Anda di halaman 1dari 12

HUBUNGAN ANTARA MANAJEMEN STRESS DENGAN INDEKS PRESTASI MAHASISWA FAKULTAS KEDOKTERAN UISU ALMANAR SEMESTER III ANGKATAN

2010

DISUSUN OLEH : SGD 19

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS ISLAM SUMATERA UTARA MEDAN 2011

BAB I PENDAHULUAN

I.1. Latar Belakang Masalah Manusia menyimpan segudang masalah. Mereka yang bisa mengelola berbagai pengalaman dalam hidupnya sejak masa anak-anak, remaja hingga menjadi orang dewasa, akan selamat menjalani kehidupan sehari-hari yang selalu terjadi pasang surut dari keadaan yang menyenangkan ke keadaan yang tidak menyenangkan. Dalam kehidupannya manusia mengalami berbagai konflik, frustasi dan kegagalan yang pada waktunya dapat menjelma menjadi cemas, stres dan depresi. Di saat ini kalangan masyarakat kita tengah terjadi peralihan perubahan sosial dan budaya dari masyarakat yang agraris menuju masyarakat industri, hal ini dapat kita lihat dengan semakin banyaknya didirikan perusahaan-perusahaan besar dan sebaliknya semakin sempitnya lahan-lahan pertanian Akibat terjadinya pergeseran nilai-nilai yang berlaku (baik itu didalam keluarga, lingkungan belajar dan masyarakat umum) yang diiringi dengan tuntutan-tuntutan hidup yang semakin kompleks sering kali menyebabkan seseorang menemui hambatan-hambatan yang dapat menjadi suatu konflik bagi dirinya dan pada gilirannya dapat menimbulkan stres yang nantinya berpengaruh terhadap prestasi belajar dan pergaulannya sehari-hari (Bahar, 1995). Hal ini juga dialami oleh mahasiswa, apalagi jika mahasiswa itu adalah mahasiswa baru yang harus beradaptasi dengan lingkungan kampus yang berbeda dengan lingkungan sebelumnya. Mahasiswa baru mengalami berbagai perubahan mental dan emosional dituntut untuk cepat melakukan adaptasi. Sebagai mahasiswa, mereka merupakan tumpuan harapan bagi keluarga dan negara karena mereka merupakan generasi penerus. Di lingkungan perguruan tinggi, mereka akan menemui situasi yang berbeda yaitu tanggung jawab yang lebih besar untuk menentukan kehidupan atau keputusan sendiri serta lingkungan pergaulan yang lebih luas dan bebas. Untuk itu mereka dituntut untuk dapat bersikap bijak dan bertanggungjawab, namun tidak semua dari mereka yang siap menerima penghentian status ketergantungan serta persaingan akademik dan sosial yang lebih ketat sehingga hasil belajar yang mereka terima tidak tercermin dari nilai ataupun indeks prestasi yang mereka inginkan akibat stress yang mereka alami. Perasaan stres yang timbul disebabkan karena insting atau reaksi tubuh untuk mempertahankan diri. Reaksi seperti ini adalah baik pada saat atau kondisi gawat darurat atau emergensi, seperti reaksi keluar dari mobil yang kecepatannya melampaui batas dan akan menabrak jalan. Stress juga dapat disebabkan karena gejala-gejala fisik yang berlangsung terlalu lama, seperti dalam merespon tantangan dan perubahan dalam kehidupan sehari-hari. Stress menjadikan tubuh anda bekerja secara berlebihan yang dapat membuat diri merasa cemas, takut, khawatir dan tegang.

Masing-masing individu memiliki tingkat toleransi terhadap stres yang berbeda, dari yang rendah hingga yang tinggi (Atkinson et.al., 1991). Stressor yang datang akan membuat individu aktif dan selanjutnya menimbulkan reaksi yang beraneka ragam, jika individu mampu menggerakan kekuatan mengatasi stressor, maka ia mempunyai toleransi yang baik, dan sebaliknya jika ia menyerah, maka ia mempunyai toleransi terhadap stres yang kurang baik pula. (Crow, L. D., dan Crow, A., 1974). Berdasarkan hal di atas, maka di lakukan penelitian apakah individu dengan kemampuan manajemen stres yang rendah mempunyai prestasi akademik lebih rendah dibandingkan dengan individu yang mempunyai kemampuan manajemen stres yang lebih tinggi. I.2. Perumusan Masalah 1. Bagaimana gambaran indeks prestasi pada mahasiswa fakultas kedokteran Universitas Islam Sumatera Utara semester tiga (III) angkatan 2011. 2. Bagaimana gambaran Manajemen Stres pada mahasiswa fakultas kedokteran Universitas Islam Sumatera Utara semester tiga (III) angkatan 2011. 3. Benarkah ada hubungan antara kemampuan manajemen stres dengan indeks prestasi pada mahasiswa fakultas kedokteran Universitas Islam Sumatera Utara semester tiga (III) angkatan 2011. I.3. Tujuan Penelitian Adapun tujuan penelitian ini adalah : 1. Mengetahui indeks prestasi mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Islam Sumatera Utara semester tiga (III) angkatan 2011. 2. Mengetahui Manajemen Stres pada mahasiswa fakultas kedokteran Universitas Islam Sumatera Utara semester tiga (III) angkatan 2011. 3. Mengetahui hubungan antara kemampuan manajemen stres dengan indeks prestasi pada mahasiswa fakultas kedokteran Universitas Islam Sumatera Utara semester tiga (III) angkatan 2011. I.4. Hipotesis Penelitian a. Tidak ada hubungan antara manajemen stress dengan indeks prestasi mahasiswa b. Ada hubungan antara manajemen stress dengan indeks prestasi mahasiswa I.5. Manfaat Penelitian 1. Manfaat teoritis Sebagai salah satu sumber informasi tentang stres dan hubungannya dengan indeks prestasi mahasiswa. 2. Manfaat Praktis a. Bagi Fakultas Kedokteran Universitas Islam Indonesia Sumatera Utara Penelitian ini diharapkan dapat memberikan masukan bagi pihak universitas khususnya fakultas kedokteran dalam memberikan perhatian dan penanganan terhadap masalah-masalah penyebab stres yang dihadapi mahasiswa. b. Bagi mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Islam Indonesia

Dengan adanya penelitian ini diharapkan dapat menambah pengetahuan tentang stres, cara mengatasi stres serta hubungannya dengan prestasi belajar sehingga dapat mempersiapkan diri untuk beradaptasi dengan lebih baik dan cepat terhadap faktor-faktor pencetus stres. c. Masyarakat Untuk masyarakat diharapkan dapat menambah wawasan tentang stres dan faktor pencetusnya terutama bagi orang tua yang mempunyai anak usia sekolah sehingga dapat membantu memberi dukungan dan membantu menyelesaikan masalah penyebab stress yang dihadapi anak. d. Peneliti Penelitian ini diharapkan dapat memperdalam pengetahuan peneliti mengenai stress, cara mengatasi stress, serta kaitannya dengan indeks prestasi mahasiswa.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA


2.1 Stres 2.1.1 Pengertian Stres Stres adalah suatu reaksi tubuh yang dipaksa, di mana ia boleh menganggu equilibrium (homeostasis) fisiologi normal (Julie K., 2005). Stres adalah reaksi/respons tubuh terhadap stresor psikososial (tekanan mental/beban kehidupan). Stres dewasa ini digunakan secara bergantian untuk menjelaskan berbagai stimulus dengan intensitas berlebihan yang tidak disukai berupa respons fisiologis, perilaku, dan subjektif terhadap stres; konteks yang menjembatani pertemuan antara individu dengan stimulus yang membuat stres; semua sebagai suatu sistem (WHO, 2003). Menurut Robert S. Feldman (1989) stress adalah suatu proses yang menilai suatu peristiwa sebagai sesuatu yang mengancam, menentang, ataupun membahayakan dan individu merespon peristiwa sebagai sesuatu yang mengancam, menantang, ataupun membahayakan dan individu merespon peristiwa itu pada level fisiologis, emosional, kognitif dan perilaku. Adapun menurut Robbins (2001:563) stress juga dapat diartikan sebagai suatu kondisi yang menekan keadaan psikis seseorang dalam mencapai suatu kesempatan dimana untuk mencapai kesempatan tersebut terdapat batasan atau penghalang. Dan apabila pengertian stress dikaitkan dengan penelitian ini maka stress itu sendiri adalah suatu kondisi yang mempengaruhi keadaan fisik atau psikis seseorang karena adanya tekanan dari dalam ataupun dari luar diri seseorang yang dapat mengganggu pelaksanaan kerja mereka. Menurut Spielberger (handoyo, 2001) menyebutkan bahwa stress adalah tuntutan-tuntutan eksternal yang mengenai seseorang, misalnya obyek-obyek dalam lingkungan atau suatu stimulus yang secara objektif adalah berbahaya. Stres juga biasa diartikan sebagai tekanan, ketegangan atau gangguan yang tidak menynangkan yang berasal dari luar diri seseorang. 2.1.2 Penyebab stres Adapun menurut Grant Brecht (2000), stres ditinjau dari penyebabnya hanya dibedakan menjadi 2 macam, yaitu : a. Penyebab makro, yaitu menyangkut peristiwa besar dalam kehidupan, seperti kematian, perceraian, pension, luka batin, dan kebangkrutan. b. Penyebab mikro, yaitu menyangkut peristiwa kecil sehari-hari,

seperti pertengkaran rumah tangga, beban pekerjaan, masalah apa yang akan dimakan, dan antri. 2.1.3 Tahapan Stres Gejala-gejala stres pada diri seseorang seringkali tidak disadari karena perjalanan awal tahapan stres timbul secara lambat, dan baru dirasakan bilamana tahapan gejala sudah lanjut dan mengganggu fungsi kehidupannya sehari-hari baik di rumah, di tempat kerja ataupun pergaulan lingkungan sosialnya. Dr. Robert J. Amberg (dalam Hawari, 2001) membagi tahapan-tahapan stres sebagai berikut : 1. Stres tahap I Tahapan ini merupakan tahapan stres yang paling ringan dan biasanya disertai dengan perasaan-perasaan sebagai berikut: 1) Semangat bekerja besar, berlebihan (over acting); 2) Penglihatan tajam tidak sebagaimana biasanya; 3) Merasa mampu menyelesaikan pekerjaan lebih dari biasanya, namun tanpa disadari cadangan energi semakin menipis. 2. Stres tahap II Dalam tahapan ini dampak stres yang semula menyenangkan sebagaimana diuraikan pada tahap I di atas mulai menghilang, dan timbul keluhan-keluhan yang disebabkan karena cadangan energi yang tidak lagi cukup sepanjang hari, karena tidak cukup waktu untuk beristirahat. Istirahat yang dimaksud antara lain dengan tidur yang cukup, bermanfaat untuk mengisi atau memulihkan cadangan energi yang mengalami defisit. Keluhan-keluhan yang sering dikemukakan oleh seseorang yang berada pada stres tahap II adalah sebagai berikut: 1) Merasa letih sewaktu bangun pagi yang seharusnya merasa segar; 2) Merasa mudah lelah sesudah makan siang; 3) Lekas merasa capai menjelang sore hari; 4) Sering mengeluh lambung/perut tidak nyaman (bowel discomfort); 5) Detakan jantung lebih keras dari biasanya (berdebar-debar); 6) Otototot punggung dan tengkuk terasa tegang; 7) Tidak bisa santai. 3. Stres tahap III
Apabila seseorang tetap memaksakan diri dalam pekerjaannya tanpa menghiraukan keluhan-keluhan pada stres tahap II, maka akan menunjukkan keluhan-keluhan yang semakin nyata dan mengganggu, yaitu: 1) Gangguan lambung dan usus semakin nyata; misalnya keluhan maag(gastritis), buang air besar tidak teratur (diare); 2) Ketegangan

otot-otot semakin terasa; 3) Perasaan ketidaktenangan dan ketegangan emosional semakin meningkat; 4) Gangguan pola tidur (insomnia), misalnya sukar untuk mulai masuk tidur (early insomnia), atau terbangun tengah malam dan sukar kembali tidur (middle insomnia), atau bangun terlalu pagi atau dini hari dan tidak dapat kembali tidur (Late insomnia); 5) Koordinasi tubuh terganggu (badan terasa loyo dan serasa mau pingsan). Pada tahapan ini seseorang sudah harus berkonsultasi pada dokter untuk memperoleh terapi, atau bisa juga beban stres hendaknya dikurangi dan tubuh memperoleh kesempatan untuk beristirahat guna menambah suplai energi yang mengalami defisit. 4. Stres tahap IV Gejala stres tahap IV, akan muncul: 1) Untuk bertahan sepanjang hari saja sudah terasa amat sulit; 2) Aktivitas pekerjaan yang semula menyenangkan dan mudah diselesaikan menjadi membosankan dan terasa lebih sulit; 3) Yang semula tanggap terhadap situasi menjadi kehilangan kemampuan untuk merespons secara memadai (adequate); 4) Ketidakmampuan untuk melaksanakan kegiatan rutin sehari-hari; 5) Gangguan pola tidur disertai dengan mimpi-mimpi yang menegangkan; Seringkali menolak ajakan (negativism) karena tiada semangat dan kegairahan; 6) Daya konsentrasi daya ingat menurun; 7) Timbul perasaan ketakutan dan kecemasan yang tidak dapat dijelaskan apa penyebabnya.

5. Stres tahap V Bila keadaan berlanjut, maka seseorang itu akan jatuh dalam stres tahap V, yang ditandai dengan hal-hal sebagai berikut: 1) Kelelahan fisik dan mental yang semakin mendalam (physical dan psychological exhaustion); 2) Ketidakmampuan untuk menyelesaikan pekerjaan sehari-hari yang ringan dan sederhana; 3) Gangguan sistem pencernaan semakin berat (gastrointestinal disorder); 4) Timbul perasaan ketakutan, kecemasan yang semakin meningkat, mudah bingung dan panik. 6. Stres tahap VI Tahapan ini merupakan tahapan klimaks, seseorang mengalami serangan panik (panic attack) dan perasaan takut mati. Tidak jarang orang yang mengalami stres tahap VI ini berulang dibawa ke Unit Gawat Darurat bahkan ICCU, meskipun pada akhirnya dipulangkan karena tidak ditemukan kelainan fisik organ tubuh. Gambaran stres tahap VI ini adalah sebagai berikut: 1) Debaran jantung teramat keras; 2) Susah bernapas (sesak dan megap-megap); 3) Sekujur badan terasa gemetar, dingin dan keringat bercucuran; 4) Ketiadaan tenaga untuk hal-hal yang ringan; 5) Pingsan atau kolaps (collapse). Bila dikaji maka keluhan atau gejala sebagaimana digambarkan di atas lebih didominasi oleh keluhan-keluhan fisik yang disebabkan oleh gangguan faal (fungsional) organ tubuh, sebagai akibat stresor

psikososial yang mengatasinya.

melebihi

kemampuan

seseorang

untuk

2.1.4 perbedaan setiap individu dalam menghadapi stres Setiap individu berbeda dalam menghadapi pengaruh negatif dari stres. Sejumlah penelitian menemukan 2 faktor utamayang membuat setiap individu berbeda dalam menerima efek negatif dari stres: Bagaimana individu tersebut berusaha menghadapi (coping) terhadap situasi yang menekan. Keberadaan dan kualitas individu yang dapat memberikan dukungan sosial.

1. Coping Dalam menghadapi UTS atau UAS, beberapa mahasiswa pergi ke perpustakaan, mahasiswa lainnya pergi ke cafe untuk berbincang, memutuskan pergi ke bioskop untuk lebih menenangkan diri, atau memfotokopi berbagai buku yang mereka butuhkan. Salah satu faktor yang menentukan seberapa parah seorang individu dipengaruhi oleh stres yang dirasakannya adalah bagaimana dia menghadapi peristiwa yang dialaminya. Ada 2 tipe coping utama yang biasanya dapat menurunkan stres seperti diungkapkan oleh Lazarus & Folkman (dalam Neale, Davison & Haaga, 1996) yaitu problem-focused coping dan emotionfocused coping. Individu yang menggunakan problem-focused coping biasanya langsung mengambil tindakan untuk memecahkan masalah atau mencari informasi yang berguna untuk membantu pemecahan masalah. Sebagai contoh dalam menghadapi ujian, individu akan menyusun jadwal belajar sejak awal semester untuk menghadapi setiap ujian sehingga ketika menghadapi ujian di akhir semester tidak lagi terlalu menegangkan. Di sisi lain, individu dengan emotion-focused coping lebih menekankan pada usaha untuk menurunkan emosi negatif yang dirasakan ketika menghadapi masalah atau tekanan. Sebagai contoh mengalihkan perhatian dari masalah yang dihadapi dengan bersantai atau mencari kesenangan dengan pergi ke bioskop, cafe, karaoke, bersenang dan sebagainya. Coping apakah yang terbaik ? hal ini tidak dapat dipastikan berlaku untuk semua orang, mungkin yang terbaik adalah menggunakan kedua cara coping tersebut secara fleksibel. Ketika masalah yang dihadapi sepenuhnya masih berada dalam kontrol individu, mungkin problemfocused coping akan lebih baik. Di sisi lain, mengalihkan perhatian atau emotion-focused coping mungkin akan lebih baik dalam menghadapi rasa takut ketika akan dioperasi misalnya, namun perlu diingat bahwa cara ini dapat menjadi hal yang buruk apabila dilakukan ketika seseorang mendapatkan diagnosis bahwa dirinya menderita tumor.

2. Dukungan sosial Adanya dukungan sosial, yaitu keberadaan para saudara, teman dan kenalan dalam menghadapi stres dapat membantu seseorang berhasil menggunakan problem-focused atau emotion focused coping. Dukungan sosial memiliki 2 aspek utama, yaitu dukungan sosial struktural dan dukungan sosial fungsional (Neale, Davison & Haaga, 1996). Dukungan sosial struktural menyangkut jaringan hubunhan sosial yang di miliki individu, mosalnya status pernikahan dan jumlah teman yang dimiliki.dukungan sosial fungsional lebih menekankan pada kualitas dari hubungan yang dimiliki. Sebagai contoh sejauh apa seorang individu percaya pada bahwa dirinya memiliki teman untuk di telepon setiap saat apabila di butuhkan atau apakah temannya dapat memberikan dukungan yang memang di butuhkan tingkat stres yang dirasakan. Kurangnya dukungan struktural kadang kala dapat berhubungan dengan terjadinya kematian. Tingkat kematian atau mortalitas pada individu usia lanjut atau penderita serangan jantung, ternyata berhubungan dengan rendahnya dukungan sosial struktural yang mereka miliki.jadi individu yang hanya memiliki teman ternyata meningggal lebih cepat daripada mereka yang memiliki jaringan teman dan keluarga yang lebih besar. Sayangnya ,peran dari dukungan sosial struktural dalam memeprediksi kematian belumlah jelas. 2.2 Indeks Prestasi Mahasiswa 2.2.1 Pengertian Indeks Prestasi
Indeks Prestasi (IP) adalah ukuran evaluasi prestasi belajar mahasiswa yang dilakukan pada setiap setiap akhir semester, akhir tahun, atau akhir penyelenggaraan suatu program.

2.2.2 Pengertian Mahasiswa Mahasiswa adalah suatu kelompok dalam masyarakat yang memperoleh statusnya dalam ikatannya dengan perguruan tinggi. Seseorang disebut mahasiswa hanya kalau ia belajar di salah satu perguruan tinggi, tidak ada seorangpun yang dapat dinamakan mahasiswa kalau ia tidak terikat pada salah satu perguruan tinggi (Sarlito Wirawa Sarwono, 1978).
xN

__________

Kerangka konsep

Stres 1. Kegiatan seharihari 2. Aktivitas belajar 3. Materi pembelajaran 4. Kapasitas istirahat Indeks prestasi mahasiswa

BAB III METODE PENELITIAN


3.1 Desain Penelitian Penelitian ini menggunakan metode survei dengan pendekatan cross sectionai dimana data yang menyangkut varibel bebas atau risiko dan variabel terikat atau variabel akibat, akan dikumpulkan dalam waktu yang bersamaan.

3.2 Tempat dan Waktu Penelitian Tempat penelitian yang akan digunakan pada penelitian ini adalah Fakultas Kedokteran Universitas Kedokteran Sumatera Utara. 3.3 Populasi dan Sampel Populasi pada penelitian ini adalah mahasiswa/i fakultas kedokteran Universitas Islam dengan kriteria : 1. Mahasiswa fakultas kedokteran Universitas Islam Sumatera Utara semester III. 2. Bersedia menjadi responden dalam penelitian ini. 3.4 Metode Pengumpulan Data Pengumpulan data adalah melalui kuesioner yang dibagikan kepada setiap mahasiswa kedokteran Universitas Islam Sumatera Utara semester III angkatan 2010 yang berisi identitas dan pertanyaan-pertanyaan yang disusun oleh peneliti untuk mengetahui kemampuan manajemen stres mahasiswa, yang harus diisi tanpa bantuan orang lain serta perolehan indeks prestasi yang diminta dari pihak akademik fakultas kedokteran Universitas Islam Sumatera Utara. 3.5 Variabel dan Definisi Operasional Variabel penelitian ini terdiri atas variabel bebas dan terikat : 1. Variabel bebas adalah toleransi terhadap stres. 2. Variabel terikat adalah indeks prestasi
Definisi operasional pada penelitian ini yaitu: Indeks Prestasi (IP) adalah angka yang memperlihatkan pencapaian seseorang dalam belajar atau bekerja selama jangka waktu tertentu. Pada penelitian ini IP yang digunakan adalah IP pada semester 2, dengan interpretasi : a. Kurang Memuaskan : dengan IP < 2,00 b. Memuaskan : dengan IP 2,00 2,75 c. Sangat Memuaskan : dengan IP 2,76 3,51 d. Dengan Pujian : dengan IP 3,51 4,00

3.6 Metode Pengukuran

3.7 Metode Analisis Data Dalam penelitian ini analisis data yang digunakan adalah Analisa deskriftif Analisa deskriptif digunakan untuk mendeskripsikan variabel mempengaruhi mekanisme stres dengan indeks prestasi mahasiswa yang