Anda di halaman 1dari 2

Trauma Genitalia Pria Trauma Penis dan Emergensi 1.

Trauma pada penis Dapat terjadi akibat luka tembak, luka tusuk, kecelakaan mesin, serangan hewan, dan mutilasi. Luka yang dalam pada penis ditangani secara debridement, hemostasis, dan perbaikan jaringan yang rusak bersamaan dengan terapi antibiotik. Kecelakaan mesin dapat menghasilkan avulsi sebagian atau seluruh kulit genital. Beberapa cedera membutuhkan debridement dengan hati-hati dan skin graft. Kontinuitas uretra mungkin dapat dinilai dengan uretrografi retrograd. (2) 2. Fraktur Penis spontan Dapat terjadi selama hubungan seksual dan berakibat rupturnya korpora tunika albuginea. Fraktur penis umumnya terjadi pada pria muda (sekitar usia 30 tahun). Tanda dan gejala klinis fraktur penis terdiri dari nyeri yang tajam secara mendadak, pembengkakan, ekimosis, keluar darah dari uretra, deviasi penis kea rah yang berlawanan dari cedera, dan hilangnya ereksi spontan selama hubungan seksual. Fraktur penis dapat terjadi dimana saja di batang penis atau di dasar penis. Gambaran lambat dari fraktur penis dapat menyerupai penyakit Peyronie. Cedera uretra dapat terjadi bersamaan dan harus disingkirkan dengan menggunakan uretrogram retrograde. (2) Trauma seksual seiring dengan rupture uretra atau rupture testis atau ligamen penis. Cedera ligament penis dapat dijumpai dengan angulasi abnormal, deviasi, atau dislokasi atau sebagai penis yang tidak dapat berereksi. Banyak kasus fraktur penis membutuhkan eksplorasi operasi untuk membersihkan jaringan, mengangkat hematoma, dan menutup defek di tunika albuginea. Disarankan insisi penoskrotal dengan eversi badan corporal untuk memperoleh akses ke tempat trauma. (2) 3. Trauma Vaskular Penis Trauma seksual pada vena dorsalis penis superficial dapat mengakibatkan trombosis vena dan adanya nyeri saat ereksi, ekimosis, dan terabanya trombosis vena pada permukaan dorsal penis. Ruptur vena dorsalis dalam penis dapat menyerupai fraktur penis. Traumatik limfangitis sehabis hubungan seksual dapat berupa sulkus koronal yang nodular, tegang, dan bengkak sirkumferensial. Pasien dengan koagulapati oleh sebab apapun lebih rawan terhadap trauma vascular penis. Laserasi pada arteri frenular dapat terjadi selama hubungan seksual. Untuk pasien dengan arteri frenulum yang menetes, arteri tersebut harus diikat secara operasi, dan jika diindikasikan dilakukan sirkumsisi. (2)

Skrotum Trauma pada skrotum relatif jarang terjadi. Insidensi puncak terjadi pada usia antara 10-30 tahun. Rasa malu yang berhubungan dengan trauma atau mekanismenya sering menimbulkan gambaran klinis yang terlambat. Pemeriksaan fisik harus menilai integritas corporal dan mencari adanya darah pada meatus yang mungkin mengindikasikan trauma uretra. Uretrografi retrograde dilakukan jika dicurigai adanya cedera uretra. Pencitraan dengan Color Doppler pada testis harus dilakukan untuk menilai integritas suplai darah dan penutupan tunika pada testis. Cedera pada skrotum dan isinya dapat menyebabkan infertilitas, nyeri yang kronis, Hipogonadisme, dan perubahan perilaku seseorang.(2,3) Trauma Testis Cedera pada testis umumnya terjadi pada pria berusia muda, biasanya 15-40 tahun. Trauma tumpul terhitung sekitar 85% kasus. Penyebab trauma tumpul yang paling sering adalah cedera olahraga, diikuti dengan tendangan pada daerah lipat paha. Etiologi yang jarang terjadi pada trauma tumpul testis adalah kecelakaan kendaraan bermotor, jatuh dari ketinggian, dan cedera straddle. Penyebab trauma dalam dari testis adalah luka tembak. Luka tumpul yang berat pada testis dapat menyebabkan rupture testis. Testis dapat rupture secara spontan atau dengan trauma yang sedikit jika terdapat kelainan lain, khususnya karsinoma. Mengikuti rupturnya tunika albuginea, terdapat perdarahan di

ruang sekitar testis yang harus dipertimbangkan, yang menyebabkan hematoma. (2)

Trauma Genitalia Eksterna pada Wanita Trauma langsung akibat kecelakaan alat kelamin bagian bawah jarang terjadi. Pada cedera karena penyiksaan atau perkosaan perlu diperhatikan segi khusus baik fisik, psikososial, dan undang-undang hokum pidana. Pemeriksaan alat kelamin dalam pada penderita penyiksaan atau pemerkosaan umumnya harus dilakukan dalam anestesi umum. (4)

1. Ruptur perineum. Ruptur perineum umumnya adalah luka akibat persalinan. Ruptur perineum dibagi menjadi 3 tingkat : Tingkat 1 dengan robekan hanya pada selaput lendir vagina dan kulit perineum. Tingkat 2 dengan robekan pada selaput lendir, kulit, dan otot perineum, kecuali sfingter anus. Tingkat 3 dengan kerusakan sfingter anus dan mungkin dinding rektum ikut robek. Ruptur tingkat 3 disebut rupture komplit sedangkan tingkat 1 dan 2 disebut ruptur perineum inkomplit. (4)