Anda di halaman 1dari 20

PERCOBAAN V ANALISIS KUANTITATIF BERDASARKAN WARNA LARUTAN : KOLORIMETRI

I.

TUJUAN PERCOBAAN 1.1 Mampu membandingkan konsentrasi larutan berdasarkan kepekatan warnanya. 1.2 Mampu menentukan konsentrasi larutan FeSCN2+ 1.3 Mampu menentukan tetapan kesetimbangan reaksi pembentukan FeSCN2+

II.

TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Fotometri Ada dua macam fotometri yang digunakan, yaitu fotometer sel tunggal dan fotometer sel ganda. Berkas sinar yang konstan dari sumber akan melalui lensa pembungkus serta filter sehingga menjadi monokromatis, selanjutnya berkas sinar tersebut diubah menjadi arus pada sirkuit dan akhirnya galunometer menunjukkan deflaksi. Bila sampel diltakkan pada jalannya sinar, sinar melewati sampel dan kemudian menumbuk fotosel, maka akan teramati suatu penyimpangan arus yang besarnya sebanding dengan konsentrasi larutan. Jika respon fotosel linier, maka respon arus cahaya menghasilkan transmitan (T). yang perlu diperhatikan pada teknik ini adalah intensitas sumber sinar yang tetap pada interval waktu dua pengukuran. Pada fotometer berkas ganda, terdapat dua tipe model. Kedua fotoselnya tetap, sdangkan variasi intensitas didapat dari tahanan geser atau diafragma iris. Salah satu dari fotosel dapat digerakkan sesuai dengan berkas sinar yang jatuh. Pada berkas ganda ini yang kita ukur adalah perbedaan intensitas antara dua berkas sinar yaitu antara berkas sinar yang melalui larutan dan sinar yang melalui larutan sampel. (Khopkar, 1992) Macam-macam metode analisa fotometri : 1. Analisa kolometri Apabila intensitas sinar yang diukur adalah sinar tampak.

2. Analisa turbidimetri Apabila intensitas sinar yang diukur adalah sinar terusan. 3. Analisa nefelometri Apabila intensitas sinar yang diukur adalah hambar koloid. 4. Analisa pluometri Sinar yang digunakan adalah sinar UV (ultraviolet) maka mengalami fluoresensi. (Khopkar, 1992)

2.2 Kolorimetri Kolorimetri adalah suatu metode analisa kimia yang berdasarkan pada perbandingan intensitas warna larutan dengan warna larutan standarnya. Metode ini merupakan bagian dari analisis fotometri. Cara mengukur jumlah zat dalam larutan sekaligus mengetahui warnanya yaitu dengan cara melewatkan sebuah sinar melalui pelarutnya. Pengamatan dapat kita lakukan dengan cara melihat perubahannya atau dengan alat yang disebut fotosel. Untuk lebih jelas lihat skema dibawah ini :

Larutan C

Sensor

sensor mata (fotosel)

Cahaya masuk dari bawah mata atau fotosel

Cahaya yang diteruskan Larutan C

Cahaya yang masuk

Gambar 1. Skema foto sel

Dalam hal ini terjadi bila sinar baik yang polikromatis atau monokromatis mengenai suatu zat atau media perantara, maka intensitas sinar tersebut akan

berkurang. Hal ini terjadi karena sebagian cahaya tersebut diserap oleh media perantaranya dan sebagian kecil dipantulkan kembali atau dihamburkan. Maka dapat kita tulis : Io = Ia + IF + Ir Dengan : Io = intensitas mula-mula Ia = sinar yang diserap If = sinar yang diteruskan Ir = sinar yang dipantulkan (Underwood, 1988)

1. Hukum Beer Menyelidiki hubungan antara intensitas serapan dan konsentrasi media yang berupa larutan pada table media tetap. Syarat-syarat penggunaan hukum beer : a. Syarat konsentrasi = konsetrasi harus rendah, karena Beer baik pada larutan encer b. Syarat kimia = zat yang diukur harus stabil c. Syarat cahaya = cahaya yang dipakai harus monokromatik d. Syarat kejernihan = larutan yang diukur harus jernih

Hukum Beer yaitu A = abc untuk dua larutan diatas maka Ax = abxcx dan A = abycy = Ay. Jika larutan mempunyai kesetimbangan optic, sehingga persamaan diatas dapat menjadi : Ax = Ay abxcx = abycy Asalkan nilai A tetap

Kita yang dapat menguji persamaan tersebut secara eksperimen dengan keadaan berikut : a. cxby tetap, sedangkan cyby bervariasi

b. cxbx tetap, sedangkan cy bervariasi c. cxby tetap, sedangkan by bervariasi Hal diatas dapat dilakukan dengan : a. Metode deret standar (missal tabung Nessler) Tabung-tabung seragam yang tidak berwarna dengan dasar datar (disebut tabung Nessler) digunakan untuk menampung larutan berwarna dengan jumlah volume tertentu. Pada dasarnya, pengukur nessler bekerja berdasarkan prinsip perbandingan warna b. Metode pengenceran Larutan sampel dan larutan standar dengan konsentrasi cx dan cy ditempatkan pada tabung kaca dengan ukuran yang sama. Larutan yang lebih pekat diencerkan sampai warnanya mempunyai intensitas yang sama dengan yang lebih encer. c. Metode kesetimbangan Metode kesetimbangan adalah metode yang paling umum digunakan pada kolorimetri visual. (Khopkar, 1990)

2. Hukum Lambert-Beer Adalah hubungan jumlah zat atau warna yang diserap oleh larutan yang disebut absorbansi A dengan zat-zat c. dimana salah satu larutan telah diketahui konsentrasinya, untuk kedua larutan tersebut maka : A1 = a . b1c1 Dengan : a = tetapan jenis zat b = tebal ukuran yang disinari c = konsentrasi zat Jika kedua larutan tersebut kepekatannya sama maka : A1 = A2 ab1c1 = ab2c2 b1c1 = b2c2 dan A2 = a . b2c2

(Khopkar, 1990)

3. Hukum Boogner Lambert Lambert menyelidiki hubungan antara intensitas mula-mula dan setelah melalui media. Hubungan antara tebal dari suatu media dan serapan sinar dikenal sebagai : Hukum Boogner Lambert Apabila sinar monokromatis mengenai suatu media yang transparan, maka berkurangnya intensitas sebanding dengan bertambahnya tebal media yang dilewatinya. Maka semakin tebal suatu media, semakin banyak pula cahaya yang hilang (intensitasnya berkurang) karena semakin banyaknya cahaya yag diserap oleh media. Dapat kita katakan, bahwa : DI = K.I.dt Dengan : I = intensitas sinar mula-mula K = koefisien serapan t = tebal media yang ditembus (Khopkar, 1990)

2.3 Metode Kolorimetri Merupakan metode spektroskopi sinar tampak yang berdasarkan pada panjang sinar tampak oleh suatu larutan berwarna, hanya senyawa yang dapat ditentukan dengan metode spektroskopi, senyawa yang tidak berwarna dapat dibuat menjadi berwarna, seperti ion Fe3+ dan SCN- menghasilkan larutan berwarna merah. Kolorimetri dilakukan dengan membandingkan larutan standar dengan aplikasi yang dibuat pada keadaan yang sama dengan menggunakan tabung meester atau kolorimeter Dubosque. Dengan kolorimetri elektronik, jumlah cahaya yang diserap berbanding lurus dengan konsentrasi larutan. Metode ini sering digunakan dalam menentukan konsentrasi besi dalam air minum. (Khopkar, 1990)

2.4 Kolorimetri Visual Pada kolorimetri, suatu duplikasi warna dilakukan dengan dua larutan yang mengandung zat yang sama pada kolom dengan arometer penampang yang sama serta tegak lurus dengan arah sinar. Biasanya zat-zat yang dapat menimbulkan warna adalah ion-ion kompleks. Warna tersebut muncul karena adanya electron-elektron yang tidak berpasangan. Konsentrasi berwarna dapat diperkirakan secara visual. Hal ini dapat dilakukan dengan cara membandingkan cuplikan dengan sederet larutan yang konsentrasinya sudah diketahui terlebih dahulu yaitu larutan standar. (Khopkar, 1990)

2.5 Faktor yang mempengaruhi kolorimetri Pemakaian indicator tidak mempengaruhi pH kolorimetri. Hal ini disebabkan karena indicator pada umumnya adalah asam atau basa yang sangat lemah. Factor yang mempengaruhi kolorimetri adalah pemakaian indicator yang tidak cocok dengan pH larutan. Selain itu, dengan adanya protein dan asam amino. Karena bersifat amfoter sehingga dapat bereaksi dengan asam ataupun basa. (Khopkar, 1990)

2.6 Spektofotometri Adalah perpanjangan dari visual suatu studi mengenai penyerapan energy cahaya oleh spesies kimia yang memungkinkan kecermatan yang lebih besar dalam perincian dan pengukuran kuantitatif. Pengukuran kuantitatif tersebut menggunakan mata manusia dan dengan factor lain yang memungkinkan studi obeservasi diluar daerah spectrum tampak dan sering kali eksperimen spektometri dilakukan secara automatic. (Underwood, 1988)

2.7 Tetapan kesetimbangan Reaksi kimia seperti pembentukan hydrogen iodide dari hydrogen dan iodine dalam fase gas. H2(g) + F2 (g) = 2HI(g) Pada umumnya bersifat reversible, dan ketika kecepatan dari reaksi ke depan dan ke belakang sama, konsentrasi dari reaktan dan produk tetap konstan seiring berjalannya waktu. Kita akan mengatakan reaksi tersebut telah mencapai kesetimbangan. Dalam eksperimen ditemukan bahwa reaksi selesai ketika kesetimbangan telah tercaapai dengan berbagai variasi. Dalam beberapa kasus, konsentrasi produk jauh lebih besar dibandingkan dengan konsentrasi reaktan dalam kasus lain yang terjadi adalah kebalikannya. Konsentrasi kesetimbangan mencerminkan kecenderungan intrinsic atom untuk hadir sebagai molekul reaktan dan produk. Meskipun sejauh atau sejumlah reaksi yang memenuhi kondisi kesetimbangan tersebut bisa menjadi begitu besar, hanya ada satu cara atau dengan rumus umum dengan yang pada suhu tertentu suatu reaksi pada saat kesetimbangan. Untuk reaksi umum dala larutan berair : A(aq) + B(aq) = C(aq) + D(aq)
[ ][ ] [ ][ ]

Rumus adalah :

Dan disebut ketetapan kesetimbangan. Tanda kurung menandakan konsentrasi dalam mol per liter (molaritas) pada saat kesetimbangan. Konsentrasi yang bisa digunakan adalah molaritas atau tekanan parsial. Untuk reaksi umum : aA(aq) + bB(aq) cC(aq) + dD(aq) Rumus adalah :
[ ] [ ] [ ] [ ]

(Underwood, 2002)

2.8 Pengenceran Pengenceran adalah peristiwa bercampurnya larutan pekat dengan pelarut tambahan sehingga menghasilkan larutan yang lebih encer atau kurang pekat. Dari prosespelarutan jumlah zat yang tersebut tetap konsentrasinya berubah karena banyaknya jumlah mol zat terlarut selama pengenceran, maka berlaku : V1N1 = V2N2 Keterangan : V1 = volume larutan standar N1 = normalitas asli V2 = volume larutan sesudah N2 = normalitas yang akan diubah (Brady, 1999)

2.9 Senyawa Kompleks Dalam artian luas, senyawa kompleks adalah senyawa yang terbentuk karena penggabungan dua atau lebih sederhana yang masing-masingnya dapat dapat berdiri sendiri. Istilah senyawa koordinasi membrikan pengertian bahwa dua zat yang lebih sederhana misalnya COCl3 dan NH3 bergabung atau berkoordinasi menjadi senyawa satu yang lebih kompleks. Penulisan dari senyawa ini adalah : [Co (NH3)6]Cl3 a [Co(NH3)5 Cl]Cl2 b [Co(NH3)4 Cl2]Cl c

Dimana gugus yang terikat pada ion logam pusat disebut ligan dan gabungan ion pusat dengan ligan yang terikat adalah suatu ion kompleks. Ion logam dalam kompleks disebut atom pusat, dan gugus yang tergantung pada atom pusat disebut ligan. Jumlah ikatan yang terbentuk oleh atom pusat disebut angka koordinasi. Beberapa kompleks hanya mengalami reaksi substitusi dengan begitu lambat dan disebut non labil atau inert. Hampir semua kompleks yang terbentuk adalah kobalt dan kromun pada tingkat oksidasi +3 adalah inert, sedangkan kebanyakan dari kompleks lain pada logam transisi lainnya adalah labil. (Brady, 1999)

2.10

Analisa Bahan

1. KSCN Berbentuk kristal Mempunyai titik lebur sampai 173oC Dalam keadaan suhu 30oC dengan nomor polimernya 50 Digunakan sebagai racun tikus, lembaran garamnya bercorak bergilir dari warna coklat, hijau, biru kembali putih sewaktu kondisi pendinginan Menyebabkan iritasi pada kulit (Budaveri, 1989)

2. Fe(NO3)3 Berbentuk Kristal berwarna ungu tua sampai putih keabu-abuan Dapat dipakai sebagai reagen dalam analisa kimia Memiliki titik didih 47oC (Budaveri, 1989)

3. Aquades Dari istilah aquadestilata yang berarti air suling, air yang diperoleh pada pengembunan uap air akibat penguapan air atau pendidihan air. (Mulyono, 2005) Sifat fisik : titik beku 0oC, titik leleh 100oC terdapat dalam wujud gas, padat, dan cair tidak berwarna, berasa, dan berbau Sifat kimia : merupakan persenyawaan hydrogen dan oksigen merupakan zat pelarut yang baik terdapat dalam keadaan tidak urni di alam (Basri, 1996)

4. Na2HPO4 Berupa bubuk higroskopis dalam udara terbuka Kelarutan lebih besar dari air panas Mampu menyerap 2-7 mol H2O dengan kelembaman dan suhu tertentu Di udara berbentuk kristaldan stabil Larutan bersidat alkali dengan pH kurang lebih 9,8 (Budaveri, 1989) III. METODE PERCOBAAN 3.1 Alat dan Bahan 3.1.1 Alat a. Gelas beker b. Tabung reaksi c. Pipet gondok d. Gelas ukur e. Kolorometri duboscq f. Pipet tetes 3.1.2 Bahan a. KSCN b. Fe (NO3)3 c. Aquades d. Na2HPO4 3.2 Gambar alat

3.3 Skema kerja 3.3.1 Reaksi-reaksi Pendahuluan 10 ml KSCN 0,002 M Gelas beker - Penambahan 2 ml Fe (NO3)3 0,2 M Pembagian dalam 4 tabung reaksi

Tabung I - Pembandingan

Tabung II - Penambahan KSCN Pekat

Tabung III - Penambahan Fe (NO3)3 0,2 M Hasil

Tabung IV - Penambahan Na2HPO4 Hasil

Hasil 3.3.2

Hasil

Penentuan ketetapan kesetimbangan reaksi pembentukan FeSCN2+ 40 ml KSCN 0,002 M Gelas beker - Penambahan 5 ml Fe (NO3)3 Hasil Pembandingan dengan tabung II Penghitungan konsentrasi Fe SCN2+ dengan kolorimetri du boscq Penyesuaian tinggi tabung sampai warnanya sama dengan tabung II Penentuan tinggi larutan

4,0 ml KSCN 0,002 M Tabung Reaksi II -

4,0 ml KSCN 0,002 M Tabung Reaksi III

Pengenceran 10 ml Fe (NO3)3 0,2 M sampai 25 ml

- Penambahan 5 ml Fe (NO3)3 - Pembandingan dengan Tabung II


- Penghitungan

Penambahan 5 ml Fe (NO3)3 Pembandingan dengan Tabung I Penghitungan konsentrasi Fe SCN 2+ dengan kolarimeter dubesca

konsntrasi Fe SCN2+

dengan kolalimetr dubesca - Penentuan tinggi larutan

Hasil

Penentuan tinggi larutan


Hasil

4,0 ml KSCN 0,002 M Tabung Reaksi IV

4,0 ml KSCN 0,002 M Tabung Reaksi V

- Penambahan 5 ml Fe (NO3)3 - Pembandingan warna dengan tabung III - Penghitungan konsentrasi Fe SCN2+ dengan kolerimeter duboscq - Perhitungan tinggi larutan
Hasil

- Penambahan 5 ml Fe (NO3)3 - Pembandingan dengan Tabung IV -Penghitungan konsentrasi Fe SCN2+ dengan kolerimeter duboscq - Penentuan tinggi larutan
Hasil

IV.

DATA PENGAMATAN DAN PERHITUNGAN 4.1 Data Pengamatan

No 1

Perlakuan Reaksi-reaksi pndahuluan a. Tabung reaksi I - Penambahan 10 ml KSCN 0,002 M - Penambahan Fe (NO3)3 0,2 M KSCN 0,002M + Fe (NO3)3 0,2 M b. Tabung reaksi II - KSCN 0,002 M + Fe (NO3)3 0,2 M + 1 tetes KSCN pekat c. Tabung reaksi III - KSCN 0,002 M + Fe (NO3)3 0,2 M + 1 tetes Fe (NO3)3 0,2 M d. Tabung reaksi IV - KSCN 0,002 M + Fe (NO3)3 0,2 M + 1 tetes Na2HPO4 Penentuan tetapan kesetimbangan reaksi pembentukan Fe SCN2+ a. Tabung reaksi I - 4 ml KSCN 0,002 M + 5 ml Fe (NO3)3 0,2 M b. Tabung reaksi II - 4 ml KSCN 0,002 M + 5 ml Fe (NO3)3 0,2 M hasil pengenceran I c. Tabung reaksi III - 4 ml KSCN 0,002 M + 5 ml Fe (NO3)3 0,2 M hasil pengenceran 2 d. Tabung raksi IV - 4 ml KSCN 0,002 M + 5 ml Fe (NO3)3 0,2 M hasil pngenceran 3

Hasil

e. Tabung reaksi V - 4 ml KSCN 0,002 M + 5 ml Fe (NO3)3 0,2 M hasil pengenceran 4

4.2 Perhitungan 4.2.1 Penentuan tetapan kesetimbangan reaksi pembentukan Fe SCN 2+ 1) Menghitung konsentrasi Fe 3+ dan SCN Diket : KSCN V = 4 ml M= 0,002 Fe (NO3)3 V = 5 ml M= 0,2 M mol Fe (NO3)3 = M . V = 0,2 M . 5 ml = 1 m mol Fe (NO3)3 [ Fe3+ ] = Fe3+ + 3NO3=

= 0,2 M M mol KSCN = M.V = 0,002 M . 4 ml = 8.10-3 m mol KSCN [SCN] = = K+ + SCN

= 2.10-3 M 2) Menentukan Konsentrasi Fe SCN 2+ pada tab 25 Diket : b1 = 5 ml b2 = 4 ml b3 = 7 ml b4 = 1 mm b5 = 11,5 mm Ditanya = C2, C3, C4, C5

V tot = V KSCN + V Fe (NO3)3 = 4 ml + 5 ml = 9 ml 3 KSCN M B S 8.10-3 mol 8.10-3 [ + Fe NO3)3 1 mmol 2,67.10-3mmol 0,99 mmol ] 3KNO3 8 10-3 mmol 8.10-3 mmol + FeSCN 2+ + 3,67.10-3 mmol 2,67.10-3 mmol 2SCN 5,34.10-3 mmol 5,34.10-3 mmol

3) Menentukan konsentrasi Fe3+ dan SCN- pada keadaan setimbang

[ [

] ] [ ]

[ [

] ]

[ [ [ ] ] [ ]

[ [ [ ] ] [ ]

[ [ [ ] ] [ ]

[ [ [ ] ] [ ]

4) Menghitung konsentrasi dari hasil kali (tabung II tabung V) Tabung I : a. [


[ [ [ [ ][ ][ ] ] ] ( )

][

][

b. c.

Tabung II : a. [
[ [ [ [ ][ ][ ] ] ] ( )

][

][

b. c.

Tabung III : a. [
[ [ [ [ ][ ][ ] ] ] ( )

][

][

b. c.

Tabung IV : a. [
[ [ [ [ ][ ][ ] ] ] ( )

][

][

b. c.

Tabung V : a. [ ][ ][ ]

b. c.

[ [ [ [ ][

][ ] ] ]

)(

V.

PEMBAHASAN 5.1 Reaksi-reaksi Pendahuluan Pada percobaan ini, reaksi pendahuluan dilakukan dengan mereaksikan KSCN 0,002 M dan Fe(NO3)3 0,2 M yang hasilnya akan dibagi kedalam empat tabung reaksi. Reaksi yang terjadi adalah : Fe(NO3)3 + 3 KSCN = FeSCN2+ + 3 KNO3 + 2 SCNPada tabung reaksi I digunakan sebagai pembanding, yaitu larutan yang digunakan sebagai acuan pembanding dengan larutan pada tabung II, III, dan IV. Larutan pembanding hanya berisi campuran antara Fe (NO3)3 dan KSCN saja. Hasil campuran tersebut menghasilkan larutan yang berwarna kuning bening. Pada tabung reaksi II berisi Fe(NO3)3 + KSCN (larutan pembanding) yang ditambah dengan KSCN pekat. Hasil dari pencampuran tersebut menghasilkan larutan yang berwarna hitam gelap, hal ini disebabkan karena pembentukan kompleks kation FeSCN2+. perubahan warna terebut sesuai dengan asas le cathelier.

Setelah dibandingkan dengan larutan pembanding, hasilnya dapat diketahui bahwa konsentrasi larutan pada tabung II lebih pekat daripada larutan pembanding. Pada tabung reaksi III berisi larutan pembanding yang ditambah dengan Fe(NO3)3 berlebih. Hasilnya larutan tersebut menjadi lebih pekat daripada larutan pembanding, warnanya lebih kuning dar larutan pembanding. Hal ini juga sesuai dengan asas le cathelier. Pada tabung reaksi IV berisi larutan pembanding yang ditambah dengan Na2HPO4. Dari pencampuran tersebut dihasilkan larutan yang berwarna putih keruh dan timbul endapan. Na2HPO4 dalam percobaan ini berfungsi sebagai reaktan untuk mengurangi pembentukan kompleks kation FeSCN2+, sehingga warna larutan berubah dari kuning jernih menjadi putih keruh dan timbul endapan. Hal tersebut merupakan salah satu gejala bahwa kompleks kation tidak terbentuk. 5.2 Penentuan Tetapan Kesetimbangan Reaksi Pembentukan FeSCN2+ Dalam percobaan ini, kita melibatkan alat, yaitu KOLORIMETER DUBOSCQ yang bertujuan untuk menentukan konsentrasi suatu larutan dengan cara membandingkan konsentrasi suatu larutan berdasarkan kepekatan warnanya dengan larutan standarnya untuk mendapatkan ketebalan larutan dan sebagai pengamatnya adalah mata. Untuk mengukur ketebalan larutannya, yaitu dengan cara menaik-turunkan skala hingga diperoleh warna yang sama pada kedua larutan yang diperbandingkan. Dari ketebalan yang diperoleh, kita dapatkan skala yang berfungsi dalam mencari konsentrasi FeSCN2+.

Pada percobaan ini, direaksikan 4 ml KSCN 0,002M dengan 5 ml Fe(NO3)3 yang berbeda-beda konsentrasinya pada tiap tabung.

Tabung I

: 4 ml larutan KSCN 0,002 M + 5 ml larutan Fe(NO3)3 0,2 M (menghasilkan larutan berwarna oranye)

Tabung II

: 4 ml larutan KSCN 0,002 M + 5 ml larutan hasil pengenceran 10 ml larutan Fe(NO3)3 hingga volumenya menjadi 25 ml (menghasilkan larutan yang berwarna oranye yang lebih muda)

Tabung III

: 4 ml larutan KSCN 0,002M + 5 ml larutan hasil pengenceran dari 10 ml hasil pengenceran larutan Fe(NO3)3 pada tabung II hingga volumenya menjadi 25 ml (menghasilkan larutan yang berwarna kuning)

Tabung IV

: 4 ml larutan KSCN 0,002M + 5 ml larutan hasil pengenceran dari 10 ml hasil pengenceran larutan Fe(NO3)3 pada tabung III

hingga volumenya menjadi 25 ml (menghasilkan larutan yang berwarna kuning muda) Tabung V : 4 ml larutan KSCN 0,002M + 5 ml larutan hasil pengenceran dari 10 ml hasil pengenceran larutan Fe(NO3)3 pada tabung IV

hingga volumenya menjadi 25 ml (menghasilkan larutan berwarna kunig lebih muda dari tabung IV

Warna yang terbentuk pada hasil reaksi tersebut disebabkan oleh karena terbentuknya senyawa koordinasi , yaitu pada senyawa FeSCN2+. Senyawa koordinasi adalah senyawa kovalen antara atom pusat yang berupa ion logam pusat dengan ion negatif atau ligan. Berikut reaksinya : 3 KSCN + Fe(NO3)3 FeSCN2+ +2 SCN- + 3 KNO3 reaksi ion : Fe3+ + SCN- FeSCN2+

Dari reaksi pada keempat tabung tersebut, tampak warna larutan produk semakin pudar. Hal tersebut dapat terjadi karena adanya pengaruh pengenceran pada telah kesetimbangan kimia. Pengenceran yang dilakukan dalam percobaan ini memperkecil konsentrasi larutan Fe(NO3)3 sehingga warna yang memudar seiring berkurangnya konsentrasi.

dihasilkan semakin

Kolorimetri dilakukan dengan menggunakan alat KOLORIMETER DUBOSCQ. Tabung pertama dijadikan sebagai larutan pembanding dan

ditetapkan pada skala 5

mm. Setelah itu, tabung kedua diletakan di tempat pada kolorimeter tersebut. Pengamatan

larutan yang akan dibandingkan

dilakukan dengan menaik-turunkan skala

kolorimeter tabung kedua hingga diperbandingkan. Hal yang semua tabung

dilihat warna yang sama pada kedua larutan yang

sama juga dilakukan pada tabung III, IV dan, V. Setelah

dibandingkan dengan tabung I, diperoleh data sebagai berikut :

Tabung II

Tabung III

Tabung IV

Tabung V

Dari data yang diperoleh, tampak adanya kesalahan dalam percobaan ini. Ketebalan skala yang didapat tidak konstan. Dengan kata lain, tidak ada kesinambungan antara semakin rendahnya konsentrasi dengan skala

kolorimeternya. Seharusnya, semakin rendah konsentrasi, maka semakin tebal larutan yang terukur pada kolorimeter. Adapun beberapa faktor yang

mempengaruhi kesalahan dalam percobaan ini, antara lain : 1) Proses pengenceran yang tidak tepat 2) Pengamatan yang tidak cermat dalam melakukan pengukuran skala kolorimetri 3) Kotornya dinding wadah sebelah luar yang digunakan dalam pengamatan kolorimetri

VI. VII.

KESIMPULAN DAFTAR PUSTAKA