Anda di halaman 1dari 8
Prof. Dr. HADI SUSILO ARIFIN PS ARSITEKTUR LANSKAP SEKOLAH PASCASARJANA - IPB

Prof. Dr. HADI SUSILO ARIFIN PS ARSITEKTUR LANSKAP SEKOLAH PASCASARJANA - IPB

PENGGUNAAN LAHAN DITENTUKAN:  Jenis dan kesuburannya  Keadaan lapangan, topografi, relief dan ketinggian 

PENGGUNAAN LAHAN DITENTUKAN:

Jenis dan kesuburannya

Keadaan lapangan, topografi, relief dan ketinggian

Aksesibilitas

Kemampuan dan kesesuaian lahan

Tekanan penduduk

SIFAT DAERAH 0 - 10 METER
SIFAT DAERAH 0 - 10 METER

Terletak di tepi pantai, sering merupakan daerah “pertemuan” darat dan air

Sebagian besar daerah ini tergenang air secara periodik ataupun terus-menerus, pada umumnya antara 0 - 3 meter, 0 - 7 meter, ataupun 0 - 10 meter.

Pemukiman & tegalan di wilayah ini

terletak pada daerah yang tidak terkena

genangan/ banjir.

MK PENGELOLAAN LANSKAP

PENGGUNAAN LAHAN
PENGGUNAAN LAHAN

Data yang tepat mengenai penggunaan lahan pada saat ini sulit diperoleh, karena:

Belum ada standarisasi klasifikasi penggunaan lahan

Belum ada survei atau sensus yang menyeluruh

KONSEPSI WILAYAH TANAH USAHA
KONSEPSI WILAYAH TANAH USAHA

Daerah antara 0 - 10 meter

Daerah antara 10 - 25 meter

Daerah antara 25 - 500 meter

Daerah antara 500 - 1,000 meter

Daerah di atas 1,000 meter

SIFAT DAERAH 10 - 25 METER
SIFAT DAERAH 10 - 25 METER

Sebenarnya letak batas tertinggi daerah ini bisa lebih tinggi, antara 25 - 40 meter.

Di sini banyak dijumpai bendungan- bendungan besar.

Dijumpai daerah persawahan terbaik.

Daerah terpadat jumlah penduduknya.

SIFAT DAERAH 25 - 500 METER
SIFAT DAERAH 25 - 500 METER

Masih sebagian besar merupakan daerah pertanian.

Jumlah lahan datar dan berigasi baik mulai berkurang. Di antara 25 - 500 m, daerah dengan

ketinggian

lebih kasar, perkampungannya sedikit

tersebar dan memencil.

100 m ke atas topografinya

SIFAT DAERAH DI ATAS 1,000 METER  Bukan lagi sebenarnya daerah tropika, karena rata-rata suhu

SIFAT DAERAH DI ATAS 1,000

METER

Bukan lagi sebenarnya daerah tropika, karena rata-rata suhu sudah cukup rendah.

Biasanya iklim sedang di daerah tropika mulai pada ketinggian 1,200 m ke atas.

Usaha tanaman tropika sudah tidak ekonomis lagi.

Dijumpai banyak daerah terjal, umumnya dihutankan.

 Hutan Pantai: terdapat di pantai berlumpur atau sedikit berpasir, berbatu, regosol pasir, di atas

Hutan Pantai: terdapat di pantai berlumpur atau sedikit berpasir, berbatu, regosol pasir, di atas garis pasang tertinggi (Calophyllum inophyllum, Baringtonia asiatica, Terminalia catapa, Casuarina equistifolia, Manilkara kaukii).

Hutan Payau: di pantai berlumpur atau sedikit berpasir, dipengaruhi pasang surut air laut, tidak terkena ombak keras, tanah aluvial payau (Avicennia, Sonneratia, Rhizophora, Bruguiera, Nypha fruticans).

Hutan Rawa: di sekitar muara sungai, selamanya atau sering tergenang air tawar dari sungai (kaya hara), tanah aluvial dan gley humus (Alstonia, Shorea balangeran, Shorea uliginosa)

MK PENGELOLAAN LANSKAP

SIFAT DAERAH 500 - 1,000 METER  Merupakan daerah peralihan antara daerah yang benar-benar beriklim

SIFAT DAERAH 500 - 1,000 METER

Merupakan daerah peralihan antara daerah yang benar-benar beriklim panas (tropika) dan daerah yang beriklim sedang di atas 1,000 m.

Dijumpai tumbuhan tropis meskipun produksinya tidak terlalu baik.

Alam mulai mengadakan pemilihan, yaitu temperatur.

Lazimnya memiliki CH terbanyak.

Diperlukan tumbuhan penutup dan pencegah erosi.

FORMASI HUTAN ALAM & PENYEBARANNYA  : Sumatera, Jawa, Bali, Sulawesi  : Sumatera, Jawa,

FORMASI HUTAN ALAM & PENYEBARANNYA

: Sumatera, Jawa, Bali, Sulawesi

: Sumatera, Jawa, Kalimantan, Papua

: Sumatera, Kalimantan, Papua

Hutan Rawa Gambut : Sumatera, Kalimantan

: Sumatera, Kalimantan, Papua

Hutan Pantai

Hutan Payau

Hutan Rawa

Hutan Hujan

: Jawa, Nusa Tenggara, Sulawesi

Hutan Musim



Hutan Rawa Gambut: semacam hutan rawa tetapi tumbuh di atas lapisan gambut yang tebal dan digenangi air gambut yang berasal dari air hujan (miskin hara), tanah organosol (Alstonia, Campnosperma, Calophyllum).

Hutan Hujan: paling luas penyebarannya dan paling beraneka ragam, pada daerah iklim basah (type A dan B), tanah podsolik, latosol, aluvial (HH bawah< 1000m:

Shorea, Dipterocarpus, Agathis, etc.; HH tengah 1000- 3300m: Quercus, Podocarpus, Schima wallichii, Pinus, etc.; HH atas 3300-4100m: Podocarpus, Araucaria, etc.)

Hutan Musim: di daerah beriklim musim (type C dan D), tanah latosol, mediteran dan grumusol (HM bawah:

Tectona grandis, Acacia, Eucaliptus alba, etc.; HM tengah dan atas:Casuarina junghuniana, Eucalyptus platyphylla, Pinus merkusii)

HUTAN BERDASARKAN FUNGSINYA
HUTAN BERDASARKAN FUNGSINYA

Hutan Lindung

Hutan Produksi

Hutan Suaka Alam dan Wisata

Hutan Cadangan

Aplikasi Ilmiah dari Prinsip-prinsip Proses Daerah Aliran Sungai untuk: Protection Improvement Management DAS

Aplikasi Ilmiah dari Prinsip-prinsip Proses Daerah Aliran Sungai untuk:

ProtectionAplikasi Ilmiah dari Prinsip-prinsip Proses Daerah Aliran Sungai untuk: Improvement Management DAS

ImprovementAplikasi Ilmiah dari Prinsip-prinsip Proses Daerah Aliran Sungai untuk: Protection Management DAS

ManagementAplikasi Ilmiah dari Prinsip-prinsip Proses Daerah Aliran Sungai untuk: Protection Improvement DAS

DASAplikasi Ilmiah dari Prinsip-prinsip Proses Daerah Aliran Sungai untuk: Protection Improvement Management Aplikasi Ilmiah dari Prinsip-prinsip Proses Daerah Aliran Sungai untuk: Protection Improvement Management

WATERSHED
WATERSHED

Is an area of internal drainage, the size an shape of which is determined by surface topography. Is completely encircled by a divide or a ridge line. Precipitation falling on one side of the divide drains toward the outlet or mouth of the watershed on that side of the divide.

MK PENGELOLAAN LANSKAP

 Hutan Lindung: kawasan hutan yang diperuntukan guna mengatur tata air, mencegah banjir dan erosi

Hutan Lindung: kawasan hutan yang diperuntukan guna mengatur tata air, mencegah banjir dan erosi dan memelihara kesuburan tanah.

Hutan Produksi: kawasan hutan yang diperuntukkan guna memproduksi hasil hutan untuk memenuhi keperluan masyarakat pada umumnya, dan khususnya untuk bangunan, industri, dan ekspor.

Hutan Suaka Alam: kawasan hutan yang karena sifatnya yang khas diperuntukan secara khusus untuk perlindungan alam hayati dan/atau manfaat lain.

Hutan Wisata: kawasan hutan yang diperuntukan secara khusus untuk dibina dan dipelihara guna kepentingan wisata.

Hutan Cadangan: hutan konversi, sebagai cadangan penggunaan lainnya.

TUJUAN  Memperbaiki penyediaan air  Mengurangi/memperkecil “range” antara aliran arus yang ekstrim lambat –

TUJUAN

Memperbaiki penyediaan air

Mengurangi/memperkecil “range” antara

aliran arus yang ekstrim

lambat arus banjir yang destruktif.

arus yang ekstrim lambat – arus banjir yang destruktif. aliran yang  Mengurangi produksi sedimen 

aliran yang

Mengurangi produksi sedimen

Meningkatkan/memperbaiki kualitas air untuk berbagai penggunaan

DAERAH ALIRAN SUNGAI
DAERAH ALIRAN SUNGAI

DAS

DAERAH ALIRAN SUNGAI  DAS drainage area / river basin / watershed / catchment area 

drainage area / river basin / watershed /

catchment area

Watershed: rangkaian punggung gunung atau bagian-bagian yang tertinggi saja dari drainage area tsb.

Bagian dari muka bumi, yang airnya mengalir ke dalam sungai yang bersangkutan, apabila hujan jatuh.

Sebuah pulau selamanya terbagi habis ke dalam daerah-daerah aliran sungai.

Landuse in Cianjur watershed Mt. Gede Legend Cianjur City Forest Plantation Forest garden 0 Upland
Landuse in Cianjur watershed Mt. Gede Legend Cianjur City Forest Plantation Forest garden 0 Upland
Landuse in Cianjur watershed
Mt. Gede
Legend
Cianjur City
Forest
Plantation
Forest garden
0
Upland field
N
10km
Paddy field
Residential area
Cianjur Watershed 1991 Cianjur Watershed 1997
Cianjur Watershed 1991
Cianjur Watershed 1997

MK PENGELOLAAN LANSKAP

field N 10km Paddy field Residential area Cianjur Watershed 1991 Cianjur Watershed 1997 MK PENGELOLAAN LANSKAP
field N 10km Paddy field Residential area Cianjur Watershed 1991 Cianjur Watershed 1997 MK PENGELOLAAN LANSKAP
field N 10km Paddy field Residential area Cianjur Watershed 1991 Cianjur Watershed 1997 MK PENGELOLAAN LANSKAP
MK PENGELOLAAN LANSKAP 5
MK PENGELOLAAN LANSKAP 5
MK PENGELOLAAN LANSKAP 5

MK PENGELOLAAN LANSKAP

MK PENGELOLAAN LANSKAP 5
MK PENGELOLAAN LANSKAP 5
MK PENGELOLAAN LANSKAP 5
ISTILAH YANG BERKAITAN:  Alur sungai  Hilir sungai  Hulu sungai  Infiltrasi 

ISTILAH YANG BERKAITAN:

Alur sungai

Hilir sungai

Hulu sungai

Infiltrasi

Mata air

Muara sungai

Perkolasi

Pinggir basah alur

Pinggir kering alur

Ragam ukuran DAS dapat diketahui dengan

mulai dari hanya

beberapa ha pada suatu area ~ DAS besar

delineasi peta hidrologi

meliputi sejumlah “river basin”.

mulai dari hanya beberapa ha pada suatu area ~ DAS besar delineasi peta hidrologi meliputi sejumlah
KARAKTER FISIK Area : penghitungan dengan planimeter/dot grids pada peta-peta planimetrik, topografi atau foto udara.

KARAKTER FISIK

Area: penghitungan dengan planimeter/dot grids pada peta-peta planimetrik, topografi atau foto udara. sigma scan pro.

planimetrik, topografi atau foto udara. sigma scan pro. Shape : mempengaruhi pola aliran arus. ShapeIndex =

Shape: mempengaruhi pola aliran arus.

ShapeIndex =

0.28 x watershed parimeter (km)

Watershed area (km 2 )

arus. ShapeIndex = 0.28 x watershed parimeter (km) √ Watershed area (km 2 ) Circular =

Circular = 1 Non circular > 1

FORMULA: Slope (%) = c x l a (100) c = interval kontur (m); l

FORMULA:

Slope (%) =

c x l

a

(100)

c = interval kontur (m); l = panjang kontur total (m); a = luas watershed (m2)

Slope (%) =

e

d

(100)

e = perbedaan elevasi antara titik tertinggi dan titik terendah pada watershed

d = jarak horizontal antara elevasi tertinggi dan terendah

MK PENGELOLAAN LANSKAP

FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI STREAMFLOW - Karakter fisik - Karakter iklim dan cuaca  Penting bagi

FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI STREAMFLOW

- Karakter fisik

- Karakter iklim dan cuaca

Penting bagi landscape manager yang memperhatikan sumberdaya air penghitungan

fisik - Karakter iklim dan cuaca  Penting bagi landscape manager yang memperhatikan sumberdaya air penghitungan
 Slope : mempengaruhi velocity dan erosive power ~ infiltrasi, evapotranspirasi, RH tanah , air

Slope: mempengaruhi velocity dan erosive power ~ infiltrasi, evapotranspirasi, RH tanah , air tanah.

Slope:

- Diukur dengan clinometer, abney level

- Estimasi dari peta topografi

 Elevasi: faktor penting ~ pola temperatur dan pola presipitasi di pegunungan. Hubungan
 Elevasi: faktor penting ~ pola temperatur dan
pola presipitasi
di pegunungan. Hubungan

elevasi terhadap area di dalam DAS digambarkan dengan “hypsometric curve” mengestimasi proporsi DAS yang terletak di

atas/di bawah elevasi terpilih.

DAS yang terletak di atas/di bawah elevasi terpilih.  Orientasi : mempengaruhi ketersediaan air untuk

Orientasi: mempengaruhi

bawah elevasi terpilih.  Orientasi : mempengaruhi ketersediaan air untuk streamflow ~ berhubungan dengan

ketersediaan air

untuk streamflow ~ berhubungan dengan kehilangan air dalam DAS akibat transpirasi dan evaporasi. Orientasi DAS diindikasikan oleh arah aliran arus utama; pengukuran derajat azimuth (N, NE, E, etc) dengan compass.

 Jaringan drainase : pola atau susunan alur sungai alami pada DAS penting bagi setiap

Jaringan drainase: pola atau susunan alur

sungai alami pada DAS

penting bagi setiap “drainage basin”. * Mempengaruhi efisiensi sistem drainase dan mempengaruhi sifat hidrographic.

sistem drainase dan mempengaruhi sifat hidrographic. karakter fisik yang * Memberi informasi pengetahuan tanah

karakter fisik yang

* Memberi informasi pengetahuan tanah dan kondisi permukaan (existing) pada sebuah

DAS
DAS

penting bagi landscape manager

erosive forces

KARAKTER IKLIM & CUACA Pengukuran:  Precipitation  Air temperature  Relative humidity  Wind

KARAKTER IKLIM & CUACA

Pengukuran:

Precipitation

Air temperature

Relative humidity

Wind speed & direction

Evaporation

Incoming solar radiation

Etc

Pengukuran cuaca dan evaluasinya dapat memberikan index terhadap iklim pada area tertentu pengetahuan ini sangat berguna bagi “Watershed Manager”.

dapat memberikan index terhadap iklim pada area tertentu pengetahuan ini sangat berguna bagi “ Watershed Manager
Yang berpengaruh adalah: * Penampang melintang sungai * Mean velocity (v) Unit m 3 /detik

Yang berpengaruh adalah:

* Penampang melintang sungai

* Mean velocity (v)

Unit

m 3 /detik ; l/detik

sungai * Mean velocity (v) Unit m 3 /detik ; l/detik Q = a x v

Q =

a x v

Kecepatan dipermukaan > rata-rata kecepatan arus. Rata-rata kecepatan ~ a reduction factor (85 %)

MK PENGELOLAAN LANSKAP

Metoda Quantifikasi dari Jaringan Drainase: Sistematically ordering the network of branches & tributary stream.  

Metoda Quantifikasi dari Jaringan Drainase:

Sistematically ordering the network of branches & tributary stream.

 

l

Drainage density =

(km/km 2 )

 

a

l = total length of perenial & intermittent streams on a watershed (km) ; a = watershed area (km 2 ) Kerapatan drainase memperlihatkan kerapatan ruang alur sungai pada DAS.

PENGUKURAN STREAMFLOW
PENGUKURAN STREAMFLOW
PENGUKURAN STREAMFLOW  penting sebagai informasi hidrologis bagi watershed manager:  Peak & low flows *

penting sebagai informasi hidrologis bagi watershed manager:

Peak & low flows

 Peak & low flows * * seasonal daily
 Peak & low flows * * seasonal daily

*

* seasonal

daily

*

annual runoff

Stream flow

* seasonal daily * annual runoff  Stream flow hasil dari presipitasi berhubungan dengan cuaca, tanah

hasil dari presipitasi

* annual runoff  Stream flow hasil dari presipitasi berhubungan dengan cuaca, tanah vegetasi & topografi.

berhubungan dengan cuaca, tanah vegetasi & topografi.

berhubungan dengan cuaca, tanah vegetasi & topografi.  Jumlah stream flow sebuah DAS discharge ~ laju

Jumlah stream flow sebuah DAS discharge ~ laju aliran air, volume air yang melalui lokasi tertentu per rait waktu.

Metoda “Slope Area” ~ Manning - Chezy Formula Q = a x r ⅔ x

Metoda “Slope Area” ~ Manning - Chezy Formula

Q

=

a

x

r

x

s ½

b

a

= cross sectional area (m 2 )

r

= hydraulic radius (m 2 /m), dihitung atas pembagian dari luas penampang melintang arus dengan keliling yang terbasahi

s

= slope of channel (m/m)

B

= roughness coefficient

variasi 0.02 in smooth

variasi 0.02 in smooth

channels ~ 0.15 in rough weedy channels.

SECTION METHOD Q = a 1 v 1 + a 2 v 2 + …

SECTION METHOD

Q = a 1 v 1 + a 2 v 2 + … + a n v n

n = number of section Jumlah n sekitar 10

+ … + a n v n n = number of section Jumlah n sekitar 10

cukup, tergantung:

- Ukuran saluran

- Jumlah turbulensi

MK PENGELOLAAN LANSKAP