Anda di halaman 1dari 75

KESEDIAAN MAHASISWA PROGRAM PENDIDIKAN PROFESI FKG UNPAD MENJADI PEGAWAI TIDAK TETAP (PTT)

SKRIPSI

JENNY DIANA

160110070045

PEGAWAI TIDAK TETAP (PTT) SKRIPSI JENNY DIANA 160110070045 UNIVERSITAS PADJADJARAN FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI BANDUNG 2011

UNIVERSITAS PADJADJARAN FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI BANDUNG

2011

KESEDIAAN MAHASISWA PROGRAM PENDIDIKAN PROFESI FKG UNPAD MENJADI PEGAWAI TIDAK TETAP (PTT)

SKRIPSI

diajukan untuk menempuh ujian sarjana pada Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran

JENNY DIANA

160110070045

Gigi Universitas Padjadjaran JENNY DIANA 160110070045 UNIVERSITAS PADJADJARAN FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI BANDUNG 2011

UNIVERSITAS PADJADJARAN FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI BANDUNG

2011

JUDUL

:

KESEDIAAN MAHASISWA PROGRAM PENDIDIKAN PROFESI FKG UNPAD MENJADI PEGAWAI TIDAK TETAP (PTT)

PENYUSUN

:

JENNY DIANA

NPM

:

160110070045

Bandung, Juli 2011

Menyetujui,

Pembimbing Utama

Asty Samiaty Setiawan, drg., MKes NIP.19720805 200003 2 001

Pembimbing Pendamping

Gilang Yubiliana, drg., MKes NIP. 19761219 200312 2 001

Kesediaan Mahasiswa Program Pendidikan Profesi FKG UNPAD Menjadi Pegawai Tidak Tetap (PTT)-Jenny Diana-160110070045

ABSTRAK

Kebijakan penempatan tenaga dokter dan bidan dengan sistem PTT telah

diterapkan sejak tahun 1992 untuk mengatasi pendistribusian dokter dan dokter gigi

yang belum merata di Indonesia, tetapi sampai saat ini penyebarannya masih jauh dari

yang diharapkan. Rasio dokter terhadap Puskesmas untuk kawasan Indonesia bagian

barat jauh lebih tinggi dibandingkan dengan wilayah Indonesia bagian timur. Tujuan

penelitian ini adalah mengetahui kesediaan mahasiswa program pendidikan profesi

Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran menjadi Pegawai Tidak Tetap.

Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan teknik survei. Data

didapatkan dengan menyebarkan kuesioner.

Hasil penelitian didapatkan bahwa mahasiswa program pendidikan profesi

Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran yang bersedia menjadi Pegawai

Tidak Tetap adalah 82% dan yang tidak bersedia adalah 18%.

Simpulan dari penelitian ini adalah mahasiswa program pendidikan profesi

Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran sebagian besar bersedia menjadi

Pegawai Tidak Tetap. Saran dari penelitian ini adalah agar pemerintah lebih

meningkatkan sosilalisasi mengenai tidak adanya kewajiban PTT untuk lulusan

dokter gigi karena masih ada mahasiswa Fakultas Kedokteran Gigi yang belum

mengetahui hal tersebut.

Kata kunci : Kesediaan, Mahasiswa Profesi FKG UNPAD, PTT

iii

Willingness Professional Education Program Students of FKG UNPAD being Pegawai Tidak Tetap (PTT)-Jenny Diana-160110070045

ABSTRACT

Placement policy of doctors and midwives with PTT system has been

implemented since 1992 to address the distribution of doctors and dentists who have

not been evenly distributed in Indonesia, but until now its spread is still far from

expected. The ratio of doctors in Puskesmas for the region in western Indonesia is

much higher than eastern Indonesia. The purpose of this study was to determine the

willingness of professional education program students of Faculty of Dentistry

Padjadjaran University to be a Pegawai Tidak Tetap.

This study was a descriptive study with survey technique. Data obtained by

questionnaires.

The findings from this research showed that students of professional

education programs, Faculty of Dentistry Padjadjaran University who are willing to

be a Pegawai Tidak Tetap was 82% and who are not willing was 18%.

Concluding that the students of professional education programs Faculty of

Dentistry Padjadjaran University most willing to be a Pegawai Tidak Tetap.

Suggestion from this study for the government should perform socialization about the

lack of Pegawai Tidak Tetap obligation to graduate dentists because there are a lot

of students of the Faculty of Dentistry did not know about it yet.

Keyword : Willingness, Students of Proffesinal FKG UNPAD, PTT

iv

KATA PENGANTAR

Bismillahirrahmaanirrahiim, Segala puji bagi Allah SWT yang telah memberikan rahmat dan karunia-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini untuk memenuhi persyaratan dalam menyelesaikan program Sarjana Kedokteran Gigi di Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran Bandung. Selama menyelesaikan skripsi ini penulis banyak mendapatkan bantuan

bersifat material dan spiritual dari berbagai pihak, untuk itu penulis mengucapkan terima kasih kepada:

1. Prof. Dr. H. Eky S. Soeria Soemantri, drg., Sp.Ort, selaku Dekan Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran Bandung.

2. Asty Samiaty Setiawan, drg., MKes, selaku pembimbing utama yang telah memberikan bimbingan, pengarahan, dan waktu dalam penulisan skripsi ini.

3. Gilang Yubiliana, drg., MKes, selaku pembimbing pendamping yang telah memberikan bimbingan, pengarahan, dan waktu dalam penulisan skripsi ini.

4. Hj. N. R. Yuliawati Zenab, drg., Sp.Ort, selaku dosen wali yang telah membimbing penulis selama mengenyam pendidikan di Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran.

5. Seluruh dosen dan staf pengajar yang telah memberikan bimbingan dan pelajaran bagi penulis selama masa perkuliahan di Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran.

6. Pimpinan dan staf Sub Bagian Akademik serta staf perpustakaan Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran.

7. Seluruh staf dan karyawan RSGM Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran.

8. Keluarga tersayang papa, mama, dan adik, M. Jamal, Ermi, dan Putri, serta keluarga besar atas segala doa, dukungan, dan kasih sayang kepada penulis.

v

9. Aristu Prananda atas semua bantuan dan dukungannya kepada penulis selama mengerjakan skripsi ini.

10. Sahabat-sahabatku Fathimah, Nuni, Hilda, Yolla, Ica, dan Lala atas bantuan dan dukungannya selama penulisan skripsi ini.

11. Semua pihak yang tidak bisa disebutkan satu persatu yang telah membantu baik secara lansung maupun tidak lansung dalam penyusunan skripsi ini. Semoga Allah SWT melimpahkan rahmat-Nya kepada semua pihak yang

telah memberikan bantuan dan dukungannya demi tersusunnya skripsi ini. Penulis berharap semoga skripsi ini dapat menjadi suatu karya yang bermanfaat dan menambah pengetahuan bagi pembacanya.

vi

Bandung, Juni 2011

Penulis

DAFTAR ISI

ABSTRAK

 

iii

ABSTRACT

iv

KATA PENGANTAR

v

DAFTAR ISI

 

vii

DAFTAR DIAGRAM

xi

DAFTAR BAGAN

 

xii

DAFTAR LAMPIRAN

xiii

BAB I

PENDAHULUAN

1

1.1 Latar Belakang penelitian

1

1.2 Identifikasi Masalah

3

1.3 Maksud dan Tujuan Penelitian

3

1.4 Manfaat Penelitian

4

1.5 Kerangka Pemikiran

4

1.6 Metode Penelitian

7

1.7 Lokasi dan Waktu Penelitian

7

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

8

 

2.1

Pengetahuan

8

 

2.1.1 Definisi Pengetahuan

8

2.1.2 Tingkatan Pengetahuan

8

vii

2.2 Sikap

9

2.2.1

Definisi Sikap

9

2.2.2

Struktur Sikap

9

2.2.3

Tingkatan Sikap

10

2.2.4

Ciri-Ciri Sikap

11

2.2.5

Pembentukan Sikap

12

2.3 Motivasi

12

2.3.1 Definisi Motivasi

12

2.3.2 Konsep Motivasi

13

 

2.3.2.1 Teori McClelland

13

2.3.2.2 Teori McGregor

14

2.3.2.3 Teori Herzberg

14

2.3.2.4 Teori Maslow

14

2.4 Sistem Kesehatan

15

2.4.1 Peranan Unsur Pembentuk Sistem kesehatan

16

2.4.2 Subsistem dalam Sistem Kesehatan

17

2.4.3 Subsistem Pelayanan Kesehatan

17

 

2.4.3.1 Macam Pelayanan Kesehatan

18

2.4.3.2 Syarat Pokok Pelayanan Kesehatan

18

2.5 Pegawai Tidak Tetap

20

2.5.1 Definisi Pegawai Tidak Tetap

20

2.5.2 Jenis Pegawai Tidak Tetap

20

viii

2.5.2.1 Pegawai Tidak Tetap Pusat

20

2.5.2.2 Pegawai Tidak Tetap Daerah Propinsi/Kabupaten/

Kota

21

2.5.3 Kewajiban dan Hak Dokter PTT

22

2.5.3.1 Kewajiban

22

2.5.3.2 Hak

22

2.5.4 Daerah Terpencil dan Sangat Terpencil

24

2.5.4.1 Pengertian Daerah Terpencil dan Sangat Terpencil

24

2.5.4.2 Kriteria Daerah Terpencil dan Sangat Terpencil

25

BAB III METODE PENELITIAN

28

3.1 Jenis Penelitian

28

3.2 Populasi dan Sampel Penelitian

28

3.3 Teknik Pengambilan Sampel

28

3.4 Variabel Penelitian

29

3.5 Definisi Operasional Variabel

29

3.6 Instrumen Penelitian

30

3.7 Cara Pengumpulan Data

30

3.8 Uji Validitas dan Reliabilitas

31

3.9 Analisis dan Penyajian Data

31

ix

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

32

4.1. Hasil Penelitian

32

4.1.1 Kesediaan Mahasiswa Program Pendidikan Profesi FKG UNPAD Menjadi Pegawai Tidak Tetap 32

 

4.1.2 Alasan Mahasiswa Program Pendidikan Profesi FKG UNPAD yang Bersedia Menjadi Pegawai Tidak Tetap

33

4.1.3 Kriteria Daerah Pilihan Mahasiswa Program Pendidikan Profesi FKG UNPAD yang Bersedia Menjadi Pegawai Tidak Tetap

34

4.1.4 Daerah Pilihan Mahasiswa Program Pendidikan Profesi FKG UNPAD yang Bersedia Menjadi Pegawai Tidak Tetap

38

4.1.5 Alasan Mahasiswa Program Pendidikan Profesi FKG UNPAD yang Tidak Bersedia Menjadi Pegawai Tidak Tetap

39

 

4.2

Pembahasan

40

BAB V

SIMPULAN DAN SARAN

 

46

5.1 Simpulan

 

46

5.2 Saran

46

DAFTAR PUSTAKA

48

LAMPIRAN

 

51

RIWAYAT AKADEMIK PENULIS

 

61

x

DAFTAR DIAGRAM

No.

Diagram

Hal

Diagram 4.1 Kesediaan

Mahasiswa

Program

Pendidikan

Profesi

FKG

 

UNPAD Menjadi Pegawai Tidak Tetap

 

32

Diagram 4.2

Alasan Mahasiswa Program Pendidikan Profesi FKG UNPAD yang Bersedia Menjadi Pegawai Tidak Tetap

33

Diagram 4.3

Kriteria Daerah Pilihan Mahasiswa Program Pendidikan Profesi FKG UNPAD yang Bersedia Menjadi Pegawai Tidak Tetap

34

Diagram 4.4

Alasan Responden Memilih Kriteria Daerah Terpencil

 

35

Diagram 4.5

Alasan Responden Memilih Kriteria Daerah Sangat Terpencil

36

Diagram 4.6

Alasan Responden Memilih Kriteria Daerah Biasa

 

37

Diagram 4.7

Daerah Pilihan Mahasiswa Program Pendidikan Profesi FKG UNPAD yang Bersedia Menjadi Pegawai Tidak Tetap 38

Diagram 4.8

Alasan Mahasiswa Program Pendidikan Profesi FKG UNPAD yang Tidak Bersedia Menjadi Pegawai Tidak Tetap 39

xi

DAFTAR BAGAN

No.

Bagan

Hal

Bagan 1.1 Kerangka Pemikiran

6

Bagan 2.1 Hubungan Unsur Pembentuk Sistem Kesehatan

17

xii

DAFTAR LAMPIRAN

No.

Lampiran

 

Hal

1.

Surat Izin Penelitian dari Dekan FKG UNPAD

51

2.

Surat Permohonan Izin Penelitian

 

52

3.

Surat Izin Penelitian dari RSGM FKG UNPAD

 

53

4.

Lembar Kuesioner

 

54

5.

Diagram

Pemahaman

Mahasiswa

Program

Pendidikan

Profesi

FKG

UNPAD Mengenai Pegawai Tidak Tetap

 

56

6.

Rekapitulasi Data Hasil Penelitian

 

57

xiii

1.1 Latar Belakang

BAB I

PENDAHULUAN

Undang-Undang Kesehatan No. 36 tahun 2009 pasal 5 menyatakan bahwa

setiap orang mempunyai hak yang sama dalam memperoleh akses atas sumber daya

di bidang kesehatan

dan

mempunyai hak dalam memperoleh pelayanan kesehatan

yang aman, bermutu, dan terjangkau.

Kondisi tersebut belum terealisasi dengan baik karena jumlah dokter gigi di

Indonesia saat ini masih jauh dari target. Indikator Visi Indonesia Sehat 2010

Departemen

Kesehatan

RI

menyebutkan

bahwa

rasio

dokter

gigi

per

jumlah

penduduk adalah 11 : 100.000 atau 1 dokter gigi untuk 9091 penduduk. Jumlah

penduduk Indonesia tahun 2010 menurut Badan Pusat Statistik adalah sebesar

237.556.363 jiwa, artinya jumlah dokter gigi yang dibutuhkan di Indonesia adalah

26.130 orang sedangkan jumlah dokter gigi di Indonesia yang teregistrasi sampai

Desember 2010 menurut data dari KKI adalah sekitar 22.237 orang, berarti

rasio

dokter gigi dengan penduduk Indonesia saat ini adalah 9 : 100000.

Laporan kajian kebijakan perencanaan tenaga kesehatan Direktorat Gizi dan

Kesehatan Masyarakat Deputi Bidang Sumber Daya Manusia dan Kebudayaan

Bappenas 2005 menyebutkan bahwa jumlah tenaga kesehatan di Indonesia terutama

dokter gigi dibandingkan dengan negara-negara lain di dunia dalam sepuluh tahun

terakhir masih sangat rendah. Rasio dokter gigi terhadap 100000 populasi di

1

2

Indonesia hanya 2,07 jauh dibawah Australia 40,0; Austria 47,2; Kanada 58;

Finlandia 93,7; Jepang 68,6; Malaysia 8,6 dan Belanda 47,1 (Bappenas, 2005).

Jumlah dokter dan dokter gigi yang melakukan praktek kedokteran sampai

saat ini belum didapatkan angka yang akurat, sebagai konsekuensinya jumlah

produksi dokter dan dokter gigi yang harus dihasilkan institusi pendidikan masih

sulit diprediksi demikian pula dengan distribusinya yang belum merata karena

sebagian besar praktek dokter dan dokter gigi berkumpul di kota-kota besar (KKI,

2006).

Kebijakan penempatan tenaga dokter dan bidan dengan sistem PTT telah

diterapkan sejak tahun 1992 untuk mengatasi pendistribusian dokter dan dokter gigi

yang belum merata di Indonesia, tetapi sampai saat ini penyebarannya masih jauh

dari yang diharapkan. Sistem Kesehatan Nasional menyebutkan rasio dokter terhadap

puskesmas untuk kawasan Indonesia Bagian Barat jauh lebih tinggi dibandingkan

dengan wilayah Indonesia Bagian Timur. Rasio tenaga dokter terhadap puskesmas di

Sumatera Utara adalah 0,84 dibandingkan dengan provinsi Nusa Tenggara Timur

0,26 dan provinsi Papua 0,12 (Depkes, 2009).

Data dari Departemen Kesehatan tahun 2005 menunjukkan kebutuhan dokter

gigi di setiap provinsi tidak sebanding dengan jumlah dokter gigi yang mendaftar

untuk PTT. Provinsi Sumatera Barat membutuhkan 56 dokter gigi, sedangkan yang

mendaftar hanya 15 dokter gigi. DKI Jakarta sudah menutup pendaftaran untuk PTT,

sedangkan dokter gigi yang mendaftar ada 90 dokter gigi (Depkes, 2010).

3

Standar Profesi Kedokteran Gigi menyebutkan bahwa pendidikan profesi

dokter gigi merupakan

pendidikan akademik dan pendidikan profesional

yang

diarahkan pada penguasaan dan penerapan ilmu kepada masyarakat dalam bidang

kedokteran gigi (KKI, 2006). Mahasiswa program pendidikan profesi diharapkan

sudah

memiliki

gambaran

mengenai

Pegawai

Tidak

Tetap

karena

akan

menyelesaikan program pendidikan profesi kedokteran gigi.

 
 

Berdasarkan

data-data

di

atas

maka

penelitian

ini

dilakukan

untuk

mengetahui berapa besar kesediaan mahasiswa program pendidikan profesi Fakultas

Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran menjadi Pegawai Tidak Tetap.

1.2 Identifikasi Masalah

Berdasarkan informasi yang telah diuraikan pada latar belakang penelitian,

maka dapat dirumuskan identifikasi masalah sebagai berikut:

Bagaimanakah

kesediaan

mahasiswa

program

pendidikan

profesi

Fakultas

Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran menjadi Pegawai Tidak Tetap.

1.3

Maksud dan Tujuan Penelitian

 

Maksud dari penelitian ini adalah untuk mendapatkan gambaran mengenai

PTT

pada

mahasiswa

program

pendidikan

profesi

Fakultas

Kedokteran

Gigi

Universitas Padjadjaran.

4

Tujuan penelitian ini adalah mengetahui kesediaan mahasiswa

program

pendidikan

profesi

Fakultas

Kedokteran

Gigi

Universitas

Padjadjaran

menjadi

Pegawai Tidak Tetap.

1.4

Manfaat Penelitian

 

Manfaat dari penelitian ini adalah :

 

1.

Untuk menambah wawasan mahasiswa program pendidikan profesi Fakultas

Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran mengenai program Pegawai Tidak

Tetap.

2.

Sebagai sumbangan pemikiran dan informasi dalam bidang kesehatan untuk

dilakukan penelitian lebih lanjut.

 

3.

Bagi

penulis

penelitian

ini

diharapkan

menambah

pengetahuan

mengenai

program Pegawai Tidak Tetap.

 

1.5

Kerangka Pemikiran

 

Kesehatan adalah tanggung jawab bersama dari setiap individu, masyarakat,

pemerintah, dan swasta. Salah satu tanggung jawab besar sektor kesehatan adalah

menjamin tersedianya pelayanan kesehatan yang bermutu, merata, dan terjangkau

oleh seluruh lapisan masyarakat (Bappenas, 2005).

singkat

Pencapaian

dan

dapat

diuraikan

kinerja

Sistem

Kesehatan

Nasional

di

sebagai

berikut:

(1)

upaya

kesehatan

Indonesia

secara

(2)

pembiayaan

kesehatan (3) sumber daya manusia kesehatan (4) sediaan farmasi, alat kesehatan, dan

5

makanan (5) manajemen dan informasi kesehatan (6) pemberdayaan masyarakat.

Tujuan dari SKN yaitu terselenggaranya pembangunan kesehatan oleh semua potensi

bangsa, baik masyarakat, swasta maupun pemerintah secara sinergis, berhasil dan

berdaya

guna,

sehingga

tercapai

derajat

kesehatan

masyarakat

yang

setinggi-

tingginya. Tujuan ini tidak akan tercapai jika 6 unsur Sistem Kesehatan Nasional

belum tercapai (Depkes, 2009).

Tenaga

kesehatan

merupakan

unsur

utama

yang

mendukung

subsistem

kesehatan lainnya. Tenaga kesehatan adalah semua orang yang bekerja secara aktif

dan profesional di bidang kesehatan, untuk jenis tertentu memerlukan kewenangan

dalam melakukan upaya kesehatan. Subsistem sumber daya manusia kesehatan

bertujuan pada tersedianya tenaga kesehatan yang kompeten sesuai kebutuhan yang

terdistribusi secara adil dan merata serta didayagunakan secara optimal dalam

mendukung penyelenggaraan pembangunan kesehatan guna mewujudkan derajat

kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya (Depkes, 2009).

Salah satu usaha untuk mencapai derajat kesehatan masyarakat yang setingi-

tingginya adalah melalui pemerataan distribusi tenaga kesehatan di Indonesia. Hal ini

didukung dengan diberlakukannya Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 37

tahun 1991 tentang pengangkatan dokter sebagai Pegawai Tidak Tetap selama masa

bakti.

 

Permenkes

Nomor

512/MENKES/PER/IV/2007

menetapkan

bahwa

PTT

tidak

diwajibkan

lagi

untuk

lulusan

dokter

dan

dokter

gigi.

Hal

ini

sangat

6

berpengaruh terhadap kesediaan tenaga kesehatan terutama dokter gigi untuk menjadi

Pegawai Tidak Tetap.

SKN Tujuan SKN Subsistem SKN Pemerataan SDM Kesehatan Kesehatan Dokter Gigi PTT Permenkes No.512/MENKES/PER/
SKN
Tujuan SKN
Subsistem SKN
Pemerataan
SDM Kesehatan
Kesehatan
Dokter Gigi PTT
Permenkes
No.512/MENKES/PER/
IV/2007
Bersedia
Tidak
Bersedia

Bagan 1.1 Kerangka Pemikiran

7

1.5 Metode Penelitian

Metode penelitian yang dilakukan pada penelitian ini adalah metode penelitian

deskriptif

dengan

teknik

survei.

Tujuannya

untuk

memberikan

gambaran

atau

deskripsi tentang suatu keadaan secara objektif dan membuat penilaian terhadap

penyelenggaraan suatu program di masa sekarang, kemudian hasilnya digunakan

untuk menyusun perencanaan perbaikan program tersebut (Notoadmodjo, 2010).

1.6 Lokasi dan Waktu Penelitian

Penelitian dilakukan di Rumah Sakit Gigi dan Mulut Fakultas Kedokteran

Gigi Universitas Padjadjaran pada Bulan Maret 2011.

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1

Pengetahuan (Knowledge)

2.1.1

Definisi Pengetahuan

Pengetahuan merupakan hasil “tahu” dan ini terjadi setelah orang melakukan

penginderaan terhadap suatu objek tertentu. Penginderaan terjadi melalui panca

indera manusia. Pengetahuan manusia sebagian besar diperoleh dari mata dan telinga

(Notoadmodjo, 2007).

Pengetahuan yang diperoleh sebagai hasil penginderaan dapat digunakan

untuk menghasilkan pola perilaku baru melebihi yang telah didengar dan dilihat

sebelumnya (Pierce and Cheney, 2004).

2.1.2 Tingkatan Pengetahuan

Pengetahuan memiliki beberapa tingkatan, yaitu (Notoadmodjo, 2007) :

1. Tahu

Tahu diartikan sebagai mengingat suatu materi yang telah dipelajari sebelumnya,

mengingat kembali (recall) terhadap sesuatu yang spesifik dari seluruh bahan

yang telah dipelajari atau ransangan yang telah diterima.

2. Memahami

Memahami

diartikan

sebagai

suatu

kemampuan

menjelaskan

secara

benar

tentang objek yang diketahui dan dapat menginterpretasi materi tersebut secara

benar.

8

9

3.

Aplikasi

Aplikasi diartikan sebagai kemampuan untuk menggunakan materi yang telah

dipelajari pada situasi atau kondisi sebenarnya. Aplikasi juga dapat diartikan

penggunaan hukum, rumus, metode, prinsip, dan sebagainya.

 

4.

Analisis

Analisis adalah suatu kemampuan untuk menjabarkan materi atau suatu objek ke

dalam

komponen-komponen,

tetapi

masih

dalam

suatu

struktur

organisasi

tersebut, dan masih ada kaitannya satu sama lain.

 

5.

Sintesis

Sintesis

menunjuk

kepada

suatu

kemampuan

untuk

meletakkan

atau

menghubungkan bagian-bagian di dalam suatu bentuk keseluruhan yang baru.

Sintesis juga merupakan kemampuan untuk menyusun formulasi baru.

 

2.2

Sikap

2.2.1

Definisi Sikap

Menurut Fishbein & Ajzen (1975) sikap adalah organisasi

yang relatif

menetap dari perasaan, keyakinan, dan kecenderungan perilaku terhadap orang lain,

kelompok, ide-ide, atau objek tertentu (Faturochman, 2006).

2.2.2 Struktur Sikap

Sikap

mengandung

(Walgito, 2003):

3

komponen

yang

membentuk

struktur

sikap,

yaitu

10

1. Komponen kognitif (komponen perseptual)

Komponen

kognitif

yaitu

komponen

yang

berkaitan

dengan

pengetahuan,

pandangan, dan keyakinan seseorang mengenai apa yang berlaku atau apa yang

benar terhadap objek sikap.

2. Komponen afektif (komponen emosional)

Komponen afektif yaitu komponen yang berhubungan dengan rasa senang atau

tidak senang terhadap objek sikap. Komponen ini menunjukkan arah sikap yaitu

positif dan negatif.

3. Komponen konatif (komponen perilaku)

Komponen konatif yaitu komponen yang berhubungan dengan

seseorang bertindak terhadap objek sikap.

kecenderungan

Ketiga komponen ini secara bersama-sama membentuk sikap yang utuh (total

attitude).

2.2.3. Tingkatan Sikap

Sikap memiliki beberapa tingkatan, yaitu (Notoadmodjo, 2003):

1. Menerima (receiving)

Menerima diartikan bahwa orang atau subjek mau dan memperhatikan stimulus

yang diberikan (objek).

2. Merespons (responding)

Memberikan jawaban apabila ditanya, mengerjakan, dan menyelesaikan tugas

yang diberikan adalah suatu indikasi dari sikap.

11

3. Menghargai (valuing)

Mengajak orang lain untuk mengerjakan atau mendiskusikan dengan orang lain

terhadap suatu masalah adalah suatu indikasi sikap tingkat tiga.

4. Bertanggung jawab (responsible)

Bertanggung jawab atas segala sesuatu yang telah dipilihnya dengan segala risiko

adalah merupakan sikap yang paling tinggi.

2.2.4 Ciri-Ciri Sikap

Sikap merupakan faktor yang ada dalam diri manusia yang dapat mendorong

atau menimbulkan perilaku tertentu, tetapi sikap memiliki perbedaan dengan faktor

pendorong lain yang ada dalam diri manusia. Sikap memiliki ciri-ciri antara lain

(Walgito, 2003):

1. Sikap tidak dibawa sejak lahir

Seseorang belum memiliki sikap tertentu terhadap suatu objek ketika dilahirkan,

berarti sikap terbentuk dalam perkembangan individu yang bersangkutan.

2. Sikap selalu berhubungan dengan objek sikap

Sikap selalu terbentuk atau dipelajari dalam hubungannya dengan objek-objek

tertentu melalui proses persepsi terhadap objek tersebut.

3. Sikap tidak hanya tertuju pada satu objek saja, tetapi juga dapat tertuju pada

sekumpulan objek

12

4. Sikap dapat berlangsung lama atau sebentar

Sikap yang telah terbentuk dan merupakan nilai dalam kehidupan seseorang

secara relatif akan bertahan lama pada orang yang bersangkutan dan sebaliknya.

5. Sikap mengandung faktor perasaan dan motivasi

Sikap terhadap suatu objek tertentu akan selalu diikuti oleh perasaan tertentu

yang dapat bersifat positif atau negatif.

2.2.5 Pembentukan Sikap

Sikap sosial terbentuk dari adanya interaksi sosial yang dialami oleh individu.

Hubungan saling mempengaruhi diantara individu yang satu dengan yang lain dan

hubungan timbal balik turut mempengaruhi pola perilaku masing-masing individu

sebagai anggota masyarakat. Interaksi sosial meliputi hubungan antara individu

dengan lingkungan fisik maupun lingkungan psikologis disekitarnya (Azwar, 2007).

2.3

Motivasi

2.3.1

Definisi Motivasi

Motif atau motivasi berasal dari kata Latin moreve yang berarti dorongan dari

dalam diri manusia untuk bertindak atau berperilaku. Menurut Terry G (1986)

motivasi adalah keinginan yang terdapat dalam diri individu yang mendorongnya

untuk melakukan perbuatan (perilaku). Stooner mendefinisikan motivasi adalah

sesuatu

yang

menyebabkan

(Notoadmodjo, 2007).

dan

mendukung

tindakan

atau

perilaku

seseorang

13

2.3.2 Konsep Motivasi

2.3.2.1 Teori McClelland

McClelland berpendapat bahwa dalam diri manusia ada dua motivasi yakni

motif primer dan motif sekunder. Motif primer adalah motif yang tidak dipelajari dan

motif sekunder adalah motif yang dipelajari melalui pengalaman serta interaksi

dengan orang lain. Motif sekunder sering juga disebut motif sosial. Motif primer

secara alami timbul pada setiap manusia, sedangkan motif sekunder adalah motif

yang timbul karena dorongan dari luar akibat interaksi sosial. Motif sosial ini dibagi

menjadi (Notoadmodjo, 2007):

1. Motif untuk berprestasi

Motif berprestasi adalah dorongan untuk sukses dalam situasi dan kompetisi

yang didasarkan pada keunggulan dibandingkan dengan standar ataupun orang

lain.

2. Motif berafiliasi

Manusia

adalah

makhluk

sosial,

sehingga

naluri

untuk

berafiliasi

sesama

manusia melekat pada setiap orang. Manusia akan menggunakan perbuatan dan

perilakunya sebagai media agar diterima orang lain.

3. Motif berkuasa

Motif berkuasa adalah berusaha mengarahkan agar perilaku seseorang untuk

mencapai

kepuasan

melalui

tujuan

tertentu

mengontrol atau menguasai orang lain.

yakni

kekuasaan

dengan

jalan

14

2.3.2.2 Teori McGregor

McGregor menyimpulkan teori motivasi dalam teori X dan teori Y. Teori ini

didasarkan pada pandangan konvensional atau klasik (teori X) dan pandangan

modern (teori Y) (Notoadmodjo, 2007).

2.3.2.3 Teori Herzberg

Frederick

Herzberg

menyimpulkan

ada

dua

faktor

yang

mempengaruhi

seseorang dalam tugas atau pekerjaannya (Notoadmodjo, 2007):

1. Faktor-faktor penyebab kepuasan atau faktor motivasional

Faktor

yang

menyangkut

kebutuhan

psikologis

serangkaian kondisi intrinsik.

2. Faktor-faktor penyebab ketidakpuasan

seseorang

yang

meliputi

Faktor-faktor yang menyangkut kebutuhan akan pemeliharaan atau maintenance

factor. Hilangnya faktor-faktor ini akan menimbulkan ketidakpuasan bekerja.

2.3.2.4 Teori Maslow

Teori motivasi yang paling terkenal adalah hierarchy of needs milik Abraham

Maslow. Maslow membuat hipotesis bahwa dalam setiap diri manusia terdapat

hierarki lima kebutuhan. Kebutuhan-kebutuhan tersebut adalah (Robbins, 2008):

1. Fisiologis meliputi rasa lapar, haus, berlindung, seksual, dan kebutuhan fisik

lainnya.

15

3. Sosial meliputi rasa kasih sayang, kepemilikan, penerimaan, dan persahabatan.

4. Penghargaan meliputi faktor-faktor penghargaan internal seperti hormat diri,

otonomi, pencapaian, dan faktor-faktor penghargaan eksternal seperti status,

pengakuan, dan perhatian.

5. Aktualisasi diri merupakan dorongan untuk menjadi seseorang sesuai dengan

kecakapannya meliputi pertumbuhan, pencapaian, dan potensi seseorang.

Maslow menyimpulkan untuk memotivasi seseorang harus dipahami tingkat

hierarki dimana orang tersebut berada pada saat ini dan fokus untuk memenuhi

kebutuhan-kebutuhan di atau di atas tingkat tersebut.

2.4 Sistem Kesehatan

Sistem kesehatan merupakan tatanan

yang bertujuan tercapainya derajat

kesehatan yang bermutu tinggi dan merata, melalui upaya-upaya dalam tatanan

tersebut yang dilaksanakan secara efisien, berkualitas, dan terjangkau (Hatta, 2008).

Sistem kesehatan adalah kumpulan dari berbagai faktor yang kompleks dan

saling

berhubungan

yang

terdapat

dalam

suatu

negara

yang

diperlukan

untuk

memenuhi kebutuhan dan tuntutan kesehatan perseorangan, keluarga, kelompok, dan

ataupun masyarakat pada setiap saat yang dibutuhkan (Azwar, 1996).

Sistem Kesehatan Nasional adalah suatu tatanan yang menghimpun berbagai

upaya bangsa Indonesia secara terpadu dan saling mendukung guna menjamin derajat

kesehatan yang setinggi-tingginya sebagai perwujudan kesejahteraan umum seperti

16

dimaksud dalam Pembukaan UUD 1945. SKN tidak hanya menghimpun upaya sektor

kesehatan

saja,

melainkan

juga

upaya

dari

berbagai

masyarakat dan swasta (SKN, 2009).

sektor

lainnya

termasuk

2.4.1 Peranan Unsur Pembentuk Sistem Kesehatan

Sistem kesehatan terbentuk pada dasarnya ditentukan oleh 3 unsur utama,

yaitu (Azwar, 1996):

1. Pemerintah

Pemerintah (policy maker) bertanggung jawab dalam merumuskan berbagai

kebijakan pemerintah, termasuk kebijakan kesehatan.

2. Masyarakat

Masyarakat (health consumer) memanfaatkan jasa pelayanan kesehatan.

3. Penyedia Pelayanan Kesehatan

Penyedia

pelayanan

kesehatan

bertanggung

jawab

menyelenggarakan berbagai upaya kesehatan.

secara

langsung

dalam

17

Pemerintah

Sistem Kesehatan
Sistem Kesehatan
17 Pemerintah Sistem Kesehatan Masyarakat Penyedia Pelayanan Kesehatan Bagan 2.1 Hubungan Unsur Pembentuk Sistem Kesehatan

Masyarakat

Penyedia

Pelayanan Kesehatan Bagan 2.1 Hubungan Unsur Pembentuk Sistem Kesehatan (Azwar, 1996)

2.1 Hubungan Unsur Pembentuk Sistem Kesehatan (Azwar, 1996) 2.4.2 Subsistem dalam Sistem Kesehatan Subsistem kesehatan

2.4.2 Subsistem dalam Sistem Kesehatan

Subsistem kesehatan dibedakan atas 2 macam (Azwar, 1996):

1. Subsistem Pelayanan Kesehatan

Subsistem

pelayanan

kesehatan

menunjuk

kepada kesatuan

yang utuh

dan

terpadu dari berbagai upaya kesehatan yang diselenggarakan dalam satu negara.

2. Subsistem Pembiayaan Kesehatan

Subsistem pembiayaan kesehatan menunjuk kepada kesatuan yang utuh dan

terpadu dari pembiayaan upaya kesehatan yang berlaku dalam suatu negara.

2.4.3 Subsistem Pelayanan Kesehatan

Pelayanan kesehatan menurut Levey dan Loomba (1973) adalah setiap upaya

yang diselenggarakan sendiri atau secara bersama-sama dalam suatu organisasi untuk

memelihara

dan

meningkatkan,

mencegah,

menyembuhkan

penyakit,

dan

memulihkan kesehatan perseorangan, keluarga, kelompok, dan masyarakat (Azwar,

1996).

18

2.4.3.1 Macam Pelayanan Kesehatan

Hodgetts dan Cascio (1983) membedakan pelayanan kesehatan menjadi 2

macam, yaitu (Azwar, 1996):

1. Pelayanan Kedokteran

Pelayanan kedokteran (medical service) ditandai dengan cara pengorganisasian

yang dapat besifat sendiri atau secara bersama-sama dalam satu organisasi,

tujuan utamanya untuk menyembuhkan penyakit dan memulihkan kesehatan.

Sasaran utamanya adalah perseorangan dan keluarga.

2. Pelayanan Kesehatan Masyarakat

Pelayanan kesehatan masyarakat (public health services) ditandai dengan cara

pengorganisasian yang umumnya secara bersama-sama dalam satu organisasi,

tujuan utamanya untuk memelihara, meningkatkan kesehatan, dan mencegah

penyakit. Sasaran utamanya adalah kelompok dan masyarakat.

2.4.3.2 Syarat Pokok Pelayanan Kesehatan

Pelayanan kedokteran berbeda dengan pelayanan kesehatan masyarakat, untuk

dapat disebut sebagai suatu pelayanan yang baik, keduanya harus memiliki berbagai

persyaratan pokok. Syarat pokok pelayanan kesehatan adalah (Azwar, 1996):

19

1. Tersedia dan berkesinambungan (available and continuous)

Syarat pokok pertama pelayanan kesehatan adalah harus tersedia di masyarakat

(available) serta bersifat berkesinambungan (continuous), artinya semua jenis

pelayanan kesehatan yang dibutuhkan masyarakat tidak sulit untuk ditemukan,

serta keberadaannya dalam masyarakat pada setiap dibutuhkan.

2. Dapat diterima dan wajar (acceptable and appropriate)

Pelayanan

kesehatan

tersebut

tidak

bertentangan

dengan

keyakinan

dan

kepercayaan masyarakat. Pelayanan kesehatan yang bertentangan dengan adat

istiadat, kebudayaan, dan kepercayaan masyarakat, serta bersifat tidak wajar

bukanlah suatu pelayanan kesehatan yang baik.

3. Mudah dicapai (accessible)

Pengertian ketercapaian adalah dari sudut lokasi. Pengaturan distribusi sarana

kesehatan menjadi sangat penting untuk mewujudkan pelayanan kesehatan yang

baik. Pelayanan kesehatan dianggap tidak baik apabila terlalu terkonsentrasi di

daerah perkotaan saja dan tidak ditemukan di pedesaan.

4. Mudah dijangkau (affordable)

Pengertian keterjangkauan terutama dari sudut biaya. Biaya pelayanan kesehatan

harus sesuai dengan kemampuan ekonomi masyarakat.

5. Bermutu (quality)

Mutu

menunjuk

pada

tingkat

kesempurnaan

pelayanan

kesehatan

yang

diselenggarakan, disatu pihak dapat memuaskan para pemakai jasa pelayanan,

dan di pihak lain tata cara penyelenggaraannya sesuai dengan kode etik serta

standar yang telah ditetapkan.

20

2.5

Pegawai Tidak Tetap

2.5.1

Definisi Pegawai Tidak Tetap

Pegawai Tidak Tetap menurut Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 1540

tahun 2002 adalah pegawai yang diangkat oleh pejabat yang berwenang untuk jangka

waktu tertentu guna melaksanakan tugas pemerintahan dan pembangunan yang

bersifat teknis profesional dan administrasi pada sarana pelayanan kesehatan dan

tidak berkedudukan sebagai pegawai negeri, sedangkan menurut Keputusan Presiden

Nomor 37 tahun 1991 dokter sebagai Pegawai Tidak Tetap adalah dokter yang bukan

pegawai

negeri

diangkat

oleh pejabat

yang

berwenang

kesehatan untuk selama masa bakti.

2.5.2 Jenis PTT

2.5.2.1 Pegawai Tidak Tetap Pusat

pada sarana

pelayanan

Menurut pasal 12 Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 1540 tahun 2002:

1.

Pengangkatan tenaga medis sebagai Pegawai Tidak Tetap pusat hanya dapat

dilakukan pada:

1)

Daerah terpencil/sangat terpencil yang tidak diminati pada daerah kabupaten

yang kurang mampu.

2)

Daerah biasa pada kabupaten berdasarkan usul kebutuhan dari bupati dan

menyatakan bahwa daerahnya termasuk daerah kurang mampu mengangkat

Pegawai Tidak Tetap daerah.

21

3) Daerah propinsi/kabupaten/kota dengan potensi rawan konflik dalam

konflik.

situasi

4) Rumah sakit tertentu sebagai tenaga medis BSB (Brigade Siaga Bencana).

2. Pengangkatan tenaga medis sebagai Pegawai Tidak Tetap pusat dilaksanakan

oleh Kepala Biro Kepegawaian atas nama Menteri Kesehatan.

2.5.2.2 Pegawai Tidak Tetap Daerah Propinsi/ Kabupaten/ Kota

Menurut pasal 21 Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 1540 tahun 2002:

1. Pengangkatan tenaga medis sebagai Pegawai Tidak Tetap daerah propinsi/

kabupaten/ kota dapat dilakukan pada:

1) Daerah terpencil/ sangat terpencil

2) Daerah biasa

2. Pengangkatan tenaga medis sebagai Pegawai Tidak Tetap daerah propinsi/

kabupaten/kota dilaksanakan oleh gubernur/bupati/walikota atau pejabat yang

ditunjuk.

3. Pengangkatan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) ditetapkan sesuai dengan

pembiayaan

yang

tersedia

dalam

APBD

propinsi/kabupaten/kota

untuk

memenuhi

kebutuhan

tenaga

medis

yang

diusulkan

oleh

pimpinan

sarana

pelayanan kesehatan.

22

2.5.3

Kewajiban dan Hak Dokter PTT

2.5.3.1

Kewajiban

Menurut pasal 28 Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 1540 tahun 2002,

Tenaga medis sebagai Pegawai Tidak Tetap wajib:

1. Setia dan taat sepenuhnya kepada Pancasila, UUD 45, negara, dan pemerintah.

2. Menyimpan rahasia negara dan rahasia jabatan yang ditetapkan oleh pejabat yang

berwenang.

3. Mantaati

dan

melaksanakan

peraturan

perundang-undangan

yang

berlaku

termasuk ketentuan kedinasan bagi Pegawai Negeri Sipil.

4. Melaksanakan masa bakti selama ketentuan yang berlaku.

5. Melaksanakan program kesehatan yang ditentukan oleh pemerintah.

6. Menjadi peserta PT. Asuransi Kesehatan dan wajib membayar iuran sebesar 2%

dari gaji pokok.

7. Membayar pajak penghasilan sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

8. Mengikuti latihan pratugas untuk menunjang pelaksanaan tugas pada wilayah

kerjanya.

2.5.3.2 Hak

Menurut pasal 28 Keputusan Menteri Kesehatan nomor 1540 tahun 2002,

Tenaga medis sebagai Pegawai Tidak Tetap berhak:

23

1. Tenaga medis sebagai Pegawai Tidak Tetap memperoleh penghasilan berupa:

1)

Gaji pokok

2)

Tunjangan Pegawai Tidak Tetap

3)

Tunjangan bagi dokter yang ditempatkan di daerah terpencil dan sangat

terpencil

4)

Tunjangan pajak penghasilan

5)

Insentif dan tunjangan lain

2. Tenaga medis sebagai Pegawai Tidak Tetap pusat memperoleh biaya perjalanan

dari ibukota propinsi lulusan/adaptasi ke propinsi/kabupaten/kota penempatan.

3. Besarnya biaya perjalanan ditentukan sesuai dengan ketentuan yang berlaku bagi

Pegawai Negeri Sipil.

4. Tenaga

medis

apabila

meninggal

dunia

dalam

melaksanakan

masa

bakti,

memperoleh

biaya

pemakaman

sesuai

dengan

ketentuan

yang

berlaku,

meliputi antara lain: peti jenazah, angkutan jenazah, dan biaya perjalanan

keluarga ahli waris sebanyak-banyaknya 3 orang.

5. Tenaga medis sebagai Pegawai Tidak Tetap yang meninggal dunia pada waktu

melaksanakan masa bakti kepada ahli warisnya diberikan uang duka wafat

sebesar 6 kali penghasilan terakhir.

6. Tenaga medis sebagai Pegawai Tidak Tetap yang meninggal dunia karena dalam

melaksanakan tugas selama masa bakti, kepada ahli warisnya diberikan uang

duka tewas sebesar 12 kali penghasilan terakhir.

24

8. Tenaga medis sebagai Pegawai Tidak Tetap selama masa bakti dapat melakukan

praktek perorangan di luar jam kerja sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

9. Tenaga medis sebagai Pegawai Tidak Tetap dapat mengajukan usul sebagai tim

kesehatan haji Indonesia melalui propinsi setempat.

10. Tenaga

medis

sebagai

Pegawai

Tidak

Tetap

yang

ditempatkan

di

daerah

terpencil/sangat terpencil diberikan bonus nilai pada saat seleksi penerimaan

CPNS.

11. Tenaga medis sebagai Pegawai Tidak Tetap mendapatkan pelatihan yang sama

dengan PNS/karyawan lainnya untuk meningkatkan ilmu pengetahuan.

12. Tenaga medis sebagai Pegawai Tidak Tetap dapat dipilih sebagai tenaga medis.

2.5.4 Daerah Terpencil dan Sangat Terpencil

2.5.4.1 Pengertian Daerah Terpencil dan Sangat Terpencil

Menurut Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 1540 tahun 2002 pengertian

daerah terpencil adalah daerah yang sulit dijangkau karena berbagai sebab seperti

keadaan geografi (kepulauan, pegunungan, daratan hutan, dan rawa), transportasi dan

sosial budaya. Daerah sangat terpencil adalah daerah yang sangat sulit dijangkau

karena berbagai sebab seperti keadaan geografi (kepulauan, pegunungan, daratan,

hutan, dan rawa), transportasi, dan sosial budaya.

25

2.5.4.2 Kriteria Daerah Terpencil dan Sangat Terpencil

Menurut pasal 2 Permenkes Nomor 949/MENKES/PER/VII/2007, kriteria

sarana pelayanan kesehatan terpencil adalah:

1. Sarana pelayanan kesehatan yang ditetapkan dengan kriteria terpencil harus

memenuhi syarat-syarat:

1) Letak geografis

- Berada di wilayah yang sulit dijangkau

- Pegunungan, pedalaman, dan rawa-rawa

- Rawan bencana alam, baik gempa, longsor, maupun gunung api

2) Akses transportasi

- Transportasi yang umum digunakan (darat/air/udara) rutin maksimal 2

(dua) kali seminggu

- Waktu tempuh memerlukan waktu pulang pergi lebih dari 6 (enam) jam

perjalanan

3) Sosial ekonomi

- Kesulitan pemenuhan bahan pokok

- Kondisi keamanan

2. Sarana pelayanan kesehatan ditetapkan sebagai sarana pelayanan kesehatan

kriteria terpencil dengan memperhatikan persyaratan sebagaimana dimaksud

pada ayat 1 poin 1), 2), 3) .

3. Bagi

pusat

pelayanan

masyarakat

(puskesmas)

penetapan

kriteria

terpencil

ditentukan dari jarak ibukota kabupaten ke lokasi puskesmas.

26

4. Bagi sarana pelayanan rujukan penetapan kriteria terpencil ditentukan dari jarak

ibukota propinsi ke lokasi sarana rujukan.

5. Bagi sarana pelayanan kesehatan lainnya penetapan kriteria terpencil ditentukan

dari jarak ibukota kabupaten ke lokasi sarana pelayanan kesehatan lainnya.

Menurut pasal 3 Permenkes Nomor 949/MENKES/PER/VII/2007 tentang

kriteria sarana pelayanan kesehatan sangat terpencil adalah:

1. Sarana pelayanan kesehatan yang ditetapkan dengan kriteria terpencil harus

memenuhi syarat-syarat:

1) Letak geografis

- Berada di wilayah yang sulit dijangkau

- Pegunungan, pedalaman, dan rawa-rawa

- Pulau kecil/gugus pulau dan daerah pesisir

- Berada di wilayah perbatasan negara lain, baik darat maupun di pulau-

pulau kecil terluar

2)

Akses transportasi

- Transportasi yang umum digunakan (darat/air/udara) rutin maksimal 1

(satu) kali seminggu

- Waktu tempuh memerlukan waktu pulang pergi lebih dari 8 (delapan) jam

perjalanan

- Hanya tersedia transportasi dengan pesawat udara untuk mencapai lokasi

- Transportasi

yang

ada

sewaktu-waktu

terhalang

kondisi

iklim/cuaca

(seperti: musim angin, gelombang, dan lain-lain)

- Tidak ada transportasi umum

27

3)

Sosial ekonomi:

- Kesulitan pemenuhan bahan pokok

- Kondisi keamanan

2. Sarana pelayanan kesehatan ditetapkan sebagai sarana pelayanan kesehatan

kriteria

sangat

terpencil

dengan

memperhatikan

dimaksud pada ayat 1 poin 1), 2), 3).

persyaratan

sebagaimana

3. Bagi pusat pelayanan masyarakat (Puskesmas) penetapan kriteria sangat terpencil

ditentukan dari jarak ibukota kabupaten ke lokasi Puskesmas.

4. Bagi sarana pelayanan rujukan penetapan kriteria sangat

terpencil ditentukan

dari jarak ibukota propinsi ke lokasi sarana rujukan.

BAB III

METODE PENELITIAN

3.1 Jenis Penelitian

Metode

penelitian

yang

dilakukan

pada

penelitian

ini

adalah

metode

penelitian deskriptif dengan teknik survei. Tujuannya untuk memberikan gambaran

atau deskripsi tentang suatu keadaan secara objektif dan membuat penilaian terhadap

penyelenggaraan suatu program di masa sekarang, kemudian hasilnya digunakan

untuk menyusun perencanaan perbaikan program tersebut (Notoadmodjo, 2010).

3.2

Populasi dan Sampel Penelitian

 

Populasi dari penelitian ini adalah seluruh mahasiswa program pendidikan

profesi

Fakultas

Kedokteran

Gigi

Universitas

Padjadjaran

yang berjumlah

478

mahasiswa, dengan kriteria populasi:

1.

Mahasiswa yang sudah melewati semester satu pada program pendidikan profesi

di Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran.

2.

Bersedia mengisi kuesioner.

3.3

Teknik Pengambilan Sampel

Teknik pengambilan sampel

yang digunakan

pada penelitian ini adalah

purposive sampling yang didasarkan pada suatu pertimbangan tertentu yang dibuat

28

29

oleh peneliti sendiri berdasarkan ciri atau sifat-sifat populasi yang sudah diketahui

sebelumnya (Notoadmodjo, 2002).

Besarnya sampel ditentukan dengan:

Keterangan:

n

=

1

N

+

N

(d 2 )

N

= Besar populasi

n

= Besar sampel

d

= Tingkat kepercayaan/ketepatan yang diinginkan

Tingkat kepercayaan atau ketepatan pada rumus tersebut sebesar 5%, maka

diperoleh jumlah sampel sebanyak 164 orang.

3.4

Variabel Penelitian

Variabel dalam penelitian ini adalah:

1.

Kesediaan mahasiswa program pendidikan profesi

2.

Pegawai Tidak Tetap

3.5

Definisi Operasional Variabel

Definisi operasional variabel pada penelitian ini adalah:

30

1.

Kesediaan mahasiswa program pendidikan profesi

 

Kesediaan

mahasiswa

program

pendidikan

profesi

adalah

kesanggupan

mahasiswa program pendidikan profesi untuk berbuat sesuatu (Sugono, 2008).

2.

Pegawai Tidak Tetap

 

Pegawai Tidak Tetap adalah adalah pegawai yang diangkat oleh pejabat yang

berwenang untuk jangka waktu tertentu guna melaksanakan tugas pemenuhan

dan pembangunan yang bersifat teknis professional dan administrasi pada sarana

pelayanan kesehatan dan tidak berkedudukan sebagai pegawai negeri (Depkes,

2002).

3.6

Instrumen Penelitian

 

Instrumen

yang digunakan pada penelitian ini adalah kuesioner dengan

metode pertanyaan tertutup dan terbuka.

3.7 Cara Pengumpulan Data

1. Peneliti menjelaskan kepada responden tentang maksud dan tujuan penelitian.

2. Peneliti

meminta

disiapkan.

kesediaan

responden

untuk

mengisi

kuesioner

yang

telah

3. Kuesioner diberikan kepada responden yang telah bersedia mengisi kuesioner.

4. Setelah diisi kuesioner dikembalikan lagi kepada peneliti.

31

3.8 Uji Validitas dan Reliabilitas

Uji validitas dan reliabilitas dilakukan kepada 20 responden. Nilai α yang

digunakan sebesar 0,444 (Riwidikdo, 2008). Pertanyaan dikatakan valid jika nilai

α>0.444. Nilai α yang diperoleh adalah 0.5.

3.9 Analisis dan Penyajian Data

Pengolahan data pada penelitian ini dengan komputerisasi menggunakan

program Microsoft Excel 2007 dan program SPSS. Setelah data diolah, kemudian

disajikan dengan menggunakan diagram.

BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

4.1

Hasil Penelitian

 

4.1.1

Kesediaan

Mahasiswa

Program

Pendidikan

Profesi

FKG

UNPAD

Menjadi Pegawai Tidak Tetap

Jawaban responden mengenai kesediaan mengikuti PTT setelah lulus menjadi

dokter gigi dapat dilihat pada diagram 4.1.

82% 100 80 60 18% 40 20 0 1 2
82%
100
80
60
18%
40
20
0
1
2

Keterangan: (1) Bersedia; (2) Tidak bersedia

Diagram 4.1

Kesediaan Mahasiswa Program Pendidikan Profesi FKG Menjadi Pegawai Tidak Tetap

UNPAD

Hasilnya menunjukkan dari 164 responden, yang menjawab bersedia adalah

82% (135 responden) dan yang menjawab tidak bersedia adalah 18% (29 responden).

32

33

4.1.2

Alasan Mahasiswa Program Pendidikan Profesi FKG UNPAD yang

Bersedia Menjadi Pegawai Tidak Tetap

Jawaban responden mengenai alasan bersedia menjadi Pegawai Tidak Tetap

dapat dilihat pada diagram 4.2.

100 80 58 60 40 24 20 10 7 0 1 1 2 3 4
100
80
58
60
40
24
20
10
7
0
1
1
2
3
4

5

Keterangan: (1) Pengalaman; (2) Pengabdian; (3) Nilai tambah CPNS; (4) Finansial; (5) Lain-lain

Diagram 4.2

Alasan Mahasiswa Program Pendidikan Profesi FKG UNPAD Bersedia Menjadi Menjadi Pegawai Tidak Tetap

yang

Hasilnya menunjukkan alasan responden yang bersedia menjadi Pegawai

Tidak Tetap adalah 58% (78 responden) untuk menambah pengalaman, 24% (32

responden)

alasan

finansial,

10%

(13

responden)

untuk

pengabdian,

7%

(10

responden) untuk nilai tambah sebagai CPNS, 1% (2 responden) menjawab lain-lain.

34

4.1.3 Kriteria Daerah Pilihan Mahasiswa Program Pendidikan Profesi FKG

UNPAD yang Bersedia Menjadi Pegawai Tidak Tetap

Jawaban responden mengenai kriteria daerah pilihan responden yang bersedia

menjadi Pegawai Tidak Tetap dapat dilihat pada diagram 4.3.

100 80 46% 60 23% 31% 40 20 0 1 2
100
80
46%
60
23%
31%
40
20
0
1
2

3

Keterangan: (1) Biasa; (2) Terpencil; (3) Sangat Terpencil

Diagram 4.3 Kriteria Daerah Pilihan Mahasiswa Program Pendidikan Profesi FKG UNPAD yang Bersedia Menjadi Pegawai Tidak Tetap

Berdasarkan diagram diatas dapat terlihat bahwa 46% (62 responden) memilih

daerah terpencil, 31% (42 responden) memilih daerah sangat terpencil, dan 23% (31

responden) memilih daerah biasa sebagai daerah tujuan PTT.

Alasan-alasan responden yang memilih kriteria daerah yang menjadi tujuan

untuk PTT dilihat pada diagram 4.4, 4.5, 4.6.

35

100

80

60

40

20

0

30 16 13 13 10 8 5 3 1 2
30
16
13
13
10
8
5
3
1
2

1

2

3

4

5

6

7

8

9

10

Keterangan (1) Akses; (2) Finansial; (3) Kesanggupan; (4) Waktu; (5) Pengalaman; (6) Keamanan; (7) Pengabdian; (8) Wisata; (9) Keluarga; (10) Tidak menjawab

Diagram 4.4 Alasan Responden yang Memilih Kriteria Daerah Terpencil

Berdasarkan diagram diatas dapat terlihat alasan responden memilih kriteria

daerah

terpencil

adalah

29%

(18

responden)

dengan

alasan

untuk

menambah

pengalaman, 16% (10 responden) tidak memberikan alasan, 13% (8 responden)

menjawab karena alasan akses yang lebih mudah, 13% (8 responden) menjawab

untuk finansial, 10% (6 responden) menjawab karena waktu yang relatif singkat, 8%

(5 responden) menjawab untuk pengabdian, 5% (3 responden) menjawab alasan

keamanan, 3% (2 responden) menjawab alasan keluarga, 2% (1 responden) menjawab

untuk daerah wisata, 1% (1 responden) menjawab alasan kesanggupan.

36

100

80

60

40

20

0

33 31 17 7 5 5 2
33
31
17
7
5
5
2

1

2

3

4

5

6

7

Keterangan (1) Finansial; (2) Akses; (3) Pengalaman; (4) Waktu; (5) Wisata; (6) Pengabdian; (7) Tidak menjawab

Diagram 4.5 Alasan Responden yang Memilih Kriteria Daerah Sangat Terpencil

Berdasarkan diagram diatas dapat terlihat alasan responden memilih kriteria

daerah sangat terpencil adalah 33% (14 responden) dengan alasan untuk menambah

pengalaman, 31% (13 responden) dengan alasan finansial, 17% (7 responden) dengan

alasan waktu yang lebih cepat, 7% (3 responden) tidak memberikan alasan, 5% (2

responden) menjawab alasan pengabdian, 5% (2 responden) menjawab untuk daerah

wisata, 2% (1 responden) menjawab alasan akses yang mudah.

37

100

80

60

40

20

0

26 19 16 13 10 7 3 3 3
26
19
16
13
10
7
3
3
3

1

2

3

4

5

6

7

8

9

Keterangan; (1) Sarana; (2) Akses; (3) Keluarga; (4) Adaptasi kebudayaan; (5) Pengabdian; (6) Mencoba daerah baru; (7) Pengalaman; (8) Lain-lain; (9) Tidak menjawab

Diagram 4.6 Alasan Responden yang Memilih Kriteria Daerah Biasa

Berdasarkan diagram diatas dapat terlihat bahwa alasan responden memilih

kriteria daerah biasa adalah 26% (8 responden) tidak memberikan alasan, 19% (6

responden) menjawab akses yang lebih mudah, 16% (5 responden) menjawab karena

alasan keluarga, 13% (4 responden) menjawab sarana yang masih memadai, 10% (3

responden) menjawab agar mudah beradaptasi dengan daerah baru, 7% (2 responden)

menjawab untuk pengabdian, 3% (1 responden) menjawab untuk mencoba daerah

baru, 3% (1 responden) menjawab menambah

menjawab lain-lain.

pengalaman, 3% (1 responden)

38

4.1.4 Daerah Pilihan Mahasiswa Program Pendidikan Profesi FKG UNPAD

yang Bersedia Menjadi Pegawai Tidak Tetap

Jawaban responden mengenai daerah tujuan responden yang bersedia menjadi

Pegawai Tidak Tetap dapat dilihat pada diagram 4.7.

100 80 33% 46% 60 40 21% 20 0 1 2
100
80
33%
46%
60
40
21%
20
0
1
2

3

Keterangan: (1) Indonesia Bagian Barat; (2) Indonesia Bagian Tengah; (3) Indonesia Bagian Timur

Diagram 4.7

Daerah Pilihan Mahasiswa Program Pendidikan Profesi FKG UNPAD yang Bersedia Menjadi Menjadi Pegawai Tidak Tetap

Berdasarkan diagram diatas dapat terlihat 46% (62 responden) dari reponden

yang bersedia untuk PTT memilih Indonesia bagian tengah meliputi Kalimantan,

Sulawesi, Nusa Tenggara, dan Bali, 33% (44 responden) memilih Indonesia bagian

barat meliputi Sumatera, dan Jawa, 21% (29 responden) memilih Indonesia bagian

timur meliputi Maluku dan Papua.

39

4.1.5

Alasan Mahasiswa Program Pendidikan Profesi FKG UNPAD

yang

Tidak Bersedia Menjadi Pegawai Tidak Tetap

Jawaban responden mengenai alasan responden yang tidak bersedia menjadi

Pegawai Tidak Tetap dapat dilihat pada diagram 4.8.

100

80

60

40

20

0

41 28 17 14
41
28
17
14

1

2

3

4

Keterangan: (1) Tidak dizinkan keluarga; (2) Akses terhadap fasilitas umum sulit; (3) Ingin melanjutkan pendidikan/spesialisasi; (4) Lain-lain

Diagram 4.8 Alasan Mahasiswa Program Pendidikan Profesi FKG UNPAD yang Tidak Bersedia Menjadi Pegawai Tidak Tetap

Berdasarkan

diagram

diatas

dapat

terlihat

alasan

responden

yang

tidak

bersedia

menjadi

Pegawai

Tidak

Tetap

adalah

41%

(12

responden)

ingin

melanjutkan

pendidikan

atau

spesialisasi,

28%

(8

responden)

tidak

diizinkan

keluarga, 17% (5 responden) akses terhadap fasilitas umum sulit, dan 14% (4

responden) menjawab lain-lain seperti ingin lansung membuka praktek dan ingin

membuka usaha sendiri yang tidak berhubungan dengan kedokteran gigi.

40

4.2

Pembahasan

Responden yang bersedia menjadi Pegawai Tidak Tetap setelah lulus menjadi

dokter gigi adalah 82% (135 responden) dan yang tidak bersedia adalah 18% (29

responden). Mayoritas responden bersedia menjadi Pegawai Tidak Tetap didukung

oleh pemahaman responden mengenai pengertian Pegawai Tidak Tetap (96%).

Pegawai Tidak Tetap menurut Keputusan Menteri Kesehatan No.1540 tahun 2002

adalah pegawai yang diangkat oleh pejabat yang berwenang untuk jangka waktu

tertentu guna melaksanakan tugas pemerintahan dan pembangunan yang bersifat

teknis profesional dan administrasi pada sarana pelayanan kesehatan dan tidak

berkedudukan sebagai pegawai negeri (Depkes, 2002).

Responden sebagian besar tetap bersedia menjadi Pegawai Tidak Tetap

walaupun responden sudah mengetahui tidak adanya kewajiban PTT untuk lulusan

dokter dan dokter gigi. Kebijakan ini diberlakukan sejak tahun 2007 sesuai dengan

Permenkes

No.

512/MENKES/PER/IV/2007

yang

ditandai

dengan

tidak

dibutuhkannya surat keterangan telah menyelesaikan PTT sebagai syarat untuk

memperoleh Surat Izin Praktek (SIP) (Depkes, 2007). Mayoritas responden bersedia

menjadi

Pegawai

Tidak

Tetap

akan

mendukung

tercapainya

salah

satu

tujuan

subsistem Sistem Kesehatan Nasional yaitu terselenggaranya upaya kesehatan yang

adil,

merata,

terjangkau,

dan

bermutu

untuk

menjamin

terselenggaranya

pembangunan kesehatan guna meningkatkan derajat kesehatan masyarakat yang

setinggi-tingginya (Depkes, 2009).

41

Keputusan Menteri Kesehatan No. 004/Menkes/SK/2003 tentang kebijakan

dan desentralisasi bidang kesehatan menyebutkan bahwa dalam memantapkan sistem

manajemen

SDM

kesehatan

perlu

dilakukan

peningkatan

dan

pemantapan

perencanaan,

pengadaan

tenaga

kesehatan,

pendayagunaan,

dan

pemberdayaan

profesi kesehatan. Salah satu langkah pemantapan sistem manajemen SDM adalah

melalui

pendayagunaan

SDM

kesehatan

termasuk

pengembangan

model-model

pendayagunaan SDM kesehatan untuk daerah terpencil (Budiarto, 2006).

Tahun 2010 Kementerian Kesehatan melaksanakan program yang dikenal

dengan program intership. Program ini mempunyai tujuan yang sama dengan PTT

yaitu pemerataan tenaga kesehatan. Program intership adalah proses pemantapan

mutu

profesi

pendidikan,

dokter

secara

untuk

menerapkan

kompetensi

yang

diperoleh

selama

terintegrasi,

komprehensif,

mandiri

serta

menggunakan

pendekatan kedokteran keluarga dalam rangka pemahiran dan penyelarasan antara

hasil pendidikan dengan praktik di lapangan (Depkes, 2011).

Responden yang bersedia menjadi Pegawai Tidak Tetap mayoritas (58%)

memberikan alasan untuk menambah pengalaman, selain itu juga alasan finansial,

pengabdian, untuk nilai tambah sebagai CPNS, dan lain-lain. Menurut teori Herzberg

bahwa salah satu yang mempengaruhi seseorang dalam tugas atau pekerjaannya

adalah faktor penyebab kepuasan atau faktor motivasional yang mencakup prestasi,

penghargaan, tanggung jawab, kesempatan untuk maju dan pekerjaan itu sendiri

(Notoadmodjo, 2007). Keputusan Menteri Kesehatan No.1540 tahun 2002 pasal 28 a

menyatakan

bahwa

tenaga

medis

sebagai

Pegawai

Tidak

Tetap

memperoleh

penghasilan berupa gaji pokok, tunjangan Pegawai Tidak Tetap, tunjangan bagi yang

42

ditempatkan di daerah terpencil dan sangat terpencil, tunjangan pajak penghasilan dan

insentif.

Alasan

untuk

menambah

nilai

tambah

sebagai

CPNS

sesuai

dengan

Keputusan Menteri Kesehatan No. 1540 tahun 2002 pasal 29 point j, tenaga medis

sebagai Pegawai Tidak Tetap yang ditempatkan di daerah terpencil/sangat terpencil

diberikan bonus nilai pada saat seleksi penerimaan CPNS dan Kepres No. 37 tahun

1991 point 2b, prioritas pengangkatan sebagai PNS (Depkes, 2002).

PTT terdiri dari PTT pusat dan PTT daerah. Jenis PTT ini tercantum pada

pasal 6 Keputusan Menteri Kesehatan No. 1540 tahun 2002 bahwa Pegawai Tidak

Tetap

meliputi

Pegawai

Tidak

Tetap

pusat

dan

Pegawai

Tidak

Tetap

daerah

propinsi/kabupaten/kota (Depkes, 2002). Pegawai Tidak Tetap daerah berhubungan

dengan otonomi daerah yang sedang berlansung dengan diberlakukannya UU No.

22/1999

dan

UU

No.

25/1999.

Undang-Undang

ini

mengandung

arti

bahwa

pemerintah kabupaten atau kota mempunyai otonomi dalam mengatur sumber dana

atau keuangan dan sumber daya ilmu pengetahuan (termasuk investasi sarana dan

prasarana) yang paling mendesak untuk dilakukan peningkatan keterampilan dan

pemberdayaan sumber daya manusia. Salah satu sumber daya yang ada di masyarakat

adalah tenaga kesehatan yang siap untuk bekerja dalam membangun kesehatan bagi

masyarakat setempat (Depkes, 2002).

Responden yang bersedia untuk PTT mayoritas memilih daerah terpencil

(46%), diikuti dengan daerah sangat terpencil (31%), dan sebagian kecil memilih

daerah biasa (23%). Kriteria daerah tujuan PTT terdiri dari daerah biasa, terpencil,

dan sangat terpencil. Hal ini sesuai dengan pasal 12 dan 21 Keputusan Menteri

Kesehatan No. 1540 tahun 2002 yang menyatakan pengangkatan tenaga medis

43

sebagai

Pegawai

Tidak

Tetap

pusat

dan

daerah

propinsi/kabupaten/kota

dapat

dilakukan pada daerah terpencil, sangat terpencil, dan daerah biasa (Depkes, 2002).

Responden yang memilih daerah terpencil mayoritas memberikan alasan

untuk menambah pengalaman (29%), responden meyakini jika bekerja di daerah

terpencil akan banyak menemukan pengalaman-pengalaman baru terutama yang

berhubungan

dengan

profesi

responden.

Alasan

selanjutnya

adalah

akses

yang

mudah. Daerah terpencil menurut Keputusan Menteri Kesehatan No. 1540 tahun

2002 adalah daerah yang sulit dijangkau karena berbagai sebab seperti keadaan

geografi

(kepulauan

pegunungan,

daratan,

hutan,

dan

rawa)

(Depkes,

2002).

Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 949 tahun 2007 menyebutkan bahwa kriteria

daerah

terpencil

diantaranya

transportasi

umum

yang

digunakan

adalah

(darat/air/udara) rutin maksimal dua kali seminggu (Depkes, 2007).

 
 

Responden

yang

memilih

daerah

sangat

terpencil

mayoritas

(33%)

memberikan alasan untuk menambah pengalaman, 31% dengan alasan finansial. Hal

ini karena penghasilan di daerah sangat terpencil lebih besar daripada daerah terpencil

(Depkes, 2008). Sebanyak 17% dengan alasan waktu yang lebih cepat, walaupun

sekarang sudah ada kebijakan baru dimana waktu pengabdian untuk daerah terpencil

dan sangat terpencil adalah sama yaitu satu tahun (Depkes, 2011). Sebanyak 7% tidak

memberikan alasan, 5% menjawab alasan pengabdian, 5% menjawab untuk daerah

wisata, 2% menjawab alasan akses yang mudah. Daerah sangat terpencil menurut

Keputusan Menteri Kesehatan No. 1540 tahun 2002 adalah daerah yang sangat sulit

dijangkau karena berbagai sebab seperti keadaan geografi (kepulauan pegunungan,

44

daratan, hutan, dan rawa) (Depkes, 2002). Kriteria daerah sangat terpencil menurut

Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 949 tahun 2007 adalah transportasi umum yang

digunakan berupa (darat/air/udara) rutin maksimal satu kali seminggu, waktu tempuh

memerlukan waktu pulang pergi lebih dari 8 (delapan) jam perjalanan, berada di

wilayah perbatasan negara lain, baik darat maupun di pulau-pulau kecil terluar

(Depkes, 2007).

Responden mayoritas tidak memberikan alasan memilih daerah biasa, hal ini

bisa disebabkan karena responden belum tahu banyak mengenai PTT, karena sebelum

membentuk sikap yang tepat perlu ada upaya memberikan pengetahuan yang tepat.

Pengetahuan akan menstimulasi terjadinya dinamika berbagai psikofisik seperti

kebutuhan,

motif,

perasaan,

perhatian,

dan

pengambilan

keputusan

dalam

diri

individu (Azwar, 2007). Alasan selanjutnya memilih daerah biasa adalah akses yang

lebih mudah, keluarga, sarana yang masih memadai, mudah beradaptasi dengan

daerah baru, untuk pengabdian, dan lain-lain.

Responden yang bersedia untuk PTT mayoritas (46%) memilih Indonesia

bagian tengah meliputi Kalimantan, Sulawesi, Nusa Tenggara, dan Bali. Observasi

yang dilakukan peneliti, responden lebih banyak memilih daerah Indonesia bagian

tengah karena menurut asumsi responden daerah Indonesia bagian tengah tidak

terlalu

terpencil,

juga

tidak

tergolong

kriteria

daerah

biasa.

Perbedaan

antara

Indonesia bagian barat dengan Indonesia bagian timur juga cukup jauh, 33% memilih

Indonesia bagian barat meliputi Sumatera dan Jawa, 21% memilih Indonesia bagian

timur meliputi Maluku dan Papua. Hal ini sejalan dengan data yang dikeluarkan

45

Departemen Kesehatan bahwa penyebaran dan rasio tenaga kesehatan menunjukkan

adanya disparitas antar Puskesmas di Indonesia bagian barat dengan Indonesia bagian

timur (Depkes, 2009).

Hasil penelitian menunjukkan responden yang tidak bersedia menjadi Pegawai

Tidak Tetap sebanyak 18%. Alasan ketidaksediaan responden adalah 41% ingin

melanjutkan pendidikan atau spesialisasi, 28%

tidak diizinkan keluarga, 17% akses

terhadap fasilitas umum sulit, dan 14% menjawab lain-lain (ingin langsung merintis

karir

di

kota

dan

tidak

mau

praktek).

Minat

yang

tinggi

untuk

melanjutkan

spesialisasi diharapkan mampu untuk mengatasi jumlah tenaga spesialis yang tidak

merata di Indonesia. Tahun 2008 DKI Jakarta mempunyai 2890 spesialis (23,92%),

Jawa Timur 1980 (16.39%), Jawa Barat 1881 (15,57%), sedangkan di Sumatera Barat

hanya 167 (1.38%). Ketimpangan penyebaran spesialis ini merupakan hal yang tidak

adil, terutama dalam konteks kebijakan nasional yang menggunakan pembayaran

penuh untuk masyarakat miskin. Masyarakat miskin akan kesulitan mendapatkan

akses pelayanan medik di daerah yang jarang dokter spesialis, sebaliknya di tempat

yang banyak dokter spesialis akan sangat mudah. Konsekuensinya dana pusat untuk

masyarakat miskin dikhawatirkan terpakai lebih banyak di kota-kota besar dan di

pulau Jawa (Trisnantoro dan Handono, 2008).

Sosialisasi

mengenai

program

Pegawai

Tidak

Tetap

diharapkan

mampu

meningkatkan minat dokter gigi yang baru lulus untuk mengikuti PTT, sehingga

dapat

mengatasi

Indonesia.

permasalahan

penyebaran

dokter

gigi

yang

belum

merata

di

BAB V

SIMPULAN DAN SARAN

5.1

Simpulan

Mahasiswa program pendidikan profesi Fakultas Kedokteran Gigi Universitas

Padjadjaran sebagian besar bersedia menjadi Pegawai tidak Tetap.

5.2

Saran

Berdasarkan

hasil

penelitian

dapat

dirumuskan

beberapa

saran

sebagai

berikut:

1. Agar

mahasiswa

program

pendidikan

profesi

Fakultas

Kedokteran

Gigi

Universitas Padjadjaran lebih memahami tata cara pemilihan kriteria daerah

tujuan PTT.

2. Agar pemerintah dalam hal ini Dinas Kesehatan setempat lebih meningkatkan

sosilalisasi mengenai Permenkes No. 512/MENKES/PER/IV/2007, karena masih

ada mahasiswa Fakultas Kedokteran Gigi yang belum mengetahui tentang tidak

adanya kewajiban PTT untuk lulusan dokter gigi.

3. Agar Fakultas mengundang alumni-alumni yang telah melaksanakan PTT untuk

berbagi pengalaman selama bekerja menjadi Pegawai Tidak Tetap dalam bentuk

seminar-seminar.

46

47

4. Agar Fakultas lebih meningkatkan sosialisasi program internship sebagai program

terbaru dari Departemen Kesehatan kepada mahasiswa program pendidikan

profesi Fakultas Kedokteran Gigi.

5. Agar dengan adanya desentralisasi kesehatan atau otonomi daerah Pegawai Tidak

Tetap daerah setiap kota atau kabupaten dapat meningkatkan status kesehatan

gigi dan mulut di daerah masing-masing.

DAFTAR PUSTAKA

Azwar, A. 1996. Pengantar Administrasi Kesehatan. Ed. 3. Jakarta: Binarupa Aksara. h. 19, 29 ,33-39.

Azwar, S. 2007. Sikap Manusia Teori dan Pengukurannya. Ed. 2. Yogyakarta:

Pustaka Pelajar. h. 30.

Badan

Pusat

Statistik.

2010.

Hasil

Sensus

Penduduk.

Available

at

http://www.bps.go.id/. (Diakses 16 November 2010).

Bappenas. 2005. Kajian Kebijakan Perencanaan Tenaga Kesehatan. Jakarta.

Budiarto. 2006. Pengembangan Model Rekruitmen dan Pendayagunaan Tenaga Keperawatan di Daerah Terpencil. Available at www.litbang.depkes.go.id/. (Diakses 22April 2011).

Depkes RI. Keputusan Presiden no. 37 Tahun 1991 Tentang Pengangkatan Dokter Sebagai Pegawai Tidak Tetap Selama Masa Bakti. Available at:

Pegawai Tidak Tetap Selama Masa Bakti . Available at: http://www.hukor.depkes.go.id/. (Diakses 27 Januari 2011).

http://www.hukor.depkes.go.id/. (Diakses 27 Januari 2011).

2002. Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor

1540/Menkes/SK/XII/2002/Tentang Penempatan Tenaga Medis Melalui Masa

Bakti dan Cara Lain.

2002. Beberapa Model Pendayagunaan Tenaga Kesehatan non-PNS dalam

Otonomi Daerah. Jakarta: Badan Pengembangan dan Pemberdayaan Sumber Daya Manusia. h. 1.

2003.

Indikator Indonesia Sehat 2010. Jakarta.

 

2007.

Peraturan

Menteri

Kesehatan

Republik

Indonesia

Nomor

512/Menkes/Per/IV/2007.

 

2007.

Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor

949/MENKES/PER/VII/2007 Tentang Kriteria Sarana Pelayanan Kesehatan Terpencil Dan Sangat Terpencil.

2008.

Kebijakan Departemen Kesehatan Tentang Pengadaan Dokter PTT.

Jakarta: Biro Kepegawaian Setjen Departemen Kesehatan. Available at:

www.cdc.fk.ui.ac.id. (Diakses 14 November 2010).

48

49

2009.

Kebijakan Kesehatan Gigi dan Mulut. Jakarta: Direktorat Jenderal Bina

Pelayanan Medik. h. 15.

2009. Sistem Kesehatan Nasional. Jakarta.

2010. Rekapitulasi Daftar Antrian dan Kebutuhan Dokter Gigi Bulan

Februari untuk Pengangkatan Bulan April 2005. Available at:

www.depkes.go.id. (Diakses 16 November 2010).

2011.

Kemkes tempatkan 1080 Dokter PTT di Daerah Terpencil dan Sangat

Terpencil. Available at: www.depkes.go.id. (Diakses 18 April 2011).

2011. Pada 2011 Program Internsip Dokter Indonesia Dilaksanakan Di 11 Fakultas Kedokteran. Available at: www.depkes.go.id. (Diakses 14 Juli

2011).

Faturochman. 2006. Pengantar Psikologi Sosial. Ed. 1. Yogyakarta: Pustaka. h. 43.

Hatta, R. 2008. Pedoman Manajemen Informasi Kesehatan dalam Sarana Pelayanan Kesehatan. Jakarta: Universitas Indonesia. h. 6.

KKI. 2006. Rencana Strategis Konsil Kedokteran Indonesia 2005 2010. Jakarta.

2006.

Standar Pendidikan Profesi Dokter Gigi. Jakarta.

2010.

Informasi Jumlah Dokter/ Dokter Gigi yang Teregistrasi. Jakarta:

Available at: http://inamc.or.id. (Diakses 18 April 2011).

Notoadmojo, S. 2003. Pendidikan dan Perilaku Kesehatan. Jakarta: Rineka Cipta. h.

126-127.

2007.

Promosi Kesehatan dan Ilmu Perilaku. Jakarta: Rineka Cipta. h. 139-

141, 218-227.

2002.

Metodologi Penelitian Kesehatan. Jakarta: Rineka Cipta. h. 92.

2010.

Metodologi Penelitian Kesehatan. Jakarta: Rineka Cipta. h. 35, 124.

Pierce and Cheney. 2004. Behaviour Analysis and Learning. 3 rd . London: Lawrence Erlbaum Associates. pp. 132.

Sugono, Dendy. 2008. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Pusat Bahasa Depdiknas h. 1281.

50

Riwidikdo, Handoko. 2008. Statistik Kesehatan. Jogjakarta: Mitra Cendikia. h. 172.

Robbins, et.al. 2008. Perilaku Organisasi Organizational Behavioural. 12 th . Jakarta:

Salemba Empat. h. 223-224.

Trisnantoro dan Handono. 2008. Inovasi dalam pemberian pelayanan berdasarkan kontrak di RS Cut nya’dien Kabupaten Aceh Barat dan di kabupaten Berau Kalimantan Timur. Available at : http://www.jmpk-online.net/. (diakses 22 April 2011).

Walgito, Bimo. 2003. Psikologi Sosial (Suatu Pengantar). Ed. 4. Yogyakarta: Andi. h. 111, 113-115.

Undang-undang No. 36 tahun 2009 tentang Kesehatan.

Lampiran 1

Lampiran 1 51

51

Lampiran 2

Lampiran 2 52

52

Lampiran 3

Lampiran 3 53

53

Lampiran 4

KUESIONER

No. Responden

:

 

I

No

Pernyataan

Ya

Tidak

1.

Pegawai tidak tetap adalah pegawai yang diangkat oleh Pejabat yang berwenang untuk jangka waktu tertentu guna melaksanakan tugas Pemerintahan dan pembangunan yang bersifat teknis profesional dan administrasi pada sarana pelayanan kesehatan dan tidak berkedudukan sebagai Pegawai Negeri

   

2.

Saat pendaftaran PTT kita bisa memilih daerah yang kita inginkan

   

3.

PTT terdiri dari PTT pusat dan PTT daerah

   

4.

Setiap lulusan dokter gigi diwajibkan untuk melaksanakan PTT

   

5.

Saat ini untuk memperoleh SIP (Surat Izin Praktek) masih dibutuhkan surat keterangan telah menyelesaikan PTT

   

II.

Berilah tanda “X” untuk jawaban yang menurut anda benar.

 

1. Apakah anda bersedia mengikuti PTT setelah lulus menjadi dokter gigi? (Jika anda menjawab “Ya” lanjut ke pertanyaan no. 2. Jika anda menjawab “Tidak” lanjut ke pertanyaan no. 3).

a. Ya

b. Tidak

2. Apabila anda menjawab “Ya”

2.1 Apakah alasan utama anda bersedia mengikuti PTT? ( 1 alasan utama)

a. Untuk menambah pengalaman

b. Untuk pengabdian

c. Nilai tambah sebagai CPNS

d. Meningkatkan kesejahteraan finansial

e. Lain-lain

2.2 Di daerah manakah anda ingin ditempatkan? (1 alasan utama)

a. Biasa

Alasan

b. Terpencil

Alasan

c. Sangat terpencil

Alasan

54

55

2.3 Dimanakah daerah tujuan PTT yang anda inginkan?

a. Indonesia bagian barat (Sumatera, Jawa,)

b. Indonesia bagian tengah (Kalimantan,Sulawesi, Nusa Tenggara, Bali)

c. Indonesia bagian timur (Maluku, Papua)

3.

Apabila anda menjawab “Tidak”, apakah alasan utama anda tidak bersedia mengikuti PTT? ( 1 alasan utama)

a. Merasa diri sendiri tidak sanggup

b. Tidak diizinkan keluarga

c. Akses terhadap fasilitas umum/ hidup sulit

d. Tidak adanya jaminan kesejahteraan di daerah

e. Ingin melanjutkan pendidikan/spesialisasi

f. Lain-lain

Lampiran 5

96 96 100 90 84 80 70 60 50 40 30 16 20 10 4
96
96
100
90
84
80
70
60
50
40
30
16
20
10
4
4
0
ya
tidak
ya
tidak
ya
tidak
Pengertian PTT
Tata cara pemilihan daerah
tujuan PTT
Jenis PTT

Diagram 1.

Pernyataan Positif Pemahaman Mahasiswa Program Pendidikan Profesi FKG UNPAD Mengenai Pegawai Tidak Tetap

100 94 91 90 80 70 60 50 40 30 20 6 9 10 0
100
94
91
90
80
70
60
50
40
30
20
6
9
10
0
ya
tidak
ya
tidak
Kewajiban untuk PTT
PTT syarat untuk SIP

Diagram 2.

Pernyataan Negatif Pemahaman Mahasiswa Program Pendidikan Profesi FKG UNPAD Mengenai Pegawai Tidak Tetap

56

Lampiran 6

responden

p1

p2

p3

p4

p5

p1

p2.1

p2.2

p2.3

p3

1

1

1

1

1

1

1

1

1

2

2

1

1

1

1

1

1

1

1

1

3

0

1

1

1

1

1

1

2

1

4

1

1

1

1

1

1

1

3

2

5

1

1

1

1

1

1

1

1

2

6

1

0

1

1

1

1

4

3

2

7

1

1

1

1

1

0

6

8

1

1

1

0

0

0

5

9

1

1

1

1

1

1

4

3

3

10

1

1