Anda di halaman 1dari 19

PL4004 Perencanaan Partisipatif

PENERAPAN PROGRAM DASAR PEMBANGUNAN PARTISIPATIF (PDPP) DALAM PROSES PENYUSUNAN RPJM DESA/KELURAHAN DI KABUPATEN KENDAL

Dosen : Dr. Suhirman, SH, MT

Disusun oleh: Nurulitha Andini Nanda Ratna A. Eneng Siti Saidah Sandra Kurniawati 15408003 15408024 15408039 15408054

PROGRAM STUDI PERENCANAAN WILAYAH DAN KOTA SEKOLAH ARSITEKTUR, PERENCANAAN, DAN PENGEMBANGAN KEBIJAKAN INSTITUT TEKNOLOGI BANDUNG 2011

Penerapan Program Dasar Pembangunan Partisipatif (PDPP) di Kabupaten Kendal

ABSTRAK Program Dasar Pembangunan Partisipatif (PDPP) yang diterapkan di Kabupaten Kendal merupakan suatu program yang mengedepankan partisipasi masyarakat sebagai aktor kunci perencanaan dan berkolaborasi dengan pemerintah, akademisi, dan LSM dalam pembangunan di tingkat desa atau kelurahan. PDPP di Kabupaten Kendal bertujuan untuk meningkatkan kapasitas dan

pemberdayaan setiap pemangku kepentingan yang terlibat. Dalam program ini, masyarakat diajak berdiskusi sehingga mencapai konsensus agar adanya komitmen bersama dalam menjalankan RPJM Desa/Kelurahan sebagai keluaran dari PDPP. Mengingat urgensi dari partisipasi masyarakat, tingkat otoritas dari program ini relatif cukup tinggi. Tingkat partisipasi yang memiliki otoritas yang tinggi ini menunjukkan adanya devolusi atau penyerahan wewenang dari pemerintah ke masyarakat dalam hal perencanaan dan pengambilan keputusan. Proses pelibatan masyarakat dalam PDPP juga bersifat terbuka bagi seluruh lapisan masyarakat, artinya program ini berjalan secara demokratis dan mengakomodasi setiap kepentingan dari masyarakat. Kata Kunci : PDPP, kapasitas masyarakat, aktor kunci, devolusi PENDAHULUAN Sejak kebijakan desentralisasi diputuskan pada tahun 2001, daerah-daerah sebenernya berhak untuk berperan aktif dalam mengembangkan dan memutuskan Kebutuhan pembangunannya masing-masing. Terutama dalam memutuskan pembiayaan pembanguanan daerahnya. Musrenbang adalah salah satu sarana yang seharusnya digunakan masyarakat untuk berpartisipasi dalam mengajukan Kebutuhan lokal untuk pembangunan. Hal yang dilakukan dalam Musrenbang adalah membentuk RPJMD terutama skala desa dan pada akhirnya dipakai untuk merumuskan APBD. Namun, pada kenyataannya, praktek yang terjadi adalah musrenbang hanya sebagai formalitas dalam pengesahan RPJMD di tingkat desa hingga kecamatan. Musrenbang yang diikutsertakan pada umumnya berasal dari kalangan elit, sehingga masyarakat menengah kebawah tidak tersuarakan. Di kebanyakan tempat, Musrenbang seringkali hanya menjadi bagian ritual proses perencanaan yang memiliki makna yang sempit bagi warga setempat, bahkan dinilai tidak relevan lagi bagi kaum perempuan dan kelompok miskin. Padahal, musrenbang adalah salah satu metode bottom-up yang tidak dimiliki oleh setiap negara berkembang. RPJMD pada akhirnya harus menghasilkan proposal untuk pengajuan dana APDB. Namun yang terjadi, proposal APBD yang diajukan oleh masyarakat pun masih sangat sedikit yang diwujudkan oleh pemerintah. Dana yang tersalurkan lebih banyak untuk belanja

Penerapan Program Dasar Pembangunan Partisipatif (PDPP) di Kabupaten Kendal

pegawai dari pada untuk pembangangunan masyarakat lokal. Hal ini terus berlangsung hingga masyarakat banyak mengalami putus asa untuk mengajukan kebutuhan

pembangunan mereka. Bila hal ini terus berlanjut, maka pembangunan yang terjadi hanya atas dasar kebutuhan kaum elit dan masyarakat menengah kebawah semakin terpinggirkan. Dana yang seharusnya membiayai pembangunan pun dikhawatirkan akan mengalir ke pihak yang tidak bertanggung jawab. Proses penyusunan RPJMd/k (Program Jangka Menengah Desa/Kelurahan) tidak semuanya di daerah disusun dengan pendekatan partisipasif, pendekatan perencanaan yang dilakukan masih banyak yang bersifat top down. Akhirnya hasil pembangunannya tidak dapat dinikmati dan tidak dapat bermanfaat secara optimal ke semua lapisan masyarakat. Untuk mengantisipasi hal tersebut perform project dengan pola PDPP (Program Dasar Pembangunan Partisipatif) melakukan pendampingan dalam bidang perencanaan di tingkat paling bawah (desa/kelurahan) untuk menyusun RPJMd/k. Perencanaan dilakukan dengan cara memberdayakan masyarakat dalam berpatisipasi untuk penyusunan program pembangunan yang dapat memenuhi kebutuhan nyata masyarakat. Perencanaan paritisipatif masyarakat dalam pembuatan RPJMD dan APBD perlu direalisasi dan tidak sekedar formalitas belaka. Keterlibatan masyarakat ini penting karena masyarakat lah yang merasakan kebutuhan lingkungan mereka sendiri. Upaya dalam mengikutsertakan masyarakat ini tentunya tidak mudah, maka diperlukan program-program tertentu untuk mendorong masyarakat dan pendampingan dalam pengajuan kebutuhan pembangunan kepada pemerintah. Salah satu bentuk dorongan yang diberikan adalah berasal dari Badan Pembangunan Internasional Amerika Serikat (USAID) yang membantu masyarakat dan juga pemerintah dalam menerapkan proses perencanaan partisipatif. Program yang dilakukan adalah PERFORM (Performance-Oriented Regional Management, atau Pengelolaan Daerah Berorientasi Kinerja). Salah satu daerah yang dibantunya adalah di Kabupaten Kendal. Tulisan ini terdiri dari empat bagian yaitu pada bagian pertama akan dijelaskan mengenai latar belakang, rumusan persoalan, dan sistematika penulisan. Bagian kedua akan menjelaskan gambaran umum Program Dasar Pembangunan Partisipatif (PDPP) serta deksripsi pelaksanaan program di Kabupaten Kendal. Deskripsi program ini akan menjelaskan gambaran umum wilayah studi, penjelasan peran dan fungsi stakeholder terkait, tahapan pelaksanaan program, output dan outcome pelaksanaan program ini. Bagian ketiga akan menjelaskan analisis mengenai metode pertisipatif berdasarkan Ladder of Citizen Participation serta metode partisipatif berdasarkan Democratic Cube apa yang digunakan dalam program ini. Pada bagian akhir tulisan ini akan dijelaskan kesimpulan mengenai evaluasi pelaksanaan program yang mencakup kelebihan dan kekurang dalam

Penerapan Program Dasar Pembangunan Partisipatif (PDPP) di Kabupaten Kendal

pelaksanaannya.

PROGRAM DASAR PEMBANGUNAN PARTISIPATIF (PDPP) Pada tahun 2000, USAID (US Agency for International Development) dan Kementerian Keuangan menandatangani persetujuan yang disebut Strategic Objective Grant Agreement yang terdiri dari program pelatihan dan bantuan teknis yang disebut

PERFORM (Performance Oriented Regional Management). Program ini terbagi menjadi tiga bantuan teknis yaitu pada kebijakan desentralisasi fiskal, kebijakan desentralisasi administrasi, dan kebijakan desentralisasi pembangunan yang fokus pada penyusunan rencana pembangunan jangka menengah melalui Program Dasar Pembangunan Partisipatif (PDPP). Tujuan Program Dasar Pembangunan Partisipatif (PDPP) adalah untuk

meningkatkan kapasitas pemerintah lokal dalam implementasi perencanaan partisipatif. Selain itu, program ini dilakukan untuk memastikan disetujuinya proposal pembangunan dari desa, baik pada tahap perencanaan tingkat kabupaten maupun pada penyusunan APBD. Tujuan lain dari PDPP adalah untuk meningkatkan partisipasi masyarakat dalam proses pengambilan keputusan dalam perencanaan pembangunan dan penganggaran (planning and budgeting). Fokus PDPP berdasarkan implikasi Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999 dan Undang-Undang Nomor 25 Tahun 1999 yang memberikan kesempatan pemerintah lokal untuk merencanakan dan mengatur daerahnya berdasarkan potensi dan persoalannya. Adanya kebijakan desentralisasi menuntut pemerintah lokal menjadi demokratis, transparan, dan melibatkan partisipasi komunitas. PDPP merupakan pendekatan perencanaan dan pembangunan partisipatif dalam pemerintahan lokal yang mengikutsertakan peran beberapa pemangku kepentingan selama prosesnya, seperti tokoh masyarakat, komunitas desa, dan fasilitator yang berasal dari konsultan, universitas, dan partner lokal. Tabel berikut merupakan tahapan partisipasi masyarakat dalam pelaksanaan PDPP.
Tabel 1 Tahapan Partisipasi Masyarakat dalam Pelaksanaan PDPP Tahapan Persiapan Output Identifikasi pemangku kepentingan (stakehoders) Penguatan kapasitas partner lokal Diseminasi proses perencanaan Identifikasi isu strategis Penyusunan prioritas isu strategis Penyusunan RPJM desa/kelurahan

Persetujuan di tingkat desa/kelurahan

Penerapan Program Dasar Pembangunan Partisipatif (PDPP) di Kabupaten Kendal

Persetujuan di tingkat kecamatan Persetujuan di tingkat kota

Formulasi isu strategis Formulasi prioritas isu strategis dan penyusunan

Sumber : Damayanti, 2004 PENERAPAN PROGRAM DASAR PEMBANGUNAN PARTISIPATIF (PDPP) DI KABUPATEN KENDAL Kabupaten Kendal merupakan salah satu kabupaten yang menjadi target pelaksanaan PDPP. Kabupaten Kendal terletak di Provinsi Jawa Tengah dengan batas wilayah administrasi sebagai berikut. a. Batas utara b. Batas timur c. Batas selatan d. Batas barat : Laut Jawa : Kota Semarang : Kabupaten Semarang dan Kabupaten Temanggung : Kabupaten Batang

Kabupaten Kendal mempunyai luas wilayah 1.002,23 km2 yang terbagi menjadi 20 wilayah kecamatan dan terdiri dari 285 desa/kelurahan. Gambar 1 menunjukkan peta administrasi Kabupaten Kendal.
Gambar 1 Peta Administrasi Kabupaten Kendal

Pelaksanaan penyusunan RPJMd/k dengan pendekatan partisipatif di Kabupaten Kendal mulai tahun 2004 yang diawali dengan kerjasama pendampingan antara Pemkab Kendal dengan Perform dalam Program Dasar Pembangunan Partisipatif (PDPP) yang didampingi

Penerapan Program Dasar Pembangunan Partisipatif (PDPP) di Kabupaten Kendal

juga oleh P5 UNDIP sebagai Mitra Strategis. Sebagai langkah awal dalam kegiatan ini adalah membentuk Tim Inti PDPP Kabupaten Kendal yang terdiri dari 10 anggota yang terdiri dari instansi pemerintah daerah dan DPRD, serta beberapa pimpinan kunci dan tokoh masyarakat yang mewakili masyarakat. Adapun tugas Tim Inti PDPP dan pendamping adalah : a. Menentukan desa/kelurahan pilot project; b. Melakukan identifikasi kader pembangunan desa/kelurahan; c. Microteaching untuk kegiatan Training of Facilitator; d. Berperan sebagai fasilitator yg akan melatih kader pembangunan; e. Monitoring pelaksanaan Penjaringan Kebutuhan Masyarakat (Community Need Assesment); f. Mendampingi desa pilot dalam penyusunan dokumen RPJMd/k; g. Mengintegrasikan dengan bidang PDPP lainnya (khususnya yang berskala daerah).
Pimpinan kunci dan tokoh masyarakat DPRD Instansi pemerintah daerah

Gambar 2 Tim Inti PDPP Kabupaten Kendal

Tim Inti PDPP

Pelaksanaan Program Dasar Pembangunan Partisipatif di Kabupaten Kendal secara garis besar dapat dijelaskan melalui Gambar 2. Gambar 2 menunjukkan bahwa PDPP mulai diinisiasi dengan pembentukan tim inti pada tahun 2004 kemudian pada tahun 2005 dilakukan pelatihan penyusunan RPJM Desa/Kelurahan di seluruh desa di kecamatan hingga pada tahun ini dikeluarkan Surat Pemerintah Bupati yang mewajibkan seluruh desa/kelurahan membuat RPJM Desa/Kelurahan. Pada tahun 2006, PDPP diberhentikan namun pelaksanaan penyusunan RPJM desa/kelurahan tetap berjalan dengan menyesuaikan dengan program penanggulangan kemiskinan yaitu Program Penanggulangan Kemiskinan di Perkotaan (P2KP).

Penerapan Program Dasar Pembangunan Partisipatif (PDPP) di Kabupaten Kendal

Gambar 2 Proses Penerapan PDPP di Kabupaten Kendal

Tahun 2004

Tahun 2005

Tahun 2006

Tahun 2007-2008

Pembentukan Tim Inti PDPP Kabupaten Kendal

Pelatihan penyusunan RPJMd/k seluruh desa/kecamatan

Pelatihan Penyusunan RPJMd/k kepada 20 desa/kel potensial

Revitalisasi Tim Inti PDPP menjadi Tim Koordinasi Penanggulangan Kemiskinan Daerah (TKPKD) Kab. Kendal

Penyusunan PJM Program Penanggulangan Kemiskinan di 51 desa miskin - PNPM

Surat Pemerintah Bupati : Semua desa/kel membuat dokumen RPJMd/k

Penyusunan RPJMd/k 4 desa terpilih sebagai pilot project

Penyusunan PJM Program Penanggulangan Kemiskinan di 23 Desa Miskin P2KP

Proses Pendampingan Tim Inti PDPP Program Dasar Pembangunan Partisipatif (PDPP) yang berlangsung di Kabupaten Kendal merupakan salah satu program pemerintah daerah Kabupaten Kendal dan bekerja sama dengan lembaga donor USAID sehingga dalam proses perencanaan dan pembangunan desa, pemerintah tidak bekerja sendirian. Terdapat beberapa stakeholder yang terlibat dalam proses penyusunan rencana ini seperti yang telah dijelaskan sebelumnya. Peran stakeholder tersebut berbeda-beda, tergantung kepada porsi, kapasitas, dan tahapan perencanaan yang dilaluinya. Tim inti PDPP merupakan tim pendamping yang sangat menentukan keberlanjutan penyusunan rencana jangka menengah di tingkat desa.

Tim inti PDPP mengalami revitalisasi menjadi Tim Koordinasi Penanggulangan Kemiskinan Daerah (TKPKD) ketika pada tahun 2006 PDPP berhenti dan dilanjutkan dengan Program Penanggulangan Kemiskinan berupa P2KP. Pada tahun 2006 sampai 2007 tidak lagi dibentuk tim PDPP Kabupaten Kendal. Namun demikian para pelaku utama tim inti PDPP semakin terlibat aktif dalam P2KP Kabupaten Kendal sehingga masih secara intensif mendampingi dan memantau keberadaan dan substansi dolumen PJM Pronangkis dan RPJMd/k di 23 desa penerima P2KP di Kabupaten Kendal. Namun demikian para pelaku PDPP masih terus mendorong Pemerintah Kabupaten Kendal khususnya Bappeda dan SKPD untuk dapat mengakomodir usulan masyarakat yang telah tertuang dalam dokumen RPJMd/k. Diagram berikut menunjukkan mekanisme pendampingan penyusunan RPJMd/K di Kabupaten Kendal.

Penerapan Program Dasar Pembangunan Partisipatif (PDPP) di Kabupaten Kendal

Gambar 3 Mekanisme Pendampingan Penyusunan RPJMd/k di Kabupaten Kendal

Perform Project PDPP dan Undip sebagai mitra strategis

Pelatihan Penyusunan RPJMd/k kepada 20 desa/kel potensial (2004)

Penyusunan Dokumen RPJMd/k 4 desa terpilih sbg pilot project (2004)

Pelatihan penyusunan RPJMd/k utk semua desa/kelurahan (2005)

Surat Pemerintah Bupati : Semua desa/kel membuat dokumen RPJMd/k (2005)

Membentuk Tim Inti PDPP Kabupaten Kendal (2004)

Keterangan : Proses Penyusunan RPJM Pendampingan

Revitalisasi Tim Inti PDPP menjadi TKPKD Fasilitator Kelurahan (2006)

Penyusunan PJM Pronangkis di 23 Desa Miskin P2KP (2006)

Penyusunan PJM Pronangkis di 51 Desa Miskin PNPM (2007-2008)

Sumber : Sunarti, 2008

Berdasarkan diagram alir di atas, terlihat bahwa stakeholder yang turut mendampingi proses penyusunan RPJMd/k di Kabupaten Kendal adalah tim inti PDPP yang terdiri dari pemerintah daerah, lembaga donor USAID, dan tim dari Universitas Diponegoro. Pendampingan tersebut dimulai sejak tahun 2004 hingga tahun 2008. Tim inti tersebut mendampingi setiap proses penyusunan RPJMd mulai dari tahap pelatihan penyusunan RPJMd/k, penyusunan dokumen RPJMd/k, hingga penyusunan PJM Pronangkis di desadesa miskin. PJM Pronangkis (Perencanaan Jangka Menengah Program Penanggulangan Kemiskinan) adalah salah satu program yang bertujuan untuk menanggulangi kemiskinan di wilayah Kabupaten Kendal dengan melibatkan peran dan partisipasi masyarakat secara aktif. Proses Penyusunan RPJM desa/kelurahan di Kabupaten Kendal Penyusunan RPJMd/k dengan cara partisipatif membutuhkan tahapan-tahapan yang dapdat mengakomodasi peran masyarakat desa/kelurahan. Dalam prosesnya, terdapat

Penerapan Program Dasar Pembangunan Partisipatif (PDPP) di Kabupaten Kendal

urutan

tahapan-tahapan penyusunan RPJMd/k yang perlu dilalui mulai dari sosialisasi

program perencanaan hingga disahkannya RPJM desa/kelurahan. Diagram berikut menunjukkan metode penyusunan RPJMd/k di Kabupaten Kendal.
Gambar 3 Tahapan Penyusunan RPJMd/k Partisipatif di Kabupaten Kendal
Penentuan stakeholder Identifikasi potensi dan masalah

Sosialisasi program

Pelatihan kader

Penyusunan draft RPJMDes/K

Penyusunan rancangan anggaran biaya

Penyusunan program dan kegiatan prioritas

Perumusan isu strategis

Sosialisasi draft RPJMDes/K

Lokakarya dokumen RPJMDes/K

Sumber: Sunarti, 2008

Diagram di atas menunjukkan tahapan dalam proses penyusunan RPJM desa/kelurahan dengan cara partisipatif. Tahapan perencanaan dalam diagram tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut. 1. Sosialisasi program yang berisi tentang maksud dan tujuan penyusunan RPJMd/K dilakukan untuk mengenalkan produk rencana, RPJMd/k, kepada masyarakat desa; 2. Penentuan stakeholder termasuk stakeholder desa/kelurahan, masyarakat, dan fasilitator; 3. Sebelum melibatkan seluruh masyarakat dalam proses penyusunan, dilakukan pelatihan kader desa/kelurahan yang akan menjadi fasilitator selama proses penyusunan RPJMd/k; 4. Pengidentifikasian potensi dan masalah yang ada di desa dan kelurahan dengan metode jaring aspirasi masyarakat (Community Needs Assesment) dengan cara melakukan Focus Group Discussion, PRA, dan SWOT; 5. Perumusan isu strategis yang merupakan hasil analisis potensi dan masalah yang ada di desa/kelurahan tersebut; 6. Penyusunan program dan kegiatan di desa ini berdasarkan hasil diskusi kebutuhan masyarakat dan potensi dan masalah di desa/kelurahan;

Penerapan Program Dasar Pembangunan Partisipatif (PDPP) di Kabupaten Kendal

10

7. Penyusunan rancangan anggaran biaya yang dibutuhkan untuk melaksanakan program yang telah disusun; 8. Penyusunan draft RPJMd/K dilakukan dengan pertemuan tingkat kecamatan dan didukung pula dengan fasilitator; 9. Sosialisasi draft RPJMd/k kepada masyarakat desa dilakukan dengan berbagai metode. Salah satu metodenya adalah dengan menampilkan draft RPJMd/k di papan pengumuman untuk meminta masukan dari masyarakat desa; 10. Setelah menerima masukan dari masyarakat desa, draft RPJMd/k direvisi hingga final kemudian dilakukan pengesahan rencana melalui lokakarya. Lokakarya bertujuan untuk mengesahkan rencana pembangunan desa dan untuk sosialisasi rencana final kepada masyarakat desa/keluarahan yang lebih luas.

Berdasarkan tahapan perencanaan tersebut, masyarakat di desa pilot project di Kabupaten Kendal dapat berpartisipasi di setiap level, terutama dalam perumusan potensi dan permasalahan, perumusan isu strategis, penyusunan kegiatan prioritas di desa, penyusunan rencana anggaran biaya, penyusunan draft RPJMd/k, hingga sosialisasi dokumen RPJMd/k. Penyusunan dokumen RPJMd/k ini menggunakan metode CNA atau Community Needs Assesment, dimana masyarakat yang mengidentifikasi sendiri

kebutuhan, potensi, dan permasalahan yang ada di desa ini. Dengan demikian, harapannya adalah perumusan dan pelaksanaan dokumen rencana RPJMd/k tersebut dapat tepat sasaran dan benar-benar menjawab kebutuhan dari masyarakat.

Penerapan Program Dasar Pembangunan Partisipatif (PDPP) di Kabupaten Kendal

11

Output dan Outcome Pelaksanaan PDPP di Kabupaten Kendal Program Dasar Pembangunan Partisipatif di Kabupaten Kendal telah dijalankan sejak tahun 2004 dan berakhir pada tahun 2007. Selama kurang lebih tiga tahun keberjalanan program, ada beberapa hal yang menjadi salah satu produk dari PDPP di Kabupaten Kendal ini. Bagi dokumen RPJMd/k yang sudah selesai, pemerintah desa didorong untuk mengajukan dokumen ke SKPD terkait dengan program mereka yang didampingi dengan upaya pengawalan aktif program yang diunggulkan tersebut. Salah satu program yang terealisasi adalah perbaikan irigasi (di Desa Kedungsuren) dengan dana dari Dinas Pengairan. Proposal yang dilampiri dokumen RPJMd/k diserahkan kepada

Pemkab, namun Pemkab tidak ada dana sehingga diteruskan ke Dinas Pengairan Kabupaten Kendal. Program yang mereka butuhkan akhirnya terealisasi dengan mempergunakan alokasi dana dari dinas yang bersangkutan. Implementasi dari program-program RPJMd/k sampai saat ini memang masih belum sepenuhnya dilaksanakan, namun beberapa hal yang dimiliki desa/kelurahan setelah penyusunan RPJMd/k antara lain : a) Memiliki dokumen RPJMd/k yang disusun dengan pendekatan partisipatif; b) Memiliki anggaran dari desa (APBDes/kel) yang digunakan untuk kegiatan partisipasi masyarakat; dan c) Pemerintah desa sudah berorientasi kepada kepentingan masyarakat. Program lain di Kabupaten Kendal yang dilakukan dengan pendekatan partisipatif adalah PNPM Mandiri P2KP yang bertujuan untuk memberikan kesempatan belajar bagi masyarakat (khususnya masyarakat miskin). Output yang diharapkan dan proses penyusunannya hampir sama dengan RPJMd/k sehingga oleh Pemda penyusunan RPJMd/k yang partisipatif tidak berakhir dilanjutkan dana dari P2KP. Kabupaten Kendal yang terdiri dari 265 desa dan 20 kelurahan, 80% dari keseluruhannya yaitu sebanyak 228 desa/kelurahan telah menghasilkan produk program jangka menengah yang partisipatif. Dengan adanya dokumen ini kepala desa/kelurahan sudah mempunyai acuan untuk pengembangan desanya dari aspirasi masyarakatnya, sehingga tidak mengalami kesulitan apabila diperlukan program desa/kelurahan secara mendadak dan dapat membuka usulan program berdasarkan aspirasi masyarakat. Setiap desa/keluran setelah penyusunan RPJMd/k selalu menganggarkan dana APBdes/kel untuk kegiatan partisipasi masyarakatnya. Untuk pelaksanaan pembangunan kepala

desa/kelurahan lebih mengutamakan untuk kepentingan masyarakatnya dari pada untuk kepentingan yang lain. Program Dasar Pembangunan Partisipatif (PDPP) yang dilaksanakan di Kabupaten Kendal ini berdampak pada kemampuan dan kapasitas masyarakat dalam perencanaan

Penerapan Program Dasar Pembangunan Partisipatif (PDPP) di Kabupaten Kendal

12

pembangunan. Program ini memfasilitasi masyarakat agar dapat berperan secara aktif dalam pembangunan di desanya dan agar pembangunan tersebut tepat sasaran. Beberapa dampak yang dihasilkan dari adanya PDPP di Kabupaten Kendal ini antara lain: a) Masyarakat mampu menganalisis keadaannya sendiri sesuai dengan potensi dan permasalahan yang dihadapi. b) Mendorong tumbuhnya interaksi, kebersamaan, keterbukaan dan solidaritas sosial antar masyarakat c) Mampu merumuskan kebutuhan-kebutuhan riil yang berdasar untuk kepentingan bersama d) Membangun komitmen masyarakat dalam pembangunan e) Membangun partisipatif yang dapat lebih diresonansikan

ANALISIS METODE PARTISIPATIF BERDASARKAN LADDER OF CITIZEN PARTICIPATION Model perencanaan partisipatif Ladder of Participation yang dikemukakan oleh Sherry Arnstein pada tahun 1969 pada intinya merangkum tingkatan partisipasi dan keterlibatan masyarakat dalam perencanaan pembangunan melalui beberapa tingkatan yang disusun menyerupai anak tangga. Ladder of participation memiliki delapan tingkatan yang menunjukkan tinggi rendahnya partisipasi warga dalam perencanaan pembangunan. Tingkat pertama dan kedua adalah manipulasi dan terapi. Dua tingkatan ini masuk dalam kategori non-partisipasi, dimana pada tingkatan ini tujuan utamanya bukan untuk memampukan masyarakat untuk berpartisipasi dalam proses perencanaan namun untuk mendorong para pemilik kekuatan (powerholders) untuk mendidik masyarakat. Selanjutnya tingkat ketiga adalah informing dan tingkatan keempat adalah konsultasi. Kedua tahap ini termasuk dalam tokenism atau sekedar memberikan peran kecil bagi masyarakat dalam perencanaan pembangunan. Tingkatan kelima adalah placation yang merupakan tingkatan lebih tinggi dari tokenism dimana masyarakat memiliki hak untuk memberikan pendapat, namun tetap saja para powerholders yang memiliki hak untuk mengambil keputusan. Lalu tingkat keenam adalah partnership yang membolehkan masyarakat bernegosiasi dan bekerjasama dalam trade-off dengan traditional power-holders. Sedangkan pada puncak tangga terdapat tingkat delegasi kekuatan dan kontrol masyarakat yang tidak hanya memberikan masyarakat hak untuk mengambil keputusan namun kekuatan manajerial secara penuh. Gambar 3 menunjukkan kedelapan tingkatan ladder of participation.

Penerapan Program Dasar Pembangunan Partisipatif (PDPP) di Kabupaten Kendal

13

Gambar 3 Ladder of Citizen Participation

Menurut hasil analisis proses pengambilan keputusan dalam Program Dasar Pembangunan Partisipatif (PDPP) di Kabupaten Kendal termasuk pada tingkat ketujuh yaitu delegasi kekuatan. Hal ini dikarenakan masyarakat sudah dilibatkan secara aktif dan memiliki kekuatan dalam pengambilan keputusan, tetapi masih ada pendampingan dari tenaga ahli dan pemerintah dalam proses penyusunan dokumen RPJM desa/kelurahan. Selain itu dipilih juga kader-kader dari tiap desa untuk menjadi fasilitator selama proses perencanaan. Dalam proses penyusunan RPJM desa/kelurahan di Kabupaten Kendal, masyarakat desa/kelurahan yang berpartisipasi memiliki hak untuk mengambil keputusan berdasarkan hasil diskusi bersama. Setelah proses perencanaan tingkat desa dilakukan, maka terdapat delegasi yang membawa aspirasi dalam proses penyusunan dokumen RPJM di tingkat yang lebih tinggi yaitu tingkat kecamatan. Dalam penerapan PDPP di Kabupaten Kendal, tenaga ahli dari PERFORM, UNDIP dan pemerintah lebih berperan sebagai tim pendamping yang memfasilitasi dan menyiapkan para kader/delegasi dari tiap desa untuk melakukan proses perencanaan partisipatif.

ANALISIS METODE PARTISIPATIF BERDASARKAN DEMOCRACY CUBE Analisis metode partisipasi berdasarkan Democracy Cube yang dikemukakan oleh Archon Fung, dilakukan dengan cara yang berbeda dari Ladder of Citizen Participation yang dikemukakan sebelumnya. Dalam Democracy Cube terdapat tiga pertanyaan mengenai desain institusonal yang penting untuk dipahami dalam metode partisipasi yaitu siapa saja yang ikut berpartisipasi, bagaimana partisipan berkomunikasi dan mengambil keputusan, serta bagaimana hubungan antara kesimpulan yang dihasilkan dengan kebijakan dan

Penerapan Program Dasar Pembangunan Partisipatif (PDPP) di Kabupaten Kendal

14

implementasi yang dilakukan. Berikut ini adalah analisis metode partisipasi dalam PDPP di Kabupaten Kendal berdasarkan tiga komponen dalam Democracy Cube. Berdasarkan Dimensi Partisipant Pada dasarnya, berdasarkan dimensi Participant, terbagi menjadi 8 bagian, yaitu metode yang paling ekslusif adalah Expert Administrator, kemudian Elected

Representatives, Profesional Stakeholder, Lay Stakeholder, Random Selection, Open Targeted Recruiting, Open Self Selection, dan terakhir metode yang paling inklusif yaitu Diffuse Public Sphere. Metode paling ekslusif maksudnya tidak ada partisipasi masyarakat, hanya ditentukan oleh penentu kebijakan, sedangkan metode paling inklusif terjadi sebaliknya dimana setiap individu masyarakat dapat berpartisipasi. PDPP di Kabupaten Kendal ini dilaksanakan berdasarkan Open, Self Selection yaitu partisipasi yang dilakukan oleh masyarakat Kendal pada umumnya lebih inklusif, dimana masyarakat memiliki kesempatan yang sangat besar untuk ikut merumuskan rencana pembangunan apa yang mereka butuhkan. Masyarakat yang ikut serta ini tidak dibatasi atau dipilih terlebih dahulu oleh fasilitator. Masyarakat dapat langsung ikut terlibat dengan kesadaran masing-masing. Namun, memang tidak terjadi partisipasi yang melibatkan seluruh populasi (masing-masing individu). Perwakilan dari tiap-tiap RW setelah merumuskan pembangunan pun tidak dipilih oleh fasilitator, akan tetapi masyarakat dari kalangan manapun yang ingin menjadi perwakilan RW di Kelurahan dipersilakan.
Gambar 4 Dimensi 'Participants'

Jika dilihat dari prosesnya, hal berikut ini adalah alasan mengapa PDPP di Kabupaten Kendal ini disebut dengan Open, Self Selection: a) Untuk mendapatkan perencanaan yang sesuai dengan aspirasi dan kebutuhan masyarakat, maka perlu dikembangkan tahap identifikasi kebutuhan yang biasa dikenal dengan CNA (Community Need Assessment) yaitu suatu kegiatan diskusi

Penerapan Program Dasar Pembangunan Partisipatif (PDPP) di Kabupaten Kendal

15

secara bersama untuk penggalian kebutuhan masyarakat, yang dilakukan oleh masyarakat dan untuk masyarakat yang dipandu oleh masyarakat sendiri atau seorang fasilitator, baik di tingkat RW maupun desa/kelurahan. Hasil kesepakatan dalam diskusi tersebut merupakan rencana bersama, yang dibahas bersama dengan pemerintah setempat untuk menjawab permasalahan yang ada. b) Hasil penjaringan kebutuhan masyarakat dari RW dibawa ke tingkat desa/kelurahan untuk disepakati dan kembali didiskusikan dengan metode partisipatif. Perwakilan dari RW tersebut dipilih berdasarkan kesadaran masyarakat sendiri, bukan pemilihan oleh fasilitator. c) Hasil perumusan tersebut akan ditampilkan di papan pengumuman desa/kelurahan dan dibagikan pada tiap-tiap kepala RW atau kepala Dusun untuk mendapat tanggapan dari masyarakat. Waktu yang diberikan sekitar maksimal 1 (satu) minggu. Hal ini penting karena menyangkut keterlibatan masyarakat dalam swadaya. Hal ini dapat memberikan kesempatan kepada masyarakat luas untuk memberikan feeback ataupun koreksi atas hasil Kebutuhan pembangunan yang telah disepakati ditingkat yang kabupaten. Berdasarkan Dimensi Communication and Decision Dimensi kedua dalam desain institusi dalam perencanaan partisipatif adalah bagaimana partisipan berinteraksi dalam diskusi publik atau pengambilan keputusan publik. Dalam perencanaan partisipatif yang ideal, partisipan berinteraksi satu sama lain untuk mendiskusikan bersama mengenai permasalahan publik. Namun faktanya tidak semua perencanaan yang dapat melibatkan partisipasi masyarakat yang ideal. Terdapat enam cara komunikasi dan pembuatan keputusan dalam perencanaan partisipatif yaitu keadaan dimana: a) Listen as spectators: partisipan hanya mendengarkan sebagai penonton, b) Express preferences: partisipan dapat mengekspresikan preferensi mereka, c) Develop preferences: partisipan dapat mengeksplor, mengembangkan, dan mengubah preferensi dan perspektif mereka, d) Aggregate and bargain: partisipan mengumpulkan preferensi mereka kemudian melakukan proses tawar-menawar dalam menentukan keputusan publik berdasarkan alternatif preferensi yang mereka tawarkan, e) Deliberate and negotiate: partisipan mendiskusikan preferensi mereka baik sebagai individu maupun sebagai kelompok. Dalam metode ini terdapat proses interaksi dalam berdiskusi dan bernegosiasi untuk mencapai kesepakatan bersama berdasarkan alasan, argumen, dan prinsip.

Penerapan Program Dasar Pembangunan Partisipatif (PDPP) di Kabupaten Kendal

16

f)

Deploy technique and expertise: partisipan yang dilibatkan bukan masyarakat tetapi tenaga ahli profesional yang cocok untuk menyelesaikan persoalan tertentu.

Keenam cara komunikasi dan pembuatan keputusan ini menunjukkan dimensi yang dapat mengukur intensitas yang mengindikasikan tingkat investasi, pengetahuan, dan komitmen yang diperlukan dari partisipan.
Gambar 5 Dimensi 'Communication and Decision Making'

Proses pengambilan keputusan dalam Program Dasar Pembangunan Partisipatif di Kabupaten Kendal termasuk pada cara kelima yaitu deliberate and negotiate. Sebelum dilakukan penyusunan draft RPJM Desa/Kelurahan dan APBD Desa/Kelurahan, dilakukan terlebih dahulu community need assesment. Penjaringan kebutuhan masyarakat

(Community Need Assesment) dilakukan secara partisipatif dengan metode diskusi kelompok terfokus (Focus Group Discussion) dengan bimbingan fasilitator. Community Need Assesment dilakukan oleh masyarakat dan untuk masyarakat yang dipandu oleh masyarakat sendiri atau seorang fasilitator, baik di tingkat RW maupun desa/kelurahan. Hasil kesepakatan dalam diskusi tersebut merupakan rencana bersama, yang dibahas bersama dengan pemerintah setempat untuk menjawab permasalahan yang ada. Dalam penerapan PDPP di Kabupaten Kendal, tenaga ahli perencana dan pemerintah lebih berperan sebagai tim pendamping yang menyiapkan dan melakukan training untuk fasilitator yang berasal dari setiap desa/kelurahan. Berdasarkan Dimensi Authority and Power Fung (2006) mengklasifikasikan aspek authority and power dalam democracy cube menjadi 5 tingkatan, yakni personal benefits, communicative influence, advise and consult, cogovernance, dan direct authority. Setiap tingkatan tersebut memiliki tingkat efektivitas dari pengambilan keputusannya masing-masing. Posisi PDPP di Kabupaten Kendal dalam skala authority and power ini berada dalam tingkat Co-Governance. Hal ini disebabkan oleh adanya kerjasama antara pemerintah dan masyarakat dalam menyusun RPJMd/k. Namun demikian, RPJMd/k yang disusun sangat melibatkan masyarakat sebagai aktor kunci

Penerapan Program Dasar Pembangunan Partisipatif (PDPP) di Kabupaten Kendal

17

perumusan rencana pembangunan. Dalam proses penyusunan RPJMd/k yang menjadi output dari PDPP di Kabupaten Kendal, terjadi devolusi atau penyerahan wewenang dari pemerintah ke masyarakat. Masyarakat berwenang sepenuhnya dalam menentukan substansi dari perencanan hingga ke implementasinya.
Gambar 6 Dimensi 'Authority and Power'

Program PDPP di Kabupaten Kendal mendorong terjadinya peningkatan peran masyarakat secara signifikan dalam merumuskan kegiatan pembangunan di desanya masing-masing. Dokumen RPJMd yang merupakan keluaran dari program ini memiliki tingkat efektivitas yang tinggi dari segi implementasinya. Dokumen ini memastikan segala program pembangunan yang berjalan di desanya dapat terlaksana. Dengan demikian, masyarakat memiliki tingkat kewenangan yang tinggi dalam memutuskan arah pergerakan

pembangunan di desanya.

Penerapan Program Dasar Pembangunan Partisipatif (PDPP) di Kabupaten Kendal

18

Gambar 7 Program Dasar Pembangunan Partisipatif dalam Democracy Cube

Sumber : Hasil analisis, 2011

Penerapan Program Dasar Pembangunan Partisipatif (PDPP) di Kabupaten Kendal

19

KESIMPULAN Berdasarkan hasil analisis berdasarkan Ladder of Citizen Participation, pelaksanaan PDPP di Kabupaten Kendal telah mencapai tingkatan delegated power. Hal ini menunjukkan bahwa tingkat partisipasi masyarakat desa.kelurahan di Kabupaten Kendal tergolong tinggi karena masyarakat sudah dilibatkan secara aktif dan memiliki kekuatan dalam pengambilan keputusan bersama walaupun belum memliki kontrol penuh dari masyarakatnya. Sementara itu, analisis berdasarkan Democracy Cube menunjukkan bahwa pelaksanaan PDPP di Kabupaten Kendal cukup legitimate dan adil karena dalam proses pelaksanaannya, penyusunan RPJMd/k melibatkan masyarakat dalam pengambilan keputusan berupa rancangan program dan pembiayaan yang kemudian disahkan dalam lokakarya RPJMd/k. Kelebihan lain dari pelaksanaan program ini adalah partisipasi masyarakat dalam penyusunan RPJMD tetap terlaksana meski terjadi pergantian program, yaitu ketika PDPP berhenti, tim pendamping direvitalisasi agar tetap dapat memonitori keberlanjutan penyusunan RPJM desa/kelurahan yang disinergikan dengan rencana penanggulangan kemiskinan. Selain itu, dengan adanya programini, proses partisipasi di beberapa desa telah dilembagakan secara formal dan terdapat peningkatan kapasitas kader-kader pembangunan dan partisipan lainnya. Kekurangan pelaksanaan PDPP di Kabupaten Kendal adalah kurangnya tenaga ahli dalam pendampingan penyusunan RPJM desa/kelurahan sehingga pada prakteknya tidak semua desa/kelurahan didampingi oleh tim pendamping. Tidak adanya tim pendamping dalam penyusunan RPJM desa/kelurahan, menimbulkan kekhawatiran bahwa RPJM desa/kelurahan yang dihasilkan tidak melalui proses perencanaan yang partisipatif.

REFERENSI Arnstein, S. R. (1969). A Ladder of Citizen Participation. JAIP, 216-224. Damayanti, M. (2004). Sustaining Participation in Local Governance. Case of PDPP in Indonesia. 40th ISoCaRP Congress. Fung, A. (2006). Varieties of Participation in Complex Governance. Public Administration Review, 66-75. Sunarti. (2008). Keberlanjutan Proses Penyusunan RPJM Desa/Kelurahan yang Partisipatif di Kabupaten Kendal. URDI.