Anda di halaman 1dari 11

EFEK HORMONAL PADA OVULASI DAN PEMIJAHAN IKAN

Oleh : Nama NIM Rombongan Kelompok Asisten : : : : : Muh.Rezzafiqrullah R B1J010231 V III Devi Olivia Muliawati

LAPORAN PRAKTIKUM FISIOLOGI HEWAN II

KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN FAKULTAS BIOLOGI PURWOKERTO 2012

I. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Hipofisasi adalah suatu cara untuk merangsang ikan untuk memijah atau terjadinya pengeluaran telur ikan dengan suntikan ekstrak kelenjar hipofisa. Pemijahan sistem hipofisasi menurut Muhammad et al., (2003), ialah merangsang pemijahan induk ikan dengan menyuntikkan kelenjar hipofisa. Teknik penyuntikan dengan pemijahan buatan atau induced breeding yaitu merangsang ikan untuk kawin (Simanjuntak, 1985). Menurut Sumandinata (1981), yang dimaksud dengan pemijahan adalah peristiwa pertemuan antra ikan jantan dan ikan betina yang bertujuan untuk pembuahan telur oleh spermatozoa. Diperlukan ikan donor dan ikan resipien untuk dapat melakukan tehnik hipofisasi, yaitu tehnik induksi yang digunakan untuk memacu / merangsang ikan agar cepat memijah. Ikan donor adalah ikan yang diambil kelenjar hipofisasinya, biasa digunakan jenis ikan mas atau karper (Cyprinus carpio). Ikan donor dan ikan resipien (penerima) diharapakan masih satu famili, maka digunakan ikan nilem (Osteochilus hasellti). Pemijahan dapat dilakukan dengan cara induced spawning, yaitu induk-induk ikan tersebut dirangsang pemasakan serta pengeluaran telur untuk kemudian dapat dipijahkan. Syarat ikan untuk dapat dirangsang pemijahannya yaitu ikan tersebut dalam keadaan matang kelamin (Soeseno, 1982).

Kelenjar hipofisa mempunyai peran yang sangat penting, dimana kelenjar yang dihasilkan berupa hormon yang berpengaruh dalam pertumbuhan dan perkembangbiakan. Kerusakan dalam pengambilan ekstrak hormon mengakibatkan hormon tersebut tidak berfungsi. Hormon yang berpengaruh dalam pemijahan ikan adalah gonadotropin yang berfungsi dalam pematangan gonad dan mengontrol ekskresi hormon yang dihasilkan oleh gonad (Hurkat dan Mathur, 1986).
Manfaat dari hipofisasi diantaranya (Santoso, 2006) : 1. Mampu mempercepat proses pemijahan. 2. Mengatur jumlah dan jadwal produksi benih ikan sesuai keinginan. 3. Meningkatkan produksi benih dan menjamin ketersediaan benih secara terkendali. 4. Menekan kematian benih karena lingkungan hidup ikan diatur lebih baik. 5. Alternatif untuk menghasilkan benih berkualitas, dalam jumlah yang cukup dan kontinu. 6. Jumlah telur yang dihasilkan dapat dihitung secara tepat.

7. Telur yang dibuahi sperma lebih banyak daripada telur yang dibuahi dalam perkawinan alami.

1.2 Tujuan Praktikum ini bertujuan untuk merangsang ikan untuk ovulasi dan memijah dengan induksi kelekjat hipofisis.

II.MATERI DAN METODE

1.1 Materi Alat- alat yang digunakan dalam praktikum ini adalah adalah bak preparat, pisau, spuit, gelas kimia. Bahan yang digunakan adalah ikan Mas 1.2 Metode 1. Kepala ikan donor dipotong 2. Diambil kelenjar hipofisanya 3. Disentrifuge dengan kecepatan 3500rpm selama 15 menit agar dihasilkan ekstrak kelenjar 4. Ekstrak kelenjar disuntikkan pada ikan resipien ( 0,5 cc , 0,3 cc) 5. Diinduksi selama 8 jam

III. HASIL DAN PEMBAHASAN

3.1 Hasil Tabel Pengamatan Hipofisasi Waktu 20.30 07.15 Perlakuan Penyuntikan kelenjar hipofisis pada ikan nilem Tidak terjadi pemijahan

3.2 Pembahasan Praktikum hipofisasi ini mengggunakan ikan mas (Cyprinus carpio) sebagai donor universal dan ikan nilem (Ostechilus hasselti) sebagai ikan resipien. Kelenjar hipofisa ikan mas diambil dan dibuat ekstraknya untuk disuntikkan sebanyak 0,3 cc pada ikan nilem jantan dan 0,5 cc pada ikan nilem betina. Penyuntikan dengan metode intramuscular dilakukan pukul 20.30 dan kurang lebih 11 jam kemudian yaitu pukul 07.15 diamati hasilnya. Berdasarkan percobaan yang telah dilakukan, ternyata ikan yang telah diinduksi dengan ekstrak kelenjar hipofisa tidak berhasil memijah atau dapat dikatakan proses hipofisasi tidak berhasil. Banyak faktor yang mempengaruhi keberhasilan proses hipofisasi tersebut. Menurut Kakufu (1983), cara pengambilan ikan resipien jangan sampai terjadi luka atau hilangnya sisik, hal ini dapat menyebabkan ikan tidak dapat memijah walaupun telah diberi suntikan kelenjar hipofisa, serta perlu diperhatikan tempat penyuntikkan hipofisis. Apabila keadaan suhu lingkungan yang disenangi tidak dijumpai, maka ikan tidak akan memijah. Kondisi media yang kurang sesuai antara lain pH air, tekanan osmosis, oksigen terlarut yang kurang, kemasakan atau kematangan kelamin ikan, keadaan psikologis ikan, dan cahaya juga dapat mempengaruhi ikan tidak memijah. Rendahnya hormon gonadotropin dalam darah menyebabkan kemampuan gonadotropin untuk mengovulasikan telur sangat terbatas (Djuhanda, 1981). Menurut Sumantadinata (1981), bahwa kondisi ekologi sebagai faktor luar berperan sangat penting terhadap pemijahan ikan, terutama faktor suhu dan cahaya. Di samping itu, kualitas air, habitat dan suasana

lingkungan juga mempengaruhi ikan untuk memijah. Selain hal di atas dapat juga dikarenakan perlakuan tersebut menimbulkan stress pada ikan sehingga tidak terjadi pemijahan. Menurut Susanto (1996), ikan melakukan reproduksi secara eksternal. Ikan jantan dan betina akan saling mendekat satu sama lain kemudian ikan betina akan mengeluarkan telur. Selanjutnya ikan jantan akan segera mengeluarkan spermanya, lalu sperma dan telur ini bercampur di dalam air. Cara reproduksi ini dikenal sebagai oviparus, yaitu telur dibuahi dan berkembang di luar tubuh ikan. Cara reproduksi ikan yang ada antara lain : 1. Ovipar, sel telur dan sel sperma bertemu di luar tubuh dan embrio ikan berkembang di luar tubuh sang induk. Contoh : ikan pada umumnya 2. Vivipar, kandungan kuning telur sangat sedikit, perkembangan embrio ditentukan oleh hubungannya dengan placenta, dan anak ikan menyerupai induk dewasa.

3.

Ovovivipar, sel telur cukup banyak mempunyai kuning telur, Embrio berkembang di dalam tubuh ikan induk betina, dan anak ikan menyerupai induk dewasa. Contoh : ikan-ikan livebearers. Kelenjar hipofisa terdiri dari berbagai jaringan embrionik yang berasal dari

dua sumber, yaitu komponen saraf dan komponen bucall. Hipofisis mensekresi sejumlah hormon yang mengatur kelenjar endokrin lain atau secara langsung mempengaruhi metabolisme. Fungsi yang paling khas dari hipofisis anterior adalah mengeluarkan hormon-hormon yang mempengaruhi aktivitas-aktivitas kelenjar endokrin lain, terutama menyangkut reproduksi (Hardjamulia, 1980). Hipofisasi dimulai dari ekstrak kelenjar hipofisa yang disuntikkan pada ikan resipien dan menimbulkan rangsangan. Informasi berupa rangsangan yang diterima diteruskan ke hipotalamus melalui sel syaraf, sehingga hipotalamus akan memproduksi hormon gonadtropin, FSH dan LH. Hormon ini akan mempengaruhi testis dan ovarium untuk memproduksi estrogen dan progesterone untuk menghasilkan sperma dan sel telur. (Gardon, 1982). Hormon yang dihasilkan oleh kelenjar hipofisa ada sembilan macam, yaitu : ACTH, TSH, FSH, LH, STH, MSH, Prolaktin, Vasopresin, dan Oksitosin. FSH dan LH adalah dua hormon yang mempunyai daya kerja mengatur fungsi kelenjar kelamin. FSH mempunyai daya kerja merangsang pertumbuhan folikel pada ovarium dan pada testis memberikan rangsangan terhadap spermatogenesis. LH mempunyai daya kerja merangsang ovulasi dan menguningkan folikel ovarium dan pada hewan jantan hormon ini merangsang fungsi sel-sel interstisial pada testis serta mempertinggi atau meningkatkan produksi hormon steroid, baik pada hewan betina maupun jantan. Hipofisa pada ikan dilakukan karena kelenjar hipofisa ikan mengandung gonadotropin semacam LH (LH-like gonadotropin), yang mana hormon ini akan merangsang ovarium untuk mempercepat ovulasi sehingga mempercepat terjadinya pemijahan atau ovulasi pada ikan. Demikian juga, pada ikan jantan akan dapat merangsang spermiasi. Induksi hormon dalam ovulasi sangat berperan dalam injeksi ekstrak pituitari (Pereira et al, 2006). Fase yang sangat penting teknologi reproduksi buatan pada ikan adalah perolehan produk sperma yang berasal dari stimulasi hormon yang telah masak, ovulasi, dan spermiasi yang dilakukan secara bersamaan (Sirbu et al., 2009). Siklus reproduksi ikan berhubungan erat dengan perkembangan gonad, terutama ikan betina. Secara umum tahap-tahap perkembangan gonad ikan jantan adalah spermatogonia, spermatosit primer, spermatosit sekunder, spermatid, dan spermatozoa. Siklus reproduksi ikan betina lebih ditekankan pada kematangan gonad ikan betina.

Oogenesis merupakan proses pembelahan sel-sel bakal telur secara mitosis sampai oosit primer atau fase pembentukan folikel. Perkembangan oosit terdiri dari dau tahap, yaitu previtellogenesis dan vitellogenesis. Previtellogenesis, oosit primer bertambah ukurannya tanpa akumulasi materi yolk.kemidina terjadi pertumbuhan yang sama pada sitoplasma dan nukleus. Selanjutnya dua lapisan sel berbeda Nampak mengelilingi oosit membentuk folikel. Vitellogenesis adalh proses induksi dan sintesis vitelogenin di hati oleh hormone. Pada proses pematangan akhir, prostaglandin berperan penting dalam menstimulasi ovulasi ikan. Hormone steroid berperan penting dalam mendorong pematangan akhir oosit (Djuhanda, 1981).. Hormon gonadotropin tersebut dihasilkan oleh kelenjar adenohipofisa yang akan merangsang proses pemasakan ovulasi yang pada akhirnya merangsang induk betina untuk memijah. Teknik hipofisasi telah banyak memberikan manfaat dalam pembenihan ikan, tetapi dalam penerapannya masih banyak kendala terutama dalam penentuan dosis dan tehnik penyuntikan (Muhammad et al., 2001). Teknik hipofisasi telah memberi manfaat yang besar terhadap pembenihan, tetapi masih belum lepas dari berbagai masalah yang dihadapi seperti dosis dan sumber kelenjar hipofisa. Menurut Santoso (2006), hipofisasi memiliki kelemahan, antra lain : Adanya kemungkinan terjadi reaksi imunitas (penolakan) dari dalam tubuh ikan, terutama jika donor hipofisa berasal dari ikan yang berbeda jenis, adanya kemungkinan penularan penyakit, adanya hormon-hormon lain yang mungkin akan merubah atau malah menghilangkan pengaruh hormon gonadotropin. Adanya biaya tambahan untuk membeli obat-obatan dan peralatan untuk proses kawin suntik yang terbilang cukup mahal Induk jantan harus dikorbankan untuk diambil spermanya, padahal bila dilakukan perkawinan alami, ikan jantan bisa membuahi ikan betina sepanjang hidupnya. Harus menyiapkan ikan donor untuk diambil kelenjar hipofisanya atau membeli perangasang ovaprim agar bisa memijah Induk betina yang dipakai dalam kawin suntik, masa produktifnya hanya 3 kali dan tidak bisa digunakan lagi karena adanya unsur paksaan yang membuat semua telur serentak matang. Akibatnya tidak ada telur yang tersisa dalam perut induk. Pengurutan (stripping) menyebabkan telur yang sudah matang dan masih muda dipaksa keluar. Padahal pada proses pemijahan alami, induk betina hanya mengeluarkan telur yang matang dan sisanya berkembang lagi dengan

sempurna untuk pemijahan berikutnya. Adanya paksaan dan campur tangan manusia menyebabkan ikan yang dihasilkan mengalami cacat fisik seperti tidak tumbuh sirip dan tubuhnya berkelok. Menurut Sumantadinata (1981) menyatakan ada beberapa faktor yang mempengaruhi keberhasilan pemijahan, dibedakan menjadi faktor internal dan eksternal. Faktor internal yang mempengaruhi kegagalan pemijahan meliputi belum matangnya gonad dan hormon yang tersedia dalam jumlah sedikit. Faktor eksternal meliputi kualitas air, aliran air, ketersediaan O2 terlarut, keasaman air, cahaya dan suhu. Faktor internal yang mempengaruhi keberhasilan pemijahan meliputi organ penglihatan, pendengaran, penciuman, linea lateralis serta kelenjar buntu. Faktorfaktor yang mempengaruhi pemijahan diantaranya adalah tingkat kematangan gonad, stress, dosis kelenjar hipofisa dan makanan.

IV. KESIMPULAN DAN SARAN

4.1 Kesimpulan Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan didapat kesimpulan : 1. Teknik hipofisasi dengan menyuntikkan kelenjar hipofisa pada ikan resipien akan merangsang ikan untuk melakukan ovulasi dan pemijahan. 2. Keberhasilan ikan untuk memijah setelah dilakukan hipofisasi dipengaruhi oleh tingkat kematangan gonad, kondisi ikan (stress atau tidak), cara penyuntikkan, serta dosis kelenjar hipofisa yang diberikan. 4.2 Saran Saat melakuan praktikum kali ini harus benar dan sesuai dengan prosedur, karena apabila ada kesalahan dalam melakukan cara kerja akan mengalami kegagalan dan ikan tidak akan memijah.

DAFTAR REFERENSI

Djuhanda, T. 1981. Dunia Ikan. Armico, Bandung. Gardon, M.S. 1982. Animal Physiology Principles. Mc Milan Publishing Co, New York. Hardjamulia. 1980. Pembenihan dan Teknik Hipofisasi. BBAT, Sukabumi. Kay, I. 1998. Introduction to Animal Physiology. Bios Scientific Publisher Ltd, Canada. Hurkat dan Mathur. 1986. Text Book Of Animal Physiology. S. Clark Ltd, New Delhi. Kakufu, T. dan Ikonwe, H. 1983. Hormon Injection for Artifical Spawning Modern Methods of Aquaculture. In Japan Konshasha Ltd, Japan. Muhammad, Hamzah S, Irfan A. 2001. Pengaruh Donor dan Dosis Kelenjar Hipofisa terhadap Ovulasi dan Daya Tetes Telur Ikan Betok (Anabas testudineus Bloch). J Sains dan Teknnologi. Vol 3 (3) : 87-94. Pearce, E. C. 1983. Anatomi dan Fisiologi untuk Paramedis. PT. Gramedia, Jakarta. Santoso, B. 1993. Petunjuk Praktis Budidaya Ikan Mas. Kanisius, Yogyakarta. Simanjuntak, R. H. 1985. Pembudidayaan Ikan Lele. Bathara Jaya Aksara, Jakarta. Sirbu, A.; S. Stancioiu; V. Cristea; A. Docan. 2009. Results Concerning the Use of the Neristin Synthetic Hormone in the Artificial Reproduction of the Hypophthalmychtys Molitrix (val) Species. Department of Aquaculture, Environment Science and Cadastre, Faculty of Food Science and Engineering, Galatz Dunarea de Jos of University. vol. 42 (2). Soeseno, S. 1982. Dasar-dasar Perikanan Umum. CV. Yasaguna, Jakarta. Sumantadinata, K. 1981. Pembenihan Ikan-Ikan Peliharaan di Indonesia. Sastra Budidaya, Bogor. Susanto, H. 1996. Budidaya Kodok Unggul. Swadaya. Jakarta