Anda di halaman 1dari 62

LAPORAN PENDAHULUAN PENYAKIT HIRSCPRUNG

I. PENGERTIAN Penyakit Hirscprung, pertama kali ditemukan oleh Harold Hirscprung tahun 1887. Yaitu keadaan kongenital dimana tidak adanya sel-sel saraf ganglion parasimpatik pada suatu segmen usus bagian distal, terbanyak di rectosigmoid. Dibedakan dua tipe, yaitu : 1. Segmen pendek Segmen aganglionisis mulai dari anus sampai sigmoid 2. Segmen panjang Kelainan dapat melebihi sigmoid, bahkan dapat mengenai seluruh kolon atau usus halus Nama lain penyakit Hirscprung : Morbus Hirscprung/aganglionosis kongenital II. ETIOLOGI Herediter/ketentuan atau penyebab tidak diketahui Sering terjadi pada anak dengan down syndrome Kegagalan sel neural pada masa embrio dalam dinding usus, gagal eksistensi kraniokaudal pada myenterik dan submukosa dinding plexus III. INSIDEN Penyebab obstruksi usus yang banyak pada neonatus, sering tidak terdiagnosa Kematian Terjadi 1 : 5000 kelahiran. Insiden laki-laki : wanita 4:1

IV. PATOFISIOLOGI Persyarafan parasimpatik colon didukung oleh ganglion. Persyarafan parasimpatik yang tidak sempurna pada bagian usus yang aganglionik mengakibatkan peristaltik abnormal, sehingga terjadi konstipasi dan obstruksi Tidak adanya ganglion disebabkan kegagalan dalam migrasi sel ganglion selama perkembangan embriologi. Karena sel ganglion tersebut bermigrasi pada bagian kaudal saluran gastrointestinal (rectum). Kondisi ini akan memperluas hingga proksimal dari anus. Semua ganglion pada intramural plexus dalam usus berguna untuk kontrol kontraksi dan relaksasi peristaltic secara normal Penyempitan pada lumen usus, tinja dan gas akan terkumpul di bagian proksimal dan terjadi obstruksi dan menyebabkan di bagian colon tersebut melebar (megacolon) Usus besar Megacolon Tinja dan gas tertahan; dilatasi sel ganglion ada (fx normal) Region aganlionic Abstruksi parsial Kontraksi yang tonus dan tidak adekuatnya peristaltik Pelebaran segmen proximal Abstruksi komplit pada usus

Konstipasi kronik

IV. MANIFESTASI KLINIK Masa Neonatal 1. Gagal mengeluarkan mekonium dalam (24-48 jam) pertama setelah lahir 2. Muntah berwarna empedu 3. Distensi abdomen 4. Menolak untuk minum air Masa Bayi 1. Konstipasi 2. Muntah 3. Distensi abdomen 4. Diare 5. Ketidakadekuatan penambahan berat badan 6. Tanda-tanda vomitus (sering menandakan adanya enterokolitis) (diare berdarah, demam, letargi berat) Masa kanak-kanak-dewasa 1. Konstipasi 2. Feses berbau menyengat, bentuknya seperti pita 3. Distensi abdomen 4. Masa fekal dapat teraba 5. Anak biasanya mempunyai nafsu makan dan pertumbuhan yang buruk. V. PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK Pemeriksaan rectum (RT) Pemeriksaan barium enema : adanya penyempitan segmen usus proximal-anus dilatasi usus bagian proximal-segmen penyempit

Pemeriksaan rectal biopsy Anorektal manometry untuk mencatat respon, refluks spinkter eksterna dan interna

Dengan pemeriksaan diatas dapat ditemukan 1. Daerah transisi 2. Gambaran kontraksi usus yang tidak teratur di bagian yang menyempit 3. Enterokolitis pada segmen yang melebar 4. Terdapat retensi barium setelah 24 - 48 jam Foto abdomen

VI. KOMPLIKASI 1. Gawat pernapasan (akut) 2. Enterokolitis (akut) 3. Striktura ani (pasca bedah) 4. Inkontinensia (jangka panjang) VII.PENATALAKSANAAN MEDIK Penggunaan pelembek tinja dan irigasi rectal dengan garam fisiologi/washout Cara ini efektif pada segmen aganglionik yang pendek, untuk mengobati gejala abstipasi dan mencegah enterokolitis Dengan pembedakan colostomy Terdiri atas 2 tahap yaitu : 1. Mula-mula dilakukan kolostomi loop atau double barrel sehingga tonus dan ukuran usus yang dilatasi dan hipertrofi dapat kembali normal (memerlukan waktu 3 sampai 4 bulan) 2. Bila umur bayi antara 6 dan 12 bulan (bila beratnya antara 9 dan 10 kg) maka dilakukan repair colostomy. Repair colostomy dilakukan dengan cara memotong usus aganglionik dan menganostomosiskan usus yang berganglior ke rectum dengan jarak 1 cm dari anus. Repair colostomy terdiri dari 3 macam prosedur yaitu : a. Prosedur Duhamel (pada bayi yang berusia kurang dari 1 tahun) Prosedur ini terdiri atas penarikan kolom normal ke arah bawah dan menganostomosiskannya di belakang usus aganglionik, menciptakan dinding

ganda yang terdiri dari selubung aganglionik dan bagian posterior kolon normal yang ditarik tersebut. b. Prosedur swensor Bagian kolon yang aganglionik itu dibuang. Kemudian dilakukan anastomosis end-to-end pada kolon berganglion dengan saluran anal yang dilatasi. Sfingterotomi dilakukan pada bagian posterior c. Prosedur soave (dilakukan pada bagian posterior Dinding otot dari segmen rectum dibiarkan tetap utuh. Kolom yang bersaraf normal ditarik sampai ke anus, tempat dilakukannya anastomosis antara

kolon normal dan jaringan otot recktosigmoid yang tersisa. PENGKAJIAN KEPERAWATAN 1. Data Demografi Hiscprung dapat terjadi pada 1 orang dalam 500 kelahiran hidup dengan perbandingan laki-laki dan perempuan yaitu 4 : 1 . Biasanya karena faktor genetic dan insedennya tinggi pada anak dengan down syndrome Tanyakan pada pasien usia dan jenis kelamin 2. Keluhan utama Keluhan utama yaitu konstipasi

3. Riwayat Kesehatan a. Riwayat Kesehatan Sekarang Kaji riwayat klien tentang konstipasi klien sama sekali tidak bisa BAB : Konstipasi kronik b. Riwayat Kesehatan Lalu Dikumpulkan sebagai informasi tanyakan terapi yang diberikan pada pasien yaitu intervensi beda (colostomy). 4-6 bulan setelah colostomy maka dilakukan repair colostomy Bayi / Anak Riwayat Prenatal, riwayat kelahiran

Riwayat neonatus Eliminasi : urine Fece <ada tidaknya gangguan frekuensi, warna konsistensi)

Gangguan respirasi sewaktu diberi minum / makan (sesak, sianosis, bersih, muntah) Pemberian minum pertama Pemberian makanan tambahan Jaundice Kesakitan / rewel

Nutrisi Tumbuh kembang (rambut, lingkar kepala, lingkar lengan atas, berat badan, tinggi badan)

Alergi Social ekonomi keluarga Pola makan ibu

Dewasa Nutrisi Alergi Berat badan

4. Pemeriksaan Fisik KV : TTV : Kesadaran Baik Suhu Nadi RR TD : : : : Peningkatan suhu Takikardia Takipnea Tetap stabil

PEMERIKSAAN PERSISTEM 1. Gastrointestinal Mata : Kunjungtiva pucat

Mulut Bibir pecah Abdomen

Memoran mukasa kering

Ketegangan abdomen secara progresif Dinding abdomen tipis, vena-vena terlihat Aktivitas peristaltic menurun dan dapat tidak ada sama sekali Konstipasi Mual atau muntah (pada neonatus 24 jam pertama) Tidak ada mekonium Muntah Perut membuncit

Feces Karakteristik seperti pita Warna gelap Frekuensi menurun Tenesmus positik Terdapat bising usus

2. Kardiovaskular dan pernapasan a. Bibir pucat b. Capillary refiil time (5 detik) c. Warna kulit muka pucat d. Kelembaban kulit dapat terjadi Dingin Panas Diaforesis

e. Tanda-tanda dehidrasi : turgor kulit jelek f. Bentuk dada : Barrel chest

g. Pernapasan : takipnea h. Bunyi jantung S1, S2 murni 3. Genital dan rectal Inspeksi terhadap pembengkaran, radang, iritasi dan fistula Periksa anus dari varices dan hemorrnoid

PATOFISIOLOGI PENYAKIT HIRSCHPRUNG (Penyimpangan Terhadap Kebutuhan Dasar Manusia)


HIRSCHPRUNG Tidak adanya neuran meissner dan aurbach di segmen Rectosgmoid colon Serabut saraf dan otot polos menebal Tidak adanya peristaltic serta spingter rectum Tidak mempunyai daya dorong Daya propulsit tak ada, proses evakuasi feces dan udara terganggu Muntah hijau Passase usus terganggu TRIAS Distensi Atdomen Keterlambatan evakuasi Obstruksi dan dilatasi bagian proksimal Meconium feces Penekanan pada usus, Lambung elntra abdomen Kontraksi Anuler pylorus Ekspalasi isi Lambung ke escfagus
Nyeri

Refleks inhibisi Rektospingter terganggu Spinkter ani interna tidak relaksasi Distensi Abdomen Kontraksi Otot-otot dinding Abdomen keDiafragma Relaksasi otot-otot Diafragma terganggu Clystre pernafasan Feces lama dalam colon Rektrum KONSTIDASI Peregangan secara kronik saat defekasi Peregangan sarafkronik pupendus secara maksimal Spinkter Ani inkompten/ inkontineusia fekal Pelepasan isi rectum Tanpa tanpa disadari Pengeluaran feces terus Menerus tanpa disadari Diare Terbentuk feces yang encer Risiko tinggi Gangguan Inkgntas kulit = disekitar colostomy dan anus Klien rawat inap Dalam waktu lain Timbul rekasi Hospitalisasi Cemas /takut Tekanan intra lamen usus Aliran usus Kontraksi usus Statis Bakteri dalam Membran mokosa Proliferasi bakteri Dalam jumlah banyak ENTEROKOLITIS Ekspansi paru Pola nafas tidak efektif Pe flora usus

Gerakan isi lambung ke mulut Mual/muntah Intake kurang Pemenuhan nutrisi kurang dari kebutuhan

Rekasi inflamasi Peningkatan sekresi Cairan dan elektrolit ke rongga usus, disertai absorbsi

Risiko Tinggi kekurangan Volume cairan tubuh Colon menjadi melebar/Feces tertahan bagian proksimal Dilakukan tindakan Colostomy untuk mengeluarkan feces Risiko Tinggi Infeksi

PATOFISIOLOGI POST OP RESEKSI MEGACOLON


HIRSCHPRUNG
Tidak adanya neuton meissnet & Aurbach di segmen nectocigmoid colon Tidak ada peristaltic & evakuasi usus Spontan spinkter rectum # dapat berelaksasi Isi usus terdorong kesegmen aganglion Feces & gas terkumpul di daerah tersebut Usus bagian proksimal dilatasi Megacolon distensi abdomen operasi colostomy Efek anestesi Peristaltik usus me Konstipasi Peregangan secara Kronik saat defekasi Pembatasan intake Makanan peroral Asupan makanan Tidak terpenuhi Terpajang lingkungan Luar (Mikroorganisme) Tindakan pembedahan (Reseksi megacolon Kerusakan kontinuitas jaringan

Resiko tinggi Terjadi infeksi

Spinkter ani inkompeten

Pemenuhan nutrisi Kurang dari kebutuhan tubuh

Pelepasan isi rektum tanpa disadari Diare Frekuensi BAB me (encer) Resiko terjadinya Gangguan integritas kulit

Resiko tinggi kekurangan Volume cairan tubuh

Dioagosa Keperawatan 1. Distres pernafasan b/d. distensi abdomen 2. Nutrisi kurang dari kebutuhan b/d. intake tidak adekuat 3. Nyeri b/d. distensi abdomen 4. Konstipasi b/d. obstruksi usus 5. Gangguan integritas kulit b/d. colostomy dan repair colostomy 6. Gangguan citra tubuh b/d. adanya kolostomi 7. Kurangnya pengetahuan b/d kurang sumber informasi Rencana Perawatan ad. 1 Tujuan : Pola nafas efektif Tidak ada gangguan pernafasan Intervensi :

1. Observasi frekuensi / kedalaman pernafasan R. / Nafas dangkal, distress pernafasan, menahan nafas, dapat menyebabkan hipoventilasi 2. Auskultasi bunyi nafas R. / 3. Berikan oksigen tambahan R. / memaksimalkan sediaan O2 untuk pertukarand pe / kerja nafas 4. Tinggalkan kepala tempat tidur 30o R. / Mendorong pengembangan diafragma / ekspansi paru optimal dan meminimalkan isi abdomen pada rongga thorax ad. 2 Tujuan : * Mempertahankan BB stabil / menunjukkan kemajuan

peningkatan BB mencapai tujuan dengan nilai laboratorium normal InteRvensi :

1. Pertahankan potensi selang Naso-gastrik. Jangan mengembalikan posisi selang bila terjadi perubahan posisi. R. / Memberikan istirahat pada traktus GJ. Selama fase pasca operasi akut sampai kembali berfungsi normal 2. Berikan perawatan oral secara teratur R. / Mencegah ketidaknyamanan karena mulut kering dan bibir pecah 3. Kolaborasi pemberian cairan IV, R. / Memenuhi kebutuhan nutrisi sampai masukan oral dapat dimulai 4. Awasi pemeriksaan laboratorium. Misalnya Hb / Ht dan elektrolit. R. / Indikator kebutuhan cairan / nutrisi dan keaktifan terapi dan terjadinya konstipasi ad. 3 Tujuan : * Menyatakan nyeri hilang * Menunjukkan rileks, mampu tidur, dan istirahat dengan tepat InteRvensi :

1. Catat keluhan nyeri, durasi, dan intensitasn nyeRi R. / Membantu mendiagnosa etiologi perdarahan dan terjadinya komplikasi 2. Catat petunjuk nonverbal. Mis. gelisah, menolak untuk beRgerak, R. / Bahasa tubuh / petunjuk non verbal dapat secara prikologis dan fisiologis dapat digunakan sebagai petunjuk untuk mengidentifikasi masalah 3. Kaji faktor-faktor yang dapat meningkatkan / menghilangkan nyeri R. / Menunjukkan faktor pencetus dan pemberat dan mengidentifikasi terjadinya komplikasi 4. Berikan tindakan nyaman, seperti pijat penggung, ubah posisi dan R. / Meningkatkan relaksasi, memfokuskan perhatian, dan meningkatkan koping 5. Kolaborasi pemberian analgetik R. / Memudahkan istirahat dan menurunkan rasa sakit

ad. 4 Tujuan : * MenoRmalkan fungsi usus * Mengeluarkan fese InteRvensi :

1. Kaji fungsi usus dan karakteristik tinja R. / Memperoleh informasi tentang kondisi usus 2. Catat adanya distensi abdomen dan auskultasi peristaltik usus R. / Distensi dan hilangnya peristaltic usus menunjukkan fungsi defekasi hilang 3. Berikan enema jika diperlukan R. / Mungkin perlu untuk menghilangkan distensi ad. 5 Tujuan : Meningkatkan penyembuhan luka tepat waktu dan bebas tanda infeksi InteRvensi :

1. Observasi luka, catat karakteristik drainase R. / Perdarahan pasca operasi paling sering terjadi selama 48 jam pertama, dimana infeksi dapat terjadi kapan saja 2. Ganti balutan sesuai kebutuhan, gunakan teknik aseptik R. / Sejumlah besar drainase serosa menuntut pergantian dengan sering untuk menurunkan iritasi kulit dan potensial infeksi 3. Irgasi luka sesuai indikasi, gunakan cairan garam faali R. / Diperlukan untuk mengobati inflamasi infeksi praap / post op ad. 6 Tujuan : * Menyatakan penerimaan diri sesuai situasi * Menerima perubahan kedalam konsep diri InteRvensi :

1. Dorong pasien / orang terdekat untuk mengungkapkan perasaannya R. / Membantu pasien untuk menyadari perasaannya yang tidak biasa

2. Catat perilaku menarik diri. Peningkatan ketergantungan R. / Dugaan masalah pada penilaian yang dapat memerlukan evaluasi lanjut dan terapi lebih kuat 3. Gunakan kesempatan pada pasien untuk menerima stoma dan berpartisipasi dan perawatan R. / Ketergantungan pada perawatan diri membantu untuk memperbaiki kepercayaan diri 4. Berikan kesempatan pada anak dan orang terdekat untuk memandang stoma R. / Membantu dalam menerima kenyataan 5. Jadwalkan aktivitas perawatan pada pasien R. / Meningkatkan kontrol dan harga diri 6. Pertahankan pendekatan positif selama tindakan perawatan R. / Membantu pasien menerima kondisinya dan perubahan pada tubuhnya ad. 7 Tujuan : * Mengungkapkan pemahaman tentang kondisi / proses penyakit, tindakan dan prognosis InteRvensi :

1. Tentukan persepsi anak tentang penyakit R. / Membuat pengetahuan dasar dan memberikan kesadaran kebutuhan belajar individu 2. Kaji ulang obat, tujuan, frekuensi, dosis R. / Meningkatkan pemahaman dan kerjasama 3. Tekankan pentingnya perawatan kulit pada orang tua R. / Menurunkan penyebaran bakteri

DAFTAR PUSTAKA Ngastiyah, 1997,Perawatan Anak Sakit, EGC. Jakarta Barbara Engram, 1999 RENCANA ASUHAN KEPERAWATAN MEDIKAL BEDAH Vol 3. EGC. Jakarta Star Pengajar Ilmu Kesehatan Anak FK VI, ILMU KESEHATAN ANAK Vol 3, BAGIAN ILMU KESEHATAN ANAK, FK, VI, 1985 Cecily L. Betz, Linda A Sowden, 2002, KEPERAWATAN PEDIATRIK edisi 3, EGC, Jakarta Suradi Skp dan Rita Yuliani Skp, 2001, ASUHAN KEPERAWATAN PADA ANAK, CV Agung, Seto, Jakarta

FORMAT PENGKAJIAN RUANG PERAWATAN ANAK I. Biodata D. Identitas Klien 1. Nama/Nama panggilan 2. Tempat tanggal lahir/Usia 3. Jenis Kelamin 4. Agama 5. Pendidikan 6. Alamat 7. Tanggal Masuk 8. Tanggal Pengkajian 9. Diagnosa Medik 10. Rencana Therapi E. Identitas Orang Tua 1. Ayah a. Nama b. Usia c. Pendidikan : Hasyim : 36 thn : : An. Hayyub. : Jeneponto, 21 4 2003/1 tahun 2 bulan : Laki-laki : Islam : : Borongkaluku, Bontomarannu : 23 06 2004 : 29 06 2004 : Hisprung :

d. Pekerjaan/sumber penghasilan : Pedagang e. Agama f. Alamat 2. Ibu a. Nama b. Usia c. Pendidikan : Ramlah : 25 thn : SMU : Islam : Borongkaluku, Bontomarannu

d. Pekerjaan/sumber penghasilan : IRT e. Agama f. Borongkulu, Bontomarannu : Islam :

F. Identitas Saudara Kandung


No 1. Nama Ririn Nurfadilah Usia 7 th Hubungan Kakak Kandung Statis Kesehatan Sehat

II. Keluhan Utama/Alasan Masuk Rumah Sakit Perut kembung / distensi abdomen III. Riwayat Kesehatan A. Riwayat Kesehatan Sekarang Klien masuk RS dengan keluhan detak-detak pada tanggal 17 Juli 2003 klien didiagnosa Megacolon/Hirscprung Kongenital, 1 bulan kemudian yaitu tanggal 7-8-03 terapi yang diberikan pada klien yaitu operasi colostomy dan dirawat selama 7 hari, keadaan umum baik lalu diizinkan pulang kontrol di poli. Lalu pada tanggal 15-6-2004 setelah colostomy dilakukan repair colostomy. 1 hari kemudian kilen mengalami perut kembung lalu pindah rawat picu tanggal 26 Juni 2004 dilakukan Reseksi Mengacolon. B. Riwayat Kesehatan Lalu (Khusus untuk anak usia 0 5 tahun) 1. Pre natal Care a. Pemeriksaan kehamilan 2 Kali PHS - Infeksi - ngidam

b. Keluhan selama hamil : perdarahan -

(mangga) muntah-muntah deman - Perawatan selama hamil c. Riwayat : - Terkena sinar - Therapi obat d. Kenaikan Berat Badan selama hamil 15 Kg e. Immunisasi TT 2 Kali f. Golongan darah ibu O Golongan darah Ayah A

2. Natal a. Tempat melahirkan : RS Klik Rumah

b. Lama dan jenis persalinan : Spontan - Forcep - Operasi - lain-lain induksi c. Penolong persalinan : Dokter - Bidan Dukun d. Cara untuk memudahkan persalinan : Drip - Obat perangsang e. Komplikasi waktu lahir : Robek perineum Infeksi nifas 3. Post natal a. Kondisi Bayi : BB lahir 3400 Gram PB 30 Cm b. Apakah anak mengalami : penyakit Kuning - Kebiruan - Kemerahan - Problem menyusui - BB tidak stabil (Untuk Semua Usia) Penyakit yang pernah dialami : Bentuk Deman Diare Kejang Lain-lain Kecelakaan yang dialami : latuh keracunan Pernah : dioperasi - dirawat di Rumah Sakit Allergi : Makanan - obat-obatan - zat/substansi kimia - texil Konsumsi obat-obatan bebas Perkembangan anak disbanding saudara-saudaranya : Lambat Sama - Cepat C. Riwayat Kesehatan Keluarga Penyakit anggota keluarga : alergi - asma - TBC - hypertensi penyakit jantung - stroke - anemia - hemopilia - arthritis - migrain DM - kanker - jiwa tenggelam - lalu lintas -

Genogram
Ket :
? ?

: Laki-laki : Perempuan
25 thn 36 thn 7 thn

1,2 thn

IV. Riwayat Immunisasi


No 1. 2. 3. 4. 5. Jenis Immunisasi BCG DPT (I, II, III) Polio (I, II, III, IV) Campak Hepatitis Waktu Pemberian Usia 1 bulan Usia 2, 3, 4 bulan Usia 2, 3, 4 bulan Usia 9 bulan Usia 1 tahun Rekasi setelah pemberian Panas -

Pertumbuhan Fisik V. Riwayat Tumbuh Kembang A. Pertumbuhan Fisik BBL 1. Berat Badan : 3,4 4 bulan 1 tahun 6,8 10,2 BB anak sekarang = 8,9 Kg

2. Tinggi Badan :

Ibu klien lupa TB Lahir

4. Waktu tumbuh gigi 9 bulan, Tanggal gigi - Tahun B. Perkembangan tiap tahap Usia anak saat : 1. Berguling 2. Duduk 3. Merangkai 4. Berdiri 5. Berjalan : : : : : diingat

6. Senyum kepada orang lain pertama kali : 7. Bicara pertama kali : 12 bulan

8. Berpakaian tanpa Bantuan - : VI. Riwayat Nutrisi A. Pemberian ASI 1. Pertama kali disusui 1 hari post partum 2. Cara pemberian : Setiap kali menangis terjadwal 3. Lama pemberian 3 bulan B. Pemberian Susu Formula 1. Alasan pemberian : 2. Jumlah pemberian : 3. Cara memberikan : ASI diproduksi 3 botol / hari Dengan dot + sendok -

C. Pemberian makanan tambahan a. Pertama kali diberikan usia 4 bulan b. Jenis : Bubur susu pisang - lain-lain D. Pola perubahan nutrisi tiap tahapan usia sampai nutrisi saat ini Usia 1. 0 4 bulan 2. 4 12 bulan 3. Saat ini Jenis Nutrisi ASI Milna, Susu Formula Bubur, Susu formula Lama pemberian 3 bulan Spi saat ini

VII. Riwayat Psichososial - Apakah anak tinggal di : apartemen - rumah sendiri kontrak (bersama nenek) - Lingkungan berada di - Apakah rumah dekat tidur sendiri : kota setengah kota - desa : sekolah ada tempat bermain - Punya kamar

- Apakah ada tangga yang bisa berbahaya bermain -

Apakah anak punya ruang

- Hubungan antar anggota keluarga : Harmonis Berjauhan - Pengasuh anak nenek/kakek VIII. Riwayat Spiritual - Support system dalam keluarga - Kegiatan keagamaan IX. Riwayat Hospitalisasi A. Pemahaman keluarga tentang sakit dan rawat inap Mengapa ibu membawa anaknya ke RS berobat (keluhan distensi abdomen) Apakah dokter menceritakan tentang kondisi anak Ya Tidak Bagaimana perasaan orang tua saat ini : Cemas - Takut - Khawatir Biasa Apakah orang tua akan selalu berkunjung : Ya Kadang-kadang Tidak Siapa yang akan tinggal dengan anak : ayah ibu Kakak Lainlain nenek B. Pemahaman anak tentang sakit dan rawat inap belum bisa dikaji Mengapa Keluarga/Orang tua membawa kamu ke Rumah sakit ? Menurutmu apa penyebab kamu sakit Apakah dokter menceritakan keadaanmu : ya - Tidak Bagaimana rasanya dirawat di RS : Bosan lain Rasa cemas Kehilangan kontrol Takut akan nyeri & perlukaan Takut Senang Lain: Orang tua Baby sitter pembantu -

Reaksi Hospitalisasi 1. Rasa Cemas Klien belum mampu berkomunikasi dengan menggunakan bahasa yang memadai, dan pengertian terhadap situasi masih terbatas. Klien kadang menangis, memanggil ibunya atau menggunakan tingkat laku agresif, misalnya menendang, memukul, mencoba untuk membuat orangtua (Ibu) tetap tinggal dan menolak perhatian orang lain. dan kadang juga klien tidak aktif kurang minat untuk bermain 2. Kehilangan Kontrol Akibat sakit dan dirawat di RS, anak merasa kehilangan kontrol kebebasan dalam segala hal dan menimbulkan regresi sehingga terjadi rasa ketergantungan sehingga suatu saat anak akan menjadi cepat marah dan agresif 3. Takut akan nyeri dan perlukaan Klien memberikan reaksi dengan emosi yang kuat dan pertahanan fisik terhadap pengalaman yang menyakitkan, trauma dengan orang yang berpakaian putihputih, indikasi perilaku terhadap rasa nyeri seperti : berteriak, menolak untuk disentuh, menendang/menangis X. Aktivitas Sehari-hari A. Nutrisi
Kondisi 1. Selera maka 2. Menu makan 3. Frekuensi makan 4. Makanan yang disukai 5. Makanan pantangan 6. Pembatasan pola makan 7. Cara makan 8. Ritual saat makan Sebelum sakit Baik Bubur 4x disuap bermain Saat Sakit Menurun Air susu Nestle 42 cc / jam boleh melalui otal, NGT -

B. Cairan
Kondisi 1. Jenis minum 2. Frekuensi minum 3. Kebutuhan cairan 4. Cara pemenuhan Sebelum sakit Air putih, susu formula Sebanyak anak minta 890 900 cc/hari minum Saat Sakit Susu formula, air putih Sesuai kebutuhan 42 cc/jam otal, IV

C. Eliminasi (BAB & BAK)


Kondisi 1. Tempat pembuangan 2. Frekuensi (Waktu) 3. Konsistensi 4. Kesulitan 5. Obat pencahar Sebelum sakit WC 1 x / hari Keras Sulit Saat Sakit Ditempat tidur 4 x / hari lembek, encer tidak ada -

D. Istirahat Tidur
Kondisi 1. Jam Tidur - Siang - Malam 2. Pola tidur 3. Kebiasaan sebelum tidur 4. Kesulitan tidur bermain Bermain 13.00 14.00 19.00 07.00 4 jam 8 jam Sebelum sakit Saat Sakit

E. Olah Raga
Kondisi
1. Program Olah Raga 2. Jenis dan Frekwensi 3. Kondisi setelah olah raga

Sebelum sakit
-

Saat Sakit
-

F. Personal Hygiene
Kondisi
1. Mandi a. b. Cara Frekwensi Dimandikan 2 x sehari sabun Dimandikan memakai waslap 1 x shari Sabun

Sebelum sakit

Saat Sakit

c. Alat mandi 2. Cuci rambut a. b. Frekwensi Cara

3 x seminggu memakai sampo

Tidak pernah -

3. Gunting kuku a. b. Frekwensi Cara 1 x seminggu memakai gunting kuku belum pernah -

4. Gosok gigi a. b. Frekwensi Cara -

G. Aktivitas/Mobilitas Fisik
Kondisi
1. Kegiatan sehari-hari 2. Pengaturan jadual harian 4. Penggunaan alat Bantu aktivitas 4. Kesulitan pergerakan tubuh Aktif bergerak

Sebelum sakit
Bermain -

Saat Sakit
Tidur ditempat tidur -

H. Rekreasi
Kondisi 1. Perasaan saat sekolah
2. Waktu luang 3. Perasaan setelah rekreasi/bermain 4. Waktu senggang keluarga -

Sebelum sakit
Senang

Saat Sakit -

XI. Pemeriksaan Fisik A. Keadaan Umum Klien Baik Lemah - Sakit Berat B. Tanda-tanda Vital Suhu Nadi Respirasi Tekanan Darah : 37,5oC : 100x/mnt : 24x/mnt : 100/60 mmHg

C. Antropometri Tinggi Badan Berat badan : Lupa : 8,9 Kg

Lingkar lengan atas : 14 cm Lingkar kepala Lingkar dada Lingkar perut Skin fold : 46 cm : 50 cm : 51 cm : -

D. Sistem Pernafasan Hidung : simetrisan pernafasan Cuping hidung - secret - polio - Ep staxis Leher CVP) Dada Bentuk dada Normal barrel - pigen chest Perbandingan ukuran anterior-posterior dengan tranversal 1 ? 1 Gerakan dada : simetris terdapat retraksi - Otot Bantu pernafasan Surat nafas : Vocal tremitus Ronchi Wheezing Steridor Rales : pembesaran kelenjar tumor (tampak luka pemasangan

Apakah ada clubling finger : -

E. Sistem Cardio Vaskuler Conjunctiva : tidak, bibir pucat/cyanosis - Arteri carotis : Kuat/lemah Tekanan vena jugularis : meninggi/tidak Ukuran jantung : Normal + membesar - Ictus cordis/apex Suara jantung : S1, S2, bising aorta mur-mur gallop Capillary refilling Time 3 detik Sklera : tidak, bibir : lembab - kering pecah-pecah labio skiziz Mulut : stomatitis palato skizis jumlah gigi 6 kemampuan menelan : Baik / Sulit Gaster Abdomen Anus : Kembung Nyeri gerakan peristaltis : Hati : teraba Lien ginjal Faeses : Lecet hemorroid

F. System Pencernaan -

G. System Indra 1. Mata Kelopak mata bulu mata alis Visus (Gunakan snellen chard) t.d.k (sulit ditentukan) Lapang Pandang Sulit ditentukan Penciuman IV perih di hidung trauma mimisan Sekret yang menghalangi penciuman Keadaan daun telinga baik, kenal auditoris : Besih Serumen Fungsi pendegaran baik

2. Hidung -

3. Telinga -

H. System Syarat 1. Fungsi Cerebral a. Status Mental : Orientasi Daya Ingat Perhatian dan perhitungan Bahasa b. Kesabaran (Eyes 4 Motorik 6 verbal 5) dengan 665

c. Bicara Ekspresive Resiptive 2. Fungsi Nervus Nervus : Sulit ditentukan lapang pandang, sulit ditentukan : Gerak Bola Mata IV kesegala arah pupil isokor anisokor Nervus Nervus : Sensorik Motorik : Sensorik Otonomi Motor

Nervus VIII : Pendegaran - Kesimbangan Nervus IX Nervus X Nervus XI : : Gerakan uvula IV rangsangan muntah/menelan : Sternocledomastoideus - Trapexius -

Nervus XII : Gerakan Lidah 3. Motorik : Massa otot N Tonus otot kekuatan otot : 4 4. Fungsi Sensorik : Suhu nyeri getaran posisi diskriminasi 5. Fungsi cerebellum : Koordinasi - kesimbangan 6. Reflex : Bisep + Trisep + Patela + Babinski 7. Iritansi Meningen : Kaku duduk lasaque sign brudzinkim sign - /II I. System Muskulo Skeletal 1. Kepala : Bentuk Kepala normal gerakan ke segala arah - kering sign

2. Vertebrae : scoliosis - Lordosis - Kiposis - Gerakan + ROM Aktif Fungsi gerak baik 3. Pelvis : Gaya jalan tidak gerakan + ROM Aktif Trendelberg Test Ortolani/Borlow 4. Lutut : Bengkak kaku - gerakan + Mc Murray test -

Ballotement test 5. Kaki : Bengkak - gerakan + kemampuan jalan tidak, Tanda tarikan + 6. Tangan : Bengkak - gerakan + ROM Aktif

J. System Integumen Rambut Kulit : Warna pirang, mudah dicabut tidak : Warna kuning, temperatur hangat, kelembaban - bulu kulit erupsi - tahi lalat - ruam - texture baik Kuku : Warna pink permukaan kuku cembung, mudah patah kebersihan bersih K. System Endokrin Kelenjar Thyroid : ada pembesaran Ekskresi urine berlebihan - polydipsi - polyphagi Suhu tubuh yang tidak seimbang - keringat berlebihan Riwayat bekas air seni dikelilingi semut -

L. System Perkemihan Odema palpebra - Moo face - Odema anasarka Keadaan kandung kemih terpasang kateter Nocturia - dysuria - kencing batu -

M. System Reproduksi 1. Wanita Payudara : Putting, areola mamae, besar

Labia mayora dan minora : bersih secret, bau

2. Laki-laki Keadaan gland penis Testis : Urethra - kebersihan bersih : Sudah turun belum -

Pertumbuhan rambut : Kumis - hanggut - ketiak Pertumbuhan jakun - Perubahan suara -

N. System Imrnun Allergi (Cuaca - dubu - bulu binatang - zat kimia - ) Penyakit yang berhubungan dengan perubahan cuaca : Flu - Urticaria lain-lain

XI. Pemeriksaan Tingkat Perkembangan Sulit untuk ditentukan klien mengalami kesakitan A. 0 6 Tahun Dengan Menggunakan DDST 1. Motorik Kasar 2. Motorik Halus 3. Bahasa 4. Personal Sosial B. 6 Tahun keatas 1. Perkembangan Kognitif 2. Perkembangan psikosexual 3. Perkembangan psikososial
XI. Test Diagnostik

21 Juni 2004

Na K CI Hb Leukosit

: 148 : 3,5 : 110 : 8,5 91 % : 9,2 : 15,7 : 9,6 91 % : 6,5 91 % : 14,7 : 93,9 : 2,0 (12 16) (37 48) (4,0 10,0) (3,5 5,0) (136 145) (3,5 5,1) (97 111)

23 Juni 2004

Leukosit Hb

24 Juni 2004

Hb HCT Leukosit

25 Juni 2004

Albumin

Eektrolit Darah : Na K CI Hb : 134 : 2,0 : 103 : 10,7

DATA FOKUS (CP. 1A) DATA SUBJEKTIF DATA OBJEKTIF

- Ibu klien mengatakan anaknya belum - Bibir pecah dan kering boleh makan lewat mulut - Klien makan lewat NGT

- Ibu klien mengatakan btk BAB - BB = 819 Kg anaknya encer, warna kuning - Hb = 10,7 gr/dl

- Ibu klien mengatakan anaknya berak- - Albumin = 2,0 berak sudah 3 x - Tampak adanya luka bekas operasi - Leukosit = 9300 - Klien sudah BAB 3 x - Konsistensi BAB encer, warna kuning, bau busuk - Tampak adanya eritema pada anus - TTU S = 37,5oC

N = 100y/mnt TD = 100/60 mmHg P = 24y/mnt

ANALISA DATA (CPIB) NO 1. DS : Ibu klien DATA ETIOLOGI Tindakan pembedahan : mengatakan Post op neseksi mengacolon belum boleh Pembatasan intake makanan peroral asupan makanan tidak terpenuhi Pemenuhan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh MASALAH Pemenuhan nutrisi Kurang kebutuhan dari

anaknya

makan lewat mulut DO : - Bibir pecah dan kering - Klien makan lewat NGT - BB = 8,9 Kg - Hb = 10,7 gr/dl N 11,5 15,5 gr/dl - Aldunin = 2,0 (315 5,0)

2.

DS : DO : - Tampak adanya luka bekas operasi - Teukosit 9300 <N = 4000 10.000

Tindakan pembedahan (Reseksi mengacolon) Kerusakan kontinuitas jaringan Terpajang lingkungan luar (Mikroorganisme) Resiko tinggi terjadi infeksi

Resiko tinggi Terjadi infeksi

NO 3. DS :

DATA

ETIOLOGI Tindakan operasi Efek anestesi Peristaltik usus me Konstipasi

MASALAH Resiko tinggi

- Ibu klien mengatakan Btk BAB anaknya

kekurangan volume cairan tubuh

encer, warna kuning - Ibu klien mengatakan anaknya sudah 3 x DO : - Klien sudah BAB 3 x - Konsistensi BAB encer, warna busuk - TTU S = 37,5oC N = 100 x/mnt P = 24 x / mnt TD = 100/60 mmHg kuning, bau berak-berak

Peregangan secara kronik saat defekasi Peregangan saraf pupendus secara maksimal Spinkterani isi rectum tanpa disadari

Diare

Resiko tinggi kekurangan volume cairan tubuh 4. DS : DO : Tampak adanya eritema pada anus Frekuensi BAB meningkat (encer) Resiko terjadinya gangguan ntegritas kulit Diare Resiko terjadinya gangguan integritas kulit

DIAGNOSA KEPERAWATAN ( CP 2 ) TANGGAL DITEMUKAN TERATASI 28 Juni 2004

NO DIAGNOSA KEPERAWATAN 1. Pemenuhan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b.d pembatasan intake makanan paroral Resiko tinggi terjadi infeksi b.d terputusnya kontinuitas jaringan (luka post operasi reseksi) Resiko tinggi kekurangan volume cairan tubuh b.d intake yang kurang/frekuenai BAB meningkat (encer) Resiko terjadinya gangguan integritas kulit (disekitar anus)

2.

28 Juni 2004

30 Juni 2004

3.

28 Juni 2004

30 Juni 2004

4.

28 Juni 2004

PENATALAKSANAAN KEMOTERAPI Aktivitas


1. Kaji pengetahuan anak dan mengenai pengobatan kemoterapi, untuk

Rasional
keluarga 1. Memberikan informasi yang dibutuhkan menformulasikan perencanaan

kemungkinan efek samping dan tindakan perawatan diri sendiri

pendidikan

2. Berikan klien brosur mis kemoterapi dan 2. Brosur dapat memberikan penguatan Anda yang berasal dari Yayasan Kanker (bila ada) dan yang berasal dari pelayanan sendiri secara verbal dan memberikan satu sumber bagi pasien ketika staf kesehatan tidak ada

3. Beritahu pasien mengenai nana dan jenis 3. Meningkatkan pengetahuan pasien kemoterapi, kegunaan, cara pemberian, rute dan jadwal pemberian 4. Instruksikan kemungkinan efek samping 4. Meningkatkan manajemen perawatan tindakan untuk setiap pengobatan diri dan menurunkan insiden serta komplikasi yang berat 5. Berikan informasi tertulis mengenai masingmasing obat meliputi kerja, tujuan dan efek samping 6. Instruksikan pasien untuk tidak memakan 6. Mencegah interaksi yang obat lain kecuali kalau diberikan oleh dokter

5. Bahan tulisan merupakan penguatan instruksi verbal

Membahayakan dan

termasuk obat antagonis yang berlebihan 7. Beritahu pasien untuk tidak menelan obat 7. Aspirin aspirin atau obat anti inflamasi nonsteroid, cek label obat secara hati-hati untuk obat ini

obat dapat

antiinflamasi menghambat

nonsteroid

aktivitas trombosit; aspirin mungkin terdapat dalam beberapa jenis obat yang dijual bebas

8. Instruksikan pasien atas pengobatan yang 8.Mencegah diresepkan untuk membantu pasien yang mengalami efek samping antiemetik

atau

mengurangi

efek

samping yang lebih berat

Aktivitas
perubahan yang harus dilaporkan pada tim kesehatan sesegera mungkin : tanda infeksi, mual dan muntah yang menetap, perdarahan yang tidak biasa dan adanya laserasi diare atau perubahan mental atau status emosional akut

Rasional
dengan meningkatkan pelaporan dini pada tenaga kesehatan

9. Beritahu pasien dan keluarga terhadap 9. Pencegahan komplikasi yang serius

Intervensi keperawatan berhubungan dengan Kemoterapi dan Radioterapi yang dijalani anak Respon
Diare -

Intervensi Keperawatan
Berikan cairan per oral Lakukan perawatan kulit pada bokong dan daerah perineum Pantau efektifitas obat antidiare Hindari makanan dan buah-buahan tinggi selulose Berikan makan sedikit tapi sering, jika mungkin beri makanan yang disukai anak - Kurangi atau jangan berikan daging - Observasi adanya tanda-tanda dehidrasi - Pantau infus IU Pantau asupan dan keluaran Beri makan sedikit tapi sering Pertahankan asupan cairan yang adekuat dengan esloli, eskrin Timbang BB anak setiap hari Observasi adanya dehidrasi

Anoreksia Mual dan muntah

Retensi Cairan

Pantau asupan dan keluaran Timbang BB harian Evaluasi adanya gawat pernapasan dan edeman paru Ubah posisi anak dengan sering Pantau adanya efek samping dr diutetik Pantau asupan dan keluaran Ajarkan anak untuk banyak minum Lakukan perawatan kulit anak Pantau kreatinin dan asam urat Pantau adanya efek samping dr aloputinol Pantau tanda-tanda dan vital dan frekuensi gejala Evaluasi sumber gejala Pantau efek samping dr obat antipiretik Berikan rasa nyaman dengan sering berkumur Hindari sikat gigi yang berbulu keras Hindari swab gliserin Hindari makanan keras dan panas

Hiperutemia

Demam dan menggigil

Stomatitis dan ulkus mulut

Respon
Alopesia

Intervensi Keperawatan
- Persiapkan anak dan keluarga untuk menghadapi kerontokan rambut - Yakinkan hati anak dan keluarga bahwa kerontokan rambut hanya untuk sementara - Siapkan anak dan keluarga tentang tumbuhnya rambut baru yang berbeda warna dan tekstur dr rambut sebelumnya - Anjurkan memakai topi, syal, wig - Sering keramas untuk mencegah Cradle cap Evaluasi perilaku verbal dan ploverbal anak Perhatikan aspek cultural yang mempengaruhi perilaku nyeri Pantau tanda-tanda vital Evaluasi pola tidur anak Sarabkan mengatasi nyeri seperti hypnosis, teknik relaksasi, imajinasi, distraksi, stimulasi kutaneus Observasi adanya tanda dan gejala infeksi dan inflamasi Pantau TTV Pantau jumlah lekosit Pastikan tindakan higienik yang baik Cegah kerusakan integritas kulit Observasi adanya tanda dan gejala perdarahan Pantau TTV Pantau jumlah trombosit Hindari pem. Suhu rectal Hindari injeksi Pantau transfusi trombosit Evaluasi adanya tanda dan gejala anemia Pantau hitung darah lengkap dan hitung jenis Berikan cukup istirahat dan tidur Anjurkan aktivitas bermain yang tenang

Nyeri

Evakopenia

Ambositopenia

Nemia dan letihan

Resiko faktur

- Hindari penumpukan beban pada alat gerak yang sakit - Hindari kecelakaan dan cedera - Anjurkan aktivitas bermain non ambulasi - Berikan petunjuk antisipasi pada orang tua tentang retardasi pertumbuhan deformatis skeletal, perkembangan seksual yang tertunda - Diskusikan kemandulan dengan anak dan keluarga

Perkembangan fisik dan seksual tertunda

Respon
Persensitivitas pada obat sehingga terjadi syok anafilaktik

Intervensi Keperawatan
- Sediakan obat-obatan berikut, hidrokortisor, epinefrin - Observasi adanya dispnea, gelisah, urtikaria

Rebilitis dan jaringan nekrosis karena infiltrasi infus IV

Hindari pemberian agens vesikan didekat persendian Hentikan aliran IV jika diduga infiltrasi Berikan kompres dingin pada tempat terkait Lanjutkan observasi terhadap tempat terkait atau adanya tanda-tanda inflamasi dan nekrosis

Beberapa obat yang dipakai untuk leukemia anak-anak adalah prednison, vinkristin, paraginase, metotreksat, merkaptoputin, sitarabin, alopurinol, silklofosfamid dan aunotubisin
NAMA OBAT Prednisor KEGUNAAN EFEK SAMPING Dipakai untuk efek antinflamasi 1. Gangguan cairan dan elektrolityang kuat pada penyakit yang retensi natrium, retensi cairan, melibatkan sistem organ gagal jantung kongestif kalium, hipertensi 2. Efek muskoloskeletal - kele mahan otot, osteoporosis, faktur patologik pada tulang panjang 3. Efek gastrointestinal - ulkus peptikum dengan kemungkinan perdarahan, pankreatitis, distensi abdomen, peningkatan nafsu makan, BB naik 4. Efek dermatologik gangguan penyembuhan luka, peteki, ekimosis, eritema fasial, 5. Efek neutologik-edema papil, konuuisi vertigo 6. Efek endokrin : berkembang status cushingoid, manifestasi lanjut dari DM 7. Efek oftalmik-katarak subkapsuler 8. Efek metabolic. Kesimbangan nitrogen karena katabolisme protein Obat antineoplastik yang 1. Efek neutomuskular : neuropati menghambat pembelahan sel perifer, nyeri saraf, parastesi selama metastase. tangan dan kaki, hilangnya refleks Dipakai bersama siklokosfamid tendon profunda, nyeri rahang, (cytoxan) foot drop 2. Efek hematologik trombositopenia anemia leukopenia 3. Efek gastrointenstinal, stomatitis, anoreksia mual muntah, diare, konstipasi, ileus paratitik 4. Lain-lain kenuuisi, hiperkalemia, hipervrisemia

Vinkristin (oncovin)

NAMA OBAT Asparaginase

KEGUNAAN

EFEK SAMPING

Menurunkan kadar asparagin 1. Manifestasi alergik : Demam dan (asam amino untuk pertumbuhan menggigil dalam 1 menit setelah tumor) pemberian, reaksi kulit gawat pernapasan, hipotensi, nyeri substernal mual, muntah, Anafilaksis 2. Toksisitas hati disertai ikterus, hipoalbuminemia 3. Pankreatitis 4. DM 5. Gangguan metabolisme kalsium Menghalangi sintesis asam nukleat, yang terutama diperlukan bila sel-sel bertumbuh dan memperbanyak dirinya dengan cepat Anoreksia, mual dan muntah, leukopenia, trombositopenia, supresi sum-sum tulang, anemi, ruam, anoreksia, perdarahan, diare, inflamasi, anafilaksis, sakit kepala, disfungsi hati Mual dan muntah Leukopenia, trombositopenia Anemia Ruam Anoreksia Perdarahan Diare Sakit kepala Anafilaksis

Merkaptopurin/ purinetol

Sitarabin

Untuk menginduksi remisi pada pasien dengan leukemia granulositik akut supresan sumsum tulang yang kuat

Alopurinol/ yloprin

Menghambat produksi asam urat 1. Terkandung toksisitas hati dengan menghambat reaksi 2. Peningkatan SGOT dan SGPT biokimia yang mendahului yang asimptomatik pembentukan asam urat Sebuah agens antitumor kuat dari 1. Mual dan muntah kelompok nustatnitrogen dan 2. Anoreksia agens pengkelat 3. Alopesia 4. Leukipenia 5. Sistigi hemoragi stril 6. Disfungsi hati 7. Kardiotoksisitas

Iklofosfamid/ Ytoxan

NAMA OBAT

KEGUNAAN

EFEK SAMPING

Aunotubisin aunomyan

Menghambat selama akut

pembelahan

sel 1. Skletosis vena

pengobatan

leukemia 2. Mual dan muntah (segera setelah penyuntikan) 3. Depresi sum-sum tulang 4. Disritmia jantung dan kematian 5. Peningkatan enzim hati (SGPT , SGOT ) 6. Mengubah warna urin menjadi merah