Anda di halaman 1dari 9

Pengaruh Kebijakan OPEC Dalam Menentukan Harga Minyak Terhadap Negara-Negara Importir Minyal di Eropa

OPEC (Organization of the Petroleum Exporting Countries) merupakan organisasi negara-negara pengekspor minyak. OPEC didirikan 43 tahun yang lalu oleh lima negara yaitu; Irak, Iran, Kuwait, Arab Saudi dan Venezuela pada tanggal 14 September 1960. Lalu anggota OPEC bertambah 8 negara, Angola, Algeria, Ekuador, Indonesia, Libia, Uni Emirat Arab, Libia dan Nigeria. Namun Indonesia keluar dari OPEC pada tahun 2008 lalu. Negara-negara anggota OPEC memproduksi sekitar 40% dari output minyak dunia dan juga 15% gas alam. Dalam menentukan harga minyak mentah di pasar internasional OPEC memiliki model kartel untuk menentukan harga minyak di pasar dunia. Dalam model kartel biasanya pengawasan yang dilakukan berupa, menetapkan peraturan dan hukuman bagi anggotanya. Pengawasan yang dilakukan berupa pengawasan harga, output, diversifikasi produk, investasi dan pengumpulan keuntungan. Tujuan didirikan OPEC adalah untuk mengkoordinasi dan menyatukan kebijakan perminyak bagi setiap negara-negara anggota dan menjamin stabilisasi pasar minyak untuk mengamankan pasokan, efisiensi, ekonomi dan keteraturan suplai kepada konsumen minyak bumi, penghasilan yang tetap bagi produsen dan pengembalian modal yag adil bagi investor di industri minyak 1.1 Penentuan Harga Minyak Oleh OPEC Sebelum negara-negara pengekspor minyak yang tergabung dalam OPEC melepas minyak untuk diperdagangkan di pasar internasional, OPEC akan melakukan rapat dewan direksi bersama dengan negara-negara anggotanya. Harga minyak mentah ditentukan oleh banyaknya jumlah permintaan, namun OPEC telah menentukan jumlah pembatasan kuota minyak yang akan diperdagangkan tiap harinya. OPEC untuk periode 2007-2008 OPEC telah memotong jumlah kuota pengiriman minyaknya sebesar USD 1,4 juta per barel dan yang terbaru pada akhir tahun 2008-2009 OPEC telah memangkas kuota minyaknya hingga USD 2,2 Juta barel per harinya. Hal ini dikarenakan OPEC ingin memepertahankan harga minyaknya di pasar dunia dan juga untuk melindungi kepentingan kartelnya. 1.2 Impor Minyak di Negara-Negara Eropa Sejauh ini minyak merupakan komoditi utama pendapatan negara-negara anggota OPEC. Dalam sektor perekonomian dunia negara-negara anggota merupakan negara eksportir minyak yang terbesar untuk beberapa negara termasuk negara-negara di Eropa. Eropa adalah target pasar bagi negara-negara pengekspor minyak selain Amerika Serikat dan Cina. Mengapa demikian ? hal ini dikarenakan sebagian besar negara Eropa terutama negara di Eropa Barat adalah negara-negara maju yang memiliki sektor industri yang pesat. Negara-negara di Eropa mengimpor minyak mentah untuk memenuhi kebutuhan dalam negerinya. Walaupun kuota yang

dipasok oleh negara-negara pengekspor minyak tidak lah sebesar pasokan ke Amerika Serikat dan Cina namun pasar Eropa adalah target yang menguntungkan bagi negara eksportir minyak. Sejak terjadinya krisis minyak ditahun 1973, dimana negara-negara yang tergabung dalam OPEC menetapkan embargo minyak kepada negara Amerika Serikat, Jepang dan negara-negara Eropa Barat yang membantu serangan Israel ke Mesir dan Syiria. Pada krisis minyak ditahun 1973, membuat negara yang di embargo khususnya Amerika Serikat mengalami kerugian yang amat besar terutama dalam hal pendistribusian minyak. Hal ini menimbulkan sentimen negara-negara yang diembargo terhadap OPEC. Akibatnya pada tahun 1980 harga minyak mentah di pasar dunia mengalami penurunan. Pada masa perang teluk yang melibatkan Amerika Serikat, Irak dan Kuwait, harga minyak di dunia pun terus mengalami penurunan pada kisaran USD 15 per barel. Namun seiring dengan perkembangan dunia, dimana negara-negara di dunia berusaha untuk memajukan sektor industrinya sehingga permintaan akan pasokan minya di dunia makin hari- makin bertambah. Permintaan pasar dunia ini yang membuat harga minyak berangsurangsur membaik dan terus melejit naik. Pada awal tahun 2004 harga minyak dunia sempat turun pada kisaran USD 35,9 per barel. Negara Eropa merupakan negara importir minyak, contohnya saja negara Inggris yang mengimpor minyak mentah dari Venezuela. Venezuela bukan hanya mengekspor ke Inggris namun ke sebagian besar negara Uni Eropa tersebut. Selain Venezuela, Arab Saudi pun mengekspor minyanya ke Eropa terutama Eropa Barat. Jika melihat adanya jumlah kuota yang dikirim ke negara-negara Eropa dengan jumlah sekitar 1.3 mb di tahun 2006 dan jumlah permintaan akan minyak mentah diperkirakan akan naik ditahun 2015 sebesar 2 mb. Justru pernyataan yang mengatakan jumlah permintaan minyak di Eropa akan turun justru salah jika kita melihat kembali data yang di paparkan oleh OPEC. Naiknya harga minyak tidak menyulut pasar di Eropa untuk mengurangi jumlah kuota impor minyaknya. Kenaikan harga minyak yang diperkirakan akan mencapai USD 130 per barel tidak melemahkan permintaan minyak di pasar Eropa. Hal ini disebabkan karena banyaknya permintaan dalam negeri sebagaimana telah diketahui negara di Eropa merupakan negara maju yang memiliki sektor industri yang berkembang dengan pesat. Sektor industri di negara-negara Eropa membutuhkan minyak untuk menjalankan kegiatan produksinya. Sehingga tidak adanya pengurangan jumlah kuota impor minyak yang dilakukan oleh negara-negara importirnya di Eropa. Contohnya adalah negara Inggris. Inggris menyatakan bahwa harga kenaikan minyak dunia membuat kekhawatiran tersendiri namun Inggris tidak berniat mengurangi kuota impor minyaknya dari negara-negara yang tergabung di OPEC. Itu dikarenakan Inggris telah melakukan kontrak dengan OPEC untuk meningkatkan kuota pasokan minyak ke negaranya. Negara-negara di Eropa merupakan negara pengimpor minyak bukanlah negara penghasil minyak, sehingga bagaimanapun negara-negara di Eropa akan terus membutuhkan pasokan minyak dari negara-negara importir minya (OPEC)

Minyak melonjak didorong laporan penurunan ekspor Iran

New York (ANTARA News) - Harga minyak dunia melonjak naik pada Jumat (Sabtu pagi WIB), karena pedagang menangkap laporan bahwa ekspor minyak mentah Iran diperkirakan akan jatuh secara signifikan bulan ini. Kontrak utama New York, minyak mentah West Texas Intermediate untuk Mei, melonjak ke setinggi 108,25 dolar AS per barel -- tertinggi sejak 2 Maret -- sebelum mundur kembali menjadi 106,87 dolar AS, naik 1,52 dolar AS dari tingkat penutupan Kamis. Minyak mentah Brent North Sea untuk pengiriman Mei melonjak ke setinggi 127,06 dolar AS per per barel dalam transaksi sore di London. Brent kemudian berakhir pada 125,13 dolar AS, atau naik 1,99 dolar AS. Tidak ada angka resmi tentang berapa banyak ekspor minyak mentah Iran telah jatuh, tetapi laporan yang belum dikonfirmasi berseliweran tentang penurunan 14 persen. Itu cukup untuk menakuti pasar. "Kabar tentang penurunan ekspor minyak Iran menawarkan momentum sisi kenaikan kuat untuk pasar minyak hari ini, dengan minyak mentah WTI melonjak untuk menguji ulang 108 dolar AS per barel," tambah analis Sucden, Myrto Sokou. "Berita itu mungkin mendukung pasar minyak untuk jangka pendek. Selain itu, dolar AS yang lebih lemah membantu reli kuat." Ketegangan antara produser minyak mentah Iran dan Barat terus menjadi faktor kunci yang mempengaruhi harga minyak. Presiden AS Barack Obama, Jumat, mengatakan bahwa ketegangan dengan Iran dan "ketidakpastian" di wilayah itu menambahkan premi 20-30 dolar AS untuk harga minyak.

"Kuncinya yang mendorong harga gas lebih tinggi sebenarnya adalah pasar minyak dunia dan ketidakpastian tentang apa yang terjadi di Iran dan Timur Tengah," katanya dalam wawancara dengan American Automobile Association. Obama juga mengatakan, meningkatnya permintaan minyak di China dan India sedang mendorong harga. "Karena semakin banyak orang di seluruh dunia memperlihatkan standar hidup mereka naik, mereka membeli mobil, mereka memiliki permintaan minyak, yang menciptakan permintaan lebih besar di seluruh dunia dan itu meningkatkan harga." Sementara itu pemerintah Afrika Selatan, Jumat mengatakan, pihaknya masih

mempertimbangkan apakah akan mengurangi impor minyak mentah Iran karena sanksi AS. "Belum ada keputusan telah diambil oleh pemerintah tentang masalah sanksi karena respon opsi penyelidikan jauh dari selesai," demikian departemen energi mengatakan. "Pemerintah juga berbicara dengan sejumlah negara lain yang memasok minyak mentah untuk menentukan potensi memasok mereka." Media lokal pada Jumat melaporkan bahwa Teheran memasok sedikitnya 25 persen dari kebutuhan minyak mentah Afrika Selatan, demikian AFP.

Mekanisme Harga Minyak Dunia dan Indonesia


1. Sebelum bisa produksi, perusahaan minyak akan mengarahkan ahli-ahli geologi untuk mengaji potensi sebuah kawasan untuk menjadi sumur minyak. Butuh waktu beberapa tahun untuk proses pengkajian. Sebagai contoh PETRONAS yang saat ini beroperasi di Indonesia masih berupaya menemukan ladang minyak baru. Kalaupun mereka ada ikut produksi, biasanya patungan dengan Pertamina. Ratusan juta dollar harus diinvestasikan untuk proses pencarian ini. 2. Kalau positif ada minyak, perusahaan minyak harus mengajukan bid kepada pemerintah. Di Indonesia ESDM & BP Migas lah yang bertanggung jawab terhadap proses ini. Meski perusahaan minyak itu memegang data geologi (hasil pencarian), mereka tidak serta merta leluasa memenangkan bid. Kebanyakan pemerintah akan mengundang perusahaan lain (lokal atau internasional) untuk ikutan bid. Lagi ratusan juta dollar harus diinvestasikan. Namanya juga melobi. Jangan lupa bikin iklan di media untuk promosi perusahaan juga. Peoples approval juga gak kalah penting. Apalagi penduduk sekitar sumur. 3. Kalau izin sudah dapat, nah selanjutnya tinggal digarap itu sumur. Dari start menggarap sampai sumur meneteskan minyak pertama, diperlukan minimal 4 tahun (belum termasuk pencarian & lobi). Di sini bukan ratusan juta lagi, tapi miliaran dollar. Sewa bor, konstruksi platform, gaji insinyur, belum lagi susahnya transportasi. Kebanyakan sumur kan adanya di daerah remote. Kalau di daerah habitan, lebih report lagi. Biaya relokasi warga bisa bikin budget proyek membengkak. 4. Nah anggaplah minyak udah keluar. Melalui mekanisme pasar dan faktor politik, minyak yang baru keluar itu (crude oil) sudah punya harga yang dipatok. Tidak ada yang spesial di sini. Harga emas, minyak sawit, almost everything lah ditentukan melalui mekanisme pasar. Hanya saja namanya juga minyak. Barangnya panas. Bukan negara produsen aja ambil bagian menentukan harga minyak. Negara2 konsumen punya andil juga karena kalau gak ada konsumen tentu harga minyak gak bakal selaku ini. 5. Crude oil lalu diangkut untuk disuling. Pengangkutan ini ruwet. Salah-salah entar kecelakaan. Sudah banyak kasus soal kecelakaan pengangkutan minyak ini terjadi. Efeknya beragam mulai dari korban jiwa sampai penghancuran lingkungan. Jadi biayanya besar sekali, belum lagi kalau jarak yang harus ditempuh jauh. Jadi investasi besar harus ditanam lagi. 6. Setelah disuling, dihasilkanlah BBM dan juga produk2 minyak lain (lilin, aspal, dll). Sayang sekali cuman BBM yang betul-betul dihargai sangat2 mahal. Masalahnya gak semua crude oil yang diproses bakal jadi BBM. Sedih memang. 7. Nah sudah jadi BBM, harus ditransportasi ke Depot dan seterusnya ke SPBU (ada lagi investasi di situ).

Harga Minyak Dunia Melonjak dipicu Kabar Akan Jatuhnya Minyak Mentah Iran
Harga minyak dunia melonjak naik pada Jumat (23/3/2012) (Sabtu (24/3/2012) pagi WIB), karena pedagang menangkap laporan bahwa ekspor minyak mentah Iran diperkirakan akan jatuh secara signifikan bulan ini. Kontrak utama New York, minyak mentah West Texas Intermediate untuk Mei, melonjak ke setinggi 108,25 dolar AS per barel -- tertinggi sejak 2 Maret -- sebelum mundur kembali menjadi 106,87 dolar AS, naik 1,52 dolar AS dari tingkat penutupan Kamis. Minyak mentah Brent North Sea untuk pengiriman Mei melonjak ke setinggi 127,06 dolar AS per per barel dalam transaksi sore di London. Brent kemudian berakhir pada 125,13 dolar AS, atau naik 1,99 dolar AS. Tidak ada angka resmi tentang berapa banyak ekspor minyak mentah Iran telah jatuh, tetapi laporan yang belum dikonfirmasi berseliweran tentang penurunan 14 persen. Itu cukup untuk menakuti pasar. "Kabar tentang penurunan ekspor minyak Iran menawarkan momentum sisi kenaikan kuat untuk pasar minyak hari ini, dengan minyak mentah WTI melonjak untuk menguji ulang 108 dolar AS per barel," tambah analis Sucden, Myrto Sokou. "Berita itu mungkin mendukung pasar minyak untuk jangka pendek. Selain itu, dolar AS yang lebih lemah membantu reli kuat." Ketegangan antara produser minyak mentah Iran dan Barat terus menjadi faktor kunci yang mempengaruhi harga minyak. Presiden AS Barack Obama, Jumat, mengatakan bahwa ketegangan dengan Iran dan "ketidakpastian" di wilayah itu menambahkan premi 20-30 dolar AS untuk harga minyak. "Kuncinya yang mendorong harga gas lebih tinggi sebenarnya adalah pasar minyak dunia dan ketidakpastian tentang apa yang terjadi di Iran dan Timur Tengah," katanya dalam wawancara dengan American Automobile Association. Obama juga mengatakan, meningkatnya permintaan minyak di China dan India sedang mendorong harga. "Karena semakin banyak orang di seluruh dunia memperlihatkan standar hidup mereka naik, mereka membeli mobil, mereka memiliki permintaan minyak, yang menciptakan permintaan lebih besar di seluruh dunia dan itu meningkatkan harga." Sementara itu pemerintah Afrika Selatan, Jumat mengatakan, pihaknya masih mempertimbangkan apakah akan mengurangi impor minyak mentah Iran karena sanksi AS.

"Belum ada keputusan telah diambil oleh pemerintah tentang masalah sanksi karena respon opsi penyelidikan jauh dari selesai," demikian departemen energi mengatakan. "Pemerintah juga berbicara dengan sejumlah negara lain yang memasok minyak mentah untuk menentukan potensi memasok mereka." Media lokal pada Jumat melaporkan bahwa Teheran memasok sedikitnya 25 persen dari kebutuhan minyak mentah Afrika Selatan.

Pemerintah Siapkan 4 Paket Kompensasi

Jika subsidi BBM bukan sebuah kebijakan yang baik, mengapa sejak dulu selalu ada subsidi BBM? Di masa lalu, struktur ekonomi Indonesia berbeda. Kala itu, negara mampu menanggung subsidi BBM karena Indonesia adalah eksportir minyak. Sehingga, setiap kenaikan harga minyak selalu menjadi tambahan pendapatan negara karena konsumsi BBM kita masih sangat rendah. Sejalan dengan pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat secara keseluruhan, kendaraan pribadi jumlahnya terus membesar. Akibatnya, kini Indonesia sudah menjadi negara importir minyak, dan kita juga sudah keluar dari OPEC, organisasi negara-negara pengekspor minyak pada tahun 2008. Subsidi BBM kini salah sasaran karena lebih menguntungkan kelompok masyarakat yang mampu. Inilah yang harus kita koreksi dengan mengurangi subsidi secara bertahap. Sebelumnya Pemerintah mengatakan tidak akan menaikkan harga melainkan melakukan pembatasan subsidi BBM bersubsidi. Mengapa kebijakan Pemerintah berubah? Sejak tahun lalu, Pemerintah secara intensif menyiapkan kebijakan pembatasan konsumsi BBM bersubsidi. Namun, hasil pengkajian dan masukan banyak pihak menyebutkan bahwa pembatasan BBM bersubsidi tidak akan mampu mengerem melonjaknya subsidi karena kenaikan harga minyak mentah belakangan ini terlalu tajam. Pembatasan konsumsi BBM bersubsidi tidak mungkin berlaku sekaligus secara serentak di seluruh Indonesia, sehingga dampaknya untuk pengurangan subsidi tidak maksimal. Apakah menaikkan harga premium dan solar sekarang bukan kebijakan yang berlebihan? Bukankah ada kemungkinan harga minyak mentah bias turun lagi? Pemicu kenaikan harga minyak mentah kali ini adalah krisis politik di Timur Tengah. Pemerintah beranggapan akan lebih baik jika kita bersiap menghadapi kondisi terburuk. Berbagai perkiraan menunjukkan harga minyak mentah bias melonjak menjadi 150 175 dollar AS/barel, jika lalu lintas angkutan minyak mentah di Selat Hormuz tersendat karena ketegangan politik. Tanpa kenaikan harga jual premium dan solar, sementara harga minyak dunia terus melonjak, anggaran Pemerintah untuk menambal subsidi akan semakin besar. Ini justru merugikan warga berpenghasilan rendah. Jadi, Pemerintah memilih hanya menaikkan harga. Ini memang cara paling mudah, namun bagaimana dengan masyarakat yang harus menanggung beban inflasi dan kenaikan harga? Pemerintah tidak hanya menaikkan harga dan memindahkan beban kepada masyarakat. Ada empat langkah yang merupakan satu kebijakan, yaitu: menaikkan harga, memberikan kompensasi kepada masyarakat, mengurangi penggunaan BBM bersubsidi, dan mengkonversi penggunaan minyak ke gas. Keempatnya adalah paket kebijakan yang kait mengkait dan ada pentahapan pelaksanaannya.

Apa saja paket kompensasi itu? Ada empat paket kebijakan kompensasi, yaiti: 1) penambahan frekuensi jatah beras untuk rakyat miskin sebanyak dua bulan, menjadi 14 kali per tahun, dari saat ini sebanyak 12 kali per tahun dengan harga tebus Rp 1.600/kilogram; 2) pemberian bantuan langsung sementara masyarakat berupa dana tunai senilai Rp 150.000/bulan untuk 18,5 juta rumah tangga yang mencakup 30% rumah tangga miskin; 3) penambahan beasiswa untuk rumah tangga miskin selama 6 (enam) bulan; dan 4) kompensasi untuk sector transportasi sebesar Rp 5 triliun, dengan tujuan agar kenaikan tiket angkutan kelas ekonomi tidak melonjak seiring dengan kenaikan harga BBM dan solar. Apakah paket-paket kompensasi itu cukup untuk meredam dampak kenaikan harga premium dan solar pada warga dengan tingkat social ekonomi terendah? Pemerintah memperkirakan kenaikan harga premium dan solar akan diikuti dengan kenaikan harga berbagai komoditas dan biaya transportasi. Namun, berdasarkan pengalaman yang sudahsudah, inflasi akan terjadi dalam jangka waktu sementara saja, beberapa bulan setelah kenaikan harga. Oleh karena itu, Pemerintah meranang paket-paket kompensasi yang akan mengalir setelah kenaikan harga BBM bersubsidi. Paket-paket ini cukup untuk meredam dampak kenaikan harga premiund an solar untuk warga dengan tingkat social terendah. Jadi, penerima kompensasi bukan hanya rumah tangga yang hidup di bawah garis kemiskinan? Betul, cakupan kompensasi sekarang menjangkau 30% rumah tangga dengan tigkat social ekonomi te4rendah di Indonesia. Secara keseluruhan mereka berjumlah 18,5 juta rumah tangga.Setiap rumah tangga akan menerima kompensasi berupa dana tunai senilai Rp 150.000/bulan, selama beberapa bulan setelah kenaikan harga solar dan premium.