Anda di halaman 1dari 6

TERAPI Pengobatan ditujukan untuk meniadakan penyebab radang karena infeksi kuman perlu diberikan antibiotik, antimikrobial, sulfonamid

yang diberikan sedikitnya selama tiga hari berturut-turut. bronchodilatator digunakan untuk hewan yang mengalami kesulitan bernafas. Obat-obat yang sifatnya mendukung misalnya ekspektotansia dan kardioanaleptika (Subronto, 2006). Amoksisillin merupakan antibiotik spektrum luas. Antibiotik ini bersifat bakteriosidal dengan mekanisme kerja menghambat sintesis dinding sel bakteri yaitu menghambat transpeptidasi rangkaian reaksi sel bakteri kemudian terjadi lisis dinding sel akibat tekanan osmotik dalam sel bakteri lebih tinggi. Efektif melawan Hemophilus, E. Coli, Proteus, Shigella, Salmonella, Streptococcus faecalis, S. Pyogenes, S. Viridans, dan Clostridium perferingens. Absorpsi amoksisillin di saluran cerna lebih baik daripada ampisillin. Penyerapan ampisillin terhambat oleh adanya makanan dalam lambung, sedangkan amoksisillin tidak. Absorpsi amoksisillin secara peroral sekitar 6578% sedangkan pada ampicillin hanya 49%. Kadar puncak dalam plasma 6,75 g/ml dengan waktu paruh eliminasi sekitar 1-1 jam. Sekitar 20% obat ini terikat pada protein plasma (Ganiswarna, 2001).

Daftar Pustaka Dharmojono, H., 2001, Kapita Selecta Kedokteran Veteriner, Edisi I, Pustaka Popular Obor,Jakarta, hal 16-20. Ganiswara, Sulistia G. Setiabudi, Rianto. Suyatna, Frans D. Purwantyastuti. Nafrialdi. 2001. Farmakologi dan Terapi Edisi 4. Jakarta: FKUI. Nelson R.W and Couto C.G., 2003, Small Animal Internal Medicine, Third Edition, Mosby, pp:1015-1016. Plumb, D.C., 1999, Veterinary Drugs Handbook, Third Edition, Iowa State University Press,Ames. Subronto. 2006. Penyakit Infeksi Parasit dan Mikroba pada Anjing dan Kucing. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press,.

f. Organisme anaerobic dapat pula berperan dalam infeksi campuran, khususnya pada hewan yang menderita pneumonia aspirasi dengan pengerasan lobus paruparu. Micoplasma dapat pula diisolasi dari anjing dan kucing yang menderita pneumonia tapi patogeneisnya belum diketahui (Nelson & Couto, 1998). PATOGENESIS Pada umumnya radang paru-paru yang disebabkan oleh agen fisis maupun kimiawi terjadi secara inhalasi, sedang derajat radang yang ditimbulkan tergantung pada luas bagian organ yang terkena, sifat fisis dan kimiawi penyebabnya, maupun jumlah agen yang terserap (Subronto, 2006). Pada kasus pneumonia yang disebabkan bakteri, bakteri akan berkolonisasi pada jalan nafas, alveolus atau jaringan interstitial. Infeksi yang terbatas pada saluran nafas dan jaringan peribronchial disebut infeksi bakterial bronchitis, namun ketika ketiga jaringan tersebut yang terinfeksi maka penyakit tersebut yang disebut infeksi bakterial bronchopneumonia. Bakteri yang masuk melalui jalan nafas yang akan menyebabkan bronchopneumonia, umumnya menginfeksi pada daerah lobus kranial dibanding daerah lobus ventral. Sedangkan bakteri yang masuk melalui rute hematogenus, umumnya menyebabkan pneumonia pada daerah kaudal lobus yang merupakan pola yang difus dan terkait jaringan interstitial (Nelson and Couto, 1998). GEJALA KLINIS Pada awalnya radang paru-paru akan didahului dengan gejala hiperemia pulmonum, yang selanjutnya akan diikuti dengan gejala dispnoe, respirasi yang bersifat frekuen serta bersifat abdominal. Gejala respirasi yang terlihat antara lain batuk yang mula-mula bersifat kering dan lama kelamaan akan berubah menjadi basah dan pendek-pendek. Adanya leleran hidung yang baru dapat diamati setelah proses berlangsung beberapa hari. Suhu tubuh pada keadaan akut akan meningkat, namun tidak semua radang paru-paru akan diikuti dengan kenaikan suhu tubuh. Dapat terjadi dehidrasi yang tercermin dari penurunan turgor kulit dan juga keringnya cermin hidung.. Tanda gejala sistemik meliputi lethargi, anoreksia, dan kekurusan. Pada pemeriksaan auskultasi daerah paru-paru akan terdengar berbagai suara abnormal, suara ronchi dan respirasi yang terengah-engah dapat ditemukan (Nelson and Couto, 1998; Subronto, 2006). DIAGNOSA Pneumonia didiagnosa berdasarkan gejala klinis, Complete Blood Count (CBC), pemeriksaan radiologi thorak. Penentuan diagnosa didasarkan atas gejala-gejala, dilengkapi dengan pemeriksaan secara auskultasi, perkusi dan rontgen. Pneumonia yang disebabkan karena bakteri menunjukkan leukositosis neutrofilia disertasi left shift, analisis dari cairan trakhea dan isolasi mikrobiologi (Subronto, 2006).

5. Vaksinasi. Vaksin dengan vaksin hidup dapat memberikan imunitas yang cukup dan berdurasi lama asalkan prosedur penggunaan tersebut dipatuhi,misalnya berapa kali harus diulang sebelum vaksinasi booster tahunan. Untuk pencegahan dilakukan vaksinasi dengan vaksin MLV. Dosis tunggal vaksin distemper MLV memberikan kekebalan anjing-anjing yang tidak memiliki zat kebal terhadap distemper dan peka terhadap penyakit ini. Dengan vaksinasi sekitar 50 % anak anjing bisa dikebalkan terhadap distemper saat berumur 6 minggu, sekitar 75 % saat berumur 9 minggu dan lebih dari 95 % di atas usia 13 minggu. Vaksinasi diberikan pada anjing saat berumur 5-7 minggu diikuti pemberian vaksin dengan selang pemberian 3-4 minggu hingga berumur 14 minggu dan vaksin ulangan setiap tahun. Jadwal seperti demikian akan memberikan kekebalan anjing terhadap distemper dan titer kebal akan bertahan lama setelah terjadinya tanggapan terhadap vaksinasi ulangan (booster). 6. Memberikan gizi yang baik dan penar agar nutrisi yang diperlukan anjing dapat terpenuhi. Dengan terpenuhinya nutrisi maka kondisi tubuh dapat terjaga dan tidak mudah terserang penyakit. PNEUMONIA ETIOLOGI Radang paru-paru dapat disebabkan oleh berbagai agen etiologi. Faktor lingkungan dan cara pemeliharan hewan seperti tempat yang lembab, ventilasi udara yang jelek dan anakanak yang tidak mendapatkan cukup kolostrum merupakan faktor yang mendukung terjadinya radang paru-paru (Subronto, 2006). Pneumonia secara umum dibagi berdasarkan penyebabnya: a. Pneumonia karena fungal, biasanya jamur Coccidioidomycosis immitis,

Cryptococcus neoformans atau fungi lain yang sebagian sulit untuk diobati. b. Pneumonia karena virus (biasanya merupakan akibat dari virus distemper pada anjing atau komplikasi infeksi saluran pernafasan bagian atas pada kucing). c. Pneumonia karena parasit, secara langsung oleh cacing paru-paru atau dari migrasi cacing ke paru-paru. d. Pneumonia karena bakterial. Banyak bakteri yang menginfeksi paru-paru. Bakteri yang umum dapat diisolasi dari kasus infeksi bakteri anjing dan kucing adalah: Pasteurella spp, Klebsiella spp, Sterptococcus spp, Bordetella bronchiseptica, dll. e. Pneumonia karena alergi, akibat dari masuknya benda asing oleh sel radang pada kejadian infeksi (Brooks, 2006).

Saat awal kejadian segera akan diikuti dengan leukopenia dan limfopenia. Selanjutnya terjadi netrofilia selama beberapa minggu. Gangguan pada saluran pernafasan berupa keluarnya leleran hidung kental, mukopurulen dan leleran mata yang menigkat (epifora) yang lama-lama juga bersifat mukopurulen . Anjing akan tampak lesu, depresi, batukbatuk, anoreksi dan mungkin diikuti diare dengan tinja yang berbau busuk. Telapak kaki akan mengeras krena kekurangan cairan (hardpad disease). Anjing yang terserang menunjukkan bau yang khas. Gejala dehidrasi sangat menonjol dan mungkin penderita mengalamimkematian dan gagal ginjal akibat dehidrasi yang sangat. Penyakit ini lama kelamaan daoat menyerang bagian saraf dan gejalanya berlangsung selama beberapa minggu atau bulan. Anjing tidak mampu mengontrol mikturisi (pengeluaran kemih). Pada stadium terminal, moribund, terlihat adanya kejang dengan bola mata mengalami nystagmus. Diagnosa Diagnosa didasarkan pada anamnesa,gejala klinis yang ditemukan dan pemeriksaan laboratorium seperti pemeriksaan darah, PCR, immunofluororesensi, isolasi virus, analisa ciran serebrospinal, serologi dan tes ELISA untuk antibodi spesifik distemper. Prognosa Pada infeksi ringan, terutama pada anjing yang telah divaksin, prognosanya baik,sedang lainnya meragukan sampai infausta. Terapi dan Pencegahan 1. Antibiotik Pemberian antibiotik dimaksudkan untuk mengatasi teerjadinya infeksi sekunder. Antibiotik yang digunakan adalah antibiotik dengan broad spectrum. 2. Terapi cairan dan elektrolit Untuk mengganti cairan yang hilang dan mengatasi dehidrasi akibat diare atau muntah. 3. Obat-obat sedativa dan anti konvulsi Sedativa dan anti konvulsi di berikan bila anjing meninjukkan gejala sarafi. 4. Selain itu pemberian vitamin C dan dietil ether bermanfaat dalam pengobatan distemper. Pemberian Dexamethasone dilaporkan memberikan sejumlah manfaat dalam mengobati anjing pasca distemper yang disertai gejala-gejala syaraf pemberian vaksin distemper MLV (modified live virus) secara intravena memberikan hasil yang baik.

Pencegahan Pencegahan ascariasis dengan perbaikan sanitasi kandang. Desinfeksi kandang seminggu sekali. Pemberian obatcacing pada anjing dewasa yang akan dikawinkan dan sesudah beranak dapat diberikan ulangan obat cacing. Untuk pencegahan perlu diberikan vitamin dan makanan yang bergiziuntuk meningkatkan daya tahan tubuh agar tidak mudah terserang cacingan. CANINE DISTEMPER Distemper anjing atau canine distemper merupakan penyakit yang sangat menular pada anjing, ditandai dengan kenaikan suhu bifase, leukopenia, radang saluran pencernaan dan pernafasan dan sering diikuti oleh komplikasi berupa gangguan saraf pusat. Etiologi Distemper anjing disebabkan oleh virus RNA Paramyxovirus yang berukuran 150-300m dengan nukleokapsid simetris dan berbungkus lipoprotein. Virus distemper terdiri atas 6 struktur protein yaitu nukleoprotein(N) dan 2 enzim (P dan L) pada nukleokapsidnya,juga membran protein (M) disebelah dalam dan 2 protein lagi (H dan F) pada bungkus lipoprotein sebelah luar. Pembungkus lipoprotein mudah dihancurkan oleh pelarut lemak yang menjadikan virus tidak menular lagi. Semua bangsa dan umur anjing secara universal dapat menderita distemper. Anjing yang menderita distemper akut akan mengeluarkan virus dari ekskresi yang. Sekresi yang keluar dari alat pernafasan merupakan penyebar virus lewat udara yang paling sering terjadi. Virus distemper diluar induk semang tidak stabil dan akan segera mati. Patogenesis Penularan virus lewat udara (per inhalasi) menyebabkan infeksi ke dalam sel makrofag alat pernafasan. Virus mula-mula akan berkembang di dalam kelenjar getah bening terdekat. Dalam waktu 1 minggu virus menjalani replikasi dan menyebabkan viremia, yang selanjutnya virus tersebar ke berbagai organ limfoid,sumsum tulang dan lamina propria dari epitel. Apabila respon jaringan retikuloendotelial bagus,segera terbentuk antibodi yang cukup dan virus akan dinetralisasi hingga tubuh bebas dari virus. Sebaliknya kalau antibodi tidak terbentuk, virus menyebar cepat. Suhu tubuh saat itu akan naik , anoreksi, depresi dan sel-sel kelenjar di saluran pernafasan dan mata menghasilkan sekretnya secara berlebihan. Batuk, dispnoea, disertai suara cairan dari paru-paru segera terjadi. Rusaknya epitel saluran pencernaan menyrbabkan diare, muntah dan nafsu makan tertekan. Gejala klinis Gejala klinis distemper sangat bervariasi baik dalam durasinya maupum keseriusannya. Kenaikan suhu terjdi pada hari 1-3, diikuti penurunan selama beberapa hari kemudian naik lagi selama 1 minggu atau lebih.

Nama : Dwi Wahyuni Nim : 08/KH/6060

Blok : 19 UP/Skenario: 3 / Anjingku Batuk dan Sesak Napas

Learning Objective : Mengetahui tentang penyakit infeksius saluran pernapasan pada anjing meliputi : a. Etiologi b. Patogenesis c. Gejala Klinis d. Diagnosa e. Penanganan Penyakit infeksius saluran pernapasan pada anjing bisa disebabkan oleh berbagai faktor ataupun agen. Agennya dapat berupa parasit, virus, bakteri, maupun jamur. a. Ascariasis Etiologi : Ascariasis disebabkan oleh cacing dalam golongan Toxocara. Patogenesis Penularan ascariasis melalui telur cacing yang tanpa sengaja tertelan karena telur cacing mencemari tempat makanan dan minuman, kandang dan lain-lain. Penularan juga dapat melalui induk semasa dalam masa kebuntingan, dan pada waktu anak lahir sudah tertular cacingan. Proses penularan pertama kali melalui telur tertelan, kemudian telur menetas dalam perut. Cacing ini berusaha menembus dinding usus lalu masuk ke dalam saluran darah dan mengikuti aliran darah sampai di hati. Cacing ini berusaha menembus hati dan berusaha mencapai paru-paru, melalui aliran darah paru-paru memecah pembuluh darah kapiler kemudian masuk sampai ke kantung udara paru-paru. Cacing ini migrasi ke saluran pernafasan atas mencapai kerongkongan dan akhirnya tertelan kembali masuk ke perut dan menjadi dewasa di dalam usus. Dalam usus cacing ini berkembang biak dan juga menimbulkan gangguan pada usus. Gejala Klinis Pada anak anjing terlihat gejala perut membesar meskipun tidak banyak makan, anjing terlihat kurang enak pada bagian perutnya, merengek-rengek, dan pada waktu berdiri posisi kaki belakang agak melebar untuk menahan rasa sakit pada bagian perutnya. Anjing tampak anemia, lemah, gelisah, anak anjing tidak mau menyusui induknya, bulu kusam, mata berair, nafas terengah-engah, sesak nafas, kadang-kadang diikuti dengan mencret dan muntah-muntah. Kematian anak anjing biasanya dipercepat dengan adanya infeksi sekunder sehingga terjadi radang paru-paru (pneumonia). Pada anjing dewasa hanya terjadi gejala ringan yaitu pertumbuhan terhambat, bulu kusam dan berdiri, mata berair, lesu, nafsu makan turun, bila makan hanya memilih dagingnya saja, bahkan pada yang berat makanan hanya dijilat kemudian ditinggal pergi.

Patogenesis Penularan penyakit parvovirus biasanya terjadi karena ingesti tinja atau partikel partikelnya yang menganding virus. Penulatan secara kontak dan inhalasi juga mungkin sepanjang material yang terserap atau terdedah memasuki saluran pencernaan. Virus yang