Anda di halaman 1dari 13

Kotrasepsiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiii I. PENDAHULUAN Kontrasepsi adalah upaya untuk mencegah terjadinya kehamilan.

Upaya ini dapat bersifat sementara, dapat pula bersifat permanen. Penggunaan kontrasepsi merupakan variabel yang mempengaruhi fertilitas.1 Pengaruh pada korpus luteum yang menghambat ovulasi telah diketahui pada awal abad ke 20. Semenjak saat itu perkembangan kontrasepsi hormonal berlangsung terus. Tahun 1960 pil kombinasi estrogen-progesteron mulai digunakan. Tahun 1963 pil sekuensial diperkenalkan. Sejak tahun 1965 sampai sekarang banyak diadakan penyesuaian dosis atau penggunaan progesteron saja, sehingga muncul pil mini, dan lain-lain. Perkembangan ini pada umumnya bertujuan mencari suatu kontrasepsi hormonal yang daya guna tinggi, efek sampingan minimal, dan keluhan pasien yang sekecil-kecilnya.1 Lebih dari 13 juta wanita di Amerika Serikat menggunakan salah satu di antara sejumlah preparat kontrasepsi hormonal yang tersedia untuk mengendalikan kehamilan. Meskipun kontrasepsi hormonal menggambarkan kejadian dramatis ditinggalkannya berbagai metode kontrasepsi tradisional yang dipakai sebelumnya, preparat tersebut juga menciptakan suatu dilema terapeutik yang unik.2 Ada beberapa macam kontrasepsi hormonal yang saat ini dapat dipergunakan dan menjadi pilihan untuk wanita. Kontrasepsi hormonal ini juga dapat diterima dan dilaksanakan oleh pasangan dalam program keluarga berencana di seluruh dunia.3 Metoda KB hormonal memakai obat-obatan yang mengandung 2 hormon, estrogen dan progestin. Keduanya serupa dengan hormon hormon alamiah yang dihasilkan tubuh, yakni estrogen dan progesteron.4 II. KONTRASEPSI HORMONAL Mekanisme Kerja Estrogen Estrogen mempunyai khasiat kontrasepsi dengan jalan mempengaruhi ovulasi, perjalanan ovum, atau implantasi. Ovum dihambat melalui pengaruh estrogen terhadap hipotalamus dan selanjutnya menghambat FSH dan LH. Ovulasi tidak selalu dihambat oleh pil kombinasi yang mengandung estrogen 50 mikrogram atau kurang. Kalaupun daya guna preparat ini tinggi ( 95-98 % menghambat ovulasi ), hal itu adalah progesteron disamping estrogen.1 Implantasi sel telur yang sudah dibuahi dihambat oleh estrogen dosis tinggi (dietil stilbestrol, etinil estradiol) yang diberikan pada pertengahan siklus haid. Jarak waktu diantara konsepsi dan implantasi rata-rata 6 hari. Biopsi endometrium yang dilakukan sesudah pemberian estrogen dosis tinggi pasca konsepsi menunjukkan efek

antiprogesteron, yang dapat menghambat implantasi. Perjalanan ovum dipercepat dengan pemberian estrogen pasca konsepsi.1 Mekanisme Kerja Progesteron Fungsi progesteron ialah menyiapkan endometrium untuk implantasi dan mempertahankan kehamilan. Disamping itu, progesteron mempunyai pula khasiat kontrasepsi, sebagai berikut : 1 1. Lendir serviks mengalami perubahan menjadi lebih pekat, sehingga penetrasi dan transportasi sperma selanjutnya lebih sulit. 2. Kapasitasi sperma dihambat oleh progesteron. Kapasitasi diperlukan oleh sperma untuk membuahi sel telur dan menembus rintangan di sekeliling ovum. 3. Jika progesteron diberikan sebelum konsepsi, maka perjalanan ovum dalam tuba akan terhambat. 4. Implantasi dihambat bila progesteron diberikan sebelum ovulasi. Walaupun ovulasi dapat terjadi, produksi progesteron dari korpus luteum akan berkurang, sehinga implantasi dihambat. 5. Penghambatan ovulasi melalui fungsi hipotalamus-hipofisis-ovarium. III. BENTUK PEMBERIAN Pemberian kontrasepsi dapat berbentuk tablet atau drags dan berupa depo injeksi. Kontrasepsi oral biasanya dikemas dalam satu kotak yang berisi 21 atau 22 tablet, dan sebagian kecil ada yang berisi 28 tablet dengan 6 atau 7 tablet terakhir berupa plasebo sehingga tidak perlu lagi istirshat 6 atau 7 hari. Minipil digunakan tanpa masa istirahat yang terdiri dari 35 tablet. Sediaan depo injeksi dapat berupa injeksi mikrokristalin (depoprovera) atau cairan minyak dari asam lemak steroid ester (noristerad). Sediaan esterogen gestagen dibagi menjadi kombnasi onofasik, bertingkat, dan sekuensial bifasik. Sediaan yang mengandung gestagen saja seperti minipil, depo injeksi, AKDR yang mengandung progesteron dan implant. Sediaan yang mengandung esterogen saja hanya terbatas pada penggunaan pasca koitus atau postkoital pil (postcoital pil) Sediaan kombinasi (monofasik) Sediaan kombinasi merupakan sediaan yang paling banyak digunakan, setiap tablet mengandung 20-100 mg etinilestradiol dan gestagen dengan dosis tertentu. Pada pemilihan berbagai jenis kontrasepsi oral yang terpenting adalah yang memiliki khasiat kontrasepsi yang paling sedikit kegagalannya. Meskipun harus mimilih jenis yang memiliki efek samping yang paling sedikit, ini bukan merupakan prioritas utama dalam pemilihan kontrasepsi. Semua jenis kombinasi memiliki keampuhan yang sama

tetapi belum tentu setiap individu memiliki kenyamanan yang sama. Kebanyakan efek samping disebabkan oleh kandungan estrogen dalam sediaan tersebut sehingga pil kontrasepsi dibagi menjadi pil dengan estrogen rendah ( 20-35 mg) dan pil dengan dosis estrogen tinggi ( 50 mg). Pada dasarnya pilihlah sediaan dengan dosis estrogen rendah. Penggunaan dosis tinggi hanya dibenarkan pada kasus-kasus yang terjadi perdarahan pada penggunaan sediaan dengan dosis estrogen rendah. Menentukan dosis estrogen pada pil kontrasepsi jauh lebih mudah bila dibandingkan dengan menentukan dosis gestagen karena hampir semua gestagen memiliki struktur kimia dan proses metabolisme yang hampir sama. Berdasarkan struktur kimia dan metabolismenya, jenis gestagen yang ada dalam pil kontrasepsi dibagi dalam 3 kelompok, yaitu turunan nortestosteron, progesteron dan gonane. Kalau dilihat begitu banyak jenis gestagen yang tersedia, timbul pertanyaan jenis gestagen mana yang memiliki efek yang kuat terhadap penekanan ovulasi. Pertanyaan ini sulit dicari jawabannya karena ada gestagen yang efeknya terhadap endometrium begitu kuat, tetapi efek terhadap penekanan gonadotropin tidak begitu kuat meskipun ikatan reseptor terhadap endometrium dan hipofisis sama-sama kuat. Terjadinya perbedaan kerja tiap-tiap gestagen tersebut meskipun ikatan reseptornya sama kuat , masih belum diketahui secara pasti. Agar tidak begitu membebani tubuh dan juga agar tidak memberikan terlalu banyak efek samping, hampir semua pil kontrasepsi yang ada saat ini mengandung estrogen dan gestagen dosis rendah, yang dahulu dianggap tidak mungkin. Agar gestagen dosis tinggi tidak digunakan, mulai dicari cara untuk mengurangi dosis gestagen suatu kontrasepsi oral, misalnya dengan cara membuat sediaan kombinasi bertingkat ( sediaan dua tingkat atau modifikasi tiga tingkat) Sediaan sekuensial (bifasik) Pembuatan sediaan bifasik berdasarkan pemikiran bahwa siklus haid seorang wanita normal adalah bifasik berupa fase folikuler dan fase sekresi (fase estrogen dan fase progesteron). Jadi, pemberian sediaan sekeunsial mirip siklus haid yang normal, karena biar bagaimanapun pemberian progesteron pada awal siklus haid seperti pada pemberian pil kombinasi monofasik adalah tidak fisiologik. Pada sediaan kombinasi monofasik, estrogen dan progesteron secara bersamaan menekan sekresi gonadotropin sehingga tidak diperlukan dosis tinggi, sedangkan pada sediaan sekuensial esterogen sendiri saja yang menekan sekresi gonadotropin, sehingga

dengan sendirinya diperlukan dosis estrogen yang tinggi. Kemungkinan terjadi kehamilan pada penggunaan sediaan sekuensial lebih besar bila dibandingkan penggunaan pil kombinasi monfasik. Karena pada sediaan sekuensial fase pertamanya hanya mengandung progesteron, tidak dijumpai adanya penekanan terhadap lendir serviks dan endometrium, sedangkan pada sediaan kombinasi monofasik sejak awal telah terjadi penekanan terhadap produksi lendir serviks oleh esttogen dan progesteron. Lagipula untuk mendapatkan efek kontrasepsi yang baik dosis estrogen dalam sediaan sekuensial haruslah tinggi dan ini dapat menyebabkan terjadinya keputihan dan timbulnya perdarahan bercak, yang pada akhirnya akan menimbulkan ketidaknyamanan bagi pemakainya. Selain itu, dosis estrogen yang tinggi merupakan resiko terjadinya tromboemboli dan keganasan pada endometrium. Pada sediaan kombinasi monofasik karena sejak awal efek estrogen telah dipengaruhi oleh gestagen, kemungkinan terjadi efek samping akibat estrogen jauh lebih kecil. Atas dasar inilah akhirnya yang paling banyak digunakan adalah pil kombinasi monofsik III. JENIS-JENIS KONTRASEPSI HORMONAL A. PIL KONTRASEPSI Ada tiga macam pil kontrasepsi, yaitu pil mini, pil kombinasi, dan pil pasca senggama (morning after pill). Yang umum digunakan ialah pil kombinasi antara estrogen dan progesteron. Pil mini yang hanya mengandung progestin dosis rendah biasanya diberikan pada ibu menyusui (hingga kira-kira 9 bulan setelah melahirkan).11 A.1. PIL KOMBINASI Kontrasepsi oral yang kini paling sering dipakai terdiri atas kombinasi estrogen dengan preparat progestasional, yang sangat efektif dari beberapa kontrasepsi, dan banyak perempuan lebih menerimanya. Pil ini diminum setiap hari selama 3 minggu dan dihentikan pemakaiannya selama 1 minggu (tanpa pil atau plasebo) ini biasanya akan terjadi perdarahan dari uterus akibat penghentian pemakaian obat. Estrogennya ialah etinil estradiol atau mestranol, dalam dosis 0,05; 0,08; atau 0,1 mg per tablet. Progestinnya bervariasi : yang merupakan androgen, yang merupakan progesteron, atau mempunyai pengaruh estrogen instrinsik. Daya guna teoritis hampir 100% (tingkat kehamilan 0,1/100 tahun wanita). Daya guna pemakaian ialah 95-98% efektif (tingkat kehamilan 0,7/100 tahun wanita).1,2,5 Kotra Indikasi Kontraindikasi mutlak pemakaian pil kombinasi ialah terdapatnya tromboflebitis atau riwayat tromboflebitis, kelainan serebrovaskuler, fungsi hati tidak atau kurang baik,

adanya keganasan pada kelenjar payudara dan alat reproduksi, adanya kehamilan, dan varises berat.1,5 Kontraindikasi relatif ialah hipertensi, diabetes, perdarahan abnormal pervaginam yang tidak jelas sebabnya, laktasi, fibromioma uterus, penyakit jantung atau ginjal, dan lainlain.1 Mekanisme Kerja Preparat steroidal gabungan estrogen-progestin memiliki khasiat kontrasepsi yang multipel. Salah satu efek yang penting adalah mencegah ovulasi yang hampir dipastikan akan terjadi lewat supresi faktor-faktor pelepasan hipotalamus, yang selanjutnya menimbulkan sekresi hormon FSH dan LH yang tidak tepat oleh kelenjar hipofise. Efek kontrasepsi lainnya yang diinduksi oleh preparat steroid kombinasi adalah perubahan maturasi endometrium yang membuatnya tidak tepat untuk implantasi yang berhasil bila blastokista akan terbentuk dan produksi lendir serviks yang menghalangi penetrasi sperma. Peranan yang mungkin terdapat pada perubahan motilitas tuba dan uterus yang ditimbulkan oleh hormon-hormon tersebut, bila ada, masih belum jelas. Sebagai konsekuensi kerja preparat kontrasepsi oral kombinasi estrogen plus progestin ini, bila diminum setiap hari selama 3 minggu dari setiap 4 minggu,menghasilkan perlindungan mutlak terhadap pembuahan. Namun demikian pengecualian yang penting adalah periode sekitar 1 minggu sesudah pemberian kontrasepsi oral. Sebenarnya pada wanita dengan folikel yang matur dan segera akan mengalami ovulasi yang spontan, maka ovulasi sesungguhnya dapat dipicu dengan memulai pemberian kontrasepsi oral dalam situasi ini.2,3,6,7 Efek Samping Pil kombinasi estrogen plus progestin yang diminum 3 minggu dari setiap 4 minggu, merupakan bentuk kontrasepsi reversibel paling efektif yang tersedia. Angka kegagalan 0,32 per 100 tahun wanita atau lebih rendah pernah tercatat (Vassey dkk, 1982).2 Efek menguntungkan lainnya yang pernah dilaporkan adalah berkurangnya jumlah darah menstruasi, menurunnya insiden dismenore, kista ovari fungsional serta salpingitis, dan lebih sedikitnya keluhan premenstruasi; berkurangnya insiden kanker endometrium dan ovarium; penurunan frekuensi berbagai penyakit payudara yang benigna serta mungkin pula kanker payudara; dan lebih sedikitnya insiden artritis rematoid.1,6 Efek yang merugikan dapat dibagi dalam 2 golongan, yaitu : Efek samping yang ringan berupa pertambahan berat badan, perdarahan diluar daur haid, enek-enek, depresi, alopesia, melasma kandidiasis, amenorea pascapil, retensi

cairan, dan keluhan-keluhan gastrointestinal. Umumnya efek samping ini timbul beberapa bulan pertama pemakaian pil.1,5 Efek samping yang berat adalah tromboemboli, yang mungkin terjadi karena peningkatan aktivitas faktor-faktor pembekuan, atau mungkin juga karena pengaruh vaskuler secara langsung. Pengguna kontrasepsi oral, terutama wanita diatas 35 dan merokok, meningkatkan resiko infark miokard dan stroke. Penyakit arterial sebagian besar dihubungkan dengan efek dari progesteron. Kontrasepsi oral juga meningkatkan tekanan darah, kadang-kadang sampai ke tahap hipertensi. Volume darah ditingkatkan oleh retensi cairan, dan sekresi angiotensin bertambah.1,5 A.2. PIL MINI Pil mini mengandung progestin saja, tanpa estrogen. Dosis progestinnya pun kecil; 0,5 mg atau kurang. Pil mini harus diminum tiap hari, juga pada waktu haid.1,2,5 Indikasi : 1. Kontraindikasi estrogen atau tidak cocok dengan estrogen. 2. Umur diatas 35 tahun. 3. Perokok 4. Hipertensi 5. Menyusui 6. Pasien diabetes.5 Kontraindikasi 1. Sebelumnya pernah hamil ektopik 2. Kista ovarium 3. Kanker payudara 4. Penyakit hati aktif, penyakit arterial, obat seperti valproate, spironolaktone, dan meprobamate.3 Mekanisme Kerja Para peneliti belum mengetahui benar mengenai mekanisme kerjanya, tetapi mungkin sekali pencegahan kehamilan terjadi oleh gabungan beberapa efek, termasuk motilitas tuba, pengaruh terhadap korpus luteum, endometrium, lendir serviks, dan juga pencegahan ovulasi.1 Tidak seperti pil kombinasi, pil mini dapat menghambat ovulasi. Tetapi, keefektifannya menimbulkan pembentukan mukus serviks yang menghalangi penetrasi sperma serta mengubah maturasi endometrium yang cukup untuk mencegah keberhasilan implantasi blastokist. Karena mukus tidak akan tahan lebih dari 24 jam, pil mini yang diminum pada waktu yang sama tiap hari akan efektif.2,6 Keuntungan

Pil mini efek minimal pada metabolisme karbohidrat dan koagulasi, dan tidak menyebabkan eksaserbasi hipertensi. Dapat ideal bagi beberapa wanita yang memiliki faktor resiko komplikasi kardiovaskuler. Disini termasuk juga wanita yang memiliki riwayat trombosis, hipertensi, atau migren, atau wanita lebih dari 35 tahun dan perokok. Pil mini juga pilihan yang tepat bagi ibu menyusui.6 Kerugian Kekurangan utama dari pil mini adalah kegagalan kontrasepsi. Dengan kegagalan, relatif meningkatkan proporsi kehamilan ektopik. Adapun efek samping utama pil mini beberapa perdarahan tidak teratur, dan spotting.1,6 A.3. KONTRASEPSI POSTKOITUS Stilbestrol yang diberikan setelah senggama untuk mencegah kehamilan yang tidak diinginkan, dikenal dengan instilah morning-after pill. Kuchara (1971) melaporkan tidak terjadinya kehamilan pada 1.000 orang wanita yang tidak mendapatkan perlindungan kontrasepsi secara memadai pada saat senggama namun dalam waktu 3 hari mulai menggunakan stilbestrol, 25 mg dua kali sehari, selama 5 hari berikutnya.2 Alat kontrasepsi darurat yang dikenal denganMorning After Pill kian populer terutama di masyarakat barat yang dikenal permisif dalam masalah seks. Morning After Pill termasuk jenis alat kontrasepsi darurat yang idealnya hanya dipakai pada kondisi pelaku hubungan seks tidak menginginkan terjadinya pembuahan padahal, saat melakukan hubungan seks mereka tidak menggunakan alat kontrasepsi apapun baik itu pil, spiral, susuk atau bahkan kontrasepsi instan seperti kondom.12 Mekanisme kerja senyawa ini belum dipahami sepenuhnya tetapi sangat besar kemungkinannya terdapat gangguan implantasi dengan cara tertentu. Nusea dan vomiting merupakan efek samping yang umum terjadi. Efek teratogenik yang mungkin terdapat pada pemakaian obat tersebut harus dipikirkan bila kehamilan tetap terjadi. Pencegahan kehamilan juga pernah dilaporkan dengan pemakaian etinil estradiol atau preparat ekuina estrogen konjugasi (Premarin) kalau diminum dengan dosis tinggi selama waktu beberapa hari.2 Yupze dkk. (1982) mengguankan preparat estrogen plus progestin dimana kombinasi tersebut digunakan dalam 2 kali pemberian dengan interval waktu 12 jam yang dimulai dalam waktu 72 jam setelah senggama. Pada suatu uji coba yang melibatkan 692 orang wanita, angka kehamilan yang terlihat pada para wanita tersebut adalah 1,6 persen. 2 B. KB SUNTIK Suntikan hormonal adalah hormon steroid yang dipakai untuk keperluan kontrasepsi dalam bentukan suntikan. Untuk mengatasi kerepotan dari pelaksanaan dari Pil Mini, maka preparat injeksi diperkenalkan.3,8

Contohnya adalah :

Suntikan progestin

Depomedroxyprogesteron acetate (DMPA). Preparat : DEPOPROVERA Norethisterone enanthate (NETO / NEE/Net-En). Preparat: NORISTERAT Suntikan kombinasi dari estrogen dan progesteron yang diberikan tiap bulan. Depo Medroxy Progesteron Acetat 25 mg + Estradiol Sipionat 5 mg. Preparat: CYCLOFEM 3,8 Dua preparat tersebut dapat digunakan untuk penggunaan waktu yang panjang. Medroxyprogesterone acetat 150 mg setiap 3 bulan serta 300 mg setiap 6 bulan, sedangkan norethisterone oenanthate 200 mg 2 bulan. Suntikan diberikan pada hari ke 3-5 hari pasca persalinan, segera setelah keguguran, dan pada masa interval sebelum hari kelima haid. Teknik penyuntikan ialah secara injeksi intramuskular dalam, di daerah m. Gluteus maksimus atau deltoideus. 1,3,5,11 Kontraindikasi 8 1. DMPA dan Net-En Kehamilan Perdarahan abnormal uterus Karsinoma payudara Karsinoma traktus genitalia (kecuali karsinoma endometrium) Penyakit hati Kelainan tromboemboli Diabetes Melitus Nulipara 2. DMPA 25 mg + Estradiol Sipionat 5 mg Kehamilan Perdarahan abnormal uterus

Karsinoma payudara Karsinoma traktus genitalia (kecuali karsinoma endometrium) Penyakit hati Kelainan tromboemboli Diabetes Melitus Nulipara Sekresi abnormal dari puting susu dan tidak sementara menetekkan bayinya

Pemakaian obat-obatan : barbiturat, antikonvulsan, rifampisin, steroid sistemik, obat-obatan yang mempengaruhi sistem kardiovaskuler atau hepatik atau obat yang digunakan sebagai profilaksis untuk jangka panjang terhadap sistem kardiovaskuler atau hepatik. Mekanisme Kerja 1. DMPA : 2,3,5,6,8 Menghambat ovulasi Mempengaruhi endometrium sehingga menghambat implantasi dari blastosis Mengubah lendir serviks menjadi lebih kental Menghambat transportasi ovum melalui saluran tuba.

1. NEE/Net-EN : 8 Mekanisme kerja Net-En serupa dengan DMPA, tetapi ada perbedaan sedikit, Net-En tidak begitu kuat menghambat hipofisis dan hipotalamus, tetapi cukup hanya dengan mengganggu keseimbangan FSH dan LH. 1. DMPA 25 mg + Estradiol Sipionat 5 mg : 8 Mekanisme kerja nya sama dengan DMPA. Penambahan estrogen dimaksudkan agar endometrium berada dalam keadaan yang sama dengan siklus haid normal. Keuntungan Keuntungan pada preparat suntikan medroksiprogesteron asetat (Depo-Provera) adalah keefektifan kontrasepsinya yang sebanding dengan preparat kotrasepsinya yang sebanding dengan preparat kontrasepsi oral kombinasi. Kerjanya yang berlangsung lama dengan penyuntikan yang diperlukan hanya sebanyak dua hingga empat kali setahun. Laktasi yang cenderung untuk tidak terganggu dan dapat digunakan oleh wanita > 35 tahun. 2,6 Kerugian Kerugian yang ditimbulkan adalah gangguan haid berupa siklus haid yang memendek atau memanjang, perdarahan yang banyak atau sedikit, perdarahan yang tidak teratyr atau perdarahan bercak yang biasanya dirasakan pada bulan pertama penyuntikan serta amenore yang timbul pada kebanyakan wanita setelah satu atau dua tahun setelah penyuntikan.. Keadaan anovulasi yang berlangsung lama sesudah pemakaiannya dihentikan. Berat badan bertambah, sakit kepala. Pada sistem kardiovaskuler efeknya sangat sedikit, mungkin ada sedikit peninggian dari kadar insulin dan penurunan HDLkolesterol. 2,6,8 C. IMPLANT / NORPLANT

Kerepotan untuk datang ke klinik dan ketergantungan pada suntikan dapat diatasi dengan inplant subdermal long acting (3-5 tahun). Sistem Norplant, yang memberikan progestin levonorgestrel dalam sebuah wadah silastik yang ditanamkan intradermal.2,3 Implant Norplant I berisi 6 kapsul silastik (polydimethyl silaxone) masing-masing berisi 36 mg. Levonorgestrol suatu sintetik progestin dalam bentuk kristal kering dimana ujungujungnya ditutup dengan silastic medical grade adhesive dengan diameter 2,4 mm dan panjang 3,4 cm. Melepaskan 85 g per hari selama 3 bulan, 50 g tiap hari sampai 18 bulan dan setelah itu sampai tingkat akhir 30 g. Implant ini efektif untuk 5 tahun. 3,8 Norplant II memiliki 2 tangkai mengandung masing-masing 70 mg levonorgestrel. Tiap tangkai melepaskan 50 g hormon tiap hari dan memberikan proteksi untuk 3 sampai 5 tahun. 3,8 Indikasi 8 Wanita yang sudah punya anak dan tidak ingin hamil dalam waktu 5 tahun atau tidak ingin anak lagi tetapi tidak mau mengalami proses implantasi. Tidak cocok dengan estrogen dan AKDR. Kontraindikasi 8 Hamil atau diduga hamil Perdarahan pervaginam yang tidak diketahui penyebabnya Kanker payudara, jenis kanker lain yang ada kaitannya dengan ketergantungan hormon Penyakit hati akut Gangguan tromboemboli atau thrombophlebitis Penyakit jantung koroner atau gangguan serebrovaskuler Diabetes melitus Mekanisme Kerja 1. Menekan ovulasi 2. Membuat lendir serviks menjadi kental

3. Menekan perkembangan siklik endometrium sehingga mengganggu proses implantasi 1,8,11 Efek Samping Efek samping utama dari kontrasepsi progestin adalah gangguan siklus haid berupa perdarahan tidak teratur, perdarahan bercak, dan amenorea. Nyeri kepala terutama disertai pandangan kabur, nyeri perut bagian bawah/nyeri panggul, Norplant hilang, nyeri payudara, ikterus, thrombophlebitis, thromboemboli, gangguan libido, depresi, perubahan berat badan, mual, pusing, dan gelisah.1,8

Implanon implanon adalah jenis kontrasepsi susuk tidak terdegradasi yang terdiri dari simpai kopolimer etilen-viniasetat (EVA) sebagai pembawa substansi aktif senyawa progestin 3-keto-dogestrel (3-keto-DSG). Bentuknya batang putih lentur dengan panjang 40 mm dan diameter 2 mm dalam suatu jarum yang terpasang pada inserter khusus berbentuk semprit sekali pakai dalam kemasan steril kantong aluminium.11 Implanon memiliki keuntungan dengan menggunakan satu tangkai berisi 67 mg desogestrel. Impalnon hanya menggunakan implant progesteron. Dan mengeluarkan 30 g per hari dan implant tetap efektif sampai 3 tahun.3,5 Indikasi Sebagai kontrasepsi jangka panjang untuk menjarangkan / dan / atau mengakhiri kesuburan selama laktasi, serta bila penggunaan estrogen merupakan kontraindikasi.11 Kontraindikasi Relatif Diduga atau diketahui hamil, tromboemboli aktif, perdarahan vagina tanpa sebab jelas, penyakit hati akut, tumor jinak atau ganas, dan dugaan menderita kanker payudara.11 Mekanisme Kerja Implanon menghalang ovulasi, dinding endometrium menipis maka menyukarkan penempelan embrio. Mukus di kawasan serviks juga menebal menyukarkan sperma untuk berenang ke kawasan uterus. 10 Efek Samping Terutama berupa gangguan siklus haid, yaitu perdarahan tak teratur dan amenore. Aliran haid menjadi sedikit dan sakit ketika haid berkurang. Menyebabkan kitaran yang tidak tetap atau tidak datang haid bagi beberapa bulan. Semua peringatan, efek samping, dan perhatian khusus yang berlaku untuk metode kontrasepasi yang hanya mengandung progesterone juga berlaku untuk Inplanon.10,11 D. ALAT KONTRASEPSI DALAM RAHIM ( AKDR / IUD ) AKDR adalah alat yang terbuat dari polietilen dengan atau tanpa metal / steroid dan ditempatkan dalam rongga rahim.8 Dimasa lampau AKDR dibuat dalam berbagai bentuk dan bahan berbeda-beda, saat ini AKDR yang tersedia di seluruh dunia hanya 3 tipe saja : 1. Inert, dibuat dari plastik (Lipppes Loop) atau baja anti karat (The Chinese Ring) 2. Mengandung tembaga, CuT 380 A, CuT 200 C, Multiload ( ML Cu 250 dan 375 ) dan Nova T 3. Mengandung hormon steroid : seperti progesteron dan levonorgetrel.8 Salah satu AKDR yang saat ini beredar adalah yang berbentuk T, yang mengandung progesteron atau levanorgestrel, AKDR yang mengandung 38 mg progesteron akan

melepaskan 65 mg prgesteron dan disimpan dalam endometrium. Kadar yang dikeluarkan tersebut terlalu rendah sehingga tidak memiliki efek sistemik, dan fungsi ovarium pun tidak terpengaruh sama sekali. Mekanisme kerja untuk AKDR yang mengandung hormon progesteron : 1. Gangguan proses pematangan proliferasi-sekretoris sehingga timbul penekanan terhadap endometrium dan terganggunya proses implantasi ( endometrium tetap dalam fase proliferasi ) 2. Lendir serviks lebih kental / tebal karena pengaruh progestin. 3. Menekan ovulasi 5,8,16 Preparat levonogestrel (Mirena). Preparat ini melepaskan levonogestrel ke dalam uterus secara relatif 20 g per hari, dimana menurunkan efek sistemik dari progestin. Terbuat dari T-shaped struktur polyethylene memiliki batang yang dibungkus dengan silinder polydimetilsiloxane / levonogestrel campuran untuk mengatur kecepatan pelepasan hormon. Dan dimasukkan seperti AKDR normal. 5,6 Indikasi 8 Menyukai metode kontrasepsi yang efektif, berjangka panjang, tetapi belum menerima metode permanen saat ini. Menyukai metode praktis (tidak perlu metode barrier atau menelan pil setiap hari). Punya anak satu atau lebih Sedang menyusui dan ingin memakai kontrasepsi Wanita perokok berat (? 15 batang rokok sehari), umur 35 tahun Berisiko rendah mendapat PMS Kontra Indikasi 8 Dugaan hamil Sedang atau sering terkena infeksi panggul (gonorea, chlamidia) atau servisitis dengan cairan mukopurulen Menderita keputihan berbau dari saluran serviks/gonorea atau servitis chlamedia.

Perdarahan vagina yang tidak diketahui sebabnya Kembalinya kesuburan dengan cepat setelah pencabutan AKDR adalah keuntungan dari AKDR, selain itu AKDR efektif sampai 3 tahun. Angka kegagalan pengguan Mirena 0,1 % dmana lebih rendah dibandingkan CuT 380 A.5,6 DAFTAR PUSTAKA

1. Wiknjosastro Hanifa, Bari Saifuddin Abdul, Rachinhadhi Trijatmo, editor. Kontrasepsi. In: Ilmu Kebidanan. 3rd ed. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka Sarwono

Prawirodihardjo; 2002. 2. Suryono Joko, Hartono Andry, alih bahasa. Keluarga Berencana. In: Obsetri Williams. 18th ed. Cunningham: EGC. 3. VG Padubidri, Ela Anand. Birth Control. In: Prep Manual For Undergraduates Gynecology. New Delhi: Elsevier: 2005. 4. Keluarga Berencana.[cited 2008 Mar 17];7 screens. Available in http://situs.kesrepro.info/kb/referensi4.htm 5. Hanretty Kevin P. Contraception. In: Obstetrics Illustrared. 6th ed. Glasgow. 2003. 6. Baziad Ali. Kontrasepsi Hormonal. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirodihardjo; 2002. 7. Pil KB dan Cara Kerjanya. [cited 2008 Mar 12]; 3 screens. Available in http://www.medicastore.com/oc/pilkbplus.htm 8. Manoe IMS Murah, Rauf Syahrul, Usmany Hendrie, editor. Kesehatan Reproduksi Wanita. In: Pedoman Diagnosis Dan Terapi Obstetri Dan Ginekologi. Ujung Pandang: Bagian SMF Obstetri Dan Ginekologi FKUH: 1999. 9. Hormon Implants. [cited 2008 Feb 28]; 2 screens. Available in http://www.wramc.army.mil/Patients/diseases/wh/c6/Pages/s6.aspx 10. Perancangan Keluarga. [cited 2008 Mar 2008]; 8 screens. Available in http://www.metromaternity.com/contraceptive-m.html 11. Mansjoer Arif, dkk, editor. Kontrasepsi. In: Kapita Selekta Kedokteran Jilid 1. 3rd ed. Jakarta. Media Aesculapius FKUI. 2001. 12. After Morning Pill Populer di Barat. [Online] 2002 Sep 10 [cited 2008 Apr 1]; 1 screen Available in www.pdpersi.co.id/images/news/content/morning.jpg 13. Bird control. [cited 2008 Mar 12]; 6 screens. Available in birthcontrolbuzz.com/uploads/file-398_md.jpg 14. Image. [cited 2008 Apr 1]; 1 screen; Available in http://www.profamilia.org.co//200501211403100.02.jpg 15. Contaception (medical methods). [Online] 2008 Feb 16;[cited 2008 Mar 12];14 screens.Available in http://en.citizendium.org/wiki/Contraception 16. Contraception. [Online] 2008; [cited 2008 Mar 12]. Available in: http://www.about.com/contraception/ss/watersex_6.htm