Anda di halaman 1dari 10

JURNAL PENDIDIKAN DASAR, VOL. 6, NO.

2, 2005: 61 - 118

PERAN KELUARGA DALAM MENINGKATKAN MOTIVASI SISWA SLTP UNTUK MENGIKUTI PROGRAM PENDIDIKAN JASMANI DAN KESEHATAN DI SEKOLAH
Anung Priambodo* Abstrak: Studi ini bertujuan untuk mengetahui peran keluarga dalam meningkatkan motivasi siswa SLTP dalam mengikuti program pendidikan jasmani di sekolah. Berdasarkan analisis berbagai referensi dan hasil penelitian berdasarkan teknik cluster analisis ternyata ada hubungan yang erat antara kedekatan anak di keluarga dengan pola motivasi yang bersifat instrinsik seperti team spirit dan pengembangan keterampilan. Sedangkan anak yang tidak menunjukkan kedekatan dengan keluarga menunjukkan kaitan erat dengan pola motivasi ekstrinsik seperti status dan pengakuan. Kedekatan dengan keluarga mendukung terciptanya motivasi instrinsik yang menjadi pendorong semangat untuk tetap terlibat dalam program pendidikan jasmani di sekolah. Abstract: The study aims to know the family role in increasing the motivation of junior high school students to participate in physical education programs at school. The finding indicates that parent-child closeness is related to intrinsic motivation patterns like team spirit and skill development. Whereas the absence of such shows the existence of extrinsic motivation, like status and acknowledgement. It proves that family togetherness encourrages intrinsic motivation which fosters to actively participated in physical education at schools. Kata kunci: motivasi partisipasi, keluarga, remaja, pendidikan jasmani dan kesehatan
Motivasi merupakan satu-satunya faktor yang diperlukan untuk melakukan suatu gerakan. Dalam program pembinaan olahraga, aspek motivasi merupakan aspek yang paling banyak disoroti (Weinberg & Gould, 1995). Motivasi ini bisa bersifat instrinsik maupun ekstrinsik. Motivasi juga harus terarah pada suatu sasaran tertentu, karena tanpa adanya sasaran tertentu, arah perilaku seseorang menjadi tidak jelas (Gould,1993). Motivasi seseorang juga sangat terkait dengan kepribadian individu yang bersangkutan (Kremer & Scully, 1994). Karena itu, motivasi tidak bisa digeneralisasikan bagi semua orang, melainkan harus ditinjau secara khusus dari satu individu ke individu lainnya. Pada dasarnya, motivasi adalah suatu upaya untuk melakukan pemenuhan kebutuhan seseorang. Pada saat individu merasakan adanya suatu kebutuhan yang tidak terpenuhi maka ia tergerak untuk melakukan pemenuhan kebutuhan tersebut. Dorongan untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan diarahkan pada pengembalian individu pada suatu keadaan keseimbangan internal dalam tubuh. Selanjutnya Satiadarma (2000) dalam jurnal ilmiah psikologi ARKHE menuliskan beberapa pendapat ahli tentang bentuk motivasi yaitu: a) motivasi secara umum; b) motivasi untuk berprestasi; c) motivasi untuk menguasai; (d) motivasi untuk bertindak kompeten dan (e) motivasi untuk mengaktualisasi diri. Motivasi secara umum artinya motivasi seseorang untuk melibatkan diri di dalam suatu aktivitas tertentu dalam upaya memperoleh hasil atau mencapai sasaran tertentu (Morgan, King, Weisz, & Schopler, 1986). Selanjutnya motivasi untuk berprestasi (achievement motivation) adalah motivasi seseorang untuk tetap berusaha memperoleh hasil terbaik sekalipun gagal dan tetap bertahan untuk menyelesaikan tugas sebaik-baiknya (Gill, 1986). * Dosen jurusan Pendidikan Olahraga FIK Universitas Negeri Surabaya

104

Priyambodo, Peran Keluarga dalam Meningkatkan.. Kemudian ada motivasi yang beorientasi untuk menguasai orang lain (power motivation) sehingga sekalipun ia dapat menyelesaikan tugasnya, tetapi jika ia belum berhasil menguasai orang yang ada dalam pikirannya, maka ia belum merasa puas. Hal ini menunjukkan bahwa perilaku motivasi terkait erat dengan derajat kepuasan (satisfaction) seseorang atas terpenuhinya kebutuhan (needs) yang dimiliki individu pada saat tertentu (Morgan et al., 1986). Kemudian Morgan juga menyatakan adanya motivasi untuk mampu bertindak secara kompeten (effectance motivation) dalam menghadapi situasi tertentu. Selanjutnya motivasi untuk mengaktualisasi diri (selfactualization motivation) adalah motivasi untuk mencapai kebutuhan tertinggi dari hierarki kebutuhan manusia.

Motivasi Partisipasi
Banyak penelitian tentang partisipasi olahraga pada anak-anak muda telah dipaparkan dan dilakukan di lingkungan luar sekolah, anak-anak muda secara sukarela mengambil bagian dan banyak dari penelitian ini belum dilakukan dengan dasar teoritis. (Weiss & Chaumeton, 1992). Namun demikian hal itu telah menjadi database yang berguna bagi para peneliti untuk mengidentifikasi berbagai motif di antara beberapa kelompok, dan lebih dalam, untuk mengembangkan berbagai teori tentang aktivitas jasmani dan olahraga yang berkaitan dengan motivasi. Dan beberapa waktu terakhir, pendekatan secara teoritis telah digunakan sebagai dasar. (Brustad, 1993 ; Weiss & Chaumeton, 1992). Studi teoritis memberikan sumbangan pengertian tentang mekanisme dari motivasi anak-anak, yang mungkin juga diperhitungkan sebagai parameter lingkungan sosial yang mempengaruhi partisipasi olahraga atau penarikan diri. (Biddle, Sallis, & Cavill, 1998; Kremer, Trew & Ogle, 1997; Weiss, 1993; Weiss & Petlichkloff, 1989). Telah dinyatakan bahwa mengetahui alasan-alasan anak-anak muda memberikan dirinya terlibat aktif dalam olahraga dan pendidikan jasmani merupakan titik awal yang sangat berguna untuk memahami motivasi mereka (Biddle, 1997). Penelitian telah menemukan adanya motivasi keterlibatan termasuk kesenangan (fun), aspek sosial dan pengembangan keterampilan (Biddle, 1998). Selanjutnya penelitian Gill, Gross and Huddleston (1983) yang menilai motivasi partisipasi melalui the Participation Motivation Questionnaire (PMQ) menghasilkan faktor-faktor yaitu prestasi/status, situasi tim, kebugaran, penyaluran energi, pengembangan keterampilan, persahabatan dan kesenangan sebagai motif-motif dasar keterlibatan mereka. Penganut teori motivasi berprestasi menyatakan bahwa setiap individu memiliki cara yang berbeda dalam mendefinisikan kesuksesan mereka. Orang-orang yang berpartisipasi dalam olahraga, pendidikan jasmani dan prestasi yang serupa akan mendefinisikan kesuksesan berdasarkan orientasi tugas dan/atau orientasi ego (Duda, 1993 ; Nicholls, 1989). Mereka yang orientasinya cenderung pada penyelesaian tugas mendefiniskan kesuksesan mereka dengan penguasaan keterampilan, pengembangan diri, dan bekerja keras. Sedangkan mereka yang beorientasi pada ego, mendefinisikan kesuksesan mereka dengan melampaui atau mengungguli orang lain, yang cenderung dengan usaha yang kecil. Kedua orientasi tujuan di atas akan mempengaruhi motivasi partisipasi dalam olahraga dan pendidikan jasmani (Duda, 1993). Secara spesifik, anak muda dengan orientasi ego juga menjadi termotivasi oleh adanya pengakuan dan status. Sebaliknya, para partisipan yang beorientasi tugas akan lebih terkait dengan belajar dan secara pribadi, penguasaan tugas akan mendorong pola motivasi intrinsik seperti pengembangan keterampilan dan kenikmatan (Papaioannou & Theodorakis, 1994). Selanjutnya Zahariadis dan Biddle (1997) juga melakukan penelitian tentang hubungan antara orientasi tujuan dan motivasi partisipasi dalam olahraga dan pendidikan jasmani untuk siswa SLTP usia 11-6 tahun. Melalui teknik korelasi diperoleh hasil bahwa siswa dengan orientasi tugas berhubungan kuat dengan pengembangan keterampilan dan motivasi tim, sedangkan yang berorientasi ego berhubungan sangat jelas dengan motivasi status. Selain itu, melalui analisis korelasi kanonikal, diperoleh gambaran bahwa pengembangan keterampilan/kompetisi dan dorongan atmosfer tim berhubungan kuat dengan orientasi tugas, mendukung penelitian sebelumnya (Papaioannou & McDonald, 1993; Seifriz, Duda, & Chi, 1992; White & Duda, 1994). Motif-motif ini menjadi intrinsic motives. Sedangkan yang beorientasi ego 105

JURNAL PENDIDIKAN DASAR, VOL. 6, NO. 2, 2005: 61 - 118 berhubungan jelas dengan dorongan untuk memperoleh status/pengakuan. Hal ini mendukung pandangan tentang adanya individu-individu yang termotivasi oleh extrinsic factors (Nicholls, 1989; Papaioannou & McDonald, 1993; White & Duda, 1994). Hasil tersebut juga mendukung pandangan bahwa orientasi tugas adalah motivasi yang positif karena berhubungan dengan alasan intrinsik untuk terlibat. Motivasi yang berkaitan dengan pengembangan keterampilan juga mendorong seseorang untuk berusaha berkembang sehingga kualitasnya berkaitan dengan usahanya sendiri (self determination). Sebaliknya motivasi untuk memperoleh status / pengakuan menyebabkan kurangnya usaha penentuan diri. Status bersifat relatif dan tergantung pada bagaimana rivalnya. Sebagai kesimpulan, guru-guru, pelatih dan orang-orang lain didorong untuk meningkatkan intrinsik, sebagai motivasi yang ditentukan oleh diri sendiri seperti orientasi tugas. Guru dan pelatih juga didorong untuk menunjukkan simpati terhadap siswa-siswa yang secara khusus memiliki kesulitan dalam aktivitas jasmani. Strategi ini seharusnya meningkatkan selfdetermination pada anak-anak muda sehingga tercipta perasaan saya ingin berpartisipasi, lebih dari perasaan saya harus berpartisipasi (Zahariadis & Biddle, 1997).

Karakteristik Siswa SLTP


Siswa SLTP memiliki rentang usia 1115 tahun dan berada pada masa remaja. Periode remaja (adolescence) adalah transisi perkembangan antara masa anak-anak menuju masa dewasa yang membutuhkan keterkaitan antara perubahan fisik, kognitif dan psikososial. (Papalia, Olds & Feldsman,2001). Masa remaja dimulai sejak usia 11 atau 12 sampai akhir belasan tahun (awal 20 tahunan) yang umumnya ditandai dengan pubertas. Pubertas adalah proses adanya kematangan seksual dan kemampuan untuk bereproduksi pada seseorang yang ditandai dengan berbagai perubahan fisik seperti pertumbuhan alat genital, tumbuhnya rambut di bagian-bagian badan, buah dada pada wanita dan sebagainya. Selain itu, tanda kematangan seksual seperti produksi sperma pada laki-laki dan menstruasi pada perempuan menjadi titik awal perkembangan remaja. Kebutuhan untuk tidur pada remaja berkurang karena banyaknya keinginan aktivitas yang dilakukan dengan teman-temannya. Pergaulan dengan peer yang kurang tepat juga memungkinkan terjadinya drug abuse yaitu penggunaan obat-obatan terlarang yang menyebabkan kecanduan seperti alkohol, marijuana, tobacco, narkotika dsb. Menurut Piaget (dalam Santrock, 2001), maka siswa SLTP telah memasuki tahap perkembangan kognitif yang tertinggi yaitu operasi formal. Individu pada tahap ini dapat berpikir abstrak, berpikir tentang kemungkinan-kemungkinan secara hipotesis. Ia mampu menalar secara abstrak dan umumnya dapat melakukan penilaian moral yang baik. Walaupun demikian, pemikiran siswa SLTP masih kurang matang (immature). Siswa SLTP berada dalam tahap mencari ilmu dalam usaha merencanakan karir. Perencanaan karir merupakan salah satu aspek dalam pencarian identitas dan konsep diri (Santrock, 2001) Selanjutnya, dalam perkembangan psikososial remaja yang dikemukakan Erik Erikson (dalam Gunarsa S., 1997), mereka berada pada tahap identity vs identity confusion yaitu tahapan untuk mencari identitas diri. Mereka harus menentukan keberadaan dirinya (sense of self) atau mengalami kebingungan mengenai peran yang dijalankannya (fidelity). Pembentukan identitas remaja mencakup tiga hal penting yaitu pemilihan karir, penentuan nilai-nilai yang diyakini, dan perkembangan identitas seksual yang memuaskan. Remaja juga sering harus menghadapi krisis dan tuntutan komitmen (Papalia, 2001). Krisis adalah periode pembuatan keputusan secara sadar; komitmen adalah investasi dalam pribadi individu terhadap suatu bidang pekerjaan atau kepercayaan. James E. Marcia (dalam Papalia, et. al., 2001) mengemukakan 4 tipe status identitas dalam pembentukan identitas individu yaitu: a) identity achievement yaitu adanya krisis dan komitmen, b) foreclosure yaitu komitmen tanpa krisis, c) moratorium yaitu adanya krisis tanpa komitmen, d) identity diffusion yaitu tidak ada krisis dan tidak ada komitmen Identity achievement adalah komitmen terhadap suatu pilihan setelah melalui suatu krisis dengan menjelajahi berbagai alternatif. Pada foreclosure, individu tidak melalui tahap pertimbangan berbagai alternatif, dan sudah melakukan komitmen terhadap rencana yang mungkin 106

Priyambodo, Peran Keluarga dalam Meningkatkan.. sudah dipikirkan orang lain. Moratorium adalah krisis dan kebingungan atas pilihan-pilihan yang tersedia, namun belum berhasil memutuskan. Sedangkan identity diffusion yaitu individu yang tidak mempunyai tujuan jelas dan tidak yakin dengan masa depannya sendiri. Konflik dengan orangtua akan meningkat pada masa remaja awal (Santrock, 2001). Mereka merasa memiliki kebutuhan untuk melepaskan diri dari orangtua. Sementara orangtua mengalami kesulitan untuk melepaskan anaknya. Seringkali terjadi pemberontakan remaja (adolescent rebellion) dan dalam masa-masa penuh tekanan tersebut, mereka cenderung ingin menghabiskan waktunya dengan teman sebaya (Santrock, 2001). Konflik dengan orangtua berkisar antara pekerjaan sekolah, teman, pacaran, penampilan pribadi atau jam malam. Hubungan dengan saudara kandung juga cenderung menjauh. Kelompok teman sebaya menjadi sumber afeksi, simpati, pengertian, tempat eksperimen, mendapatkan dukungan dan otonomi, serta kemadirian dari pengawasan orangtua. Mereka cenderung memilih teman yang mempunyai kesamaan dengan dirinya. Berbagai perilaku ini sering menimbulkan masalah. Dua masalah utama yang sering terjadi yaitu kehamilan dan kenakalan remaja (Papalia et.al., 2001)

Keluarga dan Bermain


Keluarga merupakan lingkungan sosial yang paling berpengaruh dalam kehidupan anak. Para peneliti telah menemukan bahwa hampir di semua bagian hubungan antara orangtua dan anak merupakan aspek yang luar biasa penting bagi perkembangan anak baik dalam sistem sosialisasi, sinkronisasi, kematangan sosial dan berbagai konstruk hubungan lainnya (Santrock, 2001). Bagaimana hubungan pernikahan suami istri juga memberi dampak tidak langsung bagi pembentukan tingkah laku anak (Wilson & Gottman, 1995; Emery & Tuer, 1993). Kedekatan hubungan dengan orang tua juga berfungsi sebagai model yang dibawa setiap saat oleh anak dan mempengaruhi konstruksi hubungan dengan orang baru. Selain hubungan dengan orang tua, hubungan dengan saudara kandung juga mempengaruhi perkembangan anak. Sekalipun konflik dengan saudara kandung pada remaja menunjukkan tingkatan yang tinggi dibanding agen sosial lainnya (seperti orang tua, guru, dan peers), namun bukti menunjukkan bahwa tingkatan konflik pada remaja lebih rendah dibanding masa anak-anak (Santrock, 2001). Keluarga juga yang paling awal dan paling besar pengaruhnya dalam menentukan pilihan dan kesuksesan anak dalam bergerak, karena mempengaruhi secara kuat terhadap sikap dan harapan anak tentang gerakan (Payne & Isaacs, 1999). Orangtua yang memiliki jenis kelamin yang sama dengan anak memberikan pengaruh paling besar terhadap pencapaian suatu gerakan, walaupun keduanya bekerja sama membentuk gerakan anak seperti postur tubuh, penampilan dan sebagainya. Permainan baik secara sendiri maupun dengan orang lain merupakan bentuk sosialisasi yang sangat kuat selama masa anak-anak (Payne & Isaacs, 1999). Berbagai aktivitas yang menyenangkan sangat penting untuk mengembangkan keterampilan-keterampilan seperti pemecahan masalah, kreativitas, bahasa dan berbagai gerakan secara umum. Pada masa anak-anak awal, bermain merupakan aktivitas yang menyenangkan tanpa suatu tujuan tertentu. Permainan pada masa ini lebih bersifat associative play dengan mengubah-ubah berbagai alat permainan tanpa adanya tujuan kerjasama grup. Baru pada usia 5 tahun, anak mulai bermain secara cooperative dengan berbagai permainan yang memiliki tujuan dan beorientasi pada permainan grup (Payne & Isaacs, 1999). Keterlibatan anak dalam bentuk-bentuk permainan regu pada usia sekolah sangat mempengaruhi perkembangan mereka dan ini terus berkembang sampai masa remaja.

Program Pendidikan Jasmani dan Kesehatan


Suatu aktivitas jasmani dari anak-anak yang dapat mengakibatkan peningkatan kesehatan berasal dari pendidikan jasmani dan kesehatan di sekolah (Zahariadis & Biddle, 1997). Zahariadis dan Biddle juga sangat mendukung keterlibatan siswa dalam olahraga yang dipandang sebagai good thing. Aktivitas jasmani bagi anak-anak muda merupakan suatu isu kesehatan masyarakat

107

JURNAL PENDIDIKAN DASAR, VOL. 6, NO. 2, 2005: 61 - 118 yang sangat penting, karena dengan partisipasi yang teratur dalam aktivitas jasmani, orang-orang muda dapat meningkatkan kesejahteraan fisik, psikologis dan sosial (Biddle, et.al., 1998) Menurut Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional dijelaskan bahwa Pendidikan adalah usaha sadar untuk menyiapkan peserta didik melalui kegiatan bimbingan, pengajaran, dan /atau latihan bagi peranannya di masa yang akan datang. Pada dasarnya, pendidikan merupakan proses interaksi manusia untuk menyiapkan peserta didik menghadapi lingkungan hidup yang mengalami perubahan dan meningkatkan kualitas kehidupan pribadi dan masyarakat. Pendidikan berlangsung seumur hidup dan merupakan kiat dalam menerapkan ilmu pengetahuan dan teknologi (Abdullah & Manadji, 1994). Pendidikan jasmani merupakan bagian dari pendidikan yang menunjang tercapainya tujuan pendidikan secara keseluruhan. Sekalipun pendidikan jasmani merupakan pendidikan yang banyak melibatkan aktivitas otot-otot besar, namun pendidikan jasmani pada dasarnya melibatkan seluruh unsur fisik, mental, intelektual, emosional, dan sosial (Mechikoff & Estes, 1998; Nixon & Jewett, 1980; Singer, 1976 ). Jadi dalam pendidikan jasmani, pencapaian prestasi olahraga tidak dipentingkan, tetapi lebih kepada merangsang pertumbuhan dan perkembangan anak. Karena itu, tidak ada pendidikan jasmani yang tidak mempunyai sasaran pedagogis, dan tidak ada pendidikan yang lengkap tanpa adanya pendidikan jasmani. Gerak sebagai aktivitas jasmani merupakan dasar bagi manusia untuk belajar mengenal dunia dan dirinya sendiri. (Syarifudin, Kompas, 13 Juni 2002). Ada tiga elemen teori yang tidak dapat berubah tentang pendidikan jasmani. Pertama, pendidikan jasmani memberikan sumbangan kesehatan kepada individu. Kedua, aktivitas jasmani merupakan komponen utama dalam perkembangan karakter. Ketiga, pendidikan jasmani telah berketetapan untuk mengembangkan penelitian secara teori dan metodologi (Mechikoff & Estes, 1998). Sekalipun pendidikan jasmani tidak menekankan pada aspek prestasi olahraga, namun pendidikan jasmani merupakan dasar yang baik bagi anak untuk mengembangkan keterampilan geraknya sehingga kelak memberi kemudahan dalam menguasai bidang olahraga tertentu. Mechikoff dan Estes (1998) menyatakan bahwa saat ini, program pendidikan jasmani pada usia 12 tahun ke atas menggabungkan semua aktivitas tubuh yaitu olahraga, aktivitas kebugaran seumur hidup, perkembangan permainan yang terarah dan pertandingan yang tepat. Mechikoff dan Estes juga menyarankan bahwa seorang guru pendidikan jasmani seharusnya sekaligus seorang pelatih profesional. Melalui program pendidikan jasmani, diharapkan anak didik semakin menyukai keterampilan gerak dan dalam proses perkembangannya, mereka menyukai cabang olahraga tertentu hingga berprestasi di tingkat universitas.

Pembahasan
Jadi berdasarkan uraian di atas, nampak bahwa pendidikan jasmani sebenarnya memegang peranan yang sangat penting dalam proses pendidikan keseluruhan. Namun sayangnya, tidak semua kalangan pendidikan menyadari akan pentingnya tujuan ini. Ditambah lagi dengan kurang efektifnya pelajaran pendidikan jasmani di sekolah (Syarifudin, 2002) semakin menambah skeptisisme pentingnya pendidikan jasmani. Dalam pelaksanaannya juga sering ditemui adanya anak-anak yang tidak mau atau enggan untuk terlibat secara aktif dalam aktivitas tersebut. Mereka lebih suka diam dan berkumpul dengan teman-temannya di tempat yang teduh, terutama pada siswa putri. Bukti-bukti penelitian menunjukkan adanya penurunan partisipasi aktivitas jasmani pada anak-anak muda usia belasan tahun. Penurunan ini secara khusus lebih nampak pada perempuan dan lebih banyak terjadi pada remaja dibanding dengan anak-anak (Pratt, Macera & Blanton, 1999). Selanjutnya penelitian yang dilakukan oleh Wang dan Biddle (2001) menunjukkan adanya motivasi respon yang cukup positif pada anak-anak muda usia 1215 tahun. Kebanyakan dari mereka memiliki orientasi tugas dan tambahan pandangan terhadap kemampuan olahraga. Mereka memiliki skor yang lebih tinggi terhadap identifikasi peraturan dan motivasi intrinsik dibanding peraturan ekstrinsik dan skor tidak adanya motivasi. Penemuan ini menyatakan bahwa kepanikan yang dilaporkan oleh media bahwa anak-anak muda mengalami kemunduran dalam aktivitas jasmani terlalu dibesar-besarkan. Namun demikian, penemuan ini juga menunjukkan adanya tingkat penurunan yang curam tentang aktivitas jasmani pada siswa (Wang & Biddle, 2001). 108

Priyambodo, Peran Keluarga dalam Meningkatkan.. Penelitian ini menggunakan teknik cluster analysis dan semua responden dikelompokkan ke dalam lima cluster yaitu self-determined, highly motivated, poorly motivated, moderately motivated externals dan amotvated groups. Kelompok Self-determined menunjukkan jumlah yang tinggi dalam keterlibatan yang bersifat rekreasi, sedangkan kelompok motivasi tinggi lebih memainkan olahraga kompetitif, yang merefleksikan skor yang tinggi pada orientasi tugas dan ego (Fox, Goudas, Biddle. Duda, & Armstrong, 1994). Konsisten dengan hasil penelitian sebelumnya, diperoleh hasil bahwa kelompok dengan skor orientasi tugas yang tinggi secara positif berhubungan dengan tingkah laku yang menunjukkan motivasi untuk beradaptasi. Kelompok ini lebih aktif untuk berpartisipasi dalam aktivitas jasmani, memiliki pengamatan kompetensi yang tinggi, physical self worth (PSW), terlibat dalam self-determined dan selalu memiliki motivasi. Dalam keterlibatan aktivitas jasmani dan PSW, kelompok self-determined dan highly motivated menunjukkan skor yang lebih tinggi dibanding kelompok yang lain. Sedangkan kelompok amotivated dan poorly motivated menunjukkan skor yang rendah pada orientasi tugas, tambahan keyakinan, pengamatan kompetensi, aktivitas fisik dan PSW. Kedua kelompok ini lebih banyak pada perempuan dibanding laki-laki (Pratt et al., 1999). Berdasarkan uraian hasil-hasil penelitian di atas, maka berbagai upaya untuk meningkatkan motivasi partisipasi dalam aktivitas jasmani perlu dilakukan. Sebagaimana dijelaskan bahwa keluarga memegang pengaruh paling besar terhadap kesuksesan anak dalam bergerak. Maka motivasi partisipasi anak untuk senang terlibat dalam program pendidikan jasmani haruslah diawali di dalam keluarga. Bagi anak yang pada awalnya tidak menyukai aktivitas gerak haruslah dirangsang dengan memberikan bentuk gerakan yang mudah dilakukan sehingga anak merasakan suatu keberhasilan penguasaan gerak. Seseorang akan lebih mudah termotivasi jika dalam suatu aktivitas olahraga yang baru, ia secara teratur melihat kemajuan dan perubahan (Rotella, Boyce, Allyson, & Savis, 1998). Dan merupakan suatu tantangan untuk mempertahankan motivasi jika penguasaan gerak tidak mengalami kemajuan dan stagnan dalam waktu yang lama. Oleh karena itu, di tengah keluarga perlu ada suasana yang menyenangkan untuk bergerak. Selain itu berbagai bentuk permainan bisa diciptakan untuk menambah semangat kompetitif dalam suatu penguasaan gerak baik anak dengan orangtua maupun dengan saudara kandung. Semangat kompetitif di sini tentunya harus diimbangi dengan penanaman nilai-nilai yang tepat sehingga tidak terjadi persaingan yang tidak sehat. Berdasarkan hasil penelitian pada siswa SLTP terlihat bahwa motivasi yang rendah bahkan tidak adanya motivasi untuk berpartispasi dalam program pendidikan jasmani lebih banyak terjadi pada anak perempuan dibanding anak laki-laki (Pratt et.al., 1999). Hal ini tentunya juga berkaitan dengan pandangan yang masih menganggap minor bagi wanita untuk melakukan aktivitas jasmani. Keterlibatan laki-laki dalam berbagai aktivitas gerak lebih merupakan perbuatan yang dipandang positif dan berharga. Hal ini karena adanya karakteristik dari laki-laki yang agresif, tangguh, dominan dan kuat sehingga mendukung keterlibatan mereka dalam berbagai aktivitas gerak. (Payne & Isaacs, 1999). Sementara wanita sering harus mengatasi beberapa konflik internal yang sering muncul pada saat mereka mulai terlibat dalam aktivitas gerak. Selain itu self esteem anak juga sangat mempengaruhi motivasi anak untuk berprestasi (Papalia et.al., 2001). Jika seorang anak yang terlibat dalam aktivitas jasmani tidak mendapatkan penghargaan yang menambah self esteemnya, maka ia tidak akan termotivasi untuk terus terlibat dalam aktivitas jasmani. Bagi siswa yang sedang mencari identitas diri, maka berbagai penghargaan yang menambah self esteem sangat dibutuhkan. Dalam hal aktivitas jasmani, keluarga juga menentukan bagaimana pandangan mereka terhadap pentingnya aktivitas jasmani pada anak. Keluarga perlu memberikan penghargaan kepada anak wanita atas keterlibatan mereka dalam aktivitas gerak, sehingga pandangan yang mendiskreditkan wanita dalam aktivitas gerak dan olahraga tidak menghalangi mereka untuk tetap terlibat dalam aktivitas gerak termasuk dalam mengikuti program pendidikan jasmani. Hal ini harus ditanamkan sejak masa anak-anak karena permainan, pertandingan dan olahraga merupakan aktivitas alamiah dari anak-anak, dan jika diorganisasi secara tepat dan terarah, mereka akan mengembangkan karakter kepribadian yang

109

JURNAL PENDIDIKAN DASAR, VOL. 6, NO. 2, 2005: 61 - 118 diharapkan dan berbagai kualitas baik secara fisik, sosial maupun psikologis (Mechikoff & Estes, 1998). Walaupun penelitian menyatakan bahwa motivasi keterlibatan anak remaja dalam program pendidikan jasmani mengalami penurunanan dibanding masa anak-anak (Wang & Biddle, 2001; Pratt et.al, 1999), namun terdapat sejumlah motivasi respon yang positif apabila berkaitan dengan orientasi tujuan yaitu orientasi tugas dan orientasi ego. Mechikoff dan Estes (1998) menyatakan bahwa remaja mengalami kebutuhan untuk aktivitas jasmani sebesar tiga jam sehari, sementara anak-anak membutuhkan lima jam sehari. Penurunan kebutuhan untuk aktivitas gerak ini bisa terjadi karena remaja menghadapi masa-masa penting dalam hidupnya yaitu perencanaan karir dalam kerangka pencarian identitas diri (Santrock, 2001). Pandangan yang skeptis tentang peran pendidikan jasmani terhadap pengembangan karir siswa, tentunya akan membuat motivasi mereka untuk mengikuti program pendidikan jasmani menurun. Untuk itu, keluarga harus mampu memberikan wawasan yang benar tentang tujuan dan manfaat dari program pendidikan jasmani di sekolah khususnya manfaat yang berkaitan dengan peningkatan kualitas fisik, intelektual, emosi, dan psikososial. Data hasil penelitian juga menyimpulkan bahwa siswa yang memiliki self determined dan motivasi tinggi untuk terlibat dalam program pendidikan jasmani pada dasarnya memiliki dua orientasi tujuan yaitu orientasi tugas dan orientasi ego. Siswa dengan orientasi tugas terlibat dalam aktivitas jasmani dengan tujuan penguasaan suatu keterampilan gerak, sedangkan siswa yang memiliki ego orientations melakukan program pendidikan jasmani untuk memperoleh status/pengakuan. Kedua orientasi tujuan ini tentunya bisa dirangsang melalui hubungan dalam keluarga. Sebagian besar latar belakang keluarga atlet adalah keluarga yang menggeluti olahraga secara serius. Contohnya adalah keluarga Raja Nasution, Daniel Bahari, keluarga Mainaky, keluarga Williams dan masih banyak lagi yang lain. Keluarga bisa memberikan dukungan yang besar atas keterlibatan siswa dalam program pendidikan jasmani dan mereka juga bisa mendorong untuk memanfaatkan program pendidikan jasmani sebagai basic awal dalam pengembangan prestasi olahraga. Dengan dukungan ini, diharapkan motivasi instrinsik untuk menguasai suatu keterampilan olahraga terbentuk dalam diri siswa tersebut. Selain itu, sesuai dengan karakteristik remaja, tentunya keberhasilan mereka dalam menguasai keterampilan gerak memungkinkan penambahan self esteem dalam dirinya. Siswa yang bisa meraih prestasi dalam keterampilan gerak tertentu akan semakin termotivasi untuk mengembangkan kemampuannya jika mendapatkan penghargaan yang tepat. Terlebih jika ia berhasil meraih prestasi yang melebihi kemampuan teman-teman sebayanya, maka ia akan merasa memperoleh status atau pengakuan tertentu. Sekalipun motivasi ini bersifat ekstrinsik, namun hal ini juga bisa menjadi motivasi yang kuat bagi siswa untuk tetap terlibat dalam program pendidikan jasmani di sekolah.

Penutup
Hasil penelitian menunjukkan bahwa motivasi keterlibatan siswa SLTP dalam program pendidikan jasmani lebih kecil dibanding siswa sekolah dasar. Motivasi yang rendah dan kelompok yang tidak memiliki motivasi lebih banyak terjadi pada perempuan. Namun hal ini seharusnya tidak mentolerir upaya untuk meningkatkan motivasi siswa dalam aktivitas jasmani. Selain itu, tinggi rendahnya motivasi siswa untuk terlibat dalam program pendidikan jasmani juga sangat terkait dengan orientasi tujuan bagi siswa itu sendiri. Siswa yang memiliki orientasi tugas lebih memiliki motivasi intrinsik untuk menguasai keterampilan dan hal ini harus dikembangkan dalam keluarga sejak masa anak-anak. Selanjutnya, siswa yang memiliki orientasi ego akan memiliki motivasi yang tinggi untuk tetap terlibat dalam program pendidikan jasmani jika mereka mendapatkan status atau pengakuan melalui keterlibatan itu. Keluarga sebagai lingkungan yang paling dekat dengan siswa sangat berperan dalam membentuk perkembangan anak baik secara fisik, kognitif, emosi, dan psikososial. Oleh karena itu, keluarga seharusnya juga memainkan peran dalam merangsang motivasi siswa untuk terlibat dalam program pendidikan jasmani. Orangtua selayaknya mendukung setiap keterlibatan siswa dalam 110

Priyambodo, Peran Keluarga dalam Meningkatkan.. berbagai aktivitas jasmani dan olahraga. Begitu juga, orangtua selayaknya bisa mengubah paradigma yang menghalangi para siswa putri untuk terlibat secara aktif dalam aktivitas jasmani. Apabila siswa berhasil menguasai keterampilan gerak tertentu, bahkan meraih prestasi yang melebihi teman-teman sebayanya, maka mereka harus diberi penghargaan yang pantas. Selain itu, keluarga juga perlu menyampaikan kejelasan tujuan dan manfaat program pendidikan jasmani di sekolah. Mereka juga perlu menunjukkan bukti-bukti nyata bahwa dengan mengikuti program pendidikan jasmani secara teratur, maka perkembangan fisik, kognitif, emosi, dan psikososial akan terangsang secara optimal. Di samping itu, jika mereka mau serius mengembangkan hal tersebut kepada suatu prestasi olahraga tertentu, maka mereka bisa menggantungkan masa depannya melalui prestasi olahraga yang gemilang. Aspek ini sangat penting karena pada masa siswa, mereka sedang menentukan pilihan karir yang sangat berpengaruh bagi pembentukan konsep diri. Pada akhirnya, segala upaya yang dilakukan dalam keluarga kepada siswa bertujuan mendapatkan self motivation bagi siswa tersebut untuk senantiasa terlibat dalam program pendidikan jasmani di sekolah.

Daftar Acuan
Abdullah, A., & Manadji, A., (1994). Dasar-dasar pendidikan jasmani. Jakarta: Dirjen Dikti, Depdikbud. Biddle, S.J.H. (1997). Cognitive theories of motivation and the self. In K.R. Fox (Ed), The physical self : From motivation to well-being (hal. 59-82). Champaign, IL: Human Kinetics. Biddle, S. (1998). Sport and exercise motivation : Abrief review of antecedent factors and psychological outcomes of participation. In K. Green & K. Hardman (Eds.), Physical education: A reader (hal. 154-183). Aachen, Germany: Meyer & Meyer. Biddle, S., Sallis, J., & Cavill, N. (Eds.) (1998). Young and active ? Young people and healthenhancing physical activity: Evidence and implications. London: Health Education Authority. Brustad, R.J. (1993). Youth in sport : Psychological considerations. In. R.N. Singer, M. Murphey & L.K. Tennant (Eds), Handbook of research on sport psychology (pp. 695-717). New York : Macmillan. Duda, J.L (1993). Goals: A social-cognitive approach to the study of achievement motivation in sport. In R.N. Singer, M. Murphey & L.K. Tennant (Eds), Handbook of research on sport psychology. (hal. 421-435). New York: Macmillan Emery, R.E., & Tuer, M.,(1993). Parenting and the marital relationship. In Santrock, J.W. (2001). Adolescence (8th ed.) New York: McGraw-Hill Companiec, Inc. Fox, K., Goudas, M., Biddle, S., Duda, J., & Armstrong, N. (1994). Childens task and ego goal profiles in sport. British Journal of Educational Psychology, 64, 253-261 Gill, D.L. (1986). Psychological dynamics of sport. Dalam Satiadarma, M.P. (2000). Paradigma motivasi: Sebuah pertimbangan untuk program pembinaan dan pengembangan motivasi atlet dalam upaya meningkatkan prestasi olahraga nasional. Jurnal Ilmiah Psikologi ARKHE, Jakarta: Tarumanegara. Gill, D. L., Gross, J.B. & Huddleston, S. (1983). Participation motivation in youth sports. International Journal of Sport Psychology, 14, 1-14 Gould, D. (1993). Goal setting for peak performance. Dalam Satiadarma, M.P.(2000). Dasar-dasar psikologi olahraga. Jakarta: Pustaka Sinar Harapan. Kremer, J., & Scully, D.,(1994). Psychology in sport. London: Taylor & Francis Kremer, J., Trew, K., & Ogle S., (Eds) (1997). Young peoples involvement in sport. In Zahariadis N. Panagiotis & Biddle J.H. Stuart, Goal orientations and participation motives in physical education and sport: Their relationships in english schoolchildren, (1997, Januari first) , 30 April 2002, http://www.athleticinsight.com. Mechikoff, A.R., & Estes, G.S., (1998). A history and physical education. New York: McGraw Hill.

111

JURNAL PENDIDIKAN DASAR, VOL. 6, NO. 2, 2005: 61 - 118 Morgan, C.T., King, R.A., Weisz, J.R., & Schopler, J. (1986). Introduction to psychology. New York: McGraw-Hill. Nicholls, J.G. (1989). The competitive ethos and democratic education. In Zahariadis N. Panagiotis & Biddle J.H. Stuart, Goal orientations and participation motives in physical education and sport: Their relationships in english schoolchildren, (1997, Januari first) , 30 April 2002, http://www.athleticinsight.com. Nixon, J.E. and Jewett, A.E.(1980). An Introduction to physical education. Dalam Abdullah, A., & Manadji, A., Dasar-dasar pendidikan jasmani. Jakarta: Dirjen Dikti, Depdikbud. Papaioannou, A. & McDonald, A.(1993). Goal perspectives and purpose of physical education as perceived by Greek adolescents. Physical Education Review, 16, 41 Papaioannou, A. & Theodorakis, Y. (1994). Attitudes values and goals: A test of three models for the prediction of intention for participation in physical education. In Zahariadis N. Panagiotis & Biddle J.H. Stuart, Goal orientations and participation motives in physical education and sport: Their relationships in english schoolchildren, (1997, Januari first) , 30 April 2002, http://www.athleticinsight.com. Papalia E. Diane, Olds W. Sally & Feldman D. Ruth. 2001. Human development (8th.ed). New York. Mac Graw Hill Companies, Inc. Payne G.V. & Isaacs D. Larry. 1999. Human motor development. A lifespan Approach. Fourth Ed. California. Mayfield Publishing Company. Pratt, M., Macera, C.A., & Blanton, C. (1999). Levels of physical activity and inactivity in children and adults in the United States: Current evidence and research issues. Medicine and Science in Sport and Exercise, 31. Rotella, B., Boyce, B.A., Allyson, B., & Savis, J.C., (1998). Case studies in sport psychology. Massacuhusetts: Jones and Bartlett Publishers. Santrock, J.W. (2001). Adolescence (8th ed.) New York: McGraw-Hill Companiec, Inc. Satiadarma, M.P. (2000). Paradigma motivasi: Sebuah pertimbangan untuk program pembinaan dan pengembangan motivasi atlet dalam upaya meningkatkan prestasi olahraga nasional. Jurnal Ilmiah Psikologi ARKHE, Jakarta: Tarumanegara. Siefriz, J.J., Duda, J.L. & Chi L., (1992). The relationship of perceived motivational climate to intrinsic motivation and beliefs about succes in basketball. Journal of Sport and Exercise Psychology, 14, 375-391. Wang J.C.K. & Biddle J.H. S. (2001). Young peoples motivational profiles in physical activity: A cluster analysis. Journal of Sport & Exercise Psychology. Human Kinetics Publishers, Inc. Weinberg, R.S. & Gould, D. (1995). Foundations of sport and exercise psychology. Champaign, IL: Human Kinetics. Weiss, M.R. & Chaumeton, N (1992). Motivational orientations in sport. In T. Horn (Eds), Advances in sport psychology.(pp. 61-101). Champaign, IL: Human Kinetics. White, S.A. & Duda, J.L. (1994). The relationship of gender, level of sport involvement, and participation motivation to task and ego orientation. International Journal of Sport Psychology, 25, 4-18. Wilson, B.J., & Gottman, J.M. (1995). Marital interaction and parenting. In Santrock, J.W. (2001). Adolescence (8th ed.) New York: McGraw-Hill Companiec, Inc. Zahariadis N. Panagiotis & Biddle J.H. Stuart, Goal orientations and participation motives in physical education and sport: Their relationships in english schoolchildren, (1997, Januari first) , 30 April 2002, http://www.athleticinsight.com.

112

Priyambodo, Peran Keluarga dalam Meningkatkan..

113