Anda di halaman 1dari 12

BAHAN AJAR

KESEHATAN HEWAN DAN REPRODUKSI


PELATIHAN BUDIDAYA SAPI POTONG BAGI PENYULUH PETERNAKAN ANGKATAN III TANGGAL 6 S.D 19 April 2011

Oleh : Drh. Iskandar Muda Widyaiswara Muda BBPP Batu

KEMENTERIAN PERTANIAN BADAN PENYULUHAN DAN PENGEMBANGAN SDM PERTANIAN BALAI BESAR PELATIHAN PETERNAKAN - BATU 2011

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Kesehatan hewan dan reproduksi sapi sangat menarik untuk dipelajari. Salah satu faktor sukses beternak sapi potong adalah berhasilnya mengelola kesehatan dan reproduksinya. Hal ini juga terkait dengan program Kementerian Pertanian yaitu sukses swasembada daging tahun 2014. Swasembada daging artinya adalah ternak sehat dan produktif. Sebagai wujud keberhasilan penanganan kesehatan hewan dan reproduksi adalah rendahnya angka kesakitan, rendahnya angka kematian, tidak adanya penyakit menular zoonosis dan bertambahnya populasi ternak setiap tahun. B. Deskripsi Singkat Bahan Ajar ini berisikan unit-unit kompetensi yang berkaitan dengan kesehatan hewan, anatomi dan fisiologi reproduksi sapi yang harus dimiliki oleh Peserta Pelatihan Budidaya Sapi Potong Bagi Penyuluh Peternakan Angkatan III dalam melaksanakan tugas pokok dan fungsinya, yang meliputi pemahaman terhadap; penyakit penyakit penting yang menyerang sapi potong, faktor penyebab, gejala Klinis, cara mendiagnosa, cara pencegahan dan pengendaliannya serta biosecurity, anatomi dan fisiologi reproduksi sapi betina. C. Manfaat Bahan Ajar Bagi Peserta Bahan ajar ini diharapkan dapat menambah pengetahuan peserta pelatihan teknis agribisnis peternakan sapi potong bagi penyuluh peternakan dalam memberikan penyuluhan guna mewujudkan ternak yang sehat dan produktif sebagai wujud kesejahteraan masyarakat peternakan pada khususnya. D. Tujuan Pembelajaran 1. Kompetensi Dasar Setelah mengikuti pembelajaran peserta diharapkan mampu menjelaskan penyakit-penyakit penting pada sapi potong dan cara pengendaliannya serta mampu memahami reproduksi pada sapi betina dengan benar 2. Indikator Keberhasilan Setelah mengikuti pembelajaran peserta mampu: 1. Menyebutkan penyakit-penyakit penting pada sapi potong dengan benar dalam waktu dalam waktu 5 menit; 2. Menjelaskan penyebab, gejala klinis, pencegahan dan pengendalian penyakit dengan benar dalam waktu dalam waktu 5 menit; 3. Menjelaskan biosecurity pada sapi potong dengan benar dalam waktu dalam waktu 5 menit; 4. Menjelaskan anatomi reproduksi sapi betina dengan benar dalam waktu dalam waktu 5 menit; 5. Menjelaskan fisiologi reproduksi sapi betina dengan benar dalam waktu dalam waktu 5 menit E. a. b. c. Materi Pokok Penyakit dan Penanggulangannya Biosecurity Anatomi dan fisiologi reproduksi sapi betina

F. METODE
1. Curah pendapat 2. Tanya jawab 3. Praktek

G. ALAT DAN BAHAN


Alat ; 1. Sarung tangan; 2. Pinset; 3. Gunting; Bahan; 1. Organ Reproduksi Sapi 2. Sabun cair

BAB II PENYAKIT DAN PENANGGULANGANNYA


Indikator Keberhasilan: Setelah mengikuti pembelajaran ini peserta mampu: 1. Menyebutkan penyakit-penyakit penting pada sapi potong. 2. Menjelaskan penyebab, gejala klinis, pencegahan dan pengendalian penyakit.

A. 1. 2. 3.

Istilah istilah Hewan Sehat : kondisi hewan dimana semua fungsi tubuh berjalan secara normal Gejala Klinis : tanda-tanda suatu penyakit yang dapat ditentukan secara objektif Diagnosa : suatu tindakan untuk menentukan suatu jenis penyakit berdasarkan gejala klinis atau pemeriksaan laboratorium 4. Pengobatan : Tindakan pemberian obat pada ternak 5. Pencegahan : tindakan penolakan suatu penyakit atau mencegah terinfeksinya suatu ternak terhadap penyakit. 6. pengendalian : Tindakan pencegahan dalam suatu populasi yang besar B. Penyakit dan Penanggulangannya 1. White Scour/Colibacillosis Penyebab : E. Coli Gejala Klinis: Umumnya menyerang pedet sampai umur 3 minggu, dapat menyebabkan kematian, morbiditas (kesakitan) 30%, mortalitas (kematian) sampai 50%, bentuk toksik :Ternak lemah, suhu tubuh sub normal, tidak ada diare, koma, mati dalam 2-6 jam, bentuk Klasik: Diare, tinja berbentuk pasta atau sangat cair berwarna putih atau kuning bau menyengat, kadang ada darah segar dalam tinja, nafsu minum hilang, dehidrasi, shock, kematian. Diagnosa : Berdasarkan gejala klinis, pemeriksaan Laboratorium, Air susu yang diberikan. Pencegahan dan Pengendalian: Sanitasi dan desinfeksi kandang, peralatan dan lingkungan, hewan mati dikubur, kolostrum yang cukup pada pedet, untuk pedet yang sakit tidak diperkenankan memberi susu atau susu pengganti sampai pedet sembuh.

2. Salmonellosis Penyebab: Salmonella sp. Dapat menyerang pedet umur 2 minggu dan sapi dewasa bersifat zoonosis. Kuman dalam air tergenang bisa sampai 9 bulan, pada sapi bunting menyebabkan keguguran. Gejala Klinis: Morbiditas 80%, mortalitas sampai 20%, bentuk septicemia : hewan lemah, suhu tubuh di atas normal (40-42 C), koma, mati dalam 24-48 jam, diare, bentuk enteritis akut: hewan lemah, suhu tubuh diatas normal (40-41 C), diare cair kematian dalam 2-5 hari, nafsu makan hilang, nafsu minum masih ada. Diagnosa: Berdasarkan gejala klinis, pemeriksaan laboratorium Pencegahan dan Pengendalian: Sanitasi kandang, peralatan dan lingkungan, hewan mati dikubur, rotasi padang penggembalaan. 3. Septichemia Epizootocae (SE)/Ngorok Penyebab: Pasteurella multocida, menyerang sapi umur 6 18 bulan, pada akhir musim panas/awal musim hujan, hewan sembuh dapat terjadi carrier / muncul karena stress. Gejala Klinis: Morbiditas 60%, mortalitas sampai 100%, pembengkakan daerah leher sampai dada bagian bawah, inkubasi 10-14 hari, depresi, malas bergerak, suhu tubuh sampai 42 C, ngorok, hepersalivasi, kematian 24-48 jam. Diagnosa: Berdasarkan gejala klinis, Pemeriksaan lab. Pencegahan dan Pengendalian: vaksinasi 4. Anthrax (Radang Limpa) Penyebab: Bacillus anthracis. Dapat membentuk spora bila berhubungan dengan udara dan bertahun tahun dalam tanah, bersifat zoonosis. Gejala Klinis: Depresi, lesu, menggigil, malas bergerak, suhu tubuh diatas normal sampai 42 C, kematian 2448 jam, hewan mati memperlihatkan leleran darah berwarna kehitaman seperti tir dari mulut, hidung, anus dan vulva. Diagnosa: Berdarkan gejala klinis, pemeriksaan lab. Pencegahan dan Pengendalian: Vaksinasi, pengawasan ketat lalu lintas ternak, hewan mati dibakar dan dikubur. 5. Jembrana Penyebab: Retrovirus, menyerang sapi bali Gejala Klinis: Morbiditas 60%, mortalitas 10%, inkubasi 5-12 hari, depresi, nafsu makan hilang,demam selama 5-7 hari diikuti diare kadang bercampur darah, pembengkakan kelenjar limfe superficial (prescpularis, prefemoralis, parotidea), leleran encer dari hidung, hipersalivasi, lakrimasi dan konjungtivitis, keringat berdarah. Diagnosa: Berdasarkan gejala klinis, Pemeriksaan lab. Pencegahan dan Pengendalian: Isolasi ternak sakit, penyemprotan serangga, pengawasan ketat lalu lintas ternak. 6. Bovine Ephemeral fever (Demam 3 hari) Penyebab: Rhabdovirus, bersifat menular ditularkan melalui vekto lalat culicoides dan

nyamuk culex spp. Gejala Klinis: Morbiditas 40%, mortalitas rendah, inkubasi 7-10 hari, depresi, lesu, nafsu makan turun, demam (41 C) selama 3 hari yanhg diikuti sembelit dan dilanjutkan diare, pincang karena pembengkakan persendian kaki, jatuh/berbaring, hewan akan sembuh sendiri setelah 5-7 hari. Diagnosa: Berdasarkan gejala klinis, pemeriksaan lab. Pencegahan dan Pengendalian: Isolasi ternak sakit, pemberantasan serangga. 7. Malignant Catarrhal fever (Ingusan) Penyebab: herpesvirus. Menyerang sapi umur lebih dari 2 tahun. Gejala Klinis: Morbiditas rendah, mortalitas hampir 100%, inkubasi 2-4 minggu atau sampai 10 bulan, ada 4 bentuk: bentuk perakut: peradangan mukosa mulut dan hidung, bentuk intestinal : demam suhu 41 C, kongesti mukosa hidung dan mata, leleran mukopurulen dari mata dan hidung, pembengkakan kelenjar limfe superficial, kadang terjadi diare, bentuk ringan : gejala hampir tidak teramati, Bentuk kepala dan mata: demam suhu 42 C, depresi, lesu, nafsu makan hilang, keluar leleran encer dari hidung yang berubah menjadi purulen dan berbau busuk, cermin hidung kering, dan mukosanya mengalami erosi, konjungtivitis dan keratitis, mukosa mulut berwarna merah, bagian bawah lidah, gusi dan langit-langit serta bantalan gigu mengalami erosi atau tukak. Diagnosa: Berdasarkan gejala klinis, pemeriksaan lab. Pencegahan dan Pengendalian: isolasi ternak sakit, hindari pengandangan sapi dengan domba terutama sapi bali. 8. Bovine Viral Diarrhea (Diare Ganas) Penyebab: Pestivirus. Gejala Klinis: Morbiditas 5%, sapi umur lebih 2 tahun mortalitas hampir 100%, inkubasi 1-3 minggu, demam, nafsu makan turun, depresi, diare berlendir ada bercak darah dan berbau busuk, erosi selaput lendir hidung, lidah, bibir, gusi, hipersalivasi, cermin hidung kering berbentuk kerak, keluar leleran dari hidung, mula-mula encer berubah menjadi mukopurulen. Pada sapi tidak bunting : inkubasi 3-5 hari, sedikit demam, nafsu makan turun, tukak mulut dan diare sementara. Pada sapi bunting: kebuntingan kurang dari 100 hari janin tidak dapat membentuk reaksi kebal, pedet yang lahir akan membawa virus secara abadi. Infeksi pada kebuntingan 100-150 hari akan terjadi abnormalitas congenital. Pada kebuntingan awal terjadi mummifikasi atau membusuk. Pada sapi terinfeksi abadi : pedet akan tetap terinfeksi dan akan mati dalam waktu 2 tahun, bila hidup akan melahirkan pedet kelainan congenital otak (sempoyongan). Diagnosa: Gejala klinis, pemeriksaan lab Pencegahan dan Pengendalian: isolasi ternak sakit, sanitasi kandang, peralatan dan lingkungan. 9. Helminthiasis Hasil penelitian dan survey di beberapa peternakan rakyat di Indonesia menunjukkan bahwa 90% sapi yang berasal dari peternakan rakyat mengidap Helmintheasis, baik cacing gelang (Ascaris sp, Haemonchus Contortus), cacing pita (Taenia sp) maupun cacing hati (Fasciola Hepatic /Fasciola Gigantica). Penyebab: antara lain konsumsi hijauan yang masih berembun dan yang tercemar siput sebagai vektor (pembawa) cacing hati. Gejala Klinis: ternak terlihat kurus dan rendah tingkat pertumbuhannya walaupun mendapat pakan cukup karena sebagian makanan didalam tubuhnya juga dikonsumsi oleh cacing, bulu kusam. Pencegahan: pemberian obat cacing secara rutin setiap 3 bulan dengan obat cacing berspektrum luas (albendazole, febendazole dll).

10. Indigesti Sederhana Indigesti merupakan gangguan pencernaan yang berasal dari rumen atau retikulum yang ditandai dengan penurunan atau hilangnya gerak rumen, lemahnya tonus kedua lambung tersebut sehingga makanan tertimbun didalamnya dan disertai dengan sembelit (konstipasi). Proses indigesti bisa terjadi mendadak dari beberapa jam sampai lebih kurang dua hari dan banyak lolos dari pengamatan pemilik ternak. Penyebab: Perubahan pakan yang mendadak, terutama pada hewan muda yang mulai mendapat pakan hewan dara. Pakan yang mengandung serat kasar terlalu tinggi serta tidak diimbangi pemberian air minum yang cukup. Pakan yang sudah berjamur. Pemberian obat-obat antimicrobial yang berlebihan. Ternak yang terlalu letih. Gejala klinis: lesu, malas bergerak, napsu makan hilang, napsu minum mungkin masih ada, palpasi rumen terasa berisi makanan padat. Pengobatan: secara simtomatik paling banyak diberikan. Pemberian air minum secara ad libitum. 11. Bloat/Kembung Kembung rumen merupakan indigesti yang disertai dengan penimbunan gas didalam lambung-lambung muka ruminansia (rumen, reticulum). Kembung dapat terjadi secara primer maupun sekunder, dan gas yang tertimbun mungkin dapat terpisah dari isi lambung lainya disebut free gas bloat , atau gas terperangkap diantara makanan didalam rumen dan reticulum dalam gelembung-gelembung kecil yang sering disebut frothy bloat. Penyebab: 1. Tanaman muda lebih sering menyebabkan gangguan kembung 2. Biji-bijian yang digiling terlalu halus 3. Imbangan pakan hijauan dan konsentrat yang tidak seimbang, jumlah konsentrat yang sangat berlebihan 4. Tanaman yang dipanen sebelum berbunga atau sesudah turunnya hujan, terutama pada daerah yang kekurangan air sebelumnya Gejala Klinis : terjadi pembesaran rumen, bernapas dengan mulutnya dengan pernapasan yang bersifat dangkal, frekuen dan bersifat torakal, untuk membebaskan gas mungkin penderita akan menjulurkan lehernya kedepan, penderita tidak tenang sebentar-sebentar berbaring lalu bangun. Pengobatan: sebelum pertolongan secara profesional diberikan oleh dokter hewan, kepada pemilik dapat dianjurkan untuk memberikan pertolongan sementara sebagai berikut : kaki depan penderita ditempatkan pada tempat yang lebih tinggi, hendaknya selalu diusahakan agar penderita selalu dalam posisi berdiri. Dengan mulut dibuka, sepotong kayu dimasukkan melintang dan pada kedua ujungnya diikatkan tali yang dililitkan disamping kepala dan terus kebelakang tanduknya, pertolongan ini sering disebut broom stick therapy. Pemberian obat atau bahan lainnya berupa minyak goreng sebanyak 100-200 ml atau lebih, minyak kayu putih beberapa puluh ml dicampur air hangat. BAB III BIOSECURITY
Indikator Keberhasilan: Setelah mengikuti pembelajaran ini peserta mampu: Menjelaskan pengertian biosecurity, farm biosecurity, dan biosecurity di farm sapi.

A. PENGERTIAN Biosecurity merupakan strategi dan tindakan secara terintegrasi meliputi kebijakan dan kerangka kerja yang menganalisa dan mengendalikan segala akibat yang merugikan pada sektor

uti proses berlatih, peserta diharapkan mampu memahami reproduksi pada sapi betina dengan tepat dan bena

kemanan pangan, kesehatan dan kehidupan hewan dan kesehatan dan kehidupan tumbuhan termasuk lingkungannya. B. FARM BIOSECURITY - Resiko timbulnya penyakit selalu ada - Program direncanakan untuk meminimalisir kontak antar hewan, hewan dengan manusia atau obyek lainnya yang bertindak sebagai carrier penyakit yang disebabkan oleh virus, bakteri, jamujr dan parasit. - Harus disertai dengan managemen yang baik serta komitmen yang kuat. Tindakan umum program biosecurity: - Mengawasi keluar masuknya hewan - Mencegah kontak dengan hewan liar - Secara rutin membersihkan dan mendesinfeksi sepatu, pakaian dan peralatan yang digunakan - Mencatat pengunjung, hewan, peralatan yang masuk dan keluar. Tindakan: - Membeli hewan, pakan dan bahan lainnya dari supplier yang aman - Memisahkan hewan yang baru datang / karantina - Memberi tanda semua hewan untuk memudahkan pengawasan - Vaksinasi secara teratur untuk penyakit tertentu - Memberi tanda hewan yang sakit dan melaporkan setiap hewan yang sakit atau dicurigai sakit kepada petugas C. BIOSECURITY PEMBIBITAN SAPI 1. kesehatan hewan (sapi) sebagai syarat mutlak 2. sapi bibit dan penghasil bibit bebas dari penyakit hewan menular strategis dan penyakit infeksi 3. terhindar dari penyakit organic dan metabolik Komponen utama biosecurity: 1. Isolasi karantina sapi barfu masuk, isolasi sapi sakit, pemisahan kelompok (dara, bunting, siap partus, laktasi, sapi induk kosong), sanitasi dan desinfeksi secara rutin, evaluasi tindakan isolasi. 2. Pengaturan keluar masuknya hewan perhatikan keluar masuknya hewan dan perpindahan hewan sesuai umur, adanya hewan lain : kucing, unggas dll, desinfeksi kendaraan dan peralatan untuk mengankut hewan sakit atau mati, tempat pembuangan dan pembakaran sapi mati harus terpisah. 3. sanitasi : Sanitasi kandang, peralatan dan lingkungan.

BAB IV REPRODUKSI SAPI BETINA

A. ANATOMI DAN FISIOLOGI REPRODUKSI BETINA


Fungsi alat reproduksi betina diantaranya adalah untuk mengontrol aktivitas organ

(hormonal), tempat transpor spermatozoa, produksi oocyte, tempat terjadinya pembuahan, menyediakan lingkungan yang baik bagi embrio dan fetus, melahirkan fetus dan menyediakan makanan untuk anak. Secara anatomi, reproduksi betina dapat dibagi menjadi 3 bagian besar yaitu : a. Gonad atau Ovarium Merupakan bagian reproduksi yang utama. Ovarium menghasilkan telur, oleh karena itu dalam bahasa Indonesia seringkali disebut induk telur, indung telur atau ada juga yang memberi nama pengarang telur. Ovarium berfungsi untuk memproduksi estrogen, mengandung oocyte dan memproduksi progesterone. Struktur ovarium terdiri dari oocyte, folikel primer, folikel sekunder, folikel tertier, corpus hemoragicum, corpus luteum dan corpus albican. Saluran- saluran reproduksi betina terbagi menjadi 1) Oviduct atau tubafalopi. Fungsinya adalah sebagai tempat transpor spermatozoa untuk fertilisasi, menyeleksi spermatozoa, menangkap oocyte yang diovulasikan ovarium, tempat transpor oocyte untuk fertilisasi, memberikan lingkungan yang baik untuk oocyte, spermatozoa & proses fertilisasi, serta tempat transpor & makanan untuk pengembangan embrio muda. 2) Uterus yang terbagi lagi menjadi kornua uteri dan korpus uteri. Bagian Uterus terdiri dari dinding uterus perimetrium (luar), myometrium (tengah) dan endometrium (dalam). Sedangkan fungsinya yaitu untuk transportasi spermatozoa, kontraksi otot uterus, meningkatkan daya gerak spermatozoa, menyerap kembali embrio muda yang mati, mempersiapkan spermatozoa untuk fertilisasi, memberikan lingkungan yang baik untuk embryo, membantu penghidupan dan pertumbuhan fetus, membantu melahirkan fetus, membantu kebuntingan serta mengecilkan corpus luteum. 3) Cervix dan Vagina Cervix berfungsi sebagai tempat transportasi spermatozoa, penyeleksi spermatozoa, menghambat masuknya bakteri saat bunting serta sebagai saluran kelahiran. Sedangkan vagina berfungsi sebagai organ kopulatori/ untuk perkawinan dan untuk saluran kelahiran. Pada alat saluran-saluran reproduksi betina selain bertugas menerima telurtelur yang direproduksi oleh ovarium juga menampung semen yang dipancarkan oleh alat kelamin jantan. Kemudian didalam saluran itu juga dipertemukan bibit dari pejantan dan betina, dipelihara, dibesarkan dan kalau sudah cukup umur dilahirkan untuk menjadi mahluk baru. c. Alat kelamin bagian luar terdiri atas ; Klitoris dan Vulva b.

B. PUBERTAS Pubertas adalah umur tertentu dari hewan yang disertai mulai berfungsinya alat kelamin untuk memproduksi sperma atau ovum. Umur pubertas (bulan) Bangsa Betina Jantan

Sapi

8-11

10-12

Sapi Brahman 15-18 Waktu pubertas lebih dipengaruhi oleh perkembangan tubuh dibandingkan dengan umur. % Berat badan pada saat pubertas Sapi perah Sapi potong 30-40% BB dewasa 45-55% BB dewasa

C. Siklus berahi (Estrus) Siklus berahi adalah jarak antara satu berahi dengan berahi berikutnya. Siklus berahi dapat dibagi dalam 4 periode: Proestrus Pada masa proestrus, folikel tertier dan oocyte mencapai tahap kematangan akhir, level estrogen naik, betina menjadi receptive, estrogen mempersiapkan uterus dan oviduc untuk transportasi spermatozoa dan untuk proses fertilisasi dan estrogen mengindikasikan perubahan uterus untuk perkembangan embrio lebih lanjut. Estrus Pada masa estrus, terjadi betina berahi, kadar estrogen yang tinggi menyebabkan LH surge, LH surge menyebabkan ovulasi dan LH surge mengindikasikan pembentukan corpus luteum. Metestrus Kadar estrogen sudah menurun, corpus luteum terbentuk, kadar progesterone mulai naik, progesteron mulai mempersiapkan uterus untuk embrio, embrio tumbuh perlahan-lahan di oviduk dan bergerak ke uterus. Diestrus Ukuran coprus luteum maksimum, kadar progesterone yang tinggi menghambat perkembangan folikel tahap akhir, ovulasi dan estrus, embryo terus berkembang di uterus Embryo memberi tanda ke uterus akan keberadaannya tidak terjadi regresi CL. Jika tidak ada embrio, uterus akan melepaskan PFG2 yang akan mengakibatkan regresi CL. Jika CL regresi, kadar progesterone di darah akan menurun dan folikel de Graf akan memulai perkembangan tahap akhirnya untuk ovulasi. Fase siklus estrus terdiri dari fase follicular dan fase luteal.

Variasi Siklus Estrus pada Berbagai Species Domba Lama Siklus Berahi 14-19 hari Lama Berahi Waktu Ovulasi 24-36 jam Babi 17-22 hari 48-72 jam Sapi 18-24 hari Kuda 16-24 hari

12-19 jam 2-11 jam

24-36 jam 35-45 jam 10-11 jam 1-2 hari (setelah awal (setelah (setelah akhir (sebelum akhir berahi) awal estrus) estrus) berahi) Waktu untuk 12-18 jam 16-24 jam Hari kedua dan 7-18 jam Inseminasi Buatan setelah awal setelah awal setelah awal hari-hari lain estrus estrus dan 9

diulang kembali 8-24 jam kemudian

berahi

selama berahi

C. Waktu Kawin Yang Tepat Waktu yang tepat untuk IB adalah saat dimana sel telur (oocyte) yang diovulasikan siap untuk diinseminasikan dan sperma dalam saluran reproduksi betina telah berkapasitasi dan matang. Sel telur yang diovulasikan dan siap di IB setelah 10 -12 jam berada didalam saluran reproduksi (oviduct). Kapasitas terbaik untuk IB adalah 2 3 jam setelah ovulasi. Dalam saluran reproduksi betina spermatozoa membutuhkan waktu 6 jam untuk akuisisi proses kapasitasi dan kapasitasi maksimal 12 18 jam setelah akuisisi. Saat birahi akan tampak selama 18 jam dan ovulasi 12 jam setelah birahi berakhir Secara optimal waktu yang tepat untuk melakukan IB adalah 6-8 jam sebelum birahi berakhir sampai 6 jam setelah birahi berakhir. Bila IB dilakukan terlalu awal atau terlambat sehingga sel telur dan sperma salah satunya sudah lemah dan tidak fertile lagi seringkali menjadi penyebab kematian embrio. Dalam pelaksanaan di lapangan, baik inseminator maupun pemilik sapi sukar untuk dapat mengetahui saat dimulainya estrus, lebih-lebih saat ovulasi. Untuk memudahkan pelaksanaan, maka dibuat petunjuk umum yang dapat digunakan dengan mudah. Faktor yang terpenting dalam petunjuk tersebut adalah pengamatan terhadap berahi. Bila gejala berahi sudah terlihat maka saat inseminasi mudah ditentukan. Sehingga petunjuk praktisnya sebagai berikut, jika sapi terlihat berahi pada pagi hari ini, maka inseminasi harus dilakukan pada hari itu juga, sedangkan bila sapi terlihat berahi pada sore hari ini, maka inseminasi harus dilakukan pada esok harinya sebelum jam 12.00 siang. PETUNJUK WAKTU MELAKUKAN I.B. PADA SAPI Saat yang baik melakukan I.B. Sapi terlihat berahi Terlambat Pada pagi hari ini I.B. Hari ini juga Ditangguhkan sampai besok Sore atau malam hari I.B. besok pagi sebelum jam 12.00 siang Sesudah jam 12.00 esok harinya

D. Kelahiran / partus Merupakan serentetan proses fisiologik yang berhubungan dengan pengeluaran fetus dan plasenta dari induk pada masa akhir kebuntingan. Proses kelahiran ditandai dengan ligamentum Pelvix melunak, cervix melunak dan mulai mengsekresikan lendir, pembesaran dan pembengkakan vulva, aktivitas kelenjar mamae (membesar dan membengkak), fetus bergerak pindah ke arah kelahiran : kaki depan dan kepala menghadap cervix.

Tahap kelahiran:
Pada proses kelahiran normal: a. Stadia persiapan b. Stadia pendorongan fetus (ekspulsi) c. Stadia ekspulsi plasenta Interval ketiga stadium berbeda tergantung tipe, ras dan individu hewan. Dilatasi Cervix. (2-6 jam) a. Kontraksi Uterus menjadi terkoordinasi dan teratur (induksi estrogen & PGF2). b. Fetus mendorong cervix c. Allanto-chorion menjadi robek. d. Dorongan fetus ke cervix menstimulasi pelepasan oxytocin dan refleks kontraksi otot abdominal. Ekspulsi / dorongan Fetus (0,5-2 jam)

a. Kontraksi uterus yang kuat disebabkan oleh kadar estrogen yang tinggi, PGF2 dan oxytocin. b. Kontraksi otot abdominal yang kuat. c. Amnion robek- lendir yang dihasilkan vagina d. Fetus keluar melewati vagina. Ekspulsi Plasenta. (4-5 jam) a. Kontraksi Uterus berlanjut. b. Kontraksi mendorong plasenta keluar. Postpartum Periode Postpartum adalah periode sejak melahirkan sampai timbul berahi kembali. Pada sapi, estrus pertama muncul 30-40 hari postpartum pada sapi perah dan 40-60 hari pada sapi pedaging. Faktor yang mempengaruhi Periode Postpartum diantaranya adalah kondisi tubuh sebelum dan setelah partus, nutrisi, stress laktasi, stimulus isapan anak sapi, photoperiod, temperatur dan keberadaan hewan jantan. Perubahan penting selama involusi uteri ditandai oleh kembalinya aktivitas ovari secara normal, pengecilan uterus kembali ke status normal dan adanya regenerasi endometrium. Involusi Uterine: a. Sapi mengeluarkan lochia - 1 sd 2 minggu setelah melahirkan. (Lendir, darah, sisa-sisa jaringan plasenta dan uterus serta cairan fetus). b. Regenerasi Karunkula ~ 30 hari setelah melahirkan. c. Involusi Uterus sempurna 47-50 hari setelah melahirkan. d. Pengecilan kembali uterus akibat adanya kontraksi otot. Managemen pemeliharaan untuk memperpendek interval postpartum: a. Pemberian makanan selama masa setelah anak disapih. b. Memelihara hewan sebaik mungkin agar kondisi badannya baik. c. Hindari penurunan berat badan. d. Mempercepat penyapihan. e. Pemisahan anak dari induk selama 48 jam pada 40-50 hari postpartum. f. Sehari sekali menyusui anaknya.

BAB V PENUTUP Suksesnya pengelolaan peternakan sapi potong ditentukan oleh keberhasilan dalam pengelolaan kesehatan dan reproduksi ternak. Disamping faktor-faktor lainnya seperti pakan dan pengelolaan lingkungan. Tindak Lanjut Setelah Anda mengikuti proses belajar mengajar reproduksi sapi, maka sebagai bahan tindak lanjut adalah memperdalam cognitive Anda dengan membaca bacaan yang mengacu pada daftar pustaka serta mengaplikasikan di tempat kerja Anda.

11

DAFTAR PUSTAKA
___________. (2010). http://www.fao.org/docrep/t0690e/t0690e05.htm. Austin and Shot. 1982. Reproduction in Ammals. Book 1. Second Edition. Germ Cell and Fertilizatio. Cambridge University Press. Cambridge. Austin and Shot. 1984. Reproduction in Ammals. Book 3. Second Edition Hormonal Control of Reproduction. Cambridge University Press. Cambridge. Budi Tri Akoso. (2000). Kesehatan Hewan. Kanisius. Hafez, E.S.E. 1980. Reproduction in Farm Animals. 4th Ed. Lea and Febiger, Philladelphia. Hafez, E. S. E. 1993. Artificial insemination. In : Reproduction in farm Animals. 6th Ed. E. S. E. Hafez (Ed). Lea and Febiger. Philadelphia. Partodihardjo. 1982. Ilmu Reproduksi Hewan. Mutiara. Jakarta. Sutama, I. K. 1988. Lama birahi, waktu ovulasi dan kadar LH pada domba ekor pipih setelah perlakuan progestagen-PMSG. Ilmu dan Peternakan. 3:93-95. Prabowo PP. (2010). Pelatihan Bioscurity. Subronto. (2003). Ilmu Penyakit Ternak I. Gajah Mada University Press.

Anda mungkin juga menyukai