Anda di halaman 1dari 5

Kasus 1 Ny. A dan Tn. Y datang ke poli dengan keluhan belum mempunyai keturunan, lama menikah sudah 2 tahun.

3. Faktor apa yang mempengaruhi terjadinya peristiwa tersebut dan jelaskan masing-masing factor.

WANITA Terutama terkait dengan wanita, terdapat beberapa faktor yang dapat mempengaruhi terjadinya infertilitas pada wanita. Faktor-faktor tersebut antara lain adalah: 1. Faktor usia Ketika seorang wanita semakin berumur, maka semakin kecil pula kemungkin wanita tersebut untuk hamil. Kejadian infertilitas berbanding lurus dengan pertambahan usia wanita. Wanita yang sudah berumur akan memiliki kualitas oosit yang tidak baik akibat adanya kelainan kromosom pada oosit tersebut. Disamping itu wanita yang sudah berumur juga cenderung memiliki gangguan fungsi kesehatan sehingga menurunkan pula fungsi kesuburannya. Kejadian abortus juga meningkat ketika kehamilan terjadi pada ibu yang sudah berumur. Wanita dengan rentang usia 19-26 tahun memiliki kemungkinan hamil 2 kali lebih besar dari pada wanita dengan rentang usia antara 35-39 tahun. Pada tabel dibawah ini akan terlihat besarnya kesempatan bagi seorang wanita untuk hamil dikaitkan dengan faktor usia. Tabel 1. Kesempatan hamil wanita terhadap faktor usia.
Usia wanita Sampai dengan usia 34 tahun 35 40 tahun 41 45 tahun Kesuburan (%) 90 % Menurun menjadi 67 % Menurun menjadi 15 %

2. Faktor berat badan dan aktivitas olah raga yang berlebihan Walaupun sebagian besar hormon estrogen dihasilkan oleh ovarium, namun 30% estrogen tersebut dihasilkan juga oleh lemak tubuh melalui proses aromatisasi dengan androgen sebagai zat pembakalnya. Jika seorang wanita memiliki berat badan yang berlebih (over weight) atau mengalami kegemukan (obesitas), atau dengan istilah lain memiliki lemak tubuh 10%-15% dari lemak tubuh normal, maka wanita tersebut akan menderita gangguan pertumbuhan folikel di ovarium yang terkait dengan sebuah sindrom yaitu sindrom ovarium poli kistik (SOPK). Sindrom ini juga terkait erat dengan resistensi insulin dan diabetes melitus.

Disamping berat badan yang berlebih maka berat badan yang sangat rendah juga dapat mengganggu fungsi fertilitas seorang wanita. Zat gizi yang cukup seperti karbohidrat, lemak dan protein sangat diperlukan untuk pembentukkan hormon reproduksi, sehingga pada wanita kurus akibat asupan gizi yang sangat kurang akan mengalami defisiensi hormon reproduksi yang berakibat terhadap peningkatan kejadian infertilitas pada wanita tersebut. Wanita-wanita yang sering mengalami masalah dengan asupan gizi tersebut sering kali terkait dengan hal-hal dibawah ini: 1. anoreksia nervosa atau bulimia 2. vegetarian yang fanatik 3. pelari maraton dan penari profesional 3. Gaya hidup.

Merokok dapat menjadi salah satu penyebab infertilitas. Disamping itu penyalahgunaan obat narkotika juga dapat menurunkan produksi hormon reproduksi. Alkohol telah pula terbukti menjadi penyebab kegagalan proses implantasi.

4. Faktor lingkungan Beberapa zat polutan seperti ftalat atau dioxin saat ini dicurigai memiliki kaitan yang erat dengan tingginya kejadian infertilitas akibat endometriosis terutama bagi wanita yang tinggal di daerah perkotaan. 5. Depresi dan kejadian infertilitas Sudah banyak penelitian yang melaporkan bahwa kejadian stress psikis sangat terkait erat dengan peningkatan produksi corticotropin releasing hormone (CRH) dari hipotalamus. yang dapat memberikan pengaruh buruk terhadap produksi hormon reproduksi.

Penyebab infertilitas sangat banyak sekali dan beberapa diantaranya adalah sebagai berikut: 1. Penyakit radang panggul Penyakit radang panggul yang disebabkan infeksi beberapa kuman patogen sudah dilaporkan menjadi salah satu penyebab utama infertilitas. Kuman patogen yang seringkali menjadi penyebab infertilitas adalah:

Klamidia trakomatis Neseria gonore Bakterial vaginosis Tuberkulosis

Gejala penyakit radang panggul tidak selalu tampil dalam bentuk akut, namun seringkali hanya tampil dalam bentuk infeksi subklinik yaitu hanya dalam bentuk nyeri panggul yang ringan saja yang disertai dengan keputihan yang tidak terlampau banyak. Infeksi kuman patogen ini dapat menyebabkan kerusakan terutama pada tuba fallopii sehingga menimbulkan infertilitas. Disamping disebabkan oleh bakteri, maka keputihan di vagina dapat disebabkan oleh jamur kandida.

2. Endometriosis Endometriosis memiliki kaitan erat dengan kejadian infertilitas. Kurang lebih 30-50% wanita dengan endometriosis adalah infertilitas dan hampir 80% wanita dengan infertilitas ternyata menderita endometriosis. Disamping terkait dengan infertilitas, endometriosis juga terkait erat dengan nyeri panggul, nyeri haid dan nyeri sanggama. Endometriosis dapat tampil dalam bentuk kista endometriosis pada ovarium atau susukan endometriosis dalam rongga peritoneum yang seringkali disertai dengan perlekatan hebat didaerah rongga panggul. Kaitan langsung endometriosis dengan infertilitas dapat terjadi jika susukan endometriosis atau kista endometriosis mendesak tuba fallopii sehingga menghambat bertemunya sperma dan ovum. Susukan endometriosis juga dapat tumbuh di ovarium sehingga menghambat terjadinya ovulasi. Endometriosis stadium berat juga dapat menimbulkan perlekatan berat di rongga panggul sehingga menyebabkan distorsi dari tuba fallopii. Teori penyebab terjadinya endometriosis sangat banyak sekali, namun secara garis besar dapat disebabkan oleh kerusakan pada faktor genetik, faktor endokrin, faktor imunitas dan faktor mekanik. Saat ini diketahui pula bahwa zat polutan seperti dioxin dapat pula menjadi penyebab terjadinya endometriosis. 3. Sindrom Ovarium Polikistik Sindrom ovarium polikistik (SOPK) merupakan suatu kondisi pada wanita yang ditandai dengan oligo-ovulasi/an-ovulasi, gambaran polikistik pada ovarium, yang dapat disertai dengan adanya baik gejala klinik maupun laboratorik dari hiperandrogenism. Akibat adanya oligo-ovulasi/anovulasi maka kadar progesteron pada pasien ini akan selalu rendah dan pasien seringkali datang dengan keluhan sering tidak mendapat haid. Kadar androgen yang relatif tinggi didalam sirkulasi darah dapat menyebabkan timbulnya gangguan kesehatan seperti obesitas, banyak jerawat, tumbuh banyak bulu/rambut, suara berat dan klitoris yang membesar.

PRIA Ada banyak biologis dan faktor lingkungan yang dapat menyebabkan jumlah sperma rendah. Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi ketidak suburan sperma dan jumlah sperma yang rendah antara lain faktor biologis atau faktor lingkungan. Berikut adalah daftar jika kondisi yang dapat menyebabkan jumlah sperma rendah pada pria: 1. Usia. Tingkat kesuburan biasanya lebih dari 60% untuk pria di bawah 39 tahun, tetapi untuk mereka di atas usia itu sudah terjadi penurunan. 2. Stres fisik atau mental. 3. Stres emosional. Stres dapat mengganggu hormon GnRH dan mengurangi jumlah sperma. 4. Masalah seksual. Impotensi, ejakulasi dini, atau masalah psikologis atau hubungan dapat berkontribusi untuk infertilitas, meskipun kondisi ini biasanya bisa diobati. 5. Impotensi, ejakulasi dini, atau masalah psikologis atau hubungan dapat berkontribusi untuk infertilitas, meskipun kondisi ini biasanya sangat diobati. 6. Testis terpapar dalam suhu yang panas. (seperti dari demam tinggi, sauna, dan kolam air panas) sementara dapat menurunkan jumlah sperma. 7. Penyalahgunaan Zat Kokain atau menggunakan ganja berat tampaknya untuk sementara mengurangi jumlah dan kualitas sperma sebanyak 50%. 8. Merokok Merokok merusak sperma, motilitas sperma, mengurangi sperma umur, dan dapat menyebabkan perubahan genetik yang mempengaruhi keturunannya. 9. Malnutrisi dan Kekurangan Gizi.Kekurangan nutrisi tertentu, seperti vitamin C, selenium, seng, dan folat, mungkin faktor risiko tertentu untuk jumlah sperma rendah dalam kasus tersebut. 10. Obesitas.Beberapa penelitian, tapi tidak semua, telah menemukan hubungan antara obesitas pada pria dan jumlah sperma rendah. 11. Bersepeda.Tekanan dari kursi sepeda bisa merusak pembuluh darah dan saraf yang bertanggung jawab untuk ereksi. 12. Faktor Genetik 13. Faktor Lingkungan. Bahaya lingkungan (racun, bahan kimia, infeksi) dapat mengurangi jumlah sperma baik dengan efek langsung pada fungsi testis atau pada sistem hormon, meskipun sejauh mana pengaruh dan serangan lingkungan tertentu yang terlibat sering kontroversial. Beberapa bahan kimia yang mempengaruhi laki-laki sperma produksi adalah: Oksigen Radikal Bebas, bahan kimia emulasi, Estrogen, pestisida (DDT, aldrin, dieldrin, PCPs, dioxin, furan dan), bahan kimia pelembut plastik seperti Phthalates, hidrokarbon (etilbenzena, benzena, toluena dan xilena)

14. Paparan Logam Berat. Paparan kronis logam berat seperti timah, kadmium, arsenik atau dapat mempengaruhi produksi sperma. 15. Radiasi Sinar-X. 16. Varikokel. Varikokel adalah varises vena yang terhubung ke testis.