Anda di halaman 1dari 22

BAB 1 PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Kasus bibir sumbing dan celah langit-langit merupakan cacat bawaan yang masih menjadi masalah di tengah masyarakat. Antara Februari - Mei 1992, IKABI cabang Padang mengadakan pengabdian masyarakat di dua Kabupaten 50 Kota dan Solok berbentuk operasi bibir sumbing secara gratis. Dilakukan penelitian pada 126 penderita yang dilakukan operasi. Hardjowasito dengan kawan-kawan di propinsi Nusa Tenggara Timur antara April 1986 sampai Nopember 1987 melakukan operasi pada 1004 kasus bibir sumbing atau celah langit-langit pada bayi, anak maupun dewasa di antara 3 juta penduduk. Pada dasarnya kelainan bawaan dapat terjadi pada mulut, yang biasa disebut labiopalatoskisis. Kelainan ini diduga terjadi akibat infeksi virus yang diderita ibu pada kehamilan trimester 1. jika hanya terjadi sumbing pada bibir, bayi tidak akan mengalami banyak gangguan karena masih dapat diberi minum dengan dot biasa. Bayi dapat mengisap dot dengan baik asal dotnya diletakan dibagian bibir yang tidak sumbing. Kelainan bibir ini dapat segera diperbaiki dengan pembedahan. Bila sumbing mencakup pula palatum mole atau palatum durum, bayi akan mengalami kesukaran minum, walaupun bayi dapat menghisap naun bahaya terdesak mengancam. Bayi dengan kelainan bawaan ini akan mengalami gangguan pertumbuhan karena sering menderita infeksi saluran pernafasan akibat aspirasi.keadaan umur yang kurang baik juga akan menunda tindakan untuk meperbaiki kelainan tersebut.

B. TUJUAN PENULISAN

1. Tujuan umum Mahasiswa dapat memahami dan mampu membuat asuhan keperawatan dengan klien Labio Palastokisis.

2. Tujuan khusus Setelah menyusun makalah ini mahasiswa diharapkan mampu : a. Mengetahui pengertian dari Labio palatoskisis. b. Mengetahui etiologi dari Labio palatoskisis. c. Mengetahui patofisiologi dari Labio palatoskisis. d. Mengetahui manifestasi klinis dari Labio palatoskisis. e. Mengetahui pemeriksaan diagnostik dari Labio palatoskisis. f. Mengetahui komplikasi dari Labio palatoskisis. g. Menyusun diagnosa keperawatan pada klien dengan Labio palatoskisis. h. Menyusun rencana asuhan keperawatan pada klien Labio palatoskisis. i. j. Melakukan implementasi keperawatan pada klien dengan Labio palatoskisis. Melakukan evaluasi keperawatan pada klien dengan Labio palatoskisis.

BAB II TINJAUAN TEORI

A. DEFINISI Labio/plato skisis adalah merupakan kongenital anomali yang berupa adanya kelainan bentuk pada struktur wajah. Palatoskisi adalah adanya celah pada garis tengah palato yang disebabkan oleh kegagalan penyatuan susunan palato pada masa kehamilan 7-12 minggu. Labio Palato skisis merupakan suatu kelainan yang dapat terjadi pada daerah mulut, palato skisis (subbing palatum) dan labio skisis (sumbing tulang) untuk menyatu selama perkembangan embrio (Hidayat, Aziz, 2005:21) Palatos kisis adalah fissura garis tengah pada polatum yang terjadi karena kegagalan dua sisi untuk menyatu karena perkembangan embriotik (wong,Dona L. 2003) Beberapa jenis bibir sumbing : a. Unilateral incomplete Apabila celah sumbing terjadi hanya disalah satu sisi bibir dan tidak memenjang hingga ke hidung. b. Unilteral complete Apabila celah sumbing terjadi hanya di salah satu bibir dan memanjang hingga ke hidung. c. Bilateral complete Apabila celah sumbing terjadi di kedua sisi bibir dan memanjang hingga ke hidung.

B. ETIOLOGI 1. Faktor Heriditer Sebagai faktor yang sudah dipastikan. Gilarsi : 75% dari faktor keturunan resesif dan 25% bersifat dominan. a. Mutasi gen. b. Kelainan kromosom 2. Faktor Eksretnal / Lingkungan. a. Faktor usia ibu. b. Obat-obatan. Asetosal, Aspirin (SCHARDEIN-1985) Indometasin, Asam Rifampisin, Flufetamat,

Fenasetin,Sulfonamid,

Aminoglikosid,

Ibuprofen,Penisilamin, Antihistamin dapat menyebabkan celah langit-langit. Antineoplastik, Kortikosteroid. c. Nutrisi . d. Penyakit infeksi Sifilis, virus rubella. e. Radiasi. f. Stres emosional. g. Trauma, (trimester pertama).

C. PATOFISIOLOGI Bibir sumbing merupakan kelainan kongenital yang memiliki prevalensi cukup tinggi. Bibir sumbing memiliki beberapa tingkant kerusakan sesuai organ yang mengalami kecacatannya. Bila hanya dibibir disebut labioschizis, tapi bisa juga mengenai gusi dan palatum atau langit-langit. Tingkat kecacatan ini mempengaruhi keberhasilan operasi.

Cacat bibir sumbing terjadi pada trimester pertama kehamilan karena tidak terbentuknya suatu jaringan di daerah tersebut. Semua yang mengganggu pembelahan sel pada masa kehamilan bisa menyebabkan kelainan tersebut, misal kekurangan zat besi, obat2 tertentu, radiasi. Tak heran kelainan bibir sumbing sering ditemukan di desa terpencil dengan kondisi ibu hamil tanpa perawatan kehamilan yang baik serta gizi yang buruk. Bayi-bayi yang bibirnya sumbing akan mengalami gangguan fungsi berupa kesulitan menghisap ASI, terutama jika kelainannya mencapai langit-langit mulut. Jika demikian, ASI dari ibu harus dipompa dulu untuk kemudian diberikan dengan sendok atau dengan botol berlubang besar pada bayi yang posisinya tubuhnya ditegakkan. Posisi bayi yang tegak sangat membantu masuknya air susu hingga ke kerongkongan. Jika tidak tegak, sangat mungkin air susu akan masuk ke saluran napas mengingat refleks pembukaan katup epiglottis( katup penghubung mulut dengan kerongkongan) mesti dirangsang dengan gerakkan lidah, langit-langit, serta kelenjar liur. Bibir sumbing juga menyebabkan mudah terjadinya infeksi di rongga hidung, tenggorokan dan tuba eustachius (saluran penghubung telinga dan tenggorokan) sebagai akibat mudahnya terjadi iritasi akibat air susu atau air yang masuk ke rongga hidung dari celah sumbingnya. 1. Kegagalan penyatuan atau perkembangan jaringan lunak dan atau tulang selama fase embrio pada trimester I. 2. Terbelahnya bibir dan atau hidung karena kegagalan proses nosal medial dan maksilaris untuk menyatu terjadi selama kehamilan 6-8 minggu. 3. Palatoskisis adalah adanya celah pada garis tengah palato yang disebabkan oleh kegagalan penyatuan susunan palato pada masa kehamilan 7-12 minggu.

4. Penggabungan komplit garis tengah atas bibir antara 7-8 minggu masa kehamilan.

D. MANIFESTASI KLINIS a. Pada labio Skisis: 1. Distorsi pada hidung. 2. Tampak sebagian atau keduanya. 3. Adanya celah pada bibir. b. Pada palato skisis: 1. Tampak ada celah pada tekak (uvula), palato lunak, dan keras dan atau foramen incisive. 2. Adanya rongga pada hidung. 3. Distorsi hidung. 4. Teraba ada celah atau terbukanya langit-langit saat diperiksa dengan jari. 5. Kesukaran dalam menghisap atau makan.

E. PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK Pada Labio palatoskisis umumnya dilakukan pemeriksaan: 1. Foto rontgen 2. Pemeriksaan fisisk 3. MRI untuk evaluasi abnormal Juga terdapat pemeriksaan terapeutik, yaitu : 1. Penatalaksanaan tergantung pada beratnya kecacatan. 2. Prioritas pertama adalah pada teknik pemberian nutrisi yang adekuat. 3. Mencegah komplikasi. 4. Fasilitas pertumbuhan dan perkembangan.

5.

Pembedahan: pada labio sebelum kecacatan palato; perbaikan dengan pembedahan usia 2-3 hari atua sampai usia beberapa minggu prosthesis intraoral atau ekstraoral untuk mencegah kolaps maxilaris, merangsang pertumbuhan tulang, dan membantu dalam perkembangan bicara dan makan, dapat dilakukan sebelum penbedahan perbaikan.

6. Pembedahan pada palato dilakukan pada waktu 6 bulan dan 2 tahun, tergantung pada derajat kecacatan. Awal fasilitas penutupan adalah untuk perkembangan bicara.

F. KOMLIKASI Komlikasi yang terjadi pada Labio Palatoskisis,yaitu : 1. Gangguan bicara dan pendengaran. 2. Terjadinya otitis media. 3. Asirasi. 4. Distress pernafasan. 5. Risisko infeksi saluran nafas. 6. Pertumbuhan dan perkembangan terhambat. 7. Gangguan pendengaran yang disebabkan oleh atitis media rekureris sekunder akibat disfungsi tuba eustachius. 8. Masalah gigi 9. Perubahan harga diri dan citra tubuh yang dipengaruhi derajat kecacatan dan jaringan paruh.

BAB III ASUHAN KEPERAWATAN

A. KASUS An. Anak bayi Usia 1 th. Datang kerumah sakit dengan diantar oleh ayahnya (Tn Y), dan ibunya (Ny. X) dengan keluhan An. Mengalami kesulitan saat diberikan makan karena merasa nyeri, dan tampak merah dan bengkak didaerah bibir bagian atas. Menurut orang tua, An. Sudah mengalami kelainan bentuk pada mulutnya sejak ia dilahirkan atau bibir sumbing, selain itu An sebulan yang lalu telah mengalami operasi untuk memperbaiki bentuk mulutnya yang tidak normal, setiap An Diberikan makan dan minum An sering menangis kesakitan dan sulit untuk menelan makanan. An tampak lemas, pucat, menangis kesakitan, serta tubuhnya tampak kurus. Menurut ibu An, berat badan An 3 hari terakhir mengalami penurunan dari 6 kg menjadi 5 kg, dan Saat An diberikan ASI oleh ibunya, An sering melakukan tindakan penolakan. Selain itu ibu An merasa cemas terhadap kondisi anaknya. Setelah dilakukan pengkajian TTV pada An didapatkan hasil : TD:130/60 mmHg, RR:30x/menit, T: 37,50C, P: 110x/menit. BB : 4 Kg, TB: 65 cm.

B. PENGKAJIAN 1. Identitas Pasien a. Nama b. Agama c. Jenis Kelamin d. Umur : An : Islam : Laki-laki : 1th

2. Identitas Penaggung Jawab a. Nama b. Agama c. Pendidikan d. Status Pernikahan e. Alamat f. Hubungan dengan Klien 3. Keluhan Utama Mengalami kesulitan saat diberikan makan terkait bibirnya yang sumbing. 4. Riwayat Penyakit Dahulu : Tidak ada : Tn Y : Islam : Sarjana Ekonomi : Menikah : Jl. Kasuari No. 12, Denpasar Bali.um : Ayah Kandung

5. Riwayat Penyakit Keturunan : Tidak ada 6. Riwayat Kesehatan Lingkungan 7. Pemeriksaan Fisik a. Keadaan umum y y Kesadaran GCS : Baik :kompos mentis : 15 : Lingkungan rumah bersih, dan lestari

b. Vital Sign y y y y TD Nadi Resprasi Suhu : TD:130/60 mmHg : 110x/menit : 30x/menit : 37,50C

c. Kepala y y Kulit Kepala Normal, tidak ada hematoma atau lesi Rambut Lurus, tidak kusam, dan bersih.

y y

Muka Normal, tidak ada lesi, tidak ada hematoma. Mata : kunjungtiva pucat, skela ikterik, pupil isokhor, tidak ada odema pada palpebra, visus normal kanan dan kiri.

Hidung pesek, lubang hidung simetris, mencium bau dengan baik, bernafas dengan baik.

Mulut, terdapat inflamasi, bagian mukosa bibir odema, palatum terdapat bekas luka operasi, rahang atas dan bawah tidak teratur, terdapat karies gigi. Gigi susu tumbuh tak beraturan, jumlah gigi atas lebih sedikit daripada bagian bawah.

y y d. Leher y e. Dada y y

Bibir mukosa bibir tampak pucat kebiruan Telinga kanan dan kiri simetris, dan tidak ada gangguan pendengaran.

Normal tidak ada pembesaran kelenjar tyroid

Bentuk dada : Normal Paru-paru kiri dan kanan simetris

f. Abdomen y y y y Inspeksi Auskultasi Palpasi Perkusi : perut An. Normal tidak ada tumor atau lesi : peristaltik usus terdengar baik : tidak ada hepatomegaly dan splenomegaly : pada saat perkusi bunyi perut An. Timpani.

g. Genetalia y y Skrotum gelap, Testis normal

Penis Bersih

h. Rektum pada An. Normal, tidak ada hemoroid i. Ekstremitas ats dan bawah y Ekstremitas atas dan bawah kekuatan otot baik.

ANALISA DATA 1. 2. 3. 4. 5. Nama Klien Umur Ruang Rawat No. Register Alamat : An : 1 th : Cempaka : 101300139 : Jl. Kasuari No. 12, Denpasar Bali.

NO.

ANALISA DATA Ds : . Menurut orang tua An sebulan yang operasi lalu telah untuk

ETIOLOGI Bekas insisi pembedahan

PROBLEM Nyeri

mengalami

memperbaiki bentuk mulutnya yang tidak normal, setiap An Diberikan makan dan minum An sering

menangis kesakitan Do : An tampak lemas, pucat, menangis kesakitan, serta tubuhnya tampak kurus. Dan TTV; TD:130/60 mmHg, RR:30x/menit, T: 37,50C, P: 110x/menit. 2 Ds :. Menurut ibu An, berat badan An 3 hari terakhir mengalami ketidakmampuan menelan/kesukaran dalam makan sekunder dari kecacatan dan pembedahan. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan

penurunan dari 6 kg menjadi 5 kg, dan Saat An diberikan ASI oleh ibunya, An sering melakukan

tindakan penolakan. Ds : An. Mengalami kesulitan saat diberikan makan karena bibirnya yang sumbing dan sulit untuk

menelan makanan. Do : An tampak lemas, pucat, menangis kesakitan, serta tubuhnya tampak kurus. TTV pada 37,50C, An

didapatkan hasil : TD:130/60 mmHg, RR:30x/menit, T: P:

110x/menit. BB : 4 Kg, TB: 65 cm. 3 Ds : kesulitan ibu An mengatakan, An kecacatan atau insisi saat diberikan makan pembedahan Risiko infeksi

karena merasa nyeri, Do : - tampak merah dan bengkak

didaerah bibir bagian atas - An tampak lemas, pucat, menangis kesakitan, serta tubuhnya tampak kurus.

DIAGNOSA KEPERAWATAN 1. Nyeri b/d insisi pembedahan 2. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan ketidakmampuan menelan/kesukaran dalam makan sekunder dari kecacatan dan pembedahan. 3. Risiko infeksi berhubungan dengan kecacatan atau insisi pembedahan.

RENCANA KEPERAWATAN Nama / TTD

No

Diagnosa keperawatan Nyeri b/d insisi pembedahan

Tujuan dan Kriteria hasil

Rencana tindakan

Rasional

Setelah dilakukan 1.Kaji dan tindakan pantau TTV, keperawatan selama suhu tubuh 2 jam pada An pasien maka nyeri akan 2.Kaji pola menurun/hilang istirahat bayi dengan 14kreteria dan hasil sebagai berikut kegelisahan : 3.Berikan obat - Klien tampak analgetik tidak lemas - Wajah klien tampak tidak pucat - TD:120/60 mmHg, - RR:30x/menit, - T: 37,50C, - P: 110x/menit

1. Perubahan TTV pada pasien mengindikasika n adanya nyeri 2. Apabila pasien masih merasa gelisah Mengindikasik an masih adanya nyeri. 3. mengurangi ketidak nyamanan yang dihubungkan dengan membran mukosa yang kering pada zat-zat anestesi restriksi oral. 1. Evaluator langsung status cairan dan indicator langsung status cairan untuk perbaikan ketidakseimban gan atau kurang volume cairan 2. ketentuan dukungan nutrisi didasarkan pada perkiraan kebutuhan

Ketidakseimb angan nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan ketidakmamp uan menelan/kesu karan dalam makan sekunder dari kecacatan dan

Setelah dilakukan tindakan keperawatan pada An selama 3x24 maka defisit volume cairan akan menurun / hilang dengan 14kreteria hasil hasil sbb: - Klien tampak rileks - Klien tidak lemah - Wajah klien tidak pucat - TD:120/60 mmHg, - RR:30x/menit,

1. Kaji dan pantau tandatanda kehilangan cairan dan jumlah cairannya yang hilang 2. Berikan larutan nurtisi pada kecepatan yang dianjurkan melalui alat kontrol infus sesuai kebutuhan 3. Tentukan jumlah cairan yang masuk

pembedahan.

- T: 37,50C, - P: 110x/menit.

dalam 24 jam, hitung asupan yang diinginkan sepanjang siang, sore dan malam hari 4. Kolaborasi berikan cairan IV

Resiko tinggi terhadap infeksi berhubungan dengan pertahanan primer tidak ade kuat

Setelah dilakukan tindakan keperawatan pada An. maka resiko tinggi terhadap infeksi akan hilang atau menurun dengan criteria hasil sebagai berikut : - Suhu Tubuh menurun,36,537,5oC. - TD 120/60mmHG - RR 25-30x menit - P 100 x/menit

kalori dan protein 3. pemberian cairan dibatasi/diberik an terus 4. cairan dapat dibutuhkan untuk mencegah dehidrasi. 1. Berikan posisi 1. supaya yang tepat makanan setelah makan, tertelan dan miring kekanan mencegah kepala agak aspirasi yang sedikit tinggi dapat berakibat pnemonia 2. Kaji tandatanda infeksi, 2.mengidentifik termasuk asi adanya penyembuhan drainage, bau dan demam. dan memberikan 3. Lakukan deteksi dini perawatan luka infeksi. dengan hati-hat 3.meningkatka dengan n penyembuhan menggunakan dan teknik steril menghindari infeksi 4. kolaborasi 4. antibiotik dalam membantu pemberian mempercepat antibiotik proses penyembuhan

IMPLEMENTASI DAN EVALUASI KEPERAWATAN Hari ke 1 Diagnosa No Keperawatan 1 Nyeri b/d insisi pembedahan 07.00 1. mengkaji dan memantau TTV, suhu tubuh pasien diberikan obat 07.30 2. mengKaji pola istirahat bayi dan kegelisahan 09.00 3. memberikan perawatan oral regular diberikan obat. A: implementasi belum tercapai P : intervensi 1, 2, 3, dilanjutkan O : an menangis dan menolak saat S : ibu mengatakan an menangis saat TTD Wkt implementasi Evaluasi TTD

Ketidakseimbangan 09.10 1. mengkaji dan nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan ketidakmampuan menelan/kesukaran dalam makan sekunder dari kecacatan dan pembedahan. memantau tandatanda kehilangan cairan dan jumlah cairannya yang hilang 09.30 2. Menentukan jumlah cairan yang masuk dalam 24 jam, hitung asupan yang diinginkan sepanjang siang,

S: ibu mengatakan an sudah tidak menolak saat diberikan makanan dan ASI O: anak sudah terlihat segar, tidak pucat. TD normal 110/60mmHg A: implementasi

TTD

sore dan malam 13.00 hari 3. memberikan larutan nurtisi pada kecepatan yang dianjurkan melalui alat kontrol infus sesuai kebutuhan

tercapai P: intervensi dihentikan

Resiko tinggi terhadap infeksi berhubungan dengan pertahanan primer tidak ade kuat

09.00 1. mengkaji tandatanda infeksi, termasuk drainage, bau dan demam. 09.00 2. melakukan perawatan luka dengan hati-hat dengan menggunakan teknik steril 10.00 3.kolaborasi dalam pemberian antibiotik 12.30 4. memberikan posisi yang tepat setelah makan, miring kekanan kepala agak sedikit tinggi

S:ibu mengatakan an sudah tidak merasa kesulitan saat diberikan makan O: tidak tampak merah dan bengkak pada bibir bagian atas. An terlihat segar, tidak pucat dan tidak menangis lagi. A:implementasi berhasil P: intervensi dihentikan

TTD

BAB IV PENUTUP 1. KESIMPILAN

Labio Palato skisis merupakan suatu kelainan yang dapat terjadi pada daerah mulut, palato skisis (subbing palatum) dan labio skisis (sumbing tulang) untuk menyatu selama perkembangan embrio (Hidayat, Aziz, 2005:21). Penyebab terjadinya Labio Palatoskisis terjadi dalam dua faktor yaitu faktor heriditer dan faktor eksternal atau faktor dari luar. Komplikasi dapat terjadi pada Labio Palatoskisis adalah Gangguan bicara dan pendengaran, Terjadinya otitis media, Asirasi, Distress pernafasan, Risisko infeksi saluran nafas, Pertumbuhan dan perkembangan terhambat, Gangguan pendengaran yang disebabkan oleh atitis media rekureris sekunder akibat disfungsi tuba eustachius, Masalah gigi, dan Perubahan harga diri dan citra tubuh yang dipengaruhi derajat kecacatan dan jaringan paruh.

2.

SARAN Dengan adanya makalah ini semoga para pembaca dapat mengambil manfaat dari pengetahuan tentang penyakit Labio Palatoskisis. Yang lebih khususnya kita sebagai tenaga kesehatan (perawat) harus mampu dan memahami konsep dan segala sesuatu dan bagaimana kita merawat dan mengobati pasien dengan penderita Labio Palatoskisis. Dan bagi masyarakat, semoga dengan adanya makalah ini dapat mengetahui tentang penyakit Labio Palatoskisis (Bibir Sumbing) sehingga dapat ditangani lebih awal.

MAKALAH & ASUHAN KEPERAWATAN


SISTEM PENCERNAAN ( LABIOPALATOSKISIS)

Disusun Oleh: Kadek kartika Gregoria Klau Liana Nila S. Cristien Natalia Loe Mau Ummu Kalsum Naser. Yunita Dikir Roy Fandy Silitonga (10130062) (10130068) (10130071) (10130075) (10130078) (10130081) (10130083)

S1 ILMU KEPERAWATAN FAKULTAS ILMU KESEHATAN UNIVERSITAS RESPATI YOGYAKARTA 20011

KATA PENGANTAR
Dengan segala kerendahan hati kami memanjatkan puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas kemurahan dan kasih-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan penulisan Tugas Makalah ini untuk memenuhi tugas dalam bidang penilaian mata kuliah SISTEM PENCERNAAN.

Dalam penulisan makalah ini kami menyampaikan ucapan terima kasih yang tak terhingga khususnya kepada dossen pengampu yang telah meluangkan waktu, tenaga dan pikiran dalam pelaksanaan bimbingan, pengarahan, dan kepada teman-teman Kelas A.72 yang telah memberikan dorongan sehingga makalah ini dapat terselesaikan.

Mungkin dalam pembuatan makalah ini masih banyak kekurangan baik itu dari segi penulisan, isi dan lain sebagainya, maka kami sangat mengharapkan kritikan dan saran guna perbaikan untuk pembuatan makalah untuk hari yang akan datang.

Demikianlah sebagai pengantar kata, dengan iringan serta harapan semoga makalah sederhana ini dapat diterima dan bermanfaat bagi pembaca. Atas semua ini kami mengucapkan ribuan terima kasih yang tidak terhingga, semoga segala bantuan dari semua pihak mudah mudahan mendapat amal baik yang diberikan oleh Tuhan Yang Maha Esa.

Yogyakarta, 09 Desember 2011 Hormat Kami

TIM PENYUSUN

DAFTAR ISI

Kata Pengantar................. .............................................................................................i Daftar Isi.......................................................................................................................ii BAB I Pendahuluan......................................................................................................1 A. Latar Belakang...............................................................................................2 a. Tujuan Umum..........................................................................................2 b. Tujuan Khusus........................................................................................2

BAB II Landasan Teori.................................................................................................3 a. b. c. d. e. f. Definisi..................................................................................................3 Etiologi..................................................................................................4 Patofisiologi...........................................................................................4 Manifestasi klinis...................................................................................6 Pemeriksaan diagnostik.........................................................................6 Komplikasi.............................................................................................7

BAB III. ASUHAN KEPERAWATAN.......................................................................8 BAB IV. PENUTUP.....................................................................................................19 a. Kesimpulan ......................................................................................................... b. Saran..................................................................................................................... DaftarPustaka................................................................................................................

DAFTAR PUSTAKA http://www.info- dokter.com/content/16 januari 2011 pukul 18:00 Judith. W.2007. Buku Saku Diagnosa Keperawatan. EGC. Jakarta Nanda. 2006. Panduan Diagnosa Keperawatan. PM. Jakarta