Anda di halaman 1dari 55

BAB I PENDAHULUAN1 A.

Latar Belakang Dalam perkembangan era reformasi dan demokrasi saat ini memberikan peluang bagi perubahan paradigma pembangunan nasional dari perubahan pertumbuhan paradigma nasional bermuara pada paradigma pemerataan

pembangunan daerah secara lebih adil dan berimbang. Perubahan paradigma ini antara lain diwujudkan melalui kebijakan otonomi daerah dan perimbangan keuangan pusat dan daerah yang di atur dalam satu wadah Undang -Undang No.32 / 2004 tentang Pemerintah Daerah dan Undang Undang No.33 / 2004 tentang Perimbangan Keuangan Pusat dan Daerah. Perencanaan dan pengendalian merupakan bagian dari manajemen sebuah organisasi, oleh karena itu apabila mendengar kata manajemen yang akan terbayang adalah proses perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, dan pengawasan ( pengendalian ). Dalam manajemen, proses perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan dan pengawasan dikatakan sebagai sebuah fungsi dari manajemen itu sendiri biasa dikenal dengan istilah POAC (planning organizing actuating controlling). Diantara seluruh fungsi manajemen yang ada, memiliki hubungan saling keterkaitan sehingga fungsi manajemen dalam sebuah organisasi harus dapat

Undang -Undang No.32 / 2004 tentang Pemerintah Daerah dan Undang Undang No.33 / 2004 tentang Perimbangan Keuangan Pusat dan Daerah.

berfungsi secara keseluruhan. Apabila salah satu dari fungsi manajemen tidak dapat berfungsi dengan baik maka fungsi yang lainnyapun akan terganggu. Misalnya, fungsi perencanaan kurang berfungsi dengan baik maka fungsi penggorganisasian dari rencana tadi juga tidak akan dapat berfungsi dengan baik pula. Dalam praktik ini penulis menguraikan tentang peranan anggaran sebagai salah satu alat perencanaan dan pengendalian dalam pembangunan otonomi daerah kabupaten ketapang, seperti yang telah dikatakan diatas bahwa fungsi manajemen mempunyai hubungan saling keterkaitan, maka disini akan dibahas tentang dua fungsi manajemen yakni perencanaan dan pengendalian ( pengawasan ) yang akan membuktikan bahwa fungsi manajemen memang memiliki hubungan saling keterkaitan. Perencanaan dan pengendalian memiliki fungsi yang saling mengisi. Pada organisasi pemerintah yang merupakan organisasi nirlaba atau organisasi yang bergerak dibidang pelayanan publik yakni melayani masyarakat demi terciptanya kemakmuran, maka perencanaan yang dibuat untuk memakmurkan rakyatnya dibentuk dalam program - program pembangunan. Perencanaan tersebut harus dilakukan dengan sebaik mungkin agar masyarakat benar - benar mendapatkan pelayanan yang semestinya. Dalam berbagai kajian, perencanaan pembangunan diartikan sebagai fungsi utama manajemen pembangunan dalam proses bernegara. Fungsi ini muncul sebagai akibat dari kebutuhan akan pembangunan yang lebih besar dibandingkan dengan ketersediaan sumber daya, dengan perencanaan pembangunan yang baik, kegiatan

pembangunan dapat dirumuskan secara efesien dan efektif dengan hasil yang optimal. Secara sederhana, pengertian perencanaan pembangunan daerah dapat didefinisikan sebagai sebuah proses pengambilan keputusan mengenai kebijakan dan program pembangunan daerah oleh Pemerintah Provinsi dan Pemerintah Kabupaten / Kota. Rangkaian proses ini dilakukan dengan memanfaatkan dan memperhitungkan kemampuan sumber daya, informasi, ilmu pengetahuan dan teknologi, serta memperhatikan perkembangan dunia global. Untuk mengetahui apakah perencanaan dan pengendalian pembangunan daerah di kabupaten Ketapang sudah berfungsi dengan baik atau belum, maka penulis menggunakan anggaran pendapatan belanja daerah atau APBD sebagai alatnmya. Karena dengan APBD dapat diketahui bagaimana kemampuan pemerintah daerah dalam membiayai dan melaksanakan program - program pembangunan yang telah direncanakan. Perencanaan yang baik adalah perencanaan yang didasari dengan feasibility study artinya perencanaan perlu dilakukan sesuatu studi dan penelitian, dengan agar kelak apabila rencana rencana tersebut mendapatkan alokasi anggaran dan dijadikan program pembangunan tidak akan mengalami kesulitan dalam pelaksanaannya. Hal tersebut karena sebelumnya dengan adanya penelitian, wawancara sudah barang tentu telah mengetahui apa yang menjadi penghambat, apa yang menjadi pendorong sehingga nantinya dalam pelaksanaan dapat diatasi dan diantisipasi hal - hal yang tidak menguntungkan. Dalam UU Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintah Daerah, kewenangan

yang luas dan nyata yang bertanggungjawab telah diberikan kepada daerah secara

proposional. Secara riil, hal ini diwujudkan dengan pengaturan, pembagiandan pemanfaatan sumber daya nasional, serta Perimbangan Keuangan Pusat dan Daerah, berbasis prinsip - prinsip demokrasi, peran serta masyarakat, pemerintah dan keadilan, serta potensi dan keanekaragaman daerah, yang dilaksanakan dalam kerangka NKRI. Perencanaan pembangunan daerah secara khusus diatur dalam UU Nomor 25/2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional, yang mengatur tahapan perencanaan mulai dari Rencana Pemerintah Jangka Menengah ( RPJM daerah , Renstra Satuan Kerja Pemerintah Daerah ( SKPD ) dan Rencana Kerja Pemerintah Daerah ( RKPD ), meskipun demikian UU Nomor 32/2001 tentang Pemerintah Daerah, mengatur kembali sistem perencanaan pembangunan daerah yang telah diatur dalam UU sebelumnya. Di negara Indonesia yang memberlakukan sistem otonomi daerah, dibuktikan dengan adanya UU yang selalu mengalami perubahan dengan tujuan memperbaiki sistem otonomi daerah yang telah dilaksanakan. Misalnya, paket UU No. 22 dan No. 25 Tahun 1999 yang telah diperbaiki dengan paket UU No 32 dan UU No.33 Tahun 2004. Dari uraian diatas penulis membuat Laporan Praktik Studi Lapangan dengan judul PERANAN ANGGARAN SEBAGAI SALAH SATU ALAT PERENCANAAN DAN PENGENDALIAN PEMBANGUNAN OTONOMI DAERAH KABUPATEN KETAPANG

Indra Bastian, Ph.D.,M.B.A.,Akt. 2009. Sistem Perencanaan dan Penggaran Pemerintah Daerah di Indonesia. Jakarta : Salemba Empat Budi Mulyana,2010. Penatausahaan Pelaksanaan APBD. Widyaiswara STAN-BPPK-KEMENTERIAN KEUANGAN

A.

PENDEKATAN / TUJUAN PENULISAN LAPORAN PSL Tujuan dari laporan praktik studi lapangan ini adalah sebagai berikut : a. Untuk memenuhi tugas dan persyaratan mahasiswa untuk menyelesaikan Program Diploma III Spesialisasi Akuntansi Sekolah Tinggi Akuntansi Negara b. Untuk membandingkan teori dan materi yang telah diperoleh selama mengikuti pendidikan di Program Diploma III Spesialisasi Akuntansi dengan praktik yang terjadi di lapangan c. Menambah ilmu dan wawasan tentang peranan anggaran pada bagian keuangan kabupaten Ketapang, serta untuk mengetahui sejauh mana peranan anggaran sebagai salah satu alat perencanaan dan pengendalian pada bagian perencanaan anggaran sekda kabupaten Ketapang.

B. 1.

METODE PENGUMPULAN DATA Data dan Sumber Data Data yang akan digunakan dalam laporan praktik studi lapangan ini adalah data primer, yaitu data yang bersumber dari hasil interview dan data sekunder yang bersifat kuantitatif dan kualitatif yang berupa APBD, teknik pengumpulan data yang penulis gunakan adalah sebagai berikut :

2.

Teknik Pengumpulan Data a. Wawancara ( interview ) Pengumpulan data dengan cara wawancara artinya pengumpulan data dengan cara wawancara atau tanya jawab langsung dengan kepala

bagian yang membidangi atau yang terkait dengan judul yang penulis buat guna mendapatkan data yang objektif. Penulis mengadakan tanya jawab dengan pihak yang ditunjuk atau dengan pejabat yang berwenang yang ada relevansinya dengan data dan penjelasan masalah yang dibahas. b. Dokumentasi ( decument ) Dokumentasi adalah setiap bahan yang ditulis ataupun film, lain dari record, yang tidak dipersiapakan karena adanya permintaan seorang adanya permintaan seorang penyidik ( Moleong, 1990 : 161 ) Metode dokumentasi yaitu mencari data mengenai hal - hal variable yang berupa catatan, transkip, buku, surat kabar, fhoto dan lain - lain. c. Studi Kepustakaan ( study library ) Studi kepustakaan adalah pengumpulan data dengan cara menguji dan memahami berbagai bahan bacaan yang erat hubungannya dengan penelitian. Selain mempelajari buku - buku penunjang, penulis juga menelaah catatan serta tulisan ilmiah yang erat hubungannya dengan masalah yang diteliti.

BAB II DATA DAN FAKTA


A. Data 1. Sejarah Berdirinya Bagian Keuangan Setda Kab. Ketapang. Menurut undang-undang No 25 Tahun 1956 maka Kabupaten Ketapang mendapat status sebagai bagian daerah otonomi Propinsi Kalimantan Barat yang dipimpin oleh seorang Bupati sebagai Kepala Daerah. Nama Daerah Ibukota Provinsi Batas wilayah - Utara - Selatan - Barat : Kabupaten Ketapang : Kalimantan Barat : Kalimantan Barat : : berbatasan dengan Kab. Sanggau dan Sekadau : berbatasan dengan Laut Jawa : berbatasan dengan Kab. Pontianak, Kab. Kayong Utara, dan Selat Karimata - Timur : berbatasan dengan Provinsi Kalimantan Tengah

Struktur organisasi perangkat daerah Kabupaten Ketapang dibentuk dengan Peraturan Daerah Nomor 12 Tahun 2004 Tentang Pembentukan Sekretariat Daerah Kabupaten Ketapang. Bagian Keuangan dipimpin oleh Kepala Bagian Keuangan yang berada di bawah dan bertanggung jawab kepada Sekretaris Daerah melalui Assisten Sekretaris Daerah bidang Administrasi Umum.

2. a.

Tugas Pokok dan Fungsi. Bagian Keuangan. Bagian Keuangan mempunyai tugas merumuskan dan melaksanakan kebijakan di bidang anggaran, pembukuan dan verifikasi, dan perbendaharaan serta melaksanakan fasilitas layanan administrasi dan mengkoordinasikan pelaksanaan tugas di bidang anggaran, pembukuan dan verifikasi, dan perbendaharaan, yang terbagi dan terinci secara sistematis ke dalam tugas masing-masing sub bagian.Dalam melaksanakan tugas bagian keuangan menyelenggarakan fungsi : Perumusan kebijakan di bidang anggaran, perbendaharaan, dan pembukuan dan verifikasi ; Penyusunan program dan kegiatan di bidang anggaran, perbendaharaan, dan pembukuan dan verifikasi ; Penyusunan pedoman pelaksanaan kegiatan di bidang anggaran,

perbendaharaan, dan pembukuan dan verifikasi ; Pelaksanaan koordinasi penyusunan kebijakan dan pelaksaan tugas di bidang pendapatan daerah ; Pelaksanaan pembinaan administrasi dan aparatur pada sub bagian anggaran, sub bagian perbendaharaan dan sub bagian pembukuan dan verifikasi ; Pengendalian, evaluasi dan pelaporan pelaksanaan kegiatan dibidang anggaran, perbendaharaan dan pembukuan dan verifikasi Pelaksanaan tugas kedinasan lainnya yang diberikan oleh atasan.

1) Sub Bagian Anggaran. Sub bagian anggaran dipimpin oleh kepala sub bagian yang berada di bawah dan bertanggung jawab kepada kepala bagian keuangan,Sub bagian anggaran mempunyai tugas melaksanakan kebijakan di bidang anggaran, serta menyiapkan bahan koordinasi penyusunan kebijakan dan pelaksanaan tugas di bidang anggaran. Dalam melaksanakan tugas, sub bagian anggaran menyelenggarakan fungsi : Penyiapan bahan koordinasi penyusunan kebijakan dan pelaksanaan tugas di bidang anggaran ; Penyusunan bahan perumusan kebijakan di bidang anggaran ; Penyusunan rencana kegiatan di bidang anggaran ; Penyiapan bahan pembinaan, koordinasi dan fasilitas pelaksanaan kegiatan di bidang anggaran ; Penyelenggaraan kegiatan di bidang anggaran ; Pelaksanaan pengawasan, evaluasi dan pelaporan kegiatan anggaran.

Rincian tugas sub bagian anggaran sebagai berikut : Penyusun rencana kerja sub bagian anggaran ; Menyiapkan bahan untuk penyusunan pedoman dan petunjuk teknis pelaksanaan kegiatan di bidang anggaran ; Menyiapkan rancangan kebijakan umum dan prioritas plafon anggaran sementara APBD dan perubahan APBD ; Menyusun nota keuangan APBD dan perubahan APBD ;

Mengkopilasi penyusunan rancangan peraturan daerah tentang APBD dan perubahan APBD ;

Menyusun rencana anggaran penanganan urusan Pemerintah Kabupaten ; Menyusun petunjuk pelaksaan pengelolaan anggaran daerah ; Mengkompilasi penyusunan anggaran kas SKPD; Memantau, mengendalikan, dan menyiapkan Surat Penyediaan Dana (SPD) dalam rangka menjamin likuiditas keuangan daerah ;

Melaksanakan pengelolaan data dasar penghitungan Alokasi Dana Alokasi Umum (DAU) Kabupaten ;

Menyusun pedoman evaluasi angggran pendapatan dan belanja daerah (APBD), sesuai dengan pedoman evaluasi yang ditetapkan pemerintah ;

Merumuskan kebijakan keseimbangan 10ystem; Menyusun kebijakan pendanan urusan pemerintah yang menjadi tanggung jawab bersama (urusan concurrent) antara kabupaten dan desa ;

Menyelenggarakan fasilitas perencanaan dan penganggaran pemerintah desa ;

Melaksanakan pengelolaan bantuan keuangan kepada pemerintah kecamatan dan kelurahan ;

Melaksanakan pengelolaan penyertaan modal kepada pihak ke tiga di luar BUMD ;

Melaksanakan pengawasan, evaluasi dan pelaporan kegiatan sub bagian anggaran ; 10

Melaksanakan tugas kedinasan lainnya yang diberikan oleh atasan.

2) Sub Bagian Pembukuan dan Verifikasi. Sub bagian pembukuan dan verifikasi dipimpin oleh kepala sub bagian yang berada di bawah dan bertanggung jawab kepada kepala bagian keuangan,sub bagian pembukuan dan verifikasi mempunyai tugas melaksanakan kebijakan di bidang pembukuan dan verifikasi, serta menyiapkan bahan koordinasi penyusunan kebijakan dan pelaksanaan tugas di bidang pembukuan dan verifikasi. Dalam melaksanakan tugas sub bagian pembukuan dan verifikasi meyelenggarakan fungsi : Penyiapan bahan koordinasi penyusunan kebijakan dan pelaksanaan tugas di bidang pembukuan dan verifikasi ; Penyusunan bahan perumusan kebijakan di bidang pembukuan dan verifikasi Penyusunan rencana kegiatan sub bagian pembukuan dan verifikasi ; Penyiapan bahan pembinaan, koordinasi dan fasilitas pelaksanaan kegiatan di bidang pembukuan dan verifikasi ; Penyelenggaraan kegiatan di bidang pembukuan dan verifikasi ; Pelaksanaan pengawasan, evaluasi dan pelaporan kegiatan sub bagian pembukuan dan verifikasi. Rincian tugas sub bagian pembukuan dan verifikasi, sebagai berikut : Menyusun rencana kerja sub bagian pembukuan dan verifikasi ; Menyiapkan bahan untuk penyusunan pedoman dan petunjuk teknis

11

pelaksanaan kegiatan di bidang pembukuan dan verifikasi ; Menyusun petunjuk teknis pelaporan dan pertanggung jawaban keuangan daerah dan desa ; Menyiapkan bahan penetapan kebijakan tentang system dan prosedur akutansi pengelolaan keuangan daerah dan desa ; Melaksanakan verifikasi dan pembukuan keuangan anggaran belanja langsung dan belanja tidak langsung ; Mengkompilasi penyusunan laporan prognosis realisaisi keuangan daerah; Mengkompilasi penyusunan laporan keuangan semesteran daerah; Mengkompilasi penyusunan laporan keuangan akhir tahun daerah meliputi laporan realisasi anggaran, neraca, laporan arus kas, dan catatan atas laporan keuangan ; Mengkompilasi penyusunan laporan keuangan daerah dan rancangan peraturan daerah tentang pertanggung jawaban pelaksanaan APBD dan penjabaran pertanggung jawaban pelaksanaan APBD ; Melaksanakan pembinaan, pengendalian, koordinasi,, fasilitas, dan evaluasi pelaporan pertanggungjawaban keuangan seluruh SKPD ; Melaksanakan pembinaan, pengendalian, koordinasi fasilitas dan evaluasi pelaporan pertanggungjawaban keuangan APBD ; Menyiapkan bahan penetapan kebijakan laporan keuangan dan

pertanggungjawaban pelaksanaan pendanaan urusan pemerintah yang menjadi tanggung jawab bersama (urusan concurrent) ;

12

Melaksanakan pengawasan, evaluasi dan pelaporan kegiatan sub bagian pembukuan dan verifikasi ;

Melaksanakan tugas kedinasan lainnya yang diberikan oleh atasan.

3) Sub Bagian Perbendaharaan. Sub bagian perbendaharaan dipimpin oleh kepala sub bagian yang berada di bawah dan bertanggung jawab kepada kepala bagian keuangan,sub bagian perbendaharaan mempunyai tugas melaksanakan kebijakan di bidang

perbendaharaan, serta menyiapkan bahan koordinasi penyusunan kebijakan dan pelaksanaan tugas di bidang perbendaharaan. Dalam melaksanakan tugas, sub bagian perbendaharaan menyelenggarakan fungsi : Penyiapan bahan koordinasi penyusunan kebijakan dan pelaksanaan tugas di bidang perbendaharaan ; Penyusunan bahan perumusan kebijakan di bidang perbendaharaan ; Penyusunan rencana kegiatan di bidang perbendaharaan ; Penyiapan bahan pembinaan, koordinasi, dan fasilitas pelaksanaan kegiatan di bidang perbendaharaan ; Penyelenggaraan kegiatan di bidang perbendaharaan ; Pelaksanaan pengawasan, evaluasi dan pelaporan kegiatan di bidang perbendaharaan ; Rincian tugas sub bagian perbendaharaan, sebagai berikut : Menyusun rencana kerja sub bagian perbendaharaan ;

13

Menyiapkan bahan untuk penyusunan pedoman dan petunjuk teknis pelaksanaan kegiatan di bidang perbendaharaan ;

Menyusun petunjuk teknis 14ystem14sahaan keuangan daerah ; Menyiapkan bahan penetapan pejabat pengelola keuangan daerah, pengguna anggaran dan kuasa pengguna anggaran ;

Menyiapkan bahan penetapan Bendahara Umum Daerah (BUD), bendahara penerimaan, bendahara pengeluaran, pembantu bendahara penerimaan, dan pembantu bendahara pengeluaran ;

Melaksanakan penerbitan Surat Pencairan Dana (SP2D) ; Melaksanakan verifikasi Surat Permintaan Pembayaran (SPP) dan Surat Perintah Membayar (SPM) ;

Melaksanakan pembinaan terhadap bendahara penerima,

bendahara

pengeluaran, pembantu bendahara penerimaan dan pembantu bendahara pengeluaran ; Mengelola administrasi DAU, DAK, dana bagi hasil sumber daya alam, pajak bumi dan bangunan, Bea Perolehan Hak Atas Tanah dan Bangunan (BPHTB), dan Pajak Penghasilan (PPh) Kabupaten ; Melaksanakan pengelolaan pinjaman dan obligasi daerah ; Melaksanakan pembinaan pengelolaan keuangan Badan Layanan Umum Daerah (BLUD) ; Mengumpulkan bahan dan munyusun data realisasi penerimaan Dana Bagi Hasil (DBH) kabupaten 14

Menyusun laporan penggunaan Dana Alokasi Umum (DAU) ; Melaksanakan pengawasan, evaluasi dan pelaporan kegiatan sub bagian perbendaharaan ;

3.

Melaksanakan tugas kedinasan lainnya yang diberikan oleh atasan.

Struktur Organisasi a. Bentuk Organisasi. Oranisasi merupakan wadah untuk bekerjasama dalam pencapaian tujuan yang diinginkan. Dalam suatu Organisasi kerjasama berguna dalam pencapaian pekerjaan yang maksimal. Untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan diperlukan team work, sehingga secara organisasi kerjaj yang sudah diatur menurut rencana kerja perusahaan secara garis dan fungsional dapat direalisasikan sesuai dengan struktur atau bentuk organisasi dalam perusahaan. Pengertian struktur organisasi adalah suatu 15ystem yang digunakan dalam suatu organisasi, dapat juga antara atasan dan bawahan, yang bertujuan untuk memperlancar pembagian tugas masing-masing. Struktur organisasi merupakan suatu gambaran secara skematis tentang hubungan kerjasama dari orang-orang yang dalam suatu badan dalam rangka usaha mencapai suatu tujuan atau pola hubungan kerja, serta suatu lintas wewenang dan tanggung jawab. Suatu organisasi dimana orang-orang bekerjasama untuk mencapai suatu tujuan yang sama dan setiap orang memiliki keahlian, pengalaman, dan sikap yang berbeda. Oleh sebab itu, maka salah satu tujuan dari organisasi secara keseluruhan dari bagian-bagian yang ada pada organisasi dapat direfleksikan

15

didalam suatu struktur organisasi. Ditinjau dari segi kewenangan dan tanggung jawab didalam hubungan kerja, menurut Manullang (1990 : 27 ) : 1. Organisasi Garis. Organisasi yang memiliki system garis, biasanya banyak digunakan perusahaan kecil. Bentuk organisasi garis tugas-tugas perencanaan, pengendalian dan pengawasan berada di suatu tangan dan garis kewenangan ada ditangan pimpinan. 2. Organisasi Staf. Bentuk organisasi garis dan staf umumnya digunakan untuk organisasi yang lebih besar dan kompleks tugasnya serta mempunyai daerah kerja yang lebih luas. Bentuk organisasi ini telah dibagi sedemikian rupa sehingga terjadi spesialisasi yang tampak jelas. Kedudukan staf diperusahaan dapat dibagi sebagai penasehat, tetapi dapat juga sebagai pimpinan pada bagain tertentu dalam perusahaan. 3. Organisasi Fungsional. Organisasi fungsional umumnya disusun berdasarkan sifat-sifat dan macam tugas yang ditujukan untuk menambah produktifitas. 4. Struktur organisasi perangkat daerah Kabupaten Ketapang dibentuk dengan Peraturan Daerah Nomor 12 Tahun 2004 Tentang Pembentukan Setda Kabupaten Ketapang. Bagian keuangan dipimpin oleh kepala bagian keuangan yang berada di bawah dan bertanggung jawab kepada Sekretaris Daerah melalui Assisten sekretaris daerah bidang

16

administrasi umum setda kabupaten Ketapang. Bagian keuangan mempunyai tugas merumuskan dan melaksanakan kebijakan di bidang anggaran, pembukuan dan verifikasi, dan perbendaharaan, serta melaksanakan fasilitas layanan administrasi dan mengkoordinasikan pelaksanaan tugas di bidang anggaran, pembukuan dan verifikasi, dan perbendaharaan, yang terbagi dan terinci secara sistematis ke dalam tugas masing-masing sub bagian. perencanaan kurang berfungsi dengan baik maka fungsi

penggorganisasian dari rencana tadi juga tidak akan dapat berfungsi dengan baik pula. Dalam praktik ini penulis menguraikan tentang peranan anggaran sebagai salah satu alat perencanaan dan pengendalian dalam pembangunan otonomi daerah kabupaten ketapang, seperti yang telah dikatakan diatas bahwa fungsi manajemen mempunyai hubungan saling keterkaitan, maka disini akan dibahas tentang dua fungsi manajemen yakni perencanaan dan pengendalian ( pengawasan ) yang akan membuktikan bahwa fungsi manajemen memang memiliki hubungan saling keterkaitan. Perencanaan dan pengendalian memiliki fungsi yang saling mengisi. Pada organisasi pemerintah yang merupakan organisasi nirlaba atau organisasi yang bergerak dibidang pelayanan publik yakni melayani masyarakat demi terciptanya

17

Gambar 1.1 Struktur Organisasi Sekretariat Daerah Ketapang

Sekretaris Daerah

Assisten Administrasi dan Umum

Kepala Bagian Umum

Kepala Bagian Keuangan

Kepala Bagian Kepegawaian

Kepala Bagian Organisasi

Kasubbag Anggaran

Kasubbag Pembukuan dan Verifikasi

Kasubbag Perbendaharaan

18

Gambar 1.2
PROSES PENYUSUNAN APBD ( Permendagri Nomor 13/2006 )

Penyusunan KUA & PPAS

Penyusunan Raperda APBD

Penetapan Perda APBD

Proses Perencanaan

Pedoman Penyusunan RKA SKPD

Pembahasan Raperda APBD

SKPD

Penyusunan RKA SKPD

Perasetujuan bersama Raperda APBD

Penyusunan KUA dan PPAS

RKA SKPD

Evaluasi Gubernur / Mendagri

Nota Kesepakatan KUA dan PPA Rencana APBD

Perda APBD

Pembatalan Perda APBD

Dalam Hal DPRD Tidak Mengambil Keputusan Bersama Penyusunan Raper KDH APBD Evaluasi & Penetapan Raper KDH APBD

Raper KDH APBD

19

Gambar 1.3

SIKLUS PERENCANAAN DAN PENGANGGARAN

Rencana Kerja Pemb. Daerah RKPD

SKPD

Kebijakan Umum APBD (KUA) & Prioritas dan Plafon Anggaran Sementara (PPAS)

membuat

acuan RKA SKPD

acuan

Musrenbang Kab / Kota

RKA SKPD Yang disetujui

Panitia Anggaran Eksekutif

RAPBD

Hearing antara DPRD dan SKPD Forum Paripurna DPRD

APBD

20

4.

Personalia. Tahun 2012, Bagian Keuangan dalam melaksanakan Tugas Pokok dan

Fungsinya dipimpin oleh seorang Kepala Bagian secara Administratif bertanggung jawab kepada Sekretaris Daerah melalui Asisten Sekretaris Daerah Bidang Administrasi dan Umum.Adapun komposisi sebagai berikut : 1. Pegawai Organik ( Pegawai Negeri Sipil ) dengan jumlah 41 orang.

Tabel. 1.1 Klasifikasi Pegawai menurut pendidikan

No. 1 2 3 4 Strata-2

Tingkat Pendidikan

Jumlah (Orang) 6 10 7 18

Sarjana (S-1) Diploma III SLTA Jumlah

41

Tabel. 1.2 Klasifikasi Pegawai menurut jenis kelamin

No. 1 2 Laki - laki Perempuan

Jenis Kelamin

Jumlah (Orang) 37 14

Jumlah

41

21

BAB. III LANDASAN TEORI DAN PEMBAHASAN

A. Landasan Teori
1. Anggaran a. Pengertian anggaran Kata anggaran merupakan terjemahan dari kata budget dalam bahasa inggris. Akan tetapi, kata tersebut sebenarnya berasal dari kata perancis

boutgette yang berarti a small bag (sebuah tas kecil). Pengertian anggaran kemudian terus berkembang. Anggaran adalah rencana kegiatan keuangan yang berisi perkiraan belanja yang diusulkan dalam suatu periode dan sumber

pendapatan yang diusulkan untuk membiayai belanja tersebut. (Arif,dkk 2002 : 14). Sementara Wildavsky (1975) mendefinisikan anggaran sebagai catatan masa lalu (a record of the fast), rencana masa depan (a statement about the future), mekanisme pengalokasian sumber daya(a mechanism for allocating resources), metode untuk pertumbuhan (amethode for securing growth), alat penyaluran pendapatan ( an engine of income distribution), satu bentuk kekuatan control (a form of fower), dan alat jaringan komunikasi (a signal or network of communication). Anggaran pendapatan dan belanja daerah (APBD) adalah rencana keuangan tahunan pemerintahan daerah yang dibahas dan disetujui oleh pemerintah daerah dan DPRD, dan ditetapkan dengan peraturan daerah Berdasarkan berbagai pernyataan diatas, maka anggaran dapat diringkas

22

menjadi sebagai berikut : i. 5. Rencana kegiatan keuangan yang berisikan pendapatan dan belanja. Gambaran setrategi pemerintah dalam pengalokasian sumber daya untuk pembangunan. 6. 7. 8. Alat pengendalian. Instrumen politik. Di susun dalam periode tertentu. Akan tetapi Wildavsky (1975) mengingtkan bahwa a budget cannot act as compass anggaran bukanlah kompas karena tidak ada seorangpun yang mengetahui sesuatu secara pasti dimasa depan, dan selanjutnya perlu dicari informasi lain yang menggambarkan kenyataan dari alokasi sumber daya. Untuk itu, analisa alokasi dan strategi pembangunan tidak hanya mendasarkan pada anggaran, tetapi memperhatikan bagaimana realisasi dari anggaran tersebut. (Arif, dkk, 2002 : 15) Dalam Islam kejujuran diungkapkan dalam dua nilai utama yang menjadi sifat wajib bagi para Nabi, yaitu Shidq dan amanat. Shidq dan amanat adalah ukuran sejati kesalehan. Nabi Muhammad SAW mneguraikan jauhilah oleh kamu dusta, karena dusta membawa kamu kepada kedurhakaan dan neraka . Termasuk dusta adalah upaya untuk melakukan manipulasi dalam penerimaan, pengolahan dan penyampaian informasi. Transparansi anggaran adalah salah satu bentuk shidq. Menyembunyikan anggaran sebaliknya adalah bentuk kebohongan yang paling jelas. Shidq adalah

23

kewajiban. Dalam pengelolaan anggaran kejujuran ini tidak bisa dijalankan kecuali dengan transparansi. Berdasarkan kaidah itu, maka menjalankan transparansi anggaran adalah wajib. Ini berarti, dalam pandangan Islam, menghindari transparansi adalah kemaksiatan yang dapat menghapuskan semua pahala ibadah kepada Tuhan.Kemudian, sesuai dengan perintah Allah dalam Al Quran, kita harus menyempurnakan pengukuran di atas dalam bentuk pos-pos yang disajikan dalam Neraca, sebagaimana digambarkan dalam Surah Al-Israa ayat 35 yang berbunyi: Dan sempurnakanlah takaran apabila kamu menakar, dan timbanglah dengan neraca yang benar. Itulah yang lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya. b. Dasar dan fungsi Anggaran Di Indonesia anggaran diatur didalam pasal 23 ayat (1) UUD 1945 dan diimplementasikan dengan disusunnyaUU APBN setiap yahun, Selain itu, untuk melaksanakan UU APBN tersebut, pemerintah mengeluarkan berbagai peraturan perundangan lainnya seperti UU pajak, UU Bea Masuk dan Cukai, Keppres pelaksana APBN, dan Peraturan pelaksana lainnya. Fungsi Anggaran Peranan anggaran pada suatu perusahaan merupakan alat untuk membantu manajemen dalam pelaksanaan, fungsi perencanaan, koordinasi, pengawasan dan juga sebagai pedoman kerja dalam menjalankan perusahaan untuk tujuan yang telah ditetapkan. 1. Anggaran sebagai alat Perencanaan (Planning Tool) Perencanaan merupakan salah satu fungsi manajemen dan fungsi ini

24

merupakan salah satu fungsi manajemen dan fungsi ini merupakan dasar pelaksanaan fungsi-fungsi manajemen lainnya, Winardi memberikan

pengertianmengenai perencanaan sebagai berikut: "Perencanaan meliputi tindakan memilih dan menghubungkan fakta-fakta dan membuat serta menggunakan asumsi-asumsi mengenai masa yang akan datang dalam hal memvisualisasi serta merumuskan aktifitas-aktifitas yang diusulkan yang dianggap perlu untuk mencapai basil yang diinginkan". Dari kutipan di atas disimpulkan bahwa sebelum perusahaan melakukan operasinya, pimpinan dari perusahaan tersebut harus lebih dahulu merumuskan kegiatan-kegiatan apa yang akan dilaksanakan di masa datang dan hasil yang akan dicapai dari kegiatan-kegiatan tersebut, serta bagaimana melaksanakannya. Dengan adanya rencana tersebut, maka aktifitas akan dapat terlaksana dengan baik. Dapat disimpulan perencanaan dapat digunakan sebagi berikut : a. Merumuskan tujuan serta sasaran kebijakan agar sesuai dengan visi dan misi yang ditetapkan. b. Merencanakan berbagai program dan kegiatan untuk mencapai tujuan organisasi serta merencanakan alternative sumber pembiayaannya. c. Mengalokasikan dana pada berbagai program dan kegiatan. d. Menentukan indicator kinerja dan tingkat pencapaian strategi.

2. Anggaran sebagai alat pengendalian (Control Tool) Anggaran merupakan suatu alat yang esensial untuk menghubungkan 25

antara proses perencanaan dan pengendalian. Sebaggai Alat Pengendalian, anggaran memberikan rencana detail atas pendapatan dan pengeluaran pemerintah agar pembelanjaan yang dilakuakan dapat dipertanggungjawabkan kepada public. Tanpa anggaran pemerintah tidak dapat mengendalikan pemborosan pemborosan pengeluaran. Anggaran sector public dapat digunakan untuk mengendalian ( membatasi kekuasaan ) eksekutif. Anggaran sebagai instrument pengendalian digunakan untuk menghindari adanya overspdending, underspending, dan salah sasaran (misappropriation) dalam pengalokasian anggaran pada bidang lain yang bukan merupakan prioritas. Anggaran merupakan alat untuk memonitor kondisi keuangan dan pelaksanaan operasiojnal program atau kegiatan pemerintah. Sebagai alat pengendalian manejerial, anggaran sector public digunakan untuk meyakinkan bahwa pemerintah mempunyai uang atau dana yang cukup untuk memenuhi kewajibannya. Selain itu, anggaran digunakan untuk member informasi dan menyakinkan legislative bahwa pemeerintah bekerja secara efisien tanpa ada korupsi dan pemborosan.

3. Fungsi Pengawasan Anggaran merupakan salah satu cara mengadakan pengawasan dalam perusahaan. Pengawasan itu merupakan usaha-usaha yang ditempuh agar rencana yang telah disusun sebelurnnya dapat dicapai. Dengan demikian pengawasan adalah mengevaluasi prestasi kerja dan tindakan perbaikan apabila perlu. Aspek 26

pengawasan yaitu dengan membandingkan antara prestasi dengan yang dianggarkan, apakah dapat ditemukan efisiensi atau apakah para manajer pelaksana telah bekerja dengan baik dalam mengelola perusahaan. Tujuan pengawasan itu bukanlah mencari kesalahan akan tetapi mencegah dan nemperbaiki kesalahan. Sering terjadi fungsi pengawasan itu disalah artikan yaitu mencari kesalahan orang lain atau sebagai alat menjatuhkan hukuman atas suatu kesalahan yang dibuat pada hal tujuan pengawasan itu untuk menjamin tercapainya tujuan-tujuan dan rencana perusahaan. 3. anggaran sebagai alat Koordinasi dan Komunikasi (Coordination and Communication Toll) Fungsi koordinasi menuntut adanya keselarasan tindakan bekerja dari setiap individu atau bagian dalam perusahaan untuk mencapai tujuan. Dengan demikian dapatdikatakan bahwauntuk menciptakan adanya koordinasi diperlukan

perencanaan yang baik, yang dapat menunjukkan keselarasan rencana antara satu bagian dengan bagian lainnya. Anggaran yang berfungsi sebagai perencanaan harus dapat menyesuaikan rencana yang dibuat untuk berbagai bagian dalam perusahaan, sehingga rencana kegiatan yang satu akan selaras dengan lainnya. Untuk itu anggaran dapat dipakai sebagai alat koordinasi untuk seluruh bagian yang ada dalam perusahaan, karena semua kegiatan yang saling berkaitan antara satu bagian dengan bagian lainnya sudah diatur dengan baik.Anggaran Sebagai Pedoman Kerja. Anggaran merupakan suatu rencana kerja yang disusun sistematis dan

27

dinyatakan dalam unit moneter. Lazimnya penyusunan anggaran berdasarkan

pengalaman masa lalu dan taksir-taksiran pada masa yang akan datang, maka ini dapat menjadi pedoman kerja bagi setiap bagian dalam perusahaan untuk menjalankan kegiatannya. Tujuan yang paling utama dari anggaran adalah untuk pengawasan luar, yaitu untukmembatasi sumber-sumber daya keseluruhan yangtersedia untuk suatu instansi dan untuk mencegah pengeluaran-pengeluaran bagi hal-hal atau aktivitas-aktivitas yang tidak dibenarkan oleh undang-undang. 4. anggaran sebagai alat Kebijakan Fiskal (Fiscal Toll) anggaran sebagai alat kebijakan fiscal pemerintah digunakan untuk menstabilkan ekonomi dan mendorong pertumbuhan ekonomi. Melalui anggaran public tersebut dapat diketahui arah kebijakan fiskal pemerinth, sehingga dapat dilakukan prediksi prediksi dan estimasi ekonomi. Anggaran dapat digunakan untuk mendorong, memfasilitasi, dan mengkoordinasikan kegiatan ekonomi masyarakat sehingga dapat mempercepat pertumbuhan ekonomi. 5. Anggaran sebgai alat politik (political Toll) Anggaran untuk memutuskan prioritas prioritas dan kebutuhan keuangan terhadap prioritas tersebut. Pada sector public, anggaran merupakan political toll sebagai bentuk komitmen dan kesepakatan legislatif atas atas penggunaan dana publik untuk kepentingan tertentu. Oleh karena itu pembuatan anggaran publik membutuhkan political skill, coalition building, keahlian bernegoisasi, dan pemahaman tentang prinsip manajemen keuangan public oleh para manajer publik.
3

www.fungsianggaransektorpublik.com

28

c.

Klasifikasi dan Model Anggaran Klasifikasi dan model anggaran merupakan pengelompokan atau

pembagian dari anggaran agar dapat memberikan gambaran yang lebih rinci (Arif, dkk,2002 : 16-17) 1. Berdasarkan objek Anggaran disusun berdasarkan jenis pendapatan dan belanja. Pendapatan terdiri dari penerimaan dalam negeri yang terdiri atas penerimaan pajak dan non pajak. Pendapatan lain adalah pendapatan hibah dan sebagainya. Belanja diklasifikasikan dalam belanja pegawai, belanja barang, belanja pemeliharaan dan sebagainya. Klasifikasi ini sering digunakan karena relative sangat mudah akan tetapi tidak dapat diketahui pertanggungjawaban setiap unit (responsibility centers) dan tingkat priorits belanja didalam keterbatasan sumber daya keuangan. 2. Berdasarkan Organisasi Anggaran diklasifikasikan berdasarkan tiap unit pemerintah seperti anggaran departemen pertahanan, anggaran departemen luar negeri dan seterusnya. Klasifikasi ini memungkinkan untuk melihat besar anggaran setiap unit, pencapaian, serta efisiensi dan efektivitasnya. Akan tetapi, klasifikasi ini tidak memungkinak untuk melihat pengalokasian anggaran kepada sasaran sasaran pembangunan secara nasional. 3. Berdasarkan Fungsi Anggaran disusun berdasarkan fungsi belanja didalam Negara seperti didalam sector pendidikan, sektor social dan seterusnya. Sektor pendidikan

29

bisa terdapat di berbagai departemen / lembaga Negara, tidak hanya di departemen pendidikan. Klasifikasi ini umumnya hanya untuk belanja. APBD merupakan instrument penting bagi pemerintah dalam rangka mewujudakan pelayanan dan peningkatan kesejahteraan masyarakat untuk tercapainya tujuan bernegara. Oleh karena itu APBD memiliki fungsi sebagai berikut : a. Fungsi otoritas Fungsi otoritas mengandung arti bahwa anggaran menjadi dasar untuk melaksanakn pendapatan dan belanja pada tahun yang bersangkutan. b. Fungsi perencanaan Fungsi perencanaan mengandunga arti bahwa anggaran menjadi pedoman bagi manajemen dalam merencanakan kegiatan pada tahun yang bersangkutan. c. Fungsi pengawasan Fungsi pengawasan mengandung arti bahwa anggaran menjadi pedoman untuk menilai apakah kegiatan penyelenggaraan

pemerintahan Negara sesuai dengan ketentuan yang telah ditetapkan. d. Fungsi alokasi Fungsi alokasi mengadung arti bahwa anggaran harus diarahkan untuk mengurangi pengangguran dan pemborosan sumber daya, serta meningkatkan efisiensi dan efektivitas perekonomian.

30

e. Fungsi distribusi Fungsi distribusi mengandung arti bahwa anggaran harus

memperhatikan rasa keadilan dan kepatuhan. f. Fungsi stabilisasi Fungsi stabilisasi mengandung arti bahwa anggaran pemerintah menjadi alat untuk memelihara dan mengupayakan keseimbangan fundamental perekonomian. 4. Berdasarkan Sifat / Karakternya Anggaran disusun berdasarkan sifat / karakter pendapatan dan belanja seperti pendapatan dan belanja rutin (Current) serta pendapatan dan belanja pembangunan (capital expenditures).

2. Perencanaan Penganggaran
a. Konsep Dasar Perencanaan

1) Pengertian perencanaan penganggaran Dalam berbagai kajian perencanaan pembangunan diartikan sebagai fungsi utama manajemen pembangunan dalam proses bernegara. Fungsi ini muncul sebagai akibat dari kebutuhan akan pembangunan yang lebih besar dibandingkan dengan ketersediaan sumber daya. Dengan perencanaan

pembangunan yang baik, kegiatan pembangunan dapat dirumuskan secara efesien dn efektif dengan hasil yang optimal. Perencanaan adalah proses dasar dimana manajemen memutuskan

tujuan dan cara mencapainya. Perencanaan adalah peemilihan sekumpulan

31

kegiatan dan pemutusan selanjutnya apa yang harus dilakukan, kapan, bagaimana, dan oleh siapa. Perencanna yang baik dapat dicapai dengan mempertimbangkan kondisi di waktu yang akan dating dalam mana perencanaan dan kegiatan yang diputuskan akan dilaksankan, serta periode sekarang pada saat rencana dibuat (Handoko, 1999:77-78). Secara sederhana, pengertian perencanaan pembangunan daerah dapat didefinisikan sebagai sebuah proses pengambilan proses keputusan mengenai kebijakan dan program pembangunan daerah oleh Pemerintah Provinsi atau Pemerintah Kabupaten / Kota. Proses ini dilakukan secara terpadu dengan tujuan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat di daerah yang bersangkutan. Rangkaian proses ini dilakukan dengan memanfaatkan dan memperhitungkan kemampuan sumber daya, informasi, ilmu pengetahuan dan teknologi, serta memperhatikan perkembangan dunia global. Dari perencanaan pembangunan tersebut dapat memberikan manfaat yang baik seperti : a. b. c. Sebagai pedoman bagi pelaksana kegiatan dalam mencapai tujuan Sebagai alat ukur, standar pengawasan, dan atau evaluasi Sebagai bahan perkiraan penentuan alternative terbaik dalam skala penggunaan sumber daya yang tersedia. Salah satu aspek penting dalam perencanaan pembangunan adalah pembuatan keputusan (decision making), proses pengembangan dan penyeleksian sekumpulan kegiatan untuk memecahkan suatu masalah tertentu. Keputusan

32

keputusan harus dibuat pada berbagai tahap dalam proses perencanaan (Handoko,1999:79). Dalam melakukan perencanaan, ada beberapa aspek yang harus diperhatikan, antara lain sebagai berikut : (Didin dan Hendri, 2003:77-78) a. b. c. d. Hasil yang ingin dicapai4 Orang yang akan melaksanakan Waktu dan skala prioritas Dana (capital) Konsep dasar menjelaskan bahwa perencanaan yang akan dilakukan harus disesuaikan dengan keadaan situasi dan kondisi pada masa lampau, saat ini, serta prediksi masa dating. Oleh karena itu melakukan segala perencanaan masa depan, diperlukan kajian kajian masa kini. Mekanisme perencanaan sebagai berikut : a. b. c. d. Belajar dari keadaan masa lalu Menggunakan ilmu pengetahuan yang ada Mengkonsultasikan sebelum membuat keputusan Mempertimbangkan segala yang berhubungan dengan apa yang dilakukan / direncanakan 2) Tahap dasar perencanaan Empat tahap dasar perencanaan yaitu : Tahap 1 : Menetapkan tujuan atau serangkaian tujuan

(Didin dan Hendri, 2003:77-78)

33

Tahap 2 : Merumuskan keadaan saat ini Tahap 3 : mengidentifikasikan segala kemudahan dan hambatan Tahap 4 : Mengembangkan rencana atau serangkaian kegiatan untuk mencapai tujuan. Empat tahap dasar perencanaan tersebut dapat digambarkan sebagai berikut : Gambar 1.3 Tahap Perencanaan

Tahap 2 Tahap I Menetapakan tujuan Merumuskan kejadian sekarang

Tahap 3 Mengidentifikasika n kemudahan Dan hambatan Tahap 4 Mengembangkan serangkaian kegiatan

T U J U A N

3)

Manfaat Perencanaan Perencanaan mempunyai banyak manfaat diantaranya adalah sebagai

berikut : (Handoko, 1999 : 81) a. Membantu manajemen untuk menyesuaikan diri dengan perubahan perubahan lingkungan

34

b. c. d. e.

Membantu dalam kristalisasi persesuaian pada masalah masalah utama Memungkinkan memahami keseluruhan gambarann operasi lebih jelas Membantu penempatan tanggung jawab lebih tepat Memberikan cara melakukan koordinasi di antara berbagai bagian organisasi

f. g. 4)

Meminimumkan pekerjaan yang tidak pasti dan Menghemat waktu, usaha dan dana Kelemahan Perencanaan Perencanaan juga memiliki beberapa kelemahan antara lain :

a.

Pekerjaan yang tercakup dalam perencanaan mungkin berlebihan pada kontribusi nyata

b. c.

Perencanaan cendrung menunda pekerjaan Perencanaan mungkin terlalu membatasi manajemen untuk berinisiatif dan berinovasi

d.

Kadang kadang hasil yang paling baik didapatkan oleh penyelesaian situasi individual dan penanganan setiap masalah pada saat masalah tersebut terjadi

e.

Ada rencana rencana yang diikuti cara cara yang tidak konsisten

b. Reformasi perencanaan dan penganggaran pembangunan 1). Sistem Perencananan Nasional Perundang undangan yang terkait serta beberapa pedoman resmi yang perlu diperhatikan sehubungan dengan perencanaan dan penganggaran

35

pembangunan adalah sebagai berikut : a. b. c. Undang-undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara Undang-undang Nomor 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara Undang-undang Nomor 15 Tahun 2004 tentang Pemeriksaan dan Tanggungjawab Keuangan Negara d. Undang-undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pemabangunan Nasional e. Undang-undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintah Daerah sebagaimana telah diubah dengan Undang-undang Nomor 8 Tahun 2005 tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang Nomor 3 Tahun 2005 tentang Perubahan Undang-undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah menjadi Undang-undang f. Undang-undang Nomor 33 Tahun 20004 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah g. PP Nomor 20/2004 tentang Penyusunan Rencana Kerja Pemerintah Dalam pengimplemenatasi Undang-undang dan Peraturan tersebut diatas pemerintah melakukan Musayawarah Rencana Pembangunan (Musrenbang) yaitu dengan tahap sebagai berikut 1. Musrenbang yang harus dilalui dalam perencanaan dan penganggaran daerah adalah Musrenbang tingkat desa/kelurahan, Musrenbang tingkat kecamatan, Musrenbang tingkat kabupaten, Musrenbang tingkat provinsi. 2. Narasumber dalam Musrenbang adalah pihak pemberi informasi yang

36

perlu diketahui peserta Musrenbang untuk proses pengambilan keputusan hasil Musrenbang. 3. Peserta Musrenbang adalah pihak yang memiliki hak pengambilan keputusan dalam Musrenbang melalui pembahasan yang disepakati bersama. 2). Anggaran Daerah Reformasi Dilihat dari perkembangan reformasi sistem penganggaran sudah terjadi pada dekade 40-an di Amerika Serikat, dimana pemerintah federal saat itu menghendaki adanya ukuran kinerja bagi institusi pemerintah. Dalam berbagai pengalaman di negara lain, dapat diambil beberapa pelajaran dalam proses penerapan anggaran berbasis kinerja. Penganggaran berbasis kinerja ini memberikan akuntabilitas publik tersendiri bagi institusi yang menerapkannya, dimana publik dapat mengetahui secara jelas apa tujuan institusi pemerintah yang bersangkutan, bagaimanan penggunaan sumber daya di institusi tersebut, dan bagaimana output dan outcomenyadibandingkan input. Anggaran merupakan rencana manajerial untuk pengambilan keputusan dan tindakan (managerial plan for action) guna memfasilitasi tercapainya tujuan organisasi didalamnya harus mencakup aspek-aspek sebagai berikut : a. b. c. Aspek perencanaan; Aspek pengendalian; dan Aspek akuntabilitas publik.

37

c.

Siklus Perencanaan Penganggaran Perencanaan dan pendendalian dalam prespektif umum merupakan

duasisi mata uang yang sama, sehingga keduanya meskipun mempunyai pengertian dan fungsi yang berbeda tetapi merupakan satu kesatuan yang saling terkait dan tidak terpisahkan. Perencanaan dan pengendalian dapat dilihat sebagai serangkaian tahapan aktivitas manajemen yang berkesinambungan sehingga membentuk suatu siklus. Artinya suatu tahapan tertentu akan terkait dengan tahapan yang laindan terintegrasi dalam suatu siklus. Adapaun siklus perencanaan dan pengendalian pada dasarnya terdiri lima tahapan yaitu : (Mardioso,2002:179-180) a. b. c. d. e. d. Perencanaan dan tujuan dasar sasaran Perencanaan operasional Penganggaran Pengendalian dan pengukuran Pelaporan, analisis dan umpan balik Titik kritis perencanaan dan penganggaran dan evaluasinya Klaim titik berat proses pembangunan adalah partisifasi masyarakat. Klaim ini didasarkan pada prosed perencanaan pembangunan secara bottum up, lewat forum koordinasi pembangunan partisifasi yaitu Forum Musyawarah Perencanaan Pembangunan di desa atau kelurahan, forum musyawarah perencanaan kecamatan, dan forum musyawarah daerah tingkat kota, kabupaten, ataau provinsi. Klaim ini layak dipertanyakan mengingat masih banyaknya protes

38

masyarakat terhadap rencana maupun pelaksanaan pembangunan. Masyarakat melakukan unjuk rasa sebagai protes atau munculnya protes di masyarakat atas ketidaktrasnparansinya atas proses perencanaan pembangunan. Fenomena ini muncul akibat berbagai fakta seperti di bawah ini : a. Ketidaksesuaian antara perencanaan dan anggaran pembangunan dengan permasalahan yang dihadapi oleh masyarakat. b. c. d. Meningkatnya biaya rutin. Kesenjangaan pendapata dan potensi daerah. Penyusutan aktiva pemda karena proses lelang yang kurang trasparan.

3. Pengendalian
a. Konsep Dasar Pengendalian Pengendalian merupakan salah satu fungsi manajemen yang pokok disamping fungsi perencanaan dan koordinasi. Pengendalian manajemen adalah suatu proses dimana manajemen menjamin bahwa organisasi melaksanakan strateginya dengan efektif dan efesien. Pengendalian manajemen sebagai sistem, terdiri dari struktur pengendalian manajemen dan proses pengendalian manajemen. Struktur pengendalian manajemen merupakan unsur-unsur yang membentuk pengendalian manajemen yang terdiri atas pusat-pusat

pertanggungjawaban dan ukuran prestasi. Sedangkan proses pengendalian manajemen adalah serangkaian kegiatan dalam manajemen terdiri atas : (Halim dan supomo,1997 : 133-134)

39

a. b. c. d.

Penyusunan program Penyusunan anggaran Pelaksanaan dan pengukuran Pelaopran dan analisis Sistem pengendalian memiliki empat unsur yaitu detektor, selektor,

efektor, dan komunikator, unsur-unsur pengendalian tersebut saling berhubungan dan membentuk suatu proses kerja yang biasa disebut dengan proses pengendalian. Proses tersebut dapat digambarkan sebagai berikut : (Robert dan Vijay,2005:3) Gambar 1.4 Proses Pengendalian

Perangkat Pengendalian

Perbandingan dengan Standar (Selektor)

Informasi mengenai apa yang telah terjadi (detektor)

Pengubahan prilaku jika terjadi penyimpangan (Efektor)

Obyek Pengendalian

40

1. Sistem pengendalian Sistem pengendalian adalah suatu sistem pengecekan intern dapat didefinisikan sebagai koordinasi suatu sistem akun dan prosedur terkait sedemikian rupa sehingga seorang pegawai yang melaksanakan tugasnya secara independen dan terus menerus tercek (teruji) oleh pekerjaan pegawai lain tentang elemen tertentu yang mencakup kemungkinan adanya kecurangan. Definisi lain menyimpulkan sebagai berikut : pengendalian inntern mencakup rencana organisasi dan seluruh metode koordinasi dan ukuran yang diadopsi dalam suatu usaha atau bisnis untuk melindungi aset-asetnya, memeriksa akurasi dan keandalan data akuntansi, mendorong efisiensi kegiatan dan kepatuhan pada kebijakan manjerial yang telah ditetapkan. Definisi versi Committee of Sponsoring Organizations (COSO) dapat diterjemahkan pengendalian intern adalah suatu proses, yang dipengaruhi oleh dewan komisaris suatu entitas, manajemen, dan personel lain, dirancang untuk menyediakan keyakinan yang memadai berkaitan dengan pencapaian tujuan dalam beberapa kategori : a. b. c. Efektivitas dan efesiensi kegiatan Keandalan pelaporan keuangan Ketaatan pada peraturan dan ketentuan yang berlaku

Jenis-jenis pengendalian dapat dibagi menjadi 5 (lima jenis yaitu : Pengendalian pencegahan (preventive controls) Pengendalian pencegahan dimaksud untuk mencegah terjadinya suatu

41

kesalahan. Pengendalian ini dirancang untuk mencegah hasil yang tidak diinginkan sebelum kejadian itu terjadi. Pengendalian deteksi (detectivee controls) Pengendalian ini dimaksudkan untuk mendeteksi suatu kesalahan yang terjadi. Pengendalian koreksi (corrective controls) Pengendalian koreksi melakukan koreksi masalah-masalah yang

teridentifikasi oleh pengendalian deteksi. Tujuannya adalah agar supaya kesalahan yang telah terjadi agar tidak terulang lagi. Pengendalian pengarahan (directive controls) Pengendalian pengarahan adalah pengendalian yang dilakukan pada saat kegiatan sedang berlangsung dengan tujuan agar kegiatan dilaksanakan sesuai dengan tujuan agar kegiatan dilaksanakan sesuai dengan kebijakan atau ketentuan yang berlaku Pengendalian kompensatif (compesating controls) Untuk memperkuat pengendalian karena terabaikannya suatu aktivitas pengendalian. 2. Tujuan Pengendalian dan persyaratan sistem pengendalian Secara singkat fungsi pengendalian bertujuan untuk mengidentifikasi terjadinyadeviasi atau penyimpangan atas pelaksanaan kegiatan dibandingan dengan perencanaan sebagai umpan balik untuk melakukan tindakan koreksi atau perbaikan bagi pimpinan dalam mencapai tujuan organisasi. Secara luas fungsi

42

pengendalian juga mencakup usaha pencegahan kemungkinan terjadinya suatu deviasi atau penyimpangan. Tujuan pengendalian dapat dikategorikan bagi kepentingan pihak manajemen dan pegawai organisasi. Oleh karena manajemen organisasi berusaha mencapai visi dan misi organisasinya dan memberikan akuntabilitas atas kegiatan yang telah dilaksanakannya, maka manajemen perlu secara terus menerus menilai dan mengevaluasi sistem pengendalian manajemen untuk memastikan bahwa sistem pengendalian manajemen untuk memastikan bahwa sistem pengendalian telah tepat untuk mengantisipasi perubahan kondisi dan lingkungan, dan pada akhirnya untuk memastikan pencapaian tujuan organisasi. Melalui pengenalan dan penilaian keandalan sistem pengendalian manajemen dapat diperoleh manfaat sebagai berikut : Menghindari atau mengurangi terjadinya resiko audit. Sebagai dasar penetapan arah, lingkup, sifat, dan waktu audit Mempercepat proses audit karena lebih terarah dan memberikan jaminan bahwa sasaran audit tercapai dengan baik. Undang Undang Nomor 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara pasal 58 ayat 1 dan 2 5secara jelas menyatakan :
Dalam rangka meningkatkan kinerja, transparansi, dan akuntabilitas pengelolaan keuangan negara, Presiden selaku Kepala Pemerintahan mengatur dan menyelenggarakan sistem pengendalian intern di lingkungan pemerintahan secara menyeluruh. Sistem pengendalian intern tersebut ditetapkan dengan peraturan pemerintah. Dengan

Undang Undang Nomor 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara pasal 58 ayat 1 dan 2

43

demikian, sistem pengendalian manajemen kegiatan pengelolaan di lingkungan pemerintah secara menyeluruh menjadi tanggungjawab Presiden yang kemudian didelegasikan ke bawah secara hierarki organisasitoris kepada pejabat-pejabat lainnya sesuai dengan tanggungjawabnya masing-masing.

Orgnanisasi internasional Lembaga Tinggi Audit (International Organization of Superme Audit Instution) yang merupakan institusi/lembaga tinggi audit dunia yang
678

memiliki anggota di banyak negara di dunia termasuk Badan Pemeriksa Keuangan

Republik Indonesia menerbitkan Guidelines for internal control standars for the publik sector pada tahun 2004 yang mendefinisikan sistem pengendalian intern sebagai salah satu proses teringrasi yang dipengaruhi oleh manajemen dan pegawai entitas, dan dirancang untuk mengidentifikasi berbagai risiko serta untuk memberikan keyakinan yang memadai dalam pencapaian misi entitas tersebut, yaitu berupa (a) tercapainya pelaksanaan kegiatan yang teratur, etis, efisien dan efektif; (b) pemenuhan kewajiban akuntabilitas; (c) dipatuhinya hukum dan ketentuan yang berlaku; (d) terlindungnya sumber daya dari kehilangan, salah urus dan kerusakan. Berdasarkan definisi diatas tersebut dapat ditelusuri beberapa aspek yang menjadi persyaran dari perancangan suatu sistem pengendalian yang efesien dan efektif : Pertama ; Sistem pengendalian hendaknya dilihat sebagai suatu proses terintegrasi, yaitu memiliki pengertian sebagai suatu serentetan tindakan yang mempegaruhi setiap kegiatan suatu entitas secara terus menerus (on going basis). Contoh, realisasi
6

Sawyer.,L.B.Dittenhoper,M.A.,Sawyers Internal Auditing, The Pravtice of Modern Internal Auditing, The Institute of Internal Auditing, 5 th.ed.,2003.hal 78-79 7Tentative audit objectives adalah sasaran audit sementara yang dicanangkan auditor saat dilakukannya audit pada tahap survei pendahuluan.

44

pembayaran atas kegiatan pembelian barang inventaris kantor baru dilakukan oleh bagian keuangan setelah dilakukannya verifikasi dokumen dan perbandingan antara penagihan yang disampaikan oleh pihak ketiga dengan laporan berita acara penerimaan barang inventaris dimaksud Kedua ; Sistem pengendalian harus memperoleh dukungan dan peran serta manusia (manajemen dan pegawai) sehingga orang harus tahu peran dan tanggungjawab serta keterbatasan kewenangannya. Inisiatif manajemen dan komunikasi oleh manajemen dan pegawai merupakan persyaratan yang sangat penting dari suatu pengendalian. Ketiga ; Perancangan suatu sistem pengendalian harus mengarah pada pencapian tujuan entitas, suatu entitas diadakan untuk suatu tujuan, misalnya unit kerja di sektor publik pada umumnya bertujuan untuk memberikan pelayanan dan dampak yang menguntunkan bagi kepentingan masyarakat. Keempat ; Perancangan suatu sistem pengendalian diarahkan untuk mengidentifikasikan berbagai risiko yang berpotensi menghambat pencapaian tujuan. Kelima, perancangan sistem pengendalian hendaknya memberikan kontribusi (manfat) yang lebih besar dari pada biaya yang dikeluarkan. b. Sarana dan Unsur Sistem Pengendalian Sarana merupakan media yang dipakai dalam menilai eektivitas suatu sistem pengendalian manajemen. Sarana sistem pengendalian manajemen yang berkembang pada awalnya menggumkan 8 (delapan) unsur sistem pengendalian, yaitu :

45

penggorganisasian, kebijakan, prosedur, personil, perencanaan, akuntabilitas/pencatatan, pelaporan, dan reviu intern. 1. Pengorganisasian Unsur pengorganisasian dalam konteks penilaian sistem pengendalian ditekankan pada ukuran besar kecilnya organisasi, tujuan organisasi serta karakteristik dari organisasi yang bersangkutan. 2. Kebijakan Kebijakan adalah alat untuk mencapai tujuan sehingga dalam penetapan kebijakan harus diperhitungkan kontribusi kebijakan terhadap pencapaian tujuan. 3. Perencanaan Perencanaan merupakan tahapan awal dari pelaksanaan suatu kegiatan. Pada tahap ini ditetapkan tujuan/sasaran, cara pelaksanaan, kebutuhan tenaga dan dana, waktu pelaksanaan, dan persyaratan serta peraturan yang harus ditaati. 4. Prosedur Prosedur merupakan langkah-langkah yang harus diterapkan untuk melaksanakan kegiatan teknis maupun administratif guna menjamin terselenggaranya kebijkan yang telah ditentukan secara ekonomis dan efisien. 5. Akuntabilitas / Pencatatan Akuntabilitas / Pencatatan merupakan pendokumentasian semua kegiatan dalam suatu unit kerja. 6. Pelaporan Pelaporan berfungsi sebagai sarana pertanggungjawaban suatu pelaksanaan kegiatan yang meliputi : apa yang telah dikerjan, kesesuaian rencana dengan rencana yang ditetapkan, dan uraian alasan terjadinya deviasi dari keduanya.

46

7.

Personalia Faktor yang sangat menentukan dalam pelaksanaan kegiatan suatu organisasi terletak pada unsur personalia. Sumber daya manusia merupakan faktor penentu dalam menunjang keberhasilan organisasi secara ekonomis dan efisien.

8.

Reviu Intern Fungsi auditor intern adalah pengendalian manajemen yang dilakukan oleh salah satu unit dalam suatu organisasi. Fungsi merupakan mata dan telinga manajemen dalam mengendalikan organisasi.

c. Prosedur Pengendalian dan Metode pengendalian manajemen Berikut ini prosedur untuk menentukan rancangan dan beroperasinya suatu pengendalian antara lain : 1. 2. 3. 4. 5. Memodifikasi dan mengevaluasi pengalaman auditor yang lalu terhadap auditan Melakukan tanya jawab dengan pegawai auditan Membaca kebijakan dan pedoman sistem auditan Memeriksa dokumen dan catatan Mengamati kegiatan auditan dan operasi Metode yang umumnya dipakai dalam menggambarkan suatu sistem pengendalian manajemen meliputi 1. Narasi Narasi adalah uraian tertulis sistem pengendalian manajemen auditan 2. Bagan Arus Bagan arus sistem pengendalian manajemen merupakan suatu simbol penyajian diagramatik dari dokumen auditan dan arus urutannya dalam organisasi 3. Daftar Pertanyaan Pengendalian Manajemen

47

Memuat seperangkat pertanyaan tentang pengendalian manajemen dalam setiap audit sebagai media indikasi bagi auditor tentang aspek pengendalian manajemen yang mungkin tidak memadai.

9. Pembangunan Daerah
a. Pengertian Pembangunan Daerah

Pembangunan dapat didefinisikan sebagai upaya secara sadar oleh suatu


bangsan, negara dan pemerintah dalam rangka pencapaian tujuan nasional melalui pertumbuhan dan perubahan secara terencana menuju masyarkat modern. Dari definisi tersebut terlihat bahwa proses pembangunan harus berlanjut secara kontinyu karena tingkat kemakmuran, keadilan dan kesejahteraan rakyat bersifat relatif dan tidak akan pernah dicapai secara absolut. (Sondang, 2000:142) b. Pembiayaan Pembangunan Daerah Dalam rangka perencaan tahunan dan berdasarkan perkiraan sumber-

sumber penerimaan yang akan didapat, maka anggaran pengeluaran disusun berdasarkan fungsi yang akan dilakukan pemerintah melalaui berbagai program-program dan diperinci dalam unit-unit kegiatan usaha yang disebut proyek-proyek (Bintoro, 1995 : 158) Anggaran pengeluaran umumnya terbagi atas dua bagian, yaitu anggaran rutin (current expenditure) dan anggaran pembangunan development expenditure).

48

Selama ini realita yang terjadi pendapatan yang diperoleh daerah lebih banyak digunakan untuk keperluan pembiayaan rutin administrasi pemerintahan dari pada untuk pembiayaan pembangunan. Padahal manajemen keuangan daerah yang baik dapat dilihat pada bentuk nyata dari pembangunan daerah dalam bentuk program-program yang telah dicanangkan. Namun pertimbangan pembiayaan pembangunan perlu juga dilakukan, adapun antara lain pertimbangan tersebut adalah :

(Bintoro,1995:161-162 a. Pembiayaan pembangunan daerah harus konsisten dengan

pembiayaan pembangunan pusat di daerah. b. Pengeluaran pembiayaan daerah dalam rangka perencaan

pembangunan sebaiknya juga dicerminkan dalam anggaran belanja daerah. c. Pembiayaan pembangunan daerah didasarkan pada prinsif efisiensi dan atas dasar ongkos dan manfaat. d. Orientasi dari pengeluaran pembiayaan pembangunan dihubungkan dengan penggairahan kegiatan masyarakat atau sektor swasta.

49

BAB IV PENUTUP

A. Kesimpulan 1. Anggaran Pemerintah sering juga disebut dengan APBD mempunyai peran yang penting dalam perencanaan dan pengendalian pembangunan yaitu sebagai pedoman dalam merencanakan dan mengendalikan program pembangunan pemerintah daerah. Hal itu dapat dilihat pada proses penyusunan program dan anggaran ( penganggaran ) yang dilakukan oleh pemerintah kabupaten Ketapang dengan menggunakan pendekatan sistem bottom up, yaitu perencanaan dan anggaran yang dimulai dari struktural pemerintahan yang paling rendah yakni desa / kelurahan sampai pada struktural yang tertinggi daerah yakni pemerintah daerah kabupaten melalui musyawarah perencaan pembangunan ( musrenbang ). Proses penganggaran Pembangunan dilakukan dengan tahap tahap sebgai berikut : a. Penyusunan Rencana Anggaran Pembangunan Jangka Panjang Daerah ( RPJPD ) yang mengacu pada RPJP Nasional dan hasil evaluasi pelaksanaan pembangunan sebelumnya. b. Penyusunan Rencana Jangka Menengah Daerah (RPJMD) sebagai

50

penjabarab dari RPJPD mengacu pada RPJPD dan hasil penjaringan aspirasi masyarakat. c. Penyusunan Rencana Kerja Perangkat Daerah (RKPD) mengacu pada RPJMD d. Penyusunan Arah dan Kebijakan Umum (AKU) APBD berpedoman pada RKPD (Renstra Daerah). e. f. Penyusunan Strategi dan prioritas APBD mengacu pada AKU APBD. Penyusunan Rencana Kerja Anggaran Satuan Kerja (RASK) oleh tiap SKPD yang didalamnya mengandung usulan program, kegiatan dan anggarannya. g. h. Pembahasan RASK sebagai RAPBD Pembahasan RAPBD hingga menjadi APBD kemudian ditetapkan dengan Peraturan Daerah (Perda). Setelah proses Penganggaran selesai, maka selanjutnya adalah pelaksanaan APBD yang telah ditetapkan dengan Perda tersebut oleh tiaptiap SKPD sesuai dengan bidangnya masing-masing. Sedangkan untuk pengendalian dilakukan oleh tiap kepala SKPD dengan membuat laporan hasil evaluasi pelaksanaan yang kemudian di serahkan kepada Sekretaris Daerah dan Bawasda. Setelah itu dengan mengacu pada laporan hasil evaluasi tersebut Bawasda mengoreksi langsung ke lapangan. 2. Pembangunan dikabupaten Ketapang dibiayai dengan dua cara yaitu dari

51

APBD dan bantuan dana yang diberikan oleh pusat kepada desa atau yang disebut dengan Alokasi Dana Desa. Program Pembangunan yang dibiayai tim teknis pelaksana dari program pembangunan pemerintah daerah sesuai dengan bidangnya masing-masing. Sedangkan untuk alokasi dana Desa disalurkan oleh pemerintah secara struktural. B. Saran Dari praktik yang dilakukan penulis pada Bagian Perencanaan Anggaran Setda Kabupaten Ketapang, ada beberapa hal yang dapat dipertimbangkan sebagai masukan untuk meningkatkan efesiensi dalam merencanakan dan mengendalikan pembangunan, terutama ditingkat desa. Hal ini saran tersebut adalah : 1. Hendaknya pemerintah daerah memberikan pengetahuan dan arahan kepada struktural pemerintahan dibawahnya tentang perencanaan dan pengendalian pembangunan, terutama ditingkat desa. Hal ini bertujuan agar dapat mengurangi perencanaan pembangunan yang muluk-muluk dan tanpa memperhatikan kemampuan anggaran daerah yang terbatas. Serta efesiensi waktu agar perencanaan pembangunan yang

membutuhkan pemikiran yang matang dapat sesuai dengan jadwal. 2. Hendaknya setiap SKPD sebagai perencana, pelaksana dan pengendali pembangunan dapat melaksanakan tugas dan kewajibannya dengan tepat. Agar anggaran pemerintah daerah yang terbatas dapat digunakan dengan efektif untuk membiayai program pembangunan yang

52

berdampak positif bagi kesejahteraan masyarakat. 3. Dan yang tidak kalah pentingnya pembinaan atau sarana mediasi untuk tenaga pegawai dalam rangka pembentukan tenaga yang memiliki profesionalisme, intgritas, independen dan imtaq yang baik, dengan cara pembimbingan tersebut terutama dibidang keagamaan secara periodik dan kontinyu, dapat diharapkan dengan bekal iman taqwa akan mengarah pada kebijakan yang baik untuk kesejaheraan bagi seluruh lapisan masyarakat.

53

DAFTAR PUSTAKA Dr. Sjahruddin Rasul, SH. 2003. Pengintegrasian Sistem Akuntabilitas Kinerja dan Anggaran. Jakarta : Perum Percetakan Negara Republik Indonesia http://www.bigs.or.id/bujet/1-3/laput10.htm www.ekofeum.or.id/artikel.php?cid=54 www.gi.co.id/regulasi/2006/permendagri/Permendagri-132006.pdf www.fungsianggaransektopublik.com Indra Bastian, Ph.D.,M.B.A.,Akt. 2009. Sistem Perencanaan dan Penggaran Pemerintah Daerah di Indonesia. Jakarta : Salemba Empat Budi Mulyana,2010. Penatausahaan Pelaksanaan APBD. Widyaiswara STANBPPK-KEMENTERIAN KEUANGAN Peraturan Pemerintah Nomor 58 tahun 2005 tentang Pengelolaan Keuangan Daerah (pengganti PP No. 105 tahun 2000). Pusdiklatwas BPKP, Pengantar Sistem Pengendalian Manajemen,Modul Diklat PembentukanAuditor Terampil, Edisi Kelima, 2007 Suhadak dan Trilaksono Nugroho : 2007. Paradigma Baru Pengelolaan Keuangan Daerah Dalam Penyusunan APBD di Era Otonomi. Malang : Bayumedia Publishing Undang - Undang Nomor 32 / 2004 tentang Pemerintah Daerah. Undang - Undang Nomor 33 / 2004 tentang Perimbangan Keuangan Pusat dan Daerah. Undang - Undang Nomor Republik Indonesia No.25 / 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional. Jakarta Undang - Undang Nomor 17 / 2003 tentang Keuangan Negara Undang - Undang Republik Indonesia Nomor 25 Tahun 2004, tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional. Jakarta. 54

LAMPIRAN DAFTAR PUSTAKA

55