Kata Pengantar
Sejalan dengan ikhtiar kita untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat melalui kegiatan pembangunan di segala bidang, sudah sepantasnya kita senantiasa memanjatkan puji syukur kehadirat Allah Subhanahu wa ta'ala, atas semua limpahan Rahmat dan Karunia-Nya yang tidak terhingga bagi bangsa dan negara tercinta ini. Tanpa terasa, masa pengabdian Kabinet Indonesia Bersatu II dalam upaya untuk mewujudkan Indonesia yang semakin adil, aman, makmur dan sejahtera telah memasuki tahun ke-3 (tiga). Dalam rentang waktu tersebut, telah banyak capaian strategis yang berhasil kita lakukan dengan semangat dan kerja keras di tengah kondisi bangsa yang sedang mengalami cobaan, tantangan dan ujian yang tidak ringan. Gerak langkah pelaksanaan reformasi birokrasi yang kreatif dan inovatif dalam berbagai aspek semakin nyata baik di pusat maupun di daerah, hendaknya tetap kita jaga dan pertahankan, bahkan harus terus ditingkatkan di masa mendatang. Saya menyampaikan apresiasi yang mendalam terhadap segenap tingkatan aparatur negara/birokrasi yang telah melakukan berbagai langkah terobosan untuk kemajuan dan pelaksanaan peningkatan kualitas pelayanan kepada masyarakat. Pada 5 (lima) bulan awal pengabdian saya selaku Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi, saya terus mengharapkan dukungan dan kebersamaan dari segenap tingkatan aparatur negara/birokrasi untuk mewujudkan hasil nyata sebagai terobosan dalam rangka percepatan reformasi birokrasi. Tugas kita 2 (dua) tahun kedepan akan semakin berat dalam mengawal jalannya pemerintahan. Kita akan dihadapkan dengan tahun dengan situasi sosial dan politik yang dinamis menyongsong pemilu tahun 2014. Untuk itu, peran aparatur negara menjadi unsur yang sangat penting dalam mendinamisir jalannya keberlangsungan pemerintahan dan pembangunan di seluruh tanah air. Pelaksanaan reformasi birokrasi diharapkan mampu mengubah wajah birokrasi menjadi birokrasi bersih, mumpuni dan melayani sebagaimana harapan masyarakat. Ini adalah pekerjaan besar bagi kita jajaran Kementerian PAN dan RB yang diserahi tugas untuk mengkoordinasikan dan merumuskan kebijakan di bidang pendayagunaan aparatur negara dan reformasi birokrasi.

i

Laporan Akuntabilitas Kinerja Sekretariat Kementerian PAN dan RB Tahun 2011

Kita harus mampu secara konsisten terus menegakkan dan meningkatkan komitmen disertai produktivitas kinerja yang optimal dalam setiap pelaksanaan kinerja peran dan tugas ini. Pelaksanaan 9 (sembilan) program percepatan reformasi birokrasi elaksanaan sebagai ekstraksi dari berbagai kebijakan PAN dan RB yang telah kita canangkan harus dapat dilakukan secara efektif dan efisien yaitu : efisien, 1) 2) 3) 4) 5) 6) 7) 8) 9) Penataan Struktur Birokrasi; Penataan Jumlah dan distribusi PNS; Sistem Seleksi CPNS dan Promosi secara Terbuka; Profesionalisasi PNS; Pengembangan Sistem Elektronik Pemerintah (E-Government); Government); Penyederhanaan Perizinan Usaha; Peningkatan Transpar Transparansi dan Akuntabilitas Aparatur; Peningkatan Kesejahteraan Pegawai Negeri; Efisiensi Penggunaan Fasilitas, Sarana dan Prasarana Kerja Pegawai Negeri. Fasilitas,

Terkait dengan pelaksanaan pencapaian kinerja kebijakan PAN dan RB tahun 2011, kita menyusun Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah 1, Akuntabilitas (LAKIP) Kementerian PAN dan RB Tahun 2011. Hal ini semata ementerian semata-mata kita tunjukkan kepada masyarakat bahwa Kementerian PAN dan RB mempunyai komitmen dan tekad yang kuat untuk melaksanakan kinerja organisasi yang berorientasi pada hasil, baik berupa output maupun outcomes. Di sisi yang lain, penyusunan LAKIP Kementerian PAN dan RB juga dimaksudkan sebagai pengejawantahan prinsip transparansi dan akuntabilitas yang merupakan pilar penting pelaksanaan tata kelola pemerintahan ya baik. yang Mudah-mudahan, penyajian LAKIP Kementerian PAN dan RB ini menjadi mudahan, cermin bagi kita semua untuk mengevaluasi kinerja organisasi selama satu tahun agar dapat melaksanakan kinerja ke depan secara lebih produktif, efektif dan efisien, baik dari aspek perencanaan, pengorganisasian, manajemen keuangan maupun koordinasi pelaksana pelaksanaannya. Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi,

Azwar Abubakar

ii

Laporan Akuntabilitas Kinerja Sekretariat Kementerian PAN dan RB Tahun 201 2011

Latar Belakang Kedudukan. 2. B. IV A. B. A. C. E. II A. C. D. C. B. Tugas Pokok dan Fungsi Aspek Strategis Struktur Organisasi Sistematika Penyajian RPJMN 2010-2014 Rencana Strategi Tahun 2010-2014 Penetapan Kinerja Tahun 2011 Pengukuran Capaian Kinerja Tahun 2011 Analisis Capaian Kinerja Akuntabilitas Keuangan Simpulan Saran i iii iv 1 1 2 3 4 5 6 6 10 16 22 22 27 101 105 105 106 Perencanaan dan Perjanjian Kinerja III Akuntabilitas Kinerja Tahun 2011 Penutup Lampiran 1. B.Daftar Isi Kata Pengantar Daftar Isi Ringkasan Eksekutif I Pendahuluan A. Struktur Organisasi Kementerian PAN dan RB Pengukuran Kinerja Tahun 2011 iii Laporan Akuntabilitas Kinerja Sekretariat Kementerian PAN dan RB Tahun 2011 .

Men. 1 Perpres. Kontrak Kinerja Menteri PAN dan RB dengan Presiden. Untuk itu. PAN dan RB) Target 1 PP. 2 Per. Rencana Kerja Pemerintah (RKP).22%. Ke tujuh sasaran strategis tersebut selanjutnya diukur dengan mengaplikasikan 47 indikator kinerja dan 63 target kinerja. seluruh program kerja Kementerian PAN dan RB didasarkan pada tujuan. cepat. serta Rencana Strategis (Renstra) Kementerian PAN dan RB Tahun 2010-2014 secara konsisten. yaitu Sasaran Strategis 1. terdapat 4 sasaran strategis yang berhasil dilaksanakan dengan baik (100% atau lebih). transparan.PAN-RB % 90 80 80 90 iv Laporan Akuntabilitas Kinerja Sekretariat Kementerian PAN dan RB Tahun 2011 . 6 dan 7. Kementerian PAN dan RB telah menetapkan 7 (tujuh) sasaran strategis yang akan dicapai dalam tahun 2011. terus menerus dan berkesinambungan. patut dan memuaskan Indikator Kinerja Jumlah peraturan/kebijakan di bidang pelayanan publik (PP.Ringkasan Eksekutif Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi mempunyai kedudukan dan peran strategis dalam melaksanakan prioritas pertama RPJMN 2010-2014 yaitu reformasi birokrasi dan tatakelola. sasaran strategis dan target kinerja yang telah ditetapkan baik pada Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) Tahun 2010-2014. PAN dan RB Realisasi 1 Draft RPP 1 Draft Perpres 1 Draft Inpres 2 Draft Per. Sedangkan 3 Sasaran Strategis lainnya belum sepenuhnya dilaksanakan dengan baik. Secara keseluruhan. 5. 2 dan 4. adil. murah. Inpres. PerPres. Meskipun begitu tingkat pencapaian 3 sasaran strategis tersebut diatas 80%. pasti. dan Per Men. yaitu Sasaran Strategis 3. tingkat pencapaian kinerja Kementerian PAN dan RB adalah sebesar 105. Secara umum dapat disimpulkan bahwa dari tujuh sasaran strategis yang ditetapkan dalam Penetapan/Perjanjian Kinerja Tahun 2011. Rincian capaian kinerja masing-masing indikator tiap sasaran strategis tersebut dapat diilustrasikan dalam tabel berikut : Sasaran Strategis I Terwujudnya kualitas pelayanan publik prima. 1 Inpres. Men.

33 105 Kab/Kota 73 Kab/Kota 69.86 100 % 100 % 100 11 K/L 0 K/L 0 7 Pemda Provinsi 0 Pemda Provinsi 0 33 Kab/kota 28 Kab/kota 85 65 75 % 76.52 60 % 0% 0 60 % 0% 0 87. 25 Tahun 2009 ttg Pelayanan Publik pada K/L Terlaksananya implementasi Undang-Undang No. 25 Tahun 2009 ttg Pelayanan Publik pada Provinsi Jumlah Kabupaten/ Kota yang mempresentasikan kepuasan pelanggan berdasarkan Indeks Kepuasan Masyarakat (IKM) Skor IKM unit pelayanan Persentase Pemerintah Daerah yang menerapkan OSS (pelayanan terpadu) Jumlah Kabupaten/Kota yang dilakukan evaluasi dampak Pemberian Penghargaan Citra Bahkti Abdi Negara (CBAN) Jumlah Kab/Kota yang menerapkan pedoman peningkatan kualitas pelayanan publik berbasis partisipasi masyarakat Jumlah unit pelayanan publik yang menerapkan pedoman peningkatan kualitas pelayanan publik berbasis partisipasi masyarakat Jumlah Kabupaten/Kota yang dinilai Berdasarkan usulan instansi/Pemerintah Provinsi Persentase Pemda yang berkategori baik sesuai penilaian Persentase Pemda yang berkategori terbaik sesuai penilaian 70 % Provinsi 30 % 42.57 79 % 117.86 Rata-rata capaian kinerja pada Sasaran Strategis I v Laporan Akuntabilitas Kinerja Sekretariat Kementerian PAN dan RB Tahun 2011 .Persentase Provinsi yang diberi sosialisasi Undang-Undang ttg Pelayanan Publik Persentase Instansi Pusat yang diberi sosialisasi Undang-Undang ttg Pelayanan Publik Terlaksananya implementasi Undang-Undang No.58 105.33 26 Kab/kota 0 Kab/kota 0 5 Kab/kota 5 Kab/Kota 100 15 unit 80 unit 533.

Per. BKN dan LAN Persentase Kementerian Negara yang telah tertata organisasi dan tata kerjanya Persentase LPNK yang telah tertata organisasi dan tata kerjanya Persentase LNS yang telah tertata organisasi dan tata kerjanya Persentase Perwakilan RI di Luar Negeri yang telah tertata organisasi dan tata kerjanya Persentase Sekretariat Lembaga Negara yang telah tertata organisasi dan tata kerjanya Persentase instansi pemerintah (PPKBLU) yang telah tertata kelembagaannya Persentase Pemda yang dievaluasi organisasi dan tatakerjanya 80 30 % 29.24 77. 100 % 80 % Persentase penyelesaian konsolidasi struktural dan peningkatan kapasitas Kementerian PAN dan RB.Men.57 % 95. akuntabel dan sejahtera Indikator Kinerja Jumlah peraturan/kebijakan di Bidang SDM Aparatur (UU. PP.41 % 98.31 30 % Rata-rata capaian kinerja pada Sasaran Strategis II Sasaran Strategis III Terwujudnya SDM Aparatur yang profesional. Perpres.33 101 111.PAN dan RB. 1 RUU 9 RPP Target Realisasi 1 RUU 9 RPP % 100 100 vi Laporan Akuntabilitas Kinerja Sekretariat Kementerian PAN dan RB Tahun 2011 .24 30 % 25 % 30.52 30 % 0% 0 30 % 28.26 % 95. efektif dan efisien Indikator Kinerja Jumlah peraturan/kebijakan di bidang Kelembagaan (Perpres.04 30 % 30 % 28.30% Provinsi 33.33% Kab/Kota 83. Men. berkinerja. PAN dan RB) Target Realisasi 3 Draft Perpres % 85 90 4 PerMen. 6 Per. Per.Sasaran Strategis II Terwujudnya organisasi pemerintah yang proporsional.1 83.57 % 23.PAN dan RB 3 Perpres.PAN dan RB 2 Draft PerMen.

55 Sasaran Strategis IV Terwujudnya penyelenggaraan tata laksana pemerintah yang efisien. Men. Per. Men. PAN dan RB) 3 PP 10 Per.90 Sasaran Strategis V Terwujudnya pelaksanaan reformasi birokrasi nasional secara terencana. Men. PAN dan RB) 2 UU 2 RUU 1 PP 5 Per.PAN dan RB 95 % IP Pusat 92 % IP Daerah 5% 400 80 Persentase instansi pemerintah yang mengirimkan data usulan formasi PNS secara akurat dan benar sesuai aturan Persentase instansi yang menerapkan kebijakan pemantapan pengembangan pegawai Persentase peningkatan penghasilan PNS Persentase instansi yang menyusun informasi jabatan dalam rangka penyusunan sistem remunerasi berdasarkan merit system 80 % IP Pusat 80 % IP Daerah 5% 119 115 100 5% 10 % 200 20 % 30 % 150 Rata-rata capaian kinerja pada Sasaran Strategis III 151. 3 Draft Per.Men. PAN dan RB Target Realisasi 2 RUU 2 RUU 1 RPP 2 Per. efektif dan akuntabel Indikator Kinerja Jumlah peraturan/kebijakan di bidang Tata Laksana (UU.Men.46 % % 80 62.5 70 88 Persentase instansi pemerintah pusat yang melakukan penataan ketatalaksanaan dengan baik 35 % 169 Rata-rata capaian kinerja pada Sasaran Strategis IV 93. PP. dan komprehensif Indikator Kinerja Jumlah kebijakan pelaksanaan Reformasi Birokrasi yang diterbitkan vii Target 7 kebijakan Realisasi 10 kebijakan % 143 Laporan Akuntabilitas Kinerja Sekretariat Kementerian PAN dan RB Tahun 2011 .PAN dan RB 59.PAN dan RB 12 PP 8 Per. sistematis. Men.Men. PAN dan RB.

PAN dan RB) Persentase instansi pemerintah yang menerapkan Sistem Akuntabilitas Kinerja sesuai aturan Persentase instansi pemerintah yang akuntabilitas kinerjanya baik Persentase instansi pemerintah yang menyusun Indikator Kinerja Utama (IKU) Persentase LAKIP yang diterima 1 RUU 3 Per.77 % 100.72 % 121. Men. 62 % - 101 100 333 62 132.42 % 60.Jumlah K/L yang telah melaksanakan reformasi birokrasi sesuai kebijakan RB Nasional Jumlah K/L yang telah melaksanakan reformasi birokrasi Tingkat kualitas pelaksanaan RB yang terukur sesuai dengan kebijakan RB Nasional Jumlah instansi yang menerima sosialisasi Jumlah asistensi reformasi birokrasi kepada instansi pusat dan daerah 12 K/L 20 K/L 167 30 % 47 % 156 80 % 100 % K/L 30 % Pemda 100 % K/L 10 % Pemda 81 % 100 % K/L 100 % Prov.92 100. PAN dan RB 50.36 87.62 76. Men.34 % % 100 100 100.29 % 30.75 Rata-rata capaian kinerja pada Sasaran Strategis V Sasaran Strategis VI Terwujudnya instansi pemerintah yang akuntabel dan berkinerja tinggi Indikator Kinerja Jumlah peraturan/kebijakan di bidang Akuntabilitas Kinerja (RUU. PAN dan RB 50 % Target Realisasi 1 RUU 3 Per.48 109.10 % 91.10 Persentase PK yang diterima Persentase instansi peserta model Island of Integrity yang berhasil Rata-rata capaian kinerja pada Sasaran Strategis VI viii Laporan Akuntabilitas Kinerja Sekretariat Kementerian PAN dan RB Tahun 2011 . Men. Per.68 44 % 48.81 22 % (Pusat dan Daerah) 87 % (Pusat dan Daerah) 55 % (Pusat dan Daerah) 32 % 20.

55 % 125.30 65 % 81 % 124. PAN dan RB) Target 1 RUU 2 Per.61 65 % 51. Per.Sasaran Strategis VII Terwujudnya penyelenggaraan pengawasan intern pemerintah yang terintegrasi.88 % 79. PAN dan RB Realisasi 1 Draft RUU 2 Draft Per.81 Rata-rata capaian kinerja pada Sasaran Strategis VII 104.54 Rata-rata capaian kinerja keseluruhan 105. Men. efisien dan efektif Indikator Kinerja Jumlah peraturan/kebijakan di bidang Pengawasan (RUU.22 ix Laporan Akuntabilitas Kinerja Sekretariat Kementerian PAN dan RB Tahun 2011 . Men. PAN dan RB % 95 98 Persentase instansi pemerintah yang melaksanakan SPI sesuai dengan ketentuan Persentase laporan dumas yang disalurkan dan telah ditindaklanjuti oleh instansi pemerintah Persentase instansi pemerintah yang melaksanakan dan melaporkan Inpres Percepatan Pemberantasan Korupsi yang dievaluasi sesuai pedoman 50 % 62.Men.

mencerdaskan kehidupan bangsa. pelaksanaan pembangunan nasional dalam rangka mewujudkan Indonesia yang aman. sejahtera dan bermartabat tetap berjalan sampai dengan yang diharapkan. tidak terlepas dari perjalanan panjang sejarah aparatur negara dalam mengawal perjuangan bangsa Indonesia untuk mewujudkan cita-cita luhur sebagaimana ditegaskan dalam Alinea IV Pembukaan UUD 1945 yaitu “membentuk suatu Pemerintahan Negara Indonesia yang melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum. adil. Sejak awal terbentuknya Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Meskipun gelombang pasang surut terjadi dalam dinamika sejarah perjuangan bangsa dan diwarnai pergolakan sosial yang kuat. Semangat itu pula yang memberikan dorongan betapa pentingnya melakukan upaya-upaya sistematis untuk mendayagunakan aparatur negara guna mewujudkan masyarakat madani yang dicita-citakan. Dengan memberikan arah kebijakan strategis yang menjadikan aparatur negara di pusat dan daerah dapat berperan aktif menyelenggarakan tugas-tugas pemerintahan dan pembangunan sehingga tetap berjalan sebagaimana mestinya. Ketika reformasi bergelora di Indonesia. telah ditetapkan 11 prioritas pembangunan nasional yang menempatkan Reformasi Birokrasi dan tata kelola sebagai prioritas pertama untuk dilaksanakan 1 Laporan Akuntabilitas Kinerja Kementerian PAN dan RB Tahun 2011 A. Tidak dapat dipungkiri pula bahwa aparatur negara yang ideal merupakan suatu keniscayaan hakiki bagi keberlangsungan pembangunan nasional. tata kerja dan upaya-upaya lainnya ke arah kemajuan. .b Bab I Pendahuluan Latar Belakang Keberadaan Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi. Pada era penyelenggaraan pemerintahan 2010-2014. profesional dan beretika. berkat komitmen dan kinerja aparatur negara yang netral. dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan. segenap komponen bangsa terpacu untuk memperbaiki dan mengembangkan sistem. aparatur negara telah menyertai dan menjaga perjalanan sejarah bangsa Indonesia agar tidak tercabik-cabik dalam keterpurukan dan tetap utuh dalam kerangka NKRI. perdamaian abadi dan keadilan sosial”.

dan Fungsi Kementerian Negara serta Susunan Organisasi. Kedudukan. B. Tugas. dan Fungsi Berdasarkan Peraturan Presiden Nomor 24 Tahun 2010 tentang Kedudukan.sebagaimana ditegaskan dalam Peraturan Presiden Nomor 5 Tahun 2010 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2010-2014. dan Fungsi Eselon I Kementerian Negara. Kolusi dan Nepotisme serta Undang-undang (UU) Nomor 28 Tahun 1999 tentang hal yang sama telah diterbitkan Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 7 Tahun 1999 tentang Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (AKIP). fungsi. efektif. susunan organisasi dan tata kerja Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi adalah sebagai berikut: 1. 2. Tugas. Tugas Pokok Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi diberikan tugas untuk menyelenggarakan urusan di bidang pendayagunaan aparatur negara dan Reformasi Birokrasi dalam 2 Laporan Akuntabilitas Kinerja Kementerian PAN dan RB Tahun 2011 . Untuk melaksanakan amanat strategis tersebut. serta peranannya dalam pengelolaan sumber daya dan kebijakan yang dipercayakan kepadanya berdasarkan perencanaan strategis yang ditetapkan. Tugas tersebut harus senantiasa dilaksanakan dengan penuh tanggungjawab. tugas. Presiden Republik Indonesia telah memberikan tugas pokok kepada Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi berdasarkan Peraturan Presiden Nomor 24 Tahun 2010 untuk menyelenggarakan urusan di bidang pendayagunaan aparatur negara dan Reformasi Birokrasi untuk membantu Presiden dalam menyelenggarakan pemerintahan negara. Tugas Pokok. efisien dan akuntabel. Kedudukan Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi dipimpin oleh Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi yang berada di bawah dan bertanggung jawab kepada Presiden. maka kedudukan. Sesuai dengan Ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) Nomor: XI/MPR/1998 tentang Penyelenggaraan Negara Yang Bersih dan Bebas Korupsi. Instruksi Presiden tersebut mewajibkan setiap Instansi Pemerintah sebagai unsur penyelenggara negara untuk mempertanggung jawabkan pelaksanaan tugas dan fungsi.

daerah tertinggal. terdepan. terluar. lingkungan hidup dan penanganan bencana. ASPEK STRATEGIS Peraturan Presiden Nomor 5 Tahun 2010 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2010-2014 telah menetapkan 11 prioritas nasional yaitu : 1) 2) 3) 4) 5) 6) 7) 8) 9) 10) 11) reformasi birokrasi dan tata kelola.pemerintahan untuk membantu Presiden dalam menyelenggarakan pemerintahan negara. pendidikan. ketahanan pangan. kesehatan. serta kebudayaan. Prioritas yang terkait tugas dan fungsi Kementerian PAN dan RB adalah prioritas pertama yaitu reformasi birokrasi dan tata kelola. dan inovasi teknologi. infrastruktur. 3) Pengelolaan barang milik/kekayaan negara yang menjadi tanggungjawab Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi. ditetapkan Pokok-pokok strategi dan kebijakan Kementerian PAN dan Reformasi Birokrasi tahun 2010-2014 yang difokuskan pada 3 (tiga) aspek utama. penanggulangan kemiskinan. Berkaitan dengan pencapaian target RPJMN Tahun 2010-2014. 3. Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi menyelenggarakan fungsi: 1) Perumusan dan penetapan kebijakan di bidang pendayagunaan aparatur negara dan reformasi birokrasi. iklim investasi dan usaha. 4) Pengawasan atas pelaksanaan tugas di lingkungan Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi. C. energi. sebagai berikut : 3 Laporan Akuntabilitas Kinerja Kementerian PAN dan RB Tahun 2011 . Selain itu. dan paska konflik. Kementerian PAN dan RB juga mendukung keseluruhan kegiatan prioritas lainnya dalam upaya peningkatan pelayan di berbagai sektor. kreativitas. 2) Koordinasi dan sinkronisasi pelaksanaan kebijakan di bidang pendayagunaan aparatur negara dan reformasi birokrasi. Fungsi Dalam melaksanakan tugas tersebut.

penempatan. penetapan formasi. Deputi Bidang Program dan Reformasi Birokrasi. komprehensif.1) Penyelesaian peraturan perundang-undangan/kebijakan sebagai landasan hukum yang memperkuat arah Reformasi Birokrasi. diklat. 2. Hal ini dilakukan dalam rangka menumbuhkan kepercayaan masyarakat dan memperbaiki iklim investasi sehingga multiplier efeknya terjadi pengurangan pengangguran. fungsi. susunan organisasi dan tata kerja tersebut. ketatalaksanaan dan manajemen pemerintah di pusat dan daerah agar semakin efektif. 6. efisien dan responsif serta berorientasi pada peningkatan kinerja SDM Aparatur dan instansi. efisiensi dan kapasitas pengawasan aparatur pemerintah terhadap seluruh aspek manajemen pemerintahan dan kenegaraan. Deputi Bidang Kelembagaan. (c) peningkatan profesionalisme SDM Aparatur melalui pembenahan manajemen kepegawaian yang mencakup seluruh aspek pembinaan mulai dari perencanaan. 5. promosi. remunerasi. (d) perbaikan pelaksanaan pengawasan dan akuntabilitas aparatur melalui peningkatan efektivitas. murah. Deputi Bidang Tata Laksana. (b) pembenahan sistem kelembagaan. 3. sesuai Peraturan Presiden Nomor 24 Tahun 2010 Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi dibantu oleh: 1. transparan. rekruitmen/seleksi. Deputi Bidang SDM Aparatur. 2) Peningkatan kualitas pelayanan publik kepada masyarakat sehingga secara maksimal memenuhi asas-asas pelayanan prima yaitu cepat. penegakan disiplin serta peningkatan tertib administrasi kepegawaian. tepat. Struktur Organisasi Untuk melaksanakan tugas pokok. 4 Laporan Akuntabilitas Kinerja Kementerian PAN dan RB Tahun 2011 . 4. Deputi Bidang Pengawasan dan Akuntabilitas Aparatur. peningkatan pertumbuhan ekonomi. dan peningkatan kesejahteraan masyarakat. mencakup : (a) penyusunan dan penyempurnaan berbagai peraturan perundang-undangan dan petunjuk implementasi pelaksanaan Reformasi Birokrasi guna memberikan landasan dan arah pelaksaan yang sistemik. akuntabel dan tidak diskriminatif. Sekretariat Kementerian. berkelanjutan pada konteks good governance . D. dan pelaksanaan Reformasi Birokrasi yang 3) Pemantapan menyeluruh. lintas sektoral.

10. Deputi Bidang Pelayanan Publik. Sistematika Penyajian Pada dasarnya Laporan Akuntabilitas Kinerja ini memberikan penjelasan mengenai pencapaian kinerja Kementerian PAN dan RB selama Tahun 2011. menjelaskan analisis pencapaian kinerja Kementerian PAN dan RB dikaitkan dengan pertanggungjawaban publik terhadap pencapaian sasaran strategis untuk Tahun 2011. menjelaskan simpulan menyeluruh dari Laporan Akuntabilitas Kinerja Kementerian PAN dan RB Tahun 2011 dan menguraikan rekomendasi yang diperlukan bagi perbaikan kinerja di masa datang. Bab IV – Penutup. Staf Ahli Bidang Otonomi Daerah. 11. menjelaskan secara ringkas latar belakang. E. Bab II – Perencanaan dan Penetapan Kinerja. Staf Ahli Bidang Sistem Manajemen. 9. Analisis atas capaian kinerja terhadap rencana kinerja ini akan memungkinkan diidentifikasikannya sejumlah celah kinerja (performance gap) bagi perbaikan kinerja di masa datang. Staf Ahli Bidang Hukum. aspek strategis Kementerian PAN dan RB. Staf Ahli Bidang Budaya Kerja Aparatur. kegiatan dan anggaran Kementerian PAN dan RB Tahun 2011 meliputi RPJMN 2010-2014. 12. Capaian kinerja (performance results) Tahun 2010 tersebut diperbandingkan dengan Penetapan Kinerja (performance agreement) Tahun 2011 sebagai tolok ukur keberhasilan Tahunan organisasi. sebagai berikut : Bab I – Pendahuluan. 8. Rencana Strategis Kementerian PAN dan RB Tahun 2010 . Sistematika penyajian Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (LAKIP) Kementerian PAN dan RB Tahun 2011 berpedoman pada Peraturan Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Nomor 29 Tahun 2010 Tentang Pedoman Penyusunan Penetapan Kinerja dan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah. serta struktur organisasi.2014 dan Penetapan Kinerja Tahun 2011.7. 5 Laporan Akuntabilitas Kinerja Kementerian PAN dan RB Tahun 2011 . menjelaskan secara ringkas dokumen perencanaan yang menjadi dasar pelaksanan program. Staf Ahli Bidang Kebijakan Publik. Bab III – Akuntabilitas Kinerja Tahun 2011. Secara rinci struktur organisasi Kementerian PAN dan RB terdapat pada lampiran 1.

efisien dan akuntabel. 3. Kesejahteraan Rakyat. RPJMN 2010-2014 RPJM 2010-2014 ditujukan untuk lebih memantapkan penataan kembali Indonesia di segala bidang dengan menekankan upaya peningkatan kualitas sumber daya manusia termasuk pengembangan kemampuan ilmu dan teknologi serta penguatan daya saing perekonomian. Terwujudnya peningkatan kesejahteraan rakyat. Dan Berkeadilan. Koordinasi dan sinkronisasi pelaksanaan kebijakan di bidang pendayagunaan aparatur negara dan reformasi birokrasi. Demokratis. Perumusan dan penetapan kebijakan di bidang pendayagunaan aparatur negara dan reformasi birokrasi. Berkaitan dengan ini telah di tetapkan kerangka Visi Indonesia 2014 adalah: Terwujudnya Indonesia Yang Sejahtera.Bab II Perencanaan dan Perjanjian Kinerja Sebagaimana disebutkan di atas bahwa berdasarkan Pasal 612 Peraturan Presiden Nomor 24 Tahun 2010. Kementerian PAN dan RB menyelenggarakan fungsi : 1. 2. 2. dengan penjelasan sebagai berikut: 1. melalui pembangunan ekonomi yang berlandaskan pada 6 Laporan Akuntabilitas Kinerja Kementerian PAN dan RB Tahun 2011 . Pengawasan atas pelaksanaan tugas di lingkungan Kementerian PAN dan RB. A. Kementerian PAN dan RB diberikan tugas untuk menyelenggarakan urusan di bidang pendayagunaan aparatur negara dan Reformasi Birokrasi dalam pemerintahan untuk membantu Presiden dalam menyelenggarakan pemerintahan negara. Kementerian PAN dan RB berpedoman pada dokumen perencanaan yang terdapat pada : 1. Renstra Kementerian PAN dan RB 2010-2014. Untuk menyelenggarakan tugas tersebut. 4. 3. Pengelolaan barang milik/kekayaan negara yang menjadi tanggungjawab Kementerian PAN dan RB. Penetapan Kinerja Tahun 2011. RPJMN 2010-2014. Dalam rangka melaksanakan tugas pokok dan fungsinya agar efektif.

dan Agenda V: Pembangunan Yang Inklusif dan Berkeadilan. (4) penanggulangan kemiskinan. Visi Indonesia 2014 kemudian dijabarkan di dalam Misi pembangunan 2010-2014. pemerintah menetapkan lima agenda utama pembangunan nasional tahun 2010-2014. dan 3) Memperkuat Dimensi Keadilan di Semua Bidang. yaitu : 1) Sasaran Pembangunan Ekonomi dan Kesejahteraan. sasaran pembangunan dan arah kebijakan umum pemerintah tersebut. bangsa dan negara yang demokratis. kekayaan sumber daya alam. (3) kesehatan. berbudaya. Ke lima agenda tersebut memiliki prioritaskan yang dirumuskan dalam bentuk sasaran pembangunan nasional 2010-2014. Agenda II : Perbaikan Tata Kelola Pemerintahan. (7) iklim investasi dan usaha. agenda. bermartabat dan menjunjung tinggi kebebasan yang bertanggung jawab serta hak asasi manusia. Tujuan penting ini dikelola melalui kemajuan penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi. Demokratis dan Berkeadilan. Demokrasi. yang hasilnya dapat dinikmati oleh seluruh bangsa Indonesia. Keadilan. Misi tersebut adalah : 1) Melanjutkan Pembangunan Menuju Indonesia yang Sejahtera. Selanjutnya berdasarkan visi. Terwujudnya pembangunan yang adil dan merata. (9) 7 Laporan Akuntabilitas Kinerja Kementerian PAN dan RB Tahun 2011 . Misi ini adalah rumusan dari usaha-usaha yang diperlukan untuk mencapai visi Indonesia 2014 yaitu terwujudnya Indonesia Sejahtera. Terwujudnya masyarakat. pemerintah menetapkan Sebelas (11) Program Prioritas Nasional yaitu: (1) reformasi birokrasi dan tata kelola. Dalam mewujudkan visi dan misi pembangunan nasional 2010-2014. (5) ketahanan pangan. 2) Sasaran Perkuatan Pembangunan Demokrasi. Agenda IV: Penegakkan Hukum Dan Pemberantasan Korupsi. yang dilakukan oleh seluruh masyarakat secara aktif. (6) infrastruktur.keunggulan daya saing. (8) energi. yaitu: Agenda I : Pembangunan Ekonomi dan Peningkatan Kesejahteraan Rakyat. misi. Agenda III : Penegakan Pilar Demokrasi. Misi pemerintah dalam periode 2009-2014 diarahkan untuk mewujudkan Indonesia yang lebih sejahtera. sumber daya manusia dan budaya bangsa. 2. dan 3) Sasaran Program Penegakan Hukum. 3. 2) Memperkuat Pilar-Pilar Demokrasi. aman dan damai dan meletakkan fondasi yang lebih kuat bagi Indonesia yang adil dan demokratis. (2) pendidikan.

berwibawa. Pencapaian kinerja pembangunan tersebut menjadi komitmen semua pihak khususnya instansi pemerintah untuk dapat merealisasikannya secara sungguh-sungguh untuk kepentingan rakyat dan bangsa Indonesia. pemajuan dan penegakan HAM. 6) Bidang Pertahanan dan Keamanan. 3) Bidang Ilmu Pengetahuan dan Teknologi. 2) Bidang Ekonomi. Terwujudnya pemenuhan. Terwujudnya lembaga peradilan yang bersih dan berwibawa yang ditandai dengan diterapkannya sistem peradilan yang sederhana. meningkatnya kualitas peraturan perundang-undangan sesuai dengan kebutuhan pembangunan dan aspirasi masyarakat. terdepan. serta (11) kebudayaan. Berkaitan dengan hal ini telah ditetapkan 9 (sembilan) bidang pembangunan yaitu: 1) Bidang Sosial Budaya dan Kehidupan Beragama. c. Rencana Pembangunan Jangka Menengah 2010-2014 ini juga diarahkan untuk menjadi sebuah rencana kerja jangka menengah yang bersifat menyeluruh. 7) Bidang Hukum dan Aparatur. dengan indikator tersedianya kerangka regulasi yang 8 Laporan Akuntabilitas Kinerja Kementerian PAN dan RB Tahun 2011 . Kebijakan lintas bidang ini akan menjadi sebuah rangkaian kebijakan antar bidang yang terpadu meliputi prioritas. transparan dan akuntabel.lingkungan hidup dan bencana. Oleh karena itu disusun pula rencana kerja yang bersifat lintas bidang. yaitu : terwujudnya peningkatan penyelenggaraan tata kelola pemerintahan yang baik yang mencerminkan supremasi hukum dan penegakan hak asasi manusia yang didukung oleh aparatur negara yang bersih. 5) Bidang Politik. dan 10) Bidang Sumberdaya Alam dan Lingkungan Hidup. Persoalan yang bersifat lintas sektor harus ditangani secara holistik dan tidak terfragmentasi sehingga dapat menyelesaikan persoalan yang sebenarnya. 8) Bidang Wilayah dan Tataruang. fokus prioritas serta kegiatan prioritas lintas bidang untuk menyelesaikan permasalahan pembangunan yang semakin kompleks. terluar. b. cepat. kreativitas. (10) daerah tertinggal. dan inovasi teknologi. Tercapainya tertib peraturan perundang-undangan dengan indikator berkurangnya jumlah peraturan perundang-undangan yang bermasalah. Dari 9 (sembilan) bidang pembangunan terdapat 1 (satu) bidang yang sangat terkait dengan tugas dan fungsi Kementerian Negara PAN dan Reformasi Birokrasi yaitu bidang (7) Bidang Hukum dan Aparatur dengan sasaran yang akan dicapai. bertanggung jawab serta profesional melalui: a. perlindungan. 4) Bidang Sarana dan Prasarana. dan paska konflik.

4 pada tahun 2008 menjadi 60 pada tahun 2014. (5) Peningkatan Kualitas Pelayanan Publik. Untuk mencapai sasaran pembangunan bidang hukum dan aparatur. Pemajuan. (3) Peningkatan Penghormatan. prioritas bidang hukum dan aparatur adalah Peningkatan Penyelenggaraan Tatakelola Pemerintahan yang Baik. sedangkan opini atas LKPD pada tahun 2014 diharapkan yang mendapatkan opini WTP sebanyak 60% dan opini WDP sebanyak 40%. jumlah penanganan kasus-kasus HAM.69 pada tahun 2008 menjadi 8 pada tahun 2014. (4) Peningkatan Penyelenggaraan Pemerintahan yang Bersih dan Bebas Korupsi. pada tahun 2014 ditargetkan seluruh instansi pemerintah telah menerapkan SAKIP. (6) Peningkatan Kapasitas dan Akuntabilitas Kinerja Birokrasi. dan (7) Pemantapan Pelaksanaan Reformasi Birokrasi Instansi. (2) Peningkatan Kinerja Lembaga di Bidang Hukum. terbentuk dan terlaksananya pedoman dan mekanisme pemajuan HAM.berperspektif HAM. e. Di samping itu. f. 9 Laporan Akuntabilitas Kinerja Kementerian PAN dan RB Tahun 2011 . Terwujudnya pemerintahan yang bersih dan bebas KKN. ditandai dengan meningkatkan Indeks Persepsi Korupsi menjadi 5 dan membaiknya opini BPK atas LKKL dan LKPD.84 diharapkan pada tahun 2014 menjadi 8. Terwujudnya peningkatan kualitas pelayanan publik kepada penduduk dan masyarakat. Skor Indeks Kepuasan Masyarakat (IKM) pada unit pelayanan diharapkan tahun 2014 skornya mencapai 85. yang ditandai dengan meningkatnya skor Integritas Pelayanan Publik dan peringkat Kemudahan Berusaha. peringkat Kemudahan Berusaha diharapkan terus membaik dari peringkat 122 pada tahun 2009 naik menjadi peringkat 75 pada tahun 2014. bila pada tahun 2008 adalah 6. Di samping itu. Kolusi dan Nepotisme (KKN). d. Sedangkan untuk daerah ditandai meningkatnya skor Integritas Pelayanan Publik dari 6. Untuk LKKL diharapkan pada tahun 2014 seluruh KL (100%) mendapatkan opini Wajar Tanpa Pengecualian (WTP). Meningkatnya kapasitas dan akuntabilitas kinerja birokrasi yang ditandai dengan meningkatnya skor Indeks Efektivitas Pemerintahan dari 47. termasuk perlindungan dan bantuan hukum bagi masyarakat miskin dan terpinggirkan. Skor Integritas Pelayanan Publik pada unit layanan di instansi pusat. dengan fokus prioritas pada: (1) Peningkatan Efektifitas Peraturan Perundang-Undangan. dan Penegakan HAM. dan persentasi instansi yang dinilai akuntabel mencapai 80%.

2) Meningkatkan pelaksanaan reformasi birokrasi: 3) Meningkatkan akuntabilitas kinerja aparatur. Proses penyusunan juga telah dilakukan secara partisipatif antara unit-unit di bawah Kementerian PAN dan RB maupun stakeholder eksternal. Kementerian PAN dan RB menetapkan 7 ( tujuh) misi yang akan dilakukan secara konsisten. 7) Meningkatkan profesionalitas SDM aparatur. 10 Laporan Akuntabilitas Kinerja Kementerian PAN dan RB Tahun 2011 . yaitu: 1) Meningkatnya kualitas pelayanan publik kepada masyarakat. Rencana Strategis Tahun 2010 – 2014 Rencana Strategis (Renstra) Kementerian PAN dan RB 2010-2014 merupakan perencanaan jangka menengah Kementerian PAN dan RB yang berisi tentang gambaran sasaran atau kondisi hasil yang akan dicapai dalam kurun waktu lima tahun oleh Kementerian PAN dan RB beserta strategi yang akan dilakukan untuk mencapai sasaran sesuai dengan tugas. Penyusunan Renstra Kementerian PAN dan RB telah mengacu pada RPJM Nasional tahun 2010-2014 yang telah ditetapkan pemerintah. Misi Dalam rangka untuk mewujudkan Visi tersebut. efisien dan akuntabel dalam pelaksanaan Reformasi Birokrasi Menuju Kepemerintahan Yang Baik Kelas Dunia 2025. Visi Visi Kementerian PAN dan RB adalah : “Terwujudnya aparatur negara yang profesional. c.B. efektif. Tujuan Berdasarkan visi dan misi yang telah ditetapkan. Secara ringkas subtansi Renstra Kementerian PAN dan RB dapat diilustrasikan sebagai berikut : a.” b. fungsi dan peran yang diamanahkan. khususnya terkait dengan prioritas pembangunan bidang Hukum dan Aparatur. yaitu: 1) Meningkatkan kualitas pelayanan publik. 6) Meningkatkan efektivitas dan efisiensi ketatalaksanaan. Kementerian PAN dan RB menetapkan empat (4) tujuan yang akan dicapai oleh organisasi dalam jangka waktu sampai tahun 2014. 5) Terwujudnya kelembagaan yang efektif dan efisien. 4) Meningkatkan koordinasi pengawasan.

pasti. 6) Jumlah instansi yang menerapkan pedoman peningkatan kualitas pelayanan publik berbasis partisipasi masyarakat. Sasaran strategis dan indikator kinerja sebagai alat ukur keberhasilan sasaran strategis selama tahun 2010-2014 adalah sebagai berikut : Sasaran Indikator Kinerja Utama Tujuan 1 : Meningkatnya kualitas pelayanan publik kepada masyarakat Sasaran Strategis 1 : 1) Jumlah peraturan/kebijakan dibidang pelayanan publik. 7) Jumlah instansi yang menerapkan UU Nomor 25/2009 tentang pelayanan publik. 3) Meningkatnya pengawasan intern pemerintah percepatan pemberantasan korupsi yang efektif. dalam rangka 4) Meningkatnya sumber daya Kementerian PAN dan Reformasi Birokrasi. 8) Jumlah Pemda yang melakukan peningkatan kualitas pelayanan publik berbasis Sistem Manajemen Mutu (SMM) yang diakui secara internasional. efisien dan akuntabel dalam rangka percepatan reformasi birokrasi. Terwujudnya kualitas pelayanan publik prima. selanjutnya Kementerian PAN dan RB menjabarkan dalam sasaran-sasaran strategis yang akan dicapai secara tahunan selama periode Renstra. 11 Laporan Akuntabilitas Kinerja Kementerian PAN dan RB Tahun 2011 .2) Terwujudnya aparatur negara yang profesional. patut dan 3) Persentase Pemerintah Daerah yang memuaskan menerapkan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (PTSP). 5) Persentase unit pelayanan yang berkategori baik sesuai penilaian. Sasaran Berdasarkan atas tujuan. efektif. murah. 2) Persentase Instansi yang skor IKM baik. transparan. cepat. d. 4) Persentase instansi yang berkategori baik sesuai penilaian. adil.

12 Laporan Akuntabilitas Kinerja Kementerian PAN dan RB Tahun 2011 .Sasaran Indikator Kinerja Utama Tujuan 2 : Terwujudnya aparatur negara yang profesional. efektif dan efisien 1) Jumlah Peraturan Kebijakan dibidang kelembagaan (UU. 3) Jumlah Pemda yang telah melaksanakan reformasi birokrasi sesuai kebijakan RB Nasional. Men. Perpres. 2) Jumlah K/L yang telah melaksanakan reformasi birokrasi sesuai kebijakan RB Nasional. PP. efisien dan akuntabel dalam rangka percepatan Reformasi Birokrasi Sasaran Strategis 2 : Terwujudnya pelaksanaan reformasi birokrasi nasional secara terencana. Sasaran Strategis 4 : Terwujudnya SDM Aparatur yang profesional. PAN dan RB). 5) Persentase instansi pemerintah yang melakukan penataan jabatan PNS. 2) Persentase peningkatan penghasilan PNS berdasarkan hasil analisis dikaitkan dengan tingkat inflasi. 4) Persentase instansi yang menegakkan disiplin sesuai aturan. 2) Persentase unit organisasi di lingkungan Kementerian/Lembaga yang telah tertata organisasi dan tata kerjanya.akuntabel dan sejahtera 1) Jumlah Peraturan Kebijakan dibidang SDM Aparatur (UU. 6) Jumlah instansi pemerintah yang telah melakukan pemeringkatan jabatan. dan komprehensif 1) Jumlah kebijakan pelaksanaan Reformasi Birokrasi yang diterbitkan. Sasaran Strategis 3 : Terwujudnya organisasi pemerintah yang proporsional. berkinerja. PP. PAN dan RB). 3) Jumlah instansi pemerintah yang menyusun perencanaan kebutuhan pegawai dan penataan PNS sesuai aturan. 3) Jumlah kelembagaan Pemda yang telah dipantau dan dievaluasi organisasi dan tata kerjanya. Per. Perpres. 4) Tingkat kualitas pelaksanaan RB yang terukur sesuai dengan kebijakan RB Nasional. Men. efektif. Per. sistematis.

7) Persentase PK yang diterima. Tujuan 3 : Meningkatnya pengawasan intern pemerintah dalam rangka percepatan pemberantasan korupsi yang efektif. efektif dan akuntabel Indikator Kinerja Utama 1) Jumlah peraturan/kebijakan dibidang ketatalaksanaan. Sasaran Strategis 7 : Terwujudnya penyelenggaraan pengawasan intern pemerintah yang terintegrasi. 4) Persentase instansi peserta model Island of Integrity yang berhasil. efisien dan efektif 1) Persentase instansi pemerintah yang melaksanakan SPI sesuai dengan ketentuan. Sasaran Strategis 6 : Terwujudnya instansi pemerintah yang akuntabel dan berkinerja tinggi 1) Jumlah peraturan/kebijakan di bidang pengawasan dan akuntabilitas. 2) Persentase instansi pemerintah pusat yang melakukan penataan ketatalaksanaan dengan baik. 13 Laporan Akuntabilitas Kinerja Kementerian PAN dan RB Tahun 2011 . 3) Persentase instansi pemerintah yang akuntabilitas kinerjanya baik.Sasaran Sasaran Strategis 5 : Terwujudnya penyelenggaraan tata laksana pemerintah yang efisien. 4) Persentase instansi pemerintah yang melaksanakan dan melaporkan Inpres Percepatan Pemberantasan Korupsi yang dievaluasi sesuai pedoman. 2) Persentase instansi pemerintah yang menerapkan Sistem Akuntabilitas Kinerja sesuai aturan. 2) Persentase jumlah temuan yang ditindaklanjuti dalam waktu satu tahun. 3) Persentase laporan dumas yang disalurkan dan telah ditindaklanjuti oleh instansi pemerintah. 3) Persentase instansi pemerintah daerah yang melakukan penataan ketatalaksanaan dengan baik. 5) Persentase instansi pemerintah yang menyusun Indikator Kinerja Utama (IKU). 6) Persentase LAKIP yang diterima.

Sasaran Indikator Kinerja Utama Tujuan 4 : Mewujudkan peningkatan kapasitas aparatur negara Kementerian PAN dan Reformasi Birokrasi Sasaran Strategis 8 : Terwujudnya peningkatan kinerja manajemen internal dalam rangka pelaksanaan tugas Kementerian 1) Persentase dokumen administrasi keuangan yang diselesaikan tepat waktu. 9) Persentase publikasi/ pemberitaan tentang kebijakan PAN yang dilaksanakan. 4) Persentase pejabat yang telah melaporkan LHKPN. sebagai ukuran keberhasilan organisasi secara dalam mencapai sasaran strategis organisasi. 8) Persentase kegiatan yang dilaksanakan sesuai dokumen perencanaan. 7) Persentase dokumen pelaporan yang diselesaikan tepat waktu. Indikator Kinerja Utama (IKU) Kementerian PAN dan RB juga telah menetapkan Indikator Kinerja Utama (IKU) secara berjenjang. 2) Persentase barang milik negara yang tercatat/ terinventarisasi sesuai kaidah pencatatan BMN. 3) Opini BPK terhadap laporan keuangan KemPAN dan RB. 6) Persentase dokumen program dan anggaran yang diselesaikan tepat waktu. 5) Rasio sarana dan prasarana yang tersedia dengan kebutuhan pegawai sesuai standar kualitas pelayanan yang baik. e. Penetapan IKU telah mengacu pada Renstra Kementerian PAN dan RB serta RPJMN tahun 2010-2011. sedangkan yang fokusnya pada internal bussines proses 14 Laporan Akuntabilitas Kinerja Kementerian PAN dan RB Tahun 2011 . 10) Persentase proses penyusunan peraturan perundang-undangan yang dilaksanakan sesuai prosedur. Indikator kinerja utama ditetapkan dengan memilih indikator-indikator kinerja yang ada dalam Renstra Kementerian PAN dan RB tahun 2010-2014 yang memiliki fokus pada perspektif stakeholder.

Persentase Pemerintah Daerah yang menerapkan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (PTSP). 4. murah. 3. adil. 2. Persentase peningkatan penghasilan PNS. Persentase instansi pemerintah daerah yang melakukan penataan ketatalaksanaan dengan baik. berkinerja. Persentase instansi pemerintah yang melakukan penataan jabatan PNS. 2. efisien. Persentase instansi yang skor IKM baik. Persentase Kementerian/ Lembaga yang telah tertata organisasi dan tata kerjanya. 1.(peningkatan kapasitas internal organisasi) tidak dijadikan sebagai Indikator Kinerja Utama. sebagai berikut : No. Terwujudnya SDM Aparatur yang profesional. 15 Laporan Akuntabilitas Kinerja Kementerian PAN dan RB Tahun 2011 . Persentase kelembagaan Pemda yang telah tertata organisasi dan tata kerjanya. Indikator kinerja utama Kementerian Negara PAN dan Reformasi Birokrasi yang akan digunakan untuk periode waktu tahun 2010-2014 sesuai periode Renstra telah ditetapkan dengan Peraturan Menteri Negara PAN dan RB Nomor 47 Tahun 2010. Terwujudnya penyelenggaraan 1. II. 1. Sasaran Strategis Terwujudnya kualitas pelayanan publik prima. pasti. Persentase instansi pemerintah pusat yang melakukan penataan tata laksana pemerintah yang ketatalaksanaan dengan baik. 3. patut dan memuaskan Indikator Kinerja Utama 1. transparan.akuntabel dan sejahtera IV. I. efektif dan akuntabel 2. Persentase Instansi yang berkategori baik sesuai penilaian. 2. efektif dan efisien III. Terwujudnya organisasi pemerintah yang proporsional. Persentase instansi pemerintah yang menyusun perencanaan kebutuhan SDM aparatur sesuai aturan. cepat. Persentase instansi yang menegakkan disiplin sesuai aturan.

2. V. Penetapan kinerja pada dasarnya adalah pernyataan komitmen yang merepresentasikan tekad dan janji untuk mencapai kinerja yang jelas dan terukur dalam rentang waktu satu Tahun tertentu dengan mempertimbangkan sumber daya yang dikelolanya. VI. efisien dan efektif C. Persentase instansi pemerintah yang menerapkan Sistem Akuntabilitas Kinerja sesuai aturan. 1. 1. 3. Penetapan Kinerja Tahun 2011 Penetapan Kinerja merupakan amanat Inpres Nomor 5 Tahun 2004 dan Surat Edaran Menteri Negara PAN Nomor: SE/31/M. Persentase instansi peserta model Island of Integrity yang berhasil. sebagai wujud nyata komitmen antara 16 Laporan Akuntabilitas Kinerja Kementerian PAN dan RB Tahun 2011 . Sasaran Strategis Terwujudnya pelaksanaan reformasi birokrasi nasional secara terencana. Tujuan khusus penetapan kinerja antara lain adalah untuk: meningkatkan akuntabilitas. Terwujudnya instansi pemerintah yang akuntabel dan berkinerja tinggi VII. Terwujudnya penyelenggaraan pengawasan intern pemerintah yang terintegrasi. Persentase laporan dumas yang disalurkan dan telah ditindaklanjuti oleh instansi pemerintah.PAN/12/2004 tentang Penetapan Kinerja. 2. sistematis. Jumlah K/L yang telah melaksanakan reformasi birokrasi sesuai kebijakan RB Nasional. dan kinerja aparatur. Tingkat kualitas pelaksanaan RB yang terukur sesuai dengan kebijakan RB Nasional. dan komprehensif Indikator Kinerja Utama 1. 2.No. Persentase instansi pemerintah yang melaksanakan dan melaporkan Inpres Percepatan Pemberantasan Korupsi yang dievaluasi sesuai pedoman. Persentase instansi pemerintah yang akuntabilitas kinerjanya baik. transparansi. 3. Persentase instansi pemerintah yang melaksanakan SPI sesuai dengan ketentuan.

Penetapan kinerja ini telah mengacu pada Renstra Kementerian PAN dan RB serta RPJMN tahun 2010-2014. dan fungsi yang ada. dan sebagai dasar pemberian reward atau penghargaan dan sanksi. menciptakan tolok ukur kinerja sebagai dasar evaluasi kinerja aparatur. Kementerian PAN dan RB telah membuat penetapan kinerja tahun 2010 secara berjenjang sesuai dengan kedudukan. pasti.penerima amanah dengan pemberi amanah. PerPres. publik (PP. Inpres. murah. 25 Tahun 2009 ttg Pelayanan Publik pada Provinsi Jumlah Kabupaten/ Kota yang mempresentasikan kepuasan pelanggan berdasarkan Indeks Kepuasan Masyarakat (IKM) Skor IKM unit pelayanan 17 Laporan Akuntabilitas Kinerja Kementerian PAN dan RB Tahun 2011 70 % Provinsi 100 % 11 K/L 7 Pemda Provinsi 33 Kab/kota 65 . 25 Tahun 2009 ttg Pelayanan Publik pada K/L Terlaksananya implementasi Undang-Undang No. sebagai dasar penilaian keberhasilan/kegagalan pencapaian tujuan dan sasaran organisasi. 1 Perpres. cepat. dan Per Men. PAN dan RB RB) Persentase Provinsi yang diberi sosialisasi Undang-Undang ttg Pelayanan Publik Persentase Instansi Pusat yang diberi sosialisasi Undang-Undang ttg Pelayanan Publik Terlaksananya implementasi Undang-Undang No. transparan. 1 Inpres. Oleh karena itu Indikator – indikator kinerja dan target tahunan yang digunakan dalam penetapan kinerja ini adalah indikator kinerja utama tingkat kementerian yang telah ditetapkan dan telah diintegrasikan dalam Renstra Kementerian PAN dan RB tahun 2010-2014. Penetapan Kinerja tingkat Kementerian PAN dan RB Tahun 2011 yang telah ditandatangani pada bulan Maret 2011 adalah sebagai berikut : Sasaran Strategis I Terwujudnya kualitas pelayanan publik prima. tugas. Men. patut dan memuaskan Indikator Kinerja Target Jumlah peraturan/kebijakan di bidang pelayanan 1 PP. adil. PAN dan 2 Per.

PAN dan RB) Persentase penyelesaian konsolidasi struktural dan peningkatan kapasitas Kementerian PAN dan RB. BKN dan LAN Persentase Kementerian Negara yang telah tertata organisasi dan tata kerjanya Persentase LPNK yang telah tertata organisasi dan tata kerjanya Persentase LNS yang telah tertata organisasi dan tata kerjanya Persentase Perwakilan RI di Luar Negeri yang telah tertata organisasi dan tata kerjanya Persentase Sekretariat Lembaga Negara yang telah tertata organisasi dan tata kerjanya 18 Laporan Akuntabilitas Kinerja Kementerian PAN dan RB Tahun 2011 Target 3 Perpres. Men.Persentase Pemerintah Daerah yang menerapkan OSS (pelayanan terpadu) Jumlah Kabupaten/Kota yang dilakukan evaluasi dampak Pemberian Penghargaan Citra Bahkti Abdi Negara (CBAN) Jumlah Kab/Kota yang menerapkan pedoman peningkatan kualitas pelayanan publik berbasis partisipasi masyarakat Jumlah unit pelayanan publik yang menerapkan pedoman peningkatan kualitas pelayanan publik berbasis partisipasi masyarakat Jumlah Kabupaten/Kota yang dinilai Berdasarkan usulan instansi/Pemerintah Provinsi Persentase Pemda yang berkategori baik sesuai penilaian Persentase Pemda yang berkategori terbaik sesuai penilaian 75 % 26 Kab/kota 5 Kab/kota 15 unit 105 Kab/Kota 60 % 60 % Sasaran Strategis II Terwujudnya organisasi pemerintah yang proporsional. Men. efektif dan efisien Indikator Kinerja Jumlah peraturan/kebijakan di bidang Kelembagaan (Perpres. Per. 6 Per. PAN dan RB 100 % 30 % 30 % 30 % 30 % 30 % .

1 PP. 2 RUU. Per. 3 PP. PAN dan RB) 10 Per. efektif dan akuntabel Indikator Kinerja Jumlah peraturan/kebijakan di bidang Tata Laksana (UU. Perpres. PAN dan RB 35 % 19 Laporan Akuntabilitas Kinerja Kementerian PAN dan RB Tahun 2011 . Men. PP. Men. Per. Men.Persentase instansi pemerintah (PPK-BLU) yang telah tertata kelembagaannya Persentase Pemda yang dievaluasi organisasi dan tatakerjanya 30 % 30 % Sasaran Strategis III Terwujudnya SDM Aparatur yang profesional. akuntabel dan sejahtera Indikator Kinerja Target Jumlah peraturan/kebijakan di Bidang SDM 1 RUU. 5 Per. berkinerja. PP. Men PAN dan RB Persentase insansi pemerintah yang mengirimkan data usulan formasi PNS secara akurat dan benar sesuai aturan Persentase instansi yang menerapkan kebijakan pemantapan pengembangan pegawai Persentase peningkatan penghasilan PNS Persentase instansi yang menyusun informasi jabatan dalam rangka penyusunan sistem remunerasi berdasarkan merit system 80 % 5% 5% 20 % Sasaran Strategis IV Terwujudnya penyelenggaraan tata laksana pemerintah yang efisien. PAN dan RB) Persentase instansi pemerintah pusat yang melakukan penataan ketatalaksanaan dengan baik Target 2 UU. Aparatur (UU. 9 RPP.

3 Per. PAN dan RB) Persentase instansi pemerintah yang menerapkan Sistem Akuntabilitas Kinerja sesuai aturan Persentase instansi pemerintah yang akuntabilitas kinerjanya baik Persentase instansi pemerintah yang menyusun Indikator Kinerja Utama (IKU) Persentase LAKIP yang diterima Persentase PK yang diterima Persentase instansi peserta model Island of Integrity yang berhasil Target 1 RUU. sistematis.Sasaran Strategis V Terwujudnya pelaksanaan reformasi birokrasi nasional secara terencana. Men. Men. dan komprehensif Indikator Kinerja Jumlah kebijakan pelaksanaan Reformasi Birokrasi yang diterbitkan Jumlah K/L yang telah melaksanakan reformasi birokrasi sesuai kebijakan RB Nasional Jumlah K/L yang telah melaksanakan reformasi birokrasi Tingkat kualitas pelaksanaan RB yang terukur sesuai dengan kebijakan RB Nasional Jumlah instansi yang menerima sosialisasi Target 7 kebijakan 12 K/L 30 % 80 % 100 % K/L 30 % Pemda 100 % K/L 10 % Pemda Jumlah asistensi reformasi birokrasi kepada instansi pusat dan daerah Sasaran Strategis VI Terwujudnya instansi pemerintah yang akuntabel dan berkinerja tinggi Indikator Kinerja Jumlah peraturan/kebijakan di bidang Akuntabilitas Kinerja (RUU. Per. PAN dan RB 50 % 44 % 22 % (Pusat dan Daerah) 87 % (Pusat dan Daerah) 55 % (Pusat dan Daerah) 32 % 20 Laporan Akuntabilitas Kinerja Kementerian PAN dan RB Tahun 2011 .

PAN dan RB 50 % 65 % 65 % Terdapat perbedaan indikator kinerja antara PK (Penetapan Kinerja) dan IKU (Indikator Kinerja Utama) dikarenakan : 1. 2 Per. 21 Laporan Akuntabilitas Kinerja Kementerian PAN dan RB Tahun 2011 . PK Tahun 2011 telah ditetapkan pada bulan Maret tahun 2011. Indikator Kinerja yang dipergunakan dalam pengukuran kinerja (LAKIP Kementerian PAN dan RB) tahun 2011 adalah indikator kinerja yang terdapat pada PK tahun 2011. efisien dan efektif Indikator Kinerja Jumlah peraturan/kebijakan di bidang Pengawasan (RUU. Per. PAN dan RB) Persentase instansi pemerintah yang melaksanakan SPI sesuai dengan ketentuan Persentase laporan dumas yang disalurkan dan telah ditindaklanjuti oleh instansi pemerintah Persentase instansi pemerintah yang melaksanakan dan melaporkan Inpres Percepatan Pemberantasan Korupsi yang dievaluasi sesuai pedoman Target 1 RUU. sedangkan 2. dikarenakan menyesuaikan dengan kondisi aktual bidang PAN dan RB saat ini.Sasaran Strategis VII Terwujudnya penyelenggaraan pengawasan intern pemerintah yang terintegrasi. IKU Tahun 2011 baru ditetapkan pada bulan Oktober 2011. Men. Men.

Pengukuran Capaian Kinerja Tahun 2011 Pengukuran tingkat capaian kinerja Kementerian PAN dan RB tahun 2011 dilakukan dengan cara membandingkan antara target pencapaian indikator sasaran yang telah ditetapkan dalam Penetapan Kinerja Kementerian PAN dan RB tahun 2011 dengan realisasinya. 2 Per. adil. Men. PAN dan RB Realisasi 1 Draft RPP 1 Draft Perpres 1 Draft Inpres 2 Draft PerMenPAN-RB % 90 80 80 90 Persentase Provinsi yang diberi sosialisasi Undang-Undang ttg Pelayanan Publik Persentase Instansi Pusat yang diberi sosialisasi Undang-Undang ttg Pelayanan Publik Terlaksananya implementasi Undang-Undang No. Tingkat capaian kinerja Kementeraian PAN dan RB tahun 2011 berdasarkan hasil pengukurannya dapat diilustrasikan dalam tabel sebagai berikut : Sasaran Strategis I Terwujudnya kualitas pelayanan publik prima. 25 Tahun 2009 ttg Pelayanan Publik pada K/L Terlaksananya implementasi Undang-Undang No. PAN dan RB) Target 1 PP. 25 Tahun 2009 ttg Pelayanan Publik pada Provinsi Jumlah Kabupaten/ Kota yang mempresentasikan kepuasan pelanggan berdasarkan Indeks Kepuasan Masyarakat (IKM) 22 70 % Provinsi 30 % 42. patut dan memuaskan Indikator Kinerja Jumlah peraturan/kebijakan di bidang pelayanan publik (PP. cepat. 1 Perpres. 1 Inpres. pasti. murah. transparan.Bab III Akuntabilitas Kinerja Tahun 2011 A. dan Per Men. PerPres. Inpres.86 100 % 100 % 100 11 K/L 0 K/L 0 7 Pemda Provinsi 0 Pemda Provinsi 0 33 Kab/kota 28 Kab/kota 85 Laporan Akuntabilitas Kinerja Kementerian PAN dan RB Tahun 2011 .

Skor IKM unit pelayanan Persentase Pemerintah Daerah yang menerapkan OSS (pelayanan terpadu) Jumlah Kabupaten/Kota yang dilakukan evaluasi dampak Pemberian Penghargaan Citra Bahkti Abdi Negara (CBAN) Jumlah Kab/Kota yang menerapkan pedoman peningkatan kualitas pelayanan publik berbasis partisipasi masyarakat Jumlah unit pelayanan publik yang menerapkan pedoman peningkatan kualitas pelayanan publik berbasis partisipasi masyarakat Jumlah Kabupaten/Kota yang dinilai Berdasarkan usulan instansi/Pemerintah Provinsi Persentase Pemda yang berkategori baik sesuai penilaian Persentase Pemda yang berkategori terbaik sesuai penilaian 65 76.PAN dan RB 2 Draft PerMen.33 105 Kab/Kota 73 Kab/Kota 69. Per. BKN dan LAN 100 % 80 % 80 23 Laporan Akuntabilitas Kinerja Kementerian PAN dan RB Tahun 2011 . Men.33 26 Kab/kota 0 Kab/kota 0 5 Kab/kota 5 Kab/Kota 100 15 unit 80 unit 533.PAN dan RB.PAN dan RB 3 Perpres. 6 Per.57 117.52 60 % 0% 0 60 % 0% 0 Sasaran Strategis II Terwujudnya organisasi pemerintah yang proporsional.Men. efektif dan efisien Indikator Kinerja Jumlah peraturan/kebijakan di bidang Kelembagaan (Perpres. Persentase penyelesaian konsolidasi struktural dan peningkatan kapasitas Kementerian PAN dan RB.58 75 % 79 % 105. PAN dan RB) Target Realisasi 3 Draft Perpres % 85 90 4 PerMen.

26 % 77. berkinerja. akuntabel dan sejahtera Indikator Kinerja Jumlah peraturan/kebijakan di Bidang SDM Aparatur (UU. Men.24 30 % 23.33 % Kab/Kota 101 111.33 30 % 30.Persentase Kementerian Negara yang telah tertata organisasi dan tata kerjanya Persentase LPNK yang telah tertata organisasi dan tata kerjanya Persentase LNS yang telah tertata organisasi dan tata kerjanya Persentase Perwakilan RI di Luar Negeri yang telah tertata organisasi dan tata kerjanya Persentase Sekretariat Lembaga Negara yang telah tertata organisasi dan tata kerjanya Persentase instansi pemerintah (PPK-BLU) yang telah tertata kelembagaannya Persentase Pemda yang dievaluasi organisasi dan tatakerjanya 30 % 29. Men. Perpres. PAN dan RB) 1 RUU 9 RPP 3 PP 10 Per.1 Sasaran Strategis III Terwujudnya SDM Aparatur yang profesional. Per.30 % Provinsi 33.24 30 % 25 % 83.57 % 95.57 % 95. PP.PAN dan RB % 100 100 400 80 80 % IP Pusat 80 % IP Daerah 95 % IP Pusat 92 % IP Daerah 119 115 5% 5% 100 5% 10 % 200 24 Laporan Akuntabilitas Kinerja Kementerian PAN dan RB Tahun 2011 .41 % 98.52 30 % 0% 0 30 % 28. Men.04 30 % 28.PAN dan RB Persentase instansi pemerintah yang mengirimkan data usulan formasi PNS secara akurat dan benar sesuai aturan Persentase instansi yang menerapkan kebijakan pemantapan pengembangan pegawai Persentase peningkatan penghasilan PNS Target Realisasi 1RUU 9 RPP 12 PP 8 Per.

5 70 88 Persentase instansi pemerintah pusat yang melakukan penataan ketatalaksanaan dengan baik 35 % 59. 3 Draft Per. PAN dan RB. PP.PAN dan RB % 80 62. sistematis. dan komprehensif Indikator Kinerja Jumlah kebijakan pelaksanaan Reformasi Birokrasi yang diterbitkan Jumlah K/L yang telah melaksanakan reformasi birokrasi sesuai kebijakan RB Nasional Jumlah K/L yang telah melaksanakan reformasi birokrasi Tingkat kualitas pelaksanaan RB yang terukur sesuai dengan kebijakan RB Nasional Target 7 kebijakan Realisasi 10 kebijakan % 143 12 K/L 20 K/L 167 30 % 47 % 156 80 % 81 % 101 25 Laporan Akuntabilitas Kinerja Kementerian PAN dan RB Tahun 2011 .Persentase instansi yang menyusun informasi jabatan dalam rangka penyusunan sistem remunerasi berdasarkan merit system 20 % 30 % 150 Sasaran Strategis IV Terwujudnya penyelenggaraan tata laksana pemerintah yang efisien. Men. Men.Men. Per. PAN dan RB) 2 UU 2 RUU 1 PP 5 Per. efektif dan akuntabel Indikator Kinerja Jumlah peraturan/kebijakan di bidang Tata Laksana (UU. Men. PAN dan RB Target Realisasi 2 RUU 2 RUU 1 RPP 2 Per.46 % 169 Sasaran Strategis V Terwujudnya pelaksanaan reformasi birokrasi nasional secara terencana.

Men. PAN dan RB) RB Persentase instansi pemerintah yang menerapkan Sistem Akuntabilitas Kinerja sesuai aturan Persentase instansi pemerintah yang akuntabilitas kinerjanya baik Persentase instansi pemerintah yang menyusun Indikator Kinerja Utama (IKU) Persentase LAKIP yang diterima Persentase PK yang diterima Persentase instansi peserta model Island of Integrity yang berhasil 50 % 50.Jumlah instansi yang menerima sosialisasi Jumlah asistensi reformasi birokrasi kepada instansi pusat dan daerah 100 % K/L 30 % Pemda 100 % K/L 100 % Prov.29 % 100.81 22 % (Pusat dan Daerah) 87 % (Pusat dan Daerah) 55 % (Pusat dan Daerah) 20. PAN dan RB % 100 100 Jumlah peraturan/kebijakan di 1 RUU bidang Akuntabilitas Kinerja 3 Per. PAN dan (RUU.10 % 91. Men. Men.48 109.34 % 100. 100 333 62 - 100 % K/L 10 % Pemda 62 % - Sasaran Strategis VI Terwujudnya instansi pemerintah yang akuntabel dan berkinerja tinggi Indikator Kinerja Target Realisasi 1 RUU 3 Per. Men.36 87.92 Sasaran Strategis VII Terwujudnya penyelenggaraan pengawasan intern pemerintah yang terintegrasi.42 % 60.77 % 76.72 % 121. efisien dan efektif Indikator Kinerja Jumlah peraturan/kebijakan di bidang Pengawasan (RUU. PAN dan RB) Target 1 RUU 2 Per. PAN dan RB Realisasi 1 Draft RUU 2 Draft Permen. PAN-RB % 95 98 26 Laporan Akuntabilitas Kinerja Kementerian PAN dan RB Tahun 2011 .62 32 % 30.68 44 % 48. Per. Per. Men.

61 65 % 51.55 % 125.81 Rata-rata capaian kinerja 105.86 100 % 100 % 100 27 Laporan Akuntabilitas Kinerja Kementerian PAN dan RB Tahun 2011 . cepat.30 65 % 81 % 124. Inpres. Analisis Capaian Kinerja Sasaran Strategis 1 : Terwujudnya kualitas pelayanan publik prima. Men. PerPres.88 % 79. pasti.22 B. murah.Persentase instansi pemerintah yang melaksanakan SPI sesuai dengan ketentuan Persentase laporan dumas yang disalurkan dan telah ditindaklanjuti oleh instansi pemerintah Persentase instansi pemerintah yang melaksanakan dan melaporkan Inpres Percepatan Pemberantasan Korupsi yang dievaluasi sesuai pedoman 50 % 62. dan Per. Men.PAN dan RB) 2) Persentase Provinsi yang diberi sosialisasi Undang-Undang ttg Pelayanan Publik 3) Persentase Instansi Pusat yang diberi sosialisasi UndangUndang ttg Pelayanan Publik 1 PP 1 Perpres 1 Inpres 2 Per. PAN dan RB Target Realisasi 1 Draft RPP 1 Draft Perpres 1 Draft Inpres 2 Draft PerMenPAN-RB % 90 80 80 90 70 % 30 % 42.transparan Pencapaian target kinerja atas sasaran ini adalah sebagai berikut : Indikator Kinerja 1) Jumlah peraturan/kebijakan di bidang pelayanan publik (PP.

Indikator Kinerja 4) Terlaksananya implementasi Undang-Undang No.58 75 % 79 % 105.57 117. 25 Tahun 2009 ttg Pelayanan Publik pada K/L 5) Terlaksananya implementasi Undang-Undang No. 25 Tahun 2009 ttg Pelayanan Publik pada Provinsi 6) Jumlah Kabupaten/ Kota yang mempresentasikan kepuasan pelanggan berdasarkan Indeks Kepuasan Masyarakat (IKM) 7) Skor IKM unit pelayanan 8) Persentase Pemerintah Daerah yang menerapkan OSS (pelayanan terpadu) 9) Jumlah Kabupaten/Kota yang dilakukan evaluasi dampak Pemberian Penghargaan Citra Bahkti Abdi Negara (CBAN) Target Realisasi % 11 K/L 0 K/L 0 7 Pemda Provinsi 0 Pemda Provinsi 0 33 Kab/kota 28 Kab/kota 85 65 76.33 26 Kab/kota 0 kab/kota 0 28 Laporan Akuntabilitas Kinerja Kementerian PAN dan RB Tahun 2011 .

33 105 Kab/Kota 73 Kab/Kota 69.52 60% 0% 0 60% 0% 0 Analisis atas capaian indikator-indikator kinerja sasaran ini adalah sebagai berikut : 29 Laporan Akuntabilitas Kinerja Kementerian PAN dan RB Tahun 2011 .Indikator Kinerja 10) Jumlah Kab/Kota yang menerapkan pedoman peningkatan kualitas pelayanan publik berbasis partisipasi masyarakat 11) Jumlah unit pelayanan publik yang menerapkan pedoman peningkatan kualitas pelayanan publik berbasis partisipasi masyarakat 12) Jumlah Kabupaten/Kota yang dinilai Berdasarkan usulan instansi/Pemerintah Provinsi 13) Persentase Pemda yang berkategori baik sesuai penilaian 14) Persentase Pemda yang berkategori terbaik sesuai penilaian Target Realisasi % 5 Kab/kota 5 Kab/Kota 100 15 unit 80 unit 533.

2. didalam Pasal 50 ayat (4) Undang-undang Nomor 25 Tahun 2009 tentang Pelayanan Publik menyatakan bahwa penyelenggara pelayanan wajib menyediakan anggaran guna membayar ganti rugi dan Pasal 50 ayat (8) disebutkan bahwa mekanisme dan ketentuan pembayaran ganti rugi dimaksud diatur lebih lanjut dengan Peraturan Presiden. b. c. 25 Tahun 2009 tentang Pelayanan Publik. Melalui Surat Menteri PAN dan RB Nomor S-703/MK. Kementerian PAN dan RB saat ini telah menyusun dan merumuskan Rancangan Perpres tentang Mekanisme dan Ketentuan Pembayaran Ganti Rugi sebagai pedoman bagi 30 Laporan Akuntabilitas Kinerja Kementerian PAN dan RB Tahun 2011 . R-Perpres tentang Ganti Rugi a.758/Sesneg/D4/PU. Perkembangan Rancangan PP a. Untuk membayar ganti rugi dimaksud. ada masukan masalah Tarif/Biaya PNBP sehingga perlu merubah pasal 29 sehingga RPP di perbaiki kembali.02/06/2011 tanggal 9 Juni 2011 yang ditujukan kepada Menterui terkait perihal Permohonan Paraf Naskah Asli Rancangan Peraturan Pemerintah tentang Pelaksanaan Undang-undang No. Dalam surat pengaduan dimaksud masyarakat yang dirugikan oleh penyelenggara atau pelaksana pelayanan dapat mengajukan tuntutan ganti rugi. Saat ini RPP telah di paraf ulang oleh Menteri PAN dan RB dan Menteri Keuangan.Jumlah peraturan/kebijakan di bidang pelayanan publik 1. c. Melalui Surat Sekretaris Kabinet Nomor: B. b. dan Menteri Dalam Negeri. telah dimintakan paraf terhadap konsep RPP dan telah diparaf oleh 3 Menteri yaitu Menteri PAN dan RB. e. Dalam rangka peningkatan kualitas pelayanan publik sesuai dengan ketentuan Pasal 40 dan Pasal 42 ayat (4) Undang-undang Nomor 25 Tahun 2009 tentang Pelayanan Publik. Menteri BUMN. masyarakat penerima layanan berhak mengadukan penyelenggara pelayanan dan atau pelaksana pelayanan yang dalam memberikan pelayanan tidak sesuai dengan standar pelayanan.02/2011 tanggal 7 November 2011 perbaikan RPP dikembalikan kembali ke Setneg untuk dimintakan kembali paraf ulang Menteri yang terkait. Ketika meminta paraf ke Menteri Keuangan. d. Sementara ini posisi RPP sedang berada di Kementerian Dalam Negeri untuk dimintakan paraf Menteri Dalam Negeri.

Provinsi Maluku Utara 9. Kementerian Keuangan telah menaggapi R-Perpres dimaksud dan telah dikirim kembali ke Kementerian PAN dan RB untuk ditindak lanjuti. R-Inpres Percepatan Peningkatan Kualitas Pelayan Rancangan Inpres sudah disusun dan dirumuskan oleh internal Kedeputian Pelayanan Publik Kementerian PAN dan RB. d.penyelenggara dan penerima pelayanan publik dalam pemberian ganti rugi. Namun mengingat R-Perpres ini berkaitan dengan anggaran maka perlu pemikiran yang mendalam untuk segera ditetapkan oleh Presiden. akan dikirim kepada Presiden menunggu PP Pelaksaan UU Pelayanan Publik ditetapkan. Provinsi Sumatera Selatan 11. R-Perpres ini telah dibahas dengan beberapa instansi terkait untuk memperoleh masukan penyempurnaan. Adapun Provinsi yang telah diberikan sosialisasi pada Tahun 2011 adalah : 1. Provinsi Papua 4. Rancangan Perpres perlu dibahas atau diharmonisasikan terlebih dahulu di internal Kementerian Keuangan guna disepakati bagaimana sistem penganggaran dalam pembayaran ganti rugi. Provinsi Jawa Tengah 5. diakumulasikan dengan capaian pada tahun 2010 sehingga jumlah Provinsi yang tersosialisasi mencapai target sebanyak 23 Provinsi. 3. Persentase Provinsi Pelayanan Publik yang diberi sosialisasi Undang-Undang ttg Target awal adalah sebanyak 70% dari 33 provinsi. Mengingat pembayaran ganti rugi ini berkaitan erat dengan keuangan Negara. Provinsi Kepulauan Riau 2. e. yaitu sejumlah 23 Provinsi. Provinsi Jawa Timur 31 Laporan Akuntabilitas Kinerja Kementerian PAN dan RB Tahun 2011 . Provinsi NTT 10. Posisi Rancangan R-Perpres yang sudah dibahas dan disetujui oleh instansi terkait. Provinsi Lampung 3. Provinsi Jawa Barat 7. f. Hasil pembahasan atau harmonisasi tersebut kiranya dapat disampaikan kepada kami sebagai bahan masukan penyempurnaan Rancangan Perpres dimaksud. Provinsi Sulawesi Utara 6. Provinsi Sulawesi Selatan 8. Capaian pada tahun 2011 sebanyak 11 Provinsi yang tersosialisasi.

Kementerian Perhubungan 6. Kementerian Sosial 5. Kementerian Pekerjaan Umum 2. Kementerian BUMN 16. Kementerian Perdagangan 14. Kementerian Pendidikan Nasional 4. yaitu sebanyak 34 K/L. Menko Politik Hukum dan Keamanan 3. Kementerian Luar Negeri 8. Kementerian Agama 6. Kementerian Komunikasi dan Informasi 8. Kementerian Pembangunan Daerah Tertinggal 14.Persentase Instansi Pusat yang diberi sosialisasi Undang-Undang ttg Pelayanan Publik Target awal sosialisasi dilaksanakan pada 34 K/L dan pada pelaksanaannya sosialisasi telah sesuai dengan target. Sosialisasi dilaksanakan di Kementerian PAN dan RB yang dibagi dalam 2 tahap. yaitu : 1. Kementerian Keuangan 10. Kementerian Pendaygunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi 13. Kementerian Pemuda dan Olah Raga 32 Laporan Akuntabilitas Kinerja Kementerian PAN dan RB Tahun 2011 . Kementerian Pertahanan 9. Menko Kesejahteraan Rakyat 4. Kementerian PPN/Bappenas 15. Kementerian Riset dan Teknologi 9. Kementerian Hukum dan HAM 11. Kementerian Dalam Negeri 7. Kementerian Pertanian 15. Kementerian Kesehatan 3. Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata 7. Kementerian Prindustrian 13. Menko Perekonomian 2. Kementerian ESDM 12. Sekretariat Negara 5. Kementerian Koperasi dan UKM 10. Adapun K/L yang telah diberikan sosialisasi pada tahap I adalah : 1. Kementerian Perumahan Rakyat 17. Kementerian Lingkungan Hidup 11. Kementerian Kehutanan 16. Kementerian Tenaga Kerja Sedangkan pada Tahap II. Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak 12. Kementerian Kelautan dan Perikanan 17.

Kota Bekasi. DIY. Prov. Kota Cimahi. Semarang. Prov. Kota Bengkulu. Kepahiang. Kab. menunggu pedoman monitoring dan evaluasi ditetapkan. Kota Yogyakarta. Kubu Raya. Jawa Barat.Tanah Datar. Prov. Kota Banda Aceh. Prov. Bantul. Bengkulu. Terlaksananya implementasi Undang-Undang No.Terlaksananya implementasi Undang-Undang No. Kota Pontianak. 25 Tahun 2009 ttg Pelayanan Publik pada K/L Implementasi UU Nomor 25 Tahun 2009 pada 11 K/L belum dilaksanakan karena pedoman monev implementasi belum disusun. Adapun target yang akan dilakukan survei IKM adalah 33 Kabupaten/Kota. Aceh Barat. Bali. Jepara. Adapun dari target yang telah ditetapkan nilai indeks sebesar 65 dan pada kenyataannya rata-rata indeks yang dicapai adalah sebesar 76. Rencana Monitoring dan evaluasi implementasi akan dilaksanakan di Tahun 2012. namun dari target tersebut baru dapat dilaksanakan pada 28 Kabupaten/kota. Prov. Kab. menunggu pedoman monitoring dan evaluasi ditetapkan. Kota Pekan Baru. Prov. Kalimantan Barat. jadi capaian target yaitu sekitar 85% (delapan puluh lima persen). Kab. NAD. Kota Surabaya. Prov. Kab. Kota Malang. Kab.6 dari 467 unit pelayanan yang telah melaksanakan survei IKM. Kab/Kota belum dilaksanakan karena pedoman monev implementasi belum disusun. Kab. Kota Padang.6 maka prosentase pencapaian 33 Laporan Akuntabilitas Kinerja Kementerian PAN dan RB Tahun 2011 . Jumlah Kabupaten/Kota yang mempresentasikan kepuasan pelanggan berdasarkan Indeks Kepuasan Masyarakat (IKM) Perkembangan terkini menunjukan bahwa daerah yang telah melaksanakan survei IKM tahun 2011 adalah 28 Provinsi/Kab/Kota. Skor IKM unit pelayanan Setelah melalui survei Skor IKM dilapangan maupun data yang diterima dari daerah yang telah melakukan survei IKM secara mandiri maka dapat diketahui bahwa Skor IKM rata-rata nasional adalah 76. Kudus. Kab. Riau. Kota Denpasar. Rencana Monev implementasi akan dilaksanakan di Tahun 2012. daerah-daerah yang telah mempresentasikan hasil survei IKM antara lain : Kota Solok. Kab. 25 Tahun 2009 ttg Pelayanan Publik pada Provinsi Implementasi UU Nomor 25 Tahun 2009 pada 7 Pemda Provinsi. Kota Bandung.

dengan melingkari kode huruf oleh 150 responden yang kemudian menghasilkan 4 tingkat kinerja unit pelayanan yaitu: (1) Berkinerja sangat baik dengan skor 81. serta sebagai pemacu persaingan kinerja antar unit pelayanan itu sendiri. disebabkan antara lain : 1.6 (117. 2. Kurangnya komitmen para kepala SKPD dan kepala unit pelayanan untuk sunguh-sungguh menindaklanjuti pelaksanaan survey IKM (upaya memperbaiki unsur yang rendah atau lemah dan meningkatkan yang baik serta mempertahankan yang sangat baik).81 (seratus tujuhbelas koma delapan puluh satu persen). Hasil survei di dapat melalui pilihan pendapat publik atas 14 unsur pertanyaan menyangkut pelayanan.76 – 62. referensi perumusan kebijakan pelayanan. Rendahnya kepatuhan menindaklanjuti peraturan perundangundangan. 5.81% diatas target rata-rata tahun 2011 yaitu 65).25. sistem manajemen dan sebagainya.26 – 100. sarana dan prasarana. Tidak dilakukan survey secara berkala sehingga skor tidak diketahui perkembangannya. SDM yang kompeten. mekanisme dan prosedur pelayanan. 6. Sedikitnya kabupaten/kota yang melaksanakan survei IKM. 3. sedangkan penilaian di Pusat (Kementerian/Lembaga) belum dilaksanakan.50. (4) tidak baik dengan skor 25 – 43. Kebijakan pimpinan daerah yang sering melakukan mutasi pejabat pelayanan publik dalam kurun waktu kurang dari satu tahun. Upaya peningkatan kualitas unit pelayanan (meningkatkan skor IKM) sulit terlaksana. direncanakan akan dilaksanakan di Tahun 2012 ini. karena tindaklanjutnya membutuhkan anggaran. Dalam monitoring atas 467 kabupaten/kota tahun 2011 terjaring 50 kabupaten/kota yang melaksanakan survei IKM dengan nilai rata-rata IKM secara Nasional 76.75.51 – 81. Dari hasil penilaian Tim ke Provinsi/Kabupaten/Kota yang pernah mensosialisaikan Indeks Kepuasan Masyarakat kurang lebih 20 Provinsi/Kabupaten/Kota yang sudah tersosialisasi.melebihi target 117. 34 Laporan Akuntabilitas Kinerja Kementerian PAN dan RB Tahun 2011 . Survei IKM ini pada akhirnya bermanfaat sebagai bahan evaluasi penataan sistem pelayanan. perencanaan pembangunan dan anggaran pelayanan. (2) Berkinerja baik dengan skor 62. Banyak pejabat yang menangani koordinasi pelayanan publik (Kabag Otala maupun pimpinan SKPD) yang masih belum memahami pentingnya survey IKM dan juga ada yang sama sekali tidak mengerti. 4. (3) kurang baik dengan skor 43.

Tingkat pencapaian skor IKM tahun 2011 pada unit pelayanan publik dari hasil evaluasi yang telah dilakukan telah mencapai skor rata-rata di atas 76. Kabupaten Kepahiang 16. Realisasi Monev Survey IKM : 1. Provinsi Aceh 12. Kota Pakan Baru 18.Rata IKM PerProvinsi 78. Dengan demikian target skor IKM unit pelayanan pada tahun 2011 telah terlampaui. Kota Malang 7.5 75. Provinsi Irian Jaya DATA SURVEI IKM DI PROVINSI KABUPATEN/KOTA TAHUN 2011 Jumlah Kab/ Kota 23 28 10 10 11 19 15 Data IKM Provinsi Kabupaten/Kota Tahun 2011 Mengirim 3 2 4 0 4 8 0 Tidak Mengirim 20 26 6 10 7 11 15 Banyakny a Unit Yang di survei 3 10 10 0 21 83 0 77. Provinsi Kalimantan Barat 11. Kota Padang 4. serta monitoring. dilakukan koordinasi intensif dengan segenap unsur pejabat dan pimpinan daerah terkait. Provinsi Riau 17.7 85. Kota Surabaya 8. Provinsi Bengkulu 14. evaluasi.3 Rata .6. Provinsi Jawa Barat 19. Kota Yogyakarta 6. Kota Cimahi 20. Kabupaten Bekasi 5. Kabupaten Kubu Raya 9. Sesuai dengan renstra untuk kegiatan dimaksud pada Tahun 2011 adalah dengan target 33 Kabupaten/Kota.Langkah-langkah untuk mengatasinya. Kota Solok 2. bimbingan dan supervisi. Provinsi 1 2 3 4 5 6 7 35 NANGGROE ACEH DARUSSALAM SUMATERA UTARA BENGKULU JAMBI RIAU SUMATERA BARAT SUMATERA SELATAN Laporan Akuntabilitas Kinerja Kementerian PAN dan RB Tahun 2011 . Kota Bengkulu 15. Kabupaten Tanah Datar 3. Kabupaten Aceh Barat 13.7 No. Kota Pontianak 10.3 77.

0 77.81% 76.I YOGYAKARTA BALI NUSA TENGGARA BARAT NUSA TENGGARA TIMUR KALIMANTAN BARAT KALIMANTAN SELATAN KALIMANTAN TENGAH KALIMANTAN TIMUR GORONTALO SULAWESI SELATAN SULAWESI TENGGARA SULAWESI TENGAH SULAWESI UTARA SULAWESI BARAT MALUKU MALUKU UTARA PAPUA BARAT P AP U A 11 7 6 8 26 6 35 38 5 9 9 20 14 13 14 14 6 23 12 10 13 5 9 8 9 21 467 100% 0 0 1 1 6 1 1 1 2 2 0 1 4 3 0 0 0 4 0 1 1 0 1 0 0 0 51 11% 11 7 5 7 20 5 34 37 3 7 9 19 10 10 14 14 6 19 12 9 12 5 8 8 9 21 416 89% 0 0 40 5 170 1 43 102 11 11 0 5 95 32 0 0 0 74 0 13 2 0 10 0 0 0 65.7 78.0 Total 741 Jumlah IKM Provinsi Kabupaten/Kota Total IKM Provinsi Kabupaten/Kota 20 1531.8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 LAMPUNG KEP.2 81.3 76.6 74.0 76.1 72.8 61.6 86.5 77.RATA PROVINSI/NASIONAL Catatan : Nilai IKM Rata-rata Nasional Target Rata-rata Tahun 2011 Persentase Nilai rata-rata IKM nasional = = = 76.8 79.6 36 Laporan Akuntabilitas Kinerja Kementerian PAN dan RB Tahun 2011 .0 74.9 77.5 NILAI IKM RATA . BANGKA BELITUNG KEPULAUAN RIAU BANTEN JAWA BARAT DKI JAKARTA JAWA TENGAH JAWA TIMUR D.6 65 117.6 78.

namun terimplementasi pada 9 provinsi. Adapun target penetapan kinerja yang diamanatkan dalam rencana kerja pemerintah Tahun 2011 adalah sebesar 75% (tujuh puluh lima persen). yaitu sebesar 105%). 4) Disamping itu telah dilakukan verifikasi terhadap penyelenggaraan PTSP di beberapa daerah untuk melihat secara langsung proses penyelenggaraan lembaga PTSP yang meliputi dasar hukum 37 Laporan Akuntabilitas Kinerja Kementerian PAN dan RB Tahun 2011 . pada Tahun 2011 telah terbentuk sebanyak 420 OSS/PTSP di Provinsi/Kabupaten/Kota dengan presentase pembentukan PTSP telah mencapai 79% (tujuh puluh sembilan persen). Tahun 2006 jumlah OSS menjadi 95 Kabupaten/Kota. sebagai berikut: 1) Koordinasi dilakukan secara parsial terhadap beberapa daerah dengan melibatkan sektor terkait dalam bentuk rapat koordinasi fasilitasi penyelenggaraan PTSP dengan menargetkan sepuluh provinsi. dan best practice sebanyak 10 Kabupaten/Kota dengan 2 Provinsi. Tahun 2008 menjadi 329 Kabupaten/Kota. Dari 530 Kab/Kota dan Provinsi. Hingga saat ini dari 530 Kabupaten/Kota dan Provinsi.Persentase Pemerintah Daerah yang menerapkan OSS (pelayanan terpadu) Perkembangan Pemerintah Daerah yang menerapkan OSS (One Stop Service) menunjukkan hasil dengan terus meningkatnya jumlah daerah yang mereplikasinya. pada Tahun 2010 jumlah keseluruhan 394 OSS pada Provinsi/Kabupaten/Kota. yaitu: (a) Koordinasi dan Fasilitasi Penyelenggaraan PTSP/OSS dan Pengelolaan Pengaduan Masyarakat (Help Desk) terkait bidang perizinan dan investasi. 2) Target prosentase pembentukan PTSP. pada Tahun 2010 menjadi 379 Kabupaten/Kota dengan 15 Provinsi. telah terbentuk sebanyak 420 PTSP yang berarti tercapai 97% dari indikator target utama yang ditetapkan sebesar 75% (pencapaian melebihi target. Tahun 2007 menjadi 286 Kabupaten/Kota. 3) Rapat koordinasi yang dilaksanakan di tiap provinsi telah menghasilkan rekomendasi yang terangkum dalam berita acara rapat koordinasi dan kemudian ditindaklanjuti pada tingkat pusat dengan mengadakan rapat koordinasi lintas sektor untuk melakukan pembahasan hasil rapat koordinasi tersebut. (b) Koordinasi dan fasilitasi penyelesaian kasus pada lembaga PTSP yang meliputi beberapa hal. Tahun 2009 menjadi 358 Kabupaten/Kota dan 2 Provinsi. sebagaimana yang ditetapkan dalam RPJM. Fokus kegiatan dalam upaya mendukung penerapan OSS di Provinsi dan Kabupaten/Kota dilakukan dalam dua fokus kegiatan. sebesar 75%.

Provinsi : 33 . terutama pada komponen sarana pengaduan (Help Desk).Kota : 87 Jumlah seluruhnya : 420 Prov/Kab/Kota c.Provinsi : 16 . 11 Tahun 2009). 5) Telah dilakukan penyempurnaan terhadap kebijakan untuk optimalisasi penyelenggaraan PTSP di daerah termasuk bagaimana mengukur keberhasilan penyelenggaraannya yang ditinjau dari semua aspek termasuk kompetensi aparatur penyelenggaranya. Jumlah Pemerintah Daerah yang telah membentuk/menerapkan PTSP hingga Desember 2011 : .Kabupaten .Provinsi : 6 : 90 . implementasi survei IKM dan indikator prasarana lainnya untuk digunakan dalam penentuan kualifikasi secara proporsional bagi penyelenggara PTSP yang dituangkan dalam Perka BKPM Nomor 6 Tahun 2011 tentang Tata Cara Pelaksanaan Pembinaan dan Pelaporan PTSP Bidang Penanaman Modal (sebagai pengganti Perka BKPM No. mekanisme penyelenggaraan serta penerapan standar operasional dan prosedur dalam rangka peningkatan kualitas penyelenggaraan PTSP. Jumlah Administrasi Wilayah : . 6) Ringkasan data perkembangan lembaga PTSP adalah sebagai berikut: a. Jumlah Pemerintah Daerah yang telah melaksanakan secara efektif Pelayanan Publik dalam PTSP hingga akhir Desember 2011: .Kota : 22 Jumlah seluruhnya : 118 Prov/Kab/Kota 38 Laporan Akuntabilitas Kinerja Kementerian PAN dan RB Tahun 2011 . aspek kelembagaan dan struktur.pembentukan. instrumen tersebut digunakan untuk melakukan penilaian dan menginisiasi penetapan kualifikasi kepada 256 penyelenggara PTSP di Kabupaten/Kota dalam bidang Penanaman Modal sesuai Keputusan Kepala BKPM Nomor 58 tentang Penetapan Kualifikasi Terhadap 256 Penyelenggara Pelayanan Terpadu Satu Pintu di Bidang Penanaman Modal Kabupaten dan Kota Tahun 2011.Kabupaten : 399 .Kota : 98 Jumlah seluruhnya : 530 Prov/Kab/Kota b. Sebagai tindak lanjutnya.Kabupaten : 317 . Dalam hal ini Kementerian PAN-RB diminta berpartisipasi dalam menyusun indikatorindikator dalam Peraturan Kepala BKPM Nomor 6 Tahun 2011 tersebut.

Tana Toraja Kab. Bangka Tengah Kab. Demak Kab. Dairi Kab. Labuhan Batu Kab. yaitu : 105%) PEMBENTUKAN PTSP SELAMA TAHUN 2011 NO. 2011:75 % (pencapaian melebihi target. Bengkulu Tengah Kab. Indragiri Hilir Kab. Aceh Tamiang Kab. Tabulasi target Pembentukan PTSP : WILAYAH PEMBENTUKAN Tahun 2010 Prov 15 Jumlah 394 Persentase 74 % 420 79 % Kab 292 Kota 87 Prov 16 Tahun 2011 Kab 317 Kota 87 Target Th. Batubara Kab. Pidie Jaya Kab. 1 2 1 1 2 3 4 5 6 7 3 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 PROVINSI/KABUPATEN/KOTA DKI Jakarta Kota Tual Kota Batam Kotamadya Jakarta Pusat Kotamadya Jakarta Timur Kotamadya Jakarta Selatan Kotamadya Jakarta Utara Kotamadya Jakarta Barat Kab. Minahasa Tengah DALAM PROVINSI DKI Jakarta Maluku Kepulauan Riau DKI Jakarta DKI Jakarta DKI Jakarta DKI Jakarta DKI Jakarta Aceh Aceh Sumatera Utara Sumatera Utara Sumatera Utara Sumatera Utara Riau Riau Bengkulu Kepulauan Bangka Belitung Jawa Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Utara 39 Laporan Akuntabilitas Kinerja Kementerian PAN dan RB Tahun 2011 . Humbang Hasundutan Kab. Kepulauan Meranti Kab.d.

Penyelesaian penyusunan kuesioner sudah mendekati waktu dengan pelaksanaan penilaian CBAN sehingga lebih prioritas pada penilaian CBAN. Polri. Dalam pelaksanaan FGD tersebut disampaikan beberapa pengalaman dari unit layanan yang telah memiliki standar pelayanan. yaitu: a) Rapat penyusunan draft rancangan Permen PAN-RB tentang Penyusunan. d) Telah di lakukan Uji Coba di dua daerah yaitu: Kota Samarinda Provinsi Kalimantan Timur dan Kota Batu Provinsi Jawa Timur. b) Beberapa kali pelaksanaan Focus Group Discussion (FGD) yang melibatkan akademisi/pakar dari UNS dan UGM. akademisi. dan unit layanan terpadu dari Cimahi dan Yogyakarta. Jumlah Kab/Kota yang menerapkan pedoman peningkatan kualitas pelayanan publik berbasis partisipasi masyarakat Target awal 5 kabupaten/kota yang menerapkan pedoman peningkatan kualitas pelayanan publik berbasis partisipasi masyarakat. birokrat. Parigi Moutong Kab. Sumba Barat Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Tengah Nusa Tenggara Timur Nusa Tenggara Timur Jumlah Kabupaten/Kota yang dilakukan evaluasi dampak Pemberian Penghargaan Citra Bahkti Abdi Negara (CBAN) Penyusunan Kuesioner Evaluasi Dampak CBAN sudah selesai dilaksanakan namun terkendala dengan kegiatan yang lebih prioritas. dan Penerapan Standar Pelayanan dengan melibatkan beberapa pakar. Penetapan. Kupang Kab. Bantul. 3) Kab. yang capaiannya mencapai 100%. 4) Kota Cimahi. Wonosobo. dan 5 ) Kab. 2) Kab. birokrat. Donggala Kab. Kementerian dan Lembaga. Dari ujicoba tersebut didapatkan hasil yang cukup baik.14 15 16 17 18 Kab. Kementerian dan Lembaga yang memiliki keterkaitan di bidang pelayanan publik. Jombang. Siau Tagulandang Biaro Kab. yaitu: 40 Laporan Akuntabilitas Kinerja Kementerian PAN dan RB Tahun 2011 . Untuk mencapai target tersebut dilakukan beberapa kegiatan. c) Telah dilakukan lokakarya di beberapa tempat untuk mengevaluasi draft rancangan sekaligus juga melakukan perbaikan draft rancangan berdasarkan masukan dari para pakar. yaitu : 1) Kota Pekalongan.

Wonosobo 4) 13 Puskesmas di Kota Cimahi Jumlah Kabupaten/Kota instansi/Pemerintah Provinsi yang dinilai Berdasarkan usulan Pada tahun 2011 target 105 kabupaten/kota tidak berhasil diwujudkan.1) Masih banyak daerah yang belum mengetahui apa itu standar pelayanan 2) Adanya persepsi bahwa standar yang terdiri dari SPM. dikarenakan Instansi/Pemerintah Provinsi hanya mengusulkan 75 kabupaten/kota yang memenuhi persyaratan. proses pelayanannya diformalkan dalam manual mutu berikut turunan SOPnya. Saat ini sedang menunggu terbitnya PP tentang Pelaksanaan UU No. yang seluruhnya memberikan pelayanan. dan berkategori baik. sesuai persyaratan SNI ISO 9001:2008. dan saat sekarang sedang dalam tahap evaluasi akhir untuk ditetapkan Pemda yang berkategori terbaik. Dengan demikian proses replikasi metoda kerja best practice tersebut ke unit kerja lainnya menjadi dimudahkan. Kabupaten/Kota yang tidak memenuhi persyaratan di-drop dari daftar jumlah kabupaten/kota.3%. atau 97. SOP. 25 Tahun 2009 tentang Pelayanan Publik. Dari 75 yang memenuhi persyaratan pada tahun 2011 berhasil dinilai 73 kabupaten/kota. Jumlah unit pelayanan publik yang menerapkan pedoman peningkatan kualitas pelayanan publik berbasis partisipasi masyarakat Pada tahun 2011 target 15 unit. dan SPP adalah hal yang sama 3) Adanya keinginan peserta uji coba untuk mengetahui bagaimana cara melakukan penyusunan standar pelayanan namun tidak mengetahui cara menyusunnya e) Capaian kinerja pada kegiatan ini hampir memenuhi target sasaran. sedangkan realisasinya mencapai 80 UPTD. 41 Laporan Akuntabilitas Kinerja Kementerian PAN dan RB Tahun 2011 . Proses penilaian kabupaten/kota sudah selesai pada tahun 2011. Adapun ke 80 UPTD tersebut adalah : 1) 12 Puskesmas di Kota Pekalongan 2) 34 Puskesmas di Kabupaten Jombang 3) 21 Puskesmas di Kab.

Gorontalo 55. Kab. Aceh Barat 3. Tanah Datar Prov. Sulawesi Barat : 66. Kab. Kab. Bali : 46. Kab. Bungo Prov. Kab. Kerinci 17. Kab. Kab. Kab. Selayar Prov. Banyuasin 22. Kab. Kab. Kab. Aceh Tenggara 5. Kab. Riau : 14. Kab. Kapuas 56. Kota Depok 33. Kota Pontianak Prov. Kab. Berau Prov. Kota Gorontalo 54. Kab. Sulawesi Utara : 69. Bojonegoro Prov. Kab. Kota Magelang 39. Luwu timur 62. Lampung Selatan Prov. Kab. Kab. Kendari 68. Kab. Kab. Toli – Toli 65. Kutai Timur 53. Kab Tamiang Prov. Kota Metro 25. Persentase Pemda yang berkategori terbaik sesuai penilaian Sehubungan dengan proses penilaian kabupaten/kota sedang dalam tahap evaluasi akhir untuk ditetapkan Pemda yang berkategori terbaik. Kalimantan Tengah : 72. Kab. Parigi Montong Prov. Kab. Kab. Kab. Hulu Sungai Utara 58. Sleman Prov. Pasaman 12. Kab. Kab. Lampung Barat 24. Kab. Banten : 26. Sumbawa 49. Dairi Prov. Badung Prov. Wonogiri 37. Kab. Kab. Blitar 43. Barito Kuala Prov. Kota Denpasar 47. Musi Rawas 21. Kab. Hulu Sungai Selatan 59.I. Kota Cirebon 31. Kolaka Prov. Gorontalo : Prov. Kota Surakarta 36. Aceh Tengah 2. Majalengka 30. Jakarta Barat Prov. Serang 27. Kab. Kab. Nagan Raya 4. Kab. Kab. Barito Utara 73. Kab. Sulawesi Selatan : 60. D. Kab. Katingan Persentase Pemda yang berkategori baik sesuai penilaian Sehubungan dengan proses penilaian kabupaten/kota sedang dalam tahap evaluasi akhir untuk ditetapkan Pemda yang berkategori terbaik. Kab. Rokan Hulu Prov. DKI Jakarta : 28. Kab. Pelelawan 15. Demak 40. Deli Serdang 7. Kab. Jawa Tengah : 34. Kalimantan Timur : 51. Muko-Muko 19. Kab. Kab. Kudus Prov. Kab. Boyolali 38. Kab. Padang Panjang 11. Demak 39. Mamuju Prov. Pak-Pak Barat 9. dan berkategori baik maka perhitungan pencapaian target 60% Pemda berkategori baik belum dapat dilakukan pada tahun 2011. Kab. Kab. Kota Samarinda 52. Yogyakarta : 41. Ogan Komering Ulu Prov. Kab. Bolmut 71. Sumatera Utara : 6. Lombok Timur Prov. NAD : 1. Sumatera Barat : 10. Rejang Lebong Prov. dan 42 Laporan Akuntabilitas Kinerja Kementerian PAN dan RB Tahun 2011 . Pangkep 63. Lampung : 23. Kab. Jawa Timur : 42. Kota Pekalongan 35. Kota Bitung 70. Bengkulu : 18. Tangerang Prov. Kab. Sulawesi Tengah : 64. Kab. Kalimantan Selatan : 57. Jawa Barat : 29. Kab. Kalimantan Barat : 50. Kab. Kab. Kab. Kab. Kota Banjar 32. Kab. NTB : 48. Kab. Kab. Jambi : 16. Batu Bara 8. Pinrang 61. Situbondo 44. Kab. Sulawesi Tenggara : 67. Bogor Prov. Kab. Bondowoso 45. Kab. Sitaro Prov. Dharmasraya 13.73 Kabupaten/Kota yang telah dinilai Prov. Sumatera Selatan : 20.

PAN dan RB Realisasi 3 Draft Perpres 4 PerMen. Per. 2 Draft PerMen.41 % 98. Men.57 % 95.04 30 % 28.52 30 % 0% 0 30 % 28. Sasaran Strategis 2 : Terwujudnya organisasi pemerintah yang proporsional. efektif dan efisien Pencapaian target kinerja atas sasaran ini adalah sebagai berikut : Indikator Kinerja 1) Jumlah peraturan/kebijakan di bidang Kelembagaan (Perpres.26 % 77. PAN dan RB) 2) Persentase penyelesaian konsolidasi struktural dan peningkatan kapasitas Kementerian PAN dan RB.PAN dan RB.24 Laporan Akuntabilitas Kinerja Kementerian PAN dan RB Tahun 2011 .57 % 95. BKN dan LAN 3) Persentase Kementerian Negara yang telah tertata organisasi dan tata kerjanya 4) Persentase LPNK yang telah tertata organisasi dan tata kerjanya 5) Persentase LNS yang telah tertata organisasi dan tata kerjanya 6) Persentase Perwakilan RI di Luar Negeri yang telah tertata organisasi dan tata kerjanya 7) Persentase Sekretariat Lembaga Negara yang telah tertata organisasi dan tata kerjanya 43 Target 3 Perpres 6 Per. Men.berkategori baik maka perhitungan pencapaian target 60% Pemda berkategori terbaik belum dapat dilakukan pada tahun 2011.PAN dan RB % 85 90 100 % 80 % 80 30 % 29.24 30 % 23.

33 % Kab/Kota 101 111. dan 3. dari 6 (enam) peraturan/kebijakan telah terealisasikan 4 (empat) Peraturan Menteri PAN dan RB masing-masing: 1.1 Analisis atas capaian indikator-indikator kinerja sasaran ini adalah sebagai berikut : Jumlah peraturan/kebijakan di bidang kelembagaan Dari 3 (tiga) Peraturan Presiden yang ditargetkan belum terealisasi 100% karena sampai dengan akhir tahun 2011 baru dapat direalisasikan dalam bentuk Rancangan Peraturan Presiden dan belum ditetapkan menjadi Peraturan Presiden. Rancangan Peraturan Presiden tentang Kelembagaan Sekretariat Lembaga Negara.33 30 % Prov 30 % kab/Kota 30. 2. Sedangkan Peraturan/kebijakan dalam bentuk Peraturan Menteri. Rancangan Peraturan Presiden tentang Pemerintah Non Kementerian (LPNK). Peraturan Menteri PAN dan Kelembagaan Pemerintah. Adapun 3 (tiga) Rancangan Peraturan Presiden tersebut adalah: 1.Indikator Kinerja 8) Persentase instansi pemerintah (PPK-BLU) yang telah tertata kelembagaannya 9) Persentase Pemda yang dievaluasi organisasi dan tatakerjanya Target Realisasi % 30 % 25 % 83. RB tentang Pedoman Evaluasi 44 Laporan Akuntabilitas Kinerja Kementerian PAN dan RB Tahun 2011 . Kelembagaan Lembaga 2. Selain itu. Kondisi tersebut terjadi karena penyusunan Peraturan Presiden memerlukan proses administrasi yang cukup kompleks. penyusunan Peraturan Presiden juga melibatkan instansi lain yang terkait. Peraturan Menteri PAN dan RB tentang Kelembagaan Instansi Pemerintah yang menerapkan PPK-BLU. Rancangan Peraturan Presiden tentang Sekretariat Lembaga Non Struktural.30 % Prov 33.

Sedangkan 1 (satu) peraturan/kebijakan yaitu mengenai tugas. pembahasan usulan dan penyampaian rekomendasi kebijakan penataan. belum dapat ditetapkan karena menunggu implementasi dari Surat Edaran yang baru saja ditetapkan. dan LAN yang efektif. BKN. BKN dan LAN dan peningkatan Pada kegiatan ini telah dihasilkan 1 (satu) hasil reviu terhadap penyelesaian konsolidasi struktural dan peningkatan kapasitas kelembagaan Kementerian PAN dan RB. Persentase penyelesaian konsolidasi struktural kapasitas Kementerian PAN dan RB. Peraturan Menteri PAN dan RB tentang SOP Penataan Kelembagaan Pemerintah. BKN. Penataan yang dilakukan meliputi pemrosesan usulan penataan organisasi Kementerian Negara. PAN dan RB tentang Sistem Kelembagaan Selain 4 (empat) Peraturan Menteri sebagaimana tersebut di atas. fungsi. efisien dan strategis. BKN.41%.04 %. juga diterbitkan 1 (satu) Surat Edaran Menteri mengenai konsolidasi struktural antara Kementerian PAN dan RB.3. target 30% dari 34 Kementerian. Persentase Kementerian Negara yang telah tertata organisasi dan tata kerjanya Untuk indikator kinerja Persentase Kementerian Negara yang telah tertata organisasi dan tata kerjanya. Materi yang dimuat dalam reviu tersebut adalah konsolidasi dan sinergitas pelaksanaan tugas antara Kementerian PAN dan RB. 4. dan LAN. LAN. dan struktur organisasi eselon II ke bawah pada Kementerian PAN dan RB. BKN. Peraturan Menteri Pemerintah. dan LAN. dan ANRI. BPKP. Adapun Kementerian Negara yang ditata organisasi dan tata kerjanya meliputi: 45 Laporan Akuntabilitas Kinerja Kementerian PAN dan RB Tahun 2011 . Dari target yang ditetapkan dapat terealisasi sebanyak 10 Kementerian atau sebesar 29. yang telah ditetapkan. Dalam materi reviu dimuat pembagian peran dan tugas yang jelas antara tiga instansi tersebut agar dapat diwujudkan sinergitas dalam pelaksanaan tugas dan fungsi yang pada akhirnya dapat mendorong pada terwujudnya koherensi dalam perumusan kebijakan di bidang pendayagunaan aparatur negara. Dengan demikian capaian kinerjanya adalah 98.

realisasinya sebanyak 8 LPNK atau sebesar 28. Persentase LPNK yang telah tertata organisasi dan tata kerjanya Sedangkan untuk kelembagaan LPNK. Kementerian Perindustrian. Kementerian Luar Negeri. 7. Kementerian Perumahan rakyat. Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan. Kementerian Koperasi dan UKM. Badan Pengawas Obat dan Makanan. 7. Adapun jumlah LNS yang pembentukannya dilakukan dengan PP dan Perpres adalah sebanyak 43 LNS.57 % yang telah tertata organisasi dan tata kerjanya. Lembaga Administrasi Negara. 3. 6. 9. Kementerian Perhubungan. Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional. terealisasi sebanyak 10 LNS atau sebesar 23. Perpustakaan Nasional. 4. Persentase LNS yang telah tertata organisasi dan tata kerjanya Pada tahun 2011 LNS yang ditargetkan untuk ditata adalah LNS yang dibentuk berdasarkan PP dan Perpres. Kelembagaan LNS yang telah tertata organisasi dan tata kerjanya. 2.1. Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah. Hasil penataan kelembagaan LNS yang diperoleh adalah berupa analisis beserta Rancangan keputusan Presiden tentang Rekomendasi Penghapusan 10 (sepuluh) LNS yang hingga saat ini belum ditetapkan menjadi Keputusan Presiden. 3. dan Kementerian Pendidikan Nasional (sebelum resuffle). Dengan demikian capaian kinerjanya adalah 95. 4.24%. 5. 6. 10. Kementerian Pertahanan. Kementerian Kesehatan. target 30% dari 28 LPNK. 5. 8. Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional. Badan Narkotika Nasional. Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif. 2. Dengan demikian capaian kinerjanya adalah sebesar 77. Adapun LPNK yang ditata meliputi: 1. 8.25%. Adapun 10 LNS yang direkomendasikan untuk ditata adalah: 46 Laporan Akuntabilitas Kinerja Kementerian PAN dan RB Tahun 2011 . Kementerian Kehutanan. target 30% dari 43 LNS.52%.

1. Dewan Pengembangan KAPET. Lembaga Koordinasi dan Pengendalian Peningkatan Kesejahteraan Sosial Penyandang Cacat. Dewan Buku Nasional. 5. Dewan Gula Indonesia.24 %. Persentase Sekretariat lembaga Negara yang telah tertata organisasi dan tata kerjanya Saat ini terdapat 7 (tujuh) Sekretariat Lembaga Negara. 2.Komisi Hukum Nasional. 4. selanjutnya dilakukan pembahasan terhadap usulan penataan. 9. 6. Komite Antar Departemen Bidang Kehutanan. 47 Laporan Akuntabilitas Kinerja Kementerian PAN dan RB Tahun 2011 . Perwakilan RI di Luar Negeri yang telah tertata organisasi dan tata kerjanya Pada Indikator Persentase Perwakilan RI di Luar Negeri yang telah tertata organisasi dan tata kerjanya. Indikator kinerja persentase Sekretariat lembaga Negara yang telah tertata organisasi dan tata kerjanya target 30% dari 7 Sekretariat Lembaga Negara. dan 10. Sekretariat Jenderal DPD. 8. Komite Aksi Nasional Penghapusan Bentuk-bentuk Pekerjaan Terburuk Untuk Anak. 2. Badan Kebijaksanaan dan Pengendalian Pembangunan Perumahan dan Permukiman Nasional. Dengan demikian capaian kinerjanya adalah sebesar 95. Tahap selanjutnya adalah disampaikan rekomendasi kebijakan berdasarkan usul yang disampaikan. Dewan Penerbangan dan Antariksa Nasional. terealisasi sejumlah 2 (dua) Sekretariat Lembaga Negara atau sebesar 28. Prosedur yang dilakukan dalam proses penataan adalah sama seperti yang dijelaskan di atas yaitu dimulai dari pemrosesan usulan yang dilengkapi dokumen.57%. 3. Adapun Sekretariat Lembaga Negara yang telah ditata organisasi dan tata kerjanya adalah: 1. Sekretariat Jenderal Mahkamah Konstitusi. Dewan Pengembangan Kawasan Timur Indonesia. 7. dari 30% target yang ditetapkan tidak dapat direalisasikan karena terdapat kebijakan pemerintah berupa pembatasan perjalanan dinas ke luar negeri dan kebijakan efisiensi anggaran tahun 2011 sehingga kegiatan penataan Perwakilan RI di Luar Negeri tidak dilaksanakan.

Provinsi Jawa Tengah. Provinsi Sumatera Selatan. Dengan demikian capaian kinerjanya adalah sebesar 83. selanjutnya dilakukan pembahasan terhadap usulan penataan.30%.Persentase instansi kelembagaannya pemerintah (PPK-BLU) yang telah tertata Terdapat 12 (dua belas) Instansi yang telah menerapkan PPK-BLU. Seperti halnya penataan Sekretariat Lembaga Negara. Tahap selanjutnya adalah disampaikan rekomendasi kebijakan berdasarkan usul yang disampaikan.1% untuk kabupaten/kota. Provinsi Kepulauan Riau. 4. 2. Indikator kinerja persentase Instansi Pemda Provinsi yang dievaluasi organisasi dan tata kerjanya target 30% dari 33 Provinsi. Pusat Pembiayaan Perumahan di Kementerian Perumahan Rakyat. target 30% dari 45 (empat puluh lima) kabupaten/kota terealisasi sebanyak 15 (lima belas) kabupaten/kota atau sebesar 33. tengah dan Timur. Dengan demikian capaian kinerja melebihi target yang ditetapkan yaitu 101% untuk daerah Provinsi dan 111. Dengan demikian total target yang akan ditata adalah sebanyak 12 (dua belas) instansi. PPK-BLU di lingkungan Kementerian Keuangan. 6. Adapun Provinsi yang telah dievaluasi organisasi dan tata kerjanya meliputi: 1. 2. terealisasi sebesar 10 (sepuluh) provinsi atau sebesar 30. Pemilihan tersebut dengan tetap mempertimbangkan keterwakilan seluruh wilayah yaitu wilayah Barat. Sedangkan untuk Kabupaten/Kota. Provinsi Nusa Tenggara Barat. Persentase Pemda yang dievaluasi organisasi dan tatakerjanya Target yang ditetapkan untuk Pemda yang akan dievaluasi organisasi dan tata kerjanya adalah sejumlah 33 (tiga puluh tiga) Provinsi dan 45 (empat puluh lima) Kabupaten/Kota. 3. Indikator kinerja persentase Instansi Pemerintah yang menerapkan PPK-BLU yang Telah Tertata Organisasi dan Tata Kerjanya target 30% dari 12 Instansi. 3. 5. terealisasi sebanyak 3 (tiga) instansi atau sebesar 25%. bahwa proses penataan organisasi dimulai dari pemrosesan usulan yang dilengkapi dokumen. Adapun instansi pemerintah (PPKBLU) yang telah tertata organisasi dan tata kerjanya adalah: 1.33%. Lembaga Pelayanan Dana Bergulir di Kementerian Koperasi dan UKM. Provinsi Lampung. 48 Provinsi Nusa Tenggara Barat. Laporan Akuntabilitas Kinerja Kementerian PAN dan RB Tahun 2011 .33%.

Sasaran Strategis 3 : Terwujudnya SDM Aparatur yang profesional. Sedangkan Kabupaten/Kota yang telah dilakukan evaluasi adalah: 1. 3. Provinsi Jambi. 10. Kabupaten Padang Pariaman. Kota Kupang. 6. Kabupaten Kampar. dan 9. 13. Kabupaten Bangka Tengah. 9. Provinsi Bali. Kabupaten Muara Enim. dan 15. 8. Kabupaten Simalungun. Per. Provinsi Kalimantan Tengah. 14. 11. akuntabel dan sejahtera Pencapaian target kinerja atas sasaran ini adalah sebagai berikut : Indikator Kinerja 1) Jumlah peraturan/kebijakan di Bidang SDM Aparatur (UU. 2. 8. 12. 7. PP.Men PAN dan RB 95 % IP Pusat 92 % IP Daerah % 100 100 400 80 80 % IP Pusat 80% IP Daerah 119 115 Laporan Akuntabilitas Kinerja Kementerian PAN dan RB Tahun 2011 . Men PAN dan RB 2) Persentase instansi pemerintah yang mengirimkan data usulan formasi PNS secara akurat dan benar sesuai aturan 49 Realisasi 1 RUU 9 RPP 12 PP 8 Per. Kota Batam. Perpres. Kota Surakarta. PAN dan RB) Target 1 RUU 9 RPP 3 PP 10 Per. Men. Kabupaten Lampung Tengah. Kota Bandung. Kota Padang Panjang.7. Kabupaten Bengkulu Utara. 5. Kabupaten lombok Utara. Kabupaten Aceh Utara. Kabupaten Jembrana. berkinerja. 4.

b. PP No. secara terinci kebijakan bidang SDM Aparatur yang dicapai pada tahun 2011 meliputi : a. PP No. 15 Tahun 2011 Tentang Penetapan Pensiun Pokok Pensiunan TNI dan Janda Dudanya. 11 Tahun 2011 Tentang Gaji PNS. 12 Tahun 2011 Tentang Gaji TNI. PP No. Penetapan Peraturan Pemerintah (PP). 13 Tahun 2011 Tentang Gaji Polri. 5) PP No. 6) PP No. terdiri dari: 1) 2) 3) 4) PP No.Indikator Kinerja 3) Persentase instansi yang menerapkan kebijakan pemantapan pengembangan pegawai 4) Persentase peningkatan penghasilan PNS 5) Persentase instansi yang menyusun informasi jabatan dalam rangka penyusunan sistem remunerasi berdasarkan merit system Target Realisasi % 5% 5% 100 5% 10 % 200 20 % 30 % 150 Analisis atas capaian indikator-indikator kinerja sasaran ini adalah sebagai berikut : Jumlah peraturan/kebijakan di Bidang SDM Aparatur Untuk memenuhi target “Jumlah kebijakan bidang SDM Aparatur yang diterbitkan” yang ditetapkan sebanyak 9 Peraturan Pemerintah yang mengatur tentang gaji PNS/TNI dan POLRI dan peraturan pemerintah tentang sasaran kinerja pegawai dan pemberhentian pegawai. 14 Tahun 2011 Tentang Penetapan Pensiun Pokok Pensiunan PNS dan Janda Dudanya. 16 Tahun 2011 Tentang Penetapan Pensiun Pokok Pensiunan Polri dan Janda Dudanya. yang sebelumnya yang diusulkan adalah RUU kebijakan tentang kepegawaian negara (SDM Aparatur). Finalisasi RUU ASN dan DIM RUU ASN sudah selesai dibuat terkait dengan usulan DPR-RI terhadap RUU Aparatur Sipil Negara (ASN). 50 Laporan Akuntabilitas Kinerja Kementerian PAN dan RB Tahun 2011 .

MenPAN-RB No. 11) Penetapan Peraturan Pemerintah Nomor 44 Tahun 2011 Tentang Pemberhentian Wakil Menteri.MenPAN-RB No.MenPAN-RB tentang Pedoman Penataan Sistem Tunjangan Kinerja Pegawai (80%). 3) Per. 5) Per. 19 Tahun 2011 Tentang Pemberian Tunjangan Veteran Kepada Veteran Republik Indonesia. dan Mutasi). Menteri Dalam Negeri dan Menteri Keuangan Tahun 2011 Tentang Moratorium Penerimaan CPNS. 3) Penyempurnaan PP tentang Pengangkatan PNS Dalam Jabatan Struktural. 4) RPP tentang Pemberian Cuti PNS. 18 Tahun 2011 Tentang Pemberian Tunjangan Perintis Pergerakan Kebangsaan/Kemerdekaan. Rencangan Peraturan Pemerintah (RPP)/R-Perpres.7) PP No. 9) PP No. 6) RPP tentang Analisis Kebutuhan dan Pengembangan Sistem Diklat. Promosi. Peraturan Menteri PAN & RB. 7) RPP tentang Sistem Remunerasi SDM Aparatur Negara. c. terdiri dari: 1) RPP tentang Pegawai Tidak Tetap. 8) PP No. terdiri dari: 1) Per.MenPAN-RB No. 12) Penetapan Peraturan Pemerintah Nomor 46 Tahun 2011 Tentang Sasaran Kinerja Pegawai. 2) Per. d. 26 Tahun 2011 tentang Pedoman Perhitungan Jumlah Kebutuhan PNS. 4) Peraturan Bersama Men.PAN-RB. 34 Tahun 2011 tentang Pedoman Analisis Jabatan. 5) RPP tentang Wewenang Pengangkatan Pemindahan dan Pemberhentian PNS. 17 Tahun 2011 Tentang Pemberian Tunjangan Kehormatan Kepada Bekas Anggota Komite Nasional Indonesia Pusat dan Janda/Dudanya. 10) Perpres No. 8) RPP tentang Dana Pensiun PNS dan Tabungan Hari Tua PNS. 51 Laporan Akuntabilitas Kinerja Kementerian PAN dan RB Tahun 2011 . 9) Perpres tentang Pedoman Pola Dasar Karir (Sistem Penempatan. 33 Tahun 2011 tentang Pedoman Evaluasi Jabatan. 2) RPP tentang Pengadaan PNS. 27 Tahun 2011 Tentang Penyesuaian Gaji Pokok PNS.

dimasukkan dalam lingkup Peraturan Menteri PAN & RB karena pembahasannya dikoordinasi oleh Kementerian PAN & RB. 2) Peraturan Kepala BKN No. Dari 76 Instansi Pusat yang mengirimkan data usulan sejumlah 72 sehingga persentase instansi yang mengirimkan adalah 95% total usulannya adalah 147.MENPANRB No. Dari 524 Instansi Daerah yang mengirimkan data usulan sejumlah 484 sehingga persentase instansi yang mengirimkan adalah 92% total usulannya adalah 717. Persentase instansi pemerintah yang mengirimkan data usulan formasi PNS secara akurat dan benar sesuai aturan Untuk memenuhi target instansi pemerintah yang mengirimkan data usulan formasi PNS secara akurat dan benar sesuai aturan sebesar 80% dari 600 Instansi Pemerintah Pusat/Daerah atau sebanyak 480 Instansi Pemerintah Pusat/Daerah dilakukan dengan cara mengadakan sosialisasi Per. Persentase instansi yang pengembangan pegawai menerapkan kebijakan pemantapan Untuk mencapai indikator kinerja dari jumlah instansi yang menerapkan kebijakan pemantapan pengembangan pegawai salah satunya yang dilakukan adalah dengan melakukan penambahan jabatan fungsional 52 Laporan Akuntabilitas Kinerja Kementerian PAN dan RB Tahun 2011 .178 Dikarenakan ada kebijakan moratorium Penerimaan CPNS. 14 Tahun 2011 tentang Pedoman Pengembangan Database SDM Aparatur Negara. 13 Tahun 2011 tentang Pedoman Standar kompetensi Jabatan. Pada tahun 2011 usulan dari instansi adalah sebagai berikut: a.463 b. 3) Peraturan Kepala BKN No. 26 Tahun 2011 tentang Pedoman Penyusunan Kebutuhan Pegawai (formasi) secara nasional sehingga penyampaian formasi dari instansi pusat dan daerah tersebut dapat akurat dan benar. maka untuk tahun 2011 instansi pemerintah diminta menghitung kebutuhan PNS di masing-masing instansi dan tidak ada tambahan formasi. 15 Tahun 2011 tentang Pedoman Pengendalian Kepegawaian/Audit Kepegawaian. Terkait tiga peraturan Kepala BKN tersebut diatas.Peraturan Kepala BKN: 1) Peraturan Kepala BKN No.

tertentu. LKPP Setjen DPR-RI Pengadaan Barang dan Jasa Transkriptor Keterangan dilakukan pembahasan uji petik beban kerja Penyiapan peraturan Menteri PAN & RB Pemaparan naskah akademik di BKN Validasi (penetapan) besaran angka kredit dilakukan pembahasan uji petik beban kerja Persentase peningkatan penghasilan PNS Target awal peningkatan penghasilan PNS adalah 5% ternyata pada tahun 2011 pemerintah telah mengeluarkan kebijakan yang meningkatkan penghasilan PNS rata-rata sebesar 10% dari gaji pokok PNS. Nama Instansi dan jabatan fungsional baru yang sudah dilakukan pembahasan pada tahun 2011 yaitu: No 1. Gaji Polri. Dengan adanya penambahan jabatan fungsional yang baru tersebut maka akan memberi dampak pada pengembangan pegawai terkait dengan kompetensinya untuk masuk ke dalam jabatan fungsional baru yang dibentuk. 4. sehingga target peningkatan penghasilan PNS sebesar 5% telah melebihi target yang ditetapkan. c. d. Gaji TNI. yang dihasilkan terkait peningkatan PP No. 12 Tahun 2011 tentang PP No. Instansi yang ditargetkan menerapkan kebijakan pemantapan pengembangan pegawai pada tahun 2011 sebesar 5% dari 75 Instansi Pemerintah Pusat atau sebanyak 4 Instansi Pemerintah Pusat ternyata realisasinya telah tercapai 100% yaitu sebanyak 4 Instansi Pemerintah Pusat. b. 13 Tahun 2011 tentang PP No. Penetapan Pensiun Pokok Pensiunan 53 Laporan Akuntabilitas Kinerja Kementerian PAN dan RB Tahun 2011 . 11 Tahun 2011 tentang PP No. Gaji PNS. 14 Tahun 2011 tentang PNS dan Janda Dudanya. kebijakan kesejahteraan meliputi: a. Pada tahun 2011. LAN BKN Instansi Jabatan fungsional baru Analis Kebijakan Auditor Kepegawaian Assesor Kepegawaian 3. 2.

PP No. Capaian pada tahun 2011 sebanyak 23 Instansi Pemerintah Pusat (30%) yang dianggap telah menyusun informasi jabatan dalam rangka penyusunan sistem remunerasi berdasarkan merit system.e. Adapun Instansi Pemerintah Pusat yang telah menyusun informasi jabatan dalam rangka penyusunan sistem remunerasi berdasarkan merit system pada tahun 2011 adalah sebagai berikut : No. 19 Tahun 2011 tentang Pemberian Tunjangan Veteran Kepada Veteran Republik Indonesia. 18 Tahun 2011 tentang Pemberian Tunjangan Perintis Pergerakan Kebangsaan/Kemerdekaan. i. 16 Tahun 2011 tentang Penetapan Pensiun Pokok Pensiunan Polri dan Janda Dudanya. g. PP No. 17 Tahun 2011 tentang Pemberian Tunjangan Kehormatan Kepada Bekas Anggota Komite Nasional Indonesia Pusat dan Janda/Dudanya. Perpres No. PP No. h. j. PP No. PP No. 27 Tahun 2011 tentang Penyesuaian Gaji Pokok PNS. f. 15 Tahun 2011 tentang Penetapan Pensiun Pokok Pensiunan TNI dan Janda Dudanya. Persentase instansi yang menyusun informasi jabatan dalam rangka penyusunan sistem remunerasi berdasarkan merit system Untuk mencapai indikator kinerja persentase instansi yang menyusun informasi jabatan dalam rangka penyusunan sistem remunerasi berdasarkan merit system ditetapkan target 20% instansi Pemerintah Pusat dari 75 instansi Pemerintah Pusat yaitu sebanyak 15 instansi Pemerintah Pusat. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 54 Instansi Pemerintah Kementerian Riset dan Teknologi Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN) Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah (LKPP) Badan Narkotika Nasional (BNN) Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Lembaga Ketahanan Nasional (LEMHANAS) Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Kementerian Perindustrian Badan POM RI Laporan Akuntabilitas Kinerja Kementerian PAN dan RB Tahun 2011 .

No.46 % 169 55 Laporan Akuntabilitas Kinerja Kementerian PAN dan RB Tahun 2011 . 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 Instansi Pemerintah Badan Kepegawaian Negara (BKN) Lembaga Administrasi Negara (LAN) Lembaga Sandi Negara (Lemsaneg) Kementerian Perdagangan Arsip Nasional Republik Indonesia Badan Pengawas Tenaga Nuklir Kementerian Pertanian Badan Pusat Statistik Badan Nasional Penanggulangan Teroris Kementerian Perumahan Rakyat Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Sasaran Strategis 4 : Terwujudnya penyelenggaraan tata laksana pemerintah yang efisien. Men.5 70 88 Target 2 UU Realisasi 2 RUU % 80 2) Persentase instansi pemerintah pusat yang melakukan penataan ketatalaksanaan dengan baik 35 % 59. PP. Per. PAN dan RB) 2 RUU 1 PP 5 Per.Men.PAN dan RB. 3 Draft Final Per. PAN dan RB 2 RUU 1 RPP 2 Per. Men.Men. efektif dan akuntabel Pencapaian target kinerja atas sasaran ini adalah sebagai berikut : Indikator Kinerja 1) Jumlah peraturan/kebijakan di bidang Tata Laksana (UU.PAN dan RB 62.

menghasilkan rumusan RUU AP yang telah disempurnakan dan telah kembali disampaikan kepada Presiden. Proses mendapatkan surat Presiden yang mengantarkan RUU kepada Pimpinan DPR ternyata memerlukan berkali-kali pembahasan dalam rangka penyempurnaan RUU yang akan diajukan. Pada tahun 2010 ditargetkan terbit surat Presiden yang mengantarkan RUU AP kepada Pimpinan DPR RI. dan telah masuk dalam program legislasi nasional (PROLEGNAS) tahun 2010-2014 dengan nomor urut 36 untuk RUU Administrasi Pemerintahan dan nomor urut 67 untuk RUU Etika Penyelenggara Negara. dan ini semua di luar kendali kegiatan dari instansi pengusul/inisiator yang dalam hal ini adalah Kementerian PAN dan RB.Analisis atas capaian indikator-indikator kinerja sasaran ini adalah sebagai berikut : Jumlah peraturan/kebijakan di bidang Tata Laksana 2 kebijakan di bidang Tata Laksana yang ditargetkan capaian kinerjanya menjadi Undang-Undang. bahwa proses pembahasan RUU dengan DPR RI baru akan dapat dilakukan bila telah disampaikan oleh Presiden. sehingga pada tahun 2011 kembali masuk dalam proses penerbitan surat Presiden yang akan mengantarkan RUU tersebut kepada Pimpinan DPR untuk dapat dilakukan pembahasan bersama antara Panitia Khusus RUU DPR RI dan pihak Pemerintah. dan 2) Undang-undang tentang Etika Penyelenggara Negara. Kendala yang dihadapi terkait dengan pencapaian target RUU Administrasi Pemerintahan adalah: 1) Sesuai dengan ketentuan perundang-undangan yang berlaku. Bersamaan dengan itu telah pula dilakukan sosialisasi melalui kegiatan simulasi di berbagai daerah untuk memperkuat pendalaman substansi RUU ini. namun hingga berakhirnya tahun 2010 posisi RUU Administrasi Pemerintahan masih berada di Kantor Sekretariat Negara untuk dibicarakan kembali dalam rapat terbatas. 1) Penyusunan RUU Administrasi Pemerintahan pada tahun 2010. Kedua Rancangan Undang-undang tersebut sejak tahun 2009 telah disampaikan kepada Presiden untuk diterbitkan surat yang akan mengantarkannya kepada Pimpinan DPR RI. adalah: 1) Undang-undang tentang Administrasi Pemerintahan. 2) Tidak tercapainya target/sasaran kegiatan lebih disebabkan faktor di luar kendali instansi pemegang kegiatan disamping masih 56 Laporan Akuntabilitas Kinerja Kementerian PAN dan RB Tahun 2011 .

Kendala utama dalam pelaksanaan kegiatan RUU EPN adalah pengaturan jadual pada pakar/narasumber dalam pembahasan RUU EPN. 2) Penyusunan RUU Etika Penyelenggara Negara (EPN) Secara umum dapat digambarkan bahwa capaian sasaran yang telah ditetapkan dalam Rencana Kinerja Tahun 2011 dalam rangka mengkongkritkan RUU EPN dapat diwujudkan berupa penyusunanan kembali naskah RUU EPN dengan perubahan substansi menjadi hukum acara dan dilakukan perbaikan naskah akademiknya. Disamping kurangnya SDM baik dalam jumlah maupun kompetensinya. Dengan demikian maka nilai capaian kinerja kegiatan ini adalah sebesar 70%. Dengn demikian nilai pencapaian kinerja adalah sebesar 65% dari target yang telah ditetapkan. Kegiatan Penyusunan RUU tentang Etika Penyelenggara Negara perlu ditindak lanjuti sesuai prosedur teknik penyusunan perundangundangan sampai menjadi sebuah Undang-undang. Sedangkan realisasi capaian kinerja saat ini adalah telah tersusunnya naskah akademik dan Draft RUU yang telah siap untuk dilakukan sinkronisasi antar instansi terkait. melalui pembahasan RUU EPN tingkat interdep (antar-instansi) yang masih perlu dilakukan untuk menyempurnakan RUU EPN ini pada tahapan harmonisasi sebelum diajukan ke Presiden. kegiatan Sinkronisasi dan Harmonisasi pada Kementerian Hukum dan HAM belum dapat dilaksanakan oleh karena Penyempurnaan Naskah Akademik tidak dapat dilakukan karena membutuhkan biaya yang cukup besar dan tidak tersedia 57 Laporan Akuntabilitas Kinerja Kementerian PAN dan RB Tahun 2011 . 2 kebijakan bidang Tata Laksana yang ditargetkan menjadi Rancangan Undang-undang adalah : 1) Penyusunan RUU Tata Hubungan Kewenangan Pemerintah Pusat dan Daerah Pada tahun 2011 ini.kurangnya dukungan SDM pengelola kegiatan baik dari sisi jumlah maupun kapasitas/kompetensinya. 2) Penyusunan RUU tentang Badan Layanan Umum (BLU) Dalam pelaksanan kegiatan Sinronisasi dan Harmonisasi RUU BLU pada tahun 2011. target kinerja kegiatan penyusunan RUU Tata Hubungan Kewenangan Pemerintah Pusat dan Daerah adalah Tersusunnya RUU yang telah mendapatkan surat presiden untuk disampaikan kepada DPR RI guna dilakukan pembahasan lebih lanjut.

Dispensasi dan Konsesi. Pedoman Umum Pemetaan Pemangku Kepentingan Pada tahun 2011. 2. Dengan demikian nilai capaian kinerja kegiatan ini adalah 100%. disamping masih adanya kemungkinankemungkinan berubahan dalam RUU tersebut. Pedoman Umum Hubungan Media Pada tahun 2011 ditargetkan bahwa Pedoman Umum Hubungan Media dapat terselesaikan dengan baik dan telah ditetapkan dengan Peraturan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi. Permasalahan yang dihadapi dalam pelaksanaan kegiatan ini adalah belum ditetapkannya RUU tentang Administrasi Pemerintahan telah menimbulkan ketidaktuntasan dalam penyelesaian Draft Rancangan Peraturan Pemerintah ini. Capaian kinerja pada tahun 2011 adalah tersusunnya Revisi Naskah Akademik dan Revisi Draft Rancangan Peraturan Pemerintah tentang Pedoman Umum Tatalaksana Izin. Dengan demikian nilai capaian kinerja kegiatan ini adalah sebesar 70%. Target Capaian kegiatan sebesar 60%. Target kinerja pelaksanaan kegiatan ini pada tahun 2011 adalah tersusunnya Rancangan Peraturan Pemerintah tentang Tata Laksana Perizinan tetapi karena adanya perubahan pada dasar hukum dan isi kebijakan ini maka targetnya direvisi menjadi tersusunnya Rancangan Peraturan Pemerintah tentang Pedoman Umum Tatalaksana Izin. target yang telah direncanakan tercapai dengan baik. yaitu tersedianya satu Pedoman Umum Hubungan Media yang telah dilengkapi dengan Peraturan Menteri 58 Laporan Akuntabilitas Kinerja Kementerian PAN dan RB Tahun 2011 . 5 kebijakan di bidang Tata Laksana yang ditargetkan selesai pada tahun 2011 adalah: 1.dalam RKA-KL serta waktu yang tidak mencukupi. 1 kebijakan di bidang Tata Laksana yang ditargetkan capaian kinerjanya menjadi Peraturan Pemerintah. adalah: Kebijakan Tata Laksana Perizinan. Sampai akhir tahun 2011. Sedangkan capaian kinerja yang dapat direalisasi adalah Pedoman Umum Pemetaan Pemangku Kepentingan ini telah selesai dan telah ditetapkan dengan Peraturan Menteri Pendayagunaan dan Reformasi Birokrasi Nomor 54 Tahun 2011 tentang Pedoman Umum Pemetaan Pemangku Kepentingan di Lingkungan Instansi Pemerintah. target penyusunan pedoman ini adalah tersedianya Pedoman yang dalam bentuk Peraturan Menteri. Dispensasi dan Konsesi.

Sedangkan capaian kinerja yang dapat terealisasi pada tahun ini adalah berupa draft final Pedoman Umum Standarisasi Tata Laksana Sarana dan Prasarana Kerja Aparatur di Lingkungan Instansi Pemerintah yang berupa Tanah dan Bangunan yang telah siap untuk ditetapkan menjadi Peraturan Menteri. Penyusunan Pedoman Umum Standarisasi Tata Laksana Sarana dan Prasarana Kerja Aparatur di Lingkungan Instansi Pemerintah yang berupa tanah dan bangunan Target kinerja Tahun 2011 untuk kegiatan ini adalah tersedianya Pedoman Umum Standarisasi Tata Laksana Sarana dan Prasarana Kerja Aparatur di Lingkungan Instansi Pemerintah yang berupa Tanah dan Bangunan yang berbentuk Peraturan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi. Adapun realisasi dari kegiatan ini adalah draft final pedoman umum yang telah siap untuk ditetapkan dengan Peraturan Menteri. 3. 4. Besarnya capaian kinerja ini dipengaruhi oleh permasalahan yang dihadapi dalam pelaksanaan kegiatan ini yaitu kurangnya tenaga pelaksana dari jumlah maupun kompetensinya. Penyusunan Pedoman Umum Standarisasi Pakaian Kerja/Dinas Pegawai Negeri Sipil Rencana kinerja yang ingin dicapai pada tahun 2011 untuk kegiatan ini adalah tersedianya Pedoman Umum Standarisasi Pakaian Kerja/Dinas Pegawai Negeri Sipil yang ditetapkan dengan Peraturan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi. Dengan demikian nilai capaian kinerja kegiatan ini adalah 100%. 59 Laporan Akuntabilitas Kinerja Kementerian PAN dan RB Tahun 2011 . Capaian kinerja ini salah satunya disebabkan oleh kendala yang dihadapi dalam pelaksanaan kegiatan ini yaitu kurangnya sumberdaya pelaksana kegiatan baik dalam segi jumlah maupun kompetensi. Permasalahan yang dihadapi pada saat penyusunan pedoman ini tidak jauh berbeda dengan penyusunan Pedoman Umum Pemetaan Pemangku Kepentingan. Dengan demikian nilai capaian kinerja kegiatan ini adalah sebesar 80%.Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Nomor 55 Tahun 2011 tentang Pedoman Umum Hubungan Media di Lingkungan Instansi Pemerintah. Dengan demikian nilai capaian kinerja kegiatan ini adalah sebesar 80%.

Dengan demikian nilai capaian kinerja kegiatan ini adalah sebesar 80% dari target yang telah ditentukan.5. Setiap instansi pemerintah yang telah mengajukan Dokumen Usulan Reformasi Birokrasi kepada Tim Pengelola Reformasi Birokrasi Nasional melalui Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi telah menyertakan dokumen SOP dan dokumen pelaksanaan e-governnment sebagai salah satu kelengkapannya.92%) yang telah menerima tunjangan kinerja sebagai konsekuensi dari upayanya melaksanakan kebijakan Reformasi Birokrasi di Instransinya. Penyusunan Tata Cara Penataan Tata Laksana Pada Instansi Pemerintah Target Kinerja kegiatan tahun 2011 ini adalah tersusunnya Peraturan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi tentang Tata Cara Penataan Tata Laksana Pada Instansi Pemerintah. Pencapaian target ini dipengaruhi oleh kendala yang dihadapi dalam pelaksaaan kegiatan ini yaitu kurangnya sumber daya pelaksana kegiatan baik dalam segi jumlah maupun kompetensinya disamping konsep penataan tata laksana (business process) yang dianggap masih relatif baru bagi instansi pemerintah. Dengan demikian maka setiap instansi pemerintah pusat yang telah mengajukan Dokumen Usulan Reformasi Birokrasi telah memiliki Dokumen SOP dan melaksanakan e-government yang berarti telah melakukan penataan ketatalaksanaan dengan baik. Persentase instansi pemerintah pusat yang melakukan penataan ketatalaksanaan dengan baik Instansi pemerintah pusat yang telah melakukan penataan ketatalaksanaan dengan baik yang secara minimal dicirikan dengan adanya standar operasional prosedur (SOP) dan telah melaksanakan e-government secara minimal (e-office) pada instansi yang bersangkutan. Capaian kinerja yang dicapai dalam pelaksanaan kegiatan ini adalah tersusunnya draft final Peraturan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi tentang Tata Cara Penataan Tata Laksana Pada Instansi Pemerintah.54%) yang telah mengajukan Dokumen Usulan Reformasi Birokrasi dan telah dilengkapi dengan Dokumen SOP dan dokumen e-government. Dengan demikian maka prosentase instansi pemerintah pusat yang telah melakukan penataan ketatalaksanaan 60 Laporan Akuntabilitas Kinerja Kementerian PAN dan RB Tahun 2011 . disamping 14 (empat belas) instansi pemerintah pusat (18. Sampai awal tahun 2012 ini. dari 74 (tujuh puluh empat) instansi pemerintah pusat terdapat 30 (tiga puluh) instansi (40.

4. Dengan data ini maka dapat diketahui bahwa capaian kinerja instansi pemerintah pusat yang telah melakukan penataan ketatalaksanaan dengan baik adalah sebesar 169. maupun untuk pihak eksternal (stakeholder). Perlu penguatan kapasitas kelembagaan Kementerian PAN dan RB. sistematis. 3. Perlu disusun kebijakan Menteri PAN dan RB mengenai Pedoman Umum Evaluasi Ketatalaksanaan Instansi Pemerintah. yaitu instansi pemerintah pusat dan daerah. Aspek substansi kebijakan harus menjadi perhatian. Ruang lingkup tata laksana dalam instansi pemerintah perlu diberikan batasan yang jelas. 2.88%. terutama dalam hal penegasan isi beserta perangkat sanksi yang dibutuhkan untuk lebih memperkuat sifat mengikatnya. Perlu dibangun operasionalisasi kebijakan-kebijakan Menteri PAN dan RB dengan strategi yang tepat dalam rangka penerapan keijakan-kebijakan tersebut. dan komprehensif Pencapaian target kinerja atas sasaran ini adalah sebagai berikut : Indikator Kinerja 1) Jumlah kebijakan pelaksanaan Reformasi Birokrasi yang diterbitkan 2) Jumlah K/L yang telah melaksanakan reformasi birokrasi sesuai kebijakan RB Nasional 61 Target 7 kebijakan Realisasi 10 kebijakan % 143 12 K/L 20 K/L 167 Laporan Akuntabilitas Kinerja Kementerian PAN dan RB Tahun 2011 .46%. baik untuk internal organisasi Kementerian PAN dan RB. khususnya terkait fungsi internalisasi kebijakan-kebijakan Menteri PAN dan RB.dengan baik adalah sebesar 59. 5. Sasaran Strategis 5 : Terwujudnya pelaksanaan reformasi birokrasi nasional secara terencana. Hasil pemantauan ketatalaksanaan Pemerintah yang dilakukan pada Pemerintah Daerah dapat disimpulkan hal-hal sebagai berikut : 1. Angka ini tidak termasuk instansi pemerintah yang telah melaksanakan penyusunan SOP dan melaksanakan e-government tetapi belum mengajukan Dokumen Usulan Reformasi Birokrasi kepada Kementerian PAN dan Reformasi Birokrasi.

62 % - 100 333 62 - Analisis atas capaian indikator-indikator kinerja sasaran ini adalah sebagai berikut : Jumlah kebijakan pelaksanaan Reformasi Birokrasi yang diterbitkan Untuk memenuhi target “Jumlah kebijakan pelaksanaan Reformasi Birokrasi yang diterbitkan” yang ditetapkan sebanyak 7 kebijakan. dan verifikasi pelaksanaan reformasi birokrasi di lapangan. sebagai pedoman pelaksanaan reformasi birokrasi.Indikator Kinerja 3) Jumlah K/L yang telah melaksanakan reformasi birokrasi 4) Tingkat kualitas pelaksanaan RB yang terukur sesuai dengan kebijakan RB Nasional 5) Jumlah instansi yang menerima sosialisasi 6) Jumlah asistensi reformasi birokrasi kepada instansi pusat dan daerah Target 30 % Realisasi 47 % % 156 80 % 81 % 101 100 % K/L 30 % Pemda 100 % K/L 10 % Pemda 100 % K/L 100 % Prov. 8/2011) Isi Pokok Proses pelaksanaan reformasi birokrasi dan langkah-langkah menyusun dokumen usulan. 7/2011) 2. yang meliputi : Pengguna Utama K/L UPRBN Pedoman 1. Pedoman-pedoman tersebut ditetapkan melalui Peraturan Menteri PAN dan RB Nomor : 7 sampai dengan Nomor 15 Tahun 2011 dan Nomor 53 Tahun 2011. penilaian dokumen pelaksanaan. UPRBN 62 Laporan Akuntabilitas Kinerja Kementerian PAN dan RB Tahun 2011 . Pedoman Penilaian Dokumen Usulan dan Road Map Pelaksanaan Reformasi Birokrasi Kementerian/Lembaga (PerMenPANRB No. Pedoman Pengajuan Dokumen Usulan Reformasi Birokrasi Kementerian/Lembaga (PerMenPANRB No. telah dilakukan kegiatan Penyusunan Kebijakan Reformasi Birokrasi. Penilaian dokumen usulan dan road map. Dari hasil kegiatan ini telah berhasil ditetapkan 10 Peraturan Menteri PAN dan RB.

Pedoman Pelaksanaan Quick Wins (PerMenPANRB No. K/L dan PEMDA UPRBN TI TQA K/L dan PEMDA 7. 10/2011) Elemen dan tahapan manajemen perubahan. proses penataan tatalaksana. Pemerintah Daerah (PerMenPANRB No. Kriteria dan Ukuran Keberhasilan Penilaian keberhasilan Reformasi Birokrasi pelaksanaan reformasi birokrasi. 11/2011) Indikator keberhasilan reformasi birokrasi nasional. mengimplementasikan manajemen pengetahuan. kaidah penggambaran tatalaksana. 14/2011) K/L dan PEMDA Elemen dan tahapan UPRBN implementasi manajemen pengetahuan. penguatan hasil perubahan. 9/2011) 4. Pedoman Penyusunan Road Map Pengertian dasar road map. dan Evaluasi dan monitoring implementasi manajemen pengetahuan. 63 Laporan Akuntabilitas Kinerja Kementerian PAN dan RB Tahun 2011 . dan langkahlangkah dalam pelaksanaan quick wins. 6. 13/2011) 8. Merencanakan implementasi manajemen pengetahuan. dan kementerian/lembaga dan pemerintah daerah. (PerMenPANRB No. Pedoman Penataan Tatalaksana (Business Process) (PerMenPANRB No.Pedoman Isi Pokok Pengguna Utama K/L dan PEMDA 3. Pedoman Pelaksanaan Program Manajemen Perubahan (PerMenPANRB No. perumusan rencana manajemen perubahan. Perumusan dan penetapan quick wins. Pedoman Pelaksanaan Program Manajemen Pengetahuan (Knowledge Management) (PerMenPANRB No. Reformasi Birokrasi dan langkah-langkah Kementerian/Lembaga dan menyusun road map. dan Standard operating procedures. pengelolaan perubahan. 12/2011) Pendekatan penataan tatalaksana. K/L dan PEMDA 5.

BPOM 13. Kemdikbud 22. BNPT 26. Bapeten 29. BNN 21. ANRI 9. KemPerhub 15. BKPM 17. Pada tahun 2011 terdapat 30 K/L yang telah mengajukan usulan kepada Kementerian PAN dan RB sebagaimana tabel di bawah ini: 1. Kemenpora 25. Mekanisme Persetujuan Pelaksanaan Reformasi Birokrasi dan Tunjangan Kinerja Bagi Kementerian/Lembaga (PerMenPANRB No. 15/2011) Isi Pokok Mekanisme pelaksanaan reformasi birokrasi. Kemdag 30. Jumlah K/L yang telah melaksanakan reformasi birokrasi sesuai kebijakan RB Nasional Untuk memenuhi target “Jumlah K/L yang telah melaksanakan reformasi birokrasi sesuai kebijakan RB Nasional”. KemPPA 14. Kemparekk 23. monitoring dan evaluasi atas pelaksanaan reformasi birokrasi dilingkungan K/L. KemKP 27. baik dari sisi Dokumen Usulan dan Road Map masing-masing maupun verifikasi lapangan. Kem. LAN 4. BPS 18. BKKBN 7. BKN 16. KemPerind 11. PU 5. BPPT 2. LKPP 8. LAPAN 28. mekanisme persetujuan pelaksanaan reformasi birokrasi dan tunjangan kinerja bagi kementerian/lembaga. Lemhannas 3. Pedoman Penjamin Kualitas (Quality Assurance) dan Pedoman Monitoring Evaluasi Reformasi Birokrasi (PerMenPANRB No. ternyata dari pelaksanaan kegiatan ini berhasil diajukan 20 K/L. Kemtan 24. sebagai berikut: 64 Laporan Akuntabilitas Kinerja Kementerian PAN dan RB Tahun 2011 . 53/2011) Aturan untuk melakukan TQA penjaminan kualitas. BATAN 12.Pedoman 9. Kem. telah dilakukan kegiatan Implementasi Reformasi Birokrasi. Pengguna Utama K/L UPRBN TI TQA 10. Lemsaneg 20. Pada awal tahun 2011 ditargetkan 12 K/L. LH 6. LIPI Dari 30 K/L tersebut 24 diantaranya telah berhasil dinilai. KemPeRa 19. Kemristek 10.

5. Badan Pusat Statistik 15. 18. 8. 8. Hal: penetapan Usulan TK Tanggal 21 Nop 2011 No: B/2808/M. 12. 4. 16. Kementerian Perumahan Rakyat 19. 14. Kementerian Perhubungan 14. Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia 24. 13.PAN-RB/11/2011 65 Laporan Akuntabilitas Kinerja Kementerian PAN dan RB Tahun 2011 . 6. 10. BKKBN 16. 2. 15. 9. Lembaga Ketahanan Nasional 3. Badan Narkotika Nasional 21. 20 diantaranya sudah diproses lebih lanjut untuk diajukan tunjangan kinerjanya masing-masing. Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi 2. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan dari 24 K/L yang sudah diverifikasi. Badan Koordinasi Penanaman Modal 11. 11. Kementerian Riset dan Teknologi Kementerian Perindustrian Badan Tenaga Nuklir Badan Pengawas Obat dan Makanan 9. Arsip Nasional Republik Indonesia 17. Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak 18. Badan Nasional Penanggulangan Terorisme 23. 7. BPPT Lemhannas LAN LKPP KemPerind Kemristek BATAN BPOM BKN BKPM BPS BKKBN ANRI KemPPA KemPeRA Lemsaneg BNN Kemtan MenPANRB telah menyampaikan surat kpd Menkeu.PAN-RB/11/2011 K/L yang diajukan 1. 3. MenPANRB telah menyampaikan surat kpd Menkeu. Kementerian Lingkungan Hidup 12. Hal : penetapan Usulan TK Tanggal 15 Nop 2011 No: B/2747/M. Lembaga Administrasi Negara 4. Kementerian Pekerjaan Umum 13. Lembaga Sandi Negara 20. Pengajuan kepada Menteri Keuangan melalui : Surat No. 7. Badan Kepegawaian Negara 10.1. Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah 5. 6. 17. Kementerian Pertanian 22.

Surat No. LAN 4. LIPI Jumlah K/L yang telah melaksanakan reformasi birokrasi Untuk Indikator Kinerja “Jumlah K/L yang telah melaksanakan reformasi birokrasi” yang ditargetkan 30% dari jumlah K/L seluruhnya. Hal: penetapan Usulan TK Tanggal 28 Nop 2011 No: B/2879/M. KemPerind 6.PAN-RB/11/2011 MenPANRB telah menyampaikan surat kpd Menkeu. Dengan penyelesaian sebanyak 20 K/L yaitu : 1. Hal: penetapan Usulan TK Tanggal 12 Desember 2011 No: B/3019/M. BKPM 11. BNN 18. Lemsaneg 17. BKKBN 13. BKN 10. KemPeRA 16. Kemtan 19. MenPANRB telah menyampaikan surat kpd Menkeu. LKPP 5. BPS 12. 66 Laporan Akuntabilitas Kinerja Kementerian PAN dan RB Tahun 2011 . Kemristek 7. ANRI 14. BATAN 8. Tingkat kualitas pelaksanaan RB yang terukur sesuai dengan kebijakan RB Nasional Untuk memenuhi target “Tingkat kualitas pelaksanaan RB yang terukur sesuai dengan kebijakan RB Nasional” sebesar 80% telah dilakukan pelaksanaan kegiatan Penjaminan Kualitas Pelaksanaan Reformasi Birokrasi oleh Tim Quality Assurance. KemPPA 15. Dengan demikian pencapaian ini sudah melebihi target 30%. LIPI maka realisasi Jumlah K/L yang telah melaksanakan reformasi birokrasi nasional secara kumulatif adalah 47%. BPOM 9. BPPT 2. BNPT 20.PAN-RB/12/2011 K/L yang diajukan 19. BNPT 20. Lemhannas 3.

dengan pokok bahasan: • • • • • • 67 Kebijakan Reformasi Birokrasi Perkembangan Pengelolaan RB Review Hasil Penilaian Langkah yang diperlukan Organisasi Pelaksana RB Mekanisme Laporan Akuntabilitas Kinerja Kementerian PAN dan RB Tahun 2011 . Adapun hasil dari penjaminan kualitas tersebut adalah sebagai berikut: Instansi Sekretariat Negara Sekretariat Wakil Presiden Kementerian PAN dan RB Kementerian Keuangan (Ditjen Bea dan Cukai) BPK Rata-rata Nilai 82% 81% 65% 91% 86% 81% Instrumen tersebut telah ditetapkan melalui Peraturan Menteri PAN dan RB Nomor: 53 Tahun 2010 tentang Pedoman Penjaminan Kualitas (Quality Assurance) dan Pedoman Monitoring dan Evaluasi Reformasi Birokrasi.Untuk menjamin kualitas pelaksanaan reformasi birokrasi. Kementerian Keuangan (Ditjen Bea dan Cukai) dan BPK. Pelaksanaan sosialisasi untuk kementerian/lembaga yang dihadiri oleh seluruh Kementerian/Lembaga dilaksanakan pada tanggal 5 April 2011. Kementerian PAN dan RB. Sementara pada tahun 2011 tidak dilakukan sosialisasi untuk pemerintah kabupaten/kota. Sekretariat Wakil Presiden. yaitu di Sekretariat Negara. telah dilakukan kegiatan Sosialisasi Grand Design dan Road Map Reformasi Birokrasi pada K/L dan Pemda. Dalam pelaksanaannya kegiatan sosialisasi di bagi ke dalam dua pelaksanaan sosialisasi. selain telah dibentuk Tim Quality Assurance. Jumlah instansi yang menerima sosialisasi Untuk memenuhi target “Jumlah instansi yang menerima sosialisasi”. yaitu pelaksanaan sosialisasi untuk kementerian/lembaga dan sosialisasi untuk pemerintah provinsi. juga telah dirancang instrumen penjaminan kualitas. Instrumen penjaminan kualitas dimaksud sudah diujicobakan di lima instansi pemerintah.

Learning dan Capacity Building dilakukan melalui asistensi/workshop (lokakarya) atau seminar yang diikuti oleh para peserta dari kementerian/lembaga. 2) K/L yang sudah menerima tunjangan kinerja akan segera dilakukan monitoring dan evaluasi terhadap pelaksanaan reformasi birokrasi. dan K/L yang bersangkutan. BKN.Dalam sosialisasi tersebut ditetapkan beberapa hal sebagai berikut: 1) K/L yang sudah dan belum mengajukan dokumen usulan agar menyesuaikan dan menyusun serta menyampaikan kembali dokumen usulan mengikuti kebijakan baru. 3) Dokumen usulan yang diajukan akan segera dinilai oleh UPRBN dan dilanjutkan dengan verifikasi lapangan. 4) Penyampaian dokumen usulan harus dilengkapi dengan Berita Acara validasi peringkat jabatan (job grading) yang ditanda-tangani oleh Kementerian PAN dan RB. yaitu: 1) Pejabat Pemerintah Provinsi sebanyak 165 orang peserta dari 33 provinsi. Sosialisasi diikuti oleh 200 orang peserta dari seluruh provinsi. yang terdiri dari: (a) Sekretaris Daerah (b) Inspektur Povinsi (c) Kepala BAPPEDA Provinsi (d) Kepala BKD Provinsi (e) Kepala Biro Organsiasi Setda Provinsi 2) Pejabat pemerintah pusat sebanyak 35 orang yang terdiri dari: (a) Anggota Tim Independen (b) Anggita Tim Quality Assurance (c) Anggota UPRBN Jumlah asistensi reformasi birokrasi kepada instansi pusat dan daerah Untuk memenuhi target “Jumlah asistensi reformasi birokrasi kepada instansi pusat dan daerah” telah dilakukan kegiatan workshop dan kegiatan capacity building lainnya dalam rangka mempercepat proses pelaksanaan reformasi birokrasi. 5) Hasil penilaian akan disampaikan kepada Komite Pengarah Reformasi Birokrasi Nasional untuk proses penetapan lebih lanjut. Beberapa workshop yang dilakukan adalah sebagai berikut : 68 Laporan Akuntabilitas Kinerja Kementerian PAN dan RB Tahun 2011 .

namun setelah dilakukan workshop. maka dari 76 K/L yang ada baru 48 diantaranya yang sudah memperoleh asistensi. Sementara asistensi untuk pemda tidak dapat dilakukan. Per. karena terdapat perubahan kebijakan KPRBN yang menyatakan bahwa pada tahun 2011 reformasi birokrasi lebih menekankan fokus pada instansi pemerintah pusat. Ini berarti bahwa capaian untuk target ini sebesar 62%. Namun demikian jika dilihat dari sisi percepatan reformasi birokrasi di K/L.Workshop Workshop untuk Fasilator Sosialisasi kebijakan RB Workshop Pelaksanaan Reformasi Birokrasi Peserta UPRBN Seluruh K/L 48 K/L 192 peserta (masing-masing K/L mengirimkan 4 orang peserta) Seluruh provinsi Seluruh K/L 5 K/L Frekuensi penyelenggaraan 1 kali 1 kali 3 Angkatan Sosialisasi Pelaksanaan Reformasi Birokrasi untuk Pemerintah Provinsi Forum Knowledge Management Workshop Change Management 1 kali 1 kali 1 kali Jika dilihat dari sisi capaian K/L yang sudah memperoleh asistensi. Sasaran 6 : Terwujudnya instansi pemerintah yang akuntabel dan berkinerja tinggi Pencapaian target kinerja atas sasaran ini adalah sebagai berikut : Indikator Kinerja 1) Jumlah peraturan/kebijakan di bidang Akuntabilitas Kinerja (RUU. workshop berhasil mendorong K/L untuk segera mengajukan usulannya. hanya terdapat beberapa K/L yang mengajukan usulan.PAN dan RB) Target Realisasi % 1 RUU 1 RUU 100 69 Laporan Akuntabilitas Kinerja Kementerian PAN dan RB Tahun 2011 . jumlah itu meningkat hingga 30 K/L. Jika dilihat pada semester pertama. maka belum dilakukan asistensi terhadap pemerintah daerah. Sehingga capaian untuk asistensi pemerintah daerah masih belum dapat ditentukan.Men.

Indikator Kinerja

Target 3 Per. Men. PAN dan RB

Realisasi 3 Per. Men. PAN dan RB 50,34 %

%

100

2) Persentase instansi pemerintah yang menerapkan SAKIP sesuai aturan 3) Persentase instansi pemerintah yang akuntabilitas kinerjanya baik 4) Persentase instansi pemerintah yang menyusun Indikator Kinerja Utama (IKU) 5) Persentase LAKIP yang diterima

50 %

100,68

44 %

48,72 %

121,81

22 % (Pusat dan Daerah)

20,10 %

91,36

87 % (Pusat dan Daerah) 55 % (Pusat dan Daerah) 32 %

87,42 %

100,48

6) Persentase PK yang diterima

60,29 %

109,62

7) Persentase instansi peserta model Island of Integrity yang berhasil

30,77 %

76,92

Analisis atas capaian indikator-indikator kinerja sasaran ini adalah sebagai berikut :
Jumlah peraturan/kebijakan di bidang akuntabilitas kinerja

Perumusan dan penyusunan peraturan/kebijakan di bidang akuntabilitas kinerja dalam tahun 2011, telah dihasilkan 1 buah Per.Men.PAN dan RB, yaitu Per.Men.PAN dan RB Nomor 35 Tahun 2011 tanggal 25 Juli 2011 tentang Petunjuk Pelaksanaan Evaluasi Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah Tahun 2011, serta 2 buah Surat Edaran yaitu SE Nomor 03 Tahun 2011 tanggal 15 April 2011 tentang Pelaksanaan Evaluasi Akuntabilitas Kinerja Internal; dan SE Nomor 11 Tahun 2011 tanggal 23 November 2011 tentang Penyampaian Dokumen Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah Tahun 2011 dan Dokumen Penetapan Kinerja Tahun 2012.

70

Laporan Akuntabilitas Kinerja Kementerian PAN dan RB Tahun 2011

Sejak diberlakukannya Inpres Nomor 7 Tahun 1999 dan selanjutnya diikuti dengan peraturan-peraturan lainnya yang dimaksudkan untuk mempercepat penerapan Sistem AKIP secara lebih konsisten, arah perkembangan sistem manajemen kinerja ini dirasakan masih kurang terfokus pada peraturan dan ketentuan yang ada. Berdasarkan hasil evaluasi dan bimbingan teknis yang dilakukan di beberapa instansi pemerintah, baik di instansi pemerintah pusat maupun daerah, SDM penanggung jawab dan pengelola Sistem AKIP mengalami kesulitan dalam menyusun perencanaan kinerja tahunan, menetapkan indikator yang baik, mengukur hasil-hasil yang diperolehnya, dan melaporkannya dalam LAKIP. Sebagai akibatnya, hampir sepanjang tahun instansi pemerintah tersebut masih memerlukan pembimbingan/asistensi dalam menyusun dokumendokumen manajemen kinerjanya. Materi yang menjadi bahan bimbingan penyusunan perencanaan kinerja tahunan, penetapan kinerja, dan pelaporan (LAKIP) selalu sama dari satu kegiatan pembimbingan ke kegiatan pembimbingan berikutnya. Sebagai akibatnya, penerapan Sistem AKIP seolah-olah hanya berjalan di tempat (stagnasi) dan tidak terlihat adanya peningkatan di instansi pemerintah. Dengan kondisi yang demikian, diputuskan pada tahun 2011 disusun kembali modul yang substansinya lebih mudah dan sederhana untuk dipahami dan diterapkan oleh instansi pemerintah dalam mengelola kinerjanya, yaitu Modul tentang Penerapan PK. Pada tahun 2011 ini, memang direncanakan baru sampai pada tahap penyempurnaan draft RUU Akuntabilitas Kinerja Penyelenggara Negara (AKPN) yang ada. Untuk tahapan berikutnya seperti harmonisasi RUU, terbitnya Amanat Presiden dan proses legislasi serta terbitnya UU AKPN baru akan dilaksanakan pada tahun-tahun berikutnya. Dengan demikian dalam tahun 2011 memang tidak direncanakan untuk menghasilkan outcome apapun tetapi hanya sampai output saja, yakni draft RUU AKPN yang disempurnakan. Penyempurnaan RUU Tentang AKPN memang harus dilakukan berkaitan dengan perkembangan yang ada dan saran yang diterima melalui proses focus group discussion (FGD) maupun semiloka di Daerah dan Pusat. Konsekuensi logis dari terbitnya Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2011 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan yang diundangkan tanggal 12 Agustus 2011, maka RUU tentang AKPN maupun Naskah Akademisnya mesti disesuaikan dengan ketentuan Undang-Undang dimaksud.

71

Laporan Akuntabilitas Kinerja Kementerian PAN dan RB Tahun 2011

Proses penyempurnaan RUU tentang AKPN yang telah dilalui selama Tahun 2011 antara lain dengan telah terbentuknya Panitia Antarkementerian yang keanggotaannya terdiri atas unsur Kementerian dan LPNK yang terkait dengan substansi RUU, Kementerian PAN dan RB serta Kementerian Hukum dan HAM, focus group discussion kelompok kerja panitia antarkementerian sebanyak dua kali, Semiloka di Pontianak, Palangka Raya, dan Jakarta, penyempurnaan Naskah Akademis dan RUU tentang AKPN. Dengan demikian untuk Tahun Anggaran 2011, baru sampai penyempurnaan RUU Tentang AKPN yang mengakomodasikan masukan dan saran yang diperoleh selama Tahun 2011 dari focus group discussion dan Semiloka. Untuk Tahun 2012 diharapkan sudah memasuki proses harmonisasi, yang akan dikoordinasikan oleh Direktorat Harmonisasi pada Direktorat Jenderal Perundang-undangan, Kementerian Hukum dan HAM. Proses harmonisasi RUU tersebut diharapkan selesai dalam tahun 2012, agar segera dikirimkan ke Sekretariat Negara untuk mendapat persetujuan Presiden dalam bentuk Amanat Presiden. Faktor penyebab capaian kinerja yang belum memuaskan tersebut antara lain lamanya proses penyempurnaan naskah akademis RUU tentang AKPN. Semula penyempurnaan naskah akademis tersebut akan dilaksanakan melalui Swakelola yang dikerjasamakan dengan Perguruan Tinggi Negeri. Namun sesuai dengan kebijakan Kementerian PAN dan RB terkait dengan Peraturan Presiden Nomor 54 Tahun 2010 tentang Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah, maka polanya diubah menjadi swakelola murni. Konsekuensinya adalah perlu dilakukan revisi anggaran, sehingga kegiatan penyempurnaaan naskah akademis tersebut menunggu selesainya revisi anggaran tersebut. Dengan terlambatnya penyempurnaan naskah akademis, maka proses selanjutnya, seperti harmonisasi dan Amanat Presiden terhadap RUU tersebut, juga menjadi terhambat dan baru akan dilaksanakan pada Tahun Anggaran 2012.

Persentase instansi pemerintah yang menerapkan SAKIP sesuai aturan

Efektivitas penerapan SAKIP dapat dilihat mulai dari segi formalitas, substansi maupun pemanfaatannya. Formalitas penerapan SAKIP dapat dilihat dari tingkat kepatuhan instansi pemerintah dalam menyampaikan dokumen-dokumen yang terkait dengan Sistem AKIP seperti dokumen Penetapan Kinerja dan Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (LAKIP) serta yang telah menyusun Indikator Kinerja Utama (IKU).
72
Laporan Akuntabilitas Kinerja Kementerian PAN dan RB Tahun 2011

PERKEMBANGAN PENERAPAN SISTEM AKUNTABILITAS KINERJA INDIKATOR % IP yang menerapkan Sistem AKIP yang baik Target Realisasi % Capaian 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011 15% 8.34%. sesuai dengan kondisi yang ada.62% 57% 30% 20% 67% 40% 24% 60% na na na 40% 41% 102% 45% 49% 109% 50% 50% 100% Jika dikaitkan dengan tujuan yang ditetapkan dalam rencana strategis yaitu “Terwujudnya Sistem Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah yang efektif”. efektivitas penerapan Sistem AKIP dapat dilihat dari seberapa banyak instansi pemerintah yang telah menerapkan Sistem AKIP yang baik. sampai dengan saat ini masih banyak instansi pemerintah yang belum secara utuh menerapkan ketentuan-ketentuan tersebut diatas sebagaimana yang diharapkan.Dari segi substansi. instansi pemerintah yang dikategorikan telah menerapkan Sistem AKIP yang baik adalah instansi yang berhasil dalam usaha-usaha penguatan akuntabilitas kinerja dilingkungannya seperti yang telah menyusun perencanaan kinerja yang baik. Tabel diatas juga menunjukkan masih perlunya upaya untuk meningkatkan konsistensi dalam penetapan indikator kinerja dan penjelasan yang logis terhadap penetapan target kinerja. Efektivitas penerapan Sistem AKIP akan terlihat jika seluruh komponen sistem tersebut diterapkan atau dimanfaatkan. capaian kinerja indikator ini adalah sebesar 100. Mulai dari ketepatan waktu penyampaian dokumen-dokumen yang diwajibkan sampai kepada kualitas substansi penerapan Sistem AKIP. berdasarkan hasil evaluasi adalah sebanyak 50. Realisasi instansi pemerintah yang telah mampu menerapkan Inpres Nomor 7 Tahun 1999 dan Inpres Nomor 5 Tahun 2004. baik dari segi formal maupun substansial. berdasarkan hasil 73 Laporan Akuntabilitas Kinerja Kementerian PAN dan RB Tahun 2011 . Sejak mulai diterbitkannya Inpres Nomor 7 Tahun 1999 dan selanjutnya diikuti dengan berbagai peraturan lain. namun demikian perlu juga diakui bahwa apa yang telah dilakukan berada pada jalur yang benar (on the right track) dan perlu upaya yang sungguhsungguh untuk mewujudkan tujuan tersebut. melakukan pengukuran kinerja secara memadai. harus diakui bahwa capaian yang diperoleh belumlah memuaskan. Saat ini.68%. melaporkan capaian kinerja secara tepat waktu serta telah melakukan evaluasi kinerja internal secara memadai. Dengan demikian.

Akuntabilitas kinerja adalah suatu kondisi dimana instansi pemerintah telah merubah orientasinya dari yang biasanya berorientasi kepada anggaran (input) atau kegiatan (output) semata menjadi berorientasi kepada hasil atau outcome. menetapkan indikator (ukuran) keberhasilannya serta target kinerja yang akan dicapai. Kemudian dalam rangka memperkuat komitmen untuk berkinerja disusunlah semacam perjanjian kinerja yang menggambarkan kesepakatan atau kebulatan tekad untuk menghasilkan kinerja tertentu berdasarkan anggaran yang tersedia dan pada akhir periode melaporkannya dalam laporan kinerja atau LAKIP. Sikap akuntabel tersebut diwujudkan dalam menyusun rencana strategis yang memuat kondisi ideal yang ingin diwujudkan dalam jangka menengah dan tahunan. Persentase instansi pemerintah yang akuntabilitas kinerjanya baik Sebagaimana diketahui penerapan manajemen kinerja di instansi pemerintah dilakukan secara bertahap dimulai sejak diterbitkannya Inpres 7 Tahun 1999 yang mewajibkan instansi pemerintah menerapkan Sistem Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (SAKIP). sebagian besar instansi pemerintah memperoleh hasil penilaian yang masih belum memuaskan. Dengan diterbitkannya Inpres tersebut. instansi pemerintah didorong untuk lebih akuntabel dan lebih bertanggung jawab terhadap kinerja atau hasil yang telah dicapai. Sebelum diterapkannya SAKIP.evaluasi. Dari rangkaian alur tersebut dapat disimpulkan bahwa instansi pemerintah yang akuntabel adalah instansi yang menunjukkan komitmen kuat untuk menghasilkan kinerja tertentu dengan ukuran keberhasilan yang 74 Laporan Akuntabilitas Kinerja Kementerian PAN dan RB Tahun 2011 . instansi pemerintah bekerja berdasarkan perencanaan yang ukuran keberhasilannya kurang memadai. Banyak instansi pemerintah yang mengklaim keberhasilannya semata-mata berdasarkan persentase (banyaknya) anggaran yang diserap atau banyaknya program dan kegiatan yang telah dilaksanakan. Rencana tersebut diikuti dengan penyusunan anggaran yang dibutuhkan dalam rangka mewujudkan target kinerja yang dimaksud. Mereka merasa berhasil jika telah sukses menyerap anggaran lebih dari 95% atau pekerjaan fisik bangunan dan sarana prasarana selesai 100% tanpa mengaitkannya dengan manfaat yang (seharusnya) diperoleh atau dirasakan masyarakat atau stakeholdersnya. Saat ini pola pikir seperti itu harus segera diubah dan diarahkan agar instansi pemerintah mulai merencanakan hasil atau outcome yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat dan mengukur capaian serta melaporkannya kinerjanya secara periodik.

memiliki sistem yang dapat digunakan untuk memproduksi informasi kinerja untuk pertanggung jawaban. memiliki sistem yang dapat digunakan untuk manajemen kinerja. berbudaya kinerja. Sistem dan tatanan tidak dapat diandalkan untuk manajemen kinerja. pembuktian. memiliki sistem untuk manajemen kinerja tapi perlu banyak perbaikan minor dan perbaikan yang mendasar. memiliki sistem manajemen kinerja yang andal. C >30-50 Agak kurang. baik di tingkat Pusat maupun Daerah. dan perlu sedikit perbaikan. D 0-30 75 Laporan Akuntabilitas Kinerja Kementerian PAN dan RB Tahun 2011 . 1. setiap tahun Kementerian PAN dan RB melakukan evaluasi atas akuntabilitas kinerja instansi pemerintah. Pengelompokkan predikat tersebut dilakukan berdasarkan hasil penilaian yang direpresentasikan dengan nilai (score) tertentu yang diperoleh berdasarkan hasil penelitian. perlu banyak perbaikan. konfirmasi dan wawancara selama proses evaluasi serta mereviu capaian kinerja instansi. terdapat beberapa predikat penilaian akuntabilitas kinerja mulai dari yang paling rendah yaitu kategori D sampai dengan yang tertinggi yaitu kategori AA. Sistem dan tatanan kurang dapat diandalkan. reviu. B >65-75 4. sebagian perubahan yang sangat mendasar. termasuk perubahan yang mendasar Kurang. Berikut adalah penjelasan dari masing-masing predikat serta karakteristiknya: NO. Berdasarkan Peraturan MenPAN dan RB No 13 Tahun 2010. dan perlu sedikit perbaikan 3. Untuk mengetahui tingkat akuntabilitas instansi pemerintah terhadap kinerjanya. dan sangat akuntabel Akuntabel. perlu banyak perbaikan. perlu banyak perbaikan yang tidak mendasar 5. PREDIKAT AA NILAI ABSOLUT >85-100 INTERPRETASI Memuaskan KARAKTERISTIK AKUNTABILITAS INSTANSI Memimpin perubahan. berkinerja tinggi.pantas. Mereka tidak lagi merasa cukup dengan hanya berhasil menyerap anggaran atau telah melakukan kegiatan tertentu setiap tahunnya. perlu banyak sekali perbaikan & perubahan yang sangat 6. perlu beberapa perbaikan tidak mendasar. Akuntabilitas kinerjanya cukup baik. berkinerja baik. A >75-85 Sangat Baik Baik. Akuntabilitas kinerjanya sudah baik. taat kebijakan. CC >50-65 Cukup baik (memadai). 2.

22% 74 100% 2009 0 0 7 9. 3.22% 26 31. evaluasi implementasi Sistem AKIP dilakukan terhadap 74 instansi pemerintah pusat. Sebanyak 23 instansi atau 31.37% 27 34. KATEGORI AA A B CC C D 2008 0 0 2 2.36% dari 76 instansi dan pada tahun 2010 naik lagi menjadi 50 instansi atau 63. telah memperoleh predikat “CC” ke atas. Pada tahun 2011. Hasil evaluasi Tahun 2010. 4.70% 12 16.18% 2 2. Perkembangan hasil evaluasi instansi pusat (Kementerian/ Lembaga).92% 39 49.70% 21 28. 56 instansi atau 68. Perkembangan instansi pusat yang akuntabilitas kinerjanya baik.42% 7 9. 5. 1. Untuk Tahun 2010 Kedeputian Pengawasan dan Akuntabilitas menargetkan 44% instansi pemerintah yang dievaluasi oleh Kementerian PAN dan RB meraih predikat minimal “CC”.71% 0 0.21% 76 100% 2010 0 0 11 13.38% 39 52.72% instansi pemerintah yang dievaluasi.00% 82 100% Total Instansi Yang Dievaluasi Pada tahun 2008.08% akuntabilitas kinerjanya dinilai baik/akuntabel. 2. dapat dilihat pada grafik berikut: 76 Laporan Akuntabilitas Kinerja Kementerian PAN dan RB Tahun 2011 . dari 82 instansi pusat yang dievaluasi.16% 33 43.29% akuntabilitas kinerjanya dinilai baik. terdapat 48.NO.21% 29 38. 6. Kemudian tahun 2009 instansi pusat yang akuntabilitas kinerjanya baik meningkat menjadi 36 instansi atau 47. sebagaimana tabel berikut : PERKEMBANGAN HASIL EVALUASI ATAS AKUNTABILITAS KINERJA KEMENTERIAN/LEMBAGA NO.53% 79 100% 2011 0 0 14 17. PREDIKAT NILAI ABSOLUT INTERPRETASI mendasar KARAKTERISTIK AKUNTABILITAS INSTANSI Instansi pemerintah yang dinilai akuntabel atau yang akuntabilitas kinerjanya baik adalah instansi yang berdasarkan hasil evaluasi Kementerian PAN dan RB memperoleh predikat minimal “CC” atau “Cukup Baik”.07% 42 51.29% dari 79 instansi.

1. 3. Sedangkan pada tahun 2010 terjadi kenaikan yang cukup berarti.03% 18 62.22% 27 100% 2010 0 0 0 9 31. dapat dilihat pada grafik berikut: 77 Laporan Akuntabilitas Kinerja Kementerian PAN dan RB Tahun 201 2011 .90% 29 100% 2011 0 0 1 3. 4.03% dari 29 pemerintah provinsi yang dievaluasi.Perkembangan hasil evaluasi pemerintah provinsi.33% 27 100% 2009 0 0 0 1 3.33% 16 53. KATEGORI AA A B CC C D 2008 0 0 0 0 18 66. namun dari 27 pemerintah provinsi masih belum ada yang mencapai akuntabilitas kinerjanya baik. evaluasi implementasi Sistem AKIP dilakukan terhadap 27 pemerintah provinsi. 2. Kemudian pada tahun 2009 pemerintah provinsi yang akuntabilitas kinerjanya baik baru mencapai 1 instansi atau 3. yaitu menjadi 17 instansi atau 56.70% 20 74.67% 9 33.07% 2 6. yakni a menjadi 9 instansi atau 31. 5. 6.07% 6 22.67% dari 30 pemerintah provinsi yang dieva dievaluasi. dapat dilihat sebagaimana tabel berikut : PERKEMBANGAN HASIL EVALUASI ATAS AKUNTABILITAS KINERJA PEMERINTAH PROVINSI NO.33% 0 30 100% Total Instansi Yang Dievaluasi Pada tahun 2008. Perkembangan pemerintah provinsi yang akuntabilitas kinerjanya baik.33% 13 43. Pada tahun 2011 kenaikannya kembali signifikan.76% dari 27 pemerintah provinsi yang dievaluasi.

18% 20 60.53% 57 100% 2011 0 0 1 3. 2.03% 6 18. dari 33 pemerintah kabupaten/kota yang dari dievaluasi. dapat dilihat pada grafik berikut: 78 Laporan Akuntabilitas Kinerja Kementerian PAN dan RB Tahun 201 2011 .08% 29 49. 4. Pada tahun 2011. dapat dilihat sebagaimana tabel berikut: PERKEMBANGAN HASIL EVALUASI ATAS AKUNTABILITAS KINERJA PEMERINTAH KABUPATEN/KOTA NO. 1. 6. 5.75% 4 7. naik menjadi 5 instansi atau 8. KATEGORI AA A B CC C D 2009 0 0 0 3 5.08% dari 59 pemerintah kabupaten/kota yang dievaluasi.70% 6 10.02% 46 80. Perkembangan pemerintah kabupaten/kota yang akuntabilitas kinerjanya baik. evaluasi terhadap implementasi sistem AKIP di perluas pada pemerintah Kabupaten/Kota.61% 6 18.15% 27 45.Perkembangan hasil evaluasi pemerintah kabupaten/kota. 7 instansi atau 21.21% akuntabilitas kinerjanya baik. 3.76% 59 100% 2010 0 0 1 1.77% dari 57 pemerintah kabupaten/kota yang dievaluasi. Pada tahun 2009 pemerintah kabupaten/kota yang akuntabilitas kinerjanya baik mencapai 3 instansi atau 5. Sedangkan pada tahun 2010 pemerintah kabupaten/kota yang akuntabilitas kinerjanya baik.18% 33 100% Total Instansi Yang Dievaluasi Pada tahun 2009.

PERKEMBANGAN PENYUSUNAN IKU INDIKATOR % IP yang menyusun IKU Target Realisasi % Capaian 2010 20% 15% 75% 2011 22% 20% 91% Realisasi instansi pemerintah yang menyusun IKU selama tahun 201 2011 adalah sebesar 20.36%.24% 497 15.10%.10% Instansi Pusat Provinsi Kab/Kota Jumlah 79 Laporan Akuntabilitas Kinerja Kementerian PAN dan RB Tahun 201 2011 . Dengan diterbitkannya Peraturan MenPAN Nomor 09/M.Persentase instansi pemerintah yang menyusun IKU Perkembangan penerapan Sistem Akuntabilitas Kinerja yang mengarah kepada manajemen kinerja masih dipengaruhi oleh orientasi kegiatan dengan indikator indikator kegiatan.57% 33 7. INSTANSI PEMERINTAH YANG MENYUSUN IKU Populasi 81 33 497 611 2010 Menyusun 42 19 36 97 % Populasi 51.88% 612 2011 Menyusun 49 20 54 123 % 59. setiap instansi pemerintah diwajibkan untuk menyusun IKU. sehingga capaian kinerja yang diperoleh indikator ini adalah sebesar 91.61% 10.85% 82 57.87% 20.76% 60. Indikator Kinerja Utama (IKU) adalah seperangkat indikator yang menggambarkan keberhasilan organisasi dalam mencapai sasaran sasaran-sasaran strategisnya. Perhatian yang terlampau indikator-indikator berlebihan pada indikator kegiatan menyebabkan instansi pemerintah kurang berfokus pada keberhasilan organisasi. tentang Pedoman Umum Penetapan Indikator Kinerja Utama di Lingkungan Instansi Pemerintah.PAN/5/2007.

Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur. Pemerintah Daerah yang berdasarkan hasil evaluasi. penerapan Sistem AKIP-nya masih kurang baik. Bimbingan teknis penerapan akuntabilitas kinerja Bimbingan teknis direncanakan dilaksanakan pada 15 (lima belas) Pemerintah Provinsi/Kabupaten/Kota. Pemerintah Provinsi Papua. Pemerintah Provinsi Papua Barat. serta Kesediaan Pemerintah Daerah yang bersangkutan untuk menjadi mitra penyelenggaraan diseminasi. Pemerintah Kabupaten Kupang. Peserta yang diundang adalah pejabat/pegawai Pemerintah Daerah yang menangani/bertanggung Laporan Akuntabilitas Kinerja Kementerian PAN dan RB Tahun 2011 80 . antara lain: Pemerataan wilayah barat. Untuk mencapai sasaran ini. dilaksanakan selama 2 (dua) hari pada 3 (tiga) regional/provinsi dengan jumlah peserta sebanyak 60 orang untuk setiap kali penyelenggaraan diseminasi. kegiatan-kegiatan yang dilakukan telah selama tahun 2011 adalah : a. Jumlah Daerah yang diberikan Sosialisasi penerapan SAKIP dan capaian terhadap output jumlah sosialisasi yang dilakukan di pemerintah daerah sampai 31 Desember 2011. Pelaksanaan diseminasi SDM Pelaksanaan diseminasi di Bidang Akuntabilitas Kinerja untuk Instansi Pemerintah Daerah dan diseminasi Evaluator Akuntabilitas Kinerja untuk Instansi Pemerintah Daerah. Pemerintah Kabupaten Belitung Barat. seperti Kabupaten/Kota yang baru terbentuk sebagai hasil pemekaran wilayah. termasuk Pemerintah Daerah yang memerlukan bimbingan teknis. Pemerintah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. tengah dan timur. Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat. Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara. Pemerintah Kabupaten Sumba Timur. Pemerintah Kabupaten Muara Enim. mencapai 80% dari 15 Provinsi Kabupaten/Kota yang ditetapkan. b. yaitu: Pemerintah Kabupaten Belitung Timur. tengah dan timur. Pemilihan regional ataupun provinsi sebagai tempat penyelenggaraan diseminasi akan ditentukan kemudian berdasarkan beberapa kriteria. Hal ini mengindikasikan belum efektifnya pengukuran atas pencapaian kinerja instansi pemerintah.Dari tabel terlihat bahwa belum seluruh instansi pemerintah pusat dan daerah menaati ketentuan tentang penyusunan IKU. antara lain: Pemerataan wilayah barat. Pemilihan Pemerintah Daerah yang akan diberikan sosialisasi dan bimbingan teknis penerapan akuntabilitas kinerja ditentukan berdasarkan beberapa kriteria.

setiap instansi pemerintah yang menyusun perencanaan kinerja dan selanjutnya melaksanakan rencana-rencana kinerjanya tersebut (yang berarti menggunakan sumber-sumber daya untuk melaksanakannya) wajib untuk mempertanggung-jawabkan hasilnya.17% 87% 87.08% 87% 87.42%. Demikian pula halnya dalam ketepatan waktu penyampaian LAKIP.24% 95. dan pertanggungjawaban kinerja dalam Sistem AKIP. Hal ini menunjukkan terdapat kecenderungan adanya peningkatan ketaatan dalam penyampaian LAKIP. yaitu di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. pengukuran kinerja. Provinsi Nusa Tenggara Barat. dan Provinsi Papua Barat.48%. Materi diseminasi ditekankan pada praktik penerapan Sistem AKIP yang mengacu pada Peraturan Presiden tentang Sistem AKIP yang baru. mencapai 100% dari 3 daerah regional yang ditetapkan.27% 91. sehingga capaian kinerja yang diperoleh indikator ini adalah sebesar 100.03% 96. 81 Laporan Akuntabilitas Kinerja Kementerian PAN dan RB Tahun 2011 . baik berupa keberhasilan maupun kegagalan. terdapat kecenderungan adanya peningkatan kesadaran instansi pemerintah untuk menyampaikan LAKIP secara tepat waktu. Persentase LAKIP yang diterima LAKIP merupakan produk dari proses perencanaan kinerja.82% 90% 82.42% 90% 87. PERKEMBANGAN PENYAMPAIAN LAKIP INDIKATOR % IP yang menyampaikan LAKIP Target Realisasi % Capaian 90% 74. Realisasi kegiatan diseminasi SAKIP dan Evaluasi AKIP sampai 31 Desember 2011.46% 97.jawab dalam penerapan Sistem AKIP di instansi masing-masing.48% 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011 Realisasi instansi pemerintah yang menyerahkan LAKIP-nya selama tahun 2010 adalah sebesar 87. Pelaksanaan diseminasi di Bidang Akuntabilitas Kinerja untuk Instansi Pemerintah Pusat dan diseminasi Evaluator Akuntabilitas Kinerja untuk Instansi Pemerintah Pusat dilaksanakan pada tanggal 22 s. Pemilihan kementerian/lembaga yang mengikuti diseminasi yaitu berdasarkan hasil evaluasi Sistem AKIP kementerian/lembaga tahun 2010 yang nilai akuntabilitas kinerjanya masih belum baik.d 23 November 2011 di Hotel Ambhara Jakarta dengan jumlah peserta 160 orang. Oleh karena itu.42% 100.70% 90% 86.07% 100.17% 82.41% 90% 87.

Sedangkan pada tahun 2010 realisasi instansi pemerintah yang menyampaikan LAKIP secara tepat waktu adalah sebanyak 372 IP Pusat dan Daerah atau sebesar 60. telah menaati ketentuan batas waktu penyampaian LAKIP. Dalam ketentuan tersebut diatur bahwa penetapan kinerja dibuat secara berjenjang mulai dari tingkat eselon II atau SKPD sampai ke pimpinan instansi atau kepala daerah. Batas waktu penyampaian PK paling lambat adalah tanggal 31 Maret setiap tahunnya. indikator ini ditetapkan untuk menilai 82 Laporan Akuntabilitas Kinerja Kementerian PAN dan RB Tahun 2011 . yaitu selambat-lambatnya tanggal 31 Maret. Persentase PK yang diterima Penetapan kinerja (PK) merupakan pernyataan janji instansi pemerintah untuk mencapai suatu kinerja tertentu dengan menggunakan indikator-indikator kinerja yang menggambarkan keberhasilan pencapaiannya. yaitu berupa hasil atau manfaat.32% dari jumlah populasi IP Pusat dan Daerah yang wajib menyampaikan LAKIP yaitu 612 IP.5 bulan sejak tahun anggaran berakhir. Dengan adanya kebijakan tersebut. Peraturan MenPAN dan RB terakhir meminta instansi pemerintah pusat untuk menyerahkan LAKIP selambat-lambatnya 2.88% dari jumlah populasi IP Pusat dan Daerah yang wajib menyampaikan LAKIP yaitu 611 IP. Kewajiban untuk menyusun penetapan kinerja ini diatur dalam Inpres Nomor 5 Tahun 2004 butir ketiga dan selanjutnya ditindaklanjuti dengan SE MenPAN Nomor 31 Tahun 2004 dan terakhir telah diperbarui dengan Peraturan MENPAN dan RB Nomor 29 Tahun 2010. Hal ini menunjukkan bahwa semakin banyak instansi pemerintah. M= menyampaikan Pada tahun 2009 realisasi instansi pemerintah yang menyampaikan LAKIP secara tepat waktu adalah sebanyak 292 IP Pusat dan Daerah dengan capaian 50. Indikator ini ditetapkan untuk mengukur ketaatan instansi pemerintah dalam menyampaikan LAKIP-nya secara tepat waktu sesuai ketentuan.INSTANSI PEMERINTAH YANG MENYAMPAIKAN LAKIP 2007 2008 2009 2010 P M % P M % P M % P M % 72 70 97% 76 75 99% 77 76 99% 81 79 98% 33 31 94% 33 29 86% 33 30 91% 33 31 94% P 82 33 2011 M % 81 99% 32 97% 85% 87% Instansi Pusat Provinsi Kab/Kota 440 369 84% 472 363 77% 472 403 85% 497 422 85% 497 422 Jumlah 545 217 86% 581 467 80% 582 509 87% 611 532 87% 612 535 *) P= populasi. terutama yang telah menerapkan Sistem AKIP secara baik. Sedangkan pada tahun 2011 realisasi instansi pemerintah yang menyampaikan LAKIP secara tepat waktu adalah sebanyak 412 IP Pusat dan Daerah atau sebesar 67.17% dari jumlah populasi 582 IP.

18% Sampai dengan tahun 2011. KPK dan Kementerian PAN dan RB telah 83 Laporan Akuntabilitas Kinerja Kementerian PAN dan RB Tahun 2011 .29% 109. INSTANSI PEMERINTAH YANG MENYAMPAIKAN PENETAPAN KINERJA P 72 33 440 Jumlah 2007 M % 38 58% 22 157 67% 36% 40% P 76 33 472 581 2008 2009 M % P M % P 36 47% 77 54 70% 81 20 152 61% 33 20 61% 33 2010 M % 54 67% 24 73% P 82 33 2011 M % 64 78% 22 67% Instansi Pusat Provinsi Kab/Kota 32% 472 201 43% 497 266 54% 497 283 60% 545 217 208 36% 582 275 47% 611 344 56% 612 369 60% *) P= populasi.11% dalam 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011 55% 60. belum seluruh instansi pemerintah pusat dan daerah menaati ketentuan tentang penyampaian PK.72% 50% 41. maka capaian kinerja dari indikator ini adalah sebesar 109%.18% 74.30% 125.28% 50% 37. Pelaksanaan island of integrity merupakan program pencegahan korupsi dari Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) yang bekerja sama dengan Kementerian PAN dan RB.25% 78. 33 pemerintah provinsi dan 497 pemerintah kabupaten/kota.29%.35% 60% 47.keefektifan pencapaian sasaran-sasaran instansi pemerintah memberikan hasil dan manfaat terutama bagi masyarakat.17% 82. jumlah instansi pemerintah yang wajib menyampaikan PK adalah sebanyak 612 instansi. Hal ini mengindikasikan belum efektifnya pengendalian atas pelaksanaan rencana-rencana instansi pemerintah. Persentase instansi peserta model island of integrity yang berhasil Penerapan prinsip kepemerintahan yang baik saat ini merupakan kebutuhan nyata yang harus direalisasikan dalam upaya meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap kinerja instansi pemerintah.37% 67.33% 60% 40.75% 45% 56. yang terdiri dari 82 instansi pusat. M= menyampaikan Dibandingkan dengan populasi instansi pemerintah yang harus menyerahkan PK. Dengan realisasi persentase instansi pemerintah yang menyampaikan PK sebesar 60.36% 42. PERKEMBANGAN PENYAMPAIAN PENETAPAN KINERJA INDIKATOR % IP yang menyampaikan Penetapan Kinerja Target Realisasi % Capaian 50% 21.

3. Selanjutnya disusunlah rencana aksi yang memuat langkah-langkah kongkrit yang harus dilakukan. kolusi. Pemkab Kutai Timur. Suatu pemerintah daerah peserta kesepakatan bersama dapat dikatagorikan berhasil dalam pelaksanaan kesepakatan bersama ini jika dari hasil evaluasi menunjukkan pencapaian angka rata-rata minimal C atau di atas 50. 1 7 4. Samarinda. Pemprov Jabar. Pemkot Bontang. Pemkab. Pemkot Kupang dan 6 Pemkab/Kota di Kalimantan Timur. Pemprov Bali. Pemkot Sukabumi. Pemkot Balikpapan. dan nepotisme di beberapa propinsi dan kabupaten/kota. Pencanangan sebagai wilayah island of integrity tersebut dilakukan dengan penandatanganan kesepakatan bersama dalam mewujudkan tata kepemerintahan yang baik sebagai upaya pencegahan korupsi. 1. Tana Tidung. Nilai Capaian Rata-rata Tidak dievaluasi <25 25 – 50 Jumlah Pemda Keterangan Pemerintah Daerah yang masuk dalam kesepakatan namun tidak dievaluasi adalah Pemprov Sulawesi Tengah.merencanakan untuk membentuk model-model Island of Integrity pada pemerintahan provinsi/kabupaten/kota dalam upaya pencegahan korupsi yang komprehensif dan terpadu. menerapkan prinsip kepemerintahan yang baik dan meningkatnya pelayanan kepada publik. Pemkab Kuningan. Pemkot. Pemkab Bandung Barat. Pemkot Denpasar. Dalam tahun 2011. Pemkot Makassar. jadual dan penanggungjawabnya. Pemkab PPU. 50 – 75 7 84 Laporan Akuntabilitas Kinerja Kementerian PAN dan RB Tahun 2011 . Pemkot Bandung. Pemkab Sukabumi. target. Dari hasil evaluasi menunjukkan hasil sebagai berikut : No. Setiap periode tertentu Kementerian PAN dan RB melakukan evaluasi atas kemajuan target-target yang telah disusun. Pemprov Kaltim. Pemkab Donggala. Model daerah percontohan ini diharapkan dapat mendorong terwujudnya daerah-daerah yang memiliki komitmen dan integritas dalam mencegah dan menurunkan tingkat korupsi. 10 2. Island of Integrity adalah suatu pemerintah daerah/wilayah yang telah mengembangkan sistem penyelenggaraan negara dan pembangunan yang mengindahkan prinsip-prinsip ”good governance” dalam rangka mewujudkan suatu pemerintahan yang bersih dan bebas dari KKN sehingga dapat dijadikan model atau percontohan bagi pemerintah daerah lainnya. ditargetkan sebanyak 32% peserta model island of integrity dinilai dengan katagori baik atau berhasil.

Peningkatan kualitas Pelayanan Publik Sebaran unit pelayanan yang berstandar Pelaksanaan evaluasi pelayanan Kualitas pelayanan Perencanaan kinerja Penganggaran berbasis kinerja Pelaporan kinerja Monitoring dan evaluasi kinerja Pencatatan keuangan Kriteria Penilaian Jika setiap rincian pelayanan telah diberikan sesuai dengan standar yang ditetapkan sebelumnya. Jika semakin banyak unit pelayanan yang berstandar. Aspek Sub Aspek Penerapan standar pelayanan 1. keberhasilannya dapat digambarkan sebagai berikut : Tahun 2011 2010 2009 Pemda Yang Mengikat Kerjasama 26 90 107 Pemda Yang Berhasil 8 42 31 maka tingkat Tingkat Keberhasilan 30. Selanjutnya setiap aspek ini akan dibagi kedalam beberapa sub aspek yang relevan serta setiap sub aspek tersebut ditetapkan kriteria penilaiannya sebagai berikut : No. maka tingkat keberhasilannya hanya sebesar 75%.67 29. Jika dibandingkan pada tiga tahun terakhir. Jika telah dilakukan evaluasi terhadap pelaksanaan standar pelayanan. 5. Jika dikaitkan dengan target pencapaian di tahun 2011 ini.77 46. Berdasarkan hasil survei IKM Berdasarkan hasil evaluasi akuntabilitas kinerja yang dilakukan MenPAN dan BPKP Opini BPK 2. Dari hasil tersebut tampak bahwa hanya 8 dari 26 entitas atau 30. Penerapan manajemen kinerja 85 Laporan Akuntabilitas Kinerja Kementerian PAN dan RB Tahun 2011 .2 Evaluasi dilakukan terhadap keseluruh materi kesepakatan yang ditetapkan sebagai aspek evaluasi.No.77% pemerintah daerah yang telah mengikat kesepakatan bersama dengan Kementerian PAN dan RB telah berhasil menerapkan tata pemerintahan yang baik sesuai dengan kesepakatan bersama tersebut. Nilai Capaian Rata-rata 75 – 100 Jumlah Jumlah Pemda 1 26 Keterangan Pemerintah Kota Yogyakarta.

Tingkat kesesuaian organisasi dengan RPJMD Jika telah menunjukkan efisiensi pelaksanaan kerja dan prosedur. Peran serta pimpinan Keteladanan Pemberian informasi Kriteria Penilaian Jika telah dilakukan penilaian kinerja individu berdasarkan kinerja organisasi. Aspek Sub Aspek Penilaian kinerja individu Evaluasi kelembagaan Kesesuaian organisasi dengan RPJMD Evaluasi SOP 3. Telah terdapat berbagai publikasi tentang hal-hal yang telah dilaksanakan Pemda. Telah terdapat berbagai upaya dan inovasi dalam rangka pencegahan korupsi. penempatan. Jika telah terdapat pengelolaan SDM aparatur yang memadai mulai dari rekrut. standar kompetensi jabatan. diklat hingga pensiun. Jika telah menunjukkan efisiensi efektivitas organisasi. Jika telah tercermin adanya pengendalian internal pada berbagai SOP yang ada. Telah dilakukan penerapan Perpres 54/2010 serta telah terlihat kehematannya. 86 Laporan Akuntabilitas Kinerja Kementerian PAN dan RB Tahun 2011 . Hasil IPK Jika telah dilakukan mekanisme dan penanganan pengaduan masyarakat. pelaksanaan dan evaluasi pelaksanaan kesepakaan bersama ini. Jika semakin banyak pejabat yang menyampaikan LHKPN Pelaksanaan berbagai upaya kampanye anti korupsi. Peningkatan kapasitas organisasi Penerapan pengendalian internal Manajemen SDM Penyampaian LHKPN Pelaksanaan program anti korupsi Mekanisme pencegahan korupsi Inovasi dalam pencegahan korupsi Pengadaan barang dan jasa IPK Penanganan pengaduan masyarakat Kebijakan yang mendukung 4. Pimpinan pada berbagai tingkatan terlibat dalam perencanaan. Pimpinan secara nyata telah memberikan contoh baik dalam perbuatan maupun kebijakan yang dihasilkan.No. Keterlibatan 5. Jika telah terdapat berbagai kebijakan yang mendukung pelaksanaan tata pemerintahan yang baik.

50 0.25 0.75 1. maka akan digunakan predikat A. penyusunan pedoman dan sebagainya. Maksud dibentuknya tim terpadu tersebut adalah untuk lebih mengoptimalkan fungsi supervisi dan pemantauan dalam pelaksanaan penerapan kepemerintahan yang baik dan sekaligus memberikan bantuan teknis dan pelatihan terhadap pelaksanaan kesepakatan bersama yang telah ditandatangani.00 Kondisi Jika setelah kesepakatan ditandatangani relatif tidak terdapat upaya perbaikan yang signifikan. B. Komisi Pemberantasan Korupsi dan Kementerian PAN dan RB melalui Deputi Bidang Pengawasan dan Akuntabilitas Aparatur telah merencanakan untuk tetap mengawal pelaksanaan penerapan kepemerintahan yang baik pada pemerintah daerah yang memiliki kepala daerah yang berkomitmen tinggi untuk melakukan perubahan dan mewujudkan kepemerintahan yang baik di wilayahnya. Dengan pemikiran tersebut dan sesuai dengan isi kesepakatan yang telah ditandatangani oleh pemerintah daerah yang menjadi wilayah percontohan maka Komisi Pemberantasan Korupsi dan Kementerian PAN dan RB akan membentuk tim terpadu di tingkat pusat untuk membangun zona integritas (wilayah berintegritas) dalam rangka mewujudkan kepemerintahan yang baik pada pemerintah daerah. Jika perbaikan tersebut telah memberikan manfaat berupa perbaikan pelayanan atau outcome seperti yang diharapkan. C. Jika perbaikan tersebut juga menggambarkan inovasi serta memberikan hasil melebihi yang diharapkan. Jika setelah kesepakatan ditandatangani telah dilakukan berbagai upaya perbaikan seperti penyusunan kebijakan. D dan E dengan kriteria sebagai berikut: Predikat Penilaian E D C B A Nilai 0 0. Untuk menyederhanakan penilaian. 87 Laporan Akuntabilitas Kinerja Kementerian PAN dan RB Tahun 2011 . evaluasi.Selanjutnya untuk setiap kriteria yang telah ditentukan tersebut akan dilakukan penilaian ketercapaiannya. Untuk masa depan. Jika upaya tersebut telah ditindaklanjuti dengan hasil nyata berupa perbaikan sistem.

Sasaran Strategis 7: Terwujudnya penyelenggaraan pengawasan intern pemerintah yang terintegrasi, efisien dan efektif

Pencapaian target kinerja atas sasaran ini adalah sebagai berikut : Indikator Kinerja 1) Jumlah peraturan/kebijakan di bidang Pengawasan (RUU, Per. Men. PAN dan RB) Target Realisasi 1 Draft RUU 2 Draft Per.Men. PAN-RB 62,55 % %

1 RUU 2 Per. Men. PAN dan RB

95

98

2) Persentase instansi pemerintah yang melaksanakan SPI sesuai dengan ketentuan 3) Persentase laporan dumas yang disalurkan dan telah ditindaklanjuti oleh instansi pemerintah 4) Persentase instansi pemerintah yang melaksanakan dan melaporkan Inpres Percepatan Pemberantasan Korupsi yang dievaluasi sesuai pedoman

50 %

125,30

65 %

81 %

124,61

65 %

51,88 %

79,81

Analisis atas capaian indikator-indikator kinerja sasaran ini adalah sebagai berikut:
Jumlah peraturan/kebijakan di bidang pengawasan

Dalam tahun 2011, telah disusun 2 (dua) peraturan di bidang pengawasan yaitu satu PerMenPAN dan RB tentang Petunjuk Pelaksanaan Penyusunan Ikhtisar LHP APIP Nomor 42 Tahun 2011. Peraturan tersebut telah ditandatangani dan diterbitkan per tanggal 29 September 2011, sehingga capaian kinerja untuk penyusunan peraturan ini adalah 100%. Peraturan ini disusun dalam rangka mewujudkan koordinasi pengawasan APIP sehingga dapat diperoleh gambaran tentang kinerja APIP secara
88
Laporan Akuntabilitas Kinerja Kementerian PAN dan RB Tahun 2011

nasional. Dengan demikian, akan mendukung pencapaian outcome yaitu meningkatnya efisiensi dan efektivitas pengawasan intern pemerintah. Peraturan ini disusun melalui kegiatan seminar sebanyak dua kali di Banten dan Palembang serta beberapa kali konsinyasi dengan melibatkan beberapa APIP kementerian/ lembaga dengan realisasi anggaran sebesar Rp. 307.142.200,- atau 85,36%. Peraturan yang kedua adalah tentang Pedoman Telaah Sejawat Hasil Audit APIP yang posisinya telah mencapai 95% yaitu setelah melalui proses/kegiatan seminar dan FGD dalam rangka mendapatkan masukan dari beberapa inspektorat/badan pengawas, baik dari kementerian/lembaga maupun pemerintah daerah. Sampai dengan akhir tahun 2011, draft Peraturan Menteri tentang Pedoman Telaah Sejawat tersebut sedang dalam proses pengusulan harmonisasi di tingkat Eselon I Kementerian PAN dan RB. Sampai dengan akhir tahun 2011, draft RUU tentang Pengendalian Penyelenggaraan Administrasi Pemerintahan (RUU-PPAP) telah mencapai target 95%. Capaian ini diukur berdasarkan proses penyusunan RUU dimaksud hampir selesai, yaitu setelah melalui tahapan 2 kali uji publik dan 2 kali FGD di tahun 2011, baik di lingkungan instansi pemerintah pusat maupun instansi daerah. Kegiatan semiloka uji publik dilaksanakan di Kabupaten Malang, Provinsi Jawa Timur, dan di Provinsi Sumatera Selatan serta FGD sebanyak dua kali di Jakarta dan Bogor. Selanjutnya tahap akhir yang akan dilaksanakan dalam tahun 2012 adalah melaksanakan harmonisasi dan mendapatkan amanat presiden (ampres).

Persentase instansi pemerintah yang melaksanakan SPI sesuai dengan ketentuan

Secara ringkas, peran Kementerian PAN dan RB dalam penerapan Sistem Pengendalian Intern Pemerintah (SPIP) adalah sebagai perumus kebijakan yang mendorong diterapkannya SPIP oleh instansi pemerintah, baik secara mandiri maupun peningkatan peran APIP sebagai evaluator SPIP pada seluruh instansi pemerintah secara konsisten dan berkelanjutan. Oleh karenanya, kegiatan pemantauan dan evaluasi pelaksanaan SPIP serta melakukan koordinasi pelaksanaan SPIP dengan pihak yang terkait dengan pembinaan dan penerapan SPIP pada instansi pemerintah. Persentase instansi pemerintah yang melaksanakan Sistem Pengendalian Intern (SPI) sesuai dengan ketentuan adalah sebesar 62,65% IP Pusat dan 8,94% IP Daerah sehingga capaian kinerjanya masing-masing adalah sebesar 125,30% IP Pusat dan 44,70% IP Daerah dari targetnya.
89
Laporan Akuntabilitas Kinerja Kementerian PAN dan RB Tahun 2011

Hasil evaluasi BPK atas implementasi SPI antara lain menunjukkan kondisi berikut ini: • Hasil evaluasi menunjukkan bahwa laporan keuangan K/L yang memperoleh opini WTP dan WDP pada umumnya pengendalian intern telah memadai. Sedangkan laporan keuangan K/L yang memperoleh opini TMP memerlukan perbaikan pengendalian intern dalam hal keandalan informasi yang disajikan dalam laporan keuangan. • Selain itu, hasil evaluasi dengan menggunakan unsur-unsur pengendalian tersebut menunjukkan adanya kelemahan unsur lingkungan pengendalian dan aktivitas pengendalian yang menimbulkan kasus-kasus kelemahan SPI yang dapat dikelompokkan sebagai berikut: o Kelemahan sistem pengendalian akuntansi dan pelaporan o Kelemahan sistem pengendalian pelaksanaan anggaran pendapatan dan belanja o Kelemahan struktur pengendalian intern Terkait dengan Sistem Pengawasan, secara garis besar, terdapat 2 (dua) jenis pengawasan yang diterapkan dalam rangka meningkatkan efektivitas pelaksanaan tugas pemerintahan dan mengurangi peluang terjadinya penyimpangan, yaitu: 1) Sistem Pengendalian Intern yang sebelumnya dikenal dengan Pengawasan Melekat yang semula diatur dengan Keputusan Menteri Negara PAN No. : KEP/46/M.PAN/4/2004 tentang Petunjuk Pelaksanaan Pengawasan Melekat dalam Penyelenggaraan Pemerintahan. Dengan terbitnya Peraturan Pemerintah No. 60 Tahun 2008 tentang Sistem Pengendalian Intern Pemerintah (SPIP), maka SPIP telah ditata kembali mengikuti perkembangan. 2) Pengawasan Fungsional dengan koordinasi antar APIP (Aparat Pengawasan Intern Pemerintah) pada seluruh jenjang pemerintahan, mulai Inspektur Kabupaten/Kota dan Provinsi, Inspektorat Jenderal/Inspektur Kementerian, Inspektur Utama/Inspektur pada LPNK, dan BPKP sebagai pengawas fungsional bagi Presiden. Sebagaimana yang diamanatkan dalam Pasal 59 Peraturan Pemerintah Nomor 60 Tahun 2008 tentang Sistem Pengendalian Intern Pemerintah, BPKP ditunjuk untuk melakukan pembinaan penyelenggaraan SPIP di setiap kementerian/lembaga maupun pemerintah provinsi/kabupaten/kota. Sampai dengan akhir tahun 2011, implementasi
90
Laporan Akuntabilitas Kinerja Kementerian PAN dan RB Tahun 2011

Diharapkan dengan sosialisasi dan asistensi secara berkesinambungan yang dilakukan oleh BPKP sesuai dengan amanah pasal 59 Peraturan Pemerintah No. Lahirnya PP Nomor 60 Tahun 2008 telah merubah peran pembinaan SPIP. • Dalam hal pengawasan fungsional.01/2009 tanggal 8 Mei 2009 tentang Pembentukan Tim Koordinasi Penyelenggaraan SPIP.atas SPI di lingkungan instansi pemerintah daerah masih tergolong rendah. Melalui Tim ini diharapkan akan diperoleh kesepahaman antara berbagai instansi mengenai posisi strategis Menteri PAN dan RB dalam melahirkan rumusan kebijakan pengawasan intern pemerintah untuk mempercepat penerapan SPIP. terdapat Kelemahan menonjol sebagai berikut: • Kurangnya pemahaman sebagian besar pimpinan instansi dan staf terhadap SPIP secara keseluruhan berdampak pada tidak efektifnya sistem pengendalian intern di instansi. masih terdapat kendala yaitu belum sinkronnya pengaturan atas kewenangan pada masing-masing jenjang APIP. Hal ini disebabkan masih dalam tahap sosialisasi oleh BPKP. Proses reviu belum dapat berjalan dengan baik sebab umumnya SDM APIP yang berfungsi sebagai evaluator belum memiliki pengetahuan mendasar mengenai konsepsi SPIP sesuai dengan PP No. Namun demikian dalam konteks peran Kementerian PAN dan RB sebagai perumus kebijakan nasional di bidang pengawasan maka kegiatan pemantauan dan evaluasi penyelenggaraan SPIP tetap harus berada di bawah kendali Kementerian PAN dan RB. Dalam pelaksanaan pengawasan intern oleh Pemerintah. 60 Tahun 2008 tentang Sistem Pengendalian Intern Pemerintah. • SPIP sebagai bagian dari proses manajemen yang dinamis harus direviu secara berkesinambungan. Hal ini secara tegas tertuang dalam Pasal 59 ayat (2) bahwa pembinaan penyelenggaraan SPIP dilakukan oleh BPKP. Untuk mengatasi hal ini maka langkah yang ditempuh terkait dengan aspek pengawasan. 60 Tahun 2008 tentang Sistem Pengendalian Intern Pemerintah. sebagai berikut: 91 Laporan Akuntabilitas Kinerja Kementerian PAN dan RB Tahun 2011 . Sehubungan dengan hal ini Kementerian PAN dan RB aktif dalam Tim Koordinasi Pembinaan Penyelenggaraan SPIP sebagaimana yang ditetapkan dalam Keputusan Menteri Keuangan RI Nomor 175/KMK. kendala ini akan bisa diatasi.

599. disalurkan 509.637 surat. disalurkan 336. disalurkan 207. ditanggapi 109. • Tahun 2010 surat 1623. dan koordinasi pengawasan fungsional menuju tersusunnya Undang-undang Pengendalian Penyelenggaraan Administrasi Pemerintahan (PPAP). Oleh sebab itu. 92 Laporan Akuntabilitas Kinerja Kementerian PAN dan RB Tahun 2011 . dan belum ditanggapi 114 surat. • Tahun 2011 surat 1030. • Melakukan reformasi terhadap konsep dan implementasi Sistem Pengendalian Internal Pemerintah (SPIP) yaitu dengan diterbitkan Surat Edaran (SE) Menteri Kementerian PAN dan RB Nomor 12 Tahun 2010 tentang Penerapan Sistem Pengendalian Intern di Lingkungan Instansi Pemerintah. Dari jumlah tersebut. Dilihat dari tren perkembangan penanganan pengaduan masyarakat yang dilakukan dalam tiga tahun terakhir adalah sebagai berikut: • Tahun 2008 surat 1183. ditanggapi 84. mekanisme. telah ditindaklanjuti pada periode yang sama 5. prosedur. • Tahun 2009 surat 1221. dan belum ditanggapi 400 surat.• Menata kembali dan menyempurnakan kebijakan. Jumlah surat yang disalurkan selama tahun 2011 sebanyak 6909 surat. ditanggapi 81. disalurkan 310. sistem kelembagaan. Persentase laporan Dumas yang disalurkan dan telah ditindaklanjuti oleh instansi pemerintah Surat pengaduan masyarakat yang telah disalurkan oleh Kementerian PAN dan RB baik yang berkadar pengawasan maupun yang tidak berkadar pengawasan kepada instansi terlapor atau APIP dalam tahun 2011 sebanyak 310. ditanggapi 55. Dengan demikian capaian kinerja adalah 81% dari target yang ditentukan 65%. Kondisi di atas menunjukkan bahwa masih diperlukan berbagai langkah oleh pemerintah untuk memperbaiki penerapan SPIP. dan belum ditanggapi 252 surat. sedangkan surat penyaluran tahun-tahun sebelumnya sebanyak 6. Kementerian PAN selaku perumus kebijakan telah membuat Surat Edaran Nomor 12 Tahun 2010 tentang Penerapan Sistem Pengendalian Intern di Lingkungan Instansi Pemerintah. dan belum ditanggapi 229 surat.

• Terbatasnya SDM yang menangani pengaduan masyarakat baik kwalitas maupun kwantitas. sehingga kesulitan untuk menindaklajuti pengaduan tersebut karena terlapornya sudah meninggal. • Lemahnya koordinasi antar pejabat yang menangani pengaduan masyarakat dengan Unit Teknis dari masing-masing Instansi. karena pola penanganan pengaduan masyarakat di setiap instansi khususnya instansi pusat tersebar pada beberapa unit kerja sesuai dengan substansi pengaduannya. • Perubahan organisasi. • Ada keengganan dari APIP untuk melakukan pemeriksaan terhadap kasus pengaduan masyarakat dikarenakan pemeriksaan terhadap kasus pengaduan berbeda dengan pemeriksaan regular. • Khusus Kementerian BUMN. hal ini akan mempengaruhi kewenangan dari masing-masing unit organisasi. sehingga hal ini mempengaruhi terhadap ketepatan surat pengaduan masyarakat yang diterima maupun hasil tindaklanjut yang harus disampaikan kepada instansi terkait. sedangkan unit kerja yang khusus untuk mengkoordinasikan penanganan pengaduan masyarakat pada unit kerja tersebut belum ada. Koordinasi dan Evaluasi Pengawasan Masyarakat dan Pemberantasan Korupsi Tahun 2011. Pemeriksaan terhadap kasus pengaduan harus dilakukan secara tuntas dan berisiko tinggi. sedangkan hasil penanganan atas pengaduan masyarakat oleh Unit Teknis/SKPD tidak dilaporkan kepada APIP sehingga APIP tidak mengetahui perkembangan penanganannya. • Letak geografis. pensiun. • Pola penanganan pengaduan masyarakat belum efektif. khususnya untuk provinsi yang wilayahnya merupakan kepulauan yang sarana komunikasi dan transportasinya terbatas.Dari Hasil pelaksananan Kegiatan Pengembangan Kebijakan. • Hilangnya berkas pengaduan masyarakat karena pengarsipan yang kurang tertib. APIP tidak bisa melakukan pemeriksaan terhadap penyimpangan yang terjadi pada BUMN. terdapat beberapa permasalahan dalam pelaksanan kegiatan penanganan pengaduan masyarakat sebagai berikut: • Pengaduan masyarakat tidak semuanya ditangani oleh APIP tetapi ditangani oleh Unit Teknis atau SKPD. 93 Laporan Akuntabilitas Kinerja Kementerian PAN dan RB Tahun 2011 . dan telah mutasi. • Kasus pengaduan sudah lama.

Desember 2011 sebanyak 1. • Terhadap pengaduan masyarakat yang dianggap bukan menjadi kewenangannya. • Bagi instansi yang melimpahkan kasus pengaduan masyarakat ke instansi lain.Dari permasalahan-permasalahan yang telah diperoleh dalam melakukan koordinasi maupun monitoring ke beberapa instansi pusat maupun daerah tersebut Kementerian PAN dan RB memberikan beberapa saran sebagai pemecahan masalah sebagai berikut: • APIP masing-masing instansi agar meningkatkan koordinasi yang baik dan berkesinambungan dengan Unit Teknis/SKPD sehingga pengaduan masyarakat dapat segera diselesaikan.d. sehingga kasus pengaduan dapat segera diselesaikan. Adapun jumlah surat masuk selama periode 1 Januari 2011 s.masing BUMN yang mempunyai tagihan pengaduan masyarakat. Kementerian PAN dan RB merencanakan akan mengundang Kepala SPI pada masing . agar tetap memonitor/memantau perkembangan penyelesaiannya. 94 Laporan Akuntabilitas Kinerja Kementerian PAN dan RB Tahun 2011 . Hasil penatausahaan pengaduan masyarakat selama tahun 2011. maka instansi tersebut agar segera menyalurkan kembali kepada instansi yang mempunyai kewenangan dengan tembusan kepada Kementerian Negara dan Reformasi Birokrasi. • Terhadap kasus di Kementerian BUMN. berupa sumbang saran. • Setiap instansi agar mencari pola penanganan yang efektif. Surat Masuk Surat masuk yang perlu dilakukan penatausahaan dikelompokkan menjadi dua jenis yaitu surat pengaduan masyarakat dan surat tanggapan. Setelah dilakukan análisis dan telaahan. dari surat masuk tersebut dapat dibagi menjadi dua jenis surat yaitu: Surat berkadar pengawasan sebanyak 984 surat dan surat tidak berkadar pengawasan 46 surat. adalah sebagai berikut : 1. a) Surat Pengaduan Masyarakat Surat pengaduan adalah surat yang disampaikan oleh pelapor (pengadu) kepada Kementerian PAN dan RB. gagasan dan keluhan yang bersifat membangun.030 surat. • Penataan arsip yang baik. untuk menghindari hilangya berkas dan untuk mempermudah pencarian arsip surat.

Jumlah surat yang disalurkan periode sebelumya sebanyak 6. Untuk memenuhi hak masyarakat tersebut maka Kementerian PAN dan RB maka hasil tindak lanjut pengaduan masyarakat (tanggapan surat) yang telah diterima oleh Kementerian PAN dan RB. setelah ditelaah dan dianalisis dapat disampaikan kepada pelapor. sedangkan target yang ditetapkan pada awal tahun adalah 65%. yaitu surat penyaluran dan surat kepada pelapor.b) Surat Tanggapan Surat tanggapan adalah hasil tindak lanjut pengaduan masyarakat. Dari jumlah surat tanggapan yang masuk tersebut sebanyak 81 surat menanggapi surat penyaluran tahun 2011. Surat tanggapan yang telah dilakukan penelaahan dan di entry kedalam sistem aplikasi TP 5000 dan di entri arsip elektronis. Dalam tahun 2011 Kementerian PAN dan RB telah menyampaikan hasil tindak lanjut pengaduan masyarakat kepada pelapor sebanyak 66 surat.599 + 310 = 6909. 95 Laporan Akuntabilitas Kinerja Kementerian PAN dan RB Tahun 2011 . Surat yang telah disalurkan dalam tahun 2011. Adapun jumlah surat tanggapan yang telah diterima oleh Kementerian PAN dan RB dalam tahun 2011 sebanyak 1. sebanyak 310 surat dengan perincian sebagai bahan penelitian 298 surat dan sebagai bahan Informasi 12 surat. oleh Aparat Pengawasan Internal Pemerintah (APIP).637 surat (81%). yang telah diterima oleh Kementerian PAN dan RB.599 surat. Dengan demikian jumlah surat dumas yag telah disalurkan sampai dengan 31 Desember 2011 sebanyak 6. b) Surat kepada Pelapor Hak masyarakat sebagai sosial kontrol terhadap penyelenggaraan pemerintah oleh aparatur adalah informasi mengenai perkembangan atas pengaduan masyarakat yang telah disampaikan. sedangkan jumlah surat dumas yang telah ditindaklanjuti (tanggapan) yang masuk pada periode yang sama sebanyak 5.076 surat. a) Surat Penyaluran Surat penyaluran adalah surat pengaduan masyarakat yang telah disalurkan oleh Kementerian PAN dan RB baik yang berkadar pengawasan maupun yang tidak berkadar pengawasan kepada instansi terlapor atau APIP. 2. Surat Keluar Surat keluar yang perlu dilakukan penatusahaan dikelompokan menjadi dua.

surat yang dimonitor sebanyak 487 surat dan surat yang tidak diproses sebanyak 187 surat. sumbang saran. (2) Surat pengaduan masyarakat Dimonitor. Dari jumlah surat masuk sebanyak 1030 surat. Hal ini untuk menghindari duplikasi pengaduan yang sama pada instansi yang berwenang menangani. 1. • • 96 Laporan Akuntabilitas Kinerja Kementerian PAN dan RB Tahun 2011 . Kementerian Negara PAN dan Reformasi Birokrasi hanya tembusan. surat yang berkadar pengawasan sejumlah 984 surat dan surat yang tidak berkadar pengawasan sejumlah 46 surat. karena berdasarkan analisis: • • • • Sumbang saran atau keinginan pelapor yang secara normatif tidak sesuai dengan ketentuan Peraturan perundang-undangan yang berlaku dan pemerintah tidak mungkin memenuhinya. Surat pengaduan masyarakat dengan status Tidak Diproses. Surat pengaduan telah ditindaklanjuti oleh instansi lain yang berwenang menangani. Surat pengaduan berupa pencabutan atas pengaduan yang telah disampaikan. misalnya sanggahan atas pelaksanaan lelang dan tujuan surat sudah tepat kepada instansi pelaksana proses pelelangan tersebut.(1) Surat pengaduan masyarakat yang diterima oleh Kementerian PAN dan RB setelah dilakukan penelahan dan analisis. Hanya berupa masukan/saran. Dari 984 surat yang berkadar pengawasan. Sanggahan. • Pengaduan dengan masalah yang sama pernah diterima oleh Kementerian Negara PAN dan Reformasi Birokrasi dan telah diproses. karena berdasarkan analisis: • Alamat tujuan surat sudah tepat. himbauan pemberitahuan dan tujuan surat sudah tepat. Kementerian Negara PAN dan Reformasi Birokrasi hanya tembusan. tidak seluruhnya disalurkan kepada instansi terkait. dengan adanya tembusan kepada Kementerian Negara PAN dan Reformasi Birokrasi atas penanganan pengaduan tersebut. namun juga ada yang cukup dimonitor dan tidak diproses.

realisasi 43. Kepulauan Riau.Persentase instansi pemerintah yang melaksanakan dan melaporkan Inpres Percepatan Pemberantasan Korupsi yang dievaluasi sesuai pedoman Pelaksanaan pemantauan (monitoring) terhadap laporan implementasi Inpres Nomor 5 Tahun 2004 dilakukan menggunakan format laporan sebagaimana diatur di dalam Pedoman Umum Kormonev.88%. Sasaran Instansi Pemerintah yang melaksanakan dan melaporkan Pelaksanaan Inpres nomor 5 tahun 2004 pada tahun 2011 adalah 65%. • Tahun 2009 : target 55%. realisasi 51. dapat dilihat bahwa dari tahun ke tahun terjadi peningkatan persentase Pemerintah yang melaksanakan dan melaporkan pelaksanaan Inpres nomor 5 tahun 2004 yaitu : • Tahun 2008 : target 50%. Sedangkan untuk instansi Pemerintah Pusat Kementerian Hukum dan HAM. Bandung dan Kediri. Banten. jumlah instansi yang diwajibkan menyampaikan laporan Inpres Nomor 5 Tahun 2004 tercatat berjumlah 613 instansi.71% dari target tahun yang bersangkutan. sedangkan target yang ditetapkan sebanyak 65%. realisasi 57. Kementerian Keuangan. Cianjur. Dari data yang tercantum dalam tabel dapat dilihat bahan Laporan Kinerja Pelaksanaan dan Pelaporan Inpres nomor 5 tahun 2004 tentang Percepatan Pemberantasan Korupsi telah mendekati sasaran yang ditetapkan. Kegiatan ini dilaksanakan dengan melalui kegiatan Sosialisasi. • Tahun 2011 : target 65%. Maluku Utara. Dari tren Pelaksanaan dan Pelaporan Instansi Pemerintah.33% atau 86. realisasi 52. Sulawesi Utara. 97 Laporan Akuntabilitas Kinerja Kementerian PAN dan RB Tahun 2011 . atau 51. Bogor.38% atau 95. Sampai dengan akhir tahun 2011. Kabupaten Malang.8% atau 79% dari target tahun yang bersangkutan. telah melaporkan pelaksanaan Inpres Nomor 5 Tahun 2004 tersebut.26% atau 95% dari target tahun yang bersangkutan.8% atau 79% dari sasaran yang ditetapkan. Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif dan Sekretariat Kabinet. Sumenep.67% dari target tahun yang bersangkutan. Sampai dengan 31 Desember 2011 sebanyak 318 instansi. sedangkan realisasinya adalah 51. Bali. • Tahun 2010 : target 60%. dan Bimtek ke 13 Pemerintah Daerah Provinsi Sumatera Utara.

Lembaga dan Sekretariat Lembaga Tinggi Negara dan Instansi Pemerintah Daerah yang terdiri atas Pemerintah Provinsi. Hambatan yang dialami secara umum adalah : • Masih belum seluruh Pimpinan Instansi Pemerintah Daerah menunjukkan komitmen yang tinggi dalam Pemberantasan Korupsi. yang mengakibatkan sulitnya pelaksanaan monitoring dan evaluasi pelaksanaan Inpres nomor 5 tahun 2004. Langkah yang telah diambil terutama dalam rangka meningkatkan jumlah Instansi Pemerintah yang melaksanakan dan melaporkan pelaksanaan Inpres nomor 5 tahun 2004 adalah melaksanakan gelar monev pada tujuh lokasi. antara lain Indeks Persepsi Korupsi (IPK) Indonesia yang diterbitkan Transparansi Internasional. bahwa Inpres Nomor 5 Tahun 2004 tidak berlaku lagi dengan berakhirnya Kabinet Indonesia Bersatu (KIB) I. • Adanya pertukaran formasi yang cukup cepat terutama ditingkat Kabupaten dan Kota. Instansi Pemerintah yang dinyatakan telah melaksanakan dan melaporkan Pelaksanaan Inpres nomor 5 tahun 2004 adalah Instansi Pemerintah yang sekurang-kurangnya menyampaikan satu kali laporan semester dalam satu tahun kepada Presiden melalui Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi. • Adanya anggapan pada sebagian Instansi Pemerintah di pusat.Yang dimaksud dengan Instansi Pemerintah Pelaksana Inpres nomor 5 tahun 2004 adalah Instansi Pemerintah Pusat yang terdiri atas Kementerian. Upaya mewujudkan penyelenggaraan pemerintahan yang bersih dan bebas KKN telah menunjukkan hasil yang nyata. Dari catatan yang ada. Kegiatan gelar monev apada hakekatnya adalah berupa sosialisasi dan bimbingan teknis pelaksanaan dan pelaporan Inpres Nomor 5 tahun 2004 terhadap Instansi Pemerintah yang belum sama sekali atau baru satu kali melaporkan pelaksanaan Inpres Nomor 5 Tahun 2004. • Kurangnya tenaga monitoring dan evaluasi Inpres nomor 5 tahun 2004 sehingga monitoring dan evaluasi lebih bersifat “desk monitoring and evaluation”. terdapat 263 Instansi Pemerintah yang belum atau memenuhi dalam pelaksanaan Inpres nomor 5 tahun 2004. Pelaksanaan gelar monev diharapkan dapat meningkatkan kepedulian Instansi Pemerintah dalam pelaksanaan Inpres nomor 5 tahun 2004. Hal ini dapat dilihat dari berbagai indikator. telah menunjukkan peningkatan dari 98 Laporan Akuntabilitas Kinerja Kementerian PAN dan RB Tahun 2011 . sedangkan “field monitoring and evaluation” hanya dapat dilakukan secara sampling (tidak menyeluruh). Kabupaten dan Kota.

penanganan barang di pelabuhan di berbagai instansi pelayanan publik. Upaya peningkatan peringkat IPK Indonesia merupakan tanggung jawab kolektif seluruh komponen bangsa. Secara nasional dapat diyakini bahwa pelaksanaan Inpres Nomor 5 Tahun 2004.5/2004 tentang Percepatan Pemberantasan Korupsi. pengadaan barang dan jasa.0 pada tahun 2011. serta termin pembayaran proyek. perpajakan. lembaga legislatif. lembaga yudikatif dan masyarakat diharapkan dapat menghasilkan peningkatan Indeks Persepsi Korupsi untuk tahun mendatang. pelaksanaan pengadaan barang dan jasa secara e-procurement dan peningkatan pelayanan publik selalu berperan dalam peningkatan IPK. Kinerja Instansi-instansi teknis yang berurusan dengan pelayanan publik berpengaruh besar terhadap peningkatan peringkat IPK Indonesia. dari yang semula 1. termasuk pelaksanaan upaya penegakan hukum dan penyelesaian kasus hukum. pemantauan. Kenaikan skor IPK Indonesia menunjukkan bahwa telah dilakukan upaya perbaikan dalam pemberian pelayanan publik di bidang perijinan. sangat berpengaruh terhadap keberhasilan upaya ini. perpajakan. Peningkatan integritas birokrasi ditunjukkan pula dari semakin meningkatnya akuntabilitas pengelolaan keuangan negara. Upaya penghapusan pungutan liar dalam pemberian pelayanan publik di bidang perijinan. penindakan.7 pada tahun 1999 menjadi 3. Adapun hasil evaluasi sementara terhadap diktum-diktum Inpres Nomor 5 Tahun 2004 adalah sebagai berikut : 99 Laporan Akuntabilitas Kinerja Kementerian PAN dan RB Tahun 2011 . dan pemantauan serta evaluasinya sesuai dengan Instruksi Presiden (Inpres) No.tahun ke tahun. penanganan barang di pelabuhan. Upaya pemberantasan korupsi yang dilakukan secara bersama-sama dan komitmen yang tinggi dari semua pihak dan tidak hanya upaya yang dilakukan oleh para penegak hukum namun oleh seluruh pihak baik di instansi pemerintah dan swasta serta didukung oleh pengawasan secara eksternal dan internal dari instansi atau lembaga masing-masing termasuk sektor swasta. proses pembayaran. dan evaluasi (Kormonev) atas pelaksanaan Rencana Aksi Nasional Pemberantasan Korupsi (RAN-PK) yang terdiri dari strategi pencegahan. yang dapat dilihat dari semakin membaiknya opini BPK atas Laporan Keuangan Kementerian/Lembaga (LKKL) dan Laporan Keuangan Pemerintah Daerah (LKPD). Peningkatan integritas birokrasi tersebut didukung oleh adanya upaya pencegahan korupsi yang dilakukan melalui kegiatan koordinasi. pengadaan barang dan jasa.

• Mayoritas (> 50%) telah melaporkan indikator kinerja yang menjadi tolok ukur keberhasilan. target dan capaian • Pelaporan cenderung tidak jelas dalam memberikan uraian pelaksanaan atas kegiatan program diktum ini • Indikator “menurunnya % kegiatan PBJ tidak sesuai Keppres 80 / 2003”. tidak semata-mata kepada lingkungan eksekutif tetapi juga kepada beberapa kalangan di lingkungan legislatif dan masyarakat. • Mayoritas (> 90%) telah melaporkan jumlah pejabat yang telah melakukan penetapan kinerja • Hasil evaluasi penetapan kinerja yg menggambarkan pencapaian hasil atau manfaat belum banyak dilaporkan. tetapi belum membedakan Kewajiban Form A dan Form B • NHK belum banyak dilaporkan. baik atas prakarsa Kementerian PAN dan RB maupun atas prakarsa dari Instansi 100 Laporan Akuntabilitas Kinerja Kementerian PAN dan RB Tahun 2011 .DIKTUM SIMPULAN • Hampir seluruh instansi melaporkan diktum I dan II ini • Mayoritas telah menetapkan SK wajib lapor LHKPN • Realisasi LHKPN 81% dilaporkan. I & II : Pelaporan HKPN III : Penetapan kinerja IV : Pelayanan publik V : Program/ wilayah bebas korupsi VI : Pengadaan barang dan jasa VII : Penerapan kesederhanaan VIII : Dukungan kepada APH dalam penindakan korupsi IX : Kajian sistem timbulkan korupsi X : Peningkatan pengawasan Sosialisasi pelaksanaan dan evaluasi pelaksanaan Inpres Nomor 5 Tahun 2004 terus dilakukan dan jangkauannya semakin diperluas. selebihnya belum melaporkan. • Mayoritas sudah melakukan kegiatan program diktum ini dan melaporkan hasil kegiatannya dengan baik sekalipun terkadang belum ada kasus yang ditemukan seiring dengan berjalannya kegiatan program. seperti Standar Pelayanan Minimum • beberapa laporan menjelaskan indikator tersebut secara rinci • 18% Indikator kepuasan masyarakat dilaporkan meningkat. • Indikator kinerja tentang hasil evaluasi diktum ini belum banyak dilaporkan. sehingga evaluasi untuk mengetahui efektivitas diktum ini sulit dilakukan. • Pelaporan diktum ini masih sangat jarang dilaporkan • Instansi yang melaporkan juga belum jelas indikator yang digunakan • Umumnya laporan hanya menyebutkan mengenai jumlah program pengawasan dalam rangka meniadakan perilaku koruptif • hasil evaluasi atas pelaksanaan program dan indikator penurunan perilaku koruptif tidak ada dalam laporan. • Hanya beberapa instansi dan baru memulai program ini • Mayoritas belum melaporkan uraian indikator. serta “menurunnya kebocoran dan pemborosan” belum banyak dilaporkan.

- Realisasi Anggaran % Rp.Belanja pegawai Rp.514. Akuntabilitas Keuangan Realisasi anggaran dan kinerja Kementerian PAN dan RB Tahun 2011 adalah sebagai berikut : 1.772. dengan rincian : . 50.00 Catatan : Realisasi diatas tidak termasuk hibah sebesar Rp. baik melalui radio maupun televisi.. 7.485.(52%) (tidak termasuk hibah.23%) . diperluas dengan bentuk talkshow..704.-) .000. 7. 6..- 75.400. 152.000.Pemerintah di luar Kementerian PAN dan RB dan dari kalangan Lembaga Swadaya Masyarakat.22 3.Belanja pegawai Rp.681. Rp.074.Belanja barang/jasa Rp.563.827.772.7.Belanja barang/jasa Rp.491.000.416.312.116.karena tidak ada realisasinya.000.000.020. 78.720.294. 8.159.9.391.902..(92. 26. 93..000.500. dengan rincian: . Realisasi anggaran pada per 31 Desember 2011 adalah sebesar Rp.025. karena tidak ada realisasinya) .427.316.902 (Sembilan puluh tiga milyar empat ratus enam belas juta tujuh puluh empat ribu sembilan ratus dua rupiah) atau 58.978. 24.586.039.846.Belanja modal Rp.2. 60.92 Total Rp. Pagu Tahun 2011 adalah sebesar Rp.21%). 101 Laporan Akuntabilitas Kinerja Kementerian PAN dan RB Tahun 2011 .000.653.14 2.416.- Rp.- 62.272. maupun konsultasi dan diskusi dari berbagai kalangan.141.Belanja modal Rp. C.187.312.689.- 92.500.124.93.. Metode sosialisasi juga telah diperluas dari sematamata sosialisasi yang dilaksanakan di sebuah ruangan.349.200.000.45% dari pagu anggaran.074.000.- Rp.(90.(termasuk hibah Rp.747.- 47. 36. 1.- Rp.287. Rp.056.500. 67.000. Program Program Dukungan Manajemen dan Pelaksanaan Tugas Teknis Lainnya Kementerian PAN dan RB Program Peningkatan Sarana dan Prasarana Aparatur Kementerian PAN dan RB Program Pendayagunaan Aparatur Negara Anggaran Rp.(Seratus lima puluh sembilan milyar delapan ratus dua puluh tujuh juta dua ratus tujuh puluh dua ribu rupiah).500. Realisasi Anggaran Per Program Tahun Anggaran 2011 No.

Penerimaan Negara Bukan Pajak .000.Rp. Uraian Realisasi Pendapatan Negara .Rp. Rp.902. 9. Rp.Rp.141.000. Pinjaman dan Hibah .Belanja Pegawai . 8.353.-. 24. - Adapun penjelasan per pos dari realisasi anggaran adalah sebagai berikut : 1.491.000.004.046.000. Kementerian PAN dan RB tidak memiliki pendapatan hibah.272.391.Rp.747.Rp. Rp. 1.45 92.00 90.Rp.046.Realisasi Anggaran per 31 Desember 2011 No. Penerimaan Negara Bukan Pajak Kementerian PAN dan RB tidak memiliki Bendahara Penerimaan. 159. Realisasi Anggaran 908. Rp.Belanja Modal B.000..416.Penerimaan Hibah Realisasi Belanja Negara A.yang merupakan Pendapatan Negara Bukan Pajak yang berasal dari pendapatan denda keterlambatan penyelesaian pekerjaan pemerintah.153.025. 26.485.500. 117. penerimaan kembali belanja pegawai pusat tahun anggaran yang lalu dan pendapatan dari penerimaan kembali belanja lainya rupiah murni tahun anggaran yang lalu. 908.Rp.Penerimaan Pajak .7.349.846.00 2.563.056. 908. 93.23 52.21 0. 102 Laporan Akuntabilitas Kinerja Kementerian PAN dan RB Tahun 2011 . Realisasi PNBP tahun per 31 Desember 2011 adalah sebesar Rp.020.046.Rp.- % 58. karena itu tidak ada alokasi anggaran penerimaan negara bukan pajak..978. 60.312. Rupiah Murni .427. Pencatatan PNBP yang ada di Kementerian PAN dan RB bukan berasal dari hasil penerimaan kas/bendahara penerimaan tetapi merupakan PNBP yang berasal dari pendapatan denda keterlambatan penyelesaian pekerjaan pemerintah.353. Anggaran Rp.Belanja Barang .074. Rp. Rp.827. penerimaan kembali belanja lainnya rupiah murni tahun anggaran yang lalu.Belanja Barang Rp. Realisasi Pendapatan Negara Pendapatan Negara dan Hibah Realisasi Pendapatan Negara Kementerian PAN dan RB per 31 Desember 2011 adalah sebesar Rp.353.

-(termasuk dana hibah sebesar Rp.747. 8.000.141. 60. sebagian besar belum mendapat persetujuan dari Ditjen Anggaran. 93..349. Belanja Pegawai Pagu Anggaran Belanja Pegawai Kementerian PAN dan RB tahun anggaran 2011 adalah sebesar Rp. Realisasi Belanja Negara Realisasi belanja negara Kementerian PAN dan RB per 31 Desember 2011 setelah dikurangi dengan pengembalian belanja adalah sebesar Rp.00%.atau sebesar 90. 124..23% dari pagu anggaran Belanja Pegawai Kementerian PAN dan RB.491. Realisasi belanja Kementerian PAN dan RB mengalami penurunan sebesar 6% dibandingkan dengan tahun sebelumnya.dengan nilai realisasi belanja modal sebesar Rp.427.000.-) dengan nilai realisasi belanja barang sebesar Rp. Belanja Barang Pagu Anggaran Belanja Barang Kementerian PAN dan RB tahun anggaran 2011 adalah sebesar Rp.391.485.312. Belanja Modal Pagu Anggaran Belanja Modal Kementerian PAN dan RB tahun anggaran 2011 adalah sebesar Rp.(tidak termasuk realisasi dana hibah) atau sebesar 52.653.316. Hal ini dikarenakan pagu yang dianggarkan tahun anggaran 2011 lebih besar dari pagu tahun anggaran 2010.416. • Dengan semakin ditertibkannya persyaratan perlaksanaan pekerjaan terutama yang akan dilaksanakan secara swakelola. 7.902..-. 9.978.000.. Beberapa faktor penyebab rendahnya penyerapan Kementerian PAN dan RB adalah sebagai berikut : anggaran di • Beberapa usulan revisi DIPA dari berbagai unit kerjahingga akhir semester I.dengan nilai realisasi belanja pegawai sebesar Rp. 26.atau sebesar 92..056.025. 103 Laporan Akuntabilitas Kinerja Kementerian PAN dan RB Tahun 2011 .500.21%. maka sampai dengan akhir semester I jumlah usulan untuk pekerjaan yang akan diswakelola masih sangat sedikit.000.2. tetapi penyerapannya lebih rendah dibandingkan dengan tahun anggaran yang lalu jika dilihat dari perbandingan pagu anggaran dengan realisasinya.074.020.846. sehingga menghambat pelaksanaan anggaran.563. 24.

104 Laporan Akuntabilitas Kinerja Kementerian PAN dan RB Tahun 2011 .yang dalam hal ini dikelola oleh (GIZ).I.048 yang selama ini dialokasi pada DIPA BA..08 (BUN). 7.312. Namun sampai dengan akhir tahun anggaran 2011 dana tersebut tetap dalam posisi dibintangi oleh Kementerian Keuangan R. sehingga tidak ada realisasinya. 2) Terhitung mulai triwulan IV. alokasi Tunjangan Kinerja Pegawai Negeri (Remunerasi) Kementerian PAN dan RB telah masuk kedalam DIPA BA.. 3. Catatan Penting Lainnya 1) Pada Tahun Anggaran 2011 dalam DIPA Kementerian PAN dan RB tercatat ada pagu dana Hibah dari Pemerintah Jerman sebesar Rp.000. • Ada akun belanja yang dapat dilaksanakan kegiatannya dengan mekanisme pembayaran LS akan tetapi sampai dengan akhir triwulan ketiga kegiatannya baru sebagian dilaksanakan.500.• Pekerjaan sarana dan prasarana fisik sampai dengan semester I baru pada tahap penentuan pemenang tender.999. • Kegiatan yang melibatkan pihak ketiga (rekanan) yang mendapat alokasi pagu kegiatan yang cukup besar tidak di dorong sebagai prioritas utama. sehingga mendekati ahir tahun anggaran 2011 terjadi penumpukan SPM (Surat Perintah Membayar).

3. Kontrak Kinerja Menteri PAN dan RB dengan Presiden. Road Map Reformasi Birokrasi 20102014. 2. Rencana Kerja Pemerintah (RKP). Berbagai capaian strategis tersebut tercermin dalam capaian Indikator Kinerja Utama (IKU). Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (LAKIP) Kementerian PAN dan RB Tahun 2011 ini menyajikan berbagai keberhasilan maupun kegagalan capaian strategis yang ditunjukkan oleh Kementerian PAN dan RB pada Tahun anggaran 2011. maupun Rencana Strategis (Renstra) Kementerian PAN dan RB Tahun 2010-2014. Kementerian PAN dan RB berlandaskan pada tujuan. dunia usaha dan civil society sebagai bagian integral dari pembaharuan sistem administrasi negara. tanggungjawab dan amanah untuk melakukan perumusan kebijakan dan koordinasi pelaksanaan kebijakan bidang pendayagunaan aparatur negara dan reformasi birokrasi sebagaimana ditegaskan dalam Pasal 612 Peraturan Presiden Nomor 24 Tahun 2010. berbagai pencapaian target indikator kinerja Kementerian PAN dan RB memberikan gambaran bahwa keberhasilan dalam pelaksanaan pendayagunaan aparatur negara. masyarakat. maupun analisis kinerja berdasarkan tujuan dan sasaran. 105 Laporan Akuntabilitas Kinerja Kementerian PAN dan RB Tahun 2011 . keterlibatan dan dukungan aktif segenap komponen aparatur negara. Kementerian PAN dan RB merupakan instansi Pemerintah yang diberikan tugas. Dalam melaksanakan tugasnya. Hasil capaian kinerja sasaran yang ditetapkan secara umum dapat memenuhi target dan sesuai dengan rencana yang telah ditetapkan. sasaran dan program kerja yang ditetapkan baik dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) Tahun 2010-2014. pelaksanaan Reformasi Birokrasi serta pemberantasan korupsi secara keseluruhan sangat ditentukan oleh komitmen. Simpulan 1.Bab IV Penutup A. Meskipun demikian.

6. mengingat berbagai pencapaian target indikator yang telah ditetapkan hanya dapat dilakukan dengan melibatkan segenap instansi 106 Laporan Akuntabilitas Kinerja Kementerian PAN dan RB Tahun 2011 . Diperlukan terobosan baru agar pelaksanaan program kerja dan anggaran menjadi lebih efektif berupa perubahan mekanisme penyusunan program kerja/anggaran dari pola “top down” menjadi “bottom up” sehingga mencerminkan kebutuhan organisasi. maka optimalisasi mekanisme manajemen internal organisasi di lingkungan Kementerian PAN dan RB akan ditingkatkan untuk secara pro aktif memonitor dan mengevaluasi pelaksanaan berbagai kegiatan yang dilaksanakan. Diperlukan komitmen dan dukungan semua pihak untuk memperteguh pelaksanaan reformasi birokrasi sehingga tidak hanya menjadi wacana dan pergulatan pemikiran semata-mata. 5. berbasis kinerja dan bertujuan melayani serta memberdayakan masyarakat. namun benar-benar dapat diaplikasikan dalam penyelenggaraan sistem pemerintahan yang berorientasi pada hasil. 4. langkah percepatan pelaksanaan kegiatan pada awal tahun anggaran dan perkembangan masalah-masalah aktual di bidang pendayagunaan aparatur negara dan reformasi birokrasi. Saran 1. Dalam rangka mempertegas fungsi koordinasi pelaksanaan tugas di bidang pendayagunaan aparatur negara dan reformasi birokrasi yang diemban oleh Kementerian PAN dan RB. 3. Upaya koordinasi dan peningkatan kerjasama dengan berbagai instansi terkait baik di pusat maupun daerah akan dilakukan dengan lebih intensif. 2. Penyusunan rencana pelaksanaan program dan kegiatan guna pencapaian target indikator kinerja yang telah ditetapkan akan dilakukan secara lebih cermat dengan mempertimbangkan tujuan organisasi secara tepat dan kemampuan sumber daya yang tersedia serta kemampuan yang ada termasuk berbagai faktor yang mempengaruhi perubahan alokasi anggaran tahun berjalan. perlu kiranya memperkuat peran kelembagaan Kementerian PAN dan RB sehingga dapat lebih efektif mengendalikan pelaksanaan reformasi birokrasi di seluruh instansi pemerintah sebagai bentuk memenuhi tuntutan berbagai kalangan. Agar pelaksanaan program dan kegiatan dapat dilaksanakan secara optimal sesuai dengan target indikator kinerja yang telah ditetapkan.B.

dunia usaha dan civil society. Agar implementasi Sistem AKIP benar-benar efektif. dengan menerapkan fungsi reward and punishment yang tegas dan ketat.pemerintah pusat dan daerah. bermanfaat dan akuntabel. 8. kinerja organisasi dari setiap lembaga pemerintah yang dibiayai oleh APBN/APBD benar-benar terukur. sehingga realisasi anggaran yang digunakan untuk melakukan kegiatan berbanding lurus dengan out put maupun out comes kegiatan yang bersangkutan. Dengan sinergitas tersebut. masyarakat. Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi 107 Laporan Akuntabilitas Kinerja Kementerian PAN dan RB Tahun 2011 . 7. Menjadikan SAKIP sebagai ukuran kinerja organisasi pemerintah secara nyata dan akuntabel. perlu segera direalisasikan sinergitas antara laporan kinerja dan laporan keuangan sebagai satu kesatuan.

Struktur Organisasi Kementerian PAN dan RB Pengukuran Kinerja Tahun 2011 108 Laporan Akuntabilitas Kinerja Kementerian PAN dan RB Tahun 2011 . 2.Lampiran 1.

PENGUKURAN KINERJA KEMENTERIAN PENDAYAGUNAAN APARATUR NEGARA DAN REFORMASI BIROKRASI 2011 TAHUN ANGGARAN 2011
Anggaran Pagu 14.975.000.000,Realisasi 6.781.121.000,% 45,28

Sasaran Strategis Terwujudnya kualitas pelayanan publik prima, cepat, pasti, murah, transparan, adil, patut dan memuaskan

Indikator Kinerja Jumlah peraturan/ kebijakan di bidang pelayanan publik (PP, PerPres, Inpres, dan Per Men. PAN dan RB)

Target 1 PP

Realisasi 1 Draft RPP

% 90

Program/ Kegiatan Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi

1 Perpres

1 Draft Perpres 1 Draft Inpres

80

1 Inpres

80

2 Per. Men. PAN dan RB Persentase Provinsi yang diberi sosialisasi Undang-Undang ttg Pelayanan Publik

2 Draft Per.Men. PAN dan RB

90

70%

30 %

42,86

1

Sasaran Strategis

Indikator Kinerja Persentase Instansi Pusat yang diberi sosialisasi UndangUndang ttg Pelayanan Publik Terlaksananya implementasi UndangUndang No. 25 Tahun 2009 ttg Pelayanan Publik pada K/L Terlaksananya implementasi UndangUndang No. 25 Tahun 2009 ttg Pelayanan Publik pada Provinsi Jumlah Kabupaten/ Kota yang mempresentasikan kepuasan pelanggan berdasarkan Indeks Kepuasan Masyarakat (IKM)

Target

Realisasi

%

Program/ Kegiatan

Anggaran Pagu Realisasi %

100 %

100 %

100

11 K/L

0 K/L

0

7 Pemda Provinsi

0 Pemda Provinsi

0

33 Kab/kota

28 Kab/kota

85

2

33 26 Kab/kota 0 Kab/kota 0 5 Kab/kota 5 Kab/Kota 100 15 unit 80 unit 533.Sasaran Strategis Indikator Kinerja Skor IKM unit pelayanan Persentase Pemerintah Daerah yang menerapkan OSS (pelayanan terpadu) Jumlah Kabupaten/Kota yang dilakukan evaluasi dampak Pemberian Penghargaan Citra Bahkti Abdi Negara (CBAN) Jumlah Kab/Kota yang menerapkan pedoman peningkatan kualitas pelayanan publik berbasis partisipasi masyarakat Jumlah unit pelayanan publik yang menerapkan pedoman peningkatan kualitas pelayanan publik berbasis partisipasi masyarakat Target 65 Realisasi 76.33 3 .57 % 117.58 Program/ Kegiatan Anggaran Pagu Realisasi % 75 % 79 % 105.

PAN dan RB 90 Persentase penyelesaian konsolidasi struktural dan peningkatan kapasitas Kementerian PAN dan RB.000. PAN dan RB 2 Draft PerMen.- 42. PAN dan RB) 3 Perpres.743.39 6 Per. 3 Draft Perpres 4 Per.Sasaran Strategis Indikator Kinerja Jumlah Kabupaten/ Kota yang dinilai Berdasarkan usulan instansi/ Pemerintah Provinsi Persentase Pemda yang berkategori baik sesuai penilaian Persentase Pemda yang berkategori terbaik sesuai penilaian Target Realisasi % Program/ Kegiatan Anggaran Pagu Realisasi % 105 Kab/Kota 73 Kab/Kota 69. efektif dan efisien Jumlah peraturan/ kebijakan di bidang Kelembagaan (Perpres. Men.857. Per.Men.- 2.000.52 60 % 0% 0 60 % 0% 0 Terwujudnya organisasi pemerintah yang proporsional.000. Men.742.PAN dan RB 85 6. BKN dan LAN 100 % 80 % 80 4 .

33 5 .41 % 98.24 30 % 23.26 % 77.Sasaran Strategis Indikator Kinerja Persentase Kementerian Negara yang telah tertata organisasi dan tata kerjanya Persentase LPNK yang telah tertata organisasi dan tata kerjanya Persentase LNS yang telah tertata organisasi dan tata kerjanya Persentase Perwakilan RI di Luar Negeri yang telah tertata organisasi dan tata kerjanya Persentase Sekretariat Lembaga Negara yang telah tertata organisasi dan tata kerjanya Persentase instansi pemerintah (PPK-BLU) yang telah tertata kelembagaannya Target Realisasi % Program/ Kegiatan Anggaran Pagu Realisasi % 30 % 29.24 30 % 25 % 83.52 30 % 0% 0 30 % 28. 57 % 95.04 30 % 28.57 % 95.

akuntabel dan sejahtera Jumlah peraturan/ kebijakan di Bidang SDM Aparatur (UU.33 % Kab/ Kota 83. PP.PAN dan RB 1RUU 9 RPP 12 PP 8 Per. Men. Men.000.- 5.265. PAN dan RB) 1 RUU 9 RPP 3 PP 10 Per.879. Perpres. Men.Sasaran Strategis Indikator Kinerja Persentase Pemda yang dievaluasi organisasi dan tatakerjanya Target Realisasi % Program/ Kegiatan Anggaran Pagu Realisasi % 30.- 38.000. PAN dan RB 100 100 400 80 13.33 Terwujudnya SDM Aparatur yang profesional.30 % Prov 30 % 33.16 Persentase insansi pemerintah yang mengirimkan data usulan formasi PNS secara akurat dan benar sesuai aturan Persentase instansi yang menerapkan kebijakan pemantapan pengembangan pegawai Persentase peningkatan 80 % IP Pusat 80 % IP Daerah 95 % IP Pusat 92 % IP Daerah 119 115 5% 5% 80 5% 10 % 200 6 .799.850. berkinerja. Per.

22 88 Persentase instansi pemerintah pusat yang melakukan penataan ketatalaksanaan dengan baik 35 % 59.168. Men. Per.000. 3 Draft Per.520. Men. PAN dan RB 2 RUU 2 RUU 1 RPP 2 Per.411. PAN dan RB) 2 UU 2 RUU 1 PP 5 Per.46 % 169 7 . efektif dan akuntabel Jumlah peraturan/ kebijakan di bidang Tata Laksana (UU. PP.PAN dan RB 80 62.Sasaran Strategis Indikator Kinerja penghasilan PNS Persentase instansi yang menyusun informasi jabatan dalam rangka penyusunan sistem remunerasi berdasarkan merit system Target Realisasi % Program/ Kegiatan Anggaran Pagu Realisasi % 20 % 30 % 150 Terwujudnya penyelenggaraan tata laksana pemerintah yang efisien.5 70 9.779. PAN dan RB.Men. Men.000.- 3.- 41.

sistematis.Sasaran Strategis Terwujudnya pelaksanaan reformasi birokrasi nasional secara terencana.567.000.869.18 7 kebijakan 10 kebijakan 143 12 K/L 20 K/L 167 30 % 47 % 156 80 % 81 % 101 100 % K/L 100 % K/L 30 % Pemda 100% K/L 10% Pemda 100 % Prov.Realisasi 9. dan komprehensif Indikator Kinerja Jumlah kebijakan pelaksanaan Reformasi Birokrasi yang diterbitkan Jumlah K/L yang telah melaksanakan reformasi birokrasi sesuai kebijakan RB Nasional Jumlah K/L yang telah melaksanakan reformasi birokrasi Tingkat kualitas pelaksanaan RB yang terukur sesuai dengan kebijakan RB Nasional Jumlah instansi yang menerima sosialisasi Target Realisasi % Program/ Kegiatan Anggaran Pagu 17. 62 % - 100 333 62 - Jumlah asistensi reformasi birokrasi kepada instansi pusat dan daerah 8 .110.000.% 56.953.

48 9 . Men.000.110.72 % 121.81 22 % (Pusat dan daerah) 87 % (Pusat dan daerah) 20. PAN dan RB Realisasi 1 RUU 3 Per.Realisasi 10. Men. PAN dan RB % 100 100 Program/ Kegiatan Anggaran Pagu 15.36 87.000.10 % 91.020.34 % 100. Per.998.Sasaran Strategis Terwujudnya instansi pemerintah yang akuntabel dan berkinerja tinggi Indikator Kinerja Jumlah peraturan/ kebijakan di bidang Akuntabilitas Kinerja (RUU.935.45 50 % 50. Men.% 63.68 44 % 48. PAN dan RB) Persentase instansi pemerintah yang menerapkan Sistem Akuntabilitas Kinerja sesuai aturan Persentase instansi pemerintah yang akuntabilitas kinerjanya baik Persentase instansi pemerintah yang menyusun Indikator Kinerja Utama (IKU) Persentase LAKIP yang diterima Target 1 RUU 3 Per.42 % 100.

88 % 79.29 % 109. Men.92 1 RUU 2 Per.61 65 % 51.77 % 76.Sasaran Strategis Indikator Kinerja Persentase PK yang diterima Target 55 % (Pusat dan daerah) 32 % Realisasi % Program/ Kegiatan Anggaran Pagu Realisasi % 60. Per.62 Persentase instansi peserta model Island of Integrity yang berhasil Terwujudnya penyelenggaraan pengawasan intern pemerintah yang terintegrasi. PAN dan RB) Persentase instansi pemerintah yang melaksanakan SPI sesuai dengan ketentuan Persentase laporan dumas yang disalurkan dan telah ditindaklanjuti oleh instansi pemerintah Persentase instansi pemerintah yang melaksanakan dan 30.30 65 % 81 % 124.81 10 . Men. PAN-RB 95 98 50 % 62. PAN dan RB 1 draft RUU 2 draft Permen.55 % 125. efisien dan efektif Jumlah peraturan/ kebijakan di bidang Pengawasan (RUU.

Sasaran Strategis Indikator Kinerja melaporkan Inpres Percepatan Pemberantasan Korupsi yang dievaluasi sesuai pedoman Target Realisasi % Program/ Kegiatan Anggaran Pagu Realisasi % Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara Dan Reformasi Birokrasi 11 .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful