Anda di halaman 1dari 15

SELAYANGPANDANG DAKTILOSKOPI

Pengertian Daktiloskopi Sebelum lebih jauh kita melayangkan pandangan pada Daktiloskopi, beberapa pengertian tentang Daktiloskopi dapat disebutkan seperti berikut ini: 1. Daktiloskopi, berasal dari bahasa Yunani yaitu Dactylos yang artinya jari dan Scopein yang artinya meneliti atau mengamati. Istilah ini pertama kali digunakan oleh Dr. Fransisco Latzina, ahli berkebangsaan Argentina untuk memberikan pengertian terhadap kegiatan meneliti, mengamati atau mempelajari jari tangan manusia untuk menentukan identitas seseorang; 2. Seorang penulis Belanda, H.J. Regenborg mengartikan suku kata dactylos sebagai vinger dan scopein sebagai beschouwen. Dengan demikian vinger beschouwen merupakan kata kerja yang menunjukkan kegiatan memandang dan mengamati jari; 3. G.H.A. Hoed, menyebutkan dan mengartikan dactyloscopie sebagai dactylus atau dactylos yang artinya vinger dan copy yang berarti afschrift atau afdruk, vinger afdruk adalah kata benda yang menunjukkan obyek hasil kerja yaitu salinan atau tembusan jari, lazimnya disebut bekas jari; 4. Dalam Koninklijk Besluit tanggal 16 Januari 1911 Nomor 27 (I.S. 1911 Nomor 234), daktiloskopi diartikan merekam/mengafdruk jari (vinger afdrukken) untuk tujuan identifikasi. Hal ini dapat dilihat dari kalimat ... waar bij de identificatie door het stelsel van vinger afdrukken (dactyloscopie) .... Dengan demikian dapat disimpulkan di sini bahwa pengertian Daktiloskopi adalah seluruh kegiatan yang berhubungan dengan meneliti, mengamati atau mempelajari jari tangan

2 manusia, terutama rekaman jari untuk mengidentifikasi orang. Jadi cukup jelas jika pengertian daktiloskopi dapat kita simak sebagai sidik jari yang dapat didefinisikan sebagai rekaman telapak jari yang terdiri dari kumpulan alur garis-garis halus (garis sidik jari, garis papiler) dengan pola bentuk tertentu, baik yang sengaja diambil dengan tinta (dicap dengan tinta), maupun bekas yang tertinggal pada permukaan benda karena terpegang atau tersentuh oleh kulit telapak jari. Termasuk dalam pengertian ini adalah rekaman/bekas telapak tangan dan atau telapak kaki. Dari pengertian di atas dapat kita simak bahwa sidik jari sebagai alat identifikasi terbagi dalam dua jenis, yaitu: 1. Sidik Jari Paten, atau sidik jari nyata yang diperoleh dengan cara dibuat dengan sengaja yaitu dilakukan dengan melapisi/melumuri bagian ujung jari tangan yang menggembung (ruas terakhir jari tangan) dengan zat berwarna seperti tinta yang kemudian dilekatkan pada benda-benda tertentu sehingga akan menghasilkan lukisan sidik jari. Di kalangan masyarakat awam terdapat beberapa sebutan atau istilah untuk menyatakan lukisan bentuk garis-garis pada jari manusia yaitu cap jempol atau cap jari, teraan jari, dan atau sidik jari; 2. Sidik Jari Laten, sedikit atau sebagian dari lukisan atau gambar sidik jari yang tertinggal atau terekam secara tidak sengaja karena tertekan atau tersentuh permukaan benda. Hal ini bisa terjadi karena pada permukaan kulit telapak tangan termasuk pada ujung jari selalu dilapisi oleh lapisan keringat atau lemak. Lapisan tipis keringat atau lemak tersebut akan melekat pada permukaan benda yang dipegang atau disentuhnya sehingga terciptalah bekas/lukisan garis-garis papiler. Bekas jari semacam ini biasanya tidak tampak kasat mata, dan dalam ilmu daktiloskopi disebut sebagai Sidik Jari Laten.

3 Ringkas Sejarah Daktiloskopi Masa Prasejarah: Gambar lukisan tangan dengan pola-pola lukisan seperti menunjukkan pola-pola garis papiler pada ujung ruas jari yang menggelembung pertama kali ditemukan di dinding-dinding goa di Nova Scotia, di Babilonia Kuno yang dimaksudkan sebagai bagian dari komunikasi saat itu; Kemudian di Cina Kuno, teraan ibu jari ditemukan sebagai corak gerabah (keramik) atau segel tanah liat. Ini menunjukkan jika sidik jari sudah dipakai sebagai validasi dari sebuah transaksi, dimana dalam sebuah transaksi kontrak sidik jari yang direkam dalam segel tanah liat menjadi alat validasi; Masa Romawi kuno, identifikasi dilakukan dengan cara pemberian cap atau tanda dan bahkan melukai digunakan untuk menandai kejahatan apa yang pernah dilakukan, misalnya pencuri dipotong tangannya, atau menggunakan jarum tato untuk mengidentifikasi dan mencegah desersi tentara bayaran; Abad 14, di Persia, berbagai kertas resmi pemerintah memiliki teraan sidik jari sebagai tanda validasi. Abad 17, Marcello Malpighi, seorang Profesor anatomi di University of Bologna dalam risalahnya mencatat, pola bentukan seperti bukit-bukit, spiral/lingkaran dan jerat dalam sidik jari. Dia tidak menyebutkan sidik jari sebagai alat untuk identifikasi individu. Sebuah lapisan kulit dinamakan dengan nama belakangnya yaitu lapisan Malpighi yang memiliki ketebalan sekitar 1,8 mm. Abad 19, atau sebelum pertengahan tahun 1800-an, aparat penegak hukum dengan ingatan visual yang luar biasa mengidentifikasi penangkapan terdahulu dari para pelanggar hukum berdasarkan penglihatannya. Fotografi atau potret mengurangi beban memori atau ingatan

4 tetapi tetap bukan jawaban untuk masalah identifikasi pelaku kejahatan sebab penampilan seseorang secara kasat masa dapat mudah berubah. Pada tahun 1823, seorang profesor anatomi di Universitas Breslau, Cekoslowakia, John Evangelist Purkinje menerbitkan tesisnya yang membahas sembilan pola sidik jari. Tetapi seperti Marcello Malpighi ia juga tidak menyebutkan bernilainya sidik jari untuk identifikasi manusia. Pada tahun 1858, Orang Inggris pertama yang mulai menggunakan sidik jari pada bulan Juli 1858, ketika Sir William James Herschel, Hakim Kepala distrik Hooghly di Jungipoor, India, pertama kali menggunakan sidik jari pada kontrak dengan orang setempat. Sambil main-main, dan tanpa terpikir untuk identifikasi pribadi, Herschel menyuruh Rajyadhar Konai, seorang pengusaha lokal, menerakan sidikjarinya pada kontrak. Gagasan itu agaknya untuk menakut-nakuti [dia] terlepas dari semua pikiran tentang menyangkal tanda tangannya." Orang setempat itu terkesan, dan Herschel menjadikan kebiasaan yang membutuhkan teraan telapak tangan - dan kemudian, hanya menerakan telunjuk kanan dan jari tengah kanan- pada setiap kontrak yang dibuat dengan penduduk setempat. Seseorang yang memiliki kontak dengan dokumen, mereka yakini membuat kontrak lebih mengikat daripada jika mereka hanya menandatanganinya. Dengan demikian, pada penggunaan skala luas, di hari baru penggunaan sidikjari didasarkan bukan pada bukti ilmiah, tetapi pada keyakinan takhayul. Bagaimanapun, seiring bertambahnya koleksi sidikjarinya, Herschel mulai mencatat bahwa teraan sidikjari bertinta tentunya memang dapat membuktikan atau menyangkal identitas. Sementara pengalamannya dengan sidik jari itu diakui terbatas, keyakinan pribadi Sir William Herschel bahwa semua sidik jari merupakan keunikan individu, serta permanen di seluruh kehidupan individu, mengilhaminya untuk mengembangkan penggunaannya.

5 Pada tahun 1863, Profesor Paul-Jean Coulier dari Val-de-Grace Paris, mempublikasikan pengamatannya bahwa sidik jari (laten) dapat dikembangkan di atas kertas dengan fumigasi (pengasapan) yodium, menjelaskan bagaimana untuk melestarikan (memperbaiki) teraan yang dikembangkan tersebut dan menyebutkan potensi untuk mengidentifikasi sidik jari tersangka dengan menggunakan kaca pembesar. Pada tahun 1870 antropolog Perancis Alphonse Bertillon merancang suatu sistem untuk mengukur dan mencatat dimensi bagian-bagian tulang tertentu dari tubuh. Pengukuran ini direduksi menjadi sebuah formula yang, secara teoritis, akan berlaku hanya untuk satu orang dan tidak akan berubah selama hidup dewasanya. Sistem Bertillon pada umumnya diterima selama tiga puluh tahun. Tapi itu tidak pernah pulih sejak peristiwa 1903, ketika seorang pria bernama Will West dijatuhi hukuman di Lembaga Pemasyarakatan AS di Leavenworth, Kansas. Ditemukan bahwa sudah ada tahanan di penjara pada waktu itu, yang dengan pengukuran Bertillon hampir sama, dan namanya adalah William West. Setelah penyelidikan, memang ada dua pria yang tampak persis sama. Nama mereka masing-masing Will dan William West. Pengukuran Bertillon pada cukup dekat untuk mengidentifikasi mereka sebagai orang yang sama. Namun, perbandingan sidik jari dengan cepat dan benar mengidentifikasi mereka sebagai dua orang yang berbeda. (Per catatan penjara kemudian ditemukan bahwa orang-orang Barat rupanya saudara kembar identik dan masing-masing memiliki catatan korespondensi dengan kerabat keluarga yang sama langsung). Selama 1870-an, Dr Henry Faulds, Pengawas bedah asal Inggris pada rumah sakit Tsukiji di Tokyo, Jepang, yang mengambil studi tentang " kerutan kulit- " setelah melihat tanda-tanda jari pada spesimen tembikar "prasejarah". Seorang pria terpelajar dan rajin, Dr Faulds tidak hanya mengakui pentingnya sidik jari sebagai alat identifikasi, namun menemukan metode klasifikasi juga.

6 Pada tahun 1880, Faulds meneruskan penjelasan tentang sistem klasifikasi dan contoh bentuk-bentuk yang telah ia rancang untuk merekam teraan sidikjari bertinta, kepada Sir Charles Darwin. Darwin, di usia lanjut dan kesehatannya yang buruk, menginformasikan Dr Faulds bahwa ia tidak dapat membantunya, tapi berjanji untuk mengirimkan bahan-bahan tersebut pada sepupunya, Francis Galton. Juga pada tahun 1880, Dr Henry Faulds menerbitkan sebuah artikel di Journal Ilmiah, "Nature". Dia membahas sidik jari sebagai alat identifikasi pribadi, dan penggunaan tinta cetak sebagai metode untuk memperoleh teraan sidik jari tersebut. Dia juga yakin dengan identifikasi sidik jari pertama dari sidik jari berminyak yang tertinggal pada botol alkohol. Pada tahun 1882, Gilbert Thompson dari US Geological Survey di New Mexico, menggunakan teraan ibujarinya sendiri pada sebuah dokumen untuk mencegah pemalsuan. Ini adalah penggunaan sidik jari pertama yang diketahui di Amerika Serikat. Klik gambar di bawah ini untuk melihat gambar yang lebih besar dari tanda-terima tahun 1882 yang dikeluarkan oleh Gilbert Thompson untuk " Bob Berbohong " dalam jumlah 75 dolar. Pada tahun 1882, Alphonse Bertillon, seorang Clerk di Prefektur Kepolisian di Paris, Perancis, merancang sistem klasifikasi, yang dikenal sebagai Antropometri atau Sistem Bertillon, menggunakan pengukuran bagian-bagian tubuh. Sistem Bertillon sudah termasuk pengukuran seperti panjang kepala, lebar kepala, panjang jari tengah, panjang kaki kiri, dan panjang lengan dari siku ke ujung jari tengah. Pada 1888 Bertillon menjadi Kepala Departemen Identitas Yudisial yang baru dibuat di mana ia menggunakan antropometri sebagai sarana utama identifikasi. Dia kemudian memperkenalkan sidikjari tetapi menurunkan peran sidikjari menjadi peran sekunder dalam kategori tanda-tanda khusus. Pada tahun 1883, Dalam buku Mark Twain, "Hidup di Mississippi", seorang pembunuh diidentifikasi dengan menggunakan identifikasi sidik jari. Dalam buku berikutnya oleh Mark

7 Twain, "Wilson si Kepala Puding", terdapat sidang pengadilan dramatis tentang identifikasi sidik jari. Sebuah film yang lebih baru dibuat dari buku ini. Pada tahun 1888 Sir Francis Galton, seorang antropolog Inggris dan sepupu Charles Darwin, memulai pengamatannya terhadap sidik jari sebagai sarana identifikasi pada tahun 1880 itu. Pada tahun 1891 Juan Vucetich, Seorang Pejabat Kepolisian Argentina, memulai penyimpanan sidik jari pertama berdasarkan jenis-jenis teraan Galton. Pada awalnya, Vucetich memasukkan Sistem Bertillon untuk penyimpanan. Juan Vucetich membuat identifikasi sidik jari kriminal pertamanya di 1892. Ia mampu mengidentifikasi Francis Rojas, seorang wanita yang membunuh dua anaknya dan memotong tenggorokannya sendiri dalam upaya untuk menyalahkan yang lain. Sidikjarinya yang berlumuran darahnya tertinggal di tiang pintu, membuktikan identitasnya sebagai pembunuh. Sir Francis Galton menerbitkan bukunya, "Sidik jari", membangun kemandirian dan ketetapan sidik jari. Buku ini memuat sistem klasifikasi pertama untuk sidik jari. Minat utama Galton pada sidik jari adalah sebagai bantuan dalam menentukan keturunan dan latar belakang ras. Sementara ia segera menemukan bahwa sidik jari tidak memberikan petunjuk tegas untuk kecerdasan individu atau sejarah genetik, ia mampu membuktikan secara ilmiah apa yang sudah diduga Herschel dan Faulds: bahwa sidik jari tidak berubah selama seumur hidup seseorang, dan bahwa tidak ada dua sidik jari yang persis sama. Menurut perhitungannya, kemungkinan dari dua sidik jari individu yang sama adalah 1 dalam 64 miliar. Galton mengidentifikasi karakteristik dimana sidik jari dapat diidentifikasi. Beberapa karakteristik yang sama (minutia) pada dasarnya masih digunakan hari ini, dan terkadang mengacu pada rincian Galton. Pada tanggal 12 Juni 1897, Dewan Gubernur Jenderal India menyetujui laporan komite bahwa sidik jari harus digunakan untuk klasifikasi catatan kriminal. Kemudian tahun itu, di

8 Calcutta (sekarang Kolkata), Kantor-kantor Antropometrik menjadi Kantor Sidikjari pertama di dunia. Bekerja di Kantor Antropometrik Kalkuta (sebelum menjadi Kantor Sidik Jari) adalah Azizul Haque dan Hem Chandra Bose. Haque dan Bose adalah dua ahli sidik jari India terpercaya dengan pengembangan utama Sistem klasifikasi sidik jari Henry (dinamai dengan nama atasan mereka, Sir Edward Richard Henry). Sistem klasifikasi Henry masih digunakan di negara berbahasa Inggris (terutama seperti sistem pengarsipan manual untuk mengakses file arsip kertas yang belum terpindai dan terkomputerisasi).

Penerapan Mendunia Sistem Klasifikasi Henry Pada tahun 1900, Kantor Sekretariat Kerajaan Inggris melakukan penyelidikan pada "Identifikasi Penjahat berdasarkan Pengukuran dan Sidik jari." Edward Richard Henry (kemudian Sir Henry ER) muncul di hadapan komite penyelidikan untuk menjelaskan sistem yang diterbitkan dalam buku terbarunya "Klasifikasi dan Penggunaan Sidik jari." Komite merekomendasikan penerapan sidik jari sebagai pengganti untuk sistem pengukuran antropometrik Bertillon yang relatif tidak akurat, yang hanya sebagian mengandalkan sidik jari untuk identifikasi. Cabang Kantor Sidik Jari di New Scotland Yard (Kepolisian Metropolitan London) diciptakan pada Juli 1901 dengan menggunakan Sistem Klasifikasi Sidik Jari Henry. Pada tahun 1902 Penggunaan sidik jari sistematis pertama di Amerika Serikat oleh Komisi Pelayanan Sipil New York untuk pengujian. Dr Henry P. DeForrest adalah perintis sidik jari di AS. Pada tahun 1903 Sistem Penjara New York State memulai penggunaan sidik jari sistematis pertama di AS untuk penjahat. Pada tahun 1904 Penggunaan sidik jari dimulai pada Lembaga Pemasyarakatan federal Leavenworth di Kansas, dan St Louis Police Department. Mereka dibantu oleh seorang Sersan dari Scotland Yard yang telah bertugas di Pameran St Louis Worlds Fair menjaga Tampilan Inggris. Beberapa waktu setelah Pameran St Louis Worlds Fair, Asosiasi Kepala Polisi Internasional

9 (IACP) menciptakan penyimpanan sidik jari nasional pertama Amerika, yang disebut Biro Nasional Identifikasi Kriminal. Pada tahun 1905 Angkatan Bersenjata AS mulai menggunakan sidik jari. Departemen Kehakiman AS membentuk Biro Identifikasi Kriminal di Washington, DC untuk menyediakan pusat acuan koleksi kartu-kartu sidikjari. Dua tahun kemudian Angkatan Laut AS memulai dan bergabung tahun berikutnya dengan Korps Marinir. Selama 25 tahun berikutnya semakin banyak kantor-kantor penegak hukum bergabung dalam penggunaan sidik jari sebagai alat identifikasi seseorang. Banyak dari lembaga ini mulai mengirimkan salinan kartu sidik jari mereka ke Biro Nasional Identifikasi Kriminal, yang didirikan oleh Asosiasi Kepala Polisi Internasional. Pada tahun 1907

Angkatan Laut AS mulai menggunakan sidik jari. Tahun yang sama Departemen Kehakiman AS Biro Identifikasi Kriminal bergerak ke Lembaga Pemasyarakatan Federal Leavenworth dimana setidaknya sebagian dikelola oleh narapidana. Pada tahun 1908 Korps Marinir AS mulai menggunakan sidik jari. Pada tahun 1911, Pemerintah Kolonial Hindia Belanda yang menjajah Indonesia mulai menerapkan Sistem Klasifikasi Henry untuk identifikasi baik kriminal maupun non kriminal melalui Koninklijk Besluit tanggal 16 Januari 1911 (I.S. 1911 Nomor 234) tentang Penugasan Kepada Departemen Kehakiman Untuk Menerapkan Sistem Identifikasi Sidik Jari (Daktiloskopi). Sebelumnya pemerintah kolonial Belanda menerapkan sistem Bertillon untuk identifikasi pelaku kejahatan. Pada tahun 1914, Besluit Gubernur Jenderal Hindia Belanda tanggal 28 Maret 1914 (I.S. 1914 Nomor 322) tentang Reorganisasi Kepolisian di Batavia, Semarang, Surabaya termasuk Meester Cornelis (Binnenlandsch Bestuur, Politie, Bezoldigingen, Batavia, Semarang, Soerabaja.Reorganisatie van de algemeene politie op de hoofdplaatsen van genoemde met inbegrip van Meester-Cornelis). Dengan reorganisasi ini maka ketiga kantor kepolisian tersebut diadakan fotografi dan daktiloskopi di bagian reserse. Kemudian masalah

10 pembiayaannya diatur dalam Besluit Gubernur Jenderal Hindia Belanda (I.S. 1917 Nomor 110) tentang Pembiayaan, pemeliharaan, dan pengadaan keperluan Kantor Pusat Daktiloskopi Kepolisian di Batavia, Semarang, Surabaya dengan pengurangan dari kebutuhan tempat kerja fotografi dan daktiloskopi. Pada tahun 1915 Inspektur Harry H. Caldwell dari Oakland, Biro Identifikasi Departemen Kepolisian California menulis banyak surat untuk "para Operator Identifikasi Pidana" pada bulan Agustus 1915, meminta mereka untuk bertemu di Oakland untuk tujuan membentuk sebuah organisasi untuk tujuan lebih lanjut dari profesi identifikasi. Pada bulan Oktober 1915, sekitar dua puluh dua personel identifikasi bertemu dan memprakarsai "Asosiasi Internasional untuk Identifikasi Kriminal" Pada tahun 1918, organisasi ini berganti nama menjadi Asosiasi Internasional untuk Identifikasi (IAI) karena volume pekerjaan identifikasi non-pidana yang dilakukan oleh anggota. Jari telunjuk kanan Sir Francis Galton muncul di logo IAI. Publikasi resmi IAI adalah Journal of Forensic Identification. Pada tahun 1918 Edmond Locard menulis bahwa jika 12 poin (Rincian Galton) adalah sama antara dua sidik jari, itu akan cukup sebagai identifikasi positif. 12 poin Locard yang tampaknya telah menjadi dasar bagi "peningkatan tak ilmiah terhadap sebelas pengukuran antropometri (lengan panjang, tinggi, dll) yang digunakan untuk "mengidentifikasi" penjahat sebelum mengadopsi sistem sidik jari. Pada tahun 1924, suatu keputusan kongres menetapkan Divisi Identifikasi FBI. Biro Nasional Identifikasi Kriminal IACP dan Biro Identifikasi Kriminal Departemen Kehakiman AS bergabung untuk membentuk inti dari penyimpanan sidik jari FBI. Pada tahun 1946, FBI telah memproses 100 juta kartu sidik jari dalam file dipelihara secara manual, dan pada tahun 1971, 200 juta kartu. Dengan diperkenalkannya teknologi sistem identifikasi sidik jari otomatis (AFIS), file dibagi menjadi file kriminal terkomputerisasi dan file sipil yang dipelihara secara manual. Banyak dari file manual merupakan duplikat

11 meskipun, file-file sesungguhnya terwakili di suatu tempat dimana terdapat antara 25-30 juta kriminal, dan jumlah tak diketahui untuk individu dalam file sipil. Pada tahun 1974, empat karyawan Biro Sidik Jari Hertfordshire (Inggris) menghubungi ahli sidik jari seluruh Inggris dan memulai organisasi sidik jari profesional pertama negara itu, Perhimpunan Nasional Pejabat Sidik Jari. Organisasi ini awalnya terdiri dari para pakar Inggris saja, tapi dengan cepat diperluas untuk lingkup internasional dan dinamai Masyarakat Sidik Jari pada tahun 1977. Inisial F.F.S. di belakang nama seorang ahli sidik jari mengindikasikan mereka diakui sebagai anggota dari Masyarakat Sidik Jari. Masyarakat Sidik Jari secara tahunan menyelenggarakan konferensi pendidikan dengan pembicara dan delegasi berbagai negara yang hadir. Pada tahun 1977Di New Orleans, Louisiana pada tanggal 1 Agustus 1977, delegasi Konferensi Tahunan ke-62 Asosiasi Internasional untuk Identifikasi (IAI) memilih untuk mendirikan program sertifikasi pertama di dunia untuk para ahli sidik jari. Sejak tahun 1977, Dewan Sertifikasi Teraan Laten IAI telah menguji kemahiran ribuan pelamar, dan secara berkala menjalani tes kemampuan Teraan Laten bersertifikat IAI.(CLPEs). Bertentangan dengan klaim (pada 1990-an) bahwa para ahli sidik jari mengaku bahwa para praktisi mereka tidak pernah membuat identifikasi yang keliru, Program Sertifikasi Teraan Laten mengusulkan, mengadopsi, dan memberlakukan sejak 1977, secara khusus mengakui bahwa kesalahan seperti itu kadang-kadang terjadi, dan harus ditangani oleh Dewan Sertifikasi Teraan Laten.Selama tiga dekade terakhir, status CLPE telah menjadi prasyarat untuk posisi ahli sidik jari lepas di banyak negara bagian AS dan laboratorium-laboratorium forensik pemerintah federal. Status IAI CLPE dianggap oleh banyak profesional identifikasi dapat menjadi tolok ukur keunggulan. Pada tahun 2005 Sistem Identifikasi Sidik Jari Otomatis Interpol menyimpan lebih dari 50.000 set sidik jari penting untuk catatan kriminal internasional dari 184 negara anggota.

12 Lebih dari 170 negara memiliki 24 x 7 kemampuan tatap muka untuk layanan ahli sidik jari Interpol. Pada tahun 2011 Penyimpanan AFIS terbesar di Amerika dioperasikan oleh Program Kunjungi AS, US Department of Homeland Security, berisi sidik jari lebih dari 100 juta orang, banyak dalam bentuk. Teraan dua-jari tidak sesuai dengan standar FBI dan Interpol, tapi cukup untuk identifikasi positif dan bernilai bagi forensik karena jari telunjuk dan jempol adalah sidik jari kriminal yang paling sering teridentifikasi di TKP. Program Kunjungi AS telah berpindah dari dua sidik jari datar (tidak tergulir) menjadi sepuluh sidik jari datar sejak tahun 2007. Penelitian "Gambaran cepat" yang didanai oleh pemerintah AS akan memungkinkan pelaksanaan teraan tergulir sepuluh jari (dalam waktu 15 detik per orang) di tahun-tahun mendatang. Penyimpanan sidikjari tenprint AFIS terbesar di Amerika adalah AFIS Terpadu FBI (IAFIS) di Clarksburg, Virginia Barat. IAFIS memiliki lebih dari 60 juta catatan sidik jari individu terkomputerisasi (catatan pemohon kriminal dan sipil). Kartu sidik jari dengan kertas lama untuk file sipil masih secara manual dipertahankan dalam fasilitas gudang (ruang pusat perbelanjaan menyewa) di Fairmont, WV, meskipun sebagian besar anggota layanan kartu terdaftar sidik jari militer yang diterima setelah tahun 1990, dan semua kartu sidik jari yang berhubungan dengan militer yang diterima setelah 19 Mei 2000, kini telah terkomputerisasi dan dapat dicari secara internal oleh FBI. Dalam "Identifikasi Next Generation," FBI dapat membuat file pencarian AFIS sipil yang tersedia untuk badan-badan penegak hukum AS melalui remote tatapmuka. FBI juga berencana untuk akhirnya memperluas kegiatan identifikasi otomatis mereka untuk memasukkan biometrik lainnya seperti kelapa telapak tangan, iris mata dan wajah. Semua negara bagian AS dan kota-kota besar memiliki database AFIS mereka sendiri, masing-masing dengan subset dari catatan sidik jari yang tidak disimpan dalam database

13 lain. Banyak juga menyimpan dan mencari teraan telapak tangan. Standar penegak hukum untuk sidikjari berhadapan penting untuk mengaktifkan berbagi catatan dan pencarian

timbal balik untuk mengidentifikasi penjahat. Interpol, Perjanjian Prm Uni Eropa, Identifikasi Next Generation FBI dan inisiatif lainnya berusaha untuk meningkatkan sharing lintas-yurisdiksi (penyelidikan dan berbagi / mendorong) dari pentingnya teraan sidik jari dan telapak tangan untuk mengidentifikasi penjahat. Keunggulan Identifikasi Sidik Jari Sidik jari menawarkan diri sebagai sebuah alat sempurna bagi identifikasi seseorang. Hal itu merupakan penjelasan penting untuk menggantikan tempat metode-metode lainnya dalam pembuktian identitas pelaku kejahatan yang enggan mengakui penangkapan sebelumnya. Ilmu Identifikasi sidik jari berdiri di antara semua ilmu forensik lainnya karena berbagai alasan, termasuk yang berikut: Pernah melayani tugas-tugas pemerintah di seluruh dunia selama 100 tahun terakhir untuk memberikan identifikasi akurat pelaku kejahatan. Tidak ada dua sidik jari yang sama pernah ditemukan dalam miliaran manusia dan dalam perbandingan dengan komputer yang otomatis. Sidik jari merupakan hal yang sangat mendasar bagi sejarah kejahatan di setiap kantor polisi di muka bumi. Berdirinya organisasi forensik profesional pertama, Asosiasi Identifikasi

Internasional (IAI), pada tahun 1915. Dibentuknya program sertifikasi profesional pertama bagi para ilmuwan forensik, Program Penguji Sidikjari Laten Bersertifikat IAI (1977), mengeluarkan sertifikasi bagi mereka yang memenuhi kriteria ketat dan pencabutan sertifikasi untuk kesalahan serius seperti identifikasi yang keliru.

14 Tetap merupakan bukti forensik yang sangat umum digunakan di seluruh dunia dalam kasus-kasus pencocokan di kebanyakan yurisdiksi pengujian sidik jari atau melebihi gabungan semua karya pengujian forensik lainnya. Terus berkembang sebagai metode utama bagi identifikasi manusia, dengan penambahan 10 per 1000 manusia ke tempat penyimpanan sidik jari setiap harinya di Amerika saja suatu percepatan yang tinggi bagi pertumbuhan database. Di seluruh dunia, sidik jari dipetik dari TKP (tempat kejadian perkara) mengarah pada lebih banyak tersangka dan menghasilkan lebih banyak bukti di pengadilan dari gabungan semua teknik forensik lainnya. Tidak seperti karakteristik manusia lainnya, maka sidik jari bersifat tidak berubah. Kecuali cedera atau pembedahan yang menyebabkan jaringan parut/codet yang dalam, atau penyakit seperti kusta yang merusak lapisan gesekan punggung kulit (selanjutnya disebut sidikjari red.) seperti luka, jaringan parut dan penyakit cenderung menunjukkan tanda perubahan yang tidak alami, corak-corak jari dan telapak cetak tidak pernah terlihat bergerak atau berubah sepanjang hayat seseorang. Kesimpulan Saat ini Direktorat Daktiloskopi masih operasional di bawah Direktorat Jenderal Administrasi Hukum Umum Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia, dengan payung hukum : Keputusan Gubernur Jenderal Hindia Belanda nomor 21 tanggal 30 Maret 1920 (IS 1920 nomor 259) menetapkan bahwa pelaksanaan sistem daktiloskopi dimulai tanggal 12 Nopember 1914 dengan diresmikan daktiloskopi Departemen Kehakiman; Pasal 365 Peraturan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia Nomor M.HH-05.OT.01.01 Tahun 2010 tentang Organisasi dan Tata Kerja

15 Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia menetapkan bahwa Direktorat Daktiloskopi mempunyai tugas melaksanakan penyiapan perumusan dan pelaksanaan kebijakan, pemberian bimbingan teknis dan evaluasi di bidang daktiloskopi sesuai dengan kebijakan teknis yang ditetapkan oleh Direktur Jenderal Administrasi Hukum Umum; Sesungguhnya payung hukum seperti tersebut diatas masih belum cukup sahih di tengah persaingan dan percepatan teknologi dan perubahan sosial yang terjadi sekarang ini. Rancangan Undang-Undang tentang Daktiloskopi yang telah dibuat saat ini masih dalam antrian di Program Legislasi Nasional Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia. Good Will dari para pembuat kebijakan tingkat atas sangat diperlukan demi kesinambungan kinerja daktiloskopi sebagai bagian tak terpisahkan dari pembangunan bidang hukum dan hak asasi manusia.