Anda di halaman 1dari 15

BAB I PENDAHULUAN

1.1Latar Belakang

Dalam pembahasan ilmu bahan kita mencoba untuk membahas materi tentang aspal. Aspal merupakan pembahasan ke lima dalam mata kuliah ilmu bahan. Dalam penyusunan makalah ini kami coba mengangkat mengenai aspal hal itudisebabkan karena Indonesia merupakan salah satu penghasil aspal terbesar di d u n i a , n a m u n d i Indonesia sendiri belum mampu mengeksploritasi aspal s e c a r a m a k s i m a l . H a l i n i d i t u n j u k a n o l e h b a h a n p e m b u a t a s p a l j a l a n d i Indonesia masih menggunakan aspal dari luar negeri ( aspal import), padahal aspal di Indonesia masih dapat di eksploitasi dalam kurun waktu yang lama.

1.2 Tujuan

Agar lebih mengetahui tentang aspal lebih jauh. Karena a s p a l a d a l a h sumberdaya alam yang terdapat di Indonesia yang masih belum di eksplorasi lebih jauh karena itu kami mencoba untuk menggali lebih jauh tentang aspal y a n g a d a d i i n d o n e s i a s e r t a a p a s a j a t e k n o l o g i t e r b a r u d a l a m a s p a l . S e r t a sebagai sarat untuk memenuhi nilai tugas mata kuliah Ilmu Bahan.

BAB II PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Aspal

Aspal ialah bahan hidro karbon yang bersifat melekat (adhesive), berwarna hitam kecoklatan, tahan terhadap air, dan visoelastis. Aspal sering juga disebut bitumen merupakan bahan pengikat pada campuran beraspal yang dimanfaatkan sebagai lapis permukaan lapis perkerasan lentur. Aspal berasal dari aspal alam (aspal buton} atau aspal minyak (aspal yang berasal dari minyak bumi). Berdasarkan konsistensinya, aspal dapat diklasifikasikan menjadi aspal padat, dan aspal cair. Aspal atau bitumen adalah suatu cairan kental yang merupakan senyawa hidrokarbon dengan sedikit mengandung sulfur, oksigen, dan klor. Aspal sebagai bahan pengikat dalam perkerasan lentur mempunyai sifat viskoelastis. Aspal akan bersifat padat pada suhu ruang dan bersifat cair bila dipanaskan. Aspal merupakan bahan yang sangat kompleks dan secara kimia belum dikarakterisasi dengan baik. Kandungan utama aspal adalah senyawa karbon jenuh dan tak jenuh, alifatik dan aromatic yang mempunyai atom karbon sampai 150 per molekul. Atomatom selain hidrogen dan karbon yang juga menyusun aspal adalah nitrogen, oksigen, belerang, dan beberapa atom lain. Secara kuantitatif, biasanya 80% massa aspal adalah karbon, 10% hydrogen, 6% belerang, dan sisanya oksigen dan nitrogen, serta sejumlah renik besi, nikel, dan vanadium. Senyawa-senyawa ini sering dikelaskan atas aspalten (yang massa molekulnya kecil) dan malten (yang massa molekulnya besar). Biasanya aspal mengandung 5 sampai 25% aspalten. Sebagian besar senyawa di aspal adalah senyawa polar.

2.2 Fungsi Aspal

1) Untuk mengikat batuan agar tidak lepas dari permukaan jalan akibat lalu lintas (water proofing, protect terhadap erosi) 2) Sebagai bahan pelapis dan perekat agregat. 3) Lapis resap pengikat (prime coat) adalah lapisan tipis aspal cair yang diletakan di atas lapis pondasi sebelum lapis berikutnya. 4) Lapis pengikat (tack coat) adalah lapis aspal cair yang diletakan di atas jalan yang telah beraspal sebelum lapis berikutnya dihampar, berfungsi pengikat di antara keduanya. 5) Sebagai pengisi ruang yang kosong antara agregat kasar, agregat halus, dan filler.

2.3 Jenis Aspal

1) Aspal Alam 2) Aspal Buatan

2.3.1

Aspal Alam

a. Menurut sifat kekerasannya : Batuan, Asbuton Plastis, Trinidad Cair, Bermuda

b. Menurut Kemurniannya Murni, Bermuda Tercampur dengan mineral, Asbuton + Trinidad

c. Menurut Depositnya
Aspal Danau (Lake Asphalt) Aspal ini secara alamiah terdapat di danau Trinidad, Venezuella dan Lawele. Aspal ini terdiri dari bitumen, mineral dan bahan organik lainnya. Angka penetrasi dari aspal ini

sangat rendah dan titik lembeknya sangat tinggi. Karena aspal ini sangat keras, dalam pemakaiannya aspal ini dicampur dengan aspal keras yang mempunyai angka penetrasi yang tinggi dengan perbandingan tertentu sehingga dihasilkan aspal dengan angka penetrasi yang diinginkan.

Aspal Batu (Rock Asphalt) Aspal batu Kentucky dan Buton adalah aspal yang secara alamiah terdeposit di daerah Kentucky, USA dan di pulau Buton, Indonesia. Aspal dari deposit ini terbentuk dalam celah-celah batuan kapur dan batuan pasir. Aspal yang terkandung dalam batuan ini berkisar antara 12 - 35 % dari masa batu tersebut dan memiliki tingkat penetrasi antara 0 - 40. Untuk pemakaiannya, deposit ini harus ditambang terlebih dahulu, lalu aspalnya diekstraksi dan dicampur dengan minyak pelunak atau aspal keras dengan angka penetrasi yang lebih tinggi agar didapat suatu campuran aspal yang memiliki angka penetrasi sesuai dengan yang diinginkan. Pada saat ini aspal batu telah dikembangkan lebih lanjut, sehingga menghasilkan aspal batu dalam bentuk butiran partikel yang berukuran lebih kecil dari 1 mm dan dalam bentuk mastik.

2.3.2

Aspal Buatan

Jenis aspal ini dibuat dari proses pengolahan minya bumi, jadi bahan baku yang dibuat untuk aspal pada umumnya adalah minyak bumi yang banyak mengandung aspal. Jenis dari aspal buatan antara lain adalah sebagai berikut: 1) Aspal keras 2) Aspal cair 3) Aspal emulsi

2.3.2.1 Aspal Keras

Aspal keras merupakan aspal hasil destilasi yang bersifat viskoelastis sehingga akan melunak dan mencair apabila mendapat cukup pemanasan dan sebaliknya. Aspal keras digunakan untuk bahan pembuatan AC (Asphalt Concrete). Aspal yang

digunakan dapat berupa aspal keras penetrasi 60 atau penetrasi 80 yang memenuhi persyaratan aspal keras. Jenis-jenisnya : 1) Aspal penetrasi rendah 40 / 55, digunakan untuk kasus: Jalan dengan volume lalu lintas tinggi, dan daerah dengan cuaca iklim panas. 2) Aspal penetrasi rendah 60 / 70, digunakan untuk kasus : Jalan dengan volume lalu lintas sedang atau tinggi, dan daerah dengan cuaca iklim panas. 3) Aspal penetrasi tinggi 80 / 100, digunakan untuk kasus : Jalan dengan volume lalu lintas sedang / rendah, dan daerah dengan cuaca iklim dingin. 4) Aspal penetrasi tinggi 100 / 110, digunakan untuk kasus : Jalan dengan volume lalu lintas rendah, dan daerah dengan cuaca iklim dingin.

2.3.2.2 Aspal Cair

Aspal cair merupakan aspal hasil dari pelarutan aspal keras dengan bahan pelarut berbasis minyak. Aspal cair digunakan untuk keperluan lapis resap pengikat (prime coat) digunakan aspal cair jenis MC 30, MC 70, MC 250 atau aspal emulsi jenis CMS, MS. Untuk keperluan lapis pengikat (tack coat) digunakan aspal cair jenis RC 70, RC 250 atau aspal emulsi jenis CRS, RS.

2.3.2.3 Aspal Emulsi

Aspal cair yang dihasilkan dengan cara mendispersikan aspal keras ke dalam air atau sebaliknya dengan bantuan bahan pengemulsi sehingga diperoleh partikel aspal yang bermuatan listrik positif (kationik), negatif (anionik) atau tidak bermuatan listrik (nonionik). Jenis-jenisnya adalah:

1) Aspal Emulsi Anionik

Aspal cair yang dihasilkan dengan cara mendispersikan aspal keras ke dalam air atau sebaliknya dengan bantuan bahan pengemulsi anionik sehingga partikel-partikel aspal bermuatan ion-negatif.

2) Aspal Emulsi Anionik Mengikat Cepat (Rapid setting, RS) Aspal emulsi bermuatan negatif yang aspalnya mengikat agregat secara cepat setelah kontak dengan agregat.

3) Aspal Emulsi Anionik Mengikat Lebih Cepat (Quick setting, QS)

Aspal emulsi bermuatan negatif yang aspalnya mengikat agregat secara lebih cepat setelah kontak dengan agregat. Meliputi : QS-1h (Quick Setting-1): Mengikat lebih cepat-1 keras (Pen 40-90).

4) Aspal Emulsi Jenis Mantap Sedang

Aspal emulsi yang butir-butir aspalnya bermuatan listrik positip.

5) Aspal Emulsi Kationik

Aspal cair yang dihasilkan dengan cara mendispersikan aspal keras ke dalam air atau sebaliknya dengan bantuan bahan pengemulsi jenis kationik sehingga partikel-partikel aspal bermuatan ion positif.

6) Aspal Emulsi Kationik Mengikat Cepat (CRS)

Aspal emulsi bermuatan positif yang aspalnya memisah dari air secara cepat setelah kontak dengan agregat.

7) Aspal Emulsi Kationik Mengikat Lambat (CSS)

Aspal emulsi bermuatan positif yang aspalnya memisah dari air secara lambat setelah kontak dengan agregat.

8) Aspal Emulsi Kationik Mengikat Lebih Cepat (CQS)

Aspal emulsi bermuatan positif yang aspalnya memisah dari air secara lebih cepat setelah kontak dengan agregat.

9) Aspal Emulsi Kationik Mengikat Sedang (CMS)

Aspal emulsi bermuatan positif yang aspalnya memisah dari air secara sedang setelah kontak dengan agregat.

10) Aspal Emulsi Mantap Cepat (Cationic Rapid Setting - CRS)

Aspal emulsi kationik yang partikel aspalnya memisah cepat dari air setelah kontak dengan aggregat.

11) Aspal Emulsi Mantap Cepat (cationic rapid setting, CRS) Aspal emulsi kationik yang partikel aspalnya memisah cepat dari air setelah kontak dengan aggregate aspal emulsi jenis kationik yang partikel aspalnya memisah dengan cepat dari air setelah kontak dengan udara.

3 4

Pembuatan Aspal

Pengujian aspal

4.1 Titik nyala dengan Cleveland Open Cup

Penentuan titik nyala dilakukan untuk memastikan bahwa aspal cukup aman untuk pelaksanaan. Titik nyala yang rendah menunjukkan indikasi adanya minyak ringan dalam aspal.

Gambar 1 Pengujian titik nyala dengan Cleveland Open Cup

Prosedur pengujian berdasarkan SNI 06-2433-1991, secara garis besar adalah sebagai berikut : 1) Panaskan contoh aspal + 100 gr pada 140oC sampai cukup cair. 2) Isilah cawan Cleaveland sampai garis batas dan hilangkan gelembung udara Letakkan cawan di atas plat pemanas, atur letak sumber panas 3) Letakkan nyala penguji, gantungkan termometer diatas dasar cawan. Atur posisi thermometer 4) Tempatkan penahan angin, nyalakan sumber pemanas, atur hingga kenaikan temperatur 15 + 1 oC/menit sampai mencapai temperatur 56 oC di bawah titik nyala perkiraan. 5) Atur kecepatan pemanasan 5 - 6 oC/menit pada temperatur antara 56 oC dan 28oC di bawah titik nyala perkiraan. Nyalakan nyala penguji dan atur diameter nyala penguji 6) Putar nyala penguji hingga melalui permukaan cawan (dari tepi ke tepi cawan) dalam waktu 1 detik, Ulangi setiap kenaikan 2oC sampai terlihat nyala singkat pada permukaan aspal, baca temperatur pada termometer dan catat 7) Lanjutkan pengamatan sampai terlihat nyala di atas permukaan benda uji yang lebih lama minimal 5 detik , baca dan catat temperatur pada termometer.

4.2 Penetrasi bahan bitumen

Pengujian ini dimaksudkan untuk menetapkan nilai kekerasan aspal. Berdasarkan pengujian ini aspal keras dikatagorikan dalam beberapa tingkat kekerasan. Pengujian ini merupakan pengukuran secara empiris terhadap konsistensi aspal. Kekerasan aspal diukur dengan jarum penetrasi standar yang masuk kedalam permukaan bitumen pada temperatur 25oC, beban 100 gram dan waktu 5 detik. Alat pengujian ditunjukkan pada Gambar 2

Gambar 2 Pengujian penetrasi

Prosedur pengujian berdasarkan AASHTO T 48 atau SNI 06-2456-1991, secara garis besar adalah sebagai berikut : 1) Tuang bahan uji ke kap penetrasi, diamkan 1 - 2 jam pada temperatur ruang 2) Rendam dalam bak air 25 oC, selama 1 - 2 jam 3) Bersihkan jarum penetrasi dan pasang 4) Letakkan pemberat 50 gr pada pemegang jarum sehingga berat total 100 gram 5) Pindahkan contoh ke dalam bak air kecil 25oC. 6) Atur jarum hingga bertemu dengan permukaan benda uji (aspal). 7) Lepaskan jarum selama 5 + 0,1 detik. 8) Tekan penunjuk penetrometer dan baca angka penetrasinya. 9) Angkat jarum perlahan-lahan, lakukan pengujian paling sedikit 3 kali.

4.3 Titik lembek

Konsistensi bitumen ditunjukkan oleh temperatur dimana aspal berubah bentuk karena perubahan tegangan. Hasilnya digunakan untuk menentukan temperatur kelelehan dari aspal. Alat pengujian ditunjukkan pada Gambar 3. Prosedur pengujian berdasarkan SNI 06-2434-1991, secara garis besar adalah sebagai berikut : 1) Panaskan aspal + 25 gr hingga cair 2) Letakkan 2 buah cincin di atas pelat kuningan yang telah diolesi talk-gliserol 3) Tuang contoh ke dalam cincin cetakan, diamkan pada temperatur ruang selama 30 menit. 4) Ratakan permukaan contoh dengan pisau. 5) Pasang kedua benda uji 6) Masukkan pada bejana gelas berisi air suling bertemperatur 5 + 1oC 7) Pasang termometer khusus untuk penentuan titik lembek 8) Letakkan bola baja di atas benda uji 9) Rendam di dalam air pada temperatur 5 oC selama 15 menit 10) Panaskan bejana dengan kenaikan temperatur air 5oC/menit, 11) Atur kecepatan pemanasan untuk 3 menit pertama 5 oC + 0,5 /menit 12) Catat temperatur yang ditunjukkan saat bola baja jatuh

Gambar 3

10

4.4 Daktilitas bahan bitumen

Daktilitas ditunjukkan oleh panjangnya benang aspal yang ditarik hingga putus. Pengujian dilakukan dengan alat yang terdiri atas cetakan, bak air dan alat penarik contoh. Alat pengujian ditunjukkan pada Gambar 4. Prosedur pengujian berdasarkan SNI 06-2432-1991, secara garis besar adalah sebagai berikut : 1) Lapisi cetakan dengan campuran gliserin pasanglah cetakan dakilitas di atas plat dasar 2) Tuang bahan uji dalam cetakan dari ujung ke ujung hingga penuh berlebih. 3) Dinginkan cetakan pada temperatur ruang selama 30 - 40 menit, ratakan dengan spatula. 4) Rendam di dalam bak perendam bertemperatur 25oC selama 30 menit 5) Lepaskan benda uji dari plat dasar dan sisi -sisi cetakan. Pasang benda uji pada mesin uji dan tarik dengan kecepatan 5 cm per menit sampai benda uji putus 6) Bacalah jarak antara pemegang benda uji pada saat benda uji putus (cm).

Gambar 4

Pengujian temperatur pencampuran dan pemadatan dengan alat viscometer

Cara ini dimaksudkan untuk menentukan temperatur campuran dan pemadatan campuran beraspal panas, mencakup pengujian kekentalan Saybolt Furol aspal secara empiris pada temperatur antara 120o 200oC. Gambar peralatan diperlihatkan pada Gambar 34. Cara kerja sesuai SNI 03 6441 2000 dengan garis besar sebagai berikut : 1) Panaskan alat pada temperatur 120oC.

2) Masukkan benda uji yang telah dipanaskan pada 120oC kedalam tabung viscometer 3) Buka gabus penyumbat tabung dan lakukan pengujian pada beberapa temperature yang
berbeda (135o, 150o, 165o, 180o dan 200oC).

11

4) Konversikan waktu (detik) yang diperoleh dengan kekentalan kinematik (cst). 5) Buat grafik antara temperatur dan kekentalan untuk menghasilkan temperature
pencampuran pada temperatur 170 30 cst dan temperatur pemadatan pada 280 30 cst.

Gambar 5 Tabung viskometer untuk pengujian viskositas dengan Saybolt Furol

5 Jenis-Jenis Kerusakan Jalan


Menurut Manual Pemeliharaan Jalan no : 03/MN/B/1983 dikeluarkan oleh Direktorat Jenderal Binamarga, kerusakan jalan terutama pada perkerasan lentur dapat dibedakan atas 6 jenis yang akan dijelaskan secara bertahap berikut jenis-jenisnya:

5.1 Retak / Cracking 5.1.1 Retak Halus (Hair Cracking)


Dengan ciri-ciri Lebar celah 3mm. Penyebab adalah bahan perkerasan yang kurang baik, tanah dasar / bagian perkerasan dibawah lapis permukaan yang kurang stabil. akibat retak halus ini air dapat meresap kedalam lapis permukaan. Sehingga untuk pemeliharaan dapat digunakan lapis latasir, buras. Dalam tahap perbaikan, sebaiknya dilengkapi dengan sitem

12

aquaproof. diman jika dibiarkan berlarut-larut retak rambut dapat berkembang menjadi retak buaya.

5.1.2 Retak Kulit Buaya (alligator crack)


Ciri-ciri utama dari retak kulit buaya adalah Dengan adanya celah dengan lebar 3mm. Saling berangkai membentuk serangkaian kotak-kotak kecil yang menyerupai kulit buaya. Retak ini disebabkan oleh bahan perkerasan yang kurang baik, pelapukan permukaan, tanah dasar atau bagian perkerasan dibawah lapis permukaan kurang stabil, atau bahan lapis pondasi dalam keadaan jenuh air (air tanah naik). Daerah retak kulit buaya yang luas, biasanya disebabkan oleh repetisi beban lalu lintas yang melampaui beban yang dapat dipikul oleh lapisan permukaan tersebut. Untuk sementara untuk pemeliharaan dapat digunakan lapis burda, burtu, ataupun lataston. Jika celah 3mm, sebaiknya bagian perkerasan yang telah mengalami retak kulit buaya akibat rembesan air ke lapis pondasi dan tanah dasar diperbaiki dengan cara dibongkar dan dibuang bagian-bagian yang basah, kemudian dilapis kembali dengan bahan yang sesuai. Perbaikan harus disertai dengan perbaikan drainase disekitarnya. Kerusakan yang disebabkan oleh beban lalu lintas harus diperbaiki dengan memberi lapis tambahan. Gambar 2. Jalan Retak Kulit Buaya

5.1.3 Retak Pinggir (Edge Crack)


Retak pinggir, retak memanjang jalan, dengan atau tanpa cabang yang mengarah ke bahu dan terletak dekat bahu, disebabkan oleh tidak baiknya sokongan dari arah samping, drainase kurang baik, terjadinya penyusutan tanah, atau terjadinya settlement dibawah daerah tersebut. Akar tanaman yang tumbuh ditepi perkerasan dapat pula menjadi sebab terjadinya retak pinggir. Cara perbaikan dengan mengisi celah dengan campuran aspal cair & pasir. Perbaikan drainase harus dilakukan, bahu diperlebar, dan dipadatkan, jika pinggir perkerasan mengalami penurunan, elevasi dapat diperbaiki dengan mempergunakan hotmix. Retak ini lama kelamaan akan bertambah besar dengan disertai lubang-lubang.

13

5.2 Cacat Permukaan (Disintegration)


Jenis kerusakan yang satu ini mengarah pada kerusakan secara kimiawi & mekanis dari lapisan permukaan.

5.1.1

Lubang (potholes)

Kerusakan jalan berbentuk lubang (potholes) memiliki ukuran yang bervariasi dari kecil sampai besar. Lubang-lubang ini menampung dan meresapkan air sampai ke dalam lapis permukaan yang dapat menyebabkan semakin parahnya kerusakan jalan. Proses pembentukan lubang dapat terjadi akibat : 1) Campuran lapis permukaan yang buruk seperti : Kadar aspal rendah, sehingga film aspal tipis dan mudah lepas. Agregat kotor sehingga ikatan antar aspal dan agregat tidak baik. Temperature campuran tidak memenuhi persyaratan.

2) Lapis permukaan tipis sehingga lapisan aspal dan agregat mudah lepas akibat pengaruh cuaca. 3) Sistem drainase jelek sehingga air banyak yang meresap dan mengumpul dalam lapis perkerasan. 4) Retak-retak yang terjadi tidak segera ditangani sehingga air meresap masuk dan mengakibatkan terjadinya lubang-lubang kecil. Untuk perbaikan maka lubang-lubang tersebut harus dibongkar dan dilapis kembali dimana pembongkaran berfungsi untuk meningkatkan daya cengkram antar sambungan perkerasan yang baru dan perkerasan yang lama.

5.2.2

Pelepasan butir (Raveling)

Dapat terjadi secara meluas dan mempunyai efek serta disebabkan oleh hal yang sama dengan lubang. Dapat diperbaiki dengan meberikan lapisan tambahan di atas lapisan yang mengalami pelepasan butir setelah lapisan tersebut dibersihkan dan dikeringkan

14

5.2.3

Pengelupasan Lapisan Permukaan (Stripping)

Disebabkabn oleh kurangnya ikatan antara lapis permukaan dan lapis di bawahnya, atau terlalu tipisnya lapis permukaan.Dapat diperbaiki dengan cara digaruk, diratakan, dan dipadatkan. Setelah itu dilapis denganburas.

5.2.4

Pengausan (Polished Aggregate) Pengausan terjadi karena agregat berasal dari material yang tidak tahan aus terhadap roda kendaraan / agregat yang digunakan berbentuk bulat dan licin. Dapat diatasi dengan latasir, buras.

5.2.5

Kegemukan (bleeding / flushing)

Pada temperature tinggi, aspal menjadi lunak, dan akan terjadi jejak roda, dapat disebabkan pemakaian kadar aspal yang tinggi pada campuran aspal, pemakaian terlalu banyak aspal pada pengerjaan prime coat / teak coat. Dapat diatasi dengan menaburkan agregat panas dan kemudian dipadatkan, atau lapis aspal diangkat dan diberi lapisan penutup.

5.2.6

Penurunan pada Bekas Penanaman Utilitas (Utility Cut Deprestion)

Hal ini terjadi karena pemadatan yang tidak memenuhi syarat. Dapat diperbaiki dengan dibongkar kembali, dan diganti dengan lapis yang sesuai.

15