Anda di halaman 1dari 110

YURISDIKSI NEGARA

ATTORNEY GENERAL V. EICHMANN (DISTRICT COURT OF JERUSALEM 1961)

Fakta-Fakta Hukum
1.Adolf Eichmann, lahir di Solingen, Jerman, pada tanggal 19 Maret 1906. Pada bulan November 1932, Eichmann diterima sebagai anggota tetap SS. Tahun berikutnya, Eichmann diterima sebagai anggota Algemeine SS dan bekerja sebagai penggerak bentuk operasi dari Salzburg. 2.Pada tahun 1937, Eichmann dikirim ke Palestina yang waktu itu menjadi wilayah mandatnya Inggris, dengan pemimpinnya Herbert Hagen untuk dapat mengetahui kemungkinan-kemungkinan emigrasi secara besar-besaran orang Yahudi, dari Jerman ke Palestina. 3.Tahun 1938, Eichmann ditugaskan ke Austria untuk membantu mengorganisir pasukan keamanan SS di Vienna setelah terjadinya peristiwa Anschluss di Austria menuju Jerman. Eichmann kemudian dipromosikan sebagai SS Orbersturmfuhrer (Letnan I), dan di akhir tahun 1938 Eichmann diangkat sebagai pemimpin SS untuk membentuk Kantor Pusat untuk Emigrasi Yahudi. 4.Eichmann kembali ke Berlin pada tahun 1939 setelah membentuk RSHA. Pada bulan Desember 1939, Eichmann diangkat menjadi kepala RSHA Refreat IV B4, Departemen RSHA yang setuju dengan hubungan dan evakuasi orang Yahudi. 5.Pada bulan Agustus 1940, Eichmann membuat Proyek Madagaskar, sebuah rencana untuk menghukum deportasi orang Yahudi yang tidak pernah di sahkan.

Permasalahan Hukum
Pada musim gugur tahun 1941, Heydrich memberi perintah kepada Eichmann bahwa orang Yahudi yang ada di Eropa yang berada di bawah kekuasaan Jerman, harus dihukum. Tahun 1942, Heydrich memerintahkan Eichmann untuk menghadiri pertemuan Wannsee

sebagai sekretaris, dimana anti semitik Jerman dimasukkan ke dalam aturan resmi genosida. Eichmann diberi posisi pengurus transportasi dari jalan akhir terhadap permasalahan Yahudi, yang membuat dia berwenang atas semua kereta yang membawa orang Yahudi ke kamp kematian di wilayah yang telah diokupasi dari Polandia. Tahun 1944, Eichmann dikirim ke Hongaria setelah Jerman mengokupasi negaranegara yang takut dengan invasi soviet. Pada suatu ketika, Eichmann bekerja untuk mendeportasi orang Yahudi dan mengirim 430.000 orang Hongaria kepada kematian dengan kamar gas. Tahun 1945, Heinrich Himmler memerintahkan untuk penghentian pembasmian ras Yahudi dan menghilangkan bukti dari tindakan terakhir terhadap pembasmian masal ras tersebut, namun perintah tersebut tidak dilaksanakan oleh Eichmann. Tahun 1959, Mossad mengumumkan bahwa Eichmann berada di Buenos Aires yang diketahui bernama Ricardo Clement dan memulai pencaharian dimana lokasi Eichmann yang sebenarnya. Akhirnya disimpulkan bahwa Ricardo Clement tersebut adalah Adolf Eichmann. Pemerintah Israel menyetujui misi penangkapan Eichmann untuk dibawa ke pengadilan Jerussalem untuk diadili terkait dengan kejahatan perang. Agen dari Mossad tetap melanjutkan pengintaiannya kepada Eichmann sampai keadaan benar-benar memungkinkan untuk menangkapnya. Eichmann ditemukan oleh tim Mossad dan Shabak sebuah agen yang berada di pinggiran kota Boeinos Aires pada tanggal 11 Mei 1960 yang menjadi bagian dari operasi tersebut. Agen-agen Mossad datang pada bulan April 1960 setelah identitas dari Eichmann diberitahukan. Pada tanggal 21 Mei 1960, Eichmann dibawa keluar dari Argentina dengan penerbangan komersil menuju Israel. Pemerintah Israel hanya mengakui bahwa penculikan Eichmann tersbut dilakukan oleh orang-orang Yahudi yang menjadi relawan dan membawanya ke pemerintah Israel. Negosiasi akhirnya dilakukan antara Israel yang diwakili oleh perdana menteri David Ben-Gurion dengan Presiden Argentina Arturo Frondizi. Pada bulan Juni 1960, setelah kegagalan terhadap perundingan rahasia dengan Israel, Argentina meminta rapat tertutup dengan Dewan Keamanan PBB, untuk mengajukan apa yang menjadi keberatan yang diakui oleh Argentina sebagai pelanggaran terhadap hak-hak berdaulat dari Republik Argentina. Dalam debat tersebut, Israel diwakili oleh Golda Meir yang

berargumentasi bahwa kejadian tersebut hanyalah merupakan pelanggaran hukum Argentina secara diam-diam ketika yang melakukan penculikan tersebut bukanlah agen Israel melainkan hanyalah warga sipil biasa. Akhirnya Dewan mengeluarkan suatu resolusi yang meminta Israel untuk membuat ganti rugi yang tepat, ketika menyatakan bahwa Eichmann seharusnya dibawa ke pengadilan yang berwenang terhadap kejahatan yang dipersalahkan kepadanya dan resolusi ini seharusnya tidak bisa ditafsirkan sebagai pengampunan terhadap kejahatan yang berdasarkan kebencian dimana Eichmann dipersalahkan. Setelah perundingan yang panjang, pada tanggal 3 Agustus, Israel dan Argentina menyetujui untuk mengakhiri masalah mereka dengan membuat pernyataan bersama bahwa Pemerintahan Israel dan Republik Argentina, dengan itikad baik akan melaksanakan Resolusi Dewan Keamanan tanggal 23 Juni 1960, yang menandakan bahwa hubungan diplomatik secara tradisional diantara dua negara akan dilanjutkan dan telah memutuskan untuk menutup kejadian yang ditimbulkan dari perbuatan Israel yang pada dasarnya melanggar dasar-dasar dari hak berdaulat Argentina.

Putusan dan Dasar Pertimbangan Mahkamah


Pada dasarnya, Israel mau mengadili Eichmann dengan alasan bahwa yang selama ini dilakukan oleh Eichmann adalah kejahatan internasional yang memiliki yurisdiksi universal, yaitu kejahatan terhadap kemanusiaan, kejahatan perang, dan kejahatan terhadap orang-orang Yahudi. Persidangan terhadap Eichmann dilaksanakan pada tanggal 11 April 1961. Dia didakwa melakukan 15 jenis kejahatan, termasuk di dalamnya kejahatan terhadap kemanusiaan, kejahatan terhadap orang-orang Yahudi, dan Eichmann merupakan anggota dari organisasi terlarang. Persidangan dilangsungkan di Beit Haam, di tengah kota Jerussalem. Persidangan ini menimbulkan berbagai polemik internasional. Pemerintah Israel menyiarkan langsung di TV persidangan Eichmann tersebut. Persidangan dimulai dengan menghadirkan berbagai saksi, termasuk di dalamnya orang-orang yang selamat dari peristiwa Holocaust yang memberian kesaksian melawan Eichmann dan aturannya mengenai transportasi bagi korbankorban untuk diantarkan ke kamp konsentrasi. Akhirnya pada tanggal 11 Desember, tiga hakim yang mengadili Eichmann tersebut menyatakan bahwa Eichmann terbukti melakukan semua kejahatan yang didakwakan terhadapnya. Pada tanggal 15 Desember, Eichmann divonis mati oleh hakim pengadilan Israel tersebut. Eichmann mengajukan banding terhadap putusan hakim tersebut mengenai yurisdiksi Israel dalam mengadili Eichmann serta kesalahan-kesalahan yang didakwakan kepadanya.

Eichmann berdalih terhadap prinsip-prinsip Act of State dan Superior Orders. Pada tanggal 29 Mei 1962, Supreme Court Israel bertindak sebagai pengadilan banding menolak banding dari Eichmann dan membenarkan putusan pengadilan negeri yaitu memvonis mati Eichmann. Supreme Court menolak segala pembelaan Eichmann yaitu mengikuti perintah. Tetapi Supreme Court tidak mempertimbangkan putusan itu karena Eichmann memiliki kewenangan dalam memberikan perintah terhadap penyelesaian akhir kepada orang-orang yahudi. Pada tanggal 31 Mei 1962, presiden Israel Yitzhak Ben-Zvi menolak pengampunan yang diajukan oleh Eichmann. Eichmann akhirnya dieksekusi pada tanggal 31 Mei 1962 di kota Ramla, Israel.

REGINA V. BOW STREET METROPOLITAN STIPENDIARY MAGISTRATE, EX PARTE PINOCHET UGARTE (AMNESTY

INTERNATIONAL AND OTHERS INTERVENING, 2000)

Fakta-Fakta Hukum
1.Dalam masa pemerintahannya, Pinnochet diduga telah banyak melakukan kejahatan serius diantaranya pembunuhan, penculikan, pelenyapan dan penyiksaan secara massal, penyelundupan senjata illegal dan perdagangan narkotika ( kokain). 2.Korban kediktatoran Pinnochet tidak hanya warga negara lokal tetapi juga mencakup diantaranya adalah warga negara Spanyol dan Argentina. 3.Ketika sedang berada di Inggris, ia ditangkap dan ditahan atas dasar International arrest warrant yang dipengaruhi oleh permintaan ekstradisi ke Spanyol oleh Baltazar Garzon yang adalah Hakim Spanyol yang tuduhannya berupa 94 kasus penyiksaan terhadap Warga Negara Spanyol. 4.Pinnochet memiliki kekebalan dari penuntutan berdasarkan State of Immunity Act tahun 1978 yang merupakan implementasi dari Konvensi Uni Eropa mengenai State Immunity tahun 1972. 5.Spanyol ( requesting state ) dan Inggris ( requested state ) merasa berhak untuk mengadili Pinnochet berdasarkan yurisdiksi universal dimana setiap negara berhak untuk melakukan penuntutan terhadap pelaku kejahatan Internasional yang serius yaitu genosida, kejahatan perang, dan kejahatan terhadap kemanusiaan.yang mana mereka telah meratifikasi konvensi anti penyiksaan yang memberikan kewajiban bagi mereka untuk melaksanakan yurisdiksi universal terhadap kejahatan Internasional tersebut. 6.Mahkamah Agung Inggris berpendapat bahwa Spanyol dan Inggris berhak menuntut dan menghukum atau pula mengekstradisi Pinnochet atas dasar bahwa kejahatan Internasional merupakan kejahatan serius yang mengancam eksistensi umat manusia sekaligus melanggar norma tertinggi hukum internasional dan juga menolak pembelaan Pinnochet atas hak imunitas yang ia miliki ( State Immunity Act 1978 ) sehingga si pelaku tidak dapat berlindung dibalik imunitasnya terhadap kejahatan internasional yang dilakukan..

Masalah Hukum Pinochet adalah seorang presiden dan diktator Chile. Ia juga adalah seorang Jenderal

Militer yang bertugas sebagai kepala staff dan komandan pasukan militer. Dia memimpin kudeta menggulingkan pemerintahan sosialis milik Presiden Salvador Allende pada September 1973. Sebagai pemimpin dari 4 Dewan Militer, ia melakukan penangkapan secara massal dan bertanggungjawab mengembalikan terhadap banyak terbunuhnya yang lebih dari 2000 dan orang politikus. Dia juga sector bisnis dinasionalisasi pertanian kepada

swasta/perorangan. Di luar dari kebrutalan yang ia lakukan, rezimnya dipuji karena pertumbuhan ekonomi yang baik. Setelah kekalahannya dari seorang negarawan plebisit pada tahun 1989, jabatannya sebagai Presiden diganti oleh Patricio Aylwin. Pinnochet tetap menjadi pemimpin militer sampai tahun 1998 ketika ia diangkat menjadi senator seumur hidup yang membuatnya kebal terhadap tuntutan hukum. Pada kunjungannya ke London dalam tahun yang sama, ia ditangkap atas permintaan dari pemerintah Spanyol atas tuduhan pembunuhan dan penyiksaan yang memungkinkannya untuk diekstradisi ke Spanyol. Pada tahun 1999, hakim Mahkamah Agung Inggris menyatakan bahwa ia harus diekstradisi, namun Pinnochet kemudian dilepaskan karena alasan kesehatan dan akhirnya kembali ke Chile. Pada tahun 2000, kekebalan yang ia miliki itu dicopot dan kemudian dimintakan pertanggungjawabannya atas keterlibatannya dalam penculikan dan pembunuhan yang muncul setelah kudeta. Penuntutan tersebut dihentikan, akibat kegagalannya dalam menghadiri persidangan dikarenakan kondisi kesehatannya yang tidak memungkinkan dia untuk mengikuti persidangan. Hal ini ditegaskan sendiri oleh Mahkamah Agung Chile. Masalah hukum yang kemudian terjadi adalah apakah Inggris dan Spanyol berwenang menuntut dan menghukum Pinnochet berdasarkan yurisdiksi universal terkait hak imunitas yang diklaim oleh Pinnochet ?

Putusan dan Dasar Pertimbangan Mahkamah Agung Inggris


Mahkamah Agung Inggris memutuskan bahwa Pinnochet tidak memiliki hak kekebalan dari tuntutan hukum atas dasar bahwa kejahatan yang dilakukan merupakan kejahatan internasional serius yang tunduk pada yurisdiksi universal dan juga sekaligus menolak pembelaan Pinnochet yang mengklaim hak imunitas. Inggris telah meratifikasi konvensi anti penyiksaan yang berarti telah memberi kewajiban kepada Inggris untuk melaksanakan yurisdiksi universal. Keputusan tersebut didasari oleh 3 pertimbangan, yaitu: 1. Penjelasan atau uraian dalam UU Inggris mengenai kejahatan yang dapat diekstradisi menurut UU Ekstradisi Inggris tahun 1989. Dalam konteks ini, aturan mengenai double criminality dan definisi mengenai kejahatan yang dapat diekstradisi sebagai suatu

tindakan untuk menentukan suatu kejahatan menurut UU Spanyol dan juga UU Inggris memainkan peranan yang sangat penting: 2. Penafsiran torture sebagai suatu kejahatan Internasional yang diberlakukan di Inggris pada 29 September 1988 berdasarkan Torture Convention 1984, memberikan suatu kewajiban yurisdiksi universal dan menetapkan kejahatan penyiksaan yang dilakukan di luar Inggris sebagai suatu tindak pidana baru yang membawa kepada pertanggungjawaban pidana menurut UU Inggris; 3. Menolak kekebalan bekas kepala negara terhadap International Crime of Torture . Hakim Inggris pada intinya menekankan bahwa larangan terhadap torture merupakan sebuah aturan hukum kebiasaan internasional dan juga sebagai sebuah norma yang mengikat semua subyek hukum internasional tanpa mempertimbangkan apakah sebuah negara telah menandatangani atau meratifikasi Torture Convention atau perjanjian lain yang terkait dengan kejahatan tersebut. Lord Hutton dan Phillips kemudian menyatakan bahwa torture berada diluar ruang lingkup dari fungsi seorang kepala negara. Dalam Pasal 7 ayat (1) Torture Covention ditetapkan suatu kewajiban bagi negara untuk menuntut atau mengekstradisi orang yang diduga melakukan torture, sehingga Spanyol dan Inggris memiliki yurisdiksi criminal untuk mengadili Pinnochet. Sebagai bagian dari hukum kebiasaan Internasional, yurisdiksi universal terhadap kejahatan kemanusiaan memberi kuasa kepada pengadilan nasional untuk menuntut dan menghukum pelaku dalam keadaan apapun . Atas dasar tersebut akhirnya Bow Street Magistrate memerintahkan agar Pinnochet diekstradisi ke Spanyol, namun karena alasan kesehatan yang makin memburuk maka ia dipulangkan ke Chile.

THE LOTUS CASE (PCIJ, 1927)

Fakta-Fakta Hukum
1.Pada tanggal 2 Agustus 1926, terjadi tabrakan di lokasi antara 5-6 mil utara Tanjung Sigri (laut lepas) dimana kapal Perancis, Lotus menabrak kapal Turki, Boz-kourt. 2.Tabrakan tersebut menyebabkan kapal Boz-kourt tenggelam dan mengakibatkan meninggalnya 8 orang awak kapal Boz-kourt yang merupakan warga negara Turki. 3.Lotus berhasil menyelamatkan 10 orang awak Boz-kourt dan melanjutkan perjalanannya menuju Konstantinopel, dan setibanya di Konstantinopel, kapten kapal Boz-kourt, Demons segera ditangkap dan diadili oleh pihak Turki. 4.Pada tanggal 3 Agustus, Demons resmi dijadikan tersangka dalam kasus Lotus oleh Pengadilan Turki tanpa peberitahuan kepada Konsulat Jenderal Perancis di Turki. 5.Pada tanggal 4 Agustus, Konsulat Jenderal Perancis menerima laporan pengaduan dari kapten kapal Lotus. 6.Pada tanggal 28 Agustus, Demons mengajukan keberatan dalam persidangan karena Pengadilan Turki dianggap tidak berwenang untuk mengadili karena kasus terjadi di laut lepas dimana tidak ada kedaulatan satu negarapun yang berlaku. 7.Pada tanggal 15 September, Pengadilan Negeri Turki menjatuhi hukuman 80 hari penjara dan denda kepada Letnan Demons dan Hassan Bey, kapten kapal Boz-kourt atas kelalaiannya karena tidak memiliki izin mengemudikan kapal. Putusan ini diprotes keras oleh Perancis. 8.Pada tanggal 26 Oktober 1926, Perancis dan Turki sepakat untuk membawa masalah ini ke PCIJ dengan Special Agreement.

Masalah Hukum
Masalah hukum yang terjadi dalam kasus ini adalah mengenai sengketa mengadili berdasarkan yurisdiksi negara antara Perancis dengan Turki. Dalam kasus ini, ada dua pendapat yang berbeda dari kedua negara yang menjadi persoalan utama yakni Perancis berpendapat bahwa bila terjadi tubrukan di laut lepas, maka persoalannya tunduk pada wewenang eksklusif negara bendera dikarenakan hukum internasional belum mengatur tentang pelanggaran yang terjadi di laut lepas yang melibatkan dua negara. Sedangkan Turki berpendapat bahwa pengadilannya mempunyai wewenang untuk mengadili suatu perbuatan

yang terjadi di luar negeri oleh orang asing bila yang menjadi korban adalah orang Turki sendiri.

Putusan dan Dasar Pertimbangan Mahkamah Tetap Internasional


Pada tanggal 7 September 1927, Mahkamah Tetap Internasional (PCIJ) memutuskan bahwa negara dapat memberikan wewenang yang dianggapnya perlu pada peradilannya bahkan untuk mengadili perbuatan yang terjadi di luar negeri kecuali jika ada pembatasan terhadap kedaulatan negara dalam memberikan wewenang tersebut. Jadi, Mahkamah membenarkan tindakan Turki, walaupun menimbulkan protes di banyak negara dan akhirnya dengan Konvensi Bruxelles tanggal 10 Mei 1952 membenarkan pendapat Perancis. Konvensi hanya memberikan wewenang eksklusif kepada negara bendera untuk mengambil tindakan administratif atau hukum kepada warga negaranya yang bertanggung jawab terhadap terjadinya suatu tubrukan. Tetapi Konvensi juga menambahkan, bila tubrukan tersebut terjadi di satu pelabuhan atau laut wilayah negara asing, maka yurisdiksi negara asing inilah yang berlaku. Prinsip ini kemudian ditegaskan pada pasal 97 ayat (1) Konvensi yang berbunyi Bila terjadi suatu tubrukan atau insiden pelayaran lain apapun yang menyangkut suatu kapal di laut lepas, berkaitan dengan tanggung jawab pidana atau disiplin nakhoda atau setiap orang lainnya dalam dinas kapal, tidak boleh diadakan tuntutan pidana atau disiplin terhadap orang-orang tersebut kecuali di hadapan pejabat-pejabat hukum atau adminstratif negara bendera atau negara dimana orang-orang itu berkebangsaan. Mahkamah Tetap Internasional menitikberatkan putusannya pada hasil Konvensi Lausanne tahun 1923 yang mengatur bahwa Turki memiliki yurisdiksi atas segala hal yang terjadi di wilayah teritorial mereka.

IN RE WESTERLING, SINGAPORE SUPREME COURT, 1951

Fakta-Fakta Hukum
1.Raymond Pierre Paul Westerling (lahir di Istanbul, Turki, 31 Agustus 1919) adalah komandan pasukan Belanda yang memimpin Pembantaian Westerling (1946-1947) di Sulawesi Selatan dan pemberontakan APRA di Jawa Barat. 2.Pada tanggal 15 Desember 1943, Westerling ditugaskan ke India dan bertugas di Komando Asia Tenggara yang ditempatkan di Kedgaon, 60 km utara kota Poona. Kemudian pada tanggal 20 Juli 1946, Westerling diangkat menjadi komandan pasukan khusus DST karena berhasil menumpas perlawanan rakyat Sulawesi Selatan. 3.Westerling tiba di Makassar pada tanggal 5 Desember 1946 dengan memimpin 120 orang pasukan DST dan kemudian menumpas perlawanan rakyat Makassar tanpa menghiraukan peraturan perlindungan kepada warga sipil sehingga mengakibatkan banyak warga sipil tidak bersalah yang menjadi korban. Peristiwa ini kemudian dikenal dengan Pembantaian Westerling. Selain itu, Westerling juga banyak membantai penduduk sipil di daerah Tasikmalaya dan Ciamis yang menyebabkan Belanda melakukan investigasi terhadap Westerling dan pasukannya. 4.Pada tanggal 14 November 1948, Westerling diberhentikan dari jabatannya dan juga dari dinas kemiliteran. Kemudian, pada bulan November 1949, Westerling membentuk organisasi rahasia bernama Angkatan Perang Ratu Adil (APRA) untuk kemudian merencanakan kudeta terhadap RI bersama dengan DI/ TII pada tanggal 23 Januari 1950 dengan cara membunuh setiap prajurit TNI yang mereka temukan. Peristiwa ini menyebabkan tewasnya 94 perwira TNI, termasuk Kolonel Limbong. 5.Pihak Belanda berusaha menyelamatkan Westerling dari tuntutan hukum karena dianggap sebagai pahlawan sehingga kemudian merencanakan upaya pelarian Westerling dari Indonesia menuju Eropa melalui Singapura. 6.Pada tanggal 26 Februari 1950, polisi Inggris menangkap Westerling yang sedang bersembunyi di rumah temannya di Singapura. Indonesia kemudian meminta Westerling diekstradisi.

Masalah Hukum

Masalah hukum yang terjadi dalam kasus ini adalah sengketa mengadili Westerling antara Indonesia, Singapura, dan Belanda. Setelah mendengar bahwa Westerling telah ditangkap oleh Polisi Inggris di Singapura, Pemerintah RIS mengajukan permintaan kepada otoritas di Singapura agar Westerling diekstradisi ke Indonesia karena menurut prinsip yurisdiksi nasionalitas pasif, Westerling dapat diadili di Indonesia karena korban-korbannya adalah WNI. Pada 15 Agustus 1950, dalam sidang Pengadilan Tinggi di Singapura, Hakim Evans memutuskan bahwa Westerling sebagai warga negara Belanda tidak dapat diekstradisi ke Indonesia. Sebelumnya, sidang kabinet Belanda pada 7 Agustus telah memutuskan bahwa setibanya di Belanda, Westerling akan segera ditahan. Pada 21 Agustus, Westerling meninggalkan Singapura sebagai orang bebas dengan menumpang pesawat Australia Quantas dan ditemani oleh Konsul Jenderal Belanda untuk Singapura, Mr. R. van der Gaag. Awal April 1952, secara diam-diam Westerling masuk ke Belanda. Keberadaannya tidak dapat disembunyikan dan segera diketahui, dan pada 16 April, Westerling ditangkap di rumah Graaf A.S.H. van Rechteren. Mendengar berita penangkapan Westerling di Belanda, pada 12 Mei 1952 Komisaris Tinggi Indonesia di Belanda Susanto meminta agar Westerling diekstradisi ke Indonesia, namun ditolak oleh Pemerintah Belanda, dan bahkan sehari setelah permintaan ekstradisi itu, pada 13 Mei Westerling dibebaskan dari tahanan. Putusan Mahkamah Agung Belanda pada 31 Oktober 1952, menyatakan bahwa Westerling adalah warganegara Belanda sehingga tidak akan diekstradisi ke Indonesia.

Putusan dan Dasar Pertimbangan Mahkamah


Pengadilan Tinggi Singapura melalui Hakim Evans memutuskan bahwa Westerling sebagai warga negara Belanda tidak dapat diekstradisi ke Indonesia sehingga permintaan Indonesia untuk mengekstradisi Westerling ditolak oleh Singapura. Dasar pertimbangan hakim adalah prinsip yuriskdiksi teritorial dimana Westerling ditangkap di Singapura sehingga Singapura yang berhak mengadilinya. Begitu pula ketika Westerling ditangkap di Belanda pada bulan April 1952, Mahkamah Agung Belanda menolak permintaan ekstradisi dari Indonesia dengan alasan Westerling adalah warga negara Belanda sehingga menurut prinsip yurisdiksi nasionalitas aktif, Belanda yang berhak untuk mengadili Westerling.

HUBUNGAN HUKUM NASIONAL DAN HUKUM

INTERNASIONAL
BREMEN TOBACCO CASE 1959

Fakta-Fakta Hukum
1.Pada tahun 1958, pemerintah Indonesia menasionalisasi perusahaan-perusahaan perkebunan milik Belanda di Sumatera Utara. 2.Tindakan ini oleh Belanda dianggap merupakan tindakan yang prima facie, yaitu tindakan yang melanggar hukum internasional yang memberikan perlindungan kepada orang asing dan miliknya. 3.Pihak Belanda, dalam hal ini De Verenigde Deli Maatschapijen mendalilkan bahwa tindakan nasionalisasi pemerintah Indonesia itu tidak sah karena tidak disertai dengan ganti rugi atau karena ganti rugi yang ditawarkan tidak memenuhi apa yang oleh pihak De Verenigde Deli Maatschapijen dianggap sebagai dalil hukum internasional, yaitu bahwa ganti rugi itu harus prompt, effective, and adequate. 4.Pihak pemerintah RI dengan Maskapai Tembakau Jerman-Indonesia (DeutschIndonesia Tabaks Handels G.m.b.H) beralasan bahwa tindakan pengambilalihan dan nasionalisasi itu merupakan tindakan suatu negara berdaulat dalam rangka perubahan struktur ekonomi bangsa Indonesia dari struktur ekonomi kolonial ke ekonomi nasional.

Masalah Hukum
Masalah hukum yang terjadi dalam kasus Bremen Tobacco antara pemerintah Indonesia dengan pemerintah Belanda adalah keabsahan (legality) tindakan pemerintah Indonesia dalam mengambil alih dan kemudian menasionalisasikan perusahaan perkebunan tembakau Belanda di Indonesia pada waktu itu. Dalam perkara Bremen ini, berhadapan hukum nasional yaitu undang-undang Republik Indonesia tentang nasionalisasi perusahaan Belanda beserta peraturan pelaksanaannya dengan hukum internasional yaitu ketentuan hukum internasional mengenai perlindungan hak milik orang asing di suatu negara. Pihak Belanda, dalam hal ini De Verenigde Deli Maatschapijen mendalilkan bahwa tindakan nasionalisasi pemerintah Indonesia itu tidak sah karena tidak disertai dengan gantirugi atau karena gantirugi yang ditawarkan tidak memenuhi apa yang oleh pihak De Verenigde Deli

Maatschapijen dianggap sebagai dalil hukum internasional, yaitu bahwa gantirugi itu harus prompt, effective, and adequate. Dalil ini dibantah oleh pihak tergugat, yakni die DeutschIndonesischen Tabaks HandelsG.m.b.H. (Perusahaan Tembakau Jerman-Indonesia) yang dibantu oleh Pemerintah RI, dengan memperbantukan tiga orang pada pihak DeutschIndonesischen Tabaks Handels G.m.b.H. Pihak perusahaan tembakau Jerman-Indonesia dan pemerintah RI membantah dalil Belanda yang dikemukakan di atas dengan mengatakan bahwa nasonalisasi yang dilakukan oleh pemerintah Indonesia adalah usaha untuk mengubah struktur ekonomi Indonesia dari ekonomi kolonial ke ekonomi yang bersifat nasional secara radikal. Tentang keharusan ganti rugi tersebut, dikemukakan dalil bahwa yang dikemukakan oleh pihak Belanda yaitu bahwa ganti rugi itu harus prompt, effective, and adequate tidak dapat diterima karena seandainya dalil itu diterima, tidak mungkin suatu negara muda yang berkembang di mana pun akan mengubah struktur ekonominya, sehingga dalil itu tidak mungkin dipenuhi. Pengambilalihan suatu perusahaan asing adalah suatu pelanggaran hukum, namun demikian dalam hal-hal tertentu tindakan ini dapat pula dianggap dibenarkan apabila dipenuhinya syarat-syarat, yaitu : 1. Untuk kepentingan umum (public purposes); 2. Ganti rugi yang tepat (appropriate compensation); 3. Non diskriminasi (non-discrimination).

Putusan Pengadilan Tinggi Bremen


Pengadilan Bremen kemudian memutuskan bahwa pengadilan tidak mempersoalkan keabsahan tindakan nasionalisasi pemerintah Indonesia yang kemudian diperkuat oleh Pengadilan Tinggi Bremen tanggal 21 Agustus 1959 secara tidak langsung menyatakan bahwa tindakan nasonalisasi pemerintah Indonesia atas perkebunan Belanda adalah sah

Dasar Pertimbangan Pengadilan Tinggi Bremen


Dasar pertimbangan Pengadilan Tinggi Bremen mengesahkan tindakan Indonesia ini dikarenakan ganti kerugian yang disediakan oleh pemerintah RI sebagai pihak yang melakukan expropriation nasional lain sifat dan bentuknya. Dengan PP No.9 tahun 1959, ditentukan bahwa dari hasil penjualan hasil perkebunan tembakau dan perkebunan lainnya akan disisihkan suatu presentasi tertentu untuk disediakan pembayaran ganti rugi. Dengan demikian, pemerintah RI hendak menunjukkan bahwa ia tidak melanggar prinsip ganti kerugian, hanya pembayaran ganti kerugian itu cara maupun jumlahnya disesuaikan dengan kemampuannya sebagai negara

merdeka yang baru berkembang. Kasus Bremen Tobacco ini merupakan suatu peristiwa yang memerlukan penyimpangan dari ketentuan hukum internasional mengenai perlindungan milik asing. Walaupun dengan keputusan Pengadilan Bremen ini tidak dapat dikatakan bahwa kaidah hukum internasional tentang nasionalisasi milik asing telah berubah, namun keputusan ini ternyata telah menarik perhatian dunia dan memiliki peranan yang besar dalam proses perubahan kaidah hukum internasional yang mengatur mengenai nasionalisasi.

MORTENSEN V. PETERS (COURT OF JUSTICIARY, SCOTLAND,1906)

Fakta-Fakta Hukum
1. North Sea Fisheries Convention 1883, dimana Inggris dan Denmark termasuk pihak dalam perjanjian, namun tidak demikian dengan Norwegia, mengatur bahwa nelayan memiliki hak eksklusif dalam kegiatannya yang dapat diterapkan di teluk yang lebarnya kurang dari 10 mil. 2. Sekitar tahun 1898, sekelompok nelayan yang menaiki kapal pukat berbendera Norwegia melakukan kegiatan penangkapan ikan di Moray Firth dengan menggunakan bom air yang dilarang oleh Sea Fisheries Acts dan Herring Fisheries Act Skotlandia dimana kedua undang-undang tersebut mengatur bahwa tidak ada satu pihak pun boleh melakukan kegiatan penangkapan ikan dengan menggunakan bom air, kecuali telah mendapat izin dari otoritas Skotlandia di sekitar Moray Firth meliputi garis pantai dari Duncansby Head sampai Rattray Point (berjarak 75 mil dari muara Moray Firth). 3. Kapal-kapal pukat Norwegia tersebut kemudian ditahan oleh pihak otoritas Norwegia, dan para awaknya dijerat dengan kedua undang-undang tersebut karena melakukan aktivitas penangkapan ikan dengan cara-cara yang dilarang oleh undang-undang Norwegia. 4. Pada tahun 1905, Mahkamah Skotlandia menerima banding dari para nelayan Norwegia yang diwakili oleh Mortensen, seorang warga negara Denmark yang berdomisili di Grimsby, Inggris, yang menjadi kapten dari salah satu kapal pukat yang ditahan oleh otoritas Skotlandia, yang menangkap ikan di wilayah yang berjarak sekitar 3-10 mil dari mulut teluk Moray Firth. 5. Wilayah yang dimasuki oleh Mortensen dalam kegiatan penangkapan ikannya merupakan bagian dari Moray Firth yang berjarak lebih dari 3 mil dari daratan dan bukan termasuk wilayah kedaulatan Inggris berdasarkan North Sea Convention. Mortensen dianggap bersalah oleh Sheriff, yang kemudian menghukumnya dengan hukuman 50 hari penjara. Mortensen menyatakan keberatannya dikarenakan Sea Fisheries Acts hanya dapat diberlakukan bagi orang Inggris atau orang asing yang berada di wilayah teritorial Inggris, sementara berdasarkan hukum internasional, wilayah tersebut berada diluar teritorial Inggris. 6. Pihak otoritas Skotlandia yang diwakili oleh Mr. Peters, menyatakan bahwa maksud dari

undang-undang tersebut bersifat universal dan sudah jelas Walaupun tidak dinyatakan dalam hukum internasional, tetapi Moray Firth tetap dapat dikatakan sebagai laut teritorial yang termasuk intra fauces terrae. Selain itu, walaupun Moray Firth bukan merupakan wilayah teritorial Inggris, tetapi pihak berwenang Skotlandia tetap dapat menjerat Mortensen berdasarkan Undang-Undang Perlindungan yang ditujukan untuk melindungi kegiatan penangkapan ikan di laut.

Masalah Hukum
Masalah hukum yang kemudian terjadi adalah pertentangan antara Mortensen yang menganggap tindakannya adalah legal berdasarkan hukum internasional dan tempat kejadian berada diluar teritorial Inggris sehingga ia tidak bisa dijerat dengan undang-undang nasional Inggris karena ia bukan orang Inggris dan tidak berada dalam teritorial Inggris dengan Mr. Peters selaku pihak otoritas Skotlandia yang menangkap Mortensen, yang beranggapan Mortensen telah melakukan pelanggaran di Moray Firth yang dianggap merupakan teritorial Inggris. Mortensen melakukan banding dan menyatakan tindakannya dibenarkan berdasarkan North Sea Convention 1883 yang mengatur hak eksklusif nelayan. Namun, Mr. Peters beralasan, Mortensen juga dapat dijerat dengan undang-undang perlindungan kegiatan perikanan.

Putusan Mahkamah Tinggi Skotlandia


Mahkamah Tinggi Skotlandia (Court of Justiciary Scotland) pada tahun 1906 setelah mempertimbangkan alasan kedua belah pihak, melalui Majelis Hakim yang beranggotakan tiga orang Hakim yaitu Lord Justice-General Dunedin, Lord Kyllachy, dan Lord Salvesen memutuskan untuk mengabulkan banding dari Mortensen.

Dasar Pertimbangan Mahkamah


Mahkamah Tinggi Skotlandia berpendapat bahwa undang-undang nasional tidak dapat diterapkan terhadap orang asing yang tidak berada dalam wilayah teritorial Inggris dimana untuk kasus seperti ini, hukum internasional yang berlaku. Mahkamah tidak dapat melakukan apapun terhadap pertanyaan mengenai kewenangan badan legislatif terhadap pihak asing. Mahkamah hanya dapat memutuskan apakah Act of Legislature tersebut ultra vires atau bertentangan dengan prinsip-prinsip hukum umum dalam hukum internasional. Mahkamah berpendapat bahwa Act of Parliament merupakan lembaga tertinggi yang dibentuk dan disetujui oleh Raja sehingga Mahkamah tidak dapat melampaui kewenangannya. Mahkamah

mempertimbangkan banding yang diajukan Mortensen dimana ia menyatakan maksud dari undang-undang tersebut adalah undang-undang Inggris hanya dapat diterapkan pada orang Inggris atau pada orang asing yang berada di wilayah teritorial Inggris. Mortensen bukan merupakan orang Inggris dan tempat terjadinya kasus (locus delicti) yang berada dalam jarak lebih dari 3 mil, bukan termasuk teritorial Inggris, sehingga Mortensen berpendapat bahwa ia tidak dapat dijerat dengan undang-undang tersebut. Dasar pertimbangan Mahkamah adalah bahwa Moray Firth seharusnya dipandang sebagai common heritage of mankind dan berlaku hukum internasional sehingga hukum nasional Inggris tidak dapat diberlakukan di wilayah tersebut karena Inggris tidak memiliki kedaulatan terhadap Moray Firth.

FILARTIGA PENA-IRALA, COURT OF APPEALS 2ND CIRCUIT, 1980

Fakta-Fakta Hukum
1. Kasus ini terjadi pada 29 Maret 1976 dan diadili pada tahun 1978. 2. Kasusnya terjadi di Asuncion, Paraguay dan didili di Brooklyn, Amerika Serikat. 3. Doly Fillartiga dan Joel Fillartiga mengajukan tuntutan terhadap Pena Iralla yang telah membunuh Joelito (adik dari Doly, anak dari Joel) yang disekap terlebih dahulu dan disiksa hingga tewas. 4. Ketika kasus ini dibawa ke pengadilan Paraguay kasus ini tidak menimbulkan keadilan sama sekali, hal ini disebabkan oleh dihukum matinya pengacara keluarga Fillartiga dengan sebab yang tidak jelas. 5. Lalu keluarga Fillartiga meminta suaka politik ke Amerika.

Masalah Hukum
Permasalahan hukum yang timbul dari kasus ini adalah tentang kewenangan Pengadilan Amerika Serikat untuk mengadili kasus yang terjadi di Negara lain dengan menggunakan hukum yang berlaku di Amerika Serikat, dikarenakan Kasus Fillartiga dan Pena Iralla adalah kasus yang terjadi di Paraguay.

Putusan Pengadilan
Pengadilan CJA (Center for Justice and Accountability) mengabulkan tuntutan ganti rugi 10,4 juta Dollar US yang dimintakan keluarga Fillartiga terhadap Pena Iralla.

Dasar Pertimbangan Pengadilan


Pengadilan Amerika menganggap bahwa kasus penganiayaan dan penyiksaan adalah kasus yang sudah diatur dalam Deklarasi HAM, Piagam PBB , Deklarasi hak dan kewajiban manusia Amerika, dan kebiasaan Internasional. Pengadilan Amerika memiliki kewenangan

untuk mengadili kasus tersebut walaupun kasus tersebut terjadi di luar Amerika. Hal ini didukung lagi oleh karena pada saat itu Pena sedang berada di Amerika begitu juga Fillartiga. Kebiasaan Internasional juga mengatakan kasus penganiayaan dan penyiksaan merupakan pelanggaran yang harus dihukum di manapun hal itu terjadi dan negara manapun bisa menghukum hal tersebut.

MABO V. QUEENSLAND, HIGH COURT OF AUSTRALIA, 1992

Fakta-Fakta Hukum
1.Pihak-pihak yang terlibat dalam kasus Mabo vs Queensland ini adalah kaum pribumi Aborigin yang tinggal di Pulau Murray, Selat Torres yang disebut orang-orang Meriam, yang diwakili oleh Eddie Mabo dengan pemerintah negara bagian Queensland, Australia yang memiliki yurisdiksi atas Pulau Murray sebagai koloni dari Inggris. 2.Kasus Mabo v. Queensland terjadi di Pulau Murray yang terletak di Selat Torres yang termasuk dalam wilayah teritorial Queensland, Australia. 3.Kasus Mabo v. Queensland ini merupakan banding dari kasus terdahulu yang telah diputus oleh Pengadilan Distrik Queensland pada tahun 1988 dimana dalam putusan sebelumnya, Majelis Hakim memenangkan pihak pemerintah Queensland atas hak tanah adat milik penduduk Meriam. 4.Kasus ini terjadi karena penduduk lokal di Pulau Murray yaitu orang-orang Meriam menolak Queensland Amendment Act 1982 yang dianggap bersifat diskriminatif dan melanggar hukum kebiasaan internasional yang mengakui hak-hak milik adat penduduk pribumi. 5.Pada tahun 1985, pemerintah Queensland mengeluarkan Queensland Coast Island Declaratory Act 1985 yang menaytakan bahwa aneksasi terhadap Pulau Murray pada tahun 1879 bebas dari hak atau kepentingan manapun sehingga dapat disimpulkan undang-undang ini tidak mengakui hak-hak penduduk Pulau Murray, dan dalam putusannya pada kasus pertama tahun 1988, Pengadilan Tinggi Queensland menganggap undang-undang ini bertentangan dengan Racial Discrimination Act tahun 1975. Pemerintah Queensland berargumen bahwa semua tanah koloni yang berada dibawah yurisdiksi Inggris secara mutlak menjadi milik Inggris.

Masalah Hukum
Masalah hukum yang kemudian terjadi adalah apakah hukum kebiasaan internasional yang memberikan pengakuan terhadap hak-hak adat penduduk setempat dapat diterapkan dalam kasus ini, mengingat undang-undang nasional Australia tidak mengakui adanya hak milik tanah adat?

Putusan Mahkamah Tinggi Australia


Majelis Hakim dari Mahkamah Tinggi Australia yang beranggotakan Hakim Brennan, Hakim Deane, Hakim Gaudron, Hakim Toohey, Hakim Dawson, Hakim McHugh, dan Hakim Ketua Mason memutuskan mengabulkan banding Mabo dan penduduk Pulau Murray yang menuntut untuk memberikan hak kepemilikan, penguasaan, dan pengelolaan tanah di seluruh Pulau Murray kepada orang-orang Meriam sebagai penduduk asli yang mendiami wilayah tersebut. Mahkamah juga menolak istilah terra nullius yang digunakan Inggris ketika mengokupasi wilayah tersebut pada tahun 1788.

Dasar Pertimbangan Mahkamah Tinggi Australia


Mahkamah mengabulkan banding dari Mabo karena berdasarkan pernyataan Hakim Moynihan dari Supreme Court of Queensland yaitu orang-orang Meriam memiliki keterikatan batin dengan Pulau Murray tempat mereka tinggal sehingga mereka memiliki hak atas tanah mereka. Semua hakim, kecuali Hakim Dawson, setuju bahwa : Terdapat konsep hak milik adat dalam hukum kebiasaan internasional. Sumber dari hak milik adat berhubungan secara tradisional dengan penguasaan tanah adat. Makna dari hak milik adat berdasarkan karakter dari hubungan atau penguasaan dalam hukum adat atau kebiasaan. Hak milik adat dapat dikesampingkan oleh kebijakan pemerintah yang memiliki dasar dan pertimbangan hukum yang kuat berdasarkan perundang-undangan nasional. Mahkamah juga menyatakan bahwa hak milik Inggris atas tanah koloni bukan mutlak,

melainkan hanya hak radikal dan harus memperhatikan juga hak-hak penduduk setempat.

Analisis Kasus
Dalam kasus ini, kelompok kami melihat adanya hubungan antara hukum nasional yaitu undang-undang Queensland dengan hukum internasional yang dalam kasus ini adalah hukum kebiasaan internasional. Kelompok kami menilai, berdasarkan putusan hakim, maka hukum kebiasaan internasional yang mengatur tentang hak milik adat dapat saling mengisi dengan hukum kepemilikan yang merupakan produk hukum nasional.

NEGARA (PERSONALITY)

INDONESIA CASE, 1946

Fakta-Fakta Hukum
1.Pada tanggal 17 Agustus 1945, Republik Indonesia memproklamasikan

kemerdekaannya dari Belanda dengan ditandai pembacaan proklamasi kemerdekaan oleh Ir. Sukarno dan Drs. Moh. Hatta di Jakarta. 2.Kasus ini merupakan sengketa pengakuan kedaulatan antara Indonesia sebagai negara yang baru berdiri dengan Belanda sebagai penjajah Indonesia yang tidak mengakui kemerdekaan Indonesia. 3.Belanda tidak mengakui kemerdekaan Indonesia karena Indonesia dianggap belum memenuhi negara lain. 4.Indonesia berargumen bahwa mereka telah memenuhi unsur-unsur negara sesuai dengan Konvensi Montevideo tahun 1930 yaitu wilayah, penduduk, pemerintahan yang berdaulat, dan kemampuan untuk mengadakan hubungan internasional, yang telah diatur dalam UUD 1945 sebagai konstitusi tertinggi Indonesia, walaupun pada waktu itu belum terbentuk lembaga-lembaga negara beserta kekuasaannya. 5.Belanda sendiri sebenarnya secara de facto telah mengakui kedaulatan Indonesia melalui Perundingan Linggarjati pada tahun 1946, yang diantaranya menyebutkan syarat-syarat untuk diakui sebagai negara, salah satunya adalah kemampuan (capacity) untuk mengadakan hubungan internasional dengan negara-

bahwa The Nederlands Government recognizes the government of the Republic of Indonesia as exercising de facto authority over Java, Madura, and Sumatera. The areas occupied by Allied or Netherlands forces shall be included gradually, through mutual cooperation in republic territory.

Masalah Hukum
Masalah hukum yang kemudian terjadi adalah : 1.Apakah Indonesia dapat dikatakan telah memenuhi unsur-unsur negara sesuai dengan Konvensi Montevideo 1933, mengingat pada saat itu Indonesia belum memiliki pemerintahan yang secara nyata berdaulat dan juga belum melakukan hubungan internasional dengan negara lain? 2.Apakah protes dari Belanda dapat mempengaruhi status Indonesia sebagai sebuah negara, mengingat dalam hukum internasional, pengakuan kedaulatan dari negara lain bukan merupakan syarat mutlak bagi sebuah negara selama negara tersebut tidak melanggar prinsip anti kekerasan dalam hukum internasional?

Hasil Konferensi Meja Bundar 1949 Sejak Belanda melancarkan agresi militernya yang pertama yang diakhiri dengan Perjanjian Linggarjati pada tahun 1946 dimana Belanda mengakui Indonesia hanya sebatas wilayah Sumatra, Jawa, dan Madura, Indonesia dan Belanda telah berulangkali terlibat dalam konflik bersenjata hingga PBB kemudian turun tangan dengan mengutus Australia, Belgia, dan Amerika Serikat yang tergabung dalam Komisi Tiga Negara (KTN) untuk mengajak Indonesia dan Belanda kembali ke meja perundingan. Kemudian, atas prakarsa PBB melalui UNCI, Indonesia dan Belanda sepakat untuk menghadiri perundingan damai Konferensi Meja Bundar di Den Haag pada tahun 1949, dimana konferensi ini menghasilkan pernyataan pengakuan kedaulatan Indonesia secara penuh kecuali Irian Barat oleh Belanda yang serentak ditandatangani di Belanda dan Indonesia.

Analisis Hukum
Menurut kelompok kami, dalam Indonesia Case ini, Belanda tidak dapat mengajukan keberatannya secara hukum atas berdirinya negara Indonesia karena menurut Konvensi

Montevideo tahun 1933, Indonesia telah memenuhi syarat-syarat untuk dinyatakan sebagai negara yaitu wilayah (defined territory), penduduk (permanent population), pemerintahan yang berdaulat (government) meskipun pada saat itu Indonesia belum memiliki lembaga-lembaga negara yang tetap, namun telah diatur dalam UUD 1945 sebagai dasar konstitusional, serta kemampuan untuk mengadakan hubungan internasional dengan negara lain (capacity to enter into relations with other states) dimana hal ini juga telah diatur dalam UUD 1945 pasal 11 dan Indonesia sendiri sejak proklamasi kemerdekaan telah mulai mengadakan hubungan luar negeri dengan negara-negara lain diantaranya seperti India dan Mesir. Selain itu, protes dari Belanda juga tidak mempengaruhi eksistensi Indonesia sebagai sebuah negara karena dalam hukum internasional, pengakuan bukanlah syarat mutlak untuk diakui sebagai sebuah negara berdasarkan doktrin Estrada dimana penolakan pengakuan dianggap sebagai pelanggaran terhadap kedaulatan suatu negara dan dianggap juga mencampuri urusan dalam negeri negara lain.

WESTERN SAHARA OPINION, ICJ REPORT 1975

Fakta-Fakta Hukum
1. Semenjak kemerdekaannya pada tahun 1956, Maroko berkeinginan untuk memasukkan suatu daerah bekas kolonial Spanyol yaitu Sahara Barat ke dalam wilayah teritorial Maroko. 2. Pada tahun 1958, tentara Maroko berperang dengan tentara Spanyol dalam peperangan Ifni. 3. Setelah mendapatkan dukungan dari Prancis, Spanyol kembali menguasai wilayah tersebut, tetapi Spanyol mengembalikan beberapa daerah ke Maroko, yaitu daerah Tarfaya dan Tantan. 4. Maroko terus meminta pengembalian beberapa wilayah-wilayah yang tersisa, yaitu Ifni, Saguia el-Hamra dan Rio De Oro dan beberapa wilayah yang dijajah oleh Prancis. 5. Selama tahun 1960an, Maroko berhasil mendapatkan Sahara Barat untuk dijadikan wilayah jajahan mereka. 6. Tanggal 20 Desember 1966, Resolusi Majelis Umum PBB 2229 meminta Spanyol untuk mengadakan referendum dalam menentukan nasib sendiri di wilayah Sahara Barat. 7. Setelah awal perlawan dan semua pernyataan dari Maroko dan Mauritania (yang juga memulai membuat pernyataan kepemilikan Sahara Barat), Spanyol mengumumkan pada Tanggal 20 Agustus 1974, sebuah referendum dalam menentukan nasib sendiri

akan diadakan pada enam bulan pertama tahun 1975. 8. Maroko mengeluarkan pernyataan bahwa tidak dapat menerima referendum yang akan memasukkan sebuah pilihan untuk kemerdekaan dan meminta kembali untuk menggabungkan propinsi Sagui el-Hamra dan Rio De Oro ke dalam wilayah kedaulatan mereka. 9. Pada tanggal 17 Septmber 1974, Raja Hassan II mengumumkan keinginannya untuk membawa masalah ini ke ICJ. Pada bulan Desember, Spanyol menyetujui untuk menunda referendum di Sahara selama masalah ini sedang diselesaikan oleh ICJ. Kasus ini hanya berbentuk advisory opinion yang tidak memiliki kekuatan yang mengikat.

Masalah Hukum
Apakah Spanyol berhak untuk mengadakan referendum untuk menentukan nasib sendiri di wilayah Sahara Barat yang selama ini diperebutkan oleh Spanyol dan Maroko untuk dijadikan ke dalam wilayah territorial mereka masing-masing?

Putusan Pengadilan
ICJ tidak dapat membuat suatu keputusan dalam permasalahan ini, karena pada waktu penjajahan berlangsung di wilayah Sahara Barat, daerah tersebut bukan merupakan suatu wilayah Terra Nullius.

Dasar Pertimbangan Pengadilan


Sahara Barat bukanlah Terra Nullius karena pada waktu penjajahannya terdapat berbagai bentuk hubungan yang ada antara suku-suku dan emirat-emirat Sahara di abad ke-19. Mahkamah juga menyatakan bahwa pada waktu itu belum ada semacam organ atau entitas yuridik yang berbeda dari kelompok-kelompok masyarakat yang ada. Oleh karena itu, menurut pendapat Mahkamah di Sahara Barat pada waktu itu belum ada struktur pemerintahan dank arena itu belum ada negara.

NEGARA DAN KEDAULATAN TERITORIAL (TERRITORIAL SOVEREIGNTY)


SIPADAN & LIGITAN, ICJ REPORTS, 2002

Fakta-Fakta Hukum
1. Pihak dari kasus ini adalah antara Indonesia dengan Malaysia. 2. Pada tahun 1967, Indonesia dan Malaysia mengadakan pertemuan mengenai teknis hukum laut antara kedua negara, dimana masing-masing negara menempatkan pulau Sipadan dan Ligitan ke dalam batas wilayah masing-masing negara. 3. Kedua negara bersepakat untuk menjadikan pulau Sipadan dan Ligitan ke dalam status quo yang ternyata interpretasi dari kedua negara ini adalah berbeda. Malaysia mengartikan status quo sebagai pulau tersebut tetap berada dibawah kedaulatan Malaysia yang membangun berbagai objek wisata hingga sengketa tersebut selesai, sementara Indonesia mengartikan status quo adalah bahwa pulau ini tidak boleh ditempati hingga sengketa ini selesai. 4. Pada tahun 1969, Malaysia secara sepihak memasukan pulau Sipadan dan Ligitan ke

dalam peta nasionalnya. 5. Berbagai cara penyelesaian sengketa secara diplomatik diantaranya melalui Treaty of Amity and Cooperation in Southeast Asia 1976 untuk membentuk Dewan Tinggi ASEAN yang berfungsi dalam penyelesaian sengketa antar anggota ASEAN namun gagal. 6. Pada tahun 1991, Malaysia menempatkan beberapa pasukan Polisi Hutan untuk mengusir seluruh warga negara Indonesia dan meminta pihak Indonesia untuk mencabut klaim atas kedaulatan terhadap pulau Sipadan dan Ligitan. 7. Pada tahun 1997, Indonesia dan Malaysia membuat suatu perjanian yang menyepakati bahwa sengketa ini akan dibawa ke Mahkamah Internasional. 8. Pada tahun 1998, masalah mengenai sengketa kedaulatan terhadap pulau Sipadan dan Ligitan antara Indonesia dan Malaysia dibawa ke Mahkamah Internasional.

Masalah Hukum
Siapakah yang berhak memiliki hak atas kedaulatan terhadap pulau Sipadan dan Ligitan setelah adanya klaim dari masing-masing pihak mengenai kedaulatan terhadap kedua pulau tersebut, apakah Indonesia atau Malaysia?

Putusan Mahkamah Internasional


Pada hari Selasa, tanggal 17 Desember 2002, Mahkamah Internasional memutuskan bahwa Malaysia memiliki hak atas kedaulatan terhadap pulau Sipadan Dan Ligitan.

Dasar Pertimbangan Mahkamah Internasional


Mahkamah menilai bahwa dalam sengketa antara Indonesia dengan Malaysia mengenai kepemilikan pulau Sipadan dan Ligitan, Malaysia dimenangkan atas dasar pertimbangan effectivity, yaitu pemerintah Inggris (penjajah Malaysia) telah melakukan tindakan administratif berupa penerbitan undang-undang mengenai perlindungan satwa burung, pungutan pajak terhadap pengumpulan telur penyu semenjak tahun 1930 dan operasi mercusuar tahun 1960. Malaysia juga telah dianggap telah melakukan effective occupation dan sovereignty exercise

terhadap pulau Sipadan dan Ligitan dengan cara membangun berbagai resort dan objek pariwisata serta menerapkan berbagai aturan-aturan pajak di pulau tersebut.

Analisis Kasus
Dalam kasus ini, Malaysia dimenangkan oleh Mahkamah karena pada dasarnya, jika suatu negara ingin memiliki suatu kedaulatan terhadap suatu wilayah, maka Negara tersebut harus melakukan yang namanya dua hal, yaitu: Effective occupation, Exercise of sovereignty. Indonesia dianggap tidak pernah melakukan dua hal itu terhadap pulau Sipadan dan Ligitan semenjak dari Indonesia dijajah oleh Belanda, hingga sampai Indonesia merdeka dari Belanda. Indonesia baru menyadari bahwa Sipadan dan Ligitan termasuk ke dalam wilayah kedaulatan Indonesia pada saat pertemuan dengan Malaysia mengenai teknis hukum laut. Sementara Malaysia, melalui pemerintahan kolonialnya Inggris, telah memulai menduduki wilayah Sipadan dan Ligitan semenjak tahun 1930 hingga sampai Malaysia merdeka dari Inggris. Perbandingan dengan kasus Island of Palmas 1928, bahwa dahulu Island of Palmas atau Miangas telah diduduki oleh Pemerintahan Kolonial Belanda semenjak 2 abad yang lalu. Walaupun Spanyol (penjajah Filipina) telah menyerahkan daerah jajahannya kepada Amerika Serikat melalui sebuah perjanjian damai. Tetapi Amerika Serikat baru menyadari adanya Miangas semenjak tahun 1927. PCIJ memutus bahwa Island of Palmas diberikan kepada pemerintahan Kolonial Belanda karena adanya penerimaan kedaulatan oleh masyarakat setempat dalam waktu yang lama tanpa adanya keberatan dari penduduk Miangas. Jadi antara Sipadan dan Ligitan dengan Island of Palamas ada suatu kesamaan dalam memiliki sebuah kedaulatan, yaitu adanya effective occupation, dan kedaulatan itu dalam waktu yang lama telah diterima tanpa adanya keberatan dari penduduk di daerah tersebut.

SOVEREIGNTY OF PEDRA BRANCA/ PULAU BATU PUTEH, MIDDLE ROCKS & SOUTH LEDGE, MALAYSIA/ SINGAPORE, 2008

Fakta-Fakta Hukum
1.Pedra Branca atau Pulau Batu Puteh merupakan sebuah pulau kecil yang terletak di perbatasan antara Malaysia dengan Singapura, tepatnya sekitar 24 mil sebelah timur Selat Singapura. Sementara Middle Rocks adalah dua buah pulau karang yang terletak di 0,6 mil selatan Pedra Branca dan South Ledge adalah sebuah dermaga kecil yang terletak 2,1 mil selatan Pedra Branca. 2.Sengketa ini melibatkan pihak Singapura yang pada tanggal 14 Februari 1980 memprotes tindakan Malaysia yang menyatakan bahwa Pulau Batu Puteh merupakan bagian dari kedaulatan teritorial Malaysia. Sementara, Middle Rocks dan South Ledge menjadi sengketa pada tanggal 6 Februari 1993 dan dimasukkan kedalam objek sengketa bersama dengan Pedra Branca sebagai satu kesatuan, namun Singapura tidak memasukkan Middle Rocks dan South Ledge dalam Notification tanggal 14 Februari 1980.

3.Pada tanggal 24 Juli 2003, Malaysia dan Singapura sepakat untuk membawa masalah ini ke ICJ melalui Special Agreement dengan agenda pembahasan kedaulatan antara Malaysia dengan Singapura terhadap Pedra Branca, Middle Rocks, dan South Ledge. 4.Singapura beralasan bahwa Pedra Branca merupakan terra nullius dan memiliki peranan penting dalam lalu lintas pelayaran internasional di Selat Singapura dimana Singapura telah melakukan tindakan effective occupation untuk membuktikan kedaulatannya sejak tahun 1847 hingga 1979 dibuktikan dengan adanya pembangunan mercusuar Horsburgh dan instalasi komunikasi militer di pulau itu dan juga menyatakan bahwa status kedaulatan yang muncul dalam Pulau Batu Puteh juga berlaku sama terhadap Middle Rocks, dan South Ledge. 5.Malaysia tidak pernah melakukan tindakan apapun untuk membuktikan kedaulatannya di Pedra Branca, namun pada tahun 1953, Malaysia mengklaim diri sebagai pemilik Pedra Branca. Malaysia juga beralasan bahwa Pedra Branca dan sekitarnya dahulu merupakan bagian dari Kesultanan Johor sehingga anggapan bahwa Pedra Branca merupakan terra nullius adalah salah. 6.Alasan Malaysia tersebut juga diperkuat dengan Crawfurd Treaty tahun 1874 tentang penyerahan kedaulatan terhadap Pulau Singapura dan sekitarnya dari Kesultanan Johor ke East India Company (Inggris) dimana Pulau Batu Puteh letaknya justru lebih dekat ke Malaysia dibanding Singapura. 7.Malaysia juga menyatakan bahwa mercusuar Horsburgh yang ada di Pedra Branca dibangun oleh East India Company pada tahun 1851 sebagai bagian dari sistem navigasi di Selat Singapura.

Masalah Hukum
Masalah hukum yang kemudian terjadi adalah : 1.Bagaimana putusan ICJ terhadap masalah ini mengingat Singapura telah melakukan tindakan effective occupation terhadap Pedra Branca sejak lama untuk membuktikan kedaulatannya, sedangkan Malaysia menggunakan pendekatan sejarah Kesultanan Johor sebagai pemilik terdahulu dari Pedra Branca?

2.Apakah status hukum dari Pulau Batu Puteh, Middle Rocks, dan South Ledge dapat diklaim secara bersamaan menjadi satu kesatuan atau ketiganya berdiri secara terpisah?

Putusan Mahkamah Internasional


Pada tanggal 23 Mei 2008, Mahkamah Internasional akhirnya memutuskan bahwa Singapura adalah pemilik kedaulatan di Pedra Branca, Middle Rocks menjadi milik Malaysia, dan South Ledge menjadi milik negara yang memiliki laut teritorial tempat South Ledge berada.

Dasar Pertimbangan Mahkamah Internasional


Mahkamah Internasional memutuskan Pedra Branca menjadi miliki Singapura karena Malaysia tidak melakukan tindakan apapun untuk membuktikan kedaulatannya di Pedra Branca meskipun ICJ sependapat dengan argumen Malaysia mengenai latar belakang sejarah kepemilikan Pedra Branca yang merupakan bagian dari Kesultanan Johor dan bukan terra nullius seperti yang dinyatakan oleh Singapura, namun alasan sejarah saja tidak dapat memperkuat argumen Malaysia. Mahkamah juga mengatakan bahwa tindakan effective occupation yang dilakukan oleh Singapura merupakan exercised continous sovereignty over the island untuk membuktikan adanya tindakan untuk memperoleh kedaulatan terhadap wilayah tersebut, sementara Malaysia tidak pernah melakukan tindakan apapun untuk membuktikan kedaulatannya di Pedra Branca.

Analisis Kasus
Menurut kelompok kami, dalam kasus ini Mahkamah Internasional memenangkan pihak Singapura atas kedaulatan di Pedra Branca/ Pulau Batu Puteh karena Singapura melakukan dua tindakan yang yang diperlukan bagi suatu negara untuk memperoleh wilayah secara preskripsi yaitu effective occupation dan exercises continous sovereignty over the island. Dalam kasus ini, pihak Malaysia tidak pernah melakukan kedua tindakan tersebut dalam bentuk apapun walaupun secara historis pendapat Malaysia dapat dibenarkan, namun pendekatan historis saja tidak dapat dijadikan argumen yang kuat dalam masalah hukum internasional,

terutama yang menyangkut kedaulatan teritorial. Kasus ini memiliki kesamaan dengan kasus Island of Palmas tahun 1928 dimana dahulu Island of Palmas atau Miangas telah diduduki oleh Pemerintahan Kolonial Belanda semenjak 2 abad yang lalu. Spanyol sebagai penjajah Filipina telah menyerahkan daerah jajahannya kepada Amerika Serikat melalui sebuah perjanjian damai, namun Amerika Serikat baru menyadari adanya Miangas semenjak tahun 1927. PCIJ kemudian memutus bahwa Island of Palmas diberikan kepada pemerintahan Kolonial Belanda karena adanya penerimaan kedaulatan oleh masyarakat setempat dalam waktu yang lama tanpa adanya keberatan dari penduduk Miangas (preskripsi). Dalam kasus ini, Malaysia baru memasukkan Pedra Branca kedalam wilayah teritorialnya pada tahun 1953 tanpa melakukan effective occupation sebelumnya, sementara Singapura telah melakukan effective occupation atas Pedra Branca sejak tahun 1847 tanpa ada protes dari pihak Malaysia (Kesultanan Johor).

LINGKUNGAN
TRAIL SMELTER ARBITRATION, ARBITRAL TRIBUNAL, 3 R.I.A.A., 1938 & 1941

Fakta-Fakta Hukum
1. Para pihak dari kasus ini adalah Amerika Serikat melawan Kanada pada tahun 1937. 2. Pada tahun 1937, pabrik smelter / biji besi di kota Trail propinsi British Columbia, Kanada, memproduksi asap beracun yang mengandung sulfur dioksida. 3. Cerobong dari pabrik biji besi tersebut sangat tinggi sehingga asap dari aktifitas pabrik yang mengandung sulfur dioksida tersebut terbang ke udara dan sampai ke negara

bagian Washington State di Amerika Serikat. 4. Asap tersebut menimbulkan kerugian di kota Seattle berupa korosi atap rumah, dan berbagai kerugian pada tumbuhan yang ada di kota tersebut, sehingga petani-petani setempat menderita kerugian. 5. Oleh karena kejadian tersebut, Amerika Serikat menggugat Kanada di Permanent Court of Arbitration.

Masalah Hukum
Apakah tindakan yang dilakukan oleh pabrik biji besi yang terletak di kota Trail, Propinsi British Columbia, Kanada tersebut adalah tindakan yang merugikan lingkungan hidup yang bersifat transboundary, sehingga Kanada harus membayar ganti rugi kepada Amerika?

Putusan PCA
Permanent Court of Arbitration memutuskan bahwa Kanada telah merugikan dan mencemari lingkungan hidup Amerika Serikat dan memerintahkan Kanada untuk membayar ganti rugi kepada Amerika Serikat.

Dasar Pertimbangan PCA


1. Berdasarkan prinsip hukum internasional yaitu Good Neighbourlines, tidak ada negara yang boleh melakukan kegiatan yang dapat menimbulkan kerugian di negara lain. 2. Suatu negara bertanggung jawab atas perbuatan penduduk di wilayahnya yang menimbulkan kerugian bagi negara lain. 3. Pemerintah Kanada tidak dapat melepaskan diri dari tanggung jawab dengan alasan bahwa tidak ada hukum yang mengatur mengenai ketinggian cerobong asap dari pabrik biji besi tersebut.

Analisis Dengan Kasus Pembanding


Di dalam wilayah kedaulatannya, negara dapat melakukan kegiatan apa saja dan tidak ada negara lain yang bisa melarang suatu negara untuk melakukan aktifitas di wilayah kedaulatannya tersebut. Akan tetapi pada kasus Trial Smelter Arbitration ini, aktifitas dari Kanada telah menimbulkan dampak yang merugikan bagi Amerika Serikat. Siapapun yang melakukan suatu kegiatan di wilayah kedaulatannya, maka negara tersebut haruslah bertanggung jawab terhadap yang melakukan kegiatan tersebut jika kegiatan tersebut menimbulkan kerugian bagi negara lain. Tanggung jawab negara tersebut dapat pembayaran dari ganti rugi kepada negara yang dirugikan dari perbuatan yang awalnya berasal dari dalam kedaulatan suatu negara. Dalam kasus Trial Smelter Arbitration, Kanada dinyatakan bersalah oleh PCA karena pencemaran udara yang terjadi di wilayahnya menyebabkan kerugian pada Amerika Serikat. Mereka melanggar salah satu prinsip hukum lingkungan yaitu prinsip Good Neighbourlines, bahwa kegiatan yang dilakukan oleh suatu negara tidak boleh menimbulkan dampak yang merugikan bagi negara lain. Dalam kasus US Supreme Court Greenhouse Gas Regulation, US Supreme Court memerintahkan Environmental Protection Agency (EPA) untuk meninjau kembali keputusannya pada kasus Massachusetts V. EPA yang menolak pemberlakuan Greenhouse Gas Emissions From Motor Vehicle Regulation yang faktanya berakibat buruk bagi lingkungan Amerika sendiri dan juga bagi negara-negara lainnya karena dapat menyebabkan perubahan iklim akibat dari menumpuknya karbon dioksida di lapisan ozon bumi. Dalam putusan US Supreme Court dapat dilihat bahwa seharusnya EPA

memberlakukan suatu regulasi yang dapat mengontrol pencemaran udara dari kendaraan bermotor di Amerika sehingga lingkungan Amerika pun menjadi bersih. Akan tetapi Supreme Court juga mempertimbangkan dampaknya bagi negara-negara lain karena jangan sampai EPA tidak mau memberlakukan suatu regulasi yang nantinya berdampak pada dunia internasional akibat dari masalah Amerika sendiri. Hal ini sama dengan prinsip Good Neighbourlines seperti kasus Trial Smelter Arbitration.

LPEZ OSTRA v. SPAIN, 1994

Fakta-Fakta Hukum :
1. Mrs. Georgia Lopez Ostra, seorang kebangsaan Spanyol, beserta suami dan kedua anak perempuannya tinggal di distrik Diputacion del Rio, el Lugarico, Lorca ( murcia ), beberapa ratus meter jaraknya dari pusat kota. Kota Lorcamempunyai konsentrasi yang sangat tinggi terhadap industri kulit. Beberapa industri tersebut dimiliki oleh perusahaan terbatas SACURSA. Perusahaan ini mempunyai sebuah industri, yang dibangun dengan

subsidi pemerintah, untuk mengolah limbah padat dan cair dari industri kulit tersebut di sebuah lahan milik negara yang jaraknya 12 meter jauhnya dari rumah Mrs. Lopez. 2. Industri untuk pengelolaan limbah dari industri kulit tersebut mulai dioperasikan pada Juli 1988 tanpa adanya lisensi dari pejabat yang berwenang seperti yang diharuskan oleh Regulation 6 of the 1961 regulations on activities classified as causing nuisance and being unhealthy, noxious and dangerous ("the 1961 regulations"), dan tanpa adanya prosedur yang seharusnya dijalankan berdasarkan regulasi tersebut. 3. Tak lama setelah industri tersebut dijalankan, industri tersebut mengakibatkan masalah kesehatan dan masalah lainnya yang diakibatkan oleh pengelolaan limbah terebut terhadap banyak penduduk lokal, termasuk keluarga Mrs. Lopez. Hal ini menyebabkan pemerintah harus mengevakuasi penduduk yang tinggal di sekitar pengelolaan limbah tersebut,dan setelah itu ada saran dari pejabat yang berwenang bahwa operasi pengelolaan limbah terseut harus dihentikan. Namun, peneglolaan air limbah yang terkontaminasi dengan chromium tersebut tetap dilanjutkan. 4. Setelah kembali lagi ke rumahnya, Mrs. Lopez dan keluarganya terus mengalami gangguan kesehatan dan kehilangan kesempatan untuk menikmati kualitas hidup yang sehat. Pada tanggal 13 Oktober 1988 Mrs. Lopez mengajukan tuntutan ke the Administrative Division of the Murcia Audiencia Territorial, untuk meminta perlindungan terhadap hak fundamentalnya berdasarkan section 1 of Law 62/1978 of 26 December 1978 on the protection of fundamental rights ("Law 62/1978"). Dia mengajukan komplain, inter alia, atas situasi tidak diinginkan yang melawan hukum yang terjadi rumahnya dan haknya untuk dapat menikmati hidup damai di dalamnya, sebuah pelanggaran terhadaphaknya untuk memilih secara bebas tempat ia ingin tinggal, gangguan terhadap integritas secara fisik dan mental, dan perbuatan melawan haknya yang dijamin secara hukum atas kebebasan dan keamanannya (Articles 15, 17 para. 1, 18 para. 2 and 19 of the Constitution ) mengingat tindakan pasif dari pemerintah yang berwenang dalam menangani gangguan dan resiko yang terjadi dari industripengelolaan sampah tersebut. Mrs. Lopez juga meminta agar pengadilan mengeluarkan putusan untuk menghentikan operasi pengelolaan limbah tersebut baik sementara maupun permanen. 5. Pengadilan memutuskan bahwa Murcia Audiencia Territorial telah menerima bahwa tanpa mengkonstitusikan keresahan resiko kesehatan, gangguan-gangguan pada isu yang merusak kualitas hidup para penduduk yang tinggal di daerah itu, tetapi kerusakan

tersebut belum cukup besar untuk dikatakan melawan hak fundamental seseorang yang dijamin oleh hukum seperti yang diakui oleh Konstitusi. Pengadilan bahkan berpendapat bahwa polusi lingkungan yang sangat jelek dapat mengakibatkan efek pada kehidupan masing-masing individu dan mencegahnya untuk dapat menikmati rumahnya,kehidupan pribadi serta keluarganya, namun tanpa membahayakan kesehatan mereka. 6. Pada tanggal 10 Februari 1989 Mrs.Lopez mengajukan gugatan ke Supreme Court (tribunal Supremo). Dia menekankan bahwa sejumlah saksi dan ahli telah mengindikasikan bahwa industri peneglolaan samapah tersebut adalah sumber dari bau berpolusi, wabah penyakit, bau tidak sedap, dan bunyi bising yang telah mengakibatkan gangguan kesehatan baginya dan kedua putrinya. 7. Pada tanggal 27 Juli 1989 Pengadilan memutuskan untuk tidak mengabulkan gugatan Mrs.Lopez dengan alasan tidak ada public official yang datang ke rumahnya dan mengganggu integrita hidupnya. Walaupun ada gangguan, Mrs. Lopez bebas untuk pindah kemana saja. Kegagalan industri untuk mematuhi lisensi dapat diproses melalui proses peradilan biasa. 8. Pada tanggal 20 Oktober 1989 Mrs Lopez kembali mengajukan gugatan ke Pengadilan Konstitusi, atas dasar telah terjadi pelanggaran terhadap Pasal 15 tentang hak untuk mendapat phisycal integrity, dan pasal 18 (right to private life and to inviolability of the family home) dan Pasal 19 (right to choose freely a place of residence) dari konstitusi, namun gagal lagi. 9. Pada tahun 1990, 2 saudara ipar Mrs. Ostra yang tinggal satu bangunan dengannya, mengajukan keberatan atas pemerintah Lorca dan SACURSA ke Administrative Division of the Murcia High Court (Tribunal Superior de Justicia), meyakinkan bahwa industri pengolahan limbah tersebut telah dioperasikan tidak sesuai hukum. pada tanggal 18 september 1991 Pengadilan memutuskan bahwa kerusakan lingkungan yang terjadi tetap berkelanjutan samapi setelah tanggal 9 september 1988, dan karena indusrti tersebut tidak mempunyai lisensi yang seharusnya dimiliki, maka industri tersebut harus ditutup sampai mendapatkan lisensi yang seharusnya.

Masalah Hukum
Dapatkah kerusakan lingkungan yang berefek pada kehidupan sebuah keluarga yang diakibatkan oleh sebuah industri yang dimiliki pemerintah dimintai pertanggungjawabannya?

Putusan Hakim

Pada tanggal 8 Juli 1992 Pengadilan memutuskan bahwa memang benar telah terjadi pelanggaran terhadap Article 8 tapi bukan terhadap Article 3.

Analisis Kasus
Menurut kami, suatu badan yang bergerak dalam wewenang pemerintah seharusnya menjalankan kegiatannya berdasarkan prosedur yang berlaku, agar jikalau di kemudian hari terjadi sesuatu sengketa lebih mudah untuk menunjuk siapa yang bertanggungjawab atas kerusakan yang terjadi. seperti pada kasus di atas, dimana industri pengolahan limbah yang dibangun dari subsidi pemerintah, namun ternyata tidak memiliki lisensi yang seharusnya dimiliki. Sehingga ketika terjadi pencemaran lingkungan, sangat sulit untuk dimintai pertanggungjawabannya.

U.S. SUPREME COURT GREENHOUSE GAS REGULATION & FOREIGN POLICY CONSIDERATIONS, 2007

Fakta-Fakta Hukum
1. Tahun 1999, 19 organisasi privat mengajukan petisi yang meminta Environmental Protection Agency (EPA) untuk mengatur/membuat peraturan standard 4 senyawa gas rumah kaca yang dipencarkan oleh kendaraan bermotor, yaitu : karbondioksida, metana, nitrogen oksida dan hidroklorokarbon. 2. Pemohon petisi tersebut menyatakan bahwa gas emisi tersebut adalah

pollutant (pencemar) udara yang dapat berbahaya bagi kesehatan dan kesejahteraan masyarakat, dan karena mereka menyebabkan efek terhadap perubahan iklim maka harus dibuat peraturan berdasarkan Pasal 202 (a) (1) Clean Air Act . 3. EPA menolak petisi tersebut dengan alasan mereka tidak mempunyai wewenang untuk membuat peraturan mengenai gas emisi rumah kaca tersebut. 4. 12 Negara bagian, pemerintah lokal dan beberapa asosiasi lingkungan menentang peniolakan EPA dan menuntut mereka di US Court of Appeals for district of Columbia Circuit. 5. Dengan keputusan 2 banding 1 dan 3 pendapat terpisah, Pengadilan memutuskan bahwa memberikan pertimbangan EPA dalam menyangkal petisi tersebut dapat dibenarkan. 6. 26 Juni 2006, Massachusetts dan berbagai asosiasi lingkungan membawa masalah ini ke US supreme court. Dalam tahap ini, penolakan EPA didukung oleh Alliance of Automobile Manufacturers, CO2 Litigation Group, Engine Manufacturers Association, National Automobile Dealers Association, Truck Manufacturers Association, Utility Air Regulatory Group dan 10 negara bagian. 7. 2 April 2007, US supreme court memenangkan Massachusetts dan mengharuskan EPA membuat peraturan emisi gas rumah kaca yang dapat menyebabkan pencemaran udara dan berbahaya bagi kesehatan dan kesejahteraaan mensyarakat berdasarkan Clean Air Act

Permasalahan Hukum
1.Apakah EPA dapat menolak membuat peraturan standar emisi untuk kendaraaan bermotor berdasarkan pertimbangan kebijakan yang tidak diatur dalam Pasal 202 (a) (1) Clean Air Act? 2.Apakah EPA mempunyai kewenangan untuk membuat pengaturan terhadap karbondioksida dan pollutant lainnya berhubungan dengan masalah perubahan iklim yang diatur dalam Pasal 202 (a) (1) Clean Air Act?

Putusan Pengadilan
Pengadilan memutuskan bahwa EPA dapat menolak membuat peratuan emisi gas rumah kaca hanya jika EPA dapat menentukan bahwa gas rumah kaca tersebut tidak menyebabkan perubahan iklim atau jika EPA dapat memberi penjelasan yang layak. Lebih lanjut, Pengadilan menetukan bahwa EPA harus membuat peraturan tertulis mengenai tindakan apa yang harus dilakukan dan tidak boleh dilakukan oleh EPA. Hukum yang ada mengharuskan EPA membuat peraturan mengenai pollutant/pencemar udara yang dapat menyebabkan pencemaran udara dan berbahaya bagi kesehatan dan kesejahteraan publik.

Dasar Pertimbangan Putusan


Pasal 202 (a) (1) Clean Air Act menghendaki EPA untuk mengumumkan/mengeluarkan peraturan mengenai standar minimum emisi kendaraan bermotor yang dapat mencemari udara dan berbahaya bagi kesehatan dan kesejahteraan masyarakat. Clean Air Act mendefinisikan pencemar udara, termasuk berbagai media perantara pencemar udara, berbagai jenis fisik dan unsur kimia yang dipencarkan ke udara. Hakim memutuskan berdasarkan pertimbangannya dan melihat hasil data ilmiah, bahwa karbondioksida dan emisi gas rumah kaca lainnya adalah merupakan pollutant yang dapat menyebabkan pencemaran udara dan berbahaya bagi kesehatan dan kesejahteraan masyarakat. Sehingga mengacu pada ketentuan mengenai tindakan mencegah perubahan iklim dalam Clean Air Act, EPA diharuskan membuat peraturan untuk membatasi emisi gas rumah kaca dan pollutant lainnya yang dipakai dalam kendaraan bermotor.

Analisis Putusan
Dalam kasus ini, EPA menolak petisi pembuatan peraturan yang mengatur emisi gas rumah kaca pada kendaraan bermotor dengan alasan mereka tidak berwenang untuk membuat peraturan tersebut. Mereka berargumen bahwa meskipun mereka berwenang, EPA tidak akan membuat peraturan keras yang bertentangan dengan kebijakan administrasi lain maupun kebijakan berkenaan dengan program pemerintah lainnya. Pada proses pemeriksaan di US supreme court, EPA beranggapan bahwa

kerugian/kerusakan yang disebabkan oleh emisi gas rumah kaca terlalu luas dan tidak cukup spesifik untuk diajukan untuk diperiksa dalam jurisdiksi Federal Court oleh Massachusetts dan perkumpulan asosiasi lingkungan berdasarkan Pasal 3 kostitusi Amerika. Mengenai hal ini, hakim tidak setuju, karena :

1. Massachusetts memiliki posisi khusus dan bertindak atas nama penduduknya. 2. Kerusakan/kerugian yang berhubungan dengan perubahan iklim merupakan masalah serius dan merupakan salah satu tanggungjawab negara diatur dalam hukum internasional. 3. Penolakan EPA untuk membuat peraturan yang meminimumkan emisi karbon dari mobil-mobil baru menyebabkan kerusakan/kerugian di Massachusetts Coastal lands. 4. Efektifitas yang tertunda dari pengaturan tersebut dengan dalih bahwa penyebab terbesar terjadinya perubahan iklim adalah negara-negara berkembang, tidak berarti membenarkan EPA untuk memperlambat/menunda pembuatan peraturan mengenai masalan pemanasan global ini. Pengadilan menemukan bahwa penolakan EPA untuk mengatur emisi gas rumah kaca mengakibatkan resiko yang merugikan Massachusetts secara nyata dan segera terjadi. Pengadilan juga menyimpulkan bahwa dimungkinkan adanya permintaan pembuatan peraturan oleh EPA untuk mengurangi resiko tersebut secara tidak langsung. Berdasarkan pertimbangan tersebut, maka Pengadilan menyatakan bahwa Massachusetts berwenang mengajukan permohonan peninjauan kembali kasus ini oleh US supreme court, sedangkan pemohon lainnya dinyatakan tidak berwenang. Pengadilan juga menemukan bahwa Clean Air Act mendefinisikan pencemar udara (pollutant) termasuk semua senyawa yang terdapat diudara dan dapat menyebabkan perubahan iklim. Pengadilan dengan tegas membatasi pertimbangan EPA untuk menahan peraturan emisi gas rumah kaca berdasarkan Pasal 202 (a) (1). Pengadilan menyatakan bahwa hukum mengharuskan EPA untuk mengatur pencemar udara jika ia berkontribusi menyebabkan pencemaran udara dan dapat membahayakan kesehatan dan kesejahteraan publik. Dari kasus ini, terlihat bahwa suatu hal yang menjadi perhatian masyarakat internasional dapat memaksa suatu negara untuk membuat peraturan yang mengatur masalah tersebut (dalam hal ini adalah masalah lingkungan berkaitan dengan pencemaran udara dari efek rumah kaca yang menyebabkan pemanasan global dan perubahan iklim). Hukum internasional dapat memaksa suatu negara membuat peraturan dalam rangka menjaga lingkungannya dan mengurangi pemanasan global, meskipun peraturan tersebut merugikan atau ditolak oleh warga negaranya, perusahaan-perusahaan yang ada di negara itu maupun oleh pihak-pihak lainnya. Dalam hal ini, semakin terlihat jelas bahwa pada intinya setiap negara mempuyai

tanggungjawab internasional tidak hanya dalam upaya menjaga keamanan dan perdamaian dunia, tetapi juga mengenai masalah lingkungan hidup yang telah menjadi issue global (perhatian masyarakat internasional).

TANGGUNG JAWAB NEGARA


THE BARCELONA TRACTION, LIGHT AND POWER COMPANY CASE

Fakta-Fakta Hukum
Barcelona Traction adalah suatu perusahaan yang mengawasi kegunaan cahaya dan

energi di Spanyol dan disatukan di Toronto. Pada tanggal 12 september 1911 didirikan oleh Frederick Pearson. Tujuan dari perusahaan ini adalah Untuk kepentingan menciptakan dan

mengembangkan suatu produksi tenaga listrik dan distribusi sistem membentuk sejumlah cabang perusahaan di Catalonia ( Spanyol). Perusahaan ini mempunyai beberapa cabang yang sebagian terdaftar resmi di Canada dan sebagian lagi di Spanyol. Perusahaan ini beroperasi di Spanyol tetapi yang menjadi pemegang saham terbesar adalah orang Belgia. Pada tahun 1936 anak cabang perusahaan tersebut menjadi penyuplai utama tenaga listrik di Catalonia, Spanyol. Pada tahun 1960 an pemerintah Spanyol mempersulit urusan bisnis bagi investor asing di Spanyol. Pemegang saham (Orang-orang Belgia) perusahaan listrik di Spanyol tersebut kehilangan uangnya dan ingin melakukan penuntutan ke International Court of Justice (ICJ). Tetapi di Pengadilan, hakim Judge Fornier ternyata berpihak pada Spanyol dan menyatakan bahwa hanya warga negara dari perusahaan tersebut yaitu Canada (Canadian) yang dapat melakukan penuntutan. Menurut Pemerintah Belgia, beberapa tahun setelah perang dunia pertama bagian saham Barcelona Traction menjadi sangat besar yang dikelola kebangsaan Belgia, tetapi Pemerintah Spanyol menentang bahwa pemegang saham kebangsaan Belgia adalah tidak terbukti. Kemudian pemeliharaan (menyangkut) Obligasi Barcelona Traction tertunda karena perang saudara Spanyol. Setelah peperangan itu, pengendalian devisa otoritas Spanyol menolak untuk memberi hak perpindahan dari mata uang asing yang penting bagi penerusan dari pemeliharaan uang sterling obligasi.sesudah itu,ketika Pemerintah Belgia mengeluh tentang ini, Pemerintah Spanyol menyatakan bahwa perpindahan tidak bisa diberi hak kecuali jika

ini akan menunjukkan mata uang asing dapat digunakan untuk membayar kembali hutang timbul dari barang impor modal asing yang asli ke dalam Spanyol dan bahwa ini belum ditetapkan. Di tahun 1948 tiga pemilik Spanyol dari Barcelona Traction memperoleh obligasi uang sterling dan mengajukan petisi ke pengadilan ( Provinsi Tarragona) untuk suatu deklarasi memvonis perusahaan bangkrut, oleh karena kegagalan untuk membayar bunga pada obligasi itu. Pada tanggal 12 Februari 1948, suatu keputusan diberikan dan mengumumkan perusahaan yang bangkrut dan memerintahkan perampasan dari aset Barcelona Traction dan juga dua cabang perusahaannya. Patuh pada putusan Ini personil manajemen utama dari dua perusahaan dipecat atau dibubarkan dan para direktur Spanyol ditetapkan. Pemerintah Belgia menentang karena penerbitan dan pemberitahuan tidak mematuhi relevan ketentuan hukum dan batas waktu delapan hari itu tidak pernah dimulai. Kepemimpinan Spanyol di tahun 1960 membuat bisnis lebih sulit untuk orang asing di Spanyol. Pemegang saham Belgia kehilangan uang dan ingin menggugat di Mahkamah internasional, tetapi pengadilan berpihak pada sisi Spanyol, memegang bahwa hanya kebangsaan dari perusahaan (Kanada) yang dapat menggugat. Kasus Negeri Belgia vs. Spanyol diputuskan di tahun 1970. Klaim yang diajukan pada tanggal 19 Juni 1962, muncul dari putusan hakim mengenai kebangkrutan di Spanyol yaitu Barcelona Traction, suatu perusahaan yang bekerjasama dengan Kanada. Obyek nya akan mencari perbaikan untuk kemungkinan kerusakan yang dituduh oleh Negara Belgia untuk ditopang oleh pemegang saham kebangsaan Belgia di perusahaan, sebagai hasil tindakan dikatakan bertentangan dengan hukum internasional dilakukan ke perusahaan dari negara Spanyol.

Masalah Hukum
Masalah hukum yang terjadi dalam kasus ini adalah apakah Belgia berhak mengajukan

tuntutan atas kerugian yang diderita oleh Warga negaranya di Negara Spanyol?

Putusan Mahkamah
Pengadilan memandang pada jumlah yang agung pada bukti dalam bentuk dokumen, yang disampaikan oleh parties dan secara penuh menghargai pentingnya permasalahan yang diangkat dari undang-undang yang mana adalah akar dari klaim Belgia dan terkait pengingkaran terhadap keadilan menurut dugaan orang yang dilakukan oleh bagian dari negara Spanyol itu.Bagaimanapun, pemilikan oleh Pemerintah Belgia dari suatu hak perlindungan adalah suatu syarat mutlak untuk pengujian permasalahan seperti itu semenjak tidak ada jus standi sebelum pengadilan menetapkan.

Dasar Pertimbangan Mahkamah


Yang menjadi dasar pertimbangan Mahkamah dalam putusannya adalah : 1. Apabila penanaman modal itu menjadi bagian dari sumber-sumber daya ekonomi nasional suatu negara dan hal yang merugikan terhadap penanaman modal ini membawa akibat yang bertentangan terhadap hak-hak negara tersebut untuk memungkinkan para warga negaranya menikmati beberapa standar perlakuan tertentu, maka negara yang bersangkutan dapat mengajukan klaim karena pelanggaran hukum internasional yang dilakukan terhadapnya. Suatu klaim yang memiliki sifat demikian harus didasarkan atas traktat atau perjanjian khusus, yang mana hal ini tidak ada diantara Belgia dan Spanyol. 2. Karena alasan-alasan keadilan (equity), suatu negara akan memiliki hak dalam beberapa kasus untuk melakukan perlindungan terhadap warga negaranya yang menjadi pemegang saham-saham dalam suatu perusahaan, yang menjadi korban pelanggaran hukum internasional. Suatu alasan pembenar bagi keadilan yang dikemukakan, itu akan membuka pintu bagi klaim-klaim yang bersaing di pihak negara-

negara yang berbeda, yang dengan itu menciptakan ketiadaan jaminan dalam hubungan-hubungan ekonomi internasional. Pengaruh yang menguntungkan dari keputusan Mahkamah tersebut selanjutnya adalah bahwa pengadilan internasional mesti segan untuk menebus selubung perusahaan dengan maksud untuk memperbolehkan suatu negara selain negara kebangsaan perusahaan mengupayakan ganti rugi karena suatu kesalahan internasional telah dilakukan terhadap perusahaan tersebut, maka, pengadilan menolak klaim Pemerintah Belgia oleh 15 suara menjadi 1, 12 suara mayoritas yang didasarkan pada pertimbangan diperkenalkan di atas.

Analisis Kasus
Kasus ini memiliki peranan penting dalam perkembangan hukum internasional mengenai tanggung jawab negara karena memperlihatkan adanya konsep perlindungan diplomatik dibawah hukum internasional dapat diterapkan tidak hanya pada individual tetapi juga pada korporasi dan juga memperluas kewajiban Erga Omnes yang terdapat dalam masyarakat internasional. Perusahaan atau individu mengatasnamakan negara berhak mengajukan tuntutan internasional terutama warga negaranya dan dapat pula meliputi subjeksubjek yang dilindungi, seperti orang-orang yang ditempatkan dibawah perlindungan diplomatik negara itu, dan orang-orang asing yang telah memenuhi hampir semua persyaratan naturalisasi Dalam sejumlah kasus pengadilan arbitrase internasional telah menerapkan kaidah bahwa orang yang dirugikan harus memiliki kebangsaan dari negara yang mengajukan klaim atau status lain yang diakui pada saat kerugian tersebut diderita dan harus mempertahankan status tersebut sampai saat klaim itu diputus, tetapi persyaratan-persyaratan dan perbaikanperbaikan lain dalam kaitan kebangsaan pihak yang dirugikan juga telah diterapkan oleh arbitorarbitor lain. Jika pihak yang dirugikan itu adalah suatu perusahaan atau korporasi, maka masalah itu juga diatur oleh norma nasionalitas dari tuntutan hanya negara yang menjadi kebangsaannya yang berhak mendukung klaim perusahaan atau korporasi itu.

CORFU CHANNEL CASE, ICJ REPORTS, 1949

Fakta-Fakta Hukum
1.Pihak yang bersengketa adalah antara Inggris dengan Albania. 2.Sengketa yang terjadi adalah tentang rusaknya kapal perang Inggris Saumarez dan Volage dimana kedua kapal perang Inggris tersebut terkena ranjau-ranjau laut yang disebar di sepanjang Selat Corfu oleh Albania ketika kapal-kapal tersebut melewatinya sehingga kapal-kapal tersebut tenggelam. 3.Kasus ini terjadi di Selat Corfu yang merupakan laut teritorial Albania. 4.Inggris kemudian melakukan protes kepada Albania dan menuntut Albania mengganti kerugian yang diderita Inggris akibat tenggelamnya kedua kapal tersebut. 5.Albania menolak gugatan Inggris dengan alasan wilayah Selat Corfu merupakan laut teritorial Albania sehingga Inggris dianggap telah melanggar kedaulatan teritorial Albania dengan mengirim kapal perangnya ke selat tersebut. 6.Inggris dan Albania kemudian sepakat untuk membawa masalah ini ke ICJ pada tahun 1949.

Masalah Hukum
Masalah hukum yang kemudian terjadi dalam kasus ini adalah apakah Albania diharuskan menurut hukum internasional untuk bertanggung jawab atas kerugian yang diderita oleh kapal asing yang melewati perairan teritorialnya?

Putusan Mahkamah Internasional


Mahkamah Internasional pada tahun 1949 kemudian memutuskan mengabulkan gugatan Inggris dan menyatakan bahwa Albania bersalah telah menyebarkan ranjau-ranjau laut sisa Perang Dunia II di Selat Corfu dan tidak memberitahukan sebelumnya kepada kapal-kapal asing yang akan melewati selat tersebut dimana selat tersebut termasuk selat internasional sehingga menyebabkan tenggelamnya dua kapal perang Inggris.

Dasar Pertimbangan Mahkamah Internasional


Dasar pertimbangan Mahkamah Internasional dalam mengeluarkan putusannya adalah bahwa kerusakan, kerugian serta meninggalnya beberapa awak kapal Inggris ketika melintasi selat tersebut disebabkan karena kelalaian yang nyata pemerintah Albania yang tidak memberitahukan adanya ranjau-ranjau laut di sepanjang perairannya. Oleh karena itu, Albania harus bertanggung jawab atas terjadinya insiden tersebut. Pendapat Mahkamah tersebut berbunyi: These grave omissions involve the international responsibility of Albania. The court therefore reaches the conclusion that Albania is responsible under international law fro the damage and loss of human life which resulted from, and that there is a duty upon Albania to pay compensation to the United Kingdom. Putusan Mahkamah Internasional ini kemudian melahirkan suatu prinsip tanggung jawab negara dimana suatu negara (Albania) yang mengetahui adanya ranjau di perairan teritorialnya (di Selat Corfu) berkewajiban untuk memberitahukan dan mengingatkan kapal-kapal yang lewat. Apabila kewajiban ini tidak dilaksanakan dan mengakibatkan kerugian terhadap kapal asing, maka negara yang bersangkutan wajib mengganti kerugian terhadap akibat yang ditimbulkannya. Dalam kaitannya dengan hubungan bertetangga antar negara, prinsip yang lahir yaitu bahwa sudah menjadi prinsip hukum internasional yang diakui umum bahwa setiap negara berkewajiban untuk tidak membiarkan wilayahnya digunakan untuk tindakan-tindakan yang mengganggu hak negara lainnya (not to allow knowingly its territory to be used for acts contrary to the rights of other states).

Analisis Kasus
Menurut kelompok kami, dalam kasus ini putusan Mahkamah sudah tepat dimana

Albania berdasarkan prinsip tanggung jawab mutlak (strict liability) dimana tanggung jawab negara adalah selalu mutlak (strict); manakala suatu pejabat atau agen negara telah melakukan tindakan yang merugikan orang (asing) lain, maka negara bertanggung jawab menurut hukum internasional tanpa dibuktikan apakah tindakan tersebut terdapat unsur kesalahan atau kelalaian, bertanggung jawab atas tenggelamnya dua kapal perang Inggris akibat ranjau laut yang ditebarkan pihak Albania di Selat Corfu tanpa perlu dibuktikan kesalahannya.

LA GRAND CASE, GERMANY v. USA., ICJ REPORTS., 2001


Fakta Hukum
Para pihak dalam kasus ini adalah Jerman dan Amerika Serikat. Karl dan Walter LaGrand merupakan warga negara Jerman yang menetap di Amerika Serikat sejak kecil. Pada 1982 mereka ditangkap di Arizona karena terlibat dalam perampokan bank dan pembunuhan. Pada 1984 pengadilan Arizona menyatakan mereka bersalah atas pembunuhan dan serangkaian kejahatan lainnya, dan menjatuhkan hukuman mati pada keduanya. Karena Karl dan Walter LaGrand merupakan warga negara Jerman maka sesuai Konvensi Wina mengenai Hubungan Konsuler pejabat berwenang AS wajib memberitahukan tanpa menunda, hak LaGrand bersaudara untuk berkomunikasi dengan konsulat Jerman. Pihak AS menyadari hal ini namun tidak melaksanakan kewajibannya tersebut. Konsulat Jerman baru mengetahui kasus ini pada 1992 dari LaGrand bersaudara sendiri yang menyadari hak mereka dari pihak lain selain pejabat AS. LaGrand bersaudara berusaha untuk mengajukan upaya hukum terhadap putusan mati mereka atas dasar pelanggaran terhadap hak mereka yang dilindungi oleh Konvensi Wina. Namun usaha tersebut terhadalang oleh doktrin procedural default dalam sistem hukum AS. Karl LaGrand dieksekusi pada 24 Februari 1999. Pada 2 Maret 1999, sehari sebelum jadwal eksekusi terhadap Walter LaGrand, Jerman mengajukan kasus ini ke Mahkamah Internasional. Pada 3 Maret 1999 Mahkamah mengeluarkan perintah agar AS melakukan segala upaya yang dimungkinkan untuk menunda pelaksanaan eksekusi terhadap Walter LaGrand hingga Mahkamah mengeluarkan putusan terhadap kasus ini. Akan tetapi pada hari yang sama Walter

tetap dieksekusi.

Permasalahan Hukum
Ada beberapa permasalahan hukum yang diajukan oleh Jerman kepada Mahkamah: Bahwa AS telah melanggar kewajiban internasionalnya kepada Jerman dalam hal hak negara Jerman dan hak perlindungan diplomatik kepada warga negara Jerman sesuai pasal 5 dan 36 ayat 1 Konvensi Wina mengenai Hubungan Konsuler. Bahwa AS dengan menerapkan hukum domestiknya, khususnya doktrin procedural default, telah melanggar kewajiban internasionalnya kepada Jerman. Bahwa AS telah melanggar kewajibannya untuk menaati perintah Mahkamah dengan kegagalannya melakukan tindakan-tindakan tertentu yang diperlukan untuk memastikan penundaan eksekusi Karl LaGrand. Bahwa AS harus memberikan jaminan kepada Jerman bahwa AS tidak akan mengulangi tindakan melawan hukumnya tersebut, dan apabila di kemudian hari ada penahanan atau proses hukum terhadap warga negara Jerman, AS akan menjamin pelaksanaan hak dalam pasal 36 Konvensi Wina tentang Hubungan Konsuler.

Putusan Mahkamah
Dengan suara 14 berbanding 1, Mahkamah menyatakan bahwa dengan tidak memberitahukan kepada Walter dan Karl LaGrand seketika saat penangkapan mereka mengenai hak mereka dalam pasal 36 ayat 1 (b) Konvensi Wina tentang Hubungan Konsuler, dan karena itu menyebabkan Jerman tidak dapat memberikan bantuan kepada mereka sesuai Konvensi, AS telah melanggar kewajibannya kepada Jerman dan LaGrand bersaudara dalam Konvensi Wina pasal 36 ayat 1. Dengan suara 14 berbanding 1, Mahkamah menyatakan bahwa dengan menolak peninjauan dan pertimbangan kembali, berdasarkan hak dalam Konvensi, terhadap tuntutan dan putusan yang dijatuhkan kepada LaGrand bersaudara AS telah melanggar kewajibannya kepada Jerman dan LaGrand bersaudara dalam pasal 36 ayat 2 Konvensi Wina. Dengan suara 13 berbanding 2, Mahkamah menyatakan bahwa dengan kegagalannya mengambil tindakan untuk memastikan Walter LaGrand tidak dieksekusi hingga didapatkan putusan final dari Mahkamah mengenai kasus ini, AS telah melanggar kewajibannya untuk menaati perintah Mahkamah (court order).

Dengan suara bulat, Mahkamah menyatakan bahwa komitmen AS untuk menjamin implementasi tindakan-tindakan yang spesifik dalam rangka menaati kewajibannya dalam pasal 36 ayat 1 (b) Konvensi Wina, telah memenuhi permintaan Jerman untuk suatu jaminan tidak terulangnya kejadian ini.

Dengan suara 14 berbanding 1, Mahkamah menyatakan bahwa apabila warga negara Jerman dijatuhi hukuman berat, tanpa ada pemberitahuan kepada warga negara tersebut mengenai haknya dalam Konvensi Wina, maka AS dengan cara yang dipilihnya harus mengizinkan dilakukannya peninjauan dan pertimbangan kembali atas tuntutan dan putusan yang dijatuhkan secara melanggar hak yang tercantum dalam Konvensi Wina.

Dasar Pertimbangan Putusan


Mahkamah berpendapat bahwa pelanggaran terhadap ayat 1 (b) dari pasal 36 Konvensi Wina tidak harus selalu menyebabkan pelanggaran terhadap ketentuan lainnya dalam pasal ini. Akan tetapi dalam kasus ini, pelanggaran AS terhadap ketentuan ayat 1 (b) ternyata berakibat pada pelanggaran terhadap ketentuan ayat 1 (a) dan (c). Ayat 1 pasal 36 tersebut memuat ketentuan yang menjadi dasar implementasi sistem perlindungan konsuler. Apabila suatu negara tidak mengetahui ada warga negaranya yang menjalani proses hukum karena tidak diberitahukan oleh negara penerima maka negara pengirim tidak dapat melaksanakan haknya sesuai pasal 36. Kemudian Mahkamah memeriksa argumen para pihak mengenai hak yang timbul dari ketentuan pasal 36. Jerman menyatakan bahwa pelanggaran terhadap ketentuan tersebut mengakibatkan pelanggaran terhadap hak invividu LaGrand bersaudara. Sementara AS menyatakan bahwa hak pemberitahuan dan akses kepada pejabat konsuler adalah hak negara dan bukan hak individu. Berdasarkan teks pasal 36 ayat 1 Mahkamah berpendapat bahwa ketentuan pasal tersebut menciptakan suatu hak individu yang dapat diterapkan oleh negara asal warga negara yang ditahan. Hak-hak ini telah dilanggar dalam kasus ini. Mahkamah mengutip pasal 36 ayat 2 yang menyatakan bahwa hak yang tercantum dalam ayat 1 harus dilaksanakan sesuai dengan ketentuan hukum nasional dari negara penerima. Mahkamah tidak dapat menerima argumen AS bahwa ketentuan ayat 2 tersebut hanya berlaku untuk hak negara dan tidak untuk hak individu (warga negara pengirim yang ditahan). Sebagaimana telah disebutkan

bahwa ketentuan ayat 1 menciptakan pula suatu hak individu maka ketentuan dalam ayat 2 tidak hanya berlaku untuk hak negara tetapi juga hak individu. Mahkamah menyatakan bahwa ketentuan procedural default yang diterapkan di AS itu sendiri tidak bertentangan dengan pasal 36 Konvensi Wina. Akan tetapi masalah muncul ketika ketentuan tersebut menghalangi warga negara yang ditahan untuk mengajukan upaya hukum terhadap putusan tersebut atas dasar pelanggaran haknya dalam Konvensi Wina. Mahkamah menyimpulkan bahwa dengan keadaan-keadaan yang mengiringi terjadinya kasus ini menyebabkan doktrin procedural default memberikan efek yang menghalangi pelaksanaan hakhak yang terkandung dalam pasal 36. Oleh karena itu maka ketentuan ayat 2 dari pasal 36 telah dilanggar. Mahkamah kemudian memeriksa masalah lainnya dalam kasus ini mengenai perintah yang dikeluarkan oleh Mahkamah pada 3 Maret 1999 yang memerintahkan kepada AS untuk menunda pelaksanaan eksekusi Karl LaGrand hingga Mahkamah mengeluarkan putusan akhir. Untuk mengetahui apakah AS memang telah melanggar perintah Mahkamah, maka perlu diketahui terlebih dahulu apakah perintah Mahkamah tersebut memang memiliki kekuatan mengikat? Dalam hal ini Mahkamah melihat persoalan utamanya adalah mengenai interpretasi terhadap pasal 41 Statuta Mahkamah Internasional. Inti dari pasal tersebut adalah Mahkamah memiliki kewenangan untuk menetapkan tindakan-tindakan tertentu yang harus diambil suatu pihak untuk melindungi hak dari pihak lainnya yang berperkara. Tindakan tertentu tersebut ditetapkan melalui suatu perintah Mahkamah. Menurut AS bahasa yang digunakan dalam pasal tersebut tidak menandakan adanya suatu kewajiban yang terkandung di dalamnya. Artinya, court order yang dikeluarkan oleh Mahkamah, menurut AS tidak memiliki kekuatan mengikat. Mahkamah kemudian meninjau bahasa yang digunakan dalam pasal tersebut, baik versi bahasa Inggris maupun Prancisnya. Mahkamah menemukan bahwa istilah yang digunakan dalam kedua versi bahasa tersebut memiliki konotasi yang berbeda dalam masing-masing bahasa. Versi bahasa Inggris tidak menunjukkan adanya suatu keharusan sedangkan versi bahasa Prancis menunjukkan adanya suatu keharusan. Karena kedua versi bahasa ini tidak mengandung keselarasan makna, maka Mahkamah merujuk pada pasal 92 Statuta Mahkamah Internasional dan pasal 111 Piagam PBB.

Dalam pasal 92 Statuta disebutkan bahwa Statuta merupakan bagian kesatuan dari Piagam PBB. Kemudian dalam Piagam disebutkan bahwa naskah versi bahasa Inggris dan Prancis adalah sama dan memiliki kekuatan yang setara (equally authentic). Hal ini berlaku pula untuk naskah Statuta. oleh karena kedua versi bahasa memiliki kekuatan yang sama namun tidak menunjukkan kesamaan makna, maka kemudian Mahkamah merujuk pada pasal 33 ayat 4 Konvensi Wina mengenai Hukum Perjanjian Internasional. Berdasarkan ketentuan pasal ini apabila perbandingan naskah otentik menunjukkan adanya perbedaan makna padahal naskah otentik tersebut memiliki kekuatan yang sama, maka untuk menafsirkan maknanya perlu dilihat tujuan dan keperluan dari perjanjian yang bersangkutan.

Fungsi dari Statuta adalah memungkinkan Mahkamah menjalankan fungsinya dalam melakukan penyelesaian sengketa internasional secara hukum. Oleh karena itu putusan yang dihasilkan oleh Mahkamah haruslah memiliki suatu kekuatan mengikat. Mahkamah melihat bahwa pengertian putusan tidak hanya mencakup putusan akhir tetapi juga perintah-perintah yang dikeluarkan Mahkamah mengenai tindakan tertentu yang harus diambil para pihak. Sehingga perintah Mahkamah tersebut memiliki kekuatan mengikat. Kemudian setelah melihat tindakan-tindakan yang telah dilakukan pejabat berwenang AS, Mahkamah menilai pejabat AS telah gagal menjalankan perintah Mahkamah pada 3 Maret 1999. Akan tetapi Mahkamah juga tidak mengesampingkan fakta bahwa AS hanya memiliki waktu yang sangat singkat antara dikeluarkannya perintah penundaan eksekusi dengan jadwal pelaksanaan eksekusi yang telah ditetapkan.

Mahkamah melihat bahwa AS telah mengakui adanya pelanggaran terhadap kewajiban internasionalnya. Oleh karena itu AS meminta maaf dan menyatakan komitmennya melakukan tindakan dan program tertentu untuk mencegah terulangnya pelanggaran yang sama. Akan tetapi Mahkamah berpendapat bahwa dalam kasus ini, di mana warga negara yang bersangkutan telah menjalani masa penahanan yang cukup lama dan menghadapi hukuman yang berat, maka permintaan maaf saja tidak cukup. Dalam keadaan seperti itu maka adalah kewajiban AS untuk mengizinkan dilakukannya peninjauan dan pertimbangan kembali terhadap tuntutan dan putusan tersebut dengan memperhatikan ketentuan dalam Konvensi Wina. Kewajiban ini dapat dilakukan dengan berbagai cara, yang ditentukan sendiri oleh AS.

Analisis Putusan
Dalam Konvensi Wina tentang Hubungan Konsuler dikenal istilah negara pengirim (Sending State) dan negara penerima (Receiving State). Negara pengirim adalah negara asal pejabat konsuler. Dalam kasus ini negara pengirim adalah Jerman. Sedangkan negara penerima adalah negara tempat kedudukan pejabat konsuler tersebut. Dalam kasus ini sebagai negara penerima adalah AS.

PERJANJIAN INTERNASIONAL

NUCLEAR TEST CASE, ICJ REPORTS, 1974 ( AUSTRALIA v. FRANCE; NEW ZEALAND v. FRANCE)
Fakta Hukum
1. Para pihak dalam kasus ini adalah Australia, Selandia Baru dan Prancis. Australia dan Selandia Baru secara terpisah keduanya menggugat Prancis. 2. Pada 1966, 1967, 1968, 1970, 1971, dan 1972. Prancis melakukan serangkaian uji coba nuklirnya di wilayah French Polynesia tepatnya di Muruora. Wilayah ini berada di bawah kekuasaan Prancis. Mururoa terletak di 6000 kilometer sebelah barat daratan Australia,

2500 mil laut dari titik terdekat North Island, Selandia Baru, dan 1050 mil laut dari titik terdekat di Cook Island, negara yang berasosiasi dengan Selandia Baru. 3. Pemerintah Prancis telah membuat Prohibited Zones untuk pesawat dan Dangerous Zones untuk pesawat dan kapal, agar tidak ada pesawat dan kapal yang memasuki area uji coba. Zona ini mulai diberlakukan selama periode uji coba setiap tahun dilakukannya uji coba nuklir tersebut. 4. Dalam laporan UN Scientific Committee on the Effects of Atomic Radiation kepada Majelis Umum PBB, uji coba nuklir di permukaan telah menyebabkan polusi radioaktif menyebar. Menurut Australia dan Selandia Baru, uji coba tersebut telah menyebabkan polusi radioaktif yang mencemari wilayah mereka. Prancis menyatakan meskipun polusi tersebut memang ada, namun tidak dalam tingkat yang menimbulkan gangguan kesehatan. 5. Pada 9 Mei 1973 Australia dan Selandia Baru secara terpisah mengajukan gugatan kepada Mahkamah Internasional. Mereka sama-sama menggugat Prancis. Pada 9 Mei 1973 Australia mengajukan permintaan agar Mahkamah mengeluarkan perintah interim protection measures agar Prancis menghentikan segala aktivitas uji coba nuklirnya hingga kasus ini mendapat putusan. Selandia Baru pada tanggal 14 Mei 1973 mengajukan permintaan yang sama kepada Mahkamah. Pada 22 Mei 1973 Mahkamah mengeluarkan perintah interim measures of protection yang diminta oleh Australia dan Selandia Baru. 6. Pihak Prancis tidak ikut serta dan tidak mengirimkan perwakilannya selama proses persidangan. Pada 16 Mei 1973 Prancis mengirimkan surat yang isinya menolak jurisdiksi Mahkamah dalam kasus ini. 7. Pada 19 September 1973, 29 Agustus 1974 dan 11 November 1974 pemerintah Australia melalui suratnya menginformasikan kepada Mahkamah bahwa Prancis kembali melakukan dua rangkaian kegiatan uji coba nuklir pada juli hingga Agustus 1973 dan Juni hingga September 1974. Dalam surat itu juga disebutkan bahwa sejumlah jatuhan radioaktif (radioactive fall-out) ditemukan di daratan Australia dan dapat dipastikan bahwa jatuhan tersebut bersumber dari uji coba nuklir Prancis. Pada 21 September 1973 dan 1 November 1974 Selandia Baru mengirimkan surat kepada Mahkamah yang isinya hampir serupa dengan surat dari Australia. 8. Dalam suratnya masing-masing Australia dan Selandia Baru sama-sama menyatakan bahwa tindakan Prancis tersebut merupakan pelanggaran terdapat perintah Mahkamah (Court Order) tanggal 22 Juni 1973. 9. Pemerintah Prancis kemudian mengeluarkan beberapa pernyataan terkait kelanjutan kegiatan uji coba nuklir Prancis di kawasan Pasifik Selatan.

Permasalahan Hukum
Australia mengajukan permasalahan sebagai berikut: 1. Bahwa uji coba yang telah dan akan dilakukan oleh Prancis di Pasifik Selatan tidak sesuai dengan hukum internasional 2. Memerintahkan agar Prancis menghentikan uji coba nuklirnya. Selandia Baru mengajukan permasalahan sebagai berikut: 1. Bahwa tindakan uji coba nuklir yang dilakukan Prancis di kawasan Pasifik Selatan yang mengakibatkan polusi radioaktif telah melanggar hak Selandia Baru menurut hukum internasional, dan hak-hak ini akan dilanggar jika dilakukan uji coba lainnya.

Putusan Mahkamah
1. Dengan suara 9 berbanding 1 Mahkamah menyatakan bahwa klaim Australia sudah tidak memiliki objeknya dan karena itu Mahkamah tidak dapat memutus klaim tersebut. 2. Dengan suara 9 berbanding 1 Mahkamah menyatakan bahwa klaim Selandia Baru sudah tidak memiliki objeknya dan karena itu Mahkamah tidak dapat memutus klaim tersebut.

Dasar Pertimbangan Putusan Mahkamah


1. Suatu deklarasi yang dibuat melalui suatu tindakan unilateral mengenai suatu situasi legal atau faktual, dapat menimbulkan kewajiban hukum. Deklarasi semacam ini biasanya bersifat spesifik. Ketika suatu negara membuat pernyataan dengan maksud agar pernyataan tersebut bersifat mengikat, maka niat tersebut menjadikan pernyataan itu sebagai suatu tindakan hukum. Negara pembuat deklarasi tersebut kemudian menjadi terikat untuk melakukan tindakannya sesuai pernyataannya. Tindakan seperti ini, apabila dinyatakan di depan publik dan dengan maksud untuk mengikat, meskipun tidak dibuat melalui suatu negosiasi internasional, maka tindakan (pernyataan) tersebut menjadi mengikat. Dalam situasi seperti ini, tidak diperlukan suatu penerimaan, jawaban atau reaksi dari negara lain terhadap deklarasi. 2. Mengenai pernyataan resmi dari pemerintah Prancis yang salah satunya diberikan oleh Presiden Prancis, jelas bahwa pernyataan tersebut merupakan suatu bentuk komunikasi atau pernyataan publik, baik lisan maupun tertulis, yang dibuat dalam kapasitasnya sebagai kepala negara dalam konteks hubungan internasional. Oleh karena itu apapun bentuk pernyataan yang dikeluarkan pemerintah Prancis, pernyataan-pernyataan tersebut dianggap sebagai menimbulkan suatu ikatan terhadap negara. Terutama mengingat maksud dan

keadaan-keadaan yang menyertai pembuatan pernyataan tersebut. 3. Ketika Prancis menyatakan bahwa uji coba nuklirnya pada tahun 1974 akan menjadi yang terakhir, maka pada saat itu Prancis mengumunkan kepada seluruh dunia, termasuk Australia dan Selandia Baru, niatnya untuk menghentikan kegiatan uji coba nuklirnya. Dapat diduga bahwa kemungkinan negara-negara lain memperhatikan dan berharap pernyataan tersebut akan dilaksanakan secara efektif. Kebenaran pernyataan ini dan konsekuensi hukum yang timbul darinya harus dipertimbangkan dalam kerangka hubungan keamanan internasional dan dalam hal ini kepercayaan antar negara menjadi hal yang penting. 4. Dari substansi dan keadaan yang menyertai pernyataan tersebut, maka hal yang penting untuk diketahui adalah implikasi hukum dari pernyataan tersebut. Tujuan pembuatan pernyataan ini sudah jelas dan pernyataan ini ditujukan pada seluruh masyarakat dunia. Hal ini menurut Mahkamah menimbulkan suatu akibat hukum dari pernyataan tersebut. 5. Mahkamah berpendapat bahwa tindakan unilateral, sebagai hasil dari pernyataan, tersebut tidak bisa ditafsirkan sebagai telah dibuat dalam kepercayaan implisit terhadap sikap yang berubah-ubah karena pertimbangan tertentu. Mahkamah juga berpendapat bahwa Prancis telah menyepakati kewajiban yang timbul dari pernyataan yang dibuatnya.

Analisis Putusan
1. Tidak semua tindakan unilateral menimbulkan kewajiban pada suatu negara tetapi suatu negara dapat memilih apakah akan terikat atau mengabaikan tindakan tersebut. Niat ini tergantung dari penafsiran negara yang bersangkutan terhadap tindakan tersebut. Ketika negara membuat pernyataan yang dapat membatasi tindakan negara dalam hal tertentu, maka penafsiran dilakukan secara restriktif. 2. Apakah suatu pernyataan dibuat secara lisan atau tertulis, hal ini tidak memiliki perbedaan yang esensial. Pernyataan yang dibuat dalam keadaan-keadaan demikian dapat menimbulkan komitmen dalam hukum internasional meskipun tidak dibuat dalam bentuk tertulis. 3. Salah satu prinsip dasar mengenai pembuatan dan pelaksanaan kewajiban hukum, apapun sumbernya adalah prinsip itikad baik. Kepercayaan sangat penting dalam hubungan internasional khususnya pada masa sekarang di mana kerja sama internasional menjadi sangat esensial. Sama halnya seperti asas pacta sund servanda dalam hukum perjanjian internasional yang berdasarkan pada itikad baik, begitu juga dengan kekuatan mengikat dari kewajiban internasional yang timbul dari deklarasi unilateral. Negara-negara yang berkepentingan mungkin saja memperhatikan deklarasi unilateral tersebut dan menaruh

kepercayaan padanya dan berhak menuntut agar kewajiban yang timbul dari deklarasi tersebut dipenuhi oleh negara yang mendeklaraikannya. 4. Perjanjian internasional yang tidak tertulis dapat berupa pernyataan sepihak yang dikemukakan oleh pejabat atau organ pemerintahan negara yang bersangkutan. Kemudian pernyataan itu ditanggapi secara positif oleh pejabat-pejabat atau organ pemerintah dari negara lain yang berkepentingan sebagai tanda persetujuannya. Dengan demikian maka dapat disimpulkan sudah ada persetujuan atau perjanjian lisan atau tidak tertulis antara para pihak yang bersangkutan. Bentuk perjanjian ini memang dapat mengurangi kepastian hukum bagi para pihak namun tidak mengurangi kekuatan mengikatnya sebagai perjanjian internasional. 5. Berdasarkan putusan Mahkamah tersebut maka ada dua hal yang harus dipenuhi agar suatu tindakan unilateral dapat memiliki kekuatan mengikat secara hukum yaitu deklarasi tersebut harus diumumkan kepada publik dan dibuat dengan maksud untuk mengikat.

GABCIKOVO-NAGYMAROS PROJECTS, ICJ REPORTS, 1997

Fakta-Fakta Hukum
1.Pihak yang terlibat dalam kasus ini adalah antara Hongaria dengan Slovakia. 2.Pada tahun 1977, Pemerintah Hongaria dan Cekoslovakia mengadakan perjanjian pembangunan dan operasi bendungan sungai Danube untuk kepentingan pembangkit listrik, proyek pengendalian banjir, dan untuk kepentingan pelayaran dimana proyek ini nantinya diharapkan dapat meningkatkan berbagai sektor kehidupan dari kedua negara seperti sektor ekonomi, pertanian, dan sebagainya. 3.Perjanjian tersebut ditandatangani oleh Hongaria dan Cekoslowakia pada tanggal 16

September 1977 mengenai pembangunan pintu air di Gabcikovo dan Nagymaros, yang selanjutnya perjanjian ini diberi nama Treaty 1977. 4.Pada tanggal 13 Mei 1989, Pemerintah Hongaria menyatakan menunda pelaksanaan proyek tersebut hingga pada tanggal 27 Oktober 1989, Pemerintah Hongaria menghentikan proyek tersebut dengan alasan bahwa jika tindakan-tindakan operasional terus dilanjutkan terkait pelaksanaan proyek tadi, berdasarkan studi ilmiah dan alasanalasan yang mengacu pada prinsip keseimbangan ekologis dalam jangka panjang, maka dapat mengakibatkan dampak yang sangat serius terhadap lingkungan di sekitar sungai Danube yang secara langsung maupun tidak langsung bergantung pada sungai Danube seperti kualitas air yang dibutuhkan bagi wilayah Budapest termasuk juga flora fauna yang ada di sekitar sungai.. 5.Di lain pihak, Slovakia sebagai salah satu suksesor Cekoslovakia menolak adanya prinsip ecological state of necessity dalam kasus tersebut di tahun 1989 atau tahuntahun yang berikutnya. Slovakia tidak menolak bahwa masalah ekologis akan timbul, namun hal tersebut menegaskan bahwa mereka dapat memperbaikinya dalam suatu tingkat yang luas. Itu mendasari suatu ketegangan bahwa tidak ada persetujuan yang dicapai dalam rangka menghormati operasi di Gabcikovo dan mengklaim bahwa ketakutan Hongaria hanya terkait pada kondisi operasi dari sebuah keadaan yang ekstrim. 6.Hongaria dan Slovakia kemudian membawa kasus ini ke Mahkamah Internasional dimana Mahkamah kemudian mengeluarkan Advisory Opinion terhadap penafsiran Treaty 1977 terkait dengan state ecological necessity.

Masalah Hukum
Masalah hukum yang kemudian terjadi adalah apakah tindakan Hongaria dengan menghentikan pembangunan dam di sungai Danube melanggar perjanjian internasional yang telah dibuat dengan Slovakia yaitu Treaty 1977?

Putusan Mahkamah Internasional


Dalam kasus ini, Mahkamah Internasional mengeluarkan dua putusan dimana yang pertama berupa Advisory Opinion mengenai penafsiran terhadap Treaty 1977 sehubungan

dengan alasan Hongaria mengenai state ecological necessity dalam kasus ini, dan Judgment pada tanggal 25 September 1997. Mahkamah yang beranggotakan Presiden Schwebel; Wakil Presiden Weeramantry; Hakim Oda, Bedjaoui, Guillaume, Ranjeva, Herczegh, Shi, Fleischhauer, Koroma, Vereshchetin, Parra-Aranguren, Kooijmans, Rezek; Hakim ad hoc Skubiszewski; dan Registrar Valencia-Ospina setelah melihat fakta-fakta di lapangan, memutuskan bahwa Hongaria dan Slovakia harus membuka lagi jalur perundingan untuk menyelesaikan kasus ini dengan prinsip itikad baik berdasarkan ketentuan dalam Treaty 1977 dan operasi bersama untuk dam di wilayah Slovakia harus dilaksanakan berdasarkan Treaty 1977, serta tiap pihak harus membayar ganti atas kerugian pihak lain dalam perjanjian. Adapun dalam Advisory Opinionnya, Mahkamah berpendapat bahwa alasan Hongaria menghentikan pembangunan dam dengan alasan state ecological necessity tidak dapat diterima sehingga Hongaria dianggap telah melanggar Treaty 1977.

Dasar Pertimbangan Mahkamah Internasional


Mahkamah dalam putusannya di Advisory Opinion berpendapat bahwa dampak lingkungan yang disebutkan oleh Hongaria yang dijadikan alasan untuk menghentikan perjanjian tidak sesuai dengan prinsip rebus sic stantibus dimana untuk menghentikan perjanjian, dipelukan adanya perubahan keadaan yang mendasar. Dalam kasus GabcikovoNagymaros ini, perubahan lingkungan yang terjadi tidak merubah struktur fisik sungai Danube secara menyeluruh sehingga dianggap bukan perubahan keadaan yang mendasar. Dalam putusannya pada tahun 1997, Mahkamah menyatakan bahwa : 1. Hongaria tidak berhak menghentikan dan meninggalkan proyek pembangunan dam yang berdasarkan Treaty 1977. 2. Cekoslovakia tidak berhak menggunakan solusi alternatif berupa Variant C yang diterapkan pada November 1991, namun tidak menyertakannya dalam operasi bulan Oktober 1992 sebagai instrument tunggal. 3. Pernyataan Hongaria tentang penghentian Treaty 1977 dan instrument tambahan 19 Mei 1992 tidak secara legal menghapus hak dan kewajiban Hongaria dimana Hongaria masih terikat pada kewajiban antar pihak dalam perjanjian. 4. Slovakia sebagai suksesor dari Cekoslovakia merupakan peserta dari Treaty 1977.

Mahkamah berpendapat bahwa perkembangan norma baru dalam hukum lingkungan telah sesuai dengan ketentuan dalam perjanjian internasional mengenai lingkungan.

Analisis Kasus
Menurut kelompok kami, dalam kasus ini, putusan Mahkamah telah sesuai dengan prinsip hukum internasional dimana dalam hukum perjanjian internasional, penghentian perjanjian hanya dapat dilakukan oleh pihak-pihak dalam perjanjian apabila ada perubahan keadaan yang mendasar (rebus sic stantibus) yang diatur dalam pasal 62 Vienna Convention on the Law of Treaties yang menyatakan bahwa efek dari perubahan harus secara radikal merubah kewajiban negara pihak dalam perjanjian. Dalam kasus ini, perubahan lingkungan yang dikatakan Hongaria tidak mengubah kewajibannya terhadap Treaty 1977.

CASE CONCERNING AVENA & OTHER MEXICAN NATIONS, MEXICO v. USA, ICJ, 2004

Fakta Hukum
1. Pihak yang bersengketa di dalam kasus ini adalah Meksiko melawan Amerika Serikat. 2. Pada tanggal 9 Januari 2003, Meksiko memutuskan untuk mengajukan masalah ini kepada ICJ, atas adanya pelanggaran terhadap Konvensi Jenewa dalam Consular Relations atas

banyaknya warga Meksiko yang divonis hukuman mati oleh pemerintah Amerika Serikat. 3. Meksiko dan Amerika Serikat adalah anggota dalam perjanjian Pasal 36 dari Vienna Convention on Consular Relations, di mana VCCR ini merupakan perjanjian multilateral yang mengatur tentang akitivitas badan konsuler dari suatu negara antara negara pengirim dengan negara penerima. Salah satu kegiatan dari konsuler tersebut adalah perlindungan terhadap warga negara dari negara pengirim yang sedang berada dalam kasus kriminal yang terjadi di negara penerima. 4. Warga-warga Meksiko yang termasuk di dalam daftar pengadilan yang telah divonis hukuman mati diantaranya adalah kasus Mr. Cesar Roberto Fierro Reyna, Mr. Roberto Moreno Ramos, dan Mr. Osvaldo Torres Aguilera yang diadili dalam pengadilan Amerika Serikat. 5. Dalam kasus-kasus tersebut, mereka telah divonis hukuman mati oleh Pengadilan Amerika Serikat dan ini telah melanggar ketentuan dalam Konvensi Jenewa, dikarenakan sebelumnya para terdakwa tersebut tidak diperkenankan memperoleh bantuan konsuler dari negara asalnya atas proses peradilan yang dijalaninya. 6. Tidak hanya dalam ketiga kasus itu saja saja, masih terdapat sekitar 52 kasus yang berhubungan langsung dengan pelanggaran terhadap isi dari Pasal 36 VCCR tentang Consular Relations tersebut yang mengakibatkan Meksiko memutuskan untuk mengajukan kasus ini kepada ICJ. 7. Amerika Serikat tidak memberitahukan kepada warga negara Meksiko yang mereka tahan bahwa mereka memiliki hak untuk memperoleh bantuan konsuler dari negara asalnya dan tidak memberikan mereka kesempatan untuk melakukan hal tersebut dan tetap menjalankan proses peradilan sesuai dengan yurisdiksi yang dimiliki Amerika Serikat. 8. Selain itu, Amerika Serikat juga tidak memberikan informasi kepada pemerintah Meksiko mengenai pengadilan yang dilakukan terhadap warga Meksiko yang mereka tahan sebelum pada akhirnya diketahui oleh pemerintah Meksiko itu sendiri dan apapun tindakan dari badan konsuler dari Meksiko untuk membantu warga negaranya di Amerika Serikat, Amerika Serikat tetap menjalankan proses peradilannya sesuai dengan yurisdiksinya dan putusan yang dikeluarkan dari proses peradilan tersebut diantaranya adalah vonis hukuman mati.

Permasalahan Hukum
1. Apakah tindakan Amerika Serikat dalam tidak memberitahukan detensi yang dilakukannya terhadap 51 warga Meksiko mengenai hak mereka atas Consular Relations telah melanggar

ketentuan dalam Pasal 36 Paragraf 1 (b) dari Vienna Convention on Consular Relations pada tanggal 24 April 1963? 2. Apakah tindakan Amerika Serikat dalam tidak memberitahukan detensi yang dilakukannya terhadap 49 warga Meksiko kepada badan konsuler Meksiko sehingga mencegah adanya bantuan dari badan tersebut telah melanggar ketentuan dalam Pasal 36 Paragraf 1 (b) dari Vienna Convention on Consular Relations pada tanggal 24 April 1963? 3. Apakah tindakan Amerika Serikat dalam tidak memberikan kesempatan terhadap 49 warga Meksiko yang merea tahan untuk menghubungi negara asalnya telah melanggar ketentuan dalam Pasal 36 Paragraf 1 (a) dan paragraf 1(c) dari Vienna Convention on Consular Relations pada tanggal 24 April 1963? 4. Apakah tindakan Amerika Serikat dalam mencegah pemerintahan Meksiko dalam menyusun legal representation atas 34 warga Meksiko yang diadili di Amerika Serikat telah melanggar ketentuan dalam Pasal 36 Paragraf 1 (c) dari Vienna Convention on Consular Relations pada tanggal 24 April 1963? 5. Apakah tindakan Amerika Serikat dalam tidak memberikan kesempatan untuk dilakukannya review dan pengkajian kembali atas putusan terhadap Mr. Cesar Roberto Fierro Reyna, Mr. Roberto Moreno Ramos, dan Mr. Osvaldo Torres Aguilera telah melanggar ketentuan dalam Pasal 36 Paragraf 2 dari Vienna Convention on Consular Relations pada tanggal 24 April 1963?

Putusan Mahkamah Internasional


Pada tanggal 31 Maret 2004, ICJ mengeluarkan keputusan sebagai berikut. 1. Dengan hasil voting 14 berbanding 1, bahwa tindakan Amerika Serikat dalam tidak memberitahukan detensi yang dilakukannya terhadap 51 warga Meksiko mengenai hak mereka atas Consular Relations telah melanggar ketentuan dalam Pasal 36 Paragraf 1 (b) dari Vienna Convention on Consular Relations pada tanggal 24 April 1963. 2. Dengan hasil voting 14 berbanding 1, bahwa tindakan Amerika Serikat dalam tidak memberitahukan detensi yang dilakukannya terhadap 49 warga Meksiko kepada badan konsuler Meksiko sehingga mencegah adanya bantuan dari badan tersebut telah melanggar ketentuan dalam Pasal 36 Paragraf 1 (b) dari Vienna Convention on Consular Relations pada tanggal 24 April 1963. 3. Dengan hasil voting 14 berbanding 1, bahwa tindakan Amerika Serikat dalam tidak memberikan kesempatan terhadap 49 warga Meksiko yang merea tahan untuk

menghubungi negara asalnya telah melanggar ketentuan dalam Pasal 36 Paragraf 1 (a) dan paragraf 1(c) dari Vienna Convention on Consular Relations pada tanggal 24 April 1963. 4. Dengan hasil voting 14 berbanding 1, bahwa tindakan Amerika Serikat dalam mencegah pemerintahan Meksiko dalam menyusun legal representation atas 34 warga Meksiko yang diadili di Amerika Serikat telah melanggar ketentuan dalam Pasal 36 Paragraf 1 (c) dari Vienna Convention on Consular Relations pada tanggal 24 April 1963. 5. Dengan hasil voting 14 berbanding 1, bahwa tindakan Amerika Serikat dalam tidak memberikan kesempatan untuk dilakukannya review dan pengkajian kembali atas putusan terhadap Mr. Cesar Roberto Fierro Reyna, Mr. Roberto Moreno Ramos, dan Mr. Osvaldo Torres Aguilera telah melanggar ketentuan dalam Pasal 36 Paragraf 2 dari Vienna Convention on Consular Relations pada tanggal 24 April 1963. 6. Dengan hasil voting 14 berbanding 1, bahwa Amerika Serikat berkewajiban untuk melakukan persiapan yang selayaknya dalam menyediakan bantuan untuk review dan pengkajian kembali atas putusan dan vonis terhadap warga negara Meksiko dengan tetap memperhatikan pelanggaran hak yang telah Amerika Serikat lakukan dalam Pasal 36 VCCR. 7. Mengambil komitmen dari Amerika Serikat untuk memastikan implementasi yang mereka lakukan dengan berdasarkan pada kewajibannya dalam Pasal 36 paragraf 1(b) dari Konvensi Jenewa tersebut, dan komitmen ini harus disesuaikan dengan permintaan dari Meksiko untuk adanya garansi dan asuransi danri non-repetisi. 8. Apabila beberapa warga negara Meksiko harus divonis beberapa hukuman tanpa adanya perlindungan hak mereka dalam Pasal 36 paragraf 1(b) dari VCCR yang juga sudah ditinjau dalam pemeriksaannya, Amerika Serikat harus menyediakan bantuan dalam review dan pengkajian kembali supaya dapat dihasilkan keputusan yang tidak bertentangan dengan ketentuan dalam konvensi tersebut.

Dasar Pertimbangan Putusan Mahkamah


1. Amerika Serikat menyatakan bahwa dalam permintaan yang diberikan oleh Meksiko untuk mengatasi permasalahan ini tidak dapat diterima sebab ini menandakan bahwa Meksiko meminta ICJ sebagai badan pengadilan yang mengatasi masalah kriminal. Akan tetapi, putusan yang diberikan oleh ICJ hanyalah berupa saran dan provisional measures, supaya Amerika Serikat harus menyediakan bantuan untuk melakukan review dan pengkajian kembali seperti dalam putusan ICJ dalam kasus LaGrand. 2. Amerika Serikat menyatakan bahwa tindakan Meksiko untuk melakukan perlindungan diplomatik kepada warga negaranya yang telah melakukan tindakan kriminal tidak dapat

diterima. Akan tetapi, dalam Pasal 3 paragraf 1(b) disebutkan bahwa Meksiko memang memiliki hak untuk melakukan hal tersebut sebagai suatu keadaan khusus dalam hak suatu negara dan hak individu. Oleh karena itu, pendapat dari Amerika Serikat tersebut tidak dapat diterima. 3. Amerika Serikat juga menyatakan bahwa tindakan perlidnungan diplomatik dari Meksiko tersebut tidak berpengaruh bagi warga Meksiko yang ditahan di Amerika yang memiliki dua kewarganegaraan. Akan tetapi, ICJ menyatakan bahwa dengan berdasarkan pada Pasal 36 VCCR tersebut, Meksiko tetap memiliki kewenangan untuk melakukan hal tersebut sehingga tindakan dari Meksiko tersebut dapat dibenarkan. 4. Amerika Serikat juga menyakan bahwa Meksiko juga memiliki kesalahan, sebab Meksiko walaupun mengetahui adanya ketentuan dalam Pasal 36 VCCR tersebut tetapi mereka tidak segera memberitahukannya kepada Amerika Serikat atau terlambat dalam pemberitahuannya. ICJ menyatakan bahwa Meksiko sebelum telah melakukan beberapa tindakan yang menarik perhatian dari Amerika Serikat mengenai pelanggarannya terhadap Pasal 36 Konvensi terebut sehingga pendapat dari Amerika Serikat ini tidak dapat diterima. Selain itu, tindakan Meksiko dalam kasus ini semuanya berdasarkan pada Pasal 36 VCCR sehingga tindakan-tindakan tersebut dapat dibenarkan. 5. Berdasarkan pada Pasal 36 paragraf 1(b) VCCR, Amerika Serikat seharusnya memiliki kewajiban untuk memberitahukan pemerintah Meksiko dan konsulernya atas proses pengadilan yang sedang dilakukan oleh negara-negara bagian Amerika Serikat. Akan tetapi, karena Amerika Serikat tidak melakukan kewajiban tersebut maka Amerika Serikat telah melanggar isi dari ketentuan tersebut. 6. Tindakan Amerika Serikat yang seharusnya memberitahukan pengadilan yang sedang mereka laksanakan tanpa adanya jeda waktu, atau dengan kata lain harus dilakukan pada saat itu juga telah melanggar ketentuan dalam Pasal 36 paragraf 1(b) dari Konvensi Jenewa. 7. Untuk pemberian solusi terbaik dalam penanganan kasus ini, maka putusan yang dikeluarkan ICJ merupakan suatu saran kepada Amerika Serikat untuk memeriksa dan mengkaji kembali putusan yang telah mereka keluarkan kepada warga negara Meksiko yang mereka tahan, dan menyediakan fasilitas agar adanya bantuan dari konsuler Meksiko terhadap warga negaranya.

Analisis Putusan
1. Dalam kasus ini dapat kita lihat bagaimana suatu perjanjian internasional dapat

mempengaruhi suatu proses peradilan dalam suatu negara apabila di dalam proses peradilan tersebut ada keterkaitannya dengan negara yang lain. Hal ini dapat terlihat dalam bagaiman suatu ketentuan dalam Pasal 36 dalam Vienna Convention on Consular Relations dapat mempengaruhi proses peradilan di Amerika Serikat terhadap warga negara Meksiko yang mereka tahan. 2. Ketentuan dalam Pasal 36 Konvensi Jenewa tersebut dapat mempengaruhi pengadilan di Amerika Serikat sebab di dalam ketentuan tersebut disebutkan bahwa Meksiko berhak mengirimkan bantuan berupa Consular Relations atau bantuan berupa konsuler kepada warga negaranya yang sedang diadili di Amerika Serikat. 3. Pelanggaran yang dilakukan oleh Amerika Serikat pada dasarnya dikarenakan dalam putusan yang mereka keluarkan kepada warga negara Meksiko yang mereka adili, itu dilakukan tanpa adanya pemberitahuan kepada pemerintah Meksiko mengenai proses pengadilan yang mereka lakukan dan adanya usaha yang secara tidak langsung menghambat dilakukannya bantuan konsuler ini. 4. Dari kasus ini, dapat dilihat bahwa apabila suatu perjanjian internasional dapat mempengaruhi bagaimana proses hukum dari suatu hal berlangsung. Dalam konvensi ini, dirumuskan tentang keberadaan suatu Consular Relations yang memiliki peran untuk membantu suatu warga negara yang sedang memiliki permasalahan hukum di negara lain. Ini mengakibatkan bagi negara yang berwenang untuk menjalankan yurisdiksinya yang terikat di dalam perjanjian tersebut harus menyediakan fasilitas untuk dilakukannya bantuan secara konsuler ini bagi negara yang warga negaranya sedang dalam permasalahan hukum tersebut. 5. Dikarenakan pelanggaran yang dilakukan oleh Amerika Serikat sebatas baru menjatuhkan vonis untuk dilakukannya hukuman mati, belum sampai pada tingkat eksekusi, maka ICJ memberikan kesempatan kepada Amerika Serikat untuk memeriksa dan mengkaji kembali putusan yang mereka keluarkan tersebut dan saat ini dalam pelaksanaannya harus ada keterlibatan dari konsuler Meksiko sebagai upaya pemenuhan hak dari warga negara Meksiko yang sedang diadili tersebut.

PENYELESAIAN SENGKETA INTERNASIONAL


VENEZUELA-US GASOLINE DISPUTES, WTO DISPUTE SETTLEMENT BODY, 1996
Fakta Hukum
Pihak yang bersengketa di dalam kasus ini adalah Venezuela melawan Amerika Serikat, di

mana sengketa ini diajukan kepada WTO. Para pihak utama dalam sengketa ini adalah Amerika Serikat dan Venezuela. Kedua negara memiliki hubungan ekspor-impor minyak di mana Amerika Serikat sebagai importir dan Venezuela sebagai eksportir. Para pihak merupakan anggota GATT (General Agreement on Tariffs and Trade). Brazil sebenarnya masuk sebagai intervener karena memiliki kepentingan namun perannya dalam kasus ini tidak terlalu signifikan sehingga pembahasan ini lebih menitikberatkan pada Venezuela dan AS. Pada 1990 Amerika Serikat (AS) melakukan amandemen terhadap US Clean Air Act (CAA) yang kemudian diikuti dengan pengaturan yang lebih ketat dalam impor minyak. Pengaturan ini memberlakukan standar yang lebih ketat terhadap minyak impor, sedangkan untuk minyak produksi dalam negeri tidak diberlakukan ketentuan ini. Untuk perusahaan minyak domestik diperbolehkan menetapkan suatu standar sendiri secara individu (individual baseline) sedangkan perusahaan minyak asing harus memenuhi standar yang ditetapkan EPA (statutory basline). AS beralasan mereka melakukan hal ini untuk mengendalikan polusi udara. Selain itu standar yang berbeda antara perusahaan minyak domestik dan asing karena perusahaan asing tersebut dianggap tidak memiliki data yang dapat dipercaya mengenai kualitas minyaknya. Venezuela memprotes tindakan AS tersebut karena menerapkan ketentuan yang lebih ketat mengenai karakteristik kimiawi dari minyak impor daripada ketentuan yang diterapkan AS untuk minyak yang diproses dalam negeri. Venezuela menyatakan hal ini tidak adil karena minyak AS tidak perlu memenuhi standar yang sama. Sehingga melanggar prinsip national treatment dan tidak dapat dibenarkan menurut ketentuan pengecualian GATT mengenai tindakan-tindakan perlindungan kesehatan dan lingkungan.

Permasalahan Hukum
Apakah ketentuan Amerika Serikat yang memberlakukan standar lebih tinggi bagi minyak impor, dalam hal ini Venezuela, dapat dibenarkan menurut peraturan dan prinsip perdagangan internasional menurut GATT?

Putusan DSB WTO


Dispute Setttlement Body (DSB) WTO menyatakan bahwa ketentuan mengenai standar minyak impor dalam US Clean Air Act melanggar ketentuan GATT. AS diminta untuk menyesuaikan

aturannya dengan kewajiban negara peserta GATT.

Dasar Pertimbangan Putusan


AS dan Venezuela sama-sama merupakan anggota WTO. Oleh karena itu mereka terikat dengan ketentuan dalam GATT. AS menerapkan ketentuan standar yang tinggi bagi perusahaan asing yang mengekspor minyak ke AS tetapi tidak memberlakukan standar yang sama bagi perusahaan domestik. Alasan AS bahwa perusahaan minyak asing tidak dapat menyediakan data yang dapat diandalkan mengenai kualitas kandungan minyaknya dianggap tidak tepat. DSB menyatakan bahwa tindakan AS ini menimbulkan suatu diskriminasi yang tidak dapat dibenarkan (unjustifiable discrimination) dan pembatasan terselubung dalam perdagangan internasional (disguised restriction on international trade). Meskipun menyatakan bahwa AS harus menyesuaikan peraturan nasionalnya dengan ketentuan GATT namun DSB menyadari adanya pasal XX dalam GATT yang mengandung ketentuan yang didesain untuk melindungi kesehatan manusia dan konservasi sumber daya alam yang dapat habis (exhaustible). Oleh karena itu DSB tidak mempersengketakan kemampuan setiap anggota WTO untuk melakukan tindakan-tindakan untuk mengendalikan polusi udara atau melindungi lingkungan.

Analisis Kasus
Kasus ini memiliki dua aspek utama yaitu aspek ekonomi dan aspek lingkungan. Akan tetapi penyelesaian kasus ini dilakukan di WTO yang merupakan lembaga yang mengatur kegiatan ekonomi, khususnya perdagangan antarnegara. Sehingga penyelesaian kasus ini lebih berorientasi kepada kepentingan ekonomi. Penyebab mengapa kasus ini ditangani oleh WTO adalah pada dasarnya permasalahan dalam kasus ini adalah bagaimana penerapan dari peraturan dan prinsip perdagangan internasional yang diatur oleh GATT. Selain itu, pihak yang bersengketa, Amerika Serikat dan Venezuela keduanya merupakan anggota dari WTO sehingga terikat oleh ketentuan GATT. Dan dikarenakan adanya pengajuan kasus ini dari Venezuela dan Amerika Serikat kepada WTO, maka WTO memiliki yurisdiksi untuk memberikan solusi dalam pemacahan kasus ini. Kekuatan penegakan dan pelaksanaan putusan GATT ini berdasarkan pada 2 prinsip, yaitu :

1. Berprinsip pada komitmen hukum (legal commitment) dari negara-negara anggotanya. 2. GATT memberikan hak untuk melaksanakan retaliasi kepada negara yang dirugikan sebagai akibat dari tindakan-tindakan negara lain yang melanggar hukum Dengan berdasarkan pada prinsip tersebut, ini menandakan bahwa negara-negara anggota GATT dalam menghadapi tuntutan-tuntutan atau sengketa-sengketa dagang dalam GATT lebih menitikberatkan pada rasa hormat dan kepentingannya terhadap GATT. Salah satu prinsip yang diakui oleh GATT dalam ekonomi internasional adalah prinsip perlakuan nasional (national treatment). Prinsip ini mensyaratkan suatu negara untuk memberlakukan hukum yang sama yang diterapkan terhadap barang-barang, jasa-jasa atau modal asing yang telah memasuki pasar dalam negerinya dengan hukum yang diterapkan terhadap produk-produk atau jasa-jasa yang dibuat di dalam negeri. Jika dilihat sekilas pengaturan AS yang memberlakukan standar yang lebih tinggi terhadap minyak impor tampaknya bertentangan dengan prinsip perlakuan nasional. Namun dalam hal ini saya berpendapat bahwa prinsip perlakuan nasional yang setara mengandung dua makna penting. Pertama, perlakuan nasional dilakukan dengan memberlakukan standar yang sama. Kedua, perlakuan nasional dilakukan untuk mencapai suatu hasil yang sama. Artinya, tidak perlu ada standar yang sama secara teknis asalkan hasil akhir yang diperoleh memenuhi standar yang sama dengan produk dalam negeri. Dalam kasus ini saya berpendapat AS boleh saja memberlakukan standar yang berbeda antara minyak impor dengan minyak domestik, asalkan dengan standar yang berbeda itu dapat diperoleh hasil yang sama-sama memenuhi standar nasional. Apalagi jika dilihat lebih jauh, ketentuan ini tidak bermaksud memberikan suatu diskriminasi negatif namun justru memberlakukan standar yang sama hanya saja dengan cara yang berbeda yaitu dalam hal metode yang digunakan untuk mengukur tingkat kandungan polutannya. Kalaupun tindakan itu nantinya dianggap melanggar kewajiban sebagai anggota WTO, maka masih ada ketentuan Article XX dari GATT yang memberikan suatu pengecualian: Article XX General Exceptions Subject to the requirement that such measures are not applied in a manner which would constitute a means of arbitrary or unjustifiable discrimination between countries where the same conditions prevail, or a disguised restriction on international trade, nothing in this Agreement shall be construed to prevent the adoption or enforcement by any contracting

party of measures: (b) necessary to protect human, animal or plant life or health; (g) relating to the conservation of exhaustible natural resources if such measures are made effective in conjunction with restrictions on domestic production or consumption; Berdasarkan pasal tersebut maka saya berpendapat bahwa ada suatu pengecualian yang dapat diterapkan untuk masalah ini berkaitan dengan isu lingkungan. Karena ketentuan dalam CAA tersebut bertujuan untuk melindungi kesehatan manusia, serta berkaitan dengan upaya pelestarian sumber daya alam yang dapat habis, dalam hal ini udara yang sehat.

MOX PLANT, IRELAND v. UK, 2001


Fakta Hukum
Para pihak dalam kasus ini adalah Irlandia dan Inggris Fasilitas nuklir Sellafield terletak di sebelah Barat Laut Inggris, di laut Irlandia, 184 km (114

mil) dari pantai Irlandia. Didirikan pada tahun 1947 untuk memproduksi plutonium dan material nuklir lainnya untuk proyek bom atom Inggris. Menurut Irladia pembuangan nuklir dari Sellafield telah terjadi sejak awal 1950an, mengakibatkan laut Irlandia menjadi salah satu laut semi-enclosed yang paling tercemar bahan radiokaktif. Selain pembuangan rutin, fasilitas Sellafield juga pernah beberapa kali mengalami kecelakaan, yang terparah adalah kebakaran pada tahun 1957 yang melepaskan radiasi dalam jumlah besar ke laut. Meskipun OSPAR Report menyatakan bahwa jumlah radioaktif dalam laut Atlantik telah menurun drastis, pembuangan radionuclides meningkat sejak pertengahan 1990an sebagai hasil Thermal Oxide Reprocessing Plant di Sellafield. Hasil pembuangan radioaktif dari Sellafield terbawa arus laut menyebar ke area yang luas dan telah terdeteksi hingga Norwegia. Pada 1992 British Nuclear Fuels (BNFL), perusahaan milik pemerintah yang mengoperasikan fasilitas Sellafield. MOX adalah bahan bakar nuklir yang diproduksi dari plutonium dan uranium oksida yang diproses ulang yang telah digunakan dalam reaktor komersial di Prancis, Jerman, dan Swiss. Jadi rencananya adalah mengimpor sisa material nuklir dari pembangkit luar negeri, memprosesnya kembali di fasilitas THORP di Sellafield dan menggunakan material yang telah diproses ulang tersebut untuk membuat MOX. Kemudian MOX tersebut di ekspor kembali ke luar negeri melalui laut, karena tidak ada reaktor nuklir di Inggris yang menggunakan MOX sebagai bahan bakarnya. Sebelum pembangunan pembangkit disetujui, Inggris harus memenuhi dua syarat dari European Community yaitu mengenai dampak lingkungan dan kelayakan ekonominya. Mengenai dampak lingkungan diuji berdasarkan EURATOM sedangkan kelayakan ekonominya diuji oleh dua firma konsultan ekonomi secara terpisah. Singkat cerita, semua syarat tersebut dipenuhi oleh Inggris. Irlandia yang masih menentang pembangunan pembangkit MOX meminta Inggris memberikan dokumen-dokumen mengenai kelayakan lingkungan dan ekonomi pembangkit MOX. Namun Inggis hanya memberikannya dalam bentuk yang sudah di-edit (redacted form). Irlandia meminta versi lengkap laporan tersebut dan mendasarkan permintaannya pada EC Directive 90/313 tentang Kebebasan Akses terhadap Informasi Lingkungan dan OSPAR Convention. Inggris menolaknya dengan menyatakan bahwa dokumen tersebut mengandung informasi bisnis rahasia. Irlandia kemudian mengajukan beberapa gugatan, masing-masing dengan dasar yang berbeda, kepada beberapa forum penyelesaian sengketa yang berbeda.

Permasalahan Hukum
Berdasarkan Annex VII UNCLOS, pada 25 Oktober 2001 Irlandia mengajukan gugatan pada arbitrase dengan permasalahan hukum bahwa Inggris telah melanggar kewajiban untuk: 1) Melakukan suatu pengujian yang layak terhadap dampak lingkungan MOX plant kepada lingkungan laut Irlandia sebagaimana tercantum dalam pasal 206 UNCLOS. 2) Bekerja sama dengan Irlandia untuk melindungi semi-enclosed sea sesuai pasal 123 dan 197 UNCLOS. 3) Mengambil langkah-langkah untuk meindungi dan melestarikan lingkungan laut Irlandia sesua pasal 192, 193, 194, 207, 211, 212, 213, 217, dan 222 UNCLOS. Berdasarkan OSPAR Convention pada 15 Juni 2001 Irlandia mengajukan gugatan pada arbitrase dengan permasalahan hukum: 1) Bahwa Inggris telah melanggar hak akses informasi sesuai pasal 9 OSPAR Convention dengan menolak permintaan Irlandia untuk memberikan versi lengkap laporan hasil uji kelayakan MOX plant yang menyebabkan Irlandia tidak dapat melakukan tinjauan terhadap kelayakan ekonomi dari MOX plant sesuai EURATOM Directive 90/313. Irlandia juga mengajukan provisional measures kepada ITLOS untuk mencegah pengangkutan limbah nuklir dari dan ke Sellafield melalui laut. European Commission mengajukan gugatan kepada European Court of Jutice terhadap Irlandia karena sengketa ini melibatkan dua anggota European Community sehingga ECJ memiliki yurisdiksi eksklusif.

Putusan Mahkamah
Arbitrase UNCLOS di PCA dihentikan berdasarkan Order No. 6 pada 6 Juni 2008 diantaranya karena ada permintaan resmi dari Irlandia untuk menarik klaimnya. Arbitrase OSPAR di PCA pada 2 Juli 2003 memutuskan menolak klaim Irlandia atas hak informasi berdasarkan OSPAR Convention. ITLOS menolak permintaan provisional measures Irlandia untuk mencegah transportasi pengangkutan laut limbah nuklir dari dan menuju ke Sellafield.

Dasar Pertimbangan Mahkamah


ITLOS:

ITLOS menolak permintaan provisional measures dari Irlandia karena berpendapat bahwa Irlandia tidak dapat membuktikan situasi yang urgen untuk menghentikan operasi MOX plant dan mencegah transportasi pengangkutan laut atas limbah nuklir melalui laut Irlandia.

Arbitrase OSPAR: Menurut Mahkamah, klaim Irlandia atas hak informasi tidak berada dalam pasal 9 (2) OSPAR Convention. Sehingga klaim Irlandia bahwa Inggris telah melanggar haknya berdasarkan pasal tersebut, tidak muncul.

Analisis Kasus
Dalam kasus MOX plant ini yang lebih nampak adalah masalah proseduralnya dibandingkan masalah substantifnya mengenai lingkungan. Kasus ini menunjukkan adanya suatu tumpang tindih yurisdiksi antara pengadilan internasional dan forum penyelesaian sengketa lainnya. Masing-masing forum yang memproses sengketa ini membahas masalah yang berbeda dan menghasilkan putusan yang berbeda. Hal ini dapat menimbulkan putusan yang bertentangan satu sama lain sehingga justru memperumit sengketa, bukannya menyelesaikannya. Sementara itu tidak banyak yang dapat dilakukan Inggris untuk menolak yurisdiksi dari forum-forum tersebut karena secara tidak langsung Inggris telah menyatakan penerimaannya dengan meratifikasi konvensi-konvensi yang relevan dengan forum penyelesaian sengketa yang bersangkutan. Dalam hal muncul masalah berkaitan dengan penerapan beberapa prosedur penyeelsaian sengketa dengan yurisdiksi wajib (compulsory jurisdiction), pengadilan dan forum lainnya belum memiliki pendekatan yang konsistent dan memadai. Tidak ada persetujuan tertentu yang memberikan solusi terhadap masalah ini. bahkan hukum kebiasaan internasional, prinsip-prinsip hukum umum dan yurisprudensi tidak banyak membantu. Ada beberapa pendekatan yang dapat digunakan untuk memecahkan masalah ini. diantaranya pendekatan self-contained regime. Self-contained regime diartikan sebagai suatu special set of secondary rules that determine the consequences of a breach of certain primary rules as well as any interrelated cluster of rules on a limited problem together with the rules for the creation, interpretation, application, modification, or termination of those rules. Putusan arbitrase OSPAR MOX plant menggambarkan secara jelas self-contained regime dengan menerapkan interaksi terbatas antara OSPAR Convention dan rezim lingkungan lainnya. Arbitrase OSPAR memisahkah sengketa yang didasarkan pada OSPAR Convention dari sengketa lainnya dengan alasan bahwa OSPAR

Conventiondan Directive 90/313 masing-masing merupakan sumber hukum independen yang menimbulkan rezim hukum yang berbeda dan memiliki upaya hukum yang berbeda. Atas alasan tersebut arbitrase menolak prosedur penyelesaian sengketa dalam rezim lainnya dan norma substabtif hukum internasional lainnya mengenai hak akses informasi lingkungan. Panel arbitrase menyatakan bahwa OSPAR Convention merupakan rezim hukum yang terpisah dari rezim hukum lainnya dan bahwa arbitrase memiliki wewenang untuk meninjau ulang keputusan Inggris yang membatasi pembukaan informasi terkait pengoperasian MOX plant.

KEBIASAAN INTERNASIONAL
MILITARY & PARAMILITARY NICARAGUA CASE, 1986

Fakta Hukum
1. Pihak yang terlibat di dalam kasus ini adalah Nicaragua melawan Amerika Serikat. 2. Pemerintah Republik Nicaragua pada saat itu tengah mengalami bentrokan senjata dengan pemberontak gerilya di negaranya, yang berbatasan dengan El Salvador, Honduras, dan Costa Rica. Selama bentrokan senjata tersebut berlangsung, Amerika Serikat telah ikut campur dalam bentrokan senjata tersebut dan mengganggu kedaulatan dari Nicaragua. 3. Pada tanggal 9 April 1984 Duta Besar dari Republik Nicaragua pergi menuju Belanda untuk mengajukan gugatan di ICJ kepada Amerika Serikat atas adanya aktivitas militer dan paramiliter terhadap Nicaragua. Nicaragua mengajukan gugatan ini dengan berdasarkan pada Pasal 36 Piagam PBB. 4. Pada saat kasus ini diajukan, Nicaragua juga mengajukan adanya pertimbangan dalam Pasal 41 Piagam PBB. Pada tanggal 10 Mei 1984, ICJ menolak permintaan dari Amerika Serikat untuk penghapusan kasus ini dari daftar. 5. Pada tanggal 15 Agustus 1948, Republik El Salvador mengajukan intervensi dengan berdasarkan pada Pasal 63 Piagam PBB., yang kemudian ditolak oleh ICJ. 6. Nicaragua mengajukan gugatan kepada Amerika Serikat dikarenakan adanya tindakan perekrutan, pelatihan, mempersenjatai, dan memberikan persediaan dari Amerika Serikat kepada kelompok militer dan paramiliter di Nicaragua. Tindakan Amerika tersebut telah melanggar ketentuan dari Piagam PBB, Charter of the Organization of American States, Convention on Rights and Duties of States, dan Convention concerning the Duties and Rights of States dalam Peristiwa Civil Strife. 7. Nicaragua menyatakan bahwa Amerika Serikat telah melanggar kedaulatan Nicaragua, melanggar norma dan kebiasaan internasional dengan cara penggunaa kekerasan, mengganggu permasalahan dalam negeri Nicaragua, melanggar kebebasan di lautan dan menggangu perdagangan maritim Nicaragua, dan telah menimbulkan korban dalam masyarakat Nicaragua. 8. Berdasarkan pada pelanggaran-pelanggaran tersebut, Nicaragua menuntut adanya ganti rugi terhadap segala kerugian yang telah ditimbulkan oleh Amerika Serikat terhadap Nicaragua. 9. Pada tanggal 21 Januari 1956, Nicaragua dan Amerika Serikat pernah mengadakan perjanjian internasional yang bernama Treaty of Friendship, Commerce and Navigation. Ketentuan dari perjanjian ini telah dilanggar oleh Amerika Serikat menurut Nicaragua dan Nicaragua memohon penerapannya dalam kasus ini.

Permasalahan Hukum
1. Apakah ICJ harus menerapkan multilateral treaty reservation berdasarkan pada gugatan yang diajukan oleh Republik Nicaragua? 2. Apakah Amerika Serikat harus bertanggung jawab sepenuhnya atas segala kerugian yang dialami oleh Republik Nicaragua yang berhubungan langsung dengan aktivitas Amerika Serikat, yang telah melanggar prinsip kebiasaan internasional dan Treaty of Friendship, Commerce and Navigation antara Amerika Serikat dan Republik Nicaragua yang ditanda tangani pada tanggal 21 Januari 1956?

Putusan Mahkamah Internasional


Pada tanggal 27 Juni 1986, ICJ mengeluarkan putusannya. 1. Dengan hasil voting 11 berbanding 4, ICJ memutuskan untuk menerapkan multilateral treaty reservation berdasarkan pada gugatan yang diajukan oleh Republik Nicaragua 2. Dengan hasil voting 12 berbanding 3, ICJ memutuskan bahwa pembelaan diri Amerika Serikat terhadap hubungannya dengan aktivitas militer dan paramiliter di Nicaragua ditolak. 3. Dengan hasil voting 12 berbanding 3, ICJ memutuskan bahwa Amerika Serikat telah melanggar kebiasaan internasional terkait dengan tindakannya dalam melatih, mempersenjatai, mendanai, dan memberikan persediaan kepada kelompok militer dan paramiliter di Nicaragua. 4. Dengan hasil voting 12 berbanding 3, ICJ memutuskan bahwa Amerika Serikat telah melanggar kebiasaan internasional terkait dengan penyerangan di wilayah Nicaragua pada tahun 1983-1984, yaitu penyerangan di wilayah Puerto Sandino pada tanggal 13 September dan 14 Oktober 1983; penyerangan di Corinto pada tanggal 10 Oktober 1983; penyerangan di Markas Angkatan Laut Potosi padang tanggal 4/5 Januari 1984; penyerangan di San Juan del Sur pada tanggal 7 Maert 1984; penyerangan kapal patroli di Puerto Sandino pada tanggal 28 dan 30 Maret 1984; dan penyerangan di San Juan del Norte 9 April 1984. 5. Dengan hasil voting 12 berbanding 3, ICJ memutuskan bahwa Amerika Serikat telah melanggar kedaulatan Nicaragua terkait dengan penerbangan yang diatur oleh Amerika Serikat yang melewati wilayah Nicaragua. 6. Dengan hasil voting 12 berbanding 3, ICJ memutuskan bahwa Amerika Serikat telah melanggar kebiasaan internasional terkait dengan pemasangan ranjau di wilayah perairan teritorial Republik Nicaragua. 7. Dengan hasil voting 14 berbanding 1, ICJ memutuskan bahwa Amerika Serikat telah

melanggar Pasal XIX dari Treaty of Friendship, Commerce and Navigation antara Amerika Serikat dan Republik Nicaragua yang ditanda tangani pada tanggal 21 Januari 1956 atas tindakannya terhadap penerbangan yang melintasi wilayah Nicaragua. 8. Dengan hasil voting 14 berbanding 1, ICJ memutuskan bahwa Amerika Serikat telah gagal dalam memberitahukan keberadaan dari ranjau yang dipasangnya di wilayah perairan Nicaragua. 9. Dengan hasil voting 14 berbanding 1, ICJ memutuskan bahwa pedoman yang dipublikasikan Amerika Serikat pada tahun 1983 yang berjudul Operaciones sicologicas en guerra de guerrilas yang diberikan kepada pasukan Contra, merupakan tindakan yang bertentangan dengan prinsip kemanusiaan. 10. Dengan hasil voting 12 berbanding 3, ICJ memutuskan bahwa Amerika Serikat telah melanggar objek dan tujuan dari Treaty of Friendship, Commerce and Navigation antara kedua pihak tersebut yang ditandatangani di Managua pada tanggal 21 January 1956 berkaitan dengan penyerangan di wilayah Nicaragua dan embargo perdagangan dengan Nicaragua pada tanggal 1 Mei 1985. 11. Dengan hasil voting 12 berbanding 3, ICJ memutuskan bahwa Amerika Serikat telah melanggar Pasal XIX dari Treaty of Friendship, Commerce and Navigation antara kedua pihak tersebut yang ditandatangani di Managua pada tanggal 21 January 1956 berkaitan dengan penyerangan di wilayah Nicaragua dan embargo perdagangan di Nicaragua pada tanggal 1 Mei 1985. 12. Dengan hasil voting 12 berbanding 3, ICJ memutuskan bahwa Amerika Serikat harus bertanggung jawab untuk mencegah kerugian lebih lanjut atas pelanggaran-pelanggarannya pada kewajiban-kewajiban yang harus dipenuhi olehnya. 13. Dengan hasil voting 12 berbanding 3, ICJ memutuskan bahwa Amerika Serikat harus bertanggung jawab atas reparasi dari segala kerugian Republik Nicaragua terkait dengan pelanggaran dari kebiasaan internasional yang berlaku. 14. Dengan hasil voting 14 berbanding 1, ICJ memutuskan bahwa Amerika Serikat harus bertanggung jawab atas reparasi dari segala kerugian Republik Nicaragua terkait dengan pelanggaran dari Treaty of Friendship, Commerce and Navigation antara kedua pihak tersebut yang ditandatangani di Managua pada tahun 21 January 1956. 15. Dengan hasil voting 14 berbanding 1, ICJ memutuskan untuk menentukan bentuk dan biaya reparasi yang dibutuhkan, apabila kedua pihak tersebut tidak mencapai kesepakatan atas ganti rugi yang dilakukan. 16. ICJ menyarankan agar kedua belah pihak menyelesaikan permasalahan di antara mereka

dengan damai sesuai dengan hukum internasional.

Dasar Pertimbangan Putusan


1. Dalam pembelaan yang diberikan oleh Amerika Serikat, Amerika menyatakan bahwa tindakannya dalam membantu aktivitas militer dan paramiliter ini semata-mata demi kepentingan El Salvador, agar dapat terlindungi dari serangan Nicaragua sehingga Amerika Serikat telah menerapkan hak untuk membela diri dari serangan Nicaragua. Amerika Serikat juga menyatakan bahwa ICJ tidak memiliki yurisdiksi untuk menangani kasus ini. 2. ICJ menyatakan bahwa kasus ini tetap berada dalam yurisdiksi ICJ. Dikarenakan ketentuan yang telah dilanggar oleh Amerika Serikat berjumlah lebih dari satu, yaitu kebiasaan internasional dan Treaty of Friendship, Commerce and Navigation antara kedua negara tersebut, maka prinsip multilateral treaty reservation dapat diberlakukan. 3. ICJ juga menyatakan bahwa pendapat Amerika Serikat dalam memberikan batuan terhadap aktivitas militer dan paramiliter di Nicaragua tidak berdasarkan pada tindakan membela diri, sebab El Salvador tersebut tidak pernah memohon bantuan dari Amerika Serikat. 4. Putusan yang dikeluarkan oleh ICJ ini semua berdasarkan pada pelanggaran dari Amerika Serikat dalam menyediakan persenjataan dan pelatihan kepada pasukan pemberontak di Nicaragua yang berkaitan dengan panduan peperangan yang bernama Operaciones sicologicas en guerra de guerrillas. Ini merupakan bukti adanya campur tangan dari Amerika Serikat dalam aktivitas militer dan paramiliter di Nicaragua. 5. Adanya penyebaran Operaciones sicologicas en guerra de guerrillas dan pemasangan ranjau di wilayah perairan di Nicaragua merupakan bukti bahwa Amerikas Serikat telah melanggar kedaulatan dari Nicaragua dengan cara mengganggu permasalahan dalam negeri dari negara yang bersangkutan. Tindakan lainnya yang berupa penerbangan tanpa izin yang melintasi wilayah Nicaragua, pemasangan ranjau di perairan Nicaragua, dan penambangan di wilayah Nicaragua juga merupakan pelanggaran terhadap kebiasaan internasional ini. 6. Adanya embargo perdagangan yang dikeluarkan oleh Amerika Serikat terhadap Nicaragua juga merupakan bentuk pelanggan dari perjanjian yang telah mereka bentuk sebelumnya, yaitu Treaty of Friendship, Commerce and Navigation yang dibentuk pada tanggal 21 Januari 1956 di Managua.

Analisis Putusan

1. Dalam kasus ini dapat kita lihat bagaimana penerapan kebiasaan internasional dan perjanjian imternasional dalam melindugi kepentingan dari suatu negara yang telah dilanggar kepentingannya oleh negara lain yang merupakan anggota dari perjanjian tersebut. 2. Pada dasarnya, dari seluruh putusan yang dikeluarkan oleh ICJ terhadap pelanggaran Amerika Serikat yang berupa bantuan militer terhadap kelompok pemberontak gerilya di Nicaragya, semuanya berdasarkan pada prinsip umum yang berlaku dalam hukum internasional yang telah menjadi suatu kebiasaan internsional, yaitu prinsip untuk tidak mengganggu kedaulatan dari negara lain. 3. Suatu negara tidak boleh turut campur dalam urusan dalam negeri dari negara yang lain tanpa adanya dasar perbuatan yang jelas. Oleh karena itu, tindakan Amerika Serikat ini merupakan pelanggaran dar prinsip tersebut terkait dengan bantuannya terhadap aktivtitas militer dan paramiliter di Nicaragua, pemasangan ranjau di perairan Nicaragua tanpa sepengetahuan Nicaragua itu sendiri, pelanggaran perbatasan Nicaragua atas penerbangan yang diatur dan dilakukan oleh Amerika Serikat, dan penambangan di wilayah Nicaragua. 4. Dikarenakan campur tangan Amerika Serikat tersebut Nicaragua telah mengalami kerugia besar, sudah seharusnya bagi Amerika Serikat untuk bertanggung jawab atas segala kerugian yang telah ditimbulkan diakibatkan adanya campur tangan dari Amerika Serikat. 5. Treaty of Friendship, Commerce and Navigation antara Amerika Serikat dan Republik Nicaragua yang ditanda tangani pada tanggal 21 Januari 1956 tersebut, juga telah dilanggar oleh Amerika Serikat terkait dengan tindakannya di dalam pemerintahan Nicaragua. Dikarenakan Amerika Serikat telah melanggar dua ketentuan yang mengikat dirinya dengan Nicaragua, yaitu kebiasaaninternasional dan Treaty of Friendship, Commerce and Navigation, maka kedua ketentuan tersebut dapat diterapkan untuk mengatasi permasalahan yang dialami oleh Nicaragua ini.

ASYLUM CASE, COLOMBIA v. PERU, ICJ REPORTS, 1950


Fakta Hukum
1. Para pihak dalam sengketa ini adalah Kolombia dan Peru. 2. Pada 3 Oktober 1948 sebuah pemberontakan militer terjadi di Peru. Sebuah partai politik American Peoples Revolutionary Party dituduh merancang dan memimpin pemberontakan tersebut. 3. Victor Raul Haya de la Torre, pimpinan partai tersebut dinyatakan bertanggung jawab atas terjadinya pemberontakan. Pada 16 November keluar perintah agar de la Torre hadir ke

hadapan Examining Magistrate. 4. Pada 3 Januari 1949 de la Torre diberikan suaka oleh Kedutaan Besar Kolombia di Lima, Peru. Pada 4 Januari kedutaan besar Kolombia mengumumkan pemberian suaka tersebut kepada pemerintah Peru dan pada saat yang sama meminta diberikannya jaminan berupa safe-conduct agar pengungsi dapat meninggalkan Peru. Kolombia menegaskan bahwa pengungsi tersebut merupakan pengungsi politik. 5. Peru mempertanyakan penggolongan (kualifikasi) yang dilakukan oleh Kolombia yang menggolongkan de la Torre sebagai pengungsi politik. Peru juga menolak memberikan safe-conduct. Menurut Peru, de la Torre melakukan kejahatan umum (common crime), bukan kejahatan politik sehingga tidak berhak mendapatkan suaka. 6. Pada 31 Agustus 1949 para pihak sepakat mengajukan sengketa ke Mahkamah Internasional.

Permasalahan Hukum
Permasalahan hukum yang diajukan oleh Kolombia: 1. Bahwa Kolombia sebagai negara pemberi suaka berhak melakukan kualifikasi secara sepihak mengenai pelanggaran yang dilakukan oleh de la Torre; 2. Bahwa Peru sebagai negara tempat si pencari suaka berada (territorial state), wajib memberikan jaminan yang diperlukan untuk memastikan si pencari suaka dapat keluar dari Peru. Permasalahan hukum yang diajukan oleh Peru: 1. Bahwa pemberian suaka oleh Kolombia kepada de la Torre telah dilakukan secara melanggar ketentuan Konvensi Havana pasal 1 ayat 1 dan pasal 2 ayat 2.

Putusan Mahkamah
1. Dengan suara 14 berbanding 2, Mahkamah memutuskan bahwa Kolombia tidak berhak menentukan secara sepihak mengenai sifat asal dari pelanggaran tersebut. 2. Dengan suara 15 berbanding 1, Mahkamah memutuskan bahwa Pemerintah Peru tidak berkewajiban untuk memberikan jaminan kepada pengungsi. 3. Dengan suara 15 berbanding 1, Mahkamah memutuskan menolak keberatan Pemerintah Peru sepanjang mengenai pasal 1 ayat 1 Konvensi Havana. Akan tetapi dengan suara 10 berbanding 6, Mahkamah menerima keberatan Peru yang berdasarkan pada pasal 2 ayat 2 Konvensi Havana.

Dasar Pertimbangan Putusan


1. Kolombia menyatakan bahwa de la Torre melakukan kejahatan politik (political offense) dan karenanya memberikan suaka pada de la Torre. Kolombia mendasarkan tindakannya ini pada tiga perjanjian internasional yaitu Persetujuan Bolivarian 1911 tentang Ekstradisi, Konvensi Havana 1928 tentang Suaka, dan Konvensi Montevideo 1933 tentang Suaka Politik, serta hukum internasional Amerika. Berdasarkan ketentuan-ketentuan tersebut Kolombia menyatakan bahwa ia berhak menentukan sifat dari kejahatan tersebut, apakah kejahatan politik atau kejahatan biasa, sebagai dasar pemberian suaka. Mahkamah kemudian melihat apakah ketentuan-ketentuan tersebut memang memberikan hak yang demikian kepada Kolombia. 2. Mahkamah melihat bahwa Persetujuan Bolivarian 1911 memang mengakui pemberian suaka sesuai prinsip-prinsip hukum internasional. Akan tetapi prinsip ini tidak memberikan suatu hak untuk melakukan kualifikasi secara sepihak (unilateral qualification). 3. Sedangkan dalam Konvensi Havana 1928, Mahkamah berpendapat bahwa Konvensi tersebut baik secara eksplisit maupun implisit tidak mengakui dimungkinkannya suatu kualifikasi secara sepihak. Sedangkan dalam Konvensi Montevideo 1933, Konvensi ini tidak diratifikasi oleh Peru dan karenanya tidak dapat diterapkan kepada Peru. Selain itu Konvensi 1933 ini hanya diratifikasi oleh 11 negara. 4. Kemudian berdasarkan hukum internasional Amerika, Kolombia tidak bisa membuktikan adanya suatu praktek yang konstan dan seragam, secara lokal maupun regional, mengenai kualifikasi unilateral sebagai hak negara penerima pengungsi. Kalaupun Kolombia dapat membuktikan bahwa kebiasaan tersebut ada di kalangan negara-negara Amerika Latin, maka kebiasaan tersebut tidak dapat diterapkan kepada Peru. Karena tindakan-tindakan yang dilakukan Peru tidak menunjukkan sikap penerimaannya terhadap kebiasaan tersebut. Sebaliknya, sikap yang ditunjukkan Peru justru menandakan penolakan terhadap kebiasaan tersebut dengan tidak meratifikasi Konvensi Montevideo 1933 sebagai instrumen hukum yang memuat ketentuan tentang kualifikasi secara sepihak tersebut. 5. Menyangkut keberatan Peru yang pertama, yaitu bahwa kejahatan yang dilakukan oleh de la Torre merupakan tindak kriminal sehingga tidak dapat diberikan suaka sesuai pasal 1 ayat 1 Konvensi Havana. Mahkamah melihat bahwa kejahatan yang dituduhkan dilakukan oleh de la Torre adalah pemberontakan militer. Akan tetapi Peru tidak dapat menunjukkan bahwa pemberontakan militer merupakan suatu common crime. Bahkan ketentuan hukum nasional Peru justru menunjukkan yang sebaliknya. Oleh karena itu Mahkamah berpendapat bahwa pemberontakan militer bukan common crime dan menolak keberatan

Peru tersebut. 6. Tetapi mengenai keberatan Peru yang didasarkan pada pasal 2 ayat 2 Konvensi Havana, Mahkamah menerimanya. Mahkamah berpendapat bahwa pemberian suaka oleh Kolombia kepada de la Torre tidak didasarkan pada suatu kebutuhan yang urgen dan mendesak dalam jangka waktunya. Oleh karena itu pemberian suaka tersebut tidak sesuai dengan pasal 2 ayat 2 Konvensi.

Analisis Putusan
1. Salah satu prinsip penting yang terdapat dalam kasus ini adalah bahwa hukum kebiasaan harus didasarkan pada suatu praktek yang konstan dan seragam di antara negara-negara yang bersangkutan. Hukum kebiasaan internasional yang dipermasalahkan dalam kasus ini bukanlah mengenai kebiasaan dalam pemberian suaka, karena pemberian suaka sudah diakui oleh negara-negara. Yang dipermasalahkan adalah mengenai kompetensi negara pemberi suaka untuk menentukan apakah kejahatan yang dilakukan oleh pencari suaka merupakan kejahatan kriminal atau kejahatan politik, yang mana hal ini menjadi dasar pemberian suaka. Karena pemberian suaka hanya dapat dilakukan terhadap seseorang yang dituduh melakukan kejahatan politik, bukan kejahatan kriminal. Kolombia menyatakan bahwa kompetensi tersebut merupakan kebiasaan internasional sementara Peru tidak mengakuinya. 2. Kebiasaan internasional merupakan salah satu sumber hukum internasional yang diakui dalam Statuta ICJ. Supaya suatu kebiasaan internasional dapat dikatakan sebagai sumber hukum internasional, ada dua unsur yang harus dipenuhi yaitu unsur material dan unsur psikologis. Unsur material yaitu kenyataan adanya kebiasaan yang bersifat umum. Ada dua hal yang menandakan suatu kebiasaan internasional merupakan suatu kebiasaan umum. Pertama, perlu adanya suatu pola tindak yang berlangsung lama yang merupakan serangkaian tindakan yang serupa mengenai hal dan kebiasaan yang serupa pula. Kedua, kebiasaan atau pola tindak tersebut harus bersifat umum dan bertalian dengan hubungan internasional. 3. Unsur psikologis yaitu diterimanya kebiasaan internasional itu sebagai hukum. Unsur psikologis menghendaki bahwa kebiasaan internasional dirasakan memenuhi suruhan kaidah atau kewajiban hukum, atau dalam bahasa latin disebut opinio juris sive necessitatis. Dilihat secara praktis suatu kebiasaan internasional dapat dikatakan diterima sebagai hukum apabila negara-negara itu tidak menyatakan keberatan terhadapnya. Meski kebanyakan kebiasaan harus berlangsung dalam waktu yang lama, terkadang ditemukan

suatu hukum kebiasaan yang bersifat instan. Kebiasaan semacam ini dapat menjadi hukum tanpa harus melalui praktek dalam jangka waktu yang lama. 4. Pasal 1 ayat 1 Konvensi Havana It is not permissible for States to grant asylum to persons accused or condemned for common crimes . Berdasarkan bunyi pasal tersebut maka beban pembuktian bahwa de la Torre telah didakwa atau dihukum atas kejahatan biasa berada pada Peru. Dalam hal ini maka ada dua hal yang perlu dibuktikan yaitu adanya tuntutan atau putusan penghukuman, dan kejahatan biasa (common crime). Tidak sulit untuk membuktikan adanya dakwaan terhadap de la Torre, hal ini dapat ditunjukkan dari perintah yang dikeluarkan pejabat setempat Peru untuk membawa de la Torre ke hadapan Examining Magistrate. Akan tetapi yang masih perlu untuk dibuktikan adalah mengenai apakah kejahatan yang dituduhkan itu merupakan common crime atau bukan. Dalam kasus de la Torre, kejahatan yang dituduhkan kepadanya oleh pemerintah Peru sebelum pemberian suaka adalah pemberontakan militer dan Peru tidak bisa membuktikan bahwa pemberontakan militer merupakan common crime. Pasal 248 Peruvian Code of Military Justice tahun 1939 bahkan cenderung menunjukkan yang sebaliknya. Ketentuan pasal tersebut memisahkan antara pemberontakan militer dan common crimes lainnya. Ini menunjukkan bahwa pemberontakan militer bukanlah suatu common crime, setidaknya menurut hukum Peru. 5. Pasal 2 ayat 2 Konvensi Havana Asylum may not be granted except in urgent cases and for the period of time strictly indispensable for the person who has sought asylum to ensure in some other way his safety. Berdasarkan pasal tersebut maka pemberian suaka dapat dibenarkan atas adanya suatu bahaya yang bersifat segera dan terus menerus (imminence and persistence) yang mengancam si pencari suaka. Dalam hal ini maka beban pembuktian mengenai apakah keadaan bahaya yang semacam itu memang ada, dibebankan kepada Kolombia sebagai negara pemberi suaka. Mengenai bahaya yang mengancam de la Torre, tidak diragukan lagi bahwa pasca pemberontakan militer tersebut banyak tindakan tak terkendali oleh kelompok-kelompok tidak bertanggung jawab yang ditujukan kepada de la Torre. Yang perlu dibuktikan sekarang adalah mengenai urgensi dalam pemberian suaka tersebut. Berdasarkan fakta yang telah disebutkan, ada jeda waktu yang cukup panjang antara tanggal terjadinya pemberontakan dengan tanggal keluarnya perintah penangkapan dan tanggal diberikannya suaka kepada de la Torre. Ini menghilangkan unsur urgensi yang diperlukan dalam pemberian suaka.

NORTH SEA CONTINENTAL SHELF CASE, 1969

Fakta-Fakta Hukum
1.Pihak yang bersengketa dalam kasus ini adalah antara Republik Federal Jerman dengan Denmark dan antara Republik Federal Jerman dengan Belanda. 2.Kasus ini adalah tentang sengketa batas landas kontinen di Laut Utara dimana Republik Federal Jerman tidak setuju dengan ketentuan pasal 4 Konvensi Genewa tahun 1958 tentang Landas Kontinen yang mengatur tentang batas landas kontinen antar negara yang bertetangga yang menyebabkan Jerman mendapat batas landas kontinen yang

sangat

sedikit

dibandingkan

dengan

Denmark

dan

Belanda

sebagai

negara

tetangganya. 3.Dalam pasal 4 Konvensi Genewa 1958 disebutkan bahwa penentuan batas landas kontinen ditentukan melalui prinsip equidistance (prinsip sama jarak) dimana jika berdasarkan prinsip ini, maka Jerman hanya mendapat sedikit bagian dari landas kontinen Laut Utara. 4.Hal itu disebabkan karena kondisi geografis Jerman dimana garis pantainya sangat sedikit sehingga menyebabkan landas kontinen yang dimiliki Jerman menjadi terbatas. 5.Pihak Republik Federal Jerman menuntut agar apabila prinsip equidistance diberlakukan dalam kasus ini, maka Jerman dapat menggunakan Article 6 Konvensi Genewa 1958 yang mengatur tentang pembagian secara adil (apportionment theory). 6.Pihak Denmark dan Belanda menolak usul Jerman dan menginginkan adanya pembatasan terhadap batas landas kontinen di Laut Utara berdasarkan prinsip equidistance yang telah menjadi kebiasaan internasional dan telah diatur dalam Konvensi Genewa 1958. 7.Republik Federal Jerman belum meratifikasi Konvensi Genewa 1958 tentang Landas Kontinen. 8.Republik Federal Jerman, Denmark, dan Belanda kemudian sepakat membawa kasus ini ke Mahkamah Internasional dengan Special Agreement antara Republik Federal Jerman dengan Belanda pada tanggal 1 Desember 1964 dan antara Republik Federal Jerman dengan Denmark pada tanggal 9 Juni 1965.

Masalah Hukum
Masalah hukum yang kemudian terjadi adalah : 1.Apakah pihak Republik Federal Jerman berhak melakukan penarikan garis batas landas kontinennya di Laut Utara berdasarkan prinsip pembagian secara adil (apportionment theory)? 2.Apakah Denmark dan Belanda berhak untuk membatasi batas landas kontinen di Laut Utara berdasarkan prinsip equidistance yang dianggap telah menjadi hukum kebiasaan internasional dan diatur dalam Konvensi Genewa 1958 tentang Continental Shelf?

Putusan Mahkamah Internasional


Mahkamah Internasional yang beranggotakan Hakim Sir Muhammad Zafrulla Khan, Presiden Bustamante y Rivero, Hakim Jessup, Hakim Padilla Nervo, Hakim Ammoun, Hakim Bengzon, Wakil Presiden Koretsky, Hakim Tanaka, Hakim Morelli, Hakim Lachs, dan Hakim adhoc Sorensen kemudian memutuskan dengan perbandingan 11 suara berbanding 6 menolak gugatan Denmark dan Belanda atas prinsip equidistance sebagai general costumary international law, serta menolak teori pembagian secara adil yang diajukan Jerman.

Dasar Pertimbangan Mahkamah Internasional


Mahkamah memiliki beberapa pertimbangan dalam memutuskan kasus ini diantaranya : 1.Republik Federal Jerman belum meratifikasi Konvensi Genewa 1958 sehingga tidak terikat pada ketentuan Article 6. 2.Prinsip equidistance tidak sesuai dengan prinsip utama dalam penentuan batas landas kontinen, dan bukan merupakan hukum kebiasaan internasional karena telah diatur dalam Konvensi Genewa 1958, sedangkan hukum kebiasaan internasional seharusnya adalah hukum tidak tertulis yang dipraktekkan dan mengikat semua negara. Mahkamah berpendapat bahwa para pihak dalam kasus ini yaitu Republik Federal Jerman, Denmark, dan Belanda harus mematuhi prinsip dan peraturan-peraturan dalam hukum internasional sehingga dalam kasus ini hukum kebiasaan internasional tidak dapat mengesampingkan hukum internasional. Terhadap alasan Jerman untuk menerapkan prinsip apportionment theory, Mahkamah berpendapat bahwa dalam kasus ini, Jerman hanya dapat membatasi dan bukan membagi secara adil karena prinsip tersebut hanya merupakan salah satu varian dari hukum kebiasaan internasional dalam penentuan batas landas kontinen dan bukan merupakan prinsip utama. Mahkamah juga berpendapat bahwa prinsip equidistance tidak pernah diajukan ke International Law Commission sebagai general costumary law.

Analisis Kasus

Menurut kelompok kami, dalam kasus ini putusan Mahkamah telah tepat karena para pihak, dalam hal ini Denmark dan Belanda hanya mendasarkan pendapatnya pada hukum kebiasaan internasional, sementara dalam penentuan batas landas kontinen harus berdasarkan pada ketentuan dalam Konvensi Genewa 1958 tentang Batas Landas Kontinen. Selain itu, suatu prinsip harus memenuhi dua syarat untuk diakui sebagai hukum kebiasaan internasional yaitu state practice (praktek negara) dan opinion yuridis civi necessitates (tidak ada negara yang menolaknya). Dalam kasus ini, prinsip equidistance tidak dapat dikatakan sebagai hukum kebiasaan internasional karena ada negara yang tidak menerimanya yaitu Republik Federal Jerman.

CASE CONCERNING LEGALITY OF THE THREAT OR USE OF NUCLEAR WEAPONS, ICJ REPORTS, 1996
Fakta Hukum

1. Perkara ini adalah mengenai permintaan pendapat hukum kepada Mahkamah Internasional tentang legalitas pemilikan dan penggunaan senjata nuklir oleh negara. 2. Sejak 1945 tidak ada penggunaan senjata nuklir oleh negara-negara. Selain itu beberapa resolusi yang dikeluarkan Majelis Umum PBB diantaranya resolusi 1653 (XVI) tanggal 24 November 1961 mengenai senjata nuklir, menunjukkan adanya suatu bentuk pelarangan senjata nuklir. 3. Meskipun tidak pernah menggunakannya, beberapa negara masih memiliki senjata nuklir. Selain itu beberapa kebijakan internal negara-negara tersebut juga cenderung menolak adanya pelarangan terhadap pemilikan senjata nuklir. 4. Pada tanggal 3 September 1993, yang pertama sekali mengajukan permohonan kepada ICJ untuk membuat Advisory Opinion atas Legality of The Threat or Use of Nuclear Weapon adalah WHO (World Health Organization). 5. WHO menyadari bahwa bahaya penggunaan senjata nuklir mengancam kehidupan manusia. Karena itu satu-satunya jalan untuk menanganinya adalah dengan melarang penggunaan maupun pemilikan senjata nuklir. 6. WHO kemudian mengajukan masalah ini kepada Majelis Umum PBB. Majelis Umum PBB kemudian mengajukan suatu permintaan pendapat hukum kepada Mahkamah Internasional. 7. Dalam proses di Mahkamah, ada partisipasi dari beberapa negara yang mewakili negara pemilik senjata nuklir dan negara penentang pemilikan senjata nuklir.

Permasalahan Hukum
Dari sudut pandang efek terhadap kesehatan dan lingkungan, apakah penggunaan senjata nuklir oleh suatu negara dalam perang atau konflik bersenjatata lainnya merupakan pelanggaran terhadap kewajiban negara dalam hukum internasional termasuk Konstitusi WHO?

Putusan Mahkamah
Dengan suara 11 berbanding 3, Mahkamah berpendapat bahwa tidak ada hukum perjanjian internasional maupun hukum kebiasaan internasional dan pelarangan universal mengenai ancaman atau penggunaan senjata nuklir.

Dasar Pertimbangan Putusan


1. Mahkamah melihat masih adanya pertentangan yang kuat antara negara-negara yang pemilik senjata nuklir dengan negara-negara penentangnya. Fakta-fakta tersebut membuat Mahkamah berpendapat bahwa ia tidak dapat menemukan adanya suatu opinio juris. 2. Mengenai resolusi 1653 (XVI) yang menjadi salah satu rujukan tentang pelarangan senjata

nuklir, para negara pemilik senjata nuklir menyatakan bahwa resolusi tersebut tidak memiliki kekuatan mengikat. Resolusi tersebut juga tidak dianggap sebagai suatu pernyataan kebiasaan internasional mengenai pelarangan senjata nuklir. Negara-negara pemilik senjata nuklir tersebut juga menganggap bahwa resolusi tersebut tidak hanya tidak mendapat persetujuan dari negara pemilik senjata nuklir tapi juga dari negara lainnya. 3. Mahkamah berpendapat bahwa meskipun resolusi Majelis Umum PBB tidak mengikat, terkadang resolusi tersebut memiliki nilai normatif. Resolusi tersebut dapat menjadi bukti yang penting untuk membuktikan keberadaan suatu ketentuan atau munculnya suatu opinio juris. Untuk mengetahui apakah kondisi tersebut dialami oleh resolusi Majelis Umum ini, maka perlu diperhatikan isi dan kondisi resolusi tersebut saat dibuat. Selain itu juga penting untuk melihat apakah ada suatu opinio juris sebagai karakter normatifnya. Atau apakah serangkaian resolusi yang menunjukkan perubahan secara gradual terhadap opinio juris yang dibutuhkan untuk membentuk suatu hukum kebiasaan. 4. Secara umum, resolusi-resolusi yang dikeluarkan oleh Majelis Umum PBB menunjukkan bahwa penggunaan senjata nuklir merupakan pelanggaran langsung terhadap Piagam PBB dan penggunaan senjata itu harus dilarang. Akan tetapi perlu diingat fakta bahwa dalam pembuatan dan ketika diadopsi oleh Majelis Umum, resolusi-resolusi tersebut mendapat voting negatif dan abstain dari negara-negara anggota. Selain itu meskipun resolusi-resolusi tersebut menitikberatkan pada masalah senjata nuklir, resolusi tersebut masih belum cukup menunjukkan adanya suatu opinio juris mengenai ilegalitas dari penggunaan senjata tersebut.

Analisis Putusan
1. Negara yang menghendaki pelarangan senjata nuklir menyatakan bahwa pelarangan tersebut bersumber salah satunya dari hukum kebiasaan internasional. Mereka berpendapat bahwa tidak adanya penggunaan senjata nuklir sejak perang dunia ke 2 tahun 1945 telah membentuk suatu kebiasaan internasional. Fakta tersebut, menurut mereka juga menunjukkan adanya suatu opinio juris mengenai pelarangan senjata nuklir. 2. Sementara negara yang tetap mendukung pemilikan senjata nuklir menyatakan bahwa tidak adanya penggunaan senjata nuklir tidak berarti bahwa hal itu telah menciptakan suatu kebiasaan internasional. Tidak adanya penggunaan senjata nuklir lebih dikarenakan belum munculnya keadaan-keadaan yang dapat memicu ataupun membenarkan penggunaan senjata nuklir. Mereka menyatakan tetap membutuhkan pemilikan senjata nuklir dalam keadaan darurat menyangkut kepentingan vital negaranya. Menurut negara-negara ini fakta

tersebut juga tidak mencerminkan adanya suatu opinio juris. 3. Agar suatu kebiasaan internasional dapat menjadi hukum kebiasaan internasional, ada dua syarat yang harus dipenuhi yaitu states practice dan opinio juris. Dalam kasus ini states practice tidak terpenuhi karena masih banyak negara-negara yang menolak pelarangan pemilikan senjata nuklir. Opinio juris juga tidak terpenuhi karena resolusi-resolusi yang dijadikan rujukan ternyata tidak menunjukkan adanya hal tersebut. Penolakan terhadap resolusi tersebut juga mengurangi legitimasinya dalam mengatur senjata nuklir. Karena syarat-syarat tersebut tidak terpenuhi maka tidak ada suatu hukum kewajiban internasional yang melarang pemilikan senjata nuklir. 4. Dengan tidak adanya kewajiban internasional yang melarang pemilikan senjata nuklir tersebut, maka satu-satunya hal yang mempengaruhi bagaimana penggunaan dari teknologi nuklir tersebut adalah kebijakan dari negara yang memiliki teknologi tersebut. Lagipula suatu pelanggaran penggunann senjata nuklir baru dapat dilihat apabila di dalam penggunaan tersebut terdapat pelanggaran terhadap ketentuan yang ada yang berlaku secara internasional atau adanya pelanggaran terhadap kebiasaan internasional yang telah diakui. 5. Jika kita lihat dari sudut pandang kemanusiaan, dimana senjata nuklir dipandang sebagai senjata penghancur missal,dan hal ini secara umum dan universal dilarang oleh kebiasaan internasional. Jika dipandang dari kegunaannya, yaitu untuk membunuh mahluk hidup secara missal, maka hukum internasional melarang itu, dan demi perdamaian dunia di masa yang akan datang.

HAK ASASI MANUSIA


GENOCIDE, BOSNIA-HERZEGOVINA V. SERBIA-MONTENEGRO, ICJ REPORTS, 2007

Fakta-Fakta Hukum
1.Pihak dalam kasus ini adalah Serbia-Montenegro (atau Yugoslavia) dengan BosniaHerzegovina terkait masalah pembantaian massal (genocide) terhadap etnis muslim Bosnia. 2.Kasus ini terjadi di wilayah Srebrenica, Bosnia pada tahun 1995 dimana kasus ini disebut juga Pembantaian Srebrenica atau Genosida Srebrenica merujuk kepada pembunuhan sekitar 8000 lelaki dan remaja etnis Muslim Bosnia pada Juli 1995 oleh pasukan Serbia pimpinan Jenderal Ratko Mladi. 3.Pada tahun 1992, terjadi peperangan antara Serbia dan Bosnia. Karena kekejaman dan pembersihan etnis yang dilakukan para tentara Serbia, umat Muslim Bosnia harus mengungsi ke kamp-kamp pengungsian. Srebrenica adalah salah satu kamp terbesar dan dinyatakan oleh PBB sebagai zona aman. Kamp itu sendiri dijaga oleh 400 penjaga perdamaian dari Negeri Belanda. 4.Pada tanggal 6 Juli 1995, pasukan Korps Drina dari tentara Serbia Bosnia mulai menggempur pos-pos tentara Belanda di Srebrenica. Pada tanggal 11 Juli pasukan Serbia memasuki Srebrenica. Anak-anak, wanita dan orang tua berkumpul di Potocari untuk mencari perlindungan dari pasukan Belanda. Pada 12 Juli, pasukan Serbia mulai memisahkan laki-laki berumur 12-77 untuk "diinterogasi". Pada tanggal 13 Juli pembantaian pertama terjadi di gudang dekat desa Kravica. Pasukan Belanda menyerahkan 5000 pengungsi Bosnia kepada pasukan Serbia, untuk ditukarkan dengan 14 tentara Belanda yang ditahan pihak Serbia. Pembantaian terus berlangsung. Pada 16 Juli berita adanya pembantaian mulai tersebar. Tentara Belanda meninggalkan Srebrenica, dan juga meninggalkan persenjataan dan perlengkapan mereka. Selama 5 hari pembantaian ini, 8000 etnis muslim Bosnia telah terbunuh. 5.Bosnia-Herzegovina kemudian menuntut Serbia-Montenegro ke ICJ untuk bertanggung jawab sebagai negara suksesor dari Yugoslavia atas pembantaian yang menurut Bosnia merupakan pelanggaran hak asasi manusia yang tergolong berat, selain menuntut agar para pelaku genosida ini diadili di International Criminal Tribunal for former Yugoslavia (ICTY) yang dibentuk oleh PBB berdasarkan Resolusi No. 867 tahun 1993. 6.Mahkamah Internasional kemudian mengajukan provisional measures untuk mencegah tindakan genosida pada tanggal 8 April dan 13 September 1993.

Masalah Hukum
Masalah hukum yang terjadi dalam kasus ini adalah apakah tindakan genosida yang dilakukan oleh pasukan Serbia di Srebrenica pada tahun 1995 dapat digolongkan sebagai pelanggaran HAM berat sesuai dengan ketentuan dalam Convention on the Prevention and Punishment of the Crime of Genocide, sehingga Serbia-Montenegro harus bertanggung jawab sebagai negara suksesor dari Yugoslavia?

Putusan Mahkamah Internasional


Mahkamah Internasional setelah mempertimbangkan putusan dari International Criminal Tribunal for former Yugoslavia (ICTY) dan European Court of Human Rights (ECHR) mengenai penafsiran terhadap Konvensi mengenai Pencegahan dan Penanggulangan terhadap Kejahatan Genosida, pada tanggal 26 Februari 2007 memutuskan bahwa tindakan pembantaian etnis muslim di Srebrenica pada tahun 1995 sesuai dengan Article II (a) dan (b) dari Konvensi dimana tindakan Serbia dalam hal ini merupakan tindakan genosida dan termasuk pelanggaran HAM berat sehingga Serbia-Montenegro sebagai negara suksesor dari Yugoslavia terikat pada kewajiban internasional dalam Konvensi, namun Serbia tidak dianggap bersalah atas genosida tersebut. Serbia juga dianggap telah melanggar ketentuan Genocide Convention Article I dan VI mengenai kewajiban untuk mengekstradisi pelaku kejahatan internasional, dalam hal ini Jenderal Ratko Mladic sebagai pemimpin dalam operasi pembantaian di Srebrenica. Selain pasukan Serbia Bosnia, pasukan paramiliter Serbia, Scorpion (kalajengking) juga turut bersalah atas pembantaian ini. Serbia juga dianggap telah melanggar provisional measures yang diajukan oleh Mahkamah pada 8 April dan 13 September 1993 mengenai pencegahan genosida.

Dasar Pertimbangan Mahkamah Internasional

Dasar pertimbangan Mahkamah adalah karena Serbia dianggap telah melanggar kewajiban yang disebutkan dalam Konvensi mengenai Pencegahan dan Penanggulangan Terhadap Kejahatan Genosida dengan melakukan pembantaian terhadap etnis muslim Bosnia

di Srebrenica yang merupakan kamp pengungsi yang dilindungi dan ditetapkan sebagai zona aman oleh PBB. Mahkamah berpendapat bahwa pengertian genosida yang diatur dalam Convention on the Prevention and Punishment of the Crime of Genocide yang digolongkan ke dalam pelanggaran HAM berat adalah kejahatan berupa pemusnahan secara massal terhadap ras tertentu sehingga tindakan pembantaian etnis muslim Bosnia yang dilakukan oleh pasukan Serbia dapat dikatakan sebagai tindakan genosida. Namun, Mahkamah tidak menganggap Serbia bersalah karena berdasarkan pernyataan pemerintah Republik Federal Yugoslavia menanggapi provisional measures yang dikeluarkan oleh ICJ pada tahun 1993 dimana pemerintah dengan kekuasaannya akan berusaha untuk mencegah terjadinya tindakan genosida dan untuk memastikan bahwa tindakan genosida tersebut tidak dilakukan oleh operasi militer atau para-militer dibawah pemerintah. Mahkamah mengambil contoh dari kasus Nicaragua v. Amerika Serikat dimana Amerika Serikat secara hukum tidak bertanggung jawab terhadap tindakan Contra guerillas. Dalam kasus ini, Serbia dianggap tidak bersalah oleh Mahkamah karena tindakan genosida di Srebrenica dilakukan oleh kesatuan dibawah pimpinan Jenderal Ratko Mladic dan bukan merupakan perintah dari pemerintah Republik Federal Yugoslavia.

Analisis Kasus
Menurut kelompok kami, dalam kasus ini, putusan Mahkamah sudah tepat

menggolongkan kasus pembantaian di Srebrenica kedalam tindakan genosida yang merupakan pelanggaran HAM berat. Namun, putusan Mahkamah kurang tegas karena tidak memutus bersalah kepada Serbia meskipun telah terbukti bahwa pasukan Serbia yang telah melakukan pembantaian di Srebrenica. Meskipun tindakan genosida ini merupakan komando dari Jenderal Ratko Mladic, namun selama tindakan tersebut dilakukan atas nama Serbia, maka Serbia juga harus bertanggung jawab dan memenuhi kewajibannya seperti yang telah ditentukan dalam Convention on the Prevention and Punishment of the Crime of Genocide. Dalam hukum pidana internasional, dikenal pertanggungjawaban terhadap pelanggaran HAM berat hingga ke panglima tertinggi dari operasi tersebut dimana segala tindakan yang dilakukan oleh prajurit militer dianggap merupakan perintah dari atasan selama tindakan tersebut merupakan tindakan militer. Dengan kata lain, dalam kasus ini, Jenderal Ratko Mladic sebagai panglima dari operasi ini harus bertanggung jawab terhadap tindakan genosida yang dilakukan oleh pasukannya. Serbia sendiri dianggap gagal mencegah ataupun mengadili pelaku pembantaian ini, sekalipun

Serbia memiliki hubungan erat dengan militer Serbia Bosnia.

TOM BEANAL, U.S. DISTRICT COURT, E.D. LOUISIANA, 1997

(Beanal v. Freeport-McMoran,Inc.)

Fakta Hukum
Pihak yang bersengketa dalam kasus ini adalah Tom Beanal yang berasal dari Irian Jaya, Indonesia melawan Freeport-McMoran, Inc. dan Freeport-McMoran, Copper & Gold Inc. Perusahaan tersebut memiliki cabang di Indonesia yang bernama PT. Freeport Indonesia. Di dalam kasus ini terdapat pelanggaran internasional yang terkait dengan aktivitas perusahaan tambang domestik di wilayah Indonesia, provinsi Irian Jaya. Freeport-McMoran, Inc. dan Freeport-McMoran Copper & Gold, Inc., adalah perusahaan Delaware yang berpusat di New Orleans, Lousiana. Freeport tersebut mengoperasikan Graberg Mine, yaitu tambang perunggu, emas, dan perak yang berlokasi di Gunung Jayawijaya di Irian Jaya, Indonesia. Tambang tersebut memiliki luas 26.400 km2. Beanal adalah penduduk yang berasal dari Tamika, Irian Jaya di Republik Indonesia. Dia juga adalah pemimpin dewan Suku Amungme dari Lembaga Adat Suki Amungme. Pada bulan Agustus 1996, Beanal mengajukan gugatan terhadap Freeport kepada pengadilan distrik (district court) di Eastern District of Lousiana atas adanya pelanggaran terhadap hukum internasional. Beanal menyatakan bahwa pengadilan memiliki yurisdiksi atas kasus ini dengan berdasarkan pada ketentuan dalam 28 U.S.C. 1332 (" 1332"), the Alien Tort Statute, 28 U.S.C. 1350 (" 1350"), dan the Torture Victim Protection Act of 1991, sec. 1, et seq., 28 U.S.C. 1350 note. Dalam gugatannya yang pertama, Beanal menyatakan bahwa Freeport telah melakukan pelanggaran berupa pemerasan lingkungan, pelanggaran hak asasi manusia, dan cultural genocide. Beanal lalu menyatakan bahwa operasi tambang Freeport tersebut telah merusak lingkungan dan habitat di Amungme yang contohnya adalah perubahan arah aliran sungai di wilayah suku Amungme tersebut tinggal. Freeport telah dituduh melakukan cultural genocide dikarenakan telah menghancurkan habitat dan simbol religius di Amungme, sehingga diharuskan penduduk setempat untuk berpindah tempat. Selain itu, pasukan keamanan privat yang dimiliki oleh Freeport telah bekerja sama dengan angkatan bersenjata di Indonesia dalam pelanggaran hak asasi manusiatersebut. Dengan berdasarkan pada pelanggaran-pelanggaran tersebut, Beana menuntut ganti rugi. Freeport telah mengajukan beberapa alasan kepada pengadilan untuk menolak tuntutan

Beanal berhubungan dengan pelanggaran terhadap hak asasi manusia dan lingkungan. Freeport menyatakan bahwa Beanal tidak memiliki dasar yang kuat dalam mengajukan tuntutan mengenai pelanggaran hak asasi manusia atas namanya diri sendiri maupun mewakili orang lain. Dalam hal Alien Tort Statute, Freeport menyatakan bahwa Alien Tort Statute tidak menyebutkan adanya tindakan secara privat, dan Freeport bukanlah pelaku yang bertindak atas nama negara. TVPA memang mengadopsi Alien Tort Statute dalam tuntutan mengenai penyiksaan dan pembunuhan secara ekstrajudisial. Dalam hal pelanggaran HAM yang diajukan berdasarkan Torture Victim Protection Act (TVPA), Freeport berpendapat bahwa Beanal tidak dapat mengajukan gugatan tersebut dikarenakan TVPA tidak diterapkan kepada suatu perusahaan, Freeport bertindak atas dasar hukum asing, dan Beanal tidak dapat mempergunakan solusi hukum secara lokal. Dalam hal tuntutan yang diajukan dengan berdasarkan 1350, Freeport berpendapat bahwa Beanal tidak memiliki dasar yang kuat untuk mengajukan tuntutan mengenai permasalahan lingkungan, Beanal tidak dapat mengajukan tuntutan dikarenakan praktek terhadap lingkungan tidak melanggar hukum suatu negara, doktrin act of a state tidak sesuai dengan tuntutan Beanal, doktrin dari local action memandatkan untuk penolakan, dan tuntutan tersebut dapat dibatalkan dikarenakan tidak dilakukan dengan pihak yang seharusnya tidak dapat dipisahkan, yaitu Republik Indonesia.

Permasalahan Hukum
Apakah district court of Louisiana memiliki yurisdiksi atas kasus ini dengan berdasarkan pada ketentuan dalam 28 U.S.C. 1332 (" 1332"), the Alien Tort Statute, 28 U.S.C. 1350 (" 1350"), dan the Torture Victim Protection Act of 1991, sec. 1, et seq., 28 U.S.C. 1350 note?

Putusan Mahkamah
District Court of Louisiana memutuskan untuk menolak seluruh tuntutan yang diajukan oleh Beanal. Hal ini dikarenakan : 1. Penggugat hanya memiliki dasar untuk melakukan gugataan dengan mengatasnamakan dirinya dan suku Amungme, tetapi tidak untuk pihak lainnya untuk eksekusi secara keseluruhan dan penghilangannya; 2. Penggugat tidak dapat mengajukan gugatan genosida dalam pelanggaran prinsip hukum internasional, berkaitan dengan Alien Tort Statute; 3. Penggugat tidak dapat mengajukan gugatan dengan berdasarkan pada Alien Tort Statute

karena Freeport bertindak atas dasar hukum Indonesia; 4. Torture Victim Protection Act tidak dapat mengadopsi ketentuan di dalam Alien Tort Statute untuk permasalahan penyiksaan dan pembunuhan secara ekstrajudisial yang dilakukan bertentangan dengan hukum nasional; 5. Torture Victim Protection tidak dapat diterapkan pada perusahaan; 6. Penggugat tidak dapat mengajukan gugatan mengenai perusakan lingkungan dalam pelanggaran terhadap hukum nasional.

Dasar Pertimbangan Putusan


Berdasarkan pada ketentuan dalam 1350, untuk mengajukan gugatan dengan berdasarkan pada ketentuan tersebut harus memenuhi 3 syarat, yaitu : (1) an alien sues (2) for a tort, dan (3) committed in violation of the law nations. Kedua syarat pertama telah dipenuhi oleh Beanal, akan tetapi untuk persyaratan ketiga tidak dapat dipenuhi. Hal ini dikarenakan Freeport bertindak tidak atas nama negara, dalam hal ini mereka bertindak atas nama swasta, serta tidak adanya bukti bahwa ini merupakan tindakan dari suatu negara. Dalam hal cultural genocide seperti yang diajukan oleh Beanal, pengadilan menyatakan bahwa tindakan genosida yang dimaksud oleh Beanal tersebut tidak memiliki kejelasan di dalamnya, sebab tidak ada bukti secara eksplisit bahwa Freeport telah melakukan tindakan genosida terhadap suku Amungme tersebut. Pengadilan menyatakan bahwa tindakan Freeport terkait dengan perusakan lingkungan yang bertentangan dengan prinsip hukum internasional, Beanal tidak dapat membuktikan hal tersebut hal ini dikarenakan Freeport melaksanakan aktivitasnya berkaitan dengan program di dalam perusahaannya, bukan atas nama tindakan dari suatu negara. Untuk pelanggaran terhadap hak asasi manusia yang diajukan berdasarkan Alien Tort Statute, pengadilan menolak gugatan dari Beanal dikarenakan Beanal tidak dapat memberikan fakta secara spesifik atas apa yang terjadi pada dirinya secara individual dan Beanal hanya menuntut ganti rugi saja tanpa ada bukti yang mendukung tuntutan tersebut. Dalam tuntutan Beanal yang berkaitan dengan Torture Victim Protection Act, Beanal mengajukan gugatan tersebut dengan berdasarkan pada adanya pelanggaran terhadap hak asasi manusia. Hal ini memiliki kesamaan dengan tuntutan Beanal yang berkaitan dengan ATS. Oleh karena itu, pengadilan memutuskan untuk menolak tuntutan tersebut dikarenakan Beanal tidak dapat memberikan bukti yang cukup untuk mendukung tuntutan

tersebut. Selain itu, tuntutan yang berkaitan dengan TVPA ini tidak dapat diajukan kepada suatu perusahaan.

Analisis Kasus
Dalam kasus ini dapat kita lihat bagaimana penanganan suatu perkara yang berkaitan dengan hak asasi manusia, yang dalam kasus ini terjadi antara Tom Beanal melawan Freeport-McMoran, Inc. dan Freeport-McMoran, Copper & Gold Inc. Di dalam kasus ini, Beanal mengajukan gugatannya mengenai adanya pelanggaran berupa pemerasan lingkungan, pelanggaran hak asasi manusia, dan cultural genocide yang dilakukan oleh Freeport. Aktivitas Freeport tersebut telah mengakibatkan suku Amungme terpaksa melakukan pemindahan dikarenakan adanya perusakan lingkungan berupa perubahan arah aliran sungai di wilayah suku Amungme tersebut tinggal, serta suku Amungme juga telah mengalami cultural genocide diakibatkan aktivitas Freeport tersebut. Dalam proses peradilan yang dilakukan oleh district court Louisiana, tuntutan ganti rugi yang diajukan oleh Beana seluruhnya ditolak oleh distric court tersebut. Pada intinya, hal ini dikarenakan tuntutan yang diajukan oleh Beana tersebut tidak memiliki bukti yang cukup di dalamnya serta adanya kesalahan dalam penggunaan ketentuan yang dijadikan sebagai dasar oleh Beana. Pada dasarnya, tuntutan yang diajukan oleh Beana tersebut dapat diterima dan dapat diproses oleh distric court tersebut, akan tetapi karena kurangnya bukti-bukti faktual yang mendukung gugatan Beana tersebut, district court Louisiana menolak tuntutan tersebut dan Freeport pada dasarnya tidak dapat dituntut dalam kasus ini dikarenakan Freeport adalah sebuah perusahaan swasta di Amerika Serikat yang memiliki cabang di Indonesia dan posisi Freeport pada saat itu didukung oleh perundang-undangan di Indonesia yang berlaku saat itu. Cultural Genocide tidak dapat dikategorikan sebagai bagian dari genosida. Hal ini dikarenakan prinsip dasar dari pengertian genosida mengenai pembantaian massal secara fisik tidak sesuai dengan pengertian dasar dari cultural genocide, yang lebih berkaitan dengan hilangnya suatu kebudayaan dari suatu kelompok masyarakat dikarenakan adanya berbagai faktor baik dari dalam maupun dari luar.

DOE v UNOCAL 2002 US APP. LEXIS 19263 (9TH CIR. 2002) US COURT OF APPEALS FOR THE 9TH CIRCUIT

Fakta Hukum
Dalam kasus ini terdapat dua gugata, salah satunya pihak yang bersengketa dalam kasus ini adalah John Doe (Myanmar) melawan Unocal Corporation, sebuah perusahaan di California, John Imle, dan Roger C. Beach. Pihak yang bersengketa dalam gugatan lainnya adalah John Roe III, John Roe IV, John Roe VIII, dan John Roe X melawan Unocal Corporation dan Union Oil Company of California. Burma telah diperintah oleh pemerintahan militer sejak tahun 1958. Dan pada tahun 1988, oleh sebuah pemerintah militer yang berbeda (Mymanmar Militer), mereka mengubah nama negaranya menjadi Myanmar. Pemrintahan Myanmar yang baru tersebut memiliki bentuk negara dengan sistem ekonomi yang dikuasai oleh negara. Pada tahun 1992, Myanmar Oil, perusahaan minyak di Myanmar, memberi izin kepada perusahaan minyak Prancis, Total S.A., untuk memproduksi, transportasi, dan menjual gas alam dari Yadana, di pantai Myanmar. Kerja sama tersebut berupa Gas Production Joint Venture, di mana akan dilakukan pengambilan gas alam di wilayah Yadana tersebut yang ditransportasi melalui pipa sepanjang pantai Myanmar melalui bagian dalam negara Thailand. Proyek kerja sama tersebut dikelola melalui cabang perusahaan yang dinamakan Total Myanmar Exploration and Production. Pada tahun itu juga, Unocal Corporation beserta perusahaan subsidinya, Union Oil Company of California ikut turut serta dalam proyek tersebut dan memperoleh keuntungan sebesar 28%. Untuk itu, perusahaan Unocal juga membuka cabang di wilayah tersebut yang dinamakan Unocal Myanmar Offshore Company. Mereka juga membuka cabang lain yang dinamakan Unocal International Pipeline Corporation untuk mempertahankan saham mereka yang sebesar 28% tersebut. Dalam kerja sama tersebut, Total Myanmar ditugaskan sebagai operator dalam pyoyek join venture tersebut dan bertanggung jawab dalam penerimaan pegawai dan pembayaran upah yang harus mereka peroleh. Dalam pelaksanaan proyek tersebut, Militer Myanmar melakukan penjagaan dan pengamanan dalam proyek tersebut, dan hal ini telah diketahui oleh Unocal. Penjagaan tersebut dilakukan terutama di sepanjang pipa tersebut dan ini memasuki wilayah

Tenasserim di Myanmar. Penggugat dalam kasus ini adalah penduduk desa yang berasal dari Tenasserim, yaitu daerah pemukikan yang dilewati Proyek tersebut, Penggugat, John Doe menyatakan bahwa Militer Myanmar memaksa mereka dengan menggunakan kekerasan untuk bekerja sebagai buruh dalam proyek tersebut. Selain kerja paksa tersebut, mereka juga menyatakan bahwa Militer Myanmar juga telah melakukan tindakan berupa pembunuhan, pemerkosaan, dan penyiksaan. Tindakan yang dilakukan oleh Militer Myanmar tersebut telah diketahui oleh Unocal dan Total. Pada tahun 1995 Unocal telah melakukan pertemuan dengan beberapa organiasi perlindungan hak asasi manusia terkait dengan permasalahan di Myanmar tersebut dan pada tanggal 17 September 1996, jug a telah diadakan pertemuan dengan European Union terkait dengan tindakan kerja paksa di Myanmar. Pada bulan September 1996, 4 penduduk desa dari Tenasserim, Federation of Trade Unions of Burma, dan National Coalition Government of the Union of Burma mengajukan gugatan kepada Uncoal dan Proyek tersebut. Penggugat menyatakan bahwa telah terjadi pelanggaran Alien Tort Claim Pasal 28 U.S.C. 1350 dan pelanggaran atas hukum nasional. Salah satu dari penduduk desa tersebut juga menggugat atas adanya tindakan kerja paksa, yang dilakukan tanpa adanya kompensasi dan adanya ancaman pembunuhan, sepanjang wilayah di sekitar pipa proyek tersebut. Gugatan ini diajukan kepada United States Court of Appeals, Ninth Circuit di California. Pada bulan Oktober tahun 1996, 14 penduduk desa dari Tenasserim juga mengajukan gugatan kepada Unocal, Total, Myanmar Oil, Militer Myanmar, Presiden Unocal Imle, dan Unocal CEO Beach. Mereka menyatakan bahwa proyek tersebut telah mengakibatkan kematian kepada anggota keluarga mereka, penyerangan, pemerkosaan dan penyiksaan lainnya, kerja paksa, dan hilangnya tempat tinggal dan properti mereka. Penggugat ini, John Doe I, mewakili seluruh penduduk di Tenasserim atas segala penderitaan mereka dan kerugian yang mereka dapatkan. Gugatan ini didasarkan pada adanya pelanggaran atas ATCA dan hukum nasional. Gugatan ini juga didasarkan pada pelanggaran pada Racketeer Influenced and Corrupt Organizations Act, U.S.C. 1961 et seq. Gugatan ini diajukan kepada United States Court of Appeals, Ninth Circuit di California.

Permasalahan Hukum
Apakah Unocal telah melakukan pelanggaran terhadap hak asasi manusia atas kerja paksa,

pembunuhan, pemerkosaan, dan penyiksaan bagi warga Tenasserim oleh kelompok Militer Myanmar, terkait dengan gugatan atas pelanggaran terhadap Alien Tort Claim Pasal 28 U.S.C. 1350, Racketeer Influenced and Corrupt Organizations Act, U.S.C. 1961, hukum nasional dari suatu negara?

Putusan Mahkamah
Pengadilan memutuskan bahwa Unocal telah melakukan pelanggaran terhadap ketentuan di dalam ATCA terkait dengan adanya tindakan kerja paksa, pembunuhan, dan pemerkosaan. Pengadilan memutuskan bahwa Unocal tidak melakukan pelanggaran terhdap ketentuan di dalam ATCA terkait dengan adanya tindakan penyiksaan. Pengadilan tidak dapat memutuskan mengenai pelanggaran terhadap Racketeer Influenced and Corrupt Organizations Act, dikarenakan tidak memiliki yurisdiksi atas ketentuan tersebut.

Dasar Pertimbangan Putusan


Alien Tort Claim Acts merupakan suatu ketentuan yang mengatur tentang norma dalam hukum internasional dan dapat dijadikan sebagai dasar gugatan apabila terdapat pelanggaran terhadap hukum nasional. Penggugat menyatakan bahwa Unocal telah membantu dan memberikan perintah kepada Militer Myanmar untuk melaksanakan kerja paksa. Oleh karena itu, Unocal dianggap telah melanggar ketentuan di dalam ATCA. Pengadilan menyatakan, sebagai bentuk dari penerapan hukum internasional, suatu kerja paksa merupakan salah satu bentu dari perbudakan secara modern. Sehingga Unocal dapat dianggap telah melanggar ATCA untuk membantu dan memberikan perintah dalam pelaksanaan kerja paksa ini. Tindakan pembunuhan, pemerkosaan, dan penyiksaan menurut penggugat merupakan dampak dari kerja paksa, sehingga tindakan negara tidak diperlukan untuk menyatakan bahwa kasus ini telah melanggar ketentuan dalam ATCA. Akan tetapi, pengadilan menyatakan tidak ada bukti yang cukup mengenai penyiksaan yang dilakukan oleh Militer Myanmar, selain hanya pada pemerkosaan. Sehingga tidak dapat dikatakan bahwa Unocal telah melakukan tindakan penyiksaan secara eksplisit. Pengadilan menyatakan bahwa pengadilan distrik ini tidak memiliki yurisdiksi atas ekstra

teritorial subjek dalam gugatan Doe atas pelanggaran Racketeer Influenced and Corrupt Organizations Act terhadap Unocal. Ini mengakibatkan Pengadilan tidak dapat memberikan keputusannya atas gugatan ini.

Analisis Kasus
Dalam kasus ini dapat kita lihat bagaimana penanganan suatu kasus yang berhubungan dengan pelanggaran terhadap hak asasi manusia, yang dalam kasus ini berlangsung antara John Doe, warga dari Tenasserim, Myanmar melawan Unocal Corporation, sebuah perusahaan di California, John Imle, dan Roger C. Beach. Serta John Roe III, John Roe IV, John Roe VIII, dan John Roe X, yang semuanya berasal dari Myanmar melawan Unocal Corporation dan Union Oil Company of California. Di dalam kasus ini, baik John Doe maupun John Roe III dan yang lainnya mengajukan gugatannya berdasarkan adanya kerja paksa yang dilakukan oleh kelompok Militer Myanmar terhadap warga di Tenasserim, berkaitan dengan pelaksanaan proyek pembangunan pipa untuk pengambilan sumber daya gas alam di Myanmar. Dari kerja paksa tersebut, telah terjadi serangkaian tindakan pelanggaran hak asasi manusia, yaitu pembunuhan, pemerkosaan, dan penyiksaan. Tindakan-tindakan tersebut kemudian digugat dengan berdasarkan Alien Tort Claim Pasal 28 U.S.C. 1350 dan Racketeer Influenced and Corrupt Organizations Act, U.S.C. 1961. ATCA pada dasarnya dapat digunakan sebagai suatu dasar gugatan apabila telah terjadi pelanggaran terhadap hukum nasional dalam suatu negara. Dikarenakan tindakan kerja paksa ini merupakan salah satu bentuk dari perbudakan, maka hal ini dapat dilakukan. Ini mengakibatkan tindakan lainnya seperti pembunuhan serta pemerkosaan yang dilakukan oleh Militer Myanmar dapat digugat. Akan tetapi, untuk hal penyiksaan, hal ini tidak dapat digugat dikarenakan kurangnya bukti yang cukup atas perbuatan tersebut. Pengadilan distrik memiliki keterbatasan dalam memutuskan suatu gugatan yang bersifat ekstra teritorial. Ini mengakibatkan gugatan dalam Racketeer Influenced and Corrupt Organizations Act, U.S.C. 1961 tidak dapat diputuskan dikarenakan tidak memiliki yurisdiksi atas ketentuan tersebut. Pada dasarnya, pelanggaran hak asasi manusia yang terjadi di dalam kasus ini disebabkan oleh kesewenangan dari pemerintah Myanmar dalam menjalankan kewenangannya tanpa memperhatikan kondisi dari penduduk di sekitar lokasi proyek tersebut. Hal ini dapat dihindari sebelumnya apabila Militer Myanmar tidak berlebihan dalam menggunakan

kekuasaannya dalam menjalankan proyek kerja sama tersebut.

JOHN Doe et al v. EXXON MOBIL CORP., EXXON MOBIL OIL INDONESIA INC., MOBIL CORPORATION, MOBIL OIL CORPORATION, & PT ARUN LNG Co. US DISTRICT COURT FOR DISTRICT OF COLUMBIA
Fakta Hukum
Kasus ini adalah mengenai gugatan 11 warga negara Indonesia penduduk Aceh melawan Exxon Mobil Corporation, Exxon Mobil Oil Indonesia Inc., Mobil Corporation, Mobil Oil Corporation, and PT Arun LNG Co. Selama bertahun-tahun Exxon Mobil Corporation beserta perusahaan pendahulunya (predecessor company) yaitu Mobil Oil Corporation dan Mobil Oil Indonesia, mempekerjakan unit-unit militer dari angkatan bersenjata nasional Indonesia untuk mengamankan proyek gas mereka di Aceh. Exxon Mobil merupakan perusahaan asal Amerika Serikat. Anggota-anggota unit militer tersebut melakukan berbagai pelanggaran HAM terhadap penduduk lokal. Diantaranya berupa pembunuhan, perkosaan, penyiksaan, penghancuran properti dan berbagai tindakan teror lainnya. Exxon Mobil tidak mengambil tindakan untuk menghentikan pelanggaran ini padahal menurut penggugat, Exxon Mobil mengetahui atatu sepatutnya mengetahui terjadinya pelanggaran tersebut. Ia justru terus memberikan bantuan finansial dan menyediakan perlengkapan dan fasilitas perusahaan yang digunakan militer Indonesia untuk melakukan dan menutupi tindakan-tindakan tersebut. Pada 20 Juni 2001 diajukan klaim berdasarkan (Alien Tort Claim Act) ATCA dan Torture Victim Protection Act (TVPA) kepada Federal District Court for the District of Columbia atas nama 11 penduduk Aceh yang menjadi korban pelanggaran HAM oleh unit pengamanan Exxon Mobil.

Permasalahan Hukum
Apakah Exxon Mobil telah melanggar hak-hak asasi dari para penduduk Aceh tersebut? Apakah Exxon Mobil dapat dipertanggungjawabkan atas pelanggaran tersebut dan bagaimana ganti rugi yang harus diberikan kepada penduduk Aceh tersebut?

Putusan Mahkamah
Kasus ini belum mendapat putusan akhirnya hingga saat ini (25 Mei 2009). Pada 14 Oktober 2005 US Federal Judge menetapkan bahwa beberapa klaim penggugat dapat diproses di US District Court for District of Columbia, diantaranya termasuk pembunuhan, pencurian dengan kekerasan, dan penyerangan. Akan tetapi menolak klaim penggugat yang didasarkan pada ATCA dan TVPA.

Dasar Pertimbangan Putusan


Pengadilan mengakui bahwa genosida dan penyiksaan usually actionable di bawah ATCA dan melanggar hukum negara-negara. Akan tetapi dalam kasus ini Pengadilan menyatakan bahwa tidak mungkin untuk menentukan lingkup tanggung jawab Exxon atas tindakantindakan pasukan pengamanan tanpa mencampuri urusan dalam negeri Indonesia secara tanpa izin. Pengadilan juga menyatakan bahwa ia tidak menemukan dugaan bahwa Exxon berpartisipasi dalam tindakan melawan hukum, atau mengendaikan tindakan pasukan pengamanan tersebut. Pengadilan berpendapat bahwa klaim penggugat tidak cukup menunjukkan bahwa masalah yang diajukan berada dalam yurisdiksi Pengadilan berdasarkan ATCA. Akan tetapi klaim lainnya yang tidak didasarkan pada ATCA diterima oleh Pengadilan dan dapat diproses. Salah satu hal yang mungkin memengaruhi putusan hakim untuk menolak klaim yang berdasarkan ATCA adalah surat dari US Department of State Legal Advisor William H. Taft yang menyatakan bahwa penerapan ATCA untuk menuntut perusahaan transnasional yang terlibat pelanggaran HAM dapat mengganggu investasi luar negeri.

Analisis Kasus
Masalah utama dalam kasus ini adalah apakah litigasi ATCA dapat mengubah mentality yang mengizinkan suatu korporasi melakukan bisnisnya ketika mengetahui bahwa ada pelanggar HAM yang memanfaatkan perusahaan itu untuk menghindari tanggung jawab dari perbuatannya. Nuremberg Tribunal menghasilkan salah satu prinsip dalam tanggung jawab yaitu bahwa private defendants dapat dimintai pertanggungjawabannya atas secara sadar menikmati keuntungan dari perbudakan buruh. Ini berarti bahwa kepentingan ekonomi tidak dapat

menjadi pembelaan atas pelanggaran HAM. Jika prinsip dari Nuremberg ini diaplikasikan ke ATCA, maka akan menjadi jelas bahwa berdasarkan hukum internasional, memberikan bantuan secara sadar kepada pelanggaran HAM sudah cukup ntuk menjadi dasar pertanggungjawaban. Perusahaan multinasional harus memastikan bahwa mereka tidak berpartisipasi (setidaknya secara sadar) dalam suat pelanggaran HAM. Dalam kasus ini klaim berdasarkan ATCA ditolak, salah satunya atas dasar kepentingan investasi. Bagaimanapun akan terasa tidak adil untuk menolak suatu klaim yang diajukan terhadap korporasi atas pelanggaran HAM karena alasan kepentingan investasi mengalahkan hak-hak dasar manusia. Komunitas internasional telah menyepakati bahwa hak-hak ini tidak boleh dilanggar (inviolable) dan harus dipertahankan. Salah satu masalah dalam menuntut perusahaan transnasional atas pelanggaran HAM yaitu membuktikan bahwa pelaku pribadi (private actor) dapat pula melanggar hukum internasional. Salah satu kasus yaitu Kadic v. Karadzic memperluas lingkup penerapan ATCA. Dalam kasus ini Second Circuit menyatakan bahwa ATCA dapat menyediakan yurisdiksi dalam kejahatan genosida, kejahatan terhadap kemanusiaan, dan kejahatan perang. Pengadilan juga menyatakan bahwa private actor sebagaimana halnya state actor dapat melakukan pelanggaran hukum HAM internasional. ATCA menjadi berlaku tidak hanya untuk state actor tapi juga private actor ketika hukum internasional mengindikasikan bahwa suatu larangan tertentu bersifat mengikat state maupun non-state actor.

PRESBYTERIAN CHURCH OF SUDAN v. TALISMAN ENERGY INC. US DISTRICT COURT FOR SOUTHERN DISTRICT OF NEW YORK

Fakta Hukum
Pihak yang bersengketa dalam kasus ini adalah Presbyterian Church Sudan melawan Talisman Energy Inc., dan Republik Sudan. Talisman, perusahaan energi Kanada, mengadakan kolaborasi dengan pemerintahan Sudah untuk melakukan ethnically cleansing terhadap populasi penduduk yang menetap di sekitar lokasi sumber minyak yang berada di bagian selatan Sudan. Hal ini dilakukan untuk memfasilitasi aktivitas eksplorasi minyak dan pengambilannya. Kebijakan ethnic cleansing ini ditujukan kepada warga non-Muslim, serta penduduk Afrika yang menetap di bagian selatan Sudan. Untuk itu, maka dilakukan tindakan-tindakan seperti pembunuhan secara ekstrayudisial, pemindahan secara paksa, serangan militer terhadap penduduk yang menjadi sasaran, penyitaan dan pengrusakan properti, penculikan, pemerkosaan, dan perbudakan. Hal ini dilakukan sebagai penerapan dari kebijakan pemerintahan Sudan yang dikendalikan oleh National Islamic Front. Penggugat menyatakan bahwa ini merupakan bentuk dari permusuhan kepada warga non-Muslim yang menetap di bagian selatan Sudan tersebut berkaitan dengan sejarah dari pemerintahan Sudan penuh dengan perang saudara. Pada tahun 1997, pemerintahan Sudan telah dianggap oleh PBB sebagai salah satu negara yang telah melakukan tindakan terorisme berdasarkan pada International Emergency Economic Powers Act. Ini dikarenakan adanya perebutan sumber minyak yang terdapat di wilayah Sudan tersebut. Talisman mulai menjalankan operasinya di Sudan pada bulan Oktober tahun 1998. Dan dalam pelaksanaan operasi tersebut, kebijakan ethnic cleaning yang telah direncanakan sebelumnya dijalankan. Talisman memberikan bantuan secara langsung dalam pelaksanaan kebijakan tersebut dan secara tidak langsung Talisman telah mendukung kampanye genosida yang dilakukan oleh Pemerintah Sudan. Penggugat, baik merupakan warga maupun mantan warga dari Republik Sudan mengajukan gugatan kepada Talisman Energy, Inc. dan Sudan dikarenakan adanya pelanggaran terhadap hukum internasional berkaitan dengan aktivtas eksplorasi minyak yang dilakukan di negara tersebut. Gugatan tersebut diajukan melalui United States District Court Southern District of New York.

Penggugat menyatakan bahwa tergugat telah melakukan pelanggaran terhadap hak asasi manusia, diantaranya adalah pembunuhuan ekstrayudisial, pemindahan secara paksa, kejahatan perang, penyitaan dan pengrusakan properti, penculikan, pemerkosaan, dan perbudakan. Penggugat menyatakan bahwa seluruh tindakan tersebut termasuk dalam tindakan genosida.

Talisman berniat untuk membantah kasus ini dikarenakan kurangnya subjek dalam yurisdiksi tersebut, kurangnya yurisdiksi personal, kurang dasar gugatan dari penggugat, forum non conveniens, international comity, doktrin tindakan suatu negara, doktrin pertanyaan politis, tidak adanya tindakan penggabungan pihak yang tidak terpisahkan, dan dikarenakan ekuitas tidak membutuhkan hal yang tidak berguna.

Permasalahan Hukum
Apakah Talisman dapat membantah gugatan yang diajukan oleh Presbyterian Church Sudan terkait dengan adanya pelanggaran HAM dan tindakan genosida yang telah dilakukan oleh Talisman dan Pemerintah Sudan?

Putusan Mahkamah
United States District Court Southern District of New York memutuskan bahwa tindakan Talisman untuk membantah gugatan yang diajukan oleh penggugat tersebut ditolak.

Pertimbangan Putusan
Hakim berpendapat bahwa korporasi dapat dimintai pertanggungjawabannya atas pelanggaran norma-norma jus cogens, dan bahwa hukum internasional mengakui teori pertanggungjawaban atas tindakan seperti konspitasi dan membantu atau bersekongkol dalam melakukan pelanggaran tersebut. Tanggung jawab semacam ini disebut secondary liability. Menurut hakim, jus cogens adalah norma yang tidak dapat diubah/pasti dan pelanggaran terhadapnya akan menimbulkan universal concern. Jus cogens ini termasuk pelarangan genosida, penyiksaan, perbudakan, kejahatan terhadap kemanusiaan. Talisman berargumen bahwa tidak ada bukti yang cukup menyatakan bahwa hukum kebiasaan internasioal memasukkan tanggung jawab korporasi untuk pelanggaran HAM berat, atau secondary liability untuk membantu dan berkonspirasi untuk melakukan

pelanggaran tersebut. Hakim menolak pendapat ini dan menyatakan bahwa untuk membuktikan adanya hukum kebiasaan internasional, cukup dengan melihat praktek negara-negara yang konsisten dengan kebiasaan tersebut dan apabila negara bertindak secara inkonsisten dengan kebiasaan tersebut akan menimbulkan pelanggaran terhadap hukum kebiasaan internasional. Hakim merujuk kepada putusan ICTY dan ICTR bahwa pelarangan hukum kebiasaan internasional terhadap pelanggaran norma-norma jus cogens seperti genosida berlaku untuk state actor maupun private actor. Hakim juga merujuk pada kasus Sosa v. Alvarez-Machain yang secara eksplisit menunukkan adanya tanggung jawab korporasi berdasarkan hukum kebiasaan internasional.

Analisis Kasus
Dalam kasus ini pengadilan merujuk kepada beberapa putusan kasus terkait klaim berdasarkan ATCA diantaranya Filartiga, Karadzic dan Unocal untuk mendukung bahwa korporasi dapat bertanggung jawab atas pelanggaran hukum internasional. Hukum internasional tidak menyediakan suatu pedoman khusus untuk menentukan apakah suatu perusahaan transnasional melanggar HAM atau tidak. Namun dalam perkembangannya perseorangan maupun badan hukum atau korporasi memiliki hak-hak dan kewajibankewajiban tertentu dalam hukum internasional. Khusus untuk individu termasuk di dalamnya kewajiban hukum dalam konteks hukum pidana internasional. Dalam kerangka hukum internasional sebenarnya belum ada kesepakatan mengenai bagaimana memproses tanggung jawab pidana dari korporasi. Statuta Roma hanya memuat tanggung jawab pidana dari individu, bukan korporasi. Akan tetapi perkembangan dalam hukum internasional yang ditandai dengan berbagai perjanjian internasional mengenai kejahatan transnasional dan kejahatan terorganisir menunjukan bahwa suatu subjek hukum selain negara dapat dipertanggungjawabkan atas pelanggaran hukum yang bersifat internasional. Suatu negara yang mendukung atau membiarkan pelanggaran sistematis terhadap HAM tidak memiliki sistem hukum untuk membantu orang-orang yang menjadi korban kejahatan HAM oleh korporasi tersebut. Dalam kasus ini pengadilan mengkritik pernyataan pembelaan dari tergugat yang menyatakan bahwa kasus ini seharusnya diadili di Sudan. Menurut pengadilan, dalam kasus ini Sudan tidak dapat membuat pernyataan yang meyakinkan bahwa sistem peradilan Sudan adil dan bebas dari korupsi dan tidak dapat meyakinkan bahwa penggugat, yang menuduh pemerintah Sudan melakukan genosida dan kejahatan perang akan mendapatkan proses peradilan yang adil.

Elemen dari klaim ATCA sekilas terlihat sederhana yaitu penggugat harus merupakan orang asing yang menjadi korban pelanggaran, dan pelanggaran yang dituduhkan harus merupakan pelanggaran terhadap hukum bangsa-bangsa atau suatu perjanjian internasional Amerika Serikat. Suatu pelanggaran merupakan pelanggaran terhadap law of nations ketika ia melanggar norma hukum kebiasaan internasional. Dan dalam praktek hanya kejahatan semacam kejahatan perang, genosida, kejahatan kemanusiaan, penyiksaan, perlakuan tidak manusiawi dan merendahkan, yang memenuhi standar ini. putusan Supreme Court pada kasus Sosa menegaskan bahwa hanya kejahatan yang sangat keji (most heinous crimes) yang actionable.