Anda di halaman 1dari 22

LAPORAN KASUS BEDAH PERIODONTAL (OPERASI MANDIRI)

GINGIVEKTOMI

oleh : Rakhmalita Arlini 07/250509/KG/8153

Dosen Pembimbing : Prof. Dr. Drg. Sudibyo, SU, Sp. Perio (K) Dosen Penanggung Jawab Kepaniteraan Periodonsia : drg. Suryono, SH, PhD.

BAGIAN PERIODONSIA FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI UNIVERSITAS GADJAH MADA YOGYAKARTA 2012 LEMBAR PENGESAHAN

LAPORAN KASUS BEDAH PERIODONTAL (OPERASI MANDIRI) Tanggal Operasi : 22 Desember 2011

GINGIVEKTOMI

Yogyakarta, 3 Januari 2012

Operator,

Rakhmalita Arlini

Mengetahui,

Dosen Pembimbing

Dosen Penanggung Jawab Kepaniteraan Periodonsia

Prof. Dr. Drg. Sudibyo, SU, Sp. Perio (K)

drg. Suryono, SH, PhD

I.

PENDAHULUAN

A. Latar belakang Bedah periodontal termasuk dalam tahap koreksi pada terapi periodontal, karena dilakukan koreksi deformitas jaringan periodontal. Bedah periodontal merupakan istilah umum untuk setiap tindakan bedah periodontal termasuk gigi, gingiva, tulang alveolar maupun perlekatannya. Bedah periodontal ini bertujuan untuk memperbaiki segala kelainan maupun kerusakan jaringan sebagai akibat dari penyakit periodontal dan untuk mengembalikan bentuk serta fungsi dari jaringan periodontal sehingga normal kembali. Perawatan periodontal menjadi salah satu solusi untuk problem estetik yang banyak dikeluhkan oleh masyarakat, dan ternyata penampakan klinis gingiva sangat menunjang penampilan estetik seseorang. Problem estetik gingiva yang biasa dikeluhkan pasien antara lain pembesaran gingiva, kontur gingiva yang tidak bagus, papila yang hilang, dan terbukanya permukaan akar. (Reddy, 2003). Pembesaran gingiva dapat dikoreksi dengan gingivektomi, yaitu eksisi jaringan gingiva yang berlebih untuk menciptakan margin gingiva yang baru. Gingivektomi dilakukan apabila gingivitis tidak berhasil dirawat dengan perawatan biasa dan prosedur oral hygiene, atau pada kasus hiperplasi gingiva (Harty dan Ogston, 1995). Penggunaan alat ortodontik cekat dapat menimbulkan beberapa masalah, khususnya masalah kesehatan rongga mulut. Alat ini dicekatkan pada gigi-gigi sehingga lebih sulit dibersihkan daripada alat lepasan, dan kesehatan rongga mulut tentu lebih sulit dipertahankan selama perawatan dengan alat ini (Foster, 1993).

B. Permasalahan Seorang laki-laki berusia 24 tahun datang ke Klinik Periodonsia RSGM Prof. Soedomo dengan keluhan gusi membesar setelah beberapa saat menjalani perawatan ortodontik cekat.

C. Tujuan perawatan Tujuan perawatan yang dilakukan : 1. Mengkoreksi kelainan pada gingiva sehingga dapat menghilangkan gangguan pada perawatan ortodontik. 2. Memperbaiki estetis pasien sehingga dapat memungkinkan untuk mendapat jaringan gingiva yang lebih sehat. 3. Menambah efisiensi pembersihan gigi sehingga mengurangi akumulasi plak dan kalkulus. 4. Membuang dinding poket, menghilangkan kalkulus dengan sempurna sebagai faktor penyebab gingivitis sehingga akan tercipta kondisi yang memungkinkan proses penyembuhan gingiva dan kembalinya kontur gingiva sesuai bentuk anatomis dan fisiologis.

II. TINJAUAN PUSTAKA

A. Pembesaran Gingiva Gingiva merupakan salah satu jaringan periodontal yang terlihat dari luar. Gingiva sehat mempunyai ciri berwarna coral pink, tekstur stipling, berbentuk tajam seperti kerah baju dan konsistensi kenyal (Newman dkk, 1996). Penyakit periodontal merupakan salah satu penyakit yang paling luas penyebarannya pada manusia (Manson dan Eley, 1993). Salah satu penyakit periodontal yang sering dijumpai adalah pembesaran gingiva. Pembesaran gingiva ditandai dengan penambahan ukuran gingival dan dapat menimbulkan efek negatif berupa gangguan fungsi. Pembesaran gingiva merupakan keadaan dimana terjadi pertumbuhan yang berlebih dari jaringan gingiva, pada beberapa kasus dapat juga disebut hiperplasi gingiva. Pembesaran ini sering dijumpai pada penyakit gingiva. Pembesaran gingiva dapat menimbulkan ketidaknyamanan, terutama jika sudah

mempengaruhi fungsi bicara dan mastikasi, dapat menimbulkan halitosis, dan mengganggu estetik. Pembesaran gingival menurut Carranza (2006) pembesaran gingiva dapat diklasifikasikan berdasarkan faktor etiologinya: 1. Pembesaran gingiva karena inflamasi ( akut dan kronis) 2. Pembesaran gingiva hiperplastik non inflamasi (gingival hiperplasi) 3. Pembesaran gingiva hiperplastik idiopatik 4. Pembesaran gingiva kombinasi 5. Pembesaran gingiva kondisional 6. Pembesaran gingiva neoplastik 7. Pembesaran gingiva yang bersifat developmental Pembesaran gingiva merupakan suatu manifestasi umum penyakit gingiva (penyakit periodontal). Penyakit yang menyebabkan kondisi gingiva enlargement dapat bersifat inflamasi atau non inflamasi dan kombinasi keduanya. Tanda klinis pembesaran gingiva karena proses inflamasi, secara umum menampakkan adanya

perubahan pada kontur gingiva menjadi membengkak di daerah interdental dan margin gingiva, sehingga tampak membulat tumpul dengan warna memerah. Tekstur gingiva menjadi halus dan licin mengkilat dengan konsistensi lunak, edema, fibrotik, biasanya disertai tendensi perdarahan, terbentuknya poket bisa juga tampak adanya eksudat inflamasi. Pada kondisi akut dan akut eksaserbasi biasanya terdapat rasa sakit, sedangkan pada kondisi kronis tidak tampak (Newman dkk, 1996). Dua gejala paling awal dalam inflamasi gingival, yang mendahului gingivitis, adalah peningkatan produksi cairan ginggiva dan perdarahan dari sulkus ginggiva. Perdarahan ginggiva memiliki banyak variasi dalam tingkat keparahannya dan durasi. Perdarahan dalam pemeriksaan mudah dideteksi secara klinis dan oleh karena itu memiliki arti yang sangat besar dalam diagnosis awal dan pencegahan gingivitis yang lebih parah. Hal ini ditunjukkan pada perdarahan dalam pemeriksaan terlihat lebih awal daripada perubahan warna atau tanda visual lainnya dalam inflamasi, lebih jauh lagi, fungsi dari perdarahan dibandingkan perubahan warna untuk mendiagnosis inflamasi ginggiva awal lebih menguntungkan karena perdarahan merupakan tanda yang lebih objektif, diperlukan estimasi dengan kesubjektifan sekecil mungkin dari pemeriksa. Pengukuran melalui pemeriksaan kedalaman poket terbatas nilainya untuk

menaksir luas dan tingkat keparahan gingivitis (Newman dkk, 1996). Pada dasarnya, perdarahan pada pemeriksaan mengindikasikan adanya lesi inflamatori pada epitel dan jaringan ikat yang memperlihatkan perbedaan histology yang spesifik dibandingkan dengan gingiva sehat. Faktor-faktor yang menyebabkan enlargement gingiva diklasifikasikan menjadi dua 1. Faktor lokal (ekstrinsik) antara lain faktor iritasi dan faktor fungsional (maloklusi, malposisi gigi, mouth breathing, dll) 2. Faktor sistemik (intrinsik) antara lain: endokrin obat-obatan, psikologis, penyakit metabolic (Carranza, 2006)

B. Gingivektomi

Gingivektomi

adalah

prosedur bedah

periodontal

yang bertujuan

menghilangkan poket gingiva pada penyakit radang periodontal untuk menciptakan suatu gingiva normal baik fungsi, kesehatan, dan estetika. Sedangkan menurut Harty dan Ogston (1995) gingivektomi adalah eksisi jaringan gingiva yang berlebih untuk menciptakan gingiva margin yang baru. Gingivektomi dilakukan apabila gingivitis tidak berhasil dirawat dengan perawatan biasa dan prosedur oral hygiene, atau pada kasus hiperplasi gingiva. Gingivektomi dapat dilakukan dengan scalpel, elektrode, laser, maupun kimia namun metode yang paling dianjurkan adalah operasi dengan scalpel (Carranza, 2006). Manson and Eley (1993) menyatakan bahwa indikasi gingivektomi adalah: 1. Adanya poket supraboni dengan kedalaman lebih dari 4 mm, 2. Adanya pembengkakan gingiva yang 3. Adanya kerusakan furkasi (tanpa disertai cacat tulang) 4. Abses gingiva yaitu abses yang terdapat di dalam jaringan lunak. 5. Flap perikoronal. Sedangkan kontraindikasi gingivektomi menurut Fedi, dkk (2004) adalah: 1. Apabila kedalaman dasar poket berada pada atau lebih ke apikal dari pertautan mukogingiva. 2. Apabila dinding jaringan lunak poket terbentuk oleh mukosaa alveolar. 3. Apabila frenulum atau perlekatan otot terletak di daerah yang akan dibedah. 4. Apabila ada indikasi perawatan cacat infraboni. 5. Apabila gingivektomi tidak menghasilkan estetik yang baik. 6. Apabila gingiva cekat atau berkeratin tidak cukup tersedia (sehingga jika gingivektomi dilakukan, tepi gingiva terbentuk dari mukosa alveolar).

Prinsip dan teknik gingivektomi yaitu setelah ditandai dengan poket marker, jaringan gingiva kemundian dieksisi dengan sudut 45o kemudian gingiva dibentuk sesuai kontur gingiva normal. Gingivektomi selalu diikuti dengan gingivoplasti untuk mendapatkan kontur dan bentuk ketajaman tepi gingiva yang normal baik anatomis maupun fisiologis. Menurut Fedi, dkk (2004) teknik gingivektomi adalah: 1. Melakukan anestesi lokal yang memadai dengan teknik blok atau infiltrasi.

Anestesi lokal 2. Mengukur kedalaman poket di daerah operasi menggunakan probe terkalibrasi. Kedalaman ini ditandai dengan menusuk dinding luar jaringan gingiva dengan poket marker untuk membuat titik-titik perdarahan. Apabila keseluruhan daerah operasi telah diukur dan ditandai dengan lengkap, titiktitik perdarahan tersebut akan membentuk ragangan (outline) insisi yang harus dilakukan.

menandai dasar poket dengan pocket marker

3. Insisi dibevel pada sudut kurang lebih 45 derajat terhadap akar gigi dan berakhir pada ujung atau lebih ke bawah dari ujung apikal perlekatan epitel. Apabila gingiva cukup tebal, bevel sebaiknya diperpanjang untuk

menghilangkan bahu atau plato. Kadang-kadang, akses sangat terbatas atau sulit dicapai sehingga bevel yang cukup tidak dapat dibuat pada insisi awal.

Pada keadaan ini, bevel dapat diperbaiki nantinya, menggunakan pisau bermata lebar untuk mengerok atau bur intan kasar.

4. Jaringan gingiva yang telah dieksisi dibuang.

(a) Pengambilan jaringan

(b) Jaringan yang telah dieksisi

5. Membersihkan deposit yang menempel pada permukaan akar dengan skaling dan root planing. Pada tahap ini, pembuangan dinding jaringan lunak poket periodontal membuat permukaan akar lebih mudah dicapai dan memperluas lapang pandang operator dibandingkan pada tahap-tahap lain. Pembersihan permukaan akar pada tahap ini menentukan keberhasilan seluruh prosedur bedah.

Skaling dan root planing

6. Menyempurnakan kontur gingiva seperti yang diinginkan dengan bur intan atau pisau bermata lebar untuk mengerok jaringan. 7. Membilas daerah bedah dengan air steril atau larutan saline steril untuk membersihkan pertikel-partikel yang tersisa.

8. Menekan daerah luka dengan kain kasa yang telah dibasahi dengan air steril atau larutan saline steril selama 2-3 menit, untuk menghentikan perdarahan. 9. Memasang dresing periodontal, mula-mula yang berukuran kecil, bersudut di daerah interproksimal, menggunakan instrumen plastik. Selanjutnya, pasang gulungan-gulungan yang lebih panjang di bagian fasial, lingual, dan palatal serta hubungkan dengan dresing yang telah terpasang dengan di daerah tanpa

interproksimal.

Seluruh

daerah

luka

ditutup

dresing

mengganggu oklusi atau daerah perlekatan otot. Kesalahan yang sering terjadi adalah dressing yang dipasang terlalu lebar sehingga terasa mengganggu.

Pemasangan periodontal dressing

10. Mengganti dresing dan membuang debris pada daerah luka setiap minggu sampai jaringan sembuh sempurna dan dengan mudah dibersihkan oleh pasien. Epitel akan menutupi luka dengan kecepatan 0,5 mm per hari setelah hilangnya aktivitas mitosis awal dari epitel, 24 jam setelah operasi. 11. Penyembuhan luka Setelah dressing terakhir dilepas, poles gigi dan instruksikan pasien untuk melakukan pengendalian plak dengan baik.

Dressing dilepas dan gigi dipoles

10

Penampakan klinis gingiva pasca gingivektomi

Setelah seluruh prosedur gingivektomi dilaksanakan, pasien perlu diberi informasi yang lengkap tentang cara-cara perawatan pascaoperasi, yaitu: 1. Menghindari makan atau minum selama satu jam. 2. Dilarang minum minuman panas atau alkohol selama 24 jam. Dilarang berkumur-kumur satu hari setelah operasi. 3. Dilarang makan makanan yang keras, kasar atau lengket dan mengunyah makanan dengan sisi yang tidak dioperasi. 4. Minum analgesik bila merasa sakit setelah efek anestesi hilang. Aspirin merupakan kontraindikasi selama 24 jam. 5. Menggunakan larutan kumur saline hangat setelah satu hari. Menggunakan larutan kumur klorheksidin di pagi hari dan malam hari bila tidak dapat mengontrol plak secara mekanis. Larutan ini dapat langsung digunakan pada hari pertama setelah operasi asal tidak dikumurkan terlalu kuat di dalam mulut. Menghindari teh, kopi, dan rokok bila menggunakan larutan kumur klorheksidin untuk mengurangi stain. 6. Apabila terjadi perdarahan, dresing ditekan selama 15 menit dengan menggunakan sapu tangan bersih yang sudah dipanaskan; dilarang berkumur. 7. Sikat bagian mulut yang tidak dioperasi saja.

Pembedahan menyebabkan terputusnya kontinuitas sel-sel dan jaringan tubuh. Penyembuhan adalah fase respons inflamasi yang menyebabkan terbentuknya hubungan anatomi dan fisiologis yang baru di antara elemen-elemen tubuh yang rusak. Secara umum, penyembuhan meliputi pembentukan bekuan darah, pembentukan jaringan granulasi, epitelisasi, pembentukan kolagen, regenerasi dan maturasi (Fedi dkk, 2004). Sel akan menutupi luka dalam waktu 7-14 hari dan terkeratinisasi setelah 2-3 minggu. Pembentukan perlekatan epitel yang baru berlangsung selama 4 minggu. Kebersihan mulut yang baik sangat diperlukan selama periode pemulihan ini (Manson dan Eley, 2003).

11

C. Alat ortodontik Alat ortodontik adalah alat yang digunakan untuk mengaplikasikan daya pada gigi dan struktur pendukungnya sehingga dapat mengubah hubungan antar gigi dan struktur tulang pendukungnya (Harty dan Ogston, 1995). Alat ortodontk dapat dibedakan menjadi 2, yaitu alat ortodontik lepasan dan alat ortodontik cekat. Penggunaan alat ortodontik cekat dapat menimbulkan beberapa masalah, khususnya masalah kesehatan rongga mulut. Alat ini dicekatkan pada gigi-gigi sehingga lebih sulit dibersihkan daripada alat lepasan, dan kesehatan rongga mulut tentu lebih sulit dipertahankan selama perawatan dengan alat ini. Selain itu, alat ortodontik cekat juga bisa menghasilkan gerakan gigi yang merugikan. Karena alat ini dicekatkan pada gigi-gigi, tekanan yang terlalu besar tidak akan menyebabkan pesawat terungkit tetapi justru dapat merusak struktur pendukung gigi (Foster, 1993).

12

III. LAPORAN KASUS

A. Identifikasi Pasien No. Kartu Nama Umur : 09.12.01 : Christina Paramitha : 18 tahun 4 bulan

Jenis Kelamin : Perempuan Pekerjaan Alamat Telpon : Siswa : Jl. Perumnas no. 249 G CT, Depok, Sleman : 0899 5053 784

B. Pemeriksaan Subyektif Keluhan utama : Seorang perempuan berusia 18 tahun datang ke RSGM Prof. Soedomo bagian Periodonsia dengan keluhan gusi bengkak pada bagian depan rahang bawah. Riwayat perjalanan penyakit : Pasien merasa giginya kotor karena banyak karang giginya, setelah dilakukan pembersihan karang gigi, gusi tetap membesar. Riwayat kesehatan oral : Pasien pernah mencabutkan gigi belakang kiri atas karena berlubang. Riwayat kesehatan umum : Pasien Sehat, tidak dicurigai menderita

penyakit sistemik. C. Pemeriksaan Obyektif Vital sign Tensi Nadi Respirasi : 100/70 mmHg : 71x/ menit : 23x/ menit

13

Suhu

: afebris

Pemeriksaan Ekstra Oral Kepala : T.A.K Leher TMJ : T.A.K Wajah : T.A.K : T.A.K

Pemeriksaan Intra Oral Mukosa Lidah Mukosa Pipi Mukosa Bibir Gigi Geligi : T.A.K Mukosa Palatum : T.A.K : T.A.K : T.A.K :
o

8 7 6 5 4 3 2 1 7 6 5 4 3 2 1

1 2 3 4 5x 6 7 8o 1 2 3 4 5 6 7 8o

o8

Gingiva : warna tekstur konsistensi bentuk BOP resesi poket

: kemerahan : unstippling : lunak

3 2 1 3 2 1

1 2 3 1 2 3

3 2 1 1 2 3 : membulat 3 2 1 1 2 3 : ada (+) 1 1 :: 2 mm = 1 mm = 1 32 1 23

D. Diagnosa Enlagement gingiva 3 2 1 1 2 3

E. Prognosis

14

Baik, karena usia pasien masih muda, kesehatan yang baik, sikap pasien yang kooperatif dan komunikatif.

F. Rencana Perawatan 1. Initial therapy yaitu DHE, scaling dan polishing. Bertujuan untuk meredakan gingivitis yang terjadi, terutama yang disebabkan karena faktor lokal yaitu deposit keras maupun lunak yang melekat pada permukaan gigi. 2. Corrective therapy, pada tahap ini dilakukan gingivektomi diikuti dengan gingivoplasti yang bertujuan untuk menghilangkan poket gingiva,

mengembalikan fungsi anatomis dan fisiologis gingiva. 3. Maintenance phase, pada fase ini dilakukan kontrol untuk memeriksa perubahan kondisi gingiva pasca bedah gingivektomi.

15

IV. JALANNYA PERAWATAN

A. Alat 1. 2. 3. 4. 5. Cytojet Ultra Sonic Scaler Pinset Kaca Mulut Plat Kaca 6. 7. 8. 9. Spatula Kuret Saliva ejector Water syringe

B. Bahan 1. 2. 3. 4. Larutan anestesi Kapas Kasa steril Iod 5. 6. 7. Larutan irigasi steril Gliserin Periodontal dressing

C. Jalannya operasi 1. Area operasi diolesi dengan larutan iod kemudian dilakukan anestesi lokal dengan teknik infiltrasi pada area tersebut (gambar 1) 2. Kedalaman poket ditandai menggunakan poket marker (gambar 2) 3. Membuat eksisi (insisi miring ke luar) awal sedikit lebih ke apikal dari titik-titik tersebut dengan pisau bermata lebar (pisau Kirkland). Insisi dibevel pada sudut kurang lebih 45o terhadap akar gigi dan berakhir pada ujung atau lebih ke bawah dari ujung apikal perlekatan epitel (dasar poket) (gambar 3). 4. Mengeksisi jaringan di daerah interproksimal menggunakan pisau bermata kecil (pisau Orban). Sudut mata pisau tersebut kira-kira sama dengan sudut mata pisau Kirkland ketika melakukan insisi awal. Kemudian jaringan gingiva yang telah dieksisi dibuang

16

5. Deposit yang menempel pada permukaan akar dibersihkan dengan skaling dan root planing (Gambar 4). 6. Daerah operasi diirigasi dengan larutan irigasi steril untuk membersihkan partikelpartikel yang tersisa kemudian daerah operasi dikeringkan. Menekan daerah luka dengan kain kasa yang telah dibasahi dengan air steril untuk menghentikan perdarahan (Gambar 5). 7. Luka ditutup dengan periodontal pack agar penyembuhan jaringan gingiva optimal (Gambar 5). 8. Pemberian resep R/ Amoxilin mg 500 kapl. No. XII S.3.d.d kapl. I R/ Danalgin mg 500 kapl. No. V S.p.r.n. kapl. I 9. Pasien diintruksikan untuk tetap menjaga kebersihan mulutnya dengan tetap menyikat gigi tetapi dengan hati-hati. 10. Kontrol 1 minggu setelah operasi untuk melepas periodontal pack dan melihat proses perkembangan penyembuhan lukanya (Gambar 6).

Gambar 1. Area operasi diolesi dengan larutan iod dan dilakukan anestesi

Gambar

2.

Kedalaman

poket

ditandai menggunakan poket marke

17

Gambar 3. Membuat eksisi

Gambar 4. Deposit yang menempel pada permukaan akar dibersihkan

Gambar 5. Menekan daerah luka dengan kain kasa yang telah dibasahi dengan air steril untuk menghentikan perdarahan

dengan kuret

Gambar. 6 Luka ditutup dengan periodontal

18

V. HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil

Gambar 7. Sebelum gingivektomi

Gambar 8. Setelah gingivektomi

Gambar 9. Hari ke 6 setelah gingivektomi

B. Pembahasan Pasien datang dengan keluhan gusi membesar pada regio anterior bawah. Berdasarkan anamnesis tidak dicurigai pembesaran gingiva berhubungan dengan penyakit sistemik karena pasien tidak dicurigai adanya penyakit sistemik. Respon jaringan terhadap bakteri, rangsangan kimia serta fisik dapat diperberat oleh keadaan sistemik. Untuk metabolisme jaringan dibutuhkan material-material seperti hormon, vitamin, nutrisi dan oksigen. Bila keseimbangan material ini

19

terganggu dapat mengakibatkan gangguan lokal yang berat. Gangguan keseimbangan tersebut dapat berupa kurangnya materi yang dibutuhkan oleh selsel untuk penyembuhan, sehingga iritasi lokal yang seharusnya dapat ditahan atau hanya menyebabkan inflamasi ringansaja, dengan adanya gangguan keseimbangan tersebut maka dapat memperberat atau menyebabkan kerusakan jaringan periodontal.Pembekakan kemungkinan karena pengaruh hormonal pada usia remaja. Penyakit periodontal dipengaruhi oleh hormon steroid. Peningkatan hormon estrogen dan progesteron selama masa remaja dapat memperhebat inflamasi margin gingiva bila ada faktor lokal penyebab penyakit periodontal (Newman, 2002). Beberapa saat setelah operasi terlihat warna kemerahan pada margin gingiva yang dieksisi. Daerah tersebut kemudian ditutup dengan periodontal pack atau dressing dengan tujuan : melindungi luka dari iritasi, menjaga agar daerah luka tetap dalam kondisi bersih, mengontrol perdarahan, dan mengontrol produksi jaringan granulasi yang berlebihan. Periodontal pack dapat mempercepat proses penyembuhan dan memberikan kenyamanan pasca operasi pada pasien (Fedi, 2004) Pasien diberi resep obat Amoxicillin dan Danalgin. Amoxicillin merupakan antibiotik yang diperlukan untuk mencegah terjadinya infeksi dan kontaminasi bakteri setelah operasi. Amoxicillin diminum 3 kali sehari sampai habis. Sedangkan danalgin merupakan analgetik untuk mengurangi rasa sakit pasien pasca operasi, diberikan analgetik danalgin karena paisien memiliki sakit maag. Obat ini diminum hanya pada saat pasien merasa sakit. Obat kumur berguna untuk mengontrol plak sehingga akan menjaga daerah operasi tetap bersih untuk membantu proses penyembuhan (Manson dan Eley, 2003). Enam hari pasca operasi, periodontal pack sebelah labial dibuka. Periodontal pack sebelah palatal sudah terlepas lebih dulu. Gingiva tampak masih berwarna kemerah-merahan dan sudah menunjukkan mulainya proses reepitelisasi. Menurut Fedi (2004) proses penyembuhan meliputi pembentukan bekuan darah, pembentukan jaringan granulasi, epitelisasi, pembentukan kolagen, regenerasi dan maturasi. Sel akan menutupi luka dalam waktu 7-14 hari dan terkeratinisasi setelah

20

2-3 minggu. Pembentukan perlekatan epitel yang baru berlangsung selama 4 minggu. (Manson dan Eley, 2003). Untuk tetap menjaga kebersihan daerah operasi dan mengoptimalkan proses penyembuhan, pasien kembali dipasang periodontal pack dan akan dibuka seminggu kemudian. VI. KESIMPULAN

1. Pembesaran gingiva pada kasus ini merupakan inflamasi kronis yang disebabkan oleh hormonal. 2. Pembesaran gingiva dapat dikoreksi dengan memperbaiki kondisi kebersihan mulut, eliminasi faktor predisposisi lokal (deposit dan kalkulus), dan gingivektomi untuk rekonturing gingiva. 3. Hasil operasi memuaskan pasien, sesuai dengan rencana perawatan dan prognosis yang telah direncanakan, terlihat bahwa bentuk dan warna gingiva sesuai dengan bentuk dan warna gingiva yang normal.

V. DAFTAR PUSTAKA . 1. Carranza, F.A., dan Takei, H.H., 2006, Gingival Surgical Techniques, dalam M.. Newman, H.H. Takei, P.R. Klokkevold dan F.A. Carranza (eds): Carranzas Clinicall Periodontology, 9th ed., W.B. Saunders Co., St Louis 2. Fedi, P.F., Vernino, A.R., dan Gray, J.L., 2004, Silabus Periodonti, EGC, Jakarta 3. Foster, T.D., 1993, Buku Ajar Ortodonsi, EGC, Jakarta 4. Harty, F.J., Ogston, R., 1995, Kamus Kedokteran Gigi (terj.), Penerbit Buku Kedokteran EGC, Jakarta, h.139, 219 5. Manson, J.D. dan Eley, B.M., 1993, Buku Ajar Periodonti, ed 2, Hipocrates, Jakarta. 6. Newman, M.G., Takei, H.H., Carranza, F.A, 1996, Carranzas Clinical Periodontology, 9th ed., Saunders Comp., Phildelphia. 7. Newman,M.G, Takei HH, Carranza FA. Carranza s Clinical periodontology.9 8. th ed.Philadelphia.W.B Saunders Co; 2002: 312-44 9. Reddy, M.S., 2003, Achieving Gingival Esthetics, J Am Dent Assoc,134 (3) : 295 304. 10. Wolf, H.F., Rateitschak, K.H. dan Hassell, T.M., 2005, Color Atlas of Dental Medicine: Periodontology, Thieme Stutgart, New York

21

22