Anda di halaman 1dari 11

ANALISIS VERBA ORIRU (dan ) dalam Bahasa Jepang (Kajian Semantik)

Maharani Patria Ratna

Abstrak: Oriru dalam bahasa Jepang yang berarti turun dalam bahasa Indonesia memiliki keunikan tersendiri yang perlu ditelaah lebih lanjut. Oriru memiliki 2 buah kanji, yakni dan yang keduanya sama-sama berarti turun dalam bahasa Indonesia. Dalam bahasa Jepang kedua kanji diatas memiliki perbedaan dalam menyatakan gerak turun, kanji digunakan untuk menyatakan gerak turun perpindahan tempat, sedangkan kanji digunakan untuk menyatakan gerak perpindahan turun saja. Kata kunci : turun, dan , sinonim, kiasan, tempat

1.Pendahuluan Ketika menemukan kata baru dalam bahasa asing, para pembelajar sering sering mencari padanan katanya ke dalam bahasa ibu. Padanan kata tersebut dicari dengan menerjemahkan atau mencari padanan kata yang bersinonim. Menurut Soedjito, sinonim adalah dua kata atau lebih yang maknanya sama atau mirip (Soedjito: 1). Sinonim kerap kali menimbulkan masalah bagi pembelajar bahasa asing, hal ini dikarenakan maknanya yang hampir sama. Pemahaman akan hal seperti ini memang memerlukan suatu analisis khusus, terutama bagi para pembelajar asing. Bagi seorang penutur asli suatu bahasa, dengan intuisi bahasanya ia akan dapat menentukan kesinoniman suatu kata dan bisa tidaknya kata tersebut disubtitusikan dengan kata lain yang dianggap bersinonim. Hal-hal seperti ini yang tentunya tidak bisa dipahami dengan mudah oleh pembelajar bahasa asing, untuk itu analisis mengenai sinonim

sangatlah penting untuk dapat menggunakan suatu kata yang bersinonim dengan tepat dalam suatu konteks tertentu. Bahasa Indonesia hanya memiliki satu kata untuk menggambarkan suatu gerakan dari atas ke bawah, yakni turun. Dalam bahasa Jepang ada 4 verba yang bisa digunakan untuk menggambarkan keadaan tersebut, yakni oriru, kudaru, sagaru, dan furu. Keempat verba tersebut bersinonim, yang penggunaannya tidak dibedakan dalam bahasa Indonesia. Namun dalam bahasa Jepang, penggunaan keempat kata tersebut dibedakan berdasarkan situasi turun Dalam verba oriru sendiri terdapat 2 macam penulisan yakni dan . Berikut ini adalah contoh kalimat verba oriru yang hanya memiliki padanan dengan kata turun dalam bahasa Indonesia. (1) Fuku wo kikaete oriterasshai.
Pakaian objek menukar pakaian turun pergi verba bantu

Setelah menukar pakaian ia turun. (2) . Hikouki ga orita


Pesawat subjek turun-lampau.

Pesawat telah (turun) mendarat. Dalam contoh kalimat di atas, jelas bahwa verba oriru dalam bahasa Jepang hanya dipadankan dengan kata turun dalam bahasa Indonesia. Dengan demikian, tentunya penting untuk diteliti perbedaan verba oriru yang dituliskan dalam 2 kanji yang berbeda, sehingga dapat dibedakan dengan jelas penggunaannya. Selain mengkaji makna semantik verba oriru, penelitian ini juga akan sedikit menyinggung tentang penggunaan verba oriru dalam makna kiasan. Lantas sebenarnya bagaimana verba oriru ( dan ) saling bersinonim serta apa perbedaan keduanya?

2. Landasan Teori
Untuk menganalisis sinonim diperlukan beberapa langkah sistematis agar mudah dipahami oleh para pembelajar. Momiyama (dalam Sutedi, 2003: 120)

memberikan beberapa pemikiran tentang cara mengidentifikasikan suatu sinonim, diantaranya : 1. Chokkanteki (intuitif bahasa) bagi para penutur asli dengan berdasarkan pengalaman hidupnya. Bagi penutur asli jika mendengar suatu kata, maka secara langsung dapat merasakan bahwa kata tersebut bersinonim atau tidak. 2. Beberapa kata jika diterjemahkan ke dalam bahasa asing, akan menjadi satu kata, misalnya kata oriru, kudaru, sagaru, dan furu dalam bahasa Indonesia bisa dipadankan dengan kata <turun> 3. Dapat menduduki posisi yang sama dalam suatu kalimat dengan perbedaan makna yang kecil. Misalnya, pada frase kaidan o agaru ( ) dan kaidan o noboru ()sama-sama berarti <menaiki tangga> 4.Dalam menegaskan suatu makna, kedua-duanya bisa digunakan secara bersamaan (sekaligus). Misalnya kata hikaru () dan kagayaku () kedua-duanya berarti <bersinar>, bisa digunakan secara bersamaan seperti pada hoshi ga hikari-kagayaite iru ()<bintang bersinar cemerlang> Dari beberapa cara tersebut, cara pertama akan sulit digunakan oleh orang asing yang mempelajari bahasa Jepang. Cara kedua akan memiliki pandangan berbeda menurut bahasa para pembelajar. Untuk cara yang ketiga masih bisa diteliti oleh pembelajar dengan cara alih / subtitusi kata. Jika dalam satu kalimat makna turun bisa digantikan dengan makna yang lain maka kedua kata tersebut bisa bersinonim dalam suatu konteks tertentu. Sedangkan dalam cara yang terakhir, hanya bisa diterapkan dalam beberapa kata kerja saja yang kiranya memiliki sinonim seperti hikaru dan kagayaku, yang jika kedua kalimat tersebut digabung maka akan memiliki nuansa penekanan makna dari bersinarnya suatu hal. Namun ini tidak bisa diterapkan dalam analisis verba oriru, kudaru, sagaru, dan furu, karena dalam masing-masing kata kerja menunjukkan sedikit perbedaan satu sama lain. Selain memiliki makna konkrit, verba oriru () yang selanjutnya kita sebut dengan verba oriru A dan verba oriru ( ) yang selanjutnya kita sebut dengan verba oriru B memiliki makna kiasan pula. Dalam pembahasan berikut ini akan dibahas makna semantik verba oriru sebagai langkah awal sebelum menganalisis

makna kiasan yang tentunya memiliki ranah bahasan yang sedikit berbeda dari sinonim. Wada Michiko dalam situsnya mengungkapkan bahwa ada perbedaan mendasar dari kedua verba tersebut, yakni: Verba Oriru A dapat digunakan dalam konteks : a. turun dari kendaraan b. untuk menjelaskan embun yang turun ke permukaan tanah c. pensiun d. berhenti (dalam makna kiasan) e. turun ke suatu tempat Verba Oriru B dapat digunakan dalam konteks : a. perpindahan dari atas ke bawah b. suatu keadaan yang menjadi turun c. disetujui (dalam makna kiasan) d. tertutup Selain itu kedua verba tersebut memiliki antonim : Verba oriru A berantonim dengan dan , dengan contoh kalimat seperti di bawah ini : (3) Yama ni noboru Gunung di mendaki Mendaki Gunung. (4) Basu ni noru Bis di naik. Naik bis. Sedangkan Verba oriru B berantonim dengan dan , dengan contoh kalimat sebagai berikut: (5)

Taiyou wa higashi kara agaru. Matahari PPT timur dari naik. Matahari terbit dari timur. (6) , Ten ni mo noboru kokochi datta. Langit di pun naik serasa KOP. Serasa ada di langit Berdasarkan contoh kalimat antonim dari kedua verba oriru tersebut, diharapkan akan sedikit memberi gambaran mengenai batasan verba oriru dalam lingkup antonimnya pada masing-masing verba. Untuk memperjelas penjelasan perbedaan sinonim serta perbedaan kedua verba tersebut, akan dipaparkan dalam bab berikutnya.

3. Analisis
Penganalisisan akan dibagi menjadi 2 bagian, yakni bagian yang menganalisis sinonim verba oriru dalam makna semantik dan makna kiasan. 3.1. Analisis Sinonim verba Oriru dalam makna Semantik Berikut ini adalah beberapa contoh penggunaan verba oriru A dan B yang diambil dari beberapa sumber : Kelompok Contoh Verba Oriru A (7) Densha o oriru
Kereta PPO turun-kini.

Turun dari kereta. (8) . Yuube shimo ga orita.


Semalam embun PPS turun-lampau.

Tadi malam turun embun (9) ().

Tsugi (kyouto) de orimasu


Selanjutnya (Kyoto) di turun-kini.

(Saya akan) Turun di (pemberhentian) selanjutnya di Kyoto. (10) Roujin ha yukkuri kaidan wo orita.
Orang tua topik pelan-pelan tangga objek menuruni

Orang tua itu menuruni tangga perlahan-lahan. (11) Erebeetaa kara oriru Elevator dari turun-kini. Turun dari elevator. Kelompok Contoh Verba Oriru B (12) .
Kaidan o oriru
Tangga PPO turun-kini.

(Saya) menuruni tangga. (13) Kata no ni ga oriru.


Bahu PPP barang PPS turun-kini.

Menurunkan barang dari panggulan (bahu). (14) Fune kara oriru Kapal dari turun-kini. Turun dari kapal. (15) Uma kara oriru Turun dari kuda-kini. Turun dari kuda. (16)

Erebeetaa kara oriru Elevator dari turun-kini. Turun dari elevator. Analisis: Kelompok Contoh Verba Oriru A Berikut ini akan diuji kesinoniman kedua verba di atas dengan cara subtitusi : (7) subtitusi (7) Dalam kalimat yang menyatakan turun dari kereta, Wada menjelaskan bahwa baik verba oriru A maupun B bisa saling bersubtitusi. Hal ini bisa dibuktikan pada kalimat (14) dan (15). (8) . Dalam konteks kalimat seperti (8) verba oriru B tidak bisa disubtitusikan dalam konteks proses turun karena alam, hal ini konteks turunnya embun seperti ini adalah suatu pengecualian dalam penggunaan verba oriru A yang tidak bisa disubtitusikan pada verba oriru B. (9) (). Dalam (9), tidak bisa disubtitusikan dengan verba oriru B, hal ini dikarenakan (9) terfokus pada perpindahan ke suatu tempat. Kelompok Contoh Verba Oriru B (12) . subtitusi (12) Pada (12) verba oriru A bisa disubtitusikan. Hal ini dibuktikan dengan munculnya beberapa contoh kalimat yang memiliki konteks mirip dengan (12) dengan menggunakan verba oriru A seperti pada (10). (13)

Pada (13) menunjukkan suatu pergerakan turun saja yang tidak menunjukkan suatu perpindahan tempat. Hal inilah yang membuat verba oriru A tidak bisa disubtitusikan. Bagi para pembelajar akan lebih mudah membedakan verba oriru A dan B dengan partikel yang menyertainya, seperti pada contoh (11) dan (17). Kalimat (11) menekankan bahwa subjek melakukan suatu perpindahan tempat dari satu lantai kemudian turun ke lantai lain. Sedangkan pada (16) menekankan bahwa subjek turun menggunakan lift, bukan dengan tangga atau eskalator. Ditambah lagi penggunaan partikel dan yang memperkuat penekanan pada masing-masing kalimat. Partikel menekankan pada satu tempat dimana subjek berada sebelumnya, kemudian berpindah tempat ke tempat lain. Sedangkan partikel menunjukkan bahwa lift adalah alat yang ia gunakan untuk turun. 3.2. Verba Oriru dalam Makna Kiasan Kelompok Contoh Verba Oriru A (17) Shoku o oriru
Pekerjaan PPO turun-kini.

Pensiun dari pekerjaan. (18) . Daitouryou no isu o oriru.


Presiden PPP kursi PPO turun-kini.

Berhenti dari kursi kepresidenan. Kelompok Contoh Verba Oriru B (19) . Yatto biza ga orita
Akhirnya visa subjek turun-lampau.

Akhirnya Visaku diterbitkan. (20) Shattaa ga oriru

Daun jendela PPS menutup Menutup jendela. Analisis: Verba oriru pada (17), (18), (19), (20) tidak bisa saling mensubtitusikan. Hal ini karena, makna kiasan biasanya memiliki suatu pola tertentu yang bersifat pokok dan tidak bisa diubah.

4.Simpulan
Berdasarkan teori yang dikemukakan Wada, dapat disimpulkan bahwa: 1. 2. Verba oriru A bisa bersubtitusi dengan verba oriru B, hanya pada Perbedaan yang mendasar dari kedua verba oriru yakni, Verba Oriru A kalimat yang menerangkan turun dari kendaraan. digunakan untuk suatu gerak turun perpindahan tempat, sedangkan verba oriru B digunakan untuk menyatakan suatu gerak turun.

Daftar Pustaka
Jurnal :Sutedi, Dedi. 2004. Jurnal Pendidikan Bahasa Jepang di Indonesia (MAGEN), 32 Vol 1. No. 3, Juni 2004 TURUN DALAM VERBA BAHASA JEPANG (Analisis Makna Verba Oriru, Kudaru, Sagaru, dan Kudaru). Program Pendidikan Bahasa Jepang UPI. Situs : <www.bimyo-kotoba.com>[18/5/11]

<www.detail.chiebukuro.yahoo.co.jp>[18/5/11] <www.tangorin.com>[18/5/11] Software : Kanji sonomama rakubiki jiten Microsoft/Shogakukan Bookshelf Basic Version 2.0

Identitas Penulis
Nama Tempat, tanggal lahir Riwayat Pekerjaan : Maharani Patria Ratna, S.S : Semarang, 9 September 1986 : freelance interpreter Guru freelance di Aishiro Gakuen Customer Service di Global Superstore

10

Spesialisasi Karya : Jurnal, skripsi

: Pragmatik dan Wacana

11