Anda di halaman 1dari 7

Modul 3 Tapis Aktif Orde Satu & Tapis Aktif Orde Dua

Nama NIM Email Shift Asisten Tanggal Praktikum Tanggal Pengumpulan : : : : : Zulhajismal 10208092 mr.zetd@gmail.com IX Hari Purnama (10207006) Resti Marlina (10209095) : 8 Maret 2012 : 11 Maret 2012

Abstrak Dalam praktikum ini, praktikan akan mencobakan mengukur frekuensi dari suatu sinyal, dan melakukan penyaringan dengan beberapa filter yang ada. Sehingga praktikan akan mendapatkan suatu grafik. Tujuan praktikum kali ini adalah agar praktikan dapat memahami bentuk rangkaian dan cara kerja tapis aktif, menentukan frekuensi kerja rangkaian tapis, mengukur tanggapan amplitudo dan tanggapan fasa untuk variasi harga komponen rangkaian yang berbeda, dan juga mengamati pergeseran fasa yang dimiliki rangkaian pada variasi frekuensi yang berbeda. Kata kunci: LPF, HPF, NPF, BPF

1. Tujuan a. mengetahui dan memahami bentuk rangkaian dan cara kerja tapis aktif b. menentukan frekuensi kerja rangkaian tapis c. mengukur tanggapan amplitudo dan tanggapan fasa untuk variasi harga komponen rangkaian yang berbeda d. mengamati pergeseran fasa yang dimiliki rangkaian pada variasi frekuensi yang berbeda 2. Teori Dasar Tapis Aktif Orde Satu Filter merupakan perangkat yang melewatkan sinyal listrik pada frekuensi tertentu. Tapis aktif menggunakan komponen operasional amplifier dalam rangkaiannya. Tapis aktif orde satu menghasilkan titik kerja dengan kemiringan 6 dB/oktaf.

Tapis Lolos Rendah (Low Pass Filter) Rangkaian tapis lolos rendah yang ideal akan meloloskan semua frekuensi di bawah frekuensi potong dan akan menahan semua frekuensi di atas frekuensi potong. Bentuk rangkaian tapis ini identik dengan rangkaian integrator kecuali pada penambahan resistor. Penguatan pada rangkaian ini merupakan fungsi dari frekuensi.

Gambar1. LPF Inverting

Gambar2. LPF Non-Inverting Fungsi transfer (penguatan) untuk LPF Non-Inverting, adalah:

Gambar4. HPF Non-Inverting Fungsi transfer (penguatan) untuk HPF Non-Inverting, adalah:

(1) (3) Sedangkan, fungsi transfer untuk LPF Inverting, adalah: Sedangkan, fungsi transfer untuk HPF Inverting, adalah:

(2) Tanda negatif (-) pada fungsi transfer LPF Inverting menandakan adanya beda fasa sebesar 180 antara output dan input. Tapis Lolos Tinggi (High Pass Filter) Rangkaian tapis lolos tinggi yang ideal akan meloloskan semua frekuensi di atas frekuensi potong dan akan menahan semua frekuensi di bawah frekuensi potong.

(4) Tanda negatif (-) pada fungsi transfer LPF Inverting menandakan adanya beda fasa sebesar 180 antara output dan input. Tapis Aktif Orde Dua Sama halnya dengan filter orde 1, filter orde 2 juga pada dasarnya terdiri dari low pass dan high pass filter. Tanggapan amplitudo pada filter orde 2 ini menghasilkan titik kerja dengan kemiringan 12 dB/oktaf. Tapis Lolos Rendah (Low Pass Filter)

Gambar3. HPF Inverting

Gambar5. LPF Aktif Orde 2

Rangkaian diatas dikenal sebagai filter aktif VCVS (Voltage controlled voltage source) atau lebih dikenal sebagai filter sallen key. Dengan analisis arus, fungsi transfer untuk rangkaian tersebut adalah:

(5) Tapis Lolos Tinggi (High Pass Filter) Gambar7. Skema grafik frekuensi potong rangkaian Band Pass Filter

Gambar6. HPF Aktif Orde 2 Fungsi transfer untuk rangkaian tersebut adalah:

Notch Filter Tapis lolos pita atau disebut juga dengan Notch filter dapat dirangkai dari gabungan low pass filter dan high pass filter secara paralel. Jika digambarkan secara grafik maka gabungan frekuensi potongnya akan menjadi seperti berikut:

(6) dengan; Gambar8. Skema grafik frekuensi potong rangkaian Notch Filter (7) 3. Data Band Pass Filter Rangkaian tapis lolos tengah merupakan penggabungan secara seri HPF dan LPF. Jika digambarkan secara grafik maka gabungan frekuensi potongnya merupakan irisan dari frekuensi potong HPF dan LPF. HPF Orde 1 R = 56x103 ohm C = 550 pF Vin = 500mV Tabel1. Nilai Frekuensi dan Vout HPF orde1
Frekuensi (Hz) 100 Vout (V) 0

1000 5000 10000 15000 20000 30000 40000 50000 60000 100000 200000 300000 500000 750000 800000

0,001 0,1 0,14 0,14 0,14 0,15 0,15 0,15 0,15 0,16 0,18 0,18 0,2 0,2 0,22

HPF Orde 2 R1 = 10 ohm R2 = 15x102 ohm C1 = 2,1 nF C2 = 100000 pF Vin = 500mV Tabel3. Nilai Frekuensi dan Vout HPF orde2
frekuensi (Hz) 100 700 800 950 1000 1000 1500 2500 Vout (V) 0 0 0,05 0,05 0 0,05 0,1 0,15

LPF Orde 1 R = 12x103 ohm C = 3,3 nF Vin = 500mV Tabel2. Nilai Frekuensi dan Vout LPF orde1
frekuensi (Hz) 500 1000 1500 2000 2500 3000 3500 4000 5000 6000 7000 8000 9000 10000 15000 20000 25000 30000 40000 60000 Vout (V) 2,6 1,3 1 0,8 0,6 0,5 0,4 0,4 0,3 0,25 0,2 0,2 0,18 0,16 0,12 0,1 0,08 0,06 0,02 0

LPF Orde 2 R1 = 12x103 ohm R2 = 15x102 ohm C1 = 1500 pF C2 = 100000 pF Vin = 500mV Tabel4. Nilai Frekuensi dan Vout LPF orde2
frekuensi (Hz) 100 300 600 900 1000 2000 3000 4000 Vout (V) 3,8 3,9 5 9,6 9,4 1,1 0,5 0,3

BPF Orde 2 seri R1 = 10 ohm R2 = 15x102 ohm C1 = 2,1 nF C2 = 100000 pF

Vin = 500mV Gambar Pada Osiloskop Tabel5. Nilai Frekuensi dan Vout BPF orde2seri
frekuensi (Hz) 200 300 400 800 1000 1500 2000 2500 3000 4000 Vout (V) 0,1 0,1 0,2 0,4 0,7 0,4 0,3 0,2 0,15 0,15

Gambar9. HPF sebelum fp

NPF Orde 2 paralel R1 = 12x103 ohm R2 = 15x102 ohm C1 = 1500 pF C2 = 100000 pF Vin = 500mV Tabel6. Nilai Frekuensi dan Vout NPF orde2paralel
frekuensi (Hz) 100 150 200 250 300 400 500 600 800 1000 1500 2500 3800 6000 7000 8000 10000 34000 Vout (V) 2,6 2,8 2,9 2,75 2,75 2,4 2 1,6 1,2 0,9 0,1 0,1 0,15 0,2 0,3 0,3 0,3 0,5

Gambar10. HPF sesudah fp

Gambar11. LPF sebelum fp

10 G(w)/dB 0 -10 -20 -30 frekuensi (logaritmic scale) / Hz 1 10 100 1000 10000

Grafik3. Tanggapan Frekuensi HPF orde 2 Gambar12. LPF sesudah fp


30

4. Pengolahan Data Kurva Tanggapan Frekuensi Untuk membuat kurva tanggapan frekuensi, terlebih dahulu hitung nilai G(w) dengan rumusan: G()=20 log (8)
G(w)/dB G(w)/dB 20 10 0 -10 1 10 100 1000 10000 frekuensi (logaritmic scale) / Hz

Grafik4. Tanggapan Frekuensi LPF orde 2


5 0

Sehingga diperoleh data kemudian dijadikan kurva;


0 1 G(w)/dB -20 100

G()

yang

-5 1 -10 -15 -20

10

100

1000

10000

10000

1000000

frekuensi (logaritmic scale) / Hz

y = 1E-05x - 13,98 -40 -60

Grafik5. Tanggapan Frekuensi BPF


frekuensi (logaritmic scale) / Hz G(w)/dB 20 10 0 -10 -20 100 10000 1 100 10000

Grafik1. Tanggapan Frekuensi HPF orde 1


20 10 0 -10 1 -20 -30 -40

G(w)/dB

frekuensi (logaritmic scale) / Hz

y = -0,0003x - 0,8347 frekuensi (logaritmic scale) / Hz

Grafik6. Tanggapan Frekuensi NPF

Grafik2. Tanggapan Frekuensi LPF orde 1

Frekuensi Potong HPF orde1:

paralel. Pada prinsipnya, range frekuensi BPF merupakan irisan dari LPF dan HPF, sedangkan NPF merupakan gabungan dari LPF dan HPF. Karakteristik LPF adalah hanya mampu meloloskan frekuensi dibawah frekuensi potong dan menahan atasnya. HPF berfungsi meloloskan frekuensi diatas frekuensi potong dan menahan sisanya. Bandpass mampu meloloskan range frekuensi yang merupakan irisan dari LPF dan HPF yang disusun secara seri. NPF mampu meloloskan range frekuensi yang merupakan gabungan dari LPF dan HPF yang disusun secara paralel. 6. Kesimpulan Rangkaian tapis aktif merupakan rangkaian yang berfungsi untuk menyaring )frekuensi tertentu. Dengan High Pass Filter meloloskan yang tinggi, Low Pass Filter meloloskan yang rendah, BPF meloloskan irisan HPF dan LPF, sedangkan NPF meloloskan gabungan HPF dan LPF. Tapis aktif berbeda dengan tapis pasif dimana tapis aktif bekerja dengan menggunakan op-amp. 7. Referensi [1]http://www.csgnetwork.com/capcodeinf o.html [2]http://www.pinginpintar.com/caramembaca-kode-kapacitor/ [3]Modul Sistem Instrumentasi 2012

LPF orde1:

HPF orde 2: ( LPF orde 2: ( ) ( ) ( )

5. Analisis Grafik G(w) terhadap frekuensi menunjukkan frekuensi yang diloloskan. Ketika kurva mulai mengalami kemiringan, berarti isyarat keluaran mengalami pelemahan. Pada High Pass Filter, baik orde satu dan orde dua, dapat dilihat ketika pada frekuensi yang rendah grafik G(w) terhadap frekuensi mengalami kemiringan, sedangkan pada frekuensi yang tinggi grafiknya mengalami konstan. Hal tersebut menunjukkan bahwa HPF meloloskan frekuensi diatas frekuensi potong. Sedangkan Low Pass Filter berfungsi untuk meloloskan frekuensi dibawah frekuensi potong. BPF dibuat dengan menyusun rangkaian LPF dan HPF orde 2 secara seri. Sedangkan NPF dibuat dengan menyusun rangkaian LPF dan HPF orde secara