Anda di halaman 1dari 52

CARA MELAFAL NAMA BUDDHA DAN TERLAHIR DI TANAH-MURNI BUDDHA

Penceramah: Master Chin Kung Tempat dan waktu: Los Angeles, 4 April 1997 Diterjemahkan oleh: Chingik, 27 Juni 2005 di Jakarta Hari pertama Yang terhormat Ketua Chen, saudara tetua, para guru, rekan praktisi : Hari ini sungguh merupakan kesempatan yang istimewa dan langka dapat berkumpul bersama di QiaoJiaoZhongXin (Pusat pendidikan warga China perantauan) di Los Angeles ini, untuk berbincang-bincang mengenai ajaran Buddha. Saya tidak menyangka bahwa hari ini begitu banyak rekan praktisi yang hadir. Ada beberapa orang yang merupakan pendatang baru, ini menandakan bahwa ajaran Buddha cukup marak di tempat ini. Orang yang mempelajari ajaran Buddha semakin bertambah dari tahun ke tahun, ini merupakan pertanda yang sangat baik bagi kehidupan bermasyarakat. Topik yang akan kita bicarakan hari ini adalah Bagaimana cara melafal nama Buddha dan terlahir di tanah-murni Buddha. Topik ini memiliki cakupan yang sangat luas. Para praktisi senior pun telah memiliki pemahaman yang sangat baik. (Sedangkan) bagi para pendatang baru, kita harus memperkenalkan secara singkat tentang Buddha Dharma. Agama Buddha, oleh beberapa kalangan telah melihatnya sebagai sebuah agama. Hal ini tidak dapat kita pungkiri. Agama Buddha jelas jelas adalah sebuah agama. Tetapi sebagai seorang praktisi ajaran Buddha, kita harus memahami bahwa agama Buddha sesungguhnya bukanlah agama, namun sekarang dia telah berubah menjadi sebuah agama. Ini yang harus dilihat secara jelas, harus dipahami. Apa sesungguhnya agama Buddha itu? Jika kita tidak sanggup mengenalnya dengan jelas, maka tidak perlu lagi membicarakan tentang cara berlatihnya, dan tentu lebih tidak perlu membicarakan lagi tentang hasilnya. Pada masa kehidupan sang Buddha, Beliau juga dengan segenap usaha pergi kemana-mana untuk memberikan ceramah dan bimbingan di sepanjang wilayah India. Oleh sebab itu, yang dilakukan Beliau adalah mengajar. Beliau bukanlah sedang menyebarkan agama. Yang Beliau lakukan adalah suatu kegiatan pendidikan, yakni mendidik semua makhluk hidup untuk menghancurkan kesesatan menuju kesadaran/pencerahan, dengan demikian maka para makhluk hidup baru dapat terbebas dari penderitaan dan mencapai kebahagiaan. Inilah yang dipersembahkan oleh sang Buddha di sepanjang hidupnya kepada masyarakat, kepada semua makhluk hidup. Inilah yang tidak boleh tidak dipahami oleh kita. Bimbingan yang dilakukan sang Buddha di India sama seperti cara yang dilakukan oleh Confucius di China. Confucius di sepanjang hidupnya juga berprofesi dalam bidang pendidikan. Tidak ada profesi yang dapat melebihi bidang pendidikan dari segi waktu dan manfaatnya baik bagi kehidupan duniawi maupun yang di atas duniawi. Karena bidang pendidikan ini tidak semata mata seperti yang kita katakan luas dan langgeng. Sesungguhnya keluasan-nya mencakup seisi alam semesta. Kelangsungannya sungguh tak terbatas, tidak sanggup kita bayangkan. Seperti yang disebutkan dalam kitab suci yakni tak terbayangkan. Ini adalah suatu kenyataan. Luas dan langgeng yang dikatakan dalam kehidupan duniawi, sesungguhnya memiliki batasan. Mengapa? Bumi memiliki proses Kejadian, Kediaman, Kerusakan, Kekosongan. Sepanjang apa pun -1-

masa keberlangsungan Bumi, juga tidak sanggup melampaui Matahari, dan pada masa mendatang dia akan mati juga. Galaksi pun akan mengalami kehancuran pada masa mendatang. Oleh sebab itu, istilah Langgeng memiliki keterbatasan. Hanya ajaran (pendidikan) dari sang Buddha-lah maka istilah Langgeng ini tidak terbatas, karena dia melampaui ruang dharmadhatu [1].. Apa sesungguhnya yang diajarkan sang Buddha kepada semua makhluk hidup? Dalam hal ini, kita tidak boleh tidak mengetahuinya. Istilah yang disebutkan dalam kitab suci yakni Anuttara Samyaksambodhi, jika diterjemahkan dapat berarti Pencerahan Sempurna. Itulah yang diajarkan Buddha kepada kita. Istilah ini tidak diterjemahkan langsung dari bahasa sanskerta, karena termasuk dalam kategori Rasa hormat untuk tidak diterjemahkan. Istilah ini bukanlah tidak boleh diterjemahkan, tapi atas dasar rasa hormat yang diberikan kepadanya. (Anuttara Samyaksambodhi) ini merupakan tujuan yang diajarkan sang Buddha kepada semua makhluk yang berada dalam 9 alam dharmadhatu[2]. Istilah (Anuttara Samyaksambodhi) ini memiliki 3 tingkatan makna, yakni Pencerahan yang benar, Pencerahan yang benar dan setara, Pencerahan Sempurna. Sang Buddha memberitahu kepada kita bahwa semua makhluk hidup memiliki hakikat Pencerahan sempurna. Seperti yang disebutkan dalam kitab Avatamsaka sutra, dan kitab Sutra Maha Kesadaran Sempurna bahwa semua makhluk hidup pada dasarnya mencapai ke-Buddha-an, mencapai ke-buddha-an berarti mencapai Pencerahan sempurna. (Tapi) mengapa kita bisa berubah menjadi seperti sekarang, berubah menjadi sesat dan bingung, menjadi tidak mengerti atas setiap hal, dan inilah yang membuat kita mengalami berbagai penderitaan. Apa yang sesungguhnya terjadi? Dalam semua kitab suci itulah sang Buddha menyingkapkan realitas sejati kepada kita, membuat kita sadar. Umumnya mengatakan menyadarkan/mencerahkan, maha sadar. Setelah sadar, maka anda akan dapat meninggalkan semua penderitaan. Penderitaan disebabkan oleh kesesatan dan kebingungan. Saya rasa para hadirin yang datang untuk mendengar ceramah hari ini, baik yang senior maupun yang baru belajar, sedikit banyak pasti memiliki keyakinan pada agama Buddha. Tidak memiliki keyakinan, anda tidak akan duduk di sini selama satu setengah jam. Meskipun tidak begitu mengerti tentang 6 alam kehidupan, 10 dharmadhatu yang terdapat dalam ajaran Buddha, saya rasa anda sekalian telah tahu sedikit pengertiannya. Dari manakah asal 6 alam kehidupan itu? Dari manakah asal 10 (alam) dharmadhatu itu? Konon di luar 10 dharmadhatu masih terdapat satu dharmadhatu sejati [3]. Seperti apa satu dharmadhatu sejati itu? Kita tidak boleh tidak jelas dengan realitas sejati itu. Sang Buddha memberitahu kepada kita, sumber dari kondisi ini adalah karena sifat sejati kita telah terbelenggu. Sifat sejati itu adalah pencerahan sempurna. Sifat pencerahan kita telah terbelenggu, maka timbullah khayalan, diskriminasi, kemelekatan. Itulah sebab bahwa yang pada dasarnya merupakan satu dharmadhatu sejati telah berubah menjadi 10 dharmadhatu dan 6 alam tumimbal lahir. Keberadaan kita di 6 alam tumimbal lahir telah mengalami penderitaan yang sangat berat, di mana 6 alam tumimbal lahir itu hanya terdapat penderitaan, tidak ada kebahagiaan. Jika sekarang ini anda merasa kondisi hidup anda cukup baik, masih merasa bahagia dan leluasa, itu tidaklah benar, anda telah salah dalam cara berpikir dan memandang. Sang Buddha telah mengungkapkan realitas sejati (wujud yang sesungguhnya) kepada kita. Rasa bahagia yang anda alami sekarang ini , hanyalah karena penderitaan anda untuk sementara tidak muncul saja. Ibarat orang yang menderita penyakit, sebelum penyakitnya kambuh, rasanya baik-baik saja. Saat penyakit itu datang maka masalah pun timbul, itu yang sangat parah. Lalu penyakit apa saja itu? Sungguh terlalu banyak, jumlahnya tak terbatas, tak terungkapkan. Dalam kitab suci disebut 84.000 kilesa (noda batin). Anda semua telah sering mengucapkan 4 ikrar agung boddhisatva bagian -2-

mengenai (jumlah) noda batin yang tak terhingga, itulah penyakitnya. Kita tidak boleh tidak mengakuinya. Tidak boleh tidak menyadari betapa parahnya penyakit ini. Di manakah letak perbedaan antara kita dengan para Buddha dan bodhisattva? Para Buddha dan bodhisattva tidak memiliki penyakit, (sedangkan) kita adalah orang yang berpenyakit. Jika anda tidak menyantap nasi saja, maka anda akan merasa lapar, jadi lapar adalah penyakit. Dengan kata lain, makanan ini adalah untuk mengobati penyakit. Jika telah kenyang, maka akan merasa senang, dan jika waktu makan selanjutnya tiba dan tidak kita makan, maka penyakit pun kambuh lagi. 3 hari tidak makan maka nyawa pun akan terenggut. Jadi apakah anda masih bisa disebut orang yang sehat? Apakah anda masih bisa mengatakan anda (hidup) leluasa, bahagia? Kenyataan terpampang di depan mata, kita malah tidak menyadarinya, jadi Sang Buddha mengatakan kita sedang sesat dan kebingungan, tidaklah berlebihan, yang dikatakanNya adalah realitas/ kenyataan. Dari manakah datangnya 6 alam kehidupan itu? Dari kemelekatan. Baik ajaran duniawi maupun ajaran Buddha, asalkan anda memiliki kemelekatan, maka kemelekatan ini akan bermanifestasi menjadi 6 alam kehidupan, dan anda tidak akan dapat terbebas dari 6 alam tumimbal lahir ini. Para sesepuh sering berkata, Hidup mati adalah perkara besar. Berapa orang yang dapat mewaspadai tentang hidup mati adalah perkara besar ? Jika telah mewaspadai hidup mati adalah perkara besar, maka dalam ajaran Buddha dikatakan dia telah sadar. Jika telah sadar maka dia akan tertolong. Orang yang tidak sadar maka tidak ada jalan keluar. (Meskipun) telah bertemu dengan ajaran Buddha, dia juga tidak ingin berlatih dengan sungguh-sungguh. Sesungguhnya dalam ajaran Buddha terdapat manfaat yang sangat unggul dan terdapat pencapaian yang sempurna, namun manfaat-manfaat ini tidak akan diperolehnya. Hanya orang yang benar benar telah sadarlah baru dapat memperolehnya. Oleh sebab itu, paling sedikit kita harus menyadari hidup mati adalah perkara besar. Tumimbal lahir sungguh mengerikan, itu bukanlah hal baik. Orang yang berada dalam arus tumimbal lahir, waktu yang dihabiskan paling lama adalah berada di 3 alam rendah, sedangkan di 3 alam bahagia waktu yang dihabiskan terasa lebih singkat. Itulah yang sering dikatakan sang Buddha dalam kitab suci. Marilah kita renungkan secara mendalam, itu adalah kenyataan. Buddha bukan hanya tidak berkata bohong, apa yang dikatakan sang Buddha sama sekali tidak berlebihan. Bagaimana mengatasi masalah ini? Terlalu banyak yang telah dijelaskan dalam kitab suci. Yang dijelaskan kitab suci semua adalah tentang hal ini, dan dijelaskan pula cara-cara mengatasinya kepada kita. Semua Buddha dan bodhisattva juga adalah makhluk yang berhasil mencapai pencerahan melalui pelatihan diri sejak sebagai manusia biasa. Mereka lalu memberikan pengalaman selama berlatihnya kepada kita untuk dijadikan bahan acuan, membantu kita untuk belajar. Oleh sebab itu ajaran Buddha adalah sebuah sistem pendidikan. Kita menyebut sang Buddha Sakyamuni sebagai guru utama, Beliau adalah guru utama kita, yakni sebagai pendiri dari bidang pendidikan ini. Sebagai siswa sang Buddha, kita memberi persembahan kepada Nya baik dalam bentuk ukiran, cor, ataupun lukisan. Maksud dari tujuan ini adalah sebagai tanda hormat yang besar pada sang guru dan ajaranNya. Jadi bukanlah memperlakukannya sebagai dewa. Jika memperlakukan para Buddha dan bodhisattva sebagai dewa, maka dia berubah menjadi agama. Kita ingin bersandar pada perlindungan para dewa, ini adalah sebuah pemikiran yang tidak masuk akal/pikiran khayal. Apakah para dewa dapat melindungi mu? Pepatah China mengatakan, Bodhisatva (yang terbuat dari) tanah liat saat menyeberangi sungai, dia sendiri pun tak tertolong[4]. Begitulah para dewa, dia pun tidak dapat melindungi diri sendiri, bagaimana dia dapat melindungi mu? Jadi jika anda ingin bergantung pada perlindungan dewa, ini adalah cara berpikir yang beranganangan, itu adalah salah. Dengan mengatakan Buddha dan Bodhisatva memberi -3-

kontribusi kepada kita, atau kita sering mengatakan memberi pemberkatan kepada kita, atau katakanlah memberi perlindungan kepada kita, sesungguhnya apakah maksudnya itu? Tujuannya adalah untuk menjelaskan kepada kita tentang realitas sejati dari kehidupan dan alam semesta ini. Memberitahu kepada kita cara menjalani hidup ini. Oleh sebab itu dia adalah sebuah sistem pengajaran. Pengajaran berarti memberi kekuatan, bimbingan berarti memberi perlindungan. Dia bukan hanya memberi penjelasan tentang teori teorinya saja, bahkan cara caranya pun telah dipaparkan dengan sangat lengkap. Semuanya itu ada di kehidupan sehari hari kita dan tidak perlu mengubah gaya hidup kita (untuk menjalankannya). Gaya hidup kita sebagai bangsa China lebih kurang adalah sama. Tetapi dibandingkan dengan bangsa lain maka perbedaannya tentu menjadi sangat besar. Gaya hidup yang berbeda bukanlah masalah. Kondisi dunia kerja yang berbeda juga bukan masalah. Dalam kondisi gaya hidup dan dunia kerja anda yang sekarang-lah sang Buddha memberikan jalan dalam bentuk berbagai prinsip-prinsip dan teori. Jika mengacu pada cara cara ini untuk berlatih, maka kehidupan anda akan sangat bahagia. Pekerjaan anda akan terasa sangat sempurna, sangat berhasil. Jadi ini adalah manfaat langsung yang anda dapatkan sekarang. Manfaat yang lebih besar lagi adalah bahwa dia membantu anda memutuskan kilesa (noda-noda batin), atau disebut juga menghancurkan kemelekatan. Dia membantu anda untuk meninggalkan semua diskriminasi dan pikiran khayal, agar kebijaksanaan dan sifat pencerahan yang terdapat di dalam sifat sejati anda dapat muncul kembali. Jika kebijaksanaan telah muncul, maka melakukan pekerjaan apapun pasti akan terasa sempurna dan berhasil. Jadi sistem pendidikan dari sang Buddha adalah sistem pendidikan kebijaksanaan. Coba kalian perhatikan, pada saat kehidupan sang Buddha, kalian juga akan dapat menemukan apa fokus jurusan dari bimbingan yang diajarkanNya. Setelah kemangkatan sang Buddha , para siswa mengumpulkan ajarannya dalam bentuk kitab suci. Sesungguhnya jika kita menggunakan istilah bahasa sekarang, kitab suci itu adalah buku pelajaran. Kitab suci tersebut terbagi menjadi 3 kelompok besar yang disebut Tripitaka, yakni Sutra, Vinaya dan Abhidharma. Fokus penekanan yang dipaparkan dalam Tripitaka terletak pada 3 ajaran, yakni Sila (disiplin), Samadhi (Konsentrasi), dan Prajna (Kebijaksanaan). Kalian mesti memahami dengan jelas bahwa Disiplin, Konsentrasi dan Kebijaksanaan itu tidak hubungannya dengan agama. Yang dibutuhkan dalam agama adalah nuansa keagamaan yang sangat menekankan aspek penghormatan dan persembahan pada tuhan/dewa dan harus tunduk sepenuhnya kepadaNya, itulah yang dinamakan umat agama. Dalam agama Buddha tidaklah demikian. Coba perhatikan yang tertulis dalam kitab suci Buddha, pada saat sang Buddha membabarkan dharma, para pendengar maupun para siswa mengajukan pertanyaan untuk berdebat dengan Beliau. Berapapun jumlah pertanyaannya, yang jelas boleh berdebat dengan sang Guru. Namun bagi umat agama, mereka hanya bisa tunduk pada Tuhan yang tiada bandingannya. Mereka tidak boleh berdebat, juga tidak boleh meragukannya. Dalam Buddhisme, kita boleh bertanya habis-habisan, dan ini sama seperti sistem politik di jaman sekarang, jadi Buddhisme bersifat demokratis, bebas dan terbuka. Sedangkan tuhan/dewa adalah bersifat otokrat, diktator. Jadi kita harus mengetahui dengan jelas bahwa sistem ajaran Buddha adalah sistem perguruan, bukan sistem penyembahan. Disebut juga sistem pendidikan, bukan keagamaan. Dalam ajaran Buddha, kedudukan antara semua makhluk hidup dan para Buddha adalah setara. Tidak ada dualisme antara makhluk hidup dan Buddha. Kita memiliki kesetaraan dengan Buddha, lalu di mana letak perbedaan kedudukan kita dengan para guru dharma? Sama juga, yakni setara. Jelas tidak ada perbedaan kedudukan tinggi maupun rendah. Sebagai seorang guru dharma yang sudah cukup berumur dan lebih banyak pengalamannya dalam berlatih ajaran Buddha dibandingkan -4-

dengan kita, maka sebagai pelajar junior kita dapat meminta bimbingan kepada beliau. Sikap demikian juga termasuk sebagai sikap rasa hormat pada guru dan ajarannya. Sikap rasa hormat kita yang demikian juga sama terhadap semua orang. Dalam 10 ikrar bodhisattva Samantha-bhadra [5], ikrar pertamanya mengajarkan kepada kita, Memberi hormat kepada para Buddha. istilah Para Buddha di sini berarti mencakup semua makhluk hidup. Para Buddha disini meliputi 3 masa Buddha, yakni Buddha dari masa lalu, Buddha dari masa sekarang dan Buddha dari masa mendatang. Siapakah Buddha dari masa mendatang itu? Semua makhluk hidup itu-lah Buddha dari masa mendatang. Oleh sebab itu Beliau selalu memberi hormat kepada para Buddha dari 3 masa secara merata. Mengapa demikian ? karena sikap hormat secara merata merupakan hakikat dari kebajikan anda. Sikap hormat secara merata (non-diskriminasi) itu adalah Pencerahan yang benar dan setara. Sedangkan sekarang anda merasa tidak senang dengan setiap orang, dengan mengatakan saya memandang rendah orang ini, dia tidak sebaik saya, untuk apa saya harus memberi hormat? Timbulnya pikiran demikian merupakan kesesatan dan keterbalikan pikiran anda, dengan demikian nodanoda batin anda pun muncul permukaan dan sifat sejati anda pun menjadi terbelenggu. Jika bagi para Buddha dan bodhisattva yang melihat makhluk makhluk ini bahkan makhluk rendah seperti binatang sekalipun, maka sikap Mereka adalah penghormatan secara merata (non-diskriminasi). Itu-lah perbedaan Mereka dengan kita. Mengapa? Mereka tidak tersesat, kita-lah yang sesat. Karena sesat maka timbullah kesombongan. Dalam Pencerahan tidak terdapat kesombongan. Jadi kesombongan itu adalah noda batin, noda batin besar. Berbicara tentang noda batin, maka noda batin kesombongan adalah urutan selanjutnya dari noda batin paling utama keserakahan, kebencian dan kegelapan batin. Masyarakat di jaman sekarang ini, bila memiliki sedikit pencapaian saja maka merasa layak bersikap bangga. Coba kalian pikir-pikir, itu sudah sepantasnya timbul noda-noda batin, sepantasnya sesat dan bingung. Di sini-lah letak kesalahannya. Semakin banyak masyarakat di masa sekarang ini telah tersesat, dan berapa orang yang menyadarinya? Tidak ada hal lain yang kita belajar dari Buddhisme, inilah yang ingin kita pelajari, inilah yang kita butuhkan, khususnya kepada para pemula, jangan sampai mengalami kesalahan, karena jika sekali salah di awalnya maka akan terus salah sampai akhir, itu akan sangat disayangkan. Jadi sekali mengawali pembelajaran Buddha dharma, maka harus mengerti dengan jelas bahwa Buddha tidak memiliki diskriminasi. Dalam istilah bahasa sehari hari, para Buddha dan bodhisattva sebenarnya hanya disebut sebagai orang yang telah mengerti, orang yang sadar. Apakah kita ingin menjadi orang yang mengerti atau ingin menjadi orang yang sadar? Jika mau maka anda pasti akan mau mempelajari ajaran Buddha. Ada 2 tingkatan maksud dalam mempelajari Buddhisme. Pertama adalah belajar untuk menjadi mengerti, menjadi sadar. Inilah maksud dari ajaran Buddha. Jadi arti kata Buddha adalah yang telah sadar. Maksud kedua adalah bahwa kita harus belajar seperti sang Buddha Sakyamuni, harus belajar seperti sang Buddha Amitabha. Harus belajar sama seperti semua Buddha. Mereka adalah orang yang telah mengerti dan telah sadar, jadi mereka adalah sebuah sikap tauladan untuk kita. Jika terdapat dua tingkatan maksud dalam mempelajari Buddhisme ini, maka anda baru benar-benar dapat belajar dengan berhasil, benar-benar dapat menirunya dan benar benar ada pencapaian. Bagi seorang pemula, ini-lah yang harus kita ketahui dengan jelas, harus dipahami. Selanjutnya kita bicarakan tentang kondisi 6 alam kehidupan ini. 6 alam kehidupan merupakan jelmaan dari noda-noda batin. Noda-noda batin berasal dari kemelekatan. Jika ada kemelekatan, maka akan ada 6 alam tumimbal lahir. Ada

-5-

kemelekatan maka dipastikan tidak akan dapat terbebas dari 6 alam tumimbal lahir. Hal ini harus kalian pahami. Sesungguhnya kita mulai belajar Buddhisme bukan pada saat 2 tahun, 3 tahun atau belasan tahun yang lalu. Jika anda berpikir demikian maka anda telah salah. Tidak mungkin sesederhana itu. Para praktisi ajaran Buddha semuanya mengakui bahwa semua makhluk hidup memiliki 3 masa kehidupan. Kita memiliki kehidupan yang lalu, memiliki kehidupan yang akan datang. Masa lalu tidak memiliki awalnya, masa mendatang tidak memiliki akhir. Hari ini kita dapat membangkitkan tekad untuk belajar Buddhisme, itu karena pada banyak kehidupan yang lalu memiliki jumlah akar kebajikan yang tak terhitung. Sang Buddha telah banyak membicarakannya dalam kitab suci Mahayana. Kabarnya para praktisi di sini telah sering melantunkan kitab Maha Sukhavati-vyuha Sutra. Di dalam kitab ini telah membicarakannya dengan sangat jelas. Dalam kitab tersebut telah dengan jelas memberitahu kepada kita, seperti tentang Pangeran Ajatasatru bersama 500 orang pengikutnya. Mereka adalah sebuah kelompok kecil yang sering menghadiri wejangan dharma dari sang Buddha. Saat mereka mendengar wejangan pengenalan alam Sukhavati oleh sang Buddha, mereka merasa sangat bergembira, pikiran merekapun tergugah dan mendambakan pada masa mendatang dapat mencapai ke-buddha-an sama seperti kondisi Buddha Amitabha. Sang Buddha memiliki kekuatan membaca pikiran orang, saat timbul pikiran dalam diri anda maka Dia akan mengetahuinya. Sang Buddha lalu memberitahu kepada para hadirin, bahwa ke 500 orang ini pada kehidupan lalunya telah pernah memberi persembahan kepada 40 milyar Buddha. Tidak perlu membicarakan lainnya, katakanlah 3 asankhyeya kalpa adalah waktu yang dibutuhkan untuk menjadi seorang Buddha.[6] Bagaimana dengan 40 milyar Buddha? Ini sungguh sebuah angka luar biasa. Dengan demikian anda akan sadar bahwa sesungguhnya jumlah akar kebajikan yang pernah ditanam oleh seorang praktisi Buddha sungguh tak terbayangkan. Saya rasa sebagian besar hadirin yang berada di sini memiliki akar kebajikan yang melebihi pangeran Ajatasatru. Mengapa? Mereka (kelompok Ajatasatru) memberi persembahan kepada 40 milyar Buddha. Namun akar kebajikan dan berkah yang demikian setelah mendengar tentang alam Sukhavati, hanya terpikir keinginan untuk mencapai kebuddhaan seperti Buddha Amitabha. Namun mereka masih belum membangkitkan tekad melafal nama Buddha untuk terlahir di Tanah-murni. Sedangkan kita telah mendengarnya hari ini, ternyata mau membangkitkan tekad melafal nama Buddha untuk terlahir di tanah-murni, maka sesungguhnya akar kebajikan dan berkah anda sekalian sangat jauh melebihi mereka. Jangan meremehkan diri sendiri dengan anggapan noda batin diri kita sangat berat, rintangan karma dan kebiasaan laten yang sangat dalam, kemudian selalu merasa diri sendiri tidak memiliki akar kebajikan dan berkah. Maka anda telah salah dalam hal ini. Sesungguhnya bila anda benar benar membangkitkan tekad untuk terlahir di tanahmurni, maka (ini pertanda) akar kebajikan dan berkah yang dimiliki anda tak terbayangkan. Pada akhir tahun lalu dan awal tahun ini saya telah satu kali berceramah tentang kitab Sutra Intan. Juga menghabiskan waktu selama 4 bulan. Kitab ini khususnya oleh penganut agama Buddha di China paling sering dilantunkan. Banyak orang yang belum pernah melantunkan kitab Amitahba Sutra, namun mengenai kitab Sutra Intan, sangat jarang orang yang tidak mengetahuinya. Orang yang melantunkan kitab Sutra Intan sangat banyak. Dalam kitab Sutra Intan, sang Buddha juga pernah berkata bahwa bila anda mendengar kitab ini dan dapat meyakininya, tidak meragukannya dan dapat menerimanya, maka orang ini memiliki akar kebajikan dan berkah yang tak terbayangkan. Orang ini pasti bukan hanya telah pernah menanam kebajikan kepada satu Buddha, dua Buddha, tiga Buddha, empat Buddha, lima Buddha saja, tapi telah pernah menanam kebajikan kepada Buddha yang jumlahnya tak terhitung. Jika anda -6-

meneliti perkataan ini dengan kisah tentang pangeran Ajatasatru yang terdapat dalam kitab Maha Sukhavati-vyuha Sutra, maka ditemukan bahwa sang Buddha tidak-lah berbohong. Kita harus memastikan diri bahwa akar kebajikan dan berkah yang kita miliki sekarang ini adalah hasil penanaman dari jumlah kalpa tak terhitung di masa lalu hingga sampai pada hari ini. Ini sungguh tak terbayangkan. Namun apa yang kurang dari kita hari ini? Kita memiliki akar kebajikan, ini menandakan sebab telah ada. Yang kurang adalah faktor(hubungan sebab akibat) . Jika sebab dan faktor telah terpenuhi, maka di kehidupan ini anda pasti akan dapat menjadi Buddha, yang bukan hanya telah melampaui 6 alam kehidupan, bahkan melampaui 10 dharmadhatu. Ini adalah kenyataan. Dalam tiga hari ini, kita akan membahas permasalahan ini. Kita sesungguhnya benar benar memiliki kesempatan untuk mencapai kebuddhaan pada kehidupan ini, mencapai pencerahan sempurna dalam kehidupan ini. Jika anda memiliki tekad ini, maka anda harus mengikuti apa yang telah diajarkan oleh sang Buddha. Apa yang sang Buddha ajarkan kepada kita, maka kita harus melaksanakannya dengan sungguh sungguh. Apa yang dilarang oleh sang Buddha, maka kita harus tidak melakukannya. Dari hal ini kita bangun kepercayaan diri kita. Kepercayaan diri harus seperti yang disebutkan dalam kitab Sutra Intan, Kepercayaan diri yang tidak menentang. Dengan demikian maka dalam kehidupan ini akan memiliki kesanggupan untuk berhasil. Ini bersandar pada nasihat dari sang Buddha, bersandar pada prinsip dan cara yang telah diwejangkan oleh sang Buddha, maka ini baru berarti mendapatkan pemberkatan dan perlindungan dari sang Buddha. Jadi melalui kitab suci-lah sang Buddha melindungi kita, yakni menggunakan prinsip ajaran dan cara-cara yang terdapat dalam kitab suci untuk membantu kita. Sama sekali tidak ada hal yang berbau mistik[7] di dalam ini. Inilah yang harus kita ketahui dengan jelas. Kita-pun telah mengetahui tentang 6 alam kehidupan, 10 dharmadhatu. 6 alam kehidupan adalah kemelekatan, 10 dharmadhatu itu (timbul dari) membeda-bedakan (diskriminasi). Dengan mengetahui hal demikian, maka kita pun tidak melekat lagi pada semuanya, noda-noda batin pun tidak ada lagi. Semuanya tidak lagi diskriminatif, dan rintangan pengetahuan[8]-pun telah dihancurkan. Maka akan dapat melampaui 10 dharmadhatu. Lalu akan menuju kemanakah? - Pada kondisi demikian maka sang Buddha terpaksa baru menggunakan sebuah istilah, yakni YiZhenFaJie (Satu Dharmadhatu sejati)- maka anda akan memasuki Satu dharmadhatu sejati. Dalam satu dharmadhatu sejati juga masih terdapat banyak tingkatannya. Seperti dalam kitab Avatamsaka Sutra, ke 41 bodhisatva agung yang telah mencapai dharmakaya(tubuh dharma) pun disebut Satu dharmadhatu sejati. Dalam ajaran sempurna[9], dari jalan bodhisattva tingkat kediaman pertama hingga tingkat pencerahan setara, semuanya memililiki 41 tingkatan[10], dan dari manakah datangnya ke 41 tingkatan itu? Dari pikiran khayal. Ketahuilah bahwa pikiran khayal juga disebut dengan kegelapan batin (avidya). Oleh sebab itu, dengan menghancurkan satu nilai avidya (kegelapan batin) maka akan meraih satu nilai dharmakaya. Jika 41 satu nilai kegelapan batin telah total dihancurkan maka dharmakaya pun muncul dengan sempurna. Maka ini disebut dengan Buddha yang maha sempurna. Dengan menghancurkan satu nilai avidya dan meraih satu tingkat dharmakaya berarti mencapai bodhisattva tingkat kediaman pertama berdasarkan konteks ajaran sempurna. Bodhisatva ini dalam tradisi Tientai menyebutnya sebagai FenZhengJiFo (tingkat Buddha yang dicapai sebagian) [11]. Terdapat 41 tingkat dalam tingkat FenZheng ini. Pada tingkat ke 42 berarti telah mencapai kesempurnaan (menjadi Buddha yang sesungguhnya). Jadi ke 41 tingkat tersebut dapat disebut dengan Buddha FenZheng , itu adalah benar-benar Buddha, bukan palsu. Dengan demikian terlihat jelas bahwa pikiran khayal itu paling sulit dihancurkan. -7-

Dalam kitab Avatamsaka Sutra bab tentang Kemunculan, sang Buddha bersabda, Semua makhluk hidup memiliki tanda kebijaksanaan Tathagata, namun karena adanya pikiran khayal dan kemelekatan sehingga tidak dapat mencapainya . Sabda ini telah mengungkapkan sumber penyakit kita., yang juga telah mencakup kondisi tentang 6 alam kehidupan, 10 dharmadhatu, satu dharmadhatu sejati. Pada saat sekarang ini setiap tindak-tanduk pikiran kita pun terperosot dalam pikiran khayal, diskriminatif, dan kemelekatan. Tidak mengetahui cara untuk meninggalkannya. Dan bagaimana ini? Anda berpikir dengan cara apapun tetap tidak dapat meninggalkannya. Anda masih akan tetap terperosot dalam ruang lingkupnya, bahkan terus demikian dalam berbagai kehidupan dan semakin mendalam. Mengapa? Karena pikiran khayal, diskriminatif, dan kemelekatan yang terkumpul dari berbagai masa kehidupan, semakin lama semakin banyak, semakin terkumpul maka penyakitnya semakin parah, ini merupakan masalah besar, masalah yang sangat serius. Jika tidak diatasi, sesungguhnya sangat berbahaya. Jadi kita harus mengetahui keseriusan masalah ini. Jika kita tidak mengatasi masalah kita yang hidup di alam tumimbal lahir ini pada kehidupan ini juga, kemudian pada kehidupan selanjutnya akan bertumimbal lahir lagi, maka kemungkinan untuk terlahir di 3 alam buruk akan lebih besar, dan kesempatan terlahir di 3 alam baik akan lebih kecil. Ini adalah kenyataan. Jadi Sang Buddha mengatakan hal ini dalam kitab suci bukan untuk menakuti kita. Coba kita renungkan secara mendalam, dari pagi hingga malam, jenis pikiran apakah yang paling banyak timbul di dalam diri kita, pikiran baik atau pikiran buruk?. Dari pagi hingga malam saya selalu melafal Amitabha Buddha, sebanyak 10 ribu kali dalam satu hari, 20 ribu kali, oh pikiran baik saya lebih banyak, kan (karena) melafal nama Buddha. Anda sendiri menganggap pikiran baik anda lebih banyak, tapi coba anda renungkan lagi baik-baik, anda melafal nama Buddha untuk diri sendiri atau untuk makhluk hidup lain? Jika untuk diri sendiri, itu berarti pikiran buruk, demi diri sendiri berarti menambah kemelekatan pada sang ego/aku. Kitab Sutra Intan mengatakan, Jika bodhisattva melekat pada konsep aku, orang, makhluk hidup, kehidupan, maka itu bukan-lah bodhisattva. Jika anda melafal nama Buddha 10 ribu kali sehari adalah untuk diri sendiri, berarti menambah kemelekatan pada sang ego/aku, maka masih belum dapat terbebas dari 6 alam tumimbal lahir, masih tidak dapat terlahir di tanah-murni. Perlu anda ketahui bahwa melantunkan nama Buddha sebanyak 10 ribu kali, para sesepuh masa lalu menyebutnya Melantun sampai tenggorokan pecah pun sia-sia saja. Memang tidak sedikit nama Buddha yang telah dilafalkan, melafalnya memang sangat banyak, tapi yang ada di dalam pikiran anda itu adalah demi kepentingan dan keuntungan diri sendiri. Pikiran anda ini bukan bodhicitta (batin pencerahan). Coba anda perhatikan kitab Maha Sukhavati-vyuha Sutra, di mana salah satu syarat dapat terlahir di 3 jenjang tanah-murni --yang terdiri dari jenjang tertinggi hingga terbawah [12]-- tanpa terkecuali adalah Membangkitkan bodhicitta, merenungkan secara khusus pada satu tujuan . Anda memiliki perenungan pada satu tujuan tapi tidak membangkitkan bodhicitta, maka anda masih belum dapat terlahir (di tanah-murni). Jadi harus membangkitkan bodhicitta. Apakah bodhicitta (batin pencerahan) itu? Tidak mementing diri sendiri itu-lah bodhicitta. Jadi kita harus memahami konsep ini, mengetahui realitas sejati (kenyataan sesungguhnya) dari hal ini, yakni bahwa pikiran yang ditimbulkan dalam melafal nama Buddha adalah demi semua makhluk hidup, demi agama Buddha bukan demi diri sendiri, maka kita baru dapat menemukan jalan keluar. Apa maksud dari kalimat demi agama Buddha, demi semua makhluk hidup, kalian harus memahaminya dengan jelas,. Sepertinya anda telah mengerti tetapi sebenarnya masih belum. Apa maksud dari demi agama Buddha? Apakah berarti demi pusat kegiatan agama-nya? demi viharanya-kah? demi para Buddha dan bodhisattva-kah? maka anda telah salah. Kemudian istilah demi semua -8-

makhluk hidup, kita menolong semua makhluk hidup apakah dengan cara mengeluarkan uang dan tenaga? Semuanya telah salah. Semua ini bukan-lah maksud sebenarnya dari sang Buddha. Dengan kata lain, bukan maksud dari pencerahan. (Jika demikian) anda masih dalam kungkungan kesesatan dan kebingungan. Jika mengatakan demi Buddha dharma, maka pertama-tama anda harus mengerti dulu apakah Buddha itu, apakah dharma itu?. dharma berarti segala sesuatu yang mencakup hal duniawi maupun yang diatas duniawi. Dharma yang diajarkan dalam ajaran Buddha terbagi menjadi sangat banyak, seperti 5 nafsu keinginan, 12 ayatana, 18 dhatu, dalam kitab Suranggama Sutra mengatakan tentang 7 mahabhuta, semua ini merupakan cara pembagiannya. Mari kita bicara dari konteks yang paling sederhana dan sangat mudah dimengerti oleh anda sekalian, yakni Orang, Permasalahan, dan Objek/benda. Ini mudah dipahami, pembagiannya mudah. Kita membagi semua dharma menjadi 3 bagian ini., maka dia (terlihat jelas) berada di depan mata kita yakni semua orang, semua permasalahan, semua objek/bentuk, inilah maksud dari kata dharma. Apakah arti kata Buddha itu? Buddha berarti sadar. Jika anda dapat sadar dan tidak dikelabui oleh semua orang, permasalahan dan bentuk, maka ini disebut Buddha dharma. Jadi yang dimaksud demi Buddha dharma adalah demi yang ini. Jika saya dapat cerah dan tidak terbelenggu, benar dan tidak tersesatkan, suci dan tidak ternodai oleh semua orang, oleh semua permasalahan, dan oleh semua bentuk, maka ini baru disebut demi Buddha dharma , inilah maksudnya. Jika anda menggunakan perasaan/emosi untuk menghadapi segala sesuatu maka anda telah memiliki pandangan terbalik/bingung, maka itu bukan lagi demi Buddha dharma, melainkan berkutat dengan hal kelabu, sesat dan noda. Hal demikian adalah jalan duniawi, jalan 6 alam tumimbal lahir, jadi jangan sampai memiliki pemahaman yang salah. Berkutat dalam hal demi Buddha dharma malah menjadi jalan 6 alam tumimbal, bukankah ini menjadi terbalik? Mana bisa demikian. Oleh sebab itu harus memiliki pengertian yang benar terhadap makna kata Buddha, tidak boleh salah mengerti terhadap maknanya. Juga tidak boleh asal asalan, harus jelas dan mengerti. Kemudian demi makhluk hidup, bagaimana demi semua makhluk hidup itu? Yakni harus menjadikan diri sendiri sebagai tauladan bagi semua makhluk hidup, seperti para Buddha dan bodhisattva. Jadi para Buddha dan bodhisattva merupakan tauladan dari makhluk hidup yang berada di 9 dharmadhatu itu. Juga dapat dikatakan bahwa kita harus menjadi sebuah sikap contoh yang baik, harus memiliki sikap cerah (sadar), benar, dan suci untuk memperlihatkan kepada orang, maka ini baru disebut demi semua makhluk hidup. Bagaimana cara menjalankan cerah, benar dan suci itu? Yakni dalam kehidupan sehari hari kita, saat mengenakan pakaian harus sadar, benar dan suci, saat menyantap makanan harus sadar, benar dan suci, saat bekerja harus sadar, benar dan suci, memberi contoh kepada semua makhluk hidup maka ini disebut demi semua makhluk hidup. Jika tidak percaya, coba anda baca kitab Sutra Intan. Pada bagian awal Sutra tersebut sang Buddha Sakyamuni mempertunjukkan pola hidup mengenakan pakaian, mengambil mangkok sedekah, masuk ke kota Sravati untuk ber-pindapatra(menerima dana makanan). Setiap hari (sang Buddha) melakukan hal demikian, ini memberikan contoh yang baik sebagai seorang yang meninggalkan kehidupan rumah tangga. Beliau muncul dengan identitas sebagai seorang yang meninggalkan kehidupan rumah tangga, sebagai seorang yang mengajar, berceramah, dan membimbing semua makhluk hidup. Oleh sebab itu Beliau memberikan contoh yang baik dalam pola hidup dan lingkungan kerja-nya. Kita telah berbicara sangat detil dalam ceramah tentang kitab Sutra Intan. Dengan menggunakan cara ini-lah sang Buddha membimbing semua makhluk hidup, yakni mempertunjukkan kepada semua orang. Oleh sebab itu dalam kitab tersebut mengajar kepada para praktisi generasi belakangan seperti kita ini dengan mengatakan -9-

Terimalah sebagai pegangan, lantunkan, dan berikan ceramah kepada orang. Perkataan ini dalam kitab Sutra Intan telah diulang dan terus diulang sebanyak belasan kali, dengan kata lain, perkataan ini memang sangat penting sekali. Terima disini berarti dapat menerima semua falsafah ajaran yang dikatakan dalam kitab suci, dan dapat menerima nasihat-nasihat sang Buddha. Pegangan berarti menerimanya sebagai pegangan dan kita harus mempraktekkannya berdasarkan ajarannya, harus menjadikannya sebagai jalan hidup kita, menjadikannya sebagai konsep kita, maka kitapun menjadi sama seperti Buddha.Memberi (pertunjukkan) ceramah kepada orang , di sini berarti memberi pertunjukkan yang diperuntukkan demi semua makhluk hidup, kita mewujudkannya, menjadikan diri sebagai contoh. Mengenai bagaimana cara melakukannya, maka ini adalah cara bersifat dinamis, bukan bersifat kaku. Melihat penyakit apa yang diderita makhluk hidup, maka kita memberikan obat sesuai dengan penyakitnya. Jadi kita mempertunjukkan ini kepada mereka. Kondisi masyarakat sekarang ini di manapun kami sering mengunjungi ke berbagai daerah di mana kondisi yang kami saksikan adalah keserakahan, kebencian dan kegelapan batin berkembang dengan sangat cepat, ini sungguh sangat berbahaya. Keserakahan, kebencian dan kegelapan batin disebut sebagai 3 racun. Racun apakah itu? Yakni racun penyakit. Sekarang ini kalian mendengar kata penyakit kanker saja sudah sangat takut. Penyakit kanker itu bukan-lah apa apa. Itu cuma penyakit kecil saja. Keserakahan, kebencian dan kegelapan batin, itu-lah baru disebut penyakit besar. Dia bukan saja akan merenggut nyawa anda, bahkan masih akan membuat anda jatuh ke alam neraka. Jadi betapa berat penyakit ini, dan penyakit ini terus berkembang dari hari ke hari. Setiap hari berkutat dengan penyakit ini, coba anda katakan, betapa berbahayanya. Di dalam diri ini terdapat keserakahan, kebencian dan kegelapan batin, sedangkan di luar terdapat godaan para setan,iblis mara . Dengan kondisi seperti ini apakah anda masih dapat menjalankan hidup dengan baik? Apakah yang dimaksud dengan setan iblis mara itu? 5 nafsu keinginan dan 6 objek itu-lah yang disebut setan iblis mara. Harta, sex, popularitas, makanan dan tidur (5 nafsu keinginan) ini menggoda anda dari luar, sedangkan dari dalam diri terdapat keserakahan, kebencian dan kegelapan batin, maka bagaimana anda tidak dapat terjatuh ke 3 alam buruk? Berapa banyak orang yang dapat menyadari tentang betapa ngerinya masalah ini? Berapa banyak orang yang mengetahui betapa serius permasalahan ini? Para Buddha dan bodhisattva-lah yang mengetahuinya. Dengan mempelajari Buddha dharma secara perlahan-lahan kita tersadarkan kembali, maka kita harus memberi pengobatan yang sesuai dengan penyakit yang diderita semua makhluk hidup. Para makhluk hidup mengidap keserakahan, maka kita pertunjukkan sikap tidak serakah kepadanya. Dia merasa keserakahannya terhadap harta itu bermanfaat, maka kita pertunjukkan kepadanya bahwa kita tidak memiliki keserakahan juga bermanfaat. Dan manfaat yang kita alami terasa lebih bahagia dan lebih leluasa dibandingkan dengan dia. Biarkan dia melihatnya sendiri, setelah melihatnya beberapa lama, biarkan dia merenungkannya sendiri, menyadarinya sendiri. Inilah yang disebut pertunjukkan, memberi pertunjukkan kepadanya untuk dilihat. Jika dia telah mengerti, dan telah sadar, dia pun akan datang untuk bertanya, maka kita baru memberikan penjelasan lebih detil kepadanya. Oleh sebab itu, pertama tama adalah memberi pertunjukkan terlebih dahulu, kemudian baru memberikan penjelasan/bimbingan. Saat sang Buddha Sakyamuni memasuki kota Sravasti, mengenakan pakaian, mengambil mangkok sedekah dan ber-pindapatra (menerima dana makanan), ini merupakan pertunjukkan. Kemudian Subhuti melihat kejadian ini, beliaupun memuji, langka, langka, dan setelah itu baru bertanya kepada Sang Buddha, dan percakapan - 10 -

inilah kemudian tercatat menjadi sebuah kitab Vajracheddika Prajna Paramita Sutra (Sutra Intan). Coba anda perhatikan, pertama-tama adalah memberi pertunjukkan, setelah orang melihatnya, menyadari dari di sini, maka baru diberikan penjelasan/wejangan kepadanya. Hal inilah yang harus kita pelajari dalam mempelajari ajaran Buddha. Dalam kehidupan sehari-hari, anda harus belajar untuk menjauhi keserakahan, kebencian dan kegelapan batin. Dalam kehidupan sehari-hari kita seperti mengenakan pakaian, menyantap makanan, bekerja, bergaul, melayani orang dan berhadapan dengan masalah, kita tunjukkan sikap tidak memiliki keserakahan, kebencian dan kegelapan batin. Kita berikan contoh kepada orang lain, inilah yang disebut belajar Buddha dharma. Mungkin ada rekan praktisi akan berkata, jika saya mengikuti cara ini, maka saya tidak bisa lagi mencari uang dan saya tidak bisa menjalankan hidup lagi. Rasa takutnya pun muncul dan masalahnya pun menumpuk. Sebenarnya pertanyaannya ini muncul karena memiliki pandangan yang salah. Tidak ada satupun pertanyaannya yang benar. Jika anda beranggapan bahwa setiap hari berkutat dengan keserakahan, kebencian dan kegelapan batin akan dapat membuat anda meraup banyak uang setiap hari, dan jika anda benar benar memiliki kemampuan ini, maka bukan hanya sang Buddha Sakyamuni saja bahkan semua Buddha pun akan bersujud kepada anda sebagai guru. Betapa hebatnya anda. Mengapa mereka akan bersujud pada anda sebagai guru? Karena anda sanggup menumbangkan hukum sebab akibat, sedangkan Buddha pun tidak sanggup menumbangkan hukum sebab akibat. Pepatah mengatakan Setiap makanan dan minuman (yang kita santap) sudah ada ketentuannya dari masa lalu , maka bagaimana anda dapat memaksakan diri untuk meraih keuntungan yang lebih banyak? Mana ada teori seperti itu? Jadi ketahuilah, cara apa pun yang anda gunakan, harta yang anda dapatkan semua ini merupakan hak milik anda yang sudah ada dalam ketentuan hidup anda. Jika tidak ada dalam ketentuan hidup anda, maka anda ingin meraup lebih banyak lagi juga tidak akan berhasil. Jika anda telah mengerti kenyataan ini, maka anda baru akan tahu bahwa segala cara yang anda gunakan itu menjadi sia sia. Malahan telah menambah karma baru, dan sama sekali tidak dapat menambalnya kembali atas kenyataan yang terjadi. Mengenai hal ini, kalian akan mengetahuinya jika membaca buku kitab Empat Ajaran LiaoFan. Dalam kitab ini telah memaparkan prinsip dan fakta dengan sangat jelas, bahwa sesungguhnya memang benar bahwa setiap makanan dan minuman (yang kita santap) sudah ada ketentuannya dari masa lalu. Jika sesuatu ada dalam ketentuan hidup anda maka secara alami dia akan ada. Profesi apapun yang anda jalankan, maka jalankanlah sesuai dengan ketentuannya. Profesi anda ini merupakan suatu faktor, harta milik anda merupakan ketentuan yang sudah ada dalam hidup anda, dan itu merupakan suatu sebab. Dengan adanya sebab dan factor maka akibat pun akan muncul. Namun tidak bisa mengatakan bahwa sesuatu ada dalam ketentuan hidup saya maka saya tidak perlu bekerja, saya duduk diam saja tidak mau bergerak, dan uang pun akan jatuh ke hadapan saya. Tidak ada hal demikian. Jika demikian maka anda juga telah salah. Sesuatu yang telah ada dalam ketentuan hidup anda itu merupakan penyebab, Penyebab harus lah bertemu dengan faktor. Oleh sebab itu dalam ajaran Buddha mengatakan tentang teori kausalitas (hubungan sebab akibat), dan dalam teori kausalitas, faktor adalah hal yang cukup penting. Memiliki harta yang berlimpah, penyebabnya adalah berdana dalam bentuk materi. Karena anda senang berdana dalam bentuk materi pada kehidupan lalu, maka di kehidupan sekarang ini anda mendapatkan harta yang berlimpah. Semakin banyak anda berdana maka semakin banyak pula anda mendapatkannya. Jika anda berdana sedikit, maka yang anda dapatkan juga sedikit. Inilah yang disebut ada dalam ketentuan hidup - 11 -

anda, yang merupakan hasil dari usaha sendiri, bukanlah pemberian dari orang lain. Jika tidak ada dalam ketentuan hidup kita, dengan berkata aduh..jika Buddha melindungi saya, saya pun akan menjadi kaya, pandangan ini juga salah. Buddha dan bodhisattva tidak dapat melindungi anda. Yang dilakukan Buddha dan bodhisattva adalah memberitahu kepada anda tentang sebab dan akibat. Buddha dan bodhisattva mengajari anda untuk berdana, maka anda akan dapat mendapatkan kekayaan, anda menanam sebab maka dibelakangnya pasti ada hasil akibatnya. Kemudian memberi dana dalam bentuk dharma, maka buah akibatnya adalah memperoleh kecerdasan dan kebijaksanaan. Memberi dana ketentraman (rasa aman), mkaa buah akibatnya adalah memperoleh kesehatan yang baik dan usia panjang. Manusia duniawi ini memiliki keserakahan terhadap kekayaan, kecerdasan, kesehatan dan usia panjang, namun dia tidak memupuk sebabnya dan malahan menghalalkan segala cara agar dapat memperoleh semua itu. Dia tidak mengetahui bahwa apa yang diperoleh itu semua merupakan hasil pemupukan yang telah dilakukannya pada kehidupan lalu, namun pada kehidupan ini secara tidak pantas telah menciptakan begitu banyak karma buruk. Setelah buah akibatnya (yang dipupuk pada masa lalu) telah habis dinikmati, maka giliran buah karma buruk lagi yang akan muncul. Dengan munculnya buah karma buruk ini, maka akan terperosot ke dalam 3 alam buruk. Inilah yang merupakan prinsip yang sesungguhnya, merupakan kenyataan yang sesungguhnya, jadi kita tidak boleh tidak mengetahuinya, jangan sampai tidak jelas, dan jangan sampai memiliki pandangan sesat. Seandainya saya berdana materi dalam jumlah yang sangat sedikit pada kehidupan lalu, sehingga pada kehidupan sekarang ini kehidupan materi saya agak mengalami sedikit hambatan , apakah ada cara untuk mengatasinya? Ada. Dan bagaimana caranya? Yakni berdanalah dalam bentuk materi sesering mungkin. Oleh sebab itu dalam kitab kecil Empat Ajaran LiaoFan ini pada saat saya baru belajar Buddha dharma, Upasaka tua ZhuJingZhou memberikan buku ini kepada saya - setelah membacanya saya merasa sangat bergembira, namun saya mulai memahami maknanya ini dan mengetahui kebesaran maknanya adalah pada tahun 1977, di mana saat itu pertama kali saya memberi ceramah di Hongkong, saya menetap di Perpustakaan Agama Buddha China - yang didirikan oleh bhiksu tua TanXu - , saat itu saya menetap di sana dalam waktu yang cukup lama sekitar 4 bulan dan memberi ceramah tentang kitab Suranggama Sutra. Saya sangat memperhatikan buku yang dikoleksi perpustakaan, khususnya terhadap buku-buku dari penerbit HongHuaShi. Pendiri Penerbit HongHua adalah (alm.)bhiksu YinGuang. Saya baru mengetahui bahwa semua hasil dana yang diberikan para umat kepada bhiksu YinGuang digunakan untuk berdana dharma sepanjang hidupnya. Tidak ada hal lain yang dilakukan beliau selain melakukan kegiatan penyebaran Buddha dharma. Di sini memberitahu kepada kita tentang betapa pentingnya penyebaran Buddha dharma itu. Hanya dengan membantu orang untuk menjadi sadar-lah baru dapat mengatasi masalah masyarakat. Dalam kegiatan Wejangan Dharma pada Puja-bhakti doa keselamatan bangsa agar terhindar dari bencana di kota ShangHai, -kita tahu bahwa pada saat itu terjadi bencana di wilayah utara (China) sang bhiksu tua YinGuang turut memberi bantuan bencana di mana mana. Orang tua ini mengeluarkan dana dari percetakan kitab suci sebanyak 3.000 yuan untuk memberi bantuan bencana, di sini kita baru tahu bahwa sang bhiksu tua YinGuang sepanjang hidupnya memberi perhatian besar pada berdana dharma. Dalam berdana dharma tentu terdapat dana berupa materi di dalamnya. Anda mencetak kitab suci tentu memerlukan materi uang, dan kitab suci yang anda cetak adalah dharma, lalu kitab-kitab ini setelah dibaca oleh orang-orang maka mereka menjadi sadar, maka mereka pun telah menjadi tenang. Oleh sebab itu dalam satu cara

- 12 -

berdana ini telah mencakup dana materi, dharma dan ketenangan. Ini memang cara yang brillian. Oleh sebab itu setelah kembali dari Hongkong, saya pun mendirikan sebuah lembaga yang disebut Lembaga Dharmadana HuaZhang yang saya belajar dari sang bhiksu tua. Setelah memperhatikan lebih seksama tentang buku-buku yang diterbitkannya seperti Empat Ajaran LiaoFan, TaiShangGanYingPianHuiBian (Kompilasi atas kitab nasihat Dewa LaoTzu), Nasihat dewa WenChang- bagian dari kitab karya ZhouAnShi, buku-buku seperti ini dicetak dalam jumlah yang lebih banyak, dan saya melihat di lembaran hak ciptanya tertulis cetakan ke 30, ke- 40, bahkan setiap kali cetakannya minimal berjumlah 30.000 eksemplar dan paling banyak mencapai 100.000 eksemplar. Ini sungguh mengejutkan saya, dan saya pun tidak habis pikir. Padahal kitab Sutra Buddha tidak dicetak sebanyak itu, dan jumlah cetakan per edisinya juga tidak banyak, paling banyak juga tidak lebih dari 5, 6, atau 10 kali sudah merupakan yang terbanyak. Jumlah eksemplarnya juga paling paling 1.000, 2.000, 3.000. Yang melebihi 3.000 eksemplar juga sangat sedikit. Jadi saya pun bertanya-tanya dalam hati apa sebab beliau mencetaknya begitu banyak. Saya pun menghitung secara ringkas, ketiga jenis buku tersebut pada saat itu telah dicetak lebih dari 3 juta eksemplar, saat itu adalah masa-masa antara tahun 1920 dan 30-an di mana teknologi percetakan juga belum begitu maju, dengan menggunakan percetakan manual saja dapat mencetak dalam jumlah yang begitu besar sungguh mengejutkan sekali. Kemudian setelah dipikir pikir dengan seksama, kita baru dapat memahami maksud dari sang guru tua, bahwa pada jaman sekarang ini hanya melalui penggalakkan ajaran hukum karmalah baru dapat menyelamatkan orang di dunia ini. Buddha dharma meskipun sangat bagus, tetapi sudah tidak sempat lagi. Kitab-kitab Confucius meskipun sangat bagus, itu lebih lambat lagi. 3 jenis kitab ini sangatlah penting sebagai cara penyelamatan darurat. Karena kitab-kitab tersebut memiliki teori-teori yang cukup lengkap, memiliki cara-cara yang cukup detil, dan apa yang diutarakan merupakan fakta. Jika membaca ke 3 buku ini secara seksama, maka akan dapat menahan diri atas timbulnya pikiran (negatif), tahu untuk bersikap waspada, dan tahu bagaimana menjalankan sesuatu. Oleh sebab itu ke 3 jenis buku ini adalah satu satunya mustika dharma untuk menolong masyarakat sekarang ini. Saya juga dengan sekuat tenaga menyebar luaskan buku-buku ini di Taiwan. Belakangan ini ada seorang polisi bermarga Wang, beliau sangat baik, di mana beliau adalah seorang polisi dengan jabatan tinggi, ternyata juga sangat antusias terhadap kitab Empat Ajaran LiaoFan dan dengan sekuat tenaga menjalankannya. Dalam waktu dekat ini beliau mendirikan LiaoFan Foundation, dan meminta saya untuk menjadi direkturnya. Saya berkata, tidak bisa, usia saya sudah tua dan tidak sanggup mengerjakan hal-hal ini lagi, tapi saya membantumu saja. Jadi buku ini harus dibaca. Sesungguhnya 3 jenis buku ini harus dibaca, setelah itu baru benar-benar dapat mengerti bagaimana datangnya nasib kehidupan kita ini. Semua ini merupakan hasil perbuatan sendiri, ini benar-benar disebut apa yang diperbuat sendiri akan menuainya sendiri, jadi tidak boleh menyalahi orang lain. Kondisi sekarang ini kurang baik, maka kita dapat merubahnya. Kisah tentang tuan LiaoFan merupakan sebuah contoh terbaik.Usia beliau tidaklah panjang, buah dari berkahnya juga tidak begitu besar. Setelah mendapatkan bimbingan dari bhiksu YunGu, beliau baru mengerti mengenai prinsip ini, mengerti realitas sejati/ kenyataan yang sesungguhnya, kemudian beliaupun mengikis kejahatan dan mempraktekkan kebajikan dengan sungguh-sungguh, mempraktekkan dana paramita dengan tekun. Dengan demikian nasib kehidupannya yang selanjutnya pun menjadi berubah. Usianya yang hanya mencapai 50-an tahun berubah menjadi 70 tahun lebih. Semuanya telah dirubahnya. - 13 -

Oleh sebab itu saya sangat meyakini hal ini tanpa ragu. Dahulu banyak peramal yang mengatakan bahwa usia saya hanya mencapai 45 tahun. Pada saat usia saya mencapai 45 tahun itu saya benar saja mengalami sakit selama satu bulan lebih. Dalam hati saya berpikir usia saya telah mencapai batasnya, berobat ke dokter juga percuma, dokter hanya dapat menyembuhkan penyakit namun tidak dapat menyembuhkan nyawa. Usia telah mencapai batasnya maka melafal saja nama Buddha, menunggu Buddha datang menjemput untuk terlahir (di alam Sukhavati). Setelah melafal selama satu bulan lebih, (ternyata malah) sembuh, maka hingga kini saya telah mencapai usia 71 tahun dan saya pun tidak pernah bermohon untuk mendapatkan usia panjang. Saya sesungguhnya tidak memiliki buah keberkahan. Pada kehidupan lalu saya mungkin seperti yang dikatakan dalam kitab suci, Memupuk kebijaksanaan namun tidak memupuk kebajikan, saya adalah jenis orang ini. Memiliki sedikit kebijaksanaan, dan saat bersentuhan dengan Buddha dharma, maka saya langsung dapat mengerti maksudnya sekali mendengar. Tetapi dari segi kehidupan materi, sangat menderita. Beberapa tahun belakangan ini tampaknya sudah memiliki sedikit buah berkah. Ini merupakan hasil dari perbuatan berdana. Saya berdana dengan segenap tenaga dan saya tidak berani memiliki simpanan sedikit apapun. Semuanya saya danakan keluar. Semakin berdana maka semakin banyak menerima, semakin banyak penerimaan maka semakin banyak lagi berdana. Jangan sampai ada simpanan, sekali ada simpanan maka rusaklah sudah. Oleh sebab itu mengapa uang disebut sebagai TongHuo (alat pembayaran) (ket: kata Tong disini secara harfiah berarti mengalir, menembus. JingKong kemudian mengambil satu kata Tong untuk memberi penjelasan). Tong berarti harus dapat mengalir, jadi anda jangan menyumbatnya hingga mati. Jika anda menyimpannya dalam bank atau bentuk properti, maka akan jadi rusak. Itu berarti menjadi air yang mati, tidak mengalir lagi. Jadi harus membuatnya mengalir, harus berdana dengan sungguh-sungguh. Coba anda lihat, para Buddha dan bodhisattva memberikan contoh yang baik kepada kita, mereka sama sekali tidak memililik simpanan. Materi didanakan, dharma didanakan, kentraman didanakan. Apa yang dimaksud dengan berdana ketentraman?. Dengan batin yang tulus, suci dan setara (seimbang) memberi perhatian kepada semua makhluk hidup, menyayangi semua makhluk hidup, membantu semua makhluk hidup, inilah yang disebut berdana ketentraman. Jika anda benar-benar menjalankannya, melaksanakannya dengan tekun dan sungguh-sungguh, maka nasib kehidupan anda yang selanjutnya akan berubah semuanya. Jika anda pergi meramal sekali lagi, itu sudah tidak efek lagi. Di sini kita mempunyai seorang tukang ramal yang ramalannya cukup bagus bernama upasaka WenYangChun. Kabarnya belakangan ini beliau jatuh sakit, sepertinya di Taiwan, bukan di sini. Jika beliau berada di sini, saat saya memberi ceramah di sini, beliau pasti akan datang. Beliau juga adalah orang yang menekuni ajaran Buddha, orang yang mengerti kebenaran, bukan jenis orang yang suka menipu. Sebagian tukang ramal di jalanan lebih banyak sebagai tukang bohong, dan mereka yang mengatakan kejujuran hanya sedikit saja. Jadi sebagai praktisi ajaran Buddha, apakah kita masih perlu pergi meramal nasib? Tidak perlu. Kita telah memahami dengan sangat jelas tentang nasib kita, tidak perlu lagi bertanya pada orang, bahkan kita sendiri mengerti bagaimana untuk merubah nasib kita, dan saat inilah baru disebut brillian. Bukan hanya merubah nasib sekarang, bahkan merubah diri sendiri dari orang awam menjadi orang suci. Dengan meningkatkan diri dari manusia awam menjadi tingkatan para Buddha dan bodhisattva, maka anda baru benar-benar disebut sebagai siswa Buddha, baru benar-benar mencapai target yang ingin diajarkan oleh Buddha, sesuai dengan kehendak Buddha. Apakah dapat terlaksana? Setiap orang pun dapat, ini tergantung apakah anda memiliki niat atau - 14 -

tidak saja. Jika kalian semua benar-benar memiliki niat, maka pelajaran pertama tentu adalah harus mengerti dengan benar tentang ajaran Buddha, harus mendengar ajaran yang benar, harus mendekati guru yang berkompeten. Guru yang berkompeten bukan karena memiliki nama besar. Memiliki nama yang besar tidak ada gunanya, memiliki ketenaran tidak ada gunanya. Yang berkompeten berarti yang mengerti, mengerti realitas sejati tentang kehidupan ini dan seisinya, yang benar-benar dapat menembus makna doktrin Buddha dharma. Guru demikian-lah yang perlu anda dekati dan turuti bimbingannya. Setiap kedatangan saya ke Los Angeles, saya selalu menasihati semua orang bahwa bhiksu tua YinHai dari vihara FaYin merupakan seorang kalyanamitra (guru dharma yang berkompeten), ini bukan kata bohong. Pada awalnya beliau juga tidak memiliki buah berkah. Selama bertahun-tahun coba anda perhatikan, dahulu dia hanya tinggal di sebuah cetiya kecil, seperti sebuah klenteng dewa bumi saja (sangat kecil). Para umatnya juga cuma 20-an orang saja. Lihatlah sekarang buah keberkahannya telah membesar. Dari mana datangnya? Yakni dari Ber-dana. Beliau sama seperti maha guru YinGuang, melakukan perbuatan yang memenuhi 3 jenis dana, semakin banyak berdana semakin banyak (yang diterima). Saya melihat buah berkahnya semakin besar, maka hari ini saya pun memberi dorongan kepadanya untuk semakin giat berlatih dan berusaha dengan sungguh-sungguh. Pada masa mendatang dia akan menjadi sesepuh mazhab Sukhavati yang pertama di Amerika. Semoga rekan-rekan praktisi benar-benar menerima bimbingan Buddha. Langkah pertama untuk belajar Buddha dharma adalah mendekati kalyanamitra. Mendapatkan bimbingan dari kalyanamitra lebih penting dari hal apapun. Pada masa sekarang ini, sesungguhnya, pusat kegiatan agama (vihara) itu tidak perlu terlalu besar tempatnya. Membangun pusat kegiatan agama yang besar tidaklah ada artinya. Biaya pengeluarannya terlalu besar dan harus mendapatkan sokongan dari para umat. Kita tahu bahwa beban hidup di Amerika sangatlah berat. Oleh sebab itu tidak sepatutnya mengharuskan semua orang mengeluarkan uang dan tenaga secara paksa. Tempat pusat kegiatan agama yang kecil lebih mudah dilindungi. Hari ini saya memberi usul kepada sang bhiksu tua YinHai bahwa harus mendirikan sebuah studio rekaman yang berkapasitas standar. Dalam studio rekaman ini kita memberi ceramah, kemudian direkam menjadi sebuah kaset rekaman, lalu dapat disiarkan melalui satelit yang menyebar ke seluruh pelosok rumah di dunia ini. Jadi tidak perlu membiarkan semua orang dengan susah payah datang ke pusat kegiatan agama. Di rumah saja sudah dapat belajar. Dengan menyalakan televisi maka sudah dapat belajar. Oleh sebab itu, sekarang haruslah memanfaatkan teknologi tinggi. Sedangkan pusat kegiatan agama itu semakin kecil semakin baik tempatnya, karena mudah dilindungi dan sederhana. Tidak perlu lagi merepotkan para umat. Dengan memanfaatkan teknologi tinggi, kita menyebarkan manfaat yang sesungguhnya ke lingkungan keluarga setiap orang. Jika ada sesuatu hal yang dipertanyakan sekalipun, tidaklah perlu datang ke lokasi. Dengan mengangkat telepon, menulis surat atau faksimili-- dan sekarang ini jaringan internet pun sangat praktis-- maka akan dapat saling berkomunikasi. Untuk apa lagi menggunakan tempat yang begitu besar? Jadi biaya pengeluaran anda menjadi lebih kecil, menghemat tenaga, mengurangi masalah, dan pikiranpun menjadi tenang dan leluasa. Dengan demikian baru dapat membantu semua orang di seluruh dunia. Ini merupakan langkah pertama kami untuk belajar Buddha dharma. Coba anda perhatikan kitab Sutra ANanWenShiFoJiXiongJing (Pertanyaan Ananda Tentang kebaikan dan keburukan dari menjalani ajaran Buddha. Dalam kitab ini hal pertama yang dikatakan sang Buddha adalah harus mendekati guru yang - 15 -

berkompeten, menerima bimbingan dari guru yang berkompeten. Dua perkataan ini merupakan kunci utama. Jika memiliki keraguan keraguan adalah rintangan maka harus diatasi, atasilah keraguan untuk menumbuhkan keyakinan. Jika tidak memiliki keraguan, itu merupakan suatu berkah. Ada jenis orang yang tidak pernah bertanya ikhwal apapun, dan saat kita mengajarinya untuk melafal nama Buddha, maka dia akan melafal nama Buddha dengan tulus. Setelah melafalnya beberapa tahun, orang ini pun (sanggup) mangkat (terlahir di Tanah-murni) dengan sikap posisi berdiri. Padahal kitab Sutra apapun tidak dipahaminya, namun tidak ada sesuatupun yang membuatnya ragu. Ini karena buah berkahnya yang besar. Dia dapat meyakininya. Jenis orang ini sangat jarang dan sangat sulit menemukannya. Lain dengan kaum intelektual, sebagian kaum intelektual memiliki banyak pikiran khayal dan rasa curiga/ keraguan. Lalu jika keraguan ini tidak diatasi dan pikiran khayal ini tidak dikikis, maka akan merintangi keyakinannya. Jika keyakinan terintangi, maka hal selanjutnya tidak perlu dibicarakan lagi, karena semuanya telah terhalang. Oleh sebab itu, pada masa kehidupan Sang Buddha, Beliau berceramah, memberi wejangan dharma selama 49 tahun. Mengapa demikian? Untuk membantu semua orang mengikis keraguan dan menumbuhkan keyakinan. Jika semua orang memiliki ketulusan, di mana dengan mengajarinya melafal nama Buddha maka langsung melafal nama Buddha, seandainya demikian maka untuk apa lagi sang Buddha memberi wejangan dharma selama 49 tahun itu? Untuk apa melakukan hal yang begitu melelahkan? Semua ini hanya karena semua orang belum memiliki keyakinan. Pada jaman sekarang ini, orang-orang memiliki pikiran khayal, diskriminatif dan kemelekatan yang lebih parah dibandingkan dengan orang di masa lalu. Jadi memberi pengajaran, penelitian dan pengkajian terhadap ajaran kitab suci adalah hal yang lebih penting dari pada ikhwal apapun. Namun jumlah orang yang sanggup memberikan wejangan tidaklah banyak. Mengapa tidak banyak? Karena keserakahan, kebencian dan kegelapan batin belum dilepaskan. Ini merupakan rintangan besar bagi para pemberi wejangan dharma. Jika batinnya tidak bersih, maka bagaimana dapat memberi wejangan dharma dengan benar? Kebencian, keserakahan, kegelapan batin dan kesombongan haruslah dikikis hingga bersih. Buddha dharma itu mengalir keluar dari batin suci, seandainya batin kita tidak bersih maka tidak akan ada interaksi dengan Buddha. Jadi jumlah orang yang membangkitkan niat untuk memberikan wejangan dharma baik para rekan bhiksu maupun perumah tangga tidaklah sedikit. Mereka sering datang ke tempat saya untuk bertanya apa persyaratannya. Yakni harus menghancurkan keserakahan, kebencian dan kegelapan batin, harus membangkitkan pikiran welas asih, benar-benar demi ajaran Buddha, demi makhluk hidup. Kalimat Demi ajaran Buddha, demi makhluk hidup ini, harus diingat apa yang sudah saya jelaskan tadi. Demi ajaran Buddha adalah untuk membebaskan diri sendiri. Untuk pencerahan, kebenaran dan kesucian pada diri sendiri. Demi makhluk hidup adalah menjadikan diri sebagai contoh yang baik atas pencerahan, kebenaran dan kesucian kepada orang lain, ini yang disebut membimbing orang lain, jadi pelaksanaan pada diri sendiri dan membimbing orang lain. Jika anda memiliki tekad demikian untuk memberi wejangan dharma, pasti akan mendapatkan pemberkatan dari sang Triratna. Jika tingkat ketrampilan anda sedikit rendah, kemampuan berbicara kurang cekatan, itu tidak apa apa. Sekali diberkati para Buddha dan bodhisatva, maka anda akan menjadi cerdas, menjadi cakap. Ini adalah benar, bukan palsu. Suatu peristiwa keajaiban adalah tak terbayangkan.

- 16 -

Hari kedua Para guru dharma, para rekan praktisi: Pada hari kemarin kita telah memberikan pengenalan secara singkat tentang ajaran Buddha. Ini diperlukan demi proses pembelajaran kita, karena hanya dengan mengenal secara benar dan mengerti, maka baru dapat mengetahui bagaimana cara berlatih. Pada umumnya kita mengatakan bahwa terdapat banyak cara untuk berlatih. Kita semua sering mendengar kata 84.000 pintu dharma (metode ajaran). Sesungguhnya memang terdapat jumlah demikian, ini bukanlah asal bicara. Dalam kamus Buddha dharma dapat terlihat bahwa memang benar terdapat kata 84.000 pintu dharma. Namun sesungguhnya pintu dharma (metode ajaran) bukan hanya sebanyak itu. Oleh sebab itu di dalam 4 ikrar Bodhisatva terdapat kalimat Bertekad mempelajari metode ajaran yang jumlahnya tak terhitung. Tak terhitung ini juga adalah hal yang nyata. Mengapa terdapat begitu banyak metode ajaran? Ini karena semua makhluk hidup memiliki akar sifat yang berbeda. Kita tahu bahwa target yang dituju sang Buddha dalam membimbing makhluk hidup tidak hanya terbatas pada satu lokasi. Dalam kitab suci sering mengatakan istilah alam dharmadhatu (penjuru alam semesta)dan semua makhluk hidup. Istilah yang begitu maha luas ini sungguh tidak sanggup kita bayangkan. Semua ini merupakan target yang akan dibimbing oleh sang Buddha. Para praktisi pemula yang mendengar perkataan ini, tidak akan terhindarkan untuk bertanya-tanya bahwa dengan menggunakan cara apakah sang Buddha memberi bimbingan di ruang lingkup yang begitu luas itu? Apalagi para makhluk hidup yang berada di dalam ini mencakup dari para bodhisatva, pratyeka Buddha, Sravaka, hingga makhluk hidup di 6 alam Samsara yang sering disebut sebagai 9 dharmadhatu ini semua merupakan sasaran yang akan dibimbing oleh sang Buddha. Pada detik sekarang ini, kita terlahir di alam manusia, di mana bumi yang kita tinggali ini tidaklah begitu besar ukurannya, dan penduduk bumi yang berjumlah milyaran orang ini, semuanya memiliki sifat yang berbeda. Jika sang Buddha hanya menggunakan satu cara untuk mengajar begitu banyak orang, itu merupakan hal yang sangat sulit, dan belum tentu setiap makhluk hidup dapat menerimanya. Oleh sebab itu wejangan dharma dari sang Buddha sangat memerlukan keselarasan kondisi dan keselarasan prinsip. Keselarasan kondisi adalah suatu keadaan yang sesuai dengan kebutuhan setiap makhluk hidup yang begitu kompleks dan majemuk . Dengan cara demikian maka akan terdapat ketertarikan yang besar dari mereka. Kemudian yang dimaksud dengan Keselarasan Prinsip adalah Sang Buddha mengajar dan memberi bimbingan dengan menggunakan cara apapun, pasti akan selaras dengan realitas sejati dari alam semesta beserta makhluk hidupnya. Dia tidak akan berkata bohong. Realitas sejati dari kehidupan alam semesta adalah seperti yang terkutip dalam kitab Prajnaparamita Sutra, Wujud sejati dari segala sesuatu, atau juga disebut Tathata atau juga disebut hakikat sejati. Istilah yang disebutkan dalam kitab suci sangat banyak, tapi semua ini memiliki satu prinsip yang sama. Sang Buddha telah menggunakan banyak istilah untuk prinsip ini. Maksud yang ingin disampaikan sang Buddha adalah untuk memberitahu kepada kita agar jangan melekat pada istilah. Istilah adalah sebagai alat, bukan tujuan dalam pelatihan kita. Kita boleh menggunakan alat, tapi jangan sampai melekat padanya. Jika melekat maka dia akan menyumbat pintu pencerahan kita, dengan kata lain, anda tidak lagi dapat mencapai pencerahan. Kebutuhan dari Buddha dharma adalah untuk membantu semua makhluk hidup menghancurkan kesesatan untuk menuju kesadaran, setelah itu baru dapat terbebas dari penderitaan.

- 17 -

Metode ajaran itu sangat banyak jumlahnya. Sejak agama Buddha menyebar sampai ke China, hingga pada masa dinasti Sui dan Tang merupakan masa kejayaan agama Buddha. Berbagai mazhab baik Mahayana maupun Hinayana pun didirikan pada masa-masa itu. Kemudian para sesepuh mengklasifikasikan berbagai doktrin ajaran Buddha, di mana tujuannya adalah demi kepraktisan kita untuk belajar. Karena setiap orang dari kita memiliki ketertarikan yang berbeda dan akar sifat yang berbeda, atau dapat dikatakan kebiasaan (pola tingkah laku) yang berbeda. Sedangkan berlatih ajaran Buddha dipastikan memiliki pertalian dengan kehidupan lalu. Tidak hanya ajaran Buddha saja yang demikian, ajaran umum lainnya juga tidak terkecuali. Sekian banyak jenis kebiasaan (pola tingkah laku) itu bukanlah dipupuk dari satu kehidupan ini saja, namun ada pertaliannya dengan kehidupan lalu. Oleh karena itu pula pendidikan/bimbingan pada masa hidup yang sekarang sangatlah penting. Bagi orang yang akar sifatnya baik, tentu tidak tidak akan menjadi masalah. Asalkan menerima pendidikan yang baik, maka dia akan berhasil menjadi makhluk suci. Sedangkan bagi orang yang memiliki akar sifat yang buruk, maka kebiasaan sifatnya itu jika dapat bertemu dengan pendidikan yang baik, juga akan dapat mengikis keburukannya dan berlatih kebajikan kemudian juga dapat berhasil menjadi manusia sejati. Oleh sebab itu, pendidikan itu sangatlah penting sekali. Pada jaman dahulu di China, sistem pendidikan yang paling awal terbentuk adalah pada masa dinasti Han. Di masa kekuasaan kaisar HanWuDi, telah meletakkan dasar sistem pendidikan di China dan sistem ini terus berlanjut hingga akhir dinasti Qing (awal abad 20 M), di mana selama itu asas pendidikan kita hampir sama sekali tidak pernah berubah. Tujuan pendidikannya adalah mengajari anda untuk menjadi orang. Inilah yang menjadi sasarannya. Dalam pendidikan tersebut anda diajari untuk mengerti tentang hubungan antara manusia dengan manusia. Inilah yang kita sebut sebagai hubungan etika. Hubungan etika adalah hubungan antara ayah dan anak, suami dan istri, kakak dan adik, teman dan teman, atasan dan bawahan. Atasan dan bawahan ini adalah seperti hubungan antara pemimpin dan bawahan pada masyarakat jaman sekarang ini. Jika anda telah mengenal dengan jelas tentang ini, maka baru mengerti bagaimana cara menjadi orang dan baru dapat memelihara tata tertib, keamanan, kemajuan dan kejayaan kehidupan masyarakat. Selain itu juga mengajarkan kepada anda tentang hubungan antara manusia dan alam. Dapat dikatakan juga hubungan antara manusia dan makhluk halus atau makhluk dewa. Sesunggguhnya makhluk halus dan makhluk dewa itu memang ada, itu bukanlah fiktif. Praktisi Buddha telah meyakini tentang hal ini tanpa ragu. Hubungan antara manusia dan makhluk dewa, hubungan antara manusia dan makhluk halus, hubungan antara manusia dan semua alam natural. Inilah yang diajarkan dalam sistem pendidikan di China pada jaman klasik. Kemudian Sains dan teknologi juga diajarkan, tetapi tidak memberi perhatian yang besar. Jika anda bertanya mengapa tidak memberi perhatian yang besar pada teknologi? Alasannya adalah meskipun teknologi memberi kita berbagai kemudahan dalam kehidupan ini, tetapi anda harus tahu bahwa efek samping dan kerugiannya sungguh tidak berani dibayangkan. Para tetua suci di China pada jaman dulu telah melakukan pertimbangan terhadap hal ini, maka dalam sistem pendidikannya, mereka lebih menitik beratkan pada ajaran humanisme dan jarang membicarakan teknologi. Sebenarnya teknologi-teknologi dasar itu telah ada di China pada masa yang sangat awal. Namun karena mengharapkan agar kehidupan masyarakat dapat berjalan dengan aman dan langgeng maka mereka tidak mengembangkan benda-benda ini. Ini merupakan sikap welas asih. Setelah dipikir-pikir secara seksama, hal ini ada benarnya juga. Sedangkan pada masa sekarang ini, bangsa Barat menitik beratkan pada pendidikan teknologi. Ini telah membawa rasa was-was dan tidak tentram pada semua

- 18 -

orang di dunia ini dan entah kapan Bumi ini akan dihancurkan oleh Sains ini. Coba saudara pikirkan, beban ini selalu membayang-bayangi di sisi kita, jadi sebenarnya di manakah manfaatnya itu? Berbicara pada tingkatan dangkal/sempit, tujuan ajaran Buddha adalah untuk membantu kita mendapatkan kebahagiaan pada kehidupan ini, kehidupan yang sempurna. Ini merupakan tujuan yang dangkal. Tapi anda sekalian harus mengetahui bahwa tujuan seperti ini masih merupakan sebuah masalah yang sangat serius. Karena seandainya dalam kehidupan ini tidak dapat terbebas dari 6 alam tumimbal lahir, maka pencapaian apapun, mari kuberitahu kepada anda, sama saja dengan nol. Kenyataan ini haruslah kita sadari dan waspadai. Jika telah menyadari dan mewaspadai masalah ini, maka orang ini dalam ajaran Buddha disebut telah sadar dan telah tahu bahwa masalah hidup mati adalah persoalan besar. Roda samsara itu adalah mengerikan. Lalu bagaimana kita dapat mengatasi masalah ini di kehidupan sekarang ini, dan bagaimanakah caranya? Oleh sebab itu prinsip ajaran yang terdapat di dalam kitab Suci Mahayana merupakan cara untuk mengatasi masalah ini. Jadi metode ajaran dan cara-cara itu memang banyak sekali. Apakah metode-metode ajaran ini memiliki kelebihan dan kekurangannya? jawabnya adalah tidak ada. Sang Buddha telah mengatakannya dengan jelas, Metode ajaran itu setara, tidak ada yang lebih tinggi maupun rendah. Berbicara dari segi prinsip dan cara, tidaklah berbeda. Tetapi kita sebagai makhluk hidup yang memiliki akar sifat yang berbeda, maka di dalam pintu kesetaraan kemudian menjelma menjadi ajaran-ajaran yang berbeda satu sama lain. Seperti 5 jenis sebab akibat yang terdapat dalam kitab Avatamsaka Sutra, di mana salah satu jenisnya yang disebut Sebab akibat kesetaraan melahirkan Sebab akibat pembedaan. Jadi kita harus memperhatikan hal ini, harus mengerti bahwa sebab akibat pembedaan itu muncul dari akar sifat kita. Ada sebagian metode ajaran yang saat kita mempelajarinya terasa sangat sulit, sebabnya adalah karena kita belum pernah mempelajarinya di kehidupan lalu, maka pada kehidupan sekarang saat bersentuhan dengan ajaran ini akan terasa sedikit asing. Jika pada berbagai kehidupan lalu pernah berlatih pada metode ajaran ini, maka pada kehidupan sekarang ini sekali bersentuhan dengannya maka akan terasa mudah dan akrab. Jadi ketahuilah bahwa sebab akibat pembedaan itu memiliki pertalian yang erat dengan kebiasaan yang dilakukan pada kehidupan lalu. Bagaimana kita mengetahui bahwa metode ajaran apa yang pernah kita pelajari pada kehidupan lalu? Mengenai hal ini, cara yang paling praktis adalah cobalah untuk mempraktekkannya, menyelidikinya atau mencobanya. Lalu perhatikan apakah ada hasilnya. Jika ada hasilnya, berarti dia cocok dengan akar sifat anda. Jika tidak ada hasilnya berarti tidak cocok. Jika ini tidak cocok, maka kita mencoba metode ajaran lain lagi. Dahulu, pada masa kehidupan sang Buddha, ini adalah masalah yang mudah. Karena sang Buddha memiliki kebijaksanaan sempurna dan kemampuan yang sempurna. Semua makhluk yang bertemu dengan sang Buddha, maka sang Buddha mengetahui kondisi kehidupan lalu dari sang makhluk hidup, bahkan mengetahui kondisi kehidupan lalu yang tak terhitung jumlah kalpanya dari sang makhluk. Dengan demikian Beliaupun dapat memberi wejangan dharma yang sangat sesuai dengan kondisi anda. Ibarat dokter menyembuhkan penyakit, dia tahu akar sebab penyakit anda, tahu bagaimana datangnya penyakit anda. Buddha memberi wejangan dharma kepada anda berarti memberi pengobatan kepada anda. Pengobatannya benar-benar sesuai dengan penyakitnya hingga dapat menyembuhkan, ini sungguh sangat manjur. Kita telah melihat dalam kitab suci, bahwa sekian banyak siswa yang mendengar wejangan dharma dari sang Bhagava, sebelum

- 19 -

wejangan Sutra itu selesai-- baru membicarakannya sebagian-- maka sudah ada pendengar yang meraih pencerahan. Ini mencerminkan bahwa wejangan dharma dari sang Buddha sesuai dengan kondisi. Setelah kemangkatan sang Buddha, pada periode Dharma sejati, masih ada bodhisattva dan arahat yang menjelma di dunia ini. Mereka juga memiliki kebijaksanaan yang tinggi dan juga sanggup membaca kondisi. Sedangkan jaman sekarang ini merupakan masa periode akhir dharma, maka para makhluk suci yang menjelma di dunia seperti itu pun sudah sangat sedikit. Manusia awam seperti kita ini memiliki rintangan karma yang sangat berat. Dari mana kita mengetahui hal ini? Dari pikiran khayal, diskriminatif dan kemelekatan anda. Ini adalah benar, bukan bohong. Pikiran khayal kita, diskriminatif dan kemelekatan kita, entah lebih berat berapa kali lipat dibandingkan dengan orang di masa dulu. Ditambah lagi dengan buruknya kondisi lingkungan hidup kita dan buruknya faktor eksternal. Benda eksternal yang berperanan paling buruk adalah televisi. Siapakah di antara kalian yang tidak menonton televisi? Jika setiap hari anda menonton televisi, maka batin bersih anda telah dicemari oleh televisi. Kemudian anda membaca koran dan majalah, maka ini sudah gawat! Setiap hari terbiasa dengan benda-benda ini, maka bagaimana anda dapat berhasil dalam berlatih ajaran Buddha? Jadi kalian haruslah mengenali di manakah keberadaan setan iblis itu. Televisi, radio, majalah, surat kabar itu adalah setan iblis. Jika anda sangat menyukai benda-benda ini, setiap hari mendekatinya, maka bagaimana anda dapat terlepas dari cengkraman mara (iblis)? Jadi jika kalian ingin belajar Buddha dharma, ingin terbebas dari 6 alam kehidupan dan terlepas dari roda Samsara, jika benar-benar memiliki tekad maka harus menjauhi benda-benda seperti ini. Paling baik adalah jangan ada televisi di rumah, paling baik jangan berlangganan surat kabar. Sudah bertahun-tahun saya tidak lagi menonton televisi, juga tidak membaca koran. Jika orang bertanya kepada saya, (saya jawab) dunia ini aman-aman saja setiap hari, tidak ada kejadian apa apa kok. Coba anda lihat betapa leluasanya (tenang). Sedangkan masalah kalian kacau balau. Saya sendiri tidak bermasalah. Coba lihat kita sama-sama tinggal di satu bumi, satu masyarakat. Saya tidak memiliki masalah, dunia ini aman tentram saja, sedangkan kalian setiap hari banyak masalah, seperti ada kekacauan. Jadi dimensinya sudah berbeda sama sekali. Di sini bukan berarti bahwa tidak menonton televisi itu tidak akan memiliki kecerdasan lagi, atau tidak menonton televisi tidak akan dapat menghadapi masyarakat ini lagi. Saya sendiri tetap dapat menghadapinya, jika kalian banyak yang mengajukan pertanyaan kepada saya, saya pun dapat menjawabnya. Ini terlihat jelas bahwa dengan tidak melihat benda-benda ini, tetap tidak akan memberi efek apapun pada saya. Jadi jangan sampai tidak mengerti hal ini, jika anda telah mengenalinya dengan jelas, maka kita baru dapat melepaskan penghalang-penghalang ini. Terdapat banyak metode ajaran dalam Buddha dharma, dan para sesepuh masa lalu mengklasifikasikan ajaran-ajaran tersebut demi kepraktisan untuk kita pelajari, ini merupakan sikap yang muncul dari rasa welas asih mereka.Dalam berbagai aliran tersebut kemudian kita memilih metode ajaran yang sesuai dengan minat pelatihan kita. Jangan menganggap ada metode ajaran tertentu yang lebih tinggi atau ada metode ajaran tertentu yang lebih rendah, tidak ada hal hal seperti itu. Itu merupakan pikiran diskriminatif yang timbul dari pikiran khayal anda. Semua jenis metode ajaran itu secara garis besar terbagi atas dari 3 pelatihan, yakni Sila(Disiplin), Samadhi(Konsentrasi) dan Prajna(Kebijaksanaan). Jadi tidak ada metode ajaran yang terlepas dari 3 pintu pelatihan ini. Ketiga pintu pelatihan ini sesungguhnya merupakan aspek dari kebenaran, pencerahan dan kesucian, dan inilah yang merupakan Triratna. Oleh sebab itu bagi rekan praktisi yang baru masuk ke dalam pintu Buddha dharma, maka harus menerima Trisarana (Tiga perlindungan), di

- 20 -

mana hal ini merupakan penerimaan prinsip dasar pelatihan Buddha dharma. Jadi metode ajaran apapun yang dipelajari itu tidak akan terlepas dari prinsip dasar ini, dan yang dimaksud dengan prinsip dasar ini adalah Triratna (3 mustika), yakni Buddha, Dharma dan Sangha. Buddha adalah Pencerahan, Dharma adalah Kebenaran dan Sangha adalah Kesucian. Dia tidak akan terlepas dari prinsip ini. Jika semuanya berlindung pada tempat (prinsip) ini, maka semua metode ajaran baru disebut setara. Jika tidak demikian, maka saat anda mengatakan semua metode ajaran itu setara, bagaimana kesetaraannya? Lagi pula kata Pencerahan,Kebenaran, dan Kesucian ini memiliki prinsip satu adalah tiga, tiga adalah satu (trinitas). Coba anda pikirkan, orang yang telah cerah, maka bagaimana mungkin pengetahuan pandangannya bisa tidak benar? dan batinnya tentu juga suci. Jadi dengan mencapai satu aspek (Cerah), maka 2 aspek lainnya juga akan tercapai pada saat yang sama. Orang yang memiliki cara berpikir dan pandangan yang benar, maka tentu adalah orang yang cerah dan suci. Orang yang memiliki batin yang suci, maka secara alami akan ter-cerah-kan, dan juga secara alami akan memiliki pengetahuan dan pandangan benar. Oleh sebab itu dia memiliki prinsip Tiga dalam satu, satu dalam tiga. Kemudian mengenai Triratna, jika anda memasuki ke dalam pintu ajaran manapun, maka anda akan menemukan Triratna ini secara sempurna. Itulah sebabnya semua metode ajaran itu disebut memiliki kesetaraan. Jika kita berbicara tentang fakta, pada masa lalu di China, agama Buddha terbagi menjadi 10 mazhab. 2 mazhab di antaranya adalah aliran Hinayana, dan 8 mazhab lainnya merupakan aliran Mahayana. Pada masa dinasti Tang, aliran Hinayana pernah berkembang dalam masa yang singkat. Hingga pada masa akhir dinasti Tang, aliran Hinayana pun mengalami kemerosotan dan lenyap. Pada awal mempelajari Buddha dharma, kami pernah juga bertanya-tanya mengenai hal ini, bahwa apa sebab aliran Hinayana tidak dapat berjaya di China? Akhirnya kami menemukan jawabannya. Yakni karena para praktisi ajaran Buddha di China sebagian besar dari mereka sebelumnya telah pernah mempelajari kitab-kitab Confusianisme, dan Taoisme. Dengan memiliki fondasi ini, mereka baru memasuki pintu ajaran Buddha. Sedangkan dari segi prinsip-prinsip, ajaran, cara-cara dan tingkatan yang dibicarakan dalam kitab Confusianisme dan Taoisme, sesungguhnya tidak lebih rendah dari ajaran Hinayana. Dengan demikian maka kitab-kitab confusianisme dan taoisme ini pun dapat menggantikan posisi kitab Hinayana. Itulah sebabnya kemudian aliran Hinayana sangat sulit berkembang di China. Jadi dengan bersandar pada fondasi Confusianisme dan Taoisme, maka umat Buddha China dapat langsung masuk ke ajaran Mahayana. Lalu orang yang masuk dan berlatih dengan cara demikian hingga mencapai keberhasilan sungguh sangat banyak sekali jumlahnya. Coba kita perhatikan para patriak dan praktisi besar dari 8 mazhab besar ini, mereka semuanya masuk ke dalam pintu Buddha dharma melalui cara demikian. Tetapi (jika ingin mengikuti cara masa lalu) di jaman sekarang ini menjadi sulit. Pada jaman sekarang ini kita tidak mendalami ajaran Hinayana, kemudian 4 buku dan 5 kitab (kitab Confusianisme) pun juga tidak kita baca lagi. Lalu sekali mulai belajar langsung masuk ke ajaran Mahayana, maka kesulitan pun bermunculan. Jaman sekarang ini perkembangan teknologi begitu pesat, berbagai keperluan hidup terbentang luas, namun mengapa keberhasilan kita untuk berlatih tidak dapat menyamai orang jaman dulu? Karena orang jaman dulu memiliki fondasi. Hari ini kita belajar Buddha dharma tidak memiliki fondasi. Ibarat mendirikan sebuah bangunan, mereka memiliki fondasi maka dapat membangun setingkat demi setingkat hingga terlihat sangat megah. Sedangkan hari ini kita tidak memasang fondasi, sehingga hanya dapat membuat sebuah gubuk kecil, sebuah tenda kecil saja. Jika membangun gedung, maka akan roboh

- 21 -

dan tidak dapat berhasil. Ini menjelaskan bahwa mengapa belajar Mahayana di masa sekarang ini tidak dapat berhasil. Karena anda tidak memiliki fondasinya. Lalu harus belajar dengan cara bagaimana? Jika anda tidak menanam benih dari ajaran Hinayana, maka anda harus membuat fondasi melalui ajaran kitab 4 buku dan 5 kitab. Ini adalah prinsip yang sudah pasti. Meskipun kini usia kita telah tua, masa-masa usia sekolah telah berlalu, namun kita tetap harus menggunakan kitab-kitab ini untuk memupuknya kembali, maka kita baru memiliki kemungkinan untuk berhasil. Singkatnya, jika anda bukan orang berbakat, jika anda adalah orang dengan akar sifat rendah maka pasti harus bergerak secara perlahan-lahan sesuai jalurnya dari tingkat dangkal terdahulu baru kemudian tingkat dalam. Sama seperti sekolah, dari tingkat SD, SMP, SMA, Perguruan tinggi. Jadi anda tidak dapat melompatinya. (kecuali orang yang berbakat) namun jumlah orang berbakat sangat sedikit, dari jutaan orang juga akan sulit menemukan 1 atau 2 orang. Jadi jika anda tidak bersekolah (belajar secara bertahap), bagaimana bisa? Ini mengindikasikan bahwa pada jaman sekarang ini buku-buku ajaran Buddha sangat mudah didapatkan. Boleh dikatakan hampir setiap orang pun dapat memperoleh satu set Tripitaka untuk dipajang di rumah. Bagi orang jaman dahulu, bermimpi pun tidak berani, mereka memperoleh satu kitab suci saja sungguh sangat sulit, lalu bagaimana mungkin dapat memperoleh keseluruhan kitab? Sedangkan kondisi sekarang ini adalah berkat kemajuan teknologi, di mana teknologi percetakan mengalami kemajuan, dan harganya yang relative murah hingga dapat dengan mudah mendapatkannya. Sekarang ini memang mudah mendapatkan kitab suci, namun dari segi pencapaian, kita tidak sebanding dengan orang masa lalu. Jadi harus direnungkan secara mendalam bahwa di manakah letak penyebabnya? Jika anda menemukan penyebabnya lalu mengatasi penyebabnya maka anda baru dapat maju. Oleh sebab itu, kita harus memilih sebuah metode ajaran. Kita ambil saja sebuah contoh yang sangat jelas dari berbagai mazhab di China. Mazhab Chan, atau Mazhab filosofis , mereka merupakan mazhab yang masuk (berlatih) melalui pintu Cerah. Pintu ajaran ini mengedepankan metode pencerahan langsung dan menemukan sifat sejati. Jadi di dalam aspek Pencerahan, Kebenaran dan Kesucian, mazhab ini masuk melalui pintu Pencerahan. Inilah yang dikedepankan oleh mazhab ini. Sedangkan targetnya, di mana Patriak 6 telah mengatakannya dengan sangat jelas dalam kitab Sutra Altar, bahwa fokus orang yang dibimbing dalam metode ajaran ini adalah tertuju pada jenis orang yang memiliki akar sifat (talenta) tingkat paling tinggi. Jika bukan jenis orang demikian, maka berlatih Chan sampai seumur hidup pun tidak akan mencapai pencerahan, dan orang yang tidak termasuk dalam jenis ini sungguh sudah terlalu banyak. Mari kita bertanya pada diri kita sendiri apakah kita adalah jenis orang ini (jenis akar sifat tingkat paling tinggi)? Memang benar bahwa Chan itu sangat bagus. Bukan tidak bagus. Bagus sekali. Cuma saja noda batin dan kebiasaan (buruk) kita sudah terlalu berat. Menggunakan kekuatan meditasi pun tidak dapat menaklukkan noda batin kita. Dengan kata lain, jangankan meraih pencerahan besar, bahkan kemampuan masuk dalam Samadhi pun tidak sanggup anda capai. Pelatihan meditasi itu dimulai dari mencapai tahap konsentrasi terlebih dahulu. Kitab Suranggama Sutra mengatakannya dengan sangat baik, Keheningan menembus cahaya Keheningan adalah hasil dari kemampuan konsentrasi. Jika Kemampuan konsentrasi mencapai pada tahap tertentu, maka kebijaksanaan pun mucul, maka ajaran duniawi maupun yang di atas duniawi pun dapat ditembus (dipahami). Ada rekan praktisi yang datang untuk memberitahu kepada saya bahwa beliau sangat menggandrungi ajaran Buddha. Ajaran Buddha memang bagus, lalu semua

- 22 -

metode ajaran pun mau dipelajarinya. Berapa lama anda ingin mempelajari satu set kitab Tripitaka itu hingga dapat selesai? Dalam berbagai catatan kisah para sesepuh telah kita lihat bahwa Yang Arya Nagarjuna mempelajari kitab suci yang diwarisi sang Buddha Sakyamuni. Dalam keseluruhan kitab Tripitaka ini, beliau hanya membutuhkan waktu 3 bulan untuk memahaminya semua. Coba anda pikirkan, anda menggunakan waktu 3 tahun, 30 tahun, bahkan 300 tahun pun--tentu anda tidak dapat hidup hingga usia 300 tahun--sejujurnya, 300 tahun pun juga tidak dapat memahaminya. Di manakah letak sebabnya? Anda harus tahu bahwa siapa sebenarnya Nagarjuna itu. Beliau adalah Bodhisatva tingkat Bhumi Pertama di mana noda batin telah dihancurkannya, kebijaksanaannya telah timbul. Seperti yang dikatakan oleh mazhab Chan, telah menemukan sifat sejati, mencapai kesadaran tinggi . Jadi beliau membaca kitab Tripitaka ini hanya 3 bulan telah berhasil menembusnya, telah lulus. Sedangkan sekarang ini noda batin, kebiasaan (buruk), dan pikiran khayal kita berlapis-lapis jumlahnya. Benda-benda ini telah menghambat sifat sejati kita, menghambat kebijaksanaan yang dimiliki sifat sejati kita. Tidak perlu mengatakan Tripitaka ini, bahkan satu kitab sutra saja kita tidak sanggup menembusnya. Ini adalah hal yang sesungguhnya. Jadi harus mulai dari manakah berlatih Buddha dharma itu? Dalam 4 ikrar agung bodhisattva, sang Buddha telah memberitahu kita tentang tahap berlatih. Pertama harus membangkitkan tekad. Harus membangkitkan tekad agung. Yakni anda harus membangkitkan Tekad untuk membebaskan semua makhluk hidup yang jumlahnya tak terbatas. Tidaklah berguna jika hanya mengucapkannya setiap hari. Jadi harus membangkitkannya dari lubuk hati terdalam, saya ingin membantu semua makhluk hidup untuk terlepas dari penderitaan. Dengan tekad demikian, anda baru mau berlatih dengan tekun. Mengapa? Karena dengan tekad demikian maka semangat dan ketekunan anda bukan lagi demi diri sendiri. Jika demi diri sendiri, boleh saja malas sedikit, lebih cepat berhasil atau lebih lambat satu hari , tidak masalah bagi kita. Jika demi semua makhluk hidup, maka kita merasa harus berani dan tekun dengan pertimbangan bahwa jika saya satu hari lebih cepat berhasil maka para makhluk hidup akan satu hari lebih cepat terlepas dari penderitaan. Jadi betapa besar rasa tanggung jawab anda. Oleh sebab itu dikatakan bahwa Tekad agung merupakan langkah pertama. Jadi bila tidak membangkitkan tekad agung bagaimana bisa berhasil? Setelah membangkitkan tekad agung, kemudian dari manakah kita mempraktekkannya? Yakni dari menghancurkan noda batin. Bertekad menghancurkan noda batin yang tak terbatas. Jadi tahap pertama dalam berlatih Buddha dharma adalah membangkitkan tekad. Apakah saudara sekalian memiliki pikiran agung seperti ini?. Kemarin ada seseorang datang bertanya kepada saya bahwa seorang Bhiksu pada saat menerima Sila, di atas kepalanya ditindik dengan dupa. Orang ini tidak mengerti, dia menyebutnya parut Sila, dia mengatakan ,saat kalian (bhiksu) menerima Sila, ada yang menerima 3 buah Sila, ada yang menerima 9 buah Sila. Perkataan ini tentu merupakan kata-kata dari orang yang tidak mengerti. Apakah maksudnya itu? Ini tidak ada hubungannya dengan Penerimaan Sila. Ini disebut RanXiang (Menyalakan dupa). Para perumah tangga ada yang menindikkan dupa di atas telapak tangan. Para bhiksu/ni menindiknya di atas kepala. Apakah maksud dari perbuatan ini? Ini merupakan salah satu bentuk tekad dari 4 tekad agung, yaitu Tekad untuk membebaskan semua makhluk hidup yang jumlahnya tak terbatas. Artinya adalah bahwa saya membangkitkan tekad ini, maka saya dapat mengorbankan diri sendiri demi orang lain, membakar diri sendiri demi menerangi orang lain. Jadi demikianlah makna dari praktek seperti ini. Jadi bila melihat saya menindikkan dupa,

- 23 -

itu mengartikan bahwa saya telah membangkitkan tekad itu. Saya boleh mengorbankan nyawa demi semua makhluk hidup tanpa pamrih. Tekad demikianlah yang dibangkitkan. Pada jaman sekarang, fenomena menindikkan dupa berkembang sangat luas, tapi apakah ada pikiran membangkitkan tekad agung? Mengapa dia menindikkannya? Anggapan mereka bahwa menindikkan dupa untuk memberi persembahan kepada Buddha, maka Buddha akan bergembira. Saya rasa tidak, Buddha pasti lebih senang terhadap orang yang tubuhnya sehat sempurna. Jika melihat di atas kepala orang ditindik begitu banyak parut, aduh..saya melihatnya saja merasa tidak senang. Telapak tangan yang normal malah ditindik begitu banyak parut, betapa tidak sedap dipandang. Jadi bagaimana Buddha bisa bergembira dengan hal-hal demikian? Oleh sebab itu harus mengerti prinsip-prinsip yang sesungguhnya. Tujuanya adalah sebagai bentuk simbolis dari membangkitkan tekad di depan Buddha dan bodhisatva. Mengorbankan diri demi orang lain. Semangat dan ketekunan kita adalah bertujuan demi kepentingan orang lain dengan pengorbanan diri kita. Oleh sebab itu, berlatih melalui cara/ mazhab apapun atau metode ajaran apapun, semua itu adalah bertujuan untuk menghancurkan noda batin. Jadi anda harus bertanya pada diri sendiri apakah latihan anda menampakkan hasilnya? Dengan kata lain, sudah berapa banyak noda batin yang telah anda hancurkan? Pada tahun ini jika keserakahan, kebencian, kegelapan batin dan kesembongan anda lebih berkurang dibandingkan dengan tahun lalu, maka selamatlah kepada anda, itu berarti pelatihan anda telah menampakkan hasilnya. Seandainya anda bersemangat dan rajin dalam membaca Sutra, menyembah Buddha, atau melafal mantra, namun keserakahan, kebencian, kegelapan batin dan kesombongan anda malah bertambah dibandingkan dengan tahun lalu, maka sia-sia-lah ilmu yang anda gunakan itu untuk berlatih. ilmu itu pastilah palsu, bukan yang asli. Setelah noda batin terkikis sampai habis, maka baru dapat belajar dharma. Inilah perbedaan jaman sekarang dengan jaman dahulu dalam berlatih Buddha dharma. Para sesepuh terdahulu dalam berlatih, - mazhab Chan tidak perlu dibicarakan lagi, kita bicara tentang mazhab filosofis (Tientai, Avatamsaka) saja - kalian mungkin telah pernah mendengar istilah 5 tahun belajar disiplin. Jika anda mulai masuk ke pintu Buddha dharma, maka belajar disiplin selama 5 tahun terlebih dahulu. Sesungguhnya sama seperti sekolah di jaman sekarang, Pelatihan siswa baru. Atau Pelatihan anggota baru dalam militer, waktunya berjalan 5 tahun. Belajar disiplin di sini bukanlah belajar Sila seperti dalam kitab Vinaya pitaka. Bukan belajar tentang ini. 5 tahun belajar disiplin di sini adalah untuk menuruti bimbingan sang guru, dimana anda merupakan siswa baru dan siswa baru itu tidak boleh meninggalkan/ terlepas dari sang guru.Dan apa saja yang diajarkan guru kepada anda? Bukan kitab Sutra. Guru membantu anda mengikis noda batin dengan berbagai cara-cara kebijaksanaannya. Noda batin tentu saja tidak bisa dikikis semuanya (pada tahap awal), tetapi dalam 5 tahun ini pasti dapat mengikisnya menjadi lebih ringan dan kebijaksanaan dapat bertambah. Kemudian baru dapat memiliki kemampuan untuk belajar dharma. Dharma yang jumlahnya tak terbatas baru dapat dipelajari, dan belajar di sini masih ada pilihannya. Dalam mazhab filosofi seperti mazhab Tientai, Avamtasaka, Tri Sastra, Vijnanavada, jalan yang mereka tempuh adalah melalui pintu Kebenaran, yaitu tentang Pandangan dan pengetahuan yang benar. Sedangkan jalan yang ditempuh mazhab Sukhavati dan Tantrayana adalah melalui pintu Kesucian . (Mazhab Chan melalui pintu pencerahan). Tadi telah dibicarakan tentang 3 pintu ini, dimana ketiga ini adalah satu dan satu adalah tiga. Oleh sebab itu Setiap pintu dharma itu setara, tidak ada yang lebih tinggi maupun rendah.

- 24 -

Jika bukan jenis orang yang memiliki akar sifat (talenta) tinggi, maka berlatih melalui pintu Cerah sangat sulit dapat berhasil. Pintu ajaran ini benar-benar disebut sebagai Selangkah langsung menggapai langit. Namun selangkahmu itu harus benar-benar dapat menggapai langit, jika tidak sanggup menggapainya, maka sekali jatuh akibatnya adalah hancur lebur. Ini bukan main-main. Kemudian dalam mazhab filosofi, bagi mereka yang memiliki akar sifat (telante) sedang, selayaknya dapat berhasil, karena mengikuti prosedur belajar secara bertahap dari tingkat dangkal hingga mendalam. Seperti bersekolah, dari tingkat SD, SMP, SMA, Perguruan Tinggi, melalui tahapan-tahapan yang telah ditetapkan. Tetapi waktu yang dibutuhkan sangatlah panjang, dan harus mendapatkan guru pembimbing yang baik baru bisa. Jalan ini dapat berhasil secara perlahan-lahan. Sesungguhnya, jalan yang paling praktis adalah melatih kesucian batin. Pintu ajaran ini bagus. Mazhab Tantrayana adalah mazhab yang melatih kesucian batin, mazhab Sukhavati juga melatih kesucian batin. Kedua mazhab ini berlatih kesucian batin. Tetapi mazhab Tantrayana lebih sulit dibandingkan mazhab Sukhavati. Sungguh jauh lebih sulit. Mazhab Tantra benar-benar harus suci secara mutlak, sedangkan kesucian dalam mazhab Sukhavati adalah relatif. Kesucian yang relatif itu mudah dilatih, sedangkan yang mutlak itu sulit. Perbedaan di dalam hal ini sungguh sangat besar. Kesucian batin dalam mazhab Tantrayana sebanding dengan asas batin para Buddha, itulah sebab dia sangat sulit dipelajari. Itu merupakan kesucian tingkat tinggi bukan seperti yang biasa. Dengan kata lain, dia dapat berbaur dengan semua makhluk di dalam 5 nafsu keinginan dan 6 objek tanpa ternodai. Jurus ini memang lihai. Bukan orang biasa yang bisa menjalankannya. Jika anda berlatih di dalam lingkungan 5 nafsu 6 objek dan masih tercemar, maka anda pasti akan terjatuh ke 3 alam buruk. Tapi dalam mazhab Sukhavati itu menjauhi 5 nafsu dan 6 objek, maka mazhab ini menjadi mudah. Dengan mengetahui bahwa diri sendiri tidak memiliki kemampuan, maka jangan mendekati (5 nafsu dan 6 objek)nya, dengan menjauhinya dan mendapatkan batin yang suci, maka kesucian batin yang satu ini lebih mudah dilatih. Inilah letak perbedaan dua jenis mazhab yang melatih melalui metode kesucian pikiran. Oleh sebab itu, dari berjuta-juta kata dilontarkan, sesungguhnya metode yang dianjurkan para Buddha dan para sesepuh adalah metode ajaran tanah-murni Sukhavati dengan praktek melafal nama Buddha Amitabha, yang bukan hanya demi kita, tapi juga demi semua makhluk di 9 dharmadhatu. Ini sungguh tidak terbayangkan . Sang Buddha bermanifestasi di dunia ini dengan mencapai kebuddhaan dan membabarkan dharma, dan Sutra paling awal yang dibabarkannya saat dalam keaadaan Samadhi kita semua telah tahu-- adalah kitab Maha Vaipulyavatamsaka Sutra (Avatamsaka Sutra). Dalam Avatamsaka Sutra, sang Buddha mengutarakan kepada kita sebanyak 2000 lebih cara berlatih. Jadi ada 2000 lebih metode ajaran!. Setelah mengutarakan metode ajaran yang begitu banyak jumlahnya, kemudian menggunakan 53 bodhisatva mahasatva untuk mempertunjukkannya atau mendemontrasikannya kepada kita. Di dalam hal ini kita menemukan bahwa metode yang sangat mereka anjurkan dengan penuh penghormatan adalah metode ajaran praktek melafal nama /merenungkan Buddha Amitabha untuk terlahir di tanah-murni. Mereka menganjurkan dengan penuh hormat terhadap metode ajaran ini. Hal ini termaktub dengan sangat jelas dalam kitab Avatamsaka Sutra. Dalam kitab ini, seorang guru dharma yang paling pertama dikunjungi oleh putra Sudhana adalah bhiksu DeYun. Pencapaian bhiksu DeYun adalah di mana beliau telah menghancurkan satu tingkat Avidya dan meraih satu tingkat dharmakaya, yakni sebagai bodhisatva tingkat kediaman pertama berdasarkan ajaran sempurna, disebut juga sebagai seorang mahasatva yang telah melampaui 10

- 25 -

dharmadhatu dan telah masuk ke dalam Satu dharmadhatu sejati. Lalu mengapa masih menyebutnya sebagai bhiksu? Ini merupakan simbolitas. Karena dia baru mencapai tingkat dharmakaya, masih harus bernaung dalam pesamuan Sangha, tidak boleh meninggalkan guru. Oleh sebab itu masih menyebutnya sebagai bhiksu, padahal sesungguhnya beliau adalah mahasatva (bodhisatva yang mencapai tingkat tinggi). Jadi (status sebagai bhiksu) hanya sebagai simbolitas saja. Coba lihat, beliau mengajari putra Sudhana tentang metode ajaran Nianfo, di mana beliau mengklasifikasikan metode ajaran Nianfo ke dalam 21 jenis. Cara melafalnya pun dijabarkannya menjadi 5 jenis. Setelah diteliti dengan seksama, ke 21 jenis ini telah mencakup semua metode ajaran yang telah dibabarkan oleh sang Buddha. Dengan kata lain, tidak ada satu metode ajaran pun yang bukan merupakan metode ajaran Nianfo. Ini mengindikasikan apa yang dikatakan dalam kitab Avatamsaka Sutra bahwa Satu adalah banyak, dan banyak adalah satu. Satu metode ajaran apapun dapat terserap dalam semua metode ajaran. Satu ini diartikan dalam konteks satu yang menyangkut segalanya, bukan satu yang berdiri sendiri. Jika berbicara tentang Chan, Chan telah mencakup Nianfo, jika berbicara tentang Nianfo, Nianfo telah mencakup Chan. Jadi satu metode ajaran apapun dapat mencakup semua metode ajaran, ini baru disebut sebagai nondualitas, ini baru disebut satu sejati. Kata Nian [14] (melafal/perenungan) itu bukan melafal dengan mulut. Dalam berbagai ceramah saya telah banyak membicarakan mengenai frasa Nian ini, kita sebagai bangsa China harus menghargai dan harus belajar dengan sungguh-sungguh (tentang aksara China), aksara itu merupakan simbol. Para nenek moyang kita telah menciptakan simbol ini dan diwariskan hingga masa sekarang ini. Tidak ada negara dan bangsa manapun yang dapat menandingi aksara jenis ini. Mengapa? Itu adalah aksara kebijaksanaan. Sekali dilihat oleh anda, maka anda dapat menjadi tercerahkan. Ini memang luar biasa. Huruf Nian merupakan kata gabungan. Coba anda perhatikan simbol huruf ini dan pahami maknanya. Huruf Nian merupakan bentukan dari huruf Jin (sekarang) yang terletak dibagian atasnya, dan Xin (hati/pikiran) yang terletak dibawahnya. Jadi huruf Nian(perenungan) dapat mengandung makna Pikiran sekarang. Jelas sekali bahwa Nian bukanlah semata mata berarti melafal dengan mulut. Di dalam batin anda yang sekarang memiliki pencerahan maka itu merupakan Nianfo. Dengan demikian, mazhab Chan sebagai pintu ajaran dari aspek pencerahan juga merupakan metode Nianfo, demikian juga mazhab filosofis juga merupakan metode Nianfo. Karena di dalam batin anda sekarang jika memiliki kebenaran- pandangan dan pengetahuan yang benar- maka mazhab filosofis sebagai pintu ajaran dari aspek kebenaran ini juga merupakan bagian dari Nianfo. Di dalam batin anda sekarang suci- tidak ternodai maka mazhab Sukhavati adalah Nianfo. Jadi makna Nianfo itu adalah seperti demikian, yakni mencakup seluruh Buddha dharma, tidak ada satu dharma pun yang bukan merupakan metode ajaran Nianfo. Terdapat begitu banyak metode ajaran Nianfo, lalu bagaimana cara Nianfo yang dilakukan oleh bhiksu DeYun? Di dalam kitab Sutra, kita melihat bahwa putra Sudhana mengunjungi beliau. Beliau tidak berada di rumah, tetapi sedang berlatih meditasi berjalan di atas sebuah gunung. Putra Sudhana menghabiskan waktu selama berharihari baru dapat menemukannya, di mana beliau sedang berada di atas puncak yang lain. Puncak yang lain merupakan simbol dari metode ajaran yang khusus. Metode ajaran ini secara khusus melafal nama Buddha Amitabha untuk bermohon terlahir di alam Sukhavati. Jadi beliau mempertunjukkan yang satu ini, dan cara yang dilakukan adalah seperti yang disebutkan dalam kitab suci, yakni Pratyutpannasamadhi (Samadhi Kekuatan Buddha). Metode ajaran ini menitik beratkan pada cara meditasi berjalan, yang sekarang kita menyebutnya sebagai mengelilingi Buddha, yakni mengutamakan

- 26 -

praktek mengelilingi Buddha (Pradaksina). Cara ini dimana dia tidak duduk, tidak membaringkan tubuh, tidak istirahat, dan selalu berjalan atau berdiri. Boleh berdiri, boleh berjalan, tetapi tidak boleh duduk atau berbaring. Dalam kitab Pratyutpannasamadhi Sutra mengatakan praktek Nianfo melalui cara ini merupakan praktek Nianfo dengan semangat dan ketekunan, siang malam tanpa berhenti dengan batas waktu 90 hari atau 3 bulan sebagai satu sesi. Orang jaman dulu sanggup melakukannya karena memiliki tenaga yang kuat, dimana selama 3 bulan sanggup tidak tidur dan tidak duduk, jadi dengan semangat mempraktekkan metode ajaran ini. Orang jaman sekarang ini tidak boleh tidak mengakui memiliki rintangan karma yang berat, di mana tidak tidur dalam satu malam saja sudah tidak sanggup. Jadi apakah dapat dikatakan rintangan karma kita tidak berat? Oleh sebab itu para sesepuh terdahulu di dalam kitab penjelasannya menunjukkan sikap toleransi. Jika tidak sanggup 90 hari, maka waktunya kita kurangi, satu minggu. Inilah yang dilonggarkan oleh para sesepuh secara khusus kepada kita demi sebuah kepraktisan. Para sesepuh pun telah membuat kepraktisan, maka di dalam kepraktisan ini tentu masih boleh membuatnya menjadi lebih praktis lagi. Jadi kita boleh saja membuatnya menjadi satu hari, di mana dalam satu bulan dipraktekkan satu kali atau dalam setengah bulan satu kali. Jadi menggunakan cara yang dilakukan bhiksu DeYun. Orang di jaman sekarang ini sangat mengutamakan perawatan kesehatan tubuh. Kita menemukan bahwa metode pelatihan ini di jaman sekarang merupakan sebuah praktek perawatan kesehatan tubuh yang terbaik. Tubuh ibarat sebuah mesin, di mana dia harus bergerak. Jika tubuh tidak bergerak maka mesin ini pun akan rusak. Jadi tubuh harus bergerak dan pikiran harus diam, dengan demikian anda baru dapat hidup sehat. Namun orang sekarang ini justru terbalik. Tubuh mereka tidak mau bergerak dan pikiran melantun ke mana-mana, dengan kondisi demikian bagaimana bisa tidak sakit? Jadi inilah yang disebut telah bertolak belakang dengan realitas sejati. Ajaran Buddha dharma dipastikan sejalan dengan realitas sejati. Tubuh itu harus bergerak. Coba anda perhatikan tentang berjalan. Olah raga berjalan itu memiliki manfaat dan tidak ada efek negatif sama sekali. Sekarang ini kita melihat betapa banyak orang melakukan olah raga maraton di pagi hari. Maraton merupakan olah raga yang baik, tetapi di dalamnya memiliki efek samping. Jika kondisi jantung tidak baik, maka maraton itu akan mudah timbul masalah. Hanya dengan cara berjalan-lah yang memiliki manfaat, dipastikan tidak ada kerugiannya. Kemudian di dalam olah raga berjalan itu, pikirannya ditujukan pada melafal nama Buddha Amitabha, dengan demikian pikiranpun menjadi suci tanpa ada pikiran khayal. Dengan pikiran yang suci dan tubuh yang sedang bergerak, maka ini merupakan metode berlatih yang paling menyehatkan. Dalam 53 lawatan yang dilakukan putra Sudhana kepada para guru dharma dalam kitab Avatamsaka Sutra, metode yang paling awal diajarkan kepada kita adalah melafal nama Buddha secara khusus. Biasanya ada istilah yang disebut sebagai Yang masuk pertama merupakan yang prioritas. Jadi metode apa yang dipraktekkan oleh putra Sudhana? Metode ajaran Nianfo-lah yang dipraktekkan oleh putra Sudhana. Dan hingga pada akhir pembelajarannya kemudian, dibawah bimbingan bodhisattva Samanthabhadra tentang 10 ikrar agung, beliau dituntun lagi untuk bernaung pada tanah-murni Sukhavati dan akhirnya beliaupun menjadi sempurna, yaitu berhasil, mencapai kebuddhaan pada satu kehidupan. Dengan cara apa? Yakni melafal nama Buddha Amitabha untuk bermohon terlahir di tanah-murni Sukhavati.

- 27 -

Dalam kitab Maha Sukhavati-vyuha Sutra, sang Buddha berkata kepada kita bahwa barang siapa yang dapat memiliki keyakinan, tekad, dan praktek, maka dipastikan dapat terlahir (di tanah-murni Sukhavati). Kitab Amitabha Sutra mengatakan, Memiliki faktor akar kebajikan dan berkah yang kecil tidak dapat terlahir di negeri (Buddha) itu. Setelah melihat kalimat ini, apa yang anda pikirkan? Terpikir bahwa rintangan karma yang berat, noda batin yang banyak, tidak memiliki akar kebajikan, mungkin saya tidak memiliki harapan lagi terhadap metode ajaran ini. Dengan cara berpikir seperti ini, jika anda bertanya kepada saya, maka saya juga akan berkata bahwa anda memang tidak memiliki harapan lagi. Mengapa saya mengatakan bahwa anda tidak memiliki harapan? Karena anda sendiri yang mengatakan tidak memiliki harapan, maka tentu tidak akan memiliki harapan lagi. Jika anda sendiri mengatakan, saya pasti akan terlahir, maka saya akan memberi selamat, anda pasti akan terlahir. Mengapa? Karena masalah ini tidak perlu bertanya kepada orang lain. Apa yang dimaksud dengan akar kebajikan? Apa yang dimaksud dengan berkah?. Kemarin telah dijelaskan secara singkat kepada anda sekalian. Hari ini kita akan mewujudkannya dalam metode ajaran Nianfo. Akar kebajikan adalah bila anda memiliki keyakinan dan dapat memahami terhadap metode ajaran yang anda pelajari, menaruh keyakinan tanpa keraguan terhadap 3 Sutra atau 5 Sutra [15] mazhab Sukhavati dan dapat memahaminya, baik membaca maupun mendengarnya, maka ini disebut anda memiliki akar kebajikan. Apa yang dimaksud dengan berkah? memiliki tekad dan praktek itu adalah berkah. Jika anda benar-benar membangkitkan tekad untuk terlahir di alam Sukhavati, sepenuh hati memikirkan Buddha Amitabha, dan secara khusus melafal namaNya, maka itu berarti anda telah memiliki berkah. Jadi akar kebajikan dan berkah anda pun sudah terpenuhi, itu berarti tidak kecil lagi. Jika anda memiliki keraguan terhadap metode ajaran ini, tidak dapat meyakininya, tidak ada keinginan untuk melafal kata Buddha Amitabha ini, maka anda pun hanya memiliki akar kebajikan dan berkah yang kecil saja, dan anda pun tidak akan dapat berhasil pada kehidupan ini. Jadi perlu diketahui bahwa faktor dari akar kebajikan dan berkah, di mana kata faktor ini adalah berarti saatnya anda bertemu dengan metode ajaran ini, dan faktor ini pun telah terpenuhi. Dalam kehidupan ini anda telah bertemu dengan 5 sutra mazhab Sukhavati, telah melihat kitab Maha Sukhavativyuha Sutra, telah mendengar pelafalan nama Buddha Amitabha, maka itu berarti faktor/ jodoh anda pun telah terpenuhi. Yang menjadi masalah sekarang terletak pada akar kebajikan dan berkah anda, dengan kata lain, apakah anda dapat memiliki keyakinan? Apakah dapat membangkitkan tekad? Apakah berkeinginan untuk melafal nama Buddha Amitabha? Jika ketiga hal ini telah terpenuhi semuanya, maka anda yang telah berlatih sejak berkalpa-kalpa tak terhingga lamanya dalam berbagai kelahiran itu, dalam kehidupan ini dapat mencapai keberhasilan. Dipastikan dapat terbebas dari alam samsara dan bukan hanya melampaui alam samsara bahkan dapat melampaui 10 dharma dhatu. Meskipun terlahir di jenjang paling bawah di alam Sukhavati, dia juga tidak kalah dengan bodhisattva Nagarjuna. Setelah terlahir di alam Sukhavati, maka kebijaksanaan dan kekuatan batin anda, sejujurnya, pasti di atas bodhisattva Nagarjuna. Bodhisatva Nagarjuna menghabiskan waktu 3 bulan untuk mengenyam habis seluruh kitab Tripitaka yang dibabarkan oleh sang Buddha selama 49 tahun. Anda tidak perlu membutuhkan waktu sepanjang itu pun akan dapat menembusnya. Keunggulan, manfaat dan keuntungan dari terlahir di alam Sukhavati, telah dijelaskan secara sangat rinci dalam kitab Maha Sukhavati-vyuha Sutra. Ini adalah sutra yang dibabarkan secara langsung dari mulut sang Buddha. Jika anda merasa ragu, maka

- 28 -

anda tidak lagi memiliki keyakinan terhadap Buddha. Yang pertama-tama dalam mempelajari Buddha dharma adalah harus memiliki keyakinan terhadap Buddha. Setiap kalimat yang dikatakan oleh Sang Buddha dalam kitab suci adalah benar, khususnya kitab Maha Sukhavati-vyuha Sutra. Ini adalah Sutra yang paling awal masuk ke China, yakni pada masa dinasti Han. Pada masa lalu, Maha guru HuiYuan mendirikan pusat ajaran Nianfo di gunung Lu. Beliau mengumpulkan rekan praktisi yang sepaham dengan beliau sejumlah 123 orang untuk mendirikan perkumpulan teratai. Kemudian kita menghormati beliau sebagai patriak pertama mazhab Sukhavati. Pada saat itu, kitab suci yang menjadi pegangan beliau adalah kitab Maha Sukhavati-vyuha Sutra. Sedangkan kitab Amitayurdhyana Sutra dan Amitabha Sutra pada saat itu belum ada terjemahannya, maka beliau hanya berpegang pada satu kitab tersebut. Jadi Tiga Sutra yang lengkap baru muncul pada era belakangan, sedangkan Lima Sutra itu baru muncul secara lengkap lebih belakangan lagi. Hingga pada masa akhir dinasti Qing, hanya ada 4 Sutra saja. Kitab Bab tentang 10 ikrar agung Bodhisatva Samanthabhadra baru dimasukkan ke dalam bagian Sutra mazhab Sukhavati pada masa yang sangat belakangan yakni pada masa kaisar XianFeng (abad 19 M) oleh upasaka WeiYuan menjadi Empat Sutra mazhab Sukhavati. Hingga pada awal era China Nasionalis, maha guru YinGuang memasukkan kitab Suranggama Sutra bagian Jalan penembusan sempurna melalui praktek Nianfo dari bodhisattva Mahasthamaprapta ke dalam Empat Sutra, akhirnya terbentuk menjadi Lima Sutra mazhab Sukhavati. Demikianlah asal usul penyebutan Lima Sutra ini. Kedua sesepuh ini memasukkan 2 kitab ini ke dalam Tiga Sutra, jika kita selidiki secara seksama, memang masuk akal dan bijaksana. Karena mazhab Sukhavati sesungguhnya adalah Avatamsaka. Kemarin saya telah menyinggungnya bahwa Avatamsaka merupakan kesempurnaan dari Sukhavati. Sukhavati merupakan hasil dari Avatamsaka, jadi dia adalah satu kesatuan, bukan dua. Bagaimana merealisasi Avatamsaka? Hanya dengan cara melafal nama Buddha bermohon terlahir di tanahmurni-lah maka Maha sempurna ini, keberhasilan agung ini, akan dapat anda wujudkan dalam satu kehidupan. Bahkan orang yang benar-benar mempraktekkan Nianfo, bertekad terlahir di tanah-murni, sekarang ini juga telah mendapatkan pemberkatan kekuatan dari kekuatan tekad sang Buddha Amitabha. Keunggulan dari manfaat dan pahala ini, tidak ada satu metode ajaran pun yang dapat menandinginya. Ini langsung mendapatkan pemberkatan kekuatan dari Buddha. Bukan hanya Buddha Amitabha, bahkan semua Buddha dari sepuluh penjuru dan tiga masa pun datang memberi pemberkatan kepada anda, sangat jelas, jika kita memperhatikannya dengan teliti, maka tidak sulit untuk mengetahuinya. Dan kita baru mengetahui bahwa metode ajaran ini merupakan basis yang dapat membebaskan semua makhluk hidup yang berada di 9 dharma dhatu ini. Bahkan kedua bodhisattva agung Manjusri dan Samantha-bhadra dari dunia padma garbha loka dhatu pun bertekad terlahir di tanah-murni. Bertahun-tahun lamanya saya telah berkecimpung terhadap masalah ini. Pada masa lalu saya pun memiliki keraguan. Sebagai makhluk awam dan bodhisattva yang umum bermohon terlahir di tanah-murni, ini adalah hal yang dapat diterima secara akal. Akan tetapi bodhisattva Manjusri dan Samanthabhadra dari dunia padma garbha loka dhatu merupakan dua pembantu utama Buddha Vairocana atau disebut sebagai 3 suciwan dari Avatamsaka. Mereka merupakan bodhisattva tingkat pencerahan setara, calon Buddha yang berikutnya. Lalu mengapa juga bertekad terlahir di tanah-murni Sukhavati? Pertanyaan ini telah membingungkan saya selama bertahun-tahun. Tidak memahaminya. Akhirnya setelah membaca kitab Amitabha Sutra baru mendapatkan jawabannya. Sesungguhnya,

- 29 -

dalam kitab Amitabha Sutra telah dibicarakan secara sangat jelas. Kita sering membacanya, tetapi tidak memperhatikannya secara seksama, tidak dapat melihat makna yang terkandung di dalamnya. Dalam kitab tersebut telah menjelaskan kepada kita bahwa Buddha Amitabha mencapai kebudhaan hingga sekarang baru berselang 10 kalpa. Jangka waktu 10 kalpa sangatlah singkat, taruhlah 10 maha kalpa pun juga tidak panjang. Orang yang telah terlahir di alam Sukhavati dalam masa 10 kalpa ini sebagian besar telah mencapai Kebuddhaan, bukan sebagian kecil. Yang disebut sebagian besar itu jika dipersentasikan, tentu tidak akan mungkin di bawah 50 %, semestinya berada di atas 50 % telah mencapai tingkat Buddha sejak terlahir di alam Sukhavati. Ini adalah hal yang sangat penting, tidak boleh terabaikan. Pada awal Buddha Amitabha mendirikan alam Sukhavati itu, orang yang pertama kali terlahir di alam Sukhavati adalah para murid dari sang Buddha Lokesvaraja. Ini merupakan nasihat dari Buddha Lokesvaraja kepada para muridnya untuk berlatih di tanah-murni Sukhavati, jadi ini merupakan rombongan yang pertama. Jadi rombongan pertama ini hingga sekarang telah berselang 10 kalpa. Orang yang terlahir pada masa kalpa kedua, berarti sekarang telah berselang 9 kalpa. Oarang yang terlahir pada masa kalpa ketiga, berarti sekarang telah berselang 8 kalpa. Jika anda menghitung waktunya berdasarkan cara ini, maka jumlah orang yang telah mencapai tingkat Buddha adalah sebagian besarnya. Dengan kata lain, orang yang terlahir di tanah-murni pada 5 kalpa sebelumnya, sekarang telah mencapai tingkat Buddha. Dari sini kita menjadi sadar dan mengerti sebuah fakta bahwa ternyata menuju ke tanahmurni Sukhavati untuk menjadi Buddha hanya memerlukan waktu sekitar 4 atau 5 kalpa untuk berhasil. Coba anda perhatikan, jika anda ingin menjadi Buddha di 10 penjuru alam semesta ini maka memerlukan waktu selama 3 asankheya kalpa, sebuah angka yang luar biasa lamanya. Dan siapakah orang yang dimaksud memerlukan waktu 3 asankheya kalpa itu ? Bukanlah kepada orang seperti kita, kita masih tidak masuk dalam hitungannya. Berlatih dari jumlah kalpa yang tak terhitung hingga sekarang pun kita belum masuk hitungannya. Jadi, 3 asankheya kalpa itu ditujukan pada golongan mahasatva (bodhisatva tingkat tinggi), seperti 41 bodhisatva agung yang terdapat dalam kitab Avatamsaka Sutra. Terhitung mulai dari saat anda mencapai bodhisattva tingkat kediaman pertama--yang berarti telah menghancurkan satu tingkat avidya dengan meraih satu tingkat dharmakaya, jadi terhitung mulai dari saat ini. Pada masa asankheya pertama berhasil mencapai 30 tingkat pertama. Pada masa asankheya kalpa kedua terhitung dari tingkat bhumi pertama hingga bhumi ke 7 (tingkat 31 37). Pada masa asankheya kalpa ketiga hanya berlatih 3 tingkat, yakni tingkat bhumi ke 8, 9, dan 10 (tingkat 38-40)). Selanjutnya masih ada tingkat pencerahan setara. Dari sini kita melihat bahwa semakin naik maka semakin besar tingkat kesulitannya. Ke 40 tingkat (bodhisattva) ini memerlukan waktu selama 3 asankheya kalpa untuk berhasil. Jika dihitung berdasarkan cara ini, maka tingkat pencerahan setara juga masih perlu menghancurkan satu tingkat avidya lagi untuk mencapai buah yang sempurna dimana waktu yang ditempuh lebih kurang juga perlu 1 asamkhyeya kalpa. Jadi, waktu 3 asamkhyeya kalpa itu hanyalah baru mencapai tingkat dharma mega (bodhisattva tingkat 40) saja. Dari hal inilah membuat kita menjadi sadar bahwa mengapa bodhisattva Manjusri dan Samanthabhadra berkeinginan untuk pergi ke alam Sukhavati. Karena alam Sukhavati itu cepat. Mereka yang berada di dunia padma garbha loka dhatu harus menghabiskan waktu 1 asamkhyeya kalpa lagi baru dapat mencapai kesempurnaan, tetapi jika pergi ke alam Sukhavati maka menjadi sangat mudah.

- 30 -

Makhluk awam seperti kita ini yang satu tingkat noda batin juga belum dapat dihancurkan, jika pergi ke alam Sukhavati maka hanya perlu 4-5 kalpa saja sudah dapat berhasil. Para bodhisattva tingkat pencerahan setara jika pergi ke sana, mungkin hanya perlu waktu 1-2 hari saja sudah dapat berhasil, jadi mana mungkin mereka tidak mau pergi ke sana? Masalah ini baru terpecahkan oleh kita, kemudian baru menyadari betapa unggulnya alam Sukhavati itu dan baru tahu mengapa para Buddha begitu menyanjungnya. Anda dapat lihat dalam kitab Amitabha Sutra di mana para Buddha dari enam penjuru memberi sanjungan. Buddha dari enam penjuru ini hanya disingkat saja, sesungguhnya adalah Buddha dari 10 penjuru. Kitab terjemahan dari Maha bhiksu XuanZhuang diterjemahkan dengan sangat lengkap dengan kalimat Buddha dari 10 penjuru, beliau menerjemahkannya dengan sangat detil. Kitab Maha Sukhavati-vyuha Sutra juga menyebut Buddha dari 10 penjuru, tetapi masih terdapat penyingkatan, tidak sedetil kitab Amitabha Sutra Oleh sebab itu, setelah diselidiki dan direnungkan secara seksama terhadap maksud dari hal ini maka akan menjadi mengerti bahwa meraih tingkat Buddha di alam Sukhavati sangat cepat.. Jadi kita mengambil metode ajaran ini, sesunguhnya hasilnya sangat khasiat. Jika saudara sekalian berlatih Nianfo secara sungguh-sungguh sesuai dengan prinsip dan caranya, berdasarkan pada cara yang ditunjukkan oleh kitab suci, dan anda melatihnya dengan serius, maka berapa lama waktu yang dibutuhkan anda baru dapat merasakan hasilnya? Mari kuberitahu kepada anda sekalian, waktunya tidak panjang, 3 bulan saja. 3 bulan saja maka anda sudah dapat merasakan pelatihan anda telah mendapatkan khasiatnya. Yang disebut khasiat adalah bila anda merasa noda batin anda menjadi lebih ringan, pikiran khayal anda telah berkurang. Anda akan menemukan bahwa kebijaksanaan anda bertambah. Bagaimana mengetahui hal ini? Pada masa lalu melihat orang, melihat masalah selalu penuh dengan kebingungan, tidak begitu jelas. Sekarang melihat orang, melihat masalah menjadi sangat jelas dan mengerti, ini berarti kebijaksanaan anda telah bertambah. Kemudian anda memiliki kemampuan membedakan mana yang benar dan palsu, memiliki kemampuan membedakan mana yang benar dan sesat, memiliki kemampuan membedakan mana yang benar dan salah, tanpa perlu memikirkannya, sekali berhadapan langsung dapat memahaminya, maka ini disebut bertambahnya kebijaksanaan. Oleh sebab itu anda harus benar-benar dapat mempraktekkan Nianfo, melafal nama Buddha dengan cara yang benar, dari 3 bulan hingga setengah tahun pasti akan mendapatkan hasilnya. Jika anda melafalnya selama setengah tahun atau 8 tahun, 10 tahun, semakin melafal, otak anda terasa semakin kacau, semakin melafal semakin bodoh, semakin melafal noda batin semakin banyak, maka sejujurnya, bukan kesalahan kitab suci, bukan kesalahan para Buddha dan bodhisattva, tetapi kesalahan hanya pada cara anda menggunakan pikiran. Dalam syair pembukaan Sutra mengatakan Bertekad memahami makna sejati dari sang Tathagata. Tapi anda sekarang adalah Salah memahami makna sejati sang Tathagata. Anda sekarang adalah Melenceng dari memahami makna sejati sang Thatagata, jadi apa boleh buat? Anda-lah yang harus menanggungnya sendiri atas masalah ini. Mengapa orang lain dapat berhasil dalam waktu yang singkat, mengapa kita sendiri tidak? Pelatihan kita tidak mendapatkan khasiatnya maka secepatnya introspeksi diri. Segera cari penyakit yang menjadi penyebab ketidak khasiatan itu, inilah baru disebut orang yang cerdas. Metode ajaran ini memiliki kemukjizatan yang paling cepat, kita pun telah banyak mendengar dan melihatnya. Saya sendiri adalah sebuah contoh yang baik, kemukjizatan itu sungguh tak terbayangkan. Jika anda memiliki kebimbangan, maka harus bagaimana? Kebimbangan haruslah dihentaskan, bukan memaksa anda untuk

- 31 -

meyakininya, hal itu tidaklah boleh dilakukan. Memiliki kebimbangan, maka harus menghancurkan kesesatan untuk membangkitkan keyakinan Bagaimana menghancurkan kesesatan? Yakni mendalami kitab suci. Kitab suci tidaklah perlu dilibatkan terlalu banyak. Dengan 5 Sutra dan 1 kitab komentar dari mazhab Sukhavati, dari sinilah anda menjalaninya, membacanya, menyelidikinya, melihat karya-karya para sesepuh masa lalu, maka akan dapat menghancurkan kebimbangan anda. Jika masih tidak bisa, maka kitab suci Mahayana yang penting seperti Avatamsaka Sutra, Saddharma pundarika Sutra, Suranggama Sutra, Sutra Intan, sutra-sutra ini pun dapat membantu anda menghancurkan kesesatan untuk membangkitkan keyakinan. Hal ini sangat membantu terhadap pelatihan metode ajaran tanah-murni, jadi harus menghancurkan keraguan. Jika tidak sanggup membacanya karena kitab karya orang jaman dulu menggunakan bahasa sastra kuno jika kemampuan kita tidak cukup terhadap bahasa sastra kuno, maka anda harus memohon petunjuk kepada para sesepuh baik perumah tangga maupun bhiksu/ni. Memohon petunjuk pada para senior dan mempelajarinya dengan sungguh-sungguh, dengan harapan dapat mencabut kebimbangan ini, maka anda baru bisa mendapatkan manfaat yang sesungguhnya. Jumlah mereka yang berhasil berdasarkan metode ajaran ini, tidak perlu bicara tentang orang masa lalu, sungguh terlalu banyak jumlahnya seperti yang tercatat dalam kitab Catatan tokoh suci mazhab Sukhavati, Kisah kelahiran di tanah-murni. Sebenarnya apakah itu adalah kisah yang benar atau palsu? Orang masa sekarang ini memiliki sikap curiga/keraguan yang sangat berat. Dalam kitab suci, sang Buddha mengatakan bahwa keraguan adalah rintangan terbesar bagi seorang bodhisattva. Orang masa lalu mungkin memiliki sikap ragu terhadap suatu hal, tetapi terhadap ajaran suci tidak akan merasa ragu. Oleh sebab itu dalam ajaran Buddha terdapat ajaran tentang Tiga parameter (untuk mengukur sebuah kebenaran) , yakni Parameter langsung, Parameter perbandingan, dan Parameter ucapan makhluk suci. Namun orang pada jaman sekarang ini pun merasa ragu terhadap parameter ucapan makhluk suci, maka ini sungguh tidak dapat tertolong lagi. Apakah para Buddha dan Bodhisatva masih dapat membohongi orang? Orang yang berbohong itu bukanlah orang yang baik. Semua orang pun tahu tentang hal ini. Orang yang berbohong itu pasti memiliki tujuannya. Jika mengatakan berbohong tanpa sebab dan tujuan, ini mungkin ada masalah dengan otaknya. Jadi berbohong itu pasti ada tujuannya. Para Buddha dan Bodhisatva telah berpaut jauh dengan kita, apakah mereka masih dapat membohongi kita di masa sekarang ini? Ini adalah hal yang tidak mungkin. Jika mengatakan otaknya bermasalah lalu membohongi kita, akan tetapi Dia membabarkan begitu banyak Sutra dalam Tripitaka itu, bahkan setiap ucapannya adalah kebenaran, ini tidak tampak seperti orang yang tidak normal otaknya. Oleh sebab itu, haruslah memiliki rasa hormat terhadap para Buddha, bodhisattva dan makhluk-makhluk suci, jangan memiliki rasa curiga sama sekali, maka andapun memiliki berkah. Ini termasuk suatu berkah. Memiliki pikiran ragu terhadap para sesepuh dari masa lalu, sejujurnya, ini merupakan orang yang memiliki berkah yang kecil, lebih-lebih terhadap para Buddha dan bodhisattva. Para sesepuh suci, orangorang ini yang telah mencapai buah sang jalan, dalam kitab Sutra Intan mengatakan orang yang telah menghancurkan 4 pandangan dan 4 wujud, bukanlah orang biasa. Mereka semua secara pribadi telah merealisasi kesunyataan dharma. Semua ini bukan berasal dari parameter perbandingan, kebenaran yang mereka raih sama sekali berasal dari parameter langsung. Oleh sebab itu, sebagai praktisi baru, kita jangan merasa ragu terhadap apa yang diucapkan dalam kitab suci, dengan memastikan semuanya maka kita pun akan mendapatkan manfaatnya. Dalam kitab suci, sang Buddha mengajarkan kepada kita

- 32 -

untuk menjauhi 5 nafsu keinginan dan 6 objek, jika kita benar-benar menjalankannya, maka menjauhi 5 nafsu keinginan dan 6 objek itu benar-benar adalah sebuah kenikmatan, ini bukan ucapan palsu. 5 nafsu keinginan adalah harta, sex, popularitas, makanan, dan tidur, dan 6 objek adalah bentuk, suara, aroma, rasa, sentuhan, objek pikiran. Ke 6 indera kita berhadapan dengan ruang lingkup ini. Bagaimana cara menjauhinya? Dalam ruang lingkup ini jangan timbul keserakahan, kebencian dan kegelapan batin sama sekali. Apakah kita memerlukan harta, sex, popularitas, makanan, dan tidur? Perlu. Namun dalam keperluan itu tidak terdapat pikiran serakah, dengan pikiran mendapatkan jumlah sedikit sudah merasa cukup dan merasa berkecukupan adalah suatu kebahagiaan abadi, maka anda pun mendapatkan keleluasaan, kemudian kebijaksanaan anda yang sesungguhnya pun akan terbuka. Orang jaman sekarang ini yang tersesat dalam 5 nafsu keinginan, sungguh telah tersesat dalam tingkat yang sangat dalam, sangat berat. Oleh sebab itu, hidupnya pun dijalankan dengan sangat menyedihkan, sangat menderita. Jika anda bertanya apakah dia bisa meraihnya, dia sendiri merasa telah meraihnya, itu hanya karena dia sendiri yang merasa demikian, sesungguhnya tidak ada satupun yang diraihnya. Kitab Sutra Intan telah mengatakannya dengan sangat jelas, pikiran masa lalu tidak dapat diraih, pikiran masa kini tidak dapat diraih, pikiran masa mendatang tidak dapat diraih. Saya pikir semua orang telah mengakuinya bahwa ini adalah suatu pikiran yang dapat diraih. Namun pikiran yang dapat diraih sudah tidak ada lagi, lalu dengan apa anda meraihnya? Apa yang diraih itu telah mencakup dalam tingkatan semua dharma. Sang Buddha telah mengatakannya dengan sangat jelas kepada kita bahwa semua dharma lahir dari hukum sebab akibat, dan wujudnya adalah kosong, tidak dapat diraih. Yang dapat meraih dan yang dapat diraih semua ini tidaklah dapat diraih. Setiap hari anda berpikir ingin meraih/ mendapatkan, ini menandakan ada masalah dengan otak anda. Ini telah bertolak belakang dengan realitas sejati. Oleh sebab itu, memang benarlah jika orang-orang yang telah berpengalaman seperti para Buddha dan bodhisattva menyuruh kita untuk sadar dan melepaskan (keterikatan). Yang dimaksud dengan sadar itu berarti mengerti dengan jelas semua wujud realitas. Dan yang dimaksud dari kata melepaskan (keterikatan) itu berarti pikiran tidak tercemar oleh hukum duniawi maupun yang di atas duniawi. Dengan demikian maka betapa leluasanya anda, betapa bahagianya. Lalu dari mana untuk memulainya? Yaitu mulai dengan tidak menonton televisi, tidak mendengar radio, tidak membaca koran, tidak melihat majalah, tidak mendengar berbagai isu. Pepatah kuno mengatakan dengan sangat baik, semakin banyak hal yang diketahui, pikiran pun bertambah banyak. Jadi jika saya tidak melihat semuanya, maka tidak ada lagi masalah, tidak ada lagi pikiran kacau. Setiap hari tidak ada masalah, setiap hari dunia ini damai tentram, merasa senang berjumpa dengan setiap orang, maka betapa leluasanya ini. Kalimat selanjutnya mengatakan, semakin banyak orang yang dikenal, masalah pun bertambah banyak. Setelah banyak mengenal orang, pergaulan bertambah banyak, maka pikiran kacau anda pun bertambah banyak. Jika ada orang yang tidak perlu kita kenal, maka kita tidak perlu mengenalnya. Pertemuan yang tidak penting, kita jangan pergi. Jika ada waktu luang pergilah ke hutan atau gunung, tempat yang tidak dihuni orang untuk berjalan-jalan dan melafal nama Buddha, betapa leluasanya ini. Ini merupakan ajaran sejati dari para sesepuh suci di masa lalu, kita semestinya mengingatnya, semestinya mempelajari, semestinya untuk menikmatinya. Ini merupakan cara menikmati hidup yang tertinggi. Semakin banyak pergaulan dan berhubungan dengan orang-orang, ini merupakan cara menikmati (hidup) yang menderita, ini merupakan cara menikmati hidup yang penuh dengan banyak pikiran. Bandingkanlah secara seksama maka saudara pun akan mengetahuinya.

- 33 -

Nianfo (Melafal nama Buddha) dan terlahir di tanah-murni dipastikan adalah hal yang benar. Melafal nama Buddha dan mendapatkan kebahagiaan juga adalah hal yang benar. Waktunya telah habis hari ini, besok saya akan memberikan laporan tentang contoh kenyataan yang sesungguhnya dari perihal ini kepada anda semua sebagai bahan rujukan dan memberi dorongan kepada kita untuk dapat belajar bersama, terima kasih.

Hari ke Tiga Para guru dharma, para rekan praktisi: Waktu berjalan dengan sangat cepat, pertemuan yang berlangsung 3 hari pun akan berakhir pada hari ini. Topik utama yang akan kita bahas dalam satu setengah jam ini adalah Bagaimana cara melafal nama Buddha dan terlahir di tanah-murni Buddha. Ini adalah sebuah tema yang sangat serius. Bagi praktisi ajaran Buddha seperti kita, ini merupakan sebuah tema yang sangat penting. Sebanyak 2 kali saya telah memberikan laporan secara singkat kepada anda sekalian bahwa belajar Buddha dharma haruslah dapat mencapai keberhasilan sempurna di dalam satu kehidupan ini. Keberhasilan yang sempurna itu haruslah secara pasti telah mencakup kehidupan kita sekarang ini dan kehidupan mendatang, itu baru disebut sempurna. Kehidupan sekarang juga haruslah mendapatkan kebahagiaan yang sesungguhnya, keleluasaan dan kegembiraan. Kemudian kehidupan mendatang tidak hanya melampaui 6 alam tumimbal lahir, juga harus dipastikan melampaui 10 dharma dhatu dan menjadi Buddha atau bodhisattva. Kita harus memiliki kepercayaan diri yang seperti ini. Prinsip mengenai Melafal nama Buddha dan menjadi Buddha ini, dalam kitab suci, sang Buddha telah berbicara banyak kepada kita dengan sangat jelas dan terang. Orang yang belajar Buddha dharma mengapa tidak dapat juga terlahir di tanah-murni Buddha? Setidaknya kita dapat mengatakan bahwa ada sebagian besar orang yang melafal nama Buddha juga tidak sanggup terlahir di tanah-murni. Seperti yang dikatakan oleh upasaka LiBingNan pada tahun-tahun lalu di mana beliau memberikan contoh kasus tentang sebuah komunitas Teratai di kota Taicong. Para rekan praktisi dari komunitas Teratai, di mana 10.000 orang di antaranya yang benar-benar terlahir di tanah-murni Buddha hanyalah 2-3 orang saja. Sejujurnya ini adalah perbandingan yang tidak proporsional. Penyebab masalah ini harus kita temukan, kemudian dengan mengatasi penyebab ini maka kita pun baru memiliki kesanggupan untuk mencapai keberhasilan. Sebenarnya dimanakah letak penyebabnya? Kita menyelidiki hingga ke akar permasalahannya, dan akar penyebabnya tidaklah terlepas dari karena belum dapat sadar dan belum dapat melepaskan (keterikatan). Jadi perlu diketahui bahwa tidak dapat sadar, dan tidak dapat melepaskan (keterikatan) itu telah merintangi jodoh/faktor baik kita di kehidupan ini. Saudara harus mengetahui bahwa jodoh ini tidak mudah didapatkan. Orang jaman dulu mengatakan, sulit dijumpai dalam ratusan juta kalpa , perkataan ini tidaklah berlebihan, ini adalah hal yang sesungguhnya. Kalimat ini tidak sekedar terdapat dalam syair pembukaan Sutra, Sulit dijumpai dalam ratusan juta kalpa. Dengan memahami kenyataan yang sesungguhnya akan hal ini, maka terhadap

- 34 -

jodoh/faktor yang telah kita dapatkan di kehidupan ini seharusnya kita manfaatkan secara istimewa, dan memahami bahwa tidak di setiap kehidupan kita dapat bertemu dengan ajaran ini. Dari sekian banyak kalpa itu baru dapat bertemu dengan (metode ajaran) ini satu kali. Terlihat jelas bahwa kita ini sungguh sangat beruntung telah menemukannya. Seperti yang telah dikatakan pada ceramah kemarin, bahwa faktornya telah ada, lalu dapatkah mencapai keberhasilan? Itulah yang perlu dilihat apakah akar kebajikan dan berkah anda telah terpenuhi atau belum. Jika ketiga syarat ini telah terpenuhi, maka di kehidupan ini akan dapat berhasil. Mungkin ada rekan praktisi yang mendengar perkataan saya ini lalu muncul pertanyaan bahwa apa hubungan antara akar kebajikan, berkah bersama dengan sadar dan melepaskan (keterikatan) itu? Tidak tahukah anda bahwa hubungannya sangatlah erat. Sadar itu adalah akar kebajikan, karena jika anda tidak sadar maka keyakinan dan tekad anda tidak dapat berdiri dan inilah yang menjadikan kecilnya akar kebajikan. Kemudian karena anda tidak dapat melepaskan (keterikatan) maka anda tidak sanggup melafal nama Buddha secara khusus, dan inilah yang menjadikan kecilnya berkah anda. Maka tanyalah bagaimana caranya baru dapat menjadi sadar? Mari kuberitahu kepada rekan praktisi, dengan melepaskan (keterikatan) itulah baru dapat sadar. Bagaimana caranya baru dapat melepaskan(keterikatan)? Yakni sadarlah maka akan dapat melepaskan (keterikatan). Ini adalah kebenaran, bukan palsu. Saat kita tidak sanggup sadar, maka harus mendalami kitab suci. Kitab suci menjelaskan kepada kita tentang realitas sejati atas kehidupan dan alam semesta ini. Apakah realitas sejati (kenyataan yang sesungguhnya) itu? Jika harus menggunakan satu kalimat untuk mengutarakannya maka seperti yang dikatakan dalam kitab Sutra Hati :Tiada Kebijaksanaan juga tiada pencapaian. Ini merupakan inti dari ajaran Prajna yang dibabarkan oleh sang Buddha selama 22 tahun, tidak ada yang dapat diraih dalam semua dharma. Ini merupakan realitas sejati. Sang Buddha telah berbicara banyak sekali tentang makna ini dalam kitab Maha Prajnaparamita Sutra. Keseluruhan kitab Maha Prajnaparamita Sutra itu terdiri dari 600 jilid. Para praktisi Buddha dharma,-jangankan perumah tangga- bahkan rekan bhiksu/ni pun yang dalam hidup ini dapat membaca satu kali kitab ini tidaklah banyak jumlahnya, apalagi ditambah dengan kitab-kitab lainnya. Tapi kita harus tahu bahwa sang Buddha membabarkan dharma selama 49 tahun itu, kemudian para sesepuh masa lalu mengklasifikasikan ajaran Buddha menjadi 5 periode berdasarkan pembabaran Sutra, yakni periode Avatamsaka, Agama, Vaipulya, Prajna, Saddharmapundarika dan Nirvana, atau disebut 5 periode ajaran. Dalam 5 periode ajaran ini, periode Prajna menduduki masa paling lama yakni 22 tahun. Dari sini coba anda perhatikan, apa yang menjadi fokus pengajaran dari sang Buddha dalam membimbing makhluk hidup sepanjang hidupnya? Tentu adalah ajaran Prajna (kebijaksanaan), oleh sebab itu kita tidak boleh mengabaikan ajaran tentang Prajna. Bangsa China menyukai hal-hal yang praktis. Karena kitab Maha Prajnaparmita Sutra ini tidak sanggup dibaca, maka di dalam kitab ini kemudian dipilihlah 2 bagian kecil yakni Sutra Intan dan Sutra Hati. Ini bagus juga. Sesungguhnya ke dua kitab kecil ini telah cukup mewakili 600 jilid kitab besarnya. Di China, mazhab apapun atau metode ajaran apapun yang anda pelajari, maka kedua Sutra ini harus dibaca oleh anda setiap hari. Khususnya kitab Sutra Hati. Tidak terkecuali juga dari mazhab Tanah-murni pun menjadikan kitab ini sebagai ritual yang harus dilantunkan pada pagi dan malam.

- 35 -

Meskipun isi kitab Sutra Hati itu pendek- hanya terdiri dari 260 karakter China- namun di dalamnya telah mencakupi ke 600 jilid kitab Maha Prajnaparamita Sutra. Coba saudara sekalian pikirkan, setiap hari kita melafal kitab ini, namun sebanyak apapun kita melafalkannya juga tidak dapat menjadi sadar dan juga tidak dapat melepaskan (kemelekatan). Jadi melafal dengan cara demikian juga tidaklah berguna. Setelah melafalnya namun mengapa tidak juga sadar? Karena tidak memahami maknanya. Kita juga melihat ceramah Sutra Hati dari para sesepuh dari masa lalu maupun sekarang , juga melihat kitab komentar atas Sutra Intan. Setelah membacanya masih juga belum sadar, belum dapat melepaskan (kemelekatan). Sesungguhnya hal ini karena kita belum sanggup mencapai seperti yang dikatakan dalam sutra Intan, Memahami secara mendalam atas makna yang terkandung. Apa yang kita pahami itu hanya dalam makna yang sangat tipis, belum cukup mendalam. Oleh sebab itu tidak memberikan efeknya bagi kita dalam kehidupan sehari hari. Bagaimana cara memahaminya secara mendalam? Yaitu harus membaca ke 600 jilid kitab aslinya. 600 jilid itu sesungguhnya terlalu banyak jumlahnya. Pada jaman sekarang ini, semua orang begitu sibuk dengan pekerjaannya, baik dalam bekerja, menjalani hidup, beban psikologi begitu beratnya, maka untuk mengkaji 600 jilid kitab Maha Prajnaparamita Sutra sesungguhnya memang sulit. Persoalan ini, para sesepuh dari masa lalu pun telah mengetahuinya. Pada awal masa dinasti Qing, upasaka Ge merangkum inti ajaran 600 jilid kitab Maha prajnaparamita Sutra menjadi 10 jilid dengan judul Intisari Maha Prajnaparamita Sutra. Isinya merupakan ajaran inti dari 600 jilid kitab tersebut, yakni 600 jilid yang telah dikompres. Saya rasa, jika kita tidak sanggup membaca 600 jilid itu, maka kitab Intisari seharusnya dibaca. Bila anda tidak dapat membaca kitab Intisari Maha Prajnaparamita Sutra , maka sesungguhnya akan sangat sulit menembus pemahaman terhadap kitab Sutra Intan dan Sutra Hati. Pada tahun-tahun lalu, saya mengambil kitab ini yang terdapat di dalam kumpulan Tripitaka edisi WanXu untuk mencetaknya menjadi jilid tunggal dan mendistribusikannya di Taiwan. Jumlah yang dicetak juga tidak sedikit. Kemudian saat berceramah di Hongkong, saya menemukan kitab tersebut yang terukir dalam bentuk kayu dengan bentuk ukiran yang sangat bagus, saya melihatnya dengan perasaan yang sangat gembira. Ini merupakan hasil percetakan dari Distributor Kitab Suci Buddha Hongkong, dan yang dicetak ke dalam bentuk kertas juga sangat bagus, maka saya pun membawa pulang sebanyak 2 eksemplar ke Taiwan. Tahun lalu (1996), saya berceramah tentang kitab Sutra Intan di Singapura selama 4 bulan dengan menghabiskan waktu selama 248 jam untuk menyelesaikan ceramah tersebut. Setelah tugas ceramah selesai, terpikir oleh saya bahwa jika tidak mendalami kitab Maha Prajnaparamita Sutra maka tidak mudah juga untuk memahami Sutra Intan. Oleh sebab itu, saya pun menyerahkan kitab Intisari Maha Prajnaparamita Sutra kepada Yayasan Pendidikan Buddha untuk mencetaknya sebanyak 10.000 eksemplar. Setelah dicetak kemudian didistribusikan secara meluas, ini sangat sulit didapatkan, semoga kalian semua dapat membacanya. Kita sebagai praktisi metode Nianfo, mengapa harus membaca kitab tersebut? Saya telah menjelaskannya saat berceramah tentang kitab Sutra Intan. Sekian tahun saya secara khusus menyebar luaskan ajaran Tanah-murni, mengapa tiba-tiba berkutat tentang kitab Sutra Intan? Terus terang, ini karena melihat anda semua selama sekian tahun ini mempraktekkan Nianfo(melafal nama Buddha) tanpa hasil. Meskipun melantunkan kitab Maha Sukhavati-vyuha Sutra sebanyak 3.000 kali pun juga tidak ada

- 36 -

gunanya. Saya memang menganjurkan/menggalakkan aksi membaca kitab suci. Apa maksud dari membaca kitab suci sebanyak 3.000 kali?, dan membaca dengan cara bagaimana? Anda sekalian telah mengabaikannya. Sesungguhnya pada awalnya anjuran untuk membaca kitab Maha Sukhavati-vyuha Sutra sebanyak 3.000 kali, maksudnya adalah untuk mewujudkan 3 pelatihan sekaligus, yakni : Sila, Samadhi dan Kebijaksanaan. Melatih Sila melalui cara membaca kitab suci, adalah untuk melatih kesucian pikiran, mengikis pikiran khayal, diskriminasi, dan kemelekatan melalui cara membaca, agar kita setiap saat dapat memikirkan apa yang diajarkan oleh sang Buddha yang tercatat dalam kitab suci, memikirkan kemuliaan dari tanah-murni Sukhavati, agar dapat mengikis pikiran kacau kita. Jika membaca dengan cara demikian baru ada hasilnya. Jadi bukanlah bermaksud untuk menghitung, oh, dalam satu hari saya dapat membaca berapa kali, dan para Buddha bodhisattva pun akan sangat menyukai saya karena tugas saya dapat diselesaikan.. ini adalah pikiran yang penuh dengan pikiran kacau, dan sebagian besar dari para pelafal kitab suci telah mengalami kesalahan seperti ini. Dan ini lah yang menjadi sebab kita tidak boleh tidak memberi ceramah tentang ajaran Prajna/kebijaksanaan, dengan harapan dalam ajaran Prajna ini kita dapat mendapatkan sedikit lagi kebijaksanaan, untuk membantu kita agar dapat sadar, membantu kita agar dapat melepaskan kemelekatan, kemudian baru dapat melafal nama Buddha dengan tulus dan kemampuan kita melafal nama Buddha pun akan mendapatkan hasilnya. Meskipun tidak dapat mencapai Batin Terpusat, namun batin terkonsentrasi semestinya akan dapat dicapai oleh setiap orang. Batin terkonsentrasi juga terdapat 9 jenjang. Orang yang mencapai 3 jenjang tertinggi dapat mangkat dengan sikap leluasa. Yang dimaksud mangkat dengan sikap leluasa adalah kapanpun saya ingin pergi (mangkat) maka saya pun dapat pergi (sesuai dengan kehendak). Ingin hidup beberapa tahun lagi juga tidak ada halangan, inilah yang sering disebut dengan hidup mati secara leluasa. Kita sebagai praktisi Nianfo tidaklah perlu memiliki kemampuan yang terlalu tinggi, asalkan kemampuan konsentrasi pada jenjang tinggi sudah dapat dicapai. Oleh sebab itulah para sesepuh masa lalu mengatakan bahwa 10.000 orang yang mempraktekkan metode ajaran ini maka 10.000 orang ini akan dapat berhasil terlahir di tanah-murni. Orang masa lalu sanggup mencapainya, dan orang sekarang yang mencapainya juga tidak sedikit, lalu mengapa kita tidak dapat mencapainya? Inilah yang membuat kita harus introspeksi dan renungkan dengan serius. Sementara tidak perlu berbicara tentang orang masa lalu, coba saja kalian lihat kitab Catatan tokoh suci Tanah-murni dan Kisah kelahiran di Tanah-murni, di mana kisah-kisah tersebut bukanlah palsu. Apa yang tercatat dalam kitab tersebut merupakan kisah nyata. Tokoh yang telah mangkat (terlahir di tanah-murni) dalam beberapa tahun belakangan ini, yakni bhiksu TanXu dalam kitabnya Risalat tentang Nianfo saya rasa kitab kecil ini sangat banyak jumlahnya, rekan sekalian pasti telah melihatnya, saya pun telah mencetaknya sekian kali dengan jumlah yang sangat banyak, dan memperkenalkan kepada rekan-rekan praktisi tentang kitab kecil ini. Kitab Risalah tentang Nianfo ini bagian akhirnya menulis tentang 3 buah kisah tentang kelahiran di tanah-murni. Dapat dikatakan bahwa Risalah tentang Nianfo yang dipaparkan oleh sang bhiksu tua itu menggunakan cara 3 kali pemutaran roda dharma dari sang Buddha, di mana pada akhir risalahnya beliau memaparkan pemutaran bukti, yakni memberikan kisah bukti kelahiran di tanah-murni kepada kita. Tokoh pertama yang beliau kisahkan adalah seorang bhiksu, yakni bhiksu XiuWu, asal kota Harbin, China bagian timur laut, vihara JiLe. Bhiksu ini tidak pernah

- 37 -

mengenyam pendidikan sekolah. Sebelum meninggalkan kehidupan rumah tangga, beliau adalah seorang tukang semen. Pada masa awal China nasionalis, kehidupannya berjalan dengan cukup berat dan menderita. Orang yang tidak mengenyam pendidikan sekolah di China sangat banyak, di mana perkembangan pendidikan tidak begitu pesat. Setelah menjadi bhiksu, beliau menjalani praktek keras, bekerja keras untuk vihara dan sanggup melakukan pekerjaan berat. Selain itu, beliau juga belajar mempraktekkan Nianfo, melafal nama Buddha dengan tulus. Karena kehidupannya sebelum menjadi bhiksu sangat menderita, maka pandangannya terhadap kehidupan ini menjadi tidak begitu tertarik. Setelah menjadi bhiksu, beliau sepenuh hati melafal nama Buddha dan menasihati orang melafal nama Buddha. Inilah jiwa welas asihnya yang telah bangkit, dan benar-benar melepaskan kemelekatan terhadap segala hal, sepenuh hati melafal nama Buddha. Pada saat vihara JiLe selesai dibangun, bhiksu TanXu menyelenggarakan upacara pemberian Sila dan mengundang gurunya yakni bhiksu DiXian sebagai pemberi Sila. Saat itu bhiksu TanXu adalah kepala vihara JiLe. Di selasela masa pemberian Sila, bhiksu XiuWu datang ke vihara ini untuk bermohon mendapatkan tugas untuk membantu kegiatan upacara Sila. Pada saat itu pengawas vihara dijabat oleh bhiksu DingXi, di mana dia adalah bhiksu yang sangat berkompetan juga- kedua bhiksu ini pada akhirnya mangkat di Hongkong. Saat bhiksu DingXi melihat kedatangan bhiksu XiuWu, beliau pun bertanya, apa yang bisa anda lakukan?, XiuWu lalu menjawab, Saya dapat merawat orang sakit. Di masa pemberian Sila, ada yang jatuh sakit, mengalami flu, maka ini merupakan tugas yang tidak boleh kurang dalam sesi pemberian Sila, dengan demikian maka sang bhiksu tua pun sangat senang menerima beliau. Setelah menetap selama belasan hari, beliaupun mohon izin pamit kepada bhiksu TanXu dan DingXi. Demikianlah Bhiksu XiuWu ternyata telah ingin berangkat. Bhiksu TanXu adalah bhiksu yang sangat berpengertian, dan beliaupun tidak menunjukkan pendapat apapun. Sedangkan bhiksu DingXi berwatak lebih keras, di mana setelah mendengar pamitan bhiksu XiuWu, beliaupun langsung menyalahinya dengan berkata ,Mengapa engkau tidak memiliki pandangan jauh, engkau baru datang beberapa hari saja sedangkan masa sesi Sila kami tidak lebih dari 2 bulan. 2 bulan saja tidak dapat bertahan dan sekarang malah ingin pergi dengan buru-buru?. Bhiksu XiuWu lalu berkata, saya bukan pergi ke tempat lain, saya ingin terlahir di alam Sukhavati Setelah kedua bhiksu itu mendengar hal ini baru sadar bahwa ini adalah persoalan besar. Kemudian bertanya kepadanya, Kapan anda ingin berangkat ?, dijawabnya, dalam 10 hari ini. Demikianlah lalu beliau memberi pesannya dengan bermohon kepada bhiksu DingXi untuk mempersiapkan kayu bakar untuk kremasi. Hingga pada hari kedua, bhiksu XiuWu sekali lagi bermohon pamit kepada bhiksu tua TanXu dengan berkata ,hari ini saya akan berangkat. Ini merupakan persoalan besar, dan bhiksu DingXi kemudian segera membuat persiapan, menata sebuah tempat duduk di kamar bagian belakang untuk beliau dan menyiapkan beberapa orang untuk membantunya melafal nama Buddha. Beliau pun melafal nama Buddha bersama semua orang dengan posisi duduk bersila, dan orang yang ikut membantu melafalkan nama Buddha berkata kepada bhiksu XiuWu, Hari ini anda akan terlahir di tanah-murni Sukhavati, biasanya di masa lalu orang yang terlahir di tanah-murni itu akan membuat beberapa sajak kepada kita sebagai tanda kenangan, maka anda pun tidak terkecuali. Kami membantu anda melafal nama Buddha maka anda juga harus memberi kenangan kepada kami. XiuWu lalu berkata, Saya adalah orang kasar, tidak berpengetahuan, saya tidak bisa membuat puisi

- 38 -

atau sajak, tetapi saya memiliki sebuah kalimat tulus kepada anda : sanggup berbicara tapi tidak sanggup melaksanakannya, itu bukanlah kebijaksanaan sejati. Semua orang yang mendengar kalimat ini pun merasa benar sekali perkataannya, kemudian membantunya lagi melafal nama Buddha. Tidak sampai 15 menit kemudian, beliaupun mangkat (terlahir di tanah-murni) dengan posisi duduk, tanpa ada penyakit atau kondisi sakit apapun. Betapa leluasanya, betapa bersahajanya beliau mempertunjukkan kepada semua orang di sela-sela sesi pemberian Sila. Kemudian bhiksu penerima Sila bhiksu DiXian- datang dan melihat kondisinya, sangat memujinya dengan berkata kepada semua orang , ini baru sebuah teladan yang baik bagi seorang bhiksu Setelah membaca tulisan ini, saya sering berpikir untuk pergi ke vihara JiLe di kota Harbin untuk memberi penghormatan kepada bhiksu XiuWu. Kepala vihara JiLe yang sekarang bhiksu CiFa pun telah berkali-kali mengundang saya, namun jodoh saya tampaknya masih belum berbuah. Saya memang sangat ingin pergi ke sana untuk melihat-lihat. Kisah bhiksu XiuWu ini adalah sebuah teladan yang baik buat kita. Tokoh kedua yang dikisahkan oleh bhiksu TanXu adalah seorang upasaka pria bernama ZhenXiBing, asal wilayah ShanDong. Beliau adalah seorang pengusaha dan sering mendengar ceramah dari bhiksu TanXu. Beliau telah sadar, oleh karena itu beliau menyerahkan semua bisnisnya kepada adiknya dan beliau sendiri pergi belajar Buddha dharma dibawah bimbingan bhiksu TanXu. Kemudian beliau berhasil belajar memberi ceramah tentang kitab Amitabha Sutra, dan hanya satu kitab ini saja yang dapat beliau ceramahkan. Setelah selesai belajar, beliau berkunjung ke mana-mana untuk memberi ceramah kitab Amitabha Sutra. Tempat yang beliau kunjungi kebanyakan berada di pedesaan, dan tentu saja pendengarnya tidak begitu banyak jumlahnya. Di pedesaan mungkin hanya ada 10 orang, 8, 5 atau 3 orang saja. Demikianlah beliau memberi ceramah kepada orang di mana mana dengan menasihati orang melafal nama Buddha, dan usahanya cukup efektif. Hari kemangkatannya (terlahir di tanah-murni) adalah di saat memberi ceramah kitab Amitabha Sutra. Setelah selesai memberi ceramah, beliau meminta kepada temantemannya untuk menyewakan sebuah rumah. Mereka pun berkata, untuk apa engkau menyewa rumah? , beliau pun menjawab ,Saya sudah mau berangkat. Mereka pun merasa aneh dan bertanya lagi, jika engkau ingin berangkat, lalu untuk apa menyewa rumah? . Beliau berkata, saya bukan pergi ke tempat lain, tempat yang ingin saya tuju adalah tanah-murni Sukhavati. Saya khwatir jika mati di rumah orang lain akan merepotkan dan tabu, jadi sewakanlah satu rumah untuk saya.Teman-teman beliau memang sangat baik dan sangat terbuka, lalu bertanya kepada beliau lagi, apakah engkau benar-benar sanggup terlahir (di tanah-murni)? Kalau begitu datanglah ke rumah saya. Saya tidak merasa tabu. Teman yang lain juga berkata, kamu datang rumahku saja, saya juga tidak berpantangan. Demikianlah lalu mengajaknya ke rumah teman, dan menata sebuah kamar dan menyediakan sebuah ranjang yang ditata bersih dan rapi kepadanya untuk menjelang kemangkatannya. Beliaupun duduk bersila di atas ranjang dan mempersilahkan semua orang melafal nama Buddha untuk mengantar kemangkatannya. Teman-teman ini lalu berkata, berhubung kamu sanggup terlahir (di tanah-murni), maka tinggalkan sedikit kenang-kenangan kepada kami. Demikianlah mereka juga meminta dibuatkan sajak atau puisi. ZhenXiBing lalu berkata, tidak perlu, kalian lihat saja kondisi ku ini, ini sudah merupakan sebuah kenangan yang sangat baik.

- 39 -

Demikianlah beliau Berangkat dengan begitu leluasa dan bersahaja. Dengan mengatakan berangkat lalu dapat berangkat begitu saja, ini merupakan sebuah teladan yang baik. Pada saat pertama kali belajar Buddha dharma, beliau melepaskan pekerjaannya. Adiknya pun sering menyalahi beliau dan tidak mau memaafkannya dengan mengatakan bahwa beliau belajar agama Buddha hingga sesat. Rumah-pun tidak diinginkannya lagi, pekerjaan juga tidak mau lagi. Namun hingga akhirnya melihat sang kakak berangkat dengan begitu leluasanya, adiknya pun menjadi sadar, lalu sepenuh hati juga mempraktekkan Nianfo. Lewat 3 tahun kemudian, adiknya pun juga sanggup mengetahui waktu kemangkatannya dan juga mangkat dengan sangat leluasa. Cuma saja kakaknya tidak dalam kondisi sakit, sedangkan sang adik mengalami kondisi sakit, mangkat dalam kondisi sakit. Jadi inilah kisah tentang seorang upasaka. Tokoh ke 3 adalah kisah tentang seorang umat perumah tangga wanita (upasika), yakni umat dari vihara ZhanShan di wilayah QingDao. Vihara ini juga didirikan oleh bhiksu TanXu. Vihara di bagian utara kebanyakan didirikan oleh bhiksu TanXu. Kondisi keluarga umat wanita ini sangat menderita. Suaminya bekerja sebagai penarik HuangBaoChe (sejenis becak) di pelabuhan. Rekan yang masih muda di sini mungkin tidak mengetahui tentang Huangbaoche, juga tidak pernah melihat dan mendengarnya, mereka yang berusia lebih tua mengetahuinya, ini merupakan jenis pekerjaan yang sangat menderita, benar-benar disebut kuli (pekerjaan yang menderita). Jika dalam satu hari tidak menarik becak maka dalam satu hari itu juga tidak dapat makan. Suami istri bersama 2 orang anak, 4 orang dalam satu keluarga ini menjalani kehidupan ini dengan sangat menderita. Umat wanita ini bermarga Zhang. Jadi upasika Zhang ini begitu miskinnya, maka para umat di vihara tidak akan menghormatinya dan juga tidak akan memperhatikannya. Jadi selain mempraktekkan Nianfo bersama para umat, beliau sering membantu di dapur. Di hari kemangkatannya, beliau juga telah mengetahui kapan waktu kemangkatannya. Pada saat bangun pagi dan selesai sarapan, beliaupun menasihati kedua anaknya untuk menuruti kata-kata ayah mereka. Beliau berkata kepada suaminya, hari ini saya akan terlahir di tanah-murni Sukhavati Suaminya mendengar kata-kata ini kemudian berkata, keluarga kita sudah begitu miskinnya, omong kosong apa lagi yang kau ucapkan untuk menyindir saya, dengan sikap marah, sang suami pun langsung menarik becaknya menuju pelabuhan. Anaknya setelah selesai makan lalu lari keluar untuk bermain. Kemudian beliaupun memberes-bereskan rumah. Setelah selesai mandi dan berganti pakaian yang bersih, beliaupun duduk bersila di atas ranjangnya. Dalam sikap meditasi itu, beliaupun mangkat. Kapan waktu tepatnya mangkat tidak diketahui. Anaknya kembali ke rumah setelah bermain adalah saat jam makan siang. Ibu mereka ternyata tidak memasak nasi, dan setelah melihat sang ibu sedang duduk bersila di atas ranjang, ternyata sudah meninggal. Anaknya pun menangis dan memberitahu kepada tetangga, setelah tetangga melihatnya, ini sungguh hebat, mangkat dengan posisi duduk dan tidak dalam kondisi sakit. Semua ini adalah orang yang sanggup mengetahui kapan waktunya mangkat. Bhiksu tua TanXu mengisahkan 3 tokoh ini, yang satu adalah seorang bhiksu, yang satu adalah seorang upasaka, dan satu lagi seorang upasika. Masa kejadian tokoh-tokoh ini tidak berpaut jauh dengan kita, yakni sekitar tahun 1930-an. Mereka sanggup melakukannya, mengapa kita tidak? Inilah yang harus kita renungkan dengan sungguhsungguh.

- 40 -

Di samping ZhenXiBing, bhiksu XiuWu dan upasika Zhang adalah orang yang tidak pernah mengenyam pendidikan sekolah dan tidak mengerti ajaran. Mereka hanya memiliki hati yang baik dan welas asih, sepenuh hati melafal nama Buddha, itu saja dan mereka pun telah berhasil. Oleh sebab itu kita harus tahu bahwa pendidikan yang kita tekuni begitu banyaknya, sesungguhnya intelektualitas kita malah telah dikelabui oleh intelektualitas kita sendiri. Tidak sebanding dengan mereka yang tidak berpendidikan tetapi begitu jujur dan tulusnya. Orang-orang ini bersikap rendah hati karena merasa diri sendiri tidak sebanding dengan orang lain, maka mereka pun bersikap sopan dan jujur terhadap orang, sepenuh hati melafal nama Buddha bermohon terlahir di tanahmurni, tidak tertarik sama sekali dengan hingar-bingar dunia ini. Dari hal ini, perlu diketahui bahwa di manakah letak permasalahan kita? Yakni terletak pada terlalu banyaknya hal yang telah kita ketahui, pemikiran kita menjadi sangat kompleks dan rumit hingga pikiran khayal pun terlalu banyak. Bukan hanya dalam ajaran Buddha, bahkan dalam ajaran Taoisme juga mengatakan ilmu pengetahuan dicari dengan mengenyamnya terus dari hari ke hari, sedangkan Tao diraih dengan mengikisnya . Penganut Taoisme pun memahami prinsip seperti ini. Jadi tujuan berlatih adalah untuk mengikis pikiran khayal, mengikisnya setiap hari itu baru benar. Menjalankan Tao (kebenaran) dan ilmu Pengetahuan itu tidaklah sama. Sekarang ini jika kita menganggap Buddha dharma itu sebagai ilmu pengetahuan, maka masalahnya menjadi berat. Anda memperlakukannya sebagai pengetahuan duniawi untuk dilatih maka anda telah salah. Sesungguhnya ini adalah pelatihan diri (kultivasi). Melatih diri itu adalah dimana kita harus mengikis pikiran khayal dan kemelekatan kita setiap hari. Tidak boleh membiarkannya bertambah. Oleh sebab itu saya menasihati rekan praktisi untuk tidak menonton televisi, tidak mendengar radio, tidak membaca surat kabar. Mengapa? Karena pikiran khayal, diskriminasi dan kemelekatan kita akan berkurang dari hari ke hari. Jika anda banyak bersentuhan dengan benda-benda ini, banyak berinteraksi dengan orang-orang, maka setiap hari pun terdapat masalah dengan orang, membicarakan tentang si A dan B, tidak ada habisnya, dan anda sedang menambah pikiran khayal, diskriminasi dan kemelekatan anda, maka bagaimana anda bisa dapat berhasil? Sebanyak apapun nama Buddha yang anda lafalkan juga menjadi percuma. Orang-orang yang telah berhasil itu, pikiran mereka bersih, jauh dari semua pikiran khayal, diskriminasi dan kemelekatan. Itulah letak kunci keberhasilannya. Dan itulah yang harus kita ingat baik-baik dalam hati kita, dan harus melaksanakannya dengan tekun dan sungguh-sungguh. Dengan demikian maka harapan kita untuk terlahir di tanah-murni pun baru terbuka, baru dapat seperti orang-orang yang dikisahkan oleh bhiksu TanXu. Bhiksu tua TanXu menceritakan bahwa beliau melihat dengan kepala sendiri tentang orang yang mengetahui waktu kemangkatannya tanpa kondisi sakit, mangkat dengan sikap duduk, mangkat dengan sikap berdiri, sebanyak 20 orang lebih. Ini yang dilihatnya secara langsung, sedangkan yang beliau dengar berdasarkan kabar orang lain masih tidak termasuk di dalamnya, ini mencerminkan bahwa terlahir di tanah-murni melalui praktek Nianfo adalah suatu fakta. Pada belasan tahun yang lalu, kira-kira tahun 1984, saat berceramah di Los Angeles, upasaka tua Gan memberikan kepada saya sebuah kaset rekaman tentang 7 hari sesi ceramah bhiksu TanXu di Hongkong, hanya satu seri. Jumlah ceramahnya tentu sangat banyak, namun kami hanya mendapatkan satu seri saja. Saya sangat

- 41 -

bergembira, karena bertahun-tahun lamanya saya memberi ceramah di vihara yang didirikan oleh TanXu di Hongkong. Saya tidak pernah bertemu dengan beliau, oleh sebab itu saya sangat bergembira dapat mendengarkan suara rekaman dari sang bhiksu tua. Beliau adalah orang asal wilayah utara, sehingga logat bicaranya sangat sulit dipahami. Saya bolak-balik mendengarkan rekaman ceramahnya lebih dari 30 kali, dan sanggup mengerti sekitar 80 %. Saya sangat tertarik sekali, dan saya rasa di masa periode akhir dharma ini dapat mendengarkan kaset rekaman ceramah sang guru tua ini, kitapun dipastikan akan dapat terlahir di tanah-murni, tidak diragukan lagi. Di dalam ceramahnya ini, beliau mengungkapkan 2 kisah fakta. Dalam istilah Buddhisme, disebut KongAn. Ini adalah mengenai murid dari bhiksu DiXian, atau juga kakak seperguruan dia. Bhiksu DiXian pada awal-awal tahun memiliki seorang murid yang berlatih metode Chan. Saat itu bhiksu DiXian belum terkenal dan berceramah di vihara GuanZhong. Murid ini mendapatkan bimbingan yang sangat baik, dan bersiteguh untuk menjadi bhiksu dibawah bimbingan DiXian. Bhiksu DiXian lalu menerimanya. Beliau sangat antusias dengan ajaran tentang Chan, sedangkan bhiksu DiXian berkecimpung dalam ajaran filosofis, maka mengantarnya ke sebuah vihara yang terkenal dengan ajaran Chan yakni vihara JiangTian, disebut juga vihara JingShan yang terletak di ZhenJiang, propinsi JiangShu. Vihara ini terletak di sebuah pulau di sisi pantai sungai ChangJiang, di mana disekelilingnya adalah air sungai, maka disebut vihara JiangTian (dunia sungai). Beliau sangat tekun dalam berlatih, dan secara perlahan-lahan disenangi oleh kepala vihara, dan kemudian mengangkatnya menjadi bhiksu utama, sebuah kedudukan yang cukup tinggi. Sekali menjadi bhiksu utama, maka penyakit pun muncul. Penyakit apa? Merasa tinggi dan kesombongan pun bermunculan. Karena merasa diri sendiri memiliki kedudukan di dalam vihara, dan menerima beberapa murid perumah tangga, dan juga menerima berbagai persembahan. Sekali pikiran sombong timbul, maka beliaupun terserang iblis mara. Tanpa ada alasan apapun, tiba-tiba beliau bunuh diri dengan melompat ke dalam sungai. Saat pertama kali melompat ke sungai, beliau berhasil diselamatkan dan ditanyakan alasannya, beliau sendiri tidak tahu apa-apa. Lewat beberapa hari kemudian, beliau melompat lagi ke sungai dan sekali lagi diselamatkan orang. Kepala vihara kemudian menjadi cemas, dengan mengetahui sang bhiksu utama telah terserang iblis mara, maka secepatnya memberitahu kepada bhiksu DiXian. Bhiksu DiXian lalu dengan terpaksa menjemputnya pulang ke ZhenJiang. Saat itu mereka menggunakan perahu. Setelah pulang kembali, semuanya berjalan normal tanpa ada masalah. Saat bertanya kepadanya mengapa melompat ke sungai, dia juga tidak mengetahuinya, tetapi selalu merasa ada masalah. Dengan menjemputnya pulang ke vihara GuanZhong, maka tidak menimbulkan gangguan di vihara orang lain. Vihara GuanZhong terletak di wilayah WenZhou, meskipun tidak memiliki sungai besar, tetapi terdapat aliran sungai kecil yang cukup dalam airnya. Biasanya juga dapat dilalui oleh perahu. Karena beliau pernah menjadi murid utama, maka semua orang agak menghormatinya di vihara. Beliau sendiri memiliki sebuah kamar tidur, dan tidak perlu harus berkumpul dengan orang di ruang utama vihara. Semua orang menaruh respek kepadanya. Pada hari ini karena melihat beliau tidak menyantap sarapan, maka bhiksu tua pun menyuruh orang mengetuk pintu kamarnya untuk memeriksa. Tidak ada jawaban dari dalam kamar, kemudian mencari cara untuk membuka pintunya. Setelah melihat jendala dalam keadaan terbuka dab orang nya pun tidak berada di dalam kamar. Kemudian sang pesuruh segera melapor kepada bhiksu tua, dan setelah mendengar kabar ini, mkaa celakalah, ternyata dia telah keluar melalui jendela kamar, apakah

- 42 -

beliau telah melompat ke sungai? Kemudian segera memeriksa ke sungai, dan setelah mencarinya sekitar jarak setengah kilometer, akhirnya ditemukan dan ternyata beliau telah meninggal. Mayatnya terapung di atas sungai, dan dibawa kembali untuk mengadakan upacara kematian dan membacakan doa. Di saat seperti ini, anak perempuannya pun datang. Ternyata sebelum menjadi bhiksu, beliau telah menikah dan memiliki seorang anak perempuan. Istrinya tidak menyetujuinya untuk menjadi bhiksu kemudian bunuh diri dengan melompat ke sungai. Anak perempuannya dibesarkan oleh sepupunya, dan sekian tahun ini anaknya pun telah tumbuh dewasa. Anaknya datang mencari sang ayah dengan berlinang air mata, dan bhiksu tua lalu berkata, saya juga sedang mencari anda ! telah terjadi masalah dengan ayah anda. Dan apa tujuan anda kemari? sang perempuan lalu menceritakan bahwa kemarin malam beliau bermimpi bahwa ayah ibu nya hari ini akan pergi menerima sebuah jabatan. Ayah akan menjabat sebagai dewa tanah, ibu akan menjabat sebagai dewi tanah. Setelah mendengar cerita ini, bhiksu DiXian langsung sadar bahwa ternyata muridnya melompat ke sungai karena disurupi oleh roh hantu istrinya. Awalnya beliau berlatih Chan di vihara JinShan dengan tekun dan memiliki jalan yang benar, juga dilindungi oleh dewa pelindung, maka roh hantu pun tidak dapat merasukinya. Kemudian setelah menjadi murid utama, pikiran sombong pun muncul dalam dirinya, dan dewa pelindung pun meninggalkannya, dengan demikian para penagih dan pendendam pun datang untuk merasukinya untuk membawanya pergi menjadi dewa tanah. Kebetulan di sekitar vihara ini terdapat sebuah klenteng Dewa tanah yang baru, bhiksu DiXian berpikir bahwa kemungkinan inilah tempatnya, maka beliaupun pergi ke klenteng ini membacakan doa dan upacara. Sang bhiksu tua pun dengan iseng mengatakan, jika anda benar-benar memiliki spiritualitas, maka cobalah mempertunjukkan spiritualitas anda pada kami. Dalam sela-sela upacara doa muncullah angin kecil yang berputar melingkar beberapa kali di sana, sang bhiksu lalu memanggut-manggutkan kepalanya, dan berkata ehm..mungkin anda telah memperlihatkan spiritualitas anda. Inilah sebabnya bhiksu DiXian sering menceritakan tentang berlatih Chan malah berlatih hingga menjadi dewa tanah, itulah pencapaiannya. Sang bhiksu tua mengatakan ungkapan ini adalah bertujuan untuk mengingatkan kepada semua orang. Jika orang memiliki sedikit pencapaian, dan timbul kesombongan dalam dirinya, maka tidak ada yang tidak terserang kesesatan, tidak ada yang tidak mengalami kemerosotan, jadi ini sungguh sangat menakutkan. Kemudian diceritakanlah sebuah kisah lagi, yakni mengenai seorang murid yang mempraktekkan Nianfo, kisah yang lebih awal dari kisah tentang murid yang berlatih Chan tadi. Kisah ini juga adalah di masa saat bhiksu DiXian belum terkenal, ini adalah kejadian pada tahun-tahun awal. Murid ini sejak kecil tinggal sekampung dengan bhiksu DiXian, yakni teman sekampungnya di masa kecil. Kemudian DiXian mengenyam pendidikan sekolah selama beberapa tahun dan ikut bersama pamannya untuk belajar berdagang. Sedangkan temannya ini tidak bersekolah dan juga tidak pandai membaca, setelah menginjak dewasa beliau belajar ketrampilan menambal kuali dan mangkok, di China orang menyebutnya sebagai Tukang Kuali Bocor, yakni memperbaiki barang-barang keramik yang pecah. Jenis pekerjaan ini sangat menderita, setiap hari membawa pikulan dan berteriak teriak di pedesaan. Kampung tempat saya tinggal saat masih kecil juga ada tukang sejenis ini, tentu ini adalah jenis mata

- 43 -

pencaharian yang sangat menderita. Kemudian sang teman pergi mencari bhiksu DiXian. DiXian saat itu adalah bhiksu di vihara JingShan. Sang teman ini bersikeras mau mengikutinya menjadi bhiksu. Saat itu sang teman pun telah berusia lebih kurang 40 tahun. Bhiksu tua DiXian lalu berkata, janganlah engkau merepotkan saya, usia engkau telah begitu banyak dan tidak bisa membaca, dan sikapmu begitu bodohnya, bagaimana engkau bisa menjadi bhiksu? Tinggallah beberapa hari, kemudian pergilah menjalani pekerjaan mu saja. Setelah tinggal beberapa hari, beliau pun segan untuk pergi, akhirnya sang bhiksu tua memberi persyaratan kepadanya baru menerimanya menjadi bhiksu. Bhiksu DiXian berkata Usia anda telah sekian banyak, belajar ajaran dan belajar membaca pun telah terlambat, usia masa pendidikan telah lewat. Bakat anda begitu bodohnya, belajar alat upacara atau belajar melantunkan doa dan nyanyian juga tidak bisa lagi, lalu bagaimana anda bisa menjadi bhiksu? Wilayah NingBo terdapat sekian banyak vihara kecil, di mana bhiksu DiXian pernah menetap di sana. DiXian lalu berkata, Di pedesaan sana terdapat sekian banyak vihara kecil, tidak ada orang yang tinggal, biar saya carikan sebuah vihara kecil dan engkau dapat tinggal di sana, kemudian saya carikan seorang penyokong dharma, setiap bulan dia akan mempersembahkan kepada engkau sejumlah beras, sayur dan keperluan hidup lainnya. Di dekat sini saya akan mencarikan seorang ibu tua praktisi Nianfo untuk memasakkan nasi dan mencucikan pakaian. Jadi engkau tinggallah di vihara ini, tidaklah perlu menerima Sila, engkau hanya perlu secara khusu melafal Namo Amitabha Buddha. Jika melafalnya hingga lelah maka istirahatlah, setelah istirahat teruslah melafalnya lagi, seterusnya melafal demikian, pasti ada manfaatnya. Teman yang jujur ini benar saja menerima persyaratan ini, dan mengenai apa manfaatnya juga tidak tahu, apa yang dikatakan sang guru pasti tidak salah, maka beliaupun melaksanakan apa yang diajarkan. Demikianlah beliau tinggal di vihara kecil dan melafal nama Buddha selama 3 tahun lebih. Hingga suatu hari, beliau pun memberitahu kepada ibu tua yang melayaninya, besok anda tidak perlu lagi memasakkan nasi kepada saya. Sejak melafal nama Buddha di vihara kecil ini, beliau tidak pernah pergi dari tempat ini, sama seperti melakukan praktek penyepian, jadi selama itulah beliau melafal nama Buddha. Di hari ini, beliau pergi ke kota untuk mengunjungi para kerabatnya dan untuk berpamit. Setelah kembali dan berkata kepada ibu tua bahwa besok tidak perlu lagi memasakkan nasi. Si ibu tua dalam hatinya berpikir, guru ini dari dulu tidaklah pernah keluar dari tempat ini. Hari ini sekali keluar, mungkin besok ada kerabat yang akan mengundangnya untuk makan, maka meminta saya tidak perlu memasakkan nasinya. Hingga pada hari kedua siang harinya, si ibu tua masih saja memikirkannya, lalu bermaksud melihat-lihat apakah guru ini telah kembali atau belum, apakah sudah makan atau belum. Kemudian beliau pun pergi ke vihara kecil untuk mencari sang guru. Vihara ini adalah vihara yang sudah usang, dan karena dia miskin maka vihara tersebut tidak pernah tertutup pintunya. Sekali masuk untuk melihat, ternyata sang guru berdiri di dalam kamar, tangannya memegang tasbih. Saat memanggilnya, beliau tidak menjawab. Setelah berjalan ke depan mukannya untuk melihat, ternyata sudah mangkat. Mangkat dalam posisi berdiri. Si ibu tua tidak pernah menyaksikan hal seperti itu, kemudian menjadi sangat terkejut. Segera memberitahu tetangga dan beberapa orang penyokong dharma untuk melihat, dan semua orang merasa sangat aneh, dan tidak pernah mendengar bahwa ada orang yang mati dalam posisi berdiri. Kemudian segera menyuruh orang untuk melapor kepada bhiksu DiXian. Bhiksu DiXian lalu segera datang untuk mempersiapkan

- 44 -

upacara kemangkatannya. Perjalanan pergi dan pulang ini memakan waktu 2-3 hari, namun posisinya masih tetap berdiri untuk menunggu sang bhiksu tua menyelesaikan persiapan upacara kepadanya. Sang bhiksu tua melihat kondisinya ini, sangat memujinya, engkau akhirnya tidak sia-sia menjadi bhiksu, para bhiksu senior penceramah pun tidak dapat menandingi pencapaianmu.. Para kepala vihara di ke 4 gunung suci ini pun tidak dapat menandingimu, engkau benar-benar telah berhasil. Ini merupakan sebuah teladan yang baik bagi para praktisi Nianfo. Coba anda katakan, beliau menggunakan cara apa? Sepatah kata Namo Amitabha Buddha saja, cara yang sangat menakjubkan. Melafal hingga lelah baru istirahat, selesai istirahat lalu melanjutkannya lagi, dan mengapa beliau memiliki pencapai yang begitu unggul? Terus terang, karena beliau telah sadar, dan melepaskan (kemelekatan). Di masa lalu, sebagian hidupnya dijalani dengan begitu menderita hingga tidak tertarik lagi terhadap kehidupan duniawi sama sekali. Inilah orang yang benar-benar telah sadar, dan melepaskan (kemelekatan). Setelah menjadi bhiksu, beliaupun mempertahankan cara apa yang diajarkan oleh sang guru, melafal nama Buddha secara teguh, tidak memiliki pikiran khayal lain. Demikianlah orang-orang telah berhasil. Coba kita pikirkan, mengapa kita tidak dapat berhasil? Kita telah melafal nama Buddha selama puluhan tahun, sedangkan orang hanya melafal 3 tahun saja sudah sanggup berangkat dengan posisi berdiri, setelah berangkat pun masih bisa berdiri sekian hari lamanya, ini bukan termasuk tidak memiliki kemampuan. Jadi kita tidak boleh tidak waspada. Mereka telah terlahir di tanah-murni Sukhavati untuk menjadi Buddha. Kalian akan tahu jika membaca kitab Maha Sukhavati-vyuha Sutra, yakni melampaui 6 alam tumimbal lahir, melampaui 10 dharma dhatu untuk menjadi Buddha dan bodhisattva. Mereka adalah jenis orang apa? Sedangkan kita adalah jenis orang apa? Apakah kita dapat dibandingkan dengan mereka? Keberhasilan mereka adalah kenyataan, sedangkan keberhasilan kita adalah palsu, khayalan belaka. Memberi ceramah dharma saja itu tidak dapat membuat terlahir di tanah-murni, memberi ceramah dharma adalah untuk memupuk berkah. Di sinilah baru tahu bahwa berlatih secara sesungguhnya untuk mencapai keberhasilan yang sesungguhnya merupakan hal penting, lebih penting dari apapun. Mengapa tidak dapat terlahir di tanah-murni? Karena tidak dapat sadar, tidak dapat melepaskan (kemelekatan). Bukan hanya jodoh duniawi harus dilepaskan, tugas menyebarkan dharma demi manfaat makhluk hidup pun harus dilepaskan. Kata melepaskan dalam hal ini, kalian harus dengar dengan jelas, bukanlah mengatakan bahwa saya telah melepaskan, maka saya tidak mau melakukan apa-apa lagi. Jika demikian maka anda telah salah semua. Apakah sang Buddha Sakyamuni melepaskan ? Di masa Buddha Sakyamuni, beliau setiap hari membabarkan dharma selama 49 tahun, pekerjaannya terus dilakukan , jadi bukan menyuruh anda untuk melepaskan pekerjaan. Yang dilepaskan adalah pikiran khayal, diskriminasi, dan kemelekatan dalam pikiran kita. Kemudian anda tetap terus bekerja dengan tekun dan serius. Bekerja tetapi tidak bekerja, bekerja adalah demi semua makhluk hidup, tidak bekerja adalah karena di dalam pikiran kita sesungguhnya tidak mengerjakan apa apa. Melepaskan adalah menyuruh anda melepaskan dalam pikiran, bukan menyuruh anda melepaskan dalam wujud tindak tanduk. Coba kita lihat lagi kitab Avatamsaka Sutra, ke 53 mahasatva membuat pertunjukkan kepada kita. Ke 53 kalyanamitra ini adalah 41 tingkatan bodhisatva di mana yang mereka pertunjukkan adalah sebagai pria, wanita, tua, muda dengan berbagai profesi. Coba anda lihat, mereka sangat serius terhadap pekerjaannya,

- 45 -

keluarganya, dan kehidupannya. Mereka telah menjalankannya dengan sangat baik dan indah, dan tidak ada kemelekatan sama sekali dalam pikiran mereka. Oleh sebab itu yang disebut dengan melepaskan adalah melepaskan dalam pikiran, bukan melepaskan dalam tindak-tanduk. Coba kita perhatikan lagi tentang orang-orang yang dikisahkan oleh bhiksu DiXian yang beliau lihat dengan kepala sendiri. Bhiksu XiuWu setiap hari bekerja untuk vihara di mana beliau menjalankannya dengan sangat serius dan bertanggung jawab. Beliau bukanlah mengatakan ,saya telah melepaskan, maka saya tidak mau melakukan apaapa lagi, pergi melafal nama Buddha saja. Bukan demikian. Pekerjaan seberat apapun dilakukannya, hal yang tidak dikerjakan orang lain beliaupun telah mengerjakannya, dan dalam pikiran beliau hanya ada sepatah kata Amitabha Buddha, selain Amitabha Buddha, tidak ada apapun lagi, inilah yang disebut telah melepaskan (kemelekatan). ZhengXiBing meskipun telah melepaskan bisnisnya, namun setiap hari pergi berceramah, setiap hari menasihati orang melafal nama Buddha, hal-hal seperti ini tidaklah dilepaskannya. Meskipun memberi ceramah, menasihati orang melafal nama Buddha, namun pikirannya tidak ada kemelekatan sama sekali, ini benar-benar telah sadar terhadap segala sesuatu, inilah yang disebut melepaskan (kemelekatan). Coba lihat lagi tentang kemangkatan upasika Zhang dari vihara ZhanShan di QingDao. Meskipun keluarganya sangat miskin, setiap hari harus melayani suami dan anak-anaknya, setiap hari harus memasakkan nasi dan mencuci pakaian. Setiap minggu menghadiri sesi praktek Nianfo di vihara ZhanShan. Pekerjaan ini tetap dilakukannya, dan dijalankannya dengan sungguh-sungguh dan bertanggung jawab. Pikirannnya hanya ada sepatah kata Amitabha Buddha, tidak ada yang lainnya, inilah yang disebut melepaskan (kemelekatan). Kita harus mengerti prinsip ini, harus memahami realitas sejati /kenyataan yang sesungguhnya. Sadar berarti memahami realitas kehidupan dunia ini. Apakah realitas sejati itu? Sang Buddha telah banyak membicarakannya, tetapi ucapannya yang paling indah dan paling inti adalah 4 bait syair yang terkutip dalam kitab Sutra Intan: Segala sesuatu yang berwujud, bagaikan mimpi, ilusi, gelembung dan bayangan. Keempat perumpamaan ini menjelaskan bahwa segala sesuatu itu tidaklah nyata.Bagaikan embun dan kilat. Ini membicarakan mengenai keberadaan dimensi waktu yang berlangsung sangat singkat. Kilat adalah mengenai realitas, dia hanya bersifat sesaat, timbul dan lenyap. Embun adalah mengenai kesinambungan, di mana kita hidup di dunia ini selama puluhan tahun bagaikan air embun, berkesinambungan. Sedangkan realitas yang sesungguhnya itu bersifat sesaat timbul dan lenyap. Oleh sebab itu, bait dari syair ini telah mengungkapkan inti dari ajaran sutra Mahayana. Sang Buddha mengajarkan kepada kita pandanglah demikian, maka anda pun dapat menjadi sadar. Bukan hanya hukum duniawi adalah mimpi, ilusi, gelembung dan bayangan, mari kukatakan kepada anda sekalian, ajaran Buddha itu sendiri juga adalah mimpi, ilusi, gelembung dan bayangan. Hukum duniawi merupakan suatu hukum sebab akibat, Buddha dharma juga merupakan hukum sebab akibat. Oleh sebab itu, tidak boleh melekat pada hukum duniawi, demikian juga Buddha dharma tidak boleh dilekati. Kitab Sutra Intan mengatakannya dengan sangat baik, yakni, dharma seharusnya dilepaskan, apalagi yang bukan dharma. Semua dharma baik yang duniawi maupun yang di atas duniawi janganlah melekat padanya, lepaskanlah semuanya, benda-benda ini sama sekali tidak ada manfaatnya. Untuk apa anda memerlukannya? Hal apakah yang penting? Melafal nama Buddha secara tulus adalah yang penting. Jika anda masih ingin membaca kitab suci, masih ingin menyelidikinya, maka

- 46 -

anda tidak tulus lagi. Orang yang dengan tulus melafal nama Buddha hanya memiliki satu kata nama Buddha saja, yang lain telah dilepaskan semuanya. Kita lihat orang-orang yang telah terlahir di tanah-murni dalam masa dekat ini, yang telah mengetahui kapan waktunya mangkat, ini merupakan contoh yang terbaik. Orang-orang ini tidak termasuk jauh dengan kita. Mereka telah memberikan bukti kepada kita, bahwa terlahir di tanah-murni adalah hal yang sungguhan, bukan palsu. Jika anda mengatakan,saya tidak memiliki akar kebajikan, tidak memiliki berkah dan mungkin tidak dapat terlahir di tanah-murni, lalu bhiksu XiuWu yang merupakan seorang tukang semen, suami upasika Zhang dari vihara ZhanShan yang merupakan seorang tukang becak, apakah mungkin akar kebajikan dan berkah anda tidak sebanding dengan mereka? Kemudian murid dari bhiksu DiXian yang merupakan seorang tukang kuali bocor, beliau tidak pernah mengenyam pendidikan sekolah, tidak bisa membaca, coba anda bandingkan dengan dia, bagaimana? Dia mampu, mengapa kita tidak mampu? Hal yang terpenting di sini adalah bahwa dia dapat sadar, dia dapat melepaskan (kemelekatan). Hari ini kita tidak mampu, karena tidak dapat sadar, tidak dapat melepaskan kemelekatan. Segunung masalah masih mengganjal di dalam diri kita, ingin belajar yang ini, ingin belajar yang itu, selalu berkutat dengan semua hal yang terikat dengan tumimbal lahir, apakah tidak celaka? Pikiran ingin terlahir di tanah-murni Sukhavati, namun yang dilakukan adalah hal-hal yang menambah karma tumimbal lahir. Ini merupakan penyakit besar kita hari ini, kita benar-benar harus menyadarinya, benar-benar harus belajar dari orang-orang tulus ini. Segala keuntungan dan ketenaran duniawi harus dilepaskan hingga bersih, hancurkan mereka dari dalam lubuk hati. Mengapa kita tidak dapat sadar? Mengapa kita tidak dapat melepaskan kemelekatan? Sejujurnya, karena pikiran tentang keuntungan dan popularitas masih belum dihancurkan, kita telah dirugikan olehnya. Itulah sebabnya kita tidak tulus dalam berlatih, orang yang tulus itu tidak ada yang tidak berhasil. Melafal nama Buddha dan terlahir di tanah-murni, sesungguhnya sangat menakjubkan (tak terbayangkan). Dalam waktu dekat ini, upasika HanYing dari perpustakaan HuaZhang telah mangkat dan terlahir di tanah-murni, saya sendiri yang mengantar keberangkatannya, saya sendiri yang melihatnya dengan kepala sendiri. Meskipun beliau mangkat dalam kondisi sakit, saya rasa beliau adalah bodhisattva yang datang menjelma untuk memperlihatkan kepada kita. Tanda istimewanya sungguh sangat langka. Menjelang kemangkatannya, beliau sebanyak 2 kali melihat kemunculan Buddha Amitabha, satu kali melihat pemandangan pesamuan kolam teratai dan Buddha Amitabha datang menjemputnya. Kami menyelidiki secara seksama tentang kronologi perjalanannya dalam berlatih Buddha dharma. Beliau menyokong Buddha dharma selama 30 tahun. Diselidiki secara seksama, ternyata beliau bukanlah orang biasa. Beliau adalah utusan Buddha Amitabha dari tanah-murni Sukhavati. Karena tugasnya telah selesai, Buddha Amitahba lalu datang untuk menjemputnya pulang. Itulah sebabnya saat beliau sakit, tidak tampak wujud orang sakit. Saat kemangkatannya, apa yang disebut mati itu tidak tampak dalam dirinya sebagai wujud orang mati. Ini sungguh sangat langka, tidak tampak sama sekali. Bahkan saat kepergiannya pun tidak melalui masa zhongying (alam perantara), ini juga merupakan tanda istimewa yang tidak pernah kami lihat selama menyaksikan orang yang mangkat dan terlahir di tanah-murni. Oleh sebab itu, setelah dipikir secara seksama, benarlah bahwa beliau adalah utusan Buddha Amitabha, setelah tugasnya selesai, Buddha Amitabha pun datang untuk menjemputnya pulang. Melafal nama Buddha dan terlahir di tanah-murni, menyokong dharma dan terlahir di tanah-murni

- 47 -

adalah suatu kenyataan.Beliau menampakkan wujud kondisi sakit ini, memperingatkan kepada saya akan satu hal. Kita mesti harus belajar dari orang-orang yang telah dikisahkan oleh bhiksu TanXu, yakni dapat terlahir di tanah-murni dengan leluasa, mengetahui kapan waktunya mangkat, dan tidak mengalami penderitaan sakit. Jika anda jatuh sakit hingga masuk ke rumah sakit, maka harapan anda untuk terlahir di tanah-murni akan menjadi sangat tidak pasti. Mengapa? Saat kondisi sakit anda sudah parah, badan anda sudah tidak dapat bergerak lagi, semua hal harus diatur oleh orang lain, maka ini adalah saat yang paling berbahaya. Coba kalian lihat tulisan kitab ChiZhongXuZhi (Yang harus diketahui menjelang kemangkatan) dan kitab ChiZhong JinLiang (Petunjuk menjelang kemangkatan) anda baru tahu bahwa hal ini akan sangat menakutkan. Pada saat-saat seperti ini jika tidak ada seorang kalyanamitra yang melindungimu, tidak menjagamu, maka bagi anda yang ingin terlahir di tanahmurni pun menjadi sangat sangat sulit. Misalnya orang yang belajar Buddha dharma seperti kita ini orang yang tidak belajar Buddha dharma tidak perlu dibicarakan orang yang belajar Buddha dharma pasti akan berpikir bahwa orang yang telah mangkat, bila kita membantunya melafal nama Buddha selama 8 jam, kemudian kita coba meraba-raba untuk mengetahui bagian mana tubuhnya yang masih hangat, sekali anda meraba-raba atau menyentuhnya dalam kitab tersebut telah memberitahu kepada kita bahwa sebagian orang yang telah berhenti nafasnya, maka 12 jam kemudian roh nya baru dapat meninggalkan tubuhnya saat anda menyentuhnya, maka dia akan merasa sangat menderita sekali, kemudia pikiran benci akan muncul dalam pikirannya, sekali pikiran benci muncul maka beliau pun akan masuk dalam arus tumimbal lahir, tidak dapat pergi ke tanah-murni lagi. Siapa saja yang dapat memahami hal-hal ini? Siapa yang dapat menjaga agar tubuhnya tidak boleh tersentuh, bahkan ranjang tempat pembaringannya pun tidak boleh tersentuh? Kita berjalan dari samping dan melewatinya, saat pakaian kita menyentuhnya, beliau pun bisa merasa menderita. Ada berapa orang yang mengetahui kondisi seperti ini? Oleh sebab itu, yang ditunjukkan oleh kepala perpustakaan upasika HanYingtelah memberi inspirasi yang besar kepada saya. Kita mesti tidak boleh jatuh sakit, dan apakah kita sanggup melakukannya? Pasti bisa. Dari manakah penyakit itu? Penyakit itu datang dari keserakahan, kebencian dan kegelapan batin. Keserakahan, kebencian dan kegelapan batin disebut 3 racun noda batin. Keserakahan, kebencian dan kegelapan batin merupakan racun penyakit yang paling kronis. Dalam tubuh anda terdapat racun penyakit ini, dan bagian luar dinodai oleh lingkungan, maka bagaimana anda bisa tidak sakit? Keserakahan, kebencian dan kegelapan batin bagian dalam tubuh dicabut, lalu anda melatih kesucian pikiran, kesetaraan, dan welas asih. Kesucian dan kesetaraan mencabut racun penyakit, sedangkan welas asih menetraslisir racun, racun apapun yang tersentuh oleh pikiran welas asih akan ternetralisir. Oleh sebab itu meskipun ada penyakit, tidak perlu mencari dokter. Tidak perlu makan obat. Melafal nama Buddha secara tulus agar kesucian, kesetaraan dan welas asih anda bertambah dari hari ke hari, jika anda masih memiliki masa hidup, maka penyakit anda pasti dapat sembuh. Jika masa hidup anda telah berakhir, maka anda pasti dapat terlahir di tanah-murni secara leluasa. Demikianlah anda baru disebut mampu. Janganlah sampai masuk rumah sakit, janganlah minum obat. Jika anda memberi hadiah obat dan suplemen kepada saya, tentu saya tidak boleh menolaknya. Segan untuk menolaknya, tetapi setelah anda pergi, saya akan membuangnya. Saya tidak mau tertipu oleh anda. Meskipun maksud hati anda

- 48 -

baik, saya mengerti. Tetapi saya tahu bahwa benda-benda ini tidak bagus. Makanan yang paling menyehatkan adalah makanan alami. Sayuran, air putih adalah barang yang bagus, lebih bagus dari apapun. Dengan mensia-siakan begitu banyak uang untuk mengkonsumsi suplemen pun dapat berubah menjadi racun penyakit, tidak ada manfaat sedikit pun terhadap kesehatan anda. Mengapa tidak menggunakan uang ini untuk berbuat dana Buddha dharma saja untuk mewujudkan pahala yang sesungguhnya? Bagaimana cara berdananya? Kami di sini memiliki banyak sekali kaset rekaman, anda dapat membawanya pulang untuk meng-copy-nya satu dan berikan kepada kerabat anda, inilah disebut berdana. Anda meng-copy-nya 2-3 kaset, satu untuk didengar sendiri, dan sisanya akan tersebarkan, bukan? Inilah yang disebut melatih berdana. Anda menggunakan uang pembelian obat suplemen itu untuk berbuat dana, maka anda tidak akan menjadi sakit lagi. Kondisi tubuh yang pada dasarnya baik-baik saja, setiap hari malah diberi suplemen hingga penyakit apapun muncul kembali, mengapa harus diberi suplemen? Karena serakah terhadap tubuh ini. Anda bukanlah sedang mengikis keserakahan, kebencian dan kegelapan batin, tetapi sedang menambahnya dengan harapan tubuh ini dapat menjadi lebih kuat, berharap tubuh ini dapat hidup beberapa tahun lagi. Hidup beberapa tahun lagi untuk apa? Untuk mengenyam dosa selama beberapa tahun lagi ? aduh.., anda bukannya ingin secepatnya dapat pergi ke tempat kemuliaan tanah-murni Sukhavati, malah masih ingin mengenyam dosa di sini lebih lama, coba lihat, betapa dungunya anda. Jadi prinsip itu haruslah dipahami, kenyataan yang sesungguhnya itu haruslah dimengerti. Dalam masa 30 tahun ini, saya sangat berterima kasih atas sokongan dari kepala perpustakaan upasika Han sehingga kita memiliki keberhasilan seperti sekarang ini. Segala kegiatan yang menyangkut penyebaran dharma merupakan hasil pengaturan dari beliau. Beliau ibarat manajer saya, saya sendiri tidaklah sanggup menjadi pengambil keputusan. Semuanya merupakan pengaturan dari beliau. Sekarang beliau pun telah berangkat, maka saya pun sudah dapat menjadi pengambil keputusan. Sebagai pengambil keputusan, hal pertama apa yang akan dilakukan? Pertama, saya masih memiliki 2 buah rumah di Amerika, ini merupakan miliki pribadi. Satu disumbangkan kepada Lembaga Agama Buddha Dallas, di mana prosedur administrasinya telah dilaksanakan. Yang satu lagi, saya bermaksud untuk menjualnya, dan saya akan menutup rekening bank saya dan semua uangnya akan dijadikan sebagai dana untuk kegiatan penyebaran dharma dengan mendirikan sebuah yayasan. Dengan demikian, sayapun tidak memiliki apa-apa lagi, harta tidak ada lagi, uang pun tidak ada lagi, kartu kredit juga tidak ada lagi, apapun tidak ada lagi. Saya pun menjadi leluasa, mendapatkan keleluasaan. Jadi uang yang anda persembahkan kepada saya, semuanya akan dijadikan sebagai dana yayasan, di mana kami mendirikan sebuah yayasan. Dana ini digunakan untuk mencetak kader duta dharma. Kami tidak melakukan hal lain, yang kami lakukan secara khusus adalah mengenai hal ini. Upasaka LiMuYuan dari lembaga JuSheLin di Singapura sangat setuju, dan beliau juga membangkitkan tekad ini, yakni kami ingin mencetak kader duta dharma dan pembimbing dharma di seluruh lembaga mazhab Sukhavati di dunia ini. Kami melakukan pekerjaan ini. Oleh sebab itu, pusat ajaran ini secara murni menjalankan kegiatan pendidikan, yakni menjalankan kegiatan pendidikan Buddha dharma. Di sini kami tidak membuat ritual keagamaan, juga tidak membuat upacara keagamaan apapun. Jadi kami secara khusus menjalankan kegiatan ini, dan yayasan ini secara khusus bertujuan untuk menyokong kegiatan ini. Semoga dapat berjalan dengan sangat lancar

- 49 -

agar dapat memberikan sumbangan yang sesungguhnya demi agama Buddha di masa sekarang dan mendatang. Oleh sebab itu, mulai sekarang saya melakukan kegiatan pengajaran, saya tidak memberi ceramah lagi. Karena tidak memberi ceramah, maka saya pun tidak membaca kitab suci lagi. Semua kitab suci saya sumbangkan ke vihara, saya tidak memerlukannya lagi, apa pun tidak diperlukan lagi, saya hanya perlu satu patah kata Buddha Amitabha. Buddha Amitabha pasti akan menjemput saya untuk terlahir di tanah-murni dan menjadi Buddha. Semuanya dilepaskan, bahkan kitab dan ajaran pun dilepaskan. Ini adalah kegiatan bagi mereka yang masih muda, bukan kegiatan saya. Dan sekarang saya akan melakukan kegiatan mengajar, bagaimana caranya? Mari kuberitahu, sekarang cara saya mengajar para siswa, saya tidak akan memberikan ceramah, itu sangat melelahkan saya, terlalu berat. Mana mungkin saya memberikan ceramah kepada mereka. Jadi cara saya mengajar adalah, mengajari anda cara untuk berceramah , bukan saya yang berceramah, tetapi saya mengajari anda berceramah. Bagaimana cara mengajarnya? Saya memberikan kitab suci kepada anda, dan mencarikan beberapa kitab penjelasan, dan buku-buku referensi lainnya. Anda persiapkan kitab-kitab ini. Saat masuk kelas, andalah yang berceramah kepada saya, jadi cara saya mengajar adalah demikian. Siswa berceramah kepada saya, dan jika ada kesalahan, saya akan mengoreksinya. Jadi saya pun tidak perlu melihat kitab suci lagi. Jadi inilah cara saya mengajar, bukan berceramah lagi. Di masa mendatang, saya membiarkan siswa saya yang memberi ceramah, saya melatih mereka. Setelah melihatnya berceramah dengan baik di atas panggung dan sudah sanggup berceramah di luar, maka saya akan memperkenalkannya di luar untuk memberi ceramah. Jika memungkinkan untuk berceramah di sini tahun depan, maka saya akan mengutus siswa saya untuk berceramah di sini. Mungkin saya juga akan datang ke sini, dan saya akan duduk di barisan paling belakang. Mengapa? Jika di barisan belakang saya tidak dapat mendengar dengan jelas suaranya, maka dia pun akan dianggap gagal. Dia harus berceramah hingga memuaskan saya, maka baru dapat dinyatakan lulus. Jika ceramahnya tidak memuaskan saya, maka diapun tidak dapat lulus. Jadi, cara saya mengajar sangatlah ringan, namun mereka yang belajar akan terasa sangat berat, dia harus sepenuhnya berkonsentrasi pada kitab dan ajaran. Itulah sebabnya saya pun memberikan kita-kitab saya dan mendirikan perpustakaan sebagai bahan referensi yang dipergunakan untuk mereka, untuk dipelajari oleh mereka. Sedangkan saya tiap hari melafal nama Buddha Amitabha, tidak ada kegiatan lain lagi. Namun saya harus menemani mereka, harus mendorong mereka, dan sesungguhnya saya pun tidak ada kegiatan lagi. Sampai di sini, inilah topik yang saya persembahkan kepada anda semua, bagaimana cara melafal nama Buddha dan terlahir di tanah-murni Buddha, untuk dijadikan sebagai bahan referensi. Jadi kalian renungkan dengan sungguh-sungguh, jika merasa masuk akal, maka dapat mengikutinya. Jika merasa tidak masuk akal, ajaran Buddha terdapat banyak metode, maka anda boleh mencari orang yang lebih pintar lagi, kami juga akan merasa sangat bahagia. Setiap metode ajaran dapat menembus sang jalan, setiap metode ajaran dapat menjadi Buddha, namun metode ajaran melafal nama Buddha itu sesungguhnya merupakan yang paling cepat, paling cocok dan paling praktis. Baiklah, waktunya telah habis, dan terima kasih kepada hadirin praktisi.

- 50 -

Namo Amitabha Buddhaya. sumber: www.bfnn.org


catatan: [1] dharma-dhatu berarti alam dharma, di mana alam dharma itu merujuk pada segala sesuatu baik yang menyangkut tataran fenomena maupun noumena. [2] 9 dharmadhatu: alam neraka, alam binatang, alam hantu, alam asura, alam manusia, alam dewa, alam arahat, alam pratyeka Buddha, alam bodhisattva. Jika ditambah satu alam Buddha maka disebut 10 dharmadhatu. [3] YiZhen FaJie. Yi berarti Satu. Zhen berarti Sejati. FaJie berarti dharmadhatu. Satu Dharmadhatu Sejati adalah keselarasan sejati terhadap semua fenomena, pada dasarnya dia bebas dari pelekatan ide, tanpa awal dan tanpa akhir, bukan kosong juga bukan wujud dan mencakup segala sesuatu. [4] Benda yang terbuat dari tanah liat jika tersentuh air maka akan teruraikan, di sini menggambarkan bahwa patung bodhisattva yang terbuat dari bahan tanah liat tentu saja sangat takut bila tersentuh air. Ini menjelaskan bahwa patung bodhisattva bukanlah bodhisattva sesungguhnya. Jadi pepatah ini memperingatkan orang untuk jangan terbelenggu dengan memberi penghormatan yang salah. [5] Terdapat dalam Kitab Avatamsaka Sutra, bab terakhir tentang 10 ikrar bodhisattva Samanthabhadra [6] 3 asamkhyeya kalpa adalah gambaran umum tentang waktu yang dibutuhkan seorang makhluk biasa untuk mencapai hingga tingkat kebuddhan. 1 asamkhyeya kalpa berlangsung dalam waktu yang lama nya tak terhitung. Kitab abhidharma kosa menyatakan bahwa 1 asankheya kalpa= 1 X 10 pangkat 59 maha kalpa. [7] Mistik disini lebih mengacu pada kepercayaan yang salah seperti: menyembah Buddha demi mendapat rejeki, anak, jabatan, jodoh dll; bentuk ritual agama Buddha adalah tujuan untuk mendapatkan perlindungan Buddha, dan berbagai jenis kepercayaan masyarakat yang telah salah mengaplikasikan ajarang Buddha. [8] Jneya avarana. Salah satu dari 2 jenis avarana. Yang satu lagi disebut kilesa avarana (rintangan noda batin). Kedua avarana ini adalah rintangan yang timbul dari 3 racun:;keserakahan, kebencian dan kegelapan batin. Dengan adanya 3 racun ini menjadi tidak dapat mengetahui sifat sejati dari dharma. Kilesa avarana timbul dari kemelekatan pada sang aku, sedangkan jneya avarana timbul dari kemelekatan pada sang dharma. [9] Konsep ajaran sempurna berasal dari tradisi mazhab Tientai. Sesepuh mazhab Tientai -bhiksu Chih I, mengklasifikasikan ajaran Buddha ke dalam 8 kategori ajaran. 4 kategori menurut cara mengajarnya, yakni ajaran mendadak, ajaran bertahap, ajaran rahasia dan ajaran tak menentu. 4 kategori menurut sifat ajarannya, yakni ajaran hinayana, ajaran umum, ajaran khusus, dan ajaran sempurna. [10] 41 tingkatan bodhisattva terdiri dari 10 tingkat kediaman, 10 tingkat pelaksanaan, 10 tingkat penyaluran jasa, 10 tingkat bhumi (tanah), dan 1 tingkat pencerahan kesetaraan. [11]Fenzhengjifo berarti mencapai sebagian dari tingkat Buddha. Dia dapat disebut Buddha namun hanya mencapai tingkat bagian tertentunya saja. Sesungguhnya dia masih seorang Bodhisatva yang sudah hampir mencapai tingkat Buddha. [12] Kelahiran di 3 jenjang tanah-murni. Di mana dalam Maha Sukhavati-vyuha Sutra menyebutkan terdapat 3 jenjang bagi mereka yang terlahir tanah-murni Sukhavati yakni Jenjang tertinggi, jenjang menengah dan jenjang terbawah. Orang yang dapat terlahir di jenjang tertinggi adalah orang yang meninggalkan kehidupan rumah tangga, melepaskan kesenangan indriya, menjadi seorang sramana (pertapa), membangkitkan bodhicitta (batin pencerahan) , melafal nama Buddha secara khusus pada satu tujuan, memupuk kebajikan, bertekad terlahir di tanah-murni Sukhavati. Orang yang dapat terlahir di jenjang menengah adalah orang yang meskipun tidak dapat menjalani kehidupan pertapa, namun dapat memupuk kebajikan yang besar, membangkitkan batin pencerahan, melafal nama Buddha secara khusus pada satu tujuan, menjalani sila, mendirikan stupa dan Buddharupang, memberi persembahan pada pertapa, menyalakan lampu dan memasang umbul umbul untuk menghias Buddha, menyalurkan jasa jasa kebajikannya untuk bertekad terlahir di tanah-murni Sukhavati. Orang yang dapat terlahir di jenjang terbawah adalah orang yang seandainya tidak sanggup berbuat kebajikan, maka bangkitkanlah batin pencerahan, dan melafal nama Buddha secara khusus pada satu tujuan dengan keyakinan dan sukacita, tidak ada keraguan, dengan tulus bertekad terlahir di tanah-murni Buddha. [14]Nianfo secara umum diartikan sebai melafal nama Buddha. Namun arti sesunggunhnya adalah perenungan pada Buddha (buddhanusmerti). Terdapat 4 jenis Nianfo, yakni, Nianfo melalui cara visualisasi Buddharupang, Nianfo melalui cara perenungan keistimewaan Buddha, Nianfo melelaui cara perenungan hakikat sejati Buddha, Nianfo melalui cara melafal nama Buddha. Karena dari ke 4

- 51 -

jenis ini, melafal nama Buddha adalah yang paling praktis dan populer maka Nianfo menjadi identik dengan pengertian melafal nama Buddha saja. [15] 3 Sutra adalah Maha Sukhavati-vyuha Sutra, Amitayur-dhyana Sutra dan Amitabha Sutra. 5 Sutra adalah 3 sutra di atas ditambah dengan Avatamsaka Sutra bagian 10 ikrar agung bodhisattva Samanthabhadra dan Suranggama Sutra bab tentang Jalan penembusan sempurna melalui praktek Nianfo bodhisattva Mahasthamaprapta.

- 52 -