Anda di halaman 1dari 17

Nilai:

LAPORAN PRAKTIKUM TEKNIK PENANGANAN HASIL PERTANIAN Pembersihan, Sortasi, dan Grading Bahan Hasil Pertanian

Oleh :

Nama NPM Hari, Tanggal Praktikum Waktu Co. Ass

: Hafifi : 150610090103 : Rabu, 28 Maret 2012 : 15.00 17.00 : - Citra Pertiwi - R. Asri Noor Pratiwi - Haryatna Sartika P - Mirah

LABORATORIUM PASCA PANEN DAN TEKNOLOGI PROSES PROGRAM STUDI AGRIBISNIS FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS PADJADJARAN 2012

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Dalam kegiatan pasca panen tentu harus melakukan kegiatan pembersihan, sortasi dan grading. Tentu ini dilakukan bertujuan untuk menghasilkan produk yang siap untuk di pasarkan ke konsumen. Semakin proses pembersihan, sortasi dan grading dilakukan dengan baik akan menghasilkan kualitas produk yang baik dan harga produkpun semakin lebih komersil. Dalam praktikum ini dilakukan proses pembersihan, sortasi dan grading pada beras. Beras merupakan makanan pokok khususnya di Negara Indonesia. Banyak produsen-produsen beras berlomba-lomba untuk menghasilkan produk yang baik. Karena meskipun produktifitas beras sudah mengalami penurunan dengan maraknya alih fungsi lahan sehingga penerapan program diversifikasi pangan, namun masyarakat Indonesia masih mengkonsumsi beras dan sulit meninggalkan beras.

1.2 Tujuan Praktikum Adapun tujuan dari percobaan Pembersihan, Sortasi dan Grading antara lain: Tujuan dari percobaan ini adalah untuk mengukur dan mengamati proses sortasi dan grading Bahan Hasil Pertanian (BHP). Melakukan perhitungan kualitas dan variabel kualitas untuk mengkaji kelas kualitas (grade), kerusakan yang tampak (visible), kerusakan tidak tampak (invisible damager), bahan asing (foreign materials), keretakan (sound grain and crack).

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Pembersihan Bahan Hasil Pertanian Menurut Tino Mutiarawati SP pembersihan (cleaning, trimming) yaitu membersihkan dari kotoran atau benda asing lain, mengambil bagian-bagian yang tidak dikehendaki seperti daun, tangkai atau akar yang tidak dikehendaki. Perbersihan bertujuan untuk menghilangkan kotoran-kotoranyang menempel pada hasil pertanian. Kebersihan sangat mempengaruhi kenampakan.

Secara umum pembersihan dapat dilakukan dengan dua cara yaitu : 1. Dry method yang diantaranya meliputi : Penyaringan (screening) Penyaringan bahan hasil pertanian ini dilakukan dengan menggunakan alat, tergantung bahan hasil pertanian yang akan disaring Pemungutan dengan tangan (hand picking) Cara ini disebut juga dengan cara manual, karena menggunakan tangan untuk melakukan

pembersihan. Biasanya ini lebih mengandalkan pengamatan yang cerdik oleh seseorang yang akan melakukan pembersihan bahan hasil pertanian. 2. Wet method yang diantaranya meliputi : Perendaman (soaking) perendaman bahan hasil pertanian di dalam air atau cairan lain yang diam atau mengalir akan efektif bila kotoran pada permukaan yag tidak diinginkan pada bahan hanya sedikit. Metode ini sering digabungkan dengan metode lain sebagai perlakuan awal (precleaner). Penyemprotan (water sprays) Pembersihan kotoran dengan

menyemprotkan air cocok untuk jumlah bahan yang banyak tetapi intensitas dan tipe distribusi hasil penyemprotan harus dipilih secara hatihati, sebagai contoh semprotan air untuk kentang yang bertekanan tinggi dan memusat jika digunakan untuk daun selada maka akan merusak bahan tersebut.

Silinder berputar (rotary drum) Pencuci tipe silinder berputar merupakan pencuci komersil karena mekanisme pencuciannya sederhana, memiliki kapasitas yang tinggi, hasilnya bersih, dan hanya sedikit kerusakan yang terjadi pada bahan. Pencuci ini dapat menggunakan rendaman air atau penyemprot dan dapat pula menggunakan keduanya. Pada prinsipnya, kinerja pencuci ini bergantung pada kecepatan putaran silinder, kekasaran, atau kerutan pada permukaan bahan, dan waktu pencucian.

Pembersih bersikat (brush washer) Pencuci tipe pembersih bersikat sering digunakan dan sangat efektif terutama untuk menghilangkan pasir atau tanah liat dan residu pestisida yang melekat pada bahan hasil pertanian.

Pembersih bergetar (shuffle or shaker washer)

Pencuci ini memiliki

mekanisme gerakan bolak-balik yang bertenaga sehingga pencuci ini harus dibuat kasar (tidak rata) dan harus berhati-hati dalam pemeliharaannya untuk menghindari gangguan mekanik.

Jenis kotoran pada bahan hasil pertanian, berdasarkan wujudnya dapat dapat dikelompokkan menjadi : Kotoran Berupa Tanah Kotoran ini biasanya merupakan kotoran hasil ikutan yang menempel pada bahan hasil pertanian pada saat bahan dipanen. Kotoran ini dapat berupa : tanah, debu, dan pasir. Tanah merupakan media yang baik sebagai tempat tumbuh dan berkembangnya mikroorganisme yang dapat mengkontaminasi bahan hasil pertanian. Adanya tanah pada bahan hasil pertanian kadangkadang sukar dihindarkan, karena beberapa hasil pertanian terdapat di dalam tanah, seperti umbi-umbian. Kotoran Berupa Sisa Pemungutan Hasil Kotoran jenis ini meliputi kotoran-kotoran sisa pemungutan hasil tanaman yaitu bagian tanaman yang bukan bagian yang dipanen, antara lain berupa : dahan, ranting, biji, kulit. Kotoran Berupa Benda-Benda Asing Adanya kotoran yang berupa benda-benda asing seperti : unsur logam akan memberi kesan ceroboh dalam penanganan hasil panen.

Kotoran Berupa Serangga Atau Kotoran Biologis Lain Adanya kotoran yang berupa serangga seperti kecoa dan kotoran biologis lainnya yang tercampur dengan bahan hasil pertanian dapat membawa bibit penyakit seperti kolera, tipus, desentri dan lain-lain.

Kotoran Berupa Sisa Bahan Kimia Kotoran berupa sisa bahan kimia dapat berasal antara lain dari obat-obatan pestisida dan pupuk. Kotoran ini di samping mengganggu penampakan hasil panen juga dapat menyebabkan keracunan pada konsumen. Pada konsentrasi yang cukup tinggi, bahan kimia dapat menyebabkan keracunan secara langsung. Sedangkan pada konsentrasi yang rendah, dan bila terus menerus akan tertimbun di dalam tubuh dapat mengakibatkan gangguan kesehatan.

2.2 Sortasi Menurut Tino Mutiarawati SP sortasi yaitu pemisahan komoditas yang layak pasar (marketable) dengan yang tidak layak pasar, terutama yang cacat dan terkena hama atau penyakit agar tidak menular pada yang sehat. Ada dua macam proses sortasi, yaitu sortasi basah dan sortasi kering. Sortasi basah dilakukan pada saat bahan masih segar. Proses ini untuk memisahkan kotoran-kotoran atau bahanbahan asing lainnya dari bahan simplisia. Misalnya dari simplisia yang dibuat dari akar suatu tanaman obat, maka bahan-bahan asing seperti tanah, kerikil, rumput, batang, daun, akar yang telah rusak, serta pengotoran lainnya harus dibuang.

Tujuan dari sortasi antara lain: a) Untuk memperoleh simplisia yang dikehendaki, baik kemurnian maupun kebersihannya (Widyastuti, 1997). b) Memilih dan memisahkan simplisia yang baik dan tidak cacat. c) Memisahkan bahan yang masih baik dengan bahan yang rusak akibat kesalahan panen atau serangan patogen, serta kotoran berupa bahan asing yang mencemari tanaman obat (Santoso, 2009).

Menurut WHO Guidelines on Good Agricultural and Collection Practice (GACP) for Madicinal Plants peraturan sortasi anta lain:

a) Pemeriksaan visual terhadap kontaminan yang berupa bagian-bagian tanaman yang tidak dikehendaki/digunakan. b) Pemeriksaan visual terhadap materi asing. c) Evaluasi organoleptik, meliputi : penampilan, kerusakan, ukuran, warna, bau, dan mungkin rasa.

2.3 Grading Menurut Tino Mutiarawati SP grading adalah pemilahan berdasarkan kelas kualitas. Biasanya dibagi dalam kelas 1, kelas 2, kelas 3 dan seterusnya, atau kelas A, kelas B, kelas C dan seterusnya. Pada beberapa komoditas ada kelas super-nya. Tujuan dari tindakan grading ini adalah untuk memberikan nilai lebih (harga yang lebih tinggi) untuk kualitas yang lebih baik. Standard yang digunakan untuk pemilahan (kriteria ) dari masing-masing kualitas tergantung dari permintaan pasar. Standarisasi merupakan ketentuan mengenai kualitas atau kondisi komoditas berikut kemasannya yang dibuat untuk kelancaran

tataniaga/pemasaran. Standarisasi pada dasarnya dibuat atas persetujuan antara konsumen dan produsen, dapat mencakup kelompok tertentu atau wilayah / negara / daerah pemasaran tertentu.

Pada kegiatan grading, penentuan mutu hasil panen biasanya didasarkan pada kebersihan produk, aspek kesehatan, ukuran, bobot, warna, bentuk, kematangan, kesegaran, ada atau tidak adanya serangan/kerusakan oleh penyakit, adanya kerusakan oleh serangga, dan luka/lecet oleh faktor mekanis. Pada usaha budidaya tanaman, penyortiran produk hasil panenan dilakukan secara manual, yaitu menggunakan tangan. Sedang grading dapat dilakukan secara manual atau menggunakan mesin penyortir. Grading secara manual memerlukan tenaga yang terampil dan terlatih, dan bila hasil panen dalam jumlah besar akan memerlukan lebih banyak tenaga kerja. (Wendi Irawan Dediarta SP, 2011)

2.4 Persyaratan Mutu Beras Sesuai dengan SNI, persyaratan mutu beras mencakup : 1. Persyaratan kualitatif

a) Bebas hama dan penyakit b) Bebas bau busuk, asam atau bau-bau lainnya c) Bebas dari bekatul d) Bebas dari tanda-tanda adanya bahan kimia yang membahayakan

2. Persyaratan kuantitatif mutu beras giling sesuai SNI 6128:2008 Tabel 1. Persyaratan Mutu Beras Mutu N0 Komponen Mutu 1 2 3 4 5 6 7 Derajat sosoh (min) Kadar air (maks) (%) (%) 100 14 95 5 0 0 0 100 14 89 10 1 1 1 95 14 78 20 2 2 2 95 14 73 25 2 3 3 85 15 60 35 5 3 5 Satuan I Mutu II Mutu III Mutu IV Mutu V

Butir Kepala (Maks) (%) Butir Patah (maks) Butir Menir (maks) Butir Merah (maks) Butir Kuning /Rusak (maks) (%) (%) (%) (%)

Butir (maks)

Mengapur (%)

9 10

Benda Asing (maks) (%) Butir Gabah (maks)

0,02 1

0,02 1

0,05 2

0,2 3

Butir/100gr 0

Ukuran butir beras Butir utuh 10/10 bagian ukuran panjang rata-rata butir utuh. Butir kepala 6/10 < BK < 9/10 bagian ukuran panjang rata-rata butir utuh. Butir patah 2/10 < BP < 6/10 bagian ukuran panjang rata-rata butir utuh. Butir menir < 2/10 bagian ukuran panjang rata-rata butir utuh. Derajat sosoh adalah banyaknya lapisan sekam dan tembaga yang dilepaskan dari endosperma beras. Semakin tinggi derajat sosoh beras, maka semakin rendah gizi yang terkandung pada beras tersebut.

BAB III METODOLOGI PENGAMATAN DAN PENGUKURAN

3.1 Alat Dan Bahan Alat : Wadah plastik Moisture tester Timbangan Sampling Homogenizer Rice Standart Chart

Bahan : Beras

3.2 Prosedur Praktikum 1. Menimbang massa beras sampai 25 gram. 2. Mengukur kadar air beras menggunakan Moisture tester. 3. Melakukan penyortiran terhadap butir utuh, butir patah, butir menir, butir hijau mengapur, butir uning/rusak, benda asing, dan butir gabah yang dilakukan manual dengan tangan. 4. Menghitung derajat sosoh. 5. Menghitung persentase beras hilang.

BAB IV HASIL PERCOBAAN

Tabel 2. Hasil Percobaan Kelompok 1 dan 2 No Pengamatan Bobot (gr) 1 2 3 4 5 6 7 8 Derajat sosoh Butir utuh Butir patah Butir menir Butir hijau/mengapur Butir kuning/rusak Butir asing Gabah Total 87,63 63,19 24,13 0,05 11,65 0,72 99,74 87,63 63,19 24,13 0,05 11,65 0,72 99,74 % Bobot (gr) 91,45 72,29 18,55 0,22 8,12 0,42 0,01 99,61 91,45 72,29 18,55 0,22 8,12 0,42 0,01 99,61 % Standar (%) Min.95 Min.35 Min.25 Max 2 Max 3 Max 3 Max 0,05 Max 2 btr

Kelompok 1 1. Kadar Air Beras

2. Beras Hilang = 100 gr mt = 100 gr 99,74 gr = 0,26 gr 3. Derajat Sosoh


( ( ) )

Keterangan: KA = Kadar air beras Ma = Massa beras awal Mt = Massa beras total

Kelompok 2 1. Kadar Air Beras

2. Beras Hilang = 100 gr mt = 100 gr 99,61 gr = 0,39 gr 3. Derajat Sosoh


( ( ) )

Tabel 3. Hasil Percobaan Kelompok 3 dan 4 No Pengamatan Bobot (gr) 1 2 3 4 5 6 7 8 Derajat sosoh Butir utuh Butir patah Butir menir Butir hijau/mengapur Butir kuning/rusak Butir asing Gabah Total 98,47 87,35 10,24 0,33 1,14 0,39 99,45 98,47 87,35 10,24 0,33 1,14 0,39 99,45 % Bobot (gr) 88,15 70,05 16,99 0,36 10,65 1,15 0,01 0,04 99,25 88,15 70,05 16,99 0,36 10,65 1,15 0,01 0,04 99,25 % Standar (%) Min.95 Min.35 Min.25 Max 2 Max 3 Max 3 Max 0,05 Max 2 btr

Kelompok 3 1. Kadar Air Beras

2. Beras Hilang = 100 gr mt = 100 gr 99,45 gr = 0,55 gr 3. Derajat Sosoh


( ( ) )

Kelompok 4 1. Kadar Air Beras

2. Beras Hilang = 100 gr mt = 100 gr 99,25 gr = 0,75 gr 3. Derajat Sosoh


( ( ) )

Tabel 4. Hasil Percobaan Kelompok 5 dan 6 No Pengamatan Bobot (gr) 1 2 3 4 5 6 7 8 Derajat sosoh Butir utuh Butir patah Butir menir Butir hijau/mengapur Butir kuning/rusak Butir asing Gabah Total 92,11 67,98 20,83 2,59 6,76 1,12 0,01 99,28 92,11 67,98 20,83 2,59 6,76 1,12 0,01 99,28 % Bobot (gr) 89,34 62,63 25,74 0,02 9,78 0,88 99,05 89,34 62,63 25,74 0,02 9,78 0,88 99,05 % Standar (%) Min.95 Min.35 Min.25 Max 2 Max 3 Max 3 Max 0,05 Max 2 btr

Kelompok 5 1. Kadar Air Beras

2. Beras Hilang = 100 gr mt = 100 gr 99,28 gr = 0,72 gr 3. Derajat Sosoh


( )

Kelompok 6 1. Kadar Air Beras

2. Beras Hilang = 100 gr mt = 100 gr 99,05 gr = 0,95 gr 3. Derajat Sosoh


( ( ) )

BAB V PEMBAHASAN

Percobaan mengenai sortasi beras dapat dilihat dari tabel yang menunjukkan bahwa butir utuh beras yang di uji hanya 60,56% yang berarti bahwa beras tersebut tidak memenuhi standar SNI yang butir utuhnya minimal sebesar 73%. Selanjutnya adalah sortasi butir patah, beras patah adalah butir beras yang berukuran kurang dari panjang rata-rata beras utuh pada umumnya. Dari percobaan menghasilkan persentase sebesar 31,69%, hal ini juga tidak menunjukkan bahwa beras tersebut tidak berstandar SNI karena butir patah pada beras SNI adalah sebesar maksimal 20%. Menir adalah butir beras yang berukuran kurang dari panjang rata-rata beras utuh dan biasanya lolos ayakan 4/64 mm. Sortasi butir menir beras menunjukkan persentase sebesar 3,86%, padahal standar SNI hanya maksimal 2% saja. Hal ini berarti standar SNI tidak terpenuhi. Butir beras mengapur adalah bila separuh lebih dari beras berwarna putih keruh seperti kapur. Butir hijau mengapur diperoleh hasil sebesar 2,55%, yang juga tidak memenuhi standar SNI karena untuk standar butir hijau mengapur pada SNI maksimal hanya 2% saja. Beras menguning adalah butir beras dimana lebih dari separuhnya berwarna kekuningan atau kecoklatan. Untuk butir kuning atau rusak hanya

diperoleh sebesar 0,27% saja yang berarti memenuhi standar SNI yaitu maksimal 2%. Namun untuk butir gabah dan benda asing tidak ditemukan di praktikum kali ini, yaitu 0 % hal ini bisa saja dalam pembersihan beras setelah panen dilakukan dengan baik sehingga beras tersebut terbebas dari kotoran benda asing dan butir gabah. Yang dikategorikan dengan benda asing adalah serangga, tangkai, kerikil, daun, pasir, tanah kering, dan sebagainya. Pada saat praktikum sortasi beras dengan parameter benda asing tidak ditemukan sama sekali baik pada beras. Hal ini menunjukan bahwa kedua sample beras memenuhi persyaratan dari grade mutu I pada SNI No. 01-6128-1999.

Setelah masing-masing parameter diukur, selanjutnya adalah menghitung kadar air sebanyak tiga kali. Kadar air yang dihasilkan yaitu sebesar 12,56. Sedangkan derajat sosoh dihitung sebesar 97,16% yang memenuhi standar SNI sebesar 95% saja. Setelah praktikum sortasi beras, tentunya ada beras yang hilang yaitu sebesar 1,07% dari massa beras awal sebesar 25,08 gram. Sortasi dan grading merupakan hal penting dalam pengelolaan lebih lanjut terhadap bahan hasil pertanian. Karena sortasi dan grading akan menentukan nilai jual terhadap sebuah komoditas pertanian. Maka dari itu sortasi dan grading perlu dilakukan dengan tepat dan teliti agar hasil dari komoditas tersebut dapat memiliki nilai jual yang tinggi serta sesuai dengan Standar Nasional Indonesia (SNI).

BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN

6.1 Kesimpulan Dari percobaan mengenai sortasi dan grading suatu bahan pertanian dapat diambil kesimpulan yaitu : Beras yang ada di pasaran belum tentu memenuhi standar SNI walaupun beras tersebut sudah dalam kondisi telah dilakukan pembersihan, sortasi, dan grading dan memiliki label SNI. Hal ini diakibatkan oleh berbagai faktor, diantaranya kemampuan dan kondisi mesin, penanganan pasca panen, situasi dan kondisi penyimpanan, dll. Proses sortasi yang dilakukan dengan manual dan mesin akan menghasilkan nilai yang berbeda dikarenakan kemampuan manusia yang berbeda dibandingkan mesin. Derajat sosoh dari beras ditentukan oleh massa awal beras yang dikurangi massa butir hijau, butir kuning, benda asing dan butir gabah.

6.2 Saran Pada saat pemisahaan beras-beras ke dalam golongan tertentu harus teliti dan cermat, jangan sampai salah membedakan pengelompokan tersebut. Peralatan khususnya meja-meja untuk di jadikan alas dalam melakukan kegiatan kurang mendukung dan banyak, seharusnya disesuaikan dengan jumlah kelompok yang ada. Dalam percobaan ini dirasakan mengalami kejenuhan karena dalam pengamatan terhadap beras yang begitu banyak dan rumit, seharusnya asisten lebih menghidupkan situasi di ruangan agar lebih ceria sehingga tidak membosankan.

DAFTAR PUSTAKA

Sudaryanto, Modul Penuntun Praktikum MK. Teknologi Penanganan Hasil Pertanian, 2012/2013. Fakultas Teknologi Industri Pertanian Universitas Padjadjaran. Bertha, Julisti. 2009. Grading Gabah Dan Beras. http://btagallery.blogspot.com, (Diakses pada tanggal 3 April 2012 pukul 22.00 WIB).. Anonim. 2008. Laporan Peraktikim Pembersihan, Sortasi dan Grading Bahan Hasil Pertanian. http://www.scribd.com/doc/76403694/Pembersihan-

Sortasi-dan-Grading-Bahan-Hasil-Pertanian (Diakses pada tanggal 3 April 2012 pukul 22.00 WIB). Mutiarawati Tino, dkk. Penanganan Pasca Panen Hasil Pertanian. Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran Badan Standardisasi Nasional. 2008. Standar Nasional Indonesia Beras Giling. SNI 6128:2008. Badan Standardisasi Nasional, Jakarta. 9 hlm.

LAMPIRAN

Gambar 1 : Kegiatan Menimbang Beras

Gambar 3: Alat Praktikum: Wadah Plastik dan Timbangan

Gamabar 2 : Kegiatan Pembersihan dan Sortasi pada beras