Anda di halaman 1dari 8

TUGAS FORTIFIKASI PANGAN PENGAWASAN FORTIFIKASI PADA MINYAK

TUGAS FORTIFIKASI PANGAN PENGAWASAN FORTIFIKASI PADA MINYAK Di susun oleh : Rendra Gusti P NIM.A1M008037 KEMENTERIAN

Di susun oleh :

Rendra Gusti P

NIM.A1M008037

KEMENTERIAN PENDIDIKAN NASIONAL UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN FAKULTAS PERTANIAN

ILMU DAN TEKNOLOGI PANGAN PURWOKERTO

2012

PENDAHULUAN

  • A. Latar Belakang

Fortifikasi pangan adalah penambahan satu atau lebih nutrisi pada makanan. Tujuan utama adalah untuk meningkatkan tingkat konsumsi dari zat gizi yang ditambahkan untuk meningkatkan status gizi populasi. harus diperhatikan bahwa peran pokok dari fortifikasi pangan adalah pencegahan detisiensi: dengan demikian menghindari terjadinya gangguan yang membawa kepada penderitaan manusia dan kerugian sosio ekonomis. Namun demikian, fortitkasi pangan juga digunakan untuk menghapus dan mengendalikan defisiensi zat gizi dan gangguan yang diakibatkannya. Fortifikasi pangan dengan vitamin A memegang peranan penting untuk mengatasi problem kekurangan vitamin A dengan menjembatani jurang antara asupan vitamin A dengan kebutuhannya. Fortifikasi dengan vitamin A adalah strategi jangka panjang untuk mempertahankan kecukupan vitamin A.

Di Indonesia, kekurangan vitamin A masih jadi masalah. Data menunjukkan sekitar sembilan juta balita dan satu juta perempuan Indonesia yang kekurangan vitamin ini. Umumnya anak-anak di Indonesia, hanya mengkonsumsi sekitar 40 persen vitamin A yang berasal dari asupan makanan, sementara kebutuhan ideal per hari seharusnya sekitar 60 persen. Karena itu fortifikasi vitamin A pada minyak goreng merupakan suatu cara untuk memenuhi kebutuhan asupan vitamin tersebut, mengingat sekitar 70 persen masyarakat di Indonesia setiap harinya mengkonsumsi minyak goreng. Kekurangan vit A pada anak-anak masih merupakan masalah yang perlu diatasi, biasanya banyak terjadi pada anak di bawah usia lima tahun, yang akan mempengaruhi ketahanan tubuh.

Fortifikasi minyak goreng merupakan salah satu cara yang efektif untuk menyediakan vitamin A bagi anak-anak dan balita, juga masyarakat menengah ke bawah. Fortifikasi minyak goreng tidak berbahaya dan tidak akan menyebabkan keracunan karena bentuknya berupa liquid (cairan) serta sudah disesuaikan dengan standar yang berlaku.

PEMBAHASAN

  • A. Fortifikasi Pangan

Fortifikasi pangan adalah penambahan satu atau lebih zat gizi (nutrien) kepangan.

Tujuan utama adalah untuk meningkatkan tingkat konsumsi dari zat gizi yang ditambahkan

untuk meningkatkan status gizi populasi. harus diperhatikan bahwa peran pokok dari fortifikasi

pangan adalah pencegahan detisiensi: dengan demikian menghindari terjadinya gangguan yang

membawa kepada penderitaan manusia dan kerugian sosio ekonomis. Namun demikian,

fortitkasi pangan juga digunakan untuk menghapus dan mengendalikan defisiensi zat gizi dan

gangguan yang diakibatkannya.

fortification paling tepat menggambarkan proses dimana zat gizi makro dan zat gizi

mikro ditambahkan kepada pangan yang dikonsumsi secara umum. Untuk mempertahankan

dan untuk memperbaiki kualitas gizi, masing-masing ditambahkan kepada pangan atau

campuran pangan. Secara umum fortifikasi pangan dapat diterapkan untuk tujuan-tujuan

berikut:

  • 1. Untuk memperbaiki kekurangan zat-zat dari pangan (untuk memperbaiki defisiensi akan zat gizi yang ditambahkan).

  • 2. Untuk mengembalikan zat-zat yang awalnya terdapat dalam jumlah yang siquifikan dalam pangan akan tetapi mengalami kehilangan selama pengolahan.

3.

Untuk meningkatkan kualitas gizi dari produk pangan olahan (pabrik) yang

digunakan sebagai sumber pangan bergizi misal : susu formula bayi.

4.

Untuk menjamin equivalensi gizi dari produk pangan olahan yang menggantikan

pangan lain, misalnya margarin yang difortifikasi sebagai pengganti mentega

  • B. Fortifikasi Vitamin A Pada Minyak Goreng.

Vitamin A berguna untuk pertumbuhan, penglihatan, reproduksi dan pemeliharaan sel epitel. Saat ini, masih ada 0,8 milyar orang di dunia defisiensi vitamin A. 4000 balita di dunia meninggal karena kekurangan vitamin A. Di Indonesia, 1 dari 2 anak balita kemungkinan besar mengalami Kurang Vitamin A (KVA). Lebih dari 100 juta orang Indonesia mengalami defisiensi zat gizi dan 10 juta balita mengalami KVA. KVA adalah ancaman daya saing bangsa (Martianto, 2010). Selain itu, berdasarkan data organisasi Kesehatan Dunia (WHO), 25 - 30 % kematian bayi dan balita disebabkan kekurangan vitamin A. Sedangkan di Indonesia sekitar 14,6% anak di atas usia 1 tahun mengalami kekurangan vitamin A dan berdampak pada penglihatan.

Fortifikasi vitamin A ke dalam minyak goreng merupakan salah satu cara untuk menyediakan vitamin A bagi anak-anak dan balita, termasuk masyarakat karena dinilai tidak berbahaya, tidak akan menyebabkan keracunan, tidak akan mengganggu pola makan masyarakat serta tidak akan banyak memengaruhi harga.

Fortifikasi minyak goreng merupakan salah satu cara yang efektif untuk menyediakan vitamin A bagi anak-anak dan balita, juga masyarakat menengah ke bawah. Umumnya anak- anak di Indonesia, hanya mengkonsumsi sekitar 40 persen vitamin A yang berasal dari asupan makanan, sementara kebutuhan ideal per hari seharusnya sekitar 60 persen. Karena itu

fortifikasi vitamin A pada minyak goreng merupakan suatu cara untuk memenuhi kebutuhan asupan vitamin tersebut, mengingat sekitar 70 persen masyarakat di Indonesia setiap harinya mengkonsumsi minyak goreng. Kekurangan vit A pada anak-anak masih merupakan masalah yang perlu diatasi, biasanya banyak terjadi pada anak di bawah usia lima tahun, yang akan mempengaruhi ketahanan tubuh.

  • C. Pengawasan Mutu Fortifikasi Minyak Goreng

Pengawasan mutu merupakan program atau kegiatan yang tidak dapat terpisahkan dengan dunia industri, yaitu dunia usaha yang meliputi proses produksi, pengolahan dan pemasaran produk. Industri mempunyai hubungan yang erat sekali dengan pengawasan mutu karena hanya produk hasil industri yang bermutu yang dapat memenuhi kebutuhan pasar, yaitu masyarakat konsumen. Seperti halnya proses produksi, pengawasan mutu sangat berlandaskan pada ilmu pengetahuan dan teknologi. Makin modern tingkat industri, makin kompleks ilmu pengetahuan dan teknologi yang diperlukan untuk menangani mutunya. Demikian pula, semakin maju tingkat kesejahteraan masyarakat, makin besar dan makin kompleks kebutuhan masyarakat terhadap beraneka ragam jenis produk pangan. Oleh karena itu, sistem pengawasan

mutu pangan yang kuat dan dinamis diperlukan untuk membina produksi dan perdagangan produk pangan.

Pengawasan mutu pangan juga mencakup penilaian pangan, yaitu kegiatan yang dilakukan berdasarkan kemampuan alat indera. Cara ini disebut penilaian inderawi atau organoleptik. Di samping menggunakan analisis mutu berdasarkan prinsip-prinsip ilmu yang makin canggih, pengawasan mutu dalam industri pangan modern tetap mempertahankan penilaian secara inderawi/organoleptik. Nilai-nilai kemanusiaan yaitu selera, sosial budaya dan kepercayaan, serta aspek perlindungan kesehatan konsumen baik kesehatan fisik yang berhubungan dengan penyakit maupun kesehatan rohani yang berkaitan dengan agama dan kepercayaan juga harus dipertimbangkan.

Fortifikasi minyak goreng tidak berbahaya dan tidak akan menyebabkan keracunan karena bentuknya berupa liquid (cairan) serta sudah disesuaikan dengan standar yang berlaku. Dosis fortifikasi vit A pada minyak goreng sudah diperhitungkan secara internasional, yakni sekitar 15 (ppm), atau misalnya dalam 8 ton minyak hanya mengandung 0,5 Kg Vit A, berbeda dengan vitamin A yang berbentuk suplemen yang penggunaannya harus diatur serta tidak diperkenankan untuk dikonsumsi secara berlebihan.

PENUTUP

A. Kesimpulan

Fortifikasi minyak goreng merupakan salah satu cara yang efektif untuk menyediakan vitamin A bagi anak-anak dan balita, juga masyarakat menengah ke bawah. Fortifikasi minyak

goreng tidak berbahaya dan tidak akan menyebabkan keracunan karena bentuknya berupa liquid (cairan) serta sudah disesuaikan dengan standar yang berlaku. Pngawasan mutu harus sering dilakukan dan harus sesuai dosis. Dosis fortifikasi vit A pada minyak goreng sudah diperhitungkan secara internasional, yakni sekitar 15 (ppm), atau misalnya dalam 8 ton minyak hanya mengandung 0,5 Kg Vit A. Fortifikasi pada minyak goreng tidak berbahaya, juga tidak akan mengganggu pola makan yang dapat menyebabkan obesitas.

DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 2009. Fortifikasi pada Minyak Goreng Bantu Atasi Kekurangan Vitamin A

April 2012.