Anda di halaman 1dari 4

Minyak kenanga merupakan salah satu jenis minyak atsiri yang sering juga disebut dengan minyak esteris

atau minyak terbang. Minyak atsiri atau minyak esteris adalah istilah yang digunakan untuk minyak yang mudah menguap dengan komposisi dan titik didih yang berbedabeda. Proses pembuatan minyak kenanga dapat dilakukan dengan berbagai macam cara, diantaranya yaitu destilasi air, destilasi uap dan air dan destilasi uap. Indonesia adalah salah satu penghasil minyak kenanga di dunia, namun kualitas dari minyak kenanganya masih dibawah negara-negara lain pengekspor minyak kenanga lainnya, hal itu disebabkan karena faktor-faktor yang kurang mendukung dalam budidaya kenanga baik pra panen maupun pasca panen. Tujuan dari penelitian ini adalah Mempelajari proses pembuatan minyak kenanga dengan menggunakan metode penyulingan destilasi uap. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode destilasi uap . Pertama-tama air dimasukkan ke ketel uap untuk menghasilkan steam, dengan menggunakan bahan bakar LPG, sedangkan bahan baku dimasukkan ke ketel suling. Apabila steam yang terbentuk sudah mencapai suhu 1000C dan tekanannya 1 bar maka steam tersebut dialirkan ke ketel suling. Uap dan minyak kenanga yang keluar dari ketel suling dialirkan ke kondensor. Waktu penyulingan dihitung mulai tetes pertama dari kondensat. Minyak yang ada di kondensat dipisahkan dari air suling kemudian dianalisa. Pada penelitian ini variabel peubahnya adalah arah aliran steam(atas dan bawah), bentuk bahan baku dan juga lama waktu destilasi (0.5; 1; 1.5 jam). Sedangkan kondisi operasinya adalah temperatur steam 1000C dan tekanannya 1 bar. Dari hasil penelitian destilasi kenanga untuk destilasi dengan aliran uap dari bawah diperoleh persen rendemen untuk 500 gr bunga utuh pada 30 menit sebesar 0.1661, 60 menit sebesar 0.04944, dan 90 menit sebesar 0.00602, sedangkan persen rendemen untuk 500 gr bunga cacah pada 30 menit sebesar 0.27, 60 menit sebesar 0.08228 , 90 menit sebesar 0.0303, untuk destilasi dengan aliran uap dari atas diperoleh persen rendemen untuk 1000 gr pada waktu 30 menit sebesar 0.3322, 90 menit sebesar 0.09888, dan 120 menit sebesar 0.01204.

Kapanlagi.com - Minyak atsiri kenanga asal Desa Bendan, Banyudono, Kabupaten Boyolali, hingga sekarang produksinya menembus pasar Singapura, Prancis, Belanda, dan Amerika Serikat. Salah seorang pengrajin atsiri asal Desa Bendan, Mugimin H.T. di Boyolali, Jumat, mengatakan, minyak kenanga asal Bendan ini dijadikan bahan bibit minyak wangi. Sebelum diekspor, bibit itu diolah PT Jasula Wangi, Jakarta dan PT Simpati Raya, Semarang.

Kerajinan minyak atsiri di Boyolali, kata dia, bediri dan berproduksi sejak 1978 hingga sekarang. "Pada waktu itu dibina oleh pemerintah pusat dan provinsi," katanya. Semula, lanjut dia, kapasitas produksinya per tahun mencapai lima ton minyak, tetapi sekarang ini hanya sekitar dua ton per tahun. Ia mengakui, menurunnya produksi minyak kenanga ini disebabkan kurang tersedianya bahan baku bunga kenanga. Bahan baku ini harus mendatangkan dari Yogyakarta, Kabupaten Semarang, dan sejumlah daerah di Jawa Timur. "Relatif mahalnya bahan bakar kayu untuk proses penyulingan, banyak pengrajin di daerah ini yang tidak meneruskan usahanya," katanya. Berdasarkan keterangan yang dihimpun di sentra kerajinan penyulingan minyak atsiri kenanga Desa Bendan, "Sido Mulyo" adalah satu-satunya pengrajin minyak atsiri kenanga yang hingga sekarang masih bertahan. Mugimin lebih lanjut menjelaskan, setiap satu ton bunga kenanga bisa menghasilkan 15 kg minyak atsiri, dengan jangka waktu penyulingan tiga hari tiga malam. Harga minyak kenanga di pasaran, kata dia, berkisar antara Rp 210 ribu-Rp 215 ribu per kilogramnya, dan setiap tahunnya menghasilkan sekitar Rp 400 juta. Ia berharap, pengembangan tanaman kenangan digalakan kembali untuk meningkatkan produksi bunga kenanga, sehingga memudahkan pengrajin mencari bahan baku yang selama ini relatif cukup sulit, dan harganya relatif cukup mahal berkisar Rp2.000,00 s.d Rp2.200,00/kg. Mednurut dia, apabila tersedia bahan baku bunga kenanga dan mudah mencarinya, maka akan merangsang pengrajin atsiri - yang sempat terhenti - untuk membuka usahanya kembali. Kerajinan minyak atsiri ini, kata dia, lebih baik dikembangkan dan dibina di desa tertinggal, karena masyarakatnya lebih ulet. "Apalagi didukung oleh kondisi lingkungan daerahnya, serta bahan bakar kayu yang harganya relatif murah," katanya. (*/erl)

Berbicara soal komoditi ekspor non-migas, minyak atsiri dari nilam salah satu andalan. Bahkan negara kita tercatat sebagai salah satu pengekspor minyak nilam terbesar di dunia. Meski popular di pasar internasional, anehnya minyak atsiri kurang akrab di telinga kita. Apalagi masih sedikit yang mengenal sosok tanaman nilam dengan baik, padahal ini merupakan peluang bisnis yang dapat diandalkan. Nilam merupakan salah satu dari 150 200 spesies tanaman penghasil minyak atsiri. Di Indonesia sendiri terdapat sekitar 40 50 jenis, tetapi baru sekitar 15 spesies yang diusahakan secara komersial. Tanaman nilam juga dikenal dengan nama komersil Pogostemon Patchouli atau Pogostemon Cablin Benth, atau Pogostemon Mentha. Aslinya dari Filipina, tapi sudah dikembangkan juga di Malaysia, Madagaskar, Paraguay, Brasil, dan Indonesia. Akibat banyaknya ditanam di Aceh, kemudian juga dijuluki nilam Aceh, Varietas ini banyak dibududayakan secara komersial. Daerah Istimewa Aceh, terutama Aceh Selatan dan Tenggara, masih menjadi sentra nilam terluas di Indonesia (Ditjen Perkebunan, 1997). Disusul Sumatera Utara (Nias, Tapanuli Selatan), Sumatera Barat, Bengkulu, Lampung, Jawa Tengah (Banyumas, Banjarnegara), dan Jawa Timur (Tulungagung). Umumnya, masih didominasi perkebunan rakyat berskala kecil. Tanaman minyak atsiri di Propinsi Jawa Barat terdapat di beberapa daerah Kabupaten, dan yang saat ini sudah berorientasi ke arah perdagangan ekspor adalah jenis minyak akar wangi (Vertiver Oil) dan minyak nilam (Patchouli Oil). Untuk minyak nilam, daerah budidaya tersebar di Kabupaten Tasikmalaya, Kuningan dan Garut. Alat destilasi minyak nilam saat ini sudah menggunakan sistem destilasi dengan menggunakan mesin yang ramah lingkungan. Varietas lainnya, Pogostemon Heyneanus, berasal dari India, juga disebut nilam Jawa atau nilam hutan karena banyak tumbuh di Pulau Jawa. Ada lagi Pogostemon Hortensis, atau nilam sabun (minyak atsiri bisa untuk mencuci pakaian). Banyak terdapat di daerah Banten, Jawa Barat, sosok tanamannya menyerupai nilam Jawa, tetapi tidak berbunga. Sebagai tanaman penghasil minyak atsiri yang bernilai ekonomis tinggi, nilam bisa menjadi alternatif untuk meningkatkan ekspor nonmigas, terbukti minyak nilam telah tercatat sebagai penyumbang terbesar devisa negara ketimbang minyak atsiri lainnya. Volume ekspor minyak nilam periode 1995-1998 mencapai 800-1.500 ton dengan nilai devisa US$ 18-53 juta. Sementara data terbaru menyebutkan, nilai devisa dari ekspor minyak nilam sebesar US$ 33 juta, 50% dari total devisa ekspor minyak atsiri Indonesia. Secara keseluruhan Indonesia memasok lebih dari 90% kebutuhan minyak nilam dunia (Nuryani Y.,2001). Berdasarkan laporan Marlet Study Essential Oils and Oleoresi (ITC), produksi nilam dunia mencapai 500-550 ton per tahun. Produksi Indonesia sekitar 450 ton per tahun, kemudian disusul Cina (50-80 ton per tahun). Produk minyak atsiri dunia yang didominasi Indonesia, antara lain nilam, sereh wangi, minyak daun cengkeh, dan kenanga.

Sebelum diekspor, minyak nilam biasanya ditampung oleh agen eksportir. Harga minyak nilam di pasaran lokal (di tingkat agen eksportir) berkisar Rp.200.000,- -Rp.250.000,- per kg (di New York, AS $14-23,5). Negara tujuan ekspornya meliputi Singapura, India, AS, Inggris, Belanda, Francis, Jerman, Swiss, dan Spanyol. Ada kalanya petani (terutama yang tidak punya alat destilasi) menjual daun nilam dengan harga Rp.2000,- per kg (kering) atau Rp.400,- per kg (basah). Penampungnya tidak lain petani pemilik ketel destilasi. Dulu, sebelum petani mengenal alat destilasi, yang diekspor adalah daun nilam kering. Alat destilasi mulai dikenal tahun 1920-an. Minyak nilam Indonesia sangat digemari pasar Amerika dan eropa. Terutama digunakan untuk bahan baku industri pembuatan minyak wangi (sebagai pengikat bau atau fixative parfum), kosmetik, dll. Komponen utama minyak nilam (diperoleh dari destilasi daun nilam) berupa pacthoully alcohol (45-50%), sebagai penciri utama dan bahan industri kimia.