jatinangor:Fakultas Pertanian Universitas Padjajaran Anonymous.2009. http://id.wikipedia.org/wiki/Budidaya Tanaman Sawi. diakses tanggal 14 maret 2012 Anonymous.2009. http://id.wikipedia.org/wiki/Sawi_putih. diakses tanggal 14 Maret 2012 Anonym. (Online), (http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/22182/5/Chapter%20I.pd f, diakses tanggal 14 maret 2012)