Anda di halaman 1dari 14

LAPORAN PRAKTIKUM TEKNOLOGI PASCA PANEN DAN PENGEMASAN ACARA II PENYIMPANAN SUHU RENDAH

Noviyanti

Oleh : A1M009050

KEMENTERIAN PENDIDIKAN NASIONAL UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN FAKULTAS PERTANIAN PURWOKERTO 2011

I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Kerusakan bahan pangan telah dimulai sejak bahan pangan tersebut dipanen. Penyebab utama kerusakan bahan pangan adalah (1) pertumbuhan dan aktivitas mikroorganisme; (2) Aktivitas enzim dalam bahan pangan; (3) suhu baik suhu tinggi maupun suhu rendah; (4) udara khususnya oksigen; (5) kadar air dan kekeringan; (6) cahaya; dan (7) serangga, parasit serta pengerat. Pengawetan pangan pada dasarnya adalah tindakan untuk memperkecil atau menghilangakan faktor-faktor perusak tersebut. Setelah dipanen produk hasil pertanian tetap melakukan fisiologis sehingga dapat disebut sebagai jaringan yang masih hidup. Adanya aktifitas fisiologis menyebabkan produk pertanian akan terus mengalami perubahan yang tidak dapat dihentikan, hanya dapat diperlambat sampai batas tertentu. Tahap akhir dari perubahan pasca panen adalah kelayuan untuk produk nabati atau pembusukan pada produk hewani. Susut losses kualitas dan kuantitas produk hasil pertanian terjadi sejak pemanenan hingga dikonsumsi. Besarnya susut sangat tergantung pada jenis komoditi dan cara penanganannya selepas panen. Untuk mengurangi susut ini petani/pedagang (1) harus mengetahui factor biologis dan lingkungan yang berpengaruh terhadap terjadinya kerusakan, (2) menguasai teknik penanganan pasca panen yang dapat menunda kelayuan atau kebusukan dan menjaga kualitas pada tingkatan tertentu yang mungkin dicapai. Untuk mengurangi susut yang terjadi setelah pemanenan, pada prinsipnya dapat dilakukan dengan cara memanipulasi factor biologis atau factor lingkungan dimana produk pertanian tersebut disimpan. Perbedaan factor biologis komoditi nabati dengan komoditi hewani menyebabkan cara penanganan keduanya juga berbeda. Secara umum factor lingkungan yang berpengaruh terhadap kedua komoditi pertanian adalah sama yaitu : suhu, kelembaban udara, komposisi udara (CO, CO2, O2), polutan dan cahaya. Faktor-faktor biologis terpenting yang dapat

dihambat pada bahan nabati seperti buah-buahan dan sayuran adalah : respirasi, produksi etilen, transpirasi, dan faktor morfologis/anatomis, faktor lain yang juga penting untuk diperhatikan adalah senantiasa menghindarkan komoditi terhadap suhu atau cahaya yang berlebihan, dan kerusakan patologis atau kerusakan fisik. Laju respirasi merupakan petunjuk yang baik untuk daya simpan buah dan sayuran sesudah dipanen. Intensitas respirasi dianggap sebagai ukuran laju jalannya metabolisme, dan oleh karena itu sering dianggap sebagai petunjuk mengenai potensi daya simpan buah dan sayuran. Laju respirasi yang tinggi biasanya disertai oleh umur simpan yang pendek. Hal itu juga merupakan petunjuk laju kemunduran mutu dan nilainya sebagai bahan makanan. Faktor yang sangat penting yang mempengaruhi respirasi dilihat dari segi penyimpanan adalah suhu.Peningkatan suhu antara 00C 350C akan meningkatkan laju respirasi buahbuahan dan sayuran, yang memberi petunjuk bahwa baik proses biologi maupun proses kimiawi dipengaruhi oleh suhu. Sampai sekarang pendinginan merupakan satu-satunya cara ekonomis untuk penyimpanan jangka panjang bagi buah dan sayuran segar. Asas dasar penyimpanan dingin adalah penghambatanrespirasi oleh suhu tersebut (Pantastico, l997).Pendinginan dapat memperlambat kecepatanreaksireaksi metabolisme, dimana pada umumnya setiap penurunan suhu 80C,kecepatan reaksi akan berkurang menjadikira-kira setengahnya. Selain dapat menekan laju respirasi, penyimpanan pada suhu rendah juga dapat menekan pertumbuhan mikroba, sehingga kerusakan buah-buahan dan sayuran karena mikrobia dapat dihambat Oleh karena itu penyimpanan dapat memperpanjang masa hidup

jaringan-jaringan dalam bahan pangan, karena keaktifan respirasi menurun (Winarnodkk, l982). Perubahan yang terjadi selama penyimpanan yaitu penurunan ketegaran dan kepadatan,warna oksidasi lemak dan melunaknya jaringan-jaringan serta rasa pada bahan pangan.

B. Tujuan Tujuan praktikum penyimpanan suhu rendah yaitu untuk mengetahui pengaruh penyimpanan suhu rendah pada buah tomat.

II. TINJAUAN PUSTAKA

Buah memiliki masa simpan yang relatif rendah sehingga buah dikenal sebagai bahan panganyang cepat rusak dan hal ini sangat berpengaruh terhadap kualitas masa simpan buah. Mutu simpan buahsangat erat kaitannya dengan proses respirasi dan transpirasi selama penanganan dan penyimpanan dimana akan menyebabkan susut pasca panen seperti susut fisik yang diukur dengan berat; susut kualitaskarena perubahan ujud (kenampakan), cita rasa, warna atau tekstur yang menyebabkan bahan pangankurang disukai konsumen; susut nilai gizi yang berpengaruh terhadap kualitas buah. Mutu simpan buahakan lebih bertahan lama jika laju respirasi rendah dan transpirasi dapat dicegah dengan

meningkatkankelembaban relatif, menurunkan suhu udara. Pada umumnya komoditas yang mempunyai umur simpanpendek mempunyai laju respirasi tinggi atau peka terhadap suhu rendah (Tranggono dan Sutardi, 1990). Buah tomat yang telah dipanen akan tetap melangsungkan respirasi. Proses respirasi yang menyebabkan pembusukan ini terjadi karena perubahan-perubahan kimia dalam buah tomat dari pro-vitamin A menjadi vitamin A, pro-vitamin Cmenjadi Vitamin C, dan dari karbohidrat menjadi gula, yang menghasilkan CO2, H2O, dan etilen. Akumulasi produk-produk respirasi inilah yang menyebabkan pembusukan. Respirasi ini tidak dapat dihentikan namun bisa dihambat yaitu dengan menyimpannya pada suhu dan kelembaban rendah. Penyimpanan suhu rendah dapat dilakukan secara sederhana dalam lemari es, namun di tempat ini kelembabannya tinggi. Mengingat barang-barang yang mudah menguap juga tersimpan di dalam lemari es proses respirasi buah tomat tidak dapat dihambat dengan sempurna. (Kanara,2009) Selain respirasi, buah tomat juga masih melakukan transpirasi. Aktivitas tersebut tidak dibarengi oleh aktivitas fotosintesis sehingga senyawa tertentu dirombak dan air menguap tanpa ada pasokan baru. Hal tersebut menyebabkan susut berat pada buah tomat. Susut berat komoditas ini berakibat pada penampilan komoditas yang semakin lama keriput dan melunak. Oleh karena kelembaban

udara juga harus diperhatikan dalam penyimpanan. Menurut Tranggono dan Sutardi (1990), mutu simpan buah akan lebih bertahan lama jika laju respirasi rendah dan transpirasi dapat dicegah dengan meningkatkan kelembaban relatif dan menurunkan suhu udara. Ada beberapa macam cara penyimpanan yang dilakukan untuk mempertahankan kesegaran buah tomat, antara lain yaitu (Liu, 1999): 1. Udara dingin biasanya digunakan pada rumah-rumah penyimpanan, atau di bawah tanah atau di gudang penyimpanan menggunakan udara dingin alami. 2. Penyimpanan menggunakan lemari pendingin (cold storage) mengontrol suhu dan kelembaban udara. 3. Penyimpanan dengan kontrolled atmosphere (CA) mengendalikan

konsentrasi oksigen dan karbon dioksida, sebagai tambahan untuk suhu dan kelembaban. 4. Penyimpanan dengan modified atmosphere (MA) juga mengontrol konsentrasi oksigen dan karbondioksida, walau tidak sebaik CA, dengan menggunakan lembar polimer semipermiabel. Menurut Liu (1999), pengendalian yang baik pada temperatur, kelembaban dan komposisi udara memaksimalkan umur simpan suatu produk. Pertumbuhan organisme perusak dapat diperlambat pada suhu

penyimpanan rendah, namun komoditas segar berangsur-angsur kehilangan resistensi alaminya terhadap pertumbuhan organisme perusak. Oleh karena itu lamanya umur simpan ditentukan oleh interaksi oleh senensensi alami (kehilangan kualitas), pertumbuhan organisme perubahan dan kepekaan terhadap cacat suhu dingin (Tranggono dan Sutardi, 1990). Asas dasar penyimpanan dingin adalah penghambatan respirasi oleh suhu tersebut (Pantastico, l997). Penyimpanan pada suhu rendah dapat menghambat kerusakan makanan, antara lain kerusakan fisiologis, kerusakan enzimatis maupun kerusakan mikrobiologis. Pada

pengawetan dengan suhu rendah dibedakan antara pendinginan dan pembekuan. Pendinginan dan pembekuan merupakan salah satu cara pengawetan yang tertua.

Namun dalam praktikum ini kami hanya menggunakan penyimpanan suhu rendah yaitu pendinginan.
0

Pendinginan atau refrigerasi ialah penyimpanan dengan suhu rata-rata

yang digunakan masih di atas titik beku bahan. Kisaran suhu yang digunakan biasanya antara 1oC sampai + 4oC. Pada suhu tersebut, pertumbuhan bakteri dan proses biokimia akan terhambat. Pendinginan biasanya akan mengawetkan bahan pangan selama beberapa hari atau beberapa minggu, tergantung kepada jenis bahan pangannya. Pendinginan yang biasa dilakukan di rumah-rumah tangga adalah dalam lemari es yang mempunyai suhu 2oC sampai + 16oC.Pendinginan dapat memperlambat kecepatan reaksi-reaksi metabolisme, dimana pada umumnya setiap penurunan suhu 8C, kecepatan reaksi akan berkurang menjadi kira-kira setengahnya. Karena itu penyimpanan dapat memperpanjang masahidup jaringan-jaringan dalam bahan pangan, karena keaktifan respirasi menurun (Winarno dkk, l982). Faktor-faktor yang mempengaruhi pendinginan yaitu : Suhu, Kualitas bahan mentah. Sebaiknya bahan yang akan disimpan mempunyai kualitas yang baik, perlakuan pendahuluan yang tepat misalnya pembersihan/ pencucian atau blansing, Kelembaban umumnya RH dalam pendinginan sekitar 80 95 %. Sayur-sayuran disimpan dalam pendinginan dengan RH 90 95 %. Aliran udara yang optimum distribusi udara yang baik menghasilkan suhu yang merata di seluruh tempat pendinginan, sehingga dapat mencegah pengumpulan uap air setempat.(Ossir, 2011) Pengendalian suhu di dalam ruang penyimpanan memiliki peranan yang penting terhadap daya simpan komoditi pertanian. Mengingat kegiatan respirasi sangat dipengaruhi oleh suhu dan terjadinya peningkatan suhu akan mempercepat proses kerusakan bahan pangan. Sedangkan penurunan suhu sekitar 8 derajat Celcius dapat diperkirakan kecepatan reaksi berkurang menjadi setengahnya dan mampu memperlambat proses respirasi lanjutan. Selain itu penurunan suhu juga dapat menghambat pembusukan akibat pertumbuhan mikroba karena rusaknya jaringan jaringan sel yang ada di dalam bahan pangan. Besar kecilnya jumlah mikroba sangat menentukan keberhasilan proses pendinginan dan pembekuan.

Proses pendinginan sehari hari umumnya menggunakan suhu antara 1 derajat - 4 derajat Celcius. Sedangkan pendinginan beku menggunakan suhu di bawah 0 derajat Celcius sekitar - 1,5 0,2 derajat Celcius dapat digunakan untuk menyimpan bahan pangan antara 9 10 minggu. Proses pendinginan ini biasanya disebut dengan Chilling. Selain suhu, kelembaban udara juga berpengaruh terhadap proses penyimpanan. Sehingga kombinasi keduanya sangat diperlukan untuk mendapatkan daya simpan optimum yang dikehendaki. Komoditi pertanian seperti sayur dan buah buahan merupakan produk yang mudah sekali mengalami kerusakan sehingga diperlukan penanganan dalam penyimpanan. Seperti tomat matang yang disimpan pada suhu 4,4 derajat Celcius dengan kelembaban relatif 85 - 90 % memiliki daya simpan sekitar 7 10 hari. Suhu dibawah 4,4 derajat celcius dapat menghambat proses pewarnaan tetapi justru mempercepat proses pembusukan. Sedangkan pada tomat yang masih hijau tidak dapat lagi matang jika didinginkan menggunakan suhu rendah. Penyimpanan buah-buahan dan sayur-sayuran memerlukan temperatur yang optimum untuk mempertahankan mutu dan kesegaran. Temperatur optimum dapat menyebabkan kerusakan karena pendinginan (chilling injury). (Sinar tani, 2009)

III. METODE PRAKTIKUM

A. Alat Dan Bahan Alat dan bahan yang digunakan dalam praktikum ini yaitu : timbangan, refigerator, tomat, nampan steroform dan tomat.

B. Prosedur kerja

1. Kontrol : Buah tomat sebanyak 1 butir ditimbang bersama steroform kemudian disimpan dalam suhu kamar 2. Suhu Rendah : Buah tomat sebanyak 1 butir ditimbang bersama steroform kemudian disimpan dalam suhu rendah.

C. Pengamatan Dilakukan pengamatan terhadap perubahan warna dan susut bobotnya selama penyimpanan. Pengamatan dilakukan setiap 24 jam sekali, sampai buah mulai rusak.

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN A. Hasil Dari praktikum yang dilakukan maka didapatkan hasil pengamatan sebagai berikut :

Parameter

Warna

Tekstur

Bobot

Susut bobot

% warna

Perlakuan I Hari ke0 1

II

II

II

II

II

29,31 28,03

100 %

100 %

28,92 27,70 0,39 0,33

100 %

100 %

28,75 27,60 0,56 0,43

100 %

100 %

28,56 27,45 0,75 0,58

85%

95%

Keterangan : Perlakuan 1 Perlakuan 2

: Buah tomat yang disimpan di suhu ruang (kontrol) : Buah tomat yang disimpan di suhu rendah

Parameter : Warna : 1:Hijau 2:Hijau kekuningan 3:Kuning kehijauan 4:Kuning 5:Merah

Tekstur :

1: Sangat keras 2: Keras 3: Agak keras 4: Sedikit keras 5: Lunak

B. Pembahasan Dalam praktikum ini langkah pertama untuk menentukan pengaruh penyimpanan suhu rendah terhadap buah tomat yaitu dengan mempersiapkan kontrol dimana kontrol ini akan digunakan sebagai pembanding dengan suhu rendah. Sebagai kontrol buah tomat 1 butir ditempatkan pada nampan steroform kemudian ditimbang beratnya dan disimpan dalam suhu ruang. Langkah ke 2 yaitu mempersiapkan buah tomat yang disimpan pada suhu rendah caranya buah tomat sebanyak 1 butir ditimbang bersama steroform kemudian disimpan dalam suhu rendah. Kemudian dilakukan pengamatan setiap hari meliputi warna, tekstur dan bobotnya selama 3 hari untuk kemudian dihitung susut bobotnya. Dari pengamatan yang dilakukan dari segi warna buah tomat yang disimpan dalam suhu ruang masih tetap bewarna sangat hijau hingga pada hari ke 2 sedangkan pada hari ketiga warna buah sudah berubah menjadi hijau kekuningan dan bila dilihat dari presentasi warna buah hijau pada hari ke 3 warna hijau buah menurund ari 100 % menjadi 85% sedangkan buah tomat yang disimpan pada suhu rendah masih berwarna sangat hijau hingga pada hari ke-3 hanya pada hari ke3 jika dilihat dari presentasi warna hijau buah menurun 5% ini sangat jauh dengan buah yang di simpan pada suhu ruang yang turun hingga 15%. Perubahan warna buah pada kontrol kemungkinan disebabkan penguraian klorofil oleh enzim klofofilase selama penyimpanan. Menurut Fantastico (1986): Proses pemecahan tepung dan penimbunan gula merupakan proses pemasakan buah dimana ditandai dengan terjadinya perubahan warna, tekstur buah dan bau pada buah atau terjadinya pemasakan buah. Kebanyakan buah tanda kematangan pertama adalah hilangnya warna hijau. Kandungan klorofil buah yang sedang masak lambat laut berkurang. Saat terjadi klimaterik klorofilase bertanggung jawab atas terjadinya penguraian klorofil. Selain itu bagian profirin pada molekul klorofil dapat mengalami oksidasi atau saturasi, sehingga warna hijau akan hilang. Pada suhu rendah warna cenderung tidak mengalami perubahan hal tersebut dikarenakan pada pendinginan buah tomat tidak dapat mematangkan buah tomat lagi sehingga warnanya masih tetap hijau selain itu terhambatnya aktivitas enzim klorofilase sehingga tidak mampu menguraikan klorofil. Menurut Fantastico

(1986): Penguraian hidrolitik klorofilase yang memecah klorofil menjadi bagian vital dan inti porfirin yang masih utuh, maka klorofilida yang bersangkutan tidak akan mengakibatkan perubahan warna. Dari segi tekstur buah tomat yang disimpan dalam suhu ruang mengalami perubahan tekstur yang lebih cepat dibandingkan buah tomat yang disimpan di suhu rendah. Buah tomat yang disimpan di suhu ruang pada hari ke dua sudah keras dan diari ke tiga sudah agak keras sedangkan pada suhu rendah buah tomat masih sangat keras hingga hari ke tiga. Perbedaan ini bisa disebabkan karena pada suhu ruang tekstur buah tomat menjadi lunak karena serangan mikroorganisme. Mikroorganisme yang ada pada buah membantu penguraian senyawa-senyawa kompleks selain itu enzim pemecah protopektin masih aktif sehingga protopektin yang tidak larut air akan berubah menjadi pektin yang mudah larut air sehingga teksturnya menjadi lunak. Pada suhu rendah tekstur masih sangat keras disebabkan pada suhu rendah respirasi bisa terhambat (Priyanto, 1988), sehingga perombakan (degradasi) senyawa penyusun dinding sel terhambat juga sehingga tekstur buah menjadi keras. Selain itu Hal lain yang mempengaruhi perubahan tekstur yaitu kelembaban buah yang relatif lebih tinggi dibanding kelembaban dilingkungan sekitarnya, sehingga tomat yang disimpan pada kondisi yang memiliki kelembaban relatif lebih kecil maka uap air akan bergerak keluar dari jaringan buah ke atmosfir dan lama kelamaan dapat menyebabkan buah mengalami kelayuan dan akhirnya berkeriput. Menurut Tranggono dan Sutardi (1990), bahwa kelayuan yang terjadi pada buah diakibatkan laju kecepatan respirasi meningkat, suhu udara yang tinggi atau dengan kata lain kelembaban relatif dibawah 85-95%. Uap air seperti halnya gasgas lainnya bergerak dari bagian konsentrasi tinggi ke konsentrasi rendah. Kelembaban relatif dalam atmosfir buah segar minimal 99 % sedang atmosfir sekitarnya biasanya lebih kecil. Oleh karena itu bila komoditas ditempatkan pada atmosfir dengan kelembaban relatif yang lebih kecil dari 99% maka uap air akan bergerak ke luar dari jaringan ke atmosfir. Semakin kering udara dalam ruang penyimpan semakin cepat kehilangan air dari buah yang disimpan. Perubahan tekstur yang terjadi pada buah yaitu dari keras menjadi lunak dan sangat lunak

selain akibat terjadinya proses kelayuan pada buah oleh traspirasi dan respirasi juga yang berperan penting dalam kualitas jaringan tanaman adalah enzim pektolitik. Dari segi bobot baik tomat yang disimpan pada suhu ruang maupun suhu rendah dari hari kehari mengalami penurunan, tetapi penurunan bobot paling tinggi dialami suhu ruang. Ini dapat dilihat pada tabel pengamatan yang mana pada suhu ruang yang tadinya beratnya 29,31 setelah 3 hari berubah menjadi 28,56 dan setelah dihitung mengalami susut bobot sekitar 0,75 sedangkan pada suhu rendah yang awalnya 28,03 setelah 3 hari berubah menjadi 27, 45 dan setelah dihitung mengalami susut bobot sekitar 0,58 lebih sedikit dibandingkan ya ng disimpan pada suhu ruang hal tersebut dikarenakan pada suhu rendah transpirasi dan respirasi terhambat sehingga kadar air dari buah juga sedikit yang keluar dan susut bobotpun kecil.sedangkan pada suhu ruang transpirasi dan respirasi berjalan lebih cepat dibandingkan suhu rendah sehingga kadar air yang keluar juga lebih banyak dan susut bobot menjadi lebih besar. Menurut Setyadjit dan Syaifullah (1994), suhu tinggi menyebabkan proses transpirasi lebih cepat dari pada suhu rendah. Transpirasi yang tinggi dapat menurunkan kadar air buah anggur sehingga susut berat menjadi besar. Selain itu suhu tinggi menyebabkan respirasi meningkat. Diduga gula yang dihasilkan pada proses fotosintesis akan dipecah untuk menghasilkan CO2 dan air pada proses respirasi, sehingga berat buah berkurang.

V. KESIMPULAN DAN SARAN

A. KESIMPULAN

Dari praktikum yang telah kami lakukan maka kami dapat menyimpulkan bahwa: 1. Penyimpanan terhadap suhu rendah berpengaruh terhadap warna, tekstur dan bobot buah tomat. 2. Pada penyimpanan suhu rendah warna hijau tomat dapat dipertahankan hingga akhir pengamatan yaitu hari ke tiga sedangkan pada suhu ruang warna hijau hanya bisa dipertahankan hingga hari kedua saja hal tersebut dikarenakan adanya proses penguraian klorofil oleh enzim klorofilase. 3. Pada penyimpanan suhu rendah tekstur sangat keras hanya dapat dipertahankan hingga dua hari saja sedangkan dihari ketiga buah sudah dalam keadaan keras sedangkan untuk kondisi suhu ruang buah tomat sudah mulai keras dihari kedua dan dihari ke tiga buah sudah sedikit keras perbedaan ini disebabkan pada suhu ruang adanya perubahan protopektin yang tidak larut didegradasi oleh enzim proteolitik menjadi pektin yang mudah larut dalam air

sehingga teksturnya menjadi lebih cepat lunak. 4. Pada penyimpanan suhu rendah susut bobot lebih sedikit dibandingkan suhu ruang hal tersebut dikarenakan adanya proses transipirasi dan respirasi yang lebih cepat pada suhu ruang dibandingkan suhu rendah sehingga kadar air yang keluar semakin banyak sehingga susut bobotnya lebih banyak.

B. SARAN Dari praktikum dan hasil pengamatan yang dilakukan maka penulis dapat menyarankan perlu adanya penelitian lebih lanjut mengenai pengaruh berbagai metode suhu rendah terhadap sifat karakteristik buah.

DAFTAR PUSTAKA

Liu, F.W. 1999. Postharvest Handling in Asia 2 Horticultural Crops.http://www.fftc.agnet.org/library/article/eb465b.html. Diakses tanggal 24 Desember 2011. Pantastico, Er. B. 1986. Fisiologi Pasca Panen, Penanganan dan Pemanfaatan Buah-buahan dan Sayur-sayuran Tropika dan Sub Tropika.

(Diterjemahkan oleh Kamariayani; editor Tjitrosoepomo). Gadjah Mada University Press. Yogyakarta. Priyanto G. 1988. Teknik Pengawetan Pangan. PAU Pangan Gizi. Universitas Gadjah Mada. Yogyakarta. 244 h. Tranggono dan Sutardi. 1990. Biokimia dan Teknologi Pasca Panen. PAU Pangan dan Gizi UGM. Yogyakarta Winarno, F.G. 1982. Kimia Pangan dan Gizi.Gramedia : Jakarta. Kanara, Nahda. 2009. Pengemasan dan penyimpanan buah

tomat.http://agrikanara.blogspot.com/. Diakses tanggal 24 Desember 2011 Sinar tani. 2011. Penyimpanan Sayuran Pada Suhu Rendah.http://diperta.jabarprov.go.id/index.php/subMenu/1015. Diakses tanggal 24 Desember 2011 Sjalfullah. 1997. Petulijuk Memilili Buah Segar. PT . Penebar Swadaya, Jakarta. Rizky, OsSir. 2011. Penyimpanan Bahan Pangan Suhu Rendah (Pendinginan & Pembekuan).http://lordbroken.wordpress.com/category/keilmuan/pengema san-dan-pengawetan/. Diakses tanggal :24 Desember2011